Raja Gendeng Eps 06 : Penyair Sinting

 
Eps 06 : Penyair Sinting


Setelah hampir setengah malam penuh menunggang kuda putih bernama Cantrik Abimayu.

Laki-laki gagah berpakaian bagus warna hitam membekal senjata berupa keris ini sampai di selatan gunung Kidul.

Laki-laki berusia empat puluhan ini tak lain adalah senopati Gagak Panangkaran Seperti telah dikisahkan dalam episode.

(Dendam Manusia Kutukan).

Sang senopati sekaligus orang kepercayaan adipati ditugaskan untuk menghubungi beberapa tokoh sakti yang masih terhitung sahabat dekat adipati.

Para sahabat itu diharapkan membantu pihak kadipaten untuk meringkus pembunuh haus darah yang telah melakukan serangkaian pembunuhan terhadap para pejabat kerabat adipati, para tumenggung juga beberapa orang penting lainnya.

Gagak Panangkaran seperti telah diketahui memutuskan untuk pergi sendiri tanpa didampingi pasukan kadipaten.

Kini setelah tiba di tepi pantai tak jauh dari bebukitan batu karang tempat dimana Windu Saketi atau yang juga dikenal dengan julukan si Tongkat Bala menetap, Gagak Panangkaran segera melompat turun dari atas kudanya .Kuda putih yang sangat penurut dan patuh itu kemudian ditambatkan pada batang pohon tumbang.

Sebelum Senopati mendaki puluhan undakan tangga yang melingkar di sekeliling punggung bukit karang.

Laki-laki itu mengusap tengkuk kuda. "Cantrik Abimayu."

Ucap senopati menyebut nama kuda kesayangannya.

"Kamu tetaplah berada di sini.Tunggu sampai aku kembali.Jangan bersuara jangan pula berisik" Sang kuda meringkik keras, pertanda mengerti.

Senopati Gagak Panangkaran tersenyum.

Dengan langkah tenang dia menyusuri kaki bukit. Selanjutnya senopati mulai menaiki puluhan tangga batu menuju ke sebuah pondok yang terdapat di puncak bukit.

Sambil terus mendaki, senopati tidak henti-hentinya berpikir. Dimana-mana terjadi pembunuhan.

Tapi semua yang terbunuh masih punya hubungan dengan adipati Seta Kurana.

Nanti setelah menemui kakek Windu Saketi dia harus menghubungi dua tokoh penting lainnya yaitu Ki Rangga Galih dan Ki Jaran Palon yang tinggal menetap tak jauh dari Kali Urang.

Karena sambil berjalan senopati larut dengan pikirannya maka tanpa terasa dia telah sampai di depan sebuah bangunan sederhana beratap nipah dimana sebagian dindingnya terbuat dari batu.

Deru angin laut menyambutnya.

Sementara dari halaman pondok sederhana itu dapat terlihat birunya laut dikejauhan serta suara burung camar yang terbang melayang di atas air.

Seumur hidup sudah tiga kali senopati menyambangi kediaman Windu Saketi. Tapi tidak seperti biasanya kali ini pondok itu terasa sunyi.

Bahkan senopati Gagak Panangkaran melihat pintu pondok tertutup rapat seakan penghuninya sedang tidak berada di tempat.

Heran bercampur penasaran senopati pun memanggil-manggil nama kakek itu. Tapi setelah memanggilnya beberapa kali senopati tak kunjung mendapat jawaban. Senopati pun menjadi curiga.

Dengan cepat dia hampiri pintu yang tertutup rapat. Tanpa menunggu pintu didorong.

Terdengar suara derit. Pintu terbuka.

Ketika senopati melangkah masuk .Suasana ruangan gelap temaram. "Ki Windu Saketi, apakah kau berada di rumah?" Teriak senopati.

Lagi-lagi tak ada Jawaban.

Dengan cepat laki-laki itu memeriksa semua ruangan yang ada. Dan ketika dia berada di kamar yang biasa ditempati si kakek. Tiba-tiba saja dia mendengar suara derit dari bagian pintu dapur.

Walau sempat kaget, namun rasa curiga membuat senopati bergegas menuju ke bagian dapur sementara sambil melangkah diam-diam dia alirkan tenaga dalam ke bagian kedua belah tangan.

Sesampainya di bagian dapur senopati tertegun ketika melihat pintu terbuka.

Padahal ketika ia masuk melalui pintu depan dia melihat pintu di bagian itu dalam keadaan tertutup rapat.

"Seseorang agaknya telah menyelinap masuk ke tempat kediaman orang tua itu," Pikir senopati tambah curiga.

Setelah berlari dia mengejar keluar.

Tetapi sesampainya di halaman belakang bau busuk bangkai datang menyambutnya. Laki-laki itu merasa perutnya menjadi mual, kepala pusing dan ingin muntah.

Anehnya walau bau busuk membuat isi perutnya mau terbongkar, Senopati justru memilih bertahan.

Sambil pegangi kepala dan tubuh agak terhuyung dia perhatikan keadaan di sekitarnya.

Senopati Gagak Panangkaran jadi tertegun ketika melihat sesosok tubuh tanpa kepala dalam keadaan mengembung busuk dikerumuni lalat tegak bersender pada sebatang pohon kayu.

Senopati berusaha mengenali sosok itu.

Walau diam-diam tengkuknya merinding dan dicekam rasa takut luar biasa.

"Mayat tanpa kepala itu sulit dikenali. Tapi dari ciri-ciri pakaian yang melekat ditubuh si mayat rupanya aku bisa menduga kemungkinan mayat itu adalah mayat Windu Saketi. Ah, orang tua yang seharusnya aku mintai bantuannya juga telah menemui ajal mengenaskan. Siapapun yang membunuhnya pastilah berhubungan erat dengan pembunuh sebelumnya. Kalau begitu aku harus menemui Ki Rangga Galih dan Ki Jaran. Aku tak mau terjadi apa-apa pada mereka sehingga harapanku untuk mendapat bantuan tenaga justru gagal berbuah malapetaka,"

Kata sang senopati dalam dirinya sendiri.

Tak mau berlama-lama berada di tempat itu senopati pun segera bergegas tinggalkan pondok besar di puncak bukit.

Namun belum begitu jauh langkahnya dari pondok yang ditinggalkan.

Tiba-tiba saja terdengar suara gelak tawa nyaring datang dari segala penjuru arah.

Senopati Gagak Panangkaran tercekat, langkah terhenti sedangkan kening berkerut penuh tanya. Jelalatan dia memperhatikan sekeliling bukit hingga lerengnya. Tapi dia tidak melihat kehadiran satu orang pun di tempat itu.

"Siapa yang tertawa.Apa yang ditertawakan? Aku sedang tergesa-gesa.Tidak ada yang lucu. Hanya orang sinting yang tertawa tidak pada tempatnya,"

Membatin senopati dalam hati. Baru saja dia bicara seperti itu.

Seakan mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu, suara tawa mengikik tiba-tiba lenyap.

Tapi ketika senopati kembali melangkah menuruni undakan tangga- tangga batu menuju ke kaki bukit.

Anehnya tawa kembali terdengar seolah orang yang tertawa seperti mentertawai dirinya.

Senopati yang mempunyai sifat tidak sabaran dan termasuk orang tinggi hati ini tentu saja merasa tersinggung.

Dia tidak dapat memastikan apakah orang yang tertawa itu sengaja mempermainkannya. Yang pasti dia tidak suka dipermainkan seperti itu.

Tidak mengherankan senopati pun kemudian berteriak.

"Siapa yang tertawa selagi orang berduka dan diliputi kegalauan adalah manusia yang sama sekali tidak punya budi tak punya otak!"

"Hik hik. hik Edan! Orang waras begini dia bilang tak punya otak. Ya ya. Otak. Di mana otak?

Otak selalu bersembunyi dibalik tulang yang keras .Kejahatan selalu datang di balik amarah. Amarah ditunggangi nafsu, akal kehilangan budi. Manusia tersungkur ke lembah hina dalam nista tercela.

Weleh baru bicara apa aku tadi. Hi hi hi"

Mendengar suara ucapan yang melantur tak karuan itu senopati Gagak Panangkaran menjadi kesal. Tapi karena sadar saat itu dia sedang melakukan tugas yang belum terselesaikan Senopati memilih untuk diam saja. Kali ini dia segera bergegas menuruni tangga bukit. Tapi lagi-lagi baru beberapa tindak dia melangkah tiba-tiba dia merasakan ada yang menyerimpung kakinya. Senopati terhuyung. Andai saja tidak segera mengimbangi diri dengan berjumpalitan di udara dapat dipastikan dirinya jatuh tersungkur dengan wajah terluka parah.

"Bangsat jahanam! Siapa yang telah berbuat jahil kepadaku?!" geram senopati begitu kakinya menjejak bebatuan.

Sekilas dia memperhatikan tangga tempat dimana dirinya nyaris jatuh tadi. Dia melihat sepotong kayu. Senopati merasa heran. Bagaimana ada potongan kayu hitam tergeletak diundakan tangga bukit karena ketika melewati tangga yang sama pertama tadi dia tidak melihat kayu itu.

"Jelas seseorang sengaja berbuat iseng. Aku bukan orang yang suka diajak bergurau. Apalagi saat ini aku sedang menjalankan sebuah tugas penting," Batinnya. Tak sabar menunggu ada yang menjawab. Maka kini dia berkata.

"Jika tidak ingin bicara jangan mengganggu. Bersembunyi seperti pencuri adalah sikap manusia pengecut. Aku tahu siapapun dirimu kau ada di sekitar sini. Kau bahkan begitu dekat dari tempat aku berdiri. Keluarlah. unjukkan dirimu. Atau kau lebih suka dipaksa."

Di ujung ucapannya senopati Gagak Panangkaran tiba-tiba berter ­ak keras. Teriakannya itu jelas bukan sembarang teriakan karena senopati sengaja mengerahkan tenaga dalam. Suara teriakan senopati memang membuat seluruh penjuru bukit bergetar keras, daun-daun hijau rontok berguguran, burung yang terbang diangkasa jatuh menggelepar menemul ajal bahkan membuat binatang buas yang tinggal di tempat itu lari tunggang langgang.

Tapi apa yang terjadi?

Walau senopati telah melakukan usaha untuk memaksa orang keluar dari tempat persembunyian tetap saja segala upayanya itu tak membawa hasil.

"Jelas aku dipermainkan orang! Tapi buat apa kulayani!" kata senopati berusaha berpikir jernih. Maka sekali lagi setelah senopati mengayunkan langkahnya dia berkata.

"Aku tidak mencari permusuhan. Siapa pun dirimu aku tidak perduli. Aku harus pergi dari sini secepatnya."

Kata laki-laki itu dengan wajah masam suara berdengus.

"Hi hi hi. Terlalu pongah dan gampang naik darah adalah sifatmu, senopati. Kau mengaku hendak segera pergi? Aku bertanya mengapa harus tergesa gesa? Kau juga mengaku tidak mencari permusuhan, namun musuhmu bertaburan dimana- mana Senopati Gagak Panangkaran. Aku tahu kemana kau hendak pergi, aku juga tahu siapa orang berikutnya yang hendak kau sambangi. Aku punya usul lebih baik kau tak usah datang ke Kali Urang,"

Kata satu suara lantang dan nyaring. Tak menyangka tujuannya dapat diketahui orang. Senopati Gagak Panangkaran diam-diam dibuat terkejut.

"Bagaimana dia bisa tahu? Kepergianku tadi malam padahal cuma diketahui oleh gusti adipati." "Siapa kau ini? Mengapa kau melarangku. Bagaimana kau juga tahu aku mau pergi ke Kali

Urang?"

Tanya laki-laki itu curiga.

"Senopati. Aku tahu siapa saja orang yang punya hubungan dengan adipati Blora. Tapi tenang saja aku tidak melarangmu pergi ke Kali Urang. Aku Penyair Sinting cuma bisa mengingatkan kalau kau nekat pergi juga menemui para sahabat adipati. Kau hanya akan kecewa. Orang yang hendak kau datangi saat ini tidak bisa kau ajak bicara"

"Mengapa? Mereka itu sangat mengenalku!"

Sahut senopati tampak marah .Terdengar tawa dingin. Kemudian disusul ucapan.

"Lha bagaimana mereka mau bicara denganmu? Seseorang bisa diajak bicara syaratnya harus punya kepala punya mulut.Sementara kulihat orang orang yang hendak kau sambangi tak punya kepala. Nasib mereka tidak jauh berbeda dengan kakek Windu Saketi yang baru saja kau temukan di belakang rumah."

"Bagaimana kau tahu? Apakah kau yang membunuh mereka?" Tanya senopati itu curiga.

"Eit-eit... Berburuk sangka adalah sebuah kejahatan."

"Sembarang menuduh adalah fitnah. Sampai saat ini aku tidak membunuh siapapun, senopati. Aku bahkan tidak membunuh seekor kecoak yang sedang sekarat. Aku tahu segala Karena aku adalah manusia yang suka gentayangan kemana-mana. Setiap kejadian selalu kuketahui. Aku bahkan ingat dengan segala peristiwa dimasa lalu,"

Kata suara itu. Senopati terpejam.

Dia berpikir siapa gerangan orang yang bicara dengannya itu.

Bersikap seakan mengerti apa yang dipikirkan senopati kadipaten Blora. Pemilik suara yang belum juga menunjukkan diri itu kini berkata.

"Kau belum mengenalku.Kau ingin tahu siapa aku.Wahai orang yang selalu melumuri kedua tangan dengan darah. Wahai orang yang mengayun senjata sambil tertawa. Aku langit engkau bumi, engkau keji aku murah hati. Engkau seorang pembunuh aku hanyalah perangkai kata-kata indah. Ketahuilah aku sama sekali tidak terlibat segala bentuk urusan darah yang kau ributkan bersama adipati Seta Kurana. Aku cinta damai dan ingin menjadikan dunia menghargai surga kebahagiaan bukannya neraka kebencian. Dengan semua alasan yang kusebutkan ini apakah sekarang kau sudah tahu siapa aku?"

"Penyair Sinting. "

Sentak senopati dengan suara berdesis mulut ternganga.

Terdengar suara tawa mengikik kemudian disusul dengan suara bergemerincing dan. Byar!

Byar!

Tiba-tiba saja diketinggian terlihat ada cahaya berpijar dua kali berturut-turut.

Senopati tertegun, namun perhatiannya tertuju ke arah cahaya warna- warna yang bertaburan tak jauh di depannya.

Segala yang dia lihat kemudian lenyap menguap menjadi gumpalan kabut.

Selanjutnya dibalik gumpalan kabut yang meliuk-liuk itu muncul sosok berpakaian warna warni gemerlap.

Sosok yang ternyata berupa seorang gadis berusia sekitar dua puluh tiga tahun ini memiliki wajah yang cukup cantik.

Tapi wajah cantiknya justru dipoles dengan hiasan tebal tak karuan hingga penampilannya mirip dengan perempuan sinting.

Selain pakaian yang menyolok diselang seling aneka warna serta wajah yang dipoles bedak dan pupur tebal, Rambut hitam panjang si gadis di bagian samping kanan dan sisi sebelah kiri dikepang.

Sedangkan rambut di bagian belakang yang dibiarkan tergerai dihias untaian bunga menebar terharum semerbak.

Setelah memunculkan di atas ketinggian dalam keadaan mengambang berselendang kuning ini goyangkan kedua tangannya.

Begitu tangan digoyang kedua kaki meluncur ke bawah.

Selanjutnya kaki berbetis kuning langsat yang terbungkus sepasang kasut sewarna dengan selendang menjejak undakan tangga yang terdapat di kaki bukit.

Senopati Gagak Panangkaran menatap dengan mata melotot ke arah gadis itu. Sebaliknya yang dipelototi malah kipas-kipaskan selendangnya sambil mengulum senyum.

Tak disanga-sangka gadis berpenampilan aneh mengaku berjuluk Penyair Sinting malah berkata. "Laut biru, bulan kuning. Angin semilir berhembus tapi tak kuasa melenyapkan hawa panas yang

membara dihati. Senopati, aku datang dengan damai. Aneh bila kau menatapku dengan seribu curiga."

"Aku tak pernah mengundangmu, aku juga tak pernah mengenalmu. Mengapa kau datang kesini?

Sengaja ingin mencari perkara ataukah sudah bosan hidup?"

Hardik senopati tak kuasa menyembunyikan kegusarannya. Bukannya takut sebaliknya Penyair Sinting malah tersenyum.

"Senopati, kata-kata yang kau ucapkan sungguh membuat merinding bulu ketekku. Aku datang bukan untuk mencari perkara, tidak pula bosan hidup. Hidup ini terlalu menyenangkan bagiku. Semua serba lucu menggelikan. Orang marah jadi geli, orang cemburu karena cinta aku geli. Ketika musibah datang orang bersedih tenggelam dilamun duka aku juga geli. Lebih dari semua yang jelas kedatanganku kemari adalah untuk mencari tahu, sekedar mengingatkan barangkali ada yang terlupakan olehmu."

"Apa maksudmu? Aku tidak punya waktu!"

Dengus senopati lalu siap-siap hendak tinggalkan tempat itu. Melihat ini Penyair Sinting cepat mencegah dengan berucap.

"Mengaku tak punya waktu, kesibukan telah membuat manusia mengabaikan kebaikan untuk berbagi. Tapi siapa yang perduli? Ketahuilah aku melihat kepala Windu Saketi alias Si Tongkat Bala tergantung di halaman sebuah padepokan milik seorang kakek bernama Giri Soradana. Kepala kakek itu digantung dibawah cabang pohon Randu."

Mendengar ucapan Penyair Sinting wajah senopati Gagak Panangkaran berubah pias. Namun hanya sekejab. Sejurus kemudian dengan penuh kemarahan dia menatap gadis berpenampilan kacau ini. Dua tangan terkepal, pipi menggembung sedangkan mulut membentak.

"Apa kau bilang. kepala kakek Windu Saketi tergantung di sebuah padepokan. Padepokan siapa?" "Padepokan itu milik seorang kakek bernama Giri Soradana,"

Terang sang dara Penyair Sinting

"Jadi Giri Soradana yang telah membunuh Ki Windu Saketi?,"

Tanya senopati sambil menatap tajam pada Penyair Sinting. Si gadis tersenyum, gelengkan kepala dan lanjutkan ucapannya.

"Ketahuilah, Giri Soradana sama sekali tidak terlibat pembunuhan itu. Dia bahkan telah dianiaya, murid-murid serta pengikutnya dibunuh. Malah kakek Giri dipendam! Orang tua yang kusebutkan itu kini menemui ajal."

