Rahasia Si Baju Perak Jilid 05

Jilid 05

Bahwasanya dalam kalangan Kangouw paling menghargai dan menjunjung tinggi sikap gagah seorang kesatria. Kalau Lim Han sudah berani menjanjikan tempat dan waktu untuk mengadu kepandaian, terpaksa mereka menyetujui dan mundur teratur, bubarlah pertengkaran dalam hutan kecil ini.

Dalam perjalanan pulang ke kota Lim Han bertanya kepada Thian-ih mengapa bisa sampai di kota raja. Thian-ih menerangkan sejelas-jelasnya maksud kedatangannya. Sungguh Lim Han merasa kagum dan memuji sikap dan tindakan Thian-ih yang setia kawan, ujarnya: “Ji-chengcu, sepak terjangmu ini benar-benar membuat aku tunduk dan takluk benar-benar. Nyo Hway-giok adalah sahabat kentalku, biarlah aku yang pergi membujuknya."

Thian-ih bertanya apakah kedua butir mutiara yang disimpannya itu perlu diserahkan untuk meringankan beban para kerabat Bhayangkari yang terhukum. Lim Han mengatakan tidak perlu sambil menghela napas, katanya memberi keterangan lebih lanjut: "Ji-chengcu, bicara terus terang sebetulnya benda-benda berharga yang tercuri dari gudang negara sangat banyak dan tak ternilai harganya, ketahuilah kedua butir mutiara itu hanya sebagian kecil dari delapan belas mutiara yang turut hilang. Selain membekuk sibaju perak kurasa peristiwa ini akan selamanya terbengkalai susah dipecahkan."

Ditanyakan pula oleh Thian-ih apakah belakangan ini ada kabar beritanya tentang si baju perak itu. Lim Han menerangkan lagi: "Si baju perak sudah menghilang bagai ditelan bumi entah sembunyi dimana. Kalangan pemerintah juga insaf bahwa urusan ini terlalu besar dan berat betapa pun takkan dapat segera dipecahkan dalam waktu singkat maka terpaksa anak buahnya banyak diberi kelonggaran. Maka menurut hematku, untuk sementara ini biarlah kedua butir mutiara itu titip padamu dulu. Siapa tahu dalam pertempuran empat hari yang akan datang pihak kita yang kalah, jadi gampanglah menyerahkan kepada mereka."

Bicara tentang kawanan penjahat itu menurut keterangan Lim Han bahwa Lo Ka Siangjin adalah yang paling ampuh dan merupakan lawan terberat. Lo Ka Siangjin ini adalah tokoh dari aliran Mi-cong di Tibet yang paling disegani, sebelum ini diapun pernah bertugas didalam istana, karena melanggar aturan dan kurang disiplin akhirnya diusir. Kemudian dengan kekerasan ia rebut dan mengepalai Hud-kong-si di Ban-siu-san itu. Lwekang dan Gwakangnya memang sudah mencapai titik kesempurnaannya, betapapun harus hati-hati menghadapi dan jangan memandang ringan padanya. Selain itu Siau-wi-ci Sun Kay-ka juga agak menonjol diantara para kawannya, ilmu ruyung lemasnya sudah menggetarkan kalangan silat daerah utara barat laut, merupakan kepandaian tunggal yang jarang dapat dicari keduanya. Kalau dibanding kekuatan kedua belah pihak, semestinya pihak Bhayang-kara kudu berhati-hati, soalnya karena banyak anak buahnya yang tengah keluar bertugas mengejar harta negara yang dicuri itu, yang masih ketinggalan dalam kota raja tidak seberapa, hingga bantuan yg sangat diperlukan didepan mata sangat susah diharap. Kesempatan menang dalam pertem- puran kali ini agaknya sangat minim sekali.

Setelah mengetahui alamat tinggal Thian-ih, Lim Han ambil berpisah dan berjanji untuk mencari Nyo Hway-giok dan berusaha membujuknya. Malam itu dia datang memberi jawaban kepada Thian-ih bahwa katanya Nyo Hway-giok sudah memaklumi tentang hubungan Li Hong-gi dengan Thian-ih serta semua seluk beluknya. Dia nyatakan kekagumannya serta menaruh simpatik terhadap Thian-ih malah dianjurkan supaya perjodohan ini lekas terangkap, tidak lupa pula diterangkan bahwa pihak keluarga Nyo sudah kirim utusan ke Kilam untuk membatalkan perjodohan ini. Diharap Thian-ih tidak perlu banyak ragu-ragu dan bimbang lagi segeralah kembali ke kampung halaman untuk segera melangsungkan pernikahan bersama Li Hong-gi. Sungguh diluar dugaan Thian-ih bahwa ternyata urusan bisa berlarut sedemikian panjang, betapapun ia masih sungkan dan serba susah untuk menerima, sedapat mungkin ia minta kepada Lim Han untuk mempertemukan secara berhadapan dengan Nyo Hway-giok, dimana dirinya dapat memberikan penjelasan secara terbuka. Melihat orang minta secara serius dan bersungguh hati, Lim Han tidak enak menolak permintaan ini, terpaksa ia melulusi untuk berusaha mempertemukan mereka.

Hari kedua Lim Han datang memberitahu bahwa dia telah berjanji dengan Nyo Hway-giok untuk bermain catur di In-hun-si yang terletak disebelah pintu utara nanti malam. Kalau Nyo Hway-giok selalu menolak kedatangannya, terpaksalah menggunakan cara ini untuk mempergokinya disana. Diam-diam Thian-ih sudah bersiap. Maka malam itu secara diam-diam ia mendatangi In-hun-si diluar pintu utara, dimana terlihat Lim Han tengah berhadapan dengan Nyo Hway-giok asyik bermain catur diruangan dalam. Terdengar dalam pembicaraan mereka Lim Han selalu menyinggung-nyinggung soal perjodohan, dibujuknya Nyo Hway-giok supaya tidak lagi menolak maksud baik Thio Thian-ih yang suci murni. Tapi sikap Nyo Hway-giok tetap dingin sambil tertawa kecut, selalu ia mengalihkan pembicaraan.

Tak tertahan lagi segera Thian-ih menerobos keluar sambil berseru: “Saudara Hway-giok!" Begitu mata mereka saling pandang segera Nyo Hway-gok putar tubuh terus melesat pergi, Lim Han coba menarik lengan bajunya, sekali kebas Nyo Hway-giok luputkan diri malah langkahnya makin dipercepat. Sudah tentu Thian-ih tidak tinggal diam, dengan kencang ia mengejar sambil berkaok-kaok. Tanpa merasa terjadilah lomba adu ringan tubuh yang hebat diantara mereka berdua. Nyo Hway-giok mengenakan pakaian warna putih mulus, meskipun cuaca sangat pekat, namun bayangannya tampak melayang ringan sekali bagai segulung asap mengembang ditengah udara. Benak Thian-ih penuh kata-kata yang hendak dicurahkan, maka dengan kencang ia mengejar terus tidak kalah pesatnya.

Begitulah kejar mengejar ini terus berlangsung sekian lamanya sampai mereka tiba disebuah pegunungan yang penuh bangunan candi-candi kuno, disinilah bayangan putih Nyo Hway-giok mendadak menyelinap hilang. Thian-ih tidak hiraukan lagi segala pantangan dan bahaya langsung ia menerjang masuk kedalam. Dari kegelapan sebelah pojok didepan sana terlihat bayangan putih Nyo Hway-giok berkelebat lantas terdengarlah suaranya berkata: “Ji-chengcu, janganlah kau mendesak aku sedemikian rupa.''

Seru Thian-ih: “Nyokongcu, kejadian dalam kuburan tempo hari kita tahu sama tahu, tak perlu kujelaskan lagi, harap sukalah kau dengar sepatah kataku: Karena mengagumi kau sebagai laki-laki sejati, dalam keadaan yg terpaksa aku tolong menyembuhkan Li Hong-gi hanya untuk kau bukan untuk kepentinganku, terbukti dia kubawa ke kota raja ini untuk kuserahkan kepada kau. Selama ini kita masih dapat menjaga norma-norma kesusilaan belum pernah terjadi hubu- ngan diluar batas, ketahuilah Hong-gi masih suci murni kupandang dia sebagai adik kandungku sendiri, terserah kau percaya/tidak keteranganku ini, kelak kau sendiri bisa me- meriksa dan membuktikan kebenaran ucapanku ini "

Dari tempat gelap sana terdengar sahutan Nyo Hway-giok: “Aku maklum akan semua itu. Terus terang aku sangat mengagumi dan menghargai sikap dan pribadi saudara. Tapi aku juga jelas bahwa Li Hong-gi hanya mencintai kau saja, sebagai kesatria aku rela berkorban demi kebahagiaan kalian berdua.''

Thian-ih menjadi gugup, serunya: “Dendam kesumat melibat diriku, bagi orang kelana di Kangouw keselamatan jiwa susah diduga, mana mungkin aku merangkap jodoh dengan Li Hong-gi, kuminta saudara suka berpikir secara mendalam dan maklumilah kesukaranku ini " sejenak ia merandek, tidak terdengar reaksi Nyo Hway-giok lantas ia menyambung lagi

: “Tak lama ini aku harus segera pergi. Bersama Lim Han kami telah menantang Lo Ka Siangjin dari Hud-kong-si, juga To Bok San serta Sun Kay Ka dan para penjahat lainnya digunung batu diluar kota sebelah barat, kalah atau menang susah diduga. Sekali lagi kutekankan kuanggap Hong-gi sebagai adikku sendiri, kuingin ada orang menjaga dan melindungi keselamatannya baru legalah rasa hatiku menuju ke medan laga. Terpaksalah kalau malam ini aku harus mengejar-ngejar kau tak lain hanya untuk memberi tahu pendirianku dalam soal ini. Waktu da- tang tadi aku sudah suruh orang mengantar Hong-gi ke gedung rumahmu "

Bayangan Nyo Hway-giok kelihatan sedikit bergerak. Thian-ih lanjutkan ucapannya: “Kudoakan kalian hidup rukun dan bahagia sampai dihari tua. Kalau besok aku beruntung masih hidup juga akan segera tinggalkan kota raja untuk selanjutnya jejakku tanpa tujuan yang menentu, janganlah kalian kuatirkan tentang diriku "

Habis kata-katanya begitu memutar tubuh badannya segera melejit tinggi keluar bangunan candi, langsung menemui Lim Han menyerahkan kedua butir mutiara itu kepadanya. Malam itu juga ia keluar kota kearah barat mencari penginapan dibawah gunung batu.

Malam itu Thian-ih tidak dapat tidur karena banyak pikiran yang merangsang dan berkecamuk dalam benaknya. Terpikir olehnya bahwa pangkal semua persoalan ini adalah karena gara-gara dirinya. Sikap jantan Lim Han dengan pambeknya yang besar memang harus dipuji, kalau besok pihaknya tidak mempunyai pegangan untuk menang maka sulitlah dapat mempertahankan kedua butir mutiara itu, ada lebih baik aku seorang diri menyerbu ke Hud-kong-si menempur Lo Ka Siangjin, demi setia kawan aku harus berani berkorban untuk kepentingan umum. Karena ketetapan hatinya ini bergegas ia bangun dan bersiap berangkat.

Malam sudah berlarut setelah siap sekadarnya Thian-ih melompat keluar dari jendela kamarnya. Sekonyong-konyong sayup-sayup terdengar dentingan beradunya senjata dari puncak gunung batu sana. Thian-ih menjadi heran dan terperanjat, tanpa berayal lagi secepat terbang ia berlari kencang menuju ke puncak, dengan Ginkangnya yang hebat sebentar saja ia sudah sampai. Dalam keremangan cuaca cahaya bintang, terlihat Lo ka Siangjin, Sia-si bersaudara, Kiu Keng-po, Sun Kay-ka, Pau Kok-tam dan To Bok-san bertujuh semua hadir.

Kalau To Bok-san, Lo Ka Siangjin dan Sun Kay-ka hanya menonton saja di pinggiran adalah keempat kawannya itu tengah bertempur sengit mengeroyok seorang berkedok hitam. Orang berkedok hitam itu bersenjata pedang panjang, meskipun dibawah gencetan empat senjata musuh yang merangsak begitu hebat namun gerak pedang si orang berkedok masih tampak lincah dan garang sekali, begitu lincahnya seumpama naga menari ditengah udara, banyak menyerang dari pada membela diri.

