Rahasia Si Baju Perak Jilid 06

Jilid 06

Di belakangnya adalah barisan pohon-pohon hutan yang agak lebat, samar-samar masih terlihat olehnya sebuah bayangan putih perak yang melambung tinggi membawa sinar keemasan terus terbang menghilang. Thian-ih jadi dongkol dan gusar tanpa mempedulikan akibatnya dengan kencang segera ia mengudak.

Dilain pihak Khu Gi-liong sendiri tidak melihat siapakah yang dikejar Thian-ih itu cepat-cepat ia berjongkok memeriksa keadaan golok tujuh bintang Kiu San, matanya terpejamkan, denyut nadinya juga sudah berhenti, tampak sebuah benda kecil berkilau menancap di pergelangan tangannya, keadaan ini mirip benar dengan kematian Siu Hoa yang terkena senjata rahasia berbisa, sekali kena racun yang mengalir ke dalam darah tiada obat dapat menolong jiwanya.

Mendelu dan pedih perasaan Khu Gi-liong, bergegas ia bangkit sambil menjinjing tombaknya terus cemplak kudanya mengejar kearah lari Thian-ih.

Dalam pada itu Li Hong-gi yang dikejar kencang oleh Yu Liat bong dan Lu Cau melarikan kudanya secepat terbang seperti kesetanan. Betapapun pandai cara menunggang kudanya kalau dibanding dengan para pengejarnya ini masih terpaut sangat jauh. Dalam sekejap mata saja derap kaki kuda di belakangnya semakin mendekat, saking kejut dan ketakutan serasa arwah sudah terbang ke awang-awang.

Terdengar Yu Liat-bong berteriak di belakangnya: “Nona Li, tak usah lari lagi ! Kami tidak akan membikin susah padamu, kami hanya mengharap kau suka ikut ke kota raja!"

Ke kota raja ! Mana boleh jadi ! Besar tekad Hong-gi untuk ikut Thian-ih pergi ke Ho-bwe-pang. Apalagi di kota raja ada Nyo Hway-giok, bukan mustahil disana bakal terjadi sesuatu diluar dugaan, maka tanpa hiraukan seruan orang ia terus memacu kudanya.

Tiba-tiba terdengar kelintingan kuda yang tengah berlari cepat dari arah depan sana sedang mendatangi, segera terlihat dua orang penunggang kuda yang satu tua dan yang lain muda. Mereka bukan lain adalah Thi-pi-kim-liong Kwi Chun dan anak gadisnya siwalet putih Kwi Tong-ing.

Jauh-jauh segera Hong-gi berteriak: “Kwi-lopek, Kwi-cici, lekas tolong aku !"

Namun Yu Liat-bong dan Lu Cau sudah mengejar tiba di belakangnya, segera Lu Cau mengulur tangan mencengkram kuduknya, sekuat tenaga Hong-gi meronta mati-matian sampai kuda dan penunggangnya terjungkal roboh.

Baru saja Yu Liat-bong hentikan kudanya, mendadak seekor kuda telah membedal tiba serta terdengarlah hardikan yang keras dan serak: “Anak Ing, kau bantulah Cu-kongcu, biar aku yang melayani bangsat kurcaci ini."

Terdengar Kwi Tong-ing mengiakan di belakangnya. Kuatir bakal menantunya terluka parah dengan gusar segera Naga mas berpunggung besi menerjang maju sambil mengayun tangannya, karena tidak siaga Yu Liat-bong tak sempat berkelit dengan telak tubuhnya tersampok jatuh dari atas tunggangannya.

Tujuan kedua dari pukulan Thi-pi-kim-liong adalah Lu Cau, dilihatnya Lu Cau tengah memburu ke arah Hong-gi, karena tidak membekal senjata terpaksa ia ayun pecutnya terus menyabet, "Tar" untung Lu Cau masih sempat mengelak, namun demikian kudanya yang menjadi sasaran, karena kesakitan kuda itu sampai berdiri dan berjingkrak-jingkrak. Saking gusar segera Lu Cau melompat turun.

Sementara itu sudah terdengar bentakan Yu Liat-bong yang bengis: “Siapa kau, berani kau melindungi pelarian !"

Sekarang baru Kwi Chun tahu duduknya perkara. Ternyata Cu Bing telah melanggar hukum, tidak heran ia tidak berani tinggal terlalu lama di rumahnya, meninggalkan gelang batu giok dan menolak perjodohan dengan putrinya, ini tidak lain supaya urusan hukum negara tidak merembet kepada perkampungannya. Haha, biar sekali ini dia tahu diri bahwa bapak mertuanya ini karena urusan bakal mantunya juga berani menghadapi setiap rintangan dan tantangan, seumpama langit bakal ambruk juga tidak peduli lagi.

Maka segera bentaknya: “Bedebah, mantuku ini melanggar hukum apa ? Berani kau menuduhnya sebagai pelarian. Kau sangka setelah aku menutup pedang lantas tidak berani turun tangan ? Haha ! Mari maju bersama biar kalian kenal kepandaian asliku meskipun tidak menggunakan sepasang pedangku, mengandal sebatang pecut kecil ini rasanya cukup berlebihan menghadapi kalian bangsa kurcaci !"

“Serr !" tanpa menanti reaksi orang segera pecutnya diayun menyerang ke arah Yu Liat-bong. Belum sempat mendengar jelas perkataan orang tahu-tahu dirinya diserang, keruan Yu Liat-bong dan Lu Cau berjingkrak gusar. Tanpa sungkan-sungkan lagi Yu Liat-bong menangkis dan balas menyerang dengan sepasang kepalannya. Sementara Lu Cau melolos senjatanya yang berupa sepasang tombak pendek bergigi, berbareng mereka maju merangsak dan menyerang.

Kwi Chun juga melompat turun dari atas kudanya, lama sudah tidak pernah berkelahi maka terbangkitlah semangat dan darah mudanya. Bagai seekor harimau galak dengan garang ia gerakkan pecutnya terus menerjang menghadapi rangsakan Yu dan Lu berdua.

Melihat usia musuhnya ini sudah agak lanjut Yu Liat-bong agak memandang enteng lawan sedikit mengerut alis segera ia berkata pada Lu Cau: “Saudara Lu ! Kau seret saja perempuan itu ! Segera aku menyusul !”

Sambil menjinjing tombak pendeknya Lu Cau menghampiri kearah Hong-gi yang sedang menggelendot di haribaan Kwi Tong-ing. Mereka tengah berunding cara bagaimana harus meloloskan diri. Mendengar orang berteriak hendak menyeret perempuannya saja, bukankah yang dimaksud ini adalah dirinya, demikian pikir Tong-ing, sudah tentu hatinya menjadi dongkol katanya tersenyum kepada Hong-gi: “Kongcu, kau rebah saja istirahat, biar aku beri pelajaran pada orang kurangajar ini !"

Hong-gi manggut-manggut, tapi kuatir melukai orang dan urusan bakal berlarut tiada habisnya segera ia berpesan: “Cici, jangan melukai mereka, diusir saja sudah cukup !"

Mendengar suara kekasihnya sedemikian nyaring lantang agak serak-serak basah, girang hati Kwi Tong-ing, sahutnya tertawa: “Baiklah kuturuti permintaanmu."

Melompat bangun terus memapak maju menghadapi Lu Cau. Mendadak Lu Cau merasa pandangannya agak kabur sebuah bayangan putih berkelebat di depan matanya sebelum ia melihat tegas tiba-tiba "Plak" pipi kirinya tahu-tahu kena digampar dengan kerasnya. Lantas terdengar makian Tong-ing: “Kunyuk, kalau kau tahu diri lekas menggelinding pergi, jangan kau tunggu nonamu ini benar-benar turun tangan."

Lu Cau menjadi murka, kedua senjatanya bergerak sambil membentak: “Kau cari mati !" dari atas dan bawah tombaknya itu masing-masing mengarah pundak dan lambung lawan.

Seperti ayahnya Tong-ing sendiri juga tidak membekal senjata, cepat-cepat ia melompat mundur meluputkan diri, sesuai dengan nama julukannya siwalet putih memang Gin-kangnya luar biasa, sekali loncat dua tombak tingginya, begitu meraba badannya untung juga dia membekal beberapa batang senjata rahasia mata uang emas, maka dirogohnya sebatang dipersiapkan ditangannya. Waktu Lu Cau menyerang lagi dengan senjatanya, sekali berkelebat Tong-ing menggeser kedudukan ke samping kanan sambil membentak: "Lihat senjata rahasia

!"

Dimana sinar emas berkelebat maka terdengarlah Lu Cau berteriak kesakitan. Sitangan penembus awan Yu Liat-bong lantas sadar siapakah orang yg tengah dihadapinya ini, maka cepat-cepat ia mundur dan menghentikan pertempuran serta serunya: “Bukankah tuan adalah Thi-pi-kim-liong Locianpwe?"

Semangat tempur Kwi Chun sedang mencapai puncaknya melihat orang mundur dan menghentikan perkelahian ini hatinya menjadi dongkol, jengeknya dingin: “Bagaimana! Sangkamu setelah aku menutup pedang lantas tidak berani berkelahi? Hehe! Kalian berani menyakiti menantuku. Kalau tidak kugebah kalian ini siapa lagi yang harus kupukul?”

Kali ini Yu Liat-bong sudah mendengar jelas, tanyanya terheran: “Menantumu? Siapakah menantumu?''

Takut orang membongkar kedok penyamarannya segera Hong-gi menimbrung: “Lopek, kawan-kawannya masih mengepung Thio-toako disebelah belakang sana, mereka bukan orang baik-baik, jangan kau dengar obrolan mereka!"

Melihat menantunya tidak kurang suatu apa, girang hati Kwi Chun, serta mendengar Thian-ih tengah terkepung hatinya menjadi gusar lagi, bentaknya : "Masih pura-pura pelo? Tidak lekas pergi, apa masih mau merasakan pecutanku ini !" sambil mengancam ia mengayun tangan "tar" pecutnya berbunyi nyaring ditengah udara.

Yu Liat-bong ialah paham bahwa yang dimaksud menantunya itu adalah Thian-ih adanya. Sungguh sebal dan runyam demikian pikirnya. Ternyata Thio Thian-ih adalah bakal menantu dari keluarga Kwi ini, naga-naganya urusan ini bakal susah diselesaikan. Tengah ia merenung dan hendak memberi penjelasan sekadarnya, Kwi Chun sudah mengayun pecutnya sambil menerjang maju lagi, terpaksa ia gerakkan kedua tangannya untuk melawan.

Dilain pihak Lu Cau sudah terluka parah, untung Tong-ing tidak mendesaknya lagi hanya menjaga keselamatan Hong-gi. Sebaliknya Hong-gi menguatirkan keselamatan Thian-ih: “Cici, lekaslah kau pergi menolong Thio-toako. Dia sedang dikeroyok dua orang disebelah depan sana....... lekas lekaslah pergi!”

Kwi Tong-ing menjadi heran dan membatin. Sedemikian baik hubungannya dengan orang she Thio ini sampai keselamatan sendiri juga tidak dihiraukan lagi, malah mendesak aku pergi menolong sahabatnya itu. Tengah ia hendak berangkat terasa keadaan disini tidak mengijinkan. Betapapun parah luka dipundak Lu Cau itu masih dapat membuatnya bergerak, sedang ayahnya juga sedang asyik bertempur, kalau dirinya tinggal pergi lalu bagaimana dengan bakal suaminya yang lemah, keselamatannya tiada orang yang menjamin.

