Raja Gendeng Eps 03 : Pesta Darah Di Pantai Utara

 
Eps 03 : Pesta Darah Di Pantai Utara


Sehari setelah badai topan raksasa yang melanda kawasan Pulau Es mereda.

Di sebuah daerah perbukitan yang bentuknya aneh melingkar seperti cincin dan dikenal dengan nama bukit Cincin Setan atau Bukit Cincin Batu Kutuk muncul seorang gadis jelita berpakaian serba ungu.

Gadis itu membekal sebuah pedang berwarna kecoklatan terbuat dari kayu Harum.

Selain senjata yang menebarkan bau harum semerbak tubuh sang darah cantik ini juga menebarkan aroma harum sepanjang waktu.

Sesaat setelah jejakkan kaki di sisi luar lingkaran bukit yang porak poranda. Si gadis jelita segera melangkah lebar menuju ke pintu gerbang utama.

Itu satu-satunya jalan keluar masuk bagi setiap orang yang berada dan menetap di bagian dalam bukit. Si gadis makin mempercepat langkahnya begitu sadar pintu gerbang utama terbuat dari lempengan baja yang selalu dikobari api sepanjang waktu itu telah mengalami kerusakan.

Lempengan baja setinggi lima tombak berlubang besar meninggalkan sisa lelehan beku. Sementara kobaran api abadi yang biasanya menyelimuti seluruh bagian gerbang itu padam meninggalkan sisa jelaga dan warna hitam pada setiap sudutnya.

"Celaka! Ternyata telah terjadi kekacauan besar di tempat ini. Siapa orangnya yang sanggup menjebol membuat leleh lempengan baja gerbang dan memadamkan api abadi perlindungannya?"

Desis sang dara tercengang, mulut ternganga namun otak cepat berpikir membaca setiap kemungkinan.

"Aku datang terlambat. Angin topan celaka yang mengamuk beberapa hari membuat perjalananku ke sini terpaksa harus ditunda."

Sang dara pentang telinga mencoba mendengarkan setiap suara sekecil apapun dari balik benteng pintu utama yang bolong besar. Tidak ada suara, tidak ada orang menyanyi atau suara orang-orang berteriak melontarkan sumpah serapah. Dara ini tambah penasaran. Dia kemudian mendekati lubang besar selebar dua kali ukuran tubuhnya. Dari lubang besar dia menatap ke bagian dalam lingkaran bukit. Untuk kedua kalinya dara cantik berpakaian ungu berambut panjang digelung ini belalakkan mata. Di bagian dalam lingkaran bukit yang biasa dipergunakan untuk mengurung sekaligus menawan orang-orang yang sering disebutnya dengan julukan "Kejahatan Dunia Persilatan" sunyi lengang ditinggalkan penghuninya. Puluhan tonggak besi berikut rantai-rantai belenggu yang dipergunakan untuk membelenggu para tawanan dalam keadaan kosong. Gadis itu menjadi cemas. Dia berdiri tegak, nafasnya berdengus, dada yang membusung kencang terbalut pakaian ungu tipis bergerak turun naik tak teratur. Setelah menatap sekilas pada gembok besar yang membelintang di depan pintu gerbang. Tanpa menunggu si gadis segera acungkan telunjuk tangan kanannya ke gembok di depannya.

Cess!!

Gembok besar yang tak mudah leleh walau terbakar terus menerus selama bertahun-tahun Itu kini mencair seperti gumpalan es terkena panas ketiika tersengat cahaya putih berkilau yang membersit dari ujung jari sang dara. Sesaat setelah lelehan gembok luruh ditanah batu. Dengan menggunakan kaki kiri pintu gerbang ditendangnya hingga terkuak lebar. Sang dara menyerbu masuk. Dua tangan diam-diam dialiri tenaga dalam siap menghadapi setiap kemungkinan yang tidak diinginkan. Sesampai di dalam, seperti yang dilihatnya melalui lubang menganga di pintu gerbang.

Ruangan dalam lingkaran bukit ternyata memang kosong. Sementara di setiap sudut dia melihat belasan tubuh dan orang-orang kepercayaannya terbujur kaku dengan tubuh menghitam gosong

"Siapa orangnya yang telah menolong dan membebaskan para tawanan itu? Jika bukan dilakukan oleh manusia yang memiliki kepandaian luar biasa tinggi dan mengetahui rahasia ilmu tangkalan yang kuterapkan di sekeliling Bukit Cincin Batu Kutuk. Mustahil ada orang sanggup menembus masuk ke bagian dalam bukit sekaligus membebaskan para orang jahat keji yang berada dalam penahananku!"

Pikir sang dara sambil kepalkan tangannya. Rasa penasaran, kegeraman bercampur aduk menjadi satu.

Dia hampiri salah satu mayat penjaga yang berada di depannya. Dengan tubuh membungkuk mayat laki-laki itu dibalikkan.

Setelah mayat terlentang si gadis memperhatikan keadaan mayat. Mula-mula bagian wajah yang menjadi perhatiannya.

Setelah itu beralih ke bagian dada, tangan juga kaki mayat penjaga. Kening dara cantik ini berkerut. Diam-diam dia merasa kaget saat sadar penjaga itu tewas akibat serangan racun sangat kuat yang ditebarkan lewat udara.

"Kurasa ini adalah perbuatan paling keji yang pernah kusaksikan sepanjang hidup. Rasanya aku belum pernah melihat jenis racun sehebat ini. Kurang ajar! Siapapun pelaku yang telah membunuh penjaga dan membebaskan manusia-manusia liar tawananku. Orang itu pasti punya maksud tertentu dan niat busuk ingin menggunakan para tawananku untuk melakukan sebuah kejahatan besar yang mengerikan. Semua ini tak boleh terjadi. Aku harus mencegahnya."

Tegas sang dara.

Dengan hati galau pikiran kacau tak menentu si gadis memeriksa semua pengikut setia yang berkaparan dimana-mana.

Ternyata para penjaga yang jumlahnya tak kurang dari dua puluh orang semuanya menemui ajal.

Malah beberapa diantaranya dalam keadaan sangat mengenaskan tewas hangus dengan tubuh meleleh.

Ada pula yang isi perutnya membusai keluar.

Malah dua diantara mereka bagian tubuh di sebelah dada terbelah.

Isi dada berupa paru-paru remuk menghitam dan jantung hilang raib entah kemana. Menyaksikan semua kekejian itu sekujur tubuh sang dara menggigil bergetar. Kemarahan membakar hati memuncak hingga ke ubun-ubun. Dalam kegeraman yang tak terlukiskan dengan kata-kata, sang dara menggerung .

"Mahluk jahanam mana yang sangat tega menghabisi para penjaga dengan cara sekeji ini? Apa mungkin para terhukum "Kejahatan Dunia Persilatan" Yang melakukan nya?"

Mengingat para tawanan yang dia jebloskan dalam kerangkeng Bukit Cincin Batu Kutuk memang terdiri dari para penjahat rimba persilatan yang tidak lagi memiliki hati nurani, tak punya sisi kebaikan dan dapat dikatakan sebagal mahluk buas berujud manusia.

Tapi para penjahat rimba persilatan tak mungkin bisa lolos dari Gelang Rantai Bumi yang membelenggu dua tangan dan dua kaki mereka tanpa adanya pertolongan yang datang dari pihak luar.

Lagi pula setiap tiang pancang serta belenggu Rantai Bumi semuanya telah dialiri mantra ajian

Jerat Jiwa. Seseorang yang kaki tangannya telah dibelenggu dengan Rantai Bumi.

Walau memiliki ilmu kesaktian setinggi apapun tak mungkin sanggup menghancurkan rantai yang mencencang anggota tubuh mereka.

Penasaran gadis ini angkat tangannya ke atas.

Mulut berkemak-kemik, telapak tangan yang terkembang digerakkan dari kiri ke kanan dengan gerakan seperti mengusap permukaan kaca raksasa.

Kosong!

Tidak ada benturan atau kilatan cahaya yang menyambar dari lingkaran atas di sekeliling bukit.

Berarti perisai gaib yang dibuatnya telah dihancurkan orang. Dia yakin hanya manusia atau mahluk berkepandaian tinggi luar biasa yang mampu melakukannya.

Sang dara berpikir keras memutar otak.

Tiba-tiba dia ingat dengan seseorang yang paling bertanggung jawab dan diserahi tugas untuk mengawasi tempat itu.

Si gadis memutar tubuh, lalu bergegas menuju ke sebelah selatan lingkaran bukit. Sambil melangkah dia berseru.

"Angin Pesut dimana gerangan dirimu berada? Kau harus bertanggung jawab atas semua prahara yang telah terjadi di tempat ini!"

Si gadis menunggu. Sunyi!

Tak terdengar jawaban.

Penasaran sang dara segera memasuki legukan tebing bukit yang menjorok ke dalam membentuk liang bundar menjorok dalam mirip sebuah gua.

Dalam ruangan yang gelap dara cantik ini tak menjumpai orang yang dia cari kecuali hanya sebuah tempat ketiduran luas dengan ukuran panjang luar biasa terbuat dari jerami dilapisi kulit.

"Kemana dia pergi! Tak mungkin dia berani meninggalkan tugas tanpa seizinku. Apa yang telah terjadi dengan Angin Pesut?!"

Membatin sang dara di dalam hati. Dia terus mencari, matanya yang bening bundar memikat dan indah itu berputar menatap setiap bagian ruangan dengan teliti. Si gadis tiba tiba menggerutu sambil tepuk keningnya tiga kali.

"Bodohnya aku. Angin Pesut bukan sejenis kutu busuk, kutu keledai atau sebangsa kecoak kecil yang bisa menyembunyikan diri di setiap celah. Dia manusia yang memiliki tubuh luar biasa besar. Bobotnya saja delapan ratus kati. Mustahil dia bisa menyembunyikan tubuh sebesar itu dengan menyelinap di setiap celah. Kuakui dia mempunyai ilmu aneh yang bisa menjadikan tubuhnya membesar dan mengecil. Namun merubah diri hingga menjadi sebesar kutu tak bakal dia bisa lakukan! Apa yang telah terjadi dengannya?" Sang dara terdiam, kembali berpikir namun justru menimbulkan kebimbangan di lubuk hatinya. Selagi dilanda keraguan.

Tiba-tiba saja diluar cekungan tebing Bukit Batu Kutuk terdengar suara menderu keras luar biasa tak ubahnya seperti luapan air bah yang menerjang jebol sebuah bendungan raksasa.

Sang dara terkesiap kaget, namun segera berkelebat keluar meninggalkan gua besar itu.

Begitu jejakkan kaki di lingkaran bukit yang luas, segulung angin luar biasa dahsyat yang datang dari atas menyambar tubuhnya.

Si gadis memekik kaget.

Dia jatuh terkapar dengan pinggul terlebih dulu terhempas ke tanah.

Dalam kagetnya karena tak mengetahui apa yang terjadi dan juga gerangan apa yang datang.

Dara ini menatap ke langit sambil lindungi matanya dari debu, pasir dan bebatuan yang berpentalan ke segala penjuru.

Gadis ini terkesima, mata yang terlindung jemari tangan mendelik begitu melihat di- ketinggian sana ada sosok mahluk besar luar biasa berbulu putih terbang melintas di atas Bukit Batu Kutuk.

Walau pandangan mata sang dara agak terhalang oleh kepulan debu bercampur taburan pasir pekat.

Namun dari gerak sosok raksasa diatas sana dia mengetahui bahwa mahluk yang merentang sayap tak lain adalah seekor burung besar jenis rajawali raksasa.

Wuus! "Keaaak!"

Rajawali besar berbulu putih kibaskan sayapnya tiga kali berturut-turut.

Batu-batu bercampur gumpalan pasir menghambur bercampur gumpalan debu.

Pandangan mata sang dara menjadi gelap terhalang gumpalan. Selagi sang dara berusaha keras lindungi diri juga matanya dari segala kemungkinan buruk yang tidak diinginkan.

Dari atas ketinggian terdengar suara menderu seperti benda berat jatuh dari langit mendekat ke tanah.

Dikejauhan terdengar suara pekik sang burung raksasa. Kreaak!

Suara pekikan lenyap.

Suara deru angin mengerikan yang ditimbulkan oleh kepakan sayap perlahan berangsur mereda. Si gadis berusaha bangkit.

Namun belum sempat dara ini berdiri tegak. Tiba-tiba saja....

Bruuk!

Satu sosok tubuh jatuh terbanting tak jauh disamping sebelah kanannya. Sang dara cantik tercengang kaget namun cepat balikkan tubuh dan menatap ke depan.

Saat dia mengetahui sosok yang baru jatuh di depannya adalah sosok tinggi besar, berwajah polos licin tanpa kumis dan bertelanjang dada dan bercelana hitam sebatas lutut sang dara memekik histeris menyebut nama laki-laki tinggi besar luar biasa yang terkapar tak bergerak sekitar satu tombak di depannya.

"Angin Pesut.?1"

Teriak sang dara sambil bergegas datang menghampiri.

****

Gadis cantik jelita berpakaian ungu ketat duduk bersimpuh di samping sosok tinggi gemuk besar luar biasa.

Mula-mula dia perhatikan keadaan sosok dengan bobot tak kurang dari delapan ratus kati itu. Sepasang alisnya terangkat begitu mengetahui sosok tinggi.

Kulit tubuhnya mulai dari wajah, dada dan kaki tampak lebih hitam, lebih pucat.

Pertanda laki-laki berusia delapan puluh tahun yang memang memiliki warna kulit dua rupa yaitu hitam gelap separoh tubuh sebelah kanan dan putih separoh tubuh sebelah kiri tengah menderita keracunan.

Tidak menunggu lebih lama gadis ini dekatkan jari- jarinya di depan dua lubang hidung. Ada hembusan udara hangat keluar menerpa jemarinya yang mungil lentik.

Ini merupakan pertanda si gemuk besar luar biasa masih hidup, masih bernafas walau tarikan nafasnya lemah dan jantung berdetak melambat

"Aku harus menolongnya! Dia menderita keracunan.Terlambat sedikit nyawa si gendut bisa amblas terbang minggat ke alam baka."

Batin sang dara.

Cepat sekali jemari tangannya bergerak.

Dia melakukan dua totokan di dada kiri dan dada kanan.

Setelah itu totokan juga dilakukan dibagian tengah dada diantara paru-paru, jantung dan lambung.

Tindakan penyelamatan yang dilakukan sang dara ternyata masih belum cukup.

Dia pun lalu memiringkan tubuh laki-laki raksasa yang biasa dipanggilnya Angin Pesut namun lebih dikenal dengan sebutan Dewa Saru Saru.

Setelah tubuh Angin Pesut rebah dalam posisi miring.

Diam-diam sang dara kerahkan tenaga sakti dan hawa murni pada tangan kanannya.

Jemari tangan hingga ke pergelangan tampak memancarkan cahaya putih menyilaukan namun sejuk. Telapak tangan kemudian diusapkan kebagian pangkal leher, punggung dan berhenti di bagian pinggul.

Selesai mengusap bagian belakang tubuh.

Angin Pesut yang rebah miring kembali ditelentangkan. Dua totokan kembali dilakukan sang dara.

Satu di pangkal leher samping sebelah kiri dan satunya lagi di pangkal leher sebelah kanan. Totokan yang menghubungkan antara bagian otak dan jantung ternyata mempercepat kesadaran

Angin Pesut.

Mula-mula terdengar suara mengorok panjang seperti suara kerbau tidur mendengkur. Setelah itu mata berkedap-kedip, kaki dan tangan berkelejat-kelejat.Angin Pesut mengerang. "Waduuh, mulas perutku"

Teriaknya sambil tekab perutnya yang besar bundar. Rasa mulas diikuti dengan rasa sakit.

Tak terduga sama sekali. Bes!

Buut! Buut!

Angin Pesut keluarkan suara kentut bertalu-talu.

Dara cantik ini memaki panjang pendek dan buru-buru melompat ke belakang menghindari bau busuk menyengat.

Ketika sang dara pandangi tubuh sebelah bawah yang hanya terbungkus celana hitam besar selutut itu.

Dia tercengang.

Tubuh di bagian bawah Angin Pesut diselubungi kepulan asap kuning pekat menebar bau busuk luar biasa menyengat melebihi bau busuk bangkai manusia.

Kepulan asap membubung bergulung-gulung membentuk ulir aneh dan segera meletup setelah berada di atas ketinggian.

"Asap racun aneh. Aku belum pernah melihat ada racun sehebat itu. Tapi dia beruntung dan aku tak terlambat menolong."

Membatin sang dara lega walau di lubuk hati memendam kekesalan. Masih berdiri ditempatnya sang dara mendengar Angin Pesut mengerang.

Tubuh bergetar keras sedangkan setiap pori-pori mengeluarkan keringat sebesar kutu babi kekenyangan.

Angin Pesut bangkit, mata setengah terpejam.

Sebelum laki-laki ini dapat duduk kepalanya terasa seperti dipalu. Pada saat itu pula perutnya bergolak hebat. "Hueek..hueek!"

Dari mulut laki-laki raksasa ini menghambur cairan berwarna kuning kehijauan. "Keluarkan semua isi perutmu, kakak"

Kata sang dara yang biasa memanggil kakek delapan puluh tahun itu dengan sebutan 'kakak' sementara dia sendiri telah bersimpuh di samping Angin Pesut.

Sambil memijiti tengkuk si kakek yang besar tebal berpunuk.

Sang dara cantik salurkan tenaga dalam dan hawa sakti ke leher Angin Pesut. Tak lama kemudian si kakek gemuk besar merasakan kepalanya menjadi enteng.

Perut yang mual menjadi sejuk dan dadanya yang terasa sesak lebih nyaman dan longgar. Angin Pesut cepat duduk bersila.

Dua tangan ditopangkan di atas lutut.

Perlahan dia menyalurkan tenaga dalam kesekujur tubuhnya. Hanya dengan beberapa kali tarikan nafas.

Aliran darah menjadi lancar. Angin Pesut berseru gembira.

"Sudah bisa lagi. Ha ha ha. Semua perabotan di tubuhku kembali berfungsi normal. Walah, jagad dewa bathara! Terima kasih kupanjatkan padamu. Aku bisa selamat dan engkau beri aku umur yang panjang."

Kata kakek berambut putih gimbal ini sambil tertawa senang.

"Angin Pesut, kakak angkatku. Dewa memang memberi umur panjang padamu, tapi aku yang telah nenolong menyembuhkan dirimu dari keracunan. Lihatlah! Tubuh sebelah kananmu yang hitam kini telah kembali ke bentuk semula. Demikian juga dengan separoh tubuhmu yang putih kini nampak lebih putih."

Ujar sang dara cantik lalu buru- buru jauhkan tangannya dari tengkuk berpunuk Angin Pesut. Seolah baru menyadari dirinya tidak sendirian.

Angin Pesut hentikan tawa dan membuka matanya.

Dia melengak kaget sekaligus terkejut begitu melihat di depannya berdiri tegak gadis cantik berkulit putih yang sangat dia kenal.

Melihat sang dara menatapnya dengan mendelik sambil berkacak pinggang.

Tak disangka-sangka kakek yang dikenal mempunyai segudang ilmu sakti dan dapat merubah diri menjadi bayang-bayang atau mahluk apa saja yang membuatnya dijuluki Dewa Saru Saru karena kepandaiannya dalam menyaru atau bersalin rupa ini jatuhkan diri berlutut sambil umbar tangis menggerung.

"Dewi Harum adik angkatku, maafkan diriku karena telah bertindak lalai dalam menjalankan tugas yang diberikan pada diri tua bangka ini. Maafkan pula karena tawanan terlepas."

Jelas Angin Pesut sambil memukul- mukul kepalanya sendiri. Walau kemarahan di hati dara jelita bernama Dewi Harum itu menggelegak menyekat rongga dadanya. Tapi melihat si kakek menangis dan unjukkan sikap penyesalan. Dewi Harum cepat-cepat berucap.

"Kakak Angin Pesut saudara angkatku.Tak perlu bersikap berlebihan, kakak tak perlu menyembah karena hanya pencipta langit bumi ini saja yang patut disembah.Tapi kau harus menjelaskan padaku gerangan apa yang telah terjadi pada puluhan tawanan kita? Aku melihat gerbang yang bolong meleleh."

"Para tawanan Kejahatan Dunia Persilatan' hilang raib tak diketahui rimbanya.Dan yang lebih menyedihkan lagi kudapati para penjaga yang berada di bawah perintahmu tewas mengenaskan.Semua ini membuatku merasa heran.Apalagi saat melihatmu jatuh dari ketinggian terjun bebas dari langit."

"Sebenarnya kakak baru datang dari mana saja?"

Tanya Dewi Harum sambil menatap kakek di depannya lekat-lekat. Angin Pesut berulangkali gelengkan kepala. Kemudian tanpa membuang waktu kakek ini membantah.

"Tidak! Aku tidak gentayangan kemana-mana. Ketika seseorang menyerbu tempat ini, menghancurkan perisai tabir gaib di atas bukit lalu menghancurkan gerbang baja di depan sana. Aku... aku...! "

Angin Pesut jadi gugup. Dia tidak punya keberanian melanjutkan ucapannya. Rupanya walau kakek bertubuh luar biasa besar dan memiliki kesaktian tinggi ini sungkan sekaligus segan pada Dewi Harum. Sang Dewi yang sudah tahu kebiasaan buruk saudara angkatnya segera menyela ucapan si kakek.

"Tak perlu malu-malu untuk mengakui. Kau pasti hendak mengatakan ketika serbuan datang kau sedang enak-enakan tidur mendengkur dalam gua di atas kasur Jerami butut itu. Begitukah?"

Angin Pesut tundukkan kepala tak berani menatap gadis cantik di depannya. Kemudian dengan perlahan dia anggukkan kepala membenarkan. ,

"Maafkan aku adikku!"

Kata Angin Pesut dengan suara mengengah. "Jangan lagi kau panggil adik. Aku bukan adikmu!" Pekik Dewi Harum jengkel.

Mendengar ucapan gadis itu, Angin Pesut tersentak. Mata terbelalak menatap tak percaya sedangkan mulutnya ternganga.

"Celaka jagad! Kiamat dunia. Astaga. Apa yang baru saja adik katakan? Kau hendak memutuskan hubungan persaudaraan diantara kita? Tidak! Tidak! Demi bumi busuk yang sanggup kubuat porak poranda. Aku tidak punya siapa-siapa lagi terkecuali dirimu adik. Aku rela menukar jiwa ragaku dengan kematian asalkan jangan kau putus persaudaraan kita. Kesendirian membuatku menangis sepanjang masa hidupku. Aku bersalah.... aku bersalah.... Maka hukumlah aku dengan pedang ampuhmu. Tapi jangan kau hukum aku dengan kemarahan dan kau jauhi aku dengan kebencianmu!"

Angin Pesut tiba-tiba menangis menyesali diri tak berkeputusan. Melihat semua ini hati Dewi Harum terenyuh, kemarahannya luruh. Dewi Harum segera menghampiri.

"Maafkan saya saudaraku. Terkadang aku tak kuasa menahan amarah menghadapi sebuah kenyataan. Tapi jauh di hatiku tiada maksud sedikit pun untuk meninggalkanmu. Kita tetap bersaudara. Sebagai kakak dan adik. Dari sekarang hingga nanti dari hidup hingga mati. Lupakan kesalah pahaman yang terjadi diantara kita". ucap Dewi Harum dengan perasaan masgul namun lebih tegar dan lebih tabah dari saudara angkatnya.

Angin Pesut kedap kedipkan matanya. Kesedihan yang membayangi wajahnya lenyap, mata berbinar, mulut mengurai senyum. Dia merasa lega sekaligus bahagia. Buru-buru dia rangkapkan dua tangan bungkukkan badan membuka mulut keluarkan ucapan.

"Para dewa terima kasih aku masih punya saudara. Terima kasih saudara angkatku tak memutuskan tali kekeluargaan."

Angin Pesut menutup ucapan dengan tawa tergelak-gelak. Walau tawa si kakek hanya

asal-asalan aja, namun tawa itu membuat dinding bukit batu Cincin Setan yang berwarna hitam mengalami longsor bergugusan. Melihat ini Dewi Harum cepat berkata.

