Raja Gendeng Eps 01 : Misteri Pedang Gila

 
Eps 01 : Misteri Pedang Gila


Sehari setelah meninggalkan Goa Mayat Es, pemuda berambut panjang riap-riapan yang sebagian dikuncir kebelakang ini memutuskan untuk menuju ke arah sebelah timur pulau Es. Sesuai perintah gurunya Ki Panaraan Jagad Biru, pemuda berpakaian kulit berbulu tebal berwarna putih ini harus mencari tahu keberadaan pedang warisan Istana Pulau Es yang raib sekitar dua puluh satu tahun yang lalu. Menurut sang guru pedang keramat yang sangat sakti itu bisa menjadi malapetaka bagi dunia persilatan bila berada di tangan manusia sesat ataupun pendekar berwatak jahat. Di samping itu dia juga punya tugas untuk mencari pembunuh keji yang telah melakukan pembantaian semua penghuni Istana Es. Dia tidak pernah tahu bagaimana dan siapa saja yang telah melakukan pembantaian ke Istana Es. Waktu itu bahkan dia baru saja terlahir ke dunia. Ayah bundanya tewas demikian juga dengan dua saudara laki-lakinya yang tak lain adalah pangeran Saka Giri dan Pangeran Saka Jagad.

Dua tugas yang diberikan oleh gurunya bukan tugas yang ringan. Namun pemuda yang oleh

gurunya biasa di panggil Gendeng atau Raja ini juga harus berbakti pada orang tua dan menegakkan kebenaran.  

Sayang menjelang senja perjalanan pemuda ini Ini tidak berlangsung mulus. Tiba-tiba saja hujan turun dengan lebat.

Ia terjebak, pandangan mata jadi terhalang oleh turunnya hujan yang menggila. Dalam cuaca yang tak menguntungkan udara dingin serasa membuat tubuhnya menjadi beku. Gendeng lalu berteduh di sebuah kedai yang terletak tak jauh dari sebuah hutan cemara.

Ketika menginjakkan kakinya di depan pintu kedai pemuda lugu berwajah tampan namun suka bertingkah seperti layaknya orang tolol dan gila ini julurkan kepala melongok ke dalam. Kedai itu dipenuhi oleh para pengunjung yang sedang menikmati hidangan dan minuman berbau aneh tapi harum.

Wajah pemuda ini berubah jadi cerah sumringah.

Ia tersenyum, perutnya berasa keroncongan setelah hidungnya mengendus aroma makanan lezat. Rasa lapar membuat pemuda ini segera mengambil tempat duduk berada di sudut kedai. Sekilas dia memperhatikan para tamu dikedai itu.

Kebanyakan tamu dalam kedai terdiri dari laki-laki berpakaian dan berpenampilan pengembara dari dunia persilatan. Tampang mereka ada yang angker namun ada pula yang memuakkan untuk dilihat. Tapi tidak semua pengunjung kedai makan itu semuanya laki-laki. Di sudut kedai pada bagian ujung sebelah kanan duduk seorang gadis berpakaian serba hijau bermantel bulu warna hitam berparas cantik. Rambutnya yang panjang digelung ke atas. Dia nampak sangat acuh, bahkan terkesan tidak perduli walau beberapa pasang mata pengunjung kedai sering kali menatap ke arahnya. Dan tatapan mata para lelaki itu menyiratkan niat terkutuk nafsu birahi.

Melihat pemandangan seperti ini, sambil senyum-senyum sendiri Gendeng berujar dalam hati, "Orang-orang gila. Pantang mellhat barang bagus, wajah cantik kulit licin. Melihat wanita cantik

tenggorokannya naik turun seperti orang sakit bengek. Uhk, perduli apa. Aku mau makan." ujar Gendeng lalu melambaikan tangan pada bapak pemilik kedai. Pemilik Kedai adalah seoraog laki-laki tua berkepala botak licin berkumis tebal namun cuma di sebelah kiri. Kumis diatas bibir kanan tidak tumbuh entah lenyap kemana.

Bapak yang umurnya sekitar enam puluh tahun itu dengan sikap enggan segera datang menghampiri. Gendeng memperhatikan orang tua ini dan merasa sepertinya ada sesuatu yang tak berkenan dihati bapak pemilik kedai atas kehadirannya.

Diam-diam Gendeng melirik ke arah tamu-tamu di dalam kedai dengan ekor matanya. Bapak kedai itu ternyata lebih sering memperhatikan tamu yang duduk di depan meja di tengah ruangan. Tamu itu bertubuh tinggi berpakaian kuning membekal golok besar di punggung dan cambuk berduri. Wajahnya sangat angker. Ia dikelilingi oleh empat laki-laki lain yang adalah para pengikutnya.

Gendeng berpikir gerangan apa yang membuat si empunya kedai sepertinya jerih pada si tinggi dan teman- temannya?  

"Huh buat apa aku berpusing otak memikirkan mereka. Aku sudah sangat lapar. Udara diluar terasa kejam." batin Gendeng lalu palingkan wajah dan kini menatap pada bapak apay.

"Aden mau pesan apa? Tempat ini sebenarnya tidak menerima pelanggan baru. Tapi karena aden tak mengetahui aturannya, saya bisa maklum. Yang penting begitu pesanan kami penuhi, aden mohon tinggalkan kedai ini." jelas si orang tua.

Gendeng terdiam, namun dia kaget juga mendengar penjelasan pemilik kedai. Keningnya berkerut, senyumnya yang biasa ramah berubah kecut dan hambar. Tapi sebagai orang yang ditempa dengan keras dan memiliki sikap sabar Gendeng tidak marah. Melainkan tertawa tergelak-gelak. Dia bangkit lalu ditepuk-tepuknya bahu si bapak dengan sikap yang bersahabat.

Selanjutnya tanpa perduli pada orang-orang disekeliling yang menatap ke arahnya, pemuda ini berujar,

"Bapak kedai. Bapak menjual saya membell. Kedai ini tentunya menerima siapa saja yang ingin mengisi perutnya. Sekarang tolong sediakan makanan dan minuman yang dijual di kedaimu.

Berapapun harganya saya akan bayar." Si pemilik kedai manggut-manggut.

Dia hendak mengiyakan namun kelihatan ragu. Melihat ini Gendeng segera bertanya, "Ada apa pak? Apakah makanan di kedaimu telah habis?"

"Eng..... anu. Aden datang agak terlambat. Makanan di kedai kami hanya tinggal sayur, lauknya tinggal kepala karena daging sudah habis."

"Hah. Sayur aku suka, tapi yang bapak sebut kepala itu jenis lauk apa?" tanya Gendeng. "Nanti juga aden akan tahu.

Si pemuda mengangguk.

"Lalu minumannya apa?" tanya Gendeng sambil menatap orang tua di depannya. "Minuman istimewa telah habis. Yang ada tinggal minuman yang bernama Gelap Mata. Gendeng yang baru saja duduk kembali merasa heran.

Dengan mata setengah mendelik ajukan pertanyaan,

"Minuman Gelap mata itu apa?" Mendengar pertanyaan si Gendeng semua orang dalam kedai mulai mentertawakannya.

Gendeng acuh saja Sementara pak kedai menjawab,

"Minuman Gelap Mata cuma sekedar nama. Minuman jenis itu didatangkan dari luar pulau Es. Asalnya dari tanah Dipa bahkan kadang dari Tanah Malalayu. Kalau diminum terlalu banyak bisa membuat orang bicara melantur, kepala pusing dan tak dapat berpikir normal."

"Ah, bicara saja berbelit-belit. Kenapa tak langsung bilang minuman yang memabukkan. Aku tak begitu sering minum minuman seperti itu. Sediakan saja makanan dan air putih." "Bb...baiklah. Aden tunggu sebentar. Pesanan segera kami antar." ujar si orang tua. Setelah menjura dengan terbungkuk-bungkuk pemilik kedai meninggalkan pemuda ini.

Selagi bapak tua itu menyediakan yang diminta, gadis berpakaian hijau bermantel hitam menatap ke arahnya. Dia tersenyum pada Gendeng. Hanya tersenyum. Tapi senyuman gadis membuat laki-laki tinggi berpakaian kuning agaknya merasa diabaikan kalau tak dapat dikata cemburu. Dengan suara menggeram, tanpa menoleh laki-laki itu tiba- ditujukan pada Gendeng.

"Kedai ini hanya diperuntukan bagi orang yang berilmu tinggi, orang gagah cantik seperti gadis bermantel hitam itu. Sedangkan golongan tikus comberan, monyet butut dan kunyuk gondrong gila sebaiknya jangan pernah lagi kesini." berkata Misteri Pedang Gila Dan sebelum kesabaranku habis, sebaiknya yang merasa dirinya sebagai monyet gondrong angkat kaki dari sini." kata laki-laki itu dengan suara serak angker.

Mendengar ucapan lakl-laki itu para tamu kedai mulai gelisah. Salah Satu diantaranya adalah laki-laki bertubuh kurus kering macam jerangkong hidup berpakaian hitam.

Si kurus bergelar Elang Mate Juling ini memang tak mengenal siapa adanya pemuda gondrong yang sebagian rambutnya dikuncir Itu. Tapi ia mengenal siapa adanya orang yang bicara itu dengan empat anak buahnya.

Walau tak memiliki nama, namun dia yang datang dari tanah Dipa itu kabarnya sedang mencari senjata pusaka pedang Istana Es. Dia bergelar Golok Terbang Cambuk Geni.

Meskipun belum lama menjejakkan kaki di Pulau Es yang berada di ujung paling timur laut selatan itu, tetapi dia telah menebar darah dimana-mana. Adapun tentang gadis berpakaian hijau bermantel hitam, Jerangkong hidup belum mengenalnya namun sudah beberapa kali dia berkunjung di kedai.

Kini melihat gelagat yang tak baik, Jerangkong Hidup yang merasa ada urusannya sendiri belum diselesaikan segera tinggalkan kedai Itu. Demikian juga dengan para tamu kedai yang lain.

Di dalam kedai hanya Gendeng, gadis berpakaian hijau dan si tinggi besar bersama anak buahnya.

Gendeng tidak menapgapi ucapan laki-laki tinggi itu.

Dia hanya mengambil pesanan yang diantarkan oleh bapak kedai. Ketika orang tua itu berlalu dan Gendeng melihat hidangan yang disediakan untuknya, pemuda ini melengak kaget.

Melihat piring tanah yang seharusnya berisi nasi justru berisi belatung hidup. Demikian juga mangkuk ternyata berisi daun cemara dan ilalang. Ketika ia menatap ke arah piring berisi lauk-pauk isinya kepala tikus busuk bercampur cacing.

Sungguh menjijikkan.

Dengan perasaan jengkel dan mata mendelik Gendeng segera memanggil kembali bapak pemilik kedal. Tapi orang yang dipanggil tak kunjung muncul. Bue Bapak kedai. Tindakanmu sangat keterlaluan. Aku minta makanan, mengapa kau beri aku belatung, kepala tikus, cacing dan air cucian beras tujuh hari," seru pemuda itu mencak- mencak tak karuan.

Si gadis diam-diam tersenyum. Dia yakin si Gondrong yang sebagian wajahnya terlindungi rambut panjang telah dipermainkan. Tapi gadis ini juga tak tau siapa yang mem- permainkan pemuda itu. Apakah pemilk kedai atau si tinggi bergolok besar yang sedang bersantap di meja tengah.

Tindakan mempermalukan orang dengan memutar ballkan kenyataan mudah saja dilakukan bagi orang yang menguasal ilmu sihir. Tapi apakah bapak kedai atau si tinggi besar mempunyai ilmu sihir, gadis ini tidak tahu.

Selagi si gadis asyik dengan pikirannya sendiri, salah seorang pengikut si tinggi besar yang matanya cacat sebelah kanan berucap dengan nada mencemooh.

"Ketua... lihatiah monyet gondrong yang agak sinting itu. Diusir tak mau pergi.

Minta makan diberi makan marah-marah. Harusnya Ia berterima kasih pada bapak kedai yang telah bermurah hati menyediakan makanan untuknya."

Si tinggi menyeringal aneh. Dari mulutnya yang tertutup kumis tebal ke luar ucapan.

"Hanya anjing yang pandai berterima kasih pada majikannya. Kalau cuma kunyuk mana kenal rasa terima kasih. Masih bagus cacing dan kepala tikus yang dihidangkan, bagaimana kalau kotoranku? Ha ha ha." Walau jengkel si Gendeng berusaha menahan diri. Setelah mendengar ucapan mata picak yang gamblang, rasanya tak mungkin si tinggi besar yang mempermainkannya. Tindakan ini pasti dilakukan oleh pemilik kedal. Karena setelah menghidangkan pesanan dia pergi terburu-buru. Apakah orang tua itu dengan sengaja melakukannya ataukah atas suruhan orang lain? Diam- diam dia melirik ke arah si gadis.

"Tidak. Bukan dia." gumamnya dengan yakin.

Penasaran, Gendeng melangkah menuju ke arah bagian dapur. Belum sampai ke tempat yang dituju tiba-tiba saja si tinggi besar berteriak.

" Dasar gondrong keparat tak tahu aturan. Beraninya kau lewat di depan Golok Terbang Cambuk Geni tanpa permisi!"

Teriakan itu mengandung tenaga dalam hebat hingga membuat kedai terguncang seperti dilanda gempa besar.

Walau teriakan orang disertai pengerahan tenaga dalam hebat dan membuat dada terasa sesak.

Si gondrong ini malah cengar-cengir tersenyum cengengesan.

Bentakan tak berpengaruh. Sebaliknya dengan sikap acuh dia malah berujar.

"Aku belum tuli, mengapa ki sanak bicara dengan suara sekeras itu? Teriakanmu membuat telingaku jadi gatal. Harusnya kisanak membantu menggaruk telingaku ini. Sayang..." kata Gendeng dengan mata menerawang. Dia kemudian melanjutkan, "Urusanku belum selesai. Dan segala kekonyolan yang terjadi disini bukanlah hal yang penting.

Beri aku jalan karena rajamu mau lewat"

Mendengar ucapan terakhir dari mulut si pemuda, empat kaki tangan si tinggi besar yang mengaku bergelar Golok Terbang Gambuk Geni tak kuasa menahan tawa mereka.

Salah satu diantaranya bahkan menyeletuk,

" Pemuda ingusan mengaku seorang raja. Mungkin dia raja edan alias gila alias Gendeng, ketua.

Ha ha ha."

"Diam!" hardik laki-laki itu. Ke empat laki-laki anak buah Golok Terbang pun terdiam. Si Tinggi kini bangkit berdiri, menghadap pada pemuda di depannya dengan tatap mata mencorong talam dibakar amarah.

"Anak muda. Siapa kau.

Beraninya kau mengaku raja? Memangnya kau ini raja apa?" Si gondrong tersenyum, sambil pencongkan mulutnya dia Misteri Pedang Gila menjawab. Namaku memang RAJA. Begitu orang memanggilku, nama itu pemberian orang yang sangat kuhormati.

Golok Terbang mendengus,

"Seperti yang kuduga, kau memang bukan raja. Kau bahkan hanya pantas menjadi raja kunyuk, gila. Ha ha ha"

"Ya." sahut Gendeng sambil manggut-manggut.

"Jika aku menjadi raja kunyuk. Kau malah lebih pantas menjadi raja anjing. Ha ha ha." ucapan Gendeng karuan saja membuat Golok Terbang menjadi sangat marah. Seketika tawanya terhent, mata mendelik, kumis bergerak-gerak, dua tengan terkepal erat mengeluarkan suara berkeretekan Melihat ini Gendeng malah meledek,

"Wuah ha ha ha.

Ternyata raja anjing mulai marah. Bagaimana ini? Lebih baik aku kabur saja!" kata si Gendeng.

Kemudian dengan gerakan kalang kabut seperti orang yang sangat ketakutan pemuda in berlari menuju keluar.

Melihat ini tentu saja gadis berpakaian hijau jadi tertawa terkekeh. Golok Terbang Cambuk Geni sebenarnya merasa tersinggung merasa dirinya ditertawaken gadis itu. Tapi untuk sementara dia memilih mengesampingkan ejekan yang dilakukan oleh gadis itu. Dia yang merasa telah dihina oleh si gondrong sambil mengejar berteriak ditujukan pada anak buahnya Tangkap! Jangan biarkan gondrong sinting Itu meloloskan diri!" Teriakan disambut dengan tindakan anak buahnya. Sekali orang-orang ini menghentakkan kakinya mereka melesat menyusul si gondrong dengan kecepatan luar Sebentar saja Gendeng tersusul. Empat laki-lak mengepungnya dengan senjata terhunus di tangan.

"Hendak minggat ke mana kau, hah?" hardik Golok Terbang yang telah berdiri tegak tak jauh di depan pemuda itu. Gendeng bersikap acuh. Sedikit pun tidak terlihat rasa takut di wajahnya. Malah dengan seenaknya pemuda itu justru menjawab pertanyaan Golok Terbang.

"Wahai orang berkumis besar bertubuh tinggi besar macam pohon beringin. Kau keliru besar bila menduga aku berniat melarikan diri. Tidakkah kau melihat hamparan kabut ada dimana-mana.

Bahkan ketika aku bernapas dari hidungku keluar uap putih. Disini dingin, aku jadi kepingin kencing. Apakah kau hendak melarang orang yang mau kencing? Jika kau larang apakah aku harus kencing di telingamu? Ha ha hal" Merah wajah Golok Terbang mendengar Ucapan Gendeng. Dengan kemarahan luar biasa dia berteriak,

"Kunyuk hina. Sungguh kau tak memandang muka pada Golok Terbang Cambuk Geni. Tak ada hukuman yang paling setimpal buat manusia ceroboh sepertimu selain kematiant" Bersamaan dengan terlakannya itu Golok Terbang memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyerang.

Melihat empat anak buah Golok Terbang melakukan penyerangan secara serentak. Pemuda ini pura-pura terkesiap unjukkan wajah keget. Serangan ganas menderu menghantam sepuluh bagian tubuh mematikan pada diri Gendeng. Gendeng berteriak seakan ketakutan lalu menghindar dengan gerakan kalang kabut. Anehnya walau gerakan menghindari serangan lawan terlihat tak karuan, namun tak satupun dari serangan ganas dan sangat cepat yang dilakukan empat lawan mengenal asarannya. Bahkan untuk menyentuh pemuda itu kelihatannya sangat sulit sekali.

Empat anak buah Golok Terbang Cambuk Geni yang menyerang pemuda sangat penasaran dan tambah beringas.

Tak ayal lagi kini mereka menyerang dengan pukulan mengandung tenaga dalam sangat tinggi dan berbahaya.

Serangan Itu semakin berbahaya karena ke empat lawan tidak cuma melepaskan tendangan dan pukulan tapi juga mulai menggunakan senjata ditangan masing-masing.

Tusukan pedang dan golok menderu, membabat, membacok bahkan melesat membabat leher si Gendeng.

Hebatnya walau diserang dengan menggunakan kekuatan penuh Gendeng justru dapat menangkis setiap serangan yang datang. Dan ketika empat senjata menderu sebat siap menjadikan tubuhnya putus menjadi kutungan-kutungan mengerikan, pemuda ini segera menggunakan ilmu mengentengi tubuh serta kelincahan gerak yang luar biasa cepatnya.

Wuss Trang ! Traang!

Empat senjata saling beradu dan menimbulkan pijaran api yang membuat empat lawannya keluarkan seruan kaget.

Gendeng mendadak raib. Seiring dengan itu terdengar suara siulan disertai berkelebatnya bayangan putih dan berkesiuran.

Tak lama kemudian dua diantara penyerang merasakan punggung di tepuk dan kening dijitak. Sementara dua lainnya sekonyong-konyong merasakan hawa dingin menyerang tubuh mereka. Suara siulan lenyap berganti dengan gelak tawa. Gendeng kini telah berdiri tak jauh di depan mereka sambil menunjuk ke arah mereka disertai tawa mengekeh.

"Ha ha ha. Orang-orang tak bermalu. Harusnya kalian membunuhku, tapi sekarang mengapa dua diantara kalian bertelanjang diri tak bermalu? Dan dua lainnya tertawalah dan lainnya terus menggaruklah sampai gila." kata Gendeng disertal tawa terpingkal-pingkal. 

Golok Terbang Cambuk Geni terkejut bukan main.

Bahkan matanya mendelik besar seolah hendak melompat dari dalam rongganya ketika mengetahui empat anak buahnya di buat tidak berdaya dengan cara yang sangat memalukan. Satu diantara pengikutnya yang diketuk bagian keningnya kini tertawa-tawa tak karuan kejuntrungannya. Sedangkan yang diusap bagian punggungnya kini terlihat terus menggaruk sekujur tubuh seolah telah diserang penyakit gatal-gatal yang luar biasa. Sementara dua pengikut lainnya terlihat sekujur tubuhnya sudah tidak lagi terlindung pakaian. Pakaian tebal hitam yang melekat di tubuh hancur tercabik-cabik berserakan di atas tanah berlapiskan es seolah semua pakaian mereka disiangi oleh binatang buas. Kedua orang ini beruntung masih menggunakan celana kolor gombrang hingga tak sampai menderita malu besar.

Lenyapnya pakaian yang melindungi tubuh sudah tidak karuan rupa membuat kedua orang menggigil kedinginan.

Tapi mereka juga menjadi sangat marah. Celakanya ketika mereka hendak bergerak menyerang kembali, keduanya bukan cuma tak mampu menggerakkan tubuhnya tapi juga seakan baru sadar bahwa senjata mereka telah berpindah tangan dan bertengger diatas kepala lawan. Mereka tahu bahwa dengan senjata milik mereka pemuda Gondrong itu menyiangi pakaian mereka.

Melihat keadaan yang menimpa pengikutnya si Tinggi besar agaknya mulai sadar bahwa pemuda berpenampilan aneh bertingkah seperti orang gendeng itu ternyata bukan manusia sembarangan.

Empat anak buahnya bukan orang berilmu rendah. DI tanah Dipa mereka bahkan dijuluki Empat Macan Haus Darah, Karena ilmu kesaktian mereka yang tinggi, maka ketika Golok Terbang Cambuk Geni mengarungi laut selatan menuju pulau Es guna mencari senjata pusaka peninggalan penguasa Istana Es, ia membawa serta mereka.

Tak disangka hari ini Empat Macan Haus Darah mendapat malu besar. Dan yang mempermalukan mereka adalah pemuda belia berprilaku kurang waras. Sadar berhadapan dengan lawan berkepandaian luar biasa tinggi, Golok Terbang lalu berkata,

"Pemuda aneh berambut gondrong. Ternyata kau bukan pemuda sembarangan. Tak heran kau berani bertingkah dihadapanku. Kau telah menotok syaraf tawa Macan Bungsu hingga membuatnya terus tertawa. Kau juga menotok syaraf penyakit Macan Sulung itu yang membuatnya terus menggaruk seperti orang kudisan. Kemudian kau bahkan hampir membuat Macan Tengah dan Macan ketiga telanjang. Mereka bukan orang berkepandaian rendah. Ternyata bahwa kau memiliki ilmu kesaktian luar biasa. Katakan padaku siapa dirimu ini?" kata Golok Terbang Cambuk Geni penasaran.

Gendeng tertawa ha ha hi hi. Setelah itu ajung jempol dipergunakan untuk menekan cuping hidung sebelah kanan lalu dia menghembuskan nafas hingga mirip orang yang membuang ingus.

Setelah menggosokkan tangannya yang kanan dengan yang kiri, pemuda ini, membuka mulut, "Ah orang gagah berkumis tebal mirip saringan kopi. Aku ini bukan siapa-siapa. Orang malah

memberiku julukan Gendeng padahal namaku Raja, entah raja apa. Mungkin RAJA GENDENG." ujar si pemuda. Dia lalu menyambung ucapannya.

" Bagiku apalah artinya sebuah nama. Sedangkan mengenai Empat Macan kaki tanganmu itu kukira memang suka bersenda gurau mungkin ketika kecil mereka tak bahagia. Namun terus terang aku ingin bertanya kepadamu apakah benar kau bukan orang pulau Es ini?"

Golok Terbang diam-diam terkejut tak menyangka pemuda itu menaruh curiga kepadanya. Dia berpikir sejenak, Lalu berkata.

"Anak muda, bagaimana kau bisa tahu aku bukan penduduk pulau ini?"

Gendeng tersenyum lalu menggoyangkan kepalanya hingga rambut panjang yang menutupi wajah tersibak. Sekarang Golok Terbang dapat melihat dengan jelas bahwa wajah pemuda itu ternyata sangat tampan.

"Kisanak. Aku sudah menduga kau bukan orang sini kau mungkin datang dari tanah Dipa diseberang laut selatan. Aku tidak perduli kau datang dari mana. Yang jelas orang sepertimu mudah dikenali."

"Apa maksudmu? tanya Golok Terbang terlihat tidak sabar. Gendeng lagi-lagi mengumbar senyum, selanjutnya ia berujar,

"Manusia sepertimu tak mungkin mengarungi lautan menantang ombak jika tidak ada maksud tersembunyi dibalik perjalananmu. Nah, aku ingin bertanya apakah kedatanganmu ke Pulau Es sekedar hendak berpelesiran ataukah ingin mencari sebuah senjata pusaka milik Istana Es yang raib dicuri orang?"

