Rahasia Si Baju Perak Jilid 04

Jilid 04

Dalam sekejap mata dua diantara saudara para Tongcu Kam-liang-pay itu mampus, sudah tentu sisa lima yang lain menjadi keder dan ciut nyalinya. Tapi dalam keadaan mati dan hidup betapapun harus mengadu jiwa, tanpa komando lagi mereka memecah diri dalam dua kelompok untuk mengeroyok kedua setan dari Mo-san itu.

Bagaimana juga kepandaian setan hitam-putih lebih tinggi dan hebat, beruntun mereka dapat membinasakan dua musuh, bangkit dan menyalakan semangat tempur mereka, senjata diputar dan bergerak semakin lincah dan aneh menakjubkan, meskipun dicecar berbagai serangan senjata musuh, namun penjagaannya sangat rapat seumpama air hujan juga tidak akan tembus masuk, malah dalam setiap kesempatan dapat melancarkan jurus-jurus mematikan yang tidak terduga, lambat laun posisinya semakin menguntungkan dan banyak menyerang dari pada membela diri. Meskipun pihak Kam-liang-pay berjumlah lebih banyak, betapapun kepandaian pihak sendiri kalah setingkat dibanding musuh, keruan semakin terdesak dibawah angin.

Melihat situasi yang lebih menguntungkan ini bergelak tertawalah kedua setan hitam-putih, terdengar setan hitam berolok-olok: “Lo-ho, cepat sedikit bisa tidak. Kedua lawanku ini adalah telur busuk yang tidak berguna, coba biar kubuktikan kulukai seorang yang ini." Benar juga lantas terdengar Thiat-pi-lo-han menggerung kesakitan, ternyata pundaknya berlobang tertusuk tombak bercabang Ci Kiu. Meskipun terluka berat dan sakit luar biasa Cui Siau-ping tak berani mengundurkan diri, dengan mati-matian ia masih terus tempur musuhnya dengan sengitnya.

Terdengar Ci Kiu berolok lagi sambil menyeringai: "Lo Ho, bagaimana? Tidak jelek bukan? Satu diantara telur busuk ini sudah terluka, sebentar biar kuantar jiwa keduanya ini menghadap nenek moyangnya!"

Disebelah sana Ho Han sisetan putih juga tidak mau kalah suara, serunya: “Bagus sekali, adik Ci, selamat bekerja, bereskan secepatnya supaya tidak menunda-nunda waktu untuk ambil kedua mestika itu. Coba kau lihat kedua gadis rupawan genit ini, tidak tega aku turun tangan........hahaha "

Ci Kiu bergelak tertawa, dia merasa geli mendengar banyolan saudaranya itu. Dengan tembang sebul dalam saat menghadapi musuh ini seakan-akan mereka tidak pandang sebelah mata pada kelima musuh-musuhnya, keruan gemas dan murka para Tongcu Kam-liang-pay bukan main, sudah kewalahan marah lagi sehingga kurang konsentrasi, maka semakin kacau balaulah pertahanan mereka. Terutama Cui Siau-ping yang terluka berat, langkahnya semakin sempoyongan maka dialah yang menjadi sasaran paling empuk, tiba-tiba terdengar Ciu Kiu membentak keras: “Pergilah menghadap Giam-lo-ong !" sekali tendang tepat mengenai dada Cui Siau-ping, seketika roboh dan muntah darah tak bangun lagi.

Saking kaget Hwi-yan-cu Lo Ceng berteriak ketakutan: “Kiau-toako......" Terpaksa Kiau Sing tinggalkan setan putih dan memburu tiba membantu Lo Ceng menghadapi setan hitam.

Begitu serigala sembilan ekor tinggal pergi, keadaan Kiong Giok-eng dan Kwe Cing-sian semakin payah, setelah sekian lama bertempur mati-matian, badan sudah basah kuyup oleh keringat, napas juga sudah megap-megap, tapi sepasang tongkat Ho Han bergerak semakin lincah, mengurung empat penjuru sampai kesempatan untuk melarikan diri juga tidak ada lagi. Maka dilain kejap dengan mudah saja batok kepala Kiong Giok-eng kena terketok hancur oleh tongkat Ho Han. Saking ketakutan Gadis kecut Kwe Cing-sian sampai tekuk lutut minta diampuni. Dasar kejam dan telengas, mendadak setan putih malah membentak beringas: “Perempuan jalang, pergilah, kau sangka Ho-toaya ini orang apa?" tongkatnya menjojoh kedepan menutuk dada Kwe Cing-sian, seketika ia menjerit roboh dan melayanglah jiwanya.

Tidak keruan paran perasaan hati serigala sembilan ekor Kiau Sing, dalam situasi yang mendesak ini terpaksa dikeluarkan senjata rahasianya terus disambitkan sekuat tenaga. Kala itu setan putih tengah kegirangan dapat membereskan musuh-musuhnya sehingga kurang waspada, waktu sadar bahwa dirinya tengah terancam elmaut sudah kasep, telak sekali kedua senjata rahasia itu mengenai dada dan mukanya, belum sempat mengeluarkan suara jiwanya sudah melayang.

Sudah tentu gusar Ci Kiu bukan kepalang, dengan kalap ia menerjang seperti harimau gila sambil memutar senjatanya. Belum sempat Kiau Sing memutar tubuh, kepalanya pun hancur tercerai-berai. Ibarat cengcorang menerkam tonggeret, tidak tahunya burung gereja mengintil dibelakangnya. Begitulah keadaan Ci Kiu, tidak disadarinya bahwa Lo Ceng juga tengah memburu tiba dibelakangnya waktu ia berhasil membunuh Kiau Sing, pedang panjang Lo Ceng juga sudah melobangi punggungnya sampai tembus keluar dada. Seketika tubuh Ci Kiu mengejang terus pelan-pelan memutar tubuh mendadak ia menggembor keras sambil mendo- rong kedua tangannya kedepan lancarkan pukulan sisa tenaganya. Keruan tubuh Lo Ceng melayang-layang sampai jauh dan terbanting keras diatas tanah. Setelah melancarkan pukulan terakhir ini, ludaslah tenaga Ci Kiu, dengan keras tubuhnya berdentam ditanah, setelah berkelojotan akhirnya diam untuk selama-lamanya.

Karena tamak harta pihak Kam-liang-pay dan Mo-san-ji-kui sampai gugur bersama dimedan laga, mayat bergelimpangan dengan bau anyir darah yang memualkan, sekejap saja keadaan menjadi hening bertambah seram.

Tidak lama kemudian tampak tubuh si walet terbang Lo Ceng bergerak dan merangkak bangun, agaknya lukanya tidak terlalu berat, hanya dia seorang yang masih ketinggalan hidup, setelah pertempuran mati-matian tadi. Sambil menahan sakit setindak demi setindak ia berengsut jatuh bangun mendekati mulut kuburan.

Keadaan Lo Ceng ini seperti orang yang sudah kehilangan pikiran sehat, sejenak ia merandek terus memutar balik berjalan berkeliling menghampiri semua mayat-mayat itu untuk diperiksa. Setelah diketahui semua sudah melayang jiwanya, terdengar mulutnya menggumam: “Bagus sekali, hahaha, semua sudah modar (mati)! Hahaha, biar aku sendiri yang kangkangi kedua butir mutiara mestika itu, hehehe!" Lalu ia beringsut lagi menghampiri mulut kuburan.

Sebetulnya Thian-ih sudah bersiap dibelakang pintu kuburan. Tidak tahunya baru saja Lo Ceng tiba diambang pintu, mendadak tubuhnya dihujani berpuluh batang anak panah dari belakangnya, tidak ampun lagi tubuhnya roboh dengan puluhan panah menancap diatas badannya, meskipun dalam keadaan meregang jiwa ini dia masih bertahan sekuat tenaga, susah payah ia merangkak terus kedepan hendak memasuki mulut kuburan.

Dilain saat dibelakangnya bermunculan bayangan orang banyak yang dipimpin oleh Liong-gwa-hou-tiang Li Ti, anak buahnya menyulut obor berdiri dikedua sampingnya. Terlihat oleh Thian-ih wajah Li Ti mengulum senyum ejek sambil memandang hina kearah Lo Ceng yang masih merangkak-rangkak maju selangkah, mendadak tangan Li Ti terayun menggablok punggung Lo Ceng dengan kerasnya.

Sepasang mata Li Ti memandang jalang kepada semua anak buahnya untuk angkat perbawa, lalu dipesannya pada anak buahnya: “Siap untuk masuk! Juru panah bersiaga diluar sini, bunuh saja siapapun yang berani mendekat !"

Belum habis perkataannya mendadak seorang anak buahnya maju melapor: “Dikejauhan sana tampak bayangan orang tengah mendatangi "

Li Ti terperanjat, memang benar dilihatnya sebuah bayangan orang tengah meluncur datang secepat meteor terbang. Dasar nyali Li Ti memang kecil dan berjiwa pengecut, cepat-cepat ia memberi komando pada anak buahnya: “Berpencar dan sembunyi, dengar perintahku untuk bertindak!'' Tersipu-sipu semua orang mencari tempat perlindungan.

Ditempat sembunyinya Thian-ih mencibir bibir, bahwa Li Ti telah memboyong semua kekuatannya kemari tapi toh masih bermain licik dan pengecut serendah itu, sungguh harus disesalkan dan memalukan.

Dalam sekejap saja bayangan itu telah meluncur tiba, dari perawakan orang, Thian-ih dapat mengenal jelas, dia bukan lain adalah Nyo Hway-giok adanya, calon suami Li Hong-gi. Thian-ih menjadi gugup dan kuatir akan keselamatan orang, bagaimana ia harus menolong jiwa orang dari ancaman hujan anak panah? Terpaksa dari belakang pintu Thian-ih sambitkan sebuah senjata rahasia keluar, sebuah bianglala bersuit ketengah udara diluar pekuburan itu. Ini sudah cukup mengejutkan Nyo Hway-giok, segera ia hentikan langkahnya sambil bersiaga. Dan belum sempat ia membuka suara, anak panah telah menghujani kearah dirinya, karena sudah bersiaga Nyo Hway-giok obat-abitkan kedua lengan bajunya yang gondrong tanpa gentar sedikitpun, seketika anak panah itu berjatuhan di sekitar tubuhnya.

Setelah hujan anak panah itu berhenti, lantas berloncatan keluar sekian banyak orang dari sekitar tempat-tempat yang gelap, mereka mengepung dengan garang sambil menyoreng senjata.

Dengan tajam Nyo Hway-giok tatap orang-orang di sekitarnya lalu tanyanya: "Apa maksud kalian membunuh orang sedemikian banyak disini?"

Salah seorang diantara pengepungnya tertawa dingin, jengeknya: “Buyung, siapa kau? Hendak apa kau kemari?" Sungguh harus dipuji sikap Nyo Hway-giok sebagai orang terpelajar yang mengenal sopan santun, sikapnya tetap sabar meskipun diperlakukan kasar, sahutnya: “Aku yang rendah Nyo Hway-giok, ini kuburan istriku tercinta. Siapakah kalian ini? Harap suka perkenalkan diri !”

