-->

Raja Gendeng Eps 02 : Maha Iblis Dari Timur

 
Eps 02 : Maha Iblis Dari Timur


Hari ketiga belas

Satu hari menjelang datangnya bulan purnama. Wilayah pulau Pulau Es yang terletak di ujung paling timur laut selatan dilanda topan hebat.

Pohon-pohon besar bertumbangan, semak belukar dan bangunan kokoh hancur porakporanda. Tak seorang pun penduduk penghuni pulau yang berani beranjak dari tempat persembunyiannya. Sudah sepekan topan mengamuk tak tentu sebab. Sejauh itu belum terlihat tanda-tanda topan bakal mereda.

Sementara di tengah badai topan terus berkecamuk. Di satu tempat di sebuah pemakaman tua. Seolah tidak menghiraukan murka alam dan dinginnya udara. Seorang nenek tua berpakaian kelabu berambut panjang awut-awutan yang juga kelabu terus saja melakukan penggalian pada salah satu kubur yang berada di depannya.

Tanpa menghiraukan gemuruh angin yang membuat tengkuk berdiri. Sesekali dari mulut si nenek yang keriput dan bergerigi hitam itu terlontar makian.

Duk! Duk!

Suara lempengan batu pipih yang berfungsi sebagai pengganti pacul timbul tenggelam ditelan suara gemuruh angin. Si nenek kemudian mulai menghitung. Dan saat menghitung yang disebutnya selalu bilangan ganjil.

"Tiga-lima tujuh. Hidup... hidup yang celaka.Hidup yang sia-sia, hidup bergelimang kemaksiatan.Hidup berpesta pora dengan dosa! Aneh edan.mengapa manusia masih bisa tertawa?" teriak si nenek. Pacul batu pipih terus diayunkan meng- hantam tanah makam yang keras. Keringat meleleh bercucuran sampai akhirnya untuk kesekian kali ia kembali membuka mulut mengumbar ucapan.

"Aku ingin bertanya pada penghuni kubur benarkah neraka itu ada? Betulkah neraka itu menakutkan? Kalau benar, mengapa banyak sekali manusia berlomba-lomba menumpuk dosa. Seumur hidup aku menggali ribuan makam. Seribu pertanyaan kulontarkan pada penghuninya. Tapi mereka diam membisu tak mau menjawab segala tanyaku?" si nenek katubkan bibirnya, namun tangannya yang kurus kering hanya tinggal kulit pembalut tulang terus saja sibuk mengayunkan pacul batu pipih berwana hitam itu.

Sampai kemudian terdengar suara benda keras terbentur paculnya. Crok!

Benturan keras menghentikan gerakan si nenek. Orang tua ini menyeringai. Kilat menyambar menerangi seantero penjuru makam. Si nenek dongakkan kepala ke langit. Rambut kelabu yang awut-awutan menutupi wajah disibakkan.

Astaga!

Sosok wajah yang terlindung rambut ini ternyata merupakan seraut wajah angker mengerikan untuk dipandang. Wajah itu dihiasi lubang menganga dalam disana-sini. Pada setiap lubang yang terdapat diwajah bersembulan belatung seukuran batang lidi berwarna putih kehitaman. Belatung-belatung menggeliat dari setiap luka membusuk yang tak pernah sembuh.

Selain pemandangan menjijikkan ini, si nenek juga tak mempunyai hidung. Hidung si nenek sumplung dan hanya merupakan sebuah rongga besar yang menampakkan lidahnya. Yang lebih mengerikan lagi sepasang mata nenek ini hanya merupakan dua buah rongga besar menganga dalam dan tampak menghitam. Dengan keadaan pisik yang seperti itu rasanya ia tidak layak disebut manusia.

si nenek rasanya lebih pantas disebut momok mengerikan yang baru saja bangkit dari liang kubur.

"Ada kilat menyambar. Penggalianku baru sampai pada makam ketujuh. Mudah-mudahan ini pertanda yang baik." kata si nenek.

"Penggalianku ternyata telah mencapai dasar makam. Mudahan- mudahan penghuninya bisa kutanya."

Setelah menghela nafas dalam dan menghembuskannya melalui rongga hidungnya yang sumplung. Perempuan angker yang dikenal dengan julukan Momok Laknat Bukit Sumplung ini segera mendekam di dalam makam yang mempunyai kedalaman hanya sebatas dada itu.

Mula-mula si nenek mengeruk sisa-sisa tanah yang menimbun sebagian tubuh penghuni makam.

Aneh walau mata si nenek hanya berupa dua buah rongga hitam mengerikan. Orang tua ini bersikap seolah melihat. Terbukti ia dapat memastikan dimana kepala dan yang mana bagian kaki dari kubur yang telah digalinya. Malah yang menakjubkan si nenek dapat membuang tanah ke bagian permukaan kubur yang kosong.

Setelah selesai mengeruk tanah yang menimbuni penghuni kubur. Sang Momok Laknat ini segera mengumpulkan tulang belulang yang tergolek membujur di dasar liang lahat.

Tulang belulang selanjutnya dipindahkan ke atas selembar kulit lunak usang yang selalu dia bawa kemanapun Momok Laknat pergi.

Kraup!

Sekali rengkuh semua belulang di dalam liang lahat telah berpindah ke atas lembaran kulit menebar bau busuk menyengat. Lembaran kulit berisi tumpukan tulang dibuntalnya.

Momok Laknat bangkit. Cangkul batu hitam disampirkan ke bahu kiri. Setelah itu ia menghentakkan kakinya.

Sekali sentak sosoknya melesat keluar dari dalam liang lahat yang kosong. Hanya dalam waktu sekedipan mata saja Momok Laknat telah berada di luar makam.

Angin masih menderu. Kilat menyambar disertai gelegar petir. Momok Laknat berjingkrak kaget.

Ia menoleh, matanya yang bolong besar menatap sekelilingnya.

Tiba-tiba dia menggumam,

"Hmm, suasana di pemakaman ini rasanya semakin tidak tenang. Para penghuni makam mulai gelisah. Mungkin mereka tak senang aku membongkar tempat tinggal temannya.Lebih baik aku cari tempat yang aman. Di tempat itu nantinya aku bisa bertanya pada penghuni kubur yang baru kubongkar ini," pikir Momok Laknat.

Si nenek kemudian hentakkan kedua kaki secara bersamaan.

Tak ubahnya seperti bola karet yang dihempaskan ke tanah, tubuh Momok Laknat melambung dan melayang menjauh meninggalkan pemakaman tua. Setelah melayang-layang diketinggian tak ubahnya seperti helai daun yang dihembuskan angin. Momok Laknat pun sampai di depan sebuah bangunan putih diselimuti es yang keseluruhannya terbuat dari jalinan tulang belulang Dalam terpaan angin yang menggila.

Bangunan pondok putih bergoyang keras mengeluarkan suara berderak-derak. Tapi bangunan dari jalinan tulang ikan paus itu sangat kokoh. Bertahun- tahun musim datang berganti sehebat apapun topan datang menyerang namun tak mampu menghancurkan pondok tulang yang sederhana ini.

Momok Laknat perhatikan pondok bututnya sekilas sambil menyeringai lebar. Dia lalu melangkah memasuki pondok. Sesampainya di dalam pintu pondok ditutupnya rapat. Sebuah pelita dinyalakan.

Suasana pondok yang gelap kini berubah menjadi terang. Ketika cahaya pelita menerangi seluruh bagian dalam pondok. Dalam ruangan terlihat sebuah pemandangan yang tidak lumrah. Di sana sini terutama di empat sudut ruangan tergeletak sedikitnya tiga tengkorak manusia. Tengkorak kepala yang seharusnya berwarna putih oleh si nenek diberi semacam pewarna merah darah. Di sudut kiri ruangan diatas balai tempat tidur si nenek tersusun rapi puluhan tengkorak lain berwarna hitam.

Puluhan tengkorak yang tersusun rapi diatas balai kayu itu menggantikan kasur.

Selain itu diatas langit-langit pondok bergelantungan beberapa potongan kepala dalam keadaan setengah utuh namun diawetkan.

Potongan kepala yang terdiri dari laki-laki dan perempuan berambut panjang, lidah terjulur dengan bola mata membeliak keluar.

Agaknya Momok Laknat ini adalah manusia yang mempunyai kelainan jivwa. Manusia normal mustahil berani tinggal disebuah tempat yang didalamnya dipenuhi tengkorak dan potongan kepala manusia.

Momok Laknat tertawa mengekeh. Sambil tertawa dia meletakkan buntalan kulit yang berisikan belulang dan tengkorak yang baru saja diambilnya dari makam itu.

Tanpa menunggu Momok Laknat segera jatuhkan diri duduk menjelepok di lantai ruangan yang dingin. Satu demi satu tulang belulang dibersihkannya. Setelah semua belulang hingga ruas jari dibersihkan. Momok Laknat meraih tengkorak kepala yang terbalut lumpur dan tanah.

Saat membersihkan semua belulang tidak sedikitpun wajah si nenek yang hitam pucat membersitkan perasaan ngeri.

Malah dengan tenang dan suara sengau Momok Laknat berujar, "Seribu kubur telah kubongkar. Seribu kepala sudah kutanya. Dan kau...Kau adalah penghuni makam yang keseribu tujuh."

"Aku inginkan sebuah jawaban. Harap kau mau mengatakan padaku apakah surga dan neraka itu memang ada? Aku tahu kau cuma Mahluk hidup yang telah menjadi rongsokan tak berguna. Namun aku yakin rohmu, arwahmu, sukmamu atau apapun namanya tidak ikut mati. Arwahmu mendengar.

Dan kuharap arwahmu berkenan datang untuk memberi jawaban yang aku butuhkan!"

Sepasang mata Momok Laknat yang bolong hanya berupa rongga memperhatikan tengkorak kepala yang telah bersih dan tergeletak ditelapak tangan kirinya.

Si nenek kemudian meletakkan tengkorak kepala itu diatas sebuah pendupaan menyala yang tergeletak di sampingnya. Kini dia memutar tubuh hingga posisinya menghadap ke depan pendupaan yang terbuat dari potongan sebelah bawah tengkorak berwarna hijau.

Sambil duduk bersila, Momok Laknat letakkan dua tangan di atas lutut. Rambut kelabu panjang awut-awutan disibakkan. Dalam terangnya cahaya pelita terlihatlah wajahnya yang mengerikan seperti setan.

"Wahai jagad... wahai penguasa langit. Aku mohon pada penguasa jiwa-jiwa yang tak pernah mati. Sudi kiranya memberikan petunjuk berupa penjelasan nyata pada tua bangka ini. Harap dan pintaku tidak banyak setelah sekian lama aku hidup dalam penderitaan panjang yang tak mengenal kata habis."

"Segala jawaban yang kuterima baik berupa keburukan maupun kebaikan bakal menjadi hidupku kelak. Melalui raga yang telah berkalang tanah ini aku mohon diberi petunjuk. Aku sudah tidak sabar menunggu karena segala kesabaranku telah punah ditelan amarah..." kata Momok Laknat dengan suara menggerung dan nafas tersengal.

Bara menyala di dalam rongga tempurung kepala manusia tiba-tiba mengepulkan asal tebal.

Kepulan asap membubung memenuhi penjuru ruangan hingga menembus atap pondok yang terbuat dari jalinan tulang ikan paus. Diluar pondok asap terus bergulung-gulung membubung ke langit. Gulungan asap yang menebar bau setanggi akhirnya lenyap ditelan kegelapan langit kelam.

Tidak selang beberapa lama setelah kepulan asap pendupaan memenuhi seluruh sudut penjuru ruangan. Di langit dalam kegelapan buta tiba-tiba terlihat kilatan cahaya menyambar. Kilatan cahaya berwarna putih terang menukik tajam, melesat dengan kecepatan luar biasa menuju kearah pondok tulang yang dihuni si nenek.

Wuus! Wuus!

Kilatan cahaya menembus atap pondok kemudian menyambar tengkorak kepala yang tergolek diatas pendupaan.

Walau mata tak dapat melihat, namun Monmok Laknat sadar apa yang sedang terjadi. Momok Laknat terkejut. Wajah yang hitam pucat tambah menghitam. Dari hidung yang hanya berupa sebuah rongga menganga mengerikan terdengar suara hembusan nafas lega.

Si nenek yang sudah dapat menenangkan diri dengan cepat bungkukkan badan sekaligus anggukkan kepala tiga kali.

"Selamat datang! Selamat datang! Terima kasihku tak terhingga karena dewa yang agung telah berkenan memenuhi permintaan saya." kata Momok Laknat sambil tegakkan kepala kembali.

Tidak ada jawaban. Diluar pondok tulang suara deru amukan topan mendadak terhenti.

Sementara dalam ruangan pondok keadaan terasa hening mencekam. Sejauh itu dengan matanya yang bolong Momok Laknat terus memperhatikan semua perkembangan yang terjadi.

Di depannya tengkorak yang tergolek di atas pendupaan tampak mengalami guncangan hebat. Guncangan itu disertai munculnya asap tebal menebar bau busuk bangkai.

Momok Laknat diam-diam terkejut. Bau tebaran asap yang tercium olehnya jelas sangat berbeda dari yang sudah-sudah.

"Pertanda apakah ini? Apakah mungkin doaku tak pernah sampai ke tujuan? Para dewa tak berkenan menjawab permintaanku karena pikiran dan hatiku selalu disesaki hawa amarah dan kebencian?" membatin Momok Laknat dalam hati.

Baru saja Momok Laknat bicara sendiri tiba- tiba saja tengkorak yang tergeletak di atas pendupaan mengeluarkan suara desis. Bagian mulut yang tinggal berupa tulang bergerak-gerak hendak bicara. Namun tak ada suara yang keluar.

Si nenek menunggu, mulut yang hitam keriput berkemak-kemik. Tapi sesuatu yang ia harapkan kemudian ternyata datangnya bukan dari langit atau kepekatan malam yang dingin, sebaliknya justru malah datang dari lantai tanah di bawah pendupaan.

Diawali dengan satu getaran keras yang disusul dengan guncangan hebat. Dari dalam lantai pondok tepat dimana pendupaan tergeletak mendadak muncul kepulan asap kelabu. Asap

bergulung-gulung mengelilingi pendupaan lalu membubung ke atas disertai tebaran aroma busuk dan harum semerbak yang datang silih berganti.

Baik pendupaan yang terbuat dari tempurung tengkorak maupun tengkorak kepala yang tergeletak di atas pendupaan raib ditelan kepulan asap kelabu yang muncul dari balik lantai pondok tulang.

Dengan sepasang matanya yang bolong besar si nenek terus memperhatikan. Jantung Momok Laknat berdetak keras, hati gelisah. Tapi dia terus menunggu segala sesuatu yang terjadi dengan sikap waspada.

Penantian Momok Laknat tak berlangsung lama. Di luar sunyi demikian mencekam. Sesekali terdengar suara lolongan anjing dikejauhan. Di dalam pondok tulang tiba-tiba angin menderu. Asap yang muncul dari lantai meliuk-liuk. Didahului suara raungan keras asap kelabu yang memenuhi seluruh penjuru ruangan mengeluarkan letupan tiga kali berturut-turut. Momok Laknat terkesiap, tubuhnya tergetar akibat guncangan. Namun dia tidak beringsut dari tempat duduknya. Sementara itu suara letupan yang muncul dari balik asap kelabu ternyata memijarkan cahaya putih bening. Cahaya bening lalu membentuk sosok tubuh. Walau ujud sosok itu hanya samar adanya tapi segala sesuatunya semakin nyata. Tangan, kepala badan dan kaki terlihat jelas. Bersamaan dengan itu kejadian yang sangat luar biasa kemudian segera berlangsung.

Mula-mula tengkorak kepala diatas pendupaan melayang dan menyatu dengan bagian kepala sosok bening itu. Selain kepala tulang belulang lain yang teronggok di atas hamparan kulit disamping Momok Laknat satu demi satu melayang membentuk susunan kesatuan kerangka tubuh yang utuh.

Si nenek berdecak kagum. Tapi sebuah proses belum sepenuhnya terjadi. Tulang belulang yang bergabung dengan bayangan putih bening tiba-tiba melakukan gerakan memutar.

Weer!

Angin kembali menderu. Susunan tulang belulang yang membentuk kesatuan tubuh mengeluarkan suara berkerotakan. Tapi seiring dengan berputarnya rangkaian belulang yang menyatu dengan bayang-bayang tubuh itu. Suara benturan antar tulang berangsur lenyap. Tidak hanya itu, sosok yang cuma bayangan bening ternyata juga ikut raib menyatu dengan kerangka tubuh yang bersusun secara rapi.

Tapi sosok yang terbentuk dari bayangan dan tulang belulang itu ternyata masih belum sempurna.

Ia tidak memiliki kulit pembungkus daging. Demikian juga dengan bagian kepala. Kepala-kepala itu botak plontos tanpa kulit, berwarna kemerahan terbalut otot dan susunan pembuluh darah yang menyembul diantara kumpulan-kumpulan daging berwarna darah.

Dari keseluruhan penampilan, sosok berujud manusia tanpa kulit ini tak ubahnya seperti seonggok membentuk sebuah kesatuan tubuh berkelamin wanita.

Makluk Laknat agaknya menyadari semua perkembangan yang terjadi atas diri tulang belulang yang dibawanya dari kubur. Dan dia dongakkan kepala saat mendengar suara dengus nafas datang dari arah depan.

"Apa yang terjadi? Mengapa pondokku sekarang menebar bau amis menyengat?" kata si nenek. Dengan mengandalkan ilmu kesaktian serta ketajaman mata batin, Momok Laknat in ­

mencoba melihat keadaan yang berlangsung disekelilingnya.

Si orang tua melengak kaget saat mengetahui sosok mahluk aneh berujud manusia dengan sekujur tubuh terbuka tak terlindung kulit dan pakaian sama sekali.

"Siapa kau?!" hardik si nenek sambil menyembunyikan rasa kagetnya.

Merasa ditegur orang manusia tak sempurna berkelamin wanita yang sekujur tubuhnya memerah seperti daging berjingkrak kaget dan buru- buru lindungi aurat sebelah atas dan bawah.

"Aih. Siapa yang bertanya? Mengapa membentak? Jadi kaget aku. Hik hik hik! Aku malu." "Keparat sialan? Mengapa hidupku selalu dirundung kemalangan? kk... kau.... Ternyata kau mahluk betina seperti diriku juga? Mengapa tubuhmu tak sempurna? Tubuhmu hanya terdiri dari daging pembungkus tulang. Kau tidak mempunyai kulit hingga rupamu jadi tidak sempurna?" geram si nenek yang tak pernah mengerti bagaimana manusia dengan tubuh tak sempurna dapat hidup.

"Hik hik hik. Aku ini bukan pelarian dari rumah jagal. Tak ada yang menguliti tubuhku. Tapi aku harus rela dapat hidup kembali meski tanpa kulit yang membungkus tubuhku." sahut sosok perempuan bertubuh aneh. Perlahan sepasang matanya yang hanya dua bola mata besar yang menempel di dalam rongganya menatap ke arah si nenek.

Begitu mengetahui perempuan renta yang duduk di depannya tak memiliki hidung juga tak mempunyai mata. Perempuan tanpa kulit ini terbelalak.

"Astaga! Melihat keadaan tubuhku yang tidak lengkap aku merasa sedih dan malu. Tapi... mahluk seperti apakah dirimu ini? Wajahmu hitam pucat angker mengerikan. Kau tak mempunyai hidung, matamu hanya berupa dua rongga besar menyeramkan. Membuatku takut dan merasa malu!"

Sekonyong-konyong wanita itu mendekap matanya yang gindal gandil seperti mau tanggal.

Sementara itu tangan satunya silih berganti dipergunakan untuk menutupi dada dan bagian bawah perutnya yang berupa gundukan daging berwarna merah segar.

"Kurang ajar. Aku minta kau menjawab pertanyaanku. Lekas katakan siapa dirimu? Mengapa kau muncul dihadapanku?" hardik Momok Laknat hilang kesabarannya. Bukannya menjawab.

