-->

Raja Gendeng Eps 11 : Mutiara Pembunuh

 
Eps : 11 Mutiara Pembunuh


Serbuan mahluk-mahluk pembunuh yang terdiri dari kawanan Bocah Bocah Iblis, Lebah Kepala Hati Berbunga dan Lebah Pembunuh membuat para perwira dan perajurit menemui ajal, baik yang bertahan di luar maupun di atas benteng istana.

Yang lebih mengerikan adalah serangan Lebah Pembunuh menjadikan ratusan perajurit tewas dengan tubuh meleleh hingga ke tulang-tulangnya.

Sedangkan serbuan Bocah Bocah Iblis itu membuat perajurit dan perwira yang tewas menjadi santapan lezat bagi bocah bocah yang haus darah itu.

Malam semakin larut.

Di dalam istana dan sekelilingnya pertempuran masih berkecamuk. Rangga Wulung Utama kakek bertubuh pendek berambut panjang berpakaian kuning emas yang baru menggantikan senopati Tubagus Aria Kusuma tampaknya tidak dapat menutupi kecemasannya.

Dia merasa khawatir akan keselamatan gusti Prabu dan seluruh keluarganya walau tangan kanannya hangus akibat serangan dari Mata Tunggal alias si Setan.

Seperti dikisahkan dalam episode sebelumnya, Mata Setan diutus oleh diraja kegelapan yang menetap di tahta Sitaloka untuk membantu Pangeran Durjana yaitu Pangeran Sesat yang bangkit dari kematian setelah seribu tahun mayatnya terkubur di lautan.

Saat pertempuran mulai berkecamuk banyak pengikut pangeran Durjana yang terdesak oleh hujan panah api dan perangkap jaring berperekat maka dia memerintahkan Mata Setan untuk menghancurkan pasukan yang masih bertahan di tembok benteng istana dan membunuh senopati kerajaan Rangga Wulung Utama yang dianggapnya cukup cerdik.

Serangan yang dilakukan oleh Mata Setan dari kedipan matanya yang memancarkan cahaya panas luar biasa itu memang nyaris merenggut nyawa Rangga Wulung Utama.

Beruntunglah Sang Maha Sakti Raja Gendeng muncul bersama dengan seekor kuda hitam bernama Angin Ribut, membantu senopati dari serangan Mata Setan yang ganas. Mata Setan dapat dihalau Raja, tetapi pemuda itu sendiri kemudian berlari cepat menuju ke atap istana meninggalkan si kakek. Si kakek yang semula jatuh dari atas pohon segera bangkit dan naik ke atas benteng.

Dia layangkan pandangannya ke bagian belakang istana dan halaman depan istana.

Saat itu di bagian belakang istana sedang terjadi pertempuran sengit antara Jatulaka yang dikenal dengan sebutan Maung Berem dengan bantuan beberapa perajurit serta perwira utama melawan kawanan Lebah Pembunuh dan Bocah Bocah Iblis.

Jatulaka yang ditugaskan menjaga taman Kaputren berusaha menghalau serangan Lebah Pembunuh dengan api obor.

Tetapi dia mendapat kesulitan karena juga mendapat serangan Bocah Bocah Iblis yang jauh lebih ganas dari lebah-lebah itu.

Di tengah suara jerit menyayat dari korbankorban yang berjatuhan, Jatulaka terpaksa pergunakan pedangnya untuk menghadapi serbuan bocah-bocah iblis.

Celakanya.

Tidak seperti kawanan lebah yang mudah terjatuh bila tersambar api. Sebaliknya para bocah itu ternyata sangat gesit menghindari serangan.

Anehnya ketika senjata di tangan Jatulaka dan senjata perwira yang mendampingi kakek berkulit loreng kemerahan ini mengenai tubuh para bocah, sedikitpun tak dapat melukai mereka. Jatulaka terdesak. Belasan perajurit lagi-lagi menjadi korban.

Para perajurit yang tewas dikeroyok menjadi santapan mahluk-mahluk iblis berujut bocah tersebut.

Dengan sekuat tenaga Jatulaka mengayunkan pedang dan mengibaskan obor kearah lebah dan kawanan bocah, Tapi segala serangan gencar yang dilakukannya tak banyak berarti.

Satu dua ekor lebah terbunuh akibat tersambar obor di tangan, namun yang lainnya masih bebas lancarkan serangan.

Jatulaka terhuyung ketika salah satu lebah berhasil menyusup dan menyengat keningnya.

Sengatan itu cepat menjalar ke seluruh tubuh membuat Jatulaka menggigil, sementara tubuh di sebelah dalam serasa panas menggelegak.

Melihat kejadian ini, Senopati turun tangan memberi bantuan.

Namun pada waktu bersamaan terdengar suara jeritan menyayat di depan istana.

Karena jarak antara dirinya dengan halaman depan istana lebih dekat dibandingkan bagian belakang istana maka dia bisa menyaksikan apa yang terjadi di halaman depan itu.

Ternyata keadaan di depan istana jauh lebih tragis, lebih mengenaskan dibandingkan di halaman belakang istana khususnya disekitar taman kaputren tempat kediaman dua puteri prabu.

Para perajurit, puluhan perwira mulai dari perwira utama dan perwira tinggi telah banyak yang menemui ajal. Mereka baik yang telah terluka dan yang tidak terluka bertahan mati-matian menghadapi serangan lebah dan bocah-bocah yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan di belakang istana.

Melihat kegigihan perwira dan perajuritnya dalam menghadapi serbuan mahluk-mahluk pengkut Pangeran Durjana ini, Senopati Rangga Wulung Utama menjadi sangat terharu..

Senopati ingin membantu anak buahnya yang berjuang dengan gagah berani. Namun si kakek merasa bimbang.

Mana yang harus dibantu terlebih dulu.

Apakah menolong Jatulaka dibelakang istana atau membantu para perwira di halaman depan. Selagi Senopati diliputi keraguan.

Tiba-tiba saja dia mendengar suara berkata.

"Agaknya kau terlalu tua saat diangkat menjadi senopati. Kau tak usah bingung melihat kekacawan ini senopati. Kami dua hantu kesasar walau bukan orang baik-baik akan membantumu dalam mengatasi masalah."

Senopati terkejut sekaligus menatap sekelilingnya. Dia tidak melihat siapapun di sekitar benteng tempat dimana dirinya berada.

"Siapa yang bicara?" Tanya si kakek heran.

Pertanyaan itu dilanjutkan di dalam hati.

"Suaranya seperti seorang kakek. Tapi aku mendengar suara tawa mengikik. Suara itu perlahan, namun aku yakin itu suara dua orang."

"Tak usah menduga tak perlu mencari tahu. Sudah kami bilang kami berdua cuma hantu kesasar yang ingin membantu. Sekarang sebaiknya kau masuklah ke istana menolong gusti rajamu. Kami melihat dia terkapar disana setelah dihajar Pangeran Laknat itu."

"Dan menghadapi para lebah dan bocah tengik yang ada dihalaman." Kali ini yang menyahuti adalah suara adalah wanita.

Walau tak bisa melihat dan mengenali siapa yang bicara.

Tetapi dari cara orang berbicara, Senopati dapat menduga, siapapun kedua orang yang datang itu pastilah menyimpan dendam kesumat pada Pangeran Durjana.

Merasa ada yang hendak membantu ,senopati menjadi lega.

Namun dia masih mengkhawatirkan Jatulaka yang kini telah tersandar di tembok dengan kening menggelembung bengkak tersengat lebah.

Sementara bagian kaki nampak mengucurkan darah.

Belum lagi senopati sempat membuka mulut. Tiba-tiba dia melihat satu sosok mahluk besar berbulu hitam seukuran anak kuda dan berbulu hitam muncul dari balik tembok.

Karena jaraknya yang cukup jauh senopati tidak dapat memastikan mahluk apa gerangan yang munculkan diri dengan cara menembus tembok itu.

Namun akhirnya dia tahu mahluk apa gerangan yang hadir dekat kaputren itu setelah sang mahluk keluarkan suara raung lolong panjang menggidikkan.

Melihat kehadiran mahluk berujud dan bersuara seperti anjing itu para bocah-bocah Iblis menjadi jerih ,mereka segera berlompatan mundur menjauh dari Jatulaka yang terluka parah.

Hanya kawanan lebah saja yang masih berusaha menyerang Maung Berem atau Macan Merah. Sementara melihat gelagat mahluk berujud anjing sepertinya datang hendak memberi bantuan.

Senopati, mengusap dadanya dengan tangan kiri.

Dalam hati dia berkata.

"Hyang jagat Agung. Terima kasih atas segala bantuan dan pertolongan ini. Aku orang jelek dan pendek ini tak akan melupakannya."

"Tunggu apa lagi. Bala bantuan datang tidak terduga. Mengucap syukur pada para dewa bisa dilakukan nanti. Dan itu pun seandainya kau beruntung, bisa selamat dan nyawamu masih lekat di badan. Hik hik hik,"

Kata suara perempuan diiring tawa mengikik

"Jangan menoleh-noleh lagi. Seorang senopati harus bertindak cepat. Masih banyak yang bisa kau perbuat senopati. Kami tahu tanganmu terluka parah tapi kalau cuma tangan yang terluka kurasa itu jauh lebih baik dari nyawa."

Menimpali suara seorang kakek. Kemudian selagi senopati bangkit berdiri kembali terdengar ucapan.

"Oh Iya istriku, memangnya nyawa berada di sebelah mana ya?"

"Mana aku tahu, mungkin saja di dengkul tapi bisa saja bersembunyi di dalam batok kepala. Hi hi hi.!" "Siapa mereka. Tak terlihat tapi terus saja bicara,"

"Ucapannya melantur tak karuan. Jangan jangan mereka hanya sepasang setan gila kesasar," Gumam senopati ragu.

Walau hanya menggumam ternyata orang yang tak kelihatan ujudnya itu mendengar ucapan senopati.

Tak disangka-sangka terdengar suara mendamprat marah.

"Setan alas. Senopati kerdil sialan. Kami datang hendak membantu kau malah menuduh kami setan gila kesasar. Dasar tua bangka tak tahu membalas budi," Kata yang laki-laki.

"Kita bunuh saja. Kita cekik dia! Dia kan tidak bisa melihat kita-kita ini" Timpal yang wanita membuat senopati ketakutan.

"Ampun, maafkan aku. Aku cuma bergurau" Buru-buru senopati rangkapkan dua tangannya.

Mengingat tidak tahu pasti keberadaan orang yang bicara.

Si kakek menjura hormat di delapan penjuru

"Senopati kurang ajar. Sudah tahu perajurit dan perwiramu banyak yang mampus bahkan kau sendiri hampir celaka. Sempat-sempatnya kau bergurau!"

"Pergi sana! Temui gusti raja...." hardik suara seorang kakek. "I-iya...Maafkan aku...!"

Sahut senopati dengan terbata-bata.

Tanpa menunggu lama, orang tua itu segera balikkan badan. Walau memendam kemarahan, dimaki senopati kerdil sialan. Namun si kakek berusaha menahan kegeraman dihati.

Diam-diam sebenarnya dia berterima kasih diberi tahu tentang keadaan rajanya.

Tanpa menoleh lagi senopati akhirnya berkelebat tinggalkan benteng menuju istana dengan berlari mengambang di atas ketinggian halaman istana.

Seperginya senopati terdengar suara tawa cekikikan dibenteng yang baru ditinggalkan oleh kakek kerdil itu.

Siapakah dua orang yang tertawa tawa namun tak terlihat ujud kasarnya itu?

Kedua orang yang tidak kelihatan yang duduk sambil uncang-uncang kaki di bibir atas benteng tak lain adalah Nini Burangrang dan suaminya Aki Kolot.

Sepasang kakek nenek yang di tempat asalnya pulau Andalas dikenal dengan sebutan Sepasang Naga Pemabokan.

Seperti telah dikisahkan dalam episode sebelumnya, kakek nenek yang tengah melakukan perjalanan menuju ke kawasan timur tanah Dwipa ini pernah tertangkap dan menjadi tawanan Pangeran Durjana.

Pangeran itu lalu memanfaatkan mereka.

Pangeran memberinya tugas untuk menculik dua puteri gusti prabu Tubagus Kasatama sekaligus membuat kekacawan di istana Malingping.Untuk menjaga agar tidak menghindar dari tugas yang yang dibebankan, Pangeran Durjana diam-diam mengutus kawanan Lebah Pembunuh, mahluk paling mematikan untuk mengawasi gerak gerik mereka.

Dalam perjalanan menyadari terus menerus dikuti oleh kawanan lebah, kakek dan nenek berwajah rupawan bertubuh bagus dan berdada besar diusianya yang tidak muda lagi itu mencari siasat.

Rupanya sejak menerima tugas yang diberikan Pangeran Durjana keduanya sudah sama sepakat untuk tidak melaksanakannya.

Bagi mereka menculik dan membawa kedua puteri raja kehadapan sang pangeran bukan hal yang mudah.

Apalagi selain istana dijaga ketat mereka juga diam-diam menaruh dendam pada pangeran itu atas perlakuan yang mereka alami selama dalam penahanan di istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta.

Sadar tak mungkin bisa menuntut balas mengingat kesaktian Pangeran Durjana yang demikian tinggi.

Pasangan suami istri yang sering terlibat cekcok dan berselisih pendapat ini akhirnya menjalankan muslihatnya.

Ketika mereka sampai di tepi sebuah sungai bernama Cai Atis tak jauh dari istana Malingping keduanya dengan menggunakan ilmu sakti yang dikenal dengan nama Menahan Nafas Hentikan Denyut Jantung segera menceburkan diri ke dalam sungai.

Seharian penuh mereka mendekam di dalam dasar sungai hingga kawanan Lebah Pembunuh yang ditugaskan mengawasi kakek nenek ini menyangka mereka menemui ajal didalam sungai.

Tidak lama setelah kawanan lebah Pembunuh pergi, Aki Kolot dan istrinya muncul di permukaan

air.

Setelah mengeringkan pakaian Aki Kolot lalu mengajak Nini Burangrang untuk melanjutkan

perjalanan mereka yang sempat tertunda.

Diluar dugaan keinginan itu ditolak oleh Nini Burangrang.

Dan yang lebih membuat si kakek terkejut. Nini Burangrang mengajaknya masuk ke istana yang telah berada di depan mata untuk melihat kekacauan yang terjadi.

Aki Kolot tentu menolak, karena si kakek tahu segala kekacauan yang terjadi di istana semuanya disebabkan oleh ulah Pangeran Durjana dan para pengikutnya.

Rupamnya si kakek khawatir kehadiran mereka di istana akan menimbulkan masalah. Terlebih bila pangeran Durjana melihat kehadiran mereka.

Tetapi atas desakan dan segala ancaman Nini Burangrang yang bersumpah bakal meninggalkannya bila keinginan si nenek tidak dituruti membuat Aki Kolot Raga yang tak ingin kehilangan istri menurut juga.

Berkat ilmu ajian Panglemun Gelap Menghampar menjadikan sosok keduanya tidak terlihat penglihatan mata biasa.

Itulah sebabnya waktu kakek nenek ini bicara dengan senopati, keduanya tak dapat dilihat oleh senopati itu walau saat itu Aki Kolot dan Nini Burangrang berada tak jauh dari si kakek.

Kini setelah senopati tidak berada lagi di atas benteng Aki Kolot dan Nini Burangrang saling berpandangan.  

"Aku akan menghabisi lebah-lebah keparat yang membunuh orang tua dan anak-anak."

Berkata si nenek penuh semangat

"Aku lebih suka menggebuk bocah-bocah iblis dengan menggunakan tongkat saktiku ini."

Menyahuti Aki Kolot Raga sambil acung-acungkan tongkat ditangannya yang berwarna hitam redup.

"Bocah-bocah iblis tidak bisa dibunuh! Aku yakin matamu yang sudah belekan melihat bagaimana perwira kerajaan dan para perajurit tak dapat membunuh mereka."

Aki Kolot menyeringai, lalu mengusap kedua matanya. "Mata bagus begini dibilang belekan," gumam si kakek.

Nini Burangrang, tertawa mengikik. Si kakek bersikap acuh dan lanjutkan ucapan.

"Aku tahu bagaimana mengatasi bocah-bocah itu. Mereka punya kelemahan. Aku yakin bila tongkatku menggebuk di tempat yang tepat, mereka jadi tidak berdaya."

"Bagaimana dengan tongkatmu yang satu lagi, apakah hendak kau pergunakan untuk menggebuk juga?"

Sindir si nenek disertai lirikan penuh arti. Si Aki tersipu mendengar gurawan istrinya. Enak saja dia menjawab.

"Ah kalau tongkat yang satu itu mana mungkin dipakai sembarangan. Biar tongkat itu butut dan hampir lumutan. Kau tau sendiri tahu selama ini belum pernah terkalahkan saat bertempur denganmu. Ha ha ha!"

Wajah cantik Nini Burangrang merona merah. Hatinya berdebar jantung berdetak lebih keras.

Darah berdesir dan entah mengapa tiba-tiba keinginannya untuk berdua-dua dengan si kakek muncul

"Suamiku... oh." desis si Nini sambi geliatkan tubuh, busungkan dada. Lidah dijulur, dibasah sedangkan matanya tampak terpejam.

Melihat gelagat yang ditunjukkan si Nini. Aki Kolot segera mendamprat.

"Nenek gila. Jangan berlaku tolol bertindak gila. Aku mau-mau saja kau ajak bertarung. Tapi kalau kita berkelahi di sini. Bisa-bisa kita bakal mampus menemui ajal diserang oleh mahluk-mahluk dihalaman istana itu. Segala ganjalan dihati menyangkut urusan kita, biarlah kita selesaikan nanti saja."

Si nenek pun seolah sadar. Dia buka mata lebar-lebar sambil mengusap wajahnya yang putih tanpa polesan. Pura-pura kaget si nenek membuka mulut bertanya.

"Eh memangnya apa yang kulakukan?"

"Ah, kau sudah pikun rupanya. baru saja kau mengajakku anu-anu dan menganu..." Menyahut si kakek sambil terkekeh. "Menganu apa? Tua bangka jangan membuatku penasaran," Damprat Nina Burangrang lalu delikkan mata.

"Kau ini seperti kura-kura dalam tahu. Sudah mau tapi pura-pura malu. Lebih baik kita lakukan tugas kita. Jangan banyak bergurau yang membuat kita lupa diri. Sudah kukatakan nanti saja kita selesaikan urusan diantara kita."

"Ah sial. Mengapa nanti, padahal aku sudah tidak tahan!" Keluh si nenek tiba-tiba dekap perutnya.

"Hah apa? Tidak biasanya kau bertingkah seperti ini."

Desis si kakek, Matanya mendelik tak percaya memandang pada istrinya. Yang dipandang justru mendamprat.

"Kadal bulukan tak tahu diri. Kau pilir aku mau itu ya? Saat ini aku mau buang hajat kecil, aku mau kencing tahu!"

Karuan saja jawaban si nenek membuat Aki Kolot tak kuasa menahan geli.

"Oalah, mau kencing saja menggeliat seperti cacing sekarat. Ingin kencing ya kencing saja. Kau punya ilmu berlari Mengapung di Ketinggian. Sudah kau guyur saja orang-orang yang berkelahi dihalaman itu. Siapa tahu ada yang tidak kebal dengan curahan air kencingmu."

"Dasar kakek sial. Kau mau membuat aku malu luar dalam. Kalau mereka melihat ke atas bagaimana?"

"Ah iya. Kalau mereka melihat ke atas mereka melihat pemandangan gratis. Mereka untung aku yang rugi. Sudah kencing saja di situ!"

Kata si kakek.Tak menunggu lama si nenek segera berdiri.

Kain yang membalut tubuh di sebelah bawah dia singsingkan hingga ke atas lutut. Aki Kolot melihat betis dan sebagian paha yang putih mulus itu.

Merasa diperhatikan Nini Burangrang memaki.

"Tua bangka edan. Tak bosan-bosannya kau melihatku?" Belum lagi sempat si kakek menjawab.

Seer!

Nini Burangrang pancarkan air kencing.

Hajat kecil yang menebarkan bau pesing luar biasa itu muncrat mancur kemana-mana.

Sebagian diantaranya berhamburan ke bawah mengenai perwira dan para bocah juga lebah-lebah pembunuh.

Beberapa perwira dibuat terkejut.

Mereka mengira saat itu sedang terjadi hujan gerimis.Tapi ketika percikan air yang mengenai pakaian mereka di endus yang tercium malah bau pesing menyengat.

Penasaran beberapa orang memandang ke atas tetapi tidak melihat kakek dan nenek itu. Salah satu diantara perwira berkata.

"Jangan hiraukan. Mungkin saja dewa yang sedang kencing!"