Jika tadi Golok Terbang mampu menguasai diri dan dapat menyembunyikan rasa kejutnya. Kini dia menjadi kaget. Dengan mata mendelik penuh curiga Golok Terbang berkata,

"Wahai! Kau masih begini muda. Bagaimana kau bisa menebak pikiran orang. Terus terang aku datang dari jauh ke pulau Es ini memang ingin mencari Pedang Gila. Sebuah senjata maha sakti yang layak menjadi milikku." ujarnya dengan mata menerawang dan wajah berseri.

"Anak muda walau tingkah lakumu seperti orang Gendeng alias gila, aku yakin otakmu waras.

Sekarang katakan padaku apa yang kau ketahui tentang Pedang Gila?"

"Pedang Gila bukan pusaka sembarangan. Bila jatuh di tangan manusia sesat bisa menimbulkan malapetaka. Aku tak tahu mengenai pedang yang kau maksudkan. Lagi pula seandainya aku tahu dimana pedang itu, mustahil rasanya aku memberitahukannya padamu. Ha ha ha" Golok Terbang merasa dipermainkan. Membuat laki-laki itu sangat murka. Apalagi bila mengingat Empat Macan Haus Darah yang menjadi kaki tangannya telah kena diperdaya. Tak mengherankan bila Golok Terbang tak kuasa menahan kemarahannya.

Dia melangkah satu tindak ke depan. Dengan suara menggerung laksana raungan mahluk kegelapan yang terluka dia berseru,

"Pemuda Gendeng dan gila. Ketahuilah, sejak menjejakan kaki di pulau ini telah banyak nyawa melayang sia-sia ditanganku. Sekarang tampaknya aku juga harus memenggal kepalamu dan mencabut nyawamu! ha. !"

"Tunggu!" kata Gendeng sambil angkat tangannya hingga orang terpaksa mengurungkan serangan.

Menyangka pemuda itu akan memberikan keterangan yang dibutuhkan, laki-laki itu dengan tidak sabar segera ajukan pertanyaan.

"Apa yang ingin kau katakan? Apa kau sudah berubah pikiran ingin memberitahu keberadaan senjata yang kucari?"

Gendeng unjukkan wajah serius, tapi mulutnya tetap terpencong. Setelah menggerutu dia lalu menjawab. Jawaban yang tak lebih dari omelan layaknya orang tua yang memarahi anaknya.

"Kalau merasa tak punya hubungan kerabat dengan Istana Es, bila tak ada pertalian darah. Mengapa mau bersusah payah menyiksa badan menyeberangi laut sejauh ini. Kau telah banyak membunuh, malah mengaku telah memenggal banyak kepala." ujar si pemuda lalu terdiam sejenak menunggu. Tapi setelah itu Golok Terbang cuma berdiri diam tak berkata apa apa, Gendeng pun melanjutkan.

"Tadi kudengar kau juga hendak membunuhku. Kupikir-pikir dari pada membunuh diriku yang sudah tidak berbapak dan beribu, bukankah lebih baik kau membunuh dirimu sendiri?"

Golok Terbang Cambuk Geni melengak kaget, tak menyangka jawaban pemuda itu jauh diluar keinginannya. Dia menjadi geram, kemudian tanpa banyak cakap laki-laki itu melompat ke arah Gendeng lalu kirimkan satu tendangan menggeledek dibarengi jotosan bertenaga dalam tinggi yang dapat membuat remuk batok kepala.

Dua serangan datang disertai suara deru mengerikan mengandung hawa panas luar biasa.

Membuat gumpalan- gumpalan es di depan kedai dan yang menempel di daun pepohonan langsung leleh luruh menjadi cairan dingin.

Gendeng menunggu, dia tak bergeming seolah sudah pasrah menerima tendangan dan pukulan orang.

Sementara itu ketika menyaksikan apa yang dilakukan Golok Terbang dan melihat sikap si gondrong yang terlihat pasrah, gadis di dalam kedai yang siap meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanannya jadi terkesiap.

"Golok Terbang nampaknya ingin menghabisi si gondrong yang berpenampilan seperti orang gendeng itu. Tapi kenapa Gendeng seperti tidak berbuat apa-apa. Apakah aku harus menolong pemuda jelek itu? Jika pemuda itu kutolong Golok Terbang pasti tak dapat menerima tindakanku. Dia pasti akan memusuhiku juga. Padahal aku sedang melakukan sebuah tugas. Tapi.."

Gadis berpakaian serba hijau bermantel hitam tidak lanjutkan ucapannya begitu melihat kejadian diluar dugaan siapapun. Si gondrong tiba-tiba lakukan gerakan aneh. Hanya dalam sekedipan mata dia telah berpindah tempat dan tahu-tahu telah berada di belakang Golok Terbang.

Dua serangan Golok Terbang Cambuk Geni luput.

Jotosan laki-laki itu mengenal tiang penyangga atap kedai. Sedangkan tendangan mautnya cuma menghantam angin.

Tiang penyangga hancur berkeping-keping mengeluarkan suara berderak. Atapnya runtuh nyaris menimpa Golok Terbang. Tapi dia luput karena segera melompat menghindari runtuhnya atap.

Baru saja Golok Terbang jejakan kaki di tempat yang aman, tiba-tiba dia merasakan sambaran angin dingin disampingnya. Secepatnya dia miringkan tubuh sekaligus hantamkan sikunya kesamping dalam gerakan menangkis sekaligus melakukan serangan balik.

Duk!

Golok Terbang merasakan sikunya membentur tubuh lawan. Tapi dia kemudian menjerit. Tangan dikibaskan dan kepala digoyang goyang dengan keras.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Ternyata ketika si Gendeng menyerang dari bagian Samping bersama runtuhnya atap depan kedal, pukulan yang diarahkan kebagian dada ternyata berhasil ditangkis siku lawannya. Tapi karena Gendeng mengerahkan tenaga dalam yang disertai pengerahan ilmu Karang Es, karuan saja benturan itu membuat lawan merasa sikunya seperti dihantam palu besi.

Celakanya lagi, walau benturan itu sempat membuat Gendeng terguncang, namun tangannya yang jahil masih sempat menyentil telinga lawan dan mengemplang kepala Golok Terbang tiga kali

berturut-turut.

Daun telinga menjadi merah dan panas, sedangkan kepala yang dikemplang serasa mau meledak.

Golok Terbang terhuyung sambil menyumpah serapah.

Seumur hidup mengembara di rimba persilatan belum permah dia merasa dipermainkan dan dikerjai orang seperti itu.

Apalagi orang yang mempermainkannya masih sangat muda dan tidak dikenal. Tapi dia juga sadar, pemuda sinting itu jelas miliki tenaga dalam sangat tinggi serta ilmu meringankan tubuh luar biasa dan mempunyai kecepatan gerak selincah rajawali.

Golok Terbang mulai berpikir, dia harus mengerahkan semua kepandaian yang dimilikinya jika tidak ingin konyol dipermainkan pemuda itu. Tidak mengherankan setelah dapat menguasai diri Golok Terbang Cambuk Geni langsung meloloskan golok besarnya yang berwarna putih mengkilap yang selalu tergantung dipunggungnya.

Sambil menggenggam gagang golok erat-erat, dengan mata mendelik besar dan pipi menggembung dia menghardik,

"Pemuda Gendeng? Tak ada waktu bagiku untuk bermain-main denganmu. Menyesal sekali aku harus membunuhmu!"

Gendeng mengusap punggung hidungnya dengan tangan kiri, dengan mulut dimonyongkan ke depan dia menjawab,

"Kau cuma tukang golok dan penggembala yang membawa pecut. Beraninya kau menentang seorang raja, walaupun aku ini cuma Raja Gendeng! Karena tindakanmu yang berani melawanku, sekarang sudah sepantasnya kau mendapat hukuman. Ha ha ha!"

Rasa jengkel, geram marah bercampur aduk menjadi satu membuat Golok Terbang menjadi gelap mata. Tanpa ampun golok diayunkannya ke arah lawan. Cahaya putih berkiblat membelah udara menjelang malam yang tambah dingin. Suara deru mengerikan menyertai gerakan golok yang siap mencabik tubuh Gendeng. Gendeng tahu bahwa lawan mengerahkan tenaga saktinya dalam serangan itu.

Pemuda ini segera mengerahkan tenaga dalamnya ke kaki dan tangan. Lalu sebelum mata golok

itu menyambar putus tubuhnya. Dengan menggunakan jurus Tarian Sang Rajawali warisan gurunya Ki Panaraan Jagad Biru yang juga dikenal dengan julukan Manusia Setengah Dewa, pemuda ini berkelit.

Wus!

Serangan golok luput. Gendeng terlihat melambung tinggi meliuk-liuk begitu rupa seperti seekor rajawali yang menari-nari di udara. Melihat lawan lolos, Golok Terbang menggerung. Mulutnya berkemak-kemik. Mantra sakti selesai dibaca. Golok di tangan bergetar, lalu melesat lepas dari genggaman pemiliknya dan melabrak Gendeng dengan kecepatan dahsyat mengerikan.

Gendeng sejenak terkesima. Sekarang dia tahu mengapa laki-laki itu mempunyai julukan Golok Terbang. Ternyata lawan benar-benar mempunyai golok yang dapat terbang dan menyerang dengan dashyat.

"Senjata licik dalam pengaruh mantra keji. Aku harus menghantam jatuh golok itu kalau tak ingin mati konyol menjadi serpihan daging tak berbentuk." gumam Gendeng dalam hati.

Diam-diam sambil terus menghindari sambaran- sambaran golok yang datang bertubi-tubi.

Gendeng menggabungkan dua tangannya. Tak berselang lama dua tangan si pemuda berubah memutih laksana perak menyala. Tangan itu juga mengepulkan asap dingin berwarna putih menyilaukan.

"Pukulan Topan Es. Heaa...!" teriak sang pendekar menyebut ilmu pukulan yang dilepaskannya. Segulung cahaya berkiblat, menderu bergulung-gulung seperti gunung es yang runtuh ke jurang.

Seketika keadaan di sekitarnya yang dingin menjadi tambah dingin berlipat ganda.

Golok Terbang menjerit begitu menyadari pukulan itu tidak hanya menghantam senjatanya hingga terpental, tapi juga menyambar tubuhnya hingga tergontai.

Tak ada kesempatan untuk mengambil golok yang terpental jauh. Golok Terbang dalam kaget sekaligus marah segera menghantam ke arah cahaya dingin yang melabrak tubuhnya. Pukulan andalan yang dikenal dengan nama Genderang Larva Simeru ini memang berhasil membuyarkan serangan cahaya putih dingin membeku namun Golok Terbang yang belum sempat mengerahkan seluruh kekuatan yang dia miliki ini tak dapat melakukan tindakan lebih jauh.

Selagi tangan kirinya berusaha meraih senjata andalan satunya lagi yang tergantung di pinggang. Dan sebelum Cambuk Geni dapat dipergunakan untuk menyerang.

Sambil terkekeh Gendeng tahu-tahu telah berada didepannya. Dengan kecepatan seperti rajawali yang menyerang musuhnya Gendeng menghantam pusar Golok Terbang

Tuiiing!

Terdengar suara aneh ketika telapak tangan menepuk keras perut dibagian pusarnya. Si tinggi besar menggeram, dia menggerakkan tangan ke depan dengan niat mencengkeram.

Tapi Golok Terbang ini jadi kaget sendiri ketika tangan dan kakinya sudah tak dapat digerakkan.

Pemuda itu telah menotoknya dengan cara yang sangat aneh.

Gendeng tergelak-gelak.

Golok Terbang hanya bisa menyumpah serapah. Tapi segala makiannya kemudian juga ikut lenyap saat dia merasakan perutnya mendadak jadi mulas sakit panas luar blasa. Disamping itu Golok Terbang juga kini jadi ingin buang hajat besar, kentut dan pipis.

Dalam keadaan kaku tertotok mana mungkin dia bisa membuang hajatnya. Dengan tubuh berkeringat menahan segala rasa yang campur aduk Golok Terbang berusaha agar tidak sampai buang hajat dicelana. Tapi yang terjadi dia malah tak kuasa menahan kencingnya. Air kencing terpancar tersendat-sendat membasahi celana bagian depan. Melihat ini Gendeng tambah terkekeh.

"Orang tua jorok dan konyol. Sudah tua bangka masih juga kencing di celana. Ha ha ha."

Merasa dipermalukan dengan cara sangat luar biasa Golok Terbang hanya bisa mendelik, pipi menggembung sedangkan wajah tampak merah karena menahan marah.

"Pemuda gila keparat! Aku akan mengingat kejadian hari ini sampai suatu saat tiba hari pembalasan dariku. Aku akan mempesiangi tubuhmu, mengikis setiap lembar daging di tulang belulangmu!" geram si Golok Terbang penuh dendam dan benci

"Hust!" Gendeng menyela dengan suara lirih. Jemari telunjuk ditempelkan di mulut Golok Terbang. "Jangan berisik. Dan jangan pula berpikir soal pembalasan. Aku masih ada urusan. Aku mau tau

siapa yang telah berbuat jahil memberiku makan cacing dan kepala tikus busuk. Selain itu aku juga ingin berkenalan dan berbincang dengan gadis cantik di dalam kedai.Siapa tahu peruntunganku kali ini bagus. He he he." Selesai dengan ucapannya. Pemuda gondrong ini lalu balikkan langkah kemudian berjalan menuju kedai dengan slkap acuh.

Seperginya pemuda sakti luar biasa berprilaku seperti orang gendeng ini Golok Terbang berusaha membebaskan totokan aneh dipusarnya. Tapi walau dia telah mengerahkan tenaga saktinya, totokan tak bisa di punahkan. Sebaliknya perutnya tambah mulas panas laksana terbakar. Laki-laki ini menatap ke arah anak buahnya.

Salah seorang anak buah yang ditotok dibagian punggung masih menggaruk-garuk tubuhnya hingga berdarah. Sedangkan yang tertotok di bagian syaraf tawanya malah pingsan karena kehabisan nafas akibat tertawa terus. Dua lagi yang pakaiannya dibuat rontok jadi serpihan malah tegak mematung tak bergerak-gerak lagi sambil mendekap bagian bawah perutnya.Jelas kedua orang yang kehilangan pakaian pingsan bahkan mungkin mati karena kedinginan.

Golok Terbang memanggil mereka. Tak satupun yang menjawab.

"Bangsat sialan Mengapa hari ini peruntungan nasibku jadi buruk seperti Ini?" geram si Golok Terbang hampir putus apa. Sementara di dalam kedai Gendeng mendapati suasana yang sunyi.

Ruangan kedai kosong. Bahkan gadis baju hijau tak terihat lagi.

"Aku tahu gadis itu melihatku ketika aku terlibat perkelahian dengan Golok Terbang dan anak buahnya. Sekarang dia pergi kemana? Aku yakin dia bukan gadis biasa .Kemunculannya punya tujuan tertentu"

Dia berpikir sejenak Lalu ingat dengan bapak pemilik kedai.

Gendeng lalu melangkah kebagian dapur. Dia melihat pintu belakang yang terbuka, langkahnya jadi terhenti saat melihat ada sesosok tubuh tergeletak tak jauh di depan tungku perapian.

Sosok tubuh itu dalam keadaan menelungkup. Gendeng membungkuk, julurkan tangan dan membalikkan tubuh orang.

Dia tercengang ketika mengetahui sosok yang terbujur kaku itu adalah bapak pemilik kedai. Dan telah tewas dengan leher berlubang. Anehnya ketika Gendeng melakukan pemeriksaan dia melihat mahluk-mahluk hitam berupa lintah besar menyelimuti semua luka yang terdapat di tubuh orang tua malang itu.

Kening Gendeng berkerut. Dia menyibak rambutnya yang menutupi wajah lalu menghapus muka yang berkeringat.

"Siapa yang membunuhnya? Mengapa dia dibunuh? Apakah mungkin perbuatannya menghidangkan makanan yang tak pantas padaku itu suruhan seseorang? Siapa orang itu dan mengapa pula membunuhnya?" kata Gendeng sambil terus berpikir dan berpikir. Namun tak ada petunjuk apalagi jawaban seperti yang dia inginkan.

Setelah terdiam cukup lama akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan kedai itu dari pintu belakang.

****

Gadis berpakaian hijau sama sekali tak menduga Kehadirannya di kedai makan di tepi rimba kaki bukit Kali Pening itu bakal mendapatkan petunjuk baru. Adapun petunjuk itu berupa munculnya Golok Terbang Cambuk Geni dari tanah seberang laut selatan. Dia pun menjadi tahu bahwa kehadirannya semata-mata ingin mencari jejak pedang pusaka Istana Es yang lenyap dua puluh tahun lalu. Senjata sakti mandraguna Pedang Gila itu adalah raja dari semua senjata pedang di dunia persilatan.

Hilangnya senjata itu bersamaan dengan penyerbuan sekaligus pembantaian yang dilakukan oleh Maha Iblis Dari Timur .Menghilangnya Pedang Gila hingga kini masih menjadi tanda tanya bagi

tokoh-tokoh sakti penghuni pulau Es dan juga tokoh-tokoh dari seberang pulau .Kenyataannya pedang yang hilang itu menjadi incaran banyak orang merupakan sesuatu hal yang terjadi diluar dugaan.

Hal lain yang mengganggu pikiran dara cantik itu adalah kehadiran pemuda gondrong tampan.

Pemuda berpenampilan sederhana bertingkah dan berlagak seperti orang tak waras itu juga ternyata bukan pemuda sembarangan. Dia yang semula dianggap gila, lemah dan tak punya kepandaian

apa-apa. Diluar dugaan ternyata dapat mempecundangi Golok Terbang dan empat kerabatnya. Padahal sepak terjang Golok Terbang selama beberapa hari di pulau Es telah membuat geger penghuni pulau.

"Apa yang kusaksikan dan semua perkembangan terbaru yang kutemukan di luar sana harus segera kukabarkan pada guru Hyang Kelam. Sayang... tadi aku terlalu terburu-buru meninggalkan kedai. Padahal seharusnya aku menyaksikan perkelahian pemuda Gendeng yang mengaku bernama Raja dengan Golok Terbang sampai akhir." gumam sang dara menyesal. Saat itu dia berjalan dibawah kerimbunan pohon yang memutih diselimuti es.

"Golok Terbang yang terus kuikuti selama dua hari ini sebetulnya bukan manusia sembarangan. Dia bahkan telah membunuh beberapa tokoh penting di pulau ini. Diantaranya adalah Suma Barata saksi kunci satu-satunya kerabat istana yang lolos dari penyerbuan maut itu. Tak pernah kusangka orang sehebat Golok Terbang masih kena dipecundangi pemuda aneh berpakain putih itu? Pemuda itu kelihatannya seperti orang gendeng. Aku... aku rasanya..." Dara berpakaian hijau ini tak menyelesaikan ucapan. Wajahnya merona merah, senyum terkembang namun dalam keraguan.

Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin dia tertarik dengan si gondrong yang baru pertama kali dilihatnya. Bahkan dia sempat mengkhawatirkan keselamatan Gendeng ketika terlibat perkelahian dengan Golok Terbang. Ini dia rasakan aneh mengingat tak pernah mengenal pemuda itu dan tak punya hubungan apa-apa.

Si gadis menggelengkan kepala lalu menarik topi mantelnya lebih ke depan hingga wajahnya terlindung dari guyuran air hujan yang turun. Di satu tempat terbuka gadis ini menghentikan langkah. Dia mengangkat wajah, dongakkan kepala menatap langit.

Langit kelam bersaput kegelapan. Tak terlihat bulan apalagi bintang. Namun dia menyadari saat itu malam bertambah larut .Udara tambah dingin menggigit.Walau sudah terbiasa menghadapi cuaca buruk di pulau Es, tak urung gadis ini menggigil. Perjalanan sudah tidak jauh lagi. Sementara dikejauhan lolongan anjing penghuni sudut gelap pulau Es terdengar bersahut-sahutan.

Si gadis yang terbiasa membaca tanda-tanda alam segera tahu bahwa lolongan anjing yang didengarnya adalah pertanda alamat yang tak baik. Tapi dia tak perlu takut karena sejak kecil dia memang tinggal menetap di pulau itu. Dengan menggunakan ilmu lari cepat yang telah mencapai taraf sempurna si gadis berkelebat melewati pedataran es yang sangat luas. Tak berselang lama sampailah gadis ini disebuah jurang.

Dia Julurkan kepala menatap ke dalam jurang dipenuhi bebatuan menonjol. Si gadis bersuit tiga kali. Bukit-bukit es serta jurang tempat gadis ini berdiri mendadak lenyap. Terdengar suara bergemuruh. Kabut dan asap putih dingin luar biasa muncul memenuhi tempat itu.

Tidak lama setelah kepulan asap dan gemuruh lenyap.

Gadis berpakaian serba hijau tahu-tahu telah berada dalam sebuah ruangan luas berpenerangan redup yang sejuk.

Adapun ruangan tempat si gadis sekarang berada adalah ruangan rahasia tersembunyi. Tempat itu menjadi kediaman gurunya selama ratusan tahun. Tempat itu tidak cuma tersembunyi namun juga dilindungi semacam tabir gaib dan sebuah kekuatan sihir hebat.

Setelah menjejakkan kaki dilantai ruangan batu merah, gadis ini segera jatuhkan diri berlutut menghadap ke arah kursi dimana diatas kursi itu tak terlihat siapapun dan tampak kosong.

"Guru... murid datang menghadap. Semoga guru berkenan menemui muridmu ini?" kata si gadis dengan kepala menunduk dan dua tangan dirangkapkan di depan dada.

Sunyi.

Tak terdengar jawaban. Si gadis menunggu sampai kemudian terdengar suara beterbangannya butiran-butiran pasir. Butiran pasir menuju ke arah kursi berkumpul dan berputar-putar diatas kursi itu kemudian butiran-butiran pasir menggumpal membentuk satu sosok tubuh seperti patung.

Si gadis sama sekali tak terkejut, wajahnya tidak mengesankan takut. Mungkin karena dia sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu. Sampai kemudian timbunan pasir di atas kursi merah itu membentuk sosok yang sempurna. Dari langit-langit ruangan yang terbuat dari lapisan batu merah muncul kilatan cahaya menyambar onggokan pasir di kursi.

Kilatan cahaya menyebar ke seluruh penjuru onggokan pasir mulai dari timbunan berupa kepala hingga ke bagian kaki. Cahaya putih kemerahan lenyap. Di atas kursi sekonyong- konyong duduk sesosok tubuh dalam rupa seorang kakek tua renta bertubuh kurus kering macam jerangkong. Kakek itu mengenakan celana sebatas lutut. Di sebelah atas berselempang benda pipih mirip akar. Yang aneh jari tangan maupun jari kaki kakek berwajah hitam menggidikkan ini ditumbuhi kuku panjang bercabang-cabang mirip dengan akar-akaran merambat. Dilihat secara keseluruhan dia tidak tampak sebagaimana seharusnya ujud manusia. Kakek ini penampilannya sebagian mirip mahluk aneh juga mirip dengan pohon hitam dengan akar-akar menjuntai. Muncul di atas kursi kebesaran dengan caranya yang ganjil. Orang tua ini diam sejenak. Hanya matanya yang cekung seakan amblas terbenam dalam rongganya yang besar menatap sekilas pada sang dara.

Si gadis menunduk dan merasakan betapa tatap mata kakek itu serasa menembus dada hingga ke jantung dan melongok rahasia apa yang tersimpan dalam hatinya.

Walau sadar orang diatas kursi adalah guruny ¤, namun sang dara tahu benar siapa guru yang dihadapinya. Orang didepannya adalah guru yang amat kejam, telengas, tak mengenal aturan tata krama dan suka berbuat nista walau terhadap murid sendiri. Si gadis tak akan pernah lupa gurunya yang kejam juga pernah menistakan dua saudara seperguruannya yang lain lalu membunuhnya hanya karena kesalahan yang kecil.

Hanya karena sikap patuh dan selalu waspada yang membuat si gadis masih mendapatkan kepercayaan hingga hari ini.

"Untari... ternyata kau sudah kembali?" berkata si kakek angker. Suaranya yang serak seperti orang tenggelam memecah kesunyian. Si gadis yang ternyata bernama Untari mengangkat kepala, memandang pada gurunya yang tak sedap dipandang mata.

"Guru! Saya memang telah kembali. Murid kembali untuk menyampaikan kabar bahwa telah datang beberapa orang dari luar pulau Es ini. Kedatangan mereka membawa keinginan sama seperti keinginan kita." Kemudian dengan gamblang dia juga menceritakan tentang munculnya seorang tokoh muda bernama Raja dan dijuluki Gendeng. Penjelasan muridnya tentang pemuda gendeng itu tenyata lebih menarik perhatian si kakek yang bernama Hyang Kelam. Daripada tentang kehadiran Golok Terbang Cambuk Geni dan sepak terjangnya.

Malah sejenak kemudian seusai muridnya memberi penjelasan, kakek angker ajukan pertanyaan, "Muridku Untari.Berapa kira-kira usia pemuda gendeng yang kau temui itu?"

Sang murid cepat membungkuk sambil berujar.

"Saya hanya melihatnya di kedai belum sempat menemui belum sempat bicara. Tapi menurut hemat saya umurnya sekitar dua puluh satu atau mungkin lebiih sedikit."