Setelah jauhkan tangan dari mata dan pergunakan tangan itu untuk melindungi aurat di sebelah atas.

Si perempuan tanpa kulit tiba-tiba membuka mulut,

"Para dewa. Kau hadirkan aku kedunia ini untuk kedua kalinya, tanpa kulit dan tanpa pakaian membuat aku menjadi malu besar. Aku minta kau lengkapi kekuranganku ini. Setidaknya kau beri aku pakaian yang pantas! Blar aku tidak malu luar dalam. Hik."

Wut! Wut!

Baru saja wanita itu selesai berucap. Di langit- langit ruangan muncul cahaya putih benderang.

Dari balik cahaya terjulur sepotong tangan yang besarnya hampir sama dengan batang kepala.

Walau cuma sepotong tangan saja yang menjulur dari balik cahaya, namun ukurannya yang besar membuat Momok Laknat melengak kaget.

"Tangan mahluk apakah itu?" batinnya dalam hati. Dengan mata batin dia terus memperhatikan.

Dari tangan raksasa yang terbuka melayang beberapa pakaian bergerak cepat membungkus tubuh telanjang tak sempurna sosok perempuan aneh di depannya.

Si wanita memperhatikan diri sendiri. Matanya berkedap-kedip menunjukkan rasa senang. "Amboi pakaian ini berwarna merah, ukuran- nya sangat pas dan serasi dengan warna pakaian dagingku. Para dewa terima kasih dewa telah berkenan mengabulkan permintaanku."

Setelah berkata demikian dan puas memperhatikan diri sendiri. Wanita berkepala plontos kemerahan ini palingkan kepala menatap ke arah Momok Laknat.

Merasa diperhatikan Momok Laknat yang sejak tadi memendam kekesalan di hati dengan berang membentaknya.

"Buat apa kau menatapku seperti itu? Kau pikir aku tak bisa melihat gerak gerikmu heh?" Dihardik demikian rupa perempuan aneh ini tidak marah sebaliknya malah tertawa mengikik. Lalu secara berurutan dia dekap wajah, dekap dada dan dekap bagian bawah perutnya. "Melihatmu marah-marah malu aku jadinya.Maafkan aku bila agak terlambat menjawab

pertanyaanmu. Maklum saja aku hadir di depanmu dalam keadaan memalukan dari pada menanggung malu terus menerus maka kuminta pakaian pada dewa."

"Hmm, rupanya para dewa menaruh perhatian besar padamu. Begitu meminta langsung dikabulkan.Tidak seperti aku. Aku selalu berdoa pada para dewa dari dulu sampai sekarang. Dari muda sampai tua lumutan. Tapi doaku tak satupun yang dikabulkan. Aku manusia malang. Hidupku penuh amarah serta dendam yang tak terbayarkan. Aku mengelana dari satu kubur ke kubur lainnya."

"Mengapa itu kau lakukan? Tidakkah per- buatanmu mengganggu ketentraman arwah yang telah berpulang?"

Tanya perempuan tak berkulit.

Mendengar ucapan perempuan di depannya mata bolong Momok Laknat didepannya menatap lurus ke depan.

"Kurang ajar! Beraninya kau mencelaku.Menyangkut segala urusanku kau tak perlu tahu.Aku sudah tidak percaya lagi pada orang yang masih hidup karena hanya orang mati saja yang bisa bicara jujur."

"Lalu apa yang kau cari?"

Mendengar pertanyaan seperti itu Momok Laknat terdiam sesaat. Tapi kemudian dia segera berucap,

" Apa yang kucari? Aku hanya mencari kebenaran serta arti hidup yang sesungguhnya."

"Hik hik hik. Kau sudah cukup umur jangan membuat malu diri sendiri. Bukannya aku tak bermalu, bukannya pula aku sok tahu. Kebenaran itu sebenarnya dapat kau temukan dalam diri sendiri. Arti hidup bisa kau lihat di alam semesta.Bila makam yang kau bongkar untuk menemukan kebenaran dan arti hidup. Kau pasti tidak bakal menemukannya orang tua. Karena makam adalah tempat akhir dari hidup ini." terang perempuan tak berkulit tanpa maksud menggurui.

Momok Laknat gelengkan kepala. Jawaban perempuan di depannya dia rasakan tidak memuaskan hati. Justru malah menyinggung perasaannya. Tidaklah heran dengan wajah kelam Momok Laknat tiba-tiba menatap perempuan itu dengan matanya yang bolong sekaligus membentak. "Mahluk jahanam! Kau tidak cukup pantas bicara seperti itu denganku. Aku Momok Laknat malang melintang hidup dalam kesengsaraan dan dendam. Aku menjadi seperti ini karena ulah perbuatan seseorang."

"Seseorang siapa nek." Tanya perempuan di depan dengan sikap acuh terkesan tak takut dengan kemarahan Momok Laknat

"Kurang ajar. Masih juga berani bertanya? Aku tak menghendakimu. Aku ingin bertemu dan bicara dengan dewa. Siapa dirimu ini? Apakah kau mahluk tak sempurna utusan dewa?"

Tanya si nenek.

Di depan Momok Laknat bibir merah merekah yang tak terbalut kulit menyungging senyum aneh.

Setelah seringai lenyap sambil menatap nenek berwajah mengerikan yang duduk di depannya. Perempuan itu berujar,

"Orang tua apakah kau tidak ingat mengapa kau menggali kubur orang yang telah mati?"

Tanya perempuan itu. Kemudian tanpa memberi kesempatan pada Momok Laknat untuk bicara dia menjawab pertanyaan sendiri.

"Kau selalu berdalih ingin mencari kebenaran. Kau hendak bertanya pada orang mati apakah surga dan neraka itu ada? Ketahuilah nenek. Aku adalah orang yang baru dikembalikan dari alam kematian. Namaku Widuri tapi dulu semasa hidup aku lebih dikenal dengan julukan Puteri Pemalu. Kerajaanku berdiri sebelum munculnya Istana Es."

Mendengar penjelasan perempuan itu diam- diam Momok Laknat terkejut. Dia memang pernah mendengar tentang sebuah kerajaan lama yang diperintah oleh seorang wanita berbudi luhur berilmu tinggi dan memiliki kesaktian luar biasa. Di masa kekuasaannya dulu sang puteri lebih sering berada di tempat pertapaan daripada di istana.

Dia tidak begitu tertarik menjadi penerus tahta orang tuanya. Dan lebih memilih menjadi seorang pertapa. Kelak kemudian hari istana runtuh karena ditinggal pemimpinnya. Sedangkan sang puteri lenyap tak terdengar kabar beritanya lagi.

Ingat dengan semua itu dengan suara bergetar si nenek ajukan pertanyaan.

"Apakah benar engkau ini Puteri Widuri berjuluk Puteri Pemalu penguasa Istana Kuno?"

"Hik hik hik. Malu aku jadinya. Tapi memang benar aku adalah Puteri Pemalu penguasa Istana Lama atau Istana Kuno." tegas perempuan yang ternyata memang Puteri Pemalu adanya.

"Apa yang telah terjadi padamu? Aku mendengar Istana Kuno runtuh dan engkau, gusti puteri... lenyap." ucap Momok Laknat.

Nenek ini tiba-tiba saja merasa rikuh saat sadar dengan siapa dia berhadapan.

Diluar dugaan ternyata Puteri Pemalu yang selalu unjukkan sikap malu-malu malah menggoyangkan kepala. "Dihadapanku jangan memakai segala bentuk peradatan, nek. Di depan pemilik langit bumi setiap manusia kedudukannya sama saja. Para dewa menilai manusia bukan dari kedudukannya tapi dari sisi kebaikan." kata Puteri Pemalu tegas.

Setelah terdiam sejenak dia melanjutkan.

"Ketahuilah nek, sebuah rumah bila tidak diurus akan hancur.Demikian pula dengan istanaku.

Belasan tahun aku tinggalkan istana itu. Semua urusan kuserahkan pada patih. Dan kemudian ketika aku kembali segalanya telah berakhir. Aku tahu semua itu adalah salahku, tapi aku tak mau selalu terjebak pada masa laluku."

"Lalu apa yang terjadi padamu?"

Tanya Momok Laknat penuh rasa ingin tahu.

"Soal diriku tak perlu dipermasalahkan.Sesungguhnya aku telah mati. Tak perlu nenek tahu apa yang menjadi sebab kematianku!"

"Jika begitu bagaimana kau bisa hadir dihadapanku dengan rupa seperti ini?" tanya si nenek penuh rasa ingin tahu.

"Hik hik hik. Kau bertanya padahal kau telah tahu jawabannya. Jasad yang terbentuk dan yang kini berada di hadapanmu nek sesungguhnya dulu adalah jasad gadis cantik yang sangat lugu. Kau yang mengumpulkan dan mengambil tulang belulangnya dari kubur gadis itu. Atas kehendak dan izin para dewa rohku diperintahkan untuk menempatinya."

"Untuk apa?" Tanya si nenek.

"Untuk apa? Bukankah kau selalu meminta pada dewa agar diberi petunjuk. Dan aku diminta menjadi penunjuk jalan bagi kehidupanmu." terang Puteri Pemalu dengan sikap malu-malu.

"Aku hanya ingin bertanya apakah masih ada kemungkinan bagi diriku membalas dendam kesumat dan sakit hati pada orang yang telah membuat wajahku cacat begini rupa."

"Aku tahu nek. Soal wajahmu yang dibuat cacat rusak seperti itu. Para dewa berkenan memberi tahu diriku tentang segala sebab serta muasal dari bencana besar yang pernah kau alami di masa lalu. Ketahuilah olehmu nek bahwa neraka memang ada dan swargaloka itu sesungguhnya nyata adanya."

Mulut buruk hitam pucat dihiasi keriput menyeringai. Tak terduga untuk pertama kalinya Momok Laknat tertawa tergelak-gelak. Suara tawanya menggerung menyakitkan telinga Puteri Pemalu yang hanya terdiri dari tulang rawan merah tak terbungkus kulit.

Bangunan pondok yang terbuat dari susunan tulang paus berguncang hebat.

Puteri Pemalu terpaksa kerahkan tenaga dalam lindungi telinga dari pengaruh tawa si nenek. Sekujur tubuh yang merah dipenuhi urat-urat darah bersembulan berubah merah pekat.

Puteri Pemalu cepat menyela dengan berkata, "Nek, jangan membuat aku malu lagi nek. Kuharap tidak ada ucapanku yang terdengar aneh.

Kuharap juga kau tidak melihat bagian tubuhku yang memalukan. Lalu gerangan apa yang membuatmu tertawa?"

Seolah tersadar Momok Laknat hentikan tawanya. Dua rongga matanya menatap ke arah Puteri Pemalu. Entah apa yang ada dalam benak Momok Laknat yang jelas sejurus kemudian dia berkata,

"Kau bicara surga dan neraka seolah kau pernah kesana dan melihatnya."

"Atas izin para dewa aku telah diperkenankan melihat dua tempat yang kau sebutkan itu nek."tegas Puteri Pemalu.

"Jika benar yang kau ucapkan. Mengingat kejujuranmu di masa lalu aku percaya. Lalu bagaimana keadaan dikedua tempat itu?" tanya si nenek dengan perasaan tidak sabar.

"Aku tak akan menjelaskan padamu, setidaknya bukan sekarang-sekarang ini. Tapi nanti disuatu saat yang tepat aku akan ceritakan apa yang kau ingin ketahui itu hingga membuat hatimu menjadi puas. Sekarang atas kehendak para dewa aku dikembalikan kedunia ini. Dewa mengirimkan arwahku dalam rupa cahaya putih bening seperti air. Kemudian dewa menjadikan tubuh yang kutempati dari tulang belulang yang kau ambil dari makam gadis yang semasa hidupnya memiliki sifat konyol luar biasa."

"Hah! Walau telah menduga namun aku kurang yakin tubuhmu terdiri dari susunan tulang belulang yang kubawa dari makam tua itu. Maafkan aku! Karena keinginanku kau telah bersusah payah mengetahui perintah dewa dengan kembali ke dunia ini lagi. Dengan kehadiranmu ini kuanggap dewa telah mengabulkan sebagian permintaanku."berucap si nenek.

Dia lalu tersendu menangis sesunggukan. Namun itu hanya sebentar.

Momok Laknat lalu terdiam membuat Puteri Pemalu yang sering tak sengaja mendekap bagian-bagian auratnya menjadi resah dan ajukan pertanyaan.

"Apa yang kau pikirkan nek?"

Momok Laknat tundukan kepala. Dia menggeleng perlahan namun kemudian kembali menatap kearah Puteri Pemalu.

"Aku masih kecewa karena kau tak mau menjelaskan tentang surga dan neraka. Tapi aku bisa memakluminya demi rasa hormatku kepadamu. Sekarang menyangkut soal dendamku pada seseorang yang telah membuatku cacat begini rupa. Apakah dewa memberimu perintah agar membantu aku menyelesaikan masa lalu itu?"

"Aku datang untuk mendampingimu. Kalau tidak buat apa bersedia menempati tubuh yang tak terbentuk dengan sempurna ini. Untuk sementara dewa berharap kau mengembalikan dendammu itu "

"Apa?" desis Momok Laknat dengan mulut ternganga. Andai saja rongga mata si nenek masih mempunyai bola mata tentu Puteri Pemalu bisa melihat si nenek bakal mendelik. "Dewa mengatakan aku harus mengabaikan dulu masalah dendam kesumat? Apakah dewa-dewa mengira persoalanku tidak penting untuk diselesaikan?!" teriak si nenek.

Melihat si nenek marah-marah, Puteri Pemalu dekap mulutnya. Dengan suara lembut santun dan membujuk gadis itu berkata,

"Maafkan aku nek.Bukannya aku atau para dewa menganggap remeh persoalanmu. Tapi saat ini ada satu masalah yang jauh lebih besar yang membutuhkan uluran tanganmu." terang sang puteri.

Mendengar ucapan gadis di depannya. Momok Laknat dongakan kepala. Tak sabar dia cepat-cepat bertanya,

"Persoalan apa?"

"Begini. Sebelum aku menemanimu membantu membalaskan dendam dan segala rasa sakit hati pada musuh bebuyutanmu. Kau harus ikut denganku kesebuah perbukitan karang yang terletak di penanjung pantai utara pulau Es."

"Tempat yang kau sebutkan cukup jauh dari sini," ucap Momok Laknat mengingatkan. "Memang jauh, tapi bila bersamaku jarak yang jauh menjadi tidak berarti. Aku bukan manusia

sepertimu lagi nek. Ingat, aku bisa mencapai suatu tempat hanya dalam waktu sekedipan mata."

"Aku tahu. Dan semua itu pasti berkat bantuan yang diberikan dewa kepadamu. Namun kau harus memberi tahu aku, mengapa jauh-jauh kita mendatangi pantai utara?" bertanya Momok Laknat dengan perasaan tidak mengerti.

Puteri Pemalu bertanya sambil dekap wajahnya.

"Dalam perjalanan nanti aku akan ceritakan segalanya kepadamu. Termasuk juga tentang tujuan kita datang ke tempat itu." tegas si gadis.

Momok Laknat merasa tidak puas. Namun untuk memaksa dan meminta penjelasan tentang duduk perkara Momok Laknat merasa sungkan mengingat masa lalu kehidupan Puteri Pemalu. Dia hanya bisa mereka-reka dalam hati walau jawaban yang dia inginkan tak kunjung dia dapatkan.

Selagi Momok Laknat tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tiba-tiba saja keheningan suasana di sekitar pondok lenyap dikejutkan dengan suara menderu aneh seperti suara langkah kaki orang berlari.

"Nek, ada orang datang menuju ke pondokmu" sentak Puteri Pemalu kaget sambil dekap dadanya yang tertutup pakaian merah.

Momok Laknat kaget. Seketika dia melompat bangkit. Bergegas dia mengambil buntalan kecil di sudut pondok.

"Lekas ikuti aku!" kata Momok Laknat pada Puteri Pemalu.

Nenek renta itu segera menyelinap keluar melewati pintu pondok. Sang puteri segera menyusulnya.

***** Satu sosok tubuh bergerak cepat melesat laksana anak panah meninggalkan Lembah Tapa Rasa.

Terpaut jarak yang cukup jauh. Di belakang berpakaian putih mengenakan mantel berbulu terus mengikuti satu sosok lainnya.

Sosok kedua yang tertinggal di belakang berusaha menyusul orang yang berada di depan. Namun walau dia telah menggerakkan segenap tenaga dan menggunakan ilmu lari cepat Kaki

Seribu. Tetap saja sosok bertubuh pendek kerdil berkepala botak dan berpakaian kotak-kotak itu tak berhasil menyusul.

Dengan nafas megap-megap dia memperlambat larinya. Sepasang matanya yang belok menatap lurus ke depan. Dengan perasaan letih bercampur jengkel laki-laki tua berusia sekitar delapan puluh tahun ini pun berteriak,

"Hei... paduka Raja Gendeng. Aku mengaku memyerah tak sanggup menyamai kecepatan ilmu larimu yang gila-gilaan itu. Tunggu aku, jantungku hampir copot, paru-paru rasanya mau meletus. Kalau kau terus saja berlari."

"Aku bersumpah tak kembali ke Lembah Tapa Rasa dan berdiam di sana sampai lumutan!" ancam si kakek jengkel.

Sosok yang dipanggil paduka Raja Gendeng yang tak lain adalah Si Gendeng atau lebih dikenal dengan sebutan Raja Gendeng hentikan langkah.

Sambil menggeleng dan menggaruk kepala yang ditumbuhi rambut panjang sebahu pemuda ini memutar tubuh balikan badan.

Bersungut-sungut pemuda ini hentakan kedua kakinya. Sekejab saja dia telah berdiri tegak di depan si kakek. Mata belok kakek kerdil yang bukan lain adalah Ki Sapa Brata atau lebih dikenal dengan sebutan Bocah Ontang Anting membeliak lebar melihat gerakan pemuda tampan bertampang konyol itu.

"Dengan kecepatan sehebat itu dalam berlari, mana mungkin aku yang sudah tua dan tak pernah tinggi ini bisa mengimbangi ilmu larimu."gerutu si kakek.

Raja Gendeng yang juga dikenal dengan julukan Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es geleng kepala sambil menggerutu. Bocah Ontang Anting terlihat acuh tak perduli, malah dia kemudian lanjutkan ucapannya.

"Jangan terlalu cepat.Gugusan pulau karang di pantai sebelah utara pulau ini sudah tidak jauh lagi. Kuharap kita bisa melakukan perjalanan dengan santai saja sambil berbincang membicarakan masa lalu."

"Masa lalu? Masa lalu siapa?" tanya sang pendekar.

"Masa lalu siapa? Tentu saja masa lalumu. Aku yakin sangat menarik. Tidak seperti masa lalu yang suram."

"Aku tidak tertarik untuk membicarakannya kek. Paling tidak untuk saat ini." kilah Raja Gendeng satu-satunya pewaris tahta Istana Pulau Es yang lolos dari serbuan Maha Iblis dari Timur ini sambil pencongkan mulut.

"Jadi kapan kau mau berbagi cerita denganku tentang masa lalumu itu? Kau tidak boleh pelit." "Sekarang adalah waktu paling tepat bagiku untuk mengetahui riwayat hidupmu. Kau pernah

berada dalam gemblengan manusia hebat setengah dewa Ki Panaran Jagad Biru. Jarang sekali orang seberuntung dirimu diambil murid oleh seorang tokoh maha sakti seperti dia. Selain itu kau juga diasuh oleh nenek hebat Nini Balang Kudu. Kukira penghuni dasar laut selatan itu juga menurunkan semua ilmu kesaktian yang dia miliki. Tapi dia itu manusia aneh. Wataknya angin-anginan mengikuti pasang surut air laut. Susah ditebak. Dan satu yang tidak aku sukai...!" gumam si kerdil Bocah Ontang Anting sambil manggut-manggut dan mengetuk keningnya.

Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es menatap kakek di depannya dengan sikap acuh tak acuh.

Dia merasa geli melihat Bocah Ontang Anting bertingkah selayaknya orang yang sedang berpikir keras.