Karuan ucapan perwira membuat Nini Burangrang dan suaminya tak dapat menahan geli. Tapi walau keduanya tertawa bergelak orang-orang itu tak dapat mendengar tawa mereka.

Sementara keyakinan para perwira dan puluhan perajurit tentang kehadiran dewa yang sedang buang hajat kedil makin menjadi begitu mereka melihat guyuran air kencing yang mengenai Bocah-bocah dan kawanan Lebah ternyata menbuat para bocah meraung, tubuh mengepul menebarkan asap lalu meledak menjadi kepingan asap.

Sementara yang terjadi pada kawanan lebah kurang lebih hampir sama.

Lebah Lebah yang terkena percikan air kencing langsung berjatuhan dengan tubuh mengepulkan asap hitam melejang-lejang, mengelepar lalu tewas menjadi serpihan bubuk.

Kejadian yang tidak terduga itu membuat heran perwira di halaman.

Sementara Aki Kolot dan Nini Burangrang jadi saling pandang

"Istriku ternyata air kencingmu sangat manjur. Tak kusangka mahluk-mahluk itu kelemahannya ada pada pancuranmu yang ada di sebelah bawah."

"Kalau sudah tahu begini. Rasanya kita tak perlu repot, kau kencing saja lagi." "Apakah kau sudah gila. Memangnya kencing ku sebanyak apa?"

Damprat Nini Burangrang.

"Aku tahu cuma sedikit. Tapi apakah masih ada sisanya? Kalau ada aku ingin memoles tanganku dengan sisa kencingmu untuk memyerang mereka."

Kata Aki Kolot polos. Si nenek menyeringai.

"Tua bangka keparat! Mencari kesempatan dalam kesempitan. Mengapa kau tidak mengguyur tangan dan tongkat saktimu dengan air kencing sendiri!"

"Ha ha ha. Maafkan aku istriku. Aku memang selalu mencari yang sempat dan yang sempit-sempit saja."

Ucapnya lalu menghambur ke halaman hindari gebukan keras yang dilakukan si nenek. Karena sosok mereka tidak terlihat.

Begitu sampai dihalaman istana dengan leluasa tentu saja mereka dapat menyerang para bocah Iblis yang masih tersisa, Sementara disebelah atas Nini Burangrang dengan menggunakan kain yang telah basah lepek terkena guyuran air kencing menyerang lebah-lebah itu.

Puluhan Lebah Kepala Hati Berbunga dan Lebah Pembunuh berjatuhan menemui ajal membuat prajurit dan perwira yang sudah kelelahan dan banyak yang terluka merasa terbantu.

"Dewa bermurah pada kita. Memberi bantuan tanpa diminta. Terima kasih dewa... terima kasih

...!"

Berkata seorang perajurit yang bahunya terluka. Perajurit itu duduk bersender di tembok istana. Lalu seorang perwira yang dadanya berlubang terkena cakaran Bocah Iblis dengan nafas megap-megap membuka mulut.

"Dewa memang bermurah hati. Tapi mengapa Yang Kuasa mengirimkan dewa berbau pesing?"

Tidak ada yang bisa menjawab. Nini Burangrang yang mendengar ucopan orang itu hanya bisa menggerutu.

Sedangkan Aki Kolot cuma senyum-senyum namun terus merangsak maju. Dengan menggunakan tongkat saktinya yang dilumuri air kencing sendiri .Aki Kolot terus menerjang. Sekali tongkatnya berkelebat menggebuk kepala atau bagian uibuh para Bocah Iblis yang tak kuasa menghindar. Bocah bocah itu walau berasal dari alam gaib ternyata tidak dapat melihat siapa yang mereka hadapi dan lawan seperti apa yang menyerang mereka. Setiap kali tongkat ditangan menghantam ke tubuh bocah bocah itu, maka terdengar suara lolong dan pekik menyayat. Bocah yang terkena pukulan tongkat mengelepar di tanah lalu diam untuk selanjutnya lenyap menjadi kepulan asap

"Kita berhasil! kita berhasil membalaskan dendam kesumat kepada pangeran itu!"

Seru Aki Kolot Raga yang tentunya hanya bisa didengar oleh Nini Burangrang. Melihat si kakek berjingkrak kegirangan, istrinya yang masih sibuk di atas segera berseru.

"Jangan cuma berjingkakan seperti monyet gila. Di ketinggian ini masih banyak lebah yang berkeliaran. Cepat ke atas bantu aku!"

"Ah istriku. Bukankah biasanya yang diatas diselesaikan terlebih dulu baru menyusul yang disebelah bawah!"

"Tua bangka mesum kepala bejat bau menyan. Jangan suka bergurau dalam keadaan seperti ini!

Lekas banto aku setan tua!" Teriak si nenek.

Sadar istrinya marah-marah, Aki Kolot tidak berani bergurau lagi segera saja dia patuhi perintah istrinya. Sementara dihalaman belakang istana bersebelahan dengan taman kaputren merangkap tempat berdiam dua puteri raja, Si Maung Berem Jatulaka tampaknya tak mungkin lagi dapat bertahan lebih lama.

Luka sengatan dibagian kening terlihat mulai meleleh dan menjalar hampir ke seluruh wajah.

Sementara luka akibat gigitan lawan di bagian kaki yang mengandung racun membuatnya sulit bergerak.

Mahluk besar berbulu hitam yang berujud seekor anjing dan tak lain adalah mahluk kutukan jejadian yang aslinya seorang gadis cantik memang datang pada waktu yang tepat. Tepat disaat Jatulaka membutuhkan pertolongan.

Namun anjing hitam bermata merah menyala itu sadar tak banyak yang bisa dia lakukan untuk menolong orang tua itu.

Sang anjing setelah keluarkan suara raungan panjang yang membuat Bocah Iblis terkejut lalu bersurut mundur menjaga jarak begitu muncul ditempat itu, langsung berdiri di depan Jatulaka dengan sikap melindungi.

Dalam keadaan terluka parah Jatulaka yang merasa tidak punya harapan hidup lebih lama lagi sempat pandangi mahluk itu. Dua matanya yang berkaca-kaca akibat menahan sakit yang tiada tertahankan membersitkan rasa heran atas kehadiran binatang Itu.

Kemudian dengan suara terbata dan nafas mengengah dia berucap

"Aku tidak pernah melihat anjing sebesar dirimu. Tetapi siapapun kau adanya kuharap tidak menyakitiku,"

Diluar dugaan Jatulaka binatang itu berpaling menatap tajam ke arahnya sekilas lalu berkata. "Wahai pejabat kerajaan. Kau tidak usah takut tak perlu pula risau. Aku adalah Penjelajah Kelam,

dunia persilatan mengenalku dengan sebutan Kabut Hitam. Aku datang ingin membantu mengatasi segala kekacawan yang dilakukan oleh Pangeran Durjana dan pengikutnya Sayang dan harap dimaafkan. Aku tidak bisa menolongmu aku tak mampu memusnahkan racun akibat sengatan lebah Pembunuh yang mengantuk keningmu."

Walau kaget tak menyangka sang anjing mampu bicara selayaknya manusia biasa .Jatulaka setidaknya merasa lega.

Dia merasa lega karena yang datang bukanlah musuh yang berniat membuat kekacawan.

Walau demikian akibat rasa sakit yang tiada tertahankan, orang tua itu akhirnya meraung bergulingan di atas tanah.

Sepasang mata mendelik, mulut ternganga sedangkan tangan dipergunakan untuk mendekap wajahnya yang mulai meleleh mengalami kehancuran.

"Bunuh! Bunuhlah aku untuk mengakhiri penderitaan ini!" Jerit Jatulaka ditujukan pada sang anjing.

Kabut Hitam tertegun.

Permintaan Jatulaka yang menyayat hati menimbulkan kebimbangan dihatinya.

Sementara Bocah Bocah Iblis, menggerung melupakan kegembiraan melihat Jatulaka meregang

ajal.

Sebaliknya anjing yang mengaku bernama Kabut Hitam itu memendam kemarahan pada para

bocah juga kawanan lebah yang beterbangan di atasnya.

"Kabulkan permintaanku. Tolong aku dari penderitaan ini, Kabut Hitam!" Teriak si orang tua. Kabut Hitam menggeram.

Tanpa mengurangi kewaspadaannya terhadap serangan tak terduga yang bisa saja dilakukan oleh kawanan lebah maupun bocah-bocah Iblis yang mulai mengepungnya, anjing besar ini tiba-tiba balikkan badan.

Lalu sekonyong-konyong sang anjing angkat tangan kirinya yang berfungsi sebagai kaki depan. Begitu tangan diangkat, secepat kilat tangan yang biasa dipergunakan untuk berjalan itu berkelebat menyambar ke arah Jatulaka.

Satu kilatan cahaya hitam menggidikkan menderu disertai tebaran hawa dingin luar biasa. Dan sebelum kaki depan menyentuh bagian leher Jatulaka.

Cahaya hitam menyambar merobek tenggorokan laki-laki itu Cras!

Terdengar suara seperti senjata luar biasa tajam menghantam leher Jatulaka. Kabut Hitam cepat tarik kakinya sebelum sempat menyentuh sasaran yang dituju. Jatulaka terkapar.

Tapi tidak ada darah yang mengucur dari luka itu.

Sang anjing menggerung lirih, sambil menatap si orang tua dengan mata berkaca-kaca.

Seumur hidup setelah mendapat kutuk dari dewa akibat kelancangannya mencuri kabar rahasia langit.

Gadis sakti ini belum pernah merasa sesedih itu melihat kesengsaraan yang dialami oleh orang

lain.

Tapi kini entah mengapa demi melihat penderitaan yang dialami Jatulaka Kabut Hitam merasa

terenyuh.

"Maafkan saya, maafkan saya, pejabat tinggi" ucap Kabut Hitam berulang kali.

Binatang itu kemudian melolong saat menyadari Jatulaka akhirnya menemui ajal. Tubuh orang tua itu tidak meleleh sebagaimana yang sering terjadi pada setiap korban sengatan lebah mematikan.

"Semoga arwahmu dapat beristirahat dengan tenang orang tua. Tubuhmu tidak akan hancur karena aku telah memotong jalan menuju kehancuran sebagai akibat sengatan lebah."

Berkata demikian Kabut Hitam secepat kilat memutar tubuh .Setelah menghadap ke arah kawanan lebah yang beterbangan seperti kawanan semut di udara. Mahluk satu ini kemudian alihkan perhatian pada para bocah-bocah Iblis.

"Mahluk-mahluk menjijikkan! Andai saja kalian anak manusia sungguhan. Aku memiliki sejuta kasih yang layak kiranya aku persembahkan pada kalian. Tetapi kalian adalah mahluk dari alam sesat. Dikandung ibu dalam waktu tiga hari. Begitu lahir kalian membunuh orang tua yang telah melahirkan .Kemudian tumbuh berkembang selayaknya bocah seusia tiga tahun. Jelas segala sesuatu yang terjadi pada kalian menyalahi kodrat, takdir kehendak Yang Maha Kuasa! Menyadari siapa diri kalian, aku menjadi maklum bahwa kalian semua harus dimusnahkan. Terkecuali kalian mau bertobat tinggalkan Pangeran Durjana dan angkat kaki dari tempat ini. Untuk yang terakhir itu aku bersedia memaafkan...!"

Greeng!

Kawanan lebah menyambut dengan keluarkan suara berdengung. Para bocah walau merasa jerih kalau tidak dapat dikatakan takut menghadapi Kabut Hitam nampak saling pandang. Selanjutnya Kabut Hitam, melihat terjadi pembicaraan diantara mereka dalam bahasa yang tidak dimengerti.

Kesudahannya para bocah sama anggukkan kepala. Kemudian menatap ke arah anjing hitam besar yang berdiri tak jauh di depan dengan dua kaki depan setengah ditekuk. Puluhan bocah mendadak dongakkan kepala.

Didahului oleh suara raung lolong tak ubahnya seperti mahluk dari neraka. Tiba-tiba saja sebagian dari mereka berlompatan menerkam Kabut Hitam sambil ngangakan mulut lebar sementara gigi giginya siap mencabik tubuh lawan. Sebagian bocah lainnya kini ikut bergerak, merangsak maju menyerang Kabut Hitam pada bagian kedua kaki belakang, juga bagian perut.

Melihat Bocah Bocah Iblis telah memulai serangannya. Maka kawanan lebah seolah memiliki naluri sama ingin membunuh segera lakukan tindakan yang sama. Mula-mula kawanan lebah itu secara beriring iringan melambung diketinggian.

Setelah berada di ketinggian yang mereka inginkan mereka bergerak berputar tiga kali. Selanjutnya kawanan lebah ganas itu menukik tajam ke arah lawan disertai suara bergemuruh laksana tebing runtuh dan dengung menggidikkan.

Mendapat serangan ganas yang datang dari tiga penjuru arah sekaligus .Kabut Hitam sedikitpun tidak menjadi gentar. Sambil keluarkan suara raungan marah sang anjing tiba-tiba mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. Setelah itu dia memutar tubuh dan....

Wuut!

Sosok sang anjing mendadak raib berubah menjadi selendang panjang besar berwarna hitam. Tak ubahnya seperti seekor ular yang murka. Selendang itu meliuk dan terus bergerak melambung ke udara. Serangan para Bocah Iblis mengenai tempat kosong. Diluar dugaan para bocah ,lebah lebah yang menyerang dari sebelah atas ternyata dapat mengendalikan diri. Gerakan terbang mereka menukik seperti benda tajam jatuh dari langit. Tanpa ampun sebagian lebah menghantam bocah bocah itu, sedangkan sebagian menghantam halaman berbatu. Lebah-lebah yang jatuh ke halaman banyak yang menemui ajal. Sedangkan yang menubruk kawanan bocah iblis ada yang sempat menyengat bocah-bocah itu. Karuan saja sengatan yang tidak disengaja itu membuat para bocah yang menjadi korban meraung sejadi-jadinya.

Bocah-bocah itu bergulingan tak tentu arah hingga membuat suasana jadi kacau. Sementara para bocah dan lebah yang selamat, kini kembali merangsak, mengejar ke arah selendang hitam yang meliuk melambai-lambai diketinggian.

Namun sang selendang jelmaan anjing hitam nampaknya tak memberi hati. Kedua ujungnya kini berputar sebat menghantam sekaligus melecut tak ubahnya cambuk. Celakanya setiap lecutan mengenai sasaran. Ujung selendang itu memancarkan cahaya merah redup disertai tebaran hawa panas menghanguskan. Puluhan sisa lebah berjatuhan. Sebagian yang masih selamat segera melarikan diri. Melihat kawanan lebah tewas terbantai, sementara sebagian besar teman sendiri juga menemui ajal menjadi korban serangan selendang. Sisa-sisa bocah iblis berhamburan masuk ke bagian belakang istana.

Sambil berlari salah satu diantara bocah itu berteriak histeris.

"Ayah....ayah...dimanakah dirimu? Kami tidak sanggup menghadapi mahluk yang satu ini. Kami membutuhkan dirimu ..."

Katanya berulang kali.

Suara teriakan si bocah menghilang dibalik pintu istana yang jebol. Tak ada jawaban yang terdengar.

Sang selendang hitam berputar lalu dengan gerakan perlahan akhirnya jatuh di tanah. Ketika ujung selendang disebelah atas menyentuh tanah.

Wuus!

Tiba-tiba selendang lenyap sebagai gantinya tepat dimana selendang telah jatuh, berdiri setengah mendekam anjing hitam besar tadi.

Sang anjing menggerung lirih, kepala digeleng dan mahluk ini segera bangkit. Setelah berdiri tegak dia menatap ke arah lenyapnya beberapa bocah Iblis.

Sebelum berlari mengejar ke arah yang sama, Kabut Hitam berkata.

"Entah kemana perginya Sang Maha Sakti Raja Gendeng. Tapi aku harus membantu menyelamatkan kedua puteri dari kebejatan Pangeran Durjana."

Selesai berkata Kabut Hitam memutar tubuhnya sebanyak tiga kali. Seketika itu juga sosoknya lenyap hilang raib dari pandangan.

Pangeran Durjana dan pasukannya menyerbu istana Malingping hingga memicu terjadinya pertempuran hebat yang sengit.

segala kekacawan dan malapetaka yang ditimbulkan akibat pertempuran berdarah itu sebenarnya telah diketahui baik oleh puteri Arum Senggini maupun puteri Nila Agung.

Kedua gadis berpakaian putih dan berpakaian biru ini sebenarnya ingin meninggalkan kamarnya yang dijaga ketat oleh belasan perajurit .Mereka juga berkeinginan kuat untuk turut ambil bagian dalam pertempuran itu.

Namun mengingat pesan gusti prabu yang mengharuskan mereka tidak boleh keluar dari dalam kamarnya membuat mereka tak dapat berbuat apa apa.

Kedua puteri ini menyadari selama ini mereka jarang mematuhi segala peraturan istana. Mereka kerap keluar istana secara diam-diam.

Jadi untuk kali ini mereka harus patuh kepada perintah Rama Prabu. Penantian selalu ada batasnya.

Dan kedua gadis itu akhirnya menjadi kehilangan kesabarannya begitu salah satu perajurit yang berjaga di depan pintu peraduan yang mereka tempati memberi kabar bahwa banyak perajurit dan perwira istana yang tewas.

Bahkan perajurit itu juga memberi tahu senopati Rangga Wulung Utama mengalami cidera berat "Bagaimana nasib ayahanda prabu?"

Tanya puteri Nila cemas membayangkan kehawatiran. Perajurit berseragam hitam bertubuh tegak dan membekal sebuah pedang itu gelengkan kepala.

"Ampunkan hamba gusti puteri. Kami sama sekali belum mendengar tentang keadaan gusti prabu.

Mudah-mudahan beliau selamat dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu apa." "Baiklah. Terima kasih atas laporanmu. Sekarang kau boleh kembali ke tempatmu!" Perintah puteri Arum Senggini.

Sang perajurit anggukkan kepala.

Setelah bungkukkan badan menjura ke arah kedua puteri cantik itu dia balikkan badan menuju ke bagian pintu depan.

Seperginya perajurit penjaga, Puteri Nila Agung segera menutup pintu.

Begitu pintu ditutup dan dikunci dari dalam dia dan sang kakak segera menuju ke sebuah kursi.

Gadis berlesung pipit ini duduk disana.

Sementara puteri Arum Senggini segera duduk menempati kursi yang terletak di depan adiknya "Aku semakin tidak tenang dengan keadaan yang serba tidak menentu ini!" berkata puteri Nila

Agung berterus terang.

Puteri Arum Senggini tidak segera menjawab, Gadis itu menarik nafas dalam.

Tak lama setelah menghembuskan nafas dengan mata menerawang dia membuka mulut berikan jawaban.

"Perasaanku pun sama saja adik. Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk atas diri ayahanda prabu. Seharusnya kita tidak berada di sini, berdiam diri hanya berpangku tangan yang membuat kita seperti orang yang lumpuh. Kita harus perangi musuh-musuh kita!"

"Aku sependapat denganmu. Aku tak ingin istana ini jatuh ke tangan Pangeran Durjana. Mahluk jahanam yang bangkit dari liang kematian itu harus disingkirkan!"

Tegas Nila Agung dengan penuh semangat.

Arum Senggini anggukkan kepala. Dua matanya yang indah berkedap-kedip. Dia membayangkan bila saja Sang Maha Sakti Raja Gendeng ada di istana itu. Kemungkinan besar keadaannya tidak seburuk ini.

Pemuda gagah berwajah tampan namun mempunyai tabiat aneh itu pasti bisa membantu mengatasi kesulitan yang mereka hadapi.

"Hmm, sudah lama aku tak melihatnya. Apa yang terjadi dan dimana dia saat ini berada.. Ingin sekali aku bertemu dengannya. Aku sendiri tidak mengerti apa yang terjadi dengan diriku. Setelah pertemuanku dengannya dimalam itu. Hingga saat ini aku tak dapat melupakannya. Aku sering teringat padanya. Tapi... bagaimana dengan adikku Nila Agung. Dia sendiri pernah berterus terang mengaku suka pada Raja. Dia gadis yang polos suka bicara apa adanya. Berbeda dengan diriku, suara hati dan apa yang keluar dimulut selalu berbeda."

Berkata dalam hati begitu Arum Senggini tiba-tiba melirik pada adiknya. Merasa diperhatikan Nila Agung tiba-tiba membuka mulut ajukan pertanyaan. "Ada apa kakak? Kau nampak gelisah. Apa yang kau pikirkan?"

Pertanyaan itu membuat Arum Senggini kaget. Dengan gugup cepat-cepat dia menjawab. "Eeh, tidak. Aku tidak apa-apa, adik."

"Engkau berdusta. Kakak selalu membohongi diri sendiri." "Ee, apa maksudmu?"

Tanya Arum Senggini sambil pura-pura delilkkan matanya. Puteri Nila Agung dongakkan kepala lalu tertawa.

