Raja Gendeng Eps 14 : Misteri Perahu Setan

 
Eps 14 : Misteri Perahu Setan


Pagi hari.

Suasana yang sejuk menyelimuti kali Dengkeng.

Di atas ranting pepohonan yang tumbuh condong ke arah kali burung-burung berkicau menyambut datangnya pagi.

Di langit sebelah timur tidak terlihat tanda-tanda matahari bakal memunculkan diri.

Langit gelap disaput mendung kelabu. Sementara di atas pohon besar yang condong setengah rebah di kaki bukit, seorang pemuda tampan berambut gondrong berpakaian kelabu yang bukan lain adalah Sang Maha Sakti Raja Gendeng adanya baru saja membuka matanya.

Udara yang dingin di kawasan itu membuat lelap tidur sang pendekar. Pemuda ini lalu menggeliat.

Setelah mengusap matanya dia menatap lurus ke depan.

Nun dikejauhan sana terlihat gunung Anjasmoro menjulang tinggi seakan menyandak langit. "Pagi yang dingin.Mata melek penuh belek. Di bawah sana ada sungai.Tapi..."

Raja tidak menyelesaikan ucapannya.

Membayangkan saat menyentuh air sungai yang dingin sejuk dapat membuat sekujur tubuhnya menggigil, pemuda ini menggeliat lagi.

Sementara itu sepasang matanya menatap ke arah sekelilingnya.

Tidak ada yang dapat dilihat .Pemandangan yang biasanya indah di tempat itu terutama di pagi hari kali ini diselimuti kabut tebal. "Di sana kabut di sini kabut. Di mana-mana dipenuhi kabut. Bagus aku tidak kentut. Seandainya sampai kentut pemandangan di tempat ini akan tambah butut."

Kata pemuda itu lalu tersenyumsenyum sendiri. Sang pendekar yang semula rebah dibatang pohon kini berusaha duduk.

Dua kaki dijulur menjuntai ke bawah.

Mulut komat-kamit, lidah dijulur menjilat sudut bibir kiri kanan. "Asin...!"

Sang Maha Sakti  menyeringai lagi.

"Bibirku jadi asin. Padahal jauh dari laut. Aku kira rasa asin di ujung bibirku karena iler, air liurku yang mengering. Masih bagus selagi tidur aku cuma mengiler, bagaimana kalau sampai ngompol juga. Seumur hidup tak akan ada gadis yang mau denganku. Ha ha ha...!"

Gumam pemuda itu disertai tawa mengekeh. Tapi tawa sang pendekar mendadak lenyap. Entah mengapa dia ingat pada Kabut Hitam.

Mahluk berujud anjing besar berbulu hitam yang aslinya adalah seorang gadis sakti berwajah cantik .Seperti telah dikisahkan dalam episode sebelumnya.

Setelah kejadian meluapnya air bah yang hampir menenggelamkan desa Tretes.

Keduanya yang terseret arus air saat berusaha membantu menyelamatkan penduduk desa itu akhirnya terpisah.

Hingga saat ini Raja tidak tahu apakah Kabut Hitam yang aslinya bernama Bulan Perindu masih hidup ataukah sudah menemui ajal.

"Seluruh rakyat di tanah Dwipa ini harus bebas dari penindasan dan kesengsaraan hidup yang panjang. Dan kebebasan hidup tidak mungkin mereka nikma ›i jika Gagak Anabrang yang menjadi biang malapetaka masih ada,"

Pikir Raja.

"Aku berterima kasih pada Kabut Hitam yang telah banyak membantu. Semoga dewa melindungi dan memberinya umur yang panjang, nafas panjang wajah cantik dan semuanya serba panjang," kata sang pendekar lalu lagi-lagi senyum sendiri .

Hujan gerimis tiba-tiba turun. Senyum si pemuda mendadak lenyap. Seakan enggan meninggalkan batang pohon yang dijadikan tempat tidurnya sepanjang malam, pemuda ini malah bergeser mencari tempat yang lebih teduh. Tapi baru saja dia duduk dicabang pohon yang lebih teduh, sayup-sayup terdengar suara orang bersenandung dan air kali yang berkeciprak.

Sang Maha Sakti tertegun.Lalu menatap ke arah jurusan Kali Dengkeng. Saat itu jarak antara kali dengan pohon tempat di mana dirinya beerada hanya sejauh sepuluh tombak, sehingga dari ketinggian pohon seharuaenya dia dapat melihat jelas siapa yang berada  di dalam kali itu. Setelah memperhatikan alur kali dari arah hulu hingga ke hilir dengan seksama Raja merasa heran sebab tidak melihat searang pun berada di dalam kali tersebut.

"Apa karena aku baru saja bangun tidur dan pandangan terhalang oleh belek di mata hingga tak dapat melihat orang yang berada di dalam kali" batin Raja.

Penasaran dia mengusap matanya tiga kali. Setelah mata diiusap, sekali lagi dia menatap ke arah Kali Dengkeng.

Astaga!

Mata sang pendekar membelalak lebar saat melihat di dalam alur kali yang sangat luas, sedikitnya ada lima orang gadis berkulit putih bagus berpinggul besar tengah berenang hilir mudik sambil bercengkerama .Melihat pemandangan indah dari gadis-gadis muda. Raja sempat tidak berkedip. Tapi selintas pikiran muncul dalam benaknya.

"Dari mana gadis-gadis muda itu datang? Di sekitar tempat ini tidak ada satu pun rumah penduduk. Kali Dengkeng dikellingi hutan rimba yang lebat. Apakah mereka manusia? Ataukah mereka adalah para bidadari yang baru turun dari Kayangan?" membatin Raja dalam hati.

Sambil terus memperhatikan mengawasi sang pendekar melanjutkan,

"Seandainya mereka bidadar kayangan. Apa di sana tidak ada air, sungai atau danau yang indah untuk membersihkan diri dan bersegar diri?"

Dengan wajah merah pemuda itu palingkan kepala menatap ke jurusan lain. Dalam diam dia berpikir.

Namu hati murid Ki Panaraan Jagad Biru Ini terusik saat menyadari suara gadis-gadis yang bersenandung dan bersenda gurau tadi mendadak lenyap.

Begitu juga suara kecipak air sungai tak terdengar lagi.

Penasaran pemuda ini kembali menatap kearah sungai tempat di mana gadis-gadis itu berada.

Tapi kejut di hati Sang Maha Sakti bukan alang kepalang ketika mendapati para gadis yang mandi di sungah itu ternyata telah raib.

Semua pemandangan indah yang dilihatnya benar-benar berubah. Raja tidak pernah tahu kemana perginya para gadis itu.

Yang pasti di dalam kali Dengkeng sebagai gantinya sang pendekar melihat lima ekor kawanan kerbau liar sedang berendam di sana.

"Aneh! Apakah ada yang salah dengan mataku?" Desisnya sambil mengusap kedua belah mata. "Hanya kerbau..."

Gumam pemuda itu lagi setelah matanya kembali diarahkan ke alur kali. Bingung dan penasaran dia memukul-mukul kepalanya sendiri.

"Mungkin bukan mataku yang salah. Bagaimana bila otakku yang sudah tidak lempang lagi. Apakah aku sudah gila?" Gumam Raja heran.

Setelah cukup lama memikirkan kejadian yang dianggapnya tidak masuk akal itu, Sang Maha Sakti Raja Gendeng tiba-tiba ingat dengan sang jiwa yang bersemayam dalam hulu pedang Gila.

Senjata sakti yang dulu semasa berada di atas istana pulau Es menjadi incaran banyak tokoh yang diantaranya adalah Maha Iblis Dari Timur.

(Untuk lebih jelas pembaca dapat mengikuti episode 'Misteri Pedang Gila)

Raja tiba-tiba menepuk rangka pedang di sebelah bawah yang bertengger menggelantung di punggungnya.

"Wahai... sahabatku.Jiwa yang bersemayam di hulu Pedang Gila. Apakah kau berada di tempat, apakah kau mendengarku?"

Kata Raja setengah bertanya. Sunyi.

Tak ada jawaban.

Kesal pemuda ini kembali menepuk rangka pedang dengan tepukan yang lebih keras. "Hoi jiwa yang berada di hulu pedang. Aku butuh teman bicara, ada sesuatu yang menjadi

ganjalan. Apa yang kau lakukan di dalam sana. Lekas bangun. Jawab pertanyaanku!" Plak!

Sebagai gantinya Raja merasakan ada tangan tidak terlihat menampar pipinya membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.

Pipi lalu diusap-usap, namun mulut  mendamprat.

"Hei..! Berani benar kau menamparku? Tidakkah kau tahu aku adalah seorang raja yang harus dihormati?"

Hardik sang pendekar, wajah unjukkkan rasa tidak suka mulut bersungut-sungut.

Tiba-tiba Raja mendengar suara mengiang di telinga kanan. Dan pemuda ini sadar suara mengiang itu datang dari Jiwa dalam hulu pedang.

"Saya tidak tuli, paduka Raja. Saya juga tidak sedang tidur. Sudah lama paduka tidak mengajak saya bicara atau berbincang-bincang membuat saya memilih untuk bersemedi"

"Oalah! Tak kusangka kiranya kau marah padaku. Ketahuilah bukannya aku tidak mau mengajakmu bercakap-cakap. Aku tidak sempat tak punya waktu karena urusanku banyak."

Kilah sang pendekar.

"Apakah urusan dan kesibukan paduka Raja termasuk memperhatikan, mengintip lima kerbau hutan yang sedang mandi?!"

Kata jiwa dalam pedang penuh sindiran. Diam-diam sang pendekar tercekat "Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya pemuda itu kaget. Tapi kemudian tak kuasa menahan tawa. Setelah ketawanya berhenti, lalu kembali menyambung ucapannya.

"Jiwa dalam pedang apa benar kau hanya melihat lima ekor kerbau liar. Kau tidak melihat sesuatu yang lain. Misalnya..."

Raja tidak menyelesaikan  ucapannya malah menggaruk  kepala.

"Adakah sesuatu yang membuat paduka Raja bingung? Tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya kita berdua. Paduka hendak berkata apa. Misalnya.. yang paduka maksudkan itu kelanjutannya apa?"

Wajah pemuda itu berubah merah. Sulit rasanya untuk berterus terang, Apalagi bicara tentang gadis-gadis yang dia ihat.

"Paduka terlihat ragu, ingin menyampaikan sesuatu namun malu. Apakah selain kerbau liar paduka hendak mengatakan bahwa ada lima bokong indah lainnya yang sempat paduka lihat?"

Tanya sang Jiwa.

Raja menjadi kaget .Tanpa sadar dia berseru.

"Bagaimana kau bisa tahu? Benar kau melihat lima anu yang lain?"

Tanyanya dengan wajah berseri

"Anu apa yang paduka maksudkan? Apakah anunya buaya? Wah kalau yang satu itu saya tidak melihatnya yang mulia, Saya memang melihat banyak buaya di bagian hilir. Sayang saya tidak berani memeriksanya."

"Jangan bicara ngaco. Sebelum melihat kerbau-kerbau itu. Terus terang aku melihat ada

gadis-gadis yang sedang mandi, berenang di kali itu sambil bersenda gurau. Gadis-gadis itu lenyap Lalu yang kulihat hanya ada lima kerbau."

"Mungkin gadis yang paduka lihat sedang kumpul kebo. Eeh... maksud saya mereka bisa berubah menjadi kerbau."

"Jiwa dalam pedang!"

Kata Raja dengan suara menggeram. "Saya yang mulia."

"Kuharap kau tidak bercanda. Aku bersungguh-sungguh. Aku memang melihat para gadis di kali itu. Menurutmu apakah pandangan mataku keliru atau otakku yang sudah tidak lempang lagi?"

"Saya rasa yang kedua yang betul, paduka." Sahut Jiwa disertai tawa mengekeh.

"Kamprett" geram Raja sambil katubkan mulut dan kepalkan kedua tinjunya. "Masih saja kau bergurau denganku?"

"Paduka. Maafkan saya. Jangan mengumbar amarah mengikuti kata hati. Orang yang sering marah cepat mati."

"Aku tidak peduli" Dengus Raja membuat Jiwa dalam pedang tak berani lagi bicara sembarangan

"Baiklah Jika paduka menghendaki saya bicara yang sebenarnya. Terus terang di luar kali Dengkeng memang tidak ada apa-apa.Tidak ada gadis mandi tidak pula ada kerbau. Semuanya biasa biasa saja."

"Hah."

Raja terperangah.

Namun dia segera menoleh, menatap ke arah kali di mana kerbau liar mendekam di sana.

Mata sang pendekar mendelik ketika melihat kali itu, tepat seperti dikatakan jiwa Pedang memang tidak terlihat binatang apapun,

"Bagaimana mungkin?"

"Ada yang tak beres. Ada sesuatu hadir di tempat ini, namun paduka Raja tidak menyadarinya."bisik sang Jiwa.

Terbelalak dengan tatapan tidak percaya tanpa sadar sang pendekar berpaling menatap ke arah hulu pedang.

"Sungguhkah bicaramu itu? Memangnya siapa yang hadir di tempat ini?" Tanya Raja tak mengerti.

"Saya dapat merasakan seseorang yang tak dapat saya katakan apakah itu mahluk ataukah manusia berkepandaian tinggi yang telah mengirimkan sesuatu yang membuat paduka menjadi bingung."

"Siapa pun dia memangnya apa yang telah dikirimkannya kepadaku?"

"Astaga! Harusnya paduka tidak menyebut kata-kata seperti itu. Lihatlah mer ©ka ada dan muncul di mana-mana?!"

Seru sang Jiwa gugup. "Apa maksudmu heh?"

Seru pemuda tak mengerti. "Lihatlah di sekeliling kita!" Ucap jiwa dalam pedang.

Terdorong oleh rasa ingin tahu dan curiga, secepat diberi tahu secepat itu pula pendekar Sang Maha Sakti pallingkan kepala menatap keadaan di sekelilingnya.

Ketika mata menatap memperhatikan, kejut di hati sang pendekar bukan kepalang. Dia melihat puluhan mahluk aneh serba putih tembus pandang sebagaimana yang dikatakan sang jiwa muncul di seluruh penjuru.

Semua mahluk itu tanpa suara, melayang sedemikian rupa tanpa menyentuh tanah bergerak melangkah mendatangi Raja.

"Mahluk-mahluk itu siapakah mereka? Dari mana mereka datang?" Tanya si  pemuda dengan mata  jelalatan memperhatikan

"Mereka tidak datang dari mana-mana. Mereka ada di sekitar kawasan kali Dengkeng ini, paduka. Lihatlah ke sudut sebelah kiri tak jauh dari pohon rengas itu!"

Sahut sang Jiwa.

Tanpa membuang waktu Raja menatap ke arah yang dimaksudkan. Dia melihat ada kabut pekat di bawah pohon rengas.

Kabut itu ditiup oleh pusaran angin.

Setelah sempat berputar-putar, kabut membagi diri menjadi beberapa bagian. Selanjutnya bagian-bagian kabut yang terpecah itu membentuk satu sosok mewujud menjadi manusia tembus pandang.

Seolah tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Raja mengusap mata sambil gelengkan kepala

"Tidak mungkin! Apa yang kulihat ini kurasa hanya tipuan mata, semuanya ini hanya sihir, tenung yang dilancarkan oleh seseorang."

Sentak sang pendekar. Takjub ada heran pun ada. "Tepat."

Kembali terdengar suara ngiang jawaban sang Jiwa.

"Mahluk-mahluk yang datang, muncul di tempat ini berasal dari mantra-mantra Ilmu hitam yang dilancarkan seseorang."

"Siapapun yang mengirimkannya dia adalah orang yang memiliki ilmu serta sihir yang sangat kuat."

"Ini dapat dilihat betapa sempurnanya mahluk yang berasal dari kabut itu, Lihatlah baik-baik kesempurnaan ciptaan mantra itu.Ada mata, ada kepala, hidung, tangan, tubuh kaki dan yang lainnya."

"Walaupun sebagian anggota tubuh itu terbalik" Sindir Raja disertai senyum mencibir.

"Benar. Terbalik sebagian namun yang lainnya cukup bagus." Sahut Jiwa membenarkan.

"Apakah mereka ini hidup?"

Tanya Raja sementara pandangannya terus tertuju kepada mahluk-mahluk yang mendekat ke

¡rahnya. "Ya."

"Aku tidak percaya ada seseorang selain pemilik langit bumi yang dapat menghidupkan kabut." Tukas Raja.

"Yang paduka Raja lihat hanya sebuah tiruan. Mereka ada karena kekuatan., Tanpa mantra, yang namanya kabut selamanya tetap kabut." Terang sang Jiwa

"Apakah mereka punya nama?" Tanya pemuda itu lagi.

"Ya. Mahluk yang dibangkitkan dari kabut oleh kekuatan mantra hitam sesat. Orang-orang dahulu sering memberinya nama Mahluk Alam Kabut..." jelas jiwa dalam pedang.

"Apa? Mahluk Kalang Kabut?! Aneh sekali namanya?" kata Raja dengan lagak selayaknya orang

tuli.

"Paduka. Harap jangan bertingkah seperti orang tuli. Paduka tidak budek, suara saya cukup Jelas,"

Ucap sang Jiwa kesal.

Kemudian tiba-tiba saja pemuda itu merasakan ada mulut yang tidak terlihat meniup liang telinganya kiri kanan membuat sang pendekar berjingkrak karena tiupan itu membuat telinganya seperti digelontor air es.

Ulah Sang Jiwa membuat Raja berteriak tidak karuan. "Hei, apa yang kau lakukan?"

"Ha ha ha. Saya hanya ingin memastikan telinga paduka memang tidak tuli."

"Baiklah. Sekarang aku tidak mau bergurau lagi. Apa yang kau katakan aku mendengarnya dengan jelas. Tadi kau mengatakan mereka adalah mahluk Alam Kabut,"

Dengus pemuda itu sambil mengusapi kedua telinganya yang dingin seakan beku. "Ya. Saya memang berkata begitu"

"Tapi kau lihat sendiri aku tidak punya waktu denganmu lebih lama. Lihatlah, mereka sudah semakin mendekat. Aku harus...!"

Sang pendekar tidak sempat menyelesaikan ucapannya, karena pada waktu yang bersamaan puluhan mahluk serba putih tembus pandang telah menyerang sang pendekar dari segala penjuru. Melihat puluhan mahluk putih menyerang dari atas, bawah, samping kanan-kiri dan belakang.

Pemuda ini tidak mau mengambil resiko.

Ketika mahluk-mahluk itu menghujaninya dengan pukulan dan tendangan.

Dia yang tadinya duduk sambil uncang-uncang kaki segera melompat bangkit. Secepat tubuhnya melambung ke udara Raja menghantam dua mahluk yang menyerang bagian kepala. Angin dingin menderu.

Pukulannya melabrak tubuh mahluk itu. Tapi walau sudah menduga tak urung Sang Maha Sakti Raja Gendeng dibuat terperangah karena serangannya seperti menghantam angin.

Tanpa berpikir lama, pemuda itu segera memutar tubuh. Dua tangan kembali dikibaskan dengan gerakan menghalau.