Raja Gendeng tiba-tiba membuka mulut ajukan pertanyaan, "Apa yang tidak kau sukai dari guruku Nini Balang Kudu?"

"Hmm, aku tidak suka pada nenek budek tuli itu. Dulu aku pernah berselisih dengannya karena dia salah menangkap maksud ucapanku. Waktu itu aku memujinya. Tapi dia mengira aku malah menghinanya. Akibatnya dia menyerangku hingga babak belur. Aku yang tadinya bisa berdiri tegak dia hajar dengan pukulan sakti hingga membuatku ambruk. Satu purnama lebih aku berusaha menyembuhkan derita luka dalam hebat yang kualami. Tapi seperti yang kau lihat sekarang aku dalam keadaan segar bugar. Kepala bisa tegak tidak miring teleng seperti dulu. Terkecuali kepala yang satunya menunduk terus seumur-umur." kata Bocah Ontang Anting sambil senyum-senyum sendiri.

Mendengar ucapan si kakek Raja Gendeng tak kuasa menahan tawa. Sambil tawa cekikikan tiba- tiba dia menyahuti.

"Bukankah punyamu yang satu itu telah kusembuhkan secara tak sengaja? Kau harusnya bersyukur, berterima kasih padaku karena dapat kesembuhan gratis. Kalau tak kutolong seumur-umur setiap melihat wanita cantik kau cuma bisa gigit jari. Ha ha ha!"

Wajah Bocah Ontang Anting bersemu merah seperti kepiting rebus. Sambil manggut-manggut dan rangkapkan dua tangannya si kakek menyelah,

"Wahai paduka Raja Gendeng. Kuakui engkau memang hebat. Tapi sayang mengapa cuma kepalaku yang selalu lumpuh itu saja yang bisa kau buat tegak Mengapa tidak sekalian kau carikan jodoh untukku. Biar hidup tua bangka ini menjadi asyik dan lebih mantap?! Ha ha ha!"

"Tenang. Aku pasti akan carikan jodoh untukmu kek. Jodohnya masih perawan kau mau?" Tanya Raja Gendeng sambil kedipkan mata kirinya tiga kali. Mendengar itu wajah Bocah Ontang Anting seketika berubah jadi sumringah.

"Mau... mau. Aku pasti mau sekali kau carikan jodoh. Apalagi jodohnya masih perawan. Dapat perawan pasti mengasyikkan. Lihat belum apa-apa saja aku sudah gemetaran. Memangnya kau hendak mengawinkan aku dengan gadis mana,Raja?" kata si kakek penasaran sekali.

Raja Gendeng tertawa bergelak. Tapi tawanya tak berlangsung lama. Sekejap kemudian tawa pemuda itu lenyap. Dengan mimik bersungguh- sungguh dia membuka mulut,

"Kau harus lebih sabar sedikit. Aku pasti bakal membantumu mencarikan jodoh yang sesuai untukmu. Sekarang sebaiknya kau dan aku mengesampingkan soal urusan jodoh."

"Ah...!"

Bocah Ontang Anting menghela nafas kecewa.

" Aku sudah menduga kau pasti bakal bicara seperti itu."

"Orang tua kuharap jangan berkecil hati dulu.Kau tahu urusan yang lebih besar yang harus kita selesaikan malam empat belas hari bulan. Saat ini kau sendiri tahu kita sedang dalam perjalanan menuju bukit karang. Aku tidak mau dianggap sebagai murid yang tak berbakti dan tak tahu menjalankan amanat yang diberikan guru. Mencari dan menyelamatkan Pedang Gila sudah menjadi kewajibanku. Lagi pula raja dari semua pedang sakti yang pernah ada di dunia ini merupakan senjata pusaka milik Istana Pulau Es. Sebagai pewaris satu-satunya aku berkewajiban mengamankan Pedang Gila dari manusia-manusia sesat yang tak bertanggung jawab," tegas Raja Gendeng.

Mendengar ucapan Sang Maha Sakti dari Istana Pulau Es itu Bocah Ontang Anting terdiam sambil manggut-manggut.

Tak selang berapa lama, seperti orang gelisah dia berjalan mondar-mandir di depan sang pendekar. Kepala terus mengangguk-angguk tapi tatapan mata menunduk.

Melihat ini Raja Gendeng jadi tidak sabaran.

"Kek apa yang kau cari? Mengapa kau mondar- mandir di depanku. Apakah ada barangmu yang hilang?"

Tanya pemuda itu ketus.

Mendengar pertanyaan Raja Gendeng, Bocah Ontang Anting unjukkan wajah kaget. Lalu tanpa dia sadari tangan kirinya cepat menekan bagian bawah perutnya. Rasa cemas yang sempat membayang diwajah Bocah Ontang Anting lenyap berganti dengan perasaan lega.

Orang tua ini menghembuskan nafas. Puuh!

Sementara dari mulutnya menyusul ucapan.

"Hhm, masih beruntung aku perkutut yang kau obati kemarin ternyata masih berada dalam sangkarnya.Coba kalau perkutut itu terbang, aduh aku bisa ketiwasan sengsara seumur-umur."

"Apakah dia masih terjaga?" tanya Raja Gendeng merasa geli tapi juga bercampur jengkel. "Syukur pada dewa. Sejak kau obati perkutut itu melek terus tak pernah tidur. Tapi. tap.!"

berucap si kakek ragu namun juga gugup.

"Ada apa lagi?" tanya sang pendekar tambah "Anu, eh tidak."

Si kakek tertawa malu-malu.

Sambil tersipu dia mengungkapkan ganjalan yang ada di hati.

"Anu, bagaimana kalau perkutut satu-satunya itu dicuri orang. Padahal seumur-umur dia belum pernah di sangkar yang apik?!"

"Tua bangka gila. Segala barang budukan begitu mengapa dirisaukan? Pencuri tengik mana yang berlaku tolol mencuri barang yang tidak berguna?!" geram Raja Gendeng tapi dia sendiri kemudian malah tertawa tergelak-gelak.

"Nah ini dia. Kau jangan pura-pura tidak tahu paduka raja." cibir si kakek mencemooh.

"Pada dasarnya kita laki- laki suka yang tengik. Mungkin saja pencuri perkutut orang gila yang suka tengik juga. Coba bagaimana kalau sampai kejadian?"

"Sudah!" kata Raja Gendeng ketus.

"Sedari tadi yang pikirkan cuma diri sendiri. Saat ini kita harus melanjutkan perjalanan. Tanggal empat belas bulan purnama hanya tinggal satu hari lagi. Aku khawatir orang-orang yang menginginkan senjata pusaka itu saat ini sedang menuju ke perbukitan karang. Jika mereka sampai lebih cepat dari kita, kecil kemungkinan bagiku untuk menyelamatkan Pedang Gila?"

Seolah ingat dengan tugas berat yang pernah diamanatkan Ki Panaran Jagad Biru beberapa tahun sebelumnya. Bocah Ontang Anting pun kini bersikap bersungguh sungguh.

Walau telah berkali-kali diingatkan oleh sang pendekar agar si kakek tidak bersikap sungkan dan menggunakan segala peradatan tetap saja sekarang dia rangkapkan dua tangan di depan dada lalu menjura sebagai tanda hormat.

"Maafkan aku yang bodoh ini paduka Raja Gendeng. "

"Orang tua bodoh. Panggil saja namaku. Kau sudah tahu namaku adalah Raja. Mengapa masih juga memanggilku Paduka Raja Gendeng?" hardik sang pendekar dengan mata mendelik.

"Eh, anu begini maafkan aku lagi. Sebaiknya aku tidak memanggilmu paduka tapi Raja Gendeng saja. Bagaimana?"

Tanya Bocah Ontang Anting takut-takut. Dia takut pemuda itu mendampratnya Tidak disangka-sangka Sang Maha Sakti Dari Istana Es itu malah tertawa tergelak-gelak.

"Bagus. Di dunia banyak raja yang gila tahta, gila kekuasaan, gila wanita, harta benda. Tapi aku tidak menyukai semua itu dan memilih meninggal- kannya. Tidak salah apabila kedua guruku menyebutku sebagai manusia gendeng yang tidak rakus dengan gemerlap dunia." ucap sang pendekar. "Ha ha ha. Kau keturunan raja, gurumu memberimu nama Raja. Hm, sebuah nama bagus dan mudah diingat. Melihat tingkah lakumu dan watakmu yang angin-anginan seperti orang edan, kukira memang tak salah ada kata Gendeng di belakang namamu!"

"Terima kasih kau telah mengingatkan.Sekarang ada baiknya kita segera berangkat kek!" Raja Gendeng memberikan usul.

"Oh tentu. Kita memang harus segera berangkat. Apalagi serangan topan yang melanda pulau ini telah mereda. Kita bisa melanjutkan perjalanan tanpa takut mati kedinginan." sahut si kakek.

Raja Gendeng tersenyum. Dia membalikan badan dan siap melangkah pergi. Tapi gerakan pemuda ini tertahan begitu dia melihat tak jauh dari tempat mereka berada berdiri tegak sesosok mahluk aneh mirip dengan dengan sebatang pohon.

Mahluk itu tingginya mencapai dua tombak. Mahluk ini sekujur tubuhnya diselimuti lapisan kulit tebal mirip kulit pohon tua berwarna coklat kehijawan.

Dua kaki panjang menjuntai besar luar biasa dan ditumbuhi puluhan selaput pipih panjang bergelayutan tak ubahnya seperti akar pohon yang bergelantungan. Dua tangan demikian juga, tapi jari-jari pada tangan itu berkuku panjang melingkar- lingkar laksana seekor ular yang bergelung.

Sepasang mulut hanya merupakan sebuah garis besar tanpa bibir, hidung panjang menggelantung ke bawah tak seperti belalai gajah. Sedangkan sepasang mata tumbuh di balik dua buah benjolan besar yang menonjol ke luar.

Mahluk ini sama sekali tak mempunyai rambut.

Di bagian atas kepala di mana seharusnya rambut tumbuh justru dipenuhi tonjolan daging berlapis kulit yang mencual kesegala penjuru tak ubahnya seperti dengan reranting pohon. Melihat kehadiran mahluk aneh dengan ujud mirip dengan pohon tua ini baik Bocah Ontang Anting maupun Raja Gendeng saling melempar pandang.

Si kakek kerdil pandangi mahluk aneh itu dari bagian kepala hingga ke kaki. Dalam hati dia berucap,

"Tadi aku tidak melihat ada siapa-siapa di sekitar sini. Tiba-tiba saja dia muncul. Tak ada suara yang kudengar tak pula kurasakan tanda-tanda kehadirannya. Aku yakin dia bukan mahluk sembarangan. Dia hadir di sini dengan membawa maksud yang tidak baik."

Sementara itu Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es justru merasa heran namun juga menjadi geli melihat penampilan orang seaneh itu. Dia tidak begitu yakin apakah mahluk langkah di depannya bisa bicara. Diam-diam Raja Gendeng membatin sendiri.

"Kalau bukan karena dewa salah. Pastilah mahluk satu ini datang dari neraka perut bumi." Dia lalu menatap lurus ke depan dan memperhatikan sosok berpenampilan unik itu.

"Mata tumbuh di atas benjolan, hidung seperti belalai, mulut cuma berupa garis. Hm, buat apa aku berurusan dengan mahluk seperti dia?"

Tanpa bicara apa-apa, pemuda ini segala melangkahkan kakinya. Dia sengaja mengambil jalan lebih ketepi karena jalan yang hendak dia lewati terhalang oleh mahluk mirip pohon itu. Tak disangka- sangka sang mahluk aneh bergeser kesamping menghadang jalan Raja Gendeng.

Melihat ini Bocah Ontang Anting yang jalannya seperti orang tua yang tertatih-tatih segera menghampiri.

"Siapa kau? Kurasa kau bukan pohon sungguhan. Siapapun dirimu harap segera menyingkir karena Raja Gendeng mau lewat!" perintah si kakek.

Mendengar Bocah Ontang Anting menyebut nama pemuda itu. Tak disangka-sangka mahluk aneh mirip pohon itu membuka mulutnya yang cuma berupa garis. Begitu mulut menganga maka terdengar suara gelak tawa sang mahluk.

Baik Raja Gendeng maupun Bocah Ontang Anting merasa kaget. Mereka tak menyangka suara tawa sang mahluk membuat peredaran darah di tubuh mereka jadi kacau, jantung berdetak keras seperti mau meledak, telinga sakit dan kepala laksana dipalu. Sebelum sesuatu yang buruk mereka alami. Keduanya segera mengerahkan tenaga dalam dan menutup pendengaran masing-masing.

Sebentar saja Raja Gendeng berhasil menguasai diri. Tawa aneh sang mahluk tak lagi berpengaruh pada dirinya. Berbeda dengan Bocah Ontang Anting. Walau kakek ini telah menutup indera pendengaran dengan pengerahan tenaga sakti. Namun suara tawa sang mahluk masih dapat menembus telinganya.

Si kakek menggeram. Dia sangat jengkel juga penasaran. Dengan cepat dia merogoh sesuatu dari balik kantong perbekalannya. Yang diambil oleh Bocah Ontang Anting ternyata adalah dua benda berwarna hitam kecoklatan dengan ukuran tak lebih dari jari kelingking. Dua benda lunak

masing-masing dia sumbatkan kelubang telinga kiri dan lubang telinga sebelah kanan. Setelah dua benda di- sumpalkan ke liang telinga. Suara tawa yang luar biasa dahsyat seolah lenyap dan tak berpengaruh bagi si kakek.

Orang tua ini senyum-senyum sendiri. Dengan mulut menyeringai Bocah Ontang Anting berseru ditujukan pada mahluk aneh itu.

"Tertawalah kau sampai tenggorokanmu putus atau kalau perlu sampai paru-parumu pecah.Aku sudah memasang penangkal. Dengan penangkal itu telingaku bakal baik-baik saja dan terasa nyaman. Ha ha ha...!"

Mendengar ucapan si kakek Raja Gendeng kerutkan keningnya. Merasa heran pemuda ini ajukan pertanyaan.

"Kek.... kau hebat punya tangkalan. Tapi kalau boleh aku tahu tangkalanmu itu terbuat dari apa?

Apakah benda yang disumpalkan ke liang telingamu itu sejenis jimat atau benda sakti lainnya?!" Pemuda ini lalu pandangi kakek di sampingnya dengan mulut melongo disertai rasa ingin tahu. Mendengar pertanyaan Raja Gendeng tawa Bocah Ontang Anting malah menjadi-jadi.

Begitu gelinya si kakek sampai-sampai air matanya berlelehan. Namun dia segera hentikan tawa.

Kemudian dengan polos tanpa merasa aneh Bocah Ontang Anting jawab pertanyaan sahabatnya. "Tidak. Aku tak punya ajimat apa-apa, Raja. Aku menangkal pengaruh tawa mahluk aneh itu

dengan menggunakan upil yang kukumpulkan selama bertahun-tahun."

Mendengar ini karuan saja Raja Gendeng tak kuasa menahan tawa. Bila tawa si kakek biasa-biasa saja tanpa disertai pengerahan tenaga dalam.

Sebaliknya Raja Gendeng sengaja menyertakan tenaga sakti dalam tawanya. Tujuannya dia ingin mengetahui sejauh apa tingkat tenaga sakti yang dimiliki oleh mahluk itu.

Didepan sana mahluk aneh berujud seperti pohon tampak tergetar. Getaran berubah jadi guncangan ketika Raja Gendeng lipat gandakan tenaga dalam dalam tawanya itu. Mahluk pohon menggerung, seolah tidak mau kalah dia makin memperhebat suara tawa.

Adu kekuatan tenaga dalam melalui suara tawa berakhir setelah terjadi ledakan keras berdentum di udara. Mahluk berujud seperti pohon terjengkang roboh namun segera bangkit kembali.

Sementara Raja Gendeng yang sempat terhuyung kini mengusap dua daun telinganya yang berdenging dan tampak berwarna kemerahan.

"Mahluk gelo sialan! Tak mungkin dia memiliki tingkat tenaga dalam yang sangat tinggi. Aku cuma bisa membuatnya ambruk. Padahal seharusnya ujudnya yang aneh itu dapat kubuat porak poranda. Siapa dia? Ada maksud keperluan apa menghadang perjalananku?" pikir sang pendekar.

Di depan sana mahluk pohon mengusap tubuh ditumbuhi reranting. Kepala itu berdenyut sakit seolah ada bisul dalam batok kepala yang mau meledak. Tak berselang lama sepasang mata sang mahluk yang tumbuh diatas dua benjolan menatap lurus pada Raja Gendeng.

Dalam hati dia membantin.

"Pemuda ini ternyata memiliki tenaga dalam yang sungguh luar biasa. Aku yakin memang dia orangnya yang diperintahkan junjungan Maha Iblis Dari Timur untuk menghabisinya. Tugas terlanjur kuterima. Dia harus kulenyapkan. Hanya dengan cara itu mencegahnya menuju pantai utara. Aku adalah mahluk suruhan yang tidak pernah mengecewakan. Tapi sebelum kuhabisi agar tidak sampai kesalahan tangan lebih baik aku bertanya dulu kepadanya."

Mahluk pohon melangkah maju. Bocah Ontang Anting tiba-tiba bangkit dan segera berdiri menghadang di depan Raja Gendeng.

"Cukup! Selangkah lagi kau bergerak aku bersumpah akan membuntungi kedua kakimu yang jelek dan aneh itu?!" ancam si kakek.

Mulut sang mahluk yang hanya berupa garis tipis menyeringai. Sepasang mata yang terlindung kulit tebal mirip kulit kayu yang mati berkedap kedip.

Setelah memperhatikan Bocah Ontang Anting dia membentak, "Kakek pendek cebol seperti bocah.Punya ilmu kesaktian apa kau hingga berani mengancamku. Aku tidak punya kepentingan apa- apa denganmu. Lebih baik kau menepi! Aku ingin bicara dengan pemuda itu."

"Mahluk kampret. Jahanam betul. Lihatlah dia sama sekali tidak memandang muka padaku!" kata si kakek ditujukan pada sang mahluk juga pada sahabat Raja Gendeng.

"Jangan berkecil hati kek. Mungkin tampangmu memang tak sedap untuk dipandang.Karena dia mau bicara padaku, biarkan saja beri dia kesempatan. Bagaimana pun aku tetap merasa tidak nyaman bicara dengan pohon yang bisa berpindah dan bisa pula bicara" kata Raja sambil menahan senyum.

"Paduka Raja Gendeng sialan. Kenapa malah tidak berpihak padaku. Dia tidak tahu aku berusaha melindunginya." gerutu Bocah Ontang Anting dalam hati.

Wajah si kakek cemberut. Dia kemudian palingkan wajah ke jurusan lain. Sementara itu sang mahluk tanpa menghiraukan Bocah Ontang Anting segera membuka mulut.

"Aku mahluk pohon. Dalam kehidupan yang lain dan di sebuah tempat yang sangat jauh dari sini mahluk langka sepertiku menetap dan hidup selama ratusan ribu tahun. Namaku Raka Syiwa. "

Belum sempat mahluk pohon yang mengaku bernama Raka Syiwa menyelesaikan ucapan. Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es ini cepat memotong.

"Teman-temanmu sesama mahluk pohon menetap di suatu tempat. Lalu mengapa kau gentayangan jauh sampai ke pulau ini punya urusan apa?" tanya pemuda itu acuh.

"Aku hanya mematuhi perintah tetua, raja dari seluruh diraja pohon yang terdapat di seluruh jagad untuk membantu seseorang yang berada di pulau ini."

"Siapa nama tetuamu?" tanya Raja Gendeng.

"Tetuaku bernama Karma Diraga." jawab mahluk pohon Raka Syiwa.

"Kalau begitu sebutkan siapa orangnya yang hendak kau bantu, mahluk aneh!" sela Bocah Ontang Anting.

Raka Syiwa menyeringai. Walau dia merasa tak suka pada si kakek kerdil sejak pertama kali melihatnya namun dia tetap menjawab juga pertanyaan orang.

