-->

Raja Gendeng Eps 13 : Misteri Perawan Siluman

 
Eps 13 : Misteri Perawan Siluman


Angin malam yang dingin menyelimuti kawasan Lor Candi Sewu.

Ditengah kesunyian yang mencekam, tepat di depan sebuah patung batu gadis yang menangis.

Seorang kakek bertubuh gemuk besar luar biasa duduk diam tak bergerak. Kakek berpakaian putih tak terkancing, berambut panjang digelung, berkumis dan berjanggut panjang yang juga telah memutih sedang menatap ke arah patung berparas cantik itu.

Sesekali si kakek menarik nafas, sekejab dia alihkan perhatian ke arah satu-satunya pelita yang menerangi tempat itu.

"Aku tidak bisa menunggu terlalu lama, wahai anak gadis yang bersedih!" Dari mulut si kakek gendut tiba-tiba meluncur ucapan.

"Malam terlalu panjang untuk dilewati.Banyak orang yang perduli dan merasa iba atas takdir buruk yang terjadi pada dirimu.Untuk bisa datang ke Lor Candi ini pilihan yang sulit.Aku ingin kau mengakhiri semua kesedihanmu. Masa depanmu masih panjang. Sedangkan bagiku yang sudah uzur dan cukup umur, satu-satunya yang menjadi harapan tak lebih dari sepetak tanah kuburan. Tapi aku tak ingin menutup mata dalam ketidak tenangan. Ketenangan baru bisa kudapatkan bila segala urusanmu dapat diselesaikan dengan sebaik- baiknya."

"Wahai gadis.Jangan terus bersedih.Hentikan tangismu dan tataplah hari depanmu tanpa air mata. Aku berdoa, begitu yang selalu kutakukan, semoga para dewa di kayangan memberi restu atas segala usaha untuk kembali pada jati dirimu yang sebenarnya."

Tak lama Setelah selesai mengungkapkan segala ganjalan dihati. Orang tua ini bangkit berdiri.

Lalu tanpa menoleh dia melangkah mundur ke belakang. Tepat tiga tindak langkahnya terhenti.

Kemudian kaki kanan yang berada di sebelah depan ditekuk. Selanjutnya sambil membungkukkan badan, si kakek silangkan dua tangan di depan wajah.

Sambil mengucapkan kata-kata aneh tak ubahnya seperti orang yang meracau dia salurkan tenaga sakti ke arah kedua tangannya.

Tubuh orang tua itu secara perlahan namun pasti nampak bergetar.

Dua tangan yang bersilangan di depan wajah tiba- tiba memancarkan cahaya putih benderang berhawa sejuk. Hanya sesaat sebelum orang tua gemuk luar biasa ini mengibaskan kedua tangan ke arah patung gadis menangis dengan gerakan mengusap Dari mulutnya terdengar ucapan.

"Segala tabir gelap dan semua kekuatan jahat yang mengikat lenyap, hilang raib menjadi kepingan debu. Sesungguhnya kebaikan telah datang dan segala kejahatan pasti musnah. Lenyapkan segala belenggu yang membuat si anak perawan terbebas dari semua perangkap jahat tipu daya.Kembalikan dia kedunia ini tanpa tangis dan uraian air mata. Heaaa...!"

Selesai bicara mulut orang tua ini terkatub rapat, namun pada waktu yang sama dua tangan segera bergerak.

Dua kali gerakan mengusap patung dia lakukan.

Bersamaan dengan itu dari telapak tangannya menderu cahaya putih tak ubahnya seperti selubung kain.

Sreet! Byar! Byar!

Ketika dua cahaya putih menyentuh tubuh patung.

Satu guncangan disertai jerit menyayat yang berasal dari mulut patung menggema di udara.

Jeritan itu tidak hanya merobek kesunyian malam, tapi juga menimbulkan guncangan keras yang membuat si kakek gendut terhuyung.

Andai saja dia tidak lekas kerahkan tenaga dalam ke bagian kaki dan pergunakan dua kaki membuat gerakan aneh mengimbangi tubuh sebelah atas dapat dipastikan si kakek gendut akan jatuh terjungkal dengan wajah menyungsap menyentuh tanah terlebih dulu.

Sambil berdiri tegak dan nafas sedikit mengengah, si kakek menatap ke depan. Pijaran cahaya bercampur kepulan asap putih lenyap.

Dibalik sisa kepulan asap, orang tua ini melihat satu sosok berupa seorang gadis berkulit putih berwajah cantik namun agak pucat berdiri tegak didepannya, Gadis itu berpakaian berupa gaun berenda selayaknya puteri seorang raja. Baik penampilan maupun wajahnya sama persis dengan patung yang tadi disentuh oleh si kakek. "Selamat datang di dunia kehidupan nyata, Dadu Sirah Ayu."ucap si gendut dengan menyebut

nama si gadis.

Gadis yang disapa anggukkan kepala tanpa senyuman.

Wajahnya tampak murung namun tidak seperti saat menjadi patung, kini tidak lagi terlihat tetes air mata membasahi pipinya.

Sebaliknya sambil menatap si kakek dengan sorot mata terheran-heran, si gadis tiba-tiba saja ajukan pertanyaan.

"Orang tua sahabatku bernama Kelut Birawa, manusia aneh yang biasa di juluki Setan Racun Merah.Memangnya sudah berapa lama aku terperangkap dalam pembekuan diri menjadi patung batu?"

Mendapat pertanyaan seperti itu kakek gendut besar yang merasa sangat bersuka cita tersenyum karena mampu membebaskan sang dara dari Pembekuan Diri.

Dia melangkah maju dan baru berhenti setelah berada dua langkah di depan si gadis ayu "Dadu Sirah Ayu sahabatku." berucap Kelut Birawa sambil membungkukkan kepala. "Hampir lima belas tahun dirimu menjadi patung batu."

"Lima belas tahun?!" desis Dadu Sirah Ayu terkaget-kaget.

"Lima belas tahun aku terperangkap dalam kekuatan gila yang kau terapkan padaku. Dan baru malam ini kau memunahkan ilmu sirapanmu sendiri?"

"Semua ini kulakukan demi keselamatan dirimu gadis ayu."

"Kau menyebutku seorang gadis. Bukankah pada waktu kau membawaku ke tempat ini aku tak lebih hanya berupa bocah perempuan berumur tujuh tahun?"

Tanya Dadu Sirah Ayu terheran heran. si kakek anggukkan kepala, Namun cepat menerangkan. "Benar, Dadu Sirah Ayu. Aku menyebut dirimu gadis ayu karena kini kau telah menjelma menjadi

seseorang gadis cantik dan uslamu kini sudah dua puluh dua tahun"

"Aku tak mengerti. Mengapa aku tak merasakan perubahan itu. Mengapa aku tetap saja merasa seperti bocah perempuan berusia tujuh tahun?"

Tanya si gadis .Mendengar pengakuan Dadu Sirah Ayu. Kelut Birawa pun tak kuasa menutupi rasa kejutnya.

Masih bagus saat itu nyala pelita yang tergeletak di tanah tak dapat menerangi wajah si kakek, Kalau tidak tentunya Dadu Sirah Ayu dapat melihat betapa wajah kakek sahabatnya itu berubah pucat

"Celaka! Aku sama sekali tak menyangka, ilmu pembekuan Diri yang kuterapkan padanya telah membuat perkembangan pikirannya berjalan di tempat. Sedikit pun aku tidak menduga Ilmu sirapanku itu hanya membuat tubuhnya berkembang dengan bebas. Bagaimana aku bisa membantu gadis ini agar cara berpikirnya sesuai dengan perkembangan usianya?" "Sahabatku...mengapa kau diam" "Eeh, tidak. Aku tidak apa-apa."

Sahut Kelut Birawa dengan suara terbata.

"Kau. Kau menatapku dengan cara yang aneh, seakan baru kali ini kau mengenalku." "Tidak. Aku hanya merasa gembira karena kau telah menjadi gadis dewasa." ucap si kakek. Dalam keremangan cahaya, sepanjang alis Dadu Sirah Ayu berkerut.

"Aku telah dewasa? Aku melihat tubuhku memang jauh lebih besar sekarang dari yang sudah-sudah." berkata si gadis sambil memperhatikan diri sendiri.

Setelah memperhatikan dirinya dengan merasa heran gadis ini ajukan pertanyaan.

"Kau mengatakan diriku gadis dewasa. Yang kurasa hanya pakaianku yang dulu kedodoran sekarang terasa sempit. Dan dadaku yang dulu rata mengapa kini ada munjung-munjungnya?"

Ujarrnya polos selayaknya bocah. Walau prihatin, Kelut Birawa tak urung merasa bingung untuk menjawab pertanyaan Dadu Sirah Ayu.

"Kakek sahabatku. Kau diam saja. Kau tidak menjawab mengapa kau bisa mengatakan diriku sudah menjadi gadis dewasa?"

Tanya si gadis berpikiran bocah tujuh tahun itu. Karena terus didesak. Sekenanya Kelut Birawa pun menjawab.

"Seorang anak perempuan dikatakan dewasa karena didadanya sudah ada munjung-munjungnya." Dadu Sirah Ayu manggut-manggut.

Rupanya dalam pikirannya yang seperti seorang bocah itu ucapan Kelut Birawa dapat diterima oleh akalnya yang polos. Lalu tanpa terduga tanpa malu-malu dia meraba kedua dadanya.

Tingkah lugu yang dilakukan Dadu Sirah Ayu ini membuat Kelut Birawa merasa jengah dan buru-buru palingkan kepala ke Jurusan lain.

"Kakek sahabatku."

Ucap si gadis setelah turunkan dua tangannya.

"Aku sungguh merasa aneh dengan perkembangan diriku sendiri. Mengapa banyak yang berubah dalam diriku. Namun satu hal yang membuatku tak kalah heran. Mengapa rambut, kumis dan janggutmu yang dulu berwarna hitam bagus kini dipenuhi taburan kembang jambu?"

Ditanya begitu rupa, Kelut Birawa mula-mula hanya diam, namun kemudian dari mulutnya terdengar suara gelak tawa. Setelah puas mengumbar tawa, Kelut Birawa membuka mulut memberi jawaban.

"Gadis ayu. Rambut, jenggot dan kumisku ini memutih bukan karena kembang jambu. Kau tahu usiaku sudah semakin tua, karenanya janganlah heran bila semua rambutku berubah putih. Walau begitu aku tidak akan melupakan kewajiban dan tanggung jawabku atas segala keselamatanmu

.Segala petaka yang selalu mengintai dihadapanmu harus dicari jalan keluarnya. Apakah kau masih Ingat lima belas tahun yang lalu aku pernah berjanji untuk membawamu menemui seseorang d Kaliwungu?"

Dadu Sirah Ayu terdiam. Hanya matanya yang bening polos berkedap-kedip memperhatikan si kakek. Tak lama kemudian dia anggukkan kepala.

"Aku ingat, Lima belas tahun yang lalu kakek perah mengatakan orang yang dapat membantuku terhindar dari tumbal korban persembahan hanya ada satu. Orang itu bernama Raden Pengging Ambengan. Dan orang tua sakti yang kau maksud- kan menetap di Kaliwungu. Tapi... apakah kakek yakin Raden Pengging Ambengan masih hidup hingga saat ini mengingat usianya yang sudah uzur dan sering sakit-sakitan?"

Tanya Dadu Sirah Ayu ragu

"Aku yakin Hyang Jagad Dewa Bathara yang pemurah memberinya umur panjang. Karena itu kita harus segera bergegas menuju tempat tinggainya sekarang juga."

"Malam-malam begini?"

Dadu Sirah Ayu belalakan matanya.

"Mengapa kita tidak menunggu hingga esok pagi? Bukankah melakukan perjalanan di pagi hari akan terasa lebih menyenangkan?"

"Aku juga lebih senang berjalan disiang hari.Tapi kau harus ingat pengikut dan kaki tangan Gagak Anabrang berkeliaran dimana-mana. Malah lima belas tahun belakangan kedudukannya semakin kuat.Seiring dengan kekayaannya yang melimpah ruah. Dia dapat membayar siapa saja untuk menjadi pengikutnya.Aku tidak ingin perjalanan kita ke Kaliwungu diketahui oleh mereka."

"Kau tahu Lor Candi Sewu ini letaknya sangat jauh dari tempat yang kita tuju. Bila kita berangkat sekarang besok pagi kita telah berada jauh dari wilayah kekuasaan Gagak Anabrang."

Terang Kelut Birawa. Mendengar si kakek menyebut nama Gagak Anabrang wajah si gadis nampak merah kelam. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah lupa pada manusia yang telah membuatnya sengsara itu. Karena itu tiba-tiba dia bertanya,

"Kapan aku bisa terlepas dari ancaman manusia jahanam yang satu itu kakek Kelut? "

"Untuk membunuh Gagak Anabrang bukan perkara mudah, Sirah Ayu. Kau dan aku tak mungkin bisa melakukannya.Kita butuh bantuan orang lain yang mempunyai ilmu dan kesaktian jauh lebih hebat dan lebih tinggi dari kita. Mudah-mudahan para dewa menolong kita. Dan aku selalu berusaha melindungi dirimu dengan taruhan nyawaku. Aku tak ingin kau tertangkap atau jatuh ke tangan Gagak Anabrang. Bila itu terjadi hidupmu bisa berakhir dengan tragis dan aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."

Kata si kakek dengan suara parau. Dadu Sirah Ayu merasa terharu.

Gadis ini sadar sejak kedua orang tuanya terbunuh di tangan Gagak Anabrang. Kelut Birawa selalu melindunginya.

Bahkan saat pengikut Gagak Anabrang berusaha menangkapnya untuk dijadikan tumbal persembahan, kakek itu pula yang menyelamatkannya, Dan saat itu usianya baru tujuh tahun, Setelah lolos dari kejaran Gagak Anabrang dan pengikutnya.

Demi keselamatannya, Kelut Birawa kesudian membawah Dadu sirah Ayu ke Lor Candi Sewu di tempat ini. Kelut Birawa dengan ilmu kesaktiannya merubah ujud Dadu Sirah Ayu menjadi patung.

Mula-mula dia hanya patung biasa tanpa air mata.

Namun karena merasa tersiksa menjadi patung yang membuatnya selalu dihantui ketakutan dan tak dapat bergerak.

Si gadis pun selalu menangis.

Itulah sebabnya ketika dalam ujud patung. Sang patung selalu keluarkan air mata.

"Kakek sahabatku. Aku berterima kasih atas segala budi pertolongan yang kau berikan selama inl. Aku juga berterima kasih atas penjelasanmu." kata si gadis sendu. Si kakek tersenyum.

"Jangan bicara seperti itu.. Aku telah menganggap dirimu seperti cucuku sendiri. Mari berangkat!"

Ujar Kelut Birawa. Layaknya bocah yang manja. Dadu Sirah Ayu ulurkan tangannya. "Kek gendong aku ya?"

"Hus. Mana mungkin. Kau sudah dewasa. Kalau aku menggendong gadis secantikmu, Bisa- bisa aku tak kuat. Bukan tak kuat menggendong tapi tak kuat menahan diri."

Kata Kelut Birawa sambil tersenyum

"Apa maksud ucapanmu kek. Aku tak mengerti." Tanya si gadis heran.

"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Semua ini memang salahku. Lima belas tahun telah lewat.

Pikiranmu masih pikiran bocah, hanya tubuhmu yang berkembang menjadi seorang gadis. Biarlah aku menggandeng tanganmu saja. Aku akan menuntunmu dan itu kuanggap sebagai cara yang paling baik"

"Uuh...kakek.." dengus sang dara cemberut.

Walau merasa kecewa namun Dadu Sirah Ayu mengikut saja ketika Kelut Birawa menarik tangannya .

******

Luapan air bah yang datang dengan tiba- tiba serta curah hujan dari langit memang sempat hampir menenggelamkan desa Tretes. Seperti telah dikisahkan pada episode sebelumnya. Sang Maha Sakti Raja Gendeng bersama seekor anjing hitam besar dikenal dengan julukan kabut Hitam dan aslinya adalah seorang gadis cantik bernama Bulan Perindu berusaha membantu menolong periduduk desa dar ­ bencana.

Tidak berselang lama setelah para penduduk berhasil diselamatkan. Satu kejadian yang sangat luar biasa dialami oleh Raja dan Kabut Hitam .

Dalam suasana gelap gulita satu gelombang muncul bersama pusaran air menyeret kedua orang itu. Sekuat tenaga Raja berusaha menyelamat- kan diri dengan berenang menjauh dari pusaran air yang demikian hebat. Segala upaya yang dilakukannya Ini ternyata tidak sia-sia. Raja berhasil lolos dan selamat. Namun dia gagal menalong Kabut Hitam.

Sambil berusaha menuju ke tempat yang dangkal. Sang Maha Sakti mencari Kabut Hitam, sang mahluk kutukan yang telah berkali-kali membantu dirinya dalam menghadapi lawan. Tapi Kabut Hitam sama sekali tidak terlihat .Keadaan yang demikian gelap menyulitkan pemuda ini untuk mencari keberadaan sahabatnya itu.

Tidak putus asa, Raja kemudian berseru, memanggil nama Kabut Hitam berkali-kali. Tapi teriakan Raja ternyata sia-sia saja. Sang Pendekar merasa lelah. Diapun hanya bisa berenang tanpa arah yang jelas. Selagi Raja berenang, mencari dan menjajaki tempat yang dangkal, sekonyong- konyong dari arah belakang satu gelombang air luar biasa dahsyat menghantam diri pemuda itu.

Terkejut sekaligus heran mendengar suara gemunuh sehebat itu. Secepat kilat Raja memutar kepala sekaliigus melihat ke belakang. Mata pemuda ini terbelalak lebar ketika mengetahui dibelakang sana datang ombak setinggi pohon kelapa bergulung siap melabraknya .Seperti diketahui sejak kecil di dalam gua Mayat Es dari kedua gurunya Raja mendapat gemblengan keras dan terus menerus dengan berbagai ilmu olah kanuragan, jurus-jurus sakti serta kesaktian yang sangat tinggi. Sungguhpun demikian ternyata Raja belum siap menghadapi malapetaka yang datang dari air.

Apalagi ombak raksasa itu datangnya tidak terduga. Tidak ada pilhan lain untuk menyelamatkan diri dari amukan ombak. Raja segera berenang dengan sekuat tenaga menjauh dari gemuruh ombak yang siap menggulungnya. Diluar dugaan sekuat apapun Raja menyelamatkan diri, kecepatan ombak yang datang ternyata dua kali kecepatan sang pendekar bergerak. Tanpa ampun satu hantaman yang keras mendera tubuh Sang Maha Sakti

"Wuarlh...!"

Raja terlempar jauh lalu melayang menembus kegelapan. Pemuda ini memekik tertahan, namun pada saat tubuhnya meluncur deras ke bawah. Dengan cepat dia berusaha mengimbangi diri agar tidak jatuh terhempas dengan kepala terlebih dulu menyentuh tanah.

Baru saja pemuda ini dapat menguasai diri dan selagi tubuhnya yang melayang itu mengapung dalam bentangan udara. Sekali lagi ombak yang lebih tinggi menghantam tubuhnya. Brees!

Deesh!

Satu benturan keras menghantam tubuh disebelah belakang hingga ke bagian kepala. Pemuda itu jatuh terpelanting. Dia mengerang, berusaha bangkit berdiri. Namun pandangan matanya menjadi gelap, punggung dan kepala disebelah belakang seolah remuk. Raja pun kemudian jatuh tergeletak daiam keadaan tidak sadarkan diri .

Ketika Sang Maha Sakti sadar pada keesokan paginya. Saat itu matahari telah munculkan diri di ufuk sebelah timur. Langit cerah tanpa awan. Cukup lama Raja rebah diam tidak bergerak. Haya matanya memperhatikan, mengawasi keadaan disekelilingnya dengan heran. Pemandangan yang dilihatnya saat itu jelas sangat berubah.

