--> -->

Raja Gendeng Eps 07 : Pecinta Dari Alam Kematian

 
Eps 07 : Pecinta Dari Alam Kematian


Malam Sabtu Kliwon Seribu tahun setelah runtuhnya istana Dewa Ruci.

Pulau Rakata tempat dimana istana suci itu dulunya berdiri diselimuti kabut tebal.

Keindahan pulau dengan latar belakang gunung Krakatau yang menakjubkan lenyap ditelan kegelapan.

Angin menderu.

Langit gelap tanpa bintang dan rembulan.

Ombak bergulung-gulung menyapu pedataran di pantai sepanjang selat Sund ¡.

Di tengah suasana laut yang seolah murka .Disebelah Selatan gunung Krakatau yang menjulang tinggi diatas permukaan laut.

Dalam kegelapan tiba- tiba saja muncul kerlip cahaya.

Seperti kunang-kunang cahaya bergerak cepat menuju ke sebuah pulau sepi tak berpenghuni. Nelayan setempat menyebut pulau itu dengan nama Pulau Karang Hantu.

Tidak berselang lama cahaya merah redup yang ternyata berasal dari sebuah pelita itu bergerak melambat sesampainya di tepi pantai.

Ternyata ada seorang kakek renta bertubuh kurus kering seperti Jerangkong yang menyeberangi lautan dengan menjunjung sebuah pelita di atas kepalanya.

Rambut putihnya panjang menjela, wajah angker menyeramkan dibalut kulit tipis kemerahan dengan dua mata cekung seolah amblas ke dalam rongganya.

Tidak diketahui kakek penjunjung pelita itu datang darimana. Yang jelas ketika dia menyebrangi laut sedang bergolak hebat.

Perjalanan menuju ke pulau Karang Hantu ditempuhnya dengan cara berlari diatas air. Dari caranya bergerak yang seperti angin berhembus.

Jelas orang tua berpakaian serba putih ini mempunyai ilmu langka yang dikenal dengan nama ilmu Napak Sancang.

Dengan ilmu hebat seperti itu memungkinkan bagi si kakek berjalan atau berlari di atas permukaan air. Hanya sesaat setelah kedua kaki menjejak pantai pulau berbatu karang si kakek layangkan pandang memperhatikan keadaan sekitarnya.

Dalam kegelapan tidak ada sesuatupun yang dapat dilihatnya. Orang tua ini geleng kepala sambil keluarkan suara berdengus.

Sekali kaki dihentakkan diatas ke sebuah tebing curam yang terdapat di sebelah utara pulau Itu. Si kakek agaknya bukan orang asing di pulau itu.

Terbukti dia mengenali segenap penjuru pulau dengan baik walau saat itu kegelapan menyelimuti kawasan sekitanya. Sekejab kemudian orang tua penjunjung pelita ini sampai disebuah tebing curam.

Deru angin dingin makin menjadi.

Sementara dibawah tebing karang tempat dimana dirinya berdiri tegak gemuruh ombak setinggi pucuk kelapa menghempas ganas membuat puncak tebing bergetar hebat seolah dilanda gempa besar.

Walau maut mengamuk tak berkeputusan dan tiupan angin tak pernah surut.

Seolah tidak peduli dengan murka sang alam si kakek malah tertawa.Dengan sikap acuh orang tua ini segera duduk bersila menghadap ke laut yang dilamun ombak.

Dua mata yang cekung menjorok ke dalam rongga terkatub rapat. Seiring dengan terpejamnya mata si kakek.

Dari mulutnya yang tertutup kumis putih menjuntai terdengar ucapan.

"Hooo jagad dewa bathara. Seribu kali aku memohon ampun. Berjuta maaf terlontar membuat lidah ku menjadi kelu. Aku tidak tahu apakah para dewa mendengar kata maaf dan mau mengampuni Jiwa lapuk si tua bangka ini. Namun aku mengakui aku telah lelah dikaruniai usia yang panjang dan tanggung jawab yang besar. Aku ingin kembali, aku ingin berpulang. Tapi... siapa yang akan mengemban, menggantikan tugas yang maha berat ini. Aku merasa tidak sanggup menjalankan jika tidak mengenal kata kesudahan." kata si kakek dengan suara bergetar dalam keletihan. Orang tua ini terdiam. Mata yang terkatub rapat perlahan dibuka. Dengan tangan kiri dia mengambil pelita yang bertengger diatas kepalanya. Pelita kemudian dia turunkan lalu diletakkan di depan kedua kakinya.

Yang aneh walau angin menderu tiada henti, namun nyala api pada pelita sedikit pun tidak bergoyang. Sekilas perhatian si kakek tertuju pada pelita. Dan wajah yang hanya berbalut kulit tipis berwarna kemerahan itu tiba-tiba berubah tegang begitu dia melihat ada selubung cahaya biru seperti lingkaran muncul mengelilingi cahaya pelita yang berw ¤rna kemerahan.

"Astaga! Apa yang bisa kulakukan? Tanda- tanda kembalinya mereka dari kematian semakin tak bisa kupungkiri! Apa dayaku? Aku tak mungkin mencegah kehadirannya di dunia ini seorang diri!" desis si kakek kaget.

Secepat kilat orang tua ini bangkit berdiri. Dua tangannya yang kering disilangkan ke depan dada. Mulut berkomat-kamit sementara perhatiannya tertuju lurus ke arah pelita yang tergeletak di atas tanah batu. Selesai membaca mantra-mantra orang tua ini kibaskan sepuluh jemari tangan sekaligus ke arah lingkaran cahaya biru yang mengelilingi pelita. Dari sepuluh jemari si kakek membersit sedikitnya sepuluh cahaya putih menyilaukan berhawa dingin luar biasa. Sepuluh cahaya menyambar cahaya biru bundar yang mengurung cahaya asli pelita yang bernwarna merah. Terdengar lima kali letupan berturut-turut begitu cahaya putih berbenturan dengan cahaya biru disekelilingi pelita. Tebing utara terguncang keras. Sementara pelita yang hendak diselamatkan si kakek malah hancur meledak bertaburan di udara berubah menjadi kepingan.

Si kakek terguncang. Seketika keadaan disekitarnya berubah menjadi gelap gulita. Dalam gelap dari mulutnya terlontar seruan.

"Astaga! Pelita Kaki Nyawa meledak. Ini sebuah pertanda buruk. Segala mimpi buruk bagi setiap pemuda gagah dan para gadis perawan bakal menjadi kenyataan. Badai, ombak menggila dan angin yang mengamuk?! Keparat jahanam! Ternyata sumpah seribu tahun yang lalu itu nampaknya sekarang benar-benar hendak terwujud menjadi sebuah kenyataan. Tapi aku tidak peduli, aku harus mencegah sebelum kiamat benar-benar muncul di rimba persilatan!"

Sambil berucap demikian di dalam gelap dimana tak dapat terlihat apa-apa si orang tua rangkapkan kedua tangan yang terkembang di depan dada. Seiring dengan menyatunya dua telapak tangan di dadanya dia keluarkan ucapan.

"Tiga Pelita Keramat Penunjuk Terang Dalam Kegelapan. Aku memanggil kalian untuk membantuku!"

Berkata begitu orang tua ini memutar tubuh, telapak tangan segera direntang, lalu diangkat tinggi kemudian sepuluh jemari tangan berlawanan arah bergerak melambai ke langit.

Diatas ketinggian dalam kegelapan diwarnai suara menderu tiba-tiba saja terdengar suara ledakan dahsyat yang meningkahi suara gemuruh ombak.

Begitu suara ledakan terjadi diatas sana muncul tiga cahaya merah terang luar biasa. Orang tua itu menarik nafas lega setelah tiga cahaya yang muncul diketinggian sana tak lain adalah tiga Pelita Keramat yang diinginkannya.

Tanpa menunggu sekali lagi si kakek berseru ditujukan pada tiga cahaya merah itu.

"Kalian bertiga cepat bergabung denganku. Aku membutuhkan kalian pada saat-saat seperti ini.

Cepat mengambil tempat sebelum segala sesuatunya semakin memburuk!" Tiga cahaya merah terang meluncur deras ke arah bawah, disertai suara menderu dan guncangan- guncangan keras.

Si kakek menggumam aneh.

Wajahnya tegang, tatap mata tak kuasa menyembunyikan rasa heran. Sebagai pemilik pelita yang dia datangkan dari alam para arwah.

Selama ratusan tahun.

Setiap kali si kakek memanggil pelita-pelita itu dia belum pernah melihat keganjilan seperti yang disaksikan. Orang tua ini menjadi curiga.

Hanya sekejab begitu tiga cahaya merah yang memang bersumber dari tiga pelita kramat alam arwah mendarat bertengger di kepala dan kedua bahu kiri kanan.

Secepat kilat dia palingkan kepala dan memandang ke arah tebing sebelah bawah.

Berkat bantuan cahaya yang memancar dari tiga pelita keramat yang bertengger di bagian tubuh sebelah atas.

Orang tua ini dengan jelas dapat melihat bagaimana ombak besar yang menghempas tebing nampak mereda, laut menjadi lebih tenang dan tiupan angin tidak sehebat sebelumnya.

Tapi dibalik murka sang alam yang mulai menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti. Sejarak seratus tombak dari tebing curam tempat dimana si kakek berdiri..

Samar-samar dia melihat di tengah laut tepat didepannya muncul butir-butir gelembung putih seperti busa.

Orang tua ini tertegun. Keningnya berkerut dalam.

Dia terus memperhatikan laut di bawah sana yang mengeluarkan gelembung aneh. "Aku tak pernah melihat keanehan seperti ini. Jangan-jangan...!"

Belum sempat si kakek menyelesaikan ucapannya. Di tengah kedalaman laut dimana gelembung putih bermunculan, sekonyong- konyong terjadi pergolakan hebat. Air laut membuncah seolah mendidih. Melihat perubahan yang terjadi orang tua ini melompat mundur sejauh satu langkah.

Sedangkan mulutnya berseru ditujukan pada pelita yang bertengger di bahu kanan, atas kepala juga bahu kirinya.

"Tiga Pelita Keramat yang datang dari alam para arwah! Kalian bertiga lebih mengetahui apa yang terjadi saat ini. Aku melihat laut di depan sana bergolak hebat. Aku tidak akan pernah lupa, seribu tahun yang lalu seorang pangeran sesat pernah dijebloskan di tempat itu dalam sebuah peti mati kebinasaan. Sebelum menemui ajal dia bersumpah bakal bangkit kembali setelah seribu tahun kematiannya. Kalau benar tanda yang aku lihat itu sebagai awal yang buruk. Kalian bertiga sudah tahu bagaimana caranya menjelaskan semua ini padaku. Lekas tunjukkan padaku karena aku tak dapat menunggu lebih lama lagi.!" Seolah mengerti apa yang diucapkan si kakek tiga pelita Keramat yang bertengger diatas tubuh orang tua itu tiba-tiba menderu disertai suara aneh.

Seiring dengan itu nyala pelita yang tadinya kecil kini berubah membesar menjulang ke atas. Dengan membesarnya api yang terdapat pada ketiga pelita. Sikakek menunggu.

Tenaga dalam segera dia arahkan ke bagian kedua bahu dan kepalanya. Begitu hawa sakti menyentuh bagian bawah pelita maka secepat kilat ketiga pelita yang bertengger di kedua bahu dan kepalanya melesat meninggalkan orang tua itu. Tiga pelita keramat dari alam Arwah melesat sebat ke arah laut, meluncur deras menuuni tebing lalu menuju ke arah air laut yang bergolak. Sesampainya diatas putaran air laut, ketiga pelita diam mengapung diatas ketinggian.

Tapi tak lama kemudian didahului oleh pelita yang tadinya bertengger diatas kepala si kakek. Ketiga pelita itu segera bergerak, berputar sebanyak tiga kali dengan segala kewaspadaannya. Sayup-sayup dia mendengar suara gemuruh aneh seperti suara kawanan ribuan lebah terbang "Alamat dan pertanda buruk. Tiga pelita gaib, kembali kemari!"teriak orang tua itu dengan suara

serak tercekat.

Tapi teriakan orang tua ini boleh dikatakan terlambat.

Disaat ketiga pelita memasuki hitungan ketiga mengelilingi pusaran air yang seolah mendidih itu.

Dari kedalaman laut mendadak muncul cahaya putih terang.

Cahaya yang muncul menyambar ganas ke arah pelita Keramat dari Alam Arwah. Byar!

Wuus! Wuus!

Mendapat serangan ganas dari cahaya yang mencuat dari kedalaman laut yang bergolak.

Dua pelita tak sempat selamatkan diri. Keduanya hancur menjadi kepingan disertai ledakan dahsyat dan suara jerit aneh yang menyayat

"Celaka! Dua pelita gaib sahabatku...!" Orang tua ini keluarkan seruan kaget. Tubuhnya tergetar hebat.

Hancurnya pelita ternyata berpengaruh bagi jiwa orang tua ini.

Tidak ingin pelita satunya lagi ikut hancur dihantam cahaya putih aneh.

Orang tua ini segera hentakan tangan ke arah pelita yang membubung tinggi meninggalkan laut.

Lalu menarik tangannya ke belakang.

Satu kekuatan luar biasa besar yang bersumber dari tangan orang tua itu menyedot sang pelita yang melayang-layang di udara. Begitu sampai dihadapan si kakek, pelita berputar lalu mendarat di atas batok kepala orang tua itu yang ditumbuhi rambut putih tipis.

bersyukur karena pelita yang hancur bukanlah pelita kepala, melainkan pelita dua tangan. "Aku ikut prihatin dengan musibah yang menimpa dua pelita saudaramu." ucap orang tua itu

ditujukan pada pelita diatas kepalanya.

Mendengar ucapan si kakek sang pelita bergoyang keras. Sementara nyala apinya yang membesar dengan cepat berubah mengecil ke bentuk dan ukuran semula.

"Aku sedih, aku juga prihatin pelita Kepala. Tapi kita juga harus melihat. Sumpah pangeran durjana telah menjadi kenyataan. Sebagai juru kunci makam raja-raja apa yang dapat kuperbuat?!"

Desah orang tua itu.

Tak terdengar jawaban apa-apa. Api yang menyala pada pelita bergoyang ke kiri dan kanan tak ubahnya seperti orang yang menggelengkan kepala.

Si kakek menghela nafas.

Dengan perasaan cemas dia menatap ke bawah tebing tepat dimana dua pelita Keramat menuai malapetaka.

Di bawah sana di dalam pusaran air laut cahaya putih yang telah menghancurkan dua pelita keramat ternyata terus mencuat ke atas lalu melambung tinggi meninggalkan permukaan air.

Yang membuat si kakek diatas tebing tambah tercekat.

Begitu cahaya putih meninggalkan laut bergerak menuju ke bagian puncak tempat dimana diri si kakek berada.

Dari dalam air bergolak dimana cahaya putih muncul.

Kini bermunculan mahluk-mahluk kecil dalam jumlah yang tidak terhitung. itu berterbangan mengikuti cahaya putih yang mendahuluinya.

Si kakek belum dapat memastikan apa jenis mahluk-mahluk yang muncul dari kedalaman laut tersebut mengingat jarak antara dirinya dan mahluk- mahluk itu cukup jauh.

Tapi tak lama setelah cahaya putih sampai di puncak tebing karang dan mahluk-mahluk yang mengikutinya datang menyusul.

Si orang tua hanya bisa delikan matanya.

"Lebah Kepala Hati Berbunga...!" desis si kakek menyebut nama ribuan mahluk yang ternyata dikenalinya.

Dengan wajah pucat sesaat dia hanya bisa memperhatikan kawanan ribuan lebah yang berputar-putar mengelilingi cahaya putih.

"Dia benar-benar telah bangkit dari kematiannya. Tapi mengapa hanya lebahnya saja yang muncul. Mengapa lebah-lebah itu tidak datang bersamanya? Apakah mungkin sang pangeran masih terkubur di dalam laut?!" batin si kakek cemas. Dengan cepat dia memutar kepala. Jelalatan sepasang matanya yang cekung seperti amblas terbenam kedalam rongganya mencari-cari. Dibawah sana bagian laut yang tadinya bergolak seperti mendidih kini nampak tenang. Gerakan ombak di laut tidak seganas tadi, sebaliknya lebih tenang dan nampak bersahabat.

"Sang lebah tidak mungkin datang tanpa majikannya." sekali lagi orang tua ini berucap dalam hati. Dia memutar otak berpikir keras. Selintas pikiran tiba-tiba muncul dalam benaknya. Sekali lagi orang tua ini menatap ke cahaya putih.

"Ada ujar-ujar mengatakan dimana ada madu disitu lebah berkumpul. Dimana penguasa berada, para pengikut selalu menyertainya. Apakah mungkin Pangeran durjana kembali dari kematian dalam bentuk cahaya? Seribu tahun yang lalu Kanjeng Ratu Tria Arutama pernah berpesan padaku agar mencegah kehadiran pangeran gila itu kembali ke dunia ini. Karena kehadirannya hanya mendatangkan petaka bagi kaum wanita. Aku harus mencoba, aku harus hancurkan cahaya yang dikelilingi oleh kawanan lebah itu." kata si kakek.

Setelah bulat dengan keputusannya. Si kakek tiba-tiba melompat mundur sejauh tiga langkah.

Tanpa bicara apa-apa, perlahan tenaga sakti di ¡m- diam dia salurkan ke bagian tangan dan kakinya. Begitu hawa sakti mengalir deras memenuhi tangan dan kaki. Dia segera mengangkat dua tangan di atas kepala sejajar dengan pelita keramat yang bertengger diatas kepala. Tapi baru saja orang tua ini hendak menghantam cahaya putih yang menggantung di ketinggian. Mendadak terdengar suara seruan keras seperti suara ledakan mengguntur yang merobek kegelapan disekitarnya.