Thian-ih menyangka orang berkedok itu adalah Lim Han, tanpa ragu-ragu lagi segera ia menerjang masuk ke tengah gelanggang. Dengan jurus Loh-jit-hui-ko (surya tenggelam setinggi genter), kedua tongkat pendeknya menjojoh dan menyerampang ke pinggang Pau Kok-tam, karena tidak menyangka ada serangan datang secara tiba-tiba Pau Kok-tam tak keburu berkelit lagi sambil menjerit kesakitan tubuhnya tersungkur jatuh dan luka berat.

Serentak To Bok-san dan Sun Kay-ka segera maju merintangi, begitu berhadapan To Bok-san langsung dorong kedua telapak tangannya ke depan, sementara Sun Kay-ka mengayun ruyung lemasnya, sebelum senjatanya tiba angin keras sudah menyamber lebih dulu. Thian-ih tidak berani gegabah, kedua tongkatnya juga tidak tinggal diam, ditarikan sehebat mungkin untuk menghadapi serangan musuh.

Ilmu ruyung Sun Kay-ka memang merupakan kepandaian cukup hebat yang sudah terlatih sempurna, bukan saja tenaganya besar jurus tipunya juga beraneka ragam. Maka Thian-ih harus bermain cerdik tak mau menyambuti secara kekerasan, apalagi setiap ada kesempatan To Bok-san ikut menyergap dari samping, memang cara permainan ini sangat licik dan serangan juga ganas dan telengas pula, besar hasratnya hendak menuntut balas bagi kematian adik angkatnya sikupu jelita Go Hong.

Menghadapi kedua lawan berat ini terpaksa Thian-ih harus boyong keluar kepandaian ajaran Suhunya, untung Ginkangnya lebih unggul, tapi untuk sementara waktu sukar juga untuk dapat merobohkan lawan berat ini.

Dalam gelanggang sebelah sana siorang berkedok melayani keroyokan Sia-si bersaudara dan Kiu Keng-po, sejak Pau Kok-tam roboh terluka siorang berkedok lebih leluasa pula menggerakkan senjatanya, serangannya semakin gencar, lambat laun dia berada diatas angin. Dalam pertempuran yang sengit itu mendadak terdengar jeritan yang mengerikan, sikala jengking Sia Hui-kong terluka berat oleh tusukan pedang siorang berkedok, Lo-han-kun Sia Hwi-i menyerbu mati-matian hendak menolong saudaranya hampir saja jiwa sendiri juga amblas. Terdengar siorang berkedok bergelak panjang suaranya bagai keluhan naga, mendadak permainan pedang panjangnya semakin gencar terus merangsak dengan serangan berantai, keruan dua musuh yang ketinggalan didesak kerepotan.

Melihat situasi yang tidak menguntungkan pihaknya ini, segera Lo Ka Siangjin menggerung gusar sambil menggentakkan tongkat besinya, bentaknya: “Bocah keparat, biarlah aku menghadapimu!"

"Wut" kencang sekali tongkat besarnya itu menyambar dengan deras mengarah pinggang. Gesit sekali siorang berkedok melompat menyingkir, tapi tak urung pedangnya kena terserempet sampai terpental miring. Dalam gebrak pertama saja posisinya sudah tidak menguntungkan, seketika ia terdesak dibawah angin.

Bukan kepalang kejut Thian-ih melihat keadaan siorang berkedok yang berbahaya itu, pikirnya kalau tidak diberi bantuan pasti celakalah siorang berkedok dibawah tongkat musuh. Berpikir memang gampang, tapi To Bok-san dan Sun Kay-ka yang dihadapi ini juga bukan lawan lemah, melepaskan diri dari kerubutan mereka saja sukar apalagi merobohkan satu persatu. Waktu matanya melirik dilihatnya siorang berkedok sudah berganti siasat bertempur menggunakan keunggulan Ginkangnya dia bermain petak berlari dan berloncatan mengitari Lo Ka Siangjin. Untung begitu Lo Ka Siangjin turun gelanggang Sia Hwi-i dan Kiu Keng-po segera mengundurkan diri, maka siorang berkedok lebih leluasa unjukkan kegesitan tubuhnya, dalam waktu singkat agaknya masih kuat bertahan.

Lambat laun permainan Thian-ih juga semakin mantep dan semangatpun dapat terhimpun, kini gerak permainan tongkatnya berubah menggunakan ajaran tunggal perguruan Kiam-bun-it-ho, disamping itu dia juga amati dengan seksama permainan dan lobang kelemahan musuh. Akhirnya dapatlah diketahui bahwa Lwekang To Bok-san agak lemah dari kawannya, mungkin karena lukanya tempo hari masih belum sembuh betul, semakin lama bertempur lukanya menjadi kambuh dan permainannya menjadi semakin lamban sebaliknya napas memburu ngos-ngosan. Thian-ih insaf bahwa ilmu weduk orang memang sangat ampuh sampai tidak mempan senjata, hanya pusarnyalah satu-satunya tempat kelemahannya. Diam-diam hatinya berkeputusan hendak menyerempet bahaya untuk memperoleh kemenangan, begitu tetap pikirannya segera ia bergerak melaksanakan rencananya itu.

Begitulah secara mendadak kedua tongkatnya dipentang kedua jurusan, tongkat kanan menyampok ruyung Sun Kay-ka berbareng tubuhnya berjongkok terus bergulingan ditanah kebawah kaki To Bok-san. Sebelum To Bok-san menginsafi dirinya tengah terancam bahaya, dengan jurus Tam-liong-ki-cu (naga meraih mutiara), tongkat kiri Thian-ih tepat menjojoh pada pusarnya, seketika ia melolong seram sambil menyemprotkan darah segar. Sungguh diluar dugaan setelah terluka berat itu tubuh To Bok-san yang tinggi besar itu masih kuat berdiri sambil meringis, melotot matanya sebesar jengkol. Menyedot hawa dalam perlahan-lahan ia angkat kedua tangannya terus didorong ke arah Thian-ih. Sebat sekali Thian-ih lompat menyingkir, tapi ruyung Sun Kay-ka juga telah membayangi tubuhnya, untung masih sempat ia menangkis.

Sementara itu pukulan To Bok-san tadi agaknya merupakan himpunan seluruh sisa tenaganya, maka begitu pukulannya mengenai tempat kosong segera tubuhnya yang besar itu jatuh tersungkur dan tak bangun lagi.

Hasil tipu yang dilancarkan Thian-ih ini benar merupakan tipu ajaran gurunya yang lihay haruslah dibanggakan kemenangan yang gilang gemilang ini. Karena meninggalnya To Bok-san, Sun Kay-ka sendiri menjadi kerepotan menghadapi Thian-ih, maka cepat-cepat Kiu Keng-po dan Sia Hwi-i menubruk maju untuk membantu. Sekarang Thian-ih dikerubut dari tiga jurusan. Betapapun ilmu ruyung Sun Kay-ka lebih lihay dari permainan senjata kawan-kawannya. Ruyung lemasnya itu merupakan ancaman yang paling bahaya. Terpaksa Thian-ih harus curahkan semua perhatian dan kerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya baru dapat mengatasi cercahan serangan musuh yang dahsyat ini.

Begitu To Bok-san menemui ajalnya, segera serangan Lo Ka Siangjin tambah diperhebat, keruan siorang berkedok semakin keripuhan terdesak dibawah angin. Memang Lwekangnya kalah jauh dibanding lawan, tongkat musuh juga berat dan susah dilayani pula, berulang kali sudah jiwanya terancam elmaut. Sementara itu, keadaan Thian ih juga tidak lebih menguntungkan.

Mendadak Lo Ka Siangjin membentak keras: "Kena !" tongkat besar dan berat itu tiba-tiba menyelonong tiba menjojoh dengan kecepatan luar biasa. Tiada lain jalan terpaksa siorang berkedok harus menangkis, “trang", benturan hebat ini menyebabkan pedang panjang siorang berkedok terpental terbang ketengah udara entah kemana. Untuk menyelamatkan diri tangkas sekali ia jumpalitan menyingkir kesamping. Namun Lo Ka Siangjin juga telah memburu tiba sambil menggenjot dada dengan tangan kanannya. Siorang berkedok mendakkan tubuh untuk menyingkir tak urung pundaknya juga sudah keserempet angin pukulan yang hebat ini, seketika tubuhnya terhuyung roboh.

Betapa Thian-ih takkan terkejut, sedikit perhatian terpecah hampir saja ia harus membayar mahal akan kelalaiannya ini. Senjata Sia Hwi-i hampir saja mematahkan tulang dadanya, untung dia masih sempat menyampok. Karena desakan serangan berantai yang bekerja sama secara ketat ini terpaksa Thian-ih harus himpun semangat dan tenaga demi keselamatan sendiri.

Dalam pada itu, sekali melangkah maju tongkat Lo Ka Siangjin langsung mengepruk ke batok kepala siorang berkedok, tiada jalan lain lagi siorang berkedok mandah pasrah nasib saja sambil meramkan mata menunggu ajal. Serentak pada saat yang gawat itu, Thian-ih menggerung bagai banteng ketaton sambil mengayun sepasang tongkatnya tubuhnyapun berputar seperti gangsingan, karena perbuatan yang nekad ini pundak kirinya tergantol bolong oleh senjata gantolan Kiu Keng-po, darah segar membasahi seluruh tubuhnya. Tapi Thian-ih tidak rasakan sakit dan tak hiraukan lukanya sendiri, ternyata tidaklah sia-sia pengorbanannya karena ia berhasil juga membobol kepungan musuh. Langsung menubruk kearah Lo Ka Siangjin.

Sebelum tubuhnya meluncur sampai, sekonyong-konyong dilihatnya secarik sinar perak berkelebat dari tengah udara, dari atas sebuah pohon melesat turun bayangan seseorang laksana malaikat dewata terus mengebutkan lengan bajunya. Serangkum angin deras kontan menerjang ke arah Kiu Keng-po bertiga sampai mereka terpental jungkir balik.

Bayangan itu membekal pedang panjang yang berkilau kuning keemasan, sedikit menutul diatas tongkat Lo Ka Siangjin, tongkat besi yang besar dan berat itu kontan terbang ketengah udara dan jatuh melesak kedalam tanah.

Sekilas Lo Ka Siangjin melirik kearah orang yang baru tiba ini serta melihat seorang tua berambut dan berjenggot uban bertubuh tinggi mengenakan jubah panjang warna abu-abu, sikapnya tenang berwajah welas asih tengah tersenyum kepadanya. Lo Ka Siangjin beramai kenal siapakah siorang tua beruban ini. Saking ketakutan mereka lari lintang pukang turun gunung seperti dikejar setan sampai senjata sendiri juga tidak dihiraukan.

Tanpa membuka suara siorang tua beruban itu memayang tubuh siorang berkedok terus dipanggulnya, sebelum pergi ia tersenyum memandang kepada Thian-ih yang sedang terlongong tak bergerak, begitu memutar tubuhnya terus melayang pergi bagai seekor bangau terbang sekejap saja bayangannya telah menghilang dari pandangan mata.

Thian-ih termangu sekian lama diatas gunung. Siapakah siorang tua ubanan berjenggot panjang ini, bukan saja Lwekangnya sedemikian hebat, ilmu ringan tubuhnya naga-naganya dapat menandingi gurunya Kiam-bun-it-ho. Sayang tadi tak sempat menanyakan nama Locianpwe itu untuk berkenalan.

Dengan hati risau dan kesal Thian-ih turun gunung, belum jauh jalan yang ditempuhnya, terdengar derap langkah kuda yang gemuruh tengah mendatangi dengan cepat, sekejap saja delapan ekor kuda telah mencongklang datang, waktu ditegasi kiranya adalah kawanan dari Bhayangkara yang dipimpin oleh Lim Han sendiri.

Begitu melihat Thian-ih, Lim Han lantas bertanya: “Apa kau tidak terluka ? Bagaimana keadaan Nyo-kongcu ?”

“Nyo Hway-giok maksudmu? Aku tidak melihatnya, hanya ada seorang berkedok, dia terluka dan sudah ditolong oleh seorang tua beruban berjenggot panjang.''