Dia tidak melihat rumah-rumah buruk dikanan kiri jalan. Raja juga tidak melihat satupun penduduk desa Tretes. Keadaan yang dilihatnya saat itu tak lebih hanya berupa pepohonan tinggi, tanaman bunga yang meranggas tak terawat serta puing-puing bekas bangunan mewah yang sunyi.

"Aneh. Memangnya saat ini aku berada dimana? Mengapa keadaan disekeliling sama sekali berbeda? Kemana perginya penduduk desa Tretes?"

Batin Raja.

Penasaran dia berusaha duduk.

Setelah duduk menjelepok di atas tanah hijau ditumbuhi lumut dia menarik nafas dalam-dalam. Tidak ada rasa sakit mendera punggungnya.

Nafas dan perut yang tadinya sesak bukan main kini menjadi enteng

"Banjir Air bah muncul. Semua orang sibuk menyelamatkan diri." kata Raja lagi. Sekali lagi dia kitarkan pandang memperhatikan dengan lebih seksama.

Tidak terlihat sisa genangan air, tidak pula terlihat tanda-tanda bekas air meluap. Merasa heran Raja menggaruk kepalarnya.

Sekarang dia baru menyadari telah terdampar disebuah tempat yang asing, sebuah tempat yang sama sekali belum pernah dia datangi.

Raja diam dan berpikir.

Dia ingat dengan Kabut hitam, anjing jejadian yang gagal ditolongnya dari musibah tenggelam "Kemana gadis itu? Mudah-mudahan dia selamat." kata Raja.

Pemuda ini lalu memperhatikan diri sendiri.

Keningnya berkerut begitu dia mendapati pakaian kelabu yang melekat ditubuhnya kering. Padahal seingatnya pakaian itu semalam basah karena terlalu lama berendam di air.

Pemuda ini lalu memperhatikan diri sendiri.

Keningnya berkerut begitu dia mendapati pakaian kelabu yang melekat ditubuhnya kering. Padahal seingatnya pakaian itu semalaman basah karena terlalu lama berendam di air.

Dia tidak begitu yakin air bah datang karena ucapan Ayudra Tirta sebelum menemui ajal. Semua ini adalah bencana biasa.

Dia harus keluar dari tempat asing ini secepatnya. Raja ingin mencari tahu nasib Kabut Hitam. Namun membantu penduduk di tanah Dwipa terlepas dari cengkeraman Gagak Anabrang menjadi kewajiban yang lebih penting. Tanpa menunggu berlama-lama pemuda itu segera bangkit.

Namun baru saja sang pendekar dapat berdiri tegak, mendadak dia dikejutkan dengan terdengarrnya suara orang bercakap-cakap serta suara gemertak ranting patah terinjak kaki. Cepat pemuda ini palingkan kepala lalu menatap kearah semak dan pepohonan lebat yang gelap.

Tidak ingin kehadirannya menyolok perhatian, pemuda ini segera bergegas mencari tempat perlindungan disebelah kirinya.

Raja berlindung dibalik semak tak jauh dari sebatang pohon besar. Dari tempat ini dia memasang mata memandang ke arah orang yang sedang bercakap-cakap.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya muncul dua sosok orang berjubah hitam menjela. Kedua orang berjubah itu baik wajah maupun rambutnya tidak terlihat.

Mereka melindungi wajah dan bagian kepala dengan tepi jubah.

Namun dari nada suaranya sang pendekar dapat menduga kedua orang yang datang itu adalah seorang laki-laki dan perempuan.

"Kita kecolongan!"

Seru perempuan berjubah setelah kedua matanya yang terlindung jubah sibuk mencari-cari. "Semua ini salahmu.Coba kalau kita tidak menolongnya, menyembuhkan luka dalam yang dia

derita. Aku yakin pemuda gondrong itu tak bisa pergi kemana-mana.Seharusnya dia masih ada disini.Paling tidak kita masih bissa membawanya menghadap Gusti Ratu walaupun dalam keadaan hilang Ingatan." kata satunya lagi yang bersuara laki laki.

"Kau! Teganya menyalahkan diriku.Pemuda berpedang itu aku yakin bukan si Raja Pedang.Sesuatu yang sangat hebat telah terjadi padanya. Dia terluka parah.Tulang punggungnya retak, dibagian otaknya mengalami sumbatan karena ada darah yang membeku disana. Gusti Ratu telah memberi pesan pada kita agar kita bisa menolong siapa saja, apakah golongan jin maupun manusia. Jika mereka kesulitan kita harus menolong mengingatkan perempuan berjubah hitam

"Gusti Ratu terlalu baik. Kebaikan hatinya selalu dimanfaatkan orang.Aku sebenarnya menaruh curiga pada pemuda gondrong bersenjata pedang emas itu." menimpali laki-laki berjubah disamping si perempuan

"Pedangnya bukan pedang emas? Mungkin saja pedang itu palsu. Lalu apa yang membuatmu curiga?" tanya yang perempuan.

"Aku curiga tidak tertutup kemungkinan pemuda gondrong yang kau sembuhkan dari luka- tukanya itu sedang memata-matai kawasan tersembunyi dan tertutup bagi orang luar ini.Karena itulah Gusti Ratu meminta kita kembali kemari, menjemput pemuda yang kutolong lalu membawanya menghadap sang ratu." sahut si perempuan

"Dan ternyata setelah sampai disini pemuda itu minggat. Pergi diam-diam malah mengucapkan terima kasih pada kita pun tidak. Sungguh manusia yang tak tahu di untung" Damprat laki laki berjubah hitam sengit.

Kedua orang berjubah itu pun kemudian bertengkar.

Raja yang sebelumnya mendengarkan pembicaraan diantara mereka sebenarnya bermaksud keluar dari persembunylan.

Namun ketika pertengkaran terjadi, Sang pendekar batalkan niatnya. Pertengkaran mulut antara mereka tidak berlangsung lama.

Sejurus kemudian keduanya sudah berbaikan kembali, malah saling peluk dan umbar tawa. "Orang-orang edan.Siapa mereka? Mereka ada menyebut-nyebut gusti ratu.Berarti tempat ini ada

penguasanya?"

Batin Raja sambil pencongkan mulut "Aku harus mencari tahu."

Pikir sang pendekar lagi.Selagi Raja siap hendak keluar dari tempat persembunylan, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan bertanya namun setiap ucapannya terdengar seperti orang yang tengah bersyair dan berpantun.

"Datang dari tempat yang jauh membawa bakal. Bekal terlepas mendahului sang hujan. Hujan lebat di malam yang gelap baru datang tak tentu sebab. Adakah sahabat yang mau menjadi teman. Sebagai tempat bertanya apakah kawasan ini ada yang empunya?"

"Siapa yang bicara? Pertanyaan itu seolah ditujukan padaku. Apakah mungkin dia mengetahui apa yang telah kualami?" batin Raja.

Sekilas Sang Maha Sakti menatap ke arah jurusan dimana suara berasal.

Tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain terkecuali suara berdengung yang semakin keras.Ketika Raja menatap ke arah dimana kedua orang berjubah berdiri.

Dia melihat kedua orang itu saling pandang.

Dan anehnya kini Raja dapat melihat wajah mereka, wajah yang putih pucat seakan tidak berdarah itu tampak tegang dan gelisah. Malah tak berselang lama si perempuan berjubah tiba-tiba berucap menyebut nama,

"Celaka! Apa perlunya Penyair Sinting dari Makam Setan itu datang kemari?" Tak kalah kaget laki laki berjubah menyahuti,

"Setiap kali dia munculkan diri di rimba persilatan. Biasanya ada perkara besar menggemparkan bakal terjadi. Lebih baik kita angkat kaki dari sini lalu melaporkan kehadiran orang gila satu itu pada Gust Raja"

"Bagaimana dengan pemuda yang kita tolong malam tadi? Bukankah kita diperintahkan oleh Gusti Ratu untuk menjemputnya?"

Tanya yang perempuan "Persetan dengan pemuda itu. Kita bisa menjelaskan pada Gusti Ratu pemuda aneh itu lenyap dibawa hantu."

Sahut yang laki-laki.

Kemudian tanpa menunggu lagi laki-laki berjubah hitam segera sambar tangan di sampingnya. Sekali dia membuat gerakan tahu-tahu tubuhnya melesat ke arah pepohonan yang gelap.

Gerakannya itu membuat perempuan berjubah yang berada dibelakangnya mengikuti. Tapi selagi tubuh keduanya mengambang di atas ketinggian.

Gerakan mereka jadi terhenti karena tiba-tiba di depan mereka muncul tiga mahluk seukuran paha orang dewasa menghadang menghalangi.

"Wualah, nyamuk celaka dari Makam Setan!"

Pekik laki-laki berjubah sekaligus hantamkan tangannya kearah nyamuk sebesar paha orang dewasa itu.

Perempuan berjubah dalam cekalan begitu terkejut segera lepaskan diri dari cekalan temannya. Dengan kedua tangan dia menghantam ke arah tiga ekor nyamuk yang menghadang di depan.

Dari telapak tangan kiri laki-laki berjubah menderu segulung angin hitam berhawa panas luar biasa.

Sementara dari kedua tangan perempuan berjubah yang berada dibelakangnya bergulung dua larik cahaya hitam ganas .

Wuust! Ngung!

Tiga serangan menderu menghantam ke arah binatang-binatang itu. Tapi binatang yang menjad sasaran ternyata berlaku cerdik.

Begitu melihat ada deru hawa panas yang disertai kilatan dua cahaya menghantam ke arah mereka.

Secepat kilat ketiganya lambungkan diri lebih tinggi.

Tiga serangan yang seharusnya menghantam tubuh mereka tak mengenai sasaran.

Sebaliknya serangan-serangan itu malah menghantam semak belukar dan sebatang pohon tempat dimana ketiga nyamuk tadinya berada.

Terdengar suara bergemuruh dan derak pohon yang tumbang.

Api berkobar namun kedua orang berjubah tidak perduli. Dua orang yang telah jejakkan kaki ini memutar tubuh layangkan pandang.

Tiga nyamuk yang dicari tak terlihat lagi, hilang lenyap entah kemana.

Semua yang terjadi termasuk juga kehadiran tiga nyamuk raksasa itu tentu saja tidak lepas dari perhatian Raja.

Menyaksikan kehadiran tiga ekor nyamuk. Sang pendekar jadi tercengang. Seumur hidup dia belum pernah melihat nyamuk sebesar paha. Karuan saja tanpa sadar Raja berucap.

"Sungguh aku tidak pernah menduga di dunia ini ternyata ada mahluk menghisap darah sedemkian besar. Aku yakin jika salah satu saja dari mereka menghisap seseorang.Maka seluruh darahnya bisa tersedot amblas ke dalam perut sang nyamuk. Dan korban bakal tewas seketika kehabisan darah. Dari mana tiga mahluk mengeriian itu berasal? Apakah dari Makam Setan? Dan apakah mereka mahluk piaraan?"

Sang Maha Sakti Raja Gendeng telan ludah basahi tenggorokannya yang mendadak kering .Tiga ekor nyamuk raksasa hilang raib.

Tidak jauh didepan sana. Raja melihat kedua orang berjubah celingukan mencari keberadaan tiga nyamuk yang menyerang mereka

"Mahluk-mahluk keparat itu telah pergi. Sebaiknya kita segera angkat kaki dari sini!" Kata perempuan berjubah pada temannya.

"Aku setuju. Karena sejak dulu memang aku paling tidak suka berurusan dengan orang-orang dari Makam Setan!"

Sahut yang laki-laki.

"Wahai dua kacung suruhan, Meninggalkan tamu yang baru datang dan tidak berkenan menyambut bukankah suatu sikap yang tidak terpuji. Aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Dengan segala hormat aku minta, sudilah menemui si buruk ini atau kalian semua akan menghadapi bendera Tanda?1"

Kata satu suara disertai gelak tawa menggelegar. Belum lagi suara gelak tawa lenyap.

Di depan kedua orang berjubah berdiri tegak seorang laki-laki berpakaian serba merah berbadan kurus tinggi berwajah tirus.

Orang ini menutupi kepalanya dengan topi kupluk putih yang bagian atasnya dibuhul sedemikian rupa hingga bentuknya mirip pocongan.

Sedangkan matanya redup selayaknya mata orang yang sudah meninggal, wajah pucat pasi bibir kering memutih dan sekujur tubuh menebarkan aroma stanggi. Kedua orang berjubah mula-mula saling pandang sesamanya.

Setelah itu mereka alihkan perhatian pada laki-laki yang berdiri tegak di depannya. Setelah menatap cukup lama, perempuan berjubah tiba-tiba berseru.

"Sahabatku Jubah Api orang satu ini hanya lagak bicaranya saja seperti Penyair Sinting."

"Ya, aku tahu Jubah Sakti. Wajah dan penampilannya sama sekali berbeda dengan Penyair Edan Siapa dia? Apakah kembarannya"

Kata laki laki berjubah yang disebut Jubah Api.

"Ha ha ha! Ternyata kalian mengenal saudaraku senasib berjuluk Penyair Sinting?" ucap laki laki berpakaian serba merah bertopi pocongan.

"Tentu saja kami mengenal mahluk aneh yang selalu mencampuri urusan orang. Seperti dirimu biasanya dia selalu muncul tanpa di undang. Kau mengaku dirimu adalah saudara senasib Penyair Sinting penghuni Makam Setan. Lebih baik katakan siapa dirimu, mengapa kau datang ke kawasan Alas Sindang Pantangan ini?"

Tanys si Jubah Sakti disertai sorot mata curiga.

Sebelum menjawab orang berwajah pucat selayaknya orang mati itu dongakkan kepala. Cuping hidung bergerak kembang kempis mengendus.

Tak terduga tiba-tiba dia palingkan kepala, melirik ke arah jurusan dimana tempat Raja mendekam. Di tempatnya bersembunyi Raja terkesiap.

Dia yakin laki-aki berpakaian merah mengetahui kehadirannya di tempat itu.

Raja menunggu sambil meningkatkan kewaspadaannya dari segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Tapi pemuda ini merasa lega.

Walau kemungkinan tahu keberadaannya ternyata orang berpakaian merah itu seperti sengaja tidak menghiraukannya.

Terbukti tak berselang lama kemudian dia membuka mulut menjawab pertanyaan si Jubah Sakti "Perempuan aneh yang melindungi wajah dibalik topi jubah. Ketahuilah aku yang terlahir tidak

bernama ini biasa disebut dengan orang mati.Jangan kalian tanya siapa orang tuaku karena mungkin diriku anak gondoruwo atau tak tertutup kemungkinan aku putranya kuntilanak.Aku memang datang dari Makam Setan.Jauh-jauh datang menyambangi tempat yang tidak sedap ini karena ingin menemui beberapa orang yang kuanggap penting."

"Siapa orang yang kau maksudkan?" tanya si Jubah Api curiga. Bibir yang putih pucat itu tersenyum.

Sekilas dia menatap ke arah Jubah Api dan Jubah Sakti. Kemudian dengan tenang dia kembali membuka mulut,

"Pertama aku ingin bertemu dengan seseorang bernama Dadu Sirah Ayu.Aku telah mencari bocah perempuan yang mungkin sekarang telah menjadi seorang gadis dewasa. Tapi aku tidak bisa menemukannya. Aku yakin Gusti Ratumu mengetahui tempat keberadaan gadis itu. Aku harus menemukannya sebelum datangnya malam sabtu Klwon tepat malam ke tujuh munculnya bulan sabit merah."

"Gusti Ratu kami saat ini sedang tak ingin diganggu." menyahuti si Jubah Sakti.

"Tentang bocah gadis yang kau maksudkan, aku yakin tak ada kaitannya dengan Gusti Ratu. Mengapa kau ingin mencari gadis yang bernama Dadu Sirah Ayu itu? Apakah dia saudaramu,adik ataukah kekasih mu?!" tanya si Jubah Api lalu tertawa tergelak- gelak. Merasa diremehkan, Orang Mati dari Makam Setan tundukkan kepala sambil menahan geeram.

Tak lama setelah dapat menguasai diri, Orang Mati itu kembali berujar,

"Siapapun dia kalian tak perlu tahu. Satu yang harus kalian ketahui, nyawa gadis itu berada dalam ancaman bahaya bila aku tidak dapat menemukannya dalam waktu tiga hari,"

Terang si orang mati

"Oh kasihan sekali. Sayangnya kami tidak dapat mempertemukan dirimu dengan Gusti Ratu kami.

Beliau sedang berada disuatu tempat yang tak bisa diganggu."

Jawab si Jubah Sakti ketus

"Apakah kau tidak salah berucap? Yang kudengar Gusti Ratu kalian adalah manusia paling baik hati, paling pemurah dan sering menolong terhadap sesama?!" tanya si orang mati dengan suara dingin.

Kedua orang berjubah saling bersitatap lalu sama-sama tersenyum.

Si Jubah Sakti melangkah maju .Sambil berdiri berkacak pinggang Si Jubah Sakti berkata, "Semua yang kau katakan itu adalah kebiasaan Gusti Ratu kami yang dulu.Sayang...sekarang

segalanya berubah.Sejak banyak orang datang meminta mengemis pertolongan, memohon belas kasihan. Tidak sedikit bantuan dan pertolongan diberikan oleh Gusti Ratu, namun orang kemudian menyalah gunakan budi pertolongan itu. Kini Gusti Ratu tidak pernah lagi mempercayai manusia manapun di dunia ini. Jadi anggaplah kedatanganmu sudah terlambat. Dan kau boleh angkat kaki minta petunjuk pada orang lain."

Lalu si Jubah Api buru-buru menambahkan,

"Sebelah pergi kami juga berharap kau tidak pernah lagi muncul di sindang Alas Pantangan.Kau mengerti?"

Orang Mati dari Makam Setan tersenyum. Sebagai orang yang telah melenyapkan segala rasa dan segala perasaannya dari semua naluri nafsu.Ucapan bernada menghina dan merendahkan martabatnya itu sama sekali tidak membuatnya tersinggung.

Malah dengan acuh dia berkata,

"Jika segala maksud baik dan keinginan hendak membantu orang ditolak.Aku bisa berbuat apa?

Namun segala alasan kalian tidak menyurutkan keinginanku untuk menemui Gusti Ratumu." "Orang sudah menolak kau malah memaksa. Kalau begitu kau sengaja mencari perkara dengan

kami!"

Geram Si Jubah Api tersinggung.

"Ha ha ha. Matahari selalu memberi harapan, hujan mengirimkan rejeki kepada bumi. Bulan timbul tenggelam dipermainkan perasaan. Di punggungku ada tiga bendera. Setiap satu bendera muncul mewakili satu kejadian satu musibah. Kalian tinggal memilih, bersedia mengantarku menemui ratumu ataukah lebih memilih berkelahi dengan diriku!" Tanya Orang Mati dengan tatapan dingin. Mendengar ucapan orang yang seperti menantang apalagi mereka berada di wilayah sendiri tentu saja membuat kedua orang berjubah itu meradang Hampir bersamaan mereka melompat ke depan.

Setelah jejakan kaki sejarak satu tombak di depan Orang Mati keduanya sama berucap, "Orang gila dari Makam Setan. Jangan mengira kami takut padamu. Apa saja yang kau bawa

serta dari Makam Setan, termasuk nyamuk-nyamuk keparat tadi kami tidak takut.Kau tidak bisa memaksa kami. Sekali lagi kami mengingatkan jika kau tak mau angkat kaki dari tempat ini, kami terpaksa menempuh jalan kekerasan."

"Kalian bisa berbuat apa? Kau berdua aku sendiri, bahkan bila ditambah dengan temanmu yang mendekam bersembunyi dibalik semak itu tetap membuatku tidak merasa gentar."