"Sudahlah kakak, jangan tertawa terus. Para tawanan yang lolos harus kita temukan sebelum membuat kerusakan besar di dunia persilatan. Di samping itu kita juga harus menemukan orang yang telah membebaskan mereka."

Seolah baru sadar ada sebuash kewajiban besar yang harus diselesaikan. Angin Pesut hentikan tawanya. Kakek itu menghela nafas, menatap sekilas pada Dewi Harum yang sudah duduk di depannya lalu bertanya.

"Apa yang bisa aku lakukan, adik?!"

"Kakak cuma harus menjelaskan padaku siapa orangnya yang telah merusak tempat ini? Kemana perginya para tawanan "Kejahatan Dunia Persilatan" Itu setelah dibebaskan.Lalu apa yang terjadi dengan kakak? Tadi aku melihat ada mahluk besar luar biasa."

"Mahluk itu seperti seekor rajawali berbulu putih.Terbang melintas di tempat ini, lalu melepaskanmu dari cengkeramannya.Di pulau Es ini tak ada rajawali. Yang ada hanya berupa patung abadi burung raksasa itu."

"Yang kutahu patung rajawali putih berada di kaki tebing bukit karang di pantai sebelah utara

.Apakah mungkin mahluk itu telah melakukan kekacauan, membebaskan para tawanan dan membunuhi penjaga?"

Angin Pesut terdiam sambil mencoba mengingat- ingat. Tak lama si kakek menggelengkan kepala.

"Kehadiran rajawali putih itu kukira sesuatu yang nyata.Dia datang beberapa saat setelah terjadi kekacawan.Tapi sang rajawali tidak menjadi penyebab kekacawan sebaliknya malah bertindak menolongku!"

Terang Angin Pesut membuat Dewi Harum terdiam namun hati bertanya-

"Rajawali itu menolongmu. Mahluk seperti apa yang menyerbu tempat kita? Dan mengapa kakak harus ditolong?"

"Aku merasa Rajawali raksasa itu datang dengan niat membantu dan membawaku pergi jauh ke suatu tempat lalu mengantar aku kembali lagi ke tempat ini."

Jelas si kakek Angin Pesut perhatikan saudari angkatnya sebentar lalu si kakek menceritakan segala sesuatu yang telah terjadi.

****

Marilah kita lihat dulu keadaan di sekitar Bukit Cincin Batu Kutuk sebelum fajar menggantikan kegelapan .Beberapa malam sebelumnya sewaktu badai topan menyerang seluruh penjuru pulau Es.

Para tawanan Kejahatan Dunia Persilatan yang memang banyak mengalami gangguan kejiwaan dilamun kegelisahan.

Di sana-sini terdengar jerit, pekik makian dan raungan marah.

Para tawanan meronta berusaha membebaskan diri dari gelang rantai yang membelenggu kaki dan tangan mereka.

Walau mereka berusaha sekuat tenaga dengan kesaktian yang mereka miliki, tetapi upaya memutus dan menghancurkan rantai belenggu tak membawa hasil.

Orang-orang liar yang tingkah lakunya mirip binatang buas ini menyadari rantai belenggu diselimuti semacam penangkal gaib hingga tidak mudah dihancurkan.

Setelah serangan topan yang memporak porandakan seluruh penjuru pulau mereda. Secara aneh para tawanan menjadi sedikit tenang.

Malam hari tepat ketiga belas hari bulan.

Angin Pesut pergi ke dalam gua yang menjadi tempat peristirahatannya.

Rasa lelah luar biasa ditambah kantuk hebat yang dia rasakan membuat si kakek pulas dalam waktu sekejab.

Demikian pula halnya dengan para penjaga yang ditugaskan untuk mengawasi para tawanan itu. Inilah awal dari sebuah bencana.

Setelah lewat tengah malam.

Hanya tiga penjaga saja yang masih bertahan melakukan tugasnya. Tapi ini tak berlangsung lama.

Tiba-tiba saja angin dingin berhembus disertai tebaran asap aneh mirip kabut. Tiga penjaga yang saat itu sedang meronda di depan pintu gerbang dalam hentikan langkah. Yang berdiri di sebelah kiri menyikut temannya yang berdiri di tengah. Ketika sang teman menoleh menatap ke arahnya.

Yang dipandang justru dengan gerakan isyarat menunjuk ke langit sekeliling bukit. Rupanya teman ini dapat menangkap makna isyarat itu.

Dia menggumam sendiri.

"Angin dingin berhembus. Ada kabut yang menyertai datangnya angin. Tapi mengapa warnanya kuning?"

"Husst...?

Penjaga ketiga yang memiliki tubuh paling kurus tempelkan telunjuk di depan bibir.

"Kau lihat! Itu bukan kabut biasa. Aku mencium aroma aneh seperti aroma Bunga Mayat."

Penjaga ketiga terlihat kurang puas. Dia dongakkan kepala, hidung kembang kempis berusaha membaui udara berkabut kuning yang kini mulai bergerak turun menyapu seluruh penjuru lingkaran dalam bukit.

"Astaga!"

Tanpa sadar penjaga ketiga berseru. Wajahnya pucat, mata terbelalak membayangkan kecemasan luar biasa.

"Cepat bangunkan tetua. Kakek Angin Pesut harus diberi tahu. Ada orang datang menyerang dengan racun dalam kabut!?"

"Tapi beliau baru saja tertidur."

Menyahuti pengawal pertama bimbang bercampur cemas. "Lakukan saja perintahku. Kita berada dalam ancaman bahaya!"

Berkata pengawal kedua dengan nada keras setengah membentak .Didesak dalam suasana tegang pengawal bersenjata gada itu tidak punya pilihan.

Dia segera balikkan badan lalu berlari cepat menuju gua tempat ketiduran Angin Pesut yang berada cukup jauh dari gerbang utama.

Selagi pengawal pertama pergi berniat memberi laporan.

Suara deru sekonyong-konyong muncul dari sekeliling luar penjuru bukit.

Dua pengawal yang berada di balik pintu gerbang segera menghunus senjata di tangan masing-masing.

Suara deru angin makin menghebat.

Tebaran kabut kuning menyerbu masuk ke dalam lingkaran bukit.

Seiring dengan menebalnya kabut aneh menebar aroma Bunga Mayat, dikejauhan terdengar suara lolong anjing.

Suara lolong disusul dengan suara pekik menggelegar. Di atas ketinggian bukit Cincin Batu Kutuk ,satu bayangan hitam muncul mengambang dengan dua kaki tak berpijak di atas puncak bukit.

Dua pengawal tersentak kaget.

Sementara sosok hitam yang baru munculkan diri sambil keluarkan teriakan menggembor berkata,

"Aku membutuhkan orang, mahluk jejadian bahkan setan sekalipun untuk mendukungku.Aku menemukan orang yang kucari berkumpul terperangkap di tempat ini."

"Aku harus keluarkan mereka sebelum fajar datang."

Sosok hitam berambut panjang selutut riap-riapan menyerbu ke bawah mencoba memasuki tempat tawanan yang terikat di tiang pancang.

Di luar dugaan saat sosok hitam melesat bergerak turun memasuki lingkaran dalam. Dengan tidak terduga dari seluruh penjuru puncak bukit membersit cahaya biru.

Ratusan cahaya biru menyerbu ke arahnya siap melumat mencabik tubuhnya.

Sosok hitam tersentak kaget namun masih sempat selamatkan diri dengan melambungkan tubuhnya lebih tinggi untuk hindari terjangan serangan ratusan cahaya.

Ratusan cahaya seperti mata tombak saling tubruk sesamanya hingga menimbulkan ledakan keras berdentum mengerikan.

Seluruh penjuru bukit terguncang seperti dilanda gempa.

Para tawanan Kejahatan Dunia Persilatan' langsung terjaga dari tidurnya terkejut oleh suara ledakan itu.

Di atas ketinggian, mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang sempurna yang membuat sosok itu dapat mengapung lama leletkan lidah sambil memaki.

"Jadah! Tempat ini ternyata dilindungi oleh tabir gaib. Pantas tak satupun kecoak busuk yang dapat menembus masuk ke dalam sana!"

Gerutu sosok serba hitam. Dia menatap ke bawah. Sadar para tawanan sudah terjaga dia berteriak ditujukan pada mereka.

"Siapa saja yang bersedia menjadi pengikut setia Maha Iblis Dari Timur maka malam ini patut mendapatkan kebebasan!"

Mendengar itu karuan saja para tawanan bersorak gembira.

Beberapa di antara mereka yang tergolong sebagai pimpinan bahkan menyahuti ucapan sosok hitam yang tak lain adalah Maha Iblis Dari Timur

"Cepat bebaskan kami.Bunuh semua penjaga keparat berikut ketuanya yang bernama Angin Pesut!"

Dengan tawa tergelak-gelak.

Tanpa bicara dua tangan diangkat tinggi. Tenaga sakti disalurkan hingga tangan sang iblis memancarkan cahaya hitam kemerahan.

Sambil keluarkan suara menggereng Maha Iblis Dari Timur hantamkan tangannya ke bawah ke arah perisai gaib yang melindungi bukit di bagian sebelah atas.

Segulung angin panas luar biasa, disertai kilatan cahaya merah kehitaman berukuran seperti bola raksasa menderu menghantam tirai gaib pelindung.

Tirai gaib pelindung dengan sendirinya menyambut serangan itu . Dari setiap penjuru melesat cahaya biru terang luar biasa.

Mencuat ke atas menyambut hantaman cahaya merah kehitaman yang bergulung-gulung mirip bola raksasa.

"Edan! Bagaimana mungkin tirai pelindung dapat bekerja dengan sendirinya seolah mempunyai pikiran dan penglihatan sendiri!"

Maki Maha Iblis Dari Timur, kaget. Dua dentuman keras terjadi.

Api bermuncratan kesegenap penjuru.

Kepulan asap hitam membubung tinggi, membuat Maha Iblis terpaksa mencari selamat menyingkir dari tempatnya mengapungkan diri.

Maha Iblis menyeringai begitu mendengar ada suara berderak sesaat setelah terjadinya ledakan. Suara itu pertanda perisai gaib pelindung telah dapat dihancurkannya.

Sambil tertawa tergelak-gelak Maha Iblis meluncur ke bawah dan jejakan kaki di tanah di mana para tawanan terbelenggu.

Kehadiran laki laki berpakaian serba hitam berambut menjela berikat kepala hitam dan berwajah bengis itu disambut para tawanan dengan penuh suka cita.

Tapi belum lagi sempat Maha Iblis mengucap sepatah kata pun, dari arah belakang dua pengawal menyerang laki- laki itu dengan bacokan pedang dan babatan golok besar.

"Pengacau tak tahu diuntung. Jangan harap kau dapat membebaskan para terhukum yang berada di tempat ini!"

Teriak salah satu penjaga d ©ngan beringas.

"Oh begitu. Kalian cuma cacing busuk. Perlu apa bicara!" Sahut Maha Iblis dengan suara dingin.

Enak saja dia memutar tubuh. Dua kaki digeser ke samping.

Dia melihat pedang dan golok menyambar pinggang dan membabat lehernya. Maha lblis menyambutnya dengan dingin.

Sekali tangan bergerak.

Tahu-tahu golok dan pedang kena dirampas berpindah ke tangannya. Dua senjata itu langsung diremas hingga hancur meleleh. Semua tawanan berdecak kagum melihat kehebatan Maha Iblis. Dua penjaga tercengang.

Selagi mereka dalam keadaan terkesima, Maha Iblis kembali gerakkan tangan. Wuut!

Tep!

Dua penjaga terperangah melihat tangan Maha Iblis terjulur panjang menyambar ke arah mereka.

Para penjaga berusaha mencari selamat dengan membanting diri ke tanah. Terlambat.

Kedua penjaga sudah berada dalam cengkeraman Maha Iblis. Tak ada kata terkecuali suara geraman dingin.

Maha Iblis Dari Timur salurkan tenaga sakti ke dua tangannya yang mencengkeram tengkuk. Dua penjaga menjerit, tubuh dan pakaian mereka hangus mengerikan terkena serangan beracun yang dilancarkan Maha lblis.

Jeritan lenyap tubuh mereka ambruk tewas seketika. Bersikap seakan tidak terjadi apa-apa.

Maha Iblis segera menuju pintu gerbang. Dia berusaha meruntuhkan gerbang.

Namun ternyata lak mudah dilakukan.

"Lagi-lagi penangkal gaib sialan yang menghalangi pekerjaanku!" Geram Maha Iblis.

Laki-laki ini pandangi gerbang yang terlindung kobaran api.

Dia menyeringai, Mulut terkatub menggembung sambil membaca mantra sakti untuk memadamkan api. Tak lama mulut yang terkatub rapat menggembung seperti mau meletus meniup.

Wuus!

Tiupan pertama membuat kobaran api abadi yang melindungi gerbang dapat dipadamkan.

Sedangkan tiupan ke dua dan ketiga yang dilakukan Maha Iblis sanggup menjebol, membuat lempengan besi baja meleleh seperti gumpalan lilin yang terbakar.

Maha Iblis menyungging senyum cerdik.

"Jalan kebebasan telah kubuat. Sekarang tugasku tinggal memunahkan penangkal rantai belenggu dan menghabisi semua penjaga di tempat jahanam ini!"

Katanya dingin.

Maha Iblis balikkan tubuh, melangkah lebar hampiri para tawanan yang tercencang tak berdaya di tiang pancang. Satu persatu perisai pengaman yang menyelimuti rantai diusap hingga mengeluarkan suara letupan-letupan dan pijaran aneh.

Para tawanan dilepas satu persatu.

Begitu semuanya terbebas mereka dikumpulkan di sudut ruangan bundar.

"Kalian semua dengar! Kebebasan telah kalian dapatkan.Sebagai imbalan kalian harus mengabdi padaku sampai batas waktu yang belum kutentukan."

"Sekarang kalian keluar melalui lubang yang kubuat dipintu gerbang."

"Wahai penolong. Kami ingin melihat dulu apa yang hendak paduka penolong lakukan pada para penjaga keparat yang berada di sini!"

Kata salah seorang di antaranya tidak puas. Maha Iblis menyeringai dingin.Dia balikkan badan dengan sikap tak perduli. Sambil melangkah hampiri para penjaga yang pulas dia mendengus.

"Begitu! Kalian semua kuizinkan mementang mata. Lihat saja apa yang bakal kulakukan pada para kurcaci tengik itu,"

Maha Iblis terus melangkah.

Dia hampiri dua penjaga yang tidur meringkuk memeluk senjatanya. Tanpa bicara lima jari tangan kiri diacungkan.

Dari ujung jari-jari Maha Iblis membersit lima cahaya hijau menderu ke arah hidung dan dada kedua penjaga itu.

Lep! Glek!

Dua penjaga masing-masing keluarkan suara seperti tersedak.

Seketika mereka terjaga sempat kaget melihat kehadiran orang, tapi baru saja angkat senjata. Senjata terlepas, dua tangan dipergunakan untuk menekap leher.

Kedua orang ini delikkan mata, tubuh menggelepar namun tak ada kata yang terlontar dari mulut.

Sekujur tubuh berubah menjadi hijau mengepulkan asap menebar bau daging busuk. Lalu tewas dengan lidah mencelet terjulur hangus mengerikan.

Maha Iblis menyeringai.

Mata jelalatan memperhatikan penjaga yang meringkuk di bagian lain.

Dia pun segera datang menghampiri dan membunuh mereka dengan cara yang sangat keji.

Sementara itu penjaga pertama walau sempat melihat malapetaka yang dialami oleh teman-temannya.

Tapi dia tidak punya waktu untuk memberikan pertolongan.

Laki-laki kurus tinggi ini segera menyelinap masuk ke dalam gua ketiduran yang ditempati Angin Pesut. Ketika sampai di depan si kakek dia melihat kabut biru memenuhi ruangan itu. "Astaga celaka! Kabut beracun Bunga Mayat menyerbu ke sini."

"Pemimpin pasti telah menghirup kabut racun tanpa disadarinya.Sedangkan aku..." huek...

"dua kali celaka. Aku sendiri rasanya ikut keracunan."

Desis sang penjaga sambil memegangi dadanya yang sesak. "Dewa Saru Saru...!"

Pekiknya dengan suara tercekik.

Dia yang biasa menyebut gelaran si kakek jatuh berlutut.

Tak menghiraukan pandangan matanya yang berkunang-kunang diguncangnya tubuh besar luar biasa yang terbujur pulas mendengkur itu.

Si kakek terperangah sekaligus bangkit dari tidurnya begitu mendengar teriakan penjaga.

Setelah terduduk Angin Pesut mengeluh sekaligus cengkeram kepalanya yang berdenyut sakit serasa dihantam bongkahan batu.

"Sakitnya biyung! Mengapa kepalaku jadi sakit begini?!"

Pekik Angin Pesut heran sekaligus kaget. Dia membuka matanya. Kejut di hati si kakek bukan kepalang saat mengetahui seorang penjaga terduduk di depannya dengan wajah pucat berwarna biru kekuningan

"Apa yang terjadi denganmu, Kataran?"

Tanya Angin Pesut pada sang penjaga yang ternyata bernama Kataran. Laki-laki itu membuka mulut hendak mengucapkan sesuatu.

Tapi nampaknya begitu sulit.

Nafas memburu, lidah terjulur keringat dingin menetes deras membasahi sekujur tubuhnya. Melihat ini Angin Pesut berusaha memberikan pertolongan.

Jemari tangan yang besar diulur, ditempelkan ke dada Kataran. Tenaga dalam disalurkan.

Usaha ini cukup menolong.

Tapi Angin Pesut menyadari hidup Kataran tak bakal berlangsung lama. Angin Pesut cepat mendesak.

"Apa yang telah terjadi?"

Kataran menunjuk keluar gua. Dari mulut terdengar ucapan tersendat. "Musuh sudah datang!"

Selesai berkata begitu sang pengawal jatuh tergelimpang, tubuh berkelojotan kemudian berubah menghitam dan tewas seketika.

Angin Pesut menggeram.

Dia bangkit, melangkah keluar tinggalkan gua dengan tubuh terhuyung dan kepala mau meledak. Mengetahui terkena serangan beracun yang menebar melalui udara si kakek diam-diam salurkan hawa sakti ke bagian paru-paru dan jantung juga ke sekujur tubuhnya.

Tapi upayanya ini tidak cukup berhasil.

"Celaka! Racun jahanam ini telah menyebar keseluruh tubuhku!" Geram si kakek.

Dengan langkah terhuyung dia pun sampai di halaman luas.

Saat itu Angin Pesut melihat semua tawanan telah terlepas dari rantai yang mencencang kaki dan tangan mereka.

Dia juga melihat satu sosok tinggi berpakaian hitam tebal berkulit hitam berambut panjang menjela baru saja membantai para penjaga.

Melihat segala kekejian yang dilakukan oleh laki- laki tinggi itu.Angin Pesut berteriak keras. Sekali si kakek hentakkan kaki, laksana kilat tubuhya melesat ke arah Sang Maha Iblis. "Manusia jahanam mana yang begini keji membunuh para pengawalku!"

Belum lagi teriakan si kakek lenyap.

Maha iblis merasakan ada angin luar biasa keras melabrak punggungnya. Cepat sekali Maha lblis melompat ke kiri sekaligus balikkan tubuhnya.

Dia kaget luar biasa melihat kehadiran Angin Pesut yang memiliki tubuh besar luar biasa.

Walau demikian Maha iblis masih mampu selamatkan punggung dari jotosan orang "Ha ha ha! Tak kusangka ada manusia sebesar gajah berdiam di tempat ini".

Maha Iblis memperhatikan kakek di depannya.

"Orang tua berkulit aneh berbelang putih hitam. Siapa dirimu? Kau penguasa tempat terkutuk ini?

Sayang kau telah menghirup Racun Bunga Mayat yang kutebar di udara." "Manusia berpakaian hitam berkulit hitam. Siapa kau?!"

Hardik Angin Pesut berusaha menguasai diri. Tapi dia tak kuasa bertahan.

Pengaruh racun membuatnya kehilangan kekuatan dan tenaga. Belum lagi Angin Pesut dapat melakukan sesuatu.

Dia ambruk dalam keadaan setengah pingsan.

Melihat itu Maha Iblis Dari Timur tertawa tergelak- gelak.

"Tua bangka besar. Kau bertanya siapa aku. Kukatakan padamu aku adalah Maha Iblis Dari Timur.

Aku datang untuk membawa para tawanan itu menuju ke suatu tempat. Aku yakin kau memiliki kesaktian luar biasa tinggi. Namun dalam keadaan keracunan begini kau bisa berbuat apa?"

"Lebih baik kita habisi saja dia, paduka penolong." Kata salah seorang tawanan.

"Angin Pesut telah menimbulkan banyak kesengsaraan bagi kami" Teriak tawanan lainnya.

"Kalian mau membunuh cepat lakukan!"

Teriak Maha Iblis. Tentu saja para tawanan menjadi girang diberi kesempatan. Mereka segera menyerbu Angin Pesut.

Dalam waktu sekejab si kakek sudah terkurung.

Setiap orang segera menghadiahi Angin Pesut dengan pukulan dan tendangan menggeledek. Si kakek menjadi bulan- bulanan para tawanan yang kalap.

Melihat ini Maha Iblis tidak sabar.

"Manusia-manusia lemah. Membunuh kecoak gemuk sedari tadi tak berlangsung mulus! Minggir semuanya! Biarkan aku yang menamatkan riwayatnya."

Kata Maha Iblis.

Para tawanan menyingkir memberi kesempatan.

Maha lblis dengan sikap angkuh dan pongah berdiri tegak dua tombak di depan Angin Pesut yang tak sadarkan diri.

Dua tangan diangkat tinggi.

Dengan cepat dia mengerahkan Ilmu pukulan sakti yang dikenal dengan nama Muslihat Iblis Menipu Mata.

Maha Iblis salurkan tenaga dalam kebagian dua tangannya seketika itu juga tangan laki-laki itu hingga ke bagian siku memancarkan cahaya merah menyilaukan yang menebarkan hawa panas luar biasa.

Semua orang yang menyaksikan bergidik ngeri.

Mereka yakin Angin Pesut pasti bakal menemui ajal dengan tubuh hancur tercabik menjadi kepingan.

Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh membuat tercengang semua orang. Begitu Maha Iblis Dari Timur hantamkan kedua tangannya ke arah Angin Pesut.

Di langit tiba-tiba terdengar suara bergemuruh mengerikan disertai suara pekikan dahsyat. Kaget!

Maha Iblis dan para tawanan itu dongakkan kepala dan menatap ke atas.

Mereka terkesima melihat sosok seekor burung putih raksasa melesat ke arah mereka dengan kecepatan laksana kilat menyambar.

Mahluk besar yang ternyata seekor burung rajawali itu kibaskan sayapnya ke arah Maha Iblis dan lain-lainnya.

Sementara kaki kanan ditendangkan ke samping mematahkan serangan Maha Iblis sedangkan kaki kiri mencengkeram tubuh besar Angin Pesut.

Blar! Brak ... Wush Arkh.

Pukulan Maha Iblis berbalik mental menghantam diri sendiri.

Laki-laki itu menggerung namun cepat selamatkan diri bergulingan menjauh. Pukulan menghantam bukit di belakangnya.

Bukit hancur bergugusan.

Para tawanan terpelanting terkena sambaran angin yang keluar dari kibasan sayap sang rajawali.

Mereka jatuh rebah dengan tubuh menderita cidera cukup parah. Maha Iblis Dari Timur bangkit berdiri.

Pipinya menggembung, rahang bergemeletukan.

Tapi dia sangat terkejut ketika melihat ke depan Angin Pesut ternyata raib dari hadapannya. Penasaran Maha lblis dongakkan kepala ke atas.

Rajawali raksasa dan si kakek tak terlihat lagi hilang lenyap di kegelapan.

Dia menggeram namun sadar tak ada lagi yang bisa dia lakukan di tempat itu.

Dengan diikuti oleh puluhan tawanan Maha Iblis Dari Timur bergegas keluar tinggalkan mayat-mayat penjaga yang bergelimpangan.

(mohon maaf satu halaman hilang. )

"kakiku seperti mau tanggal, jantung mau meletus."

"Lagi pula buat apa tergesa-gesa.Tempat yang kita tuju sudah berada di depan mata!" Berkata orang yang mengikuti dengan nafas terengah-engah sambil julurkan lidah.