Lim Han turun dari atas kuda, Thian-ih lantas menuturkan peristiwa yang baru terjadi diatas gunung.

Lim Han membanting kaki, katanya gegetun: “Orang berkedok itu adalah Hway-giok. Dia rela berkorban demi terangkap perjodohanmu dengan Li Hong-gi, seorang diri ia mendahului menantang Lo Ka Siangjin dan kawan-kawannya untuk bertempur diatas gunung. Sayang aku terlambat mendapat kabar ini."

Thian-ih menguatirkan keadaan Li Hong-gi, tanyanya gugup: “Lim-heng, apakah Hong-gi sudah diantar tiba dirumah keluarga Nyo?''

“Ai, urusan malah semakin runyam, mendengar maksudmu hendak menyerahkan dia kepada keluarga Nyo, nona Li lantas marah-marah dan menangis tergerung-gerung. Sekarang dia entah menghilang kemana, coba kau pikir bagaimana kita harus bertindak?"

Tanpa banyak kata lagi Thian-lh bergegas pulang, benar juga memang kamar Li Hong-gi sudah kosong, keluarga familinya memberi tahu dengan wajah merengut: bahwa setelah tahu Thian-ih sengaja tidak mau menemui malah hendak menyerahkan dirinya kepada keluarga Nyo, gusarnya bukan kepalang, pintu kamarnya ditutup kencang dan menangis seharian tak mau keluar meskipun sudah digedor berulang-kali. Sebetulnya famili Thian-ih tidak setuju akan tindakan Thian-ih ini, mereka sudah mempersiapkan kereta dan hendak membujuk Thian-ih kalau dia pulang. Siapa tahu waktu sorenya hendak mengantar makanan baru diketahui pintu kamarnya ternyata sudah terpentang, orangnya juga telah menghilang entah kemana?

Keruan gugup Thian-ih bukan main seperti semut dalam kuali panas. Sedemikian besar kota raja ini kemana pula harus mencari jejaknya. Apalagi pergi seorang diri tanpa membekal sepeser uang, wajahnya begitu ayu molek lagi, bukan mustahil bisa terjadi sesuatu yang membahayakan jiwanya, bukankah menambah kapiran, menyesal juga sudah kasep.

Untung pengaruh Lim Han dikota raja sangat besar dan banyak kenalan lagi, segera anak-buahnya disebar untuk menyirapi kemana-mana. Hari kedua baru didapat kabar bahwa Li Hong-gi sudah menyewa sebuah kereta, seorang diri melakukan perjalanan kearah timur. Tanpa sangsi lagi Thian-ih minta diri pada Lim Han terus cemplak kudanya mengejar kearah timur.

Karena risau dan tak tentram Thian-ih jadi banyak berpikir ditengah jalan, kalau menurut petunjuk arah timur yang ditempuh Li Hong-gi ini pasti tujuannya adalah Kilam. Tapi Kilam berada diselatan mengapa dia menuju ke timur, bukan mustahil kusir kereta telah menipunya. Berpikir begitu hatinya semakin tak enak kudanya dipacu secepat terbang, selama perjalanan ini, entah berapa kuda sudah dikorbankan, tapi dia sendiri tidak mengenai lelah. Setiap kali menemui kereta tertutup ditengah jalan tanpa bertanya langsung ia singkap tenda kereta dengan cambuk ditangannya, sudah tentu perbuatan kasar ini menimbulkan banyak kegaduhan yang tak diinginkan, tapi Thian-ih tak peduli akan semua itu, yang dipikirkan hanya Li Hong-gi namun sebegitu jauh jejaknya belum diketemukan.

Beberapa hari kemudian Thian-ih memasuki daerah Shoa-tang dan sampai di karesidenan Samho dimana letak kampung halamannya. Thian-ih berpikir apakah perlu dirinya mampir dulu kerumah, sudah berapa lama ini ia tinggalkan rumahnya sejak wafatnya engkohnya tempo hari. Rumah sebesar itu hanya didiami enso dan beberapa bujang laki perempuan. Teringat olehnya betapa besar kasih sayang enso (istri Thian-ki) kepadanya, tak tega dan sedih rasa hatinya. Tanpa merasa ia belokkan kudanya menuju kearah rumahnya.

Waktu sampai didepan rumah, keadaan sekitar rumahnya sunyi sepi, keadaan ini jauh berbeda waktu engkohnya masih hidup dulu, terasa pilu dan pedih perasaannya.

Melihat kedatangan Thian-ih ini penjaga pintu berjingkrak girang seperti ketiban rejeki nomplok, sambil berkaok-kaok ia berlari kedalam rumah. Seisi rumah menjadi ribut dan berlari keluar semua menyambut kedatangannya sambil unjuk hormat dan memberi selamat kepadanya. Thian-ih garuk-garuk kepala keheranan seperti menyongsong kedatangan mempelai saja lagaknya dirinya dibimbing masuk kedalam rumah.

Tak lama kemudian dibawah bimbingan seorang dayang Liu-si ensonya juga keluar, cepat-cepat Thian-ih maju menyapa serta menanyakan kesehatan orang. Wajah pucat ensonya tampak berseri girang, tak ketinggalan ensonya ini juga mengucapkan selamat dan bahagia kepadanya. Lebih besar rasa heran dan tak mengerti Thian-ih "selamat'' apa dan darimana?

Liu-si menghela napas panjang, katanya: “Semasa hidup engkohmu, aku tidak punya keturunan. Harapan kita hanya kau seorang. Kini dia telah meninggal, hatikupun sudah membeku, menyembah Budha, sucikan diri, besar harapanku kau lekas berkeluarga supaya lekas tercapai keinginanku. Bila kau sudah menikah dan punya keturunan berarti selesailah tugasku ini, hatikupun akan sangat gembira " sejenak ia berdiam diri, lalu sambungnya lagi

sambil tersenyum penuh arti: “Pergilah ke kamarmu melihat sendiri !"

Thian-ih terperanjat, adakah sesuatu apa yang tengah menanti didalam kamarku? Tiba-tiba tergerak hatinya, tidak sempat membersihkan badan dan ganti pakaian bergegas ia berlari ke kamarnya. Sambil tertawa cekikikan seorang dayang menyingkap kerai membuka pintu. Terlihat olehnya seorang cantik bak bidadari nan ayu molek tengah berdiri tersenyum mesra dalam kamar, dia tak lain tak bukan adalah tambatan hatinya Li Hong-gi.

Setelah tertegun sejenak, baru Thian-ih menghela napas lega, siapapun menduga seorang gadis lemah dari keluarga orang berada yang biasanya dipingit dapat melakukan perjalanan jauh dengan selamat sampai dirumahnya. Sudah tentu enso serta seluruh penghuni rumah ini sangat setuju bila jodoh yang setimpal ini terangkap, kalau dirinya menolak lagi pasti ensonya marah. Memang tindakan Li Hong-gi sangat tepat, sampai Thian-ih termangu sekian lama didepan pintu, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Para dayang sudah menyingkir sambil mengikik geli, Hong-gi lantas berlenggong mendekati dan menarik tangannya, katanya mesra: “Pergilah mandi dan tukar pakaian ! Lihatlah begitu kotor tubuhmu itu !"

Wajah nan ayu penuh seri serta ucapan yang kasih sayang membuat Thian-ih terpesona sekian lama, pikirannya bagai melayang di-awang-awang. Kata-kata yang sudah disiapkan hendak menegor tindakan orang yang ceroboh itu tak kuasa lagi terucapkan.

Dengan tatapan tajam Hong-gi berkata lagi: “Waktu masih panjang, nanti setelah kau membersihkan diri kita bicara lagi." Naga-naganya ia sudah dapat menebak isi hati Thian-ih yg hendak menegor tindakannya karena pergi tanpa pamit itu, maka suaranya mengandung kegetiran hati yang harus dikasihani. Keruan Thian-ih menjadi tak tega dan menunduk tak berani beradu pandangan dengan sorot mesra yang penuh perasaan itu. Tanpa berani membangkang lagi segera ia mengundurkan diri membersihkan diri dan ganti pakaian, susah dirasakan senang atau bersyukurkah hatinya ini.

Malam itu, Liu-si mengundang Thian-ih menghadap ke kamar semadinya, dalam kesempatan ini Thian-ih menuturkan pengalaman selama ini. Selama mendengarkan Liu-si berulang kali bersabda Budha setelah cerita Thian-ih habis, cepat-cepat ia berkata: “Ji-siok, untuk selanjutnya tak kuijinkan kau keluar menempuh bahaya lagi, permusuhan lebih gampang diikat daripada dilerai, seumpama kau dapat membunuh musuh engkohmu juga tidak bisa hidup kembali. Sejak kematian engkohmu, keluarga Thio kita tinggal kau seorang, kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sebagai orang yang lebih lanjut usia tidak memberikan petuah dan nasehat serta bertanggung jawab, kalau aku mati rasanya malu aku menemui leluhur kita di alam baka. "

Thian-ih tunduk tak berani bersuara, dengan cermat ia perhatikan petuah dan nasehat ensonya. Diam-diam ia membatin, enso pasti membantu Hong-gi untuk membujuk aku merangkap perjodohan ini. Betul juga akhirnya Liu-si buka bicara dengan lebih ramah dan lemah lembut: “Betapa besar dan luhur cinta nona Li kepadamu, lahir dari keluarga besar dan kenamaan lagi, bisa membaca dan kenal sopan santun pula, wajahnya sedemikian cantik baru kali ini aku melihat gadis cantik begitu rupa seumur hidup ini. Wataknya lemah lembut dan supel lagi, sejak kedatangannya seisi rumah ini menjadi bertambah semarak dan riang gembira, semua hormat dan menghargai sikapnya yang bajik itu. Orang yang serba pandai seperti dia ini, Ji-siok mengapa kau masih rela hendak menyerahkannya kepada Nyo-kongcu apa segala?......” Kini suaranya mengandung penyesalan dan marah, tak tertahan lagi ia menegor penuh dongkol. “Sungguh aku tidak habis mengerti mengapa kau main sungkan dan bimbang, ceroboh lagi "

Mana Thian-ih berani main debat, sejak kecil ia diasuh dan dibesarkan oleh Liu-si dipandangnya sebagai orang tuanya sendiri, apalagi ensonya ini sejak lama sudah mengasingkan diri dari dunia ramai umumnya, pasti takkan mengerti tentang segala hal ihwal dunia persilatan, ada lebih baik bungkam saja tanpa banyak komentar.

Dua hari lamanya Thian-ih mengeram diri dalam rumah tanpa pergi ke-mana-mana. Hong-gi melayani segala keperluannya dengan penuh kasih sayang dan mesra. Seorang diri tidur di kamar buku merasakan kenikmatan hidup yang serba lengkap dan rapi dibawah asuhan pembantu rumah tangganya, semua kemewahan ini selamanya belum pernah terasakan dalam kelananya di perantauan.

Akan tetapi semangat kejantanannya untuk menuntut balas masih berkobar dan bergelora dalam dadanya. Kelima orang berkedok dan sibaju perak adalah musuh-musuh yang setiap saat selalu terbayang dalam ingatannya, penasaran rasanya sebelum rasa dendam ini terlampias. Terkenang akan para kawan yang telah mati seperjoangan, kangen pula pada para sahabat yang masih hidup. Teringat betapa bajik dan luhur So Tiong dan adiknya, Hi Si-ing murid keponakan yang telah menjadi gila, serta Ciu Hou yang menghilang tak diketahui mati hidupnya dan Nyo Hway-giok yang terluka berat ditolong orang entah dibawa kemana, setiap terbayang wajah-wajah mereka ini seolah-olah terasa mereka tengah mendesak dan menganjurkan supaya dirinya segera meninggalkan kampung halaman berkelana di Kangouw mencari musuh-musuh besarnya.

Sebaliknya kecantikan, kelemah lembutan Li Hong-gi yang penuh kasih sayang itu laksana sesuatu kekuatan yang membelenggu sanubarinya sehingga tak kuasa dirinya melepaskan diri, dia berharap supaya Thian-ih selalu mendampingi disisinya, tak memikirkan lagi soal menuntut balas dan segala urusan tetek-bengek yang membahayakan jiwa. Sudah tentu Thian-ih tidak rela dibelenggu ketat demikian, tapi setiap kali bentrok dalam pandangan yang penuh kasih mesra itu luluhlah hatinya, mulutnya terbungkam tak kuasa mencurahkan isi hatinya untuk mengabaikan maksud baik orang.