"Aku tahu sekarang, sebenarnya kau sedng memikirkan keberadaan Raja, bukankah begitu?" "Oh tidak. Buat apa memikirkan pemuda gila itu?"

Kilah Arum Senggini tersipu sementare wajahnya terlihat kemerahan. "Tak usah berdusta. Aku tahu sifat kakak. Bila mulutmu mengatakan tidak biasanya dihati lain lagi. Akui saja kau merindukan Raja!"

"Jangan bicara sembarangan. Bukankah kau yang lebih tertarik kepada pendekar maha sakti itu?"

Ucap Arum Senggini walau diluar bicara seperti itu tetapi hatinya terasa nyeri. "Aku. ?"

Nila Agung memekik sementara jari tangannya menunjuk dirinya sendiri.

"Aku ini orang yang suka berterus terang. Tak bisa kupungkiri aku memang menyukai Raja., Tapi aku tidak mau memaksakan diri. Kurasa kakaklah yang lebih pantas berdampingan dengannya."

"Haus.... bicara apa kau! Jangan suka bicara melantur. Aku hanya sempat berpikir andai saja Raja Gendeng ada disini. Kurasa dia bisa membantu kerajaan dalam menghadapi serbuan mahluk:mahluk asuhan Pangeran Durjana itu."

"Kau benar kakak. Dia seharusnya ada disini. Kita tak mungkin dapat menghadapi semua ini hanya berdua saja."

Sahut Nila Agung. "Mahluk keparat itu." "Memangnya kenapa?"

"Apakah kau tidak tahu dia sebenarnya menginginkan kita berdua untuk dijadikan pengantinnya?" kata Nila Agung. "Ihh, menjijikan sekali. Dia hendak menjadikan kita seperti gadis-gadis yang menjadi korbannya?"

Menjawab Arum Senggini sambil mengusap tengkuknya yang dingin. "Pangeran Durjana. Hmm aku tidak tahu seperti apa tampang rupanya" "Aku yakin dia mahluk yang menyeramkan."

"Apakah kau pernah melihatnya, kakak?"

Tanya Nila Agung lalu layangkan pandang ke arah pintu. Arum Senggini menggeleng. Dia segera membuka mulut menjawab pertanyaan sang adik.

"Orang yang sudah mati lalu hidup kembali, apalagi kematiannya telah seribu tahun berlalu. Rasanya mustahil memiliki wajah yang tampan. Pangeran Durjana pasti mempunyai wajah angker mengerikan."

"Jika yang kau katakan benar, mengapa banyak sekali gadis-gadis desa yang jatuh dalam pelukannya?"

Pertanyaan itu membuat sang kakak terdiam. Dalam diam dia berpikir keras sambil berusaha mengingat kejadian mengerikan yang dilihatnya saat berada di pantai Carita. Sang puteri akhirnya menggumam.

"Aku yakin yang menjadi pangkal sebab semua petaka yang dialami oleh gadis-gadis malang itu karna sengatan Lebah Kepala Hati Berbunga. Bukankah ayahanda prabu pernah mengatakan setiap gadis yang menjadi korban sengatan lebah-lebah itu mereka menjadi lupa diri, hilang rasa malu.

Segala akal sehat lenyap yang ada hanya keinginan untuk bercinta dengan Pangeran Durjana. Hasrat yang menggebu ditambah dengan hilangnya akal sehat membuat mereka dengan sukarela menyerahkan diri, menyerahkan kehormatan yang paling berharga yang mereka miliki pada pangeran itu..."

"Benar-benar iblis keji!"

Geram Nila Agung sambil kepalkan tinjunya. Arum Senggini anggukkan kepala.

Tapi pembicaraan diantara mereka terputus karena tiba-tiba saja terdengar suara denting senjata dan pekik jerit kesakitan dibagian luar bilik peraduan yang dijaga oleh para perajurit.

"Sepertinya ada keributan diluar sana!" Sentak Nila Agung.

"Jangan-jangan Pangeran Iblis keparat itu datang membuat kekacauan!" Sahut Arum Senggini.

Dua gadis saling pandang.

Dengan hati diliput ketegangan keduanya segera menyambar pedang yang mengantung di dinding persis di belakang mereka. Tidak menunggu lama kedua puteri pemberani yang memiliki jurus silat serta ilmu kesaktian cukup tinggi ini segera bergegas menuju ke arah pintu .Sementara itu dibalik pintu yang terkunci.

Belasan pengawal yang ditugaskan menjaga keselamatan puteri ternyata memang sedang terlibat perkelahian sengit dengan seorang laki-laki berjubah hitam berambut panjang menjela.

Dua perajurit jatuh terkapar dilantai setelah terkena tinju laki-laki berjubah hitam itu. Sedangkan satunya lagi tulang rusuknya berderak patah terkena tendangan.

Setelah menghantam tiga pengawal si jubah hitam berwajah pucat angker angkat tangannya tinggi-tinggi.

Sambil mengangkat tangan siap melepaskan pukulan dia berseru.

"Siapa saja yang ingin mampus menghadap diraja akherat silahkan maju. Tapi ingat, kedatanganku kesini hanyalah ingin menjemput dua puteri raja. Aku tahu mereka berada disekitar sini, siapa yang mau memberi tahu tempat persembunyian mereka, aku Pangeran Durjana akan memberikan hadiah imbalan yang besar!"

Tidak ada yang menjawab. Belasan perajurit sama berpandangan, setelah itu mereka menatap orang berjubah berwajah buruk yang mempunyai mata aneh berwarna putih kemerahan dengan sebuah titik hitam pada bagian tengahnya.

"Jangan memberi tahu."

Berbisik salah seorang penjaga ini pada temannya yang berada di sebelah kanannya. Yang diajak bicara anggukkan kepala.

"Kita telah bersumpah setia pada gusti prabu dan keluarganya."

"Tapi kau lihat sendiri. Orang berjubah hitam itu agaknya bukan manusia. buktinya sama sekali tidak menyentuh tanah."

Bisik sang teman.

Tanpa sadar dia menggenggam hulu pedang yang tergantung dipinggangnya. Belum sempat perajurit disebelah kiri menjawab..

Orang berjubah yang memang Pangeran Durjana adanya membentak

"Kecoak busuk, cacing-cacing kecil yang tidak berguna. Aku telah memberikan tawaran yang terbaik tapi kalian justru menganggap sepi kebaikan hatiku! Mampuslah kalian semua!"

Teriakan Pangeran Durjana ini kemudian disusul dengan satu gerakan yang tidak terduga. Tiba-tiba saja sang pangeran memutar tubuh.

Begitu tubuh berputar jubah hitam tak terkancing yang melekat ditubuhnya menderu menyambar tiga pengawal yang berada di bagian paling depan.

Tiga pengawal keluarkan seruan kaget ketika merasakan dari ujung jubah menyambar hawa panas luar biasa.

Sebelum hawa panas dan deru angin dari jubah itu mengenai tubuh mereka. Dengan kecepatan luar biasa ketiga pengawal itu merangsak ke depan sambil hantamkan senjata di tangan masing-masing.

Dua golok besar dan satu pedang ditangan tiga perajurit berkelebat menghantam perut dan berusaha merobek wajah Pangeran Durjana.

Sementara itu pengawal yang berada dibelakang juga segera menyerang Pangeran itu dari bagian belakang.

Tak pelak lagi belasan senjata menghujani tubuh Pangeran Durjana.

Tapi betapa kaget hati mereka begitu melihat kenyataan senjata ditangan mereka ternyata tak mampu menembus atau mencederai tubuh lawannya.

Jangankan membuat lawan terluka, bahkan sedikitpun senjata itu tak dapat merobek jubah yang melekat di tubuh Pangeran Durjana.

Sebaliknya dengan disertai teriakan menggembor marah, Pangeran Durjana lalu kibaskan tangan kanannya ke arah tiga perajurit yang menyerang dari depan.

Ketiga perajurit itu berusaha menghindar dari sambaran jemari tangan Pangeran Durjana.

Sayang secepat apapun mereka berkelit tetap saja serangan itu mengenai wajah, bahu dan leher mereka.

Sekali lagi terdengar jerit dan pekikan menyayat.

Tiga perajurit terkapar dengan wajah hangus leher menganga.

Dua orang ini langsung terkapar. Sedangkan perajurit yang bahunya kena pukulan lawan jatuh terduduk, mata mendelik mulut meraung.

Bahu perajurit itu remuk mengerikan, sementara bagian bahu sebelah luar tampak mengepulkan asap menebar daging hangus terbakar.

Pangeran Durrjana terus mengamuk, mengumbar kemarahan dengan membabi buta.

Lakilaki itu segera balikkan badan menghadap ke arah tujuh perajurit yang mengeroyoknya dari arah belakang.

Melihat lawan berbalik, para perajurit itu terus merangsak maju.

Sambil babatkan senjata ditangan mereka menghantam sang pangeran dengan pukulan sakti yang disertai pengerahan tenaga dalam cukup tinggi.

Tapi Pangeran Durjana ternyata memang bukanlah lawan bagi mereka.

Terbukti hanya dengan kibaskan jubah hitamnya empat perajurit dibuat terjungkal, sedangkan satunya lagi melolong kesakitan sambil dekap bagian dadanya yang pecah terkena hantaman ujung jubah .Melihat teman-temannya tewas, mereka yang bertahan hidup walau merasa jerih namun terus merangsak maju.

Kini dengan mengandalkan jurus silat andalan beberapa perajurit kembali mengepung Pangeran Durjana. Namun sang pangeran agaknya merasa muak, maka dia tak ingin membuang waktu lebih lama.

Tiba-tiba pangeran itu melompat tinggi ke langit-langit ruangan, dia berdiri tegak mengapung disana.Mula-mula mulut sang pangeran berkemak-kemik setelah itu dua tangan di-satukan digosok satu sama lain.

Asap menebar bau busuk mengepul menebar dari telapak tangan pangeran Durjana.

Melihat serangan yang akan dilakukan Pangeran Durjana kepala pengawal berteriak ke anak buahnya.

"Bunuh! Jangan biarkan dia melepaskan suatu serangan mematikan ke arah kita!"

Mendengar teriakan itu secara susul menyusul para pengawal melesat keatas lalu lepaskan satu pukulan menggeledek ke arah Pangeran Durjana.

Pukulan itu kemudian disusul pula dengan bacokan senjata ke bagian kaki dan punggung lawan. Tetapi segala tindakan yang dilakukan oleh perajurit kepala pengawal itu sangat terlambat.

Pukulan yang mereka lepaskan tersedot amblas ke dalam tubuh Pangeran Durjana.

Bahkan tanpa pernah terduga senjata yang dipergunakan untuk menyerang lawan malah menempel melekat di bagian tubuh yang menjadi sasaran.

Kaget bercampur heran mereka berusaha membetot senjata yang melekat di tubuh Pangeran Durjana.

Celakanya semakin keras mereka berusaha menarik senjatanya kembali semakin sulit senjata dilepaskan.

Dalam keadaan panik dan tubuh bergelantungan para pengawal mencoba selamatkan diri dengan melepas genggamannya pada hulu senjata.

Tapi apa yang mereka lakukan ini juga tak punya banyak arti. Tangan tak mau lepas juga dari gagang senjata.

Selagi para perajurit dan kepala pengawal dibuat sibuk dengan apa yang terjadi. Pangeran Durjana menyeringai.

Dengan suara dingin dia berucap.

"Cecunguk tidak berguna. Dikasih hidup malah minta mati. Sampai kiamat kalian tak mungkin bisa melepaskan dirimu karena aku telah menggunakan ilmu sakti Perekat Jiwa. Dengan ilmu itu siapa saja yang menempel ditubuhku tak akan pernah terlepas. Dan sekarang, kalian akan merasakan dahsyatnya ilmu kesaktianku yang lain. Heaah."

Dua tangan tiba tiba didorongnya ke bawah sementara tenaga sakti yang bersumber dari bagian pusarnya dia lepaskan ke arah kakinya. Gerakan melepas tenaga dalam yang sedemikian cepat tentu tidak mudah karena dapat menghancurkan otot dan pembuluh darah sang pangeran. Namun sang Pangeran Durjana yang telah menguasai ilmu ajian serat Karang tindakan yang dilakukan itu tentu saja menimbulkan akibat yang berbahaya bagi para perajurit dan kepala pengawal. Dari bagian tubuh pangeran sebelah bawah tiba-tiba menyambar cahaya terang kebiruan menjalar ke semua senjata yang menempel di kaki dan jemari yang terbalut kasut tipis dan terus menjalar menyengat tangan dan sekujur tubuh para perajurit itu.

Terlihat kilatan cahaya seperti menyelimuti tubuh semua perajurit. Terdengar suara jerit menyayat bersahut-sahutan. Para pengawal kemudian berjatuhan dengan tubuh dan pakaian hangus menghitam. Ketika tubuh mereka jatuh terlepas di lantai terdengar serpihan tubuh berserakan menjadi kepingan aneh disertai suara gemerincing.

Melihat apa yang dialami oleh semua penjaga itu. Pangeran Durjana donggakkan kepala lalu tertawa tergelak-gelak.

Sambil tertawa laki-laki itu bergerak meluncur perlahan menuju lantai. Dan gerakan sang pangeran terhenti setelah telapak kakinya mengambang satu jengkal di atas lantai. Segala kedahsyatan serta tindakan keji yang dilakukan Pangeran Durjana ternyata tidak luput dari perhatian puteri Nila Agung dan juga Arum Senggini yang baru saja muncul diruangan itu.

"Iblis laknat jahanam!"

Damprat Arum Senggini sambil silangkan senjata di depan dada.

"Mahluk keparat yang menyalahi aturan takdir. Seharusnya kau membusuk di neraka.Kau tidak layak gentayangan lagi di dunia kehidupan" dengus Nila Agung tak kalah sengit.

Mendengar ada orang mendamprat sang pangeran yang tampak merasa puas melihat kematian perajurit penjaga segera palingkan kepala memandang ke arah datangnya suara. Wajah angker menjijikan dilapisi lendir putih itu menyeringai. Mata yang putih pucat membelalak, lidah dijulur begitu mengetahui siapa yang bicara.

"Ah calon pengantinku, bakal istriku. Walau belum pernah bertemu namun dari aroma tubuh dan keringat kalian aku yakin kalian pastilah dua puteri yang sedang kucari! Kau yang berpakaian putih bukankah kau yang bernama puteri Arum senggini. Dan yang berpakaian biru aku yakin adalah puteri Nila Agung."

Walau merasa kaget tak menyangka laki-laki berwajah angker tak ubahnya mayat hidup itu mengenali, namun kedua gadis ini unjukkan wajah garang.

"Kau hanya seonggok bangkai busuk, mahluk kesasar dari liang kubur. Siapa yang sudi ikut bersamamu?"

"Apalagi untuk menjadi kekasihmu!"

Damprat Nila Agung pula mendukung ucapan sang kakak. Pangeran Durjana menggumam lalu dongakkan kepala disertai tawa tergelak. Sambil tertawatawa dia menanggapi ucapan kedua puteri cantik itu.

"Siapa yang seonggok bangkai busuk. Kalian pasti salah melihat, kalian berdua tidak menatap memandangku dengan mata yang benar. Pandang baik-baik. Aku adalah pangeran gagah dan tampan dan masih terhitung kerabat buyut kalian." Berkata begitu sang pangeran memutar tubuh.

Sementara dengan menggunakan telapak tangan kiri yang dikembangkan dia mengusap wajahnya.

Wuuus!

Begitu tubuh yang berputar berhenti bergerak dari usapan tangan menyapu seluruh wajah. Wajah angker muka pucat dan mata putih bertitik hitam lenyap.

Sebagai gantinya baik Arum Senggini dan adiknya sama melihat di depannya sejarak tujuh langkah berdiri tegak masih dengan kedua kaki mengambang di atas lantai seorang pemuda berwajah luar biasa tampan berkulit putih, berkumis tipis bagus dan berjanggut halus.

Arum Senggini tercengang.

Seakan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri gadis ini mengusap matanya dua kali. Walau mata telah diusap, ketampanan pemuda berjubah itu tidak berubah.

"Ternyata dia sangat tampan. Belum pernah aku melihat pemuda setampan ini. Pantas banyak gadis tergila-gila yang jatuh dalam pelukannya?" gumam Arum Senggini terpesona.

Berbeda dengan Nila Agung adiknya. Walau gadis ini sempat tertegun melihat wajah yang tampan itu. Namun akal sehatnya tetap bekerja dan dia selalu ingat siapa sesungguhnya pemuda yang tegak di depannya yang sedang mengumbar senyum itu. Mendengar ucapan Arum Senggini, Nila Agung cepat membuka mulut keluarkan seruan bernada mengingatkan.

"Semua yang kau lihat dan yang kau saksikan itu hanyalah tipuan belaka, kakak. Mungkin dikehidupannya di masa lalu dia memiliki rupa tampan. Tapi ingat semua itu telah lama berlalu. Dia sudah mati, bahkan terkubur di lautan selama seribu tahun lebih. Jelas pangeran keparat ini menggunakan kekuatan iblis untuk menipu kita!"

Seolah tersadar Anum Senggini anggukkan kepala.

"Aku tahu. Aku tahu. Dia momok paling bejat perusak kehormatan wanita. Jadi tunggu apa lagi, mari kita cincang tubuhnya bersama-sama!"

Berkata begitu Arum Senggini melompat ke depan lalu menyerang Pangeran Durjana dengan babatkan pedang ke wajah lawan.

Melihat sang kakak telah mengambil tindakan menyerang lawan dengan serangkaian jurus-jurus pedangnya. Nila Agung tidak tinggal diam.

Dibarengi teriakan melengking si gadis melompat tinggi, lalu menyerang kepala sang pangeran sambil bacokkan pedangnya.

Dua pedang menderu ganas.

Satu bergerak mengincar sasaran dibagian tubuh sebelah depan sedangkan satunya lagi siap membelah kepala sang pangeran. Apa yang dilakukan oleh kedua puteri itu tidak cukup sampai disitu.

Dengan menggunakan tangan kiri mereka juga kirimkan jotosan ke dada dan bahu lawannya.

Sementara kaki kanan dengan menggunakan jurus Kibasan Kaki Rajawali berkelebat mengincar bagian tubuh lawan yang dianggap paling lemah.

Mendapat serangan ganas yang datangnya saling susul menyusul disertai suara deru mengerikan ini, Pangeran Durjana sama sekali tidak merasa gentar ataupun cemas.

Sebaliknya dengan wajah kegirangan disertai tawa tergelak dia berkata,

"Oalaa....gadis-gadisku calon pengantinku. Rupanya kalian sudah tidak sabar menunggu kubelai dan kupeluk. Kalian sudah datang sendiri menghampiri aku. Kalian gadis-gadis montok, kulit putih mulus. Oh, betapa tak tahannya diriku. Kemarilah, datang lebih mendekat. Kalian boleh menghantam tubuhku dibagian mana saja yang kalian anggap paling empuk"

Kata-kata yang diucapkan Pangeran Durjana membuat kedua puteri ini menjadi bertambah marah.

Sambil menyerang mereka lipat gandakan tenaga dalamnya ke bagian tangan dan kaki. Kini dengan tenaga dalam penuh semua serangan menghantam tubuh sang pangeran Trak!

Trang! Ting! Buk! Buk!

Karena Pangeran Durjana sedikitpun tidak berusaha menghindar atau menangkis setiap serangan yang datang.

Tentu saja semua serangan maut yang mereka lancarkan mengenai sasaran dengan telak. Tapi apa yang terjadi sungguh membuat kedua puteri benar-benar tercengang.

Tebasan, tusukan maupun bacokan pedang juga tendangan maupun pukulan sakti yang mengenai tubuh Pangeran Durjana sedikitpun tidak membuatnya mengalami cidera.

Tidak hanya itu ketika pedang ditangan menghantam kepala dan dada sang pangeran terdengar suara berdenting seakan senjata menghantam lempengan baja yang tebal.

Sementara kaki maupun tangan keduanya terasa sakit luar biasa. Kedua gadis ini terbelalak.

Selagi mereka dibuat tercengang menyaksikan apa yang terjadi. Tiba-tiba saja Pangeran Durjana melangkah maju secepat kilat menyambar dua tangannya terjulur.

Tangan kiri bergerak kearah Arum Senggini sedangkan tangan sebelah kanan meluncur deras ke arah Nila Agung.

Dalam kaget tak menyangka lawan bertindak seperti itu. Arum Senggini kibaskan senjata membabat tangan yang menyerang bagian dada. Tapi bacokan pedang dengan mudah dapat dihindari.

Tahu-tahu tangan sang pangeran telah hinggap mendarat didada si gadis, membuat usapan dan remasan lembut di dada itu.

"Keparat lancang!"

