Raja Gendeng Eps 04 : Petaka Pedang Gila

 
Eps 04 : Petaka Pedang Gila


Bulan purnama empat belas hari telah bergeser ke ufuk langit sebelah barat. Di bukit Induk pantai laut utara perkelahian sengit masih terus berlangsung.

Di pedataran luas di lereng bukit (seperti telah diceritakan dalam episode Pesta Darah Di Pantai Utara) Momok Laknat terlibat perkelahian sengit dengan Kupu Kupu Putih murid Penyihir Racun Utara.

Sedangkan teman pendampingnya Puteri Pemalu menghadapi serangan- serangan gencar yang dilakukan oleh Tiga Pembawa Maut yang terdiri dari tiga bersaudara yaitu Maut Merah, Maut Hijau dan Maut Biru.

Di bagian lain tak jauh dari lamping bukit Induk yang mengalami kehancuran dipenuhi lubang menganga akibat ledakan.

Para pengikut Maha Iblis Dari Timur banyak yang menemui ajal di tangan Dewa Saru Saru yang bernama asli Angin Pesut.

Potongan tangan, kepala bertebaran di mana-mana.

Darah menggenang membasahi tanah pedataran yang terdiri dari bebatuan karang. Melihat banyaknya korban yang jatuh di pihaknya Maha lblis yang saat itu terlibat perkelahian sengit dengan Dewi Harum menjadi sangat marah.

"Gendut besar sialan. Kalau tidak membunuhmu, rasanya segala kemarahan dihatiku tak akan sirna!"

Teriak Maha Iblis.

"Banyak mulut. Selesaikan dulu urusan di antara kita?"

Potong Dewi Harum yang juga dikenal dengan julukan Puteri Pedang Kayu Harum. Wutt!

Lima jari tangan Dewi Harum yang berkuku runcing menyambar ganas siap merobek mulut Maha iblis Dari Timur.

Dari lima ujung jari membersit cahaya ungu menggidikkan disertai menebarnya hawa dingin luar biasa.

Maha Iblis keluarkan seruan tertahan.

Dia sentakkan kepala ke belakang hingga serangan itu melesat sejengkal di atas wajahnya.

Lima cahaya yang luput mengenai sasaran menghantam dinding bukit dan mengeluarkan suara letupan lima kali berturut-turut. Maha Iblis menggeram.

Belum lagi laki-laki berikat kepala hitam dan berjubah hitam ini siap pada posisinya, Dewi Harum melesat ke arahnya sambil lancarkan jotosan mengarah ke bagian dada.

"Jadah!"

Maki Maha Iblis namun cepat gerakkan tangan menangkis pukulan Dewi Harum. Duk !

Benturan keras terjadi membuat Dewi Harum terdorong mundur. Tinjunya yang membentur lengan lawan mengembung bengkak.

Gadis itu menyeringai bersikap seolah tidak merasakan sakit apa-apa.

Di depan sana Maha Iblis hanya bergoyang pertanda tenaga dalam Maha Iblis lebih tinggi satu tingkat di atas Dewi Harum. Laki-laki itu melangkah maju.

Dia yang merasa khawatir tak bisa mendapatkan Pedang Gila karena keinginannya memasuki gua dihalangi oleh Dewi Harum dan Angin Pesut jadi tidak dapat menahan diri lagi.

Sambil melompat maju dengan kecepatan kilat hantamkan dua tangan ke arah Dewi Harum. Tak tanggung-tanggung Maha iblis menyerang dengan ilmu pukulan Sang Iblis Murka Bumi

Menjerit.

Saat tangan dikibaskan ke depan terdengar suara jeritan di sana sini.

Sedangkan dari tangan Maha Iblis membersitkan cahaya angker menggidikkan disertai suara bergemuruh tak ubahnya dinding karang yang runtuh.

Hawa panas luar biasa melanda seantero penjuru pedataran. Membuat apa saja yang dilewati jadi terbakar, mayat-mayat dikobari api.

Sedangkan kaki tangannya yang sedang melakukan pengeroyokan pada Angin Pesut tak pelak menjadi korban.

Melihat bahaya besar sedang mengancam Dewi Harum, kakek ini segera menendang lawan yang merintangi jalannya.

Lawan yang kena ditendang jatuh terbanting dalam keadaan cidera berat dan jatuh pingsan. Sekali bergerak, Angin Pesut telah berada di samping Dewi Harum.

"Apa yang kau lakukan saudaraku"

Seru Dewi Harum yang saat itu telah mencabut senjata andalannya yaitu pedang kayu berwarna hitam kecoklatan.

Ketika pedang diputar sebat membentuk perisai diri terlihat kilatan cahaya hitam kecoklatan menderu bergulung- gulung disertai menebarnya bau harum menyengat.

Pukulan Maha Iblis dan gulungan cahaya angin Laksana badai yang bersumber dari pedang di tangan Dewi Harum tak dapat dihindari bentrok di udara.

Traat Buumm Buum

Bukit Induk laksana diguncang selaksa gempa. Maha Iblis Dari Timur terjajar ke belakang.

Wajahnya pucat pasi, dada berdenyut sakit namun dia tidak menderita cidera yang berarti. Hanya bagian ujung jubahnya saja yang robek besar dikobari api.

Dengan cepat dia mematikan api yang membakar ujung jubah. Dengan sorot mata angker dia menatap ke depan.

Dilihatnya Dewi Harum berusaha bangkit berdiri dengan bertumpu pada pedangnya yang mengepulkan asap.

Gadis ini terhuyung, bentrokan yang terjadi membuat tubuhnya seperti terbakar. Sementara itu dari mulut dan hidungnya meneteskan darah.

Melihat ini Angin Pesut yang sempat tergontai akibat ledakan tadi segera berkata. "Rupanya Iblis itu membuatmu terluka. Hmm, tadi kau bertanya apa yang akan kulakukan.

Sekarang kukatakan, lebih baik kau menepi. Pulihkan dirimu sementara aku mau menjajal kehebatan manusia kurang ajar yang telah menghancurkan Istana Pulau Es!"

"Aku tidak apa-apa!"

Jawab Dewi Harum dengan pedang dilintangkan ke depan dada. Sementara diam-diam dia memulihkan cidera dalam dada dengan mengerahkan tenaga murni.

"Ha ha ha. Tak usah ngotot. Masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan. Kau lihat kaki tangan Maha Iblis mengepung kita di belakang!" Ujar Angin Pesut.

Dewi Harum menoleh ke belakang.

Benar seperti dikatakan saudara angkatnya di belakang mereka belasan orang pengikut Maha Iblis melakukan pengepungan dengan ketat.

"Jadi kau hendak bertukar tempat denganku? Baiklah, Aku ingin melumpuhkan mereka semuanya!"

Berkata begitu Dewi Harum balikkan badan lalu tanpa bicara lagi hampiri belasan laki-laki berwajah angker yang dulu adalah tawanannya sendiri.

Melihat Dewi Harum pergi .Maha Iblis Dari Timur manfaatkan kesempatan ini dengan memperhatikan keadaan di dalam gua di perut bukit.

Melalui beberapa lubang yang menganga dia melihat di dalam gua nampaknya ada perkelahian sengit sedang terjadi.

Apa yang dilakukan Maha Iblis ternyata sempat dilihat Angin Pesut.

Kakek berusia ratusan tahun dan berbobot lebih dari delapan ratus kati ini tertawa mengekeh. "He he he! Maha Iblis kau sudah tidak sabaran ingin masuk ke dalam gua di perut bukit ini? Kau

takut tak mendapatkan pedang Gila? Pusaka sakti itu kurasa bukan milikmu dan aku yakin bukan punya nenek moyangmu."

"Kurasa. "

Ujar Angin Pesut dengan senyum tersungging di mulut.

"Kurasa pedang itu milik salah seorang yang sedang terlibat perkelahian sengit di sana!" Mendengar ucapan Angin Pesut, sepasang Mata Maha Iblis yang berkilat tajam mendelik besar.

Kedua pipi menggembung, sedangkan pelipisnya bergerak-gerak. Sambil menggeram dia berteriak, "Tua bangka banyak mulut. Aku akan menguburmu hidup-hidup!"

Berkata begitu Maha Iblis Dari Timur melompat tinggi. Begitu melambung tangan kanan dipentang, lalu saat tubuhnya meluncur ke bawah tangan itu dihantamkannya ke permukaan tanah.

"Wuut"

"Bumi Murka Insan Terkubur. !"

Teriak Maha Iblis menyebut nama ilmu pukulannya. Buuk ! Gleger!!

Pukulan tangan ke tanah menimbulkan reaksi yang hebat luar biasa. Seperti ular ganas yang berlari mengejar mangsa, tanah terbelah.

Rengkahan tanah kemudian bergerak cepat mengejar ke arah Angin Pesut. Membuat si kakek tercengang namun juga geleng-geleng kepala.

"Ilmu lblis!" Gumam Angin Pesut.

Dia sendiri melompat ke samping.

Tapi begitu kaki menginjak tanah di sebelahnya, tanah itu juga terbelah menganga sedemikian rupa sementara kobaran api yang muncul dalam rengkahan tanah menyambar siap melahap tubuh Angin Pesut di sebelah bawah.

Merasa tidak punya pilihan lain.

Angin Pesut lambungkan tubuhnya ke atas.

Berkat ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna si kakek mampu mengapungkan diri diketinggian.

Tapi dia terkejut juga saat menyadari ada satu kekuatan tak terlihat menariknya ke bawah seolah hendak menjebloskan Angin Pesut dan menguburnya dalam kobaran api.

si kakek katubkan mulutnya.

Mulut menggembung namun kemudian terbuka meniup ke bawah.

Tiupan yang dilakukan Angin Pesut menimbulkan deru angin seperti badai. Api yang bermunculan dari setiap rengkahan tanah padam.

Melihat kobaran api dapat dipadamkan secepat kilat tangan kirinya dihantamkan ke bawah untuk menutup lubang-lubang menganga panjang yang membahayakan itu.

Tapi niat Angin Pesut ternyata diketahui oleh lawan.

Begitu dia kibaskan tangan, Maha iblis menyerangnya dengan pukulan jarak jauh yang dikenal dengan nama Iblis Murka Kegelapan Musnah.

Wush ! wreet !

Serangan yang dilakukan Maha Iblis kalah cepat dengan tindakan yang dilakukan Angin Pesut.

Maha berhasil menutup rengkahan, namun sekarang Angin Pesut harus berjuang keras menyelamatkan diri dari serangan Maha Iblis dalam bentuk lima cahaya aneh berbentuk pedang panjang.

Lima cahaya pipih setipis pedang siap membabat tubuh si kakek di lima bagian.

Di belakang cahaya masih menyusul deru angin bergulung gulung disertai hawa aneh dan cahaya hitam pekat.

"Oala..kalau begini aku bisa mati konyol!" pekik Angin Pesut.

Berkata begitu dengan gerakan cepat Angin Pesut menekan tubuhnya ke bawah dengan maksud mempercepat daya luncur.

Terdengar suara bergedebukan saat si kakek jatuh ke tanah. Orang tua ini cepat jatuhkan diri rebah sama rata dengan tanah. Wuus!

Wuus! Glaar!  

Lima cahaya menyerupai pedang dan deru angin hitam bergulung yang mengiringi kelima cahaya hanya menyambar, memapas rambut putih gimbal si kakek tapi tak melukainya.

Kelima cahaya terus menderu dan siap menghantam Dewi Harum yang sedang berusaha meringkus bekas tawanannya.

Beruntunglah Dewi Harum cepat menyadari bahaya yang mengancamnya. Dia segera menyingkir hindari serangan nyasar.

Tapi anak buah Maha Iblis tak sempat menyelamatkan diri.

Tiga orang tewas dengan tubuh terbabat putus oleh sambaran cahaya itu. Satunya lagi kehilangan tangan dan kaki.

Sedangkan yang dua di sebelah kiri kepalanya menggelinding. Dewi Harum leletkan lidah.

Menatap ke arah saudara angkatnya, dia melihat Angin Pesut sedang mengusapi bagian atas rambutnya yang hangus.

"Saudaraku kau tidak apa-apa?"

Tanya Dewi Harum khawatir. Si kakek banting-banting kakinya sambil menggerung tak karuan. "Bangsat itu telah membakar rambutku. Dia sudah sangat keterlaluan."

Kata Angin Pesut sambil berdiri.

"Kau orang besar, masa bisa dikalahkan oleh iblis kecil.Sungguh memalukan" kata Dewi Harum memanas-manasi.

"Hm, ya kenapa aku mau dipermainkan oleh iblis kecil?" geram orang itu. Dia balikkan badan.

Menatap ke arah Maha Iblis dilihatnya laki-laki itu sudah menekuk kaki depan sedangkan tangan disilangkan ke depan dada.

Dua mata Maha Iblis menatap tajam, dalam hati dia berkata.

"Bulan makin jauh di ufuk barat. Gendut gila ini berkali-kali berhasil lolos dari seranganku. Aku tak mungkin melayaninya sampai pagi. Aku harus mengerahkan pasukan khusus, pasukan gaib yang dulu pernah aku manfaatkan untuk menghancurkan istana pulau Es." 

Di depannya Angin Pesut diam-diam berkata.

"Manusia iblis yang satu ini ilmu kesaktiannya tidak rendah. Dia sepertinya siap menyerang atau mungkin ada yang sedang direncanakannya? Aku dengar dia mempunyai pasukan gaib. Laskar yang diambilnya dari alam arwah. Tapi..sejauh ini aku tak melihat pasukan istimewanya itu? Apa mungkin dia punya rencana yang lain?"

Pikir Angin Pesut menduga duga.

**** Di dalam gua bukit Induk di mana bagian dindingnya yang tebal mengalami kehancuran Bocah Ontang Anting sedang berusaha mengambil kotak hitam berisi Pedang Gila.

Tapi sepertinya ada kekuatan yang tak kelihatan menggerakkan kotak itu. Usaha Bocah Ontang Anting meraih kotak ternyata tidak mudah.

Kotak terus bergerak melompat-lompat selayaknya seekor kodok.

Malah terkadang melambung seolah memiliki nyawa, mata dan jalan pikiran sendiri.

Kesulitan yang dialami oleh Bocah Ontang Anting jadi berlipat ganda begitu Hyang Kelam mahluk alam roh yang mendekam dalam gua sebelum kedatangan mereka menyerang dengan pukulan ganas luar biasa. Tapi Raja satu-satunya pewaris pedang dan merupakan turunan terakhir penguasa Istana Pulau Es tidak tinggal diam.

Seperti telah dikisahkan dalam episode Pesta Darah Di Pantai Utara' pukulan maut yang dilepaskan oleh Hyang Kelam dapat dipatahkan oleh Raja, Hyang Kelam segera memperlihatkan diri dalam rupa seorang kakek renta berwajah angker, mata cekung berpakaian selempang dari kulit dan bercelana setinggi lutut. Dan dia segera berseru pada muridnya yang bernama Untari

"Sudah waktunya untuk menghadapi dua manusia konyol yang tidak berguna ini Untari. Jangan berada di alam gaib terus menerus nanti mereka menganggap kita sebagai manusia pengecut!"

Berkata begitu Hyang Kelam yang kuku-kuku jarinya menjuntai panjang bercabang-cabang bergelayutan seperti akar pohon menatap ke arah Raja Gendeng dan Bocah Ontang Anting silih berganti

"Mahluk menjijikan.Datang tidak diundang.Bersembunyi seperti pencuri.Aku jadi ingin tahu apa sebenarnya keinginanmu!"

Tanya Bocah Ontang Anting.

"Aku tak layak menjawab pertanyaanmu. Tapi mengingat kau dan sahabatmu bakal menghadap raja diraja akherat, tak mengapa bila kukatakan bahwa aku datang hendak mengambil pedang Gila,"

Tegas Hyang Kelam disertai tatapan dingin menggidikkan. Bukannya gentar, baik Raja maupun Bocah Ontang Anting sama-sama mengumbar tawa terkekeh.

"Mahluk kesasar dari alam roh. Kau dengar!" Kata Raja sambil hentikan tawanya.

"Seperti yang dikatakan sahabatku Bocah Ontang Anting. Kau hadir di sini seperti pencuri, menyembunyikan diri layaknya hantu! Sekarang kau menginginkan pedang yang bukan hakmu. Sungguh kau ini tak ubahnya seperti pengemis yang tidak tahu diri!"

"Raja.... dia memang mahluk tak tahu diri sudah berada di alam roh mengapa masih gentayangan di alam nyata. Lebih baik kau beri dia pelajaran biar tidak banyak tingkah!"

Timpal Bocah Ontang Anting sambil tertawa mengekeh.

Belum lagi tawa si kakek lenyap, tiba-tiba satu pukulan keras mendarat di perutnya membuat Bocah Ontang Anting menjerit sedangkan tubuhnya jatuh terjengkang. Menyaksikan apa yang dialami sobatnya, Pendekar Maha Sakti Dari Istana Pulau Es ini kaget juga marah.

Belum sempat pemuda Ini mengambil tindakan tiba-tiba saja terdengar suara gelak tawa.Bersamaan dengan itu muncul bayangan sosok samar yang semakin lama makin bertambah jelas ujud maupun penampilannya.

Sosok yang kemudian hadir dalam ruangan itu tak lain adalah gadis berpakaian serba hijau memakai jubah hitam dan bersenjata kipas.

Setelah menatap ke arah si gadis sejenak sepasang alis mata Raja berkerut Sambil manggut-manggut pemuda ini berkata,

"sepertinya aku pernah melhatmu. Tapi aku lupa di mana..!"

"Raja, kalau dia mengenalmu mengapa dia memukulku dengan cara pengecut seperti Itu!" tukas Bocah Ontang Anting kesal.

Kakek ini segera berdiri sambil mengusapi perutnya yang berdenyut sakit Raja tersenyum, "Tunggu dulu kek. Aku memang pernah melihatnya di sebuah kedai di Kali Bayu Hurip. Tapi aku

tidak mengenalnya dan diantara kami malah belum sempat berkenalan."

"Pemuda gila. Benar kau pernah melihatku. Tak kusangka kita bertemu lagi dalam suasana yang tidak menyenangkan."

Kata gadis itu ketus. Raja tersenyum.

Menatap pada gadis murid Hyang Kelam dengan sorot matanya yang aneh membuat sang dara cantik cepat palingkan kepala memandang kejurusan lain.

"Ha ha ha! Dia tak menyukaimu Raja.Melihat tampangmu saja dia tidak sudi. Apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku tahu kek. Jangan hiraukan kedua tamu gelap itu.Mungkin aku harus mengambil Pedang Gila secara langsung dari dalam kotak karena senjata itu adalah milik almarhum ayahku prabu Sangga Langit."

Ujar Raja dengan sikap tenang.

Hyang Kelam dan muridnya Untar ­ diam-diam terkejut mendengar pengakuan Raja. Murid dan guru saling pandang.

Untari melangkah maju, setelah menenangkan diri dan menahan debaran di dada dia ajukan pertanyaan.

"Jadi benar seperti yang kami dengar selama ini bahwa kau adalah putera prabu Sangga Langit?" "Kau siapa apa perlumu bertanya tentang siapa aku?"

Jawab Raja ketus. Wajah Untari nampak memerah. Sambil menahan kekesalan di hati dia berkata. "Aku Untari murid Hyang Kelam. Sudah lama guruku menginginkan pedang itu. Jadi jika kau tidak menginginkan terjadi pertumpahan darah di tempat ini, serahkan pedang itu pada kami!"

"Hua ha ha ha! Kurasa ini adalah kejadian paling gila dan paling aneh. Aku yang paling berhak mewarisi pedang peninggalan ayahku. Mengapa orang lain yang tidak punya hubungan apapun dengan riwayat pedang malah meminta aku untuk mengalah?"

"Selain diriku siapapun orangnya tak akan kubiarkan mengambil senjata peninggalan milik ayahku gusti prabu Sangga Langit."

tegas Raja sengit.

"Nah kalian berdua murid dan guru sudah sama mendengar. Pewaris pedang menghendaki kalian angkat kaki dari dalam gua ini.Mengapa tidak segera kalian lakukan?!"

Ucap Bocah Ontang Anting dengan mulut dipencongkan. Mendengar ucapan Bocah Ontang Anting, Untari jadi naik darah.

Sedangkan Hyang Kelam tanpa banyak bicara sambil keluarkan suara pekik aneh segera memutar tubuh bergerak ke arah kakek itu.

Tubuh berputar cepat laksana titiran mengeluarkan suara deru menggidikkan disertai pijaran cahaya hitam angker siap menghujani Bocah Ontang Anting.

Diserang dengan cara seperti itu, si kakek tidak tinggal diam. Dia angkat tangannya tinggi-tinggi.

Tangan diputar, jemari yang terpentang lakukan gerakan meremas.

Kemudian dengan gerakan secepat kilat dia jatuhkan diri sekaligus hantamkan kedua tangan ke bagian perut lawannya.

Dari kedua telapak tangan Bocah Ontang Anting membersit sedikitnya lima cahaya biru berujung runcing seperti anak panah.

Melesat ke arah Hyang Kelam dengan kecepatan luar biasa, Lima cahaya seperti anak panah membesar sepuluh kali lipat.

Hyang Kelam menggerung.

Dua tangan mahluk alam arwah ini digerakkan menyambuti serangan lima cahaya. Tretek!

Wus! Lep!

Lima cahaya yang dilepaskan Bocah Ontang Anting tidak hanya tersapu lenyap. Sebaliknya Hyang Kelam terus melesat ke arah si kakek.

Melihat pukulan sakti Mengusik Sepi Menyapa Nyawa yang dilepaskannya dengan mudah dapat dihancurkan dan lawan melakukan serangan balasan, segera Bocah Ontang Anting berguling untuk selamatkan diri. Namun terlambat, tendangan lawan datangnya dua kali lebih cepat dari gerakannya.

Tanpa ampun Bocah Ontang Anting terlempar sejauh empat tombak dan terhempas di dinding kiri gua. Kakek itu megap-megap, tubuhnya memelintir menggeliat kesakitan. Bersusah payah dia berusaha bangkit.

Belum sempat berdiri tegak Hyang Kelam tahu-tahu telah berada di depannya.

Dua tangan yang kurus ditumbuhi kuku-kuku bercabang, melesat terjulur sedemikian rupa siap menggorok leher dan membuat jebol dada kakek itu.

Bocah Ontang Anting delikkan mata.

Dalam keadaan terjepit disudut, sulit baginya untuk meloloskan diri. Dia hanya bisa lolos dengan jatuhkan diri.

Tapi apa yang dipikirkan Bocah Ontang Anting terbaca oleh Hyang Kelam terbukti mahluk alam roh ini siap hantamkan kaki ke bawah, Dalam keadaan terancam bahaya, Raja yang sedari tadi membagi perhatian antara si kakek dan Untari yang menyerangnya dengan membabi buta tidak tinggal diam.

Secepat kilat dia sambut jotosan gadis itu dengan pengerahan tenaga dalam. Untari terjajar, sedangkan tinjunya terasa remuk.

Untari kaget bukan main.

Dia merasa jika raja berniat melukainya, maka tangkisan yang diberengi dengan satu pukulan bisa membuatnya cidera berat. Setengah tertegun, Untari kibas-kibaskan tangannya yang terasa panas luar biasa.

Tak ada kesempatan bagi gadis ini untuk merintangi gerakan Raja membantu Bocah Ontang Anting.