Orang itu menyahut: "Aku she Li bernama Ti berjuluk Liong-gwa-hou-tiang, bicara terus terang tujuan kita adalah kedua mutiara mestika dalam kuburan istrimu itu, serahkan saja kepada kita supaya tiada pembunuhan berdarah dan segera kita tinggal pergi "

Nyo Hway-giok tetap tenang dan sabar, dengan kalem dan sopan ia coba memberi penjelasan: "Li-enghiong, ketahuilah bahwa kedua butir mutiara itu adalah pemberian seorang aneh yang hebat kepandaiannya kepada Li-tayjin, kasiatnya sangat aneh dapat menghilangkan kotoran debu dan peranti melindungi jenazah istriku supaya tidak membusuk, demikianlah keadaan istriku sekarang, begitu besar manfaat kedua butir mutiara itu kalau sekarang kuserahkan kepada Li-enghiong, dapatkah jenazah istriku terlindung lagi? Hal ini membuat aku yang

rendah serba susah dan tidak dapat melulusi "

Thian-ih menjadi getol dan kurang sabar mendengar penjelasan Nyo Hway-giok yg berbau kecut sebagai kaum pelajar itu. Bicara secara sopan dan demi keadilan kepada manusia pengecut dan licik seperti Liong-gwa-hou-tiang ini akan sia-sia dan hampa. Memang tepat dugaannya ini, terdengar Liong-gwa-hou-tiang berkata sambil menggeleng kepala: “Nyo-kongcu, orang hidup adalah untuk mati, setelah mati untuk apa pula dilindungi jenazah dan wajahnya apa segala ? Seumpama aku tidak minta, cepat atau lambat pasti juga dicuri orang lain. Bukankah kau sudah melihat mayat-mayat bergelimpangan ini? Mereka saling bunuh karena ingin mengangkangi kedua mutiara itu, mampus sekelompok akan membanjir kelompok yang lain lagi, sebaiknya tanamlah budi kepada orang lain demi kebaikan sesama manusia dan demi ketenteraman istrimu tercinta dalam kuburan itu, marilah serahkan kepadaku saja. "

“Gading gajah membakar tubuh, mutiara menimbulkan bahaya    " demikian Nyo Hway-giok

menggumam seorang diri, lalu serunya: “Memang ucapanmu tepat sekali. Betapapun sebelum aku sendiri mati, tidak rela kulihat wajah istriku yang molek itu berubah sedikitpun. Li-enghiong, lebih baik kuganti dengan emas perak atau harta benda berharga lainnya kepada kalian bagaimana, jangan kedua mutiara itu yang kalian incar.”

Tingkah dan ucapan Nyo Hway-giok yang lemah lembut ini membuat Li Ti sebal dan tidak sabar lagi serta memandang rendah. Tiba-tiba semprotnya marah dengan melotot: "Kutu busuk! Siapa sabar tawar menawar dengan kau, bagaimana juga mutiara itu harus kita dapatkan, kau minggir !" lalu dengan langkah lebar ia memburu ke mulut kuburan.

Nyo Hway-giok menjadi gugup, tersipu-sipu ia memburu menghadang sambil melintangkan kedua tangannya di depan pintu kuburan, ujarnya: "Li-enghiong, berapa banyak yang kau minta akan kuserahkan kepadamu, tapi jangan "

Mendadak Li Ti angkat tangan terus memukul ke dada orang, terpaksa Nyo Hway-giok harus membela diri, tangan kirinya terlihat bergerak menyambut pukulan musuh, seketika terasa sejalur tenaga besar menerjang ke arah Li Ti dengan dahsyatnya, kontan tubuhnya yang tinggi besar itu terpental terbang ke belakang.

Tidak kepalang heran dan kejut Nyo Hway-giok sampai melongo sekian lama, bahwa kepandaian orang ternyata sedemikian tidak becus, maka cepat-cepat ia susuli lagi dengan tangan kanan didorong kedepan terus ditarik balik lagi hingga angin pukulannya tersedot  kembali, tanpa kuasa tubuh Liong-gwa-hou-tiang terbawa jumpalitan dan jatuh duduk di tanah tanpa kurang suatu apa.

Seharusnya Liong-gwa-hou-tiang sudah harus tahu diri dan insaf betapa lihay kepandaian Kongcu terpelajar ini. Dasar pengecut, licik dan berwatak biadab dan kejam serta culas, dianggapnya sifat Nyo Hway-giok yang lemah lembut itu gampang dilayani, maka segera ia siapkan anak buahnya dengan aba-aba: “Semua siap dan serbu, bunuh pelajar tengik ini !"

Serempak anak buahnya menerjang serabutan dari kanan kiri dan depan, seketika Nyo Hway-giok dihujani serangan membadai yang merepotkan, sesaat ia terkepung di tengah susah untuk meloloskan diri. Dasar besar nyalinya, ia berlaku tetap tenang dan sabar, kedua lengan bajunya beterbangan sangat indahnya seperti orang tengah menari-nari menangkis dan menyambuti setiap serangan pengeroyoknya, sedemikian lincah ia bergerak seumpama kupu-kupu terbang diantara rumpun bunga, setiap kali lengan bajunya mengebut pasti salah seorang pengeroyok diberi tanda mata. Dia tidak mau membunuh, hanya memberi peringatan saja supaya mereka tahu diri dan mundur teratur.

Ibarat naik harimau tak bisa turun, begitulah keadaan Li Ti serta anak buahnya, sedemikian jauh sudah kepalang tanggung bertindak meskipun lawannya tangguh dan susah dirobohkan, namun bukannya mundur mereka malah semakin gencar menyerang mati-matian. Betapapun kebutan lengan baju Nyo Hway-giok lihay luar biasa, kesiur anginnya saja tak gampang ditembus seumpama sebuah tembok yang kokoh kuat, setindakpun mereka tak kuasa maju. Saking kewalahan akhirnya timbullah niat jahat dan akal licik Li Ti. Secara diam-diam ia mundur keluar gelanggang pertempuran terus mencomot segenggam senjata rahasia. Begitu menjejakkan kaki disaat tubuhnya terapung ditengah udara belum tangannya sempat menyambitkan senjata rahasianya, tiba-tiba punggung sendiri terasa disentuh sebuah benda yang tepat mengenai jalan darah yang melemaskan, kontan rasa nyeri dan kesakitan meresap ketulang sungsum menyergap tubuhnya. Dengan sendirinya tenaga yang terkerahkan agak lumpuh, maka senjata yang tergenggam itu menjadi kendor sambitannya dan bukan mengenai Nyo Hway giok malah melukai para anak buahnya sendiri yang sedang giat mengeroyok musuhnya. Maka terdengar keluh kesakitan saling susul berbareng anak buahnya banyak yang bergulingan ditanah sambil berteriak-teriak.

Nyo Hway-giok menjadi kaget dan melengak sekejap saja para musuh yang mengeroyok itu malah berlarian pontang-panting seperti dikejar setan. Dilihatnya pula Li Ti sudah terkapar tanpa bernyawa lagi. Keruan semakin heran dan bertanya-tanya, pasti orang yang memberi pertanda adanya bahaya waktu dirinya datang tadi itulah yang telah memberikan pertolongan lagi sekarang ini. Lekas-lekas ia membungkuk keempat penjuru berseru lantang: “Orang gagah siapakah yang telah sudi menolong jiwa Cayhe? Silakan keluar akan kusampaikan rasa terima kasih yang berlimpah kepada tuan!" berulang kali sudah Nyo Hway-giok berkaok-kaok tanpa mendapat reaksi yang diharapkan, akhirnya ia menggumam seorang diri: “Hanya dua butir mutiara saja sampai mengorbankan sedemikian banyak jiwa manusia. Dosa, berdosa, ai memang salahku, aku terlalu mementingkan kepentinganku saja demi menyelamatkan tubuh adik Hong-gi.....ai, kalian harus bersabar, tunggulah setelah aku mati, saat mana terserah kalian hendak mengambil mutiara itu. Setelah aku meram bersama satu liang dengan adik Hong-gi... Kita tidak akan sayangi kedua benda mestika itu…."

Cuaca semakin gelap, tengah malam telah menjelang, dengan tenang Nyo Hway-giok menyapu pandang ke sekelilingnya lalu dengan langkah lebar memasuki kuburan.

Cepat-cepat Thian-ih sembunyi dibelakang gordiyn tempatnya semula, Nyo Hway-giok melangkah dengan tenangnya, setelah melihat tiada perobahan dalam kuburan itu legalah hatinya. Tiba didepan peti mati ia membungkuk memberi hormat serta katanya: “Adik Hong-gi, lihatlah aku datang mengunjungimu, kuharap arwahmu mendapat tempat yang tenang dialam baka. Memang kedatanganku ini sangat lancang dan mungkin kau tertawakan tindakanku yang bodoh ini. Adik Hong-gi selama ini kita belum pernah bertemu muka, namun sejak lama kudengar betapa harum nama dan agungnya istriku itu bukan saja cantik rupawan luhur budi serta cerdik cendekia pula. Sekarang kita telah bertemu aku sangat senang dan lega. Selama ini aku terlalu rajin belajar dan memperdalam ilmu silat, bukan karena tidak ingin menemuimu sebenarnya aku takut sekali kita bersua akan membuatku terkenang selalu dan rindu sepanjang masa sehingga mungkin mengganggu pelajaranku itu. Lagi pula musim semi yang akan datang kita sudah akan melangsungkan pernikahan. Saat mana kita akan selalu bersanding dan takkan berpisah untuk selamanya, betapa gembira dan bahagia hidup kita Siapa tahu kabar jelekmu membuat aku hampir-hampir pingsan dan lenyaplah seluruh

harapan yang telah kucita-citakan itu. Meskipun secepatnya aku menyusul tiba mana kala kau sudah tak dapat bicara lagi denganku, sepasang matamu bak bintang kejora sudah terpejamkan untuk selama-lamanya. Kau takkan dapat melihat lagi, kini aku telah datang, kita takkan berpisah lagi, biar kututup pintu itu dari dalam kita bisa berdampingan untuk sepanjang masa."

Sinar pelita dalam kuburan semakin redup dan guram, tubuh Nyo Hway-giok semampai diatas peti mati sambil sesenggukan dengan suara serak, menggumam lalu menangis dan menangis serta menggumam lagi, saking terharu tanpa merasa Thian-ih juga ikut berduka dan mengalirkan airmata. Dari ucapannya terang bahwa Nyo Hway-giok hendak bunuh diri untuk menyusul istrinya dialam baka, ,besar niatnya untuk mencegah perbuatan bodoh yang nekad ini, namun keadaan dirinya saat itu tidak mengijinkan dia berbuat begitu, siapa tahu kalau perbuatan baiknya ini malah akan menimbulkan salah paham dan curiga orang, akhirnya terpikirkan untuk tinggal pergi secara diam-diam, dipikir memang gampang namun prakteknya sangat sulit. Meskipun Nyo Hway-giok tengah menangis dengan sedihnya, betapapun Lwekangnya sudah mencapai taraf yang tertinggi, sedikit bertindak salah bukan mustahil akan menimbulkan kerepotan yang susah dilerai. Maka terpaksa Thian-ih berlaku sabar dan menanti perkembangan selanjutnya.

Nyo Hway-giok menghentikan tangisnya, matanya mendelong terlongong memandangi wajah Li Hong-gi lalu gumamnya lagi: “Adik Hong-gi, ketahuilah kedua mutiara disisi tubuhmu itu adalah Hwe-ki-cu dan Pek-seng-cu. Pasti Gak-hu tidak tahu akan hal ini, bahwa kedua butir mutiara mestika itu adalah sebagian benda-benda berharga dari gudang istana raja yang telah hilang dicuri simaling terbang yang menggemparkan itu. Siapakah orang aneh yang menyerahkan kedua mutiara ini? Darimana pula ia peroleh kedua mutiara ini untuk melindungi tubuhmu sehingga tidak membusuk ? Aku harus berterima kasih kepada orang itu, namun nama dan jejaknya tidak menentu kemana pula aku harus mencarinya ? Adik Hong-gi kalau kalangan pemerintahan mengetahui perihal kedua butir mutiara mestika ini, pasti celakalah, ai dosa tak terampun mungkin membawa kemusnahan bagi kedua keluarga kita."

