Rahasia Si Baju Perak Jilid 03

Jilid 03

sastrawan yang pandai silat, wajahnya ganteng dan kenamaan dikota raja. Bagus sungguh

cocok pasangan ini........" berulang-ulang ia memuji dan nyatakan kekagumannya pada pasangan yang setimpal ini.

Diam-diam Thian-ih membatin, siapakah gerangan Nyo Hway-giok itu? Kalau ada kesempatan ingin rasanya bertemu untuk berkenalan. Karena batinnya ini tanpa merasa berulang kali ia melirik kearah Li Hong-gi. Secara kebetulan sinona juga tengah memandang kearah dirinya, wajahnya cerah mengulum senyum manis. Seketika timbul perasaan yang susah dilukiskan dalam benak Thian-ih.

Demikianlah sambil makan minum mereka mengobrol panjang lebar, akhirnya diputuskan untuk malam nanti mereka akan mengadakan penjagaan ketat dan meningkatkan kewaspadaan. So Hoan ditugaskan untuk tidur bersama mendampingi Li Hong-gi. Lim Han meronda dibawah dan Thian-ih berjaga diatas genteng, sedang anak buah lainnya disebar diempat penjuru.

Begitulah setelah semua diatur beres haripun sudah berlarut malam, perjamuan bubar dan So Hoan langsung membimbing Li Hong-gi kembali ke kamarnya diatas loteng.

Malam semakin larut hawa juga semakin dingin, namun semua ini tidak dihiraukan oleh Thian-ih yang meronda diatas genteng. Sekonyong-konyong dilihat sebuah bayangan perak kemilau berkelebat dikejauhan sana. Thian-ih bersiap dan semakin waspada serta memasang mata dan kuping. Bayangan putih perak itu berloncatan segesit kera diatas rumah dalam sekejap mata saja bayangan itu sudah dekat menuju ke-arah loteng dimana letak kamar tidur Li Hong-gi. Setelah agak dekat memang benar baju perak orang yang mendatangi ini memang persis benar dengan maling terbang yang digemparkan itu.

Otak Thian-ih harus bekerja cepat, pikirnya: “Mungkin sibaju perak ini berhubungan erat dengan aku, lebih baik seorang diri aku menghadapinya untuk membereskan persoalan itu.” Karena keinginannya ini segera ia menjejakkan kakinya sehingga tubuhnya melambung tinggi meluncur ke-depan seenteng burung terbang langsung memapak kedatangan sibaju perak. Nyata benar betapa besar nyali sibaju perak, tanpa takut-takut kakinya masih terus berlari kedepan juga memapak kedatangan Thian-ih. Maka dalam sekejap mata saja mereka telah berdiri berhadapan berjarak beberapa langkah. Dengan tegas Thian-ih melihat memang baju dan kedok orang ini berwarna putih perak kemilau, perawakan tubuhnya juga sangat mirip benar dengan engkohnya yang sudah meninggal itu, selintas pandang sukarlah dibedakan tulen atau palsukah orang ini.

“Siapa kau?'' tiba-tiba Thian-ih menegor.

Orang itu diam saja tanpa bergerak. Karena jengkel Thian-ih melolos pedang, ternyata sibaju-perak juga tidak mau ketinggalan melolos pedang emas dari pinggangnya. Meskipun malam itu cuaca gelap, tapi Thian-ih masih dapat mengenali pedang ditangan orang itu memang bukan lain pedang emas milik engkohnya itu.

Disamping kaget Thian-ih juga girang, seumpama dirinya dapat meringkus maling terbang ini tentu kejadian misterius yang sulit dipecahkan ini dapat dibikin terang. Maka tanpa ayal segera ia membentak: “Siapakah kau? Mengapa kau bekal pedang keluargaku itu, apa mungkin kau kenal engkohku ?”

Bukan menjawab malah tiba-tiba orang itu tertawa gelak-gelak, suaranya mengalun semakin tinggi bagai keluhan naga. Keruan Thian-ih berjingkat kaget, karena nada tertawa ini sudah sering didengarnya sebelum ini. Itulah suara Thio Thian-ki. Apa mungkin engkohnya benar-benar belum meninggal? Tidak, tidak mungkin. Lebih baik ku 'tanggalkan kedoknya' demikian secepat pikiran ini timbul secepat itu pula mendadak ia bertindak, tahu-tahu pedangnya sudah menusuk tiba ke tenggorokan sibaju perak.

Kalau dikata Thian-ih sudah bergerak secepat kilat, ternyata gerak gerik sibaju perak juga tidak kalah cepatnya, entah cara bagaimana, ia bergerak tahu-tahu Loh kim-kiam ditangannya juga sudah balas menyerang menggunakan jurus Ho-gak-ciong-kong, pedangnya menikam miring dari samping mengarah lambung.

Gebrak pertama ini mau tak mau Thian-ih dipaksa melompat mundur untuk menjaga diri. Dia tahu bahwa Loh-kim-kiam tajam luar biasa, pedang biasa ditangannya itu pasti terpotong menjadi dua seumpama saling bentur. Begitulah sambil melompat mundur tangan kirinya tidak berhenti bekerja kepelannya menjojoh keulu hati lawan. Sibaju perak juga menggoyang tangan kiri dgn tipu Pek-ya-jui-kim (pek-ya membanting harpa) ternyata ia sambuti pukulan Thian-ih secara keras. Keruan semakin besar rasa curiga Thian-ih melihat cara lawannya bersilat, karena semua tipu-tipu yang dilancarkan musuh tiada banyak bedanya dengan kepan- daian khas dari engkohnya. Sudah tentu sibaju perak tidak memberi kesempatan pada Thian-ih untuk banyak berpikir, sedetik itu gerakan Thian-ih merandek secepat anak panah sibaju perak sudah melejit tiba dengan serangannya yang berbahaya.

Sebelum serangan musuh tiba Thian-Th masih keburu menghardik: “Siapa kau?”

Tanpa bersuara sibaju perak menggerakkan Loh-kim-kiam dengan tipu Lo-gu-hun-cui (badak air menyiak air), tahu-tahu dada Thian-ih diancam senjata musuh. Untuk berkelit sudah tidak mungkin lagi terpaksa Thian-ih gunakan ilmu tunggal perguruannya yaitu jurus Toan-kim-ciat-giok (memutus emas memapas batu giok), kedua jari tengah tangan kiri menyelentik sekali dibatang pedang Loh-kim-kiam. "Creng" pedang berdering dan tertolak miring kesamping. Dimana sinar emas berkelebat sibaju perak sudah menarik pulang senjatanya sambil berseru kejut dan heran.

Kalau senjata lawan pedang biasa pasti selentikan Thian-ih tadi dengan mudah mematahkan pedang itu, namun tidak demikian halnya dengan Loh-kim-kiam, seketika malah Thian-ih rasakan kedua jarinya linu nyeri. Diam-diam ia juga heran dan tak habis mengerti, sebetulnya lawan mempunyai kans yang besar untuk terus melancarkan pedangnya menyerang dirinya dengan jurus yang lebih hebat mematikan, tapi yang terang musuh malah menarik kembali senjatanya.

Dilain saat sibaju perak telah merangsak maju lagi, Thian-ih berpikir, dalam hal Lwekang dan Ginkang aku tidak ungkulan dari musuh, apalagi senjata musuh adalah pedang pusaka. Untuk menghadapi terpaksa harus menggunakan pelajaran silat perguruannya yang ampuh itu, karena ketetapan hatinya ini, pedang dipindah tangan kiri terus menikam dengan jurus Song-gwat-tui-jiang (mengantar rembulan mendorong jendela), berbareng tangan kanan meninju dengan pukulan keras.

Ternyata sibaju perak juga nelat perbuatannya, pedang dilintangkan menangkis serangan pedang Thian-ih berbareng tangan kanan diulur menangkis pukulan Thian-ih di tengah jalan. Tangkas sekali Thian-ih cepat-cepat merobah serangannya dengan tipu Jui-ciam-ing-soa (menyelusupkan benang kedalam jarum), begitu tenaga dikerahkan menderulah angin pukulannya. Ternyata dalam gebrak terakhir ini Thian-ih telah melancarkan ilmu pukulan dari pelajaran tunggal Kiam-bun-it-ho yang hebat tiada keduanya. Begitu tangan kanannya menyelinap disentakkan kesamping, kontan sibaju perak kena digempur kedudukannya hingga tubuhnya menyelonong maju, sebat sekali Thian-ih menggunakan kesempatan baik ini menggeser kaki ke kiri sambil merangkap kedua jarinya melancarkan jurus Jui-ci-lam-tian (tertawa menunjuk langit selatan), "Bret", tepat sekali kedok sibaju perak kena dijambret dari atas kepalanya. Begitu ia melihat tegas wajah dibalik kedok perak itu hampir saja ia menjerit ngeri, saking seram serasa bulu romanya berdiri tubuh juga menggigil dan terhuyung mundur. Ternyata wajah yang dilihatnya di belakang kedok itu sedemikian seram dengan dua baris gigi yang prongos, pipinya menonjol tinggi, hidungnya kropos berlubang, tidak heran kalau orang yang melihatnya pasti merinding dan takut.

Sesaat Thian-ih tertegun mendelong kesempatan ini digunakan sibaju perak untuk terbang pergi sambil perdengarkan tawa panjang yang mengalun tinggi seperti suara kokok-beluk. Dari gerak tubuhnya yang selincah burung itu Thian-ih menaksir Ginkang sendiri takkan mampu mengejar musuh. Demikianlah ia termangu sekian lamanya diatas genteng, sedemikian jauh tidak dilihatnya ada orang menyusul datang, hatinya lega dan bersyukur, karena disangkanya sibaju perak telah digebahnya pergi. Tapi hatinya bertanya-tanya siapakah dia sebenarnya? Untuk mengetahui segala seluk-beluk peristiwa ini satu-satunya jalan hanya meringkusnya. Tapi siapakah yang mampu menangkapnya, karena bukan saja ilmu silatnya lihay, Ginkangnya juga tiada tandingan, dengan mudah saja ia akan melarikan diri dengan kecepatan bagi meteor terbang. Rasanya juga tiada seorang tokoh siapapun yang mampu menandingi kelihayannya itu.