Lagi pula seandainya kesempatan itu ada dia tak akan melakukannya karena ada perasaan tidak tega di hati.

Perasaan tidak tega di hati Untari untuk menciderai Raja.

Tanpa disadari Untari sebenarnya telah terhanyut oleh suasana hatinya .Sementara itu Raja sendiri begitu berhasil menghindari sergapan Untari segera menghantam Hyang Kelam dengan pukulan Badai Serat Jiwa.

Segulung cahaya kuning berkilauan memerihkan mata menderu, menghantam Hyang Kelam dari arah samping.

Membuat mahluk alam roh ini terpaksa batalkan serangan yang siap membabat putus leher Bocah Ontang Anting.

Tangan diputar lalu dikibaskan ke arah cahaya kuning keemasan yang bergulung-gulung ke arahnya. Uhk...!  

"Bangsat kurang ajar!"

Maki Hyang Kelam dengan tubuh terhuyung. Sementara kaki serasa lumpuh.

Setelah lolos dari kematian, Bocah Ontang Anting melompat menjauh dari Hyang Kelam.

Sementara Hyang Kelam sendiri balikkan badan menghadap ke arah Sang Maha Sakti dari istana Pulau Es.

"Pukulan aneh. Membuat tubuh jejadianku seperti dikuliti. Seumur hidup aku belum pernah melihat ada orang mempunyai ilmu pukulan sehebat itu."

Kata Hyang Kelam kagum namun penasaran. Raja menyeringai, wajahnya pucat sedangkan dua tangan yang dipergunakan untuk melepaskan pukulan seperti meleleh.

"Mahluk gentayangan! Siapapun dirimu kuakui kau cukup tangguh.Sejak pukulan itu diciptakan guruku. Rasanya belum ada orang yang selamat bila terkena pukulan Badai Serat Jiwa."

Kata Raja polos. "Paduka Raja Gendeng,"

Tukas Bocah Ontang Anting tanpa memperdulikan Hyang Kelam maupun Untari.

"Kau hantam mahluk jelek itu dengan niat hendak menolongku.Tapi aku sendiri hampir celaka terkena sambaran hawa pukulan.Jadi jangan berkecil hati bila aku tidak mengucapkan terima kasih kepadamu!"

Kata kakek itu sambil bersungut sungut.

"Ha ha ha .Tak usah berterimakasih.Apa yang kulakukan sengaja karena aku tidak ingin melihat kepalamu dibuat menggelinding dan dadamu dipenuhi lubang mengerikan?"

Jawab Raja acuh tapi sambil mengumbar tawa. Bocah Ontang Anting terdiam.

Tatap matanya kini tertuju pada Untari dan Hyang Kelam.

Sementara Hyang Kelam rupanya diam-diam mengetahui ada gelagat tidak baik terjadi pada muridnya.

Tidak mengherankan bila kemudian dia berkata,

"Untari apa yang telah terjadi pada dirimu? Harusnya kau habisi pemuda Gendeng itu.Mengapa kau biarkan dia membantu temannya? Jangan pernah menghianati aku, jangan berpaling muka apalagi sampai berpaling hati. Jika semua pantangan kau langgar kau bakal mendapatkan hukuman pedih dariku!"

Geram Hyang Kelam.

Raja dan Bocah Ontang Anting tentu saja tak tahu maksud ucapan mahluk alam roh itu.

Tapi baik Raja maupun si kakek sama berpikir mereka harus mengambil kotak berisi pedang Gila secepatnya sebelum orang-orang yang berada diluar gua menyerbu masuk ke dalam. "Guru....maafkan aku.Aku...aku tidak punya maksud apa-apa.Aku... tidak menyangka pemuda itu sangat tangguh!"

Jawab Untari sambil tundakkan wajahnya. Hyang Kelam tertawa tergelak-gelak. Begitu tawanya lenyap dia berujar.

"Jangan ikuti kata hati, jangan menipu gurumu. Aku tak dapat kau dustai. Sekarang lekas ambil kotak itu. Setelah itu kita angkat kaki dari sini,"

Perintah Hyang Kelam tegas.

Untari tahu apa yang dikatakan gurunya sulit dibantah.

Dengan perasaan enggan juga diliputi keraguan dia menatap ke arah kotak hitam panjang yang tergeletak di reruntuhan puing altar yang hancur.

Dia menghela nafas sambil sesekali memandang ke arah gurunya Hyang Kelam tidak begitu perduli, dia lebih memusatkan perhatiannya pada Raja dan Bocah Ontang Anting.

Hyang Kelam siap menghadang dan bakal menghabisi mereka yang menghalangi Untari mengambil kotak hitam.Ditempatnya berdiri Raja dan Bocah Ontang Anting memperhatikan apa yang hendak dilakukan oleh Untari.

Entah mengapa Raja tak terlalu merisaukan Untari.

Sebaliknya perhatian pemuda itu lebih dipusatkan pada Hyang Kelam yang dia anggap paling berbahaya

"Situasi tidak menguntungkan."

Ucap Bocah Ontang Anting melalui ilmu menyusupkan suara.

"Kita belum tahu siapa saja yang sedang saling bunuh di luar sana. Tapi cepat atau lambat orang-orang itu pasti bakal menyerbu masuk ke sini. Kita berdua, mereka walau dari kelompok berbeda jumlahnya tidak sedikit. Jika kita menghadapi mereka semua, kita bisa celaka!"

Mendengar ucapan si kakek, Raja malah bersikap tenang. Dengan tenang pula dia berucap. "Tak perlu risau, jangan pula takut mati. Kalau kita mati bukankah menjadi kebahagiaan bagi

kita karena bisa jalan-jalan gratis?" Sahut Raja sambil mengulum senyum.

"Paduka Raja, kau mau pergi ke akherat pergi saja sendiri.Jangan mengajak diriku. Aku belum mau mati sebelum sempat merasakan surga dunia apalagi mengingat burung keramatku kini sudah terjaga setelah sempat tidur selama bertahun-tahun!"

Kata si kakek sambil senyum. "Dasar tua bangka edan!" Damprat pemuda itu.

"Sekarang kau lihat ke depan, cahaya purnama yang menerangi patung burung rajawali lenyap." Bocah Ontang Anting menggaruk kepala. Namun matanya yang belok menatap juga ke arah patung yang berdiri di altar kedua. "Burung lagi" gerutu si kakek.

"Memang ada apa dengan patung burung itu," Tanyanya kesal.

"Patung rajawali itu. Tepat seperti yang pernah kau katakan ternyata benar-benar hidup. Kau lihat... matanya terbuka, dada turun naik. Dan dia memandang ke arah kita!"

Bocah Ontang Anting memperhatikan ke arah patung lebih seksama. Mata si kakek membeliak besar begitu menyadari apa yang dikatakan Raja. sang Patung sekarang memang telah menjelma menjadi mahluk yang hidup.

"Rajawali.....Rajawali Putih sahabat pedang...! Ha ha ha! Dengan terjaganya mahluk itu dari tidurnya yang panjang, kau tidak usah khawatir. Dia pasti akan membantumu mengatasi segala kesulitan!"

Kata Bocah Ontang Anting. Ucapan tidak sadar yang tertontar dari mulut Bocah ini tentu membuat kaget Untari dan Hyang Kelam.

Karuan saja murid dan guru ini cepat palingkan kepala pusatkan perhatian pada sang patung di altar kedua.

Tapi seperti ada sesuatu yang menghalangi pandangan Hyang Kelam.

Di matanya patung rajawali putih tetap diam tak bergerak sama sekali tidak menunjukkan tanda tanda bahwa patung menjadi hidup.

Ini sangat berbeda dengan penglihatan Untari.Dimata dara cantik itu ia sungguh menyaksikan patung rajawali menjadi hidup, mata berkedip, dada turun naik seperti bernafas.

"Pertanda tidak baik!"

Tanpa sadar Untari berucap. Hyang Kelam melengak, menatap ke arah sang murid dengan heran sekaligus membentak.

"Pertanda tidak baik apa maksudmu?"

"Patung rajawali itu guru. Apakah guru tak melihat bahwa patung itu benar-benar menjadi hidup?"

Jawab Untari tak dapat menyembunyikan perasaan cemasnya.

"Murid bodoh.Matamu sudah terbalik rupanya.penglihatanmu tidak lempang. Atau mungkin kau sudah ikutan menjadi gila seperti dua cecunguk tolol itu!"

Teriak Hyang Kelam gusar bukan main.

Dalam kemarahannya Hyang Kelam merasa tidak punya waktu lagi menunggu muridnya.

Selagi Untari diam termangu atas segala keanehan yang terjadi pada diri patung, Hyang Kelam melesat ke arah puing-puing altar pertama dengan kecepatan seperti kilat menyambar.

Dua tangan yang menjuntai bergerak cepat ke arah kotak di mana Pedang tersimpan. "jangan biarkan dia mengambil kotak itu" teriak raja dengan suara keras mengguncang seluruh penjuru ruangan.

Dia sendiri melompat ke depan berusaha menyusul Hyang Kelam sekaligus melepaskan dua pukulan sakti. Dua tangan dihantamkan ke depan.

Cahaya biru menderu dari tangan kiri Raja.

Sedangkan dari tangan kanan lepaskan pukulan Seribu Jejak Kematian yang diwariskan gurunya Ki Panaraan Jagad Biru.

Cahaya merah benderang memancar.

Cahaya biru yang bersumber dari pukulan sakti bernama Kepakan Sayap Rajawali dan cahaya merah menderu ke arah Hyang Kelam.

Dua serangan ganas secara bersamaan menghantam lawan.

Tapi Hyang Kelam dengan segala kehebatannya menyambut serangan itu hingga terjadilah benturan keras luar biasa yang membuatnya terpental.

Guncangan dahsyat melanda seluruh penjuru bukit Induk.

Asap hitam bercampur pijaran api dan bebatuan menutupi pemandangan.

Dari balik kepulan asap tiba-tiba saja terdengar seruan disertai suara berdenting aneh seperti ada benda berat jatuh dari langit-langit

"Untari ikuti aku!"

Kata Hyang Kelam. Raja segera bangkit tapi dia tidak melihat kemana lenyapnya Hyang Kelam.

Sementara Bocah Ontang Anting yang melihat Untari balikkan badan siap menerobos lubang menganga di dinding gua tidak tinggal diam.

"Pencuri tengik. Kalau gurumu minggat dari sini membawa kotak itu,maka kau harus tinggal sebagai gantinya !"

Teriak si kakek. Wuut!

Wuut! Gleger!

Pukulan yang dilepaskan si kakek luput dari sasarannya.

Serangan itu hanya mengenai dinding gua hingga membuat lubang di dinding gua terkuak makin lebar.

Melihat kenyataan ini Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es Ini menyesalkan tindakan sahabatnya.

"Jangan mengumbar pukulan terus menerus.Bukit ini bisa ambruk mengubur kita hidup-hidup!" "Kau sendiri apa yang kau lakikan. Dedemit dari alam roh itu telah melarikan kotak tempat

menyimpan pedang" "Dia pasti masih ada di sekitar sini!"

Bantah Raja sambil berusaha menghalau kepulan asap yang menghalangi pandangan matanya.

Setelah kepulan asap lenyap dan keadaan di dalam gua menjadi terang oleh cahaya pelita yang berderet di dinding, dia menatap memperhatikan seluruh penjuru ruangan.

"Astaga! Hyang Kelam melarikan diri bersama muridnya dengan membawa kotak itu." Des ­s Raja kaget, cemas juga tercengang.

Dia berlari ke arah di mana tadinya kotak tergeletak.

Sementara Bocah Ontang Anting yang paling tahu tempat penyimpanan pedang segera menghampiri.

"Aku tidak bisa menjalankan amanat guruku.Aku juga tidak bisa menjaga senjata warisan milik orang tua. Manusia seperti apakah diriku ini?"

Kata Raja menyesali. Si kakek merasa terharu. Disentuhnya bahu Raja, namun sang pendekar tidak perduli.

"Tidak perlu kau sesali walau Hyang Kelam telah pergi membawa kotak. Karena aku lebih tahu apa isi kotak itu."

Ujar Bocah Ontang Anting sambil mengulum senyum. Merasa tidak mengerti Raja menoleh, mengangkat wajah dan menatap pada sahabatnya.

"Apa maksudmu?"

"Kita lihat ke depan ke altar kedua!"

Perintah Bocah Ontang Anting tanpa menjawab pertanyaan Raja. "Melihat ke depan?"

Kata Raja. Namun dia menuruti perintah kakek itu dan dia melihat rajawali.

"Kau menyuruh aku memandang rajawali? Patung besar yang tak sempat kulihat seperti hidup?" "Ha ha ha! Kau lihat sendiri rajawali itu sekarang memang hidup.Sapalah dia, kau boleh

memanggilnya dengan paman Wali. Rajawali Itu usianya sudah berabad-abad. Dia bernama Pelintas Samudra.Dia bisa menjadi sahabatmu.Bila kelak kau mengalami kesulitan, cukup kau sebut namanya.Dimanapun kau berada paman Wali akan datang kepadamu!"

"Aku bicara soal pedang. Kulihat kakek tenang-tenang saja malah bicara soal kelebihan burung." Gerutu raja.Bocah Ontang Anting tetap tersenyum.

"Ya. Dia mahluk yang tepat. Puluhan tahun aku dan paman wali menjaga rahasia tentang keselamatan pedang Gila. Dia yang melindungi pedang itu di tempat ini! Tidakkah kau ingin berterima kasih?"

Kata Bocah Ontang Anting.

Walau belum memahami maksud ucapan si kakek.

Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es itu menuju ke arah burung raksasa. Tanpa berpikir panjang Raja rangkapkan dua tangan, meletakkannya di depan dada lalu tundukkan kepala sambil berucap.

"Paman Wali bila benar kau bisa menjadi sahabatku, maka terimalah aku sebagai sahabatmu dengan segala kekuranganku dan terima pula hormatku!"

Setelah berkata begitu Raja dongakkan kepala dan menatap ke depan. Pemuda ini tercengang.

Dia melihat sepasang mata sang Rajawali tiba-tiba terbuka lebar.. Sementara itu seluruh tubuhnya memancarkan cahaya terang menyilaukan. Cahaya terang disertai dengan getaran aneh pada kakinya.

Pancaran cahaya lenyap, getaran yang terjadi di bagian kaki juga raib. Sekonyong-konyong sang rajawali keluarkan suara memekik panjang. Keaaak!

Kreaaak!

Suara pekikan itu keras melengking membuat dinding dan langit-langit gua bergetar. Tapi Raja tidak terpengaruh.

Sang rajawali julurkan kepala lalu usap- usapkan wajahnya ke kepala Raja

"Lihat! Dia mengakuimu sebagai sahabatnya dan dia selalu mendampingimu kemanapun kau pergi bila kau membutuhkan!" terang Bocah Ontang Anting yang sangat mengenal prilaku sang rajawali.

Kreak!

Rajawali keluarkan pekik nyaring seolah membenarkan apa yang dikatakan Bocah Ontang Anting.

Raja manggut-manggut walau sebenarnya hatinya masih miris dan takut melihat paruh yang besar serta sepasang kakinya yang dihiasi cakar tajam.

"Baiklah. Aku berterima kasih atas apa yang dilakukan paman Wali serta yang kakek lakukan.

Sekarang kita kembali bicara soal Pedang Gila yang dilarikan oleh Hyang Kelam. Aku sudah menjajaki, mahluk alam roh itu ternyata mempunyai kesaktian luar biasa. Kita bakal mengalami kesulitan mengambil Pedang dari tangannya?"

Bocah Ontang Anting gelengkan kepala. Dengan cepat si kakek berucap. "Rupanya kau belum mengerti"

"Apa maksudmu?"

Tanya Raja sambil pandangi kakek di depannya

"Ketahuilah. Aku ini tidak terlalu bodoh. Kalau tolol memang Iya.Aku tidak sebodoh penampilanku.

Aku tidak menyimpan pedang di dalam kotak. Aku cuma menyembunyikan sarung rangka pedang di balik kotak.Tadi aku mendengar suara berkrontangan. Tunggu sebentar aku akan cari benda yang jatuh dari bawah kotak." Berkata begitu Bocah Ontang Anting tinggalkan Raja yang diam melongo.

Tak lama kemudian dia telah kembali lagi sambil membawa sebuah benda panjang berupa rangka sebuah pedang terbuat dari emas murni berwarna kuning mengilap di mana kedua sisi permukaannya dihiasi ukiran bergambar burung rajawali dan naga."

"Bagaimana kakek bisa mendapatkannya?"

Tanya Raja dengan kening berkerut tak mengerti

"Tadi ketika kau menghantam Hyang Kelam dengan dua pukulan sakti aku mendengar suara berdenting seperti benda jatuh.Dan aku yakin benda itu adalah rangka pedang Ini. Sekarang kita hanya tinggal mengambil pedang yang tersimpan di bawah altar kedua yang menjadi tempat pijakan paman Wali."

Jawab Bocah Ontang Anting enteng tanpa merasa bersalah. Mendengar itu Raja delikkan matanya.

Sekali tangannya bergerak, baju sebelah depan si kakek kena dicekainya. Melihat ini rajawali keluarkan suara ribut.

Sambil gelengkan kepala dia pentang sayapnya yang lebar panjang luar biasa. "Eit, paman Wali jangan gusar.Kami berdua cuma bercanda."

Ucap Bocah Ontang Anting sambil memaksakan senyumnya. Setelah itu dia dekatkan mulut ketelinga Raja sekaligus berbisik.

"Kau ini sudah gila atau apa? Mengapa kau mencekikku seperti ini? Lihat! Paman Wali yang baru mengenalmu bisa salah sangka!"

"Orang tua edan. Pertama sampai kemari kau mengatakan Pedang Gila tersimpan di altar pertama. Sekarang mengapa kau mengatakan senjata itu tersimpan di altar kedua? Mana yang benar?"

Geram Raja dengan Suara lirih.

"Aku tidak menipumu. Pedang memang kusimpan di bawah altar kedua. Paman Wali yang menjaga. Dengan kekuatan yang dia miliki dia mampu merubah dirinya seolah patung."

"Mengapa kau tidak berterus terang padaku."

Dengus Raja namun dengan perlahan dia melepaskan cekalannya pada pakaian si kakek. "Hidup harus pandai bemuslihat dalam situasi yang tak menguntungkan. Apa kau lupa dengan

Hyang Kelam yang berhasil menyusup ke tempat ini. Kalau aku berterus terang tentu dia bakal menghancurkan altar ke dua dan membuat cidera paman Wali dan tak tertutup kemungkinan membunuhnya. Sekarang sebaiknya bantu aku menyelesaikan orang yang telah membunuh keluargamu yang ada di luar sana. Ini saat yang tepat untuk menyelesaikan hutang nyawa dan dearah."

Tegas Bocah Ontang Anting bersungguh sungguh. "Bagaimana dengan dirimu?" Tanya Raja ragu

"Aku akan mengambil pedang."

"Paman Wali akan membantu sambil mengawasi bila penyusup datang dari luar sana" "Kau yakin dapat mengatasi bila ada bahaya mengancammu?"

Tanya Raja mengkhawatirkan keselamatan Bocah Ontang Anting.

"Pikirkan saja keselamatanmu. Soal diriku tak perlu dipikirkan. Aku masih punya panah. Di sini paman Wali juga menemani"

Ucapan si kakek sedikitnya menenangkan hati Raja. Dia segera bangkit. Baru saja Raja hendak melangkah pergi Bocah Ontang Anting berseru.

"Eit, tunggu!"

"Hm, ada apa lagi?"

Bocah Ontang Anting memberi isyarat agar Raja mendekatinya. Setelah mendekat dengan serius namun berbisik kakek ini berucap.

"Hutang darah dibayar darah, hutang nyawa dibayar nyawa. Bunuh semua musuh yang mengancammu. Sikat habis semua orang jelek. Tapi... kalau ada yang cantik jangan dihabisi semuanya. Sisakan satu untukku tapi yang paling cantik ya...!"

"Orang gila! Kukira apa!" Gerutu Raja Gendeng.

Dia balikkan badan sambil mendengus lalu melangkah pergi disertai gelengan kepala. Bocah Ontang Anting tertawa tergelak-gelak.

*****

Untuk sementara kita tinggalkan dulu Bocah Ontang Anting yang siap mengambil pedang Gila raja dari seluruh pedang sakti yang ada di rimba persilatan.

Sekarang kita lihat dulu bagaimana keadaan Momok Laknat yang terlibat perkelahian sengit dengan Kupu Kupu Putih murid Penyihir Racun Utara yang mempunyai nama asli Ni Ambar Sabanantang, serta keadaan Puteri Pemalu gadis yang sekujur tubuhnya tidak terbalut sepotong kulitpun.Seperti telah dikisahkan dalam episode Pesta Darah Di Pantai Utara.

Ketika suasana memanas.

Dalam ruangan gua Empat Ruang Satu Pintu, altar pertama tiba-tiba saja meledak begitu cahaya bulan empat belas hari menyinari simbol bintang di permukaan altar.

Menurut Bocah Ontang Anting.

Simbol bintang empat sudut itu adalah kunci rahasia menuju tempat penyimpanan pedang.

Ledakan besar itu membuat lereng bukit Induk mengalami kehancuran disertai munculnya banyak lubang yang langsung tembus ke dalam ruangan gua. Saat itu walau rasa ingin tahu berkecamuk dalam hati Puteri Pemalu maupun Momok Laknat, namun mereka tidak dapat melihat, memeriksa ke bagian dalam perut bukit karena mereka sedang menghadapi serangan hebat dari lawan-lawannya.

Momok Laknat yang menyadari bahwa Kupu Kupu Putih adalah lawan yang sangat tangguh segera melepaskan pukulan dan tendangan.

Kenyataannya walau ilmu kepandaian serta tingkat tenaga dalam yang dimiliki lawan dua tingkat berada di bawahnya Momok Laknat masih belum sanggup menjatuhkan Kupu Kupu Putih.

Momok Laknat tahu tongkat hitam Geger Gaib yang berada di tangan Kupu Kupu Putih yang menjadi penghalangnya.

Tidak heran setelah perkelahian berlangsung puluhan jurus, Momok Laknat yang mempunyai penglihatan batin sangat tajam melompat mundur.

Melihat ini dara cantik berpakaian ketat tembus pandang berwarna hijau kelabu itu membentak? "Tua bangka buta, hendak lari kemana engkau?"

"Aku tidak lari kemana-mana gadis mesum," Jawab Momok Laknat sinis.

Lalu dia membuka kantong perbekalannya yang tergantung di punggung. Dari dalam kantong dia keluarkan sepotong tulang berwarna hitam mengilat.

Melihat lawan mengeluarkan sepotong tulang, Kupu Kupu Putih segera belintangkan tongkat di depan dada.

Sambil tersenyum mengejek gadis ini berkata.

"Kau mau melawan aku dengan sepotong tulang butut? Kau mengira diriku ini seekor anjing dan tertarik pada tulangmu?"

"Hik hik hik Aku tahu apa yang aku lakukan bocah ingusan. Kau hendak berbuat apa sekarang?" kata Momok Laknat diiringi tawa mengikik.

Kaki dihentakkan, tahu-tahu Kupu Kupu Putih melihat lawan telah berada di depannya. Secepat kilat tulang hitam dipukulkan ke kepala. Kupu Kupu Putih keluarkan seruan tertahan. Bagian kepalanya terkena sambaran tulang dan terasa sakit luar biasa.

