-->

Raja Gendeng Eps 05 : Dendam Manusia Kutukan

 
Eps 05 : Dendam Manusia Kutukan


Angin menderu.

Kilat dan petir sambung menyambung tiada henti.

Hingga larut malam hujan lebat yang mengguyur kadipaten Blora belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Padahal luapan air sungai telah menggenang dimana-mana. Di tengah suasana alam yang tidak ber- sahabat.

Dalam sebuah gedung megah tempat kediaman adipati dan pati kerabatnya justru terjadi peristiwa yang menggemparkan.

Beberapa kerabat adipati Seta Kurana termasuk istri dan dua putrinya tewas menemui ajal dengan kondisi mengenaskan.

Enam pengawal yang bertugas di tempat kediaman keluarga juga tak luput dari kematian.

Adalah senopati Gagak Panangkaran orang yang paling pertama mengetahui terjadinya malapetaka ini. Saat itu senopati gagah berpakaian serba hitam berusia sekitar empat puluh tahun baru saja kembali dari beberapa wilayah katemenggungan yang masih berada di bawah pemerintahan adipati Blora.

Pada saat senopati bersama rombongan kecil memasuki pintu gerbang utama.

Dia yang menunggang kuda putih dan dalam keadaan basah kuyup tiba-tiba mendengar suara jerit dan pekik menyayat hati.

Setelah jerit dan pekik kesakitan lenyap, sekonyong-konyong di tengah suara deru hujan dia mendengar suara lolong aneh.

Ketika senopati nenatap ke arah datangnya suara.

Di jendela samping rumah ke dua yang bersebelahan dengan rumah induk.

Senopati melihat satu sosok berpakaian serba hitam melesat keluar menembus hujan.

Curiga telah terjadi sesuatu yang tak diingin kan di dalam gedung yang menjadi tempat kediaman kerabat adipati juga keluarganya.

Senopati pun melesat meninggalkan kudanya.

Sambil bergerak ke arah lenyapnya sosok hitam, senopati masih sempat berteriak ditujukan pada para pengawalnya.

"Cepat periksa gedung keluarga. Yang lainnya segera melapor pada gusti adipati di rumah utama!"

Para perajurit yang berpencar tiba bersama senopati dan jumlahnya tak lebih dari tujuh orang itu pun lalu berbagi tugas.

Mereka berpencar.

Sebagian menuju gedung utama bergegas menemui adipati sedangkan sebagian lagi memeriksa gedung keluarga.Di tengah gemuruh angin yang sangat dingin luar biasa.

Senopati terus berlari mengejar.

Tak lama di tengah kegelapan yang kadang diterangi cahaya kilat dia melihat sosok yang dikejar melesat melewati tembok benteng yang tinggi.

"Berhenti!" Teriak Senopati.

Suaranya keras menggeledek.

Teriakan yang sia-sia karena orang yang dikejar terus saja berlari. Senopati Gagak Panangkaran menjadi geram.

Sekali lagi dia meng- goyangkan tubuh dan mengayun kedua kakinya. Wuus!

Dengan satu gerakan yang luar biasa cepat Senopati Gagak Panangkaran tahu-tahu telah menghadang di depan sosok itu. Sosok berpakaian serba hitam ternyata seorang laki-laki berwajah dingin dan bermata merah seperti bara itu tersentak kaget.

Rupanya dia tidak menyangka gerakan larinya masih dapat disusul orang. Ketika sadar orang yang menghadang telah merintangi jalannya.

Dia perhatikan senopati sekilas.

Merasa mengenali siapa adanya laki-laki berpakaian hitam itu dia menyeringal.

"Ternyata kau senopati? Kau tak bisa menghentikan aku.Lebih baik kau urusi kerabat adipati Yang mati harus segera dikubur sebelum jasad menjadi busuk! Ha ha ha,"

Kata orang itu diringi tawa dingin.

Walau terkejut tak menyangka orang di depannya mengenal siapa dia adanya. Namun mendengar ucapan terakhir orang itu senopati jadi tambah curiga.

Dia yang sebelumnya sudah dibuat kaget melihat mata yang merah menyala seolah memancarkan api, juga sempat tercengang melihat tubuh orang yang ditumbuhi sisik-sisik hitam besar.

Kini semakin sadar orang yang dia hadapi memang telah melakukan sesuatu yang tak diinginkan pada keluarga adipati.

"Siapa kau?" Hardik senopati.

"Aku? Hmm, namaku tak penting? Orang sering menyebutku Si Mata Bara atau Mata Setan."

Senopati terdiam. Dia berpikir apakah pernah mendengar julukan seaneh itu. Begitu ingat dia menjadi kaget, mulut ternganga mata terbelalak.

"Iblis jahanam! Kau telah membunuh beberapa temenggung dan kerabatnya. Tak kusangka kau punya nyali muncul di kadipaten!"

Teriak senopati.

Dengan cepat dia mencabut keris Sindang Talangkas yang terselip dibalik pinggang pakaiannya. Melihat senopati menghunus senjata, SI Mata Bara malah nenyeringai.

Sedikit pun dia tidak mengenal takut walau menyadari senjata di tangan senopati bukan senjata sembarangan.

"Kau hendak menangkap atau ingin membunuhku?" "Aku ingin menghabisi iblis keparat sepertimu!" Sahut senopati.

"Kau pasti tak akan mampu melakukannya. Kau bukan tandinganku. Lagi pula belum saatnya aku menghadap sang kematian sebelum semua urusan dan hutang terbayar lunas. Urusi saja kerabat adipati yang baru kubunuh!"

Kata Mata Bara dingin. itu. Walau sudah menduga tak urung senopati terkejut mendengar pengakuan laki-laki bermata bara

Lalu, tanpa pikir panjang sang senopati cepat mengambil tindakan. Sambil berteriak keras tiba-tiba dia melesat ke depan.

Tangan kiri terjulur, jemari terkembang siap merenggut putus tenggorokan.

Sementara itu keris sakti ditangan kanannya melesat lebih cepat membabat ke arah dada dan terus meluncur siap menghunjam di perut Mata Bara.

Melihat kecepatan gerak senopati yang luar biasa diam-diam si Mata Bara sempat tercekat.

Dan lebih terkejut lagi ketika menyadari dari ujung keris membersit dua larik cahaya hitam kebiruan yang siap menghunjam di dada dan perutnya.

Dua cahaya melesat mendahului sambaran keris. "Serangan gila dan ganas luar biasa!"

Maki Mata Bara dalam hati.

Lalu menggoyangkan seluruh tubuhnya. Wush!

Satu kejadian yang sulit dipercaya membuat senopati Gagak Panangkaran belalakkan matanya

.Tanpa terduga dengan mudah serangan senopati itu dihindari lawan.

Bahkan senopati tidak sempat melihat kapan Mata Bara berkelit menghindar. Yang jelas tahu-tahu si Mata Bara telah berada di belakangnya.

Secepat kilat dia balikkan badan sekaligus kiblatkan senjata dalam genggaman.

Namun secepat apapun serangan bertenaga dalam tinggi dia lakukan tetap saja gerakannya kalah cepat dengan pukulan yang dilakukan si Mata Bara .

Blek!

Satu pukulan yang mengarah di wajah yang disusul dengan tamparan keras ke bagian bahu senopati mendarat telak, membuat senopati terjungkal dengan wajah seperti remuk, hidung mengucurkan darah dan bahu sakit laksana ditindih batu sebesar kerbau.

Penuh kemarahan sambil menggerung akibat menahan sakit luar biasa. Dengan tubuh termiring- miring laki-laki ini bangkit.

Jelalatan dia memperhatikan sekelilingnya. Dia tidak melihat si Mata Bara.

Laki-laki bermata api itu raib seperti di telan bumi. "Manusia jahanam! Kemana kau pergi!"

Teriak senopati Gagak Penangkaran marah bercampur penasaran. Tidak ada jawaban.

Hanya saja di tengah angin gemuruh angin dan curah hujan dia mendengar suara raung lolong aneh seperti kawanan binatang terluka yang melontarkan kegusarannya. Senopati mengusap wajahnya yang memar bengkak dan terasa tebal. Dia juga menyeka darah yang meleleh dari hidung.

Setelah itu dia mengusap tengkuknya yang mendadak jadi dingin.

"Siapapun menusia bermata bara itu. Ilmunya sangat tinggi, kecepatan luar biasa. Aku tak mungkin mengejarnya. Lebih baik aku kembali ke gedung, tempat kediaman kerabat adipati.

Mudah-mudahan gusti adipati selamat!" Kata senopati.

Tanpa menunggu dia memutar tubuh.

Sekejab dia menatap ke arah tembok tinggi yang mengelilingi dua gedung utama. Lalu dengan gerakan laksana terbang dia tinggalkan tempat ini.

****

Di dalam gedung bangunan megah ke dua tempat di mana kerabat dan keluarga adipati Seta Kurana tinggal menetap.

Suasana haru menyelimuti semua kerabat yang lolos dari maut.

Tak kurang laki-laki berusia enam puluh tahun berpakaian serba biru dan berbelangkon gemerlap itu tidak kuasa membendung air matanya.

Melihat istri dan dua putrinya terbujur kaku di atas pembaringan dengan sekujur tubuh dipenuhi luka sayatan.

Membuat laki-laki berpenamplan rapi yang tak lain adalah adipati Blora ini menitikkan air mata. Dalam suasana berkabung duka di mana hujan mulai mereda.

Penjagaan di luar gedung dan bagian dalam tembok benteng makin diperketat. Puluhan perajurit kadipaten bersenjata lengkap terus berjaga-jaga.

Dan ketika senopati Gagak Panangkaran muncul di halaman, semua pengawal yang berjaga jaga di depan pintu semua bungkukkan badan, menjura penuh rasa hormat namun hati bertanya- tanya.

Mereka tidak mengerti mengapa wajah senapati Gagak Panangkaran nampak bengkak lebam membiru.

Melihat wajah yang lebam serta tatap mata senopati yang mencorong marah tak satupun dari pengawal itu berani menegur.

Sesampai di sebuah ruangan yang luas dimana para kerabat adipati berkumpul, Senopati hentikan langkah.

Dia tertegun begitu melihat sedikitnya tujuh kerabat adipati terbujur kaku.

Sementara di tengah mayat-mayat yang menjadi korban terlihat penguasa Blora duduk bersimpuh.

Namun adipati segera bangkit berdiri begitu melihat senopatinya telah hadir di ruangan itu. "Seumur hidup aku belum penah mengalami kejadian seperti ini.Keluarga dan kerabatku dibunuh di tempat kediamanku sendiri.Ini sangat keterialuan!" kata laki-laki itu.

Suaranya keras hampir berteriak, membuat semua yang hadir terkejut nanum hanya bisa tundukkan kepala. Senopati Gagak Panangkaran tidak menjawab.

Dia bungkukkan badan sambil rangkapkan dua tangan di depan dada. Ketika adipati sampai di depannya.

Laki-laki itu segera hendak mendamprat.

Namun segala yang hendak dia ucapkan buru-buru ditelan kembali begitu melihat wajah senopatinya lebam bengkak, sedangkan bagian hidungnya yang patah tampak membiru.

"Apa yang terjadi?"

Tanya adipati Seta Kurana dengan suara melunak nanun memendam kemarahan serta kepedihan mendalam.

"Ampun gusti. Saya baru saja melakukan tugas yang gusti berikan. Ketika kembali semua ini terjadi"

Adipati anggukkan kepala. Menoleh pada semua yang hadir, lalu memberi isyarat pada senopati Gagak Panangkaran untuk menyingkir dari ruang duka. Mereka meninggalkan gedung ke dua. Ketika berjalan melewati halaman samping menuju gedung pertama yang menjadi tempat tinggal sekaligus pusat pemerintahan. Senopati yang berjalan di belakang junjungannya terus-terusan mengawasi keadaan di sekelilingnya. Dia merasa lega saat sampai di dalam gedung kebanggaan adipati tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.

"Apa sebenarnya yang telah terjadi? Aku juga ingin mendengar semua keadaan yang terjadi di setiap katemenggungan!"

Kata adipati sesaat setelah berada dalam satu ruangan pertemuan.

Saat itu adipati duduk di atas kursi besar di belakang sebuah meja kecoklatan terbuat dari jati. Ruangan cukup luas berwarna kecoklatan itu cukup hangat dan tak terpengaruh udara dari luar.

Senopati Gagak Panangkaran yang juga telah duduk dikursi berhadapan dengan meja besar menghela napas sambil meluruskan punggungnya yang terasa sakit .

"Seseorang yang saya yakini merupakan pembunuh yang sama telah menyerbu gedung keluarga. Saya berusaha mengejar, tapi suasana yang gelap membuat pembunuh itu sedikit lebih beruntung."

Jawab senopati. Mata adipati mendelik, keningnya berkerut. "Apa maksudmu dengan pembunuh yang sama?"

Tanya adipati penasaran.

Senopati menggeleng seolah berusaha mengingkari semua kenyataan yang dilihatnya. Tapi ketika semua ciri korban yang tewas dengan kondisi yang tak jauh berbeda.

Sebagaimana pengakuan si Mata Bara. Senopati merasa tidak ada gunanya menutupi kenyataan.

"Lima tumenggung, penguasa lima wilayah dalam kekuasaan gusti semua tewas, bersama keluarganya gusti."

Terang laki-laki itu dengan suara lirih.

Dengan perlahan diucapkan namun bagi adipati keterangan senopatinya tak ubah seperti lima tusukan senjata berbisa yang menembus jantungnya.

Dia terkesima. Mata mendelik.

Menatap ke arah senopati seolah tak percaya dengan pendengaran sendiri.

"Semua terbantai. Gila! Ini kenyataan yang sulit kuterima,"dengus adipati dengan nafas mengengah.

Pertanda laki-laki itu sedang dilanda kemarahan luar biasa.

"Kau sudah bertemu atau setidaknya sudah melihat pembunuh keparat itu? Atau mungkin kau melihat pembunuh itu keluar dari gedung keluarga?!" tanya adipati. Matanya yang merah menatap tak berkedip pada sang senopati.

"Ampun gusti. Saya melihat pembunuh itu. Saya juga bertemu dan berusaha menangkapnya tapi....

seperti yang saya katakan. Keadaan yang gelap sangat menguntungkan jahanam itu!" "Kau gagal menangkap? Dan dia bahkan membuat cidera wajahmu?!"

Kata adipati disertai seringai, namun tidak puas. Senopati tidak menjawab. "Kau diam. Berarti yang kukatakan benar". ucap adipati.

"Katakan siapa dia atau bagaimana ciri-ciri wajahnya!" Desaknya tidak sabar.

"Dia berpakaian hitam, tubuh seperti manusia namun wajahnya menyerupai binatang. Wajah itu berubah-ubah. Matanya merah seperti bara. Dia mengaku berjuluk si Mata Bara atau Mata Setan." terang senopati.

Dia juga kemudian menceritakan bagaimana sulitnya meringkus pembunuh itu. Mendengar penjelasan bawahannya. Adipati Seta Kurana terdiam. Tidak lama. Setelah berpikir dan berusaha mengingat-ingat adipati buka mulut.

"Mata Setan! Mata Bara. Sebuah julukan aneh. Aku pernah mendengar bahkan membuat satu perubahan besar terhadap kehidupan seseorang sesepuh di Lembah Bangkai. Orang itu dikenal dengan sebutan Harimau. Setan dan bukan Mata Bara atau Mata Setar "

"Apa maksud gusti? Siapa Harimau Setan " tanya senopati Gagak Panangkaran disertai tatap penuh tanya.

Seakan sadar baru keterlepasan bicara. Adipati cepat menggeleng sekaligus berujar.

"Lupakan tentang Harimau Setan. Tadi kau mengatakan ada kesamaan antara pembunuh para tumenggung dengan pembunuh keluargaku. Apa maksudmu?"

Gagak Panangkaran tidak langsung menjawab. Sebaliknya dalam hati dia berkata.

"Aku yakin ada sesuatu yang sangat penting yang dirahasiakan oleh gusti adipati. Sesuatu yang mungkin hanya gusti dan para tumenggung itu saja yang mengetahuinya. Dia masih saja merahasiakan hal penting di saat seperti itu sungguh aku tidak pernah bisa mengetahui seberapa banyak rahasia yang tersembunyi di balik sanubarinya yang licik!"

"Senopati! Aku bertanya padamu, mengapa kau tidak menjawab. Memangnya apa yang kau pikirkan?!"

Sentak adipati membuat senopati Gagak Panangkaran tersadar dari lamunannya.

"Maafkan saya gusti. Sebelum saya menjawab pertanyaan gusti.Saya ingin ajukan pertanyaan." "Gila! Pertanyaanku belum kau jawab, kau malah hendak ajukan pertanyaan tolol.Lekas katakan

apa yang hendak kau tanyakan!"

Dengus sang adipati sambil kepalkan tangannya. Senopati sadar, junjungannya menjadi gusar.

Namun dia tetap bersikap tenang.

"Gusti. Saya ingin tahu apakah jenazah para kerabat dan anak istri gusti dipenuhi luka goresan. seperti dicakar binatang buas? Dan apakah di antara jenazah itu ada pula yang seperti hangus?"

Walau tak begitu mengerti maksud tujuan pertanyaan sang senopati, namun adipati anggukkan kepala.

"Keadaan yang sama juga saya temukan pada jenazah para tumenggung dan keluarganya. Seperti yang saya katakan, pembunuh dari semua korban adalah orang yang sama. Dan ini sangat sesuai dengan pengakuan si Mata Bara."

Terang senopati. Adipati Seta Kurana terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas sejauh itu sebagai senopati, Gagak Panangkaran tetap menghargai apa pun keputusan junjungannya.

"Aku tidak tahu siapa orang itu. Namun mengingat pembunuhan ini sangat meluas dan semuanya terjadi pada penguasa wilayah bawahanku. Nampaknya kita membutuhkan bantuan para sahabat kita."

Akhirnya adipati mengambil keputusan. Sebuah keputusan yang membuat senopati Gagak Panangkaran terheran-heran.

"Apa maksud gusti?"

Pertanyaan senopati membuat junjungannya bangkit berdiri. Setelah duduk di bibir meja, laki- laki itu berujar.

"Aku tidak pernah meragukan kemampuanmu dalam mengamankan daerah kekuasaanku. Tapi kadipaten Blora ini sangat luas. Dalam keadaan biasa aku tidak kawatir, namun dalam situasi seperti sekarang ini kita harus meningkatkan kewaspadaan. Aku yakin Mata Bara tidak sendiri. Mungkin dia punya pengikut untuk membuat kekacauan di mana-mana." "Bagaimana gusti bisa yakin?" "Aku hanya menduga."

