Raja Gendeng Eps 08 : Bangkitnya Sang Titisan

 
Eps 08 : Bangkitnya Sang Titisan


Menjelang pagi pasang air laut meluap hingga ke daratan. Suasana desa nelayan di Pantai Carita terasa sunyi mencekam. Tak terlihat tanda-tanda kehidupan didesa itu.

Semua penduduk tewas terbantai setelah sekawanan lebah berasal dari dunia kematian yang dikenal dengan nama Lebah Kepala Hati Berbunga menyerang sekaligus membunuh orang tua, anak-anak juga para perempuan tua.

Seperti telah dikisahkan dalam episode sebelumnya, kawanan lebah selain hanya membunuh para orang tua dan anak-anak saja, juga iring-iringan makhluk berbisa ini menyerang para gadis. Tetapi Setiap gadis yang diserang oleh lebah Kepala Hati Berbunga tidak menemui ajal.

Kebanyakan gadis justru menjadi salah tingkah, darah berdesir aneh, wajah memerah, jantung berdegup kencang dan tak ubahnya seperti orang yang dimabuk cinta.

Seperti telah diketahui pula, setelah tersengat lebah, mereka terus berjalan beriringan tanpa mengenal lelah mengikuti kawanan lebah yang telah menyengat mereka.

Sepanjang jalan dari masing-masing mulut terdengar suara mendesah.

Sampai disuatu tempat tak jauh dari kaki bukit yang ditumbuhi pepohonan menjulang tinggi, kawanan lebah yang memimpin di depan hentikan gerakan terbangnya.

Begitu kawanan mahluk-mahluk berbisa ini berhenti maka belasan gadis ini ikut hentikan langkah pula.

Mereka menatap ke arah lebah-lebah berkepala merah itu dengan pandangan kosong, sementara dari mulut mereka tetap keluar suara desis tiada henti.

Ribuan kawanan lebah bersikap tidak perduli.

Mereka yang terbang mengambang diatas ketinggian tiba-tiba melakukan gerakan aneh, sayap dikepak hingga mengeluarkan suara berdengung menggidikkan.

Setelah itu mahluk-mahluk ini terbang tinggi.

Diketinggian mereka berputar tiga kali lalu menukik tajam ke bawah menembus kegelapan di bawah pohon.

Suasana kembali sunyi mencekam. Para gadis saling pandang. Mereka begitu resah.

Dua tangan tidak mau diam terus mengusap bagian-bagian tubuh sedangkan dari mulut terus menerus keluarkan suara desah.

Tetapi kesunyian tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba saja terdengar suara lolong anjing saling bersahut-sahutan.

Angin dingin menderu menebarkan bau busuk menyengat. Bersamaan dengan itu dari balik kegelapan berkelebat satu sosok bayangan hitam.

Sekejab saja sosok yang baru muncul telah berdiri di depan para gadis. Sosok yang datang memiliki tubuh tegap tinggi.

Sekujur tubuh digelayuti ribuan lebah.

Lebah-lebah inilah yang tadinya menyerang dengan sengatan berbisa hingga membuat para gadis dimabuk asmara.

Sosok tinggi itu menatap sejenak pada para gadis yang berdiri berjejer didepannya. Kemudian dari mulut yang digelayuti lebah terdengar ucapan lirih namun memerintah. "Wahai para budak dan hambaku, pengawal setia pesuruh pencari kenikmatan. Menyingkir

sebentar, lakukan pengawalan dibelakang. Aku ingin memperkenalkan diri pada para kasih dan calon-calon istriku ini!"

Baru saja mulut selesai berucap, ribuan lebah yang bergelayutan diseluruh tubuh sosok tingg tersebut keluarkan suara berdengung, sayap di kepak kemudian secara serentak berhamburan tinggalkan majikannya.

Setelah sempat terbang berputar diatas kepala, mahluk-mahluk berkepala merah itupun mengambang diketinggian tak jauh dibelakang majikannya.

Begitu kerumunan lebah menyingkir, kini sekujur tubuh sosok tinggi itu terlihat jelas.

Sosok berupa laki-laki berambut hitam panjang memilikd wajah pucat, angker seperti mayat. Sepasang mata putih kusam dengan dua titik hitam kecil di tengah mata.

Dia hanya memakai celana sebatas lutut, dadanya terbuka dipenuhi tulang-tulang bertonjolan dilapisi lendir. Perut membuncit pusar mencuat keluar sepanjang ibu jari.

Selain itu kedua kakinya menjuntal, lutut runcing bergerigi sedangkan disetiap jemari ditumbuhi kuku panjang melengkung berwarna hitam kecoklatan.

Secara keseluruhan penampilan laki-laki ini selain menyeramkan juga tidak sedap untuk dipandang.

Yang aneh walaupun keadaannya begitu mengerikan namun gadis-gadis yang berada dihadapannya tidak merasa takut sedikitpun.

Malah mereka terlihat begitu bersemangat, tangan menggapai dengan gerakan hendak merangkul, lidah dijulur-julur keluar masuk mulut. Melihat ini laki-laki itu menyeringai.

Tanpa membuang waktu dia pun kemudian berucap ditujukan pada gadis-gadis itu. "Kuucapkan selamat datang pada kalian semua calon istriku. Aku adalah pangeran kebebasan,

aku menyebut diriku sebagai Pangeran cinta. Tapi para pendahulu, juga para sesepuh yang tidak menyukai kebebasan jalanku menyebut sebagai Pangeran Durjana. Tapi aku tidak perduli. Karena aku tahu segala rasa cinta akibat hubungan sedarah dengan adikku puteri Atut terus berkobar hingga kubawa ke liang kubur, lalu aku kemball hidup sesuai dengan sumpahku."

Pangeran Durjana hentikan ucapannya. Sekali lagi dia memperhatikan belasan gadis didepannya.

Mulut mengurai senyum, sedangkan gadis-gadis itu anggukan kepala seolah mengetahui apa yang diucapkan sang pangeran dan segala rahasia hatinya.

"Kepada kalian semua kuharapkan dapat membantu aku dalam mewujudkan semua impianku. Implan adalah membuat sebuah singgasana baru, pasukan yang luar biasa hebat dan membasmi semua anak turun Ratu Tria Arutama yang tak lain adalah bunda kandungku sendiri. Aku tahu keturunannya ada yang menjadi raja di istana Malingping. Aku ingin menghancurkan mereka semua termasuk juga manusia keparat yang dijuluki Dewa Mabok. Tapi... untuk mewujudkan semua impianku itu aku butuh pasukan yang besar. Kekuatan itu kuharapkan datang dari darah dagingku sendiri. Kita akan bercinta, setelah kalian hamil semua, atas kuasa kegelapan tiga hari setelah masa kehamilan kalian akan melahirkan. Bayi-bayi yang terlahir segera tumbuh besar dalam waktu enam hari. Dan mereka ini bukanlah bayi biasa. Mereka adalah kekuatan penyerang yang digembleng oleh kuasa kegelapan Ha ha ha...!"

Para gadis yang berada dalam pengaruh sirap saling berbisik. Sesekali mereka menggeliat dan meliuk-liukkan pinggulnya. Mulut berdesis, mata setengah terpejam sementara bibir mereka yang merah nampak menganga. Melihat semua itu Pangeran Durjana hentikan tawa.

"Mengajak semua gadis itu bercinta sepanjang malam ini akan sangat melelahkan. Tapi demi sebuah kehendak semua itu tidak mengapa"

Membatin sang pangeran di dalam hati. Lalu pada gadis-gadis itu dia berkata,

"Wahai para kekasihku .Sudah waktunya kita pergi ke istana cinta. Tapi sebelum itu aku ingin memperlihatkan diriku yang sebenarnya pada kalian."

"Wahai junjungan. Wahai pangeran yang kami damba. Kami semua sudah tidak sabar melihat rupa ujudmu yang sebenarnya. Tunjukanlah sekarang, perlihatkanlah diri pangeran."

Kata salah seorang gadis berpakaian kuning berpinggul indah berkulit putih.

"Kami sudah tidak sabar menerima belaianmu Bawalah kami ke surga yang indah itu. Jangan biarkan kami kedinginan disini. Hik hik hik" timpal gadis berpakaian serba hijau berdada besar.

"Bagus. Kalian memang penuh semangat mengingat usia kalian yang masih muda. Sekarang bukalah mata, pentang yang lebar. Lihatlah diriku apakah aku layak disebut sebagai Sang Pencinta dari Alam Kematian. Ha ha ha...!"

Setelah berkata begitu pangeran Durjana memutar tubuhnya Wuus!

Mula-mula sang Pangeran memutar tubuhnya dengan lambat. Namun semakin lama semakin bertambah cepat. Bersamaan dengan itu terlihat asap mengepul menyelimuti tubuh sang pangeran. Kepulan asap membubung. Aroma kemenyan sangat menyengat.

Ketika sang pangeran berhenti bergerak kepulan asap yang menyelimuti tubuhnya secara perlahan berangsur lenyap. Ketika semua gadis menatap ke depan, mereka semua sama tercengang begitu melihat sosok pangeran yang bertubuh pucat berwajah angker menjijikan ternyata telah menjelma berubah menjadi seorang pemuda berwajah gagah tampan berkulit putih bersih berkumis halus dengan dada ditumbuhi bulu

"Bagaimana? Apakah orang sepertiku layak mendapatkan kalian semua?" Tanya sang pangeran.

"Oh gusti pangeran.Ini sungguh luar biasa. Ketampananmu membuat kami tak sabar lagi menunggu. Bawalah kami semua ke dalam pelukanmu," kata gadis-gadis itu bersamaan.

Mereka kemudian berlarian, menghambur berebut memeluk Pangeran Durjana.

Sang Pangeran tertawa penuh kemenangan. Tak ubahnya seperti orang yang baru memenangkan pertempuran besar.

Sambil merangkul beberapa gadis yang dianggapnya paling cantik dia berjalan meninggalkan tempat itu. Selain dilikuti beberapa gadis di belakangnya ribuan lebah mengawal pangeran itu.

****

Sementara itu dibagian sebelah selatan pantai Carita.

Disaat pasang air laut mulai surut. Gadis cantik berpakaian putih berambut panjang dan gadis berpakaian biru dengan lesung pipit dikedua pipinya masih duduk bersimpuh di atas pasir.

Wajah mereka membayangkan rasa khawatir ketika keduanya menatap kedepan. Sesosok tubuh berupa seorang kakek renta berambut putih berwajah tirus dengan tubuh layaknya tengkorak tergeletak diatas lembaran daun nipah.

Keadaan orangtua itu sangat mengenaskan.

Bagian kening lebam membiru, tenggorokan terluka, sedangkan dada disebelah kiri menganga lebar.

Tak jauh disamping si kakek tergeletak sebuah pelita.

Pelita itu bukan pelita hiasan melainkan pelita keramat yang bernama pelita kepala. Sebagaimana telah dikisahkan dalam episode sebelumnya, Orangtua yang dikenal dengan nama

Ki Lara Saru-saru itu sebenarnya adalah penjaga makam raja-raja kuno di pulau Rakata.

Usianya lebih dari seribu tahun.

Dia muncul dikarang Hantu, sebuah pulau kecil diselatan gunung Krakatau bertepatan dengan malam bangkitnya pangeran Durjana dari kematiannya.

Kehadiran Ki Lara di pulau itu adalah untuk mencegah sang pangeran kembali dari kematian.

Namun diluar dugaan setelah bangkit dari dasar laut pangeran Durjana ternyata memiliki ilmu kesaktian yang sangat luar biasa.

Kehebatannya menjadi empat kali lipat.

Perkelahian sengit terjadi, dua pelita keramat yang didatangkan dari alam arwah yang bertengger dibahu kanan kiri si kakek dibuat hancur.

Hanya satu pelita yang luput dari kehancuran.

Sebaliknya Ki Lara sendiri mengalami nasib nahas. Selain dapat dilukai, Pangeran Durjana juga menjebol dadanya, menguras darah di jantung dan menggunakan darah si kakek untuk memperpanjang hidup pangeran itu sendiri. Pangeran Durjana lalu pergi bersama pasukan lebahnya dengan cara terbang melewati selat Rakata sedangkan Ki Lara tidak sadarkan diri .Begitu dia sadar di tengah malam, pelita kepala yang bertengger diatas kepalanya membimbing sekaligus menuntun Ki Lara yang sekarat mengarungi lautan dengan menggunakan perahu kecil.

Ketika Ki Lara terdampar bersama perahunya di pantai Carita.

Di tempat itu justru sedang terjadi perkelahian sengit antara dua gadis yang tak lain adalah puteri Arum Senggini dan Nila Agung kedua anak prabu Tubagus Kasatama dari istana Malingping dengan mahluk bayangan kiriman pangeran Durjana.

Kedua puteri cantik ini terdesak.

Namun pada saat yang sangat menghawatirkan itu muncullah Raja di tempat itu.

Berkat bantuan sang Maha Sakti Raja Gendeng, lima bayangan kembar Pangeran Durjana dapat dilenyapkan.

"Kita tak mungkin bisa menyelamatkan kakek ini." kata puteri Arum Senggini dengan nada putus

asa. Sang adik puteri Nila Agung tidak langsung menjawab melainkan menatap kearah si kakek yyang terkapar tidak sadarkan diri. Setelah sempat terdiam lama.

Dia pun lalu membuka mulut.

"Jika kakek ini orang biasa, dalam keadaan terluka parah dan kehilangan darah begini banyak seharusnya dia sudah tewas."

"Dia punya daya tahan luar tidak berdaya."

Sahut Arum Senggini. Sang puteri kemudian menatap sekelilingnya. Dia tidak melihat siapapun. "Sayang kita melihat pemuda yang telah membantu mereka itu."

"Kemana dia?" "Dia siapa?" Tanya Nila Agung.

"Kau jangan berpura-pura. Aku tidak melihat pendekar gendeng itu." Ujar Arum Senggini.

"Oh Raja. Aku tidak tahu dia pergi kemana, mungkin saja sedang mencarikan obat untuk kakek ini." kata Nila Agung

"Mencari obat? Apa dia bisa menyembuhkan luka berat yang dialaminya? Dia kehilangan hampir seluruh darahnya. Sekalipun seorang raja obat tak mungkin bisa menyembuhkan Ki Lara."

"Soal itu aku tidak tahu kakak. Aku bukan turunan tabib. Siapa tahu Raja selain putera raja yang memiliki ilmu kesaktian luar biasa tinggi juga masih keturunan dukun. Hi hi hi..." ujar Nila Agung menduga-duga.

Belum lagi Arum Senggini sempat menanggapi ucapan adiknya. Tiba-tiba dari balik kelebatan semak belukar berkelebat satu bayangan putih kearah mereka. Kedua gadis ini terkejut ketika melihat didepan mereka berdiri tegak seorang pemuda berambut gondrong sebahu berpakaian putih. Pemuda itu kemudian menurunkan satu tandan pisang masak dari bahunya lalu meletakkan pisang harum di depan mereka.

"Kalian merasani."

Tanya si pemuda yang bukan lain adalah sang Maha Sakti Raja Gendeng. Kedua puteri itu tersipu, Nila Agung buru-buru hendak menjawab, namun Raja segera menyambung ucapannya.

"Aku sudah mendengar semuanya dan menurutku didalam tubuh ini hanya terdapat satu jenis darah yaitu darah biru. Tidak ada darah dukun sebagaimana yang kalian sangka. Tapi aku memang telah dibekali berbagai ilmu pengobatan oleh kedua guruku."

"Hmm, ternyata kau tidak hanya mempunyai kesaktian tinggi. Tapi juga pandai dalam hal pengobatan. Lalu... apakah kau hendak mengobat Ki Lara ini dengan menggunakan pisang?"

Tanya Arum Senggini bersungguh-sungguh. Raja tersenyum lalu cepat gelengkan kepala.

"Oh tentu saja tidak. Keadaannya tidak memungkinkan untuk ditolong. Jangankan aku, kurasa dewa obat sekalipun tak mungkin bisa memulihkan keadaannya." "Jadi apa gunanya pisang ini kau bawah kemari?"

Tanya Nila Agung dengan kening berkerut penuh rasa ingin tahu. Pertanyaan sang puteri berlesung pipit ini membuat senyum Raja makin melebar. Dengan enteng dia menjawab.

"Aku yakin gusti puteri berdua lapar. Dimalam dingin begini membuat orang mudah lapar.

Lagipula bukankah banyak sekali wanita yang suka pisang?!" "Heh apa maksud ucapanmu itu?"

Hardik Arum Senggini sambil delikkan matanya

"Eh iya. Apa maksud ucapanmu itu? Lagipula mengapa kau masih juga memanggil kami gusti padahal kau putera seorang raja pula?"

Kata Nila Agung.

"Aku tidak punya maksud apa-apa. Tentang bagaimana aku memanggil kalian jangan dipikirkan. Aku mudah lupa. Aku juga sering lupa diriku ini putera seorang raja. Yang kuingat diriku kelak bakal menjadi raja diraja cacing tanah. Ha ha ha."

"Tak kusangka kau benar-benar edan." kata Arum Senggini dengan mata melotot.

Ketika Raja hentikan tawa dan balas menatap ,gadis itu merasakan jantungnya berdebar lebih keras. Buru buru sang puteri palingkan kepala menatap kearah laut. Raja bersikap acuh. Sebaliknya dia melangkah mendekati Ki Lara Saru-Saru lalu duduk bersimpuh disebelah kiri si kakek.

Sang Maha Sakti segera memeriksa keadaan tubuh si kakek. Tubuh itu terasa dingin laksana es.

Ketika menyentuh bagian dada Ki Lara, Raja sadar bahwa sesungguhnya orangtua itu masih hidup. "Apakah ada harapan untuk ditolong?"

Tanya Arum Senggini

"Aku akan menyalurkan tenaga dalam ketubuhnya!" jawab pemuda itu.

"Selain menderita kehilangan banyak darah si kakek juga mengalami keracunan hebat,"

Raja langsung meletakkan telapak tangan kanannya dibagian pusar orang tua itu .Perlahan namun pasti hawa sakti mengalir deras dari telapak tangan Raja kebagian perut Ki Lara. Puteri Arum dan puteri Nila Agung terus memperhatikan apa yang dilakukan Raja. Mereka melihat dari bagian ubun-ubun, telinga juga lubang hidung pemuda itu mengepul asap tipis kelabu. Sementara hawa sakti menjalar kesekujur tubuh Ki Lara. Sebaliknya tubuh Raja basah bersimbah keringat. Melihat kepulan asap aneh keluar dari telinga, hidung dan ubun-ubun Raja dengan berbisik juga menahan geli Nila Agung berujar.