Masih teringat oleh Thian-ih bahwa Hong-gi dulu pernah menghilang secara misterius, tapi akhirnya dibawa orang kembali lagi. Dan kejadian yang terakhir si baju perak itu juga datang mengunjunginya. Naga-naganya semua peristiwa itu terikat dan berhubungan erat satu sama lain, sedikit banyak Li Hong-gi pasti mengetahui seluk beluk kejadian itu. Bagaimana pengalamannya setelah dirinya diculik, inilah hal yang perlu segera diketahui oleh Thian-ih. Maka secara halus ia mencari akal untuk mengorek keterangannya. 

Ternyata Li Hong-gi juga cerdik, tanyanya tertawa: “Mengapa sedemikian mendetail kau menanyakan kejadian itu? Kau curiga aku mengalami sesuatu yang merugikan diriku? Ketahuilah selain merasa ketakutan Li Hong-gi tidak kurang suatu apa." Memang lazimnya suatu penculikan kalau tidak minta tebusan yang tinggi nilainya pasti hendak merusak kehormatan sang gadis yang diculik itu. Justru pengalaman dirinya ini sangat janggal dan aneh. Bukan saja Li Hong-gi tidak kehilangan perhiasannya, badannya juga masih suci bersih. Lantas apakah tujuannya menculik dirinya ini sampai sekarang masih belum dapat diketahui. Thian-ih mendengar sambil mengawasi dengan mendelong. Keruan dalam anggapan Hong-gi bahwa Thian-ih sudah salah sangka bahwa dirinya telah diperkosa, maka sambil menunduk malu-malu ia mencubit lengan Thian-ih sambil mencemoohkan pandangannya yang keliru itu.

Melihat orang salah paham Thian-ih tertawa geli, cepat-cepat ia memberikan keterangan, maksudnya hanya ingin mengetahui tentang rupa dan bentuk orang-orang yang telah menculik dan mengantarnya pulang itu, mungkin pula mendengar atau melihat sesuatu tanda khas serta melihat suatu kejadian apa?

Tutur Hong-gi penuh kenangan: “Waktu aku diculik dulu pada tengah malam yang buta rata. Tahu-tahu seorang berkedok yang mengenakan pakaian putih perak kemilau menerjang masuk kedalam kamarnya, tangannya membekal Loh-kim Pokiam. Begitu tiba dia lantas mengancam dengan pedangnya terus menjejalkan sesuatu benda kedalam mulutku terus dimasukkan kedalam karung besar. Diantara sadar tak sadar Hong-gi merasakan dirinya dibawa menempuh perjalanan yang sangat jauh, saking ketakutan hingga ia jatuh pingsan dan tak tahu apa yang dialami selanjutnya dan kemana dirinya telah dibawa? Akhirnya pada keesokan malamnya ia ditolong orang dan siuman dari pingsannya, orang-orang ini memberi makan dan minum pada dirinya, sikapnya halus dan membujuk dirinya supaya tidak takut karena segera akan diantar pulang. Mereka mengenakan seragam hitam berjumlah lima orang, salah seorang yg bersuara serak agaknya menjadi pemimpin karena empat yang lain sangat tunduk dan mendengar segala perintahnya.

Lima orang seragam hitam berkedok, bukankah mereka itu algojo-algojo pembunuh engkohnya? Hampir saja Thian-ih melonjak kaget. Menurut penjelasan Hong-gi bahwa kelima orang itu tidak mau memperkenalkan diri, hanya dalam perjalanan pulang itu secara kebetulan ia mendengar mereka tengah berunding hendak pergi ke Kanglam mencari sebuah perkumpulan yang bernama Ho-bwe-pang.

Ho-bwe-pang. Thian-ih masih ingat waktu engkohnya baru saja wafat Ho-bwe-pang Pangcu Kun-suseng Liok Peking juga datang melawat. Ia adalah sahabat kental engkohnya betapapun takkan mungkin mencelakai jiwanya, urusan ini benar-benar agak janggal dan tak masuk akal.

Thian-ih ingin selekasnya pergi ke Kanglam mencari tahu di Ho-bwe-pang, dia beritahu maksudnya ini kepada Hong-gi, sudah tentu Hong-gi tidak rela dia pergi menempuh bahaya tapi melihat Thian-ih bertekad bulat susah dibujuk akhirnya ia hendak ikut juga. Kini Thian-ih sendiri yang serba runyam, perjalanan sedemikian jauh penuh bahaya lagi mana mungkin ia ajak Hong-gi yang berbadan lemah kaum perempuan yang ayu molek lagi, bagaimana juga ia tidak menyetujui. Begitulah karena masing-masing mengukuhi pendapatnya tanpa ada penyelesaian yang konkrit, sampai pemberangkatan Thian-ih tertunda sekian lama.

Pada hari ketiga, mendadak ada puluhan penunggang kuda yang mendatangi Thio-keh-cheng, puluhan penunggangnya adalah para Bhayangkari dari kota raja dipimpin oleh Hwe-poan-koan Siu Hoa. Siu Hoa adalah sahabat terdekat Lim Han merupakan salah seorang berkepandaian tinggi dari kesatuan Bhayangkara itu.

Tersipu-sipu Thian-ih keluar menyambut. Dasar Hwe-poan-koan Siu Hoa ini orang berangasan begitu melihat Thian-ih segera ia menjengek sambil tertawa dingin, tanpa turun dari atas kudanya segera ia menyuruh Thian-ih: “Ji-chengcu, segera kau ikut kami pergi."

Thian-ih tertegun, tanyanya: “Ada terjadi apa lagi dikota raja?"

Siu Hoa mendengus, serunya gusar: “Thio Thian-ih, kau masih berpura-pura? Apa yang kau perbuat pasti hatimu tahu sendiri. Lim Han masuk penjara karena kau, jiwanya terancam dalam waktu dekat, beginikah sikapmu terhadap sahabat baik? Hehehe, sekarang tak perlu banyak mulut, kau ikut kami langsung bicara dengan Lim Han saja !"

Thian-ih tak habis mengerti apa yang telah terjadi. Hwe-poan-koan (pena berapi) Siu Hoa berjingkrak murka tak mau memberi keterangan, maka salah seorang anak buahnya yang memberi penjelasan. Kiranya persoalan mengenai kedua butir mutiara mestika itu, setelah Thian-ih menyerahkan kepada Lim Han, Lim Han langsung menyerahkan kepada atasannya, namun setelah diperiksa ternyata bahwa kedua mutiara itu palsu, betapapun Lim Han tak dapat main debat lagi, kontan dirinya dihukum masuk penjara dan diperiksa dengan keras.

Siu Hoa ini adalah sejawat dengan Lim Han, dia tahu bahwa kedua mutiara itu adalah penyerahan dari Thian-ih, maka lekas-lekas ia pimpin anak buahnya mencari Thian-ih. Diam-diam Thian-ih mengeluh dalam hati. Betapa besar kasiat kedua mutiara itu dapat melindungi tubuh Li Hong-gi selama seratus hari tanpa membusuk, sepanjang perjalanan jauh tidak membuat badan kotor, disimpan begitu rapat dan dia sendiri yang langsung menyerahkan kepada Lim Han, mana mungkin bisa palsu. Semakin pikir hatinya semakin kesal dibuatnya.

Sipena berapi loncat turun dan atas kuda terus menjambret lengan baju Thian-ih, hardiknya: “Thio Thian-ih, apa lagi yang perlu kau katakan? Ikut saja perintah kami !"

Thian-ih mengebas sambil menyingkir kesamping. Thian-in insaf betapapun dirinya susah memberi penjelasan. Jejak kelima orang berkedok sudah diketahui, inilah saat dirinya pergi ke Ho-bwe-pang mencari tahu. Kalau ke kota raja tersaruk kedalam persoalan yang tidak menguntungkan, bukan mustahil dirinya bakal masuk penjara juga. Kalau kedua mutiara itu tak dapat diketemukan selama hidup ini pasti dirinya hidup dibelakang terali-besi, bagaimana juga persoalan ini sulit diselesaikan dalam waktu singkat, aku harus berusaha membikin terang segala-galanya. Walaupun Lim Han sedikit menderita tapi takkan dihukum mati. Lebih baik dirinya mencari kedua mutiara itu untuk menolongnya keluar. Karena ketetapan pikiran ini segera ia berkata kepada Siu Hoa: “Aku tidak bisa ikut kau "

Belum ucapannya habis, Siu Hoa sudah menggerung gusar sambil melolos golok dipinggangnya, bentaknya: "Thio Thian-ih, kami memperoleh tugas untuk membekukmu, kau berani membangkang pada pemerintah?"

Thian-ih menjadi gugup, serunya: “Saudara Siu, dengar dulu penjelasanku."

Watak Siu Hoa memang kasar dan kaku, semprotnya: “Tiada yang perlu dijelaskan, ikut aku pergi!"

Sembari mengumpat caci, kelima jarinya diulur mengcengkeram dada Thian-ih. Thian-ih berkelit, namun dengan jurus Lak-pi-hoa-san (membelah gunung Hoa-san) golok Siu Hoa sudah mengancam batok kepalanya. Ringan sekali Thian-ih loncat menyingkir, terdengar Siu Hoa mencaci: “Beginikah murid Kim-bun-it-ho yang kenamaan itu, tak ubahnya sebagai pencuri picisan. Tak malu kau angkat diri sebagai seorang kesatria, biar hari ini Siu Hoa belajar kenal dengan kepandaianmu."

Karena didesak demikian rupa, jengkel juga Thian-ih akhirnya, untuk membela diri terpaksa ia harus menggerakkan tangannya juga, sekali kebas ia sampok bacokan golok lawan. Tenaga Siu Hoa ini besar dan serangannya juga berbahaya. Thian-ih sendiri masih ragu-ragu untuk turun tangan, tenaganya hanya empat lima bagian saja yang terkerahkan, meskipun golok lawan kena disampok, telapak tangan sendiri juga terasa pedas.

“Thio Thian-ih," Siu Hoa berkaok-kaok, “Kau ini pokrol bambu, berani kau membangkang, betapapun hari kau harus diringkus."

“Wut, wut, wut." beruntun tiga kali ia lancarkan serangan berantai mengarah tempat-tempat vital yang membahayakan jiwa Thian-ih. Terpaksa Thian-ih harus berloncatan menghindar. Melihat lawan mendesak sedemikian rupa tanpa mau dengar penjelasannya memaki lagi nama baik perguruan, timbullah amarahnya. Begitulah waktu Siu Hoa mengayun goloknya menyerang lagi, jurus ini dinamakan Gu-kak-kut-su (buku tergantung ditanduk kerbau), tenaganya besar membacok sambil menendang. Apa boleh buat, kali ini Thian-ih harus membalas. Kedua jarinya dirangkapkan dengan jurus Hoan-te-hoan-lian (membalik bunga teratai dari bawah), tangan menutuk jalan darah, kakinya juga tidak tinggal diam menggeser kedudukan hanya terpaut serambut saja serangan golok Siu Hoa mengenai tempat kosong. Sekejap saja mereka sudah bergebrak puluhan jurus, mendadak sipena berapi berpaling sambil membentak: “Kalian masuk, geledah seluruh rumah adakah gadis she Li itu, ringkus dia sekalian!”

Para anak buahnya serentak mengiakan terus menerjang sambil menenteng senjata. Thian-ih menguatirkan keselamatan Hong-gi, hatinya menjadi gugup, pikirnya bagaimanapun mereka harus dicegah untuk bertindak sembrono. Maka teriaknya: “Saudara Siu, lekas berhenti, dengarkan penjelasanku !" sambil berteriak ia melesat menghadang di depan pintu.

Melihat orang agaknya sudah nekad untuk melawan, Siu Hoa angkat tangan menghentikan kawan-kawannya, jengeknya dingin: "Thio Thian-ih, kalau kau seorang laki, kau harus menolong Lim Han dari penderitaan dalam penjara, lekas ikut aku !"

Seru Thian-ih gugup: “Kedua mutiara itu betul-betul tak berada di tanganku, ikut kalian juga tiada gunanya. Jalan yang paling tepat biarlah aku mencari kedua mutiara itu dulu untuk menolong Lim-toako dikota raja !"

