-->

Raja Gendeng Eps 10 : Rahasia Pangeran Durjana

 
Eps 10 : Rahasia Pangeran Durjana


Pangeran Durjana menjadi sangat murka ketika tahu bahwa Bocah Bocah Iblis telah menjadi korban senjata pusaka Sang Maha Sakti Raja Gendeng.

Sedikitpun dia tidak menyangka bahwa senjata pemuda itu aneh dan dapat menyerang dengan sendirinya.

Benar-benar merupakan senjata pamungkas paling hebat yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya.

Dengan segala kemarahan Pangeran Durjana yang saat itu berada di dalam bangunan aneh berbentuk sarang lebah yang diberinya nama Istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta.

"Keparat gila itu datang dari sebuah negeri antah berantah. Kehadirannya membuat semua yang telah kurencanakan tidak dapat berjalan mulus. Aku benci kegagalan. Keinginan menjadi penguasa dari seluruh manusia yang ada di dunia ini tidak mungkin bisa menjadi kenyataan bila tidak dapat menyingkirkan pemuda gila itu secepatnya!"

Geram sang pangeran dengan tangan terkepal dan geraham bergemeletukan.

Pemuda berpakaian hitam berwajah tampan dan dapat merubah-rubah penampilannya sehendak hati itu kemudian bangkit berdiri. Dia memperhatikan kesegenap penjuru sudut ruangan yang serba merah dan terasa sunyi itu.

Tidak lama setelah mondar-mandir sambil memutar otaknya, Pangeran Durjana lagi-lagi membuka mulut dan berucap.

"Atas nama kebencian, amarah dan dendam kesumat, semua yang telah kurencanakan harus tercapai. Akan kuhabisi pemuda yang bernama Raja itu. Aku juga harus bisa merampas pedang aneh dari tangannya."

Pangeran Durjana lalu mengangkat wajah dan menatap ke langit-langit ruangan yang besar dan sejuk.

"Wahai... Mata Tunggal Mata Setan penguasa Tahta Sitaloka, apa pendapatmu tentang segala rencanaku ini? kau punya rencana yang lebih baik, lekas katakan padaku karena aku tidak mungkin melakukan semua tugas ini seorang diri"

Setelah berkata begitu, sang pangeran lalu kembali duduk di kursi kebesarannya. Kemudian dia menunggu sementara perhatiannya tertuju ke langit-langit ruangan. Penantian tidak berlangsung lama.

Terdengar satu suara berdesir diikuti pula dengan terdengarnya suara pohon tumbang. Selanjutnya di langit langit ruangan muncul satu cahaya merah terang seukuran telur.

Tak lama setelah suara bergemuruh selayaknya pohon yang tumbang lenyap dari pendengaran, cahaya di langit-langit ruangan nampak membesar dan memipih membentuk sebuah mata tunggal berwarna merah terang tanpa titik di bagian mata.

Itulah Mata Tunggal yang dikenal dengan sebutan Mata Setan dari Tahta Sitaloka yang selama ini selalu mendukung rencana sang pangeran.

Dia pun tersenyum melihat kehadiran Mata Setan.

Tanpa membuang waktu. Pangeran Durjana segera berkata. "Bagus kau telah datang menghadap memenuhi panggilanku."

Sang Cahaya merah yang hanya berupa sebuah mata tanpa kepala dan anggota tubuh itu

tiba-tiba berpedar membuat suasana ruangan yang sudah terang menjadi tambah benderang. Tidak lama ketika cahaya kembali meredup ke ukuran sebelumnya, Pangeran Durjana sayup sayup mendengar suara ucapan.

"Pangeran segala nafsu, pemuja kenikmatan duniawi dan segala keinginan. Yang Mulia penguasa Mahadiraja kegelapan selalu mendengar dan memberi dukungan kepadamu. Aku datang bukan karena panggilanmu. Aku menemuimu atas perintah Mahadiraja Kegelapan. "

Mendengar itu Pangeran Durjana sunggingkan seringai buruk lalu cepat-cepat memotong. "Apapun yang kau katakan aku tidak perduli, wahai mata-mata culas. Aku selalu menaruh hormat

pada Mahadiraja Kegelapan tapi aku tak tunduk kepadamu." "Aku mengerti,"

Sahut Mata Setan.

"Aku mendapat perintah untuk membantumu. Dan aku tahu pangeran saat ini menemui banyak kendala dalam mewujudkan segala keinginan dan citacita."

Pangeran Durjana menggerutu. Dengan perasaan marah dia segera berkata.

"Aku tidak suka berpanjang kata. Banyak kesulitan datang diluar perhitunganku. Aku tidak punya pembantu yang dapat kupercaya. Dan kedua tua bangka yang kuutus untuk membantu menyelesaikan masalah nampaknya tak bisa kupercaya. Apa jawabmu?"

Tanya sang pangeran. Adapun dua orang yang oleh Pangeran Durjana sebutkan tak lain adalah sepasang suami istri, kakek dan nenek bernama Aki Kolot Raga dan Nini Burangrang.

Di tempat asalnya di timur mereka dikenal dengan sebutan Sepasang Naga Pamabokan. "Mempercayai dua manusia bekas tawanan itu bukan pilihan bijak. Membunuh mereka jauh lebih

baik dari pada memberi tugas mereka."

"Aku sudah tahu. Bila mereka tidak memenuhi perintah, akan ada yang datang untuk menghabisi mereka,"

Dengus Pangeran Durjana tambah kesal. Lalu lanjutkan ucapannya.

"Kuminta lupakan dua cecunguk tua tidak berguna itu. Sekarang katakan apa pendapatmu tentang Sang Maha Sakti bernama Raja Gendeng itu!"

Mata Tunggal bercahaya di langit-langit nampak mengedip lalu disusul dengan jawaban "Pertama aku ingin mengingatkan padamu pangeran, Pemuda yang pangeran sebut keparat gila

dari negeri antah berantah itu sesungguhnya bukan orang gila. Dia memiliki mu kesaktian hebat. Aku menyebut dia sebagai si segala bisa. Dia bisa apa saja. Dan dia bukan datang dari negeri antah berantah. Sesuai dengan penyelidikanku, pemuda itu datang dari sebuah pulau terpencil, terletak jauh di tengah laut selatan. Di pulau itu ada sebuah istana bernama istana Pulau Es. Dia adalah keturunan raja."

"Hmm, jadi si keparat itu masih keturunan raja tapi mengapa bertingkah seperti orang kurang waras?"

Geram Pangeran Durjana. Sang Mata terdiam tidak menjawab. Pangeran Durjana yang penasaran lanjutkan ucapan.

"Dia membunuh Bocah Bocah Iblis dan kau tahu anak-anak itu tak lain darah dagingku sendiri.

Aku ingin menyingkirkannya serta merebut pedang dari tangannya.

"Pangeran! Menurut hematku, jika pangeran terus menerus berada di Istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta rasanya sulit untuk melenyapkan semua musuh pangeran, apalagi untuk merampas pedang milik Sang Maha Sakti juga tidak mudah. Pedang itu hanya tunduk dan patuh pada Raja. "

"Pada Raja, apakah pemuda itu bernama Raja?" Sentak Pangeran Durjana.

"Benar! Pangeran.Pemuda itu bernama Raja, tapi gurunya biasa memanggilnya Raja Gendeng. Dan perlu kiranya pangeran ketahui bahwa pedang di tangan pemuda itu memiliki jiwa. Karena pedang mempunyai jiwa yang bersemayam pada bagian hulunya maka dengan sendirinya bila Sang Maha Sakti terdesak sang pedang segera memberikan bantuan,"

Terang Mata Setan. Pangeran Durjana tertegun. Hatinya diliputi rasa heran dan kaget

"Ada pedang memiliki jiwa, bertingkah aneh seperti pemiliknya. Sungguh baru sekali ini aku mendengarnya,"

Gumam sang pangeran.

"Aku tidak berlebihan dalam bicara, semua sesuai dengan penyelidikanku. Pedang itu memang mempunyai jiwa, jiwa sakti yang dapat mengendalikan pedang sesuai dengan keinginan sang jiwa. Karena itu dengan usaha keras sekalil pun pangeran tak bakal bisa memiliki pedang itu."

"Apakah pedang itu punya nama?"

Tanya Pangeran Durjana sambil angguk-anggukkan kepala "Ya, kalau tak salah pedang itu bernama Pedang Gila!"

Terang Mata Setan lagi membuat Pangeran Durjana tak kuasa menahan gelak tawa. "Mengapa Pangeran tertawa?"

Tanya Mata Setan tak mengerti.

"Ha...ha ha... bagaimana aku tidak tertawa. Pemilik pedang bernama Raja Gendeng. Sedangkan senjatanya bernama Pedang Gila. Jadi aku bisa mengatakan mereka adalah mahluk sedeng, edan tidak Waras!"

Jawab sang pangeran terus saja mengumbar tawa. Tak lama setelah tawanya mereda Pangeran Durjana tiba-tiba ajukan pertanyaan.

"Jadi tidak mudah untuk mendapatkan Pedang Gila. Apakah kau punya pendapat yang patut aku lakukan?"

Tidak menunggu lama, Mata Setan menjawab.

"Menurutku lebih baik pangeran bersama semua kekuatan yang ada meninggalkan istana ini.

Seranglah istana Malingping bunuh raja dan semua pengikutnya. Tapi jangan lupa... pangeran harus bisa tidur dengan kedua puteri sang prabu yang bernama puteri Arum Senggini dan puteri Nila Agung. Bila pangeran bisa bercinta selayaknya suami istri bersama kedua puteri itu. Tanpa ragu aku mengatakan kesaktian pangeran akan menjadi berlipat. Dan tak akan ada lagi manusia yang memiliki tingkat kesaktian setinggi apapun yang mampu mencelakai pangeran."

Penjelasan Mata Setan benar-benar membuat hati pangeran Durjana merasa senang. Sambil menyeringai sang pangeran berkata seakan ditujukan pada dirinya sendiri.

"Di balik kematian bocah-bocah itu ternyata ada kebaikan bagiku. Aku akan mengerahkan semua kekuatan untuk menyerang istana Malingping. Seperti sumpahku dulu semua keturunan prabu Kalijati ataupun keturunan Ratu Tria Arutama yang tak lain adalah bekas orang tuaku sendiri harus kubunuh."

"Bagus. Aku merasa senang mendengarnya, pangeran. Lalu perlu apa menunggu lebih lama lagi. Bukankah malam ini pangeran sudah bisa bergerak memimpin para bocah dan kawanan Lebah Kepala Hati Berbunga...?"

Pangeran Durjana menganggukkan kepala. Diapun lalu menambahkan.

"Tidak hanya Lebah Kepala Hati Berbunga yang kubawa serta. Aku juga akan membawa Lebah Pembunuh untuk menghabisi mereka!"

Tegas laki-laki itu

"Aku yakin ini akan berhasil."

"Dan aku akan menjadi matamu sebagai penunjuk dalam kegelapan sekaligus penasehat yang paling tepat."

"Terima kasih. Aku berterima kasih kepadamu juga pada maha diraja Kegelapan." kata Pangeran Durjana sambil bergegas pergi.

*****

Berjalan dengan mengendap-endap sambil dekap bagian bawah perut yang hanya terlindung pakaian dalam kulit. Sang Maha Sakti Raja Gendeng benar-benar merasa risih. Apa lagi saat itu angin bertiup kencang. Langit mendung dan hujan turun deras membuat pewaris tahta istana Pulau Es itu jadi kedinginan.

Setelah berjalan cukup lama di suatu tempat di bawah pohon yang rindang Raja hentikan langkahnya.

"Hujan tambah deras. Kilat menyambar petir menggeledek. Ah-ah-ah... mungkin para dewa tidak suka melihatku dalam keadaan yang seperti ini," kata Raja sambil menyeringai.

"Para dewa tidak murka, hanya para dewi di kayangan merasa malu melihat paduka Raja Gendeng."

Tiba-tiba terdengar suara bisikan dari hulu pedang Gila yang tergantung dipunggungnya. "Walah, biarkan saja. Keadaanku yang seperti ini bukan kemauanku sendiri. Kau juga melihat

bocah-bocah Iblis... suruhan Pangeran Durjana itu yang telah mencabik habis pakaianku .Dan aku masih beruntung karena menggunakan ajian sakti perisai tubuh hingga membuat tubuhku menjadi alot, tak bisa dicakar tak mempan digigit .Kalau tidak, saat ini kemungkinan aku cuma tinggal tulang belulang tidak berguna dan nyawaku amblas gentayangan di emperan surga atau entah pula di emperan neraka."

Celetuk Raja.

"Mengapa di emperan neraka paduka?" Tanya jiwa pedang melalui ngiangan. Raja terkekeh. Perlahan dia turunkan dua tangan yang dipergunakan untuk mendekap bagian perut sebelah bawah.

Enteng saja pemuda berambut gondrong yang kehilangan seluruh pakalannya akibat diserang Bocah Bocah Iblis itu menjawab.

"Aku merasa diriku ini bukan orang suci. Setiap orang kudengar ingin masuk ke sorga tanpa berusaha keras berbuat kebajikan. Karena aku rasa kebaikan yang kuperbuat belum banyak. Ya... jika para dewa menginginkan aku menempati emperan neraka juga sudah bagus. Siapa tahu di sana banyak gadis-gadis cantik, orang ternama dan makanan yang serba enak. Jadi menurutku dari pada berebut makanan di surga, di emperan neraka pun tidak apalah. Ha ha ha..."

"Yang mulia paduka Raja Gendeng."

Lagilagi sang Jiwa yang bersemayam dalam hulu pedang memberi bisikan.

"Di neraka dan emperannya saya yakin paduka dengan mudah bisa menemukan gadis-gadis yang cantik"

"Bagaimana kau bisa berkata begitu wahai jiwa sahabatku?" Tanya Raja tak mengerti.

"Iya... Soalnya semasa di dunia kebanyakan yang suka menukar diri dengan sejumlah harta benda adalah gadis cantik, Kalau gadisnya jelek mana ada laki-laki yang mau."

"Hus... Jangan bicara sembarangan. Lebih baik kau ikut memikirkan diriku yang malang ini. Aku tak mungkin bisa keluar dari hutan ini bila aku tidak bisa mendapatkan seperangkat pakaian sebagai pengganti pakaianku yang hancur "

"Paduka, bukankah saya telah katakan. Paduka berjalan saja lurus ke depan. Nanti pakaian bisa paduka dapatkan."

"Jiwa. Aku tahu pulau es udaranya sepuluh kali lipat lebih dingin dari udara disini. Tapi lihatlah tiupan angin begini kencang, pandangan mataku tak kuasa menembus kepekatan kabut yang muncul di sekitar sini. Lagi pula apa nanti kata dunia bila melihatku dalam keadaan seperti ini?"

"Dunia tidak pernah berkata apa-apa paduka. Di hutan ini hanya didiami sekawanan monyet.

Monyet jantan dan monyet betina. Tapi paduka tak perlu merasa malu pada monyet-monyet betina itu karena mereka pun tidak berpakaian seperti paduka."

"Kau sungguh keterlaluan. Aku tidak mau lagi bicara. Aku mau berjalan ke depan," Ujar Raja Gendeng.

"Pandangan mata tertutup kabut, bagaimana kalau paduka tersesat. Nanti saya yang disalahkan lagi."

Raja diam tidak menghiraukan ucapan jiwa dalam pedang. Sebaliknya dia angkat ke dua tangannya tinggi-tinggi. Sepuluh jemari tangan tersusun rapi lalu dua tangan yang saling bertautan diletakkan di atas kepala. Bersamaan dengan itu, Sang Maha Sakti membaca sebuah mantra aji penolak hujan.

Ketika mulut yang berkemak-kemik terkatup rapat tanpa keraguan Raja segera langkahkan kaki lurus ke depan. Satu pemandangan yang sulit dipercaya pun lalu terbentang di depan mata. Tiba-tiba saja sejarak satu tombak di sebelah kiri dan sebelah kanan curah hujan yang mengucur deras dari langit seperti menyibak seolah memberi jalan pada Sang Maha Sakti untuk melewati jalan setapak itu. Walau di kanan kiri Raja hujan terus mengguyur namun tidak setetespun air hujan yang menyentuh tubuh pemuda itu.

"Hyang Jagad Batara. Kuasa dewa penuh dengan limpahan rahmat kebijaksanaan. Hujan menyingkir memberi jalan, angin berputar berhembus ke arah yang lain sungguh saya gembira karena paduka Raja ternyata diberkahi berbagai bekal ilmu berguna,"

Kata Jiwa dalam pedang memuji. Raja sedikitpun tidak menanggapi.

Dia terus saja melangkah lurus sebagaimana yang diperintahkan jiwa pedang gila.

Setelah melewati semak belukar dan bebatuan licin berlumut, kini Raja terpaksa menuruni sebuah bukit yang ditumbuhi tanaman merambat dan batu-batu aneh berwarna putih terang .Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tarap sempurna Raja berjalan melewati bukit dengan dua tangan dijunjung di atas kepala.

Sekali kaki dihentakkan. Wuus!

Wuust!

Sekejab kemudian Raja telah sampai di bawah bukit. "Paduka kita sudah sampai..." kata sang Jiwa memberi tahu.

Sambil tetap menjunjung dua tangan di atas kepala Sang Maha Sakti celingukan memperhatikan keadaan di sekitarnya.

"Tempat yang aneh."

Gumam pemuda itu. Perlahan dua tangan di atas kepala diturunkan "Tempat aneh bagaimana maksud paduka?"

Bertanya sang jiwa tak mengerti. Raja busungkan dada lalu menghirup nafas dalam-dalam.

Setelah itu baru membuka mulut menjawab pertanyaan sang jiwa.

"Aku mengendus hawa kematian. Aku merasakan roh-roh yang tersesat masih gentayangan di tempat ini. Dan bau aneh ini. "

Gumam Raja. Suaranya begitu lirih namun cukup didengar oleh sang jiwa.

"Saya tak mengendus aroma apa-apa. Terkecuali bau ketiak paduka yang asem."

Raja terkejut dan segera mencium ketiaknya di sebelah kiri dan sebelah kanan. Kesudahannya Raja tersenyum. "Hmm... kau benar. Bau ketiakku sedikit asem. Tapi aku yakin bukan ketiak ini yang menjadi pangkal sebab. Sejak kecil hingga sekarang keringatku tidak menebar bau kemenyan. Tapi yang terendus olehku saat ini adalah bau kemenyan."

"Sudah.... jangan terlalu dipikirkan paduka. Baru mencium bau kemenyan saja paduka sudah ribut.

Lihat saja ke samping itu!" "Ke samping?"

Desis Raja.

Seketika dia balikkan badan sambil berdiri tegak dia menatap lurus ke depan.

Dia tertegun ketika mendapati di depan sana terdapat sebuah lubang besar setinggi orang berdiri.

Bagian depan lubang terlindung akar dan daun tumbuhan merambat menjuntai. Sementara di bagian dalam terlihat gelap gulita.

"Apakah kau yakin di dalam gua itu tersimpan pakaian yang aku butuhkan?!" Tanya Raja.

"Ya. Saya telah melihat ke dalam. Tapi paduka harus hati-hati" Raja tersenyum.