"KI Lara Saru Saru! Juru Kunci keparat makam keramat para raja di pulau Rakata. Apa yang hendak kau lakukan? Kau hendak menghancurkan aku? Kau ingin mengembalikan aku ke dunia para arwah? Tua bangka jahanam! Jangan pernah bermimpi kau sanggup menguburkan aku, kembali ke dunia kematian. Seperti sumpah yang telah kuutarakan seribu tahun yang lalu. Aku pasti akan kembali ke dunia ini untuk menuntut balas atas semua perbuatan penguasa yang telah menghakimi diriku juga kekasihiku. Ha ha ha!"

Si kakek renta berwajah macam tengkorak berkulit merah yang terrnyata memang bernana Ki Lara Saru Saru juru kunci makam para raja istana kuno di pulau Rakata diam tercekat. Dia yang semula siap melepaskan pukulan sakti ke arah cahaya yang disekelilingi ribuan lebah berterbangan. Dengan perlahan turunkan kedua tangannya. Dengan sorot mata seakan tidak percaya dia memandang ke arah cahaya menyilaukan dimana suara yang dia dengar berasal.

"Seperti yang kuduga! Ternyata benar pangeran mesum itu muncul sekaligus bangkit dari kematiannya. Aku mengenali suara itu. Tapi mengapa dia kembali dalam selubung cahaya? Mengapa tidak dalam peti mati Batu Kumala." pikir Ki Lara.

"Apa yang kau pikirkan Ki Lara? Kau sedang merasani diriku. Kau hendak mencari tahu, kau dunia ini bersama peti mati jahanam yang telah memendamku di dasar laut Krakatau?"

Lagi-lagi terdengar suara bentakan keras dari balik cahaya putih berkilau. Ki Lara Saru Saru menyeringai. Dadanya yang kurus kering terlindung baju putih luruh bergetar. Dia marah namun juga merasa penasaran. Sambil menahan segala kegusaran serta tanda tanya dihati Ki Lara tiba-tiba memberanikan diri membuka mulut.

"Pangeran! Benarkah kau Pangeran Kusuma Putera. Sang pecinta yang pernah melakukan perbuatan terkutuk di istana Dewa Ruci?"tanya si kakek.

Ucapan Ki Lara yang tidak terduga membuat cahaya putih berpijar memancarkan cahaya putih benderang. Sebagian cahaya pecah, pecahan cahaya melesat ganas menyambar ke arah Ki Lara.

Sementara dari balik cahaya yang memijar terdengar suara raungan marah menggelegar.

"Tua bangka jahanam! Juru kunci tak berguna! Mengapa kau tidak mampus saja sejak dahulu.

Padahal usiamu sudah lebih dari seribu tahun!" Teriak suara dibalik cahaya kalap.

Ki Lara Saru Saru tidak memperdulikan kemarahan orang.

Sebaliknya dia berusaha selamatkan diri dari serbuan tujuh cahaya putih yang berasal dari pecahan cahaya menyllaukan yang menggantung di ketinggian.

Tujuh cahaya menderu dahsyat, menyerang tujuh titik kelemahan yang terdapat pada tubuh Ki Lara.

Sambil lambungkan tubuhnya Ki Lara meng-hantamkan kedua tangannya ke arah tujuh cahaya yang siap membuat sekujur tubuhnya berubah menjadi kutungan.

"Sesal Dalam Kematian Bisu.!" teriak Ki Lara menyebut ilmu pukulan sakti yang dilepaskannya. Dari kedua telapak tangan Ki Lara menderu dua larik cahaya biru besar tak ubahnya separti pedang raksasa. Dua larik cahaya menebar hawa dingin luar biasa itu menghantam tujuh cahaya menggelegar tak dapat dihindari.

Puncak tebing karang terguncang keras. Sebagian bibir tebing hancur, batu-batu di tepi tebing longsor, berjatuhan ke laut disertai suara gemuruh menggidikkan. Ki Lara jatuh terduduk dengan kaki tangan tertekuk. Wajah merahnya pucat pasi, isi tubuh bagian dalam tergetar membuat nafasnya tersengal. habis tujuh cahaya yang nyaris mencabik tubuhnya menjadi serpihan. Dia juga tidak sampai mengalami cidera berat. Namun akibat terjadinya ledakan membuat ribuan lebah hitam berkepala merah yang mengelilingi cahaya jadi terusik. Kawanan lebah berbisa itu menjadi sangat marah. Sebagian diantaranya meninggalkan kawanan, menyebar berpencar dengan sikap siap menyerang Ki Lara. Gerakan kawanan sebagian lebah ini tentu saja diketahui oleh si kakek apalagi mengingat suasana disekitarnya sangat terang akibat pancaran cahaya putih itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi. Selagi si kakek mendengar suara berdengung di seluruh penjuru. Ki Lara segera bangkit berdiri. Sekali lagi dia alirkan hawa sekaligus tenaga sakti ke sekujur tubuhnya. "Aku tahu pangeran durjana sangat berbahaya. Tapi yang menjadi penyebab utama dari segala kegilaannya itu adalah lebah-lebah itu. Sengatan lebah bisa membuat laki-laki menjadi gila dan bila yang menjadi korbannya perempuan. Maka perempuan itu bisa bertingkah edan akibat diamuk asmara dan gairah yang luar biasa. Harusnya lebah-lebah keparat itu kumusnahkan terlebih dahulu. Tapi apakah aku sanggup melenyapkan ribuan lebah seorang diri?" batin Ki Lara bimbang.

Selagi si kakek terombang-ambing dalam keraguan. Tiba-tiba saja terdengar suara seruan keras ditujukan pada sebagian lebah yang siap menyerang.

"Sahabat Lebah Kepala Hati Berbunga. Lekas kalian kembali! Jangan menyerang tua bangka itu tanpa perintahku. Biarkan dia menjadi bagianku. Aku membutuhkan sesuatu dari tubuhnya."

Begitu mendengar suara teriakan dari dalam cahaya, sebagian lebah yang memisahkan diri dari kawanan yang telah mengepung si kakek tiba-tiba berbalik arah dan bergabung dengan kawanannya.

KI Lara tercekat.

Diam-diam dia merasa takjub tak menyangka para lebah ternyata sangat patuh pada perintah sang pangeran durjana.

"Ki Lara...Aku mengetahul apa yang ada dalam hatimu. Aku juga tahu apa yang terlintas dalam batok kepalamu. Sejak tadi kau bertanya mengapa aku muncul seperti ini.Kau tak usah bingung orang tua. Sekarang aku akan menemuimu dengan segala penderitaanku selama seribu tahun ini!" kata sang pangeran dengan suara dingin menusuk.

Suara sang pangeran lenyap.

Cahaya putih menyilaukan berbentuk empat persegi tak ubahnya seperti peti mati bergerak turun ke bawah.

Ribuan kawanan lebah yang mengelilingi cahaya itu bubarkan diri tinggalkan cahaya, namun kemudian sama bergerak tak jauh dibelakang membentuk sebuah pengawalan ketat yang

berlapis-lapis. Melihat bagaimana kawanan lebah mengawal sang cahaya membuat tengkuk KI Lara merinding.

Namun orang tua ini tak sempat memikirkan lebah-lebah maut itu lebih lama. Saat itu cahaya putih telah berada di atas permukaan tanah.

Begitu bagian bawah menyentuh tanah terdengar suara derit tak ubahnya seperti sebuah penutup peti mati berat yang terbuka.

Kemudian dari balik cahaya muncul kabut putih tebal menebarkan bau aneh seperti aroma setanggi namun juga bercampur bau busuk. Bersamaan dengan itu dikejauhan terdengar pula suara lolongan anjing. Ki Lara mengusap wajah dan tengkuknya yang semakin dingin. 

Orang tua ini juga menahan nafas ketika melihat dari balik kepulan kabut dan cahaya putih muncul satu sosok bertubuh tinggi bertelanjang dada berambut panjang riap-riapan berwajah angker dipenuhi cairan putih.

Tanpa bicara apa-apa.

Sosok berpenampilan selayaknya mayat hidup ini melangkah sejauh tujuh tombak dari cahaya empat persegi tempat dimana dia munculkan diri. Ki Lara tercekat.

Dia mengusap keningnya tiga kali.

Gerakan mengusap kening yang dilakukan si kakek membuat nyala pelita keramat yang bertengger di atas kepalanya makin bertambah terang.

Dengan bantuan cahaya pelita yang membesar kini Ki Lara secara leluasa dapat melihat laki-laki itu. Laki-laki itu sekujur tubuhnya putih pucat dengan pembuluh darah bersembulan. Sementara secara keseluruhan penampilan orang itu tak ubahnya seperti mayat hidup.

"Ki Lara...juru Kunci makam para raja Pulau Rakata.Apakah kau masih mengenaliku?" tanya sang pangeran sambil sunggingkan seulas senyum kaku dan sinis.

Yang ditanya diam membisu.

Hanya matanya menatap orang di depannya dari kepala hingga ke kaki.

Dulu...seribu tahun yang lalu. Saat mayatnya dijebloskan ke dalam peti mati Kumala kemudian dikubur di dalam Selat Rakata keadaannya tak seburuk ini.

Walau saat itu dia sudah mati, namun ketampanan wajahnya tidak ikut terenggut kematian. "Dan sekarang..mengapa tampangnya berubah menjadi buruk, wajah penuh keriput, mata yang

biasa bersinar berubah putih pucat mengerikan." membatin si kakek sambil menelan ludah.

"Apa yang kau pikirkan kakek penjunjung pelita? Tidakkah pelita sahabatmu itu telah memberi tahu bahwa di hari kebangkitanku aku butuh darah untuk memulihkan tubuhku ini. Untuk menjadi tampan aku butuh darah perjaka yang terlahir pada bulan purnama. Aku sudah tahu kemana harus mencari darah yang kubutuhkan. Tapi ingatlah diawal kehidupan aku ini pertama-tama yang aku butuhkan adalah darahmu. Ha ha ha!"

"Kau butuh darahku? Mengapa kau menginginkan darahku?" tanya Ki Lara sambil memperhatikan ribuan lebah yang berjaga-jaga dibelakang pangeran durjana dari istana pulau Rakata.

Bukannya menjawab, sang durjana malah melangkah maju.

Kemudian dia hentikan langkah dalam jarak empat tombak di depan Ki Lara.

Dengan mulut sunggingkan seringai dingin laki-laki yang seluruh tubuhnya nampak memutih, penuh keriput dan tak berbeda dengan mayat hidup itu menjawab.

"Kau lihat keadaanku saat ini Ki Lara? Tubuhku kering keriputan tanpa darah.Wajahku buruk tak ubahnya seperti seorang tua bangka renta berusia lanjut.Untuk memulai kehidupan yang baru aku butuh darah.Karena hanya kau yang berada disini. Rasanya untuk sementara biarlah aku menggunakan darahmu.Begitu kutemukan darah pengganti dari orang yang tepat. Maka penampilanku akan berubah.Ha ha ha!"

"Mahluk laknat. Apakah kau tidak sadar para dewa mengutuk perbuatanmu dimasa lalu? Apakah kau belum juga mengerti bumi juga melaknatmu?!"

Bentak Ki Lara Saru Saru geram.

Mendengar ucapan orang tua itu tawa sang pangeran lenyap seketika. Wajah yang pucat berubah menjadi tegang. Sepasang mata putih dengan bagian tengah berwarna hitam kelabu mendelik besar.

"Segala ucapan dan penghinaanmu terhadapku sudah waktunya diakhiri sampai disini. Sekarang serahkan jantung dan darahmu!"

Teriak pangeran durjana dengan suara keras mengeledek.

Belum lagi gema suara teriakannya lenyap .Sang pangeran melompat ke depan sambil gerakkan tangan kanan kiri.

Sepuluh jemari tangan yang dipenuhi lendir putih dengan kuku-kuku mencuat panjang bewarna hitam kehijawan menyambar ganas ke bagian tenggorokan dan dada sebelah kiri Ki Lara .Walau telah bersikap waspada tak urung KI Lara dibuat terkejut setengah mati karena tak menyangka serangan yang dilakukan lawan ternyata berlangsung cepat luar biasa.

Tak ingin mendapat nasib celaka si kakek segera melompat mundur ke belakang.

Sambil bungkukkan badan dia arahkan pelita keramat yang bertengger di atas kepala kepada pangeran durjana dengan disertai seruan.

Teriakan yang ditujukan pada pelita itu ditanggapi dengan semburan api merah dari bagian atas pelita.

Cahaya merah raksasa yang memancar menyambar ganas ke arah lawan, menghantam kedua tangan juga mengincar tubuh sebelah bawah pangeran durjana.

Sang pangeran mendengus.

Walau sambaran api raksasa yang muncul dari pelita terasa panas luar biasa, laki-laki ini sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri.

Sambil menggerakkan tangannya ke arah pelita dia berucap.

"Kau datang dari dunia gaib para arwah. Tapi aku adalah pangeran raja di raja dari seluruh arwah yang mati tersesat. Berani menentangku apalagi membantu tua bangka itu aku tak akan segan menghancurkanmu!"

Kemudian angin dahsyat sedingin es menderu, menghantam ke arah cahaya pelita yang siap hendak memberangus tubuhnya. Begitu deru angin yang melesat dari telapak tangan sang pangeran melabrak api besar nyala pelita terdengar suara

blep!

Api pelita padam seketika sementara tubuh si kakek terpelanting akibat terdorong serangan ganas yang dilakukan Sang Pangeran. Ki Lara menggerung .Walau tubuhnya terasa membeku, napas sesak dan tubuh di sebelah dalam serasa remuk namun dia segera bangkit. Begitu bangkit dengan tubuh terhuyung si kakek diam-diam berucap.

"Pelita keramat dari alam arwah. Nyalakan dirimu!" Wuss!

Mendengar perintah si kakek pelita keramat kembali menyala. Ternyata nyala api pada pelita begitu kecil.

Walau tak melihat namun orang tua ini dapat mengetahui pelita di atas kepalanya tak dapat diharapkan terlalu banyak dalam membantunya.

Tidaklah heran.

Begitu dia melihat sang pangeran terus merangsak maju setelah berhasil dengan serangan pertama, Ki Lara cepat badan lalu menghantam lawan dengan pukulan Neraka Liang Lahat.

Dua pukulan yang dilancarkan Ki Lara bukan serangan biasa.

Pukulan sakti yang dilepaskannya sanggup menghancurkan gunung dan menghentikan gelombang raksasa di lautan.

Bila manusia yang terkena pukulan maut tersebut tubuhnya dapat hancur lebur menjadi kepingan beku.

Walau tak mengenali dan belum pernah melihat serangan yang seperti itu namun pangeran dapat merasakan betapa hebatnya pukulan yang dilancarkan Ki Lara.

Dan sambil menggeram pangeran durjana ini segera melipat gandakan tenaga dalam untuk melindungi tubuh.

Sementara sebagian tenaga sakti dia salurkan ke arah kedua belah tangannya. Laksana kilat sang pangeran segera dorong kedua tangan ke depan.

Kaki depan ditekuk membentuk kuda-kuda .

Begitu tangan melesat.Dari kedua tangannya menderu cahaya biru kehitaman. Dua pukulan sakti beradu di udara.

Ledakan keras menggelegar mengguncang tebing pulau Karang Hantu .Tebing Karang bergetar keras seperti dilanda selaksa gempa, sebagian dinding runtuh ke laut disertai suara bergemuruh.

Bebatuan dan asap tebal bertaburan di udara. Pangeran Durjana jatuh terduduk dengan kaki tertekuk.

Wajah dan sekujur tubuhnya yang pucat semakin bertambah pucat. Dia menyeringai walau rasa sakit mendera bagian dada.

Dengan senyum dingin tersungging di mulut dia menatap ke arah Ki Lara.

Senyum pangeran tampak lebar begitu melihat Ki Lara jatuh terkapar, terpental sejauh empat tombak dari tempatnya berdiri. Sementara dari mulut dan hidungnya semburkan darah segar.

Melihat darah yang menyembur dari mulut dan hidung Ki Lara, pangeran durjana menelan ludah. "Ini yang kucari" batinnya.

Dia segera berdiri. Kemudian melangkah lebar menghampiri tubuh si kakek. Begitu sampai di depannya seperti kilat kaki kiri bergerak menginjak dada Ki Lara. Juru kunci penjaga makam kerabat raja-raja di pulau Rakata yang terluka parah akibat pukulan sakti itu masih berusaha meronta sambil melepaskan pukulan tangan kosong.Namun serangan yang dilancarkan si kakek tidak berakibat

apa-apa bagi sang pangeran ini.

"Riwayatmu sudah habis. Bagaimana kau bisa melawanku."

Dengus sang pangeran.Dia cepat turunkan kaki yang menginjak dada. Setelah itu jemari tangan bergerak menyambar ke bagaian leher.

Crept! Wuut!

Dalam waktu sekedipan mata rambut putih panjang Ki Lara telah berada dalam cengkeraman jemari sang pangeran. Begitu tangan disentakkan ke atas, tubuh si kakek terangkat naik dengan dua kaki menggantung dua jengkal di atas tanah.

"Aku tidak butuh nyawamu. Saat ini aku inginkan darahmu dulu sebelum aku mendapat darah dari para pejaka!"

Kata pangeran durjana dengan suara dingin.

Ki Lara meronta, walau merasa sulit bernapas karena lehernya tercekik namun dia masih berusaha membebaskan diri dengan mencoba melakukan serangan.