Teriak Arum Senggini sambil menggerakkan senjata ke atas sementara dengan tangannya yang lain dia juga melepaskan pukulan ke bagian wajah lawan.

Tapi baik gerakan menghantam maupun serangan pedang terhenti di tengah jalan. Usapan di dada si gadis tidak hanya membuat dirinya menjadi kaku tertotok.

Sebaliknya usapan itu sendiri menimbulkan perasaan aneh dan suatu yang tak pernah dia alami seumur hidup.

Sementara itu ketika tangan Pangeran Durjana yang lain siap lancarkan totokan dengan gerak cepat menyapu dan mengelus dada lawan.

Nila Agung yang bertindak lebih waspada dengan sigap segera jatuhkan diri ke lantai lalu berguling guling menjauh dari jangkauan tangan sang pangeran.

Nila Agung lolos dari serangan totokan yang aneh itu. Namun ketika dia bangkit berdiri.

Sang dara jadi tercengang melihat saudaranya tak kuasa bergerak lagi, sementara tubuh menggeliat, mulut mendesis dan matanya berkedap-kedip setengah terpejam

"Kakak! Apa yang terjadi dengan dirimu?" teriak Nila Agung heran penuh tanya. Yang di tanya diam tidak menjawab.

Seolah tidak mendengar dia terus saja menggeliat dan mendesis. Penasaran Nila Agung alihkan perhatian pada lawannya.

Melihat si gadis memandangnya sang pangeran justru mengumbar tawa bergelak "Apa yang kau lakukan pada kakakku?!"

"Ha ha ha! Apakah kau tidak melihat saudaramu dalam keadaan kaku tertotok. Totokan itu tiada duanya di dunia ini. Dengan totokan itu pula segala nafsu dan keinginan bercinta kubangkitkan Lihatlah! Dia nampaknya siap untuk kuajak bercinta."

Ucap Pangeran Durjana.

Lalu diam sejenak sambil memperhatikan Nila Agung dan sebelum sang puteri bicara, Pangeran Durjana lanjutkan ucapan.

"Satu telah kudapatkan, Tapi dia saja tidak cukup. Untuk menyempurnakan ilmu kesaktian yang menuju kekuatan abadi aku juga harus bercinta denganmu. Kau tidak perlu melawan kau tak akan mampu membunuhku. Ketahuilah, bila aku sanggup membuat ayahandamu gusti prabu Tubagus Kasatama sekarat maka coba kau bayangkan untuk membunuhmu bukanlah perkara yang sulit!" Nila Agung tercengang mendengar pengakuan lawan. Dia sadar sang kakak dalam ancaman bahaya.

Tetapi gadis itu lebih kaget lagi ketika mengetahui ayahnya ternyata telah dicidrai oleh lawannya, Dengan wajah merah padam menahan segala kemarahan Nila Agung melangkah maju. "Kau seperti yang telah aku duga terrnyata memang bukan manusia. Kau hanya iblis yang berkedok dan menyaru sebagai manusia. Sekarang aku minta bebaskan saudaraku dari pengaruh

totokan laknatmu!"

Teriaknya sambil mengangkat pedang tinggi-tinggi.

"Apa yang bisa kau lakukan wahai calon mempelaiku.Dengan kekuatan serta senjata ditanganmu itu kau tak bakal mampu menundukkan aku Kemarilah. Aku punya tempat yang bagus untuk kita bertiga. Di tempat itu kita bisa bercinta dari malam pagi dan sampai pagi lagi.."

Ucap sang pangeran. Dia pun lalu ulurkan tangan dengan sikap seperti orang yang menyambut tamunya .Gerakan yang dilakukan Pangeran Durjana ini sebenarnya hanya tipuan belaka karena begitu si gadis babatkan pedang ke arah tangan lawan.

Dengan cepat tangan ditarik mundur ke belakang. Serangan pedang luput dan hanya membabat angin .Nila Agung memutar tubuh begitu melihat tangan lawan tiba-tiba melesat siap lakukan totokan berupa usapan di kedua dadanya

"Keparat mesum!" Teriak si gadis.

Tak ingin celaka menjadi korban usapan dia jatuhkan diri . "Lebih baik kau bergabung bersama kakakmu."

Begitu punggung menyentuh tanah dan jemari tangan lawan menukik tajam memburu ke tempat dimana dirinya terjatuh.

Dara berlesung pipit ini langsung tusukkan pedang ke bagian lengan bawah . Crest!

Tusukan pedang berhasil melukai lengan lawan. Namun begitu pedang yang menembus lengan dicabut. Luka kembali bertaut dengan sendirinya.

"IImu setan!"

Teriak Nila Agung yang segera lepaskan satu pukulan ganas lagi begitu melihat dua tangan sang pangeran terus mengejar menyergap dari dua arah sekaligus.

Satu gelombang cahaya berwarna biru kemerahan seperti selendang menyambar ganas ke arah tangan dan tubuh Pangeran Durjana.

Sang pangeran yang sudah terpancing kemarahannya menggerung.

Dengan kecepatan luar biasa tangannya melambai berusaha memapas serangan sang puteri yang siap menghancurkan tangan dan meremukkan dadanya.

Wuut! Byaar!

Terdengar suara ledakan keras begitu cahaya mirip selendang beradu dengan tangan sang pangeran.

Guncangan keras melanda tempat itu, sementara kepulan asap memenuhi ruangan.

Selagi Nila Agung berusaha selamatkan diri menghindar dari kepulan asap menebar bau busuk menyengat.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Pangeran Durjana untuk meringkusnya. Ketika tangan itu disentakkan ke depan.

Tiba-tiba saja tangan berubah menjadi panjang.

Melihat ini sang puteri memekik kaget sekali lagi jatuhkan diri, berguling-guling di lantai hindari cengkeraman tangan Pangeran.

Tangan yang berubah menjadi lentur itu meliuk-liuk terus, mengikuti kemana pun sang puteri bergerak.

Tak sampai setengah jengkal lagi bagian leher belakang Nila Agung dicengkeram oleh lawannya.

Tiba-tiba saja terdengar suara atap genteng hancur berderak disusul dengan jebolnya langit langit ruangan.

Dari balik lubang besar diantara atap dan langit-langit yang jebol melesat seolah terbang satu sosok bayangan putih kelabu ke arah Pangeran Durjana.

Sosok itu adalah sosok pemuda berambut gondrong yang tak lain adalah Sang Maha Sakti Raja Gendeng dengan disertai deru Cahaya kuning keemasan.

Menderunya cahaya kuning emas itu ternyata bersumber dari Pedang Gila ditangan Raja yang disertai sengatan hawa panas dan dingin luar biasa.

Pangeran Durjana kaget ketika melihat cahaya emas yang belum dapat dia duga apa adanya tiba-tiba membabat tangannya.

Sambil menggerung karena ada orang lain ikut campur dia cepat menarik balik serangan. Tangan yang menjulur panjang disentakkan kebelakang.

Tangan terbetot mengerut hendak kembali ke bentuk aslinya. Tapi sebelum tangan benar-benar kembali ke ukuran semula. Pedang Gila membabat lengan si pangeran.

Craas!

Pangeran Durjana menjerit keras ketika tangan yang sekeras baja itu ternyata sanggup dibabat putus kilatan cahaya kuning yang ternyata adalah sebuah pedang.

Belum lenyap rasa kaget dihati. Satu cahaya putih menyilaukan yang berasal dari ilmu Badai Es yang dilepaskan Raja munghantam tubuhnya.

Pangeran Durjana terjajar ke dinding.

Sekujur tubuh hingga ke bagian rambutnya nampak diselimuti uap putih seperti es. Namun walau pukulan Raja sempat membuat tubuhnya dingin seakan beku.

Sang pangeran masih dapat bergerak bebas. Sambil mendengus dia kembali tegak.

Mata nyalang memperhatikan Raja yang baru saja jejakkan kaki tak jauh di depannya. Setelah itu dia memperhatikan tangannya yang buntung.

"Belum pernah ada senjata yang membuat tanganku seperti ini."

Batin Pangeran Durjana. Dia melirik ke arah potongan tangan yang tergeletak di lantai.

Sekonyong-konyong dengan sikap tidak perduli namun memendam kemarahan pada Raja dia berseru ditujukan pada bagian tangan di lantai.

"Tanganku. Kembalilah kau masih dibutuhkan!" Wuus!

Potongan tangan melayang, lalu menempel dan menyatu kembali ke tempat semula.

"Edan! Bagaimana tangan yang putus bisa bersambung lagi!" kata Raja dengan mata mendelik tak percaya.

Sang pangeran menyeringai sambil sunggingkan senyum mengejek. Sementara itu setelah berhasil lolos dari bahaya. Merasa ada yang datang menolong secepat kilat gadis ini bangkit berdiri.

Dia merasa lega begitu dilihatnya Raja telah berada di tempat itu

"Aku hampir saja mati dan saudaraku telah kena totokan aneh. Mengapa kau baru datang?" Tanya sang puteri menegur.

Lalu tanpa menunggu jawaban Sang Maha Sakti dia melirik ke arah Arum Senggini. Dia melihat sang kakak masih berdiri di tempatnya.

Tubuh terus meliuk, mulut terus mendesah, bibir basah lidah dijulur keluar masuk. Sesekali dari mulutnya terdengar suara erangan.

Tanpa ragu Nila Agung berlari mendapatkan sang kakak.

Tapi gerakannya tertahan karena Pangeran Durjana berusaha menghalanginya. Melihat tindakan yang dilakukan pangeran itu. Raja tidak mau diam.

Dia melompat menghadang sambil babatkan pedang di tangannya. Mendengar suara bergemuruh dan berkiblatnya pedang di tangan Raja. Pangeran Durjana tak mau mengambil resiko.

Dia segera batalkan serangan, kembali ke tempat semula sedangkan mulut semburkan sumpah serapah. Raja jejakkan kaki tak jauh di depan Arum Senggini.

Dari sikapnya jelas pemuda ini berusaha melindungi kedua puteri ini. "Kau tak menjawab pertanyaanku, apakah kau tuli?"

Tanya Nila Agung.

Dengan bersusah payah dia mencoba menyadarkan sang kakak. Tapi upayanya sia-sia.

Demikian pula ketika si gadis mencoba melenyapkan pengaruh totokan di dada Arum Senggini. Usahanya itu malah membuat sang kakak mengerang dan berusaha memeluknya.

"Benar-benar edan!"

Maki Nila Agung. Penasaran bercampur marah dia menyeret kakaknya ke sudut ruangan. "Aku datang terlambat."

Berkata Raja. Dan seperti diketahui pada episode sebelumnya Raja pernah bertemu dengan dua puteri kakak beradik itu di pantai Carita.

"Oh ya siapa yang kau maki edan?"

Tanya Raja tanpa menoleh ke belakang dan terus memperhatikan gerak gerik Pangeran Durjana. "Totokan ini. Dia telah menotok kakakku."

Raja terdiam. Tadi dia sempat melihat Arum Senggini meliuk-liukkan tubuh, mulut berdesis, mata setengah terpejam dan wajah merona merah. Ada yang janggal. Sesuatu telah terjadi pada sang puteri.

"Tapi apa?" pikir Raja.

"Jahanam edan itu telah menotok Arum Senggini." Akhirrnya Nila Agung memberi jawaban.

"Keparat busuk itu menotoknya. Totokan biasanya membuat tubuh korbannya menjadi kaku. Tapi yang kulihat saudaramu malah menggeliat seperti cacing kepanasan, lidah mendesis selayaknya orang kepedasan, wajah merah seakan malu dan mata seperti orang mengantuk. Bagaimana bisa begitu?"

"Apakah yang ditotok? Eeh.... maksudku bagian mana yang ditotok?!" Tanya Raja.

Pertanyaan itu jelas membuat Nila Agung menjadi bingung.

Sebelumnya dia sempat melihat Arum Senggini sempat mendapat perlakuan keji dari lawan. Dia melihat pangeran itu mengusap dan membelai dada kiri Arum Senggini.

Usapan dan belaian itu tidak hanya menimbulkan rangsangan aneh tapi juga membuat tubuh saudaranya kaku tak dapat bergerak dengan leluasa.

"Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya pada Raja?" Pikir Nila dalam kebimbangan.

"Kau tak mau menjawab tidak menjadi apa?" Ucap Raja acuh walau di hati dia merasa penasaran.

Di luar dugaan Pangeran Durjana yang sejak tadi diam memperhatikan membuka mulut

"Monyet gondrong bernama Raja, manusia jahanam yang telah membunuh Bocah Bocah Iblis anak sekaligus kaki tanganku. Menyangkut apa yang terjadi pada puteri calon pengantinku itu kiranya dapat kujelaskan. Tapi kuharap kau tak merasa iri. Ketahuilah. Aku sama sekali tidak menotok kekasihku itu, aku cuma mengusap dan membelai dadanya. Ternyata dia terlena dan nampaknya sudah tidak sabar kuajak tidur bersama! Ha ha ha!"

Raja manggut-manggut.

Tapi wajah mendadak berubah lebih merah kelam, mata mendelik garang hingga membuat hilang lenyap segala kejenakaannya.

Sementara itu di atas sebuah batu pipih bundar yang terletak diatas Bukit emas.

*****

Seorang kakek berpakaian rompi hitam tak terkancing bertubuh berperut gendut masih terus melakukan semedinya.

Sudah tiga hari orang tua berambut putih melakukan semedi di halaman pondoknya.

Dan orang tua yang usianya lebih dari tujuh ratus tahun dikenal dengan sebutan Dewa Mabok ini tidak bergeming walau saat itu hujan mulai turun rintik rintik.

Sejak Raja datang menyambangi tempat tinggalnya dan tak lama kemudian pergi meninggalkan pondoknya.

Diam-diam Dewa Mabok mulai diliputi kegelisahan.

Sebagai orang yang mengetahui asal-usul Pangeran Durjana.

Dia menyadar ­ niat Sang Maha Sakti Raja Gendeng untuk menghentikan kejahatan sang pangeran tak bakal mudah dilakukan.

Dia tahu.

Setelah bangkit dari kematiannya selama hampir seribu tahun. Sesuai dengan sumpah pangeran sendiri.

Dia akan mendapat bantuan dari penguasa kegelapan.

Tidak mengherankan setelah hidup kembali untuk kedua kalinya. Pangeran itu memiliki itmu kesaktian berlipat ganda.

Pada akhirnya Pangeran Durjana bakal menjadi manusia paling sakti tak terkalahkan bila dia berhasil bercinta dengan dua orang gadis yang masih mempunyai garis keturunan sama dengannya.

Mengingat itu sang pangeran diam-diam memendam niat untuk mendapatkan dua puteri gusti prabu Tubagus Kasatama yang tak lain masih terhitung cucu buyutnya sendiri.

Sebagai orang yang ingat mengetahul sejarah riwayat hidup Pangeran Durjana, Dewa Mabok tidak lagi dapat diam berpangku tangan hanya dengan bermabok-mabokkan saja. Orang tua ini yang semula tidak ingin lagi mencampuri segala urusan duniawi akhirnya memutuskan umntuk bersemedi mengharap sekaligus memohon petunjuk dari para Dewa. Hujan yang mengguyur kawasan bukit semakin lama semakin bertambah deras.

Sesekali kilat menyambar disusul dengan gelegar petir.

Si kakek yang sudah berhari-hari duduk bersila sambil pejamkan mata tiba-tiba dongakkan kepala.

Tak lama kemudian dari mulutnya terdengar ucapan.

"Wahai Hyang Jagad Dewa Bathara. Aku si tua bangka lapuk ini banyak melakukan kesalahan dan kekeliruan dimasa muda. Aku juga tidak bisa melepaskan kebiasaan burukku bermabok 66 Mutiara mabokan. Dan aku mohon berilah aku petunjuk atau sesuatu yang berguna untuk menghentikan segala petaka yang diperbuat oleh pangeran yang pernah mati yaitu Pangeran Bagus Anom Aditama alias Pangeran Durjana!"

Dhuar!

Bukan jawaban atau petunjuk yang dia dapatkan. Sebaliknya petir menyambar ganas di depan tempat yang diduduki oleh si kakek. Dewa Mabok berjingkrak kaget. Mulut terbuka keluarkan ucapan.

"Aku minta diberi petunjuk. Mengapa petir yang dikirimkan padaku. Wahai dewa-dewa aku tahu kesibukan diatas sana.Aku tahu karena jelek jelek begini dulunya aku masih titisan dewa juga walau cuma dewa titisan yang bersama Gutara Tribuana.Permintaanku hanya sekali saja dan tak akan pernah meminta apapun setelah ini. Kuharap dewa bermurah dengan kelimpahan kasih sayangnya."

Setelah mengucapkan kata-kata bernada permohonan. Dewa Mabok lalu diam membisu. Kilat tiba-tiba menyambar. Hujan lebat yang seakan tercurah dari langit mendadak terhenti.

Langit yang gelap gulita berubah menjadi cerah .Tidak terlihat lagi mendung hitam tebal. Langit biru ditaburi kerlip cahaya bintang. Seiring dengan itu terlihat pula bulan yang mulai condong di ufuk langit sebelah barat.

"Segala keresahan hatimu dapat dirasakan oleh penghuni kayangan. Para dewa tahu apa yang bakal terjadi di rimba persilatan. Untuk itu bukalah matamu dan pandanglah ke langit!"

Kata satu suara bergaung dikesunyian.

Sebagaimana yang diperintahkan, Dewa Mabok buka matanya.

Setelah mengusap dan mengedipkan mata tiga kali si kakek lalu mengangkat wajah dan memandang ke langit.

Dia terkejut ketika melihat cahaya putih benderang diatas ketinggian. "Wow.. bagaimana bintang dan matahari muncul bersamaan." Desisnya kaget.

"Saat ini malam hari. Hari telah lewat tengah malam. Yang hampir tenggelam di ufuk barat adalah bulan." Kata suara itu mengejutkan.

"Cahaya putih yang berada di atas ketinggian tepat berada disebelah atasku itu apakah bukan matahari? Mengapa terang sekali?!"

Kata Dewa Mabok seperti orang linglung.

"Gutara! Dalam keadaan waras tak terpengaruh minuman ternyata jalan pikiranmu keruh selayaknya orang mabok. Ketahuilah yang kau lihat adalah diriku. Tapi kurasa menyangkut diriku tidak penting bagimu. Jadi kau dengarlah baik-baik."

"Aku belum menjelaskan segala-galanya tentang maksud keinginanku. Apakah kiranya dewa tahu gerangan apa yang kubutuhkan?!"

"Mengapa kau semakin tua semakin pikun dan bodoh Gutara! Tidakkah kau sadar pemilik bumi mengetahui semua rahasia yang terucap maupun yang masih tersimpan di dalam hati dan setiap benak kepala manusia?"

Kata suara dalam cahaya terang. si kakek menyeringai, lalu garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Oh ya, aku lupa. Maafkan aku!"

Ucap si kakek. Setelah menghela napas dan berpikir sejenak Dewa Mabok berucap.

"Aku tak mau membuang waktu berlama-lama. Saat ini aku membutuhkan sesuatu. Sesuatu yang kuanggap dapat membantu seorang pendekar maha sakti dalam menyelesaikan sebuah tugas penting demi keselamatan manusia khususnya wanita."

"Yang kau maksudkan pastilah menyangkut pangeran yang sudah mati namun bangkit dari kematiannya. Dan Pangeran itu adalah Pangeran Durjana."

"Ya, betul sekali. Hebat ternyata kau sudah tahu padahal aku belum beri tahu. Tapi apakah aku boleh tahu siapa dirimu ini agar aku bisa yakin tidak minta petunjuk pada yang salah."

"Aku, sudah katakan tidak penting siapa diriku ini. Tapi karena kau terus memaksa. Baiklah tidak mengapa. Ketahuilah aku adalah suara kebenaran yang suci. Bukankah sejak tadi aku mengatakan dengan baik-baik, jangan menyela ucapanku."

Si kakek mengusap wajahnya lalu anggukkan kepala.

Setelah itu Dewa Mabok diam membisu dan tidak bertanya-tanya lagi. Untuk yang kesekian kalinya kembali terdengar ucapan dari balik cahaya gemerlap.

"Gutara Tribuana yang juga lebih dikenal dengan sebutan Dewa Mabok. Membunuh dan menghabisi Pangeran Durjana memang tidak mudah, karena dia sebenarnya sudah mati."

"Itu aku sudah tahu. Dia bangkit kembali sesuai dengan sumpahnya ketika dihukum gantung dulu.

Tapi aku ingin tahu bagaimana dia bisa bangkit dari kematian?"

"Bukankah kau tahu dia mengikat perjanjian dengan kuasa kegelapan yang bertahta di Sitaloka Lalu penguasa kegelapan mengirimkan roh yang tersesat ke dalam dirinya yang mati, maka diapun hidup kembali sesuai dengan sumpah yang pernah dia ucapkan," terang suara kebenaran. "Dukungan yang diberikan oleh penguasa kegelapan menjadikannya kuat dan tangguh.