Dengan teliti dan cermat ia meronda sebentar diatas genteng, setelah dilihatnya tiada sesuatu yang mencurigakan diam-diam ia melompat turun ke tanah. Dari tempat gelap sana terdengar Lim Han bertanya: “Ada kejadian apa?"

Thian-ih tak enak menerangkan ia menyahut seadanya saja: “Tidak apa-apa, mungkin maling itu ketakutan dan takkan datang pula!"

“Coba kau naik ke loteng untuk memeriksa, kalau ternyata tak terjadi apa-apa, lebih baik kita berjaga secara aplusan untuk menghemat tenaga para kawan juga ingin istirahat."

Thian-ih mengiakan dan langsung naik ke loteng, dilihatnya Li Hong-gi dan So Hoan masih belum tidur mereka tengah asyik bermain catur. Thian-ih lantas berkata: "Tidak terjadi apa-apa bukan? Kalian harus segera tidur."

“Tidak apa, setelah selesai permainan ini kita segera tidur," sahut So Hoan.

Baru saja Thian-ih mau tinggal pergi sekilas dilihatnya wajah Li Hong-gi bersemu merah agak ganjil, segera ia merandek dan bertanya curiga: "Nona Li, kau kenapa?"

Sahut Li Hong-gi: “Aku merasa sangat gerah dan sangat lelah !"

Kejut Thian-ih bukan kepalang, tanyanya gugup: “Siapa tadi yang kemari?"

“Hanya Lim-toaya yang datang, katanya malam sangat dingin dia membawa secangkir arak untuk Hong-gi Cici " So Hoan tersentak kaget dilihatnya tubuh Li Hong-gi sudah terkulai

lemas diatas kursinya. “Berapa lama Lim Han datang kemari?" tanya Thian-ih cepat.

Sekarang So Hoan insaf telah terjadi sesuatu yang kurang beres, sahutnya: “Belum lama, barusan saja."

Thian-ih membanting kaki, serunya: “Celaka, waktu aku kemari Lim Han masih berada di bawah, bagaimana mungkin sekaligus muncul dua orang, cepat, adik Hoan, panggil orang."

Baru saja So Hoan hendak berteriak memanggil orang, buru-buru Thian-ih memeriksa pernapasan Li Hong-gi lalu mencegah So Hoan. Katanya hampir berbisik: “Adik Hoan, jangan berteriak, mari kita coba periksa mungkin orang itu masih berada diatas loteng ini, biar aku mempersiapkan para kawan untuk membekuknya. Kau tetap disini pura-pura main catur dengan Hong-gi "

Saat mana napas Hong-gi sudah berhenti dan raganya sudah mulai dingin membeku, keruan Thian-ih berdua sangat gusar dan kaget, tapi menangkap pembunuhnya lebih penting. Tanpa menimbulkan kegaduhan Thian-ih turun ke bawah dan menuturkan peristiwa diatas kepada Lim Han dkk. Lim Han kaget dan bergidik, berulang-ulang ia nyatakan keheranannya. Cepat-cepat Thian-ih mengatur rencananya, serentak para kawan-kawan disebar mengepung rapat bangunan loteng itu sambil menyiapkan senjata rahasia dan anak panah.

Setelah semua beres dipersiapkan bergegas Thian-ih dan Lim Han naik ke loteng sambil membekal senjata, mulailah mereka menggeledah satu persatu setiap kamar yang terdapat diatas loteng itu. Thian-ih tidak berani berlaku ceroboh mereka berpencar kekiri dan kanan, sekian lama mereka masuk keluar dari kamar ke kamar tanpa hasil, akhirnya Thian-ih sampai di kamar paling ujung, disini dilihatnya kelambu terurai turun samar-samar seperti ada orang tidur diatas ranjang, Thian-ih bertanya-tanya: siapakah orang ini?

Kalau dia seorang wanita kan berabe, maka dari kejauhan ia menegur: “Hei, harap bangun sebentar, ada sesuatu hal ingin kutanya!" Orang diatas ranjang itu bungkam tanpa bergerak, apakah orang ini juga keracunan, demikian batin Thian-ih, hatinya kebat-kebit dan was-was. Perlahan-lahan ia maju mendekat terus menyingkap kelambu. Begitu kelambu terbuka orang yang rebah diatas ranjang itu mendadak berjingkat bangun, tampak seluruh tubuhnya me- ngenakan pakaian putih perak, dibawah penerangan pelita yang remang-remang terlihat wajahnya persis benar dengan mendiang engkohnya Thio Thian-ki.

Betapa dekat jarak mereka itu begitu melihat arwah engkohnya yang gentayangan itu, bukan kepalang kejut dan takut Thio Thian-ih, seketika ia jatuh pingsan dan terkulai diatas lantai. Entah sudah berselang berapa lama waktu ia siuman lagi kamar itu sudah kosong melompong, sibaju perak sudah menghilang entah kemana.

Waktu Thian-ih melangkah keluar hari sudah mendekati terang tanah. Betapa besar pengorbanan tenaga yang telah dikerahkan untuk melindungi seorang putri remaja, akhirnya toh terjadi juga peristiwa yang menyedihkan ini. Keruan Lim Han, So Hoan dan lain-lain sangat malu, menyesal dan mendelu. Lebih-lebih Thian-ih pedih dan risau bukan kepalang, hatinya diliputi tanda tanya, apa motif pembunuhan ini?

Kalau Li-tihu masih kuat menahan emosi serta memimpin anak buahnya mengurus segala keperluan untuk mengubur gadisnya ini. Tidak demikian halnya dengan ibu Li Hong-gi serta kaum wanita lainnya, mereka tergerung-gerung sesambatan menangisi kemangkatan Li Hong-gi. Untuk melanjutkan pengejarannya terpaksa Thian-ih dan So Hoan minta diri lebih dulu sebelum penguburan Li Hong-gi selesai. Lim Han tetap tinggal untuk membantu seperlunya. Sebelum berpisah sudah ada kata sepakat antara Thian-ih dan Lim Han untuk selalu saling memberi kabar bilamana mendapat info tentang jejak simaling berbaju perak, untuk ini So-keh-pang dijadikan sentral penghubung.

Begitu meninggalkan kota Ki-lam, Thian-ih dan So Hoan langsung kembali dulu ke So-keh-pang, mereka disambut oleh So Tiong.

So Tiong memberitahu kepada Thian-ih, katanya: “Sip Yan-hong dan Sip Yan-hun kakak-beradik dari Ciong-lam-san ada mengirim surat untuk disampaikan kepada kau.”

Cepat-cepat Thian-ih membuka surat itu, ternyata surat itu memberitahu bahwa Ciu Hou saat itu tengah berada di Ciong-lam-san, gerak-geriknya sangat ganjil dan selalu murung, seolah-olah ada suatu rahasia yang tidak berani disampaikan kepada orang lain. Sekian hari ia selalu terpekur, makan dan tidur tidak tenang, berulang kali menyatakan ingin berpamitan.

Setelah membaca surat itu, seakan melihat sepercik sinar harapan dalam benak Thian-ih. Malam itu ia bermalam di So-keh-pang, hari kedua pagi-pagi benar ia sudah minta diri dan bergegas berangkat menuju ke Ciong-lam-san. Sebetulnya So Hoan ingin mengiringi, namun telah ditolak secara halus oleh Thian-ih.

Jarak Ciong-lam-san dari Shoatang sangat jauh, siang dan malam Thian-ih menempuh perjalanan secara kilat, beberapa hari kemudian baru dia tiba dibawah kaki Ciong-lam-san. Ternyata kedatangannya sudah diketahui lebih dulu oleh Sip Yan-hong dan Sip Yan-hun, siang-siang mereka telah menanti dibawah gunung, begitu berhadapan, segera Sip Yan-hong memberitahu: “Ji-chengcu, sayang sekali kedatanganmu ini sudah terlambat, Ciu Hou sudah berangkat tiga hari yang lalu kearah barat."

Sedemikian jauh dengan susah payah dirinya menyusul dan ternyata kecele, sudah tentu Thian-ih merasa masgul dan gugup, tanyanya: “Jalan manakah yang dia tempuh? Biar segera aku mengejarnya!"

Kata Sip Yan-hong: “Menurut katanya, tujuannya terakhir adalah An-se-hu, disana tinggal seorang sahabat kentalnya, sepanjang jalan ini aku sudah menyuruh orang menguntitnya, tidak ketinggalan pula kusebar beberapa orang untuk berhubungan dengan berbagai tokoh-tokoh silat untuk ikut membantu. Maka harap Ji-chengcu tak usah kuatir, dengan gampang kau dapat mengejar ditengah jalan, silahkan istirahat dulu "

Singkatnya secara lazimnya Sip Yan-hong mengadakan perjamuan sekadarnya, perjamuan selamat datang juga perjamuan selamat jalan karena Thian-ih buru-buru hendak menyusul Ciu Hou. Menurut penuturan Sip Yan-hong bahwa Ciu Hou menginap disitu selama tujuh hari, hari ke hari dilewatkan dengan semangat semakin lesu, menurut ceritanya yang samar-samar bahwa dia menyimpan suatu rahasia, maka cepat atau lambat pasti dirinya akan dibunuh orang supaya tutup mulut. Apalagi setelah didengar kabar bahwa anak gadis Li-tihu di Ki-lam-hu telah meninggal karena keracunan, Ciu Hou semakin tak tenang dan ketakutan setengah mati, maka pada tiga hari yang lalu saking tak tahan lagi dia tinggal pergi tanpa pamit, hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan tujuannya terakhir adalah An-se-hu, katanya disana ada seorang sahabat kentalnya yang dapat diandalkan.