Sambil mundur Kupu Kupu Putih terpaksa memutar tongkat ke atas hingga mengeluarkan suara menderu disertai berkiblatnya cahaya hitam menggidikkan.

Trang! Trang!

Benturan keras terjadi secara beruntun. Dorongan keras yang bersumber dari tulang maupun tongkat membawanya terlempar sejauh tiga tombak. Momok Laknat terhuyung. Tangan kanan yang memegang tulang terasa panas seperti terbakar disertai ngilu luar blasa. Sedangkan dadanya jadi sesak, wajah yang hitam, mengerikan nampak pucat. Di depannya walau mengalami sakit luar biasa di bagian tangan dan bahunya Kupu Kupu Putih masih sanggup berdiri tegak. Sambil menatap dingin lawannya gadis ini segera mengangkat tongkat tinggi-tinggi. Mulut tampak komat-kamit membaca mantra sedangkan tangannya mulai bergetar.

"Tua renta buruk rupa. Atas kehendak penguasa kegelapan dan atas kuasa tongkat saktiku. Sekarang juga kau berubah menjadi anjing budukan!" seru Kupu Kupu Putih.Seketika dari bagian kepala tongkat membersit cahaya aneh berputar-putar mengelilingi si gadis, lalu dengan kecepatan luar biasa cahaya itu melesat menyambar Momok Laknat. Tidak ada kesempatan lagi bagi Momok Laknat untuk selamatkan diri .

Terpaksa dia sambut sambaran cahaya dari kepala tongkat dengan mengibaskan tulangnya. Zsssst!

Saat cahaya menyentuh tulang, Momok Laknat merasakan sekujur tubuhnya bergetar. Dia merasa ada sesuatu yang aneh merambat merasuki tubuh. Sekuat tenaga Momok Laknat tetap bertahan.

Tenaga sakti dialirkannya ke tulang hingga cahaya hitam kemerahan memancar dari tulang untuk menolak hawa aneh itu. Di depannya Kupu Kupu Putih diam-diam terkejut tak menyangka tulang di tangan Momok Laknat mempunyai daya tangkal kekuatan sihirnya.

Penasaran sambil kerahkan tenaga ke tongkat dia berteriak lagi. "Jadilah kau seekor anjing budukan"

Wuuus!

Satu cahaya berkiblat menyambar tongkat di tangan Momok Laknat.

Melihat bahaya yang mengancam Momok Laknat lipat gandakan tenaga dalamnya ke bagian tulang. Cahaya menggidikkan memancar dari tulang itu.

Kemudian terjadi ledakan dahsyat menggelegar. Momok Laknat menjerit tertahan.

Tubuhnya terbanting dengan mulut semburkan darah segar.

Dia menggeliat mencoba bangkit, tapi malah roboh tak sadarkan diria Sementara akibat serangan sihirnya yang sebagian berbalik menghantam diri sendiri Kupu Kupu Putih jatuh terkapar pingsan dengan wajah pucat seperti tidak berdarah.

Apa yang dialami Momok Laknat sangat meresahkan Puteri Pemalu. Dia tidak mungkin memberikan pertolongan pada nenek itu.

Merasa tak punya pilihan lain, Puteri Pemalu segera mengerahkan seluruh ilmunya untuk menghancurkan Tiga Pembawa Maut.

Maut Merah menyerang dengan senjata berupa kebutan.

Dia merasakan tubuhnya seperti ditusuk ribuan batang jarum.

Puteri Pemalu menggerutu sambil sunggingkan senyuman dia menunggu. Begitu kebutan berwarna darah itu menyambar siap menghancurkan wajah dan bagian tubuhnya, dia membuat satu gerakan yang menjadikan serangan Maut Merah luput.

Saat kebutan melesat di depan wajahnya.

Dengan tangan kiri dia memukul tangan Maut Merah yang memegang kebutan. Prak!

Bukan cuma kebutan yang dibuat terpental, tapi tangan Maut Merah juga patah berderak. Laki-laki yang sekujur tubuh dan rambutnya berwarna merah ini menjerit keras.

Tapi jeritannya lenyap saat tinju Puteri Pemalu menderu menghantam remuk tenggorokan dan batang lehernya.

Maut Merah jatuh terbanting, berkelojotan sebentar lalu diam tak berkutik lagi. Puteri Pemalu menyeringai sambil balikkan badan.

Dia terkejut ketika melihat Maut Hijau menyerangnya dengan senjata berbentuk bulan sabit. Breet!

"Aih, jebol perutku!" Teriak Puteri Pemalu.

Dia memandang bagian perutnya yang robek besar.

Isi perut berbusaian keluar, darah mengucur dan luka seperti pancuran. Tapi begitu gadis ini meniup bagian lukanya.

Luka itu segera bertaut kembali.

Maut Hijau dan Maut Biru yang diamuk amarah atas kematian saudara tua mereka jadi tercengang.

"Kalian ingin membunuhku? Hik hik hik! Ketahuilah kematianku telah digariskan dengan takdir tersendiri oleh Yang Maha Kuasa. Sekarang terimalah kematian kalian!"

Teriak Puteri Pemalu disertai tawa cekikikan.

"Bangsat buruk rupa buruk penampilan! Aku akan mengadu jiwa denganmu!" Geram Maut Hijau.

"Aku ingin mempesiangi tubuhmu yang tak karuan itu!" Dengus Maut Biru pula tak kalah sengitnya.

Dengan kekuatan penuh Maut Hijau kibaskan senjatanya ke bagian pinggang dan dada lawan.

Sementara itu Maut Biru dengan menggunakan tangannya yang mirip capit kepiting menghantam tubuh Puteri Pemalu di sebelah atas.

Dua kawan menyerang secara bersamaan mengincar bagian pertahanan yang lemah membuat gadis itu jadi kelabakan.

Merasa terdesak, gadis ini lambungkan tubuhnya sekaligus berteriak. "Titiran Gila!" Kata si gadis menyebut nama jurus serangannya. Tak ayal tubuhnya berputar sebat melabrak ke arah Maut Biru dan Maut Hijau sedangkan dua tangan yang dialiri tenaga dalam dihantamkan kedua arah sekaligus.

"Pukulan Dewa Dewi Bersemayam di Nirwana"

Sekali lagi puteri Pemalu berteriak menyebut nama pukulan yang dilepaskannya. Traat!

Seperti sambaran petir dari kedua tangan si gadis yang terbungkus kulit berkiblat cahaya terang menyilaukan.

Cahaya itu menyambar Maut Biru dan Maut Hijau disertai tebaran hawa yang sangat dingin luar biasa.

Maut Hijau terkejut.

Dia yang jaraknya sangat dekat mustahil mampu menghindar sambaran cahaya itu.

Tak ada pilihan Maut Hijau memutar senjata di tangan membentuk perisai pertahanan yang kokoh.

Tapi upaya penyelamatan diri yang dilakukan Maut Hijau sia-sia. Tubuhnya,jatuh terpelanting, senjata di tangan terlepas mental. Maut Hijau tewas dengan wajah hancur tubuh membeku.

Lain lagi halnya dengan Maut Biru.

Laki-laki yang sekujur tubuhnya berwarna biru ini sempat menangkis serangan dengan pukulan saktinya.

Tapi pukulan itu tersedot amblas dan dia ikut terbetot terseret ke arah Puteri Pemalu.

Bersusah payah dia mencoba bertahan. Tapi baru saja Maut Biru salurkan tenaga dalam ke bagian kaki, lawan kembali menghantamnya dengan satu pukulan mautnya.

Maut Biru memekik panjang.

Tubuhnya mencelat terpental dan jatuh menyerangsang di gundukan bukit kecil sambil semburkan darah dari mulut dan hidungnya.

Maut Biru megap-megap.

Pandangan mata berkunang-kunang, kemudian dia terdiam tak sadarkan diri.

Menyangka tiga lawannya menemui ajal terkena pukulan saktinya. Puteri Pemalu diam-diam menghela nafas.

Sejurus dia menatap ke arah Momok Laknat.

Melihat si nenek tetap diam tidak bergerak, Puteri Pemalu jadi khawatir .

"Jangan-jangan dia ikutan amblas ke akherat.Kalau saja Momok Laknat ke sasar ke surga tidak menjadi apa? Tapi apa jadinya bila dia malah tersesat ke neraka.Hik hik hik.Kasihan dan malu aku jadinya!" Gumam si gadis sambil menekab mulut yang tak terlindung kulit.

"Ada baiknya aku lihat dulu. Siapa tahu nyawanya masih tersangkut ditenggorokkan!" Puteri Pemalu kembali tertawa mengikik.

Dia melangkah cepat hampiri Momok Laknat yang terkapar diam di tempatnya. Tak lama dia telah berada di samping si nenek.

Dengan matanya yang gondal-gandil menjuntai keluar dari dalam rongganya gadis ini memeriksa keadaan Momok Laknat.

Dia menarik nafas lega begitu mengetahui orang tua itu ternyata hanya pingsan. Puteri Pemalu segera duduk bersila disamping Momok Laknat.

Dua tangan gadis ini ditempelkan kebagian dada Momok Laknat. Perlahan dia salurkan hawa ke dada orang tua itu.

Hawa hangat mengalir, menjalar kesekujur tubuh Momok Laknat.

Membuat Momok Laknat tersentak mengerang lalu semburkan butiran darah kental dari mulutnya.

Selagi Puteri Pemalu sibuk menolong berusaha selamatkan nyawa Momok Laknat, Maut Biru ternyata sudah sadar dari pingsannya.

Dia merasakan sekujur tubuhnya luluh lantak. Dadanya panas, untuk bernafas pun sakit.

Tapi Maut Biru yang mempunyai daya tahan luar biasa ini tak perduli dengan keadaan diri sendiri.

Dia memperhatikan dua saudaranya.

Dia yakin Maut Merah dan Maut Hijau telah menemui ajal.

Lalu dia layangkan pandangannya ke arah Kupu Kupu Putih majikannya.

"Yang mulia Gusti Ayu. Apakah dia tewas aku tidak tahu. Tapi aku harus membawanya menyingkir dari tempat ini. Kalau dia mati itu adalah keberuntunganku."

Ujar Maut Biru sambil tersenyum. Satu pikiran buruk dan jahat tiba- tiba terlintas dalam benaknya.

"Sudah lama aku memendam hasrat padanya. Aku akan menjamahnya walau dia hidup ataupun mati!"

Bulat dengan keinginannya.

Sambil mengendap-endap Maut Biru hampiri Kupu Kupu Putih yang tergolek miring tak jauh dari tongkat saktinya .Tongkat dipungutnya.

Setelah itu tubuh gadis jelita berpakaian tembus pandang Ini dipanggulnya. Diam-diam tanpa meninggalkan suara maut biru tinggalkan lereng bukit Induk. Apa yang dilakukan Maut Biru sebenarnya diketahu oleh Puteri Pemalu. Namun dalam keadaan tengah mengerahkan tenaga murni dalam upayanya membantu memulihkan Momok Laknat dia tak mungkin membagi perhatiannya, karena hal itu bisa membuat Momok Laknat dan dirinya celaka.

Tidak mengherankan bila Maut Biru bisa melenggang tenang pergi dari tempat tersebut .

****

Sosok tinggi hitam berpakaian berupa jubah hitam berambut panjang memakai ikat kepala hitam yang tak lain adalah Maha Iblis Dari Timur itu merasa usahanya untuk memasuki gua di dalam perut bukit semakin jauh dari harapan.

Angin Pesut ternyata tidak hanya memiliki tubuh dengan ukuran sangat besar, namun tenaga luar maupun tenaga dalamnya juga sangat luar biasa.Yang membuat Maha Iblis Dari Timur lebih tercengang lagi . Angin Pesut sanggup menghancurkan setiap serangan ganas yang dilancarkannya.

Ketika Angin Pesut melakukan serangan balasan, serangan kakek yang memiliki bobot lebih dari delapan ratus kati ini ternyata amat dahsyat dan nyaris membuatnya celaka.

Apa yang dialami Maha Iblis benar-benar membuatnya merasa menemui jalan buntu.

Tidak mengherankan setelah perkelahian sengit berlanjut hingga ratusan jurus, Maha Ibils melompat menjauh dari kalangan pertempuran.

Memandang ke sisi sebelah kiri tanah pendataran bukit Induk, dia melihat Kupu Kupu Putih dan lawannya Momok Laknat terkapar tak bergerak.

Tak jauh di sebelah kanan dia juga melihat mahluk merah tak berkulit berjubah merah bernama Puteri Pemalu telah berhasil merobohkan tiga lawannya.

Ketika Maha Iblis Dari Timur melihat ke sebelahnya, dia melihat satu pemandangan yang mengerikan.

Puluhan orang yang menjadi kaki tangannya bergelimpangan menemul ajal bermandikan darah.

Para pengikutnya yang berasal dari tempat penahanan Bukit Cincin Batu Kutuk semuanya tewas di tangan Dewi Harum.

Tak ada lagi yang bisa diharapkan dari semua rencananya.

Sementara itu Angin Pesut yang menjadi batu sandungan terbesar dalam usahanya mendapatkan Pedang Gila kini telah melangkah maju.

Tak lama kemudian saudara angkatnya Dewi Harum ikut bergabung .Sambil bertolak pinggang Angin Pesut membuka mulut keluarkan ucapan.

"Maha Iblis Dari Timur. Cuma itukah kemampuan yang kau miliki? Nama besar yang kau sandang yang membuat orang takut padamu ternyata tidak ada apa-apanya! Ha ha ha!"

Dewi Harum tidak mau kalah. Dia ikutan menimpali, "Maha Iblis? Aku tak tahu bagaimana caranya kau bisa menumpas habis seluruh penghuni Istana Es. Yang kudengar kau dibantu oleh nenek penjilat berjuluk Penyihir Racun Utara.Tua bangka racun dunia itu tak kulihat hadir di tempat ini. Kemana dia? Mungkin kau telah membunuhnya.Tapi sekarang lebih baik kau tunjukkan pada kami semua kehebatan yang kau miliki."

Di tempatnya berdiri Maha Iblis menggeram, rahang menggembung, pelipis bergerak-gerak. Dengan Mata berkilat angker dia berkata.

"Kalian berdua sangat bernafsu ingin menghabisi aku. Mengapa? Kalian mau menghukumku karena aku yang telah membantai kerabat keluarga Istana Pulau Es ataukah karena aku telah membebaskan tawanan kalian di bukit Cincin Batu Kutuk?"

"Dengan dua kesalahan yang kau sebutkan itu sudah cukup alasan untuk mengirimmu ke neraka! sentak Dewl Harum.

Mendengar ucapan dara berpakaian ungu ini Maha Iblis malah tertawa tergelak-gelak Ketika tertawa Maha Iblis Dari Timur sengaja menyertakan pengerahan tenaga dalam.

Niatnya menye- rang kedua lawan melalui tawa.

Biasanya manusia berke- pandaian rendah bisa tewas seketika bila terkena penga- ruh tawa Maha Iblis.

Sebaliknya Angin Pesut malah ter- senyum sambil mengoreki telinganya dengan ujung jari. Tawamu yang jelek membuat telingaku jadi gatal.

Manusia sepertiku mau kau bunuh lewat tawa? Ha ha ha!" Kata Angin Pesut dia ikutan mengumbar tawa.

Pengaruh tawa si kakek ternyata jauh lebih dahsyat dari tawa Maha Iblis. Akibatnya dinding bukit runtuh, batu-batu berpelantingan.

Sementara Dewi Harum yang semula sudah merasa tergangu oleh Maha Iblis kini makin tersiksa oleh pengaruh suara tawa saudara angkatnya.

Cepat gadis ini menutup indera pendengaran dengan pengerahan tenaga dalam.Setelah tawa mengguntur dari Angin Pesut tak dirasakannya lagi.

Dewi Harum dengan kesal melalui ilmu menyusupkan suara langsung mendamprat.

"Saudaraku. Apakah kau sudah ikutan gila? Tawamu itu bisa membuat hancur gendang telingaku!"

Seolah baru tersadar Angin Pesut cepat-cepat hentikan tawa. Dia menoleh ke samping memandang ke arah saudaranya dengan rasa khawatir.

"Kau tidak apa- apa saudaraku!"

"Hentikan berbuat gila. Nanti bisa kutabas mulutmu!" geram Dewi Harum. Walau Angin Pesut memiliki ilmu kepandalan jauh lebih tinggi dibandingkan Dewi Harum tapi dia selalu patuh pada saudara angkatnya. Tidaklah heran melihat Dewi Harum delikkan mata. Angin Pesut jadi tundukkan kepala. Sementara itu akibat pengaruh tawa Angin Pesut membuat Maha Iblis tergetar, tubuhnya terhuyung sedangkan dada terguncang keras.

Untunglah Angin Pesut segera hentikan tawanya. Maha Iblis jadi menggumam dalam hati. "Bangsat jahanam. Aku tidak mungkin melayani dua orang gila ini selamanya. Sudah saatnya

mengerahkan bala bantuan pasukan dari alam gaib."

Maha Iblis terdiam sambil menyeringai. Perlahan dia melepas ikat kepalanya. Melihat ini Dewi Harum berbisik pada Angin Pesut.

"Lihat! Dia melepas ikat kepala. Di balik ikat kepala di tengah kening lblis ini ternyata ada mata. Mungkin inilah yang disebut mata ketiga."

Angin Pesut ikut memperhatikan kening Maha Iblis. Dia melihat mata di tengah kening masih terpejam. Melihat itu timbul rasa ingin tahu Angin Pesut.

Perlahan hampir tak terdengar dia ajukan pertanyaan. "Bagaimana kau tahu Maha Iblis mempunyai mata ke tiga?"

Dewi Harum tidak segera menjawab. Dia menelan ludah baru kemudian berkata.

"Guruku pernah mengatakan tentang rahasia kelebihan dan kekurangan Maha Iblis satu Ini.

Kabarnya rahasia kekuatan Maha Iblis terletak pada mata ketiga. Mata itu bisa menimbulkan malapetaka. Dan aku sangat yakin Istana Pulau Es dapat dia tahlukkan karena mata itu!!"

"Ha ha ha! Apa yang kalian bicarakan! Berbisik-bisik merasani diriku. Apakah kalian kira aku tidak bisa menghabisi kalian berdua?"

"Maha Iblis! Jangan banyak bicara. Kau cuma tinggal mengatakan kematian apa yang kau inginkan?"

Tanya Dewi Harum sambil lintangkan pedang kayunya yang berlumuran darah di depan dada. "Bukan kematianku yang harus dibicarakan. Tapi kematianmu dan kematian kerbau tua gendut

itu. Lihat.. "- teriak Maha iblis.

Berkata begitu tangan kanan segera disapukan kebagian keningnya. Seketika mata di tengah kening terbuka. Dari dalam mata memancarkan cahaya merah bergulung-gulung. Cahaya itu panas bukan main, bergerak begitu cepat menyambar Dewi Harum dan Angin Pesut.

Dewi Harum memekik keras. Dia mencoba bertahan agar tidak sampai jatuh terpelanting terkena sapuan cahaya panas itu. Tapi sekujur tubuhnya seolah meleleh. Sambil lindungi diri dan kerahkan tenaga dalam berhawa dingin, Dewi Harum babatkan pedangnya ke depan. Aroma harum semerbak menebar dari pedang. Cahaya hitam kecoklatan berkiblat menghantam cahaya merah yang memancar dari mata ketiga Maha Iblis.

Tret! Tep! Bes! Dan serangan pedang untuk menghancurkan cahaya merah yang memancar dari mata lawan malah amblas lenyap. Serta merta Dewi Harum tiba-tiba merasakan tubuhnya seperti didorong ke belakang.Dia segera menancapkan ujung pedang ke tanah untuk bertahan.

Treeeek!

Usaha Dewi Harum sia-sia. Tanpa ampun gadis ini jungkir balik tak karuan tersapu cahaya yang datang menghantam dari mata Maha Iblis. Di lain pihak Angin Pesut yang bertubuh besar bukan main nampak juga tergontai. Kakek ini kertakkan rahang lalu menghantam ke arah Maha Iblis dengan pukulan sakti Dewa Melantur Berjalan Mundur .

Tinju Angin Pesut menggebu dengan cahaya putih disertai suara bergemuruh seperti angin ribut. Tapi serangan itu menjadi tidak berarti ketika Maha Iblis pentang matanya lebih lebar hingga dari lubang mata yang terpentang menderu cahaya merah mengandung kekuatan berlipat ganda. Angin Pesut jatuh tak ubahnya seperti pohon raksasa tumbang. Melihat lawan terjatuh Maha Iblis hentikan serangan. Mata di tengah kening berkedip tiga kali.

Sebelum mata tunggal tanpa alis itu mengedip untuk kali yang keempat Maha Iblis berteriak dengan suara lantang.

"Wahai.... para perajuritku yang berasal dari alam kegelapan, alam arwah dan semua alam tanpa batas. Sudah waktunya bagi kalian menampakkan diri di dunia fana. Pesta sudah dimulai dan kalian semua bebas menghabisi setiap orang yang tidak berada di pihakku!"

Teriakan itu dibarengi dengan kedipan mata. Setelah berkedip mata terbuka.

Dari dalam mata lagi-lagi terdengar suara menderu, cahaya membersit lalu benda-benda seukuran butiran pasir berwarna hitam dan kecoklatan melesat keluar dari lubang mata.

Berada di luar selepasnya dari mata benda-benda coklat dan hitam itu makin lama makin membesar, bertambah besar hingga seukuran jari kaki.

Butiran benda yang jumlahnya ratusan ini kemudian luruh berjatuhan seiring dengan menutupnya mata ke tiga.Maha Iblis tersenyum sekaligus mengembalikan ikat kepala pada tempatnya.

Sementara suatu keanehan besar terjadi.

Begitu benda-benda aneh yang keluar dari mata Maha Iblis menyentuh tanah sosok mereka yang tidak jelas jadi membesar seukuran manusia biasa.

Yang membuat angin Pesut terkejut.

Sosok yang menjelma jadi mahluk hidup itu tak lain adalah para mahluk aneh bersenjata lengkap selayaknya perajurit perang, sekujur tubuh ditumbuhi bulu halus berwana cokelat dan hitam, sedangkan di bagian pinggulnya ditumbuhi ekor panjang bergerigi.

"Ratusan mahluk jadah.Dari mana mereka ini?" Membatin Angin Pesut tak habis mengerti. Dia memperhatikan mahluk-mahluk itu sekilas. Lalu menatap ke arah Maha Iblis.

Yang dipandang bersikap acuh sambil unjukkan wajah congkak.

"Perlu kau tahu perajurit itulah yang ikut menyerang Istana Pulau Es dan membantai penghuninya.Kalian cuma berdua mana sanggup menghadapi mereka!"

Kata Maha iblis sinis. Belum lagi Angin Pesut sempat menjawab dan Dewi Harum pun bahkan baru sempat berdiri.

Dari balik dinding bukit Induk yang hancur menganga berkelebat satu sosok berpakaian serba putih.

Sosok yang tak lain adalah Raja sambil melayang menyela ucapan orang.

"Mereka tidak cuma berdua tapi ada aku orang ke tiga. Aku adalah orang yang paling berhak menghabisi riwayat hidupmu manusia terkutuk!"