Jawab adipati tanpa mau berterus terang.

"Kuharap kau pergi ke pantai selatan. Kau bisa temui sahabatku Ki Jaran Palon sahabat Windu Saketi, Ki Rangga Galih juga pemilik Padepokan Selatan kakek Giri Soradana."

"Bagaimana dengan tumenggung Dadung Kusuma di Tritis? Saya dengar dari para telik sandi kita dia satu-satunya tumenggung yang masih selamat dari pembunuh itu!"

Terang senopati Gagak Panangkaran.

"Dadung Kusuma adalah salah satu sahabatku yang bisa membaca gelagat begitu keadaan semakin gawat dia pasti akan datang kemari bergabung bersamaku. Kau hubungi saja orang yang aku sebutkan. Kau harus berangkat malam ini juga!"

Tegas adipati membuat senopatinya heran.

"Malam ini? Apakah tidak menunggu esok? Dengan begitu saya bisa membantu gusti mempersiapkan segala keperluan untuk pemakaman!"

Tawar laki-laki itu. Sekedar menunjukkan rasa simpati dan itikat baik. Tapi tawaran itu disambut gelengan kepala sang adipati.

"Aku berterima kasih atas pengertianmu. Tapi segalanya sudah sangat mendesak. Kau boleh pergi, bawa pasukan untuk menyertaimu. Aku berharap esok sore sebelum matahari terbenam kau sudah kembali bersama orang-orang yang kita butuhkan."

"Perintah gusti saya junjung tinggi, namun saya merasa lebih baik pergi sendiri. Dengan begitu perjalanan bisa lebih cepat."

"Baiklah. Kau bebas menentukan pilihan. Aku yakin dengan kemampuanmu. Kau boleh pergi sekarang!"

Senopati Gagak Panangkaran anggukan kepala. Setelah menjura hormat, laki-laki itu bangkit berdiri. Tak ingin berlama-lama dia balikkan badan lalu bergegas tinggalkan ruangan itu. Setelah senopati pergi, adipati Seta Kurana bangkit. Dia kembali ke kursinya lalu duduk termenung.

Dengan hati gelisah dilamun kesedihan dia berpikir apakah mungkin musibah malapetaka yang menimpa para tumenggung, keluarga dan kerabatnya sendiri ada kaitannya dengan masa lalu.

Khususnya berkaitan dengan peristiwa di Lembah Bangkai.

"Segalanya telah lama berlalu. Jika kaum terkutuk itu memang ada yang lolos dari penyerbuan. Seharusnya sejak dulu-dulu mereka melakukan pembalasan. Apakah mungkin Harimau Setan bangkit dari keterpurukannya? Dia mengirim murid atau pengikutnya untuk membuat kekacauan?"

Batin adipati bingung dan hanya bisa menduga. Dia menghela nafas. Lalu berkata seolah ditujukan pada diri sendiri.

"Bila benar masa lalu yang menjadi pangkal sebab semua ini. Aku harus membersihkan semua persoalan yang masih tersisa."

Baru saja adipati berkata begitu. Tiba-tiba lantai dan dinding ruangan pertemuan tempat dimana dia berada bergetar keras. Adipati terkesiap namun cepat memperhatikan sekelingnya. Selagi hatinya bertanya-tanya. Tiba-tiba di tengah empat penjuru dinding menebar kepulan asap berwarna hitam pekat disertai terdengarnya empat suara ledakan berturut-turut .Ledakan itu membuat adipati terlempar, lalu jatuh terduduk di depan pintu yang terbuka.

Namun dia tidak cidera, hanya sekujur tubuhnya terasa panas seperti dipanggang di atas tumpukan api. Sambil menahan nafas adipati menyalurkan hawa dingin ke sekujur tubuhnya. Hingga rasa panas yang membakar sekujur badan lenyap. Seiring dengan itu kepulan asap berangsur sirna. Adipati melihat seluruh penjuru ruangan berikut isinya tetap utuh. Namun ketika dia menatap ke empat penjuru dinding, orang tua ini dibuat tercekat. Pada setiap dinding tempat dimana asap mengepul dan ledakan terjadi terdapat empat pesan aneh berbeda-beda. Adapun empat pesan itu masing-masing berbunyi.

Lembah Bangkai Manusia Kutukan Hutang Darah & Nyawa Dendam Yang Harus dibalas.

Begitu selesai membaca setiap tulisan darah yang terdapat pada empat penjuru dinding. Adipati merasa tengkuknya menjadi dingin. Wajah pucat berkeringat. Sedangkan sekujur tubuh bergetar dilanda rasa cemas. Dengan bibir bergetar dan suara terbata dia berucap.

"Mereka.... bagaimana mungkin mereka yang dulu pernah kami bantai ternyata bangkit kembali?

Apakah bukan roh dan hantu mereka yang gentayangan menuntut balas?" Kemudian sang adipati terdiam.

Dia tak kuasa lagi berkata-kata.

****

Duduk bersimpuh di tengah lingkaran bersimbol bintang besar bersudut lima.

Sang Maha Sakti Raja Gendeng benar-benar merasa tidak berdaya seolah telah kehilangan segala kesaktiannya.

Dua tangan sulit digerakkan.

Sepasang mata terkatup seperti orang yang dihinggapi kantuk hebat, telinga serasa tuli, hidung sulit bernafas seolah ada upil besar yang menyumbat kedua lobang hidungnya.

Hanya mulut yang masih dapat dibuka dikatub. Dan lebih beruntung lagi dia masih dapat bersuara.

Segala ketidak berdayaan yang dialami Raja mulai dirasakan saat matahari hampir terbenam. Saat itu dia baru saja berpisah dengan Bocah Ontang Anting.

Sahabat tua yang menetap di Lembah Tapa Rasa tersebut ternyata memutuskan kembali ke lembah setelah ikut membantu Sang Maha Sakti mendapatkan senjata warisan almarhum ayahnya prabu Sangga Langit. Melanjutkan tapa brata dan bersunyi diri menjadi pilihan Bocah Ontang Anting yang aslinya bernama Ki Sapa Brata ini.

Untuk mengetahui riwayat kakek jenaka itu dapat dikuti dalam episode Maha Iblis Dari Timur. Tidak lama setelah berpisah dengan sahabatnya.

Raja yang berjalan menelusuri pendataran luas tiba-tiba merasa ada getaran-getaran aneh yang ditimbulkan oleh pedang pusaka yang tergantung dipunggungnya.

Getaran disertai guncangan dan suara berkelotakan beradunya pedang dengan rangkanya semakin dia rasakannya begitu dia sampai di atas ketinggian sebuah bukit.

"Mengapa pedang keluarkan suara berisik? Apa mungkin senjataku ini hendak berbuat ulah?" Batin Raja sambil hentikan langkah.

Baru saja sang Maha Sakti membuka mulut keluarkan ucapan. Tiba-tiba dia memekik kaget.

Rangka pedang yang menempel dipunggung pakaian putihnya mengeluarkan hawa panas dan dingin silih berganti.

Hawa panas dan dingin lalu menyengat punggung tak ubahnya seperti binatang berbisa. "Arkh.... Apa yang terjadi? Mungkinkah senjata ini tak suka kugendong dipunggung? Lalu aku

harus meletakkannya dibagian tubuh sebelah mana? Di depan? Oh tidak!" Kata Raja sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya.

"Di depan sudah ditempati pusaka keramat. Mana mungkin aku memindah pedang yang di depan ke dada atau ke wajahku? Apa kata dewa? Dan apa pula kata para wanita. Mereka bisa menertawakan aku"

Raja lalu tersenyum. Geli dengan ucapan sendiri.

Street!

Lagi-lagi satu sengatan luar biasa menghunjam dipunggung Raja membuat Pemuda ini menggeliat, meraung dan memelintir kesakitan.

"Pedang sialan! Pedang gila kurang ajar! Kalau tak suka bersamaku ya sudah. Aku tidak memaksa,"

Kata Raja geram.

Dengan tubuh terhuyung namun terus melangkah Sang Maha Sakti segera melepas pedang dan berikut rangkanya dari punggung.

Sekejab pemuda ini memperhatikan senjata itu. Mula-mula pada bagian rangkanya yang berwarna kuning emas, setelah itu bagian pedang yang berwarna biru berbentuk seorang pertapa memakai mahkota.

Memandang ke arah hulu pedang. Raja merasa matanya menjadi perih. "Hulu pedang yang aneh. Berukir seorang pertapa bermahkota. Dan aku merasakan ada getaran memancar dari bagian hulu pedang ini,"

batin Raja.

"Apa benar kau hidup? Atau pedangnya yang hidup?" tanya Sang Maha Sakti ditujukan pada hulu dan badan pedang yang terbenam dalam rangkanya. Seolah memang mempunyai nyawa dan seperti mengetahui ucapan pemuda itu. Dia melihat rangka pedang bergoyang-goyang sedangkan bagian hulunya manggut-manggut. Kaget bercampur takut pemuda itu campakkan pedang di tangan sementara mulutnya berdesis.

"Whee... pedang edan. Aku takut, aku tak mau membawamu lagi. Lebih baik kita mengambil jalan hidup sendiri-sendiri."

Ngeri bercampur kesal pemuda itu lalu tinggalkan Pedang Gila tergeletak begitu saja. Sambil bersiul-siul dia terus melangkah.

Tapi belum jauh berjalan dia merasakan ada yang menepuk pantatnya. Pemuda ini nyaris jatuh tersungkur.

Merasa ada yang mempermainkannya Raja pun balikkan badan menatap ke depan.

Matanya terbelalak ketika melihat di depannya Pedang Gila yang dia campakkan ternyata telah berdiri tegak, melenggang-lenggok sambil keluarkan suara berkelotakan.

Tak percaya dengan penglihatannya sendiri Raja mengusap kedua matanya beberapa kali. "Tidak salahkah yang kulihat ini? Pedang Gila bisa berjalan, bisa menari malah menggebuk

bokongku? Kurang ajar keterlaluan. Sungguh luar biasa. Yang seperti ini jarang kulihat!?" kata pemuda itu memuji tapi juga memarahi.

"Sekarang katakan apa yang kau inginkan."

Raja tatap pedang yang berdiri tegak mengambang di atas tanah dengan mata mendelik. "Aku tahu yang kulihat ini bukan perbuatan dewa. Para dewa selalu sibuk, tak mungkin mereka

bercanda. Ada sesuatu.... sesuatu yang menyertaimu. Bukankah begitu Pedang Gila?" Kluk!

Kluk! Nging! Nging!

Seolah membenarkan hulu pedang melompat- lompat ke atas. Saat hulu berbenturan dengan rangkanya terdengarlah suara-suara aneh seperti itu. Raja menyeringai.

"Jadi benar kataku, Kau tidak sendiri ada sesuatu yang menyertaimu. Suatu kekuatan atau mungkin roh yang hidup. Sesuatu yang halus, sesuatu yang gaib! Ha ha ini membuatku pusing. Aku tak mau tahu, aku tak mau memikirkan. Seperti kataku carilah jalan sendiri-sendiri!"

Dengus Raja acuh. Secepat kilat dia balikkan badan.

Lalu kembali berjalan tanpa menoleh-noleh lagi. Seperti tadi.

Belum lagi jauh Raja berjalan.

Tiba-tiba terdengar suara berdesing tak ubahnya seperti suara pedang yang tercabut dari rangkanya.

Susra desing aneh sekonyong-konyong disusul dengan suara deru tak ubahnya topan mengamuk. Terkejut.

Raja menoleh ke belakang.

Begitu melihat ke belakang wajahnya menjadi pucat, mata mendelik saat melihat pedang ternyata telah keluar sendiri dari rangkanya.

Dengan diikuti rangka di bagian belakang.

Pedang gila berputar saat memancarkan cahaya kuning benderang.

Kiranya gerakan berputar yang demikian dahsyat itulah yang telah menimbulkan deru tak ubahnya topan.

Tiada menyangka Pedang Gila bisa bergerak sesuka sendiri. Raja jadi tertegun dan mengomel.

Tapi sebelum pemuda ini sempat mengambil keputusan apa-apa. Tiba-tiba Pedang Gila menyapu ganas ke arahnya.

Tidak ingin menjadi korban senjata sendiri yang mengamuk tak tentu sebab. Pemuda ini segera hantamkan pukulan sakti Badai Serat Jiwa.

Seperti diketahui pukulan ini adalah salah satu pukulan dahsyat yang diwariskan gurunya Ki Panaraan Jagad Biru.

Cahaya kuning terang menyilaukan berkiblat lalu menghantam gemuruh angin dan kilatan cahaya yang bersumber dari Pedang Gila.

Namun Raja dibuat tercengang begitu melihat pukulan yang dia lepaskan tersedot amblas tertelan deru angin yang ditimbulkan pedangnya.

"Edan! Bagimana bisa begini?!" Seruan Raja lenyap.

Deru angin bersama cahaya datang melabrak menggulung tubuhnya. Tanpa ampun dia terjungkal.

Sekuat tenaga sambil menggerutu pemuda ini berusaha meloloskan diri.

Selagi berjuang mencari selamat justru pedang kembali mengeluarkan pijaran cahaya yang langsung menyengat tubuhnya.

Raja menjerit setinggi langit. Sengatan yang sangat keras membuatnya tak sadarkan diri. Di saat Raja tidak dapat mengingat apa-apa.

Sang pedang terus menggiringnya ke suatu tempat.

Sampai akhirnya pemuda ini terlempar ke tengah sebuah lingkaran bersimbol bintang besar bersudut lima.

Setelah Raja terkapar di tengah lingkaran.

Perlahan tapi pasti kilatan cahaya dan deru angin yang memancar dari Pedang gila lenyap. Rangka pedang yang mengikuti Pedang Gila berdiri tegak.

Sedangkan sang pedang melambung tinggi lalu berputar-putar di udara sebanyak tiga kali. Dan selanjutnya meluncur lurus ke bawah menuju mulut rangka pedang.

Trek!

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Pedang Gila kembali ke dalam rangkanya.

Semilir angin sepoi-sepoi akhirnya menyadarkan Raja dari pingsannya.

Seperti telah dituturkan begitu sadar dan mampu dudukan diri di tengah lingkaran .Raja merasa telah kehilangan segenap kekuatan yang dia miliki.

"Kejadian aneh, kejadian gila. Semua kurasakan seperti mimpi paling buruk yang pernah kualami.

Tapi apa betul aku bermimpi? Mengapa mataku berat, telinga seakan tuli, kaki dan tangan serasa lumpuh. Cuma mulut saja yang bisa bicara."

Kata pemuda itu tergontai-gontai.

Selagi Raja merasa tak berdaya kehilangan seluruh tenaga luar dalam dan cuma mampu mengerutu dan mengomel saja.

Dari bagian hulu Pedang Gila yang tegak berdiri di dalam rangkanya terdengar suara berkeletekan sebanyak tiga kali.

Suara itu lalu disusul dengan suara langkah kaki dan berderitnya pintu yang terbuka.

Raja yang tak kuasa membuka kelopak matanya yang berat hanya bisa menduga kemungkinan dirinya berada di dalam sebuah gedung.

"Apa benar aku berada di daiam gedung? Mengapa aku merasakan ada tiupan angin semilir berhembus? Apa yang sedang terjadi pada diriku. Kekuatanku seolah lenyap. Dan ya, aku ingat semua ini bermula sesaat setelah Pedang gila berbuat ulah, mungkin pedang itu yang telah menyedot amblas semua kesaktian yang kumiliki?"

Baru saja Sang Maha Sakti Raja Gendeng berucap dalam hati. Sayup-sayup dia mendengar ada suara orang berkata.

"Yang Mulia Paduka Raja Gendeng. Sudah waktunya kau memulai sebuah perjalanan." "Hah, apa?" Sentak Raja kaget.

Dia berusaha membuka matanya namun hal itu tak sanggup dia lakukan.

"Perjalanan kemana? Siapa yang bicara? Apa tidak tahu saat ini aku sudah berubah seperti orang yang lumpuh?"

"Bukankah setiap insan yang terlahir ke dunia awalnya dalam keadaan lemah tak berdaya dan tidak tahu apa-apa."

Menyahuti sang suara. Raja terdiam. Dia rasakan orang yang bicara itu tidak berada jauh darinya. Malah serasa ada di depannya.

"Soal itu aku sudah tahu. Aku bertanya siapa dirimu itu adanya?"

"Hamba. Soal diri hamba dapat kiranya hamba jelaskan bahwa hamba adalah roh yang hidup.

Hamba adalah jiwa yang menyertai pedang Gila. Karena itu sesuai takdir kehendak suratan sebenarnya kita bisa bersahabat!"

Mendengar suara yang mengaku sebagai jiwa yang menyertai pedang Gila.

Raja berjingkrak kaget. Andai saja kedua matanya dapat dibuka, tidak lengket seperti diberi perekat.

Pemuda ini pasti sudah delikkan matanya "Sahabat....? Jadi kau bersemayam di dalam pedang?" "Betul-betul gila!"

Rutuk Raja disertai seringai mengejek. Seakan tidak menghiraukan ucapan Raja yang ketus.

Lagi-lagi terdengar ucapan.

"Paduka Raja Gendeng. Hamba tidak bersemayam dalam tubuh pedang. Hamba justru bersemayam pada hulu pedang. Disanalah hamba menetap selama ratusan tahun. Semua yang hamba katakan betul, tapi bukan gila!"

"Wuah. Apapun alasanmu aku tidak perduli. Sekarang sebaiknya kau katakan aku berada di mana?"

"Gusti Raja, paduka berada di sebuah tempat bernama tanah Muasal dan tepat berada di tengah lingkaran kehidupan, Di dalam lingkaran kehidupan terdapat sebuah tanda, berupa simbol bintang bersudut lima. Setiap sudut dari simbol itu semuanya mempunyai makna tertentu."

Terang Roh Pedang

"Apa arti semua itu? Mengapa aku bisa berade di tempat ini?" Tanya Raja tidak mengerti.

"Bila paduka sampai di Tanah Muasal dan berada di dalam lingkaran kehidupan. Semua itu sesuai dengan garis suratan. Lingkaran kehidupan menjadi bagian semua mahluk yang hidup."

"Adapun simbol bintang bersudut lima melambangkan jalan hidup itu sendiri." "Jalan hidup? Aku tak mengerti maksudmu!" "Tidak sulit untuk memahaminya paduka Raja." ujar Roh yang bersemayam dalam pedang. "Jalan hidup manusia itu diantaranya ada susah ada senang, bila ada sehat datang pula sakit,

ada baik ada buruk, ada gelap ada terang ada hidup ada mati. Selagi hidup setiap manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai tempat tertinggi dalam kehidupan. Tempat tertinggi itu adalah kemuliaan."