Sedangkan kaki yang bebas bergerak ikut pula menghantam .Cahaya merah berkiblat dari tangan Raja, sedangkan dari bagian kaki memancar Cahaya biru benderang.

Hawa dingin dan hawa panas menderu menghantam ke segenap penjuru.

Puluhan mahluk penyerang tidak tinggal diam. Dengan kecepatan luar biasa mereka pun menghantam, menangkis sekaligus melakukan serangan balasan ke arah Raja.

Cahaya putih menyilaukan mata bertebaran di udara, menggempur ke arah Sang Maha Sakti disertai tebaran hawa dingin luar biasa.

Tak dapat dihindari lagi beradunya tenaga dalam pun terjadi.

Tidak ada ledakan maupun letupan yang terdengar. Raja tersentak ketika merasakan tubuhnya dari atas hingga ke bawah seperti digencet balok es dari delapan arah sekaligus.

Pemuda ini megap megap. Sekujur tubuhnya seakan remuk.

Wajah pucat dan kucurkan keringat dingin. Greek!

Greek!

Terdengar suara sendi-sendi tulangnya berkeretekkan. Rasa sakit pada setiap persendiannya sungguh luar biasa. Sambil menggeram pemuda itu menahan nafas.

Sementara melihat majikannya mengalami kesulitan. Sang Jiwa tiba tiba berbisik.

"Paduka. Biarkan saya membantu paduka!"

"Kau diam saja di situ. Aku masih bisa mengatasinya sendiri." Sahut Raja.

Ucapan pemuda itu memang tidak berlebihan, Saat itu juga dia alirkan tenaga dalam sekaligus tenaga sakti kesekujur tubuhnya.

Dua tangan yang mendekap di bagian dada perlahan direntang. Kemudian dengan menggunakan jurus Tangan Dewa Menggusur Gunung diapun menghantam puluhan mahluk putih dan tangan lainnya menggunakan pukulan Kepakan Sayap Rajawali.

Seet! Wuss! Byar!

Satu gelombang angin luar biasa ganas menderu ke segala penjuru arah, lalu menghantam mahluk-mahluk yang mengerubutinya.

Walau puluhan mahluk berusaha menangkis dengan mendorong tangan masing-masing lebih keras lagi.

Tapi puluhan tubuh yang mengapung diketinggian pohon itu ternyata tak mampu bertahan. Tak ayal.

Seperti helai bulu burung yang disapu angin.

Puluhan mahluk berpelantingan disertai suara jerit dan desis aneh.

Sebagian diantaranya hancur menjadi kepingan kabut. Sedangkan yang lainnya jatuh dibawah pohon.

Serangan yang dilakukan Raja ternyata tidak hanya membuat puluhan mahluk putih penyerang rontok.

Lebih dari itu daun pohon yang rimbun hancur menjadi kepingan dan bertebaran.

Ranting dan cabang pohon tercerai berai, berjatuhan ke tanah dalam berbentuk serpihan. Raja mendengus.

Dengan gerakan seringan kapas dia melesat kebawah.

Namun baru saja kakinya menjejak tanah, beberapa lawan yang selamat dari serangan kembali merangsak, menggempur pemuda itu dengan kekuatan penuh. Walau Raja bergerak lincah,

melluk-liukkan tubuh sambil melompat kesana kemari.

Tak urung salah satu pukulan lawan masih menyambar punggung dan bahunya.

Raja merasakan seperti dihantam benda lunak dan empuk. Namun hantaman itu menimbulkan rasa sakit yang sangat luar biasa, membuat sang pendekar terhuyung namun masih sanggup kibaskan tangan sambil berputar.

Wuus!

Satu gelombang angin menderu secara susul menyusul disertai tebaran uap putih seperti bunga

es.

Semua mahluk penyerang menggerung sambil berusaha menahan pukulan Badai Es yang di

lancarkan oleh Raja.

Sia-sia saja mereka bertahan.

Ketika pukulan sakti yang dilakukan Raja menyapu tubuh mereka.

Seketika itu juga sosok yang berasal dari kabut tak kuasa lagi menggerakkan sekujur tubuhnya. Terdengar suara jerit melolong di sana-sini.

Satu demi satu mereka jatuh bertumbangan. Begitu tubuh mereka menyentuh tanah.

Sosoknya pun lenyap mengepul menjadi uap.

Sang Maha Sakti dari Istana Pulau Es itu menghela nafas disertai gelengan kepala. Sekejab dia layangkan pandang memperhatikan keadaan disekelilingnya.

Kini tidak terlihat lagi satu pun mahluk dari Alam Kabut itu.

Lalu tanpa menoleh ke belakang dia berseru ditujukan pada jiwa pedang.

"Sihir seharusnya kulawan dengan sihir juga. Apa pendapatmu tentang semua yang baru saja terjadi?"  

Sunyi sekejab, namun Raja kemudian mendengar suara ngiang ditelinganya.

"Pertama tama saya mengucapkan selamat karena paduka tidak kekurangan sesuatu apa. Yang kedua menurut saya sihir memang harus dilawan dengan sihir juga. Paduka punya ilmunya dan kemampuan untuk melakukannya."

"Aku tahu, Tapi siapa yang mengirimkan mantra sihir itu padaku?" Tanya Raja bingung.

"Mengenai siapa yang telah melakukan perbuatan keji pada paduka. Saya yakin orangnya adalah penghuni Perahu Setan."

"Perahu Setan? Siapa penghuni Perahu Setan? Apakah dia manusia sepertiku ataukah dedemit gentayangan?"

Kata Raja setengah bertanya.

"Saya tidak bisa menjawab paduka.Keberadaan Perahu Setan dan penghuninya telah diketahui kalangan tokoh dunia persilatan sejak dulu. Namun siapa pemilik sekaligus orang yang berdiam dalam perahu itu tidak ada yang tahu.Paduka, saya yakin penghuni Perahu Setan ingin menghabisi sekaligus membunuh paduka."

"Aku sudah tahu, Jubah Sakti dan Jubah Api telah mengatakannya padaku." "Mengapa?"

"Jangan berlagak tolol, Jiwa. Kau melihat sendiri ketika berada di Tretes aku telah membunuh dua saudara kembar bernama Ayudra Bayu dan Ayudra Tirta kaki tangan Gagak Anabrang .Terbunuhnya mereka ditanganku rupanya menimbulkan rasa tidak senang di hati gurunya."

"Dua kembaran itu? Bukankah mereka manusia sesat. Mengapa guru mereka mempersoalkan kematian mereka?"

Tanya sang Jiwa heran.

"Jawabannya cukup mudah. Jika seorang guru membiarkan kelakuan bejat muridnya lalu membela kematian sang murid, maka perbuatan gurunya juga tidak kalah bejat dengan kelakuan muridnya."

"Hm, ternyata otak paduka Raja cukup encer." Memuji sang Jiwa.

"Kau tidak usah berlebihan. Kalau otakku encer munglin isinya sudah meluber keluar melalui lubang telingaku, Dan kemana-mana telinga ini pasti menebar bau tidak sedap."

"Paduka jorok sekali, Ucapan paduka membuat saya mau muntah." Kata jiwa yang disambut dengan gelak tawa sang pendekar.

Kemudian sambil tertawa-tawa dia tinggalkan tempat itu.

***** Tubuh pendek kerdil berpakaian hijau berpenampilan selayaknya seorang raja itu duduk dengan menenggelamkan diri di atas kursi kebesaran empuk yang seluruh rangkanya terbuat dari emas murmi.

Tak jauh di belakangnya seorang gadis ayu berpenampilan seronok berpakaian kuning tipis yang hanya menutupi bagian aurat sebelah atas dan bawah terus menerus menggerakkan kipasnya.

Sementara delapan perempuan lain berusia dibawah dua puluh lima tahun berpakaian serba hijau yang tak lain adalah Gagak Anabrang adanya tersenyum saat salah satu istrinya mengusap dan membelai dadanya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat.

"Tidak sekarang istriku. Akan ada malam istimewa untuk membahagiakan kalian semua!" Kata Gagak Anabrang dengan suara parau seperti tercekik.

Lalu dia menjauhkan jemari tangan yang lembut itu.

Sang istri wanita berkulit kuning langsat berwajah cantik walau kecewa namun tidak berani membantah

"Sudah lama kita tidak bersenang-senang suamiku. Kami semua siap melayanimu!" Berkata perempuan muda sekaligus istri kedua Gagak Anabrang mengingatkan.

Diingatkan begitu rupa Gagak Anabrang merasa tersinggung.

Dia yang semula menyandarkan punggungnya  pada sandaran  kursi segera  bangkit .Begitu bediri tegak dia membuka mulut,

"Banyak urusan rumit yang menghadangku akhir:akhir ini. Sebagai suami aku tidak pernah membuat kalian kecewa bukan?" kata Gagak Anabrang sambil layangkan pandang menatap ke arah istri-istrinya satu demi satu.

Delapan istri yang duduk mengelilingnya tundukkan kepala tapi manggut-manggut tanda membenarkan ucapan Gagak Anabrang. Kemudian salah seorang diantaranya membuka mulut memberi jawaban.

"Maafkan kami semua kakang. Kami sadar kakang tidak pernah mengecewakan kami semua. Dan kami ikut merasa prihatin atas diri dan keselamatan istri utama kakang yang hingga saat ini belum juga kembali"

"Bagus. Ternyata kalian masih peduli atas keselamatan istri tuaku. Dan kalian cukup mengerti jika bukan Rai Nini dan segala bantuan yang telah diberikannya, kalian tidak mungkin menjadi istriku" kata Gagak Anabrang disertai senyum sinis.

Sekali lagi perempuan-perempuan belia yang bersimpuh dibawah kaki kursi sama anggukkan kepala. Tapi kini tidak seorangpun diantara mereka yang berani bicara. Suasana hening menyelimut. Hanya suara desir angin yang berasai dari kipas besar yang digerakkan gadis berpakaian kuning yang terdengar.

Sampai kemudian terdengar suara langkah langkah berat mendekati pintu utama. Suara langkah terhenti di balik pintu. Gagak Anabrang menatap tajam ke arah pintu. Setelah itu dia berkata. "Lor Gading Renggana. Kaukah yang berdiri di balik pintu itu?"

Sebagai jawaban terdengar suara raungan menggeledek.

Gagak Anabrang terkejut namun segera maklum orang yang datang bukanlah Lor Gading Renggana, orang besar berkepala kecil berselubung kain hitam yang selama ini selalu mengantar dirinya berpergian kemana-mana.

"Patijara... ternyata kau yang muncul."

Seru Gagak Anabrang dengan mata berbinar wajah berseri.

"Aku telah menganggapmu lebih dari sahabat. Karena itu jangan bersikap sungkan. Masuklah rumahku ini tidak terkunci!"

Baru saja Gagak Anabrang selesai berucap. Terdengar suara deru menerpa pintu. Pintu terbuka lebar. Di depan pintu berdiri tegak satu sosok aneh berupa seekor burung hitam besar setinggi pinggul orang dewasa. Gagak Anabrang menatap mahluk di depan pintu beberapa jenak lamanya. Dia melihat burung hitam memperhatikan istri-istrinya sekilas. Melihat tatap aneh dari sepasang mata sang mahluk yang kemerahan tanpa ada warna hitam atau coklat dibagian tengahnya itu, Gagak Anabrang tersenyum.

"Kau tidak sedang menginginkan wanita bukan? Atau kau merasa tertarik pada salah seorang istriku."

Sindir Gagak Anabrang disertai senyum sekaligus julurkan lidah hitamnya yang panjang bercabang.

"Kreak!"

Burung hitam bermata merah keluarkan suara pekikan keras sekaligus gelengkan kepala.

Melihat burung menggeleng-geleng. Gagak Anabrang segera memberi isyarat pada delapan stri sekaligus gadis pengasuhnya untuk meninggalkan ruangan itu.

Wes!

Tiga kali burung berbulu hitam pekat itu menggerakkan tubuhnya.

Seketika itu pula sOsoknya lenyap menjelma berubah menjad seorang laki-laki muda berusia sekitar tiga puluh tahun, berkulit bersih berpakaian serba hitam

"Kuucapkan selamat datang padamu sahabatku.Mendekatiah kemari, kau boleh duduk dimanapun yang kau sukai!"

Patijara tersenyum dingin.

Lalu tanpa bicara dia melangkah lebar, menghampiri sebuah kursi dan duduk di depan Gagak Anabrang.

"Bagaimana hasil penyelidikanmu, Patijara?" bertanya Gagak Anabrang tidak sabar lagi. Orang yang ditanya bersikap acuh, membuat Gagak Anabrang merasa tidak senang. Namun mengingat Patijara sangat dibutuhkannya saat ini. Gagak Anabrang hanya bisa memendam segala kemarahan dihati dengan tersenyum.

"Jelaskan apa saja yang kau temui dalam perjalananmu.Aku telah siap mendengarkan segala kemungkinan hingga kabar terburuk sekalipun."

Tanya Gagak Anabrang.

Patijara menghela nafas panjang.

Sambil sandarkan punggungnya pada sandaran kursi dia menatap Gagak Anabrang.

Seumur hidup bersahabat dengan Patijara. Gagak Anabrang baru kali ini ditatap dengan sorot mata aneh seperti itu membuat perasaannya jadi tidak karuan.

"Jangan-jangan... istriku itu.."

Batin Gagak Anabrang. Namun dia memilih untuk tidak berpikir terlalu jauh lebih dahulu. "Sebenarnya paman sudah mengetahui apa yang hendak aku sampaikan!"

Ujar pemuda yang dapat merubah diri menjadi beberapa mahluk lain itu

"Apa maksudmu? Kau belum bicara apa-apa bagaimana aku bisa tahu apa yang hendak kau sampaikan Patijara? Bagaimana dengan istriku Rai Nini.Apakah kau berhasil menemukan jejaknya di Kaliwungu?"

"Saya tidak menemukan istri paman di Kaliwungu. Namun saya menemukan tempat tinggal Raden Pengging Ambengan yang hancur luluh lantak. Di tempat itu agaknya telah terjadi perkelahian hebat malam tadi"

"Kau tidak menemukan mayat tua bangka Pengging Ambengan?" Tanya Gagak Anabrang tidak sabar.

"Tidak. Tua bangka yang paman maksudkan menurut saya tidak tewas.Dia pergi ke suatu tempat menjemput perawan Siluman yang paman Inginkan."

Jawab Patijara, Sepasang mata laki-laki itu mendelik besar.

Wajah diselimuti perasaan sedangkan hati menjadi galau

"ucapanmu itu berarti Raden Pengging Ambengan tidak mau memenuhi permintaanku. Istriku gagal melakukan tugas, tapi kemana dia perg bersama mahluk-mahluk pengawalnya?."

Dengan wajah tertunduk, Patijara menjawab

"Saya tidak suka menyampaikan kabar ini. Namun jika tidak saya jelaskan, saya khawatir paman menduga yang bukan-bukan atas diri saya. Terus terang bibi Rai Nini dan belasan monyet yang menjadi pengawainya tewas di tempat itu.Saya memang tidak melihat tewasnya mereka. Namun dari tanda-tanda serta aroma kematian yang ditinggalkan, saya berani bersumpah bibi Rai Nini memang telah menemui ajal."

Mendengar petir menggelegar di telinganya Gagak Anabrang tidak akan sekaget itu. Orang tua kerdil ini berjingkrak, mulut ternganga mata mendelik seolah hendak melompat dari rongganya. "Keparat jahanam! Tua bangka itu telah menghabisi isteriku!" geram Gagak Anabrang sambi menepuk keningnya.

"Andai aku tidak membiarkan istriku pergi menemui dan bermaksud membujuk Raden Pengging, dia pasti masih hidup sampai sekarang."

Sesalnya

"Paman. Bibi Rai Nini pergi menemui orang tua sakti itu dengan maksud dan tujuan yang baik.Dia tak ingin ada pertumpahan darah.Dia ingin agar Raden Pengging menyerahkan gadis persembahan lewat jalan damai bukan dengan cara kekerasan."

Timpal Patijara .Mendengar ucapan itu Gagak Anabrang justru menyeringai. Seolah ditujukan pada dirinya sendiri dia berkata.

"Tujuan baik belum tentu didasari hati yang tulus. Aku menaruh curiga kepergian istriku ke Kaliwungu juga menyimpan maksud tujuan tertentu."

"Kalau pun benar. Semua itu sudah tidak penting lagi untuk dibicarakan. Paman harus menangkap, meringkus dan menculik gadis yang bernama Dadu Sirah Ayu itu dengan cara apapun. Kalau tidak paman harus mengorbankan Arum Dalu putri paman satu-satunya sesuai janji paman dengan yang Terlaknat Dari Alam Baka."

"Aku tidak akan pernah mengorbankan apalagi mempersembahkan Arum Dalu pada yang Tertaknat Dari Alam Baka!"

Sentak Gagak Anabrang

"Putriku itu selama ini sudah hidup menderita. Kelainan dan penyakit yang dialaminya sudah membuatnya hidup sengsara seumur-umur."

"Walaupun paman sendiri yang mengucapkan janji mengikat hubungan dengan Yang Terlaknat Dari Alam Baka?"

Kata Patijara seakan mengingatkan. Gagak Anabrang terdiam. "Aku telah melakukan dan mengambil jalan hidup yang salah." Ujarnya kemudian.

"Aku tahu yang terkutuk dari gelapan itu telah memenuhi janjinya. Dia telah membantu aku, hingga menjadikan aku kaya raya. Tapi kau sendiri tahu. Aku sangat menyayangi sekaligus mencintai putriku satu-satunya. Aku tidak mungkin mengorbankannya. Aku tebih memilih Dadu Sirah Ayu, gadis yang menjadi incaran setiap siluman untuk menjadi pengganti anakku."

"Apapun yang paman hendak lakukan saya selalu mendukung. Tapi perlu kiranya paman ketahui untuk menangkap gadis itu bukan perkara mudah."

"Apakah karena gadis itu ada banyak orang yang melindungi?"

Tanya laki-laki itu dengan seringai bermain dimulut

"Bukan soal perlindungan. Semua ini menyangkut banyaknya orang yang menginginkan gadis yang terlahir pada malam sabtu kliwon bulan sabit ke tujuh itu. Bukan hanya siluman yang tahu bahwa darah Dadu Sirah Ayu mempunyai manfaat. Bukan cuma siluman saja yang tahu kesucian gadis itu bisa membuat seseorang jadi awet muda dan hidup abadi. Beberapa tokoh rimba persilatan pun banyak yang mengetahuinya."

Terang Patijara.

"Aku tidak perduli.Gadis itu harus kudapatkan secepatnya. Malam bulan sabit ketujuh hanya tinggal dua hari lagi dari sekarang. Rasanya aku tidak mungkin berpangku tangan."

"Jadi paman hendak berbuat apa?"

Tanya Patijara sambil menatap dalam-dalam laki-laki di depannya. Tanpa berpikir lama Gagak Anabrang membuka mulut memberi jawaban.

"Aku akan menangani semua ini. Aku tidak ingin dibuat kecewa oleh kaki tanganku." "Saya menganggap keputusan paman adalah keputusan tepat. Tapi paman juga tidak boleh

melupakan pengorbanan Ayudra Bayu dan Ayudra Tirta."