Entah mengapa setelah mendengar jawaban muridnya.

Hyang Kelam tiba-tiba terlihat resah. Seumur hidup dalam didikan Hyang Kelam belum pernah Untari melihat gurunya seresah itu.

Setelah melepas mantel hitamnya, gadis cantik inipun jadi tak dapat menahan diri untuk bertanya,

"Guru. Apakah murid salah berucap hingga membuatmu gelisah seperti ini?" Si kakek gelengkan kepala. Dia ialu tersenyum. Walau tersenyum namun wajahnya tetap terlihat angker.

Hyang Kelam menghela nafas. Tarikan nafasnya mengeluarkan suara deru bergemuruh. Dia lalu berkata,

"Penyelidikanmu tentang raibnya pedang belum mencapai harapan yang kita Inginkan. Dua ratus tahun umurku kini. Aku mengenal dengan jelas siapa saja yang masih bertahan hidup di pulau ini.Misteri jejak pedang belum terungkap. Pedang Itu jatuh ditangan siapa kita tidak tahu. Nanti aku ingin membicarakan tentang kehadiran pemuda aneh yang kau lihat dikedai. Sekarang aku ingin tahu apakah kau pernah mendengar nama Ratu Lintah disebut-sebut orang diluaran sana?" tanya si kakek.

"Nama itu jarang kudengar. Justru nama Kupu Kupu Putih atau yang lebih dikenal dengan julukan Penyihir Racun Utara yang kerap dibicarakan orang, Menurut kabar yang berhasil saya serap kemungkinan besar Penyihir Racun Utara mengetahui hal raibnya Pedang Gila Pusaka istana Es." terang si gadis.

Mendengar Itu si kakek tertawa tergelak-gelak.

Setelah mengumbar gelak tawa melengking hingga membuat langit-langit ruangan seperti mau runtuh, kakek ini hentikan tawa, seraya berujar,

"Penyihir Racun Utara? Perempuan jahanam genit Itu ternyata masih hidup? Tak kusangka umurnya panjang." geram si kakek.

Untari diam terpaku. Dia melihat kemarahan di wajah Hyang Kelam. Gerangan apa yang disembunyikan oleh kakek itu. Apakah menyangkut masa lalu hidupnya. Terdorong rasa Ingin tahu Untari lalu ajukan pertanyaan,

" Guru apakah kau mengenal perempuan satu Itu?"

Hyang Kelam anggukkan kepala. Matanya yang amblas ke dalam tengkoraknya mencorong tajam.

Sambil anggukkan kepala dia menjawab,

"Aku tidak begitu mengenal siapa kunyuk betina bergelar Ratu Lintah.Tapi aku pernah mengenal perempuan keparat berjuluk Penyihir Racun Utara." jelas si jerangkong hitam. Dia lalu melanjutkan ucapan tanpa menjelaskan pernah punya hubungan apa dengan perempuan yang baru disebutnya.

"Muridku.. Ketahuilah yang melakukan penyerbuan ke istana Es dua puluh satu tahun lalu adalah seorang tokoh sesat luar biasa bergelar Maha Iblis Dari Timur. Dia seorang tokoh misterius. Malah sampai hari ini tak seorangpun yang pernah mellhat bagaimana rupanya Iblis itu. Dia yang juga bergelar Maha Sesat Dari Timur tidak menjalin hubungan sahabat dengan satu orang pun tokoh yang tinggal di pulau ini. Aku juga tidak yakin Maha Iblis Dari Timur melakukan penyerangan ke istana Es seorang diri. Pasti ada yang membantu mungkin pasukan yang dibawanya dari neraka. Mengingat prabu Sangga Langit penguasa Istana Es adalah manusia sakti dan mempunyai perajurit tangguh. Mustahil semuanya tewas terbantai dalam satu malam. Maha Iblis Dari Timur jelas menggunakan kekuatan lain. Tapi Siapa?"

"Guru. Guru adalah salah seorang mahluk paling sakti dan ahli nujum pula. Dengan menggunakan kekuatan sihir Pelacak Jejak apakah guru tak dapat mencari tahu siapa yang telah menjadi sekutu Maha iblis Dari Timur yang merontokkan kekuasaan prabu Sangga Langit?"

Si kakek menyeringai.

"Siapa yang membantu dan kekuatan apa yang dipergunakan Maha Iblis Dari Timur saat ini tak penting untuk dibicarakan muridku. Yang jelas pagi harinya ketika aku sampai di Istana Es. Aku tidak menemukan para penyerang. Aku cuma mendapati lautan darah dan mayat-mayat bergelimpangan." ujar si kakek. Kemudian dengan mata menerawang seolah mengenang kejadian puluhan tahun yang silam Hyang Kelam melanjutkan ceritanya,

"Dalam hatimu kurasa kau bertanya mengapa aku muncul ke istana itu? Sebenarnya kedatanganku ke istana Es ingin menanyakan keberadaan seorang nenek aneh dari dasar laut pantai selatan pada gusti prabu. Mengingat aku tahu gusti prabu punya hubungan baik dengan nenek bernama Nini Balang Kudu. Yang kudengar si nenek sering muncul ke istana saat kandungan permaisuri Purnama Sari semakin tua."

"Bukankah prabu Sangga Langit mempunyai dua putera?" tanya Untari. Si kakek mengangguk.

"Ya. Puteranya pangeran Sakagiri berusia enam belas dan pangeran Saka Jagat berusia empat belas waktu itu.Permaisuri mengandung putera ketiga dengan jarak terpaut jauh dengan dua putranya yang lain," terang si kakek

"Mengapa kau ingin menemui nenek aneh Nini Balang Kudu?" Mendapat pertanyaan seperti itu si kakek melengak dan terlihat gelisah.

Sebagai seorang guru walau mempunyai sifat kejam dan berwatak keji, namun dia tak ingin berbohong pada muridnya.

Tapi dia juga tak berniat berterus terang karena apa yang dia rahasiakan menyangkut urusan pribadi. Karena itu Hyang Kelam kemudian berkata,

"Apa pun urusanku dengan nenek penghuni dasar laut selatan itu tak perlu kuceritakan padamu.

Yang jelas seperti pernah kuceritakan padamu ketika aku sampai di Istana Es semua penghuninya telah tewas. Dua pangeran putera Prabu Sangga Langit menemui ajal di taman kaputeraan, Patih Selo Kaliangan tewas di Balairung istana. Prabu Sangga Langit terkapar tak jauh dari singgasana kebesarannya. Sedangkan permaisuri Purnama Sari sekarat dengan luka dileher dan dada.Luka itu menganga. Darah membasahi tempat peraduan. Kecil kemungkinan bagi permaisuri untuk bisa selamat. Aku berusaha untuk menolong, tapi tak bisa. Permaisuri benar-benar tewas.Namun aku meninggalkannya ketika aku mendengar suara gaduh mencurigakan datang dari halaman belakang istana. Aku melakukan pemeriksaan. Ketika aku sampai di halaman belakang, aku mendapati seorang perwira terkapar dengan lukanya yang mengerikan. Luka itu seperti luka gigitan suatu mahluk buas, Dia juga seperti ingin menyampaikan sesuatu.Tapi suranya tidak jelas. Karena tak mungkin ditolong dan kasihan melihat penderitaannya dengan terpaksa aku mempercepat kematiannya..." terang si kakek.

Semua penjelasan itu membuat Untari terdiam. Tapi dia juga ternyata masih penasaran dengan nasib yang dialami oleh keluarga kerajaan. Terdorong rasa ingin tahu, Untari bertanya lagi,

" Guru... aku ingin tahu bagaimana halnya dengan permaisuri. Kalau benar permaisuri tewas tentunya anak dalam kandungannya ikut terbawa mati?"

Si kakek manggut-manggut. Matanya yang cekung menjorok amblas ke dalam rongga menatap Untari dengan sorot yang sulit diduga. Hyang Kelam menghela nafas sambil dongakan kepala lalu berucap,

"Permaisuri saat itu hamil besar. Menurut perkiraan sekitar sembilan bulan kurang. Seorang bayi dalam kandungan bila ibunya tewas maka dia pun ikut mati.Saat itu dari halaman belakang aku kembali ke ruang peraduan permaisuri. Aku terkejut. Permasuri yang kuketahui telah menghembuskan nafasnya ternyata raib. Aku yakin ada seseorang yang datang lalu membawanya pergi. Penasaran aku melakukan pengejaran. Permaisuri tak kutemukan. Aku tak tahu hendak diapakan permaisuri yang telah meninggal. Aku juga tak tahu siapa yang membawanya pergi."

"Kemudian apa yang terjadi? Apakah guru bertemu dengan orang-orang yang melakukan penyerbuan ke istana Es?" tanya Untari.

Si kakek menggeleng.

"Aku yakin yang menyerbu istana Es kemungkinan satu atau dua orang saja. Dua orang ini dibantu oleh kekuatan gaib yang sangat kuat. Aku tak pernah menemukan mereka. Di dinding dekat kursi singgasana raja kutemukan sebuah petunjuk aneh berupa tulisan darah. Tulisan itu menyebutkan nama sang pembantai."

"Apakah saat itu guru tidak segera mencari senjata pusaka milik kerajaan?" tanya sang dara sambil menatap gurunya. Hyang Kelam tersenyum aneh

"Melihat kekejian yang berlangsung saat itu tak terpikirkan olehku untuk mengambil pedang.

Belakangan baru terpikir, jika dapat menguasai pusaka milik kerajaan aku bisa menjadi seorang raja atau setidaknya menjadi penguasa tunggal di dunia persilatan. Aku sendiri telah kembali ke istana Es begitu usiamu menginjak tujuh tahun. Seluruh penjuru istana sampai tempat rahasia telah kuteliti.

Tapi pedang Gila telah raib."

"Apakah mungkin senjata jatuh ke tangan Maha Iblis Dari Timur?" tanya Untari.

"Aku tak tahu. Kalau benar engkau harus mencari tokoh paling sesat satu ini. Tapi mengingat kehebatannya yang luar biasa kemungkinan aku akan ikut ambil bagian dalam pencarian kali ini." tegas si kakek.

Diam-diam Untari terkejut.

Dia berpikir bila gurunya ikut serta maka sang dara merasa tidak akan leluasa bergerak. Dia tak bisa main-main, Untari Juga tak mungkin dapat mencari tahu tentang pemuda Gendeng yang menarik perhatiannya itu.

Tak terduga seakan mengetahui apa yang dipikirkan muridnya si kakek tiba-tiba berujar.

"Aku akan membiarkanmu berjalan sendiri, namun aku akan mengawasimu. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." terang si kakek dengan mimik aneh menyembunyikan muslihat. Untari menganggukkan kepala, namun dia tidak memberikan tanggapan aps-apa. Melihat itu Hyang Kelam melanjutkan,

"Aku harus menjaga, walau tak harus bersamamu." Si kakek terdiam lagi. Kini dia teringat dengan pemuda aneh yang diceritakan muridnya. Untari telah mengatakan pemuda itu usianya sekitar dua puluh satu tahun.

Mengingat kejadian yang menimpa Istana Es dan permaisuri Purnama Sari yang tewas terbunuh pada saat mengandung.

kakek ini jadi khawatir. Seandainya bayi yang dikandung permaisuri saat itu berhasil diselamatkan oleh seseorang tentu usianya kini sekitar dua puluh satu tahun. Si kakek menjadi resah. Keresahan yang dapat dirasakan oleh muridnya.

Untari pun lalu berujar,

"Guru kalau memang ingin mengawasi saya. Murid tidak berkeberatan. Adapun sikap diam saya jangan guru salah artikan."

Hyang Kelam menggeleng.

Disertai senyum buruk dia menjawab,

"Bukan itu muridku. Saat ini aku teringat dengan pemuda gendeng yang kau lihat dikedai. Aku ingin kepastian apakah pemuda itu berkata tentang asal usulnya?"

Untari terdiam, matanya berbinar dan terlihat lebih bersemangat. Melihat ini diam-diam Hyang Kelam berujar dalam hati.

" Untari, dunia luar rupanya telah merubah cara pandangmu terhadap laki-laki. Agaknya kau tertarik pada lawan jenis. Tapi kau harus ingat jiwa dan ragamu hanya pantas kau persembahkan padaku. Kau tak boleh jatuh cinta pada laki-laki manapun, jika aturanku kau langgar. Maka hidupmu kelak akan menuai malapetaka." Untari memang tak tau apa yang gurunya katakan dalam hatinya, tapi kemudian dia menjawab pertanyaan sang guru.

"Pemuda Gendeng itu tak menyebut asal usulnya.Namun dia mengatakan namanya Raja. Cuma Raja, tidak ada nama lain dibelakang nama itu. Mungkin.dia raja Gendeng guru! mengingat tingkah laku dan tabiatnya mirip orang gendeng.

Si kakek manggut-manggut. Dia lalu menggumam,

"Kita nampaknya harus bersikap waspada. Aku khawatir dia adalah orang yang dikandung permaisuri Purmama Sari dua puluh satu tahun yang lalu."

"Akh!"

Untari melengak kaget. Dia menatap gurunya dengan heran.

"Bukankah guru mengatakan permaisuri tewas terbunuh saat sedang mengandung tua," kata Untari tak mengerti. Senyum dingin si kakek semakin sinis Dengan suara parau seperti tercekik dia menukas,

"Jangan pernah lupa. Aku juga sudah mengatakan padamu mayat permaisuri lenyap dari bilik peraduannya. Seseorang telah mengambilnya dan pasti punya rencana untuk menyelamatkan bayi dalam kandungan permaisuri malang itu."

"Apakah bisa?"

"Tentu saja bisa walau kemungkinannya sangat kecil." terang si kakek. Dengan lebih berapi-api Hyang Kelam melanjutkan ucapannya lagi.

"Siapapun pemuda gendeng itu aku tidak perduli. Dia muncul begitu saja dan bila kehadirannya ingin mengambil Pedang Gila maka aku harus menyingkirkannya." tegas si kakek.

Untari menyambuti,

"Walaupun orang itu pewaris istana Es yang sah?!" "Ya." jawab Hyang Kelam ketus.

"Keinginanku untuk mengambil Pedang Gila sudah bulat, Dengan pedang itu aku bisa menjadi penguasa sejagat. Dan kau harus mendukungku," terang si kakek dengan suara meninggi. Melihat gurunya mulai terbakar amarah Untari tak mau mengambil resiko mencari bahaya.

Dia cepat mengangguk disusul ucapan memberi dukungan.

"Sebagai murid yang berbakti saya akan bersamamu guru. Sekarang sudah saatnya bagi saya untuk kembali melanjutkan tugas."

Si kakek merasa lega.

Kini suaranya kembali melunak,

"Kalau kau pergi. Pergilah ke Puncak Terang.Mungkin disana kau akan mendapatkan sesuatu yang lebih berarti. Menurut penglihatanku melalui kekuatan nujum rasanya aku melihat Maha Iblis Dari Timur pada waktu tertentu suka muncul di sana. Aku tak tau apa yang dia lakukan, mungkin ada sesuatu yang disembunyikan di tempat itu."

Penjelasan si kakek membuat Untari kerutkan keningnya. Gadis cantik ini pun cepat berujar, "Guru, bukankah kau mengaku belum pernah melihat atau bertemu muka dengannya.Bagaimana guru bisa mengatakan yang sering muncul di Puncak Terang adalah Maha Iblis Dari Timur?" tanya Untari.

"Hmm, memang aku tak pernah bertemu dengannya. Tapi pada terawangan pertama yang kulakukan di istana Es aku melihat ciri-ciri orang berpenampilan dan berpakaian sama seperti yang kulihat di Puncak Terang. Itu merupakan sebuah bukti bahwa pembantai keluarga istana Es masih berada di pulau Es. Bila dia berada di pulau Es, artinya Pedang Gila juga berada di tangannya."

"Tapi kita masih belum tau apakah senjata itu benar- benar ada padanya atau justru berada di tangan orang lain?" kata Untari.

"Ya. Untuk membuktikannya kita harus menyelidik dan kalau perlu menangkap Maha Iblis Dari Timur," tegas si kakek.

Untari mengangguk setuju. Dia kemudian berpamitan pada gurunya. Setelah menjura hormat Untari memejamkan matanya. Sessat setelah mata terpejam tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Suara gemuruh disertai hembusan angin dingin luar biasa. Untari merasakan tubuhnya terangkat naik lalu..

Sang dara cantik merasa bokongnya kini menyentuh sesuatu yang sangat dingin luar biasa.

Ketika dia membuka matanya kembali tenyata sekarang dia telah berada diatas pedataran es yang luas tak jauh dari bibir dinding tempat pertama kali dia menjejakkan kaki.

Si gadis tahu apa yang harus dia lakukan. Dipedataran es yang luas Untari mempunyai tempat peristirahatan sementara. Sambil menunggu datangnya pagi tanpa banyak pikir dia melesat ke arah tempat peristirahatannya itu.

*****

Di dalam pondok buruk tersembunyi dibalik kerindangan daun pohon yang lebat, kakek berumur sembilan puluh tahun bertubuh kerdil cebol ini sedang asyik menikmati sarapan paginya. Saat itu kakek berkepala botak sudah duduk ditepi perapian sambil menghangatkan badan. Kakek cebol di dunia persilatan khususnya di wilayah pulau Es dikenal dengan julukan Bocah Ontang Anting. Bocah tunggal tak berkerabat dan bersaudara ini memang jarang sekali menampakkan diri di kehidupan ramai. Hampir sepanjang waktu dia lebih suka menyendiri, mengasingkan hidup di tempat pertapaan atau berdiam di dalam pondok buruknya sambil membaca Kitab Sapa Brata. Kitab itu adalah kitab langka yang didalamnya mengajarkan kebenaran dan jalan lurus hingga orang bisa mencapai tempat kekal bernama Omang atau Surga.

Dulu sekitar belasan tahun yang lalu Bocah Ontang Anting memang lebih banyak bergaul dan membaur dengan kehidupan orang banyak. Tetapi sejak Istana Es runtuh kakek botak bertampang layaknya seorang bocah Ini lebih banyak mengasingkan diri di Lembah Tapa Rasa yaitu lembah tempat dimana pondoknya berdiri sekarang ini.

Bocah Ontang Anting sesungguhnya termasuk manusia aneh. Bila lagi banyak pikiran dia bisa diam membisu selama berhari-hari. Tapi bila pikirannya sedang senang dia juga bisa menghabiskan waktu tertawa selama berhari-hari demikian juga ketika sedang dilanda sedih, dia bakal mengucurkan air mata sepanjang hari. Setiap kali menangis, tangisnya tak pernah terdengar. Hanya air matanya saja berderai-derai mengalir laksana curah hujan gerimis. Anehnya air mata itu sengaja dia tampung untuk diminum kembali. Si kakek percaya air mata kesedihan dapat mengingatkan manusia untuk lebih mawas diri hingga tidak lupa daratan dan eling bahwa hidup itu intinya adalah penderitaan dan perjuangan panjang.

Tak banyak yang tahu bahwa sesungguhnya Bocah Ontang Anting ini sebenarnya punya hubungan Istimewa namun rahasia dengan prabu Sangga Langit. Sejak dulu hingga sekarang rahasia hubungan sahabat itu tak pernah diketahui orang lain.

Makanya tidaklah mengherankan ketika mendengar kabar istana Pulau Es diserbu orang dan prabu Sangga Langit bersama seluruh kerabat istana menemui ajal dengan mengenaskan si kakek pun secara diam-diam datang kesana.

Hatinya jadi terguncang begitu mengetahui Istana Es banjir darah. Mayat-mayat bergelimpangan hingga tak satupun penghuninya yang tersisa. Dia tak mungkin menguburkan jenazah sebanyak itu dan juga takut kehadirannya diketahui oleh penyerbu istana itu.

Ketika dia kembali ke Lembah Tapa Rasa, si Bocah Ontang Anting menangis histeris selama empat puluh hari empat puluh malam. Tangisnya itu menggugah para penghuni langit, hingga suatu malam Bocah Ontang Anting menerima sebuah petunjuk berupa wangsit yang memberi gambaran kejadian di masa depan. Juga bagaimana nasib penerus Istana. Atas dasar wangsit yang diterima.Bocah Ontang Anting pun menyimpan rapat-rapat rahasia kepercayaan yang diberikan oleh gusti prabu Sangga Langit ketika mereka bertemu dua hari sebelum Istana Es diserbu.

Kini kakek cebol bertampang bocah telah menyelesaikan sarapannya. Orang tua ini kemudian mematikan tungku perapian lalu duduk menyender pada tiang tengah penyangga pondok sambil mengusap perutnya yang bundar penuh lemak.

SI bocah menguap lebar, dia menggerutu karena rasa kantuk selalu menyerang setiap kali dia usai makan. Dia gelengkan kepala, mulutnya yang cuma dihiasi beberapa helai kumis selayaknya ikan lele bergerak-gerak.

Kemudian dari bibirnya terlontar ucapan bercampur keluhan,

"Menunggu dan terus menunggu. Itu yang dapat aku lakukan setiap hari hingga bertahun-tahun. Yang ditunggu tak kunjung datang. Yang selalu muncul Justru para setan yang tak pernah diharapkan. Aku ini cuma bocah tua yang tolol. Yang namanya mulut tergantung pada suasana hati. Dia tak mau datang ataukah petunjuk wangsit yang kuterima palsu adanya?"

Bocah tua memperbaiki posisi duduknya yang miring.

Akibat terlalu kekenyangan membuat mata orang tua ini tak bisa diajak bermufakat. Dia mengantuk berat.

Perlahan mata yang belo itu terpejam. Tapi belum sempat tidur si kakek diusik mimpi. Tiba-tiba kepalanya yang sulah itu terasa dingin. Seperti ada cairan yang merembes masuk ke dalam pondok menembus atap ijuk berlapis kulit. Si kakek membuka matanya. Dia mengusap kepala yang terkena tetesan cairan. Ketika tangan diusapkan ke kepala Bocah Ontang Anting ini terkesiap terkesima.

Cairan yang menetes membasahi kepala bukanlah air. Cairan itu berwarna merah dan menebar bau amis. Si kakek bangkit. Kepala mendongak keatas, mata menatap ke langit-langit. Dia melihat memang ada cairan merah berupa darah merembas diatapnya.

Bocah Ontang Anting menundukkan kepala, perlahan dia menatap ke arah pintu yang terbuat dari jalinan tulang ikan paus itu. Pintu tertutup rapat, sejak tadi pondokya juga tidak bergoyang.

Seandainya ada orang yang hadir di pondok atau bertengger diatas atap tentu Bocah Ontang Anting dapat merasakan kehadirannya.

Belum sempat kakek ini berpikir banyak. Tiba-tiba terdengar suara menggerung disertai suara aneh bergedebukan seperti sebuah benda jatuh di depan pondoknya.

"Siapa diluar ?!" tanya Bocah Ontang Anting. Tak menunggu jawaban dia menghambur ke arah pintu. Cekatan sekali jemari tangannya yang mungil membuka pintu pondok.

Pintu terbuka, si kakek bertampang layaknya bocah ini menghambur. Dia jejakkan kaki ditanah dan tampak terkejut ketika melihat sosok tubuh kurus kering berupa seorang laki- laki berpakaian kuning cokelat. Laki-laki itu tak lain adalah sahabatnya Sitir Langi atau yang lebih dikenal dengan julukan Elang Mata Juling.

Melihat sahabat satu-satuny terkapar tanpa nyawa, si kakek segera ingat dengan tetesan darah yang merambas di atas pondoknya. Dia menduga siapapun pembunuhnya kemungkinan masih bertengger diatas atap.

Tanpa bicara diam-diam dia alirkan tenaga sakti ke tangan kini. Siap melepaskan pukulan maut.

Lalu si kakek lambungkan tubuhnya keudara. Setelah berjumpalitan di udara beberapa kali dis jejakkan kakinya distas atap pondok.

Jelalatan mata orang tua ini memperhatikan sekelilingnya. Di atas atap tidak terlihat siapa pun, terkecuali genangan darah. Tak ada petunjuk tak terlihat jejak kaki yang ditinggalkan diatas atap yang berlapis es tebal itu.

Si kakek menggeram.

Kemudian dia melesat turun dengan cara menggelundungkan tubuhnya. Setelah berada di bawah dia duduk bersila. Lalu menangis sambil meratap.

"Oalah, ternyata buruk nian nasibmu Elang Mata Juling sahabatku. Apa yang terjadi? Kau habis dari mana saja hingga menemui ajal begini rupa?" sedu kakek layaknya anak kecil yang kehilangan orang tuanya. Tangis si kakek tak berlangsung lama. Sejenak lamanya dia sudah dapat menguasai diri. Setelah menyeka air mata yang menggenang dimatanya dia segera memperhatikan Sitir Langi dari kepala hingga ke kaki. Si kakek tidak puas. Kemudian dia membuka pakaian sebelah atas sahabatnya. Ketika pakaian dibuka dari dada tersingkap Bocah Ontang Anting melihat sebuah luka ber pa lubang menganga. Sementara yang membuat alisnya berkerut disekitar luka terdapat beberapa ekor mahluk menjijikkan benwarna hitam kecoklatan dengan tubuh menggembung kekenyangan.

Mahluk-mahluk itu segera disingkirkan lalu diremasnya hingga hancur. Darah segar muncrat kemana-mana membasahi jemari. Dengan mata nyalang dia menggeram.

