Raja Gendeng Eps 09 : Bocah Bocah Iblis

 
Eps 09 : Bocah Bocah Iblis


Dikawasan hutan rimba Ciandur yang dikenal angker ada sebuah telaga luas bernama telaga Warna.

Sesuai namanya bila siang hari warna air telaga hitam pekat seperti jelaga.

Sebaliknya bila hari beranjak malam warna hitam air telaga berubah menjadi bening berkilau seperti Mutiara.

Telaga Warna yang terletak di tengah hutan itu airnya tak pernah surut dimusim kemarau dan tidak pernah meluap dimusim penghujan.

Banyak penduduk yang berdiam diluar kawasan hutan yang tahu air telaga Warna bila diambil pada malam hari dapat dipergunakan untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit.

Sayangnya walau air telaga Warna mempunyai khasiat luar biasa untuk menyembuhkan. Sejauh itu tak seorang penduduk setempat yang berani datang ke telaga itu.

Jangankan mendatangi telaga di tengah hutan, memasuki bagian tepi hutan untuk sekedar mencari kayu bakar sekalipun penduduk tak punya nyali. Dulu ketika wabah melanda salah satu desa terdekat memang ada beberapa orang yang berlaku nekat mendatangi telaga Warna untuk mendapatkan air di telaga itu.

Namun tak seorang pun dari mereka yang kembali ke desa.

Orang pandai yang dimintai bantuan untuk mencari keberadaan penduduk yang hilang mengatakan, mereka telah ditawan oleh penguasa hutan yang dikenal dengan nama para Danyang.

Terlepas dari semua keangkeran yang menyelimuti kawasan hutan Ciandur dan telaga warna yang penuh misteri.  

Malam itu tepat disaat bulan  purnama bersinar  penuh.

Tiba-tiba saja kesunyian panjang yang menggantung di kawasan telaga seakan terpecah dengan terdengarnya suara lolong keras menyayat.

Suara lolong anjing menggema seiring dengan munculnya kabut putih tipis dari seluruh sudut penjuru telaga.

Kabut putih meliuk-liuk di udara tak ubahnya seperti peri malam yang menari. Liukan kabut lenyap diketinggian.

Namun pada waktu yang hampir bersamaan satu keanehan lain terjadi dipermukaan air telaga. Telaga yang tenang airrnya tiba-tiba bergolak seperti mendidih.

Seiring dengan bergolaknya air telaga.

Dari kedalamannya bermunculan bunga teratai berdaun lebar dimana bunganya segera bermekaran begitu berada di atas permukaan air beraneka warna tak ubahnya seperti warna pelangi. Dikejauhan suara lolong anjing kembali terdengar begitu menghiba dan menyayat hati yang datang dari delapan penjuru dengan suara berlainan.

Air telaga sekali lagi bergolak hebat.

Seiring bergolaknya air, tepat di bagian tengah telaga Warna muncul satu pohon teratai besar berukuran raksasa berdaun lebar berjumlah tidak lebih dari empat lembar.

Empat daun teratai mengembang dipermukaan air.

Tapi tak lama kemudian diantara empat daun berwarna hijau kehitaman muncul pula sekuntum bunga teratai seukuran lima puluh kali lebih besar dari bunga teratai biasa.

Kuncup bunga teratai raksasa bergetar.

Lalu bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti gelombang yang terjadi pada permukaan air.

Dengan kemunculan bunga teratai besar itu di tengah telaga maka dari balik kegelapan pohon yang mengelilingi telaga bermunculan pula delapan ekor mahluk hitam sebesar anak kuda berekor panjang bermata biru menyala. Delapan mahluk munculkan diri dengan nafas mengengah, lidahnya yang merah panjang terjulur, mulut terbuka memperlihatkan gigi-giginya yang runcing tajam.

Delapan mahluk berbulu hitam ini ujudnya mirip sekali dengan anjing besar.

Namun telinganya mencuat lebih panjang mirip sekali dengan telinga keledai. Tak lama setelah delapan mahluk munculkan diri didelapan sudut telaga.

Tiba-tiba saja terdengar suara aneh dari balik kuncup bunga teratai raksasa yang mengambang ditengah telaga.

"Delapan Penjelajah Kelam. Kalian datang sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan. Tapi sebagai penjaga telaga warna, kalian tidak termasuk salah satu dari orang yang diberi izin untuk meninggalkan tempat ini. Dari dulu, sekarang bahkan sampai waktu yang tidak terbatas kalian telah ditakdirkan tetap berada disini menjadi penjaga yang setia tanpa keluh kesah."

Delapan mahluk berujud anjing yang ternyata biasa disebut Penjelajah Kelam saling pandang.

Cahaya biru menyala terang dari mata masing-masing, tubuh bergetar sementara dari mulut terdengar suara lolong kecewa.

"Tak perlu kecewa, apalagi marah. Mungkin disuatu saat nanti giliran kalian akan tiba. Kalian bisa saja terbebas dari segala kutuk kemalangan yang dijatuhkan para dewa atas jalan hidup yang keliru dimasa lalu. Jangan berkecil hati. Jalani saja takdir hidup ini."

Lagi-lagi terdengar suara dari balik kuntum bunga teratai. Delapan mahluk serentak merunduk. Seolah pasrah mereka bungkukan kepala dalam-dalam.

Lalu dari setiap mulut sama keluarkan suara lolongan panjang. Mendengar suara lolong Delapan Penjelajah Kelam, dari balik kuntum teratai di tengah telaga terdengar ucapan.

"Hormat kalian telah kuterima. Aku Danyang Sepuh, tetua dari segala peri dan Danyang yang ada di bumi mendoakan agar para dewa berkenan mengurangi masa hukuman kalian yang berat."

"Auuung!"

Delapan mahluk berbulu hitam mirip anjing menanggapi dengan lolongan panjang.

"Kalian boleh pergi. Saat ini aku ingin bicara dengan Kabut hitam pemimpin dari kalian semua.

Perintahkan padanya untuk segera datang padaku sekarang juga!" Kata suara dibalik kuntum bunga teratai raksasa.

Delapan mahluk hitam berujud anjing besar keluarkan suara menggereng. Delapan mulut sama terbuka lalu keluarkan suara lolong panjang menggidikan.

Lolongan lenyap.

Ketika semua mahluk-mahluk itu menggoyangkan tubuhnya. Wuus!

wuust!

Delapan mahluk lenyap seketika berubah menjadi kepulan asap tipis berwarna hitam. Kepulan asap bergulung-gulung memenuhi udara lalu menguap bagaikan embun dipagi hari. Kesunyian mencekam kembali menyelimuti telaga.

Tapi suasana mencekam tidak berlangsung lama.

Suara raung dan lolongan merobek sunyi. Angin bertiup kencang.

Dari arah selatan telaga mendadak terdengar pula suara bergemuruh selayaknya suara mahkluk besar dan berat berlari kencang.

Semakin dekat suara langkah bergemuruh memasuki kawasan telaga ,disekeliling telaga berguncang keras. Karena guncangan pada permukaan tanah semakin menghebat, sayup-sayup terdengar suara seruan dari kuncup bunga teratai yang berada di tengah telaga itu

"Kabut hitam.Jangan membuat kekacawan d daerah kekuasaanku.Suara langkah kakimu menimbulkan rasa tidak suka dihati para danyang yang lain."

"Hauuung! Maafkan saya danyang sepuh yang berdiam menetap di kuncup bunga teratai kesayangan dewa.Saya ingin menghadap Danyang Sepuh sebagaimana yang diperintahkan!" sahut satu suara serak melengking.

"Datanglah.Aku ingin bicara. Ada sesuatu yang sangat penting hendak ku sampaikan padamu!" kata suara di balik kuncup teratai.

Secepat kilat menyambar. Entah dari mana datangnya.

Di selatan telaga tiba-tiba muncul sosok hitam berupa seekor anjing bertubuh tinggi besar seperti kuda.

Dibandingkan delapan mahluk yang muncul sebelumnya mahluk yang kini berada ditepi telaga itu jauh lebih angker dengan mata merah laksana bara.

"Danyang Sepuh. Saya telah berada disini menunggu!"

Kata anjing hitam besar dan ternyata mahluk ini bisa bicara. Di tengah telaga terdengar suara gumam lirih.

Empat daun teratai besar bergetar.

Bagian kuntum bunga yang berada diantara empat daun menggeliat, kuncup merekah sedangkan kelopaknya mengembang.

Ketika seluruh kelopak dari kuntum bunga teratai besar mengembang sepenuhnya. Saat itu pula tercium bau harum bunga yang khas.

Bagian bunga yang terbuka berwarna putih berkilau. Anjing hitam besar menguik perlahan.

Kepala dibungkuk dan dijulurkan ke depan.

Dua kaki ditekuk menjura ke arah bunga teratai di tengah telaga itu. Begitu kepala sang anjing membungkuk dalam. Pada waktu yang sama di atas teratal putih yang besarnya tidak kurang dari ukuran tampah penampi padi duduk diam seorang perempuan cantik berpakaian serba putih berambut panjang tergerai.

Perempuan cantik yang usia sebenarnya lebih dua ratus tahun itu dalam keadaan duduk bersila, mata terpejam sedangkan dua tangan dirangkapkan di depan dada.

"Nyai Watuk Uban Seribu. Saya Bulan Perindu yang juga dikenal dengan sebutan Kabut Hitam siap menerima petunjuk darimu. Terimalah hormatku!"

Kata Anjing besar itu dengan suara lebih lirih dan bergetar. Gadis cantik di atas bunga teratai membuka matanya.

Begitu kepala mengangguk dan dua tangan yang berada di atas dada diturunkan ke bagian lututnya. Seketika itu pula dari sekujur tubuh memancarkan cahaya putih benderang menyilaukan mata. Sang anjing yang merupakan mahluk jejadian jelmaan dari seorang gadis sakti bernama Bulan

Perindu terkesiap.

Dia kembali bangkit lindungi dua matanya dari pancaran cahaya terang dengan kedua kaki depan sambil keluarkan suara raungan hebat

"Ampun Danyang Sepuh. Saya tidak akan mampu berada disini lebih lama .Tubuhku bisa hancur menjadi kepingan bila tubuhmu terus memancarkan cahaya suci Restu Dewa."

Gadis jelita yang duduk di atas bunga teratai seolah baru tersadar lalu buru-buru menghembuskan nafas dalam.

Begitu nafas dihembuskan dari lubang hidungnya yang bangir mengepul kabut tipis berwarna putih menebar bau wangi semerbak. Kabut Hitam merasakan seolah dirinya berada disebuah taman bunga yang luas.

Sementara itu cahaya yang memancar dari sekujur tubuh Danyang Sepuh meredup dengan sendirinya sesuai dengan hembusan nafas sang Danyang.

"Bagaimana perasaanmu Kabut Hitam?"

Bertanya Danyang Sepuh setelah keheningan sempat mengambang dikawasan telaga itu.

Kabut Hitam sang mahluk berujud anjing besar keluarkan suara menggereng lirih, angkat kepala lebih tinggi dan menatap ke tengah telaga sekaligus anggukan kepala.

"Saya baik-baik saja Danyang Sepuh.Aroma bunga terasa menyejukkan hati, membuatku serasa berada di swargaloka. Namun semua ketenteraman hati belumlah sempurna selama diriku berada dalam ujud seperti ini."

Terang Kabut hitam

"Apa yang kau inginkan?"

Tanya gadis diatas bunga teratai.

"Kebebasan, Kebebasan dari karma dan kutuk serta niat ingin kembali pada ujud yang sesungguhnya. Serta tidak menjadi mahluk hina dalam ujud dan rupa seperti ini."

Kata Kabut Hitam dengan suara lirih memelas. Danyang Sepuh dongakkan kepala menatap ke langit. Di langit bulan purnama bersinar penuh.

Langit biru diwarnai kerlip bintang. Sang danyang menghela nafas dalam.

Perlahan perhatiannya tertuju pada anjing besar  yang  duduk mendekam di tepi telaga.

"Yang terlihat rendah belum tentu hina. Yang mulia bukan berarti tidak hina. Berkeluh kesah tidak menyelesaikan masalah. Jalani hidup sesuai kehendak sang takdir. Kau pasti tidak akan lupa, Kabut Hitam! bahwa karma dan kutuk yang menimpa dirimu terjadi karena ulah dan kesalahanmu sendiri. Sekarang aku ingin bertanya padamu. Apakah kau masih ingat musibah yang telah membuatmu menjadi seperti ini?"

Tanya Danyang Sepuh. Kabut Hitam tundukan kepala. "Saya masih ingat Danyang Sepuh."

Jawab Kabut Hitam. Sang anjing diam sejenak seakan merenung namun kemudian cepat merenungkan ucapannya.

"Awalnya saya merasa sebagai orang yang paling sakti dan menjadi orang yang selalu ingin tahu segala rahasia. Kemudian dengan kesaktian yang saya miliki saya pergi ke langit, berkeinginan ingin mengetahui rahasia pembicaraan para dewa terhadap kehidupan di bumi.Para dewa mengetahui kehadiran saya. Lalu bukan keinginan yang saya dapatkan, sebaliknya saya malah menuai celaka.

Bukan hanya itu. Beberapa kesaktian saya termasuk kekuatan saya terbang menembus tiga lapis langit dimusnahkan para dewa Kembali ke bumi dalam keadaan dikutuk."

"Bagi saya hanya melahirkan penyesalan yang panjang." Kata kabut hitam dengan mata berkaca-kaca.

"Sekarang agaknya kau telah sadarkan diri diatas langit masih ada langit.Diatas ilmu diatas kesaktian masih ada kesaktian yang jauh lebih tinggi lagi. Engkau hanyalah seorang manusia. Kau telah membuktikan sendiri walau kau mempunyai ilmu serta kasaktian tak tertandingi. Menentang takdir apalagi menentang kehendak yang maha kuasa justru merupakan awal kehancuran bagi dirimu sendiri,"

Ujar Danyang Sepuh

"Ampun Danyang Seput segala yang engkau katakan kiranya kebenaran yang mustahil saya bantah. Saya telah hancur, saya merasa tidak suka dalam keadaan seperti ini. Kalau boleh meminta saya ingin menjadi diri saya sendiri. Saya merasa berat hidup dalam keadaan seperti ini."

Keluh Kabut Hitam

"Keluh kesahmu didengar. Tapi kau tidak benar-benar hancur sebagaimana yang kau katakan." "Saya tahu. Tapi saya sangat merasakan alangkah beratnya menjalani hidup dalam rupa dan ujud

berbeda."

"Setelah karma dan kutuk sumpah kau jalani sekian lamanya. Sekarang apa yang kau inginkan?"

Tanya Danyang Sepuh sambil menatap tajam pada Kabut Hitam

"Maafkan saya Danyang Sepuh. Saya ingin terbebas dari kutukan yang membuat diri saya menjadi seperti ini. Tujuh puluh tahun saya hidup dalam kutukan.Dalam ujud seperti ini berusia panjang apa gunanya?"

"Hidup selalu punya makna dan tentu saja berguna setidaknya bagi diri sendiri. Namun harus dingat, untuk kembali menjadi manusia biasa dan terbebas dari kutukan bukanlah jalan yang mudah." "Apapun caranya jika semua itu menjadi jalan bagi saya kembali ke kehidupan saya yang dulu pasti akan saya lakukan."

"Apakah kau benar-benar ingin terlepas dari segala derita kutukan yang membuat dirimu menjadi anjing penghuni kegelapan itu?"

"Tentu saja Danyang Sepuh. Dalam rupa seperti sekarang membuat hidup saya seperti berada dalam kerangkeng baja. Walau saya ditakuti dalam keadaan seperti ini namun saya tetap menderita."

Danyang sepuh anggukan kepala. Bibirnya yang indah tersenyum, namun tatap mata memperlihatkan rasa prihatin yang mendalam. Dengan sikap yang bijaksana namun terkesan sangat hati-hati, Danyang Sepuh kemudian membuka mulut berucap.

"Untuk terbebas dari  segala  kutuk yang terjadi  padamu.  Ada  sembilan syarat  penting  yang harus kau jalani. Disamping sembilan syarat menuju kebebasanmu kau juga harus meninggalkan tiga larangan utama."

"Sembilan syarat dan  tiga  larangan?" desis  Kabut Hitam.

"Apakah aku boleh mengetahui apa yang sembilan dan apa tiga larangan yang harus aku jalani." "Tentu."

Sahut Danyang Sepuh sambil anggukan kepala.

"Tiga larangan yang diwajibkan padamu. Pertama kau harus melenyapkan segala kebencian dihatimu atas segala apa yang terjadi padamu. Bila kebencian mampu kau singkirkan dari lubuk hati, maka yang kelak tumbuh dalam jiwamu adalah rasa kasih dan sayang kepada siapa saja sesama mahluk hidup. Larangan yang kedua. Hilangkan rasa sombong dan rasa tinggi hati dari dalam jiwamu. Dengan begitu kau dapat melihat kebenaran dan arti hidup yang sebenarnya. Larangan ke tiga kau tidak boleh lagi datang apalagi memasuki kawasan hutan Ciandur juga telaga warna ini, terkecuali delapan pengawal berwujud sepertimu. Sesuai dengan ketentuan nasib, mereka tetap menjadi penjaga telaga warna sepanjang sisa hidup mereka."

Mendengar larangan yang disebutkan terakhir oleh  Danyang Sepuh.

Sepasang mata Kabut Hitam yang merah menyala mendelik besar. Tanpa dapat menyembunyikan rasa kejutnya.

Anjing hitam itu membuka mulut ajukan pertanyaan.