Diingatkan seperti itu membuat Gagak Anabrang delikkan matanya.

"Apa kau bilang? Aku harus mengingat kedua kembaran yang tidak berguna itu? Aku telah memberikan apa saja yang mereka minta. Jika mereka tewas saat menjalankan tugas itu adalah pengorbanan yang setimpal, sesuai dengan imbalan yang mereka dapatkan"

"Dan paman tidak pernah berplkir mengapa orang-orang dengan kepandaian hebat seperti mereka dapat terbunuh. Paman tidak ingin mencar tahu siapa yang membunuhnya?"

"Aku telah telah mengetahui siapa pembunuh dua saudara kembaran itu. Menurut mata-mataku, pembunuh saudara kembaran itu adalah seorang pemuda aneh tidak dikenal. Tapi jelas dia bukanlah si keparat Raja Pedang, manusia busuk yang seharusnya sudah kuhabisi sejak dulu."

Ujar Gagak Anabrang berapi-api

"Paman. Menurut pendapat saya pemuda gondrong yang telah membunuh Ayudra Bayu dan adiknya itu bukan manusia biasa. Dia sama berbahayanya dengan Raja Pedang.Dia seorang pendekar, berasal dari pulau terpencil bernama pulau Es."

"Pendekar dari pulau Es?"

Desis Gagak Anabrang. Kening laki-laki tua itu berkerut dalam. Dia berusaha mengingat-ingat. "Apakah mungkin dia adalah seorang yang selama ini disebut-sebut sebagai Sang Maha Sakti

Raja Gendeng yang kabarnya telah membuat kegegeran di rimba persilatan?"

"Tepat. Si gondrong aneh yang bertingkah laku seperti orang yang kurang waras itu sebenarnya sangat berbahaya."

"Hmm,"

Gumam Gagak Anabrang. Dengan mata menerawang dia berujar.

"Andai saja dia dapat dibujuk dan mau bergabung dengan kita, aku bisa menghadapkannya dengan Raja Pedang."  

"Orang gila seperti pendekar itu mana bisa diatur, paman. Menurut saya sebagaimana halnya raja Pedang yang harus dibinasakan, sang Maha Sakti Raja Gendeng juga perlu kiranya dilenyapkan dari rimba persilatan sesegera mungkin."

Usul Patijara

"Usul yang bagus.Tapi kau sendirilah yang harus harus membantuku melenyapkan pendekar itu. Tentu bakal banyak hadiah yang bisa kau dapatkan dariku.Lebih dari itu sebagaimana janjiku dulu. Seandainya kau terus menerus bersikap setia maka aku akan menjodohkan dirimu dengan putriku Arum Dalu."

"Bukannya saya menolak tawaran yang terakhir. Tapi mengingat Arum Dalu demikian berarti dalam kehidupan paman. Tentu saja saya tidak berani menerima keputusan paman menjodohkan saya dengan Arum Dalu."

Jawab Patijara. Mulut berkata begitu, namun di dalam hati dia membatin.

"Hanya manusia tolol buta yang mau menjadi suami gadis berpenyakit, Walau aku tahu orang tuanya kaya raya.Tapi siapa yang tahan berdekatan dengan gadis budukan yang siang hari tubuhnya menebar bau busuk bangkai!"

Sementara melihat Patijara menolak usulnya secara halus. Dalam hati Gagak Anabrang berkata,

"Aku tahu sebab penolakanmu itu Patijara. Anakku memang bernasib malang. Andai dia cantik dan tubuhnya menebar bau harum sepanjang siang dan malam tentu semua laki-laki bakal

tergila-gila padanya. Arum Dalu... sayang kecantikan wajah dan keharuman tubuhmu hanya terjadi di malam hari saja. Tapi tidak mengapa. Aku tidak perlu menunjukkan kemarahanku atas penolakan Patijara. Aku masih membutuhkan bangsat satu ini."

Pikir Gagak Anabrang. Setelah berkata begitu kini dia menatap ke arah pemuda di depannya.

Setelah menghela nafas pendek dia berkata.

"Patijara! Lupakan tentang Arum Dalu. Sekarang aku ingin bertanya padamu apakah kau mau melakukan beberapa tugas lagi?"

"Apapun tugas yang paman berikan, asalkan aku sanggup melakukannya Saya pasti akan memenuhinya."

"Hmm, bagus. Ternyata kau memang bisa kuandalkan. Begini.. aku ingin kau mencari pemuda yang disebut Sang Maha Sakti itu. Aku ingin kau menghabisinya."

"Saya mengerti. Tapi menurut saya dia tidak punya silang sengketa secara langsung dengan paman."

Ucap Patijara.

"Tidak punya silang sengketa denganku? Apakah membunuh dan menghabisi beberapa pengikut serta kaki tanganku bukan suatu kesalahan? Dia telah mencampuri urusanku. Dan yang menjadi tugasmu adalah menyingkirkannya."

"Membunuh dan menghabisi pemuda berilmu tinggi seperti Raja Gendeng bukanlah perkara mudah"

"Aku tahu. Tapi kau sebagai manusia yang dikenal cerdik dan banyak akal pasti bisa menemukan cara yang tepat. Aku sendiri akan mencari Raden Pengging Ambengan. Tua bangka itu layak mampus di tanganku. Dan selain tua bangka yang satu itu aku juga merasa harus menemukan Dadu Sirah Ayu secepatnya. Sebelum malam perjanjian tiba aku sudah harus membawa gadis itu ke bukit Batu Segala Puji Segala Serapah."

"Paman. Walau saya ragu semua yang paman rencanakan dapat berjalan dengan lancar. Namun mengingat banyaknya rintangan yang bermunculan akhir-akhir ini ,saya harap paman dapat berlaku waspada."

"Ha ha ha! Terima kasih atas nasehatmu. Namun kau sendiri tahu selama hidup tidak ada apapun yang kutakutkan."

Dengus Gagak Anabrang. Setelah terdiam sejenak sambil menghela naas pendek, dia melanjutkan.

"Patijara. Mengingat waktu yang semakin mendesak, Dan bukan pula aku berniat mengusirmu.

Sekarang ini ada baiknya  kau lakukanlah tugasmu"

Patijara tersenyum

"Saya merasa sudah waktunya untuk memulai sebuah pesta. Saya akan cari pemuda itu.Sekarang ijinkan saya pergi!"

Setelah bungkukkan badan tanda penghormatan Patijara segera balikan badan dan tinggalkan ruangan itu.

Gagak Anabrang mengiringi kepergian Patijara dengan tatapan tajam penuh rencana. Sementara itu ketika langkah Patijara sampai di depan pintu.

Sosoknya mendadak berubah menjelma menjadi burung hitam besar. Sang burung keluarkan suara pekikkan tiga kali berturut-turut.

Setelah itu tanpa menoleh lagi dia melesat tinggalkan Gagak Anabrang.

Orang yang ditinggalkan menyeringai

"Aku harus segera memberi tahu Empu Saladipa. Dia juga harus kuberi tugas.Aku tidak mau memelihara keledai tua yang hanya bisa menggerogoti harta bendaku."

Geram Gagak Anabrang dengan suara mendengus. Tidak berselang lama laki-laki ini keluarkan suitan panjang.

Begitu suitan lenyap terdengar suara langkah kaki berat berlari mendatangi. Gagak Anabrang menunggu. Hanya dalam waktu sekejaban mata di depan pintu muncul sosok seorang laki-laki bertubuh gemuk besar luar biasa berkepala kecil diselubungi kain hitam.

Laki-laki itu bukan hanya kulitnya saja yang hitam. Namun dia juga memakai pakaian hitam. "Junjungan memanggil saya?"

Tanya si gemuk besar yang bukan lain adalah Lor Gading Renggana. "Aku ingin kau membawaku ke suatu tempat secepatnya."

Kata Gagak Anabrang. Laki-laki itu melompat dari atas kursi lalu berjalan bergegas menghampiri Lor Gading Renggana yang selama ini telah dianggapnya sebagai kuda yang mengantarkannya berpergian ke mana-mana.

"Balk junjungan! Saya akan membawa Junjungan berlari secepat mata mengedip." Sahut laki-laki besar berkepala kecil itu.

Kemudian tanpa menunggu.  Lor Gading  bungkukkan tubuh  dan berjongkok serendah  mungkin. Seperti biasanya melihat Lor Gading bersiap menerimanya.

Gagak Anabrang segera melompat ke atas bahu laki-laki besar itu. Sebelah duduk bertengger di atas bahu.

Lor Gading Renggana bangkit.

Setelah tegak berdiri dia memutar tubuh Lalu Wuust!

Hanya sekedipan mata sosok Lor Gading Renggana dan orang yang berada di atas panggulan lenyap dari pandangan mata .

*****

Malam hari kawasan hutan jati di sebelah utara Purworejo diguyur hujan gerimis. Angin berhembus.

Di kejauhan sesekali terdengar suara lolong anjing. Di tengah suasana tidak bersahabat dalam kepekatan malam.

Tiba-tiba satu bayangan panjang melayang laksana terbang di atas pucuk pepohonan.

Sosok bayangan berwarna merah ternyata adalah sebuah perahu itu terus melayang membelah ketinggian udara menuju ke sebuah padang rumput tak seberapa luas yang terdapat di tengah hutan jati tersebut.

Andai ada yang melihat melayangnya perahu merah diketinggian udara tentu mengejutkan karena lazimnya perahu bergerak melaju di air.

Namun perahu satu ini justru mengapung di ketinggian. Tidak berselang lama setelah sampai di pinggir lapangan berumput basah, perahu itu berputar diketinggian sebanyak tiga kali.

Lalu perlahan namun pasti sang perahu melesat ke bawah dan baru berhenti bergerak setelah bagian perut perahu menjejak di tanah.

Sunyi mencekam.

Namun perahu dengan beberapa layar lebar membentang itu kemudian bergoyang.

Begitu seluruh badan perahu bergoyang, maka dua layar merah yang berkembang menguncup.

Selanjutnya ada cahaya merah menyala dari bagian lambung perahu berbentuk saung dan berfungsi sebagai tempat tinggal.

"Kleker...!"

Dari balik rumah-rumahan di lambung perahu terdengar suara orang mengorok.

Kemudian ada satu benda melesat keluar, lalu terdengar suara benda berat jatuh bergedebukan.

Melesatnya benda pertama diikuti benda kedua. Sekali lagi terdengar suara bergedebukan yang disusul suara hela nafas berat tertahan.

"Orang mati bukannya tidak berguna. Orang mati bisa dijadikan pengobat hati. Menggantikan yang telah berpulang akibat perbuatan setan jalang. Mereka semua harus merasakan sekaligus menanggung akibatnya, Tiada sahabat dan tiada berguna pula teman saat ini. Tapi biarlah sementara kemarahan dan angkara murka mengendap mendekam lebih lama di lubuk hati. Sampai pada akhirnya segala ganjalan di hati dapat kubuat menjadi impas. Hutang nyawa dibayar nyawa. Hutang pati dibayar pati..." kata satu suara di dalam perahu.

Angin dingin sekali lagi berhembus. Rintik hujan kembali diwarnai gemuruh angin serta suara lolong menyayat. Dari dalam perahu yang dikenal dengan nama perahu Setan satu sosok bayangan serba merah berkelebat. Sambil memegang lentera merah ditangan kiri akhirnya sosok yang juga berpakaian serba merah itu jejakan kaki tak jauh dari dua benda yang bergeletakkan di samping perahu. Tanpa bicara lagi sosok yang wajahnya terlindung topeng tipis bergambar tengkorak itu melangkah cepat hampiri dua sosok yang baru dicampakkannya.

Setelah berjongkok sosok tinggi semampai berjubah menjela hingga ke tanah dekatkan lentera merah ke arah kedua sosok di depannya. Ketika cahaya temaram menerangi kedua sosok yang terbujur itu. Maka terlihatlah sebuah pemandangan yang cukup menyeramkan. Dua sosok kaku ternyata memang sudah tidak bernyawa. Satu diantaranya yang berpakaian hitam, berbibir, kaki, dan telinga mirip kuda tewas dengan tubuh melepuh seperti terbakar.

Sementara bagian bahu hingga ke dada terdapat luka menganga mengerikan seperti bekas tebasan, Sedangkan sosok yang satunya lagi tampaknya menemui ajal dengan luka tusuk diperut tembus hingga ke punggung.

"Orang-orang konyol bernasib malang. Raja Pedang jelas bukan lawanmu. Tapi dihadapanku dia bukan siapa-siapa."

Gumam orang berjubah bertopeng tengkorak.

Siapakah kedua mayat yang dibawa oleh manusia misterius penghuni perahu Setan ini? Mereka tidak lain adalah dua bersaudara yang dikenal dengan sebutan Arwah Kaki Kuda dan Singa Tetua.

Sebagaimana telah diceritakan dalam episode sebelumnya.

Kakak beradik penghuni Lembah Batu Gamping ini sengaja menghadang perjalanan Kelut Birawa dan Dadu Sirah Ayu yang sedang dalam perjalanan menuju Kaliwungu. Mereka berdua menginginkan Dadu Sirah Ayu yaitu gadis cantik yang berpikiran seperti bocah tujuh tahun itu untuk kepentingan mereka sendiri. Tetapi disaat Arwah Kaki Kuda yang mempunyai penampilan selayaknya kuda dan Singa tetua yang berwajah tampan namun bertubuh selayaknya singa terlibat perkelahian dengan Kelut Birawa dan gadis dalam lindungannya.

Tiba-tiba saja muncul penunggang kuda bertopeng yang bukan lain adalah Raja Pedang.

Kehadiran Raja Pedang inilah yang menyebabkan mereka bertempur sehingga kedua kakak beradik itu tewas.

Kelut Birawa pergi meneruskan perjalanan bersama Dadu Sirah Ayu.

Sementara seperginya Raja Pedang dari lembah muncul sebuah perahu merah yang mengapung melayang diketinggian.

Penghuni perahu lalu mengambil dua jenazah dan membawanya pergi. Kembali pada orang berjubah penghuni Perahu Setan.

Setelah memperhatikan kedua mayat di depannya.

Wajah di balik topeng menyeringai. Sambil berucap dari balik kantong merah yang tergantung di pinggang dia keluarkan jarum besar terbuat dari bambu sekaligus benang putih halus tergulung.

"Aku harus mengembalikan hidup mereka. Tapi yang berwajah kuda ini membutuhkan pertolongan paling pertama karena kulihat bahunya terbelah sampai ke dada."

Setelah berkata begitu.

Dia meletakkan lentera di atas batu.

Lalu dengan cekatan dia mulai menjahit luka menganga di bahu mayat Arwah Kak Kuda. Selesai dengan mayat pertama kini dia berpindah pada mayat Singa tetua.

Ketika penghuni Perahu Setan mulai menjahit luka menganga di bagian perut mayat Singa Tetua.

Dari mulut yang terlindung topeng tengkorak itu terdengar suara senandung pilu menghiba membuat bulu kuduk orang yang mendengarnya tegak berdiri .Kemudian setelah selesai menjahit.

Suara senandung yang terdengar lenyap.

Sebagai gantinya sosok berjubah itu keluarkan suara racauan panjang. Seiring dengan terdengarnya suara racauan itu.

Perlahan namun pasti tubuhnya yang terduduk dengan kedua kaki bersila lalu mengambang diketinggian sejarak tiga jengkal di atas tanah.

"Aku adalah majikan yang berkabung.Penguasa yang berpengaruh namun tanpa wilayah tanpa pengikut.:Segala kegelapan, langit bumi dan penjuru delapan mata angin menjadi tempat bernaung." Ucap penghuni perahu.

Mata yang ada di balik topeng terpentang tertuju lurus ke arah kedua mayat di depannya. Tidak lama setelah memperhatikan kedua mayat itu.

Dua telunjuknya dia julurkan ke depan menunjuk lurus-lurus ke arah mayat Arwah Kaki Kuda dan mayat Singa Tetua.

Perlahan-lahan dia salurkan tenaga dalam ke bagian kedua ujung jemarinya. Setelah dua telunjuk mengarah tepat dibagian kening.

Sekali lagi dia berucap.

"Segala yang gaib yang berlindung di balik alam kesesatan. Bangkitkan yang mati dari tidur panjangnya yang menyengsarakan. Hidupkan kedua anak manusia yang bernama Arwah Kaki Kuda dan saudara tuanya Singa Tetua. Aku membutuhkan mereka saat ini untuk kujadikan sebagai alat kepanjangan tanganku dalam melakukan sesuatu!"

Setelah kata selesai diucap.

Tubuh penghuni Perahu Setan tiba-tiba bergetar.

Bersamaan dengan itu dari masing-masing ujung jemari telunjuknya membersit satu cahaya berwarna merah hitam.

Setiap cahaya selanjutnya menderu ke arah sang mayat lalu menghunjam tepat dibagian kening mereka .Ketika cahaya mengenai tepat yang dituju dikejauhan di dalam kegelapan sana terdengar Suara raung lolong mengerikan.

Dua mayat yang tergeletak di atas tanah tergetar hebat.

Sementara sengatan cahaya merah yang menghantam kening masing-masing mayat lenyap.

Penghuni perahu setan menyeringai, tubuh yang mengapung diketinggian secara perlahan bergerak turun kembali ke tanah.

Dia ulurkan kedua kakinya dan dalam sekejab saja sosok berjubah ini telah tegak berdiri. Dengan hati diliputi rasa puas manusia misterius ini menghampiri masing-masing mayat. Dua jenazah terbaring diam.

Getaran yang sempat terjadi pada mayat-mayat itu berangsur hilang dengan sendirinya.

"Yang mati telah kembali pulang. Aku telah melihat dan aku dapat mendengarkan jantung yang berdetak. Jadi tunggu apa lagi.Cepatlah bangkit" seru sosok bertopeng diringi tawa dingin.

Hening!

Angin bergerak menderu.

Sekali lagi dikejauhan terdengar suara lolong menghentak.

Lalu tanda tanda kehidupan dari dua mayat yang terbujur itu pun akhirnya terlihat dengan jelas. Diawali dengan gerakan jemari tangan, degup suara jantung serta helaan suara nafas dan gerakan turun naik rongga dada.

Kedua mayat tiba tiba membuka matanya yang terpejam. Penghuni Perahu Setan tersenyum.

Mata yang terlindung topeng tipis terbeliak lebar. Sejenak dia berdiri tegak.

Lalu tidak menunggu lebih lama manusia misterius itu katubkan mulut. Begitu mulut terkatub kedua pipinya nampak menggembung.

Selanjutnya dia meniup ke arah dua jenazah masing-masing sebanyak tiga kali.Angin dingin sedahsyat topan menderu dari mulut orang ini, berhembus cepat disertai tebaran bau busuk yang kemudian disusul pula aroma harum merebak. Ketika hembusan angin yang menyembur dari mulut menerpa sekaligus mengusap sekujur tubuh sang mayat, maka seperti orang yang terkejut dalam tidur nyenyaknya, kedua mayat itu tiba-tiba tersentak lalu bergerak duduk.