"Astaga?"

Desis senopati dengan mata terbelalak.

"Siapa yang telah melakukan kekejaman ini? Setahuku Giri Soradana adalah orang yang tidak pernah melakukan kejahatan atau suka mencari perkara dengan orang lain. Mengapa orang bisa berbuat tega seperti itu?"

"Semua pertanyaan sebaiknya dikembalikan pada diri sendiri senopati."

"Aku tak mengerti apa maksudmu Penyair Sinting. Jangan bicara berpanjang kata, lebih baik kau berterus terang."

Kata senopati sambil memperlihatkan sikap tidak suka.

"Baiklah, orang meminta aku mengabulkan. Ketahuilah, Giri Soradana memang bukan orang jahat.

Dia manusia yang baik dan jalan hidupnya pun rasanya lempang-lempang saja. Tapi aku melihat setiap orang yang punya hubungan dengan adipati Seta Kurana pasti bakal mengalami nasib mengenaskan seperti itu. Dan kau tahu selama ini Giri Soradana memang punya hubungan dekat dengan junjunganmu bukan?"

"Apa maksudmu. Mengapa gusti adipati dikaitkan dengan kematiannya?"

"Sebabnya tak lain semua persoalan berasal dari adipati sendiri. Sebagai senopati kau telah lama mengabdi padanya. Aku yakin kau tahu sejarah riwayat kehidupan adipati belasan tahun yang lalu.

Yang terjadi sekarang adalah apa yang disebutkan sebagai sebab dan akibat. Makanya kau tak usah heran ketika melihat para tumenggung yang menjadi bawahan adipati semuanya menemui ajal. Para tumenggung itu dulu pernah terlibat persekutuan dengan adipati dalam melakukan pembantaian di Lembah Bangkal."

Terang Penyair Sinting, membuat senopati terperangah seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

"Lembah Bangkai. Telah lama dilupakan orang, aku sendiri tidak tahu menahu peristiwa pembantaian di Lembah itu. Yang kudengar semua penghuni lembah itu tewas terbunuh. Malah senjata pusaka yang menjadi kebanggaan kaum Kutukan kuketahui ada di tangan gusti adipati. Bila semua penghuni lembah terbantai, lalu mengapa sekarang ada yang datang menuntut balas?"

Tanya laki-laki Itu terheran-heran

"Ada yang tewas ada yang selamat. Yang selamat walau jumlahnya hanya beberapa orang saja, tapi mereka berusaha bertahan hidup dengan menanggung segunung kebencian. Mereka bernafas dengan sejuta dendam. Dan orang-orang yang dianggap sebagai manusia kutukan itu kini datang melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh senopati dan para sahabatnya di masa lalu."

"Sebagai orang yang tidak memihak aku memandang apa yang dilakukan oleh orang-orang lembah bangkai itu adalah hal yang wajar."

"Tidak berpihak tapi kau membenarkan perbuatan mereka. Tapi tidak mengapa. Sekarang aku ingin penjelasan siapa yang telah membunuh kakek Giri Soradana?"

"Yang menghabisinya adalah manusia berwajah singa." terang Penyair Sinting. "Kemudian apa lagi yang kau lihat?"

Tanya senopati tidak puas.

"Aku melihat potongan kepala Ki Rangga Galih dan Ki Jaran Palon tergantung berdampingan dengan kepala kakek Windu Saketi."

Seperti mendengar petir disiang hari.

Beberapa saat senopati itu hanya bisa ternganga dengan mata mendelik.

Dia menyadari bila tiga tokoh sakti yang hendak dimintai bantuannya dapat diihabisi secara mudah, tentulah orang-orang sisa dari Lembah Bangkai telah mempersiapkan diri dengan sebaik- baiknya disaat hendak melakukan balas dendam.

"Manusia Kutukan. Mendengar namanya saja darahku seperti mendidih,"

Geram laki-laki itu. Dia menarik nafas dalam-dalam. Kini perhatiannya tertuju pada Penyair Sinting. Dengan suara berat dia lanjutkan ucapan.

"Ternyata kau tahu banyak hal. Sekarang aku ingin tahu selain tiga manusia berwajah singa, siapa lagi yang bisa menjadi ancaman?"

"Sekali lagi kau bertanya dan aku akan menjawab pertanyaanmu. Yang kutahu masih ada Si Mata Bara atau juga dikenal dengan julukan Mata Setan. Selain Mata Bara masih ada sesepuh Lembah Bangkai seorang nenek sakti bernama Marasati tap ­ lebih dikenal dengan Harimau Setan. Dua orang ini jadi penentu. Mata Bara yang telah membunuh para tumenggung dan kerabatnya."

"Bagaimana dengan tumenggung Dadung Kusuma?"

"Aku hanya bisa menyarankan bila kau berniat menyambangi tumenggung Dadung Kusuma lebih baik batalkan saja niatmu. Tumenggung Dadung Kusuma tewas dua malam yang lalu bersama istrinya. Aku tak tahu bagaimana nasib putrinya Mangir Ayu. Mudah-mudahan saja dia selamat, dapat jodoh, beranak pinak dan panjang umur. Hik hik hik!" Senopati tertegun. Dalam hati dia menggeram.

"Mata Bara, Mata Setan. Satu manusia dengan julukan menyeramkan. Aku sendiri jarang mendengar nama Harimau Setan. Rasanya keadaan semakin bertambah genting. Sudah tidak ada lagi orang yang harus kutemui apalagi kuminta bantuannya. Aku harus kembali ke kadipaten dan menjelaskan semua ini pada adipati. Tapi, gadis itu. !"

Diam-diam senopati melirik ke arah Penyair Sinting.

"Mengapa dia menjelaskan semuanya padaku. Apa dia bukan mata-mata?" Seakan mengerti dirinya dicurigai orang, Penyair Sinting tiba-tiba berucap.

"Senopati? Kau tidak perlu curiga padaku. Seperti yang kukatakan aku tak bermasalah pada siapapun."

"Jika tidak berpihak mengapa kau memberi tahu aku?" Tanya senopati tetap curiga. Penyair Sinting tersenyum.

"Aku hanya mengingatkan padamu hendaknya sebagai senopati kau lebih banyak bercermin diri.Aku tak bisa membantumu,aku juga tidak bisa menghalangi keinginan orang yang hendak membalas dendam"

"Jadi kau mengenal semua manusia Kutukan itu? Atau kau sahabat dekatnya?" Tanya laki-laki itu.

"Aku mengenal semua manusia. Tapi aku memilih menjaga hubungan baik dengan pemilik langit bumi ini."

"Kurang ajar. Pandainya kau bersilat lidah seolah dirimu ini manusia suci yang tidak pernah bersalah."

Dengus Gagak Panangkaran marah

"Terserah bagaiamana kau memandangnya. Aku cuma tidak ingin terjadi lagi pertumpahan darah.

Jadi rasanya tidak ada lagi yang Ingin kusampaikan padamu. Cukup sampai di sini perjumpaan kita.Sampai bertemu lagi dalam suasana yang lain."

"Hei, apa maksud ucapanmu itu?" Tanya senopati.

Penyair Sinting tersenyum. Kemudian balikkan badan. Dua kaki yang menjejak tanah perlahan terangkat naik seiring dengan gerakan tubuhnya yang melambung ke atas.

"Tunggu. Jangan pergi aku belum selesai bicara!" Teriak laki-laki Itu.

Percuma saja senopati mencegah.

Seperti seekor burung Penyair Sinting melesat tinggi, lalu bergerak menjauh. Sebelum sosoknya benar-benar lenyap dari pandangan laki-laki Itu. Sempat sayup-sayup terdengar Penyair Sinting melantunkan bait-bait syairnya.

"Kulihat kepiting berjalan miring. Anak monyet duduk menungging .Berjalan jauh tanpa pengiring.

Tersesat jalan jadi pusing. Aku datang membawa sejuta kedamaian. Kebencian melenyapkan kasih sayang. Masa lalu lama telah dilupakan. Kini saatnya menuai malapetaka .Senopati ! Aku cuma bisa memberi jalan. Tinggalkan kemewahan. Mencari selamat. Pergilah bertobat. Sebelum nyawa menjadi busuk. "

"Bangsat sialan! Dasar penyair gila. Aku tak perlu nasehat, aku tak butuh syair. Kurang ajar!

Cuma membuang-buang waktuku saja!"

Geram senopati sambil membanting kakinya.

Dengan membawa rasa kesal dihati laki-laki ini kemudian bergegas turun lalu menghampiri kudanya yang menunggu di tepi pantai.

Tapi sesampainya di tepi pantai dia lebih marah lagi ketika melihat bagian pelana kudanya ternyata dipenuhi kotoran manusia.

"Keparat! Bagaimana bisa begini? Siapa yang melakukannya?"

Teriak senopati marah. Dengan penuh kegeraman pelana kuda dia tarik lalu dicampakkannya. Tanpa pelana dia menunggangi kuda itu. Sepanjang jalan dia terus mengomel. Kuda kesayangannya juga tidak luput dari dampratannya.

"Kuda tolol! Orang lain buang hajat dipunggungmu kau diam saja!" Sang kuda meringkik.

Rupanya binatang tidak senang diomeli.

Tak ayal lagi sang kudapun lari kencang sejadi-jadinya. Senopati pun jadi kalang kabut.

****

Matahari telah mencapai titik tertingginya ketika kakek bertubuh bungkuk berpakaian serba putih ini tersadar dari pingsannya.

Sambil mengerang orang tua ini bangkit. Setelah dapat duduk setengah tegak.

Si kakek tarik nafas dalam-dalam.

Tapi kemudian dia menyeringai begitu merasakan sakit yang luar biasa mendera perut dan dadanya.

"Rupanya aku masih hidup. Uh... sekujur tubuh yang mulai lapuk ini terasa remuk. Aku harus menyalurkan hawa sakti, kalau tidak luka di bagian dalam sulit bisa disembuhkan."

Setelah berkata bagitu si kakek menarik kedua kakinya yang terjulur lalu duduk bersila. Dengan mata terpejam perlahan dia menarik nafas. Secara perlahan pula dia alirkan tenaga dalam di bagian pusar.

Setelah itu dari pusat dimana tenaga dalam bersumber terasa hawa hangat mengalir deras ke perut juga dadanya.

Tenaga dalam kemudian menjalar kesekujur tubuh hingga si kakek yang bukan lain adalah Mbah Krupuk ini merasa tubuhnya menjadi enteng.

Merasa agak baikkan Mbah Krupuk kusir kereta kuda dan merupakan abdi tumenggung Dadang Kusuma segera memukul dadanya.

Begitu dada dipukul maka dari mulut menyembur darah kental kehitaman.

Mbah Krupuk sempat megap-megap, namun setelah menelan tiga buah benda berupa pil berwarna merah segala penderitaan yang dirasakannya hilang seketika.

"Sekarang aku merasa lebih baik. Berapa hari aku tidak sadarkan diri? Mengapa aku mengendus bau tak sedap di sekitar sini?"

Tanya si kakek pada dirinya sendiri.

Karena aroma tidak sedap semakin mengganggu pernafasannya. Orang tua itu segera memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Sepasang mata Mbah krupuk terbelalak lebar ketika dia melihat mayat-mayat bergelimpangan di sekitarnya.

"Ada yang mati. Dan...bukankah mereka adalah pengawal katemenggungan?"

Pikir Mbah Krupuk. Karena hampir dua hari Mbah Krupuk tak sadarkan diri. Segala ingatan tentang semua kejadian di tempat itu hampir terlupakan olehnya. Tapl ternyata Ingatan si kakek cepat pulih.

"Astaga! Bukankah mereka ini adalah para pengawal yang mengiringi aku menuju ke tempat kediaman Ki Sabda Palon. Ya.. aku diperintahkan oleh gusti tumenggung untuk mengungsikan anak Istrinya di rumah gurunya. Kemudian seseorang yang dijuluki Si Mata Bara datang menyerang membunuh mereka ini. Mata Bara juga menyindirku dia mengatakan aku ini seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Siapa dia? Di mana tumenggung, istri dan anaknya?"

Pikir Mbah Krupuk.

Si kakek kemudian bangkit berdiri.

Sekali lagi dia memperhatikan sekeliling tempat itu.

Dia tercekat ketika melihat seorang wanita setengah baya juga seorang laki-laki berpakaian cokiat tergeletak tidak jauh dari kereta kuda.

Sementara kuda penarik kereta itu sendiri raib entah kemana. "Gusti tumenggung! Gusti Sitoresmi!"

Desis Mbah Krupuk.

Terkejut tak menyangka junjungan dan istrinya ikut menjadi korban kekejian Mata Bara . Mbah Krupuk cuma bisa tegak tercengang. Namun begitu dia dapat menguasai diri.

Dengan tergesa-gesa si kakek hampiri jenazah kedua majikannya.

Ketika sampai di sana memang Sitoresmi istri tumenggung Dadung Kusuma tewas dengan kepala pecah, sedangkan sang tumenggung menemul ajal dengan sekujur tubuh dipenuhi luka mengerikan.

Seperti telah dikisahkan dalam episode sebelumnya.

Kakek ini memang ditugaskan untuk membawa pergi istri dan puteri tumenggung Dadung Kusuma.

Sang tumenggung terpaksa meninggalkan istrinya mengingat beberapa Manusia Kutukan dari Lembah Bangkai muncul di rimba persilatan dan membunuh para pejabat serta tumenggung daerah yang berada di bawah wilayah kadipaten Blora.

Tapi belum lagi jauh Mbah Krupuk dan rombongan meninggalkan gedung katemenggungan. Dia dan para pengawal katemenggungan dihadang oleh Mata Bara.

Perkelahian sengit terjadi.

Selusin pengawal menemul ajal hanya dalam beberapa gebrakan saja. Sedangkan Mbah Krupuk juga kena dicidrai tapi rupanya tidak dibunuh.

"Jenazah itu sudah hampir membusuk. Rasanya gila sekali. Aku tidak percaya telah tidak sadarkan diri dalam waktu selama itu. Tapi.... dimana gusti Mangir Ayu putri gusti tumenggung? Apakah mungkin Mata Bara membawanya pergi. Celaka nasib gadis itu bila sampai terjatuh di tangan manusia haus darah. Aku harus mencarinya,"

Pikir Mbah Krupuk.

Ketika si kakek hendak pergi.

Orang tua ini tiba-tiba menjadi bimbang karena dia tidak tega meninggalkan mayat-mayat orang yang dikenalnya begitu saja.

Sedangkan menguburkan sendiri tidak mungkin.

Mbah Krupuk pun akhirnya mengumpulkan para penduduk desa untuk menguburkan mayat mereka.

Menjelang gelap barulah pemakaman selesai dilakukan.

Sebelum pergi mencari Mangir Ayu, Mbah Krupuk masih sempat membagi-bagikan sisa perbekalan dalam kereta kudanya pada penduduk itu.

Malamnya dengan menunggang seekor kuda dan membawa sekantong krupuk kesukaannya si kakek memulai perjalanannya.

Mengingat Mbah Krupuk tak tahu secara pasti kemana Mata Bara membawa Mangir Ayu. Maka upaya untuk menemukan gadis itu bukan hal yang mudah.

Hampir semalaman penuh dia terus memacu kudanya.

Si kakek hanya berhenti dan beristirahat sebentar bila melihat kudanya nampak kelelahan. Sementara itu pada waktu yang sama disebuah gubuk kecil tak jauh dari hutan di kaki gunung Merapi.

Seorang pemuda berpakaian kulit tebal berwarna putih dan membekal sebuah pedang aneh dipunggungnya.

Baru saja selesai memanggang tiga ekor ikan berukuran besar.

Pemuda tampan berambut panjang yang sebagian dikepang halus ini tiba-tiba berkata.

"Tiga ikan besar sudah matang. Sayang, ubi dan talas sayang sudah amblas ke dalam perut sejak tadi. Coba kalau matangnya bersamaan. Woih, pasti enak sekali."

Kata si pemuda yang bukan lain adalah Raja atau juga dikenal dengan sebutan Sang Maha Sakti dari istana Pulau Es.

"Makan tidak ada kenyangnya, memang perutmu itu terbuat dari apa?" Bertanya gadis berpakaian serba hijau yang ada di tangga gubuk.

"Entah. Mungkin terbuat dari karet, mungkin juga dari gentong. Aku lupa bertanya pada ibuku.

Begitu ingat dan hendak bertanya ibuku sudah pergi ke surga."

Kata Raja dengan mulut tersenyum namun wajahnya tampak muram. "Hah..... aku ikut bersedih. Jadi ibumu sudah tiada, memang sakitnya apa?" Tanya si gadis yang adalah Mangir Ayu.

Seporti telah dituturkan dalam episode Dendam Manusia Kutukan.

Mangir Ayu diselamatkannya dari kerangkeng yang terletak di depan Gua Cerekan di Lor Ploso.

Raja sendiri kemudian terpaksa membunuh dua penjaganya yang berujud manusia berwajah monyet atau kera.

Setelah menyelamatkan si gadis. Raja pergi begitu saja, namun Mangir Ayu yang merasa sendiri nekat menyusulnya.

Dalam perjalanan mereka terlibat perbincangan.

Tapi karena tak ingin kemalaman di jalan. Raja memutuskan untuk istirahat di gubuk yang letaknya tak jauh dari sebuah sungai yang banyak sumber makanannya.

Kini begitu mendapat pertanyaan si gadis. Raja yang tidak suka mengingat-ingat masa lalunya yang menyedihkan itu pun menjawab.

"Tanyakanlah yang lain asalkan jangan tentang keluargaku." "Mengapa tiba-tiba saja kau jadi perasa?"

Tanya Mangir Ayu sambil kerutkan keningnya.

"Kalau sudah tak punya rasa, sama saja aku dengan orang mati. Tapi sudahlah, lebih baik kau makan ikan ini, selagi masih hangat. Ikan ini sangat gurih. Aku sudah mencicipi sisiknya."

Gurau Raja sambil memberikan salah satu ikan panggang ditangannya. "Gila. Cuma mencicipi sisik ikan bagaimana bisa tahu rasa ikannya?" Kata Mangir Ayu. Lalu cepat-cepat mengambil ikan yang disodorkan Raja. "Ha ha ha. Sisik itulah yang memberi tahu aku bagaimana rasanya."

Kata pemuda itu.

Sambil menikmati ikan panggang, pemuda ini sesekali melirik Mangir Ayu. Bila mata mereka bertemu pandang Mangir Ayu pun tersipu.