Siu Hoa menghardik keras: “Kentut, terang kau takut dihukum dan hendak melarikan diri, tuan besarmu ini masa begitu gampang kau apusi !''

Mengayun senjata dengan garang ia menyerang serabutan. Terpaksa Thian-ih harus melayani lagi. Sipena berapi Siu Hoa terkenal akan ilmu goloknya yang bernama Ban-seng-to-hoat, Lim Han sangat mengagumi kepandaiannya ini maka menariknya menjadi pembantunya yang sangat diandalkan. Ilmu goloknya ini berjumlah tiga puluh enam jurus, jurus demi jurus mengalun berantai saling sambung, ditambah tenaga pembawaannya memang luar biasa, maka goloknya itu dapat diputar dan dipermainkan secepat kitiran. Sekarang melihat ilmu silat Thian-ih ternyata juga cukup lihay, diketahui pula adalah murid Kiam-bun-it-ho yang disegani oleh kalangan persilatan, maka tanpa ayal lagi ia permainkan ilmu golok Ban-seng-to-hoat yang dibanggakan itu.

Sedemikian lancar dan tangkas sekali permainan Siu Hoa ini sambung menyambung tiada putusnya perbawanya menjadi hebat sekali. Thian-ih hanya melayani dengan tangan kosong paling-aling hanya dapat mengimbangi saja. Thian-ih tahu jurus ilmu golok musuh ini yang paling lihay adalah tiga jurus yang terakhir, yaitu Tay-beng-han-cau (Garuda pulang sarang), Ping-hiat-ho-coan (sungai es mengalir deras), Wi-siu-lam-thian (berpaling melihat langit selatan). Ketiga jurus lihay ini dilancarkan secara berantai pula sekaligus, jarang ada musuh yang bisa lolos atau selamat dari serangan goloknya ini. Tengah hatinya merancang cara bagaimana dirinya harus memecahkan serangan musuh ini, disamping itu juga tidak sampai melukai musuh, supaya dia tahu diri dan mundur teratur. Sekejap saja tiga puluh enam jurus Ban-seng-to-hoat sudah dilancarkan sampai jurus-jurus terakhir. Benar juga sipena berapi Siu Hoa lancarkan ketiga jurus berantai itu. Kilat golok menyambar dari samping. Thian-ih ulurkan kedua jarinya seperti jepitan tanpa berkelit atau menyingkir dengan jurus Seng-kong-sam-siok (sinar bintang kelap-kelip), secepat kilat ia mendahului menutuk jalan darah Tiong-ting-hiat di dada Siu Hoa. Jalan darah ini penting dan mematikan, serangan Thian-ih cukup ganas lagi, mau tak mau Siu Hoa pasti menarik pulang goloknya dan berganti jurus dengan Peng-hiat-ho-coan, lalu bersama dengan itu dirinya menarik kedua jarinya dirobah dengan pukulan telapak tangan untuk memunahkan jurus berantai ketiga yaitu Wi-siu-lam-thian. Maka gebrak terakhir ini pasti dapat diakhiri dengan sama-sama selamat tanpa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Perhitungan Thian-ih ini sebetulnya sudah matang, begitu kedua jarinya ditutukkan, siapa tahu diluar perhitungannya Siu Hoa ternyata tidak berobah permainannya, malah tubuh dan goloknya itu menubruk maju bersamaan. Keruan kejut Thian-ih bukan kepalang, untuk menyingkir dan membatalkan serangan sendiri sudah tak mungkin pula, dalam saat yang gawat itu ia mendakan tubuh. Golok Siu Hoa hanya memapas jatuh topi Thian-ih, sebaliknya kedua jarinya itu tepat sekali menembusi dada Siu Hoa. Terdengar sipena api Siu Hoa melolong tinggi terus roboh terkulai.

Para anak buah sipena berapi segera menerjang maju sambil memaki: "Bocah keparat, kau berani membangkang dan membunuh petugas hukum, kau sudah tak ingin hidup lagi?''

Seketika Thian-ih dihujani berbagai serangan senjata. Tahu bahwa tak mungkin lagi memberi penjelasan secara damai, Thian-ih bergerak tidak kepalang tanggung lagi, telapak tangannya bergerak cepat angin pukulannya cukup menyampok dan menangkis serangan senjata para musuh, disamping itu jari tangannya juga tidak tinggal diam. Di antara pendatang ini selain Siu Hoa seorang tiada seorang pun yang berkepandaian tinggi, melihat Thian-ih mulai berlaku garang, mereka insaf kalau bukan tandingnya, terpaksa kali ini harus mengalah dan mundur teratur. Begitulah sambil memayang tubuh sipena berapi Siu Hoa segera mereka mengundurkan diri. Salah seorang diantara mereka berseru dengan penuh kebencian: “Thio Thian-ih, kau berani membangkang dan membunuh petugas hukum, lari ke ujung langit pun kesatuan dari Bhayangkara akan mengejar dan meringkusmu. Betapapun kau harus menebus jiwa Siu-toako, tunggulah saatnya." habis berkata terus tinggal pergi naik kuda.

Thian-ih tahu kalau para Bhayangkara itu paling menjunjung tinggi gengsi kesatuannya, setiap kali menangkap orang boleh sesuka hatinya tanpa memberitahu dulu kepada petugas setempat. Tanpa sengaja dirinya telah melukai Siu Hoa, pasti mereka akan meluruk datang lagi dengan bala bantuan yang lebih tinggi kepandaiannya. Tujuan utama mereka adalah dirinya, mungkin bisa menyangkut pribadi Li Hong-gi. Kini kesalahan telah terjadi selain menyerahkan diri menebus dosa, hanya melarikan diri dan mengembara satu-satunya jalan untuk selamatkan diri.

Betapa susah hatinya ini, waktu ia membalikkan tubuh tampak Li Hong-gi tengah menuntun dua ekor kuda yang sudah lengkap dengan pelana dan perlengkapan seperlunya, tidak ketinggalan pula membawa pedang. Kiranya Hong-gi sudah tahu akan terjadinya keributan yang mengakibatkan tewasnya Siu Hoa itu, urusan sudah berlarut sedemikian rupa selain melarikan diri tiada jalan lain lagi untuk menyelamatkan diri. Waktu Thian-ih tengah bertempur seru tadi, diam-diam ia menyiapkan kedua ekor kuda untuk melarikan diri bersama.

Dengan merasa pilu dan berat perasaan Thian-ih untuk meninggalkan kampung halaman ini. Entah kapan baru dapat kembali lagi setelah bepergian kali ini, demi menghindari diri dari penangkapan. Sebelum berangkat ia harus minta diri kepada ensonya Liu-si. Tapi Hong-gi keburu telah bicara: “Tidak usah, enso menyuruh kita segera berangkat, dia suruh kau waspada dan menjaga diri, tak usah kuatir akan keadaan dirumah."

Thian-ih merasa hampa, sekilas ia melirik kearah Hong-gi, terlihat orang telah berganti pakaian mengenakan celana panjang yang ringkas dan leluasa untuk naik kuda, kepalanya juga sudah memakai topi rumput yang besar, terang dia juga sudah siap melakukan perjalanan jauh.

Tanya Thian-ih: “Apa kau bisa menunggang kuda? Perjalanan sedemikian jauh apa kau kuat bertahan?"

Hong-gi tersenyum, sahutnya: “Meskipun aku tidak pandai silat, sejak kecil aku sudah belajar menunggang kuda dibelakang kebon rumahku dulu !" nadanya ringan penuh semangat dan kepercayaan.

Thian-ih tertawa getir, berkelana tanpa tujuan membawa serta wanita secantik bidadari, bukan saja membuat orang-orang sepanjang jalan ngiler dan sirik, malah mungkin terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Betapapun tubuhnya yang lemah itu takkan kuat menahan terik matahari dan hujan angin. Sekali jatuh sakit susahlah dibayangkan akibatnya. Apalagi kalau pasukan Bhayangkara itu mengejar tiba, bertempur atau melarikan diri dengan adanya dia ikut serta pasti kurang leluasa.

Hong-gi cerdik dan cermat, tahu dia apa yang tengah Thian-ih pikir dan kuatirkan. Bola matanya berputar lantas katanya sambil merengut: “Koko, kalau kau tidak mau bawa aku biarlah pasukan Bhayangkara itu datang meringkus aku. Tegakah kau membiarkan aku meringkuk dalam penjara ?"

Apa boleh buat terpaksa Thian-ih harus berpikir panjang, tujuan utama perjalanan kali ini adalah Ho-bwe-pang di Kanglam, maka segera ia ayun cambuknya bersama Hong-gi mulai melakukan perjalanan ke selatan.

Tidak mengherankan lagi, kecantikan Hong-gi yang luar biasa ini telah menarik perhatian orang-orang di sepanjang jalan. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti pencegatan tokoh-tokoh penjahat semacam Go Hong tempo hari, Thian-ih mengusulkan supaya Hong-gi mengenakan pakaian laki-laki saja. Memang dengan pakaian laki-laki ini mereka dapat mengelabui orang. Sejak hari itu mereka melakukan perjalanan sebagai kakak beradik.

Hari itu mereka menginap dalam sebuah hotel. Dilihatnya seluruh tubuh Thian-ih penuh kotoran debu, sebaliknya dirinya masih putih bersih, diam-diam ia merasa heran, teringat olehnya bukankah kedua mutiara mestika itu telah dikembalikan kepada Lim Han, lalu dari mana dan mengapa dirinya sekarang masih dapat menolak kotoran debu itu. Ini benar-benar aneh, waktu diperiksa buntalannya dan seluruh tubuh kudanya juga bersih tanpa tertempel sedikit debu pun. Karena heran diam-diam ia memberi tahu kepada Thian-ih, segera mereka mencari dan menggeledah seluruh perbekalan dan semua yang terbawa termasuk baju yang dipakainya, tapi kedua mutiara itu masih tidak diketemukan.

Hari kedua waktu berangkat, tanpa sengaja Thian-ih melihat Hong-gi masih mengenakan anting-anting, Thian-ih tertawa geli ujarnya: “Dik, coba lihat memang kau ini terlalu ceroboh, sudah berpakaian laki-laki tapi tidak mencopot anting-anting, pasti semua orang yang melihatmu akan terheran-heran."

Hong-gi terkikik geli juga, cepat ia tanggalkan kedua anting-antingnya, waktu ditimang-timang ia menjadi heran dan mengawasi kedua anting-antingnya itu dengan kesima, serunya kejut: “Koko, lihatlah, bukankah ini kedua butir....................." sadar telah kelepasan omong cepat-cepat ia telan kata-kata selanjutnya.

Thian-ih mengulur tangan menyambuti, memang kedua butir mutiara mestika itulah yang telah diporotkan menjadi permata kedua anting-anting itu. Diam-diam ia heran dan curiga.

Terang kalau kedua butir mutiara itu telah diserahkan kepada Lim Han, lalu siapa pula yang mengembalikan dan diganti dengan permata anting-anting Hong-gi. Siapakah yang telah berbuat demikian usil? Mungkinkah si baju perak yang misterius itu, kalau benar dia lalu apa lagi maksud tujuannya ? Kini setelah dapat menemukan kedua mutiara mestika ini, dirinya sudah kadung menjadi pelarian, bagaimana juga tak mungkin menyerahkannya ke kota raja. Terpaksa setelah kembali dari Kanglam, barulah dititipkan orang untuk menolong Lim Han dari penjara.

Hari itu mereka sampai di Yang-ciu, terpaut dari markas besar Ho-bwepang tidak jauh lagi, karena terburu nafsu melanjutkan perjalanan Thian-ih kehilangan kesempatan untuk menginap, kini hari sudah hampir petang, mereka masih dipertengahan jalan, entah adakah tempat penginapan di depan sana. Untung sepanjang jalanan ini agak sepi, mereka dapat membedal kuda secepat terbang.

Sepeminuman teh kemudian dari kejauhan tampak disebelah kiri jalan didepan sana pintu gerbang sebuah perkampungan, cepat-cepat mereka keprak kuda menuju kesana. Pintu gerbang ditutup rapat, segera Thian-ih maju mengetok pintu dan minta menginap satu malam. Sipenjaga pintu segera berlari masuk memberi lapor. Sambil menunggu Thian-ih angkat kepala dilihatnya diatas pintu gerbang terpancang papan nama besar yang bertuliskan empat huruf emas yang gede-gede, samar-samar dikeremangan malam itu ia membaca "Hong-kiam-san-cheng'' empat huruf tulisan kuno.