Kata si Orang Mati sambil melirik kearah semak di mana Raja berada.

Si Jubah Api dan Jubah Sakti kenutkan kening

"Teman kami? Kau menyebut teman kami yang ketiga? Apakah kau tidak tahu kami hanya berdua?" Tanya Jubah Api, heran bercampur penasaran.

Belum lagi Orang Mati Makam Setan sempat membuka mulut memberikan penjelasan. Dari semak tak jauh dari pohon besar .Sang Maha Sakti memunculkan diri.

Sambil keluar dari tempat persembunyiannya, dibawah pandangan kedua orang berjubah yang menatapnya dengan terheran-heran.

Raja berkata,

"Orang berpakaian merah yang mengaku biasa disebut Orang Mati. Ketahuilah, aku sama sekali tidak mengenal dua orang berjubah itu. Yang kutahu dan turut apa yang kudengar mereka datang mencariku dan bermaksud membawaku menghadap Gusti Ratunya.Jika aku dengan mudah hendak dibawa dan hendak dipertemukan mengapa kau menemui kesulitan untuk menghadap ratu mereka?"

"Permuda aneh bermulut lancang.Kami telah menolongmu dari bencana hilang ingatan.Kami datang kembali ke termpat ini untuk menjemputmu. Gusti Ratu memintamu menghadapnya karena kau telah memasuki wilayah kekuasaannya tanpa seizinnya?" bentak si Jubah Sakti.

"Aku tidak tahu apa maksudmu, Jubah Sakti. Sesuatu yang sangat mengerikan telah terjadi sehingga aku terdampar, tersesat ke tempat ini."

Terang Raja berusaha menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. "Sesuatu itu apa?"

Si Jubah Api tiba-tiba ajukan pertanyaan.

"Aku tak dapat menjelaskannya. Saat itu aku berada di desa Tretes ketika tiba-tiba muncul air bah. Hujan tercurah dari langit. Aku berusaha menyelamatkan diri dan membantu penduduk desa dari musibah tenggelam. Lalu ada pusaran arus besar dan gelombang air setinggi raksasa menghantam diriku" Jelas Raja membuat Jubah Api dan Jubah Sakti terperangah. "Astaga! Itu pasti arus Perahu Setan?" desis si Jubah Sakti.

"Tretes letaknya sangat jauh dar Alas Sindang Pantangan ini.Jika air bah laknat itu tiba-tiba muncul menenggelamkan desa yang kau sebutkan, Berarti di desa itu telah terjadi pembunuhan"

"Tepatnya seseorang telah membunuh dua saudara kembar bernama Ayudra Bayu dan Ayudra Tirta."

Sentak Si Jubah Api tak kalah kaget.

Tidak tahu gerangan apa yang membuat kedua orang berjubah itu mendadak jadi khawatir. Raja yang tidak mau menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya.

Setelah sempat melirik ke arah Orang Mati dari Makam Setan segera membuka mulut memberi penjelasan.

"Kuakui dua nama yang kau sebutkan memang termasuk mereka yang tewas terbunuh di desa itu.

Dua orang saudara kembar yang terbunuh itu bukan orang baik-baik.Keduanya adalah pengikut sekaligus kaki tangan Gagak Anabrang. Kehadiran mereka hanya menyengsarakan penduduk.Mereka patut dihabisi. Dan aku yakin manusia seperti Gagak Anabrang juga harus disingkirkan dari kehidupan ini."

"Anak muda, siapa namamu?"

Tanya Jubah Sakti dengan suara keras menggeledek.

Walau dibentak, Raja menjawab dengan suara dan sikap yang tenang

"Namaku tidaklah penting. Namun jika kalian penasaran, namaku adalah Raja.Orang biasa menyebutku Sang Maha Sakti Raja Gendeng."

"Astaga! Jadi kau orangnya Sang Maha Sakti Dari Istana pulau Es itu? Aku sering mendengar namamu menjadi buah bibir orang. Tak kusangka hari ini bakal bertemu denganmu."

Desis si Orang Mati kaget. Berbeda dngan laki-laki berpakaian serba merah yang terkejut setelah mengetahui siapa adanya Raja.

Sebaliknya kedua orang berjubah itu malah bersikap tak perduli.

Sementara itu tanpa menghiraukan Jubah Sakti dan Jubah Api yang melangkah mendekat ke arahnya, Raja tersenyum lalu timpali ucapan si orang Mati.

"Sama sepert dirimu.Akupun tak pernah menyangka bakal bertemu dengan orang Mati.Seharusnya kau lebih baik menjadi penghuni tetap kuburan saja. Buat apa gentayangan meninggalkan Makam Setan?"

"Jangan berlagak tolol terkecuall kau memang tolol sungguhan. Kau sudah menguping pembicaraan kami. Sekarang ini aku hanya bisa memberimu saran, lebih baik selamatkan diri."

"Menyelamatkan diri dari apa?"

Tanya pemuda itu heran. Belum sempat Orang Mati menjawab. Si Jubah Api ajukan pertanyaan.

"Entah siapa dirimu ini. Tidak perduli apakah cuma namamu saja yang Raja ataukah kau memang raja dari negeri antah berantah. Yang jelas ketika dua saudara kembar Ayudra Bayu dan Ayudra Tirta terbunuh, kau pasti berada di tempat kejadian. Apakah dugaanku ini benar adanya?"

"Benar.Jika demikian kau mengetahui siapa yang telah menghabisi mereka!"

Tanya si Jubah Sakti tak kalah sengit "Ya..."

Jawab Raja. Dalam hati dia berkata,

"Andai aku berterus terang mengatakan siapa yang telah membunuh kedua kembaran itu. Apa pengaruhnya buat mereka?"

Selagi Raja berpikir sementara si Orang Mati berdiri diam mengawasi perkembangan yang terjadi.

Si Jubah Sakti kembali ajukan pertanyaan "Katakan siapa yang membunuh mereka?"

Raja terdiam dalam kebimbangan. Sikap diam yang ditunjukkan Sang Maha Sakti ternyata menimbulkan kemarahan orang berjubah itu.

"Mengapa tidak segera menjawab? Ataukah kau sengaja hendak melindungi pembunuh murid kesayangan penghuni Perahu Setan?"

Hardik si Jubah Sakti. Setelah berpikir sejenak, muncul sekelumit pikiran cerdik Raja. Untuk mengetahui bagaimana reaksi mereka. Raja pun ajukan pertanyaan.

"Apakah kallan berdua mempunyai ikatan darah atau mungkin jalinan sahabat dengan kedua orang itu?"

"Kami tidak punya hubungan apa-apa dengan dua saudara kembar itu, Tapi ketahuilah. Siapapun yang berani mengganggu apalagi menghabisi mereka. Orang itu bakal menuai badai malapetaka.

Sebagai guru yang menyayangi muridnya Ayudra Bayu dan Ayudra Tirta, Penghuni Perahu Setan tak akan tinggal diam. Dia akan mengobrak abrik jagat rimba persilatan untuk mencari pembunuh kedua muridnya."

"Aku tak mengerti. Seorang guru yang membiarkan muridnya melakukan berbagai kejahatan, malah akan menuntut balas kematian muridnya. Guru seperti apa itu namanya?"

Kata Raja heran. Si Jubah Api menyeringai

"Tidak ada yang tahu pasti bagaimana watak perangai serta pendirian Penghuni Perahu Setan Yang pasti bila orang yang satu itu bergabung dengan Gagak Anabrang. Maka semua orang bakal dirundung masalah."

Ucap si Jubah Sakti cemas

"Kalau tidak mau mendapat masalah, jika tak mau hidup dalam kesengsaraan .Mengapa kalian berdua tidak mati saja, Lebih enak menjadi orang sepertiku yang tak pernah memikirkan apa-apa. Ha ha ha."

Celetuk Orang Mati dari Makam Setan diiringi tawa tergelak-gelak "Orang sinting dari Makam Setan. Kau orang luar tahu apa?"

Hardik Jubah Api dengan mata mendelik. Setelah itu dia kembali menatap ke arah sang pendekar.

Pada Raja dia ajukan pertanyaan,

"Cepat katakan siapa yang telah menghabisi mereka?"

Raja menghela nafas, namun kemudian tanpa ragu dia menjawab juga pertanyaan orang.

"Yang membunuh mereka orangnya berada dihadapan kalian. Bahkan bila didunia ini ada seribu manusia bejat seperti mereka aku pun tetap akan menghabisi mereka semua!"

Kejut dihati kedua orang berjubah bukan alang kepalang. Saking kagetnya mereka melompat mundur sejauh dua langkah.

Sepasang mata yang terlindung tepi jubah mendelik besar. Wajah tegang menyimpan kemarahan bercampur khawatir.

Melihat ini Raja bukannya takut sebaliknya malah tertawa mengekeh.

"Ech, kalian berdua. Mengapa memandangku seperti menatap hantu jelek telanjang. Orang yang kubunuh bukanlah sanak bukan kadangmu, perlu apa marah? Apa yang kalian khawatirkan? Betapapun kedua saudara kembar itu tak mungkin bangkit dari kematian lagi yang bisa gentayangan membunuh dan mencekik kalian. Ha ha ha!"

"Manusia tolol! Apakah telingamu tuli? Kami sudah mengatakan kematian kedua manusia kembar itu telah menimbulkan murka dan kemarahan gurunya."

Hardik Si Jubah Sakti sengit .

"Bagaimana kalian bisa tahu gurunya murka?" Tanya sang pendekar.

"Betul-betul goblok! Bukankah kau mengatakan tiba-tiba air meluap, Lalu ada ombak besar menghantammu? Kau tahu desa Tretes adalah desa tandus.Tidak air, sungai dan tempatnya pun jauh dari laut. Kau mengira luapan air itu datangnya dari mana he!"

Tidak kalah sinis si Jubah Api ikutan membentak. Raja menyeringai sambil menggaruk kepala. Melhat sang pendekar hanya berdiri cengengesan, si Orang Mati yang diam-diam bersimpati pada Raja cepat, membuka mulut.

"Semua air datangnya dari laut. Air hujan mata air dan tak terkecuall air mata yang asin juga bermuasal dari sana. Bukanlah begitu Sang Maha Sakti?"

Tanya Orang Mati sambil melirik pada sang pendekar.

Raja mengangguk membenarkan

"Mahluk dari Makam Setan. Kuharap kau tidak mencampuri urusan kami. Ketahuilah perbuatannya membunuh murid penghuni Perahu Setan tanpa disadarinya telah menimbulkan bibit malapetaka baru di rimba persilatan." hardik si Jubah Api. "Munculnya air bah di desa Tretes sebagai suatu tanda sekaligus pesan yang diberikan oleh guru kedua kembaran itu."

Timpal Jubah Sakti.

"Hm begitu. Kalau kalian menganggap tindakanku salah. Lalu mengapa kalian jadi geger seperti monyet tua yang kebakaran jenggot?!"

Tanya Raja kesal.

"Orang aneh dari pulau es. Apakah kau tidak salah bicara? Menurutku mana ada monyet yang berjanggut .Bahkan perempuan berjanggut pun aku yakin tak pernah ada, entah kalau janggut yang disebelah bawah.Ha ha ha!" kata Orang Mati diringi tawa

"Ssst...!"

Raja tempelkan jari telunjuk di depan bibir.

"Kuharap kisanak tidak memperkeruh suasana. Engkau tahu yang sedang mereka ributkan semuanya menyangkut urusanku. Terkecuali kau masih ingin mengatakan sesuatu sehubungan dengan urusanmu. Aku memberimu kesempatan untuk bicara."

Ucap sang pendekar .Ketika bicara tak lupa Raja bungkukkan badan bersikap seolah menghormat pada Orang Mati. Padahal di dalam hati dia merasa geli.

Sementara melihat Raja memberinya kesempatan, orang Mati dari Makam Setan segera membuka mulut.

"Terima kasih kau telah berbaik hati. Urusanku bisa kutunda. Aku mempersilakan kau melanjutkan urusanmu dengan mereka!"

Jawabnya pelan sambil bungkukkan badan membalas penghormatan orang .Raja tertawa, sambil tertawa mulut berucap

"Diberi kesempatan tidak mau. Ya sudah."

Sang pendekar kemudian menatap ke arah si Jubah Api dan Jubah Sakti. "Astaga!"

Mata pemuda itu membelalak lebar ketika menyadari betapa kedua orang di depan sana ternyata telah bersiap melakukan penyerangan.

Raja melihat si Jubah Api telah pentang kedua tangannya yang merah membara mengepulkan asap.

Sementara seluruh jubah yang membalut tubuhnya telah berubah menjadi bara menyala. Kini Raja menjadi maklum mengapa laki-laki berjubah itu dijuluki si Jubah Api.

Ketika Raja menatap ke arah perempuan disebelah kirinya.

Dia melihat si Jubah Sakti memandang padanya dengan mata mendelik garang.

Dua tangan disilangkan ke depan dada pertanda dia siap menyerang Raja dengan pukulan mematikan, Walau jubah yang melekat ditubuhnya tidak mengalami perubahan, tapi dari rebawa aneh yang keluar dari jubah jelas perempuan ini tak hanya memiliki jubah sakti namun juga tingkat ilmu kesaktiannya lebih tinggi dibandingkan si Jubah Api.

"Kulihat wajah-wajah yang tegang! Aku yakin kalian pasti ingin melakukan sesuatu yang tidak baik terhadapku"

"Kami ingin membunuhmu!"

Dengus si Jubah Api. "Olala..kalau dia dibunuh. Berarti akan ada dua orang mati di tempat ini." Celetuk Orang Mati dari Makam Setan menyeringai. Tanpa menghiraukan ucapan si Orang Mati. Sang pendokar kenbali ajukan pertanyaan.

"Kalian berdua sama sekali tidak punya ikatan tertentu dengan dua saudara kembar itu. Mengapa kalian hendak membunuhku?"

"Apakah kau tidak tahu, karena perbuatan tololmu kami bakal mendapat kesulitan. Kehadiranmu membawa kesialan bagi kami.Karena itu sekarang juga kau layak mati!"

Geram si Jubah Api. Lalu..

Weert! Wusst!

Sambil berteriak keras si Jubah Api hentakkan kaki hingga membuat tubuhnya melesat sekaligus melambung ke arah Raja.

Begitu dia berada di atas kepala sang pendekar.

Bagian ujung jubah segera dikibaskan ke arah Raja yang berada di bawahnya.

Seketika itu dari bagian ujung jubah yang mengembang bergulung semburan api berbentuk seperti jala yang bergerak sedemikian rupa untuk meringkus dan menggulung sang pendekar. Melihat serangan ganas yang dilancarkan lawan.

Tidak hanya Orang Mati saja yang dibuat terkesima. Sebaliknya Raja sendiri juga jadi tercekat.

Namun serangan ganas yang datang demikian cepat tidak membuat Raja menjadi gugup .Sambil menyeringai disertal tawa

"ha...ha..hi...hi."

Pemuda ini segera alirkan tenaga dalam keseluruh tubuh.

Dengan menerapkan ilmu Selubung Inti Es pemuda ini diam tidak bergerak Dan sebelum semburan api berbentuk jala menyergap tubuhnya.

Setiap orang dibuat terkesima ketika melihat tubuh Raja kini seluruhnya telah terlindung lapisan es tebal.

Ada uap tipis putih bergulung meliuk diudara dari tubuh pemuda itu. Melihat Raja kerahkan ilmu saktinya untuk melindungi diri.

Si Jubah Api sebaliknya lipat gandakan tenaga dalam, lalu kembali kibaskan jubah hitamnya yang telah berubah merah membara.

Untuk yang kedua kalinya kembali dari ujung jubah menderu segulung cahaya merah berbentuk bundar tak ubahnya seperti jala yang ditebar.

Cahaya ini menyentuh Raja, terdengar suara tak ubahnya seperti lempengan besi membara yang dicelupkan ke dalam air.

Jees!

Serangan cahaya merah pertama musnah begitu menyentuh tubuh Raja yang diselubungi es

.Demikian pula serangan yang kedua ikut musnah tak mampu menghanguskan sang pendekar. Si Jubah Api kaget bukan main, namun dia cepat membuat gerakan melompat ke samping.

Niatnya begitu jejakan kaki ke tanah hendak melakukan serangan dengan pukulan yang lebih ganas lagi.

Tapi di luar dugaan Jubah Api dan Si Jubah Sakti.

Raja yang diam tak bergerak seperti patung es itu tiba-tiba ulurkan tangannya. Karena menggunakan Ilmu aneh bernama Tangan Dewa Menggapai Langit.

Tidaklah heran begitu tangan dijulurkan laksana karet segera berubah memanjang. Raja yang tidak berniat mencelakai lawan tiba-tiba susupkan jemarinya diantara kedua kaki lawan yang tidak terlindung jubah

"Eeh, apa ini lembek-lembek...ha.. ha.." kata pemuda itu diiringi gelak tawa.

Si Jubah Api menjerit kesakitan begitu bagian bawah perutnya diremas lalu disentil oleh Raja. Sentakan yang dilakukan sang pendekar membuat si Jubah Api jatuh terbanting.

Dia menggerung sambil bergulingan, sedangkan dua tangan dipergunakan mendekap bagian bawah perutnya yang berubah dingin seakan beku disertal rasa sakit dan mulas luar biasa.

Melihat apa yang terjadi pada temannya, Si Jubah Sakti menggerung marah.

Dia melihat jelas kejahilan yang dilakukan Raja maka sambil mendamprat segera menyerang. "Begitu lemahnya menjadi laki-laki.Kalau tidak ada yang bisa diremas dan disentil. Mana

mungkin kau bisa dipermainkan orang!"

Mulut berucap demikian sedangkan dua tangan menghantam ke bagian wajah dan rusuk Raja. Dua angin pukulan menyambar ganas mengancam keselamatan sang pendekar.

Tapi Raja yang sekujur tubuhnya terlindung es dan tampak kaku seolah patung tiba-tiba menggerakkan pinggul sekaligus menggeser kakinya.

Begitu kaki berpindah tempat dia meliukkan bagian tubuh sebelah atas. Lalu dengan tangan kiri yang terpentang dia menyerang.

Serangan yang dilakukan si pemuda meluncur deras ke arah dada membuat si Jubah Sakti yang melepaskan tendangan sesaat setelah pukulannya luput menjadi kaget.

Perempuan ini melompat kebelakang jauhkan diri dari jangkauan tangan lawan sementara mulut semburkan sumpah serapah.

"Keparat jahanam berotak kotor. Apakah hanya itu yang bisa kau lakukan terhadap orang yang menginginkan nyawamu?"

"Jubah Sakti.Aku yakin orang aneh dari istana Pulau Es itu tidak bermaksud mesum. Aku tahu dia hanya ingin memberimu ingat. Bukan cuma laki-laki saja punya kelemahan dan punya sesuatu yang bisa diremas sampai hancur. Perempuan juga punya kelemahan Ha ha ha..."

Seru si Orang Mati sambil tertawa terkekeh.

"Aku sependapat. Makanya jadi perempuan jangan sombong. Perempuan juga tak boleh melawan laki-laki. Sebab kalau sering melawan perutnya bisa masuk angin. He... he... he..."

Timpal Raja lalu ikutan tertawa tergelak-gelak.

Tak jauh didepannya si Jubah Sakti kertakkan rahang, mulut terkatub sedangkan pipinya menggembung.

Kemarahan dihati perempuan berjubah ini rupanya sudah meluap hingga ke ubun-ubun. Apalagi setelah dia menyadari si Orang Mati berpihak pada Raja.

Penasaran dia melirik ke arah temannya.

Dia melihat si Jubah Api telah bangkit berdiri dan tampaknya telah terbebas dari pengaruh sakit akibat perbuatan jahil sang pendekar.

Tidak sabar pada sahabatnya dia berkata.