Ia sadar Raja memang mempunyai wajah yang sangat tampan.

Dengan ilmu kesaktian yang dimiliki ditambah wajah yang tampan bila mau Raja pasti bisa mendapatkan gadis mana saja yang dia sukai.

Selagi melamun tiba-tiba saja Raja bertanya. "Ikanku cukup asin. Apa ikanmu terasa asin juga?" "Iya. Kau mendapatkan garam dari mana?"

"Hmm. Tak usah repot harus pergi ke laut. Aku telah menggarami ikan-ikanmu dengan keringat dan upilku saja ha ha!"

"Huek. Kurang ajar keterlaluan. Aku sudah menduga kau ini memang gila."

Maki Mangir Ayu sambil melemparkan sisa ikan ke arah pemuda itu. Raja menghindar lalu tertawa tergelak-gelak.

"Ha ha ha. Baru kukasih upil kau sudah marah, apa mau kau bila kuberi yang lain." "Apa maksudmu?"

Tanya Mangir Ayu sambil delikan matanya. Raja tersenyum lalu gelengkan kepala. "Bagaimana kalau kau kuberi ciuman apakah marah juga?"

Tanya Raja sengaja menggoda. Mangir Ayu tersipu.

Wajahnya yang cantik nampak kemerahan.

Beruntung suasana di sekitar gubuk dalam keadaan gelap temaram kalau tidak Mangir Ayu pasti merasa lebih malu lagi

"Sungguh aku tidak menduga ternyata kau laki-laki mata keranjang."

Dengusnya pura-pura marah padahal hatinya jadi gelisah mendengar ucapan pemuda itu. "Aku cuma bergurau. Tapi kalau ternyata kau memang mau kucium, aku mana bisa menolak!" "Pemuda kurang ajer. Lebih baik kau cium bokong kuda. Ada-ada saja. Mengapa kita tidak

istirahat saja. Malam semakin larut, suasana di tempat ini aku rasakan begitu sunyi."

Ujar Mangir Ayu dengan mata menerawang memperhatikan kegelapan di sekitarnya. Sang Maha Sakti tidak menjawab. Sebaliknya menyandarkan punggungnya pemuda ini berkata.

"Aku tidak risau dengan keadaan di tempat ini. Yang aku risaukan mengapa orang tuamu dibunuh.

Apa sebenarnya yang terjadi?"

Mangir Ayu yang duduk di tangga gubuk menatap ke arah Raja. Tapi belum sempat bicara apapun tiba-tiba saja terdengar suara gelak tawa memecah kesunyian. Seiring dengan terdengarnya suara tawa terdengar pula ada orang berkata.

"Hi hi. Bukannya aku mau usil tapi terus terang bila aku yang diajak oleh seseorang apalagi pemuda tampan untuk berciuman. Mana mungkin aku bisa menolaknya."

Tak menyangka ucapannya didengar orang baik Raja maupun Mangir Ayu tentu saja terkejut. Si gadis sempat bangkit lalu melompat turun tinggalkan tangga.

Sebaliknya walau sempat kaget namun Raja kini terlihat tenang malah nampak acuh. "Siapa yang baru saja bicara? Beraninya hidup?"

Hardik Mangir Ayu dengan suara lantang juga sengaja dikeraskan. Sebagai jawaban lagi-lagi terdengar suara tawa mengikik. Begitu tawa lenyap lagi-lagi terdengar jawaban.

"Siapa yang mengganggu? Dan tentunya aku belum bosan hidup. Kalau bosan kemarin-kemarin aku sudah membunuh diri. Hi hi hi!"

Jawab suara dari balik gelap. Raja yang sejak tadi diam saja kini malah bersikap konyol. Sambil tetap duduk di tempatnya dia berujar.

"Kalau ada yang iri karena aku tidak jadi mencium Mangir Ayu. Silahkan tunjukkan diri. Jika benar kau ingin aku cium sampai pingsan datanglah kemari. Aku sudah tidak sabar untuk melakukannya. Ha ha!"

"Kau benar-benar keterlaluan. Siapapun orang itu kita belum tahu, mengapa kau layani ucapannya

yang gila?"

Kata Mangir Ayu marah sementara jauh di lubuk hatinya ada juga rasa cemburu .Enteng saja Raja menyahuti.

"Tak usah tersinggung. Aku yakin yang bicara itu cuma orang gila kesasar. Buat apa diambil hati?"

Mangir Ayu terdiam.

Dia sadar yang dikatakan Raja mungkin juga ada benarnya.

Bahwa mungkin benar mereka saat itu kedatangan orang kesasar juga gila.

Dia memilih mengalah. Sementara itu di balik kegelapan di bawah pepohonan sudah tidak terdengar lagi suara orang tertawa tapi Raja sadar orang tadi masih berada di tempat itu.

Dugaannya memang tidak berlebihan. Terbukti beberapa saat kemudian terdengar orang itu berucap.

"Mungkin aku termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang tersasar di dunia ini. Tidak akan kutampik bila ada orang yang mengatakan diriku ini gila. Tapi segala kegilaanku belum seberapa dibandingkan dengan orang yang mengataiku tadi."

"Bagus kalau kau menyadarinya he he he" Raja menanggapi sambil tertawa mengekeh. "Kalau Sudah sama-sama tahu. Sekarang mengapa harus malu malu datang menghadap unjuk diri?"

"Mengapa harus malu bukankah masing-masing dari kita telah menutupi bagian yang memalukan. Hik hik hik!"

Sahut orang di dalam gelap.

*****

Meski geli mendengar ucapan orang, namun Sang Maha Sakti dari Istana Pulau Es itu berusaha menahan tawa.

Sebaliknya Mangir Ayu jelas-jelas tidak suka mendengar ucapan orang.

Selagi puteri tunggal almarhum tumenggung Dadung Kusuma hendak membuka mulut. Tiba-tiba saja.

Byar! Byar!

Terdengar suara letupan yang disertai pijaran bunga api.

Kegelapan yang menyelimuti sekitarnya mendadak berubah menjadi terang benderang. Raja tercengang sedangkan Mangir Ayu tercekat namun mulutnya terbuka.

Mereka sama menatap ke depan ke arah munculnya bunga api tersebut. Sebelum pijaran bunga api benar-benar padam, tiba-tiba muncul satu sosok berupa seorang gadis berpakaian warna warni, berdandan mencolok rambut samping dikepang kecil-kecil sedangkan rambut belakangnya yang tergerai panjang dihias dengan aneka bunga yang dijalin begitu rupa hingga terlihat indah.

Begitu muncul sosok gadis berpenampilan serba aneh itu kemudian mendekati Raja dan Mangir

Ayu.

Melihat kehadiran gadis berpenampilan selayaknya orang yang kurang waras Mangir Ayu jadi

gelisah kalau tidak dapat dikatakan cemburu.

Sementara yang membuat Raja jadi terheran-heran.

Ketika gadis yang tak lain adalah Penyair Sinting mendekat ke arah mereka.

Dia tidak berjalan dengan dua kaki menyentuh tanah, melainkan bergerak mengambang setengah tombak di atas semak belukar yang dilewatinya.

"Astaga! Sama sekali aku tidak menyangka malam-malam begini aku didatangi kuntilanak." Desis pemuda itu kaget, lalu tanpa sadar dia melompat mundur.

Mendengar ucapan Raja, Mangir Ayu kini mulai berubah cemas.

"Daerah ini ternyata banyak kuntilanaknya. Lebih baik kita pergi, cari tempat lain yang tak banyak setannya,"

Kata si gadis lalu menarik tangan Raja namun Sang Maha Sakti tidak bergerak dari tempatnya.

Sebaliknya dia malah berujar. "Tunggu diam. Biarpun kuntilanak sebaiknya kita tanya apa kepentingannya."

"Hi hi hi. Aku bukan kuntilanak, aku cuma orang yang kelak mungkin bisa beranak," Kata Penyair Sinting disertai gelak tawa.

"Ah aku sudah menduga kau orang yang bisa beranak, lalu siapa dirimu ini." "Apakah tukang jual bunga di pasar-pasar?"

Tanya Mangir Ayu. Mendengar ucapan si gadis gerakan Penyair Sinting tiba-tiba terhenti. Kemudian secara perlahan tubuhnya meluncur turun, lalu menjejak tumpukan bara yang masih menyala.

"Hei, jangan dinjak. Kau bisa terbakar!' teriak Raja sambil tergopoh-gopoh datang menghampiri.

Niatnya yang semula hendak menolong terpaksa diurungkan ketika dia melihat kaki si gadis yang dilapisi kasut kuning berbulu itu ternyata tidak terbakar. Malah gadis itu pejamkan mata sambil tersenyum seakan kaki berpijak pada bara itu seperti menginjak tumpukan es tebal.

"Wah ini hebat. Luar biasa. Gadis aneh suka bermain api." "Aku lebih suka bermain api asmara."

Sahut Penyair Sinting.

Kemudian dengan tenang dia melangkah meninggalkan tumpukan bara api.

Ketika dia berdiri di depan Raja dan Mangir Ayu lalu beberapa saat lamanya dia menatap gadis di depannya.

"Kau..orang tuamu baru saja menjadi korban. Keduanya tewas sesaat sebelum kau dibawa pembunuhya ke sebuah tempat."

Ujar Penyair Sinting tidak terduga. Ucapan Penyair Sinting membuat Mangir Ayu terkejut, "Gadis aneh bermulut lancang. Dari mana kau tahu kedua orang tuaku tewas,"

Bentak Mangir Ayu yang entah mengapa tidak menyukai kehadiran gadis itu. Si gadis tersenyum.

"Percaya atau tidak. Tapi aku melihat dari tatap matamu" tegasnya tanpa ragu. Selanjutnya dengan sikap acuh dia berpaling pada Raja. Begitu dia menatap pemuda di depannya dengan seksama tiba-tiba dia kaget. Kemudian dari mulutnya terdengar ucapan.

"Ah... kau. Bukankah kau orangnya yang bernama Raja, satu-satunya pewaris tahta istana Es. Bukankah kau yang dijuluki Sang Maha Sakti dari istana pulau Es? Bukan cuma namamu saja yang Raja, tapi kau raja sungguhan. Sayang kau sedikit gendeng hingga gurumu sendiri selalu memanggilmu Raja Gendeng. Hi hi h..."

Tak menyangka gadis berpenampilan dan berdandan aneh itu mengenali siapa dirinya, walau sempat dibuat terkejut dengan penasaran pemuda itu bertanya,

"Bagaimana kau bisa tahu siapa diriku? Siapa dirimu ini yang sebenarnya? Apakah kau seorang peramal hingga bisa tahu asal usulku." "Aku bukan peramal, aku hanya seorang penyair. Orang memanggilku Penyair Sinting. Aku Penyair Sintig bahkan tahu tentang tanda-tanda kehadiranmu sejak beberapa purnama yang lalu. Aku ucapkan selamat datang di rimba pembalasan dendam. Orang sepertimu sangat dibutuhkan di sini, kau datang pada waktu yang tepat. Namun kuharap kau dapat bertindak bijaksana."

Segala apa yang dikatakan oleh Pernyair Sinting ini tentu membuat bingung orang yang mendengarnya. Tidak hanya Mangir Ayu tapi juga Raja.

"Kau seorang penyair tapi tahu banyak persoalan. Namun terus terang aku tak mengerti apa yang kau maksudkan."

Penyair Sinting manggut-manggut tanda mengerti. Sementara Mangir Ayu tiba-tiba berkata. "Raja... rasanya aku tahu siapa gadis aneh ini. Dia masih ada hubungannya dengan penghuni

Lembah Bangkai."

"Bahkan tempat yang kau sebutkan itu aku sendiri tak pernah mendengarnya Mangir Ayu. Apa yang sebenarnya terjadi? Harap kalian berdua mau berterus terang."

Mangir Ayu dan Penyair Sinting saling pandang.

"Dia pembunuh. Dia adalah kaki tangan penghuni Lembah Bangkai. Aku yakin dia tahu pasti siapa yang telah menghabisi orang tuaku... !"

Geram Mangir Ayu, lalu menangis tersedu-sedu.

"Aku semakin tidak mengerti. Kalian berdua benar-benar membuatku bingung," Kata Raja sambil garuk-garuk kepala.

"Tunggu. Aku datang mencegah agar tidak terjadi pertumpahan darah. Aku tidak membunuh siapa pun. Kematian orang tuanya bukan aku yang menjadi penyebabnya. Tapi semua itu akibat dari perbuatan masa lalu tumenggung Dadung Kusuma,"

Terang Penyair Sinting. Mendengar ucapan gadis itu Mangir Ayu mendelik. "Apa? Memangnya apa yang dilakukan oleh ayahku dimasa lalu?"

Tanya Mangir Ayu, suaranya bergetar karena dilamun rasa sedih dan perasaan marah.

Penyair Sinting yang biasanya bicara sesuka hati namun tak menyimpang dari kebenaran dan jalan hidupnya kini menghela nafas perlahan. Sejenak dia menatap Raja yang memandangnya dengan mata penuh tanya. Setelah itu perhatiannya tertuju pada Mangir Ayu. Penyair Sinting merasa iba melihat penderitaan Mangir Ayu. Bila dia bicara sebuah kenyataan, nantinya pasti akan sangat memukul perasaannya. Tapi sebuah kebenaran betapa pun pahit harus dia ungkapkan juga.

Dengan mata menerawang Penyair Sinting lalu berujar lirih.

"Anak dara puteri tumenggung Dadung Kusuma. Sebelumnya aku mohon maaf bila yang kukatakan nanti ternyata menyakiti sekaligus menyinggung perasaanmu. Tapi di depan orang yang akan kumintai budi pertolongannya. Aku harus berkata jujur agar bisa dicapai kata sepakat."

"Jangan berbelit-belit, aku mau kau berterus terang sekarang. Katakan padaku apa yang dilakukan ayahku di masa lalu?"

Hardik Mangir Ayu. Mendengar ucapan Mangir Ayu yang tak bersahabat Penyair Sinting tidak merasa berkecil hati, sebaliknya malah tersenyum. Tapi tak lama kemudian dengan perasaan prihatin dia berkata.

"Anak dara. Kesalahan ayahmu dimasa lalu tak lain karena mengikuti perintah yang salah dari adipati Seta Kurana yang saat itu belum menjadi adipati Blora. Ayahmu bersama para sahabat adipati lainnya yang kini menjadi tumenggung di beberapa wilayah telah melakukan penyerbuan sekaligus pembantaian terhadap penghuni Lembah Bangkai."

"Apakah benar seperti itu kejadiannya?" Potong Mangir Ayu kaget.

"Aku tidak berdusta." jawab Penyair Sinting.

"Mengapa adipati menghabisi penghuni Lembah Bangkai? Memangnya penghuni Lembah itu siapa?"

Tanya Raja tertarik juga penuh rasa ingin tahu. "Para penghuni Lembah Bangkai."

Berkata Penyair Sinting dengan mata menerawang kosong.

"Mereka adalah sebuah kaum yang keadaan tubuh dan wajahnya menyerupai manusia dan binatang. Mereka kaum yang dikucilkan oleh orang-orang yang mengaku dirinya sempurna.

Penyerbuan itu dilakukan karena mereka menganggap kaum aneh yang sering mereka sebut sebagai Manusia Kutukan itu sebagai sumber penyakit dan kemalangan bagi orang yang tinggal di luar lembah."

Terang Penyair Sinting.

"Apakah kejadiannya memang seperti itu?"

"Tidak. Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki manusia kuanggap sebagai sebuah kuasa sang pencipta. Tapi adipati menganggap mereka adalah manusia kutukan para dewa. Padahal sebenarnya adipati menginginkan sebuah senjata pusaka bernama Cambuk Sakti Naga intan. Senjata paling hebat yang tiada tandingannya dan milik dari sesepuh Lembah Bangkai bernama Nyi Marasati atau lebih dikenal dengan julukan Harimau Setan."

"Kedengarannya seperti sebuah senjata yang langka. Lalu dimana senjata maut itu sekarang berada?"

Tanya Raja.

"Tentu saja berada ditangan adipati Seta Kurana,"

Kata Penyair Sinting. Setelah menghela nafas sejenak dia berkata lagi. "Sebelum menjadi adipati. Seta Kurana telah menggulingkan adipati yang lama."

"Jika kau tahu semua riwayat kehidupan di Lembah itu. Mengapa kau tidak berusaha mengambil kembali cambuk yang dicuri?"

"Aku berpantang membunuh. Sementara Harimau Setan memang berniat merebut senjatanya lagi.

Tapi dengan adanya senjata di tangan adipati sulit sekali bagi nenek itu untuk membunuh adipati Seta Kurana."

"Karena itu dia membunuh orang-orang penting kadipaten, lalu menghabisi lima tumenggung termasuk juga ayahku?"

Dengus Mangir Ayu geram.

"Kau. Jangan terlalu berburuk sangka. Yang membunuh ayahmu juga orang orang penting lainnya bukan Harimau Setan, tapi beberapa pengikutnya yang tidak lagi patuh pada perintah si nenek.

Mereka bertindak sendiri-sendiri."

"Apakah kau kenal manusia aneh yang kedua matanya senantiasa menyala seperti bara?" Tanya Mangir Ayu.

"Ya. Dia adalah salah satu diantara pengikut Harimau Setan." "Bagaimana dengan manusia berwajah singa?"

Tanya Raja begitu teringat dengan kejadian di padepokan milik kakek Giri Soradana. Si gadis tersenyum.

"Tiga manusia berwajah singa itu termasuk orang yang bertindak diluar kendali Harimau Setan.

Mereka tidak bisa disalahkan."

"Gadis culas. Dia datang kemari rupanya karena ingin minta bantuan Raja." Batin Mangir Ayu.

"Jadi kau datang untuk mempengaruhi Raja."

"Aku hanya mengharapkan dia meluruskan duduk persoalan yang sebenarnya. Mungkin dengan bantuan pihak luar adipati mau mengembalikan cambuk sakti yang dulu dia rampas dari tangan nenek itu"

"Bagaimana kau bisa yakin Raja bisa mengatasi semua masalah ini. Sementara pembunuhan telah meluas kemana-mana."

Kata Mangir Ayu. Lalu dia melanjutkan,

"Aku sendiri tidak akan berpangku tangan atas kematian ayahku. Apapun yang dilakukannya dia tetap ayahku dan Mata Bara harus menyerahkan nyawanya padaku."

"Tanpa mengabaikan kemampuanmu. Terus terang kukatakan Mata Bara jelas bukan tandinganmu. Kau bisa mati sia-sia di tangannya!"