Kekuatannya jadi tak terkalahkan apalagi bila dia sampai mendapatkan puteri prabu Kasatama." "Sekarang dia sedang melakukannya. Dia tengah berusaha keras membawa kedua puteri raja dari

istana. Tapi seorang pemuda sakti dari istana Pulau Es berusaha menghalangi."

Mata si kakek yang seperti orang mengantuk itu terbelalak lebar. Penjelasan suara suci kebenaran membuat Dewa Mabok menjadi cemas

"Jika dua puteri terjatuh dalam cengkeramannya. Dunia p ©rsilatan benar-benar berada diambang malapetaka besar. Aku butuh sesuatu yang bisa menghentikan semua sepak terjangnya. Aku tidak meragukan Raja Gendeng Sang Maha Sakti dari Istana es itu, namun aku takut Pangeran Durjana tak mudah untuk dihabisi."

"Kenyataannya memang demikian. Tapi yang maha kuasa selalu bermurah hati. Segala bentuk kejahatan pada akhirnya musnah oleh kebenaran. Karena itu sudah waktunya bagimu untuk meninggalkan puncak bukit. Aku akan memberimu bekal berupa sebuah benda yang kuambil dari dasar neraka yang paling panas. Carilah pemuda itu dan temukan Pangeran Durjana."

"Tunggu!"

Dewa Mabok tiba-tiba memotong.

"Aku ingin tahu benda apa yang hendak diberikan padaku dan apa kegunaan benda tersebut bagiku?"

"Benda sakti yang kumaksudkan adalah sebuah Mutiara Pembunuh. Mutiara pembunuh dibutuhkan untuk mengakhiri semua bentuk kekacawan yang ditimbulkan pangeran itu."

"Bagaimana cara menggunakannya?" Tanya Dewa Mabok tak mengerti.

"Caranya cukup mudah. Ikuti saja kemanapun pemuda yang bernama Raja itu pergi. Begitu dia terlibat perkelahian sengit dengan Pangeran Durjana kau jangan bersikap lengah. Kau harus bersiap siaga dengan mutiara itu. Tunggu kesempatan yang tepat. Kesempatan yang kumaksudkan akan datang pada saat Pangeran Durjana benar benar dalam keadaaan terluka di bagian wajahnya!"

Dewa Mabok anggukkan kepala tanda mengerti. Dalam hati dia merasa lega, Orang tua ini pun lalu rangkapkan dua tangannya di depan dada. Setelah menjura hormat sebagai tanda penghormatan pada Suara Kebenaran Suci dia berucap.

"Aku mengucapkan terinma kasih sebanyak-banyaknya padamu wahai suara suci dari dalam cahaya. Aku tak mungkin melupakan semua ini. Tapi...!"

Sampai disini Dewa Mabok tiba tiba hentikan ucapan.

"Tapi apa? Kau pasti hendak bertanya mengapa aku belum memberikan juga Mutiara Pembunuh yang kujanjikan itu?" "I-i-ya mana Mutiara Pembunuh yang menurutmu baru kau ambil dari neraka itu?" "Kau tunggulah sebentar, Mutiara yang kujanjikan akan segera datang kepadamu!" Suara Suci Kebenaran lenyap.

Sebagai gantinya terdengar suara bergemuruh yang diberengi dengan suara lolong dan jerit mengerikan selayaknya suara ribuan orang yang tengah menjalani siksa.

Terkejut!

Tak kuasa ingin mengetahui gerangan apa yang terjadi.

Serta merta Dewa Mabok mengangkat wajahnya menatap ke atas. Mulut si kakek ternganga lebar mata terbelalak begitu melihat diketinggian langit meluncur sebuah benda bulat lonjong berwarna putih terang dengan warna merah disekeliling tepinya. Benda bulat lonjong itu terus bergerak menuju ke puncak bukit tempat di mana si kakek berada.

Swiit! Siing! Buum!

"Walah hampir saja mutiara itu jatuh di atas kepalaku!"

Teriak Dewa Mabok kalang kabut .Beruntunglah dia cepat menghindar dengan bergulingan kesamping hingga benda bulat besar yang jatuh hanya mengenai batu hitam yang didudukinya.

Tanpa menghiraukan pakaiannya yang basah dan kotor terkena tanah becek berair, secepatnya Dewa Mabok bangkit berdiri.

Dia melihat batu kedudukannya hancur menjadi kepingan merah seperti bara. Diatas kepingan batu tergeletak benda sebesar pelukan orang dewasa.

Benda berwarna putih berkilau.

Cahaya putih kemerahan yang muncul di sekeliling benda perlahan lenyap, Hanya kepulan asap menebarkan hawa panas yang tersisa.

Melihat besarnya benda yang luar biasa.

Dewa Mabok geleng kepala namun cepat memandang ke atas tempat dimana cahaya terang seperti matahari mengambang menggantung diketinggian.

"Apakah ini Mutiara Pembunuh yang kau maksudkan, suara Kebenaran Suci?" Tanya si kakek.

"Ya. Memangnya kenapa?"

Tanya suara kebenaran di ketinggian.

Si kakek berdecak kagum sambil geleng geleng kepala.

Dia kemudian mendekati mutiara yang ukurannya sangat besar itu. Baru saja Dewa Mabok hendak menyentuh benda itu dia terpekik kaget. Mutiara Pembunuh ternyata masih panas. "Aku belum pernah melihat ada mutiara sebesar ini. Telur gajah sekalipun tidak ada yang segini besar."

"Apakah ada gajah yang bertelur?"

Dewa Mabok garuk-garuk kepala sambil menyeringai.

"Eeh maksudku telur gajah jantan, ee anunya. Itunya yang dibawah yang bergantung dan kembar."

Si kakek lalu tertawa.

"Kau ada-ada saja Gutara. Mutiara itu memang besar dan juga panas karena kudatangkan dari neraka. Tapi kau tak perlu risau. Kau tak perlu menggendong atau memanggul mutiara itu kemanapun dirimu pergi! Dengan kemurahan Yang Maha Kuasa. Mutiara Pembunuh akan menyesuaikan diri.

Lihatiah! Buka matamu lebar-lebar!"

Tanpa ragu namun dengan hati diliputi rasa ingin tahu si kakek menatap tajam kearah mutiara itu. Sekonyong-konyong mutiara putih berkilau bergetar.

Asap putih yang menyelimutinya secara perlahan berangsur lenyap.

Semakin lama getaran semakin menghebat. Dan si kakek pun akhirnya melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan.

Mutiara berukuran raksasa yang tergeletak berada tidak jauh dari hadapannya tiba-tiba mengecil.

Semakin diperhatikan Mutiara Pembunuh terus bertambah kecil talu berubah menjadi seukuran ibu jari tangan orang dewasa.

"Luar biasa?"

Gumam Dewa Mabok takjub.

"Kuasa dewa memang melampaui akal manusia." "Sekarang kau boleh mengambilnya Gutara Tribuana." Kata Suara Kebenaran Suci.

"Apakah sudah tidak panas lagi?" Bertanya si kakek dalam keraguan.

"Tidak... Tidak panas lagi. Ambil dan simpanlah di tempat yang aman dan kau boleh mempergunakannya. Pada waktu yang tepat."

Dewa Mabok menarik nafas dalam.

Kemudian dengan langkah perlahan namun pasti dia hampiri mutiara itu. Si kakek ulurkan tangan.

Mutiara yang ukurannya agak lebih besar dari mutiara biasa lalu disentuhnya dengan ujung jari. Sesuai yang dikatakan Suara Kebenaran Suci ternyata mutiara itu memang rasanya dingin-dingin saja.  

Mutiara dipungut lalu diletakkan dalam genggaman tangan kanan. Tapi begitu Mutiara Pembunuh berada dalam genggaman. Tiba-tiba orang tua itu meraung hebat. Sekujur tubuhnya bergetar.

Kilatan-kilatan cahaya putih terang bergerak dari bagian telapak tangan yang menggenggam mutiara lalu menjalar ke tubuhnya.

"Ah, mengapa bisa jadi begitu. Aku seperti disengat ribuan mahluk berbisa!" Pekiknya kaget. Belum lagi pekik jerit orang tua ini lenyap.

Kilatan cahaya benderang yang menjalar disekujur tubuhnya berangsur mereda. Dewa Mabok terhuyung.

Tapi ada beberapa keanehan yang dia rasakan. Keanehan pertama penglihatannya menjadi terang.

Sedangkan keanehan ke dua tubuhnya menjadi enteng seperti kapas. "Mutiara hebat! Kuasa dewa memang sungguh luar biasa."

Puji si kakek berulang kali.

"Tadi aku merasakan seperti digiring menuju ke gerbang kematian. Aku sempat ketakutan karena aku merasakan banyak dosa dan belum pernah kawin pula. Tidak tahunya Mutiara membuat tubuhku lebih enteng perasaanku seperti remaja tujuh belas tahun. Ha ha ha!"

"Anggap saja kau mendapat kelimpahan berkah, Gutara Tribuana. Sekarang sudah waktunya bagiku untuk undur diri. Dan kau sendiri sudah saatnya tinggalkan pondok bututmu itu!"

Tanpa sadar si kakek menatap ke arah pondoknya.

"Pondok itu memang sudah butut, lebih butut lagi usia penghuninya."

Batinnya. Dia lalu simpan Mutiara Pembunuh ini dari neraka di balik saku celananya. "Aku berterima kasih atas semua petunjuk yang kau berikan, Suara Suci kebenaran!" Katanya sambil menjura dalam-dalam.

Tidak ada jawaban yang terdengar. Heran.

Orang tua itu menatap ke atas.

Dia tertegun ketika menyadari cahaya putih terang yang awalnya dia sangka cahaya matahari ternyata telah lenyap dari tempatnya.

Hanya bintang-bintang yang dilihatnya.

Sementara bulan hampir lenyap di ufuk sebelah barat.

Dewa Mabok menghirup nafas dalam. Setelah itu dia bergegas menuju pondoknya.

*****

Setelah bersusah payah menyingkirkan beberapa Bocah Iblis yang coba menghadang langkahnya, Senopati Rangga Wulung Utama akhirnya terpaksa melewati jalan rahasia untuk mencapai ruangan depan istana.

Usaha itu dia lakukan untuk menghindar dari serangan kawanan lebah yang walau jumlahnya sudah tidak banyak lagi namun tetap menjadi ancaman berbahaya.

Di samping itu jalan rahasia yang dilewati senopati adalah satu-satunya jalan memotong paling dekat untuk mencapai ruangan utama.

Setelah melewati ruangan penuh di lorong yang terletak dibawah istana, Senopati akhirnya sampai di ujung anak tangga yang menghubungkan jalan setapak itu dengan ruangan yang berada di sebelah atasnya.

Tanpa ragu senopati menaiki anak tangga yang jumlahnya tidak lebih dari lima.

Sesampainya dipuncak tangga dia segera mendorong lantai marmar putih yang menutup jalan itu.

Lantai bergeser ke samping.

Senopati julurkan kepala memperhatikan seluruh ruangan yang sunyi.

Dia melihat beberapa perajurit dan seorang perwira tergeletak di ruangan itu. Tubuh mereka hancur luluh lantak menjadi lendir.

Hanya pakaian saja yang utuh yaitu pakaian seragam perajurit dan perwira kerajaan.

Senopati bergegas naik, lantai kembali digeser .Kemudian dia segera bergegas menuju ruangan depan.

Sesampainya di ruangan depan yang biasa dipergunakan sebagai tempat pertemuan pejabat tinggi dan raja, orang tua berambut panjang ini tercengang.

Dia melihat begitu banyak perajurit menemui ajal di tempat itu.

Tapi melihat keadaan luka ditubuh mereka, jelas yang membunuh perajurit itu bukan kawanan lebah maupun para Bocah Iblis

"Semua ini pastilah perbuatan pangeran busuk itu!" Geram senopati sambil kepalkan tinjunya.

"Tapi kemana gusti prabu?"

Dengan segenap perhatian dia layangkan pandang. Senopati keluarkan seruan begitu matanya melihat sosok tubuh terbujur di sudut ruangan. Bergegas senopati hampiri sosok berpakaian kuning emas. Begitu sampai di samping orang yang dituju, senopati segera jatuhkan diri berlutut

"Gusti prabu. Keadaan gusti sangat menyedihkan sekali!"

Kata senopati sambil memeriksa sekujur tubuh prabu Tubagus Kasatama yang dipenuhi luka. Tubuh itu telah dingin.

Orang tua ini melihat luka yang paling parah pada diri rajanya adalah luka dibagian leher dan dada. Di sekitar luka menganga terlihat warna biru kehitaman pertanda lukanya mengandung racun ganas mematikan

"Maafkan hamba, gusti. Maafkan hamba!"

Teriak senopati begitu sadar jiwa rajanya ternyata sudah tak dapat diselamatkan lagi. Sementara di bagian depan istana kehadiran kakek dan nenek aneh.

Aki Kolot Raga dan istrinya Nini Burangrang yang tidak terlihat mata itu, di luar dugaan mempunyai peran besar dalam membantu sekaligus menyelamatkan para perwira dan perajurit yang bertarung.

Para perajurit dan perwira merasa heran dan menganggap ada kekuatan dewa yang telah membantu mereka.

Maka mereka tidak menjadi gentar menghadapi sisa-sisa dari Bocah Bocah Iblis dan kawanan lebah ganas.

Diantara bau pesing yang makin santar tercium.

Perwira dan perajurit dengan semangat yang tinggi terus berusaha menghabisi musuh musuhnya.

Sedangkan Ki Kolot Raga dan istrinya yang tak dapat dilihat baik oleh lawan maupun perajurit istana dengan mudah membantai lebah-lebah yang beterbangan mencari sasaran.

Bahkan saat mereka menghadapi bocah-bocah iblis, mereka tidak lagi menemui banyak kesulitan.

Para bocah iblis menjadi hilang kesaktiannya setelah tubuh mereka terkena percikan air kencing si nenek. Tak lama kemudian suaminya bahkan ikutan mengencingi musuh-musuhnya.

Tindakan yang dilakukan Aki Kolot tentu membuat lawan makin tidak berdaya. "Aku tidak menyangka kau bisa menemukan kelemahan mahluk-mahluk ini istriku!"

Berkata Aki Kolot. Dan tentunya ketika dia bicara suaranya sama sekali tidak dapat didengar oleh perajurit, perwira maupun musuh.

"Semuanya bermula dari air najis. Tapi sudahlah suamiku, mengapa kau tidak kencing saja yang banyak. Dengan begitu perajurit istana sangat semangat karena mereka menyangka yang kencing adalah dewa. Hi hi hi.!"

"Air kencingku sudah habis." Sahut si kakek.

"Coba kau mengedan. Pasti masih ada sisa yang bisa dikeluarkan!" Kata si nenek.

"Aku sudah mencoba. Bukan air hebat itu yang keluar. Sebaliknya pusaka keramatnya yang hendak terbang. Ha ha ha!"

Si nenek, cemberut. Sambil terus menggebuk kesana kemari dengan kipasnya ke arah kawanan lebah dia berkata. "Pusaka karatan tak tahu diri. Coba kau angsurkan ke arah sini." "Eh buat apa istriku?"

Tanya Aki Kolot tak mengerti.

"Aku mau menggebuknya dengan Kipas ini sampai remuk biar kau tahu rasa. Hik hik hik!"

Sahut Nini Burangrang lalu mengumbar tawa bergelak "Ah tega-teganya kau bicara seperti itu."

Gerutu Aki Kolot bersungut-sungut. Entah kesal atau marah.

Si kakek tiba-tiba berteriak, lalu ayunkan tongkat hitamnya ke arah beberapa bocah iblis yang berada di depannya.

Para Bocah iblis memang kesakitan.

Mereka hendak membalas, tapi karena kedua kakek nenek itu tidak terlihat mereka jadi tak tahu ke arah mana serangan harus dilakukan.

Satu demi satu bocah itupun terkapar.

Begitu terjatuh di tanah tubuh mereka lenyap berubah menjadi kepulan asap.

*****

Kita kembali pada Raja.

Pemuda itu menjadi sangat marah ketika tahu puteri Arum Senggini bukan cuma telah menjadi korban totokan biasa Pangeran Durjana tetapi juga kena totokan perangkap nafsu bejat Pangeran Durjana.

"Mahluk busuk sepertimu tidak layak lagi berada di dunia ini!"

Geram Raja yang ditanggapi dengan tawa sang Pangeran Durjana. Raja Gendeng tidak menanggapi. Sebaiknya kini dia berseru ditujukan pada puteri Nila Agung.

"Puteri Nila, sebaiknya bawa saudarimu itu menyingkir dari tempat ini!"

Tanpa bicara si gadis segera berusaha membawa Arum Senggini pergi menuju ke yang lain. Tapi diluar dugaan dengan menggunakan tangannya yang kini bisa bergerak Arum Senggini menepis niat baik adiknya.

"Tidak mau. Aku tidak mau pergi. Aku lagi kasmaran mengapa kau menggangguku. Iri ya? Hi hi hi..."

Bentak si gadis. Kemudian tanpa merasa malu atau merasa risih Arum Senggini mengusap dan membelai bagian bagian tubuhnya sendiri.

"Celaka! Dia sudah dirasuki nafsu sesat pangeran laknat itu, Raja!" "Ah gila betul!"

Gerutu pemuda itu bingung sendiri

"Dia sudah ditakdirkan berjodoh denganku Raja Gendeng. Bahkan seandainya kau tidak datang kesini mencampuri urusanku, adiknya juga telah ditetapkan menjadi jodohku! Pemuda sinting pengusik kesenangan orang, sekarang terimalah kematianmu!"

Teriak Pangeran Durjana.

Sambil keluarkan teriakan menggeledek, kaki yang mengambang sejengkal di atas lantai bergerak selangkah ke depan.

Lalu tanpa suara kaki kanan menderu ke depan.

Belum lagi kaki yang menendang mengenai sasaran, Raja tiba-tiba merasakan ada satu kekuatan luar biasa besar melabrak dadanya.

Raja tercekat namun cepat ambil tindakan dengan mendorong dua tangan ke depan.

Gerakan tangan Raja bukan gerakan biasa karena Sang Maha Sakti menyertakan ilmu pukulan sakti Badai Serat Jiwa .Tidak mengherankan begitu dua tangan berkiblat terdengar suara menderu tak ubahnya badai yang mengamuk disertai berikiblatnya cahaya kuning menyilaukan mata.

Begitu pukulan melabrak kaki, hantaman keras tak terlihat yang menghimpit dadanya lenyap. Sedangkan kaki lawan yang seharusnya menghantam perut Raja tampak bergetar.

Pangeran Durjana terdorong mundur sejauh tiga langkah, suara deru terus melabrak ke arah sang pangeran Durjana.

Namun hanya dengan kibaskan tangan kirinya serangan sakti yang dilakukan Raja musnah. Sebaliknya di sebelah depan Raja terhuyung.

Pangeran Durjana tertawa dingin. Wuut!

Tiba-tiba tubuh sang pangeran melambung, jungkir balik di udara.

Selanjutnya dalam keadaan rebah mengambang setinggi dada dia melesat ke arah lawan. Dua tinju terkepal.

Menggunakan jurus Tarian Rajawali. Raja liukkan tubuh lalu berkelit ke samping .Selanjutnya dengan tangan kiri dia menghantam lawannya.

Tak! Uuh. !

Raja Gendeng keluarkan seruan tertahan.

Sambaran tangan kiri yang dia pergunakan untuk meremukkan dua lengan lawan justru terasa sakit tak ubah seperti menghantam gunung karang .Pemuda itu terhuyung dan selagi belum sempat mengimbangi diri, satu tamparan keras mendarat dibahu sementara dua pukulan mendarat di dada kiri. Tamparan dan pukulan yang keras membuat Sang Maha Sakti jatuh terbanting.

Tapi sesuatu yang aneh diluar dugaan terjadi pada lawannya.

Pangeran Durjana yang mempunyai berbagai ilmu aneh tiba-tiba melompat mundur ke belakang sambil kibas-kibaskan tangan yang dipergunakan untuk memukul dada Raja. Berdiri tegak dengan tubuh tergontai, Pangeran itu memperhatikan punggung jemarinya yang bengkak menggembung .Setelah itu dia memperhatikan lawan yang sudah bangkit berdiri.

Dengan mata mendelik seakan tak percaya mulut sang pangeran mendesis.

"Baju itu? Baju sakti apa yang melekat ditubuhmu? Pakaianmu membuat seranganku berbalik menghantam diri sendiri!"