Orang ini tak lain adalah seorang kakek berusia delapan puluh tahun, berkepala botak sulah, bermata belok berpakaian aneh mirip papan catur dan membekal busur serta bumbung anak panah di punggungnya.

Orang yang berada di depan hentikan larinya.

Ternyata dia adalah seorang pemuda tampan berambut panjang berpakaian putih bercelana hitam.

Pemuda ini tak lain adalah Raja, biasa dipanggil Raja Gendeng pewaris Istana Es dan dikenal dengan sebutan Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es.

Sedangkan kakek yang bersamanya adalah seorang sahabat setia berasal dari Lembah Tapa Rasa bernama Ki Sapa Brata namun lebih dikenal dengan sebutan Bocah Ontang Anting. "Pergi bersamamu tiada hari tanpa keluhan! Mengaku manusia hebat, memiliki kecepatan berlari seperti kijang talangkas. Tapi baru berjalan seperti siput saja kau sudah kelelahan!"

Gerutu Raja sambil cibirkan mulutnya. Mendengar itu si kakek bertubuh pendek kerdil ini delikkan matanya yang belok.

"Apa kau bilang? Sejak tadi aku terus mengejarmu, paduka Raja Gendeng. Kau berlari seperti setan, bagaimana kau bisa mengatakan kita sedang berjalan seperti siput?"

Tukas si kakek, mulut cemberut sambil palingkan wajah kejurusan lain. Melihat si kakek bersikap seperti anak kecil, Sang Maha Sakti Dari istana Es pun tersenyum. Enak saja dia membuka mulut berujar.

"Berkaca pada diri sendiri, memang antara dirimu dan diriku rasanya jauh beda. Aku tinggi kau pendek. Sekali aku melangkah rasanya sudah sama dengan empat kali langkah kakimu. Entah....

salah apa bunda mengandungmu kek, hingga membuatmu tak bisa tinggi ha ha!??"

"Ternyata benar. Kau cuma seorang raja gila alias gendeng. Bisamu cuma mencela diriku. Soal siapa yang salah aku tidak tahu. Mungkin juga emakku memang bersalah. Coba saja kalau emak tidur pakai celana, aku mana pernah ada di dunia ini. Ha ha ha!"

Kata si kakek sambil tertawa jengkel.

"Ha ha ha. Yaya ya... betul katamu. Pandai juga kau bergurau kek. Setiap orang tua suka berbuat iseng, terutama bapaknya ya kek. Gara-gara keisengan seorang ayah, ibu jadi masuk angin. Lalu lahirlah kita-kita sebagal hasil perbuatan iseng. Kurasa cuma kakek yang tak pernah iseng, sebab kau belum pernah kawin."

Sindir pemuda itu sambil mengumbar tawa. Si kakek tekap mulutnya. Manggut-manggut, kening berkerut seolah mengingat sesuatu. Tak disangka-sangka dia tertawa tergelak-gelak.

"Eeh, apa yang kakek tertawakan. Ada yang lucu rupanya? Kalau lagi senang hendaknya kau berbagi denganku kek?" ucap Raja sambil menatap Bocah Ontang Anting heran. Yang dipandang tekap mulutnya. Tapi kemudian rasa geli rupanya masih menggelitik hati. Dia tertawa lagi. Membuat Raja jadi jengkel dan membuka mulut.

"Ah, tak kusangka baru beberapa hari bersamaku kau menjadi gila sehebat itu!" Rungutnya.

Pemuda ini kemudian memutar tubuh membiarkan Bocah Ontang Anting terus tertawa. sementara itu dia sendiri layangkan pandang ke arah gugus perbukitan karang yang membentang dari utara ke arah selatan.

Gugus bukit karang di ujung pantai utara terdiri dari tiga bukit.

Satu bukit paling besar dengan puncak paling tinggi namun datar di sebelah atasnya. Itulah yang disebut dengan bukit Induk.

Bukit induk ini diapit dua bukit lainnya. Satu diujung utara dan satunya lagi di sebelah selatan.

Karena letaknya yang berhimpitan, ditambah dengan adanya bukit-bukit kecil yang menghadang jalan menuju ke bukit induk.

Seperti telah dijelaskan tidaklah mudah untuk mencapai bukit induk. Tapi bagi mereka yang mengetahul jalan rahasia menuju ke bukit Induk tak akan mengalami banyak hambatan.

"Orang tua."

Berkata Raja setelah Bocah Ontang Anting hentikan tawanya.

"Bukit yang kita tuju sudah tidak jauh lagi. Sebelum ada yang melihat kehadiran kita di sini.

Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan."

"Eh tunggu. Tak perlu buru-buru. Di sini suasananya lebih menyenangkan bila dibandingkan dengan kawasan bukit induk?"

Cegah Bocah Ontang Anting sambil tekab mulutnya agar tak terlepas tawanya. Raja menoleh, pandangi si kakek dengan heran namun hati kesal.

"Ada hal penting yang hendak kau sampaikan?" "Kulihat kau masih memendam rasa geli luar biasa." Dengus Raja dingin. Bocah Ontang Anting menggeleng.

"Sebenarnya tidak begitu penting. Kalau Iucu memang Iya." sahut si kakek. Dia turunkan tangan yang dipergunakan menutup mulut. Dengan mimik sungguhan mata menerawang dia melanjutkan ucapan.

"Begini. Kau mengatakan aku tidak pernah berbuat iseng karena aku belum punya jodoh. Tapi dengan jujur kukatakan kenyataannya tidak begitu. Dulu aku suka berlaku iseng mengintai gadis mandi dimasa mudaku."

"Dasar tua bangka mata keranjang. Perbuatan tercela saja kau ceritakan padaku. Seperti tak ada yang lain saja."

Dengus Raja lalu palingkan wajah ke lain arah.

"Hei, kau laki-laki aku juga. Jangan berlagak sesuci dewa. Aku ini manusia jujur. Kelakuanku tidak buruk sekali. Kau tahu mengapa gurumu nenek yang suka berdandan seperti mayat dan setengah tuli Itu sampai sekarang masih memendam rasa kesal kepadaku?"

Tanya Bocah Ontang Anting sambil tersenyum.

"Huh. Mungkin kau mengisenginya. Kau mengintip guruku selagi buang hajat di kali"

Sahut Raja

"Ah.Tidak seperti itu kejadiannya.Waktu itu segalanya terjadi tidak sengaja."

"Aku mengunjungi gurumu untuk mengabarkan tentang Pedang Gila yang berhasil kuselamatkan di bukit Induk.Aku datang ke gua Mayat Es. Begitu sampai aku tak mendapatinya di dalam gua."

"Kucari kesana kemari tak kutemukan. Kemudian setelah lelah menunggu aku putuskan untuk mencarinya di kali. Sampai disana perutku mendadak mulas tak tertahankan.Enak saja aku menyeberang ke tanah dan nongkrong di atas batu.Pekerjaan menunaikan hajat selesai. Tiba-tiba dari bagian-hilir sungai kudengar sumpah serapah. Aku kaget."

"Cepat aku bergegas mendatangi ke arah suara. Lebih terkejut lagi ketika melihat Nini Balang Kudu gurumu marah besar sambil mendampratku karena buang hajat"

(mohon maaf satu halaman hilang. )

Tapi Raja menanggapi penghormatan si kakek dengan mengeluarkan suara kentut bertalu-talu.

Mendengar suara sekaligus mengendus bau kentut yang luar biasa membuat si kakek jadi kalang kabut.

"Raja sialan! Kentutmu benar-benar membuat aku mabok...!" maki Bocah Ontang Anting melompat menjauh hindari serangan bau menyengat sambil kipas-kipaskan jari tangannya di depan hidung.

Raja tertawa tergelak-gelak sambil dongakkan kepala dia menghirup nafas dalam- dalam, bersamaan dengan itu mulutnya menggumam,

"Tua bangka tolol. Cuma bau harum angin sorga begini mengapa diributkan? Ha ha ha!" "Pemuda edan. Ternyata otak-otakmu betul-betul tidak lempang."

Membatin Bocah Ontang Anting dalam hati. Dia menatap Raja sambil mengusapi kepalanya yang botak sulah. Melihat ini Raja lagi-lagi membuka mulut.

"Ada apa kek. Kau sedang merasani aku ya?" Kakek itu terkesiap.

"Aneh. Bagaimana dia bisa tahu aku sedang merasaninya. Apa mungkin dia mempunyai ilmu yang membuatnya bisa melihat isi hatiku dan isi pikiranku. Gawat. Padahal sejak dia menyembuhkan kelumpuhan senjataku yang tumpul. Kadang-kadang kepalaku ini dipenuhi pakaian dalam wanita saja. Hik hik hik"

Bocah Ontang Anting tersenyum merasa geli pada dirinya sendiri.

"Ah. Aku sudah menduga memang ada yang tidak beres telah terjadi dengan dirimu. Kau menjadi gila sejak perkututmu yang sakit kusembuhkan. Aku menyesal telah membantu memulihkan. Walau semua terjadi tak sengaja."

"Weh Jangan suka berperasangka buruk pada tua bangka sepertiku. Aku merasa baik-baik saja.

Kegembiraanku terjadi karena aku merasa sekarang sudah benar-benar menjadi seorang laki-laki yang utuh. Tidak seperti yang sudah-sudah. Ha ha ha!"

"Dasar tua bangka aneh. Aku bosan bicara denganmu. Sekarang ini kurasa lebih baik kita lanjutkan perjalanan. Bukit induk sudah di depan mata. Antar aku ke tempat itu." Pinta Raja Gendeng

"Hemm, baiklah. Demi sebuah amanat dan demi menghormati para gurumu. Mau tidak mau suka tidak suka aku harus mengantarmu sampai ke tempat tujuan."

Menyahuti Bocah Ontang Anting seperti enggan. Raja tentu saja menjadi heran.

"Apa maksudmu? Kau mengatakan mau tidak mau, suka tidak suka? Katakan padaku apa yang tidak kuketahui."

"Nanti juga kau akan tahu sendiri.Sekarang ikuti aku!" Kata Bocah Ontang Anting.

"Tunggu dulu. Aku tidak mau ada rahasia di antara kita."

Ucap Raja. Tapi Bocah Ontang Anting bersikap acuh. Tanpa menghiraukan ucapan Raja dia memasuki jalan rahasia berupa sebuah lorong diantara celah bebatuan karang yang sangat sempit dipenuhi binatang melata berbisa.

"Banyak sekali bangkai ular di tempat ini kek?"

Keluh Raja. Bocah Ontang Anting yang keburu berjalan mendahuluinya ke depan memperlambat langkah. Tanpa menoleh kakek ini menyahuti.

"Baunya memang tidak nyaman. Tapi kukira masih lebih baik dibandingkan dengan bau kentutmu, Jangan mata menipu pandangan. Ular-ular itu

(maaf satu halaman hilang. )

****

Panas matahari menjelang siang di pedataran luas Batu Lintar tak begitu terasa. Angin dingin bertiup sepoi-sepoi. Di satu tempat tak jauh dari sebuah pohon besar yang tumbang dilanda badai topan beberapa waktu sebelumnya. Sebuah pondok yang keseluruhan bangunannya terdiri dari tulang belulang paus tampak sunyi. Tak jauh di sebelah utara pondok sejarak sekitar puluhan tombak tampak tergolek seorang nenek renta. Nenek yang tubuhnya kurus kering berupa kulit pembalut tulang ini berpakaian dan berambut warna kelabu. Tergeletak dalam keadaan pingsan. Si nenek berkulit hitam memiliki wajah yang sungguh mengerikan. Dia tidak mempunyai mata. Kedua mata cuma berupa rongga dalam lebar menganga hitam sedangkan hidungnya juga tinggal sebuah rongga mengerikan tembus hingga ke rongga mulut.

Apa yang terjadi?

Siapa pula gerangan nenek berpenampilan seperti dedemit ini?

Seperti telah dikisahkan dalam episode (Maha Iblis Dari Timur) Orang tua renta yang punya kebiasaan aneh menggali dan mengumpulkan tulang belulang orang mati ini mengalami cidera dan tidak sadarkan diri setelah mendapat serangan ganas luar biasa dari mahluk alam gaib bernama Hyang Kelam. Mahluk sakti itu menjadi sangat marah melihat muridnya dibokong oleh si nenek dengan pukulan jarak jauh. Walau pukulan nenek yang dikenal dengan julukan Momok Laknat tak mengenai sasaran. Tetap saja dia dan teman pendampingnya yang baru saja mewujud dalam rupa perempuan yang tidak mempunyai kulit di sekujur tubuhnya tak luput dari murka Hyang Kelam. Serangan dahsyat berupa pusaran angin bercampur pasir itu membuat si nenek menderita cidera di bagian dalam dan tidak sadarkan diri. Hyang Kelam tinggalkan tempat itu setelah berhasil melumpuhkan sahabat pendampingnya yang bernama Puteri Pemalu .Lama tidak sadarkan diri. Sengatan cahaya matahari yang tidak terlalu panas membuat Momok Laknat tersadar dari pingsannya.

Mula-mula kedua kakinya yang bergerak. Gerakan kaki diikuti dengan gerakan kedua tangan. Si nenek menggeliat sambil mengerang. Sekujur tubuhnya sakit luar biasa seperti ditusuk ratusan jarum panas. Dia juga jadi kaget ketika menghela nafas ternyata dadanya menjadi sesak bukan main.

Momok Laknat bangkit, lalu duduk bersila. Walau dia tidak melihat akibat kehilangan dua matanya. Namun penglihatan mata batinnya yang tajam membuatnya tahu.

Tidak berpikir lama Momok Laknat segera mengerahkan tenaga dalamnya. Tenaga dalam yang bersumber dari bagian pusar selanjutnya dia salurkan ke bagian dada. Hawa sejuk mengalir deras memulihkan luka dalam yang dia alami. Momok Laknat terbatuk lalu semburkan darah kental dari mulut. Setelah luka di bagian dada dapat disembuhkan. Momok Laknat tergetar. Keringat mengalir deras membasahi wajah dan pakaiannya. Momok Laknat tersenyum. Senyum yang tak berbeda jauh dengan sebuah seringai buruk mengerikan. Senyum lenyap. Dari mulutnya terlontar ucapan,

"Sudah siang. Seharusnya aku tidak terlambat. Semua ini gara-gara mahluk alam gaib keparat bernama Hyang Kelam itu. Aku kehilangan banyak waktu. Padahal seharusnya aku sudah sampai di pantai utara."

Berkata begitu Momok Laknat bangkit berdiri. Dia hendak melangkah kembali ke dalam pondok tulangnya. Namun gerakan kaki sang Momok jadi tertahan begitu dia ingat sesuatu.

"Astaga! Celaka! aku hampir saja kelupaan. Arwah pendamping dijelmakan menjadi manusia tak sempurna oleh para dewa dengan perantaraan tulang belulang orang mati yang kukumpulkan."

Momok Laknat tepuk keningnya tiga kali. Sepasang mata yang cuma berupa dua buah rongga hitam jelalatan menatap ke berbagai sudut penjuru. Mata batinnya tak melihat siapa-siapa terutama orang yang dia cari.

"Kemana dia? Apa mungkin dia meninggalkan aku?" Batin Momok Laknat di hati.

Setelah sempat berpikir dia menggelengkan kepala. Mustahil.

Tidak mungkin.

"Dewa telah mengirim Puteri Pemalu untuk mendampingi aku. Sebelum aku ditakdirkan dapat membalas dendam atas semua petaka yang pernah kualami dan menemukan jalan hidup yang sebenar-benarnya."

Kata Momok Laknat.

Sekali mengitarkan pandang.

Dia tidak yakin Puteri Pemalu tewas terbunuh di tangan Hyang Kelam. Tak ada yang bisa membunuh Puteri Pemalu.

Takdir kematiannya hanya terjadi bila muncul petir di tengah hari di delapan Puteri Pemalu. "Dimana kau!"

Teriak Momok Laknat.

Sekali lagi dia memutar tubuh.

Lalu dengan mata batin dia melihat ada tumpukan pasir menggunung tak jauh di depannya.

Melihat pasir itu Momok Laknat segera teringat pada Hyang Kelam yang menyerang mereka dengan pusaran angin bercampur pasir.

"Jangan-jangan... !"

Momok Laknat tak menyelesaikan ucapan.

Sebaliknya dengan terburu-buru dia hampiri timbunan pasir yang hampir setinggi tubuh si nenek.

Rupanya dia menduga kemungkinan besar Puteri Pemalu terhimpit timbunan pasir setelah diserang oleh Hyang Kelam.

Seperti orang kesetanan, Momok Laknat lalu mengeruk sekaligus mengobrak-abrik timbunan pasir di depannya.

Sambil menggali dia terus memanggil.

Suara teriakan si nenek terhenti begitu dia mendengar suara dengus nafas tersengal di balik timbunan pasir yang makin menipis.

"Puteri Pemalu. Kaukah yang berada di balik pasir,"

Tanya Momok Laknat dengan wajah membayangkan perasaan lega.

"Huk-huk-huk! Huek-huek-huek. Benar nek. Jangan lagi kau gali pasir ini. Kau mengeruk sana sini, bagaimana kalau dua biji mataku ikutan terkeruk, Aku bisa keluar sendiri!"sahut satu suara dari balik tumpukan pasir.

"Bagaimana keadaanmu?"

Tanya Momok Laknat. Walau merasa lega namun hatinya masih memendam satu kehawatiran. "Aku... aku baik-baik saja. Mahluk alam roh Hyang Kelam mencoba menguburku hidup-hidup.

Agaknya dia marah sekaligus malu karena aku bisa melihat keberdayaannya di alam halus. Hik hik hik."

"Sudah.Jangan bergurau. Kita kehilangan banyak (maaf satu halaman hilang. )

jadinya.

"Semula aku menduga cuma malam hari saja penampilan wajahmu buruk mengerikan seperti setan."

"Tak kusangka memandangmu disiang hari tetap saja tak ada yang berubah. Wajahmu tetap buruk mengerikan seperti...!"

Belum sempat Puteri Pemalu menyelesaikan ucapannya Momok Laknat cepat memotong. "Seperti Setan. Begitu maksudmu? Gadis alam roh keparat. Kau bisanya cuma mencela kekuranganku. Apa kau tidak melihat bagaimana keadaan dirimu sendiri? Keadaanmu jauh lebih

menyedihkan dan tidak lebih baik dibanding kan diriku."

Momok Laknat mendamprat. Tapi Puteri Pemalu malah tertawa tak perduli dengan ucapan si nenek.

"Nek. suratan nasibku sudah ditakdirkan seperti ini. Masih bagus dewa mengizinkan anwahku kembali ke dunia. Kalau tidak. Mana pernah ada kesempatan ke dua nek."

Kata Puteri Pemalu sambil menekab mulutnya yang tak lebih hanya berupa untaian daging tipis menggelambir menggantung seperti mau tanggal.

"Sudah! Jangan bergurau terus. Seperti yang kukatakan sekarang sudah siang. Kita harus segera berangkat.Tapi sebelum berangkat aku mau tahu bagaimana sampai kau berada dalam timbunan pasir?"

"Apa Hyang Kelam yang telah menguburmu dengan pasir itu?"

Kata Momok Laknat sambil menatap gadis di depannya dalam dalam. Merasa diperhatikan Puteri Pemalu segera tekap wajah merahnya yang mengerikan itu.

"Ah kau memandangku seperti itu nek, membuat aku malu dua kali.Pertama aku malu melihat diriku sendiri. Dan kedua aku malu padamu karena kita sama-sama jelek tidak sedap untuk dipandang. Tapi sudahlah baiknya kita sama-sama merelakan diri menerima keadaan.Bukankah begitu nek?!"

Kata Puteri Pemalu setengah bertanya.Kemudian tanpa sadar dia tekab dada dan bagian bawah perutnya.

Andai saja dua mata Momok Laknat masih utuh.

Tentu Puteri Pemalu dapat melihat bagaimana bola mata Momok Laknat mendelik besar. Momok Laknat hanya bisa menggerutu.

Mulut yang keriput dipencongkan. Kemudian mendamprat.

"Mahluk gila. Menyesal aku memanjatkan hajat meminta pada dewa agar diberi seorang teman pendamping. Kalau tahu yang dikirimkan cuma mahluk jelek sepertimu. Lebih bagus aku hidup sendiri gentayangan sesuka hati."

"Hi hi hi sekali lagi aku merasa malu mendengar Ucapanmu nek." Menyahuti Puteri Pemalu disertai gelak tawa.

Setelah tekab mulut hentikan tawa dia melanjutkan,

"Kurasa kalau nenek suka gentayangan itu tidak bisa di salahkan. Cuma setan dan anwah sesat yang gentayangan. Akan halnya dirimu. Walau bukan setan tapi soal tampang tak kalah dengan tampang setan "

"Pandai sekali kau bicara. Memangnya kau tidak sadar siapa dirimu?"

Bentak Momok Laknat

"Diriku kurang lebih mirip denganmu nek. Kita mempunyai peruntungan buruk dan rupa yang buruk. Apalagi yang perlu disesalkan? Lebih baik kita memulai perjalanan kita yang tertunda."

Usul Puteri Pemalu.

"Huh, sedari tadi aku juga sudah akan mengajakmu pergi, tapi kau terus saja bicara melantur tak karuan."

Setelah berkata bagitu Momok Laknat membalikkan badan memutar langkah dan berkelebat tinggalkan Puteri Pemalu. Cepat sekali gerakan orang tua ini. Dalam waktu sekedipan mata saja dia telah lenyap dari pandangan mata.

"Hei nek. Tunggu aku. Jangan pergi sendiri. Katanya kau membutuhkan teman pendamping."

Seru Puteri Pemalu sambill memanggil-manggil nama Momok Laknat. Dikejauhan Momok Laknat menyahuti.

"Katanya kau adalah mahluk yang direstui para dewa. Kau punya kaki walau cuma terdiri dari darah tulang dalam daging.Sekarang tunjukkan kehebatanmu.Apakah kamu mampu menyusulku".

Puteri Pemalu diam tidak menyahuti. Tapi dia tersenyum.

Kemudian dia hentakkan kedua kakinya.

Seketika itu juga Puteri Pemalu lenyap hilang raib seperti ditelan bumi.

Dikejauhan Momok Laknat jadi gelisah khawatir Puteri Pemalu tidak mengikutinya. Sambil berlari Momok Laknat menoleh ke belekang.

Dia tidak melihat sang Puteri.

Namun sekonyong-konyong dia merasakan ada angin dan bayangan merah melesat di atas kepalanya.

"Eeh... Apa yang baru saja menyambar di atas kepalaku?!" Pekik Momok Laknat kaget.Di depannya terdengar tawa cekikikan. "tak punya mata mengapa selalu melihat ke belakang nek?"

Kata satu suara jauh di depannya.

"Aku ada di sini sekitar seratus tombak di depanmu. Kau masih hendak mengadu lari denganku? Jangan dilakukan kau bisa mati mendadak, jantungmu copot dan paru-parumu meledak. Hik hik hik.

"Setan alas."

Maki Momok Laknat sambil mempercepat larinya.

Di luar dugaan walau Momok Laknat telah mengerahkan ilmu lari cepatnya. Tetap saja orang yang dikejar tak kunjung tersusul.

*****

Matahari telah condong di ufuk langit sebelah barat.

Angin dingin berhembus sepoi-sepoi menebarkan aroma garam. Di satu tempat.

Tepat di sebuah pedataran bukit batu karang, deburan ombak yang menghempas dinding curam tiga bukit menggemuruh laksana curahan suara air hujan.

Tidak terlihat ada siapapun di pendataran bukit yang terletak paling selatan itu. Tapi tiba-tiba saja terdengar ada suara orang berkata.

"Yang mulia Gusti Ayu. Sudah hampir setengah hari kita mendekam bersembunyi di tempat ini.

Mengapa harus takut. Tak ada yang melihat dan rasanya kita tak perlu sembunyi seperti hantu." Tak ada suaranya namun jelas yang bicara adalah laki-laki.

Tapi sejauh itu ujud dari keberadaannya tidak kelihatan. Kemudian terdengar suara lain memberi dukungan.