"Lintah-lintah jahanam. Mahluk terkutuk tak berbeda seperti majikannya. Dimana kau Ratu Lintah keparat." teriak Bocah Ontang Anting dengan suara lantang.

Sambil menabahkan hati menyabarkan diri, dia memindahkan mayat Elang Mata Juling ke dalam pondoknya.

Setelah mayat sahabatnya dipindahkan ke tempat yang dianggapnya cukup layak lalu kakek ini keluar lagi. Sebelum keluar dia tidak lupa menyambar busur sekaligus anak panah.

Senjata panah adalah pusaka yang menjadi andalannya. Dan panah keramat yang dimiliki Bocah Ontang Anting bukan panah sembarangan melainkan panah sakti bernama Panah Asmara Gama.

Kelebihan panah itu dapat mengejar lawan kemanapun lawan bersembunyi.

Kini si kakek telah berada dihalaman pondoknya. Sambil menenteng busur keramat yang panjang kedodoran dan bumbung anak panah di punggungnya kakek ini kembali layangkan pandang. Tidak terlihat tanda-tanda keberadaan sang pembunuh. Dia diam. Dalam diamnya Bocah Ontang Anting yakin pembunuh itu pastilah masih berada disekitar pondoknya. Mungkin dia bersembunyi sambil mentertawakan kemarahannya.

Si kakek merasa muak untuk berteriak. Dia tak mau menghamburkan nafas dengan percuma

.Sambil menggerutu dengan mulut terpeletat-peletot si cebol mengambil anak panah lalu memasang dibusurnya.

Sengaja yang dia ambil anak panah berwarna hitam. Anak panah warna hitam kegunaannya untuk memburu lawan bersembunyi.

Selain anak panah warna hitam dalam bumbung terdapat anak panah dengan warna putih, merah dan hijau. Anak panah berwarna putih bila sampai mengenal lawan akan membuat wanita jatuh cinta, bila lawannya laki-laki akan berbalik menjadi takluk sedangkan anak panah merah kegunaannya untuk merontokkan kekuatan lawan yang memiliki ilmu kebal sementara anak panah Warna hijau dapat membuat lawan tercerai berai. Busur kini di rentang, anak panah pada busur siap dilepas. Tapi sebelum panah hitam melesat si kakek memberi bisikan pada panahnya.

"Temukan siapapun bangsatnya yang telah membunuh sahabatku Elang Mata Juling. Begitu kau dapatkan seret dia kemari, mengerti!" kata si kakek.

Seolah mempunyai nyawa, telinga, pikiran dan hati. Anak panah ini bergoyang-goyang ke atas dan ke bawah tiga kali berturut-turut .Panah pun kemudian dilepas.

Anak panah menderu, melesat berputar-putar lalu melabrak kemana saja tak tentu arah. Sampai kemudian anak panah lenyap tak terdengar suara apa-apa lagi. Si kekek cebol menunggu. Tak lama kemudian terdengar suara deru lagi. Anak panah hitam datang layaknya seekor burung terbang lalu hinggap di tangan si kakek.

"Mana hasilnya?" tukas sl kakek dengan mulut melongo.

Dia memperhatikan mata anak panah. Bocah Ontang Anting menggerutu ketika melihat diujung mata anak panah tertembus seekor lintah seukuran jari telunjuk.

"Cuma lintah, jadi benar dugaanku bahwa yang membunuh Elang Mata Juling adalah betina terkutuk Ratu Lintah? Heh.... panah pemburu. Mengapa hanya lintahnya yang kau bawa kemari. Mengapa tidak betina itu yang kau tembus bokongnya lalu seret kemari?" damprat si kakek merasa tak puas sambil merengut. Lintah di mata panah dia renggut hingga terlepas.

Si kakek baru hendak memberi perintah lagi. Namun tiba-tiba saja dari balik gundukan batu tinggi meledak tawa mengikik. Si kakek urungkan niat batalkan keinginan.

Anak panah segera disimpan didalam bumbung penyimpanan. Dia memutar tubuh balikkan badan menghadap ke arah tawa yang terdengar.

Suara tawa tak berlangsung lama. Sekejab setelah tawa menggeledek lenyap dari balik batu melesat satu sosok tubuh berkelebat dengan kecepatan luar biasa. Dan tahu-tahu di depan Bocah Ontang Anting berdiri tegak seorang wanita bertubuh agak bungkuk berusia sekitar empat puluh tahun. Wanita Itu berpakaian hitam, rambutnya yang panjang digelung ke atas seperti sarang tawon. Namun sebagaimana keadaan tubuhnya yang lain. Rambutnya itu yang tak kelihatan dipenuhi kawanan lintah hitam dengan ukuran yang besar.

Lintah-lintah itu menggeliat bangkit, menjulur kian kemari begitu mengendus keberadaan si kakek.

Bocah Ontang Anting memandang melotot ke arah perempuan itu. Yang ditatap justru malah tertawa. Puluhan lintah yang bergelayutan di pipi dan sekujur wajah tampak bergoyang goyang, gondal gandil menjijikan. Setelah menatap wajah berlintah yang tak sedap dipandang itu, kakek cebol ajukan pertanyaan.

"Sering mendengar gelar busukmu, tapi aku tak pernah bertemu denganmu. Apa benar bahwa kau adalah orangnya yang bergelar Ratu Lintah?" Mendengar pernyataan kakek berwajah bocah lugu perempuan itu tersenyum sambil menanggapi pertanyaan orang.

"Kalau sudah tahu mengapa bertanya? Kenapa pula kau tidak segera bersujud di depan ratumu ini?

Hik hik hik...!"

Kakek cebol leletkan lidah sekaligus meludah tiga kali.

Dia ingat dengan sahabatnya Elang Mata Juling yang telah menjadi mayat. Ini yang membuatnya tak dapat manahan keinginan untuk mendamprat

"Perempuan busuk. Kau cuma ratu gila kesasar yang tak perlu dihormati. Tapi kalau kau tetap memaksa agar aku bersimpuh dikakimu, harap kau mencium bokongku. Setelah itu ambil tali dan bunuh diri!"

Sepasang mata wanita ini mendelik besar. Dia sangat marah mendengar cibiran si kakek yang dianggapnya tak memandang nama besarnya. Perempuan ini lalu melangkah maju. Sebaliknya Bocah Ontang Anting malah melangkah mundur.

"Kakek sialan bertampang bocah. Nampaknya kau harus mendengar dari mulut manisku sendiri.

Bahwa kedatanganku ini ingin mendapatkan sebuah penjelasan darimu jika kau menolaknya maka nasibmu tak bakal berbeda dengan yang dialami Elang Mata Juling!" ancam Ratu Lintah dingin.

Si kakek tersenyum, dia menatap ke arah bibir Ratu Lintah sekilas kemudian dalam hati dia berujar!

"Uh dasar bibir dower seperti sarang lebah mau jatuh begitu dia bilang mulut manis. Bagaimana kalau bibirnya menawan? Tentu dia akan memuji bibirnya sangat indah." Hati berkata begitu, namun si kakek kemudian berkata,

"Kau mau membunuhku aku tidak perduli. Mengapa tak segera kau lakukan?" Ratu Lintah tersenyum.

Cepat-cepat dia berkata.

"Aku belum mau membunuhmu Bocah Ontang Anting. Setidaknya saat ini belum," ujar perempuan itu dengan seringai bengis.

"Dari mana dia bisa tahu julukanku? Padahal baru kali ini aku bertemu dengannya." membatin si kakek heran. Sementara itu Ratu Lintah segera menyambung ucapannya,

" seperti yang kukatakan aku punya keperluan juga punya hajat denganmu."

"Heh, kau punya hajat atau punya hasrat denganku? Sayang aku tak berminat untuk melayani hajatmu. Kusarankan lebih baik kau membuang hajat di tempat lain saja. Kalnu bisa yang jauhan biar tidak bau..." kata si kakek mengejek. Ratu Lintah tahu si kakek bukan cuma konyol, tap bicaranya juga ngelantur, ngawur penuh canda. Dan Ratu Lintah bukan orang yang suka bercanda, apalagi mengingat sekerang dia mempunyai kepentingan yang tak dapat ditunda.

Ratu Lintah menggerung, wajahnya yang angker digelayuti lintah terlihat semakin bertambah angker. Dia lalu membentak,

"Tua bangka cebol. Aku datang kemari untuk mengajukan satu dua pertanyaan padamu?" "Puah. Kau hendak bertanya apa setelah membunuh Elang Mata Juling?" bentak si kakek tak

kalah sengitnya.

Melihat Bocah Ontang Anting mulai terpancing kemarahannya, Ratu Lintah pun tertawa tergelak-gelak. Dengan suara angker dia menyela,

"Aku terpaksa membunuh sahabatmu karena dia tak mau menunjukkan tempat tinggalmu. Tidak hanya itu. Aku juga membunuh bapak kedai karena dia tak mau menaruh racun dalam makanan seorang pemuda." terang perempuan itu .Bocah Ontang Anting berubah sikap, dia berpura-pura tunjukkan wajah kaget dan tampang ketakutan.

Melihat ini Ratu Lintah merasa ancamannya telah berhasil membuat jerih si kakek itu. Dan dia merasa sekarang telah berada diatas angin.

Kakek cebol tidak menghiraukan ucapan Ratu Lintah yang berniat meracuni seorang pemuda melalui bapak permilik kedai. Ratu Lintah sudah pernah melihat adanya gelagat kemunculan orang-orang tak dikenal yang mencari pedang pusaka kerajaan Es lalu berkata,

"Kakek berwajah bocah, aku tak suka bicara banyak. Terus terang kedatanganku kemari adalah ingin bertanya padamu tentang sesuatu yang sangat penting."

Bocah Ontang Anting keluarkan suara mendengus.

"Kudengar kau mengucapkan kata yang sama berulang kali.Sebelum aku muak melihat tampangmu lekas katakan apa yang ingin kau tanyakan?!" seru si kakek.Ratu Lintah tersenyum, namun dia cepat berkata,

"Yang kudengar. Kau adalah satu-satunya orang luar kerajaan yang menjalin persahabatan rahasia dengan almarhum gusti prabu Sangga Langit. Aku yakin kau pasti bakal menyangkalnya. Kemudian kau akan mengaku bahwa kau tak punya hubungan apa apa dengan prabu."

Bocah Ontang Anting tak menyangka, orang akan ajukan pertanyaan seperti itu. Yang membuatnya kaget dari mana perempuan sarang lintah itu tahu dia menjalin persahabatan diam-diam dengan prabu Sangga Langit.

Walau sempat kaget, Bocah Ontang Anting menyembunyikan rasa kagetnya dengan tertawa. "Ratu Lintah!" ucap si kakek.

"Kau bicara ngaco dipagi hari. Katakanlah yang kau ucapkan itu benar. Lalu niat apa yang tersemburnyi dibalik pertanyaan itu?

"Bagus kau mau bersikap jujur bicara terus terang.Sekarang aku ingin tahu. Sebagai sahabatnya tentu kau mengetahui dimana sang prabu menyimpan senjata itu?"

Si kakek menggeleng. Wajahnya berubah sedih. Dia teringat dengan kematian sang prabu yang mengenaskan. Tapi si kakek berusaha menguasai dirh hingga tidak membuatnya sedih. "Kau bertanya tentang sebuah senjata sakti mandraguna, pusaka ampuh raja dari semua pedang yang pernah ada di dunia? Ratu Lintah.... tahukah kau siapa yang telah melakukan penyerbuan ke Istana Es puluhan tahun yang silam?"

Bocah Ontang Anting balik bertanya. Ratu Lintah terdiam, berpikir sejenak lalu menjawab, "Yang kudengar pelaku penyerbuan itu seorang tokoh misterius.Dia tokoh maha sesat bergelar

Maha Iblis Dari Timur. Selain dia kemungkinan ada tokoh lain dibelakangnya tapi aku tidak tahu," Si kakek mengangguk Dia kemudian berujar,

"Aku bisa saja bersahabat dengan gusti prabu. Tapi sebagai sahabatnya tak mungkin aku mengetahui apa yang prabu rahasiakan. Karena kau sudah tahu siapa yang telah melakukan penyerbuan ke Istana Es. Aku hanya bisa menyarankan sebaiknya kau carilah Maha Iblis Dari Timur.Pedang itu pasti ada bersamanya. Kalau nasib peruntunganmu baik, dan Maha Iblis Dari Timur tertarik padamu. Mungkin dia akan memberikan pedang rampasan itu padamu. Malah tak tertutup kemungkinan Maha Iblis Dari Timur dengan rela memberi pedangnya yang lain. Ha ha ha!"

Ratu Lintah tentu saja tahu apa maksud ucapan Bocah Ontang Anting. Dia juga tahu apa arti pedang yang lain seperti yang dimaksud si kakek.

Perempuan ini pun kertakkan rahangnya. Marah karena merasa di permainkan membuat dia membentak,

"Orang tua bermulut cabul. Pandai sekali kau menipu dan mempermainkan kata. Aku yakin kau mengetahui sesuatu termasuk juga tentang rahasia dimana pedang itu. Lekas katakan padaku sebelum kesabaranku lenyap?!"

Hardikan Ratu Lintah sama sekali tidak mempengaruhi si kakek. Malah sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi beberapa lembar rambut si kakek menjawab,

"Sebelum diserang prabu Sangga Langit tak pernah cerita tentang senjata pusaka, dia juga tak menitipkannya padaku. Sekarang apakah kau sudah puas?"

Ratu Lintah diam gelisah. Matanya menatap tajam pada si kakek. Seolah mata itu berusaha mencari kebenaran dibalik pengakuan Bocah Ontang Anting. Tapi dia merasa tidak puas.

Dia merasa si kakek tidak menceritakan semua yang dia ketahui. Ada yang masih dirahasiakan oleh Bocah Ontang Anting. Inilah yang membuat Ratu Lintah tidak segera tinggalkan tempat itu.

Melihat sikap keras kepala Ratu Lintah yang memilih tetap bertahan, kakek cebol ini kemudian berkata,

"Penjelasan telah kuberikan. Sekarang kulihat kau tetap berdiri di sini. Aku menyangka kau tertarik padaku tapi kemudian aku menyadari bahwa sekarang kau pasti mau mengakui perbuatanmu."

"Perbuatan apa?"

"Perbuatanmu membunuh sahabatku Elang Mata Juling?" "Hik hik! Aku lupa menjelaskan padamu bahwa aku telah mematahkan lehernya. Sekarang apa yang hendak kau perbuat? Kau mau menghukumku?"

"Menghukum dirimu? Oh tidak. Hutang nyawa dibayar nyawa. Maka sekarang serahkan nyawa busukmu sebagai ganti nyawa Elang Mata Juling yang telah kau rampas!" teriak si kakek.

Berbarengan dengan teriakannya itu si bocah tiba-tiba lakukan gerakan tak terduga. Tubuh si kakek melambung.

Tangan terjulur ke arah batok kepala Ratu Lintah siap menjebol bagian ubun-ubun dan membongkar isinya. Si nenek yang selalu menganggap remeh kakek kerdil ini sempat dibuat terkesiap. Dia merasakan ada hawa panas mengerikan menyertai sambaran tangan kakek bertampang bocah ini. Selain itu dia juga melihat ada cahaya ungu menyergap bagian tubuhnya dari dada hingga keujung kepala. Sadar lawan memiliki ilmu kesaktian tidak rendah, Ratu Lintah melompat mundur sambil dorongkan kedua tangan menangkis serangan kilat lawannya.

Dua tangan bergerak dari arah berlawanan dan berusaha saling mendahului. Benturan keras tak dapat dihindari..

Plak Des! "Wuah. "

Benturan itu membuat Ratu Lintah terhuyung dengan tubuh bergetar. Sementara lengannya yang beradu keras dengan jemari tangan lawan terasa sakit, panas seperti dibakar.

Sesaat setelah benturan keras, Bocah Ontang Anting jungkir balik di udara tak karuan rupa. Jari-jarinya sakit mendenyut seolah bertanggalan. Tapi rasa sakit segera lenyap begitu si kakek alirkan tenaga sakti kebagian tangan.

Dia juga membagi kekuatan ke arah kedua kaki. Hanya sekali si kakek menjejak tanah, sesudah itu tubuh kerdilnya melambung lagi. Sepasang tangan dan kedua kaki kiri pancarkan sinar kuning bergermelap menyilaukan pertanda Bocah Ontang Anting telah mengerahkan ilmu ajian andalan yang dikenal dengan nama Rembulan Jatuh Bintang Berguguran.

Ini adalah salah satu ilmu andalan yang dimiliki oleh si kakek cebol. Ratu Lintah kini menyadari kakek berwajah seperti bocah itu ternyata bukan orang sembarangan. Dibalik tampangnya yang kekanakan dia memiliki berbagai ilmu sakti yang tak terduga. Ratu Lintah menggerung sekaligus melompat kesamping ketika melihat sepasang tangan si kakek terjulur memanjang siap membetot lepas kepala sang ratu. Sebaliknya dua kaki menyambar bersamaan meluncur deras kebagian perut dan rusuknya, Dengan menggunakan jurus Lintah Mengintai Dibalik Air, sang ratu menghindari dua serangan yang dilakukan si kakek. Tubuh disentakkan ke belakang kaki tetap terpacak di tanah. Aneh luar biasa. Tubuh Ratu Lintah tiba-tiba terjulur panjang seperti lintah yang berenang, mulur sedemikian rupa mengikuti gerakan kepala dan kedua bahunya.

"Weleh-weleh. Bagaimana mungkin betina jelek ini bisa mengulur tubuh hingga sepanjang itu?" pikir Si kakek ketika pukulan dan tendangannya hanya mengenai tempat kosong.

Ledakan berdentum mengguncang halaman pondok Bocah Ontang Anting. Pijaran api dan gumpalan es bertabur di udara. Si kakek terus memburu, kali ini yang diincarnya adalah bagian kaki Ratu Lintah yang terpacak di tanah.

Hawa panas menggebubu, segulung cahaya kuning melesat laksana kilat menyambar, bergerak demikian cepat menghantam kaki Ratu Lintah. Sang Ratu keluarkan suara raungan aneh. Seolah benang karet yang ditarik keras kemudian dilepaskan lagi. Sekonyong-konyong tubuh yang menjulur panjang mengkeret, memendek dengan daya pantul sedemikian rupa.

Sebelum tendangan orang bersarang dikakinya, kepala Ratu Lintah menghantam tubuh Bocah Ontang Anting dengan satu gerakan seperti kerbau menyeruduk.

Des!

Bocah Ontang Anting memang sempat terpental. Namun sebelum terjatuh, tendangannya yang luput mengenai kaki menghantam dada Ratu Lintah. Perempuan Itu menjerit, suaranya seperti tercekik. Tubuh terhuyung, dada terasa panas seperti terbakar. Ratusan lintah besar yang bergelayutan di dadanya rontok bertanggalan. Sebagian malah menemui ajal dalam keadaan hangus terpanggang. Di depan sana sejauh lima tombak kakek cebol berusaha bangkit sambil dekap perutnya yang seperti hancur. Terhuyung kakek ini tapi mampu berdiri. Dia menggelengkan kepala seperti orang bingung. Kepala si kakek terasa sakit hampir mau meledak. Setelah mengatur nafas dan alirkan hawa murni keseluruh tubuhnya, barulah orang tua itu mendapatkan keseimbangannya kembali. Dia memandang ke depan. Bocah Ontang Anting melihat lawan telah menyilangkan kedua tangan di depan dada. Mulut perempuan itu komat-kamit mengingatkannya pada pantat ayam. Dia tersenyum malah nyaris tak dapat menahan tawa. Namun segala rasa geli serta merta raib berubah menjadi rasa kaget begitu dia menyadari lawan ternyata sedang merapal mantra yang membangkitkan semua mahluk piaran yang menempel disekujur tubuhnya.

Tercengang dengan mata terbelalak, Bocah Ontang Anting melihat sebagian besar lintah itu

terutama yang bergelung memenuhi kepala Ratu Lintah tegak berdiri. Tubuh mahluk menjijikkan itu sontak menjadi kaku. Si kakek melangkah mundur. Saat itu lintah-lintah piaraan sang ratu siap menyerang ,rasa jijik mengalahkan perasaan takutnya. Dia memang tak takut pada Ratu Lintah, namun Ia merasa jijik pada mahluk-mahluk yang menjadi piaraannya.

Belum lagi jelas apa yang hendak dilakukan orang. Ratu Lintah seusai merapal mantranya tiba-tiba berseru,

"Bangsat kerdil tak tahu diri. Kau mau menjadi santapan mahluk piaraanku?" teriaknya dingin.

Setelah itu sang Ratu Lintah berteriak ditujukan pada Mahluk piaraannya.

" Para sahabat, santapan telah tersedia kalian bebas menyedot darahnya, masukilah setiap lubang yang terdapat ditubuhnya. Hancurkan tubuhnya dari bagian dalam, setelah kenyang kalian boleh kembali!"

Bocah Ontang Anting terkesima, mukanya yang polos pucat pasi. Dia mendekap mulut dan hidung. Tapi ketika sadar begitu banyak lubang yang lain dalam tubuhnya dia menjadi bingung.

"Mana yang mau kudekap, lubang mana yang paling utama harus kulindungi mengingat banyak lubang ditubuhku!" membatin orang tua itu.

Selagi Bocah Ontang Anting kebingungan seperti itu Ratu Lintah tiba-tiba keluarkan teriakan menggembor. Gaung suaranya membuat bebukitan dan es yang menempel di ranting dan dedaunan pohon berguguran. Di luar dugaan perempuan ini tiba-tiba saja memutar tubuhnya. Tubuh yang berputar disertai getaran hebat itu merontokkan semua lintah di tubuhnya. Celakanya lintah-lintah yang terpental kini seperti curah hujan melesat sebat ke arah Bocah Ontang Anting.

Meremang kuduk kakek ini. Dia nyaris pingsan akibat rasa jijik atas kehadiran mahluk-mahluk itu. Dibalik ketakutannya yang mencapai ubun-ubun, dia tidak mau mati konyol atau menerima nasib celaka diserang mahluk mahluk itu. Dia harus berbuat sesuatu.

Tak punya pilihan lain, sambil menjerit dan berjingkrak tidak karuan si kakek segera memutar kedua tangannya. Putaran tangan membentuk tameng atau perisai yang sangat kokoh.

Terdengar suara menderu seperti gunung runtuh. Si kakek lenyap terbungkus oleh gulungan cahaya putih yang memancar dari kedua tangannya. Putaran tangan mengakibatkan udara yang dingin semakin bertambah dingin luarbiasa. Bocah Ontang Anting ketika itu menggunakan ilmu ajian sakti yang dikenal dengan nama 'Tameng Sakti Dewa Ngantuk.

Walau nama ajian Bocah Ontang Anting terlihat konyol.

Namun di mata Ratu Lintah. Perisai yang dibuat oleh lawan jelas bersumber dari sebuah ilmu sakti yang langka. Belum pernah dia melhat lawan dapat membentengi diri dengan cara sehebat itu.

Melihat perisai benteng diri Bocah Ontang Anting sehebat itu, Ratu Lintah menyadari bahwa makluk-mahluk piaraannya tak bakal sanggup menembus pertahanan orang apalagi mencelakai si kakek.

Dia yang baru jejakkan kakinya diatas tanah sambil menggeram berkata,

"Kakek bertampang bocah lugu hanya bisa dijadikan korban mahluk piaraanku bila kuhancurkan konsentrasinya. Hem...!" Ratu Lintah katubkan mulutnya. Diam diam begitu melihat sebagian lintah tersapu mental oleh sambaran angin yang Bersumber dari tangan si kakek sang ratu kerahkan ilmu sakti yang membuatnya sangat disegani di rimba persilatan.

ilmu sakti yang dimiliki oleh Ratu Lintah tak lain adalah ilmu 'Menyedot Darah Menjemput Nyawa'.

Segera saja perempuan tua itu alirkan tenaga sakti ke bagian tangannya. Tangan itu berubah menghitam, mengepulkan asap tebal menebar bau busuk, Dibalik asap tebal sekonyong-konyong mencuat jemari tangan-tangan hitam panjang. Sepuluh jari tangan menjuntai, terjulur memanjang dan bergerak lurus siap menjebol dada dan perut Bocah Ontang Anting. Hebatnya walau si kakek telah melindungi diri dengan perisai ilmu sakti, namun jemari tangan itu terus bergerak menjebol pertahanan lawan. Terdengar letupan-letupan disertai guncangan hebat pada jemari tangan yang menjulur dan guncangan tubuh kakek itu sendiri.

Bocah Ontang Anting kaget luar biasa begitu melihat jemari tangan yang berubah aneh itu ternyata sanggup menembus perisai yang dibuatnya. Bahkan jari-jari itu kini terus meluncur deras siap menjebol dada dan bagian perutnya.

Tak ingin tubuhnya berlubang menjadi sasaran jemari maut orang. Sambil menghantam Ratu Lintah dengan tangan kiri, si kakek membanting tubuhnya kesamping.

Bret!

Walau gerakan menyelamatkan diri yang dilakukan Bocah Ontang Anting terbilang sangat cepat ternyata kalah cepat dengan gerakan jari tangan orang. Tak urung pakaian dibagian dada robek besar, kulit dibalik pakaian terkelupas luka dan meneteskan darah.Ratu Lintah tertawa mengikik. Dia tarik balik kedua tangannya. Tangan itu berubah memendek kembali.