"Jangan biarkan ada orang mempermainkan kita. Apalagi orang itu adalah orang gila yang tak pandai membalas budi. Kau hadapi cecenguk dari makam Setan itu sedangkan aku akan mencabut jiwa busuk gondrong berpedang satu ini!"

"Aku juga sudah tidak sabar menyingkirkan orang-orang tolol ini dari wilayah kekuasaan Gusti Ratu.Heaa.." sambut si Jubah Api, tanpa menunggu jawaban temannya.

Si Jubah Api tiba tiba hentakkan kakinya.

Begitu kaki menghentak tanah, seketika tubuhnya melambung tinggi lalu meluncur deras ke arah si Orang Mati.

Saat tubuh meluncur dengan kecepatan luar biasa, tangan kiri dikibaskan ke arah perut sedangkan tangan kanan yang terkepal menjotos ke arah dada.

Dua serangan ganas ini masih disusul dengan tendangan menggeledak yang menimbullan deru angin panas membakar ke bagian kaki lawan.

Melihat tiga serangan datang tak terduga.

Si Orang Mati yang sebelumnya Cuma berdiri menonton mengawasi perkelahian antara Raja dan Si Jubah Sakti tidak tinggal diam. Sambil tertawa tergelak-gelak dia lambungkan tubuhnya ke atas. Begitu mengapung diketinggian dua tangan disilangkan di depan dada lalu di dorong ke depan menangkis tiga serangan yang datang menggebu

Wuus!

Si Orang Mati terkesiap ketika menyadari tangkisan yang dilakukannya seperti menghantam angin.

Tak mau celaka dia lambungkan diri lebih tinggi. Namun walau dia berhasil menghindari tamparan dan jotosan lawan.

Tak urung serangan kaki lawan menghantam tubuhnya. Buuk!

Dess!

Satu tendangan keras dan disusul oleh satu pukulan menggeledek membuat si Orang Mati jatuh terpelanting.

Belum lagi dia sempat berdiri tegak lawan yang terus meluncur ke bawah mengejarnya kini kebutkan jubahnya.

Sreet!

Dari kedua ujung jubah kiri kanan mencuat dua lidah api.

Lidah api meliuk bergulung seperti selendang besar siap melibat bagian kepala juga kaki si Orang Mati. Manusia penghuni Makam Setan ini menyadari bila kepala atau kakinya sampai terlibat api berbentuk selendang, kedua bagian tubuh yang diserang bisa hangus.

Dan sebagai orang memiliki ilmu kesaktian yang bersumber dari kekuatan bumi. Si Orang Mati bertindak cerdik.

Sebelum dua serangan melibat tubuhnya dia segera berputar. Begitu tubuh berputar, kedua kakinya ikut berputar dan tak ubahnya seperti mata bor kaki itu amblas tenggelam menembus tanah.

Hanya dalam waktu sekedipan mata .Sosok orang mati dari Makam Setan lenyap. Buum!

Buum!

Terdengar suara berdentum.

Dua serangan ganas membakar mengenai tempat dimana si orang mati tadi berdiri. Tebaran api, tanah,pasir dan batu bermuncratan di udara.

Si Jubah Api yang tidak melihat lawan meloloskan diri dari serangannya menyeringai. Begitu kedua kaki menjejak tanah dia menatap ke arah lubang bekas ledakan, Laki-laki itu mendelik begitu melihat ada lubang lain seukuran tubuh manusia di tengah ledakan.

Begitu sadar serangannya sia-sia dia berteriak. "Mahluk jahanam pengecut! Ternyata kau manusia menyedihkan yang tak punya daya apa-apa.

Kau hanya mampu menghindar. Sungguh memalukan!" geram si Jubah Api penasaran.

*****

Untuk sementara kita tinggalkan dulu Raja, si Orang Mati dan lawannya. Sekarang marilah kita lihat keadaan di Kaliwungu tempat dimana Raden Pengging Ambengan menetap. Saat itu hari telah senja. Di ufuk langit sebelah barat matahari hanya tinggal berupa bola merah yang hampir memasuki bilik peraduannya.

Di tepi sebuah kali tak jauh dari sebuah pondok berdinding bambu beratap ilalang. Tepat diatas batu panjang pipih mirip batang pohon yang menjorok menggantung diatas sungai, duduk seorang kakek tua renta bertubuh kurus kering. Orang tua ini berpakaian lurik cokelat, bagian kepala yang telah memutih terlindung ikat kepala lebar berwarna hitam. Wajahnya tirus, sepasang mata menyorot tajam walau seolah tenggelam dibalik kelopak matanya yang cekung dalam.

Secara keseluruhan keadaan orang tua yang dikenal dengan nama Raden Pengging Ambengan Ini tidak ubahnya seperti jerangkong hidup. Sekujur tubuhnya nyaris tidak berdaging dan tampak seperti seonggok tulang belulang bersusun yang dibalut kulit tipis. Sungguhpun penampilan si kakek seperti orang tua rapuh tanpa daya. Namun orang tua ini sangat disegani di rimba persilatan. Disamping kesaktian yang dia miliki sulit dijajaki, sang Raden juga dikenal sebagal orang yang dapat membaca riwayat kehidupan dimasa lalu dan masa yang akan datang. Sayang sejak lima puluh tahun terakhir orang tua yang sepanjang hidupnya hanya memakan pucuk bambu dan air embun ini lebih banyak menutup diri dengan menetap di tepi Kaliwungu.

Bola merah di langit sebelah barat lenyap, DI atas batu pipih Raden Pengging Ambengan masih tetap ditempatnya dengan posisi duduk bersila. Saat itu kegelapan mulai menyelimuti sekelilingnya. Tiba-tiba angin dingin menusuk berhembus. Seiring dengan hembusan angin, jauh di bagian hulu sungai terdengar suara burung hantu. Di atas batu si kakek menghela nafas. Belum sempat dia membuka mata sayup-saup dia mendengar suara mengiang ditelinganya.

"Anak manusia yang terlahir dengan nama Raden Pengging Ambengan, putra darah biru Ageng Waton Segoro dari Kali Anget Madura. Malam bulan sabit ke tujuh hanya tinggal tiga hari lagi dari sekarang. Kembalilah keragamu. Waktu kematian bagimu belum tiba.Hidupmu masih panjang. Kau masih dibutuhkan di dunia fana. Uluran tanganmu sangat berarti banyak demi keselamatan jiwa yang tidak berdosa. Bantulah dia menyelesaikan perkara yang mengintai keselamatannya. Bocah itu dalam kesulitan besar, Bukankah dulu kau pernah berjanji akan membantunya, menolong dia dari segala penderitaan hidup. Dan kau menyadari sebenarnya dirimu tahu jalan keluar menuju keselamatan!"

Suara mengiang ditelinga si kakek datang dan pergi berulang kali. Membuat daun telinga si kakek yang lebar dan lancip disebelah atas selayaknya tellinga keledai bergerak-gerak. Perlahan bibir yang tertutup kumis putih itu bergerak.

"Jantung masih berdenyut. Pikiran melewati ruang nafas yang kosong. Sesungguhnya aku sudah dan sedang merasakan mati dalam kehidupan ini. Siapa yang telah membangunkan hidupku dalam tidur yang panjang?"

"Raden Pengging.Kematian bagimu seperti sudah kukatakan belum saatnya. Tak usah bertanya siapa yang memanggilmu karena aku adalah bagian dari langit yang biru. Kau bukalah matamu karena tak lama lagi akan datang beberapa tamu dengan kepentingan yang berbeda."

Suara mengiang di telinga si kakek lenyap.Deru angin dan suara pekik burung hantu berhenti.

Tidak menunggu lama, selayaknya orang yang baru terjaga dari tidur yang panjang dia membuka matanya yang mengatup terpejam. Perlahan dua tangan yang ditompangkan pada lutut bergerak mengusap wajah sebanyak dua kali .Setelah itu si kakek menatap ke langit. 

Dia melihat bulan sabit ke empat muncul di langit sebelah timur dengan warnanya yang kuning pucat

"Malam baru saja menggantikan siang." berucap si kakek dengan suara parau.

Sementara dua matanya yang cekung dalam menatap keadaan disekelilingnya.

"Aku memang merasakan ada tamu penting pembawa amanat akan datang. Tapi aku Juga nampaknya bakal kedatangan tamu dengan membawa maksud buruk. Heh...aku lelah melihat darah, aku muak melihat kematian. Tapi mengapa selalu saja ada yang memaksaku menjatuhkan tangan jahat!"

Baru saja si kakek berkata begitu.

Tiba-tiba terdengar suara pekik riuh rendah.

Tak lama kemudian dari balik semak diseberang maupun dibibir Kaliwungu bermunculan mahluk- mahluk berbulu putih berekor panjang.

Mahluk- mahluk berujud kera putih itulah yang menimbulkan kegaduhan. Si kakek menghela nafas, sepasang alisnya yang putih berkerut.

Sejak lama dia menetap di tempat itu.

Rasanya baru kali ini dia melihat belasan monyet putih muncul di depannya.

Sebagai orang berpengalaman dan mempunyai pandangan batin tajam Kehadiran monyet-monyet itu membuatnya curiga.

Apalagi si kakek menyadari begitu muncul mereka mengepungnya. Dengan seksama dia memperhatikan kawanan monyet itu.

Dalam hati dia membatin,

"Ada sebuah titik berupa bulu putih lebih terang dibandingkan warna bulu dibagian tubuh lainnya.

Dan aku tahu mereka bukan monyet biasa. Tapi monyet-monyet yang datang dari negeri siluman. Gagak Anabrang...hmm, pasti dia orangnya yang mengirim mahluk-mahluk itu ke tempat ini. Lalu siapa yang menjadi pemimpin monyet-monyet ini?" batin si kakek Kemudian ditujukan pada belasan monyet yang berjejer mengepungnya dalam keadaan siap menyerang. Raden Pengging Ambengan berkata,

"Kalian semua tidak selayaknya gentayangan di alam kehidupan manusia.Kembalilah ke alam siluman. Kalau tidak..."

"Kalau tidak kau hendak berbuat apa pada para pengawalku, Raden Pengging Ambengan? Kau hendak mengusir mereka atau ingin menghabisinya?! Hik hik hikmah!" potong satu suara diiringi tawa cekikikan.

Si kakek terdiam. Sepasang mata menatap lurus ke arah datangnya suara. Dia tahu yang baru bicara adalah seorang perempuan. Tapi perempuan itu bicara dengan menggunakan suara perut. Orang tua ini menjadi maklum, siapapun perempuan yang datang bersama kawanan monyet siluman itu jelas merupakan orang yang berkepandaian dan memilikd ilmu tenaga dalam sangat tinggi.

"Aku tidak suka melihat orang bergurau. Jika kau datang ingin bertemu dengan diriku. Mengapa harus malu dan menyembunyikan diri. Perlihatkanlah dirimu!"

Ujar si kakek tidak sabar.

"Raden Pengging. Lama hidup dalam kesendirian kiranya kau juga merasa rindu ingin melihat rupa wanita. Tapi kau tidak perlu berkecil hati. Dengan penuh ketulusan aku akan memperlihatkan rupaku yang cantik!" sahut suara dibalik kegelapan di tepi kali sebelah kiri.

Ucapan orang membuat si kakek diam tidak bergeming. Namun diam-diam dia meningkatkan kewaspadaannya. Dan ketika dari arah tepian kali ada hawa dingin menderu menerjang ke arahnya. Si kakek sadar orang telah melakukan serangan gelap. Tanpa bergerak tanpa bicara. Raden Pengging goyangkan bahu kiri kanan ke depan. Tidak terlihat cahaya atau suara deru angin dari kedua bahu yong digoyangkan. Namun dari arah depan tempat dari mana hawa dingin menghantam kakek itu tiba-tiba terdengar suara pekikan sekaligus letupan keras dua kali berturut-turut. Begitu suara letupan lenyap terlihat ada cahaya putih memancar tak jauh di belakang terjadinya letupan. Cahaya itu membesar mencuat ke atas dan..

Byar!

Cahaya raib menjadi gumpalan asap putih bergulung. Setelah gumpalan asap sirna. Si kakek dapat melihat di depan sana sejarak tiga tembok dari atas batu putih tempat dimana dirinya berdiri terduduk setengah rebah seorang perempuan cantik berusia sekitar tiga puluh lima tahun .Perempuan itu memakai pakaian ringkas bervwarna keemasan, Kulitnya putih bersih, pinggul besar dada membusung, sepasang mata bening namun di sekujur tubuh ditumbuhi bulu-bulu putih halus cukup tebal.

Walau tak pernah bertemu atau mengenal perempuan ini, si kakek sudah dapat menduga siapa perempuan itu adanya. Namun untuk lebih meyakinkan diri agar dugaannya tidak keliru diapun berkata,

"Perempuan cantik datang dikawal belasan monyet. Aku sebagai pemilik tempat belum sempat mempersilakan tamuku duduk. Tahu-tahu tamu malah mendahului dengan duduk menjelepok di tempat yang kotor.Ah maafkan aku.Masih ada tempat duduk yang lebih nyaman di dalam pondokku.Atau kau lebih suka berada disitu sampai pagi?" ujar orang tua itu sambil mengurai senyum.

Perempuan di tepi kali itu menggeram.

Dia tahu Raden Pengging Ambengan menyindirnya.

Dia juga sadar orang tua didepannya pasti mengetahui bentrok tenaga dalam yang terjadi antara dirinya dengan si kakek saat melakukan serangan gelap tadi membuatnya jatuh terhempas.

"Tua bangka edan.Jaga mulutmu. Kau pikir aku sudah kalah?" bentak perempuan berpakaian emas.

Secepat kilat dia bangkit berdiri.

Sementara melihat orang yang dikawal dapat dijatuhkan lawan. Kawanan monyet pengawal menjadi garang.

Belasan monyet putih menggeram, kaki depan ditekuk, mulut menyeringai memperlihatkan taring taring yang runcing.

Setiap saat bila mendapat perintah binatang ini pasti siap melakukan serangan. Sebaliknya bagi si kakek melihat kawanan kera putih menunjukkan sikap bermusuhan dia tetap tenang.

Malah sambil tersenyum pada perempuan berpakaian emas itu dia berkata,

"Tidak ada perkelahian disini.Aku baru saja hendak menyambutmu sebagai tamu.Mengapa kau beranggapan dirimu kalah? Nisanak, kuharap kau tidak bersikap bermusuhan.Kalau kau datang dengan membawa maksud dan kepentingan. Mengapa tidak segera mengatakannya? Dan kurasa kau sudah menyebut namaku. Kau mengenal aku tapi aku tidak mengenal siapa kau adanya?"

Ditanya orang dengan nada bersahabat.

Si cantik berpakaian emas berdandan menyolok ini rupanya merasa tidak enak hati.

Diapun segera rangkapkan kedua tangan di depan dada lalu bungkukkan badan sebagai tanda penghormatan.

Setelah turunkan dua tangan dan luruskan punggungnya. Dia berujar,

"Orang tua. Untuk meyakinkan diri dan agar tidak sampai keliru dan salah bertemu orang.Apakah benar engkau orangnya yang bernama Raden Pengging Ambengan?"

"Begitu datang kau sudah menyebut namaku. Apa lagi yang kau ragukan nisanak. Aku memang Raden Pengging Ambengan."

Menerangkan sh kakek sambil menatap perempuan itu. Si cantik berbulu menghela nafas lega. Kemudian buru-buru dia memperkenalkan diri.

"Namaku Rai Nini. Aku adalah istri Gagak Anabrang."

"Aku sudah menduga. Dia adalah perempuan siluman yang diperistrikan oleh manusia licik bertubuh pendek itu." membatin si kakek dalam hati.

Walau sudah mengetahui siapa perempuan didepannya. Raden Pengging Ambengan tak urung pura-pura unjukkan wajah kaget

"Oh aku tak menyangka malam-malam begini mendapat kehormatan bertemu dengan puteri dari seorang raja siluman. Maafkan sekali lagi karena aku yang sudah tua ini tak dapat menyambut kehadiranmu secara layak. Kalau boleh aku tahu bagaimana kabar suamimu Gagak Anabrang?"

Sepasang mata Rai Nini berkedap-kedip.

"Kabarnya baik-baik saja. Ternyata kau mempunyai pengalaman luas, kau tahu Gagak Anabrang adalah suamiku."

"Siapa yang tidak mengenal Gagak Anabrang. Dia adalah orang paling kaya diseluruh tanah Dwipa ini. Dimataku suamimu tidak ubahnya seperti raja besar."

Puji si kakek walau dilubuk hati dia menggerutu, "Orang tua."

Rai Nini cepat memotong.

"Jangan bicara tentang Gagak Anabrang walau kedatanganku kemari adalah atas perintahnya.

Namun aku sendiri sebenarnya membawa maksud dan kepentingan pribadi.Kepentingan itu menyangkut keselamatan putriku."

Raden Pengging Ambengan tiba-tiba terdiam. Sebagai orang yang memiliki penglihatan batin tajam, Dia menatap lurus ke arah Rai Nini.

Tatapan mata si kakek tertuju ke bag ­an tengah kening tepat diantara dua alis. Seet!

Hanya sekejaban saja si kakek segera mendapatkan gambaran sebenarnya.

"Aku melihat di dalam hatinya telah terjadi pertentangan batin yang hebat. Aku bisa merasakan ada amarah dan rasa cemburu. Mungkin Rai Nini cenburu karena Gagak Anabrang selalu mengambil istri baru. Dan kemarahan yang berkecamuk di dalam hatinya dapat kurasakan berasal dari dua hal. Rai Nini merasa diabaikan, kurang mendapat perhatian dan dia tak ingin anak tunggalnya dijadikan tumbal persembahan" kata si kakek di dalam hati.

"Raden..."

Rai Nini membuka mulut setelah melihat orang tua didepannya hanya berdiri diam memperhatikan.

Si kakek dongakkan kepala.

"Kau ingin mengatakan sesuatu?" "Begitulah. Dan terus terang maksud kedatanganku ke Kaliwungu ini adalah ingin mengharapkan budi pertolonganmu."

"Bukankah kau mengaku kedatanganmu karena perintah Gagak Anabrang? Lagi pula kau telah memiliki segalanya. Budi pertolongan apa yang bisa kau harapkan dari tua bangka sepertiku?"

Tanya si kakek diringi senyum mencibir.

Sebelum menjawab Rai Nini melirik ke arah kawanan monyet yang datang menyertainya.

Melihat itu si kakek pun dapat menduga kiranya apa-apa yang ingin disampaikan adalah sesuatu yang bersifat rahasia.

"Aku punya tempat yang cukup luas .Ditempat itu kau bebas bicara apa saja tanpa harus khawatir rahasiamu di ketahui oleh orang lain.Perintahkan pada monyet-monyet pengawalmu itu untuk menjauh dari pondokku. Lebih baik mereka menjagamu atau mengawasi dari kejauhan."

Raden Pengging Ambengan memberi saran.

Dan ucapan itu dia sampaikan melalui ilmu menyusupkan suara hingga kawanan monyet tidak mendengarnya .Usul si kakek ternyata mendapat sambutan baik.

Terbukti Rai Nini kemudian memerintahkan kawanan monyet itu menjauh dari kawasan pondok.

Tapi tidak semua mahluk pengawal itu patuh kepadanya.

Beberapa diantaranya tetap bertahan dan barangkali mereka takut dengan keselamatan Junjungannya.

"Aku tidak apa-apa.Orang tua ini bermaksud baik. Kami ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting. Kalian boleh mengawasi tapi tidak boleh mendekat ke pondok"

Karena ketika bicara Rai Nini dengan mata mendelik.

Tentu para monyet pengawal ini maklum majikan mereka bersungguh-sungguh.

Tidak ingin mendapat marah mereka pun membubarkan diri lalu berlarian menuju ke pepohonan.