Kata Penyair Sinting. Mendengar ucapan gadis itu wajah Mangir Ayu seketika berubah kelam membesi .Dengan pipi menggembung dan mata mendelik besar Mangir Ayu berucap.

"Penyair Gila, kau tak merasakan betapa pedihnya hatiku ditinggal kedua orang tuaku. Kau terlalu besar mulut dan menganggap aku gadis lemah tidak berdaya. Aku tidak bisa menerima segala ucapanmu.Karena kau mengenal manus ­a-manusia terkutuk dari Lembah Bangkal itu, aku menganggapmu sebagai musuhku juga. Karena itu sekarang juga kau harus mampus!"

Sambil berteriak lantang Mangir Ayu tiba-tiba menyerbu ke arah Penyair Sinting. Raja tentu saja terkejut dan berusaha menengahi.

Ketika serangan Mangir Ayu menderu siap melabrak dada dan wajah Penyair Sinting. Si gadis bersikap tenang.

Namun Raja melompat ke depan menghalangi serangan maut yang dilakukan Mangir Ayu. Plak!

Plak!

Gerakan menepis yang dilakukan Raja membentur tinju si gadis, membuat Mangir Ayu terdorong mundur ke belakang sementara tangannya yang membentur telapak tangan Raja terasa sakit dan nyeri hingga kebagian bahu.

Kaget bercampur marah Mangir Ayu menatap ke depan.

Melihat Raja yang telah merintangi serangannya gadis ini jadi mengira Sang Maha Sakti berpihak pada Penyair Sinting.

"Kk... kau.... Rupanya kau terpikat dan jatuh hati pada penyair edan itu. Sungguh aku tidak menyangka" geram Mangir Ayu kecewa.

Melihat Mangir Ayu jadi salah sangka. Raja bingung sendiri. Buru-buru dia menjawab. "Bukan.. bukan itu maksudku. Aku tidak bermaksud membela siapapun! Sungguh, kau harus

percaya."

Percuma saja Raja berusaha menyakinkan.

Mangir Ayu yang masih terguncang karena kematian orang tuanya akhirnya balikkan badan lalu berlari tinggalkan tempat itu.

Disepanjang jalan si gadis terus menangis.

Walau pun Raja berusaha mengejar tapi Mangir Ayu telah lenyap ditelan kegelapan malam. Sementara itu setelah tidak berhasil mencegah kepergian Mangir Ayu.

Pemuda itu cuma bisa berdiri tertegun.

Dia lupa di belakangnya tepat di depan pondok yang dia tinggalkan Penyair Sinting masih berada di tempatnya.

Tidak lama setelah sempat diam memperhatikan akhirnya gadis ini membuka mulut. Serangkaian kata-kata syair meluncur dari bibirnya.

"Laut biru langit biru. Jambangan hati terlepas ditelaga. Bulan menangis binatang merintih.

Nyawa bertabur bercecer darah. Aku mencari dalam bingung di tengah dinding-dinding buntu .Engkau muncul membawa pedang seperti pangeran langit. Malam berlalu bertabur sunyi dalam tanya. Amarah dan dendam menutup tirai terang. Harapan muncul bersama sang penegak yang tak tersangkut dendam dan tertaut piutang. Dengan dua tangan kuletakkan di depan perutmu. Aku meminta kau segera datang ke Blora .Berbuatlah sebagai sang bijaksana. Bertutur dengan kearifan. Pintalah cambuk sakti Naga Intan dari sang penguasa. Agar darah tak lagi tertumpah dan kematian menjadi sia-sia."

Mendengar bait-bait syair yang dilantunkan Penyair Sinting. Raja tentu saja dibuat terperengah.

Kata-kata yang diucapkan begitu indah sarat dengan makna. Dan Raja tahu semua itu ditujukan padanya.

Tak lama kemudian sambil menghela nafas dan dalam keadaan tertegun ia tiba-tiba menjawab. "Aku rasa segala harapanmu itu tidak mudah untuk kupenuhi. Meminta cambuk sakti dari tangan

adipati Seta Kurana bukan perkara mudah meski cambuk adalah cambuk rampasan."

"Aku tahu, Tapi kalau kau tidak melakukannya, tak lama lagi bakal terjadi pertumpahan darah.

Aku yakin setelah menunggu sekian lamanya Harimau Setan tak akan tinggal diam. Dia akan berlaku nekat mengambil kembali cambuk miliknya."

"Kalau begitu kebenaran harus ditegakkan dan nenek itu harus dibantu," Tegas Raja. Si gadis tersenyum sambil menggeleng.

"Tidak ada yang mengharapkanmu membantu salah satu dari mereka. Kau hanya diharapkan mampu jadi penengah dan bersikap adil. Bagaimana pun mereka telah terlibat silang sengketa. Apa yang telah dilakukan oleh adipati Seta Kurana, kini dia harus menanggung akibatnya."

"Penyair Sinting! Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan?" pancing Raja Gendeng berlagak tolol sambil garuk-garuk kepalanya. Gadis cantik berpenampilan aneh berdandan celemongan tak karuan yang ditanya diam sebentar sambil menatap pemuda itu. Selanjutnya dia berkata.

"Kau bertanya seolah aku ini seorang penasehat kerajaan."

"Tidak mengapa kalau kau beranggapan begitu? Bukankah kau tahu aku ini memang seorang pangeran, aku dapat menjadi raja kapan saja aku inginkan dan kurasa kau memang layak menjadi seorang penasehat kerajaan."

"Apa maksudmu? Menurutmu aku layak menjadi penasehat kerajaan dimana?"

Tanya Penyair Sinting dengan wajah berseri dan tampak Penyair Sinting lebih sumringah.

Sambil senyum-senyum pemuda itu menjawab

"Kau pantas menjadi penasehat raja di istananya orang-orang sinting.Ha ha ha...!" Pemuda itu lalu tertawa tergelak-gelak.

"Terima kasih. Jadi kau tidak mau mendengar apa yang harus kau lakukan?"

Tanya Penyair Sinting. Setelah berkata begitu si gadis ulurkan ujung selendang kuningnya yang bergelung melingkari kedua tangan.

Begitu dua tangan yang pegang ujung kedua selendang dikibaskan. Maka seketika itu pula terdengar suara desis halus.

Seiring dengan terdengarnya suara desir maka tubuh gadis itu secara perlahan namun pasti terangkat naik dan terus bergerak melambung diketinggian.

Melihat kejadian itu Raja merasa takjub namun juga heran. "Hei, apa yang kau lakukan?"

"Aku bukan burung, namun aku merasa lebih suka berada diketinggian." Jawab Penyair Sinting dingin.

"Lalu kau hendak ke mana?"

"Segala yang hendak kusampaikan kau sudah mendengarnya. Kalau kau tidak suka mendengar nasehatku kau bebas menentukan pilihan. Sekarang juga sudah waktunya bagiku tinggalkan tempat ini."

"Penyair Sinting. Tapi kau belum menjawab pertanyaanku." kata Raja sambil tersenyum. Penyair Sinting pura-pura unjukkan wajah kaget.

"Oh ya pertanyaanmu yang mana?"

Tanya si gadis. Raja terdiam sebentar, setelah berpikir beberapa jenak lamanya dia berkata. "Tanah Dwipa bagiku masih baru dan agak asing. Menurutmu apa yang harus kulakukan?" "Kau bebas berbuat sesuka hati, tak ada yang melarang bukan?"

Tanya Penyair Sinting disertai senyum sinis. "Akh ternyata kau merajuk rupanya."

"Tidak. Aku tidak marah padamu. Aku hanya merasa mungkin akan terlalu banyak berharap dan memaksakan diri."

"Oh, tentu saja tidak Penyair Sinting. Kau tak usah berkecil hati. Sekarang pun aku sudah mengambil keputusan sendiri,"

Ucap Raja mantap membuat Penyair Sinting menoleh lalu menatap tajam kepadanya. "Apa keputusanmu?"

Bertanya si gadis dengan mata berkedap-kedip aneh dan terlihat lucu.

"Keputusanku tentu dengan tidak berpihak pada siapapun. Aku lebih memilih akan berpihak pada diri sendiri. Bukankah sebaiknya begitu?"

Tanya Raja.

"Hm, anak kecil pun bisa membuat keputusan seperti itu."

Jawab Penyair Sinting sambil berusaha menyembunyikan rasa kecewanya. Dia kecewa karena Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es itu ternyata tak kunjung menentukan tindakan apa kiranya yang bakal dia ambil.

"Maksudmu apakah kau bersedia memberiku sebuah petunjuk?"

"Kau lebih bijaksna dari penampilanmu. Jangan pernah mengaku kau lebih bodoh dariku." Kata Penyair Sinting. Setelah itu dia terdiam lagi, namun tak lama segera melanjutkan. "Waktu terus bergulir, aku sendiri tak punya banyak waktu. Masih banyak tugas yang harus

kuselesaikan. Aku harus...!"

Belum lagi si gadis sempat menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba Raja memotong.

"Sebelum pergi kuharap kau mendengarku dulu. Ketahuilah aku telah memutuskan akan segera berangkat ke Blora. Aku harap adipati bisa kuajak bicara tentang senjata yang pernah diambilnya dari Lembah Bangkai. Bila dia bersedia mengembalikan Cambuk Sakti Naga Intan kepada pemiliknya yang sah, menurutmu apakah kemungkinan pertumpahan darah yang lebih besar dapat dihindari?"

Mendengar pertanyaan Raja, Penyair Sinting tersenyum.

Dia sendiri tidak begitu yakin apakah pertumpahan darah dapat dihentikan begitu cambuk si pemilik Harimau Setan dikembalikan pada si nenek.

Senopati kemungkinan besar pasti bakal mempertahankan senjata rampasan tersebut. Apapun yang terjadi, sejak awal Penyair Sinting walau hubungannya dengan Harimau Setan cukup akrab namun dia tidak pernah berpihak pada si nenek.

"Kau diam! Aku melihat sepertinya kau ragu?"

Tanya pemuda itu hingga membuat Penyair Sinting tersadar dari lamunannya. Dengan tersipu dia menjawab.

"Aku... aku tidak ragu. Aku hanya berharap semua yang kau usahakan tidak mengalami banyak kendala."

"Kendala? Maksudmu bagaimana kalau adipati tiba-tiba saja menolak tawaranku? Apakah begitu?"

"Seandainya iya bagaimana?"

"Ha ha ha. Ini kukira bagian yang paling kusukai. Kalau dia menolak menyerahkan kembali senjata rampasannya itu aku akan memelintir telinganya hingga copot kemudian kubetot hidungnya hingga tanggal. Lalu kukorek biji matanya untuk kujadikan cendol. Dengan begitu dia pasti bakal berpikir seribu kali untuk menolak keinginanku."

"Hmm, kau lupa senjata adipati adalah senjata yang sangat berbahaya dan bisa menjadi senjata keji bila berada di tangan orang yang salah."

"Aku tidak takut. Bagaimana denganmu apakah kau merasa takut?"

Tanya sang Maha Sakti. Penyair sinting kedipkan matanya, kemudian sambil tersenyum dia berujar.

"Aku tidak takut dengan cambuk. Aku justru takut dengan pedang. Pedang lebih berbahaya dari pada cambuk. Hik hik!"

Raja ikutan tersenyum, namun otaknya berpikir. Begitu sadar maksud ucapan Penyair Sinting dia pun tak kuasa menahan tawa. "Ah, pedang mana ya?! Ha ha ha!"

Sambil tertawa-tawa pemuda itu tiba-tiba ingat sesuatu. Serta merta tawanya terhenti. Namun ketika dia hendak membuka mulut ajukan pertanyaan. Raja terkejut sendiri. Penyair Sinting yang berdiri mengapung di atas ketinggian ternyata telah lenyap.

"Kemana dia pergi? Sejak tadi aku tak pernah mengalihkan perhatian darinya. Mengapa saat dia pergi aku justru tak melihatnya sama sekali. Hhm... gadis aneh. Bisa menghilang, datang dan pergi seperti hantu. Jangan-jangan dia memang hantu Sungguhan."

Batin Raja sambil mengusap tengkuknya yang dingin.

*****

"Kurang ajar! Mengapa segala urusan jadi kapiran begini?"

Maki laki-laki gagah berpakaian serba hitam berbelangkon biru bersenjata keris, yang terselip di punggungnya.

Dalam ruangan mewah berdinding cokelat berlantai marmer berlapis permadani, Senopati Gagak Panangkaran yang baru kembali dari perjalanan jauh hanya bisa diam sambil tundukkan kepala.

Orang tua berusia hampir enam puluhan yang tak lain adalah adipati Blora Seta Kurana tampak tidak puas.

Wajahnya merah padam, dua tangan terkepal, pipi menggembung sedangkan pelipisnya bergerak-gerak.

Dengan tatap mata nyalang adipati bangkit berdiri dari kursi berlapis emas yang didudukinya.

Sesaat seperti orang bingung dia mondar mandir, orang tua ini jelas gelisah, tapi juga merasa penasaran setelah mendapat laporan dari senopatinya.

Seakan masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya sendiri, adipati itu sekali lagi berucap,

"Apa engkau tidak salah melihat, apa benar orang-orang sakti seperti Ki Rangga Galih, Windu Saketi dan Ki Jaran Palon yang hendak kita minta bantuannya telah menemui ajal dengan cara mengenaskan seperti itu?"

Senopati Gagak Panangkaran rangkapkan kedua tangan bungkukkan badan lalu menjura hormat.

Selanjutnya dia menjawab.

"Ampun gusti adipati. Keadaan yang terjadi disana memang demikian. Saya hanya menemukan bagian tubuh tanpa kepala milik kakek Windu Saketi membusuk di belakang rumahnya. Seorang gadis aneh mengaku berjuluk Penyair Sinting mengatakan pada saya bahwa kepala kakek Windu Saketi tergantung di bawah pohon kapuk bersama dua kepala tokoh penting lainnya." terang laki-laki itu seadanya.

"Apakah kepala Ki Rangga dan Ki Jaran Palon juga tergantung di halaman padepokan milik Giri Soradana," Tanya adipati terlihat kurang puas.

"Begitu menurut pengakuan Penyair Sinting. Dia mengaku melihat dengan mata kepala sendiri, tiga kepala sahabat kita tergantung membusuk dihalaman padepokan."

"Bagaimana dengan Giri Soradana serta murid-muridnya?"

Tanya sang adipati sambil menarik nafas dalam-dalam. Setelah sedikit dapat menenangkan diri dia kembali duduk di tempatnya. Dua kaki diluruskan, sedangkan tatap mata tetap tertuju pada senopatinya.

"Orang tua itu mengalami cidera berat, semua muridnya terbunuh. Malah beliau sendiri dipendam hidup-hidup. Seseorang bernama Raja Gendeng bergelar Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es datang memberi pertolongan, mengeluarkan kakek Giri dari pendaman. Tapi tetap saja si kakek tidak bisa diselamatkan."

"Tunggu. Kau mengatakan seseorang bernama Raja bahkan Gendeng pula telah menolong Giri Soradana,"

Kata adipati setengah menggumam. Matanya menarawang menatap ke langit-langit. Adipati berusaha keras mengingat-ingat apakah dia pernah mendengar atau mengenal nama pendekar aneh yang disebutkan bawahannya itu.

"Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es? Baru kali ini aku mendengar nama aneh dan julukan seperti itu.Seingatku di ujung timur laut selatan. Di sana memang ada sebuah pulau dingin bernama Pulau Es. Konon di pulau itu berdiri sebuah istana putih bernama istana Pulau Es. Raja kerajaan es yang langka bernama Prabu Sangga Langit dengan parmaisurinya bernama ratu Purnama Sari. Tapi istana itu sekarang tak berpenghuni lagi.Prabu dan istrinya tewas terbunuh ketika Maha iblis Dari Timur dengan dibantu seorang penyihir dan pasukan alam gaib menyerbu istana itu. Jadi jelasnya istana telah runtuh."

"Kalau begitu mengapa sekarang muncul seorang pendekar muda yang berasal dari istana Pulau Es?" tanya Senopati tidak mengerti.

"Hal ini aku tidak tahu. Aku bahkan baru mendengar kehadirannya darimu. Tapi sepertinya dia berada di pihak kita, kalau pun nantinya dia menyeberang membantu pihak musuh. Aku tidak akan segan-segan menyingkirkannya."

"Lalu bagaimana dengan Penyair Sinting Gusti. Saya yakin dia tau segala hal tentang masa lalu gusti."

Adipati Seta Kurana tidak menanggapi. Sepasang matanya menatap senopati dengan pandangan menyelidik.

"Bagaimana kau bisa berkata begitu."

"Saya mendengar sendiri dia mengatakan tahu tentang masa lalu dan semua orang yang membantu gusti. Dia juga ada menyebut-nyebut tentang pembantaian yang gusti lakukan bersama para sahabat gusti di Lembah Bangakai sebelum menjadi adipati,"

Terang senopati Gagak Panangkaran. Ucapan sanopatinya itu membuat adipati Seta Kurana terkejut

"Penyair Sinting.Sering sekali kudengar namanya, namun dia manusia aneh yang sebenarnya jarang menampakkan diri di dunia ramai. Dia bisa muncul di mana-mana. Sejauh in ­ aku tidak tahu dia berada dipihak slapa?"

"Saya yakin dia berdiri dipihak sesepuh Lembah Bangkai, gusti." Sahut Gagak Panangkaran membuat adipati Blora itu jadi tercengang.

"Astaga. Bukankah Harimau Setan sesepuh sekaligus pemimpin para manusia kutukan itu seharusnya tewas. Tubuhnya penuh luka, saat itu bahkan dia kehilangan tangan kirinya."

Ucapan senopati ini tanpa sadar dan telah membuka aib dari perbuatannya sendiri di masa lalu. Untuk diketahui Gagak Panangkaran sebenarnya tidak sejak awal bergabung dengan adipati

Blora.

Dia terpilih menjadi senopati tiga tahun setelah Seta Kurana memangku jabatan adipati Blora. Gagak Panangkaran berasal dari desa Manding di daerah Pleret.

Sepak terjangnya yang menggemparkan serta kekuatannya yang sangat mengagumkan dalam berbagai perkelahian mengundang perhatian adipati hingga mengangkatnya menjadi senopati Blora. Tidaklah mengherankan bila kemudian laki- laki ini bertanya.

"Gusti, memangnya apa yang telah terjadi di masa lalu?" "Apa maksudmu?"

Sang adipati malah balik bertanya.