"Hm, baiklah. Jika semua yang kau terangkan Itu yang kau maksudkan aku sudah mengerti. Yang membuat aku belum mengerti mengapa aku bisa berada di tempatmu."

"Hamba hanya mahluk yang mendampingi pedang gusti. Sedangkan takdir bagi Pedang Gila dan gusti Raja menjadi dua hal yang tak bisa dipisah- pisahkan. Di mana ada pedang Gila di situ ada gusti dimana ada gusti di situ ada Pedang Gila. Perlu kiranya hamba terangkan pedang Gila adalah sebuah senjata sakti tak berpenghuni. Tapi di bagian hulu pedang ada hamba yang bersemayam di sana. Karena hamba mahluk yang hidup, hamba bisa diajak bicara tentang segala hal yang hamba ketahui. Namun dalam menentukan setiap tindakan hendaknya gusti putuskan sendiri."

"Wuah bagus juga. Aku setuju saja. Sekarang aku punya teman, punya sahabat yang bisa diajak bicara. Karena kau hanya mahluk yang tidak terlihat. Nanti setiap kali aku mengajakmu bicara orang-orang yang melihatku pasti beranggapan aku ini manusia edan."

Tukas Raja sinis.

"Masalah sekecil itu tak perlu gusti risaukan." "Tidak usah kurisaukan?!"

Geram Raja.

"Jadi aku harus mengacuhkannya?"

"Baik. Aku tak mau berpanjang kata. Sekarang aku ingin tahu apa maksud ucapanmu bahwa aku harus memulai sebuah perjalanan??"

"Menurut ketentuan takdir para dewa. Sudah waktunya bagi gusti untuk meninggalkan pulau Es

ini."

"Meninggalkan pulau? Hmm, aku pernah berpikir untuk pergi ke tanah Dwipa. Tentu ada di

sebelah laut selatan. Tapi harapan itu rasanya hanya tinggal menjadi angan-angan. Karena sekarang aku rasakan semua kekuatanku lenyap entah kemana. Semua ini pasti gara-gara ulah Pedang Gila,"

Kata Raja penasaran.

"Tak usah bersedih hati, paduka. Semua ilmu kesaktian yang paduka Raja Gendeng miliki sama sekali tidak musnah. Semua kesaktian paduka tertahan pedang akibat terjadinya tali sambung rasa antara pedang dengan paduka."

"Hah apa? Jadi antara aku dan Pedang Gila telah terjadi kontak batin?" Tanya Raja kaget dengan mulut ternganga.

"Begitulah yang terjadi." "Gila betul. Cuma gara-gara kontak batin semua kekuatanku jadi tidak berfungsi dan aku berubah menjadi seperti karung basah yang tak berguna? Sekarang aku ingin tahu kapan semua kekuatanku pulih. Dan kemana aku akan pergi?"

Tanya Raja tidak sadar.

"Kekuatan paduka bakal pulih tidak lama lagi. Dan paduka akan dibawa menyeberang lautan luas.

Nanti yang membawa paduka akan menentukan ke tempat seperti apa paduka bakal diantar." Terang jiwa dalam hulu pedang.

Reja terdiam Membayangkan akan diantar dibawa menyeberangi lautan luas. Raja langsung teringat pada dua mahluk peliharaan kedua gurunya.

Mahluk pertama adalah burung rajawali raksasa berbulu putih yang pernah ditugaskan menjaga Pedang Gila di dalam perut bukit induk yang terdapat di sebelah utara pulau es.

Rajawali Itu pula yang membantu Raja dan Bocah Ontang Anting menyingkirkan beberapa tokoh sesat yang berusaha merebut pedang dari tangan Raja seperti telah dikisahkan dalam episode (Pesta Darah DI Pantai Utara). sang rajawali sakti tak lain adalah peliharaan Ki Panaraan Jagad Biru.

Sedangkan mahluk kedua beberapa seekor naga raksasa yang berdiam di dasar laut selatan.

Mahluk ini tak lain adalah mahluk peliharaan Nini Balang Kudu guru kedua Raja. Adapun tentang naga besar itu Raja sendiri belum pernah melihatnya.

Sekarang Raja hanya bisa menduga apakah mungkin salah satu dari dua mahluk peliharaan kedua gurunya itu yang bakal mengantarnya ke tanah seberang?

Terdorong rasa ingin tahu yang sedemikian besar.

Tak dapat menahan diri, Sang Maha Sakti Raja Gendeng pun ajukan pertanyaan

"Aku ingat dengan rajawali bernama Sang Pelintas Samudera burung raksasa peliharaan guruku.Apakah mungkin dia yang akan mengantar Aku ke tanah seberang atau mahluk..!"

Raja tak sempat menyelesaikan ucapannya karena jiwa yang bersemayam dalam hulu pedang sudah memotong.

"Maafkan hamba gusti Raja. Hamba tahu tentang rajawalli serta naga yang gusti maksudkan.

Namun terus terang saja bukan satu dari kedua mahluk itu yang hamba maksudkan."

"Lha. Memangnya aku akan memakai apa saat mengarungi lautan? Berjalan kaki atau berenang?

Gila. Mana sudi aku melakukannya." tukas Raja bersungut-sungut.

"Tenang gusti. Pedang Gila yang akan mengantar gusti hingga sampai ketujuan."

Jawaban sang jiwa dalam hulu pedang ini karuan membuat Raja tercengang kaget. Dia geleng kepala. Mulut menggerutu tak karuan. Dengan perasaan marah dia membentak.

"Jangan bicara nggak tak karuan kepadaku ya. Mana mungkin sebilah pedang bisa mengantar seseorang apalagi harus menyeberangi lautan. Benar-benar edan!"

Samar-samar Raja mendengar suara tertahan. Raja tahu yang tertawa pastilah jiwa dalam hulu pedang.  

"Aku bicara bersungguh-sungguh. Mengapa kau tertawa? Kau menyangka aku sedang melucu heh?! " bentak Raja tambah marah.

Suara tawa lenyap setelah dibentak. Lalu terdengar sang jiwa berucap.

"Berbuat sesuai kehendak takdir. Atas restu dan izin yang maha kuasa. Tidak ada yang mustahil di dunia ini bila dewa berkehendak. Gusti memang akan berangkat ke tempat tujuan dengan menunggang pedang keramat dan pedang itu adalah pedang gila!"

"Aneh, sulit kupercaya. Aku tak menyangka bakal menjadi seperti nenek sihir yang bisa terbang menembus langit hanya dengan menunggang sapu tua. Aku tidak mau perduli walau pun seekor monyet bisa terbang yang nantinya akan pergi membawaku. Sekarang aku ingin keadaanku pulih sebagaimana sebelumnya. Aku tak mau ada orang lain melihat diriku dalam keadaan mirip orang tolol tak berdaya seperti ini!"

Tukas Raja ketus.

"Jangan khawatir gusti, Segala keusilan Pedang Gila adalah demi kebaikan gusti juga. Kini Gusti berdirilah!"

"Hah berdiri? Aku tidak punya tenaga lagi, bagaimana bisa berdiri?"

"Lakukan saja gusti. Tak usah tersinggung tak usah marah. Gusti pasti bisa!"

Ujar jiwa dalam hulu pedang. Walau merasa tidak puas namun Raja lakukan juga apa yang diperintahkan kepadanya. Dengan tangan bersitekan pada tanah pemuda itu mencoba bangkit. Ternyata dengan mudah dia dapat berdiri tegak.

"Selanjutnya apa?" Tanya Raja.

"Hiruplah nafas dalam-dalam. Bila gusti mengendus aroma yang sangat harum berarti tanda- tanda pulihnya semua kekuatan dan keselarasan keinginan antara pedang dan gusti telah dicapai kata sepakat seiring sejalan. Jika sepakat dicapai Pedang Gila akan memberikan yang terbaik untuk gusti demikian pula sebaliknya."

Pemuda itu terdiam. Kali ini dia masih mengikuti apa yang diperintahkan kepadanya. Perlahan dia berusaha menghirup udara dalam-dalam melalui hidungnya yang agak mampat. Tapi alangkah terkejut hati Raja begitu dia menghirup udara yang tercium olehnya bukan bau harum semerbak melainkan bau aneh. Karuan saja pemuda ini keluarkan suara seperti orang yang bersin.

"Hasyih-hasyih.... Sial. Aku mencium bau aneh. Bau ini jelas bukan bau kentut. Bau kentut aku sudah hapal karena aku sering buang angin. Bau yang tercium olehku ini busuk sekali! Seperti bau bangkai!"

Rutuk Raja

"Hmm, ke tempat itulah gusti akan pergi. Ada kematian di seberang laut sana.Ada kemarahan ada dendam.Tapi upaya gusti untuk memulihkan diri belum berhasil.Cobalah tarik nafas sekali lagi, hirup udara dalam-dalam."

Merasa kapok takut kejadian pertama terulang lagi tentu saja Raja enggan memenuhi permintaan jiwa dalam hulu pedang.

"Aku tak mau melakukannya!" Tegas Raja terus terang.

"Kalau begitu gusti Raja tak akan pernah kemana-mana dan tetap berada disini selamanya." "Gila. Kau menakuti atau mengancam aku?!"

"Tak ada yang menakuti tak ada yang mengancam. Semua yang hamba katakan memang benar adanya."

Jawab jiwa di hulu pedang. Raja terdiam.

Setelah berpikir dan mempertimbangkan segala sesuatunya.

Tanpa menunggu sambil berdiri tegak pemuda itu menghirup nafas dalam-dalam.

Baru saja tarikan nafas panjang udara dihirup. Tiba-tiba Raja mengendus aroma harum semerbak.

Aroma harum yang membuat hidungnya yang setengah mampat seperti tersumbat menjadi plong.

Lalu ada rasa sejuk dan nyaman luar biasa menyerbu masuk memasuki rongga paru sebelah kanan dan sebelah kiri.

Seiring dengan itu hawa panas dan dingin mengalir dari bagian pusar dan menyebar keseluruh penjuru tubuh.

Raja menyeringai.

Dia tahu segala tanda-tanda yang dirasakannya tak lain merupakan isyarat bahwa kekuatannya benar-benar telah pulih kembali.

Tapi ada yang masih kurang.

Raja masih belum bisa mendengar dengan jelas.

Matanya yang terkatup seperti diberi perekat pun belum bisa dibuka.

Rasanya dia bisa menjadi gila bila tak bisa melihat dan menjadi tuli pula. Dengan hati diliputi rasa cemas buru-buru dia berkata.

"semua yang kumiliki sudah mulai pulih kesaktian dan tenaga dalamku. Tapi bagaimana dengan mataku? Telingaku juga."

"Tak usah bimbang. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Sekarang gusti menataplah lurus ke depan."

"Ke depan mana? Aku tidak bisa melihat. Mana aku tahu pandanganku lurus atau bengkok?!" "Ke depan saja. Sejajar dengan tubuh gusti disebelah depan."

Terang jiwa dalam hulu pedang. Merasa kesal sambil bersungut-sungut Raja turuti apa yang diperintahkan padanya. Dia meluruskan punggung, luruskan wajah ke depan.

Begitu posisi menghadap lurus ke depan.

Pedang Gila yang berdiri tegak diluar lingkaran bergoyang- goyang sambil keluarkan suara dentring aneh tiga kali berturut-turut.

Gerakan pedang yang bergoyang terhenti.

Selanjutnya dari bagian hulu pedang yang terbuat dari batu pualam biru berukir pertama bermahkota membersit cahaya biru terang empat kali berturut- turut.

Empat cahaya biru melesat sebat, menderu ke arah Raja.

Sesampai di tengah jalan empat cahaya itu masing-masing membelah menjadi dua bagian dan dua tujuan.

Dua cahaya biru pertama siap menyambar sepasang mata Raja.

Sedangkan dua larik cahaya biru lainnya bergerak menyamping, menuju ke dua sisi kepala Raja tepat dimana dua telinga Sang Maha Sakti berada.

Karena tidak bisa melihat.

Raja hanya bisa merasakan ada hawa dingin sejuk menyambar ke bagian mata dan telinga kanan kiri. "Hei... apa yang datang menghampiriku?" serunya ditujukan pada jiwa pedang.

"Tenanglah gusti. Hamba dan pedang Gila tidak bermaksud membuat gusti raja celaka." Sahut jiwa pedang.

Baru saja sang jiwa menjawab tiba-tiba... Plak!

Plak! Ces!

Raja merasakan kedua matanya seperti ditampar dan kedua telinga laksana dikepruk palu besi. Pemuda ini terhuyung.

Dia menggerung kesakitan.

Merasa dipermainkan Raja hendak mendamprat.

Namun sejurus kemudian dia telan ucapan urung mendamprat begitu rasa panas akibat sambaran cahaya berganti menjadi rasa sejuk menenangkan.

"Weeeh... pendengaranku lebih terang. tubuhku semakin enteng. Dan mataku. "

Hingga di sini Raja terdiam. Dia membuka matanya dulu. Setelah mata dapat dibuka tanpa hambatan. Raja pun tersenyum lebar. Seperti bocah yang mendapatkan mainannya yang hilang kini dia asyik menggerak-gerakkan matanya. "Kau betul sang jiwa. Pandangan mata kini lebih terang, lebih jelas. Luar biasa. Terima kasih semuanya, terima kasih pada para dewa?"

Ucap raja kegirangan.

"Paduka Raja. Simpan dulu segala kegembiraan dihati. Sekarang perhatikan baik-baik apa yang ada disekeliling paduka."

Kata Jiwa hulu. Raja terdiam.

Dia menatap lurus ke arah pedangnya. Pedang gila yang berada di luar lingkaran bersimbol bintang masih tegak berdiri. Setelah itu perhatiannya tertuju ke arah lingkaran yang mengelilinginya.

"Tidak ada apa- apa. Hanya sebuah tanda di atas tanah hitam."

"Seperti yang hamba katakan. Semua simbol, semua tanda bukan sesuatu yang biasa. Ada kekuatan yang bersemayam dalam simbol bintang yang akan menyatu dengan diri gusti. Sekarang gusti harus menahan nafas apapun yang terjadi apapun yang dilihat jangan dilawan. Terima saja dengan sikap pasrah. Mudah-mudahan di masa yang akan datang apa yang gusti dapatkan hari ini akan berguna."

"Hhm, aku tak mau banyak bicara. Kau menyuruh aku begini kuikuti begini. Kau memintaku begitu aku ikut begitu. Sekarang aku sudah siap."

Jawab Raja.

Dia lalu menahan nafas. Begitu nafas ditahan.

Tiba-tiba Raja merasakan tanah tempat kedua kakinya berpijak bergetar hebat.

Lalu Seiring dengan terdengarnya suara gemuruh aneh mengerikan dari simbol bintang bersudut lima mencuat cahaya putih menyilaukan.

Cahaya Itu menyebar mengikuti arus yang membentuk simbol.

Tak lama cahaya mencuat ke atas membubung tinggi hingga membuat Raja lenyap dari pandangan mata.

Anehnya walau Sang Maha Sakti berada di tengah-tengah cahaya. Sedikitpun dia tak merasakan sengatan hawa panas yang luar biasa. Malah Raja merasa sekujur tubuhnya menjadi sejuk.

Walau demikian pemuda ini tetap saja dilanda gelisah. "Jiwa dalam hulu pedang apa yang terjadi?"

Tanya Raja dengan suara bergetar tersendat.

"Jangan banyak bicara paduka. Semua cahaya itu adalah lambang kejayaan dari kehidupanmu.

Kelak hidup paduka selalu dinaungi cahaya terang selamanya. Bersiaplah paduka!!" Kata sang dewa mengingatkan.

Raja menahan nafas, mulut terkatub tak berani bersuara tak berani berkata-kata. Dan sesuatu yang sulit dipercaya pun kemudian terjadi.

Tiba-tiba saja seluruh cahaya putih benderang yang muncul dari simbol bintang lima sudut menderu ke arah Raja dari segala penjuru arah.

Pemuda ini jadi tercekat. Dia terkejut bukan main.

Belum lagi hilang rasa kejut di hati Raja.

Seluruh cahaya benderang itu amblas lenyap memasuki tubuhnya. Sang Maha Sakti terguncang hebat.

Dia merasa sekujur tubuhnya terasa mau meledak. Namun semua yang dirasakan Raja berlangsung sekejab.

Setelah semua cahaya amblas lenyap menyatu dengan tubuhnya kini dia merasakan kesegaran yang luar biasa.

"Bukan main, semua yang kulihat sungguh menakjubkan!"

Gumam pemuda itu ,perlahan dia kitarkan pandang. Ketika matanya menatap ke arah lingkaran dan simbol di atas tanah. Kening Raja berkerut tajam.

"Lenyap. Tanda-tanda itu semuanya lenyap?!" Desisnya heran.

"Tak usah dipikirkan. Segala unsur yang mendukung kehidupan gusti Raja telah menyatu dalam diri gusti. Saat ini sudah waktunya bagi gusti untuk pergi."

"Pergi. Dengan pedang itu?!"

Tanpa sadar Raja melirik ke arah Pedang Gila. Dia melihat pedang bergoyang-goyang. "Ya. Pedang ini. Kami akan membawa gusti, bersiap-siaplah!"

Sahut jiwa dalam hulu pedang. "Tapi... bagaimana caranya?" Tanya Raja.

Tak ada jawaban.

Sebaliknya dengan tidak terduga pedang melambung tinggi.

Lalu menukik ke bawah selanjutnya pedang meluncur ke arah selangkang pemuda itu.

Begitu pedang berada tepat di bawah kedua kaki Raja rangka pedang menempel ketat disana. "Hei, apa-apaan ini!"

Seru Raja sambil menyambar bagian atas pedang dan memegangnya dengan erat. Begitu bagian atas pedang dipegang. Senjata dalam rangkanya Itu menderu melesat ke atas ketinggian bersama Raja yang berada di atasnya. "Walah....luar biasa. Akhirnya aku bisa terbang juga seperti nenek sihir ha ha!" Kata pemuda itu diringi tawa tergelak-gelak.

*******

Matahari belum lagi memunculkan diri di utuk sebelah timur.

Namun belasan pengawal ketemenggungan terlihat sibuk mempersiapkan dua kereta kuda.

Di halaman depan bangunan megah berdinding jati bercat hijau beberapa pengawal yang lain tampak berjaga-jaga mengawasi keadaan di sekitarnya.

Melihat gerak-gerik dan sikap para pengawal itu kiranya dapat diduga ada sesuatu yang mereka khawatirkan.

Tak lama kemudian dua kereta kuda yang telah dipersiapkan muncul di halaman.