"Lihatlah! Aku sering melihat orang hebat, manusia sakti berusaha menolong seseorang. Biasanya hanya dari ubun-ubunnya saja yang keluar kabut asap. Tapi pemuda yang satu ini lain sekali. Bukan cuma ubun-ubun, tapi hidung dan telinganya juga mengeluarkan asap. Aku menaruh dugaan tidak tertutup kemungkinan selain mempunyai kesaktian luar biasa di dalam tubuh Raja tersimpan pedupaan."  

"Apakah kau tertarik padanya?" sela Arum Senggini dengan suara berbisik pula .

Mendengar ucapan sang kakak wajah Nila Agung berubah kemerahan. Lalu sambil tutupi mulutnya dia menjawab.

"dia muda, gagah tampan dan sakti pula. Biarpun gendeng masih keturunan raja. Wanita mana yang tidak tertarik padanya. Kembali pada diriku, rasanya aku tidak akan.."

"Tidak akan apa? Tidak akan jatuh cinta padanya?" Desak sang kakak penasaran.

"Tidak akan menolak. Hi hi hi."

"Dasar tidak bermalu. Kau dan dia kurasa bisa menemukan kecocokan. Tapi lihat.. dari bokongnya sekarang mengepulkan asap kuning. Kurasa dia jorok juga. Hih...!"

Berpura-pura tidak mendengar Raja terpaksa menahan tawa didalam hati. Setelah menyalurkan tenaga dalam ke tubuh Ki Lara, pemuda ini segera memeriksa si kakek.

"Jantungnya kembali berdenyut. Tapi dia masih belum sadarkan diri."

Kata pemuda itu ditujukan pada dua gadis didepannya. Kedua puteri itu saling berpandangan. "Apakah ada cara membuat orang tua malang ini tersadar?"

Tanya Arum Senggini.

"Ada. Selalu saja ada jalan, tapi apa kau sanggup melakukannya?"

"Kalau kau saja tidak bisa, apakah berarti kami mampu membantu Ki Lara?" Tanya Nila Agung.

"Kalian? Aku yakin salah satu dari kalian pasti bisa." Ucap Raja unjukkan sikap bersungguh sungguh. "Bagaimana caranya?"

Bertanya Arum Senggini namun juga nampak ragu disertai curiga.

"Kakek ini hanya bisa sadar bila salah satu dari kalian mencium pipinya?" Karuan saja kedua gadis ini tersentak kaget dan delikkan matanya.

"Hah, apa.... ? Kau tidak bersungguh-sungguh bukan?" Tanya Nila Agung tidak percaya.

"Ya. aku tidak berdusta."

Sekali lagi kedua gadis ini sama berpandangan.

"Pemuda ini gila. Bagaimana bila dia berniat mengerjai kami?" Batin Arum dalam hati.

Sementara itu setelah sempat berpikir, Nila Agung tiba-tiba membuka mulut

"Baiklah, aku mau mencium pipi kakek malang ini. Tapi bila setelah kucium ternyata dia tidak sadar juga, aku bersumpah akan memenggal kepalamu!" Ancamnya. Dengan yakin Raja anggukkan kepala.

"Kau tak usah ragu. kau boleh membawa pulang kepalaku untuk dijadikan pajangan di taman kaputren bila nanti terbukti aku berdusta."

"Bagaimana kakak?"

Tanya Nila Agung sambil menatap saudaranya. "Terserah dirimu. Kalau aku harus berpikir seribu kali," "Jika berniat menolong lakukan saja. Mengapa ragu." Tukas Raja.

Ucapan Sang maha Sakti seakan memberikan tantangan tersendiri bagi Nila Agung.

Akhirnya tanpa keraguan gadis ini segera mencium pipi Ki Lara kanan kiri. Setelah itu dengan wajah merah sambil terus memperhatikan si kakek Nila Agung beringsut menjauh .Arum Senggini hendak tertawa tapi urung saat melihat adiknya tersipu malu.

Akhirnya dia terdiam dan ikut memperhatikan Raja ternyata tidak berdusta karena sesaat setelah pipinya dicium oleh Nila Agung, Ki Lara Saru Saru memang segera sadarkan diri.

Setelah sadar mata si kakek berkedap-kedip.

Mulut ternganga sambil memperhatikan sekelilingnya.

"Bagus kek. kau sudah sadar. Walau kau menderita cidera begini hebat namun peruntunganmu lebih bagus dibandingkan diriku. Kau mendapat ciuman dari seorang puteri. Sedangkan aku belum pernah dicium. Jangankan ciuman seorang puteri. Di cium Kuntilanak atau dedemit liang kuburpun belum pernah. Ha ha ha...." celetuk Raja diringi gelak tawa. Mendengar ucapan Sang Maha Sakti. Nila Agung tersipu malu. Sedangkan sang kakak delikkan mata pada Raja Manusia gila.

"Pandai sekali kau membuat malu adikku." Damprat gadis itu ketus.

"Ah mengapa kau marah? Apakah kau merasa iri dan kini berniat ingin mencium aku? Jika itu keinginanmu aku pasti tidak menolak."

Goda Raja membuat Arum Senggini tambah kesal namun akhirnya lebih memilih berdiam diri "Kalian semua mengapa musti ribut. Apakah kalian tidak sadar ada bahaya besar mengancam

didepan mata?"

Kata Ki Lara tiba-tiba dengan suara lirih tersengal. Mendengar ucapan itu membuat semua orang menatap pada Ki Lara

"Apa maksudmu?"

Tanya Nila Agung. Si kakek memandang gadis yang bersimpuh di sebelah kirinya.

"Kau gadis baik dan seorang puteri pula. Aku yakin kau puteri gusti prabu Tubagus Kasatama.." Ucapan Ki Lara yang tidak terduga itu karuan saja membuat kakak beradik itu menjadi kaget. "Dari mana kakek tahu kami puteri Raja?" Tanya Arum Senggini heran .

"Orang tuamu gusti prabu Tubagus Kasatama boleh jadi tidak mengenalku tapi aku tahu dia keturunan siapa."

"Memang kami anak turun siapa kek?" Tanya Nila Agung.

"Kalian masih cicit Ratu Tria Arutama generasi ketujuh. Ratu Tria adalah penguasa istana dewa suci yang juga dikenal dengan istana dewa ruci di pulau Rakata."

Terang Ki Lara dengan nafas mengengah.

Mendengar penjelasan Ki Lara, Arum Senggini segera teringat dengan cerita ayahandanya tentang asal usul nenek moyang mereka.

"Kek menurut ramanda prabu bukankah eyang buyut Ratu Tria telah mangkat sekitar tujuh ratus lima puluh tahun yang silam?"

"Kau benar."

"Sebagai juru kunci makam raja-raja di pulau Rakata. Sebagaimana yang telah kakek katakan kepada kami. Apakah benar pangeran Durjana itu benar-benar telah bangkit dari kematiannya?" tanya Nila Agung

"Itu juga benar.Aku menyaksikan hari kebangkitannya. Aku telah berusaha menghalangi dan mengembalikan dia ke alam kematian.Sayang aku tidak berdaya dan hasilnya seperti ini."

"Maafkan kami berdua kakek. Lalu apa yang harus kami lakukan ?"

Tanya Arum Senggini. Ki Lara tidak segera menjawab. Sebaliknya layangkan pandang pada Raja.

Barulah setelah itu si kakek berujar.

"Kalian harus kembali ke istana secepatnya. Beri tahu ayahanda kalian bahwa saat ini ada bahaya besar sedang mengancam negeri. Pangeran Durjana pasti akan menghimpun kekuatan baru. Lebih dari itu dia akan terus menculik gadis-gadis cantik. Para gadis itu akan dijadikannya pengantin dengan harapan dapat memberikan keturunan baru dalam waktu singkat."

Terang Ki Lara. Kemudian pada Raja dia juga berkata,

"Aku tahu riwayat hidupmu. Aku juga mengetahui kemungkinan hanya kau satu-satunya bisa membantu mengatasi masalah besar ini..."

"Tapi kek. Aku tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya."

Sahut Raja. Si kakek tersenyum tipis

"Kau akan tahu. Untuk itu kau harus menemui orang yang dikenal dengan sebutan Dewa Mabok.

Dia menetap di sebuah bukit tak jauh dari sebuah tempat bernama Labuhan." "Tapi tempat itu jauh dari sini kek."

Ujar Arum Senggini.

"Kau tak usah khawatir. Pemuda sakti ini mempunyai senjata hebat bernama Pedang gila .Senjata dipuggungnya itu memiliki jiwa. Dia bisa terbang dengan menunggang senjatanya." "Edan. Tak masuk akal. Ada senjata membawa terbang penmiliknya."

Desis Nila Agung dengan mata membelalak tak percaya.

"Aneh tapi mengagumkan. Andai aku punya pedang hebat seperti punyamu itu?!" Ujar Arum Senggini sambil menatap pemuda itu. Raja tersenyum.

"Hanya laki-laki yang punya pedang hebat. Kalau wanita paling juga punya sarungnya. He he Hanya Sang Titisan he...!"

Sahut Raja.

"Kau benar-benar sinting. Nama senjatamu juga aneh."

Dengus Arum Senggini yang tahu maksud ucapan Raja Gendeng.

"Sudah jangan bersilat lidah dan bicara ngaco tak karuan. Lekas kalian pergi. Kau cari Dewa Mabok sedangkan kalian kembali ke istana."

Perintah Ki Lara.

"Bagaimana dengan dirimu sendiri?"

Tanya Raja. Rupanya dia merasa berat hati untuk meninggalkan kakek ini. "Iya kek, bagaimana dengan dirimu?"

Ujar Nila Agung.

"Tak usah pikirkan diriku. Aku sudah terlalu karatan untuk hidup lebih lama lagi. Usiaku lebih lebih dari seribu tahun!"

Terang si kakek membuat ketiga orang disampingnya tercengang tak percaya. Tanpa menghiraukan orang-orang itu Ki Lara melanjutkan.

"Aku sudah habis. Aku akan mati .Karena itu tolong ambilkan pelita itu. Letakan di dadaku"

Arum Senggini cepat ambil pelita yang terletak di samping kepala KI Lara lalu buru-buru menyerahkannya pada orang tua itu. Setelah menerima pelita, sambil menggenggamnya dengan sepuluh jemari tangan. Ki Lara letakan pelita itu di atas dada. Kedua matanya kemudian meredup. Sementara dari mulut terdengar ucapan.

"Wahai maut bebaskan aku dari nestapa. Lepaskan aku dari derita usia panjang. Duhai pelita alam Anwah. Bimbinglah aku menuju dunia kehidupan paling abadi. Aku telah siap untuk dibawa pergi... Selamat tinggal yang masih hidup. Semoga selamat pula buat orang yang bernama Selamat"

Begitu Ki Lara Saru Saru selesai mengucapkan kata-kata aneh itu. Raja pun tersenyum tak kuasa menahan geli. Dalam hati Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es itu membatin.

"Orang tua ini agaknya betul-betul pikun. Mengapa segala nama orang dia bawa bawa? Apa mungkin dia punya saudara bernama Selamat?"

"Raja, lihat. "

Seru Nila Agung membuat Sang Maha Sakti tersentak dari lamunannya sekaligus menatap ke arah si kakek.

Dia tertegun ketika melihat bagaimana sekujur tubuh Ki Lara tiba-tiba saja diselimuti kabut biru kehitaman.

Kabut biru bergulung membubung tinggi ke langit. Kemudian seiring dengan membubungnya kabut ke angkasa. Sosok Ki Lara ikut terangkat naik

Wouues!

Tubuh yang terbungkus kabut itu melayang keatas lalu bergerak menuju kearah gunung Krakatau "Luar biasa. Dia pergi begitu saja.Setelah nyawanya pergi, tubuhnya bahkan ada yang

menjemput."

Gumam Arum Senggini. Nila Agung manggut-manggut sambil mengusapi tengkuknya yang merinding .Sementara Raja sendiri tanpa diduga-duga membuka mulut.

"Sungguh orang tua yang sangat tahu diri. Dia tidak mau membuat kita-kita menjadi repot, mengurusi dan menguburkan jenazahnya. Tanpa kita minta seseorang yang tak dapat kita lihat dengan sukarela membawanya."

"Kau ada-ada saja."

Dengus Arum Senggini. Gadis ini kemudian bangkit berdiri. Setelah membersihkan pakaiannya yang dipenuhi pasir dia berkata pada adiknya.

"Nampaknya kita harus segera kembali ke istana. Kita harus memberi tahu ayahanda prabu sebagaimana yang pesankan oleh kakek itu. Tapi kakak...!"

Berkata Nila Agung bimbang. Sejenak dia melirik kearah Raja.

Saat itu fajar mulai menampakkan kehadirannya.

Sebentar lagi malam berganti siang namun suara angin yang datang dari laut memberikan aroma garam dan hawa dingin luar biasa.

Melihat tingkah sang adik yang ragu, Arum Senggini berkata.

"Apa yang terjadi dengan dirimu? Apakah setelah bertemu dengan pendekar gendeng ini kau jadi malas untuk kembali!? Kau mau ikut dia silakan saja. Aku bisa pulang ke istana sendirian."

"Eeh, bukan begitu maksudku kakak. Apakah sebaiknya kita undang saja dia ke istana. Dia sudah menolong kita. Tak ada salahnya sebagai rasa terima kasih kita memberikan jamuan kecil-kecilan di istana."

"Tidak usah berlebihan. Apakah kau sudah lupa, Ki Lara memberinya perintah untuk menjumpai seseorang berjuluk Dewa Mabok?"

Kata Arum Senggini kesal.

"Ya. Kita mempunyai tugas dan tujuan masing-masing. Aku akan menemui Dewa Mabok. Kalian itu kembalilah ke istana. Setelah itu jangan lagi pernah gentayangan diluar istana. Orang-orang secantik kalian bisa menjadi incaran orang jahat. Diluar banyak lebah dan kumbang. Jika lebah atau kumbang sampai mengantuk kalian, perut kalian bisa masuk angin. Ha ha ha!"

"Pemuda sinting kurang ajar. Bicaramu ngaco tak karuan. kami bukan gadis lemah, bukan pula gadis murahan."

Sentak Arum Senggini. Kepada adiknya dia berkata. "Tunggu apa lagi? Mari kita pergi"

Sekali jemari tangannya terjulur, lengan adiknya telah berada dalam cengkeraman.

Setengah memaksa dia mengajak adiknya menghampiri kuda mereka yang berada tidak jauh dari tempat itu.

Nila Agung hanya bisa menurut.

Tapi sebelum naik ke punggung kudanya dia sempat menoleh menatap ke arah Raja.

Merasa dipandang pemuda itu kedipkan matanya sambil tempelkan jemari di bibir .Rupanya Arum Senggini melihat tanda yang diberikan Raja.

Sambil melompat ke punggung kuda dia mengomel.

"Apa aku bilang. Pemuda itu ternyata memang tidak waras."

Sang adik tertawa. Lalu memacu kudanya dengan hati berbunga-bunga. Setelah kedua puteri itu pergi. Dengan arah berlawanan Raja tinggalkan tempat itu.

Dalam perjalanan menuju ke tempat kediaman Dewa Mabok pemuda ini terus berpikir tentang kehadiran lebah-lebah mematikan juga tentang nasib yang dialami oleh Ki Lara Saru Saru. Selagi Raja tenggelam dalam pikirannya yang kalut tiba-tiba dia mendengar suara ngiang datang dari belakang punggungnya.

"Wahai sobatku Raja. Apa yang mengganggu pikiranmu?"

Sang Maha Sakti melengak kaget. Dia menoleh, menatap ke arah hulu pedang tempat dimana pedang Gila tergantung. Dia yang mengenali suara ngiangan itu segera menyahuti.

"Menurutmu apa yang mengganggu pikiranku? Apakah kau tidak tahu sudah lama pikiranku mengalami gangguan?!"

"Ah, paduka Raja Gendeng. Tidak ada yang salah dengan pikiranmu, otak paduka Raja kulihat masih lempang-lempang saja. Mungkin paduka agak terusik dengan kehadiran kedua gadis cantik tadi?"

Mendengar ucapan jiwa yang bersemayam di dalam hulu pedang Gila. Raja pun tertawa tergelak-gelak.

"Kau sok tahu, jiwa yang bersemayan dalam hulu pedang, aku tidak memikirkan mereka. Untuk apa?" ujar Raja sambil terus melangkah.

"Jangan terlalu menutup diri. Tidak perlu malu-malu padaku paduka. Puteri berlengsung pipit itu jelas sangat tertarik padamu. Tapi jangan lupa kakaknya yang bernama Arum Senggini itu diam diam sebenarnya sudah jatuh hati pada paduka!"

Terang jiwa yang bersemayam di hulu pedang.

Kening Raja berkernyit

"Apa kau bilang? Jangan bicara sembarangan. Arum Senggini jelas-jelas menunjukkan rasa tidak sukanya padaku. Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan dia jatuh hati padaku? "

"Paduka...paduka.Arum Senggini sifatnya memangnya seperti itu. Ucapan selalu bertentangan dengan isi hati.Mulut mengatakan benci tetapi hati tertarik padamu.Aku yakin dia hanya ingin menunjukkan kewibawaannya di depan paduka juga adiknya."

"Aku bisa gila sungguhan bila hidup dengan gadis ketus seperti dia. Ahk sudahlah. Lupakan mereka,"

Kata Raja sambil kibaskan tangannya. "Lalu...!"

Tanya sang jiwa.

"Kau dan kekuatan aneh yang telah membuatku tersesat kesasar ke tempat ini. Aku ingin tahu siapa Dewa Mabok. Sebagai jiwa yang tahu tentang banyak hal banyak perkara. Coba katakan padaku siapa Dewa Mabok?"

Kata Raja dengan nada memerintah

"Paduka Raja Gendeng jangan terlalu menyalahkan saya.Saya hanyalah jiwa, saya ini sukma yang mengawasi keadaan dan setiap perkembangan yang terjadi di delapan pejuru dunia persilatan.