Raja yang baru mengetahui pakaian saktinya memberi reaksi saat dirinya diserang diam-diam merasa kagum, namun kemudian menyeringai

"Terkejut pangeran iblis? Ini belum seberapa. Sebentar lagi aku mencabik-cabik tubuhmu dengan pedangku!"

"Kau tak bisa melakukannya. Pedang saktimu mungkin bisa saja menjadikan tubuhku ini berubah menjadi kepingan. Tapi tak banyak artinya karena setiap potongan tubuhku bakal bertaut kembali!"

Sahut Pangeran disertai seringai mengejek.

"Aku telah melihatnya. Tapi sebelum mampus kiranya kau pantas menjajal manisan dari neraka!"

Belum lagi ucapan pemuda itu lenyap, Raja telah melesat ke depan, merangsak lawan dengan menggunakan jurus Delapan Bayangan Dewa.

Pangeran Durjana dan setiap orang yang berada di ruangan itu sama melihat betapa tubuh Raja bergerak cepat menjadi delapan bayangan aneh yang mengurung lawan dari segala penjuru.

"Jurus aneh apa yang dimiliki pemuda edan itu. Mengapa tubuhnya berubah menjadi banyak.

Apakah mungkin dia juga mempunyai Ilmu Bayangan Kembar sebagaimana yang kumiliki." Membatin Pangeran Durjana dalam hati.

Tapi dia tidak dapat memikirkan segala keanehan yang dilihatnya lebih lama.

Apalagi setelah menyadari walau dia telah berusaha berkelit, menghindar dari serangan tetap saja beberapa bagian tubuhnya menjadi sasaran dan pukulan lawan.

Sambil menggeram Pangeran Durjana tiba tiba memutar tubuh dan membuka pertengahan jubah sebelah kiri juga disebelah kanan.

Kedua ujungnya digerakkan sekaligus melepas serangan ganas dikenal dengan nama Kain Iblis Menyelimut Bumi Buut!

Wuus!

Angin dingin, laksana es menderu tindih menindih, melabrak kesegenap penjuru dan menghancurkan apa saja yang terdapat di sekitarnya.

Di sudut ruangan, Nila Agung yang terus membujuk sambil memegangi saudaranya menjerit keras, tubuh terpental lalu terbanting ke sebelah kiri.

Sedangkan Arum Senggini terkapar disudut sebelah kanan.

Sementara itu, Raja yang telah berusaha menggempur lawan dari segala penjuru, begitu merasakan ada angin dingin melabrak tubuhnya segera menghantam sambil lindungi diri dengan pukulan Cakar Sakti Rajawali.

Tapi baru saja tangannya terjulur dan jemarinya membersitkan cahaya seperti cakar rajawali besar, serangan ilmu Kain Iblis Menyelimuti Bumi telah melabrak tubuhnya. Tanpa ampun pemuda itu jatuh terpelanting.

Dinding di belakangnya jebol, langit-langit dan bagian atapnya hancur luluh berserakan menjadi kepingan. Megap-megap pemuda ini segera bangkit .Mata dipentang memperhatikan sekelilingnya.

Sunyi.

Hanya kepulan asap dan reruntuhnn bangunan saja yang dilihatnya. Raja menjadi cemas.

Terlebih ketika tak melihat lawan berada di tempat itu.

Diapun mulai mencari sambil memanggil-manggil nama puteri Nila Agung. "Puteri... dimanakah dirimu..."

Seru Raja sambil berusaha mengalirkan tenaga dalam berhawa hangat kesekujur tubuhnya yang serasa luluh lantak dan membeku.

"Ark....tolong aku. "

Terdengar suara erangan lirih disebelah kirinya.

Pemuda itu bergegas menghampiri ke arah datangnya suara.

Dia melihat Nila Agung nampak meringkuk setengah terbujur dibawah puing reruntuhan. Tanpa bicara Raja menyingkirkan puing-puing itu.

Dia melihat sang puteri meringis kesakitan.

Wajah pucat kebiruan, pakaian dan rambutnya kotor, bahkan mahkota yang bertengger diatas kepalanya hilang tercampak entah kemana.

"Ak....aku tidak bisa bernafas.Tubuhku seperti membeku. Aku. "

Sambil terbata-bata Nila Agung jelalatan memperhatikan kesamping. "Kakakku... saudaraku itu. Dia....dia membawanya!"

"Celaka! Dia sengaja membuat kekacauan seperti ini. Dia mencari kesempatan untuk membawa pergi puteri Arum Senggini!"

Desis Raja. Pemuda itu lalu menolong membantu sang puteri agar dapat duduk. Begitu terduduk barulah Raja dapat melihat jelas dari mulut dan hidung Nila Agung menetes darah kental.

"Tolong temukan saudaraku itu. !"

Pinta si gadis dengan nafas mengengah.

"Aku tahu, aku akan melakukan pengejaran. Tapi aku harus membantumu dulu. Kau menderita cidera dalam cukup parah. Jika aku tidak mengalirkan tenaga dalam ketubuhmu, jiwamu mungkin tidak tertolong lagi!"

"Bb...baiklah, bantu aku. " Jawab si gadis sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Raja tak mau membuang waktu. Dia lalu menggeser tubuhnya hingga berada tepat di belakang Nila Agung.

Setelah menghela nafas dalam-dalam lalu dia ulurkan kedua telapak tangannya. Telapak tangan yang dibuka ditempelkan di punggung sang puteri.

Begitu telapak tangan menyentuh punggung yang dingin seperti es, Raja segera alirkan hawa murni hangat yang disusul dengan pengerahan tenaga sakti.

Beberapa saat kemudian sekujur tubuh Nila Agung bergetar.

Dari kedua bahu hingga kebagian ubun-ubunnya tampak mengepulkan asap putih tebal.

Nila Agung merasakan tubuhnya perlahan lahan berubah menjadi hangat sementara dada yang menyesak sedikit demi sedikit menjadi longgar.

Tapi ada sesuatu yang mendesak dari dada.

Si gadis terbatuk beberapa kali lalu muntahkan darah kental hitam sebesar jemari tangan. "Keluarkan terus! Darah beku seperti itu akan sangat berbahaya bila tetap mendekam di

dadamu!"

Ujar Raja sambil lipat gandakan hawa murni ke tubuh Nila Agung.

Setelah tubuh si gadis menjadi hangat dan wajah yang pucat kebiruan berangsur normal kembali ke warna aslinya. Raja menjauhkan tangannya dari punggung sang puteri.

"Terima kasih kau sudah menyelamatkan nyawaku." ucap sang puteri dengan mata berkacakaca. Raja anggukkan kepala.

Dia segera membantu sang puteri tegak berdiri.

Setelah keduanya berdiri dan berhadap-hadapan Raja berkata.

"Membantu setiap orang yang butuh pertolongan merupakan kewajiban setiap insan. Kau tidak perlu memakai banyak peradatan. Sekarang ini kau butuh memulihkan diri. Sedangkan aku harus segera mengejar Pangeran Durjana yang telah melarikan saudaramu."

Ucapan Sang Maha Saldti membuat Nila Agung terdiam. Sebenarnya dia ingin menahan Raja agar tinggal di istana lebih lama lagi. Apalagi mengingat keadaan di istana masih kacau dan dia juga belum tahu bagaimana nasib ayahanda prabu. Di samping itu juga jauh dilubuk hati sang puteri sebenarnya dia masih ingin berlama-lama bersama Raja. Dia merasa rindu pada Raja. Dan sejak pertemuan pertama di pantai Carita malam itu, Nila Agung memang sulit melupakan Raja.

Namun mengingat dia juga mengkhawatirkan keselamatan Arum Senggini saudaranya, dengan berat hati akhirnya dia berkata.

"Aku tidak bisa menahanmu lebih lama. Aku berharap saudaraku bisa kau tolong. Aku tak ingin kehilangan dia. Tapi kumohon kau juga bisa menjaga dirimu baik-baik."

Raja tersenyum.

"Aku bisa menjaga diriku. Kau tak usah risau. Aku yakin pangeran itu tak bakal lolos dari tanganku. !"

Sahut Raja.

"Aku percaya padamu, tapi aku tetap menghawatirkan keselamatanmu juga." Ujar Nila Agung sambil menatap Raja dengan tatapan sendu penuh arti.

Raja menyeringai lalu menggaruk kepala.

Baru saja dia hendak berucap di ruangan itu tiba tiba muncul seorang kakek bertubuh pendek berambut panjang sebetis dan berpakaian kuning. Raja yang mengenali si orang tua karena sebelumnya pernah menolong membantu si kakek yang bukan lain adalah senopati kerajaan anggukkan kepala.

"Bagaimana keadaanmu senopati?"

Bertanya Raja sambil menatap orang tua itu.

"Beginilah keadaanku anak muda. Mungkin tanganku yang cidera tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Namun aku bersyukur hingga saat ini aku masih diberi kesempatan hidup oleh Yang Maha Kuasa."

Jawab senopati.

Si orang tua kemudian beralih pada Nila Agung yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

Walau gadis itu tidak mengajukan satupun pertanyaan tetapi senopati dapat merasakan ganjalan di hati si gadis.

Senopati cepat berlutut.

Tangan kiri yang tidak cidera segera diletakkan di depan dada ,kepala tertunduk dan dengan suara serak parau penuh prihatin dia berucap.

"Ampun seribu maaf, gusti puteri. Hamba tidak mampu melindungi gusti prabu. "

"Apa yang terjadi dengan ayahanda prabu, kek?"

Bertanya si gadis dengan mata berkaca-kaca namun dia tetap berusaha tabah.

Mendapat pertanyaan itu wajah senopati tertunduk makin dalam

"Gusti puteri.Ayahanda prabu gusti puteri tidak tertolong. Pangeran Durjana membunuh beliau.

Saat ini beliau saya semayamkan di ruang peristirahatan, sekali lagi maafkan hamba yang bodoh ini gusti!"

Setabah-tabahnya Nila Agung, mendengar kematian orang tua yang dikasihi dia tak kuasa membendung tangisannya. Sambil menangis sesunggukkan mulutnya meratap.

"Jagad Dewa Bathara. Mengapa dia pergi begitu cepat. Aku bahkan tak diberi kesempatan membalas kebaikannya. Hu hu hu!"

Melihat Nila Agung menangis, Sang Maha Sakti Raja Gendeng rupanya merasa iba. Sedangkan senopati yang merasa bersalah diam tertunduk ditempatnya.

"Setiap orang pasti pernah kehilangan. Kau harus tabah. Hendaknya pula kau selalu ingat bahwa hidup manusia pasti ada batasnya."

Ucap Raja sambil mengusap rambut hitam panjang Nila Agung. Sang puteri semakin tersentuh, dia larut dalam tangis.

Namun setidaknya dia merasa sedikit berlega hati karena dalam keadaan yang sulit masih ada orang memperhatikan.

"Terima kasih atas nasihatmu,"

Ucap Nila Agung sambil menyeka air mata yang membasahi pipi. Setelah itu dia lanjutkan ucapan.

"Aku mohon bantulah kami. Cari Pangeran Durjana dan temukan kakakku puteri Arum Senggini.

Aku tak mungkin pergi menyertaimu, harus ada yang merawat ayahku sampai sampai pada pemakamannya."

"Aku tahu. Pergilah! Temui ayahmu."

Kata Raja. Kemudian pada senopati. Raja juga berkata.

"Paman senopati, bantulah gusti puteri. Gusti prabu dan yang lain-lainnya harus dimakamkan.

Sedangkan aku akan mencari dimana Pangeran Durjana itu berada."

"Tak perlu khawatir pendekar sakti. Ini sudah menjadi kewajibanku. Kuharap kau berhati-hati, lawan yang kau hadapi itu bukan manusia biasa. Selain sakti dia berbeda dengan kita."

Pesan senopati.

Raja anggukkan kepala.

Setelah berpamitan pada Nila Agung pemuda itu berjalan menuju ke bagian belakang istana. Tapi sebelum pemuda itu sampai di taman belakang.

Di tengah jalan dia dikejutkan dengan kehadiran Kabut Hitam. Mahluk besar yang aslinya adalah gadis berilmu sangat tinggi yang dengan kesaktiannya pernah mencoba mencuri kabar di kayangan itu.

Sebagaimana telah diketahui berusaha mengejar sisa-sisa bocah iblis yang melarikan diri masuk ke istana.

Tapi Kabut Hitam, kemudian kehilangan jejak. Anjing besar ini kemudian berniat membantu Raja.

Tapi sebelum dia muncul di ruangan tempat dimana pertempuran terjadi, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dahsyat yang memporak porandakan ruangan yang bersebelahan dengan peraduan kedua puteri raja.

Baru saja Kabut Hitam mencoba mencari tahu gerangan apa yang telah terjadi. Sang Maha Sakti Raja Gendeng muncul di depannya.

Melihat kehadiran Raja, Kabut Hitam menjadi bingung. Dia ragu apakah dia harus bicara pada pemuda itu.

Mengingat pada pertemuan sebelumnya dia memang tidak pernah bicara apapun pada Raja. "Kau disini? kebetulan sekali. Apa yang kau lakukan di tempat ini?"

"Ah, ya waktu itu aku lupa mengucapkan terima kasih kepadamu. Tapi... apakah kau yang menyediakan kuda itu untukkku?"

Kata Raja sambil pandangi anjing besar berbulu hitam pekat itu.

"Ya... memang kuda itu untukmu. Aku juga yang meninggalkan pesan di daun lontar," Sahut Kabut Hitam dengan suara lirih bergetar.

Tak menyangka Kabut Hitam ternyata bisa bicara. Raja menjadi terkejut sekali.

"Kk...kau bisa bicara? Mengagumkan sekali. Baru kali ini aku melihat mahluk sepertimu bisa bicara selayaknya manusia. Biasanya..."

Raja tidak menyelesaikan ucapan. Sebaliknya dia menelan ludah sambil tatap mahluk itu dengan mata terbelalak

"Biasanya anjing hanya bisa melolong. Bukankah begitu yang ingin kau katakan?" Kata Kabut Hitam. Raja Gendeng menyeringai.

"Maaf memang itu yang ingin kukatakan. Tapi aku tak mengerti bagaimana dirimu bisa bicara?" Kabut Hitam mendengus.

"Mengenai diriku tak perlu diungkit. Satu yang kiranya patut kau ketahui wahai pewaris istana pulau Es. Dulunya aku adalah manusia, sama sepertimu. Sesuatu yang buruk menimpaku dan itu merupakan ketololanku di masa lalu."

Terang Kabut Hitam

"Agaknya kau pernah mengalami kejadian yang hebat. Walau aku ingin mengetahui lebih banyak tentangmu, tetapi nanti saja di lain hari. Saat ini aku ingin tanya bagaimana kau bisa tahu aku berasal dari istana Pulau es?"

"Mengenai bagaimana aku bisa tahu siapa dirimu rasanya tak perlu mengatakannya padamu. Masih banyak urusan penting yang harus diselesaikan. Ketahuilah aku baru saja menghalau dan membunuh sebagian bocah iblis dan kawanan lebah di taman belakang. Sayang aku tidak sempat menolong pejabat tinggi istana yang terluka parah di tempat itu."

Terang Kabut Hitam yang segera disambut Raja dengan ucapan.

"Kau telah banyak membantu aku. Mengapa kau melakukan semua ini padahal kita tidak saling mengenal."

"Membantu orang yang sedang dilanda berbagai kesulitan sebenarnya menjadi kewajiban setiap insan. Ada pun tentang alasanku, kau tak perlu tahu..."

"Hmm, begitu. Tapi aku perlu tahu mengapa kau memperhatikan aku saat nyaris telanjang di depan gua waktu itu? Apakah kau menikmatinya ataukah kau merasa aneh dan belum pernah melihat kodok menggigil kedinginan?"

Walau ucapan Raja hanya sekedar bercanda, namun Kabut Hitam merasa tersinggung. Andai rupa dan ujudnya tidak dalam keadaan seperti itu. Tentu Raja dapat melihat betapa wajah si gadis menjadi merah.

"Jangan berperasangka buruk padaku. Sama sekali aku tidak bermaksud melihatmu apalagi menikmati pemandangan konyol itu. Lagi pula aku lebih suka melihat pemandangan bagus. Jadi buat apa mengintai barang jelek butut begitu."

"Eeh jangan sembarangan. Biar butut tapi yang satu itu hebat. Sekali dia terjaga sepuluh gadis berlutut di depanku. Ha ha ha..!"

"Apa maksudmu?"

Tanya Kabut Hitam tak mengerti.

"Oalah, kau tidak mengerti atau pura-pura tak mengerti. Tapi sudahlah, lebih baik kau lupakan gurauanku. Saat ini aku harus mengejar Pangeran Durjana yang melarikan diri."

"Aku tahu. Tapi bukankah aku telah memberikan seekor kuda padamu?!"

"Iya. Kuda itu ada dihalaman diluar benteng istana. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Angin Ribut,"

Ucap Raja menyebut nama kuda pemberian Kabut Hitam.

"Kalau begitu aku tak akan menahanmu lebih lama. Sekarang kau boleh pergi." "Apakah kau tidak mau ikut denganku?"

"Lihat saja nanti. Kau pergi saja duluan." kata Kabut Hitam

"Aku tidak mau memaksa. Sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan yang kau berikan kepadaku. Selamat tinggal. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi."

Kata Raja.

Sang anjing menggerung lirih sambil anggukkan kepala.

Sang Maha Sakti sendiri kemudian berkelebat melewati tembok benteng istana. Sekejab kemudian raib.

Kabut Hitam berdecak kagum melihat ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerak Raja yang luar biasa itu.

Dalam hati dia berucap,

"Hyang Jagad Dewa Bathara, aku tak pernah menyangka .Engkau mempertemukan diriku dengan seorang pendekar tampan selugu dia. Keadaan diriku yang seperti ini membuatku merasa ingin selalu berdekatan dengannya. Mengapa dewa tidak mempertemukan aku dengannya disaat dulu sebelum rupa dan ujudku seperti ini."

Kabut Hitam dongakkan kepala menatap ke langit. Saat itu malam hampir berganti pagi.

Sayup-sayup dia mendengar suara ayam berkokok dikejauhan.

Kabut Hitam menarik nafas dalam. Setelah itu dia berlari menuju istana. Rupanya sebelum pergi mahluk kutukan ini ingin memastikan Bocah-Bocah Iblis maupun kawanan lebah Pembunuh benar-benar sudah tidak ada lagi yang bertahan dilingkungan istana.

*****

Setelah selesai membantu perwira dan perajurit kerajaan di halaman depan. Aki Kolot Raga dan istrinya Nini Burangrang akhirnya memutuskan untuk meninggalkan istana diam-diam

"Aku kasihan melihat puteri Nila Agung kehilangan saudaranya," Berkata Nini Burangrang yang berjalan disamping si kakek.

"Ya Pangeran Durjana telah berhasil melarikan puteri Arum Senggini. Kurasa itu pula yang menjadi alasan mengapa pemuda gondrong bersenjata pedang yang datang ke istana dengan menunggang kuda aneh tak dapat mengikuti pemakaman gusti prabu. "

"Kau yakin pemuda gondrong itu ingin mengejar Pangeran Durjana?" Tanya si nenek disertai kerlingan nakal.

"Aku yakin sekali. Mana mungkin dia mengejar dirimu. Kalau dia berani melakukannya aku akan gebuk dia dengan tongkatku ini!"

Tukas Aki Kolot Raga tak dapat menutupi rasa cemburunya. Nini Burangrang tertawa mengikik "Kalau pemuda itu jatuh cinta padaku. Kurasa itu wajar-wajar saja. Aku kan cantik. Hi hi hi" Ucap si nenek sengaja memanas-manasi. Aki Kolot menggeram matanya mendelik.

"Kumohon kau jangan berkata lagi seperti itu. Ucapanmu membuat darah ini mendidih, jantung deg-degan dan hatiku bisa meleleh. Kau tidak boleh jatuh cinta pada siapapun istriku. Kau hanya milikku seorang."

"Hik hik. Kau takut aku meninggalkanmu ya?" Cibir si nenek.

"Ya itu pasti. Kuakui kau memang sangat cantik, sedangkan aku sudah tua dan tambah jelek pula. Tapi kalau dalam urusan yang satu itu aku tidak pernah membuatmu kecewa."

Ucap Aki Kolot sambil unjukkan tampang sedih memelas

"Ya sudah. Begitu saja kau sudah mau menangis. Sekarang lebih baik kita susul saja pemuda itu."

Usul Nini Burangrang membuat Aki Kolot hentikan langkah menatap istrinya dengan sorot curiga.

"Mengapa menyusul dia. Bukankah kita harus ke timur. Kita harus menemukan kitab Dewa Naga. Aku tidak mengerti mengapa jalan pikiranmu selalu berubah-ubah. Jangan-jangan kau tertarik pada si gondrong aneh berpakaian kelabu itu."