Tapi ketika sang pangeran gerakkan jari tangannya yang berkuku panjang ke bagian punggung Ki Lara maka orang tua ini tak dapat lagi bergerak karena tubuhnya kaku akibat totokan.

Sang Pangeran tak membuang waktu lama. Tak terduga dengan menggunakan tangan kiri dia menjebol dada di sebelah kiri si kakek tepat di bagian jantung.

Ki Lara menjerit, meraung setinggi langit, Dua matanya mendelik sementara darah menyembur dari lukanya.

Sang pangeran menyeringai.

Begitu dia menarik nafas, maka darah yang mengalir di sekujur tubuh Ki Lara kini mengalir deras berpindah ke tubuh sang pangeran melalui tangannya yang masih terbenam di dalam dada ki Lara.

Setelah darah berpindah ke tubuhnya maka sang pangeran mengalami perubahan drastis.

Wajahnya yang pucat, kulit yang keriput, pembuluh darah yang seolah mati bersembulan disekujur tubuh mulai berubah hidup dan menjadi lebih hitam dan mata lebih jernih.

Setelah keinginannya mendapatkan darah si kakek terpenuhi sang pangeran menarik lepas jemari tangan yang terbenam di dalam dada ki Lara. Begitu tangan kanan yang mencekal leher disentakan. Juru kunci malang itu pun jatuh tergelimpang. Sang pangeran tersenyum.

Tanpa menghiraukan korbannya dia menoleh memandang ke arah kawanan lebah beracun yang terus menunggunya.

Kepada ribuan kawanan lebah itu dia berkata,

"Kalian semua ikut denganku.Kita harus menyeberangi laut menuju ke daratan yang lebih luas.

Aku ingin mencari musuh-musuhku dan juga orang-orang yang telah membuat kekasihku celaka.Disamping itu aku juga harus mendapatkan keturunan sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat.Karena itu aku butuh gadis-gadis dan perempuan cantik yang bisa memberikan keturunan padaku!"

Sebagai jawaban kawanan ribuan lebah itu keluarkan suara berdengung.Pangeran Durjana tertawa.

Sekali dia menggerakkan kedua tangannya. Laksana kilat tubuhnya melesat di udara.

Apa yang terjadi kemudian sungguh sulit dipercaya. Pangeran itu ternyata mampu terbang.

Dia terbang melintasi lautan luas dengan diikuti ribuan kawanan lebah yang terus mengawalnya disepanjang perjalanan.

Sementara itu setelah darahnya tersedot nyaris habis oleh lawan Ki Lara Saru Saru ternyata masih dapat bertahan hidup.

Tapi dia tak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri.

Dia juga tak kuasa menutup luka di bagian dada karena tubuhnya dalam keadaan tertotok.

Dengan suara lirih dan mata menatap kosong memandang kegelapan di langit kakek ini berucap. "Celaka dunia. Aku tidak bisa mencegahnya. Ilmu kesaktian yang dia miliki sekarang jauh lebih

hebat dibandingkan yang dulu. Siapa yang bisa menghentikan kejahatannya yang gila luar biasa?!" Sepi!

Tak ada yang menjawab ucapan serta kekhawatiran yang dirasakan orang tua itu.

Yang terdengar hanyalah suara deru angin disertai deburan ombak di kejauhan di bawah tebing karang yang runtuh.

******

Tidak sampai sepekan setelah bangkitnya pangeran durjana dari kematiannya.

Seorang pemuda bernama Loh Seta Karawuri seorang juru kuda sekaligus perawat kuda utama istana Malingping ditemukan tewas mengenaskan di dalam bilik ketidurannya yang terletak disebelah timur luar benteng istana. Loh Seta tewas dengan sekujur tubuh kering tidak berdarah. Tidak ada luka mengerikan terkecuali sebuah guratan yang terdapat dibagian kening tepat diantara alis kiri dan alis sebelah kanan serta luka kecil di dada kiri tepat di bagian jantung.

Kematian Loh Seta adalah lahir tepat pada bulan purnama malam sabtu kliwon enam belas tahun yang silam itu memang sempat membuat geger kerabat istana termasuk juga Raja Malingping Gusti Prabu Tubagus Kasatama.

Betapapun Loh Seta yang yatim piatu yang telah mengabdi pada kerajaan sejak kecil.

Dia dikenal sangat ramah, rajin dalam menjalankan tugas hingga sang Prabu telah menganggap pemuda ini sebagai bagian dari keluarga kerajaan. Tapi kematian Loh Seta yang misterius dalam waktu yang tidak begitu lama cepat dilupakan oleh banyak orang.

Berbeda dengan Ajengan Giri Swara.

Kakek renta yang dikenal dengan julukan Aneh Juru Obat Delapan Penjuru ini justru tak dapat melupakan peristiwa kematian Loh Seta yang dianggapnya tidak wajar itu. Dua hari setelah kematian Loh Seta ahli nujum sekaligus juru obat ini terus menyelidki peristiwa kematian itu.

Sejak lama dia mengenal Loh Seta itu lebih senang mengurungi diri di dalam pondoknya di puncak gunung Kendeng

"Dua tanda yang terdapat di dada dan kening anak muda itu bukanlah suatu tanda biasa. Gusti prabu, para pejabat dan patih istana tak mengetahui keanehan di balik kematian Loh Seta. Tapi jelas firasatku mengatakan dia mati dibunuh oleh seseorang.Sang pembunuh menyedot habis darah Loh Seta."

"Tapi untuk kepentingan dan tujuan apa?" membatin kakek berpakaian hitam bersorban dan berjanggut menjela ke tanah sambil menark nafas dalam.

"Aku harus mencari tahu. Jawaban apapun yang kudapatkan nantinya harus aku sampaikan pada gusti prabu secepatnya!" pikir si kakek.

Setelah bulat dengan keputusannya sang Penujum Aneh segera bangkit dari tempat duduk yang sekaligus sebagai tempat ketidurannya itu. Dari langit-langit pondok dia mengambil sebuah keris. Keris berluk sembilan bersarung emas lalu diselipkan dibalik punggung pakaian. Kemudian sambil membawa sebuah pendupaan menyala berwarna merah membara dia tinggalkan pondoknya.

Penujum Aneh melangkah lebar menuju ke lereng gunung yang terletak tak jauh dari pondoknya.

Setelah melewati pepohonan besar yang sunyi dan angker sampailah Penujum Aneh disebuah pemakaman tua.

Makam itu dulunya adalah makam para kerabat si kakek. Tapi mengingat Loh Seta hidup sebatang karang dan tak mempunyai kerabat. Atas perintah Sang prabu juga keinginan si kakek sendiri Loh Seta dimakamkan di tempat itu. Ketika Penujum Aneh sampai di tengah hamparan tanah kering dipenuhi nisan dan batu tanda. Orang tua ini layangkan pandangan mata kesekelilling pemakaman. Dia tidak melihat tanda mencurigakan atau kehadiran orang lain di tempat itu. Namun anehnya dia merasakan seperti ada yang memperhatikan gerak geriknya.

"Aku seorang ahli nujum. Aku dapat melihat ke alam nyata dan alam gaib. Dalam gaib aku merasakan ada yang memperhatikan aku, tapi siapa yang perdull. Ini daerah atau wilayah yang menjadi kekuasaanku. Kalaupun ada mahluk halus atau hantu gentayangan siapa takut. Selagi matahari belum tenggelam melenyapkan diri di ufuk barat aku harus melakukan semua yang menjadi keinginanku!"

Kata Penujum Aneh .Setelah mantap dengan keputusannya. Penujum Aneh berkemak kemik membaca seuatu .

Pembacaan mantra dan doa ditutup dengan ucapan salam tiga kali. Tanpa perasaan bimbang Penujum Aneh melangkah lurus ke depan.

Setelah melewat beberapa makam tua sampailah orang tua ini di depan sebuah gundukan tanah merah yang masih baru. Sang Penujum memperhatikan makam di depannya.

Dia melihat aneka bunga yang ditaburkan di atas makam beberapa hari yang lalu telah hitam dan mengering.

Baru dua hari bunga-bunga menghiasi pusara, tapi keadaannya seperti taburan bunga belasan hari.

"Mudah-mudahan aku bisa mendapatkan petunjuk siapa yang telah menghabisi Loh Seta" Penujum Aneh lalu kibaskan tangannya ke atas permukaan tanah rata disamping makam Loh

Seta.

Begitu tangan dikibaskan, asap mengepul memenuhi tempat itu.

Kemudian entah darimana datangnya tahu-tahu diatas tanah terhampar sebuah tikar pandan.

Walau tidak baru namun keadaannya masih bagus. Penujum Aneh jatuhkan diri, duduk diatas tikar pandan lalu letakan pendupaan membara yang dia bawa dari pondok. Setelah merapikan diri dengan duduk bersila. Perlahan namun pasti Penujum Aneh pejamkan matanya. 

Tanpa membuka mata dua tangan yang tadinya diletakkan diatas lutut tiba-tiba diangkat tinggi

.Setelah itu kedua tangan di putar diatas kepala sebanyak tiga kali. Tangan di turunkan lalu diletakkan diatas pendupaan menyala.

Tanpa menyentuh mulut pendupaan yang panas luar biasa sekali lagi mulutnya bergetar membaca mantra. Tak lama setelah untaian mantra-mantra sakti di baca.

Sekujur tubuh Penujum Aneh bergetar hebat.

Asap mengepul dari dalam pendupaan, lalu menebar ke seluruh penjuru makam mengikuti arah hembusan angin .Bersamaan dengan itu di kejauhan terdengar suara lolong dan raungan menggidikkan. Seakan sudah terbiasa mendengar suara suara aneh menyeramkan seperti itu.Penujum Aneh bersikap acuh. Kini seluruh rasa dan perhatian disatukan menuju ke satu tempat tujuan, sementara dari mulutnya terdengar suara ucapan lirih namon jelas.

"Yang ada berasal dari yang tiada. Dari lubang Mencari lubang Kembali ke lubang .Adalah awal dan akhir kehidupan. Setiap jiwa pasti kembali ke alam baka. Semua roh kembali ke alam arwah

.Menuju kematian membawa warna hitam dan putih. Baik dan buruk balasan pasti di dapat Aku Sang penujum Juru Obat Delapan Penjuru Bertanya pada bumi yang menghidupkan Atas nama dewa. Atas nama roh suci juga yang tersesat. Mencari sebab atas ketentuan takdir jiwa yang kutuju. Aku minta pada penguasa alam gaib Berilah aku petunjuk. Siapa yang telah membunuh Loh Seta .Mengapa dia dibunuh ? Dan apa yang sesungguhnya terjadi? Dibalik semua peristiwa yang menimpanya..."

Baru saja Penujum Aneh selesai berucap. Dikeremangan pemakaman tua terlihat ada cahaya putih menyambar ke arah makam Loh Seta. Begitu cahaya menyentuh batu nisan yang berdiri diatas kepala makam maka seluruh penjuru makam Loh Seta yang hanya sejarak setengah tombak di depan Penujum Aneh bergetar hebat Asap mengepul, menebarkan aroma bunga melati bercampur aroma busuk menyengat .

Di atas tikar penujum Aneh mengangkat wajah dan pusatkan perhatiannya ke arah makam di depannya .Kepulan asap kelabu terus menebar memenuhi seluruh penjuru makam membuat suasana semakin tambah angker menyeramkan.

Tapi orang tua ini tidak menghiraukan.

Dia tetap duduk diam .Sampai akhirnya Penujum Aneh mendengar suara langkah suara terompah yang seakan datang dari sebuah tempat yang jauh dibalik liang kubur

"Pintu gaib liang lahat sudah terbuka. Siapapun yang datang kuharap aku bisa mendapatkan titik terang. Aku ingin mengetahui sebab musabab kematian Loh Seta Karawuri."

Setelah berkata begitu orang tua ini segera tancapkan tiga jari tangan kanannya ke dalam bara menyala dalam pendupaan.

Sementara jari tangan sebelah kiri langsung dia tusukkan pula ke bagian batu nisan bertuliskan nama Loh Seta yang berdiri di atas kepala makam.

Begitu tangan kiri menancap di batu nisan, Penujum Aneh merasakan dirinya seperti dibetot oleh tangan-tangan yang tidak terliheat menuju ke sebuah tempat sunyi yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya.

Tidak terlihat seseorangpun di tempat itu terkecuali suara deru angin, deburan ombak dan gunung menjulang. Suara debu dan deburan ombak lenyap.

Entah darimana datangnya dalam keremangan cahaya tahu-tahu di depan Penujum Aneh muncul dua buah peti mati. Kedua peti mati itu terbuat dari batu kumala dan basah kuyup seperti baru keluar dari dalam air .Lalu samar-samar si kakek melihat seorang kakek renta menjunjung pelita diatas kepala berusaha menghancurkan peti mati tersebut. Tapi usaha si kakek renta penjunjung pelita nampaknnya tidak berhasil. Malah orang tua yang tidak dikenalnya itu kemudian tertuka parah.

Dua peti mati terbuka, Dari dalamnya muncul seorang laki-laki dan seorang perempuan berwajah angker seperti mayat hidup.

Setelah kemunculan dua sosok yang terkubur dalam peti mati, muncul pula kawanan lebah berbisa.

Lebah berkepata merah dan lebah berkepala kuning. Apa yang dilihat Penujum Aneh kemudian raib.

Seperti dalam mimpi kini dia melihat gambaran yang lain. Dia melihat Loh Seta perawat kuda istana.

Dia melihat pemuda itu terbuai lelap di tempat ketidurannya. Penujum Aneh terus memperhatikan.

Sampai akhirnya dia melihat kehadiran laki-laki dalam peti mati muncul di rumah Loh Seta. Laki-laki itu tidak sendiri. Dia datang bersama kawanan lebah berwarna merah.

Dalam penglihatan gaibnya Loh Seta dibunuh oleh laki-laki itu. Darahnya disedot habis.

Cara orang itu menyedot darah juga terasa aneh.

Darah Loh Seta dihisap bukan menggunakan mulut melainkan dengan menggunakan jarijari tangan kanan dan juga tangan kiri

"Seperti yang telah aku duga sebelumnya .Bocah malang itu bukan tewas karena sakit.Tapi karena ada yang membunuhnya" batin Penujum Aneh.

Sebelum waktunya yang serba terbatas itu berakhir, Sang Penujum sempat melihat banyak sekali perempuan cantik berusia muda belia berjalan berbondong-bondong menuju ke sebuah tempat dalam keadaan perut buncit karena hamil besar

"Perempuan itu? Apa arti semua yang kulihat ini?" kata Penujum aneh bingung tak mengerti.

Penujum Aneh memutar otak berpikir keras .Segala gambaran gaib yang dilihatnya sebagian memang dia mengerti maksudnya tapi sebagian lagi sulit untuk dipahami.

Dan sebelum dia mendapat jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Tiba-tiba dia merasakan ada angin menderu dari arah depannya.

Penujum Aneh terkesiap. Belum sempat dia melakukan sesuatu. Tubuhnya tersapu oleh hantaman angin dingin yang begitu keras. Bluk!

Dalam kenyataannya Penujum Aneh memang jatuh tak jauh dari makam Loh Seta Karawuri.

Pendupaan menyala yang ditusuk dengan tangan kanan hancur lebur menjadi kepingan.

Sementara batu nisan yang di tusuknya dengan tangan kiri bertaburan diseluruh penjuru makam Loh Seta dalam keadaan menjadi bubuk.

Terkejut melihat semua itu. Penujum Aneh cepat merayap bangkit.

Sambil berdiri tegak mata si kakek memperhatikan sekelilingnya. Tak ada orang lain, tidak terlihat sesuatu ataupun tanda-tanda yang mencurigakan. Sang Penujum menghela nafas lega.

Namun kelegaan yang dirasakannya tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba saja dia mendengar suara orang bersendawa selayaknya orang yang kekenyangan makan.

Terkejut Penujum Aneth memutar tubuh balikkan badan menghadap ke arah darimana suara berasal.

Sekali lagi dia tidak melihat kehadiran seseorang terkecuali bau aroma tuak yang keras menyengat penciuman.

"Bau harum tuak? Seumur hidup aku tinggal menetap di kawasan ini. satu kalipun belum pernah aku mencium aroma tuak.Siapa yang mabuk, Siapa yang minum tuak?!" kata orang tua itu heran.

Belum lagi keheranan yang menyelimuti dini si kakek lenyap.

Tiba-tiba saja terdengar suara gelak tawa memecah kesunyian yang menggantung dikawasan pemakaman tua.

"Ada aroma harum tuak aku tak malihat ada tuaknya. Ada suara tertawa tapi aku tak melihat siapa yang tertawa. Apakah setan yang menyambangi aku?" seru Penujum Aneh .

Mendengar ucapan si kakek. Suara tawa bukannya terhenti sebaliknya malah semakin menjadi

.Penujum Aneh katubkan mulutnya rapat- rapat .Sejauh itu dia tidak bisa memastikan dari mana suara tawa berasal karena suara yang terdengar oleh si kakek berpindah-pindah.

"Siapapun dia. Aku yakin monyet yang tertawa itu bukan orang biasa. Hanya orang yang memiliki ilmu kepandaian tingkat tinggi saja yang bisa menguasai ilmu Memindah Suara " batin Penujum Aneh.

Orang tua ini semakin penasaran juga marah

"Kakek jelek yang mempunyai sebutan tolol Penujum Aneh Junu Obat Delapan Penjuru. Apa yang kaulakukan dikuburan ini? Kau sedang mencari wangsit atau bicara dengan orang mati atau bagaimana? Atau kau sudah bosan hidup lalu ingin cepatan mampus juga.Ha ha ha.!"