Thian-ih terkejut, serunya: “Ternyata perkampungannya Kwi-loya !"

Hong-gi tidak tahu siapakah Kwi-loyacu itu. Maka Thian-ih menerangkan, Kwi-loyacu ini bernama Kwi Chun, semasa mudanya bekerja sebagai Popiau pada suatu perusahaan expedisi di Kanglam, namanya sudah menggetarkan kalangan Persilatan, pedang panjang dan senjata rahasia yang dinamakan buntut kalajengking belum pernah menemui tandingannya, selama tigapuluh tahun belum pernah terkalahkan, tak heran perusahaannya itu sedemikian besar sampai selatan dan utara sungai besar, relasinya tersebar dimana-mana, maka dikalangan persilatan dia diangkat sebagai ketua dari organisasi expedisi diseluruh daerah Kanglam, karena mengagumi kepandaiannya itu para sahabatnya memberi julukan Thi-piat-kim-liong (naga mas berpunggung besi).

Pada usia enampuluh tahun Kwi Chun menanggalkan pedang mengundurkan diri dari dunia persilatan, secara besar-besaran ia umumkan pengunduran dirinya ini kepada semua golongan dan aliran silat seluruh negeri, bahwa untuk selanjutnya dia tidak akan turut campur lagi segala urusan tetek bengek dunia persilatan. Sudahlah jamak bagi kaum persilatan yang hidup dengan sesuap nasi dari penghasilan mengantar barang menanam permusuhan dengan para penjahat, dan akhirnya mereka pasti mengalami banyak keributan dan hidup tidak tentram pada hari tuanya. Apalagi seperti Kwi Chun yang namanya sedemikian disanjung puji sebagai tokoh yang diagungkan, maka pengunduran dirinya itu dianggap tepat dan cerdik.

Tengah Thian-ih memberi keterangan, penjaga pintu sudah keluar lagi dengan seorang laki-laki, tapi bukan tuan rumah sendiri. Orang ini menyilahkan Thian-ih berdua masuk. Tampak Thi-piat-kim-liong tengah menanti kedatangannya di ruang tamu yang besar. Setelah saling memperkenalkan diri, dengan seksama Kwi Chun amat-amati Hong-gi yang berada disamping Thian-ih.

Segera Thian-ih memperkenalkan: “Ini adalah Cu Bing-cu-hiante !”

Takut konangan penyamarannya, Hong-gi segera membungkuk tubuh tanpa membuka suara. Secara lazimnya Thian-ih mengucapkan terima kasih akan kesediaan tuan rumah yang sudi menerima kedatangannya. Kwi Chun hanya ganda tersenyum saja sambil suruh pelayan menyediakan kamar dan segala keperluan. Meskipun dengan ramah ia layani tamunya tapi air mukanya mengunjuk adanya ganjalan hati yang tengah merisaukan benaknya, keningnya selalu berkerut seakan ada sesuatu urusan besar yang tengah dipikirkan.

Selagi mereka asyik bicara seorang dayang tiba-tiba melaporkan: “Loya, nona jatuh pingsan lagi, Hujin minta Loya segera masuk."

Kwi Chun mengulapkan tangannya, katanya tidak sabaran, “Katakan kepada Hujin suruh dia menyiapkan segala keperluan. Buat apa aku mesti masuk melihat dia meninggal secara mengenaskan begitu!"

Thian-ih segera berdiri memberi hormat serta ujarnya: “Kami tidak tahu kalau nona sedang sakit, maaf kalau kedatangan kita ini terlalu mengganggu, silakan paman masuk aku dan Cu-hiante hanya menginap semalam saja, besok pagi-pagi segera melanjutkan perjalanan.''

Kwi Chun menghela napas panjang, katanya: “Thio hiantit, kalau tidak kujelaskan sikap Lohu yang tidak genah ini pasti menimbulkan salah paham kalian dianggap aku sengaja menyepelekan kalian.''

Selang sesaat berkatalah Kwi Chun lebih jauh sambil tertawa getir: “Lohu sudah berusia enampuluh tahun dan hanya dikaruniai seorang anak perempuan, sungguh tak beruntung seminggu yang lalu dia terserang penyakit aneh yang susah diobati, jiwanya sudah diambang pintu akhirat, hatiku menjadi risau "

Tak tertahan lagi segera Thian-ih bertanya: “Entah nona terserang penyakit apa, masa tiada obat mujarab untuk mengobatinya."

Sahut Thi-piat-kim-liong menghela napas: “Entah aku ini dulu pernah berbuat dosa apa, penyakitnya itu adalah bisul berbisa. Menurut kata tabib yang memeriksa bahwa selain ada Le-hwe-po-cu yang dapat menyedot bisa dan menyembuhkan luka, kasiatnya sangat mujarab tiada obat lain lagi. Tapi mutiara mestika sedemikian ai!"

Tanpa merasa Thian-ih dan Hong-gi saling pandang, sungguh tak nyana didunia ini ada urusan yang sedemikian kebetulan, bukankah Le-hwe-po-cu yang dikatakan itu kebetulan berada pada Hong-gi.

Terdengar Kwi Chun berkata lagi: “Kupernah dengar cerita orang katanya di istana raja ada sebutir mutiara mestika itu, selain butir itu kemana pula harus dicari. Gadisku itu tahun ini berumur delapanbelas belum ditunangkan, siapa nyana terserang penyakit jahat begitu, kelihatannya tiada harapan lagi Tuhan, oh, Tuhan. Aku Kwi Chun selamanya berlaku lurus

dan bijaksana, mengapa pada hari tuaku ini mendapat pembalasan yang tidak adil ini?” Tak tertahan lagi Thi-piat-kim-liong yang sudah tua ini menangis sesenggukan terbawa oleh perasaannya yang sedih dan pilu.

Sekilas Hong-gi melirik kearah Thian-ih, Thian-ih sedikit mengangguk, Hong-gi lantas berkata lantang: “Paman Kwi tak perlu susah, kebetulan siautit juga membawa serta Le-hwe-pocu, kalau memang manjur marilah kita coba-coba."

Meskipun berpakaian laki-laki namun suara Hong-gi masih kecil melengking, Kwi Chun menyangka pendengarannya yang salah, cepat-cepat ia bertanya: “Apa, dimana Le-hwe-pocu itu?"

“Paman," sahut Thian-ih, “Mungkin sudah takdir, Cu-hiante kebetulan membawa mutiara yang diperlukan itu, kalau memang manjur kasiatnya lekaslah dicoba saja."

Saking kegirangan Kwi Chun sampai berjingkrak, serunya sambil menggenggam tangan Hong-gi: “Cu-hiantit, apa betul kau punya mutiara itu?" matanya berlinang-linang sambil menatap wajah Hong-gi.

Hong-gi merasa tangannya kesakitan, tersipu-sipu ia manggut-manggut. Kwi Chun tertawa keras, teriaknya sambil menarik Hong-gi: “Cu-hiantit marilah kau tolong jiwa gadisku, lekas ikut aku."

Thian-ih tetap tinggal dalam ruangan itu ditemani pembantu rumah tangga Kwi Chun.

Sementara itu Hong-gi terus ditarik masuk keruang belakang, sambil berjalan Kwi Chun berkaok-kaok : “Kabar baik, kabar baik, tuan penolong sudah datang, lekas beritahukan kepada Hujin!"

Saking keras dan cepat tarikan Kwi Chun, Hong-gi sampai terseret megap-megap masuk ke sebuah kamar, para pelayan perempuan segera menyingkir mengundurkan diri.

Mereka tiba dalam sebuah kamar yang berdampingan dengan kamar yang lain, diambang pintu mereka bertemu dengan seorang nyonya setengah umur, segera Kwi Chun memperkenalkan. Kiranya nyonya ini adalah istri Kwi Chun sendiri, cepat-cepat Hong-gi membungkuk tubuh memberi hormat sambil menyebutnya bibi. Sepasang mata Kwi-hujin mendelong mengawasi wajah Hong-gi, terang dia terpesona akan kecakapan dan gantengnya wajah yang putih halus ini. Hong-gi sampai kemalu-maluan diawasi sedemikian rupa.

Dari dalam bajunya Hong-gi keluarkan mutiara mestika itu terus diserahkan kepada Kwi Chun katanya: “Mutiara yang terporot diatas anting-anting ini adalah Le-hwe-cu, bagaimana caranya penyembuhan ini, maaf Siautit tidak dapat mengerjakan. Sampai disini saja Siautit minta diri, biar kutunggu hasilnya nanti diruang depan sana." habis memberi hormat terus hendak mengundurkan diri.

Lekas-lekas Kwi Chun menariknya, katanya: “Cu-hiantit, nanti dulu!" lalu ia berbisik-bisik sekian lama dengan Hujin. Hong-gi tidak tahu apa yang tengah mereka rundingkan. Hanya dilihatnya Kwi Hujin manggut berulang-ulang.

Kwi Chun mengembalikan mutiara itu ke tangan Hong-gi serta katanya: “Hiantit, menurut keterangan tabib, Mutiara mestika ini cukup diputar-putar sekitar luka bisul itu pasti racunnya segera lenyap, cara ini sangat gampang, tabib juga menambahkan lebih baik kalau yang mengerjakan penyembuhan ini adalah orang muda, maka kami memberanikan diri minta Hiantit suka merepotkan diri." tanpa menanti jawaban Hong-gi terus ditariknya masuk kedalam kamar. Dua pelayan dalam kamar itu segera mengundurkan diri, pintu ditutup dari luar. Dibawah penerangan sinar pelita tampak diatas ranjang celentang seorang gadis remaja yang bernapas empas-empis tinggal menunggu waktu saja.

Hong-gi maju mendekat, dilihatnya kedua pipi gadis ini merah membara, matanya dipejamkan, wajahnya cukup cantik jelita, mungkin karena menahan kesakitan keningnya terkerut dalam, keadaannya diantara sadar dan tiada. Hong-gi kewalahan, sampai sedemikian jauh terpaksa dia harus turun tangan, pelan-pelan ia menyingkap kemul terus membuka pakaiannya, diperiksanya luka bisul dibawah pusernya, bisul sebesar mata uang itu sudah pecah dan mengalirkan darah hitam, sekitarnya merah dan melepuh, keadaan ini memang sangat menguatirkan.

Sesaat sebelum turun tangan, segera Hong-gi yang cerdik ini paham segala-galanya tentang maksud Kwi Chun suami istri, mengapa sedemikian besar kepercayaan mereka menyuruh dirinya yang turun tangan. Setelah bimbang sekian lama akhirnya ia mulai bekerja, memutar-mutar mutiara mestika itu disekitar luka bisul sampai beberapa kali. Benar juga warna merah disekitar bisul itu segera lenyap dan kembali berwarna putih seperti sedia kala. Hong-gi bekerja semakin hati-hati, putarannya semakin diperkecil disekitar bisul itu.

Mutiara penahan api ini memang benar-benar sangat mujarab kasiatnya, pelan-pelan tapi pasti warna merah yang melepuh itu mulai kempes dan hilang, darah hitam mengalir semakin banyak, bisul berbisa itu juga rada kempes. Napas sigadis mulai teratur dan normal kembali.

Sampai putaran yang terakhir darah hitam sudah terkuras semua. Bisul itu juga sudah sembuh kembali, terdengar ia mulai mengeluh dan menggerakkan badan, cepat-cepat Hong-gi membersihkan noda-noda darah, mengancingkan baju dan menutupi tubuhnya dengan kemul lagi. Pada saat itu juga kebetulan nona Kwi telah siuman begitu kedua pasang mata saling pandang, Hong-gi melihat sorot matanya itu mengandung rasa terima kasih tak terhingga, tapi tampak rada-rada malu. Hong-gi segera mundur mengetok pintu, panggilnya: “Paman dan bibi Kwi, penyakit nona sudah dapat disembuhkan, harap bukakan pintu, aku mau keluar."