"Aku tidak mengerti mengapa ada orang yang begitu berbaik hati menyimpan pakaian di tempat seperti ini?"

"Wah itu saya tidak tahu. Saya melihat di dalam gua ada kerangka manusia dalam keadaan duduk bersila selayaknya orang yang sedang bertapa."

"Heh, apa?"

Sentak Raja sambil berjingkrak kaget.

"Kau melihat orang bertapa sampai mati. Gila sekali."

"Saya tidak mengatakan orang itu tengah bertapa. saya hanya menemukan tengkorak sedang duduk bersila. "

"Jadi kau menganjurkan aku memakai pakaian orang yang sudah mati?"

Kata Raja. Matanya mendelik menunjukkan rasa tidak senang. Buru-buru sang jiwa menjawab. "Jangan berpikir buruk dulu. Pakaian itu sama sekali bukan pakaian yang melekat di tubuh

kerangka tengkorak. Saya melihat seperangkat pakaian bagus di dalam sebuah peti hitam tak jauh di samping kerangka bersemedi."

"Begitu? Hmm, apakah kau mau mengambilkan pakaian itu untukku?" Tanya Raja sambil melirik ke arah hulu pedang di punggungnya.

"Mengapa saya. Paduka yang butuh maka paduka pula yang harus mengambilnya." "Tampaknya aku tidak punya pilihan. Tapi gua ini sangat gelap,"

Keluh Raja setelah sempat berpikir lama. Sang jiwa terdiam. Dia tahu bagian dalam gua memang sangat gelap gulita.

Sebagai mahluk yang hanya terdiri dari jiwa dan tidak terikat raga dia dapat pergi kemana pun tanpa dilihat orang lain. Sementara Raja walau memiliki berbagai ilmu kesaktian yang hebat namun berada dalam kegelapan membuatnya sulit.

Selagi jiwa dalam hulu Pedang Gila berpikir mencari cara yang dianggapnya paling tepat pada saat ini tiba-tiba saja terdengar suara erangan yang kemudian disusul oleh suara raungan panjang.

Sang Maha Sakti Raja Gendeng tersentak kaget.

Dia segera balikkan badan dan menatap ke arah datangnya suara.

Pemuda ini jadi tercengang begitu melihat di depan sana sejarak empat tombak dari tempat Raja berdiri entah dari mana datangnya muncul satu mahluk besar berbulu hitam pekat setinggi dan sebesar anak kuda dewasa.

Mahluk berbulu lebat berekor panjang menatap Raja sambil menyeringai memperlihatikan gigi-giginya yang runcing tajam.

Lidah sang mahluk menjulur keluar masuk. Melihat kehadiran sang mahluk yang memandangnya dengan sorot mata tajam menusuk. Raja jadi tertegun.

Setelah menelan ludah basahi tenggorokannya yang mendadak kering dengan suara perlahan dia berkata pada sang jiwa pedang.

"Seumur hidup aku belum pernah melihat ada anjing sebesar ini. Besarnya hampir sama dengan kuda. Apakah mungkin mahluk satu ini adalah penjaga gua. "

"Paduka Raja Gendeng. Anjing itu nampaknya anjing betina. Mungkin penjaga gua ini. Tapi bagaimana kalau ternyata dia adalah mahluk jejadian," sahut sang jiwa melalui ilmu menyusupkan suara.

"Jejadian bagaimana maksudmu?" Tanya Raja tak mengerti.

"Ingat paduka. Bukankah waktu bertemu dengan Dewa Mabok. Beliau mengatakan paduka bakal bertemu dengan seorang gadis berpenampilan serba hitam? Bisa saja mahluk ini adalah gadis yang beliau maksudkan namun muncul dalam rupa dan ujud yang berbeda."

Terang sang jiwa. Terkejut dan sadar akan keadaan diri yang hampir polos, Raja tiba-tiba mendekap bagian bawah perutnya. Melihat Raja jadi salah tingkah dan tarsipu malu. jiwa pun berujar.

"Bagus. Yang itu memang harus ditutupi paduka, Biar paduka tidak menjadi malu dan mahluk berujud anjing itu ikut menanggung malu."

"Bukan itu yang merisaukan hatiku. Aku takut kalau tidak kulindungi begini. Bagaimana bila tiba tiba dia menerkamku dan berusaha merebut kantong menyanku. Padahal kau sendiri tahu aku cuma punya satu kantong bawaan sejak lahir," kata Raja risau.

Terdengar suara tawa mengekeh. Dan tawa sang jiwa tentu saja hanya Raja sendiri yang dapat mendengarnya.

"Auuung. "

Tiba-tiba sang anjing hitam dongakkan kepala sambil keluarkan lolong panjang menggidikkan.

Raja terkesima. Tapi kemudian dia segera bergerak mundur mendekati mulut gua. Dengan sikap waspada dari tempatnya berdiri pemuda itu terus memperhatikan tapi sang anjing besar ternyata tidak menunjukkan sikap hendak menyerang. Sebaliknya binatang itu malah ulurkan kaki depan lalu letakkan kepala di atas kedua kaki sedangkan dua matanya berkedap-kedip.

Lidah dijulur keluar menunjukkan sikap bersahabat.

"Paduka! Lihatlah... binatang itu sama sekali tidak bersikap memusuhi. Tingkahnya bersahabat.

Paduka, bagaimana bila kau mengajaknya bicara? Siapa tahu dia mengerti bahasa manusia," Ujar sang jiwa memberi saran.

"Apakah kau sudah gila. Kau menyuruhku mengajak bicara binatang?"

Dengus Raja, suaranya perlahan namun kesal. Didamprat begitu rupa, sang jiwa sama sekali tidak merasa tersinggung. Sebaliknya dia kembali memberi bisikan.

"Saya tidak gila paduka Raja Gendeng. Menurut riwayat dan nama seharusnya paduka yang gila.

Tapi untuk apa kita mengungkit segala kekurangan diri. Lebih baik paduka cari pakaian itu. Saya menyertai gusti dan mudah mudahan Yang Maha Kuasa memberikan kelimpahan serta rahmat bagi paduka juga pada saya."

Mendengar ucapan sang jiwa, Raja jadi berpikir apakah mungkin segala yang dikatakan mahluk penghuni hulu pedang itu benar adanya?

Apakah benar sang anjing bisa bicara atau setidaknya mengerti setiap kata yang diucapkannya.

Terdorong oleh rasa ingin tahu sambil menekan bagian bawah perut tangan kiri. Raja palingkan kepala dan menatap ke arah anjing besar.

Dengan hati diliputi keraguan akhirnya dia berucap.

"Wahai mahluk hitam. Aku tidak tahu apakah kau mahluk sungguhan ataukah cuma anjing jejadian. Apa pun yang membuatmu hadir di tempat ini. Kuharap kau tidak membawa maksud tertentu yang membuatku jadi repot. Aku membutuhkan seperangkat pakaian yang pantas saat ini. Dan menurut sahabatku yang tidak pernah menunjukkan diri di dalam gua ada pakaian yang kubutuhkan. Aku ingin mengambilnya. Tapi jika kau ternyata penjaga sekaligus pelindung pakaian itu aku berharap kemurahan hatimu untuk memberikan pakaian itu padaku!"

Setelah berkata begitu, Raja pun terdiam menunggu. Sang anjing geleng kepala sambil kedap kedipkan matanya. Melihat ini karuan saja Raja berucap ditujukan pada sang jiwa.

"Wah, dia geleng kepala. Dia tidak mengijinkan kita mengambil pakaian itu." "Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Siapa tahu mahluk itu lehernya sedang sakit dan pegal paduka. Gusti harus bersabar. Lihatlah... sekarang dia bangkit berdiri!"

Ujar sang jiwa menanggapi..

Kembali menatap ke arah mahluk hitam.Raja memang melihat anjing besar bangkit berdiri. Kemudian tanpa mengeluarkan suara apa-apa mahluk ini berjalan lurus menghampiri mulut gua.

Ketika berjalan sang mahluk sedikit pun tidak menoleh atau berani menatap ke arah Raja. Agaknya dia merasa malu melihat Raja dalam keadaan seperti itu. Saat anjing itu lewat di depan

Raja, diam diam dia melangkah mundur sambil alirkan tenaga sakti ke bagian kedua tangan dan kakinya.

Raja berpikir bila sang anjing menyerangnya dengan tak terduga.

Dia dapat membela diri dengan melepaskan pukulan. Dugaan pemuda ini ternyata meleset. Dengan sikap acuh anjing itu terus berjalan mendekat di depan gua.

Sesampainya di depan mulut gua sang anjing ulurkan kepala lebih ke depan. Seiring dengan itu dari mulutnya terdengar suara lolongan tiga kali berturut-turut. Belum lagi suara lolongannya yang lirih memiluhkan lenyap.

Tiba-tiba dia gerakkan kaki depan sebelah kanan.

Kaki terjulur dan disentuhkannya ke atas batu bundar yang menyembul menonjol di atas tanah. Kreek!

Raja yang terus memperhatikan gerak gerik binatang itu belalakkan matanya begitu melihat kaki anjing menyentuh batu menonjol itu, tiba-tiba saja bagian dalam ruangan gua yang tadinya gelap kini berubah menjadi terang.

"Dia tidak bermaksud jahat.Ternyata dia berniat membantuku," batin Raja.

Kemudian pada sang anjing buru-buru Raja bungkukkan badan menjura hormat sambil berkata. "Melihat dirimu aku yakin kau bukanlah anjing biasa. Tapi siapapun dirimu ini, aku berterima

kasih atas segala budi pertolongan yang kau berikan." Anjing besar keluarkan suara menggerung lirih.

Dia balikkan badan lalu melangkah menjauh tinggalkan mulut gua.

Raja kemudian melihat sang anjing kembali dan mendekam di tempat pertama memunculkan diri.

Dia terus mengawasi namun tidak lagi keluarkan suara apapun.

Sementara itu setelah ruangan di dalam gua berubah menjadi terang ,jiwa yang bersemayam dalam pedang Gila kemballi memberi bisikan.

"Paduka. Anjing itu nampaknya tahu banyak tentang gua ini. Niatnya jelas sekali ingin membantu paduka. Tunggu apalagi sekarang masuklah ke gua itu ambil pakaian yang paduka butuhkan!" "Hmm, baiklah."

Sambil menghirup napas dalam-dalam Raja menyahuti. "Mahluk itu sudah menolong."

"Tapi ada yang aneh paduka." "Aneh apanya."

"Yang aneh maksud saya adalah penampakan paduka Raja saat ini." Ucapan sang Jiwa membuat Raja perhatikan diri sendiri.

"Keadaanku tidaklah aneh, hanya memalukan sedikit. Yang aneh mengapa mahluk itu tidak mengantarku, mengapa dia tidak ikut ke dalam gua?"

"Ah paduka ini bagaimana. Anjing itu saya lihat kelaminnya betina. Tentu saja dia merasa malu melihat paduka. Saya rasa paduka tak perlu curiga. Yang paduka butuhkan cuma mengambil pakaian yang dibutuhkan setelah itu baru pergi."

Raja manggut-manggut tanda setuju.

Tanpa banyak membuang waktu lagi akhirnya dia melangkahkan kaki memasuki mulut gua. Tidak sulit untuk mencapai bagian dalam gua itu.

Raja bahkan tidak harus membungkuk karena bagian pintu dan ruang dalam gua amat tinggi.

Raja hanya perlu menyingkirkan akar dan tetumbuhan merambat yang menjuntai menutupi bagian depan gua. Ketika Sang Maha Sakti Raja Gendeng sampai di bagian dalam gua, penciumannya yang tajam mengendus bau harum semerbak bercampur dengan bau pesing.

Aroma yang bercampur aduk itu membuat Raja terpaksa menahan nafas.

Sambil terus melangkah ke bagian dalam gua yang ternyata sangat luas, pemuda itu terus memperhatikan keadaan di sekelilingnya .Sekarang dia tahu cahaya putih benderang yang menerangi gua ternyata bukan berasal dari nyala pelita ataupun obor.

Cahaya yang menerangi ruang gua berasal dari bebatuan putih seperti intan yang banyak bermunculan di bagian dinding dan langit-langit gua itu.

"Jiwa... kau lihat sendiri. Ruangan ini nampak bersih seperti ada orang yang merawatnya setiap hari. Aku menaruh curiga tidak tertutup kemungkinan tempat ini ada penghuninya."

"Mungkin yang menghuni gua ini adalah anjing yang ada diluar tadi paduka. Tak usaha banyak pertimbangan. Lihatlah begitu banyak pakaian digantung di sudut sebelah kiri gua itu. Lekas pilih dan ambil yang ukurannya pas buat paduka."

Tanpa bicara Raja menatap ke arah yang dimaksudkan sang jiwa.

Dia melihat ada beberapa pasang pakaian bergelantungan di dinding gua. Pakaian itu terdiri dari beberapa macam warna.

Tapi setelah didekati ukurannya ada yang kecil, besar dan besar sekali.

"Pakaian ini bukan cuma ukurannya saja yang tidak sesuai dengan tubuhku, warnanya juga terlalu menyolok. Siapa yang meletakkan pakaian itu di sini?" Kata Raja ditujukan pada sang jiwa.

Belum lagi mahluk alam gaib penghuni pedang sempat menjawab. Tiba-tiba terdengar suara deru hebat seperti suara gemuruh angin. Raja terkesiap.

Keheranan menyelimuti dirinya.

Dia memang mendengar suara angin menderu namun tidak merasakan ada angin berhembus di dalam gua.

Belum lagi lenyap keheranan dalam hati Sang Maha Sakti.

Tiba pula dia mendengar suara gemercik air seperti di pancuran. Tidak ada pancuran air di dalam gua itu.

Dia juga tidak melihat ada air menetes di langit-langit goa.

Tapi sekonyong-konyong nafas pemuda ini tersedak begitu dia mengendus bau busuk menyengat disertai bau pesing luar biasa.

Pemuda ini jadi kelabakan.

Dadanya terasa sesak seperti mau meledak.

Pandangan berkunang-kunang, kepala sakit berdenyut dan perut bergelung mual seperti diaduk-aduk.

Terhuyung-huyung sambil pegangi kepalanya dengan tangan kanan pemuda itu jatuhkan diri bersandar pada dinding goa.

"Bau pesing dan bau busuk ini membuat aku tak kuat berada disini lebih lama." keluhnya.

Raja lalu memijiti keningnya yang terus berdenyut. Kemudian pada jiwa, melalui ilmu menyusupkan suara dia berkata.

"Cepat kau cari tahu dimana pancuran itu berada. Selain itu kau juga harus mencari tahu mahluk apa yang menebar bau pesing sehebat ini?"

"Paduka Raja Gendeng. Yang paduka dengar barusan tadi bukan suara air pancuran. Tapi suara seseorang yang sedang kencing. Kencingnya tidak di sini tapi berada jauh di suatu tempat sejarak dua hari perjalanan berkuda."

Terang mahluk di hulu pedang itu. Raja tercengang seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

"Apa? Ada orang buang hajat kecil suaranya bergemuruh seperti pancuran besar. Dan kau mengatakan orang itu tidak buang hajat disini tapi disebuah tempat jauh malah sejarak dua hari perjalanan berkuda. Betul-betul edan. Kuharap kau tidak bicara ngaco, jiwa."

Geram Raja penasaran.

"Saya tidak mengada-ada paduka. Memang demikian keadaannya." "Orang yang kencing itu memangnya sebesar dan setinggi apa?"

"Saya hanya bisa menduga, paduka. Orangnya mungkin hampir setinggi langit dan sebesar gunung."

"Walah! Apa mungkin ada orang setinggi dan sebesar itu? Lagi pula apa yang dia makan?

Mengapa baunya sepesing ini?"

Kata Raja sambil geleng kepala.

"Saya rasa makanan utamanya pete dan jengkol, paduka. Lalu minumannya air kencing selusin kuda!"

Jawab jiwa asal-asalan.

Mendengar itu Raja tak kuasa menahan tawa. Tapi belum lagi tawanya reda.

Tiba-tiba suara menderu lenyap begitu juga dengan suara gemercik air dan bau pesaing menyengat ikutan lenyap.

Sekali lagi Raja dibuat tertegun. Dengan mulut terganga kehilangan tawanya Sang Maha Sakti menatap ke arah mulut gua.

Tidak seorang pun muncul di sana. Suasana sunyi mencekam.

Tapi kesunyian tidak berlangsung lama.

Raja pun kemudian tertegun begitu sayup-sayup mendengar suara ngiang di telinga kanannya. "Anak manusia yang datang dari sebuah pulau dingin. Kalau tidak tahu latar dan penyebab yang

membuatmu nyaris telanjang seperti itu. Kalau tidak mengingat di luar sana bakal ada kekacauan besar dan kau sangat dibutuhkan untuk membantu mengatasi semua kekacawan itu. Jangankan sampai bicara ngaco, sembarangan di dalam tempat peristirahatan sesepuh Tetua Ageng Datu Katu Lampa. Menginjakkan kaki di pintu gua itu pun kau dan mahluk yang bersemayam dalam hulu pedangmu bisa dihukum sampai mampus. Dan demi kemuliaan dan kemurahan hati para sesepuh, serta Tetua Ageng Datu Katu Lampa yang telah berpulang. Hari ini sebagai penjaga gua Kepantasan Penutup Rasa Malu, aku Malae Daeng Pasir Tujuh Angin yang juga dikenal dengan sebutan Lindu Cal Bumi memberimu maaf dan mengampuni selembar Jiwamu."

"Astaga! Tak kusangka tempat ini rupanya berpenjaga. Dan penjaga itu siapapun dia pastilah memiliki ilmu kesaktian yang sangat tinggi sekali. Dia bicara melalui ilmu mengirimkan suara. Dia tidak berada di sekitar gua ini. Tapi dia tahu aku tidak sendiri. Selama aku meninggalkan pulau Es. Rasanya belum pernah seorangpun yang tahu di dalam pedang gila ada jiwa yang bersemayam. Tapi orang ini sungguh luar biasa."

Batin Raja.

Sadar dirinya telah melakukan kesalahan memasuki gua tanpa seizin penjaganya. Raja cepat rangkapkan dua tangan di depan dada. Dia lalu jatuhkan diri berlutut menghadap ke arah mulut gua.

Dengan kepala menunduk sebagai tanda penghormatan Sang Maha Sakti membuka mulut dan berucap.

"Orang tua siapa pun dirimu. Mohon maafkan aku karena telah memasuki tempat peristirahatan Tetua Ageng Datu Katu Lampa tanpa seizinmu."

"Ha ha ha. Ternyata walau dirimu seorang penerus tahta kerajaan kau pemuda berhati polos dan cukup tahu diri. Dibalik sikapmu yang ugal ugalan dan kerap berlaku sekehendak hati ada kejujuran dan kemuliaan dalam tujuan hidupmu. Aku telah memberimu maaf.Bukankah kau telah mendengarnya."

"Ya, aku sudah mendengarnya orang tua."

Jawab Raja tanpa berani mengangkat wajahnya.

Lagi-lagi terdengar suara tawa mengiang di telinga pemuda itu. "Saat ini kau tidak melihatku, aku bahkan berada sangat jauh dari tempat dirimu berada. Dari mana kau tahu bahwa aku seorang tua?"