"Mengapa saya tidak boleh lagi datang kemari. Engkau sendiri tahu selama ini hidupku sangat tergantung petunjuk darimu. Tanpa bimbinganmu mungkin aku semakin jauh dalam kesesatan. Aku menjadi buas, ganas, liar dan senantiasa haus darah."

"Kehidupan selalu mempunyai dua sisi. Sisi buruk, sisi baik, sisi gelap dan sisi terang. Kau harus pandai memilih mana yang kau anggap baik bagi dirimu juga bagi orang lain."

"Apapun alasanmu Danyang Sepuh. Bagiku pantangan yang ke tiga adalah sebuah keputusan yang sulit. Rasanya aku tidak akan menerimanya." "Kalau begitu sampai akhir hayatmu kau tak akan bisa terlepas dar ­ kutukan. Padahal kau sangat ingin menjadi manusia kembali sebagaimana sebelumnya." kata Danyang Sepuh tegas.

Kabut Hitam diam membisu Seakan tidak percaya dia menatap gadis jelita yang duduk diatas bunga teratai itu.

"Aku tahu hatimu diliputi rasa ragu dan kebimbangan. Jika kau tetap merasa berat hati. Aku tidak mau memaksa."

"Tidak! Kau harus mengatakan sembilan syarat yang harus saya lakukan Danyang Sepuh. Aku tidak ragu lagi. Dan aku tetap ingin bebas dari segala kutuk yang menimpa diriku."

Danyang Sepuh menghela nafas pendek. Bibir mengulum senyum namun dengan bersungguh- sungguh dia berujar.

"Sembilan syarat yang harus kau kerjakan tidak semuanya kusebutkan saat ini. Nanti bila satu tugas berhasil kau selesaikan dengan baik, aku yang akan datang menemuimu dan mengatakan syarat berikutnya yang harus kau penuhi.Untuk sekarang ini, cukup dua syarat yang harus kau kerjakan."

Walau dalam hati Kabut Hitam merasa kurang setuju dengan penjelasan Danyang Sepuh, dia tak berani membantah.

"Katakan dua syarat yang harus kupenuhi itu?" desak Kabut Hitam tidak sabar.

"Syarat ini sebenarnya berupa dua tugas penting. Bila kau dapat melakukannya dengan baik maka kau punya hak untuk menerima syarat yang ke tiga dan seterusnya."

"Katakan saja mudah-mudahan aku bisa memenuhi tugas itu."

"Hmm, baiklah. Terus terang aku yakin kau tahu saat ini sebuah bencana besar sedang terjadi di dunia persilatan dan khususnya di istana Malingping. Bencana yang kumaksud ini ada hubungan dengan munculnya seorang pangeran sesat yang pernah mati terkubur seribu tahun yang lalu di laut dalam tak jauh dari pulau Karang Hantu... "

Sebelum Danyang Sepuh sempat menyelesalkan ucapannya. Kabut Hitam tiba-tiba memotong dengan berkata.

"Tentang riwayat Bagus Anom Aditama yang juga dikenal dengan sebutan Pangeran Durjana saya telah mengetahuinya. Danyang Sepuh. Bukankah pangeran sakti itu menemui ajalnya karena perbuatan mesumnya dengan adik kandung sendiri. Dan gadis yang kumaksudkan itu bernama Puteri Atut. Dua-duanya telah dihukum oleh Ibundanya sendiri Ratu Tria Arutama penguasa istana suci di pulau Rakata. Seribu tahun adalah waktu yang lama. Tapi sesuai dengan sumpahnya sebelum ajal merenggut nyawa sang pangeran kini telah bangkit dari kematiannya,dia tidak hanya sekedar bangkit. Bersama mahluk pengawal yang bernama Lebah Kepala Hati Berbunga, pangeran Durjana menyusun kekuatan baru. Dia ingin membalas dendam pada semua keturunan Ratu Arutama yang bukan lain adalah ibu kandungnya sendiri. Saya telah menyelidiki. Saya tahu bahwa raja istana Malingping yaitu prabu Tubagus Kasatama termasuk salah satu keturunan ratu dari istana suci itu. Semua itu tidak membuat saya merasa heran. Yang membuat saya tidak mengerti. Ribuan lebah yang menjadi pengawal  Pangeran  Durjana telah  membunuh  orang-orang yang tidak  berdosa. Dan anehnya lagi setiap gadis yang tersengat oleh lebah-lebah itu. Mereka berubah menjadi linglung, hilang rasa malu dan bertingkah seperti selayaknya wanita yang ingin bercinta. Apa yang terjadi dengan mereka?"

Tanya Kabut hitam lalu menatap tajam ke arah Danyang Sepuh di tengah telaga.

"Bagus. Semua yang kau katakan memang benar adanya. Mungkin ada beberapa hal yang harus kujelaskan padamu. Bahwa semua gadis yang menjadi korban sengatan lebah aneh itu pada akhirnya akan jatuh dalam pelukan pangeran Durjana. Dengan sukarela dan penuh kepasrahan mereka menyerahkan diri pada pangeran itu untuk diajak bercinta. Dengan bantuan dan kuasa kegelapan gadis-gadis itu segera mengalami kehamilan begitu hubungan selayaknya suami istri berakhir. Para gadis hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk melahirkan. Anak-anak yang terlahir segera tumbuhnya selayaknya bocah seusia dua tahun dalam waktu dua hari. Bocah-bocah iblis itulah yang akan membantu Pangeran Durjana dalam melenyapkan setiap musuh dan orang-orang yang dia benci. Bila Bocah Bocah Iblis setiap hari terus bertambah sesuai dengan banyaknya gadis yang melahirkan, bukan cuma istana Malingping saja yang musnah. Dunia persilatan akan hancur dan seluruh permukaan bumi bisa menjadi daerah kekuasaan baru bagi Pangeran Durjana."

Terang Danyang Sepuh.

"Aku tidak perduli dengan prabu Tubagus Kasatama dan kekuasaannya. Namun aku merasa tidak rela bila dunia persilatan berada dalam cengkeraman pangeran sesat itu. Tapi mengingat betapa dahsyat kekuatan yang dimiliki oleh Pangeran Durjana, para lebah juga bocah-bocah haus darah itu. Rasanya aku sendiri tak bakal dapat memenuhi syarat yang kau ajukan Danyang Sepuh."

"Semua yang kuceritakan padamu serta apa yang kau ketahui tentang pangeran Durjana bukan syarat pertama. Melenyapkan mereka tugas kedua atau syarat kedua yang harus kau penuhi."

"Kalau begitu apa syarat atau tugas pertama yang harus aku lakukan?" Tanya Kabut Hitam tidak sabar.

"Tugas pertamamu adalah menemukan seorang pemuda bernama Raja. Pemuda itu juga dikenal dengan sebutan Raja Gendeng berjuluk Sang Maha Sakti, Walau tingkah lakunya seperti orang kurang waras. Namun hanya dia satu-satunya orang sakti berkepandaian tinggi yang dapat membantu menyelesaikan urusan besar ini."

"Seorang pemuda bernama Raja dan gendeng pula. Bagaimana orang seperti itu bisa diharapkan bantuannya?"

Kata Kabut Hitam tampak ragu.

"Jangan memandang rendah pemuda itu .Selusin mahluk hebat sepertimu belum tentu sanggup melukainya.Dia bukan pemuda sembarangan. Selain sakti pemuda itu juga masih keturunan dara biru. ayahnya, Prabu Sangga Langit adalah seorang raja di istana Pulau Es."

"Pulau Es? Rasanya aku pernah dengar tentang pulau terpencil yang berada di tengah laut selatan itu." desis anjing hitam raksasa kaget

"Bagus. Apakah kau juga pernah mendengar sebuah senjata sakti. Senjata itu adalah raja dari segala pedang yang pernah ada di dunia persilatan ini."

Tanya Danyang Sepuh. Kabut Hitam anggukkan kepala.

"Ya. Kudengar dulu prabu Sangga Langit punya senjata sakti luar biasa berupa pedang aneh bernama Pedang Gila."

"Yang kau dengar tidak berlebihan. Senjata itu sekarang ada pada Raja Gendeng." terang Danyang Sepuh.

"Danyang Sepuh. Aku kagum padamu. Saya tahu kau tak penah pergi kemana-mana. Tapi diluar dugaan kau banyak menyirap kabar diluar sana"

"Kau tak usah memuji Kabut Hitam. Lebih baik cari pemuda itu. Temui dia." "Bila telah bertemu apa yang harus aku lakukan?"

"Bila bertemu, kau dan dia harus saling bantu dalam melenyapkan Pangeran Durjana dan para pengikutnya."

"Tapi... aku tidak  yakin dia  bisa merima kehadiranku.  Mahluk  dalam ujud sepertiku  tak  pantas bertemu dengannya." kata Kabut Hitam lirih sambil tundukkan kepala.

Melihat sikap Kabut Hitam yang berubah rendah diri, Danyang Sepuh pun tak kuasa menahan tawanya. Sambil tertawa dia berujar.

"Pemuda itu tidak pernah tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Keadaan, ujud maupun penampilanmu masih jauh lebih baik dibandingkan dengan kura-kura atau monyet lutung.Bersahabat dengan lutung saja pemuda itu mau. Rasanya tak mungkin dia menolak kehadiranmu."

"Lalu kemana aku harus mencari pemuda itu .Bagaimana ciri-cirinya?"

"Pergilah ke arah utara, lurus-lurus saja jangan belak-belok seperti ular berjalan." Terang Danyang Sepuh.

Selanjutnya gadis jelita itu pun menjelaskan bagaimana ciri-ciri Raja.

Tak lama setelah sang Danyang menerangkan segala sesuatunya tentang Raja. Kabut Hitam pun akhirnya berkata.

"Walau berat rasanya aku berpisah denganmu Danyang. Namun demi kebebasan diri dari segala bentuk kesengsaraan hidup yang selama ini menggangguku. Aku akan pergi memenuhi syarat pertama dan kedua. Sekarang aku mohon diri!"

Kata Kabut Hitam.

"Pergilah wahai gadis malang. Restuku kepadamu mencakup segala kebaikan yang ada di bumi. Semoga kau berhasil menjalankan setiap tugas hingga sembilan syarat yang diputuskan dewa agung kepadamu dapat kau selesaikan dengan sebaik-baiknya."

Kata Danyang Sepuh.

Kabut Hitam anggukan kepala.

Dua kaki depan bergerak turun ke bawah kepala merendah. Begitu dagu mahluk itu menyentuh tanah.

Tiba-tiba saja. Dess!

Dess!

Terdengar suara letupan disertai kepulan kabut hitam.

Sosok Kabut Hitam mendadak raib tidak meninggalkan bekas. Hanya kepulan kebut yang tertinggal.

Kabut menebar kesegenap penjunu lalu lenyap dari pandangan.

Di atas kelopak bunga teratai besar itu si gadis jelita Danyang Sepuh menghela nafas panjang. Matanya yang bening indah menerawang ke arah lenyapnya Kabut Hitam.

Kemudian dengan suara merdu menyejukkan namun bergetar Danyang Seputh menggumam. "Gadis sakti yang malang. Kini aku tahu, sehebat dan sesakti apapun manusia tidak mungkin

bisa menandingi kuasa pemilik alam semesta. Kuharap kau bisa memetik setiap hikmah dari kutukan dewa yang menimpa dirimu. Aku berdoa semoga kelak kau dapat menunaikan semua syarat yang telah ditetapkan untukmu. Hanya dengan memenuhi sembilan syarat itu kau bisa kembali pada jati dirimu sebagai manusia!"

Setelah berkata begitu bibir merah mungil Danyang Sepuh terkatub. Dua tangan yang diletakan diatas lutut bergerak naik dan dirangkapkan ke depan dada..

Dengan mata terpejam dalam dia berkata.

"Teratai Suci yang diberkati para dewa. Tutup pintu dan jendela. Kembali ke dasar telaga. Aku ingin melanjutkan tapaku"

Terdengar suara desiran halus. Aroma harum semerbak menyejukkan hati menebar kesegenap penjuru telaga. Bunga teratai besar dan empat daun yang menyertai kemunculannya bergetar.

Bunga teratai yang mekar tiba-tiba bergerak menguncup dan menutup dengan sendirinya membungkus sosok Danyang Sepuh tak ubahnya seperti bayi yang kembali ke dalam kandungan ibunya.

Begitu Danyang Sepuh terbungkus kuncup teratai itu. Secara perlahan namun pasti daun- daun dan bunga teratai raksasa menenggelamkan diri ke dalam telaga.

Blep! Byar! Teratai raksasa lenyap. Air diseluruh penjuru telaga bergolak hebat tak ubahnya seperti belanga raksasa yang mendidih. Tapi segala yang terjadi tidak berlangsung lama. Gejolak air di seluruh telaga perlahan menjadi surut, tenang dengan sendirinya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Lalu kesunyian kembali menyelimuti telaga itu.

*****

Bangunan luas yang tersembunyi dibalik kerimbunan pohon daun serta semak belukar itu berbentuk bundar melengkung seperti pelangi.

Dibangun oleh kawanan lebah pekerja sekaligus pengawal Pangeran Durjana dalam waktu satu malam. Dinding yang berwarna hitam kecoklatan terbuat dari kotoran sapi dan lumpur hitam tak ubahnya seperti kawanan lebah dalam membentuk sarangnya.

Siang dan malam si bundar mirip sarang lebah dijaga oleh sekelompok lebah penjaga paling bengis dan paling mematikan. Mengingat pintu bangunan cuma satu berbentuk bulat seukuran tubuh orang dewasa.

Tidak sembarang mahluk dapat keluar masuk ke dalamnya. Pangeran Durjana sendiri memberi nama tempat tinggalnya sebagai Istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta.

Matahari senja belum lagi beranjak ke bilik peraduannya ketika hujan gerimis turun rintik- rintik.

Dalam bangunan bundar suasananya hingar bingar jauh berbeda dengan keadaan diluar yang sunyi mencekam.

Ratusan Lebah Kepala Hati Berbunga nampak sibuk membangun bilik-bilik kamar baru dalam ukuran yang sangat besar. Kegunaan bilik yang dibangun oleh kawanan lebah itu adalah untuk membesarkan setiap bayi yang baru saja dilahirkan oleh para  gadis yang pernah bercinta dengan sang pangeran.

Walau Pangeran Durjana tinggal menetap di dalam bangunan yang sama. Namun kamar yang ditempatinya jauh agak terpisah dari tempat pembesaran anak-anaknya. Melihat perkembangan dan kelahiran bayi- bayi baru yang terlahir dari para gadis yang diculiknya.

Pangeran Durjana merasa lega. Tapi segala apa yang dia capai belum memuaskan hatinya.

Tidaklah mengherankan. Ketika hari beranjak malam, Pangeran Durjana menemui dua orang kepercayaannya yang tak lain adalah sepasang suami istri yang dikenal dengan julukan Sepasang Naga Pamabokan.

Sebagaimana julukannya, sepasang suami istri ini memang dikenal sebagai dua tokoh sakti dari seberang, menguasai banyak ilmu serta jurus silat yang bersumber dari kitab Dewa Naga .

Walau tidak pernah menyukai tuak, namun setiap kali bicara. Sepasang Naga Pamabokan sering bicara melantur tak karuan kejuntrungannya tak ubahnya seperti orang mabok.

Berjalan disepanjang lorong dipenuhi bilik berbentuk bundar tak ubahnya seperti candi. Pangeran Durjana merasa enggan. Dia hentikan langkah. Mata jelalatan menatap keseluruh penjuru ruangan yang diterangi cahaya merah redup.

Kemudian tanpa menghiraukan lebah-lebah yang beterbangan memenuhi langit-langit ruangan dia berseru.

"Kepada dua pembantu sekaligus tawananku yang bernama Aki Kolot Raga dan istrinya Nini Burangrang. Harap segera menghadap dan menemui di ruangan pertemuan Kedipan Nyawa."

Kata sang pangeran.

Setelah berkata begitu dia balikan badan.

Tiga mahluk besar berujut sosok lebah raksasa tanpa diminta bergerak mendatang menyambar Pangeran Durjana dan menerbangkannya menuju ruangan yang disebutkan sang pangeran .Tidak berselang lama tiga lebah besar yang menggotong sekaligus membawa pemuda itu terbang ke ruangan yang dituju memasuki ruangan besar serba merah.

Setelah menurunkan junjungannya dengan gerakan yang lembut, tiga lebah raksasa bergerak keluar meninggalkan ruangan itu.

Sang pangeran menuju ke sebuah kursi besar berlapis beludru merah bersandaran tinggi.

Sedangkan di kanan kiri lengan kursi terdapat masing-masing sebuah tongkat berwarna kemerahan.

Pada kepala tongkat yang satu terdapat ukiran bersimbol ratu lebah berkepala merah, bersayap dan bertubuh hitam.

Sedangkan pada tongkat yang berada disisi kiri tangan kursi terdapat ukiran bersimbol hati dan kuda jantan yang sedang meradang.

Selain kedua benda sakti itu.

Di dalam ruangan terdapat beberapa perabotan juga sebuah kolam kecil berisi madu.

Konon setiap gadis culikan yang menolak diajak bermain cinta oleh sang pangeran bila diberi madu dari kolam madu itu berubah menjadi penurut bahkan semangatnya jadi bergelora.

Seorang kakek berpakaian serba hitam bercelana selutut bersenjata tongkat, berkumis dan berambut putih memakai topi kupluk(kopiah), memasuki ruang itu.

Dia bukan lain adalah Aki Kolot Raga.

Dia tidak datang sendiri. Mengiringi dibelakang si kakek seorang nenek bertubuh bungkuk, berkulit putih bersih berambut hitam dan putih.

Nenek yang masih terlihat cantik walau usianya hampir enam puluh tahun itu memakai pakaian kebaya berwarna biru polos.