"Gusti adipati, menurut yang saya dengar serta kenyataan yang terjadi saat ini.Pembunuhan yang menimpa orang-orang dekat kita termasuk juga para tumenggung semua adalah akibat perbuatan gusti dan para sahabat dimasa lalu. Saya juga menyirap kabar para pembunuh itu berasal dari Lembah Bangkai."

"Apakah manusia keparat penyair gila itu tidak mengatakan padamu apa yang kami lakukan di Lembah Bangkai? Dia tidak menyinggung pemusnahan para kaum kutukan?"

Tanya laki-laki itu disertai seringai sinis. Senopati tampaknya hendak mengatakan sesuatu namun karena sungkan dia menjadi diam membisu. Melihat keraguan di wajah senopatinya, sang adipati kembali lanjutkan ucapannya.

"Jangan ada yang ditutup-tutupi, aku ingin kau berterus terang Gagak Panangkaran!" Desak laki-laki itu.

"Katakan apa yang kau dengar.Katakan juga apa yang kau lihat!"

"Saya tidak melihat apa-apa. Saya curiga melihat pembunuhan masih terus berlangsung. Bahkan tumenggung Dadung Kusuma dan istrinya telah menemui ajal.Pembunuhnya adalah manusia aneh berjuluk Mata Bara atau Mata Setan." "Soal itu aku sudah tahu." Senopati anggukkan kepala.

"Maafkan saya gusti adipati. Menurut yang saya dengar sisa-sisa Manusia kutukan itu datang untuk menuntut balas atas kematian para kerabatnya. Saya mendengar sesepuh Lembah Bangkai yang bernama Marasati atau yang lebih dikenal dengan sebutan Harimau Setan mau mengambil kembali senjatanya."

"Puah,lagi-lagi nenek keparat itu!"

Geram adipati sambil menggebrak meja. Meja hancur membuat senopati terkejut. Dia sadar adipati Seta Kurana rupanya tengah dilanda kemarahan besar setelah mendengar penjelasannya.

Buru-buru senopati menjura sekaligus, berujar.

"Gusti bila ada kata-kata saya yang tidak berkenan dihati gusti, saya mohon maaf. Sedikitpun saya tidak punya maksud menyinggung perasaan gusti"

Diluar dugaan adipati malahan tertawa tergelak-gelak. Kenyataan itu membuat sang senopati terheran-heran. Walau begitu dia tetap diam. Senopati takut berucap salah. Adipati Seta Kurana katupkan mulut, seringai sinis terselip dibibirnya.

"Senopati."

Berkata laki-laki itu hingga membuat Gagak Panangkaran mengangkat wajah menatap junjungannya dengan perasaan sungkan.

"Perlu kau ketahui dalam diri manusia ada dua yang berdampingan namun tak pernah sejalan.

Pertama adalah sisi baik dan kedua sisi buruk. Terserah sisi mana yang akan dipelihara oleh manusia itu sendiri. Di masa lalu, aku dan para pengikutku kebetulan sekali berpijak disisi yang buruk. Sisi gelap itu mengantarku menjadi seperti sekarang ini. Aku penjahat, aku pembunuh, aku dan pengikutku juga tukang fitnah. Belasan tahun lalu aku menyerbu Lembah Bangkai dan para penghuninya demi satu tujuan. Tujuanku adalah untuk mendapatkan senjata hebat bernama Cambuk sakti Naga Intan yang tiada duanya. Ketika cambuk kudapatkan aku habisi orang-orang yang memusuhi aku. Dan puncak dari semua kejahatanku adalah menggulingkan kekuasaan adipati yang lama Sodra Wilaguna. Begitu dia dan pengikutnya dapat kusingkirkan maka aku yang menggantikan kekuasaannya. Apakah kau sudah mengerti?"

Tanya laki-laki itu.

"Ampun. Saya sudah mengerti gusti."

Sahut senopati Gagak Panangkaran dengan suara perlahan namun jelas. Adipati menarik nafas lega.

"Bagus."

Laki-laki itu tersenyum. "Perlu kiranya kau ketahui,untuk mencapai sesuatu dalam hidupku. cara dan selalu banyak jalan. Untuk mendapatkan yang besar, raih dulu yang kecil.Jalan hidup memang sangat kelam, penuh darah dan kekejian. Aku tak menyesal jika manusia sisa penghuni Lembah Bangkai itu kini datang menuntut balas. Yang aku sesalkan mengapa di antara mereka ada yang selamat."

"Apapun yang telah gusti lakukan bersama para sahabat yang lain, saya selalu berada di pihak gusti"

"Aku sangat senang mendengarnya. Bersikap setialah padaku sampai akhir hayat. Dengan begitu kau bisa hidup enak tanpa menemui banyak kesulitan. Ada pun tentang senjata Cambuk Sakti Naga intan, aku tak akan pernah menyerahkan senjata itu pada Harimau Setan. Senjata itu sekarang sudah menjadi milikku."

"Bagaimana Jika Harimau Setan dan pengikutnya yang liar itu datang kemari?"

Tanya senopati. Suasananya tenang namun menyimpan rasa kekhawatiran. Adipati menyeringai. "Kau takut?"

Tanya adipati sambil menatap tajam senopatinya .Dengan cepat dia gelengkan kepala.

"Jika mereka nekat menyerang, aku akan menghabisinya. Kali ini aku akan menamatkan riwayat mereka semua hingga tidak ada yang tersisa sedikitpun."

Tegas sang adipati lebih bersemangat. Gagak Panangkaran terdiam. Dia benar-benar baru mengetahui kejahatan junjungannya.

Dia tidak menduga orang sebaik adipati dulunya mempunyai jalan hidup yang sangat menyimpang.

Sebagai kepala pasukan perang kadipaten, Gagak Panangkaran sesungguhnya punya segudang cita-cita yang belum terlaksana.

Dulu dia pernah bercita-cita mendirikan sebuah kerajaan. Namun dia tidak tahu bagaimana cara memulainya.

Sekarang setelah adipati menjelaskan riwayat masa lalunya. Sebuah gambararan tentang hari depan akan bertambah nyata. Tidak tertutup kemungkinan dia akan mengikuti jejak adipati.

Atau kalau perlu dia akan menggulingkan kekuasaan adipati Seta Kurana jika waktunya betul-betul memungkinkan.

"Apa yang kau pikirkan senopati."

Tanya sang adipati. Gagak Pangkaran terkejut, namun buru buru tersenyum.

"Tak ada yang lebih penting untuk saya pikirkan selain memperkuat pasukan dan bersikap lebih waspada dari segala kemungkinan yang tidak diinginkan gusti."

Jawab senopati dan tentu saja dia berdusta. Adipati tersenyum.

"Aku bangga kepada kesetiaanmu dan rasa perduli terhadap ketenteraman wilayah yang menjadi kekuasaanku. Benar-benar patut menjadi contoh bagi semua orang yang mengabdi padaku." "Bukankah apa yang saya lakukan sudah menjadi kewajiban saya sebagai penanggung jawab

keamanan kadipaten Blora gusti."

Ujar Gagak Panangkaran. Padahal di hatinya dia berkata.

"Aku akan mengikuti jejakmu. Kelak aku akan menjadi penguasa yang lebih hebat darimu adipati culas"

"Bagus. Sekarang kau aturlah pasukanmu. Pertemuan kita akhiri sampai di sini saja." "Titah gusti akan saya lakukan. Saya mohon undur diri."

Ujar laki-laki itu.

Sebelum berlalu dia rangkapkan tangan, bungkukkan badan lalu menjura pada sang adipati. Setelah itu dia melangkah pergi.

*****

Terdorong oleh rasa prihatin dan kecemasan atas sepak terjang beberapa kaumnya yang masih tersisa.

Nenek berpakaian serba hitam yang sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu lembut berwarna hitam kecoklatan itu akhirnya terpaksa meninggalkan Lembah Bangkai .Pagi hari saat matahari baru saja muncul diufuk langit sebelah timur sesepuh dari kaum aneh dan selalu dikucilkan ini telah sampai disebuah kali kecil yang termasuk kawasan Blora.

Si nenek bernama Marasati dan dikenal dengan sebutan Harimau Setan hentikan langkah. Setelah memperhatikan keadaan sekitarnya.

Tiba-tiba saja si nenek berkata,

"Embun lembut membasahi ujung dedaunan. Sungguh ini adalah pagi yang indah. Aku tidak pernah melihat pemandangan seperti ini. Dikejauhan sana aku lihat puncak Merapi, tapi aku tidak melihat tanda-tanda keberadaan kaumku. Apakah mereka semua telah menemui ajal karena memperturutkan nafsu mengikuti dendam kesumat?"

Si nenek gelengkan kepala, menghirup nafas dalam-dalam sementara cuping hidungnya kembang kempis seolah sedang berusaha mengendus sesuatu.

Yang dilakukan si nenek tidak berlangsung lama.

Dia manggut-manggut, namun wajahnya yang tertutup bulu tipis memperlihatkan rasa prihatin yang mendalam.

"Aku dapat nengendus bau tubuh mereka. Tapi sebagian besar dari sisa kaumku itu telah menemui ajal. Kurasa hanya tinggal satu yang tersisa. Dia masih hidup, saat ini aku dapat merasakan dia sedang menuju ke kadipaten. Mengapa dia bertindak nekat tak mau mendengar perintahku? Mata Bara... seandainya adipati Seta Kurana hanya mengandalkan senjata miliknya sendiri, aku tidak mengkhawatirkan keselamatanmu, Jayeng Sakamuni," Ujar si nenek menyebut nama asli si Mata Bara atau juga dikenal dengan sebutan Mata Setan. Sekali lagi si nenek menarik nafas.

Dia lalu lanjutkan ucapannya.

"Tapi kau tahu sendiri, dia telah merampas senjata saktiku. Andai aku tidak terlanjur berjanji pada para arwah saudara kita yang telah telah tewas dibantai oleh manusia laknat keji itu.Mungkin aku memilih melupakan senjataku Cambuk Sakti Naga Intan. Aku sudah lelah dan sangat tua. Tak banyak lagi yang bisa kulakukan untuk membela saudaraku senasib."

Si nenek lagi- lagi menggeleng.

Dengan menggunakan tangan kanannya dia mengusap lengan baju sebelah kirinya yang melambai-lambal tertiup angin.

Seperti diketahui Harimau Setan kehilangan tangan kirinya ketika menghadapi serbuan yang dilakukan oleh adipati Seta Kurana dimasa lalu.

Berkat kegigihannya kehilangan tangan kiri bagi si nenek tidak menjadi halangan.

Puluhan tahun dia melatih lengan baju kirinya menjadi senjata yang lebih ganas dan lebih berbahaya dari sebilah pedang.

Kini si nenek menatap jauh ke arah kejauhan.

Sayup-sayup dia mendengar suara kuda dipacu cepat menuju ke arahnya. Dia merasa heran, dan juga curiga.

"Ada serombongan orang berkuda datang kemari. Matahari baru saja terbit. Siapa mereka?" Pikir Harimau Setan.

Sekilas orang tua ini menoleh.

Dia menatap ke arah sebatang pohon menjulang tinggi.

Penasaran ingin mengetahui siapa gerangan adanya para penunggang kuda tersebut.

Tanpa membuang waktu Harimau Setan segera berkelebat ke arah pohon, lalu jejakkan kaki dan bersembunyi di balik kerimbunan cabang dan dedaunan.

Dari atas ketinggian pohon orang tua Itu memusatkan perhatian ke arah suara iring-iringan rombongan berkuda.

Kening si nenek berkerut tajam ketika melihat belasan laki-laki bersenjata berbagai jenis berpakaian seragam perjurit kadipaten memacu kuda tunggangannya dengan tergesa- gesa.Sementara tidak jauh di depan para perajurit berkuda itu terlihat pula seorang laki-laki berpakaian hitam berpenampilan gagah menunggang seekor kuda putih.

Walau sebelumnya tidak pernah melihat ciri dan penampilannya Harimau Setan segera tahu bahwa laki-laki berkuda putih itu adalah senopati Gagak Panangkaran yang dikenal sangat berani dan memiliki ilmu kesaktian tinggi.

"Sepagi ini senopati kadipaten dan perajuritnya berada jauh di luar kadipaten.Kalau tidak ada sesuatu yang penting, mana mungkin mereka muncul seperti orang yang dikejar-kejar anjing gila." Kata si nenek lagi.

Orang tua ini diam menunggu.

Sementara iring-iringan rombongan berkuda itu semakin dekat dengan Kali Urang. Mengapa senopati Gagak Panangkaran muncul di tempat itu?

Adipati Seta Kurana yang menyadari bahwa sebagian pengikut setianya tewas maka dia mulai khawatir. Apalagi pada malam harinya lima penjaga pintu gerbang utama tewas terbunuh dengan tubuh hangus seperti terbakar.

Adipati pun kemudian memerintahkan senopatinya untuk melakukan pengejaran.

Mereka tahu yang membunuh para penjaga itu pastilah si Mata Bara. Pengejaran dilakukan tiada henti hingga menjelang fajar menyingsing, senopati dan pasukannya terus memburu, namun mereka kehilangan jejak.

Di tepi Kali Urang senopati Gagak Panangkaran menghentikan kudanya. Melihat pimpinannya berhenti, para perajurit ikut berhenti.

"Kita kehilangan jejak. Sebaiknya kita kembali ke kadipaten." Kata laki-laki itu memberi perintah.

"Senopati, kita tak mungkin kembali. Gusti adipati sudah berpesan kita harus menemukan Manusia Kutukan yang berjuluk Mata Bara dalam keadaan hidup atau mati. Kita semua tahu dia orang yang paling berbahaya diantara para pembunuh itu."

Ujar seorang perajurit bersenjata gada dan mempunyai kumis paling lebat dan tebal. Mendengar ucapan perajuritnya, Senopati Gagak Panangkaran delikan mata. Dia bahkan membentak.

"Perajurit! Aku yang memimpin pasukan ini, aku pula yang menentukan. Yang kita kejar tidak kita temukan. Bagaimana bila ternyata dia bermuslihat, menunggu kita lengah lalu berbalik dan menyerang tempat kediaman gusti adipati? Kita harus kembali. Aku curiga apa yang aku pikirkan menjadi sebuah kenyataan."

Perajurit kekar berkumis tebal terdiam. Dia tidak berani membantah, bahkan menatap wajah Senopati pun dia tidak punya nyali.

"Tunggu apa lagi? putar arah kuda!" Perintah senopati.

Tak ada lagi orang membuka mulut, setiap orang segera memutar arah kudanya masing-masing. Tapi baru saja senopati hendak menggebrak kuda putih kesayangannya.

Tiba-tiba semua kuda berjingkrak kaget sambil meringkik keras. Bulu-bulu binatang itu berdiri tegak seolah mereka melihat mahluk yang menakutkan.

Senopati Gagak Panangkaran diam-diam terkejut.

Keningnya berkerut sedangkan sepasang matanya jelalatan menatap beberapa arah yang dianggapnya mencurigakan.

Selagi semua orang bertanya-tanya dalam hati gerangan apa yang membuat kuda tunggangan mereka menjadi ketakutan seperti itu.

Tiba-tiba saja terdengar suara gelak tawa yang diikuti dengan bergoyangnya pohon besar yang terdapat disudut sebelah kanan kali.

"Senopati! Kalau mau kembali ke tempat kediaman adipati mengapa harus tergesa- gesa. Apa yang kau khawatirkan.Setahuku adipati adalah manusia sakti luar biasa.Bukan cuma kesaktiannya saja yang hebat. Dia juga pembantai hebat, pencuri senjata milik orang lain yang handal dan tukang fitnah keji yang tiada lawannya di dunia ini. Hi hik hik!"

Kata orang di atas pohon yang tak lain adalah Harimau Setan.

"Siapa kau? Sebelum aku membuatmu celaka sebaiknya tunjukkan diri. Kalau tidak, aku akan membunuhmu!"

Teriak senopati.

Diam-diam dia alirkan tenaga dalam ketangan kanannya.

Seketika tangan senopati telah berubah hitam mengepulkan asap tipis.

Sementara diatas pohon Harimau Setan tak mau menunggu lama. Dia tahu lawan siap menghajarnya.

Tidak heran sambil berkelebat tinggalkan pohon yang dijadikan tempat bersembunyi si nenek berkata.

"Ternyata kau tidak jauh berbeda dengan adipati keparat itu. Kau dan dia sama-sama kejam, namun aku yakin ajalmu tak akan lama lagi. Hik hik"

Jiiik!

Setelah sempat berjumpalitan dua kali.

Si nenek akhirnya jejakkan kaki di atas batu.

Tidak hanya senopati, semua pengikutnya juga pusatkan perhatian ke arah nenek itu

"Lihat nenek aneh ini. Sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu seperti bulu Harimau.Pantas kuda kita jadi gelisah."

Ujar salah seorang perajurit.

"Kuda kita menyangka dia harimau sungguhan, tidak tahunya cuma Harimau Setan!"

Timpal perajurit lainnya. Terdengar suara tawa berderai. Sementara itu senopati tetap memperhatikan nenek di atas batu dengan tatapan curiga.

"Melihat ciri-cirinya, aku yakin dialah orang yang biasa disebut Harimau Setan."

Batin laki-laki itu. Dia pun lalu melompat turun dari atas kuda. Sambil menyeringai senopati itu berujar,

"Yang dicari susah ditemukan yang tidak diharap justru muncul sendiri. Ha... ha... ha." Melihat senopati tertawa terbahak- bahak, Harimau Setan keluarkan suara berdengus sekaligus ajukan pertanyaan.

"Apakah ada yang lucu senopati? Apa maksud ucapanmu?"

"Nenek renta tubuh berbulu seperti harimau. Bukankah kau orangnya yang bernama Marasati berjuluk Harimau Setan?"

"Kalau benar memangnya ada apa?"

"Aku sedang mencari pengikutmu yang bernama Mata Bara. Manusia terkutuk itu sudah waktunya untuk dimusnahkan, tetapi dia menghilang. Kau muncul di sini disaat aku merasa haus untuk membunuh. Apakah ini bukan sebuah kebetulan? Ha ha ha."

Harimau Setan menyeringai. Sambil menggeleng dia pun tertawa. Suara tawanya aneh mirip raungan harimau marah hingga membuat kuda kuda milik para perajurit menghambur lari ketakutan. Melihat kuda berlarian tunggang langgang. Para perajurit kadipaten terkejut. Senopati tidak tinggal diam.