Kewajiban saya memberi tahu paduka."

Ujar jiwa pedang

"Karena itu aku mengharapkan kepadamu agar mencari tahu siapa orang yang bergelar Dewa Mabok itu. Apakah dia dewa sungguhan ataukah cuma orang gila yang kesasar bernama dewa namun suka mabok."

Kata Raja lalu pencongkan mulutnya.

"Baiklah paduka. Harap bersabar menunggu barang sebentar!"

Raja mengangguk setuju, namun dia tetap melanjutkan langkahnya. Kemudian dia mendengar suara desir angin ditelinganya.

Selanjutnya terdengar pula suara debur ombak sayup-sayup.dikejauhan.

"Mengapa kudengar suara ombak? Memangnya sekarang kau berada dimana, jiwa pedang?" Tanya Raja.

"Aku menjelajah masa lalu. Aku melihat pulau. Ada sebuah istana megah ditengah pulau itu." terang jiwa penghuni hulu pedang hanya berupa ngiangan lirih.

"Pulau apa?" "Pulau di tengah laut namanya pulau Rakata. Aku juga melihat sebuah gunung menjulang di permukaan laut. Itulah gunung Krakatau."

"Lalu istana itu?"

"Ah hanya sebuah istana tua, paduka. Setelah kutelusuri istana itu dulunya adalah istana suci. Namanya istana Dewa Ruci. Saya melihat cahaya terang benderang disana. Tapi kemudian cahaya terang lenyap, ada mala petaka terjadi di istana itu. Saya melihat seorang ratu, tapi sebelumnya saya juga melihat seorang gadis selayaknya seorang puteri dan seorang pemuda tampan. Mungkin dia pangeran dan puteri raja. Lalu.."

"Lalu apa?"

"Lalu keduanya melakukan hubungan layaknya suami istri." "Apa arti semua itu?"

"Kedua orang yang saya lihat itu dikutuk. Istana mendadak gelap gulita." Terang jiwa pedang.

"Mungkin mereka masih merupakan saudara sedarah paduka." "Gila."

Kata Raja sambil geleng kepala. Setelah menghela napas dan berpikir sejenak dia lanjutkan ucapannya.

"Apa hubungannya yang kau lihat dengan orang yang bernama Dewa Mabok?"

"Orang yang berjuluk Dewa Mabok itu datang dari istana itu. Dia meninggalkan istana ribuan tahun yang lalu bersama seorang wanita berpakaian dan berpenampilan selayaknya seorang ratu. Mereka menyeberang ke tanah Dwipa ini."

"Apakah mungkin dulunya Dewa Mabok seorang raja?"

"Hal itu hamba tidak tahu paduka Raja Gendeng. Lebih baik kita cari saja orangnya."

"Hmm, baiklah. Kau boleh kembali. Satu saja pertanyaanku apakah mungkin pangeran Durjana dan lebah-lebahnya berhubungan erat dengan istana di pulau Rakata?"

"Ya. dia memang datang dari pulau itu. Dia telah mati seribu tahun yang lalu. Kini bangkit kembali untuk menyusun kekuatan dan melakukan balas dendam pada orang-orang yang dia benci dan seluruh keturunannya."

Jelas jiwa pedang .Raja manggut-manggut. Kemudian dia mendengar suara desir angin dibelakang punggungnya. Dia tahu jiwa pedang Gila telah bersemayam kembali di hulu pedang.

"Kau sudah datang ?" Tanya pemuda itu.

"Ya ada apa paduka? Apakah paduka meminta saya untuk membawa paduka terbang? " "Terbang seperti nenek sihir tolol dengan sapunya. Oh tidak. Aku punya ajian Bayu Sang Titisan

Berhembus. Aku merasa lebih nyaman berlari dengan kedua kaki sendiri. Ha ha ha!" Selesai dengan ucapannya. Raja Gendeng hentakan kakinya Wuues!

Begitu kaki bergerak dengan kecepatan seperti kilat. Raja melesat tinggalkan tempat itu.

*****

Kakek berpakaian hitam yang menyelubungi rambut panjangnya dengan sorban duduk tenang di dalam ruangan besar di istana Malingping.

Duduk didepan kakek berjenggot putih panjang menjulai seorang laki-laki tegap berpakaian selempang putih berambut panjang digelung ke atas. Tak jauh di samping sebelah kiri kakek itu di atas sebuah kursi kebesaran duduk seorang lakilaki berpakaian kuning sutera bermahkota emas berpenampilan rapi. Dialah prabu Tubagus Kasatama, pemimpin kerajaan Malingping dan penguasa wilayah tanah Dwipa disebelah barat.

Adapun kakek berjenggot panjang menjulai tak lain adalah sahabat dekat prabu Tubagus Kasatama.

Seperti telah diketahui kakek tua ini bernama Anjengan Giriswara atau juga dikenal dengan julukan penujum Aneh juru Obat Delapan Penjuru. Adapun laki-laki tegak berpakaian selempang putih tak lain adalah patih Tubagus Aria Kusuma paman dari sang prabu sendiri. Disamping mereka di tempat itu berkumpul beberapa pejabat penting kerajaan lainnya.

Seperti telah diceritakan dalam epsode sebelumnya, penujum Aneh sengaja meninggalkan gunung Kendeng menuju ke kota Raja adalah dengan tujuan ingin memberi kabar kepada raja tentang ancaman yang datang dari lautan.

Tidaklah heran, mengingat pentingnya perkara yang dihadapi, maka sang prabu pun memanggil patih juga para pejabat istana lainnya.

"Menurutku apa yang disampaikan paman penujum harus kita carikan jalan keluarnya." Ucap prabu Tubagus Kasatama.

"Kehadiran pangeran Durjana saya rasa juga tidak sekedar mengumpulkan para gadis cantik mencari kepuasan napsu. Tapi dia juga mempunyai maksud dan tujuan lain."

Sambut patih prabu Tubagus Aria Kasatama sambil menjura hormat pada sang prabu.

"Maafkan saya paman patih. Maafkan saya gusti prabu. Menurut hemat saya sesuai pula dengan penglihatan mata batin saya, pangeran Durjana riwayat masa lalunya adalah pangeran terkutuk yang telah melakukan berbagai pelanggaran di istana Dewa Ruci. Dia telah melakukan hubungan terkutuk dengan saudara sedarah. Itu sebabnya ibunya, bunda Ratu Tria Aritama menjatuhkan hukuman berat dengan menggantungnya lalu menguburkan mayatnya di selat Rakata."

"Aku sudah tahu, penujum. Bagaimanapun aku masih merupakan cicit gusti Ratu Tria Aritama. Aku juga tahu sebelum digantung pangeran Durjana sempat bersumpah dia bakal melakukan balas dendam begitu arwahnya bangkit dalam kehidupan ke dua. Dan kukira kehidupan kedua itu telah dimulai" Gumam sang prabu.

"Jadi sekarang saatnya. Dia ingin membalas dendam. Karena aku termasuk cicit gusti ratu Tria Arutama. Aku yakin kita semua berada dalam incarannya." ujar patih Tubagus Aria Kusuma pula.

"Jadi selain menjadi kesenangan pada gadis gadis culikannya itu, Dia juga berusaha menyusun kekuatan baru. Tapi mana mungkin bisa membangun kekuatan besar dalam waktu yang singkat, gusti prabu,"

Sela seorang pejabat bernama Kalijan mewakili para pejabat lain yang ikut hadir dalam ruangan itu. Sang prabu manggut-manggut sambil mengelus janggutnya yang lebat namun tertata rapih. Dia terus berpikir. Sampai kemudian dia berkata.

"Aku telah menduga segala kekacawan bakal terjadi. Dan semua kekacauan berpangkal dari munculnya pangeran gila yang baru bangkit dari kematiannya. Hanya ada satu hal yang menjadi ganjalan di lubuk hatiku. Bagaimana kalau pangeran Durjana bisa mengumpulkan kekuatan besar dalam waktu yang singkat?"

"Yang mulia gusti prabu. Sesuai wangsit serta pandangan mata batin saya. Pangeran itu menggunakan bayi-bayi yang baru terlahir untuk menghancurkan musuh-musuhnya."

Terang penujum Aneh, Apa yang dikatakan sang penujum sudah barang tentu membuat kaget semua orang yang berada didalam ruangan pertemuan itu.

Termasuk juga seoerang pejabat penting kerajaan yang bernama Jatulaka atau lebih dikenal julukan Maung Berem atau Macan Merah.

"Penujum Aneh,"

Berkata laki-laki itu sambil menatap ke arah si kakek. Semua mata kini tertuju ke arah penujum juga Jatulaka.

"Aku tidak mengerti bayi yang baru terlahir bisa dijadikan alat untuk mencapai sebuah maksud jahat. Seorang bayi secara umum dalam keadaan lemah bahkan tak bisa mengurus diri sendiri. Lagi pula bayi siapa yang dimanfaatkan oleh pangeran jahanam itu?"

Penujum Aneh tersenyum namun wajahnya tampak tegang dan terlihat menyimpan kekhawatiran mendalam. Setelah sempat diam. Diapun lalu membuka mulut.

"Apa yang saya lihat dengan menggunakan mata batin memang suatu pemandangan yang aneh. Tapi saya akan berterus terang dan merupakan kewajiban untuk menyampaikan kebenaran. Siapa saja gadis yang menjadi kurban dinta pangeran Durjana bakal mengalami kehamilan. Kehamilan itu tidak berlangsung selama sembilan bulan sepuluh hari sebagaimana seharusnya. Para gadis korban kebejatan pangeran Durjana akan mengalami kehamilan selama tiga hari. Dalam tiga hari anak-anak itu terlahir dan bertumbuh sebagaimana selayaknya bocah berusia dua tahun. Bayi-bayi itulah yang akan menjadi musuh bagi kita." jelas si kakek. "Ini sesuatu yang sangat mustahil." Berkata patih Tubagus Aria Kusuma.

"Tapi siapapun diantara kita tahu, penujum Aneh adalah orang yang sangat jujur lagi dapat dipercaya, Namun aku masih tidak mengerti siapa orangnya yang dianggap sebagai musuh itu?"

Kata prabu Tubagus Kasatama sambil melirik ke arah penujum Aneh.

"Mungkin kita. Karena kita masih punya hubungan darah dengan almarhum gusti ratu Tria Arutama."

Sahut patih Tubagus Aria Kusuma.

"Tepat. Pangeran Durjana menganggap penguasa kerajaan Malingping sebagai musuh yang harus disingkirkan karena dia masih punya keinginan dalam kebangkitannya bisa menjadi seorang raja yang berkuasa. Tapi disamping itu dia ingin mencari tahu apakah bekas musuh-musuh lamanya masih bertahan hidup hingga saat ini?"

"Musuh lama?"

Desis seorang pejabat bernama Rangga Wulung Utama yang sedari tadi diam saja.

Untuk diketahui kakek bertubuh pendek berpakaian serba kuning dan memiliki rambut dua kali panjang dari tubuhnya ini adalah pejabat istana yang sangat ahli dalam muslihat dalam pertempuran.

Kedudukan kakek berusia sekitar enam puluh tahun itu hampir sama dengan seorang senopati perang.

Penujum Aneh anggukan kepala.

Sebelum membuka mulut menjelaskan pengalaman gaib yang didapatnya, Penujum Aneh layangkan pandang memperhatikan semua orang yang memandang kepadanya.

"Dahulu menurut apa yang saya lihat dari alam gaib.Mbah buyut paduka prabu yang bernama Ratu Tria Arutama mempunyai seorang penasehat penting merangkap patih kerajaan juga senopati. Saya tidak punya kemampuan menembus alam gaib lebih jauh lagi untuk mengetahui siapa nama orang penting yang memegang beberapa jabatan itu. Namun saya tahu dia dikenal dengan sebutan Dewa Mabok"

"Dewa Mabok?"

Desis patih Tubagus Aria Kusuma.

Sementara pejabat termasuk juga sang prabu sendiri nampak terperangah kaget

"Dewa Mabok! Gelar sebutan itu sepertinya aku pernah mendengar.Kalau tidak salah dia menetap disebuah gubuk tak jauh dari Labuhan.Manusia aneh dan konon jelmaan seorang dewa pembangkang di kayangan."

Kata gusti prabu dengan mata menerawang. "Ampunkan hamba gusti prabu." Berkata Maung Berem sambil menjura dalam-dalam.

"Menurut yang hamba dengar orang tua yang berjuluk Dewa Mabok telah lama tak diketahui rimbanya. Mungkin saja dia sudah tiada!"

"Hamba rasa Dewa Mabok sudah meninggal sebagaimana yang dikatakan oleh teman hamba Maung Berem." timpal Rangga Wulung Utama ikut mendukung.

Mendengar penjelasan kedua pejabatnya perhatian sang prabu kini tertuju pada Sang Penujum kembali. Merasa diperhatikan Penujum Aneh berlaku tenang. Dia segera teringat dengan kejadian yang dialaminya saat berada di pemakaman keluarganya. Di tempat itu dia sempat bertemu dan berbincang dengan Dewa Mabok. Tapi diakhir pertemuan Penujum Aneh akhirnya tahu yang menemui dirinya itu ternyata hanyalah bayangan kakek aneh yang di sekililing pinggangnya digelayuti bumbung bambu berisi tuak keras. Untuk lebih jelasnya dapat diikuti dalam episode Pencinta Dari Alam Kematian. Penujum Aneh lalu menceritakan semua kejadian yang dialaminya pada semua orang yang berada dalam ruangan pertemuan itu.

"Hm, nasib perawat kudaku memang mengenaskan. Dia tidak seharusnya tewas di tangan pangeran Durjana itu. Tapi memang sudah takdir suratan hidupnya harus berakhir seperti itu. Walau demikian kematiannya memberikan pengertian bagi kita. Ternyata banyak kejadian yang sulit diterima akal sehat di dunia ini."

Kata sang prabu dengan wajah menunjukkan rasa prihatin.

"Lalu apa yang harus kita lakukan gusti prabu? Kita tidak bisa membiarkan pangeran Durjana melakukan kejahatan lebih besar lagi. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana seandainya pangeran itu benar-benar berhasil menghimpun kekuatan lalu menggunakan bayi-bayi aneh untuk menyerang kita! Saya bukan manusia kejam yang tega membunuh bayi walaupun bayi-bayi itu sangat berbahaya."

Prabu Tubagus Kasatama berdiam sejenak. Dan akhirnya prabu berucap.

"Aku sangat ingin sekali bertemu Dewa Mabok. Banyak sekali yang ingin kutanyakan pada orang tua itu, khususnya tentang masa lalu pangeran Durjana. Tapi kalian telah meragukan keberadaannya. Aku ingin sekali mencari sekaligus menghancurkan pangeran itu."

"Paman Patih Aria Kusuma boleh membawa pasukan kerajaan bersama penujum Aneh."

"Cari keberadaan pangeran gila itu. Dan kalau benar dia mempunyai pengikut walau pengikutnya masih bocah kecil, aku perintahkan kalian untuk menyingkirkan mereka semua."

Tegas sang prabu.

Patih Aria Kusuma dan penujum Aneh sama anggukan kepala.

Setelah menjuru hormat ke arah sang prabu, keduanya tinggalkan ruangan itu.

Setelah penujum Aneh pergi dan patih pergi. Di dalam ruangan yang tertinggal hanyalah para pejabat tinggi kerajaan yang antara lain adalah Macan Merah alias Macan Berem juga Rangga Wulung Utama.  

Kepada para pejabatnya sang prabu berujar.

"Aku ingin sekali memperhatikan setiap perkembangan yang terjadi. Penjagaan di daerah perbatasan diperketat. Siapapun orang asing yang memasuki wilayah kita harus kalian tangkap, bila melawan bunuh tanpa harus melalui proses diadili. Apakah kalian paham?" 

"Kami memahami perintah gusti." kata para pejabat itu hampir bersama-sama.

"Bagus. Titahku sampai disini. Terkecuali Maung Berem dan Rangga Wulung Utama. Para pejabat lain sebaiknya segera tinggalkan ruangan ini." perintah sang prabu.

Tanpa banyak bicara ketujuh pejabat lain segera berlalu tinggalkan rungan itu. Setelah mereka hanya tinggal bertiga saja di ruangan itu. Suasana berubah jadi sunyi. Dalam hati Maung Berem bertanya-tanya gerangan apa yang membuat sang prabu menahan mereka. Terkecuali Rangga Wulung Utama satu satunya pejabat istana yang kerap menggunakan rambut panjangnya sebagai senjata.

Laki-laki itu bersikap lebih tenang. "Kalian berdua!"

Ujar sang prabu sambil menghela nafas dan sandarkan punggungnya di kursi kebesaran. "Menurut para mata-mata telik sandi kita sebenarnya penculikan terhadap gadis-gadis tidak

berdosa telah meluas kemanamana. Bahkan beberapa malam yang lalu di pantal Carita belasan gadis hilang lenyap, Para orang tua, anak-anak dan para janda tewas dengan tubuh meleleh mengenaskan "Semua yang gusti katakan dan apa yang dikabarkan para mata-mata itu memang benar adanya

ayahanda prabu."

Kata satu suara merdu menyahuti.

Kedua pejabat istana dan Prabu Tubagus Kasatama terkejut lalu cepat berpaling ke arah pintu yang menghubungkan ke ruangan dalam.

Begitu sang prabu menatap ke jurusan itu.

Dia melihat dua orang gadis berpakaian biru dan putih yang tak lain adalah puterinya sendiri terrnyata telah masuk sambil bungkukkan badan menjura kearah sang prabu.

Melihat kehadiran kedua puterinya, wajah sang prabu seketika berubah menjadi merah. "Kemana saja kalian selama beberapa hari ini? Kalian pergi secara diam-diam!"

Damprat sang prabu dengan mata mendelik. Melihat raja marah. Dan merasa tak ingin mengganggu pertemuan orang tua dan anaknya.

Kedua pejabat itu buru-buru undur diri, tapi sebelum berlalu Rangga Wulung Utama berkata. "Gusti kami tidak ingin mengganggu, kalau gusti membutuhkan kami selalu siap!"

"Pergilah! aku ingin bicara dengan dua putriku ini" dengus sang raja dengan wajah marah namun tatapan muram.