Selesai perjamuan buru-buru Thian-ih minta diri pada tuan rumah. Sebelum berpisah Sip Yan-hong memberi keterangan: “Sepanjang perjalanan menuju ke An-Se ini ada beberapa tokoh-tokoh silat yang dapat diandalkan bantuannya, umpamanya di Hu-hong ada Thi-ta-thian-ong Cin Lo, siraja langit menara besi. Di Po-ke ada Cin-tiong-sam-hiap, Thian-cui ada Liong-gwa-hou-tiang Li Ti, sibudiman dari luar perbatasan; Bu-wi ada tujuh orang Tongcu dari Kam-liang-pay; Ciu-cwan ada Cui-thau-to Kim Khe-sian, sipendeta pemabukan, sampai di An-se ada Tio Kiong sitombak perak, mereka ini adalah sahabat-sahabat kental Ciu Hou. Thian-ih dianjurkan untuk mencari ke alamat yang tersebut diatas itu.

Hari kedua menjelang petang Thian-ih sampai di Hu-hong, setelah mencari tahu langsung ia menuju ke gedung kediaman Thi-ta-thian-ong Cin Lo. Waktu tiba diluar gedung keluarga Cin, seketika Thian-ih tertegun sekian lamanya, dilihatnya diatas pintu besar tergantung kain blaco dengan tulisan ''duka-cita", hatinya kaget dan mendapat firasat tak enak, entah siapa yang telah meninggal dari keluarga Cin ini? Waktu centeng memberi laporan akan kedatangannya, anak sulung Cin Lo keluar menyambut mengenakan pakaian berkabung, sapanya sambil sesunggukan: “Ji-chengcu selamat datang, tak beruntung ayah telah meninggal dua hari yang lalu, paman Ciu Hou juga telah melarikan diri ke barat ”

Kiranya pada malam kedatangan Ciu Hou, Cin Lo mengadakan perjamuan, tengah mereka makan minum dengan riang gembira, tiba-tiba Cin Lo roboh binasa terkena senjata rahasia beracun, dilihat keadaannya Ciu Hou tahu bahwa musuh yang mengejar dirinya sudah tiba karena keadaan Cin Lo mirip benar dengan kematian Hek-san-siang-ing dan Kiau-si Hengte. Justru yang membuat Ciu Hou gegetun adalah mengapa musuh tidak secara langsung mengambil jiwanya tapi malah mencelakai jiwa seorang yang tiada sangkut pautnya dengan peristiwa itu? Hakikatnya jadi kematian Cin Lo ini adalah kerembet karena dirinya. Maka dengan gusarnya ia memaki kalang kabut dan menantang si-pembokong gelap itu supaya keluar untuk bertanding secara jantan. Agaknya makiannya itu berhasil memancing orang itu muncul dalam ruang perjamuan itu, namun hanya sekejap saja dia terus menghilang lagi.

Dari penjelasan selanjutnya Thian-ih tahu bahwa si-pembokong dengan senjata rahasia itu ternyata bukan lain adalah sibaju perak yang membekal Loh-kim-kiam itu. Dengan hidmat ia memberi penghormatan didepan layon Cin Lo lalu cepat-cepat minta diri melanjutkan pengejarannya ke arah barat. Anak Cin Lo mengantar sampai diluar pintu.

Sungguh kesal dan kuatir Thian-ih bukan kepalang, siapa nyana bahwa kematian engkohnya ternyata membawa buntut yang tiada akhirnya ini. Beruntun beberapa jiwa telah meninggal tanpa dosa, dendam permusuhan ini semakin mendalam. Karena kuatir akan keselamatan Ciu Hou, Thian-ih bedal kudanya secepat terbang.

Po-ke merupakan daerah kekuasaan Cin-tiong-sam-hiap, mereka berturut-turut adalah Yu-hiap Ki Bing, Hu-hiap Kam Cian-tjhiu dan In-hiap Hoan Lip-heng; mereka adalah saudara angkat yang tinggal bersama. Nama Cin-tiong-sam-hiap sudah menggetarkan kalangan Kangouw sekian lamanya terutama didaerah Cin-tiong ini namanya sangat diagung-agungkan. Waktu Thio Thian-ki meninggal mereka juga datang melawat, dalam perjamuan tempo hari itu mereka sudah berkenalan langsung dengan Thio Thian-ih.

Sebelum sampai didepan rumah Cin-tiong-sam-hiap, dari kejauhan Thian-ih sudah mendengar suara isak tangis yang sesambatan. Thian-ih menjadi was-was dan gelisah : Apakah Cin-tiong-sam-hiap juga telah menjadi korban selanjutnya? Agaknya dugaannya ini tidak meleset, dilihatnya keadaan didalam rumah kacau balau orang-orang berlalu lalang dengan repotnya sampai tiada seorangpun yang berjaga di luar untuk menyambut tamu. Thian-ih menambat kudanya diluar pintu terus mengikut arus orang-orang yang hilir mudik masuk kedalam untuk sembahyang. Thian-ih bertanya dalam hati; apa mungkin sekaligus Sam-hiap meninggal berbareng? Waktu sampai diambang pintu ia melongok kedalam, dilihatnya para handai taulan keluarga Sam-hiap tengah berjajar di pinggir tiga buah peti mati membalas penghormatan para tamunya. Mencelos perasaan Thian-ih, maka tidak enak rasanya ia memperkenalkan diri, syukur orang yang datang melawat ini keliwat banyak hingga dirinya susah dikenal. Dari percakapan para tamu yang ngobrol diluar pintu, Thian-ih tahu bahwa Cin-tiong-sam-hiap juga mati keracunan, mirip benar dengan cara kematian Cin Lo.

Sekali lagi pembunuh itu telah mengorbankan tiga jiwa manusia tanpa berdosa, sebaliknya Ciu Hou dilepas begitu saja sampai ketakutan dan melarikan diri pula. Mengapa demikian? Bukankah cara membunuh Cin Lo dan Cin-tiong-sam-hiap begitu gampang, kalau mau pasti Ciu Hou takkan lolos dari genggamannya, tapi mengapa sipembunuh itu tidak turun tangan secara langsung? Apa hendak meringkus Ciu Hou hidup-hidup atau memang sengaja hendak menimbulkan kegemparan serta ketakutan orang untuk menggertak saja?

Cin-tiong-sam-hiap sangat tenar dan kenamaan didunia persilatan, lawan-lawannya sangat banyak dan tersebar diempat penjuru, mendengar kematiannya ini berbondong-bondong mereka berdatangan, mereka bersepakat untuk menuntut balas bagi para almarhum, tapi karena banyaknya mulut yang ikut bicara dan selisih pendapat akhirnya tidak mendapat keputusan yang positif. Cara kematian Cin Lo dan Cin-tiong-sam-hiap itu benar-benar telah menggetarkan sanubari para sahabat itu. Manusia tiada yang tidak takut mati, siapa tahu kalau anak panah beracun itu tahu-tahu melesat mengarah dirinya, bukankah menjadi korban konyol seperti kematian Cin Lo dan Cin-tiong-sam-hiap.

Thian-ih mengundurkan diri secara diam-diam terus melanjutkan perjalanan kearah barat meski seorang diri dia takkan gentar dan takut, selama hayat masih dikandung badan, dia takkan mundur setapakpun. Seumpama dirinya akhirnya juga menjadi sasaran, akan ditandanginya secara jantan. Bagaimana juga demi arwah engkohnya serta para sahabat yang telah menjadi korban itu, dia harus mencari perhitungan dengan sibaju perak untuk memperhitungkan perbuatan kejinya ini.

Waktu tiba di Thian-cui, Thian-ih kuatir kalau Liong-gwa-hou-tiang juga sudah menjadi korban keganasan sibaju perak. Tapi kenyataan dugaannya kali ini meleset.

Waktu Thian-ih tiba didepan rumah keluarga Li keadaan disini sepi dan tenang-tenang saja, hanya penjagaan agak diperketat, anak murid Li Ti mempersiapkan busur dan menghunus senjata tajam menjaga dengan keras diluar pintu.

Naga-naganya disini belum terjadi sesuatu yang menggemparkan, mungkin sebelumnya Li Ti sudah dengar kabar jelek yang menimpa beberapa kawan itu, maka sebelumnya sudah bersiap siaga dan waspada, memang benar sebelum hujan sedia payung. Begitulah dengan perasaan lega Thian-ih turun dari atas kuda terus maju memperkenalkan diri pada beberapa penjaga didepan pintu itu. Agaknya anak murid Li Ti amat teliti dan cermat, Thian-ih diamat-amati sekian lamanya dari atas sampai bawah dan dari bawah sampai atas, setelah repot setengah harian, baru salah seorang diantara mereka masuk kedalam untuk melapor dan yang lain malah mempersiapkan senjata dan pura-pura berpencar, namun hakikatnya mereka mengawasi dan mengepung Thian-ih.

Thian-ih maklum akan kekuatiran tuan rumah yang mungkin telah mendengar kabar dari Po-ke akan kematian Cin-tiong-sam-hiap, berlaku hati-hati dan cermat adalah sudah jamak, atau mungkin saat itu memang Ciu Hou tengah berada didalam hingga mereka harus merundingkan sekian lama untuk mempertimbangkan apakah mereka harus menyambut kedatangan Thian-ih ini, terpaksalah Thian-ih harus menanti pula sampai sekian lama itu.

Tapi nanti punya nanti sampai setengah jam kemudian baru orang yang masuk melapor itu keluar lagi dan mengatakan bahwa kebetulan Liong-gwa-hou-tiang sedang keluar dan mohon sang tamu meninggalkan secarik kertas saja seumpama memang perlu untuk disampaikan, jikalau tiada keperluan lain dipersilahkan kembali saja. Keruan bukan main murka Thian-ih, terang Li Ti ini takut kena perkara, kalau kebetulan dia sedang pergi mengapa tidak sejak tadi anak muridnya menolak kedatangannya ? Sungguh sangat rendah dan hina perbuatan semacam ini seumpama mencuri kelintingan menutup telinga sendiri.