Hari kedua cuaca mendadak menjadi mendung dan hujan lebat. Ini malah kebetulan bagi Kwi Chun untuk menahan tamu-tamunya menginap semalam lagi dirumahnya. Sedemikian ramah dan kasih sayang pelayanannya terhadap Thian-ih berdua seakan anak kandung sendiri. Keruan Thian-ih berdua merasa risi dan tak enak hati, lambat laun mereka menyadari adanya sesuatu yang ganjil dibelakang tabir pelayanan yang istimewa ini.

Diam-diam Hong-gi berkata kepada Thian-ih: “Kalau kita tidak segera berangkat nanti pasti timbul urusan yang menyulitkan. Kuyakin Kwi-lothau pasti minta kau menjadi comblang."

Thian-ih sengaja menggoda: “Baik sekali. Betapa gagah dan ganteng adikku ini, setelah semalam kau tolong jiwa nona Kwi, kalian sudah bersentuhan badan, sudah tentu harus minta aku menjadi comblang, biarlah nona Kwi itu dinikahkan dengan adik angkatku ini. Dan ini memang kebetulan, sanguku di perjalanan sudah habis, Kwi-loya ini kaya raya pasti persennya padaku tidak sedikit nilainya." habis berkata ia bergelak tertawa sepuas-puasnya.

Hong-gi merengut sambil membanting kakinya, omelnya: "Hatiku tengah gugup dan pepat, sebaliknya kau senang mempermainkan orang."

Tengah mereka ribut berkelakar, seorang pelayan mengetuk pintu melaporkan bahwa majikannya minta Thio-kongcu keluar menemuinya.

Thian-ih bangun sambil tertawa-tawa, ujarnya: “Bagaimana? Betul tidak, adegan ini sudah akan dimulai, tunggulah kedatanganku, tanggung ada kabar gembira bagimu."

Saking jengkel dan gugup Hong-gi memburu hendak memukulnya sambil tertawa, dengan tenang saja Thian-ih membetulkan letak bajunya terus berlari keluar kamar, mengikuti pelayan itu menemui majikannya. Naga mas berpunggung besi sudah menanti kedatangannya di ruang tamu. Melihat Thian-ih datang, sambil tertawa berseri ia bangkit dan mengajak ngobrol sekadarnya, lambat laun mereka bicara ke persoalan pokok, mencari tahu riwayat hidup Cu Bing serta keadaan keluarganya. Thian-ih tertawa geli dalam hati, dengan wajar dan samar-samar saja ia menerangkan.

Agaknya Kwi Chun sangat puas dengan pembicaraan tahap pertama ini, apalagi diketahui dari keterangan Thian-ih tadi bahwa Cu Bing belum pernah nikah dan belum punya tunangan, puaslah hatinya, akhirnya dengan menghela napas lega Kwi Chun bicara ke persoalan yang pokok: “Beruntung ada mutiara mestika yang dibawa Cu-hiantit itu baru anak gadisku dapat disembuhkan. Mutiara mestika itu betul-betul mujarab, begitu penyakitnya sembuh pagi ini dia sudah bisa makan bubur, baru saja Lohu pergi melihatnya, semangatnya sudah pulih kembali. Sejak kecil ia sudah belajar silat dan karena kesukaannya mengenakan pakaian putih, maka di kalangan Kangouw orang memberi julukan Pek-yan Kwi Tong-ing. Budak kecil ini sangat tinggi hati, orang biasa tidak akan masuk kedalam perhatiannya, maka meskipun ayu remaja sampai sekarang belum dapat menemukan jodohnya. Memang Tuhan sungguh Maha Pengasih dan sudah mengatur jalan hidup   seseorang,   secara   kebetulan   bertemu   dengan Cu-hiantit "

Naga mas punggung besi ini berwatak jujur dan polos, secara terang-terangan ia curahkan isi hatinya kepada Thian-ih. Bahwa penyakit bisul beracun Kwi Tong-ing itu tumbuh dibawah pusarnya, mendengar Cu Bing membawa mutiara yang dibutuhkan itu, pula melihat pribadi Cu Bing yang ganteng dan kenal sopan santun, timbullah keinginan mereka untuk mengambilnya sebagai menantu, maka sengaja menyuruh dia turun tangan sendiri menyembuhkan penyakit itu. Kenyataan sekarang penyakit anaknya sudah sembuh seluruhnya, jiwa raga anaknya bagaimana juga sudah menjadi milik Cu Bing. Anak gadisnya juga sudah setuju akan perjodohan ini, agaknya pasangan ini memang sangat cocok satu sama lain, maka diharap Thian-ih suka tolong merangkapkan perjodohan ini. Lalu dikeluarkan sebuah gelang batu Giok, katanya: “Kalau Cu-hiantit setuju harap dia suka terima gelang ini dan menukarnya dengan sebuah barang tanda mata sebagai ikatan perjodohan ini. Gelang ini adalah milik anakku yang selalu dipakainya, harap Ji-chengcu suka memberikan kepada Cu-hiantit "

Dengan keterangan yang panjang lebar ini disangkanya Thian-ih pasti setuju dan tiada persoalan lagi. Lahirnya Thian-ih memang tenang dan tertawa-tawa, namun hatinya risau dan bingung, dalam keadaan yang terdesak, terpaksa ia berkata: “Maksud paman ini memang baik dan menggembirakan sekali, namun tentang perjodohan ini betapapun harus kutanyakan dulu kepada Cu-hiantit, entah bagaimana jawabannya nanti?"

Kwi Chun manggut-manggut penuh harapan, katanya tersipu-sipu: "Terima kasih akan jerih payahmu dan persoalan ini kuserahkan kepada Ji-chengcu saja."

Diam-diam Thian-ih membatin: "Orang tua ini ceroboh dan gegabah. Untung ketemu Hong-gi yang menyamar jadi pria. Jikalau seorang laki lain yang sudah menikah, bagaimana dengan nona Kwi Tong-ing itu nanti?” Segera ia berdiri dan minta diri, Kwi Chun mengantarnya sampai di pelataran tengah.

Saat itu Hong-gi tengah menanti tidak sabaran di dalam kamar, begitu melihat Thian-ih kembali segera ia bertanya: "Bagaimana ?"

Thian-ih tersenyum sambil mengangsurkan gelang batu Giok itu, katanya: “Perjodohan ini sudah pasti jadi. Sang mempelai adalah Pek-yan (siwalet putih) Kwi Tong-ing yang kenamaan, pelajaran silatnya mendapat didikan langsung dari orang tuanya, mungkin juga pandai menggunakan pedang dan senjata rahasia. Maka menurut aku, Cu-hiante, pemuda macammu yang lemah tak bertenaga ini, janganlah kelak sampai dihajar oleh mempelai perempuan yang gagah perkasa. Hahaha !”

Setelah menanyakan duduk persoalannya, Hong-gi berkata sambil mengerutkan kening: "Koko, bicara terus terang aku sudah menduga akan terjadinya urusan ini. Sekarang lebih baik kita terangkan secara terbuka saja."

Thian-ih ragu-ragu, ujarnya: “Kalau kita jelaskan, betapa mereka akan kecewa dan putus harapan ! Siapa tahu bakal timbul hal-hal yang tak terduga, menurut hematku nanti malam, kalau hujan ini sudah reda kita ngacir saja secara diam-diam."

Semua perbekalan Thian-ih dan Hong-gi sudah dipersiapkan, nanti punya nanti sampai hari sudah petang hujan masih turun dengan lebatnya. Kwi Chun suami istri mengadakan perjamuan dan menyuruh gadisnya keluar menyatakan terima kasihnya. Dengan sikap yang wajar dan tanpa malu-malu nona Tong-ing menuang dua cawan arak lantas dipersembahkan kepada Hong-gi berdua. Diam-diam Hong-gi mengeluh dalam hati, karena merasa dirinya selalu dilirik, maka dia segera tundukkan kepala tak berani beradu pandang.

Begitulah perjamuan ini berjalan terus dengan meriahnya, kalau pihak tuan rumah sedemikian girang dan riangnya, sebaliknya Thian-ih berdua semakin gundah duduk tidak tenang. Sampai tengah malam, perjamuan baru bubar, sekembali di kamarnya Thian-ih dan Hong-gi duduk tepekur dengan risau, untung juga menjelang fajar hujan agak reda, inilah kesempatan baik untuk bolos keluar, maka cepat-cepat mereka tinggalkan gelang batu giok serta menulis sepucuk surat pernyataan terima kasih dan sekadar penjelasan, lalu secara diam-diam menuntun keluar kuda mereka terus dipacu sekerasnya ke selatan dibawah hujan rintik-rintik.

Beberapa lama kemudian hari pun sudah mulai terang tanah, dari kejauhan ditengah jalan raya sebelah depan sana membedal cepat empat ekor kuda, begitu dekat tiba-tiba salah seorang diantara mereka berteriak sambil menuding Thian-ih: “Itu dia Thio Thian-ih !"

Keruan Thian-ih terkejut, tampak olehnya bahwa mereka adalah para petugas dari kesatuan Bhayangkari, cepat-cepat ia keprak kudanya memacu dengan kencang. Terdengar ke-empat penunggang kuda di belakang sudah mengejar dengan kencang pula, pemimpinnya malah membentak marah: “Thio Thian-ih, seorang kesatria tidak akan melarikan diri ! Hayo berhenti aku ada omongan yang hendak kutanyakan."

Thian-ih juga berpikir, secepat lari kudanya ini tentu takkan dapat lari jauh, maka segera ia berpesan kepada Hong-gi: “Dalam keadaan terdesak nanti kau jangan hiraukan aku lagi, cepat-cepatlah kau lari kembali ke perkampungan Hong-kiam-san-cheng, bawalah mereka keluar menolong aku disini."

Habis berkata ia menghentikan kudanya dan menanti, sekejap mata saja ke-empat ekor kuda itu sudah mengejar tiba, begitu dekat pemimpinnya segera maju perkenalkan diri: "Jichengcu aku adalah Coan-hun-chiu Yu Liat-bong, dan kuperkenalkan lagi ini adalah Chit-sing-to Kiu san, ini Siau-hun-ho Lu Cau, dan ini adalah Sin-chio-ciang Khu Gi-liong, kita berempat jadi satu krabat dalam kesatuan Bhayangkari."

Meskipun Thian-ih belum pernah bertemu dengan Yu Liat-bong dan Kiu San, namun nama julukan mereka sudah pernah didengar di kalangan Kangouw, memang mereka berdua bersama Lim Han dan Siu Hoa serta enam orang lainnya termasuk sepuluh jagoan yang paling jempolan di istana raja. Kedua temannya ini tentu juga bukan sembarang orang. Thian-ih insaf kalau betul-betul bertempur betapa pun tinggi kepandaiannya tentu takkan kuat bertahan menghadapi keroyokan mereka berempat.

Terdengar Yu Liat-bong si tangan penembus awan berkata: “Ji-chengcu adalah seorang kesatria, sudah lama kami dengar namamu yang mulia. Kalau kami mengejar sedemikian kencang tak lain tak bukan hanya untuk menolong Lim Han yang masih terkurung di penjara karena penggantian mutiara palsu itu. Sekarang tak peduli kedua mutiara itu kau bekal atau tidak, kuharap kau suka memberi muka turutlah kita ke kota raja untuk melepaskan Lim Han yang menderita dalam penjara " sejenak ia merandek lalu sambungnya lagi, "Tentang

kematian Siu Hoa, sudah tentu kita sesalkan kepandaiannya yang masih cetek, dan apa boleh buat. Tapi sayangnya waktu kita periksa jenazahnya, ternyata bahwa pergelangan tangannya terkena sebatang senjata rahasia yang sangat beracun "

Thian-ih terkejut, tanyanya cepat: “Mana ada kejadian begitu, waktu kita bertempur karena tak sempat lagi menarik tanganku jalan darah di dada Siu-toako kena tertutuk. "

Khu Gi-liong yang berdiri disamping Yu Liat-bong segera membentak dengan sedihnya: “Bangsat rendah, kau masih hendak mungkir, Ban-seng-to-hoat yang dimainkan pamanku belum selesai dilancarkan mengapa dia tidak mampu membela diri sampai tertutuk jalan darah mematikan. Sebab musababnya tidak lain karena pergelangan tangannya sudah terkena senjata rahasia yang keji, kau kira dapat mengelabui para orang gagah di seluruh dunia? Hm

!”