Dihina sedemikian rupa oleh orang yang tidak dikenal bahkan tidak mau tunjukkan diri Penujum Aneh tentu saja menjadi gusar.

Apalagi saat itu dia merasa sedang menghadapi persoalan sulit. Sambil berkacak pinggang.

Dengan wajah merah dan mata mendelik orang tua ini berteriak

"Aku tidak punya waktu untuk melayani semua kegilaanmu. Apapun tujuanmu datang ke tempat ini. Cepat katakan. Sebelum aku berubah pikiran"

Tidak ada jawaban. Tidak terdengar pula suara tawa. Hanya terdengar suara air mengucur membasahi tenggorokan Gluk!

Gluk! Gluk!

"Woalah sejuk dan nikmat sekali tuak ini.Sungguh tidak ada duanya di dunia ini.Ho ho ho..! " "Keparat ternyata aku sedang berurusan dengan pemabok sialan? Huh, sialnya diriku hari ini.

Hanya membuang-buang waktu saja!" geram Penujum Aneh.

Plak!

Orang tua itu menjerit kaget ketika satu tamparan tangan yang tidak terlihat mendarat di mulutnya.

Darah mengucur dari bibirnya yang pecah.

"Siapa yang menampar?" teriak Penujum Aneh sambil menyeka darah yang menetes di bibirnya.

Dengan mata mendelik dia menatap ke depan.

"Aku menampar mulut busukmu yang suka bicara buruk itu!" sahut satu suara disertai tawa tergelak-gelak. Penujum Aneh yang tadinya berusaha menahan diri benar-benar tak kuasa menahan kemarahannya. Seumur hidupnya belum pernah dia diperlakukan orang seperti itu. Orang-orang di istana menaruh hormat padanya. Bahkan Prabu Tubagus Kasatama penguasa kerajaan Malingping merasa segan terhadapnya.

"Aku ingin kau datang ke hadapanku, perlihatkan dirimu sekarang juga!" teriak Penujum Aneh.

Sebagai jawaban terdengar suara gumaman disertai suara bercelegukan selayaknya orang yang meneguk tuak.

Begitu suara bercelegukan lenyap Penujum Aneh mengendus bau tuak keras yang begitu menusuk "Untuk apa aku datang kepadamu, Penujum? Kau kira dirimu siapa? Sebagai penujum ternyata kau bukan manusia hebat seperti yang digembor- gemborkan orang. Aku tidak begitu jauh dari tempatmu

berdiri.Bagaimana matamu yang melek tak melihatku.Betul-betul gila.He he he..!" Penujum Aneh mendengar suara itu datang tak jauh dibelakangnya.

Walau terkejut, si kakek cepat balikkan badan.

Begitu berbalik dan memandang lurus ke depan orang tua ini tertegun. Dia melihat di sebelah jalan setapak di depan pintu menuju tanah pemakaman.

Tepat di bawah pohon besar berdiri menyender pada batang pohon itu seorang laki-laki bertubuh tegap tinggi berperut besar.

Bercelana hanya sebatas lutut berpakaian berupa rompi hitam tak terkancing. Laki-laki yang usia sebenarnya lebih dari tujuh ratus tahun itu selalu membawa beberapa bumbung bambu berisi tuak keras dan harum. Rupanya tuak dalam bumbung-bunmbung yang tergantung disekeliling pinggang si perut gendut inilah yang tadi tercium oleh Penujum Aneh. Beberapa saat memperhatkan orang tua ini. Kiranya si kakek tidak mengenalnya. Tidak mengherankan Penujum Aneh melangkah maju hampiri orang tua itu .Sejarak dua tombak di depan orang tua itu Penujum Aneh buka mulut ajukan pertanyaan

"Seperti yang kukatakan. Aku tidak punya waktu untuk melayani manusia sepertimu.Lebih baik kau berterus terang mengapa kau muncul di tempat ini?"

Si orang tua yang wajah serta penampilannya tak jauh berbeda dengan orang yang usianya lima puluh tahun bersikap acuh.

Tanpa menghiraukan Penujum Aneh, dia angkat bumbung tuak yang berada di tangan kanan tinggi-tinggi.

Setelah itu dia dongakkan kepala dan membuka mulut lebar-lebar. Kemudian tak ubahnya seperti orang yang kehausan dia tuang tuak dalam bumbung itu ke dalam mulutnya.

Gluk! Gluk! Gluk!

"Waduh enaknya."gumam si orang tua lalu seka mulutnya yang basah berselemot air tuak. Sambil turunkan bumbung tuak dan menggantungnya kembali di pinggang kanan orang ini menatap Penujum Aneh.

"Tadi kau mengatakan tak punya waktu untuk melayani manusia sepertiku. Kau juga mengatakan agar aku berterus terang .Mengapa aku muncul di tempat ini?"

Orang tua bertubuh tinggi besar itu membuka mulut. Setelah itu dia mnengusap rambutnya yang sebagian telah memutih

"Kau sudah mendengar.Aku tak mau berpanjang kata bicara dengan pembohong seperti-mu." tukas Penujum Aneh gusar

"Ah, aku ini memang hanya tua bangka pemabok. Tapi jangan mengira segala urusan yang kau katakan sangat penting itu aku tidak mengetahuinya. Percayalah aku tahu apa yang merisaukan hatimu, aku juga tahu mengapa kau datang ke kubur bocah malang yang bernama Loh Seta itu." tegas si tinggi besar berperut gendut.

Tak menyangka orang mengetahui apa yang dia lakukan, tak mengira orang yang dipinggangnya tergantung puluhan bumbung tuak itu tahu apa yang dia cari. Penujum Aneh diam-diam terkejut.

Namun dia berusaha tidak menunjukkannya pada orang yang terus menyender di batang pohon itu. Sebaliknya dengan rasa penasaran dia membuka mulut. Dengan sinis dia ajukan pertanyaan

"Kau cuma seorang pemabok. Hidup dan pikiranmu dalam kekacawan. Bagaimana kau bisa mengetahui apa yang aku cari dan apa yang aku pikirkan?"

Laki-laki itu tersenyum. Dia meraih bumbung tuak yang tergantung di pinggang sebelah depan. Setelah membuka penutup bumbung dia kembali meneguk isinya. Wajah laki-laki itu semakin bertambah merah.

Bumbung yang telah kosong dicampakkan ke tanah. Setelah itu dia semburkan sisa tuak yang masih tertinggal dimulutnya ke arah semak-semak hijau di samping pohon.

Pruuh!

Begitu cairan tuak keras berhamburan dari mulut dan menerpa dedaunan pohon dan semak belukar.

Daun-daun itu tidak hanya dipenuhi lubang akibat semburan tapi juga segera menyala dikobari

api.

Melihat pemandangan yang sangat luar biasa dan jarang dilihatnya ini. Penujum Aneh menjadi

kaget.

Tanpa sadar dia tersurut mundur sejauh satu langkah.

"Manusia aneh luar biasa.Dia seorang pemabuk yang hebat.Tuak yang diteguknya sangat keras.Dedaunan saja langsung terbakar terkena semburan tuaknya.Tak dapat kubayangkan bagaiamana bila semburan tuak itu mengenai tubuh?" membatin sang Penujum daiam hati

"Apa lagi yang kau pikirkan Penujum Aneh.Jangan pernah berpikir untuk menyantetku.Karena segala macam santet, tenung dan sihir tak bakal sanggup membuatku celaka."

"Tadinya karena tamparanmu yang tanpa sebab, membuatku gelap mata dan ingin membunuhmu dengan cara mengirimkan santet. Tapi setelah kupikir-pikir perlu apa aku bersusah payah menyantetmu. Tidak kusantet sekalipun kulhat perutmu sudah menggembung besar sepert perempuan hamil Ha ha ha!" kata Penujum Aneh disertai tawa tergelak-gelak. Kening laki-lak besar berperut gendut itu berkerut. Dia tak mengerti bagaimana Penujum Aneh yang gampang naik darah itu

tiba-tiba berubah sikap selayaknya seorang sahabat. Tak mau pusing orang tua gendut ini pula lalu ikutan tertawa. Sambil tergelak orang tua gendut ini berkata,

"Bagus. Ternyata kau cukup tahu diri. Sekarang kau dengar baik-baik. Adapun kedatanganku di tempat tidak layak ini adalah untuik memberi tahu sesuatu yang sangat penting kepadamu"

Jelas orang tua bertubuh tegap itu bersungguh-sungguh "Apa maksudmu?"

Tanya Penujum Aneh lalu memandang orang didepannya dengan tatapan mata tajam menusuk. "Kau dengar. Dengan tegas kukatakan padamu. Sebaiknya kau tidak lagi memikirkan nasib bocah

malang yang sudah mati itu. Aku memberimu saran lebih balk kau temui gusti prabu Tubagus Kasatama. Katakan padanya kerajaan dan seluruh penduduk negeri Malingping terutama para lelaki dan gadis-gadis mudanya ada dalam ancaman bahaya besar"

"Heh, kau bicara apa? Kau mengatakan agar aku tidak memikirkan bocah yatim piatu malang itu? Ketahuilah Loh Seta bagiku sudah kuanggap seperti anak sendiri, Itu sebabnya aku menguburkannya di pemakaman keluargaku?" Kata Penujum Aneh dengan sikap menunjukkan rasa tidak suka

"Hua ha ha.Aku sudah tahu. Dan aku juga tahu yang kaulakukan di makam Loh Seta. Bukankah karena kau ingin tahu siapa yang telah membunuhnya?" ucap laki-laki itu sambil meneguk tuaknya. Penujum Aneh terdiam belum sempat dia membuka mulut orang di depannya lanjutkan ucapan.

"Aku sudah melihat dengan kekuatan yang aku miliki. Kau baru saja kembali dari alam gaib. Dan dari alam yang tak mudah dimasuki oleh manusia itu bukankah kau mendengar suara deburan ombak, kau melihat dua peti mati, kawanan lebah. Kau juga melihat gadis-gadis yang dimabuk cinta. Tidak hanya itu. Aku berpikir kemungkinan kau juga melihat banyaknya perempuan muda yang hamil mendadak serta ratusan bayi yang baru terlahir ke dunia?" terang laki-laki itu .

Mendengar suara petir di siang bolong si Penujum Aneh tentu tak akan seterkejut mendengar ucapan orang di depannya.

"Bagaimana kau bisa mengetahui segalanya? Bagaimana kau bisa melihat apa yang aku lihat. Siapa kau yang sebenarnya? Hidup tak kurang dari sembilan puluh tahun rasanya aku belum pernah bertemu dengan orang sepertimu. Aku yakin kau bukan penduduk sini" desis sang Penujum dengan tatapan mata terheran-heran .Orang yang ditanya anggukkan kepala. Mulut meracau tak karuan sedangkan matanya yang merah berkedap-kedip tak mau diam.

"Benar seperti yang kau katakan aku bukan penduduk sini. Tapi aku mengenal dengan baik silsilah garis turunan raja Malingping yang sekarang. Aku bukan Penujum, tapi aku mengetahui secara langsung apa yang terjadi dimasa lalu dan masa sekarang. Aku juga tahu siapa durjana yang baru bangkit dari kematiannya itu. Aku tahu mengapa dia membunuh Loh Seta. Sebabnya tak lain Loh Seta terlahir pada malam sabtu kliwon pada bulan purnama enam belas tahun yang lalu. Darah orang yang terlahir pada malam bulan purnama sangat dibutuhkan oleh orang mati yang baru saja bangkit dari kematiannya. Para penghuni kegelapan menganggap darah Loh Seta adalah darah keramat, darah pembangkit kehidupan yang pernah terenggut oleh kematian." terang orang tua itu.

"Orang tua. Pengetahuanmu sangat luas. Tapi apakah benar seperti yang aku duga, Loh Seta dibunuh dan disedot darahnya oleh orang yang baru kembali dari kematiannya?"

Tanya Penujum Aneh "Benar"

"Siapa dua sosok mengerikan yang kulihat bangkit dari dua peti mati itu?"

"Yang kau lihat dalam mata nujummu itu tak lain adalah seorang pangeran dan puteri dari istana kuno di pulau Rakata. Mereka adalah dua manusia laknat lagi terkutuk.Saudara sedarah yang telah menodai Istana Dewa Ruci atau istana Dewa suci. Mereka berbuat mesum di istana itu. Padahal yang mereka lakukan itu adalah sebuah pelanggaran berat tak terampuni." terang si orang tua.

Penjelasan itu membuat Penujum Aneh lagi-lagi teringat dengan peristiwa ribuan tahun yang lalu yang pernah diceritakan oleh kakeknya. Seribu tahun lalu penguasa istana suci di pulau Rakata yang bernama Ratu Tri Anrutama.

Yaitu ratu ketiga yang menggantikan raja pertama dan kedua mempunyai seorang putri dan seorang putera.

Sang puteri yang cantik dibesarkan di istana Dewa Ruci sedangkan puteranya yang bernama Pangeran Bagus Anom Aditama yang kelak diharapkan menggantikan sang ratu setalah mangkat diasingkan ke gunung Krakatau untuk digembleng dan dijadikan satria sakti oleh seorang resi bernama Kalabat Unggul. Bertahun tahun sang pangeran dilatih limu olah kanuragan.

Dia juga diwarisi berbagai lmu kesaktian untuk dijadikan bekal dimasa yang akan datang.

Sebagai calon pengganti sang ratu ,pangeran berwajah tampan ini juga diberi kebebasan dalam menjalani hidupnya selama dalam penggemblengan sang resi. Sampai akhirnya segala ilmu sakti dan jurus jurus silat hebat yang diajarkan sang resi berhasil dikuasainya.

Pangeran Bagus Anom Aditama pun diperkenankan pulang kembali ke istana. Sekembalinya ke istana justru masalah baru yang tak pernah diduga oleh sang ratu jauh sebelumnya muncul.

Pangeran Bagus Anom yang pernah hidup jauh di luar istana selama lima tahun ternyata jatuh hati pada puteri Atut yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri.

Begitu pula sebaliknya. Sampai akhirnya terjadilah hubungan sedarah yang terkutuk itu. Para dewa murka.

Pulau Rakata dilanda petaka hebat.

Sebagian besar penghuni istana, para pejabat dan perajurit istana mendapat wabah berupa penyakit aneh yang sangat menular .Mula-mula serangan wabah membuat penghuni istana diserang demam tinggi dan penyakit gatal-gatal yang begitu hebatnya Sampai akhirnya mereka berubah menjadi mahluk aneh berupa sosok anjing dan akhirnya saling bunuh.

Sadar dengan murka para dewa dan malu atas perbuatan anak-anaknya. Ratu Tri Arutama menghukum kedua anaknya.

Puteri Atut digantung.

Mayatnya dimasukkan dalam peti mati kumala kemudian dikuburkan dibelakang istana.

Sedangkan Pangeran Bagus Anom Aditama setelah dihujani seribu pedang mayatnya dimasukkan di dalam peti lalu ditenggelamkan di dalam laut sebelah selatan gunung Krakatau. Tapi sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Sang pangeran bersumpah dia akan bangkit dari kematian seribu tahun kemudian, menjadikan setiap gadis perawan sebagai budak nafsunya, lalu membangun kekuatan dan mendirikan Istana cinta dengan pengikut-pengikut yang semuanya terdiri dari keturunannya sendiri.

Setelah peristiwa yang memalukan sekaligus menggemparkan itu. Ratu Tria Arutama meninggalkan istana.

Sebagian orang berpendapat sang ratu mengasingkan diri dan menetap disebuah tempat rahasia tak jauh dari Malingping .Dia hidup hingga dua ratus tahun kemudian .Seorang pengikut yang sangat setia terus mendampingi dan melayani segala kebutuhan sang ratu sampai akhir hayatnya.

"Penujum Aneh. Apalagi yang kau renungkan. Jangan melamun nanti setan kuburan malah menyusupimu? Ha ha ha."

Suara orang tua berperut besar yang keras membuat si kakek terkejut sekaligus tersadar dari tamunannya. Masih dengan wajah diliputi rasa heran dia menatap laki-laki itu.

Kemudian dengan suara perlahan dia bertanya lagi.

"Aku melihat lebah-lebah, sebelum muncul perempuan-perempuan muda dalam keadaan hamil besar. Apakah yang kulihat di alam gaib itu punya arti tertentu?"

Yang ditanya dongakkan kepala.

Mata berputar menatap ke arah bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit. Setelah menghela nafas orang ini menjawab.

"Semua yang kau lihat di alam gaib jelas saling berhubungan.Lebah yang kau lihat adalah lebah yang selalu mengiringi sang pangeran durjana kemanapun dia pergi."

"Aku tak mengerti maksud ucapanmu!" kata Penujum Aneh polos.

"Ah. Sebagai Penujum ternyata kau tolol juga. Lebah-lebah itu adalah awal petaka bagi setiap orang yang diantuknya. Begitu diantuk lebah orang yang menjadi korbannya akan mengalami demam

.Kemudian muncul perasaan aneh dalam dirinya. Perasaan itu berupa kasih sayang, rasa cinta serta keinginan dan hasrat tinggi selayaknya orang yang dimabuk asmara. Apakah kau sudah paham?"

Penujum Aneh anggukkan kepala tanda mengerti. Tapi masih ada pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Kembali Penujum Aneh membuka mulut

"Apakah semua kegiatan itu tak bisa dihentikan?"

Pertanyaan Penujum Aneh membuatnya kembali tertawa. Sambil meneguk tuaknya dia menjawab.