Thian-ih terperanjat. Tak tersangka olehnya bahwa dua butir mutiara itu ternyata adalah sebagian harta benda berharga yang tercuri dari gudang istana raja itu, entah adakah hubungan dan sangkut pautnya dengan sibaju perak, kalau benar perbuatan sibaju perak kejadian ini semakin aneh lagi. Dengan sengaja dia sudah meracuni Li Hong-gi hingga mati, lalu mengapa pula ia berikan kedua butir mutiara mestika ini untuk melindungi raganya supaya tidak membusuk?

Terdengar Nyo Hway-giok tengah berkata lagi: "Adik Hong-gi, sayang kau tak dapat bicara lagi, tahukah kau apa yang hendak kutanyakan kepadamu? Ingin aku tahu apakah kau suka kalau aku memangku jabatan dalam pemerintahan? Apa kau dapat menyelami isi hatiku? Keta- huilah meskipun aku keturunan seorang berpangkat, tapi aku benci segala jabatan, aku lebih senang bebas dan kelana tanpa rintangan dan belenggu yang mengekang. Kita dapat hidup mengembara kemana kita suka, pesiar, bermain musik atau belajar membaca dan silat, bayangkan betapa senang dan bahagia hidup semacam itu, rasanya lebih menggembirakan dari pada hidup dilingkungan pemerintahan yang terlalu membosankan dengan ikatan dinas apa segala "

Tidak terkirakan oleh Thian-ih bahwa ternyata keturunan seorang berpangkat macam dia mempunyai pambek sedemikian besar dan luhur, sedemikian besar tekad dan cita-citanya sampai rela meninggalkan jabatan pemerintahan yg tinggi mandah kelana di Kangouw yang penuh liku-liku hidup yang membahayakan. Timbul rasa kagum dan simpatik dalam benak Thian-ih, ingin benar rasanya bersahabat dengan seorang kawan yang berpandangan jauh selaras dengan tujuan hidup sendiri.

Mendadak suara Nyo Hway-giok berubah ketus penuh penyesalan: "Tapi.........sekarang........

semua menjadi kenangan hampa belaka, betapapun indah impian muluk-muluk itu, kau sudah pergi mendahului aku.........aku.........hidup.......bagaimana aku dapat hidup melewatkan hari-hari yang mengenaskan ini "

Kata Nyo Hway-giok lagi sambil sesenggukkan: “Adik Hong-gi, semasa hidup kita tidak bisa berdampingan, biarlah kita mati dalam satu liang kubur, peduli dengan segala peristiwa dan urusan dalam dunia ini sudah tiada sangkut-pautnya lagi dengan aku "

Lalu dari dalam sakunya dikeluarkan sebuah anak kunci terus dimasukkan dan diputar dilobang kunci, di lain saat dengan mudah sekali tutup batu kaca itu sudah terbuka. Seketika berhamburanlah bau harum semerbak memenuhi seluruh ruang pekuburan itu. Nyo Hway-giok bersiap hendak memasuki peti batu kaca itu, serta melihat tegas wajah Li Hong-gi seketika ia mengunjuk rasa kaget dan heran, saking terpesona dan gembira tanpa merasa ia membungkuk tubuh mencium bibir Li Hong-gi, tiba-tiba ia tersentak dan berjingkat mundur, Thian-ih mendengar dia tengah menggumam: "Heran, apa yang telah terjadi? Mengapa bibirnya masih terasa hangat, mulutnya berbau arak keras sekali?"

Nyo Hway-giok tenggelam dalam pikirannya, penemuan yang tak terduga ini menyebabkan Thio Thian-ih juga ikut terheran-heran, kalau betul-betul terjadi masakah tidak janggal? Mana mungkin orang yang sudah meninggal selama seratus hari bibirnya masih terasa hangat, bukan mustahil karena keampuhan dari kasiat kedua butir mutiara itu. Atau kesalahan dari perasaan Nyo Hway-giok sendiri?

Dilihatnya Nyo Hway-giok tengah membungkuk memeriksa dengan teliti, tak lama kemudian dia angkat kepala sambil bertepuk tangan, wajahnya penuh mengunjuk rasa kegirangan yang berlimpah, terdengar ia menggumam lagi: "Mungkinkah adik Hong-gi minum arak 'Pek-jit-kui' (seratus hari pulang) ? Unsu (guru berbudi) pernah berkata bahwa seseorang yang minum Pek-jit-kui meskipun tubuhnya kaku, tapi kalau ditutuk Jin-tiong-hiatnya, pasti kelopak matanya bergerak-gerak, dari sini dapatlah kubuktikan apakah adik Hong-gi benar-benar sudah meninggal atau masih hidup "

Jantung Thian-ih ikut berdebur dengan kerasnya, dengan tegang ia ikuti perkembangan selanjutnya. Sementara itu Nyo Hway-giok sudah ulur jarinya hendak menutuk tapi mendadak ditarik kembali, katanya: “Aku menjadi ragu-ragu apakah adik Hong-gi kuat menahan tutukanku ini." sejenak ia termenung lalu katanya lagi: “Betapapun harus kucoba untuk membuktikan adik Hong-gi betul-betul belum meninggal, dik, maafkan tindakan engkohmu yang lancang ini !" secepat kilat jarinya bergerak sekali, lalu dengan cermat ia mengawasi kelopak biji mata Li Hong-gi.

Jarak Thian-ih agak jauh jadi tak dapat melihat tegas, hatinya ikut gugup dan tidak tentram. Akhirnya dilihatnya Nyo Hway-giok menegakkan tubuh sambil berseri gembira, saking riang dia sampai mencak-mencak dan menari-nari seperti putus lotre tiga juta. Terdengar mulutnya mengoceh: “Bagus sungguh menggembirakan, adik Hong-gi ternyata kau belum meninggal, kau hanya minum arak Pek-jit-kui ! Rasa girang engkohmu ini, oh, dik, kalau kukatakan pasti kau tidak percaya, hampir aku kelenger saking senang,” memang gerak-geriknya sempoyongan hampir roboh.

Nyo Hway-giok membungkuk lagi memeriksa dengan cermat seperti dokter yang tengah memeriksa pasiennya, mengendus sini mendengarkan sana lalu didengarkan pula denyut jantung Li Hong-gi sekian lama terus tekan sini dan pegang sana baru akhirnya ia berkata: “Adik Hong-gi, sekarang dapat kupastikan bahwa kau hanya minum arak Pek-jit-kui itu. Unsu pernah bercerita kepadaku bahwa ditapal batas Hun-kui diatas pegunungan yang tinggi terdapat sebatang pohon aneh yang dinamakan Cap-li-biau-hiang (bau wanginya semerbak sampau sepuluh li), kuntum bunga ini berbentuk kecil tidak menyolok, setiap tahun hanya berkembang sekali pada tiap musim semi, meskipun berada jauh sepuluh li misalnya bila mengendus bau wangi ini seketika orang akan roboh ditengah jalan. Maka mereka yang sudah kenal akan bau wangi ini cepat-cepat menutup hidung dan mulut.

Kuntum bunga Cap-li-biau-hiang kalau direndam dalam air salju dapat menjadi semacam arak yang harum dan sangat keras, seteguk saja dapat membuat orang jatuh mabuk sampai berapa lama baru bisa siuman. Dulu seorang sahabat Unsu pernah membuat percobaan dengan kuntum bunga arak itu, akhirnya memang terbukti seratus hari kemudian baru orang yang jatuh mabuk itu siuman. Oleh karena itu, maka dinamakan Pek-jit-kui (seratus hari kembali). Meskipun arak semacam itu tidak dapat membunuh atau mencelakai orang, tapi kasiatnya memang sangat mengejutkan, jarang orang suka menggunakan, betapa tidak karena sekali jatuh mabuk seratus hari kemudian baru bisa siuman, bukan mustahil bagi orang yang sekali jatuh mabuk seratus hari tanpa bergerak tanpa makan minum seumpama orang mati badannya takkan membusuk. Alkisah pernah terjadi seorang penjahat tunggal yang gemar minum arak secara suka rela menyediakan diri sebagai percobaan, akhirnya baru satu minggu saja sejak ia jatuh mabuk badannya mulai membusuk dan akhirnya meninggal dunia dalam waktu setengah bulan saja. Lain halnya dengan sahabat Unsu itu, waktu mengadakan percobaan ia pernahkan dirinya didalam sebuah gua diatas puncak gunung es, untung lwekangnya sudah sempurna selama itu ia kuat bertahan, namun demikian tak urung setelah siuman dari mabuknya tubuhnya cacat terserang hawa dingin. Sejak itu mulailah nama Pek-jit-kuy itu tersebar luas dan belum pernah kejadian ada orang berani minum arak obat yang lihay itu. Siapa nyana kiranya adik Hong-gi juga telah minum arak obat pembius itu, malam ini pula genaplah seratus hari, sebentar lagi pasti adik Hong-gi bakal siuman, betapa hatiku takkan girang "

Saking senang tanpa disadari ia berjingkrak berjumpalitan serta menari-nari seperti bocah kecil. Diam-diam Thian-ih juga merasa senang dan mengucapkan syukur dalam hati.

Mendadak Nyo Hway-giok berhenti dan berdiri tegak seakan ingat sesuatu, gumamnya: “Wah, hampir aku kelupaan, menurut keterangan Suhu bahwa setelah siuman dari mabuknya dia harus dijaga oleh seorang yang berlainan kelamin untuk membantunya memperlancar jalan darah dengan cara menutuk dan menembuskan semua jalan darah besar-kecil lalu mengurutnya pula, setelah itu baru menyalurkan tenaga murni sendiri kedalam tubuh sipemabuk, meskipun cara ini kurang sopan, tapi hanya cara inilah yang dapat menolong. Apalagi juga harus bertindak secara cepat, terlambat sedetik saja sipenderita pasti celaka, badan menjadi kejang dan jiwa bisa melayang seketika.”

Mendengar semua uraian itu Thian-ih menjadi serba salah gugup dan malu lagi, cara pengobatan semacam itu harus dilakukan oleh suami-istri yang harus bersentuhan tubuh sedemikian rupa, sebagai orang luar mana bisa dirinya menyaksikan adegan yang tak boleh dilihat orang luar itu. Saking bingung Thian-ih menjadi gopoh selekasnya ia harus berusaha menyelundup keluar kuburan.

Sampai sedemikian lama Li Hong-gi masih berbaring dengan tenangnya. Nyo Hway-giok menanti dengan sabar dan tekun. Sekonyong-konyong terdengar bentakan dan caci maki diluar kuburan sana, keruan Nyo Hway-giok kaget dan gugup, katanya: "Adik Hong-gi segera bakal sadar, bila ada orang masuk mengganggu disaat aku mengobati pasti bisa celakalah kita berdua. Terpaksa harus kugebah pergi dulu orang-orang itu.”

Mulut berkata segera iapun bertindak, cepat-cepat ia tutup peti batu kaca lalu dikunci pula, ujarnya: “Adik Hong-gi, segera aku kembali, kali ini aku tidak akan main sungkan dan ampun lagi kepada para penjahat itu." sambil angkat alis bergegas ia lari keluar.