Dengan rambut disanggul, penampilannya nampak lebih muda dibandingkan kakek yang menjadi suaminya. Begitu memasuki ruangan dan duduk di depan Pangeran Durjana, pasangan aki dan nini yang juga dikenal dengan Naga Pamabokan ini tak lagi berani mengedipkan matanya.

Mereka sadar sesuai dengan namanya yaitu Ruang Pertemuan Kedipan Nyawa.

Berani mengedipkan mata berarti nyawa mereka tak bakal terselamatkan lagi. Untuk sekedar diketahui.  

Ruang Pertemuan Kedipan Nyawa memang mempunyai sebuah keanehan yang sulit untuk dipahami.

Siapa saja yang berada disana termasuk Pangeran Durjana sendiri harus mementang matanya tanpa boleh berkedip sekalipun ika larangan dilanggar maka orang tersebut bakal menemui ajal secara mengenaskan.

Tubuh hangus dihantam mata bercahaya yang muncul tiba-tiba di tempat itu tanpa anggota tubuhnya yang lain.

Pangeran Durjana menyebut mata tunggal yang suka gentayangan dan sangat mematikan itu sebagai Mata Setan.

"Aku tidak punya banyak waktu untuk bicara dengan kalian!" Kata Pangeran Durjana.

Saat itu sang pangeran ada dihadapan Sepasang Naga Pamabokan bukan dalam rupa ujudnya semasa muda gagah tampan sebagaimana saat menemui para gadis calon korbannya.

Kini sang pangeran hadir didepan Sepasang Naga Pamabokan dalam rupa seperti ketika dia bangkit dari kematiannya.

Tidak mengherankan Nini dan Aki Kolot Raga sekarang justru melihat satu sosok menyeramkan berupa seorang laki-laki berwajah pucat, bermata putih tanpa warna hitam atau coklat ditengah mata, berpipi menonjol, berambut panjang menjulai berkulit keriput bertelanjang dada dengan sekujur tubuh dipenuhi lendir berwarna putih.

Melihat penampilan Pangeran Durjana yang tidak jauh berbeda dengan mayat hidup yang baru bangkit dari pendaman, lumpur kubur.

Baik Aki Kolot Raga maupun Nini Burangrang merasakan tengkuknya mendadak menjadi dingin. Dalam hati si nenek berkata.

"Sejak dulu sampai sekarang. Sedari muda hingga tua begini aku sering melihat pemandangan yang buruk dan jelek. Tapi pangeran yang satu ini keadaannya benar-benar tidak sedap untuk dipandang. Aku tidak perah tahu rupa aslinya seburuk itu. Yang sudah-sudah wajahnya tampan. Aku saja yang sudah karatan dan bau tanah hampir jatuh hati. Sekarang setelah aku melihat rupanya yang asli. Ah... rasanya lebih baik aku mati membunuh diri dari pada harus jatuh kepelukannya."

Baru saja si Nini bicara seperti itu di dalam hati. Tiba-tiba Pangeran Durjana palingkan kepala lalu memandang dengan mata mendelik. Dari mulutnya yang menjuntai pucat seolah mau jatuh dari atas dagunya itu berkata.

"Jangan bicara bila tidak kuminta. Meski hanya di dalam hati. Jaga sikap dan keselamatan diri.

Jangan pernah berkedip bila tidak ingin celaka!" "Nini memangnya kau bicara apa?" Tanya si kakek kaget. Nini Burangrang mendengus lalu palingkan kepala ke jurusan lain. "Jangan suka ikut campur urusan pe- rempuan." sahut Nini Burangrang ketus.

Patut diakui sepanjang hidup berdua sebagai pasangan suami istri.

Aki dan Nini ini memang kurang begitu akur, selalu beda pendapat dan tampak seperti orang yang saling bermusuhan.

Namun bila salah satunya tidak ada maka yang lainnya selalu merasa rindu. Mungkin inilah yang membuat mereka tak terpisahkan.

Didamprat oleh istri.

Aki Kolot Raga tersenyum masam.

Sambil bersungut-sungut dia membelai janggutnya.

"Dasar perempuan. Tak ada disampingku mencari-cari, begitu berdekatan malah menjadi duri. Dasar apes nasib diriku ini, bidadari yang selalu kumimpi yang menjadi istri malah yang kudapat kuntilanak kubur pulang pagi."

Gerutu Aki Kolot Raga cemberut.

"Kalian dengar.Jangan lagi ada yang menggerutu walau didalam hati."

Hardik Pangeran Durjana membuat Nini Burangrang melirik pada pasangannya.

Sedangkan Aki Kolot Raga diam- diam kaget tak menyangka sang pangeran tahu apa yang dikatakan di dalam hatinya.

Buru-buru si kakek menjura.

Setelah menjura hormat Aki Kolot angkat kepala dan menatap pangeran angker yang tetap duduk di kursi kebesarannya.

"Pangeran. Apapun yang hendak pangeran sampaikan pada kami. Kami berdua sudah tidak sabar lagi untuk mendengarkannya"

"Saya juga pangeran. Setiap waktu kami siap bekerja sama denganmu. Karena itu jangan pernah sungkan, jangan pernah menganggap kami tawananmu. Kami merasa nyaman hidup di dalam Istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta ini."

Timpal si nenek tidak mau ketinggalan.

Pangeran Durjana dongakkan kepala lalu tertawa tergelak-gelak .Begitu sang pangeran mengumbar tawa bergelak.

Aki Kolot Raga yang jauh di lubuk hatinya menyimpan sejuta amarah dan kebencian miringkan bokongnya.

Lalu... Bess! Bess!

Tidak ada suara aneh yang terdengar dari bagian tubuh Aki Kolot sebelah bawah. Tapi apa yang dilakukan kakek itu membuat Nini Burangrang yang duduk menjelepok diatas permadani merah delikkan mata ke arah Aki Kolot

"Kakek keparat tak mengenal peradatan.Buang angin tidak bilang-bilang. Mana bau busuk lagi.

Dasar tua bangka jorok" damprat Nini Burangrang melalui ilmu mengirimkan suara.

"Aduh,mati aku. Yang kutuju bukan kau tapi pangeran yang sedang tertawa itu. Tak kusangka kau yang kena. Maafkan aku. Lagi pula bukan cuma aku tua bangka ini saja suka yang jorok. Tidak lelaki tidak perempuan kurasa memang suka. Klek Klek Klek!"

Kata si kakek sambil tertawa di dalam hati.

Selagi Sepasang Naga Pamabokan tengah bersitegang dengan sesamanya. Sebaliknya Pangeran Durjana tiba-tiba hentikan tawa.

Sepasang mata putih tanpa titik hitam dibagian tengahnya memandang dengan mata mendelik ke arah Aki Kolot dan Nini Burangrang

"Kakek dan nenek jahanam! Seandainya aku tahu ternyata kalian hanya dua tua bangka sinting dan konyol. Aku tidak akan menangkap kalian. Mungkin malam itu sebaiknya aku menghabisi kalian saja. Siapa yang kentut?"

Hardik sang pangeran.

Nini Burangrang tercekat, menatap ke arah sang Pangeran sejenak namun begitu melihat mata putihnya berubah merah karena marah menahan kemarahan .Nini buru-buru tundukkan kepala.

Berbeda dengan Aki kolot Raga.

sadar dirinya bersalah, tanpa rasa takut dia malah acungkan ibu Jarinya ke atas

"Maafkan saya pangeran. Saya memang lagi sakit perut. Ada angin yang terus mendesak ke bawah. Kalau tidak saya keluarkan, tubuh saya ini bisa panas dingin. Setelah keluar dari pada ribut sebaliknya pulangin."

Mendengar ucapan Aki Kolot yang terkesan mengejeknya. Pangeran Durjana bertambah berang.

Sambil kertakan rahang dengan suara menggeram Pangeran Durjana berkata.

"Kakek tua keparat! Segala kelakuan dan ucapanmu benar- benar menguji kesabaranku. Rupanya kau ingin cepat-cepat mampus! Baiklah! Kalau itu keinginanmu aku tak segan lagi mencabut nyawamu dan mengirim jiwa busukmu ke neraka paling jahanam"

Selesai dengan ucapannya, Pangeran Durjana secepat kilat angkat tangan kanannya.

Begitu tangan diangkat dari lima ujung jari hingga sampai kesiku bergetar keras dan memancarkan cahaya merah laksana bara.

Melihat tindakan yang dilakukan Pangeran Durjana.

Aki Kolot Raga terkesiap namun diam-diam alirkan tenaga sakti yang dia miliki ke bagian tangan dan ke dua kakinya. Sewaktu-waktu bila lawan menyerang dia sudah siap membela diri. Pangeran Durjana menyeringai siap menghabisi si kakek.

Namun disaat menegangkan seperti itu tiba-tiba Nini Burangrang melompat ke depan si Aki. Dengan sikap melindungi nenek cantik berkata.

"Pangeran! Saya memohon kemurahan hatimu. Jangan bunuh suamiku. Jika kau membunuhnya aku bersumpah tak akan lagi mematuhi perintahmu dan aku pasti akan membunuhmu!"

Pangeran Durjana tersenyum sinis membuat penampilannya yang dingin angker tambah menggidikkan

"Kau ingin membunuhku? Kalau kau mampu, kalian berdua tak mungkin menjadi tawananku!" kata laki-laki itu sinis

"Aku bukannya tak mampu. Tapi kau telah berlaku curang, menyerang kami dengan menggunakan kawanan lebah. Kurasa itu perbuatan pengecut!"

Dengus si nenek.

"Ha ha ha. Kau pandai bicara orang tua. Menurutku, dalam mencapai sebuah tujuan segala cara boleh dilakukan. Walau cara yang ditempuh, kau anggap sebagai tindakan pengecut!"

Kata sang pangeran

"Apapun alasanmu, kuharap kau tidak membunuhnya!" Pinta Nini Burangrang kesal.

"Hmm, begitu?"

Gumam Pangeran Durjana.

"Mengapa kau membelanya. Apakah kakek tua ini begitu berarti dalam hidupmu? Padahal kulihat kalian sering bertengkar. Sepertinya tidak ada kecocokan."

"Kalau tidak cocok ya dicocok-cocokan." sahut si nenek bersungut-sungut Seakan tidak mengenal takut. Aki Kolot Raga malah berkata.

"Sebenarnya bukan itu alasan istriku. Dia meminta agar pangeran mengampuniku karena dia tahu aku adalah suaminya yang paling awet. Lima belas suaminya terdahulu mati mendelik saat menunaikan hajat. Sedangkan aku selain awet yang terpenting adalah tahan lama. Ha ha ha!"

"Tua bangka bermulut kotor. Jaga ucapanmu!"

Teriak Nini Burangrang dengan wajah merah padam menahan malu .Sementara Pangeran Durjana sendiri agaknya merasa pusing melihat tingkah kedua kakek nenek didepannya.

Perlahan dia turunkan tangannya yang siap lepaskan pukulan sakti.

Perlahan warna merah membara ditangan kanan hingga kebagian lengan meredup lalu kembali seperti semula.

Pada saat itu sambil tetap duduk di tempatnya dia membentak.

"Diam kalian semua. Kalian sudah keterlaluan bertengkar seenak sendiri!" Aki dan Nini Burangrang terdiam. Si nenek merasa lega ketika melihat Pangeran Durjana batalkan niat untuk menghabisi suaminya.

"Pangeran, terima kasih atas kebijaksananmu!" Kata Nini Burangrang dengan perasaan lega.

"Kau tak perlu berterima kasih dan tak usah bergembira dulu. Kapan saja aku bisa melenyapkan kalian berdua. Tapi untuk sekarang... sebaiknya kalian dengar. Aku tidak ingin kalian mati saat ini..."

"Wah, apa? Jadi kematian kami di tunda? Wah bagus sekali, Berarti masih ada kesempatan bagi kami untuk melihat matahari esok. Dan yang lebih penting ada kesempatan bagiku untuk memadu kasih dengan istriku. Wow...luar biasa.." kata Aki Kolot Raga.

Tanpa perduli dia melirik istrinya., lalu tersenyum sambil julurkan lidah basahi bibir. "Tua bangka edan,"

Maki si nenek geram. Aki Kolot Raga tidak perduli dengan kemarahan istrinya. "Kakek gila. Hentikan segala kegilaanmu," hardik Pangeran Durjana marah.

Aki Kolot terdiam. Sedangkan Pangeran Durjana lanjutkan ucapannya.

"Kalian dua manusia sedeng. Seperti yang kukatakan kematian kalian memang kutunda. Namun sebagai imbalan atas penundaan itu kalian harus melakukan satu tugas penting untukku."

"Tugas apakah, Pangeran. Andai kami bisa melakukannya!" ujar Nini Burangrang .

Pangeran Durjana melirik ke arah Aki Kolot "Dibandingkan suamimu, kulihat kau sedikit lebih waras." Kata sang pangeran dingin.

"Begini...aku ingin kalian berdua pergi ke istana Malingping.Aku ingin kalian menghabisi prabu Tubagus Kasatama.Selain itu kalian harus membawa kedua puterinya kemari. Beberapa malam yang lalu aku gagal menangkap mereka karena seorang pemuda aneh bersenjata pedang menolong mereka."

"Pemuda yang pangeran sebutkan itu apakah kami boleh tahu bagaimana ciri-cirinya?" Tanya Aki Kolot Raga.

Pangeran Durjana tersenyum tipis membuat penampilannya tambah tidak sedap untuk dipandang. Sambil menembuskan nafas pendek, Pangeran Durjana lalu membuka mulut menjawab pertanyaan Ki Kolot.

"Walau hanya bayanganku saja yang kukirim untuk menangkap kedua puteri prabu Tubagus Kasatama, namun aku dapat mengatakan bahwa ciri-ciri pemuda itu antara lain.Dia memiliki tubuh tinggi tegap, berambut gondrong, berkulit bersih berwajah lumayan tampan tapi terlihat sinting.dia berpakaian putih bercelana hitam, dipunggungnya tergantung pedang aneh berangka emas."

"Siapakah namanya? Apakah mungkin dia punya julukan tertentu" tanya Nini Burangrang

"Soal nama dan julukan aku tidak tahu. Tapi kuakui dia sangat hebat, tenaga dalamnya tinggi, ilmu kesaktian yang dia miliki juga hebat.Dia juga menguasai jurus-jurus silat yang aneh dan sangat berbahaya. Seumur hidup sering aku mewakilkan urusanku dengan bayanganku. Selama ini segala urusan berjalan lancar. Tapi ketika bertemu dengan pemuda itu, tidak hanya kedua puteri itu yang gagal diboyong tetapi juga lima bayangan yang mewakili aku musnah."

"Dia memiliki ilmu yang dapat mengirimkan bayangannya sendiri. Aku yang pernah malang melintang di delapan penjuru angin belum pernah mendengar ada tokoh sakti yang dapat mengirimkan bayangannya sendiri untuk menghadapi lawan. Mahluk seperti apa pangeran Durjana ini? Mengapa kesaktiannya sangat tinggi sekali."

Pikir Aki Kolot. Selagi Aki Kolot Raga tenggelam dalam pikirannya. Nini Burangrang tiba-tiba bertanya.

"Selain membunuh raja, menculik kedua puterinya. Apa yang harus kami lakukan bila bertemu pemuda aneh itu, pangeran?"

"Aku ingin kalian menghabisinya. Aku tidak ingin dia menjadi batu sandungan dari semua rencanaku!"

Tegas Pangeran Durjana.

"Kalau itu keinginanmu, kami akan melakukan perintah pangeran!" Kata Nini dan Aki Kolot hampir bersamaan.

"Bagus. Jika kalian bisa melaksanakan semua tugas yang kuberikan dengan baik, kelak aku akan menjadikan kalian berdua sebagai patih dan panglima perangku!"

Kata sang pangeran.

"Oh terima kasih, kau sangat baik sekali pangeran."

Kata Nini Burangrang. Sedangkan Aki Kolot Raga dalam hati berkata.

"Pangeran culas. Siapa yang mau percaya dengan bualanmu. Aku yakin begitu tugas kami selesai, kau pasti akan menghadiahkan kami pada Bocah Bocah iblis sebagai santapan malam yang alot."

"Bagus! Kita telah mencapai kata sepakat. Sekarang kalian berdua boleh pergi!" Kata Pangeran Durjana.

"Baiklah. Terima kasih atas kepercayaan yang pangeran berikan. Kami mohon pamit!" Kata Nini dan Aki Kolot.

Keduanya lalu bangkit.

Setelah menjura hormat pada sosok angker didepannya kakek dan nenek itu segera balikan badan dan melangkah pergi.

Sesaat setelah Aki dan Nini itu lenyap dari pandangan, Pangeran Durjana segera memanggil sekelompok lebah penyerang.

Tidak lama setelah itu dari mulut sang pangeran terdengar suara siulan. Sedikitnya belasan lebah berukuran sebesar ibu jari datang mendekat. Mahluk-mahluk itu berputar ditengah ruangan lalu mengapung diketinggian sambil mengepakan sayapnya.

Melihat kehadiran belasan lebah, pangeran Durjana berkata.

"Aku ini tidak bodoh sebagaimana yang diperkirakan kedua orang tua itu untuk membiarkan mereka pergi tanpa ancaman. Karena itu wahai para lebah ikuti kakek dan nenek tadi. Awasi setiap gerak-gerik mereka. Bila mereka melalaikan tugas, kalian semuanya harus menghabisi mereka!

Sekarang kalian boleh pergi. Susul mereka! " kata Pangeran Durjana.

Belasan lebah ukuran besar keluarkan suara berdengung. Seakan mengerti ucapan pangeran Durjana. Tiba-tiba saja mereka memutar tubuh lalu...