"Gusti ayu.yang dikatakan kakang Kalebu saya rasa benar adanya. Kita tidak perlu membuat lenyap diri kita hingga tidak terlihat. Lagi pula apa yang kita takutkan. Kami bertiga yaitu Kalebu, Kalametu dan Kajero dikenal dengan julukan Tiga Pembawa Maut.Selama hidup tidak ada yang ditakuti. Sedangkan Yang Mulia Gusti Ayu bukan gadis sembarangan.Apalagi saat ini Gusti Ayu membekal tongkat keramat Geger Gaib.Dengan tongkat itu apa lagi yang perlu ditakutkan?!"

Sunyi.

Yang terdengar hanya hela nafas samar dan bau harum aroma tubuh wanita bercampur dengan bau kambing jantan.

"Kalian bertiga cuma anjing penjaga."

Kata satu Suara dan kali ini jelas suara perempuan.

"Aku yang mengatur, aku yang menentukan. Sedangkan kalian bertiga hanya mengikuti dan menjalankan perintah. Kalian semua tidak tahu apa yang tersembunyi, kalian juga tak pernah tahu apa yang aku ketahui. Tapi baiklah. Demi membuat keadaan terasa nyaman. Aku akan melenyapkan tabir pelindung hingga membuat tampang buruk kalian dapat dilihat siapa saja." Dengus suara itu.

Tiba-tiba saja terdengar suara letupan tiga kali berturut-turut disertai pijaran cahaya merah menebar asap hitam pekat.

Ketika cahaya merah dan tebaran asap lenyap.

Di tempat itu jatuh terduduk tiga laki-laki bertampang seram berambut awut-awutan. Ketiga laki-laki tak lain adalah tiga bersaudara.

Yang paling tua Kalebu memiliki wajah rambut dan kulit berwarna merah.

Sedangkan saudaranya yang kedua bernama Kalametu berambut hijau, wajah dan sekujur tubuhnya juga berwarna hijau.

Sedangkan yang yang bungsu bernama Kajero sekujur tubuh dan rambutnya berwarna biru dan memiliki jari tangan aneh seperti capit kepiting.

Malang melintang di rimba persilatan mereka dikenal dengan julukan Tiga Pembawa maut, Walau mereka memiliki tingkat kesaktian yang sangat tinggi dan sangat ditakuti di tanah asalnya Malalayu.

Namun sudah cukup lama mereka menjadi kaki tangan gadis yang mereka panggil dengan sebutan Yang Mulia Gusti Ayu.

Mereka tak berdaya dalam pengaruh sihir gadis itu. "Sekarang apakah kalian senang dan merasa lebih leluasa?"

tanya satu suara.Tiga bersaudara cepat jatuhkan diri menjura penuh rasa hormat sambil benturkan kepala ke tanah karang tiga kali.Mewakili dua saudaranya. Kalebu si Maut Merah membuka mulut.

"Kami senang karena tak akan ada yang mengatakan kami pengecut."

"Hmm, begitu. Sebagai murid Penyihir Racun Utara. Aku juga bukan manusia pengecut. Tak ada yang kutakuti. Dan aku Juga akan menampakkan diri seperti kalian!"

Selesai berkata begitu.

Belum lagi gema suaranya lenyap.

Di depan Tiga Pembawa Maut membersit cahaya terang kehijauan. Cahaya itu membesar lalu meledak hancur menjadi kepingan bertaburan. Kepingan cahaya hijau raib.

Di depan tiga bersaudara Maut Merah, Maut Hijau dan maut Biru berdiri tegak seorang gadis berwajah cantik jelita berkulit putih berambut panjang tergerai.

Gadis itu berpakaian berupa gaun berwarna hijau.

Bagian bawah samping sampal ke pinggul terbelah di kedua sisi- nya memperlihatkan betis hingga pangkal pahanya yang mulus. Selain itu pakaian di sebelah atas terlalu rendah hingga belahan kedua dadanya menyembul putih menantang membuat belingsatan laki-laki yang memandangnya.

Gadis ini usianya sekitar tiga puluh tahun.

Di tangannya tergenggam sebuah tongkat hitam bernama Geger Gaib.

Dengan tongkat saktinya itu dia yang dikenal dengan nama Kupu Kupu Putih dan merupakan murid Sobo Guru Penyihir Racun Utara menjadi salah satu tokoh muda yang paling disegani di Pulau Es.

Lalu bagaimana Kupu Kupu Putih bersama tiga pengawalnya bisa sampai di pantai Utara? Sebabnya tak lain adalah seperti telah dikisahkan dalam episode 'Misteri Pedang Gila.

Sesuai petunjuk wangsit yang didapat Kupu Kupu Putih juga atas perintah gurunya Penyihir Racun Utara.

Dia diminta mencari jejak Pedang Gila pusaka sakti peninggalan istana Pulau Es.

Sang guru sendiri tidak ikut serta menemani karena sedang menderita sakit berkepanjangan. Demi berbakti pada guru yang sangat dihormati.

Kupu Kupu Putih berangkat menuju tiga bukit yang terdapat di pantai utara.

Sejauh ini dia belum mengetahui bahwa Penyihir Racun Utara telah tewas terbunuh di tangan sahabatnya sendiri yang tak lain adalah Maha lblis Dari Timur. Untuk jelasnya dapat dikuti dalam episode 'Maha Iblis Dari Timur "

"Aku telah penuhi permintaan kalian."

Berkata dara cantik jelita itu sambil menatap tiga pengawal yang duduk bersimpuh di depannya. Tiga pengawal tundukkan kepala tak berani menatap.

Kupu Kupu Putih tersenyum.

Sekejab matanya yang indah memperhatikan keadaan di sekitarnya. Diam-diam dia terkejut.

Tanpa sadar dia berseru, "Ternyata kita tidak berada di bukit Induk. Kita berada di bukit sebelah selatan.Bukit induk ada di tengah dan bukit itu adalah bukit paling besar dibandingkan dua bukit yang mengapitnya.Sebagai anjing penjaga yang mempunyai penciuman tajam.Mengapa kalian memilih tempat ini?"

Tanya Kupu Kupu Putih sambil menatap tiga penjaganya satu persatu. Kajero atau Maut Biru cepat-cepat bungkukan badan. Sambil menjura dia menanggapi.

"Yang Mulia Gusti Ayu. Bukit sebelah selatan ini adalah satu-satunya tempat yang paling baik untuk melakukan pengintaian. Dari sini kita dapat melihat sebuah pendataran luas di bukit Induk. Siapa pun yang sampai di tempat itu dengan mudah dapat kita ketahui.

"Gusti Ayu." Menyela Maut Hijau. "seperti yang Gusti lihat di bukit Induk ada pendataran luas. Tapi untuk mencapai pendataran itu berkali-kali kami gagal menemukan jalan. Mungkin ada jalan rahasia, namun bagaimana Jika jalan rahasia itu ternyata banyak jebakan. Saya yakin tidak hanya kita saja yang datang ke tempat ini Gusti Ayu. Saya menaruh curiga tak lama lagi begitu matahari terbenam akan muncul tokoh-tokoh atau orang rimba persilatan di bukit Induk. Bila kita masuk duluan mencari keberadaan Pedang Gila. Saya khawatir kita bakal mengalami kendala besar. Kita bisa diserang...!"

"Yang mulia Gusti Ayu. Apa yang dikatakan oleh dua saudara saya itu. Saya kira memang ada benarnya."

Timpal Kalebu si Maut Merah.

"Kita harus melihat keadaan dan siapa saja yang bakal muncul di tempat Ini. Bulan purnama tak lama lagi akan muncul di langit barat.Kita cari cara yang mudah untuk mendapatkan Pedang Gila. Lagi pula untuk mencapai pendataran Bukit Induk dari sini jauh lebih mudah "

"Apa maksudmu?"

Tanya Kupu Kupu Putih dengan suara menggumam.

"Ee, maksud saya. Kita cari cara yang mudah. Biarkan orang saling bunuh memperebutkan pedang. Siapapun yang berhasil memenangkan perkelahian berdarah dan mendapatkan pedang itu. Kita tinggal menghabisinya."

Terang Maut Merah. Kupu Kupu Putih anggukkan kepala sambil mengurai senyum. Tapi dia kemudian berucap.

"Pandai benar kau menyusun muslihat. Selanjutnya kita tinggal menunggu sekaligus membuktikan apakah muslihatmu bisa berjalan mulus. Siapapun di antara kalian yang berhasil mendapatkan Pedang Gila. Aku berjanji akan memberi hadiah yang tak mungkin terlupakan seumur hidup."

Ucap Kupu Kupu Putih membuat Maut Hijau, Maut Biru dan Maut Merah tersentak kaget namun gembira.

Beberapa tahun mereka mengabdi, menjadi kaki tangan setia belum pernah Kupu Kupu Putih memberi janji apapun terkecuali caci maki sumpah serapah penghinaan.

Muncul rasa ingin tahu dihati ketiga bersaudara itu hadiah apa gerangan yang bakal diberikan oleh gadis cantik jelita itu.

Walau merasa takut, Maut Hijau memberanikan diri ajukan pertanyaan.

"Maafkan saya Yang Mulia Gusti Ayu. Bolehkah saya tahu hadiah apa yang akan diberikan pada kami bila berhasil mendapatkan Pedang Gila?"

Kupu Kupu Putih tersenyum.

Dia melangkah maju, hampiri ketiga pengawalnya sambil membungkuk hingga memperlihatkan dadanya yang putih kencang bergelayutan.

Diusapnya ketiga penjaga itu satu persatu.. Tiga bersudara itu jadi belingsatan melihat pemandangan yang tak biasanya itu. Maut Merah menelan ludah.

Maut Biru julurkan lidah basahi bibir.

Jantung berdetak keras tubuh panas dingin diamuk gairah. Sedangkan Maut Hijau hanya bisa mendelik.

Kupu Kupu Putih berdiri tegak.

Semua tindakan yang dia lakukan disengaja untuk membangkitkan semangat juang pengikutnya. Malah sambil bertolak pinggang busungkan dada Kupu Kupu Putih menjawab pertanyaan Maut

Hijau.

"Kalian dengar.Bila kalian berhasil mendapatkan pedang Gila. Sebagai imbalan kalian akan kuberi kesempatan mandi bersamaku, kemudian membelai tubuhku yang indah ini sampai puas. Hanya sebatas itu dan tidak boleh lebih."

Tiga bersaudara saling pandang.

Walau wajah mereka memendam sedikit rasa kecewa.

Tapi dijanjikan mendapat hadiah seperti itu mereka sangat senang sekali.

Seumur-umur mereka hanya bisa menelan ludah setiap kali melihat kecantikan Kupu Kupu Putih.

Bukankah diberi kesempatan mandi bersama dan diizinkan membelai tubuh gadis jelita itu menjadi sesuatu yang luar biasa menyenangkan.

"Bagaimana? Apakah kalian tidak suka dengan hadiah yang kujanjikan? Kalau tidak mau. Aku bisa menggantikannya dengan emas!" kata Kupu Kupu Putih.

Karuan saja ketiga penjaga gelengkan kepala tidak setuju.

"Kami tidak inginkan hadiah emas walau banyaknya setinggi bukit. Kami lebih memilih hadiah mandi bersama juga kesempatan mengusap dan membelai tubuh indah yang Mulia Gusti Ayu."

Kata tiga bersaudara itu hampir bersamaan. Kupu Kupu Putih tersenyum.

Dia sengaja menggeliatkan tubuhnya dengan gerakan menawan hingga membuat para penjaga itu merasa jantung berdetak keras dan sekujur tubuh panas dingin diamuk keinginan sesat.

Melihat ini Kupu Kupu Putih tertawa. Tawanya kemudian lenyap.

Dengan tegas dia berkata.

"Kalian dengar. Hadiah masih jauh di depan mata. Sekarang lakukan tugas dengan

sebaik-baiknya. Lihat setiap perkembangan yang terjadi di bukit Induk. Siapapun yang muncul di tempat itu. Mereka adalah musuh yang harus diwaspadai."

"Saya dan dua saudara saya akan mematuhi setiap perintah. Kami tidak akan mengecewakanmu!" Kata Maut Biru mewakili dua sudaranya yang lain.

Sebelum menyebar ketiganya membungkukkan badan selanjutnya kepala masing-masing dibenturkan ke tanah.

Wuus! Wus! Wus!

Tiga Pembawa Maut hilang raib dari pandangan mata.

Melihat pengikutnya melenyapkan diri, Kupu Kupu Putih tersenyum.

*****

Ujung lorong jalan rahasia berakhir di ujung pintu batu.

Bocah Ontang Anting menghela nafas sambil pandangi pintu tebal berat luar biasa yang menghadang di depannya.

Menatap ke arah pintu yang luasnya cuma seukuran besar tubuh laki-laki dewasa ini membuat Ingatannya melayang jauh pada masa dua puluh tahun silam.

Dulu dia datang ke tempat ini membawa benda milik prabu Sangga Langit penguasa Istana Pulau

Es.

Benda berharga yang dia bawa dan harus disimpan di salah satu ruangan rahasia dalam gua Satu

Pintu Empat Ruang tak lain adalah senjata pusaka berupa sebilah pedang Maha Sakti bernama Pedang Gila.

Seperti telah dikisahkan dalam episode 'Misteri Pedang Gila' dan 'Maha Iblis Dari Timur Istana Pulau Es diserbu sekaligus dihancurkan oleh Maha Iblis Dari Timur.

Seluruh penghuni kerajaan yang terdiri dari raja, permaisuri dan dua putra mahkota juga para pembesar dan para perajurit menemui ajal.

Maha Iblis tidak sendiri, dia dibantu oleh tokoh sesat yang tidak lain adalah Penyihir Racun Utara.

Sesaat setelah penyerbuan itu.

Muncul manusia setengah Dewa Ki Panaraan Jagad Biru.

Tokoh sakti luar biasa ini kemudian membawa permaisuri Purnama Sari yang hamil tua ke suatu tempat tak jauh dari Goa Mayat Es.

Atas bantuan Nini Balang Kudu bayi dalam kandungan permaisuri berhasil diselamatkan.

Sementara permaisuri yang banyak mengalami luka dan kehilangan darah tak tertolong. Bayi yang terselamatkan itu merupakan keturunan satu-satunya dari prabu Sangga Langit penguasa Istana Pulau Es.

Ki Panaraan Jagad Biru memberinya nama Raja. Tapi karena tingkah lakunya yang konyol angin-anginan.

Ki Panaran Jagad Biru dan Nini Balang Kudu yang mengangkatnya menjadi murid memberinya tambahan nama di belakang Raja menjadi Raja Gendeng.

Lima hari sebelum peristiwa penyerangan yang melibatkan pasukan alam gaib dilakukan oleh Maha Iblis Dari Timur terjadi.

Prabu Sangga Langit telah mendapatkan firasat buruk.

Dia merasa bakal ada malapetaka yang menimpa istananya.

Kebetulan pada saat itu Bocah Ontang Anting sebagai sahabat lama datang menyambangi Istana.

Sang prabu menuturkan kegelisahannya pada kakek kerdil itu.

Lalu meminta Bocah Ontang Anting melakukan perjalanan rahasia dimalam hari dalam upaya menyelamatkan pedang dan menyimpannya di tempat rahasia dalam gua Empat Ruang Satu Pintu yang terdapat di bukit induk di ujung pantai Utara.

Semua peristiwa yang terjadi telah lama berlalu. Namun Bocah Ontang Anting merasa kejadiannya seperti baru beberapa hari saja.

Kini sang pewaris pedang telah dewasa.

Sebagai orang yang diserahi amanah sang prabu tugasnya adalah menunjukkan tempat penyimpanan pedang dan menyerahkan senjata itu pada yang berhak.

"Kek apa kita sudah sampai. Mengapa berhenti? Jalan ini buntu atau mungkin kita salah jalan dan kesasar ke liang lahat?"

Satu suara menegur dan itu adalah suara Raja. Bocah Ontang Anting terkesiap dan segera tersadar dari lamunannya. Dia menghela nafas lalu menghembuskannya perlahan. Tanpa menoleh dia menjawab pertanyaan Raja.

"Kita tidak tersesat, apalagi sampai gentayangan di liang lahat. Aku ingat peristiwa puluhan tahun lalu, aku pernah datang ke tempat ini di malam buta demi menjalankan amanat perintah ayahandamu yaitu gusti prabu Sangga Langit."

"Kau orang jujur. Atas jasamu itu kelak aku akan mengangkatmu menjadi seorang patih walau cuma patih gila. He he he."

Ujar Raja sambil tertawa mengekeh.

Bocah Ontang Anting menanggapi ucapan Raja dengan senyum.

Tanpa bicara dia segera julurkan tangan ke arah tonjolan batu yang terdapat di dinding sebelah kiri. Telapak tangan dikembangkan kemudian dia tekankan kebagian tonjolan batu.

Terdengar suara klik yang diikuti dengan suara bergemuruh bergesernya pintu yang berat. Batu penutup pintu bergeser ke sebelah kiri. Setelah pintu batu terbuka, Bocah Ontang Anting lambaikan tangan memberi isyarat pada Raja untuk mengikutinya.

Di belakangnya Raja anggukkan kepala.

Setelah melewati pintu jalan rahasia mereka menaiki undakan tangga yang jumlahnya dua puluh tiga.

Pada undakan tangga terakhir sampailah mereka disebuah pendataran cukup luas yang terdiri dari hamparan karang atos.

Bocah Ontang Anting menghirup udara dalam- dalam dengan perasaan lega.

Sementara itu Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es justru layangkan pandang memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

"Dari sini bukit di sebelah selatan dan utara terlihat lebih jelas. Namun pedataran di tebing bukit Induk ini merupakan tempat terbuka. Siapapun yang muncul dan bersembunyi diantara kedua bukit yang mengapit bukit Ini pasti dapat melihat gerak gerik kita!"

Kata Raja dengan wajah membayangkan rasa khawatir.

"Tak usah risau. Bukit Induk dan segala apa yang tersimpan di dalam Gua Empat Ruang Satu Pintu ada yang melindungi.Tujuan kita datang kemari adalah untuk mengambil senjata pusaka yang menjadi hak paduka.Siapa saja yang berani menyusup mereka tidak bakal lepas dari incaran malapetaka."

Terang si kakek membuat Raja menjadi heran.

Dengan alis berkerut Raja ajukan pertanyaan

"Eeh apa maksudmu kek? Kau mengatakan Gua Empat Ruang Satu Pintu? Kau juga mengaku setiap tamu tak diundang tak terlepas dari Incaran malapetaka? Apakah tempat ini ada penjaganya?"

Bocah Ontang Anting tersenyum sambil anggukkan kepala.

"Sejak Pedang Gila disimpan di tempat Ini dua puluh tahun yang lalu.Tempat ini terus diawasi oleh satu mahluk sakti luar biasa besar yang mungkin kelak bakal menjadi sahabatmu. Adapun tentang Gua Empat Ruang Satu Pintu aku sengaja tak menceritakannya padamu. Tapi kau akan melihatnya karena tak lama lagi begitu matahari tenggelam kita menuju ke sana."

Terang Bocah Ontang Anting.

"Hmm, selalu saja ada yang kau rahasiakan." Dengus Raja sambil menggeleng.

"Sekarang katakan padaku tentang mahluk penjaga yang kau sebutkan? Apakah mahluk itu berupa mahluk buas, jin atau sebangsa mahluk berbisa?"

Desak Raja tidak sabar. "Nanti juga kau akan tahu." "Tapi aku mau tahu sekarang!" "Kau terlalu memaksa." Sahut Bocah Ontang Anting.

"Tapi baiklah mahluk penjaga yang kumaksudkan sejenis burung." Merasa Bocah Ontang Anting tidak bicara jujur. Raja menyela. "Hah, burung lagi...? Burung Apa? Burung perkutut?!"

Desis Raja dengan mata mendelik.

"Bukan. Cuma seekor burung cucak rawa. Ha ha ha!" Sahut Bocah Ontang Anting diiringi gelak tawa. "Edan! Kau benar-benar gila kek,"

Maki Raja kesal. Sambil bersungut-sungut pemuda ini memutar tubuh. Menatap ke langit sebelah barat dilihatnya matahari yang merah nyaris terbenam diperaduannya.

"Kek... matahari hampir tenggelam. Kita harus cepat menyingkir ke tempat yang aman." "Hh, mengapa harus tergesa-gesa. Bulan purnama belum kelihatan. Lagi pula sekitar tengah

malam nanti tepat bulan di atas kepala kita baru bisa mengambil benda itu."

"Menunggu tengah malam hingga letak bulan persis di atas kepala? Mengapa begitu?" Tanya Raja tidak mengerti.

"Ketahuilah, paduka Raja. Di dalam gua Empat Ruang Satu Pintu ada sebuah rahasia besar yang hanya aku saja mengetahuinya. Di langit-langit gua terdapat satu lubang besar lubang bundar tembus hingga ke puncak bukit Induk. Lubang itu sebagai jalan keluar masuk cahaya bulan dan matahari. Tepat di bawah lubang di bagian lantai gua ada sebuah pintu rahasia khusus berbentuk bintang empat Sudut sebagai pintu kecil tempat penyimpan pusaka yang kusembunyikan. Tak seorangpun bisa membuka pintu bintang bersudut empat terkecuali bila simbol bintang yang menghubungkan ke tempat penyimpanan disinari cahaya bulan empat hari." terang Bocah Ontang Anting dengan suara lirih berbisik. Raja terdiam, sambil berpikir dia mengelus dagunya yang polos.

"Menurutku cukup rumit. Aku bisa bayangkan betapa berat tugasmu dulu. Tapi kek. Lebih baik tak usah kau ceritakan segala rahasia yang kau ketahui. Kita berada di tempat terbuka. Aku khawatir apa yang kau ceritakan ini didengar oleh orang lain!"

Ucap Raja.

"Baiklah. Sebaiknya kita masuk ke dalam gua tempat penyimpanan. Sesampainya di sana aku bisa bicara banyak tanpa khawatir ada orang lain mendengar pembicaraan kita."

Raja mengangguk setuju.

Dia lalu mengikuti Bocah Ontang Anting yang berjalan cepat menuju jurusan sebelah kiri tanah pendataran bukit Induk.

Tak lama keduanya sampai di samping bukit yang dituju.

Saat itu matahari telah digantikan rembulan tanggal empat belas yang muncul di langit barat. Udara dingin menusuk, Angin berhembus keras datang dari arah laut.

Di balik bukit Induk gemuruh ombak datang dan pergi menghempas dinding bukit. "Di sinikah tempatnya?"

Tanya Raja sambil menatap ke depan tebing datar yang terdiri dari bebatuan karang. Bocah Ontang Anting mengangguk.

Tanpa bicara dua tangan dirangkapkan ke depan dada. Dua kali kepala digelengkan ke kiri dan ke kanan.

Setelah itu dengan wajah tertunduk dari mulutnya terdengar suara ucapan.

"Bentar gaib jagad gaib. Aku Bocah Ontang Anting. Terlahir dengan nama jelek Sapa Brata. Aku Sang utusan pengemban amanat orang yang telah berpulang. Aku datang untuk mengambil barang yang tersimpan, selanjutnya akan saya serahkan pada yang berhak. Orang yang punya hak menerima senjata ada bersamaku. Namanya Raja tapi ada Gendeng di belakang namanya. Dia bergelar Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es. Satu-satunya pewaris pusaka yang lolos dari pembantaian keji puluhan tahun silam. Jagad Gaib alam gaib, saya minta dibukakan pintu disingkapkan tabir yang menghalangi pandangan mata. Beri kami jalan menuju gua Empat Ruang Satu Pintu dan bimbing kami menuju ke tempat penyimpanan yang dulu."

Selesai berkata begitu Bocah Ontang Anting, jatuhkan diri dengan kaki kiri berlutut sedangkan dua tangan yang saling bertaut ditempelkan di atas kepala.

Bocah Ontang Anting menjura ke tebing datar di depannya tiga kali.

Sedangkan Raja yang berdiri di belakangnya sambil menahan senyum jadi geleng-geleng kepala. Dalam hati Raja membatin.

"Kakek aneh. Segala tebing batu dia sembah dan diajak bicara. Dasar...!