Walau merasa bersalah memasuki gua tanpa seizin penjaganya. Sambil menahan senyum pemuda itu berucap.

"Saya memang tidak melihatmu. Aku tak melihat rupamu bagus atau jelek. Namun dari tarikan nafas yang berat seperti tersangkut ditenggorokan saya yakin engkau sudah pantas kiranya dipanggil kakek."

"Pemuda gelo! Tapi apa yang kau katakan itu memang benar adanya. Sekarang kau dan jiwa dalam pedangmu itu dengar baik-baik."

"Aih, dia juga tahu tentang aku. Padahal aku tak terlihat tapi dia bisa melihatku. Malu aku jadinya paduka,"

Bisik Jiwa.

"Kurasa bukan cuma kau. Aku yakin dia juga bisa melihat setan," Sahut Raja.

"Kalian dengar. Mengapa kalian jadi sibuk sendiri selagi aku hendak bicara," Damprat suara mengiang menunjukkan rasa tidak sukanya.

"Bb... baiklah, maafkan kami." kata Raja.

"Berdiri. Kau tak perlu berlutut seperti orang tolol begitu? Lagi pula aku tidak berada dihadapanmu."

Kembali terdengar suara ngiang mendamprat membuat Raja cuma bisa tersenyum namun cepat bangkit sebagaimana yang diperintahkan kepadanya. Setelah Raja berdiri tegak lagi-lagi terdengar suara mengiang di telinganya.

"Aku tidak ingin kau berlama-lama berada di dalam gua itu. Karena aku tahu kau membutuhkan pakaian. Kau boleh saja mengambil seperangkat pakaian yang kau butuhkan. Pilihlah pakaian yang bergelantungan di dinding."

Tentu saja Raja jadi tercengang

"Pakaian itu? Kujamin tak satupun yang pas ditubuh saya. Lagi pula baunya pesing sekali!" "Tentu saja. Pakaian yang berwarna kuning besar luar biasa adalah pakaian mbah buyutku.

Orangnya sudah pikun. Tapi siapapun yang memakai pakaian itu bisa membuatnya terbang seumur hidup."

"Aku bukan burung, aku tak perlu terbang," Sahut Raja.

"Ya. Aku tahu, pedang di punggungmu itu bisa membuatmu terbang." "Bagaimana kau bisa tahu?"

Tanya Raja kaget. Begitu juga halnya dengan Jiwa dalam hulu pedang "Bagiku itu persoalan mudah."

Sahut Malae Daeng Tujuh Angin.

"Jadi kau tahu segalanya tentang diriku?"

"Tahu atau tidak. Bagiku tidak penting lagi. Sekarang bagaimana, apa kau mau ambil pakaian yang berwarna merah atau yang biru?"

Raja memperhatikan dua perangkat pakaian yang disebutkan oleh Malae Daeng Pasir Tujuh Angin

"Pakaian yang berwarna merah memang agak kecilan. Tapi rasanya itu hanya cocok untuk perempuan. Sedangkan pakaian yang biru memang pakaian laki-laki.Rasanya pas untuk orang yang berbadan gendut!"

Ujar Raja.

"Yang kau katakan benar. Pakaian merah memang pakaian perempuan. Pemiliknya adalah seorang nenek sakti berjuluk Gila Semusim. Bila kau memakai pakaian itu kau tak pernah mengalami dan merasakan susah hati. Kau terus akan bergembira sepanjang hari sepanjang tahun"

"Pantas saja dia dijuluki Gila Semusim. Aku tak sudi menerima pakaian itu. Aku tidak mau ikutan menjadi gila sungguhan."

Raja kemudian terdiam. Setelah sempat berplkir dia pun ajukan pertanyaan. "Bagaimana dengan pakaian yang berwarna biru?"

Sebagai jawaban lagi-lagi terdengar suara bisikan.

"Seperangkat pakaian biru adalah pakaian keramat. Siapa saja yang memakainya bisa membuatnya awet muda umurnya panjang tidak mati mati. Bila yang memakainya orang jelek dia bisa berubah menjadi tampan. Banyak wanita nantinya jatuh hati padanya, terutama para janda dan wanita paruh baya. Segala dedemit, kalongwewe, hantu jembalang bahkan sampai kuntilanak liang kubur bakal tergila-gila padanya. Malah binatang buas sekalipun menjadi tunduk padanya...!"

"Sudah-sudah! Aku tidak mau dengar. Aku tidak mau dikejar segala wanita dan mahluk kesasar,"

Potong Raja. Pemuda itu menghela nafas. Dia ingat dengan ucapan Jiwa. Tak heran Raja buru-buru menyambung ucapan.

"Aku ingin pakaian yang ada dalam peti hitam."

Ucapan yang tidak disangka-sangka itu membuat kaget sang penjaga gua yang saat itu berada di sebuah tempat sejauh satu hari perjalanan.

"Menginginkan apalagi berhasrat ingin memiliki pakaian dalam peti hitam bukan perkara mudah.

Pakaian itu adalah milik Tetua Ageng Datu Katu Lampa."

"Bukankah orang yang kau maksudkan jenazahnya hanya tinggal seonggok belulang dalam keadaan duduk bersila tak jauh dari peti itu?"

Tanya Raja sambil diam-diam melirik ke arah kerangka tengkorak menyender di dinding sebelah kanan gua.

"Benar. Pakaian sakti dalam peti hitam itu bernama Kabut Api Angin.Siapa saja yang memakai bisa menjadi kebal dari serangan, tahan bacokan dan pukulan sakti juga menjadi kebal terhadap racun terjahat sekalipun."

Penjelasan Malae Daeng Pasir Tujuh Angin ini membuat wajah Raja jadi sumringah. Dia bahkan kegirangan.

"Itu yang kucari. Rasanya aku ingin memakainya!" Kata Raja berterus terang.

"Seperti yang kukatakan untuk memiliki pakaian itu ada satu syarat yang harus kau penuhi disuatu saat kelak. Syarat itu sangat berat."

"Apapun syarat yang ditetapkan aku akan menenuhinya. Katakan saja apa pun syaratnya.

Mudah-mudahan atas izin dan bantuan Yang Maha Kuasa aku bisa memenuhinya."

"Paduka Raja. Jangan suka menyanggupi suatu perkara bila kita belum tahu benar syarat apa yang harus paduka penuhi," kata Jiwa memberi ingat

"Kau tenang saja. Aku harus mendapatkan pakaian secepatnya. Aku sudah tidak betah bertelanjang diri seperti orang hutan begini. Aku mau pakaian itu"

"Kalau paduka sudah berkata begitu. Saya tidak mau ikut campur. Apapun akibatnya kelak paduka sendiri yang bakal menanggung" kata Jiwa mengalah.

Raja mengangguk sambil cibirkan mulut

"Kau sudah mendengar nasehat mahluk halus dalam pedangmu. Tentang syarat-syarat untuk memiliki pakaian itu tidak harus kau penuhi hari ini. Disuatu saat kelak pada waktu yang tepat aku akan mengatakannya padamu,"

Terang Malae Daeng Pasir Tujuh Angin. "Jadi aku dizinkan untuk memakai pakaian itu?" Tanya Raja dengan perasaan lega.

"Begitulah. Namun satu hal aku harus pastikan. Dan kau harus pula menjawabnya dengan jujur." "Katakan saja apa pertanyaanmu?"

"Aku ingin tahu apakah sampai hari ini kau masih seorang perjaka?" Karuan saja pertanyaan itu membuat Sang Maha Sakti berjingkrak kaget "Apa hubungannya antara pakaian dan keperjakaan?"

Tanya Raja bingung tak mengerti.

"Ketahuilah, Tujuh manusia sakti berjiwa pilihan yang masih berhubungan dengan tetua Ageng Datu Katu Lampa pernah menjajal pakaian itu.Tapi semuanya mampus hangus terbakar karena mereka sudah tidak perjaka. Bagaimana dengan dirimu? Kau bisa menjamin dirimu masih perjaka?"

Tanya Malae Daeng dari kejauhan.

"Jiwa, menurutmu apakah aku masih perjaka?"

Bisik pemuda itu sambil melirik ke arah pedang di punggungnya

"Paduka. Soal perjaka tidaknya paduka Raja mana saya tahu. Paduka ingat-ingat saja sendiri, apakah paduka pernah menggunakan benda pusaka yang satu Itu untuk menyerang wanita? Atau apakah pernah rajawali keramat yang paduka miliki terbang menuju ke sarangnya.."

Sahut Jiwa sambil menahan tawa. Sang Maha Sakti menggeram mendengar jawaban Jiwa yang dia anggap tidak memuaskan itu

"Mahluk sialan keparat. Bicaramu ngaco. Sungguh kau tidak bisa diajak berunding!"

Dengus Raja. Lalu sambil bersungut-sungut dia gelengkan kepala. Selanjutnya dengan penuh keyakinan pula dia menjawab.

"Aku masih perjaka. Aku perjaka ting-ting, eeh aku perjaka tong-tong. Aku belum pernah merasa dekat apalagi jatuh cinta pada gadis manapun."

"Bagus. Jika terbukti kau berdusta, nanti bakal kau tanggung sendiri akibatnya. Sekarang mohonlah pada tetua Ageng Datu Katu Lampa. Semoga beliau yang telah tenang di alam peristirahatannya memberi restu dan pakaian sakti yang beliau buat kelak banyak memberi manfaat kepadamu!"

Tegas Malae Daeng Pasir Tujuh Angin .Tanpa ragu Raja lalu melangkah kehadapan Sosok yang duduk bersemedi yang cuma tinggal tulang belulang dan tengkorak itu.

Pemuda ini lalu jatuhkan diri berlutut di depan kerangka tengkorak, rangkapkan kedua tangan di depan dada.

Dengan kepala tertunduk dalam Sang Maha Sakti Raja Gendeng dengan suara bergetar berucap, "Wahai orang tua.Semoga berkah Yang Kuasa selalu menyertaimu dan kami semua. Aku Raja

Gendeng, orang jelek yang biasa disebut Sang Maha Sakti pewaris istana pulau yang dingin mohon restumu. Perkenankan diriku memakai pakaian sakti Kabut Api Angin milikmu. Aku harap engkau tidak marah, aku mohon engkau memberi izin. Engkau ridho, aku pun senang."

Baru saja Raja selesai mengucapkan katakata seperti itu, tiba tiba terdengar suara berdesir dan gemuruh di dalam peti hitam.

Pemuda ini segera bangkit dan cepat-cepat menatap ke arah peti hitam yang berada satu tombak di depan sebelah kirinya. Belum lagi keheranan yang menyelimuti hati Raja lenyap, Suara deru tambah menjadi.

Kreek!

Penutup peti terbuka.

Dari balik peti yang terbuka muncul kabut pekat berwarna putih.

Kabut bergulung-gulung memenuhi seluruh penjuru gua. Tapi kepulan kabut tidak berlangsung lama.

Dari dalam peti mendadak menyembur lidah api yang disusul dengan suara deru angin disertai tebaran hawa panas dan dingin.

Raja melangkah mundur, bersikap waspada dari setiap kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.

Namun segala sesuatu yang dikhawatirkannya ternyata tidak terjadi.

Api yang muncul dari dalam peti bersama hembusan angin akhirnya padam dengan sendirinya. Setelah api padam, muncul pula perasaan cemas dihati Raja.

Dia takut pakaian yang tersimpan di dalam peti ikut hangus terbakar.

"Paduka. Api dan angin aneh lenyap. Mengapa paduka tidak segera hampiri peti itu?" Kata jiwa.

"Mungkin petinya masih panas. Aku jadi ragu apakah pakaian yang kubutuhkan masih utuh?" Gumam pemuda itu.

Walau merasa ragu.

Dia tetap menghampiri peti tersebut.

Tak lama Raja telah duduk bersimpuh disamping peti.

Setelah menatap peti beberapa kejab lamanya Raja segera ulurkan tangan ke mulut peti.

Diam-diam dia merasa heran sekaligus takjub begitu sadar ternyata bagian dalam peti yang sempat dikobari api dalam keadaan sejuk dan dingin-dingin saja.

"Aku belum pernah melihat keanehan seperti ini. Apakah mungkin kabut api dan angin yang keluar dari peti ini berasal dari pakaian yang tersimpan di dalamnya? Bukankah pakaian itu bernama Kabut Api Angin?"

Batin Sang Maha Sakti, Dengan cekatan jemari tangan Raja lalu meraih bagian dasar peti. Begitu tangan ditarik keluar di tangan Raja kini tergenggam seperangkat pakaian berwarna hitam kelabu lengkap dengan manik-manik kecil seperti butiran pasir berkilawan.

"Pakaian ini sangat ringan sekali. Aku harus segera memakainya dan tinggalkan tempat ini lebih cepat."

Kata pemuda itu.

Tanpa banyak pertimbangan Raja segera mengenakan pakaian itu. Mula-mula celana yang dikenakannya.

Setelah menanggalkan pedang yang tergantung di bagian punggung diapun memakai bajunya. Baju berlengan panjang berikut celana ternyata sangat pas dengan ukuran tubuhnya. "Pakaian ini sangat cocok denganku."

Gumam Raja girang.

"Ya... kau tidak terbakar. Berarti kau memang masih perjaka. Namun ada sebuah proses dan penyesuaian yang harus kau lalui. Kau dan pakaian akan sulit menyesuaikan diri..." sekali lagi terdengar suara mengiang di telinga Raja.

Sang Maha Sakti merasa heran. Namun belum sempat dia ajukan pertanyaan. Tiba-tiba pakaian yang baru saja dia kenakan menggeletar, bergerak gerak seolah hidup lalu mengetat sekaligus menyusut ditubuh Sang Maha Sakti .Pemuda itu tersentak sekaligus berteriak kaget. Dia merasakan sekujur-tubuhnya seperti dipeluk oleh ribuan jari tangan raksasa yang tidak terlihat.

Raja menggeliat meronta dan berusaha membebaskan diri dari pakaian yang melekat di tubuhnya. Tapi baru saja mengalirkan tenaga dalam kesekujur tubuh jeratan pakaian di tubuh mengendur. Dan sebagai gantinya Raja merasakan hawa panas yang luar biasa hebat seolah membakar sekujur tubuhnya.

"Apa yang terjadi denganku. Pakaian ini mengapa malah menyeretku dalam kesengsaraan?" teriak Raja.

Sambil menggerakkan tubuhnya dan kerahkan tenaga sakti berhawa dingin dia memperhatikan dirinya sendiri. Pemuda ini tercengang saat sadar tidak ada api yang membakar ditubuhnya. Sampai kemudian hawa panas berangsur lenyap. Raja melongo dan terlihat bingung dengan beberapa kejadian yang baru saja dia alami.

"Pakaian ini tidak mencekik atau melumat tubuhku, juga tidak ada api yang membakar." Ucap Raja. Sekilas dia layangkan pandang ke arah mulut gua.

"Wahai penjaga gua Kepatutan Penutup Rasa Malu. Apa yang terjadi?" Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara mengiang.

"Aku sudah katakan pakaian dan dirimu perlu ada penyesuaian. Bila penyesuaian telah didapat artinya kalian berjodoh.Sekarang sudah tiba waktunya bagimu untuk angkat kaki dari gua itu.

Pergilah ke Istana Malingping, selamatkan apa dan siapa saja yang masih sempat diselamatkan. Aku ingin istirahat lagi pula aku bosan melihat tampangmu dan muak pula bercakap denganmu.Ha ha!" Kata Malae Daeng Pasir Tujuh Angin diiringi tawa bergelak "Sialan" gerutu Raja dalam hati.

Dia kemudian mengambil pedang yang tergeletak di lantai.

Setelah meletakkan pedang di bagian punggung dan mengikatkan tali talinya yang berhubungan dengan rangka pedang di bagian dada. Sang Maha Sakti segera tinggalkan gua.

Sesampainya di depan mulut gua Raja tertegun.

Dia merasa heran begitu mengetahui anjing besar yang berada di bawah pohon saat dia tinggalkan kini ternyata telah pergi entah kemana.

Sebagai gantinya dia melihat di bawah pohon itu menunggu seekor kuda berbulu hitam lengkap dengan pelananya yang juga berwarna hitam.

"Kemana perginya mahluk besar itu?"

Desis Raja heran

"Paduka Raja Gendeng. Anjing itu mungkin merasa tidak perlu terlalu lama menunggu di sini," Jiwa dalam hulu pedang menyahuti.

"Mengapa ada kuda? Jangan-jangan anjing tadi merubah diri menjadi seekor kuda. Aku curiga dia mahluk jejadian yang dapat merubah diri menjadi mahluk apa saja."

"Tak usah berlebihan. Siapapun yang meletakkan kuda di sana pasti untuk tujuan mempercepat perjalanan paduka! Tak penting apakah mahluk hitam yang memberikan ataukah penjaga gua.

Pergunakan saja kuda itu!" saran sang Jiwa.

Setelah sempat berpikir, Raja merasa saran Pedang Jiwa ada benarnya juga. Bukankah waktunya sudah semakin sempit apalagi Malae Daeng Pasir Tujuh sudah mengatakan dia harus pergi ke Malingping. Raja yakin kekacauan besar bakal terjadi di istana itu. Dengan langkah lebar Raja berjalan menghampiri kuda hitam itu. Setelah disamping kuda dan lepaskan tali kekangnya yang tertambat pada pohon kecil, Raja segera menyadari kuda itu ternyata kuda betina.

Disamping itu di atas pelana kuda dia juga melihat ada sebuah pesan tulis diatas selembar daun lontar. Raja segera meraih dan membaca tulisan yang ditulis dalam bahasa purwa tersebut.

"Jangan berdebat dengan hati. Jangan mempermasalahkan siapa dan mengapa harus berbuat, baik. Genderang perang sudah ditabuh oleh Pangeran Durjana. Iring-iringan pasukannya sedang menuju ke istana Malingping malam ini. Gunakan kuda ini. Namanya Angin Ribut. Kuharap kau sampai di istana sebelum matahari terbit

tertanda Kabut Hitam"

Selesai membaca pesan di daun lontar. Raja justru jadi tak mengerti.

"Kuda ini bernama Angin Ribut yang memberikan kuda menggaku Kabut Hitam. Siapa dia? Apakah kau tahu, Jiwa?"

"Saya tidak tahu paduka. Mengapa banyak bertanya. Mengapa tidak segera ke punggung kuda. Siapa pun Kabut Hitam niatnya pasti untuk membantu paduka." Kata mahluk gaib di hulu pedang memberi semangat.

Walau hati masih diliputi tanya.

Akhirnya Raja segera melompat ke atas punggung kuda.

Setelah berada diatas pelana kuda, dia mengusap leher sang kuda yang ditumbuhi bulu-bulu lebat.

Sambil mengusap dia berkata.

"Kuda yang baik. Aku tidak perduli namamu apakah Angin Ribut ataukah Angin Topan. Yang penting bagiku antar aku ke Istana Malingping secepatnya!"

Sang kuda meringkik keras.

Setelah sempat menggeleng-gelengkan kepala akhirnya kuda berlari meninggalkan tempat itu. Sesuai namanya selain dapat berlari secepat hembusan angin.

Disepanjang jalan kuda itu terus menerus mengeluarkan suara ringkik panjang.

****

Istana Malingping berdiri diatas pedataran tinggi berudara sejuk.