"Putih... kau kuda pintar. Jangan berlaku tolol mengikuti kuda-kuda bodoh lainnya. Apa yang kau lihat bukan harimau. Dia cuma manusia terkutuk yang memang sudah selayaknya disingkirkan dari duniamu,"

Teriak laki-laki itu.

Begitu mendengar teriakan sang majikan, kuda ini hentikan larinya kemudian berbalik lagi ke tempat semula, lalu diam seolah patung sedangkan matanya dipejamkan.

Andai Harimau Setan melihat tingkah kuda ini pada waktu yang lain tidak seperti sekarang.

Melihat kuda ketakutan bisa pejamkan mata tentu si nenek sudah tak kuasa menahan gelak tawanya.

Kini dia hanya bisa bersikap acuh.

Dua mata dipentang menatap lurus ke arah senopati Gagak Panangkaran.

Tak lama kemudian dia berkata

"Senopati terus terang kukatakan aku bukanlah seperti si Mata Bara alias Mata Setan yang tidak mengenal aturan.Walau dendamku pada adipati Seta Kurana sedalam laut setinggi langit. Aku tak akan melakukan pembalasan dengan membabi buta"

"Oh begitu? Kedengarannya indah dan kuyakin hatimu penuh damai. Tapi aku bukanlah orang yang suka bermanis mulut.Terangkan saja apa yang kau inginkan!"

Sentak senopati lalu sunggingkan seringai buruk.

"Aku ingin adipati Seta Kurana mengembalikan senjataku, Cambuk Sakti Naga Intan yang dirampasnya dulu. Aku juga ingin dia memotong tangannya sendiri sebagai pengganti tanganku yang dulu pernah ditabasnya!"

Ucapan Harimau Setan sungguh membuat senopati terkaget-kaget. Dia tidak menyangka nenek yang telah kehilangan tangan kirinya itu ternyata berbicara begitu rupa di hadapannya. Merasa tidak senang pimpinannya dipandang remeh laki-laki itu tiba-tiba tertawa. Dia menatap ke arah para perajurit yang bersamanya.

Dengan mata mendelik mulut membentak.

"Kalian sudah mendengar apa yang diinginkan oleh wanita gila ini?"

"Ya, kami sudah tahu. Kami mengganggap apa yang dia minta sebuah tuntutan yang edan,"

Sahut para perajurit serentak. "Pasukan goblok! Sudah tahu orang bersikap kurang ajar, mengapa kalian hanya berpangku tangan!"

Hardik senopati dengan mata mendelik nyalang. Para perajurit tentu tahu arti ucapan pimpinannya.

Serentak mereka berhamburan lalu mengepung Harimau Setan dari segala penjuru arah. Melihat belasan perajurit mengepungnya dengan senjata terhunus, Harimau Setan menyeringai. "Aku telah mengatakan apa yang menjadi keinginanku secara baik-baik Senopati. Tapi kau

menyambutnya dengan senjata terhunus. Kau ingin aku berlaku kasar. Lalu menghabisi anak buahmu dalam beberapa gebrakan saja?"

Kata si nenek setengah bertanya.

"Tua bangka sombong! Kau belum tentu selamat dari serangan mereka!"

Dengus senopati. Setelah itu dia berpaling lalu memberi isyarat pada para perajuritnya. "Rajam dan bunuh...!"

"Hore... inilah yang paling aku suka...?" Sambut beberapa perajurit gegap gempita.

Maka dengan penuh nafsu membunuh mereka itu menyerang si nenek.

Dalam waktu sekejab serangan gencar berupa tendangan dan jotosan maupun tusukan dan babatan senjata menghujani Harimau Setan dari segala arah.

Melihat serangan datang seperti curah hujan, si nenek dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerak yang luar biasa berusaha menghalaunya. Tak ayal ketika Harimau Setan memutar tubuh lalu mendorong sekaligus hantamkan kedua tangannya.

Benturan yang keras membuat para perajurit kadipaten itu jatuh berpentalan. Melihat teman-temannya berjatuhan seperti pohon yang ditebang.

Perajurit yang berada di belakangnya serentak maju. Dan kali ini mereka menyerang dengan kekuatan penuh. "Srat...!"

Lima senjata berkiblat, menderu laksana air laut bergulung lalu menghantam bagian punggung, kepala dada bahkan kaki si nenek.

"Waduh mati aku!" Seru si nenek.  

Dia berpura-pura kewalahan padahal sebenarnya sama sekali si nenek tidak terdesak.

Tak disangka-sangka Harimau Setan ini telah berpura-pura lengah menghalau serangan ganas yang dilakukan para perajurit.

Dan tiga di antara serangan berhasil menembus pertahanannya.

Tak ayal lagi bahu, perut dan punggung Harimau Setan terkena satu bacokan dan dua tusukan. Darah terlihat menyembur dari tiga luka ditubuhnya.

Sementara mata si nenek membelalak seolah tidak percaya dengan apa yang dialaminya. "Kk..kalian...kalian ternyata sangat hebat..."

Ucap nenek itu dengan tubuh terhuyung. Menyangka lawan dapat dilukai oleh perajuritnya.

Senopati Gagak Panangkaran tertawa sinis

"Hanya seperti itukah ilmu kesaktian yang kau miliki? Jika menghadapi anak buahku saja kau sudah tidak berdaya bagaimana kau bisa melawanku. Konon pula kau mau mengambil kembali senjatamu dari tangan adipati. Kau bisa menjadi potongan daging tak berbentuk.Ha ha ha!"

"Hi hi hi! Senopati lihat kemari pentang matamu lebar-lebar,"

Kata si nenek. Senopati katobkan mulut, dia menatap ke arah lawan. Dilihatnya Harimau Setan mengusap lukanya di tiga bagian. Luka itu lenyap seketika tak meninggalkan bekas terkecuali bagian pakaian yang robek di tiga bagian.

"Gila! Tadi senjataku jelas-jelas menembus punggungnya!"

Seru salah satu perajurit sambil berdiri dengan mulut ternganga tak jauh di depan si nenek. "Kalian hanya menusuk dan membacok angin. Sekarang rasakan pembalasanku!"

Teriak si nenek.

Sekali dia berkelebat tiga perajurit yang baru saja melukai tubuhnya keluarkan teriakan menyayat. Satu diantara mereka di tendang hingga melambung tinggi lalu jatuh tersangkut ke sebuah pohon tinggi.

Sedangkan yang berada di sebelahnya jatuh tersungkur dengan kepala remuk leher patah membentur batu.

Satunya lagi jatuh terkapar mata mendelik dada melesak amblas terkena tendangan si nenek.

Melihat tiga perajuritnya celaka dalam satu gebrakan saja membuat Senopati tercekat sekaligus gusar.

Sementara para perajurit yang lainnya segera merangsak maju sambil kibaskan senjata di tangan masing-masing.

Senjata berupa pedang, golok juga tombak menderu, berkelebat menyambar menghujani Harimau Setan. Tapi para perajurit yang rata-rata mengandalkan tenaga kasar dan mempunyai silat yang tidak tinggi ini ternyata bukanlah lawan Harimau Setan.

Diserang sehebat itu si nenek dengan mudah meloloskan diri.

Harimau Setan kemudian melambung tinggi dan sempat mengapungkan tubuhnya di atas ketinggian.

Begitu berada di udara si nenek Segera merapal mantra ajian pukulan sakti 'Mayat Menanti Siksa Mendera'.Selesai mulut si nenek berkemak-kemik.

Dalam waktu tak sampai sekedipan mata saja kedua tangannya memancarkan cahaya hitam redup disertai kepulan asap tipis menebar bau busuk menyengat.

Kemudian tanpa suara Harimau Setan memutar tubuhnya, sementara kedua telapak tangannya yang terkembang dihentakkan ke bawah.

Seet! Treeet! Wuush!

Dua tangan melesat bagaikan kilat menyambar ke arah belasan perajurit yang bersirebut berusaha menghabisinya.

Hawa panas luar biasa menghantam para perajurit Itu membuat mereka terkejut namun tak kuasa selamatkan diri.

Seperti helai dedaunan yang dihantam angin topan para perajurit kadipaten jatuh berpelantingan.

Suara jerit dan pekik kesakitan merobek kesunyian .Serangan ganas itu tidak hanya membuat para perajurit menemui ajal seketika dengan tubuh hangus sulit dikenal.

Tapi diantara mereka yang luput dari serangan tak urung harus berusaha keras menyelamatkan diri dari serangan susulan si nenek yang semakin ganas tidak terkendali.

Sehebat apapun sisa-sisa para perajurit itu berusaha mendesak si nenek. Tapi segala upaya mereka sama sekali tidak mendatangkan hasil apa-apa. Malah ketika Harimau Setan melipat gandakan tenaga dalamnya.

Daya serangan orang tua itu makin tak berbendung. Sebagai pimpinan, senopati Gagak Panangkaran tidak hanya gusar dan marah.

Kematian para perajuritnya yang, berlangsung dalam waktu singkat membuat laki-laki itu menjadi naik darah.

Tidaklah heran ketika si nenek merangsak maju berusaha menyingkirkan satu-satunya perajurit yang masih tersisa.

Senopati Gagak Panangkaran tiba-tiba melompat ke depan sambil menghantam nenek itu dengan tendangan . Wuuut!  

Tendangan menderu, senopati kirimkan serangan susulan dengan melancarkan pukulan beruntun.

Harimau Setan yang tak menyangka bakal diserang seperti itu berusaha menghindari serangan itu, namun tinju kiri senopati datang menggebu, menggantikan serangan kaki dan pukulan tangan kanan yang berhasil dihindari si nenek. Melihat tinju menderu siap menggebuk kepalanya.

Si nenek segera sambar tengkuk perajurit yang berada di depannya.

Dengan gerakan aneh namun berlangsung cepat luar biasa sang perajurit diputar lalu diangkat dijadikan alat untuk menangkis gebukan senopati.

Laki-laki itu terkejut bukan main ketika melihat perajuritnya dipergunakan si nenek sebagai tameng.

Tapi untuk menarik balik serangannya senopati tak dapat melakukannya mengingat jaraknya yang sudah sangat dekat.

Tanpa ampun tinju senopati itu menghantam punggung perajuritnya sendiri hingga mengeluarkan suara bergedebukan disertai derak suara tulang yang patah.

Sang perajurit menjerit setinggi langit, darah menyembur dari mulut dan hidung.

Selagi sang perajurit mengerang sekarat, Harimau Setan melemparkannya ke arah lawan. Melihat perajurit itu melesat ke arahnya.

Senopati yang telah menjadi murka akibat muslihat yang dipergunakan si nenek kembali menghantam.

Braak!

Sekali lagi terdengar suara tulang berderak.

Tubuh perajurit yang sudah tidak bernyawa itu akhirnya terpental jauh dan jatuh di kali Urang. "Senopati! Apakah kau sudah gila hingga begitu tega menghabisi perajurit sendiri?"

Tanya Harimau Setan yang saat itu berdiri tegak di atas sebuah batu besar.

Gagak Panangkaran mendengus nafasnya memburu, wajah merah padam sedangkan sepasang mata tampak merah dilamun amarah.

Dengan tangan terkepal gigi bergemeletukan dia membentak

"Perempuan terkutuk. Kaulah yang menjadi pangkal sebab dari semua kegilaanku. Kau habisi anak buahku dengan cara sekeji itu. Apakah kau pikir aku akan memberi ampun?!"

Geram senopati meledak-ledak. Harimau Setan tersenyum dingin. Dengan sinis dia menjawab. "Siapa yang hendak minta ampun pada manusia keparat kaki tangan pencuri. Kau dan adipatimu

itu sama saja. Tidak ada nilainya dimataku. Dan aku tidak punya waktu melayanimu lebih lama senopati. Lihat serangan!!"

Teriak si nenek.

Begitu si nenek berteriak, Gagak Panangkaran langsung dongakkan kepala menatap ke depan. Senopati ini tercengang saat melihat sosok si nenek mendadak raib, sementara dari arah depan senopati melihat sedikitnya tiga larik cahaya berbentuk kipas berwarna merah, biru dan hitam menderu menebar ke arahnya.

"Jahanam! ilmu pukulan apa yang dipergunakan tua bangka itu. Aku hanya melihat tiga cahaya aneh seperti kipas, tapi mengapa aku merasakan tubuhku seperti ditelan gulungan ombak?"

Pikir senopati.

Sebelum serangan si nenek benar-benar melabrak habis dirinya. Senopati Gagak Panangkaran melompat mundur ke belakang.

Begitu kedua kaki menjejak tanah, laki-laki itu melepaskan pukulan 'Alunan Badai Laut Utara'. Terdengar suara menderu disertai gulungan asap tebal menyerupai ombak laut yang murka.

Tiga cahaya berbentuk kipas yang dilepaskan oleh si nenek dan deru asap kelabu saling songsong hingga bentrokkan keras menggelegar tak dapat dihindari lagi.

Gleger!

Terjadi ledakan luar biasa keras, membuat pepohonan hancur bertumbangan. Debu dan percikan bunga api bertabur di udara.

Senopati Gagak Panangkaran jungkir balik dan terguling- guling sejauh tujuh tombak.

Sebaliknya di depan sana Harimau Setan jatuh berlutut, tubuh sebelah atas tergetar hebat, kedua tangan hingga ke bahu terasa seperti hancur sedangkan mulut menyemburkan darah.

"Senopati keparat! Ternyata ilmu pukulanmu sangat berbahaya. Kalau aku tidak segera mengambil tindakan. Cepat atau lambat aku bisa dibuatnya celaka!"

Batin si nenek. Perlahan namun pasti dia salurkan hawa murni ke bagian dada dan bahunya.

Setelah itu si nenek bangkit berdiri. Namun baru saja orang tua ini berdiri tegak tiba-tiba dia mendengar bentakan disertai suara desir aneh.

"Harimau Setan! sudah waktunya kau menjadi setan sungguhan! Sekarang terimalah kematianmu!"

Teriak lawannya.

Harimau Setan memutar tubuhnya.

Begitu menatap ke depan dia melihat lawan telah melesat ke arahnya.

Sedangkan di tangan kanan tergenggam sebilah keris yang menjadi senjata andalannya.

Yang membuat Harimu Setan kaget, keris berkeluk tiga dan berwarna kemerahan itu tampak membersitkan cahaya merah kehitaman menebar hawa dingin menusuk. Melihat senjata ditangan lawan membabat sekaligus menusuk ke bagian dadanya.

Harimau Setan menggerung marah, sekali si nenek gerakan tangan tahu-tahu dalam genggamannya terdapat sebuah tongkat berwarna hitam.

Tongkat segera diputar, cahaya hitam berbentuk sebuah perisai melindungi diri si nenek. Trak! Trak!

Senopati tambah beringas.

Lalu nekat menyerang sambil berusaha menembus pertahanan si nenek. Benturan keris dengan tongkat milik si nenek membuat serangan senopati gagal mengenai sasaran.

Tapi senopati tidak perduli, Merasa gagal dengan serangan pertama dia kembali menggebrak. Kali ini yang menjadi incaran senjata senopati adalah tubuh si nenek di sebelah bawah.

Begitu keris membabat siap menusuk kaki dan menghunjam kebagian pinggangnya si nenek berlaku nekat.

Dia lambungkan tubuhnya keudara.

Serangan luput namun ujung keris sempat merobek pakaian si nenek di sebelah belakang. Merasa gagal menghabisi lawan, Senopati itu berteriak.

"Kali ini kau harus mampus!"

Sekonyong-konyong senopati memutar tubuh. Tapi diluar dugaan Tongkat Harimau Setan melesat sebat menghantam tengkuk laki-laki itu

"Kurang ajar"

Maki senopati Gagak Panangkaran begitu sadar tongkat lawan nyaris menggebuk tengkuknya.

Kalau saja dia tidak cepat rundukkan tubuhnya seketika itu pukulan tongkat dapat membuat tulang lehernya berderak hancur.

Sementara itu Harimau Setan.

Serangan tongkatnya yang ganas sesungguhnya hanya muslihat saja. Begitu senopati berhasil lolos dari sergapan tongkat.

Harimau Setan melepaskan pukulan 'Maut Menjemput Jiwa Melebur' Pukulan itu adalah salah satu pukulan sakti yang menjadi andalan si nenek.

Ketika dia dorongkan kedua tangannya ke arah lawan. Cahaya biru terang disertai suara lolongan aneh mengguncang rimba di pinggiran kali itu.

Senopati tercekat ketika melihat cahaya melesat seperti lima anak panah yang mengincar lima bagian tubuhnya.

Karena jaraknya dengan si nenek tak begitu jauh. Senopati merasa tidak leluasa untuk menyelamatkan diri.

Tak ada pilihan dia pun menyambuti serangan itu dengan kiblatkan keris Welang Wisa. Cahaya hitam menyambar, bergerak tak ubahnya seperti seekor ular yang berenang di air.

Tapi aneh, ketika cahaya yang menyambar dari ujung keris membentur lima cahaya yang dilepaskan si nenek, cahaya itu tersedot amblas bahkan berbalik dan ikut menghantam senopati bersama lima cahaya biru lainnya. "Ah, kurang ajar," Maki senopati.

Secepat kilat dia coba jatuhkan diri.

Tapi gerakan yang dilakukannya itu kalah cepat dengan sambaran lima cahaya yang berasal dari serangan si nenek.

"Akh.."

Senopati keluarkan suara seperti tercekik.

Mata mendelik, keris dalam genggaman terpental.

Lima bagian tubuhnya berlubang besar dan menyemburkan darah kehitaman begitu lima cahaya maut menembusnya.

Seakan tidak percaya dengan kenyataan yang dia alami. Senopati itu hanya bisa belalakkan mata.

"Kk... kau..."

Katanya terputus-putus.

Senopati tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena mulut yang dibuka lebih banyak menyemburkan darah.

Tubuhnya lalu bergetar.

Perlahan dia jatuh ambruk tak berkutik. Senopati meregang nyawa dengan mata melotot penasaran.

Harimau Setan tersenyum dingin.

Tanpa menghiraukan senopati dan keris yang tercampak di sebelah tubuhnya. Nenek itu kemudian melompat ke atas punggung kuda putih milik senopati. "Sekarang aku yang menjadi majikanmu. Kau harus patuh kepadaku!"

Kata si nenek ditujukan pada sang kuda. Kuda meringkik lalu manggut-manggut. "Kembali ke kadipaten, bawa aku kesana,"

Seakan mengerti kuda itu mengangguk lagi, lalu meringkik keras. Kemudian tanpa menoleh kuda ini menghambur berlari tinggalkan tempat itu.