"Dihentikan? Siapa yang sanggup menghentikannya? Kau dan rajamu mungkin tak bisa melakukannya. Di tanah Dwipa ini kurasa hanya ada satu orang yang bisa melawan pangeran durjana."

"Siapa? Katakan padaku!"

Si orang tua mengusap perutnya yang basah keringatan. Matanya menerawang menatap ke arah Penujum Aneh.

"Yang bisa menghentikan semua kegilaan pangeran durjana itu kurasa orang gila juga. Dia masih muda, datang dari sebuah pulau diseberang laut selatan. Dia bernama Raja, biasa disebut Raja Gendeng Sang Maha Sakti Istana Pulau Es. Tapi siapa yang bisa mencari dan menemukan orang seperti dia? Setan saja kurasa sulit menemukannya"

"Ah. Sang Maha Sakti Raja Gendeng. Belakang aku sering mendengar sepak terjangnya menjadi pembicaraan orang. Dia begitu hebat dan memiliki sebuah senjata aneh bernama Pedang Gila. Tapi mungkinkah orang gendeng bersenjata gila seperti dia mampu membantu menyelesaikan persoalan yang rumit ini?" gumam Penujum Aneh ragu

"Ha ha ha. Mengapa kau meragukan kehebatan yang dimiliki oleh seseorang. Kau tidak perlu merisaukannya. Yang terpenting saat ini kau temui saja prabu Tubagus Kasatama. Sampaikan apa yang kukatakan padamu dan ceritakan yang kau lihat di alam gaib. Prabu harus memberi peringatan pada seluruh rakyatnya. Setiap penduduk juga aku harapkan membuat api unggun begitu matahari hampir tenggelam."

"Untuk apa?"

"Oalah, mengapa ketololanmu tambah menjadi-jadi. Api unggun dan asap dibutuhkan untuk mengusir lebah, mencegah mahluk-mahluk jahat itu masuk ke rumah dan menyerang gadis-gadis muda. Bukankah lebah tak suka asap dan takut pada api?"

Menerangkan si orang tua dengan perasaan jengkel. Sebaliknya Penujum sendiri merasa tidak senang karena berulang kali si perut gendut menyebutnya tolol

"Orang tua. Aku berterima kasih atas petunjuk yang kau berikan. Tapi mengingat aku jauh lebih tua darimu. Aku tidak suka dengan ucapanmu yang menyebutku sebagai manusia tolol. Apakah kau tidak bisa berlaku sopan dihadapanku?"

"Ha ha ha. Tak kusangka kau marah lagi. Memangnya berapa usiamu orang tua?"

Si perut gendut balik bertanya. Walau heran, Penujum Aneh jawab juga pertanyaan itu "Aku berusia sembilan puluh tahun."

"Sembilan puluh tahun? Kau berpikir dirimu lebih tua dariku ya?" "Memang umurmu berapa pemabuk aneh?"

"Umurku? Ha ha ha. Aku bahkan lebih tua dari embah buyutmu. Aku sudah cukup tua bahkan sebelum kakek moyangmu terlahir ke dunia."

"Hah?!"

"Tak usah kaget Penujum Aneh. Usiaku saat ini lebih dari tujuh ratus lima puluh tahun. Kau seharusnya memanggil eyang buyut padaku. He he he...!

Kaget dihati sang Penujum bukan kepalang.

"Wajah dan penampilannya seperti orang berumur lima puluh tahun. Siapa menyangka umurnya lebih dari tujuh ratus tahun. Benar-benar gila. Apa yang membuatnya tetap awet muda?" batin Penujum Aneh takjub.

"Nah kau melamun lagi? Apa yang kau tunggu, lekas tinggalkan tempat ini. Temui raja dan sampaikan semua yang kau ketahui!"

Desak si gendut .Mendengar perintah si orang tua Penujum Aneh anggukkan kepala. Namun sebelum tinggalkan tempat itu dia ajukan pertanyaan "Orang tua panjang usia. Kau belum perah menjawab siapa dirimu .Aku mohon kau mau berterus terang tentang dirimu."

"Hmm, sudah lama aku lupa pada namaku sendiri. Tapi dunia persilatan memberiku julukan Dewa Mabuk. Apakah kau puas? Ha ha ha.." jawab si gendut yang ternyata berjuluk Dewa Mabuk ini disertai tawa tergelak

"Astaga! Aku tak pernah menyangka berhadapan dengan orang sehebat dirimu Dewa Mabuk. Aku yang berilmu rendah dan tak punya ke pandaian apa-apa ini mohon maaf.Terimalah hormatku." ujar Penujum Aneh

Sambil rangkapkan dua tangan di depan dada dengan sikap segan cepat si kakek bungkukkan badan menghormat pada Dewa Mabuk. Tapi begitu dia kembali tegak, turunkan kedua tangan dan menatap ke depan.

Penujum Aneh dibuat takjub Dewa Mabuk hilang raib berubah menjadi kepulan asap.

"Aneh, Apakah benar aku bertemu dan bercakap-cakap dengin orang tua sakti itu?" desis sikakek seolah tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Seakan mendengar apa yang dikatakan Penujum Aneh. Dikejauhan terdengar suara gelak tawa dan santernya aroma tuak. Lalu sayup sayup terdengar ucapan

"Kau telah bertemu dan bercakap-cakap denganku. Jadi jelas kau tak bicara dengan setan yang menyerupai diriku. Namun terus terang kau baru bertemu dengan bayanganku saja, bukan ujudku yang asli. Ha ha ha "

"Apa? Manusia yang memiliki ilmu kesaktian hebat sekalipun belum tentu sanggup mengirimkan bayangan dan bicara padaku. Aneh, edan.betul ujar-ujar yang mengatakan di atas langit masih ada langit." gumam Penujum Aneh sambil melangkah pergi.

*****

Hari kesembilan setelah berlalunya angin ribut yang memporak porandakan sebagian kawasan di pulau Rakata. Para nelayan yang menetap tinggal di kawasan pantal Carita dapat tidur nyenyak dengan perut kenyang. Setelah berhari-hari mereka tidak melaut akibat terhalang ombak dan badah. Beberapa hari belakangan mereka dapat melaut lagi dengan hasil tangkapan yang sangat melimpah. Siangnya suasana di pasar dipadati oleh para pembeli. Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan terjual habis hingga para nelayan dapat menutupi kebutuhan keluarganya dari hasil menjual ikan. Waktu bergulir. Saat hari beranjak malam suasana pasar di tepi pantai itu berubah menjadi sunyi.

Tidak satupun penduduk yang berkeliaran di tempat itu. Para nelayan memilih tinggal bersama anggota keluarga sekadar bersenda gurau ataupun melepaskan lelah. Sementara itu tak jauh di ujung timur pantai.

Dua ekor kuda besar berbulu putih berlari cepat menelusuri alur pantai yang berpasir putih. Duduk diatas pelana kuda masing-masing dua orang gadis berwajah cantik rupawan. Gadis penunggang kuda di sebelah kiri berpakaian putih ringkas selayaknya pengelana dunia persilatan sedangkan gadis satunya lagi berpakaian biru dengan sebuah pedang tergantung di punggungnya. Sambil terus memacu kuda tunggangannya masing-masing. Gadis berpakaian putih yang membekal pedang di bagian pinggang membuka mulut

"Lihatlah! Malam ini suasana sangat cerah sekali. Langit biru, bintang bertaburan dan bulan bersinar dengan indahnya. Pemandangan indah seperti ini tidak akan pernah kita dapatkan bila tetap tinggal mengurung diri di istana kaputren."

"Kau benar kakak. Dapat bepergian dengan bebas selayaknya orang biasa bagiku memang terasa lebih menyenangkan. Tapi kita sudah terlalu jauh dari istana. Kepergian kita bahkan tidak diketahui oleh bunda dan ayahanda Gusti Prabu. Begitu ayahanda mengetahui kita tidak berada di kaputren.

Beliau pasti marah besar. Dan esok begitu kita kembali, ayahanda pasti bakal menjatuhkan hukuman berat pada kita." kata gadis berpakaian biru itu khawatir.

Gadis cantik berpakaian putih berambut panjang digelung ke atas itu terdiam. Sebagai dua orang puteri raja, keduanya memang kerap kali melakukan pelanggaran-pelanggaran dari aturan ketat istana. Salah satu aturan yang sering mereka lakukan adalah pergi meninggalkan istana secara

diam-diam. Walau untuk perbuatan yang mereka lakukan itu mereka sering mendapat hukuman pengurungan diri tanpa diberi makan dari sang raja.

"Aku tahu kau juga takut. Bukankah begitu kakak Arum Senggini. Tapi lebih baik jangan kau pikirkan apa yang kukatakan tadi. Sekarang mumpung kita dapat menghirup udara bebas. Aku rasa sebaiknya kita manfaatkan waktu yang kita miliki untuk menghibur diri "ujar gadis berpakaian hijau yang tak lain adalah Puteri Nila Agung

"Berkali-kali melanggar aturan. Aku tidak takut lagi dengan hukuman akibat pelanggaran yang kita lakukan, Aku lebih memilih melupakan soal itu. Satu hal yang membuatku heran, mengapa pantai ini terasa sunyi? Padahal di waktu lalu disaat bulan purnama seperti ini. Kawasan pantah Carita ini ramai dipenuhi penduduk menikmati indahnya alam dimalam hari."

"Mungkin mereka takut keluar rumah."sahut Puteri Nila Agung

"Apa maksudmu?" tanya Puteri Arum Senggini sambil menoleh pada sang adik

"Apakah kakak tidak mendengar. Seorang pangeran cinta yang biasa disebut Pangeran Durjana baru saja bangkit dari kematiannya. Pangeran itu kabarnya mencari gadis-gadis cantik untuk dijadikan pasangan bercintanya. Kabarnya pangeran durjana itu mempunyai wajah yang sangat tampan. Sehingga tak seorang gadis pun yang punya kekuatan menolak hasrat keinginannya."

"Aih. Merinding aku mendengarnya. Darimana kau mendengar kabar tentang pangeran penakluk itu?" tanya sang kakak sambil terus memacu kudanya .Puteri Nila Agung tertawa hingga terlihatlah kedua lesung pipinya yang indah. Baru kemudian menjawab.

"Paman Patih Tubagus Aria Kusuma yang mengatakan tentang itu padaku. Beliau mengetahuinya dari kakek Penujum Aneh Juru Obat Delapan Penjuru Penujum kuakui kau tahu banyak hal-hal yang belum terjadi. Tapi yang aku herankan mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tanda-tanda kehadiran pangeran durjana."

"Eh, amit-amit. Biarpun tampan aku tak bakal sudi berteman dekat dengan orang yang pernah mati." sahut sang kakak dengan tubuh bergidik dan wajah membayangkan rasa takut sekali.

Melihat ini sang adik tertawa tergelak-gelak. Tapi suara merdu sang dara mendadak lenyap, Kedua matanya membelalak lebar begitu melihat di kejauhan sana tepat di dusun nelayan itu para penduduk berlarian tak tentu arah dalam keadaan ketakutan dan menjerit-jerit seperti tak berkeputusan. Dari tempat mereka berada keduanya melihat orang-orang itu begitu sibuk menghalau sesuatu sambil mengibaskan benda apa saja yang berada di tangan mereka

"Apa yang terjadi dengan mereka?1" kata puteri Arum Senggini sambil menghentikan lari kuda sekaligus menatap heran ke arah penduduk yang berlarian menyelamatkan diri .Puteri Nila Agung yang ikut menghentikan lari kuda tidak menjawab. Sebaliknya dia menatap ke arah kejauhan di depan sana dengan mata menyipit

"Aku tak tahu apa yang mereka alami. Tapi menurutku ada sesuatu menyerang mereka. Suatu makhluk berukuran kecil namun ganas menakutkan!" sahut puteri Nila Agung

"Kita harus mencari tahu apa yang dialami penduduk itu. Mari kita pergi kesana." ujar puter Agung Senggini sambil hentakkan tali kekang kuda hingga binatang besar itu meringkik keras dan menghambur ke depan. Sambil anggukkan kepala sang adik segera menyusul sang kakak. Setelah memacu kuda beberapa saat kemudian keduanya pun sampai di tempat yang dituju.

Tetapi ketika kedua puteri itu sampai disana. Mahluk yang menyerang para penduduk desa telah pergi entah kemana. Kedua gadis ini layangkan pandang ke seluruh kawasan pantai. Mereka melihat mayat-mayat yang bergelimpangan. Mereka yang terluka maup n yang menemul ajal umumnya terdiri dari anak laki-laki, orang tua dan juga para perempuan yang sudah berusia lanjut. Tubuh mereka menggembung bengkak seperti disengat lebah. Sementara dari mulut hidung, mata dan telinga meneteskan darah. Penasaran melihat keanehan yang terjadi. Puteri Arum Senggini cepat melompat turun dari kudanya. Tak mau ketinggalan sang adik pun segera mengikutinya. Satu demi satu tubuh yang bergelimpangan itu mereka periksa

"Banyak yang mati. Mereka tewas disengat .Aku yakin sekali kawanan lebah telah menyerang penduduk ini." gumam puteri Nila Agung yang segera saja teringat dengan cerita patih Tubagus Aria Kusuma tentang kebangkitan pangeran durjana dari kematian bersama lebah-lebahnya yang dikenal dengan nama Lebah Kepala Hati Berbunga.

"Penduduk yang menjadi korban tidak sedikit." ujar puteri Arum Senggini menanggapi ucapan adiknya.

"Berapa banyak lebah yang menyerang mereka? Lagi pula mengapa hanya para lelaki, anak dan para perempuan tua saja yang menemul nasib seperti ini? Kemana perginya para anak gadis para nelayan ini?!"

Puteri Nila Agung tersentak kaget .Jantungnya berdetak keras.

Darah berdesir. Wajahnya pucat membayangkan rasa khawatir

"Gadis-gadis Itu.Mungkin mereka mengalami nasib yang buruk. Mungkin mereka dibawa ke suatu tempat untuk dijadikan korban pelampiasan nafsu pangeran itu."

Puteri Arum Senggini menatap adiknya lekat- lekat. Sambil menelan ludah basahi tenggorokan yang mendadak kering dia membuka mulut

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Puteri Nila Agung gelengkan kepala

"Aku hanya menduga. Dugaanku berdasarkan penjelasan paman patih kepadaku. Tapi firasatku juga mengatakan para gadis Itu berada dalam ancaman bahaya yang jauh lebih besar dari sekedar kematian."

"Hmm, tempat ini sekarang tidak aman. Menurutku alangkah lebih baik kita kembali ke istana secepatnya. Aku tidak mau menjadi budak cinta, aku juga tak sudi menjadi budak nafsu pangeran kematian."

Sambil berkata begitu puteri Arum Senggini bangkit berdiri.

"Apakah kita mau pergi begitu saja. Tanpa mau memikirkan penduduk yang menjadi korban?" tanya puteri Nila Agung menyusul bangkit.

"Siapa yang hendak kita tolong. Kita bukan tabib. Orang-orang ini hampir semuanya mati.

Sisanya dalam keadaan sekarat!" sahut sang kakak jerih.

Belum sempat adiknya membuka mulut.Tiba-tiba terdengar suara rintih tertahan datang dari arah belakang mereka.

"Tolong...tolonglah aku. Putriku....putriku harus diselamatkan dari mahluk-mahluk laknat itu..."

Walau terkejut. Kedua gadis ini cepat memutar tubuh balikan badan. Begitu mereka menatap ke depan. Keduanya memekik kaget. Di depan sana sejauh satu tombak dari tempat kedua putri ini berdiri terpampang sebuah pemandangan seram menggenaskan.

Mereka melihat seorang laki-laki tua tergeletak terkapar diatas pasir. Wajah laki-laki itu lebam bengkak membiru. Sedangkan sebagian tubuhnya yang lain terdapat beberapa luka menganga bersimbah darah. Orang tua ini tidak sendiri. Dia bersama seorang bocah laki-laki benumur sekitar tujuh tahun. Bocah itu diam tidak bergerak. Ketika Arum Senggini dan Nila Agung datang menghampiri dan memeriksa keadaan si bocah dalam dekapan laki-laki tua itu. Ternyata si bocah telah kehillangan nyawanya.

"Apa yang telah terjadi disini, ki?" tanya puter Nila Agung sambil pegangi lengan si orang tua yang terasa panas. Yang ditanya megap-megap. Mata mendelik, jelalatan dan terlihat menyimpan ketakutan yang sangat luar biasa. Dengan nafas tersengal dia berusaha membuka mulut menjawab pertanyaan sang puteri

"Iblis itu datang bersama lebah-lebah pembunuh. Dia memasuki rumah seluruh penduduk di pantai ini. Anak-anak gadis entah mengapa mendadak bertingkah aneh begitu disengat oleh kawanan lebah.

Mereka pergi mengikuti iblis itu" terangnya dengan suara terbata

"Lalu apa yang membuat dirimu dan yang Lainnya terkapar? Kulihat kau menderita keracunan hebat ki..."

Puteri Arum Senggini bertanya pula.

"Yang yang menyerang kami kawanan lebah itu juga." jawab si orang tua dengan tubuh mulai bergetar.

Kedua puteri ini saling pandang .

"Serangan mahluk yang sama, tapi mengapa akibatnya berbeda?" kata Arum Senggini "Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan ada kawanan lebah bisa membunuh begini

banyak."ujar Nila Agung pula.

Kemudian sang puteri kembali menatap orang tua itu.

Dari keadaan luka dan beberapa dari sengatan yang parah.

Gadis sadar jiwa orang tua itu tak bakal tertolong. Tidaklah heran Nila Agung buru-buru ajukan pertanyaan.