Tengah hatinya bimbang dan ragu-ragu, mendadak terdengar derap langkah kuda mendatangi dengan cepat, orang diatas kuda lantas berteriak: "Yu-toako, Kiu San sudah terbokong dan mati dibunuh oleh bocah keparat itu dengan senjata rahasia berbisanya lagi !"

Bercekat hati Yu Liat-bong, cepat tanyanya: “Mana Thian-ih?"

Pendatang ini adalah sitombak sakti Khu Gi-liong, sahutnya: “Dia sudah lari, sudah kukejar tidak kecandak, cepat juga lari bocah keparat itu.”

Mendengar percakapan itu Hong-gi yang rebah diatas tanah menjadi girang dan kuatir, girangnya bahwa Thian-ih ternyata tidak kurang suatu apa, kuatirnya bahwa dia telah membunuh lagi salah seorang anggota kesatuan Bhayangkari, urusan ini selanjutnya semakin runyam dan susah dibereskan. Dan yang terpenting sejak saat ini dia harus berpisah dengan dirinya, mungkin dia terus melanjutkan perjalanan menuju Ho-bwe-pang, betapapun aku harus mengejarnya kesana.

Sebaliknya Kwi Tong-ing berjingkrak girang, batinnya; sahabatmu itu telah lari setelah membunuh orang, hendak kulihat kemana pula kau hendak mencarinya, seorang pelajar lemah seperti kau ini bagaimana mungkin melakukan perjalanan sedemikian jauh seorang diri, jalan yang tepat tinggal dirumah menjadi menantu bapakku. Karena pikirannya ini wajahnya lantas berseri-seri. Tapi melihat pihak lawan kini tambah seorang lagi cepat-cepat ia melindungi didepan Hong-gi.

Berkatalah Yu Liat-bong: “Kwi-loyacu adalah seorang gagah yang kenamaan, kami sekalian adalah kesatuan Bhayangkari dari istana raja. Hari ini kita terjungkal dibawah tangan Kwi-lo-enghiong tidak perlu dibuat malu. Tapi entah mengapa Lo-enghiong malah melindungi pelarian yang harus kita bekuk?"

Naga emas berpunggung besi juga bukan orang goblok, dari menghadapi para Bhayangkari ini lantas dia teringat akan mutiara mestika yang menyembuhkan putrinya itu. Bukan mustahil bakal mantunya ini dan Thio Thian-ih yang telah mencuri barang-barang mustika milik raja. Tapi jelas kalau Cu Bing ini seorang pelajar yang lemah tak pandai silat, betapapun susah dipercaya dia berani menjadi pencuri. Pasti Thio Thian-ih itulah yang berbuat. Maka segera ia membuka kata: “Kalian sudah salah mencari orang. Hakikatnya dia tidak pandai main silat, bagaimana mungkin melanggar hukum apa segala. Apa lagi mencuri? Bukankah obrolan yang menggelikan saja ? Sudah tidak perlu banyak bacot lagi, lekas kalian pergi, sejak saat ini jangan kalian kemari mencari perkara!"

Kata Yu Liat-bong penuh kebencian: “Thio Thian-ih itu kita akan kirim orang untuk mengejar dan mencari jejaknya, tentang Li " dia menunjuk kearah Hong-gi.

Hong-gi menjadi kuatir, segera dampratnya: “Bedebah untuk apa kau main tuding dan tunjuk aku?"

Kata Yu Liat-bong: “Cepat atau lambat kita juga harus menyeretmu pergi kekota raja untuk menjadi saksi, tentang mutiara itu ”

Siwalet putih Kwi Tong-ing juga tahu yang diminta mereka itu adalah mutiara mestika yang telah menolong jiwanya itu, bagaimana juga mestika itu tidak bisa diserahkan, karena merasa sayang; kuatir ayahnya menyanggupi untuk dikembalikan cepat-cepat ia membentak: “Lekas pergi, jangan sesalkan nanti nonamu tidak memberi ampun pada kalian!" sambil mengancam dirogohnya senjata rahasia, mata uang yang berkilauan ditimpali sinar surya.

Yu Liat-bong dan Khu Gi-long bergegas mengangkat Lu Cau keatas kuda terus dibawa pergi. Hong-gi masih belum lega, beramai-ramai mereka juga naik kuda membuntuti dibelakangnya setelah melihat mereka benar-benar mengangkut jenazah Kiu San baru mereka menghela napas panjang. Disebelah sana terlihat kuda tunggangan Thian-ih tengah makan rumput, perbekalannya masih utuh. Sekian lama Hong-gi berdiri termangu, besar harapannya dia akan kembali lagi, tapi nanti punya nanti setengah harian sudah lewat tanpa terlihat bayangannya.

Terdengar Naga mas berpunggung besi membujuk: “Jikalau Ji-chengcu tidak sampai meninggal atau terluka, pasti kepergiannya ini ada urusan penting yang perlu diselesaikan, marilah kita kembali dulu kerumah!"

Namun Hong-gi agaknya sudah bertekad bulat, segera barang perbekalan Thian-ih dipindah keatas punggung kudanya, lalu katanya kepada Kwi Chun ayah beranak: “Aku sudah berjanji dengannya melakukan perjalanan menuju ke Ho-bwe-pang, mungkin dia sudah mendahului aku, betapa juga aku harus mengejarnya."

Kecut dan mendelu perasaan Tong-ing dilihatnya orang sedikitpun tiada perhatian terhadap dirinya. Sampai pada detik dan keadaan demikian bagaimana juga sikap seorang perempuan yang mudah tersinggung lantas terunjuk dalam lahirnya, karena malu untuk bicara langsung terpaksa ia merengek kepada ayahnya.

Sudah tentu sang ayah juga memaklumi perasaan anaknya, maka segera katanya: “Menantuku yang baik, kalau sedemikian besar tekadmu hendak pergi, biarlah Tong-ing ikut serta sebagai kawan dalam perjalanan. Memang kau sudah tidak mungkin tinggal terlalu lama disini supaya mereka tidak mencari onar lagi kepadamu, lebih baik kalau kau langsung menuju ke Ho-bwe-pang. Tong-ing banyak kenal dengan para sahabat dari Ho-bwe-pang. Usia Tong-ing juga cukup dewasa dan sudah saatnya untuk keluar pintu mencari pengalaman. Tapi kita harus pulang dulu supaya Tong-ing mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan diperjalanan!"

Sebetulnya Hong-gi ingin menolak, tapi kalau secara langsung dikatakan mungkin akan menyinggung perasaan mereka ayah dan anak. Apalagi seorang diri dalam perjalanan sejauh ini juga cukup sunyi dan menakutkan, kalau ada seorang teman rasanya lebih menggembirakan juga. Sepanjang perjalanan ini perlahan-lahan mencari kesempatan untuk menjelaskan tentang kedoknya dalam penyamaran ini. Karena pemikiran ini segera ia manggut-manggut menyetujui. Sudah tentu Tong-ing kegirangan.

Sekarang marilah kita ikuti perjalanan Thian-ih yang tengah mengejar bayangan putih perak itu. Jelas sekali dirinya dijadikan kambing hitam sebagai pembunuh jahat, darah bergolak dan hawa amarah berkobar dalam benaknya, bentuk bayangan yang sudah sangat dikenal dan Ginkang yang luar biasa itu dulu sudah pernah dilihatnya, kalau dulu dirinya kewalahan terang kali ini pengejarannya juga pasti akan sia-sia belaka.

Kejar punya kejar tahu-tahu dari kejauhan didepan sana terlihat bangunan sebuah kota. Sampai sedemikian jauh Thian-ih juga merasa dahaga dan lelah, perlahan-lahan ia kendorkan larinya, dalam sekejap itu bayangan putih perak didepan sana lantas berkelebat menghilang entah kemana. Tanpa merasa timbul perasaan giris dan dingin dalam sanubari Thian-ih, bukan saja ilmu kepandaian orang itu bukan menjadi tandingannya, sepak terjang orang yang serba misterius serta ilmu Ginkangnya yang hebat itu betapapun dirinya takkan mungkin dapat mengungkuli. Alhasil dendam kematian engkohnya serta para sahabatnya yang ikut mati konyol itu bagaimana juga susah dapat terbalas lagi. Malah sekarang dirinya dicap sebagai pelarian yang mencuri benda-benda pusaka digedung istana raja itu, dalam waktu yang singkat saja pasti berita ini akan tersebar luas di kalangan Kangouw, sampai air laut kering juga takkan dapat mencuci bersih nama baiknya yang sudah ternoda itu.

Thian-ih menjadi putus asa, sebagai murid Kiam-bun It-ho yang sangat kenamaan ilmu kepandaiannya,tapi mengapa setiap kali bergebrak dengan lawan selalu terasa kepandaian sendiri masih terpaut jauh dibanding lawan, apa mungkin gurunya tidak memberi pelajaran sepenuh hati sampai kepandaiannya begitu cetek dan jelek tidak ungkulan dari orang lain, demikianlah hati kecil Thian-ih timbul pertanyaan yang susah terjawab sendiri olehnya.

Sebelum masuk kota Thian-ih istirahat dulu dipinggir hutan, setelah merasa lapar terus masuk kota dan mencari sebuah rumah makan yang paling dekat. Juragan rumah makan itu seakan sudah kenal Thian-ih saja, dengan hormat dan sopan sekali ia persilahkan Thian-ih duduk, malah tanpa dipesan lagi segera beberapa rupa makanan yang lezat dan enak-enak sudah membanjir keluar diatas meja. Thian-ih sendiri juga segan membuka mulut, dengan lahap ia sapu habis semua hidangan yang disajikan kini. Setelah perut terasa kenyang baru dia menerawang tindakan selanjutnya yang harus dilakukan. Perjalanan ke markas besar Ho-bwe-pang yang terletak di Tam-yang-ouw masih sangat jauh, kalau tidak jadi kesana, sedang sibaju perak sudah menghilang jejaknya, lalu bagaimana dirinya harus mengambil kepastian.

Dalam melayangkan pikirannya itu lantas teringatlah Hong-gi, apakah kekasihnya itu dapat meloloskan diri dari kejaran Yu Liat-bong dan mendapat pertolongan dari Kwi Chun ayah beranak? Bagaimana juga aku harus balik melihatnya, tidak tega rasanya membiarkan dia seorang diri disana, seumpama Kwi Chun dan keluarganya tahu penyamarannya itu dan menjadi gusar bukankah berabe sekali. Apalagi kuda dan perbekalannya masih berada disana teringat akan perbekalan dia lantas tersentak kaget, bukankah perak dan uangnya 

juga tersimpan dalam buntalannya itu, sekarang dirinya tidak membekal sepeser uangpun jua, waktu merogoh kantong benar juga kosong melompong, apapun tidak dibekalnya.

Kota ini kira-kira tigapuluhan li jauhnya dari tempat pertempurannya itu, tangan Thian-ih yang terulur masuk kantong jadi susah dikeluarkan, sekian lama dia duduk melongo entah bagaimana cara penyelesaiannya ini.