Sebisa mungkin Thian-ih coba menahan sabar, sambil menahan gusar ia bertanya apakah Ciu Hou pernah datang berkunjung atau tidak? Para penjaga itu mengunjuk rasa ketakutan tanpa berani buka mulut sambil goyang tangan dan menunjuk kearah barat, sedemikian kasar dan memualkan kelakuan mereka ini, untung Thian-ih tidak sampai diusir terang-terangan. Geli dan dongkol Thian-ih dibuatnya, sungguh tidak nyana bahwa Liong-gwa-hou-tiang hanya seorang kerdil yang mengaku sebagai tokoh gembong silat kenamaan, hakikatnya dia seorang pengecut yang hina dina. Bukan mustahil Ciu Hou juga telah kebentur batunya disini. Maka tanpa ayal Thian-ih memacu kudanya kearah barat lagi.

Beratus li sekitar kota Bu-wi adalah dibawah kekuasaan Kam-liang-pay yang besar dan berpengaruh, Thian-ih menduga pasti Ciu Hou sudah sampai disana untuk minta perlindungan. Bahwasanya kepandaian tujuh Tongcu dari Kam-liang-pay itu sangat disegani oleh kaum persilatan, hal ini tidak perlu disangsikan lagi bahwa Ciu Hou pasti sudah mendapai perlindungan yang melegakan, karena bukankah mereka adalah sahabat-sahabat kental dari Ciu Hou. Menurut tafsiran Thian-ih asal Ciu Hou masih hidup dan bisa sampai dilingkungan daerah hak kekuasaan kaum Kam-liang-pay, maka tidak perlu dikuatirkan lagi bahwa keselamatannya pasti akan terjamin. Betapa lihay dan ampuh kepandaian sibaju perak masa mengandal kemampuan tujuh Tongcu dari kam-liang-pay serta anak buahnya tidak dapat mengatasi seorang musuh saja? Apalagi kejadian di Hu-hong dan Po-ke merupakan peringatan bagi mereka untuk berlaku lebih siaga.

Diluar dugaan begitu Thian-ih sampai dikota Bu-wi hatinya sungguh dongkol dan dadanya hampir meledak saking murka. Kiranya peristiwa di Hu-hong dan Po-ke itu telah membuat botoh-botoh silat sepanjang jalan yang dilewati oleh Ciu Hou semua ketakutan setengah mati bagai anjing mencawat ekor dikejar setan. Liong-gwa-hou-tiang sudah menjadi bukti kenyataan, kini ternyata bahwa tujuh Tongcu dari Kam-liang-pay juga sedemikian pengecut, mereka membatasi gerak-gerik anak buahnya, dianjurkan juga untuk cuci tangan dan tidak turut mencampuri kepentingan orang lain. Yang lebih memalukan lagi ternyata ketujuh gembong kenamaan itu telah mengundurkan diri naik keatas gunung untuk sembunyi. Bukankah kekuatan Kam-liang-pay dengan beratus anak buahnya adalah sedemikian besarnya, mereka sudah biasa malang melintang diseluruh pelosok daerah barat, ini bukan menjadi rahasia umum lagi, sudah tentu perbuatan para pemimpinnya yang melarikan diri dari tugas mulia yang harus membantu yang lemah dan menindas yang lalim, menjadi buah tertawaan dan caci maki para anak buahnya yang berdarah panas dan jujur lurus serta khalayak ramai umumnya, maka tidaklah heran kalau setiap pelosok diseluruh kota Bu-wi masyarakat tengah memperbincangkan hal-hal yang memalukan ini.

Selidik punya selidik akhirnya Thian-ih tahu bahwa Ciu Hou ternyata masih hidup dan terus melanjutkan tujuannya kearah barat. Dihitung dari keberangkatan Ciu Hou, Thian Ih menaksir masih dapat menyusulnya ditengah jalan. Diatas kuda Thian-ih menimang-nimang, perjalanan Ciu Hou selanjutnya masih harus mampir di Ciu-cwan dimana ada pendeta pemabukan Kim Khe-sian dan yang terakhir baru sampai di An-se ditempat Tio Kong sitombak perak.

Konon kabarnya Tio Kong sitombak perak adalah adik angkat Ciu Hou, seorang gagah perwira yang budiman, dengan adanya hubungan yang erat serta sifat luhur dari sitombak perak pasti Tio Kong takkan menolak kedatangan Ciu Hou. Entah bagaimana dengan perangai pendeta pemabukan, Kim Khe-sian itu, biarlah kenyataan membuktikan dia seorang pengecut yang takut mati atau seorang gagah yang setia kawan yang berani berkorban demi sahabat.

Sebelum petang Thian-ih keburu memasuki kota Cui-cwan, maka dia langsung menuju tempat kediaman pendeta pemabukan yg berada lima li diluar kota Cui-cwan, Kim Khe-sian tinggal dibiara Cui-sian-si, memang sesuai dengan nama julukannya dia paling gemar minum arak, senjatanya berupa tongkat baja seberat seratus duapuluh kati, yang lebih hebat lagi tubuhnya sedemikian keras tidak mempan senjata karena dia melatih semacam ilmu Lwekang yang dinamakan Thi-po-san (ilmu weduk), maka tidak heranlah kalau iapun sebagai tokoh yang sangat disegani dikalangan Kangouw.

Begitu sampai di Cui-sian-si Thian-ih langsung masuk kedalam biara itu, setiba di dalam pelataran biara itu tampak olehnya Kim Khe-sian tengah berlatih diri dengan memutar sebuah tongkat besar secepat kitiran, keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya yang telanjang sebagian atas, agaknya sudah sekian lama ia asyik berlatih diri sambil mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya sehingga tongkat besar itu berputar dan menderu-deru sungguh hebat dan menakjubkan perbawa ilmu tongkatnya ini.

Begitu Thian-ih beranjak di pinggir pelataran seorang hwesio cilik segera maju menyambut dan terus berputar sambil berseru: “Suhu, Ji-chengcu telah tiba !"

“Siut….Bum" tiba-tiba Kim Khe-sian memutar tongkatnya sedemikian dahsyat lalu secara mendadak menghentikan permainannya terus menggentakkannya ke atas tanah, sikapnya tenang dan wajar tanpa terengah-engah, serunya sambil tertawa lebar : "Ji-chengcu, sudah kuduga akan kedatanganmu ini, sebagai seorang gagah kau lebih berani dan tabah dari domba-domba pengecut yang takut mati itu. Hahaha, sungguh menyenangkan, sangat menyenangkan !"

Seluruh tubuh Pendeta pemabukan ini basah kuyup oleh keringat, tanpa sungkan-sungkan ditariknya Thian-ih masuk ke dalam kamar semedhinya, lalu diambilnya sebuah handuk untuk membasuh keringat diatas badannya yang tromok besar dan penuh tumbuh bulu hitam. Dari atas sebuah rak dijinjingnya sebuah guci arak terus ditenggaknya dengan bernafsu sampai habis setengah guci. Sambil mengusap arak yang meleleh diujung mulutnya ia angsurkan guci arak itu kepada Thian-ih, katanya: "Ji-chengcu, coba kau rasakan ini arak buatanku sendiri !"

“Kim-heng, apakah Ciu Hou sudah pernah kemari ?" Thian-ih langsung membuka pembicaraan.

“Tidak, belum kemari," sahut Kim Khe-sian dengan air muka membara. "Ji-chengcu, agaknya sitabib tua itu sudah ketakutan terhadap kura-kura itu, kemarin dia lewat tapi tidak berani mampir kesini. Hm, anggapnya aku Kim Khe-sian seorang yang takut mati, sejajar dengan para kurcaci yang mengagungkan diri sebagai botoh-botoh Kam-liang-pay itu. Sejak beberapa hari yang lalu aku sudah mendapat kabar dan kunanti kedatangannya kesini, sebenarnya ingin benar aku bertemu muka dengan penjahat berbaju perak itu untuk berkenalan dengan racun berbisanya itu. Arak aku punya sendiri tak nanti dia mampu meracuni, apalagi kulitku tebal tak perlu kuatir terlukakan oleh segala macam senjata rahasia. Tanpa adanya urusan Ciu Hou ini juga ingin aku berkenalan dengan kepandaian silat penjahat berbaju perak itu, selamanya Kim Khe-sian tidak pernah gentar menghadapi segala rintang bahaya. Sayang saking ketakutan Ciu Hou sudah lupa pada diriku, secara diam-diam ia terus melanjutkan perjalanan sampai aku menunggunya dengan hampa "

“Kim-heng, tepatnya Ciu Hou sudah lewat berapa lama?"

Kim Khe-sian tersenyum penuh arti, ujarnya: “Ji-chengcu, jangan kau anggap aku ini ceroboh, tapi aku bekerja sangat teliti. Begitu Ciu Hou menginjakkan kakinya di daerah Cui-cwan, murid-muridku sudah membuntuti jejaknya, baru saja ada laporan bahwa dia tengah memacu kudanya langsung menuju ke An-se, biar segera aku berangkat mengejarnya."

Mendengar Ciu Hou baru lewat belum berapa lama Thian-ih menjadi gopoh dan tidak tenang, ingin rasanya segera pergi menyusul !

Sebaliknya Kim Khe-sian berlaku sabar, bujuknya: “Tidak menjadi soal, Ji-chengcu, biar kutanggung pasti Ciu Hou takkan menemui rintangan. Sebentar kita naik dua ekor kuda jempolan, malam ini juga kita mengejarnya "

Setelah menenggak araknya berkatalah pendeta pemabukan: "Ji-chengcu, jangan kau heran akan kebiasaanku ini, sehari tidak minum arak aku tidak bisa hidup. Apalagi akan maju perang, lebih banyak dan kenyang aku menenggak arak semangatku semakin berkobar dan tenagapun semakin besar. Hahahaha, sudah lama aku tidak bertanding dengan lawan berat, kukira penjahat yang mengejar-ngejar Ciu Hou itu boleh juga, biarlah nanti aku layani dia untuk memuaskan diri....." habis berkata menyambar jubah panjangnya, tangan kiri menjinjing tongkat besi sedang tangan kanan mengempit guci arak lantas melangkah lebar, ajaknya kepada Thian-ih: "Ji-chengcu, mari kita berangkat ! seumpama kau lelah istirahat saja di kelentengku menunggu kabar baik, kukira Kim Khe-sian seorang sudah cukup berlebihan melayani penjahat beracun itu "

Melihat watak orang sedemikian jujur terbuka dan gagah perwira lagi sungguh girang hati Thian-ih, sahutnya, "Kim-heng, aku tidak kenal lelah, mari kita berangkat !"