Maha Iblis terkejut .Menatap ke arah datangnya suara tahu-tahu dia melihat di depannya telah berdiri tegak seorang pemuda tampan berpakaian putih bercelana hitam berambut gondrong .Melihat kehadiran pemuda Itu Maha Iblis tersenyum

"Siapa kau?"

"Aku? Mungkin kau tak mengenalku, tapi jelas sekali kau mengenal siapa gusti prabu Sangga Langit permaisuri Purnama Sari dan dua putranya yang kau bunuh"

Mendengar itu Dewi Harum bengong melongo dan Angin Pesut belalakan mata sambil menggaruk kepalanya.

Sebaliknya Maha Iblis terkejut bukan main.

Rasa tidak percaya membuatnya menatap Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es cukup lama. "Kkk... kau.., apakah kau putra terakhir prabu Sangga Langit? Apakah kau yang bernama Raja

dan dikenal dengan sebutan Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es?" Tanya Maha Iblis dengan bergetar.

Walau dendam dan kemarahannya pada Maha Iblis setinggi langit sedalam lautan namun Raja Gendeng malah manggut-manggut sambil sunggingkan senyum mengejek.

*****

Menatap sekilas pada Maha Iblis, Raja kemudian alihkan perhatiannya pada Angin Pesut dan Dewi Harum.

Merasa diperhatikan oleh pemuda tampan, hati sang dara sempat dak dik duk tak karuan. Apalagi tatapan itu disertai kedipan mata.

Jelas Dewi Harum jadi tersipu.

Dengan wajah merah cepat gadis ini alihkan perhatian ke arah ratusan perajurit alam gaib yang berpenampilan seperti kawanan kera. Angin Pesut kiranya melihat Raja mengedipi saudara angkatnya.

Tanpa merasa canggung dan sungkan membuka mulut berucap,

"Anak muda melihat matamu berkedip.Apakah kau sedang kelilipan? Atau memang ada yang salah pada urat matamu sejak dari sananya? Aku merasa kasihan, tapi aku juga bisa memberi obat.Kalau kau memang butuh pertolonganku tak usah malu-malu mengatakannya padaku.Kau cuma tinggal meminta saja dan aku pasti mengabulkan."

Raja jadi salah tingkah dan malu sendiri.

Sambil tertawa cengengesan Sang Maha Sakti Dari istana Pulau Es menjawab.

"Orang tua bertubuh besar tak karuan. Terima kasih kau sudah menawarkan bantuan. Soal mataku ini kau tak usah risau. Tak kelilipan dan tak pula sakit bawaan. Harap maklum setiap kali melihat wanita cantik apalagi yang tubuhnya menebar bau harum seperti saudari Itu mataku memang suka berkedip sendiri.ha ha ha!"

"Pemuda gila!" damprat Angin Pesut sambil unjukkan wajah tidak senang.

Tapi Angin Pesut sendiri kemudian tertawa tergelak-gelak. Sementara itu Dewi Harum mendengus.

"Dasar pemuda mata keranjang. Segala urusanmu di tempat Ini belum selesai, kami sudah menolong. Bukannya berterima kasih malah bersikap kurang ajar!"

"Ah. Maafkan aku sahabat cantik dan sobat gendut besar. Siapapun kalian aku mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian. Aku juga berterima kasih pada dua orang yang berada di ujung tanah pedataran ini."

Kata Raja sambil menatap ke arah Puteri Pemalu dan Momok Laknat. Melihat semua mata tertuju ke arah mereka. Puteri Pemalu sembunyikan wajah sambil dekap dada dan bagian bawah perutnya.

Matanya yang gondal gandil mengerikan mengintai di ballk sela jemarinya yang kemerahan.

Sedangkan mulut berucap.

"Aih orang yang kita bantu itu ternyata tampan nek. Malu rasanya memperlihatkan tampang burukku pada pemuda itu."

Momok Laknat yang baru saja pulih dari cidera yang dialaminya dengan mulut menyeringai menyambuti.

"Bagus suasana masih gelap. Coba kalau sudah pagi kehadiran kita bakal merusak pemandangan.Tapi apapun yang terjadi kita harus membantu Paduka Raja Gendeng menyelesaikan masalahnya.Bila urusan selesai tidak mendapat ucapan terima kasih tidak mengapa.Siapa tahu kelak Paduka Raja Gendeng jatuh hati padaku.Hik hik hik!"

Kata Momok Laknat disertai tawa mengikik.

"Hi hi hi. Dasar nenek genit. Wajah buruk tak keruan, tubuh dipenuhi bekes luka. Mana mau paduka raja menjadi kekasihmu?"

"Soal tampang tak perlu. Yang penting perabotanku masih kencang semua dan masih asli. Belum pernah disentuh laki-laki dari golongan manusia apalagi golongan jin dan dedemit. Tidak sepertimu. Penampilan berantakan seperti seonggok daging di pasar."

"Ah nenek."

Sahut Puteri Pemalu sambil sembunyikan wajah di balik dua tangan yang ditekabkan. Momok laknat tak perduli.

Kepada Raja dia berseru

"Paduka Raja Gendeng .Kami dan dedemit busuk rupa siap mengulurkan bantuan kapenpun kau butuhkan."

Tak mau kalah Puteri Pemalu dengan malu-malu menimpali ucapan Momok Laknat.

"Oh ya kami lupa memperkenalkan diri. Aku yang cantik tanpa kulit dan bertubuh merah semua bernama Puteri Pemalu. Sedangkan sahabat yang kudampingi dan tak mempunyai mata, hidung ini bernama Momok Laknat. Hi hi hi!"

Mendengar ucapan Puteri Pemalu Raja tersenyum. Bagusnya Raja tidak dapat melihat tampang mereka dengan jelas. Kalau tidak pemuda ini bisa jatuh pingsan.

"Kalian orang-orang hebat. Tak kukenal tidak pula kuminta sudi dateng membantu. Aku mewakili almarhum orang tuaku mengucapkan banyak terima kasih!"

Seru Raja sambil lambai-lambaikan tangannya. "Sama-sama kasih. Hik hik hik,"

Sahut Momok Laknat membuat Angin Pesut tak kuasa menahan tawa. Sedangkan Dewi Harum perlihatkan wajah tidak suka.

Walau tidak dapat dikatakan cemburu.

Berdiri di tempatnya Maha Iblis Dari Timur yang merasa diri tak dipandang dengan sebelah mata, sadar cukup banyak orang yang berada di pihak Raja.

Namun dia segera membuka mulut keluarkan teriakan menggembor

"Orang-orang tolol yang berada di pedataran kaki bukit Induk. Acara kenal-kenalan, lucu-lucuan dan bersenang-senang belum waktunya dimulai.Yang ada di depan mata adalah pesta Darah.Dan kalian semua akan mati di tempat ini.Tidak berlebihan bila kukatakan.Siapa saja yang sayang dengan nyawanya.Sebelum terlambat hendaknya lekas angkat kaki dari tempat ini!"

Setelah berkata begitu Maha iblis kemudian alihkan perhatiannya pada pasukan siluman yang telah siap menerima perintahnya.

Pada kawanan mahluk-mahluk Itu dia berseru

"Genta gaib geger gaib.Genderang perang telah ditabuh.Kepada kalian para perajurit suruhanku.Kekuasaan tertinggi ada di tanganku.Setiap perintah harus dituruti karena aku Maha Iblis Dari Timur tahu asal usul kegelapan. Sekarang kalian bunuh lima cecunguk edan yang bersikap memusuhi aku!"

Teriakan Maha Iblis disambut pekik riuh gegap gempita dari mahluk-mahluk berujud kera bersenjata berbagai jenis.

Serentak mahluk-mahluk itu dengan beringas menyerang ke arah Angin Pesut, Dewi Harum juga Raja.

Sedangkan sebagian lagi menyebar menyerbu ke arah Momok Laknat dan Puteri Pemalu. Mendapat serangan mahluk mahluk itu Momok Laknat tertawa mengekeh.

"Mahluk-mahluk celaka tidak tahu diri. Kita sama sama bertampang buruk. mengapa menyerang kami,"

"Mungkin dia mengira kita ini musuh bebuyutan nenek moyang mereka nek" sahut Puteri Pemalu.

Berkata begitu gadis ini segera mengumbar pukulan ganas mengerikan.

Momok Laknat mendengus.Tidak tanggung tanggung dia menggunakan senjata tulangnya untuk menghalau sekaligus mematahkan serangan mahluk- mahluk ganas itu.

Di bagian lain Dewi Harum terpaksa mengumbar pukulan sekaligus memutar pedang kayunya untuk mencerai-beraikan gabungan serangan kawanan mahluk kegelapan yang demikian berbahaya

.Sedangkan Angin Pesut menggunakan tangan kosong bertenaga dalam penuh.

Dengan jurus Dewa Mabok Di Kayangan tubuh besar si kakek bergerak lincah, serudak-seruduk, terhuyung seperti mau jatuh atau menendang seperti orang yang nyaris terjengkang.

Dua tangan dipergunakan memukul mahluk-mahluk yang menyerbu ke arahnya. Akibat yang ditimbulkan oleh serangan Angin Pesut sungguh luar biasa.

Gabungan serangan dahsyat yang dilakukan kawanan perajurit alam gaib ini jadi berantakan. Satu demi satu mereka menemui ajal.

Di antaranya ada yang kepalanya pecah terkena tinju atau gebukan si kakek. Ada yang terpental mencelat terlontar ke langit terkena tendangan.

Bahkan ada pula yang lidahnya terjulur, isi perut membusai keluar terkena injakan kaki Angin Pesut.

Tapi mahluk-mahluk yang tewas tak disangka- sangka dapat hidup kembali. Begitu hidup bangkit berdiri mereka mengembar menjadi dua.

Melihat ini Angin Pesut geleng kepala sambil keluarkan seruan. "Mahluk gaib jejadian keparat"

"Segala ilmu tipuan mata tidak laku di hadapanku," Teriak kakek itu.

Berkata demikian Angin Pesut buka mulutnya lebar-lebar. Dengan tangan kanan dia merogoh sesuatu dari mulutnya. Begitu tangan ditarik keluar dan mulut dikatubkan.

Tanpa menunggu secepat kilat tangan dikibaskan.

Di tangan kakek jelmaan dewa ini tiba-tiba tergenggam sebuah bumbung berwarna kuning dan terbuat dari emas.

Bumbung yang ukurannya sebesar jari telunjuk begitu bersentuhan dengan udara berubah menjadi besar hingga seukuran lengan orang dewasa.

Sambil berjingkrakan menghindar dari sabetan senjata dan pukulan lawan-lawannya Angin Pesut membuka bumbung emas itu.

Dari dalamnya dia mengeluarkan segenggam mahluk aneh berwarna hitam seperti kutu.sebelum genggaman tangan dibuka Angin Pesut membaca mantra ditujukan pada ribuan kutu yang bertimbun di telapak tangannya.

Setelah itu dia berkata.

"Habisi setiap mahluk gaib yang menjadi musuh kami, Semua mahluk yang berekor harap kalian singkirkan. Yang tidak berekor jangan diserang. Mereka tu sahabatku. Satu lagi....ehm...!"

Angin Pesut berusaha keras mengingat-ingat. Kemudian sambil tersenyum simpul dia lanjutkan ucapannya.

"Satu lagi yang ekornya ada di depan jangan pula kalian serang. Sebab aku dan pemuda gondrong itu termasuk dua mahluk yang mempunyai ekor di depan."

Setelah berkata begitu Angin Pesut tiup telapak tangannya yang terkatup. Setelah ditiup tiga kali Angin Pesut buka genggaman tangannya. Tangan terbuka mengembang ribuan mahluk berujud kutu berlesatan terbang di udara.

Mahluk-mahluk itu kemudian menyerang kawanan perajurit dari alam gaib. Setelah berhasil hinggap mereka menyusup ke liang telinga. yang diserang adalah bagian dalam liang telinga tembus ke otak .

Sementara itu Maha Iblis Dari Timur tersenyum puas melihat sepak terjang dan amukan perajurit alam gaibnya. Merasa diri berada di atas angin laki-laki angker berambut panjang sepinggang ini yakin tak ada satupun dari lawan yang bisa lolos dari kematiannya. Lalu Maha Iblis segera balikkan badan. Niatnya ingin masuk ke dalam gua Empat Ruang Satu Pintu.

Mengingat Raja tidak membawa pedang dia yakin Pedang Gila masih tersimpan di dalam gua itu. Maha Ibils rupanya tidak melihat Hyang Kelam dan muridnya Untari meninggalkan tempat itu dengan membawa kotak tempat menyimpan pedang. Melihat gelagat yang tidak baik. Raja segera lambungkan tubuh loloskan diri dari kepungan perajurit alam gaib. Tiga kali pemuda ini jungkir balik di udara lalu jejakkan kaki di depan Maha Iblis.

Maha Iblis terkejut. Dia menatap tajam pada pemuda di depannya dengan pandangan tak percaya bahwa Raja dapat meloloskan diri semudah itu dari kepungan.

"Kau hendak pergi kemana Maha Iblis? Kau mau menghindar dari tanggung jawab?" Tanya Raja dengan suara menggeram. Tanpa malu-malu Maha Iblis menjawab. "Aku ingin mencari pedang. Aku yakin senjata itu masih tersimpan di dalam gua"

"Jadi karena senjata pusaka milik ayahku itukah yang membuatmu tega menghabisi sejuruh keluargaku!"

Tanya Raja dengan suara dingin dan tatap mata penuh amarah bercampur perasaan benci.

Bukannya menjawab. Maha Iblis Dari Timur sebaliknya malah tertawa tergelak-gelak. Setelah puas mengumbar tawa Maha Iblis berujar.

"Kau tak mengerti apa-apa. Kau masih hijau, bocah ingusan. Segala rahasia perseteruan antara aku dan ayahandamu salah satunya menyangkut pedang keramat itu. Tapi juga ada hal-hal yang tak perlu kau ketahui. Aku tak perlu menjelaskan, kelak kau akan mengetahuinya sendiri. Sekarang kau mau berbuat apa? Ingin menuntut balas atas kematian keluargamu? Aku sangat ragu kau sanggup melakukannya! Ha ha!"

Lagi-lagi Maha Iblis mengumbar tawa berderai. Raja tidak menjawab. Sebaliknya dengan tak terduga tiba-tiba saja pemuda itu berkelebat ke arah lawan. Secepat kilat dengan tangan terkembang seperti cakar sepuluh jemari tangan Raja yang telah berubah memutih seperti perak mencengkeram siap menjebol perut dan dada lawannya.

Kejut di hati Maha Iblis bukan kepalang. Serangan Cakar Sakti Rajawali yang dilancarkan Raja bukan saja mempunyai kecepatan yang sangat luar biasa. Tapi juga terasa ganas disertai deru hawa dingin mematikan .Diserang dengan cara secepat itu kecil kemungkinannya bagi Maha Iblis dapat meloloskan diri. Tapi dia berlaku nekat. Secepat kilat dia hantamkan tangannya menyambut serangan itu sambil melompat ke samping selamatkan diri. Crak!

Bret!

Maha Iblis keluarkan pekik tertahan. Jubah dan pakaian di bagian dalam jebol robek besar terkena sambaran ujung jari Raja.

Di bagian perut dan dada ada bagian yang terluka, walau tidak parah dan dalam namun luka itu mengalirkan darah dan menimbulkan rasa nyeri yang sangat luar biasa. Laki-laki itu pandangi lengannya yang beradu keras dengan jemari tangan lawan. Kening Iblis berkerut. Dia melihat lengan kirinya menggembung bengkak. Sedangkan di lengan kanan sedikitnya terdapat tiga luka memanjang bekas kuku jari. Luka itu juga mengucurkan darah, nyeri seperti remuk di bagian dalam. Selama malang melintang di rimba persilatan Maha Iblis belum pernah mengalami kejadian memalukan berhasil dilukai lawan dalam gebrakan pertama.

Walau luka itu tidak berbahaya tapi kejadian ini dia anggap mencoreng nama besarnya sekaligus membuktikan bahwa Raja adalah lawan tangguh yang mempunyai Ilmu kesaktian dan kepandalan sangat tinggi.

*****

Menyeringai akibat rasa sakit dan dibalut kemarahan luar biasa, Maha Iblis segera sapukan telapak tangannya ke bagian luka. Begitu dada, perut serta lengan diusap. Terlihat kepulan asap memenuhi luka-luka itu. Ketika asap lenyap dari pandangan mata. Maka semua luka di beberapa bagian tubuhnya hilang raib tidak berbekas. Dia menyeringai menatap ke arah Raja dengan wajah mengejek.

Tapi Raja sama sekali tidak menanggapinya. Sekali lagi secepat kilat pemuda ini menyerang lawan dengan pukulan Kepakan Sayap Rajawali warisan gurunya Nini Balang Kudu yang dipadu dengan pukulan sakti Badai Es. Dua tangan dihantamkan ke depan. Dari tangan kanan membersit cahaya putih menyilaukan. Cahaya itu menderu dahsyat menyerang lawan secara susul menyusul. Sedangkan dari tangan kiri Raja bergulung hawa dingin luar biasa, menderu laksana badai disertai tebaran kabut yang menutupi pemandangan. Sadar lawan siap menghabisinya. Maha Iblis Dari Timur segera tekuk kaki kanan yang berada di depan sedangkan dua tangan disilangkan ke depan dada.

Mulai berkemak-kemik membaca mantra pelindung diri. Dua pukulan mematikan yang dilepaskan Raja menderu menghantam tubuhnya disertai ledakan keras luar biasa. Maha Iblis tetap berdiri tegak sambil berkacak pinggang.

Raja terkejut. Dia sendiri sempat terhuyung akibat sebagian pukulannya berbalik siap menghantamnya. Andai Raja tidak melompat menghindar selamatkan diri dia tentu saja terjungkal.

"Kurang ajar! Bagaimana tiba-tiba saja dia seperti tidak terpengaruh oleh dua pukulanku. Padahal sebelumnya dengan jelas aku dapat melukainya.Ada sesuatu yang aneh,"

Berkata Raja dalam hati sambil mengusap matanya tiga kali lalu memandang ke depan.

Dia terkejut namun kemudian rasa kaget di wajah berubah jadi senyuman begitu tahu ada sesuatu yang menyelubungi diri Maha Iblis.

Selubung tak terlihat mata itulah yang menahan pukulannya.

"Hebat bukan main. Ternyata kau kebal terhadap pukulan ya? Aku merasa kagum kepadamu."

Mulut berucap memberi pujian. Tapi hatinya memaki

"Keluarkan seluruh kekuatan yang kau miliki Bukannya aku bicara sombong"

"Walau kau menyerangku dengan seluruh kemampuan. Kau tetap tidak bakal mampu membunuhku.

Aku rasa sekejab lagi kau bakal menyusul para kerabatmu ke neraka!"

Kata Maha Iblis dingin. Diingatkan tentang kerabat. Raja menjadi sangat marah. Kemarahan yang membangkitkan seluruh kebenciannya pada laki-laki itu. Sambil menggeram, dalam hati Raja berkata.

"Aku akan menghancurkanmu dengan ilmu pukulan Cakra Halitintar dan Seribu Jejak Kematian." Dua ilmu yang disebutkan Raja ini merupakan ilmu langka yang sanggup menghancurkan apa saja termasuk Juga melebur perisai pertahanan gaib seperti yang dipergunakan Maha Iblis.- Tanpa bicara Raja angkat tangannya tinggi-tinggi.

Dua tangan bergetar.

Tangan kanan memancarkan cahaya biru berpijar sedangkan tangan kiri berubah menjadi hitam sepekat jelaga.

Melihat Ini Maha Iblis ternyata masih memandang rendah lawan dan tidak menyadari betapa dia bisa dapat celaka.

Ketika tangan ditarik ke belakang lalu dihantamkan ke depan. Dua tangan yang dikepal segera dibuka.

Dari tangan kiri yang terbuka melesat cahaya hitam disertai hawa panas luar biasa. Cahaya panas memecah menjadi sembilan bagian.

Bergerak meliuk-liuk seperti sembilan ekor ular ganas berkepala lancip.

Sedangkan dari tangan kanan berkiblat cahaya biru redup melesat sedemikian rupa tidak ubahnya seperti kilat yang menyambar sebelum munculnya petir di tengah hujan.

Sekejab saja kilatan cahaya menghantam Maha Iblis di semblan titik mematikan pada bagian tubuhnya.

Maha Iblis yang semula bersikap acuh terkesan memandang sebelah mata serangan lawan jadi terkesima begitu merasakan sekujur tubuhnya seperti disedot dan diremas oleh satu kekuatan maha dahsyat yang tak dapat dilihatnya.

Dalam kejut selagi sekujur tubuh menggeletar hebat, laki laki ini segera miringkan tubuh sekaliigus menyambut serangan Raja dengan pukulan sakti Muslihat Di Balik Kegelapan.

Ketika dua tangan didorong ke arah sembilan cahaya hitam dan kilatan cahaya biru.

Dari tangan Maha iblis mencuat lima larik cahaya merah, bergerak bersilangan seperti gunting menghadang cahaya biru dan sembilan cahaya hitam meliuk-liuk.

Tapi apa yang dilakukan orang satu ini nampaknya kalah cepat dibandingkan serangan yang datang.Cahaya merah bersilangan dengan mudah dapat dimusnahkan oleh sambaran cahaya biru sedangkan sembilan cahaya hitam menghantam telak ke arahnya.

Maha Iblis meraung panjang.

Serangan Cakra Halilintar bukan hanya berhasil menghancurkan perisai gaib pelindung diri Maha Iblis tapi juga mengenai sembilan titik bagian tubuhnya.

Tubuh laki-laki itu tak ubahnya seperti dilanda angin topan, tersapu terpental sejauh lima tombak lalu jatuh jungkir balik tak karuan.

Ketika Maha Iblis terhempas ke tanah dari mulutnya menyembur darah segar.

Sementara di bagian leher, dada, perut, tangan dan dua lututnya nampak berlubang besar, hangus menghitam laksana ditancapi mata tombak membara. Maha Iblis berusaha bangkit berdiri.

Tapi sembilan luka yang terdapat di sekujur tubuhnya terasa sakit bukan main. Denga mata mendelik seolah tidak percaya dengan kenyataan yang didapatnya.

Laki-laki Itu segera kerahkan tenaga dalam ke setiap bagian tubuhnya yang terluka. Setelah itu dengan bersusah payah dia mengusap luka di tubuhnya.

Begitu setiap bagian luka diusap dengan punggung tangannya maka luka itu lenyap tidak meninggalkan bekas namun masih menyisakan nyeri di bagian dalam.

Maha Iblis menelan ludah.

Dia mengumpat dan memaki kebodohannya sendiri.

Andai saja dia tidak berlaku ceroboh memandang lawan dengan sebelah mata. Tentu membuatnya tidak terjatuh dan terluka dengan mudah.

Apalagi mengingat dia belum menggunakan semua ilmu serta kehebatan yang dia miliki. "Nampaknya ajalmu segera tiba, Maha Iblis! Kematian bagaimana yang kau harapkan dariku?"

Tanya Raja. Pemuda itu melangkah mendekat dengan sikap mengancam.