Setelah kedua pejabat pergi, puteri Arum Senggini yang berpakaian putih membuka mulut dengan wajah tertunduk tak berani menatap ayahnya.

"Maafkan kami ayahanda. Kepergian kami adalah untuk melihat perkembangan yang terjadi diluar istana, rama prabu."

"Begitu?"

Kata sang prabu disertai senyum mencibir.

"Kalian merasa telah mempunyai ilmu silat tinggi Heh! Ilmu kesaktian yang kalian miliki masih rendah, keadaan sekarang ini benar-benar genting"

"Seorang pangeran yang baru bangkit dari kematian seribu tahun yang lalu gentayangan menculik anak perawan. Apakah kalan tidak takut?"

Sentak sang prabu marah.

Puteri Arum Senggini diam tidak bisa menjawab. Pada saat itu dia hanya bisa melirik pada adiknya puteri Nia Agung. Sang adik segera membungkuk dalam-dalam.Kemudian sambil menatap lurus pada sang prabu dia berkata.

"Maafkan kami rama prabu. Kami telah pergi diluar sepengetahuan rama. Terus terang kami telah mendengar tentang munculnya Pangeran Durjana juga tentang segala tindakan yang dilakukannya.

Kami bahkan sempat berhadapan dengan bayangan pangeran itu. Untunglah seorang pendekar datang membantu."

"Kau dan kakakmu telah bertemu dengan pangeran Durjana itu? Bagaimana kalian bisa menyelamatkan diri?"

Tanya prabu Tubagus Kasatama dengan suara lebih lunak. Sejak dulu sang prabu memang selalu mengalah bila bicara dengan putri bungsunya yang lucu itu.

"Teruskan ceritamu!"

"Seperti yang nanda katakan. Kami baru berhadapan dengan bayangan kembarnya saja. Dan kebetulan seorang pemuda sakti bernama Raja Gendeng datang membantu. Jadi kami lolos dari penculikan."

"Memangnya saat kejadian kalian berada dimana?"

Tanya sang prabu sambil menyembunyikan kekhawatirannya.

"Kami ada di pantai Carita, rama. Kami juga melihat bagaimana lebah-lebah aneh yang dikenal dengan nama Lebah Kepala Hati Berbunga menyerang penduduk nelayan disana." terang sang puteri.

Gadis ini juga tak lupa menceritakan bagaimana penduduk yang menemui ajal meleleh menjadi bubur. Tak lupa dia juga menjelaskan perjumpaannya dengan penjaga makam raja di pulau Rakata yang akhirnya menemui ajal akibat luka parah yang dialaminya. Setelah mendengar semua penjelasan putrinya prabu Tubagus Kasatama terdiam cukup lama. Sambil menyandarkan kepalanya diatas sandaran kursi kebesarannya, mata laki-laki itu menerawang.

"Aku pernah mendengar riwayat penjaga makam raja pulau Rakata. Namanya Ki Lara Saru Saru. Nama itu sama persis dengan nama yang baru kau sebutkan. Dia termasuk salah satu orang yang dikarunia usia panjang oleh dewa. Seandainya dia masih hidup hingga sekarang pasti dia bisa menceritakan pada kita tentang kejadian aib seribu tahun lalu yang dilakukan oleh Pangeran Durjana dan adiknya puteri Atut! "

"Perbuatan itu tidak hanya menjijikan tapi juga terkutuk. Mengapa rama prabu ingin mengetahuinya?"

Tanya Arum Senggini memberanikan diri

"Ini bukan mengungkit perkara lama. Istana Dewa Ruci yang juga dikenal sebagal istana paling suci di dunia persilatan mempunyai sejarah yang agung. Kehancurannya terjadi karena perbuatan Pangeran Bagus Anom Aditama atau yang kini dikenal dengan sebutan Pangeran Durjana. Kemudian nenek buyut kita pergi karena aib dan malu besar. Dia mengasingkan diri di tanah Dwipa sebelah barat. Sampai di sini dia memutuskan untuk membina keluarga yang kedua dengan salah satu pengikutnya yang paling setia. Aku tidak tahu pengikut yang mana yang dinikahi oleh gusti Ratu Tria.Aku adalah generasi ke tujuh.Walau begitu ikatan darah tak pernah lepas dari buyut ratu."

Terang sang prabu. Dia menatap ke arah kedua puterinya sekilas. Karena kedua gadis cantik itu diam saja akhirnya dia melanjutkan ucapannya.

"Lebah-lebah itu adalah lebah penghancur juga pemikat bagi para gadis yang disengatnya.Terkecuali para gadis, orang lain yang tersengat segera menemui ajal, sebaliknya bila gadis yang disengat. Gadis itu menjadi kasmaran, nafsunya meningkat diluar akal sehat dan dia rela diperlaku kan apa saja oleh Pangeran Durjana."

"Ih, mengerikan sekali,"

Desis Arum Senggini dengan tengkuk bergidik dan wajah tunjukan rasa ngeri "Bagusnya Raja datang menolong."

Ujar Nila Agung pula.

"Dua kali kau menyebut nama aneh d depanku. Raja... apakah itu hanya sebuah nama ataukah dia benar-benar seorang raja, Nila?"

Tanya sang prabu.

Rupanya orang tua ini merasa penasaran.

Ditanya seperti itu membuat wajah Nila Agung berseri-seri. Sementara Arum Senggini melirik adiknya.

Wajahnya merah, ada rasa tidak suka kalau tidak dapat dikatakan cemburu dihati Arum Senggini.

Karena sesungguhnya dia sudah merasa jatuh hati pada Raja sejak pandangan pertama.

Dengan penuh semangat Nila Agung yang tidak mengerti bagaimana perasaan sang kakak menjelaskan. "Rama prabu. Pemuda yang bernama Raja itu, sesungguhnya seorang raja sungguhan di sebuah pulau di tengah laut pantai selatan. Dia biasa disebut Sang Maha Sakti dari Istana Pulau Es. Orang memanggilnya Raja Gendeng. Mungkin julukan itu berkaitan dengan wataknya yang angin anginan, bicara semaunya sendiri dan kerap bertingkah ngaco. Tapi selain sangat sakti hatinya polos dan baik." terang Nila Agung.

"Jangan terlalu cepat menilai. Kita belum lama bertemu dengannya."

Tukas Arum Senggini ketus

"Ih, kakak. Bukankah kita sama-sama tahu dia seorang pemuda yang baik dan polos. Eee, maksudku bukan berarti polos lalu tidak memakai apa-apa Iho...!"

Kata Nila Agung disertai tawa tertahan.

"Dasar puteri edan. Kau sama saja sintingnya dengan pemuda itu adik."

Damprat Arum Senggini membuat sang prabu geleng kepala. Buru-buru orang tua itu membuka mulut

"Sudah. Jangan bertengkar. Dan sekarang bukan waktunya bergurau. Lebih baik katakan pemuda itu sekarang ada dimana?"

"Rama prabu."

Kata Arum Senggini.

"Saat ini Raja sedang berusaha menemui seseorang berjuluk Dewa Mabok. Dia melakukan itu atas perintah Ki Lara Saru Saru sebelum menghembuskan nafas terakhirnya."

"Hmm, lagi-lagi Dewa Mabok. Aku yakin Dewa Mabok tahu banyak tentang Pangeran Durjana. Aku harus memberi tahu Maung Berem. Kita membutuhkan keterangan sebanyak-banyaknya untuk menghentikan Pangeran Durjana." ujar sang prabu

"Raja juga berjanji akan membantu, rama prabu." kata Nila Agung.

"Kurasa itu lebih bagus lagi. Tapi kalian jangan pergi kemana-mana tanpa perintahku!" "Kami mengerti. Kali ini kami akan patuhi segala titah rama prabu."

Sahut Arum Senggini dan Nila Agung bersamaan.

Tidak lama kemudian setelah menghaturkan hormat pada ayahnya, keduanya beringsut mundur dan beranjak pergi meninggalkan prabu Tubagus Kasatama.

*******

Bangunan tua itu terletak diatas sebuah bukit tinggi.

Dibagian kaki hingga ke lereng bukit tumbuh subur berbagai jenis pohon menjulang tinggi.

Tapi disebelah atas bukit tampak gundul tanpa tanaman. Senja hari di lereng bukit angin dingin menebarkan aroma garam berhembus kencang. Dikejauhan terdengar suara gemuruh ombak dan cericit camar yang hendak kembali pulang ke sarang.

Sementara di kaki bukit. Raja Gendeng baru saja jejakkan kaki di tempat itu segera memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Tidak terlihat ada orang lain di tempat itu.

Sang Maha sakti dongakkan kepala menatap ke arah puncak bukit yang nampak kuning berkilauan.

Sayang karena terhalang pepohonan menjulang dan rimbunnya daun dia tidak dapat memandang dengan leluasa ke bagian puncak bukit.

"Aku harus mendaki lereng terjal itu.Tapi tidak ada jalan menuju ke bagian puncaknya.Aneh....mengapa masih ada orang di dunia ini memilih tempat tinggal yang sulit untuk dicapai? Lagi pula apakah mungkin bangunan batu di atas sana ada penghuninya?"

Kata pemuda itu seorang diri. Tak lama kemudian tanpa bicara lagi Raja segera berkelebat melewati semak belukar yang tumbuh subur diantara pepohonan besar.

Setelah melewati pepohonan sampailah Raja di sebuah tempat yang gersang dan tandus.

Tapi Sang Maha Sakti tidak memusatkan perhatian ke bagian puncak bukit yang hendak dituju

.Perhatiannya kini malah tertuju ke arah bebatuan dan lamping bukit sebelah atas yang berwarna kuning emas.

Merasa tertarik Raja mengambil sepotong batu yang tergeletak di bawah kakinya .Dengan mulut termonyong-monyong dia memperhatikan batu kuning itu.

"Batu ini seperti mengandung emas. Apakah mungkin bagian atas bukit ini mengandung emas.

Gila, mengapa tidak ada orang yang mengambilnya .Apakah orang tidak tahu bebatuan emas ini mempunyai nilai yang tinggi?"

Batin sang pendekar dalam hati. Baru saja hatinya bicara seperti itu.

Tiba-tiha terdengar suara ngiangan berasal dari hulu pedang yang tergantung di punggungnya "Sang Maha Sakti, paduka Raja Gendeng. Tak usah banyak berpikir tak usah banyak bicara.

Memang betul bebatuan serta bukit disebelah atas ini mengandung emas banyak sekali. Bila diolah emas ini bahkan bisa dipergunakan untuk membangun sepuluh istana besar. Tapi tempat ini berada dalam pengawasan seorang kakek aneh dan gila!"

"Siapakah orangnya yang berani membuat perkara dengannya?"

Sadar yang baru saja bicara adalah jiwa yang bersemayam di dalam hulu pedang Gila. Dengan senyum mencibir dia berkata.

"Jiwa pedang? Siapa orang gila yang menguasai bukkit ini? "

"Aku sendiri belum mengenalnya. Tapi aku bisa menduga penguasa bukdit emas ini tentutah orang yang suka membuang ingatannya ke comberan dan mulutnya sering bau tuak." "Dewa Mabok maksudmu?"

Tanya Raja dengan kening berkerut

"Ya. Kemungkinan juga dia adalah orang yang hendak paduka temui."

Sahut sang jiwa pedang

"Kau yakin orang tua itu sedang berada di tempat sekarang ini?"

Tanya pemuda itu sambil dongakan kepala menatap ke puncak bukit

"Tempat itu sunyi.Dari sini pandanganku bisa menembus hingga bagian dalam bangunan. Tidak ada siapa-siapa terkecuali onggokan bumbung bambu bekas tuak. Sementara diluar pondok aku melihat ada beberapa sosok tubuh berkaparan sambil memegang bumbung bambu," terang jiwa yang bersemayam dalam hulu pedang.

"Kau tidak hendak mengatakan orang-orang itu kehilangan nyawanya karena mabuk kan?" "Entahlah. Hamba belum memeriksa paduka. Tapi kalau paduka berkeinginan agar aku melakukan

pemeriksaan diatas sana pasti hamba lakukan!" Ujar sang jiwa menawarkan diri.

Raja tertegun, berpikir sejenak.

Dan sebelum sempat menjawab ucapan jiwa pedang, tiba-tiba dia mengendus aroma tuak yang sangat menyengat

"Uh, bau ini membuat lubang hidungku sampai tenggorokan terasa panas seperti mau terbakar.

Luar biasa! Manusia mana yang sanggup minum tuak dengan aroma sekeras ini" Kata Raja sambil menekab hidungnya.

Cepat pemuda ini memutar tubuh, mata jelalatan nanar memperhatikan sekelilingnya.

Pemuda ini tercengang begitu menyaksikan diatas cabang-cabang pohon yang menjuntai ke tanah bergelantungan kaku dalam keadaan terikat berbagai jenis kelabang, kalajengking juga ular berbisa.

Semua binatang itu dalam keadaan mati dan sepertinya baru selesai dipanggang karena mengepulkan asap menebar aroma daging bakar.

"Siapapun yang melakukan semua kegilaan ini pasti bukan manusia berkepandaian rendah!"

Kata Raja kagum namun dengan tengkuk merinding

"Tadi ketika sampai di sini kita tidak melihat daging panggang mahluk-mahluk beracun itu paduka Raja. Dia melakukan kegilaan di depan hidung paduka. Hebatnya lagi paduka yang memili ilmu kesaktian tinggi luar biasa tak melihat kehadirannya. Ck.ck ck..." kata jiwa dalam hulu pedang memberi bisikan.

"Diam. Jangan mengajak aku bicara terus. Karena kau hanya mahluk yang tidak terlihat nanti orang menyangka aku ini gila bicara seorang diri." dengus Raja. "Paduka menyuruh diam, hamba akan menutup mulut. Tapi hati-hati paduka. Orang yang memanggang binatang berbisa itu berada tidak jauh disekitar sini."

Raja anggukkan kepala sekaligus sunggingkan seringai sinis Kemudian berseru.

"Aku datang dengan membawa maksud baik. Ingin bertanya tentang hal penting kepada engkau hai... orang yang tinggal di puncak bukit. Kuharap jangan menaruh curiga dan tunjukkan sikap yang aneh karena waktuku di tempat ini sangat terbatas!"

Belum lagi gema seruan Raja lenyap dikeremangan senja tiba-tiba saja terdengar suara tawa tergelak-gelak.

Mula-mula suara tawa terdengar biasa saja namun berpindah-pindah. Tapi semakin lama tawa yang terdengar makin melengking membuat Raja terpaksa menutup kedua telinganya dengan mengalirkan tenaga dalam ke bagian pendengarannya. Hebatnya lagi walau Sang Maha Sakti telah menutup pendengarannya, getaran suara tawa membuat tubuhnya terguncang. Sementara daun daun menghijau yang berada diatasnya rontok berguguran dan hancur menjadi kepingan tak ubahnya dimakan ulat.

"Sial! Orang ini ternyata tidak hanya mempunyai ilmu kesaktian memindahkan suara. Tap Juga mempunyai tingkat tenaga dalam yang sangat tinggi sekali"

Rutuk Raja dalam hati. Tak lama kemudian suara tawa mendadak lenyap.

Sebagai gantinya terdengar suara orang mendamprat

"Orang gila mana yang berani datang menghantarkan nyawa ke bukit Batas Kilau Dunia? Kalau cuma pencuri tengik yang ingin memperkaya diri sebaiknya batalkan keinginan. Jangan mencoba mencuri emasku. Jika tetap berlaku nekad aku akan mengajaknya mabok sampal mati lalu baru kuizinkan jiwanya mengambil emas diseluruh bukit ini Ha ha. "

"hai! Siapapun yang bicara. Ketahuilah aku tidak menginginkan emas-emas butut yang memenuhi bukit ini. Aku datang ingin bertemu dengan seseorang yang dikenal dengan julukan Dewa Mabok!"

Jawab Raja dengan suara lantang menggeledek

"Kurang ajar! Beraninya kau bersuara keras di wilayah kekuasaanku. Apakah kau mengira telingaku sudah tuli ya?"

Teriak suara itu dengan suara melengking.

Membuat Raja terhuyung dan telinganya seperti dihantam petir.

"Siapa kau? Beraninya kau menghardik seorang raja. Apakah kau mau kuhukum gantung" kata pemuda itu kesal.

"Hah apa? Kau kunyuk gila kemarin sore mengaku seorang raja? Kau raja apa? Aku yakin kau Cuma Raja Gendeng. Ha ha ha!"

Mendengar orang menyebut nama sekaligus julukannya. Raja jadi melongo dan menggaruk kepala "Bagaimana dia bisa tahu. Aku ini Raja Gendeng?" Kata pemuda itu lalu tersenyum sendiri. Sejenak Sang Maha Sakti menarik nafas dalam. Namun dia tersentak kaget begitu mendengar suara celegukan selayaknya orang yang sedang meneguk minuman. Kemudian terdengar bentakan.

"Orang gila! Aku sedang minum. Apa kau mau mencicipi tuakku yang harum ini?" Kata satu suara.

Seperti tadi suara itu berpindah-pindah.

Tapi kali ini Raja melihat ada satu sosok bayangan berkelebat cepat mengelilingi dirinya. Belum lagi si pemuda sempat menjawab pertanyaan orang.

Tiba-tiba terdengar suara seperti air yang disemburkan dari mulut Pruh!

Pruh! Bueeer!

Semburan cairan menebar bau harum menyengat datang dari segenap sudut penjuru. Menghantam sekujur tubuh Raja juga pepohonan di sekitarnya.

Ketika semburan cairan yang terrnyata tuak harum itu menghantam Raja, Sang Maha Sakti berpikir cepat.

Dengan mulut cemberut sambil menggerutu dia mengambil tindakan

"Orang satu ini gilanya lebih parah dibandingkan diriku. Orang gila harus kulayani secara gila pula!"

Berkata begitu Raja segera meliukkan tubuhnya.

Tangan kanan diacungkannya ke atas seakan telunjuk tangan kiri menunjuk-nunjuk ke bawah. Lalu...

Wuuues!

Serta merta Raja Gendeng hilang raib tak meninggalkan bekas.

Sementara di tempatnya berdiri tadi, tanah dan pasir bermuncratan di udara. Daun-daun dikobari api, pepohonan dipenuhi lubang tertembus cairan tuak yang di semburkan orang.