Nguung! Wuus!

Seperti kilat menyambar, belasan lebah penyerang berkelebat tinggalkan ruangan itu disertai suara berdengung aneh menyakitkan telinga.

Pangeran Durjana tersenyum. "Semua rencana telah berjalan."

Katanya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Aku yakin dalam waktu yang tidak lama semua orang yang menjadi musuhku dapat kusingkirkan."

Sang pangeran kemudian terdiam. Dalam diamnya dia ingat dengan Bocah Bocah iblis yang dia utus untuk menghadang patih kerajaan juga Penujum Aneh Juru Obat Delapan Penjuru.

"Harusnya bocah-bocah itu sudah kembali. Aku tahu mereka telah berhasil melakukan tugasnya.

Rombongan kecil itu tewas terbantai. Hanya Penujum Aneh saja yang selamat. Tapi umurnya pasti tidak akan lama.Dia bakal mati akibat luka gigitan dan cabikan kuku beracun dari anak-anakku. Ha ha ha...!"

******

Duduk di depan Sang Maha Sakti Raja Gendeng.

Kakek berwajah merah berpakaian berupa rompi hitam tak terkancing dan bercelana hanya setinggi lutut terus saja meneguk tuaknya. Tindakan yang dilakukan si kakek berperut besar ini sudah barang tentu membuat Raja jadi tidak sabar.

Dengan mulut terpencong pemuda itu membuka mulut,

"Orang tua yang biasa disebut Dewa Mabok. Sebagai tamu rasanya kurang pantas bagiku bersikap tidak sopan, apalagi bila sampai mengatakan apakah aku harus menungguimu menghabiskan semua tuak dibumbung yang bergelantungan disekeliling pinggangmu. Seumur hidup aku tidak pernah melihat orang doyan minum tuak sehebat dirimu. Tapi aku tidak punya banyak waktu menemanimu minum sampai pagi dan pagi lagi..."

Si kakek yang sejak tadi asyik meneguk tuaknya tertegun.

Sambil memperhatikan Raja yang duduk dihadapannya, orang tua yang bukan lain adalah Dewa Mabok jauhkan bumbung tuak dari mulutnya.

Dengan lagak seperti orang bingung, Dewa Mabok ajukan pertanyaan.

"Eh orang gila. Aku sudah lupa apa sebenarnya yang ingin kau tanyakan.Seingat ku kau datang dan ingin menemani aku disini. Sayang...kau tak doyan tuak yang lezat ini. Sekarang tolong terangkan apa tujuanmu datang kesini?!"

"Kakek pikun. Mejajal ilmu kesaktian sudah kita lakukan. Lalu kau mengundangku masuk ke dalam pondok bututmu ini. Kukira kau mau mengatakan suatu rahasia penting yang berhubungan dengan Pangeran Durjana." kata Raja Gendeng kesal.

"Pangeran Durjana." gumam Dewa Mabok dengan kepala terangguk-angguk.

Kening si kakek berkerut seolah mengingat sesuatu. Tak terduga sambil tertawa dia menepuk keningnya.

"Ah...ya aku ingat. Aku tahu kau ingin mengetahui keinginan masa lalu pangeran yang pernah mati itu bukan?"

"Bukan cuma masa lalunya saja yang ingin kuketahui. Aku juga ingin tahu bagaimana mungkin orang yang sudah mampus bisa hidup kembali ?! " dengus Raja tambah kesal.

"Oh ya-ya-ya. Aku juga heran mengapa orang yang sudah mati bisa hidup lagi." kata si kakek. Lalu sambil memandang heran pada Raja, Dewa Mabok malah ajukan pertanyaan.

"Orang gila, apakah kau tahu rahasia apa yang membuat Pangeran Durjana bangkit dari kematian."

"Ah, kau ini bagaimana sih kek. Kalau aku tahu, buat apa aku datang menemuimu dan bertanya padamu?"

"Kau betul juga. Kalau kau sudah tahu pasti kau tidak bertanya padaku. Rasanya aku yang tahu.

Tapi bagaimana caranya mengatakan semua itu padamu. Banyak kejadian dimasa lalu yang ingin kulupakan. Tidak sedikit kenangan yang ingin kukubur. Aku tak mau mengingat kehidupan yang pahit. Aku mau yang enak dan yang manis-manis saja. Tiba-tiba saja pangeran jahanam itu bangkit dari kematiannya, membuat banyak kekacauan, ingin membalas dendam bahkan berniat menjadi penguasa di seluruh jagat. Mengapa dunia ini tidak pernah aman, orang gila. Mengapa selalu ada kekacauan?"

Katanya dengan nada bertanya.

"Mana aku tahu. Sebelum aku lahir dunia memang sudah kacau." dengus Raja bersungut- sungut. Sambil menatap kakek di depannya dia melanjutkan.

"Orang tua, sekali lagi kuperingatkan padamu, jangan suka memanggilku orang gila. kau sudah tahu namaku!"  

Geram pemuda itu

"Ha ha ha. Aku berada di rumahku sendiri. Aku bebas memanggil tamuku dengan sebutan apa saja. Mengapa harus marah? Bukankah kau sendiri dikenal dengan nama Raja Gendeng. Atau mungkin kau lebih suka aku memanggilmu si Gendeng?" ejek Dewa Mabok disertai tawa bergelak.

Merasa kesal, Raja menanggapi. "Terserahmulah monyet tua. pemabok sialan."

Maki pemuda itu. Diluar dugaan, bukannya marah. Mendengar ucapan Raja. Dewa Mabok sebaliknya malah tertawa terkekeh-kekeh.

"Tak kusangka seorang pendekar hebat bisa terpancing amarahnya hanya karena aku memanggilnya orang gila. Dalam kemarahanya dia memanggilku monyet tua pemabok sjalan. Ha ha ha."

Celetuk si kakek sambil pegangi perutnya yang  terguncang.

"Aku suka. Julukan yang kau berikan padamu, kurasa sesuai dengan keinginanku. Tapi apakah kau tahu, hidup tujuh ratus tahun tidak pernah sekalipun ada raja edan yang berani bicara kurang ajar kepadaku?!"

Hardik Dewa Mabok dengan mata mendelik.

"Cuma pemabukan sepertimu apa yang harus kutakuti. Ketahuilah, seujung kukupun aku tidak takut kepadamu. Kau mau apa? Berkelahi lagi sampai salah satu diantara kita ada yang mampus?1"

Kata Raja geram. Walau hatinya panas sebenarnya Sang Maha Sakti diam-diam terkejut tak menyangka. Dewa Mabok ternyata telah berusia tujuh ratus tahun. Dalam hati diam-diam dia berkata.

"Aku sama sekali tidak menyangka usianya sepanjang itu. Padahal biasanya pemabuk lebih cepat mati. Memang makanan sakti apa yang pernah dia makan hingga membuatnya tetap awet hidup dan berumur panjang?"

Merasa diperhatikan Dewa Mabok yang tadinya marah, manggut-manggut tersenyum sambil mengelus bulu jenggotnya yang panjang.

"Sampean merasani aku kan?" ucapnya seolah lupa beberapa saat yang lalu dia sempat marah mendengar ucapan Raja. Bukannya menjawab, Raja malah palingkan wajah ke jurusan yang lain.

"Tak usah malu-malu. Tak perlu lagi marah-marah. Benarkan kau baru saja merasani aku .Kau bertanya ilmu kesaktian atau makanan apa yang membuatku berumur panjang. Ha ha ha!"

Kata Dewa Mabok diiringi tawa. Karena yang-ditanya tak kunjung memberi jawaban. Si kakek pun melanjutkan ucapannya.

"Kalau kau ingin berumur panjang sepertiku. Syaratnya mudah. Tidak harus sakti, tapi perbanyaklah makanan yang serba panjang. Seperti kacang panjang, ular, pohon bambu juga pohon rotan."  

"Walau kaget tak menyangka kau bisa tahu apa yang kukatakan dalam hati, tapi segala saranmu itu sama sekali tidak lucu, kakek " kata Raja masih saja menatap ke jurusan lain.

"Oh ya-ya... aku tahu. Aku juga merasa ucapanku tidak lucu. Lalu apa yang kau inginkan?" kata si kakek.

Baru saja Raja  hendak menjawab  pertanyaannya. Lagi-lagi  Dewa Mabok berkata

"Hm, tunggu dulu. Sekarang aku sudah ingat. Aku tahu maksud dan tujuan kedatanganmu.

Bukankah kau ingin tahu siapa Pangeran Durjana itu bukan?"

"Orang tua, adapun tentang riwayat Pangeran Durjana aku telah mengetahuinya dari kakek penjaga makam raja-raja di pulau Rakata bernama Ki Lara Saru Saru. Seperti yang telah aku ceritakan ketika pertama kali sampai kesini. Sebelum menemui ajalnya Ki Lara memintaku agar menemuimu. Menurut orang tua itu kau tahu lebih banyak sepak terjang serta riwayat hidup Pangeran Durjana. Kini aku mohon penjelasan darimu tentang seorang pangeran yang pernah dikutuk oleh ibu kandungnya sendiri akibat berbuat mesum dengan adik kandungnya sendiri. Entah oleh sebab dan musabab apa bisa bangkit dari kematiannya. Padahal menurut yang saya dengar Pangeran Durjana telah terkubur di dalam laut selama seribu tahun."

Ketika berkata begitu, Raja terus menatap wajah si kakek. Dia melihat raut wajah Dewa Mabok

tampak berubah-ubah. Bagi Raja rasanya sulit untuk mengetahui gerangan apa yang menjadi ganjalan di hati Dewa Mabok. Namun melihat si kakek seperti memendam sesuatu. Raja hanya bisa menduga kemungkinan besar Dewa Mabok mengenal dekat pangeran yang ditanyakannya. Setelah mendengar semua yang diucapkan Raja, Dewa Mabok menghela nafas berat. Sepasang matanya yang merah menatap kosong ke arah pintu pondok yang terbuka lebar. Kemudian dengan suara berat disertai gelengan kepala, Dewa Mabok membuka mulut

"Raja... siapapun dirimu aku tidak perduli. Tapi kau bertanya orang mati itu, lalu bagaimana bisa hidup kembali. Kurasa itu adalah persoalan lain. Satu yang patut kiranya kau ketahui. Dulu aku bukanlah seorang pemabok seperti sekarang ini. Aku tinggal di istana Dewa Ruci yang juga dikenal dengan nama lain Istana Suci. Aku bukan seorang Dewa. Tapi perbuatan dan tingkah lakuku begitu terpuji, lurus lempang tanpa cacat dan cela."

"Jika kau tinggal di Istana Suci, berarti kau mengenal Ratu Tria Arutama?" Potong Sang Maha Sakti.

"Bukan cuma kenal, gusti ratu Tria Arutama sudah kuanggap sebagai adik sendiri. Aku membantu beliau menjalankan roda pemerintahan beberapa tahun setelah suaminya u mengasingkan diri di Malingping .Walau wanita, beliau adalah seorang pemimpin yang bijaksana.Sama bijaksananya dengan prabu Kalijati yaitu suami dari gusti ratu."

"Lalu apa yang terjadi orang tua?" Tanya Raja tidak sabar.

"Lima tahun kemudian setelah Pangeran Anom Aditama yang punya seorang adik perempuan bernama puteri Atut  kembali  dari  menuntut  ilmu  dan belajar berbagai ilmu  olah kanuragan  di  gunung Krakatau. Sang pangeran  itu  yang sekarang  kau  ketahui  bernama Pangeran  Durjana entah  kerasukan iblis mana jatuh hati pada adiknya sendiri yaitu puteri Atut. Yang membuatku tidak mengerti bagaimana gusti puteri bisa mempunyai perasaan yang sama pada sang pangeran yang dia tahu adalah kakak kandungnya sendiri. aku cemas, begitu juga gusti ratu. Hubungan sedarah itu jelas ditentang oleh gusti ratu. Tapi mereka sepertinya sudah lupa daratan. Hingga hubungan layak suami istri yang terkutuk itupun terjadi. Istana Suci yang dikenal paling bersih di delapan penjuru angin dilanda guncangan hebat. Laut murka, langit mengamuk dengan mengirimkan petaka dan rakyat tidak berdosa menemul ajal dengan tubuh hancur lebur menjadi debu. angin panas. Banyak perajurit mati. Gusti Ratu menyadari sesuatu yang sangat terkutuk telah dilakukan oleh putera dan puterinya. Ketika dpanggil menghadap, Pangeran Bagus Anom dan puteri puteri Atut tanpa malu-malu mengaku perbuatan mereka. Kenyataan ini menimbulkan kemurkaan luar biasa bagi diri ratu. Aku telah mengabdi di Istana Dewa Suci cukup lama. Belum pernah aku melihat gusti ratu semurka itu. Beliau kemudian memutuskan untuk menghukum kedua darah dagingnya sendiri. Disaksikan para dewa langit. Puteri Atut dihukum penggal. Mayatnya dikuburkan di alun-alun istana. Melihat sang adik sekaligus kekasih yang dicintai mendapat hukuman berat. Pangeran Anom Aditama menjadi marah. Dia mengamuk dan membunuh senopati juga patih kerajaan. Para abdi dalem juga tak luput dari kematiannya. Dengan kesaktian yang kumiliki aku turun tangan meringkus gusti pangeran. Begitu dapat kulumpuhkan, gusti segera menggantungnya di alun-alun. Mayatnya kemudian dimasukan ke dalam peti mati lalu ditenggelamkan tak jauh dari pulau Karang Hantu. Aku masih ingat sebelum digantung pangeran bersumpah dia akan bangkit dari kematiannya dan menuntut balas terhadap semua orang yang bertanggung jawab saat itu. Pangeran juga bersumpah kelak dalam kebangkitannya akan menghabisi semua keturunan ratu Tria dan gusti prabu Kalijati."

"Kau termasuk orang yang terlibat dalam kematian pangeran Durjana itu bukan?"

Tanya Raja.

"Hal itu tak bisa kupungkiri."

"Lalu mengapa Pangeran Durjana sekarang juga menghendaki nyawa raja Malingping?"

Tanya pemuda itu heran juga tidak mengerti. Dewa Mabok terdiam sejenak lamanya. Sepasang mata menatap ke langit-langit pondok, namun kemudian beralih pada Raja yang duduk didepannya "Aku lupa mengatakan padamu. Setelah memutuskan untuk mengasingkan diri ke sebelah barat

tanah Dwipa ini, Gusti prabu yang semula berniat menjadi seorang pertapa terrnyata berubah pikiran lalu jatuh hati dengan seorang puteri dari sebuah istana kecil di Malingping. Dari perkawinannya yang ke dua ini beliau dikaruniai keturunan. Begitulah seterusnya. Dan yang kutahu, prabu Tubagus Kasatama serta patihnya termasuk keturunan generasi ke tujuh dalam silsilah keluarga prabu Kalijati dengan istri ke dua." terang Dewa Mabok.

"Hmm, pantas." sela Raja sambil anggukkan kepala.

"Pantas Pangeran Durjana sangat ingin menghancurkan istana Malingping. Selain itu dia juga berhasrat menjadikan kedua puteri gusti prabu Tubagus Kasatama sebagai calon korban kebejatan nafsunya."

Mendengar ucapan Raja. Tanpa terduga Dewa Mabok tersentak kaget. Mata dipentang dan menatap tak percaya pada Raja

"Itu harus dicegah" tegas Dewa Mabok dengan nafas memburu dan wajah membayangkan kehawatiran.

Sikap si kakek membuat Raja jadi heran. "Memangnya ada apa orang tua?"

"Oang gila, ketahuilah. Bila Pangeran Durjana berhasil mendapatkan kedua puteri Malingping apalagi bila sampai tidur bersama dan mendapatkan kesucian kehormatan kedua gadis itu, maka tidak akan ada lagi manusia sakti di rimba persilatan ini yang sanggup mengalahkannya."

"Bukankah dulu kau sanggup meringkus dan melumpuhkannya. Apakah setelah bangkit dari kematiannya kau tidak dapat menghabisinya?"

Tanya Sang Maha Sakti disertai senyum mencibir.

Dewa Mabok mula-mula mengangguk, namun kemudian cepat menggelengkan kepala. Dengan tatapan tajam wajah bersungguh- sungguh dia berkata.

"Waktu yang dulu sangat berbeda dengan sekarang, orang gila. Saat itu walau ilmu kesaktian serta tenaga dalamnya sangat sempurna. Tapi aku masih mampu menghadapinya."

"Jadi sekarang kau tidak sanggup lagi mengalahkan orang yang baru bangkit dari kematiannya? Mungkinkah karena kau sudah tua, tulangmu jadi rapuh dan loyo tak bertenaga?" sindir pemuda itu disertai seringai mengejek

"Jangan memandang enteng diriku. Mungkin kau tidak tahu saat ini Pangeran Durjana bukan lagi seperti yang dulu. Sebagaimana sumpah sebelum tewas ditiang gantungan. Begitu bangkit dari kematian sang pangeran dibantu penuh oleh suatu kekuatan yang berasal dari kuasa kegelapan

.Kesaktiannya maju pesat. Saat ini menurut dugaanku kekuatannya menjadi sepuluh kali lipat dari kekuatan lama yang dia miliki."

"Bagaimana dengan mahluk-mahluk pembunuh  yang dikenal dengan  sebutan Lebah  Kepala Hati Berbunga?"

Tanya Sang Maha Sakti.

"Lebah-lebah itu? Bukan hanya membunuh tetapi juga menjadi pengawal sang pangeran. Dan bila Lebah Lebah itu mengantuk para gadis  perawan, maka seketika gadis itu akan kehilangan kesadaran serta rasa malunya. Mereka akan berubah menjadi orang yang kasmaran dan akan mencari Pangeran Durjana lalu menyerahkan diri seutuhnya pada pangeran."