Lekas-lekas Thian-ih keluar dari tempat sembunyinya dan memburu kearah pintu, kalau tadi terdengar suara pertempuran yang seru dan sengit sampai angin pukulan menderu-deru dan senjata berdenting saling beradu. Maka Thian-ih berpikir: biar aku saja yang menghajar adat para penjahat itu supaya Nyo Hway-giok ada kesempatan memberi pertolongan kepada istrinya. Karena pikirannya ini pelan-pelan ia menggeremet keluar kuburan, namun suasana diluar kuburan dalam sekejap itu telah menjadi sunyi tanpa kelihatan bayangan seorang jua, sampai Nyo Hway-giok sendiri juga telah menghilang entah kemana ?

Tatkala itu sang surya mulai muncul di ufuk timur memancarkan sinar kuningnya yang terang benderang, angin pagi sepoi-sepoi dingin menggugah lamunan Thian-ih. Thian-ih menjadi serba sulit dan bimbang, akan ditinggal pergi atau menunggu kedatangan Nyo Hway-giok? Sekian lama ia susah ambil kepastian, tapi Li Hong-gi masih berada didalam peti betapapun harus menolongnya dari mara bahaya. Tunggu punya tunggu Nyo Hway-giok masih belum tampak mata hidungnya, terpaksa ia masuk kembali kedalam kuburan, seketika ia kaget dan memburu maju. Ternyata Li Hong-gi benar-benar sudah siuman dan hendak duduk didalam peti batu kaca itu, namun karena tutup itu terlalu rendah jadi tubuhnya tak dapat duduk tegak dan kedua tangannya meronta-ronta berusaha menyurung tutup peti. Keruan Thian-ih ikut menjadi gugup dan kerepotan berusaha membuka tutup peti itu, namun tutup itu sedikitpun tidak bergeming karena sudah terkunci, dilihatnya pula Li Hong-gi masih meronta dan mencakar serta mencekik leher sendiri, naga-naganya dia sudah kehabisan napas.

Mendadak teringat oleh Thian-ih akan kunci kecil yang ditemukannya di daerah barat tempo hari waktu mengejar jejak Ciu Hou itu, maka cepat-cepat dirogohnya keluar dan dicobakan ke dalam lobang kunci, eh, ternyata persis dan cocok benar lalu diputarnya dua kali, benar juga tutup peti itu seketika terbuka sendiri. Tampak kedua mata Li Hong-gi berkedip-kedip sambil menyedot hawa panjang, tiba-tiba ia mengeluh lirih, terus roboh terlentang dan pingsan. Cepat Thian-ih berlari keluar kuburan terus menggembor dan berkaok-kaok sekerasnya memanggil nama Nyo Hway-giok, namun sampai mulutnya kering masih belum tampak bayangan orang muncul. Dari gugup Thian-ih menjadi gegetun dan mangkel, bukankah Nyo Hway-giok sendiri tadi pernah berkata bila si pemabuk tidak segera diberi pertolongan dalam jangka waktu sepeminuman teh maka dia akan segera mati kejang? Tapi sekian lama ini yang ditunggu dan diharapkan masih belum datang, sebagai seorang kesatria dapatkah dirinya berpeluk tangan melihat kematian orang di depan matanya tanpa memberi pertolongan sepenuhnya ? Tapi betapapun cara pertolongan semacam itu sangat menyulitkan karena mereka harus bersentuhan tubuh sebagaimana lazimnya sebagai suami isteri, lalu bagaimana mungkin dirinya harus menggantikan orang yang berhak melakukan tugas itu? Karena kuatir cepat-cepat ia berlari masuk lagi, dilihatnya keadaan Li Hong-gi sangat payah, keningnya berkerut dalam sambil menggigit bibir kencang-kencang, agaknya sangat menderita dan menahan sakit, napas juga mulai memburu, tiba-tiba matanya terpentang dengan pandangan yang harus dikasihani, tapi mulutnya tak kuasa dipentang, hanya kedua tangannya mencengkram kencang baju di depan dadanya.

Pikiran Thian-ih tengah bertempur dengan batinnya, sang waktu tidak menanti orang, sampai sedemikian jauh masih belum kelihatan Nyo Hway-giok muncul. Kini hanya dua jalan untuk dia bertindak: pertama secara kejam dan „tega hati tinggal pergi' begitu saja tanpa hiraukan mati hidup orang, kedua tanpa hiraukan adat istiadat atau sopan santun lazimnya segera memberi pertolongan, kalau ini benar-benar dilakukan itu berarti untuk selanjutnya Li Hong-gi sudah menjadi calon istrinya, karena tak mungkin lagi ia menikah dengan orang lain, tapi apakah dia rela ? Apakah Nyo Hway-giok dapat dan mau memahami segala ini ?

Kaki tangan Li Hong-gi sudah mengejang, namun matanya masih menatap kearah Thian-ih dengan pandangan gusar dan kecewa, seakan sesalkan sikapnya yang ragu-ragu dan tak berani berlaku tegas. Seketika tergetar sanubari Thian-ih, waktu sudah berlarut dirinya tak boleh berayal lagi untuk segera turun tangan, kalau tidak pasti yang menjadi korban akan memaki dan mengutuk dirinya yang hidup juga pasti menista dan mencercah kebodohannya, sampai saat itu bagaimana hidup dirinya selanjutnya, seumpama menyesal juga sudah kasep.

Maka tanpa ayal lagi cepat-cepat ia berlari menutup pintu kuburan memantek dan mengganjelnya dengan batu besar. Waktu dirinya memburu balik lagi seluruh tubuh Li Hong-gi mulai gemetar dan dingin sekali, wajahnya juga sudah berubah pucat sampai hidung juga mengalirkan darah segar. Cepat-cepat Thian-ih mengerahkan tenaga dan mengkonsentrasikan pikiran serta menghimpun semangat terus menyalurkan tenaga murninya melalui telapak tangan, tangan yang lain berbareng bekerja menutuk berbagai jalan darah penting yang menembus ke jantung dan otak serta menormalkan jalan darahnya.

Sepeminuman teh kemudian usahanya ini ternyata berhasil juga, tampak tubuh Li Hong-gi yang kejang dan gemetar itu sudah mulai berangsur baik, semakin besarlah tekad Thian-ih untuk menolong secara terbuka dan tidak kepalang tanggung menurut petunjuk yang pernah didengar dari ucapan Nyo Hway-giok itu.

Begitulah setelah jalan darah normal kembali rasa kejang juga telah hilang, perlahan-lahan Li Hong-gi mulai siuman, kedua matanya sedikit terbuka memandangi wajah Thian-ih meski malu-malu tapi sorot matanya tidak menunjukkan kekesalan hatinya, agaknya dia tidak sesalkan tindakan Thian-ih yang keterlaluan ini serta pasrah nasib saja. Maklum badannya terasa sangat lemah dan terkulai melintang diatas tubuh Thian-ih, boleh dikata seluruh badannya rebah dalam pelukan Thian-ih yang kencang. Lama kelamaan tenaga Li Hong-gi sudah mulai pulih sebagian, tubuhnya sudah dapat bergerak sedikit miring, tanpa malu-malu lagi ia pandang wajah Thian-ih dengan senyum simpul yang manis sekali, senyuman yang berarti bahwa Thian-ih sudah dianggapnya sebagai suami sendiri yang tengah berusaha memberi pertolongan kepada istrinya.

Entah sudah berselang berapa lama kemudian, tubuh Thian-ih sendiri juga sudah basah kuyup oleh keringat, waktu ia menghentikan saluran tenaganya sendiri dan pentang mata seketika jantungnya berdebar keras, maklum menghadapi si jelita yang rupawan malah bersentuh tubuh lagi tanpa mengenakan pakaian yang layak, tergugahlah hatinya dari keinginan terhadap perangsang yang membangkitkan daya kelakiannya, jantungnya seperti bertambah mendegup dan darahnya menggelora. Untung sebelum ia kehilangan kesadarannya, didengarnya suara yang mencurigakan dari arah pintu sana. Thian-ih terkejut dan pikirannya menjadi terang serta tergugahlah pikiran kotornya, keringat dingin mengalir diatas jidatnya. Cepat-cepat ia bimbing tubuh Li Hong-gi lantas turun dari peti batu berkaca itu, tubuh Li Hong-gi masih sangat lemah belum kuat berdiri, terpaksa menggelendot di tubuh Thian-ih, dua pasang mata saling berpandangan, sesaat mereka kemekmek entah apa yang harus dikatakan.

Akhirnya Thian-ih membuka suara: “Nona Li, kuharap kau tidak salah paham, aku terpaksa bertindak sekasar ini untuk menolong jiwamu "

Dengan sepasang matanya yang bening lembut Li Hong-gi memandangi wajahnya serta sahutnya merdu: “Mana bisa aku salahkan kau, kau sudah menolong jiwaku, berterima kasih saja sudah terlambat !" sedemikian merdu suaranya bagai kicau burung kenari, seketika hilanglah rasa kuatir rikuh serta risi Thian-ih, dilihatnya Li Hong-gi tengah mengulum senyum yang menggiurkan, sinar matanya membuat Thian-ih merasa lega dan badan terasa hangat .

Tanya Thian-ih penuh kasih sayang: “Nona Li, bagaimana perasaanmu?"

“Seperti sedang mimpi saja," sahut Li Hong-gi lembut, “aku masih ingat kemaren malam aku berada dirumah sedang bermain catur dengan cici So, pada tengah malam Li-toaya datang memberikan secangkir arak kepadaku, arak itu sangat wangi dan hangat sampai aku merasa gerah dan mungkin terus jatuh mabuk tak ingat apa-apa lagi. Saat apakah sekarang? Bagaimana aku bisa sampai disini? Tempat apakah ini?"

Li Hong-gi melayangkan pandangannya ke seluruh pelosok ruang besar ini, melihat peti mati yang besar dan mewah itu, hatinya merasa ciut dan takut, tanpa merasa ia cekal kencang lengan Thian-ih, tanpa ragu-ragu lagi Thian-ihpun membimbingnya.

Hari sudah mulai terang tanah sebentar lagi pasti ada orang datang, untuk menghindarkan prasangka yang kurang baik, mereka harus segera meninggalkan kuburan ini. Maka segera katanya: “Nona Li, segala hal ihwal kejadian ini tidak mudah dituturkan dalam waktu singkat, yang terpenting kita harus cepat-cepat tinggalkan tempat ini dulu."

Sebelum tinggal pergi tak lupa oleh Thian-ih diambilnya kedua butir mutiara mestika yang menimbulkan bencana bagi sesama kaum persilatan itu. Sambil menyerahkan kepada Li Hong-gi, Thian-ih berkata: “Apakah kau sudah merasa baik? Dapatkah berjalan sendiri?"

“Sudah agak mendingan tapi kepalaku masih terasa pening." baru berapa langkah tiba-tiba ia mengeluh kesakitan karena kakinya menginjak batu kerikil tubuhpun sampai sempoyongan hampir roboh. Lekas-lekas Thian-ih pegangi tubuhnya. Dengan jengkel Li Hong-gi pegangi telapak kakinya sambil mengomel: “Tanpa mengenakan sepatu mana aku bisa berjalan."