Dalam lain kejap empat ekor kuda dipacu secepat terbang menjelang senja itu menuju arah barat, selain Kim Khe-sian dan Thian-ih dua murid hwesio ikut mengiringi perjalanan ini. Sepanjang perjalanan menuju ke barat ini adalah tanah tandus belaka, jarang diketemukan perumahan manusia, selayang pandang hanya debu dan awan saja yang bergulung-gulung ditengah angkasa.

20 li kemudian Kim Khe-sian larikan kudanya paling depan, cuaca sudah semakin petang, tiba-tiba didepan sana menghadang seorang hwesio cilik ditengah jalan, nyata itulah salah seorang murid Kim Khe-sian yang diutus untuk membuntuti jejak Ciu Hou. Setelah memberi hormat dia melaporkan: “Ciu Susiok menempuh jalan kecil ini, dua orang kita telah menguntitnya terus.” dari pertanyaan Thian-ih selanjutnya diketahui bahwa Ciu Hou baru lewat kira-kira empat jam yang lalu, lekas-lekas Thian-ih bersama Kim Khe-sian keprak kudanya mengejar dengan kencang.

Tak lama kemudian jalan pegunungan yang harus dilewati semakin jelek, lari kuda harus diperlambat. Sekilas terlihat oleh Thian-ih sebatang pohon dipinggir jalan yang terpapas kulitnya samar-samar terlihat ada sebaris tulisannya. Thian-ih berlaku cermat, disangkanya itu tanda-rahasia yang ditinggalkan oleh Ciu Hou siapa tahu, maka cepat ia panggil Kim Khe-sian terus mendekati pohon besar itu.

Karena hari sudah petang terpaksa salah seorang murid Kim Khe-sian menyumat obor, maka terlihatlah tulisan itu berbunyi: “Ciu Hou seorang kejam dan telengas, dia harus mampus disini dan saat ini juga. Para sahabat dari Bulim yang ingin turut campur dalam urusan ini sukalah berpikir dulu sebelum bertindak. Lebih baik kembalilah sampai disini saja. Tertanda Kim-kiam-gin-i-khek, tertanggal sekian.

Kim Khe-sian gusar, tangannya sudah diayun hendak menggempur batang pohon itu, untung Thian-ih keburu mencegah sambil memperingatkan bukan mustahil batang pohon itu telah dilumuri racun berbisa. Tapi Kim Khe-sian tak kuat lagi menahan amarahnya, tongkatnya diayun memukul batang pohon itu sampai patah dan roboh.

Begitulah dilain saat mereka sudah melanjutkan lagi pengejaran kearah barat, karena cuaca sangat gelap, Kim Khe-sian menyuruh kedua muridnya menyalakan obor. Setelah melewati sebuah tikungan kira-kira sudah tiba disamping gunung, samar-samar terlihat oleh mereka sebuah kelenteng dikejauhan sana. “Mari kita periksa kesana," demikian ajak Kim Khe-sian, segera dua muridnya yang membawa obor membuka jalan.

Setelah dekat terlihatlah pintu kelenteng itu tertutup rapat, dasar berangasan dan tak kuat menahan sabar tanpa banyak kata lagi segera Kim Khe-sian melangkah maju terus menendang daun pintu dengan kerasnya, kontan pintu yang kokoh kuat dan besar itu terpentang lebar dan bersamaan dengan itu terdengar suara gedebukan dari jatuhnya dua benda berat dibalik pintu sebelah dalam sana. Keruan Kim Khe-sian beramai terkejut dan bersiaga, serentak mereka menghunus senjata serta melangkah masuk dengan hati-hati. Waktu melihat apa yang telah terjadi seketika mereka berdiri melongo dan terheran-heran. Ternyata dikanan kiri belakang pintu tergeletak dua sosok tubuh manusia, yang mereka kenali adalah murid-murid Kim Khe-sian yang diutus menguntit jejak Ciu Hou itu. Waktu diperiksa ternyata tubuh mereka sudah kaku dingin, agaknya sudah sekian lama jiwanya melayang, adalah yang paling menggemaskan bahwa jenazah yang sudah kaku dingin itu ternyata dibuat ganjel pintu, waktu daun pintu ditendang Kim Khe-sian kedua mayat itu terpental jatuh gedebukan.

Keruan bukan kepalang pedih dan pilu rasa hati Kim Khe-sian, tanpa sadar diulurkan tangan hendak mengangkat jenazah muridnya, tapi lagi-lagi Thian-ih mencegah sambil memperingatkan akan racun yang jahat itu.

Sekonyong-konyong salah seorang murid Kim Khe-sian itu berteriak kejut sambil menunjuk sebuah guci arak diatas meja sembahyang, dibawah guci terselip secarik kertas yang penuh tulisan malah belum kering lagi. Waktu dibaca tulisan itu berbunyi: “Pada malam yang kelam ini berkunjunglah pendeta pemabukan, tiada hidangan lain untuk melayani tamu agung, kudengar tuan seorang mulia ribuan cangkir takkan mabuk, silakan minum arak dalam guci ini, coba bisa mabuk atau tidak? Tertanda sibaju perak berpedang emas.

Perlahan-lahan Kim Khe-sian mencukil tutup guci, dibawah penerangan sinar obor terlihat arak dalam guci itu berwarna kehijau-hijauan, agaknya arak ini sangat keras baunya sampai menyerang hidung, tapi siapa yang berani minum arak beracun ini. Sekian lama mereka memeriksa keadaan segala pelosok dalam kelenteng itu tanpa menemukan sesuatu yang mencurigakan, Kim Khe-sian menenggak araknya lalu berkata kepada Thian-ih, “Dilihat dari tulisan yang belum kering ini, kukira bangsat itu belum pergi jauh, mari kita kejar !”

Thian-ih setuju, diam-diam hatinya memuji dan kagum. Memang bukan nama kosong akan ketenaran nama besar Kim Khe-sian sebagai seorang laki-laki sejati, sekarang hasratnya lebih besar lagi untuk membekuk sipenjahat beracun itu, padahal ia tahu bahwa bahaya elmaut senantiasa mengancam jiwanya, namun dia pantang mundur dan terus mengejar musuh jahat itu. Sebelum berangkat dipandangnya jenazah kedua muridnya dengan rasa perih dan duka.....

Begitulah dilain saat mereka sudah beranjak, diperjalanan ditengah pegunungan yang dikelilingi hutan lebat, belum jauh mereka berjalan sekonyong-konyong dua batang anak panah melesat keluar dari balik hutan sebelah samping sana, maka dilain kejap terdengarlah lolong kesakitan dari kedua murid Kim Khe-sian itu dan terus terjungkal dari atas kuda. Thian-ih dan Kim Khe-sian melonjak kaget, tersipu-sipu mereka putar balik dan memburu kedalam hutan mencari jejak musuh, namun mereka kembali dengan tangan hampa. Kim Khe-sian mengumpat caci menantang pembokong itu tanpa ada reaksi apa-apa.

Tiba-tiba Kim Khe-sian melompat keluar dan berjalan sempoyongan seperti orang mabuk menghampiri kearah jenazah muridnya, kali ini Thian-ih tidak keburu merintangi, diam-diam ia mengeluh dalam hati. Tampak Kim Khe-sian menenggak araknya lagi terus menyumat obor yang padam itu. Sekonyong-konyong sebatang anak panah melesat dari balik hutan sana langsung mengarah dadanya, tidak berkelit atau menyampok jatuh senjata rahasia ini Kim Khe-sian malah membusungkan dada, maka terdengarlah suara "tring" anak panah itu malah terpental jatuh sendiri tanpa melukai seujung rambutpun. Keruan kejut dan heran Thian-ih bukan main.

Maka terdengar Kim Khe-sian menggerung keras terus melesat kearah datangnya anak panah sambil memutar tongkat besinya. Thian-ih juga tidak ketinggalan mengejar dibelakangnya, terdengar Kim Khe-sian mengupat caci: “Bangsat anjing rendah! Lekas menggelinding keluar, plintat-plintut terhitung orang gagah apa itu !" Dengan jurus Sian-hong-sau-yap (angin lesus menyapu daun) tongkatnya menyapu dengan dahsyatnya sehingga dahan pohon berjatuhan.

Dalam hutan sangat gelap dan sunyi, yang terdengar hanya gema makian Kim Khe-sian, sekian lama mereka ubek-ubekan tanpa menemukan jejak sipembokong itu, malah diketemukan pula tulisan diatas pohon yang berbunyi: “Ilmu weduk Kim Khe-sian memang harus dipuji, kutunggu kedatangan kalian dirumah batu diatas gunung, jangan lupa datanglah selekasnya. Terlanda Kim-kiam-gin-i-khek.''

Keberanian dan ketabahan Kim Khe-sian memang tiada taranya, tanpa hiraukan mayat kedua muridnya lagi, dia terus berlari-lari pesat menuju ke puncak. Memang di puncak tertinggi ini tegak sebuah rumah batu, dari kejauhan samar-samar terlihat sorot pelita yang menyorot keluar, keadaan disini sunyi lengang tanpa ada gerakan apa-apa. Agaknya Kim Khe-sian terlalu mengandalkan Ilmu weduknya, tanpa gentar sedikitpun ia terus menerjang masuk. Kuatir akan keselamatan orang Thian-ih juga membuntuti terus dibelakangnya dengan ketat.