Maha Iblis sama sekali tidak menanggapi. Dalam keadaan dimana luka-luka di bagian dalam belum pulih sepenuhnya, dia berlaku awas bersikap waspada. Ketika Raja merangsek maju menyerangnya dengan menggunakan jurus Tarian Rajawali yang digabung dengan jurus Tangan Dewa Menggusur Gunung. Dia melihat lawan meliuk-liuk cepat seperti burung yang menari melesat siap menghantam remuk batok kepala. Sedangkan dua tangannya menyambar ke bagian dada dengan gerakan seperti mengeruk dan membetot sesuatu. Maha Iblis berkelit menghindari tendangan dan betotan tangan Raja. Tapi tak urung tendangan masih menyambar pelipisnya hingga membuat bagian pelipis menggembung bengkak sedangkan kepala berdenyut seperti mau meledak.Laki laki itu menggeram.saat melihat tangan kembali berkelebat siap menyambar putus lehernya. Dia jatuhkan diri sama rata dengan tanah lalu hantamkan tangan kiri kanan ke arah Raja. Serangan yang berlangsung cepat tak terduga dalam jarak sedekat itu tak sempat dihindari oleh Raja. Dengan tercekat tangan dikibaskan, namun Raja hanya sempat menangkis serangan tangan kiri lawan sedangkan tangan kanan menghantam telak di bagian dadanya. Tanpa ampun pemuda Ini jatuh terjengkang. Bagian dadanya serasa remuk panas bukan main. Megap-megap pemuda ini segera alirkan tenaga dalam disertai pengerahan hawa murni, hingga rasa sakit secara perlahan mulai menghilang. Raja segera duduk, dengan langkah terhuyung dan tegak berdiri namun kejut di hati sang pendekar bukan kepalang ketika melihat ke depan ternyata lawannya lenyap tidak meninggalkan bekas.

"Kurang ajar pengecut! Ternyata dia melarikan diri! Kemana perginya manusia jahanam itu!"

Geram Raja sambil kepalkan tinjunya.

Jelalatan dia memperhatikan keadaan di sekitarnya. Tapi Maha Iblis Dari Timur tak terlihat lagi.

Saat pemuda Ini memandang ke arah Puteri Pemalu dan Momok Laknat serta Angin Pesut dan Dewi Harum.Dia melihat sahabat barunya itu tengah mengumbar tawa tergelak-gelak.

Apa sebenarrnya yang membuat mereka tertawa?

Seperti diketahui perajurit alam gaib yang didatangkan oleh Maha Iblis Dari Timur merupakan perajurit-perajurit tangguh yang tidak mudah dimusnahkan.

Setiap kali tewas terbunuh mereka dapat hidup kembali, dan mengembar menjadi dua.

Ini membuat Angin Pesut saudara angkatnya serta Momok Laknat dan teman pendampingnya jadi kerepotan.

Ketika perkelahian antara Maha Iblis Dari Timur dan Raja terjadi. Mahluk-mahluk itu juga ikut mengamuk.

Perajurit alam gaib sangat beringas.

Mereka menyerang lawan dengan jurus-jurus serta pukulan mematikan.

Tetapi walau mahluk-mahluk menyerupai kera ini mempunyai kelebihan dapat menggandakan diri.

Namun Angin Pesut ternyata mengetahui kelemahan mereka.

Dengan segala kelebihan yang dimiliki si kakek mengambil bumbung emas dari dalam mulutnya. Tabung itu berisi sejenis kutu ganas dan biasa menyerang bagian telinga tembus sampai ke otak.

Di dalam otak lawan sang kutu membuat berbagai kekacawan dan kerusakan.

Tanpa ampun di saat kawanan perajurit alam gaib semakin mengganas hingga membuat empat lawannya jedi sangat kewalahan.

Di saat seperti itu sang kutu yang oleh Angin Pesut diberi nama Kutu Gila menyelinap masuk ke dalam telinga para mahluk.

Mula-mula mahluk-mahluk berujud kera berwarna coklat dan hitam merasakan telinga masing masing terasa gatal luar biasa di bagian liang dalam.

Setelah itu rasa gatal menjalar kesekujur tubuh hingga membuat mereka terpaksa menggaruk.

Dalam keadaan yang demikian membuat daya serang para perajurit alam gaib ini mengendur karena mereka terganggu dan disibukkan menggaruk tubuh.

Tapi serangan sang kutu terus berlanjut.

Rasa gatal tiba-tiba berganti menjadi panas luar biasa di sekujur tubuh. Kawanan perajurit alam gaib, semakin kelimpungan.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Angin Pesut dan kawan-kawan. Dengan bebas dia dapat membunuh mahluk-mahluk Itu.

Satu demi satu. Sementara perajurit yang tewas sejak mendapat serangan Kutu Gite ternyata tak dapat bangkit hidup kembali apalagi menjadikan dia mereka mengembar.

Kekacawan mulai terjadi ketika Kutu Gila yang menyerang telinga telinga terus bergerak menembus ke bagian otak mereka.

Otak yang diserang menjadi rusak. Jalan pikiran menjadi kacau.

Mahluk-mahluk itu tidak dapat lagi membedakan mana kawan mana lawan, lalu mereka berbalik saling serang sesamanya bahkan mulai saling bunuh. Rupanya kejadian aneh dan mengerikan itulah yang membuat Momok Laknat, Angin Pesut, Dewi Harum dan Puteri Pemalu tak kuasa menahan geli.

Apa yang terjadi pada para prajurit alam gaib ini kiranya sempat dilihat Maha Iblis Dari Timur. Laki-laki itu terkejut bukan main.

Dalam kagetnya Maha Iblis yang hanya mampu memulihkan sembilan luka di bagian luar tapi belum sanggup memulihkan luka bagian dalam merasa sulit bertahan dalam situasi yang seperti itu.

Make begitu dia berhasil menghantam dada Raja, diam-diam dia segera angkat kaki dari tempat

itu.

Dalam perjalanan meninggalkan bukit induk Maha iblis Dari Timur tidak hentinya melontarkan

sumpah serapah.

Karena keangkuhan dan memandang rendah lawan membuatnya kena dilukai. Di samping itu dia juga melontarkan sumpah serapah pada para perajuritnya yang tiba-tiba menjadi aneh dan saling bunuh sesamanya

"Para perajuritku itu. Dua puluh tahun lalu aku menggunakan mereka untuk membunuh. Tapi sekarang mengapa mereka malah saling bunuh berteriak tak karuan seperti hilang kewarasannya."

Pikir Maha Iblis sambil terus berlari. Dia memutar otak dan memikirkan setiap kejadian yang

ada.

"Hmm, aku yakin kakek bertubuh besar seperti gajah itulah yang membuat mereka seperti itu.

Aku sempat melihat dia mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya." Maha Iblis kesal.

"Lalu dari dalam tabung dia keluarkan sesuatu. Aku tak dapat melihatnya karena terlalu jauh. Sekarang aku dapat menduga benda dari dalam tabung itu yang menyerang para perajuritku lewat hidung mungkin juga telinga. Hingga menjadikan yang mati tidak dapat mengembar atau hidup lagi sedangkan yang hidup malah saling bunuh. Keparat jahanam! Manusia gendut itu kelak harus mendapatkan balasan menyakitkan dariku. Gara- gara dia dan kawan-kawannya keinginanku untuk mendapatkan Pedang Gila jadi tertunda untuk kali yang kedua.Sekarang yang terpenting aku memulihkan lebih dulu sembilan luka dalam di tubuhku."

Kata Maha Iblis. Di satu tempat dia memperlambat larinya.

Tiba-tiba saja dia ingat dengan Kupu Kupu Putih.

Gadis cantik jelita berpakaian seronok yang dibawa pergi oleh pengawalnya Maut Biru. Membayangkan kemolekan tubuh gadis itu Maha Iblis Dari Timur menyeringai.

Sudah lama dia memendam hati menaruh hasrat pada Kupu Kupu Putih.

"Gurunya Penyihir Racun Utara telah mampus terbunuh di tanganku. Gadis itu tak ada lagi yang melindungi. Aku ingat Maut Biru memanggul Kupu Kupu Putih ke arah utara. Lebih baik aku menyusulnya ke arah itu."

Batin Maha Iblis.

Tanpa banyak pertimbangan dia berbelok ke arah utara lalu berlari dengan kecepatan laksana terbang.

*****

Di tempatnya berdiri beberapa jenak lamanya Raja cuma mematung.

Setelah melihat para perajurit dari alam gaib bergelimpangan tewas dalam keadaan tak karuan akibat saling bunuh sesamanya.

Pemuda itu menghampiri Angin Pesut.

Setelah memandang pada orang tua itu dan alihkan perhatiannya pada Dewi Harum serta Momok Laknat dan Puteri Pemalu dia berkata.

"Kalian semua sungguh merupakan empat sahabat yang tak mungkin kulupakan. Atas semua bantuan saya mengucapkan terima kasih.

"Ha ha ha! Tak perlu paduka Raja Gendeng berterima kasih pada kami. Apa yang kami lakukan anggap saja sebagai sebuah pengabdian."

Sahut Angin Pesut. Raja terdiam.

Dalam hati dia terkejut juga mendengar Angin Pesut menyebut namanya.

Sementara Dewi Harum hanya manggut-manggut membenarkan apa yang di- katakan saudara angkatnya.

Di pedataran selatan yang hanya dipisahkan oleh gundukan bukit kecil Momok Laknat tiba-tiba menyela,

"Paduka Raja, walau cuma rajanya para orang gendeng. Sebagai pewaris tahta mungkin kelak paduka perlu kiranya mengangkat diriku menjadi seorang maha patih di Istana Es"

"Nenek yang berada di seberang.Soal tahta dan Istana saya belum memikirkannya.Tapi bila kau berhasrat menjadi patih.Rasanya kau pantas memangku jabatan sebagai patih.Dan mengingat aku hanya seorang raja Gendeng kemungkinan kau layak menjadi patihnya orang gila". Ucapan Raja Ini tentunya mengundang gelak tawa bagi yang lain-lainnya. Sambil bersungut-sungut si nenek berujar.

"Menjadi patih orang gila Juga tidak mengapa paduka. Aku rasa Raja Gendeng patut berpasangan dengan patih gila. Hik hik hik."

"Aku menghargai usul itu. Tapi mengapa kau dan sahabatmu puteri Pemalu tidak mau datang kemari bergabung bersama kami,"

Tanya Raja .Puteri Permalu melangkah maju. Dengan malu-malu dan tutupi wajahnya dia membuka mulut,

"Paduka Raja.Kami bukannya tak ingin bergabung berbincang bersama yang lainnya.Tapi melihat rupa buruk dan tampang mengerikan yang kami miliki.Rasanya kami sangat malu bertatap muka dengan semuanya yang ada di situ.Bukankah begitu nek?"

Kata Puteri Pemalu sambil melirik pada Momok Laknat yang ada di sebelahnya

"Ya.Yang dikatakan gadis tak berkulit ini betul adanya paduka.Kami orang- orang buruk untuk sementara harus menyingkir sebentar lagi malam digantikan pagi.Sebelum semuanya jatuh pingsan melihat tampang buruk kami.Mohon dimaafkan bila kami harus berlalu dari sini."

ujar Momok Laknat.

Setelah berkata begitu si nenek dan Puteri Pemalu segera balikkan badan dan berkelebat pergi. "Hei...tunggu!" teriak Raja berusaha mencegah.

Tapi sia-sia saja dia berseru karena dua perempuan bertampang angker mengerikan itu telah lenyap di balik kegelapan. Raja garuk garuk kepala.Dia lalu berpaling pada Angin Pesut dan Dewi Harum

"Ah aku senang karena kalian tidak ikutan pergi. Saya berharap kalian berdua masih mau menunggu di sini sambil berjaga-jaga. Saya masih ada urusan di dalam."

"Jadi..pedang itu belum kau dapatkan paduka?" tanya Angin Pesut.

Raja menggeleng "Belum kek"

"Kau yakin pedang masih di dalam sana." tanya Dewi Harum dengan suara kaku. "Ya. Sahabatku Bocah Ontang Anting sedang berusaha mengambilnya."

Jawab pemuda itu.

"Kalau begitu lekas selesaikan urusanmu,kami akan berjaga-jaga di sini hingga matahari terbit." Ujar Angin Pesut dan Dewi Harum hampir bersamaan.

Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es anggukkan kepala. "Sekali lagi aku berterima kasih pada anda berdua."

kata Raja sambil melangkah memasuki ruangan gua

***** Merasa berhasil mendapatkan kotak berisi pedang Hyang Kelam bersama muridnya angkat kaki tinggalkan gua Empat Ruang Satu Pintu.

Mereka terus melesat ke arah timur menuju tempat yang tidak lain adalah sebuah bangunan tua yang biasa dijadikan tempat tinggal Hyang Kelam.

Bangunan itu terletak di ujung sebuah lembah, terlindung pepohonan menjulang tinggi di mana setiap cabangnya ditumbuhi akar-akar gantung menjuntai yang berfungsi sebagai akar nafas dari setiap pepohonan yang ada di situ.

Sesampainya di halaman bangunan batu beratap ijuk, Hyang Kelam yang saat Itu berjalan cepat dengan menampakkan ujudnya hentikan langkah. Dia menoleh ke belakang.

Dilihatnya sang murid telah berhasil menyusulnya.

"Tak ada tanda tanda ada orang yang mengikutimu kemari?"

Bertanya kakek angker bermata cekung seakan amblas ke dalam rongganya ini pada sang murid.

Gadis yang ditanya gelengkan kepala.

Snat itu malam sudah menjelang pagi.

Keadaan terang-terang tanah, sedangkan di timur semburat merah sebagai pertanda bakal munculnya sang fajar sudah mulai kelihatan.

Hyang Kelam menyeringai.

Kotak hitam panjang terus dikepitnya.

Sejurus kemudian dia menatap ke arah bangunan tua yang terdapat di depannya. Dia berpaling pada muridnya lalu memberi isyarat agar mengikutinya.

"Mengapa kita tidak kembali saja ke Tepi Jurang Putus Nyawa guru." berkata Untari sambil mengikuti Hyang Kelam. Adapun tempat yang disebutkan gadis berpakaian hijau bermantel hitam ini bukan lain adalah tempat tinggal tetap Hyang Kelam. Tempat itu terletak dalam sebuah gua di bawah tanah yang bagian atasnya merupakan hamparan pasir tak ubahnya seperti sebuah gurun.

"Hmm, kalau ada tempat tinggal yang paling dekat dengan bukit Induk, mengapa kita harus menempuh perjalanan jauh hingga berhari-hari menuju gua itu?"

Mendengar jawaban gurunya Untari pun diam. Setelah mendapatkan kotak berisi pedang dalam hati Untari berdoa agar gurunya yang bejad budi pekerti tidak melakukan sesuatu yang bisa mendatangkan petaka berupa aib seumur hidupnya.

Apalagi mengingat dalam beberapa kali pertemuan dengan gurunya Untari mulai mencium tanda-tanda gelagat tidak baik.

"Apa yang kau pikirkan?"

Tak terduga Hyang Kelam tiba-tiba mengajukan pertanyaan suaranya tak ubahnya seperti guntur di pagi buta di telinga Untari. Walau terkejut dara cantik ini berusaha berlaku tenang, Kemudian segera membuka mulut menjawab

"Tidak! Aku tidak sedang memikirkan apa-apa." Hyang Kelam tertawa dingin.

Kini dia dan muridnya telah sampai di depan pintu. Tanpa banyak cakap pintu di dorongnya.

Terdengar suara berderit, pintu terbuka.

Di balik pintu suasana gelap gulita menyambut kehadiran mereka. Melihat ini Untari berkata,

"Biarkan aku menyalakan pelita di dalam lebih dulu"

Gadis ini bergegas melewati gurunya masuk ke dalam ruangan mendahului.

Karena pernah beberapa kali diajak ke tempat ini tentu saja Untari tahu di bagian mana pelita terletak.Tak urung tengkuknya merinding saat gadis ini ingat dengan nama bangunan tua dan apa saja yang pernah terjadi di tempat itu

"Rumah Kawin Tiga Hari Pemecah Perawan Satu Malam," Batin Untari.

Nama itu membuat tengkuknya jadi merinding.Tapi segera menghalau segala pikiran buruk yang sempat hinggap di dalam kepalanya.

Maka diraihnya pelita yang tergeletak di atas meja batu bundar. Belum lagi sempat gadis ini menyalakan pelita.

Tiba-tiba dia mendengar suara benda diletakkan. Untari tertegun, jantungnya berdetak keras. "Guru engkaukah itu!"

Tanya gadis ini dengan suara bergetar. Tak ada jawaban.

Namun dia mendengar suara dengus nafas mengengah. Untari berjingkrak mundur.

Sementara sepasang mata jelalatan memperhatikan segenap penjuru ruangan yang gelap.

Belum lagi hilang rasa heran sekaligus kejut di hati gadis berpinggul indah ini tiba-tiba dia merasakan ada sepasang tangan kokoh memeluknya dari belakang.

Dipeluk sedemikian erat oleh tangan dingin kokoh namun dipenuhi keriput membuat Untari merasakan nyawanya lepas meninggalkan badan.

Diapun meronta.

Mulut bergetar berucap mengingatkan. "Guru apa yang kau lakukan?"

Terdengar dengus dan tawa terkekeh Hyang Kelam "Apakah kau lupa kita berada dimana?" Tanya Hyang Kelam.

Tanpa ampun jari tangannya yang ditumbuhi kuku-kuku bercabang menjuntai panjang itu merabai sekujur tubuh Untari.

Karuan saja Untari menjerit ketakutan.

Melihat muridnya melakukan perlawanan Hyang Kelam menjadi sangat marah.

Dia lebih marah lagi karena Untari berhasil meloloskan diri dari dekapannya

"Untari.Inikah baktimu pada seorang guru yang telah berjasa membesarkan dan mendidikmu?" Hardik Hyang Kelam.

Untari tidak bergeming.

Sebaliknya dia menyalakan tiga pelita yang terdapat dalam ruangan itu sehingga membuat kegelapan yang menyelimuti jadi terang benderang.

Dalam keadaan terang Untari melihat betapa gurunya menatap tajam dengan mata nyalang. Untari sadar gurunya tengah berada dalam cengkeraman keinginan terkutuknya.

"Maafkan aku guru. Bukannya aku tidak berbakti. Tapi aku ingin hidup wajar dan tak ingin hidupku berakhir sebagaimana yang dialami oleh lima saudari seperguruan- He he he!"

Hyang Kelam tertawa dingin.

"Apakah kau lupa setiap muridku harus memberikan bakti penuh kepadaku. Melayani segala kebutuhanku juga termasuk menyerahkan jiwa dan raganya padaku juga. Seluruh hidupmu hanya milikku. Menolak perintah sama saj dengan pembangkangan. Membangkang perintah guru berarti kematian baginya."

Untari menyeringai.

"Jika aku disuruh memilih, menerima kematian kuanggap sebagai pilihan terbaik daripada harus menjadi pelayan nafsu rendahmu guru."

Tegas Untari hingga membuat wajah angker yang cuma dibalut kulit tipis pembungkus tulang itu berubah menjadi kelam.

"Kau murid durhaka tak patuh pada perintah.Apa yang terjadi padamu.kau berdusta padaku.Aku tahu diam diam hatimu sebenarnya terpikat pada pemuda jahanam yang bernama Raja Itu.Bukankah demikian?"

kata Hyang Kelam sambil menatap lekat-lekat mata muridnya.

Untari menggeleng walau dalam hati tak membantah apa yang dituduhkan Hyang Kelam "Lagi-lagi kau berdusta.Kau ingat apa nama bangunan ini?"

Untuk yang kedua kali si kakek ulangi pertanyaan yang tak pernah dijawab muridnya. Untari mengigit bibir. Dia berpikir bila terpaksa dia akan mengadu jiwa dengan orang tua terkutuk itu.

"Jawab pertanyaanku!" Desak Hyang Kelam dengan suara menggembor.

"Rumah ini bernama Rumah Kawin Tiga Hari Pemecah Perawan Setu Hari."

Jawab Untari dengan perasaan marah dan muak. Hyang Kelam menyeringai. Dia menarik kursi, lalu duduk di kursi kayu menghadap meja di mana kotak hitam berisi pedang tergeletak di atasnya. Dengan sikap mengancam dia berujar.

"Lima saudari seperguruanmu, semuanya menunjukkan bakti, berserah diri menyerahkan raga kepadaku. Mereka rela menjadi pengantinku selama tiga hari dan menyerahkan kehormatannya padaku."

"Dan setelah Itu hidup mereka berakhir dengan membunuh diri." Sahut Untari marah. Hyang Kelam tertawa.

"Aku tidak membunuh mereka. Mereka sendiri yang memilih mati. Hal yang sama tidak akan terjadi padamu bila kau bersikap bijak tidak berlaku tolol seperti mereka."

"Guru menganggap mereka mengambil tindakan tolol. Sebenarnya mereka merasa tidak layak hidup lebih lama karena sudah kehilangan harga diri dan kehormatannya. dan mereka tidak bersalah,"

Sahut Untari. Dalam hati dia melanjutkan ucapannya.

"Kau cuma mahluk busuk bejat.Demi langit dan bumi aku bersumpah sampai kapan pun aku akan membalaskan kematian mereka."

"Jika kau menganggap aku yang bersalah.Mengapa kau berkata seperti itu.Kau sudah mengetahui sejak lama hati diri serta tubuhmu tak boleh diserahkan pada laki-laki manapun selain diriku.Tapi mungkin kau lelah hingga tidak mau menjadi pengantinku di pagi ini.Karena aku menyayangimu aku masih bisa memberimu maaf.Tapi sikap serta penolakanmu tak akan berlaku pada kali yang kedua"

Walau masih merasa terancam, namun sedikitnya Untari merasa lega. Dia masih punya kesempatan untuk melarikan diri dari gurunya.

Hanya Raja saja yang bisa menolongnya dari semua kemelut ini. Tapi bagaimana caranya bicara dengan Raja.

Mengingat dia murid Hyang Kelam.

Raja pasti menganggapnya sebagai musuh.

"Kau masih tidak suka dengan kemurahan yang kuberikan?" Tanya Hyang Kelam.

Suaranya serak memecah keheningan.

Melihat sang guru telah bersikap biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka Untari segera melangkah maju dan berdiri tegak sejarak tiga tombak di depan Hyang Kelam.

Mahluk alam roh bercelana selutut dan berpakaian selempang dari lempengan kulit pohon tersenyum. Dia menatap ke arah kotak dan berkata.

"Raja dari semua pedang telah berada di tanganku. Mendapatkan pedang ini membuatku merasa Jadi sepuluh tahun lebih muda.Kelak aku akan memberikan pedang ini padamu Untari!"

"Aku sudah punya kipas. Aku selalu menyukai senjata berupa kipas. Pedang Gila sedikitpun aku tidak ingin memilikinya. Lagi pula pedang itu bukan milik guru, tapi senjata pusaka Istana Pulau Es."

Mendengar ucapan Untari, wajah Hyang Kelam yang tertunduk terangkat ke atas. Dipandanginya gadis di depannya dengan perasaan heran.

"Kau tidak menyukai senjata curian. Sungguh diantara kita ada perbedaan besar layaknya bumi dengan langit."

Tukas Hyang Kelam. Untari terdiam. Suasana menjadi hening. Tapi keheningan tidak berlangsung lama. Sekejab kemudian Untari membuka mulut dengan keraguan. "Guru... apakah kau benar-benar yakin. Pedang Gila benar-benar berada di dalam kotak?"