Juragan rumah makan itu dipanggilnya, sambil berseri tawa bertanya si juragan rumah makan itu: “Tuan, sudah selesai makan? Perlu tambah apa lagi ?”

Thian-ih merasa tidak enak hati, sekian lama dia susah membuka mulut: “Kau sebagai juragan rumah makan ini aku ada sedikit urusan hendak bicara dengan kau tentang uang makan "

Tak duga sebelum selesai perkataannya, si juragan rumah makan sudah menukasnya: “Maksud tuan tentang ongkos makan ini bukan? Siang-siang sudah dipesan dan dibayar lunas!"

Thian-ih terperanjat, cepat ia bertanya siapakah yang telah bayar. Sahut juragan rumah makan; “Seorang tuan yang mengenakan pakaian baju perak, dialah yang pesan dan minta disediakan makanan untuk tuan. Malah dia juga suruh kami menyampaikan pesannya bahwa dia melanjutkan perjalanan menuju ke timur suruh tuan segera mengejarnya, juga sudah disediakan seekor kuda untuk tuan!"

Thian-ih bungkam seribu basa. Sementara itu pelayan rumah makan telah menuntun keluar seekor kuda yang serba lengkap, pelana dan pedalnya masih baru gres. Sepak terjang baju perak ini betul-betul sangat misterius, belum jauh dia meninggalkan Thian-ih, tapi dalam waktu sedemikian singkat sudah dapat menyelesaikan urusan sedemikian banyak.

Thian-ih berpikir, tindakannya yang demikian cekatan dan rapi, tapi dia lupa satu hal. Mana dia dapat menyelami isi hatiku yang tengah merindukan Hong-gi disebelah belakang setelah kenyang gegares hidangannya, dengan menunggang kuda yang baru dibelikan ini terus bukan menuju ke timur, tapi malah putar balik biar dia kecele. Setelah berada diatas kuda baru saja hendak dilarikan ke arah barat, tiba-tiba dilihatnya secarik kertas terselip dibawah pelana, kertas itu penuh tulisan yang berbunyi: “Tak usah terkenang akan Hong-gi, adikmu itu selamat tak kurang suatu apa. Cepat-cepatlah menuju ke laut timur, disana kau akan menemukan yang menguntungkan.” tulisannya indah dan kuat berlekak-lekuk sangat jelas, inilah tulisan Si baju perak berpedang emas itu.

Sungguh Thian-ih tidak habis paham apa gerangan yang tengah diaturnya ini? Sudah terang kalau dirinya dipihak yang bermusuhan, sekali angkat tangan atau tendang saja cukup untuk membuat dirinya mampus. Tapi selama ini dia tidak pernah turun tangan terhadap Thian-ih, hanya para sahabatnya saja yang konyol menjadi korban, tinggal dia seorang diri. Perjalanan yang jauh dan melelahkan, rasa dongkol dan keki berkecamuk dalam benaknya. Semua ini bukan saja tidak dihiraukan oleh lawan malah memberi petunjuk untuk menuju ke timur dengan pengalaman aneh yang menguntungkan apa segala. Setelah sekian lama direnungkan akhirnya dia ambil kepastian untuk melanjutkan ke timur seperti petunjuk dalam carik kertas itu.

Meskipun kuda dan pelananya serba baru, namun selama perjalanan ini sepeserpun Thian-ih tidak membekal uang. Akan tetapi lawannya sibaju perak itu sepanjang jalan telah mengatur segala keperluannya dengan rapi dan beres. Setiap tiba disebuah kota tentu menginap disebuah hotel terbesar dan mewah, hidangan paling lezat dan enak adalah makanannya, tidur dihotel serba mewah dengan gratis. Sampai pakaian luar dalam yang diperlukan juga sudah disediakan dalam hotel-hotel yang dikunjunginya. Sepanjang jalan ini meskipun sibaju perak meninggalkan segala keperluan ini itu, tapi selama ini tak pernah meninggalkan uang. Thian-ih tahu pasti dia kuatir begitu dirinya mengantongi uang segera memutar balik lagi. Entah apa maksud tujuannya memancing dirinya menuju ke laut timur?

Hari itu tiba juga disebuah kota besar dipinggiran lautan timur, disini sibaju perak meninggalkan sepucuk surat yang berbunyi : “Besok tengah hari pergilah panjat Hun-tai diatas puncak akan ada orang menyambut kau!” Ternyata ia menjanjikan Thian-ih bertemu di Hun-tai-san, tapi entahlah apakah dia sendiri yang menantikan disana.

Hun-tai-san terletak sebelah timur keresidenan Tang-hay, gunung ini terbagi depan dan belakang Hun-tai-san. Thian-ih tidak tahu entah gunung yang mana yang ditunjuk dan dimaksud oleh sibaju perak. Menurut pelayan hotel bahwa Hun-tai-san depan lebih ramai dari yang dibelakang. Lantas terpikir deh Thian-ih pastilah Hun-tai-san belakang yang dimaksudkan, setelah menanyakan cara perjalanan ini dengan kudanya ia menuju ke Hun-tai-san.

Puncak dari Hun-tai-san belakang ini ada dua terletak disebelah kanan kiri, dilihat dari kejauhan tingginya hampir sama, Thian-ih sendiri tidak tahu puncak yang mana yang dimaksud oleh sibaju perak. Apa boleh buat akhirnya dipilihnya puncak disebelah kiri itu. Jalan pegunungan agak sempit dan tidak rata kuda sukar dapat manjat keatas, terpaksa Thian-ih turun dan berjalan kaki, sampai beberapa li kemudian baru jalanan menjadi datar dan rata, sepanjang jalan ini panorama sangat mempersonakan, Thian-ih naik keatas kudanya.

Tatkala itu sudah menjelang tengah hari, matahari sudah mulai doyong ke arah barat, hawa diatas pegunungan ini sangat sejuk, dilihatnya awan mengembang di lereng gunung, pemandangan ini sungguh melegakan hati, Thian-ih merasa lapang dada, mendadak ia bersuit panjang.

Sekonyong-konyong terasa diatas kepalanya ada gerakan suara yang mencurigakan, begitu ia mendongak kagetnya luar biasa hampir saja jantungnya melompat keluar dari rongga dadanya, ternyata sebuah batu sebesar kuda tunggangannya tengah melayang turun dengan cepatnya tepat diatas kepalanya, jaraknya terpaut sangat dekat, kalau tidak sempat menyingkir.................. Thian-ih berteriak kejut, bahwasanya orang dalam bahaya pasti keluarkan kecerdikannya untuk mencari jalan hidup, tangkas sekali ia menggelinding ke samping, terpaut sedetik saja lantas terdengar suara gemuruh yang menggetarkan bumi, dimana batu besar itu jatuh, sungguh kasihan kuda tungangannya itu hancur lebur seperti bergedel, darah dan daging berceceran kemana-mana. Thian-ih mengelus dada, saking kejutnya badan sampai gemetar, untung benar bahwa dirinya masih selamat, baru saja ia hendak bangkit berdiri, mendadak kakinya menginjak tempat kosong, ternyata di pinggir jalan kecil itu adalah rumpun pohon kecil, tak tahunya belakang rumpun pohon kecil ini adalah jurang yang sangat dalam, Thian-ih tidak memperhatikan hal ini, kontan tubuhnya terjerumus melayang ke dalam jurang.

Tiba-tiba terdengar olehnya suara gelak tawa orang dari atas. Kiranya memang ada orang yang tengah menjebak dirinya, Thian-ih memandang ke bawah, lamping jurang ini sedemikian curam entah berapa dalamnya sampai tidak kelihatan dasarnya, sekali jatuh kesana pasti tubuhnya hancur lebur, karena merasa tiada harapan lagi, segera ia pejamkan mata pasrah nasib. Mendadak terasa tubuhnya menyerempet entah benda-benda apa, timbul lagi harapan hidupnya, secara gerak reflek tangannya menggapai dan mencengkram dengan kencang, kiranya yang dicekal adalah akar pohon-pohon penjalin yang menjalar diatas tebing itu, untung tubuhnya melayang dekat dinding gunung sehingga dia selamat bergelantungan memegangi akar pohon itu.

Orang diatas itu masih perdengarkan gelak tawanya yang menggila, agaknya sangat puas dan kegirangan, dari bawah Thian-ih masih dapat melihat bayangannya, orang itu mengenakan pakaian serba hitam, ternyata bukan sibaju perak yang disangkanya, tapi entah apakah tujuannya hendak membunuh dirinya dengan jebakan yang keji ini? Hatinya geram sekali, segera kaki tangannya mulai bergerak merambat naik ke atas, untuk membuat perhitungan dengan si baju hitam ini.

Karena dinding gunung sangat licin susah untuk dipanjat, namun Thian-ih tak putus asa dengan susah payah ia harus merambat ke atas sambil mengeluarkan ilmu cecak merambat dinding, diam-diam hatinya berdoa supaya usahanya ini tidak sampai konangan oleh si baju hitam. Kalau tidak dia tengah berdiri di pinggir jalan, sekali ulurkan tangan saja pasti tamatlah jiwanya. Tak kira si baju hitam itu kiranya juga cukup cerdik, dengan cermat ia longak-longok, Thian-ih yang sudah sembunyi dan mepet dinding masih terlihat juga olehnya. Terdengar ia bergelak panjang, Thian-ih tahu bahaya tengah mengancam lagi, lekas-lekas ia kerahkan tenaga untuk berjaga-jaga, sedapat mungkin tubuhnya dipepetkan ke dinding gunung.

Mendadak orang di atas itu melancarkan pukulan-pukulan dahsyat sampai debu dan dahan-dahan pohon beterbangan, tapi karena Thian-ih sembunyi mepet dinding, maka samberan angin pukulannya itu tidak sampai mengenai dirinya, sementara waktu agaknya dia masih kuat bertahan.

Melihat usahanya ini tidak membawa hasil, cepat-cepat ia mengusungi beberapa buah batu-batu terus digelundungkan ke bawah, begitu melayang jatuh batu itu menggelundung ke depan, meskipun suaranya bergemuruh tapi sedikitpun tidak mengenai Thian-ih. Kesempatan ini digunakan Thian-ih untuk terus merambat ke atas, akhirnya sampai juga di pinggir jurang, kebetulan si baju hitam tengah mengusung lagi beberapa buah batu. Sekali loncat ringan sekali Thian-ih menginjakkan kaki di atas tanah, tanpa hiraukan napasnya yang masih ngos-ngosan, cepat-cepat ia bersiap hendak menghadapi lawan.

Si baju hitam tengah memanggul sebuah batu besar, begitu memutar tubuh, tahu-tahu Thian-ih sudah berdiri di hadapannya, tampak bajunya sudah koyak-koyak, mukanya terbaret banyak luka-luka kecil, darah masih mengalir keluar, sepasang matanya mendelik dengan garangnya, sikapnya ini sangat menakutkan, tanpa merasa si baju hitam sampai mendelong dan kesima sekian saat. Dilihatnya oleh Thian-ih si baju hitam ini masih sangat muda, kulitnya putih berwajah cakap, namun sepasang matanya memancarkan sifat-sifat sombong dan culas serta keji. Thian-ih berpikir, aku belum pernah kenal orang ini mengapa ia menjebak hendak membunuh aku. Maka segera bentaknya: "Siapa kau? Mengapa kau jebak aku ke dalam jurang?"