Mata jelalatan pandangi keadaan disekelilingnya seperti orang bingung.

"Kalian sudah kembali, kini kalian sudah terjaga dari tidur panjang mimpi buruk.Ha ha ha.." kata penghuni Perahu Setan disertai gelak tawa. Arwah Kaki Kuda dan Singa Tetua mula-mula

tertegun.

Mata yang menatap kosong saling pandang. Agaknya mereka juga berusaha mengingat-ingat.

Namun tidak satupun dari kehidupan mereka sebelumnya yang terlintas dalam tiap benak masing-masing. Heran bercampur bingung kedua orang ini akhirnya sama menatap ke arah si jubah merah, satu-satunya orang yang berada di tempat itu.

Merasa diperhatikan penghuni Perahu Setan melangkah lebih mendekat. Lalu sambil berkacak pinggang dia berkata.

"Aku adalah majikan kalian yang baru. Kalian harus memanggilku junjungan. Aku adalah orang yang paling berjasa bagi kalian. Apakah kalian mengerti?!"

Sekali lagi Singa Tetua dan Arwah Kaki Kuda saling memandang.

Kemudian tanpa disangka sangka dengan wajah pucat ketakutan namun penuh kepatuhan mereka segera jatuhkan diri, berlutut di depan orang berjubah.

Selanjutnya sambil tetap berlutut namun dengan suara terbata mereka menjawab. "Junjungan...yang mulia adalah majikan kami. Kami akan patuh, setia, mengabdi padamu dengan

sepenuh hati.Tapi, mohon jelaskan siapa diri kami ini yang sebenarnya"

"Ha ha ha! Aku sudah menduga orang yang sudah mampus pasti tak mampu lagi mengingat masa lalunya. Segala ingatan sudah terhapus. Dan kalian menjadi orang baru.Ketahuilah...masa lalu kalian tidak penting. Tapi aku masih bermurah hati untuk mengingatian nama kalian. Kau yang berkulit hitam hampir gosong, kaki dan moncong mirip kuda tak lain adalah Arwah Kaki Kuda. Bukan Cuma namamu saja yang Arwah, tapi kau memang sudah menjadi arwah beneran."

Ujar orang berjubah topeng tengkorak ditujukan pada Arwah Kaki Kuda. Selanjutnya dia menoleh dan menatap pada Singa Tetua. Lalu pada laki-laki berwajah merah kecoklatan itu dia berkata.

"Sedangkan kau. Kau adalah adalah Singa Tetua."

"Oh begitu. Terima kasih... junjungan sudah berkenan memberi nama pada kami berdua." ucap Singa Tetua yang tidak lagi dapat mengingat diri sendiri.

"Dasar mahluk-mahluk tolol. Apakah kalian betul-betul tidak dapat mengingat diri sendiri?"

Tanya penghuni Perahu Setan. Tanpa keraguan Arwah Kaki Kuda dan Singa Tetua serentak menggeleng.

"Kukira itu lebilh bagus. Kalau saja ada secuil kehidupan masa lalu dalam otak mereka maka semua rencanaku tidak akan berjalan mulus." batin orang berjubah.

Setelah itu dia berujar.

"Kini kalian menjadi milikku. Aku adalah majikan kalian. Karenanya mulai saat ini kalian harus tunduk dan patuh pada setiap perintahku."

"Kami mengerti junjungan. Kami pasti mematuhi setiap perintahmu!" Sahut Singa Tetua.

"Baiklah. Aku punya rencana akan mengutus kalian menghabisi seorang pemuda sakti bernama Raja. Pemuda itu telah membunuh kedua murid kesayanganku Ayudra Bayu dan Ayudra Tirta. Aku sendiri sebenarnya telah berusaha menghabisi pendekar muda itu dengan mengirimkan mantra pembunuh, Tapi nampaknya dia bisa mengatasi bahkan menghancurkan sihirku."

Menerangkan orang berjubah.

"Apakah pemuda itu punya julukan? Bagaimana ciri-cirinya?"

Tanya Arwah Kaki Kuda dengan suara terbata dan tatapan kosong.

"Dia dikenal dengan sebutan Sang Maha Sakti, Pemuda itu juga disebut Raja Gendeng" Jawab orang berjubah. Kemudian dengan jelas dia menyebutkan ciri-ciri sang pendekar "Kami akan mencari pemuda itu. Kalau perlu kami akan membawa kepalanya kehadapan

junjungan."

Jawab Arwah Kaki Kuda. Wajah dibalik topeng menyeringai. Tanpa bicara dia memberi isyarat pada kedua bersaudara yang baru dibangkitkan dari kematiannya itu untuk berdiri. Dengan gerakan kaku namun secepat kilat keduanya berdiri tegak.

Penghuni Perahu Setan buka penutup kantong perbekalan yang tergantung di pinggangnya. Dari dalam kantong perbekalan dia keluarkan dua benda berwarna hitam pekat memancarkan cahaya hitam redup menggidikkan. Benda yang salah satu ujungnya runcing lancip tak ubahnya seperti mata panah itu bukan benda sembarangan melainkan benda sakti yang dikenal dengan nama Pemasung Jiwa Pelebur Ilmu. Keistimewaannya bila benda sakti itu di tancapkan ke benda apa saja termasuk ke dalam jasad orang yang telah mati, maka benda itu menjadi sesuatu yang sulit dihancurkan dan kebal terhadap segala serangan senjata.

"Aku akan menyerahkan tugas untuk menghabisi Sang Maha Sakti Raja Gendeng padamu. Dan aku memberi bekal pada kalian berdua berupa kesaktian luar biasa yang terkandung dalam paku Pemasung Jiwa Pelebur Ilmu yang ada di tanganku ini. Sekarang kalian segera mendekat!"

Perintah orang berjubah Dengan gerakan kaku namun tanpa bicara apa apa kedua bersaudara itu pun melangkah mendekat.

Sejarak setengah tombak di depan orang berjubah mereka berhenti. Orang berjubah menyeringai. Selanjutnya tanpa ragu-ragu dia hampiri Singa Tetua.

Diikuti pandangan kosong Singa Tetua, penghuni Perahu Setan melangkah ke belakang. Setelah berada di belakang punggung Singa Tetua dia ulurkan benda sakti ditangannya.

Bagian ujung benda yang runcing dia arahkan ke punggung. Begitu ujung benda menempel pada kulit yang dilapisi punggung pakaian tersebut.

Tangan kanan bergerak cepat menghantam bagian tumpul datar di sebelah atas paku Pemasung Jiwa Pelebur Ilmu

Bless!

"Wuaarkgh...! terdengar suara  jeritan melolong  dari mulut  Singa Tetua.

Ketika benda sakti sepanjang satu jengkal amblas menembus punggung laki-laki itu. Sekujur tubuh Singa Tetua menggeletar seperti disengat petir.

Rambut di kepala tegak, mata mendelik dan mulut terus mengeluarkan suara lolong panjang. Tetapi pemandangan mengerikan penuh penderitaan itu ternyata tidak berlangsung lama. Setelah penghuni perahu Setan mengusap luka tanpa darah di mana paku sakti amblas suara lolongan lenyap.

Orang itu menyeringai tanda puas. Dia lalu lakukan tiga kali usapan dengan gerakan mengunci Kreet!

Mata Singa Tetua berkedap-kedip.

Sementara pada kesempatan itu orang berjubah berkata.

"Ilmu kesaktian tambahan membuatmu jauh lebih hebat dari sebelumnya .Selama ada paku sakti Pemasung iwa Pelebur Ilmu, kau menjadi orang yang tidak pernah mengenal kata mati. Ha ha ha!"

Sambil mengumbar tawa tanpa menunggu jawaban Singa tetua, si jubah merah segera hampir Arwah Kaki Kuda yang berdiri tegak tidak jauh di samping saudaranya.

Langkah orang ini terhenti setelah berada dibelakang Arwah Kaki Kuda. Sebagaimana yang dilakukannya terhadap Singa Tetua.

Kali ini orang berjubah juga menghunjamkan paku sakti Pemasung iwa Pelebur Ilmu. Ketika benda sakti yang menyimpan kekuatan luar biasa amblas masuk ke dalam punggung hingga ke dada Arwah Kaki Kuda.

Dia pun sama keluarkan suarajerit menyayat hati. Suara jeritan dan getaran yang terjadi disekuujur Arwah Kaki Kuda juga lenyap setelah orang berjubah melakukan usapan penguncian pada bagian bekas luka dipunggung.

Orang berjubah melangkah ke depan.

Setelah berada dihadapan Singa Tetua dan saudaranya dia berujar.

"Lewat kemurahan hatiku. Segala kekuatan telah kuberikan. Perintahku adalah kalian harus selalu ingat dengan tugas yang kuberikan. Dan tugas kalian adalah menghabisi seorang pendekar yang telah membunuh kedua muridku. Selain itu kalian juga harus bersikap waspada pada orang yang dikenal dengan sebutan Raja Pedang."

"Raja Pedang.." desis Arwah Kaki Kuda dengan mata berkedap-kedip.

Agaknya nama itu mempunyai arti tersendiri bagi Arwah Kaki Kuda. Terbukti dia terus berusaha mengingat. Namun karena segala ingatannya telah terbawa mati dia hanya bisa bicara.

"Nama Raja Pedang sepertinya bukan sesuatu yang asing bagiku!"

"Manusia tolol. Tentu saja Raja pedang bukan sesuatu yang asing bagimu dan juga saudaramu karena ditangannyalah kalian menemui ajal"

Dengus orang berjubah dalam hati. Walau hati berkata demikian namun mulut berucap lain. "Raja Pedang itu adalah musuh. Tak perlu kau mengingatnya namun bila bertemu dengannya

kalian boleh membunuhnya seribu kali."

Arwah Kaki Kuda manggut-manggut .Sementara itu Singa Tetua tiba-tiba berkata

"Junjungan. Aku tidak mau berada di tempat in berlama-lama. Kalau diizinkan kami akan segera pergi!"

Wajah dibalik topeng tengkorak tertegun, mata menatap ke arah Singa Tetua dengan hati bimbang.

Rupanya jauh di dasar kalbu penghuni Perahu Setan ini masih menyangsikan kesetiaan kedua mayat yang baru saja dibangkitkannya, Karena itu untuk lebih meyakinkan diri dia berkata.

"Sekarang aku ingin bertanya padamu.Siapakah orang yang harus kau junjung dan patuhi?"

Tidak terduga mendapat pertanyaan seperti itu Singa Tetua segera jatuhkan diri beriutut dihadapan orang berjubah dengan kening menyentuh tanah.

"Ampuni saya, junjungan. Tidak ada siapapun yang patut kami patuhi perintah dan Ucapannya selain dirimu, junjunganku. Kami berdua berhutang budi dan nyawa, mana mungkin kami tidak bersikap setia!"

Jawab Singa Tetua

"Bagaimana denganmu Arwah Kaki Kuda?" Tanya orang berjubah disertai tatapan tajam. Sama seperti yang dilakukan saudara tuanya. Arwah Kaki Kuda juga jatuhkan diri berlutut di depan orang berjubah sambil berujar.

"Hanya junjungan. Hanya pada gusti junjungan kami akan mengabdi sekarang dan selamanya." Orang berjubah tersenyum merasa puas Tidak menunggu lebih lama lagi dia berujar,

"Baiklah, Aku percaya padamu juga saudaramu. Sekarang kalian boleh pergi. Kelak kalian harus kembali dan bertemu denganku ditempat ini pada bulan purnama yang akan datang. Seandainya kalian berdua dapat melakukan tugas dengan sebaik baiknya, maka pada pertemuan kedua nanti aku akan mengangkat kalian menjadi muridku sebagai pengganti dua muridku yang telah berpulang!"

"Terima kasih junjungan! Kami gembira mendengarnya! Tidak perduli siapa diri junjungan, bila menjadi murid junjungan, kami kira merupakan kehormatan besar,"

Jawab Singa Tetua dan adiknya hampir bersamaan.

"Aku tidak suka basa basi, lekas kalian angkat kaki dari hadapanku!" Dengus orang berjubah dingin.

Arwah Kaki Kuda dan Singa Tetu anggukkan kepala. Tubuh membungkuk, kening bergerak menyentuh tanah. Des!

Des!

Sekejab kemudian kedua bersaudara itu lenyap dari pandangan mata .Orang berjubah menyeringai puas sambil menatap ke arah lenyapnya Singa Tetua dan saudaranya.

Setelah itu dia berkata.

"Murid yang kuutus membuat kekacauan besar sudah terbantai, kemana harus kuminta ganti sebagai tanggung jawab. Hmm, Gagak Anabrang...rasanya aku sudah tidak percaya lagi padamu, Kau hanya patut menjadi juragan kaya dan diraja cacing tanah. Sekarang aku harus turun tangan sendiri. Kalau perlu gadis ajaib bernama Dadu Sirah Ayu akan kuambil menjadi milikku. Ha ha ha...!"

Sambil mengumbar tawa bergelak orang berjubah merah melesat ke dalam perahunya. Tidak berselang lama sosoknya lenyap. Terdengar suara deru angin. Perahu berwarna merah darah itu dengan gerakan enteng seringan kapas bergerak melesat ke arah ketinggian, mengapung sedemikian rupa. Selanjutnya seiring dengan mengembangnya dua layar perahu, benda besar yang biasanya melaju di atas air itu justru melayang terbang menembus kepekatan malam.

*****

Datas tebing jalan setapak, kakek renta berpakaian lurik kecoklatan itu terus berdiri. Sepasang mata menatap lurus ke arah jalan yang membentang di tengah lembah. Sejauh itu dia tidak melihat tanda-tanda kehadiran orang yang ditunggu. Dengan gelisah kakek berkumis dan berjanggut putih menghela nafas. Sejauh mata memandang yang dilihatnya hanya hamparan kabut tebal menyelimuti segenap penjuru lembah. Seakan tidak sabar kakek bertubuh kurus kering ini tiba-tiba berujar. "Sepanjang malam aku berdiri menunggu di sini. Tapi mengapa dia belum juga datang. Padahal Lor Candi Sewu jaraknya tidak terlalu jauh. Apakah mungkin telah terjadi sesuatu pada sobatku Kelut Birawa?"

Orangtua yang bukan lain adalah Raden Pengging Ambengan terdiam sejurus lamanya. Kemudian sambil mengelus jenggot panjangnya sekali lagi dia menatap lurus ke tengah lembah.Dan si kakek rupanya penasaran. Dia yang dikenal memiliki ilmu kesaktian tinggi serta pandangan batin yang awas tiba-tiba pejamkan matanya. Hanya sekejab saja mata yang cekung menjorok ke dalam rongga itu dipejamkan maka dia sudah mendapat gambaran yang jelas, lalu dia membuka matanya.

"Ternyata memang ada hambatan dalam perjalanan. Tapi aku tidak perlu risau karena ada yang datang memberi bantuan. Orang berkuda dan memakai kedok itu. Bukankah orang itu yang dikenal dengan sebutan Raja Pedang? Mengapa Raja Pedang tidak menahannya, sebaliknya lewat mata batin aku melihat Raja Pedang malah menyuruhnya pergi? Mudah-mudahan saja niatnya baik. Kuharap dia tidak menolong karena ingin mendapatkan gadis idaman siluman itu. Kasihan Raja Pedang. Sejak keluarganya terbunuh dan kekasihnya membunuh diri karena dinodai Gagak Anabrang ,kemarahannya membabi buta..."

Raden Pengging Ambengan mendadak terdiam karena mendengar suara orang bicara di kaki

tebing sebelah bawah

"Gadis ayu sahabatku. Kita sudah berhasil menyeberangi lembah. Kaliwungu tempat tinggal pertapa tua sudah tak jauh lagi. Mudah-mudahan saja orang tua yang cuma makan pucuk bambu dan meminum embun itu ada di tempat."

Kemudian terdengar pula suara merdu seorang gadis.

"Kakek yang baik hati. Sebenarnya saya sudah tidak ingin lagi bertemu siapa-siapa. Mungkin memang sudah menjadi suratan nasib dan jalan hidup saya sudah begini. Hidup penuh sengsara dan selalu dalam incaran bahaya besar."

Selagi orang dibawah tebing bercakap-cakap, Disebelah atas tebing Raden Pengging Ambengan yang merasa mengenali segera julurkan kepala tayangkan pandang ke bawah.

Dia tersenyum begitu melihat yang bercakap cakap ternyata adalah orang yang memang dinantikannya.

Benar kakek gendut berpakaian putih tak terkancing dibawah sana adalah Kelut Birawa bersama gadis cantik bergaun putih berenda yang bukan lain Dadu Sirah Ayu adanya, perawan yang cara berpikirnya tidak jauh berbeda dengan gadis seusia tujuh tahun.

Mengetahui yang ditunggu sudah datang. Raden Pengging Ambengan tidak mau membuang waktu lagi. Tanpa bicara dia segera melesat tinggalkan puncak tebing. Setelah meluncur ke bawah tanpa suara. Akhirnya orang itu jejakkan kaki di depan Kelut Birawa dan gadis yang bersamanya. Kedua orang yang sedang bercakap-cakap sambil melangkah itu sempat dibuat terkejut.

Dadu Sirah Ayu bahkan melompat ke belakang dan bersembunyi di punggung Kelut Birawa "Kek ada orang jahat hendak mencelakai kita lagi!"

Desisnya dengan tubuh menggigil ketakutan. Kelut Birawa gelengkan kepala sekaligus menjawab. "Tenang...tenang sahabatku. Orang tua di depan kita itu bukan penjahat.Dia adalah kakek

bijaksana yang baru kita bicarakan.Orang tua inilah yang bernama Raden Pengging Ambengan dari Kaliwungu. Dia yang akan membantu kita, membantumu dalam menyelesaikan persoalan yang kau hadapi."

Setelah mendengar penjelasan Kelut Birawa, gadis cantik itu pun nampak berubah tenang. Tanpa ragu dia melangkah maju.

Kemudian sambil menjura hormat si gadis berucap. "Orang tua! salam hormat saya kepadamu."

"Salam kembali." sahut Raden Pengging sambil tersenyum.

"Ternyata kau sudah besar bahkan telah menjadi seorang gadis jelita."

Puji si kakek sambil menatap Dadu Sirah Ayu dengan sorot mata kagum namun juga prihatin "Sahabat. Dia memang sudah besar. Namun perkembangan akalnya tidak bertambah. Semua ini

memang kesalahanku. Terlalu lama aku merubah ujudnya menjadi patung. Maafkan aku..."

Terang Kelut Birawa melalul ilmu mengirimkan suara. Raden Pengging Ambengan manggut manggut. Belum lagi dia sempat berucap, Kelut Birawa biba-tibe ajukan pertanyaan.

"Sobatku. Kami berdua baik-baik saja. Apapun yang menjadi hambatan dalam perjalanan aku yakin kau telah mengetahuinya. Yang membuat aku tidak mengerti mengapa kau berada disini, padahal seharusnya kau berada di tempat pertapaan di Kaliwungu."

Mendapat pertanyaan demikian Raden Pengging Ambengan tidak segera menjawab. Sebaliknya memperhatikan keadaan disetiap sudut penjuru dengan sikap waspada. Setelah itu dia berkata.