Hyang Kelam terkejut.Dia menatap Untari dengan heran. "mengapa kau berkata begitu?" tanya si kakek tidak mengerti.

"Entahlah. Entahlah, aku hanya merasa heran.Bila kotak berisi pedang mengapa pemuda dan kakek itu tak melakukan pengejaran pada kita?"

Hyang Kelam seolah baru sadar yang dikatakan Untari kemungkinan benar. Secepat kilat dia bangkit berdiri.

Kotak di atas meja diraihnya. Penutup kotak berusaha dia buka.

Karena kesulitan bagian atas kotak kemudian dihancurkan .Penutup kotak hancur menjadi kepingan.

Hyang Kelam julurkan kepala, mata dipentang memandang ke bagian dalam kotak. Kosong!

Kotak yang berat itu ternyata kosong tidak berisi pedang melainkan berisi seperangkat pakaian dalam wanita dan selembar daun lontar.

Daun Itu ternyata berisi pesan.

Dengan penuh kemarahan Hyang Kelam sambar daun lontar dan segera membacanya.

"Kotak ini hanya bisa didapatkan oleh orang yang mempunyai pikiran busuk, jiwa sesat dan suke menginginkan benda yang bukan menjadi haknya.Cuma dia yang berhati keji, jiwa serakah kepala tegak baik yang di atas maupun kepala lainnya. Orang yang ciri-cirinya sesuai dengan yang disebutkan ini sangat dianjurkan untuk membunuh diri"

Tertanda wakil mahadiraja Gendeng Bocah Ontang Anting.

Selesai membaca pesan tersebut kemarahan Hyang Kelam meluap- luap. Tulisan itu benar-benar menghinanya. Dengan mata nyalang jelalatan dia menggeram.

"Kakek kerdil keparat. Ternyata dia yang telah mengelabuhi aku. Hmm, aku harus kembali ke bukit Induk mencari pedang sekaligus membuat perhitungan dengan dua manusia terkutuk itu."

Melihat gurunya murka, Untari menjadi heran. Tapi dia memilih berdiam diri. Hyang Kelam sendiri meremas hancur daun lontar di tangannya. Setelah Itu balikkan badan. Sambil berkelebat pergi

,dikejauhan dia berkata

"Jangan pergi kemana mana. Kau diam di situ. Aku akan kembali kesana untuk mengambil senjata yang tertinggal."

"Ini kesempatan bagiku" Untari tersenyum.

Sudah lama dia selalu berencana untuk melarikan diri.

Sang dara dekati kotak, dia tidak sempat membaca tulisan pada daun lontar karena telah dihancurkan gurunya.

Namun ketika dia melihat pakaian dalam teronggok di dalam kotak gadis ini pun tak kuasa menahan tawanya.

"Guru terkutuk. Dia merasa tersinggung kebejatannya diketahui orang lain." Pikir Untari terus tertawa.

*****

Bulan telah tergelincir jauh di ufuk langit sebelah barat. Sussana di pedataran bukit Induk terasa sunyi dingin mencucuk.

Tak ada lagi denting senjata atau jerit pekik mereka yang meregang nyoba.

Di dalam gua Empat Ruang Satu Pintu tempat di mana pedang Gila tersimpan.

Bocah Ontang Anting sedang berusaha mengambil pedang yang tersimpan di balik ruang tersembunyi dialtar ke dua.

Mula-mula kakek cebol pendek ini meminta rajawali putih raksasa bergeser dari tempatnya.

Karena rajawali itu terus saja berdiri di atas altar sulit bagi Bocah Onteng Anting untuk menggeser penutupnya. Tak mau bergeser dari tempatnya, mahluk langka Itu justru geleng-geleng kepala sambil keluarkan suara menguik keras.

"Apa yang salah atau mungkin ada yang kurang. paman wali?"

Bertanya si kakek selayaknya bicara dengan manusia biasa. Rajawali yang dikenal dengan nama Pelintas Samudera tak disangka-sangka malah anggukkan kepala.

"Oh begitu. Katakan apa yang kurang?" "Keaaak" Sekali lagi Pelintas Samudera keluarkan suara pekik nyaring.

Dua sayap dikembang dan ditutup, sementara kedua kaki berjingkrak-jingkrak dengan gerakan seperti orang menari.

Melihat Isyarat yang ditunjukkan oleh Pelintas Samudera, Bocah Onteng Anting tepuk keningnya lalu dari mulut menyembur tawa mengekeh.

Sambil tertawa-tawa Bocah Ini berucap.

"Ah maafkan aku paman. Puluhan tahun yang lalu aku pernah berjanji padamu kelak bila datang kemari aku akan memperagaken tarian padamu sebagai rasa terima kasihku karena kau telah menjaga Pedang Gila dengan sebaik-baiknya. Jadi kau masih ingat dan sekarang kau menagih Janji Itu?"

Kata Bocah Ontang Anting. Pelintas Samudera manggut-manggut mengiyakan. "Tapi.... tua bangka sepertiku mana bisa menari."

Dia menggaruk kepala sementara Sang Rajawali memperlihatkan sikap tidak suka mendengar ucapan Bocah Ontang Anting. Tak ingin mahluk besar itu menjadi murka. Dengan gerakan kaku terkesan seadanya mulailah Bocah Ontang Anting menari.

Pelintas Samudera tampak berjingkrak-Jingkrak kegirangan melihat gerakan tarian si kakek yang terkesan ngawur dan asal-asalan ini. Bocah Ontang Anting diam- diam tidak dapat menahan geli di hati. Rasa geli ditahan agar tidak meledak menjadi tawa membuat perutnya mulas. Tanpa ampun setiap kali dia menggerakkan tubuh dari bagian bawah perut terdengar suara pret bertalu-talu. Bocah Ontang Anting terhuyung seperti orang mabuk. Dia mabuk dari bau kentutnya sendiri. Merasa kelelahan orang tua ini jatuhkan diri terduduk di lantai dingin dengan nafas megap-megap.

"Sudah! Aku tak sanggup meneruskan menari. Aku lelah dan cuma itu tarian yang dapat kupersembahkan sebagai janjiku dulu."

Ucap Bocah Ontang Anting.

Sang Rajawall menganggukkan kepala. Mahluk itu nampak puas.

Setelah Itu disertai tatapan mata Bocah Ontang Anting sang rajawali mengeser tubuh melangkah menjauh meninggalkan altar ke dua yang selama ini dia jadikan sebagai tempat berpijak .Melihat rajawali bergeser Bocah Ontang Anting dengan langkah terbungkuk-bungkuk bergegas menuju altar.

Rangka pedang terbuat dari emas berukir naga dan rajawali segera dia letakkan di samping altar.

Sambil duduk berlutut di depan altar tangan segera dijulurkan ke sisi kiri altar di mana terdapat sebuah alat rahasia berupa tonjolan batu berwarna hitam.

Begitu alat diputar ke kiri satu kali, Bocah Ontang Anting memutarnya ke kanan juga sebanyak dua kali. Orang tua ini menunggu hingga terdengar suara riuh disertai dengan suara bergemuruh dan bergesernya bagian permukaan altar.

Permukaan altar terus bergeser ke sebelah kiri hingga kemudian berhenti diam.

Bocah Ontang Anting bangkit berdiri, melangkah maju dekati lubang kecil berukuran empat persegi yang dalam keadaan gelap gulita. Dalam pengawasan Pelintas Samudera, Bocah Ontang Anting rangkapkan dua tangan di depan dada. Setelah menjura hormat tiga kali. Dari mulutnya terdengar Ucapan,

"Yang bertuah hanya pedang keramat. Raja dari seluruh pedang yang ada di rimba persilatan. Aku si tua Bocah Ontang Anting, anak tunggal yang tak bersaudara datang menyambangi dan Ingin menjemputmu. Pewaris pedang yang paling berhak telah berada di tempat ini, ia tak lain adalah putera terakhir almarhum gusti prabu Sangga Langit dengan ibundanya ratu Purnama Sari. Wahai pedang keramat Pedang Gila. Izinkan aku mempertemukanmu dengan pendampingmu yang baru"

Setelah berkata begitu Bocah Ontang Anting menatap ke depan. Dia terkejut ketika tiba-tiba dari dalam lubang kecil yang gelap memancar cahaya terang benderang berwarna kuning berkilauan. Si kakek yang melihat cahaya keluar dari pedang pusaka yang hendak diambilnya segera julurkan tangan siap menggapai bagian hulu pedang.

Tapi sebelum hulu pedang tersentuh olehnya. Tiba- tiba dia merasakan ada satu tangan yang tidak terlihat menepis tangannya hingga membuat Bocah Ontang Anting memekik kaget dan membuatnya nyaris terbanting.Melihat itu Pelintas Samudera geleng-geleng kepala sambil keluarkan suara berisik.

Cepat Bocah Ontang Anting bangkit. Dia menatap tercengang mulut ternganga.

"Dulu ketika aku membawa dan menyimpannya ke sini tidak ada masalah. Mengapa sekarang Pedang Gila seperti membuat ulah?"

Batin Bocah Ontang Anting dalam hati.

Seakan mengerti apa yang baru saja dikatakan kakek itu. Dari dalam tempat penyimpanan pedang tiba-tiba terdengar suara membentak.

"Anak manusia yang tubuhnya tidak pernah besar sampai tua.Jangan suka menyalahkan pedang.Pedang ini tidak membuat ulah. Ketahuilah, kau sama sekali tidak menyebut siapa nama pemuda yang akan berdampingan dengan Pedang Gila.Kau cuma mengatakan nama ayah juga nama ibunya.Apa pemuda itu tidak punya nama atau sebutan yang mudah diingat?"

Kaget di hati kakek ini bukan main.

"Siapa yang blcara? Ataukah Pedang Gila yang baru saja bicara," Bertanya si kakek tak mengerti.

"Siapa yang bicara, siapa yang bertanya itu tidak menjadi soal.Kau punya mulut.maka kewajibanmu menjawab saja apa yang aku tanya!" "Kampret sialan. Mengapa aku dilarang bertanya? Kalau bukan karena sedang membantu paduka Raja Gendeng aku tak bakal sudi mengikuti larangan dedemit yang cuma terdengar suaranya saja."

Gerutu Bocah Ontang Anting dalam hati.

"Kurang ajar. Orang memintamu menerangkan siapa pemuda itu, kau malah mengumpat memaki diriku kampret sialan. Apa kau ingin aku merobek dadamu membongkar hatimu agar tidak lagi bicara sembunyi dalam hati?!"

Damprat suara yang datang dari balik cahaya dalam lubang tempat menyimpan senjata. Kejut dihati Bocah Ontang Anting tak terkira.

Sedikitpun dia tidak menyangka orang yang bicara dapat mengetahui isi hatinya. "Lekas katakan siapa nama pemuda itu dan dimana Orangnya?"

Lagi-lagi terdengar suara membentak tidak sabar. Bocah Ontang Anting mencoba menguasai diri.

Dia menghela nafas dalam-dalam sambil mengusap tengkuknya yang dingin.

Karena tidak ingin kesalahan bicara walau di lubuk hati masih memendam rasa kesal. Akhirnya kakek ini membuka mulut berucap.

"Pemuda itu bernama Raja. Gurunya biasa memanggilnya Raja Gendeng atau si Gendeng saja.

Tapi dia lebih dikenal dengan sebutan Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es."

Terang si kakek

"Hm, apakah dia murid kakek aneh manusia setengah dewa bernama KI Panaraan Jagad Biru?" Tanya suara itu.

"Betul. Dia juga murid seorang nenek sakti dari dasar laut pantai selatan."

Bocah Ontang Anting menambahkan. Sunyi sejenak. Tapi kesunyian tak berlangsung lama dan kakek itu dalam kegelisahan.

"Nenek yang kau maksudkan itu apakah perempuan muka mayat tapi setengah tuli yang punya mahluk piaraan berupa seekor naga putih?"

"Eh, bagaimana kau bisa tahu? Tapi yang kau katakan itu betul." Jawab Bocah Ontang Anting.

"Ternyata apa yang kau katakan tentang ciri-ciri pemuda itu sesuai dengan garis suratan nasib.

Pemuda itu nampaknya memang berjodoh dengan Pedang Gila..." Bocah Ontang Anting sambil senyum senyum cepat memotong.

"Ya, aku setuju.Orang gila pantasnya memang berpasangan dengan orang gendeng."

"Jangan suka menyela bila orang belum selesai bicara.Apa kau ingin aku menyumpal mulutmu hingga membuatmu tak mampu bicara seumur hidup atau kau ingin aku membuatmu sakit perut selama satu purnama?"

Tanya suara tak berujud Itu membuat Bocah Ontang Anting melengak kaget sambil mendekap mulut dan perutnya.

"Jangan! Aku mohon siapapun dirimu adanya jangan suka menyiksa orang lemah seperti aku.Dulu aku pernah dibuat sengsara oleh seseorang.Setelah disembuhkan masakan kau tega membuatku sengsara lagi?"

Kata si kakek dengan suara memelas .

Terdengar suara tawa terkekeh. Di tengah suara tawa dan ketakutan yang dialami Bocah Ontang Anting terdengar ucapan.

"Baik. Aku tidak menyakitimu tapi sekarang katakan di mana pemuda itu?"

"Oh ya aku lupa tadi aku belum sempat menjawab pertanyaanmu itu.Dia....dia sedang berada di luar.Dia sedang menghadapi orang-orang yang menginginkan pedang.Aku yakin sebentar lagi dia pasti kemari.Aku sendiri atas permintaannya terpaksa mewakili mengambil pedang."

"Hmm, begitu.Disaksikan langit bumi, disaksikan para dewa dan para arwah suci.Kami merestuimu, tapi apa kau mampu mengambilkan pedang Gila untuk kau berikan pada Raja Gendeng Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es?"

"He he he. Dulu atas restu almarhum prabu Sangga Langit dengan mudah aku bisa mengantar Pedang Gila kemari.Masakah sekarang aku tidak bisa?"

"Orang tua sombong. Tidak tahukah kau karena terlalu lama berada di tempat penyimpanan bisa saja Pedang menjadi linglung tak mengenali dirimu lagi. Ha ha ha!"

Kata suara tak berujud itu disertai tawa tergelak-gelak. Suara itu akhirnya lenyap.

Seiring dengan lenyapnya suara tak berujud maka cahaya yang memancar dari dalam ruang sempit tempat penyimpanan pedang ikut lenyap tak berbekas.

Bocah Ontang Anting menarik nafas lega.

Dia nenoleh menatap pada Pelintas Samudera.

Dilihatnya Rajawali terus memperhatikan dan mengawasinya. Orang tua ini bersikap acuh karena dia sangat mengenal Rajawali Itu.

Tanpa bicara Bocah Ontang Anting segera dekati ruang sempit empat persegi yang terletak di tengah altar.

Baru saja orang tua Ini hendak julurkan tangan ke dalam lubang. Sekonyong-konyong dari dasar lubang terdengar suara menderu.

Suara deru disertai hembusan angin dingin dan tebaran hawa panas luar biasa.

Bocah Ontang Anting terkesiap, mata yang belok memandang melotot tak percaya sedangkan hati bertanya gerangan apa yang terjadi.

Belum lagi dia mendapat jawaban atas pertanyaannya sendiri, dari dalam lubang rahasia tempat menyimpan pedang melesat keluar satu benda berwarna kuning keemasan. Benda itu berputar bergulung-gulung di udara disertai pijaran cahaya kemilau menyilaukan.

Tak lama setelah berputar di udara membuat gerakan aneh sedemikian rupa benda panjang yang memancarkan cahaya kemilau itu melayang ke bawah lalu Jatuh ke lantai.

Cahaya berkilauan lenyap, Bocah Ontang Anting menatap ke depan.

Dia menarik nafas lega ketika melihat benda yang menancap di lantai ruangan itu ternyata memang pedang Gila.

"Warna pedang tidak mengalami perubahan tetap berwarna kuning keemasan. Pedang itu sangat tipis, kedua sisinya tajam. Di pertengahan badan pedang menggelembung dikedua sisi yaitu sisi kiri dan sisi kanan. Dekat dengan bagian pangkal terdapat lekukan aneh seperti luk keris dan jumlahnya tidak lebih dari dua. Sedangkan tepat di tengah badan pedang terdapat sebuah cekungan panjang membentuk sebuah garis yang menghubungkan bagian ujung pedang hingga ke pangkalnya. Gagang berbentuk seorang pertapa memakai mahkota, terbuat dari batu pualam biru. Jelas yang kulihat ini adalah Pedang Gila. Pedang yang sama yang pernah kubawa dari Istana Pulau Es atas titah Prabu Sangga Langit. Tapi... tapi mengapa pedang sekarang banyak bertingkah berbuat ulah. Dia bersikap selayaknya manusia yang tidak mau kudekati apalagi kusentuh?"

Kata orang tua ini bimbang. bingung juga heran.

Dia berpikir keras.

Menatap ke sebelah kanan, pandangannya membentur sarung atau rangka pedang yang juga terbuat dari emas.

Rangka pedang kemudian diambilnya. Selintas akal muncul.

Bocah Ontang Anting tersenyum.

Sambil menyodorkan mulut rangka kearah pedang yang berdiri tegak.Si kakek dengan tegas berucap.

"Wahai Pedang Gila. Yang ada di tanganku ini adalah rangkamu sarung yang hangat bila kau berada didalamnya.Masuklah dalam rangkamu.Jangan terlalu lama berada di luar, kau bisa kedinginan dan masuk angin. Cepatlah tempati sarungmu karena aku tidak bisa menjamin apakah tempat ini sekarang sudah aman dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang selalu menginginkanmu"

Kata-kata Bocah Ontang Anting Ini tak ubahnya seperti orang yang sedang bicara dengan manusia biasa.

Tapi apa yang terjadi.

Pedang tetap tak beranjak dari tempatnya menancap.

Malah kini seolah mengejek orang tua itu sang pedang yang lentur meliuk, melenggang lenggok selayaknya orang yang menari. Penasaran, Bocah Ontang Anting datang mendekat sambil angsurkan rangka pedang ke arah senjata mustika itu.

Tuiing!

Pedang malah melenting berpindah tempat, lalu melompat turun naik tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang bermain-main.

"Edan! Benar-benar pedang Gila! Sama seperti pewarisnya paduka Raja Gendeng" menggerutu si kakek sambil geleng-geleng kepala.

Di luar tahu Bocah Ontang Anting. Raja telah berada di dalam ruangan itu. Ketika pertama kali masuk ke dalam ruangan Gua Empat Ruang Satu Pintu.

Pemuda Ini tertegun melihat Sang Pelintas Samudera telah bergeser jauh meninggalkan altar kedua.

Kemudian dia juga melihat pedang Gila yang telah keluar dari tempat penyimpanannya.

Raja menjadi heran saat mengetahui sang pedang ternyata dapat bergerak dengan sendirinya menghindar menjauh dari si kakek.

Setelah merasa puas memperhatikan.

Begitu mendengar suara gerutuan Bocah Ontang Anting, Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es ini segera mendekati dan menanggapi ucapan si kakek.

"Orang tua. Mengaku pernah membawa dan menyimpan pedang itu kemari atas perintah ayahanda almarhum gusti prabu Sangga Langit. Tak disangka kau sekarang mengalami kesulitan. Ha ha ha!"

Sadar siapa yang bicara. Bocah Ontang Anting cepat balikkan badan, cepat jatuhkan diri dan menjura ke arah pemuda itu.

"Paduka Raja Gendeng. Ampun.... beribu ampun. Pedang Gila ternyata sudah tak mengenalku lagi. Pedang itu sudah menjadi linglung. Sekarang aku menyerah dan semua urusan aku serahkan padamu!"

Kata si kakek. Dia bungkukkan tubuh tiga kali. Kemudian sarung pedang dia ulurkan untuk diserahkan pada Raja. Tanpa keraguan sedikitpun Raja segera menerimanya. Sambil menggenggam rangka pedang di tangan kanan Raja berkata.

"Kek... kau telah banyak membantu. Maka aku berterima kasih padamu. Ada pun sebab apa pedang Gila tak mau menghampirimu. Aku yakin karena kau jarang mandi, ketiakmu bau dan tubuhmu sudah bau tanah. Ha ha ha!"

Bocah Ontang Anting menggeram, tapi dia tidak marah.

Sebaliknya dia malah mencium ketiak sebelah kiri dan sebelah kanan. Setelah itu si kakek manggut-manggut.

"Kau tersenyum dan mengangguk sendiri, ada apa kek?" tanya Raja sementara diam-diam dalam hati dia berkata ditujukan pada pedang.

"Wahai Pedang Gila, raja dari seluruh raja pedang yang pernah ada di rimba persilatan.Aku adalah putera almarhum Prabu Sangga Langit. Sebagai pewaris tahta, jika kau memang berjodoh denganku maka jangan banyak tingkah.Sekarang Juga masuklah kau ke dalam rangkamu!"

Tidak seperti yang dialami Bocah Ontang Anting.

Begitu mendengar ucapan Raja walau cuma diucapkan dalam hati pedang itu tiba-tiba melambung ke atas, berputar beberapa kali di udara lalu meluncur deras memasuki rangkanya.

Semua apa yang terjadi ternyata luput dari penglihatan dan pendengaran Bocah Ontang Anting. Sementara itu si kakek dengan malu-malu menjawab pertanyaan Raja.

"Tidak... aku tidak apa-apa. Teryata kau benar ketiakku kanan kiri memang bau asem. Pantas pedang Gila tak mau mendekat padaku."

"Pedang itu sekarang telah masuk ke dalam rangkanya kek. Kau tak usah khawatir?" "Hah?"

Bocah Ontang Anting tersentak kaget. Seketika dia menoleh.

Menatap ke arah dimana pedang menancap sudah tidak ada lagi. Dia memutar kepala. Memandang ke arah rangka pedang yang tergenggam di tangan Raja.

Matanya jadi terbelalak

"Astaga.Pedang Gila...ternyata dia memang menghendaki dirimu yang menjemputnya.Dia tak mau padaku karena memang bukan aku pewarisnya."

Gumam si kakek dengan mulut ternganga.

"Ha ha ha! Pasti bukan karena itu kek. Saya yakin pedang ini tak suka dengan bau tubuhmu." Celetuk Raja disertai gelak tawa. Mata yang belok itu mendelik besar,

"Selain bau asem memangnya tubuhku ini bau apa?" Damprat Bocah Ontang Anting jengkel.

"Mm, kurasa bau bandot. Bandot yang sudah tua Ha ha ha!"

"Raja Gendeng sialan! Tapi. aku akui tubuhku memang sedikit bau kambing. Ha ha ha!"

Sahut orang itu. Seakan mengerti apa yang diucapkan orang Sang Pelintas Samudera juga memekik ribut sambil berjingkrak kegirangan. Tapi tawa mereka tak berlangsung lama.

Dari sebelah barat bukit Induk mendadak terdengar suara ledakan. Ruangan dalam gua mengalami guncangan hebat.

Ledakan menghancurkan dinding bukit hingga membentuk sebuah Lubang yang besar.

Dari balik lubang yang menganga terdengar suara deru dan suara mendamprat

"Orang-orang yang mau mampus. Tangguhkan semua tawa dan kegembiraan yang tidak perlu.Kalian mengira pesta darah telah berakhir? Segalanya masih berlanjut.Kalian harus menyerahkan Pedang Gila kepadaku bila tidak ingin menuai malapetaka?!"