"Enak betul Pangeran Jahanam itu. Setiap saat dia bisa tidur dengan gadis perawan tanpa harus menikahinya."

"Memangnya kenapa? Kau merasa iri ya?"

Dengus Dewa Mabok sambil menyeringai

"Iri? Untuk apa kek? Aku justru merasa kasihan pada gadis-gadis itu."

"Akupun merasa demikian. Namun perlu kau ketahui Pangeran Durjana melakukan semua itu bukan cuma untuk mencari kesenangan kepuasan nafsu. Dia lakukan itu untuk membangun kekuatan baru."

"Aku tidak mengerti apa maksudmu!"

"Ah, ternyata kau hanya seorang raja yang bodoh. Apakah kau tidak tahu begitu para gadis bercinta dengan pangeran Durjana mereka segera mengalami kehamilan. Mereka hamil dalam tiga hari Begitu anak-anaknya terlahir bocah-bocah itu sudah tumbuh besar dalam waktu tak sampai tiga hari." penjelasan Dewa Mabok membuat Raja berjingkrak kaget.

Dengan mata melotot penuh rasa tak percaya dia berucap.

"Bagaimana mungkin seorang wanita mengandung anaknya dalam waktu sesingkat itu dan membesarkannya dalam waktu yang singkat pula? Kalau tidak melihat sendiri rasanya aku tidak percaya."

"Nanti kau pasti bakal melihatya. Apa yang terjadi memang diluar kewajaran. Dan semua itu bisa terjadi atas kuasa dan bantuan kegeLapan." terang si kakek.

"Lagi-lagi kuasa kegelapan ikut campur tangan." gumam Raja.

Dia terdiam sebentar. Sementara mata memandang pada Dewa Mabok.

"Apakah kau tahu bagaimana caranya menghancurkan dedemit dari kematian itu orang tua?" "Sayang aku tidak tahu."

"Hmm, jadi percuma saja jauh-jauh aku datang menyambangimu. Ki Lara Saru Saru seharusnya tak usah memintaku datang menemuimu."

"Jangan berkata begitu. Aku tahu bagaimana cara mengusir lebah pembunuh itu?" "Memangnya bagaimana ?"

"Dengan api. Musnahkan mereka dengan pukulan sakti yang mengandung hawa panas. Mereka pasti hangus terpanggang. Tapi..."

"Tapi mengapa?"

"Walaupun kau sanggup menghancurkan lebah-lebah pembunuh itu. Namun bila kau tak tahu bagaimana caranya menyingkirkan bayi-bayi buas putera puteri juga pengikut Pangeran Durjana maka kau bakal kesulitan menghadapi Pangeran Durjana." "Bayi lagi. Memangnya apa yang bisa diperbuat seorang bayi?" Kata Raja bingung.

Dewa Mabok menyeringai.

Sekali tenaganya bergerak sebuah bumbung bambu yang tergeletak disebelah kirinya berada dalam genggaman.

Setelah membuka penutupnya, Dewa Mabok menegak isi bumbung dengan lahap. Gluk!

Gluk!

Terdengar suara bercelegukan saat cairan tuak keras mengalir deras membasahi tenggorokannya.

Setelah meletakkan bumbung dan menyeka sisa tuak yang menempel di kumisnya. Orang tua ini berkata.

"Orang gila, kuharap kau tidak marah lagi aku memanggilmu seperti itu. Kau harus tahu, bayi-bayi itu usianya dua hari, namun bukanlah bayi lemah. Dalam usia hitungan hari mereka tak

ubahnya seperti yang telah berusia beberapa tahun. Mereka kuat, kuku tumbuh pesat .Giginya tumbuh berkembang dan sangat tajam. Mereka haus darah, mereka gila membunuh. Bahkan mereka membunuh dan memakan ibu yang telah melahirkan mereka." terang Dewa Mabok 

"Edan. Betul-betul gila. Belum pernah aku mendengar kekejian sehebat itu.Kalau ibunya sendiri mereka makan bagaimana dengan orang lain.?"

Desis Raja. Tengkuknya mendadak merinding. Namun dia kepalkan tangannya. Dia marah juga merasa geram dengan pekerjaan yang dilakukan Bocah Bocah Iblis.

"Jadi tidak mudah menghabisi Pangeran durjana?" Berkata pemuda itu beberapa saat kemudian.

"Memang benar. Sebelum bertemu pangeran Durjana kau harus bisa menyingkirkan lebah pembunuh dan Bocah Bocah Iblis .Tapi kau tak perlu khawatir. Sesuai petunjuk alam gaib yang kudapatkan, akan ada seorang gadis cantik yang bakal membantu. Gadis itu bukanlah gadis sembarangan. Bocah Bocah Iblis akan merasa jerih terhadapnya."

"Siapa dia? Apakah aku boleh mengetahui namanya?"

Tanya Raja tak sabar. Dewa Mabok menghela nafas sambil geleng kepala. "Sayang aku tidak bisa memberi tahu."

"Kenapa orang tua? Apakah gadis itu kekasihmu,atau mungkin istri simpananmu. Kau takut memberi tahu namanya karena khawatir begitu mengenalku dia langsung jatuh hati dan meninggalkanmu."

Ucap Raja sambil tersenyum. "Bukan itu maksudku orang gila." Sahut Dewa Mabok kesal.

"Aku tak bisa memberi tahu namanya karena aku memang belum bertemu muka apalagi mengenal namanya tolol! Ha ha ha!"

"Kakek gila. Bertemu belum,mengenal namanyapun tidak. Bagaimana kau bisa tahu gadis itu bakal membantuku."

"Kau harus percaya dengan ucapan tua bangka ini. Jelek-jelek begini aku selalu mendapat bisikan dan bocoran dari para dewa."

"Kurasa setan yang membisikimu.  Dan bocoran yang kau maksudkan  kalau bukan telinga  atau kepalamu yang bocor bisa saja mulutmu yang bocor, Ha.ha ha...! "

"Orang gila,kau sangat keterlaluan. Tapi aku suka dengan sikapmu. Dan kau harus percaya padaku." ujar Dewa Mabok dengan mimik bersungguh-sungguh.

"Kau memang akan mendapat dukungan dari gadis itu." "Kalian bisa menjadi pasangan serasi. Percayalah padaku." Kata Dewa Mabok tanpa berkedip.

Raja manggut-manggut.

Bibir menyeringai pertanda dia masih belum percaya dengan kesungguhan Dewa Mabok. "Jangan pernah bicara soal pasangan, orang tua. Katakan saja bagaimana ciri-ciri gadis itu." Desak Raja.

Sang Maha Sakti rupanya tidak ingin berlama-lama berada di pondok si kakek. Ditanya tentang ciri-cirinya Dewa Mabok justru melongo.

Tapi kemudian dia cepat-cepat pejamkan matanya.

Tidak lama mata terbuka lalu dari mulut Dewa Mabok meluncur ucapan. "Ciri-diri gadis itu pokoknya semua serba hitam."

"Nah,apa?"

Raja tersentak dan tercekat.Mulut ternganga mata mendelik

"Kau jangan mengada-ada orang tua. Mana ada sesorang yang penampilannya serba hitam seperti itu. Kuharap kau tidak hendak memberi tahu aku bahwa gadis itu mempunyai wajah hitam,mata hitam kulit hitam,gigi hitam dan semuanya serba hitam .Memangnya gadis itu siapa? Apakah dia anaknya tukang penjual arang. Atau dia baru kembali dari neraka?"

"Tentang keadaan gadis itu mana aku tahu. Tapi begitulah ciri-ciri yang kudapatkan sesuai wangsit yang kuterima."

Mengakui si kakek

"Ha ha ha. Aku tidak tahu apakah saat ini kau sedang mabuk atau malah mengigau. Aku benar-benar heran,bagaimana mungkin seorang pemabok sepertimu dengan mudah mendapatkan wangsit. Memangnya wangsit itu kau dapat dari mana? Dari kubangan kerbau ataukah saat kau buang hajat di kali."

"Ha ha ha. Dasar pemuda gendeng. Tentu saja wangsit itu kudapat dari langit." Kata si kakek lalu ikutan tertawa tergelak-gelak.

"Nah,entahlah. Apapun katamu aku belum mempercayai sepenuhnya.Sekarang aku harus pergi.

Apakah kau ingin ikut serta denganku?" Tanya Raja.

Tanpa menunggu jawaban si kakek pemuda itu segera bangkit. Sebelum berlalu dia menjura hormat sambil songgengkan pantatnya. Dari tubuh sebelah bawah terdengar suara duut satu kali.

Dewa Mabok tidak mendengar.

Tapi kemudian dia merasa heran saat mengendus bau durian busuk memenuhi pondoknya. Melihat pada Raja ternyata pemuda itu bersikap wajar saja.

Malah kini sudah melangkah keluar dari pondoknya. Dewa Mabok bergegas menyusulnya.

Sesampai dihalaman dia berseru,

"Orang gila. Maafkan aku rasanya aku tidak bisa ikut pergi bersamamu saat ini." "Aku sudah menduga,tapi aku juga tidak mau memaksa."

Jawab Raja sambil tersenyum..

"Aku harus pergi sendirian orang tua."

"Kau hendak menuruni bukit emas ini dengan merayap seperti kadal buntung lagi?"

Ejek Dewa Mabok

"Aku punya senjata yang bisa membawaku terbang."

Sahut Sang Maha Sakti lalu menoleh ke belakang melirik ke arah pedang gila yang tergantung di punggungnya.

Dewa Mabuk ikutan melirik ke senjata berangka emas itu.

Begitu melihat. mata yang seperti orang mengantuk tampak menyipit.

Diam-diam dia merasa kaget

"Pusaka hebat, senjata yang sangat langka. Aku berdiri sekitar empat tombak dibelakang si gondrong ini tapi dari sini aku bisa merasakan perbawa pedang. Ada hawa panas dan dingin terpancar dari pedang membuat tubuhku jadi ikutan panas dingin seperti orang meriang. Edan betu!."

Batin si kakek .Walau si kakek telah merasakan rebawa aneh dari pedang Raja, namun si kakek tetap tersenyum lalu melangkah maju tanpa mau berdekatan dengan Raja dia berbisik.

"Aku punya cara yang paling tepat yang bisa membuatmu lebih cepat sampai ke tempat tujuan tanpa menggunakan pedang. Sebab aku merasa kasihan saja melihat pedangmu berhimpitan dengan pedang yang ada dipunggungmu." Kata Dewa Mabok lalu mengulum senyum "Apa maksudmu?"

Tanya Raja, Sepasang alis matanya mengernyit.

"Tak usah banyak bertanya.Syaratnya pejamkan saja matamu."

"Apa benar kau bisa mengantar aku ke sebuah tempat hanya dengan memejamkan mata." kata Raja.

"Aku harus berhati-hati, jangan- Jangan dia hendak memperdayai aku."

Batinnya lagi. Seolah mengerti apa yang terlintas dalam benak Raja,Dewa Mabok tiba-tiba berkata,

"Orang bermaksud baik kau malah curiga. Lakukan saja yang aku perintahkan. Pejamkan mata,sebut namaku tiga kali.Kau pasti segera tinggalkan tempat ini."

Walau dihatinya masih dilanda keraguan, namun karena Dewa Mabok terus saja mendesaknya, Sang Maha Sakti ikuti juga perintah si kakek. Dia pejamkan matanya.

Kemudian mulut berucap menyebut nama Dewa Mabok tiga kali sebagaimana yang diminta si kakek.Tiga kali menyebut nama,tiba-tiba Raja merasakan ada tangan yang menepuk punggungnya.

Seiring dengan itu... Wuus!

Seketika itu pula Sang Maha Sakti Raja Gendeng merasakan ada satu kekuatan dahsyat berupa hembusan angin luar biasa kencang menyambar tubuhnya.

Raja merasakan seperti ada yang membawanya terbang. Takut,kaget juga penasaran.

Pemuda itu menggerakan kedua kakinya yang terlindung kasut tipis berwarna hitam kelabu. Dia tercekat begitu sadar kedua kakinya tidak lagi menyentuh tanah dihalaman pondok. "Oei, orang tua itu membuatku seperti terbang sungguhan. Tapi, aduh biyung udaranya terasa

dingin sekali. Membuat aku ingin pipis."

Raja lalu meraba wajah,dada dan perutnya. Semuanya terasa dingin. Penasaran dia ulurkan tangan meraba di bagian bawah perut. Lalu dengan perasaan lega sambil senyum-senyum dia berucap.

"Ternyata tidak. Tidak semua anggota tubuhku jadi dingin seperti es. Satu yang dibawah tak disangka-sangka masih hangat. He he he...!

Sepeninggalnya Raja Gendeng,Dewa Mabok yang terus memperhatikan kepergian Sang Maha Sakti tiba-tiba saja mendekap perutnya yang mendadak mulas. Rasa mulas makin lama makin menjadi,membuatnya menyeringai kesakitan. Sambil terbungkuk-bungkuk memegangi perutnya si kakek melangkah cepat menuju pondok.

Dalam hati dia berkata. "Aku tidak pernah merasa sakit seperti ini. Ada apa dengan diriku. Apakah mungkin aku salah makan?"

Pikir Dewa Mabok sambil mengingat-ingat. Dia gelengkan kepala.

"Tak ada yang salah dengan apa yang aku makan. Sekarang aku ingat,bukankah sebelum pergi orang gila tadi sempat mengusap perutku juga. Usapan itu yang membuat perutku jadi begini.

Sungguh gila. Baru perut yang dia usap sudah membuatku sengsara. Bagaimana kalau bagian tubuhku yang lain. Ternyata dalam kelihaian mengusap aku masih kalah hebat darinya." gerutu orang tua itu,geli ada kesal pun ada.

Si kakek lalu lalu duduk di dalam pondok. Begitu dia merebahkan diri terdengar suara bes Aneh. Mulas diperutnya mendadak lenyap. Sebagai gantinya Dewa Mabok kini mengendus bau

durian busuk.

"Aku tak pernah makan durian. Belum pernah seumur hidupku. Aku cuma minum tuak, panggang cacing,ular dan kelabang. Mengapa angin yang keluar baunya malah bau buah busuk. Aku yakin, semua ini ulah gondrong kurang ajar itu."

Gerutu Dewa Mabok merasa ciut.

Sama sekali dia tak pernah menyangka.

Tindakannya menepuk punggung dibalas dengan usapan aneh yang membuatnya menderita. Wajah merah si kakek yang merah makin bertambah merah saat dia ingat.

Bahwa sebelumnya saat Raja hendak meninggalkan pondok juga tercium bau durian busuk "Hmm,sekarang aku tambah mengerti.Aroma tak sedap yang terendus olehku saat dia berada

disini pasti karena dia buang angin. Tapi dia pintar berpura-pura. Dia telah mengerjai aku. Dan tololnya lagi aku merasa benar-benar tak tahu dari mana asal bau itu.Kurang ajar...!"

Teriak si kakek.

Dia melompat bangkit. Lalu bergegas ke luar.

Sesampainya dihalaman pondok Dewa Mabok menatap ke jurusan sebelah utara ke arah dimana Raja pergi.

Tapi si kakek memang sudah tidak melihat apa-apa. Hanya kerlip bintang bertabur di langit.

"Bocah ingusan sialan! Beraninya kau mengerjai tua bangka sepertiku. Awas! Segala keisengan yang kau lakukan malam ini,kelak bila bertemu lagi pasti akan mendapat balasan dariku!"

Sekali lagi Dewa Mabok berteriak. Sia-sia orang tua ini berteriak karena tak seorang pun yang mendengarnya.

Dengan kedongkolan dihati, Dewa Mabok akhirnya memilih duduk di atas balai di depan pondoknya. Malam menjelang pagi yang sunyi dan dingin.

****

Bersamaan dengan waktunya bagi Raja meninggalkan puncak bukit emas tempat tinggal Dewa Mabok .

Disebuah kawasan hutan kepis tak jauh dari Jati Kulon.

Di bawah sebatang pohon terlindung rumput dan semak tinggi. kakek berpakaian hitam penuh luka cabikan dan bersorban hitam dengan bagian ujungnya hangus terbakar,duduk bersender dalam keadaan tidak berdaya.

Kakek berterompah dengan janggut putih panjang menjuntai yang kedua matanya sering berkedip ini memang merasa tak mungkin bisa mencapai kota raja.

Istana Malingping jaraknya cukup jauh dari hutan kepis. Membutuhkan waktu tak kurang setengah hari berjalan kaki.

Sedangkan si kakek yang bukan lain adalah Penujum Aneh Juru Obat Delapan Penjuru keadaannya sangat mengenaskan.

Selain tubuh dipenuhi luka gigitan dan cakaran,dia juga kehilangan banyak darah.

Disamping itu sang penujum juga menderita keracunan akibat gigitan dan cakaran Bocah Bocah Iblis .Sebagaimana telah dikisahkan dalam (episode, Bangkitnya Sang Titisan).

Penujum Aneh bersama rombongan kecil kerajaan yang dipimpin langsung oleh gusti Patih Tubagus Aria Kusuma melakukan penyelidikan sesual dengan perintah gusti prabu Tubagus Kasatama. Tugas yang diberikan raja Malingping antara lain adalah mencari tahu keberadaan sekaligus tempat persembunyian Pangeran Durjana.

Untuk mengetahui keberadaan Pangeran Durjana yang melakukan penculikan dan pembantaian dimalam hari bersama lebah mautnya, bukanlah sebuah pekerjaan mudah.

Setelah menjelajah dan menyisir berbagai tempat, dua malam berikutnya rombongan itu melihat satu cahaya aneh yang berasal dari sebuah tempat tersembunyi dibawah kelebatan pohon.