Di atas masing- masing kereta duduk seorang kakek tua berpakaian serba putih, berambut dan berjanggut putih.

Kakek ini adalah kusir kereta yang telah mengabdi pada tumenggung Dadung Kusuma lebih dari enam tahun.

Tak ada yang tahu siapa namanya.

Namun mengingat kebiasaannya yang doyan makan krupuk. Maka orang-orang pun memanggilnya Mbah Krupuk.

Di atas kereta kedua duduk seorang laki-laki bertubuh gemuk berseragam warna cokelat. Dia adalah kepala pengawal katemenggungan bernama Pati Jaladara.

Dalam keadaan biasa, Pati Jaladara tugasnya hanya menjaga keamanan wilayah katemenggungan Seleman.

Tapi dalam keadaan mendesak dimana keselamatan tumenggung dan kerabatnya dalam ancaman bahaya besar.

Maka Pati Jaladara terpaksa merangkap menjadi kusir. Hari beranjak siang.

Langit gelap dengan munculnya mendung di langit.

Dari pintu depan rumah kediaman tumenggung yang terbuka tiba-tiba muncul seorang gadis cantik berpakaian serba hijau.

Menyusul di belakang si gadis seorang wanita setengah baya berpakaian serba hitam berambut panjang digelung.

Walau usianya tidak muda lagi, namun kecantikan dimasa muda masih tersisa di wajah wanita

ini.

Adapun gadis berpakaian serba hijau yang berjalan menuju kereta pertama tak lain adalah Mangir Ayu, puteri tunggal tumenggung Dadung Kusuma.

Sedangkan wanita yang mengiring di belakangnya bukan lain adalah Sito Resmi istri sang tumenggung.....

Sebenarnya apa yang terjadi hingga kerabat keluarga tumenggung itu bersiap meninggalkan tempat kediamannya?

Seperti telah diketahui ketika senopati Gagak Panangkaran kembali dari perjalanan melakukan penyelidikan di lima wilayah katemenggungan.

Para tumenggung dan keluarganya menemui ajal secara mengenaskan.

Tidak diketahui siapa yang menghabisi para pimpinan cabang bawah wilayah kadipaten Blora itu.

Senopati sendiri hanya baru berhasil menyerap kabar bahwa para pembunuh itu berasal dari lembah bangkai.

Hal ini diperkuat dengan pengakuan si Mata Bara yang telah membunuh para kerabat juga istri dan dua putri sang adipati.

Seperti sama telah diketahui.

Senopati sempat melakukan pengejaran terhadap sang pembunuh.

Namun dia gagal meringkus si Mata Bara, bahkan senopati kena dihajar hingga wajahnya biru lebam sedangkan tulang hidungnya patah.

Apa yang menimpa para sahabat sesama tumenggung tentu saja didengar oleh tumenggung Dadung Kusuma.

Dia sendiri belum mengetahui mengapa pembunuh haus darah tiba-tiba muncul di wilayah yang masih berada dalam kekuasaan adipati Seta Kurana.

Namun demi mengingat masa lalunya yang kelabu.

Dan demi cintanya pada keluarga, tumenggung Dadung Kusuma pun memilih menyelamatkan anak istrinya.

Malam menjelang hari ke tujuh setelah peristiwa pembunuhan demi pembunuhan terjadi. Dia memutuskan untuk mengungsikan anak istrinya ke kali Urang.

Di kali Urang keluarganya akan dilindungi oleh guru sang tumenggung yang bernama Ki Sabda Palon, salah satu tokoh yang cukup disegani di kawasan gunung Merapi.

Maka di pagi buta selagi matahari belum menampakkan diri, Tumenggung memerintahkan pengawalnya untuk berkemas.

Istri serta anak tumenggung telah masuk ke dalam kereta pertama lalu muncul seorang laki-laki bertubuh tinggi, berkulit gelap, kumis tebal berpakaian dan berbelangkon warna cokelat.

Laki-laki yang tak lain adalah tumenggung Dadung Kusuma segera melangkah menghampiri kereta di depan yang dikusiri Mbah Krupuk.

Melihat kehadiran pimpinannya para pengawal, Mbah Krupuk sama bungkukkan badan menjura penuh rasa hormat.  

Tumenggung bersikap acuh.

Dia hampiri pintu kereta yang terbuka.

Setelah hentikan langkah tumenggung julurkan kepala menatap ke bagian dalam kereta. Dia melihat putrinya.

Mangir Ayu duduk tenang.

Sementara sang istri terlihat gelisah. "Kali Urang tidak jauh dari sini."

Berkata tumenggung pada anak dan istrinya.

"Kalian akan aman dalam perjalanan. Segala kebutuhan telah dipersiapkan dalam kereta ke dua.

Aku akan segera menyusul begitu aku mengetahui keadaan baik- baik saja."

"Tapi ayah. Menurutku sebaiknya ayah ikut pergi bersama kami sekarang juga. Apa pun alasan ayah meminta kami menetap sebentar di rumah kakek Sabda Palon pasti menyangkut urusan penting." ujar Mangir Ayu yang rupanya malah menghawatirkan keselamatan ayahnya.

Sang tumenggung tersenyum. Dia membelai rambut hitam Mangir Ayu yang lebat.Penuh perhatian tumenggung berkata.

"Ayah lebih tahu bagaimana harus menjaga diri. Ayah berjanji akan menyusul ke kali Urang begitu persoalan selesai."

Disertai senyum tumenggung menarik tangannya.

Pintu kereta dia tutup.Lalu dia memberi isyarat pada kedua kusir untuk berangkat.

Ketika iring-iringan kereta kuda yang dikawal belasan penjaga bergerak lambat meninggalkan halaman.

Tiba-tiba saja terdengar suara menderu yang disusul dengan sambaran lidah api ke arah dua kereta itu.

Sambaran lidah api yang datang dari balik pintu gerbang depan Itu laksana kilat menghantam dua kereta kuda, membuat beberapa pengawal meringkik kaget.

Sedangkan tumenggung Dadung Kusuma dibuat tercengang. "Istriku! Anakku..! " pekiknya.

Sambil berteriak tumenggung melesat ke arah pintu kereta. Niatnya ingin menarik anak dan istrinya keluar dari kereta. Sementara itu Mbah Krupuk yang mendapat serangan tiba-tiba segera melompat tinggalkan kereta yang dia duduki. Dua kuda dalam kagetnya meringkik keras, lalu angkat kaki depan tinggi-tinggi. Di bagian kepala pengawal yang menjadi kusir di kereta kedua segera mencabut golok besar yang tergantung di pinggang.

Selanjutnya tubuh yang gemuk besar itu melesat, menghadang ke arah sambaran lidah api sambil babatkan golok besar di tangan. Segala tindakan penyelamatan yang dilakukan tumenggung terlambat sudah. Hantaman lidah api yang datang susul menyusul melabrak kereta hingga menimbulkan dua ledakan berdentum.

Kereta hancur menjadi kepingan.

Empat kuda penarik kereta bergelimpangan roboh dengan tubuh hangus. Dua penumpang kereta terlempar keluar hingga membuat tumenggung menjerit histeris.

Dia segera berlari ke arah anak dan istrinya yang, jatuh terkapar mengepulkan asap. Ketika dia memeriksa keadaan putrinya.

Ternyata Mangir Ayu hanya terluka dengan pakaian hangus di sebelah bawah. Gadis ini diam tak bergerak tidak sadarkan diri. Sementara ketika tumenggung melihat istrinya.

Dia terkesima, mata terbelalak kedua lutut goyah kehilangan tenaga. Di luar dugaan Sito Resmi ternyata tewas dengan kepala pecah, dada terluka tertembus potongan kayu kereta. Di bagian lain Mbah krupuk yang sempat selamat ternyata bertindak nekat. Mengetahui kedua majikannya masih berada di dalam kereta dia balikkan badan lalu melompat hendak menolong. Tapi sebelum pintu sempat tersentuh tangannya.

Kereta itu meledak. Ledakan membuat tubuh kurusnya terlempar jauh hingga membentur dinding bangunan, lalu jatuh menggelosoh, terkapar tak sadarkan diri.

Di lain pihak Pati Jaladara sedang berusaha keras menghancurkan sambaran dari lidah api. Dia menghadang sambil ayunkan golok besarnya. Tapi di luar dugaan sambaran lidah api yang menerjangnya mempunyai kekuatan luar biasa.

Dengan mudah serangan Pati Jaladara hancur. Golok besar di tangannya terpental jatuh dalam keadaan merah menyala. Sementara kepala pengawal ini terlempar sejauh tiga tombak dengan tubuh dikobari api. Sambil menahan rasa sakit luar biasa akibat Jilatan api yang membakar pakaiannya.

Pati Jaladara berguling-guling selamatkan diri.

Dia selamat begitu api padam. Namun keadaannya sangat menyedihkan. Selain sekujur tubuh dipenuhi luka. Seluruh badannya menghitam seperti kayu bakar. Bersusah payah dengan dibantu para pengawal yang lain Pati Jaladara bangkit berdiri. Setelah berdiri tegak dia berteriak.

"Sebagian pengawal lindungi tumenggung dan keluarganya!"

Seru laki-laki itu. Para pengawal segera berpencar, berbagi tugas. Sebagian berlarian ke arah datangnya serangan. Sebagian lagi bergerak melindungi majikannya.

"Aku tak butuh perlindungan. Cari jahanam yang telah membunuh istri dan mencederai putriku!" Teriak Dadung Kusuma dalam sedih dan kemarahannya.

Dia sendiri segera bangkit, lalu meninggalkan jenazah istrinya.

Kemudian dia melangkah lebar menuju pintu gerbang yang meleleh dikobari api. Berdiri tidak jauh dari pintu gerbang.

tumenggung sempat melihat bagaimana keadaan Pati Jaladara. Dia merasa iba melihat keadaan kepala pengawal itu namun juga mengagumi semangat Pati melakukan pengabdiannya.

"Bagaimana keadaanmu? Kau boleh istirahat bila kau merasa tak sanggup membantuku!"

Ujar Tumenggung.Pati Jaladara sunggingkan seringai. Tanpa menghiraukan sakit disekujur tubuhnya yang serasa luluh lantak dia menjawab."

"Gusti tumenggung. Saya hanya pantas beristirahat bila nyawa saya terlepas dari badan. Tapi selama hidup apa pun yang terjadi saya tetap membela gusti"

****

Ucapan Pat ­ Jaladara yang begitu tulus dan terdengar polos membuat tumenggung Dadung Kusuma merasa terharu.

Namun dia tidak punya waktu lagi berpikir lama. Dia tak ingin terhanyut dalam arus perasaan.

Tak mau menunggu.tumenggung memutar tubuh dan menatap ke arah pintu gerbang. Kemudian dia berteriak.

"Siapapun yang telah membuat kekacauan di tempat kediamanku harap tunjukkan diri!" Baru saja tumenggung selesai berucap.

Entah dari mana datangnya tahu-tahu di depannya berdiri tegak seorang laki-laki berpakaian serba hitam, berambut panjang riap-riapan bermata merah seperti nyala api.

Melihat kehadiran laki-laki itu para pengawal segera melakukan pengepungan sambil menghunus senjata masing-masing.

Tumenggung Dadung Kusuma menatap orang di depannya dengan pandangan tajam menusuk. "Aku belum pernah melihat atau bertemu orang dengan ciri-ciri seperti ini. Tapi melihat jemari

tangannya yang ditumbuhi kuku-kuku seperti pisau pipih melengkung. Semua Ini mengingatkan aku pada penghuni Lembah Bangkai. Apa mungkin dia salah satu dari sisa manusia kutukan yang pernah kami bantai dulu?"

Pikir laki-laki itu.

"Kau tak perlu berpikir membuang waktu tumenggung. Aku sangat mengenalmu walau mungkin kau sudah melupakan aku."

Kata laki-laki itu dengan suara keras menyentak

"Keparat jahanam pembunuh keji. Memangnya siapa dirimu ini?" Bentak tumenggung marah.

"Kau lupa? Kau mengatakan aku pembunuh keji. Mana lebih keji perbuatanmu dimasa lalu dibandingkan apa yang kulakukan hari ini?"

Kata laki-laki bermata Bara tak kalah sengit "Apa maksudmu? "

"Jangan berpura-pura. Sesungguhnya kau adalah iblis yang berkedok dewa. Ketahuilah, aku si Mata Bara, aku Si Mata Setan.Aku berasal dari Lembah Bangkai.Aku manusia yang tersisa dimana kau dan para sahabatmu sering menyebut kami sebagai manusia kutukan.Apakah kau ingat?!"

Tumenggung Dadung Kusuma terdiam sambil mengusap janggutnya yang hitam meranggas.

Kemudian sambil menyeringai dia membuka mulut.

"Ah ternyata kau hanya manusia setengah mahluk menjijikkan yang dikutuk oleh para dewa?!" katanya disertai senyum mengejek.

"Dewa tidak pernah mengutuk kami. Yang dilangit sangat pemurah.Kalian sebagai manusia yang sempurna yang sering melancarkan fitnah dan berbuat seolah-olah segala kemalangan manusia bersebab dari keberadaan kami."

"Kau tak perlu membela diri. Kau telah membunuh istriku. Kau layak mendapat hukuman berat dariku!"

Tegas tumenggung gusar.

"Kau baru kehilangan istri, tumenggung. Bagaimana dengan kaum kutukan di Lembah Bangkai. Mereka kehilangan seluruh kerabat. Bahkan kami telah kehilangan semua. Kau dan para keparat itu yang merenggut apa yang kami cintai dari kehidupan kami. Tapi kau tidak perlu berkecil hati. Aku telah mengirim beberapa para tumenggung sepertimu menghadap raja akherat. Aku bahkan telah mengirim anak juga beberapa kerabat adipati Seta Kurana ke alam baka. Dari semua yang telah kuperbuat ini bagaimana caranya kau hendak menghukumku?"

Kata si Mata Bara penuh rasa benci.

Walau diam tidak bergeming namun tumenggung Dadung Kusuma sebenarnya terkejut bukan main.

Sama sekali dia tidak menyangka momok pembunuh yang selama ini bergentayangan menghabisi orang-orang yang sangat dikenalnya ternyata berani muncul dihadapannya bahkan telah membunuh istrinya.

Melihat Mata Bara bertindak nekat dan membuat kekacauan tanpa banyak pertimbangan lagi tumenggung memberi tanda pada para pengikutnya.

Melihat isyarat itu Pati Jaladara yang mengalami luka bakar cukup parah dengan dibantu oleh anak buahnya segera mencabut senjata cadangan berupa sebilah pedang pendek berwarna hitam.

Dengan senjata ditangan Pati merangsak maju.

Begitu bergerak kaki segera menderu menghantam ke bagian perut. Sementara pedang membabat bagian leher lawan.

Dari arah belakang para pengawal menyerang dengan sabetan serta bacokan senjata di tangan. Melihat serangan berbahaya yang datang dari arah depan dan belakangnya. Si Mata Bara keluarkan suara berdengus.

Sekali menghentakkan kakinya tubuh laki-laki ini melambung ke atas.

Pada saat tubuh melesat, dia memutar tubuh lalu kepalkan kedua tangan menyongsong serangan senjata kepala pengawal dan pasukannya.

Wuss!

Dari kedua tangan Mata Bara menderu hawa panas luar biasa, menjalari setiap orang yang berada di sekelilingnya.

Hingga membuat lima orang pengawal tersapu roboh.

Dua diantaranya terpelanting dengan perut tertancap senjatanya sendiri. Sementara itu Pati Jaladara yang lebih berpengalaman bertindak cepat.

Begitu hawa panas menderu melabrak tubuhnya, pedang pendek yang dipergunakan untuk menyerang segera diputar membentuk perisai pertahanan yang kokoh.

Benturan keras antara pedang dengan pukulan tak dapat dihindari lagi. Ledakan berdentum mengguncang tempat itu.

Debu pasir dan bunga api bermuncratan di udara. Pati Jaladara terlempar.

Sekujur tubuh serasa remuk sedangkan mulut menyemburkan darah. Setelah berkelojotan dia terdiam untuk selamanya.

Di depan Si Mata Bara yang baru jejakkan kaki sempat terhuyung akibat terguncang ledakan. Namun dia tidak kekurangan sesuatu apa.

Belum sempat laki-laki itu menarik nafas.

Lagi-lagi belasan pengawal yang selamat serentak menyerbu ke arahnya dengan kekuatan berlipat ganda disertai kemarahan meluap-luap.

"Orang-orang bodoh! Mengapa lebih memilih mati, padahal aku bersedia memberi kesempatan hidup."

Geram si Mata Bara dengan suara mendengus. Tidak ada yang menghiraukan ucapannya.

Malah para pengawal itu dengan lebih bersemangat saling berlomba menyerang Mata Bara dengan membabi buta.

Melihat serangan ganas datang bertubi-tubi serentetan sambaran senjata menyerang disekujur tubuh.

Si Mata Bara dengan menggunakan jurus "Nestapa Berkalang Tanah' yang dipadu dengan Jurus Jeritan Tanpa Suara segera sambuti serangan itu. Beberapa kali sabetan senjata lawan hampir mengoyak perut, merobek dada dan menebas putus kakinya.

Namun dengan menggunakan dua jurus gabungan Si Mata Bara berhasil menyelamatkan diri. Malah ketika sang Manusia Kutukan menggerakkan kaki dan hantamkan tangannya ke segenap penjuru arah para pengawal menjerit dan jatuh berpelantingan.

Mereka yang menjadi korban serangan Mata Bara ada yang wajahnya remuk terkena tendangan. Ada pula yang rusuknya patah tersambar jotosan.

Tak kurang ada yang menemul ajal terkena sambaran kuku-kuku jari tangan lawan yang mencuat panjang setajam pisau pipih.

Melihat teman-temannya jatuh bergelimpangan.

Mereka yang selamat dari serangan Itu kembali membangun kekuatan dan terus merangsak maju.

Melihat tindakan nekat yang dilakukan sisa-sisa pengawal itu, kesabaran Mata Bara pun akhirnya lenyap.

Mata Bara tiba-tiba saja melompat mundur ke belakang. Begitu dia jejakkan kakinya.

Diam-diam dia salurkan tenaga dalam ke bagian matanya. Begitu hawa sakti mengalir deras kebagian mata.

Maka sepasang mata yang merah menyala seperti bara itu pun membersitkan cahaya merah terang menggidikkan.

Melihat perubahan ini.

Tumenggung Dadung Kusuma yang terus mengawasi jalannya perkelahian tiba-tiba berteriak ditujukan pada para pengawalnya.

"Kallan semua mundur. Manusia keparat dari Lembah Bangkai Itu siap menyerang kalian dengan mata iblisnya!"