"Orang gila kesasar itu bisa menghilang? Rupanya dia bisa berubah seperti kentut. Lumayan hebat tapi dia belum kenal aku ya. Ha ha ha...!" kata orang yang semburkan tuak disertai gelak tawa.

Raja yang baru saja selamatkan diri dari semburan tuak keras dan menyala setelah bergesekan dengan udara, kini nampak duduk nangkring di atas cabang pohon. Sambil mengusap dadanya yang berdebar kencang, bersungut sungut pemuda itu menatap ke bawah. Kobaran api akibat semburan tuak masih menyala. Batang pepohonan yang dipenuhi lubang tertembus tuak juga masih mengepulkan asap. Sambil menatap dengan bergidik, pemuda ini berucap.

"Bagusnya aku menggunakan ilmu sakti Gerak Lintas Cahaya dan ilmu sakti Belut Lumpur Jelaton warisan Nini Balang Kudu. Kalau tidak tubuhku ikut lumat terpanggang semburan cairan tuak sialan itu!"

"Orang gila kurang ajar! Beraninya kau mengucapkan kata sialan di tempat ini? Kau marah? Atau mungkin kau lapar? Ha ha ha."

Lagi-lagi terdengar dampratan disertai tawa tergelak-gelak. Begitu tawa lenyap orang yang belum juga unjukkan diri itu kembali berkata.

"Kalau lapar kau makan saja kelabang, kala jengking dan ular berbisa panggang yang bergelantungan di sekeliling pohon itu."

Raja menelan ludah. Mahluk-mahluk berbisa yang dipanggang itu memang mengundang selera.

Apalagi saat itu perutnya memang keroncongan. Dari warnanya yang kecoklatan mungkin saja panggang ular enak dimakan. Tapi bagaimana setelah makan dia keracunan.

"Aku tidak sudi makanan menjijikkan itu."

Sentak Raja membuat pemilik suara menjadi sangat marah.

"Orang memberi kau malah menolak. Biarkan aku yang menghabisi makanan yang lezat ini."

Berkata begitu sekali lagi Raja mendengar suara angin berdesir. Desir angin lalu berputar menyambar ke arah binatang melata yang telah matang itu

Wuues!

Hebat luar biasa. Begitu hembusan angin lenyap, maka semua makanan yang bergelantungan di dahan pohon amblas lenyap entah kemana.,

Di suatu tempat di atas lereng bukit kuning. Raja mendengar suara berkeriukan seperti orang yang sedang mengunyah makanan garing. Ketika Sang Maha Sakti menatap ke arah itu. Diam-diam dia melengak kaget begitu melihat di lereng bukit yang terjal berdiri seorang kakek tua yang berpakaian hitam tak terkancing, wajah merah, bercelana gombrang hitam sebatas lutut. Di sekeliling pinggang si kakek bergelantungan selusin bumbung bambu berisi tuak. Yang membuat Raja berdecak kagum, orang tua itu berdiri dengan punggung menempel pada dinding tebing seolah tubuh itu berperekat reperti lem.

Walau kagum, melihat kakek berambut putih berjanggut dan berkumis putih ini. Namun kemudian Sang Maha Sakti cibirkan mulutnya.

"Orang tua yang suka pamer ilmu pamer kebolehan. Baru punya kepandaian seujung upil saja sudah berani jual lagak di depanku. Memangnya kau ini siapa?"

Tanya Raja mengejek

"Setan gila sialan! Beraninya kau menghina diriku. Bicara seenak udelmu sendiri memangnya kau punya kebiasaan apa?"

Hardik si kakek sambil meneguk tuak dari dalam bumbung.

Setelah mengusap busa tuak yang berselemot disekitar mulut dan kumis dia menatap dengan mata mendelik pada Raja.

Walau dipelototi .Raja bukannya takut, sebaliknya malah cengar cengir lalu tertawa mengekeh

.Sambil tertawa tenang saja dia jawab pertanyaan si kakek.

"Aku yang masih hijau ini tentu saja tidak asal bicara. Aku punya banyak kebiasaan, tapi aku tidak suka pamer sepertimu, apalagi pamer anuku!"

"Ha ha ha..."

"Hmm, ingin kulihat apakab kau punya sesuatu yang kau andalkan, orang gila. Aku akan kembali ke rumahku di puncak bukit itu. Tidak ada satupun jalan untuk mencapai tempat itu. Dan selama ini tak seorang pun yang bisa sampai di sana. Kalau benar kau punya kepandaian kutunggu kau di puncak bukit!"

Tantang si kakek .Si Kakek kemudian tertawa dingin. Sambil tergelak tubuhnya melesat ke atas lalu hilang raib dari pandangan mata.

"Rasanya tidak mudah memang."

Ujar Raja sepeninggal si kakek sambil layangkan pandang ke atas.

"Tapi aku punya ilmu Kadal Butut Merayap di dinding juga di dalam air. Apa susahnya mencapai puncak bukit."

Batin Raja. Baru saja Raja hendak menggunakan ilmu saktinya untuk menyusul s kakek, tiba-tiba dia mendengar suara ngiangan di telinga kanannya.

"Paduka. Bukankah Pedang Gila bisa mengantarmu terbang ke atas?"

"Heh, Jiwa Dalam Hulu Pedang. Kau hendak membuatku tampak tolol di depan kakek aneh itu? Kau diam saja, jangan kau tunjuki aku jalan yang enak-enak. Cara seperti itu hanya membuatku tak dapat merasakan nikmatnya penderitaan hidup."

"Menderita kok dibilang nikmat. Orang hidup Susah saja ingin hidup senang. Artinya tidak ada kenikmatan dalam penderitaan."

Kata sang jiwa pedang.

"Hus, tahu apa kau. Diam sajalah, bukankah sejak tadi aku memintamu diam?" Kata Raja sambil bersungut-sungut.

"Terserah paduka. Hamba cuma memberi saran, diterima syukur tidak diterima keterlaluan." "Dasar pedang gila. Kau dan diriku tak jauh berbeda."

Gerutu Raja.

"Persamaan watak itulah yang membuat kita dapat berdampingan. Kita pasangan yang serasi." "Serasi gundulmu!"

Sambut Raja

"Ah paduka lupa.Hamba dan Pedang gila sama sekali tidak gundul. Yang gundul biasanya ada disebelah bawah.He he he." Walau merasa geli raja tetap unjukkan wajah cemberut.

Kemudian tanpa bicara apa-apa lagi pemuda ini menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Dua tangan saling menggosok, mulut berkemak kemik.

Tangan didekatkan ke mulut, bibir dimonyongkan ke depan lalu mulut Sang Maha Sakti meniup Puuh!

Asap mengepul berwarna putih kelabu.

Kedua tangan itu kini berubah bentuknya menjadi seperti kaki kadal. Tak menunggu lama Raja segera bergerak cepat merayap dinding bukit.

Seperti kadal yang berlari diatas hambaran pasir panas, sekejab saja dia telah sampai dibagian puncak bukit.

Melihat Raja tiba-tiba muncul di depan pondok.

Si kakek yang menunggunya dengan merebahkan diri dibalai ketiduran pondok tersentak kaget. si kakek segera sentakkan punggungnya hingga membuatnya terduduk lurus dibibir balai balai.

Sekejab dia menatap ke arah Raja.

Sebentar mata itu berkedip, sebentar kemudian malah melotot "Orang gila.Bagaimana kau bisa menyusul aku secepat itu?"

Tanya si kakek. Lalu perhatiannya tertuju ke arah telapak tangan dan jari-jari Raja yang di matanya terlihat aneh seperti tangan kadal.

"Tanganmu itu? Mengapa tanganmu berbeda dengan tanganku?"

Memperhatikan tangan sendiri tanyanya. Sambil tersenyum Raja buru-buru usapkan tangan ke bagian belakang bokongnya, lalu...

Jesst!

Begitu angin yang keluar dari bawah menyambar tangan Raja.

Seketika kedua telapak tangan hingga jarinya berubah kembali ke bentuk semula "Heh, tanganmu."

Sentak si kakek sambil kembali perhatikan tangan pemuda itu.

"Tanganmu tadi... eh tadi aku melihat tanganmu seperti tangan kadal. Tapi whee... sekarang mengapa berubah lagi seperti tangan buaya. Ada apa dengan mataku?"

Kata si kakek sambil mengusap matanya berulang kali. Sambil tertawa geli didalam hati, Sang Maha Sakti yang tahu tangannya tidak seperti tangan buaya cepat memotong.

"Tanganku ini sangat bagus, utuh dan sama sekali tidak seperti tangan buaya, orang tua.

Mungkin kau banyak minum. Karena mabuk membuat pandangan matamu jadi terbalik. Aku bisa menduga dalam keadaan seperti ini bisa saja begitu melihat nenek-nenek kau melihatnya seperti gadis cantik. Ha ha ha."

"Mungkin kau benar." Ucap kakek itu sambil letakan bumbung di atas balai ketiduran berlapis tikar itu.

"Aku memang mabuk, kepalaku juga terasa pusing. Dalam keadaan mabuk penglihatan bisa berubah, pikiran jadi terbalik."

Si kakek angguk anggukan kepala

"Orang gila apakah kau pernah mabok. Atau kau mau ikutan bergabung denganku lalu kita mabuk bersama dari malam sampai pagi dan pagi lagi? Ha ha ha."

"Mohon dimaafkan. Aku tak pernah mabok dan tak mau ikutan mabok. Kalau mau mabok, maboklah sendiri orang tua."

"Ah jangan kelewatan. Menolak pemberian berarti menolak rejeki. Tapi... Hem, bagaimana kalau aku yang minum tapi kau yang mabok?!"

Tanya si kakek sambil kedipkan matanya.

"Mana mungkin. Kau yang minum bagaimana bisa aku yang mabok?"

Kata Raja. Tapi kemudian hatinya menjadi was-was. Dia takut kakek itu mengerjainya. Tak ingin konyol buru-buru Raja menyambung ucapan.

"Orang tua... kurasa mungkin. Mungkin saja minum aku yang mabok. Kurasa itu sebuah tipuan permainan lama. Tapi terus terang, kuharap kau tak mengerjai aku. Aku datang dengan membekal maksud dan kepertuan yang sangat penting."terang Raja bersungguh-sungguh.

"Wheeh, belum kukerjai kau sudah takut dan tahu duluan. Tapi tak jadi apa orang gila. Di hari menjelang malam ini hatiku sedang senang. Kau kuanggap sebagai tamuku karena berhasil naik ke puncak bukit ini. Tetapi tetap saja kau ini seorang tamu kesasar dan yang tak pernah kuundang.

Katakan apa kepentinganmu orang gila!"

Kata si kakek. Walau merasa lega orang tua itu bersikap lunak, namun Raja merasa tidak senang mendengar si kakek menyebutnya 'orang gila."

Dia pun lalu menyampaikan apa yang menjadi ganjalan dihati.

"Orang tua aku bukan orang gila Aku punya nama. Aku harap jangan memanggilku orang gila lagi."

Sepasang alis mata si kakek terangkat naik. Mulut tersenyum namun mata menatap garang.

Saking gusarnya mata itu bahkan berputar liar seperti mata juling. "Kau punya nama orang gila? Katakan siapa namamu?"

"Namaku Raja, lengkapnya Raja Gendeng.." terang pemuda itu hingga membuat si kakek tak kuasa menahan gelak tawanya.

"Nah apa kataku? Nama depanmu memang bagus. Tapi ujung namamu itu. Apa artinya. Bukankah gendeng berarti juga gila, edan dan sinting? Mengapa kau merasa tersinggung ketika aku memanggilmu orang gila? Ha ha ha."

Raja hanya bisa geleng kepala. Namun kemudian cepat-cepat berkata. "Aku senang-senang saja. Tapi aku juga ingin tau siapa dirimu ini. Apakah kau orang yang ku cari atau sebaliknya."

"Memangnya siapa yang kau cari?" "Aku mencari seseorang?"

"Seseorang itu apakah kunyuk atau mungkin dia punya nama yang lebih bagus dari namamu?" Kata si kakek, Walau merasa kesal, namun Raja tetap menjawab juga pertanyaan si kakek "Namanya aku tidak tahu. Mungkin juga dia bernama Si Monyet tua. Tapi aku diberi tahu oleh

seseorang. Orang yang kucari itu biasa disebut Dewa Mabok."

Sikakek berjingkrat kaget. Dia menatap Raja sekaligus memperhatikan pedang berangka aneh yang terbuat dari emas

"Kau mencari Dewa Mabok?"

"Apakah kau mengenalnya orang tua?" Raja balik bertanya.

"Mungkin saja aku mengenalnya. Memangnya kau punya kepentingan apa ingin menemuinya?" "Aku telah bertemu dengan seseorang yang bernama Ki Lara Saru Saru. Dia mengaku penjaga

makam raja-raja Istana Dewa Suci di Pulau Rakata tak jauh dari gunung Krakatau. Sebelum menemul ajal dia berpesan agar aku menjumpai seorang kakek yang konon sakti bergelar Dewa Mabok"

Untuk yang kesekian kalinya mata si kakek tebelalak lebar. Mulut ternganga sedangkan kepala digolang goleng. Cepat dia bangkit

"Apakah kakek itu menjunjung tinggi pelita di atas kepalanya?" Tanya si kakek seakan ingin memastikan.

Tanpa keraguan Raja anggukan kepala. Diluar dugaan begitu melihat anggulan kepala Raja, si kakek kembali terduduk.

Kedua kakinya mendadak lemas, mata yang merah menatap kosong.

Dari mulut orang tua itu terdengar gumaman namun juga seperti keluhan

"Jagad Dewa Bathara. Muliakanlah arwah orang-orang yang dimuliakan.Dibandingkan diriku dia adalah orang yang dikaruniai usia panjang. Bila dirinya menemul ajal, sesuai ketentuan takdir yang telah kuketahui, kematiannya tepat pada saat bangkitnya seorang pangeran durjana dari dasar Laut."

Si kakek kemudian tertunduk.

Namun diamnya tak berlangsung lama.

Tiba-tiba dia dongakan kepala, menatap ke arah Raja dengan sorot mata menyelidik.

Tanpa menunggu dia membuka mulut

"Jadi kau datang kemari atas perintah Ki Lara Saru Saru?" "Begitulah " "Kau hendak bertemu dengan Dewa Mabok?" Tanya si kakek lagi. Raja anggukan kepala.

"Kau sudah bertemu dengan tua bangka yang kau cari. Aku Dewa Mabok. Begitu orang menyebut diriku."

"Aku sudah menduga." Ujar Raja.

Pemuda itu kemudian bungkukan badan, rangkapkan badan dua tangan menjura hormat ke arah Dewa Mabok

"Aku tidak terkejut. Namun dihadapan manusia lapuk sepertiku kuharap kau tak memakai segala peradatan. Aku bukan manusia gila hormat. Lebih baik kau katakan mengapa penjaga makam raja di pulau Rakata itu memintamu mencari diriku?"

"Saya sendiri tidak tahu .Beliau hanya mengatakan hanya kaulah yang tahu siapa pangeran Durjana dan engkau pula yang dianggapnya cukup mengetahui bagaimana caranya menghentikan kejahatan pangeran Durjana setelah bangkit dari kematiannya."

Mendengar ucapan raja, wajah si kakek bertambah muram. Dia lalu memberi isyarat kepada Raja agar duduk di depannya.

Pemuda itu datang menghampiri, lalu duduk diatas balai ketiduran. Dewa Mabok tersenyum.

Sikapnya begitu acuh.

Namun Raja dapat melihat wajah Dewa Mabok menyembunyikan kegetiran dimasa lalu.

Tanpa banyak bicara. Dewa Mabok meraih bumbung bambu yang berjejer rapi diatas balal bambu.

Penutup bumbung di buka, aroma menyengat menyebar.

Begitu bumbung bambu diangkat lalu dijungkirkan diatas mulut semua isinya tercurah amblas masuk ke dalam mulut Dewa Mabok. Bumbung yang kosong kemudian melayang, jatuh menggelinding di halaman pondok. Bumbung ke dua datang menggantikan bumbung pertama.

Begitulah seterusnya.

"Menghadapi masalah yang berat tak dapat diselesaikan dengan meminum tuak sampai berbumbung-bumbung!"

Kata Raja tidak sadar.

"Tahu apa kau tentang diriku?"

Damprat si kakek sambil hentikan minumannya.

"Maaf, aku memang tak tahu apa yang terjadi dengan masa lalumu, namun dari wajahmu kau menyimpan beban yang berat?"

"Ha ha ha Orang gila, kau masih begini muda.Tapi kau sudah pandai membaca sikap orang." "Sungguhpun aku ingin, namun aku tidak mau membicarakan masa laluku. Lebih baik kita bicara tentang pangeran itu saja." kata Dewa Mabok lalu semburkan sisa tuak di dalam mulutnya.

Begitu semburan tuak menghantam lempengan batu emas. Seketika batu hancur dan emas yang membalutnya meleleh menjadi cairan mendidih

"Pangeran Durjana sebelum tewas seribu tahun yang lalu, dia lebih hebat dan lebih kuat dari batu emas itu. Ilmu kesaktiannya tiada yang menandingi.Sayang jalan hidupnya menyimpang, kebejatannya melebihi keledai tolol. Jadi sekarang dia muncul di tanah Dwipa?"

Tanya Dewa Mabok sambil menatap dalam Raja yang duduk di sebelahnya. "Betul kek."

"Itu artinya semua orang bakal menuai celaka."

"Bencana tidak akan terjadi bila kita dapat mencegahnya." Kata pemuda itu.

"Ha ha ha. Kalau kau menyebut kita, berarti engkau dan aku. Aku tidak mau ikut campur." "Kalau begitu aku akan menghadapi pangeran Gila itu seorang diri."

Tegas Sang Maha Sakti tanpa keraguan.

"Kau.... ha ha ha! Kau mau menghadapi manusia sakti luar biasa itu seorang diri? Manusia sombong! Kau mengira dirimu siapa?"

Hardik Dewa Mabok dengan mata mendelik. Raja tersenyum. Enak saja dia menjawab. "Aku adalah aku, bukan dirimu apalagi mbahmu. Ha ha ha!"