Untuk mencapai tempat itu mereka harus menyeberang padang pasir yang cukup luas.

Pada saat mereka bersiap melewati padang pasir itulah,tiba-tiba bencana datang tak terduga. Dari balik kedalaman pasir muncul serangan mematikan.

Serangan itu bukan dilakukan oleh kawanan lebah. Sebaliknya dilancarkan oleh bocah-bocah seusia dua tahun.

Patih tewas,puluhan perajurit juga ikut menemui ajal dengan tubuh tinggal menyiksakan tengkorak dan tulang belulang.

Penujum Aneh yang mengalami luka parah dalam serangan itu dapat menyelamatkan diri setelah melepaskan asap Pelepas Jejak Penghilang Petaka.

Dengan menggunakan seekor kuda yang telah terluka dia melarikan diri .Niatnya ingin melaporkan kejadian yang dia alami kepada raja.

Namun dalam perjalanan , kuda yang terluka menemui ajal.

Si kakek meninggalkannya dan meneruskan perjalanan dengan menggunakan ilmu lari cepat yang dia miliki.

Akibat banyak bergerak, racun yang mendekam dalam luka disekujur tubuhnya membuat sang penujum tidak berdaya.

Kini Penujum aneh dalam keadaan sekarat

"Gusti prabu Tubagus Kasatama.Maafkan diriku karena tidak dapat menjalankan tugas sesuai dengan yang gusti harapkan.Gusti patih dan semua perwira serta perajurit yang ikut serta bersama kami menemui ajal. Bahkan saya sendiri menemui nasib konyol seperti ini. Gusti.Saya yakin umur saya tidak akan panjang lagi. Dan yang membuat saya menyesal,saya tak mungkin menjelaskan pada gusti bahwa saat ini ada bahaya sangat besar mengancam keselamatan gusti dan keluarga. Bahaya itu bahkan jauh lebih mengerikan dari yang kita perkirakan sebelumnya. Saya tidak sanggup pulang,saya tak dapat kembali ke istana."

Kata sang penujum dengan nafas tersengal, mata menerawang dan berlinangan air mata.

Penujum aneh terdiam. Mulut menyeringai ketika rasa sakit di sekujur tubuhnya makin menghebat. Tapi tanpa menghiraukan rasa sakit yang luar biasa yang dialaminya. Sang Penujum lagi-lagi berucap.

"Andai ada cara untuk menyampaikan kabar ini pada gusti prabu...?"

Belum lagi sempat si kakek menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki bergedebukan seperti suara dua orang yang yang berlari namun tiba-tiba berhenti .Penujum Aneh terkejut. Belum hilang rasa kaget dihatinya terdengar suara orang mendamprat yang disusul dengan omelan

"Nasib kita memang selalu apes.Bagusnya Pangeran keparat itu tidak mengajak bicara sampai pagi. Kalau tidak mataku mungkin sudah lamur karena tidak boleh berkedip,"

Lalu ada suara lain menyahuti.

"Berani berkedip berarti mampus,tubuh hancur lebur.

"Apa kau lupa istriku,ruangan pertemuan itu bernama Ruang Pertemuan Kedipan Nyawa. Ada mata setan yang selalu mengawasi. Aku sendiri merasa lebih beruntung, walau mata ini perih karena dipantang berkedip.Namun aku tidak takut celaka."

"Kau tidak takut celaka,suamiku? Aneh,ada yang tidak wajar." sahut satu suara.

Dan Penujum Aneh dapat memastikan pemilik suara itu adalah seorang perempuan tua.

"Tidak wajar bagaimana maksudmu? Tak ada yang kurahasiakan, aku biasa bersikap wajar-wajar saja padamu!"  

"Bukan begitu. Aku melihat waktu berada di ruangan pertemuan celaka itu matamu mendelik seperti mata ikan kering terjemur matahari. Oh itu."

Menyahuti si kakek lalu tertawa.

"Mataku bisa melotot terus menerus karena pelupuk mataku atas bawah kiri kanan kuganjal." "Dasar Aki licik. Pantas kulihat matamu tegar sekali." kata si nenek yang tak lain adalah Nini

Burangrang dan suaminya Aki Kolot Raga.

Sementara itu di bawah pohon tempat dimana Penujum Aneh sandarkan tubuhnya. Merasa khawatir orang tua ini segera gelindingkan diri berlindung dibalik semak belukar. Dari tempatnya bersembunyi dia menatap ke arah datangnya suara.

Saat itu malam sudah berganti pagi. Matahari belum terlihat,namun semburat merah sebagai pertanda kemunculan sang surya sudah terlihat di langit sebelah timur. Setelah berusaha memperhatikan dengan seksama. Penujum Aneh akhirnya dapat melihat tak jauh di depannya sejarak tujuh tombak terhalang beberapa pohon seukuran paha orang dewasa seorang kakek dan seorang nenek yang tidak dikenalnya.

"Yang satu kakek tua bersenjata tongkat. Satunya lagi nenek-nenek bertubuh bungkuk. Aku tidak mengenal kakek berkupluk itu. Nampaknya mereka adalah pasangan suami istri. Siapa perduli. Mereka menyebut-nyebut pangeran. Apakah mungkin orang yang mereka maksudkan adalah Pangeran Durjana?" membatin sang Penujum dalam hati.

Dia diam sambil terus mengawasi. Telinga dipentang siap mendengarkan apa saja yang dibicarakan oleh Aki-Nini yang tak lain adalah Sepasang Naga Pamabokan.

Pada saat itu, Ki Kolot Raga tiba-tiba berkata,

"Sebenarnya ini adalah kebebasan kita. Kita tak perlu melakukan semua yang diperintahkan Pangeran Durjana itu pada kita."

Nini Burangrang menyahuti.

"Tidak melakukan perintah Pangeran Durjana bukankah berarti kematian bagi kita,Aki?" "Kematian apa? Pangeran Durjana membiarkan kita pergi begitu saja. Dia menyangka kita bakal

patuh pada perintahnya. Padahal tidak demikian yang ada dalam benakku. Aku sudah punya rencana,begitu kita bisa lolos dari istana berbentuk sarang lebah milik pangeran itu. Sesuai dengan keinginan sekaligus niat kita meninggalkan Andalas. Kita segera menuju ke ujung timur tanah Dwipa ini. Menuju ke ujung timur,mencari lalu menemukan benda bertuah yang kita cari adalah sebuah kemenangan yang tiada bandingnya."

"Namun harus diingat dia bukan manusia bodoh sebagaimana yang kau sangkakan,Aku yakin dia mengirimkan utusan untuk mematai-matai kita. Kalau kita tidak melakukan tugas yang dia berikan,mata-mata itu pasti siap menghabisi kita." kata Nini Burangrang ketus "Mata-mata? Mana? Aku tidak melihat siapa-siapa. Aku juga merasa tidak ada yang mengikuti? Lagi pula kau harus ingat istriku. Menghabisi sekaligus membunuh kerabat serta penguasa kerajaan Malingping bukanlah perkara yang mudah Apalagi kita juga ditugaskan untuk menculik kedua puteri prabu Arum Senggini dan Nila Agung."

Ujar si kakek

"Jadi sekarang kau ragu-ragu?"

Tanya Nini Burangrang sambil menatapkan suaminya dengan mata mendelik "Bukan ragu. Aku hanya bimbang."

Sahut si kakek.

"Apa bedanya bimbang dengan keraguan. Sejak dulu kau selalu begitu. Kau tidak punya pendirian yang mantap. Aku yakin inilah salah satu sebab mengapa kita tidak punya keturunan."

Mengomel si nenek sambil mondar mandir di depan suaminya.Aki Kolot menyeringai "Jangan menyalahkan aku. Soal keturunan kukira kesalahan ada pada dirimu."

Kata si kakek lalu tersenyum.

"Apa? Mengapa kau malah menuduh aku yang bersalah?"

"Tentu saja. Bagaimana tidak salah. Setiap kali tidur kau selalu memakai celana Manik Sura.

Celana itu terbuat dari lempengan besi. Konyolnya lagi celana kau pasangi gembok, lalu anak kuncinya kau simpan di mulut Naga Wulung. Dengan memakai pakaian seperti itu apa yang bisa kuperbuat. Aku hanya bisa tidur memeluk mimpi."

"Hik hik hik! Kau betul juga Ki. Dalam urusan yang satu itu mungkin aku yang salah. Aku minta maaf, tapi kuharap jangan bicarakan lagi hubungan rahasia diantara kita."

Kata si nenek tersipu malu. "Maumu apa?"

Tanya Aki Kolot dengan wajah cemberut. Si nenek terdiam, berpikir sejenak namun sepasang matanya jelalatan menatap kesegenap penjuru sudut.

"Aku sependapat denganmu, Ki. Baiknya kita pergi secara diam-diam. Tapi lihatlah di pepohonan itu." Ujar Nini Burangrang berbisik dengan pelan.

Tanpa bicara Aki kolot ikut menatap ke arah dia melirik ke arah pepohonan yang dimaksud. Diam-diam orang tua ini dibuat terkejut begitu mengetahui diatas cabang pepohonan dan daun-daun menghijau mendekam mahluk-mahluk bersayap berwarna hitam berkepala merah gelap, "Lebah Kepala Hati Berbunga? Astaga! Jadi Pangeran Durjana diam-diam mengirimkan Lebah

Kepala Hati Berbunga untuk mengawasi kita." Desis Aki Kolot Raga seakan tidak percaya.

"Dasar tua bangka pikun. Yang kau lihat saat itu bukan Lebah Kepala Hati Berbunga. Lebah- lebah yang diutus Pangeran Durjana untuk mengikuti kita adalah lebah pembunuh. Lebah itu sepuluh kali lebih mematikan dibandingkan Lebah Kepala Hati Berbunga,"

Terang si nenek yang ternyata lebih banyak tahu jenis binatang mematikan itu dibandingkan suaminya. Si kakek menggigit bibir, lalu menggaruk kepala. Wajahnya terlihat bingung walau dia telah berusaha bersikap tenang.

"Apa yang kita lakukan."

"Perintah Pangeran Durjana mungkin tak bisa kata abaikan? "

"Kemungkinannya cuma satu. Bila kita mampu menghindar dari kawanan  lebah pembunuh itu.

Kita dapat meloloskan diri lalu kembali pada tujuan kita datang ke tanah Dwipa ini."

"Lolos bagaimana? Lebah-lebah itu sedikit. Kita bisa saja menghindar dari mereka bila kita mampu menghalaunya. Kalau tidak jangan harap. Selamanya hidup kita berada dalam cengkeraman Pangeran Durjana!"

Ucap Aki Kolot Raga.

Baru saja si kakek berkata seperti itu di atas ketinggian pohon terdengar suara berdengung. Aki Kolot dan Nini Burangrang terkejut.

Secepat kilat mereka sama dongakkan kepala menatap ke atas pepohonan. Wajah mereka berubah pucat, hati diliputi ketegangan begitu menyadari kawanan lebah pembunuh yang tadinya hinggap diam di atas cabang dan dedaunan tiba-tiba saja melayang berterbangan, berputar-putar diatas kepala suam istri ini dengan sikap siap hendak menyerang.

"Istriku. Mereka sepertinya tahu apa yang kita bicarakan. Mahluk-mahluk itu tampaknya siap menghabisi kita!"

Seru si kakek.

Berbeda dengan suaminya yang terlihat tegang. Nini Burangrang sebaliknya tampak lebih tenang. Dengan isyarat tangan dia memberi aba aba agar Aki Kolot Raga jangan bersuara.

"Aku bisa mengatasi masalah ini. Apalagi mereka tahu bahasa manusia" ujar Nini Burangrang melalui ilmu menyusupkan suara.

Setelah berkata begitu selanjutnya diapun berseru ditujukan pada kawanan lebah tersebut. "Kalian jangan menyerang dan tak perlu membunuh kami. Kami akan menjalankan tugas yang

diberikan oleh Pangeran Durjana. Bukankah begitu Ki..?!" berucap begitu Nini Burangrang melirik sekaligus kedipkan mata pada suaminya.

Si kakek mengangguk.

"Ya...ya...kami pasti akan melakukan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Sekarang pun kami mau berangkat!"

Sahut si kakek .Ucapan kedua kakek dan nenek ini ternyata berpengaruh besar pada kawanan lebah pembunuh. Terbukti para lebah yang awalnya beterbangan dalam kemurkaan kini bersikap lunak tanpa memperdengarkan suara dengungan yang keras. Mereka bahkan hanya berputar-putar mengeliling Sepasang Naga Pamabokan. Aki Kolot menghela nafas lega.

Nini Burangrang menyeringai.

Dia memberi isyarat pada sang suami untuk mengikutinya.

Tanpa bicara Aki Kolot langkahkan kaki menyusul Nini Burangrang. Kawanan lebah Pembunuh tak membiarkan keduanya pergi begitu saja. Mereka terus mengiringi dari jarak yang dekat.

Kepergian sepasang Naga Pamabokan memang membuat Penujum Aneh merasa lega.

Namun disisi lain mendengar apa yang hendak dilakukan oleh Aki dan Nini Burangrang itu juga menimbulkan kehawatiran tersendiri dihati Penujum Aneh.

Walau dia telah mengetahui sepasang Naga Pamabokan adalah kaki tangan Pangeran Durjana namun Aki, Nini Burangrang itu melakukan tugas yang dibebankan sang pangeran karena terpaksa dan adanya ancaman.

Penujum Aneh yang tengah didera sakit hebat akibat luka-luka ditubuhnya tak akan lupa. Salah seorang diantara kakek dan nenek itu berkata.

"sebenarnya ini adalah kebebasan kita. Kita tak perlu melakukan semua yang diperintahkan pangeran Durjana itu."

Ucapan mereka itu berarti sepasang Naga Pamabokan sebenarnya tidak mau melakukan tugas, karena mereka bukan pengikut atau kaki tangan sang pangeran.

Mungkin saja mereka tawanan.

Dugaan Penujum ini diperkuat lagi dengan ucapan Nini Burangrang

"Menuju ke ujung timur,berusaha menemukan benda bertuah yang kita cari adalah sebuah kemenangan yang tiada bandingnya...Jadi sebenarnya mereka punya tujuan. Mereka sedang berada dalam sebuah perjalanan menuju ke sebuah tempat di ujung timur tanah Dwipa"

"Kemungkinan besar Pangeran Durjana menghadang mereka,melumpuhkan lalu menawan mereka. Dua kakek dan nenek itu bukan manusia sembarangan. Jika mereka bisa tertawan, pangeran keparat satu ini pasti kekuatannya luar biasa,kesaktiannya sangat tinggi. Dan...istana yang disebut-sebut oleh mereka tadi?"

Gumam Penujum Aneh. Mata si kakek yang kerap berkedip namun kini kehilangan cahaya kehidupan itu menerawang

"Apakah mungkin dalam waktu hanya dalam hitungan hari setelah jejakan kaki di tanah Pasundan Pangeran Durjana telah membangun sebuah istana?"

Batin Penujum dalam hati.

Orang tua ini terdiam,otaknya yang semakin lemah mencoba berpikir,tapi belum lagi dia dapat mengambil kesimpulan dari semua yang dipikirkannya tiba-tiba dia kaget mendengar suara pekik datang dari sebelah atas pucuk pepohonan tinggi.

"Oalah...begini repotnya kalau tidak punya sayap. Bisa melayang diudara sayang tangan tidak dapat dikepakkan. Waduuh... celaka, rasanya aku mau jatuh..."

Belum lagi suara pekik di atas pohon lenyap. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh berkerosakan seperti ada benda berat jatuh dari langit.

Krosak! Bluk!

Dua tombak dari tempat dimana sang Penujum tergeletak mendekam,satu sosok tubuh terjatuh.

Begitu terhempas di tanah sosok yang ternyata sang Maha Sakti Raja Gendeng ini menggeliat melintir kesakitan. Sambil meringis, tangan kiri sibuk mengusap bagian punggung yang terlebih dahulu menyentuh tanah.

Sementara si kakek yang melihat kehadiran pemuda berambut gondrong berpakaian putih itu terus mengawasi sambil bersikap waspada. Tak lama pemuda itu pun bangkit. Setelah berdiri tegak dia segera kibaskan tangan singkirkan dedaunan yang menempel mengotori pakaiannya. Setelah seluruh daun yang menempel dipakaian menjadi bersih, Raja layangkan pandang memperhatikan sekelilingnya.

"Tidak ada siapa-siapa di tempat ini.Lalu mengapa Dewa Mabok mengirimku ke tempat ini?" Kata Raja. Pemuda ini terdiam sejenak, lalu berjalan mundar-mandir seperti orang bingung.

Tiba-tiba dia ingat dengan Dewa Mabok yang dengan ilmu kesaktiannya sanggup mengirim Raja dan menerbangkannya dengan hembusan angin. Raja tertawa.

"Kakek hebat. Tapi masih juga bisa aku kerjai. Aku yakin sekarang orang tua itu perutnya mulas masuk angin karena usapan tanganku. Biar dia tahu rasa. Ha ha ha!"

Kata pemuda terus mengumbar tawa geli.

Tapi tawa Sang Maha Sakti seketika lenyap begitu dia mendengar suara keluhan sakit. Pemuda itu terkejut lalu memandang ke arah datangnya suara.

Kening Raja berkerut dalam, mulut ternganga begitu melihat tak jauh disebelah kirinya tergeletak satu sosok berupa kakek tua dalam posisi menelungkup sementara disekujur punggungnya dipenuhi luka bekas cabikan.

"Ternyata ada orang disini? Bagus tadi aku tidak jatuh menimpanya. Tapi siapa kakek ini,apa yang terjadi padanya?"