Sementara sang ratu berseru ditujukan pada mahluk-mahluk piaraannya yang berlesatan di udara

"Pertahanan gila telah dijebol. Sekarang nikmatilah tubuhnya!" teriakan Itu dibarengi dengan gerakan telunjuk yang diarahkan ke tubuh si kakek. Seakan dituntun ratusan lintah kini melesat ke arah si kakek. Orang tua ini menjerit panik, lalu berusaha menggelindingkan tubuhnya menjauh dari mahluk- mahluk Itu.

Gerakan ini agak terlambat. Walau Bocah Ontang Anting mencoba bangkit. Namun datangnya lintah yang menempel secara bersamaan membuatnya tidak berdaya.

Andai saja si kakek tak merasa jijik dan gampang panik melihat lintah, sebenarnya tak mudah bagi Ratu Lintah untuk memperdayainya. Tapi itulah yang terjadi.

Ratusan lintah menyergap si kakek. Menyerang tubuhnya dan mulai menggigit sekaligus menghisap terutama dibagian terluka yang mengeluarkan darah.

Ratu Lintah tertawa terkikik-kikik. Sementara itu Bocah Ontang Anting kalang kabut berusaha mengenyahkan mahluk- mahluk itu. Si kakek juga berteriak-teriak tak berkeputusan.

Beruntunglah, selagi si kakek ditertawakan dan dilanda ketakutan setengah mati, tiba-tiba saja terdengar suara orang yang disusul dengan suara orang berceloteh.

"Dasar tua bangka bodoh, katanya punya ilmu sedalam laut. Baru menghadapi lintah saja sudah kalang kabut seperti melihat hantu jelek telanjang!"

Suara itu lenyap. Tawa Ratu Lintah berubah menjadi pekikan kaget dilanda kesakitan. Satu bayangan putih berkelebat. Melesat berputar-putar di atas tubuh Bocah Ontang Anting seperti liukan-liukan rajawali sakti. Selagi Ratu Lintah menggerung kesakitan sambil memegangi mulutnya yang berdarah. Justru si kakek merasakan ada sesuatu yang mengguyur sekujur tubuhnya. Sesuatu berupa cairan pekat menebar bau aneh, seperti bau tembakau tapi bercampur bau pesing.

Sosok bayangan yang berkelebat diatas tubuh si kakek tertawa-tawa, sementara si kakek keluarkan suara bersin-bersin dan suara seperti orang yang mau muntah.

Sosok yang mengguyurkan cairan aneh dengan bau tak karuan malah tertawa-tawa sambil bersiul diselingi ucapan,

"Ini racun paling mujarab pengusir lintah. Mungkin kau tak pernah mandi hingga lintah suka padamu. Jadi sambil kuhalau lintah Ini kau sekalian mandi. Ha ha ha!"

Bocah Ontang Anting tak tau siapa yang bicara. Namun dia yakin ada orang yang datang menolong. Terbukti dia merasakan mahluk-mahluk yang mengerubutinya bertanggalan satu demi satu dari tubuhnya.

******

Wanita cantik berpakaian hijau kelabu duduk diam tidak bergerak di atas tubuh bundar yang dikelilingi oleh telaga air mendidih. Dua kaki dalam keadaan bersila. Dua mata terpejam, sedangkan rambutnya yang panjang menjulai hingga menyentuh tumitnya.

Duduk diam sambil memegang tongkat hitam dia tak ubahnya seperti patung. Sesekali tongkat keramat yang telah banyak menimbulkan malapetaka ini bergetar.

Merasa tongkat di tangan bergetar wanita cantik berusia tiga puluhan yang dikenal dengan nama Kupu Kupu Putih keluarkan suara mendengus. Lalu diam lagi dan melanjutkan semedinya yang telah berlangsung lama.

Tetapi sama seperti tadi tongkat hitam yang dipergunakan sebagai tumpuan tangan kanan lagi-lagi bergetar.

Malah kali ini getarannya terasa lebih keras. Wanita cantik dan masih gadis Itu merasa terusik. Dia membuka mata. Ketika mata yang terpejam Itu terbuka, terlihat jelas bahwa sepasang mata Kupu Kupu Putih merah menyala seperti darah yang menggelegak, sedangkan di tengah mata terlihat kilauan seperti mata ular paling beracun, Wanita berambut panjang menjela ini lalu mengerjabkan matanya tiga kali. Dan terjadi keanehan mata Itu berubah kemball seperti mata gadis cantik biasa.

Dia kemudian melayangkan pandangannya ke arah pintu gua yang terlindung mantra gaib.

Di depan pintu dua sosok kepala menyembul diatas permukaan lantai. Dua sosok kepala hanya sebatas leher. Sedangkan tubuhnya mulai dari bahu hingga ke kaki terpendam amblas ke dalam tanah. Wajah kedua kepala yang menyembur dilantai satunya berwarna merah, rambut panjang

riap-riapan, sedangkan satunya lagi berwajah hijau. Keduanya saling berhadap-hadapan layaknya dua penjaga yang selalu bersiaga di depan mulut gua.

Si gadis lalu layangkan pandang ke bagian langit-langit ruangan. Disana dalam keadaan posisi terjungkir tegak seorang laki-laki berwajah biru. Laki-laki itu hanya memakai cawat. Kedua kaki menempel pada langit-langit sedangkan kepala yang berambut panjang riap-riapan dalam posisi terbalik.

Keadaan orang di langit-langit ruangan tak ubahnya seperti kelelawar yang tertidur di tempat persembunyiannya.

Sebenarnya ini adalah sebuah pemandangan aneh apalagi mengingat sosok yang cuma mengenakan cawat itu tangannya tidak wajar. Dua tangan Itu seperti capit besar layaknya capit kepiting raksasa. Dalam posisi terjungkir dia itu tidak makan dan tidak minum selama ratusan hari.

Walau keadaan dan penampilan orang di depan mulut goa dan juga yang berada di langit-langit terkesan angker mengerikan, namun bagi si gadis pemandangan seperti itu adalah hal yang biasa. Dia tidak takut pada ketiga laki-laki yang masing-masing berada dalam posisi aneh itu karena mereka tak lain adalah para pengawal yang selama ini dipercaya untuk menjaga keselamatannya.

Puas menatap tiga pengawalnya yang biasa dia sebut 'Anjing penjaga'. Si gadis kemudian alihkan perhatiannya pada tongkat hitam bersimbol kepala ular yang berada di tangan kanannya.

Dengan suara lirih dia berujar pada sang tongkat,

"Wahai tongkat keramat. Tongkat Geger Gaib senjata andalan kegelapan. Kau telah mengusik tapaku, Isyarat yang kau berikan apakah merupakan hadirnya sebuah pertanda adanya sesuatu yang luar biasa?"

Seolah mengerti, sebagai jawaban atas pertanyaan Kupu Kupu Putih, tongkat Geger Gaib kembali bergetar malah kali ini dari bagian kepala tongkat keluar lagi suara desis aneh seperti desis ular.

Seiring dengan itu deretan tengkorak kepala yang bertengger di atas undakan tangga itu diseberang telaga bundar ikut bergetar, bergerak-gerak seolah hidup.

Kemudian dari seluruh penjuru sudut ruangan gua di kaki puncak Terang terdengar suara jerit dan raungan kesakitan dari arwah-arwah terbelenggu yang tewas di tangan Kupu Kupu Putih beberapa tahun lalu.

Kupu Kupu Putih menyeringai. Rambut panjangnya melambai-lambai seperti ditiup angin padahal ruangan tak ada angin yang berhembus.

Hanya dalam waktu yang tidak begitu lama wajah cantik sang dara berubah menghitam dan sangat menakutkan.

Si gadis tertawa tergelak, dan bangkit berdiri. Segala kelemah lembutannya sebagai seorang wanita mendadak raib.

Kini dia tak ubahnya seperti mahluk terkutuk yang paling liar.

Dia kemudian menoleh, perhatiannya kini terarah pada dua kepala yang tubuhnya terpendam di depan pintu gua. Mulut menyeringai, kemudian berseru ditujukan pada mereka.

"Wahai dua anjing penjaga yang terkubur di depan pintu, lekas keluar dari situ dan berkumpul!"

Berkata begitu sang dara segera mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Ujung tongkat kemudian ditunjukkan ke arah kepala Muka Merah dan Muka Hijau. Begitu tongkat disentakkan ke atas dengan gerakan mencongkel, maka si Muka Merah dan Muka Hijau tubuhnya terbetot lepas dari tanah.

Kedua laki-laki yang sesungguhnya memiliki nama Kalebu dan Kalametu ini kemudian merasakan tubuhnya melayang sedemikian rupa, lalu meluncur jatuh di undakan anak tangga tak jauh dari tumpukan tengkorak. Si gadis tertawa mengekeh begitu Kalebu dan Kalametu menghaturkan sembah sambil benturkan kepala di lantai.

Dengan sikap tidak perduli gadis ini dongakkan kepala ke langit-langit ruangan tepat ke arah pengawal ketiga yang agak lebih disayang dan bernama Kajero.

"Anjingku yang manis, apakah kau ingin kuseret dari atas sana sebagaimana dua saudaramu yang lain?" tanya Kupu Kupu Putih.

Sosok berwajah dan bertubuh biru berambut riap-riapan bertangan aneh seperti capit kepiting ini tiba-tiba membuka mata. Lalu dia menggoyangkan kepala.

"Biarkan hamba turun sendiri yang mulia gusti ayu" kata laki-laki itu sekaligus menyebut panggilan kehormatan kepada Kupu Kupu Putih.

Selesai berucap, Kajero laki-laki berkulit dan berwajah biru goyang-goyangkan tubuhnya. Setelah itu....

Wat! Wuut!

Dua kaki yang menempel pada langit-langit ruangan terlepas. Tubuhnya meluncur cepat, namun dia segera mengimbanginya dengan gerakan berjumpalitan. Setelah itu jejakkan kaki tak jauh dari dua saudaranya yang bermuka merah dan bermuka hijau.

Sama seperti Kalebu dan Kalametu, Kajero pun lekas jatuhkan diri bersimpuh diatas lantai, menjura dengan khikmat sambil benturkan keningnya tiga kali.

"Salam dan hormat hamba untuk Yang Mulia Gusti Ayu." Ucap Kajero. Laki-laki yang paling bungsu dari tiga saudara itu kemudian duduk bersila. Dia yang selama ini bertindak sebagai penyambung lidah dua saudaranya langsung memberi laporan,

"Mohon maaf Gusti Ayu. Saya ingin mengatakan tapa brata yang Gusti Ayu lakukan telah genap mencapai seratus hari.Selama itu kami menjaga Gusti siang dan malam. Kami selalu setia mendampingi Gusti. Tapi untuk selanjutnya hamba mohon Gusti Ayu tak memendam dua saudara saya Kalebu dan Kalametu. Saya juga mohon Gusti Ayu tidak menggantung saya di langit-langit ruangan karena bergantung dalam posisi kepala terjungkir ternyata sangat menyiksa."

Si gadis mengusap wajahnya yang menghitam menggidikkan laksana mahluk angker dari neraka. Begitu di usap, maka dia terlihat menjelma kembali ke asalnya yang berupa gadis cantik biasa. Kupu Kupu Putih tersenyum.

"Aku yang berkuasa mengapa kau memberi perintah?" Tanyanya. Suaranya lunak namun Kajero tahu isi hati gadis bengis berwatak angin-anginan ini memang tak dapat diduga.

Tidaklah heran dia segera menjura sekaligus berujar,

"Maafkan saya Gusti Ayu. Saya tidak memberi perintah, saya hanya memohon kemurahan hati Gusti dan minta keringanan."

"Hi hi hi. Siapa yang tidak mengenal kalian? Siapa tidak mengenal Tiga Pembawa Maut dari tanah Malalayu? Kalian manusia setengah binatang yang memiliki Ilmu kesaktian hebat. Jika aku tidak memasung kalian dengan sihir mana mungkin kalian bersedia menjadi anjing penjagaku?" kata si gadis dengan senyum dingin namun mengejek.

Mendengar itu Kalebu, Muka Merah yang paling sulung diantara mereka segera membuka mulut. "Gusti Ayu, kami telah mengaku tahluk pada Gusti Ayu, kami akan membantu Gusti Ayu dengan

darah dan nyawa kami."

"Yang dikatakan saudara saya itu benar Gusti." menimpali Kalametu laki-laki bermuka hijau.

Si gadis manggut-manggut. Dan suara raungan dan jeritan yang terdengar diseluruh penjuru sudut ruangan juga raib.

Kupu Kupu Putih menghela nafas. Lalu sekali kaki digerakkan tubuhnya melayang melewati telaga bundar mendidih yang dikenal dengan nama telaga Pendaman Nyawa.

Kupu Kupu Putih kini duduk anggun di atas batu. Dua kaki disilangkan. Sang Kupu Kupu yang memakai gaun hijau yang terbelah hingga ke pinggul ini terlihat tak perduli saat betisnya yang putih mulus sempat menjadi perhatian tiga bersaudara Tiga Pembawa Maut.

Nampaknya sikap aneh yang ditunjukkan Kupu Kupu Putih memang sesuatu yang disengaja. Kini setelah berada di atas kedudukannya gadis ini dengan tidak sabar segera berujar, "Menjadi penjaga perempuan cantik sepertiku tak ada ruginya. Siapa tahu aku berkenan dan

punya hasrat pada kalian bertiga. Mungkin suatu saat nanti aku akan membuat kalian semua menjadi suamiku. Hi hi. hi."

Kupu Kupu Putih julurkan lidah basahi bibirnya yang kemerahan dengan sikap menantang.

Membuat ketiga bersaudara sakti itu diam-diam cuma bisa menelan ludah dan menahan gejolak liar mereka. Kupu Kupu Putih tertawa dalam hati. Dia kemudian melanjutkan ucapannya yang terputus,

"Kalian menjaga sedangkan aku mencari petunjuk dalam alam gaib jagad raya."

"Gusti Ayu apakah petunjuk itu telah Gusti dapatkan?" bertanya Kajero dengan suara lirih takluk. "Beberapa kesalahan telah dilakukan oleh pendahuluku.Aku tak mungkin memperbaikinya. Aku

sangat menyesalkan mengapa Sobo Guru dulu mau bergabung dengan Maha Iblis Dari Timur untuk menghancurkan Istana Es dan seluruh penghuninya. Karena urusan untuk mendapatkan senjata pusaka istana tak mudah diselesaikan. Sobo Guru sangat mudah diperdaya, beliau gampang diperalat, mudah termakan janji manis mulut iblis yang baru dikenalnya. Senjata itu sampai saat ini tak pernah dimiliki oleh guruku. Maha Iblis Dari Timur justru berhasil melampiaskan dendam kesumat yang sudah berkarat pada penghuni istana Es."

"Maafkan saya yang bodoh ini Gusti Ayu. Apakah ada kemungkinan senjata keramat Pedang Gila diam-diam dikuasai oleh Maha Iblis Dari Timur?" kata Kalametu dengan sikap hati- hati.

Kupu Kupu Putih menatap sekilas pada laki-laki muka hijau tersebut. Kemudian perhatiannya dialihkan ke mulut gua.

Dia berkata,

"Hal itu tak dapat kubuktikan. Saat ini Sobo Guru telah sepuh. Beliau menyerahkan semua persoalan yang belum terselesaikan kepadaku. Ketika penyerbuan ke Istana Es dilakukan aku baru berumur sembilan tahun." terang Kupu Kupu Putih.

"Maafkan saya Gusti Ayu. Perihal dendam apa yang disimpan Maha Iblis Dari Timur pada prabu Sangga Langit kita tak pernah tahu. Dendam itu telah terbalas. Tentu saja dengan bantuan Sobo Guru. Tapi bagaimana kita bisa tahu Maha Iblis Dari Timur datang hanya ingin membalas dendam tanpa berhasrat menguasai Pedang Gila?" ujar Kajero.

"Yang ini memang masih membuatku ragu. Kalau benar Maha Iblis Dari Timur datang ingin membalas dalam, kalau benar pula dia menginginkan pedang, seharusnya Pedang Gila itu telah berada ditangannya. Dia tak perlu lagi muncul di Puncak Terang menemui Sobo Guru. Dan tentunya dia sudah angkat kaki dari Pulau Es dan kembali ke Timur menuju tempat tinggalnya di Istana Kegelapan?"

Mendengar penjelasan Kupu Kupu Putih, Kalebu jadi tak dapat menahan diri sehingga dia bertanya,

"Menurut Gusti Ayu apa arti semua itu?"

"Artinya Pedang Gla memang belum didapatkan Maha Iblis Dari Timur. Guruku juga tak mendapatkan pedang itu.Mungkin inilah yang membuat Maha Iblis Dari Timur gelisah hingga dia belum berkenan meninggalkan pulau Es ini."

"Mungkin dia khawatir, takut sewaktu-waktu pedang jatuh ke tangan orang lain." kata Kalametu menduga-duga.

"Bisa jadi itu benar. Tapi menurut pendapatku Maha Iblis Dari Timur sebenarnya datang tidak cuma mau membalas dendam tetapi juga memang berhasrat memiliki senjata hebat yang merupakan raja dari semua senjata jenis pedang." terang Kupu Kupu Putih.

Sejenak sunyi. Semua orang terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Si gadis termangu, dia kemudian teringat pada petunjuk dalam wangsit gaib jagat raya yang didapat selama tapanya. Gadis ini lalu berkata,  

"Kita kesampingkan dulu soal pedang. Ada hal penting yang perlu kiranya kalian dengar wahai para anjing pengawalku!" Membuat semua mata kini tertuju menatap kepadanya.

Setelah mengumpulkan segenap Ingatan dia melanjutkan..

" Dalam semediku yang seratus hari, aku sama sekali tak melihat petunjuk atau membaca

tanda-tanda keberadaan pedang. Dalam tapa itu aku melihat kemunculan burung rajawali raksasa dan juga seekor naga dari laut selatan. Aku mengartikan petunjuk itu adalah alamat buruk bagiku."

Tiga bersaudara, Kalebu, Kalametu dan Kajero saling pandang tak mengerti. Kupu Kupu Putih menggelengkan kepala, wajahnya muram namun dia segera meneruskan ucapannya

"Disamping melihat kemunculan burung rajawali sakti dan naga besar itu, aku juga melihat seorang pemuda gondrong bertingkah aneh. Sobo Guru pernah mengatakan padaku, bila suatu saat di alam nyata maupun di alam gaib terlihat ada burung rajawali dan seekor naga muncul secara bersamaan, semua itu merupakan pertanda bahwa di dunia ini telah lahir seorang manusia berhati jujur, pembela kebenaran, berjiwa welas asih."

"Satria yang terlahir itu adalah seorang pendekar yang memiliki Ilmu kesaktian hebat setara dengan dewa. Guruku juga mengatakan yang bakal terlahir itu dapat menjadi batu penghalang setiap kejahatan. Dia mempunyai gelar Sang Maha Sakti Dari istana Es"

Mendengar penjelasan Kupu Kupu Putih, Kajero cepat- cepat memotong.

" Gusti Ayu! kemungkinan guru Gusti Ayu mendapat petunjuk yang salah..."

"Mengapa kau bicara seperti itu? Aku tahu siapa guruku?" tegur si gadis sambil unjukkan wajah tidak senang.

Melihat ini Kajero buru-buru menjura sambil memohon ampun.

" Gusti Ayu. Saya sama sekali tidak mengabaikan ilmu sakti serta pengetahuan luar biasa Sobo Guru yang maha luas.Tapi hendaknya kita ingat bukankah Gusti Ayu pernah mengatakan bahwa seluruh penghuni Istana Pulau Es telah tewas tidak bersisa? Gusti Ayu baru saja mengatakan sesuai wangsit yang gusti terima. Mengapa Gusti Ayu mengatakan bahwa di dunia persilatan telah terlahir seorang pendekar sakti bergelar Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es. Sementara kita tahu semua penghuni istana Es telah tewas termasuk dua pangeran pewaris kerajaan."

Kupu Kupu Putih mengangguk membenarkan.

"Ya, termasuk dua pangeran putera raja. Bahkan permaisuri yang saat itu tengah hamil tua juga kena dilukai oleh Maha Iblis Dari Timur. Bahkan untuk lebih memastikan kematiannya Sobo Guru menghantamnya dengan senjata rahasia Kupu Kupu Beracun."

"Kerabat Istana Es memang semuanya binasa, tapi bagaimana bisa muncul seorang pendekar Maha Sakti dari Istana Pulau Es? " kata sang dara ragu.

Semua orang yang ada dalam ruangan gua rahasia di kaki Puncak Terang terdiam. Tiga bersaudara Tiga Pembawa Maut yang masing-masing bergelar Maut Merah, Maut Hijau dan Maut Biru tak berani memberi tanggapan karena takut salah dan mendapat hukuman dari Kupu Kupu Putlh.

Akhirnya setelah berpikir lama si gadis pun berkata,

"Aku tidak bisa memecahkan segala teka-teki yang kuhadapi ini seorang diri. Membicarakannya pada kalian juga percuma karena kalian hanyalah penjaga, anjing penjaga yang sulit diajak berbagi"

Mendengar Kupu Kupu Putih yang terus menghina, dalam hati Kalebu memaki,

"Jahanam, kau memang hebat, tapi tanpa tongkat sihir laknat ditanganmu itu kami bertiga dapat membunuhmu?"

Sang kupu-kupu tahu apa yang ada dalam pikiran dan hati Kalebu. Namun dia berlagak bodoh. Dia kemudian berkata,

"Untuk sementara aku harus mengesampingkan semua wangsit yang kudapat. Aku harus menunggu kabar dari Sobo Guru lebih dahulu. Tetapi bila sampai menjelang tengah hari nanti Sobo Guru tidak mengirimkan kabar, maka aku akan mengutus kalian bertiga untuk mendaki Puncak Terang." Selesai berkata gadis ini lalu menatap sekilas pada tiga orang suruhannya.

Merasa diperhatikan dengan sorot mata menyelidik.

Ketiga bersaudara itu menundukkan kepala. Si gadis tersenyum.

Baru saja dia hendak berlalu tinggalkan ruangan itu, tiba-tiba terdengar suara pekikan keras suara burung yang sangat dikenalnya.

Suara pekikan itu datang dari mulut gua. Kalebu dan Kalametu hendak bangkit, siap berlari menyongsong ke mulut gua itu. Kupu-Kupu Putih mencegah dengan isyarat gerakan tangan.

Kedua orang ini urungkan niat dengan kembali duduk ditempatnya masing-masing.

Kupu Kupu Putih balikkan badan menghadap ke arah mulut gua sambil lambaikan tangannya. Begitu tangan dilambai, di depan gua terdengar suara bergemuruh. Pintu batu bergeser kesamping.

"Mudah-mudahan Jerit Nyawa membawa kabar bagus!" gumamnya menyebut nama burung yang terbang berputar-putar di mulut gua.

Setelah tirai gaib yang menutup pintu gua dibuka, untuk yang kesekian kalinya terdengar suara pekik nyaring. Tak lama kemudian dari luar mulut gua yang terang terlihat melesat satu burung besar berbulu hitam mirip burung gagak namun paruh dan matanya sangat merah seperti darah. Jerit Nyawa sang burung hitam yang baru datang terbang berputar-putar mengelilingi ruangan. Tak lama kemudian hinggap bertengger di atas batu segi tiga yang terdapat di depan Kupu Kupu Putih.

Melihat kehadiran burung itu si gadis jadi gembira. Dia melangkah mendekati sang burung yang sebenarnya merupakan mahluk jejadian yang dapat berganti-ganti rupa dan ujud.

"Kuyakin kau baru turun dari Puncak Terang." kata si gadis yang dijawab oleh sang burung dengan anggukan kepala.

Gadis itu tersenyum, dia melangkah lebih mendekat ke arah burung yang bertengger diatas batu segi tiga. Semakin dekat si gadis dengan sang burung hidungnya mengendus aroma menyengat. Aroma harum khas Kembang Mayat.

"Jerit Nyawa, bagaimana kabar Sobo Guru?" Tanya si gadis sambil belai bulu lebat yang tumbuh dikepala mahluk itu.

Mendengar pertanyaan si gadis, burung mirip gagak berparuh dan bermata merah itu membuat gerakan. Bagian ekor disonggengkan ke atas sedangkan kepala dijungkir ke bawah.

Gerakan ini membuat tiga laki-laki penjaga Kupu Kupu Putih tak kuasa menyembunyikan tawa.

Si gadis palingkan kepala, menatap ke arah ketiganya dengan mata mendelik. Seketika suara gelak tawa lenyap. Ketiga laki-laki itu sama tekab mulutnya.

Kupu Kupu Putih yang mengetahui makna isyarat gerakan Jerit Nyawa itu tertegun dan menggumam sendiri,

"Jadi Sobo Guru belum sembuh dari sakitnya. Aku prihatin atas kejadian ini. Tapi bisakah kita bicara secara terbuka. Rubahlah ujudmu ke ujud yang lain. Bila kau tetap dalam rupa burung sulit bagiku untuk bicara lebih banyak!?"