" Orang itu tak bernama, namun dia dikenal dengan sebutan Maha Iblis Dari Timur!" dengan polos Raka Syiwa berterus terang, Mendengar jawaban mahluk pohon kagetlah Raja

Gendeng dan si kakek dibuatnya. Bocah Ontang Anting terperangah, mulut ternganga dan matanya yang belok melotot mendelik seperti melihat hantu.

Raja Gendeng sendiri segala menghela nafas. Walau kaget namun buru-buru dia berujar.

" Jika manusia sesat itu yang hendak kau bantu. Berarti kau salah dalam mengambil keputusan.

Mengapa kau tidak membantu orang lemah dan serba kekurangan?" "Maha Iblis Dari Timur adalah sahabat tetua Karma Diraga pemimpin dari semua mahluk pohon.Bila dia mengalami kesulitan, sudah menjadi kewajiban tetua untuk memberi bantuan."

"Berarti tetua dan Maha Iblis Dari Timur sama- sama mahluk terkutuk yang tak pernah berpihak pada kebenaran!" cibir Bocah Ontang Anting ketus.

Raka Syiwa cuma menggeram. "Mengapa kau menemui kami?" Tanya Raja Gendeng tidak sabaran.

Raka Syiwa mengusap bagian tubuh yang berbentuk dagu. Terdengar suara berkeretekan saat jemari tangan beradu dengan dagunya.

"Sebelum kujawab pertanyaanmu, aku ingin ajukan satu pertanyaan padamu" kata Raka Syiwa. "Kurang ajar betul. Bukannya menjawab pertanyaan orang, kau malah ajukan pertanyaan.Agaknya

mahluk sepertimu tak sadar sedang berhadapan dengan siapa?" maki si kakek sambil unjukan wajah merah.

Mahluk pohon menyeringai dingin.

Raja Gendeng kedipkan mata pada si kakek memberi isyarat agar tak bersikap gegabah dengan menyebut asal usul pemuda itu. Rupanya kakek itu mengerti tidaklah heran dia akhirnya memilih untuk berdiam diri namun tetap bersikap waspada.

Sementara itu Raka Syiwa tetap ajukan pertanyaan pada Raja. "Aku bertanya hanya satu kali saja."

"Mahluk konyol, mau bertanya berkali-kali tetap kuberi kesempatan selagi aku belum berubah pikiran!" sahut sang pendekar jengkel.

Raka Syiwa acuh saja walau sadar pemuda di depannya mulai tidak sabaran terhadapnya. Kemudian untuk kesekian kali Raka Syiwa menmbuka mulut.

"Apa benar kau berasal dari Istana Pulau Es?" Tanpa ragu Raja anggukkan kepala.

"Jika asal usulmu dari Istana Pulau Es, berarti kau masih keturunan gusti prabu Sangga Langit." "Itu juga benar. Kok bisa tahu?" kata Raja disertai senyum mengejek.

"Kalau begitu kaulah orangnya yang bernama Raja, dikenal dengan sebutan Raja Gendeng berjuluk Sang Maha Sakti Dari Pulau Es. Apakah yang kukatakan ini juga benar?"

"Ha ha ha! Lagi-lagi yang kau katakan benar adanya. Seandainya kau seorang murid, kau pastilah murid nomor satu karena benar terus."

"Sekarang jelaskan padaku mengapa kau menghadang kami?" desak Raja tambah tidak sabaran "Raja... dia pasti memendam maksud yang tidak baik!"

Bocah Ontang Anting yang sejak tadi diam sambil memendam kejengkelan di hati tiba-tiba angkat bicara. "Beri kesempatan padaku untuk menebas habis mahluk pohon satu itu?!"

"Ha ha ha! Sahabatku, aku tahu kau merasa jengkel aku juga bisa mengerti mengapa kau merasa muak dengan mahluk satu ini. Tapi menurutku lebih baik kau menyimpan tenaga untuk persiapan malam empat belas hari bulan nanti. Sekarang sebaiknya kau menepi, berikan kesempatan padaku yang lebih muda unjuk gigi. Kebetulan gigiku masih bagus dan lengkap, kalau kau yang unjuk gigi aku bisa malu besar karena gigimu kuning tak pernah dibersihkan."

"Lagi pula dia belum mengatakan maksudnya! Ha ha ha" sahut Raja Gendeng lalu tertawa tergelak-

"Raja Gendeng kurang ajar. Biasa-bisanya kau mempermalukan tua bangka ini." damprat si kakek.

Tapi kemudian dia menyeringai sendiri saat sadar giginya memang kuning berlapis sisa makanan membusuk dan menebar bau tidak sedap. Sementara itu Raka Syiwa terlihat mengumbar senyum lega,

"Orang yang disuruh mencari telah kutemukan, Sekarang sudah waktunya bagiku untuk melenyapkannya" membatin mahluk pohon ini dalam hati. Dia lalu melangkah maju. Dua tindak di depan langkahnya terhenti. Pada Raja dia pun berterus terang.

"Anak muda. Kau begitu lugu dan suka berterus terang. Aku suka dengan sikapmu yang konyol.

Sebagai keturunan prabu Sangga Langit tak salah kau menjadi penerus tahta orang tuamu. Tapi menurutku kau tak pantas menjadi seorang raja."

"Di dunia ini mana ada seorang raja yang konyol, gila dan gendeng sepertimu. Kau cuma pantas menjadi rajanya orang gendeng sejagad." kata Raka Syiwa.

"Pertama itu yang ingin kukatakan.Sedangkan yang kedua aku datang ingin mengambil nyawa busukmu termasuk juga jiwa orang yang mencoba merintangi semua usahaku dalam melenyapkanmu!"

Walau sudah menduga Bocah Ontang Anting tak urung dibuat kaget juga dengan penjelasan Raka Syiwa. Si kakek merasa darahnya mendidih, namun dia terpaksa menahan amarahnya karena ingat dengan ucapan Raja yang memintanya agar tidak turut campur.

Di lain pihak sang pendekar sendiri malah tersenyum mencibir. Dia tidak merasa gentar walau telah mendengar ancaman mahluk pohon.

Sebaliknya dengan tenang Raja malah berujar,

"Nyawaku sepenuhnya kuserahkan pada pemilik langit bumi dan penguasa hidup dan matiku.

Kalau cuma mahluk sepertimu yang menginginkan nyawaku ini alot lebih alot dari pohon disekelilingmu.Namun bila kau memaksa tak menjadi apa. Tapi kau harus berkata jujur padaku."

"Berkata jujur tentang apa?" Tanya Raka Syiwa. Disertai tatapan penuh arti Raja Gendeng berkata,

"Apakah kau menginginkan nyawaku karena mendapat perintah dari Maha Iblis Dari TImur?" tanya si pemuda.

"Terus terang kenyataannya memang demikian."

Wajah Raja yang penuh kemarahan perlahan berubah merah kelam. Ingat dengan kedua orang tua, saudara dan semua penghuni Istana Es yang tewas terbantai di tangan Maha Iblis. Kini dia berubah menjadi amat marah. Seluruh otot-otot ditubuhnya bersembulan. Matanya yang teduh bersahabat sekarang menjadi beringas dan liar.

"Begitu?" kata Raja Gendeng dingin.

"Setelah membantai seluruh orang yang kucintai. Sekarang mahluk terkutuk itu malah menghendaki nyawaku.Sungguh keterlaluan dan kuanggap sebagai keputusan yang goblok. Mengapa dia menyuruhmu menghabisi diriku?" tanya Raja Gendeng dengan suara serak tapi lantang.

"Jawabnya tidak sulit. Dia ingin pedang itu tidak jatuh ketanganmu!" jawab Raka Syiwa.

"Iblis keparat Laknat dan kau tak disangka- sangka ternyata hanya mahluk tolol kacung suruhan iblis!" damprat Bocah Ontang Anting.

Tanpa pernah diduga oleh siapapun si kakek yang memang telah menyiapkan dua pukulan sakti di tangannya secepat kilat menyambar berkelebat ke arah Raka Syiwa.

Dua tangan yang terkepal dan memancarkan cahaya hitam redup menderu ke bagian kepala sedangkan tangan satunya lagi melabrak bagian bahunya.

Raka Syiwa tentu saja tak menyangka bakal mendapat serangan tak terduga secepat itu.

Mahluk yang seluruh tubuhnya berlapis kulit tebal tak ubahnya kulit kayu yang telah mati ini tak sempat menghindar.

Tanpa ampun dua pukulan Bocah Ontang Anting mendarat telak mendarat kedua bagian sasaran yang dituju.

Bleng! Deng! "Akh..!"

Terdengar suara seperti pentungan besi membentur lempengan baja. Raka Syiwa tergetar, bahu dan kepala serasa sakit berdenyut namun dia tak kekurangan sesuatu apa. Sebaliknya Bocah Ontang Anting malah terkapar. Dia merasa seperti ada kekuatan yang tak terlihat menarik belakang leher lalu melemparkannya.

Dengan perasaan heran si kakek bangkit. Mulut cemburut sedangkan wajah sedikit pucat.

Ketika si kakek bangkit, Raja yang khawatir atas keselamatannya diam-diam memperhatikan. Dia siap membantu bila Bocah Ontang Anting mengalami sesuatu yang tak diinginkan. Dan ketika Raja melihat ada yang tidak beres pada dua tangan Bocah Ontang Anting tak dapat menahan diri dia berseru,

"Kek tanganmu!"

Karuan saja teriakan itu membuat si kakek perhatikan tangannya. Mata belok Bocah Ontang Anting membeliak lebar saat perhatikan kedua tangan ternyata dua tangan itu mengalami cidera berupa patah dibeberapa bagian.

"Bangsat sialan! Entah ilmu apa yang dia miliki."

"Aku seperti ada yang melempar. Tanganku laksana menghantam tembok saja. Sekarang patah lagi.Walah.... jadi kerjaan saja!" gerutu Bocah Ontang Anting sambil menyeringai menahan sakit di kedua belah tangannya.

"Kek tanganmu harus diobati!" kata Raja cemas menyangka tangan sahabatnya tak bisa disembuhkan lagi.

Tapi si kakek menjawab acuh.

"Aku tahu... aku tahu. Mahluk pohon sialan itu pasti menyimpan ilmu yang membuat tanganku jadi begini rupa. Sekali lagi aku terpaksa bilang, sialan!"

Lalu acuh saja disertai tatap heran Raja Gendeng, Bocah Ontang Anting hampiri sebatang pohon. Raja tidak tahu apa yang hendak dilakukan sahabatnya. Selagi sang Maha Sakti menduga-duga. Tak disangka-sangka Bocah Ontang Anting malah pukul-pukulkan dua tangannya yang patah di tiga tempat ke batang pohon itu.

Raja nyaris berteriak dengan mencegah. Tapi kemudian dia jadi melongo saat mengetahui betapa dua tangan yang berpatahan itu mengepulkan asap tipis kebiruan disertai terdengarnya suara berderak.

Krak! Kreek! Kretek!

Sungguh menakjupkan. Di tengah suara jerit lolong kesakitan Bocah Ontang Anting. Secara mengagumkan dua tangan yang patah tulang belulangnya bersambungan kembali.

Asap tipis biru lenyap. Si kakek menyeringai sambil mengusap tangannya satu dengan yang lain bergantian.

Dengan sikap seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Bocah Ontang Anting balikkan badan dan sandarkan punggung dipohon yang baru dipukul dengan tangan patahnya.

Si bocah kedipkan mata pada Raja sebagai pertanda dia tidak apa-apa. Bersamaan dengan itu dia berujar seolah ditujukan pada diri sendiri.

"Bagusnya aku menguasai ilmu Seribu Tulang Susunan Dewa hingga tulangku yang patah cepat bersambung lagi. Sayang... aku tidak sempat menguasal ilmu Air Liur Dewa Kasmaran. Kalau ilmu itu yang kukuasai tentu semua wanita cantik di dunia jatuh cinta tergila-gila padaku. Ha ha ha!"

"Ah. Orang tua gelo. Baru saja mendapat musibah sekarang dia bicara ngaco tak karuan." gerutu raja sambil menggaruk kepalanya. Dia kemudian balikkan badan. Kini dia dan Raka Syiwa saling berhadap-hadapan.

Raka Syiwa sendiri sebenarnya belum hilang rasa kagetnya. Dia tak menyangka Bocah Ontang Anting memiliki ilmu kepandaian langka seperti itu.

Dia yang mempunyai ilmu Amarah Kembali tak habis mengerti lawan dapat menyembuhkan cideranya secepat itu.

Namun Raka Syiwa tak mau membuang waktu dan berpikir lama. Segera saja berkonsentrasi pada lawan yang harus disingkirkannya.

"Aku tak punya silang sengketa denganmu.Tapi aku cuma ditugaskan menjalankan tugas. Tugas yang diberikan adalah dengan membunuhmu!"

berkata Raka Syiwa dengan penuh semangat.

"Hmm. Aku telah menduga kau cuma sejenis mahluk kesasar yang tidak punya otak tak punya pendirian. Kau menginginkan nyawaku? Aku mau melihat bagaimana caramu melakukannya!" dengus Raja Gendeng sambil pencongkan mulutnya.

Raja menggerung saat melihat betapa dari lima ujung jari lawannya membersit.cahaya hitam pekat menggidikan menebar bau amis menyengat.

Dengan gerakan aneh pemuda ini menggeser kaki kanannya ke samping, kepala dimiringkan. Dua tangan didorong ke depan bergerak sedemikian rupa menepis bagian lengan bawah sementara kaki terus bergeser cepat sambil melakukan tendangan ke bagian perut.

Serangan ganas yang dilancarkan Raka Syiwa luput mengenai sasaran. Sebaliknya tangan dan kaki Raja Gendeng nyaris menghantam sasaran yang dituju. Sekonyong-konyong Raja merasakan seperti ada tembok tebal yang sangat keras menghadang di depannya. Akibat dari kenyataan yang tak terduga itu bukan saja membuat lawan lolos dari serangan. Sebaliknya sebagaimana yang dialami oleh Bocah Ontang Anting sahabatnya. Raja juga segera merasakan ada dua tangan yang tak terlihat mendorongnya dengan keras hingga membuatnya jatuh terpelanting.

Melihat lawan terjengkang Raka Syiwa segera menyerbu. Sambil hantamkan kaki kirinya ke dada lawan dia berkata,

"Kau boleh memiliki segudang ilmu segunung kesaktian. Tapi bila berhadapan denganku segala kepandalan yang kau miliki menjadi tidak berguna!"

Berbarengan dengan ucapannya itu kaki Raka Syiwa menderu ganas, siap menghantam remuk dada pemuda itu. Tapi Raja segera bertindak cepat.

Sekali dia menggerakkan punggung yang menempel di tanah dia sudah bergeser ke samping.

Serangan luput, Raja lambungkan tubuhnya ke atas.

Tak ayal serangan yang dilakukan Raka Syiwa hanya menghantam tanah. Hentakan kakinya yang aneh dan sangat keras menimbulkan sebuah lubang menganga dalam setinggi lutut. Raka Syiwa cepat tarik kakinya yang amblas, dia memutar tubuh. Kini dilihatnya lawan berdiri tegak sambil berkacak pinggang sementara kepala menggeleng berulang.

"Aku sudah katakan padamu. Dia dilindungi semacam perisai yang tak terlihat. Perisai itu mempunyai daya tolak sebanding dengan serangan yang kita lancarkan pada Raka Syiwa. Paduka Raja Gendeng harus bisa menemukan gerangan apa yang membentenginya!" kata Bocah Ontang Anting melalui ilmu mengirimkan suara.

Raja manggut-manggut. Tidak diberi tahu sekalipun dia sendiri tengah berpikir ke arah sana.

Malah kini dia segera merapal mantra ajian yang memungkinkannya dapat melihat sesuatu yang berada di luar penglihatan biasa. Sambil berkelit menghindar pemuda ini segera tempelkan tangan kiri ke bagian kening tepat diantara kedua alis matanya. Mulut berkemak-kemik sedangkan mata dikedap-kedipkan. Mantra ajian Mata Dewa Menembus Bumi Kelam diterapkan. Raja sapukan jari telunjuk yang menempel di kening ke bawah.

Sreet!

"Auh.... hebat. Ternyata dia dikelilingi oleh deretan pohon-pohon aneh yang keadaannya hampir sama dengan dia sendiri. Pepohonan itu ranting dan cabangnya mirip dengan tangan manusia, bergerak terus tak mau diam. Aku ingin memastikan apakah reranting pohon itu yang mendorongku tadi" batin Raja Gendeng.

Penasaran pemuda ini merangsak maju. Dia kirimkan satu serangan tipuan yang berupa pancingan saja.

Saat serangan menderu siap menghantam deretan pohon gaib yang melindungi mahluk pohon seperti yang telah diduga ternyata memang segera bereaksi. Deretan pohon seketika menjelma berubah menjadi sosok lain berupa laki-laki tinggi berkulit dan berwajah kehijawan memiliki beberapa tangan kurus kering yang cuma terdiri dari kulit pembalut tulang.

"Aku sudah tahu sekarang! Ternyata kau membawa serta bala bantuan berupa pengawal pribadi yang berada di sekelilingmu. Mahluk culas keparat!" teriak Raja Gendeng sambil hantamkan tangan kanannya melepas pukulan Badai Es yang diwariskan oleh Nini Balang Kudu.

Sementara itu mendengar teriakan Raja, Bocah Ontang Anting tersentak kaget. Dia tidak melihat apa-apa, tapi mengapa Raja mengatakan Raka Syiwa membawa pengawal pribadi. Apakah mungkin pengawal-pengawalnya terdiri dari mahluk gaib?

Kalau benar si kakek menduga kemungkinan besar Raja memiliki ilmu yang memungkinkan dirinya melihat ke alam gaib. Diam-diam si kakek merasa kagum. Tapi dia tak ingin bertanya takut mengganggu konsentrasi Raja. Sebaliknya dia terus mengawasi.

Di lain pihak Raka Syiwa diam-diam dibuat terperangah. Sedikitpun dia tak menyangka lawan dapat mengetahui kehadiran para pembantunya yang selama ini selalu dia rahasiakan.

Tapi Raka Syiwa tak punya waktu berpikir lebih lama untuk mencari tahu ilmu aneh apa yang dimiliki lawan hingga membuatnya dapat melihat ke alam gaib. Saat itu serangkum hawa dingin luar biasa menderu menghantam ke arah dirinya juga mahluk gaib jejadian yang berasal dari pohon.

Tidak ada pilihan. Raka Syiwa tekuk kaki kanan yang berada di depan. Dua tangan kemudian dia dorong menyambut serangan Raja Gendeng.

Melihat orang yang mereka lindungi mengambil tindakan dengan cara seperti itu. Mahluk gaib jelmaan pohon hijau segera mengambil tindakan yang sama. Mereka yang jumlahnya tak kurang dari delapan ini ikut dorongkan tangan masing-masing yang kurus kering tak ubahnya seperti ranting ke arah lawan.

Gelombang hawa panas luar biasa menderu ganas menyongsong serangan yang dilakukan Raja.

Tentu saja kekuatan serangan Raka Syiwa yang dibantu oleh delapan orang pengawalnya makin berlipat ganda.

Tak dapat dicegah. Bentrok dua pukulan saktipun terjadi. Terdengar suara ledakan dahsyat beruntun. Pijaran bunga api memercik di udara.

Pukulan Raja tersapu lenyap. Di tanah terdapat sebuah lubang menganga dalam akibat ledakan.

Raja bahkan terlempar sejauh tiga tombak, jatuh terlentang dengan nafas megap-megap dan kepala sakit berdenyut. Namun secepatnya dia bangkit berdiri. Belum sempat berdiri tegak lawan sudah memburunya disertai delapan pengawal gaib yang siap lancarkan pukulan mematikan.

Melihat ini Bocah Ontang Anting tidak tinggal diam. Si kakek melesat. Secepat kilat dia menyerang Raka Syiwa dengan menggunakan pukulan sakti yang dikenal dengan nama Amarah Mayat Berkabung.

Serangkum cahaya putih kemerahan disertai suara jerit dan pekikan aneh menderu dari tangan si kakek. Raka Syiwa dan delapan pengawal gaibnya terkejut bukan olah-olah begitu merasakan ada hawa dingin dan hawa panas luas biasa menderu datang dari arah samping sebelah kiri mereka.