Raja Gendeng tak sempat selesaikan ucapannya. Sebaliknya kini dia diam tertegun dengan mulut melongo begitu mendengar suara gemuruh dahsyat luar biasa yang berlangsung di depannya. Raja makin tercengang ketika mengetahui dinding bukit bergeser ke kiri dan membuka di sebelah kanan. Dinding menbentuk sebuah pintu bundar empat persegi dengan lebar tidak kurang dari dua tombak. Di balik dinding pintu gua gaib yang terbuka terbentang sebuah ruangan luas namun gelap. Bocah Ontang Anting bangkit berdiri. Tanpa memandang ke belakang kakek itu berucap,.

"Cepat ikuti aku, Pintu Satu Empat Ruang telah terbuka. Begitu kita masuk pintu ini akan tertutup dengan sendirinya!"

"Di dalam gelap. Tapi tidak mengapa. Aku mengikut saja apa yang kakek minta."

Jawab Raja. Tanpa menunggu keduanya berlompatan masuk melewati pintu satu-satunya yang menghubungkan ke bagian dalam. Begitu mereka jejakkan kakinya di dalam pintu gaib itupun menutup dengan sendirinya.

"Gelap luar biasa. Aku bahkan tidak bisa melihat telingamu kek?" kata Raja. "Dalam gelap ada terang!" Menyahuti Bocah Ontang Anting. Dan keanehan kemudian terjadi.

Baru saja Bocah Ontang Anting selesai berucap.

Di seluruh dinding ruangan yang gelap muncul cahaya.

Raja kaget sekaligus merasa kagum.Dia memperhatikan cahaya terang yang bermunculan di seluruh dinding.

Jumlah cahaya putih yang berfungsi menggantikan pelita tak kurang dari sembilan buah. Berbentuk seperti bintang bersegi empat.

Dengan perhatikan keadaan ruangan yang luas.

Ruangan luas dibatasi empat pilar tiang penyangga dengan empat ruang bersekat setinggi dada.

Kemudian di ujung ruangan yang paling besar terdapat dua buah altar berupa batu empat persegi yang terdiri dari dua tingkat.

Penasaran pemuda ini mendekati kedua altar bertingkat itu.

Dari jarak dekat dengan jelas dia melihat dipermukaan altar pertama di bagian tengahnya yang sejajar dengan lubang menganga di langit-langit ruangan terdapat sebuah simbol bintang empat sudut berwarna putih kecoklatan.

Di sekeliling simbol dibatasi dengan sebuah garis empat persegi seluas panjang lengan orang dewasa.

Ketika Raja dongakkan kepala menatap ke langit- langit.

Dia melihat lubang bundar seukuran tubuh manusia tembus hingga ke puncak bukit induk. Dari tempat itu secara samar dia melihat cahaya bulan.

Karena bulan belum mencapai titik tertingginya.

Maka cahayanya belum masuk tembus hingga menyinari lambang bintang empat persegi di depannya.

Tanpa bicara sejurus berikutnya Raja alihkan perhatiannya ke altar kedua.

Altar kedua yang berhimpitan dengan altar pertama ukurannya jauh lebih besar. Menatap kebagian permukaan altar Raja pun tertegun.

Dia melihat sebuah patung berbentuk seekor burung rajawali berbulu putih dengan ukuran luar biasa besar.

Patung burung raksasa itu menghadap ke arahnya dengan sayap setengah direntang dengan sikap seolah melindungi.

"Siapa yang membuat patung rajawali dengan ukuran begini besar kek?"

Bertanya Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es pada Bocah Ontang Anting yang berdiri tegak di sebelahnya. "Yang kau lihat tidak selamanya seperti kenyataan. Rajawali itu bukanlah seperti yang kau duga.

Dia mahluk ciptaan dewa. Usianya ratusan tahun. Dia hidup dalam keabadian dan menghabiskan waktu dalam pertapaan menunggu datangnya seorang sahabat yang tepat."

"Apa maksudmu? Rajawali ini bukan patung? Dia hidup seperti kita?" Desis Raja seolah tidak percaya.

"Ya. Rajawali ini mahluk ciptaan dewa?" Jelas si kakek.

"Bagaimana mungkin?"

Bocah Ontang Anting tersenyum.

"Kau diwarisi ilmu yang membuatmu dapat melihat sesuatu yang berhubungan dengan alam gaib, kau juga mempunyai ilmu sihir putih. Dengan kesaktian yang kau miliki, kau tidak cuma bisa mellhat keadaan yang sesungguhnya. Tapi juga bisa mengajaknya bicara".

"Hah, mana ada patung yang bisa bicara. Kau pandai membual, tapi aku akan mencoba?" Kata Raja sambil tersenyum.

Bocah Ontang Anting tidak menanggapi, namun dia terus memperhatikan Raja. Raja sendiri secara diam-diam kerahkan tenaga dalam ke bagian matanya.

Kepalanya bergetar, pelupuk mata berkedap-kedip sedangkan kedua bola mata terasa sejuk. Tanpa menunggu Raja mengusap matanya tiga kali.

Wus!

Setelah mata diusap.

Kini dengan jelas Raja dapat melihat betapa rajawali putih yang berdiri tegak seperti patung ternyata benar-benar hidup.

Mata berkedip-kedip, paruh bergerak membuka menutup seakan menyapa Raja. Selain itu bagian dadanya juga tampak kembang kempis seperti sedang bernafas. Raja merasa takjub.

Berulang kali dia mengucap puj ­ pada yang maha pencipta atas semua keajaiban yang dilihatnya ini.

"Dia benar-benar hidup."

Ucap Raja disertai decak kagum. Pemuda Ini mengusap matanya tiga kali. Pandangan mata kini kembali seperti biasa.

"Rajawali putih ini memang hidup. Kalau kau tidak percaya tunggulah sampai tengah malam nanti. Begitu cahaya bulan tembus menyinari ruangan ini, sang rajawali akan membantu mengatasi segala kesulitan yang mungkin bakal kita hadapi."

Kata si kakek berterus terang.

"Mudah-mudahan tidak banyak kendala. Kita berada di ruangan tertutup. Pedang gila belum bisa kita ambil sebelum cahaya purnama menyinari altar ini. Sayang walau tempat ini sepertinya aman. Namun aku merasa seperti ada beberapa mata yang mengawasi gerak gerik kita!"

Kata Raja dengan suara perlahan.

"Aku juga merasa demikian. Mungkin ada yang datang menyusup, tapi bagaimana dia bisa menembus pintu gaib."

Sahut Bocah Ontang Anting dengan rasa tegang. "Aku tak tahu. Kita harus bersikap waspada!" Kata Raja dengan suara lirih.

Segala apa yang dirasakan oleh Bocah Ontang Anting maupun Raja sebenarnya tidak terlalu berlebihan.

Jauh sebelum Raja dan si Bocah memasuki ruang gua Satu Pintu Empat Ruangan sesungguhnya telah hadir dua pendatang lain.

Dua pendatang tersebut bukan lain adalah gadis berwajah ayu berpakaian hijau bermantel bulu bersenjata kipas dengan rambut panjang digelung ke atas.

Gadis yang bernama Untari ini tidak datang sendiri.

Dia bersama gurunya mahluk alam roh yang bukan lain adalah Hyang Kelam.

Bagaimana murid dan guru itu bisa masuk menembus pintu gaib yang rahasianya ada di tangan Bocah Ontang Anting?

Sebabnya tak lain adalah sebagai mana telah dikisahkan dalam episode 'Misteri Pedang Gila.

Hyang Kelam yang tinggal menetap di Tepi Jurang Batas Nyawa' atau Cadas Nyawa ini usianya telah mencapai ratusan tahun.

Dia termasuk mahluk alam gaib yang jarang sekali memperlihatkan ujud.

Sebagai tokoh misterius yang sangat sakti dan mempunyai ilmu sihir tingkat tinggi.

Hyang Kelam tokoh paling ditakuti di Pulau Es dan guru paling kejam yang kerap melakukan perbuatan tak senonoh pada muridnya.

Dari tujuh muridnya terdahulu yang seluruhnya terdiri dari gadis belia. Hanya Untari saja yang selalu luput dari kebejatan mahluk alam gaib ini.

Enam saudara berbeda-beda karena tak tahan menerima perlakuan keji dari Hyang Kelam. Tiga di antaranya malah mengakhiri hidup setelah berbadan dua.

Sebagai murid.

Untari sebenarnya tidak begitu setuju dengan keinginan sang guru bejad yang menghendaki dan berkeinginan kuat mendapatkan Pedang Gila.

Apalagi Pedang Gila adalah senjata pusaka milik kerajaan.

Dan rasanya hanya pewaris kerajaan saja yang berhak memiliki senjata itu. Walau kehendak hati bertentangan dengan keinginan sang guru. Untari tidak berani membantah.

Dia hanya bisa mengikuti kemauan guru karena khawatir dengan murkanya. Beberapa tugas telah dia lakukan.

Diantaranya termasuk menyirap kabar tentang keberadaan pedang.

Tapi pertemuannya dengan Raja yang terjadi secara tak sengaja di kedai tak jauh dari Tepi Kali Pening dalam perjalanan pertamanya itu telah memberi kesan tersendiri di hati Untari.

Dia terpesona melihat Raja, hatinya bergetar ketika menatap matanya dan Untari kagum dengan jurus-jurus silat serta ilmu kesaktian pemuda itu ketika mempecundangi Golok Terbang Cambuk api dan empat anak buahnya.

Dimata Untari, Raja Gendeng adalah pemuda yang polos lugu, kocak, konyol dan aneh. Beberapa hari setelah menemui gurunya Untari ternyata tak dapat melupakan pemuda itu.

Namun untuk sementara Untari harus mengabaikan segala perasaan serta ingatannya pada Raja.

Apalagi Hyang Kelam sang guru yang mengagumi kemolekan tubuhnya dan memendam hasrat ingin mendapatkan keperawanannya memintanya pergi ke bukit Induk di pantai utara.

Tanpa daya Untari terpaksa mematuhi perintah itu. Dia pergi dengan diiringi Hyang Kelam.

Sesampainya di tempat tujuan setelah sempat diserang pukulan jarak jauh oleh Momok Laknat. Tidak di sangka-sangka kesulitan baru datang menghadang.

Untari tidak menemukan gua atau tempat rahasia yang diduga sebagai tempat menyimpan senjata mustika yang dicari.

Bahkan perjalanan menuju pendataran bukit Induk sulitnya luar biasa. Tapi gurunya dengan segenap ilmu kesaktiannya dapat menemukan jalan keluar dan kesulitan yang dihadapi muridnya.

Dalam keadaan tak terlihat kasat mata Hyang Kelam berucap memberi petunjuk

"Ada pintu, ada pula sebuah gua besar di balik pintu. Pintu Itu tepat berada di depanmu."

Ujar Hyang Kelam. Untari diam memperhatikan lamping batu datar di depannya. Dia tidak melihat celah juga tak melihat tanda- tanda adanya pintu seperti dimaksud gurunya. Seakan mengerti apa yang dipikirkan sang murid. Hyang Kelam menyambung ucapan.

"Dengan mata telanjang mustahil pintu itu bisa kau lihat. Dia gaib. Ada mantra untuk membukanya. Aku tak tahu mantra itu. Seseorang pasti tahu. Orang itu keluar masuk, menyimpan dan pernah menyembunyikan pedang dalam gua sana. Kita tak bisa menunggu kedatangan orang yang mengetahui seluk beluk pintu."

"Apakah tidak ada cara lain agar kita dapat masuk ke dalamnya?" Tanya Untari.

"Ha ha ha. Aku berasal dari alam gaib. Jika aku sampai tidak mengetahui keadaan di alam gaib untuk apa. Kau tunggu saja disini, jangan kemana-mana. Aku akan melakukan penyelidikan. Seandainya ada lubang semut sekalipun di bukit ini yang tembus hingga ruang bagian dalam gua. Kita pasti bisa lolos dari lubang itu."

Ujar Hyang Kelam disertai tawa bergumam .Untari diam tidak menanggapi. Dia sadar yang dikatakan gurunya bukan sesuatu yang berlebihan.

Gurunya bisa menyelinap masuk kemana saja berkat ilmu kesaktian dan Sosoknya yang gaib. Angin berhembus di samping Untari.

Hembusan angin kemudian terus bergerak kebagian atas bukit. Untari menunggu sambil memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Tidak berselang lama.

Sekali bagi dia merasakan ada sambaran angin dingin menerpa di sebelah kanannya. Sang guru telah datang.

"Bagaimana guru?"

Tanya Untari tidak sabar.

"Ada jalan masuk di puncak bukit ini. Ukurannya tidak lebih besar dari bocah lima tahun. Aku mengetahui lubang itu berhubungan langsung dengan ruangan gua."

"Lubang katamu"

Tukas Untari dengan mata berkilat.

"Ya. Ada lubang yang menghubungkan ke dalam gua di perut bukit. Kau tahu sejak dulu aku suka lubang?"

"Guru jahanam. Otakmu sungguh kotor. Aku bersumpah tak sudi kau jadikan korban nafsu bejatmu!"

Maki Untari dalam hati. Dia mengusap wajahnya yang bersemu merah. Sebaiknya Hyang Kelam malah mengumbar tawa bergelak.

"Aku tidak sedang bercanda guru.Sekarang katakan padaku bagaimana cara agar kita dapat sampai ke dalam ruangan yang guru maksudkan!"

Kata Untari

"Oh ho ho ho. Mengapa sekarang kau berubah menjadi bodoh. Kau cukup memejamkan matamu.

Aku akan membawamu masuk ke dalam ruangan itu."

Ujar Hyang Kelam. Seperti yang dikatakan gurunya. Untari segera pejamkan mata. Begitu mata terpejam dia merasakan ada jemari tangan memegang lengannya. Jemari itu sangat dingin luar biasa tak ubahnya seperti jemari orang yang sudah mati.

"Bersiaplah!"

Kata Hyang Kelam.

Sentuhan tangan Hyang Kelam bukan saja membuat Untari lenyap dari pandangan mnata. Tapi juga menjadikan tubuhnya melambung tinggi hingga mencapai puncak bukit lalu amblas masuk ke dalam lubang yang menghubungkan ke bagian dalam gua.

Setelah jejakan kaki di dalam gua yang terdiri dari empat ruangan dengan empat tiang penyangga itu Hyang Kelam melepaskan tangannya.

Begitu tangan terlepas dari genggaman Untari terlihat kembali. Gadis itu memperhatikan sekelilingnya.

Tak jauh di depan dia melihat dua altar.

Satu simbol bintang pada altar pertama juga patung. Patung seekor burung rajawali putih.

Baik Untari maupun Hyang Kelam sampai saat itu tak pernah menyadari bahwa rajawali putih yang berdiri di altar kedua bukanlah patung tapi mahluk hidup yang bernafas dan memperhatikan gerak gerik mereka.

"Menurut saya ini adalah sebuah tempat yang aneh.Tidak terlihat tanda tanda pedang pusaka disembunyikan di tempat ini."

Ucap Untari.

"Benda yang kita cari memang ada di tempat ini. Aku yakin sekali. Sekarang aku akan melakukan pemeriksaan!"

Kata Hyang Kelam masih dalam ujud gaibnya. Angin menderu disertai suara berdesir, menyapu ke segenap penjuru ruangan lalu kembali ke tempat semula.

"Bagaimana guru?"

Tanya Untari kepada Hyang Kelam yang telah berdiri di sebelahnya.

"Aku telah memeriksa setiap sudut tempat ini. Tidak ada tanda-tanda Pedang Gila disembunylkan di tempat itu. Tapi aku yakin pedang disimpan di balik altar pertama ini!"

Sahut Hyang Kelam.

"Apa yang hendak guru lakukan?"

Tanya Untari dengan tatapan tertuju ke altar pertama "Aku akan membongkar altar ini."

Menyahuti Hyang Kelam tanpa ragu. Belum sempat Untari berbuat apa-apa. Tiba-tiba dua larik cahaya membersit di sebelahnya.

"Mata Iblis Peruntuh Langit?" desis Untari tercekat.

Dia mengenali serangan itu bersumber dari sepasang mata gurunya. Dia juga tahu benda apapun yang terkena serangan ilmu Mata Iblis Peruntuh Langit bakal hancur menjadi kepingan. Begitu hawa panas menderu ganas ke arah altar di depannya dia segera melompat ke belakang.Cahaya merah dan biru terus melesat dengan telak menghantam simbol bintang di tengah altar.

Bum ! Buum!

Ledakan keras berdentum terjadi dua kali berturut turut. Bunga api berpijar memercik bertaburan di udara. Sekeliling perut gua mengalami guncangan keras. Tapi altar dan simbolnya sedikitpun tak bergeming. Untari kemudian melihat kilatan-kilatan cahaya bermunculan secara menakjubkan di sekeliling altar tak ubahnya seperti perisai pelindung.

"Edan! Belum pernah aku melihat ada altar yang bisa melindungi sendiri. Hidup selama ratusan tahun serangan dari mataku belum pernah gagal. Bagaimana bisa aku seperti itu?"

Terdengar suara rutuk sumpah serapah.

"Mungkin ada rahasianya. Dan pasti ada cara untuk membuka pintu ruang tersembunyi di dalam altar itu guru?"

Ucap Untari menimpali sumpah serapah gurunya.

"Hmm, lubang di atas itu aku yakin ada hubungannya dengan simbol di altar ini. Mungkin butuh cahaya, cahaya bulan purnama empat belas. Kita harus menunggu datangnya tengah malam nanti. Begitu bulan tepat berada di atas kepala cahayanya pasti masuk ke dalam sini melalui lubang di langit-langit gua."

"Menurut guru begitu cahaya bulan menyinari altar simbol bintang maka kunci penghalang akan membuka dengan sendirinya."

"Ya tepat seperti itu. Tapi....apakah kau mendengar sesuatu?"

Tanya Hyang Kelam. Untari tidak segera menjawab. Sebaliknya dia memasang telinga dan mendengarkan suara sekecil apapun yang muncul di tempat itu.

"Ada suara datang dari belakang kita guru. sepertinya suara orang yang sedang membaca mantra."

"Ya. Memang ada orang yang datang. Salah satu dari mereka agaknya mengenal dengan baik tempat ini. Dia yang membaca mantra pembuka pintu gaib. Lekas berlindung, pergunakan tabir gaib. Kau tahu apa yang telah kuajarkan kepadamu!"

Kata Hyang Kelam.

Tidak perlu bertanya dua kali.

Untari segera rangkapkan dua tangan di depan dada.

Mulut berkemak- kemik membaca mantra Pelenyap Jejak Menipu Pandang. Selesai membaca mantra matapun segera dia pejamkan.

Seketika sosok Untari lenyap.

Dia dan gurunya menyingkir ke sudut ruangan yang gelap. Dari tempat itu pintu yang bergeser.

Dua sosok tubuh berkelebat masuk. Pintu batu menutup. Tak lama semua pelita yang terdapat di setiap penjuru dinding ruangan menyala. Hyang Kelam dan Untari sekarang sama-sama dapat melihat dua orang yang masuk melalui pintu gaib ternyata adalah seorang kakek bertubuh pendek berpakaian aneh mirip papan catur berkepala botak sulah.

Di punggungnya membekal busur dan bumbung anak panah.Sedangkan orang kedua yang membuat jantung Untari berdetak keras adalah seorang pemuda berpakaian putih bercelana hitam, rambut panjang sebahu berwajah tampan suka tersenyum cengengesan tapi acuh.

"Orang jelek pendek membawa busur panjang kedodoran itu? Rasanya dia tidak asing bagiku." Gumam Hyang Kelam.

"Apakah guru mengenalnya?"

Bertanya Untari sambil memendam kegelisahan.

Dia yang pernah bertemu dengan pemuda gondrong yang tak lain adalah Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es beberapa hari yang lalu sedikitpun tak pernah bisa melupakan.

Si gendeng aneh yang mempunyai ilmu kesaktian luar biasa tinggi.

"Aku mengenal sekali juga tidak. Tapi aku tahu kakek botak itu tinggal menetap di Lembah Tapa Rasa. Namanya Ki Sapa Brata lebih dikenal dengan sebutan. Bocah Ontang Anting. Dia punya hubungan baik dengan gusti prabu Sangga Langit. Kukira dialah orangnya yang telah membawa dan menyelamatkan pusaka kerajaan di tempat ini sebelum Maha Iblis Dari Timur melakukan penyerbuan ke Istana Pulau Es" terang Hyang Kelam.

"Tapi aku masih belum mengerti mengapa dia membawa pemuda itu?"

"Guru. Bukankah aku telah mengatakan padamu. Pemuda gondrong yang bersama kakek kerdil itu adalah pemuda yang telah membuat Golok Terbang Cambuk Api dan empat anak buahnya jadi pecundang? Dia mengaku bernama Raja. Ya.dialah Raja Gendeng yang dijuluki Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es."

Terang Untari membuat Hyang Kelam terkaget-kaget

"Murid bodoh. Mengapa waktu itu kau tidak mengatakan apa julukannya? Kau cuma mengatakan dia bernama Raja."

Geram Hyang Kelam.

"Sst. Jangan marah-marah. Nanti mereka mendengar suara kita. Lagi pula apa artinya sebuah julukan?"

Tanya sang murid.

"Mengapa takut. Kita berada di alam gaib. Mereka tak bisa mendengar suara kita walau kita menjerit keras." d ©ngus Hyang Kelam.

Setelah menghela nafas Hyang Kelam melanjutkan ucapan.

"Kau masih belum mengerti juga? Jika dia mempunyai sebutan Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es. Artinya dia berasal dari Istana itu." "Apakah mungkin dia putera prabu Sangga Langit?"

Kata Untari setengah bertanya. Hyang Kelam menggeram.

"Aku yakin sekali dia satu- satunya keturunan prabu Sangga Langit yang berhasil diselamatkan oleh seseorang."

"Lalu apa kita harus serang mereka sebelum bulan purnama berada di puncak tertingginya?" Tanya Untari. Suara gadis itu bergetar. Entah mengapa Untari khawatir atas keselamatan Raja.

Hyang Kelam terdiam lama. Dia memperhatikan sang murid. Tiba-tiba dari mulutnya meluncur ucapan.

"Jangan membesarkan keinginan apalagi menanam harap dengan orang lain. dilenyapkan.Hanya aku yang boleh mendapatkan pedang"

Mendengar ucapan gurunya yang ketus Untari diam-diam merasa kaget. Namun dengan berpura-pura tidak tahu dia ajukan pertanyaan.

"Aku tak mengerti apa yang guru maksudkan?" Hyang Kelam tersenyum dingin.

"Jangan kau mengira aku tidak mengetahui apa yang ada di hatimu Untari. Kau diam-diam tertarik pada pemuda gendeng itu bukan? Jangan harap aku akan berpangku tangan membiarkan cintamu tumbuh bersemi pada orang lain. Hati, cinta, jiwa raga dan kemolekan tubuhmu hanya aku yang layak memilikinya. Satu purnama mendatang bila urusan menemukan pedang selesai. Sudah selayaknya kau menyerahkan kehormatanmu padaku dan melayani aku selayaknya seorang istri pada suaminya! Ha ha ha!"

Kata mahluk yang usianya telah mencapai dua ratus lima puluh tahun itu. Merinding tengkuk Untari mendengar ucapan gurunya.

Dia tak mau menjadi korban kebejatan nafsu sesat Hyang Kelam. Sebagaimana yang dialami oleh saudara seperguruannya yang lain.

Dia akan memberontak bahkan kalau perlu membunuh Hyang Kelam setiap ada kesempatan. "Mahluk jahanam terkutuk. Guru celaka tak mengenal aturan. Jika kau menyentuh tubuhku walau

cuma di ujung jempol kakiku saja aku bersumpah akan membunuhmu" Maki Untari dalam hati.

Tapi Untari memilih berdiam diri.

Perhatiannya sekarang lebih banyak terjadi pada Bocah Ontang Anting dan Raja yang sedang berbincang-bincang di depan altar.

*****

Bukit karang Induk menjulang tinggi dalam kebisuan.

Malam sebelum bulan purnama tepat berada di titik tertingginya. Tak jauh dari kaki bukit di sebelah utara. Dalam keremangan cahaya bulan purnama yang timbul tenggelam dipermainkan awan kelabu.

Satu sosok bayangan tinggi berjubah hitam melesat cepat memasuki kawasan pendataran yang terdapat di bagian lereng bukit Induk. Dari caranya melayang laksana terbang jelas suatu pertanda orang yang datang ini memiliki ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerak yang sungguh luar biasa.