Rumah batu ini hanya terdiri satu kotak ruang dengan peralatan rumah tangga yang sederhana, dimana hanya terdapat pembaringan batu, pelita dan jerami kering tanpa terlihat jejak manusia. Dengan marahnya Kim Khe-sian menggeledah dan mengubrak-abrik semua pelosok ruang kecil itu. Saking gemes dan dongkol akhirnya Thian-ih juga pentang bacot turut memaki: “Kim-kiam-gin-i-khek, lekas menggelinding keluar terima kematian!" Suaranya mendengung keras sampai menggetarkan rumah batu itu, mendadak dari atas tiang blandar jatuh sebuah kranjang kecil, didalam kranjang itu terlihat secarik kertas yang penuh tulisan pula. Lekas-lekas Thian-ih memungut dan dibacanya: “Aku ke belakang gunung untuk membereskan Ciu Hou dulu. Kiranya Lwekang Kim Khe-sian juga hanya kepalang tanggung, tak perlu aku turun tangan lagi, malam ini juga kau akan menemui ajalmu dalam rumah batu itu "

Thian-ih terkejut sambil menoleh, benar juga dilihatnya wajah Kim Khe sian pucat pias, kedua matanya redup badan gemetar dan napasnya juga memburu........

Tersipu-sipu Thian-ih maju menegur: “Kim-heng, kau kenapa?"

Kata Kim Khe-sian lemah: “Ji-chengcu, cepatlah kau pergi menolong Ciu Hou, jalan dibelakang gunung ini dapat menembus langsung ke An-Se. Kau harus dapat mengejar Ciu Hou dan menolongnya….kau…..kau lekas berangkat "

Sudah tentu Thian-ih tidak mau, tanyanya sambil memayang tubuh orang terus direbahkan diatas tanah: “Kim-heng, kau ......kau kan tidak terkena racun, dimana kau merasa tidak

enak badan?"

Kim Khe-sian menjawab tergagap: “Aku.......aku tidak kena racun, tapi keracunan......di......

dalam hati......Kim-kiam-gin-i ini......dia sungguh lihay. "

Thian-ih menyapu pandang kesekelilingnya, hanya pelita dalam rumah yang masih menyala terang, tapi tubuh Kim Khe-sian yang besar tromok itu semakin lemah dan terkulai. Thian-ih semakin gopoh dan gusar, tanyanya lagi: “Kim-heng, bagaimana kalau kupanggul pulang?"

“Tidak...... tidak perlu......Ji-chengcu......apa kau tidak dengar......suara itu.....suara itu "

Thian-ih pasang kuping, lapat-lapat terdengar suara deburan air terjun dari kejauhan sana, suara itu bergema dan mendengung bagai derap langkah berlaksa kuda yang berpacu keras. Kata Thian-ih: “Kim-heng, itu kan suara air terjun !”

Kim Khe-sian tertawa getir sambil menggeleng, katanya lemah: “Bukan......itulah derap berlaksa kuda yang berlari kencang......lima belas tahun yang lalu......anak istriku semua

mati dibawah tapak kaki berlaksa kuda itu........selanjutnya......lantas aku mengasingkan diri menjadi pendeta......segala apa tiada yang kutakuti.....hanya suara derap langkah yang gemuruh itulah yang paling menusuk sanubariku "

Thian-ih menjadi gegetun, serunya: “Kim-heng, kuat dan tabahkan hatimu, hanya suara saja mengapa harus ditakuti ......marilah kita berangkat, biar kudukung kau "

Kim Khe-sian menggeleng kepala, sahutnya: “Tidak bisa......Ji-chengcu Kim-k¡am-gin-I

.....keparat itu benar-benar jahat......dia tahu......tahu penyakit hatiku."

Thian-ih hendak menyeretnya bangun dan meninggalkan tempat itu supaya tidak mendengar lagi suara yang menakutkan itu. Tapi mendadak Kim Khe-sian bangun berduduk sendiri, seolah-olah semangatnya sudah pulih kembali, namun sepasang matanya terbelalak besar memancarkan sinar yang sangat aneh, sambil berduduk ia menggumam: “Lha itu mereka......anak dan istriku ......haha......kalian jangan takut, ada aku disini......ada aku disini......jangan takut dan jangan heran terhadap beribu atau berlaksa tentara berkuda. Betapa tinggi kepandaian Kim Khe-sian ini masa tak mampu melindungi anak istri sendiri? Hehehe.... sungguh menggelikan! Biar kubrantas para kurcaci dan iblis-iblis laknat seperti kalian ¡n¡ !” Habis berkata mendadak Kim Khe-sian menggerung keras terus melompat bangun dan menerjang keluar pintu sana.

Sisi kiri dari puncak gunung dimana mereka berada itu adalah jurang yang sangat curam, gema air terjun itu justru terdengar dari bawah jurang itu. Begitulah sambil memutar tongkatnya secepat kitiran Kim Khe-sian menerjang kearah sana seperti harimau kelaparan.

Sudah tentu Thian-ih tidak tinggal diam, dengan kencang ia memburu sambil berteriak: “Kim-heng......Kim-heng....lekas berhenti ...... lekas..... disana jurang "

Agaknya Kim Khe-sian tidak mendengar teriakan Thian-ih ini, dalam kegelapan malam tampak dia masih berlari kencang sambil mengobat-abitkan tongkatnya, begitu tiba dipinggir jurang terus tubuhnya melambung tinggi sambil mengayun tongkatnya Waktu Thian-ih memburu

tiba dipinggir jurang, disini sudah kosong melompong, bayangan Kim Khe-sian sudah tidak terlihat lagi. Sedemikian dalam dan gelap gulita jurang itu, hanya terdengar gema air terjun yang gemuruh serta buih air yang memutih tertimpa sinar reflek yang kemilau.

Thian-ih termangu dipinggir jurang, hatinya sedih dan mendelu, kegusaran membuat hatinya pepat dan hilanglah segaia harapan. Untung kesadaran masih menyinari benaknya, teringat olehnya akan tugas dan tanggung jawabnya yang berat, perlahan-lahan ia memutar tubuh terus tinggalkan tempat itu......

Sang surya mulai muncul dari peraduannya, alam jagat sudah terang tanah. Thian-ih segan dan berat untuk berpaling lagi, sepagi itu seorang diri ia terus melanjutkan perjalanan mengejar jejak pembunuh durjana yang kejam itu. Satu jam kemudian setelah menyusuri jalan pegunungan yang berliku-liku sampailah ia dibawah sebuah tebing yg datar, dimana terbentang sebuah jalan raya yg harus ditempuhnya menuju ke An-se, begitulah tanpa mengenal lelah Thian-ih terus melanjutkan pengejarannya.

Beberapa li kemudian, tiba-tiba terlihat olehnya debu mengepul tinggi dikejauhan depan sana, terlihat puluhan kuda tengah dipacu kencang menuju kearah dirinya, penunggangnya berpakaian ketat seragam, dipimpin oleh seorang busu (guru silat) yang berusia 30-an, wajahnya cakap garang, tangannya membekal sebuah tombak putih berkilat menyilaukan mata.

Jauh-jauh Thian-ih sudah mengenal orang yang tengah mendatangi ini, dia bukan lain adalah sitombak perak Tio Kong yang tenaganya sangat diandalkan oleh Ciu Hou untuk menyembunyikan diri. Tapi agaknya sipanglima tombak perak tidak kenal Thian-ih lagi karena tubuhnya yang kotor, sebab perjalanan yang jauh ini ditimpah hujan dan dijemur matahari membuat sipemuda yang ganteng ini berubah rupa berganti ujut. Terpaksa Thian-ih berteriak menghentikan mereka: “Tio-heng, harap berhenti sebentar! Aku Thio Thian-ih adanya."

Tio Kong dan rombongannya yang keburu lewat jauh cepat-cepat menghentikan kudanya dan putar balik, begitu saling berhadapan hampir bersamaan keduanya saling bertanya: “Ketemu Ciu Hou tidak?"

Tersipu-sipu Tio Kong menambahkan: “Begitu mendengar kabar segera kupimpin anak buahku untuk menyambutnya, sepanjang perjalanan ini belum kutemukan jejaknya!" Thian-ih juga menutur pengalamannya singkat saja, mendengar Kim Khe-sian bunuh diri terjun kedalam jurang, Tio Kong terkejut dan gusar, katanya: “Sudah terang Ciu-heng lewat jalan ini, kukira saat ini dia masih berada disekitar sini, lekas berpencar dan carilah ke segala pelosok !" serentak semua orang berpencar ke segala penjuru untuk mencari jejak Ciu Hou.

Tak lama kemudian seorang anak buah Tiong Kong datang memberi lapor sambil menyerahkan seperangkap pakaian dan sebuah kunci. Pakaian itu terang milik Ciu Hou, keruan bercekat hati Thian-ih, firasat jelek membuat hatinya tak tenang, mungkin juga Ciu Hou sudah menemui ajalnya, maka diperintahkan pula untuk mencari jenazahnya. Matahari sudah doyong kearah barat namun mereka masih bertangan hampa, selain pakaian dan kunci itu tiada benda lain lagi yang diketemukan.

Ribuan li sudah ditempuh oleh Thian-ih untuk mengejar sipembunuh dan berusaha menyelamatkan Ciu Hou, sudah menghamburkan waktu melelahkan badan akhirnya yang dicari dan diuberi menghilang tanpa jejak seakan-akan telah ditelan kedalam bumi.

Memang tidak memalukan nama sipanglima tombak perak Tio Kong sangat diagungkan sebagai tokoh silat yang setia kawan dan berbudi luhur dan bajik, sekian hari lamanya mereka masih belum patah semangat untuk mencari dan mencari terus, jurang yang dalam serta lembah dan hutan lebat sudah dijelajahi semua, Ciu Hou tetap menghilang secara aneh, setelah semua sia-sia dan putus harapan akhirnya Thian-ih ambil perpisahan, kini seorang diri ia kembali pula menempuh perjalanan yang sudah diselusurinya waktu datang.