Dari perbawa serangan Raka Syiwa segera menyadari serangan si kakek bukan serangan biasa.

Tak ayal sambil menggeram marah Raka batalkan niatnya menghabisi Raja. Sebaliknya dia memutar tubuh lalu sambut serangan ganas lawan dengan pukulan Tuah Pohon Sakti Menyendiri Di Kesunyian.

Wuss! Wuss!

Dari dua tangan kedua dan juga mata Raka Syiwa secara aneh melesat empat larik cahaya hijau.

Dua larik cahaya berasal dari tangan kiri dan tangan kanan, sedangkan yang dua lagi berasal dari sepasang matanya. Delapan pengawal tak mau diam. Mereka juga menghantam Bocah Ontang An- ting dengan pukulan ganas yang mengandung hawa panas luar biasa ke arah si kakek. Walau tak melihat ujud mahluk yang menyerangnya. Namun si kakek agaknya menyadari ada serangan lain yang menyertai serangan Raka Syiwa. Tak ayal lagi dia kembali menghantam ke depan dan secara membabi buta menyambut serangan delapan pengawal gaib Raka Syiwa.

Cahaya putih kemerahan kembali menderu menyusul cahaya sebelumnya yang dilepaskan oleh si kakek.  

Buum! Buum!

Benturan keras yang terjadi mengakibatkan tiga ledakan dahsyat menggelegar. Pohon di sekeliling mereka hancur tumbang berguguran.

Raka Syiwa terhuyung. Delapan pengawal gaib pelindung jatuh berkaparan di tanah, enam diantaranya menderita cidera berat sedangkan dua pengawal lagi tewas seketika dengan tubuh hangus dikobari api lalu lenyap menjadi kepulan asap.

Sementara itu Raka Sywa menjadi sangat murka melihat dua pengawal yang melindunginya meregang ajal. Namun dia segera menolong enam pengawal pelindung yang tersisa. Walau mereka menderita cidera berat. Hanya dengan usapan tangan yang dilakukan Raka Syiwa di bagian dada.

Dalam waktu sekejab ke enam pengawal itu sembuh dari cideranya. Satu persatu para pengawal bangkit berdiri mengelilingi majikannya. Bersikap melindungi diri dari segala ancaman yang datang.

Pada saat itu Bocah Ontang Anting yang sempat jatuh menyerangsang di atas pohon ternyata sudah mampu bangkit kembali. Benturan keras yang terjadi membuatnya mengalami cidera di perut juga dua tangannya seolah lumpuh. Sadar dirinya tersangkut di atas pohon si kakek meluncur ke bawah begitu saja lalu jatuh bergedebukan.

Diam-diam Bocah ini segera sembuhkan luka dengan pengerahan tenaga sakti ke bagian tangan, perut serta sekujur tubuhnya.

Apa yang dialami si kakek tentunya tidak luput dari perhatian Raja. Merasa khawatir pemuda ini segera menghampiri.

"Bagaimana keadaanmu! Kau tidak apa-apa?" Raja ajukan pertanyaan.

Bocah Ontang Anting menggeleng, mulut bersungut-sungut namun wajuh sudah tidak pucat

"Aku tidak apa-apa. Hanya bokongku yang terasa nyeri, mungkin akibat terjun bebas tadi." jawab si kakek.

Raja merasa lega. Dia yang masih dalam penerapan ilmu Mata Dewa Menembus Bumi Kelam kembali membuka mulut berkata memuji.

"Kau sangat luar biasa orang tua. Kau telah berhasil membunuh dua dari delapan pengawal gaib Raka Syiwa."

Penjelasan Raja justru membuat Bocah Ontang Anting melongo bengong.

"Aku... aku tak punya ilmu yang bisa melihat mahluk alam gaib. Aku hanya mengandalkan perasaan saja. Aku menyerang mereka dengan membabi buta. Ya, pokoknya kuhantam saja."

"Perasaan ternyata lebih tajam dari pada ilmu menembus alam gaib yang kumiliki, Sekali lagi aku berterima kasih, kau telah membantu bahkan menolong aku dari bencana."

Si kakek tertawa mengekeh. Sambil tertawa dia menggumam. "Sama-sama kasih. Ha ha ha..."

Ucapan si kakek membuat Raja yang siap balikan tubuh jadi kaget.

"Apa? Kau mengatakan aku kekasihmu? Apa kau sudah gila. Aku jadi curiga jangan-jangan kau punya kelainan."

"Oh, dasar Raja Gendeng bodoh. Maksudku terimakasih sama sama.Kau cuma salah menduga dan masih sedikit pengalaman," omel Bocah Ontang Anting. Si pemuda manggut-manggut tanda mengerti.

Pada saat itu Raka Syiwa berdiri tegak dengan sorot matanya yang angker, tajam menusuk. Dia merasa dua lawan telah mengabaikan dan bersikap memandang dengan sebelah mata terhadapnya. Ini yang membuatnya marah. Tapi kemarahan serta dorongan ingin cepat menghabisi lawan jauh lebih besar dibandingkan kegusaran di hati.

Tak mengherankan saat melihat Raja Gendeng melangkah tenang dan acuh saja padanya Raka Syiwa berteriak menggembor.

"Pemuda edan keparat. Tadi kau selamat karena tua bangka bangsat kerdil itu datang membantu.

Tapi sekarang siapa yang akan menolongmu."

"Mahluk sialan keparat. Yang bangsat itu sebenarnya adalah dirimu. Kau bukan cuma keparat tapi juga pengecut. Sedangkan aku orang tua mulia lapang dada lapang semua." sembur Bocah Ontang Anting yang saat itu duduk menjelepok selayaknya orang yang tengah bersantai menikmati pemandangan indah. Rupanya si kakek merasa tak terima dimaki orang begitu rupa.

Melihat ini Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es cuma bisa menarik nafas sambil geleng kepala.

"Mahluk Pohon Raja Syiwa. Hidupku seluruhnya kupasrahkan pada yang memberi hidup.Setiap saat para dewa pasti melindungiku, jadi aku tak membutuhkan pertolongan. Tidak sepertimu, diam-diam menggunakan pengawal yang takbisa dilihat mata telanjang. Tapi sekarang aku punya saran untukmu. Sebelum segalanya jadi terlambat sebaiknya kau kembalilah kepangkuan keluargamu, kau boleh kembali ke kandang atau kembali ke tanah tempat tubuhmu dan lanjutkan hidup seperti biasa."

saran Raja sambil bertolak pinggang.

"Jadah! Kau tak perlu memberi aku nasehat.Aku lebih tahu mana yang harus kukerjakan dan mana yang harus ditinggalkan! Bila aku kembali ke Tanah Batikai kampung halamanku tanpa melakukan tugas, maka tetua Karma Diraga bisa membunuhku!" ujarnya cemas.

Raja melihat ada kebimbangan dalam diri Raka Syiwa ini. Namun tak ada waktu lagi baginya untuk membujuk.

Dengan masih bertolak pinggang Raja Gendeng berucap ketus.

" Terserah apa maumu. Jika kau hendak membunuhku lakukan sekarang."

"Pertama akan kuhabisi dulu enam pengawal gaib yang melindungimu. Setelah itu giliran tubuhmu yang bakal kupereteli seperti kayu bakar satu persatu."

dengus Raja. Mendengar ucapan Raja di bawah pohon yang daunnya rontok berguguran Bocah Ontang Anting tersenyum sambil bicara sendiri.

"Raja tolol. Memangnya dia mau memasak atau membakar apa? Masa tubuh orang hendak di- pesiangi. Lagi pula mengapa dia bertolak pinggang terus? Apa mungkin keteknya sedang bisulan. He he he.

Di depan raja, Raka Syiwa rupanya sudah tidak sabaran untuk segera menyelesaikan tugasnya. Dia melangkah ke depan. Enam pengawalnya ikut ke depan pula. Gerak-gerik sang pengawal yang terus diawasi raja berkat ilmu Mata Dewa Menembus Bumi Kelam itu akhirnya membuat Raja sadar para pengawal gaib itu cuma bisa bergerak berpindah tempat bila Raka Syiwa bergerak atau berpindah. Ini berarti enam pengawal tak bisa bertindak s ©ndiri sesuka hati mengikuti jalan pikiran masing-masing.

"Aku mulai tahu ada suatu keterikatan batin antara para pengawal dengan Raka Syiwa. Karena mereka bertindak sebagai pelindung, Maka aku harus lenyapkan enam pengawalnya dulu."

membatin sang pendekar dalam hati.

Tidaklah heran. Ketika Raka Syiwa melompat ke arahnya sambil hantamkan dua pukulan maut yang terarah ke dada dan wajah. Pemuda ini berdiri tak bergeming di tempatnya. Dua tangan yang telah dialiri tenaga sakti siap menghantam dan melepaskan pukulan Badai Serat Jiwa yang dahsyat itu. Namun Raja sadar harus menunggu waktu yang tepat.

Tak lama, begitu dilihatnya enam pengawal Raka Syiwa melesat ke depan mendahului Raka Syiwa dan lancarkan pukulan sebagaimana yang dilakukan majikannya. Kesempatan ini tak disia- siakan Raja Gendeng.

Dua tangan menyambut, bergerak bersilangan seperti gunting, menyapu ke arah ke enam pengawal Raka Syiwa yang begitu bernafsu membunuhnya.

Gerakan menggunting sekaligus gerakan menyapu bersih yang dilakukan Raja ternyata menimbulkan akibat yang luar biasa dahsyat. Enam larik cahaya menderu disertai hawa panas bukan main. Sambil melesat cahaya itu mengembang, melebar sedemikian rupa menyambar ke arah enam pengawal gaib di depan sekaligus menghantam Raka Syiwa yang berada di belakang pengawalnya.

Raka Syiwa terkejut bukan kepalang. Terlebih saat mengetahui pukulan jarak jauh yang dia lancarkan tersapu lenyap, Dia membanting tubuhnya ke tanah sambil berseru ditujukan pada para pengawal gaibnya.

"Menyingkir! Kalian tak bakal sanggup menghentikan serangan pemuda gendeng itu!" pekik Raka Syiwa.

Enam pengawal pelindung seakan baru menyadari bahaya yang datang. Seperti yang dilakukan mahluk yang mereka lindungi. Para pengawal ini juga bermaksud jatuhkan diri sama rata dengan tanah. Tapi tindakan yang mereka lakukan sangat terlambat. Enam cahaya aneka warna yang berubah membesar menggunting.

Cret! Rreeet! Weer!

Terdengar suara jerit bercampur lolong mengerikan. Raka Syiwa memekik histeris saat melihat enam pengawalnya tergunting cahaya membakar hingga membuat tubuh mereka terpotong terbagi dua. Potongan tubuh baik tubuh bagian atas maupun tubuh sebelah bawah jatuh bergelimpangan dan dikobari api begitu menyentuh tanah.

Bocah Ontang Anting memang tak dapat melihat para pengawal Raka Syiwa bertumbangan seperti pohon dibabat pedang. Tapi dia melihat bagaimana api tiba-tiba muncul berkobar di dua belas tempat. Kobaran api itu menebarkan aroma seperti daun dan batang pohon basah yang terbakar. Si kakek pun menjadi maklum sekaligus lega saat sadar Raja telah berhasil menyingkirkan pengawal pelindung Raka Syiwa.

Kini si kakek menatap kedepan. Dilihatnya selain menggerung menangis sejadi-jadinya. Raka Syiwa juga rupanya sedang sibuk memadamkan api memadamkan reranting yang ada di kepalanya.

Rupanya walau mahluk pohon ini berhasil menyelamatkan diri dari ilmu pukulan Badai Serat Jiwa yang dilakukan musuhnya. Namun sebagian pukulan masih tetap menyambar kepala sebelah atas.

Reranting yang menggantikan fungsi rambut di kepala dan ini disadari Raka Syiwa namun tak diketahui Raja menjadi malapetaka bagi mahluk itu sendiri bila dia tetap berlaku nekat melanjutkan perkelahian.

Hanya Raka Syiwa sendiri yang tahu bahwa reranting yang tumbuh di kepalanya merupakan kelemahan dari semua ilmu yang dia miliki. Bila ranting di kepala kena dibuat cedera oleh lawan. Sama artinya semua ilmu yang dipergunakan untuk menyerang lawan menjadi lemah.

Tidak mengherankan walau hatinya sangat marah dipenuhi dendam kesumat melihat pengawal pelindungnya tewas terbantai. Raka Syiwa memilih menyelamatkan diri dari pada melanjutkan pertempuran itu.

"Aku tidak ingin mati menghadapi pemuda gila sakti luar biasa itu. Setidaknya sekarang aku belum siap. Aku harus pergi. Tapi kelak setelah ranting- ranting dikepalaku tumbuh kembali. Aku akan datang lagi untuk membalas dendam." pikir Raka Syiwa.

Mahluk pohon segera rangkapkan dua tangan di depan dada. Raja terheran-heran melihat apa yang dilakukan Raka Syiwa.

"Dia hendak menggunakan ilmu kesaktian apa?" gumam Raja.

"Dia bukan sedang mengerahkan ilmu kesaktian. Dia hendak minggat dari sini. Tahan! Jangan biarkan mahluk kesasar itu lolos!" teriak Bocah Ontang Anting.

Secepat kilat dia bangkit, berlari mengejar ke arah Raka Syiwa sambil lakukan pukulan Bulan Terbelah Bidadari Meringis. Selarik cahaya kuning berkilau membersit dari tangan si kakek. Tak mau kalah Raja juga menghantam Raka Syiwa dengan pukulan sakti Kabut Kematian. Satu ledakan dahsyat yang disusul dengan ledakan lain mengguncang tempat itu. Si kakek dan Raja Gendeng sama berpandangan.

Sunyi.

Tak terlihat tanda-tanda Raka Syiwa menemui ajal. Hanya ada sebuah lubang menganga dalam seperti kubangan kerbau yang sudah dikobari api.

Si kakek menggaruk kepalanya yang botak sulah dengan perasaan kecewa. "Ah sialan. Ternyata dia masih lolos juga." gerutunya.

"Apa yang membuatnya melarikan diri?" tanya Raja tak mengerti.

Bocah Ontang Anting diam berpikir sambil mengetuk-ngetuk kepalanya.

"Ah... kukira karena ranting di kepalanya terbakar. Sedari tadi aku menduga ranting itu sebagai sumber dari kesaktiannya. Karena ranting di kepala terbakar dia jadi kehilangan nyali untuk melanjutkan per- tempuran."

"Tak kusangka." gumam Raja sambil menghela napas.

" Tapi biarlah. Sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan kita." Si kakek mengangguk setuju.

*****

Bukit menjulang tinggi terdapat di ujung sebelah utara Istana Pulau Es. Tanggal tiga belas bulan satu hari menjelang datangnya bulan purnama suasana terasa terang benderang dari sebelumnya.

Di atas bukit menjulang yang lebih dikenal dengan nama Puncak Terang yang tandus gersang dan sering dilanda topan bercampur es. Tak banyak yang tahu di sana tinggal menetap tokoh sesat aliran hitam, berusia lanjut dan dikenal sebagai seorang ahli sihir sekaligus tokoh ahli racun yang sangat ganas. Ketika malang melintang di rimba persilatan, tokoh sakti wanita yang dikenal dengan julukan Penyihir Racun Utara ini memang sangat disegani baik oleh kawan maupun lawan. Sebagian orang baru mendengar namanya saja sudah menyingkir lari menjauh.

Kini sudah puluhan tahun sang ahli sihir mengasingkan diri di dunia persilatan. Dia memilih menetap tinggal dipuncak terang sejak dua puluh tahun yang lalu. Ini bersamaan dengan petualangan terakhir yang dilakukannya bersama tokoh maha sesat yang dikenal dengan sebutan Maha Iblis Dari Timur.

Setelah melakukan pembantaian, pembersihan di Istana Pulau Es dan berhasil menumpas kerabat prabu Sangga Langit berikut pembesar kerajaan dan semua perajuritnya. Si nenek lanjut usia yang selalu memakai pakaian hitam gelap ini memang sering sakit-sakitan. Dia tidak pernah mengalami sehat walau dalam sepekan. Dengan keadaannya yang seperti itu secara praktis hubungannya dengan dunia luar dia putuskan.

Satu-satunya hubungan yang masih terjalin dengan baik adalah dengan muridnya yang bermama Kupu Kupu Putih seperti telah dikisahkan dalam episode Misteri Pedang Gila. Kupu Kupu Putih menetap dikaki Puncak Terang. Tapi gadis cantik berpakaian hijau kelabu berusia tiga Puluhan itu jarang sekali naik ke puncak Terang guna menemui nenek yang biasa dia panggil 'Sobo Guru itu.

Setiap ada pesan yang ingin disampaikan kepada sang murid. Penyihir Racun Utara biasanya mengutus burung jejadian yang sangat dipercaya. Burung hitam itu biasa dia panggil dengan sebutan Jerit Nyawa.

Segala urusan menyangkut kehidupan dunia memang telah lama ditinggalkan. Malah kini sebagian urusan yang tertunda diwakilkan pada muridnya. Namun di usianya yang semakin senja di mana kesehatan sudah tak mendukung lagi nenek bungkuk dan suka mengunyah daun sirih ini ternyata masih juga dilanda kegelisahan.

Kegelisahan itu terjadi karena dia masih belum mendapatkan Pedang Gila. Senjata pusaka milik kerajaan yang menjadi pangkal sebab bagi si nenek dalam mengambil keputusan ikut serta melakukan penyerbuan ke Istana Es yang dipimpin oleh Maha Iblis Dari Timur. 

Malam semakin larut. Di atas pembaringan di dalam pondok berdinding batu bersusun beratap sayap kelelawar besar yang direntang dijalin menyerupai atap si nenek terlihat gelisah.

Orang tua ini terbatuk-batuk sambil mendekap dadanya yang terasa nyeri. Tertatih-tatih si nenek bangkit.

Perlahan si nenek beringsut menuju tepi pembaringan yang terbuat dari jalinan anyaman bambu apik dilapisi kapuk dan jerami. Sampai di tepi pembaringan si nenek julurkan kedua kakinya yang kian hari bertambah kurus digerogoti penyakit..

Si nenek hela nafas perlahan. Rambut putih awut-awutan yang menutupi wajah disingkirkan ke samping dan disangkutkan pada sisi daun telinga yang lebar. Begitu rambut disingkirkan menjauh dari wajah maka terlihatlah tampangnya yang dingin angker dengan hidung mancung bengkok sementara dua bola matanya menjorok ke dalam rongga.

Si nenek melirik ke arah pelita minyak yang tergeletak menyala di atas batu marmer merah memantulkan cahaya karena pelita minyak wadahnya terbuat dari batu kaca bening, maka minyak dalam wadah lampu terlihat dengan jelas.

Minyak dalam pelita tinggal setengah. Berarti malam benar-benar sudah larut dan sebentar lagi bakal digantikan pagi. Si nenek bangkit menuju sudut ruangan dengan terbungkuk-bungkuk. Dari sana dia mengambil sebuah benda berwarna merah darah setinggi manusia dewasa yang tak lain adalah sebuah tongkat.

Tongkat yang diambil nenek itu bukan tongkat sembarangan. Tongkat yang terbuat dari batu kumala merah berkepala tengkorak berupa mahluk bertanduk di tangannya itu adalah senjata sakti paling beracun yang kerap dia pergunakan untuk melakukan serangan-serangan yang berhubungan dengan sihirnya.

Si nenek sendiri tidak tahu entah mengapa malam ini dia ingin berdekatan dengan tongkat sakti yang selalu menemani kejahatannya dahulu.

Mungkin kegelisahan itu pula yang membuat perasaannya tambah tak tenteram.

Beberapa jenak Penyihir Racun Utara hanya mondar-mandir di dalam kamarnya yang pengap. Tapi langkahnya terhenti begitu teringat pada Kupu Kupu Putih murid tunggalnya.

Orang tua ini berdiri diam terpaku dengan tangan kanan bertumpu, berpegangan pada tongkat.