Satu peringatan yang terlambat.

Sedikitnya tujuh pengawal sudah terlanjur menyerang Mata Bara dengan pukulan serta tendangan mautnya.

DI samping serangan senjata ditangan mereka membuat Mata Bara terpaksa mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk meloloskan diri dari serangan mereka.

Setelah lolos dari serangan, tiba-tiba dia mengedipkan matanya tujuh kali berturut-turut .Begitu sepasang mata berkedip.

Dari kedua mata laki-laki itu membersit cahaya merah terang berbentuk pipih laksana pedang panjang.

"Selamatkan diri!"

Lagi-lagi tumenggung Dadung Kusuma berteriak kaget ketika melihat sedikitnya empat belas larik cahaya menderu ganas siap untuk menghantam para pengawal itu.

Tujuh pengawal dibuat tercekat saat merasakan hawa di sekitar mereka bertambah panas luar biasa.  

Ketika mereka menatap ke depan, para pengawal ini pun delikkan mata begitu sadar belasan cahaya merah terang berkelebat menghantam ke arah mereka dengan kecepatan seperti kilat.

Walau para pengawal ini rata-rata mempunyai ilmu kepandaian yang cukup lumayan.

Namun mendapat serangan seganas itu tentu saja membuat mereka tercengang namun cepat memutar senjata ditangan masing-masing untuk melindungi diri.

Senjata menderu. Angin berdesir.

Kilatan senjata yang diputar sebat membuat para pengawal ini lenyap dari pandangan. Benturan keras pun terjadi.

Terdengar suara letupan-letupan yang disusul dengan suara jerit menyayat di sana sini. Darah muncrat di udara, senjata dan potongan tubuh berpentalan lalu terdengar suara benda-

benda jatuh bergedebukan.

Ketika tumenggung menatap ke depan.

Matanya membeliak, perasaan tercekat dan jantung seakan berhenti berdenyut.

Dengan wajah berkeringat tengkuk terasa dingin sang tumenggung melhat bagaimana tujuh pengawalnya menemui ajal dengan tubuh terpotong.

Potongan tubuh pengawal dalam keadaan hangus dikobari api. "Kejam dan sangat keji sekali?!"

Pekik tumenggung merinding.

Di depannya di antara kutungan tubuh si Mata Bara menyeringai dingin. Tapi dia tidak menjawab.

Hanya tatap matanya saja yang memandang tajam pada lawannya.

*****

Kembali dari perjalanan di Kuto Gede, Giri Soradana kakek berusia hampir tujuh puluh tahun ini merasa gelisah.

Entah mengapa dia ingin cepat-cepat sampai di padepokannya yang berada di Parang Tritis.

Sejak mendengar kabar terjadinya pembunuhan-pembunuhan aneh yang menimpa beberapa tumenggung dan keluarganya di wilayah kadipaten Blora.

Kakek berpakaian serba biru berambut putih panjang digelung ini memutuskan mempersingkat kunjungannya.

Tidak heran baru sepekan berada di rumah kerabatnya, Giri Soradana memutuskan kembali ke padepokan.

Langit Biru. Bulan empat hari bersinar indah di ketinggian sana.

Saat itu Giri Soradana telah memasuki sebuah desa bernama Muncang. Dari desa yang sunyi itu Parang Tritis sudah tidak begitu jauh lagi.

Tanpa menoleh si kakek terus memacu kudanya. Sesekali dia berpapasan dengan penduduk setempat.

Para penduduk desa yang ramah yang mengenal kakek ini ada yang memintanya untuk singgah. Tapi Giri Soradana tidak menghiraukan.

Tidak berselang lama setelah melewati kawasan hutam jati kecil. Sampailah pimpinan padepokan Alas Langit di halaman rumahnya. Kuda berhenti dan si kakek melompat turun dari kudanya.

Setelah menambatkan dan melangkah menuju bagian depan rumah. Si kakek jadi tertegun.

Seakan baru sadar.

Dia melihat betapa padepokan sederhana yang ditempati sedikitnya dua puluh orang murid itu sepi sekali.

Bahkan bagian dalam padepokan nampak gelap gulita.

"Kemana perginya murid-muridku? Aku telah berpesan agar mereka tidak kemana-mana selama aku pergi. Lalu mengapa sekarang padepokan sunyi seperti ditinggalkan penghuninya?"

Membatin si kakek.

Merasa gelisah Giri Soradana menatap sekelilingnya. Dia tidak melihat apa-apa.

Halaman padepokan kosong, namun saat itu dia menghirup nafas dalam-dalam dan si orang tua mengendus bau anyir darah.

Entah mengapa jantung Giri Soradana berdegup kencang.

Degup dijantung berganti dengan rasa curiga saat kesunyian tiba-tiba dipecahkan oleh suara lolongan anjing.

"Anjing melolong di tengah malam begini?" sentak si kakek kaget.

"Puluhan tahun aku tinggal menetap di Parang Tritis ini. Seumur hidup aku belum pernah mendengar lolongan di malam bulan purnama"

Giri Soradana telan ludah, basahi tenggorokannya yang mendadak kering. Hatinya tambah gelisah, pikiran makin tidak karuan. Tiba-tiba dia ingat dengan dua murid tertuanya. Seketika dia berseru memanggil nama kedua muridnya.

"Sorana! Sumali! Kalian ada dimana?!" Sunyi.

Tidak ada jawaban. Hanya suara deru angin yang terdengar. Orang tua ini mulai curiga.

Rasa curiga yang kemudian membuatnya tak ingin berlama-lama berada di halaman ini. Dengan langkah lebar Giri Soradana bergegas ke pintu.

Pintu ternyata hanya tertutup rapat, namun tidak dikunci. Sambil menahan nafas si kakek dorong pintu itu.

Pintu terbuka.

Udara dari dalam menyerbu keluar.

Giri Soradana tidak hanya tercekat, lebih dari itu perutnya bergelung mual nyaris muntah ketika bau busuk bercampur amis darah menyengat hidungnya.

Sadar telah terjadi sesuatu yang luar biasa terhadap murid-muridnya si kakek segera bergegas masuk.

Mula-mula dia meraih pelita yang tergantung disebelah kiri dinding lalu menyalakannya. Begitu pelita ditangan menerangi segenap penjuru sudut.

Giri Soradana keluarkan seruan kaget.

Mata si kakek yang cekung terbelalak, wajah pucat kedua lutut goyah seakan kehllangan tenaga.

Di dalam ruangan utama Giri Soradana melihat mayat-mayat muridnya bergelimpangan tanpa nyawa.

Tubuh mereka di penuhi luka juga bekas cabikan seolah muridnya diserang oleh sekawanan mahluk buas haus darah.

"Siapa yang telah melakukan kebiadaban sekeji ini? Seumur hidupku baru kali ini aku melihat kejahatan seperti ini."

Ucap orang tua Itu dengan mata berkaca-kaca namun hati diliputi kemarahan luar biasa. Giri Soradana menghitung sambil memperhatikan mayat-mayat itu.

Jumlahnya hanya delapan belas.

Dua murid tertua yaitu Sumali dan Sorana tidak terdapat diantara mayat saudara seperguruannya.

Maka dengan sekujur tubuh menggeletar, si kakek segera melakukan pemeriksaan di ruangan lainnya.

Di dalam salah satu ruangan besar yang biasa dipergunakan murid-muridnya beristirahat. Dua murid tertua yang dia cari pun ditemukan.

Tapi mereka juga sudah tak bernyawa.

Ketika si kakek mendekati dia melihat tubuh Sorana terbujur kaku. Ditangannya menggenggam sebilah pedang.

Dada pemuda berusia tiga puluh tahun Itu jebol. Isi perut berbusai keluar.

Sementara tak jauh di sebelah kirinya terdapat mayat Sumali. Pemuda itu nampaknya diserang selagi tidur.

Terbukti tenggorokannya terkoyak mata melotot sedangkan lidah terjulur keluar. Dengan mata nanar Giri Soradana menatap sekeliling ruangan.

Dia melihat perabotan yang porak poranda.

Ini merupakan satu pertanda pembunuh menyerang Sorana yang mendengar suara gaduh dan jeritan saudara-saudaranya di ruang depan.

Dengan menggunakan pedang pemuda itu melakukan perlawanan.

Namun agaknya sang pembunuh mempunyai ilmu dan kesaktian luar biasa. Sorana kalah.

Atau kemungkinan murid-muridnya diserang binatang buas.

Namun Giri Soradana tidak begitu yakin sebab tidak ada mahluk atau binatang buas berkeliaran di sekitar Parang Tritis?

Puluhan tahun tinggal menetap di tempat itu mereka belum pernah melihat atau diganggu binatang buas.

"Aku sangat yakin semua ini pasti perbuatan manusia. Menusia biadab yang tidak punya hati tak berperasaan. Tapi siapa?!"

Batin si kakek lalu terdiam.

Merenung sambil memikirkan setiap kemungkinan. Kemudian di dalam hati Giri Sorodana bertanya.

"Apakah mungkin pembunuhan yang terjadi terhadap para tumenggung pejabat bawahan senopati Seta Kurana ada hubungannya dengan malapetaka yang dialami oleh murid-muridnya"

Si kakek gelengkan kepala.

Belasan tahun Seta Kurana menjadi adipati.

Walau antara sang adipati dengan dirinya masih ada hubungan sahabat, namun si kakek jarang sekali bertemu dengan adipati itu.

Dia tak tahu pasti bagaimana sepak terjang adipati dalam menjalankan pemerintahannya. Satu-satunya yang dia tahu.

Dulu sebelum Seta Kurana menjadi seorang adipati jalan hidupnya cenderung menyimpang dan menghalalkan segala cara.

Dengan latar belakang yang seperti itu mungkin saja Seta Kurana mempunyai banyak musuh. "Tapi mengapa Giri Soradana harus ikut terkena getahnya? "

Dia menghela nafas.

Tapi tarikan nafasnya jadi tertahan begitu sekonyong-konyong dia mendengar suara pekik burung gagak di atas atap padepokannya.

Si kakek tercekat.

Mendadak tengkuknya terasa dingin. Dengan suara terbata mulutnya berucap.

"Burung gagak Mahluk penghubung antara dunia nyawa dan alam roh.Aku merasakan sesuatu yang sangat buruk bakal terjadi. Perasaanku tidak enak...Jagad Dewa Bathara.Kumohon perlindunganmu. Aku tidak ingin mati bersimbah darah atau menemui ajal dalam keadaan terluka."

"Setidaknya aku harus menguburkan jenazah seluruh muridku dulu." Belum lagi suara Giri Soradana lenyap.

Di luar sana, tepat di halaman terdengar suara raungan tiga kali berturut-turut. Suara raungan lenyap.

Di halaman depan dia mendengar suara benda berat terjatuh. Blum!

Bluk! Bluk!

Terdengar suara bergedebukan tiga kali berturut-turut. Giri Soradana diam membisu.

Dia memasang telinga berusaha mendengarkan perkembangan selanjutnya. Tapi tak ada lagi suara yang terdengar.

Si kakek menelan ludah dalam hati dia berkata sendiri.

"Benda apa yang jatuh. Suaranya seperti kelapa. Tapi tidak satupun pohon kelapa tumbang di sekeliling padepokanku!"

Pikirnya bimbang.

Segala apa yang sempat terpikir oleh si kakek lenyap.

Tiba-tiba keheningan dipecahkan oleh suara gemuruh dahsyat luar biasa.

Seiring dengan Itu terdengar suara lolong dan raungan disertai dengan tawa angker menggidikkan Giri Soradana.

"Kami datang dari jauh.Kami membawa oleh-oleh.Kuharap kau suka menerimanya. Sekarang keluarlah! Mengapa harus mendekam berlama-lama dalam padepokanmu yang buruk itu.Apa kau lebih suka mencium bau amis darah dan mengendus bau busuk bangkai dari murid-muridmu sendiri? Ha ha ha!"

Kaget hati Giri Soradana bukan main terlebih setelah mendengar bagian akhir ucapan orang. Sekarang dia tahu siapa yang datang pastilah orang yang membantai murid-muridnya.

Tidak menunggu lebih lama si kakek segera menyambar sebilah pedang yang tergantung di sudut dinding. Laksana kilat dia berkelebat menuju ke halaman.

Ketika orang tua ini sampai disana dia melihat halaman dipenuhi kabut.

Di tengah kabut terdengar suara menderu. Tapi suara menderu tidak berlangsung lama. setelah deru angin berangsur mereda.

Hamparan kabut yang menghalangi pandangan mata lenyap.

Memandang ke depan Giri Soradena merasakan jantungnya seolah berhenti berdenyut. Dengan mata mendelik tak percaya dia menatap ke tanah.

Dia melihat tiga potong kepala bergeletakan di atas tanah itu.

Masing-masing kepala tanpa badan ini dalam keadaan hampir membusuk, lidah terjulur sedangkan mata terbeliak terbuka.

Seolah tidak percaya dengan penglihatannya sendiri dia melangkah lebih mendekat ke arah tiga kepala tersebut.

Begitu Giri Soradana melihat wajah dari ketiga kepala dengan jelas. Dia melompat mundur sambil keluarkan seruan tertahan.

"Ki Rangga Galih...Windu Saketi... Jaran Palon..?!"

Desis Giri Soradana menyebut tiga nama yang sangat dikenalnya. Penglihatan ketua padepokan Alas Langit itu memang tidak keliru.

Tiga kepala yang bergeletakan di halaman rumahnya memang kepala tiga tokoh sakti yang dia kenal dan masih terhitung sahabatnya sendiri.

"Ini benar-benar sangat keterlaluan...!" Geram Giri Soradana.

Suaranya serak parau pertanda si kakek mengalami guncangan batin yang hebat. Dengan tubuh bergetar dilanda kemarahan luar blasa.

Dengan nafas tersengal dia lalu berteriak.

"Aku tidak dapat menerima para sahabatku diperlakukan seperti Ini.Iblis manapun yang telah melakukan kekejian ini kuharap cepat tunjukkan diri??"

Grauung! Reeeng! Ngehrr!

Sebagai jawaban terdengar suara raungan hebat.

Lalu dari balik kegelapan pohon berkelebat tiga sosok tubuh berpakaian serba putih dan... Jlik!

Tidak sampai sekedipan mata di depan Giri Soradana kini berdiri tegak tiga laki-laki bertubuh tinggi besar namun agak bungkuk berambut panjang riap-riapan berwajah aneh.

Setelah Giri Soradana memperhatikan lebih seksama akhirnya dia menyadari baik wajah maupun bentuk rambut ketiga laki-laki itu mirip sekali dengan singa jantan.

Setelah agak lama memperhatikan kehadiran orang-orang berpenampilan aneh ini Giri Soradana jadi ingat dengan suatu kaum yang menetap di Lembah Bangkai.

Sekelompok orang yang tinggal menetap disana memang mempunyai bentuk tubuh yang tidak sempurna.

Penampilan mereka adalah perpaduan antara manusia dan hewan.

Itulah sebabnya orang di luar lembah menamakan mereka sebagai kaum kutukan atau Manusia Kutukan.

"Bukankah mereka telah musnah? Dalam peristiwa penyerbuan yang dilakukan Seta Kurana dan kaki tangannya belasan tahun yang lalu dan kudengar lembah itu telah dibumi hanguskan. Lalu mengapa masih ada yang gentayangan. Apakah yang kulihat ini hanya rohnya? Roh yang tersesat?"

Membatin si kakek dalam hati.

Selagi Giri Soradana terombang-ambing dalam kebimbangan.

Salah seorang diantara mereka yang berada di sebelah kiri melangkah maju. Dua tindak di depan tiga kepala yang tergeletak di tanah dia hentikan langkah. Mewakili dua temannya orang ini membuka mulut perkenalkan diri.

"Giri Soradana aku bernama Purudana.Yang berdiri di belakangku bernama Kuruseta.Kemudian yang berada disampingnya tak lain adalah Jatukara. Ketahuilah, kami telah beberapa kali datang kemari. Kami tidak menemuimu, hanya muridmu yang kami temukan.Lalu kami menjemput nyawa mereka!"

Ucap manusia berwajah singa mengaku bernama Purudana itu dingin. Giri Soradana membisu, tapi matanya terus memperhatikan.

Dia merasa heran bagaimana tiga manusia setengah mahluk itu bisa mengenal siapa dirinya padahal diantara mereka baru sekali ini berjumpa.

"Mengapa kalian membunuh murid-muridku? Apa salah dan dosa mereka?"

Tanya Giri Soradana sambil bersikap sabar menahan diri. Kuruseta yang berdiri di belakang Purudana melangkah maju. Setelah berdiri sejajar dengan Purudana dia berhenti, mulut menyeringai namun mata menyorot tajam penuh kebencian.

"Jangan bertanya mengapa kami membunuh, jangan bicara tentang segala dosa, Giri Soradana.

Kau, muridmu dan tiga orang yang kepalanya kami persembahkan kepadamu ini bukankah masih terhitung sahabat adipati Seta Kurana?!"

"Yang kau katakan memang tidak salah." jawab Giri Soradana.

Tiga manusia singa sama menyeringai, dongakkan kepala lalu keluarkan suara raungan menggelegar. Raungan itu membuat tanah bergetar, daun-daun hijau jatuh berguguran dan kakek itu sendiri diam-diam merasakan nafasnya jadi sesak. Suara raungan terhenti, Laki-laki ke tiga bernama Jatukara tak mau tinggal diam. Tanpa beranjak dari tempatnya berdiri dia berucap. "Siapa yang masih punya hubungan dengan Seta Kurana pasti akan mati."

"Mengapa? Aku merasa tidak berbuat salah. Aku juga tidak tahu menahu dengan peristiwa di lembah Bangkai belasan tahun yang lalu?" dengus si kakek tetap berusaha bersikap tenang.

"Kau tidak ikut dalam penyerbuan itu. Kau tidak terlibat terhadap peristiwa pembantaian kaum kami. Yang melakukannya adalah para tumenggung, kaki tangan Seta Kurana dan Seta Kurana sendiri."

Sahut Kuruseta.

"Kesalahannya adalah, kau dan tiga manusia malang ini bersahabat dengan adipati keparat itu." Purudana menimpali. Tak mau kalah. Jatukara pun menambahkan.

"Siapa saja yang punya hubungan dengan adipati harus mati di tangan kami!"

"Manusia picik, berhati buta. Membunuh dan menghabisi orang yang tidak ikut terlibat masalah adalah perbuatan keliru dan tersesat. Sebagai ketua padepokan Alas Langit aku berhak menuntut balas atas kematian murid-muridku!"

Geram Giri Soradana marah. Mendengar ucapan si kakek.