Musim panas didaerah barat ini memang luar biasa, badai angin menderu dan hawa juga sangat panas menyesakkan pernapasan, sebaliknya Thian-ih menempuh perjalanan dengan hati yang membeku sedingin es. Teringat olehnya betapa besar harapannya waktu mengejar Ciu Hou semakin dekat, siapa duga setelah ribuan li kemudian, yang diperoleh hanya kehampaan saja. Sampai bayangan sibaju perak saja juga tidak dilihatnya.

Waktu sampai dikota Cui-cwan dan melintas didepan Cui-sian-si, teringat olehnya betapa gagah perkasa pribadi Kim Khe-sian, namun hanya semalam saja jiwanya telah direnggut elmaut bersama beberapa murid-muridnya tanpa tempat kubur yang layak, pilu dan duka nestapa mericuh hatinya. Malu rasanya untuk mampir atau menginjakkan kakinya lagi ke tempat suci itu, maka secara diam-diam ia mengeloyor lewat kembali menuju kearah timur.

Hari itu juga Thian-ih tiba dikota Buwi. Diatas kuda ia berpikir, para Tongcu dari Kam-liang-pay itu ternyata adalah tokoh-tokoh pengecut yang hina dina, rasanya mereka harus diberi hajaran untuk melampiaskan rasa dongkolku ini. Maka dalam malam yang gelap itu dengan mengenakan pakaian ringkas hitam secara diam-diam Thian-ih mendatangi markas besar Kam-liang-pay.

Agaknya kedatangan Thian-ih ini sangat kebetulan sebab ketujuh tokoh Kam-liang-pay itu tengah mengadakan perundingan dan sedang merancang suatu tindakan jual beli tanpa modal (merampok). Mendengar rencana mereka yang keji dan kotor, diam-diam Thian-ih merasa gusar dan girang pula, gusar karena perbuatan yang bakal mereka laksanakan itu sangat terkutuk dan hina dina, girang karena dapat mengetahui rencana busuk mereka sehingga sebelumnya dirinya dapat berjaga dan menggagalkan rencana mereka secara sembunyi. 

Ternyatalah bahwa mereka tengah merencanakan untuk membongkar sebuah kuburan orang untuk mencuri barang mestika yg ikut terpendam dalam kuburan itu. Kebetulan kuburan yang hendak mereka bongkar itu bukan lain adalah kuburan Li Hong-gi, gadis rupawan putri Li-tayjin atau Tihu dan Ki-lam-hu itu. Sebenarnya Thian-ih hendak turun kebawah berhadapan secara langsung dan membujuk mereka secara halus untuk membatalkan rencana yang terkutuk dan rendah itu, namun setelah dipikirkan lebih mendalam rasanya manusia rendah tamak harta benda takkan mudah diberi pengertian dan diinsafkan, bukan mustahil dari malu mereka naik pitam setelah rencana busuk mereka diketahui orang dan dirinyalah yang menjadi kambing hitamnya, kalau ini benar-benar terjadi bukankah dirinya bakal celaka, dan mati konyol? Apa pula dari pembicaraan mereka itu kelihatan bahwa mereka juga hendak buru-buru bekerja dalam satu dua hari ini. Karena bukan mustahil kalau terpendamnya dua mutiara mestika dalam kuburan Li Hong-gi itu juga telah didengar oleh gembong-gembong penjahat lainnya, pasti banyak pula yang bakal mengincar.

Setelah mengetahui rencana rahasia tokoh-tokoh Kam-liang-pay itu secara jelas, Thian-ih tinggal pergi pula secara diam-diam, malam itu juga ia melanjutkan perjalanan ke timur, ba- gaimana juga dia harus setindak lebih dulu sampai di Ki lam untuk mengatur segala sesuatu dalam menggagalkan rencana busuk yang memalukan itu. Diam-diam Thian-ih bertekad untuk melindungi kuburan gadis jelita itu dengan sekuat tenaganya, tak peduli apapun yang bakal terjadi.

Waktu lewat Thian-cui didengarnya pula bahwa Liong-gwa-hou-tiang siang-siang sudah meninggalkan rumah melakukan perjalanan jauh kearah timur beserta anak muridnya. Thian-ih tahu kemana tujuan mereka maka diam-diam hatinya menjadi gugup, kudanya dipacu secepat terbang, dua hari kemudian tersusullah rombongan Li Ti yang berjumlah besar itu serta membawa perbekalan yang serba komplit. Tanpa menimbulkan keributan dan kecurigaan orang Thian-ih sedikit memutar jalan dan terus mendahului menuju ke Ki-lam.

Tepat pada pertengahan bulan enam Thian-ih tiba di Ki-lam-hu dengan selamat. Tempo hari sebelum Li-siocia dikuburkan, dia sudah tinggal pergi maka tidak diketahuinya dimanakah letak kuburan gadis rupawan itu, maka dengan sogokan uang ia mencari tahu dari mulut seorang kacung restoran, ternyata bahwa kuburan Li-siocia terletak disebelah utara kota Ki-lam, sedemikian besar dan megahnya kuburan itu berbentuk seperti kamar tidur Li-siocia sendiri semasa masih hidup! Malah kacung itu bercerita panjang lebar tentang terjadinya suatu keanehan dalam kuburan itu, katanya meskipun telah wafat beberapa bulan, tapi jenazah Li Hong-gi sedemikian lama masih utuh seperti sediakala. Ditambahkan bahwa setiap bulan pada tanggal muda pasti keluarga Li-tihu menyambangi kuburan megah itu utk memeriksa keadaan. Setelah mendengar cerita ini Thian-ih jadi berpikir, entah benda mestika apakah yang sedemikian hebat dan besar kasiatnya sehingga jenazah Li Hong-gi masih tetap utuh seperti masih hidup.

Hari itu secara iseng-iseng Thian-ih keluar kota dan menuju ke kuburan yang dihebohkan itu. Memang kuburan ini sedemikian besar mewah dan kokoh kuat terbuat dari batu yang diuruk tanah. Thian-ih berputar ke sekelilingnya memeriksa tiada tampak sesuatu yang mencurigakan, pintu rahasia masih tertutup rapat dan terkunci dari luar, agaknya belum ada orang yang pernah menyentuhnya. Naga-naganya para kawanan penjahat yang tamak akan harta benda itu masih belum datang dan turun tangan.

Lewat beberapa hari pagi-pagi benar pelayan penginapan memberi tahu kepada Thian-ih bahwa hari keseratus wafatnya Li Hong-gi akan diperingati di kuburan megah itu secara besar-besaran. Maka cepat-cepat Thian-ih bersiap berganti pakaian mengenakan jubah panjang warna putih mulus, pedang disoreng dipinggang balik jubahnya, tangannya membekal sebuah kipas lempit sambil berlenggang berlagak sebagai pelajar dia ikuti arus manusia yang menuju ke pintu utara untuk melihat keramaian. Tiba di pekuburan suasana disini begitu ramai, selayang pandang hanya kepala manusia melulu, sedemikian banyak manusia berjubel-jubel sampai susah untuk mendesak maju ke depan, diam-diam Thian-ih meneliti, dilihatnya banyak diantara mereka itu yang harus dicurigai.

Tidak lama kemudian tampak sebarisan tentara bersenjata lengkap mendatangi membuka jalan, di belakang barisan ini beriring pula puluhan tandu yang besar-besar berhenti diluar pekuburan, tampak Li-tihu sendiri yang memimpin upacara sembahyangan ini, kala itu pintu rahasia kuburan sudah dibuka maka pelan-pelan Li-tihu serta keluarga dan handai-taulannya masuk kedalam, mereka terdiri dari kaum wanita dan beberapa orang laki-laki, diantaranya tampak seorang pemuda yang gagah, maka Thian-ih menduga pasti pemuda itulah yang bernama Nyo Hway-giok calon suami Li Hong-gi. Tubuhnya tinggi tegap beralis hitam gombyok, Thay-yang-hiat di pelipisnya menonjol keluar dan langkahnya ringan, selayang pandang dapatlah diketahui bahwa pemuda lembah lembut ini juga dari aliran persilatan.

Kaum perempuan berjalan agak pelan sampai sekian lama mereka masih berjubel diluar pintu kuburan, sekonyong-konyong angin menghembus agak keras, tahu-tahu dua bayangan berkelebat cepat saling susul dan enteng sekali mencampurkan diri dalam barisan yang memasuki kuburan itu. Para penjaga merasa pandangan serasa kabur, disangkanya melihat burung terbang melintas didepan mata. Di luar tahunya bahwa di kelompok keluarga Li-tihu itu telah bertambah dua orang gelap yang menyelundup masuk ke dalam.

Salah seorang dari bayangan tadi bukan lain adalah Thian-ih sendiri, perbuatannya ini hanyalah menelat perbuatan bayangan yang terdahulu, karena dianggapnya kalau orang itu berani menyelundup kedalam secara diam-diam tentu mengandung maksud yang tidak baik, maka tanpa kepalang tanggung ia juga melesat memasuki kuburan besar itu.

Ginkang Thian-ih sebetulnya tidak kalah tinggi dari bayangan tadi, namun begitu melangkah masuk ke dalam kuburan lantas dia kehilangan jejak orang itu, hal ini malah memperingatkan Thian-ih sendiri, sedikit bergerak dia pun menyelinap dan sembunyi. Dari tempat sembunyinya Thian-ih meneliti keadaan bangunan kuburan ini, bukan saja luas tapi juga megah dan mewah benar-benar seperti kamar tidur mendiang Li Hong-gi sendiri. Ditengah ruang besar sebelah dalam adalah letak peti mati Li Hong-gi yang berbentuk aneh dan istimewa, karena bentuk itu tak ubahnya seperti sebuah pembaringan yang dihias begitu indah, terlihat Li Hong-gi rebah diatas pembaringan itu, tubuhnya terbungkus kain sutera yang tersulam indah, dari kejauhan tampak wajahnya memutih bagai batu giok seakan-akan bidadari yg tengah tidur nyenyak. Berpuluh keluarga Li-tihu itu berdiri di sekitar peti mati sambil menggerung sesenggukan. Sebagai orang gelap Thian-ih tidak berani banyak bergerak, tak lupa pula ia mencari letak sembunyi orang yang menyelundup masuk tadi.