Dalam hati Penyihir Racun Utara jadi bicara sendiri.

"Sebelumnya aku tidak pernah mengkhawatirkan keselamatan muridku. Apalagi mengingat

Kupu-kupu Putih telah mewarisi hampir seluruh ilmu kesaktian termasuk juga ilmu sihir yang kumiliki. Tapi.... kini Kupu Kupu Putih tengah melakukan tugas yang kuberikan. Perjalanan menuju bukit karang di pantai utara sangat jauh sekali. Walau dia disertai tiga pengawal setia yang sering disebutnya Anjing Penjaga namun aku tetap khawatir terhadap gadis itu."

Orang tua ini diam sejenak. Matanya menerawang ke langit-langit ruangan. Karena atap pondoknya terbuat dari jalinan sayap kelelawar raksasa yang telah dikeringkan. Tentu dari tempatnya berdiri dia dapat melihat bayang-bayang rembulan yang telah bergeser di langit sebelah barat.

"Ingin rasanya aku menyusul muridku dan memberikan bantuan padanya untuk mengatasi setiap kesulitan. Pasti perjalanan untuk mendapatkan Pedang Gila menjadi sulit karena kuyakin banyak tokoh yang menginginkan senjata aneh sakti mandraguna itu." kata si nenek. Dia terdiam lagi, namun tangan kirinya tiba-tiba terkepal. Dia terlihat begitu marah, tak jelas kesalahannya ditujukan pada siapa.

"Semuanya gara-gara Pedang Gila. Aku bersusah payah, rela mengambil resiko besar juga karena Pedang Gila. Kalau tidak buat apa dulu aku mau membantu Maha Iblis Dari Timur melakukan penyerbuan ke Istana Pulau Es!" pikir nenek renta Si nenek terdiam lagi.

Dia memutuskan kembali ke tempat pembaringannya. Sayang baru saja setindak dia melangkah. Sekonyong-konyong kesunyian di Puncak Terang pecah terbelah oleh pekikan burung hitam jejadian Jerit Nyawa.

Burung yang biasa tidur, bertengger di sebelah atas pintu depan pondok tidak hanya keluarkan suara riuh, tapi juga melesat terbang berputar di atas atap pondok sambil sesekali hantamkan sayapnya ke atap yang tipis seolah memberi tahu.

Penyihir Racun Utara diam-diam dibuat kaget.

Seumur hidup mahluk jejadian menampakkan ujud sebagai burung hidup bersamanya. Selama itu belum pernah Jerit Nyawa bertingkah gelisah, panik begitu rupa.

si nenek bersuit panjang sang burung mengetahui bahwa isyarat suitan adalah tanda dari Si nenek agar dia tidak ribut menimbulkan kegaduhan. Tapi Jerit Nyawa tidak perduli. Dia terus saja keluarkan suara pekik dan terbang berputar berulang kali melewati atap sayap kelelawar yang tembus pandang. Si nenek dengan jelas melihat bayangan mahluk piaraannya yang terbang melintas di atas atap pondok.

Dia yang sedang tidak sehat, jadi gusar.

"Mahluk keparat! Aku sudah meminta diam tak menimbulkan keributan. Tapi suara teriakanmu malah menjadi-jadi. Diam kataku!" hardik si nenek dengan suara keras bergema merobek sunyi.

Sang burung yang gelisah agaknya takut dengan amarah si nenek. Dia terbang menjauhi pondok lalu hinggap di ujung dahan tak jauh dari tepi jurang Puncak Terang.

Orang tua ini sejenak merasa lega, tapi dia juga jadi berpikir. Jerit Nyawa tak mungkin bertingkah aneh dan gelisah kalau tidak ada sesuatu mencurigakan datang ke Puncak Terang. Bukankah Jerit Nyawa adalah burung tanda. Burung yang selalu membawa kabar buruk yang selalu datang dan pergi dalam kehidupannya?

Ingat dengan semua itu. Si nenek pun segera meraih mantel hitam tebal yang teronggok di kaki tempat ketiduran. Setelah mengenakan mantel dan sembunyikan senjata di balik mantel hitam dia menuju ke pintu. Kunci dibuka, daun pintu yang reot ditarik menimbulkan suara berkreketan.

Saat pintu terbuka angin luar biasa dingin datang menyambutnya. Penyihir Racun Utara yang sudah terbiasa dengan keadaan di Puncak Terang bersikap acuh.

Cahaya bulan sangat terang waktu itu. Si nenek layangkan pandang ke seluruh penjuru halaman pondoknya. Tidak terlihat seorangpun atau tanda-tanda kehadiran orang lain di tempat itu.

Si nenek merasa lega. Tapi tak berlangsung lama. Sekejab kemudian dia melihat halaman pondok dan sekitarnya mendadak gelap. Seolah di langit tiba-tiba muncul sekumpulan mendung hitam yang menutupi cahaya bulan. Kaget sekaligus penasaran Penyihir Racun Utara dongakkan kepala menatap ke langit sebelah barat. Si nenek beliakan mata.

"Astaga! Ternyata bukan awan atau mendung yang menghalangi cahaya bulan, sampai ke puncak bukit ini. Tak disangka ada sekelompok kelelawar besar terbang melintasi langit dalam jumlah ratusan malah mungkin ribuan. Rombongan kelelawar raksasa terbang dari arah barat menuju timur. Ada rombongan kelelawar berpindah? Pemandangan seperti ini belum pernah terjadi. Apakah mungkin sebagai isyarat atau pertanda tertentu?" batin si nenek.

Sebagai seorang ahli sihir yang tahu tentang banyak perkara. Ternyata si nenek tidak mampu membaca tanda-tanda yang datang tiba-tiba. Ini karena keterbatasannya sebagai manusia. Di tempatnya berdiri Penyihir Racun Utara terus menatap ke langit. Dalam suasana hiruk pikuk dikejauhan langit. Tiba-tiba saja terdengar langkah berat dari Puncak Terang sebelah utara. Si nenek palingkan wajah lalu menatap ke jurusan itu saat dia merasakan puncak bukit bergetar dilanda keguncangan. "Siapa yang datang?" desis sang penyihir bimbang.

Segenap keraguan lenyap seketika begitu dari lereng bukit sebelah utara terdengar suara teriakan memanggil nama sebutannya.

"Penyihir Racun Utara sobatku. Aku datang tepat pada waktu rombongan kelelawar berpindah sarang. Aku tidak membawa hadiah atau oleh-oleh untuk bisa kupersembahkan padamu. Tapi mengingat kau menyukai atap dari kulit sayap kelelawar raksasa. Tak ada salahnya kuhadiahi engkau dengan mahluk-mahluk itu." kata satu suara.

Belum lagi lenyap kejut di hati si nenek. Dari balik bukit di sebelah utara terlihat kilatan cahaya melesat ke langit tepat menuju ke arah kawanan kelelawar raksasa yang terbang diketinggian.

Hebatnya lagi ketika cahaya hitam putih kemerahan menderu dahsyat menuju ke arah

mahluk-mahluk itu. Cahaya membelah menjadi puluhan. Puluhan cahaya laksana mata panah terus melesat mengejar kawanan kelelawar raksasa. Melihat serangan puluhan cahaya aneh itu rombongan kelelawar menjadi panik. Mereka berserabutan menyelamatkan diri hingga membuat rombongan besar ini terpecah belah tak karuan rupa.

Yang sangat mengagumkan walau ratusan kelelawar berusaha selamatkan diri, namun yang telah menjadi incaran sasaran cahaya tak bisa lolos dari maut. Tanpa ampun puluhan cahaya menembus tubuh mahluk-mahluk malam itu.

Kelelawar yang menjadi korban keluarkan suara pekik mengerikan. Mereka melayang jatuh jungkir balik dalam keadaan meregang ajal dan darah bercucuran.

Terdengar suara berdebum berkali-kali. debu beterbangan, di halaman tempat Penyihir Racun Utara berdiri puluhan kelelawar yang menemui ajal jatuh bertumpuk tumpang tindih tak karuan.

Tumpukan bangkai kelelawar menggunung. Darah meleleh dari setiap luka di tubuh sang mahluk, mengalir kemana-mana menggenang memenuhi halaman menimbulkan bau amis anyir membusuk.

"Siapa yang telah melakukan semua ini? Dia menyerang para kelelawar raksasa dengan pukulan bersumber dari inti cahaya. Aneh! Walau jaraknya sangat jauh serangan itu semuanya tepat menembus di bagian jantung kelelawar." pikir si nenek.

Heran bercampur takjub dia kembali menatap ke arah sebelah utara bukit. Tak lama dari balik tonjolan batu bukit tersembul satu sosok kepala hitam ditumbuhi rambut kasar panjang menjela hingga ke bagian betis. Meski kehadiran sosok yang menghadiahinya kelelawar dalam ujud mahluk raksasa. Tapi Penyihir Racun Utara masih mengenali orang itu dengan mudah.

Wuas!

Sosok tinggi raksasa yang datang ke Puncak Terang dengan cara merayapi lamping bukit terjal melesat dan jejakkan kaki tak jauh di hadapan si nenek.

Sosok yang datang ternyata memang seorang laki-laki, bertampang angker bengis bermata hitam mencorong. Dia mengenakan pakaian hitam tebal dengan ikat pinggang aneh dan juga ikat kepala berwarna hitam.

"Maha Iblis Dari Timur sobatku! Kau datang tak disangka-sangka dan membawa kejutan pula?" "Mengapa tidak melewati jalan yang biasanya?"

Tanya si nenek lega.

Si tinggi raksasa cuma menyeringai. Dia lalu memutar tubuh dengan kecepatan laksana gasing berputar. Seiring dengan berputarnya tubuh laki- laki tinggi yang ternyata memang Maha Iblis Dari Timur adanya.

Seketika itu pula sosoknya yang besar seperti raksasa mengalami perubahan berupa penyusutan diri hingga ukuran besar dan tingginya kembali normal selayaknya manusia.

Maha Iblis yang usianya sekitar tujuh puluh tahun sedikit lebih muda dari si nenek tatap perempuan renta di depannya. Dia yang biasa memanggil Penyihir Racun Utara dengan nama kecil si nenek segera membuka mulut.

"Linuk Kantili!! Sengaja aku datang tidak melewati jalan Angin satu-satunya jalan yang menghubungkan tempatmu ini karena aku ingin memberikan kejutan padamu!"

Penyihir Racun Utara tersenyum, memperlihatkan sebagian giginya yang hitam angker. Tapi dia tak habis mengerti mengapa kali ini sahabatnya itu berprilaku aneh. Puluhan tahun dia menjalin persahabatan dengan Maha Iblis belum pernah laki-laki itu muncul di hadapannya dengan memanjat tebing dan dalam rupa raksasa besar.

"Linuk apa yang kau pikirkan?" tanya Maha Iblis disertai tatapan tajam menusuk.

Belum sempat si nenek menjawab pertanyaan orang. Di atasnya melesat mahluk hitam menyambar si nenek seolah memberi peringatan. Mahluk yang tak lain adalah burung Jerit Nyawa ini keluarkan suara pekik keras.

Beberapa kali burung itu menyambar, kemudian melesat lenyap di balik kegelapan pohon. Si nenek tidak lagi marah pada sang burung sebaliknya mulai berpikir tentang kemungkinan buruk yang bakal terjadi.

Tapi mengapa dia harus khawatir?

Bukankah Maha Iblis Dari Timur terhitung masih sahabat dekatnya. Walau bimbang si nenek segera membuang jauh segala kecurigaannya terhadap kemunculan Maha Iblis.

Perempuan renta ini tersipu mendengar orang menegurnya. Tapi dia buru-buru menjawab,

"Eh, tidak. Aku tak memikirkan apa-apa. Aku hanya merasa heran mengapa kau menghadiahi aku dengan kelelawar raksasa sebanyak ini. Atap pondokku masih bagus, mulus dan kokoh. Mungkin masih lama baru kuganti lagi!?

Maha Iblis tersenyum aneh.

"Ah, aku baru tahu. Tapi dengan begini banyak sayap baru kau bisa mengganti atap kapan saja atau barangkali kau punya keinginan membuat pondok baru lagi yang jauh lebih baik dan lebih kokoh!"  

"Hmm, begitu? Terima kasih atas perhatianmu." "Lama kau tak muncul kemari menjambangi diriku."

"Lalu tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba kau datang, ada maksud keperluan apa?"

Maha Iblis mengusap dagunya yang di- tumbuhi bulu kasar lebat meranggas .Sambil turunkan tangannya dia berucap,

"Maafkan aku lantaran tak sempat menjenguk keadaanmu yang sakit. Terus terang kedatanganku kemari menyangkut prihal senjata mustika yang kau idamkan sejak dulu."

Diingatkan tentang senjata yang telah lama dia cari, mata si nenek menatap laki-laki di depannya dengan sorot menyelidik.

"Apakah kau telah mendapatkan titik terang tentang keberadaan Pedang Gila? Di mana? Lekas beri tahu aku!" desak si nenek tanpa mengatakan dia sebenarnya telah mengutus muridnya menuju perbukitan karang di pantai utara.

Maha Iblis mengangguk namun cepat menjelaskan.

"Aku tidak percaya kau tidak mengetahui atau mendengar kabar bahwa pedang yang kau cari selama puluhan tahun ternyata oleh seseorang disembunyikan disuatu tempat di pantai utara."

Si nenek pura-pura terbatuk sambil mengusap dada.

"Maha Iblis kau jangan keterlaluan. Aku yang sakit tak pernah jauh dari pembaringan. Jangankan menyirap kabar mencari tahu keberadaan Pedang Gila, sedang untuk tersenyum sambil buang hajat saja pun tak sanggup." tukas si nenek ketus.

Maha Iblis Dari Timur menyeringai.

"Keadaanmu ternyata cukup parah. Tapi apapun yang kau alami selama ini rasanya tidak cukup untuk membuka mata kenyataan bahwa saat ini banyak sekali tokoh-tokoh ternama sedang berusaha mendapatkan senjata aneh itu."

"Diantaranya ada pula beberapa tokoh yang datang dari tanah Dwipa malah ada pula yang berasal dari Tanah Melayu. Aku sendiri tak mengkhawatirkan para cecunguk rakus itu. Yang aku cemaskan adalah munculnya seorang pemuda sakti luar biasa bernama Raja dikenal dengan nama lain Raja Gendeng karena sifatnya yang urakan."

"Dia menyebut dirinya Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es."

Ketika Maha Iblis Dari Timur menyinggung soal kehadiran para tokoh dari luar pulau Es Penyihir Racun Utara menanggapi penjelasan sahabatnya dengan dingin dan biasa-biasa saja. Dia tidak khawatir dengan mereka semua.

Namun sewaktu Maha Iblis menyebut seorang pendekar dari Istana Pulau Es, tak dapat di- sembunyikan si nenek kaget bukan kepalang. Orang tua ini berjingkrak sedangankan matanya

"Apa? Apa katamu. Seorang tokoh muda bergelar Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es muncul di dunia persilatan?!" tukasnya tak percaya.

Maha Iblis anggukkan kepala, air mukanya nampak bersungguh-sungguh membuat Penyihir Racun Utara mau tak mau mempercayai.

Sebelumnya dia sendiri sudah menyirap kabar dari muridnya Kupu Kupu Putih tentang kemunculan tokoh sakti dari Istana Pulau Es tapi waktu itu si nenek kurang begitu percaya.

Cukup lama Penyihir Racun Utara diam tertegun, saat sadar dia menelan ludah basahi tenggorokannya yang kering lalu cepat berujar,

"Bila pemuda aneh itu mengaku dari Istana Pulau Es. Apakah mungkin dia masih keturunan prabu Sangga Langit?"

"Aku tidak tahu." menjawab Maha Iblis dengan suaranya yang dingin. Dia menatap nenek di depannya sekilas lalu melanjutkan.

"Waktu itu semuanya kita bantai habis. Aku bahkan melukai permaisuri Purnama Sari yang sedang hamil besar.Dia terluka parah dan kau kemudian yang mengakhiri riwayat hidupnya."

"Yang kau katakan benar. Aku menghantam perempuan malang itu dengan senjata rahasia berupa kupu-kupu beracun. Dia mati, lalu kita melanjutkan penyerbuan ke bagian belakang istana. Setelah sisa prajurit Istana Es kita bunuh, aku kembali lagi menuju ke ruang peraduan permaisuri. Tapi permaisuri lenyap, tubuhnya yang terbujur hilang raib entah kemana? Aku yakin seseorang pasti menyelamatkannya."

Maha Iblis Dari Timur tidak sabar memotong,

"Tidak hanya menyelamatkan. Orang yang telah membawa pergi permaisuri pasti berhasil menyelamatkan calon sang jabang bayi dalam kandungan permaisuri. Lalu anak itu dibesarkan dan dia didik dalam berbagai ilmu olah kanuragan dan kesaktian." terang sang Maha Iblis.

"Seandainya yang kau katakan benar. Siapa tokoh sakti yang telah membesarkan pewaris satu- satunya Istana Es itu?" tanya Penyihir Racun Utara cemas.

"Siapa orang itu tidak penting. Yang pasti kehadiran Maha Sakti Dari Istana Es menjadi ancaman tersendiri bagiku juga bagimu." terang Maha Iblis.

Penyihir Racun Utara terdiam. Dia sadar yang dikatakan sahabatnya benar adanya. Pemuda itu muncul bukan untuk mendapatkan pedang Gila namun juga bakal mencari para penyerang sekaligus pembunuh kerabatnya.

"Bagaimana menurutmu? Kurasa aku tidak bisa memberi bantuan yang layak seperti dulu.Pahadal munculnya Sang Maha Sakti dari Istana Pulau Es jelas menjad ­ ancaman berat bagi kita." ujar si nenek.

Rupanya dia juga bingung terlebih saat sadar dirinyalah yang berlaku paling kejam pada permaisuri sang prabu.

Melihat kecemasan si nenek Maha Iblis Dari Timur tersenyum penuh arti. Laki-laki itu segera berujar,

"Kau tak perlu cemas. Aku telah mengirim seseorang untuk menghabisi pendekar gendeng itu. Aku tidak tahu apakah utusanku berhasil melakukan tugas atau malah gagal. Aku cuma bisa menunggu sampai besok pagi. Bila sampai besok pagi dia tidak muncul juga di tempat yang kami sepakati kemungkinan dia tewas terbunuh."

"Kemudian apa rencanamu? Mengingat kondisiku aku sendiri sebenarnya merasa perlu menyingkir ke tempat yang aman. Namun bila nantinya kesehatanku telah pulih kembali aku akan cari dan habisi pemuda itu dengan tanganku sendiri!"

"Kedengarannya cukup masuk akal sahabatku Linuk Kantili!" sambut Maha Iblis dengan senyum aneh tersungging di bibir.

Setelah dongakkan kepala menatap bulan yang hampir tenggelam pertanda datangnya pagi. Maha Iblis Dari Timur lanjutkan ucapannya.

"Cukup masuk akal namun kau tak perlu menyingkir ke tempat yang aman. Aku bisa membuatmu merasa nyaman selamanya bahkan dapat pula membebaskanmu dari derita sakit berkepanjangan!"

"Apa maksudmu?" tanya si nenek kaget sekaligus melangkah surut dua tindak kebelakang. Lagi-lagi Maha Iblis sunggingkan senyum.

Sementara burung Jerit Nyawa kembali muncul, terbang mengitari si nenek sambil keluarkan suara aneh sebagai pertanda peringatan.

"Kau tak tahu maksudku. Dua puluh tahun aku bertahan di pulau ini. Kau mengira cuma kau yang menginginkan Pedang Gila setelah kuhabisi seluruh kerabat istana?" tanya Maha Iblis dingin.

Si nenek tercengang,

"Apakah kau menginginkan Pedang Gila juga?" sentak perempuan renta itu marah namun juga masih tidak percaya.

Bukannya menjawab, Maha Iblis dari Timur sebaliknya malah tertawa tergelak-gelak.

Maha Iblis Dari Timur tiba-tiba tersedak hingga tawanya terhenti. Sambil mengusap air mata karena terlalu banyak tertawa lagi laki itu pandang Penyihir Racun Utara.