Tanya Raja Gendeng seakan di tujukan pada dirinya sendiri.

Tanpa ragu Raja lalu bergegas melangkah menghampiri si kakek. Sesampainya di depan orang tua itu dia segera berjongkok.

Beberapa jenak lamanya dia memperhatikan luka diseluruh punggung dan belakang orang tua itu. "Luka ini seperti luka akibat gigitan dan cakaran kuku,namun luka ini sangat beracun. Dia juga kehilangan banyak darah. Apa yang terjadi?"

Batin Raja.

Penasaran Raja segera balikan tubuh Sang Penujum. Ketika orang tua itu berhasil dibuat terlentang, Raja justru lebih kaget lagi. Dia melihat luka-luka dibagian tubuh sebelah depan ternyata jauh lebih parah dari luka dibagian punggung.

Penasaran ingin mengetahui keadaan Penujum Aneh, Sang Maha Sakti julurkan kepala ke bagian dada.

Telinga kiri didekatkan ke dada itu. Dia mendengar suara detak jantung.

Namun detak jantung Penujum Aneh begitu lemah

"Racun ganas telah menyebar ke seluruh tubuh dan merusak bagian jantungnya. Dia tak mungkin selamat dalam keadaan seperti ini"

Kata pemuda itu lagi. Raja berpikir cepat.

Dia harus bertindak agar si kakek dapat sadar sehingga dia bisa tahu apa yang telah dialami oleh si Penujum Aneh yang tidak dikenalnya ini.

Tapi baru saja Sang Maha Sakti hendak julurkan kepala dan alirkan hawa sakti melalui dada sang Penujum.

Tiba-tiba saja terdengar suara mengorok keras dari mulut orang tua itu. Raja tertegun, menatap ke arah sang Penujum dengan perasaan heran.

Putera terakhir almarhum prabu Sangga Langit dari Istana Pulau Es itu sedikitnya merasa lega begitu dia melihat sang Penujum membuka matanya

"Orang tua siapa dirimu. Katakan padaku apa yang terjadi denganmu?"

Tanya Raja ingin tahu. Penujum Aneh tidak menjawab, matanya berkedip memperhatikan Raja yang duduk di sampingnya. Raja melihat ada keraguan dimata si kakek, membuatnya kembali berucap.

"Aku bermaksud baik. Aku ingin membantu."

Penujum Aneh tersenyum pias .Kepala menggeleng,namun mulut berucap lirih.

"Aku Penujum Aneh...Juru Obat Delapan Penjuru. Sebagai ahli obat aku tak sanggup menghentikan racun yang mengalir diseluruh tubuhku.Siapapun dirimu,aku mohon. Pergilah ke Malingping. Sampaikan pada gusti prabu Tubagus Kasatama untuk sesegera mungkin mempersiapkan bala pasukan dan kekuatan perangnya.Pangeran Durjana dan para pengikutnya telah melakukan persiapan untuk menyerang istana. Bahkan aku sempat mendengar dari mulut dua kakek nenek yang lewat di tempat ini. Sang pangeran juga menginginkan kedua puteri prabu.."

"Dia menginginkan kedua puteri prabu Arum Senggini dan Nila Agung? Aku sudah tahu maksud dan tujuan dibalik niat busuknya." Kata Raja sambil kepalkan jari-jari tangannya. Mendengar Raja menyebut nama kedua puteri prabu, Penujum Aneh terlihat heran.

"Kalau mengenal nama kedua puteri itu? Siapa kau?" bertanya sang Penujum dengan suara lirih "Saya bernama Raja, kek. Saya sebelumnya pernah bertemu dengan kedua gadis itu."

Menerangkan Raja. Tak lupa dia juga menceritakan apa yang dialami oleh kedua gadis tersebut sampai akhirnya mereka berpisah, Nila Agung dan Arum Senggini kembali ke istana. Sedangkan Raja sesuai dengan pesan Ki Lara Saru Saru sebelum menghembuskan nafas terakhir segera pergi menemui Dewa Mabok. Setelah mendengar semua penjelasan Sang Maha Sakti. Walau terlihat begitu menderita akibat didera rasa sakit disekujur tubuhnya, Penujum Aneh terlihat lega

"Aku... aku bersyukur bisa bertemu denganmu, Aku rasa kau adalah orang yang tepat untuk membantu kerajaan keluar dari segala kesulitan yang terjadi."

Kata Penujum Aneh dengan suara makin tersendat.

"Jangan pikirkan soal itu. Katakan saja apa yang kau alami. Siapa yang telah menyerangmu?" Desak Sang Maha Sakti yang sadar keadaan si kakek semakin payah.

"Bayi-bayi itu? Mereka muncul dimalam buta, menyerang tanpa ampun. Bila kau bertemu dengan mereka. Jangan diberi hati,jangan pula mengenal rasa belas kasih. Kau harus membunuh. Kalau kau tidak tega melakukannya, maka... maka dia akan menghabisimu "

"Bocah Bocah Iblis? Apakah mereka yang kau maksud?" tanya Sang Maha Sakti. Bukannya jawaban yang didapat pemuda itu. Diluar dugaan Penujum Aneh tiba-tiba menjerit,meraung setinggi langit. Dua mata mendelik besar, sekujur tubuh menegang, lalu menggelembung besar dalam waktu yang singkat

"Kek..kau..."

Raja berseru kaget sekaligus berusaha menolong Penujum Aneh.

Belum sempat dia melakukan apa-apa, didahului dengan jeritan menyayat hati sekujur tubuh Penujum Aneh meledak menjadi kepingan mengerikan.

Sebaran tulang bertanggalan dari setiap persendiannya,serpihan daging merah yang luluh lantak menjadi kepingan berhamburan kesegenap penjuru arah.

Karena jaraknya yang begitu dekat dengan Penujum Aneh saat ledakan terjadi.

Tanpa ampun serpihan daging dan percikan darah memenuhi pakaian dan wajah Sang Maha Sakti.

Bau amis dan anyirnya darah membuat Raja terhuyung,mulut bergelung mual dan dia keluarkan suara seperti orang mau muntah.

Tapi dia merasa sedikit lebih beruntung karena tidak jauh dari tempatnya berada ternyata terdapat sumber mata air yang sangat bening.

Dengan langkah lebar Raja menuju ke arah mata air itu,lalu membasuh wajahnya yang merah bercampur darah dan serpihan daging.

Setelah itu dia  juga berusaha membersihkan  pakaian putihnya  yang disebelah  atas.

Belum lagi Sang Maha Sakti selesai membersihkan noda menjijikkan yang menempel pada pakaian,wajah juga rambutnya.

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara kegaduhan yang terjadi dibelakangnya.

Dengan gerakan cepat pemuda ini melompat bangkit,lalu balikkan badan dan menatap ke arah dimana Penujum Aneh yang jadi serpihan berada.

Raja tercekat.

Sepasang mata mendelik menatap tak percaya terhadap apa yang dilihatnya.

Dia melihat entah dari mana datangnya puluhan bocah bocah kecil bertelanjang dada berpakaian ala kadarnya disebelah bawah sedang berebut potongan daging Penujum Aneh.

Sambil merangkak kesana kemari layaknya anjing-anjing yang kelaparan bocah bocah itu memunguti daging dan menjilati darah dengan mulut dan lidahnya .Menyaksikan pemandangan yang begitu mengerikan tanpa sadar Raja mengusap tengkuknya yang terasa dingin sambil telan ludah basahi tenggorokan yang mendadak kering.

"Aku tidak pernah melihat kekejian menjijikkan seperti yang kusaksikan saat ini. Mereka inikah yang disebut-sebut oleh Dewa Mabok sebagai Bocah Bocah Iblis?"

Batin Raja.

Sementara itu para bocah yang jumiahnya tidak kurang dari tiga puluh orang tampaknya mulai kehabisan santapan.

Setelah menjilati tangan masing-masing yang berlumur darah,para bocah itu kemudian saling pandang sesamanya.

Sambil menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang runcing tajam berwarna kemerahan. Bocah-bocah itu dongakkan kepala.

Dan mereka sama keluarkan suara.

Yang terdengar bukanlah suara selayaknya bocah.

Suara mereka tak ubahnya seperti suara raung dan lolong anjing gila kelaparan di malam buta. "Mahluk mahluk terlaknat. Kalian tidak pantas disebut sebagai anak manusia. Kebiadaban yang

kalian lakukan melebihi mahluk dan binatang buas manapun yang ada di dunia ini!" Geram Raja dengan wajah merah padam menahan kemarahan.

Suara erang dan teriakan Raja ini membuat puluhan bocah yang seakan tengah mengumandangkan raung kematian bagi calon korbannya berhenti melolong.

Tidak terlihat rasa kaget di wajah-wajah bocah yang seharusnya polos dan lugu itu. Melihat Raja mereka justru menyeringai senang, lidah terjulur, mulut membuka dan menutup sedangkan air liur meleleh seolah di mata mereka ada seonggok santapan yang lezat "Benar-benar bocah gila.. calon celaka. Memandang kalian sungguh tidak membuat aku merasa iba. Menyaksikan kekejian yang kalian lakukan membuat aku semakin yakin bahwa kalian bukanlah anak manusia, melainkan bocah-bocah Iblis yang harus dimusnahkan."

Geram pemuda itu .Diam-diam Sang Maha Sakti salurkan tenaga sakti ke kedua tangan.

Tangan kiri siap menghantam dengan pukulan sakti Badai Es warisan kakek gurunya Ki Panaraan Jagad Biru.

Sedangkan tangan kanan siap pula melepas pukulan dahsyat Cakar Sakti Rajawali warisan Nini Balang Kudu.

Sebagaimana telah dikisahkan dalam episode Misteri Pedang Gila,nenek bawel yang berdiam di dasar laut di tengah pantai selatan tak lain adalah guru Raja yang kedua.

Dimasa kecil Nini Balang Kudu selalu muncul di pulau Es dengan menunggang seekor naga besar berwarna putih.

Sedangkan Ki Penasaran Jagad Biru juga punya mahluk piaraan berupa seekor rajawali raksasa yang dikenal dengan nama Sang Pelintas Samudera.

Ketika Sang Maha Sakti mengerahkan ilmu Badai Es di tangan kirinya, seketika itu pula dari tangan tersebut memancarkan cahaya putih redup menebar hawa dingin luar biasa.

Sedangkan dari tangan kanan terlihat pancaran cahaya hitam kemerahan berbentuk sebuah cakar berukuran sepuluh lebih besar dari tangan Raja.

Dari tangan yang memancarkan cahaya berbentuk cakar itu pula menyebar hawa panas menghanguskan.

"Majulah! Aku yakin kalian yang telah membuat Penujum Aneh celaka. Tangan dan gigi kalian itu membuat seorang juru obat seperti Penujum Aneh tak dapat menyelamatkan nyawa sendiri. Tunggu apa lagi! Jika kalian ingin tubuhku yang pahit dan penuh racun itu lekas serang. Kalau tidak, aku akan membuat kalian jadi patung beku dan puntung neraka!"

Dengus Raja dengan sikap garang.

Tak jauh di depannya tiga puluh bocah iblis sama keluarkan suara menggeram. Walau mereka tak bisa bicara sebagaimana seharusnya anak manusia.

Namun mereka mengerti segala apa yang dikatakan Sang Maha Sakti.

Bocah-bocah ini saling memberi isyarat dengan anggukan dan tatap matanya yang berubah merah seperti bara api.

Hebatnya dengan cerdik mereka menyebar,mengepung Raja dari berbagai penjuru membentuk pertahanan berlapis bahkan beberapa diantaranya langsung melesat ke atas pohon, mendekam diatas sana menunggu kesempatan untuk melakukan serangan mematikan. Segala muslihat yang dilakukan oleh beberapa bocah iblis tak luput dari perhatian Raja.

Tapi biasanya pemuda yang bersikap konyol ini,sekarang justru menyeringai. "Segala tindakan yang kalian lakukan tak mengenal ampun tanpa belas kasih Mengapa?"

Tanya Raja. Bocah-Bocah Iblis menggereng. Namun Raja dengan tenang menjawab pertanyaannya sendiri.

"Karena aku tak tahu sesungguhnya kalian hanyalah mahluk sesat yang didatangkan dari neraka yang paling terkutuk!"

Begitu Raja menyebut kata "neraka"

Para bocah lagi-lagi menyeringal sambil menggerung.

Secepat kilat delapan bocah yang berada dibagian yang paling depan melakukan serangan secara serentak .Delapan bocah melesat, mulut yang bergigi tajam ternganga siap menghujam,delapan pasang tangan yang didukung kaki berkuku tajam mencuat berwarna kehitaman menyambar di delapan titik terlemah tubuh pemuda itu.

Melihat serangan datang mengancam di sekujur tubuh, menderu dari arah depan,belakang dan samping kiri kanan.

Raja berada pada pilihan yang sulit.

Bila jatuhkan diri tentu dia akan kena diterkam oleh dua bocah dari arah sebelah bawah.sebaliknya bila Raja lambungkan tubuh  keatas, maka  yang berjaga di atas  pohon siap menerkamnya.

Tanpa banyak membuang waktu apalagi untuk berpikir.

Mengandalkan jurus Tarian Sang Rajawali pemuda ini meliukkan tubuh.

Gerakkan cepat namun lembut ini membuat penyerang dari arah depan terkecoh. Tapi Raja segera memutar tubuh, lalu begitu tubuh berputar dua tangan dihantamkan kesegenap penjuru arah.

Dari tangan kiri cahaya putih berkiblat,hawa dingin menderu menghantam lawan dengan ganasnya, sedangkan dari telapak tangan kanan sedikitnya melesat tiga larik cahaya hitam kemerahan berbentuk cakar yang semakin membesar saat melesat di udara.

Delapan bocah iblis yang tadinya merasa yakin dapat mencidrai lawannya sempat tercekat .Mata yang merah mendelik, namun sambil melindungi tubuh dengan tangan tangan kiri,tangan yang lain terus melancarkan serangan menyambut dua pukulan yang dilepaskan Sang Maha Sakti.

Benturan keras menimbulkan dentuman ledakan luar biasa dahsyat.Tiga bocah terpental, jatuh bergedebukan membeku menjadi es.

Dua bocah lainnya jatuh terpelanting dengan dada jebol berlubang.

Dari bagian dada yang jebol langsung langsung menyemburkan darah dan tampak hangus menghitam.

Tapi bocah itu dalam waktu singkat bangkit kembali.Melihat lima temannya tewas menemui ajal. Teman-temannya yang lain mengerung.

Mereka tidak hanya marah tapi juga sangat kalap. "Uuung..."  

Satu yang bertindak sebagai pimpinan bertubuh gelap bermata lebih merah keluarkan suara raungan. Teman -temannya yang lain juga ikut meraung.

Lalu sayup-sayup terdengar suara teriakan bernada perintah dikejauhan. "Bunuh..."

Raja menggeram.

Dia sadar ilmu kesaktian pun yang dipergunakan lawan-lawannya ini dapat membuatnya celaka.

Tak ingin mengalami nasib konyol menjadi korban serangan bocah-bocah iblis.Kedua kaki Raja bergerak lincah,sedangkan tangan berkali-kali lakukan gerakan mendorong sekaligus menangkis. Sambil menggunakan jurus aneh Tenaga Dewa Menggusur Gunung,pemuda ini berjumpalitan keatas hindari pukulan.

Lima serangan ganas luput hanya menyambar sejengkal di bawah kakinya.

Walau begitu lima serangan lain terus menderu mengincar dada,perut juga pinggangnya.

Tak ingin celaka terkena hantaman cahaya hitam panas menghanguskan. Raja lambungkan tubuhnya lebih keatas.Kemudian dengan mengandalkan pukulan Sakti Badai Serat Jiwa, kibaskan tangan kanannya dari arah depan kebelakang

Wuus! Werr!

Dari arah tangan Sang Maha Sakti menggemuruh suara aneh laksana badai topan yang melanda bumi.

Hawa dingin luar biasa disertai hamparan kabut putih bergulung-gulung melabrak lima cahaya hitam yang datang menghantam dari lima penjuru.

Dentuman menggelegar serasa merobek langit,menimbulkan guncangan hebat luar biasa. Lima bocah iblis jatuh bergedebukan.

Berguling guling di tanah namun mereka segera bangkit tanpa cidera sedikitpun. Sementara itu Raja yang berada diketinggian tanpa berpijak pada apapun nampak terguncang keras.

Walau dia mampu memusnahkan lima cahaya panas namun pecahan cahaya panas yang di- buatnya porak poranda sebagian masih bertebaran di udara.

Sisa cahaya itu seakan memberangus tubuhnya membuat matanya menjadi perih sedangkan sekujur tubuh serasa digoreng diatas kobaran api.

Sambil keluarkan suara menggereng tak ubahnya harimau terluka, pemuda ini alirkan tenaga dalam kebagian kaki.

Pengerahan tenaga yang dilakukannya itu membuat tubuhnya lebih berat disebelah bawah.

Tanpa ampun Raja meluncur ketanah berbatu sejarak dua tombak diluar jangkawan bocah-bocah yang mengepungnya. Namun baru saja kakinya menjejak tanah.

Dibagian bawah belasan tangan datang menyambut, membabat sekaligus menghujamkan gigi- giginya kebetis serta paha pemuda itu. Raja terkesima melihat lawan lawannya.Dan dia menjadi lebih terkejut ketika merasakan ada sambaran angin dahsyat menyambar tengkuk dan kepala sebelah atas.

Walau tak melihat Raja mengetahui bahwa bocah-bocah yang berada diatas pohon itulah yang memyerangnya. Tanpa ampun dia segera memutar tubuh sekaligus tendangkan kakinya dengan gerakan berputar.