Si baju hitam menyeringai iblis, jengeknya: "Kau ini yang bernama Thio Thian-ih ?"

Thian-ih mengangguk. Mendadak dia angkat batu besar itu sambil berteriak: "Kalau kau Thio Thian-ih maka kau harus mampus!" mendadak ia lemparkan batu besar itu.

Thian-ih melejit setinggi tiga tombak. "Blang", tempat dimana ia tadi berdiri sampai melesak dalam ketindih batu sedemikian besar, waktu Thian-ih melayang jatuh lagi tepat ia menginjak diatas batu yang baru jatuh ini.

Tanpa banyak kata lagi sambil menggerung gusar si baju hitam segera menubruk maju sambil menyerang dengan pukulannya, tenaga pukulannya sangat kuat dan deras, hampir saja Thian-ih keterjang jatuh lagi ke dalam jurang.

Mendadak timbul kecerdikan Thian-ih lagi, tangkas sekali tiba-tiba ia mendakan tubuh, terus menyeruduk kedepan, gesit sekali sibaju hitam mengelak. Kini kedudukan mereka terbalik, Thian-ih mepet dinding sedang sibaju hitam membelakangi jurang. Sekonyong-konyong sibaju hitam menjotos lagi dengan kekuatan penuh. Kalau tadi Thian-ih beruntung tidak sampai terjungkal lagi kedalam jurang, namun kini mepet dinding tiada tempat untuk mundur lagi terpaksa ia angkat tangan untuk menangkis. "Blang", kedua tangan tergetar sampai linu, dinding batu dibelakangnya sampai tergetar berhamburan sehingga kepala dan mukanya kotor kena debu.

Agaknya sibaju hitam sudah menjajal bahwa tenaga dalam Thian-ih ternyata tidak dibawah dirinya, sambil tertawa dingin kakinya bergerak pindah kedudukan terus merangsak maju lagi, dimana kedua jarinya dirangkapkan terus menutuk ke tenggorokan Thian-ih. Thian-ih kerahkan tenaga sekuatnya ia menangkis dengan sebuah pukulan. Tapi mendadak sibaju hitam merobah serangan tutukan menjadi tamparan, telapak tangannya menyerempet lewat diatas pundaknya, terasa sakit seperti dipapas pisau.

Thian-ih insaf kepandaian sendiri masih bukan tandingan lawan. Siapa duga yang dimaksud oleh sibaju perak tentang pengalaman aneh yang membawa keberuntungan ternyata adalah menyuruh dirinya ke Hun-tai-san ini untuk mengantar kematian. Apalagi sibaju hitam ini sudah mengetahui namaku sebelumnya, ini menambah tebal dugaannya ini.

Terpaksa Thian-ih kuras kepandaian yang dipelajarinya dari gurunya, sedapat mungkin dia membela diri. Tapi sepasang lengan baju sibaju hitam menari-nari sangat cepat, tenaganya besar pula, sehingga Thian-ih mati kutu dan terkepung dalam kekangan tenaga pukulannya itu, seumpama kucing mempermainkan tikus saja, demikianlah keadaan Thian-ih sekarang. Tahu kalau dirinya tidak bakal ungkulan, dengan rapat ia menjaga diri jangan sampai terlihat lobang kelemahannya. Tapi bertempur cara begini apa pula gunanya bagi dirinya ? Diatas pegunungan yang sepi ini, siapa pula yang bakal menolongnya. Agaknya sibaju hitam juga tidak sabaran lagi, jurus-jurus dan tipu-tipu ganas segera dilancarkan, menghadapi yang ini tak tahu sudah terancam dengan serangan yang lain lama kelamaan Thian-ih merasa sekelilingnya terkepung oleh bayangan sibaju hitam, tahu dia bahwa pertahanan cara demikian pasti tidak akan berlangsung lama, hatinya mulai berpikir cara untuk melarikan diri atau bila terpaksa biarlah membunuh diri saja daripada terhina. Mendapat hati sibaju hitam merogoh rempelo, dimana angin pukulannya menyambar lewat segera Thian-ih menubruk maju menempuh bahaya, tapi tubuhnya terpental balik lagi oleh sebuah pukulan musuh terus terpantek di dinding gunung, begitu tangan kanan diulurkan dua jarinya menutuk kearah mukanya. Thian-ih kenal jurus tutukan yang dinamakan Liong-hi-siang-cu (naga mengambil sepasang mutiara), yang diarah adalah kedua biji matanya, tangan dan kaki Thian-ih sudah terkekang oleh musuh, tubuhnya susah bergerak lagi, agaknya kedua matanya ini susah diselamatkan lagi.

Terlihat olehnya jari tak bernama dari tangan kanan sibaju hitam mengenakan sebuah cincin yg berbentuk aneh, bersinar kemilau ditimpa sinar matahari, semakin dekat dan dekat.......

"Creng'' mendadak sebuah kilatan menyambar cincin diatas jari sibaju hitam, maka jari yang diulurkan dan sudah mengenai kulit mata Thian-ih itu mendadak ditarik kembali secepat kilat, lantas terdengarlah sebuah suitan nyaring panjang dari kejauhan. Thian-ih membuka mata seperti baru sadar dari impiannya. Mendadak sibaju hitam berobah sikap, wajahnya mengunjuk tawa berseri terus menarik lengannya dan berkata: “Saudara Thio, membuat kau kaget saja. Siaute hanya bermain-main saja dengan kau!''

Tiba-tiba terasa angin berkesiur sebuah bayangan orang melayang turun dengan ringannya. Thian-ih merasa pandangannya menjadi terang serta hidungnya mengendus bau harum. Tam- pak seorang gadis yang mengenakan serba putih tengah berdiri tegak dihadapan mereka, wajahnya yang jelita itu mengunjuk rasa gusar, sepasang matanya yang bening bak bintang kejora itu tengah menatap tajam memancarkan sinar gusar. Justru sorot gusar ini ditujukan kearah sibaju hitam.

Bagai tikus ketemukan kucing, sibaju hitam menundukkan kepala tak berani beradu pandang dengan gadis serba putih ini. Terdengar gadis itu menyemprot: “Ban Ai-ling, apa yang kau lakukan? Berani kau hendak membunuh dia?"

Ternyata sibaju hitam bernama Ban Ai-ling, terdengar ia menyahut gagap: “Adik Hun, kau salah paham lagi, aku hanya bermain-main saja dengan saudara Thio ini !" sorot mata yang minta dikasihani memandang kearah Thian-ih, agaknya minta belas kasihannya. Katanya lagi: “Saudara Thio, coba katakan bukankah kita hanya main saja? Bukankah kita tadi datang bergandengan tangan!"

Thio Thian-ih mendenguskan hidungnya keras-keras, hatinya merasa muak dan dongkol melihat sikap licik dan menjilat sibaju hitam yang bernama Ban Ai-ling ini.

Tapi sigadis baju putih juga tidak gampang ditipu, jengeknya dingin: “Bagus sekali Ban Ai-ling, kau menipu aku mengatakan hendak membantu aku menyambut tamu dan menghadang dipuncak sebelah kiri ini. Tidak kira kau mengandung maksud jahat, untung aku sudah curiga akan sikapmu tadi dan lekas-lekas memburu tiba, kalau tidak bukankah Ji-chengcu ini sudah terjebak dalam tipu muslihatmu." sekilas ia melirik kearah Thian-ih, dimana tangan merogoh pinggang "sreng" sebilah pedang pusaka lantas dihunus ditangannya, dibawah sinar matahari, pedang itu memancarkan sinar kebiru-biruan.

Agaknya Ban Ai-ling ini sangat takut menghadapi gadis baju putih, cepat ia membela diri: “Betul-betul aku hanya main-main saja, aku hanya ingin menjajal kepandaian ajaran dari Kiam-bun-It-ho tulen yang disohorkan itu, akibatnya "

Gadis baju putih ini agaknya cukup cerdik, kalau dibiarkan saja mengudal mulut pasti dia akan mengisahkan keadaan Thian-ih yang tidak becus melawan kepandaiannya, hal ini kiranya cukup memalukan bagi Thian-ih yang masih berdiri melongo ditempatnya. Maka cepat-cepat ia menukas: “Tak usah banyak mulut lagi, lekas kau pergi, aku tidak memerlukan tenagamu lagi

!"

Kata Ban Ai-ling: “Adik Hun, biarlah aku menemani kalian menuju ke Hun-tiong-khek."

Gadis baju putih malah membanting kaki berulang-ulang, semprotnya: “Tidak usah dan tidak perlu, kita bisa jalan sendiri, masa aku tidak kenal jalanan?"

Melihat orang tetap menolak, apa boleh buat akhirnya Ban Ai-ling berkata dengan wajah mengunjuk sikap mesra: “Kalau begitu baiklah adik Hun, besok kita bertemu ditempat lama."

Thian-ih jadi berpikir; dilihat keadaan ini agaknya Ban Ai-ling dan gadis baju putih ini adalah sepasang kekasih. Diam-diam ia merasa gegetun dan sayang bagi gadis nan ayu jelita ini.

Tak kira mendadak si gadis baju putih menegakkan alis serta hardiknya: “Ban Ai-ling, apa maksudmu dengan tempat lama apa segala. Kita dari Hun-tiong-khek selamanya tidak berhubungan dengan kalian guru dan murid, kuharap jangan kau sembarang mengoceh." habis berkata ia memutar tubuh menghadap Thian-ih terus sapanya: “Ji-chengcu, mari kita berangkat !" tanpa hiraukan orang lagi mereka terus manjat keatas gunung.

Terdengar Ban Ai-ling tertawa dingin, entah apa yang digrundelkan, dengan mendelong ia awasi kedua orang muda mudi ini menghilang dari pandangannya.

Dalam perjalanan ini tanpa Thian-ih keburu membuka mulut, sigadis baju putih sudah mendahului menerangkan: “Aku bernama Cia In-hun, guruku adalah Hun-tai Siancu (dewi gunung Hun-tai), kita tinggal di Hun-tiong-khek yang terletak dibelakang puncak sebelah kiri sana. Kemaren guruku mendapat kabar bahwa Ji-chengcu akan berkunjung kemari, maka pagi-pagi benar dia menyuruh aku menunggu di-puncak depan ini."

Segera Thian-ih bertanya: “Nona Cia, orang yang memberi kabar itu apakah seorang yang mengenakan baju perak? Dimana dia sekarang?"

Melihat sikap orang yang gugup, Cia In-hun unjuk senyum geli, sahutnya: “Tentang ini, maaf aku tidak bisa memberi jawaban. Aku sendiri tidak melihat orang baju perak itu dan tidak tahu dimana dia sekarang. Harap Ji-chengcu langsung tanyakan saja kepada Suhu nanti!''

Setelah mengucapkan perkataannya tadi, sibaju putih terus bungkam membisu, wajahnya masih mengunjuk senyuman manis, tapi rada bersikap malu-malu seperti gadis umumnya kalau berhadapan dengan pemuda. Begitulah sekian lama ia berjalan didepan menunjuk jalan, sesekali ia menoleh ke belakang, dilihatnya Thian-ih tengah memandangi dirinya, disangkanya orang lelah dan ingin istirahat, maka segera katanya tertawa: “Sudah hampir sampai, itu diatas sana!"