"Banyak yang ingin kukatakan. Tapi tempat ini bukan tempat yang tepat untuk berbincang. Aku cuma punya usul sebaiknya kau ikuti aku!"

Walau penasaran mendengar ucapan sahabat tuanya. Kelut Birawa terpaksa mengikuti Reden Pengging Ambengan begitu si kakek memberi isyarat kepadanya.

Sambil menarik lengan gadis yang berada dalam perlindungannya .Kelut Birawa berlari melewati pepohonan besar dan semak belukar.

Tidak sampai sepemakan sirih sampailah mereka disuatu pendataran tinggi berhawa sejuk.

Kelut Birawa memperhatikan keadaan disekitarnya sambil mencari tahu apakah dia pernah berada di tempat itu sebelumnya.

Setelah merasa tidak mengenali akhirnya dia membatin dalam hati. "Raden Pengging Ambengan memiliki beberapa tempat rahasia yang aman. Tapi mengenai tempat yang satu ini. Jelas merupakan sebuah tempat yang baru bagiku."

Selagi Kelut Birawa berbicara pada diri sendiri, saat itu si kakek jerangkong yang berdiri di depan sebuah batu besar berbentuk batang pohon menjulang tinggi ke angkasa berucap.

"Saat ini kurasa hanya ruang rahasia hitam inilah satu satunya tempat yang aman untuk membicarakan segala urusan kita. Aku akan membuka tabir pintu agar kita dapat masuk ke dalam ruangan batu ini. Setelah tabir pintu kubuka kuharap kalian segera masuk ke dalam tanpa keraguan dan tidak banyak tanya."

"Sahabat. Bukannya mulut ini mau usil, bukan pula aku menaruh perasangka buruk terhadapmu. Menurutku batu hitam aneh yang ada di depanmu itu ukurannya tidak tertalu besar, Kalau benar di dalamnya ada ruangan apakah mungkin ruang yang tersedia di dalam sana sanggup menampung tubuh kita bertiga?"

Tanya si kakek gendut. Belum sempat si kakek menjawab, si gadis justru membuka mulut. "Kakek... aku selalu mempercayai dirimu. Engkau juga mengatakan kakek jerangkong itu

sahabatmu, tapi aku sama sekali tidak mengenal dirinya. Bagaimana bila dia menipu kita dan bermaksud membuat diri kita celaka"

"Kau tidak usah khawatir sahabatku gadis ayu. Aku memang mengenal dirinya sejak lama

.Diantara kami bahkan terjalin persahabatan yang sangat baik. Aku tak mungkin membiarkanmu mengalami nasib celaka. Karena itu ikuti saja apa yang dia katakan!"

Sahut si kakek gendut dengan suara lirih. Dengan sikap seolah mendengar apa yang dibicarakan orang. Raden Pengging Ambengan tiba tiba berkata.

"Aku lebih mengetahui apa yang harus kulakukan. Banyak rahasia dibumi ini yang tak diketahui oleh orang lain. Namun segala pengetahuanku itu semua tidak terlepas dari kemurahan hati para dewa. Dan bulan sabit ke tujuh hanya tinggal dua hari lagi dari sekarang. Waktu yang kita miliki semakin sempit. Aku merasa akan ada bahaya datang mengancam kalian berdua. Cepat ikuti aku! Hilangkan segala keraguan di hati!"

Ucapan bernada menegur itu membuat Dadu Sirah Ayu merasa tidak enak hati. Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Kelut Birawa.

Tidaklah mengherankan mewakili orang yang dia lindungi si kakek cepat membuka mulut "Maafkan kami.Terlalu banyak pengalaman tidak mengenakkan yang dialami gadis ini

membuatnya selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu.Dia dan aku bahkan hampir tidak dapat membedakan mana yang berniat menolong atau yang bertujuan mencelakai. Sekarang kami percaya padamu sepenuhnya."

Raden Pengging Ambengan tersenyum .Dia kemudian memberi isyarat pada Kelut Birawa dan Dadu Sirah Ayu untuk lebih mendekat. Setelah kedua orang itu melangkah dan berdiri tegak di belakangnya, sang Raden tiba-tiba lambaikan tangannya ke arah batu hitam sementara bersamaan dengan itu dari mulutnya terdengar ucapan.

"Terbukalah wahai tirai yang menutupi, Pintu batu pintu pembawa manfaat ,kami datang untuk meluruskan amanat. Tak ada waktu untuk  menunggu. Bersegeralah dan terima diri kami bertiga."

Tidak menunggu lama, begitu Raden Pengging Ambengan selesai dengan ucapannya. Tiba-tiba terdengar suara berdesir.

Batu hitam besar tinggi menjulang yang ukurannya tidak lebih dari pelukan tiga orang dewasa bergetar. Getaran disertai guncangan yang terjadi tidak berlangsung lama.

Sekejab kemudian permukaan batu di depan si kakek terkuak menganga seolah ada berpasang-pasang tangan yang tak terlihat menyibakkan batu yang atos itu.

Terkuaknya permukaan batu membentuk sebuah pintu. Sementara dari balik pintu yang terbuka terlihat ada cahaya biru memancar.

Melihat kehebatan yang dilakukan Raden Pengging Ambengan. Kelut Birawa belalakkan mata tercengang.

Sementara Dadu Sirah Ayu yang berpikiran selayaknya bocah tanpa sadar berseru memuji. "Wuih... kakek jerangkong hebat sekali. Tubuh kurus kering tapi bisa membelah batu sebagai

jalan masuk untuk kita..." "Sekarang saatnya!"

Seru Raden Pengging Ambengan memberi isyarat. si kakek gendut terkejut.

Dia merasa ucapan yang dilontarkan sahabatnya dengan nada keras seperti menghawatirkan sesuatu.

Tidak ingin terjadi sesuatu Kelut Birawa segera menarik tangan Dadu Sirah Ayu. Sambil mencekal erat lengan si gadis kakek gendut itu segera bergerak menuju ke arah pintu yang terbuka.

Wuus! Seet! Seet!

Setelah kedua sosok sahabatnya amblas masuk ke dalam batu.

Raden Pengging Ambengan pun tanpa membuang waktu segera menyusulnya .

"Tabir pintu batu menutuplah. Jangan biarkan siapapun selain kami bertiga melewatimu!" terdengar seruan Raden Pengging dari dalam.

Sekali lagi terdengar suara berdesir.

Lubang menganga berbentuk pintu yang terdapat dipermukaan batu bergerak menutup.

Bersamaan dengan itu Raden Pengging Ambengan dan semua orang yang berada dalam ruangan batu tiba-tiba mendengar suara teriakan keras disertai suara bergemuruh dan sambaran hawa panas luar biasa ke arah pintu yang menutup.

"Keparat jahanam. Mangsa sudah berada di depan mata, mengapa aku masih kalah cepat" Buum!

Buum!

Dua cahaya merah menebar hawa panas luar biasa menghantam permukaan batu hitam tempat di mana pintu aneh tadinya berada. Terjadi ledakan dashyat yang disertai guncangan luar biasa. Di dalam ruangan berpelita biru berhawa sejuk suasana menjadi gempar. Kelut Birawa dan Dadu Sirah Ayu yang tak mengetahui gerangan apa yang terjadi diluar sana dibuat terkesima.

Bahkan Dadu Sirah Ayu dengan wajah ketakutan segera beringsut mendekati si kakek gendut lalu tanpa malu memeluk kakek itu

"Kek apa yang terjadi. Mengapa tempat ini tiba-tiba bergoyang? Aku takut kek."

Kelut Birawa berusaha menenangkan si gadis dengan balas memeluk sekaligus membelai kepalanya.

Sementara sepasang matanya menatap tajam ke arah Raden Pengging Ambengan dengan sorot mata penuh tanya.

Seakan mengerti apa yang dipikirkan Kelut Birawa, Sambil mengelus jenggot panjangnya Raden Pengging malah duduk bersila.

Kemudian dengan tenang dia menjawab.

"Ada tamu tak diundang datang ingin membuat kekacauan. Aku menaruh dugaan dia hendak merampas gadis dalam lindunganmu. Tapi dia datang terlambat. Siapapun orangnya aku yakin dia tidak akan bisa sampai ke dalam sini."

Terang si kakek, membuat Kelut Birawa menarik nafas lega, Sedangkan gadis yang menjadi incaran para siluman itu tambah meringkuk ketakutan dalam rangkulan kakek yang jadi perindungannya. Tepat seperti yang dikatakan oleh Raden Pengging Ambengan.

Tak jauh dari batu hitam berbentuk seperti pohon meranggas.

Entah dari mana datangnya tahu-tahu telah berdiri tegak satu sosok tinggi bertubuh hijau berambut panjang kaku meranggas.

Sementara diseluruh tubuhnya bersembulan otot dan urat-urat darah yang terus menerus berkedut. Sosok yang tak dapat dikatakan manusia seutuhnya itu memakai celana hijau setinggi lutut.

Dibagian kening sebelah atas ditumbuhi tanduk runcing hitam mencuat ke atas.

Sementara dibagian siku kanan dan sebelah kiri juga dikedua bagian lututnya juga ditumbuhi tanduk besar dan tajam .Walau memiliki mulut dan hidung serta daun telinga lebar seperti telinga gajah.

Namun sosok  angker mengerikan  yang satu ini  hanya mempunyai satu  mata. Mata tunggal seukuran kepalan tangan orang dewasa itu tepat berada di tengah persis tanduk. Sedangkan dibagian yang seharusnya ditumbuhi mata justru terlihat polos dan licin-licin saja. Siapapun adanya sosok satu ini.

Namun dialah orangnya yang baru saja menghantam pintu yang menutup di batu sambil keluarkan teriakan kecewa.

Setelah merasa gagal menghancurkan pintu di batu hitam.

Sosok berujud aneh ini pun layangkan pandang ke arah batu besar menjulang tinggi. Dia melihat sisa pukulan yang dilancarkannya masih mengepul di sekeliling batu.

"Tidak mungkin! Aku tidak percaya ada manusia masuk mengamblaskan diri ke dalam pohon batu itu. Ilmu kesaktian apa yang dimiliki oleh tua bangka macam jerangkong tadi? Apakah dia orangnya yang dikenal dengan nama Raden Pengging Ambengan?!"

Dengus sosok tinggi berkulit hijau. Antara rasa kecewa, penasaran juga rasa ingin tahu menyelimuti diri sosok ini. Dengan mata tunggalnya yang besar dia menatap pohon batu itu.

"Batu ataukah pohon? Pohonkah yang kulihat itu ataukah batu?" Geram sosok tinggi .Dia pun lalu terdiam.

Dalam diam dia terus berpikir. Tapi dia jadi tidak sabar.

Dengan langkah cepat dia hampiri pohon batu hitam.

Dan hebatnya setiap telapak kakinya yang dilapisi kasut berwarna hijau itu menyentuh tanah, permukaan tanah yang terdapat disekitarnya serasa seperti dilanda gempa.

Langkah mahluk tinggi terhenti setelah dua tindak di depan pohon batu.

Tanpa menunggu tanpa merasa ragu dia julurkan tangannya yang berkuku panjang. Dengan menggunakan punggung tangan pohon batu diketuknya berulang kali.

"Pohon batu ini tidak berongga, tidak juga kosong dibagian dalamnya.Sungguh edan, bila manusia bisa masuk bersembunyi mendekam di dalamnya."

Geram sosok tinggi  .Tidak ingin membuang  waktu dengan berpikir lama.

Sosok tinggi angkat tangannya tinggi-tinggi. Diam-diam dia mengalirkan tenaga sakti yang dimiliki ke tangan tersebut.

Byarr!

Ketika kesaktian yang dia alirkan ke bagian tangan sampai ke lima ujung jemari.

Tangan sosok tinggi memancarkan cahaya kehijauan disertai tebaran asap berwarna hijau pekat. Ini merupakan pertanda mahluk hijau itu benar-benar berniat menghancurkan pohon di depannya.

"Aku mau pohon ini hancur! Hiaaakh..."

disertai teriakan melengking laksana merobek langit ,tangan ini diayun, berkelebat menderu ke arah pohon disertai pancaran cahaya menyilaukan mata.

Dhesss! Byaar! "Ugh..."

Satu benturan dahsyat  disertai ledakan  menggema  mendera pohon  batu.

Namun sosok tinggi hijau dibuat terkejut begitu merasakan ada satu kekuatan yang tidak terlihat melindungi pohon batu didepannya.

Bukan saja serangannya tidak mampu menghancurkan pohon di depannya malah sebagian pukulan yang dilancarkannya justru berbalik menghantam diri sendiri hingga membuatnya jatuh terpelanting.

"Kurang ajar jahanam! Kekuatan apa yang melindungi pohon batu ini?"

Geram sosok tinggi .Nafas megap-megap, wajah memerah menahan kemarahan, Sekali dia hentakkan kaki sosok tinggi kembali berdiri tegak.

Selanjutnya dia  hampiri  pohon  itu.

Kini dia tidak mau membuang tenaga dengan percuma.

Setelah menyadari pohon batu itu seperti dilindungi oleh kekuatan aneh. Pohon itu segera dirangkulnya.

"Sialan. Pohonnya terialu besar. Dua tanganku tak dapat memeluknya. Tapi aku punya seribu cara."

Setelah berkata demikian.

Dua tangan dikibaskan ke bawah.

Sekonyong-konyong kedua tangan tak ubahnya karet menjulur terjulai panjang. Setelah kedua tangan menjadi panjang sekali dia memeluk.

Pohon batu sekarang dapat dipeluknya.

Sambil memeluk pohon dia segera kerahkan tenaga luar dalam ke bagian kaki dan tangannya.

Lalu dengan  gerakan  layaknya  seperti  orang yang mencabut singkong,  pohon  batu pun  dibetotnya ke atas. Tetapi kenyataannya sungguh membuatnya kecewa, jangankan tercabut bahkan pohon batu itu seakan mempunyai akar-akar yang kokoh, sehingga tidak bergoyang sedikitpun.

"Celaka! Bila aku tidak bisa membawa perawan persembahan itu hingga munculnya malam bulan sabit ke tujuh, junjungan Penghuni Perahu Setan mungkin bakal murka."

"Apa yang harus kulakukan? Orang yang kucari itu bersembunyi di dalam pohon ini.Namun pasti ada cara untuk membukanya, tetapi bagaimana caranya?"

Tanya si mahluk Hijau di dalam hati.

Setelah itu dia mencoba berpikir sambil bolak balik di depan pohon batu. Belum lagi sosok tinggi menemukan cara yang tepat. Tiba-tiba saja terdengar suara gelak tawa merobek kesunyian. Suara tawa lenyap.

Sosok tinggi itu terkejut lalu cepat layangkan pandang memperhatikan ke segenap penjuru. Dia tidak melihat apa-apa.

Namun ada sesuatu yang dirasakannya menyengat, menusuk mengganggu jalan nafas. Ya.

Saat itu dia mengendus bau harum semerbak bunga kamboja.

"Mahluk jahanam apa yang datang? Orangnya tak kelihatan namun aku mengendus bau kuburan, aroma harum kamboja!"

Dengus sosok serba hijau sinis

"Hei mengapa bingung? Kau tidak ingin menyambut kehadiranku Dedemit Rawa Rontek?

Nampaknya kau datang telah mendahuluiku, tapi karena rejeki di depan mata juga menjadi harapan sahabatku. Hendaknya kau bermurah hati untuk berbagi.Hi hi hi..."

Tidak menyangka orang mengetahui dan mengenal siapa adanya. Sosok tinggi berkulit serba hijau diam-diam terkejut.

Dengan penasaran dia palingkan kepala menatap ke arah suara tawa yang didengarnya. Tidak diatas tidak pula dipohon.

"Kunyuk keparat yang hendak  berlagak ramah  itu pasti  mendekam di  dalam  tanah. Hik"

Sambil menggeram sosok hijau angker dikenal dengan nama Dedemit Rawa Rontek itu segera hempaskan kaki kanannya ke tanah. Kaki menderu menghantam tanah menimbulkan suara ledakan disertai guncangan hebat.

Batu dan pasir beterbangan. Pohon batu ikut bergetar.

Sementara tidak jauh disudut semak belukar terdengar suara caci maki dan sumpah serapah "Keparat! Apa yang kau lakukan di atas sana? Tindakanmu membuat telingaku pengang, dada

menjadi sesak dan kepala ini laksana dihantam palu godam!"

"Jangan bersembunyi seperti cacing!  Aku tidak  suka membunuh  orang yang tidak  kuketahu namanya! Cepat keluar! Atau aku akan memendammu selamanya!"

Dengus Dedemit Rawa Rontek dingin. Wuss!

Byar!

Didahului oleh semburan angin panas dari dalam perut bumi. Tak lama kemudian tanah berhamburan memenuhi udara.

Dari balik lubang menganga hitam tempat dimana semburan tanah berasal melesat satu sosok tubuh berpakaian putih lusuh penuh robekan seperti bekas cambukan di sana sini. Setelah berjumpalitan beberapa kali di udara sosok yang ternyata adalah seorang nenek tua renta ini jejakan kakinya tiga tombak di depan Dedemit Rawa Rontek.

Melihat kehadiran nenek itu Dedemit Rawa Rontek menatap orang di depannya dengan mata melotot. Setelah menatap cukup lama.

Dari mulutnya terdengar ucapan bernada sinis mengejek.

"Mahluk salah kaprah tak karuan ujud. Tubuh dan pakaian dipenuhi tanda bekas cambukan.

Disekujur badan digelayuti untaian bunga kamboja. Wajah jelek hitam. Siapa kau?" Nenek yang ditanya tidak menjawab.

Sebaliknya dia tertawa mengikik.

Sambil mengumbar tawa aneh dia memutar tubuh.

Begitu tubuh berputar Dedemit Rawa Rontek tersentak kaget sekaligus bergerak mundur satu langkah.

Apa yang dilihat mahluk hijau ini adalah sebuah pemandangan aneh dan cukup langka. Inilah yang membuatnya tanpa sadar mendesis,

"Kau mempunyai dua wajah? Satu di depan satu dibelakang? Sekali lagi aku bertanya, siapa dirimu ini?" hardik Dedemit Rawa Rontok hilang kesabarannya.

"Dedemit Rawa Rontek. Sungguh keterlaluan dirimu itu. Aku mengenalimu namun kau tidak mengenalku. Tetapi tidak mengapa. Mengingat kita mempunyai bujuan yang sama aku bisa memaafkan kesalahanmu yang tidak mengenalku. Ketahuilah aku yang cantik ini adalah iblis Betina Muka Dua. Aku datang dari seluruh neraka liang kubur. Maksud dari kedatanganku adalah untuk menyampaikan suatu amanat yang dilupakan, hampir dilanggar bahkan hendak dipungkiri..."

Ucapan wanita aneh itu terhenti karena tiba-tiba Dedemit Rawa Rontek memotongnya. "Betina Jahanam! Kau dengar baik-baik."

Hardik sosok tinggi dengan mata mendelik.