Jerit Nyawa mengangguk sambil keluarkan pekikan nyaring. Suara pekikan keras itu membuat Kalebu, Kalametu Kajero yang memiliki tingkat kesaktian tinggi dan tenaga dalam luar biasa terjungkal roboh dan pingsan seketika .Kupu Kupu Putih hanya tersenyum. Pekikan maut yang dapat membuat jantung manusia biasa berhenti berdenyut itu adalah hal yang biasa dan sama sekali tidak mengakibatkan pengaruh apa-apa bagi dirinya.

Sang burung terus memekik, tak lama kemudian burung hitam itu berputar sambil kepakkan sayapnya sebanyak tiga kali.

Byar! Byar!

Maka terjadilah keanehan yang luar biasa. Kepakan sayap sang mahluk ini disertai dengan pijaran cahaya hitam kemerahan yang menyilaukan mata. Lalu sosok sang burung lenyap bersamaan dengan lenyapnya cahaya di atas batu segi tiga, kini duduk seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun berkulit dan berambut hitam legam dengan sekujur kulit ditumbuhl bulu-bulu halus. Gadis jelmaan Ini menyeringai, mempertihatkan gigi-giginya yang runcing tajam berklau sambil menatap ke arah Kupu Kupu Putih . Sang kupu-kupu yang mengetahui sejarah riwayat puteri gondoruwo ini ikut tersenyum sambil membelai rambutnya. Jerit Nyawa yang sedang dibelai di manja-manja ini pun tampak menikmati perlakuan penuh kasih yang diberikan Kupu Kupu Putih. Namun semua kemanjaan dari sifatnya yang kekanakan tak berlangsung lama.

Sejurus kemudian dia mengangkat tangannya yang ditumbuhi rambut halus lebat.

Kupu Kupu Putih kembali duduk di tempatnya. Dia tak perlu menunggu lama karena Jerit Nyawa tiba-tiba berkata, "Kedatanganku ke tempatmu ini tidak akan lama, wahai kakak. Aku datang ingin menyampaikan pesan Sobo Guru."

"Aku sudah tidak sabar mendengar kabar apa yang kau bawa," ujar Kupu Kupu Putih. "Sekarang katakan apa yang hendak kau katakan. Aku siap mendengar."

Jerit Nyawa terdiam sejenak sambil menghirup nafas dalam-dalam. Kemudian dia membuka mata berujar,

"Sobo Guru mengatakan Pedang Gila senjata keramat istana Es belum ditemukan hingga hari ini.

Sementara Maha Iblis Dari Timur yang ikut membantu melakukan pencarian terhadap pedang itu kehilangan petunjuk. Engkau diperintahkan untuk meninggalkan tempat pertapaan. Sobo Guru juga dengan tegas memintamu untuk menemukan Rajawali Putih."

Mendengar penjelasan Jerit Nyawa, Kupu Kupu Putih jadi terdiam sambil kerutkan keningnya. "Mencari rajawali putih? Hmm, burung itu pernah kulihat dalam wangsitku. Tidak hanya rajawali

saja tapi aku juga melihat seekor mahluk besar berupa naga berwarna merah di pantai Karang Es." gumam Kupu Kupu Putih

"Jadi kau telah mendapatkan wangsit itu, Sobo Guru akhir-akhir ini menerima petunjuk penting.

Petunjuk tentang keberadaan pedang Gila."

"Lalu apa hubungannya dengan burung rajawali putih dan naga merah?" tanya si gadis tak mengerti.

Jerit Nyawa tersenyum .Lalu dia menjawab,

"Menurut Guru sebagaimana petunjuk yang beliau dapatkan, dimana ada rajawali putih pasti ada Pedang Gila. Rajawali Putih tinggal di bukit karang es tak jauh dari pantai sebelah selatan. Kau bisa membawa serta pengawalmu kesana dan mencari tahu tempat sang rajawali."

Kupu Kupu Putih terlihat begitu lega mendengar semua penjelasan Jerit Nyawa. Tapi ada sesuatu yang menjadi ganjalan di dalam hatinya. Karena itu dia segera berkata,

"Bagaimana dengan Maha Iblis Dari Timur. Aku khawatir dia diam-diam menginginkan Pedang Gila."

"Kau tidak perlu takut. Iblis Dari Timur terikat perjanjian dengan Sobo Guru. Dia tak mungkin berkeinginan menguasai pedang itu."

"Jika tak ingin." ujar sang dara.

"Kenapa Maha Iblis Dari Timur tetap di pulau Es ini. Mengapa dia tak kembali ke tempat tinggainya Istana Kegelapan?"

"Aku tidak tahu, Mungkin dia hanya ingin sekedar membantu sampai pedang didapatkan." "Baiklah, pesan telah kau sampaikan. Aku dan pengawalku segera meninggalkan gua rahasia ini.

Sekarang kau hendak kemana?" bertanya sang dara sambil menatap gadis hitam legam di depannya. "Aku akan kembali ke Puncak Terang." "Bagus. Mengingat Sobo Guru dalam keadaan tidak sehat, kau memang harus menjaganya dari sesuatu yang tidak diinginkan. Sampaikan salam hormatku pada Sobo Guru."

"Katakan padanya begitu urusan selesai aku akan menyambanginya." kata Kupu Kupu Putih berjanji. Jerit Nyawa anggukkan kepala tanda mengerti.

Dia lalu memutar tubuhnya tiga kali. Kemudian bersamaan dengan bergeraknya tubuh,terlihat ada cahaya hitam kemerahan yang memancar. Sosok Jerit Nyawa raib.

Kemudian bersama raibnya cahaya hitam di atas batu segi tiga muncul seekor burung hitam.

Burung mirip gagak berparuh dan bermata merah menyala.

Sang burung kepakan sayapnya. Sekali sayap dikepakkan mahluk itu melesat menembus mulut gua dan lenyap dari pandangan mata.

Setelah sang burung pergi Kupu Kupu Putih segera berkata pada para pengawalnya.

"Kalian sudah ikut mendengar apa yang disampaikan oleh Jerit Nyawa. Sekarang pergilah ke Bukit Karang Es. Aku akan menyusul sesegera mungkin." ujar gadis itu.

Tiga laki-laki pengawal Kupu Kupu Putih yang hanya memakal cawat itu menganggukken kepala. Dengan serentek mereka membungkukkan badan menjura pada majikannya sambil benturkan kepala ke lantai. Begitu kepala mereka menyentuh lantal

Des! Des! Des!

Tiba-tiba saja sosok ketiganya raib. Si gadis tertawa mengikik. Dia sendiri kemudian memutar tongkat sakti ditangannya tiga kali.

Wuus!

Sama seperti tiga pengawalnya, sosok Kupu Kupu Putih juga akhirnya lenyap entah kemana. Gua rahasia tempat tapa sekaligus tempat tinggal murid Sobo Guru berubah menjadi sunyi. Hanya suara deru aneh sesekali menyelingi kesunyian.

******

Kembali pada si kakek cebol Bocah Ontang Anting juga Ratu Lintah. Saat itu sang ratu yang terkekeh mengumbar tawa tiba-tiba merasakan ada sebuah benda menghantam mulutnya.

Serangan benda keras luar biasa itu datang b rsamaan dengan munculnya bayangan putih yang menolong si kakek.Tawa Ratu Lintah seketika lenyap berubah menjadi jerit kesakitan. Sang ratu dekap mulutnya. Begitu tangan yang mendekap mulut dikembangkan .Ratu Lintah terkesima. Dia melihat darah dan giginya tanggal, Perempuan itu menggerung marah, namun suaranya seperti tercekik karena memang ada sesuatu yang mengganjal di dalam rongga mulutnya. Sedikitnya empat gigi depan atas bawah tanggal. Ratu Lintah segera mencabut benda keras yang menyumbat mulutnya. Begitu benda keras panjang dicabut, dia melihat benda yang disambitkan orang hingga amblas memasuki mulutnya adalah sepotong tulang yang masih terbalut sisa-sisa daging membusuk

.Perempuan ini meludah, semburan ludahnya bercampur darah. Rasa perih akibat giginya yang dibuat rontok orang tidak dihiraukannya lagi. Dengan penuh kemarahan perempuan itu memandang mendelik ke depan. Saat itu dia melihat Bocah Ontang Anting sudah terduduk lemas dengan tubuh basah kuyup, sementara tangannya sibuk mencabuti sisa-sisa lintah yang masih menempel ditubuhnya.

Sementara itu tak jauh dari si kakek berdiri tegak seorang pemuda berambut gondrong riap-riapan berpakaian putih tebal berwajah tampan.

Pemuda itu mula-mula celingak-celinguk seperti orang bingung. Kemudian pandangan matanya beralih dan bersitatap dengan mata Ratu Lintah. Si pemuda yang tak lain adalah si Gendeng dan mempunyai gelar Sang Maha Sakti Dari Istana Pulau Es malah tertawa tergelak-gelak melihat mulut Ratu Lintah yang berdarah dan giginya yang tanggal.

Tak menunggu lama begitu tawanya terhenti pemuda ini berkata,

"Walah Ratu Lintah kalau tak salah mendengar itu adalah julukanmu." ucap pemuda itu dengan mulut dipencongkan.

"Aku tak menduga ratu sepertimu sangat doyan makan tulang. Kalau saja aku tahu tentu aku menghadiahimu tulang yang lebih besar. Tapi kau telah melakukan kekeliruan besar. Seharusnya kau menlkmati tulang hadiah dariku dengan perlahan-lahan. Sayangnya kau hendak menelan tulang itu sekaligus. Tentu saja itu membuatmu celaka. Bukan cuma gigimu yang menjadi korban, sebaliknya kau hampir ketulangan karena tergesa-gesa menikmati tulang pemberianku. Sungguh kasihan sekali!"

Merasa dihina sekaligus dipermainkan, Ratu Lintah geram bukan main. Bukan cuma geram.

Kehilangan empat gigi depannya membuat Ratu Lintah ingin segera menghabisi Gendeng.

Dengan tatapan berapi-api dan hati diluapi kemarahan luar biasa .Ratu Lintah tiba-tiba berteriak,

"Kunyuk gila. Siapa dirimu? Berani sekali kau membuat urusan dengan Ratu Lintah?!"

"Ha ha ha. Baru menjadi Ratu Lintah saja sudah sombong, Aku bahkan tidak perduli walau kau ini ratu kesasar dari kuburan." kata si gondrong sambil mengumbar tawa. Dia diam sejenak lalu

cepat-cepat menyambung ucapan yang terputus.

" Eng... anu... apa yang kau tanyakan tadi?", si pemuda pura-pura berusaha mengingat pertanyaan orang. Kening dikerut-kerutkan sedangkan mulut komat kamit tak mau diam.

Setelah itu wajahnya yang polos seperti orang yang tak berdosa berujar,

"Ah aku ingat. Kau bertanya siapa aku ini. Aku... kalau tak salah adalah aku, bukan dirimu bukan pula nenek moyangmu. Aku ini Gendeng, orang-orang pandai memberiku nama Raja. Aku adalah Sang Maha Sakti, aku adalah sisa dari sebuah kehidupan yang mati. Ah.... setelah melihat lintah-lintahmu aku jadi ingat!" ujar Gendeng.

"Kau ingat apa manusia tolol tidak waras?" tanya Ratu Lintah setengah berteriak tidak sabar. Si pemuda tersenyum. Dengan mata menerawang dia berujar.

"Di sebuah kedai di tepi hutan Tapal Batas. Ada orang lapar yang memesan makanan pada bapak kedai. Kemudian monyet betina jahat datang dan menyuruh bapak kedai memberi orang lapar itu dengan makanan yang tidak layak. Lebih parah lagi bapak kedai diminta untuk meracuni orang itu.

Bapak kedai ternyata tak mau patuh pada perintah monyet betina. Nasibnya apes, si monyet betina membunuhnya dengan melubangi dadanya. Si monyet betina tentunya tak dilupakan orang lapar karena dia meninggalkan jejak berupa lintah yang rakus. Wahai Ratu Lintah. Tahukah kau siapa monyet betina yang kumaksudkan?" kata Gendeng sengaja menyindirnya.

Ratu Lintah diam-diam terperanjat. Sekarang dia baru ingat bahwa pemuda gondrong itulah yang dia mau racuni.

Ratu Lintah kini tertawa tergelak-gelak. Sejenak dia melupakan giginya yang dibuat rontok oleh Gendeng.

Sementara itu Bocah Ontang Anting sudah membersihkan lintah ditubuhnya. Dia juga sudah menanggalkan pakaian atasnya yang telah terguyur cairan bau tembakau dan bau pesing.

Sejak tadi si kakek yang disibukkan lintah memang hanya diam namun dia mendengar pembicaraan orang. Kini walau tak mengenal permuda aneh itu dia berkata,

"Anak muda. Bicaramu tidak terus terang. Namun aku menduga kau yang mau diracuni oleh betina itu."

Si pemuda manggut-manggut, lalu menyahuti. "Sudah tahu kenapa masih bicara?"

"Ah, selain Gendeng ternyata kau sombong!" rungut si kakek.

"Aku cuma ingin berterima kasih atas bantuanmu. Kalau kau tak datang mungkin aku sudah pingsan atau mati jantungan karena lintah-lintah itu."

Gendeng tergelak-gelak. "Orang tua cebol. Kau ini agaknya lebih gila dariku. Kau aneh dan keterlaluan. Telah kumandikan kau dengan sari tembakau dan air kencing kuda. Bukannya marah malah berterima kasih. Ha ha ha!"

Walau sudah curiga tapi si kakek tidak menduga. Dia juga tak menyangka pemuda itu mengerjainya. Karuan saja dia mendamprat,

"Benar-benar edan. Kau sangat keterlaluan."

Si kakek gelengkan kepala berulang kali, namun dia sendiri dengan suara yang lebih lunak meneruskan ucapannya.

"Hmm, memang sudah nasib. Tapi tak mengapa kau memandikan aku dengan tembakau campur kencing kuda dari pada kau mandikan aku dengan kencing Ratu Lintah. Aku yakin kencingnya lebih pesing karatan juga mengandung penyakit. Terima kasih! Terima kasih banyak. Ha ha ha...! "

"Bagus! ucapan terima kasihmu kuterima. Walau tubuhmu pendek. Semoga kau panjang umur dan panjang semuanya kek. Ha ha hal" sahut si Gendeng pula diiringi tawa tergelak. Untuk sesaat lamanya suasana ditempat itu dipenuhi gelak tawa. Merasa disindir dan merasa tak dipandang sebelah mata, Ratu Lintah tiba-tiba menggeram. Sambil menggeram dia juga berteriak.

"Manusia keparat. Kullhat kalian bagai dua pasangan yang gila. Kau dan kakek itu ternyata sama edan dan sama tidak warasnya". geram sang ratu.

"Aku tahu, kau menyindirku. Aku yakin monyet betina yang kau maksudkan adalah diriku. Berani sekali kau menghina Ratu Lintah?"

"Ah, kalau kau tidak merasa kunyuk betina kenapa tersinggung? Kalau tak merasa merancuni kenapa marah. Apa salahku hingga kau berbuat keji terhadapku?" tanya Gendeng, kali ini dia menunjukkan wajah serius.

"Salahmu? Kau muncul pada waktu yang tidak tepat.Dan kau kuanggap sebagai ancaman." "Ancaman apa? Aku merasa tidak mengancam siapa- siapa ketika berada di kedai itu ?" jawab si

pemuda polos.

"Kau ini bodoh sekali. Tentu saja dia merasa kecantikannya tersaingi oleh ketampananmu." celetuk si kakek.

"Atau mungkin dia takut kau bakal menjadi saingannya dalam mendapatkan pedang itu." "Pedang apa? Aku sudah mempunyai pedang, walau pedang itu cuma pedang tumpul." jawab

pemuda itu dengan mimik serius.

"Benar-benar bocah gelo. Yang kumaksudkan adalah pedang pusaka Istana Es" terang si kakek.

Walau sudah menduga, namun Gendeng malah tertawa- tawa.

Sebaliknya Ratu Lintah merasa darahnya menggelegak sampai ke ubun-ubun. Hanya satu yang terpikirkan olehnya sampai saat itu. Dia harus membunuh kakek dan pemuda di depannya.

Tidak menunggu lebih lama. Diawali dengan teriakan melengking Ratu Lintah tiba-tiba melakukan gebrakan dengan satu serangan yang sangat dahsyat. Ratu Lintah sengaja menyerang Gendeng karena sebelumnya dia sudah menjajal sejauh mana kehebatan yang dimiliki Bocah Ontang Anting.

Dia sadar kakek cebol tak dapat dipandang sebelah mata, dia tahu Bocah Ontang Anting hanya takut dengan lintahnya.

Sekarang dia menyerang Gendeng. Harapannya pemuda itu dapat dia jatuhkan dalam beberapa jurus saja.

Tidaklah heran ketika melancarkan serangannya Ratu Lintah langsung menggunakan kekuatan penuh, mengerahkan jurus andalan yang disertai pukulan dan tendangan mematikan. Diserang dengan kecepatan luar biasa baik Bocah Ontang Anting maupun Ratu Lintah sendiri merasa yakin Gendeng tak mungkin bisa menghindar. Itulah sebabnya sebagai orang yang merasa ditolong diam-diam si kakek siapkan pukulan untuk membantu.

Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh membuat si kakek berdecak kagum dan Ratu Lintah menjadi terperangah.

Serangan berupa pukulan dan tendangan menggeledek yang dilakukan Ratu Lintah dengan mudah dapat dihindari oleh Gendeng.

Serangan-serangan ganas itu hanya mengenai angin, tendangannya menghantam batang kayu hingga hancur berkeping-keping dikobari api. Ratu Lintah menggerung. Seketika dia balikkan badan. Matanya mendelik memandang tak percaya pada Gendeng. Mulut perempuan itu terkancing rapat sedangkan hatinya berkata,

"Aku tidak boleh gagal, karena biasanya tak ada seorang lawan pun yang bisa tolos dari serangan sakti Menjemput Roh Mematikan Raga. Tak kusangka pemuda berprilaku aneh ini ternyata mempunyai jurus-jurus yang mampu menghindar dari serangan. Agaknya sebuah jurus langkah mirip tarian burung besar. Dia tak boleh mempermalukan aku, aku akan menggempurnya dengan serangan Bala Menggusur Nyawa."

Setelah berkata begitu. Ratu Lintah kembali melakukan gebrakan. Tidak tanggung-tanggung.

Mula-mula dia mengecoh lawan dengan melepaskan lintah-lintahnya.

Melihat Ratu Lintah menggunakan senjata rahasia, pemuda ini tersenyum, namun cepat-cepat katubkan bibir.

Sekejab saja mulutnya menggembung besar seperti balon mau meledak. Begitu puluhan lintah melesat deras menghantam sepuluh titik mematikan di tubuhnya pemuda ini pun meniup.

Tiupan yang dilakukan Gendeng bukan sembarang tiupan.

Tiupan itu berupa ilmu langka yang disertai pengerahan tenaga sakti dikenal dengan nama Mulut Dewa Mengirim Badai.

Akibatnya sungguh luar biasa. Tidak hanya lintah-lintah itu saja yang dibuat rontok hancur menjadi kepingan. Deru angin dahsyat yang menyembur keluar dari mulut Gendeng membuat Bocah Ontang Anting jatuh terjengkang. Sementara Ratu Lintah sendiri merasakan pakaian dan tubuhnya seperti dicab ­k-cabik laksana dihantam topan prahara. Gelungan rambut wanita ini lepas terurai, sanggulnya mencelat menggelinding entah kemana.

Ratu Lintah hampir terpelanting kalau tidak cepat alirkan tenaga sakti ke kaki.

Walau sempat terkejut tak menyangka bakal mendapatkan perlawanan yang luar biasa hebatnya, namun Ratu Lintah yang memiliki pengalaman luas cepat melakukan sesuatu.

Tiba-tiba saja dengan menggunakan ajian sakti yang dikenal dengan nama Ratu Lintah Mengulur Badan, perempuan ini meliukkan tubuhnya. Tubuh, tangan hingga kaki mendadak dapat menjulur panjang. Sedangkan sambil menjulur ke dua kakinya menancap di tanah agar tidak tersapu deru angin yang keluar dari mulut lawan.

Tindakan yang dia lakukan cukup berhasil. Kini tangan dan tubuh yang dapat menjulur memanjang laksana karet itu merangsak ke depan. Dua tangan menghantam pada waktu bersamaan.

Serangan itu sungguh diluar dugaan Gendeng. Segera dia memakai dua tangannya menggunakan jurus Tangan Dewa Menggusur Gunung. Namun hantaman dua tangan terpentang yang dilancarkannya dapat dihindari lawan.

Wuus!

Serangan dua tangan si Gendeng malah menghantam pohon dibelakang Ratu Lintah. Pohon ambruk hancur menjadi kepingan. Sedangkan pukulan lawan menderu mengenai dadanya.

Des! Des!

Gendeng yang telah melindungi diri dengan tenaga sakti pun terjungkal, segera bangkit sambil dekap dada kirinya yang serasa amblas remuk dibagian dalam. Cepat dia alirkan hawa murni ke bagian dada, lalu bangkit tegak dengan tubuh masih menghuyung.Ratu Lintah terkesima melhat lawan seolah tidak terpengaruh oleh pukulan saktinya. Padahal pukulan sakti yang dilancarkannya sanggup membuat hancur benteng cadas sekeras apapun.

"Ha ha ha. Pukulanmu boleh juga Ratu Lintah. Aku hampir mati karena sulit bernafas. Tapi Itu belum apa-apa."

"Apakah kau masih punya yang lebih hebat lagi?"

"Manusia keparat! Terimalah kematianmu!" teriak Ratu Lintah. Sambil berteriak melengking tinggi, perempuan itu lambungkan tubuhnya ke udara. Dia kemudian melakukan gerakan berputar sedemikian cepat. Dengan tubuh mengapung di udara Ratu Lintah melepaskan pukulan bertubi-tubi disertai pengerahan tenaga sakti.

Pijaran-pijaran cahaya mirip bola api raksasa menderu dari atas ke bawah, menyerang Gendeng secara beruntun hingga membuat pemuda itu terpaksa mengerahkan ilmu meringankan tubuh dan kecepatan gerak yang sangat luar biasa.

Kemanapun pemuda ini menghindar serangan dahsyat berupa cahaya bundar berkobar terus mengejarnya. Disana sini terdengar suara ledakan. Gendeng nampak kalang kabut.

Tapi apa yang dialami si Gendeng ternyata tidak berlangsung lama. Sekejab kemudian dia yang diam-diam menghimpun tenaga dan mengalirkannya ke bagian kedua tangan ini segera menekuk kedua kakinya. Dua tangan kemudian dihantamkan ke arah Ratu Lintah yang mengapung diketinggian sambil berteriak keras menyebut nama pukulan sakti yang dilepaskannya,

"Cakra Halilintar!" Tangan didorong, teriakan lenyap. Dari sepuluh jari tangan Gendeng melesat sepuluh kilatan cahaya biru meliuk- liuk seperti kilat menyambar. Kilatan cahaya Itu anehnya mengepung Ratu Lintah dari segala penjuru, kemudian dengan serentak menghantamnya.

Walau tak percaya dengan kenyataan yang dilihatnya tetapi Ratu Lintah masih sanggup menghantam hancur dua dari kilatan cahaya berbentuk aneh seperti cakra itu. Namun dia tak dapat menghindari serangan delapan kilatan cahaya lainnya.

Tak ada pilihan lain, dia terpaksa menjatuhkan tubuhnya ke samping untuk menyelamatkan diri dari kilatan cahaya berhawa panas luar biasa itu.

Wus! Wus! Krelap! Buum!

Walau telah berusaha menyelamatkan diri, ternyata dua kilatan cahaya dari yang delapan itu masih saja menyambar tubuh Ratu Lintah. Tanpa ampun Ratu Lintah menjerit keras.Tubuhnya tersengat kilatan cahaya yang bersumber dari pukulan sakti Cakra Halilintar yang dilancarkan Gendeng dan nampak hangus setelah mengepulkan asap menebarkan bau hangus daging terbakar. Hebatnya Ratu Lintah masih bertahan hidup. Dalam keadaan separuh hidup separuh mati, perempuan ini bangkit. Dia berteriak dan berlaku nekad. Apalagi melihat lawan berdiri tak jauh di depannya, dia segera lakukan lompatan.

Tubuhnya melayang sebat, dua tangan terjulur untuk bergerak mencengkeram. Melihat serangan ganas mematikan itu Bocah Ontang Anting yang sempat dibuat sibuk oleh hantaman dari konde Ratu Lintah yang terlepas jadi terkesiap.

"Ilmu Penjerat Sukma!" desisnya setengah berteriak.

Gendeng pencongkan mulut, namun segera menyadari sekujur tubuhnya seperti kaku terpantek terkena pengaruh sirapan. Dia tak mau celaka. Sambil meracau tak karuan dia menggoyangkan seluruh tubuhnya hingga pengaruh sirapan lawan lenyap. Kemudian dengan sebelah tangannya dia menghantam ke samping

Rat! Rat! Wuss!

Angin putih menggebubu melesat dari telapak tangan Gendeng. Hawa dingin mematikan menderu melanda Ratu Lintah. Sang ratu yang dalam keadaan setengah mati terkesima.