Apa boleh buat terpaksa Thian-ih harus menggendongnya untuk meninggalkan tempat itu. Waktu sampai di ambang pintu dilihatnya pintu batu itu sudah sedikit terbuka dan kedua batu besar yang dibuat mengganjel juga sudah tergeser ke samping, terang kalau tadi sudah ada orang yang datang, dari suara lirih yang didengarnya tadi Thian-ih berkesimpulan kalau ringan tubuh orang itu pasti sangat tinggi, diam-diam ia sudah dapat menduga siapakah kiranya orang itu, semakin bertambahlah duka dan gelisah hatinya. Saat mana tiada banyak tempo buat berpikir, cuaca sudah terang benderang untung belum ada orang datang, tersipu-sipu Thian-ih tinggal pergi sambil menggendong Li Hong-gi.

Maksud Thian-ih semula hendak mengantar Li Hong-gi pulang ke tempat ayahnya. Tapi Li Hong-gi berkeras dan membandel tak mau pulang minta dibawa ke tempat lain untuk istirahat sambil mendengarkan cerita Thian-ih tentang pengalamannya selama ini.

Sepanjang jalan Thian-ih bercerita blak-blakan dengan ringkas jelas, lalu sambungnya: “Untuk menolong jiwamu terpaksa aku tidak hiraukan segala adat sopan santun lagi."

Wajah Li Hong-gi berseri merah, sahutnya: “Thio-toako, bukan saja tidak salahkan kau malah aku harus berterima kasih kepadamu."

Panggilan yang halus dan mesra ini membuat hati Thian-ih syur dan lega luar biasa, diangkatnya kepalanya serta bertanya keheranan: "He, kau masih ingat namaku?"

Senyum Li Hong-gi menjadi-jadi bagai kuntum bunga mekar, sahutnya dengan suara halus: “Mengapa tidak ingat, kau adalah Thio-jichengcu, So cici pernah bercerita tentang dirimu, katanya kau pandai silat dan pintar sastra, aku.......aku tidak punya saudara bolehkah

aku panggil kau engkoh saja?"

Menghadapi sifat polos dan lincah ini terketuk perasaan Thian-ih, sahutnya: "Bagus, boleh saja, tapi...... tapi.........aku nona Li!"

Li Hong-gi merengut, katanya aleman: “Jangan lagi kau panggil aku Nona Li apa segala, sedemikian baik kau terhadapku, kuingin kau menjadi engkohku !"

“Baik, baiklah ! Tapi engkohmu ini kurang cocok dibanding kau "

“Cocok saja. " tukas Li Hong-gi sambil menatap tajam dengan kedua biji matanya

yang bening dan cemerlang bagai bintang kejora. “Kau sangat cocok menjadi engkohku." demikian sambungnya.

Thian-ih berpikir, cerdik dan pandai juga cara Hong-gi berpikir, tentu dia sudah pikirkan masa depannya. Seumpama kejadian hari ini, bilamana kelak mereka tidak bisa sehidup semati, itu berarti mereka hanya sebagai kakak dan adik belaka jadi hubungan mereka masih erat dan dekat. Karena pikirannya ini lapanglah dada Thian-ih. Namun demikian terasa juga seakan dirinya telah kehilangan sesuatu apa yang membuat hatinya terasa kosong dan hampa.

Tengah ia terpekur dalam lamunannya tiba-tiba Li Hong-gi membuka kata: “Koko, perutku lapar mari kita pergi cari makanan!"

Thian-ih bertanya bagaimana kalau mengantarnya pulang? Tak terduga Li Hong-gi balik bertanya apakah kalau dia pulang Thian-ih mau ikut serta dan selalu mendampinginya ? Keruan Thian-ih menjadi serba salah dengan tegas ia tekankan bahwa ia harus mengembara untuk mencari jejak musuh besar pembunuh engkohnya, jadi tak mungkin berdiam menetap dirumah Li Hong-gi. Li Hong-gi memperingatkan, kalau dirinya kehilangan perlindungan yang diandalkan bagaimana kalau dirinya diculik dan diracun orang lagi? Thian-ih menjadi serba sulit, jejak sibaju perak memang sangat misterius, betapapun Li Hong-gi sangat membutuhkan tenaganya, didesak sedemikian rupa Thian-ih menjadi rikuh dan tak enak hati serta menyatakan kekuatirannya.

Debat punya debat mereka masih belum dapat mengambil putusan konkrit, akhirnya Thian-ih membawanya ke sebuah penginapan, dimana Li Hong-gi minta supaya dibelikan seperangkat pakaian laki-laki untuk menyamar supaya tidak menimbulkan kecurigaan dan perhatian orang.

Bahwa kuburan Li Hong-gi telah bobol jenazahnya juga hilang, malah di luar dan didalam kuburannya bergelimpangan mayat-mayat manusia yang mengerikan keadaannya, peristiwa besar yang menggemparkan seluruh huni kota Ki-lam ini seketika membuat Li-tihu marah mencak-mencak dan sedih pula, segera ia perintahkan menutup seluruh pintu kota dan mengadakan penjagaan serta penggeledahan serempak yang keras dan ketat.

Li Hong-gi sudah bertekad bulat mengikuti Thian-ih kemana dia pergi seumpama istri mengikuti suami layaknya, sudah tentu tidak ingin bertemu lagi dengan ayah-bundanya, bergegas mereka berkemas sekadarnya terus berangkat. Untung Ginkang Thian-ih sudah mencapai taraf yang dapat dibanggakan, malam itu dengan mudah mereka melompati tembok kota terus merat keluar kota. Menurut tafsiran Thian-ih tentu Nyo Hway-giok sudah kembali kekota raja, maka disewanya sebuah kereta untuk Li Hong-gi sedang dirinya menunggang seekor kuda terus langsung menuju ke kota raja.

Takut ayah-bunda berkuatir dan banyak pikiran, sebelum berangkat Li Hong-gi menulis sepucuk surat yang antara lain isinya menerangkan segala peristiwa yang telah terjadi diluar kuburan serta pengalaman dirinya sendiri, diterangkan pula tentang Nyo Hway-giok yang pergi mengejar jejak penjahat disaat dirinya meregang jiwa dan hampir menemui ajalnya, untung Thio-jikongcu yang sudah dikenal itu datang tepat pada waktunya memberi pertolongan. Melihat keadaan dirinya yang menderita tanpa hiraukan pantangan antara sentuhan badan laki dan perempuan, dia mengorbankan tenaga murninya untuk membantu dan menyembuhkan dirinya, karena sudah ketelanjur maka anak tidak menyesal dan sudah bertekad untuk mendampinginya seumur hidup sebagai suami istri. Seharusnya untuk itu mereka harus minta restu dan bersujud dihadapan para orang tua, tapi mengingat situasi yang masih tegang dan tidak aman bukan mustahil para penjahat akan turun tangan lagi, maka terpaksa dalam sementara waktu ini dia harus mengikuti Thio Thian-ih mengumpat ke tempat yang jauh dan aman. Keadaan ini adalah terpaksa diharap ayah bunda suka memaafkan dan jangan banyak pikiran, dibawah perlindungan Thio Thian-ih yang berkepandaian tinggi pasti keselamatan jiwanya dapat terjamin. Kelak kalau sudah aman dan tenteram anak pasti segera pulang keharibaan ayah bunda. Tentang perkawinan dengan keluarga Nyo diminta ayah suka membatalkan saja. Surat itu tertanda atas nama Li Hong-gi bersama Thio Thian-ih sebagai menantu.

Setelah selesai menulis surat itu Li Hong-gi angsurkan kepada Thian-ih. Tangan Thian-ih gemetar waktu membaca surat itu, hatinya kejut dan girang serta menyesal dan gugup pula, katanya tergagap: “Adik Hong-gi, mana bisa begini, mana bisa begini !”

Mata Li Hong-gi merah hampir menangis, sahutnya: “Ko-ko, kita sudah bersentuhan badan walaupun belum melampaui batas hubungan, betapapun hatiku sudah bulat tidak menikah dengan orang lain ”

Thian-ih semakin gugup, ujarnya: “Adik Hong-gi, mari kita mencari Nyo Hway-giok untuk menerangkan hal ini….”

“Tidak, tidak bukan menerangkan tapi adalah suatu pernyataan. Nanti kalau sudah bertemu biar aku yang menjelaskan kepada dia tentang apa yang telah terjadi sebenarnya, akan kuminta dia mencari jodoh lain…." sekilas melirik kearah Thian-ih, dilihatnya Thian-ih tengah menggelengkan kepala, hatinya semakin mangkel dan serunya marah: “Thian-ih, apa kau tidak suka kepadaku? Karena aku seorang lemah dan tidak cocok menjadi pasangan seorang gagah perwira ?”

“Bukan, bukan begitu adik Hong-gi, betapa jelita dan agung wajah serta tubuhmu ini, seribu Thian-ih juga belum dapat memadai, bukan aku tidak suka kepada kau, soalnya eh,

sebenarnya aku menyukai kau    "

“Ai, naga-naganya kau sudah punya tambatan hati ? Apakah So-cici yang datang bersama kau malam itu?"

Sudah tentu So Hoan kalah jauh dibanding sama Hong-gi, walaupun sikap So Hoan sangat baik dan simpatik terhadapnya, tapi selama itu belum pernah menyatakan sikap apa-apa kepadanya, maka segera sahutnya: “Bukan, tidak. Aku punya pilihan hati apa?"

Hong-gi menghela napas lega diulurkannya tangan menggenggam tangan Thian-ih, ujarnya lemah lembut: “Thian-ih, jadi kau belum punya pilihan hati dan menyukai aku pula, itulah bagus sekali " sikapnya mesra dan aleman sekali.

Thian-ih kewalahan terpaksa dengan lemah lembut ia membujuk dengan kata-kata manis untuk mencari dan menemui Nyo Hway-giok dulu serta menjelaskan kepadanya supaya tidak menimbulkan salah paham, tentang urusan perjodohan ini biarlah kelak diputuskan lagi. Melihat orang demikian kukuh Hong-gi agak marah dan jengkel namun tak enak merengek-rengek terus.

Surat itu dimasukkan pos ditengah perjalanan, sepanjang jalan Thian-ih mengiringi disamping kereta menunggang seekor kuda belang, setelah melewati sungai besar, Hong-gi minta kepada Thian-ih untuk membelikan pakaian perempuan, didalam kereta itulah sejak hari itu ia mengenakan pakaian perempuan lagi.

Tengah hari itu mereka tengah menempuh jalan pegunungan yang berdebu, karena hawa sangat panas tanpa sadar Li Hong-gi menyingkap tenda kereta, dan secara kebetulan sikusir kereta berpaling kebelakang, dilihatnja pemuda yang ganteng dibelakangnya itu mendadak berubah wajah menjadi seorang perempuan jelita yang ayu rupawan, saking terperanjat sikusir sampai kesima, mulut terpentang lebar tanpa dapat mengeluarkan suara.

Untuk menghindari perhatian umum Thian-ih hanya membelikan pakaian kasaran sekadarnya saja, namun demikian masih tidak mengurangi kejelitaan dan keagungan sicantik ini meskipun berdandan secara sederhana semakin pandang malah terasa semakin menggiurkan, apalagi wajahnya selalu mengulum senyum yang manis mesra, Thian-ih semakin kesengsam dan girang serta kuatir, tanpa merasa ia menghela napas panjang. Karena perjalanan sangat jauh dan hawa juga panas sekali, selalu duduk dalam tenda kereta membuat Li Hong-gi merasa kesal dan tak betah lagi, saban-saban ia menyingkap tenda untuk melihat pemandangan di sepanjang jalan serta mencari angin, sudah tentu wajahnya nan ayu jelita itu menarik banyak perhatian orang sepanjang jalan, setiap pasang mata pasti melotot kesima memandangi wajahnya yang cantik molek bak bunga mekar.