Tiga manusia berwajah singa saling pandang lalu sama sunggingkan seringai dingin. Inilah yang mereka tunggu.

Tantangan dan perkelahian sampai mati memang sudah lama mereka nantikan. Tidaklah mengherankan dengan suara dingin ketiganya menyahuti ucapan si kakek.

"Orang tua! Kami siap menerima hukuman darimu.Tapi kami ragu apakah kau mampu membunuh kami."

Melihat lawan tidak memandang sebelah mata kepadanya. Giri Soradana kertakkan rahang.

Tanpa pikir panjang lagi dia segera mencabut pedang. Sreet!

Ketika pedang dicabut dari rangkanya Giri Soradana cepat salurkan tenage sakti ke hulu senjata, lalu melompat ke depan sekaligus babatkan senjata itu ke arah dua lawannya.

Pedang membabas dari kepala hingga ke bahu.

Suara desing mengerikan menyertai berkiblatnya pedang.

Cahaya putih yang membersit dari ujung pedang tiba-tiba menghantam Purudana dan Kuruseta. Wuus!

Wuus!

Melihat sambaran cahaya yang disusul dengan babatan pedang datang secepat itu.

Tidak ingin gegabah dua manusia singa Ini berlompatan kesamping dengan arah berlawanan selamatkan diri.

Sabetan pedang luput.

Dua kilatan cahaya dari ujung pedang menghantam tempat kosong di belakang kedua lawannya. Dalam kegusarannya si kakek menggeram.

Dia segera memutar tubuh, siap menyerang Purudana yang baru saja berdiri.

Tapi tanpa dia sadari Jatukara yang tadi berdiri di bagian paling belakang tahu-tahu telah berada di atas kepala si kakek. Dengan gerakan cepat luar biasa Jatukara julurkan tangan kirinya bermaksud menjebol ubun- ubun lawan sedangkan tangan kanan berkelebat ke arah leher dengan jari terpentang siap mematahkan leher itu. Sambaran angin akibat serangan yang dilakukan Kutukara ternyata sempat dirasakan Giri Soradana.

Dengan menggunakan jurus Elang Menari diatas Gunung, tanpa melihat ke atas pedang di tangan disentakkan untuk membabat putus dua lengan Kutukara.

Manusia singa ke tiga ini kaget bukan main melihat lawan gerakkan pedang secepat Itu. Tak ada pilihan lain untuk menyelamatkan kedua tangan.

Kutukara terpaksa menarik balik serangan lalu jatuhkan diri di belakang lawannya.

Baru saja kakinya menjejak tanah dengan menggunakan siku dia menghantam punggung Giri Soradana.

SI kakek menggerung, tubuh kurusnya terpental ke depan namun tak sampai jatuh tersungkur. Punggungnya terasa sakit bukan main.

Tanpa menghiraukan sakit yang mendera, Giri Soradana segera berkelit menghindar ketika melihat Paruseta dan Kuruseta menghantamkan dua pukulan yang disusul dengan tendangan menggeledek. Diserang dari dua arah sekaligus.

Giri Soradana terpaksa menggunakan ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerak untuk menyelamatkan diri.

Ketika pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh dua lawannya meleset. Kini giliran si kakek merangsak maju.

Satu jotosan keras diarahkan ke wajah Purudana.

Sementara tangan kiri berkelebat menyambar siap menjebol dada Kuruseta.

Melihat serangan ini Purudana melompat ke belakang sambil menangkis jotosan lawan. Benturan keras terjadi.

Keduanya sama bergetar. Namun celaka bagi Kuruseta.

Walau lawan terguncang keras akibat benturan dengan Purudana tetapi jemari tangan lawan membeset rusuknya.

Kraak! Terdengar suara pakaian robek.

Kuruseta menjerit sakit namun juga menjadi sangat marah begitu melihat pakaiannya robek di sebelah rusuk kiri, sementara dipermukaan kulit terdapat luka sambaran jari.

Luka itu mengucurkan darah.

Kaget mendengar teriakan Kuruseta, Purudana dan Jatukara yang baru saja menyerang kemball segera berlompatan mundur ke belakang dengan wajah heran mata saling pandang.

Menyangka ketiga lawannya menjadi jerih Giri Soradana menyeringai silangkan pedang di depan dada. Sambil tersenyum dingin kakek ini tiba-tiba berkata.

"Mula-mula pakaianmu yang kubuat robek. Tapi sekejab lagi aku akan mencabik-cabik tubuh kalian!"

"Manusia sombong! Kau pasti yang akan menerima nasib celaka di tangan kami." Sahut Purudana dan Jatukara menanggapi ucapan temannya dengan suara raungan. Dengan gerakan bersamaan ketiga manusia singa ini angkat tangannya tinggi-tinggi.

Begitu tangan diangkat tinggi dari langit tiba-tiba terlihat kilat menyambar ke arah tiga pasang tangan itu.Tiga pasang tangan mengepul, Cahaya kilat yang menyambar lenyap.

Begitu kepulan asap sirna, tiga pasang tangan yang mengacung ke langit berubah besar memanjang ditumbuhi bulu kecoklatan.

Sedangkan diujung setiap jari mencuat kuku melengkung panjang seperti kuku singa. Tidak hanya tangan manusia singa saja yang berubah.

Mata, mulut serta gigi mereka juga mengalami perubahan.

Mata yang hitam berwarna kecoklatan, sekujur tubuh ditumbuhi bulu-bulu lebat begitu juga dengan bagian wajah semuanya tertutup dengan bulu-bulu kecoklatan.

Giri Soradana terbelalak kaget.

Kalau tidak menyaksikannya sendiri mana mungkin orang tua ini percaya.

"Mahluk terkutuk! Kalian semua memang sudah seharusnya musnah dari dunia ini!" teriak si kakek. Begitu berteriak dengan mengerahkan seluruh ilmu kesaktian yang dia miliki. Giri Soradana menggebrak maju. Sadar lawan tak dapat dipandang enteng.

Dia menggunakan jurus-jurus andalannya untuk menyerang tiga manusia singa itu. Tak dapat dipungkiri serangan yang dilakukan Giri Soradana kali ini selalu sangat ganas juga berlangsung cepat luar biasa. Beberapa kali pukulan yang dilakukannya mengenai tubuh lawan, begitu pula dengan tendangan yang dilancarkannya. Tapi aneh walau pukulan dan tendangan mengenai tubuh ketiga lawannya dengan telak. Mereka sama sekali tidak menderita cidera parah. Melihat lawan dapat bertahan dari setiap serangannya. Si kakek terpaksa menggunakan pedang ditangan untuk menyerang mereka. Seperti harimau terluka orang tua ini merangsak maju. Melihat si kakek berlaku nekat tiga manusia singa segera menggempurnya dari tiga arah sekaligus. Perkelahian sengit terjadi. Bentrok antara pukulan dan tendangan beberapa kali terjadi. Tapi semua itu hanya membuat tiga manusia singa terjajar. Giri Soradana menggeram. Laksana mahluk terluka si kakek meliuk-liuk memutar tubuh sedangkan pedang di tangan menghantam ke tiga bagian tubuh lawannya sekaligus. Hebatnya melihat pedang berkelebat menyambar siap menembus tubuh ketiga lawan. Justru mereka bertindak nekad menyongsong sekaligus menyambuti serangan pedang tersebut. Benturan keras antara pedang dengan kuku-kuku lawan terjadi. Terdengar suara berdentingan tak ubahnya seperti pedang membentur ujung tombak. Bunga api berpijar ditiga penjuru tempat. Giri Soradana keluarkan seruan tertahan.

Matanya mendelik ketika pedang ditangan yang dipergunakan untuk membabat lawan ternyata patah menjadi tiga bagian begitu bentrok dengan kuku-kuku lawannya. Tak Ingin celaka. Dia segera melompat tinggi sambil melepaskan pukulan ganas ke arah lawan-lawannya. Tapi upaya mencari selamat serta pukulan yang dia lepaskan ternyata kalah cepat dari serangan balasan yang dilakukan ketiga lawannya. Ketika tiga pasang tangan menderu, melesat ke arah wajah, dada dan punggungnya dia tak kuasa menyelamatkan diri.

Kreek! Kraak!

Terdengar suara pakaian, kulit dan bagian tubuh yang robek tercabik kuku-kuku lawan yang tajam. Darah menyembur dari tiga bagian luka menganga di tubuh orang tua ini. Giri Soradana hanya bisa menjerit. Sepasang mata membelalak besar seolah tidak percaya dengan kenyataan yang dialaminya. Si kakek terhuyung. Selagi dia kehilangan keseimbangan sementara tubuhnya dipenuhi luka tak karuan.

Purudana kembali hunjamkan kukunya ke tenggorokan lawan. Sret!

Leher si kakek robek besar, tenggorokan terputus. Dan dia jatuh terhempas seperti pohon ditebang. Begitu menyentuh tanah, si kakek tewas kehilangan nyawanya.

Tiga manusia singa saling pandang sambil kibaskan jemari tangannya yang berlumur darah.

Setelah kuku jari yang berlumur darah bersih. Mereka pun sama-sama sunggingkan senyum puas. Tapi senyum diwajah manusia singa itu kemudian lenyap begitu sayup-sayup mereka mendengar suara orang berteriak kalang kabut.

"Wheeeh. ... dibawah ada pembunuhan. Para pembunuhnya sadis sekali. Sadis dan pengecut.

Hweh.... kalian manusia atau mahluk buas? Kulihat dari ketinggian ini tampang kalian seperti beruk besar. Jelek sekali...!"

Kemudian suara ucapan mencibir dan menyindir ketiga manusia singa lenyap. Selanjutnya terdengar pekikan kaget.

"Walah... kok bisa begini. Pedang tolol! Kalau mau turun ke bawah ya turun saja. Jangan menukik begini. Aku bisa jatuh menyungsap. Nanti wajahku bisa rusak dan hidungku yang bagus jadi jelek. Hei.... turunnya pelan saja. Kira-kira seperti daun yang jatuh dari pohon, bukan seperti burung alap-alap yang menyambar mangsa, jangan pula mendarat seperti burung buta yang sedang jatuh cinta. Ha ha ha. !"

Tiga manusia singa yang ujudnya belum berubah sama ternganga. Seketika mereka dongakkan kepala menatap ke arah terdengarnya suara.

Dari atas ketinggian terlihat sesosok tubuh melayang jungkir balik sambil mendekap sebuah pedang yang diapit diselangkangan.

Ketiganya menjadi tercengang. "Siapa yang jatuh dari langit itu?" Desis Kuruseta kaget.

"Bukan jatuh. Orang itu menunggangi sebuah pedang!" Jatukara menimpali.

"Terbang diketinggian dengan menunggang pedang? Sungguh sesuatu yang sulit dipercaya!" tukas Purudana.

Laki-laki ini pentang mata lebar- lebar. Tidak ada yang keliru dengan penglihatannya.

Saat itu dia memang melihat sosok berupa seorang pemuda berambut panjang riap-riapan berpakaian putih tampak melayang turun dengan tubuh terombang-ambing tak karuan.

Sementara tangan kanan nampak mencekal pedang diantara selangkangannya sedangkan tangan kiri menggapai tak tentu arah.

"Hanya orang gila saja yang bisa melakukan semua kegilaan itu!" ujar Jatukara heran namun tetap berlaku waspada.

Baru saja Purudana hendak membuka mulut menimpali ucapan temannya. Di depan mereka menggelundung jatuh orang yang mereka bicarakan.

Begitu jatuh pemuda yang tak lain Raja Gendeng adanya segera bangkit, lalu mengusapi pakaiannya yang terkena tanah. Kemudian dengan sikap acuh pedang yang berada diantara dua paha di tarik ke atas. Sambil menggenggam dan memelototi pedang itu Raja mengomel.

"Aku tahu kau ini memang pedang bodoh. Tidak hanya bodoh tapi juga gila. Bukankah aku sudah katakan padamu kalau mengajak aku terbang. Terbanglah yang lurus-lurus saja. Jangan belak-belok, jangan pula berayun-ayun. Kalau berayun perutku jadi mual. Kalau belok-belok tubuhku jadi oleng. Tapi kau tak pernah menuruti perintah. Dasar bandel, dasar gila."

Damprat Raja bersungut-sungut. Melihat pemuda tak mereka kenal itu bicara dengan pedangnya.

Tentu saja ketiga manusia singa itu jadi terheran-heran.

"Dia gila! Lebih baik, tak usah dilayani, mari tinggalkan tempat ini!" Kata Kuruseta.

"Gila? Kalau gila kenapa punya pedang. Dan aku yakin pedang di tangannya itu bukan senjata sembarangan."

Ucap Jatukara dengan suara lirih. Belum sempat yang lainnya menimpali. Raja tiba-tiba membuka mulut.

"Setiap laki-laki biar waras atau gila pasti punya pedang. Tidak perduli apakah pedangnya bisa dipakai atau pedang butut namun tetap berguna. Ha ha ha!"

"Ah dia tidak gila. Lalu buat apa dia datang kemari? Apaksh ingin mencari mati?"

Purudana Kuruseta dan Jatukara tak mampu menyembunyikan senyum mendengar ucapan Raja.

Namun seperti temannya dia tidak ingin berlama-lama melayani pemuda aneh itu. Jatukara melangkah maju, kemudian membuka mulut ajukan pertanyaan.

"Orang yang datang dengan menunggang pedang. Siapa kau? Mengapa kau datang kemari? Apakah kamu masih punya hubungan dengan tua bangka Giri Soradana yang telah mampus ini,"

Hardiknya sambil menunjuk ke arah si kakek yang terbujur tak bernyawa. Raja tidak menjawab.

Sebaliknya dia menatap ke arah yang ditunjuk Jatukara.

Begitu melihat ke arah si kakek yang mengenaskan. Raja pura-pura terkejut pura-pura unjukkan wajah ngeri sementara dalam hati sebenarnya dia merasa prihatin melihat orang mati mengenaskan seperti itu.

Berlagak seperti orang yang bingung. Sang Maha Sakti Raja Gendeng menjawab.

"Mengapa aku sampai kesini, Aku tidak tahu. Kalau tak percaya tanya saja pada pedang ini.

Namanya pedang Gila, dialah yang telah membawaku ke tempat ini. Mengenai hubunganku dengan orang yang mati itu, terus terang aku tak mengenalnya. Dan yang lainnya pun aku tak mau tahu."

Kemudian Raja tersenyum setelah memperhatikan tiga orang berwajah dan berpenampilan singa itu. Raja melanjutkan ucapan.

"Eeh, kalian ini siapa? Tampang seperti singa. Tapi mengapa bisa bicara, bahasa manusia?" "Kami adalah orang-orang dari Lembah Bangkai. Manusia diluar lembah menyebut kami sebagai

Manusia Kutukan. Kami manusia sepertimu, namun kami memang memiliki tubuh yang seperti ini. Semua jelas bukan salah kami. Hanya dewa yang tahu mengapa kami jadi begini."

"Oh. !"

Gumam Raja dengan mulut melongo dan kepala manggut-manggut.

"Orang-orang aneh. Satu hal yang membuat aku tak habis mengerti, mengapa kalian membunuh orang tua itu?"

Mendengar pertanyaan Raja, tiga manusia singa saling pandang. Tiba-tiba saja Kuruseta melangkah maju. Sementara Jatukara membisiki Purudana.

"Pemuda ini kellhatannya seperti orang yang kurang waras dan tak punya kepandaian apa-apa.

Tapi siapa tahu kehadirannya di sini memang sengaja hendak mencari perkara." "Jika dia berani mencampuri urusan kita, aku pasti akan menghabisinya," Jawab Purudana berbisik pula.

"Siapa kau? Dari mana asal usulmu anak muda?" Tanya Kuruseta.

"Aku."

Sahut Raja sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Aku bernama Raja. Tapi guruku sering memanggilku Raja Gendeng. Padahal.... he he he... mereka kali yang gendeng."

Lanjut pemuda itu sambil terkekeh.

"Oh ya asal usulku rasanya tidak penting kusebutkan. Yang jelas aku datang dari suatu tempat yang jauh sekali."

"Pemuda keparat. Jika kau tidak punya hubungan dengan Giri Soradana dan tidak bermaksud mencampuri urusan kami. Sebaiknya lekas angkat kaki dari sini!"

Hardik Purudana hilang kesabarannya. Diperintah angkat kaki, dengan tingkah seperti orang tolol Raja pun mengangkat kakinya tinggi- tinggi.

"Kurang ajar! Mengapa kau tidak segera pergi?" Geram Jatukara sengit.

"Edan. Tadi temanmu menyuruh aku angkat kaki. Setelah kaki kuangkat mengapa kau marah?" "Keparat kurang ajar! Beraninya kau mempermainkan kami."

Sentak Purudana berubah gusar.

"Siapa yang mempermainkan? Sesungguhnya kalian yang suka mempermainkan nyawa orang lain."

Sahut Raja lalu tertawa cengengesan.

Mendengar ucapan pemuda itu tiga manusia singa menjadi marah.

Bahkan Kuruseta melompat maju lalu menyerang Raja dengan jotosan dan tamparan keras. Melihat serangan ganas menerpa wajah dan menderu ke bagian dada.

Dengan gerakan seenaknya Raja meliukkan tubuh. Wuut!

Dua serangan mengenai tempat kosong. Kuruseta terperangah.

Menatap ke depan dia melihat lawan berdiri tegak sambil cengengesan. "Serangan tak berguna." Dengus pemuda itu.

Tak terduga Raja hentakkan kaki.

Kuruseta terkejut sekali ketika melihat Raja tahu-tahu sudah berada di depannya. Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi K ruseta membuat laki-laki itu terjajar sambil menjerit kesakitan.

Ketika dua temannya menatap ke arah Kuruseta. Mereka pun terkejut bukan main.

Pipi Kuruseta menggembung bengkak membiru. Sementara dari sudut bibirnya meneteskan darah kental.

Menyadari pemuda aneh itu mempunyai ilmu kesaktian tinggi serta jurus-jurus silat yang hebat, tiga manusia singa tidak mau membuang waktu dan memberi hati.

Lalu Jatukara dan Purudana keluarkan suara raungan seperti raungan singa.

Selanjutnya keduanya ke depan menyerang Raja dengan satu terkaman ganas mematikan. Melihat serangan datang pada waktu yang bersamaan.

Raja menyeringai, namun dia segera menggerakkan tubuhnya untuk menghindari kedua serangan

itu.

Dari arah yang berlawanan masing-masing sepasang tangan lawan yang terpentang menyambar

sementara jari-jari tangan yang berkuku tajam menyambar ganas ke bagian tengkuk juga perut pemuda itu.