Bangunan istana megah itu berukuran sangat luas dan dikelilingi tembok benteng tinggi. Sementara di bagian luar tembok terdapat puluhan pohon besar tumbuh mengelilingi benteng. Matahari belum lama tenggelam lenyap di bilik peraduannya.

Malam ditandai dengan munculnya bintang-bintang dan rembulan. Langit biru terang bersih tanpa setitik awan.

Di gardu depan yang juga merupakan gerbang utama, puluhan perajurit berpakaian serba hitam bersenjata lengkap tampak berjaga-jaga.

Di halaman hijau itu terlihat ratusan perajurit bersenjata aneka jenis yang selalu siap dan waspada.

Sementara di seluruh sudut penjuru benteng bahkan sampai di bagain belakang istana puluhan pasukan pemanah juga siap diposisinya masing masing.

Sejak munculnya Pangeran Durjana dengan segala tindakannya yang meresahkan itu .Gusti prabu Tubagus Kasatama telah memerintahkan pada para pejabat istana untuk meningkatkan pengawalan dengan penjagaan berlapis. Apalagi ketika Patih Aria Kusuma, Penujum Aneh Juru Obat Delapan Penjuru serta rombongan kecil menyertai mereka tak pernah kembali lagi ke istana, setelah ditugaskan menyelidiki keberadaan Pangeran Durjana dan pengikutnya .Tidak ada kabar tentang mereka.

Sang prabu tak pernah tahu apakah para utusannya itu selamat ataukah telah menemui ajal. Yang jelas setelah patih Aria Kusuma tak terdengar lagi kabar beritanya maka tugas senopati yang tadinya dirangkap oleh patih kini dialihkan pada pejabat Istana bernama Rangga Wulung Utama.

Untuk diketahui kakek bertubuh pendek berusia sekitar enam puluh itu memang seorang yang sangat ahli dalam muslihat perang.

Dia cerdik pintar dan banyak akal.

Orang tua yang mengandalkan rambut panjangnya sebagai senjata ini mengatur sias ¡t membuat pertahanan berlapis di bagian dalam maupun di luar benteng Istana.

Walau dalam mengatur siasat perang Rangga Wulung Utama sangat pintar, namun dia tidak bekerja sendiri.

Di samping si kakek,Sang prabu juga menugaskan satu lagi pejabat penting lainnya untuk membantu senopati baru itu.

Dan pejabat yang terpilih tak lain adalah Jatulaka, laki-laki setengah baya yang wajah maupun tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu aneh belang merah kecoklatan .Karena warna pada kulit tubuhnya yang aneh serta kebiasaan Jatulaka yang suka menggeram pada setiap peperangan membuatnya dijululki Si Maung Berem. Penjagaan memang dilakukan demikian ketat .Namun sejauh itu Prabu Tubagus Kasatama masih dihinggapi kegelisahan, sebab dia tidak ingin rakyat kerabat dan keluarganya menjadi korban kebiadaban Pangeran Durjana.

Sebagaimana dikisahkan dalam episode sebelumnya, Pangeran Durjana tidak hanya membunuh para penduduk desa yang dia anggap tidak memberi manfaat apa-apa.

Bersama kawanan lebah Kepala Hati Berbunga. Sang Pangeran melakukan penculikan terhadap para gadis-gadis muda belia dan masih perawan untuk dijadikan pemuas nafsu dan pemberi keturunan.

Gadis-gadis itu kemudian mengandung secara aneh dalam waktu tidak kurang dari tiga hari perempuan itu melahirkan.

Dan setelah dilahirkan bayi-bayi itu tumbuh berkembang menjadi seorang bocah seumur dua atau tiga tahun dalam waktu tak kurang dari dua hari pula.

Para bocah yang dikenal dengan sebutan Bocah Bocah Iblis itu tidak hanya memangsa ibu yang telah melahirkannya saja tetapi mereka juga ternyata menjadi sebuah kekuatan pembunuh yang hanya tunduk dan patuh pada sang pangeran sendiri .Belakangan prabu Tubagus Kasatama mengetahui pangeran Durjana ternyata menginginkan kesucian kedua putrinya.

Menurut penujum Aneh Juru Obat Delapan Penjuru, bila sang pangeran berhasil tidur dan mendapatkan kesucian puteri Arum Senggini dan Nila Agung maka tidak ada satu orang pun di dunia persilatan yang dapat mengalahkannya .Atas pertimbangan keselamatan kedua putrinya sang prabu akhirnya memutuskan melarang kedua anaknya untuk meninggalkan istana. Tapi larangan keras sang prabu terhadap anak-anaknya menimbulkan rasa tidak puas dalam diri sang puteri sulung Arum Senggini.

Gadis yang sering meninggalkan istana secara diam-diam bersama adiknya Nila Agung itu akhirnya memberanikan diri bicara pada sang prabu setelah beberapa hari berdiam di taman kaputren dan bilik peraduannya.

"Ayahanda prabu,"

Berkata gadis cantik berpakaian serba putih itu dengan kepala menunduk dan dirangkapkan di depan dada.

"Saya datang menghaturkan sembah dan hormat. Begitu juga dengan adik hamba Nila Agung

ini,"

Ucap Arum Senggini lagi sambil melirik ke arah gadis berpakaian biru berwajah rupawan dangan

dua lesung pipit dikedua pipinya.

Laki-laki gagah berkumis rapi berpakaian sutera warna emas yang sedang duduk dalam ruang peristirahatan itu membuka mata.

Sekilas dia menatap kedua gadis cantik yang duduk bersimpuh di depannya.

Setelah itu sang prabu menoleh sekaligus melirik ke belakang tempat di mana dua dayang pengasuh yang tengah mengipasinya berdiri.

Walau gusti prabu tidak bicara apa apa namun kedua dayang itu sadar sang prabu meminta mereka meninggalkan ruangan.

Setelah meletakkan dua kipas besar para dayang menjura hormat padanya. Kemudian mereka buru-buru meninggalkan ruangan.

Pintu berwarna cokelat di tutup.

Dua penjaga bertubuh tegak siap bersiaga di depannya.

Di dalam ruangan yang terasa nyaman dan sejuk diterangi pelita emas suasananya terasa hening. Di atas tempat duduknya sang prabu menghela nafas.

Mengingat kebiasaan kedua putrinya yang suka bepergian dia sudah menduga gerangan apa yang hendak disampaikan oleh kedua anaknya. Tidaklah heran, tanpa menunggu lebih lama laki-laki itu segera membuka mulut dan berkata.

"Anak-anakku! aku tahu kalian tidak kerasan tinggal berdiam lebih lama di dalam istana. Sejak lama kalian tidak bisa mematuhi segaia aturan yang telah kutetapkan. Kalian sering pergi diluar sepengetahuanku. Kalian mengembara tanpa pernah perduli bahwa kalian adalah wanita yang bisa mendapatkan bahaya bila berada di luar sana. Kalian merasa mampu melindungi diri dari segala bentuk kejahatan. Pada hal tanpa kalian sadari ilmu kepandaian silat, serta tenaga dalam yang kalian miliki sebenarnya masih sangat rendah."

Mendengar ucapan ayahanda mereka puteri Nila Agung dan puteri Arum Senggini cepat tundukkan kepala hingga menyentuh lantai merah yang dingin. Setelah mengangkat kepala dan menatap ayahnya ia buru-buru berucap

"Ayanda, maafkan kami. Selama ini kami selalu melanggar aturan dan membuat ayahanda prabu menjadi resah."

"Ayahanda prabu,"

Berkata puteri Nila Agung pula yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.

"Maafkan ananda juga. Beberapa kesalahan memang pernah ananda dan kakanda pernah lakukan. Tapi kehadiran kami kali ini di depan ayahanda bukanlah untuk meminta restu untuk pergi pelesiran. Mengingat semakin runyamnya persoalan yang ayahanda hadapi. Sebagai anak kami berdua juga tidak bisa tinggal diam berpangku tangan...!" terang gadis itu dengan wajah menyiratkan rasa prihatin yang mendalam.

Mendengar ucapan puteri keduanya itu sang prabu tersenyum. "Lalu kalian mau berbuat apa heh?"

Kata sang prabu. Suaranya pelan namun tegas.

"Kalian hendak menyelamatkan kerajaan dan rakyat diseluruh negeri dari cengkeraman tangan jahat pangeran keparat yang baru bangkit dari kematiannya itu?"

Nila Agung terdiam.

Dia sadar melihat bagaimana ayahnya bicara.

Jelas sekali prabu tak mengijinkan mereka melakukan sesuatu apa pun.

Tapi Arum Sengg ­ni yang diam-diam menaruh hati pada Raja sejak pertemuan pertamanya di pantai Carita beberapa bulan lalu nampaknya tidak kekurangan akal.

"Maafkan saya ayahanda. Menyelamatkan kerajaan kalau bisa kami lakukan adalah sebuah kewajiban bagi kami. Tapi menyelamatkan rakyat dari ancaman pangeran Durjana adalah sesuatu yang sulit."

Sang prabu menyeringai. Sambil memilin kumisnya yang tertata rapi dia ajukan pertanyaan "Kalau kau dan Nila Agung menyadari menyelamatkan rakyat dar ­ ancaman Pangeran Durjana

bukan pekerjaan mudah. Apa perlunya menghadap menemui diriku?!" Tanya laki-laki itu.

Arum Senggini tidak segera menjawab. Sebaliknya dia melirik ke arah adiknya.

Merasa ditatap Nila Agung tahu sang kakak mengharap agar d ­a membantunya bicara. Tidak membuang waktu puteri berlesung pipit yang suka bergurau itu segera berucap.

"Ampun beribu ampun ayahanda. Apakah ayahanda ingat beberapa waktu yang lalu kami pernah mengatakan pada ayahanda bahwa ketika melakukan perjalanan berkuda di pantai Carita kami diserang oleh Pangeran Durjana. Walau pangeran itu hanya mengirimkan kembaran bayangannya saja. Kami nyaris tertangkap menjadi tawanan. Kemudian muncul seorang pemuda aneh berambut gondrong. Pemuda yang ternyata bernama Raja dan dikenal dengan sebutan Sang Maha Sakti itu tidak hanya menolong dan menghancurkan kembaran bayangan pangeran Durjana. Tapi dia juga berjanji akan membantu kita. Waktu itu Raja meminta kami segera kembali ke istana sedangkan dia sendiri mempertaruhkan nyawa mencari tempat persembunyian mahluk menjijikkan itu."

Timpal puteri Arum Senggini dengan wajah sumringah sedangkan sorot matanya berbinar binar.

Melihat wajah anaknya jadi berseri ketika menyebut nama Raja, prabu pun segera ajukan pertanyaan,

"Ayah akui, di luar semua persoalan rumit yang kita hadapi engkau memang sudah selayaknya mendapatkan pendamping hidup, Arum Senggini. Sekali ini saja ayah ingin bertanya. Apakah kau menyukai pemuda aneh itu?"

Pertanyaan yang tidak terduga dari sang prabu karuan membuat wajah Arum Senggini berubah merah, telinga, pipi. Dengan tersipu malu Arum Senggini buru-buru menjawab.

"Tidak ayahanda prabu, walau memiliki ilmu kesaktian luar biasa tinggi dan punya senjata hebat.

Bagi ananda Raja biasa-biasa saja. Hamba tidak tertarik padanya ayahanda."

Arum Senggini diam sejenak. Lagi-lagi dia melirik pada adiknya

"tapi kalau adik Nila Agung ananda lihat memang jatuh hati padanya. Bukankah begitu adikku?!" Tanpa ragu dan tanpa merasa sungkan Nila Agung anggukkan kepala. Yang lebih mengejutkan

Arum Senggini, anggukan kepala sang adik dilanjutkan dengan ucapan.

"Terus terang saya memang tertarik padanya ayahanda prabu. Selain hebat dia juga tampan. Kulit putih bersih, rambut hitam panjang, hidung mancung, matanya tajam. Dan ketika mata itu menatap ananda membuat jantung ini rasanya seperti berhenti berdenyut."

Sang prabu geleng kepala mendengar keterusterangan putri bungsunya yang polos dan suka bicara apa adanya itu.

"Kalau begitu kau tidak boleh terlalu dekat pada pemuda aneh itu?"

Tentu saja keputusan ayahnya membuat Nila Agung kaget. Dengan mata terbelalak tak percaya dia ajukan pertanyaan.

"Kenapa ayahanda prabu?"

Sang prabu tersenyum namun segera menjawab.

"Mungkin kau dan dia sama gilanya anakku. Tapi bagaimana aku tega membiarkanmu bersama pemuda itu.Sekali dipandang saja membuat jantungmu serasa berhenti berdenyut Apa jadinya bila dia terus menerus menatapmu. Kau bisa mati sungguhan!"

Nila Agung tersipu, namun di hatinya ada sedikit rasa lega.

Berbeda dengan Arum Senggini yang bersifat agak tertutup dan selalu mengingkari perasaannya sendiri. Keterusterangan sang adik tentang rasa sukanya pada Raja tentu membuat hatinya pedih dan nyeri. Walau hati diliputi rasa sedih dan kecewa.

Namun Arum Senggini berusaha bersikap wajar. Malah kemudian dia berkata.

"Ayahanda prabu. Mengingat besarnya persoalan yang kita hadapi. Rasanya kita, khususnya kami berdua tak mungkin terus bertahan di dalam istana."

"Apa yang kau risaukan putriku? Istana ini dijaga ketat. Pangeran keparat itu tak mungkin bisa menembus benteng walau dia dibantu oleh Bocah Iblis dan kawanan Lebah Kepala Hati Berbunga?"

"Ayahanda," Ujar Nila Agung.

"Paman patih. Penujum Aneh beserta rombongan kecil yang bersamanya tidak pernah kembali, Penujum dan paman Patih bukan manusia lemah. Bila mereka tidak kembali kemungkinan besar telah terjadi sesuatu yang sangat buruk pada mereka. Ini merupakan pertanda, Pangeran Durjana tak dapat dipandang sebelah mata."

"Soal itu ayah sudah tahu. Lalu apa yang membuat kalian risau? Selama tinggal di dalam istana, ayah yakin kalian aman-aman saja. Tidak mudah bagi mahluk liang kubur itu menembus pertahanan istana kita."

"Tapi kami ingin mencari Raja. Bila kami dapat mengajaknya kemari. Kami yakin kekuatan kita makin bertambah,"

Terang Arum Senggini yang sebenarnya sangat merindukan Raja.

Prabu Tubagus Kasatama terdiam, sepasang alisnya yang tebal terangkat naik ke atas. Setelah menghela nafas berat sambil gelengkan kepala dia pun dengan tegas berucap "Mencari dan menemukan pemuda aneh seperti Raja tidak mudah. Jika kalian berdua berada di 

luar Istana bisa menimbulkan malapetaka sekaligus bencana yang luar biasa hebat! Tidakkah kalian sadari kenyataan itu?"

Kedua puteri ini saling pandang dengan tatapan tak mengerti. Tanpa menunggu lama Nila Agung ajukan pertanyaan.

"Apa maksud ayahanda. Sungguh kami tidak mengerti. Mohon kami diberi penjelasan." "Benar ayah. Katakan sesuatu yang tidak kami ketahui,"

Timpal Arum Senggini memberi dukungan. Prabu Tubagus Kasatama tercenung. Mulut terkancing mata menerawang, pipi menggembung namun wajah tak kuasa sembunyikan kegelisahan di hati.

Setelah menghela nafas untuk yang kesekian kalinya prabu pun berkata.

"Sebagai raja aku menghargai maksud niat baik kalian. Namun sebagai seorang ayah aku mengkhawatirkan keselamatan kalian. Kalian harus tahu, pangeran Durjana sesuai yang dikatakan Penujum Aneh Juru Obat Delapan Penjuru beberapa waktu yang lalu Dia menginginkan kalian berdua. Bila pangeran itu bisa tidur dengan kalian berdua. Kalian tidak hanya kehilangan kehormatan diri juga masa depan. Kalian bisa menjadi budak nafsu sang pangeran lalu beranak-pinak. Kalian jadi lupa diri dan jadi musuh setiap orang yang menjunjung kebenaran. Dan keuntungan lain yang didapat Pangeran Durjana bila mendapat kehormatan kalian. Dia menjadi mahluk luar biasa jahat dan tidak dapat lagi dilukai, dikalahkan bahkan dibunuh dengan senjata apa pun yang ada di rimba persilatan ini."

Mendengar penjelasan sang prabu Arum Senggini merasa sekujur tubuhnya jadi merinding .Nila Agung bergidik ngeri. Dia segera, mengusap tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus indah. Dan tengkuk itu terasa dingin laksana gumpalan es.

Hening!

Wajah kedua putri itu terlihat tegang. Mata mereka membayangkan perasaan cemas yang teramat sangat. Diluar sadar Nila Agung meraba dada dan bagian bawah perutnya membuat prabu merasa jengah dan cepat palingkan kepala ke jurusan lain. Di tengah keheningan Arum Senggini tiba tiba membuka mulut.

"Ayahanda. Terus terang kami berdua merasa takut. Mulai sekarang kami tak akan meninggalkan Iitana. Tapi ayah tak usah khawatir dengan keselamatan kami. Kami berdua bisa menjaga diri."

"Betul ayahanda prabu. Kami punya pakaian pelindung yang sukar ditembus. Hi hi h...,"

Ucap Nila Agung malu-malu namun kembali menemukan keceriaannya. Sang prabu tercengang.

Merasa tidak pernah memberikan pakaian sakti istimewa dia ajukan pertanyaan. "Pakaian apa?"

"Pokoknya ada. Hi hi hi...!"

Kata kedua gadis itu bersamaan diiringi derai tawa. Setelah itu keduanya bergegas tinggalkan ruangan.

Prabu Tubagus Kasatama cuma bisa geleng kepala melihat sikap putri-putrinya. Jika di dalam ruang istirahat raja prabu Tubagus Kasatama baru saja terlibat pembicaraan dengan kedua putrinya.

Sebaliknya tak jauh dari istana Malingping yang dijaga ketat. Tepat di sebelah timur benteng kerajaan.

Di dalam sungai berair jernih bernama Kali Atis.

Di malam sunyi dan dingin. Satu kepala mendadak muncul menyembul diatas permukaan air.

Pemilik kepala yang ternyata seorang kakek tua berpakaian hitam berambut putih dan berkumis lebat begitu munculkan diri segera dongakkan kepala menatap sekelilingnya.

Dia tidak lagi melihat mahluk-mahluk sebesar ibu jari berwarna hitam kemerahan berterbangan di sekitar sungai, si kakek bersenjata tongkat dan memakai celana setinggi lutut menyeringai tersenyum.

Wajahnya yang pucat keriput terlihat begitu lega. "Mahluk-mahluk pembunuh itu telah pergi Nini?!"

Gumam si kakek dengan tubuh menggigil menahan dingin.

Karena tidak ada jawaban, si kakek yang biasa memakai topi berupa kupluk berwarna hitam segera ulurkan tangan ke sebelah kiri.

Begitu tangan di angkat terenggut olehnya rambut hitam awut-awutan dari seorang nenek cantik berkebaya biru.