"Orang Gila.Kau sungguh keterlaluan. Kalau. begitu aku sudah selayaknya mengujimu!" Teriak si kakek lantang.

Keputusan Dewa Mabok sudah tentu membuat Raja Gendeng terkejut. Namun dia tidak merasa takut.

Malah kemudian dia menjawab, sengaja memanasi hati s kakek

"Kusangka kau seorang dewa sungguhan. Tidak tahunya hanya seorang kakek renta yang cuma bisa menghabiskan umur dengan mabuk mabukan. Siapa takut menghadapimu?"

Seumur hidupnya yang lebih dari dari seribu dua ratus tahun.

Rasanya belum pernah ada orang yang berani bicara seperti itu dihadapannya.

Kini melihat Raja tidak memandangnya walau dengan sebelah mata pun maka membuat si kakek merasa tersinggung.

"Orang gila. Rupanya kau benar-benar mencari mati!" "Hidup mati selalu kuterima siapa yang perduli." Sahut Raja.

Sambil bangkit berdiri. Dewa Mabok mengumbar tawa. Melihat si kakek bangkit. Raja pun segera bersikap waspada. ******

Satu rombongan pasukan kecil dipimpin langsung oleh Patih Tubagus Aria Kusuma melintas desa Saketi.

Saat itu malam telah larut.

Suasana desa yang berpenduduk padat ini dalam keadaan gelap temaram. Di langit bulan sabit merah timbul tenggelam tertutup awan.

Ketika mereka sampai di tengah desa, Sang patih dan kakek berpakaian hitam bersorban yang bukan lain adalah Penujum Aneh Juru Obat Delapan Penjuru hentikan kuda.

Begitu pimpinan rombongan berhenti, maka para pengawal bersenjata lengkap yang mengiringi juga ikut hentikan kuda masing-masing.

"Kurasa malam belum terlalu larut benar. Tapi lhatlah Penujum Aneh. Desa ini aneh sunyi seperti kuburan,"

UJar sang patih pada Penujum Aneh yang duduk di atas kuda tidak jauh di sebelah kirinya. Si kakek anggukan kepala, matanya yang sering berkedip memperhatikan setiap rumah yang berjejer di kanan kiri jalan

"Paman patih."

Berkata Penujum Aneh sambil menghela nafas berat.

"Desa Saketi ini nampaknya mendapat serangan hebat. Menurut penglihatan mata batinku kejadiannya belum lama berselang. Mungkin tadi malam. Aku mencium tidak ada tanda tanda kehidupan. Dan aku dapat merasakan begitu banyak arwah-arwah gentayangan. Arwah para korban yang tewas secara mengenaskan."

"Desa ini mendapat serangan hebat. Namun kita sama sekali tidak melihat ada kerusakan yang berarti. Rumah dan bangunan tetap berdiri. Bukannya aku meragukan kemampuanmu Penujum, tapi apakah mata batinmu tidak salah melihat?"

Kata sang patih. Penujum aneh menyeringai. Kepada sang patih dia berkata.

"Sebaiknya paman patih perintahkan pada para pengawal untuk segera melakukan pemeriksaan disetiap rumah rumah."

Tanpa banyak bicara patih Tubagus Aria Kusuma segera memberi isyarat pada para pengawalnya.

Sepuluh pengawal bertubuh tegap bersenjata pedang dan golok besar segera berlompatan dari atas punggung kuda masing-masing. Para pengawal kemudian berpencar. Lima memyebar ke sisi jalan sebelah kiri sedangkan sisanya segera bergerak ke arah rumah-rumah yang terdapat disebelah kanan jalan yang membelah desa.

Sisa pengawal lain yang menunggu di tengah jalan juga tidak tinggal diam. Mereka yang berjumlah tak kurang dari dua puluh orang segera menghunus senjata masing-masing, sedangkan sebagian lagi berjaga-jaga disekeliling sang patih dan Penujum Aneh. Satu demi satu rumah di kanan kiri jalan itu diperiksa. Para pengawal keluar masuk dari pintu ke pintu .Tapi setelah puluhan rumah digeledah. Para pengawal itu kembali menemui patih Tubagus Aria Kusuma dengan tangan hampa.

"Bagaimana?"

Tanya sang patih pada kepala pengawal bernama Gondang Ageng. Laki-laki besar berpakaian perajurit berwarma coklat dan berkulit hitam legam itu bungkukkan badan, sambil rangkapkan dua tangan di depan dada dia menjura kepada paman patih.

"Hampir semua rumah yang kami masuki dalam keadaan kosong.Tak satupun penghuninya yang kami temui."

Kemudian seorang perajurit lain berwajah masam bermulut runcing yang memeriksa beberapa rumah disebelah kanan jalan melangkah maju.

Setelah menjura dalam pada sang patih dia berkata.

"Ampun gusti patih. Hamba melihat ada beberapa tengkorak dan tulang belulang disalah satu rumah yang kami periksa. Hamba melihat dibawah tulang belulang ada ceceran darah dan cairan berbau amis. Hamba hanya bisa menduga cairan amis itu kemungkinan adalah kulit dan daging yang meleleh. Ada kekuatan yang luar biasa dahsyat telah menghabisi penghuni rumah."

"Kalau benar. Kekuatan apa yang bisa membuat rontok tubuh manusia. Lagi pula mengapa kita tidak menemukan mayat-mayat penduduk desa ini di rumah yang lain?" kata patih Aria

terheran-heran.

"Kau tidak melihat kejadian yang lainnya, Manyun Pambayo,"

Tanya Penujum Aneh sambil menatap ke arah si wajah muram di depannya "Tidak Penujum. Saya dan yang lainnya tidak melihat apa-apa."

Sahut Manyun Pambayo. Penujum Aneh menoleh pada sang patih.

"Pelakunya masih orang yang sama. menyerang penduduk desa adalah pasukan Lebah bernama Lebah Kepala Hati Berbunga. Penduduk yang tidak dibutuhkan dibunuh, sedangkan para anak gadisnya disengat dengan bisa asmara. Bila tersengat gadis-gadis itu berubah menjadi liar. Yang seperti orang yang kasmaran."

"Aku tidak tahu apa maksudmu kakek Penujum aneh."

Kata patih Aria Kusuma bingung

"Semua ini perbuatan Pangeran Durjana. Dia seperti ayam jantan. Dia sengaja meracuni lalu mengumpulkan gadis-gadis itu untuk dijadikan pengantinnya. Seperti yang pernah saya katakan, paman patih. Gadis yang telah tidur dengan Pangeran Durjana segera mengalami kehamilan dan melahirkan tiga hari kemudian."

Penjelasan Penujum Aneh membuat patih Tubagus Aria Kusuma tercengang. itu." "Sungguh tak masuk akal. Sulit dipercaya. Bagaimana ada kehamilan bisa berlangsung sesingkat

"Menurut penglihatan batinku Pangeran Durjana dibantu oleh sebuah kekuatan dahsyat dari kegelapan. Paman patih juga pasti lebih tidak percaya lagi bila kukatakan bayi yang terlahir itu bisa mengalami pertumbuhan yang cepat. Dalam tiga hari bayi-bayi itu akan menjadi seorang bocah seusia dua tahun."

Terang Penujum Aneh membuat patih Tubagus Aria Kusuma tambah tercengang. Lalu sambil telan ludah basahi tenggorokanya yang mendadak kering, sang patih ajukan pertanyaan.

"Apakah semua gadis yang telah tersengat Lebah Kepala Hati Berbunga itu diajaknya bercinta?" Penujum Aneh anggukan kepala.

"Bagaimana mungkin ada manusia punya kemampuan seperti itu?"

"Ingat paman Patih. Pangeran Durjana yang aslinya bernama Pangran Bagus Anom Aditama kini bukan manusia lagi. Harus dingat pula dia baru saja bangkit dari kematiannya setelah seribu tahun mayatnya terkubur di laut gunung Krakatau .Sekarang dia menjadi iblis, dalam ujud manusia. Alam gaib baru saja memberi bisikan kepadaku Apa yang dilakukan pangeran Durjana bukanlah untuk mencari kesenangan semata. Anak anaknya yang terlahir dalam waktu singkat itu bisa menjadi senjata sekaligus kekuatan yang dapat menghancurkan semua keturunan gusti Ratu Tria Arutama yang bukan lain adalah mbah buyut paman patih juga prabu Tubagus Kasatama."

Terang Penujum Aneh. Patih Tubagus Aria Kusuma terdiam. Dia mengusap tengkuknya yang mendadak terasa dingin.

"Penujum Aneh. Menurutmu mungkinkah anak-anak iblis itu kini sudah terlahir kedunia ini?

Mengingat sudah beberapa hari ini Pangeran Durjana berada di wilayah kita."

"Saya telah berusaha mencari tahu. Tapi saya melihat ada sebuah perisai gaib yang melindungi keberadaan gadis culikan dan pangeran Durjana. Saya hanya mengetahui sebuah jalan menuju ke tempat itu. Begitu kita bergerak menelusuri jalan ini, disebelah utara mungkin kita bisa mendapatkan sesuatu. Walau seorang penujum, saya punya kemampuan yang serba terbatas paman patih. Benar pula ujar-ujar yang mengatakan di atas langit masih ada langit. Saya tidak tahu apa yang bakal terjadi. Tapi firasat saya mengatakan kita akan menemukan sesuatu, sesuatu yang sangat mengerikan tak jauh di ujung jalan desa ini."

"Hmm, kita semuanya harus bersikap waspada." Kata Patih ditujukan pada pengawalnya "Sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan!" Usul Penujum Aneh.

Akhirnya tanpa menunggu lebih lama lagi rombongan itu mereka segera melanjutkan perjalanan. Tak sampai sepenanakan nasi mereka sampai di ujung desa. Patih Aria Tubagus dikejutkan oleh tumpukan benda-benda menggunung yang teronggok di tengah jalan.

Karena mendung gelap mereka tidak dapat melihat dengan jelas tumpukan apa yang bertimbun ditengah jalan itu.

Tapi mereka mengendus bau amis bercampur bau busuk yang menyengat. "Gondang Ageng! Nyalakan obor besar. Cepat periksa ke depan!"

Kata sang patih pada kepala pengawal "Baik gusti."

Laki-laki tegap itu kemudian turun dari kuda. Obor besar dia nyalakan.

Cahayanya yang kuning kemerahan menerangi kegelapan disekitarnya. Ketika Gondang Ageng bergerak ke depan.

Semua kuda tunggangan meringkik gelisah.

"Aku tidak suka dengan suasana sunyi seperti ini." Kata patih berterus terang.

"Tumpukan yang menggunung di depan kita. mayat-mayat penduduk desa Saketi, paman patih." menerangkan penujum Aneh.

Suaranya lirih namun jelas. Baru saja penujum Aneh berkata seperti itu Gondang Ageng yang telah sampai di depan onggokan yang bertimbun di tengah jalan keluarkan suara seperti orang yang mau muntah. Gondang Ageng terhuyung, perutnya bergelung mual. Matanya nanar dan gelap.

Buru-buru dia melangkah menjauh. Setelah mengatur nafas cepat laki-laki itu balikan badan lalu berjalan tergesa menghampiri patih yang duduk di atas kuda terdepan.

Melihat kepala pengawal begitu tegang, wajah pucat mata mendelik seperti baru melihat setan, sang patih jadi tidak sabar lalu cepat-cepat ajukan pertanyaan.

"Apa yang kau lihat?"

Dengan suara terbata Gondang Ageng menjawab.

"Mayat-mayat, gusti patih. Mayat mayat penduduk desa. Rasanya mereka belum lama menemui ajal, tapi tubuh mereka meleleh seperti bubur."

"Hoek!"

Gondang Ageng kembali keluarkan suara mau muntah. Dan kali ini dari mulutnya menyembur cairan dan makanan.

"Manusia jorok. Lekas kembali ke kuda dan kita lanjutkan perjalanan!" Perintah patih Tubagus Aria Kusuma jijik juga marah.

Terbungkuk-bungkuk Gondang Ageng kembal ke kudanya.

Semua prajurit tak ada yang berani membuka mulut walau sebenarnya mereka merasa geli melihat Gondang Ageng kena didamprat karena muntah. Setelah lewat tengah malam, udara dingin terasa tambah mencucuk.

Jalan yang mereka lewati dipenuhi bebatuan licin berlumut.

Iringan-iringan rombongan berkuda berjalan semakin lambat. Di bagian paling depan, Penujum Aneh yang kini bertindak menjadi penunjuk jalan terus saja memanjatkan doa dan membaca mantra-mantra saktinya.

Sesekali dari mulutnya terdengar suara menggumam "Apakah kakek penujum sudah melihat ada tanda-tanda?"

Tanya patih Tubagus Aria Kusuma seperti sudah tidak sabar. Merasa terusik si kakek yang duduk diatas kuda sambil pejamkan mata menoleh. Dia membuka mata dan segera menjawab.

"Tanda-tanda...? Aku mengendus bau kematian. Datangnya dari hutan kecil ini "

"Mendengar ucapanmu aku jadi tidak sabar lagi. Biarkan kini aku yang mengambil alih, memimpin di depan!" kata patih kesal.

"Silahkan. Saya tidak ingin menghalangimu patih." Sahut Penujum Aneh.

Patih Tubagus tersenyum aneh. Laki-laki itu menggebah kudanya.

Memacu kuda lebih cepat ternyata tidak mudah.

Jalan licin membuat kuda yang ditunggangi para perajurit kerap tergelincir membuat suasana yang sunyi berubah menjadi hiruk pikuk.

Setelah menembus belantara dan semak belukar rombongan sang patih akhirnya sampai disebuah lapangan luas dipenuhi hamparan pasir putih.

Dalam suasana temaram dimana bulan sabit telah tenggelam hanya ada cahaya bintang dan nyala obor yang menerangi keadaan itu.

"Sunyi. Tidak terlihat ada tanda-tanda keberadaan orang yang kita cari di tempat ini." kata patih sambil menatap lurus ke depan.

"Jangan gegabah, jangan pula cepat mengambil kesimpulan. Saya merasakan di tengah hamparan pasir itu mendekam mahluk-mahluk ganas yang baru saja terlahir ke dunia ini."

"Apa? Maksudmu bayi-bayi itu?" Desis sang patih.

"Lalu dimana bersembunyi Pangeran Durjana yang kita cari?" Tanyanya penasaran.

"Disebuah tempat tak jauh dari sini. dia punya singgasana bundar seperti kubah namun mirip sarang lebah. Tak akan mudah mencapai tempat tinggalnya bila kita tidak mampu menyingkirkan para pengawalnya!" Gumam Penujum Aneh dengan wajah tegang dan suara dingin. Patih Tubagus Kusuma Putera yang sudah tidak sabar dan selama ini sangat penasaran segera meludah

"Hanya menghadapi bocah-bocah kecil kenapa harus takut?"

Dengus sang patih marah. Baru saja laki-laki berusia enam puluh tahun itu berkata seperti itu. Mendadak sontak kesunyian yang mencekam dikejutkan dengan terdengarnya suara raungan.

Bersamaan dengan terdengarnya suara raungan itu dari arah pedataran pasir yang sangat luas, angin kencang berhembus menerbangkan butiran pasir ke arah mereka.

Semua orang yang berada di tepi hamparan pasir segera berlompatan dari atas punggung kuda masing-masing. Begitu jejakan kaki di tanah mereka segera lindungi mata dan cabut senjata masing masing.

Hanya Patih Tubagus Aria Kusuma yang bersikap tenang.Sementara Penujum Aneh segera melepas sorban sakti berwarna hitam yang melingkar diatas kepalanya.

Berada dalam genggaman tangan kanan sorban sakti lalu dikibaskan ke depan dan menghantam deru angin serta pasir yang menghantam ke arah mereka.

Begitu sorban menghantam angin dan semburan pasir terdengar suara letusan-letusan keras yang dibarengi dengan jeritan marah disana sini.

"Manusia-manusia tak tahu diri.Apakah kalian sudah bosan hidup dan ingin mampus sepert ibu-ibu kami yang malang!"

Hardik satu suara .Dari suaranya jelas yang bicara adalah suara bocah berumur sekitar dua tahunan.

Patih dan Penujum sama berpandangan.

Pukulan sorban Penujum Aneh memang membuat hembusan angin dan serangan pasir yang melesat seperti anak panah terhenti.

Namun sebagai gantinya.

Sebelum rasa kaget dihati semua orang yang berada disitu lenyap.

Tiba tiba saja dari balik kedalaman pasir melesat keluar beberapa sosok tubuh ke arah mereka. Sedikitnya lima orang sosok tubuh melayang dalam keadaan jungkir balik tak karuan.

Lalu.. Bregkg!

Tujuh tubuh berjatuhan saling tindih.

Penujum Aneh dan Patih Tubagus Aria Kusuma yang tadinya siap menghantam karena mengira yang datang adalah musuh yang hendak menyerang langsung batalkan niat.

Begitu mereka menatap ke depan.

Keduanya sama tercengang dan belalakkan mata.

"Astagat! Kekejian seperti apa yang telah berlangsung di tempat ini?" Desir sang patih seolah tidak percaya dengan penglihatan matanya sendiri.

Dia melihat tujuh sosok yang berjatuhan didepannya itu ternyata para gadis muda. Wajah mereka masih utuh.

Mereka tewas dengan sekujur tubuh dan isi perut lenyap entah kemana.

Seolah ada binatang buas yang memangsa mereka. Tanpa memperdulikan ucapan patih, Penujum Aneh segera ulurkan tangannya ke arah onggokan mayat gadis-gadis itu.

Tiba-tiba sang penujum memekik kaget ketika merasakan ada satu kekuatan tak terlihat menyambar tangannya.

Kekuatan itu datang dari mayat para gadis.

"Jangan didekati, jangan disentuh.Semua mayat itu dikuasai oleh sebuah kekuatan yang sangat jahat." seru si kakek memberi peringatan.

"Lalu apa yang kau lakukan tadi Penujum?"

Tanya sang patih sambil menatap ke arah si kakek yang masih mengusapi telapak tangan kanannya.

Tangan itu terasa nyeri, panas seperti terbakar

"Aku hanya mencoba mencari tahu apa penyebab kematian dan siapa yang telah memangsa gadis-gadis desa ini."

"Dan kakek berhasil menemukan sebuah petunjuk penting?"