Dia tak sempat memyelamatkan diri. Tak ayal ketika sambaran angin putih yang disertai luapan uap dingin itu mengenai tubuhnya. Ratu Lintah jatuh bergedebukan tanpa sempat menjerit. Dia tewas seketika dengan tubuh kaku mengeras laksana patung. Melihat lawan tewas dengan cara seperti itu Bocah Ontang Anting yang mengenali ilmu sakti yang dilepaskan Gendeng pun berseru kaget?

"ilmu Sakti. Badai Es?! Ilmu langka dan di dunia ini hanya satu saja yang mempunyai ilmu Itu," ujar si kakek. Dia cepat-cepat bangkit lalu berjalan menghampiri Gendeng.

Dua langkah di depan pemuda gondrong itu dia hentikan langkah. Si kakek pandangi pemuda di depannya. Dia heran dan takjub namun juga bertanya-tanya. Siapa gerangan pemuda itu.

"Hanya manusia Separoh Dewa bernama Ki Panaraan.Jagad Biru yang mempunyai ilmu pukulan Badai Es. Hei bocah aneh, punya hubungan apa kau dengan kakek sakti penghuni Goa Mayat Es itu?"

Pemuda yang ditanya tidak menjawab, sebaliknya malah cibirkan mulut. Dia lalu tersenyum-senyum sementara tatapannya tertuju pada kakek mata belo berkepala botak sulah berbadan aneh yang terbengong-bengong di depannya. Setelah itu Gendeng berkata,

"Apa hubunganku dengan orang tua yang kau sebutkan. Dia tentu saja orang yang bersusah payah membesarkan aku."

"Aku mengenalnya, dia gurumu? Aku yakin dia gurumu," ujar Bocah Ontang Anting. Si kakek nampaknya masih kurang puas. Dia menggaruk kepalanya yang botak lalu berkata lagi,

"Tadi aku sempat melihat kau menggunakan jurus Tarian Sang Rajawali, Kau juga menggunakan ilmu pukulan sakti Cakra Halilintar. Mungkin kau juga menguasai ilmu Amukan Badai Laut Selatan atau jurus Senandung Sang Maha Dewa. Setelah kulihat semua ini aku jadi semakin heran bagaimana kau bisa menguasai jurus dari semua pukulan sakti yang kusebutkan. Sedangkan pukulan serta jurus itu sesungguhnya adalah ilmu-ilmu langka yang dimiliki oleh nenek aneh namun sangat sakti yang berdiam di dasar laut Selatan. Punya hubungan apa kau dengan nenek tuli bermuka mayat itu?"

"Walah pertanyaanmu banyak.Sudah kutolong mengapa kau tak menghormati tamu? Apa di pondok bututmu itu kau tak punya air buat minum?" kata si pemuda tanpa menghiraukan pertanyaan si kakek. Sementara dia sendiri unjukkan wajah cemberut.

Bocah Ontang Anting menyeringai mendengar pertanyaan si pemuda. Dia ingat telah ditolong sekaligus dikerjai oleh si Gendeng. Karena itu si kakek menjawab,

"Ah maafkan aku. Hari ini aku sebenarnya sedang berkabung. Seorang sahabatku meninggal dibunuh Ratu Lintah."

"Aku sudah tahu." kata pemuda itu dengan acuh. Dia lalu berjalan menuju ke arah pondok si kakek. Dengan gerakan lambat dia menaiki undakan tangga pondok panggung itu. Tak lama, begitu berada di dalam ruangan pondok pemuda ini langsung duduk menjelepok seenaknya seolah pondok itu adalah tempat tinggalnya sendiri.

Setelah duduk dia melayangkan pandang, menatap kesegenap penjuru ruangan. Dia melihat tungku perapian yang masih menyala. Kemudian perhatiannya ditujukan pada mayat laki-laki kurus berpakaian hitam. Si pemuda tak lupa mayat itu memang pernah dikenalnya. Sebelum meninggal Gendeng sempat melihat orang ini di kedai. Namun dia buru-buru pergi setelah melihat tanda-tanda bakal terjadi keributan besar dikedai. Pemuda itu lalu menoleh, menatap pada si kakek cebol yang telah duduk tak jauh di depan pintu.

"Inikah sahabatmu?" tanya si Gendeng. Kakek itu anggukkan kepala.

"Dia sudah mati." menerangkan si kakek sambil menangis sesunggukkan. "Memang sudah mati. Siapa bilang dia tidur. Mengapa tak segera kau makamkan?" Si kakek bertampang bocah merengut.

"Kau sudah gila? Mana mungkin aku menguburnya karena Ratu Lintah tiba-tiba datang." "Ya sudah. Jangan menangis. Laki-laki pantang menangis tahu?"

Si kakek manggut-manggut. Dia menghentikan tangisnya lalu cepat-cepat hapus sisa air matanya. Tak lama kemudian dia meletakkan busur dan bumbung bambu berisi anak panah. Selanjutnya tanpa berkata dia mengambil sebuah kendi berisi air hangat. Sambil meletakkan kendi di depan pemuda itu dia berkata.

"Ada cangkir tapi pantang kusediakan untuk tamu di saat aku berkabung seperti ini." "Ha ha ha. Kiranya temanmu ini begitu berarti. Siapa namanya?" tanya Gendeng sambil

menggosok-gosokkan tangan yang kanan dengan yang kiri. Tangan itu lalu dikepal. Si kakek memperhatikan diam-diam sambil menjawab pertanyaan orang.

"Dia sahabatku satu-satunya. Namanya Ki Omang Sakukurata." jelas si kakek membuat si Gendeng kerutkan keningnya.

"Nama aneh, mengingatkan aku pada nama orang dari tanah matahari terbit" kata si pemuda. Dia sendiri lalu membuka telapak tangannya yang terkepal. Bocah Ontang Anting belalakkan mata sekaligus keluarkan seruan kaget saat melihat ditelapak tangan si Gendeng entah dari mana datangnya tiba- tiba muncul dua buah cangkir terbuat dari batu putih licin yang indah.

"Hei, bagaimana kau bisa melakukannya? Kau....ah, aku yakin kau menguasai ilmu sihir?" desis si kakek .Gendeng tertawa namun terlihat acuh.

Isi kendi dituangkan ke dalam cangkir diserahkan pada si kakek cebol. Namun kakek itu ragu untuk menerimanya.

"Ambillah dan minum. Ini adalah minuman yang paling baik yang pernah ada di pulau Es ini." Dengan ragu kakek itu mengambil cangkir yang diberikan si Gondrong. Bocah Ontang Anting dekatkan mulut cangkir ke hidungnya. Dia makin tambah berani. Seingatnya tadi dia memberikan kendi berisi air hangat biasa pada pemuda gondrong itu. Lalu bagaimana dengan tiba-tibs saja air

biasa bisa berubah menjadi minuman lezat seperti yang terdapat di Istana Es?

"Kau telah merubah minuman ini? Bagaimana kau melakukannya?" kata si kakek makin tambah heran.

Lagi-lagi si pemuda bersikap acuh, dia menggeleng baru menjawab pertanyaan orang. " Biar gendeng-gendeng begini aku mempunyai selera dan cita rasa yang tinggi. Minuman ini memang dari sananya sudah enak. Mungkin saja kau salah mengambil. Tadinya berniat menyuguhkan air minum yang tidak enak tapi yang terambil malah yang paling enak." ujar Gendeng.

Dengan enteng dia meneguk minuman dalam cangkir itu. Setelah itu dia menyeka mulutnya. "Kau tak mau minum, kau takut aku meracuni minuman itu. Atau kau curiga aku menjadikan

kencing kuda sebagai minuman?" sindir pemuda itu membuat si kakek tersipu malu buru-buru teguk minuman dalam cangkir.

Melihat si kakek meneguk habis minumannya si gondrong pun tersenyum. Sementara Bocah Ontang Anting merasakan setelah meneguk minuman dalam cangkir perut dan dadanya menghangat, jantung berdetak lebih kencang sedangkan aliran darah menjadi lebih lancar. Namun kemudian dia terkejut sendiri. Dua tangan langsung didekapkan ke bawah perut begitu merasakan perubahan luar biasa pada bagian Anunya. Mata si kakek mendelik, lalu membentak Gendeng.

"Hei, minuman apa itu? Kenapa aku jadi begini?"

Gendeng pura-pura unjukkan wajah kaget. Padahal jelas- jelas tanpa dapat dilihat mata Gendeng baru saja mengerjai si kakek dengan mencampurkan ramuan sehat sejati dalam minuman kakek itu. Ramuan Itu tentunya tak dicampur dalam minumannya sendiri.

"Eeh, kau ini kenapa orang tua, Kita sama-sama minum kenapa sekarang kau malah marah-marah? Apa yang terjadi padamu?"

"Kurang ajar!" si kakek mendamprat.

"Kenapa Ituku jadi kaku seperti kayu begini? Padahal." Bocah Ontang Anting tak meneruskan ucapannya. Justru wajahnya bersemu merah.

Sambil tergelak-gelak Gendeng justru yang meneruskan ucapan si kakek

"Padahal sebelumnya pusaka keramatmu mengalami kelumpuhan total seumur-umur bukan. Perkutut tidak bisa berbunyi, sepanjang tahun tidur terus tak pernah terjaga. Sekarang perkutut sudah terjaga, kenapa kau malah marah. Kenapa bukannya berterima kasih. Ha ha ha!"

Si kakek menggeram, sambil menunjuk pada si Gendeng dia berteriak,

"Pemuda kurang ajar, pemuda gendeng.Bukannya cuma gendeng tapi gila keblinger. Belum lama kita bertemu tapi sudah dua kalli kau mengerjaiku." kata si kakek gugup.

Melihat ini tawa si pemuda makin menjadi.

Tapi kemudian dia hentikan tawanya. Dengan mimik bersungguh-sungguh dia berucap,

"Sudahlah kek. Jangan marah-marah terus. Kau pasti mengakui yang kukatakan memang benar." "Benar apa maksudmu?" damprat si kakek sambil mendelik.

"Ah jangan berpura-pura. Kau sebenarnya lebih tahu perkututmu itu sudah lama tak bisa bernyanyi. Nah aku sudah dapat membuatnya berkicau. Semua ini berkat ramuan mujarab Badak Kedaton Babat Segala. Kau Juga tak usah gelisah. Dengan keadaan yang seperti itu kau bisa mencari jodoh."  

"Dasar gendeng gelo.... aku tak mau seperti ini." protes si kakek.

"Aku bilang biarkan saja. Nanti juga dia bakal tidur sendiri." jelas pemuda itu. "Tapi berapa lama?" tanya si kakek was-was.

Si pemuda berdiri, namun mulut dimonyong-monyongkan pura-pura menghitung. Lalu seperti bocah yang mendapat mainan bagus dengan wajah sumringah dia menjawab,

"Ya...paling juga tiga purnama dari sekarang. Tiga purnama berarti selama sembilan puluh hari lebih melek terus tidak pernah tidur. Makanya kusarankan kau cepat-cepat mencari jodoh. Dari pada kedinginan kau bisa repot. Carilah perempuan yang sepadan."

"Kalau tak dapat juga kambing betina juga tak menjadi soal yang penting kan masih ada nafasnya. Ha ha hal" Bocah Ontang Anting menjadi berang. Diam-diam dia salurkan tenaga saktinya ke kaki. Hawa sakti yang mengalir deras ke kaki kemudian dia alirkan ke lantai pondok dan diarahkan pada Gendeng.

Pemuda bernama Raja namun lebih akrab dengan panggilan Gendeng tiba-tiba terperangah.

Mulut yang tertawa kehilangan suara, hanya terpentang membuka. Sedangkan perutnya terasa mulas tak karuan. Tak tertahankan lagi karena sesuatu yang mendesak ke bawah. Segalanya jadi tak terbendung. Gendeng ini kemudian keluarkan suara kentut bertalu- talu. Si kakek yang hampir bisa mengendalikan keanehan di bawah perutnya menjadi tak dapat menahan tawa.

"Kau rasakan pembalasanku. Memangnya cuma kau saja yang bisa mengerjai orang. Ha ha ha!"

Si pemuda tak menghiraukan. Dia berusaha menguasai diri dan melenyapkan pengaruh serangan diam-diam yang dilakukan oleh Bocah Ontang Anting. Setelah melejang-lejang seperti cacing terpanggang, pemuda ini pun akhirnya dapat melenyapkan segenap pengaruh serangan dan duduk kembali di tempatnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Sebaliknya kegegeran kini dialami oleh si kakek cebol .Tiba-tiba saja dia keluarkan suara mau muntah. Lubang hidung ditekab dan untuk yang kesekian kalinya mata yang belok itu mendelik melotot.

Bersikap seolah tidak tahu apa yang terjadi. Malah dia pura-pura bertanya,

"Hei ada apa lagi? Sudah tua jangan bercanda terus, aku masih ada urusan." tukas pemuda itu. "Huh, huek. Apa penciumanmu sudah mati. Ini bau apa? Baunya seperti telur busuk campur

kemenyan." gerutu si kakek sambil mengusapi tenggorokannya. Sementara lidah terjulur-julur, namun muntahan dari dalam perut tak kunjung keluar.

Si Gendeng terkekeh,

"Dasar tua bangka bodoh. Yang tercium olehmu itu bukan bau harum bidadari surga, Yang terendus hidungmu itu adalah bau kentutku. Baunya pasti enak karena sudah seminggu aku tidak pernah ke belakang. Ha ha!" Pengakuan Gendeng karuan saja membuat Bocah Ontang Anting tambah marah. Namun dia berusaha menahan diri. Orang tua ini kemudian mengambil kipas besar. Kipas yang tergenggam di tangan kemudian dia kebutkan untuk menghalau hawa busuk yang berputar diseluruh ruangan.

Wuus! Wuus!

Dua kali kipas dikebut. Dua kali sosok tubuh terpelanting keluar pondoknya, Sosok pertama adalah mayat Sakukurata dan sosok ke dua adalah Si Gendeng sendiri

"Oalah, dasar tua bangka tolol. Mau mengipas kenapa tak bilang-bilang. Kau lihat akibat ketololanmu itu, mayat temanmu jatuh menyungsep digundukan tanah dan aku sendiri kau perlakukan layaknya tamu yang tak berguna" mengomel Gendeng. Dia bangkit. Kemudian balik lagi masuk ke dalam pondok. Si kakek melongo, kipas dicampakkan dilantai. Ketika hendak mengambil mayat sahabatnya .Gendeng justru mencegahnya.

"Sudah! Aku hendak bicara denganmu bukan dengan orang yang sudah mati. Jadi tak usah kau berpayah-payah membawanya masuk ke pondok butut ini?" kata pemuda itu tampak

bersungguh-sungguh.

Sikakek menghela nafas, dia melipat kedua kakinya yang pendek. Lalu pandangi wajah pemuda itu dengan membuka mulut,

"Kau hendak bicara apa?"

"Hmm, sebenarnya aku sedang dalam perjalanan mencari sebuah tempat bernama Lembah Tapa Rasa." jelas pemuda itu menegaskan keinginannya. Si kakek tersenyum, lalu berkata dengan mencemooh.

"Walah, dasar bocah Gendeng. Apa kau tidak sadar sekarang ini sebenarnya kau sudah berada di lembah yang kau maksudkan?"

Mendengar pengakuan si kakek, mata pemuda itu nampak berbinar. Seakan tak percaya dia berucap,

"Apa benar?" Yang ditanya anggukan kepala. "Jadi ini tempatnya?"

"Tidak salah." jawab Bocah Ontang Anting tanpa ragu.

"Hm, kalau demikian betapa lega hatiku ini. Tapi... apakah kau mengenal seseorang yang bernama Sapa Brata?" bertanya begitu Gendeng pandangi kakek itu. Bocah Ontang Anting mengangguk.

"Ya. Tentu saja aku mengenal orang yang kau maksudkan.

"Syukurlah. Kalau begitu kuharap kau mau tunjukkan padaku dimana tempat tinggalnya." "Oh tempat tinggalnya tidak jauh."

"Kau bisa mengantarku kesana?" kakek menggaruk kepalanya yang botak. "Kau tidak mau?"

"Bukannya tidak mau. Aku mau saja. Tapi kau jawab dulu pertanyaanku yang tadi!" "Pertanyaanmu yang mana?" tanya pemuda itu.

Keningnya berkerut. Dia berusaha mengingat. Si kakek merasa sikap yang ditunjukkan Gendeng sebagai suatu kepura-puraan saja.

"Jangan pura-pura. Kau belum pikun, kau cuma gendeng"

"Aku benar-benar lupa, aku tak ingat pertanyaanmu yang harus kujawab karena tadi kurasa pertanyaanmu banyak sekali."

Si kakek geleng-gelengkan kepala.

Dia menggerutu, namun segera berujar,

"Tadi aku bertanya padamu apa hubunganmu dengan seorang nenek aneh rada tuli bernama Nini Balang Kudu nenek sakti yang kerap menetap di dasar laut selatan."

Gendeng menepuk keningnya.

"Ah nenek itu. Nenek itu adalah guruku." jawab Gendeng polos. Bocah Ontang Anting menghela nafas lega.

"Aku sudah menduga. Kulihat sebagian jurus dari pukulan sakti yang kau pergunakan untuk menghadapi Ratu Lintah memang mirip dengan ilmu simpanan nenek itu. Namun dalam hatiku masih ada ganjalan."

"Jadi pertanyaanmu belum habis. Selagi aku bermurah hati dan mau bersikap seadanya katakan saja apa pertanyaanmu." kata pemuda itu tak sabar.

"Hh, begini. Tadi ketika menyerang Ratu Lintah kau juga kulihat menggunakan ilmu pukulan sakti Badai Es. Pukulan itu yang membuat lawanmu menemui ajal. Setahuku ilmu pukulan Badai Es hanya dimiliki oleh Ki Panaraan Jagad Biru yang dikenal dengan julukan Manusia Separuh Dewa. Apakah kau mengenalnya lalu belajar ilmu pukulan langka pada kakek itu?"

"Aduh. Pertanyaanmu berputar-putar membuat pusing kepalaku, kek. Terus terang saja kakek yang kau maksudkan itu juga guruku."

"Hah..." Bocah Ontang Anting terperanjat.

" Jadi kau mempunyai dua orang guru yang sangat sakti luar biasa? Bagaimana kau bisa menjadi murid dua tokoh sakti yang mempunyai sifat dan kelakuan yang berbeda?" tanya si kakek seakan tidak percaya.

Gendeng menghela nafas. Dengan perassan enggan dia berujar, "Panjang ceritanya kek. Kukira masa laluku tidaklah penting." "Tapi bagiku sangat penting." tukas si kakek bersikeras.

"Kau terlalu keras kepala. Nanti saja aku akan ceritakan padamu tentang masa laluku. Sekarang tolong antarkan aku menemui orang tua yang bernama KI Sapa Brata!" desak pemuda. Walau penasaran keingintahuannya tak dituruti, namun Bocah Ontang Anting tidak mau memaksa. Sambil senyum-senyum kakek cebol ini berujar,

"Sekarang kau telah berada di dalam pondok orang yang kau cari."

"Apa?!" sentak Gendeng tercengang. Dengan mulut melongo terbuka dia bertanya, "Kau ini siapa? Mana Ki Sapa Brata?" tanya pemuda itu bingung tak mengerti.

"Ki Sapa Brata orang yang kau cari itu telah berada dihadapanmu malah sedang bercakap-cakap dengan kau! Ha ha ha!"

Gendeng menepak kepalanya. Wajahnya merah menahan malu. Dia sendiri sekarang merasa diperdaya oleh si kakek.

Dalam hati dia mengomel pada orang yang telah memberi perintah untuk menemui Ki Sapa Brata. Cuma memberi nama dan tempat tapi tak pernah menerangkan ciri-ciri orang yang hendak ditemuinya.

Kesal bercampur gemas Gendeng pun menukas,

"Oh Jadi kakek bertampang bocah bertubuh pendek katai berkepala botak mirip pemukul tetabuhan ini yang bernama Ki Sapa Brata?"

"Kalau saja aku tahu mahluk jelek sepertimu yang harus ketemui.Buat apa aku berpayah-payah melakukan perjalanan jauh?"

Gendeng gelengkan kepala, namun cepat lanjutkan ucapannya.

"Aku datang dengan membawa sebuah tujuan penting. Dan semus Itu atas perintah orang yang sangat kuhormati."

"Orang yang kau hormati Itu apakah guru-gurumu?" tanya Bocah Ontang Anting yang memiliki nama asli Ki Sapa Brata itu.

Pertanyaan itu dijawab dengan anggukkan kepala oleh Gendeng.

Setelah mendengar jawaban pemuda itu. Si kakek cebol tampak lebih bersemangat. Dia pun lalu bertanya,

"Jadi benar kau murid Ki Panaraan Jagad Biru dan murid nenek budek Nini Balang Kudu manusia setengah gaib yang tinggal di dasar laut selatan?"

Ditanya terus menerus membuat Gendeng menjadi kesal. Sambil berteriak dia menjawab,

"Benaaaar... yang kau tanyakan itu semuanya benar apakah kau sudah puas?"

Teriakan keras si pemuda membuat si kakek terjengkang .Telinganya pengang berdenging sakit.

Jantungnya seperti mau copot. Tapi masih bagus dia tak jatuh pingsan atau mati.

Sambil menggerutu sekaligus mengusapi telinga kiri kanan kakek itu pun bangkit. Dia duduk ditempat semula sambil menggeleng-geleng.

"Pemuda kampret. Aku belum tuli seperti nenek gurumu itu. Kau tak perlu berteriak-teriak seperti orang gila!"  

"Ha ha ha. Habisnya kau bertanya terus." kata pemuda itu polos. Dia lalu diam. Mengingat-ingat.

Baru melanjutkan,

"Kedua guruku memintaku datang menemuimu. Sekarang aku ingin tahu apakah kau mengenal mereka?" tanya pemuda itu.

Walau masih merasa kurang senang namun si kakek juga segera menjawab.

"Aku kenal Ki Panaraan Jagad Biru, namun aku kurang akrab dengan nenek muka mayat itu." "Lalu mengapa mereka memintaku menemuimu?" tanya si gondrong tak mengerti. Si kakek

menghela nafas. Dalam hati dia berkata,

"Rupanya dua tokoh sakti sekaligus manusia paling aneh di dunia itu tak pernah memberi tahu bocah gendeng ini tentang rahasia sebuah senjata sakti yang kusimpan di bukit karang es di pantai utara. Aku tidak tahu apakah pemuda ini adalah keturunan terakhir sekaligus pewaris Istana Es yang sah. Kakek dan nenek yang menjadi gurunya tak pernah menceritakannya padaku prihal Gendeng.

Karena bocah ini sudah menemuiku, maka tugasku adalah mengantarnya menuju bukit karang Es di pantai utara. Kukira ini bukan tugas yang ringan. Mudah-mudahan saja kecemasanku tentang munculnya orang-orang yang tidak kukehendaki tak terbukti. Tugasku hanya mengantar dan mengambil senjata yang telah lama tersimpan disana."

"Hei, kenapa kau malah terdiam. Mengapa tidak segera kau jawab pertanyaanku orang tua." tanya pemuda itu.Si kakek tersadar dari lamunannya Dia kemudian menatap pemuda didepannya sekaligus berkata,

"Guru-gurumu meminta engkau menemuiku tentu dengan satu tujuan, Aku tahu tentang sesuatu yang selama ini dicari-cari orang. Kau harus ikut denganku. Namun sebelum pergi menuju ke tempat itu. Harap kau mau membantu aku menguburkan jenazah Ki Omang Sakukurata atau juga dikenal dengan julukan Elang Mata Juling." Si kakek kemudian segera hendak beranjak bangkit dari tempat duduknya, tapi Gendeng buru-buru berucap,

"Eit tunggu dulu. Jangan harap aku mau membantu menguburkan jenazah temanmu selama kau tak mau berterus terang.kau hendak mengajakku pergi ke mana dan untuk tujuan apa?"

Si kakek kembali mengusapi kepalanya yang botak. Dia jengkel namun harus juga mengakui Gendeng memang layak mengetahui mau diajak kemana. Si kakek pun kemudian berterus terang.

Setelah Bocah Ontang Anting menjelaskan semuanya Gendeng tiba-tiba membuka mulut dan berkata,

"Pedang Gila.Raja dari semua pedang yang pernah ada di dunia. Apakah mungkin aku berjodoh dengan senjata aneh peninggalan Istana Es itu?"

"Aku tidak tahu. Kalau kau keturunan prabu Sangga Langit kemungkinan pedang itu berjodoh denganmu. Apakah gurumu mengatakan kau keturunan siapa?" Si pemuda menggeleng.

"Guru tidak berkata apa-apa. Setiap kali katanya beliau- beliau mengatakan aku keturunan bapak emakku." jawab pemuda itu polos.

Mendengar jawaban itu. Sambil menahan senyum Bocah Ontang Anting menyeletuk,

"Masih bagus garis keturunanmu jelas. Apa jadinya kalau gurumu mengatakan kau keturunan monyet gila? Ha ha ha "

"Aku bersungguh-sungguh. Kau malah bercanda." kata Si kakek buru-buru tekab mulutnya, lalu berujar,

"Sudahlah. Kalau gurumu tak ada yang mau berterus terang ya tidak mengapa,sekarang yang penting kita kuburkan saja jenazah Elang Mata Juling dulu. Setelah itu kita pergi ke bukit karang Es disebelah pantai utara. Biarkan Pedang Gila menentukan jodohnya. Siapa yang berjodoh dengan pedang itu. Maka dengan sendirinya pedang akan datang kepadanya dengan cara yang tidak di sangka-sangka!" Menerangkan si kakek yang sudah mengetahui tentang sifat-sifat pedang peninggalan Istana Es itu.