Begitu muncul dipermukaan air si nenek yang tidak lain bernama Nini Burangrang itu langsung mendamprat

"Tua bangka keparat! Kalau menarik rambutku harus memakai perasaan. Memangnya aku ini sudah mati,"

Bentak si nenek pada si kakek yang tak lain adalah suaminya sendiri. Dibentak begitu rupa, si kakek yang bernama Aki Kolot Raga ini malah tersenyum. Sambil tersenyum buru-buru dia berkata.

"Maafkan aku istriku. Aku baru saja mengatakan mahluk pembunuh itu telah pergi. Tapi kau diam tidak menjawab. Begitu terlihat tak kusangka kau enak enakan terus mendekam di dasar sungai. Aku cemas kau mati karena kita telah mendekam di dasar sungai ini selama seharian penuh. Tapi aku merasa lega ternyata kau masih ada nafasnya, masih hidup."

"Tua bangka kurang ajar,"

"Andai bukan karena ilmu sakti Menahan Nafas di Dalam Air kemungkinan besar kita sudah mampus setelah sehari penuh bersembunyi di dalam air."

"Semua ini gara-gara Lebah Pembunuh sialan itu."

"Kalau bukan ingin menghindar dari mereka aku mana sudi basah kedinginan seperti ini." Gerutu Nini Burangrang yang kerap terlibat pertengkaran dengan suaminya.

Tapi walau mereka dikenal kerap bertikai setiap hari namun keduanya merupakan pasangan yang tak bisa dipisahkan.

Aki Kolot Raga tertawa.

Belum lagi tawanya lenyap si kakek membuka mulut timpali ucapan istrinya.

"Istriku! berkat ilmu, berkat kesabaran kita juga berkat kemurahan dewa kita masih hidup. Selain kita kau lihat sendiri. Kawanan Lebah Pembunuh yang dikirimkan Pangeran Durjana untuk

memata-matai gerak-gerik kita sudah tidak ada lagi di tempat ini. Mungkin mereka menyangka kita sudah mati, begitu menceburkan diri di dalam sungai ini. Mereka menyangka kita bunuh diri. Mereka tidak tahu kita sengaja melakukan ini semua untuk menghindari mereka."

Nini Burangrang tidak menyahut. Sebaliknya dia bangkit. Sambil berenang ketepi si nenek berujar.

"Kau benar! mahluk-mahluk jahanam itu agaknya memang sudah pergi. Tapi gara-gara berendam terus di dalam air membuat perutku kembung. Tubuh dan pakaianku basah, begitu juga dengan rambutku yang bagus, ini."

"Aku juga sama. Rambutku basah, tidak cuma rambut yang di atas di bagian lain juga ikutan basah." sahut Aki Kolot sambil menyusul berenang ke tepi.

Mereka akhirnya duduk diatas batu cadas yang menyembul di tepi sungai. Nini Burangrang beberapa saat lamanya dibuat sibuk mengeringkan rambut yang panjang. Sesekali dia juga mengelap air yang membasahi wajah. Sementara itu Aki Kolot segera melepas pakaian disebelah atas lalu memerasnya berikut giliran topi kupluknya yang selalu menempel bertengger di atas kepala yang mendapat giliran. Baju, dan kupluk lain dibenbeng diletakkan diantara ranting kering yang menjuntai ke sungal.

"Apakah perutmu juga gembung Ki?"

Tanya Nini Burangrang. Aki Kolot terdiam, dia melirik ke arah istrinya. Dia melihat kebaya dan kain yang membalut tubuh istrinya yang basah.

Pakaian yang mencetak lekuk liku bentuk tubuh si Nini yang indah dan masih bagus. Aki Kolot menelan ludah.

Sadar dirinya diperhatikan si nenek mendamprat.

"Jangan berpikir macam-macam. Malam ini aku tak akan sudi melayani keinginanmu!"

Aki Kolot menyeringai sambil garuk-garuk rambutnya. "Hmm, dingin-dingin begini mengapa tidak mencari yang hangat.Oh ya...tadi kau bertanya apakah perutku gembung. He he he.Perutku tidak gembung istriku. Yang gembung justru yang berada di bawah perut."

"Tua bangka edan. Jangan macam-macam. Sudah kukatakan aku lagi tak sudi. Kau di sini dulu.

Jangan mengintip!"

Kata si nenek. Dia lalu bangkit berdiri. Kemudian dengan gerakan enteng dia melayang bersembunyi dibalik semak berdaun lebar. Tak mengerti apa yang hendak dilakukan istrinya dia ajukan pertanyaan.

"Hei apa yang kau lakukan di situ?" "Sudah diam."

"Aku hendak mengeringkan pakaian ini." Hardik Nini Burangrang.

"Mengapa aku tidak boleh ikut. Apakah kau tidak kasihan pada burung hantu yang sudah siap kembali ke sarang?"

Kata si kakek dengan suara pelan memelas.

"Jangan mencari perkara. Persetan dengan burung hantumu itu. Berani mendekat aku akan meremas burung sialan itu sampai remuk. Hik hik hik!"

Dengus si Nenek disertai tawa mengikik.

Di tempat duduknya sambil terangguk;angguk Aki Kolot Raga menggumam sendiri "Mendekat tidak boleh mengintip apa lagi. Apa kau tidak sadar selama-ini aku sudah tahu segalanya tentang dirimu. Aku tahu hitam putihnya, mulus dan buriknya. Tapi kau tetap hebat. Aku selalu saja tergila-gila padamu karena aku suka dengan pusermu yang bodong. He he he...!"

"Tua bangka tak tahu diri. Jangan kau ungkit kekuranganku, aku bisa malu sekali jika ada orang lain mendengar."

Gerutu Nini Burangrang.

Saat itu si nenek telah keluar dari balik semak belukar.

Dengan hati masih menahan rasa kesal dihati dia duduk di pinggir sungai.

Melihat istrinya telah berdandan rapi dengan rambut yang disanggul dan pakaian yang melekat dibadan masih agak basah. Aki Kolot Raga cepat cepat sambar baju dan topi yang tersangkut di ranting.

Sambil kenakan pakaiannya si kakek datang menghampiri. Orang tua ini lalu duduk dihadapan istrinya.

Dua pasangan suami istri itu terdiam.

Sambil menahan dingin nampaknya mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Seperti telah dikisahkan dalam episode Bocah Bocah Iblis.

Kakek nenek suami istri yang dikenal dengan sebutan Sepasang Naga Pamabokan sesungguhnya dua tokoh sakti dari Andalas.

Mereka sedang melakukan perjalanan menuju ke tanah Dwipa di sebelah timur dalam upaya mencari sebuah benda sakti.

Sayang di tengah perjalanan tanpa terduga mereka diserang oleh kawanan lebah yang sangat ganas lagi mematikan.

Tak heran walau keduanya merupakan tokoh yang berkepandaian sangat tinggi, namun karena mendapat serangan sehebat itu akhirnya mereka dapat di tawan.

Berada dalam tawanan Pangeran Durjana yang berdiam di sebuah bangunan bundar aneh seperti sarang lebah yang dikenal dengan nama Istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta, mereka berada dalam pengawasan yang ketat .Keduanya tidak dapat pergi kemana-mana karena kawanan Lebah Pembunuh yaitu pasukan paling ditakuti dalam istana itu terus mengintai gerak gerik mereka.

Pangeran Durjana seperti telah diketahui telah menyuruh mereka untuk menculik putri Arum Senggini dan Nila Agung sekaligus membuat kekacawan di istana Malingping. Diluar dugaan Pangeran Durjana berlaku cerdik.

Mereka tidak dilepas begitu saja.

Diam-diam pangeran mengirimkan sekawanan Lebah Pembunuh yaitu lebah-lebah paling mematikan untuk mengawasi gerak-gerik mereka. Lebah-lebah itu telah diberi perintah bila kakek dan nenek ini tidak menjalankan tugas sesuai perintah sang pangeran maka mereka harus membunuh keduanya.

Sepanjang jalan.

Setelah sadar mereka diawasi .Nini dan Aki Kolot mencari cara agar mereka bisa menghindar dari pengawasan lebah-lebah.

Satu-satunya cara yang mereka anggap baik adalah dengan menceburkan diri ke dalam sungai.

Di luar dugaan lebah-lebah itu terus mengawasi permukaan sungai hampir sepanjang hari sampai kawanan Lebah menjadi bosan sendiri lalu pergi bersama rombongannya

"Kita sudah bebas,"

Kata Aki Kolot dengan suara serak memecah keheningan. "Aku tahu." menyahuti Nini Burangrang.

"Kawanan lebah Pembunuh telah tertipu. Mulai sekarang kita bebas pergi untuk melanjutkan perjalanan menuju ke timur tanah Dwipa," kata si kakek lagi dengan wajah berseri

"Aku ingin, tapi sebaiknya kita tunda dulu,"

Ucap Nini Burangrang membuat kaget. Aki Kolot lega. Sambil menatap heran wajah istrinya dia bertanya.

"Ada apa istriku. Kenapa tiba-tiba saja kau berubah pikiran?"

"Aku benci bahkan mendendam pada pangeran itu. Sejak awal aku memang tidak tak punya niat untuk melakukan tugas yang diberikannya. Kau lihat ke sebelah sana...!" tanya Nini Burangrang sambil menunjuk ke arah benteng menjulang tinggi terlindung pepohonan berdaun lebat

"Itu Istana Malingping. Istana yang seharusnya kita serang. Istana itu dijaga sangat ketat. Kalau saja kita turuti perintah Pangeran gila menyerbu dan menculik dua puteri prabu Tubagus Kasatama.

Kemungkinan kita bakal sulit meloloskan diri." "Kita harus ke sana."

"Buat apa? Istriku bukankah lebih baik kita lanjutkan perjalanan saja?" Kata Aki Kolot kurang sependapat dengan istrinya.

"Hi hi hi. Apakah kau tidak tertarik mengetahui apa yang bakal terjadi? Aku yakin pangeran Durjana bakal menyerbu istana itu. Aku ingin mengetahui apa yang akan dilakukannya."

Nini Burangrang berterus terang. Ucapan si nenek justru menimbulkan keraguan sekaligus rasa cemas, dihati suaminya.

"Bagaimana kalau Pangeran Durjana melihat kehadiran kita di sana?" "Tidak usah takut. Asal tahu caranya kita pasti bakal selamat."

Tegas si nenek

"Selamat apanya. Dia punya pasukan lebah, dia juga memiliki pasukan iblis. Mengapa kita harus mencari perkara setelah terlepas dari sebuah bahaya?"

Kata si kakek masih saja khawatir. Nini Burangrang tersenyum. Dia dekati suaminya.

Mengira hendak dicium, Aki Kolot tampak gembira dan tersenyum-senyum. Tak disangka sang istri cuma berbisik di telinganya.

Selesai Nini Burangrang berbisik dan jauhkan diri dari Aki Kolot. Kakek itu malah tercengang mulut ternganga mata terbelalak.

"Apakah kau sudah gila. Cara itu bisa membuat kita tersesat ke dunia alam gaib."

Sentak K Kolot

"Hi hi hi. Kau takut mati? Kau takut lenyap di alam roh? Mengapa kau mengatakan rencanaku ini penuh kegilaan. Apakah kau tidak sadar ketika bercinta denganku kau suka bertindak aneh dan berlaku gila?!"

Sindir si cantik. Si kakek jadi bingung.

"Kau tidak mau? Kalau kau tidak mau memenuhi permintaanku. Aku memutuskan hubungan kita bakal berakhir sampai disini saja!"

Ancam si nenek lagi.

Aki Kolot Raga lagi-lagi dibuat terkejut.

Tentu saja dia tidak ingin Nini Burangrang meninggalkannya.

Dia tak bakal sanggup hidup tanpa sang Nini. Cepat orang tua ini menatap ke depan.

Tapi dilihatnya sang istri telah melangkah pergi meninggakannya

"Istriku. Jangan pergi sendiri. Jangan tinggalkan aku. Aku tak mau berpisah denganmu Biarlah aku mengalah, kuturuti permintaanmu jadi hantu untuk sementara waktu agar kita bisa menyaksikan segala kejadian di istana Malingping tanpa dilihat oleh siapapun." 

Lalu buru-buru Aki Kolot bangkit kemudian bertari menyusul istrinya .Si nenek tertawa mengikik, merasa senang sekaligus merasa menang .Sambil terus melangkah, tanpa menoleh lagi Nini Burangrang diam-diam berucap.

"Huh dasar laki-laki. Walau gagah dan sehebat apapun dia pasti bakal berlutut di bawah kaki wanita."

*****

ROmbongan kawanan Lebah Kepala Hati Berbunga meninggalkan istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta.

Di sepanjang jalan yang dilalui mahluk mahluk sangat mematikan itu terdengar gemuruh suara mendengung memekakkan telinga.

Cahaya bulan sabit yang terang temaram tak mampu menembus jalan yang dilewati rombongan lebah itu.  

Semuanya menjadi gelap tertutup oleh lebah yang berterbangan di atasnya. Mahluk-mahluk ganas ini tidak berkelompok sendiri.

Tak jauh di belakang rombongan besar ini mengiringi sekelompok lebah berukuran ibu jari kaki orang dewasa.

Lebah pengiring yang dikenal dengan nama Lebah Pembunuh ini hitam pekat dengan bagian tengah kepala berwarna merah terang.

Di belakang Lebah Pembunuh, di atas jalan setapak mengiringi pula bocah berusia sekitar dua tahun berambut panjang gimbal tak terurus bermata merah bergigi runcing tajam.

Bocah-bocah ganas haus darah itu berjalan dengan cara merangkak, tak ubahnya seperti serigala kelaparan.

Mereka yang dikenal dengan sebutan Bocah Bocah Iblis ini terdiri dari laki-laki dan perempuan semuanya bertelanjang dada dan hanya mengenakan pakaian penutup aurat. Tak jauh dibelakang sekitar tujuh tombak dari para bocah iblis ikut menyertai satu sosok tinggi berpakaian hitam mirip jubah.

Wajah sang pemimpin yang tak lain adalah Pangeran Durjana yang aslinya dikenal dengan nama Pangeran Bagus Anom Aditama tidak tertihat.

Dia juga tidak menunggang kuda juga tak berjalan kaki.

Sang pangeran malam itu memimpin pasukannya dengan cara melayang mengambang dua jengkal di atas jalan yang becek. Bendera perang telah dikibarkan.

Genderang sudah pula ditabuh.

Pangeran Durjana yakin malam ini adalah usahanya menghancurkan istana Malingping bakal terwujud.

Sejak awal dia telah bertekat akan menghabisi seluruh kerabat kerajaan, perajurit dan kalau perlu binatang piaraannya sekalian.

Satu masalah yang tak kalah pentingnya ia akan berusaha menangkap puteri Arum Senggini dan adiknya puteri Nila Agung.

Sang pangeran berpikir seandainya semua rencana berjalan mulus sesuai yang dia harapkan, kelak dia bakal memperluas kekuasaannya.

Dia akan memperbanyak keturunannya untuk dijadikan pasukan yang kuat dan tangguh. Semua itu tidak sulit untuk dilakukan bila penguasa kegelapan yang bertahta di Singgasana

Sitaloka ikut memberi bantuan.

Membayangkan kemenangan berada di depan mata .Pangeran Durjana pun sunggingkan seringai dingin. Sambil terus melayang di atas tanah sang pangeran layangkan pandang ke depan. Dia melihat iring-iringan kawanan lebah yang beterbangan diketinggian terus bergerak semakin jauh. Sementara di atas jalan di depannya ratusan Bocah Bocah Iblis yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri bergerak setengah berlari. Namun yang lucunya terkadang terjadi keributan diantara mereka. Mereka saling cakar atau saling tendang. Maklum namanya juga para bocah, di mana saja sama saja. Tapi Pangeran Durjana yang melihat kekacauan kecil ini menjadi tidak sabar. Dengan nada ketus kejam dia pun membentak.

"Anak-anak sekaligus para prajuritku. Ketahuilah kalian semua saat ini bukan sedang pergi berpelesiran. Ada satu tugas sangat penting yang harus kita selesaikan malam ini. Untuk itu bagi siapa saja yang bersenda gurau apalagi sampai berkelahl maka mereka akan mendapatkan hukuman dariku!"

Ancaman sang pangeran rupanya cukup baik.

Terbukti Bocah Bocah Iblis keluarkan suara raungan sambil angguk-anggukkan kepala. Tidak lama iringan para bocah menjadi tertib.

Mereka tidak lagi saling sikut.

Setelah dapat mengendalikan para pengikutnya .Pangeran Durjana pun keluarkan seruan. "Penguasa kegelapan yang memberi kesenangan. Wahai yang berdiam di atas singgasana

Sitaloka. Aku pangeran Durjana. Pangerannya orang yang sudah mati memohon padamu agar kau Sudi kiranya mengijinkan Mata Tunggal yaitu Mata Setan datang menghadap kepadaku sekarang juga!"

Suara seruan sang pangeran lenyap. Para bocah meraung keras.

Sementara dikejauhan sana terdengar suara lolong anjing hutan membuat merinding bulu kuduk.

Sambil melayang Pangeran Durjana terus menunggu. Ternyata penantiannya tidak berlangsung lama.

Di atas ketinggian langit yang biru tiba tiba terlihat kilat menyambar yang disusul dengan pijaran api.

Pangeran Durjana dongakkan kepala menatap ke atas.

Dia tersenyum begitu satu cahaya merah yang mencuat diantara pijaran api bergerak turun dari ketinggian.

Cahaya itu menderu menuju ke arah dimana dirinya berada. "Ikuti aku!"

Seru Pangeran Durjana. Sang cahaya merah yang ternyata sebuah mata tunggal berukuran besar sebagaimana yang diperintahkan mengikuti Sang Pangeran.

"Wahai Mata tunggal, Mata Setan."

Berkata pangeran itu tanpa mengurangi kecepatannya bergerak.

"Simpan cahayamu yang membakar itu. Nanti bila telah sampai di istana Malingping, kau boleh menghanguskan musuh-musuh kita dengan kekuatan panasmu. Wuus! Bluup!

Cahaya yang memancar dari mata tunggal tiba-tiba meredup, hingga tinggal berupa mata yang merah namun dengan ukuran yang tidak berubah.

"Bagus. Kau telah mematuhi perintahku. Seperti sebelumnya."

Tiba-tiba terdengar suara dari dalam mata itu

"Pangeran. Penguasa tahta Sitaloka selalu memberiku perintah agar membantumu dalam mewujudkan segala apa yang kau cita-citakan. Tapi ketahuilah kepatuhanku hanya pada penguasa kegelapan. Jelasnya aku sekedar membantu namun tidak tunduk kepadamu,"

Terang Mata Setan

"Apapun namanya aku tidak perduli aku telah memberimu tugas untuk mencari tahu bagaimana kabar tentang Sepasang Naga Pamabokan yang kuberi tugas untuk menculik kedua putri gusti prabu Malingping."

"Tentang mereka. Mereka sangat mengecewakan. Pangeran tidak seharusnya menyuruh tawanan untuk melakukan tugas yang sangat penting. Harusnya sejak awal mereka di bunuh saja." jawab Mata Setan seakan menyesalkan.

"Apakah mereka mengingkari janji?"

Tanya sang pangeran. Diam-diam dia terkejut. Tapi disamping itu dia juga gusar sekali. "Begitulah. Mereka sama sekali tidak melakukan tugas yang pangeran berikan."