Tanya patih disertai tatapan tajam menusuk .Penujum Aneh anggukkan kepala. Tapi belum lagi dia sempat menjawab pertanyaan sang patih. Tiba-tiba terdengar suara gelak tawa dingin menggidikkan.

"Wahai penujum berjenggot panjang."

Kata satu suara bocah di pasir. Si kakek tertegun. Tanpa sadar dia mengusap jenggotnya yang memang panjang menjuntai ke pusar.

"Kami yang baru lahir sudah tahu siapa dirimu. Harap tidak terkejut. Ketahuilah kami yang telah membunuh ibu yang telah melahirkan kami kami ini atas perintah ayahanda rama Pangeran Durjana...!

"Mahkluk keji. Anak-anak iblis terkutuk!" Potong Patih Tubagus Aria Kusuma geram.

"Jika kalian yang telah membunuh, lalu siapa yang memangsanya?" lanjut sang patih. "Kraak! Grauung!"

Sebagai sambutan atas ucapan sang patih. Tiba-tiba terdengar suara raungan keras.

Raungan pertama disusul dengan raungan ke dua dan seterusnya membuat pepohonan terguncang dan para perajurit yang berada dibelakang sang patih dan Penujum Aneh terhuyung. "Patih kurang ajar! Kau tidak layak bicara seperti itu kepada kami."

Teriak satu suara melengking

"Hanya ayahanda rama Pangeran Durjana yang patut berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya. Kalian hanyalah kotoran yang harus disingkirkan. Kami kuat, kami akan melenyapkan segala bentuk kemunafikan yang ada di dunia ini" sentak satu suara yang lain.

Seperti yang pertama suara itu juga seperti suara anak kecil. Patih dan Penujum saling pandang.

Si kakek melangkah maju, sekali lagi dia mengulangi ucapannya.

"Siapa pun dirimu. Lekas katakan apa yang terjadi dengan gadis-gadis ini?" "Hi hi hi!"

Terdengar suara tawa serentak bersahut-sahutan. Suara tawa lenyap kemudian terdengar jawaban.

"Untuk menjadi seperti kami. Kami terpaksa mengambil sari kehidupan dari dalam diri ibu kami. Dengan menggunakan tubuh mereka kami cepat menjadi besar. Kami telah bermurah hati menjawab pertanyaanmu, lalu apa yang hendak kau lakukan bersama patih itu Penujum?"

"Anak-anak iblis. Kami akan menghabisimu!" Tegas patih Tubagus Aria Kusuma.

"Aku bertanya pada penujum, tapi mulutmu lancang menjawab. Apakah kau mengira kami tidak tahu siapa dirimu itu? Kami sangat mengenalmu patih. Ayahanda rama Pangeran Durjana yang telah memberi tahu. Bau tubuhmu, bau darahmu sama persis dengan ciri-ciri yang diberikan rama. Artinya kau masih cucu cicit keturunan Ratu Tria Arutama raja di istana Dewa Suci di pulau Rakata yang pernah membuat rama Pangeran Durjana dan kekasihnya menemui ajal seribu tahun yang lalu. Kau harus kami lenyapkan. Apakah kau telah siap untuk segera berangkat ke neraka?"

Tanya suara dari balik kedalaman pasir. Walau hati terasa panas dan kemarahan sempat menggelegak sampai ke ubun-ubun namun sang Patih tetap berlaku tenang dan berusaha menahan diri. Sambil tersenyum dia kemudian bahkan berkata.

"Aku mau saja dibawa kemana pun yang kalian suka. Ke neraka juga boleh asalkan aku digendong di punggung kalian dan kalian semua ikut serta mengantarku."

"Kurang ajar! Anak-anak! Habisi patih kerajaan dan pengikutnya juga Penujum tua itu!" Teriak suara itu lantang bergema.

Suara teriakan lenyap.

Tiga puluh pengawal, walau sempat tercekat namun cepat menyebar mengelilingi sang patih dan Penujum Aneh.

Dengan senjata dilintangkan di depan dada mereka nampaknya telah siap melindungi diri. Selagi para prajurit itu mengambil sikap dengan posisinya masing-masing.

Di tengah hamparan pasir yang sangat luas tiba-tiba saja muncul tiga buah benda berbentuk persegi tiga berwarna putih berkilau tak ubahnya tiga buah batu permata raksasa.

Penujum Aneh yang mengenali tiga buah benda yang baru muncul dari dalam pasir terkejut namun juga segera berseru memberi peringatan.

"Tiga Lentera Akherat! Cepat nyalakan semua obor yang tersisa. Tancapkan sembilan obor dihadapan kita!"

Seru si kakek.

Para pengawal yang merasa masih memegang obor yang belum dinyalakan segera menyalakan obornya. Begitu obor menyala mereka segera berlari ke depan lalu menancapkannya di depan penujum

. Patih Tubagus Aria yang tak tahu maksud penujum tak dapat berbuat banyak.

Dia cuma bisa menyaksikan kesibukan perajuritnya. Sembilan obor dilihat sang patih menyala berjejer.

Sementara di tengah hamparan pasir satu pemandangan luar biasa terjadi. Tiga batu segi tiga berkilau tak ubahnya Mutiara.

Semakin lama tiga batu memancarkan cahaya putih terang benderang .Melihat ini Penujum Aneh segera silangkan kedua tanganya di depan dada, kedua kaki ditekuk sedangkan sorban hitam yang sejak awal dililitkan dipergelangan tangan kanan nampak bergetar.

"Lentera itu akan menyerang kita.Terlambat sedikit menyalakan sembilan obor penolak bala, kita semua bakal menuai nasib celaka!"

Menerangkan si kakek. Penjelasan Peramal Aneh membuat Patih menyadari banyak sekali hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan alam gaib yang tak diketahuinya.

Laki-laki ini tidak mau diam.

Dia segera menghunus senjata andalannya berupa sebuah kujang yang dikenal dengan nama Penakluk Jiwa. Baru saja senjata sakti berada dalam genggaman.

Di tengah hamparan pasir sedikitnya enam cahaya yang berasal dari tiga batu segi tiga berkiblat lalu menderu menghantam ke arah Penujum Aneh, patih juga para perajurit itu.

Melihat cahaya putih menyilaukan menebar hawa panas luar biasa menderu dengan kecepatan seperti kilat menyambar datang menghantam.

Penujum Aneh tidak tinggal diam.

"Ilmu Penahluk Lentera Akherat! Musnahkan semua cahaya yang berasal dari tiga batu itu!" sambil berseru Penujum Aneh dorongan kedua tangannya ke depan.

Hembusan angin yang menderu dari telapak tangan Penujum Aneh menyambar sembilan api obor.

Sembilan api obor mencelat ke depan, berubah menjadi besar ketika berada di udara.

Tiga puluh perajurit menahan nafas menunggu dengan perasaan tegang namun siap mengambil tindakan. Enam cahaya menyilaukan dari tiga batu Lentera Akherat dengan sembilan nyala obor yang terisi mantra sakti Penujum Aneh akhirnya bertemu di udara.

Sedikitnya tiga ledakan berdentum mengguncang tempat itu. Debu dan pasir bermuncratan membubung tinggi di udara.

Guncangan keras membuat para perajurit jatuh bergelimpangan.

Diantara mereka ada yang menderita cidera berat terluka bahkan tiga diantaranya menemul ajal.

Sedangkan para perajurit yang selamat segera bangkit dan langsung membuat benteng pertahanan yang kuat.

Selagi segala kokacauan akibat ledakan belum mereda, Patih Tubagus Aria Kusuma tiba-tiba berseru.

"Penujum Aneh! Lihat ke depan. Rupanya serangan api obormu yang dilambari mantra sakti tak sanggup memusnahkan semua cahaya itu!"

Sang penujum tersentak. Dia menatap ke depan searah yang yang ditunjuk patih. Dia melihat diantara kepulan dan kepingan pasir berpijar yang mulai luruh sedikitnya dua cahaya putih menyilaukan saling berjejer menderu ganas ke arah mereka.

"Paman patih. Pergunakan Kujangmu, kau hancurkan cahaya yang disebelah kiri sedangkan yang disebelah kanan adalah bagianku!"

Berkata begitu Panujum Aneh tidak mau menunggu lebih lama.

Sebelum cahaya putih menghanguskan tubuhnya dia segera bergerak mengambil tindakan. Orang tua ini tiba-tiba lambungkan tubuhnya, sorban hitam yang melingkar di tangan kanan dia kebutkan ke depan sedangkan tangan kiri yang telah teraliri tenaga dalam dengan bebas lancarkan pukulan ke arah cahaya itu.

Melihat Penujum Aneh berlaku nekat.

Patih Tubagus Aria Kusuma juga melesat ke atas.

Kujang ditangan yang memancarkan cahaya kuning kehijauan karena telah dialiri tenaga dalam dia putar sedemikian rupa, membentuk sebuah perisai pertahanan yang kokoh juga mengandung daya serang luar biasa.

Wuut Buum! Arkh....

Benturan antara kujang sakti Penahluk jiwa dengan cahaya tak dapat dihindari. Patih menggerung kesakitan.

Walau laki-laki ini berhasil menghancurkan cahaya maut itu, namun kujang ditangan berubah panas seperti bara.

Tak sanggup menggenggam senjata itu sang patih terpaksa melepaskannya. Senjata jatuh dihamparan pasir tapi kemudian lenyap seperti di betot dari dalam. Sambil kibas-kibaskan tangannya yang melepuh.

Dengan gerakan yang ringan.

Patih mampu jejakkan kakinya di tepi lapangan.

Tapi dia sendiri menjadi marah saat sadar senjatanya lenyap di curi mahluk yang bersembunyi di dalam pasir.

Selagi patih dibuat kelimpungan, Penujum Aneh sendiri yang ternyata sanggup hancurkan cahaya yang melabraknya tampak melayang turun.

Orang tua itu mengomel tak berkeputusan saat menyadari ujung sorbannya dikobari api dan mengepulkan asap.

Kalang kabut kobaran api akhirnya mampu dia padamkan.

Tapi baru saja dia jatuhkan diri tak jauh disamping sang patih, kini dia dikejutkan dengan teriakan para perajurit yang berjaga di tepi lapangan.

Ketika si kakek dan patih memandang ke arah perajuritnya. Mereka melihat satu pemandangan yang menggidikkan.

Puluhan kuda tunggangan menghambur berlarian selamatkan diri.

Yang tak sempat lari justru menjadi mangsa bocah-bocah seusia dua tahun.

Bocah-bocah yang muncul dari balik kegelapan dan kedalaman pasir tidak hanya menyerang dan memangsa kuda dengan menggunakan kuku yang mencuat tajam ataupun giginya yang runcing.

Lebih mengerikan lagi mereka menyerang perajurit juga memangsanya.

Setiap perajurit yang dapat mereka buat roboh ataupun yang telah dilukai langsung mereka kerubuti.

Mereka ada yang menggigit leher, menyedot darah bahkan mencabik robek sekujur tubuh perajurit yang menjadi korban.

"Bocah Bocah Iblis! Tak kusangka mereka jauh lebih ganas dari binatang buas sekalipun.Dari mana mereka munculkan diri!"

Teriak sang patih gusar.

"Mereka muncul dari pasir ini. Aku tidak bisa memastikan lagi, karena sekarang mereka muncul dari mana saja!" menyahuti Penujum Aneh.

Wuut

Sekali kaki dihentakkan. Tubuh si kakek melayang ke tepi lapangan pasir. Dengan segenap kesaktian yang dia miliki dan didukung oleh mantra-mantra sakti yang dimilikinya Penujum Aneh melakukan gebrakan. Sambil mengibaskan sorban ditangannya dia berusaha menghalau bocah-bocah yang mengepung dan menyerang para perajurit itu.

Sementara itu patih Tubagus Aria Kusuma begitu menyaksikan para pengawalnya semakin banyak yang menemui ajal segera ikutan menyerbu. Laki-laki itu mengamuk dengan melepaskan pukulan dan mengumbar tendangan sakti. Setiap kaki dan tangan bergerak, para bocah yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang itu pasti Jatuh terpelanting sambil menjerit dan menggeram .Diantara bocah yang menjadi korban tendangan ada yang kepalanya remuk. Namun aneh. Bocah iblis yang terkapar tiba tiba bangun lagi.

Kepala yang remuk kembali utuh sedangkan kekuatan mereka semakin berlipat ganda. "Kita telah banyak kehilangan perajurit, paman patih!" teriak penujum Aneh yang merasa

kewalahan menghadapi serbuan ganas bocah bocah itu.

"Aku telah membunuh mereka. Tapi mereka bangkit lagi. Kulihat mahluk-mahluk ini sebaliknya bertambah kuat!" teriak sang patih sambil terus melepas pukulan-pukulan dahsyat

"Kegelapan adalah sekutu mereka. Malam menjadi teman abadi bagi mereka hingga membuat mereka sulit untuk dilenyapkan. Kau pergilah! Biarkan aku yang akan menahan mereka. Kau harus mencari cara, kau harus menemukan seseorang yang mengerti benar tentang mereka."

"Aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Pemahamanmu tetang dunia gaib jauh lebih luas dibandingkan diriku. Sebaiknya kau yang pergi. Biarkan aku yang akan menahan mereka. Aku tak takut mati. Kau lebih dibutuhkan oleh kerajaan. Selamatkan prabu dan juga keluarganya!" seru patih tak mau mengalah.

"Aku sudah tua." Sahut penujum Aneh.

Sambil berucap dia kibaskan tangan kirinya kearah bocah bertelanjang dada yang menyerangnya dari atas pohon.

Bocah itu terpental.

Tubuhnya terpelanting membentur pohon. Dari mulut menyemburkan darah.

Namun sambil menyeringai dia bangkit lagi. Bersama yang lain dia kembali menyerang.

Sambil terus menghadapi gempuran ganas mereka. Penujum Aneh sempatkan diri lanjutkan ucapan.

"Paman patih jangan keras kepala. Aku meminta kau tinggalkan tempat ini maka patuhi permintaanku. Kau harus mengerti mereka bukan mahluk biasa. Mereka bukan bocah biasa. Lihatlah kuku dan gigi mereka. Tak ada bocah yang berpenampilan seperti itu. Mereka adalah anak-anak iblis. Cepat pergi!"

Percuma saja Penujum Aneh berteriak.

Patih Tubagus Aria Kusuma bahkan tidak punya waktu untuk menjawab. Saat itu sebaliknya dia mulai terdesak. Saat itu para prajurit yang tergabung bersamanya berguguran satu demi satu, hingga kemudian kepala pengawal Gondang Ageng ikut menjadi korban.

Dan dari balik kegelapan datang berbondong-bondong bocah iblis lainnya. Melihat teman-temannya sibuk menggerogoti perajurit yang tewas.

Bocah-bocah baru muncul inipun bersirebut menghabisi mangsanya.

Sedangkan mereka yang tidak kebagian kini berbalik menyerang patih dan juga Penujum Aneh. Karuan saja serangan tambahan ini membuat kedua orang tua sakti ini mulai kewalahan.

******

Sementara itu suasana di puncak bukit emas di ujung sebelah utara Labuhan, Dewa Mabok yang sudah banyak menghabiskan tuak keras sejak siang hari, kini betul-betul dibuat penasaran oleh Raja.

Tidaklah heran begitu bangkit, si kakek segera melambaikan tangannya ke arah bumbung bambu kosong yang banyak bergeletakan dihalaman pondok. Tangan melambai lalu berputar sedemikian rupa dan diarahkan kepada Sang Maha Sakti.

Puluhan bumbung kosong terangkat naik, lalu melayang di udara.

Selanjutnya sambil keluarkan suara menderu bersiutan bumbung-bumbung itu menghantam Raja bertubi-tubi .Melihat Dewa Mabok menyerang dengan mengandalkan tenaga dalamnya .Raja tidak gentar.

Dengan menggunakan jurus Tarian Sang Rajawali warisan nenek renta Nini Balang Kudu, dengan kaki masih menempel di atas tanah dia meliukan tubuhnya ke belakang.

Sambaran bumbung yang seharusnya menghantam dada, wajah dan kepala luput. Dewa Mabok tertawa tapi juga keluarkan suara mendengus. Lalu dia lambaikan tangan ke arah dirinya sendiri.

Belasan bumbung bambu yang tadinya meluncur dibelakang Raja kini berbalik dan menyerang pemuda itu dari arah belakang.

Tidak tanggung-tanggung.

Bukan cuma punggung dan kepalanya saja yang jadi sasaran .Sebaliknya bumbung-bumbung itu sebagian melesat ke bawah menyerang pinggang dan menotok bagian kaki Raja.

"Hoo...hebat juga. Kau juga hendak membuatku kaku seperi patung tolol!'" Gerutu Raja.

Wuut!

Satu gerakan dilakukannya.

Tahu-tahu tubuhnya telah melambung ke atas jungkir balik tak karuan lalu melayang berputar menyambar ke arah Dewa Mabok, sedangkan tangan dan kaki menendang bagian leher dan perut orang tua itu.

Untuk kedua kalinya serangan Dewa Mabok luput. Sebaliknya tak menyangka bakal mendapat serangan balik.

Dengan gerakan terhuyung grubak-grubuk seperti orang yang hendak terjatuh. Dewa Mabok hindari serangan itu. Raja mendengus.

Serangannya luput, sementara dari atas dan samping kanan kiri, bumbung bumbung yang kosong kembali menghajar pemuda

"Orang tua ini ternyata cukup cerdik. Sambil menghindari seranganku sebaliknya dia diam-diam melancarkan serangan juga."

Membatin Sang Maha Sakti begitu berhasil jejakan kakinya.

"Ah kulihat kau masih utuh, tubuhmu belum ada yang terluka. Ingin kulihat apakah kau sanggup menghindar dari serangan Bumbung Kosong Menggebuk Naga?!"

Kata Dewa Mabok. Si kakek segera miringkan tubuhnya. Telunjuk tangan kiri menunjuk ke langit.

Sedangkan tangan kanan bergerak mengusap wajah.

Sambil memutar mutar tangan kanan, tangan kiri yang menunjuk ke langit dia lambaikan ke arah bumbung-bumbung yang mengambang di udara.

"Kepruk! Buat tubuhnya babak belur!"

Seru si kakek. Raja tersenyum, menyambut dingin ucapan Dewa Mabok. Dan senyum pemuda itu lenyap.