Setelah kawanan monyet pergi. Raden Pengging Ambengan memberi isyarat pada Rai Nini untuk mengikutinya.

Si kakek berjalan menuju ke bagian belakang pondok.

Di belakang pondok ternyata ada sebuah bangunan lain yang tertutup dari penglihatan orang.

Bangunan Itu berdinding batu dilapisi tumbuhan merambat dan lumut hijou. Ketika Rai Nini memasuki ruangan berukuran cukup luas namun tidak berkamar.

Dia merasakan suasana yang sangat sejuk.

Sementara sebuah pelita bercahaya biru tampak menggantung menerangi seluruh penjuru ruangan. Si kakek mempersilakan tamunya duduk diatas tikar lusuh namun bersih, Sementara tak Jauh didepannya sang pemilik tempat duduk berila. Setelah sempat menghela nafas sejenak, orang tua renta itu membuka mulut.

"Mula-mula aku ingin mendengar tugas apa yang diberikan Gagak Anabrang kepadamu?" Ucap si kakek dengan sikap tenang luar biasa.

Walau sudah dapat menduga sekaligus mengetahui maksud jahat dibalik kehadiran Rai Nini. Namun dia tetap memperlalulan Rai Nini selayaknya seorang tamu.

"Orang tua! Alu diperintahkan oleh Gagak Anabrang menemuimu adalah untuk meminta agar kau kiranya sudi menyerahkan seorang gadis yang bernama Dadu sirah Ayu." kata Ral Nini tanpa sungkan dan tanpa merasa malu .Mendengar permintaan perempuan cantik itu.

Sepasang mata dibalik rongga yang celkung terbelalak lebar

"Gagak Anabrang meminta agar aku menyerahkan gadis bernama Dadu Sirah Ayu?" desisnya. "Kau sendiri melihat tidak ada siapapun ditempat ini terkecuali diriku." terang si kakek lagi. Kemudian dengan mata menerawang dia melanjutkan.

"Apakah Gagak Anabrang tidak Ingat. Dulu orang tua bocah malang itu telah dibunuhnya. Aku sendiri tidak tahu bocah itu ada dimana? Dan yang ingin kuketahui mengapa Gagak Anabrang menginginkan gadis itu?"

Mendapat pertanyaan demikian. Rai Nini terdiam. Karena yang ditanya tak kunjung menjawab, si kakek menjawab sendiri pertanyaannya.

"Dalam hidup dari seluruh parkawinannya dengan sembilan istri. Gagak Anabrang hanya mempanyai seorang puteri. Puteri tunggalnya itu adalah hasil perkawinannya dengan dirimu, bukankah begitu?" kemudian si kakek terdiam lagi namun tatap matanya tertuju pada Rai Nini. Ketika melihat perempuan cantik menatapnya sambil anggukkan kepala, Raden Pengging Ambengan lanjutkan ucapan.

"Gagak Anabrang begitu sayang pada puterinya. Dan walau tidak melihat sendiri aku tahu putrimu itu sangat cantik. Namun sayangnya seumur hidup dia tidak pernah keluar dari kamarnya. Mengapa?"

Tanya kakek itu.

Kemudian tanpa menunggu jawaban Rai Nini si kakek berkata.

"Anakmu mempunyai kelainan bawaan yang dibawahnya sejak dari dalam kandungan.

Kelahirannya di dunia ini tidak terlepas dari ikatan leluhur dipihakmu yaitu leluhur para siluman. Sekarang aku ingin bertanya adakah semua yang kuucapkan ini salah ataukah benar adanya."

Rai Nini gelengkan kepala. Dengan tatap mata penuh kagum namun menyimpan kepedihan dalam hati Rai Nini menJawab

"Tidak orang tua.Segala yang kau katakan memang benar adanya. Aku bahkan sangat takjub dengan pengetahuan batinmu yang luas."

"Hmm, walau aku sudah dapat sedikit menduga gerangan apa yang hendak kau sampaikan, Namun aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri apa sebenarnya tujuanmu datang kesini?"

Rai Nini menghela nafas panjang Sepasang matanya yang bening namun tajam menatap ke arah Raden Pengging Ambengan penuh rasa ragu. Tapi setelah menenangkan diri dari semua kegalauan yang menghantui jiwanya .Rai Nini akhirnya berterus terang.

"Dua puluh satu tahun sudah usia putri kami. Arum Dalu, Sepanjang hidupnya aku dapat merasakan betapa dia sangat menderita. Disiang hari tubuhnya menebar bau busuk bangkai. Arum Dalu hanya keluar dimalam hari disaat tubuhnya menebar bau harum kembang.Tapi bila Arum Dalu keluar di malam hari selalu saja ada malapetaka yang ditimbulkannya. Orang tua berpengetahuan batin luas. Adakah kau tahu mengapa putriku itu menjadi haus darah?"

"Puterimu kerap berubah menjadi mahluk lain. Mahluk antara siluman dan manusia. Perlu kiranya kau ketahui segala penderitaan yang dialami oleh putrimu serta perubahan mengerikan yang kadang terjadi padanya adalah balasan dari segala kesenangan serta limpahan harta benda yang didapat oleh suamimu ."

"Tentang yang kau katakan itu aku tidak dapat memungkirinya. Ini yang membuatku merasa iba pada anakku hingga aku tidak lagi merasa sejalan dengan suamiku" kata Rai Nini dengan mata berkaca-kaca

"Kau tidak perlu bersedih hati. Dan bukankah kau ingat ketika dulu puluhan tahun yang silam suamimu pernah mengikat perjanjian dengan Raja-diraja para siluman.Diraja kegelapan yang sangat berkuasa itu tak lain mahluk yang paling ditakuti di alam kalian. Bahkan ayahmu yang berkuasa di negeri siluman merasa tunduk dan tunduk padanya. Aku yakin kau tidak akan lupa sebelum mempersunting dirimu Gagak Anabrang pernah mengikat perjanjian dengan mahluk yang satu itu."

terang si kakek .Walau merasa kaget tak menyangka Raden Pengging Ambengan banyak mengetahui kehidupan masa lalu suaminya.

Tak urung Rai Nini berucap

"Aku tahu orang tua.Waktu itu Gagak Anabrang menemui Yang terlaknat Dari Alam Baka. Dia mengikat janji. Jika maha diraja siluman itu dapat membantu dan menjadikannya kaya raya. Kelak sebagai imbalan Gagak Anabrang suamiku akan memberikan orang yang paling dia cintai dalam hidupnya."

"Sepengetahuanmu siapa yang paling dia cintai?" Tanya si kakek.

"Dia mencintai diriku juga delapan istrinya yang lain. Dia juga cinta dengan kekayaannya. Namun Gagak Anabrang juga mencintai anak kami Arum Dalu."

Jelas Rai Nini sambil menundukkan kepala.

"Kapan batas terakhir penyerahan orang yang dicintai suamimu?" Tanya si kakek acuh.

"Bulan sabit malam ke tujuh."

"Siapakah yang paling dicintai Gagak Anabrang?" "Seperti yang telah kukatakan. Orang yang paling dicintainya adalah Arum Dalu, putri kami satu-satunya."

Jawab Rai Nini suaranya bergetar karena menahan keresahan dihati

"Kalau begitu dia harus menyerahkan Arum Dalu pada waktu yang dijanjikan." ujar si kakek enteng.

Rai Nini gelengkan kepala.

"Itulah yang menjadi pangkal persoalan mengapa aku datang kemari.Aku datang atas perintah suamiku.Dia mengatakan engkau mengetahui tentang seorang gadis yang usianya sama dengan putri kami. Gadis itu kabarnya terlahir pada malam sabtu kdiwon tepat malam ketujuh bulan sabit merah. Diraja siluman Yang Terlaknat Dari Alam Baka sangat menyukai gadis yang terlahir pada waktu yang kusebutkan untuk dijadikan korban tumbal persembahan. Dan menurut suamiku hanya gadis yang akan datang padamulah yang sangat tepat untuk menggantikan Arum Dalu sebagai korban persembahan."

"Jagat dewa Bathara. Apakah putrimu terlahir pada sabtu kliwon bulan sabit ke tujuh?"

"Benar. Dan aku mohon kau mau membantu dan menolongku. Apapun yang kau minta akan aku penuhi. Kau boleh meminta emas, permata atau kalau perlu kau menghendaki diriku dengan rela aku akan menyerahkan diriku seutuhnya padamu. Asalkan anakku tidak menjadi tumbal dan kau bersedia menyerahkan penggantinya pada kami."

Ujar Rai Nini tanpa ragu apalagi malu. Wajah si kakek yang pucat seketika berubah merah padam, Sepasang mata berkilat tajam, pipl menggembung sedangkan tubuhnya yang kurus itu bergetar. Ketika dia angkat kepala menatap ke arah Rai Nini. Tatap matanya tidak lagi bersahabat melainkan menjadi merah berkilat.

"Beraninya kau lancang berbicara serendah itu dihadapanku. Kau mengira tua bangka di hadapanmu ini siapa? Kau meminta aku bersekutu dengan iblis dan mengorbankan gadis malang yang di dalam hidupnya jauh lebih menderita di bandingkan putrimu, Segala bencana yang kelak bakal menimpa Gagak Anabrang tak lebih dari hasil perbuatannya sendiri. Dan aku tidak akan membiarkan gadis sebarang kara Itu jatuh di tangan manusia-manusia busuk seperti kalian. Lebih baik kau angkat kaki dari hadapanku. Kuharap kau tidak pernah kembali lagi ke sini!"

Dengus Raden Pengging Ambengan ketus.

Merab padam wajah Rai Nini mendengar ucapan Raden Pengging Ambengan itu.

Sedikitpun dia tidak menyangka si kakek yang begitu lembut dalam bertutur kata ternyata juga bisa berubah galak bersikap ketus dan bicara keras.

Sebagai keturunan Diraja Empat siluman golongan monyet, perempuan ini tentu saja tidak dapat menerima diperlakukan seperti itu.

Tidaklah heran dia segera bangkit berdiri. Dengan tubuh bergetar dan mata mendelik menahan luapan amarah perempuan ini berkata,

"Aku datang secara baik-baik, mengharap pertolongan, uluran tangan serta kemurahan hatimu.Tidak kusangka ternyata kau memberi jawaban yang tidak pantas Raden Pengging atau siapa pun dirimu.Aku tidak bisa kembali ke Plosoh Kutoarjo dengan tangan hampa. Aku tidak ingin Gagak Anabrang yang saat ini berada di kali Naga menjadi marah .Karena keinginanku tidak dipenuhi maka dengan sangat terpaksa aku harus membunuhmu!"

Selesai berucap demikian tiba-tiba Rai Nini keluarkan suara lolongan aneh sebanyak tiga kali. Rupanya suara lolongan itu meupakan pertanda bahaya bagi belasan monyet.

Terbukti begitu sura lolongan Rai Nini lenyap.

Dari segala penjuru tiba tiba terdengar suara jerit dan pekik monyet- monyet yang marah. Belum lagi si kakek dapat mengetahui apa yang terjadi di luar sana.

Tiba-tiba berdengar suara bergemuruh mengerikan menghantam bangunan tersembunyi tempat di mana Rai Nini dan Raden Pengging Ambengan berada

"Mahluk-mahluk tidak mengenal peradatan. Ternyata kalan hendak menguburku hidup-hidup di tempat kediamanku sendiri."

Sambil menggeram si kakek tiba-tiba lesatkan diri ke atas rumah.

Rai Nini sendiri yang sudah tahu apa yang dilakukan oleh monyet-monyetya lalu tinggalkan ruangan itu dari pintu samping. Dan suara gemuruh akibat serangan monyet-monyet pengawal akhirnya menimbulkan ledakan dahsyat menggelegar.

Sesaat sebelum bangunan hancur menjadi kepingan, Raden Pengging telah berhasil menjebol bagian atas atap di puncak wuwungan. Dengan menggunakan ilmu mengentengi tubuh yang sudah sangat sempurna orang tua itu akhirnya melesat lalu jejakan kaki tepat di depan pondok yang terdapat di pinggir Kaliwungu .

Begitu dua kaki menjejak tanah, belasan monyet pengawal yang tadi menghancurkan bangunan dibelakang pondok tahu-tahu sudah mengepungnya Kawanan monyet sudah mengepungnya.

"MaHkluk MaHkluk celaka! Sudah puluhan tahun aku bersumpah tidak bakal pernah melakukan pembunuhan lagi.Namun jika terpaksa dan demi tegaknya keadilan, aku tidak akan segan melumuri tanganku dengan darah kalian!"

Sentak si kakek dengan suara dingin menusuk.

"HIk hik hik! Tua bangka tidak tahu diri, monyet-monyet itu bukan binatang biasa. Mereka sama seperti orang yang memiliki kepandaian tinggi. Kau boleh saja hebat dan disegani, namun dimata golongan kami ini kau tidak ada arti apa-apar" kata Rai Ni.

Raden Pengging Ambengan palingkan kepala menatap ke arah sebelah kirinya sambil menghajar kawanan monyet dengan pukulan dan tendangan menggeledek, tanpa bersuara Rai Nini melesat ke arah lawan.  

Begitu berkelebat, tangan kanan didorong ke depan mencari sasaran di dada si kakek. Sedengkan tangan kiri yang terpentang berbentuk cakar mengarah kebagian wajah.

Ketika dua tangan bergerak melesat membeset di udara. Terdengar suara bersiutan. Bahkan kedua tangan itu berubah hitam karena mengandung racun ganas.

Rai Nini yang telah mendengar kehebatan lawan dari suaminya Gagak Anabrang tidak mau bertindak setengah-setengah, Dia sengaja menggunakan jurus Siluman Mejemput Nyawa yang digabungkan dengan ilmu pukulan sakti Murka Di Balik Gelap.

Dengan menggunakan dua ilmu yang digabungkan itu akibatnya sangat dahsyat.

Jangankan manusia raja dedemit sekalipun bisa celaka bila terkena dua serangan itu sekaligus. Si kakek bukannya tidak mengetahui ada bahaya besar mengancam dirinya.

Tapi saat itu dia sangat disibukkan oleh serangan kawanan monyet pengawal.

Walau dia berhasil membuat monyet- monyet berpelantingan akibat terkena pukulan dan tendangan, namun beberapa monyet yang mengalami luka parah baik yang remuk dibagian kepala maupun yang lainnya terus menyerang dengan lebih ganas lagi .Menyadari tak bisa membunuh kawanan monyet dengan mudah, maka si kakek segera merapal mantra ajian Kelut Lenyap Segala.

Karena keganasan ilmu ajian yang dimilikinya itu Raden Penging jarang sekali menggunakan imu langka itu.

Tapi kini karena serangan Rai Nini datang bertubi-tubi yang membuatnya terdesak maka karena tak ingin celaka ilmu langka itu digunakannya.

Tidaklah aneh, ketika tangan kanan Rai Nini siap menghantam remuk dadanya dan tangan kiri perempuan itu nyaris membuat hancur wajahnya .Raden Pengging tekuk kaki kanan ke depan.

Sambil bertumpu pada kaki kanan, kaki kiri dipergunakan menghantam sedikitnya lima monyet yang menyerang bagian tubuh sebelah bawah. Dari kaki kiri berturut-turut menderu lima cahaya merah.

Sementara dengan tangan kanan dia melakukan tangkisan ke arah dua tangan Rai Nini Plak!

Plak! Des!

Tangan kanan si kakek yang berubah keras laksana pentungan baja membentur dua tangan Rai Nini.

Tubuh renta itu terguncang hebat.

Rai Nini sendiri mengalami akibat yang tidak jauh berbeda. Namun begitu guncangan berakhir perempuan ini merangkak kembali dan kakinya menyerang perut dan leher lawan.

Tak ingin celaka apalagi setelah mengetahui lawan tak mengalami cidera yang berarti, si kakek segera bergerak mendahului.

Dengan menggunakan tangan kiri dia menghantam.

Tangan menderu disertai tebaran hawa panas dan hawa dingin silih berganti.

Melihat kecepatan gerakan orang tua ini, Rai Nini yang hanya berjarak dua langkah saja dari hadapan lawan terpaksa batalkan serangan.

Dua tangan disilangkan ke depan wajah.

Lalu tangan itu bergerak melakukan sapuan kebawah. Wuut!

Dess!

Gerakan menghalau serangan yang dillakukan Rai Nini ternyata kalah cepat dengan datangnya serangan.

Tanpa ampun.

Begitu tangan lawan menghantam perutnya dia pun jatuh terpelanting. Rai Nini menjerit setinggi langit.

Tubuhnya terhempas dan begitu menyentuh tanah langsung dikobari api.

Asap putih kelabu membumbung tinggi Rai Nini masih berusaha memadamkan api tersebut.

Namun api sulit dipadamkan.

Setelah menggelepar beberapa saat lamanya dia pun terkapar tidak bergerak lagi. Rai Nini tewas seketika.

Dan tak lama kemudian sosoknya yang hangus lenyap dari pandangan. Melihat orang yang harus mereka lindung menemui ajal ditangan si kakek.

Belasan monyet yang menjadi pengawalnya menjadi sangat marah. Bahu membahu mereka siap menyerang.

Namun sebelum mereka bertindak.

Tiba-tiba terdengar suara menggelegar seperti petir di kegelapan malam

"Raden Pengging Ambengan. Untuk satu nyawa yang kau renggut maka akan ada ratusan nyawa yang harus melayang sebagai penggantinya, Membunuh Rai Nini adalah kesalahan besar bagimu!"

Kata satu suara. Si kakek terkejut Menatap keatas dibalik kegelapan langit diantara kerapatan daun pepohonan dia hanya melihat kerlip cahaya merah seperti lentera.

"Siapa kau?!"

Teriak Raden Pengging Ambengan penasaran sekaligus ingin tahu. Tidak ada jawaban. Cahaya merah seperti lentera sebaliknya bergerak melesat ke arah timur.

Dan semakin lama semakin menjauh.

Sebelum cahaya itu lenyap, dikejauhan lagi-lagi terdengarsuara ledakan. Sambil menduga-duga si kakek hanya bisa menghela nafas. Dan dia tidak sempat berpikir lama, apalagi mencari tahu siapa yang baru mengancam nya itu, karena pada waktu yang sama belasan monyet telah menyerangnya kembali.

Si kakek yang sempat kehilangan kewaspadaannya tidak mampu menghindar ketika tiga monyet yang berada di belakang berhasil merobek pakaian di bagian punggung juga menggigit kakinya.

Sambil keluarkan suara seperti harimau murka si kakek yang masih menggunakan ajian Kelut Pelenyap Segala itu pun berseru.

"Mahluk-mahluk keparat tidak tahu diri, Hilang suudah kesabaranku. Kalau kalian memang sudah ingin mampus menyusul majikan kalian. Sekarang aku kabulkan permintaan kalian...!"

Setelah berucap demikian. Orang tua ini jatuhkan diri.

Dua tangan yang dipentangkan lalu dia hantamkan ke permukaan tanah Buum!

Buum!

Terdengar suara dentuman dua kalli berturut-turut. Permukaan tanah yang dihantam pukulan berguncang keras.

Guncangan kemudian berubah tak ubahnya seperti alunan ombak besar yang bergerak keseluruh penjuru dan menyapu apa saja yang terdapat di sekeliling orang tua itu.

Tak terkecuali kawanan monyet pengawal, pepohonan semak belukar, pondok lenyap begitu saja seolah di telan bumi.

Ketika si kakek bangkit tidak terlihat lagi pondoknya. Dia juga tidak mellihat air Kaliwungu yang bening.

Di mana-mana sejauh mata memandang yang dilihatnya hanyalah kepulan asap putih. Inilah salah satu kehebatan mantra ajian Kelut Pelenyap Segala.