Mendengar suara mengguntur di tengah suara deru angin yang menyerbu masuk ke dalam ruangan membuat Sang Pelintas Samudera jadi gelisah. Sementara itu Raja dan Bocah Ontang Anting sama menatap saling berpandangan.

"Ada orang yang datang!"

Kata si kakek melalui ilmu menyusupkan suara.

"Ya. Dan aku rasa-rasa mengenal pemilik suara iblis ini." Menyahuti Raja melalui ilmu menyusupkan suara pula.

*******

Berlari jauh meninggalkan pendataran bukit induk Maut Biru yang tengah mengalami cidera di bagian dalam akibat pukulan Puteri Pemalu akhirnya merasa perlu untuk melepas lelah.

Apalagi dalam pelariannya Maut Biru membawa serta majikannya yang tak lain adalah Kupu Kupu Putih yang aslinya bernama NI Ambar Sabanantang dan merupakan murid Penyihir Racun Utara.

Selama melarikan diri sambil memanggul Kupu Kupu Putih di bahu kanan.

Beberapa kali Maut Biru yang telah kehilangan saudara tuanya Maut Merah dan Maut Hijau sengaja mengambil jalan sulit.

Tindakan ini terpaksa dia lakukan karena khawatir ada musuh atau pihak-pihak tertentu yang mengamatinya.

Kini setelah cukup lama berlari, laki-laki yang sekujur tubuh serta rambutnya berwarna serba biru itu memperlambat larinya.

Di suatu tempat ketinggian tak jauh dari deretan pepohonan besar yang tertutup semak belukar Maut Biru hentikan langkah.

Sambil memegang tongkat hitam bernama Geger Gaib milik sang majikan di tangan kiri dia menatap ke belakang.

Sunyi.

Hanya suara desir angin pagi memecah kesunyian.

"Tidak ada yang mengikuti. Aku butuh istirahat untuk memulihkan cidera dalam akibat serangan mahluk jahanam tak berkulit. Baru setelah itu aku akan menolong Yang Mulia Gusti Ayu."

Membatin Maut Biru yang mempunyai jari tangan mirip dengan kepiting itu dalam hati. Sekali lagi dia layangkan pandang ke belakang.

Setelah yakin merasa aman dari pengejaran musuh-musuhnya.

Maut Biru memutuskan untuk mencari tempat beristirahat sementara waktu.

Setelah matanya jelalatan mencari kian kemari akhirnya dia menemukan sebuah tempat yang dia anggap cocok untuk memulihkan diri sekaligus bersembunyi dari penglihatan orang lain.

Yang dipilihnya adalah semak berdaun lebat berada tepat di belakang sebuah pohon besar yang sangat teduh yang mana bagian tanahnya tertutup timbunan dedaunan kering.

Maut Biru melangkah cepat menuju kesana. Setelah sampai di balik pohon terlindung semak.

Dia segera meletakkan tongkat Geger Gaib, tongkat yang menyimpan kekuatan sihir jahat yang selama berada di tangan Kupu Kupu Putih membuat dia dan dua saudaranya tidak berdaya. Setelah meletakkan tongkat Maut Biru bungkukkan badan lalu turunkan gadis cantik jelita berkulit putih yang berada di atas bahunya.

Maut Biru yang mempunyai nama asli Kajero segera menyentuh leher Kupu Kupu Putih. Batang leher sang dara terasa dingin, wajah cantiknya nampak pucat.

Namun walau detak jantungnya terasa lambat dan lemah. Maut Biru yakin sekali Kupu Kupu Putih masih hidup .Cidera berat yang dialami gadis itu akibat bentrok pukulan sakti dengan Momok Laknat membuat isi tubuhnya di sebelah dalam terguncang.

"Yang Mulia Gusti Ayu, aku akan berusaha menyembuhkan lukamu.Tapi sebelum itu dapat dilakukan rasanya aku harus memulihkan diri terlebih dahulu."

Kata Maut Biru seorang diri. Laki-laki Ini kemudian segera tempelkan kepala tongkat ke bagian kepala Kupu Kupu Putih.

Yang dia lakukan itu untuk berjaga-jaga dari segala sesuatu yang tak diinginkan.

Tidak berselang lams, Maut Biru segera duduk bersila. Dua tangan dia letakkan di atas lutut, sedangkan mata segera dia pejamkan.

Perlahan dia mulai menghimpun tenaga dalam sambil mengerahkan hawa murni yang bersumber dari bagian pusarnya.

Setelah tenaga dalam terkumpul, Maut Biru segera menyalurkannya kebagian dada, bahu, kepala juga kaki kirinya yang serasa beku .Tubuh laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun ini mula-mula bergetar.

Keringat mengucur deras membasahi tubuh telanjangnya.

Semakin lama Maut Biru mengerahkan tenaga dalam berhawa panas dari bagian ubun-ubunnya mengepulkan asap tipis berwarna merah.

Maut Biru terus bertahan, perutnya menjadi mual sedangkan dadanya terasa sesak seperti ada sesuatu yang mendesak hendak keluar. Tak tertahankan lagi, Maut Biru akhirnya semburkan muntah. Muntahnya tak lain adalah gumpalan darah merah yang membeku. Maut Biru terus saja muntahkan semua darah beku yang membuat sesak dadanya. Sampai kemudian muntahan darah tidak terjadi lagi.

Dia merasa lega, nafasnya kembali teratur tapi sekujur tubuh terasa lemas. Laki-laki ini mengambil bungkusan kecil yang tersembunyi di balik lipatan celananya yang berapa cawat yang dililitkan menutupi aurat. Dari lipatan pakaian sederhana dia mengeluarkan sebuah tabung kecil terbuat dari batang padi. Penutup tabung dibuka. Isinya berupa benda berbentuk bulat gepeng berwarna merah yang tak lain adalah pil penyembuh luka dalam sekaligus pemulih tenaga yang terkuras. Dua butir pil langsung dimasukkan kedalam mulut.

Perlahan seiring dengan peredaran darah yang mengalir lancar. Tubuh Maut Biru menjadi hangat.

Tapi seiring dengan menghangatnya tubuh dan sembuhnya luka parah yang dia alami.

Maut Biru merasa ada yang aneh terjadi dalam dirinya. Dia menatap ke depan. Dia melihat tubuh Kupu-Kupu Putih yang tergolek diam tidak berdaya. Darahnya jadi berdesir. Jantung berdetak lebih cepat. Dia ingat bertahun-tahun lamanya memendam dendam pada si gadis.Selama itu dia dan saudaranya dijadikan anjing penjaga karena tidak mampu melawan karena Kupu Kupu Putih mempunyai sihir hebat.

"Apakah aku harus menolong? Bukankah selama Ini aku terpaksa menjadi kaki tangannya? Dia tidak memperlakukan aku sebagai manusia tapi hanya sebagai anjing penjaga."

Pikir Maut Biru.

Dengan seksama sambil berpikir Maut Biru memperhatikan sosok gadis didepannya.

Dia menatap wajah yang cantik luar biasa itu, dia juga memandang ke arah dada membusung yang hanya terbalut gaun tipis berwarna hijau kelabu.

Dada yang putih dan sebagian menyembul dari belahan gaun tipis ketat. Membuat Maut Biru jadi belingsatan.

Maut Biru menelan ludah .Sekujur tubuhnya menggeletar. Dia menjadi lupa diri.

Hasrat begitu menggebu hingga membuatnya hilang kewaspadaan.

Maut Biru sama sekali tidak menyadari di tempat itu baru saja ada orang yang datang.

Orang yang sengaja menguntitnya sejak dari pendataran bukit Induk

"Anjing penjaga jahanam! Berani sekali kau hendak berbuat aib pada calon istriku!" Satu bentakan menggelegar merobek kesunyian.

Maut Biru terkesiap.

Dia tidak sempat melihat siapa yang datang.

Tahu-tahu semak belukar terkesingkap, sebuah kaki terbalut celana hitam terjulur.

Sambaran kaki disertai suara deru angin dingin. Maut Biru terkesima namun cepat jatuhkan diri ke samping begitu satu tendangan bertenaga dalam tinggi melesat siap menghantam remuk batok kepalanya.

Wuus! Buuk! Argk! Walau kepalanya lolos dari serangan, namun tendangan orang tetap menyambar bagian dada kiri membuat Maut Biru terpelanting terguling-guling sejauh tiga tombak sambil keluarkan jerit tertahan.

Sambil dekap dadanya yang serasa remuk terhuyung-huyung dia bangkit berdiri.

Begitu dapat berdiri tegak dia menatap ke depan. Di depannya tak jauh dari Kupu Kupu Putih yang masih tergeletak tak sadarkan diri dia melihat seorang laki laki tinggi berkulit hitam, berjubah hitam panjang juga memakai lkat kepala hitam berdiri tegak berkacak pinggang.

Laki-laki itu menatapnya dengan sorot mata dingin angker.

Tapi Maut Biru yang merasa kesenangannya terganggu sedikitpun tidak merasa gentar.

"Aku rasa-rasa mengenalmu Hmm... ya, aku ingat bukankah kau orangnya yang bergelar "Maha Iblis Dari Timur? Kau sahabat Penyihir Racun Utara guru Yang Mulia Gusti Ayu Kupu Kupu Putih,"

Kata Maut Biru ketus.

"Kalau sudah tahu mengapa kau tidak segera berlutut dan membunuh diri di hadapanku, wahai anjing penjaga?"

Kata laki-laki berambut panjang menjuntai itu marah.

Sampai saat Itu Maut Biru memang tak pernah mengetahui bahwa Penyihir Racun Utara sebenarnya telah tewas terbunuh di tangan Maha Iblis Dari Timur.

Kepalang tanggung, Maut Biru memilih menghadapi si Maha Iblis Dari Timur. "Aku harus berlutut padamu minta ampun?"

Maut Biru tersenyum mencibir. Belum lagi Maha Iblis segera menanggapi, dia segera melanjutkan ucapannya.

"Aku baru mendengar Kupu Kupu Putih hendak kau jadikan istri.Dia masih muda sedangkan kau pantas menjadi kakeknya. Apakah mungkin? Aku yakin kau berdusta, matamu menyimpan maksud jahat.Dan aku jadi curiga sebenarnya kau sendiri punya maksud buruk terhadapnya".

Mendengar ucapan Maut Biru, Maha Iblis yang terpaksa menyingkir dari pendataran bukit Induk akibat terluka oleh serangan Raja Gendeng menggeram.

Sambil mengepalkan tangannya dia berucap,

"Manusia anjing, pandai sekali kau menggonggong. Mulutmu penuh racun, lidah berbisa. Tapi aku tidak memungkiri segala apa yang kau tuduhkan padaku. Aku menyukai gadis itu. Aku ingin menjadikannya sebagai pengantinku walau cuma satu malam. Ha ha ha!"

"Keparat terkutuk, manusia culas. Apakah kau tidak malu dengan gurunya? Kau telah menghianati sebuah persahabatan!"

Teriak Maut Biru geram. Mendengar ucapan Maut Biru tawa Maha Iblis justru makin menggeledek.

Setelah puas mengumbar tawa,dengan suara dingin dia berkata.

"Tak ada cinta sejati dan tak ada pula persahabatan abadi. Kau dengar! Aku tak perlu merasa malu pada Penyihir Racun Utara karena sekarang dia telah berpindah tempat dari dunia ke alam baka, Ha ha ha!"  

Maut Biru tercengang.

Andai saja Kupu Kupu Putih mendengar semua pengakuan Maha Iblis tentu dia sangat berduka. "Apa yang terjadi? Kau membunuh nenek tua itu?" tanya Maut Biru sambil menatap ke arah Maha

Iblis dengan tidak berkedip. Diluar dugaan Maha Ibils anggukkan kepala.

"Benar.Aku telah membunuh gurunya Kupu Kupu Putih.Dengan tewasnya Penyihir Racun Utara.Bukankah berarti gadis jelita rupawan ini sudah selayaknya menjadi istriku?!"

Tanya Maha Iblis sementara matanya melirik kearah kupu kupu putih.

Maha iblis menelan ludah. Jantung berdebar sedangkan darah mengalir deras ke sekujur tubuh. "Aku harus cepat-cepat menghabisi anjing satu itu. Begitu dia tak lagi menjadi penghalang.

Dengan leluasa aku bisa bersenang-senang dengan perawan jelita ini." Membatin Maha Iblis dalam hati.

Maut Biru sadar Maha Iblis Dari Timur sangat ditakuti juga disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Dia mempunyai ilmu kesaktian tingkat tinggi.

Bahkan Kupu Kupu Putih pernah mengatakan Maha Iblis mempunyai mata ke tiga.

Mata yang terletak di tengah kening dan selalu tertutup ikat kepala warna hitam itu tidak hanya sanggup memancarkan cahaya yang dapat memusnahkan lawan.

Tapi dari mata itu juga dapat mengeluarkan mahluk alam gaib berupa pasukan berujud manusia kera dalam jumlah besar dan masing-masing mempunyai kesaktian hebat.

Pasukan alam gaib itu pula yang pernah dipergunakan untuk menyerbu Istana Pulau Es. Ketika melihat Maha Iblis sedang memperhatikan Kupu Kupu Putih maka Maut Biru segera mengerahkan tenaga dalam ke tangan dan kakinya.

Begitu dua tangan dan kaki memancarkan cahaya biru terang.

Dia melompat ke arah Maha Iblis melepaskan dua pukulan sekaligus lancarkan tendangan menggeledek ke bagian pinggang.Empat cahaya biru terang berkiblat dari tangan dan kaki Maut Biru.

Dua serangan yang berasal dari tangan menghantam dada dan kepala Maha Iblis sedangkan dua serangan lain yang berasal dari kakinya menghantam pinggang dan membabat kedua kakinya.

Hawa panas menyengat menyambar tanpa suara deru.

Maha Iblis tercekat.Sama sekali dia tak menyangka dia akan mendapat serangan seperti itu. "Pengecut sialan!"

Maha Iblis keluarkan suara menggembor marah. Dia tidak tinggal diam.

Sadar serangan lawan sangat mematikan, dia memutar tubuh. Sambil berputar rambutnya yang tergerai dikibaskan, sementara ujung jubah hitam dia kebutkan menghalau serangan ganas Maut Biru.

Segulung angin dingin menderu dahsyat dari ujung jubah.

Sementara ratusan helai rambut Maha Iblis yang panjang sepinggang berubah kaku seperti kawat baja menghantam sekaligus mencari sasaran di bagian dada Maut Biru.

Empat cahaya yang berkiblat dari tangan dan kaki Maut Biru akhirnya bentrok di udara dengan deru angin yang menyambar dari ujung jubah Maha iblis.

Terjadi dentuman dahsyat menggelegar.

Empat cahaya biru meledak hancur menjadi kepingan cahaya tak ubahnya seperti kembang api. Maut Biru terguncang.

Tubuhnya yang masih mengapung terpelanting ke belakang hingga membuatnya jatuh terguling-guling.

Maut Biru masih beruntung, walau benturan keras membuat sekujur tubuhnya seperti remuk. Tapi serangan ratusan ujung rambut lawan tidak satupun yang melukai tubuhnya.

Sambil bangkit berdiri Maut Biru alirkan tenaga dalam ke bagian tangan.

Kaki kiri ditarik ke belakang, sedangkan tangan dipentang begitu rupa siap menghantam dengan pukulan sakti Sang Maut Menjemput Nyawa .

Melihat ini Maha iblis Dari Timur menyeringai sambil melangkah maju dengan suara sinis dia berkata,

"Apa yang terjadi denganmu? Kau kehilangan nyali untuk menyerangku lagi?"

Maut Biru diam tidak menanggapi. Sikap yang ditunjukkan Maut Biru membuat Maha Iblis menjadi kalap

"Manusia jahanam! Sekarang bersiap-siaplah kau untuk mampus!" Teriak Maha Iblis.

Sambil berteriak dia melesat ke depan.

Dua tangannya yang berubah berwarna hitam pekat mengepulkan asap tipis menebar bau busuk berkelebat siap menghantam dada dan menjebol perut Maut Biru.

Laki-laki berkulit biru terkesiap melihat serangan. Namun Maut Biru telah bertekat ingin menjajaki sampai di mana kehebatan Maha Iblis yang tersohor Itu. Maut Biru sama sekali tidak mengetahui bahwa Maha iblis menyerangnya dengan salah satu pukulan paling dahsyat yang dikenal dengan nama Sang Iblis Murka Bumi Menjerit.

Selama malang melintang di rimba persilatan jarang sekali ada yang dapat meloloskan diri dari ilmu pukulannya itu.

Melihat Maut Biru menyambuti jotosan keras yang siap mendera dada serta yang mengarah ke bagian perut, Maha Iblis keluarkan suara menggembor dan senyum dingin. Bentrok antara dua pasang tangan terjadi membuat keduanya terjajar.

Maut Biru merasakan tangan kirinya seperti terbakar di atas kobaran api sedangkan tangan kanan berubah menghitam kaku dan tak dapat lagi digerakkan.

Sementara Maha Iblis Dari Timur sempat tergontai. Jari-jari tangan serta bagian tangan yang terkepal seakan meleleh dan panas bukan main.

Sambil mengernyit menahan denyut dadanya yang sakit.

Laki-laki itu segera menghimpun hawa sakti dan alirkan kesekujur tubuh.

Tidak lama rasa sakit yang dia rasakan lenyap, tubuhnya menjadi segar kembali. Maha Iblis Dari Timur menatap ke depan.

Dia melihat wajah lawan yang biru berubah kehitaman pertanda racun yang mengenai tubuhnya telah menjalar kemana-mana.

Melihat ini Maha Iblis Dari Timur kembali tertawa mengekeh.

"Racun pukulan Sang Iblis Murka Bumi Menjerit nampaknya telah merayapi seluruh pembuluh darah di tubuhmu! Sebentar lagi jantungmu akan hangus dan kau tewas dengan tubuh meleleh! Ha ha ha!"

Sadar apa yang dikatakan lawan memang ada benarnya.

Maut Biru akhirnya bertindak nekad

"Kalau aku mati, maka kaupun harus ikut mampus agar menemaniku di neraka!" Teriak Maut Biru.

Belum lagi suara teriakannya lenyap, secepat kilat menyambar Maut Biru berkelebat. Tahu-tahu telah berada di depan hidung Maha iblis.

Tangan bergerak menyambar menghantam dagu dan perut lawan.

Serangan yang dilakukan Maut Biru adalah serangan paling ganas yang dikenal dengan nama Sang Maut Menjemput Saling Bersusulan.

Serangan lawan demikian ganas Maha Iblis berusaha menghindar dengan berkelit ke samping.

Tapi dua tangan dan kaki lawan terus mengejarnya kemanapun "Anjing keparat! Sudah mau mampus ternyata masih berbahaya juga!" Teriak laki-laki itu.

Dia hantamkan sikunya ke samping hingga terjadi bentrok yang membuat bagian siku menggembung bengkak.

Sementara Maut Biru dengan ganas masih sempat susupkan jemari tangan siap menghunjam ke bagian leher Mahs Iblis.

Tak punya pillihan lain demi menyelamatkan leher dari serangan lawan dia terpaksa kibaskan rambutnya ke arah Maut Biru.

Melihat serangan ratusan rambut yang berubah kaku seperti kawat, Maut Biru ternyata tak mengendorkan serangannya.

Sekali tangan diputar, rambut lawan kena dicengkeram dijambak sedemikian rupa hingga kepala Maha Iblis tersentak ke belakang.

Selagi Maut Biru siap memutar untaian rambut lawan dengan maksud membanting tubuhnya. Maha Iblis bertindak nekat.

Dengan kaki ditekuk dan tubuh setengah menelentang dua tangan berkelebat dikibaskan ke belakang.

Des! Des!

Ratusan rambut panjang berputusan.

Namun Maha Iblis Dari Timur mampu menyarangkan pukulan ganasnya ke bagian dada Maut Biru.

Tanpa ampun cekalan Maut Biru pada rambut awan terlepas, tubuhnya terpental sejauh lima tombak dan dia jatuh terkapar dengan mulut semburkan darah sementara di bagian dada terdapat sepuluh bekas jemari tangan menghitam.

Dada Maut Biru hangus gosong.

Dia meregang ajal dengan mata mendelik.

Maha Iblis menyeringai melihat lawannya tewas.

Dia kemudian meludah sedangkan dari mulut terdengar ucapan.

"Manusia keparat! Ternyata kau bukan lawan mudah bagiku.Gara-gara perbuatanmu jadi rusak rambutku!"

Maha Iblis kemudian menyisir rambut panjangnya yang awut-awutan dengan jemari tangan. Dia merasa puas dapat menghabisi Maut Biru.

Ingat pada Kupu Kupu Putih Itu Maha Iblis Dari Timur segera memutar tubuh dan berjalan cepat menuju ke arah di mana dara cantik tergeletak tak sadarkan diri.

Tetapi ketika sampai di tempat yang dituju.

Kejut dihati laki-laki bukan main melihat Kupu Kupu Putih hilang lenyap dari tempatnya terbaring.

Seakan gadis itu menghilang di telan buml.

"Keparat terkutuk! Bagaimana bisa terjadi seperti ini!" Teriak Maha Iblis marah.

Jelalatan mata laki-laki itu memperhatikan sekitarnya.

Dua tangan terkepal, rahang menggembung dan keluarkan suara bergemeletukkan. Dia tidak yakin Kupu Kupu Putih bisa menghilang secepat itu.

Apalagi sang dara menderita luka dalam dan dalam keadaan pingsan.

"Pasti ada yang menolong.Pasti ada seseorang yang menyelamatkan.Tapi siapa?" Batinnya dalam hati. Penasaran dia pun mengobrak-abrik kawasan hutan yang ditumbuhi semak belukar itu. Tetap saja dia tidak menemukan gadis yang dicari.

"Siapapun yang telah menolongnya. Aku bersumpah bakal menghabisinya!"

Geram Maha Iblis Dari Timur dengan nafas mengengah dibuncah amarah yang bergelora. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Kupu Kupu Putih?

Ketika Maha lblis Dari Timur muncul di tempat itu .Sebenarnya dara cantik itu mulai sadarkan diri. Dia pura-pura tidak sadar, mata terpejam, namun telinga tetap dipasang.

Sampai kemudian dia mendengar pengakuan dari mulut Maha Iblis tentang pembunuhan yang dia lakukan pada Penyihir Racun Utara yang tak lain adalah guru Kupu Kupu Putih.

Gadis ini menjadi sangat marah.

"Iblis licik dan culas. Tak kusangka dia tega menghabisi Sobo Guru yang selama ini telah memberikan banyak bantuan terhadapnya. Aku bersumpah kelak akan menuntut balas atas kematian guruku."

Batin Kupu Kupu Putih.

Dan kebenciannya pada Maha Iblis makin menggunung begitu mendengar laki-laki hendak menjadikannya pengantin satu malam.

Dalam keadaan diri tidak berdaya.

Segala kemarahan harus dia redam.Sampai kemudian dia melihat ada kesempatan untuk meloloskan diri.

Kesempatan itu datang di saat Maut Biru dan Maha Iblis terlibat perkelahian sengit. Merasa aman dari pengawasan Maut Biru maupun Maha Iblis.

Dengan bersusah payah dan dengan pakaian yang masih tidak karuan Kupu Kupu Putih bangkit. Sambil meraih tongkatnya dia menyelinap pergi mencari selamat.

Setelah cukup jauh meninggalkan semak belukar di balik pepohonan besar.