"Sobatku Linuk Kantili, Ketahuilah, menurutku kau sudah terlalu tua dan tak membutuhkan pedang itu lagi. Selain tua kau juga digerogoti penyakit. Jadi kuanggap kau tak membutuhkan senjata mustika" kata Maha Iblis dengan suara perlahan namun jelas.

Mata si nenek berkedap-kedip.

"Apa maksudmu? Aku memang sudah tua dan hampir mampus digerogoti penyakit. Tapi muridku Kupu Kupu Putih pasti membutuhkannya." ujar si nenek.

Maha Iblis menggeleng.

"Tidak. Muridmu tak memerlukan pedang Gila."

"Hanya laki-laki yang patut mempunyai pedang yang mungkin kelak bila aku berjodoh dengan muridmu itu bisa saja aku memberinya pedang yang lain. Ha ha ha!"

Penyihir Racun Utara tersentak sekaligus tercengang. Sama sekali dia tak menyangka Maha Iblis yang telah banyak dia bantu dan selama ini dia anggap sebagai sahabat dekat ternyata berani bicara kurang ajar.

"Maha Iblis! Kupu Kupu Putih pantas menjadi Cucumu. Gerangan apa yang membuatmu berbalik pikiran dan bicara tak karuan?" geram si nenek.

Dengan hati mulai dibakar kemarahan, orang tua ini lanjutkan ucapannya.

"Kau bukannya membantu aku mendapatkan pedang itu sebagaimana janjimu dulu saat membujuk aku untuk membantumu melakukan penyerbuan di Istana Es. Sebaliknya melihat gelagat dan setelah mendengar ucapanmu aku menaruh curiga sebenarnya kau mencari Pedang Gila untuk dirimu sendiri."

"Ha ha ha ! Yang kau katakan itu benar Linuk, aku berubah pikiran, Kini aku justru berhasrat ingin mendapatkan Pedang Gila. Bukan cuma itu aku juga tiba-tiba memiliki keinginan untuk mempersunting muridmu!" terang Mata Iblis tanpa malu-malu.

Mendengar petir di siang hari Penyihir Racun Utara barangkali tidak bakal sekaget itu. Ucapan Maha Iblis baginya merupakan sebuah tamparan keras yang membuatnya marah besar.

Dengan tubuh bergetar, pipi menggembung dan rahang bergemeletukan Penyihir Racun Utara mendamprat.

" Jahanam tak tahu diri, Kau mengIngkari janji yang dulu kau ucapkan sendiri. Menyesal aku telah membantumu!"

Maha Iblis dongakkan kepala, lalu tertawa tergelak. Tawanya lenyap, dia mengusap wajahnya yang hitam dingin angker. Baru setelah itu menyahuti.

" Kukira penyesalanmu bakal berlipat ganda begitu kau tahu aku juga datang untuk membunuhmu!" kata laki-laki itu dingin.

Penyihir Racun Utara terkesima. Dia tak menduga Maha Iblis bakal berucap seperti itu. "Maha Iblis inikah budi balasan yang kau berikan padaku. Kau mengira aku takut padamu?" "Walau kau memiliki ilmu kesaktian tinggi luar biasa, aku sama sekali tak takut kepadamu!"

dengus si nenek dengan mata mendelik garang. Maha Iblis tersenyum. Dia anggukkan kepala tanda setuju dengan pengakuan perempuan itu.

Sambil basahi bibir, Maha Iblis menyela.

"Aku percaya kau tak takut padaku. Tapi saat ini kau berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan.Ilmu kesaktianmu boleh hebat, kekuatan sihirmu tak kuragukan. Namun kau tak bakal lolos dari kematian."

"Manusia jahanam. Kalau saja aku tahu kau telah memuslihati aku, buat apa aku membantumu." "Aku telah melakukan sebuah pengorbanan besar dan semua itu tak disangka-sangka

menyulitkan kedudukanku sendiri. Sekarang aku yakin Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es mencariku. Dia tak akan tinggal diam atas kematian orang tuanya."

"Jahanam! Semua ini gara-gara tipu muslihatmu Maha Iblis!"geram si nenek sambil kepalkan kedua tangannya.

"Kau tak usah kuatir apalagi memikirkan pendekar aneh itu. Aku berani menjamin kau tak bakal bertemu dengannya dan dia juga tak mungkin bisa menemukanmu." ucap Maha Iblis disertai seringai penuh arti.

Kening Penyihir Racun Utara berkerut.

Heran. Juga tak mengerti nenek ini dengan tidak sabar ajukan pertanyaan.

"Apa maksud ucapanmu itu? Kau hendak membunuhku? Kukira dengan membunuhku aku tak bakal bertemu dengan pewaris istana Pulau Es."

"Ha ha ha ha! Sudah tahu mengapa masih bertanya. Aku tak punya banyak waktu. Masih banyak yang harus aku kerahkan. Sekarang juga serahkan nyawamu!" teriak Maha Iblis Dari Timur.

Berkata begitu tangan kiri Maha Iblis melesat ke depan dengan kecepatan sulit dilihat. Tangan dengan jari terpentang dengan kuku runcing berwarna kehitaman pertanda mengandung racun jahat terarah ke bagian dada tepat dibagian jantung.

Walau serangan Maha Iblis dikenal sangat cepat dan datang tak terduga. Si nenek yang sudah puluhan tahun mengenal laki-laki itu segera berkelit lakukan gerakan menghindar. Sambil menghindar teringat olehnya akan peringatan bahaya yang diberikan Jerit Nyawa sebelum kehadiran bekas sahabatnya itu.

Dalam hati Penyihir Racun Utara memuji burung jejadian itu,

"Mahluk pintar. Dia lebih jeli dibandingkan aku. Semula aku mengira mahluk itu berniat hendak melakukan kekacawan saat Maha Iblis datang, tak disangka-sangka Jerit Nyawa tahu Maha Iblis Dari Timur datang menemuiku dengan membekal maksud yang jahat!"

Wuss!

Serangan lima jari tangan berhawa dingin penuh racun itu luput, lewat begitu saja di atas bagian bahu kiri si nenek. Perempuan itu menggerung, jatuhkan diri kemudian dengan gerakan luar biasa cepat kakinya menyapu menghantam kaki Maha Iblis.

Laki-laki tinggi itu terkejut sekali, namun dia langsung lambungkan tubuhnya ke atas. Selagi tubuhnya mengapung diudara dia lepaskan pukulan maut yang dikenal dengan nama Sang Iblis Murka Bumi Menjerit.

Serangkum hawa dingin luar biasa mendera disertai berkiblatnya cahaya hitam menggidikkan.

Burung Jerit Nyawa mahluk piaraan si nenek keluarkan suara melengking tanda peringatan bahaya.

Si nenek tidak bodoh. Melihat lawan benar- benar ingin menghabisinya. Dia dorongkan dua tangan yang telah dialiri tenaga sakti menyambut datangnya serangan. Serangkum cahaya merah menebar hawa panas mengidikkan menderu ganas, melesat ke atas sambuti pukulan yang dilancarkan Maha Iblis.

Benturan keras terjadi. Tidak terdengar adanya ledakan. Dua tangan masing-masing saling mendorong. Maha Iblis lipat gandakan tenaga dalamnya. Cahaya hitam terus melabrak menekan ke bawah dan mulai dapat menembus cahaya merah panas yang melesat dari tangan. Penyihir Racun Utara menyadari bila cahaya hitam berhasil lolos melewati cahaya merah yang dilepaskan olehnya.

Besar kemungkinan dia bakal menemui ajal atau paling tidak dia bakal menderita cidera berat.

Dia tahu pukulan Sang Iblis Murka Bumi Menjerit adalah salah satu dari beberapa ilmu andalan yang dipergunakan lawan terutama di saat genting. Maha Iblis Dari Timur rupanya sadar lawan yang dia hadapi bukan lawan sembarang. Terbukti begitu menyerang dia pergunakan ilmu andalan.

"Hepkh.. !"

Penyihir Racun Utara coba lipat gandakan tenaga dalam dan susul pukulan pertama yang dia lepaskan.. Tapi upayanya itu terlambat.

Hawa dingin dari serangan cahaya hitam tiba-tiba menderu ke arahnya setelah berhasil menembus dua pukulan si nenek.

Selagi ada kesempatan mencari selamat, tanpa menghiraukan tubuhnya yang menggigil kedinginan nenek ini pergunakan kekuatan sihirnya.

Tangan kiri meluncur ke bawah meraba bagian bawah pusarnya. Slep!

Buum!

Sebuah ledakan berdentum menguncang Puncak Terang. Membuat burung Jerit Nyawa cemas sekaligus mengkhawatiran keselamatan majikannya. Mahluk itu kini tak dapat berdiam diri lagi. Jerit Nyawa melesat membubung tinggi.Terbang melayang berputar-putar siap menyerang Maha Iblis guna membantu majikannya. Sementara itu dimata Maha Iblis pukulan yang dilepaskannya dengan jelas dia lihat berhasil mengenai sasaran.

Dia juga melihat cabikan dan potongan tubuh membiru beku bertebaran di udara. Sedangkan di tempat dimana Penyihir Racun Utara bertahan tadi Maha Iblis melihat sebuah lubang bekas ledakan menganga cukup dalam.

Dia yang sempat terguncang akibat ledakan kini meluncur ke bawah lalu jejakkan kaki tak jauh dari lubang sambil mengusap janggutnya dan keluarkan tawa bergelak-gelak.

"Ha ha ha ! Ternyata tidak sulit menghabisi riwayatmu tua bangka! Tadinya aku menyangka bakal mengalami hambatan besar saat menghadapimu" dengus Maha Iblis Dari Timur diiringi tawa bergelak.

Tapi tawa Maha Iblis mendadak lenyap, kening berkerut matanya jelalatan tak mengerti. Dia melihat potongan tubuh yang bertaburan itu ternyata secara perlahan namun pasti berubah ujud menjadi kepingan kayu yang berserakan.

"Bagaimana mungkin? Dia telah menipu dengan sihirnya!" desis Maha Iblis sambil memutar tubuh.

Mata laki-laki itu menatap liar memperhatikan sekelilingnya. Si nenek tak dia temukan.

Sebaliknya dari langit temaram burung Jerit Nyawa menyambar kepalanya, menyerang Maha Iblis dengan patukan paruh dan cakaran kaki yang kokoh.

Ces! Sret! Sret!

Terdengar seperti suara kulit kepala robek kena dicakar. Maha Iblis meraung keras sambil dekap kepala yang kucurkan darah.

"Mahluk jahanam terkutuk" teriak sang Iblis.

Seketika setelah mengusap bagian kepala yang terluka hingga luka-lukanya bertaut kembali Maha Iblis dongakkan kepala ke atas sekaligus lepaskan pukulan ganas.

Cahaya biru kehitaman menderu sebat, meluncur laksana anak panah mengejar ke arah perginya Jerit Nyawa.

Melihat itu si nenek yang lolos dari kematian segera berteriak pada mahluk piaraannya. "Terbanglah yang tinggi. Pergi dari sini cari muridku dan ceritakan semua apa yang kau

saksikan!"

Jerit Nyawa seakan mengerti. Terbangnya semakin tinggi. Tapi walaupun demikian tetap saja pukulan Maha Iblis masih sempat menyerempet tubuhnya.

Wuees!

"Kreek! Kaaak!"

Jerit Nyawa meraung keras. Belasan helal bulunya lepas bertanggalan.

Berhamburan sedemikian rupa melayang ke bawah hingga membuat Penyihir Racun Utara cemas. "Mahluk itu terluka di bagian dada. Gerak terbangnya oleng tak beraturan."

Tapi dia terus melayang terbang, makin lama makin menjauh dari Puncak Terang. Mengetahui mahluk suruhan itu lolos, Maha iblis jadi gusar. Dia memutar langkah dan menatap lurus ke arah si nenek. Maha Iblis tercengang. Saat menyadari lawan ternyata telah menggunakan tongkat sakti batu Kumala Merah. Tongkat keramat yang dapat menghadirkan berbagai malapetaka di tangan si nenek berputar sebat. Dari ujung tongkat di tangan si nenek melesat puluhan ular berbisa berwarna merah seukuran jempol kaki. Sedangkan dari ujung tongkat yang berputar seolah menggeliat hidup bermunculan puluhan benda halus berwarna kemerahan yang ternyata merupakan puluhan benang liat panas yang bagian ujungnya dipenuhi jarum membara.

Puluhan ekor ular merah berbisa mematikan menyerang bagian tubuh mulai dari perut hingga ke kaki. Sedangkan puluhan benang merah membara berujung jarum yang sangat panas menyerang dada, leher dan kepalanya.

Mendapat serangan sedemikian hebat Maha Iblis terkesiap dan sempat merasa ciut. Namun dia tidak kehabisan akal. Segera laki-laki itu melepas pakaian hitamnya yang tebal.

Sambil keluarkan suara menggerung dia memutar jubah hitam yang telah dialiri tenaga dalam.

Suara menderu disertai kilatan cahaya hitam. Di tempatnya berdiri Penyihir Racun Utara sempat tergontai. Tapi dengan tongkat sakti ditangan dia tidak merasa gentar. Malah sekarang dia kerahkan tenaga saktinya hingga berkali lipat.

Si nenek merangkak maju. Dia melihat puluhan ular yang keluar dari ujung tongkat tersapu mental. Namun satu diantaranya berhasil lolos dari sergapan jubah hitam Maha Iblis, Ular itu langsung menggigit bagian paha laki-laki tersebut.

Marah bercampur geram sambil tetap putar jubah membentuk perisai diri. Dengan tangan kiri sang ular direnggut lepas. Kepala ular diremas hingga hancur mengerikan. Ular dicampakkan namun Maha Iblis segera merasakan betapa bagian pahanya mulai terasa panas akibat racun gigitan luka.

"Manusia bangsat terkutuk. Dengan perbuatanmu ini aku akan membuat kematianmu lebih sengsara!" geram laki-laki itu,

Si nenek tidak menanggapi. Dia tetap terpusat pada tongkat. Saat itu puluhan benang panas berjarum membara yang keluar dari hulu kepala tongkat telah melabrak ke arah Maha iblis. Puluhan jarum menderu siap menghujani lawan. Tapi Maha Iblis dengan sekuat tenaga berhasil menghalau serangan jarum-jarum itu, malah sebagian berbalik menyerang si nenek sedangkan sebagian lagi menancap pada batang dan cabang pohon di belakang Maha Iblis Dari Timur. Pohon hangus dilalap api.

Sambil jatuhkan diri si nenek sentakkan tongkat ditangan. Puluhan ujung benang yang menempel

pada kepala tongkat lepas.

Sebagian jarum berbenang yang berbalik menyerang lolos di atas kepala si nenek. Dengan penuh kemarahan Maha Iblis melesat ke arah lawan, Tangan kiri yang terkepal siap meninju kepala si nenek sedangkan tangan kanan dihantamkan ke bagian dada. Gerakan kilat yang dilakukan Maha Iblis ternyata disambut Penyihir Racun Utara dengan serangan senjata rahasia berupa kupu-kupu yang terbuat dari untaian besi beracun.

Maha Iblis tercengang, namun jaraknya yang begitu dekat dengan lawan tak memungkinkannya untuk menghindar. Tak ayal lagi dua tangan yang semula untuk menyerang kini dijadikan pelindung diri.

Wuuk!

Dua tangan didorong ke depan. Segulung angin panas menebar cahaya hijau menyilaukan menderu menghantam rontok serangan senjata rahasia yang dilontarkan si nenek. Di luar dugaan laki-laki itu. Satu dari senjata rahasia lolos dari tepisannya. Senjata itu menyambar pangkal lengan dekat dengan bahu. Membuat Maha Iblis yang sebelumnya telah cidera akibat gigitan ular merah terhuyung.

Menggunakan kesempatan selagi Maha Iblis tengah mengurusi bahunya yang terluka. Si nenek melompat sambil pukulkan hulu tongkatnya ke kepala lawan. Sekali hantam dengan tongkat saktinya itu dapat dipastikan Maha Iblis bakal menemui ajal dengan kepala remuk dan isi kepala berhamburan.

Kilatan cahaya merah menggidikkan menderu.

Hawa panas dan dingin menyembur silih berganti dari tongkat si nenek. Walau belum kena terpukul Maha Iblis merasakan tubuh terutama di bagian kepalanya seperti dihimpit batu sebesar gunung.

Laki-laki itu mengerang. Tangan didorongkan ke atas. Sebelum kepala tongkat menghantam remuk kepalanya. Dia melompat kesamping sekaligus menghantam dada si nenek dengan pukulan Iblis Murka Kegelapan Musnah.

Pukulan ini adalah salah satu ilmu pukulan sakti yang dimiliki Maha Iblis dari Timur dan sangat jarang dipergunakan.

Si nenek tercengang. Jarak yang begitu dekat tak memberinya waktu untuk menyelamatkan diri.

Tak dapat dihindari Penyihir Racun Utara jatuh terpental. Dari mulutnya terdengar jerit mengerikan disertai semburan darah kental.

Nenek itu tewas, tongkat di tangan terpental Jatuh ke jurang sedangkan sekujur tubuh terutama di bagian dada hangus menghitam seperti arang.

Maha Iblis mendengus garang. Penuh dendam kesumat dia menendang tubuh si nenek hingga ikut terpental masuk ke jurang. Laki-laki itu menyeringai. Dia mengusap paha dan bahunya yang terluka. Saat itu akibat serangan racun ganas sang ular dan senjata rahasia si nenek membuat tubuhnya menggigil kedinginan.

Sambil meringis dia merogoh sakunya. Dia mengambil bungkusan kecil kemudian menelan dua butir obat pemunah racun. Setelah menelan obat berwarna hitam kecoklatan Maha Iblis Dari Timur berucap sendiri.

" Nenek celaka nyawanya alot juga."

"Hmm, sekarang aku akan menyingkirkan tokoh lain yang inginkan Pedang Gila. Aku juga akan meringkus murid Penyihir Racun Utara untuk kujadikan istri sesaat. Ha ha ha"

Sambil mengumbar tawa Maha Iblis Dari Timur berkelebat tinggalkan Puncak Terang. Saat itu fajar telah menyingsing dan rembulan tak lagi terlihat di langit sebelah barat.

***** Kembali pada nenek renta tak berhidung, tak bermata bernama Momok Laknat. Tak lama setelah menyelinap keluar dari pondok tulang bersama gadis tak berkulit berkepala botak tak berambut bernama Puteri Pemalu. Dia dan gadis berpakaian merah itu bersembunyi di sudut sebelah kiri pondok yang gelap.

Dari tempat itu si nenek tak bermata namun mempunyai penglihatan batin yang tajam segera layangkan pandang ke arah datangnya suara bergemuruh. Setelah menunggu sekian lama suara bergemuruh semakin mendekat, tapi aneh mata batin si nenek yang selama ini sering diandalkan mengganti fungsi dua matanya yang hilang tidak melihat apa-apa. Kejut di hati Momok Laknat makin menjadi-jadi ketika mendengar suara gemuruh langkah kaki lewat di depannya lalu lenyap menjauhi menuju ke sebelah utara pulau Es.

"Ada suara orang berlari, tapi aku tidak melihatnya. Suara langkah kaki malah sudah lewat dan aku tetap tidak melihat ada orang berlalu. Apa telingaku salah mendengar?" menggumam Momok Laknat di dalam hati.

Keluhan si nenek didengar oleh gadis yang sekujur tubuhnya cuma terdiri dari rangkaian tulang terbungkus daging tanpa kulit.

Gadis yang matanya gondal-gandil seperti mau tanggal itu tertawa mengikik namun cepat dekap mulutnya yang merah dipenuhi urat-urat darah.

"Mendengar ucapanmu aku jadi malu. Nek..."

"biar telingamu sudah lumutan dimakan usia, kurasa pendengaranmu masih bagus. Suara langkah kaki yang kau dengar itu benar adanya. Benar pula di tempat ini tiga tombak dari tempat kita berdiri, belum begitu lama lewat beberapa orang aneh serta seorang wanita muda berpakaian hijau kelabu berwajah cantik berambut panjang menjela membawa tongkat hitam aneh berhulu kepala ular warnanya hitam. Mereka sepertinya tergesa-gesa nek." terang Puteri Pemalu sambil dekap wajah, dada dan bagian tubuh sebelah bawah.