"Wah-wah-wah. Cemburu sih boleh-boleh saja Ki. Tapi kalau keterlaluan tolol itu namanya. Aku ingin tahu apa yang terjadi, mungkin saja dia butuh bantuan kita."

"Aku tak perduli lagi apa yang bakal terjadi. Kau minta datang kesini aku datang. Kau minta aku ikut bantu kerajaan aku bantu. Lagi pula apakah kau lupa.?" "Lupa apa? Memangnya ada yang kulupakan?" katanya si nenek

"Bukankah kau berjanji begitu urusan di Istana selesai kita akan mencari tempat yang bagus untuk memadu kasih!"

Kata Aki Kolot sambil julur lidah basahi bibir

"Ah hi hi hi. Aku tidak melupakan setiap janji yang kuucapkan. Tapi aku tidak bisa memenuhi permintaanmu saat ini. Kita harus menyusul pemuda itu!"

"Oh gusti pangeran. Lagi-lagi aku harus gigit jari," Ujar si kakek kecewa.

Setelah sempat diam dan berpikir akhirnya Aki Kolot melanjutkan.

"Baiklah Nini. Demi menyenangi hatimu... Rasanya walau harus ke neraka pun aku turut" Nini Burangrang tersenyum sebagai tanda kemenangan.

Tanpa bicara lagi ke dua kakek dan nenek ini akhirnya bergegas meninggalkan gerbang istana. Tapi baru saja keduanya hendak menggunakan ilmu lari cepat yang mereka miliki.

Tiba-tiba saja terdengar suara dengus sekaligus bentakan di belakang mereka.

"Dua orang tua yang menyembunyikan diri dari balik pandangan mata tak ubahnya setan. Siapa kalian dan hendak pergi kemana?!"

Terkejut Nini dan Aki Kolot lalu hentikan langkah. Seketika keduanya balikkan badan menatap ke depan.

Kedua suami istri ini terkejut dan saling berpandangan ketika melihat di depan mereka berdiri tegak seekor anjing berbulu hitam bermata merah

"Ada anjing sebesar itu?" Desis si nenek.

"Anjing itukah yang bicara? Mengapa suaranya seperti suara gadis cantik?" Kata si kakek pula.

"Tak usah bingung dua orang tua aneh. Aku yang baru saja bicara. Aku adalah Kabut Hitam.

Kalian siapa?"

Kata sang anjing sambil menatap curiga.

"Kabut Hitam? Kau ini anjing sungguhan atau anjing jejadian?"

Kata Aki kolot

"Anjing sungguhan atau anjing jejadian apa bedanya? Mengapa kau ada ditempat ini dalam keadaan seperti itu?"

"Ah ya. Seharusnya kami merasa kagum .Bagaimana kami yang berada dalam pengaruh ilmu melenyapkan diri dapat terlihat olehmu. Padahal Bocah-Bocah Iblis dan kawanan lebah yang menyerang istana tak dapat melihat kehadiran kami."

"Kau betul istriku. Walau heran sekaligus merasa takjub padamu. Ketahuilah kami baru saja membantu kerajaan dalam menghalau kaki tangan Pangeran Durjana. Kami bukan musuh, kami tidak bermaksud jahat. Namaku Aki Kolot Raga dan istriku ini bernama Nini Burangrang. Kuharap kau di pihak yang sama."

"Hm, ternyata kau membantu kerajaan. Akupun baru saja melakukan pekerjaan yang sama.

Semula aku menduga kalian adalah kaki tangan pengikut Pangeran Durjana. Ternyata kalian berdua ikut menyumbangkan bakti membantu kerajaan. Bagus. Tindakan kalian terpuji."

Aki Kolot melangkah maju satu langkah.

Setelah memperhatikan sang anjing dengan sorot mata masih menyimpan heran, orang tua ini membuka mulut dan berucap.

"Kami tidak ingin mendapatkan pamrih, Dan perlu kau ketahui, aku bukan orang yang selalu bertindak lempang."

Nini Burangrang menimpali.

"Jalan hidup kami berbelok-belok seperti aliran sungai. Hari ini mungkin saja banyak melakukan bakti menebar kebaikan siapa yang menduga esok kami justru membunuh orang yang tidak berdosa."

"Hmm, ternyata kalian termasuk manusia remang-remang, setengah sesat setengah baik mengapa?"

"Aku tidak tahu..." menyahut Aki Kolot sambil menyeringai.

"Masalah itu jangan tanyakan pada suamiku. Dia hanya tahu urusan perut juga apa yang ada di atasnya juga yang ada di bawah itu. Hik hik "

"Nenek gila! Jangan bicara ngaco dihadapanku. Sekarang sebaiknya kalian berterus terang padaku, kalian berdua hendak kemana?"

Hardik Kabut Hitam disertai seringai angker menggidikkan. Melihat sang anjing membuat kuda-kuda dan siap menyerang.

Nyali si nenek pun jadi ciut

"Mm, maafkan... Aku mengira kau mahluk yang suka bergurau. Tak disangka kau malah tersinggung. Baiklah aku ingin berterus terang. Kami sebenarnya ingin menyusul permuda gondrong bersenjata pedang itu."

"Kau hendak menganggunya?"

"Oh tidak. Kami bahkan berniat membantu kalau pemuda itu memang butuh pertolongan! Eeh apakah kau mengenalnya?"

Berkata si kakek.

"Tapi kurasa dia tak butuh bantuan kalian. Biarkan aku yang akan membantu. Dan itupun bila aku melihat dia memang butuh bantuan,"

Tegas Kabut Hitam ketus

"Baiklah.., tapi izinkan kami melihat apa yang akan terjadi. Kami berjanji tidak akan melakukan apapun."  

Kata si nenek memelas. Kabut Hitam diam memperhatikan.

Melihat keduanya tampak bersungguh-sungguh, sang anjing berkata

"Baiklah! aku mengizinkan kalian pergi. Ikuti aku dan jangan lakukan apa pun bila tak kuminta. Ingat, walau kalian tak terlihat namun ilmu tipuan mata yang kalian pergunakan saat ini tidak ada artinya bagiku!"

"I... ya iya, aku...eh maksudku kami berdua mengerti,"

Ucap si nenek dan si kakek bersamaan. Sang anjing dongakkan kepala.

Kemudian tanpa menoleh lagi dia berkelebat tinggalkan tempat itu. Melihat gerakan Kabut Hitam yang begitu cepat tak ubahnya seperti kilat menyambar, Aki Kolot Raga geleng geleng kepala.

"Luar biasa! ilmu kesaktian apa yang dimliki mahluk itu. Mengapa dia mampu bergerak secepat itu?" Desis Nini Burangrang.

"Aku juga tak tahu. Mungkin ilmu hantu dikejar iblis istriku. Ha ha ha. !"

"Hantu gundulmu itu yang tak tahu diri." dengus Nini Burangrang sambil berlalu dan menyusul mahluk kutukan itu.

"Ah istriku. Aku tahu setan gundulku memang tidak tahu diri. Tapi tanpa setan gundul kau pasti tak mau menjadi istriku. Hek-hek hek!"

*****

Di sepanjang jalan sambil memanggul tubuh puteri Arum Senggini di atas bahu di sebelah kiri Pangeran Durjana terus merutuk tiada berkeputusan. Dia tidak pernah menduga penyerbuannya mengalami kegagalan.

"Para pendatang itu. Bagaimana mereka bisa tahu aku bakal menyerang istana? Anjing Hitam, dua penyerbu yang tak bisa dilihat oleh kaki tanganku dan Sang Maha Sakti Raja Gendeng...!"

Geram sang Pangeran sambil terus berlari.

"Diantara mereka semua hanya Raja Gendeng lawan yang paling berat. Aku tidak akan membiarkan segala penghinaan ini terjadi. Aku belum kalah. Mereka semua harus tahu siapa aku. Sayang... aku tidak berhasil membawa kedua putri raja sekaligus!"

Batin Pangeran Durjana.

Laki-laki tinggi yang dapat merubah-rubah wajah dan penampilannya itu terus saja berlari. Sambil berlari otaknya berpikir cepat.

Apakah dia harus membawa puteri Arum Senggini ke istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta. Tapi istana itu letaknya sangat jauh dari Malingping.

Dibutuhkan waktu setengah hari perjalanan dengan manggunakan seluruh limu lari cepat yang dia miliki.  

"Aku tidak mungkin kembali ke istana Kekuasaan & Hasrat Cinta. Gadis ini terus mengerang. Aku tahu seluruh jiwa dan raganya telah dirasuki nafsu. Semua in ­ berkat ilmu totokan Pembangkit Rasa Penghilang Malu."

Pangeran Durjana menyeringai.

Sambil terus berlari dia mengusap dan menepuk pinggul besar sang puteri. Si gadis mengerang.

"Aku hendak dibawa kemana?!" Desah Arum Senggini bertanya.

"Ha ha ha. Pangeranmu ini akan membawamu ke suatu tempat yang tidak mudah ditemukan oleh orang lain. Kau bersabarlah. Pesta pengantin sekejab lagi dimulai!"

Sahut sang pangeran diiring tawa bergelak

"Aku sudah tak sabar pangeran. Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama,"

Gumam si gadis. Ternyata Arum Senggini benar-benar telah kehilangan akal sehat dan kesadarannya.

Ingatan menjadi lemah, otak berubah tumpul akibat pengaruh totokan yang dilakukan sang pangeran. Yang ada dalam diri sang puteri tak lain adalah keinginan bercinta dengan Pangeran Durjana. Pangeran yang diingatnya telah berubah menjelma menjadi seorang pemuda luar biasa tampan.

"Sabarlah mempelaiku. Sekejab lagi aku akan membawamu ke surga yang tak pernah kau dapatkan sebelumnya,"

Ujar sang pangeran.

Setelah berkata begitu Pangeran Durjana memperlambat larinya.

Langkahnya kemudian terhenti saat dua kaki menginjak pucuk pohon tertinggi.

Dari atas ketinggian pucuk pohon sepasang mata yang telah berubah selayaknya mata manusia normal ini menatap ke arah persawahan yang terdapat di sebelah kanan bawah tempat dirinya berada.

Pangeran melihat sebuah dangau yang sunyi diujung bentangan sawah luas yang baru saja selesai musim panen.

Dengan gerakan melayang seakan terbang laki-laki itu bergerak turun melewati ranting dan cabang pohon.

Akhirnya dua kaki menjejak di atas pematang sawah.

Pangeran Durjana segera membawa gadis di atas panggulan ke dangau. Sesampainya di pintu dangau sang pengeran lagi-lagi menyeringai.

Dia melihat dangau itu cukup terawat. Lantainya yang terbuat dari anyaman bambu kelihatannya juga baru diganti oleh pemilik sawah. Dengan gerakan seringan kapas, Pangeran Durjana naik ke atas dangau itu.

Tubuh sang puteri segera direbahkan.

Setelah si gadis rebah, pangeran sendiri tegak, mulut berkemak-kemik. Agaknya dia membaca sebuah mantra.

Selesai membaca dia meniup kedua telapak tangannya. Kedua telapak tangan selanjutnya diusapkan ke bagian muka. Sang pangeran keluarkan suara raung dan lolongan panjang. Tapi segala apa yang terjadi tidak berlangsung lama.

Ketika ada cahaya merah kehitaman yang merasuk dan kemudian memancar disekujur tubuh pangeran kemudian perlahan berangsur meredup lalu lenyap begitu saja.

****

Puteri Arum Senggini yang seolah baru mendapatkan kesadarannya kembali, melihat ada laki-laki yang berada di dekatnya dan merasakan sesuatu telah terjadi pada dirinya lalu menangis

sejadi-jadinya

"Mahluk jahanam! Siapa kau..." teriak gadis itu dengan geram. Pangeran Durjana menyeringai. Dia bangkit berdiri.

Dengan sikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa dia berdiri tegak, mulut mengurai senyum "Aku adalah orang yang baru saja menyempurnakan ilmu berkat hubungan yang baru terjadi. Kini

kau sudah tidak berguna lagi. Kau telah berubah menjadi seonggok sampah busuk. Ha ha ha!" "Keparat terkutuk! kau telah menghancurkan hidupku. Kau harus mampus sekarang juga!" Teriak sang puteri.

Gadis yang kalap dan menjadi gelap mata ini serta merta bangkit berdiri menyerang pangeran Durjana.

Tapi bagi sang pangeran serangan berupa tendangan dan pukulan yang dilancarkan sang puteri dapat dengan mudah dipatahkan berkat kesempurnaan ilmu kesaktian yang baru di dapatnya.

Sambil terkekeh disertai tatapan mata bengis pangeran itu tiba-tiba gerakan tangannya ke leher sang dara.

Crep!

Sekali bergerak leler jenjang sang puteri kena dicengkeram. Arum Senggini mendelik, tangan meronta kaki melejang-lejang. Melihat ini Pangeran Durjana tertawa.

Sekali tangan disentakan. Krek!  

Leher itu patah berderak. Arum Senggini tak sempat menjerit. Nyawanya lepas dari raga seketika itu juga.

Pangeran Durjana menggeram.

Dengan gerakan enteng tangan bergerak Bruk!

Tubuh sang puteri melayang lalu jatuh bergedebukan di bawah dangau. Baru saja pangeran jatuhkan tubuh gadis yang menjadi korbannya.

Tiba-tiba terdengar suara menderu dari belakang dangau Wuus!

Byaar!

Pangeran Durjana terkesima, namun tidak sempat selamatkan diri ketika satu pukulan dahsyat laksana topan prahara menghantam dangau itu.

Dangau hancur menjadi kepingan dikobari api.

Tak ayal sang pangeran terpelanting dengan sekujur tubuh dan pakaian mengepulkan asap. Hebatnya Pangeran Durjana sama sekali tidak mengalami cidera.

Dia berdiri tegak, lalu meniup kepulan api yang menyala ditubuhnya.Api padam.

Secepat kilat dia balikkan badan memandang ke bagian belakang dangau yang hancur porak poranda. Sang pangeran terkejut luar biasa begitu melihat seorang pemuda berambut gondrong yang sudah sangat dikenalnya melompat turun dari atas seekor kuda.

"Lagi-lagi si kurang ajar tengik ini. Dia berkuda, mengapa aku tak mendengar tanda-tanda kehadirannya?"

Membatin Pangeran Durjana dalam hati

"Iblis jahanam! Perbuatanmu sungguh biadab. Kau mahluk keji yang patut dikirim ke neraka!" Maki si pemuda yang tak lain adalah Sang Maha Sakti Raja Gendeng adanya.

Mendapat makian seperti itu Pangeran Durjana malah sunggingkan senyum mengejek .Namun senyum sang pangeran lenyap seketika begitu teringat nasib buruk yang dialami Bocah Bocah Iblis dan kawanan lebah yang menjadi kaki tangannya.

Sambil menahan segala dendam kesumat, serta kemarahan dihati, Pangeran Durjana melangkah maju.

Langkah kakinya terhenti setelah dia berada sejarak dua tombak di depan Raja.

"Pendekar keparat! Kehadiranmu telah membuat kacau semua rencanaku. Aku telah kehilangan hampir seluruh pengikutku. Beberapa waktu lalu kau juga telah menghabisi bocah bocah Iblis yang ditugaskan untuk menghadang patih kerajaan. Lalu... jika kau tidak hadir di istana seharusnya aku sudah mendapatkan dua puteri itu sekaligus. Tapi karena dirimu memang bangsat jahanam yang sudah bosan hidup, tidaklah mengherankan bila kau tidak pernah memperhitungkan siapa yang menjadi lawanmu. Ketahuilah setelah mendapatkan kesucian puteri Arum Senggini. Tidak ada lagi jalan bagimu untuk mengalahkan aku."

"Puah! Lagak bicaramu selangit tembus. Apa sulitnya mengalahkan bangkai berjalan sepertimu.Kini aku akan mengirimmu ke liang kubur Heea..."

Disertai teriakan melengking. Raja tiba-tiba melesat ke depan. Dua tangan yang telah dialiri tenaga dalam dan kesaktian tinggi di pentang lalu dengan menggunakan pukulan Cakar Sakti Rajawali pemuda ini menghantam tubuh lawannya. Sepuluh jemari tangan menderu dengan kecepatan luar biasa. Asap putih bergulung menyertai gerak tangan Raja sementara itu cahaya putih membersit di udara mendahului gerakkan sepuluh jemari tangan Sang Maha Sakti.

Melihat serangan ganas yang dilakukan Raja .Pangeran Durjana malah memasang dada. Lalu dengan tak kalah sengit sang pangeran berlari ke depan menyambut ­ serangan dahsyat yang dilakukan Raja.

Sambil berteriak menggembor dua tangan yang terkepal membentuk tinju dihantamkan. Dua cahaya hitam memancar dari dua tinju yang menderu. Benturan keras akhirnya tak dapat dihindari lagi. Ketika tinju sang pangeran membentur telapak tangan Raja terdengar suara ledakan laksana petir. Baik Raja maupun Pangeran Durjana sama terguncang.

Tapi keduanya tidak sampai terjatuh. Melihat ini sang pangeran kembali bergerak. Tubuh kemudian diputar. Sedangkan ujung jubah hitam dia kibaskan. Segulung angin menebar hawa panas luar biasa menyambar wajah Raja.

Namun pemuda ini cepat jatuhkan diri hingga sambaran angin hanya mengenai bagian dada.

Terlihat kepulan asap dan kobaran api membakar dada Sang Maha Sakti. Tapi berkat pakaian sakti yang melekat ditubuhnya, hawa dingin yang keluar dari pakaian itu membuat kobaran api padam.

Melihat ini Pangeran Durjana menjadi terkejut. Tapi dia segera menyerang kembali. Kali ini kedua kaki menghantam Raja silih berganti.

Melihat dua kaki berkelebat manghantam dada, kaki dan kepalanya disertai suara menderu ganas. Raja bergulingan menyelamatkan diri. Tendangan-tendangan itu tidak mengenai sasaran tetapi hanya mengenai bongkahan batu disamping Raja.

Batu hancur menjadi kepingan terkena tendangan sementara Raja telah hentakkan kaki hingga membuat tubuhnya melambung ke atas. Baru saja pemuda ini mengapung di atas ketinggian.

Pangeran Durjana tiba-tiba berteriak.

Tahu-tahu seperti gerakan setan berkelebat dia telah berada di depan Raja Gendeng. "Mahluk hebat! Aku bahkan tak dapat mengikuti gerakan tubuhmu begitu cepat!"

Batin pemuda itu kagum.

"Sekarang remuklah dadamu" teriak Pangeran Durjana. Dua tangan pangeran secepat kilat bergerak berbarengan, menghantam dada Sang Maha Sakti

.Sambaran angin pukulan membuat Raja tergetar, setiap rusuk terasa nyeri.

Namun tanpa bergeser dari tempatnya dia menyambut serangan lawan dengan angsurkan dua tinjunya!

Duuk! Bledak!

Dua kepalan tangan berbenturan dengan keras membuat keduanya sama terpental terlempar ke belakang sejauh tujuh tombak .Setelah jungkir balik tak karuan, Raja jejakkan kaki di atas sawah yang becek. Sebaliknya Pangeran Durjana sendiri jatuh dalam keadaan berlutut di atas pematang sawah.

Benturan yang terjadi membuat tubuh Sang Maha Sakti mengalami guncangan dibagian dalam. Selain itu Raja juga kibas-kibaskan kepalan tangannya yang sakit menggembung bengkak.

Setelah meniup punggung tangannya tiga kali rasa sakitnya lenyap. Bagian yang bengkak juga lenyap.

Raja tersenyum.

"Hanya seperti itukah kemampuanmu? Aku bersumpah kau tak akan bisa bertahan sampai sepuluh jurus ke depan!"

Seru Pangeran Durjana. "Kau terlalu banyak mulut." "Heaa...!"

Teriak Raja.

Disertai teriakan melengking. Pemuda ini berkelebat.

Dengan menggunakan jurus Delapan Bayangan Dewa. Raja kembali melakukan serangan sengit. Pangeran Durjana menggumam.

Dia pun segera menghantam lawan dengan menggunakan ilmu pukulan sakti yang dikenal dengan nama Kerakau Meletus dan digabungkan dengan ilmu pukulan Kawah Kerakau menggelegak. Di masa kehidupannya sekitar seribu tahun yang lalu ilmu pukulan Kerakau Meletus yang dipergunakan Pangeran Durjana sangat ditakuti oleh lawan-lawannya.

Apalagi kini Pangeran Durjana menggunakan dua pukulan sakti sekaligus. Tidaklah mengherankan walau menggunakan jurus Delapan Bayangan Dewa membuat Raja menjadi sulit disentuh, namun sambaran pukulan yang melanda tubuhnya membuat bagian tubuh yang tak terlindungi terasa mau meleleh.

Wuus! Wuus! Buum! Geleger!  