"Walah! Singa jejadian yang rakus. Ternyata kallan benar-benar menghendaki kematianku?!" rutuk Raja.

Sambil berkata begitu, pemuda ini meliukkan tubuhnya, dua bahu digoyangkan sedangkan kaki bergerak lincah tak ubahnya soperti orang yang menari.

Dan ketika dua serangan siap mencabik perut dan tengkuknya.

Dengan bertumpu pada kedua kakinya, kepala sampai ke pinggang digerakkan seperti sebatang pohon yang ditiup angin.

Wuees!

Tidak satupun dari serangan kedua lawan yang mengenai sasaran.

Malah kedua manusia singa itu nyaris bertubrukan dan hampir melukai satu sama lain. Jatukara melompat mundur.

Sementara Purudana begitu serangannya luput segera jejakkan kaki dan kembali nenyerbu lawannya.

Melihat ini Kuruseta yang telah merasakan tamparan Raja tidak tinggal diam.

Dia berseru memberi perintah pada dua temannya melalui ilmu mengirimkan suara. "Pergunakan serangkaian jurus Singa Berburu Mangsa.' Bila kita bersatu dan menyerang bersama-sama dia pasti mampus!"

"Kau benar. Kita memang harus mengeroyok dia. Aku sudah merasakan pemuda ini jauh lebih hebat dibandingkan Giri Soradana!"

Menyahuti Purudana melalui ilmu mengirimkan suara pula.

Tak diduga-duga, kiranya Raja mendengar semua pembicaraan yang berlangsung diantara mereka.

Terbukti ketika ketiga lawan menyerang bersama-sama dan merangsak maju dengan menggunakan jurus-jurus singa yang sangat berbahaya.

Sambil lambungkan tubuhnya, pemuda ini berucap.

"Woala.... bicara saja harus berbisik- bisik. Takut aku dengar ya? Kalau memang mau main keroyokan lakukan saja mengapa harus malu- malu. Tidak ada yang melihat ini....! Ha ha ha!"

Kata pemuda itu diiringi gelak tawa .Wajah tiga mnusia singa memerah. Mereka merasa malu namun juga kaget tak menyangka Raja mendengar apa yang mereka bicarakan. Seolah ilmu menyusupkan suara yang mereka pergunakan saat bicara tidak ada gunanya.

"Raungan seribu singa...!"

Teriak Jatukara sambil membuka mulut keluarkan lolongan panjang. "Jurus Seribu Singa Berburu Mangsa!"

Timpal Purudana pula menyebut nama jurus serangan yang mereka pergunakan. "Kawanan Singa Berpesta Darah...!"

Seru Kuruseta pula sambil menghantamkan kedua tangannya ke arah Raja.

Tiga lawan menyerbu ganas ke arah Raja merangsak maju sambil melepaskan tendangan dan pukulan tangan kosong.

Sementara dari samping sebelah kiri sambil keluarkan suara raungan terus menerus hingga membuyarkan perhatian Raja, Jutukara dengan jari-jari terpentang siap mencabik bahu dan rusuk pemuda itu. Dari arah belakang Purudana dengan menggunakan jurus Seribu Singa Berebut Mangsa menggempur Raja dengan menghunjamkan kuku dan mulutnya yang ditumbuhi taring.

Diserang dengan kecepatan luar biasa dari tiga arah yang berlawanan sulit bagi Raja untuk meloloskan diri.

Walau dia telah mengerahkan jurus Tarian Rajawali yang dipadukan dengan jurus Delapan Bayangan Dewa.

Raja tetap saja terdesak.

Ketika pemuda ini memutar tubuh sambil hantamkan kedua tangan ke arah lawan-lawannya. Justru pukulan Kabut Kematian yang dilepaskannya malah dapat ditangkis oleh lawan dan berbalik menghantam diri sendiri. Buum! Wuarkh!

Raja Gendeng menjerit keras.

Tubuhnya terpelanting bergulingan di atas tanah. Melihat lawan terjatuh Purudana menyeringai.

Dia segera melesat ke arah pemuda itu sambil kibaskan tangan kiri ke dada Raja.

Walau berusaha selamatkan diri tapi serangan Purudana yang kemudian disusul dengan serangan dua temannya yang lain tak dapat dihindari oleh Sang Maha Sakti.

Bret!

Sambaran kuku Purudana mencabik robek pakaian disebelah dada pemuda itu. Dada Raja terluka dan meneteskan darah.

Mengalirnya darah dari luka didada Sang Maha Sakti membuat Kuruseta dan Jatukara semakin tambah bersemangat dan makin beringas.

"Bunuh!" teriak keduanya bersamaan.

Dua manusia singa menghantam pemuda itu dengan pukulan sakti 'Raja Singa Mencabut Nyawa'.

Begitu kedua lawan hantamkan kedua tangan ke arah Raja dari telapak tangan mereka membersit masing-masing dua larik cahaya merah mengerikan. Ketika empat cahaya menderu merobek udara malam. Terdengar suara raungan menggelegar. Tanah berguncang keras, langit seperti runtuh sang Maha Sakti yang baru saja bangkit berdiri tercekat. Merasa tidak punya kesempatan untuk meloloskan diri. Raja tekuk kaki depannya. Mulut berkemak-kemik. Dua tangan yang dialiri tenaga sakti diangkat tinggi. Hanya beberapa saat setelah tangan berada di atas kepala. Dari kedua tangan memancar cahaya puth redup berhawa dingin menggidikkan. Sambil menyeringai dingin. Tanpa membuang waktu begitu melihat empat cahaya merah mengerikan siap melumat tubuhnya.Rajapun segera mendorong dua tangannya ke arah dua arah sekaligus.

"Pukulan sakti Seribu Jejak Kematian...! teriak Raja menyebut ilmu pukulan yang dilepas- kannya.

Dua cahaya putih redup berkiblat di udara, menderu berputar tak ubahnya tameng kematian yang dingin luar blasa. Cahaya putih dan cahaya merah akhirnya saling bentrok menimbulkan suara ledakan keras menggelegar dan membuat semua orang yang berada disitu terpelanting akibat guncangan ledakan. Debu, pasir dan kepulan asap membubung tinggi di udara. Dua manusia singa yaitu Kuruseta dan Jatukara menggeram dan berusaha bangkit berdiri. Dada berdenyut sakit, sekujur tubuh seperti membeku. Perlahan mereka menghimpun hawa murni untuk menghalau serangan hawa dingin yang berasal dari pukulan lawan. Tak jauh dari kedua orang ini Purudana yang ikut menyerang Raja dari sebelah atas justru jatuh terduduk sambil dekap dadanya. Setelah alirkan hawa sakti ke bagian dada, Purudana akhirnya bangkit. Menatap ke depan tiga manusia singa tidak melihat lawannya lagi. Tapi Setelah kepulan asap dan debu lenyap dan keadaan di sekitarnya tenang kembali, ketiganya melengak kaget begitu melihat lawan tegak berdiri tak jauh dari mereka dalam keadaan tak kekurangan sesuatu.

"Edan! Bagaimana dia bisa bertahan dari serangan kita?!" Seru Jatukara dan Kuruseta hampir bersamaan.

"Dia mempunyai ilmu kesaktian yang sangat tinggi. Aku kira sulit sekali bagi kita untuk membunuhnya!"

Ucap Purudana lirih.

"Cuah! menamatkan riwayat Raja gila seperti dia apa yang sulit?!"

Dengus Kuruseta. Mendengar orang-orang itu saling berbisik Raja menyeringai dingin. Dengan tatapan dingin pula dia memperhatikan ketiga orang itu satu persatu.

"Mau membunuh saja mengapa ribut-ribut. Lagi pula aku tak mungkin lari kemana-mana! Tunggu apa lagi?"

Kata pemuda itu sinis. Merasa ditantang tiga manusia singa menjadi kalap. Sambil menggeram salah seorang diantaranya berkata.

"Kau meremehkan kami. Sekejab lagi kau akan menyesali segala ucapanmu!" "Serang!"

Teriak Purudana memberi aba-aba. Tiga manusia singa segera menyebar, kemudian berlompatan berusaha membunuh Raja. Melihat serangan ganas datang menderu ke arahnya. Dengan sikap tenang Raja berucap.

"Pedang Gila. Kau yang mengajak aku kesasar ke tempat ini. Sekarang aku tak mau perduli. Kini giliranmu unjuk gigi, karena aku tahu kau tak punya gigi maka perlihatkan kekuatan dan ketajamanmu. Aku paduka Raja Gendeng memberi restu memberi ijin!"

Ucap pemuda itu.

Begitu Raja selesai berucap.

Tiba-tiba pedang Gila yang berada dipunggung bergetar, getaran itu disusul dengan tercabutnya pedang dari rangkanya.

Begitu pedang pusaka itu melesat keluar dari rangkanya.

Dari ujung pedang hingga bagian hulu memancar cahaya kuning kebiruan.

Pedang kemudian meliuk di udara melenggang seolah menari di atas ketinggian persis di depan Raja.

Pemuda itu tersenyum sedangkan mulutnya berucap.

"Bunuh dan habisi mereka!" teriakan Raja ternyata mempunyai pengaruh yang sangat hebat terhadap pedang Gila. Terbukti begitu mendengar perintah dari Raja, sang pedang segera berputar, lalu melesat cepat hingga menimbulkan suara deru mengerikan disertai berkiblatnya cahaya kuning memerihkan mata.

Wuus!

"Hei....senjata itu lagi? Mengapa bisa bergerak sendiri!"

Seru Jatukara terkejut. Namun dia segera batalkan serangan dan berusaha selamatkan diri. "Pedang milik si gondrong itu. Sungguh sebuah senjata aneh dan benar-benar gila!"

Teriak Purudana pula.

Segala teriakan dan seruan kaget kemudian berubah menjadi jerit dan pekik kesakitan.

Satu persatu manusia singa hanya mampu delikkan mata sambil dekap dada masing-masing yang berlubang menganga di tembus pedang.

Mereka tidak pernah melihat kapan Pedang Gila melukai mereka.

Yang mereka sadari adalah darah mengucur deras dari luka di tubuh mereka. "Mengapa bisa begini..?"

Desis Kuruseta seolah tak percaya nasibnya berubah seburuk itu.. Laki-laki itu lalu ambruk.

Dua temannya juga menyusul bertumbangan.

Pedang Gila berputar diketinggian lalu kembali masuk ke dalam rangkanya. Slep!

Raja tersenyum.

"Terima kasih kau telah membantu.Terima kasih pula kau telah menunjukan baktimu." Ujar Raja ditujukan pada pedang.

"Hamba juga berterima kasih karena gusti Raja Gendeng telah berkenan memberi kepercayaan pada hamba!"

Sayup-sayup Raja mendengar jawaban.

Dan dia tahu yang menjawab pasti jiwa yang bersemayam dalam hulu pedang.

Raja manggut-manggut Sambil menghela nafas, tanpa menoleh lagi Raja tinggalkan tempat itu. Sekejab sosoknya lenyap ditelan kegelapan.

Angin dingin menderu.

Dikejauhan terdengar suara lolong anjing dan lenguh burung hantu.

Dan diantara mahluk malam yang membuat berdiri setiap helai rambut disekujur tubuh terdengar pula suara Raja.

"Wahai, segala hantu pengganggu dan setan jembalang. Jangan membuat perkara. Permisi! Aku yang mulia Paduka Raja Gendeng mau lewat. Klak-klak-klak!"

*****

Kembali di halaman depan tempat kediaman tumenggung Dadung Kusuma. Si Mata Bara yang baru saja selesai membantai para pengawal tumenggung dengan kesaktian yang bersumber dari sepasang matanya.

Tampak diam dan terus memperhatikan sang tumenggung.

Sikap dingin yang ditunjukkan oleh lawan membuat sang tumenggung yang telah banyak kehilangan pengikut dan istri ini menjadi sangat marah.

Dia melangkah maju.

Kemudian dengan mata mendelik sang tumenggung membentak.

"Manusia iblis! Segala kekejian yang kau lakukan benar-benar telah melebihi takaran. Sekarang terimalah ajalmu!" berkata begitu sang tumenggung segera menghantam lawan dengan ajian kesaktian.

"Melumat Jiwa Meruntuhkan Raga."

Ajian yang dilancarkan tumenggung ini adalah salah satu dari beberapa pukulan sakti yang pernah membuat geger dunia persilatan.

Tidaklah heran, begitu tumenggung hantamkan dua tangan ke depan.

Seketika itu juga terdengar suara bergemuruh aneh laksana sebuah bendungan yang jebol. Tidak terlihat ada cahaya ataupun kilatan lidah api yang membersit dari tangan orang tua ini.

Tapi tiba-tiba saja Si Mata Bara yang menyambut dingin serangan lawan sambil mengumbar tawa dibuat tercekat. Dia merasakan ada sebuah tirai raksasa yang sangat dingin namun tidak terlihat menggulung tubuhnya.

Seiring dengan itu tirai gaib terus melibat dengan gerakan seperti seekor ular melilit siap meremukkan sekujur tubuhnya.

Mata Bara menggerung dan diam-diam dia alirkan tenaga sakti kesekujur tubuh.

Sambil terhuyung Mata Bara berusaha menghancurkan tirai aneh yang melibat tubuhnya. Upaya meloloskan diri Si Mata Bara ternyata tidak mudah.

Semakin dia berusaha menghancurkan tirai, semakin sulit baginya untuk bergerak. Melihat ini tumenggung Dadung Kusuma segera menghunus senjata.

Begitu senjata sakti berupa tombak berwarna hitam berada dalam genggaman dia berseru. "Ternyata tidak sulit menghabisi manusia iblis sepertimu.Ketahuilah kau telah terperangkap dalam

ilmu ajianku.Sampai kapanpun kau tak akan mampu meloloskan diri dari perangkap ajian Melumat Jiwa Meruntuhkan Raga'.Sekarang terimalah kematianmu" berkata begitu sang tumenggung segera melesat ke depan sambil menyabetkan tombak hitam bergagang pendek tangan kebagian lambung lawan.

Cahaya hitam yang menderu dari ujung tombak berkiblat. Hawa panas dan dingin menyambar Si Mata Bara.

Tak sampai seujung kuku lagi cahaya dari ujung tombak amblas menembus perut Mata Bara. Tiba-tiba saja... Wuss!

Mata Bara sekonyong-konyong lolos dari sergapan.

Sambaran cahaya dan tusukan tombak hanya mengenai angin. Tumenggung terkesima, namun cepat memutar tubuh.

Dia melihat lawan telah berdiri tegak, mulut menyeringai, mata yang merah membersitkan kemarahan luar biasa.

"Kau mengira bisa membunuh sekaligus menghabisi aku dengan semudah itu? Aku datang mencari korban, bukan aku yang aku yang menjadi korban. Tapi engkaulah yang akan menjadi korbanku!"

Ucap Mata Bara dingin.

"Bangsat jahanam. Bagaimana dia bisa lolos dari ilmu ajlanku?" Kata tumenggung di dalam hati.

Tumenggung sama sekali tidak pernah menyangka lawan yang dia hadapi sesungguhnya mempunyai ilmu 'Lintah Menyelinap Dalam Air'.

Dengan ilmu seperti itu membuat Mata Bara berubah licin seperti belut. Walau hati penasaran namun tumenggung tidak berkata apa-apa.

Begitu melihat lawan lengah dia pergunakan kesempatan itu untuk menyerang. Tangan kiri dan kaki menyambar ganas menghantam lawan.

Dess! Buuk!

Satu pukulan dan satu tendangan menggeledek mendarat di tubuh lawan.

Diserang dengan kekuatan sehebat itu seharusnya dada dan kaki Si Mata Bara patah ataupun remuk.

Namun aneh Si Mata Bara cuma terguncang.

Sementara dua bagian tubuhnya yang menjadi sasaran tidak nengalami cidera sedikitpun.

Penasaran sang tumenggung kembali melepaskan satu pukulan sakti yang dikenal dengan nama 'Tangan Setan Meremas Nyawa'.

Begitu tangan dikibaskan ke depan.

Si Mata Bara melihat seolah-olah tangan lawan bertambah panjang dan tambah membesar. Lima jemari tangan yang berubah sebesar pisang ambon terus meluncur siap menjebol dadanya. "ilmu setan!"

Dengus Mata Bara.

Dia menggeser kaki sambil miringkan tubuh. Serangan tangan besar luput dan lewat sejengkal di depan dada Si Mata Bara.

Begitu tangan lawan lewat secepat kilat dia mencengkeram tangan itu. Tumenggung Dadung Kusuma yang tak menyangka bakal mendapat serangan seperti itu segera berusaha menarik tangan yang dicekal sekaligus tikamkan tombak di tangan kanannya. Usaha menarik tangan sekaligus membunuh lawan terlambat.

Dengan tak terduga Mata Bara tiba-tiba kedipkan matanya ke arah tangan dalam cengkeramannya.

Dua cahaya merah membara setajam mata pedang membersit dan siap menebas putus tangan sang tumenggung.

Ketika tusukan tombak datang siap menembus perut si Mata Bara segera melompat mundur ke belakang selamatkan diri.

Tumenggung Dadang menjerit setinggi langit.

Dia menjerit sambil kibas-kibaskan tangannya yang buntung, hangus menghitam mengucur darah.Sementara potongan tangan yang terbabat putus akibat hantaman cahaya dari mata lawan tercampak di tanah.

Jari-jarinya bergetar sedemikian rupa lalu diam tak bergerak. Si Mata Bara tertawa dingin.

Sambil tertawa dia berseru.

"Tumenggung! Kurasa sudah waktunya bagimu untuk menyusul istri tercinta. Dan jangan lupa sesampainya di akherat bila tidak bahagia. Ingat-ingatlah putrimu yang cantik itu karena aku akan membuat hidupnya sengsara seumur-umur. Ha ha ha!"

Walau menderita sakit luar biasa. Sang tumenggung segera berpaling ke arah lawan begitu mendengar kata-kata bernada mengancam itu.

"Kau hendak menghancurkan masa depan anakku. Lebih baik aku mengadu jiwa denganmu!" Teriak Sang tumenggung.

Dengan kekuatan yang masih tersisa laki-laki ini berlaku nekat.

Laksana macan terluka dia menerjang ke arah lawan, lalu menyerang dengan tendangan kaki dan tusukan tombak.

Mendapat serangan gencar secepat itu.

Mata Bara segera nenyambuti dengan pukulan pula. Benturan terjadi.

Keduanya sama terdorong mundur, tapi tak urung ujung tombak masih sempat menggores lengan Si Mata Bara.

Merasa sedikit lebih unggul.