"Aku telah mengirimkan kawanan Lebah Pembunuh untuk mengawasi gerak-gerik mereka.Jika kakek dan nenek tua itu ingkar janji seharusnya lebah-lebah itu menghabisi mereka!"

Tegas Pangeran Durjana sambil kepalkan kedua tinjunya.

"Harusnya memang demikian pangeran. Tapi kedua orang tua itu ternyata berlaku cerdik. Mereka menceburkan diri di dalam sungai Ci Atis .Sungai itu sangat dalam, kawanan Lebah Pembunuh mana berani ikutan mencebur ke sungai menyerang mereka."

"Mata Setan!"

Seru sang pangeran. Suaranya keras menggeledek pertanda laki-laki itu merasa kekecewaan dan kemarahannya telah mencapai ubun-ubun.

"Lebah Pembunuh bukan mahluk sembarangan. Mereka datang dari alam kematian. Jika tua bangka itu bermaksud mengecoh lebah-lebahku. Berapa lama kakek dan nenek itu sanggup bertahan di dalam air. Mereka bukan ikan. Tak sampai sepemakan sirih mendekam di dalam air mereka seharusnya muncul lagi ke permukaan. Mereka harus bernafas bukan?"

Sambil terus mengikuti Pangeran Durjana diketinggian Mata Setan menjawab

"Itulah yang tidak aku mengerti. Aku bisa menyirap kejadian yang telah berlalu. Dan aku tidak tahu entah ilmu aneh apa yang mereka miliki. Diluar dugaan mereka dapat bertahan di dalam air sehari penuh. Kawanan Lebah Pembunuh kemungkinan beranggapan orang yang mereka awasi sudah mati tertelan arus sungai. Kurasa inilah yang membuat para lebah beranjak pergi dari sungai itu."

Penjelasan Mata Setan setidaknya memberikan gambaran pada pangeran Durjana mengapa para lebah tidak membunuh mereka. Walau merasa kesal sang pangeran pun ajukan pertanyaan.

"Di mana lebah-lebah Pembunuh itu sekarang?"

"Sulit memastikannya. Aku sudah mencoba mencari tahu keberadaan itu. Namun aku hanya melihat ada selubung kabut aneh menghalang pandangan mataku."

"Hah apa? Mungkin ada musuh yang sedang mengawasi gerak-gerik kita?"

Sentak pangeran .Lalu tanpa sadar dia menatap ke atas ke arah di mana Mata Setan bergerak mengiringinya.

"Aku belum bisa memastikan. Yang kudengar cuma suara gelak tawa dan suara orang bersendawa, seperti suara kekenyangan karena meminum sesuatu!"

Pangeran Durjana terdiam. Dia sebenarnya ingin bertanya lebih banyak lagi tentang selubung kabut dan juga orang bersendawa.

Tapi pikirannya lebih tertuju pada Sepasang Naga Pamabokan.

Terdorong rasa ingin tahu dia pun bertanya

"Bagaimana tentang kakek nenek pendusta itu Mata Setan? Apakah mereka masih hidup?"

"Ya. Kenyataannya mereka masih hidup. Aku melihat mereka duduk di pinggir sungai. Tapi yang mengherankan tiba-tiba mereka raib seperti hantu."

Terang Mata Setan.

Pangeran Durjana anggukan kepala walau hatinya merasa tidak puas. Dia hanya bisa menggumam sambil menduga-duga.

Gerangan apa yang akan dilakukan oleh pasangan suami istri itu.

****

Bulan beranjak menuju titik tertingginya .Sebagian langit tertutup awan putih.

Di beberapa tempat belahan langit beberapa bintang masih setia memunculkan diri melewati waktu. Sementara angin dingin berthembus sepoi sepoi.

Di sudut sebelah selatan diatas tembok tinggi bertangga batu. Di sebuah ruangan yang biasa disebut pusat benteng.

Pejabat tinggi istana bertubuh loreng merah bernama Jatulaka yang juga biasa disebut Maung Berem atau Harimau Merah terlihat mondar mandir di ruang arena panggung dengan gelisah.

Sesekali laki-laki bertubuh tinggi dan suka berganti-ganti pakaian ini layangkan pandang ke seluruh penjuru sebelah atas benteng.

Dia melihat puluhan perajurit bersenjata panah api bersiaga di tempatnya masing masing.

Tak jauh di belakang mereka ratusan perajurit lain dengan tombak pedang dan golok mendekam siap menghadapi setiap kemungkinan yang datang.

Tak dapat disangsikan para perajurit yang rata-rata memiliki ilmu silat dan kepandaian cukup tinggi itu semuanya dalam keadaan diliputi ketegangan.

Walau tekat mereka bulat untuk berbakti pada kerajaan, namun setidaknya di hati mereka muncul perasaan cemas menantikan gerangan apa yang bakal terjadi.

Jatulaka menghela nafas.

Kemudian perhatiannya dialihkan ke bagian dalam istana.

Dia melihat di halaman depan samping kiri dan kanan istana bahkan bagian belakang istana dekat taman kaputren penjagaannya lebih diperketat.

Dia tahu, Rangga Wulung Utama pejabat tinggi di bawah patih yang baru saja diangkat menjadi senopati pastilah yang telah mengatur para perajurit dalam menghadapi segala kemungkinan terburuk.Patut diakui.

Kakek bertubuh pendek berambut panjang menjela yang satu itu memang sangat ahli dalam mengatur siasat muslihat perang.

Walau tidak pernah meragukan kehebatan senopati yang baru itu.

Namun jauh dilubuk hati mengingat musuh yang bakal mereka hadapi tak kunjung menampakkan diri. Jatulaka masih dilanda kecemasaan.

"Lebah-lebah itu dan Bocah Bocah Iblis yang menjadi kaki tangan Pangeran Durjana memangnya sekuat dan sebanyak apa? Jika pangeran itu datang melakukan penyerbuan dan tidak dibantu oleh kekuatan yang lain. Harusnya senopati tidak perlu mengatur sekaligus membuat pertahanan sebesar ini?"

Membatin Jatulaka dalam hati.

Pejabat yang diperbantukan menyusun kekuatan perang ini lalu berjalan menuju ke arah pintu yang terbuka.

Dari depan pintu dia julurkan kepala memperhatikan undakan tangga batu yang menghubungkan halaman kaputren .Banyak prajurit berjaga di sana, namun dia tidak melihat senopati yang berusia tak kurang dari enam puluh tahun itu.

"Kemana saja dia? Bukankah sebelumnya dia berjalan hendak menemuiku di sini?"

Pilkir Jatulaka .Baru saja Jatulaka bicara seorang diri. Tiba tiba di belakangnya terdengar suara orang berkata.

"Kau mencariku?"

Walau sudah mengenali suara orang namun Jatulaka tetap saja tak kuasa menyembunyikan rasa kaget begitu mengetahui orang yang sedang dia pikirkan tahu-tahu telah duduk di sebuah kursi.

Kakek berpakaian kuning mewah itu tersenyum.

"Kau seperti orang bingung? Padahal hidup dan mati sudah menjadi bagian dari setiap manusia!" Kata Rangga Wulung Utama.

"Bukan itu yang aku pikirkan, sahabat Rangga Wulung! Aku cemas apakah kita bisa mengatasi segala persoalan ini. Aku dengar Pangeran Durjana itu sangat hebat. Pasukan lebahnya tidak dapat dipandang sebelah mata. Belum lagi kekuatan baru yang dia miliki. Beberapa telik sandi kita mengatakan Bocah Bocah Iblis yang baru terlahir itu bukan cuma ganas. Mereka sangat sakti. Dan mereka bukan mahluk biasa selayaknya seperti seorang bocah."

Mendengar ucapan Jatulaka, Rangga Wulung Utama terdiam. Keningnya berkerut namun tatap matanya menyorot tajam menatap ke arah sahabatnya itu.

"Aku tak mau mendengar kau bicara seperti itu lagi. Ucapanmu itu sangat berbahaya dan melemahkan semangat para perajurit. Kuharap kau tidak merusak semua rencana yang telah kususun Jatulaka. Jika takut berperang sebaiknya kau tinggalkan Istana dan pergi sejauh mungkin mencari tempat perlindungan yang aman."

Tegas Rangga Wulung Utama sambil mengusap rambut saktinya yang panjang tergeral. Sadar senopati merasa tidak berkenan dengan apa yang diucapkannya buru-buru Jatu laka berkata.

"Sahabatku. Aku tidak bermaksud begitu. Betapa pun aku bakal membela kerajaan dan gusti prabu hingga titik darah terakhir!"

Rangga Wulung Utama tersenyum

"Begitu? Bagus! Aku senang mendengarnya," ucap si kakek.

"Aku memberi tugas yang mudah. Kau tetap berjaga di sini dan sekitar taman kaputren. Pimpin perajurit yang berada di sekitar taman. Bunuh siapa saja yang coba-coba memasuki kawasan kaputren!"

Tegas orang tua itu. Jatulaka anggukkan kepala.

Tapi baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu.

Tiba-tiba lima ekor burung hantu yang menetap tinggal di kawasan istana keluarkan suara melengking saling bersahut-sahutan

Gurt! Gurt! Gurt!

Jatulaka tercekat.

Matanya yang sipit seperti orang mengantuk membelalak.

Dia menatap ke arah Rangga Wulung Utama sejenak namun kemudian perhatiannya tertuju keluar.

"Burung-burung telah memberi tanda!" Sentak orang tua itu. "Aku tahu. sekarang waktu yang ditunggu sudah datang. Jangan berlaku lengah!" Kata Rangga Wulung.

Orang tua itu kemudian bangkit dan bergegas menuju ke arah pintu. Belum sempat dia berlari menuruni anak tangga.

Dari empat sudut penjuru benteng terdengar suara terompet sebagai peringatan tanda bahaya. Lalu dari atas sebuah menara tinggi yang terdapat di sebelah kiri gerbang utama terdengar suara prajurit pengintai.

"Musuh sudah datang. Mereka muncul dari delapan penjuru arah. Aku melihat seseorang berjubah hitam melayang. Aku juga melihat mahluk mahluk hitam melesat ke arah sini!"

Teriaknya lantang

"Lalu kau melihat apa lagi?"

Bertanya salah seorang perwira yang siaga di gerbang tak jauh dari menara.

"Mahluk-mahluk itu... eeh, maksudku bocah bocah aneh. Mereka muncul seperti kawanan iblis.

Bocah-bocah itu kini menyerang semua penjaga perwira yang berada di luar benteng istana," Sahut perajurit di menara pengintai.

Penjelasan perajurit di menara pengintai membuat semua pasukan yang berada di atas maupun di dalam lingkungan istana menjadi tegang .Tapi mereka segera mencabut senjata masing masing.

Sementara perwira yang ajukan pertanyaan kini kembali berseru.

"Apa pun yang kau lihat dari atas itu. Secepatnya kau beritahukan pada kami agar kami tahu apa yang harus kami lakukan!"

Sang perwira tak menunggu jawaban perajurit yang berjaga di menara.

Dia sendiri kemudian menyadari bahwa saat itu pertempuran sengit telah pecah di sekeliling bagian luar benteng istana.

Suara jerit, pekik dan lolong kesakitan terdengar di mana-mana menyayat mengiris hati.

Ketika perwira ini bersama perwira lainnya bergerak menyerbu ke bagian pertahanan paling luar.

Dengan pandangan mata terbelalak seakan tidak percaya mereka menyaksikan bahwa pasukannya ternyata tengah berjuang menghadapi serbuan kawanan lebah berbisa yang menyerang dari segala arah. Lebah Kepala Hati Berbunga tidak sendiri.

Di belakang mereka turut mendukung lebah jenis lainnya yang ukurannya lebih besar dan tak lain adalah Lebah Pembunuh.

Dan lebih celaka lagi setiap kali menyengat perajuritnya.

Yang menjadi korban langsung jatuh terkapar dengan mulut berbusa mata mendelik tubuh melejang-lejang.

Setelah para pengawal nahas menemui ajal .Kejadian yang sulit dipercaya terpampang di depan para perwira itu. Tubuh-tubuh pengawal yang bergelimpangan bergetar, kulit menggelembung lalu meleleh menjadi lendir dan onggokan tulang tengkorak mengerikan.

Dengan senjata terhunus di tangan.

Belasan perwira tinggi segera berpencar berbagi tugas dalam menghadapi serangan dahsyat kawanan lebah.

Selagi para perwira dan perajurit mengumbar serangan dengan melepas pukulan sakti sambil kibaskan pedang dan tombak untuk melindungi diri.

Dari arah depan Bocah Bocah Iblis haus darah mulai melakukan penyerbuan.Serangan dari dua jurusan yang datang dari sebelah atas dan bawah ini sungguh membuat pasukan kerajaan dan perwiranya dibuat repot.

Mereka bertahan mati-matian.

Namun hanya sebagian kecil lebah yang mereka bunuh.

Melihat ini perwira pertama lagi-lagi berteriak ditujukan pada penjaga di menara pengawas. "Apakah ada kemungkinan musuh dalam ujud yang lain menyerbu mendekat ke benteng ini?" Bukan jawaban yang didapat perwira ini.

Sebaliknya dari atas menara pengintai terdengar suara jerit menyayat hati. Ketika sang perwira dongakan kepala memandang ke atas.

Dia melihat tiga perajurit yang berjaga di sana terjungkal dan melayang jatuh. Rupanya sebagian lebah yang mengetahui keberadaan perajurit pengintai langsung menyerang mereka.

Dan tiga penjaga yang terjatuh dari ketinggian begitu tubuhnya menyentuh tanah menemui ajal dengan tubuh meleleh mengepulkan asap.

"Keparat! Mahluk-mahluk terkutuk!" Sentaknya geram.

Tanpa menunggu lebih lama sambil babatkan pedang di tangan dia menyerang para lebah dan bocah bocah itu.

Segala kekacawan yang terjadi di bagian sebelah luar tembok benteng istana tentu saja tidak luput dari perhatian Rangga Wulung Utama.

Sebagai senopati yang baru dia tidak tinggal diam.

Apalagi saat itu kawanan lebah telah merangkak ke atas benteng, menyerang para perajurit yang bertahan di sana.

Malah sebagian Lebah Pembunuh telah memasuki halaman istana juga dalam istana. Melihat ini senopati segera berteriak kepada para perajurit bagian dalam benteng. "Rentang jaring laba-laba...!"

Wuss! Reeet! Di delapan sudut penjuru tiba-tiba perajurit yang bertugas memasang perangkap segera menaikkan puluhan jaring berperekat.

Jaring-jaring halus ini begitu dibentang di atas ketinggian membuat kawanan lebah menjadi bingung.

Mereka yang tidak menduga adanya perangkap buatan itu langsung lebah yang beterbangan langsung terjebak.

Lebah-lebah yang berterbangan tersangkut terperangkap dalam jaring yang terpasang pada bambu dan digerak-gerakkan masing-masing oleh dua orang perajurit.

Banyak lebah yang dibuat tidak berdaya.

Namun yang lolos dari jaring terus menyerbu ke arah perajurit perajurit itu.

Setiap kali lebah berhasil menyengat maka yang menjadi korbannya segera menemul ajal. Walau perangkap yang dipergunakan cukup berhasil menjebak lawan.

Namun senopati ini nampaknya kurang puas.

Terlebih ketika dia mengetahui di luar sana sebagian besar perwira dan perajurit banyak berjatuhan menjadi korban.

Dengan gerakan cepat yang didukung dengan ilmu meringankan tubuh senopati melesat ke atas tembok benteng.

Begitu jejakkan kaki dari atas benteng pasukan yang berada. berseru ditujukan pada seluruh "Kalian semua masuk ke tempat persembunyian"

Karena jauh sebelumnya perwira dan para perajurit telah diberi tahu.

Tentu saja mereka segera menyadari makna teriakan pemimpinnya .Puluhan perajurit dan perwira tiba-tiba hentakkan kakinya masing-masing.

Begitu kaki menghantam tanah.

Tanah pun amblas dan setiap tubuh kemudian terjeblos masuk lubang persembunylan. Para bocah iblis yang menyerang dengan membabi buta juga kawanan lebah tentu saja tidak dapat menyerang apalagi menyusul mereka.

Kerena begitu perwira dan perajurit mencebloskan diri ke dalam lubang rahasia.

Lubang itu dengan cepat menutup. Pangeran Durjana yang terus memperhatikan semua yang terjadi kaget melihat kecerdikan senopati dalam mengatur siasat.

Tapi dia tidak kekurangan akal.

Tiba-tiba dia berseru ditujukan pada Bocah yang berada di luar benteng juga pada kawanan lebah piaraannya.

"Jangan hiraukan para pengecut itu! Lekas kalian serbu ke dalam istana. Di sana masih banyak hidangan yang pantas untuk kalian santap. Bunuh semua orang di dalam istana dan tinggalkan dua gadis yang bernama Arum Senggini dan Nila Agung!" Seruan itu disambut gegap gempita baik oleh kawanan lebah maupun Bocah-Bocah Iblis.

Berduyun-duyun seakan saling berlomba bocah-bocah itu merangsak dan berusaha melewati tembok tinggi dengan cara melompat.

Tidak sedikit yang bergerak menuju gerbang. Justru inilah yang ditunggu-tunggu oleh Rangga Wulung Utama sang senopati kerajaan .Begitu para bocah mendekat dan kawanan lebah beterbangan melewati benteng istana.

Senopati pun berteriak ditujukan pada pasukan pemanah juga para perajurit yang bertugas menggerakkan jaring perangkap.

"Hujani mereka dengan panah api! Sambut lebah-lebah itu dengan jaring laba-laba!" Gema teriakan senopati melanda seluruh penjuru benteng.

Pasukan pemanah mernyambut semangat senopatinya dengan gegap gempita. Ratusan batang dikobari api melesat dari busurnya.

Menghujani bocah-bocah Iblis membuat mereka kocar kacir.

Para bocah yang mampu menyelamatkan diri segera berguling-guling merapat ke tembok yang tidak sempat tertembus panah-panah itu.

Terdengar suara jerit pekik kesakitan di sana-sini para bocah yang terkena panah berkaparan di tanah lalu meledak hancur menjadi kepingan asap.

Bila di bawah keadaannya sangat kacau di luar dugaan pangeran Durjana.

Sebaliknya pasukan lebah gabungan dari Lebah Kepala Hati Berbunga dan Pembunuh keadaannya juga tidak jauh berbeda.

Mereka nampak kesulitan menghindar dari sergapan perangkap jaring perekat yang bermunculan diatas benteng dengan tidak terduga itu. Walau begitu setelah melihat nasib buruk yang menimpa kawan-kawannya.

Lebah-lebah lainnya kini bertindak lebih hati-hati dan berlaku cerdik.

Sadar jaring-jaring berperekat yang digerakkan para perajurit dapat membuat mereka tidak berdaya, maka kini mereka berusaha menghindari serbuan jaring.

Sebagai gantinya mereka terbang lebih rendah dibawah jaring-jaring lalu menyerang perajurit yang mengendalikan jaring.

Terdengar suara pekik dan ter ­akan menyayat.

Para perajurit yang tersengat tewas seketika dan berjatuhan dari benteng. Melihat ini senopati, jadi terkesima.