Sejak kecil Hong-gi hidup dalam lingkungan keluarga berpangkat, meskipun sering bepergian, namun selalu terkurung dalam usung tenda yang tertutup rapat, jangankan melihat atau dilihat orang, mengintippun menjadi pantangan keluarganya. Belum pernah merasa sebebas yang dialami sekarang, hatinya semakin riang dan pikiran terasa terbuka setelah melihat kenyataan hidup dialam yang bebas ini. Namun demikian lama kelamaan ia merasa bosan dan sebal juga karena setiap orang yang melihatnya selalu melotot kesima, akhirnya ia bertanya kepada Thian-ih: “Koko, lihatlah! Mengapa mereka selalu melihat aku begitu rupa, apa tubuhku ini ada sesuatu yang istimewa?"

Thian-ih tersenyum geli, gadis ini terlalu polos dan wajar, tidak disadari olehnya betapa cantik wajahnya itu, maka tidaklah heran kalau orang-orang terpesona melihatnya. Tapi semua ini tidak dikatakan, hanya diminta ia menurunkan tenda kereta dan habis perkara.

Kalau tadi orang-orang memandang dengan pandangan terpesona kepada Li Hong-gi, sebaliknya sekarang orang-orang itu memandang kepada Thian-ih dengan sorot yang sirik dan iri, sudah tentu hal ini membuat Thian-ih merasa bangga dan senang dalam hati. Insan manakah yang takkan terpesona melihat wajah ayu bak bidadari?

Dasar putri orang berpangkat yang biasanya selalu dilayani oleh para dayang dan ditunggui, nyali Li Hong-gi menjadi sangat kecil, setiap kali menginap dipenginapan ia takut sendirian dalam sebuah kamar tersendiri, alasannya gampang saja, bagaimana kalau dirinya diculik orang pula? Toh tidak mungkin Thian-ih meronda diluar kamarnya semalam suntuk. Kalau dipikir memang beralasan, bukan mustahil wajahnya yang cantik molek itu telah menimbulkan rasa dengki sementara para penjahat yang berniat kotor terhadapnya. Maka untuk menjaga terjadinya segala kemungkinan terpaksa Thian-ih melulusi untuk menyewa sebuah kamar saja. Sudah tentu dalam pandangan Manager penginapan dan orang-orang lain, mereka adalah suami istri, namun hakikatnya mereka masih menjaga baik norma-norma adat kesopanan, belum pernah berhubungan melewati batas kesusilaan.

Hari itu mereka menginap pula dalam sebuah penginapan, didalam kamar Thian-ih merasakan sesuatu keanehan, yaitu karena perjalanan yang jauh ini seluruh tubuhnya penuh kotoran debu, sebaliknya keadaan Li Hong-gi tetap bersih menyala bagai sekuntum bunga teratai putih mulus yang habis disiram hujan. Sungguh Thian-ih tidak habis mengerti.

Agaknya Li Hong-gi mengetahui isi pertanyaan yang terkandung dalam benak Thian-ih, sambil tersenyum simpul dikeluarkan sebutir mutiara dari dalam balik bajunya serta katanya: “Koko, agaknya kau sudah melupakan kasiat Pi-seng-cu ini. Sekarang terbukti dengan membekal mutiara ini sedikitpun tiada debu kotoran dalam kereta, berkali-kali kuminta kau duduk dalam kereta menemani aku, kau tetap berkukuh menunggang kuda saja, coba lihat betapa bodohnya kau ini tidak tahu kebaikan orang lain.” Habis berkata wajahnya bersungut-sungut marah. Tersipu-sipu Thian-ih minta maaf.

Esok harinya mereka melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini Hong-gi mengenakan mutiara itu sebagai perhiasan, sebuah untuk hiasan didepan dada sedang yang lain diatas sanggul kepalanya. Ditimpa sinar matahari kedua mutiara itu memancarkan sinar berkilau yang menyilaukan pandangan semua orang. Melihat betapa cemerlangnya kedua butir mutiara itu, semakin jauh Thian-ih semakin was-was dan kuatir, maka segera ia minta untuk menanggalkan kedua perhiasannya itu. Betapa cantik jelitanya Li Hong-gi ini sudah menjadi buah pembicaraan orang-orang sepanjang jalan. Apalagi mengenakan perhiasan yang harganya tak ternilai itu, keruan menimbulkan incaran dan ngiler para penjahat dari golongan hitam.

Benar juga setelah melewati Ho-kian lantas Thian-ih merasa bahwa sepanjang perjalanan ini mereka mulai dikuntit oleh berbagai rombongan orang-orang yang tidak dikenal. Diam-diam ia menambah kewaspadaan, pedang panjangnya sudah patah sewaktu bertempur melawan Lok Sian tempo hari, maka waktu meninggalkan kuburan tak lupa ia ambil sepasang tongkat milik Pek-bian-kui sekedar untuk berjaga-jaga, kini tongkat itu dipersiapkan untuk menjaga segala kemungkinan.

Tidak jauh dari danau Se-ting, sang surya sudah doyong ke barat. Mendadak jauh di depan sana terlihat membedal kencang dua ekor kuda yang tengah mendatangi, kedua penunggangnya berpakaian ringkas dan membekal senjata, setelah dekat kedua ekor kuda berpencar ke kanan kiri melesat lewat disamping kereta Hong-gi, tapi tidak jauh kemudian mendadak memutar balik lagi terus dipacu lagi kearah datangnya semula.

Tidak lama kemudian datang lagi dua penunggang kuda yang bertingkah laku serupa. Sekarang baru Thian-ih sadar dan waspada, cepat-cepat disuruhnya Li Hong-gi menurunkan tenda, sepasang tongkat pendeknya disiapkan diatas kudanya. Beberapa li kemudian di depan sana mereka harus melewati sebuah lembah yang bermulut sempit, lembah ini dilingkungi oleh tebing-tebing yang menjulang tinggi ke angkasa, samar-samar terlihat berkelebatnya bayangan beberapa orang di atas sana. Si kusir kereta, agaknya mengenal gelagat, betapapun dia takut untuk meneruskan keretanya meski sudah dijanjikan bayaran berlipat ganda. Terpaksa Thian-ih mengancam dengan kekerasan senjatanya, apa boleh buat si kusir menjalankan keretanya lagi dengan kebat-kebit. Thian-ih sudah turun dari atas kuda dan mendahului membuka jalan di depan, ditimpah sinar matahari sepasang tongkat di tangannya berkilat menyolok mata. Diluar dugaan sebegitu jauh mereka masih dapat berjalan terus seenaknya melewati lembah itu tanpa adanya gangguan sedikitpun. Lega dan heran hati Thian-ih, tanpa pikir panjang lagi diperintahkan supaya kereta berjalan cepat.

Malam itu mereka menginap di sebuah hotel di pinggir danau Se-ting, tengah mereka makan minum dalam kamar, seorang pelayan masuk menyampaikan sebuah kotak kecil katanya pemberian dari seseorang. Waktu dibuka didalam kotak kecil itu terdapat secarik kertas yang penuh tulisan berbunyi: "Disampaikan kepada tuan Pek-bian-kui Ho Han dari Mo-san. Malam ini diatas sebuah perahu di pinggir danau Se-ting, kami adakan perjamuan untuk menyambut kedatangan tuan, harap memberi muka dan sukalah datang." Salam hormat dari Tok Bok-san dan Go Hong.

Bercekat hati Thian-ih waktu melihat kedua nama ini. Maklumlah Tok Bok-san dan Go Hong ini merupakan gembong-gembong penjahat dari kalangan hitam di daerah Ho-pak dan Kam-siok yang sudah sangat kenamaan. Tok Bok-san terkenal karena ilmu To-sa-ciang dan ilmu weduknya. Sedang julukan Go Hong adalah Hun-tiap (kupu jelita) dia lihay dalam ilmu ringan tubuh, asalnya seorang maling terbang. Bersama Tok Bok-san mereka berdua mengangkat diri dengan julukan Se-ting-siang-mo (dua gembong iblis dari Se-ting). Sungguh tak nyana ditempat ini mereka harus berhadapan langsung dengan kedua gembong iblis ini. Mungkin karena melihat senjata yang digembolnya itu mereka menyangka dirinya sebagai Pek-bian-kui Ho Han salah satu dari Mo-san-sam-kui. Bukankah ini sangat kebetulan. Hatinya menjadi gundah dan ragu-ragu, pergi atau tidak persoalan ini membuat hatinya susah mengambil keputusan, kalau tidak pergi nanti dianggap takut, kalau pergi lalu bagaimana dengan Li Hong-gi.

Melihat orang tepekur bingung, Li Hong-gi mengikik geli, katanya: "Koko siapakah yang mengirim surat itu?"

Lalu ia bangkit mendekat serta menyambuti surat yang diangsurkan Thian-ih kepadanya, setelah membaca surat itu, Li Hong-gi tersenyum katanya: "Tok Bok-san, Go Hong. Orang macam apakah mereka itu? Mereka menyangka kau adalah Ho Han, mungkin karena memandang nama Ho Han itu jadi mereka tidak turun tangan di tengah jalan. Apa yang mereka kehendaki? Apakah mereka hendak merampok kita?"

"Tok Bok-san dan Go Hong adalah dua gembong penjahat yang terkenal di kalangan hitam. Kalau Tok Bok-san semula sebagai penjahat tunggal besar, sedang Go Hong adalah maling terbang yang ditakuti "

Mendengar keterangan ini berdetak jantung Li Hong-gi, sekarang ia merasa takut, terang mereka tengah mengincar kedua mutiara yang dibawanya itu, maka katanya gugup: "Koko, para penjahat itu pasti banyak kaki tangannya, betapapun kita takkan kuat menahan kerubutan mereka. Lebih baik jangan hiraukan mereka, tinggal pergi saja secara diam-diam."

Sebenarnya Thian-ih tidak setuju memperlihatkan kelemahan, namun demi keselamatan Hong-gi mau tak mau ia harus berpikir panjang, memang terpaksa mereka harus menyingkir sementara. Malam itu juga secara diam-diam mereka lanjutkan perjalanan.

Waktu terang tanah mereka sudah puluhan li jauhnya dari danau Se-ting, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki kuda yang riuh rendah di belakang mereka, segerombolan orang tengah mengejar tiba dengan kencang. Terang tak mungkin lagi mereka dapat menyingkir dari kejaran ini, terpaksa Thian-ih hentikan kereta di pinggir hutan menunggu kedatangan mereka sambil menenteng kedua tongkat pendeknya dengan sikap gagah.

Para pengejar sudah semakin dekat, dibawah sinar matahari pagi yang cerlang cemerlang terlihat rombongan pengejar ini terdiri dari dua puluhan orang penunggang kuda, dua ekor yang terdepan tinggi besar penunggangnya juga bertubuh kekar, salah seorang berwajah putih cakap.

Begitu dekat segera si tinggi kekar itu menegor kepada Thian-ih: “Ho-lotoa ! Kau juga seorang gagah, mengapa tidak memberi muka terus tinggal ngeloyor pergi begitu saja, terhitung apa perbuatanmu ini? Memandang rendah Se-ting-siang-mo agaknya?"

Sitinggi besar ini bukan lain adalah Tok-sa-ciang To Bok-san.