Tumenggung kembali melompat maju sambil hantamkan tombak ke wajah dan dada lawan. Tombak menderu menebar hawa dingin berkesiuran, cahaya hitam berkiblat menyambar ganas

.Melihat ini Si Mata Bara menyambut. Dia goyangkan kepala dua kali.

Dari mata mencuat cahaya merah menyambar ke arah tombak sekaligus tubuh sang tumenggung.

Melihat dua cahaya menyerang dirinya Tumenggung menarik balik serangan dan memutar tombak untuk melindungi diri.

Tapi kemudian dia memekik kaget.

Tombak yang dipergunakan untuk menangkis menjadi leleh terkena sengatan cahaya merah.Bahkan cahaya itu menembus pertahanan dan menghantam dadanya

Jees!

Sengatan cahaya itu menembus dada dan menimbulkan lubang besar hitam menganga. Sang tumenggung terhuyung, wajahnya pucat pasi.

Sedangkan dada yang berlubang besar mengepulkan asap menebar bau daging hangus terbakar.

Tak lama berselang setelah sempat terhuyung.Tumenggung Dadung Kusuma akhirnya roboh kehilangan nyawanya.

Si Mata Bara berucap.

"Satu lagi musuh besar menyusul ke liang kubur. Sekarang hanya tinggal adipati Seta Kurana.

Dialah orang yang paling bertanggung jawab dalam semua perkara gila yang pernah terjadi." Setelah itu dia terdiam.

Kemudian tanpa bicara apa-apa dia melangkah menghampiri Mangir Ayu yang terkulai di bawah roda kereta yang hancur.

Sejauh itu Mangir Ayu rupanya masih belum sadarkan diri.

"Aku tak mungkin membawa gadis ini ke Lor Ploso dan menahannya di Goa Cerekan. Aku harus memanggil Kara dan Ukuwudra. Biarkan dua manusia kera itu yang membawa mereka."

Setelah berkata begitu Si Mata Bara bersuit nyaring. Begitu suara suitan lenyap.

Tiba-tiba terdengar suara berisik seperti suara sekawanan monyet. Tak lama kemudian tanpa diketahui dari mana datangnya.

Tahu-tahu di depan si Mata Bara telah berdiri tegak dua laki-laki berpakaian hitam dengan sekujur wajah dan tangan ditumbuhi bulu-bulu halus.

Sesuai dengan namanya kedua laki-laki itu memang mempunyai bentuk wajah mirip dengan kera.

Melihat kehadiran dua manusia kera sahabatnya itu, Si Mata Bara pun tersenyum. "Sahabat Mata Bara memanggil kami?"

Tanya salah satu diantaranya yang bernama Ukuwudra. Mata Bara anggukkan kepala. "Benar. Aku mau kallan membawa dan menahan gadis ini di gua Cerekan. Urusanku masih banyak. Mustahil aku yang membawanya kesana" terang laki-laki itu.

"Kami tahu. Semua dendan belum terbalaskan. Rasanya masih banyak urusan yang harus diselesaikan. Kami akan membawa gadis itu."

Jawab Kara sambil menatap ke arah Mangir Ayu. Dia lalu memberi isyarat pada Ukuwudra. Tanpa menunggu Ukuwudra segera menghampiri Mangir Ayu lalu memangguinya di atas bahu.

"Kami pergi sahabat!"

Ujar Ukuwudra dan Kara berbarengan.

Si Mata Bara anggukkan kepala. Tapi ketika dia menatap ke depan dua sahabat saudara senasib yang menetap di gua Cerekan itu telah lenyap.

*****

Ketika dua manusia berwajah kera melewati jalan setapak di Lor Ploso, Mereka merasa lega karena dalam perjalanan ternyata tidak ada hambatan atau rintangan berarti yang mereka temui.

Kedua orang ini terus berlari.

Ukuwudra yang membawa Mangir Ayu dalam panggulan berada di sebelah depan. Sedangkan Kara terus mengikuti tak jauh di belakangnya.

Setelah melewati jalan berliku dan memasuki sebuah tikungan panjang.

Di ujung tikungan tak jauh dari samping tebing terlihat sebuah gua besar menghadap ke sebuah lembah subur.

Itulah guo Cerekan yang menjadi tempat tinggal mereka selama ini. Melihat tempat yang mereka tuju telah berada diambang mata.

Kedua manusia kera ini pun mempercepat larinya.

Tapi sejarak lima puluh tombak lagi mereka sampai di depan mulut gua.

Tanpa pernah terduga Mangir Ayu yang berada di atas bahu Ukuwudra tiba-tiba tersadar dari pingsannya.

Gadis cantik ini mula-mula mengeluh, tapi ketika kesadarannya mulai pulih dan dia merasa seperti sedang dibawa berlari .Mangir Ayu pun membuka matanya .Begitu melihat dia berada di atas panggulan orang yang tidak dikenal, karuan saja gadis itu menjerit ketakutan.

"Siapa kalian? Apa yang terjadi? Kemana aku hendak dibawa?"

Tanyanya dengan wajah tegang suara terbata-bata. Walau kaget tidak menyangka Bahwa gadis itu menjadi sadar secepat itu. Namun Ukuwudra tidak menjawab. Sebaliknya dia terus saja berlari hingga membuat Mangir Ayu jadi ketakutan dan mulai meronta-ronta.

"Lepaskan aku! Aku ingin bersama ayah dan ibuku!" Pekiknya.

"Diamlah cah ayu. Ayah dan ibumu telah menemui ajal. Lebih baik kau ikut bersama kami. Kau pasti betah karena kami bisa memberikan kesenangan lahir dan batin." kata Kara lalu sunggingkan seringai monyetnya.

Mangir Ayu memperhatikan kedua orang itu. Begitu melihat wajah manusia kera yang ternyata sangat berbeda dengan wajah manusia biasa, si gadis pun tambah ketakutan.

"Lepaskan aku... kalian adalah mahluk- mahluk yang tidak beradab."

Teriak Mangir Ayu. Sekali lagi dia meronta. Tapi diluar dugaan Ukuwudra ternyata memperketat cekalannya pada pinggang si gadis.

"Kalau dia tidak mau diam, lebih baik kau totok saja gadis itu saudaraku!" Ucap Kara tidak sabar.

Belum sempat Ukuwudra menjawab ucapan saudaranya.

Tiba-tiba terdengar suara siulan yang disertai dengan tawa tergelak-gelak. Kedua manusia kera terkejut.

Merasa berada di daerah kekuasaan sendiri keduanya sama hentikan langkah.

Kara yang bisa melenggang bebas segera pandangi keadaan di sekitarnya dengan mata nyalang. Karena dia tidak melihat siapapun di sekitar situ.

Penasaran Kara membuka mulut dan berseru.

"Siapa yang bersiul, siapa yang baru saja tertawa? Kuharap jangan suka mencari perkara kalau tak mau mampus"

"Ha.ha..ha.Cara bicara bicaramu boleh juga.Hendak kalian bawa kemana anak gadis orang? Orang tak mau mengapa dipaksa."

"Memangnya kalian sendiri siapa. monyet? Apa memang tukang culik anak perawan?"

Mendengar orang menyebut diri mereka monyet. Ukuwudra langsung turunkan Mangir Ayu dari panggulan. Tapi Mangir Ayu sendiri tak dapat bergerak karena sebelum diturunkan dia telah ditotok oleh Ukuwudra.

"Sialan! Kita dibilang monyet, saudaraku!" Rutuk Ukuwudra jelas-jelas tak dapat menerima.

"Siapapun yang berani menghina kita layak dibunuh." Timpal Kara tidak kalah gusar.

"Memang monyet. Makanya aku memanggil kalian monyet. Apa kalian mengira tampang kalian tampan seperti pangeran. Pangeran kesasar sekalipun wajahnya tak mungkin seburuk itu. Jadi buat apa merasa tersinggung? Bila tampang memang buruk seperti beruk tak usah mata yang disalahkan.

Lebih baik kalian bertobat atau berlutut dihadapan Rajamu ini. Biar gendeng-gendeng begini mudah-mudahan aku bermurah hati mau mengampuni. Ha ha ha."

Kata suara itu lagi-lagi disertai tawa. Kedua manusia kera saling pandang.

Mata mereka merah dan mendelik besar pertanda berusaha menahan kemarahan di hati. Dalam kemarahan meluap.

Belum lagi keduanya sempat membuka mulut tiba-tiba dari atas pohon tinggi melayang turun satu sosok berupa seorang pemuda berbaju putih berambut panjang.

Sedangkan dipunggungnya tergantung sebilah pedang berbentuk aneh berhulu batu pualam biru. Dengan gerakan indah disertai liukan yang tak ubahnya seperti tarian jurus silat.

Pemuda itu kemudian jejakkan kedua kaki di depan mereka. Begitu tegak berdiri.

Sambil bertolak pinggang si pemuda yang tak lain adalah Sang Maha Sakti Raja Gendeng adanya sunggingkan senyum.

Melihat seorang pemuda tidak mereka kenal menghadang di tengah jalan .Ukuwudra jadi tidak sabar.

Laki-laki itu melangkah maju.

Dengan mata melotot dari mulutnya menyembur ucapan. "Kau yang bersiul tadi?"

Tanya Ukuwudra. Raja menganggukkan kepala.

"Apakah kau juga yang tertawa dan menghina kami monyet?" Si pemuda mengangguk lagi.

"Bangsat kurang ajar! Siapa kau beraninya membuat perkara dengan kami?"

Hardik Kara Raja tersenyum. Sekilas melirik ke arah Mangir Ayu lalu kedipkan mata. Setelah itu dia menjawab.

"Apakah telingamu tuli. Aku sudah mengatakan aku adalah yang mulia paduka Raja Gendeng. Lalu tunggu apa lagi mengapa kalian tidak segera berlutut dihadapanku? Lagi pula apa takutnya membuat perkara dengan kalian? Kalian cuma dua monyet kesasar yang tak perlu ditakuti. Bukankah begitu nyet!"

Kata Raja sambil melirik ke arah Ukuwudra. Karuan saja ucapan Raja ini membuat kedua manusia kera seperti kebakaran jenggot. Ukuwudra melompat maju. Dengan sangat marah dia berteriak.

"Pemuda gila kurang ajar. Beraninya kau mencampuri urusan kami? Sekarang juga kau harus merasakan akibatnya!"

Teriakan Ukuwudra disusul dengan tindakan sambil melompat maju.

Lalu dengan mengandalkan jurus-jurus keranya Ukuwudra menyerang Raja.Diserang sedemikian rupa pemuda ini berkelit menghindar, lalu membalas serangan Itu dengan jurus Tangan Dewa Menggusur Gunung.

Ketika Raja memutar dan mendorong kedua tangan ke arah Ukuwudra. Tiba-tiba terdengar suara menggemuruh seperti topan.

Ukuwudra terkesima begitu melihat segulung angin menghantam tubuhnya. kiri. Secepat kilat dia jatuhkan diri.

Serangan luput, Raja memutar tubuh dan menghantam kaki Ukuwudra dengan menggunakan kaki

Tapi yang diserang telah bergulingan menjauh.

Hentakan kaki Raja menimbulkan guncangan pada permukaan tanah. Malah kaki pemuda itu amblas sampai ke betis.

Secepat kilat Raja menarik lepas kakinya dari tanah.

Tapi kesempatan dipergunakan Ukuwudra melancarkan serangan. Wuut!

Buk! Dess!

Walau sempat berusaha berkelit sekaligus selamatkan diri.

Serangan Ukuwudra tetap menghantam bagian punggung dan rusuk kanan Raja. Sang Maha Sakti mengeluh tertahan.

Bagian punggung yang kena digebuk orang terasa sakit bukan main. Diam-diam Raja salurkan tenaga sakti kebagian punggungnya.

Belum sempat pemuda ini menarik nafas Ukuwudra melesat ke arahnya dengan dua tangan terpentang siap menerkam.

Tak ingin menjadi korban untuk yang kedua kalinya. Pemuda itu jatuhkan diri dengan posisi terlentang.

Begitu tubuhnya rebah, dia menghantam lawan yang terus menyerbu ke arahnya dengan melepas dua pukulan sakti sekaligus.

Dalam keadaan tubuh meluncur cepat.

Ukuwudra terkejut bukan main begitu melihat dari telapak tangan Raja menderu hawa dingin luar biasa.

Tak ingin celaka walau sempat terkejut.

Ukuwudra berusaha selamatkan diri dengan membanting tubuhnya ke samping.

Tapi saat dia meluncur ke tempat yang aman, lawan tiba-tiba melepaskan pukulan susulan berupa ilmu pukulan sakti Kabut Kematian.

Tidak ada suara deru atau kilatan cahaya yang membersit dari tangan Raja.

Dari telapak tangan hingga ke pangkal lengan Sang Maha Sakti hanya terlihat kepulan asap putih tebal menyerupai kabut. Kabut putih bergulung-gulung tak ubahnya seperti ular yang meliuk, lalu menyambar ke arah Ukuwudra sekaligus melibatnya. Sesaat Ukuwudra hilang lenyap tenggelam dalam kepulan kabut tebal.

Kara terkesima. Mata manusia kera itu mendelik.

Dan dia jadi tercekat begitu terdengar suara jerit menyayat hati dari balik gulungan kabut. "Saudaraku, Ukuwudra...!"

Teriak Kara dengan hati dirayapi ketegangan. Raja menyeringai.

Tangan yang diselimuti kabut putih dihentakkan ke atas dengan gerakan seperti membuang sesuatu. Begitu tangan dihentakkan.

Kabut bergoyang keras.

Lalu dari balik gumpalan kabut asap melesat keluar Ukuwudra. Laki-laki itu melayang dalam keadaan jungkir balik dan tubuh kaku laksana patung.Kemudian jatuh bergelebukan di depan Kara.

Melihat saudaranya tewas mengerikan dalam keadaan membeku. Kara meraung sejadi-jadinya.

"Tidaaak..!"

Pekiknya histeris. Kara menangis sesunggukan. Tapi dia tidak mau tenggelam dalam kesedihan begitu lama. Secepat kilat dia bangkit, balikkan badannya menghadap ke arah Raja. Dengan kemarahan meluap disertai tatap mata penuh rasa benci dia berseru.

"Pemuda gendeng. Kau telah membunuh saudaraku?" Geramnya.

"Aku membunuh karena dia memang punya niat membunuhku." Jawab Raja.

"Hutang darah dibayar darah, hutang pati dibayar nyawa. Mampuslah kau,"

Teriak Kara .Sekonyong-konyong manusia kera ini lambungkan tubuhnya ke udara. Begitu melesat ke atas dia menghantam Raja dengan pukulan Kera Sakti Murka. Dua tangan menghantam ke bawah.

Dari telapak tangan Kara memancarkan cahaya merah kebiruan.

Cahaya itu bergulung laksana ombak, menderu menghantam Raja dari segala penjuru.

Hawa panas menyengat yang melanda kawasan sekitar membuat Mangir Ayu yang dalam keadaan tertotok tak dapat bergerak menjerit ketakutan.

Melihat ini Raja segera melompat ke arah si gadis lalu mendorongnya agar selamat dari serbuan pukulan lawan.

Mangir Ayu jatuh terguling-guling dan terhempas dibalik pohon besar. Sementara setelah menyelamatkan gadis itu.

Raja segera selamatkan diri dengan menghantamkan dua tangannya ke atas. Wuut!

Wuut! Buum!

Dua pukulan sakti beradu di udara.

Terdengar suara ledakan berdentum dua kali berturut-turut.

Di atas ketinggian terdengar suara jeritan keras yang disusul dengan suara benda jatuh bergedebukan.

Debu, asap dan pasir bertaburan memenuhi udara, membuat pemandangan menjadi gelap.

Sementara Raja yang tubuhnya terbenam amblas sampai ke pinggang akibat benturan itu mengerang sambil mendekap dadanya yang mengalami cidera di bagian dalam.

Setelah berusaha keras sambil menahan rasa sakit luar biasa disekujur tubuhnya. Raja akhirnya berhasil keluar dari pendaman tanah.

Dengan rambut awut-awutan tak karuan dan pakaian kotor penuh debu. Dia baringkan tubuh di atas tanah.

Perlahan setelah dapat mengatur nafas dan menyalurkan hawa sakti ke bagian dadanya yang cidera.

Pemuda tu merayap bangkit lalu duduk bersila. Kepulan debu dan asap lenyap.

Pemandangan disekitarnya kembali terang seperti semula. Raja layangkan pandangan mata.

Dia melihat Kara terkapar tak jauh dari tempatnya berada. Melihat lawan tidak bergerak.

Sementara sekujur tubuhnya dipenuhi luka mengerikan. Raja yakin Kara telah menemul ajal.

Sang Maha Sakti menarik nafas dalam-dalam. Saat itu segala rasa sakit yang mendera tubuhnya benar-benar lenyap.

Perlahan dia menundukkan kepala namun kemudian ia buru-buru mengangkat wajah begitu mendengar suara Mangir Ayu dari balik pohon.

"Pemuda aneh bernama Raja Gendeng. Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja bukan?" Tanya si gadis.

Ada rasa khawatir dalam nada suaranya. Raja tersenyum, menatap ke arah pohon dimana gadis yang dia tolong tetap terbaring kaku akibat totokan.

"Aku...aku selalu baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana? Apakah dalam keadaan baik juga?"

Tanya Raja polos

"Huh baik apanya. Aku tak bisa menggerakan tubuhku, aku bahkan tak mampu berdiri atau berjalan. Bagaimana bisa dikata baik."

Sahut Mangir Ayu ketus. "Jadi kau mau kutolong lagi?"

"Tak usah banyak bicara. Bebaskan saja totokan di tubuhku ini." "Tubuhmu yang tertotok di sebelah mana?"

Tanya Raja sambil bangkit berdiri .Mangir Ayu terdiam. Wajahnya memerah. Dia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Apakah harus berterus terang.

"Ditanya malah diam. Kalau tidak mau kutolong, kalau tak sudi totokan itu kupulihkan ya sudah.

Aku mau pergi saja." kata Raja tidak sabar. "Hei tunggu. Jangan tinggalkan aku." Seru Mangir Ayu.

"Katakan bagian tubuhmu sebelah mana yang telah ditotok monyet itu?" Terbata-bata Mangir Ayu menjawab.

"Ngg...anu...dia menotokku di bagian dada sebelah kiri." Ucapnya jengah.

Raja tercengang.Lalu tertawa.

"Oalah.... disitu rupanya. Tak kusangka sebangsa monyet pun tahu dimana tempat yang asyik dan enak-enak. Ha ha ha."

"Pemuda gila. Jangan membuat malu diriku."

Damprat Mangir Ayu marah. Raja tambah terkekeh. Tapi segera datang menghampiri gadis cantik

itu.

Tamat