******

Keresahan hati adipati Seta Kurana sudah tak mampu disembunyikan lagi. Apalagi setelah pembunuh berlaku nekat di gedung tempat kediamannya. Walau pembunuh keji itu tidak sampai masuk ke bagian dalam gedung. Tapi perbuatan nekatnya yang telah membunuh para penjaga gerbang depan membuat adipati merasa bahwa ancaman yang selama ini menghantui hidupnya telah menjadi jalan kematian bagi orang-orang yang selalu setia padanya. Demi menjaga keamanan apalagi setelah senopatinya yang melakukan pengejaran belum juga kembali. Maka adipati pun memutuskan untuk memperketat penjagaan.

Sayang sebagain pasukannya turut serta dengan senopati Gagak Panangkaran sehingga tidak semua sudut penjuru bagian dalam benteng gedung dapat diawasi oleh para pengawal. Menjelang malam ketika senopati dan pasukannya tidak juga kembali maka adipati Seta Kurana pun terpaksa ikut berjaga bersama para perajuritnya.

Tidak seperti biasanya. Malam yang sebelumnya selalu diguyur hujan gerimis dan langit disaput mendung. Malam ini justru terlihat cerah. Di langit yang biru terlihat bintang bertaburan. Di langit sebelah barat bulan purnama empat belas hari bersinar cerah. Sementara gedung megah tempat kediaman adipati terasa sepi mencekam. Dibeberapa sudut di tempat yang tidak begitu menyolok mata, beberapa perajurit kadipaten terus berjaga-jaga. Pada kesempatan yang sama di luar benteng tinggi yang mengelilingi gedung itu seorang laki- laki berpakaian serba hitam berjalan

mengendap-endap mendekati pohon besar dimana sebagian cabang menjuntai ke bagian dalam atap gedung. Sosok bermata merah yang tak lain adalah Si Mata Bara atau Mata Setan ini sebelumnya memang sengaja mengecoh senopati dan perajuritnya dengan berpura-pura melarikan diri. Begitu senopati melakukan pengejaran. Dia menyelinap di balik semak belukar. Ketika iring-iringan rombongan para pengejarnya lewat. Mata Bara keluar dari tempat persembunyiannya, lalu memutar langkah kembali menuju gedung kadipaten.

"Sunyi sekali. Adipati kurang ajar itu apakah pergi mengungsi? Mungkin dia takut menghadapi aku. Kalau benar dia pergi, mengapa benteng ini sepi dari penjaga? Mungkinkah penjaganya ikutan minggat karena takut kepadaku?"

Membatin laki-laki itu. Dia yang saat itu berdiri di bawah pohon segera layangkan pandang memperhatikan keadaan diluar benteng.

Karena yakin di bagian luar tak berpenjaga. Mata Bara lalu lambungkan tubuhnya ke atas. Dengan gerakan tanpa suara sedikitpun kedua kakinya menjejak cabang pohon.

Dari atas ketinggian pohon dia julurkan kepala.

Sepasang mata menatap ke arah halaman gedung dan sekitarnya.

"Lagi-lagi sunyi. Tapi bukan berarti gedung ini sepi penjaga. Aku tidak perduli, aku harus masuk ke dalam gedung. Siapa tahu adipati sengaja bersembunyi disana!"

Kata Mata Bara.

Dengan gerakan seringan kapas, Mata Bara lalu melompat ke atas genteng. Dari bagian genteng dia terus berlari menuruni atap gedung.

Dua kali dia berjumpalitan, dilain saat kedua kakinya telah menjejak halaman depan gedung tanpa suara.

Baru saja kaki menyentuh tanah, sebelum Mata Bara sempat menarik nafas. Dari seluruh sudut penjuru muncul para pengawal adipati. Dengan senjata terhunus mereka segera mengepung laki-laki itu .Seorang pengawal yang bertindak sebagai wakil senopati melangkah maju.

Laki-laki bertubuh tinggi besar ini bernama Soma Prawira tegas dalam bertindak tapi juga kejam.

"Kau rupanya selama ini yang menebar darah merenggut nyawa orang-orang penting kadipaten juga katemenggungan.Lama kami mencarimu. Sekarang kau berani munculkan diri apakah mau mencari mampus?1"

Hardik Soma Prawira dengan suara menggembor. Mata Bara terdiam.

Hanya tatap matanya saja yang merah memperhatikan pegawal gedung dengan sorot mata dingin menusuk.

Setelah itu dia melangkah maju maksudnya hendak menghampiri Soma Prawira.

Tapi melihat Mata Bara bergerak, para pengawal yang mengepung mempersempit lingkaran. "Jangan berbuat apapun jika tak ingin mampus!"

Teriak salah seorang pengawal yang berada di sebelah kiri Mata Bara mengancam. "Begitu?"

Desis Mata Bara dengan seringai bermain dimulut.

"Kalian cuma kurcaci tidak berguna. Aku ingin bertemu adipati Seta Kurana, bukan cecunguk seperti kalian,"

Sahut laki-laki itu. Karuan saja ucapan Mata Bara membuat para pengawal dan wakil senopati menjadi sangat marah.

"Kau memang manusia terkutuk keparat. Kau tak mengenal tata karma. Kau berani menyebut gusti adipati secara sembrono, kau juga telah berlaku lancang menghina kami para pengawal adipati. Aku yakin adipati tak mau menemuimu," kata Soma Prawira sambil mencabut pedang besar yang tergantung di punggungnya.

Dikatakan sebagai Manusia Terkutuk mendidih darah si Mata Bara. Sekali tangannya bergerak.

Tahu-tahu Soma Prawira kena dicekalnya. Wakil senopati meringis kesakitan ketika tangan kanannya yang memegang pedang besar dipuntir ke belakang sedang pedangnya dirampas Mata Bara. Sambil memiting tangan Soma Prawira, pedang besar ditimang lalu dibolang baling ke udara. Sebentar dengan sikap mengancam dia berkata.

"Cukup sudah kalian menghina dan merendahkan martabat kaum kami. Bila masih ada lagi yang berani menghina atau mengucapkan kata- kata yang menyinggung perasaan kami maka nasibnya akan seperti ini!"

Berkata begitu, tahu-tahu pedang besar di tangan Mata Bara berkelebat kebagian leher wakil senopati itu. Tanpa berkedip mata Pedang ditempelkan ke leher Soma Prawira, kemudian pedang ditarik ke atas.

Creesh! Akh!

Darah menyembur dari luka menganga di leher Soma Prawira.

Laki-laki tinggi besar itu keluarkan suara teriakan tapi juga mirip suara orang mengorok.

Mata laki-laki itu membeliak, lalu jatuh bergedebukan, melejang-lejang seperti kerbau disembelih. Melihat apa yang dilakukan Mata Bara maka para pengawal dan penjaga yang lainnya menjadi geger.

Tanpa sadar mereka mundur.

"Siapa yang ingin cepat menemui iblis di neraka sebaiknya angkat senjata dan hadapi aku?" Kata Mata Bara sambil menggenggam pedang Soma Prawira yang masih meneteskan darah. Tak ada yang bergerak, tak ada yang berani buka suara.

Setiap pengawal saling pandang sesamanya dengan perasaan jerih hati ciut! Hingga kemudian terdengar suara langkah kaki berkasut di atas lantai.

Seketika semua mata kini alihkan perhatiannya ke bagian pintu depan gedung. Mata Bara menunggu walau sebenarnya dia sudah merasa tidak sabar lagi.

Pintu gedung terbuka.

Di depan pintu berwarna kecoklatan berdiri tegak seorang laki-laki berpakaian serba biru berambut putih tertutup blangkon yang juga berwarna biru.

Laki-laki berkumis tebal tertata rapi bersenjata keris hitam bernama Jalak Sintir ini juga membekal sebuah cambuk bergelung tujuh berwarna putih dengan gagang berukir seekor naga berkepala intan.

Itulah Cambuk Sakti Naga Intan yang dia rampas dari pemiliknya belasan tahun lalu.

Melihat kehadiran laki-laki itu, perhatian Mata Bara justru lebih banyak tertuju ke arah cambuk yang tergantung dipinggang kanan orang.

"Bagus! Pencuri senjata pusaka sesepuh Lembah Bangkai, akhirnya berani tunjukkan diri." Ujar Mata Bara dingin.

Laki-laki yang memang adipati Seta Kurana adanya tak menanggapi ucapan orang.

Sebaliknya dia melangkah maju, memperhatikan Soma Prawira yang kaku menjadi mayat lalu beralih pada Mata Setan yang memegang pedang wakil senopati.

"Kamu berani berbuat rusuh,membuat keonaran di daiam halaman gedung tempat tinggalku.

Siapa kau?"

Tanya adipati sengit. Mata Bara tersenyum. "Aku adalah Jayeng Sakamuni, dikenal dengan sebutan Si Mata Bara atau Mata Setan. Aku yang telah membunuh sebagian kerabatmu, aku membuat kekacauan di semua wilayah kekuasaan mu. Dan satu lagi yang patut kau ketahui. Aku adalah satu-satunya orang yang telah menghabisi semua tumenggungmu,"

Terang laki-laki itu dengan senyum mengerikan.

Semua pengakuan Mata Bara membuat sang adipati menjadi sangat marah.

Sedikitpun dia tidak menyangka sang pembunuh yang selama ini dia cari-cari akhirnya berani muncul seorang diri di depannya.Walau kemarahan membuat darahnya terasa menggelegak.

Adipati yang lcik ini masih mampu bersikap tenang.

Seakan tidak pernah mendengar pengakuan yang mengejutkan dari Mata Bara sang adipati tiba- tiba berucap.

"Jayeng Sakamuni, Mata Bara atau siapapun dirimu ini. Aku tidak perduli. Bagiku kematian akan menghampiri siapa saja. Aku sudah tua dan tak ingin bermusuhan dengan siapapun juga. Kepadamu aku hanya bisa menawarkan satu jalan damai. Kalau kau mau menyudahi permusuhan diantara kita dan menganggap diriku sebagai sahabatmu. Aku bersedia menyerahkan kursi kekuasaan kepadamu."

Pernyataan itu sangat mengejutkan semua orang termasuk juga Mata Bara. Tapi Mata Bara tidak mudah termakan ucapan orang begitu saja. Karena itu dia ajukan pertanyaan.

"Tak kusangka kau yang dulu kuanggap sebagai Iblis paling keji. Entah mengapa tiba-tiba saja bisa berubah pikiran. Kau bermaksud menipu dan memperdayaiku bukan?"

Tanya Mata Bara disertai senyum mengejek. Adipati gelengkan kepala. Dengan mimik bersungguh-sungguh dia menjawab.

"Ada saatnya manusia bisa berubah. Dulu aku gila senjata sakti juga gila kekuasaan. Semakin tua aku menyadari semua yang aku kejar, semua yang aku lakukan dan semua yang aku dapatkan bukanlah jalan hidup yang sebenarnya. Aku ingin pergi ke suatu tempat untuk menembus semua kesalahanku. Aku pernah melakukan dosa besar di Lembah Bangkai. Kau pasti ingat. Betapa keji dan jahatnya diriku. Aku juga tahu kedatanganmu kemari adalah untuk menuntut balas. Kau menghendaki kematianku. Nyawaku kini sudah tidak berharga lagi!"

Ujar adipati dengan perasaan sedih berlinang air mata.

"Aku memang ingin menuntut balas atas kemusnahan kaumku. Aku juga datang ingin mengambil kembali Cambuk Sakti Naga Intan milik Harimau Setan."

Terang Mata Bara mulai terpancing hingga berkurang kewaspadaannya. Adipati cepat menyeka air matanya. Tidak terduga dia mengambil cambuk rampasan yang tergelung di pinggangnya. Adipati julurkan tangan, angsurkan cambuk ini.

"Aku mohon maaf atas semua kejadian di masa lalu. Cambuk ini sekarang kukembalikan.

Ambillah, kalau kau merasa tidak puas kau juga boleh mengambil nyawaku," Kata adipati Seta Kurana.

Laki-laki itu kemudian jatuhkan diri berlutut di atas lantai.

Laki-laki itu menangis tersedu sedangkan cambuk dia biarkan tergeletak dilantai yang dingin. Sikap adipati yang berubah menjadi baik sudah barang tentu membuat heran para pengawalnya.

Sedangkan Si Mata Bara nampaknya tambah percaya bahwa adipati yang sangat dia benci benar-benar telah insyaf. Maka tanpa keraguan dia melangkah mendekati adipati itu.

Melihat kedatangan lawan.

Masih dalam keadaan berjongkok adipati julurkan tangan serahkan cambuk sakti Naga Intan yang berada di dalam genggamannya.

Tidak ada prasangka buruk apa-apa.

Polos saja si Mata Bara menyambut uluran cambuk itu.

Tapi begitu tangan Mata Bara siap menerima senjata kebanggaan kaum terkucil Lembah Bangkai itu. Tiba-tiba tangan kiri sang adipati melesat menyambar perut Mata Bara.

Serangan tidak terduga dan berlangsung secepat kilat yang dilakukan adipati tak dapat lagi dihindari oleh lawannya.

Lima jemari tangan yang tiba-tiba memancarkan cahaya biru pekat menembus perut si Mata Bara.

Laki-laki itu meraung dahsyat.

Dalam keadaan perut ditembus lima jari lawan dia masih sempat menghantam kepala adipati. Sang adipati tersentak dan segera tarik lima jarinya dari perut lawan.

Begitu jemari dibetot, maka isi perut Mata Bara berserabutan keluar. Darah menyembur, Mata Bara terhuyung.

Matanya mendelik tak percaya.

Sementara adipati yang sudah melompat menjauh dan mampu berdiri tegak gelengkan kepala. Kepala yang kena digebuk lawan serasa sakit luar biasa seperti mau meledak.

Pandangan mata berkunang-kunang.

Penuh amarah tak menyangka masih dapat dipukul orang. Adipati menghela nafas dalam-dalam.

Begitu rasa sakit yang mendera kepalanya lenyap. Dengan mata mendelik dia menatap ke depan.

Adipati terkejut ketika melihat lawan yang perutnya kena dijebol dan isinya berbusaian ternyata mengamuk membabi buta dengan menyerang para pengawalnya.

Serangan ganas si Mata Bara yang merasa telah ditipu benar-benar sangat luar biasa. Dengan kekuatan matanya yang merah menyala setajam mata pedang puluhan pengawal bersenjata golok, pedang dan tombak dalam waktu singkat dapat dihancurkannya.

Jerit dan pekik kematian merobek kesunyian setiap kali si Mata Bara kedipkan matanya. Cahaya merah menderu, menyapu apa saja yang terdapat di sekeliling halaman gedung itu. Sampai akhirnya tidak satupun pengawal adipati yang tersisa.

Kemarahan si Mata Bara benar-benar telah menguras tenaga luar dan dalam yang dia miliki. Nafas laki-laki itu mulai tersengal, dia berdiri dengan tubuh terhuyung.

Tapi Mata Bara memang mempunyai daya tahan yang sangat luar biasa .Dia masih mampu berdiri tegak, sedangkan tatap matanya yang merah namun mulai meredup menatap adipati dengan sorot penuh rasa benci.

Walau telah kehilangan pengawalnya.

Adipati sendiri merasa lega melihat lawan mulai melemah. Sambil menyeringai laki-laki itu membuka mulut dan berucap.

"Manusia bersisik ular. Sepak terjangmu membunuhi para pajabat penguasa katemenggungan benar-benar membuatku merasa muak. Aku adipati Seta Kurana tidak pernah bisa mengampunimu. Dan.... kenyataannya kau sudah ditipu gampang pula diperdaya. Kau mengira aku mau memberikan Cambuk Sakti Naga Intan kepadamu begitu saja?! Huh... cambuk ini telah mengantar aku menjadi seorang penguasa, Tapi kalau aku tetap berhasrat juga ingin mendapatkan cambuk milik sesepuhmu ini. Aku bersumpah akan memberikannya, namun kau harus pergi ke neraka"

"Manusia iblis! Aku akan mengadu jiwa denganmu!"

Teriak Mata Bara .Dengan segenap sisa kekuatan yang dia miliki, Si Mata Bara alirkan kesaktiannya ke bagian mata, tangan juga kakinya.

Begitu mata merah redup itu kembali menyala terang laksana kobaran bara api. Dia segera goyangkan kepala.

Empat cahaya merah terang berturut-turut membersit dari sepasang mata. Di tengah jalan dua cahaya menukik tajam bersilangan membabat ke arah pinggul adipati dengan gerakan menggunting. Dua cahaya lain menderu siap menembus ke bagian wajah dan perut lawan. 

Mendapat serangan ganas sedemikian rupa. Adipati tidak mau bertindak ayal.

Sambil memegang cambuk ditangan kanan, tangan kiri segera menyambar senjata pusaka andalan berupa keris hitam dikenal dengan nama keris Welang Wisa.

Kehebatan senjata ini bila mengenai tubuh lawan atau tergores sedikit saja.

Maka racun yang terdapat dalam luka akan menjalar kesekujur tubuh, membuat jantung berhenti berdenyut dan korbannya tewas dengan sekujur tubuh membiru.

Ketika keris dikibaskan menangkis serangan dua cahaya yang memancar dari mata lawan. Cahaya hitam pekat disertai bau amis menusuk. Benturan keras tak dapat dihindari.

Terdengar suara ledakan berdentum yang merobek sunyinya malam. Bunga api berpijar di udara. Adipati terhuyung.

Sedangkan guncangan ledakan membuat Mata Bara jatuh terduduk .Namun adipati makin harus berjuang keras menyelamatkan pinggangnya dari dua cahaya barsilangan itu .Sekali lagi dia hantamkan kerisnya ke depan.

Trat! Buum!

Lagi-lagi terdengar suara letupan keras menggeledek, Adipati kembali tergetar. Dua kakinya amblas melesak ke dalam tanah akibat guncangan.

Pakaian dibagian depan robek besar, nampak hangus mengepulkan asap.

Sementara bagian dalam dada seperti remuk. Adipati langsung melesat ke udara begitu melihat si Mata Bara bangkit dan dengan menggunakan pukulan tangan kosong dia menyerang lawannya.

Begitu keduanya mengapung diketinggian.

Mata Bara segera hantamkan dua tangannya ke perut sang adipati.

Gerakan tangan yang sedemikian cepat menimbulkan suara berkesiuran .Inilah yang ditunggu adipati.

Begitu serangan datang dia mengenjot tubuhnya hingga melambung lebih tinggi. Dua serangan luput.

Adipati ulurkan cambuk lalu cambuk Sakti Naga Intan itu kemudian diayun dan dicambukkan ke tubuh lawannya .Suara gemuruh mengerikan menderu menyertai berkelebatnya cambuk.