Thian-ih memandang keatas tempat yang ditunjuk itu adalah sebuah puncak kehijauan yang diselubungi kabut putih, samar-samar terlihat atap genteng yang bewarna merah. Diam-diam ia bertanya dalam hati; siapa dan tokoh macam apakah Hun-tai Siancu ini?

Bangunan rumah dipuncak ini ternyata berbentuk lain dari pada yang lain. Setelah beberapa langkah lagi jalan pegunungan sudah habis dilalui, kini mereka harus menerobos semak-semak pohon yang berduri tajam. Cia In-hun membuka jubahnya terus loncat berlarian diatas rumpun bunga dan pohon-pohon liar. Waktu ia berpaling dilihatnya Thian-ih juga tengah menelat perbuatannya, dilihatnya ilmu ringan tubuh orang ternyata tidak dibawahnya terus membuntuti dibelakangnya. Agaknya Cia In-hun berlega hati, mulutnya berkecek memuji diam-diam ia merasa kagum.

Thian-ih melihat gerak kaki orang sedemikian lincah dan seenteng burung walet terbang pesat diatas pepohonan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun juga, sebaliknya setiap kaki sendiri bergerak pasti terdengar suara keresekan dari sentuhan dahan-dahan pohon itu, diam-diam ia merasa malu sendiri. Teringat olehnya akan pertolongannya tadi, dari kejauhan melepas senjata rahasia yang tepat mengenai cincin yang dikenakan di jari Ban Ai-ling sehingga pemuda jahat itu tahu diri dan mundur teratur. Kepandaian semacam ini benar-benar jarang terlihat di dunia persilatan. Entah bagaimana kepandaian gurunya Hun-tai Siancu itu ? Kalau muridnya saja sudah sedemikian lihay, pasti kepandaian gurunya itu lebih mengejutkan lagi. Baru sekarang Thian-ih insaf akan setinggi-tinggi gunung masih ada yang lebih tinggi, semakin terasa pula olehnya betapa kerdil kepandaian sendiri ini.

Setelah melewati semak belukar yang berumpun duri ini, bangunan genteng merah itu sudah terlihat semakin jelas. Tengah mereka berlari dengan pesat, mendadak Cia In-hun berhenti dan melintangkan tangan, katanya tertawa: “Tuan tamu yang mulia hati-hatilah!" 

Begitu Thian-ih memandang kebawah kakinya kejutnya bukan kepalang, tepat dibawah kakinya kiranya adalah sebuah jurang yang dalam dan pekat diselubungi kabut entah berapa dalamnya. Ternyata meskipun bangunan rumah bergenteng merah itu sudah tidak jauh jaraknya, tapi untuk mencapai tempat itu mereka masih harus melewati sebuah jurang didepannya ini. Didapatinya diatas jurang terbentang seutas tali sebesar jempol kaki, tali ini bergoyang gontai dihembus angin.

Thian-ih berpikir, apakah harus melewati tambang ini kalau mau menyebrang kesana, dilihat dari besarnya tali itu diam-diam ia menimang dan tiada pegangan dapat lewat dengan selamat ke sebrang sana.

“Ji-chengcu," terdengar Cia In-hun berkata: “Kita harus kesana lewat tali ini, meskipun jurang ini tidak begitu lebar, tapi selain guru dan Pak-ko-seng tiada seorangpun yang pernah kulihat dapat terbang ke sana, semua orang yang lewat harus menggunakan tali tambang ini "

Thian-ih membatin, bocah perempuan ini pandai menipu orang, betapa lebar jurang ini sedikitnya juga ada sepuluhan tombak, gurunya kan bukan burung, mana mungkin terbang lewat di tengah udara. Lalu terdengar pula penjelasannya tentang tali tambang itu adalah terbuat dari untaian urat-urat binatang, puluhan tahun sudah berselang tapi masih kokoh kuat.

Dengan ringan sekali gadis baju putih itu loncat ke atas tambang, dua kali entulan tubuhnya sudah melesat sampai di tengah-tengah jurang, dengan seenaknya ia berdiri seumpama di tanah datar saja. Kuatir Thian-ih tidak percaya disini ia menggerakkan tubuh sambil berjongkok dan mengentul-entul sampai tambang itu bergoyang gontai, bukan takut malah dia tertawa berseri dan berseru kepada Thian-ih: “Ji-chengcu, lihatlah, tambang ini sedemikian kokoh kuat."

Di kejap lain gadis baju putih sudah tiba di seberang jurang dengan selamat. Thian-ih membatin betapa sukarpun juga harus kucoba, supaya tidak menjadi buah tertawaan seorang gadis. Teringat olehnya sejak meninggalkan perguruan, entah sudah berapa kali menghadapi dan mengalami pertempuran-pertempuran dahsyat yang membahayakan jiwa, demikian juga kali ini, paling banyak terkubur didalam jurang, apa pula yang harus ditakutkan. Setelah berketetapan timbullah semangat dan keberaniannya, begitu mengembangkan ginkang terus melayang dan hinggap di atas tambang itu.

Terasa kakinya seperti menginjak di atas tanah saja, memang tambang itu sangat kuat dan keras, maka dengan lega hati ia maju terus sampai di tengah, tiba-tiba terdengar olehnya dibawah sana suara yang gemuruh dari deburan ombak tak tertahan lagi ia melongok ke bawah. Tampak di bawah jurang sana ternyata adalah arus air yang sangat deras sekali bergelombang tinggi, suaranya gemuruh bagai geledek, tanpa merasa hatinya menjadi ngeri dan takut, sedikit gemetar kakinya lantas terpeleset jatuh...............

Dalam saat-saat yang kritis itu untung tangannya masih sempat meranggeh dan memegang kencang tambang aneh itu sehingga tubuhnya bergelantungan. Terdengar seruan kaget, secepat terbang enteng sekali Cia In-hun berlari datang berdiri di atas tambang sambil mengulur tangannya terus menjinjing tubuh Thian-ih ke atas. Thian-ih merasa mukanya merah membara.

Setelah sampai di seberang jurang Thian-ih mengintil terus di belakangnya, tak lama kemudian di tengah-tengah kabut yang tebal di hadapannya telah berdiri sebuah bangunan gedung yang bergenteng merah itu, bangunan gedung ini begitu megah dan angker, diatas pintu depan tergantung sebuah papan nama yang bertuliskan "Hun-tiong-khek" tiga huruf, kiranya tepat dan serasi benar nama ini dengan keadaan sekelilingnya.

Baru saja kakinya melangkah masuk pintu lantas hidungnya diserang bebauan wangi dari harumnya kembang-kembang yang sedang mekar, di belakang emper sebelah sana terlihat seekor burung betet segera menggape-gapekan sayap sambil berteriak: “Tamu agung datang, tamu agung datang." Dua ekor kera warna putih lantas melompat keluar, begitu melihat Thian-ih lantas cecoetan sambil berjingkrak-jingkrak, matanya yang merah bening berputar-putar memandang Thian-ih dengan seksama. Segera Cia In-hun menggerakkan tangan sambil berkata: “lekas laporkan kepada Siancu!" mendadak burung betet itu terbang masuk, sedang kedua kera putih juga lantas loncat menghilang di balik pintu.

Tak lama kemudian Cia In-hun membawa Thian-ih sampai di depan sebuah pintu bundar berbentuk bulan sabit, di depan pintu kerai terbuat dari bambu terurai turun. Sampai di depan kerai segera Cia In-hun membungkuk tubuh memberi lapor: "Sam-ho Thio-keh-cheng Ji-chengcu sudah tiba !"

“Silakan masuk !" terdengar sebuah suara menyahut dari dalam, tapi tak terlihat orang keluar menyambut.

Thian-ih membatin lagi, takabur benar Hun-tai Siancu ini. Menyingkap kerai ia terus menyelinap masuk. Tampak diatas kasur kecil peranti untuk bersamadi duduk seorang perempuan setengah baya, sikapnya welas asih dan berseri girang. Sekali pandang lantas Thian-ih merasa seolah-olah dirinya pernah melihat atau bertemu, suatu perasaan dekat da- lam batin lantas timbul dalam benaknya, tanpa merasa segera ia membungkuk tubuh memberi hormat, serta sapanya: "Wanpwe Thio Thian-ih menghadap Siancu. Semoga Siancu selalu sehat walafiat.”

Hun-tai Siancu menerima pemberian hormatnya itu, terdengar suaranya tersenggak: “Silakan bangun " Sekilas Thian-ih masih sempat melihat, mendadak kedua matanya memancarkan rasa duka hampa. Tapi ini terjadi sekilas saja, tak lama kemudian seperti awan yang mengembang dan tersebar hilang. Kini pandangan matanya terang penuh mengandung belas kasih, sehingga Thian-ih merasa hangat dan lega serta lapang dada.

Tanpa berkesip Hun-tai Siancu memandangi wajah Thian-ih. Cia In-hun sudah mengundurkan diri, maka dalam ruangan itu tinggal mereka berdua, Thian-ih ingin menanyakan jejak si badju perak. Tapi sampai diujung mulut ia telan kembali, biarlah dia sepuas hati memandangi dirinya. Seakan sang bunda yang welas asih penuh kasih sayang melihat anaknya yang telah kembali dari perjalanan yang jauh. Siapapun tidak mau memecahkan suasana tenang hangat dan nyaman ini.

Tidak lama kemudian terdengar Hun-tai Siancu menghela napas dan bertanya: “Apa kau mau tinggal beberapa lama di-tempat ini?"

Sebetulnya Thian-ih hendak menolak karena masih banyak urusan yang perlu dibereskan tapi entah mengapa terasa sulit untuk menampik kebaikan yang ditawarkan ini dan susah membuka mulut, tanpa sadar ia manggut-manggut.

Hun-tai Siancu tersenyum, katanya: “Kau pergilah istirahat dan makan dulu. Nanti datang lagi menghadap aku, ada banyak persoalan yang hendak kutanyakan kepadamu."

Waktu Thian-ih keluar, Cia In-hun sudah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan. Setelah mandi lantas makan, meski hanya berupa hidangan sederhana saja dia makan dengan lahapnya. Suasana di Hun-tiong-khek (kediaman ditengah awan) sangat tenang dan sunyi, tatkala itu disiang hari, dimana tempat Thian-ih makan hanya kabut dan angin sepoi-sepoi saja yang memenuhi ruangan itu, memang kadang kala kera-kera kecil berloncatan lewat tapi juga sangat hati-hati tidak mengeluarkan suara, ini menambah suasana menjadi lebih angker.

Thian-ih berpikir, agaknya sikap Hun-tai Siancu terhadap dirinya sangat baik dan prihatin, dia minta dirinya tinggal disini entah untuk maksud apa? Teringat akan Hong-gi hatinya menjadi gundah tidak tentram, diam-diam ia ambil kepastian hendak menanyakan jejak siorang berkedok itu, tak peduli ketemu atau tidak, begitu urusan disini selesai secepatnya aku harus segera kembali mencari Hong-gi.