Tidak lama setelah melewati batu-batu terjal sosok berjubah hitam ini melayang ke bawah dengan gerakan laksana seekor burung yang hinggap di dahan .Begitu jejakkan kaki sosok yang ternyata berupa seorang laki-laki berwajah bengis, berkumis dan bercambang bawuk lebat ini memutar tubuh sambil pandangi keadaan di sekelilingnya.

Menatap ke arah bukit sebelah selatan alisnya berkerut. Menatap ke bukit sebelah utara matanya mendelik.

Laki-laki yang tak lain adalah Maha Iblis Dari Timur ini menyeringai. Dalam hati dia berkata.

"Ternyata sudah ada yang mendahuluiku. Tapi apa yang perlu aku takutkan, kalau cuma tikus dan kecoak busuk dunia persilatan. Tak seorang pun yang bakal kubiarkan hidup. bila mengganggu segala kepentinganku di sini. Dua puluh tahun lebih aku mencari. Pedang Gila harus menjadi milikku. Aku akan menjamu setiap manusia yang berani menginjakkan kakinya di tempat ini dengan sebuah pesta besar. Pesta Darah paling meriah dalam sejarah kehidupanku!" geram Maha Iblis sinis.

Sekali lagi Maha Iblis Dari Timur memutar tubuh. Kini dia menghadap ke arah bukit-bukit tempat dari mana Maha Iblis bersuit tiga kali. Begitu suara suitan lenyap seketika itu juga dari balik bebukitan bermunculan puluhan kepala yang terdiri dari laki-laki berwajah dan berpenampilan serba menakutkan. Seperti kawanan monyet mereka berlompatan menuju ke arah pedataran tempat dimana Maha Iblis berdiri.

"Kalian semua berlutut di hadapanku!" Kata Maha Iblis dengan suara serak parau.

Puluhan pengikut bergerak mendekati dengan cara melompat dan berjalan dengan menggunakan kaki juga kedua tangannya.Setelah puluhan orang yang pernah dia bebaskan dari Bukit Batu Kutuk ini duduk bersimpuh berjejer rapi di depan Maha Iblis.

Mereka segera menjura memberi penghormatan.

"Terimalah hormat kami wahai paduka penolong. Kami semua siap menjadi pelayanmu dan patuh terhadap semua perintah."

Kata orang-orang itu sambil bungkukkan tubuh dalam-dalam. Maha iblis tertawa tergelak-gelak.

Sambil mengumbar tawa dia berucap.

"Bagus! Sudah sepatutnya kalian semua membalas budi hutang nyawa kepadaku.Siapa saja yang membangkang pasti kubunuh.Jika bukan karena kemurahan hatiku kalian saat Ini pasti masih mendekam dalam tawanan gadis aneh Dewi Harum."

"Kami bisa menerima, apa yang paduka penolong katakan memang benar adanya.Maka sebagai balas budi yang telah paduka berikan pada kami.Kami semua siap berbakti dan mengabdi sampai mati."

kata salah seorang di antara mereka mewakili teman-temannya. Maha Iblis Dari Timur tertawa tergelak-gelak.

Tapi dia tidak percaya begitu saja dengan segala janji kesetiaan bekas tawanan Kejahatan Dunia Persilatan' itu. Setelah tawanya terhenti Maha Iblis mengambil sebuah kantong merah dari balik kantong jubahnya.

Penutup kantong dibuka.

Isinya yang ternyata terdiri dari butiran pel berwarna merah dia tuangkan ke telapak tangan.

Orang-orang yang bersimpuh di depannya saling pandang tidak mengerti namun juga merasa was-was.

Belum sempat mereka ajukan pertanyaan apapun. Maha Iblis berkata.

"Aku tahu kalian adalah orang yang bisa memegang janji. Tapi sekarang kita menghadapi persoalan yang tidak ringan. Dan untuk menambah semangat kalian dalam menghadapi setiap kemungkinan yang tidak diinginkan. Aku akan memberikan obat pemb ¡ngkit kekuatan dan keberanian. Obat ini harus kalian makan sekarang juga."

Kemudian tanpa bicara lagi Maha lblis meminta orang-orang itu membuka mulutnya.

Begitu mulut terbuka, dengan gerakan cepat luar biasa secara cepat dia menyambitkan pil ke dalam mulut setiap orang yang bersimpuh di depannya.

Tanpa dapat dicegah setiap pil amblas masuk ke dalam tenggorokan dan meluncur ke dalam perut.

Setelah obat masuk ke dalam perut.

Tak berselang lama orang- orang ini merasakan perut dan dadanya menjadi hangat. Keberanian meningkat dan tubuh menjadi lebih ringan.

"Obat yang luar biasa?!"

Berkata bekas tawanan. Di tempatnya berdiri Maha Iblis tersenyum.

"Obat yang kalian makan bisa membuat tenaga dalam dan kekuatan menjadi berlipat ganda. Tapi aku tidak bodoh. Kalian menyangka aku percaya begitu saja dengan janji manis sumpah setia dari mulut busuk kalian? Ha ha"

Orang-orang itu tersentak kaget

"Sang penolong, apa maksud ucapanmu?"

Tanya salah satu diantara mereka yang bertubuh kurus berambut panjang awut-awutan. "Ketahuilah. Dalam obat yang kalian makan terkandung kekuatan juga racun sepuluh hari. Obat penawarnya ada padaku.Jika kalian terbukti tidak setia dan membangkang terhadap perintahku apalagi sampai melarikan diri. Dalam waktu sepuluh hari ke depan.Kalian akan menemui ajal. Tidak hanya itu sebelum ajal menjemput. kalian mengalami derita siksaan yang luar biasa. Pembuluh darah menggembung bengkak, tubuh panas seperti terbakar setelah itu darah bakal mengucur dari setiap pori-pori di tubuh kalian. Ha ha ha!"

"Licik!"

Teriak bekas tawanan itu marah.

Mereka marah tapi tetap dalam keadaan tidak berdaya.

Pembicaraan yang terjadi antara Maha Iblis Dari Timur dengan orang-orang bekas tawanan tidak cuma didengar oleh Kupu Kupu Putih serta tiga pengawalnya.

Tetapi juga didengar jelas oleh Dewi Harum yang dikenal dengan nama Puteri Pedang Harum.

Gadis berpakaian warna ungu berambut panjang digelung berkaus hitam lebat dan sering berpakaian ketat ini datang bersama saudara angkatnya si manusia tinggi besar luar biasa seorang tokoh sakti bernama Angin Pesut yang juga dijuluki Dewa Saru Saru. Begitu datang jejakkan kaki di lamping bukit, Dewi Harum memang sengaja tidak menampakkan diri untuk tidak segera menuju tanah pendataran di lereng bukit.

Bersama kakek yang memiliki bobot lebih darl delapan ratus kati dia memilih melakukan pengintaian dengan mendekam di balik pohon besar.

Waktu itu Angin Pesut yang kulit tubuhnya memiliki dua warna yang berlainan yaitu separoh hitam dan separoh warna putih sempat ajukan pertanyaan sebagai ujud sikap tidak setuju.

"Aku tahu saudariku. Untuk sampai ke pendataran di bukit induk bukan pekerjaan mudah.Jalan kesana dipenuhi karang tajam, licin dan sulit. Salah kita melangkah tubuh kita bakal tergelincir babak belur dipenuhi luka.Tapi kau tidak perlu takut. Aku bisa mendukungmu dan membawamu berlari.Bagiku untuk mencapai pendataran bukit induk bukan masalah."

Kata Angin Pesut yang memiliki rambut putih gimbal ini tidak sabaran. Mendengar ucapan saudara angkatnya, dara berkulit putih susu ini tersenyum.

"Siapapun tidak pernah meragukan kemampuanmu kakak. Sebagai manusia juga sebagai titisan dewa walau dewa kesasar. Apakah kau tidak merasakan bahwa sebenarnya bukan kita saja yang telah berada di tempat ini. Di bukit sebelah selatan ada dua sosok mendekam memusatkan pengintaian ke arah pendataran. Kemudian ada serombongan lain orang yang baru saja sampai di tempat ini. Tidak cuma itu dikejauhan sana aku juga mendengar suara orang berlari menuju kemari. Bukit yang sunyi ini aku khawatirkan tepat tengah malam nanti bakal dibanjiri darah orang-orang tamak serakah yang menginginkan Pedang Gila"

"Perlu apa kita takutkan! Kedatangan kita kemari hanya mematuhi perintah gurumu. Tugas kita membantu agar pedang Gila dapat kembali ke tangan orang yang berhak mewarisinya." Ucap Angin Pesut lugas.

"Aku tahu. Orang yang berhak mewarisi senjata itu adalah pewaris tahta Istana Pulau Es. Aku belum pernah bertemu orangnya. Kita hanya diberi tahu bahwa orang yang harus kita bantu bernama Raja dikenal dengan sebutan Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es. Bagaimana rupa pemuda itu kita belum pernah melihatnya"

"Ya. Siapa saja nanti yang muncul disini asalkan bernama Raja tak perduli apakah dia Raja Gendeng, Raja Gila, Raja Penyamun, Raja Pengintip atau rajanya para maling asal nama depannya Raja pasti kita dukung"

Kata Angin Pesut sambil mengulum senyum.

Dewi Harum ikutan tersenyum. Tapi senyum sang dara lenyap, pandangan matanya tertuju lurus ke arah beberapa gundukan karang tak jauh dari bukit induk.

"Lihat saudaraku,"

Kata Dewi Harum dengan suara lirih sementara tangan menggamit lengan kakek berusia tiga ratus tahun itu. Angin Pesut menoleh sekaligus menatap ke arah yang ditunjuk saudari angkatnya.

Bertubuh tinggi besar, berpakaian hitam berjubah hitam.

"Siapa dia?" gumam Angin Pesut dengan kening berkerut.Dewi Harum diam tak menanggapi.

Dia terus memperhatikan sosok hitam yang terus melesat menuju pedataran bukit induk sambil berusaha mengenali ciri-ciri orang.

Sampai kemudian sosok berjubah hitam jejakkan kaki di tanah pedataran.

Cahaya bulan yang cukup terang membantu gadis ini mengenali siapa adanya orang itu. "Hmm, orang berjubah hitam itu ciri-cirinya sama persis sama seperti yang dituturkan oleh

guruku"

"Memangnya siapa dia? Aku sendiri rasa-rasa mengenalnya!"

Kata Angin Pesut pula. Dewi Harum tiba- tiba menepuk keningnya sendiri. Dengan cepat dia menanggapi.

"Saudaraku kau jangan tolol. Bagaimana kau tidak mengenalnya. Bukankah dia yang telah meracunimu dengan kabut asap dan tawanan Kejahatan Rimba Persilatan. Manusia jahanam Itulah yang mempunyai sebutan Maha Iblis Dari Timur!"

Jelas Dewi Harum membuat Angin Pesut belalakkan mata dan menggeram marah.

"Kunyuk keparat! Jadi dia bangsatnya yang telah membantai kerabat Istana Pulau Es? Tapi aku tidak melihat kaki tangannya yang tersohor dengan sebutan Penyihir Hacun Utara?" desis Angin Pesut dengan jemari terkepal dan geraham bergemeletukan.

"Di manapun adanya betina tua itu tak menjadi soal. Jika dia ikutan muncul di tempat ini aku akan meringkusnya hidup atau mati." Tegas Dewi Harum.

"Aku tidak sabar menunggu.Maha Iblis harus kutangkap untuk mempertanggung jawabkan dua kesalahan besarnya. Kesalahan pertama dia telah membunuh gusti prabu sekeluarga dan kerabat kerajaan. Kesalahan kedua dia telah membebaskan tawanan bukit Cincin Batu Kutuk malah hampir membunuhku!"

Berkata begitu Angin Pesut bangkit berdiri siap melesat hampiri Maha Iblis Dari Timur. Tapi dengan cekatan. Dewi Harum mencekal kakinya yang besar.

"Eeh, apa-apaan kau ini? Orang mau membuat perhitungan kau malah menghalangi!"

Gerutu Angin Pesut sambil unjukkan rasa tidak suka

"Saudaraku. Kau ini tolol atau apa? Seharusnya kau lebih sadar kita harus mengesampingkan urusan pribadi.Kalau sekarang kau memperturutkan kata hati melabrak Maha Iblis.Urusan bisa jadi kacau. Dengan begitu kita mengabaikan urusan yang lebih penting."

"Apa maksudmu. Apakah perbuatan jahanam itu membunuhi penjaga dan membebaskan tawanan bukan urusan penting?"

Tanya Angin Pesut dengan suara lebih lunak. Dewi Harum bangkit berdiri. Hembusan angin laut menebarkan aroma tubuhnya yang harum semerbak. Dia dekati kakek itu dengan suara berbisik berucap,

"Kau dengar saudaraku. Kita datang jauh-jauh ke sini untuk menyelesaikan urusan penting. Perbuatan Maha Iblis menghancurkan tempat penampungan tawanan jelas merupakan sebuah kejahatan. Tapi aku tidak mau mengabaikan perintah guru."

"Guru meminta aku menjadi saksi atas peristiwa besar yang terjadi di sini dan meluruskan semua perkara selurus-lurusnya. Jadi semua terpulang pada kita. Kalau kau tidak memandang guruku silahkan teruskan apa yang menjadi keinginanmu!"

Tegas Dewi Harum jengkel. Angin Pesut menjadi ciut. Baginya kemalangan terbesar dalam hidupnya adalah apabila Dewi Harum bersikap memusuhinya dan tak menganggapnya lagi sebagai saudara. Tidak heran dengan suara lirih dia berkata.

"Maafkan aku saudariku. Aku menghormati gurumu dan aku juga akan mengikut saja semua keputusanmu!"

"Bagus. Sekarang kau lihat baik-baik. Seperti yang aku duga Maha Iblis tidak datang sendiri".

Angin Pesut mengusap matanya. Dengan tubuh bersandar pada pohon besar di sampingnya dia menatap ke arah pedataran bukit. Dilihatnya puluhan orang yang sangat dia kenal bermunculan dari balik kegelapan kemudian berkumpul di depan Maha Iblis.

"Apa yang dilakukan Iblis berjubah hitam itu? Dia mengeluarkan sebuah kantong dan membagi-bagikan isi kantong."

Desis Angin Pesut. "Aku tidak tahu. Mungkin dia memberikan hadiah. Bisa juga racun kematian. Aku tak bisa mendengar apa yang dia bicarakan. Jarak kita terlalu jauh dari pedataran. Celakanya arah hembusan angin berseberangan dengan posisi kita".

"Ya sudah. Jangan mengeluh. Aku bisa saja mengetahui apa yang diucapkan Maha Iblis dengan menggunakan ilmu Menyirap Kabar Mencuri Dengar. Tapi untuk apa?"

Kata Angin Pesut menanggapi.

"Kau benar saudaraku. Jangan membuang tenaga untuk melakukan perbuatan yang tidak berguna.

Sekarang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es telah berada di sini atau belum."

Angin Pesut terdiam. Mata terpejam, sedangkan mulut berkemak-kemik. Selesai membaca sesuatu dia mengetuk keningnya tiga kali. Tak lama tangan diturunkan. Mata yang terpejam dibuka.

"Aku yakin dia sudah berada disini. Aku melihat Satu seorang pemuda dan satunya lagi seorang kakek botak tubuhnya pendek."

Terang Angin Pesut yang baru saja melakukan penjajakan jarak jauh. "Bagaimana kau yakin."

"Maksudmu?"

Tanya Angin Pesut tak mengerti

"Ya. Maksudku bagaimana kau yakin orang yang kau lihat adalah orang yang kita maksud?" "Aku cuma menduga saja. Raja pasti seorang laki-laki.Kalau perempuan sebutannya puteri atau

ratu."

Dewi Harum mengangguk sambil tersenyum.

Tak lama keduanya pun terdiam sambil memperhatikan keadaan disekitarnya.

*****

Menjelang tengah malam beberapa saat sebelum bulan purnama berada di titik tertingginya. Gumpalan mendung yang menyaput langit hilang lenyap tidak meninggalkan bekas.

Langit terlihat biru dihiasi gemerlap bintang.

Cahaya bulan kuning kemilau menerangi seluruh pedataran perbukitan yang berbatasan langsung dengan Laut utara.

Di beberapa tempat kegelisahan mulai terasa.

Di selatan bukit Kupu Kupu Putih bahkan mulai tidak sabar menunggu. Apalagi dilihatnya Maha Iblis telah hadir di tempat itu.

Kehadiran Maha Iblis yang sepertinya tidak berpihak kepadanya dan cenderung mementingkan diri sendiri.

Hal ini menimbulkan tanda tanya dihati Kupu Kupu Putih. Gadis cantik berpakaian hijau kelabu ini menduga bukan mustahil Maha Iblis Dari Timur yang pernah dibantu gurunya berniat ingin menguasai pedang untuk dirinya sendiri.

Tidak mengherankan bila kemudian dia memanggil Maut Merah, Maut Hijau dan Maut Biru untuk segera bergabung dengannya.

Tiga laki-laki yang di tanah Malalayu dikenal dengan julukan Tiga Pembawa Maut segera datang menghadap.

"Yang mulia gusti ayu. Waktu hampir memasuki tengah malam. Saya, Maut Biru baru saja menyelidik ke seluruh penjuru bukit. Ternyata selain Maha Iblis Dari Timur dan kaki tangannya telah hadir pula beberapa kelompok kecil lainnya."

Jelas Maut Biru yang mempunyai jari tangan mirip capit kepiting ini memberi laporan. "Tidak ada orang yang melihatmu?"

Tanya Kupu Kupu Putih sambil menggenggam tongkat hitamnya erat erat. Yang ditanya gelengkan kepala.

"Saya masih dalam pengaruh penerapan ilmu melenyapkan diri.Mana ada yang bisa melihat kehadiran saya terkecuali orang itu mempunyai jimat sihir tingkat tinggi dan penglihatan batin luar biasa tajam."

Jawab Maut Biru.

"Siapa saja yang kau lihat?"

Tanya Kupu Kupu Putih mulai tidak sabaran.

"Selain Maha Iblis dan pengikutnya.Di utara bukit di bawah pohon saya melihat kehadiran seorang gadis cantik sekali.Gadis itu berpakaian ungu tubuhnya menebar aroma harum mewangi. Di punggungnya membekal sebuah pedang berwarna hitam kecoklatan. Pedang itu seperti pedang kayu."

"Aku tahu siapa gadis itu. Dari ciri ciri yang kau sebutkan aku bisa memastikan gadis itu tak lain adalah Dewi Harum atau lebih dikenal dengan julukan Puteri Pedang Kayu Harum. Buat apa gadis sok suci itu gentayangan ke tempat ini? Bukankah kesehariannya menangkapi para penjahat dunia persilatan dan menjebloskannya ke dalam penjara Bukit Cincin Batu Kutuk? Dia orang yang tidak perduli dengan gemerlap dunia. Apa lagi berebut senjata pusaka milik orang lain. Apakah mungkin sudah berubah jalan pikirannya. Otak yang tadinya lempang menjadi bengkok, hati yang tadi putih menjadi hitam,"

Gumam Kupu Kupu Putih ditujukan pada diri sendiri. "Soal itu saya tidak tahu. Cuma...!"

"Tunggu!"

Kupu Kupu Putih memotong sambil mengusapi tubuhnya yang berpakaian putih seronok menantang.

"Biasanya dimana ada Dewi Harum pasti ada seorang kakek berambut putih gimbal. Kakek itu memiliki tubuh besar luar biasa. Dia saudara angkat Dewi Harum. Apakah kau melihat orang yang kusebutkan ada bersama Dewi Harum?"

Tanya Kupu Kupu Putih sambil menatap tajam laki-laki bertubuh biru itu. Maut Biru cepat anggukkan kepala. -

"Benar. Tapi perlu apa takut dengan dia? Dia kelihatan bodoh dan saya yakin monyet masih jauh lebih pandai dibandingkan dengannya."

Kata Maut Biru disertai senyum mencemo'oh.

Mata Indah Kupu Kupu Putih membulat besar dan melotot.

Membuat Maut Biru jadi ciut sambil mereka-reka adakah ucapannya yang tidak berkenan di hati junjungannya

"Kau dengar. Tua bangka itu bukan cuma bobotnya yang lebih dari delapan ratus kati. Ilmu kesaktiannya lebih tinggi dari bobot tubuhnya.Dia seperti orang bodoh. Tapi harus kau ingat, dia harus kau waspadai, Menurut cerita guruku dia adalah dewa yang sedang menjalani satu hukuman kesalahan yang pernah dia perbuat di kayangan.Jangan pernah meremehkan orang,jangan pernah pula tertipu penampilan orang."

Tegas Kupu Kupu Putih membuat Maut Biru manggut-manggut sambil rundukkan kepala. Gadis itu tak perduli. Kini perhatiannya dia alihkan pada Maut Merah.

"Yang mulia gusti ayu. Sebelumnya mewakill saudara saya, mohon kiranya gusti ayu memaafkan." "Jangan banyak bicara. Lekas katakan bagaimana hasil penyelidikanmu!"

Tegas Kupu Kupu Putih. Walau merasa tidak suka namun Maut Merah segera membuka mulut, "Gusti ayu. Ketika saya menyeberang ke bukit induk dan menuju ke bagian puncaknya. Saya tidak

menemukan apa-apa di sana. Tapi saya merasa tanda-tanda ada kehadiran orang lain di tempat itu sebelum saya datang. Selain itu saya menemukan sebuah lubang seukuran bocah kecil, Lobang itu rasanya berhubungan langsung pada suatu tempat di perut bukit."

Menerangkan Maut Merah dengan hati-hati. "Begitu?"

Desah Kupu Kupu Putih. Sepasang alisnya terangkat naik. Dada yang menyembul ketat di balik gaun tipisnya bergerak turun naik. Dia mondar-mandir di depan para penjaganya. Kembali ke tempat semula dara jelita ini ajukan pertanyaan.

"Lobang.. menghubungkan sebuah tempat di perut bukit?" Gumamnya.

"Apa mungkin di dalam bukit induk ada sebuah gua tempat menyimpan senjata yang kita cari?" "Kemungkinan itu bisa saja terjadi gusti Ayu."

Sela Maut Hijau yang sedari tadi diam saja.

"Kalau benar. Mengapa kita tidak menemukan jalan masuk menuju gua?" Kata Kupu Kupu Putih. Maut Biru angkat wajahnya.

Sepasang mata tertuju pada tongkat hitam yang mempunyai nama angker Geger Gaib. Tanpa ragu Maut Biru berucap memberi saran.

"Mengapa tidak mempergunakan tongkat sakti untuk menjajaki kemungkinan ada tidaknya gua di dalam perut bukit Induk gusti ayu?"

Kupu Kupu Putih mengangguk membenarkan, namun dia buru-buru berkata.

"Saranmu akan ku- pertimbangkan nanti. Sekarang aku ingin tahu apa yang ditemukan oleh Maut Hijau? "

Sambil berkata demikian dia alihkan perhatian pada Maut Hijau yang duduk bersimpuh di ujung kiri. Maut Hijau tak mau membuang waktu. Setelah bungkukkan badan sambil benturkan keningnya di tanah batu tiga kali sebagai tanda penghormatan dia berucap.

"Gusti ayu saya telah melakukan pengintaian sampai ke seluruh penjuru perbukitan ini. Maha Iblis tidak saja datang bersama para bekas tawanan itu. Dia juga membawa laskar gelap yang pernah diajaknya melakukan penyerbuan ke Istana Es puluhan tahun silam. Laskar gelap Itu saya kira telah mengepung seluruh bukit induk dan bakal muncul sewaktu waktu bila Maha Iblis membutuhkan mereka."

"Hmm, jadi Maha iblis membawa perajurit dari alam gaib. Jelaslah niatnya hanya untuk mendapatkan pedang gila bukan untuk membantu Sobo Guru. Pedang itu untuk dirinya sendiri."

"Tapi dugaan Gusti ayu masih dipertanyakan kebenarannya. Saya kira lebih baik gusti ayu menanyakan langsung pada Maha Iblis."

Usul Maut Biru.

"Bertanya soal apa?!" tanya Kupu Kupu Putih.

"Maksud saya bertanya apakah Maha Iblis datang ke tempat ini untuk membantu kita mendapatkan pedang itu?"

"Aku akan bertanya padanya. Tapi tunggu! Aku ingin tahu apakah Maut Hijau ada melihat kehadiran musuh yang lain?"