Tiba tiba terdengar suara berdengung tak ubahnya sekawanan lebah berpindah sarang.

Ketika Sang Maha Sakti dongakan kepala memandang ke atas, tiba-tiba saja dia melihat belasan bumbung bambu telah berpencar didelapan penjuru, lalu seperti elang menyambar benda-benda itu menghantam Raja dengan bertubi-tubl.

Tiada kesempatan bagi Raja Gendeng untuk menghindar. Sambil katubkan mulutnya dia segera memutar tubuh.

Laksana gasing tubuhnya menderu lalu melambung ke atas menyambuti serangan bumbung-bumbung itu.

Dalam keadaan bergerak sebat diam-diam Raja julurkan tangannya ke atas. Kemudian dengan menggunakan pukulan Genta Gaib pemuda itu menghantam. Traak!

Pletak!

Belasan bumbung kosong dipukul hancur hingga menjadi kepingan yang mengepulkan asap tebal. Tapi salah satu bumbung luput dan menghajar kepalanya.

Melihat serangan bumbungnya dapat dihancurkan secara mudah. Dewa Mabok dengan mata merah memandang mendelik. Dia jatuhkan diri meratapi bumbungnya yang hancur.

"Remuk. Hancur sudah benda kesayanganku. Kau sungguh keterlaluan orang gila. Mengapa kau lakukan semua ini." kata Dewa Mabok meratap.

Raja yang baru saja jejakan kaki tak jauh dari si kakek meringis sambil mengusapi kepalanya yang benjol.

"Siapa suruh kau menyerangku?" kata pemuda itu bersungut-sungut.

"Bagus cuma bumbung yang kubuat remuk. Bagaimana benda kesayangamu yang lain ?!" "Heh apa maksudmu? Kau mengira sudah menang ya?" sentak Dewa Mabok.

Serta merta dia bangkit berdiri. Dia menatap Raja.

"Ah, aku belum kalah. Aku masih menang. Kepalamu benjolkan? Mengaku saja. Salah satu seranganku mengenaimu. Ha ha ha"

"Lalu...?"

"Apa? Kau masih bertanya lalu? Kita lanjutkan lagi. Aku belum melihat semua kepandaianmu." "Orang tua. Aku datang dengan membawa maksud baik. Diantara kita tidak ada permusuhan.

Kau..!"

Belum sempat Raja menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Dewa Mabok berseru. "Lihat serangan!"

Belum lagi teriakan Dewa Mabok lenyap. Tahu-tahu tubuh si kakek sudah menghuyung di depannya. Tangan terjulur siap menjebol mata pemuda itu sedang tangan yang lain menggebuk ke bagian rusuknya. Angin dingin menyambar ganas, membuat Raja sadar serangan yang dilakukan Dewa Mabok walau terlihat asal-asalan namun mengandung tenaga dalam dan hawa sakti yang sangat dahsyat.

Kepalang basah sekaligus ingin menjajaki sejauh apa kesaktian yang dimiliki orang tua itu. Raja segera memutar tubuh. Kemudian dengan tangan terkepal dia menangkis serangan si kakek.

Plak! Plak! Dess!

Satu benturan keras terjadi membuat Dewa Mabok melengak kaget. Mulut ternganga mata menatap tak percaya. Orang tua itu terhuyung. Sedangkan Raja sendiri setelah sempat terjajar tanpa menghiraukan lengannya yang bengkak menggembung kini balas menyerang orang tua itu

"Dia benar-benar gila. Tenaga dalamnya hebat luar biasa." Tanpa perduli kini dia malah balas menyerang.

"Pemuda sinting dan nekat!"

Batin si kakek Dan bagi Dewa Mabok tidak ada kesempatan untuk berpikir lama. Dia melihat Raja telah menghantamnya dengan pukulan berhawa dingin yang dikenal dengan nama ilmu Badai Es. Angin dahsyat menderu disertai kabut putih.

Dewa Mabok jatuhkan diri lalu semburkan tuak yang baru diteguknya Cuah!

Semburan tuak yang mengobarkan api akhirrnya berbenturan keras dengan pukulan yang dilancarkan Raja.

Terdengar suara seperti gunung runtuh. Dewa Mabok menggeram.

Tapi cepat bergulingan kesamping ketika melihat sebagian serangannya amblas tersedot pukulan Raja.

Sementara pemuda itu sendiri melakukan serangan susulan dengan melepaskan pukulan Kabut Kematian .Melihat serangan ganas ini dengan tubuh terhuyung Dewa Mabok terpaksa dorongkan dua tangannya ke depan.

Tapi dalam kesempatan itu mulutnya juga sempat keluarkan seruan kaget

"Pukulan sakti kabut Kematian .Orang gila punya hubungan apa kau dengan manusia aneh bernama Ki Panaraan Jagad Biru di pulau Es?"

"Biarkan aku menghajarmu dengan pukulan ini dulu. Nanti baru aku bersedia memberi penjelasan."

Sahut Raja yang diam-diam heran tak menyangka Dewa Mabok mengenali ilmu yang dipergunakannya juga mengenal nama salah satu gurunya.

Wuus! Blaar!

Karena Raja terus dorongkan kedua tangannya, tak ada pilihan lain Dewa Mabok pun terpaksa melindungi diri dengan mendorong ke dua tangannya pula.

Bentrok pukulan tak dapat dihindari. Membuat puncak bukit emas seperti hancur. Hawa panas menghampar.

Dewa Mabok jatuh terduduk.

Sedangkan tiga tombak didepannya Raja terjengkang dengan posisi menungging. Megap-megap Dewa Mabok mengusap wajahnya yang pucat berkeringat.

Ketika menatap ke depan, dia tertawa melihat Raja dalam keadaan seperti itu. "Ha ha ha! Kau hebat."

"Tapi kau cuma bisa membuatku jatuh terduduk.Sedangkan kau malah kubuat terjungkir." Raja menggeliat bangkit.

Setelah berdiri tegak dan meluruskan punggungnya dia balikkan badan menghadap ke arah Dewa Mabok.  

Mulut menyeringai namun dengan tatapan dingin dia berucap.

"Orang tua kau jangan bangga dulu. Ilmu kesaktianmu memang sangat tinggi kalau bukan aku yang kau serang mungkin sudah celaka. Tapi lihatlah, aku masih bisa mencabut rambut di janggutmu yang hanya beberapa helai itu. Sekarang kau mau bilang apa?"

Kata pemuda itu. Dewa Mabok cepat tekap dan raba dagunya. Begitu sadar bulu-bulu yang tumbuh didagunya berkurang. orang itu menggerung dan semburkan sumpah serapah.

"Orang gila. Menyerangku secara gila-gilaan, beraninya kau bertingkah konyol dihadapanku?

Apakah kau tahu tak pernah ada orang yang berani berbuat segila itu kepadaku?" "Mana aku tahu, orang tua. Bertemu denganmu baru sekali ini."

Kata Raja acuh. "Benar-benar sialan."

Maki Dewa Mabok sambil geleng kepala.

"Cepat kau duduk di hadapanku!" perintah si kakek.

"Untuk apa? Kalau mau bicara aku sudah siap mendengar. Tak perlu berdekat-dekat tak perlu berhadapan. Bagaimanapun kita bukan pasangan kekasih."

Jawab Raja.

Si kakek tambah kesal.

"Orang gila tak tahu diri. Jangan mengira aku tak dapat membuatmu sengsara. Ilmu kepandaianmu boleh selangit tembus. Namun aku tahu bagaimana caranya melumpuhkan orang lain. Lekas duduk!"

Raja menatap orang tua itu. Melihat Dewa Mabok nampak bersungguh sungguh. Sang Maha Sakti pun segera mendekat.

Tanpa bicara dia segera duduk di depan si kakek. "Apa hubunganmu dengan Ki Panaraan Jagad Biru?" Tanya Dewa Mabok.

Raja terdiam. Dia merasa ragu untuk menjawab. Namun setelah melihat sikap Dewa Mabok berubah lebih baik. Raja menduga kemungkinan Dewa Mabok mengenal baik gurunya.

"Orang tua itu adalah guruku." Jawab Raja.

"Aku sudah duga. Hanya dia yang mempunyai ilmu pukulan Sakti Kabut Kematian. Jadi kau ini muridnya? Tapi mengapa sifatmu jauh bebeda dengan orang tua pemurung itu?"

"Aku memang muridnya. Soal sifat aku tidak tahu. Aku seorang yang sangat gembira. Sedangkan dia seorang perenung."

"Ah luar biasa. Mengingat Ki Panaraan sahabatku itu berdiam di pulau Es di ujung laut selatan tanah Dwipa, apakah dirimu juga berasal dari sana? " "Begitulah."

"Lalu apakah nama dan julukanmu itu juga pemberian gurumu?" Tanya Dewa Mabok sambil menatap dalam mata pemuda didepannya. Belum lagi Raja menjawab.

"Hmm. Nama dan sebutan itu sesuai dengan tabiatmu."

Gumam si kakek. Sekilas dia melirik ke arah pedang yang tergantung dipunggung Raja. "Pedang itu. Bukankah pedang dipunggungmu bernama Pedang Gila. Satu-satunya pedang sakti

milik penguasa istana Pulau Es bernama Prabu Sangga Langit. Dari mana kau mendapatkannya? Kau mencurinya ya?"

Mendengar ucapan Dewa Mabok, Raja tak kuasa menahan tawa walau jauh dihatinya Raja merasa kesal.

"Orang yang kau sebutkan itu adalah ayahku, orang tua. Aku adalah pewaris satu-satunya istana pulau Es. Kedua orang tuaku telah tiada. Aku tidak suka menjadi raja setidaknya sampai saat ini."

Terang pemuda itu. Dewa mabok manggut-manggut. Tapi kemudian wajahnya terlihat bersungguh-sungguh.

"Aku merasa prihatin dengan kejadian yang dialami orang tuamu."

"Apakah kakek pernah mendengar tentang musibah yang menimpa mereka?"

"Ya. Kejadiannya sudah lama, sekitar puluhan tahun yang lalu. Pedang dipunggungmu itu memang pedang langka. Tidak heran banyak orang yang menginginkannya. kau harus menjaga Pedang gila dengan sebaik-baiknya. Oh ya bagaimana kabar gurumu?"

"Beliau baik-baik saja, kek."

"Lalu bagaimana kau bisa kemari?"

"Saya seorang pengembara. Orang sepertiku bisa berada dimana saja. Terus terang saat ini aku tidak ingin membicarakan masa laluku, kek. Aku hanya ingin menolong, membantu kerajaan Malingping dari kehancuran." terang Raja yang tidak mau diungkit tentang masa lalunya.

"Baiklah."

Dewa Mabok anggukan kepala.

"Keputusanmu baik untuk membantu prabu Malimping. Namun kau harus tahu siapa orang yang kau hadapi. Menghadapi apalagi menyingkirkan Pangeran Durjana bukan perkara mudah. Terlebih setelah dia bangkit dari kematiannya."

"Apa yang kakek ketahui tentang pangeran mesum itu? Apakah engkau mengenalnya?" Tanya Raja.

Wajah Dewa Mabok berubah muram. Dengan mata menerawang dia berkata.

"Kini kau menjadi tamuku. Aku layak menerimamu. Mari ikut aku. Malam semakin dingin. Bicara didalam pondokku rasanya lebih nyaman." ujar Dewa Mabok.

Raja mengangguk tanda setuju. Dia lalu berdiri dan berjalan mengikuti Dewa Mabok. Pondok kemudian terbuka. Keduanya lalu menghilang di balik pintu pondok yang tertutup. Malam semakin dingin. Dikejauhan terdengar suara burung pungguk sayup-sayup menyayat hati.

******

Kembali pada Penujum Aneh dan patih Tubagus Aria Kusuma. Setelah mendapat gempuran dahsyat dari bocah-bocah iblis itu.

Patih Aria Kusuma terpaksa menggunakan segenap ilmu kesaktian yang dia miliki untuk menyerang lawan-lawannya. Ketika belasan bocah dengan kuku tajam dan gigi runcing berhamburan melompat ke arahnya dengan gerakan menerkam dan merobek, Patih yang telah kehilangan senjata saktinya terpaksa menghantam mereka dengan ilmu pukulan Meruntuhkan Karang Mengguncang Langit!.

Begitu sang patih memutar tubuh sambil menghantam kearah bocah-bocah itu. Dari telapak tangannya berkiblat lima larik cahaya aneh berwarna warni. Lima cahaya menebar hawa panas luar biasa.

Belasan bocah iblis rupanya menyadari betapa berbahayanya serangan sang patih. Mereka jatuhkan diri sama rata dengan pasir lalu lenyap dan baru kembali munculkan diri setelah serangan sang patih hanya mengenai tempat kosong.

Melihat serangannya tak mengenai sasaran yang diharapkan, patih kertakan rahang lalu bergerak mengambang meluncur dua jengkal diatas pasir sedangkan kedua kakinya yang telah berubah merah seperti bara api menyambar ke arah bocah bocah itu.

Terdengar suara jeritan menyayat berturut turut. Sedikitnya tiga bocah yang terkena serangan terkapar dengan wajah dan tubuh hangus. Namun tak lama setelah tergeletak diatas pasir mereka bangkit lagi. Dengan kemarahan meluap-luap bersama teman-temannya yang lain para bocah itu lakukan gebrakan dahsyat.

Lima bocah menyerang tubuh sang patih dibagian bawah. Sedangkan lima lagi menyerang tubuh sebelah atas, sedangkan sisanya melancarkan serangan di bagian punggung orang tua itu. Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh serta gerakan yang sangat cepat luar biasa. Sang patih tidak hanya sanggup selamatkan diri dari sergapan. Sebaliknya dia juga menghantam roboh lawan yang menerkamnya dari arah depan. Beberapa lawan terjatuh.

Namun dari atas pohon yang berbatasan dengan padang pasir itu tiba-tiba berlesatan tiga sosok tubuh mungil yang berbalut cawat berbadan polos.

Tiga menerkam sang patih dengan ganas. Walau telah berusaha menyelamatkan diri. Namun dia tak dapat lolos dari sambaran jemari tangan berkuku rucing yang datang dari sebelah kirinya. Tanpa ampun leher sang patih robek besar. Darah segar mengucur deras dari luka yang menganga.

Bau amis darah ternyata mengundang perhatian bocah-bocah iblis yang lain. Sebagian mereka lalu berbalik menyerang patih Tubagus Aria Kusuma yang dalam keadaan terhuyung. Orang tua ini menggerung. Dua tangan terus menghantam secara membabi buta. Tapi perlawanan yang dilakukan oleh sang patih hanya sia-sia.

Setelah sekujur tubuhnya yang dipenuhi cabikan itu digelayuti belasan bocah iblis. Dia pun akhirnya tersungkur roboh.

Begitu patih ambruk bocah-bocah buas itu berebut menggerogotinya. Menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu,

Penujum Aneh jadi terkesima. Dia berpikir seorang diri mana mampu menghadapi bocah-bocah iblis. Tapi untuk meninggalkan tempat itu bukan perkara yang mudah. Walau dia tahu sebagian bocah kini disibukan menyantap sang patih. Namun belasan bocah iblis yang lain masih mengepung.

Mereka tidak sekedar mengepung, namun dengan segenap daya berusaha membunuh si kakek.

Tak ada pilihan lain. Dengan menggunakan sorbannya yang buntung dibagian ujungnya, Penujum Aneh berusaha menghalau dan menyingkirkan lawan-lawannya. Ketika para bocah menggempur lalu menyergapnya dari segala penjuru, Si kakek terpaksa lambungkan tubuhnya ke udara.

Sambil melompat, tangan kiri melepaskan pukulan sakti. Sedangkan tangan kanan dihantamkan ke depan dan ke atas. Dua bocah yang menyerang dari sebelah atas langsung terpental. Jatuh terpelanting sambil menjerit. Sedangkan empat bocah lain yang menyerang dari depan dibuat melolong terkena sabetan sorban.

Bocah-bocah itu jatuh bergedebukan diatas tanah. Melihat temannya terjatuh, maka bocah bocah lainnya menjadi sangat marah. Sekali mereka hentakan kakinya, tubuh mereka melambung ke atas mengejar ke arah sang Penujum membuat kakek ini kaget.

Buru-buru Penujum Aneh tarik kakinya lebih ke atas. Tapi karena daya mengapungnya semakin berkurang mau tak mau tubuhnya kembali meluncur ke bawah. Melihat kaki si kakek menjuntai. Tanpa ampun para bocah itu menyambarnya. Tangan bergerak cepat, mencabik sedangkan mulut menggigit. Penujum Aneh meronta. Dia mengibaskan tubuhnya untuk membuat lepas bocah-bocah yang menggelayuti kaki dan punggungnya. Tetapi sebagian yang lain malah merangkak naik memanjat tubuh si penujum sebelah atas lalu menggigit bagian bahu dan tengkuk orang tua itu.

Penujum Aneh cepat jatuhkan diri, bergulingan ke tanah sambil memukul begitu merasakan ada satu kekuatan dahsyat menyedot darah keluar.

Setelah cengkeraman dipunggung teratasi dan lawaƅ„ yang bergelayutan dipunggungnya dapat dihalau. Terhuyung-huyung si kakek bangkit. Sambil melompat menjauh dari serbuan lawan lawannya. Si kakek merogoh saku celana. Dari balik saku muncul sebuah benda bulat sebesar telur berwana kehitaman.  

Ketika para bocah merangsak maju, sambil menggeram dan mulut menyeringai menahan sakit luar biasa penujum berseru.

"Mahluk-mahluk jahanam! jika aku tidak selamat, akan ada yang datang untuk melenyapkan kalian semuanya!"

Selesai berucap Penujum Aneh membanting benda hitam itu. Terdengar suara letupan keras.

Asap tebal berwarna hitam menyebar membubung tinggi memenuhi kegelapan disekelilingnya, membuat suasana yang gelap makin bertambah gelap.

Para bocah menggerung.

Tapi tebaran asap yang berbau harum kemenyan membuat mereka segera menyingkir. Kemudian lari berhamburan tenggelamkan diri kedalam pasir.

Semuanya lenyap. Sunyi mencekam.

Hanya deru angin yang terdengar.

Dan tulang belulang merah yang berserakan. 

TAMAT