Gendeng manggut-manggut.

Kakek cebol sendiri lalu membawa mayat sahabatnya keluar dari dalam pondok. Sambil menggendong jenazah sahabatnya dia menuruni anak tangga. Si kakek baru saja melewati undakan anak tangga paling bawah dan Gendeng baru saja hendak menyusulnya ketika tiba-tiba saja Bocah Ontang Anting berteriak keras keluarkan seruan kaget.

"Owalah celaka! Gusti yang agung. Pertanda buruk petunjuk buruk. Langit merah, awan merah dan lihatlah."

"Pedataran di pulau ini ternyata semuanya telah menjadi merah...!" teriak si kakek dengan suera serak terputus seperti tercekik.

Di dalam pondok Gendeng yang tak tahu apa yang dimaksudkan si kakek segera menyusul turun ke bawah. Sekali bergerak dia telah berada di depan kakek itu.

Pemuda ini pandangi orang tua di depannya. Kakek kerdil itu wajahnya pucat pasi seperti tak berdarah lagi. Mata melotot, mulut ternganga. Mata dan wajah itu menyiratkan perasaan cemas luar biasa. Mungkin saking kagetnya mayat sahabat dalam pondongannya terlepas, jatuh menggelinding diatas permukaan es yang juga berwarna merah darah.

Merasa tidak tahu apa yang terjadi, merasa tak memahami arti semua perubahan yang terjadi Gendeng menepuk bahu si kakek hingga membuat tersadar dari semua keterkejutan yang dialaminya.

"Apa yang kau ingat. Mengapa kau sepertinya sangat ketakutan sekali?" tanya pemuda itu.

Jari-jari tangannya masih menempel dipundak si kakek.

Gendeng diam-diam salurkan hawa murninya ke tubuh Bocah Ontang Anting hingga membuatnya lebih tenang. Si kakek mengusap wajahnya yang keringatan, lalu berucap dengan suara lirih. "Kau lihat langit, lihat pula sekelilingmu." pinta si kakek.

Gendeng tarik tangannya menjauh dari bahu kakek berwajah bocah itu. Dia dongakkan kepala. Dia melihat langit dan awan yang berwarna merah darah. Dia juga melihat hamparan tanah yang dilapisi es tampak merah pekat.

"Semuanya jadi merah kek. Pertanda apakah ini?" tanya pemuda itu tak mengerti.

Bukannya menjawab pertanyaan orang, sebaliknya Bocah Ontang Anting mengajukan pertanyaan,

"Sekarang sebelum segalanya menjadi terlambat. Sebaiknya kau bicara jujur dan suka berterus terang." pinta si kakek masih juga terlihat cemas.

"Apakah aku bicara bengkok dan tidak jujur padamu kek? Sejak tadi bicaraku sudah lempang-lempang saja."

"Jangan konyol ini bukan waktunya bercanda. Sekarang jawab pertanyaanku apakah kau putera terakhir gusti prabu Sangga Langit?"

"Apakah pertanyaanmu perlu kujawab?" tanya pemuda itu ragu-ragu. "Sangat. Sangat perlu..."

"Hmm, baiklah aku memang satu-satunya keluarga Istana Es yang lolos dari rencana keji terhadap pembantaian yang dilakukan oleh Maha Iblis Dari Timur. Aku dalam perjalanan mencari pedang Gila milik ayahanda prabu yang hilang juga punya tugas untuk mencari iblis pembunuh itu," terang si Gendeng.

Mendengar itu si kakek jatuhkan diri berlutut di depan si Gendeng, kemudian buru-buru menjura dengan segala hormat.

"Memang ini bukan waktunya untuk berbasa-basi. Tapi sebagai pangeran putera prabu Sangga Langit perlu kiranya seorang kawula menghormat pada gusti pangerannya. Terimalah hormat hamba pangeran Raja."

Bocah Ontang Anting membungkuk tiga kali. Gendeng tercengang namun buru-buru membuka mulut.

"Apa ini?"

"Mengapa kau menghormat padaku? Aku tak suka ini. Lekas bangun kek dan jangan memanggilku pangeran atau Raja.Panggil saja aku Gendeng."

"Tapi pangeran engkau adalah...!" Si kakek masih juga berlutut.

ini membuat Gendeng yang memang keturunan terakhir prabu Sangga Langit jadi tidak sabar "Bangun kataku!" teriak pemuda itu karena melihat tepi lembah Tapa Rasa tempat dimana

mereka berada mulai mengalami guncangan seperti dilanda gempa.

"Lekas bangun. Hilangkan semua rasa dan perbedaan. Kau dan aku sama saja, sama-sama manusia biasa dan tolol. Lekas terangkan padaku arti semua keanehan ini!" desak Gendeng tidak sabar.

Si kakek nampaknya menyadari apa yang diucapkan Gendeng keluar dari lubuk hati yang tulus.

Dia merasa lega.

Cepat kakek ini berdiri memandang sekelilingnya dengan cemas lalu perhatiannya tertuju pada Gendeng.

Setelah itu dia berkata,

"Pangeran, eh anak muda," ujar si kakek tampak rikuh.

"Ah, kau ini. Kau boleh memanggilku Gendeng atau namaku. Namaku adalah Raja. Mau panggil Raja Gendeng juga tak mengapa."

"Baiklah. Aku lebih suka memanggilmu Raja." kata Bocah Ontang Anting sambil menelan ludah. "Terus terang sudah lama aku membaca tanda-tanda yang kudapat dari alam gaib. Bahwa pada

saat hari dimana kau dipertemukan denganku, pada hari ini akan bakal muncul sebuah batu sandungan besar yang bakal merintangi jalanmu untuk mendapatkan warisan pedang yang menjadi hakmu. Batu sandungan yang kumaksudkan adalah berupa munculnya mahluk Bahala bernama Raka Langitan."

"Mahluk itu mempunyai dendam permusuhan dengan ayahmu sejak lama."

"Guru tak pernah menceritakan hal ini padaku. Aku tak tahu permasalahan apa yang terjadi antara ayahanda prabu almarhum dengan Raka Langitan."

"Semuanya bermuasal dari pedang Gila. Memiliki Pedang Gila menjadi impian setiap orang." menerangkan si kakek.

"Seperti yang kau lihat dia telah mengirimkan tanda-tanda kehadirannya. Mungkin dia tahu masih ada keturunan prabu yang selamat dalam peristiwa penyerbuan yang dilakukan Maha Iblis Dari Timur. Dia ingin mencegahmu mendapatkan pedang itu" Gendeng menggigit bibir.

"Lalu apa yang akan kita lakukan." tanya pemuda itu bimbang. Si kakek tersenyum, walau hatinya resah.

"Rencana sudah diatur sejak lama. Aku dan gurumu dulu sudah sama sepakat. Sekarang aku tetap akan mengantarmu ke Bukit Karang Es di pantai utara." tegas si kakek.

Bocah Ontang Anting untuk sementara terpaksa melupakan pemakaman sahabatnya Elang Mata Juling. Si kakek lalu memberi isyarat pada Gendeng untuk mengikutinya. Tapi belum lagi ke duanya sempat angkat kaki tinggalkan lembah, tiba-tiba terdengar suara raungan mengerikan seperti lolong mahluk-mahluk buas penghuni kegelapan.

Dua orang ini terkesima. Mereka layangkan pandang memperhatikan sekitarnya, si kakek tercekat ketika melihat warna merah darah yang menyelimuti langit dan alam sekitarnya mendadak raib. Disana sini guncangan terjadi. Bukit-bukit dan pendataran es bergugusan. Tiba-tiba saja terdengar suara bergemuruh seperti suara kaki raksasa berlari mendekat ke arah mereka. Baik Gendeng maupun Bocah Ontang Anting balikkan badan lalu sama-sama memandang ke arah datangnya suara langkah kaki. Suara langkah kaki lenyap. Gumpalan es berpelantingan di udara. Si kakek yang pertama melihat tiba-tiba berseru.

"Astaga!"

Gendeng cepat menoleh, memandang ke arah jurusan yang menjadi perhatian kakek itu.

Dia tercengang ketika melihat sekitar sepuluh tombak di depannya tahu-tahu telah berdiri tegak sosok tinggi angker berwajah ganda berpakaian kulit penuh tambalan.

Sosok tinggi itu berambut panjang menjela dan yang aneh wajahnya sebentar-sebentar berubah menjadi wajah laki- laki lalu bersalin lagi menjadi wajah perempuan. Jadi apa jenis kelamin mahluk aneh tinggi tak ada yang tahu. Apakah dia laki- laki ataukah perempuan.

"Inikah dia yang kau sebut sebagai bahala?" tanya Gendeng heran bercampur takjub.

Si kakek menganggukkan kepala. Wajah orang tua itu terlihat pucat pasi pertanda si kakek merasa jerih

"Mahluk menjijikkan! Bahkan jenis kelaminnya pun tak jelas." gumam pemuda itu dingin.

Di depan sana mahluk berpakaian dan berkulit hitam berambut riap-riapan, berhidung besar dengan jari-jari tangan dipenuhi bulu itu menatap tajam pada kedua orang di depannya.

Sepasang mata terus mengawasi, sementara wajahnya terus berubah bersalin rupa antara rupa laki-laki bermuka buruk dan rupa perempuan berwajah cantik jelita.

Tidak menunggu lebih lama sosok yang tak dapat dikatakan sebagai manusia yang sempurna ini pun berkata dengan suaranya yang berat, mulut keluarkan asap panas seperti luapan lahar gunung.

"Aku tahu selain kalian berdua. Yang kerdil pendek tentulah cecunguk sahabat prabu Sangga Langit yang telah mampus. Dan yang muda gondrong bertampang polos seperti orang sedeng kuyakin adalah putera prabu Sangga Langit."

"Putera yang lolos dari musibah berdarah."

"Kau sendiri siapa mahluk yang suka bersalin rupa? Apakah kau dedemit kesasar di pulau ini?" tanya Gendeng dengan mulut terpencong.

"Aku.... apakah temanmu itu tak memberi tahu siapakah aku ini?" tanya sosok yang tingginya tiga kali lipat dari tinggi Gendeng.

Pemuda yang ditanya melengos namun kemudian tertawa tergelak gelak. Dengan sikap konyol seenaknya sendiri Gendeng menjawab,

"Dia sudah memberi tahu. Kalau tak salah tadi dia mengatakan kau ini kakek dan nenek moyangnya segala kunyuk yang baru bangkit dari kematian. Ha ha ha!" Melihat Gendeng tertawa Bocah Ontang Anting jadi cemas. Sebaliknya mahluk tinggi itu berkata,

"Aku adalah Bahala. Namaku Raka Langitan. Sayang ayahmu sudah mampus. Kalau dia masih hidup, kau boleh bertanya padanya tentang siapa aku ini. Aku musuh dari semua keluargamu. Karena sejak lama aku menginginkan Pedang Gila senjata sakti lambang kebesaran Istana Es. Tapi keinginan itu tak pernah terlaksana. Belum sempat aku tahu di mana prabu Sangga Langit menyimpan Pedang Gila dia telah tewas dibunuh orang." terang Bahala.

"Hm, senjata itu ternyata menjadi incaran mahluk jelek sepertimu. Lalu mengapa sekarang kau muncul disini?" tanya si Gendeng.

Mahluk tinggi dongakkan kepala, lalu tertawa terkekeh.

Suara gelak tawanya sungguh menyeramkan membuat daun- daun rontok dan pondok Bocah Ontang Anting terguncang prabu keras.

Si bocah sadar bahaya mengancam dia dan Gendeng.

Maka diam-diam-diam dia menuju pondok mengambil panah Asmara Gama untuk menjaga setiap kemungkinan yang tidak diinginkan.

Melihat si kakek cebol ambil senjatanya .Bahala cuma tersenyum dingin. Kini Bahala mengusap wajahnya. Sekali ini usapan wajah itu tidak mengalami perubahan lagi. Dia sengaja menampilkan diri dengan wajah laki-laki angker dan keji

"Bocah ingusan. Aku tahu segalanya, Kau dan kakek itu menjadi penunjuk jalanku menuju kepada pedang yang selama ini disembunyikan." tegas Bahala.

Gendeng cuma senyum-senyum saja ketika Bahala menyebutnya sebagai 'bocah ingusan.' Pemuda ini lalu berpaling pada si kakek.

Pada orang tua itu Gendeng berkata dengan suara sengaja dikeraskan.

"Kau sudah mendengar sendiri. Dia menginginkan kita menjadi penunjuk jalan menuju ke tempat pedang yang menjadi incarannya. Bagaimana pendapatmu? Apakah kau mau menjadi budaknya?"

"Hmm, bertahun-tahun aku menjaga sebuah rahasia. Sekarang aku harus menjadi penunjuk jalan mahluk terkutuk seperti dia. Kurasa lebih baik aku mati!" jawab si kakek tanpa ragu.

"Ha ha ha. Aku senang mendengar keputusanmu." sambut Gendeng disertai tawa tergelak-gelak. Mendengar ucapan si kakek meka murkalah mahluk dua wajah ini. Dia menggeram sambil kepalkan tangannya.

Bersamaan dengan itu dia juga berteriak

"Kalau itu keputusanmu, maka kau dan bocah keparat itu memang sudah selayaknya mati ditanganku!" Teriakan kemarahan Bahala atau Raka Langitan disusul dengan tindakan.

Tiba-tiba saja dia membuka mulut lebar-lebar. Dari mulut manusia setengah mahluk itu keluar gumpalan api. Gumpalan api menyembur menghantam Gendeng dan si kakek yang dapat memanggang mereka hingga menemui ajal. Tapi Gendeng melompat ke samping menyelamatkan diri setelah sebelumnya mendorong si kakek agar selamat dari jilatan api.

Semburan api yang keluar dari mulut mengenai tempat kosong. Gagal dengan serangan Nafas Apinya Bahala melangkah maju. Walau Bahala tinggi besar namun gerakannya sangat enteng. Tahu-tahu kakinya menghantam, menyambar si kakek sekaligus melesat menghantam tubuh Gendeng.

Gendeng sadar jika tendangan kaki itu sampai mengenainya atau menghantam Bocah Ontang Anting mereka bisa celaka. Tidak menunggu serangan datang begitu melihat si kakek lolos dari tendangan, pemuda itu lambungkan tubuhnya. Tubuh melambung tinggi, Gendeng membuat gerakan aneh. Tubuhnya tiba-tiba ralb. Tahu-tahu dia telah bertengger diatas bahu lawan dan menghantam wajah angker itu dengan menggunakan ilmu pukulan Kabut Kematian.

Lima pukulan ganas ini adslah warisan gurunya Ki Panaraan Jagad Biru kakek sakti setengah dewa yang mendidiknya sejak kecil. Bagi Bahala pukulan yang dilakukan lawan semula dia anggap sebagai serangan yang tidak ada artinya.

Tidaklah heran, ketika melihat kepulan asap putih keluar dari telapak tangan Gendeng yang berubah hitam pekat dia malah tertawa tergelak-gelak. Malah sambil berusaha menginjak dada si kakek yang bergulingan di atas tanah dia kibaskan tangannya ke arah Gendeng yang kakinya bertengger diatas bahu Bahala.

Dan sungguh celaka. Kibasan tangan Bahala dengan mudah dapat dihindari oleh Gendeng.

Sebaliknya pemuda itu sambil melompat ke belakang masih sempat sarangkan pukulan ke tengkuk Bahala. Tak ayal lagi mahluk setengah manusia ini langsung jatuh terjungkal.

Bahala merasakan tengkuknya seperti patah, kepala laksana tanggal namun dia segera bangkit.

Terhuyung-huyung dia dapat tegak berdiri. Sementara si kakek memaki dan mengumpat karena hampir saja dia tertimpa tubuh raksasa lawan yang ambruk seperti pohon tumbang.

Melihat si kakek marah-marah Gendeng pun berseru pada orang tua itu.

" Makanya memyingkirlah ke tempat yang aman. Sudah tahu tubuh pendek katai seperti mahluk terjepit bumi masih juga bersikap semberono"

Bocah Ontang Anting menggerutu namun dia segera menyingkir sambil bersiap siap dengan panahnya.

Sementara itu melihat lawan dapat menghantamnya hingga jatuh Bahala Raka Langitan menjadi sangat gusar.

Setelah mampu menguasai diri dia menyerang Gendeng dengan semburan api dari mulutnya. Sekejab saja tempat itu berubah menjadi lautan api. Permukaan tanah yang dilapisi es, meleleh mencair. Cairan itu dengan cepat mendidih menghantam segenap sudut penjuru hingga membuat Bocah Ontang Anting kalang kabut selamatkan diri dari amukan api dan luapan air panas bergolak.

Melihat kenyataan ini. Gendeng terpaksa menggunakan jurus-jurus yang menjadi andalannya. Dengan menggunakan meringankan tubuh pemuda ini melesat tinggi melewati kobaran api, Tapi begitu dia mengapung di udara lawan segera melepaskan pukulan maut dan cengkeraman yang dahsyat sekali. Sambaran angin pukulan dan cengkeraman lawan membuat Gendeng pontang panting kewalahan.

Walau sempat jatuh terpelanting akibat menghindar serangan lawan, pemuda ini segera bangkit.

Dia pun lalu silangkan tangan ke depan dada. Mulut berkemak-kemik merapal mantra aji yang dipadukan dengan ilmu sihir putih.

Tak berselang lama ketika melihat Bahala Raka Langitan menyerbu ke arahnya dengan suara langkah bergemuruh pemuda ini sejenak menunggu. Tangan Bahala Raka Langitan yang besar kokoh itu menderu siap menghantam remuk batok kepalanya.

Melihat ini Gendeng menghantamkan tangan kanannya melepaskan pukulan sakti Seribu Jejak Kematian yang disusul dengan pukulan Kepakan Sayap Rajawali. Kedua pukulan itu masing-masing warisan Ki Panaraan Jagad Biru juga Nini Balang Kudu manusia setengah gaib yang menetap di dasar laut selatan.

Apa yang dilakukan Gendeng bukan serangan biasa.

Manusia sakti berkepandaian tinggi sekalipun bila sampai terkena pukulan itu pasti tewas seketika dengan-tubuh hangus. Sebaliknya walau Bahala Raka Langitan sadar pukulan itu mengandung kekuatan sakti luar biasa dia malah tertawa tergelak-gelak. Sekonyong-konyong sambil tertawa dua tangan yang dipergunakan untuk menjotos kini dia kibaskan menangkis serangan, Gendeng.

Blep! Blep! Buum!

Terjadi ledakan-ledakan dahsyat menggelegar ketika tangan Bahala yang kuat kokoh berbenturan dengan pukulan Gendeng. Manusia tinggi yang memiliki dua wajah hanya tergontai.

Sebaliknya Gendeng jungkir balik terdorong oleh hawa serangannya sendiri yang sempat berbalik menghantamnya.

Sementara itu Gendeng berusaha berdiri. Sebaliknya Bahala kibaskan tangan ke arah pemuda itu.

Ketika tangan dikibaskan dari telapak tangan Bahala Raka Langitan menggebubu segulung angin dahsyat yang disertai hawa aneh yang bukan olah-olah dinginnya. Hawa aneh laksana topan dingin luar biasa melabrak tubuh Gendeng. Si kakek cebol keluarkan seruan keras memberi peringatan.

Sementara dia sendiri segera memanah tangan Bahala dengan anak panah yang berwarna merah terang.

Panah melesat mengeluarkan suara deru sekaligus memancarkan cahaya merah menyilaukan.

Bahala terkejut dia yang siap melepaskan pukulan saktinya lagi terpaksa batalkan niatnya. Kini dia melindungi diri dari serangan panah sakti si kakek dengan memutar tangan yang dipergunakan menyerang Gendeng. Tak berselang lama terdengar suara jeritan berturut-turut.

Jeritan pertama keluar dari mulut Bahala Raka Langitan yang tertusuk panah pada telapak tangannya. Sedangkan jeritan kedua keluar dari mulut Gendeng yang tersapu pukulan sakti Bahala yang pertama tadi.

Pemuda itu jatuh menyerangsang dengan kaki tergontai- gontai. Tubuhnya meluncur dari cabang pohon dan jatuh dengan kaki tertekuk. Dengan nafas megap-megap dia berusaha menguasai diri.

Memandang ke depan terlihat lawan sedang berusaha menarik anak panah kakek cebol yang menancap dalam di telapak tangannya. Menggunakan kesempatan ini Gendeng hantamkan tangan kirinya yang berisi mantra sihir putih.

"Jaring Roh. Ringkus mahluk aneh itu dan jangan biarkan lolos!" serunya.

Sekonyong-konyong dari segala penjuru arah bermunculan benda putih aneh mirip jaring raksasa.

Jaring Itu langsung menyergap dan menggulung Bahala Raka Langitan.

Lawan yang baru saja berhasil mencabut lepas anak panah ditelapak tangan setelah gagal mematahkannya dengan sekuat tenaga berusaha menghancurkan jaring aneh yang menggulung tubuhnya.

Berbagai pukulan sakti dilepaskan untuk menghancurkan jaring namun usaha itu sia-sia. Melihat ini Gendeng lagi-lagi berteriak,

"Jaring Roh.Jatuhkan dia hingga tak dapat berbuat apa-apa."

Seruan itu disambut oleh gerakan jaring yang semakin mengetat membungkus Bahala Raka Langitan hingga membuat tubuh yang tinggi besar tersebut ambruk seperti pohon tumbang.

Bahala Raka Langitan tak dapat berkutik. Dia hanya bisa meronta sambil menyumpah serapah. Gendeng tersenyum sambil mendekatinya. Sementara itu Bocah Ontang Anting setelah memungut panah yang tergeletak diatas genangan air mendidih segera pula ikut mendekat.

Dia memperhatikan Bahala Raka Langitan sekilas, kemudian perhatiannya beralih pada Gendeng. "Kau sungguh hebat. ilmu pukulan saktimu bukan saja aneh-aneh tapi luar biasa. Tak kusangka

pula kau mempunyai ilmu sihir," ujar si kakek.

"Kau kelewat memuji kek. Mari kita lanjutkan perjalanan yang tertunda." kata pemuda itu. Si kakek kaget. Tiba-tiba dia menjadi ragu.

"Bagaimana dengan mahluk satu ini. Tidakkah lebih baik kita habisi saja dari pada menjadi malapetaka dikemudian hari?" ujar si kakek khawatir.

"Dia sudah tidak berdaya. Masa kita membunuh orang yang sudah tak dapat berbuat apa-apa. Tak mudah baginya membebaskan diri dari Jaring Roh itu. Setidaknya dibutuhkan waktu beberapa purnama." terang si Gendeng acuh. Sedikit pun wajahnya tidak membayangkan rasa khawatir pada Bahala.

"Ah kau tidak tahu. Dia Itu paling berbahaya di pulau ini?" jelas si kakek. Belum sempat si Gendeng menjawab, Bahala Raka Langitan sudah berteriak,

"Bocah Gendeng. Benar seperti yang dikatakan kakek kerdil itu. Bila kau tak membunuhku kali ini.Kelak aku akan membunuhmu!"

Ancaman itu membuat ciut hati si kakek kerdil namun tidak demikian halnya dengan Gendeng.

Malah dia tertawa terkekeh.

Sambil tertawa dia memberi isyarat pada si kakek untuk tutup hidungnya. Walau tak mengerti apa niat dibalik perintah Gendeng. Bocah Ontang Anting dekap hidungnya.

Gendeng dekati Bahala Raka Langitan. Dia membungkuk, bokong yang sejajar dengan kepala orang disonggengkan. Lalu...

Beees!

Terdengar suara seperti ledakan besar. Kepulan asap hitam kebiruan memenenuhi seluruh penjuru lembah.

Penciuman bau aneh menyengat. Bahala Raka Langitan terbatuk-batuk sambil menyumpah serapah setelah mengendus bau menyengat itu.

Namun suaranya lenyap, kepalanya berat, mata jadi gelap nafas menyesak dan dia jatuh pingsan.

Dalam kegelapan yang diselimuti asap terdengar suara si kakek.

"Pemuda Gendeng apa yang kau lakukan? Kenapa semuanya jadi gelap begini?" si pemuda tergelak-gelak.

Dia sambar tangan si kakek lalu membawanya keluar dari kepulan asap pekat. Begitu sampai di tempat yang aman si Gendeng berbisik.

"Jangan bilang siapa-siapa. Bahala Raka Langitan barusan kubuat pingsan dengan kentutku." "Hah! Bagaimana kau bisa membuat kelenger mahluk sesakti dia?" tanya si kakek heran namun

tak dapat menahan tawa.

"Aku... aku punya ilmu langka yang bernama Maha Dewa Membuang Angin. Makanya jangan heran tak ada satupun manusia yang dapat menahan kentut dewa. Ha ha ha."

Si kakek geleng-gelengkan kepala. Banyak benar tingkah aneh Gendeng itu. Pikir si kakek lalu ikutan tertawa.

Tamat