Tak membuang waktu dia segera membantu pasukannya dengan melepas pukulan dan kibaskan rambut saktinya yang panjang menjela.

Di sisi lain, Pangeran Durjana ternyata sangat murka begitu menyadari para pengikutnya:banyak yang menjadi korban. Tak ada pilihan lain dengan kemarahan meluap-luap dia berteriak ditujukan pada Mata Setan. "Sudah waktunya kau memberi dukungan. Aku mau kau habisi senopati tua berambut panjang itu.

Aku juga ingin kau menyikat habis semua perajurit yang bertahan di atas benteng. Hangus kan mereka jangan diberi ampun!"

Diatas ketinggian Mata tunggal besar berwarna merah menyala yang sedari tadi diam menunggu tiba-tiba saja memancarkan cahaya terang.

Sebelum sang Mata Setan melesat menuju ke atas benteng terdengar Suara dari dalam mata itu. "Perintahmu aku kabulkan. kau sendiri hendak kemana?"

Tanya Mata Setan. Pangeran Durjana keluarkan suara berdengus. Namun dia tetap menjawab pertanyaan mahluk berujud mata itu.

"Aku akan membuka jalan buat anak-anakku. Aku tidak mau mereka menjadi bulan-bulanan sekumpulan manusia kerajaan yang tolol itu. Kemudian aku akan masuk ke istana, menyingkirkan siapa saja yang menentangku untuk menemukan kedua puteri itu!"

Tegas sang pangeran geram.

Selanjutnya tanpa menunggu lama Pangeran Durjana ayunkan kedua kaki di atas permukaan

.tanah.

Begitu kaki diayun. Wuss!

Dengan gerakan secepat topan berhembus tahu-tahu dia telah berdiri sejarak tiga tombak di depan benteng.

Dengan pipi menggembung rahang bergemeletukan, disertai sorot mata tajam Pangeran Durjana cepat angkat tangan kirinya tinggi-tinggi .Begitu berada di atas kepala, jari-jarinya yang terkepal kemudian membuka.

Ketika lima jari tangan terbuka seluruhnya.

Entah dari mana datangnya tahu-tahu di telapak tangan sang pangeran terdapat dua benda hitam berbentuk bulat.

Kedua benda itu mengepulkan asap tipis berwarna biru kelabu. Kemudian tanpa menoleh setengah mengeram dia berkata ditujukan pada kedua benda tersebut.

"Hancurkan dinding benteng selebar-lebarrnya. Buat jalan agar bocah-bocah yang menjadi pengikutku dapat berpesta pora di dalam sana."

Dua benda bulat di telapak tangan kiri tiba tiba berputar lalu melosat ke arah benteng secepat kilat disertai suara deru menggidikkan dan kobran api .

Terdengar suara ledakan berdentum mengguncang malam yang hiruk pikuk diwarnai ceceran darah.

Tembok benteng yang kokoh dan tebal berlubang besar membentuk sebuah terowongan .Kepingan batu pasir dan debu bertaburan di udara.

Suasana di sekitar tembok hancur gelap sesaat. Pangeran Durjana menyeringai puas.

Sementara kawanan Bocah Bocah Iblis yang berlindung dari serangan panah api dengan penuh kegembiraan berlarian memasuki halaman istana.

Mengetahui tembok benteng hancur.

Senopati Rangga Wulung Utama sebenarnya berniat menghalangi bocah-bocah itu agar tidak dapat menyerbu masuk ke dalam.

Tapi dia sendiri saat itu tak dapat bergerak leluasa karena Mata Setan menghujaninya dengan serangan cahaya panas mematikan yang bersumber dari mata tunggalnya yang dikedap-kedipkan.

Celakanya setiap kali senopati membalas serangan itu dengan melepaskan pukulan sakti bertenaga dalam tinggi, Mata Setan selalu menghindar dan melambungkan diri lebih tinggi hingga serangan yang dilakukan senopati sulit mencapai sasaran yang diharapkan.

Gagal menyerang Mata Setan yang berpindah-pindah diketinggian ,senopati menjadi sangat geram sekaligus penasaran.

"Andai aku bisa terbang dan mempunyai sayap!" Ucapnya dalam hati.

Sayang senopati tidak punya waktu untuk berpikir lebih lama.

Saat itu Mata Setan setelah lolos dari serangan si kakek dengan penuh nafsu membunuh bergerak melesat ke bawah mendekat ke arah bagian atas tembok benteng yang cukup luas tak ubahnya seperti jalan berliku. Kemudian tanpa ragu dari jarak dekat sang mata mencecar kakek itu dengan serangan cahaya.

Puluhan cahaya menghantam tubuh senopati juga para perajurit yang bertahan di sekitarnya. Tak punya pilihan lain.

Selain menghindar dan pergunakan rambutnya yang panjang orang tua ini juga segera mencabut senjata saktinya berupa sebuah kujang yang dikenal dengan nama Penakluk Jiwa

"Kau hendak menghabisi aku dengan kujang rongsokan itu, senopati? Percaya padaku, hidupmu hanya tinggal beberapa kejaban mata saja!"

"Makluk apa dia. Aku hanya melihat mata tanpa bagian tubuh yang lain!" "Tapi aneh, bagaimana dia bisa bicara selayaknya manusia yang punya mulut?" Rutuk si kakek, heran namun penasaran.

Hulu kujang yang terbuat dari gading digenggamnya dengan erat.

Tenaga sakti diam diam dia alirkan ke bagian tangan yang memegang senjata. Tubuh senopati bergetar hebat.

Rambut panjangnya yang gagal mencederal Mata Setan berjingkrak tegak. Byaar!

Kujang Penakluk jiwa di tangan senopati itu tiba-tiba memancarkan cahaya putih menyilaukan. Tak menunggu lama selagi Mata Setan berada dalam jangkauan.

Si kakek segera kibaskan senjata di tangan lalu diarahkannya lurus-lurus ke arah mata yang menyala itu.

Tiga cahaya menebar hawa panas menggidikkan berkiblat menghantam ke arah mata merah besar yang mengapung diketinggian.

Melihat serangan ganas tiga cahaya yang memancar dari ujung kujang sakti, Mata Setan sedikitpun tidak menghindar.

Mata Tunggal itu malah membelalak bertambah besar.

Sebelum mata polos tanpa alis tanpa kelopak itu bergerak mengedip. Tiba-tiba terdengar gumaman bercampur erangan marah.

"Tak tahu diri. Kau akan merasakan betapa cahaya yang memancar dari mataku ini akan menghancurkan senjata sekaligus melumat tubuhmu!"

Belum lagi gumaman sang mata lenyap.

Mata tunggal diketinggian berkedip tiga kali berturutturut. Tiga larik cahaya merah membahana menderu, menyambar ke arah tiga cahaya putih yang membersit dari ujung senjata senopati

Buum!

Dentuman menggelegar mengguncang bagian atas benteng, pijaran bertabur di udara membuat suasana yang temaram berubah menjadi terang benderang.

Senopati tua itu terhuyung.

Kagetnya bukan kepalang ketika sadar tiga cahaya yang memancar dari senjatanya tersapu habis digulung cahaya merah yang dipancarkan oleh Mata Setan.

Walau dua cahaya yang datang dari atas sama mengalami kehancuran setelah terjadi benturan menggelegar.

Tapi salah satu cahaya merah terus menyerbu menderu ke bawah siap menghantam senopati itu.

Sadar dirinya berada dalam ancaman bahaya besar senopati segera nemutar senjata lalu sambil berteriak keras senjata ditusukkan ke atas menangkis cahaya merah.

Wuus! Creessst! Arkh...!"

Si kakek menjerit kesakitan ketika sadar kujang sakti di tangan tak mampu menghancurkan cahaya merah itu.

Sebaliknya kujang yang berada dalam genggamannya meleleh hingga kebagian hulu. Dan yang lebih mengerikan lagi cahaya merah masih sempat membakar sang senopati. Secepat kilat senopati kibaskan tangan dan berusaha memadamkan api yang membakar lengan bajunya.

Kujang yang tidak berbentuk dia campakkan dan entah jatuh kemana. Orang itu terhuyung mundur.

Akhirnya dia bersender pada dinding benteng sebelah dalam. Secepatnya dia mengalirkan tenaga mumi berhawa dingin ke bagian lengannya yang hangus menghitam mengepulkan bau daging hangus.

Sambil menyeringai kesakitan dia juga menotok jalur darah di bagian pangkal lengan. Perlahan rasa sakit berkurang.

Namun senopati sadar seandainya dia dapat bertahan hidup luka bakar di lengan kanannya akan membuatnya cacat sepanjang hayat

"Tanganmu sudah tidak berguna senopati tua. Mungkin rambut saktimu masih punya manfaat. Tapi dengan rambut sepanjang itu mana mungkin kau bisa membuat aku celaka! Kau akan mampus! Dan kematianmu telah berada di ambang mata!"

Kata Mata Setan. Mata tunggal merah menyala perlahan melayang turun bergerak mendekati di mana senopati berada. Sadar dalam keadaan terluka dia bakal mengalami banyak kendala untuk menghancurkan Mata Setan. Dalam hati, senopati berkata.

"Hyang dewa bathara. Aku tidak perduli dengan kematianku. Tapi seandainya pun aku meregang nyawa. Selamatkanlah gusti prabu senopati, selamatkan kedua putrinya dari tangan jahat Pangeran Durjana!"

Ucapan senopati terputus begitu tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki kuda yang dipacu cepat ditengah suara hingar bingar pasukan yang terlibat pertarungan sengit di bagian dalam benteng.

Terkejut senopati layangkan pandang ke arah jalan utama menuju pintu gerbang. Dia melihat seekor kuda berbulu hitam berlari cepat seolah terbang. Di atas kuda duduk seorang pemuda berambut gondrong riap-riapan berpakaian kelabu dengan posisi memunggungi kepala kuda. Pemuda itu nampak kalang kabut sementara dari mulutnya terdengar ucapan.

"Kuda aneh. Lajunya kencang sekali seperti dedemit kesiangan. Tapi sayang sepanjang jalan menebar kentut membuatku mabok. Hoeek..!"

Si pemuda yang bukan lain adalah Sang Maha Sakti Raja Gendeng keluarkan suara muntah. Tak terduga bersamaan dengan terdengarnya suara muntah tubuh pemuda itu melenting. Setelah jungkir balik tak karuan diketinggian akhirnya dia jejakkan kaki di atas bibir tembok benteng. Seperti orang bingung dengan mimik terkaget-kaget pemuda ini memperhatikan keadaan disekelilingnya .Dia melihat mayat-mayat perajurit yang tidak utuh lagi. Dia juga melihat senopati yang bersandar di dinding "Whehh... aku terlambat. Pesta besar hampir lewat. Eeh..., orang tua penampilanmu seperti senopati. Tapi kau terluka?"

"Aku memang senopati istana Malingping. Mata Setan yang melukaiku, kau sendiri siapa? tanya si kakek heran.

Raja tersenyum. Acuh saja dia menjawab.

"Siapa aku tidak begitu penting. Aku cuma seorang raja. Raja Gendeng yang kebetulan tersesat ke sini,"

Sahut Raja. Tanpa menunggu ucapan senopati. Raja dongakan kepala menatap ke arah Mata Setan. Dia lalu kembali berucap. Kali ini ditujukan pada Mata Setan.

"Kalau tidak salah aku tadi sempat mendengar ada yang berkata bahwa kematian senopati telah berada di depan mata. Siapa yang bicara? Apakah kau mahluk aneh yang hanya berujud sebelah mata yang bicara?"

"Memang aku yang bicara."

Sahut Mata Setan tanpa keraguan. Raja berjingkrak pura-pura unjukkan wajah kaget "Weh edan. Mata kok bisa ngomong. Biasanya yang dipergunakan bicara mulut." Celetuk Raja sambil geleng-geleng kepala.

"Anak muda. Aku sudah tahu siapa kau. Kau terlalu jauh mencampuri urusan Pangeran Durjana.

Kau juga telah membunuh puluhan bocah-bocah pengikut sang pangeran." "Karena itu aku layak membunuhmu!"

Seru Mata Setan.

Mahluk yang ujudnya hanya terdiri dari mata itu akhiri ucapan dengan kedipkan mata tunggalnya.

Seketika itu juga satu gelombang cahaya merah panas dalam ukuran yang luar biasa besar mendera melabrak tubuh Raja.

Jika cahaya sampai menghantam dan mengenai sasaran.

Bukan hanya Raja saja yang bakal tewas dengan tubuh hangus menjadi bubuk.

Sebaliknya senopati Rangga Wulung Utama yang berada hanya sekitar lima langkah dari pemuda itu juga bakal menjadi korban.

Senopati keluarkan suara menggerung.

Sambil bergulingan menjauh selamatkan diri si kakek menghantam ke atas dengan salah satu pukulan sakti yang dikenal dengan nama Perisai Es Melanda Matahari. Begitu tangan dikibaskan dan didorong, dari telapak tangan senopati menderu hawa dingin luar biasa disertai kilatan cahaya putih menyilaukan.

Namun pukulan sakti senopati dengan mudah tersapu cahaya sang mata lalu hancur menjadi kepingan. Sementara di bagian yang lain tak jauh dari sang senopati satu cahaya laksana ombak raksasa terus menderu siap menggulung pemuda itu. Pemuda itu menggerung, mulut dipencong.

Dengan menggunakan jurus Tarian Sang Rajawali pemuda ini bergerak hindari terjangan cahaya serangan lawan.

Namun kemanapun ia menghindar cahaya merah menghanguskan itu mengejar, maka tanpa membuang waktu lagi Raja segera alirkan tenaga dalam tinggi ke bagian kedua belah tangannya.

Lalu dia siapkan pukulan Badai Es di tangan kanan serta ilmu pukulan Amukan Badai Laut Selatan.

Seperti diketahui Ilmu Badai Es adalah warisan gurunya Ki Panaran Jagad Biru sedangkan pukulan Amukan Badai Laut Selatan diwarisi dari guru raja satunya lagi Nini Balang Kudu. Dua tangan diangkat tinggi.

Tangan kanan berwarna putih berkilau dan menebar hawa dingin mengidikkan.

Sedangkan tangan kiri berubah hitam, pekat dan mengepulkan asap berwarna pekat. Tak menunggu lama beberapa saat lagi cahaya merah melabrak hangus tubuhnya.

Sambil menekuk kaki kanannya Raja segera menghantam ke atas dua kali berturut-turut .Satu gelombang cahaya hitam yang disusul dengan serangkum cahaya putih dingin luar biasa menderu di udara, bergerak cepat laksana dua mata tombak raksasa menghantam cahaya merah yang datang dari atasnya.

Buum!

Dentuman luar biasa keras mengguncang bagian atas benteng Istana. Benteng itu bergetar hebat.

Kedua tepi benteng hancur menjadi kepingan bertabur di udara.

Guncangan ledakan membuat senopati yang bertubuh pendek terpental jauh lalu jatuh menyerangsang di cabang pohon yang terdapat di samping benteng.

Walau Raja melihat apa yang dialami senopati. Dia tidak sempat menolong.

Sang Maha Sakti jatuh terduduk, kedua tangan yang melepas pukulan sakit sekali. Dada mendenyut dan terasa panas seperti hangus.

Cepat pemuda ini salurkan hawa sakti ke bagian dada dan sekujur tubuhnya.

Rasa sakit yang menyesak di dada lenyap, dia cepat memperhatikan pakaiannya yang tadi sempat dikobari api.

Raja terbelalak tak percaya mulut berdecak kagum.

"Tadi pakaian baruku ini sempat dijilat api. Tapi aneh api dapat padam dengan sendirinya.

Pakaian bagus ini ternyata tetap utuh tidak rusak." "Hehh... pakaian ini rupanya ikut melindungi tubuhku."

Setelah sempat tenggelam dalam kegembiraan sekejap. Raja tiba-tiba ingat dengan lawannya. Seketika pemuda ini dongakkan kepala menatap ke atas. Dia melihat mata merah yang mengambang diatas ketinggian tiba-tiba lenyap dari pandangan. Mahluk aneh yang menampilkan diri dalam ujud berupa mata entah pergi kemana?

Jelalatan Raja layangkan pandang ke segenap sudut penjuru langit. Tapi mata besar yang dicarinya tak kunjung ditemukan.

Apa sesungguhnya yang terjadi dengan mata itu?

Diluar sepengetahuan Raja ketika benturan keras menggelegar terjadi antara dua pukulan yang dilepas Raja dengan cahaya merah yang dari sang Mata Setan mengakibatkan mata tunggalnya yang menjadi sumber kekuatan untuk menyerang mengalami guncangan hebat.

Mata itu menjadi sakit berdenyut laksana mau meledak. Selain itu rasa perih akibat pukulan Badai Laut Selatan terlalu menyakitkan sang Mata Setan. Dalam keadaan bergoyang limbung. Mata Setan bertanya sendiri.

"Apa yang terjadi denganku? Pemuda gondrong itu mahluk dari negeri mana? Mengapa mataku berdenyut luar biasa. Mengapa mata ini menjadi perih seperti disiram sekendi cairan garam? Aku tak mungkin dapat melanjutkan pertarungan dalam kondisi seperti ini. Aku harus menyingkir,"

Batin Mata Setan.

Kemudian tanpa perduli lagi dengan segala akibat yang bakal dia terima dari Penguasa Kegelapan di tahta Sitaloka,

Mata Setan diam-diam berkelebat tinggalkan tempat itu. Kepergiannya yang dilakukan diam-diam karuan saja membuat Raja kehilangan jejak

"Mata aneh itu entah minggat entah hancur!"

Seru Raja dengan perasaan lega "Aku melihat dia pergi,"

Menyahuti senopati yang saat itu telah berdiri di cabang pohon tempat dia terjatuh. Raja menyeringai. Dia menatap ke bawah sambil julurkan kepala.

"Bagaimana keadaanmu kakek senopati? Tampaknya kau mengalami cidera berat di tangan kananmu. Aku ragu apakah tangan yang hangus itu bisa pulih?"

"Kau tak perlu risaukan aku lebih baik segera kau masuk ke istana. Tolong bantu gusti prabu Tubagus Kasatama dan ke dua putrinya. Jangan biarkan Pangeran Durjana menodai kedua putri kata senopati."

Raja yang sudah mengetahui pangeran Durjana bisa menjadi sangat sakti bila berhasi bercinta dengan kedua putri itu pura-pura bertanya.

"Memangnya kenapa kakek senopati?"

Dengan suara bergetar menyimpan kecemasan senopati cepat berteriak.

"Anak muda. Siapapun dirimu aku atas nama kerajaan mengucapkan banyak terima kasih. Ketahuilah bila puteri Arum Senggini dan Nila Agung sampai jatuh ketangan Pangeran Durjana maka tidak ada satu kekuatan sakti apapun yang bisa membunuhnya!"

"Wow nampaknya berbahaya sekali"

"Sudah. jangan hiraukan aku! Pergilah bantu mereka!" Pinta si kakek. Raja manggut-manggut.

"Hmm, begitu. Baiklah aku pergi sekarang!"

Kemudian sambil tertawa dia tinggalkan puncak benteng.

Sementara itu ketika tembok benteng berhasil dijebol oleh Pangeran Durjana.