Salah satu Imu kesaktian si kakek yang sanggup menghabisi apa saja sejarak seratus tombak disekeliling si kakek.

Setelah kibaskan kedua tangan, setelah berusaha melupakan kejadian yang baru saja berlangsung.

Orang tua ini tiba-tiba teringat pada Dadu Sirah Ayu

"Kelut Birawa. Di mana kau? Seharusnya malam ini seperti yang kau janjikan kau sudah membawa gadis malang itu dihadapanku. Apakah kau sedang dalam perjalanan? Dan apakah aku harus menjemputmu?!"

Kata si kakek pada diri sendiri .Setelah sempat berpikir akhirnya orang tua ini memutuskan untuk menyusul mencari Kelut Birawa.

****

Lembah Batu Gamping sunyi mencekam di malam itu. Udara dikawasan lembah yang diapit beberapa perbukitan terasa dingin mencucuk.

Di tengah kesunyian terdengar suara kelepak dan cericit kelelawar, Sejak lama lembah yang satu ini memang sangat dikenal sebagai tempat tinggal ribuan kelelawar.

Malam semakin dingin.

Di tengah dinginnya udara disebuah tempat jauh di tengah lembah duduk sosok berupa seorang laki-laki berpakaian hitam .Laki-laki itu tampak gelisah.

Sementara perhatiannya terus tertuju ke arah sebelah timur lembah.

Dari sikapnya yang tidak tenang nampaknya dia sedang menunggu kehadiran seseorang. Malam semakin larut.

Bulan sabit dimalam keempat sudah hampir mencapai titik tertingginya .Dan kegelisahan laki-laki itu tambah menjadi.

Dia bangkit berdiri lalu berjalan gontai menuju tempat yang lebih terang.

Begitu menjauh dari batu yang dinaungi pohon besar berdaun lebat, maka penampilan laki- laki ini terlihat lebih jelas.

Ternyata selain memilik tubuh tinggi semampai dan berkulit hitam macam arang, laki-laki ini mempunyai bibir tebal, hidung pesek, telinga mencuat panjang mirip kuda.

Bukan cuma bibir, telinga dan bentuk mulutnya saja yang mirip kuda, tetapi dia juga mempunyai sepasang kaki mirip kaki kuda.

Siapapun orang yang satu ini.

Dunia persilatan mengenalnya dengan sebutan Arwah Kaki Kuda.

DI kawasan tanah Dwipa bagian tengah Arwah Kaki Kuda dikenal sebagai seorang tokoh sakti yang tidak punya pendirian.

Ada kalanya dia bersikap baik dan melindungi kaum yang lemah.

Namun tidak jarang dia juga berlaku keji dan kerap melakukan pembunuhan dengan cara yang keji. Arwah Kaki Kuda yang menetap di Lembah Batu Gamping itu tidak sendiri. Dia mempunyai saudara tua yang dikenal dengan sebutan Singa Tetua.

Sesuai dengan julukannya saudaranya yang satu itu juga memiliki bentuk tubuh yang aneh. Wajah tampan namun mirip dengan singa jantan, rambut panjang gimbal awut-awutan tidak terawat. Selain itu bagian tubuh ditumbuhi bulu-bulu halus kecoklatan.

Tangan dan kaki juga berbentuk seperti cakar dengan kuku mencuat melengkung mirip kuku singa.

Setelah sempat mondar-mandir tak jauh dari tempat duduknya, Arwah Kuku Kuda pun akhirnya hentikan langkah.

Sekali lagi dia menatap keujung lembah timur .Sementara dari mulutnya yang polos tanpa kumis dan jenggot terdengar ucapan.

"Manusia pemalas .Entah apa yang dilakukannya diluar lembah. Aku sudah lelah menunggu, namun dia tidak kunjung kembali!"

Gerutu Arwah Kaki Kuda sambil monyongkan bibirnya yang tebal.

Baru saja Arwah Kaki Kuda berucap dari sebelah timur lembah sekonyong-konyong terdengar suara raungan menggelegar tak ubahnya raung singa jantan yang murka.

Lalu dikejauhan terlihat satu titik kecoklatan yang melesat ke arah sang Arwah dengan kecepatan laksana anak panah melesat.

Kemudian....

Jlik!

Tak sampai sekedipan mata.

Di depan Arwah Kaki Kuda telah duduk dalam keadaan setengah mendekam sosok laki-laki berwajah tampan dan berpenampilan selayaknya singa.

"Aku lelah menunggumu. Dan kau gentayangan tidak karuan seenak sendiri. Memangnya apa yang kau lakukan diluar lembah Singa Tetua?!"

Damprat Arwah Kaki Kuda penuh teguran.

Singa Tetua yang tadinya duduk setengah rebah segera memperbaiki sikap duduknya. Melihat saudara tua duduk bersila dan memilih tempat dikegelapan bawah pohon, Arwah Kaki

Kuda segera melangkah kembali ke tempat duduk yang dia tinggalkan.

Kedua orang aneh itu kemudian saling pandang. Tidak berselang lama Singa Tetua membuka mulut. "Aku baru saja kembali dari pengintalan"

"Apa?"

Desis Arwah Kaki Kuda kaget.

"Jadi kau telah pergi ke kawasan Lor Candi Sewu?"

Tanya laki-laki itu seakan tidak percaya. Singa tetua anggukkan kepala,

"Benar. Aku telah menyelidik dan akhirnya mengetahui tempat yang sangat rahasia itu." menerangkan Singa Tetua

"Maksudmu tempat rahasia dimana Kelut Birawa menyimpan sekaligus menyembunyikan gadis yang menjadi incaran banyak orang itu?"

"Benar saudaraku.Bocah perempuan yang dulu dikejar-kejar oleh Gagak Anabrang untuk dijadikan korban tumbal persenbahan, ternyata sekarang sudah dewasa."

"Bagaimana kau tahu dia sudah dewasa. Yang kudengar Kelut Birawa dengan ilmu kesaktiannya mampu merubah bocah itu menjadi patung menangis lima belas tahun yang lalu."

"Memang betul. Tapi sore tadi Kelut Birawa berhasil mengembalikan bocah patung itu menjadi ke ujud gadis cantik dewasa yang sesungguhnya."

Jelas Singa Tetua yang membuat Arwah Kaki Kuda tercengang tidak percaya.

Setelah sempat terdiam dan menarik nafas beberapa kali. Arwah Kaki Kuda akhirnya kembali membuka mulut.

"Sudah dewasa berarti sudah sempurna untuk dijadikan tumbal.Gadis yang terlahir pada malam sabtu kdiwon bulan sabit ke tujuh itu kini menjadi incaran banyak orang. Bukan hanya Gagak Anabrang saja yang menginginkannya. Aku yakin Penghuni Perahu Setan juga menghendaki dirinya."

"Aku sudah tahu lama rencana Gagak Anabrang. Dia menginginkan gadis yang menjadi kembang dambaan para siluman itu untuk ditukar dengan putri tunggalnya Arum Dalu."

"Ditukar bagaimana maksudmu?!"

Tanya Arwah Kaki Kuda sambil menatap saudaranya lekat-lekat

"Apakah kau lupa Gagak Anabrang punya hutang janji dengan diraja siluman Yang Terlaknat dari Alam Baka, Mahluk sakti dari kegelapan itu yang selama ini membantu Gagak Anabrang hingga membuatnya menjadi seorang diraja harta seluruh tanah Dwipa. Kelak disaat usia putrinya tepat dua puluh satu tahun. Dia harus mengorbankan Arum Dalu sebagai persembahan bagi mahluk satu itu." terang Singa Tetua.

Arwah Kaki Kuda manggut-manggut.

"Sekarang aku mengerti. Aku yakin Gagak Anabrang yang sangat menyayangi putri tunggalnya itu telah berubah pikiran dan tak mau menjadikan Arum Dalu sebagai korban persembahan. Kemudian dia mencari gadis pengganti. Karena dia tahu bahwa gadis yang dalam perlindungan Kelut Birawa itu terlahir pada malam sabtu Kliwon yaitu malam pesta para siluman. Dia bermaksud menukar korban persembahan. Anak yang seharusnya dia korbankan dia gantikan dengan bocah yang bernama Dadu Sirah Ayu itu."

"Tepat. Dan ternyata otakmu cukup encer. Tapi awas jangan sampai meluber ke telinga. Ha ha ha..."

Puji Singa Tetua diringi tawa tergelak. Mendengar gurawan Singa Tetua, Arwah Kaki Kuda sama sekali tidak terpancing. Sebaliknya dengan mata menerawang namun menyimpan banyak rencana dia berucap.

"Andai aku silau dengan harta benda. Mungkin aku akan menghabisi Kelut Birawa, lalu membawa gadis itu pada Gagak Anabrang dan menukarnya dengan emas permata. Kurasa itu lebih baik."

Timpai Singa Tetua. "Tidak!"

Tukas Arwah Kaki Kuda disertai gelengan kepala.

"Aku tahu apa manfaat gadis itu bila kita bisa mendapatkannya."

"Aku sendiri tidak tahu apa-apa. Yang kutahu setiap wanita paling enak diajak tidur bersama, apalagi perempuan itu masih gadis dan masih perawan, Ha ha ha!"

Melihat Singa Tetua tertawa, sang adik menggeram "Hentikan tawamu yang buruk itu. Aku benci mendengarnya!"

Kata Arwah Kaki Kuda sambil delikan matanya. Melihat saudaranya mendelik, Singa Tetua katubkan mulut.

"Kau dengar. Aku ingin kau tahu bahwa gadis itu lebih berarti bagi kita dibandingkan segunung emas."

"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti." "Ketahuilah."

Ucap Arwah Kaki Kuda setelah menoleh kitarkan pandang ke sekelilingnya, seakan ingin memastikan tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka.

Setelah yakin semuanya dalam keadaan aman saja, laki-laki itu melanjutkan.

"Di dalam diri gadis yang berama Dadu Sirah Ayu itu tersimpan satu rahasia besar." Ucapnya berbisik.

"Rahasia itu antara lain bila kita bisa mendapatkan darahnya sekaligus meminum darahnya maka kita bisa hidup abadi. Kita tidak pernah mati sampai kapan pun."

"Hm, luar blasa. Tapi aku kurang tertarik." sahut Singa Tetua.

"Aku tahu. Kau memang manusia bodoh yang tak punya keinginan apa-apa."

Dengus Arwah Kaki Kuda

"Lalu apa rahasianya yang lain?"

Tanya Singa Tetua acuh

"Rahasia lainnya.Andai kita bisa mendapatkan kesuciannya dimalam tujuh hari bulan sabit. Kita tetap awet muda, kesaktian bertambah dan kita dapat lenyap dari pandangan manusia biasa."

"Bila kita tak terlihat kita bisa gentayangan kemana saja. Disamping itu kita dapat melakukan kejahatan apa pun tanpa diketahui orang."

"Sepertinya sangat menarik. Aku sendiri lebih senang tidur dengan gadis yang masih perawan dari pada minum darahnya. Lalu adakah keistimewaannya yang lain?"

"Ya. Tapi aku kurang begitu tahu." Jelas Arwah Kaki Kuda berterus terang.

Selesai mendengar penjelasan Arwah Kaki Kuda. Singa Tetua tertegun lama.

Tanpa sadar dia menggumam

"Menjadi awet muda, tak pernah tua memang menjadi dambaan setiap orang. Bisa menghilang tak terlihat selayaknya setan gundul kurasa asyik juga. Tapi seperti yang kukatakan lebih asyik tidur bersama gadis perawan."

Singa Tetua lalu menoleh dan menatap lurus saudaranya. "Eeh adikku. Kini aku berubah pikiran. Aku menginginkan gadis itu. Kita harus menangkapnya sebelum jatuh ke tangan orang lain."

Mendengar ucapan saudara tuanya .Arwah Kaki Kuda pun anggukkan kepala.

"Bagus. Rupanya kau sudah menyadari betapa bergunanya gadis keramat itu. Kau bisa bayangkan betapa setiap bagian dari tubuh bocah itu bisa mendatangkan manfaat yang sangat hebat bagi kita."

Kata Arwah Kaki Kuda dengan wajah sumringah beseri-seri. Setelah senyuman lenyap laki-laki itu melanjutkan.

"Sekarang sebaiknya kita berangkat menuju Lor Candi Sewu. Aku berharap kita menjadi orang pertama yang mendapatkan gadis itu."

Singa Tetua gelengkan kepala.

"Kita tak perlu bersusah payah datang ke sana, Sebelum aku kembali ke tempat ini. Aku melihat orang tua gendut bertopi seperti pocong Itu membawa Dadu Sirah Ayu menuju ke Kaliwungu untuk menemui seorang yang bernama Raden Pengging Ambengan."

Mendengar Singa Tetua menyebut nama Raden Pengging Ambengan, Arwah Kaki Kuda melengak kaget.Kening mengernyit, mata mendelik mulut ternganga

"Apa kau bilang? Kelut Birawa hendak menyambangi Raden Pengging? Gila! Walau aku tidak merasa takut padanya, namun kau sendiri tahu siapa Raden Pengging Ambengan?"

"Ha ha ha. Kau takut pada tua bangka kurus yang satu itu? Tenang saja Kelut Birawa tak akan pernah sampai ke Kaliwungu. Bagaimanapun untuk mencapai tempat kediaman orang tua itu, Kelut Birawa harus melewati lembah ini karena hanya melalui lembah inilah satu-satunya jalan tercepat menuju Kaliwungu."

"Kau benar."

Sahut Arwah Kaki Kuda disertai senyum lega.

"Kita tak perlu repot datang ke Lor Candi Sewu. Kita hanya perlu menunggu disini dan Kelut Birawa datang mengantarkan gadis itu pada kita. Ha ha ha!"

Melihat Arwah Kaki Kuda mengumbar tawa bergelak, Singa Tetua tempelkan jari telunjuk di depan bibir.

"Kau menyuruhku diam? Kurang ajar.Kau tertawa aku tak pernah melarang. Aku baru kali ini tertawa kau sudah tidak berkenan.Memangnya ada apa dengan dirimu?"

"Jangan memandangku dengan mata melotot.Suara tawamu tidak sedap didengar, bau nafasmu busuk.Diamlah, saat ini aku dapat merasakan orang yang kita tunggu sedang memasuki jalan di kawasan lembah Batu Gamping" terang Singa Tetua sambil menyeringai.

"Sial. Mengapa kau tidak memberitahu sejak tadi." Gerutu Arwah Kaki Kuda. Sekilas Arwah Kaki Kuda menatap ke jurusan timur lembah ke arah ujung jalan setapak yang membelah lembah.

Dia terdiam ketika melihat satu sosok bayangan putih besar berlari cepat menuju ke arah mereka.

Tak jauh di belakang sosok berpakaian putih mengikuti satu sosok bertubuh ramping bergaun putih

"Mereka datang!"

Bisik Singa Tetua yang mengenali ciri-cirl orang yang mereka tunggu.

"Cepat menyingkir. Cari tempat berlindung. Pentangkan Jaring Penjerat Sukma!" Sahut Arwah Kaki Kuda.

Mendapat aba-aba yang diberikan adiknya. Singa Tetua tahu apa yang harus dilakukan. Tanpa menunggu dia melompat kesebelah kiri jalan dan mendekam di balik kegelapan pohon. Sementara tangan diangkat tinggi selayaknya orang yang merentang jaring.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Arwah Kaki Kuda yang bersembunyi di sebelah kiri jalan

.Penantian yang dilakukan kedua orang ini ternyata tak berlangsung lama. Sekejab kemudian mereka melihat seorang kakek gemuk bertopi seperti pocong melintas bersama seorang gadis bergaun putih berenda.

Ketika kedua orang yang tengah berlari itu melintas persis di depan mereka, Arwah Kaki Kuda dan Singa Tetua segera kibaskan tangannya masing-masing ke arah jalan.

Sret! Wuurt! Weer!

Dua benda berkilat menderu di udara lalu menyergap ke arah gadis dan kakek gendut .Membuat keduanya jatuh terjerembab, bergulingan di atas tanah dalam keadaan terperangkap di dalam jaring.

Melihat orang yang ditunggu masuk dalam perangkap mereka, kedua bersaudara itu berlompatan keluar dari tempat persembunyian sambil mengumbar tawa tergelak-gelak

"Ha ha ha! Sudah kukatakan untuk meringkus orang yang kita butuhkan tak perlu berletih diri pergi Lor Candi Sewu. Seperti yang kau lihat mereka datang menyerahkan diri!"

Kata Singa Tetua kegirangan

"Kau benar. Rejeki dan peruntungan kita sangat besar sekali malam ini. Tapi kita tak membutuhkan tua bangka gendut. Kita habisi dia dulu baru bawa gadis ini ke tempat yang aman." tukas Arwah Kaki Kuda sambil mengusap dagunya yang licin tanpa jenggot.

Sementara terperangkap dalam satu jaring bersama gadis yang harus dilindungi, si kakek yang bukan lain adalah Kelut Birawa adanya dengan sikap tenang memperhatikan kedua orang di depannya. Berbeda dengan si gadis yang tak lain adalah Dadu Sirah Ayu.

Gadis yang pikirannya tak berbeda dengan bocah seusia tujuh tahun ini jadi ketakutan. "Kakek sahabatku! Aku takut. Bagaimana kita bisa melepaskan diri dari benda aneh ini? Siapa

mereka kek?!"

Tanya Dadu Sirah Ayu dengan wajah pucat dan tubuh keluarkan keringat dingin. Dengan suara lirih Kelut Birawa mencoba menenangkan dengan menjawab.

"Kau tak usah takut. Walau belum pernah berjumpa namun dari ciri-ciri serta penampilannya aku rasa-rasa mengenal siapa mereka. Orang berkulit hitam berhidung pesek, bermulut layaknya moncong kuda bertelinga dan berkaki mirip kaki kuda itu pastilah manusia jelek dan tolol yang dikenal dengan nama Arwah Kaki Kuda. Sedangkan yang bertubuh tambun namun wajah kemerahan berpakaian cokelat dan tampang seperti singa kuyakin dialah orangnya yang bernama Singa Tetua, Mereka salah sasaran. Mereka mengira kita ini ikan."

Sambil berkata begitu si kakek ulurkan tangan, meraba jaring yang menjerat mereka. Setelah mengetahui betapa kuatnya jaring yang melibat mereka.

Diam-diam Kelut Birawa terkesiap. Dalam kagetnya dalam hati dia berucap.

"Astaga! Ternyata jaring ini bukan jaring biasa. Dari hawa aneh yang ditimbulkannya aku menduga mungkin inilah perangkap laknat yang dikenal dengan nama Jaring Penjerat Sukma!"

Desis si kakek.

Semua penjelasan Kelut Birawa ternyata memang mampu meredakan rasa cemas yang menggelayuti hati Dadu Sirah Ayu.

Sementara itu Arwah Kaki Kuda dan Singa Tetua yang sempat mendengar ucapan Kelut Birawa keluarkan suara menggeram.

Arwah Kaki Kuda melangkah maju. Sambil menatap sinis pada Kelut Birawa. Laki-laki itu berkata.

"Orang gendut aku tahu siapa dirimu. Namamu cukup disegani dan bukankah kau orangnya yang berjuluk Setan Racun Merah dari pesisir timur?"

Si kakek menggeliat, setelah bangkit dan hanya mampu duduk sambil tersenyum berucap "Orang jelek tampang seperti kuda. Kalau sudah tahu siapa aku mengapa tidak lekas meminta

maaf dan mencium bokongku yang wangi ini tiga kali Ha ha ha!"

Ucapan mengejek yang dilontarkan Kelut Birawa tentu saja membuat merah wajah Arwah Kaki Kuda, Tanpa menghiraukan Singa Tetua yang Juga ikutan tertawa .Arwah Kaki Kuda menggeram sambil gerakan kaki

Buuk!