Malam itu begitu berhadapan Thian-ih lantas menanyakan jejak sibaju perak. Ternyata Hun-tai Siancu juga tidak main sembunyi, dikatakan bahwa sibaju perak memang pernah datang, tapi hanya tinggal beberapa kejap lantas pergi lagi, dia datang memberi tahu akan kedatangan Thian-ih. Thian-ih bertanya kemanakah dia pergi. Hun-tai Siancu menjawab tidak tahu. Hati Thian-ih menjadi risau, pikirnya, untuk apa sibaju perak membawa dirinya keatas Hun-tai-san

? Sesaat ia tenggelam dalam pemikirannya.

Sekarang mulailah Hun-tai Siancu bertanya kepadanya, ditanyakan pelajaran apa saja yang telah dipelajari selama berada di Kiam-bun-San? Bagaimana pengalamannya setelah turun gunung? Thian-ih merasa Siancu sedemikian akrab dan kasih sayang seumpama menghadapi sanak keluarganya sendiri, maka tanpa ragu-ragu lagi ia mulai bercerita panjang-lebar tentang semua pengalaman selama ia turun gunung.

Dengan tenang Hun-tai Siancu ikuti ceritanya. Setelah cerita Thian-ih habis ia menggeleng-geleng kepala sambil menghela napas panjang. Ia menegor Thian-ih tidak seharusnya dia begitu tergesa-gesa untuk menuntut balas sampai merembet dan mengorbankan banyak jiwa yang meninggal secara konyol. Tergerak hati Thian-ih, batinnya, kalau sibaju perak itu pernah kemari pasti dia sangat bersahabat dengan Hun-tai Siancu. Ditanyakan nama dan siapakah sebenarnya sibaju perak itu mengapa ia selalu menggoda dan mempermainkan dirinya membunuh dengan semena-mena. Hun-tai Siancu tidak menjawab secara langsung, hanya dikatakan bahwa itu ada sebab lain yang tak dapat diterangkan, kelak pasti Thian-ih akan paham sendiri. Ditegaskan bahwa sibaju perak itu tiada mengandung maksud jahat terhadap dirinya. Hanya godaan dan sepak terjangnya terhadap Thian-ih itu memang rada keterlaluan.

Thian-ih tidak percaya, diajukan bukti-bukti tentang kematian Kim Khe-sian sipendeta pemabukan itu. Betapa gagah dan jujur serta kesatrianya pendeta itu, tapi toh mengalami ancaman dan permainan sibaju perak, akhirnya sampai menceburkan diri kedalam jurang yang dalam dan mati tanpa dipendam diliang kubur yg layak, apakah dia juga mempunyai dosa ?

Hun-tai Siancu tertawa, katanya: “Apa kau tahu kalau dia mempunyai ganjalan hati? Menurut hematku sudah siang-siang dia harus mampus, apa kau tahu sebab musabab akan kematiannya itu?"

Thian-ih membayangkan adegan yang menggiriskan pada malam itu, katanya dengan gemas: “Karena takut mendengar suara deburan air terjun sehingga menimbulkan kenangan pahit dan menyedihkan akan pengalamannya pada masa yang lampau. Anak dan istrinya mati dibawah injakan kaki-kaki kuda, sedang gema suara air terjun itu memang persis benar dengan derap langkah berlaksa kuda yang sedang berlari kencang "

Hun-tai Siancu sedikit menggeleng kepala, katanya: “Kim Khe-sian salah, meskipun dia menyesal dan bertobat sebelum ajal, tapi dia masih tidak rela mengemukakan dosa-dosanya yang tercela itu kepadamu. Dari sini dapatlah dimengerti betapa licik orang ini, dia masih mengharap supaya namanya tidak tercela dan harum sepanjang masa "

Melihat Thian-ih memandang dirinya dengan sorot keheranan tak mengerti, maka mulailah dia bercerita: Banyak tahun yang lalu, dalam kalangan Kangouw muncul seorang kesatria yang gagah perwira, akhirnya dia menikah dan memperoleh seorang putra. Tapi pada usia pertengahan, mendadak sifatnya berobah sangat tercela, dia mengalihkan cintanya menyukai seorang gadis remaja lain, dan gadis remaja itu selalu mengejar dan tergila-gila padanya, malah mendesaknya supaya menceraikan istrinya yang pertama. Akhirnya dia termakan akan bujuk rayu dan maksud keji itu, tapi dia berpikir kalau perceraian bukanlah penyelesaian yang tepat mengingat nama baiknya selama ini, akhirnya pasti perbuatannya yang tidak senonoh ini akan mendapat cercah dan kutukan para sahabat Kangouw, dari pada bercerai lebih baik dilenyapkan saja jiwanya supaya perbuatan kotornya tidak diketahui orang lain. Maka dengan kandungan angan-angan yang jahat ini selalu ia mencari kesempatan untuk turun tangan.

Pada suatu ketika kesempatan itu tiba juga. Didengarnya kabar bahwa pada suatu tempat selalu terjadi kerusuhan huru-hara akan berandal-berandal jahat yang merajalela. Maka tentara kerajaan hendak menggerebek sarang-sarang penyamun itu. Dengan sengaja ia membawa anak istrinya ke tempat dimana balatentara kerajaan bakal lewat disitu. Memang rombongan tentara berkuda lewat seperti yg direncanakan, dia pura-pura berseru kejut dan ketakutan sambil berteriak-teriak dan melarikan diri, saking tergesa-gesa ia seret anaknya itu, diluar dugaan anaknya itu sangat sayang dan tak mau berpisah dengan ibunya, mati-matian ia menggondeli ibunya tidak mau tinggal pergi, dalam sekejap mata saja rombongan tentara berkuda sudah tiba didepan mata, terpaksa orang itu loncat menyingkir sendiri, mengandal Ginkangnya yang tinggi dengan gampang saja ia lolos dari bahaya. Sebaliknya istri dan anaknya hancur lebur terinjak-injak kaki kuda. Meskipun muslihatnya itu berhasil, tapi tujuannya semula hanya hendak membunuh istrinya saja tidak kira akhirnya anaknya ikut melayang jiwanya. Sejak saat itu, walaupun ia hidup senang tapi suara teriakan sang istri sebelum ajal selalu terkiang di pinggir telinganya, sehingga ia menyesal dan bertobat sampai mati dengan pengalaman yang kau saksikan sendiri. Inilah riwayat hidup Kim Khe-sian dulu, setelah mendengar cerita ini apakah kau masih beranggapan kalau kematiannya itu penasaran?"

Thian-ih bungkam. Kata Hun-tai Siancu lagi: “Yang lain umpamanya Kiau-si Hengte, Hek-san-siang-ing, Cin-tiong-sam-hiap, serta sipena berapi Siu Hoa dan golok tujuh bintang Kiu San, dosa mereka sudah bertumpuk-tumpuk dan kematian mereka adalah setimpal. Sebaliknya mereka yang bijaksana dan jujur, umpamanya kau sendiri, Nyo Hway-giok serta Li Hong-gi dan Ban-keh-seng-hud Ciu Hou, meskipun terancam bahaya berulang-ulang, tapi sedikitpun tidak mengalami cidera apa-apa "

Diam-diam bercekat hati Thian-ih. Sedemikian jelas dan terang analisa Siancu ini seperti dia mengalami sendiri. Meskipun tadi dirinya sudah menuturkan semua dengan jelas, tapi juga cukup meragukan, maka segera tanyanya: "Mohon tanya Siancu, mengapa si baju perak berbuat begitu rupa? Apakah tujuan yang sebenarnya?"

Hun-tai Siancu mengerutkan alis, sahutnya lirih : “Apakah tujuan semua sepak terjangnya itu? Aku sendiri tidak tahu jelas, tapi aku percaya bahwa dia tidak mengandung maksud jahat terhadap kau !"

Tak tertahan lagi Thian-ih, berkata keras: “Dia membunuh banyak kawan-kawanku, berulang kali menggoda dan mempermainkan aku dengan Hong-gi, menculik Ciu Hou sampai tidak keruan paran jejaknya. Dan yang menjengkelkan dia mengambing-hitamkan aku menjadi pelarian pemerintah yang mencuri dan membunuh petugas hukum. Apakah ini maksud baiknya?"

Sekarang suara Hun-tai Siancu mengandung tegoran langsung: "Seorang muda jangan begitu terburu nafsu menyimpulkan sesuatu sebelum kau sendiri jelas akan duduk perkaranya. Betapapun urusan ini kelak dapat dibereskan. Benarkah dan mengapa kelima orang berkedok itu membunuh engkohmu? Bagaimana juga tindakan si baju perak bukan hendak menjebak kau, akhirnya kau tentu akan paham sendiri akan seluk-beluk semua peristiwa ini."

Thian-ih tidak berani banyak petingkah lagi, tapi hatinya masih dirundung pertanyaan yang belum terjawab itu, dia minta supaya Hun-tai Siancu memberikan sedikit penerangan dan jalan petunjuk ke arah penyelesaian yang sempurna. Sekian lama Hun-tai Siancu termangu meman- dangi wajahnya, sedikit menggelengkan kepala, sorot mata yang penuh kehampaan serta kepiluan hati terlihat lagi. Ini membuat Thian-ih terkejut dan curiga.

Sang waktu berjalan sangat cepat, sekejap saja beberapa hari telah berlalu. Selama itu Thian-ih tinggal di Hun-tiong-khek mendapat petuah dan wejangan berharga dari Hun-tai Siancu, hatinya mulai tenang dan pikiran tentram, beberapa hari berikutnya sebagai seorang angkatan lebih tua lazimnya Hun-tai Siancu menguji kepandaiannya dalam sastra maupun ilmu silat. Akhirnya didapatinya meskipun bakat Thian-ih sangat baik, tapi cara pelajarannya kalang kabut, terutama dalam bidang ilmu silat, setiap kali Thian-ih bersilat berulang kali Hun-tai Siancu menggeleng kepala.

Dikatakan bahwa Kiam-bun it-ho tidak sepenuh hati membimbing muridnya, mungkin apa yang telah dipelajarinya itu masih kalah jauh dibanding Bangau tunggangannya itu. Ini perlu perbaikan dan latihan dari mula lagi.

Belajar sastra dan memperdalam ilmu silat untuk bekal hidup adalah harapan Thian-ih sejak semula. Kini mendapat kesempatan diberi petunjuk dari guru silat kenamaan, dibawah ajaran dan didikan Hun-tai Siancu setiap pagi dia belajar sastra sedang sorenya ikut Hun-tai Siancu belajar silat. Pelajaran ini termasuk ilmu pedang, ilmu pukulan, senjata rahasia dan Ginkang, sudah tentu dalam hal tenaga dalam juga tidak ketinggalan karena Hun-tai Siancu mempunyai ilmu khas dalam bidang ini.

Diam-diam Thian-ih merasa girang dan bersyukur, semakin giat dia belajar tidak mengenal lelah, dari pagi sampai sore dia tekun belajar. Sekarang Cia In-hun menjadi kawan seperguruannya, setiap saat mereka selalu berduaan belajar bersama bersilat bersama juga. Karena dia lebih lama belajar dibawah didikan Hun-tai Siancu sudah tentu kepandaiannya jauh lebih tinggi dari Thian-ih, namun sedikitpun dia tidak sombong atau takabur, bukan saja membantu mengoreksi kesalahan Thian-ih malah selalu mengalah pula. Mungkinlah memang sudah pembawaan sifat perempuan yang tidak senang menang dan berwatak halus. Lama kelamaan timbul rasa suka dan simpatik dalam benak Thian-ih terhadap gadis pingitan ini.