"Aku tidak perduli sekalipun kau datang dari neraka perut bumi. Tentang segala kepentinganmu buat apa kau ceritakan padaku. Satu yang ingin kutanyakan apa maksud ucapanmu bahwa kita mempunyai tujuan yang sama?"

Si nenek terdiam.

Wajah disebelah depan menyeringai, namun wajah yang menghadap ke belakang tampak tegang menyimpan kemarahan.

Rupanya si nenek yang mempunyai dua wajah dalam satu kepala itu sesuai dengan julukannya mempunyai sifat yang bertolak belakang.

Bila wajah yang satu tersenyum maka wajah yang satunya lagi cemberut.

Begitu juga bila salah satu wajah marah, maka wajah yang disebelahnya belakang bersedih. Tapi ada kalanya kedua wajah menunjukkan ekspresi yang sama.

"Kau terus menerus menghardik dan memaki diriku, Dedemit Rawa Rontek.Tapi demi seorang sahabat, aku selalu menahan diri tidak ikutan marah sebagaimana yang terjadi denganmu.Ketahuilah... aku tidak bicara berlebihan. Dengan sejelas jelasnya kukatakan padamu bahwa saat ini aku juga datang ingin menjemput gadis dambaan penguasa alam gaib yang bernama Dadu Sirah Ayu."

Jawab Iblis Betina Muka Dua seadanya. Jawaban itu tentu saja membuat Dedemit Rawa Rontek diam-diam terkejut

"Keparat jahanam! Kehadiran tua bangka ini justru membuat tugasku menjadi bertambah sulit.

Sekarang apalagi yang harus kulakukan?"

Batin Dedemit Rawa Rontek sambil terus berpikir memutar otak. Walau hati berkata demikian namun mulut tetap ajukan pertanyaan.

"Kau menginginkan gadis yang sama. Kau kira gadis yang menjadi incaranmu itu ada di mana?" "Hik hik hik! Kura-kura botak dipalu. Berlagak tak tahu padahal hatinya penuh tipu. Aku buaya

engkau kadal, mana mungkin kadal bisa menipu buaya!" dengus Iblis Betina Muka Dua sambil berkacak pinggang.

Tidak disangka-sangka kemudian dia menunjuk ke arah pohon batu di depan sana.

"Pohon... tidakkah kau merasa aneh ada pohon menjadi batu ataukah batu yang menyaru menjadi pohon. Sebelum memunculkan diri aku Sudah melihat apa yang kau lakukan terhadap pohon itu, Dedemit Rawa Rontek. Kau coba menghancurkan pohon batu dengan pukulan sakti, tapi usahamu gagal. Kau juga mencoba mencabut pohon dengan seluruh tenagamu. Edan betul. Ternyata segala upayamu sia-sia bukan. Kau tak mungkin melakukan semua kegilaan itu jika kau tidak mengincar sesuatu yang tersembunyi atau yang bersembunyi di dalamnya."

"Gadis yang kujemput bukan mahluk halus. Lalu bagaimana bisa menyelinap masuk bersembunyi di dalam pohon batu layaknya semilir angin berhembus yang menyelinap di bawah perut? Seseorang telah membantunya bukan."

Kata Iblis Betina Muka Dua sambil kedap kedipkan matanya. Merasa tidak ada lagi yang dia sembunyikan.

Tiba-tiba saja, Dedemit Rawa Rontek membuka mulut mendamprat.

"Kalau semua yang kau ucapkan itu ternyata benar. Lalu kau mau apa nenek busuk muka dua?" "Seperti yang kukatakan, kau harus rela menyerahkan gadis itu kepadaku"

Jawab si nenek dingin.

"Lancangnya kau berkata seperti itu!"

Geram Dedemit Rawa Rontek sambil kepalkan tinju, rahang bergemeletukan, pipi menggembung sedangkan pembuluh darah yang berada di sekujur pipi dan tubuhnya berkeredut seakan hendak meletus. Walau sadar laki-laki berkulit hijau itu marah, namun Iblis Betina Muka Dua tetap berlaku tenang. Malah dengan tenang pula ia berkata. "Kau tidak cukup layak mengambil gadis itu."

Ucapan bernada sinis Iblis Betina Muka Dua membuat telinga lebar Dedemit Rawa Rontek berjingkrak tegak.

"Grkh... keparat menyebalkan. Kau kelewat merendahkan diriku. Apakah kau sendiri bisa mengambil gadis persembahan itu dan menyingkirkan orang-orang yang melindunginya!"

"Bisa! Tentu saja aku mampu karena aku tahu caranya. Karena hanya aku yang sanggup menghancurkan pohon batu, maka dengan sangat aku minta kau menyingkir menjauh dari sana atau lebih baik lagi bila kau tinggalkan tempat ini!"

"Mahluk keparat dari liang lahat. Kau mengaku hebat malah lebih hebat dariku. Tapi setelah melihat dan memperhatikan dirimu."

Ujar Dedemit Rawa Rontek sambil menatap nenek di depannya dari kepala hingga ke ujung kaki. "Aku melihat sesungguhnya kau baru saja mengalami derita penyiksaan yang luar biasa,

Bagaimana dirimu yang hebat bisa mendapat siksa. Jadi jelaslah bila kau saja tidak mampu melindungi dirimu sendiri, bagaimana kau bisa sesumbar dapat mengambil gadis yang bersembunyi di dalam pohon batu itu?"

Diingatkan tentang keadaan dirinya sendiri. Wajah Iblis Betina Muka Dua berubah tegang.

Setelah memperhatikan diri sendiri yang dipenuhi bilur-bilur luka bekas cambukan. Dengan suara menggembor dia berteriak,

"Mahluk kesasar ditumbuhi tanduk.Kau tidak pernah tahu juga tak pernah merasakan betapa sulitnya kehidupan di alam baka. Setiap orang yang telah mampus sebagian besar mendapat siksa yang maha berat. Kalau tidak percaya tanyalah pada orang yang mati. Sedikit keberuntungan yang didapat orang mati.Selebihnya adalah kesengsaraan yang luar biasa hebatnya.Tapi aku termasuk mahluk yang beruntung karena diberi kesempatan menjalankan sebuah amanat. Segala kesulitan yang kualami di dunia ini tidak ada artinya dibandingkan segala kesengsaraan yang kudapat selama ada disana. Satu yang patut kau ketahui.Semua ilmu, semua kesaktian yang dimiliki seseorang selama di dunia, menjadi musnah tidak berarti bila telah berada dalam pendaman liang lahat. Sekali lagi jangan memandang remeh diriku. Karena aku jauh lebih hebat dibandingkan dirimu!"

"karena kau merasa hebat, aku lebih bernafsu untuk menjajaki ilmu kesaktianmu"

Teriak Dedemit Rawa Rontek kalap.

Teriakan menggeledek  itu  dibarengi  dengan  gerakan  sang  Dedemit.

Belum lagi suara teriakannya lenyap tahu-tahu dia telah berada di depan Iblis Betina Muka Dua. Dengan gerakan secepat kilat menyambar.

Tanduk runcing yang menempel di kening mencuat tajam ke atas menyeruduk.

Sementara tinju menderu, kedua siku lengan yang juga ditumbuhi tanduk hitam pekat menyentak bergerak mengungkit. Sekali serangan tanduk itu mengenai sasaran dapat dipastikan ada bagian tubuh iblis Betina Muka Dua yang dibuat jebol.

Melihat tiga serangan ganas datang bersamaan.

Si nenek keluarkan seruan sekaligus berkelit menghindar sambil jatuhkan diri ke samping. "Dasar laki-laki bisanya cuma menyeduk!"

Mulut berkata begitu sambil mengubar gelak tawa. Namun dua tangan segera dihantamkan dengan gerakan mendorong sekaligus menyerang balik. Tidak terdengar suara bergemuruh, juga tidak terlihat ada cahaya yang memancar atau menderu dari telapak tangan si nenek.

Namun Dedemit Rawa Rontek tiba-tiba merasakan tiga serangan yang dilancarkannya sekaligus itu seperti melabrak tembok dinding baja yang tidak kelihatan.

Tidak percaya dengan apa dialaminya, Sosok besar ini segera melipat gandakan tenaga dalam yang dia miliki hingga membuat tubuhnya yang hijau menjadi hijau pekat.

Sementara tanduk yang dipergunakannya untuk menyerang membersitkan cahaya hitam. Iblis Betina Muka Dua terhenyak ketika merasakan satu dorongan yang luar biasa besar menindih tubuhnya dari tiga arah, hingga membuat dirinya yang rebah di tanah mulai amblas terbenam ke dalam tanah.

"Walah bagaimana bisa jadi begini!" Pekik si nenek menggerendeng.

Namun dia tidak sempat berpikir lebih lama lagi ketika dia merasakan sekujur tubuhnya yang dibenamkan ke dalam mulai mengeluarkan suara berderak.

Dan keadaannya makin terjepit karena pada waktu yang sama pula dari ujung tanduk yang berada di kening dan dua siku lengan Dedemit Rawa Rontek berkiblat menderu cahaya hitam menggidikkan mengarah ke dada, kepala juga pusar si nenek. Disaat nyawa menjadi taruhan.

Si nenek segera melipat tubuhnya, tubuh itu kemudian bergelung menggelinding ke sebelah kiri Brees!

Crees!

Walau si nenek berhasil menghindar dari himpitan tenaga yang luar biasa.

Dan tempat dimana  dirinya  rebah  berlubang besar dihantam daya  dorong  lawan  yang sangat  luar biasa itu.

Namun tak urung bagian pinggang dari Iblis Betina Muka Dua masih kena dibuat robek oleh sambaran cahaya hitam yang melesat dari ujung tanduk dikening Dedemit Rawa Rontek.

Si nenek menyeringai. Wajah pucat pias tegang.

Mata menatap ke arah bagian luka yang mengucurkan cairan putih berbau busuk. Setelah itu kepalanya diputar.

Kini gantian dua mata yang menghadap ke belakang memperhatikan luka itu. Selesai menatap, mulut yang menghadap ke belakang keluarkan suara berdengus. Posisi wajah kembali berbalik menghadap ke arah semula. Luka itu tidak parah.

"Aku bisa menyembuhkannya!" terlak mulut yang menghadap ke belakang. Kemudian selagi mata yang menghadap ke depan mengawasi gerak-gerik lawan. Mulut yang berada diwajah bagian belakang membuka.

Setelah mulut ternganga lebar.

Dari mulut menjulur satu lidah panjang berwarna kemerahan dibalut lendir putih menebar bau busuk luar biasa.

Satu pemandangan yang sulit dipercaya terjadi di depan mata Dedemit Rawa Rontek.

Tidak ubahnya karet lidah yang panjang itu terus saja menjulur lalu menjilat bagian yang terluka. Slep!

Setelah jilatan dilakukan sang lidah kembali masuk, amblas lenyap ke dalam mulut. Lawan melihat bagian yang dijilat tampak mengepulkan asap.

Namun setelah kepulan asap berangsur lenyap. Luka akibat serangan lenyap.

Mata tunggal di tengah kening Dedemit Rawa Rontek terbelalak lebar. Dia tidak hanya merasa kaget namun juga takjub.

Justru memanfaatkan kesempatan selagi lawan lengah. Iblis Betina Muka Dua tiba-tiba berteriak.

"Mahluk tolol! Melihat lidahku bisa menjulur saja kau sudah heran. Mau melihat lidah satunya yang lebih panjang lagi.?"

Seakan tersadar dari segala keberkejutannya Dedemit Rawa Rontek cepat palingkan kepala menatap ke arah si nenek. Tapi laki-laki hijau itu terlambat. Belum sempat dia berbuat sesuatu untuk menyelamatian diri. Satu lidah yang ukurannya jauh lebih besar dan berwarna hitam telah melibat dua tangan, dada dan perutnya.

"Pengecut jahanam!"

Sang Dedemit menggerung murka.

Sambil berusaha membebaskan diri dari libatan lidah dia meronta.

Sementara dengan menggunakan kakinya yang bebas bergerak dia juga menghantam lawan dengan mengandalkan tendangan jarak jauh.

Walau deru angin panas akibat tendangan menghantam telak tubuh kurus nenek itu. Namun hanya membuatnya tergontai.

Sementara mulut di wajah sebelah belakang mengumbar tawa.

Lidah yang membelit tubuh Dedemit justru terus makin kuat. Dedemit Rawa Rontek merasakan dua tangan dan tubuh dari dada ke atas seolah remuk.

Libatan itu jauh lebih keras dan lebih menyakitkan dibandingkan libatan ular piton sekalipun. Dedemit Rawa Rontek menjadi sulit bernafas, namun dia terus berpikir untuk meloloskan diri.

Tetapi belum lagi sang Dedemit menemukan jalan keluarnya. Iblis Betina Muka Dua dengan menggunakan mulut dibelakang kepala tiba-tiba saja berkata.

"He. Dedemit. Kau pernah bermain ayunan? Tubuh dilambungkan ke langit namun dengan cepat dihempaskan ke bebatuan. Aku yakin belum pernah. Dan kau akan mendapat pengalaman ini tanpa dipungut imbalan apa-apa. Hik hik hik!"

"Apa yang hendak kau lakukan?"

Teriak Dedemit Rawa Rontek kalap juga gusar.

Sebagai jawaban atas pertanyaan itu tiba tiba lawan sentakkan lidahnya yang melilit tubuh sang Dedemit ke atas.

Begitu lidah bergerak karuan saja tubuh Dedemit Rawa Rontek ikut melambung tinggi. Setelah berada diketinggian tubuhnya dibetot lagi ke bawah.

Wuss!

Sekuat tenaga dia berusaha mengimbangi diri agar tidak jatuh terhempas. Namun dalam keadaan separoh badan berada dalam belitan lidah.

Sangat mustahil baginya untuk tidak terhempas.

Apalagi daya sentak lidah yang membantingnya ke bawah sungguh luar biasa besar. Tanpa ampun

Buum!

Seperti didorong oleh ratusan tangan yang tak terlihat, Dedemit Rawa Rontek jatuh menghempas batu.

Batu hancur menjadi kepingan. Tubuhnya sendiri amblas masuk ke dalam tanah.

Tapi memang harus diakui, bahwa Dedemit Rawa Rontek ini mempunyai daya tahan yang hebat.

Lawan yang semula memperkirakan sang Dedemit menemui ajal setelah dihantamkan ke batu menjadi terbelalak tercengang

"Kau belum mampus juga? Tak kusangka tubuhmu cukup alot!" Teriak mulut yang berada diwajah sebelah belakang.

Dedemit Rawa Rotek menggeliat mengerang.

Dia merasakan sekujur tubuhnya remuk sedangkan tubuh disebelah dalam seakan luluh lantak. Namun segala kesengsaraan yang dia alami ternyata tidak terhenti sampai disitu saja.

Belum sempat sang Dedemit menghela nafas, tahu-tahu lidah kembali melilit tubuhnya lagi dan lalu disentakkan ke atas. Untuk yang ke dua kali tubuhnya kembali melambung di ketinggian.

Sebagaimana yang terjadi pertama kali. Kini dia kembali dihempaskan. Begitulah yang terjadi berulang kali.

Dalam keadaan sekujur tubuh lebam membiru hilang sudah kesabaran laki-laki itu.

Tidaklah heran ketika tubuhnya kembali disentakkan ke udara dan siap dibantingkan .Dedemit Rawa Rontek yang selalu gagal membebaskan diri dari libatan lidah jadi berpikir mengapa dia tidak mempergunakan ilmu Lumpur Minyak Rawa' sebuah ilmu langka yang dapat membuat tubuhnya sepuluh kali lebih licin dari belut. Tidak menunggu lebih lama diapun segera merapal mantra ajian yang dimilikinya itu.

Selesai membaca mantra, Dedemit rawa Rontek tiba-tiba berteriak. "Cukup sudah segala kegilaan yang kau lakukan terhadapku!"

Set!

Semudah mengedipkan mata semudah itu pula Dedemit Rawa Rontek meloloskan diri dari belitan lidah.

Lolos dari libatan lidah sang Dedemit tak membiarkan dirinya melayang jatuh.

Sebaliknya dengan mengerahkan tenaga sakti yang didukung oleh ilmu mengentengi tubuh dia berjumpalitan ke arah lawan.

Iblis Betina Muka Dua yang sempat kaget melihat lawan tiba-tiba dapat meloloskan diri tidak punya kesempatan untuk menghindar.

Dua pukulan ganas menebarkan hawa dingin disertai pancaran cahaya biru redup menghantam batok kepala dan bahunya

Prak! Krak!

Terdengar suara batok kepala pecah dan berderaknya tulang bahu. Iblis Betina Muka Dua menjerit keras lalu ambruk.

Sang Dedemit menggeram dan segera jejakkan kaki di atas tanah.

Kemudian dengan pandangan sinis dia mentap lawannya. Diam-diam dia menjadi heran.

Tidak ada darah atau otak yang bertabur berceceran terkecuali belatung-belatung dan cairan putih seperti nanah.

Ketika Dedemit Rawa Rontek berdiri terhenyak menyaksikan keadaan lawan yang dianggapnya menemui ajal.

Pada saat itu tanpa dia sadari.

Sejak awal kehadirannya di tempat itu sudah ada sepasang mata yang terus-menerus memperhatikan gerak geriknya.

Pemilik sepasang mata itu mendekam tidak jauh dibelakang pohon batu hitam dibalik semak belukar, Dia hampir tiada henti berdecak. Mula-mula ketika melihat kakek kurus macam jerangkong yaitu Raden Pengging Ambengan menyibakkan batu mencari jalan masuk tembus ke dalam ruangan dalam pohon batu dengan ilmu sakt yang dimilikinya.

Sosok muda yang tak lain adalah Sang Maha Sakti Raja Gendeng itu berdecak kagum sambil belalakan mata.

"Wah hebat sekali ilmu kesaktian kakek itu. Pohon batu saja bisa dibuka dan eh, ternyata ada pintunya, Hebat-hebat...!"

Batin sang pendekar terkagum-kagum.

Lalu ketika orang yang mengikuti Raden Pengging Ambengan mengamblaskan diri masuk ke dalam pohon kening murid dari dua tokoh aneh dari pulau Es di pantai selatan itu berkerut tajam .

"Siapa kakek gendut dan gadis putih cantik itu? Aku belum pernah melihatnya. Tapi aku mendengar kakek macam jerangkong memanggil si gendut dengan nama Kelut Birawa. Sedangkan gadis cantik itu kalau tak salah namanya Dadu Sirah Ayu. Aku merasa ada sesuatu yang janggal. Si gadis walau penampilannya sudah seperti gadis dewasa aku melihat tingkah laku dan caranya bicara seperti seorang bocah. Nampaknya ada sesuatu yang mereka khawatirkan. Terbukti mereka sampai harus menyembunyikan diri di pohon batu."

Kata sang pendekar lagi dalam hati.

Selagi dia berpikir sambil menggaruk kepala.

Tiba-tiba terdengar teriakan dan menbersitnya dua cahaya.

Dua cahaya merah kehitaman langsung menghantam lubang berbentuk pintu yang telah bergeser menutup. Ledakan dan guncangan terjadi.

Raja merasakan tanah tempat dimana dia mendekam tergetar keras laksana dilanda gempa.