Kupu Kupu Putih merasa sekujur tubuhnya semakin lemah, pandangan berkunang-kunang sedangkan kepala berdenyut sakit. Sebelum akhirya tidak sadarkan diri.

Sayup-sayup Kupu Kupu Putih mendengar ada suara orang tertawa mengikik disusul dengan ucapan.

"Weleh... nenek Momok Laknat. Musuhmu ternyata sudah gentayangan sampai kemari. Apa yang terjadi dengannya. Pakaiannya tak karuan. Agaknya ada seseorang hendak berbuat cabul padanya. Aku malu melihatnya. Tapi apa yang kita lakukan? Membunuhnya atau menelanjangi tubuhnya? Hi hi hi"

"Apa? Jangan dibunuh. Aku melihat luka dalamnya belum sembuh. Aku mendengar suara orang berkelahi di balik pohon itu. Aku yakin yang berkelahi sama-sama menginginkan tubuhnya yang molek. Bagusnya kita bawa saja menjauh dari tempat Ini. Kita sembuhkan. Setelah sembuh kita bunuh. Hik hik hik!"

Sahut orang ke dua.

Dengan kondisi tubuh yang makin melemah Kupu Kupu Putih mencoba memperhatikan siapa yang datang.Yang muncul ternyata seorang nenek berpakaian hitam berwajah seangker setan.

Dua mata cuma berupa dua rongga menganga hitam, hidung hanya berupa rongga besar tembus ke rongga mulut.

Dan sekujur tubuhnya dipenuhi bekas luka seperti dicacah.

Sedangkan orang ke dua tak lain adalah seorang wanita sekujur tubuhnya berwarna merah darah memperlihatkan untaian daging tanpa kulit, berkepala botak seperti tengkorak dengan dua mata menjuntai keluar seperti mau tanggal.

Kupu Kupu Putih tentu saja mengenal dua orang ini yang tak lain adalah nenek bernama Momok Laknat dan gadis bernama Puteri Pemalu, Merekalah yang berkelahi dengannya.

Puteri Pemalu membunuh Maut Merah Dan Maut Hijau serta mencederai Maut Biru. Sedangkan Momok Laknat yang telah membuatnya mengalami cidera hebat.

Untuk lebih jelas baca episode Pesta Darah Di Pantai Utara.

Melihat kehadiran musuh-musuhnya ciut hati Kupu Kupu Putih dibuatnya. Dia cepat berkata memohon.

"Jangan Jangan bunuh aku. Tolong... selamatkan aku dari dua laki-laki jahanam yang hendak menodaiku itu."

"Hik hik hik! Perempuan berpakaian mesum. Dandananmu mengundang selera lelaki, tapi mengapa takut diperkosa?"

Dengus Momok Laknat. "Bukankah tu enak, Hi hi hi!"

Timpal Puteri Pemalu pula sambil ketawa.

"Kumohon. Tolong aku. Aku bersedia melakukan apa saja bila kalian mau menolongku," Kata Kupu Kupu Putih meratap. Momok Laknat menatap ke arah Puteri Pemalu. "Bagaimana menurutmu?"

Tanya si nenek pada sahabat pendampingnya.

"Hmm, baiklah kita bawa saja. Kita tolong dia, lalu kita sembuhkan. Setelah sembuh aku punya pekerjaan untuknya sebagai balas budi yang kita berikan." ujar Puteri Pemalu. Walau sempat ragu. Namun ketika melihat Kupu Kupu Putih tidak sadarkan diri lagi Momok Laknat segera menyambar tubuh si gadis.

"Cepat kita minggat dari sini. Aku tak mau dua kunyuk jantan yang sedang berkelahi itu melihat kita. Aku takut mereka menyerang kita dengan pedang tumpul! Hik hik hik!" "Pedang tumpul apaan nek?" tanya Puteri Pemalu.

"Dasar bodoh. Pedang tumpul termasuk pedang gila juga! Hik hik hik!"

Berkata begitu sambil memanggul Kupu Kupu Putih di bahu kirinya Momok Laknat berkelebat

.Puteri Pemalu segera mengikuti.

Di tengah jalan dia jadi tertawa begitu mengetahui maksud ucapan Momok Laknat. "Dasar tua bangka edan. Sudah bau tanah masih ingat dengan pedeng gila.Hi hi hi!"

******

Kembali pada Raja dan Bocah Ontang Anting yang masih berada di dalam gua Empat Ruang Satu Pintu.

Seperti diketahui ketika terjadi ledakan besar yang menghantam dinding bukit Induk yang dibarengi jebolnya dinding gua.

Sang Maha Sakti Dari istana Pulau Es baru saja mendapatkan Pedang Gila milik almarhum prabu Sangga Langit.

Pemuda ini diam-diam mempererat cekalannya pada rangka pedang. Saat itu suara menderu menerobos masuk menyerbu ke arahnya.

Raja melompat mundur sekaligus lepaskan pukulan Cakar Sakti Rajawali menyambuti kedatangan lawan.

Lima cahaya menggidikan membersit keluar dari setiap ujung jemari pemuda ini. Tak ubahnya seperti sambaran ganas kuku rajawali.

Kelima cahaya menghantam deru angin yang disertai suara ancaman dan gelak tawa. wuut!

wutt! Glar! Glar!

Sambaran lima cahaya berhasil membuat buyar sambaran angin ganas yang siap menggulung Raja dan Bocah Ontang Anting.

Tapi begitu ledakan terjadi di balik deru angin melesat satu bayangan ke arah Raja. Melihat Ini Bocah Ontang Anting tidak tinggal diam.

Dia tahu orang yang baru datang siap hendak merampas pedang di tangan Raja. Secepat kilat dia melompat menghadang sambil hantamkan dua tangan ke depan. Wuus!

Segulung angin disertai berkiblatnya cahaya kelabu menghantam ke depan. Hawa panas luar biasa menghampar.

Tapi yang diserang ini malah mendengus sambil lambungkan tubuh lebih tinggi. Pukulan Bocah Ontang Anting menyambar sejengkal di bawah kaki orang itu.

Pukulan terus menderu hingga membentur dinding gua di depannya disertai ledakan dahsyat. Celakanya.

Lolos dari serangan si bocah, lawan ternyata memutar tubuhnya ke bawah.

Tangan kiri dengan kuku-kuku panjang bercabang menghantam menyambar bahu Bocah Ontang Anting hingga membuat si kakek jatuh terpelanting.

Orang tua itu megap-megap.

Pakaian dan bahunya robek, darah mengucur.

Sambil mendekap luka dan berusaha menyembuhkannya.

Dia hanya bisa menatap ke arah Raja dengan mata terbelalak saat lawan menyerbu ke arah pemuda itu.

Mendapat serangan yang berlangsung cepat sedemikian rupa.

Ternyata Raja masih bisa berlaku tenang sambil berusaha memutar tubuh, kaki bergerak lincah seperti orang menari.

Ketika lawan menghantam kepala sambil berusaha merebut pedang di tangan kirinya. Tangan cepat menyusup ke bagian perut.

"Jurus tangan Dewa Menggusur Gunung!" teriak Raja menyebut nama jurus serangannya. Slep!

Des!

Serangan cepat yang datang dengan tidak terduga ini tenyata tak sempat dihindari oleh lawannya.

Dengan telak telapak tangan Raja menghantam perut lawan hingga membuatnya terjengkang terguling-guling.

Lawan segera bangkit berdiri. Raja tersenyum.

Sama seperti Bocah Ontang Anting dia segera menatap ke depan.

Keningnya berkerut, mata dipentang lebar ketika mengenali siapa orang yang menyerangnya. Tak kalah sengit yang dipandang balas menatap.

Tapi Raja bersikap acuh.

Malah sambil tersenyum dia berkata.

"Jadi yang datang hanya seorang penyusup. Kini kau datang sendiri. Dimana muridmu? Mengapa kau datang lagi, bukankah kau telah mendapatkan kotak tempat menyimpan Pedang Gila?" Kakek muka jerangkong berpakaian selempang seperti kulit kayu bercelana selutut berkuku panjang bercabang-cabang seperti akar kayu menggeram. Dia memandang Raja dan Bocah Ontang Anting silih berganti. Dengan suara menggeledek dia membentak.

"Pemuda gila! Kau dan sahabatmu telah bertindak keterlaluan. Kotak Itu jelas tidak berisi pedang yang kucari. Isinya sebuah pesan gila dan seperangkat pakaian dalam, Siapa pun yang telah meletakkan pakaian wanita dalam kotak serta pesan di dalamnya. Dia layak mampus sekarang juga!"

Mendengar penjelasan si kakek jerangkong. Raja tak kuasa menahan tawanya.

Berbeda dengan Bocah Ontang Anting yang merasa telah mengelabui orang dengan perbuatan isengnya.

Kakek ini diam-diam tidak merasa tenang.

Apalagi dia sudah merasakan kehebatan Ilmu kesaktian yang dimiliki oleh Hyang Kelam. Tidak mengherankan sambil menyembuhkan luka menganga di bahunya.

Bocah Ontang Anting beringsut menjauh sambil berjaga-jaga dari segala kemungkinan. Sementara itu Raja hentikan tawanya.

Sekali melirik pada sahabatnya dia segera tahu pasti Bocah Ontang Anting yang telah berlaku jahil dengan meletakkan pakaian dan benda-benda di dalam kotak.

Walau demikian dia tetap berkata.

"Mahluk alam roh bertubuh seperti tengkorak dan batang pohon. Aku tidak merasa telah meletakkan benda atau sepotong tulisanpun dalam kotak yang kau bawa lari. Kalaupun itu dilakukan oleh sahabatku. Maka kukira semuanya wajar. Temanku mungkin tahu kau suka dengan pakaian dalam wanita. Jadi apa salahnya bila temanku Bocah Ontang Anting memberimu tanda kenang- kenangan?"

Hyang Kelam keluarkan suara seperti kerbau disembelih. Matanya yang cekung menjorok ke dalam rongga mendelik besar. Tubuhnya yang hanya berupa kulit pembalut tulang bergetar hebat pertanda kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun .Selagi Hyang Kelam diamuk amarah. Bocah Ontang Anting dengan agak ragu-ragu membuka mulut.

"Hyang Kelam, Mahluk jelek sedunia. Aku tahu siapa kau, aku juga tahu bagaimana kebiasaanmu.

Bukankah kau orang yang kesasar bejad budi pekerti. Terang terang aku tidak bisa memberimu hadiah seorang wanita. Jadi kalau aku cuma mampu menghadiahimu pakaian dalam. Seharusnya kau tidak marah seperti ini. Sebaliknya kau harus berterima kasih ke padaku karena aku masih menghargai selera rendahmu!"

"Ha ha ha! Sebagai seorang Raja walau cuma Raja Gendeng aku memberi dukungan pada kakek sahabatku. Kau sudah menerima hadiah, lalu mengapa kembali lagi?"

Tanya Raja dengan mulut dipencong sementara mata kiri sengaja dikedipkan. Saking marahnya Hyang Kelam hentakkan kakinya ke lantal gua.

Kaki kakek renta in ­ amblas hingga sebetis.Ruangan gua bergetar seperti dilanda gempa.

Sementara rajawali putih yang mengawasi keluarkan pekikan sebagai pertanda ketidaksukaannya atas kehadiran Hyang Kelam. Setelah menarik lepas kaki yang amblas dengan mata berkilat dia membentak.

"Dua manusia gua. Pandai sekali kalian bergurau. Ketahulah, aku datang kembali yang pertama adalah untuk mengambil pedang pusaka itu. Sedangkan yang ke dua aku ingin mencabut nyawa busuk kalian berdua!"

"Ah aku takut. Tapi kuperingatkan jangan coba-coba menyerangku karena aku bisa memanahmu!"

Ancam Bocah Ontang Anting.

Si kakek bangkit berdiri lalu mengambil busur dan anak panah. Melihat ini Raja memberi isyarat agar Bocah Ontang Anting mundur.

"Sial. Aku hendak membantu dia malah melarang." gerutu si bocah dalam hati. Raja tersenyum.

Tanpa menghiraukan sahabatnya kini dia berbalik menghadap ke arah Hyang Kelam. Dengan bersungguh-sungguh pemuda ini kembali berucap.

"Mahluk alam arwah apakah otakmu sudah terbalik.senjata ini bukan milikmu.Akulah yang paling berhak mewarisi pedang ini karena pedang gila adalah milk ayahku!"

"Tak perduli senjata itu milik setan aku tetap akan mengambilnya! Jadi serahkan Pedang Gila kepadaku secara baik-baik atau aku akan mengambilnya secara paksa!"

Ancam Hyang Kelam habis kesabarannya. Tak perduli kemarahan orang sambil terkekeh Raja menjawab.

"Kau begitu bersemangat. Apakah kau sanggup mengambil pedang ini dari tanganku?" Tanya Raja.

"Dia pasti tidak bisa paduka Raja Gendeng. Aku yakin kebisaannya cuma merampas kehormatan murid-muridnya. Ha ha ha!"

Celah Bocah Ontang Anting hingga membuat Hyang Kelam jadi naik pitam. "Dua manusia tolol dan sombong. Rasakan segala akibat kebodohan kalian!" Teriak Hyang Kelam.

Sekali dia mengangkat tangannya.

Maka dua ujung kuku bercabang seperti akar itu melesat ke arah Bocah Ontang Anting.

Celakanya lima kuku jari bercabang-cabang itu kemudian berubah menjadi akar, bergerak memanjang sedemikian rupa lalu menggulung tubuh Bocah Ontang Anting laksana ular piton yang membelit mangsa. Kakek kerdil segera jatuhkan diri hindari libatan akar-akar yang mencoba meringkusnya.

Tetapi walau tubuh sebelah atas berhasil lolos, namun pergelangan kakinya masih kena dilibat salah satu akar yang berasal dari jari kelingking.

Selagi si kakek berusaha membebaskan kaki dari libatan. Hyang Kelam angkat tangan kirinya.

Lalu dengan kecepatan luar biasa tangan diputar.

Dengan demikian Bocah Ontang Anting terpelanting berputar tak karuan mengikuti gerakan tangan Hyang Kelam

"Kurang ajar! Kalau begini aku bisa muntah!" maki si bocah lalu cepat hantamkan pukulan sakti ke bagian akar yang melibat kakinya.

Wush! Dher!

Hyang Kelam menggeram.

Sambaran cahaya biru laksana mata pedang yang memancar dari telapak tangan Bocah Ontang Anting tak mampu membabat putus akar yang melibat kakinya.

Malah apa yang dia lakukan membuat Hyang Kelam bertambah murka. Dengan cara aneh tangannya terjulur lebih panjang.

Hingga Bocah Ontang Anting terkesima ketika sadar tubuhnya yang diputar sebat kini hampir bersentuhan dengan dinding gua.

Selagi rasa cemas dan keheranan menyelimuti diri kakek ini. Hyang Kelam menyentakkan tangannya ke atas.

Kemudian dari atas tangan dihentakkan ke bawah. Tanpa ampun Bocah Ontang Anting terbanting.

Si kakek menjerit keras.

Kepala yang terbentur lantai seperti remuk, sedangkan punggungnya laksana berpatahan. Bocah Ontang Anting terkulai tak berdaya sambil muntahkan darah.

Hyang Kelam menarik tangannya. Tangan itu kembali berubah pendek.

Begitu juga dengan akar yang muncul di setiap ujung kukunya ikut menjadi pendek.

Dan apa yang dialami oleh Bocah Ontang Anting sebenarnya tidak luput dari perhatian Raja. Tapi ketika dia hendak bergerak ingin memberikan bantuan pada sahabatnya.

Hyang Kelam membentak.

"Kau hendak kemana? Aku sudah punya rencana tersendiri untuk mempercepat kematianmu!

Terimalah!"

Berkata begitu Hyang Kelam julurkan tangan kanannya ke arah Raja. Sama seperti yang dialami sahabatnya.

Begitu tangan Hyang Kelam terjulur memanjang.

Dari setiap kuku jarinya yang berubah menjadi akar merambat hidup.

Akar-akar aneh yang bercabang-cabang itu langsung menyerang leher dan berusaha melibatnya juga berusaha menggelung dua tangan dan kaki Raja.

Pemuda ini terkesima.

Tapi segera lambungkan diri ke udara.

Tak disangka akar-akar itu terus mengejar kemana pun dirinya bergerak.

Dengan kecepatan gerak yang sangat luar biasa, Raja berjumpalitan tiga kali lalu jejakkan kaki di atas gundukan batu tinggi di ujung gua.

Ketika melihat akar-akar menyambar ke arahnya.

Berturut-turut dia melepaskan pukulan Seribu Jejak Kematian dan Cakra Halilintar .Untuk diketahui, pukulan sakti Seribu Jejak Kematian adalah warisan gurunya Ki Panaraan Jagad Biru.

Sedangkan Cakra Halilintar adalah warisan nenek Nini Balang Kudu .Menggunakan salah satu ilmu pukulan sakti itu saja akibatnya sudah sangat mengerikan.

Apa lagi ketika Raja menggunakan dua pukulan sakti sekaligus.

Dari telapak tangan kiri sang pendekar mencuat cahaya hitam bergulung susul menyusul. Sedangkan dari telapak tangan kanan menyambar lidah api raksasa dengan panas luar biasa.

Suara menggemuruh ditingkahi deru dan hawa panas tak tertahankan.

Bocah Ontang Anting dengan bersusah payah terpaksa merangkak bersembunyi di balik batu Sedangkan Pelintas Samudera terpaksa kepakkan sayap besarnya untuk lindungi diri dari sengatan hawa panas yang datang tindih menindih.

Di depan Raja, Hyang Kelam sempat terkesiap.

Melihat dua serangan lawan dia segera melindungi diri dengan tabir biru.

Tak ada pilihan, tangan yang tadi dipergunakan untuk menyerang kini terpaksa dia putar membentuk perisai pelindung diri.

Sepasang tangan Hyang Kelam memijarkan cahaya biru.

Cahaya itu seperti tameng raksasa yang terus bergerak ke depan menyongsong sambuti serangan lawan.

Bum! Buum!

Dua kekuatan dahsyat beradu keras menimbulkan suara ledakan berdentum. Raja terjajar, Hyang Kelam jatuh terpelanting.

Bukit Induk mengalami guncangan laksana dilanda selaksa gempa, sebagian ruangan gua runtuh. Hyang Kelam mengalami cidera berat. Belum lagi sempat mahluk alam roh ini bangkit.

Reruntuhan langit-langit gua menimpa menimbuni tubuhnya. Hyang Kelam menjerit setinggi langit.

Raja mendongak ke atas dan melihat bagian langit-langit gua yang lain siap hendak runtuh. Pemuda ini tercengang namun cepat ambil tindakan.

Sambil berseru ditujukan pada sang rajawali.

Dia berlari menyambar tubuh Bocah Ontang Anting. "Paman Wali cepat keluar. Gua ini mau runtuh!"

Teriakan tersebut di sambut dengan pekikan Sang Rajawali.

Makhluk raksasa Ini ternyata jauh lebih tahu adanya bahaya yang mengancam. Sekali dia mengepakkan sayapnya tubuhnya melesat seperti anak panah. Kibasan sayap menimbulkan suara menderu. Begitu sebagian gua runtuh mahluk inipun telah berhasil meloloskan diri dari lubang besar di lereng bukit. Untuk beberapa saat lamanya rajawali berputar-putar mengelilingi bagian atas puncak bukit. Mata tajamnya liar mencari-cari saat melihat Raja berhasil lolos dari ruangan gua yang runtuh sambil memanggul Bocah Ontang Anting. Sang Rajawali yang dikenal dengan nama Pelintas Samudera menukik ke bawah lalu bergerak merendah untuk selanjutnya hinggap tak Jauh dari tempat dimana Raja dan Bocah Ontang Anting berada.

"Paman wali! Syukurlah kita semua selamat."

Ujar Raja dengan nafas tersengal. Pelintas Samudera keluarkan pekikan nyaring sambil anggukkan kepala. Raja tersenyum, tapi kemudian perhatiannya tertuju pada Bocah Ontang Anting?

"Bagaimana keadaanmu kek?" Bertanya Raja dengan perasaan cemas.

"Seperti yang kau lihat.Aku sedang duduk bersila, berusaha menyembuhkan luka dalam akibat bantingan mahluk aneh dari alam roh itu.Tapi aku tidak apa-apa. Sebentar lagi pasti pulih, apalagi kalau aku bisa membuang angin.Pasti segalanya menjadi beres."

Jawab Bocah Ontang Anting tanpa senyum.

"Ah kau ada-ada saja. Sebagian tugas telah selesai. Semua ini atas bantuanmu juga bantuan paman wali". ujar Raja.

"Ya. Tugasmu selanjutnya adalah mencarikan jodoh untukku. Bukankah begitu?" Sindir si kakek mengingatkan.

"Itu tidak sulit."

Sahut Raja lagi. Sementara itu matanya mencari kian kemari.

"Pedang sudah ada ditanganmu. Matamu jelalatan seperti maling kesiangan. Apa yang kau cari?" Tanya Bocah Onteng Anting.

"Tidak kek. Anu..tadi sebelum memasuki gua aku meninggalkan dua orang yang ikut membantu kita. Mereka memilih menunggu di luar sini."

Terang Raja. Mata si kakek dibuka sedikit, dari celah mata dia mengintai sekaligus bertanya. "Siapa orang itu ?"

"Yang satu seorang kakek bernama Angin Pesut. Dia mempunyai gelar sebutan Dewa Saru Saru.

Sedangkan temannya gadis berpedang kayu bertubuh harum. "

"Tunggu."

Bocah Ontang Anting cepat memotong. "Ada apa? Kau mengenal mereka?"

Tanya Raja sambil menatap kakek itu. Yang ditanya manggut-manggut sekaligus menjawab. "Tentu. Aku mengenal mereka. Gadis yang kau maksudkan Dewi Harum atau lebih dikenal dengan

sebutan Puteri Pedang Harum. Dan Angin Pesut memang sahabatnya. Kakek besar berbobot lebih delapan ratus kati itu biasanya lebih suka mendekam di Bukit Cincin atau Batu Kutuk, Ah, mereka semua orang baik." puji Bocah Ontang Anting takjub.

"Mereka orang yang baik. Agaknya pergi diam-diam. Tapi apakah kau mau kujodohkan dengan Dewi Harum kek?" tanya Raja tampak bersungguh-sungguh. Bocah Ontang Anting tersipu.

"Ah kau sudah gila apa? Dia pantas menjadi cucuku". jawab si kakek malu malu. "Namanya jodoh siapa tahu kek."

"Kau mungkin gendeng betulan tapi aku belum gila. Kalau sudah jodoh dan memang terpaksa aku mau saja berjodoh dengan gadis secantik dia. Jangankan dengan dia. Dengan nenek-nenek peot yang sudah keriput asal masih ada nafasnya aku pasti mau, Raja."

Kata orang tua itu.

Mendengar itu Raja tersenyum.

"Kau sudah mau.Dia mungkin juga mau" gumam Raja.

"Ya. Dia pasti mau denganku. Dia mau...mau muntah. Ha ha ha!"

Dengus Bocah Ontang Anting, disertai tawa berderai, Raja pun tak kuasa menahan tawa. Mereka tertawa terkekeh-kekeh sambung menyambung seperti selayaknya dua orang yang kehilangan kewarasannya.

TAMAT