Pohon Kwi diatas gunung mudai berkembang, dengan riang dan senang Thian ih lewatkan hidupnya diatas gunung, setelah mendapat petunjuk dan penjelasan dari Hun-tai Siancu sekarang dia tidak terburu nafsu hendak menuntut balas atau mencari perkara kepada si baju perak. Meskipun masih banyak urusan menanti dia untuk diselesaikan, umpamanya mencari jejak kelima orang berkedok itu untuk menuntut balas sakit hati engkohnya, mencari Ciu Hou untuk menyembuhkan penyakit gila Hi Si-ing, menyerahkan kembali kedua mutiara untuk menolong Lim Han keluar dari penjara, membantu terangkapnya perjodohan Li Hong-gi dengan Nyo Hway-giok, meringkus si baju perak untuk dijadikan saksi akan perbuatannya yang keji membunuh Siu Hoa dan Kiu San. Pergi ke So-keh-pang menyambangi So-si Hengmoay, semua urusan ini meskipun menanti dia untuk dikerjakan, tapi sekarang Thian-ih merasa yang terpenting adalah memperdalam ilmu kepandaian sendiri untuk bekal dalam menunaikan semua tugas yang harus dilaksanakan itu.

Tentang persoalannya dengan sibaju perak pernah beberapa kali lagi ia tanyakan kepada Hun-tai Siancu, malah Cia In-hun juga tidak ketinggalan dikorek keterangannya, tapi mereka selalu menghindarkan pembicaraan ke soal pokok ini, hanya dikatakan bahwa kelak pasti dirinya akan paham sendiri akan duduknya perkara ini.

Thian-ih menjadi gemes dan dongkol, betapapun Hun-tai Siancu hendak membela dia, kalau toh dia sedemikian keterlaluan sudah mempermainkan dirinya beserta Hong-gi, menganiaya Ciu Hou lagi dan membunuh beberapa orang sahabatnya, semua ini adalah kenyataan. Bukan mustahil pencurian harta pusaka dari gudang istana juga perbuatannya. Biar nanti kalau pelajaran silatnya sudah sempurna dan lulus, aku harus meringkusnya hidup-hidup dan memaksanya menyerahkan Ciu Hou keluar serta mengembalikan harta pusaka yang telah dicurinya itu. Lalu dihadapkan sekian banyak kesatuan Bhayangkari, menelanjangi perbuatan jahatnya yang terkutuk itu. Andaikan dirinya tidak membunuhnya, pasti para kerabat dari kesatuan Bhayangkari atau handai taulan sang korban akan membuat perhitungan dengan dia.

Teringat Hong-gi tanpa merasa perasaan Thian-ih menjadi hampa dan risau. Apakah kelak dirinya harus menikah dengan dia ? Ataukah merangkapkan perjodohannya dengan Nyo Hway-giok? Nyo Hway-giok adalah seorang pemuda yang paling dipuji dan dikaguminya sedang Li Hong-gi adalah gadis yang paling dicintai, dia tidak tahu bagaimana dirinya harus mengambil sikap atau tindakan?

Seumpama pernikahan Hong-gi dengan Nyo Hway-giok betul-betul terangkap, lalu Thian-ih harus mencari jodoh yang mana? Su Hoankah, gadis jelita yg pertama kali mengetuk hatinya ini adalah cerdik dan pandai bekerja, tapi dia masih kalah dibanding dengan Hong-gi. Atau mencari Sip Yan-hun dari Ciong-lam-san itu ? Meskipun sudah bertemu beberapa kali, tapi Thian-ih tahu bahwa pihak sana memang ada jatuh hati terhadap dirinya, tapi bila terhalang akan wajah Hong-gi yang ayu jelita serta suaranya yang merdu terkiang dipinggir telinganya, kalau Sip Yan-hun dibandingkan seumpama kunang-kunang dibanding sinar rembulan. Bayangan Cia In-hun tiba-tiba terlintas didepan matanya, setiap hari dia menemani dirinya seorang gadis sedemikian cantik, lemah lembut, cerdik cendekia dan cekatan lagi, bukan saja ilmu silatnya tinggi kepandaian sastranya juga diatas lebih tinggi dari dirinya, apalagi dia sedemikian rendah hati, seolah-olah dalam maksud Hun-tai Siancu sudah setuju serta mengharap akan terangkap perjodohan ini.

Setiap kali mereka berduaan selalu Thian-ih merasa selalu gadis ayu ini memandangi dirinya, semua tingkahnya ini tak perlu diragukan lagi bahwa hatinya mulai mekar dan dihinggapi penyakit asmara yang mulai bersemi dalam sanubarinya.

Namun demikian betapa juga Thian-ih sukar dapat melupakan Hong-gi lagi, bukan saja wajahnya yang molek bak bidadari serta potongan tubuh yang menggiurkan itu, wataknya juga lincah dan riang gembira penuh optimistis, pengalaman selama dalam perjalanan yang pahit getir, siapa lagi yang kuat menderita semacam itu. Ini dapat dimaklumi oleh Thian-ih sendiri. Sekarang mereka berpisah jauh sekali, tapi Thian-ih percaya pasti Hong-gi tengah mengenangkan dirinya, bagaimana juga rasa cinta ini sulitlah untuk ditampik.

Lama kelamaan Thian-ih dihinggapi penyakit mala rindu, badannya semakin kurus dan pucat, berat rasanya meninggalkan Hun-tai-san karena dia harus memperdalam kepandaiannya disini, tapi kenangannya akan Li Hong-gi selalu mengganggu konsentrasi dalam pelajarannya. Ingin rasanya dapat terbang untuk berkumpul dengan sang kekasih, bertemuan yang penuh keharuan dan mesra, untuk menceritakan pengalaman selama berpisah ini, sumpah sehidup semati takkan berpisah lagi untuk selama-lamanya.

Agaknya Cia In-hun dapat menyelami kerisauan hati Thian-ih, sore itu setelah latihan selesai dan mendapat persetujuan dari Hun-tai Siancu mereka keluar berjalan-jalan mencari angin. Setelah berjalan sekian lama mendadak Thian-ih menunjuk puncak didepan Hun-tiong-khek sana dan bertanya: “Belakang Hun-tai-san ini terdapat dua puncak, pemandangan dipuncak sebelah kanan sana bagaimana?"

Sahut Cia In-hun: “Puncak didepan itu lebih tinggi, pemandangannya juga menakjupkan!"

Tergeraklah keinginan Thian-ih hendak bertamasya sepuas hati, katanya kepada Cia In-hun: “Adik Hun, mari kita dolan ke sebelah sana, sekaligus kita coba Ginkang yang baru kupelajari itu!"

Agaknya Cia In-hun sangat terpaksa, namun juga segan menolak permintaan orang, akhirnya ia mengangguk setuju.

Setelah menuruni undakan batu mereka sampai dimana tempo hari Thian-ih hampir terjungkal kedalam jurang dari atas jembatan tambang. Sekarang Ginkang Thian-ih mengalami kemajuan pesat setelah digembleng oleh Hun-tai Siancu, dengan memberanikan diri beruntun berapa kali loncatan saja dengan enteng sekali dia sudah sampai di sebrang dengan selamat. Hatinya senang sekali. Dengan mengembangkan Ginkang mereka berlarian di atas semak belukar dari rumpun pohon yang penuh duri itu dan sampailah ditempat pertemuan pertama dengan Cia In-hun tempo hari. Disini jiwanya hampir melayang dijebak Ban Ai-ling.

Dengan Cia In-hun sebagai penunjuk jalan, mereka membelok memasuki sebuah jalan pengkolan yang berlika-liku, beruntun mereka melewati lembah dan melompati sungai akhirnya mereka sampai di atas sebuah puncak. Sekarang terlihat Hun-tiong-khek menjulang tinggi di hadapan mereka. Jadi tempat di mana sekarang berdiri adalah puncak sebelah kanan dari belakang Hun-tai-san itu.

Angin menghembus sepoi-sepoi membawa harumnya bunga Kwi, terbangkitlah semangat Thian-ih. Tanyanya kepada Cia In-hun: “Adik Hun, puncak disebelah samping ini seolah-olah lebih baik dari Hun-tiong-khek, tak tahu adakah orang kosen yang mengasingkan diri ditempat ini?"

“Ada sih ada, hanya belum bisa terhitung sebagai orang kosen." Thian-ih menjadi heran, tanyanya: “Siapakah dia?"

“Mereka bukan lain adalah Ban Ai-ling yang hendak mencelakai kau tempo hari dengan gurunya Pak-ko-seng, mereka kebetulan berdiam dipuncak ini !"

Teringat oleh Thian-ih pemuda baju hitam Ban Ai-ling itu, memang adalah seorang rendah yang jahat dan telengas, entah bagaimana martabat Pak-ko-seng itu, dimintanya Cia In-hun memberikan penjelasan.

Cia In-hun memberi tahu bahwa Pak-ko-seng ini sebelumnya berdiam di Pak-ko-san yang membelakangi laut sebelah timur sana. Ilmu silat Pak-ko-seng sangat tinggi dan sudah sempurna betul, dalam hal sastra umpamanya memetik harpa bermain catur serta seni lukis juga sangat mahir, apalagi pandai pentangan dan mengobati orang boleh dikata dia seorang tokoh yang serba pandai dan luas pengalaman, pergaulannya juga luas dan pandai bicara lagi. Lima tahun yang lalu sebab mengagumi kepandaian Hun tai Siancu sengaja mereka pindah dari Pak-ko-san ke puncak kanan ini. Katanya dengan tetangga yang dekat dan berilmu tinggi mereka dapat selalu tukar pikiran dalam segala bidang. Tapi menurut Hun-tai Siancu bahwa mereka guru dan murid bukan orang baik-baik, sikapnya dingin dan kurang menghargai mereka. Justru Pak-ko-seng ini tebal muka, sering dia datang merecoki Suhu di Hun-tiong-khek bermain catur atau ngobrol panjang lebar. Hun-tai Siancu segan menolak, tapi dikasih hati mereka malah menjadi tuman, terutama muridnya yang bernama Ban Ai-ling itu, hatinya jahat, kekejiannya melebihi gurunya, sering juga dia ikut datang untuk mendekati Cia In-hun, membuatnya sangat muak dan benci.

O, jadi begitu, demikian batin Thian-ih. Belum lama mereka berada diatas puncak cuaca sudah hampir petang, matahari kebetulan hampir tenggelam di peraduannya dengan memancarkan sinar kuning keemasan yang mempesonakan. Thian-ih sampai kesima melihat pemandangan yang sedemikian indah.

Terdengar Cia In-hun mendesak di belakangnya: “Engkoh Thian-ih, mari kita pulang, lambat sedikit waktu saja mungkin kita tak dapat melihat jalan. Kalau terlambat pulang pasti Suhu akan menegor kita." Melihat cuaca memang hampir petang Thian-ih juga tidak berani tinggal terlalu lama lagi, cepat-cepat mereka berlari turun gunung sambil mengembangkan ilmu ringan tubuh supaya secepatnya tiba di Hun-tiong-khek.