Penasaran sambil menahan nafas pemuda Ini menatap ke depan. Lalu pada saat itu dia melihat kehadiran satu sosok berkulit hijau, bertubuh tinggi.

Yang membuatnya terheran-heran.

Sosok itu mempunyai tanduk, dikening, lengan dan lutut.

Mata hanya satu berukuran besar menempel di tengah kening persis di bawah tanduk.

"Mahluk apa yang satu ini? Dikata kerbau tubuhnya mirip manusia. Namun dibilang manusia tapi mengapa ada tanduknya. Aku saja cuma punya satu tanduk. Sedangkan dia punya lima. Ditambah tanduk satunya lagi berarti dia punya enam tanduk."

Pemuda ini lalu menyeringai sendiri dan mengusapi dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Setelah itu dia menghela nafas. Sebelum kembali menatap memperhatikan kehadiran orang tanpa sadar dia meraba bagian bawah perutnya. Sang pendekar tersenyum lega.

"Ah tandukku tidak ke  mana-mana. Sayang  dia menunduk  terus."

Sejurus pemuda ini diam membisu. Namun perhatiannya kembali tertuju ke arah sosok tinggi yang kemudian dia ketahui bernama Dedemit Rawa Rontek Saat itu dilihatnya Dedemit Rawa Rontek mencoba mencabut pohon batu setelah usahanya menghancurkan pohon dengan ilmu pukulan sakt tidak berhasil. Tapi seperti diketahui usaha inipun sia-sia. Lalu selagi sang Dedemit dibuat putus asa dengan kesulitan yang dihadapinya. Muncul seorang nenek aneh berwajah ganda yang akhirnya diketahui bernama Iblis Betina Muka Dua mengaku utusan Yang terlaknat Dari Alam Baka.

"Aku tidak mengenal siapa orangnya yang dijuluki Yang Terlaknat Dari Alam Baka. Namun aku tadi sempat mendengar Dedemit Rawa Rontek ada menyebut bahwa junjungannya adalah majikan Penghuni Perahu Setan. Hmm... aku telah menghabisi dua manusia kembar yang kabarnya adalah murid-murid kesayangan Penghuni Perahu Setan. Apakah penghuni perahu setan itu mahluk dedemit jejadian yang keadaannya lebih mengerikan dari Dedemit Rawa Rontek?!" pikir Raja

"Terlalu banyak teka-teki yang kuhadapi. Keinginan untuk menemui Gagak Anabarang hingga saat ini belum terlaksana. Tapi aku yakin ada hubungan erat antara orang-orang aneh yang muncul di rimba persilatan saat ini dengan Gagak Anabrang. Seharusnya aku segera berlalu dari tempat ini. Aku tidak perduli siapapun yang tewas dalam perkelahian yang sedang terjadi."

Pikir pemuda itu lagi. Merasa bulat dengan keputusannya.

Sang pendekar segera hendak tinggalkan tempat itu. Namun gerakannya tertahan begitu dia ingat dengan orang-orang yang berada dalam pohon itu

"Dua kakek dan gadis itu. Aku melihat mereka orang baik-baik.Saat ini dua orang jahat mengincar mereka. Apakah aku harus membiarkan mereka terperangkap dalam kesulitan?"

Kata sang pendekar pada dirinya sendiri.

Sesaat dia terdiam terperangkap terombang ambing dalam kebimbangan. Tiba-tiba saja dia ingat dengan Jiwa, sahabatnya.

Mahluk alam roh yang bersemayam di dalam hulu pedang.

"Jiwa sahabatku, apakah kau mendengar?" tanya Raja lalu menoleh, melirik ke arah Pedang Gila yang tergantung dipunggungnya.

"Uahgh... ada apa paduka Raja. Kau membangunkan aku, padahal aku masih mengantup ech... maksud saya masih mengantuk."

"Apakah kerjamu hanya membesarkan belek  sepanjang hari, Aku butuh  teman untuk  berbagi saat ini," Sahut Raja.

"Tidak. Saya selalu terjaga paduka. Namun adakalanya saya butuh tidur juga."

Menyahuti sang jiwa melalui ngiangan yang hanya dapat didengar sang pendekar sendiri. "Paduka tadi mau berbagi apa"

"Hus!. Lihatlah ke depan. Sekarang apakah kau sudah melihatnya?" Tanya pemuda itu.

Sunyi sejenak. Namun Raja dapat merasakan ada angin berdesir lewat ditelinganya. Setelah itu terdengar suara mengiang halus.

"Wheh. hebat sekali.Dua orang jelek itu mereka bukan manusia sebagaimana diri paduka. Mereka mahluk alam gaib, Satunya malah datang dari liang lahat. Satu lagi kacung suruhan, namun kesaktiannya sulit untuk diduga."

"Kau sudah melihat, tapi bukan mereka yang membuat hatiku risau. Sekarang aku memintamu. Apakah kau  sanggup  melakukannya, semua  tergantung  seberapa  hebat kesaktian  yang kau  miliki"

"Paduka raja Gendeng hendak meminta saya melakukan apa?" Tanya Jiwa.

Dengan suara lirih namun jelas Raja lalu menceritakan kejadian langka yang dilihatnya.

Setelah sang pendekar selesai menceritakan semuanya, Sang Jiwa di hulu pedang ajukan pertanyaan Paduka.

"Tiga orang masuk ke dalam batu apalagi batunya berbentuk pohon. Di dunia kehidupan manusia pemandangan seperti itu tentu saja sesuatu yang langka. Tapi di dunia kami, dunia para jiwa para roh hal itu adalah biasa-biasa saja."

"Hah apa?" Sentak Raja.

"Apakah kau sanggup masuk menyelinap ke dalam pohon batu. Cari tahu mengapa mereka bersembunyi di sana, apa yang mereka bicarakan. Dan satu lagi yang tidak kalah pentingnya apakah mereka membutuhkan pertolongan?"

"Dengan seizin dewa yang pemurah. Dan tentu saja atas restu paduka saya akan melakukannya.

Harap paduka bersabar menunggu. Saya pergi hanya sebentar, lalu kembali lagi kesini." "Pergilah, Mudah-mudahan orang-orang jelek yang tengah berkelahi itu tidak mengetahu ­

kedatanganmu di pohon batu." Ujar Raja.

Tidak ada jawaban.

Raja hanya merasakan seperti ada bayangan berkelebat melewatinya.

Lalu ketika dia menatap ke arah pohon batu terlihat ada satu titik cahaya kuning berkilau seukuran jauh lebih kecil dari kunang-kunang.

Setelah itu. Bles!

Sosok cahaya lenyap, amblas masuk ke dalam pohon batu. Sang pendekar menghela nafas lega.

*****

Sementara di dalam ruang sejuk pohon batu Raden Pengging Ambengan, Dadu Sirah Ayu dan si gendut Kelut Birawa sedang terlibat pembicaraan. "Keberadaan kita di  tempat ini  telah  diketahui oleh musuh  yang menginginkan Sirah  Ayu.  Walau aku tidak khawatir orang diluar sana sanggup menghancurkan tempat kita. Tapi aku risau

orang-orang sesat lainnya akan terus berdatangan."

Ujar Kelut Birawa sambil menatap kakek jerangkong di depannya. "Dengar,"

Raden Pengging Ambengan tiba tiba menyela.

"Perlu kau ingat.Aku membawa kalian berdua ke tempat ini bukan untuk bersembunyi, tapi untuk membicarakan tentang nasib dan keselamatan Dadu Sirah Ayu. Sama seperti dirimu, aku juga tidak ingin melihat gadis ini menjadi korban persembahan atau menjadi rebutan dari orang yang berniat memanfaatkan tubuhnya. Tempat ini tidak lagi aman karena aku sudah merasakan setidaknya ada dua orang jahat muncul di sini"

Ucap si kakek,

"Maksudmu apakah kita harus segera meninggalkan ruang dalam pohon batu ini?" Tanya Kelut Birawa. Raden Pengging Ambengan anggukkan kepala.

"Hanya itu satu-satunya jalan yang paling baik."

"Mengapa kita berdua tidak keluar saja dari tempat ini lalu menghabisi siapa saja yang coba coba mengganggu Sirah Ayu?"

Kata Kelut Birawa menyampaikan pendapatnya.

"Aku tahu kau memiliki ilmu serta kesaktian yang hebat dan bila kita bersama kita dapat menyingkirkan mereka."

"Saya juga bisa membantu kek." Ucap Sirah Ayu menawarkan diri.

"Aku percaya. Tapi kau tidak perlu melibatkan diri dalam perkelahian. Semua urusan yang berhubungan dengan kekerasan dan pertumpahan darah, biarkan kami sudah tua dan bau tanah ini yang mengatasinya."

Sahut Kelut Birawa disertai senyum.Tidak lama setelah senyum si kakek gendut lenyap. Raden Pengging Ambengan membuka mulut,

"Kelut Birawa. Di luar sana banyak sekali orang jahat berkeliaran. Dua orang yang saat ini tengah berkelahi itu tidak terlalu merisaukan hatiku.Tapi bagaimana bila Gagak Anabrang yang muncul atau penghuni Perahu Setan yang datang? Kita hanya bertiga Walau aku tidak merasa gentar menghadapi tokoh sesat itu namun kita harus mempertimbangkan baik buruknya. Kita masih butuh bantuan orang lain, kita butuh uluran tangan para sahabat. Dan aku punya seorang sahabat karib yang dapat membantu kita."

"Siapa sahabat yang kau maksudkan itu?"

Tanya Kelut Birawa. Dengan mata menerawang Raden Pengging menjawab. "Namanya Ratu edan. Dia menetap di satu kawasan bernama Alas Sindang Pantangan. Tempat itu tidak jauh dari sini. Kita harus kesana, pergi secara diam-diam agar orang-orang di luar pohon batu tidak melihat atau mengetahui kepergian kita,"

Terang sang Raden.

"Tapi bagaimana caranya, kek?"

Tanya Sirah Ayu yang sejak tadi lebih banyak diam dan khawatir. Raden Pengging terdiam sambil terus berpikir. Tak lama kemudian dia berkata.

"Kita harus merubah diri menjadi kunang-kunang."

"Menjadi kunang-kunang. Aku tidak mempunyai ilmu seperti."

Tukas Kelut Birawa bingung. Raden Pengging Ambengan tersenyum.

Tanpa bicara dia masukkan jemari tangan kanan ke dalam saku celana luriknya. Ketika jemari tangan ditarik keluar.

Dalam genggaman tangan Raden Pengging tergeletak tiga buah benda berwarna biru dengan ukuran tak lebih dari ujung jari kelingking. Terheran-heran setelah memperhatikan ketiga benda tersebut. Kelut Birawa ajukan pertanyaan.

"Benda di tanganmu itu, sobatku? Apakah kotoran kambing? Mengapa warnanya biru?" "Jangan sembarangan kau bicara. Sekarang bukan saatnya bergurau.Benda ini bukan benda

sembarangan.Namanya Batu Biru Perindu Bulan. Aku akan meminjamkannya padamu juga pada Dadu Sirah Ayu. Tapi nanti bila telah sampai ke tempat tujuan kalian harus mengembalikannya padaku."

Terang Raden Pengging.

Si kakek membagikan Batu Biru Perindu Bulan masing-masing satu.

"Bagaimana cara menggunakannya kek.Apakah untuk merubah diri menjadi kunang-kunang Kakek juga akan mengajarkan mantranya pada kami?"

Tanya Dadu Sirah Ayu polos

"Tkuti perintahku.Dan jangan lupa, setelah beruhah menjadi kunang-kunang kalian harus tetap berada di belakangku."

pesan Raden Pengging Ambengan. Setelah itu dia menerangkan bagaimana caranya menggunakan batu di tangan masing masing.

Setelah sang Raden selesai menjelaskan. Kelut Birawa tersenyum berkata.

"Mula-mula menahan nafas. Kemudian menggenggam erat batu ini sementara dalam hati berkata. Merubah ujud tiga kali. Ternyata tidak memakai mantra, tak perlu membaca apa-apa. Mudah sekali. Tidak sulit."

"Tapi harus ingat, ketika ingin kembali menjadi manusia lagi kau juga harus menahan nafas, lalu mengucapkan merubah ujud tiga kali juga." Terang sang Raden.

Semua orang yang berada di ruangan itu anggukkan kepala.

Setelah itu sesuai dengan petunjuk yang diberikan Raden Pengging, Kelut Birawa dan Sirah Ayu segera menahan nafas, lalu jemari yang memegang batu sakti dikepalkan dengan erat dalam hati mengucapkan kata 'merubah ujud tiga kali

Ples! Ples! Ples!

Tiga sosok yang duduk dalam ruangan batu mendadak raib, sebagai gantinya di tempat itu kini muncul tiga kunang-kunang.

Dua kunang-kunang berbentuk kurus sedangkan satunya lagi bertubuh gemuk Tiga kali kunang-kunang terbang berputar di tengah ruangan.

Setelah itu diawali dengan gerakan kunang-kunang kurus yang tak lain penjelmaan dari Raden Pengging Ambengan.

Dua kunang-kunang lainnya melesat menembus dinding batu lenyap dari pandangan.

Semua kejadian yang berlangsung di dalam pohon batu itu kiranya tidak lepas dari perhatian sang Jiwa.

Namun kehadiran Jiwa yang tidak mempunyai tubuh kasar itu tidak diketahui oleh Raden Pengging dan yang lainnya

"Hebat luar biasa.Kakek macam jerangkong bernama Raden Pengging Ambengan itu. Selain sakti agaknya dia juga memiliki benda sakti. Salah satu diant ¡ranya adalah Batu Biru Perindu Bulan."

Puji Jiwa disertai decak kagum.

Setelah terdiam mahluk alam roh itu kembali berujar.

"Aku harus mengabarkannya pada paduka Raja, ketiga orang tadi butuh bantuan dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju Alas Sindang Pantangan."

Tanpa menunggu lebih lama sang jiwa segera memutar langkah. Dan...

Wuss!

Sekejab saja Raja yang masih mendekam ditempatnya dapat merasakan kehadiran sahabatnya itu "Kau telah kembali.Bagaimana keadaan di dalam pohon itu." tanya pemuda itu. Dengan hati-hati jiwa menceritakan semua apa yang didengarnya.

Setelah mendengar semua penjelasan Jiwa, Sang Maha Sakti Raja Gendeng berujar,

"gadis itu serta kedua kakek yang menjadi pelindungnya harus kita bantu. Cepat atau lambat Gagak Anabrang atau Penghuni Perahu Setan bakal menemukan mereka" "Penghuni Perahu Setan? Bukankah dia orangnya yang menginginkan kematian paduka Raja?" Tukas Jiwa seakan mengingatkan. Sang pendekar tersenyum. Enak saja dia menjawab.

"Aku tahu. Tidak perlu takut. Kematian akan selalu menghampiri setiap orang."

"Saya tahu paduka. Tapi mati muda apalagi sebelum punya kekasih dan belum pernah kawin rasanya bisa membuat arwah jadi penasaran."

"Kurang ajar. Mengapa kau menyindirku?" dengus Raja tapi mulut menyeringai menahan tawa. "Saya bukan menyindir, tapi memang kenyataan."

Sahut Jiwa tak mau kalah. "Sudah-sudah."

"Baiklah. Lalu apa yang hendak paduka lakukan?" Tanya Jiwa lagi.

Raja berpikir sejenak.

"Kau mengatakan mereka hendak pergi ke Alas Sindang Pantangan? Kita sendiri baru meninggalkan tempat itu. Siapa Ratu Edan yang dimaksudkan oleh kakek tua itu? Apakah mungkin dia orangnya yang oleh si Jubah Sakti dan si Jubah Api disebut-sebut sebagai gusti Ratu."

Kata Raja dengan nada bertanya.

"Saya menaruh dugaan demikian paduka." Raja manggut-manggut.

"Jadi pohon batu itu sekarang telah kosong?" kata sang pendekar seakan ditujukan pada dirinya sendiri

"Pohon memang telah kosong. Dan kita bisa menyusul tiga kunang-kunang tadi."

"Menyusul mereka bisa kita  lakukan kemudian. Kedua orang ini  harus segera kita singkirkan.

Kalau tidak, mereka bisa menjadi batu sandungan dikemudian hari."

"Ah, biarkan saja mereka saling bunuh paduka. Rasanya paduka tidak perlu ikut campur. Coba paduka lihat, orang-orang yang perlu kita bantu sekarang sudah pergi."

"Hem, kau benar juga. Biar saja mereka saling bunuh karena memperebutkan batu atos yang sudah tidak ada apa-apanya lagi. Sekarang kembalilah ke tempatmu. Kita harus pergi"

"Terima kasih paduka." Sahut sang jiwa.

Raja anggukkan kepala.

Dengan cepat dia bangkit berdiri.

Kemudian dengan mengendap endap dia menyelinap tinggalkan tempat itu.

****** Kembali pada Dedemit Rawa Rontek.

Tidak lama sebelah merasa berhasil menghabisi Iblis Betina Muka Dua, lakd-laki tinggi bertubuh hijau itu kemudian segera kembali menghampiri pohon.

Sesampainya di depan pohon batu.

Dia jatuhkan diri berlutut dengan tangan dirangkapkan ke depan dada lalu melakukan tali sambung rasa atau kontak batin dengan junjungannya.

Setelah mengosongkan pikiran sambil mengerahkan seluruh perhatian menuju ke satu tempat dimana Penghuni Perahu Setan berada.

Dedemit Rawa Rontek tiba-tiba berkata.

"Wahai sang junjungan. Dimana pun dirimu saat ini berada aku ingin memberikan penjelasan bahwa gadis yang junjungan inginkan telah kutemukan, Tapi saya sulit mengambilnya karena seseorang yang memiliki ilmu kepandaian aneh telah membawanya masuk menyelinap ke dalam satu pohon batu. Saya telah menggunakan segala cara. Namun saya tidak sanggup menghancurkan pohon batu itu.Selanjutnya saya akan menunggu keputusan junjungan!"

Hening dan sunyi sesaat. Dedemit Rawa Rontek yang dikenal ganas ini menunggu dengan jantung berdebar. Dan perhatiannya tidak berlangsung lama karena sekejab kemudian sayup-sayup dikejauhan yang tidak terukur jaraknya terdengar suara ngiangan marah.

"Mahluk bodoh dan tolol! Menyelesaikan satu tugas saja kau tidak mampu!"

Suara ngiang mendamprat itu membuat wajah Dedemit Rawa Rontek yang hijau bertambah hijau pekat.

Pelipis bergerak-gerak, pipi menggembung.

Mata tunggalnya yang besar berputar liar berkiblat membersitkan kemarahan.

"Mahluk jahanam! Andai kau tidak mengetahui rahasia kelemahan ilmu kesaktianku. Sudah sejak lama aku akan melenyapkanmu. Kau mengira diriku suka diperintah dan kau suruh-suruh? Aku mahluk bebas yang benci diperbudak."

Batin Dedemit Rawa Rontek dalam hati. Darahnya serasa mendidih. Hati dipenuhi murka dan kebencian. Namun dia memilih diam dan bersikap patuh

"Sekarang kau berada dimana?"