Belum sempat Thian-ih membuka suara kedua penunggang kuda itu sudah melesat tiba dihadapannya, terdengar sicakap putih itu menimbrung: “Toako, dilihat dari usia orang ini tidak mirip dengan Ho-lotoa !"

Tok-sa-ciang atau pukulan pasir beracun To Bok-san agak tercengang mendengar seruan saudaranya, dengan cermat segera ia amat-amati wajah Thian-ih, memang benar tidak mirip dengan bentuk wajah Ho Han yang pernah didengarnya dulu. Segera ia membentak gusar: "Bedebah, kukira setan wajah putih yang tulen betul-betul telah datang tak tahunya hanya barang tiruan belaka. Bocah keparat, siapa kau? Mengapa kau menggembol senjata istimewa dari Mo-san-sam-kui?"

Thian-ih menahan gejolak hatinya, sahutnya lantang: "Cayhe Sam-ho Thio Thian-ih!"

Tanya To Bok-san mengerut kening: “Apa hubunganmu dengan Seng-po-sat Thio Thian-ki dari Thio-keh-cheng di Shoatang?"

“Itulah mendiang engkohku, baru sebulan yang lalu dia meninggal dunia "

Tak nyana sikap To Bok-san lantas berubah halus, katanya lemah lembut: "O, kiranya adalah Thio-jichengcu. Sebenarnya kita juga sudah dengar tentang kabar buruk engkohmu itu, apa celaka kita sedang repot saat itu jadi tak sempat pergi melawat harap suka dimaafkan. Ingin kami tanya pada Ji-chengcu apakah Pek-bian-kui telah kau bunuh?"

“Untuk memperebutkan harta tak bernilai Mo-san-sam-kui, Kam-liang-chit-tongcu beserta Liong-gwa-hou-toang dan anak buahnya telah saling cakar dan bunuh di Kilam sampai akhirnya semua gugur bersama tanpa ketinggalan satupun yang hidup. Senjata Pek-bian-kui ini secara kebetulan kutemukan "

“Jelasnya mereka gugur bersama karena memperebutkan dua butir mutiara mestika bukan? Kalau begitu tentu kedua butir mutiara itu telah terjatuh ditangan Ji-chengcu "

“Toako," sela Hun-tiap si kupu jelita Go Hong dari samping. "Buat apa kau main sungkan apa segala dengan bangsat ini. Hud-sucia (rasul Budha, yang dimaksud disini adalah Thio Thian-ki) sudah mati, kita tiada hubungan apa-apa lagi dengan bocah ini, bekerja jangan kepalang tanggung bunuh sekalian bocah ini kan beres."

Sekilas To Bok-san melerok ke arah Go Hong lalu katanya kepada Thian-ih: “Ji-chengcu, ketahuilah bahwa hubungan kita dengan engkohmu sangat akrab, kitapun tidak ingin membuat kesukaran terhadap kalian, untuk menghindarkan pertengkaran kuharap kau suka melulusi beberapa permintaan kita. Pertama: mengenai kedua butir mutiara itu. Mo-san-sam-kui, para Tongcu dari Kam-liang-pay serta Liong-gwa-hou-tiang dengan anak buahnya semua sudah mampus karena memperebutkan kedua mutiara itu, benda-benda berharga yang membawa sial dan bencana ini lebih baik jangan selalu kau kangkangi saja, demi keselamatan dan ketentraman hidupmu, aku memberanikan diri mohon kepada Ji-chengcu untuk meninggalkan saja kedua benda bertuah itu kepada kita. Hal kedua tentang gadis dalam kereta yang kau kawal itu. Harap diketahui bahwa adikku yang berjuluk Kupu jelita Go Hong sampai setua ini masih belum menikah, tentang nama dan kedudukannya sudah cukup tenar dan disegani di kalangan Kangouw. Waktu melihat gadis dalam kereta itu, ai mungkin sudah takdir dan ada jodoh, selintas pandang saja dia lantas jatuh cinta, kuharap "

“Stop !" mendadak Thian-ih menghardik dengan murka, kalau mau minta mutiara sih mungkin masih dapat dirundingkan, tak nyana sedemikian besar nyali penjahat ini serta kurangajar berani mengincar pula adik Hong-gi, keruan bukan kepalang gusar hatinya, semprotnya: "Kalian ini memang bangsa rendah yang hina dina, tak perlu banyak mulut lagi, tak mungkin permintaan kalian kululuskan !"

Seketika berubah air muka To Bok-san, tidak ketinggalan Go Hong pun berjingkrak gusar, tantangnya sambil membolang-balingkan sepasang pedangnya: "Orang she Thio, kalau kau tidak tinggalkan perempuan jelita itu, biar pedang tuan besarmu ini menghabisi jiwamu."

Sekali enjot ringan sekali Thian-ih loncat turun dari tunggangannya, jengeknya dingin: "Baik, mari maju ingin aku berkenalan dengan kepandaian hebat manusia bejat macammu ini !" terdengar kedua tongkat pendeknya berdenting, tanpa banyak cakap lagi segera ia mendahului turun tangan, kedua tongkatnya dibagi dua jurusan mengetok kepala dan menjojoh ulu hati, sekaligus ia lancarkan serangan mematikan !

Tapi ternyata kepandaian Go Hong ini juga tidak lemah, dengan sengit ia tangkis dan balas menyerang, sinar pedangnya berkeredep kian kemari berpetakan seperti kuntum bunga. Dalam sekejap mata tujuh delapan jurus telah berlalu.

Sambil bersilat Thian-ih perhatikan juga kondisi pihak musuh, dilihatnya gerak gerik Kupu jelita Go Hong ini memang serasi dengan julukannya, bukan saja lincah tapi juga gesit serta tangkas sekali, ternyata Ginkangnya lumayan. Tapi ilmu pedangnya biasa saja tiada sesuatu tipu-tipu ilmu pedangnya yang perlu diketengahkan. Legalah hatinya, pikirnya: penjahat macam dia ini kalau dibiarkan hidup terus hanya mengotori dunia dan menimbulkan bencana bagi yang lemah, terpaksa aku harus melenyapkan duri dan sumber bencana yang membahayakan itu, paling tidak juga harus dibuat cacat supaya tidak dapat beroperasi lagi. Tentang To Bok-san gampanglah dilayani selanjutnya.

Begitulah dalam suatu kesempatan dengan sengaja ia memberi lobang kelemahan gerak tongkatnya untuk memancing, yaitu dengan jurus Heng-gan-seng-hong (menoleh kesamping melihat puncak) tongkatnya menyambar dari samping terus menyelonong ketempat kosong. Benar juga Go Hong kena tipu, secepat kilat kedua pedangnya dirangkap menjadi satu terus hendak menjungkit keatas dan menusuk ke lambung Thian-ih, tapi sebelum serangan ini berhasil mendadak Thian-ih unjukkan kelihayan permainan silatnya. Tangkas sekali tongkatnya yang menyamber lewat tadi membalik keatas dari bawah menggunakan jurus Yap-te-coan-le sambil mengerahkan tenaga untuk menekan kebawah, maka terdengarlah suara ''trang" yang nyaring, hasil dari benturan keras ini menyebabkan kedua batang pedang Go Hong patah menjadi empat potong. Saking kaget lekas-lekas ia melompat mundur dengan ketakutan.

Melihat saudaranya kena kecundang To Bok-san tidak tinggal diam, gesit sekali ia sambitkan dua pisau terbang menyerang Thian-ih. Sudah tentu Thian ih tidak berpeluk tangan, kinilah saatnja ia pertunjukkan ketrampilan kepandaiannya. Secepat kilat tiba-tiba tubuhnya melejit tinggi menerjang maju, tongkat ditangan kanan ditarikan untuk menangkis senjata rahasia To Bok-san sedang tongkat ditangan kiri langsung menjojoh ke dada Go Hong, maka terdengarlah jeritan panjang yang mengerikan, seketika tubuhnya roboh terkapar dan jiwapun melayang.

Sesaat Thian-ih berhasil merobohkan musuh saat itu pula To Bok-san sudah memburu tiba dibelakangnya, begitu melihat saudara angkat tewas dengan mengerikan seketika berkobarlah amarahnya, hatinya geram dan pedih sekali. Sambil menggerung keras sebelah tangan diayun terus menghantam dengan kerasnya. Thian-ih insaf bahwa ilmu waduk musuh sangat lihay tidak mempan sembarang senjata, tapi betapapun dia takkan mau unjuk kelemahan dihadapan musuh. Dengan jurus Kim-le-coan-po (ikan emas menerobos gelombang), selicin belut mendadak tubuhnya menyelusup lewat dari ketiak To Bok-san. seketika pukulan To Bok san yang dilancarkan sekuat tenaga dan bernafsu itu mengenai tempat kosong sehingga debu dan krikil beterbangan. Terdengar mulutnya berkaok-kaok memberi aba-aba kepada para anak buahnya: “Hayo kawan, serbu kereta itu " Tanpa menyerang lagi kearah Thian-ih, To Bok-san malah mempelopori berlari kearah kereta. Gusar Thian-ih bukan kepalang, sambil memutar kencang sepasang tongkatnya, ia menyerbu kedalam kalangan kawanan penjahat itu, perbawanya seperti harimau kelaparan yang minta korban, sepasang tongkatnyapun ditarikan sedemikian hebat, tak peduli siapa saja yang merintangi pasti roboh mampus atau paling tidak juga luka berat.

Dalam pada itu dilihatnya To Bok-san sudah naik keatas kereta, karena jarak yang agak jauh tak sempat lagi ia memburu maju untuk merintangi, terpaksa dari kejauhan ini sebuah tongkatnya disambitkan dengan sekuat tenaga. Memang cukup hebat kepandaian To Bok-san ini, dengan mudah saja ia ulurkan telapak tangannya segede kipas untuk menangkap tongkat Thian-ih yang menyamber tiba dan sedikit gerakan merandek ini lebih dari cukup untuk Thian-ih menyusul tiba, beruntun ia lancarkan lima serangan mematikan terdengarlah jerit dan pekik kesakitan para anak buah To Bok-san, mereka jungkir balik malang melintang diatas tanah dan tak mungkin dapat diselamatkan lagi.

Sementara itu To Bok-san sudah pegang kemudi dan mulai memacu kuda kereta sambil membentak-bentak. Saat mana Thian-ih juga sudah memburu tiba disamping kereta beruntun tongkatnya menutuk beberapa jalan darah ditubuhnya, terang gamblang kalau serangannya itu kena dengan telak. Sungguh tidak nyana bahwa ternyata ilmu weduk To Bok-san sudah terlatih sedemikian ampuh, kulit dagingnya keras laksana batu dan pandai menutup jalan darah lagi, tutukan Thian-ih itu sia-sia belaka, malah hampir saja kakinya kena tergilas roda kereta.

Tiada jalan lain mendadak Thian-ih melompat keatas terus menyikap kencang kedua kaki lawan terus ditarik kebawah, seketika mereka bergumul dan bergelindingan diatas tanah. Begitu melompat bangun langsung To Bok-san menggenjot ke lambung Thian-ih. Mengerahkan delapan bagian tenaganya Thian-ih juga bersiap terus dorong kedepan. "Blang" kedua tenaga saling bentur ditengah udara, ternyata tenaga pukulan Thian-ih masih ada unggul sedikit, To Bok-san terpental sempoyongan, tanpa memberi kesempatan musuh bernapas dan berdiri tegak Thian-ih sudah menerjang tiba lagi sambil menggasak perut lawan dengan sebuah pukulan keras. Justru perut merupakan tempat terlemah bagi orang yang me- latih ilmu weduk seketika terdengar To Bok-san mengerung tertahan, tubuhnya berguling-guling sampai jauh setelah merangkak bangun terus ngacir lintang-pukang tanpa menoleh lagi.