Satu tendangan menghantam punggung si kakek membuat tubuhnya terguncang. Arwah Kaki Kuda terkesima.  

Dia terkejut melihat si kakek itu tidak mengalami cidera sedikitpun.

Padahal tendangan yang dilakukannya dialiri tenaga dalam tinggi dan sanggup menghancurkan batu karang.

"Orang bermulut mancung aneh. Jangan sakiti sahabatku!"

Teriak Dadu Sirah Ayu sambil meronta sekaligus berusaha melepaskan diri dari jaring penjerat sukma.

Walau sejak kecll telah memiliki ilmu serta tenaga dalam yang sangat tinggi namun upaya yang dilakukan si gadis hanya sia-sia.

Sementara itu Arwah Kaki Kuda palingkan kepala menatap ke arah saudara tuanya. Melihat Singa Tetua masih juga tertawa dengan geram dia membentak.

"Saudara tuaku yang tolol. Orang menertawakan diriku mengapa kau ikutan mentertawaiku? Lekas bunuh tua bangka gendut bernama Kelut Birawa itu. Kalau tidak kau lakukan aku akan menghajarmu!"

Tawa Singa Tetua lenyap.

Sambil mengangguk-angguk dan mengusapi wajahnya yang berkeringat dia melangkah maju. "Kau meminta aku mengabulkan. Apa sulitnya membunuh kakek gemuk ini!" sahut sang kakak .

Kemudian tanpa bicara apa-apa Singa Tetua angkat tangannya tinggi-tinggi. Dengan cepat tenaga dalam dia alirkan kebagian tangannya. Sementara mulut tampak berkemak-kemik membaca sesuatu. Tak lama Kelut Birawa melihat kedua tangan Singa Tetua yang diacungkan ke atas nampak berubah merah laksana bara pertanda lawan tengah mengerahkan ilmu pukulan sakti dan slap menghabisinya

"Ajian Pelebur Raga. Bagus, dia memang patut dilenyapkan dengan ajian itu. Namun kau jangan berlaku tolol. Aku harus melepaskan gadis itu dulu."

Kata Arwah Kaki Kuda.

"Cepat. Aku sudah tidak sabar melihat tubuh gendut gemuk itu hancur lebur menjadi kepingan bertaburan!"

Sentak Singa Tetua dengan dua tangan menggeletar dan sikap tidak sabar.

"Celaka! Jika aku tidak bertindak sekarang jiwaku dan juga keselamatan Dadu Sirah Ayu berada dalam ancaman besar."

Pikir Kelut Birawa .Diam-diam orang tua ini segera mengalirkan tenaga dalam penuh ke tangan kiri kanan.

Dalam hati dia berpikir dirinya harus menghancurkan jaring Penjerat Sukma secepatnya, sekaligus menghantam Singa Tetua yang siap hendak menyerang

"Gadis ayu sahabatku. Lakukan sesuatu. Jangan biarkan manusia bertampang mirip kuda itu menyentuhmu!"  

Bisik si kakek.

Dadu Sirah Ayu anggukkan kepala.

Sementara diwaktu yang bersamaan Arwah Kaki Kuda telah melompat ke arah si gadis.

Begitu berada di sisi si gadis dia cepat berjongkok tangan diulur jemari dengan cekatan melepas buhul pada salah satu ujung jaring.

Begitu buhul tali pengikat terlepas, Arwah Kaki Kuda menyeringai. Bersamaan dengan itu dia berkata.

"Gadis cantik idaman setiap manusia yang ingin hidup abadi. Lekas kau keluar dari jaring itu!" "Bagaimana dengan kakek sahabatku?!"

Tanya Dadu Sirah Ayu sambil merangkak keluar dari jaring. Sementara kedua tangan yang dikepal siap menghantam lawan yang menunggu di mulut jaring .Pertanyaan si gadis membuat Arwah Kaki Kuda tertawa.

"Kau yang harus selamat dari amukan saudara tuaku. Begitu kau keluar dari Jaring Penjerat Sukma, Buhul jaring ini akan menutup dengan sendirinya. Dan si gendut sahabatmu itu pasti siap menghadap penjaga akherat! Ha ha ha!"

"Aku tidak akan pergi kemana-mana. Justru aku khawatir kalian berdua yang bakal berangkat ke akherat mendahului aku!"

Sahut Kelut Birawa.

Dia lalu melirik ke sang dara. Begitu melihat Dadu Sirah Ayu keluar dari mulut jaring. Serta merta orang tua ini berteriak.

"Sekarang!"

Begitu Dadu Sirah Ayu mendengar teriakan si kakek tidak menunggu lama, secepat kilat dia bangkit sekaligus hantamkan dua pukulan menggeledak ke arah Arwah Kaki Kuda. Sementara itu dibelakangnya sambil duduk bersila Kelut Birawa menghantam jaring Penjerat Sukma dengan satu pukulan tangan kiri. Hampir berbarengan dengan gerakan tangan kirinya, si kakek juga menghantam Singa Tetua dengan pukulan tangan kanan.

Arwah Kaki Kuda yang sama sekali tidak menyangka mendapat serangan seperti itu tentu tidak sempat menghindar. Apalagi jarak antara dirinya dengan si gadis begitu dekat .Karena merasa tak punya pillihan lain, dia pun berlaku nekat. Secepat kilat dia julurkan dua tangan ke depan. Maksudnya hendak menangkap dua tangan putih mulus yang lepaskan pukulan.

Tapi tindakan itu kalah cepat dengan datangnya serangan yang dilancarkan Dadu Sirah Ayu.

Segulung cahaya putih berkilau disertai tebaran hawa panas mematikan menghantam dan menggulung Arwah Kaki Kuda.

Wuuus! Breess! "Wuaargkh...!"

Terdengar suara jerit melengking dari mulut Arwah Kaki Kuda.

Tubuh laki- laki itu terpelanting dan terlempar sejauh delapan tombak. Ketika Dadu Sirah Ayu berdiri tegak sambil menatap ke arah Arwah Kaki Kuda.

Dia melihat pakaian yang melindungi sekujur tubuh Arwah Kaki Kuda menyala dikobari api.

Sambil menggerung laki laki itu bergulingan berusaha memadamkan api yang membakar tubuh dan pakaiannya.

Sementara Singa Tetua begitu melihat gelagat tidak beres segera lambaikan dua tangannya ke arah Kelut Birawa.

Bersamaan dengan itu si kakek sudah mendahului mendorong ke dua tangannya, Satu tangan menderu menghantam Jaring tangan kanan menghantam ke arah Singa Tetua. Empat larik cahaya merah, biru, hitam, dan putih berkiblat tak ubahnya seperti hantaman petir melabrak jaring Penjerat Sukma.

Seketika itu juga jaring sakti kebanggaan Singa Tetua dan saudaranya meleleh hancur menjadi kepingan.

Sedangkan empat cahaya yang memancar dari tangan kanan si kakek terus melesat menyambar ke arah Singa Tetua.

Mengingat pada waktu yang bersamaan Singa Tetua kibaskan tangan menghantam si kakek dengan pukulan ajian Pelebur Raga, maka seketika itu juga dari kedua tangan Singa Tetua berkiblat dua cahaya merah raksasa.

Dua cahaya tak ubahnya seperti deru ombak akhirnya bertubrukan di udara menimbulkan ledakan dahsyat berdentum dan guncangan mengerikan.

Dadu Sirah Ayu memekik kaget.

Gadis ini terpelanting akibat guncangan.

Sementara Kelut Birawa yang telah meloloskan diri dari jaring yang hancur terkapar megap-megap dengan mulut semburkan darah. Tidak jauh di depan sana Singa Tetua ternyata mengalami akibat yang tidak jauh berbeda dengan yang dialami Kelut Birawa.

Benturan tenaga dalam ditambah guncangan keras akibat ledakan membuat Singa Tetua jatuh terjungkal.

Sambil menggerutu tak berkeputusan, Singa Tetua berusaha bangkit.

Nafas megap- sekujur tubuh serasa panas laksana terbakar, sedangkan tubuh dibagian dalam seperti luluh lantak.

Dengan kaki gemetar dan langkah terhuyung dia berusaha tegak berdiri. Namun dadanya terasa nyeri. Singa Tetua terbatuk beberapa kali namun dari mulut tiba-tiba darah kental menyembur pertanda dia mengalami luka dalam sangat parah.

Tak dapat bertahan laki-laki itu jatuh tertunduk menjelepok di atas tanah. Dia tekap mulutnya yang mengucurkan darah.

Wajah yang pucat terperangah. Mulut tanpa sadar berucap.

"Walah.... ada cairan merah keluar dari mulutku. Aku terluka. Aku bisa mati kalau begini.

Mengapa? Mengapa bisa begini kejadiannya?!" Desis Singa Tetua gugup.

Tidak menunggu lama dan tanpa menghiraukan keadaan disekelilingnya. Singa Tetua cepat mengambil sikap duduk bersila.

Dua tangan dirangkapkan ke depan dada, dua mata dipejam rapat. Perlahan dia mulai mengatur nafas.

Selanjutnya laki laki ini menghimpun hawa sakti dan segera mengalirkannya ke bagian dada dan perut yang mengalami guncangan hebat. Tak jauh di depan Singa Tetua, Kelut Birawa yang juga menderita cidera cukup parah akibat bentrok pukulan dengan lawan, secara perlahan mengerahkan hawa murni guna menyembuhkan luka dibagian dadanya.

Dan kakek ini tidak juga beranjak bangkit dari tempatnya terjatuh. Dia sengaja terus berbaring untuk mempercepat proses penyembuhan.

Melihat sahabatnya tak kunjung bangkit. Dadu Sirah Ayu yang hanya mengalami luka ringan dan menderita lecet dibagian bahu akibat guncangan ledakan tentu menjadi sangat khawatir.

Menyangka sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi pada sahabatnya Dadu Sirah Ayu dengan cemas selayaknya bocah lugu bergegas menghampiri.

"Kek...bangunlah kek. Jangan tinggalkan saya sendiri kek. Jangan mati kek, aku takut!"

Pekik gadis itu sambil bersimpuh sekaligus mengguncang bahu Kelut Birawa berulang kali .Ketika melihat si kakek tidak bergerak dan sepertinya juga tidak bernafas.

Tak dapat dibendung lagi tangis gadis jelita yang mempunyai banyak kelebihan namun menjadi penyebab malapetaka bagi dirinyapun meledak. Kelut Birawa merasa iba, Namun dia sedang dalam proses pemulihan diri secara cepat tak ingin upayanya untuk memulihkan diri terganggu.

Itulah sebabnya dia memilih diam selayaknya orang mati.

"Jangan mati kek.Aku tidak mau kau tinggalkan sendirian. Di dunia ini banyak orang jahat. Kek bangun kek...hu....hu...hu..."

Kata si gadis semakin tersedu.

"Gadis cantik! Mengapa harus bersedih hati ditinggal mampus tua bangka seperti dia. Walau aku sangat marah karena tindakanmu yang menyerangku secara diam-diam. Namun aku memaafkanmu.Biarkan dia mati menghadap diraja akherat. Kau bisa hidup bersamaku. Aku dapat menggantikan tua bangka itu sebagai pelindungmu. Yang terpenting sewaktu-waktu kau mau menyerahkan sebagian darahmu agar aku bisa hidup abadi."

"Atau bila aku menghendaki, kau juga harus rela menyerahkan kesucianmu padaku .Dengan begitu aku bisa menghilang dan tetap awet muda.Ha ha ha...!"

Kata satu suara disertai tawa tergelak bergema.

Mendengar ucapan serta tawa orang di tengah keheningan lembah yang dingin dan dalam suasana malam pula.

Sebagai gadis yang jalan pikirannya tak berbeda dengan seorang bocah tentu membuat Dadu Sirah Ayu menjadi ketakutan.

Walau begitu dia cepat seka kedua pipinya yang bersimbah air mata.

Selanjutnya dia bangkit berdiri dan arahkan perhatian ke tempat dari mana Suara berasal .Begitu dia mengetahui siapa yang baru saja bicara Dadu Sirah Ayu terperangah.

Tanpa sadar dia bersurut langkah sejauh dua tindak ke belakang Dengan wajah pucat, mata terbelalak seolah tak percaya dengan pandangan matanya sendiri, sekali lagi gadis ini pandang ke depan.

"Arwah Kaki Kuda. Bagaimana mungkin? Bukankah seharusnya kau sudah mati terbakar?"

Desisnya heran. Di depan sana sosok yang bergerak mendekati yang bukan lain memang Arwah kaki Kuda hentikan langkah sekaligus sunggingkan seringai mengejek.

Sirah Ayu kembali memperhatikan untuk lebih meyakinkan diri.

Diapun menyadari orang di depan sana memang adalah Arwah Kaki Kuda.

Tapi kini keadaan dan penampilan Arwah Kaki Kuda lebih angker, lebih menyeramkan dari sebelumnya.

Sekujur tubuh laki-laki itu dalam keadaan tidak karuan.

Seluruh pakaiannya lenyap terbakar. Satu-satunya pakaian yang melindungi tubuhnya hanya selembar celana pendek dipenuhi lubang pelindung aurat.

Dua tangannya mulai dari lengan hingga kebagian jari mengelupas memperlihatkan daging kemerahan.

Sedangkan bagian dada dan punggung melepuh, wajah hangus, bibir melepuh jontor. Membuat penampilannya makin tidak sedap dipandang.

"Mahluk menjijikan!"

Kata Dadu Sirah Ayu dengan suara mendengus.

"Lebih baik aku mati dari pada menuruti semua keinginan busukmu!"

Arwah Kaki Kuda tertawa. Sambil mengumbar tawa sumbang dia melirik ke arah saudara tuanya yang duduk menjelepok dengan sikap selayaknya orang yang bersemedi. "Singa Tetua. Aku tahu kau tidak sampai menemui nasib celaka.Mengapa terus bersimpuh disitu?

Ketahuilah kalau kau tidak segera bergabung denganku, aku akan membawa gadis ini untuk kepentinganku sendiri. Kelak kau akan mendapatkan sisanya jika aku bermurah hati." ujar laki-laki itu dingin.

Singa Tetua yang hampir pulih dari derita luka dalam buka matanya yang terpejam. Dari mulut meluncur pertanyaan.

"Keadaanmu tak karuan rupa saudaraku. Tapi aku tahu siapa kita. Lalu bagaimana kakek yang menjadi pelindung gadis istimewa itu?!"

"Dia sudah mampus. Tak ada lagi yang perlu dirisaukan!" Ujar Arwah Kaki Kuda.

"Walah rejeki besar peruntungan bagus!"

Seru Singa Tetua sambil bangkit berdiri. Sekali bergerak tahu-tahu dia telah berada di belakang Dadu Sirah Ayu. Merasa terancam gadis ini tambah dicekam ketakutan.

"Kek...bangun kek..." serunya dengan suara bergetar

"Orang mati mana mungkin bisa bangun lagi gadis cantik. Mengapa kau bersedih. Masih ada kami yang bisa menemanimu. Kita bisa bersenang- senang menuju sorga dunia. Ha ha ha!"

Kata Singa Tetua sambil julurkan lidah basahi bibir. "Apa maksudmu, aku tidak mengerti!"

Kata Dadu Sirah Ayu

"Oh kasihan sekali.Selama dirimu dijadikan patung oleh kakek gendut itu.:Ternyata hanya tubuhmu saja yang bertumbuh dan berkembang menjadi elok menawan seperti ini.Sedangkan otakmu tak mengalami pertumbuhan hingga menjadikan jalan pikiranmu tetap seperti bocah kecil.Tapi tidak mengapa, kami bisa mengajarimu bagaimana caranya menggapai sorga dunia.Ha ha ha!"

Kata Arwah Kaki Kuda pula.

"Orang-orang jahat dan gila. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kalian bicarakan!" Sentak Dadu Sirah Ayu makin bertambah takut.

"Ah, kita dikatai gila dan jahat, saudara tuaku..."

"ala Sabar. Tak usah marah. Namanya juga gadis berpikiran bocah. Sekarang lebih baik kita ringkus dia!"

Seru Singa Tetua bersemangat.

"Kau benar. Malam-malam dingin begini kita perlu kehangatan!"

Menyahuti Arwah Kaki Kuda. Kemudian seakan berlomba kedua orang saling bersirebut mendahului.

Arwah Kaki Kuda menyergap dari arah depan. Sedangkan Singa Tetua bergerak dari belakang. Melihat dirinya berada dalam ancaman, Dadu Sirah Ayu cepat Jatuhkan diri diatas dada Kelut Birawa. Tak menyangka gadis yang menjadi incaran bakal menghindar.

Tanpa dapat dicegah lagi kedua orang ini pun saling bertubrukan .Sementara kedua bersaudara itu sama terhuyung dan melangkah mundur ke belakang sambil pegangi benjolan akibat tubrukan di kepala masing-masing.

Kelut Birawa yang merasa ditindih segera bangkit.

"Walah kasihan sekali dirimu, sahabatku. Tapi kau tak perlu cemas. Aku belum mati. Aku baru saja menyembuhkan luka di dalam akibat benturan!"

Ucap si kakek. Dadu Sirah Ayu terperangah sekaligus merasa girang melihat kakek yang menjadi pelindungnya ternyata masih hidup

"Kek... jadi kau tidak mati, Oh, aku sangat gembira sekali!"

Seru si gadis lalu tanpa canggung lagi segera memeluk dan merangkul Kelut Birawa. "Tidak. Aku tidak mati kalau hanya diserang dengan ilmu rongsokan."

Menyahuti Kelut Birawa sambil balas memeluk dan mengusap punggung Dadu Sirah Ayu.

Melihat kedua orang itu saling berpelukan. Arwah Kaki Kuda menjadi marah kalau tidak dapat dikatakan iri. Demikian juga halnya dengan Singa Tetua.

Malah laki-laki bertubuh gempal ini menggerutu.

"Sialan! Gadis cantik calon korban kita tidak disangka lebih suka memeluk tua bangka itu dari pada bersenang-senang dengan kita."

"Jangan cuma bisa menggerutu. Mari kita ringkus mereka?!" Timpal Arwah Kaki Kuda.

Belum lagi keduanya sempat mengambil tindakan.

Tiba-tiba semua orang yang berada di tengah lembah dikejutkan oleh terdengarnya suara bergemuruh suara langkah kaki kuda.

Kelut Birawa dan Dadu Sirah Ayu saling melepas rangkulan, sama menjauhkan diri dan cepat berdiri.

Sementara Singa Tetua dan saudaranya saling pandang namun hampir bersamaan segera palingkan kepala menatap ke arah datangnya suara.

"Suara langkah kuda berlari cepat. Dipacu ditengah malam buta? Seumur hidup kita menetap di sini. Rasanya kita belum pernah kedatangan tamu malam-malam begini dan menunggang kuda pula."

Desis Arwah Kaki Kuda dengan suara tercekat.

*****

Sementara itu pada kesempatan berbeda di kawasan Alas Sindang Pantangan.

Perkelahian yang terjadi antara Sang Maha Sakti Raja Gendeng dengan Si Jubah Sakti ternyata telah mencapai puncaknya.

Sadar Jubah Api yang menyerang Orang Mati dari Makam Setan gagal menghabisi lawannya. Apalagi lawan berhasil lolos dengan mengamblaskan diri masuk ke dalam tanah maka murka si

Jubah Sakti semakin menjadi.

Sebagai pelampiasan segala kemarahan atas kegagalan si Jubah Api dan temannya dalam membunuh Orang Mati, kini segenap kemarahan dia tumpahkan pada Raja.

Dengan segenap ilmu serta kesaktian yang dia miliki perempuan berjubah sakti ini mencecar lawan dengan jurus-jurus ganas yang berbahaya.