Betapapun cepat lari mereka karena jarak terlalu jauh, baru sampai dibawah gunung cuaca sudah petang dan tidak dapat melihat jalan lagi. Angin gunung menghembus dengan kerasnya menderu-deru, daun pohon berkeresekan dihembus angin, seakan-akan ada orang mengejar di belakang mereka. Diam-diam Thian-ih dan Cia In-hun mengeluh, mereka tidak membawa bahan api terpaksa harus maju menggeremet didalam dasar jurang yang gelap pekat.

Seumpama berkepandaian setinggi langit juga dalam keadaan yang begini tak berguna lagi, terpaksa mereka bergandengan tangan terus menggeremet maju. Umumnya hati seorang perempuan lebih penakut, tangan yang tergenggam oleh Thian-ih itu terasa gemetar dan berkeringat. Sedikit meleng hampir saja kaki Thian-ih terjerumus dan terjungkal ke dalam jurang. Karena tidak melihat tegas keadaan sekelilingnya mereka tak berani sembarangan maju dan bergerak.

Kata Thian-ih akhirnya: “Adik Hun, terang kita terlambat untuk pulang, terpaksa mencari sebuah tempat untuk menginap saja disini."

Apa boleh buat, Cia In-hun mengiakan setuju. Pelan-pelan Thian-ih manjat ke lamping gunung mendapatkan sebuah gua, untung keadaan dalam gua ini kering dan bersih. Thian-ih mengundang Cia In-hun masuk ke dalam, dengan daun-daun kering ditebar di atas tanah sebagai kasuran mereka bersiap untuk bermalam di tempat ini.

Gua itu tidak begitu besar cukup untuk rebahan seorang saja. Begitu Cia In-hun berbaring, mengingat adat istiadat yang melarang persentuhan badan muda mudi, sekuatnya Thian-ih tahan rasa kantuknya berjaga dimulut gua, dengan bersenjatakan sebuah dahan pohon ia mondar mandir di depan gua. Sungguh celaka pada tengah malam mendadak terbit angin badai membawa hujan lebat. Terpaksa Thian-ih harus berdiri ditimpah hujan sampai badannya basah kuyup. Untung Cia In-hun terkejut bangun dari tidurnya, berulang kali ia minta Thian-ih masuk gua. Tapi Thian-ih berpikir, toh sudah basah kuyup, kehujanan lagi beberapa jam apa halangannya. Memang mulutnya mengiakan tapi kakinya tidak bergerak, saking gugup akhirnya Cia In-hun yang berlari keluar dan menyeretnya masuk ke dalam gua.

Dalam kegelapan terasa tangan Cia In-hun tengah meraba-aba badannya, didapatinya seluruh tubuh Thian-ih basah kuyup, seakan baru keluar dari sungai, maka omelnya: "Engkoh Thian-ih, mengapa kau menyiksa dirimu sendiri. Beginikah pambek seorang kesatria kalangan persilatan, mengapa kau begitu sungkan dan malu-malu !" lalu berulang kali ia mendesak Thian-ih menanggalkan pakaian luarnya supaya tidak sakit kedinginan. Sudah tentu Thian-ih tidak mau mencopot pakaiannya. Tapi sikap Cia In-hun justru sangat polos dan terbuka, segera diulurkan tangannya hendak membukakan baju orang. Keruan Thian-ih menjadi gugup sendiri: “Ya, ya biar aku copot sendiri !"

Tanpa merasa jantung Thian-ih berdebur sangat keras, teringat pengalaman dalam gua ini tidak seberapa besar bedanya dengan pengalamannya dalam kuburan waktu menolong Hong-gi tempo hari. Kelak kalau tidak diketahui orang itulah baik, kalau tidak ini merupakan dosa yang susah dapat ditebus dengan apa juga.

Mendadak dilihatnya tidak jauh di sebelah samping sana sinar api berkelap kelip, hatinya bersorak girang, cepat ia berlari keluar mencarinya. Itulah di sebuah rimba kecil ditengah rimba ini terdapat sebuah rumah batu, dari dalam rumah batu inilah mencorong keluar sinar pelita itu. Diam-diam Thian-ih merambat maju, maksudnya hendak mengetok pintu dan minta api. Tapi waktu langkahnya semakin dekat mendadak terdengar suara keriyat-keriyut yang aneh, waktu ia mengintip melalui lobang jendela, dia menjadi kaget dan gusar. Dari sinar pelita keadaan dalam ruang dalam terlihat sangat jelas, diatas dua dipan kayu terlihat dua laki-laki dan dua perempuan tengah melakukan adegan yang sangat memalukan.

Waktu ditegasi begitu melihat salah seorang laki-laki yang berada dekat jendela ini Thian-ih lebih terkejut lagi. Kiranya orang ini bukan lain adalah Ban Ai-ling. Sedikit meleng karena terkejut tubuh Thian-ih menumbuk dinding sampai mengeluarkan suara. Ban Ai-ling yang dekat jendela mendengar suara yang mencurigakan segera melompat keluar begitu mereka berhadapan, melihat orang di depannya ini adalah Thian-ih mendadak Ban Ai-ling bergelak ter- tawa: “Haha, ternyata adalah saudara Thian-ih. Selamat bertemu, hari ini entah angin apa yang membawamu ke tempat ini ! mari, kita bersalaman " mengulur tangan dia terus

menarik Thian-ih.

Thian-ih muak dan benci melihat tampang orang kotor ini, tanpa membuka mulut dia putar tubuh terus hendak tinggal pergi.

Ban Ai-ling segera mendesak maju mencegat didepannya, jengeknya dingin: “Begini gampang kau hendak tinggal pergi, kurasa tidak sedemikian mudah? marilah kita bermain-main dulu, coba kulihat adakah sundel cantik itu akan datang menolongmu lagi ?"

Mendadak ia turun tangan menyerang dengan tipu Hwi-ing-cu-lip (elang terbang menutul pari) menutuk pundak Thian-ih tepat di jalan darah Cian-kin-hiat. Thian-ih tidak berkelit atau menyingkir, dengan jurus Heng-gan-siang-hong (memandang kepuncak) tubuh sedikit mendak kedua tangannya terus didorong ke depan mengarah perut dan dada lawan, jurus serangan ini menggunakan delapan bagian tenaganya, tujuannya supaya lawan tahu diri dan cepat-cepat menarik kembali serangannya. Untuk selamatkan diri benar juga Ban Ai-ling berkelebat ke samping terus mengirim lagi sebuah pukulan. Thian-ih himpun tenaganya menyambut pukulan lawan. "Blang", ternyata Ban Ai-ling tidak kuat menahan tangkisan tenaga Thian-ih yang dilandasi kegusaran sampai tubuhnya sempoyongan, mulutnya berseru tertahan menyatakan keheranannya. Sungguh diluar sangkanya, pemuda yang tempo hari terjungkal di tangannya, baru berpisah berapa lama saja sudah bertambah pesat kepandaiannya.

Ban Ai-ling menginsyafi bahwa Lwekang lawan sudah lebih unggul dari dirinya. Hatinya menjadi takut tak keruan paran, tiba-tiba ia berteriak ke arah batu rumah: “Suhu, lekas keluar."

Yang benar Thian-ih sudah kerahkan seluruh tenaganya baru sedikit unggul saja. Begitu mendengar orang berteriak, hatinya sedikit terkejut, apakah seorang pria lain dalam rumah itu adalah gurunya Pak ko-seng? Kalau dia ikut turun tangan, mana dirinya menjadi tandingan orang, lantas teringat Pak-ko-seng dan muridnya ini adalah bangsa rendah yang tidak tahu malu, tanpa merasa timbul hawa amarah dalam benaknya, ingin rasanya segera menghancur-leburkan tubuh kedua guru dan murid ini.

Melihat Ban Ai-ling sudah ketakutan, Thian-ih bergerak semakin cepat dengan serangan yang gencar, sampai musuhnya kelabakan mencak-mencak, jurus-jurus yang dilancarkan adalah ilmu yang dipelajari dari Hun-tai Siancu. Namun sebelum ia berhasil merobohkan musuh keji ini, dari dalam rumah berkelebat keluar sebuah bayangan, dimana terlihat lengan bajunya dikebutkan, sebuah jalur angin kencang segera menerjang kearah Thian-ih. Sontak Thian-ih merasa dadanya seperti ditindih batu besar sampai susah bernapas, darah hampir menyembur keluar sampai ditenggorokannya. Tahu dirinya terancam bahaya cepat-cepat ia melesat mundur.

Gerakan Pak-ko-seng sungguh cepat dan lincah sekali, sekejap saja mendadak ia mendesak tiba disamping Thian-ih sambil perdengarkan gelak tawanya yang bergelombang seperti suara kokok-beluk. Sekuat tenaga Thian-ih lompat menyingkir, tapi angin pukulan lawan mengekang dirinya seumpama dinding kokohnya, sehingga sia-sialah usahanya hendak menjebol keluar.

Pak-ko-seng hanya menarikan kedua lengan bajunya tanpa turun tangan lebih lanjut, tapi hanya angin pukulannya itu sudah cukup mengekang Thian-ih dalam kurungannya. Melihat Thian-ih berlarian kian kemari tumbuk sana terjang sini selalu terpental balik dengan sempoyongan, seperti tikus dipermainkan kucing saja, pak-ko-seng tertawa gelak-gelak menikmati hasil karyanya yang sangat dibanggakan selama ini.

Terdengar Ban Ai-ling berteriak dari samping: “Suhu, tutuk dia, aku hendak bertanya pada dia!"

Benar juga dengan dua jari tangan kanannya Pak-ko-seng menutuk jalan darah pelemas ditubuh Thian-ih. Dengan mendelik Thian-ih awasi wajah orang, tapi tak mampu berontak atau bergerak lagi, begitu kiok-ti-hiat terasa linu dia lantas tersuruk jatuh.

Bentak Ban Ai-ling: “Kau datang bersama Cia In-hun bukan? Dimana dia sekarang?"

Thian-ih berpikir, kalau Cia In-hun masih belum bangun, kalau sampai terbekuk oleh mereka guru dan murid akibatnya tentu susah dibayangkan. Maka pejamkan mata tanpa bersuara.

Ban Ai-ling terloroh-loroh, bentaknya lagi: “Thio Thian-ih, kau masih berani tidak buka suara? Biarlah kau merasakan kenikmatan tutukanku ini.” disertai dengan ancamannya itu kedua jarinya segera menutuk jalan darah dibawah ketiaknya. Seketika Thian-ih merasa seakan-akan seluruh tulang dan otot-ototnya lumer dan copot semua, laksana ribuan semut sedang merambat diseluruh tubuhnya, saking kesakitan ia menggigit gigi sekencang-kencangnya sampai mengeluh kesakitan tanpa tertahan.

Ban Ai-ling tersenyum ejek, desaknya lagi: “Katakan tidak? Rasakan kelihayan tutukanku ini! Lekas katakan, dimana dia sekarang?"

Sungguh tidak memalukan watak Thian-ih sebagai seorang kesatria yang kuat menahan segala uji. Dia tahu kalau dirinya sedang disiksa dengan semacam ilmu membagi urat mencopot tulang, sakitnya bukan buatan, tapi dia masih berusaha tidak membuka mulut.