"Ki kami akan berusaha menolong sekaligus membebaskan anak gadismu dan juga anak gadis yang lain. Tapi kami ingin tahu kemana iblis itu membawa mereka?"

Walau didera penderitaan sakit yang luar biasa.

Namun ada kelegaan di mata si orang tua setelah mendengar ucapan Nila Agung. Dengan bersusah payah dia menjawab.

"Iblis membawa para gadis menuju ke arah timur Aku..akh" Suara si orang tua terputus.

Dia tidak pernah sempat menyelesaikan ucapannya.

Orang tua itu menggelepar, dari mulutnya terdengar suara mengorok. Tak lama kemudian darah menyembur dari mulut dan hidungnya.

Begitu kepala orang tua terkulai. Tidak berselang lama dari kepala hingga ke bagian kaki terlihat asap mengepul tipis berwarna hitam menebarkan bau amis menyengat.

Tubuh si orang tua meleleh. Melihat pemandangan mengerikan terjadi di depannya kedua putri ini keluarkan seruan kaget Mereka bersurut mundur, kemudian secepat kilat segera bangkit berdiri.

Dengan wajah pucat diliputi perasaan ngeri keduanya kitarkan pandang memperhatikan keadaan disekitarnya. Mata kedua puteri ini terbelalak lebar begitu melihat semua orang yang bergelimpangan di tepi pantai itu ternyata mengalami hal yang sama.

Tubuh meleleh kepulkan asap hitam dan tebarkan bau amis yang membuat sesak pernafasan mereka .Melihat pemandangan mengerikan seperti itu hati Nila Agung bergetar, nyalinya yang pemberani kini ciut.

"Aku tak mau berlama-lama disini.Lebih baik kita kembali ke istana.Kita harus menceritakan semua yang kita lihat pada ayahanda gusti prabu."

ucapnya dengan suara tercekat. Puteri Arum Senggini ternyata nampaknya lebih tenang menyikapi malapetaka yang terjadi di tempat itu. Dengan suara tegas dia menjawab.

"Mengapa harus pulang terburu-buru? Tidakkah sebaiknya kita harus kejar iblis pembawa lebah itu. Lalu menangkapnya. Dia harus dihukum berat atas semua perbuatan yang telah dia lakukan di tempat ini."

"Walau puteri sseorang raja. Kita bukan gadis lemah. Sejak kecil kita belajar silat dan belajar ilmu kesaktian. Aku yakin dengan kekuatan yang kita miliki kita berdua pasti sanggup menyingkirkan mahluk pembawa malapetaka itu!" terang Arum Senggini.

Puteri Nila terdiam.Jauh dilubuk hatinya masih ada keragu raguan mengusik kalbu .Namun karena sang kakak terus mendesak Walau merasa kurang setuju dan dengan hati berat gadis ini anggukkan kepala

"Hmm, kita sudah sama sepaakat. Aku yakin penculik gadis-gadis itu belum terlalu jauh pergi dari sini. Dengan berkuda kita pasti bisa menyusulnya"

"Terserah apa keputusanmu, kakak.Aku mengikut saja!" sahut Nila Agung.

Tanpa membuang waktu dengan diikuti sang kakak Nila Agung bergegas menghampiri kudanya.

Namun belum lagi keduanya sampai pada kuda yang mereka tuju.

Tiba-tiba saja dua kuda besar berbulu putih keluarkan ringkikan keras.

Dua kaki depan diangkat tinggi, bulu tebal dibagian leher sebelah atas berjingkrak tegak.

Dan kedua kuda itu berlari ketakutan menghambur menjauhi majikannya. Kaget dihati kedua puteri ini bukan kepalang. Mereka sadar kedua kuda putih itu tak mungkin menjauh menyadari tempat itu jika tidak ada yang mereka takuti.

"Ada orang jahat disekitar sini!" seru Arum Senggini.

Dengan sikap penuh waspada sang puteri segera mencabut pedang. Adiknya juga melakukan hal yang sama. Saling memunggungi. kedua orang ini menatap ke seluruh penjuru arah. Kesunyian menggantung di udara. Hanya gemercik air sesekali menghempas ke pantai. Tapi kesunyian tak berlangsung lama. Sekonyong-konyong terdengar suara angin menderu. Pasir putih yang menghampar disepanjang pantai berterbangan. Bersamaan dengan itu terdengar pula suara gelak tawa. susul menyusul, saling tindih memekakkan telinga "Kurang ajar. Siapa yang menertawai kita" rutuk Arum Senggini sambil kertakan rahang. "Eeh mungkin.mungkin setan penghuni pantai ini kak!" menyahuti Nila Agung jerih

"Setan gundulmu. Mengapa tiba-tiba saja kau berubah jadi penakut?" hardik Arum Senggini kesal "Aku, aku bukannya takut kakak. Aku cuma kepingin pipis!"sahut Nila Agung agak terbata juga

merasa malu

"Ada-ada saja. Kalau mau kencing, silahkan .Tapi jangan merubah posisi, Lebih baik kau kencing dicelana!" hardik sang kakak tambah marah

"Ah kau jangan keterlaluan. Aku sudah besar begini kau suruh pipis dicelana?" "Perduli apa? Tidak ada yang melihat ini!"

Dengus Arum Senggini sinis.Nila Agung terdiam. Dia tidak ingin membuat saudara tuanya jadi tambah marah. Sementara suara tawa menggelegar tiba-iba terhenti.

Deru angin dingin yang membuat butiran pasir beterbangan lenyap .Kemudian ada suara orang berkata.

Yang mengejutkan suara itu datang dari balik hamparan pasir tak jauh dari tempat mereka berdiri

"Dua orang gadis cantik dan puteri raja pula. Kalian datang terlambat. Sayang lebah-lebahku terlanjur pergi jauh.Padahal seharusnya lebah lebah itu mengantuk dan menyengat kalian.Dengan begitu kalian akan menjadi pengantinku. Tapi tidak mengapa, aku datang menjemput membuang waktu menyempatkan diri menghampiri kalian. Bagiku kalian adalah sebuah karunia dewa serta hadiah yang tak ternilai harganya."

"Sayangku, apakah kalian sudah siap pergi bersamaku? Ha ha ha."

"Apa kataku kakak. Tempat ini memang ada setannya. Setannya menetap di dalam pasir. Biar aku kencingi sekalian!" kata Nila Agung tiba-tiba.

Tidak terduga gadis ini melompat ke depan. Tanpa membuka pakaian disebelah bawah dia sudah siap pancarkan air kencing.Tapi sosok yang mendekam di dalam pasir sepertinya melihat apa yang dilakukan si gadis. Sambil memaki dia melesat keluar dari tempat persembunyiannya.

"Puteri jahanam! Beraninya kau hendak mengencingi seorang pangeran terbormat sepertiku"

Suara lenyap. Timbunan pasir muncrat bertebaran di udara. Satu sosok tubuh bertelanjang dada melesat ke udara, melambung di ketinggian lalu berjumpalitan beberapa kali kemudian jejakan kaki di depan mereka. Melihat kehadiran laki-laki berambut panjang berwajah dan berpenampilan selayaknya orang yang baru bangkit dari liang kubur itu. Nila Agung segera berlari hampiri saudaranya

"Itu setannya kakak." kata Nila Agung setelah berada disamping Arum Senggini. "Diam. Dia sama sekali bukan setan. Dia mengaku seorang pangeran? Pangeran apa?

Tampangnya buruk sekalii seperti hantu kuburan?!" Kata Arum Senggini dengan suara lirih pula. Melihat kedua puteri itu bicara berbisik-bisik. Laki-laki tinggi berambut panjang riap-riapan bercelana hitam lusuh bertubuh putih pucat jadi tidak sabar .Sambil melangkah maju dia berkata,

"Aku adalah Pangeran Bagus Anom Aditama putera mahkota istana Dewa Ruci di pulau Rakata.

Orang menjuluki aku Pangeran Durjana, namun aku lebih suka disebut Sang Pecinta Dari Alam Kematian. Kalian berdua sebaiknya ikut bersamaku. Aku akan memberikan kesenangan tiada taranya pada kalian. Disamping itu kalian juga akan memberikan keturunan padaku. Kalian akan hamil, akan mengandung dalam waktu tak begitu lama.Cukup sepekan setelah kehamilan, kalian segera melahirkan.Ha ha ha..."

Kejut dihati Arum Senggini bukan kepalang begitu melihat lelaki yang mengaku bernama Pangeran Bagus Anom Aditama atau pangeran durjana tahu-tahu telah berada begitu dekat dengan mereka.

Sekali tangan dikembang dan digerakkan ke depan, tangan itu menjulur panjang siap memeluk sekaligus meringkus Arum Senggini dan Nila Agung. Tak ingin celaka ditangkap orang.

Sambil keluarkan seruan kaget Arum Senggini dorong adiknya ke samping sebelah kiri.

Sementara dia sendiri melompat ke sebelah kanan, hingga gerakan Pangeran Durjana hanya menangkap angin. Walau sempat jatuh terguling-guling. Sementara pakaian dan kulit tubuhnya yang putih halus dipenuhi pasir.

Namun Nila Agung merasa bersyukur karena lolos dari sergapan. Sedangkan sang Pangeran Durjana sendiri yang menyadari bahwa dua gadis cantik yang menjadi incarannya lolos hanya menyeringai walau di dalam hati sebenarnya marah dan penasaran

"Wahai, gadis-gadisku.Calon pengantinku Ternyata kalian cukup lincah, Aku sangat suka dengan gadis lincah. Aku yakin kalian pasti sangat luar biasa bila bersamaku Ha ha ha!"

"Mahluk menjijikkan. Wajah buruk, bermulut busuk. Kau sama sekali tak punya daya tarik sebagai laki-laki .Makanlah pedangku!" geram Arum Senggini sambil melompat ke depan sekaligus babatkan pedang ditangan ke bagian wajah dan leher Pangeran Durjana .Melihat serangan ganas datang mengancam bagian tubuh yang mematikan sang Pangeran bukannya selamatkan diri. Sebaliknya sambil tertawa dia songsong datangnya pedang sementara itu mulut berkata

"Wajah buruk ini mungkin tidak menarik bagimu. Tapi bagaimana nanti bila aku memperlihatkan rupaku yang sebenarnya? Kalian pasti jatuh hati, tak mau jauh dariku dan selalu meminta aku ajak bercinta!" berkata begitu tangan yang kokoh besar dan diselimuti lendir puth lengket berkelebat

Wuus! Trang!

Terdengar suara berdentrang disertai pjaran bunga api begitu lima ujung jari Pangeran Durjana yang berkuku hitam panjang membentur pedang di tangan Arum Senggini .Sang puteri keluarkan seruan kaget. Tubuhnya terdorong mundur.

Tangan yang memegang pedang bergetar dan terasa membeku .

"Ternyata dia memiliki ilmu kesaktian tak berada di bawahku.Jika sampai beberapa jurus ke depan aku tak sanggup membunuhnya.Aku harus beri tahu adikku agar angkat kaki secepatnya dari tempat ini"

Kata sang dara begitu jejakan kaki di tanah .Sementara itu melihat sang kakak tak mampu membuat cidera lawannya. Nila Agung tiba-tiba berkata.

"Kakak..mari kita habisi mahluk jelek ini bersama-sama." Belum lagi gema suara gadis berlesung pipit ini lenyap.

Tahu-tahu dia telah jatuhkan diri di atas pasir.

Selanjutnya seperti batangan kayu Nila Agung gelindingkan tubuhnya ke arah Pangeran Durjana

.Melihat lawan menyerang dengan cara yang aneh.

Pangeran Durjana sempat dibuat tertegun.

Dia tak tahu kalau Nila Agung yang sangat menguasai jurus sakti Inti Bumi ini tengah mengerahkan jurus-junerus yang menjadi andalannya

"Aku hantam dia dari bawah, Kalau benar tubuhnya alot, kebal dengan senjata begitu dia lambungkan diri kau serang dia dari atas. Aku yakin saat tidak menyentuh tanah dia menjadi mudah untuk dilukai." kata Nila Agung melalui ilmu ngiangan suara. Arum Senggini anggukan kepala.Dalam hati dia memuji kecerdikan adiknya.

"Hiat.... Putus kedua kakimu!" teriak Nila Agung.

Sambil berguling tak ubahnya ombak yang bergulung-gulung pedang ditangan sang puteri berkiblat membabat ke arah kedua kaki Pangeran Durjana dengan kecepatan luar biasa. Cahaya putih terang menyilaukan berpijar di udara. Hawa panas menebar memberangus kedua kaki sang pangeran yang menjadi sasaran. Tak menyangka ternyata gadis ini memiliki jurus serta senjata lebih hebat dari sang kakak.

Pangeran Durjana kali ini tidak mau berlaku gegabah dengan menyambuti serangan pedang itu Dengan gerakan cepat sulit diikut kasat mata dia lambungkan diri ke udara.

Serangan Nila Agung luput, namun pijaran cahaya yang memancar dari pedang Nila Agung sempat menyambar betisnya

"Bangsat! Cahaya pedang gadis itu membuat kakiku panas!" makinya diketinggian. Sementara melihat lawan berada diatas ketinggian. Kesempatan ini di segera dipergunakan oleh Arum Senggini untuk menyerang lawannya. Dengan menggunakan jurus Serangan Walet Biru yang didukung ilmu meringankan tubuh yang sudah sempurna, si gadis tiba-tiba lambungkan diri menyusul lawannya

.Seperti walet menyambar pedang di tangan Arum Senggini berkiblat. Suara deru dan kilatan cahaya merah berkiblat ganas menghantam bagian perut juga bahu Pangeran Durjana. Merasakan ada sambaran hawa dingin serta kilatan pedang siap menembus tubuhnya lawan tak mau mengambil resiko. Dia segera berjumpalitan ke belakang selamatkan diri.Sementara dua tangan secara bersamaan lepaskan pukulan ke arah Arum Senggini. Tidak terdengar suara menderu, tidak terlihat pula kilatan cahaya yang memancar dari kedua tangan laki-laki itu.

Tetapi di depannya Arum Senggini tiba tiba merasakan tubuhnya seperti dihantam gunung es yang teramat dingin luar biasa, sementara pedang yang seharusnya membabat menjebol bagian perut seolah membentur batu tembok tebal yang sulit ditembus.

Sungguhpun gadis ini berusaha bertahan sambil melipat gandakan tenaga dalam ke bagian tangan kanan kiri. Tapi himpitan gunung es yang tak terlihat dan bersumber dari serangan Pangeran Durjana makin menjadi-jadi, membuat sekujur tubuhnya serasa membeku dan sulit digerakkan. Tak dapat dicegah lagi Arum Senggini meluncur deras ke bawah dan jatuh terbanting .Segala kesulitan yang dialami sang kakak ternyata tidak terlepas dari perhatian adiknya. Kelihatan Arum Senggini jatuh terjengkang setelah terkena hantaman serangan yang tidak terlihat itu, Nila Agung hentakkan kakinya ke tanah. Gadis itu tiba-tiba melambung. Tubuhnya berputar tak ubahnya titiran. Demikian pula dengan pedang yang berada dalam genggaman tangannya.

Dengan gerakan cepat tak terduga ujung pedang kemudian menembus telapak kaki Jes!

Bret!

Pangeran Durjana menjerit keras. Dari ketinggian tubuhnya meluncur deras ke bawah. Lalu jatuh di atas pasir dengan suara bergedebukkan. Sedangkan mulut meraung kesakitan .

Nila Agung sebenarnya siap hendak menghabisi lawan. Namun gerakkannya untuk melakukan serangan susulan mendadak urung begitu mendengar suara erangan saudaranya .Bergegas dia balikkan badan. Lalu melangkah lebar datangi Arum Senggini. Begitu sampai di depan saudaranya. Gadis ini langsung jatuhkan diri begitu melihat sekujur tubuh sang kakak nampak pucat kebiruan, dari mulut dan hidung mengucurkan darah. Sedangkan ketika Nila Agung menyentuhnya Tubuh Arum Senggini terasa dingin luar biasa.

"Astaga! Tubuhmu dingin seperti es. Nampaknya kau menderita cidera di bagian dalam. Kita harus kembali ke istana. Serangan mahluk jahanam itu walau tak terlihat ujudnya ternyata sangat ganas sekali." desis Nila Agung cemas juga tegang.

"Kerajaan Malingping sangat jauh dari sini. Aku tak mungkin selamat. Tinggalkan aku! Lebih baik kau selamatkan dirimu sendiri. Cari bantuan ! Iblis p ©rusak masa depan wanita itu harus dihentikan!"kata Arum Senggini dengan suara bergetar dan sekujur tubuh menggigil kedinginan.

Nila Agung gelengkan kepala. Apa yang dialami saudaranya bagi gadis jenaka ini merupakan sebuah pukulan telak baginya.

"Aku memang harus pergi, namun kau juga harus ikut serta. Mari kugendong."ujar Nila Agung berusaha bersikap tabah.

Dengan cekatan gadis itu membantu kakaknya bangkit berdiri.Hati Nila Agung sedikit lega ketika melihat kuda mereka ternyata tak jauh dari tempatnya berada. Namun ketika Arum Senggini berada dalam gendongan di punggung belakang. Tiba-tiba saja terdengar suara getak tawa. Nila Agung terkesima. Dia menoleh ke samping.

Sang puteri tercekat begitu sadar orang yang mentertawainya ternyata adalah Pangeran Durjana. Yang membuat sang puteri tercengang. Sang pangeran kini tidak sendiri. Disampingnya berdiri tegak empat laki-laki lain berpenampilan dan mempunyai bentuk wajah sama persis dengan laki-taki itu.