Puluhan bocah dan kawanan lebah segera bergerak menyerbu melalui jalan yang dibuka oleh pemimpinnya .Ternyata ketika kawanan lebah dan para bocah sampai disana.

Telah banyak sekali korban yang berjatuhan dikedua belah pihak.

Pertempuran yang berkecamuk makin menjadi dan diwarnai dengan dentang senjata di tengah jerit pekik kematian. Melihat teman-temannya mengamuk dan terus berusaha menghabisi perwira dan perajurit yang bertahan di sekitar istana.

Maka lebah-lebah dan Bocah Bocah Iblis yang baru muncul itu segera bergabung memberi bantuan pada teman-temannya.

Melihat ini Pangeran Durjana berpikir pasukannya yang terdiri dari kawanan lebah dan bocah-bocah buas pasti dapat memenangkan pertempuran.

Karena itu sang pangeran yang saat itu berdiri di sudut halaman segera berkelebat menuju kebagian pintu depan Istana yang tertutup rapat yang dijaga ketat oleh sedikitnya sepuluh pengawal bersenjata.

Kehadiran Pangeran yang bergerak mengambang tanpa menyentuh lantai langsung disambut dengan serangan ganas oleh pengawal-pengawal itu.

Empat tombak menyerang rusuk dan bahu sebelah kiri.

Dari arah depan menyambar dua pedang yang mengarah ke bagian jantung dan perutnya.

Sedangkan dari samping sebelah kanan menderu golok dan keris, masing-masing membabat bagian pinggang dan kaki.

Diserang oleh sepuluh perajurit yang dikuasai amarah akibat kehilangan begitu banyak temannya.

Pangeran Durjana sama sekali tidak berusaha menghindar.

Sebaliknya dia mengumbar tawa tergelak-gelak "Pilih bagian tubuhku yang manapun kalian suka!"

Tantang sang laki-laki yang dapat merubah rubah wajah dan penampilannya ini berdiri sambil berkacak pinggang.

Dan ketika sepuluh senjata berbagai jenis menghantam tubuhnya. Terdengar suara berdentang sepuluh senjata yang menghujani tubuhnya tak ubahnya seperti menghantam tembok baja.

Malah para pengawal keluarkan seruan kaget begitu melihat senjata mereka meleleh.

Sementara itu tangan yang memegang gagang senjata bergetar hebat disertai panas yang luar biasa.

Tak ingin celaka.

Pengawal-pengawal itu segera mencampakkan sisa senjata dalam genggaman masing-masing.

Mereka melangkah mundur, kibas-kibaskan tangan yang mengepul asap.

Dan ketika tiga diantaranya menatap ke arah lawan.

Mereka sama melihat Pangeran Durjana sama sekali tidak terluka.

Bahkan jubah hitam yang melekat di tubuhnya tidak ada yang robek terkena senjata. "Dia bukan manusia!"

Desis pengawal yang berada di sudut sebelah kanan kecut. "Dia hantu sakti!"

Berkata pula pengawal yang berdiri persis di depan pintu utama.

Sadar pangeran berjubah hitam itu bukanlah lawan mereka, para pengawal balikkan badan dan siap meninggalkan Pangeran Durjana.

Tapi orang orang itu menjadi kaget begitu menyadari kedua kaki tak dapat digerakkan seolah kaki mereka diganduli oleh ratusan kati batu besar yang tidak terlihat.

"Ha ha ha! Tak seorang pun diantara kalian yang kubiarkan lolos! Kalian semua sudah selayaknya menjadi tumbal santapan mahluk-mahluk yang bersemayam di dalam tubuhku!"

Berkata begitu Pangeran Durjana tiba-tiba kibaskan jemari tangannya yang berkuku runcing hitam.

Seet! Cas! Cras! Raakk!

Tidak terdengar suara jeritan ketika lima kuku yang tajam menyambar putus tenggorokan mereka.

Darah memancar dari leher yang terluka menganga. Sepuluh pengawal penjaga hanya bisa delikkan mata. Pangeran menyeringai.

Tangan yang dipergunakan untuk menyerang pengawal itu diacungkan ke depan.

Secara aneh darah yang memancar dari setiap luka di leher para pengawal kini tidak lagi tumpah menyembur ke lantai melainkan tersedot ke telapak tangan sang pangeran. Begitu curahan darah menyentuh telapak tangannya.

Darah tersedot amblas lenyap ke dalam telapak tangan sang pangeran. Sampai akhirnya tidak ada lagi darah yang memancar dari luka.

Satu demi satu pengawal malang jatuh bertumbangan.

Anehnya begitu tubuh mereka menyentuh tanah tubuh mereka lenyap berubah menjadi kepulan asap menebar bau busuk menyengat.

Pangeran Durjana keluarkan suara aneh seperti orang yang kekenyangan. Dengan Mata nyalang dia menatap ke arah pintu yang tertutup rapat.

Sambil berjalan mengambang pangeran kibaskan tangannya, sementara dari mulutnya terdengar seruan.

"Terbukalah...!"

Dari ujung lengan jubah yang dikibaskan terdengar suara bergemuruh disusul oleh suara berderak pintu yang terbuka.

Begitu pintu terbuka. Pangeran Durjana ayunkan kakinya. Tahu-tahu dia telah berada di dalam ruangan besar.

Sejenak lamanya mata putih pucat dengan satu titik hitam, di tengah bagian yang putih memperhatikan sekelilingnya.

Dia melihat beberapa bocah iblis terlihat begitu sibuk menggeragoti tubuh pengawal yang berhasil mereka bunuh.

Melihat ini Pangeran Durjana menyeringai.

"Ternyata diantara kalian sudah ada yang melakukan pesta di bagian dalam istana. Tapi mengapa aku tidak melihat dimana penguasa kerajaan Malingping dan dua puterinya yang bakal menjadi calon pengantinku!"

Gumam laki-laki yang tangan dan wajahnya dipenuhi lendir menjijikkan. Baru saja dia berkata begitu.

Tiba-tiba dari balik ruangan lain muncul seorang laki-laki bertubuh tegap berpakaian sutera emas berkumis rapi dengan sebuah mahkota bertengger di atas kepalanya .Walau Pangeran Durjana belum pernah bertemu dengan penguasa Istana Malingping. Namun melihat ciri-ciri orang yang muncul di depannya serta mahkota emas yang bertengger di atas kepala.

Dia segera dapat memastikan lakilaki itu pasti gusti prabu Tubagus Kasatama.

Tapi belum lagi sempat dia membuka mulut ajukan pertanyaan, di depannya laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun yang tak lain memang gusti prabu Tubagus Kasatama sudah menghardiknya.

"Pangeran keparat dari liang kubur!"

"Begitu banyak kesengsaraan serta penderitaan yang kau timbulkan di tanah Pasundan ini? Kemunculanmu tidak hanya membawa malapetaka. Kau juga telah memporak porandakan ketenteraman yang kubangun selama puluhan tahun!"

Pangeran Durjana menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang tajam mengerikan.

Wajah yang bersih tiba-tiba berubah menjadi gelap tak ubahnya seperti cahaya bulan yang tertutup awan .Seringainya lenyap.

Dari mulut terdengar suara menggembor marah.

"Aku tahu siapa dirimu orang tua. Kau adalah prabu Tubagus Kasatama .Kau masih punya hubungan darah dengan Ratu Tria Arutama dan prabu Kalijati di istana Dewa Ruci"

"Bagus kau tahu persis silsilah dari keluargaku."

"Tentu saja aku tahu karena aku adalah salah satu bagian yang tersisih keluarga busuk itu!"

Dengus Pangeran Durjana geram

"Mahluk terkutuk. Dari hidup sampai mati kemudian hidup lagi ternyata kau masih juga melakukan perbuatan laknat tercela. Katakan mengapa kau lakukan semua ini? Mengapa kau menyerbu istanaku padahal aku tidak punya silang sengketa apapun denganmu!"

Bentak prabu Tubagus Kasatama sambil menghunus tombak sakti Ki Pleret.

Tombak bercabang hitam berwarna hitam pekat itu adalah senjata andalan yang kerap dipergunakan gusti prabu menghadapi lawan tangguh.

Melihat senjata di tangan sang prabu .Pangeran Durjana segera maklum senjata itu jelas bukan senjata sembarangan.

Tapi dia tidak mengenal rasa takut. Dengan tenang dia lalu menjawab pertanyaan prabu Tubagus Kasatama.

"Kau memang tidak punya silang sengketa denganku prabu. Tapi aku yakin kau pernah mendengar riwayat tentang diriku..."

"Kau hanya manusia terkutuk yang tega berbuat mesum dengan adik kandung sendiri!" Potong prabu.

Wajah hitam Pangeran Durjana tampak semakin menghitam. Mata yang pucat kini berubah merah seperti dikobari api.

Ucapan sang prabu tidak hanya membuatnya tersinggung tapi juga membuatnya marah sekali. Sambil kepalkan dua tinjunya dengan suara menggereng dia membentak.

"Aku manusia bebas. Orang tuaku yang tak lain adalah nenek moyangmu tidak punya hak mengatur hidupku. Tapi dia telah melakukan satu kesalahan besar dengan menghukum mati diriku. Sejak saat itu aku bersumpah siapa saja yang punya hubungan darah dengan mereka harus kubunuh."

"Oh begitu. Tapi aku tidak takut mati dan tidak gentar dengan ancamanmu, pangeran busuk!" Sahut gusti prabu tak kalah sengit. Mendengar itu Pangeran Durjana dongakkan kepala lalu mengumbar tawa bergelak.

Sekejab tawa pangeran lenyap dia membuka mulut dan berkata.

"Kau harus mati, tapi kematianmu tak akan kupermudah. Sebelum menemui ajal menghadap raja diraja neraka kau harus memberi tahu dimana puteri-puterimu berada. Aku ingin bercinta dengan mereka untuk menambah kesaktianku. Begitu aku selesai bercinta dengan mereka, kelak arwahmu tahu bahwa aku menjadi orang yang tak dapat dikalahkan oleh siapapun."

"Ha ha ha!"

Walau pernah diberi tahu oleh Penujum Aneh.

Namun ucapan Pangeran Durjana benar-benar membuatnya terkejut.

Bagi prabu Tubagus Kasatama kematian bukanlah sesuatu yang membuatnya risau.

Dia menyadari tiap-tiap mahluk yang bernyawa pasti bakal mati. Namun yang membuat hatinya sangat risau.

Bagaimana andai kedua putrinya benar-benar jatuh ke tangan manusia iblis itu? Anaknya tidak hanya kehilangan kehormatan diri bahkan juga nyawanya.

Tidak tertutup kemungkinan Pangeran Durjana juga bakal menduduki istana dan menjadikan istana Malingping sebagai pusat segala kejahatannya.

"Aku harus bisa menghabisi mahluk jahanam ini. Dia bukan lagi manusia. Dia iblis yang bangkit bersama jasad Pangeran Bagus Anom Aditama yang telah mati,"

Pikir sang prabu.

"Apa yang kau pikirkan gusti prabu?"

Tanya sang pangeran setelah lihat laki-laki di depannya sempat tertegun. "Pangeran iblis,"

Sahut prabu Kasatama. Setelah berusaha menenangkan diri dia kemudian melanjutkan. "Ketahuilah, kau tidak bakal mendapatkan satupun dari dua putriku. Mereka tak ada di istana ini.

Lagi pula sudah cukup perbuatanmu merusak anak gadis orang!"

"Tidak! Beribu-ribu gadis masih kubutuhkan untuk memperkuat kedudukanku. Tapi mencari ribuan gadis bisa kulakukan nanti gusti prabu,"ujar pangeran dengan seringai dingin.

Setelah menelan ludah basahi bibir dia melanjutkan. "Sekarang ini yang kubutuhkan adalah kedua putrimu."

"Mahluk keparat! Aku sudah mengatakan mereka tidak ada di istana!"

Bantah sang prabu. Pangeran Durjana diam, tidak menjawab. Sebaliknya dia menatap sang prabu sambil menghirup nafas dalam-dalam .Setelah menarik nafas dia menggeleng.

"Kau berdusta padaku. Aku dapat mengendus keberadaan mereka. Aku kan dapat merasakan denyut nadi serta detak jantung putri-putrimu. Mereka ada disekitar istana dan belum pergi kemanapun! Aku harus menemukan mereka!" berkata begitu Pangeran Durjana melangkah lebar berusaha masuk ke istana bagian dalam.

Melihat ini gusti prabu segera menghadang. "Kau hendak kemana?"

Teriaknya sambil silangkan tombak Ki Pleret di depan dada.

"Aku ingin menangkap kedua putrimu dan membawanya pergi dari sini!" sahut sang pangeran dengan sikap acuh dan terus saja bergerak

"Jika begitu kau memang sudah selayaknya mampus ditanganku!" Teriak sang prabu murka. Seketika itu dia melompat ke depan.

Tombak di tangan kanan ditusukkannya keperut lawan.

Sementara dengan tangan kiri yang telah dialir tenaga dalam tinggi dia menghantam. Tidak tanggung-tanggung.

Begitu menyerang gusti prabu melepaskan salah satu pukulan sakti yang dikenal dengan nama Naga Dewa Mencengkeram Bumi. Kehebatan ajian yang dimiliki sang prabu ini sanggup meluluh lantakkan bukit dan gunung. Tombak melesat ganas menyambar ke bagian perut disertai pijaran cahaya hitam menggidikkan.

Dari tangan kiri menggemuruh lima larik berbentuk jari-jari panjang dan besar melabrak tubuh Pangeran Durjana disebelah atasnya.

Mendapat serangan yang begitu hebat disertai tebaran hawa panas dan dingin luar biasa. Pangeran Durjana tercekat juga.

Seringai yang tersungging di mulut serta merta lenyap.

Dalam keadaan berdiri mengambang diatas lantai laki-laki itu segera menggeser tubuhnya ke sebelah kiri.

Secepat kilat dengan menggunakan tangan kiri dia berusaha menyambut hunjaman tombak, sedangkan tangan diputar sebat lalu didorongnya ke depan menangkis pukulan yang dilepaskan lawannya.

Tep! Creek!

Ujung tombak yang membersitkan cahaya panas kena ditangkap lalu diputar hingga patah.

Tombak dalam genggaman selanjutnya dia remas hingga menjadi kepingan. Tapi satu bahaya lain mengancam keselamatan Pangeran Durjana.

Walau dia telah berusaha membendung serangan pukulan Naga Dewa Mencengkeram Bumi dengan mendorongkan tangan ke depan.

Tetap saja dia tak dapat menghancurkan serbuan cahaya berbentuk lima jari yang mengincar bagian dada sebelah atas.

Tak ingin celaka, Pangeran Durjana lipat gandakan tenaga dalam. Kini dengan dibantu tangan kiri yang tadi dia pergunakan untuk meremas tombak sakti sang pangeran balas menyerang. Ternyata serangan susulan yang dilakukannya tak dapat berbuat banyak.

Lima cahaya berbentuk jemari raksasa terus menderu dan melabrak tubuhnya.

Tanpa ampun tubuh pangeran itu terdorong mundur, jatuh terhempas melabrak dinding Istana. Dinding jebol .Pangeran Durjana seketika lenyap tertimbun reruntuhan bebatuan.

Prabu Tubagus Kasatama yang menduga lawannya tewas atau setidaknya mengalami cidera berat menarik napas.

Tapi belum sempat dia merasa lega, reruntuhan batu yang menimbuni lawan bergerak gerak. Breel!

Batu puing dan reruntuhan bermentalan disegenap penjuru. Dari balik timbunan batu lawan bangkit berdiri.

Walau sekujur tubuh juga jubahnya dalam keadaan kotor berselimut debu namun dia tak kekurangan sesuatu apa.

Malah sambil mengibaskan jubahnya dia menyeringai

"Ilmu pukulanmu memang sangat hebat. Tapi dengan kesaktian yang kau miliki itu. Mustahil kau dapat membunuhku! Ha ha ha!"

Dengus Pengeran Durjana disertai gelak tawa. Gusti prabu terdiam tidak menanggapi.

Sebaliknya dia melompat ke depan melepas tendangan menggeledek disusul dengan hantaman tinju yang melesat ke bagian wajah.

Melihat tendangan berikut tinju lawan yang menderu ganas ke arahnya. Pangeran Durjana sama sekali tidak menghindar.

Walau sadar dua serangan itu sangat berbahaya sebaliknya dia malah memasang badan. "Mahluk terkutuk. Ternyata kau benar-benar mencari mampus!"

Teriak gusti prabu. Hantaman tinju mendera wajah. Tendangan beruntun mengenai perut dan dada lawan.

Tapi Pangeran Durjana sedikitpun tidak bergeming dari tempatnya.

Pukulan dan tendangan hanya membuat kepala bergoyang dan tubuh bergetar. Sebaliknya sang prabu tiba-tiba menjerit.

Tangan dan kaki yang dipergunakan untuk memukul dan menendang seperti menghantam gunung baja itu nampak bengkak menggembung. Sambil berjingkrak sekaligus kibas-kibaskan tangannya yang sakit luar biasa sang prabu melangkah mundur.

Namun pada saat yang bersamaan dengan gerakan secepat kilat pangeran Durjana melesat ke arahnya.

Sekali tangannya berkelebat satu pukulan keras melabrak perut dan dadanya membuat sang prabu terkapar dengan mulut menyemburkan darah. Megap-megap dia berusaha bangkit. Belum sempat sang prabu duduk, kaki lawan telah menginjak dadanya.

Sang prabu meronta sambil berusaha menghantam kaki lawan.

Tapi entah mengapa injakan kaki lawan seakan membuat seluruh tenaga dalam dan tenaga luar yang dimilikinya mendadak amblas lenyap entah kemana.

Melihat sang prabu kehilangan segala daya, Pangeran Durjana menyeringai.

"Kau baru saja terkena pukulan beracun selubung Tabir Mayat. Segala kesaktianmu jadi tidak berguna. Dan kau akan menemui ajal dalam waktu tiga hari. Seperti yang kukatakan... aku tidak mempermudah kematianmu. Kematianmu bakal berlangsung cukup lama dengan cara menyakitkan. Aku bisa mengatakan selamat menikmati penderitaanmu gusti prabu. Sedangkan aku sendiri akan bersenang-senang dengan kedua putrimu. Ha ha ha!"

"Iblis keparat! Jangan ganggu anak-anakku! Jika berani menyentuh mereka aku bersumpah akan membunuhmu!"

Teriak sang prabu kalap.

Pangeran Durjana hanya menyeringai.

Dia lalu menarik kaki kanannya yang menekan dada sang prabu. Setelah itu diiringi tawa dingin sang pangeran tinggalkan lawannya. Prabu Tubagus Kasatama menggeram.

Dia berusaha bangkit dan berniat mengejar Pangeran Durjana yang berlari ke arah ruang peraduan kedua putrinya.

Tapi usaha keras yang dia lakukan justru membuatnya kembali semburkan darah dari mulut dan hidungnya.

Sang prabu merasa pandangannya berkunang-kunang, dada sakit berdenyut sedangkan sekujur tubuhnya terasa panas seolah digarang diatas bara api.

Sang raja terkapar lagi.

Tubuhnya diam tidak bergerak entah pingsan entah sekarat!

TAMAT