Cepat-cepat Thian-ih jemput kedua tongkatnya, dilihatnya kereta itu tengah dilarikan oleh anak buah To Bok-san, lekas-lekas ia kerahkan seluruh tenaga dan kembangkan ilmu ringan tubuh secepat kilat ia mengejar, tak lama kemudian jarak semakin dekat kereta dapat disusul, anak buah To Bok-san menjadi ketakutan loncat turun terus melarikan diri. Thian ih tidak sempat mengejar dan menghajar mereka, yg perlu adalah menghentikan kereta. Setelah kereta dapat dihentikan, bergegas ia menyingkap tenda dan melongok kedalam, mungkin saking kejut dan takut Li Hong-gi meringkuk pingsan dalam kereta, cepat-cepat Thian-ih memberi pertolongan, setelah melihat tiada kurang suatu apa legalah hatinya.

Perlahan-lahan Hong-gi siuman, melihat dirinya dalam pelukan Thian-ih wajahnya yang jelita seketika mengulum senyum manis mesra, tanyanya dengan suara lirih lembut: “Koko, mereka sudah kauusir?"

Thian-ih mengangguk, katanya, “Mereka sudah pergi, apakah mereka tadi mengganggu kau?'' Li Hong-gi menggelendot dalam pelukannya, sahutnya: “Tidak, aku baik-baik saja, sebaliknya apakah kau terluka?"

Thian-ih menggeleng, tapi Hong-gi sudah melihat diatas pundaknya ada sedikit lecet, cepat-cepat ia tarik lengan orang terus diperiksa, wajahnya penuh mengunjuk kasih sayang dan prihatin, omelnya: “Lihatlah, disini berlubang, mengapa bohong? Terasa sakit tidak?"

Sikap yang lemah lembut penuh kasih sayang ini mengkili-kili hati Thian-ih, terasakan suatu perasaan yang belum pernah dialami selama ini dalam benaknya sehingga semangat dan pikirannya melayang-layang seperti berada diawang-awang, tanpa merasa ia kesima memandangi wajah nan ayu molek ini.

Melihat orang terlongong dan tidak bicara, Hong-gi goncangkan tubuh orang sambil tanyanya aleman: “Koko, kenapa kau?"

Thian-ih tersentak sambil tertawa geli, sahutnya: “Tukang kereta, entah lari kemana? Terpaksa aku harus memegang kendali sendiri."

“Itu tambah baik. Selama ini kau tidak dengar kata, sekarang kau harus duduk dalam kereta menemani aku."

“Ya, tapi aku hanya seorang kusir kereta yang harus duduk didepan, masa ada harganya duduk bersama nona secantik kau dalam kereta."

“Memang kau adalah kusir kereta dan aku adalah Nonamu maka kau harus dengar perintahku."

“Mana hamba berani membangkang. Nona silakan memberikan perintah apa kita harus segera berangkat?"

Hong-gi angkat kepala, wajahnya cerah cemerlang penuh harapan dan bahagia, dengan suara merdu dan lirih ia berbisik: “Aku tidak ingin kau menjadi kusir. Aku ingin kau menjadi

........suamiku!"

Thian-ih merasa hatinya bangga dan penuh madu, setelah hening sekian lama dan saling mencurahkan isi hati masing-masing, segera ia keluar dari dalam tenda terus pegang kendali melanjutkan perjalanan.

Di Pakkia Thian-ih mempunyai seorang famili yang membuka toko kelontong dipintu sebelah timur. Disinilah Hong-gi dititipkan sementara waktu sambil berusaha mencari alamat Nyo Hway-giok. Hari kedua secara lazimnya Thian-ih datang berkunjung sambil menyampaikan kartu namanya dan mohon bertamu dengan Nyo Hway-giok Nyo-kongcu, siapa tahu setelah sekian lama menunggu centeng yang menyampaikan kartu namanya itu keluar lagi mengabarkan bahwa Nyo Hway-giok ternyata tak berada dirumah. Hal ini dimaklumi oleh Thian-ih kalau Nyo Hway-giok pasti rikuh dan tak enak menemui dirinya, apa boleh buat terpaksa dia kembali, pikirnya biarlah nanti malam saja secara diam-diam aku datang berkunjung dan menemuinya.

Malam itu cuaca sangat gelap, ini menguntungkan bagi gerak gerik Thian-ih yang seringan kucing berloncatan di-atap genteng melesat menuju ke rumah gedung keluarga Nyo, meski penjagaan gedung megah ini sangat ketat namun dengan Ginkang Thian-ih yang lihay mudah sekali ia menyelundup kedalam gedung, namun sekian lama ubek-ubekan jejak Nyo Hway-giok memang susah diketemukan.

Beruntun empat hari sudah berlalu tanpa hasil, kian hari hatinya terasa kesal dan penat, untuk menghibur diri ia melancong kemana saja ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang sambil selalu berusaha menyirapi berita tentang diri Nyo Hway-giok. Hari itu secara kebetulan kakinya melangkah sampai dipuncak Ban-siu-san yang kenamaan itu. Memandang panorama indah yang terbentang didepan matanya membuatnya terkenang akan segala peristiwa yang telah dialaminya selama ini, tanpa merasa ia menghela napas hati terasa mendelu. Tengah ia asyik dalam lamunannya tiba-tiba terasakan olehnya ada orang tengah mengawasi gerak-geriknya, waktu ditoleh sekali menyelusup bayangan orang itu lantas menghilang dibalik rumpun bunga. Pikir Thian-ih, kunyuk itu pasti begundal To Bok-san yang disuruh menguntit dan mengawasi gerak-gerikku. Masakan dikota raja yang dijaga keras dan ramai ini mereka berani berlaku kurang-ajar dan membikin ribut. Perlahan-lahan ia menyusuri sebuah jalanan kecil terus langsung turun gunung. Waktu melewati sebuah hutan kecil tiba-tiba dari rumpun pohon kanan kirinya berloncatan keluar tujuh delapan orang yang bersenjata lengkap terus mengepung Thian-ih. Waktu ditegasi ternyata adalah Tok-sa-ciang To Bok-san dengan para kawan begundalnya.

Terdengar To Bok-san menjengek sambil menyeringai iblis: “Thio Thian-ih, dicari kemana-mana jejakmu tidak ketemu, ternyata kau juga pandai berfoya-foya disini."

Thian-ih bersikap sabar, sahutnya kalem: “To Bok-san, apa lukamu sudah sembuh? Ada keperluan apa kau mencari aku?"

To Bok-san tertawa ejek, sahutnya takabur: “Bagus, kau masih ingat peristiwa dulu itu. Terima kasih akan belas kasihan Ji-chengcu tempo hari hingga To Bok-san masih hidup sampai sekarang. Tapi betapapun kematian adikku itu harus kubalas. Mari, mari, biar kuperkenalkan, inilah Lo Ka Siangjin dari Hud-kong-si dari Ban-siu-san ini." Seorang lhama bertubuh tinggi besar segera maju sambil sedikit membungkuk diri.

Wajah Lo Ka Siangjin ini merah menyala, kedua biji matanya melotot bundar sebesar kelereng memancarkan sinar berkilat. Jelas lwekangnya sudah mencapai kesempurnaannya. Diam-diam bercekat hati Thian-ih. Sementara itu To Bok-san juga perkenalkan kawan-kawan lainnya. Mereka terdiri dari kakak beradik keluarga Sia yang tenar di utara termasuk dari golongan hitam, masing-masing bernama Lo-han-kun Sia hwi-i dan Siang-cia-cu Sia Hwi-kong. Dan masih ada lagi Tiang bwe-kiau Kiu Keng-po, Siau-wi-ci Sun Kay-ka, Loh-sian-hong Pau Kok-tam, mereka adalah gembong-gembong silat dari kalangan Kangouw juga.

Secara sopan dan merendah diri Thian-ih membalas setiap penghormatan, setelah perkenalan ini selesai Siau-wi-ci Sun Kay-ka tampil bicara mewakili kawan-kawannya, katanya bahwa tujuan kedatangan mereka ini adalah minta supaya Thian-ih suka menyerahkan kedua butir mutiara mestika itu. Sementara Lo Ka Siangjin hanya ingin perempuan yang diincar Go Hong tempo hari supaya diserahkan kepadanya, kalau Thian-ih mau melulusi permintaan kedua ini perhitungan tentang terbunuhnya Go Hong boleh dikesampingkan.

Sedapat mungkin Thian-ih berlaku sabar dan menahan gusar, sahutnya bahwa tentang mutiara boleh dirundingkan, lain halnya dengan perempuan itu adalah calon istri Nyo Hway-giok Nyo-kongcu putra sekretaris militer Nyo-tayjin yang disegani di istana raja, tiada hak dirinya untuk menyerahkan begitu saja. Saking kewalahan mereka minta Thian-ih segera mengeluarkan kedua butir mutiara itu, tapi Thian-ih berkata tidak membawa serta, sudah tentu para penjahat itu tidak percaya malah hendak menggeledah badan Thian-ih. Akhirnya Thian-ih naik darah dan mengumpat caci perbuatan mereka yang keterlaluan, dari bertengkar akhirnya mereka angkat senjata dan bertempur.

Dasar berangasan Loh-sian-hong Pau Kok-tam menyerbu terlebih dahulu sambil mengayun golok tunggalnya dengan jurus Lak-pi-hoa-san (membelah gunung Hoa-san). Sekonyong-konyong terdengar suara "Trang" yang nyaring, sebatang anak panah melesat tiba persis mengenai golok Pau Kok-tam sehingga senjatanya ini tersampok miring kesamping. Tengah para hadirin melengak, dari rimba sebelah kanan sana berloncatan keluar beberapa orang, pelopornya ternyata bukan lain adalah Lim Han, kepala Bhayangkari istana. Legalah hati Thian-ih.

Tanpa tedeng aling-aling lagi segera Lim Han menerangkan bahwa kedua butir mutiara itu adalah milik gudang istana raja yang hilang dan tengah dalam pengejaran, sudah harusnyalah kalau kedua butir mutiara itu diserahkan kepala rombongannya. Kalau pihak kalian tidak terima dan berkukuh hendak mengangkangi kedua mutiara itu, baiklah dijanjikan empat hari lagi diadakan pertemuan mengadu kepandaian untuk menentukan menang dan asor, tempatnya ditentukan di gunung batu diluar kota sebelah barat. Ditekankan pula oleh Lim Han bahwa mereka hanya akan menyelesaikan urusan ini secara aturan Kangouw tanpa membawa bala tentara untuk membantu, hanya beberapa jago dari Bhayangkari serta Thio Thian-ih saja. Seumpama pihaknya yang menang urusan tidak perlu diperpanjang, kalau sebaliknya dengan suka rela kedua mutiara itu akan dipersembahkan.

Nama dan kedudukan Lim Han sudah menggetarkan kota raja dan daerah utara, kepandaian silatnya tiada tandingan diantara para kerabat dari kesatuan Bhayangkari di seluruh istana raja. Sudah tentu seumpama belum pernah lihat juga pasti sudah pernah dengar tentang pribadi serta sepak terjangnya, namun betapapun daya tarik kedua butir mutiara itu sedemikian besar, meskipun mereka segan menghadapi Lim Han toh mereka menebalkan muka untuk mengadu untung.