Begitu gerakan kaki lakukan sapuan keras kearah lawan-lawannya yang menyerang di sebelah bawah, juga segera hantamkan tangannya ke atas kepala.

Wuus ! Duuk!

Tiga bocah yang menyerang datang dari atas pohon dapat dibuat terpental.Namun sambaran cakaran kuku-kuku salah satu diantara ketiga bocah itu membuat pukulan di bagian bahu sebelah atas hingga  ujung lengan  robek  tercabik.  Selain itu  dilengan  Raja  juga  terdapat luka  bekas cakaran.

Walau tidak dalam namun dia tahu cakaran kuku lawan mengandung racun jahat.

Raja menggeram.Diam-diam dia alirkan hawa sakti yang dapat menghentikan aliran darah juga melenyapkan racun yang mendekam di bagian luka tersebut. Tapi apa yang dialami Raja hanyalah sebuah awal karena ketika dia memutar tubuh sambil lepaskan tendangan beruntun kearah kepala dan tubuh bocah-bocah iblis yang menyerangnya dibagian bawah.

Sebagian bocah yang tahu kehebatan Sang Maha Sakti menarik serangan,lalu berlompatan hindari tendangan.

Tapi beberapa teman sang bocah rupanya berlaku nekat.

Mereka malah menyambut tendangan menggeledek itu dengan jari-jari tangan yang dipentang laksana cakar baja.

Duuk! Buk! Raak! Cess!

Terdengar suara bergedebukan bertalu-talu.

Satu lawan kena di tendang hingga jatuh terpelanting dengan kepala remuk akibat terbentur batu.

Dua lainnya kuku dan lengannya hancur berpatahan.

Sedangkan dua bocah yang berhasil berkelit hindari tendangan sebaliknya berhasil hujamkan kuku-kukunya yang tajam kebagian paha dan kaki sebelah bawah pemuda itu. Tidak hanya celana Sang Maha Sakti saja yang robek tercabik-cabik. Sebaliknya dibagian sebelah tubuh sebelah bawah pemuda itu dipenuhi luka goresan.

Ada darah yang mengalir.

Membuat para bocah semakin bersemangat begitu mengendus bau amis darah.

Seperti kumpulan lalat hijau yang mengendus bangkai busuk, bocah-bocah itu kembang kempiskan hidungnya, lalu merangkak, merayap dengan mengendap-endap membuat Raja terpaksa lesatkan diri dan jejakkan kakinya di atas pohon.

Begitu Raja jejakan kaki,dua bocah yang mendekam di sana menyambutnya dengan serangan ganas.

Satu menyerang dari belakang satunya lagi melesat dengan tangan berjulur siap menjebol perut Sang Maha Sakti.

Bagi Raja serangan kedua bocah walau berbahaya namun tak begitu berarti.Dan dia menghantamkan sikunya kebelakang dan jotoskan tinjunya kedepan.

Terdengar suara berderak patahnya tulang leher bocah yang menyerang dari belakang.Bocah itu melolong, tubuhnya mencelat terpelanting lalu jatuh menimpa teman-temannya yang berada di bawah sementara begitu melihat tinju menderu dan berhasil menerobos pertahanannya, bocah iblis yang lakukan serangan dibagian depan nampaknya tidak mau mengambil resiko.

Bocah ini segera membantingkan tubuh kesamping dan jatuh dengan kaki serta tangan menjejak tanah .Puluhan bocah bocah iblis yang berada di bawah nampaknya semakin murka.

Terlebih ketika mereka melihat kenyataan beberapa diantara mereka terbunuh.

Sementara Raja yang hendak mereka jadikan santapan justru masih bertengger diatas pohon sambil memperhatikan tubuh dan pakaiannya yang tercabik-cabik menjadi serpihan.

"Kurang ajar dan sangat keterialuan. Nampaknya mereka bukan cuma menginginkan diriku.

Bocah-bocah itu juga menghancurkan pakaianku. Hmm....baiklah. Aku harus mengabaikan pakaianku yang nyaris telanjang Asalkan disini tidak ada perempuan.Dengan pakaian seperti ini kurasa masih bagus."

Pemuda itu menyeringai .Memandang kebawah.Dia melihat semua lawannya menatapnya dengan sorot mata garang. Ketika memperhatikan dirinya sendiri dan melihat luka itu dia tak mau menunggu lebih lama.

"Walau tubuhku kebal terhadap berbagai jenis racun, namun aku tak mau berlaku ayal. Aku harus melenyapkan racun dari luka-luka itu."

Batin Raja .Menggunakan kesempatan yang sangat singkat itu, Sang Maha Sakti segera alirkan hawa sakti ke bagian luka-luka dibagian kakinya.

Begitu hawa hangat mengalir deras kebagian tubuh sebelah bawah dan lengan sebelah kanannya. Dari bagian luka-luka itu terlihat mengepul asap tipis berwarna hitam kemerahan menebar bau busuk luar biasa.

Lalu seiring dengan mengepulnya asap terlihat ada cairan hitam mengalir keluar dari setiap bagian luka.

Ketika tebaran asap lenyap dari pandangan.

Bagian tubuh yang terluka itu secara menakjubkan kembali bertaut hilang lenyap dengan sendirinya.

Orang lain yang melihat keanehan itu pasti akan tercengang kagum menyaksikan kehebatan Raja.

Tapi bagi Sang Maha Sakti sendiri, tindakan menyembuhkan luka dalam waktu yang singkat itu tentunya bersumber dari ilmu yang didapatnya dari sang guru Ki Panaraan Jagad Biru.

Dan ilmu itu dikenal dengan "Menutup Luka Keselamatan Jivwa." Tidak lama setelah luka-luka lenyap.

Sekali lagi dia menatap ke bawah.

Dia melihat belasan bocah kini bergerak cepat menyusulnya ke atas pohon.

Seperti binatang kelaparan mereka berlomba dan berebutan naik dengan cara memanjat dan merayap.

Sementara dari setiap mulut mengeluarkan suara aneh seperti orang meracau menyeramkan. "Bagus! Datanglah kalian semua kepadaku. Aku akan memberikan satu pelajaran penting yang

tak akan kalian lupakan seumur hidup." Kata Raja.

Berkata begitu dengan tatapan dingin. Raja segera merapal mantra ajian ilmu kesaktian lainnya yang dikenal nama, Alot Raga Pembalik Rasa.

Selesai mulutnya berkemak-kemik.

Dia menyapukan telapak tangannya kebagian wajah. Wuus!

Begitu telapak tangan  menyapu wajah.

Ada hawa dingin aneh merayapi sekujur tubuhnya hingga membuat semua yang tumbuh diseluruh tubuh Raja berjingkrak tegak. Sekali lagi Raja menyeringai.

Tapi sekonyong dia teriak ditujukan pada semua lawannya.

"Siapa yang menginginkan diriku,cepat maju.Aku punya hidangan lezat yang bisa mengantar kalian ke akherat!"

"Ui.... haling...!"

Puluhan mulut keluarkan suara aneh, lidah terjulur dan wuus! Seperti kawanan lebah murka yang keluar dari sarangnya.

Secara berbarengan para bocah iblis yang kini jumlahnya tak kurang dari dua puluh orang itu menyerang berkelebat ke arah Raja.

Dan tahu-tahu mereka semuanya telah bergelayutan disekujur tubuh Sang Maha Sakti.

Sambil berpegangan menempel di tubuh pemuda itu, mereka mulai menggerogoti,menggigit dan hujamkan kuku-kuku mereka yang tajam keseluruh tubuh Raja.

Tapi apa yang terjadi kemudian benar-benar membuat para bocah itu tercengang. Serangan mereka sama sekali tidak dapat menembus tubuh lawannya.

Jangankan menembus, melukai kulit Sang Maha Sakti pun tidak sanggup.

Hanya sia-sia dan pakaian yang menempel di tubuh pemuda itu malah yang terenggut habis.

Sementara karena begitu banyaknya para bocah yang bergelantungan di tubuh Raja membuat pemuda ini merasa berat.

Sambil menggeram dan keluarkan suara seperti tercekik. Raja menggoyangkan tubuh ke kanan dan kiri.

Begitu tubuh digoyang sebagian lawan jatuh terpental.

Sedangkan yang lainnya malah berjatuhan akibat terkena pukulan dan hantaman siku pemuda itu. Bocah Bocah Iblis ternyata  sangat penasaran  sekali.

Beberapa temannya terjatuh, namun yang lainnya merangsak maju. Lagi-lagi mereka menyerang dengan cara mengeroyok.

Sementara akibat beratnya beban yang ditanggung salah satu dahan yang menjadi tempat berpijak Raja patah  berderak.

Tanpa ampun karena sulit bergerak maka Raja pun meluncur deras ke bawah lalu jatuh bergedebukkan bersama bocah bocah yang menggelayuti tubuhnya.

Karena jatuhnya dalam keadaan terlentang tentu saja diantara bocah yang menempel ketat dipunggungnya jadi tergencet.

Mereka yang tertindih Raja ada yang pingsan ada pula yang tewas. Berusaha keras membebaskan diri dari sergapan, Raja Gendeng segera berusaha bangkit.

Namun sebelum dia dapat bangkit berdiri kini Bocah Bocah Iblis yang berada di bawah dan menunggunya sudah menyerang.

Serangan yang mereka lakukan kini tidak hanya berupa gigitan dan cakaran ganas tapi juga menggunakan pukulan sakti.

Karena dirinya terlindung ilmu ajian Alot Raga Pembalik Rasa, maka yang terjadi tubuh Raja tak dapat dilukai.

Sebaliknya ketika mereka menghantam pemuda itu dengan pukulan sakti,serangan yang mereka lancarkan malah berbalik kembali menghantam diri mereka sendiri. Beberapa bocah tak menyangka serangannya bakal berbalik seperti itu tak punya kesempatan menyelamatkan diri.

Mereka tewas dengan tubuh dipenuhi luka mengerikan. Raungan mengerikan terdengar disana-sini.

Sang Maha Sakti Raja Gendeng semakin bertambah marah.

Setelah bersusah payah menghalau bocah-bocah yang menggelayuti tubuhnya,pemuda ini kemudian bangkit berdiri.

Begitu bangkit dan menyadari tubuhnya nyaris tak tertutup selembar benang pun dia menggerutu.

"Bocah bocah terkutuk. Belum pernah aku mengalami hal seperti ini. Untung aku memakai pelapis celana bagian dalam dari kulit. Kalau tidak,wah....burung perkutut bisa gondal-gandil tak karuan.

Keterlaluan...!

Baru saja Raja berkata demikian, lagi-lagi pukulan ganas menghantam tubuhnya. Raja malah tertawa terkekeh sambil bertolak pinggang.

"Hantam terus! Semakin keras kalian menyerangku dengan pukulan, makin keras serangan itu berbalik menghantam diri kalian sendiri!"

Kata Sang Maha Sakti, Apa yang diucapkan Raja ternyata memang benar. Terbukti para bocah itu kemudian jatuh berpelantingan sambil menjerit kesakitan.

Sementara pada kesempatan itu, tiba-tiba saja Raja mendengar suara ngiangan datang dari hulu pedang yang tergantung di punggungnya.

"Sahabatku yang mulia Raja Gendeng. Keadaanmu sungguh memalukan." "Sudah tahu mengapa kau tidak memberi aku pakaian?"

Dengus Raja acuh.

"Maafkan aku paduka,mana mungkin aku memberi pakaian untukmu. Sebagai Jiwa aku sendiri selalu kedinginan karena hampir tak berpakaian. Lebih baik kau perintahkan aku untuk melakukan yang lain." kata Jiwa dalam Pedang Gila.

"Puah. Sejak tadi aku sudah repot. Kau diam saja. Sekarang kuperintahkan padamu. Singkirkan bocah-bocah iblis itu dariku!"

Seru Sang Maha Sakti.

"Perintah paduka Raja Gendeng dengan senang hati saya lakukan." Sahut jiwa yang bersemayam di hulu Pedang Gila.

Trek! Wuut!

Terdengar suara berkerotakan dibagian rangka pedang yang disusul dengan menderunya angin disertai berkiblatnya cahaya kuning berhawa dingin menggidikkan. Cahaya kuning keemasan menderu membabat ganas ke arah bocah-bocah itu dengan dahsyat.

Para bocah Iblis walau memperhatikan namun tidak pernah tahu gerangan apa senjata yang menghantam mereka.

Yang jelas walau mereka berusaha menghancurkan pedang yang menyerang mereka.

Tetap saja mereka bergelim-pangan dengan tubuh ternganga terluka ditembus pedang. Serangan Pedang Gila yang dapat menyerang dengan sendirinya walau pun tidak berada dalam genggaman tangan Raja berlangsung tidak lama.

Ketika sebagian besar bocah iblis menemui ajal, beberapa sisanya berserabutan selamatkan diri tinggalkan tempat terjadinya pertempuran.

Pedang Gila terus mengejar. Tapi Raja tiba-tiba berseru.

"Sahabatku Pedang Gila! Jangan dikejar. Biarkan anak-anak iblis itu pulang ke kandang melaporkan pada ayahnya!"

Belum lenyap suara teriakan Sang Maha Sakti, dikejauhan terdengar pula seruan mengguntur.

Tapi seruan itu jelas ditujukan pada sisi-sisa Bocah Iblis yang selamat

"Anak-anak! Pulang! Akan ada waktu yang tepat untuk menghabisi Raja Gendeng jahanam yang telah membunuh saudara-saudara kalian itu!"

"Kurang ajar! Pangeran terkutuk aku tahu kau yang bicara. Lekas unjukkan diri kalau benar punya nyali. Jangan mewakilkan segala urusanmu kepada anak keturunanmu!"

Kata pemuda itu dingin.

"Ha ha ha! Anak manusia yang bernama Raja. Bergelar Sang Maha Sakti Raja Gendeng. Nanti giliran bagimu akan tiba. Kau tak perlu mencariku. Tapi aku dan seluruh pasukankulah yang akan mencarimu. Sekarang ini lebih baik kau urusi dirimu sendiri. Cari pakaian yang layak. Tutupi barang keramat bulukan milikmu itu agar tidak kedinginan. Ingat kau telah membunuh anak turunanku. Kelak aku akan menjawabmu dengan siksaan yang amat pedih.Ha ha ha...!"

Walau merasa geram.Tak urung Raja cepat tekap bagian bawah perutnya yang terlindung celana kulit tipis berbentuk perahu dengan kedua tangannya. Sambil celingukan memperhatikan pedangnya yang berputar diudara dan siap kembali ke rangkanya,Pemuda itu berkata,

"Sialan. Anu bagus dan mulus begini dia bilang bulukan.Memangnya dia pernah melihat aku mandi, aku yakin dia tidak melihat anuku sedangkan anu-anu...Kurang ajar. Aku yakin dia cuma merasa iri. Mungkin anunya lebih kecil dari anu bajing. Tapi mengapa anak-anaknya begitu banyak?"

Raja geleng kepala. Mulut cemberut wajah tampak masam. Selagi pemuda ini merasa serba salah.

Dibelakangnya terdengar suara ....

Trek!

Pemuda itu tahu Pedang Gila telah masuk kembali ke dalam rangkanya. Tanpa melihat ke belakang dia berkata;

"Terima kasih kau telah membantu. Pangeran Durjana baru saja memanggil pulang anak anaknya.

Tapi...aku bingung..."

Kata Raja sambil tetap mendekap bagian bawah perut dengan keduua tangannya. "Paduka tak usah bingung. Disini tidak ada perempuan. Mengapa terus di dekap?" Kata Jiwa Pedang.

"Ah aku tahu. Tapi aku takut si anu terbang. Kalau dia meninggalkan aku bagaimana? Mana mungkin aku hidup tanpa dia. Biarpun aku seorang raja dan kaya raya. Kalau tak punya yang satu ini perempuan mana yang mau menjadi istriku."

Celetuk pemuda itu cemas.

Terdengar disusul ucapan

"Baru begitu saja sudah repot. Mengapa tidak segera paduka carikan sarangnya biar dia tak pergi kemana-mana."

"Sarang? Gila betul. Kau kira yang satu  ini perkutut yang bisa kentut.  Mana mungkin dimasukkan dalam sarang?"

"Mengapa paduka jadi bodoh. Tentu saja yang saya maksudkan paduka harus mencari baju dan celana."

"Aku tahu. Tapi disini hutan. Mana ada tukang baju tukang celana."

Sahut Raja sambil menyeringai. Jiwa dalam pedang terdiam. Namun kemudian terdengar ucapan. "Rasanya dewa bermurah hati. Menurut hemat saya sebaiknya paduka Raja Gendeng berjalan saja

lurus ke depan. Mungkin di tempat itu paduka bisa mendapatkan apa yang paduka butuhkan." Saran jiwa pedang.

"Mungkin katamu,jadi belum pasti? Kau jangan membuatku malu atau sengaja hendak mempermalukan aku."

"Saya tidak mempermalukan paduka. Lagi pula yang dapat membuat malu paduka kan sedang paduka dekap. Berjalanlah lurus ke depan paduka. Yang paduka butuhkan ada disana."

Saran Jiwa pedang. Setelah terdiam dan berpikir,akhirnya Raja anggukan kepala tanda setuju. Selanjutnya sambil langkahkan kaki dan dua tangan Raja terus memegangi perut disebelah bawah dan berkata,

"Salama hidup baru kali ini aku dibuat malu begini. Bagusnya guru-guruku tak melihat. Jika mereka ada disini. Walah mau ditaruh dimana mukaku ini?"

"Letakkan saja wajah paduka diketiak.Ha ha ha..." kata Jiwa pedang disertai tawa bergelak. Raja bersungut-sungut. Dia tidak menanggapi. Sebaliknya malah mempercepat langkah.

TAMAT