Mendapat gempuran hebat yang berlangsung sangat cepat, pemuda ini segera menggunakan jurus-jurus warisan Ki Panaraan Jagad Biru dan Nini Balang Kudu .Tidaklah heran walaupun si Jubah Sakti terus mencecar dan berusaha merobohkan Raja dengan pukulan, tendangan serta kebutan jubahnya yang dapat memancarkan cahaya panas dan deru angin dingin, tetap saja tidak mengenai sasaran karena Raja selalu dapat menghindarinya.

Melihat kenyataan ini si Jubah Sakti dengan segenap rasa penasaran segera berjumpalitan ke udara.

Disaat tubuhnya melambung, kakinya menderu membabat ke bagian kepala Raja. Sambaran angin dahsyat akibat tendangan menderu melabrak kepala sang pendekar. Pemuda ini berkelit sambil miringkan kepala ke kiri.

Hampir bersamaan dengan gerakan menghindar, dua tangan diangkat.

Lalu dengan menggunakan jurus Cakar Sakti Rajawali tangan itu diangsurkan ke depan menyambut tendangan lawan.

Melihat lawan berusaha mematahkan tendangannya si Jubah Sakti bukannya menarik balik serangan.

Sebaliknya dia melipat gandakan tenaga dalam dan menyalurkannya ke bagian kaki. Duuk!

Benturan keras terjadi.

Raja terhuyung, tangan yang dipergunakan untuk menangkis nampak menggembung bengkak sekaligus terasa sakit bukan main.

Tapi jahilnya pemuda ini.

Walau tangan menderita cidera, namun dia sempat susupkan tangan kiri ke arah pinggul dan melakukan usapan di sana.

Usapan itu bukanlah usapan biasa atau bermaksud mesum. Diam-diam Raja melakukan totokan dipinggul lawan.

Sehingga ketika benturan terjadi.

Si Jubah Sakti yang sempat terguncang dan meluncur ke tanah tidak sempat jejakkan kaki dengan tepat begitu menjejak tanah.

Perempuan berjubah itu terjatuh dengan tubuh miring.

Celakanya ketika hendak bangkit berdiri dia merasakan kedua kaki hingga ke pinggulnya terasa kaku tak dapat digerakkan.

"Keparat kurang ajar! Dia telah menotokku dengan usapan." maki si Jubah Sakti. Dengan mata mendelik dia menatap ke arah temannya si Jubah Api.

Melihat sang teman hanya berdiri diam tercengang, si Jubah Sakti mendamprat. "Mengapa kau hanya berdiam diri di situ? Cepat habisi gondrong kurang ajar itu!"

Teriaknya. Walau merasa kesal dibentak, namun si Jubah Api segera melompat maju. Belum sempat dia melakukan tindakan apa-apa, Sang pendekar sambil tertawa-tawa berucap.

"Kau hendak maju menggantikan temanmu. Apakah kau juga merasa iri dan ingin kuusap?

Percayalah usapanku yang kedua bisa membuatmu lumpuh seumur hidup. Lebih celaka lagi usapanku juga bisa membuat pusaka keramatmu ikutan menjadi lumpuh, layu tidak berguna. Ha ha ha!"

Kata-kata Raja yang merupakan gertakan belaka.

Tetapi ternyata kata-kata itu mempengaruhi si Jubah Api.

Dia sempat tertegun, mata terbelalak dan tanpa sadar meraba bagian bawah perutnya.

Melihat si Jubah Api berubah cemas, temannya yang sedang berusaha keras membebaskan diri dari penganuh totokan pun membentak.

"Jangan takut! Dia tidak mungkin bisa melakukan sejauh itu!" "Kau benar. Dia hanya menakut-nakuti aku!"

Sahut si Jubah Api sambil berusaha melenyapkan segenap kebimbangan di hati. Setelah berkata begitu si Jubah Api segera silangkan kedua tangannya ke depan dada. Dan nampaknya sebagaimana yang dia lakukan pada Orang Mati dari Makam Setan.

Dia juga ingin menyerang Sang Maha Sakti Raja Gendeng dengan serangan yang mematikan. "Manusia tolol nekat!"

Gerutu Raja sambil diam-diam salurkan hawa sakti ke bagian kaki dan tangannya.

Belum lagi kedua orang ini saling serang. Tiba tiba saja terdengar suara bergemuruh disertai suara seseorang yang melontarkan sumpah serapah.

"Anak-anak tolol. Tidak becus dalam melakukan tugas dan mengecewakan ketika diberi amanat!

Lebih baik kalian berdua pulang. Jangan layani pemuda gila yang satu itu." Lalu suara gemuruh tambah menjadi.

Raja terkejut.

Namun segera pentang matanya memandang ke satu jurusan di mana suara berasal. Belum sempat d ­a mengetahui siapa yang mendamprat dan siapa yang datang.

Tiba-tiba dari balik pucuk pepohonan tinggi terlihat satu bayangan serba biru berkelebat ke arah si Jubah Sakti dan Jubah Api.

"Perlu apa kau menatapku. Kau ingin manisan dari Sindang Pantangan?"

Damprat sosok serba biru. Selagi Raja tercengang melihat kecepatan gerak yang sangat luar biasa itu.

Sang Maha Sakti terkesiap karena tiba-tiba di depannya menderu belasan senjata berupa tombak merah menyala dikobari api. Tidak ingin celaka, Sang Pendekar segera melompat ke belakang sekaligus menghantam beberapa tombak api yang siap menghujani tubuhnya.

Angin dahsyat bergulung-gulung melesat dari telapak tangan Raja.

Kemudian gelombang angin yang menggemuruh laksana badai bercampur es melabrak tombak-tombak itu.

Brak! Prak! Prak!

Semua tombak berpentalan di udara, berderak hancur menjadi kepingan yang mengepulkan asap kebiruan.

Dalam waktu sekejap kepingan tombak rontok berjatuhan di tanah dan batu hingga menimbulkan suara denting memekakkan telinga.

Ketika kepulan asap lenyap.

Sang Maha Sakti Raja Gendeng segera menatap kejurusan di mana kedua lawan berada. Sementara itu mulut berkata.

"Kalau saja tidak segera mengambil tindakan. Aku bisa mati konyol ditembus tombak api."

Ucapan Raja lenyap, matanya terbelalak ketika sadar kedua lawan ternyata telah menghilang dari hadapannya.

"Siapa sosok berpakaian biru itu? Apakah dia orangnya yang bernama Gusti Ratu? Ratu apa? Pasti dia yang membawa pergi Jubah Sakti dan Jubah Api." membatin pemuda itu penasaran.

Dia lalu berpikir mengapa sosok serba biru datang menjemput kedua orang berjubah. Belum lagi sang pendekar menemukan jawabannya. Sayup-sayup dikejauhan dia mendengar suara orang berkata.

"Pemuda Gondrong berpedang. Jangan merasa diri berada di atas angin. Kepandaianmu baru seupil. Dan kau harus bertanggung jawab atas semua tindakanmu."

Terdorong rasa penasaran Raja menyahuti dengan berteriak.

"Mungkin kepandaian yang kau miliki jauh lebih hebat. Aku tidak peduli. Memangnya perbuatan apa yang harus kupertanggung Jawabkan?"

"Apakah kau tidak sadar telah membunuh Ayudra bayu dan Ayudra Tirta? Tindakanmu itu telah memancing kemarahan gurunya. Kini kau menjadi orang yang paling dicari oleh Penghuni Perahu Setan!" "Apa? Perahu Edan?"

"Kau berlagak tuli, kau pura-pura tidak mendengar. Apa kau mengira aku sedang melucu?"

Sahut suara itu dan Raja dapat merasakan pemilik suara ternyata semakin menjauh

"Aku tidak tahu siapa kau. Katakan padaku siapa penghuni perahu setan? Apakah dia manusia ataukah setan sungguhan?"

Tanya Raja. Tidak ada jawaban. Sang pendekar terdiam sejenak, lalu berkata.

"Siapapun dia kenapa harus takut kepada penghuni Perahu Setan. Karena aku yang membunuh manusia kembar kaki tangan Gagak Anabrang, Jadi akulah yang bertanggung jawab. Perlu apa dia takut?"

Kemudian ingatan Raja malah tertuju pada Kabut Hitam yang telah banyak membantunya. "Aku belum sempat mengucapkan terima kasih pada gadis malang itu. Lebih baik kucari dia

sekaligus mencari tahu tempat kediaman Gagak Anabrang."

Setelah berkata begitu Raja balikan langkah dan bermaksud tinggalkan tempat itu.

Tapi begitu berbalik alangkah kaget hati sang pendekar ketika melihat tak jauh di depannya berdiri tegak laki-laki berpakaian serba merah bertopi mirip pocongan orang mati.

"Kau? Kau pergi seperti pengecut lalu muncul kembali setelah musuh melangkah pergi?"

Sentak Raja sinis. si baju merah bertopi aneh menyeringai sambil mengusapi wajahnya yang pucat tak bersemangat. Setelah sempat menjura dia berkata.

"Aku bukan pengecut. Orang Mati mana mungkin takut pada yang masih hidup. Aku memang sengaja menghindar tak ingin melayani si Jubah Api. Karena maksud kedatanganku ke tempat ini ingin bertemu dengan Gusti Ratu. Jadi jika aku membuat celaka pengikut Gusti Ratu, besar kemungkinan gusti Ratu menjadi murka. Lalu apa jadinya bila tidak mau memberi penjelasan penting yang aku butuhkan?"

"Memangnya kedua orang berjubah itu pengikut Gusti Ratu?"

"Aku tidak yakin benar, tapi aku menduga demikian. Itulah sebabnya aku bermaksud menemuinya!"

"Apakah kau tahu dimana keberadaan orang yang kau cari itu?"

Tanya Raja. Pemuda ini lalu teringat dengan kehadiran sosok berpakaian serba biru. "Mungkin saja orang yang kau cari adalah sosok serba biru yang muncul di tempat ini, lalu

membawa pergi kedua orang berjubah itu?!"

"Aku tidak tahu dimana keberadaannya. Tapi aku yakin orang yang kau sebutkan bisa saja memang dia yang kucari. Namun aku juga tidak dapat memastikan."

Jawab si Orang Mati dari Makam Setan.

"Terserah. Apapun yang hendak kau lakukan aku tidak perduli. Aku sendiri masih banyak kepentingan! Selamat tinggal!" Dengus Raja kesal.

"Sahabat tunggu! Memangnya kau hendak kemana?!"

"Aku bukan sahabatmu. Orang hidup mana mungkin bersahabat dengan orang kuburan. Lagi pula aku hendak pergi kemana perduli apa?"

"Ah tak kusangka orang aneh sepertimu bisa juga marah. Tapi sebelum pergi aku merasa perlu mengingatkanmu bahwa saat ini ada seseorang yang sangat ingin membunuhmu. Ha ha ha!" kata Orang mati sambil berkelebat pergi

"Siapa pun orangnya yang menghendaki nyawaku. Perlu apa aku takutkan?!" Gumam raja lalu tinggalkan tempat itu.

******

Kembali ke Lembah Batu Gamping Ketika Kelut Birawa dan Dadu Sirah Ayu saling pandang dan mulai menduga-duga siapa gerangan penunggang kuda yang memasuki lembah.

Saat itu Arwah Kaki Kuda dan Singa Tetua merasa cemas

"Kukira ini pertanda yang tidak baik!" berkata Singa Tetua dengan suara tercekat ditenggorokkan.

"Kita harus merampas dan membawa pergi gadis itu secepatnya!" Menyahuti Arwah Kaki Kuda dengan suara berbisik.

Singa Tetua anggukkan kepala tanda setuju.

Namun baru saja dia hendak melangkah menghampiri gadis itu. Tiba-tiba terdengar suara bentakan menggeledek.

"Jangan ada seorang pun yang berani bergerak dari tempatnya!" Suara bentakan menggelegar lenyap.

Tahu-tahu dihadapan mereka telah berdiri tegak seekor kuda berbulu merah. Anehnya mata kuda dalam keadaan tertutup selembar kain hitam.

Sedangkan di atas punggung kuda duduk seorang laki-laki berpakaian hitam berambut putih disebelah kanan dan hitam di sebelah kiri.

Begitu hadir di depan orang-orang itu si penunggang kuda layangkan pandang ke arah semua orang yang berada di depannya.

Sementara melihat kehadiran orang yang tidak dikenalnya itu .Arwah Kaki Kuda melangkah maju sekaligus ajukan pertanyaan.

"Orang berkuda yang menyembunyikan wajah di balik topeng. Siapa dirimu adanya? Mengapa kau datang kemari? Apakah hendak mengacaukan rencana kami?"

Wajah di balik topeng menyeringai. Tatap matanya tertuju lurus ke arah orang yang bertanya.

Setelah itu diapun menjawab. "Orang sakit datang menunggang kuda Kroya yang sakit pula. Menatap ke langit. Langit dipenuhi lautan awan amarah. Menatap bumi, bumi bersimbah darah dan kebusukan manusia. Menatap ke dada yang ada hanyalah angkara murka. Kedatanganku membawa segunung murka. Di belakangku neraka mengikuti. Melihat ke depan jiwaku dipenuhi keinginan membunuh terhadap manusia seperti kalian berdua!"

Kata si penunggang kuda ditujukan pada Arwah Kaki Kuda dan saudara tuanya. "Kk.. kau... bukankah kau orangnya yang biasa disebut si Raja Pedang?!" Desis Singa Tetua dan Arwah Kaki Kuda dengan wajah pucat.

Rupanya keduanya sudah sering mendengar sepak terjang Raja Pedang yang ganas. Penunggang Kuda yang memang si Raja Pedang adanya menyeringai.

Namun dengan tidak perduli.

Kini perhatiannya tertuju pada Kelut Birawa dan Dadu Sirah Ayu. Kepada kedua orang ini dia berkata.

"Mungkin kau dan gadis yang bersamaku tak mengenal diriku, namun aku mengenal siapa kalian. Aku memberi ijin pada kalian untuk meninggalkan tempat ini dan meneruskan perjalanan. Tapi ingat, kelak bila aku membutuhkan gadis yang berada dalam perlindunganmu itu. Kuharap kau mau menyerahkannya padaku dengan sukarela!"

Tegas Raja Pedang. Walau penunggang kuda itu terang-terangan ada dipihaknya. Namun ucapan terakhir yang dilontarkan Raja Pedang membuat Kelut Birawa jadi penasaran.

"Apa maksud ucapanmu?"

"Orang tua bernama Kelut Birawa berjuluk Setan Racun Merah. Saat ini tidak ada lagi pembicaraan diantara kita. Lekas pergi dan bawa gadis itu dari sini sebelum aku berubah pikiran!" pekik Raja Pedang.

Si kakek tertegun. Dia tidak hanya tersinggung tapi juga menjadi marah. Namun mengingat urusan yang dia hadapi menyangkut keselamatan Sirah Ayu lebih penting.

Terlebih menyadari siapa adanya Raja Pedang. Kemudian tanpa menoleh lagi Kelut Birawa bergegas tinggalkan tempat itu. Melihat Dadu Sirah Ayu pergi bersama si kakek, Arwah Kaki Kuda tentu saja tidak dapat menerima. Dia berteriak ditujukan pada saudara tuanya.

"Buruan kita lolos mengapa kau diam saja! Cepat ambil tindakan. Jangan takut pada manusia pembunuh yang satu itu!"

"Baik! Aku akan mengejar mereka!" Teriak Singa Tetua.

Baru saja laki-laki itu balikan badan siap menyusul Kelut Birawa, Tiba-tiba di belakangnya terdengar suara ringkik kuda dan desing senjata yang dicabut dari rangkanya.

Lalu kuda berlari bergemuruh. Seiring dengan itu terdengar teriakan Arwah Kaki Kuda member peringatan "Singa Tetua Awas!"

Cras!

Sia-sia Arwah Kaki Kuda memberi ingat.

Kejadian yang sangat mengerikan itu berlangsung tak sampai sekedipan mata.

Tahu-tahu pedang berwarna hitam di tangan Raja Pedang berkelebat menderu menghantam bahu hingga terbelah tembus ke bagian perut.

Singa Tetua tak kuasa menjerit.

Banyak darah menyembur dari luka menganga mengerikan.

Tak lama kemudian tubuhnya ambruk menggelepar di tanah dan tak berkutik lagi.

Melihat saudaranya tewas dengan cara mengerikan Arwah Kaki Kuda murka bukan kepalang.

Dia pun segera melesat ke arah Raja Pedang lalu lepaskan pukulan jarak jauh tiga kali berturut-turut.

"Membokong bukan berarti bisa menang!" Seru Raja Pedang.

Lalu tanpa menoleh juga tanpa memutar arah kudanya pedang dikibaskan ke belakang menangkis serangan lawan.

Tam! Tam! Tam!

Terdengar dentuman menggelegar tiga kali berturut-turut. Semua serangan ganas Arwah Kaki Kuda dapat dihancurkan.

Melihat pukulannya gagal mengenai lawan. Arwah Kaki Kuda bertindak nekat. Dengan menggunakan dua tangan yang telah teraliri tenaga dalam tinggi dia melabrak.

Tangan menderu mencari sasaran di bagian punggung dan batok kepala. Namun laksana kilat Raja Pedang balikkan arah kuda.

Lalu pedang dia kibaskan ke depan. Set!

Cres!

Arwah Kaki Kuda terkejut melihat kecepatan gerak Raja Pedang yang luar biasa. Dia berusaha menghindar dari tusukan pedang.

Namun belum sempat laki-laki ini melakukan niatnya, ujung pedang telah menembus perutnya. Arwah Kaki Kuda menjerit keras, mata mendelik mulut semburkan darah, Dan ketika Raja Pedang hentakan tangannya ke belakang, lawan jatuh bergedebukan di tanah lalu tewas menemul ajal.

Sambil menatap dingin ke arah lawan, Raja Pedang masukkan kembali Pedang Sakti Penggebah Nyawa ke dalam rangkanya.

Setelah itu tanpa menoleh lagi dia memacu kudanya tinggalkan lembah. Tak lama kemudian seperginya Raja Pedang.

Dari sebelah selatan lembah tiba-tiba muncul benda aneh mirip perahu.

Yang mengherankan benda besar berwarna merah dengan tiang-tiang tinggi berbendera merah itu bukannya berjalan di atas air melainkan meluncur mengapung di atas ketinggian .Selagi benda aneh berbentuk perahu itu meluncur di atas ketinggian, dari dalam perahu terdengar ada suara orang berkata.

"Pembunuh berkuda memang hebat. Kecepatannya dalam menggunakan senjata tak tertandingi. Namun setiap insan harus sadar. Di atas langit masih ada langit. Dan orang yang mati bukan tidak berguna lagi!"

Suara serak aneh dingin dan menyeramkan dari dalam perahu diketinggian udara lenyap.

Lalu tiba-tiba ada dua tali berwarna merah meluncur deras kebawah tepat dimana Arwah Kaki Kuda dan Singa Tetua tergeletak.

Laksana kepala seekor ular. Begitu sampai ditempat yang dituju kedua ujung tali lalu meliuk dan melibat jasad tidak bernyawa kedua saudara itu.

Ketika dua tali disentakkan ke atas.

Kedua jenazah langsung terangkat naik lalu masuk kedalam perahu hilang lenyap dari pandangan.

Perahu yang sempat mengapung diam diketinggian bergerak lagi. Sebelum perahu menghilang dari lembah.

Sayup-sayup terdengar suara orang dalam perahu.

"Yang menjadi kesayangan telah dibunuh orang. Kematian bagi si pembunuh sudahlah pasti sebagai ganjaran. Yang mati bukan tidak bermanfaat. Untuk menggantikan yang disayangi. Apa salahnya mayat diangkat menjadi murid yang berguna? Sialan-sialan. Di mana pembunuh itu?!"

Penghuni perahu menutup ucapan dengan gerutuan dan Tanya. 

Tamat