Kembali terdengar suara mengiang di telinganya.

"Saya berada di ujung sebelah barat lembah Ratu Gamping, junjungan" Menyahuti sang Dedemit dengan sikap seakan tidak mempunyai ganjalan di hati. "Tunggulah. Aku akan sampai di tempat itu dalam waktu tiga kali tarikan nafas!" "Terima kasih junjungan!"

Sahut Dedemit Rawa Rontek sambil bungkukkan tubuh dalam dalam. Tepat seperti yang dikatakan penghuni Perahu Setan. Tidak sampai tiga kali Dedemit Rawa Rontek mengedipkan mata tiba-tiba dia mendengar suara deru bergemuruh di ketinggian.

Ketika sang Dedemit menatap ke atas.

Dia melihat sebuah perahu berwarna merah keseluruhannya dengan layar terkembang melesat ke arahnya.

Hanya sekejab saja perahu aneh yang bergerak dengan cara melayang di atas ketinggian telah berada tepat diatas kepala Dedemit Rawa Rontek. Gerakan perahu yang dikenal dengan nama perahu Setan terhenti mengambang.

Lalu satu kepala muncul dari dalam perahu.

Dedemit melihat orang berjubah merah, memakai topeng tengkorak pelindung wajah "Junjungan! Itulah pohon batu yang saya maksudkan!"

Jelas sang Dedemit sambil menunjuk ke arah pohon batu berwarna hitam yang menjulang tinggi dipenuhi cabang meranggas tanpa daun.

Sosok diatas perahu layangkan pandang ke arah yang dimaksud.

Setelah memperhatikan pohon tersebut, wajah yang terlindung dibalik topeng tengkorak menyeringai

"Wahai mahluk tak berguna. Kau yakin gadis yang kucari berada dan bersembunyi di pohon aneh

itu?"

Tanya penghuni Perahu Setan tanpa mengalihkan perhatian dari pohon yang ditatapnya. Dedemit

Rawa Rontek cepat rangkapkan kedua tangan menjura lalu baru kemudian menjawab.

"Saya melihat dengan kepala sendiri, junjungan.Bahkan nenek yang bergelar Iblis Betina Muka Dua yang telah saya bunuh itu juga melihatnya. Dia menginginkan gadis itu juga untuk dipersembahkan pada Yang Terlaknat Dari Alam Baka!"

Wajah dibalik topeng diam-diam berubah tegang.

Kening mengernyit dalam hati berkata

"Jadi sainganku bukan cuma Gagak Anabrang dan para kunyuk dunia persilatan. Mahluk alam baka menginginkan gadis itu. Dan si renta Iblis Betina dijadikan utusannya. Semua ini merupakan tantangan yang cukup berarti bagiku."

Batin penghuni Perahu Setan sambil melirik ke arah Iblis Betina Muka Dua yang terbujur menggeletak di atas rerumputan.

"Kau yakin nenek itu betul-betul sudah mati?" Bertanya sang Junjungan di atas perahu seperti curiga.

"Begitulah keyakinan saya karena saya telah memecahkan batok kepala dan membuat remuk tulang bahunya, junjungan."

"Jangan percaya dengan penglihatan biasa. Apalagi kau cuma punya satu mata. Pandangan biasanya suka menipu. Dan kau harus ingat. Aku sudah sering mendengar nenek satu itu punya beragam ilmu yang menipu pandangan.Tapi aku tidak perduli. Tugasmu adalah menyingkirkan setiap penghalang yang mengganggu semua tujuanku. Sekarang aku sendiri yang akan menghancurkan pohon itu, mengambil gadis yang bersembunyi di dalamnya lalu pergi dari tempat ini."

"Tapi.."

"Tapi apa, Dedemit Rawa rontek!"

Tukas Penghuni Perahu Setan dengan sikap menunjulkan rasa tidak suka.

"Ma..maafkan saya junjungan,Saya hanya ingin mengingatkan ada dua orang berkepandaian tinggi yang menjaga dan melindungi gadis itu. Junjungan harus berhati-hati!"

"Ha ha ha. Yang kutahu pelindungnya adalah cecunguk gendut Kelut Birawa dan yang satunya lagi pastilah kecoak lapuk bernama Raden Pengging Ambengan. Aku tidak takut dengan kecoak-kecoak renta itu. Yang terpenting aku harus dapatkan keinginanku. Bila mereka menghalangi pasti kubunuh!"

Dengus Penghuni Perahu Setan disertai gelak tawa menyeramkan. "Kalau begitu tak ada lagi yang harus saya risaukan!"

Kata Dedemit Rawa Rontek namun di dalam hatinya juga merasa kesal dengan kesombongan junjungannya. Penghuni Perahu Setan keluarkan suara berdengus.

Kemudian dengan gerakan seringan kapas dia melesat melayang tinggalkan perahu di ketinggian.

Begitu jejakkan kaki sejarak tiga tombak di depan pohon batu. Sang Penghuni Perahu Setan segera kerahkan tenaga sakti ke bagian tangannya. Sekejab kemudian kedua tangan dan sekujur kuku berjingkrak tegak dan tampak mengepulkan asap tebal bergulung-gulung. 

Seiring dengan mengepulnya asap.

Kedua tangannya berubah menghitam memancarkan cahaya redup menggidikkan. Melihat orang menggunakan ilmu yang menjadi andalannya.

Dalam hati sambil melangkah mundur Dedemit Rawa Rontek berujar. "Mahluk satu ini ternyata mengerahkan ajian Serat Karang!"

Sambil menatap tak berkedip sang Dedemit diam terpaku memperhatikan.

Sampai akhirnya diawali dengan teriakan menggelegar .Penghuni Perahu Setan segera hantamkan kedua tangannya ke arah pohon batu hitam tersebut.

Begitu tangan didorong ke arah pohon terdengar suara bergemuruh laksana amukan badai di laut.Cahaya hitam pekat berkiblat.

Lalu... Traaat!

Geleger Cahaya hitam berkilau menghantam pohon besar itu.

Kilatan-kilatan cahaya dengan cepat menjalar keseluruh pohon dari bagian batang hingga ke cabang dan ranting.

Keadaan yang terpentang di depan mata kemudian sungguh luar biasa.

Pohon batu hancur bertebaran menjadi puing-puing tidak berbentuk. Kepulan asap dan debu membubung tinggi bergerak meliuk-liuk memenuhi udara. Namun ketika kepulan asap dan debu lenyap Penghuni perahu Setan berteriak marah sementara matanya menatap terbelalak tidak percaya.

"Jahanamf Pohon ini kosong. Kemana mereka pergi"

Seperti orang kalap, Penghuni Perahu Setan memutar badan menghadap langsung ke arah Dedemit Rawa Rontek. Merasa bersalah, sang Dedemit cepat jatuhkan diri berlutut di tanah.

Dengan gugup dia menjawab,

"Maafkan saya junjungan. Kemungkinan orang yang bersembunyi dan gadis incaran kita telah menyelinap pergi!"

"Begitu? Tapi awas bila kau berani menipuku. Aku bersumpah bakal mematahkan semua tanduk yang tumbuh di tubuhmu!"

Hardik Penghuni Perahu berang.

"Junjungan mana berani saya bicara dusta. Kalau tidak percaya tanya saja pada nenek yang sudah mati itu!"

Kata Dedemit Rawa Rontek lalu menunjuk ke arah Iblis Betina Muka Dua.

Ucapan mahluk satu ini karuan saja membuat Penghuni Perahu Setan tambah berang. Tapi belum sempat dia mendamprat.

Tiba-tiba si nenek yang dalam keadaan rebah tak bergerak tertawa tergelak-gelak. "Membunuh sekaligus menghabisiku bukan perkara mudah. Kalian berdua hanyalah dua mahluk

tolol yang mudah ditipu bangsa manusia. Hik hik hike!"

Dedemit Rawa Rontek tersentak kaget. Demikian juga dengan junjungannya. Penasaran mereka sama menatap ke arah nenek renta yang tak jauh di depan mereka. Ketika melihat Iblis Betina Muka Dua bangkit berdiri dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu apa.

Kagetlah sang Dedemit dibuatnya. Berbeda dengan Penghuni Perahu Setan. Dia yang sedang dilanda kecewa dan kemarahan segera melangkah mendatangi.

Tepat tiga tombak di depan Iblis Betina Muka Dua langkahnya berhenti. Sepasang mata yang terlindung topeng tengkorak menatap tajam ke arah nenek berwajah dua itu.

"Mahluk celaka tak karuan rupa!"

Hardik Penghuni Perahu Setan dengan suara keras menggeledek.

"Kau mengira ada yang lucu dan patut untuk ditertawakan? Aku mengenal cecunguk sepertimu. Dan kau masih belum sadar bertemu dan berhadapan dengan siapa? Aku tahu kau bersekutu dengan mahluk liang lahat jahanam yang biasa disebut dengan Yang Terlaknat Dari Alam Baka. Raja diraja alam kubur itu sekalipun bila ada dihadapanku tak bakal berani bersikap lancang mentertawai segala kekecewaanku! Kau betul-betul mencari mampus!"

"Ah ternyata dia mengenal sobatku Yang Terlaknat Dari Alam Baka. Siapa wajah yang bersembunyi dibalik topeng itu?"

Membatin Iblis Betina Muka Dua. Walau sempat dibuat heran tidak menyangka orang mengenali siapa dirinya. Namun nenek renta itu ternyata tidak perduli. Dia melangkah maju, lalu sambil berkacak pinggang si nenek berkata.

"Penghuni Perahu Setan. Kau menyangka dirimu siapa. Dedemit Rawa Rontek itu boleh saja merasa tahluk, tunduk terhadapmu. Tapi aku bukanlah kacung suruhan. Aku tidak takut padamu dan ini buktinya. "

Sambil membentak garang Iblis Betina Muka Dua tiba-tiba melompat ke atas. Mulut depan dan belakang dibuka menganga sedangkan kepala diputar dengan satu sentakan keras.

Set! Ser!

Pada saat kepala bergoyang dari dua mulut menjulur keluar lidah panjang tak obahnya sepert selendang. Satu lidah yang berasal dari mulut berada di belakang kepala bergerak cepat siap melibat kaki Penghuni Perahu Setan, Sedangkan lidah yang berasal dari mulut bagian depan bergerak melibat leher dan siap menjiratnya. Bersamaan dengan meluncurnya lidah tercium bau busuk bangkal.

Sementara walau kedua lidahnya melakukan serangan. Iblis Betina Muka Dua masih bisa berucap lantang.

"Bila tadi kaki tanganmu masih bisa selamat dari libatan lidahku. Maka kini aku menggunakan racun. Begitu kau terkena serangan dua lidahku, kau segera mampus keracunan. Hik hik hik!"

"Bualan busuk. Racunmu tidak bisa berbuat banyak karena tubuhku ini sesungguhnya sangat kebal dengan berbagai racun ganas! Heaaa. !"

Sahut Penghuni Perahu Setan.

Mulut berkata begitu, namun ketika lidah menyambar kaki dia melompat ke atas.

Sementara saat tubuhnya mengapung di atas tanah, dua tangan bergerak menghantam ke dua lidah lawan.

Wuss! Byaar!

Satu gelombang angin dahsyat menderu menghantam dua lidah yang menyerang dari sebelah bawah dan sebelah atas.

Melihat deru angin disertai pijaran hawa panas menggidikkan, Tblis Betina Muka Dua berlaku nekat dan ingin menjajagi sampai dimana kehebatan Penghuni Perahu Setan yang selama ini membuat gentar lawan-lawannya itu. Maka tanpa keraguan sedikitpun si nenek lipat gandakan tenaga dalamnya lalu dia salurkan ke arah dua lidah.

Sepasang lidah yang tadinya bergerak lentur kini berubah kaku siap mengemplang lawan.

Sementara akibat pengerahan tenaga dalam yang berlebihan membuat lidah itu berwarna lebih merah dan menggeletar ganas.

Ketika benturan dahsyat terjadi.

Dua lidah yang siap mengemplang dan mencambuk terpental. Nenek itu sendiri terjajar, tubuh bergetar lalu jatuh berlutut dengan wajah pucat nafas megap-megap.

Menatap ke depan dengan sorot mata nanar.

Dia melihat penghuni  perahu Setan  tegak berdiri tidak kekurangan  sesuatu apa.

Sementara tak jauh dibelakangnya si nenek juga melihat Dedemit Rawa Rontek bersikap waspada.

"Keparat jahanam.Mereka bukan mahluk biasa. Menghadapi Dedemit Rawa Rontek aku masih bisa menandingi. Tapi berhadapan dengan mahluk satu ini aku merasakan sekujur tubuhku rontok."

geram Iblis Betina Muka Dua. Tapi dia tidak punya waktu berpikir lama.

Saat itu dia melihat lawan telah menyerbu ke depan.Dua tangan diayunkan ke kanan dan kekiri dengan gerakan membabat lidah yang terjulur menjuntai di tanah.

Tidak ingin sepasang lidahnya terbabat putus Iblis Betina Muka Dua lakukan gerakan seperti menelan ludah.

Dua lidah yang terjulur laksana kilat terbetot masuk kedalam dua mulut di depan dan belakang.

Serangan lawan luput.

Kibasan tangan hanya membabat tanah kosong menimbulkan lubang guratan dalam dan percikan bunga api.Penghuni Perahu Setan menggeram.

Kegagalan mendapatkan gadis yang menjadi incarannya kini dia lampiaskan pada lawannya.

Tanpa ampun dan tak dapat dihindari lagi Iblis Betina Muka Dua kalang kabut menyelamatkan dirl dari serangan yang bertubi-tubi.

"Edan! Keparat busuk itu serangannya makin menggila. Bila kuladeni terus bisa-bisa nyawaku amblas tak ketolongan.Lebih baik aku mencari selamat. Aku tidak mau mati konyol melayani segala keganasannya!"

Membatin si nenek dalam hati Walau telah mengambil keputusan demikian namun tidak mudah bagi Iblis Betina Muka Dua untuk mencari selamat.

Dalam keadaan terdesak dia berpaksa lebih mengandalkan serangan tangan dan kaki.

Benturan-benturan keras akibat beradunya pukulan serta tendangan berulang kali terjadi. Sampai kemudian si nenek meraung kesakitan begitu pukulan jarak jauh yang dilepaskan lawan menghantam perutnya. Nenek ini terhuyung.  

Sementara dari arah depan dengan penuh nafsu Penghuni Perahu Setan melesat ke arahnya.Dua tangan yang terpentang berbentuk cakar terus melesat mencari sasaran di bagian dada.

"Junjungan...!"

"Aku akan menjebol dada dan mengorek jantungmu!" Seru Penghuni Perahu Setan.

Tidak ada pilihan lain.

Ketika si nenek merasakan sambaran angin menerpa dada.

Sesaat sebelum sepuluh jemari tangan amblas masuk ke dalam tubuhnya. Si nenek Muka Dua segera menghantam ke depan.

Selarik cahaya biru merah hijau dan kehitaman menderu menyambuti serangan ganas Penghuni Perahu Setan, namun hanya dengan menggoyangkan dua tangannya, semua cahaya yang bersumber dari pukulan si nenek dibuat hancur bertebaran.

Sepuluh jari seperti tak tercegah lagi terus melesat mengarah ke tempat yang dituju. "Celaka!"

Geram Iblis Betina Muka Dua namun dia cepat amblaskan diri ke tanah mencari selamat. Dua kaki dihentakan.

Sosok si nenek tiba-tiba seperti dibetot ke dalam tanah.

Penghuni Perahu Setan mencoba menggapai membetot lawan dan mencekal kepalanya. Breet!

Tapi sang Penghuni Perahu Setan hanya sempat menyambar rambut si nenek. Rambut yang dibetot putus berguguran.

Sementara lawan telah lenyap.Darl tempat lenyapnya si nenek, menganga sebuah lubang seukuran tubuh manusia.

Namun lubang itu kemudian menutup dengan sendirinya membuat Penghuni Perahu Setan geram juga kecewa.

"Kurang ajar! Pengecut sialan! Iimu kepandalan apa yang dimilikinya?" Teriak Penghuni Perahu Setan sambil banting kakinya.

Hentakan kaki membuat tanah terguncang serasa dilanda gempa. Tak jauh di belakangnya, Dedemit Rawa Rontek yang melihat jalannya pertempuran sengit itu tak berani menjawab.

Dia yang sempat merasa kagum melihat kecepatan junjungannya dalam menyerang hanya rundukkan kepala

"Kau tuli? Kau kira aku bicara dengan setan?"

Hardik Penghuni Perahu Muka Setan geram. Dengan terbata-bata Dedemit Rawa Rontek menjawab. "Maafkan saya junjungan, Saya tidak tahu ilmu kesaktian apa yang dimilikinya. Yang saya ketahui ilmu seperti itu memang dimiliki oleh beherapa tokoh sakti penghuni liang kubur."

Sahut sang Dedemit  sambil menunduk tanda kepatuhan

"Hiaa... Begitu rupanya? Aku paling benci kegagalan.Orang yang kucari belum didapat.Tahu tahu ada orang yang meremehkan kehebatanku."

Geram Penghuni Perahu Setan penasaran. Setelah berpikir lalu dia balikkan badan "Mahluk kurang bermanfaat."

Dengusnya setelah saling berhadapan dengan Dedemit Rawa Rontek.

"Kau dengar. Karena ketidak becusanmu Kini tugasmu tidak hanya mencari gadis itu. Tapi tugasmu bertambah satu lagi."

"Junjungan. Saya mengaku salah. Saya tidak keberatan walau harus mengemban satu tugas lagi.

Katakan apa tugas kedua yang hendak junjungan berikan?"

"Tugasmu adalah mencari dan membunuh seorang pemuda bernama Raja bergelar Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es..Kau dengar? Bunuh dan habisi dia. Jika gagal kau yang akan kuhabisi!"

Kata Penghuni Perahu Setan mengancam. Walau hatinya merasa tertekan, walau murka dan kemarahan Dedemit Rawa Rontek sampai ke ubun-ubun. Namun mahluk satu itu dengan patuh tetap menjawab.

"Baiklah junjungan. Sekali ini aku tidak akan membuatmu kecewa." "Kalau begitu tunggu apa lagi. Cepat angkat kaki dari hadapanku!"

Kertak penghuni Perahu Setan .Dengan hati menggerendeng namun mulut mengurai senyum.

Dedemit Rawa Rontek segera berlalu.

Selanjutnya secepat kilat dia memutar tubuh dan berkelebat tinggalkan majikannya seorang diri. Penghuni Perahu Setan mendengus.

Kaki dihentakan, tubuhnya melesat ke atas ketinggian tempat dimana perahu Setan mengapung diam.

Setelah tubuh melesat masuk ke dalam perahu diapun berteriak tidak jelas ditujukan pada siapa. "Ayo pergi!"

Teriakannya lenyap.

Perahu Setan tiba-tiba keluarkan suara menderu dan desir aneh. Perahu melesat laksana kilat. Sekejab kemudian lenyap dari pandangan mata.

Segalanya berubah sunyi. Hanya semilir angin berhembus sepoi-sepoi. 

Tamat