Pijaran seribu cahaya mirip tebaran intan memenuhi udara. Kemudian terdengar suara lolong disana sini.

Si Mata Bara yang berusaha meloloskan diri begitu serangannya gagal merasakan tubuhnya terbetot tersedot ke arah cambuk.

Dengan menggunakan sisa tenaga yang dia miliki. Mata Bara berusaha mencari selamat. Tapi semua keinginannya tidak pernah terlaksana.

Seperti ledakan petir cambuk itu menghantam tubuhnya. Begitu punggung tersentuh cambuk.

Seketika itu pula tubuh Si Mata Bara meledak hancur menjadi kepingan daging hangus yang dikobari api.

Tiada jeritan yang terdengar terkecuali suara potongan-potongan tubuh yang berantakan di tanah becek .Adipati Seta Kurana tertawa dingin.

Dia jejakkan kaki dengan wajah membersitkan rasa puas.

Memperhatikan kepingan tubuh berserakan dan masih mengepulkan asap itu Adipati simpan keris Welang Wisa di balik punggungnya. Sementara tangan kanan masih memegang cambuk yang baru saja merenggut korbannya. Apa yang dilakukan oleh sang adipati ternyata tidak terlepas dari perhatian dua pasang mata.

Pemilik Sepasang mata yang duduk menjelepok di atas genteng bangunan ke dua yang tak lain adalah Sang Maha Sakti Raja Gendeng adanya golang goleng kepala.

Mulut yang semula bersungut-sungut segera berujar.

"Senjata sakti, ganas bukan main tapi senjata rampasan. Aku punya kewajiban untuk mengembalikan pada pemiliknya. Hidup adipati itu harus diakhiri, biarlah Pedang Gila ikut menentukan. Bukankah begitu hai pedang berjiwa,"

Ucapnya ditujukan pada pedang yang tergantung di punggungnya. "Inggih...hamba mengikut saja apa perintah gusti paduka Raja Gendeng." Terdengar suara jawaban sayup-sayup dari bagian hulu pedang.

Raja menyeringai, lalu manggut-manggut.

Sementara pemilik sepasang mata kedua. Diam-diam sudah tak sabar menunggu. Dia yang berdiri diatas pohon besar menatap lurus ke arah halaman.

Sebelum adipati balikkan badan tinggalkan halaman yang dipenuhi mayat-mayat berserakan itu. Pemilik sepasang mata jenaka yang tak lain adalah gadis aneh yang dikenal dengan julukan

Penyair Sinting itu berseru.

"Kekejamanmu! Kebusukan hati dan segala keculasanmu ternyata tak mengenal kata henti adipati. Kapan kau bertobat? Apakah menunggu nyawa minggat ke akherat. Sungguh keparat tak tahu adat!"

Ucapan bernada menghujat itu karuan saja membuat adipati yang hendak tinggalkan halaman kaget bukan main.

Sambil menahan marah, matanya jelalatan mencari-cari.

Kemudian dia tercekat begitu melihat seorang gadis berpakaian warna warni berdandan menor berambut panjang dijalin dihias bunga warna warni berdiri tegak di atas ketinggian pohon.

Setelah memperhatikan gadis itu. Tiba-tiba dia berseru.

"Kau! Bukankah kau gadis gila yang sering mengumbar syair dimana-mana? Aku tahu kau punya hubungan sahabat dengan Harimau Setan, Tapi aku tidak melihat kau datang bersama nenek lemah yang tangan kirinya pernah kubuntungi itu. Kemana dia?"

Penyair Sinting yang berada diatas pohon tersenyum. Tiba-tiba dia berkata.

"Segala yang kau ucapkan kuanggap betul semua, adipati yang tidak benar adalah perbuatanmu. Ada pun tentang nenek sahabatku yang kau sebutkan itu. Aku tidak tahu dia berada dimana. Mungkin saja dia sedang menuju kemari setelah menghabisi senopatimu. Tapi mungkin pula dia sedang jongkok buang hajat di pinggir jalan.Hik hik hik!"

Jawaban Penyair Sinting yang terkesan seenaknya karuan saja membuat adipati tersinggung. Lain halnya dengan Raja.

Ucapan Penyair Sinting justru membuatnya tak kuasa menahan tawa.

"Gadis ayu tapi berdandan seperti kuntilanak itu. Tak kusangka otaknya ternyata lebih miring dari otakku. He he he."

Ucap Raja namun cepat dekap mulutnya hentikan tawa. Di halaman Adipati melangkah maju. Ucapan Penyair Sinting yang menyinggung senopatinya ternyata menarik perhatian adipati. Sambil menahan geram adipati ajukan pertanyaan.

"Bagaimana kau tahu tentang senopatiku?"

"Kau tidak cukup mengenalnya. tapi aku mendengar jeritan arwahnya di neraka. Aku juga mendengar dia pesan padamu, adipati. Dia mengatakan padaku agar kau cepat menyusulnya ke sana."

"Gadis Gila jahanam. Beraninya kau bicara seperti itu pada penguasa Blora?!" Geram laki-laki itu dengan pipi menggembung dan tangan terkepal.

Penyair Sinting tidak menanggapi.

Sebaliknya dia mulai melantunkan bait-bait syairrnya.

"Mengikis habis harapan yang sia- sia. Darah tertumpah terenggut jiwa kotor penuh Niat ingin menjadi penguasa .Menjadikan nurani tega melakukan segala. Lembah Bangkai. Manusia Kutukan.

Siapa yang terkutuk. Yang lemah menjadi bangkai. Tapi engkau melenggang dalam tawa penuh dosa. Merampas segala. Demi menuai celaka. Demipara dewa. Ada keadilan di langit. Dunia penuh angkara. Sementara kekejian ada dimana-mana. Wahai adipati. Engkaulah sebab dari segala bala. Kini aku bertanya apakah kau telah siap menuai celaka?"

Mendengar syair yang diucapkan oleh Penyair Sinting itu karuan saja sang adipati tak dapat menahan kegusarannya.

Tanpa banyak kata diawali dengan teriakan melengking.

Laki-laki ini melesat ke atas pohon tepat dimana Penyair Sinting berada.

Begitu tubuhnya melambung tinggi dan gadis ini berada dalam jangkauannya adipati hantamkan cambuk sakti di tangannya.

Begitu cambuk membelah udara.

Sama seperti yang terjadi pada Si Mata Bara.

Tiba-tiba dari ujung hingga ke bagian hulu cambuk membersit cahaya putih terang laksana kilat. Seiring dengan menderunya cambuk ke arah Penyair Sinting.

Di udara bertaburan ribuan butiran cahaya berkilau mirip intan.

Dikejauhan terdengar lolongan dan lenguh suara mahluk aneh mirip suara Naga. Penyair Sinting yang sudah mengetahui kehebatan cambuk tidak menunggu hingga tubuhnya terbetot oleh suatu kekuatan yang bersumber dari cambuk.

Dia yang memiliki ilmu meringankan tubuh serta gerakan cepat luar biasa segera sentakkan tubuhnya kebelakang hindari hantaman cambuk.

Lalu dengan indah dia berjumpalitan dan jejakkan kaki di halaman gedung.

Diatas ketinggian lecutan cambuk di tangan senopati menghancurkan cabang dan ranting pohon tepat di mana Penyair Sinting berada.

Sebagian pohon hancur hangus berguguran terbakar mengepulkan asap. Sadar lawan dapat meloloskan diri.

Kemarahan adipati makin meluap-luap.

Sambil balikkan badan dan mengayunkan cambuk ditangan sang adipati melesat ke bawah mengejar lawannya.

Belum sempat kedua kakinya menjejak tanah. Lagi-lagi cambuk menderu.menghatam kepala Penyair Sinting.

Andai hantaman cambuk itu mengenai sasaran yang dituju.

Dapat dipastikan tidak hanya kepala Penyair Sinting saja yang hancur luluh.

Lebih cekaka lagi tubuhnya bisa meledak menjadi kepingan sebagaimana nasib yang dialami Mata Bara.

Tapi gadis ini bertindak cerdik.

Sebelum kilat menyambar dan pijaran cahaya seperti intan bertabur di udara. Dari bawah dia melesat ke atas lalu menyerbu ke arah adipati.

Kemudian tangannya yang usil meninju bagian bawah perut adipati.

Karuan saja adipati yang tak menyangka mendapat serangan seperti itu menjerit keras.

Dia jatuh berlutut, sementara lecutan cambuk melesat tak tentu arah, Dan adipati menggerung sambil dekap bagian bawah perutnya yang sakit mulas tak karuan.

Sambil menggembor, wajah pucat dan kucurkan keringat dingin adipati bangkit berdiri. Begitu menatap ke depan lawannya lenyap.

Jelalatan dia memandang ke atap gedung.

Dia melihat Penyair Sinting telah berdiri disana, mulut Penyair Sinting mencibir sambil bertolak pinggang.

Tapi yang membuat adipati terkejut.

Penyair Sinting tidak sendiri berada di atas atap itu. Di sebelah kirinya.

Seolah memang sudah saling mengenal berdiri tegak seorang pemuda berambut gondrong sebahu berpakaian putih .Dipunggung pemuda itu tergantung sebilah pedang. Sarung pedang berwarna emas sedangkan hulu pedang berwarna biru berkilau.

Sekali melihat adipati segera menyadari pedang di pemuda tak dikenal itu jelas bukan senjata biasa.

"Siapa kau? Kau berkomplot dengan Penyair Edan itu heh?!" hardik adipati gusar. Yang ditanya tertawa cengengesan.

Sesekali dia menatap Penyair Sinting.

Tapi kemudian perhatiannya lebih tertuju pada sang adipati. Tenang-tenang saja dia menjawab pertanyaan orang.

"Adipati, gadis ini bukanlah Penyair Edan. Dia hanya penyair Sinting. Aku tidak bersekutu dengannya. Aku cuma membantu dia meluruskan perkara. Turut jabatan yang kau pangku.

Kedudukanmu masih berada jauh di bawah pangkatku. Kau seorang adipati, sedangkan aku ini seorang raja.Raja sungguhan walau cuma rajanya orang-orang gendeng. Jadi menurutku, sebaiknya kau kembalikan saja cambuk Sakti Naga Intan yang kau rampas dari tangan Harimau Setan.Setelah itu atas kesalahanmu di masa lalu sebaiknya kau membunuh diri dengan suka rela."

"Keparat busuk. Bagaimana kau tahu segala urusanku dimasa lalu?" Tanya sang adipati dengan mata mendelik. Raja tersenyum.

"Soal itu aku sudah tahu."

"Hmm, jadi kau bernama Raja dan kau mengaku memang seorang raja. Raja apa? Rajanya orang gila. Ha ha ha!"

"Aku bicara sungguhan, mengapa kau tertawa. Rasanya tidak ada yang lucu." Ucap Raja heran.

"Sebenarnya dialah yang gila. Mengapa kau ambil perduli. Sekarang sudah waktunya, tiba giliranmu untuk mengambil cambuk itu. Karena kau seorang raja pula maka kau patut menjatuhkan hukuman pada senopati terkutuk itu!"

Sentak Penyair Sinting yang sedari tadi diam saja.

"Jangan cuma pemuda edan itu saja yang menghadapi aku. Kau sekalian maju bersama agar aku tak perlu membuang banyak waktu" dengus adipati.

"Ha ha ha. Kau serakah sekali adipati. Hadapi aku dulu, nanti kalau aku mati. Kau berkesempatan memiliki gadis itu."

"Pemuda edan."

Maki Penyair Sinting.

Raja tertawa tergelak-gelak .Sambil tertawa tiba-tiba tubuhnya terangkat naik, kaki menggantung dua jengkal di atas genteng setelah itu....

Wuus!

Sekali berkelebat sosok Raja lenyap dari pandangan. Tahu-tahu adipati yang berada di halaman menjerit kaget. Dess!

Dess!

Dua tendangan menggeledek yang dilancarkan Raja tanpa sempat dihindari lagi menghantam dada adipati hingga membuat dua rusuknya berderak patah.

Adipati jatuh terpelanting, terjengkang di atas tanah dengan mulut menyemburkan darah. "He....hebat. Kau bisa bergerak seperti setan."

Desis Penyair Sinting kaget. Namun diam-diam dia merasa kagum.

"Kau layak menyebutku Raja Setan. Tapi inilah jurus serangan sekaligus ilmu lari cepat bernama Langkah Gaib Dewa Mabok...!"

Sahut Raja dingin.

Sang Maha Sakti Raja Gendeng balikkan badan, dia menatap ke arah adipati Seta Kurana yang baru saja bangkit berdiri.

Sang adipati menyeka mulutnya yang berlumur darah.

Dia juga diam-diam mengerahkan hawa murni untuk menyembuhkan luka dalam di dada.

Tapi akibat dua rusuk yang patah menusuk paru-paru upaya penyembuhan itu tidak banyak berguna.

"Adipati, kau masih punya kesempatan untuk bertobat. Serahkan cambuk itu." Kata Raja.

Adipati menyeringai.

"Aku lebih suka kau yang menyerahkan nyawa kepadaku! Hiaa....." teriak adipati dengan suara lantang. Teriakan itu disusul dengan serangan ganas yang mengandalkan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi.

Tapi berkat jurus Delapan Bayangan Dewa dan jurus Senandung Sang Maha Dewa.

Yaitu puncak dari seluruh jurus andalan yang berintikan gerak lemah lembut, cepat dan tidak terduga.

Semua serangan yang dilakukan adipati hanya mengenai tempat kosong. Sadar semua serangan ganas yang dilakukannya tak mengenai sasaran. Bahkan lawan dengan mudah dapat meloloskan diri.

Geram bercampur penasaran Adipati segera merangsak maju.

Cambuk yang tergenggam di tangan segera diputar lalu dikibaskan ke arah Raja. Begitu cambuk melecut disertai ledakan yang menimbulkan kilatan cahaya.

Pemuda ini segera bergulingan menjauhi selamatkan diri.

Ketika cambuk kembali menggeletar dan membersitkan cahaya bertabur seperti ribuan butiran intan. Raja segera mencabut Pedang Gila.

Pedang diputar lalu dikibaskan ke arah cambuk. Sing!

Sret!

Seketika itu juga terjadi sebuah pemandangan aneh namun menegangkan. Dari ujung hingga ke hulu pedang menderu cahaya kuning terang menyilaukan.

Cahaya itu dengan cepat berkelebat ke arah butiran cahaya putih berkilau yang bertabur di udara.

Satu kejadian yang luar biasa lagi terjadi.

Seluruh butiran cahaya putih terbetot, lalu tersedot amblas ke dalam pedang dalam genggaman Raja.

Penyair Sinting terkesima.

"Belum pernah aku melihat ada senjata sakti yang bisa mengalahkan kehebatan cambuk.Pedang Gila di tangan Raja benar-benar luar biasa."

Gumam Penyair Sinting. Sementara itu di tempatnya berdiri tubuh Raja tampak bergetar. Dua tangan yang memegang hulu pedang terguncang dan mengepulkan asap tipis.

Sekujur tubuh basah bersimbah keringat.

Sementara dari ubun-ubun terlihat mengepulkan kabut pula.

Saat itu Raja memang sedang berusaha mati- matian menahan pedang di tangan agar tidak sampai tersedot dan terpental ke arah cambuk. Demikian halnya dengan adipati Seta Kurana. Dia yang dibuat tercekat tak menyangka.cambuknya tak mampu berbuat banyak atas daya tarik yang ditimbulkan pedang di tangan lawan terpaksa melipat gandakan tenaga dalamnya ke arah cambuk.

Walau begitu akibat luka di paru-paru yang tertembus tulang rusuknya yang patah membuat adipati tak dapat bertahan lama.

Semakin keras dia mempertahankan cambuk Sakti Naga Intan di tangan. Semakin kuat pula daya sedot pedang Gila di tangan Raja.

Setelah cambuk ditangan menggeletar hebat.

Sementara kepulan asap hitam bermunculan dari seluruh cambuk.

Adipati merasakan dua tangan yang mempertahankan cambuk itu terasa panas luar biasa.

Cambuk dilepaskan, terpental tak dapat dipertahankan. Dari mulut adipati kembali ada darah menyembur keluar.

Terhuyung-huyung dia berusaha mencabut keris di pinggang.

Namun orang tua ini malah terjungkal roboh begitu pedang di tangan Raja menembus jantungnya.

Adipati hanya bisa delikan matanya. Kedua kaki berkelojotan setelah mulut keluarkan suara mengorok, tubuhnya terkulai tanpa nyawa.

Raja mendengus,bersihkan pedang yang berlumur darah dengan pakaian sang adipati.

Lalu masukkan pedang ke dalam rangkanya. Ketika dia berbalik.

Raja melihat di depan cambuk yang masih mengepulkan asap berdiri tegak Penyair Sinting. Gadis cantik berdandan menor menyerupai kuntilanak itu tersenyum padanya.

"Kau telah membantu semua tugasku mewakili sesepuh Lembah Bangkai, aku mengucapkan terima kasih. Harimau Setan pasti menyambut gembira atas kembalinya cambuk ini padanya."

Terang Penyair Sinting.

"Cambuk ini milik nenek itu. Kau boleh membawa sekaligus menyerahkan padanya." "Jadi kau tidak ikut ke Lembah Bangkai."

Tanya Penyair Sinting berusaha menutupi kekecewaannya.

"Tidak. Aku akan menuju ke barat. Sampaikan saja salamku pada nenek itu. Katakan padanya agar menjaga cambuk itu dengan baik."

Pesan Raja. Penyair Sinting mengangguk. Dia membungkuk, lalu ulurkan tangan meraih cambuk yang tergeletak di tanah. Sambil menggulung cambuk dia berujar

"Apakah mungkin kita bisa bertemu lagi?" Tak ada jawaban.

Hanya semilir angin yang berhembus. Penyair Sinting tegak berdiri.

Menatap ke depan ternyata Raja telah lenyap dari pandangan.

Sayup-sayup dikejauhan Penyair Sinting mendengar suara orang berkata mirip orang bersenandung. "Itu suara Raja."

Seru Penyair Sinting.

Entah senandung apa yang didengar gadis itu.

Yang jelas begitu senandung yang dia dengar berakhir. Penyair Sinting cemberut sambil menggerutu.

"Sial. Dia menyindirku. Mirip kuntilanak kuburan, apa betul aku mirip kuntilanak? Hik hik hik...!" Sambil mengumbar tawa cekikikan Penyair Sinting berkelebat pergi.

TAMAT