Lima pukulan dahsyat menghantam.

Cahaya merah mengerikan menghampar, membuat Raja seakan terperangkap di neraka.

Namun berkat jurus ampuh yang dipergunakannya pukulan lawan hanya menghantam bayangan sang pendekar.

Sang maha Sakti, Raja Gendeng tak tersentuh. Dua pukulan mengenai tempat kosong.

Dua diantaranya menghantam pematang sawah, membuat pematang itu hancur meninggalkan lubang menganga dalam dikobari api.

Sedangkan satu pukulan yang lain menyambar pohon besar di belakang Raja.

Pohon hancur menjadi kepingan mulai dari bagian batang, cabang dan rerantingnya bermentalan diseluruh penjuru dalam keadaan dikobar ­ api.

"Kau hanya bisa menghindar seperti monyet buduk! Jelas kau tak punya nyali menghadapi aku!"

Teriak sang pangeran gusar. Raja sunggingkan seringai mengejek. Kemudian sambil merangsak maju dia membuka mulut menjawab ucapan orang.

"Monyet buduk bukannya tidak punya nyali. Dalam menghadapi mahluk kesasar sepertimu kurasa aku harus dengan cara seperti ini."

Wuut!

Tiba-tiba tangan Raja berkelebat menampar mulut lawan. Melihat tangan menyambar ke bagian mulut .Pangeran Durjana miringkan wajah ke samping. Gerakan ini sekaligus diikuti dengan gerakan membungkukkan tubuh. Lalu secepat kilat tangan sang pangeran menderu menyambar perut Raja.

Jika sampai perut yang diincar terkena pukulan sang pangeran dapat dipastikan perut dan isinya remuk hingga ke punggung. Tapi dengan gerakan aneh Raja lambungkan ke dua kaki ke atas, dengan begitu posisi kepala terjungkir ke bawah. Serangan Pangeran Durjana luput. Sebagai gantinya Raja lancarkan pukulan Seribu Jejak Kematian ke bahu lawan. Segulung cahaya menebar hawa panas luar biasa menderu meluncur deras tak ubahnya sebuah mata tombak raksasa menghunjam ke bahu lawan.

Pangeran Durjana terkesima, namun cepat melompat kesamping sambil mendorong tangan kanan ke atas berusaha menghancurkan pukulan lawan. Tangkisan yang dilakukan sang pangeran ternyata tidak mempunyai banyak arti.

Walau dia dapat menahan serangan Raja namun hanya berlangsung sekejab. Sang pangeran merasa tangannya seperti dihantam palu besi menyala hingga membuatnya cepat hentakan tangan ke depan. Begitu tangan ditarik tanpa ampun serangan Raja menghantam punggungnya.

Blek! Cees! Terdengar suara seperti batu besar menghantam punggung disertai suara desis kulit dan pakaian yang terbakar.

Pangeran Durjana meraung hebat. Dia merasa punggung seperti remuk .Sedangkan jubah dibagian punggung terbakar. Untuk memadamkan api .Sang pangeran terpaksa jatuhkan diri. Api kemudian padam. Sambil bertumpu pada kedua kaki dia ayunkan kepala ke atas. Begitu dapat berdiri tegak sang pangeran menyeringai dalam keadaan tak kekurangan sesuatu apa.

"Kau hendak membunuhku dengan ilmu pukulan rongsokan itu? Mengapa tidak kau pergunakan saja senjatamu itu? Kudengar Pedang Gila adalah senjata yang sangat luar biasa! Ha ha ha!" dengus Pangeran Durjana diiringi gelak tawa.

"Jiwa yang bersemayam dalam pedang!" berkata Raja ditujukan pada pedang dipunggung- nya. "Mahluk busuk itu ternyata sudah tahu siapa kiranya dirimu. Kulihat dia semakin hebat. Dia

bahkan jauh lebih hebat dibandingkan sebelumnya. Mungkin karena kerampat satu ini telah mendapatkan tumbal berupa kehormatan puteri Arum Senggini. Dengan merampas kehormatan gadis itu kesaktiannya jadi berlipat ganda."

"Yang mulia gusti Raja Gendeng. Tak usah takut pada kerampat satu itu. Kalau kita berdua maju berbarengan masakan kita tak mampu menggiringnya kembali ke liang kubur," terdengar suara ngiang ditelinga Raja.

Dia tahu Raja menyeringai.

"Bukan kerampat, Jiwa Pedang. Aku menyebutnya keparat!" kata Raja.

"Ya apa pun namanya. Masalah sepele saya harap tidak dipersoalkan lagi."

"Hmm, kau bersiap-siaplah. Lakukan tindakan yang benar bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padaku!"

"Gusti Raja memangnya hendak kemana? Memangnya gusti hendak ke akherat juga." "Hus jaga mulutmu!"

"Habisnya ucapan gusti Raja seperti orang yang mau mati. Hik hik!" Raja tidak menanggapi. Saat itu dia menatap lurus ke depan.

Di depannya Sang Maha Sakti Raja Gendeng melihat Pangeran Durjana berdiri tegak tak ubahnya patung. Dua tangan disilangkan ke depan dada. Mulut berkemak-kemik membaca sesuatu, sepasang mata menatap nyalang tak berkedip.

"Apa yang hendak dilakukannya?" kata Raja ditujukan pada pedang yang tergantung di punggung.

"Saya dapat merasakan dia hendak mengeluarkan sesuatu dari perutnya paduka!" sahut Jiwa di hulu pedang.

Apa yang dikatakan sang jiwa ternyata tidak berlebihan. Kejab kemudian disertai raungan lirih sang pangeran berkata, "Para pengikutku. Habisi pemuda berpakaian kelabu itu!"

Sang Pangeran menutup ucapan dengan membuka mulut lebar-lebar. Dari dalam mulut yang ternganga tiba-tiba bermunculan puluhan lebah dan segera beterbangan di udara. Setelah sempat terbang berputar di atas kepala sang pangeran, kawanan lebah hitam berwarna merah menderu kearah Raja.

Melihat kawanan datang menyerang pedang di punggung Raja tidak tinggal diam. Senjata pedang Gila yang dapat bergerak dengan sendirinya itu tanpa harus dikendalikan sang empunya dengan kecepatan luar biasa melesat, berkelebat menderu di udara disertai pancaran cahaya kuning berkilauan.

Puluhan lebah tewas menemui ajal dengan tubuh terkutung-kutung. Begitu banyak lebah yang terbunuh. Namun sebagian diantaranya dapat meloloskan diri dan menyerang Raja dari segala penjuru. Melihat serbuan lebah yang demikian ganas. Raja segera memutar tubuh. Secara bertubi-tubi pemuda ini menghantam mahluk-mahluk itu dengan pukulan Kabut Kematian dan pukulan Cakra Halilintar.

Dari tangan kanan Raja menderu segulung angin disertai tebaran kabut tebal. Deru angin dan tebaran kabut menggulung kawanan lebah yang menyerang dari arah depan dan samping sebelah kiri.

Sementara dari tangan kiri Raja berkiblat cahaya merah kebiruan bergerigi seperti cakra. Tak ubahnya seperti kilat yang menyambar terus menerus cahaya itu menghantam lebah yang menyerang dari sebelah belakang dan dari arah kanan Raja.

"Pedang jahanam itu! Aku harus mendapatkannya!"

Geram sang pangeran gusar. Setelah serangan lebah gagal sang pangeran akhirnya melompat tinggi.

Begitu tubuhnya mengapung di udara dia berusaha menyambar pedang Gila yang berkelebat menyambar ganas kearahnya.

"Gusti. Dia berusaha menangkapku!" Seru Jiwa pedang pada Raja.

"Aku tahu. menghindar dan serang. Jangan sampai tertangkap olehnya.Aku akan menghajar mahluk jelek ini dengan Senandung Sang Maha Dewa."

Jawab Raja.

Sambil berkata begitu. Raja segera hentakan kaki. Tubuh pemuda ini melambung ke atas.

Melihat Raja datang menyerang sambil hantamkan tangannya yang berwarna merah, sang pangeran menggeram.

Sambil terus berusaha menangkap hulu pedang dia kibaskan jubahnya ke bawah. Dari ujung jubah menderu hawa dingin disertai sambaran angin ganas ke arah Raja.

Dan ternyata tindakan yang dilakukan lawan tidak terhenti sampai disitu saja, Setelah ujung jubah menggebuk, pangeran ini juga melepaskan satu pukulan dikenal dengan nama Di Balik Liang Lahat Ada Seribu Murka .

Kibasan tangan kiri lawan ternyata jauh lebih berbahaya dari serangan jubah itu sendiri. Selagi Raja berusaha memusnahkan serangan jubah dengan jurus dan pukulan Senandung Sang

Maha Dewa.

Serangan kedua menghantam tubuhnya dari kepala hingga kaki.

Walau pemuda itu akhirnya dapat memusnahkan serangan ujung jubah hingga mengakibatkan terjadinya letusan menggelegar.

Namun Raja tidak sempat selamatkan diri dari serangan di Balik Liang Lahat Ada Seribu Murka. Tanpa ampun Raja yang mengambang diketinggian jatuh terbanting.

Sambaran cahaya hitam redup yang membersit dari tangan kiri lawan membuat sekujur tubuhnya serasa remuk bagai dihantam seribu cambuk.

Pakaian yang melekat di tubuhnya mengepul. Raja merasa sulit bernafas.

Pandangan mata menjadi gelap, sementara tulang belulangnya segera remuk. Melihat kenyataan ini Pangeran Durjana mengumbar tawa bergelak.

Namun untuk sesaat dia tidak menghiraukan lawan.

Pangeran ini terus saja berusaha menangkap pedang Gila yang tampak begitu liar, meliuk-liuk sambil menyerang dirinya dengan sikap seakan mengejek .Merasa dipermainkan pangeran Durjana akhirnya bertindak nekat.

Dengan penuh kemarahan laki-laki ini tidak lagi berusaha menangkap bagian hulu pedang. Sebaliknya dengan penuh percaya diri dia menangkap badan pedang.

Tindakan yang dilakukan lawan tentu menguntungkan pedang Gila itu sendiri.

Dengan kecepatan luar biasa, pedang Gila yang dikendalikan oleh Jiwa yang bersemayam di dalamnya bergerak aneh hingga lolos dari cengkeraman pangeran itu.

Kemudian pedang meliuk kesamping selanjutnya melenting ke atas. Setelah itu pedang menderu membabat leher.

Lawan berkelit sambil keluarkan seruan kaget. Luput menebas putus pangkal leher lawannya.

Pedang menukik ke bawah lalu menebas kedua tangan sang pangeran. Cresh!

"Hooh! Tanganku. "

Pekik sang pangeran. Laki-laki itu terkejut, namun aneh sedikitpun tidak memperlihatkan rasa sakit. Dua tangan yang  terbabat putus jatuh di tanah.

Sedangkan dari bagian luka yang terpotong sama sekali tidak meneteskan darah. Pangeran Durjana bergerak ke bawah, meluncur turun sambil jajakan kedua kaki. Wajahnya yang pucat membayangkan kemarahan dan rasa kecewa.

"Pedang jahanam dan pemiliknya gondrong keparat! Kau dan pedang itu sama gilanya. Tapi ingat, kalian tak mungkin bisa melenyapkan aku!"

Teriak sang pangeran, Setelah menatap ke arah Raja yang tampak telah sembuh dari cidera yang dialami, Pangeran Durjana menatap ke arah dua potongan tangan yang tergeletak di rerumputan.

"Potongan tangan kembalilah ke tempat asal!" Seru sang pangeran

Wuus! Tep!

Potongan tangan yang tergeletak di atas tanah berlapis rerumputan tiba-tiba bergerak .Setelah itu dalam waktu tak sampai sekedipan mata kedua belah tangan telah bertaut, menyatu kembali seperti semula.

Melihat tangan bertaut, Raja segera melompat bangkit.

Bersamaan dengan itu Pedang Gila yang melayang di udara bergerak ke arah Raja. Begitu Pedang berada dalam jangkauan pedang mengapung di udara.

Sekali tangan pemuda itu menyambar hulu pedang telah berada dalam genggamannya.

Melihat kenyataan dengan mudah lawan dapat mengambil pedangnya kembali, Pengeran Durjana merasa geram bukan main.

Dia pun merangsak maju sambil lancarkan pukulan menggeledek ke arah Raja. Dua pukulan disusul dengan tendangan berisi tenaga dalam penuh.

Membuat Raja terpaksa melompat ke belakang lalu sambut tendangan dengan kibasan senjata. Sedangkan dua pukulan yang dilancarkan sang Pangeran beradu keras dengan siku Raja,.

Walau sempat terhuyung namun Pangeran Durjana mampu hindari tebasan cahaya kuning yang memancar dari pedang.

Merasa gagal pada serangan pertama sang pangeran segera lambungkan tubuhnya ke udara. Kemudian saat tubuhnya mengambang diketinggian.

Pangeran Durjana memutar tubuh sekaligus hantamkan tendangan menggeledek ke kepala Raja. Tiga larik cahaya hitam menggidikkan menderu menyertai tendangan sang pangeran.

Raja terkesima namun segera menekuk ke dua lutut sambil rundukan kepala serendah mungkin, Pada saat angin dahsyat menyambar nyaris menghantam remuk batok kepala Raja.

Pada saat itu pula terdengar suara ngiang ditelinga Sang Maha Sakti. "Orang gila. Untuk membunuh mahluk yang satu itu pastilah tidak mudah dilakukan oleh siapapun. Aku punya saran untukmu. Kau tusuklah bagian keningnya tepat diantara kedua alisnya. Dengan begitu dia bakal binasa dan aku tak perlu kucurkan keringat membantumu meringkusnya."

"Eeh, siapa yang memberi tahu melalui ilmu menyusupkan suara. Nada suaranya seperti aku kenal. Jangan-jangan dia yang datang...!"

Batin Raja dalam hati. Tidak ada waktu bagi Raja untuk mencari tahu siapa gerangan yang hadir di tempat itu karena Pangeran Durjana kembali lancarkan serangan ganas setelah serangan ke bagian kepala Raja tidak mengenai sasaran.

Begitu merasakan ada angin berhawa panas menyambar rusuknya. Pemuda ini segera berkelit ke samping.

Sambil berkelit dia memutar tubuh sekaligus tusukan pedangnya ke bagian keningnya.

Pangeran Durjana yang sangat bersemangat untuk membunuh Raja sama sekali tidak menduga bakal mendapat serangan seperti itu.

Walau dia telah berusaha berkelit selamatkan wajah dari tusukan tak urung ujung pedang Gila amblas masuk kedalam keningnya.

Sang Pangeran meraung setinggi langit.

Walau bagian kening telah tertusuk pedang namun sang pangeran berlaku nekat. Sambil berteriak menggembor dia ayunkan kakinya ke bahu Raja, sedangkan dua tangan diangkat tinggi siap melepaskan pukulan ganas ke wajah lawannya.

Melihat lawan terus menerjang dengan kecepatan luar biasa.

Raja cepat menarik pedang ke belakang, lalu jatuhkan diri bergulingan di sawah.

Tapi apa yang terjadi selanjutnya atas diri sang pangeran sungguh sangat mengerikan. Walau pangeran terus merangsak maju dan lancarkan tendangan menggeledak ke arah Raja.

Namun sekonyong-konyong gerak tubuhnya yang mengambang di atas tanah nampak tertahan.

Pangeran Durjana berteriak, sambil kerahkan tenaga sakti luar dalam dia memaksakan diri merangsak ke arah Raja.

Tapi tindakan itu justru membuat dua tangan dan kedua kaki mengeluarkan suara berderak mengerikan.

Dari ujung jemari tangan, kepala, tubuh dan kedua kaki terus berderak Kreek!

Kreek! Prang!

Dimulai dari tubuh sebelah atas, tubuh sang pangeran tak ubahnya seperti patung kristal mengalami kehancuran.

Pangeran Durjana melolong tinggi, matanya membeliak. Tapi lolongannya lenyap saat bagian wajah dan mulut secara bersamaan mengalami kehancuran. Raja tercengang melihat keanehan terjadi.

Dan dia lebih terkejut lagi ketika melihat puing puing tubuh lawan yang hancur bertebaran tiba tiba bergerak tersedot ke satu arah.

Ketika Raja menoleh menatap ke arah bergeraknya serpihan tubuh sang pangeran. Dia melihat satu benda berwarna putih berkilauan.

Benda berwarna putih yang berada di telapak tangan seorang kakek sepuh yang memang dikenalnya itulah yang menyedot serpihan tubuh lawan.

Seluruh puing tubuh terus tersedot amblas masuk kedalam benda bercahaya disertai suara lolong dan raung mengerikan.

Sampai akhirnya semua serpihan tubuh lenyap ke dalam benda putih,

Si kakek segera meniup ke arah benda yang tak lain adalah Mutiara Pembunuh.

"Aku telah menguncinya dengan tiupan. Terima kasih kau telah melakukan tugas dengan sebaik-baiknya,"

Kata orang tua itu diiringi tawa tergelak-gelak.

Raja yang memang mengenali siapa adanya kakek berusia tujuh ratus tahun itu segera sarungkan pedangnya.

Kemudian dia melangkah lebar hampiri orang yang masih duduk menjeplok di pematang sawah. "Kakek Dewa Mabok. Aku tidak mengerti arti semua ini. Aku tak menyangka Pangeran Durjana

tewas dengan cara demikian aneh. Lagi pula benda apa yang yang menyedot kepingan jasad sang pangeran?"

Tanya Raja setelah berada di depan orang tua yang ternyata memang Dewa Mabok adanya.

Si kakek tertawa mengekeh. Dia menimang mutiara putih sebesar ibu jari yang kini sudah tidak memancarkan cahaya lagi.

"Benda di tanganku ini namanya Mutiara Pembunuh. Mutiara seperti ini khusus didatangkan dari neraka. Hanya dengan menggunakan Mutiara Pembunuh pangeran edan itu tak bakal bangkit dari kematiannya. Sekarang tidak cuma serpihan tubuhnya saja yang amblas masuk ke dalam mutiara, jiwanya juga ikut terperangkap di dalam mutiara ini."

Menerangkan Dewa Mabok dengan acuh. Kemudian dengan acuh pula dia bangkit berdiri

"Aku merasa lega dia tak akan pernah bangkit lagi dari kematiannya. Dengan begitu anak gadis orang bisa hidup dengan tenang."

"Tapi aku ingin tahu kau hendak kemana kek?"

Tanya Raja begitu dilihatnya Dewa Mabok balikkan badan dan siap tinggalkan tempat itu. Tanpa menoleh Dewa Mabok menjawab.

"Tugasmu membantu kerajaan Malingping telah selesai. Tugasku memenjarakan arwah dan jasad Pangeran Durjana ke dalam mutiara ini juga sudah berakhir. Sekarang aku harus pergi, aku juga bebas mabok lagi. Soal dirimu kau boleh pergi kemana pun kau suka. Kau mau pergi ke istana untuk merajut tali kasih dengan puteri Nila Agung juga boleh. Ha ha ha!"

"Ee tunggu, bukan itu maksudku orang tua. Aku melihat puteri Arum Senggini telah tewas. Siapa yang mengurusnya. Siapa yang bakal membawa jenazahnya ke istana?"

Dewa Mabok tertawa terkekeh

"Aku lupa mengatakan padamu. Seorang sahabatmu gadis yang semuanya serba hitam datang menyambangi. Dia tidak sendiri, tapi bersama dengan dua tua bangka bernama Aki Kolot Raga dan Nini Burangrang. Aku sengaja melarang mereka menemui atau membantumu saat kau menghadapi Pangeran Durjana. Aku yakin mereka mau saja mengantar mayat puteri Arum Senggini ke istana agar dia mendapatkan penguburan yang layak. Bagaimana bereskan...!"

"Beres apanya kek Gadis serba hitam yang kau maksudkan itu siapa? Apakah anjing besar bernama Kabut Hitam?"

Tanya Raja sambil menggaruk kepalanya

"Ha ha ha! Orang gila, sudah tahu mengapa masih bertanya..!" Dengus Dewa Mabok sambil berkelebat berlalu dari tempat itu.

"Tua bangka pemabokan. Dasar edan. Dia cuma mau enaknya sendiri." Gerutu Raja kesal.

Dia menoleh sekelilingnya.

Tapi Raja tidak melihat Kabut Hitam atau pun dua kakek nenek yang dimaksudkan Dewa Mabok.

Setelah sempat bimbang. Sang Maha Sakti Raja Gendeng pun akhirnya merasa lega begitu melihat rombongan perajurit istana muncul di tempat itu.

Raja kemudian memerintahkan para perajurit mengusung jenazah puteri Arum Senggini.

Tak lama setelah belasan perajurit itu pergi membawa jenazah sang puteri, Raja segera melangkah pergi.

TAMAT