Momok Laknat tertegun.

Kening berkerut namun cepat dia membuka mulut.

"Aneh. Sungguh aku tak mengerti. Aku tahu biar mataku lenyap dirampas orang, namun penglihatan batinku sangat tajam. Jangankan melihat belek di pelupuk matamu yang gondal gandil itu, melihat dedemit penghuni laut pun aku bisa. Lalu mengapa bila orang-orang yang kau sebutkan itu manusia sepertiku, mengapa aku tak melihatnya?"

tanya si nenek ditujukan pada Puteri Pemalu.

Si gadis yang berdiri di samping si nenek tersenyum malu-malu namun lekas menjawab pertanyaan Momok Laknat.

"Nek aku hadir di hadapanmu atas kehendak para dewa. Dalam hal ini menyangkut segala pertanyaan itu agaknya aku bisa memberikan penjelasan. Empat orang yang lewat tadi dapat kupastikan sedang dalam perjalanan menuju ke perbukitan karang di pantai utara..." "Heh, tunggu!"

Momok Laknat tiba-tiba memotong ucapan Puteri Pemalu.

"Kau mengatakan mereka ada empat orang?" desis si nenek bengong tak percaya.

"Ya empat orang. Tiga laki-laki satu perempuan muda bertongkat. Yang laki-laki semuanya memakai cawat, wajah angker rambut awut-awutan. Yang satu penampilannya serba merah, satunya yang berlari di tengah bertubuh hijau sedangkan yang ketiga sekujur tubuhnya berwarna biru. Aku sempat mendengar perempuan itu menyebut ketiga laki-laki yang berlari di depannya dengan Tiga Anjing Penjaga. Ini berarti wanita muda itu majikannya atau bisa jadi pemimpin dari tiga laki-laki berpenampilan aneh tersebut."

"Eeh, tunggu. Kau mengatakan mendengar perempuan itu bicara pada tiga laki-laki aneh yang menjadi pembantunya. Bagaimana bisa? Aku sendiri tak mendengar ada suara perempuan bicara?" kata Momok Laknat heran.

"Maafkan aku nek. Walau ditakdirkan menjadi pendampinginu untuk waktu yang tak kuketahui lamanya. Tapi dewa bermurah hati padaku dengan memberiku pendengaran luar dalam."

"Luar dalam bagaimana? Aku tak mengerti maksudmu."

"Makanya dengar dulu penjelasanku jangan kesusu tak usah tergesa-gesa. Beri kesempatan padaku untuk bicara," ujar Puteri Pemalu.

Momok Laknat terdiam siap mendengarkan. Puteri Pemalu lanjutkan ucapannya.

"Pendengaran luar yang kumaksud adalah pendengaran alam nyata. Artinya aku bisa mendengar mahluk biasa sepertimu saat bicara. Sedangkan pendengaran dalam erat kaitannya dengan pembicaraan yang terjadi di alam gaib. Semua mahluk tak terlihat suaranya dapat kudengar bila aku menghendaki."

Momok Laknat terkesima, dia merasa kagum dengan kelebihan gadis yang sangat pemalu ini. "Tapi empat orang yang kau sebutkan itu, tidakkah mereka manusia yang masih hidup sama

seperti diriku?" "Memang benar."

"Lalu mengapa aku tak mendengar pembicaraan mereka?" kata Momok Laknat tambah tak mengerti.

Puteri Pemalu tersenyum malu-malu.

"Nek, satu yang mungkin tak kau ketahui.Keempat orang tadi melakukan perjalanan dengan menggunakan ilmu Selubung Tirai Gaib. Dengan ilmu itu kau tak bisa mendengar suara saat mereka saling bicara, kau bahkan tak kuasa melihat mereka meski kau menggunakan penglihatan batin.

Dalam keadaan berada dalam selubung Tirai Gaib keadaan mereka tak berbeda dengan mahluk yang hidup di alam gaib. Kau manusia biasa tak akan mengetahui keberadaan mereka, kau juga tak bisa mendengar percakapan mereka." terang Puteri Pemalu.

Membuat Momok Laknat menjadi maklum.

Nenek ini berpikir sejenak, mata yang bolong menerawang dalam gelap.

"Siapa mereka itu? Melakukan perjalanan dengan cara sembunyi- sembunyi. Maksudnya bisa aku menduga agar mereka tak mengalami banyak rintangan. Berpakaian hijau kelabu mempunyai tiga begundal biasa di sebut Anjing Penjaga. Sekarang aku tahu. Yang suka membawa tongkat

kemana-mana hanyalah tua bangka jahat gila bergelar Penyihir Racun Utara."

"Tapi yang ini masih muda, tidak salah lagi dia pasti murid penyihir itu. Dia bernama Kupu-Kupu Putih."

"Rupanya dia mendapat perintah gurunya untuk ikut ambil bagian dalam Pesta darah Di Pantai Utara."

"Gila betul....!" gumam Momok Laknat. Puteri Pemalu bergidik ngeri.

"Apa nek, Pesta Darah? Ihhh, menjijikan sekali. Kalau begitu aku tidak pergi menyertaimu!' kata Puteri Pemalu lalu dekap wajahnya.

Si nenek tertawa mengekeh namun cepat melanjutkan,

"Tidak ikut. Apa kau lupa dewamu telah menakdirkan engkau untuk ikut serta denganku." "Apa yang bakal terjadi kau harus tetap ikut." tegas Momok Laknat.

Puteri Pemalu tidak bisa membantah. Dia diam sambil menganggukkan kepala. Selanjutnya hening terasa begitu mencekam.

Kedua orang yang berdiri dibawah atap pondok tulang tenggelam dalam pikiran masing- masing.

Tapi keheningan tidak berlangsung lama.

Sekejab kemudian terlihat di antara pohon yang bertumbangan berkelebat satu sosok tubuh berpakaian serba hijau bermantel bulu dan memegang sebuah kipas ke arah mereka sambil tertawa berhaha-hihi.

Sosok yang datang ternyata seorang gadis berwajah jelita. Di bawah atap pondok Momok Laknat dan Puteri Pemalu sama berpandangan.

Mereka menatap ke arah gadis yang baru datang.

si gadis hentikan langkah begitu melihat ada dua sosok berdiri di bawah atap.

Dengan langkah lebar gadis jelita murid tokoh misterius bernama Hyang Kelam ini datang menghampiri. Begitu dekat dan dapat melihat jelas rupa Momok Laknat dan Tampang Puteri Pemalu si gadis yang bernama Untari ini berjingkrak kaget, melangkah mundur dua tindak mulut keluarkan seruan.

" Aih, dua mahluk jelek. Tampang kalian sungguh mengerikan sekali. Kalian ini manusia sungguhan atau mayat-mayat yang baru bangkit dari liang lahat?" tanya Untari dengan tengkuk merinding.  

Puteri Pemalu dekap wajahnya yang kemerahan terbalut untaian daging. Dia melangkah maju dengan malu-malu. Gerakan gadis itu diikuti oleh si nenek.

Sekali lagi Untari berjingrak setelah mengetahui lebih jelas betapa tampang kedua orang yang tak dikenalnya lebih mengerikan di bawah siraman cahaya rembulan.

"Hantu... kalian ternyata hantu. Kalian mahluk mengerikan yang baru bangkit dari liang kubur. Aku tak mau berurusan dengan kalian. Melihat kalian berdua saja sudah membuatku kaget." kata Untari.

Dia melangkah mundur, lalu mundur lagi. Selanjutnya dengan tidak terduga Untari balikkan badan menghambur pergi.

Cepat sekali Untari berlari. Sekejaban saja dia sudah sangat jauh. Melihat ini Puteri Pemalu berteriak.

"Hei tunggu. Aku manusia sepertimu. Kami ingin bicara denganmu."

Teriakan Puteri Pemalu tidak digubris. Orang yang dipanggil terus menjauh membuat Momok Laknat murka lalu hantamkan pukulan jarak jauh ke punggung Untari.

Pukulan itu tak mengenai sasaran. Untari lenyap seperti ditelan bumi. Si nenek memaki. "Keparat pengecut. Orang hendak bertanya dia malah minggat."

"Sudahlah nek. Mengapa marah-marah. Dia cantik kita jelek, mana mau dia bicara dengan kita." "Malam-malam begitu tampang kita mirip hantu."

"Padahal bila siang hari...!"

Puteri Pemalu tidak selesaikan ucapannya. Sebaliknya malah tertawa Si nenek yang kesal jadi penasaran.

"Memang bila siang hari tampang kita seperti apa?" "Bila siang tanmpang kita seperti setan nek.Hik Hik"

"Mahluk tidak berkulit sialan. Orang bersungguh-sungguh kau malah bercanda." rutuk Momok Laknat tambah jengkel.

"Jangan membuatku marah. Sekarang lebih baik kita susul orang-orang yang melewati kita tadi."

"Aku setuju. Karena aku pendamping aku mengikut saja apa maumu!" sahut Puteri Pemalu.

Belum lagi Momok Laknat dan Puteri Pemalu sempat beranjak dari tempatnya berdiri. Tiba-tiba muncul angin berkesiuran melanda tempat itu.

Munculnya angin aneh disertai dengan suara bentakan menggelegar.

"Siapa yang telah membokong muridku Untari? Apakah kalian berdua?" tanya suara yang berasal dari balik deru angin.

Puteri Pemalu dan Momok Laknat terkesiap. Momok Laknat menatap ke depan. Mata batinnya tak melihat apa-apa terkecuali suara menderu dan pasir beterbangan meliuk-liuk membubung tinggi lalu bertabur berserakan kesegala penjuru.

Berbeda dengan Puteri Pemalu yang dua matanya gondal gandil seperti hendak jatuh itu. Dengan jelas dia melihat betapa dibalik deru angin dan pasir berterbangan ada sosok besar tinggi bertubuh seperti tanah bertangan menjuntai dan berkaki aneh mirip akar-akaran yang biasa menyembul dipermukaan tanah. Sosok itu hanya berupa bayang-hayang yang dilindungi tebaran pasir.

Ketika Puteri Pemalu memberitahukan tentang apa yang dilihatnya ini pada Momok Laknat. Kejut di hati si nenek bukan olah-olah. Dari ciri-ciri yang disebutkan oleh Puteri Pemalu, Momok Laknat mengenali dengan pasti bayang-bayang yang dilihat pendampingnya itu bukan lain adalah ujud semu tokoh keji yang menetap dalam dua pasir terpendam di tepi Jurang Putus Nyawa. Dan tokoh satu ini tak lain adalah Hyang Kelam. Manusia yang selalu menampakkan ujud aslinya dengan menggunakan perantaraan pasir.

"Celaka. Malam ini kita betul-betul apes. Tak kusangka yang kita hantam dengan pukulan sakti tadi ternyata adalah murid.Hyang Kelam." desis Momok Laknat kecut.

"Apa? Jadi mahluk yang kulihat itu bernama Hyang Kelam?" tanya Puteri Pemalu dengan berbisik. "Benar. Dia mahluk paling sakti yang pernah kujumpai. Dia tak pernah mati walÄ…u berkali-kali

dikabarkan menemui ajal." jelas Momok Laknat yang tahu banyak tentang Hyang Kelam.

Sementara itu deru angin dari pusaran pasir berputar telah berada dekat dengan mereka. Dari balik suara deru lagi-lagi terdengar bentakan.

"Bangsat kurang ajar. Aku bertanya siapa diantara dua mahluk buruk yang telah menghantam muridku?" tanya Hyang Kelam yang hanya terdengar suaranya Raja.

"Aku Momok Laknat yang melakukannya. Kau mau apa Kelam? Kau sengaja mengawal muridmu kemanapun dia pergi," tanya Momok Laknat dengan seringai mengejek.

Walau terkejut, orang mengenali kehadirannya. Namun Hyang Kelam tetap mendamprat. "Hmm. Momok Laknat. Kau tahu kehadiranku."

"Tapi aku tak perlu merasa heran. Terus terang aku memang sedang mengawal muridku Untari dalam perjalanan menuju ke Utara. Apa kabarmu? Masih juga kau hidup dalam dendam penyesalan Panjang," kata suara di balik deru angin dan pasir itu.

"Soal urusan pribadiku perlu apa kau tahu.Jauh-jauh kau meninggalkan gua pasir terkutuk di Tepi Jurang Putus Nyawa apakah masih berkaitan dengan senjata pusaka yang menjadi incaran banyak orang itu!" tanya Momok Laknat sambil meludah.

"Aku tak layak menjawab pertanyaanmu. Kau telah mengganggu muridku. Karena itu kau dan temanmu layak mampus sekarang juga!" teriak Eyang Kelam marah.

Kemudian dengan tidak diduga-duga sekonyong-konyong deru angin bercampur pasir melabrak ke arah Puteri Pemalu dan Momok Laknat dengan kekuatan dahsyat. Melihat ini Puteri Pemalu berseru ditujukan pada Momok Laknat. "Awas! Dia menyerang kita dengan pukulan ganas!"

Hyang Kelam kaget tak menduga gadis berpakaian merah yang matanya gondal gandil seperti mau tanggal itu dapat melihat dirinya dengan jelas. Padahal dia tidak muncul dalam ujud seutuhnya.

"Dia yang harus kuhabisi lebih dulu." batin Hyang Kelam.

Deru Angin pasir membelah terbagi dua. Satu melabrak Momok Laknat sebagian lagi menghantam Puteri Pemalu. Melihat serangan ganas menyerang dirinya, Momok Laknat segera menyambut dengan pukulan Menggali Kubur Sukma Merintih Dalam Tangis.

Dua tangan dihantamkan ke depan menyongsong serbuan angin pasir yang begitu cepat.

Sambil melepaskan pukulan si nenek jatuhkan diri berguling menjauh. Tapi walau telah menyingkir sambil lepaskan pukulan sakti. Tak urung nenek ini menjerit. Pukulan yang dilepaskannya tersedot amblas tergilas deru angin dahsyat. Momok Laknat lepaskan pukulan susulan lagi, tapi seperti yang pertama pukulan itu juga ikut amblas pula. Lebih celaka deru angin pasir terus melabrak Momok Laknat.

Bres!

Disapu angin dahsyat dengan posisi tubuh terjongkok membuat Momok Laknat jatuh terjengkang.

Sekujur tubuhnya terasa sakit, kulit perih luar biasa dihantam ribuan pasir.

Si nenek berdiri dengan kalang kabut.

Angin yang melabraknya berputar menjauh membuat ancang-ancang penyerangan kedua.

Mata batin Momok Laknat yang melihat gelagat itu segera mendorongnya mengambil tindakan. Dia kerahkan tenaga sakti ke tangan dan kaki.

Tak lama kemudian baik kaki maupun tangan Momok Laknat berubah biru terang. Hyang Kelam yang membagi serangan pada dua lawan sekaligus rupanya sadar Momok Laknat siap menghajarnya dengan pukulan maut.

Hyang Kelam tertawa bergelak.

"Selama kau belum mengetahui titik kelemahanku, seribu manusia berkepandaian sepertimu ditambah sepuluh orang berkepandaian seperti temanmu itu.Kau tak bisa berbuat apa-apa terhadap diriku!"

teriak Hyang Kelam dengan suara menggelegar namun tetap tak menampakkan ujud.

Dia kembali melabrak si nenek. Kekuatan yang dia kerahkan berlipat ganda. Ketika sadar angin pasir menyerbu ke arahnya dengan kekuatan dua kali lipat dari sebelumnya. Momok Laknat lambungkan tubuh ke udara lalu melesat sambil hantamkan dua tangan ke arah angin pasir yang mendera.

Wuus ! Wuus! Blar!  

Cahaya biru berkiblat, mencuat di udara disertai pancaran cahaya terang benderang. Dari arah yang berlawanan deru angin bercampur pasir tidak terus melabrak. Benturan yang terjadi menimbulkan suara ledakan berdentum.

Pusaran angin buyar, pasir menghambur bermentalan. Si nenek terkapar dengan mulut semburkan darah. Pusaran angin yang buyar bertaut kembali. Membentuk gulungan besar dan melindas Momok Laknat yang tidak berdaya. Orang tua itu menjerit setinggi langit. Lalu diam tak berkutik.

Hyang Kelam tertawa tergelak-gelak. Kini perhatian mahluk dari alam gaib itu tertuju sepenuhnya pada Puteri Pemalu.

"Kali ini kau tak bakal lolos dari kematianmu!"teriak Hyang Kelam.

Dia yang tadi membagi serangan dan membagi diri saling mendekat. Dua pusaran angin bertaut.

Puteri Pemalu yang tadi sempat merasakan ganasnya serangan Hyang Kelam. Kini terbeliak begitu mengetahui setelah dua pusaran angin pasir bersatu ternyata menjadikan tubuh Hyang Kelam yang hanya berupa bayang- bayang tak terlihat mata biasa tambah membesar dua kali lipat.

Walau sempat ciut melihat penampilan Hyang Kelam yang menakutkan namun Puteri Pemalu yang tak tahu nenek yang dia dampingi mati atau sekarat segera berkata.

" Mahluk busuk pengecut. Aku tidak takut padamu. Sekarang kau terimalah manisan api dariku!"

Berkata begitu Puteri Pemalu membuka mulut lebar-lebar. Setelah itu dia meniup sekaligus hentakkan kedua tangan ke depan. Dari mulut menderu api yang panas luar biasa. Lidah api membesar sepuluh kali lipat dan segera mengurung pusaran angin pasir tempat di mana Hyang Kelam berada.

Sementara itu dari kedua tangan Puteri Pemalu melesat cahaya merah seperti darah yang menyembur dari sebuah luka.

"Gadis aneh celaka! Ilmu kesaktiannya ternyata tidak dapat dipandang sebelah mata!" rutuk Hyang Kelam.

Namun dia tidak perduli. Mahluk yang selalu berlindung di balik pusaran angin bercampur pasir itu lipat gandakan kekuatannya. Tangan dan kaki yang menjuntai disapukan kesegenap penjuru.

Akibatnya sungguh luar biasa.

Deru angin dan pasir yang berterbangan makin berlipat ganda membentuk sebuah gugus aneh mirip awan putih dilangit. Kobaran api yang menyerang di sekeliling Hyang Kelam bukań saja dengan mudah dibuat padam, tapi juga pukulan yang dilancarkan Puteri Pemalu tersapu amblas bertebaran diudara dalam bentuk serpihan udara.

Melihat serangannya dapat dimusnahkan lawannya. Puteri Pemalu kembali menghantam dengan pukulan Belulang Berserakan Jiwa Merana Dalam Penantian.

Ketika tangan dikibaskan ke depan. Dari telapak tangan sang puteri yang tak terbalut kulit membersit cahaya warna warni seperti kunang- kunang. Cahaya itu melesat bertebaran kesegala penjuru menghantam ke arah pusaran angin raksasa hingga membuat laju gerakan angin pasir tersendat-sendat.

"Keparat kurang ajar!" maki sang kelam dengan suara tertahan.

Tapi tidak disangka-sangka pusaran angin melambung ke atas lalu menukik ke bawah menyergap Puteri Pemalu.

Tak ada kesempatan bagi gadis ini selamatkan diri. Pukulan yang dilancarkannya musnah hancur berkeping-keping. Sementara dia sendiri kini menjadi sasaran yang empuk.

Bress! Braak!

Angin dan pasir melabrak tubuh si gadis membuatnya amblas ke dalam tanah. Setelah itu timbunan pasir dingin menguruk tubuhnya. Puteri Pemalu hilang lenyap tanpa suara. Melihat lawan dapat ditahlukkan Eyang Kelam tertawa tergelak- gelak.

"Kalian berdua memang patut mampus!" teriak Hyang Kelam dengan suara menggelegar. Mahluk alam gaib itu tak menunggu lama.

Setelah merasa dapat menghabisi lawan-lawannya dia lanjutkan perjalanan kembali. Angin dan pasir kembali berputar, menderu dengan suara lembut seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Tamat