"Ha ha ha! Gadis jenaka dan cerdik. Dengan hanya melubangi tumitku, bukan berarti kau sudah mengalahkan aku? Kau tihat sekarang aku tidak sendiri. Aku punya kembaran yang lain." kata Pangeran Durjana disertai tawa dingin.

"Bagaimana mungkin tiba-tiba dia bisa menjadi lima orang!" desis Arum Senggini dengan mata setengah terpejam dan menahan sakit luar biasa.

"Aku juga tidak tahu."

Lirih Nila Agung menjawab.

"Apakah mungkin dia mempunyai saudara kembaran?" gadis itu balik bertanya pula.

"He he he. Kalian tidak usah bingung memikirkan kami. Ketahuilah, saudara tuamu itu telah terkena pukulan Selubung Gaib Mayat Es. Lebih baik kau serahkan dia padaku. Hanya aku yang bisa mengobatinya! Kalau tidak segera ku tolong dia pasti mati." ucap sang Pangeran ditujukan pada Nila Agung

"Aku tak akan menyerahkan saudaraku pada mahluk busuk sepertimu!" jawab gadis itu sengit.

Belum sempat Pangeran Durjana membuka mulut tanggapi ucapan puteri Nila Agung. Tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan selayaknya suara kuntilanak. Nila Agung tertegun. Dia berusaha mencari tahu darimana suara tawa berasal. Sebaliknya Pangeran Durjana dan empat laki-laki lain yang mirip dengannya nampak gelisah dan wajah tegang. Suara tawa mirip perempuan lenyap. Lalu terdengar ucapan.

"Bagaimana jadinya kalau aku juga ternyata sanggup menyembuhkan puteri cantik itu? Ilmu pukulan sakti Selubung Gaib Mayat Es memang sangat hebat. Tapi di tempat asalku ilmu pukulan seperti itu tidak laku. Ha ha ha! " kata suara itu.

Lagi lagi terdengar suara bergelak. Namun kali ini suara tawa itu jelas suara laki-laki. Kelima laki-laki itu saling pandang sesamanya. Ada yang tidak beres. Hati mereka jadi gelisah. Pangeran Durjana balikkan badan menatap ke arah datangnya suara. Sementara empat lainnya diam menunggu namun meningkatkan kewaspadaan

"Monyet mana berani bicara ngacok di tengah malam indah begini? Sebaiknya tunjukkan diri dan jangan campuri segala urusanku!" kata sang pangeran sambil bertolak pinggang. "Ah beraninya kau bicara seperti itu di hadapan raja? Pangeran cabul mayat hidup sepertimu tak layak bicara sembarangan, Kau layak digantung jika berani membuat celaka kedua puteri itu!"

Sahut satu suara.

Seiring dengan terdengarrnya suara itu di atas wuwungan atap rumah penduduk terlihat satu bayangan putih berkelebat cepat ke arah mereka.

Tak sampai sekedipan mata tahu tahu di depan sang pangeran dan puteri Nila Agung telah berdiri tegak seorang pemuda gagah berwajah tampan berambut gondrong sebahu berpakaian putih dengan sebilah pedang tergantung di punggungnya. Sambil tersenyum cengengesan si pemuda memperhatikan orang -orang yang berada di sekitarnya. Melihat kehadiran pemuda yang tak lain adalah sang Maha Sakti Raja Gendeng, Pendekar dari Istana Pulau Es Empat laki-laki kembaran Pangeran Durjana segera berpencar menyebar mengepung pemuda itu. Si pemuda bersikap tenang dan acuh.

Sebaliknya dia malah memusatkan perhatiannya pada puteri Arum Senggini yang berada dalam gendongan adiknya.

Sekali melihat Raja Gendeng segera menyadari gadis itu memang mengalami cedera berat. Bila dia tidak segera menolong gadis itu, kemungkinan besar jiwanya tak akan terselamatkan "Gadis cantik " ucapnya ditujukan pada Nila Agung

"Aku sudah tahu dan mendengar siapa kalian.Sekarang turunkan saudaramu itu dari gendongan.

Aku akan melihat bagaimana keadaannya?" Sejenak Nila Agung terlihat ragu-ragu.

Tapi kemudian setelah merasa yakin pemuda tampan itu benar-benar hendak menolongnya dia segera menurunkan kakaknya dan merebahkan Arum Senggini di atas pasir. Begitu rebah, Raja datang menghampiri.

Ketika pemuda itu bersimpuh disamping Arum Senggini segera meneliti keadaan si gadis.

Pangeran Durjana yang merasa tidak dipandang sebelah mata bersama empat saudara kembarnya segera mempersempit pengepungan

"Sungguh pemuda gila tak tahu diri!"

Geram Pangeran Durjana marah. Melihat sang pangeran marah. Empat saudara lainnya juga ikutan marah.

Tapi Nila Agung tidak tinggal diam. Selagi Raja berusaha alirkan tenaga sakti ke tubuh saudaranya.

Gadis ini dengan senjata terhunus mengambil tindakan untuk melindungi sang kakak dan juga penolongnya

"Berani mendekat kalian semua kubunuh!" Teriak Nila Agung penuh ancaman. Sang Pangeran sadar dibandingkan Arum Senggini. Nila Agung memang memiliki jurus silat serta kesaktian dua tingkat diatasnya.

Namun dia tidak merasa khawatir atau gentar menghadapi gadis itu. Apalagi kini dia telah membagi diri menjadi lima kembaran.

Tidaklah heran, sambil menyeringai dingin dia anggukkan kepala memberi isyarat pada empat kembarannya.

Mendapat isyarat menyerang empat kembaran segera bergerak.

Sambil berlompatan mereka menyerang Nila Agung dari sisi sebelah kiri dan sebelah kanan. Melihat serangan ganas yang datang dalam waktu bersamaan Nila Agung berseru lantang "Mahluk-mahluk tak tahu diri!"

Secepat kilat menyambar, pedang di tangannya berkiblat. Cahaya putih menyambar disertai suara deru menggidikkan.

Meliha gadis ini berusaha melindungi diri dengan babatan pedang empat saudara kembaran Pangeran Durjana malah merangsak maju.

Satu diantaranya lancarkan totokan di dada sebelah kiri.

Dua yang menyerang dari sebelah kini berusaha menggebuk pinggang dan punggung si gadis.

Sementara satunya lagi menghantamkan kepala gadis itu. Totokan didada kiri yang dilancarkan kembaran pertama itu bukan totokan sembarangan.

Seseorang yang memiliki ilmu kesaktian dan tenaga dalam yang belum sempurna bila diserang tubuhnya menjadi kaku sementara jantungnya bakal mengalami kerusakan. Nila Agung sadar benar akan hal itu.

Itu sebabnya sambil berkelit hindari dua gebukkan. Nila Agung menangkis pukulan yang mengarah kebagian kepala.

Sementara pedang ditangan kanan dipergunakan untuk membabat lima jari tangan yang siap menyambar dadanya.

Wuuues! Sret!

Ces!

Kembaran pertama menjerit.

Tangan yang dipergunakan untuk menotok terbabat putus. Kutungan jemari bertebaran di tanah.

Laki-laki itu melompat mundur hindari tebasan pedang yang ke dua. Sementara tindakan penyelamatan diri yang dilakukan sang puteri ternyata tidak berlangsung mulus.

Walau dia berhasil selamatkan kepala dari pukulan orang namun punggungnya masih kena ditendang oleh kembaran ke tiga.

Gadis ini jatuh terjengkang namun segera bangkit dan menatap ke arah lawan-lawannya. Dia melihat darah mengucur dari tangan kembaran satu.

Tapi matanya menyipit, kening berkerut heran melihat darah yang keluar dari luka kembaran pertama tidak berwarna merah melainkan berwarna kehijawan. Ketika Nila Agung layangkan pandang ke arah Sang Pecinta Dari Alam Kematian.

Pangeran Durjana ini rupanya sejak tadi diam ditempat sambil mengawasi Raja dan jalannya perkelahian itu.

"Kau cukup tangguh puteri Cantik. Namun kau tak bakal sanggup menghadapi kami semua" dengus Pangeran Durjana sambil cibirkan mulut.

Belum sempat sang puteri menjawab, sang pangeran telah alihkan perhatiannya pada sang Maha Sakti Raja Gendeng. Merasa diperhatikan Raja yang baru saja salurkan hawa sakti kesekujur:tubuh Arum Senggini menanggapinya dengan senyum. Sambil tersenyum Raja berkata ditujukan pada gadis itu.

"Aku telah menguras habis hawa jahat yang mendekam dalam tubuhmu. Kau segera sembuh.

Sebaiknya kau segera duduk. Tarik natas dalam-dalam. Himpun tenaga dalam. Nanti bila kau sudah buang angin dengan lancar. Kurasa itu sebagai pertanda kau betul-betul pulih." kata Raja sambil kedipkan matanya.

Arum Senggini merasa heran melihat tingkah Raja yang dia anggap tak punya santun itu. Tapi dia merasa maklum karena pemuda itu telah menyelamatkannya dari kematian. Gadis itu menggeliat. Seolah baru tersadar. Raja cepat-cepat angkat dan jauhkan tangannya yang menempel di perut sang puteri.

"Terima kasih atas segala budi pertolonganmu." Ujar Arum Senggini lirih.

Lalu tanpa bicara apa-apa dia turuti apa yang dikatakan Raja. Dia duduk bersila dan mulai menghimpun kekuatannya kembali. Sementara itu sambil anggukkan kepala Raja menyahuti.

"Terima kasih kembali kasih. Melihat kau pulih kini hatiku berbunga-bunga. Semoga kau bersuka hati melihat kehadiranku, gusti puteri." kata Raja sambil bungkukkan badan pura-pura menjura hormat

"Bagaimana keadaannya? Apakah kakakku benar-benar dapat disembuhkan?" tanya Nila Agung sambil melirik kearah Raja.

Yang dilirik mesem-mesem saja lalu anggukkan kepala

"Saudari tua gusti puteri kujamin baik-baik saja" ucap pemuda itu

"Di hadapanku kuharap kau tidak memakai segala peradatan saudara. Tapi aku tetap menghaturkan terima kasih atas bantuanmu pada kami." kata si gadis.

Suaranya lirih dan tatapan matanya yang indah penuh arti "Ah. Maafkan aku. Namaku bukan saudara .Namaku Raja. Kau boleh memanggilku Raja..." terang Sang Maha Sakti

"Apakah kau seorang raja betulan?"

"Aku rajanya orang gila. Itu sebabnya orang memberiku julukan Raja Gendeng. Tapi... di tempat lain mungkin saja aku memang seorang raja sungguhan. Ha ha ha.. "

Nila Agung tertegun. Kemudian dia tersenyum. Belum lama dia bertemu dengan pemuda itu, namun dari tingkah lakunya Nila Agung merasa ada kesamaan sifat diantara mereka. Sementara itu tak jauh di depan mereka, Pangeran Durjana menjadi gusar melihat percakapan akrab yang berlangsung diantara Raja dan sang puteri. Dia semakin yakin kehadiran pemuda yang tidak dikenalnya itu hanya membuat urusannya membawa kedua gadis itu semakin sulit. Apalagi setelah sang Pangeran tahu, pemuda gondrong itu sanggup menyembuhkan Arum Senggini dari luka dalam akibat pukulan Selubung Gaib Mayat Es. Dia yakin pemuda bersenjata pedang bersarung emas itu pastilah bukan manusia sembarangan.

Sang Pangeran pun kemudian melangkah maju. Dengan wajah bengis dan tatapan mata angker dia membentak.

"Gadis cantik dan kunyuk gondrong keparat. Kau kira dunia ini hanya milikmu dan milik puteri itu hingga kalian mengabaikan kehadiranku dan tidak memandang muka padaku?"

Mendengar ucapan lawan, Nila Agung menatap Raja. Raja kemudian anggukkan kepala selanjutnya berujar.

"Pangeran muka setan berpenampilan seperti orang mati. Memangnya engkau ini siapa? Siapa suka memandang muka padamu. Menurutku wajahmu itu memang tidak layak dan tak sedap dipandang. Maka jangan salahkan aku jika lebih sering menatap wajah kedua puteri cantik yang mulus itu. Mengapa kau harus marah, mengapa pula kau merasa iri, Menurutku alangkah baiknya jika kau bunuh diri saja ya. Ha.. ha. ha.."

Walau hatinya panas seperti terbakar, walau jantungnya berdetak keras menahan kemarahan, Pangeran Durjana berusaha menahan diri. Dia harus mencari tahu siapa pemuda gondrong gila itu baru kemudian memutuskan untuk menghabisinya.Tapi empat saudara kembarnya ternyata sudah tidak dapat menahan kesabaran lagi. Kembaran ketiga membuka mulut. Dengan suara lantang dia berkata.

"Orang menghina mengapa pangeran diam saja?" "Lebih baik kita habisi pemuda gila itu!"

Tak sabar kembaran kedua ikut menimpali

"Kalian harus bersabar.Membunuhnya adalah perkara semudah membalikkan telapak tangan. Tapi aku harus menanyainya dulu " sahut sang Pangeran

Setelah berkata begitu kini dia kembali menatap ke arah Raja "Gondrong berpedang.Kuharap kau mau berterus terang dan mau mengatakan siapa dirimu.

Dengan begitu aku bisa memberikan jalan kematian padamu dengan cara yang mudah." "Begitu" sahut Raja tersenyum lalu manggut- manggut.

"Mendengar ancamanmu aku menjadi takut. Rupanya kau malaikat maut yang baru datang dari neraka? Tapi jangan salah duga dan mengira aku manusia paling tolol sekolong langit. Aku sudah mendengar semua yang kau katakan. Aku juga sudah mengetahui apa yang terjadi walau memang belum semuanya..."

Ucapan Raja terputus karena tiba-tiba Pangeran Durjana memotong.

"Aku tidak menyuruhmu bicara tak karuan kejuntrungannya. Aku hanya ingin mengetahui siapa kau yang sebenar nya!" hardik Pangeran marah.

"Walah, kau galak sekali, tapi teriakanmu seperti suara kentut gusti puteri Arum Senggini yang bertalu-talu. Ha ha ha.."

Tak terduga. Selesai Raja berucap. Tak tertahankan lagi puteri Arum ternyata keluarkan suara kentut bertalu-talu membuat tawa Sang Maha Sakti semakin menjadi.

Puteri Nila Agung ikut tersenyum, sedangkan Arum Senggini sendiri yang merasa membuang angin tersipu malu dengan wajah kemerahan. Karuan saja apa yang terjadi membuat sang pangeran dan empat kembarannya bertambah berang

"Nah apa kataku. Seperti puteri buang angin itulah suara teriakanmu." Lalu Raja dekap mulutnya agar tak tertawa lagi.

Darah sang pangeran terasa menggelegak mendidih hingga ke ubun-ubun. Mata yang pucat mendelik besar.

Sedangkan wajahnya berubah merah kekuningan "Apapun ucapanmu" ucapnya dengan suara mengguntur.

Membuat Arum Senggini yang baru pulih dari derita luka yang dialami berjingkrak kaget. Sedangkan Nila Agung terpaksa menutup kedua telinga dengan pengerahan tenaga dalam. Hanya

Raja yang terlihat tenang tenang saja.

"Kau hendak berkata apa? Kau kuberi kesempatan untuk melanjutkan ucapanmu!" Berkata pemuda itu sambil julurkan tangan kanan sebagai isyarat mempersilahkan. "Katakan padaku siapa dirimu ini?"

"Hmm, baiklah. Karena kau terus mendesak .Sekarang sudah waktunya bagiku untuk memperkenalkan diri. Kau buka telinga lebar-lebar. Aku yang gagah ini bernama Raja. Kedua guruku sering memanggilku dengan sebutan Raja Gendeng. Aku berasal dari istana Pulau Es dan

satu-satunya pewaris istana megah dari paku es. Orang sering menyebutku sang Maha Sakti." terang pemuda itu membuat sang Pangeran terkejut.

Sementara Nila Agung diam-diam merasa takjub sekaligus kurang begitu percaya atas pengakuan Raja.

"Apakah betul kau ini seorang Raja?" tanya Arum Senggini yang sedari tadi hanya diam mendengarkan sambil menatap pemuda itu.

"Begitulah kenyataannya. Aku bisa saja duduk di istanaku kapan saja aku mau .Tapi gentayangan seperti setan rasanya jauh lebih menyenangkan daripada duduk diatas tahta seperti orang lumpuh."

"Sungguh tak kusangka kau keturunan Raja. Pantas sejak kau datang kau kurang menaruh hormat pada kami." sindir Nila Agung Raja tersenyum

"Aku tidak bermaksud merendahkan kalian .Bukankah perempuan biasanya ada di bawah laki- laki. Ha ha ha."

"Pemuda edan, pantas kau diberi nama Raja Gendeng." gerutu Nila Agung dengan wajah cemberut.

Sementara itu sang pangeran sempat terdiam beberapa jenak lamanya setelah mendengar pengakuan Raja. Dia memutar otak dan berusaha mengingat-ingat Tapi dia tak dapat mengingat apapun. Bahkan dia tak tahu dimana adanya pulau es sebagaimana yang disebutkan Raja

"Perlu apa aku memeras otak memikirkan asal usul pemuda gendeng ini. Lebih baik kuhabisi saja.

Begitu nyawanya dapat kukirim ke neraka. Membawa kedua puteri itu ke tempat kediamanku yang baru bukanlah pekerjaan yang sulit." membatin sang Pangeran dalam hati.