Berkata begitu sang dara kembali pusatkan perhatiannya pada laki-laki bertubuh serba hijau di depannya.

"Ya. Saya melihat kehadiran dua mahluk aneh. Saya katakan mahluk karena kedua orang itu keadaan tubuh maupun penampilannya sangat berbeda dengan manusia."

"Kau mengenal mereka?"

"Gusti. Jangankan mengenal, melihatnya pun baru kali ini." Jawab Maut Hijau dengan wajah tegang dirayapi kegelisahan "Bagaimana ciri-cirinya?"

Desak Maut Merah tidak sabar. Maut Hijau menelan ludah basahi tenggorokannya yang kering

"Dua mahluk yang kusebutkan yang satu berupa seorang nenek renta berpakaian hitam berkulit hitam .Tubuhnya menebar bau bangkal dan hanya berupa kulit pembalut tulang. Dua matanya hanya berupa rongga besar tembus ke bagian dalam rongga mulut. Bibir seperti dicacah sedangkan yang satu lagi adalah mahluk aneh berkepala botak, bagian wajah dan sekujur tubuhnya hanya terdiri dari gumpalan daging, tulang dan pembuluh darah. Tubuh yang merah mengerikan sama sekali tidak terbalut sepotong kulit. Dia mempunyai mata, namun matanya menjulur keluar gondal gandil seperti mau copot dari rongganya."

"Puah! Dua mahluk menjijikkan. Mungkin saja mereka dedemit atau dayang penguasa pantai ini.

Aku tidak perduli. Sekarang juga kita harus menemui Maha Iblis Dari Timur sekutu Sobo guruku" Kata kupu kupu putih mengutarakan niatnya.

"Tapi untuk apa gusti ayu. Bukankah lebih baik kita mengikuti saja perkembangan yang terjadi.

Kita tinggal mengail di air keruh, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Begitu mereka saling bunuh. Kita tinggal merampas pedang tak perduli pedang itu ada di tangan siapa?"

Kata Maut Merah.

"Hmm. Aku yang memimpin, aku pula yang pantas membuat keputusan. Jangan ada lagi yang bertanya. Sekarang juga kalian ikut denganku!"

Hardik Kupu Kupu Putih.Tak ada yang berani membantah. Tiga penjaga katubkan mulut masing-masing.

Sementara itu Kupu Kupu Putih segera putar tubuhnya.

Sekali dia hentakkan kakinya dara cantik itu melesat menyeberangi lembah yang memisahkan bukit induk dengan bukit selatan.

Ketiga pengikutnya segera pula molakukan hai yang sama.

*****

Kegelisahan menunggu saatnya bulan mencapai titik tertinggi ternyata tidak hanya dirasakan oleh Kupu Kupu Putih, Maha Iblis Dari Timur, Dewl Harum atau Momok Laknat dan Puteri Pemalu yang datang belakangan bersama si nenek.

Di dalam gua Empat Ruangan Satu Pintu yang berada dalam perut bukit Induk.

Hyang Kelam yang bersembunyi di balik pelindung gaib bersama muridnya Untari nampaknya juga sudah mulai tidak dapat menahan sabar.

Kepada sang murid Hyang Kelam yang ujud aslinya berupa seorang kakek renta bertubuh kurus kering macam jerangkong dan mengenakan pakaian aneh berupa selempang pipih mirip kulit pohon berkata.

"Muridku Untari. Bila menuruti kata hati sesungguhnya aku sudah tidak sabar menunggu bulan sampai berdiri tegak di atas kepala. Selain itu pikiranku juga tidak tenang karena aku melihat di luar sana para tamu yang tidak diundang telah berdatangan. Saat Ini aku ingin menyambut mereka dan membinasakan mereka semua yang ada di sana hingga tidak bersisa."

Untari diam membisu. Dia memperhatikan sosok samar Hyang Kelam. Dia melihat bagaimana jari-jari tangan yang ditumbuhi untaian kuku panjang bercabang nampak gemetaran. Ini merupakan pertanda Hyang Kelam sudah tidak dapat lagi menahan diri.

" Guru. Biarkan saja yang lain saling bantai ber- sirebut senjata yang tidak mereka ketahui keberadaannya. Guru tetap di sini bersamaku. Lihatlah dua orang itu. Kita ihat apa yang mereka lakukan dan apa pula yang mereka bicarakan. Bagaimanapun mereka tak mengetahui kehadiran kita di dalam ruangan ini."

Mahluk alam roh itu terdiam. Dia berpikir apa yang dikatakan sang murid rasanya benar juga. Senjata yang dia cari ada di ruangan itu.

Hanya tinggal menunggu waktu, apalagi yang harus dipikirkan.

Hyang Kelam diam-diam tersenyum menyadari kecerdikan sang murid.Tak heran tanpa ragu dia berkata memuji.

"Kau hebat. Aku rasa sebaiknya memang aku tetap berada disini."

Hyang Kelam selanjutnya terdiam, namun sepasang matanya yang cekung seolah ambles ke dalam rongga terus memperhatikan dan mengawasi Bocah Ontang Anting dan Raja. Di tengah ruangan Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es kini menghampiri Bocah Ontang Anting. Saat itu si kakek sudah mulai duduk di kaki altar pertama. Dengan bersila kaki kiri disilangkan ke kaki kanan. sedangkan dua tangan diletakkan di atas lutut. Sesampainya di samping Bocah Ontang Anting. Raja pun berlutut. Dia memperhatikan sahabatnya sejenak. Setelah itu dengan suara berbisik Raja ajukan pertanyaan.

"Aku tak tahu sampai kapan kita harus menunggu. Tapi melihat sikapmu yang tenang-tenang saja, engkau sendiri sebenarnya tahu apakah pedang Gila masih berada di tempatnya ataukah sudah diambil orang?"

Masih tetap duduk di tempatnya Bocah Ontang Anting terlihat acuh seolah tidak mendengar apa yang dikatakan Raja.

Mata tetap tertutup sedangkan mulut berkemak-kemik. Melihat ini Raja jadi kesal.

Kali ini dia dekatkan wajah ke telinga Bocah Ontang Anting. Untuk kedua kalinya dia kembali berbisik.

"Orang tua apakah kau telah berubah menjadi tuli?". "Aku bertanya mengapa kau tidak menjawab??" Kata pemuda itu. Bocah Ontang Anting membuka mata.

Sepasang mata yang belok itu kini tampak merah seperti darah.

Tanpa bicara dia menunjuk ke langit-langit tempat ke arah lubang menganga yang menembus ke bagian puncak bukit Induk.

Tak mengerti maksud isyarat Bocah itu. Raja dongakkan kepala menatap ke arah yang sama. Raja terkesima begitu melihat ada cahaya kuning keemasan menembus masuk melalui lubang yang gelap.

Ini merupakan pertanda bulan purnama mulai berada di titik tertingginya "Purnama telah sejajar dengan kepala kita. Apalagi yang kita tunggu?" Tanya pemuda itu dengan perasaan cemas jantung berdebar.

"Jangan berisik, jangan banyak bertanya. Begitu cahaya purnama menembus masuk sepenuhnya melalui lubang itu. Cahaya akan menyentuh kunci pintu rahasia.Butuh waktu beberapa lama agar kunci rahasia mendapatkan cahaya yang cukup."

Sahut Bocah Ontang Anting-

"Aku tidak melihat ada kunci di altar itu," Kata Raja bingung.

"Kunci rahasia yang kumaksudkan itu tak lain adalah berupa simbol bintang empat sudut yang terdapat di permukaan altar.Tapi aku harus membaca sesuatu untuk memberi isyarat pada penguasa gaib di gua ini bahwa yang datang hendak menjemput pusaka adalah orang yang dulu pernah menyimpannya di tempat ini!"

Kata Bocah Ontang Anting.

Si kakek kemudian bangkit berdiri.

Dia melompat ke atas altar bersimbol bintang yang letaknya berhimpitan dengan altar kedua tempat dimana patung rajawali berdiri.

Tiga kali Bocah Ontang Anting berputar mengelilingi tepian altar itu.

Sementara mulut terus mengeluarkan suara racau aneh seperti orang yang sedang mengigau.

Cahaya bulan terus bergerak.

Perlahan namun pasti posisinya berada di titik tertinggi peredarannya.

Seiring dengan itu cahaya yang menembus masuk melewati lubang menganga dan puncak bukit makin bertambah terang.

Cahaya kemilau terang ini jatuh tepat di tengah altar tepat di mana simbol bintang segi empat berada.

Melihat kejadian ini Bocah Ontang Anting dengan suara lantang membuka mulut berucap. "Gua Gaib jagad gaib. Kunci gaib simbolnya berupa bintang. Bintang merindukan bulan.Bulan

memancarkan cahaya kasihnya pada yang merindukan. Atas restu dewa, kunci gaib simbol gaib melebur. Pintu ruang menuju kotak penyimpanan terbuka.Kemudian atas ijin pemilik langit bumi.Kutitah pada Pedang Gila untuk keluar dari tempat penyimpanan. Seiring dengan itu hiduplah siapa saja yang menjadi sahabat. Sahabat yang muncul apapun ujud dan rupanya saling menolong dalam hal kebaikan bukan tolong menolong dalam kejahatan!"

Selesai dengan ucapannya Bocah Ontang Anting mengusap wajahnya sebanyak dua kali.

Setelah mengusap wajah, kakek ini cepat berjongkok lalu usapkan dua tangan yang dipergunakan mengusap wajah ke permukaan simbol bintang yang disinari cahaya. Begitu usapan selesai dilakukan.

Bocah Ontang Anting melompat turun menjauhi altar. Begitu kedua kaki menjejak lantai gua yang dingin.

Dia berseru pada Raja yang berada di sampingnya.

"Kerahkan tenaga dalam, acungkan jari tangan kananmu ke arah cahaya emas yang menyinari simbol bintang. Dengan begitu pedang Gila dapat mengenali bahwa kau adalah orang yang paling berhak mewarisinya!"

Raja semula ragu dengan saran yang di berikan Bocah Ontang Anting. Dia khawatir kakek itu menyimpan niat ingin mengerjainya.

Tapi melihat Bocah Ontang Anting bersikap bersungguh-sungguh malah kembali berseru memberi perintah maka tanpa ragu lagi Raja segera kerahkan tenaga dalamnya.

Tenaga dalam kemudian disalurkan ke ujung jari telunjuk tangan kanan wush !

Selarik cahaya putih terang menyilaukan membersit dan melesat laksana ujung mata tombak lalu menyentuh simbol bintang empat persegi yang saat itu disinari cahaya bulan yang memancar dari lubang dilangit-langit ruangan. Hanya beberapa saat setelah cahaya putih yang melesat dari ujung jari tangan menyentuh simbol di- permukaan altar.

Terjadilah guncangan.

Cahaya bulan yang kuning keemasan membaur dengan cahaya putih yang berasal dari tangan Raja Gendeng.

Telihat kepulan asap menebar dari simbol dipermukaan altar. Simbol meleleh menjadi cairan.

Kepulan asap membubung tinggi lalu lenyap di langit-langit. Kemudian terjadi ledakan keras.

Altar pertama terbelah .kepingan altar hancur bertebaran keseluruh penjuru.

Dalam keadaan seperti itu tak ada kesempatan bagi Raja maupun Bocah Ontang Anting menghindar dari terjangan puing-puing altar.

Mereka tercengang. "Astaga! Selamatkan dirimu kek" Seru Raja memberi Ingat.

Raja sendiri kemudian jatuhkan diri sama rata dengan tanah. Tapi aneh.

Bocah Ontang Anting justru diam di tempat tidak bergeming.

Dan lebih anehnya lagi ketika puing-puing siap menghantam tubuh kakek itu.

Hebatnya seperti ada tangan-tangan yang tak terlihat bergerak cepat menepis puing-puing itu hingga tak satupun yang mencederai tubuh orang tua itu. Raja tercengang.

Dia bangkit berdiri.

Menatap ke arah Bocah Ontang Anting dan altar silih berganti.

"Jangan memandangku seperti itu? Yang menjadi hakmu akan kembali padamu. Lihat ke altar!" Teriak si kakek .Seketika Raja palingkan kepala dan pusatkan perhatian ke arah altar.

Dia melihat cahaya bulan masih menyinari altar yang hancur. Tapi posisinya telah tergeser ke arah barat.

Di tengah altar yang remuk diguncang ledakan dahsyat dia melihat sebuah kotak berwarna hitam panjang memancarkan cahaya warna warni.

Di belakangnya tepat di altar kedua. Raja juga menyaksikan bagaimana patung burung rajawali raksasa putih itu kini diselimuti cahaya kuning keemasan.

"Lekas ambil kotak itu!?" perintah Raja ditujukan pada Bocah Ontang Anting.

Tanpa menunggu lebih lama Bocah Ontang Anting melesat cepat dengan gerakan laksana terbang siap menyambar kotak hitam yang diselimuti cahaya. Tapi belum lagi jari-jari tangan Bocah Ontang Anting menyentuh ujung kotak tiba-tiba saja terdengar suara deru angin dingin dari sudut sebelah kiri ruangan ke empat.

"Terkecuali diriku tidak ada seorangpun yang boleh mendapatkan Pedang Gila. Senjata itu mutlak menjadi hak milikku!"

Teriak satu suara di tengah suara deru.

Sebelum Bocah Ontang Anting mengetahui gerangan siapa adanya yang keluarkan ucapan.

Dari tempat munculnya orang yang bersuara melesat cahaya hitam menggidikkan siap menghantam tubuh si kakek.

Melihat ini Raja tidak tinggal diam.

"Kurang ajar! Bangsat mana yang baru saja bicara? Sudah datang seperti pencuri kini malah menginginkan senjata yang bukan milik moyangnya!"

Sambil berkata begitu Raja segera menghantam cahaya hitam yang siap mencelakai sahabatnya.

Tidak kepalang tanggung Raja melepas dua pukulan sekaligus. Pertama dia menghantamkan tangan kirinya dengan pukulan sakti Badai Es sedangkan tangan kanan menghantam dengan pukulan Amukan Badai Laut Selatan.

Dua pukulan sakti yang dipergunakan Raja adalah warisan Ki Panaran Jagad Biru dan Nini Balang Kudu.

Akibatnya sungguh mengerikan.

Dari tangan Raja membersit cahaya putih bergulung-gulung mengerikan disertai suara bergemuruh dahsyat laksana luapan badai.

Udara dalam ruangan sangat dingin luar biasa.

Bocah Ontang Anting yang merasa diselamatkan keluarkan Suara raungan lalu lepaskan cekalan pada ujung kotak selanjutnya berguling menjauh selamatkan diri.

Benturan cahaya hitam dan dua pukulan yang dilepaskan Raja tak dapat dihindari lagi.

Dentuman keras di dalam gua mengguncang seluruh penjuru bukit dan menimbulkan lubang menganga lebar di seluruh lereng bukit Induk.

Pijaran api bekas ledakan memenuhi seluruh penjuru ruangan gua. Kepulan asap menghalangi pandangan.

Raja tergontai menatap ke arah altar di antara keremangan cahaya. Dia melihat kotak hitam bergerak- gerak dengan sendirinya.

Dan melihat Bocah Ontang Anting berusaha bangkit kembali hendak mengambil kotak hitam. Di sudut yang gelap terdengar suara makian.

"Jadah! Menggagalkan niatku berarti kematian bagimu," Teriak satu suara.

"Keparat penyusup. Jangan cuma menyumpah serapah. Perihatkan dirimu agar aku bisa melihat seperti apa tampang rupamu!"

Maki Raja Gendeng sambil diam- diam siapkan pukulan maut di kedua tangannya. "Sang penyusup cuma sebangsa pengecut tak tahu diri. Mengapa diambil perduli Raja!" Menimpali si kakek sambil melangkah dekati kotak di depannya.

Gerakan Bocah Ontang Anting jadi tertahan begitu melihat satu bayangan serba hijau menghadang langkahnya.

Sementara itu tak jauh di depan Raja suara deru angin bukannya mereda sebaliknya makin menggebu disertai munculnya tebaran pasir bergulung-gulung.

Di tengah deru angin dan hempasan pasir muncul cahaya hitam kemerahan.

Cahaya itu makin lama makin membesar lalu membentuk ujud berupa sosok seorang kakek berwajah dan bertubuh macam jerangkong berkulit hitam memakai pakaian berupa selempang kulit kayu bercelana selutut.

Tam ! Tam! Cahaya hitam kemerahan meledak Jadi kepingan.

Di depan Raja kini berdiri tegak seorang kakek renta, mata cekung menjorok ke dalam rongga dan berkuku panjang melingkar bercabang-cabang seperti akar pohon menjuntai bergantungam.

"Mahluk jelek aneh manusia seperti apa gerangan dirimu ini?" Desis Raja dengan mata mendelik dan suara bergetar.

Bukannya menjawab pertanyaan orang sebaliknya kakek berujud jerangkong angker tapi aneh ini justru tertawa tergelak-gelak.

****

Sementara itu di pedataran bukit Induk Maha Iblis Dari Timur mempunyai firasat bahwa kejadian penting munculnya Pedang Gila yang dia nantikan bukan berada d luar bukit melainkan bakal berlangsung di dalam bukit. Di tempatnya berdiri Maha blis Dari Timur segera memerintahkan orang orang di depannya segera menyebar membentuk sebuah pertahanan kokoh untuk menghadapi serangan yang datang.

Dia sendiri segera dongakkan kepala.

Maha Iblis terkejut begitu melihat bulan ternyata telah berada di titik tertingginya "Waktu yang ditunggu ternyata datang sudah!"

Seru Maha Iblis dengan suara lantang bergema. Dia lalu berpaling pada para pengikutnya. "Sekarang kalian semua harus menunjukkan bakti kepadaku. Aku memberi perintah, bunuh semua

cecunguk yang datang dari luar sana bila mencoba memasuki daerah yang menjadi pengawasanku"- "Kami siap mempertaruhkan segalanya demi yang mulia penolong!"

Kata bekas tawanan Bukit Cincin Batu Kutuk penuh semangat.

"Maha iblis! Kau hendak melakukan pesta sendirian? Tidakkah paman ingat dengan janji paman yang ingin membantu Sobo Guru dalam mendapatkan Pedang Gila?" teriak satu suara melengking tinggi menengahi pekik sorak pengikut baru sang Maha Iblis.

Laki-laki bermantel hitam itu terkejut bukan main. Selama menetap di pulau Es belum ada seorang pun yang memanggilnya paman. Terkecuali murid Penyihir Racun Utara yang bernama Ni Ambar Saba Nantang namun lebih suka menggunakan nama gurunya yaitu Kupu Kupu Putih.

"Apakah mungkin dia?" Pikir Maha Iblis Dari Timur.

Laki-laki ini palingkan kepala ke arah datangnya suara.

Sementara itu suara-suara pengikutnya yang membakar semangat seketika reda.

Memandang keselatan bukit, Maha Iblis Dari Timur melihat ada cahaya hijau kelabu membersit dan melesat cepat menuju ke arah pedataran tempat di mana dia berada.

Di belakang cahaya hijau kelabu mengikuti tiga cahaya lainnya. Berturut-turut cahaya merah, biru dan kehijauan. Cahaya itu masing-masing berputar di sekeliling pedataran yang luas kemudian pecah menjadi kepingan.

Dari balik kepingan cahaya, berturut-turut bermunculan beberapa sosok tubuh di hadapan Maha Iblis.

Orang yang datang bukan lain adalah Kupu Kupu Putih juga tiga pengawalnya yang terdiri dari Maut Biru, Merah dan Hijau.

"Hmm, celaka urusan ini jika dia sampai tahu aku telah menghabisi gurunya penyihir Racun Utara di Puncak Terang!"

Membatin Maha Iblis Dari Timur dalam hati. Dia menatap gadis itu.

Dilihatnya Kupu Kupu Putih tidak memperlihatkan sikap permusuhan sama sekali. Maha iblis merasa ini pertanda bagus.

Kematian sang guru ternyata belum diketahui oleh Kupu Kupu Putih. Itu sebabnya sambil tersenyum dia berkata.

"Wahai. Kupu Kupu Putih. Aku senang kau datang. Sayang gurumu Penyihir Recun Utara berhalangan hadir di sini. Mudah-mudahan sakitnya segera sembuh".

"Hmm. Apapun yang terjadi pada Sobo Guru rasanya bukan urusan paman. Yang terpenting paman tidak mengingkari janji. Dulu paman telah berjanji akan membantu guru mendapatkan Pedang Gila, untuk itu beliau bersedia membantu paman melakukan penyerbuan ke Istana Pulau Es!"

Ujar gadis itu sambil bertolak pinggang.

"Hmm, Janji tetap kupenuhi. Itu sebabnya aku datang kemari membawa orang banyak. Selain itu aku juga masih punya pasukan gaib yang ampuh. Bila keadaan memaksa aku bakal mengerahkan mereka!"

Ujar Maha Iblis. Kupu Kupu Putih tersenyum puas. Dia sama sekali tidak tahu dalam hati Maha lblis sesungguhnya berkata lain.

"Pedang gila. mana pantas kuberikan pada orang yang sudah mampus. Sebagai penyihir kuanggap kau sebagai orang bodoh. Andai saja kau gunakan tongkat untuk melihat keadaan gurumu. Aku yakin kau pasti berubah pikiran. Kau tidak lagi datang demi pedang tapi demi menghabisi nyawaku. Gadis cantik luar biasa. Aku akan memanfaatkanmu. Dan sesungguhnya telah lama sekali aku ingin mendapatkan kehangatan tubuhmu! "

"Saya berterima kasih karena ternyata kau memegang janji, paman." Sahut Kupu Kupu Putih sambil tersenyum.

"Gusti Ayu, saya merasa Maha Iblis telah menyembunyikan sesuatu. Jangan percaya dengan segala bualannya."

Kata Maut Biru melalui ilmu mengirimkan suara. Sebelum Kupu Kupu Putih menanggapi kecurigaan pengawalnya itu. Tiba-tiba saja terjadi guncagan hebat di sekeliling bukit induk. Melihat hal ini Maut Hijau berseru,

"Bukit ini dilanda gempa!"

"Ini bukan gempa. Tapi ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di dalam perut bukit," Potong Maha Iblis.

"Tenang! Jangan ada yang pergi"

Kupu Kupu Putih yang sempat merasa cemas segera memandang ke langit. Dari mulutnya terdengar seruan.

"Astaga! Bulan purnama benar-benar telah berada di atas kepala. Ini merupakan pertanda Pedang Gila sudah waktunya keluar dari tempat penyimpanannya!"

"Aku curiga Pedang yang kita cari sesungguhnya berada dalam satu ruangan rahasia di dalam bukit ini"

Kata Maha lblis Dari Timur membuat semua orang mengalihkan perhatiannya ke arah bukit di depan mereka.

Tak ada yang menjawab.

Guncangan keras yang melanda kawasan bukit sempat terhenti.namun semua itu tidak berlangsung lama.

Selagi semua orang dilanda rasa cemas bercampur tegang.

Tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh disertai guncangan hebat dan akhirnya disusul dengan suara ledakan-ledakan keras menggelegar.

Bagian lereng bukit karang Induk terbongkar jebol di seluruh penjuru tempat.

Bagian yang hancur membentuk lubang besar menganga berpentalan ke seluruh penjuru.

Membuat pengikut Maha Iblis berpelantingan tewas menjadi korban namun yang lolos dari hantaman puing reruntuhan ledakan mencari selamat dengan berlindung di tempat aman. Kejadian yang sempat menewaskan beberapa pengikutnya itu bukannya membuat Maha Iblis menjadi ciut sebaliknya dia malah tertawa tergelak-gelak.

Dengan mata berbinar memandangi setiap lubang menganga yang ditimbulkan oleh ledakan yang datang dari dalam, Maha iblis justru berkata.

"Bagus. Semua jalan tersembunyi telah terbuka. Apapun yang terjadi di dalam bukit serta siapa saja yang berada di sana. Tetap saja aku yang paling layak mendapatkan tempat pertama menyentuh pedang itu. "

Selesai dengan ucapannya, Maha Iblis segera menghambur siap menerobos dinding perut bukit yang bolong. Belum lagi laki-laki Ini sempat melewati lubang di depannya. Dari balik kegelapan kaki bukit melesat dua bayangan menghadang jalan yang hendak dilewati Maha Iblis.