Memang hal ini tidak terpikirkan oleh Thian-ih. Diingat keadaan waktu itu, tenaga dalam sipena berapi Siu Hoa sangat hebat, sedang tutukan itu hanya gertakan belaka supaya lawan menarik kembali serangannya. Memang tiga jurus serangan berantai Siu Hoa belum sempat dilancar- kan habis lantas kena tertutuk mati, sungguh keadaan seperti itu sangat janggal dan mencurigakan, dipikir-pikir tanpa merasa tubuhnya merinding dan berdiri bulu kuduknya. Bukan mustahil si baju perak berpedang emas itu pula yang menjadi gara-gara dalam peristiwa ini?

Melihat orang termenung diam, Yu Liat-bong tersenyum ejek: “Ji-chengcu, siapa akan duga murid kenamaan Kiam-bun-it-ho ternyata bisa berbuat serendah itu membokong orang dengan senjata rahasia beracun. Ketahuilah Siu Hoa memikul tugas untuk menangkapmu, sebetulnya ada permusuhan apa dengan kau, sampai sedemikian tega kau turun tangan keji......... Sekarang, keponakan Siu Hoa, Khu Gi-liong ini sudah datang, kita beramai ingin minta pertanggungan jawabmu !"

Thian-ih menjawab dengan lantang: “Tuan-tuan harap dengarkan dulu penjelasanku. Sebetulnya aku Thio Thian-ih belajar di Kiam bun-san belum tamat lantas keluar dari perguruan sebab kematian engkohku Thio Thian-ki yang dianiaya itu. Karena besar hasratku hendak menuntut balas maka aku berkelana di kalangan Kangouw, setiap kali aku bertanding dengan orang meskipun ilmu silatku rendah, selalu aku hanya bersenjata pedang dan bertempur secara jantan, belum pernah berlaku keji dan serendah itu, apa lagi menggunakan senjata rahasia beracun yang jahat itu "

Bantah Khu Gi-liong dengan sedih: “Tatkala itu hanya kau dan pamanku saja yang sedang bertempur, jikalau bukan kau berlaku licik, lalu siapa yang melepas senjata rahasia itu? Masa senjata rahasia itu bisa terbang sendiri mengeram dalam pergelangan tangan pamanku " Thian-ih ragu-ragu, lalu sahutnya: “Sebetulnya aku tiada niat hendak melukai saudara Siu Hoa, waktu itu serangan tiga jurus berantai yang dilancarkan itu belum selesai, aku turun tangan hanya menggertak dia supaya merobah cara permainannya, tak terduga sedikitpun ia tidak menangkis atau mengelak malah menerjang langsung ke depan sampai aku gelagapan dan tak sempat menarik pulang tutukanku yang tepat mengenai di dadanya. Kalau dipikirkan memang keadaan waktu itu rada-rada janggal dan aneh, mungkin ada seseorang sembunyi dan membokong, maka akulah yang menjadi kambing hitamnya "

“Kentut !” bentak Khu Gi-liong, "Siapa mau percaya obrolanmu itu !"

Kata Thian-ih lagi: “Tentang kedua butir mutiara itu, baru beberapa saat tadi diketemukan di anting-anting nona Hong gi, kalian boleh ambil kembali untuk. "

Ucapannya ini membuat keempat orang itu berjingkrak, Chit-sing-to Kiu San segera membentak: “Thio Thian-ih, kau tak perlu obral mulutmu yang manis itu. Kau sendiri sudah mengaku kalau mutiara itu berada di tangan kalian, apa lagi yang perlu diperdebatkan ! Terang dengan sengaja kau menukar yang tulen dengan yang palsu untuk menipu Lim Han. Tapi kau masih berani membangkang dan melawan petugas hukum yang hendak meringkusmu, malah membunuh Siu Hoa lagi dengan alasan mutiara itu tak berada di tanganmu."

“Waktu itu memang kami belum tahu kalau mutiara itu masih ada." demikian Thian-ih coba menerangkan, "Entah siapa yang menjadi gara-gara memporotkan kedua mutiara itu kedalam hiasan anting-anting nona Hong-gi "

Yu Liat-bong si tangan penembus awan tertawa ejek: "Ji-chengcu, betapapun ucapan yang menipu orang ini kita takkan mau percaya. Urusan dinas ini harus kau patuhi dan kalian ikut kita ke kota raja."

“Mutiara dapat kami serahkan, tapi kami takkan ikut pergi, karena kami masih ada urusan penting."

Si tombak sakti Khu Gi-liong menghardik gusar: "Bangsat kurcaci, kau masih berani melawan perintah hukum !"

"Wut", tanpa banyak cakap lagi segera ujung tombaknya menusuk tiba terus berputar berpetakan kembang perak, betapa hebat permainan tombaknya ini serasi benar dengan nama julukannya, terpaksa Thian-ih harus melompat menyingkir.

Terdengar golok tujuh bintang Kiu San berteriak: “Saudara Yu dan kau Lu Cau kalian cegat perempuan itu, biar aku bantu membereskan yang ini."

Thian-ih menjadi gugup, teriaknya pada Hong-gi: “Dik, lekas kembali ke rumah Kwi-locianpwe, jangan hiraukan aku lagi."

Tanpa diminta kedua kalinya segera Hong-gi mengayun pecut terus memacu kudanya kembali. Saat itu Yu Liat-bong dan Lu Cau sudah turun dari tunggangannya, tersipu-sipu mereka lompat lagi keatas kuda terus mengudak dengan kencang. Tapi sedikit waktu ketinggalan ini, kuda tunggangan Hong-gi itu sudah berlari sedemikian jauhnya!

Dengan tangan kosong Thian-ih layani permainan tombak sakti Khu Gi-liong yang menyerang dengan sengitnya. Saat mana sigolok tujuh bintang juga sudah menerjang tiba! Bentaknya: "Gi-liong, kau minggir, biar aku yang meringkusnya !"

Gi-Liong melompat mundur dari kalangan pertempuran. Sebab kedudukan golok sakti tujuh bintang dalam kesatuan Bhayangkari lebih tinggi, dan lazimnya bagi seorang tokoh yang sudah terkenal paling menjunjung tinggi pamor dan gengsi, yang diutamakan adalah berkelahi satu lawan satu secara sportif, takkan sudi dibantu orang lain. Begitu golok tujuh bintang Kiu San berputar, tujuh gelang tembaga yang berbentuk seperti bintang diatas goloknya itu berbunyi gemerantang. Memang inilah pertanda khas dari ilmu goloknya itu, dengan gelang diatas goloknya itu bunyi yang ribut dan memekakkan telinga dapat mengaburkan pemusatan semangat serta merisaukan hati musuhnya. Sekian tahun lamanya nama Kiu San semakin disegani tak lain karena mengandal keampuhan senjatanya ini, maka orang-orang Kangouw memberi julukan golok tujuh bintang kepadanya.

Melihat Hong-gi sudah lari jauh, Thian-ih merasa lega, permainannya juga lebih mantep. Kontan ia mendahului kirim sebuah jotosan. Terpaksa Kiu San mundur menghindari sambil melempangkan golok tujuh bintangnya ke depan dengan jurus Peng-sa-bu-hin (tiada bekas diatas pasir datar). Thian-ih tahu golok musuh adalah senjata pusaka, tak berani menangkis maka secepat kilat tubuhnya berkelebat ke samping sambil ulurkan kedua jarinya menutuk Kian-kin-hiat di pundak musuh, gerak cepat serangannya ini benar-benar sangat hebat menakjupkan. Terdengar Kiu San berseru heran sinar goloknya serong membabat ke bawah, dengan mudah sekali ia punahkan serangan Thian-ih ini.

Agaknya Lwekang dan kepandaian kedua lawan ini seimbang alias sama kuat, maka pertempuran ini berjalan semakin sengit dan seru, dalam sekejap saja tujuh delapan jurus telah berlalu, diam-diam Thian-ih jadi berpikir; pihak lawan masih ada bala bantuan, sedang aku seorang diri, semakin lama semakin tidak menguntungkan bagiku. Satu-satunya jalan aku harus cepat bertindak atau melarikan diri. Tapi hatinya kuatir akan keselamatan Hong-gi, entah dia sudah dapat lolos sampai ke rumah Kwi Chun tidak?

Pantangan terbesar bagi tokoh silat yang sedang bertempur adalah tidak terpusatnya perhatian, sedikit meleng saja sudah cukup memberi kesempatan pada musuh untuk merangsak lebih hebat. Demikian juga bagi golok tujuh bintang yang sudah berpengalaman, melihat kedua mata Thian-ih pelirak-pelirik tahu dia bahwa orang tengah memikirkan atau menguatirkan sesuatu. Maka permainan golok tujuh bintangnya dipergencar sehingga bunyi gelang tembaganya juga gemerantang semakin ribut memekakkan telinga. Ternyata tindakan ini memang berhasil, satu pihak memang Thian-ih berusaha hendak melarikan diri, mendengar suara yang merincuhkan hati lagi semakin kacau balaulah pertahanannya.

Sebaliknya Kiu San bertempur semakin gagah dan mantep, berapa gebrak kemudian dia sudah berada di atas angin, begitu ilmu golok tujuh bintang dikembangkan perbawanya semakin nyata bukan olah-olah, angin menderu-deru diselingi suara yang kacau balau, semakin besar daya tekannya sehingga pendengarnya merasa pusing tujuh keliling.

Dasar Thian-ih tengah menguatirkan keselamatan Hong-gi, perhatiannya menjadi terpencar, hampir saja pundaknya kena terpapas oleh golok musuh, tapi tak urung begitu golok sedikit disengkelit, "Bret" bajunya kena tergantol sobek oleh gelang tembaga.

Jurus ini benar-benar sangat berbahaya, tapi malah menolong Thian-ih karena dia kaget dan mengucurkan keringat dingin, untuk selanjutnya dia tidak berani gegabah. Bahwasanya orang yang menghadapi bahaya serta merta akan segera memperlihatkan kepandaian aslinya dengan jurus-jurus yang paling lihay dan ampuh. Demikian juga keadaan Thian-ih, sekaligus pukulan tangan dan Ginkang perguruannya dilancarkan, secara berantai dia balas menyerang, sedang kakinya bergerak sedemikian lincahnya berganti-ganti tempat kedudukan, angin pukulannya juga mengandung kekuatan tenaga dalam yang tersembunyi. Berkali-kali sudah golok tujuh bintang musuh kena terpental atau serong ke samping kesamber angin pukulannya. Kini dari terdesak keadaannya menjadi berada diatas angin.

Karena perhatian terpusat cara bertempur Thian-ih juga semakin bersemangat, dengan mudah saja ia punahkan permainan tujuh golok bintang malah balas mendesaknya. Setindak demi setindak Kiu San mundur teratur, mengambil kesempatan ini mendadak Thian-ih kirim sebuah pukulan sedang kakinya menggeser kesamping terus memutar ke belakang menutup jalan mundur lawan, kedua jari tangan kanan dirangkapkan terus menutuk ke depan dada Kiu San tepat di jalan darah Te-ting-hiat.

Tapi sebelum tutukannya mengenai sasarannya, Thian-ih tersentak kaget sendiri, bukankah kematian Siu Hoa tempo hari juga dibawah tutukan jari yang hebat ini, sekali salah jangan terulang kembali, jikalau Kiu San sampai tertutuk mati lagi bukankah berabe. Bukan mustahil tujuh tokoh Bhayangkari lainnya akan meluruk dan mengadu jiwa dengan dirinya. Karena lintas pikiran ini secepat itu pula ia robah serangannya dari tutukan menjadi tamparan, telapak tangannya hanya sedikit menyentuh dan mengusap di depan dadanya. Siapa duga golok tujuh bintang Kiu San seorang tokoh silat yang sudah luas pengalaman bertempur, sedikit perobahan serangan Thian-ih ini lantas memperlihatkan lobang kelemahannya. Gesit sekali goloknya bergerak dengan jurus Bu-hun-kay-hiat (mega mendung menutupi salju) membacok ke pundak Thian-ih.

Sekonyong-konyong terdengar suara "trang" terlihat golok Kiu San itu jatuh di atas tanah, tampak pula Kiu San roboh, perlahan-lahan sambil memegangi pergelangan tangan kanannya.

Baru saja langkah Thian-ih hendak diajukan, melihat keadaan ini segera ia siaga dan gesit sekali ia berpaling ke belakang.