Sekali ini dia melangkah maju, hampiri Raja sehingga jarak diantara mereka terpaut tiga langkah saja. Dua tangan diangkat, kaki membentuk kuda kuda siap menyerang. Melihat lawan berada di depannya. Sang Maha Sakti Raja Gendeng cepat-cepat berkata,

"Kau hendak menyerangku ya? Mengapa terburu-buru? Bukankah aku belum selesai memperkenalkan diri? Kau tidak mau berkenalan dengan pedang yang menjadi sahabatku ini? Kau pasti bakal menyesal tak mau mengenalnya."

"Kita bisa melanjutkan perkenalan kita setelah berada di neraka. Sekarang aku meminta nyawamu dulu!"

Sang Pangeran mengakhiri ucapannya sambil lancarkan satu jotosan yang disusul dengan pukulan tangan kiri ke bagian perut raja.

Serangan itu berlangsung cepat, sulit diikuti kasat mata.

Bahkan Nila Agung sendiri yang memiliki ilmu kepandaian sempat dibuat terperangah, Dia khawatir Raja tak punya kesempatan menyelamatkan diri .Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh luar biasa.

Hanya dengan meliukkan tubuh dan menarik sebelah kakinya ke belakang Raja Gendeng selamat dari serangan dahsyat. Tak menyangka lawan dapat meloloskan diri dari serangannya yang ganas.

Sang Pangeran menggeram, menoleh sekaligus menatap pada empat kembarannya dia lalu berteriak "Kalian semua. Mengapa cuma diam disitu. Lekas tangkap kedua gadis itu. Bawa pergi dari sini.

Aku akan menghabisi pendekar gendeng ini" Empat saudara kembaran merangsak maju. Mereka bergerak cepat menyerang Nila Agung.

Namun kemudian keempatnya terpecah menjadi dua begitu Arum Senggini yang baru pulih dari cideranya ikut bergabung menyerang empat kembaran Pangeran Durjana itu.

"Serahkan kembaran ketiga dan keempat untukku adik. Mereka sudah selayaknya mendapat-kan ganjaran dariku." seru Arum Senggini penuh semangat.

"Berhati-hatilah, mereka ternyata sangat tangguh!" sahut Nila Agung.

Sambil menerjang gadis ini ayunkan pedangnya ke arah kembaran satu dan dua.

Sementara itu kembaran ketiga dan yang keempat kini mulai menghujani Arum Senggini dengan pukulan dan serangan-serangan ganas.

Sejauh itu sang puteri masih dapat menghalau setiap serangan yang datang. Malah dengan kecepatan yang tak terduga dia berbalik menyerang dengan kekuatan berlipat ganda.

Mendapat serangan balasan bertubi-tubi kembaran keempat dan ketiga nampak kewalahan juga.

Sambil bergerak mundur dan keluarkan pekikan menggembor mereka melipat gandakan tenaga dalam dan segera mengalirkannya kebagian kaki dan tangan.

Begitu tenaga sakti mengalir deras ke bagian tangan kembaran ketiga dan keempat kembali lakukan gebrakan dengan gerakan yang cepat dan sulit diduga.

Melihat serangan datang dari dua penjuru arah dan mengincar dibagian dada dan kakinya, Arum Senggini pun langsung melepaskan pukulan ganas kearah lawan.

Cahaya merah pekat berkelebat dari telapak tangan gadis itu.

Dia segera membarenginya dengan bacokkan dan tusukkan pedang yang tertuju langsung ke bagian jantung kembaran keempat

Wuus! Byar!

Arum Senggini melihat satu pemandangan luar biasa namun sulit dipercaya yang terjadi di depan matanya.

Begitu bacokan yang dilakukan luput.

Tusukan yang mengarah kebagian jantung ternyata tepat mengenai sasaran. Dan begitu jantung tertusuk pedang.

Kembaran keempat tiba-tiba saja hancur menjadi kepingan. Tidak terdengar suara jerit atau lolong kesakitan.

Kepingan tubuh yang bertebaran di pantai kemudian berubah menjadi kepulan asap dan langsung lenyap ditiup angin. Melihat kembaran ke empat lenyap kembaran ke tiga menjadi marah

"Kau telah menghabisinya? Kau harus menerima pembalasan dariku!" teriak kembaran ke tiga lalu menerjang sang puteri dengan serangan ganas.

Sambil menghindar dari pukulan dan serangan yang dilakukan lawan, Arum Senggini yang merasa heran melihat kehancuran lawannya diam- diam berkata.

"Mengapa tubuhnya hancur lebur tertusuk pedangku. Aku yakin aku tidak berhadapan dengan manusia. Aku rasa merekse semua hanya bayangan yang dibuat oleh pangeran Durjana."

Sementara itu perkelahian antara Pangeran Durjana dengan Raja masih berangsung dengan sengitnya.

Beberapa kali sang Pangeran lepaskan pukulan dan serangan dahsyat mematikan.

Dia juga menghantam Raja dengan ilmu pukulan Selubung Gaib Mayat Es yang kemudian disusul dengan pukulan Ajian Remuk Jiwa .Mendapat serangan seperti itu Raja segers menyambutnya dengan ilmu Pukulan Sakti Cakra Halilintar.

Tak ayal begitu Sang Maha Sakti kibaskan tangannya ke depan.

Dari telapak tangannya menderu dua gulung cahaya raksasa berbentuk bundar pipih seperti lingkaran.

Hawa dingin luar biasa menderu disertai tebaran cahaya putih biru kemerahan.

Dari arah depan lima cahaya putih yang dikuti sambaran hitam pekat menyambar ke arah Raja dengan kecepatan seperti kilat.

Benturan keras tak dapat dihindari Buum!

Buum! Pyar!

Terdengar suara ledakan berdentum tiga kali berturut-turut, Guncangan dahsyat mengerikan melanda seluruh penjuru kawasan pantai itu.

Bunga api, pasir dan bebatuan bertaburan di udara. Asap tebal mengepul.

Sang pangeran jatuh terpelanting tercebur ke dalam laut .

Sementara Nila Agung. Arum Senggini dan lawan-lawan yang dihadapinya jatuh berpelantingan tak tentu arah.

Dengan tubuh bergetar dan mulut menyeringai menahan sakit akibat guncangan ledakan kedua puteri ini secepatnya bangkit berdiri.Kepulan asap dan tebaran pasir yang memenuhi udara lenyap.

Ketika mereka layangkan pandang menatap ke arah Raja.

Kedua gadis itu melihat Sang Maha Sakti masih tetap berdiri di tempatnya. Dua kaki amblas kedalam pasir. Pakaian menghitam di sebelah dada sedangkan rambut panjangnya riap riapan menutupi wajah.

Mereka merasa lega karena Raja ternyata tidak kekurangan sesuatu apapun "Bagaimana keadaan kalian." tanya Raja tiba- tiba

"Kami tidak apa-apa." jawab kedua gadis itu hampir bersamaan.

Raja Gendeng menghela natas lega. Dia kemudian layangkan pandang ke depan, tepat ke arah jatuhnya sang Pangeran. Di depan sana dia melihat sang Pangeran bangkit berdiri. Terhuyung-huyung dengan tubuh dan pakaian basah kuyup. Sambil dekap dadanya yang serasa remuk.

Pangeran itu melangkah lebar hampiri lawannya. Sejarak dua tombak di depan Sang Maha Sakti, sang Pangeran hentikan langkah. Dia menatap ke arah Raja dengan sorot mata dengan penuh rasa benci

"Tak kusangka kau sanggup menghancurkan seranganku. Kau bahkan sanggup membuatku cidera!" dengusnya penasaran.

Raja tersenyum. Enteng saja dia menjawab.

"Aku melihat ada sesuatu yang lain di dalam dirimu. Kau bukan manusia. Apakah kau ini Setan?

Mengapa aku seperti menghadapi bayangan?" "Kau takut padaku?"

Kata sang Pangeran disertai senyum mengejek.

"Takut? Kalau aku bisa membunuhmu, mengapa harus takut?" kata pemuda itu lalu umbar tawa bergelak.

Selagi Raja tertawa tergelak-gelak. Kesempatan itu dipergunakan lawan untuk menyerangnya. Dua tangan sang Pangeran tiba-tiba berkelebat, terjulur memanjang menyambar leher lawannya. Melihat sepuluh jari tangan berkuku panjang menyambar lehernya .Raja menjadi tercekat, cepat katubkan mulutnya lalu jatuhkan diri. Sepuluh jemari tangan yang bergerak laksana gunting menghantam tempat kosong. Melihat serangannya luput sang Pangeran segera gerakan kakinya dan tahu-tahu dia telah berada di depan Raja.

Wuut!

Satu tendangan kilat dilakukan laki-laki itu. Angin dingin menyambar menyertai tendangan. Raja yang baru saja duduk melompat ke kiri. Tapi tak urung serangan kaki lawan masih menyambar rusuknya .Pemuda ini mengeluh tertahan, namun juga tidak tinggal diam. Begitu sang Pangeran lancarkan serangan susulan.

Dalam keadaan setengah berjongkok dia miringkan tubuhnya kesamping Wuus!

Serangan luput. Lawan segera memutar tubuh. Dengan menggunakan tangan kanan dia menjotos kepala pemuda itu. Tapi dengan menggunakan Jurus Tangan Dewa Menggusur Gunung yang kemudian disusul dengan jurus Delapan Bayangan Dewa. Raja berhasil menghantam dada lawan dengan pukulan telak.

Pangeran Durjana terpental sejauh dua tombak. Namun dia terjatuh dalam keadaan tegak berdiri. Tak percaya dengan apa yang dialaminya. Merasa heran dengan jurus-jurus yang dilancarkan pemuda itu. Dengan perasaran tanpa menghiraukan rasa sakit yang mendera dada dia kembali menerjang sambil lancarkan tendangan-tendangan menggeledek. Mendapat tendangan bertubi-tubi, Raja memang pempat kewalahan juga. Apalagi saat itu dia mengkhawatirkan keselamatan Nila Agung dan Arum Senggini. Tak ingin berlama-lama sambil menangkis dan hindari tendangan lawan dia mengepalkan kedua tangan dan diadunya.

Begitu kedua tangan yang terkepal beradu keras, tba-tiba saja mencuat cahaya hitam kelabu.

Cahaya hitam tak ubahnya seperti ular raksasa dengan gerakan meliuk-liuk menerjang ke arah sang Pangeran. Hawa panas bercampur hawa dingin luar biasa menghantam sang Pangeran. Laki-laki itu tercekat, dalam terkejut dia masih berusaha menyelamatkan diri. Secepat kilat sang Pangeran banting tubuhnya ke tanah.

Namun begitu menyentuh tanah justru pukulan Seribu Jejak Kematian' yang dilancarkan Raja menghantam punggungnya. Terdengar suara ledakan menggelegar disertai jerit menyayat. Tubuh Sang Pangeran dijilat kobaran api. Dia menggelepar dan berguling-guling untuk memadamkan api. Namun tak disangka-sangka tubuh itu meledak menjadi kepingan asap Begitu sosok Pangeran Durjana lenyap maka saudara kembarnya yaitu kembaran ke satu, ke dua dan ke tiga yang sedang menyerang kedua puteri itu ikut meledak hancur dan berubah menjadi asap.

Melihat kenyataan yang sulit dipercaya ini, Raja Arum Senggini dan Nila Agung saling pandang. "Siapa mereka," desis Nila Agung terheran-heran.

Gadis ini segera masukkan pedang dalam rangkanya yang tergantung di pinggang.

"Kalau mahluk jejadian mana mungkin mereka bisa menjadi asap?" ucap Arum Senggini pula.

Raja menggelengkan kepala. Dia hanya bisa menduga bahwa sang pangeran hanyalah bayangan yang dikirimkan oleh seseorang untuk menculik kedua puteri itu.

Belum lagi sang Maha Sakti sempat menjawab .Tiba-tiba saja terdengar ada orang berkata, "Yang menyerang kalian bukan mahluk jejadian apalagi hantu gentayangan. Yang kalian hadapi

adalah bayangan Pangeran Durjana alias Pangeran Bagus Anom Aditama yang juga dijuluki Sang Pencinta Dari Alam Kematian"

Terkejut ketiganya segera balikkan badan menatap ke arah pantai. Mereka terkesima ketika melihat di pinggir pantai itu duduk seorang kakek renta berwajah macam jerangkong, berpakaian putih, berambut putih panjang. Dada orang tua itu bertubang besar tepat dibagian jantung. Wajah pucat seolah tidak berdarah. Yang membuat Raja dan kedua puteri ini heran diatas kepala si kakek bertengger sebuah pelita menyala berwarna merah. Melihat orang tua itu sepertinya dalam keadaan terluka parah maka Raja, Arum Senggini dan Nila Agung bergegas menghampiri. Sesampainya di depan si kakek mereka tercengang melihat luka di dada si kakek yang begitu mengerikan "Manusia biasa pasti sudah menemui ajal bila mengalami luka seperti ini "desis Nila Agung.

Raja anggukkan kepala. Namun dia segera hampiri orang tua itu. Lalu mengangkat dan membawanya ke daratan. Sesampainya di tempat yang kering orang tua ini segera didudukkan. Raja tidak berani membaringkan si kakek karena khawatir pelita diatas kepala si orang tua yang tidak dia ketahuh kegunaannya terguling.

"Kau terluka parah. Dan nampaknya juga dalam keadaan tertotok? Bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini kek?"

Si kakek membuka matanya yang setengah terkatub. Dia menatap orang-orang disekitarnya.

Dengan suara tersendat dia menjawab,

"Pelita ini yang membawaku kemari.Aku memang terluka parah, aku dalam keadaan sekarat. Tapi tak usah peduli. Umurku tak begitu lama lagi.Kalian dengar baik-baik. Saat ini di tanah Dwipa bagian barat ini sedang berada dalam ancaman bahaya besar yang disebabkan kehadiran Pangeran Bagus Anom Aditama atau Pangeran Durjana." terang si kakek dengan nafas mengengah.

"Pangeran Durjana bukankah yang telah menyerang kami bersama kembarannya tadi?" kata Nila Agung.

"Aku juru kunci makam kuno keluarga raja di pulau Rakata bersumpah, yang kalian hadapi bukan sang pangeran yang sebenarnya. Pangeran Durjana hanya mengirimkan bayangannya saja. "

"Cuma bayangan yang dia kirimkan tapi bagaimana bisa sangat hebat?" tanya Arum Senggini "Kalau hanya bayangan mengapa bisa kembar?" tanya Raja terheran-heran

"Itulah hebatnya Pangeran Durjana. Dia bisa merubah bayangan sebanyak apapun yang dia inginkan. Sementara dia sendiri saat ini sedang menuju ke suatu tempat bersama gadis culikannya."

"Bagaimana kau bisa tahu kek." tanya Raja.

"Aku tahu segala kejahatannya, aku mengetahui hari kematiannya dan aku melihat hari kebangkitannya dari kematian. Tap...ehk, aku tak kuasa mencegah, aku tak kuasa menghalangi. Malah tindakanku utuk menghabisi pangeran bejat itu berakibat seperti ini" kata si kakek tampak semakin lemah.

"Kek, biarkan kami menolongmu. Biarkan aku bebaskan totokan dipunggungmu"

Kata Raja merasa iba

"Ukh, lakukanlah. Masih banyak hal penting yang harus kalian ketahuhe tentang mahluk satu itu. Cepat bantu aku! Turunkan pelita Keramat dari atas kepalaku!" pinta si kakek Walau agak takut dan ragu-ragu.

Arum Senggini dan Nila Agung segera mengambil pelita yang bertengger diatas kepala si kakek.

Sementara Raja segera bersimpuh di belakang si kakek. Beberapa saat dengan jemari tangan kanan Raja berusaha mencari bagian punggung yang tertotok.

Begitu letak bekas totokan dia temukan pemuda ini segera salurkan tenaga sakti ke ujung jemari tangan kanannya.

Ujung jemari ditempel lalu diletakkan ke punggung.

Gerakkan ujung jemari lalu dilanjutkan dengan gerakan menyapu. Wuus!

Totokan lenyap. Tapi si kakek malah menjerit lalu terkulai tak sadarkan diri. Kedua gadis yang berada disamping Raja terkejut.

Mereka menatap kearah sang pendekar. Namun yang ditatap terlihat tenang.

"Apakah dia tewas?" tanya Arum Senggini khawatir juga penasaran.

"Totokan dipunggungnya telah terjadi beberapa hari yang lalu. Dia hanya pingsan begitu jalan darahnya terbuka."

"Bagaimana kalau kakek ini mati? "tanya Nila Agung cemas.

Raja Gendeng tersenyum

"Kalau mati ya dikubur. Tapi dia tidak mati .Dan kurasa dia tak akan mati" "Kau yakin?" kata Nila Agung.

"Ya. Bukankah dia belum memperkenalkan nanamnya. Dia hanya menyebut tempat dan tugasnya.

Lagi pula dia telah berjanji untuk menceritakan segala sesuatu yang diketahuinya kepada kita. Bukankah begitu?"

"Ah, kau bergurau. Sang Pencabut nyawa mana perduli kakek ini sudah memperkenalkan diri apa belum atau sudah bercerita atau belum."

Gumam Arum Senggini sambil menatap tajam Raja Gendeng.

Yang dipandang malah tertawa walau merasa prihatin melihat keadaan si kakek Lagi-lagi dia bergurau

"Aku kenal baik dengan Sang Penyabut Nyawa .Nanti bila dia datang kesini dan hendak mengambil nyawa orang tua ini. Aku akan meminta padanya untuk menundanya dulu.Ha ha ha..."

"Dasar Gendeng" kata kedua gadis itu.

Tak tertahan lagi keduanya pun ikut tertawa. 

TAMAT