"Wee... tamu tak diundang. Mahluk jahanam sepertimu mana pantas mendapatkan senjata?" Teriak satu suara keras mengguntur. Bukan cuma Maha Iblis Dari Timur saja yang dibuat terkejut.

Para pengikutnya juga .Kupu Kupu Putih berikut tiga pengawalnya dibuat terperangah. Semua orang kini layangkan pandang ke lamping bukit.

Baik Kupu Kupu Putih maupun Maha lblis ter- perangah ketika melihat di depannya berdiri tegak seorang gadis berpakaian ungu ketat berambut panjang digelung dan membekal pedang di punggungnya.

Gadis itu tubuhnya menebar bau harum.

Sedangkan di sebelah sang dara berkulit putih berdiri seorang kakek berambut putih gimbal berbadan besar luar biasa berkulit belang putih bertelanjang dada memakai celana hitam selutut. Berbeda dengan Kupu Kupu Putih yang segera mengenali kedua penghadang.

Apalagi sebelumnya Maut Biru telah menceritakan tentang kehadiran kedua orang itu.Maha Iblis yang pernah ke Bukit Cincin Batu Kutuk dan membebaskan para tawanan tiba-tiba membentak

"Aku rasanya mengenal tua bangka bertubuh raksasa sepertimu.Harusnya kau sudah mampus terkena serangan racun kabutku. Tak disangka kau masih hidup. Datang kehadapanku dengan membawa serta seorang gadis cantik.Apakah kau masih berbaik hati ingin menyerahkan gadis itu kepadaku? Ha ha ha! "

"Maha Iblis,"berkata si kakek yang tak lain adalah Dewa Saru Saru atau Angin Pesut.

"Aku ini cuma dipercayakan menjaga amanat. Yang punya kuasa atas para tawanan itu adalah adik angkatku ini. Jadi kami datang ingin menjemput nyawamu. Apa lagi setelah kami tahu kaulah kunyuknya yang menjadi penyebab biang malapetaka bagi kerabat dan keluarga Istana Pulau Es."

"Oh begitu? Jadi aku punya dua kesalahan besar . Kesalahan pertama karena aku membebaskan para tawanan kalian. Dan yang kedua aku juga telah membantai penghuni istana Pulau Es. Kalian mau mengadili aku? Ha ha ha!"

Kata Maha Iblis Dari Timur disertai tawa tergelak- gelak.

"Dua manusia keparat tidak tahu diuntung. Bukan cuma dia yang bersalah.Kalau mau bersikap adil, mengapa kalian tidak mengadili Penyihir Racun Utara Guruku.Guruku juga punya andil besar dalam menumpas istana itu!"

Kata Kupu Kupu Putih menyela.

Si Gadis yang bersama si kakek yang tak lain adalah Dewi Harum alias Puteri Pedang Harum terkejut tak menyangka Kupu Kupu Putih mau membeberkan kesalahan gurunya.

Sambil berdecak kagum dan menatap Kupu Kupu Putih yang berjarak sejauh lima belas tombak di depannya.

Dewi Harum berucap dengan suara lantang.

"Para manusia terkutuk. Kalian semua akan aku binasakan. Tapi terus terang aku merasa kagum karena baru malam ini kudengar ada seorang murid mau mengakui kesalahan gurunya. Sayang... aku tidak melihat gurumu Penyihir Racun Utara hadir disini, Walau begitu kau cukup layak menggantikan gurumu untuk menebus dosa-dosanya!"

"Hik hik hik! Kalian punya hubungan apa dengan kerabat istana Pulau Es?" Tanya Kupu Kupu Putih disertai tawa tergelak.

"Soal itu bukan urusanmu" jawab Dewi Harum. Maha Iblis menyeringai.

"Katakan memang bukan urusan kami. Tapi sadarilah kalian cuma berdua. Sedangkan kami sangat banyak sekali. Bagaimana mungkin seekor monyet gemuk dan monyet perawan bisa mengadili orang begini banyak?"

Kata Maha iblis yang sasungguhnya merasa kesal karena niatnya nemasuki gua jadi terhalang gara-gara kehadiran kedua orang itu.

Belum lagi Angin Pesut dan Dewi Harum sempat menjawab pertanyaan Maha Iblis.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa disusul dengan melesatnya dua sosok bayangan hitam dan bayangan merah dari kaki bukit.

"Kik kik kik! Orang tua besar seperti gajah dan gadis bertubuh wangi tidak seperti kami yang berbau busuk. Mau mengadakan pesta darah mengapa tidak mengajak kami. Apa karena kami berdua orang jelek buruk rupa?"

Kemudian satu suara ikut menimpali.

"Tak dapat darah sisakan dagingnya untuk kami. Tidak diberi daging kebagian tulang-tulangnya pun tak jadi mengapa karena aku paling suka mengumpulkan tulang belulang orang mati. Hi hi hi.!"

Belum lagi suara itu lenyap. Tak jauh di belakang Maha Iblis Dari Timur melayang turun sekaligus jejakkan kaki dua sosok aneh berpenampilan angker mengerikan. Kedua sosok itu menghadap ke arah Kupu Kupu Putih. Sosok pertama yang berdiri di sebelah kiri adalah seorang nenek renta bertubuh kurus tinggal berupa kulit pembalut tulang. Berpakaian hitam kusut dipunggung si nenek membekal sebuah kantong kulit. Memandang Wajah si nenek membuat semua orang tercekat. Wajah itu tak ubahnya seperti tengkorak, dua mata lenyap tinggal rongga menganga hitam dan dalam sedangkan hidungnya lenyap dan hanya berupa lubang besar berbentuk segi tiga tembus hingga bagian dalam mulut. Menatap ke sebelah kanannya yang dilihat Kupu Kupu Putih adalah sebuah pemandangan lain yang tak kalah angkernya. Di samping nenek berpakaian hitam berdiri dengan malu-malu sosok tubuh berjubah merah berkepala polos, wajah kemerahan seperti dikuliti terdiri dari urat dan gumpalan daging serta alur pembuluh darah. Selain itu kedua mata sosok merah ini juga menjuntai keluar seperti mau copot dari rongganya dan bergoyang gondal-gandil mengerikan. Secara keseluruhan sosok wanita ini tubuhnya tak terbalut sepotong kulitpun. Setelah dapat menguasai diri dan mengusapi tengkuknya yang dingin. Kupu Kupu Putih menghardik. "Dua mahluk jahanam. Siapa kalian!"

Si nenek yang tak lain Momok Laknat adanya melangkah maju sekaligus memperkenalkan diri "Aku yang memang udah jelek ini bernama Momok Laknat. Sesuai dengan keadaanku dan

hidungku yang bolong. Asalku juga dari Bukit Sumplung. Hik hik hik!"

Kupu Kupu Putih mendengus. Dia alihkan perhatiannya pada gadis berjubah merah. Merasa di- perhatikan sambil menekan dada dan tutupi wajah gadis itu membuka mulut.

"Aku hi hi hi ....malu mengatakannya..."

"Mahluk kurang ajar! Sebaiknya berterus terang. Mengapa harus menutupi wajahmu yang buruk saat bicara?!"

Hardik Kupu Kupu Putih tidak sabar.

"Hi hi, tambah malu aku jadinya. Tapi terus terang namaku Puteri Pemalu. Datang kemari ingin ikut pesta besar. Pesta darah, namun tentunya bukan darahku atau darah nenek cantik disampingku ini melainkan darah kalian para kecoak ".

Merah padam wajah Kupu Kupu Putih mendengar ucapan gadis tak berkulit yang ternyata memang Puteri Pemalu Ini. Dia sangat marah sekali. Kemarahan yang membuat tiga pengawalnya jadi tidak sabar.

"Serahkan dedemit tak berkulit itu pada kami gusti ayu. Kau habisi saja nenek yang tidak bermata itu!"

Teriak Maut Merah yang didukung oleh dua saudaranya.

"We! Kalian cari cuma tiga anjing penjaga siapa takut!" kata Momok Laknat. "Iya, kau benar nek. Siapa takut pada anjing merah anjing biru dan anjing hijau!"

Timpal Puteri Pemalu. Momok Laknat dan Puteri Pemalu tertawa cekikikan membuat Kupu Kupu Putih semakin marah bukan main. Kepada tiga penjaganya dia berseru.

"Bunuh perempuan menjijikkan berjubah merah itu! Sedangkan urusan dengan dedemit tua liang kubur ini menjadi bagianku!"

Mendapat perintah dari majikannya, Maut Biru, Maut Merah dan Maut Hijau segera menyerang Puteri Pemalu dengan serangan hebat luar biasa. Ketiganya segera menerjang. Maut Biru lancarkan pukulan sakti kebagian kepala lawan. Sedangkan Maut Hijau melepaskan tendangan menggeledek ke arah perut. Maut Merah justru mementang dua tangan lalu menyergap kedua kaki lawan dengan satu cengkeraman yang dapat membuat remuk kedua kaki Puteri Pemalu. Tiga serangan dahsyat datang menggebu. Hawa dingin dan hawa panas menderu silih berganti. Rasanya Sulit bagi Puteri Pemalu dapat meloloskan diri dari serangan. Tapi si gadis bersikap tenang. Dia malah tertawa mengikik.

Sambil tertawa dia membuat satu gerakan aneh, tubuh berputar sambil melompat tinggi.

Wuus! Crak! Bum! Bum!

Puteri Pemalu lenyap. Serangan bersaudara Tiga Pembawa Maut mengenai tempat kosong. Tiga Pembawa Maut geram. Serentak mereka dongakkan kepala. Memandang ke atas lawan raib entah kemana.

"Aku disini!"

Kata Puteri Pemalu memberi tahu. Maut Merah, Maut Hijau dan Maut Biru balikkan badan. Menatap ke depan mereka belalakan mata sekaligus keluarkan seruan kaget.

Di luar dugaan lawan ternyata telah berada di depan hidung mereka sedangkan dua tangan Puteri Pemalu yang berkuku panjang menyambar deras siap menghunjam di bagian wajah mereka.

"Keparat!"

Maki Maut Biru sambil cepat selamatkan wajah dengan melompat ke belakang. "Jadah!"

Maki Maut Merah dan Hijau.

Keduanya segera jatuhkan diri ke tanah sambil melakukan sapuan kebagian kaki. Maut Merah berhasil menyelamatkan diri.

Namun Maut Hijau menggerung marah begitu wajahnya terluka terkena sambaran tiga kuku lawannya.

Tiga luka memanjang menggores pipinya.

Darah mengucur keluar disertai rasa panas luar biasa.

Sedangkan Puteri Pemalu sendiri terpaksa melompat tinggi ketika merasakan Maut Merah menghantam ke bagian kaki. Luput dari serangan di bagian kaki Puteri Pemalu terpaksa hantamkan kedua tangan ke depan menyambut pukulan yang dilancarkan oleh Maut Biru dan Maut Hijau.

Segulung hawa dingin menggidikkan menderu disertai membersitnya cahaya biru dan hijau dari telapak tangan lawannya.

Benturan keras tak dapat dihindari lagi begitu tiga pukulan mengandung tenaga dalam tinggi beradu di udara

Bum! Buum!

Pedataran bukit dilanda guncangan hebat.

Maut Biru dan Maut Hijau terlempar sejauh tiga tombak.

Maut Merah yang belum sempat berdiri jatuh rebah menelentang.

Sedangkan Puteri Pemalu meski dapat jejakkan kaki di tanah namun sempat tergontai-gontai.

Perkelahian antara Tiga Pembawa Maut dengan Puteri Pemalu berlangsung cepat dan ganas sekali. Setiap orang ingin menghabisi lawan dalam waktu secepatnya.

Sejauh itu walau Tiga Pembawa Maut melakukan penyerangan secara bersamaan, namun sejauh itu mereka baru bisa membuat Puteri Pemalu terluka tapi belum bisa membunuhnya.

Di satu sisi mahluk Pendamping yang dikirim dewa untuk menjadi teman seperjalanan Momok Laknat ternyata merupakan lawan yang sangat tangguh.

Gerakan tubuhnya sangat cepat. Dengan didukung oleh ilmu meringankan tubuh yang sangat sempurna.

Tak dapat dipungkiri setiap serangan yang dilakukannya sangat mematikan.

Bahkan Maut Merah dan Maut Hijau beberapa kali sempat dibuat terpelanting terkena tendangan serta jotosan sang dara.

Dua orang ini menderita cidera berat dan semburkan darah. Melihat Puteri Pemalu nampaknya lebih unggul dan mempunyai ilmu kesaktian lebih tinggi dari tiga pengawalnya.

Kupu Kupu Putih menjadi sangat murka.

Sebagai pelampiasan kemarahannya dia segera menerjang ke arah Momok Laknat sambil babatkan senjata andalannya yang tak lain berupa tongkat sakti ke arah dada si nenek.

Walau mata tidak melihat.

Seperti diketahui Momok Laknat memiliki penglihatan batin yang cukup tajam.

Tidaklah heran begitu mata hatinya melihat ada senjata menyambar ganas mengarah ke dada disertai suara menggemuruh aneh.

Dia keluarkan seruan sekaligus selamatkan diri dengan melompat ke samping.

"Ih...tak kusangka wanita punya tongkat.Padahal seharusnya tongkat hanya dimiliki kaum lelaki.Hemm, luar biasa.Senjatamu itu ternyata bukan tongkat sakti biasa tapi tongkat yang menyimpan kekuatan gaib dan dikuasai sihir!"

Serangan Kupu-Kupu Putih luput.

Ujung tongkat hanya menyerempet pakaian di bagian bahu Momok Laknat.

Pakaian itu robek, si nenek terhuyung karena walau tidak sampai mengenai pundaknya namun hawa tongkat membuat sekujur tubuh menggigil ngilu.

Di lain pihak Kupu Kupu Putih, diam-diam terkejut tak menyangka lawan yang tidak mempunyai mata ini ternyata mengetahui dengan pasti senjata yang dipergunakannya.

Tapi dia tidak mau membuang waktu lebih lama.

Sadar Mamok Laknat lolos dari serangan maka dia memutar tubuh sambil babatkan tongkat ke arah pinggang. Secepat itu pula dia menghantam lawan dengan pukulan dahsyat yang dikenal dengan nama Jaring Perangkap. Ini adalah salah satu ilmu pukulan sakti yang menjadi andalan Kupu Kupu Putih.

Selama mewarisi ilmu pukulan ini belum pernah ada seorang lawan pun yang dapat meloloskan diri dari kematian.  

Tidakiah aneh, begitu Momok Laknat menangkis sambaran yang menghantam pinggangnya.

Orang tua ini dibuat terkejut begitu melihat dari jari tangan kiri lawan memancar lima larik cahaya hitam kebiruan.

Lima larik cahaya ini melebar sedemikian rupa membentuk seperti untaian jaring laba-laba lalu meringkus menggulung tubuh Momok Laknat dan melibat tubuh orang tua itu hingga membuatnya sulit bernafas.

Melihat lawan terbuntal jaring cahaya yang berasal dari ujung jemari tangannya Kupu Kupu Putih tertawa tergelak-gelak.

"Tua bangka tolol! Sekarang sampailah sudah ajalmu!"

Teriak Kupu Kupu Putih sambil sentakkan tangan kirinya ke belakang.

Begitu tangan kiri disentakkan jaring cahaya yang memancar dari jari Kupu Kupu Putih mengerut.

Dengan demikian tentu saja bagian ujungnya yang lebar dan melibat tubuh si nenek ikut terbetot. Tanpa ampun Momok Laknat terseret mendekati lawan.

Puteri Pemalu yang sempat menyaksikan apa yang dialami sahabatnya sempat tercengang namun dia tidak bisa menolong karena saat itu Maut Merah, Maut Hijau dan Maut Biru menghujaninya dengan pukulan ganas dari tiga penjuru.

Sementara Momok Laknat yang terperangkap muslihat lawan berusaha menahan daya betot yang dilakukan Kupu Kupu Putih dengan alirkan tenaga dalam ke bagian kaki.

Kaki dihentakkan hingga menancap di batu karang yang atos. Sejenak terlihat saling tarik.

Kupu Kupu Putih lipat gandakan tenaga dalam, dalam usahanya menarik lawan.

Sementara tongkat hitam Geger Gaib di tangan dia pegang sedemikian rupa hingga begitu lawan berada dalam jangkuannya tinggal mengayunkan tongkat ke kepala Momok Laknat.

Upaya untuk menghabisi lawan ternyata memang tidak mudah.

Momok Laknat sendiri merasa tubuhnya yang terlibat jaring cahaya seperti mau remuk. Tulang-tulang rusuknya terasa menciut dan nyeri sampai ke ubun-ubun.

Selain itu dan lebih celakanya lagi Kupu Kupu Putih diam- diam menyerang Momok Laknat dengan hawa panas dan dingin.

Serangan itu dia lancarkan melalui jaring cahaya. Si nenek menggeram. Dia merasa dikerjai oleh seorang perawan yang masih ingusan.

"Perempuan kurang ajar. Tubuhku dibuatnya panas dingin menggigil tak karuan begini rupa.

Sekarang terimalah pembalasanku!" Berkata merutuk dalam hati. Momok Laknat segera merapal mantra ajian Memindah Jenazah Menukar Raga. Begitu mantra selesai dibaca, sosoknya lolos dari lilitan jaring cahaya.

Hal ini ternyata tidak dilihat oleh Kupu Kupu Putih.

Dia terus saja membetot. Satu hentakan keras dilakukannya.

Momok Laknat seperti pohon yang tercabut hingga ke akar-akarnya.

Kupu Kupu Putih menyeringai, melihat lawan terseret ke arahnya tongkat di tangan menyambut menghantam ke bagian kepala.

Prak !

Terdengar suara kepala berderak hancur.

Darah dan otak bertaburan kemana-mana. Melihat ini Puteri Pemalu yang menyangka Momok Laknat tewas dihabisi lawan berseru tertahan.

"Aih, mati temanku." Setelah itu dia memaki.

"Jahanam kau Kupu Kupu Putih. Aku bersumpah akan membunuh kalian"

Puteri Pemalu kemudian mengamuk membabi buta. Tiga pengawal dibuatnya kucar kacir dan babak belur. Sementara Kupu Kupu Putih seakan tidak menghiraukan pengawalnya malah tertawa-tawa. Rupanya dia merasa puas dapat menghabisi Momok Laknat. Di luar dugaan murid

Penyihir Racun Utara ini. Momok Laknat sekonyong-konyong berdiri di belakangnya dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu apa. Dia tersenyum sambil manggut-manggut. Setelah itu di- sentuhnya bahu Kupu Kupu Putih. Merasa tersentuh, si gadis balikkan badan. Matanya mendelik, mulut yang siap mendamprat terperangah.

Belum lagi lenyap rasa kejut di hatinya. Tinju Momok Laknat menderu menghantam wajahnya. Buuuk!

"Wuarkh...!"

Kupu Kupu Putih meraung keras.

Tubuhnya terjungkal lalu terguling-guling sejauh lima tombak. Suasana di sekitar pedataran menjadi heboh.

Tapi saat itu setiap orang nampaknya harus berjuang keras mempertahankan nyawa masing-masing.

Apalagi saat itu Maha Iblis Dari Timur telah terlibat perkelahian sengit dengan Angin Pesut si Dewa Saru Saru.

Sementara Dewi Harum sedang menghadapi serangan orang-orang berkepandaian tinggi yang tidak lain adalah tawanannya sendiri.

Kembali pada Kupu Kupu Putih.

Dengan wajah menggembung bengkak gadis ini akhirnya bangkit berdiri. Dia kemudian menyambar tongkat saktinya yang tercampak tak jauh dari tempatnya terkapar. Begitu tongkat berada dalam genggaman sebuah keanehan luar biasa pun terjadi.

Hidung dan mulutnya yang mengucurkan darah kembali pulih begitu juga dengan pipinya yang menggembung kembali ke bentuk semula.

"Nenek keparat! Dengan jelas tadi aku melihat kepalamu hancur menjadi kepingan. Tapi bagaimana kau bisa hidup?"

Desis Kupu Kupu Putih. Matanya jelalatan memperhatikan sosok Momok Laknat yang terkapar dengan kepala memburai. Sekarang dengan jelas dia melihat sosok yang tewas ternyata bukan Momok Laknat melainkan seekor beruk besar.

"Ilmu gila apa yang dia miliki? Yang kuhantam hancur jelas kepalanya, mengapa yang mampus malah beruk?" batinnya heran tak mengerti.

Momok Laknat yang tadinya mengumbar tawa cekikikan mengetahui lawan pulih dengan sangat cepat segera hentikan tawa. Dia terkejut namun hati cepat membatin.

"Tongkat jahanam itu. Andai aku bisa memisahkannya dari tongkat kukira menghabisinya menjadi perkara yang mudah segampang menyingkirkan ingus yang menyumbat hidung."

Hati berkata demikian namun mulut berucap.

"Ilmu kesaktianmu cukup lumayan tapi letak seluruh kehebatanmu tergantung pada tongkat. Kau pun tak perlu heran, kalau aku mempunyai sihir yang dapat menipu pandangan. Aku juga punya ilmu tipu-tipu yang dapat kupergunakan memperdayai manusia sepertimu. Kau menyangka dirimu hebat?

Percayalah gurumu Penyihir Racun Utara tidak kupandang sebelah mata. Dan bagusnya mataku dua-duanya tidak ada."

"Tengkorak hidup. Beraninya kau menghina guruku. Aku tak bakal mengampuni nyawa busukmu!" Teriak Kupu Kupu Putih.

Berbarengan dengan teriakannya.

Dara Cantik berpakaian tipis menantang ini angkat tongkatnya tinggi- tinggi.

Tongkat di tangan kemudian diputar sedemikian rupa hingga memancarkan cahaya hitam pekat, membentuk alur seperti kabut.

Dari balik kabut dan pusaran angin mencuat lima cahaya.

Lima cahaya membentuk lima buah tombak berwarna biru dikobari api.

Begitu arah tongkat diputar ke depan, lima tombak dikobari api menyala melesat, menderu menghantam Momok Laknat tepat di bagian leher, jantung, perut juga kedua lututnya

"Hik hik hik! Permainan ilmu sihir celaka. Tua bangka rongsokan sepertiku mana kena dikadali!" Dengus si nenek.

Berkata begitu secepat kilat Momok Laknat lambaikan tangan di udara.

Entah dari mana datangnya tahu-tahu di tangan si nenek telah tergenggam sebuah tengkorak kepala berwarna hitam pekat mengepulkan bau setanggi. "Tengkorak Iblis Dalam Pusara Kutukan!"

Teriak Momok Laknat menyebut nama tengkorak di tangannya Kemudian tanpa bergeser dari tempatnya berdiri.

Tengkorak kepala itu berturut-turut disapukan dari bagian leher hingga kedua kakinya. Bergerak melakukan sapuan, tengkorak kepala memijarkan cahaya.

Lima batang tombak biru dikobari api tergetar di udara.

Kemudian secara aneh meluncur deras ke bagian dua lubang tempat di mana seharusnya mata berada.

Ples! Pees!

Lima batang tombak tersedot amblas masuk ke dalam tengkorak hitam di tangan Momok Laknat mengeluarkan suara berdesis seperti bara terhempas ke dalam genangan air.

Momok Laknat sendiri kemudian memekik kaget ketika merasakan tengkorak hitam dalam genggamannya menjadi panas luar biasa hingga membuat telapak tangannya melepuh.

Cepat-cepat dia campakkan tengkorak di tangan ke tanah.

Momok Laknat berjingkrakan kesakitan sambil meniup-niup telapak tangan yang mengepulkan asap.

Di depannya Kupu Kupu Putih memaki tak karuan saat sadar tubuhnya ikut terbetot ke depan seiring dengan amblasnya lima tongkat yang tercipta dari tongkat sihirnya. Dua musuh saling pandang.

Sama-sama kaget namun sama pula alihkan perhatian ke arah tengkorak hitam yang tergeletak di tanah dalam keadaan dikobari. Sunyi di antara mereka. Tapi di mana-mana peperangan masih berkecamuk dengan hebatnya.

Demi Pedang Gila setiap orang mempertahankan nyawa dan darah.

Darah pengikut Maha Iblis Dari Timur paling pertama membanjiri pedataran bukit Induk.

Selesai