Diempat penjuru ruang tergantung empat pelita yang bersinar terang, hawa disini terasa sejuk nyaman, entah dimana letak pintu angin yang berhubungan dengan luar, hiasan atau pajangan dalam kuburan inipun sangat berkelebihan tidak kalah indah dari ruang penganten anak raja, hanya dindingnya saja yang terlalu banyak variasi dengan lekak-lekuk jadi banyak tempat yang gelap cocok untuk sembunyi orang, maka tidak mudah bagi Thian-ih mencari jejak orang itu tanpa dirinya sendiri juga bergerak dari tempat sembunyinya. Tempat dimana ia sembunyi adalah pojokan dinding yang lekuk kedalam tertutup di belakang kain gordijn lagi, dinding di belakangnya terasa dingin karena terbuat dari batu-batu gunung, tanpa sengaja teraba oleh Thian-ih dua tumbung besi, ia menjadi heran untuk apakah kedua tumbung besi ini? Sementara itu keluarga Li-tihu masih bertangisan dengan sedihnya. Hanya Nyo Hway-giok saja yang masih berdiri tenang sambil menunduk, namun saban-saban ia juga membesut air mata yang tak tertahankan lagi. Betapa orang takkan sedih ditinggal pergi calon isterinya.

Tak lama kemudian setelah semua orang selesai sembahyang, beruntun mereka mengundurkan diri keluar kuburan. Agaknya Nyo Hway-giok berat berpisah dengan calon istrinya itu, maka sambil mengusap air mata ia berkata pada Li-tihu: "Gak-hu (mertua), siausay (menantu) hidup tak dapat berdampingan dengan adik Hong-gi, biarlah aku tetap berdiam disini untuk mendampingi adik Hong-gi selama-lamanya !"

Sudah tentu Li-tihu tidak setuju, para kerabat perempuan juga ikut membujuk, suasana menjadi ribut, terdengarlah Nyo Hway-giok mengeluh panjang : "Kala hidup aku tak dapat berdampingan dengan Hong-gi masa kalian masih tidak mengijinkan kita mati dalam satu liang, dia kan sudah menjadi istriku sampaikan saja kepada ayahku bahwa Hway-giok

telah mangkat mengikuti isterinya    "

Watak Nyo Hway-giok ini ternyata berperasaan halus dan lemah hati, dalam keadaan yg tidak terkendali lagi ia menangis tergerung-gerung sambil sesambatan. Maka tidak kepalang tanggung lagi Li-tihu perintahkan beberapa prajurit untuk menyeretnya keluar dengan kekerasan. Nyo Hway-giok meronta-ronta minta dilepaskan sambil menoleh dengan pandang berat berpisah. Thian-ih jadi heran, apakah ini permainan sandiwara atau main pura-pura. Kalau dinilai dari ilmu silatnya, hanya beberapa prajurit biasa saja mana mampu membuat dirinya tak berkutik dan mandah saja diseret keluar, apakah maksud perbuatannya ini?

Setelah semua orang keluar, pintu kuburan yang tebal dan berat itu ditutup lalu digembok dan dikunci dari luar, lantas keadaan dalam kuburan menjadi hening lengang. Sinar pelita kelap-kelip memancarkan sinarnya yang redup, tampak wajah nan ayu jelita dalam peti mati itu sedemikian mempesonakan seakan terasa dalam dunia khayal belaka. Dengan sabar Thian-ih menanti dan menanti, ditunggunya penjahat yang sembunyi dalam kuburan itu keluar supaya secara gampang dirinya membereskannya.

Sebenarnya sang waktu berjalan dengan cepat, namun bagi Thian-ih terasa sangat lambat sekali, keadaan yang sunyi lengang itu sungguh membosankan dan membuat Thian-ih semakin curiga dan waspada, mungkinkah orang itu sudah mengeloyor keluar pula, mengapa sekian lama ini dia masih belum keluar? Teringat akan keluar Thian-ih bercekat dalam hati, pintu kuburan sedemikian tebal dan berat terkunci lagi dari luar, cara bagaimana nanti dirinya harus keluar.

Tunggu punya tunggu akhirnya terdengar juga suara keresekan yang lirih dalam keheningan yang lelap itu. Tahu Thian-ih bahwa penjahat itu mulai bergerak dan bertindak, terpaksa Thian-ih harus memusatkan perhatiannya terhadap orang dalam kuburan ini, entah nanti bakal dapat keluar atau tidak sudah tak terpikirkan lagi olehnya.

Dari kegelapan pojok depan sana berkelebat bayangan seorang yang mengenakan pakaian sepan warna hijau dan berkedok, perawakan orang itu kurus kecil, kedua tangannya menghunus sepasang senjata yang berbentuk aneh, senjata itu dinamakan Wan-yan-to-hun-siang-hoan (sepasang gelang belibis pencabut nyawa). Sibaju hijau ini menyapu pandang keempat penjuru lalu merunduk hati-hati memeriksa keadaan sekitarnya. Cepat-cepat Thian-ih mepet dinding sambil tahan napas, terasa angin berkesiur sibaju hijau lewat didepannya, untung benar jejaknya tidak sampai konangan. Tidak lama kemudian sinar pelita semakin redup dan guram, mungkin sudah kehabisan minyak. Sekonyong-konyong dari kanan kiri ditubuh Li Hong-gi memancarlah dua sinar terang setinggi satu kaki, kedua sinar itu berwarna merah putih sangat menyolok mata. Terdengar sibaju hijau itu berseru tertahan, sekali berkelebat tubuhnya menubruk kearah samping tubuh Li Hong-gi serta merta diulurkan tangannya hendak mencomot benda bersinar itu, tapi secepat itu tampak tubuhnya terhuyung mundur pula seakan terintang sesuatu tenaga gaib. Kini orang itu sudah menanggalkan kedoknya, dengan hati-hati ia menunduk dan memeriksa. Waktu berdiri lagi dan berpaling Thian-ih melihat orang menunjuk rasa heran dan kejut, sejenak kemudian tampak ia memindahkan senjatanya ditangan kiri lalu tangan kanan diulur hendak menghantam kearah jenazah Li Hong-gi...........

Sedetik sebelum tangan sibaju hijau diturunkan mendadak terdengar suara bentakan dingin dibelakangnya: “Tahan!” Waktu ia berpaling dengan kaget dilihatnya dibelakangnya telah berdiri satu orang, maka tegurnya dengan gusar: “Keparat dari mana kau? Aku belum mengenal kau?"

Thian-ih berseru lantang: “Cayhe Ho-pak Thio Thian-ih, siapakah tuan yang mulia?"

Sibaju hijau tertawa gelak-gelak, kedua gelangnya dikiblatkan lalu katanya: “0, ternyata adalah Thio-jichengcu, masa kau belum pernah dengar tentang kedua senjata gelangku ini? Aku yang rendah Mo-san Lok Sian "

Tergetar hati Thian-ih, Lok Sian ini adalah salah satu dari Mo-san-sam-kui yang kenamaan, mereka terdiri dari Pek-bian-kui (setan muka putih) Ho Han dan Hek-bian kui (setan muka hitam) Ci Kiu. Mo-san-sam-kui (tiga setan dan Mo-san) adalah tokoh-tokoh lihay dari aliran hitam yang kenamaan di Kangouw. Dulu Thio Thian-ki pernah bercerita tentang pribadi ketiga saudara angkat ini, terutama senjata-senjata mereka yang berbentuk aneh itu paling gampang dikenali, mereka bukan saja licik dan ganas, kepandaian Ginkang dan Lwe-kangnya juga setingkat lebih tinggi dari golongan hitam lainnya. Sungguh tidak nyana bahwa salah satu dari ketiga setan kenamaan itu ternyata juga ikut berkomplot dalam usaha mencuri benda mestika dalam kuburan ini.

Terdengar Lok Sian berkata lagi dingin: “Ji-chengcu. apa kau juga bermaksud mengincar kedua mutiara mestika itu?"

Sahut Thian-ih: “Lok-heng, aku tidak tahu tentang hal-ihwal mutiara mestika apa segala "

Lok Sian mengakak kegilaan, suaranya bergema mendebarkan hati, ujarnya: “Ji-chengcu, dengan ucapanmu itu agaknya kau sangat memandang rendah kita Mo-san-sam-kui. Kalau kau sendiri juga ingin memiliki benda mestika itu mengapa main sungkan dan pura-pura tidak tahu, hahaha, kalau kau berkata tidak tahu lantas apa maksudmu menyelundup kedalam sini?"

Melihat sikap orang yang congkak dan takabur, timbullah amarah Thian-ih, jengeknya dingin: “Kudengar ada komplotan penjahat yang hendak mencuri "

“Lantas kau ingin mencampuri urusan ini!" Lok Sian menukas perkataan Thian-ih, “Bukankah begitu maksudmu ? Ji-chengcu, kau baru saja lulus dari perguruan masih berbau bawang, mungkin belum tahu seluk-beluk peraturan dunia persilatan. Mo-san-sam-kui sudah bertekad untuk mengambil kedua mutiara mestika dipinggir tubuh bocah perempuan itu, Ho Han dan Ci Kiu kedua saudaraku itu sebentar akan tiba, silakan kau minggir dan jangan mengganggu pekerjaanku ” Setelah dekat baru Thian-ih melihat tegas, ternyata peti mati Li Hong-gi terbuat dari batu kaca yang tebal, bening dan tembus cahaya, harganya tentu tidak ternilai. Kedua mutiara merah putih mencorongkan sinarnya yang kemilau menyinari seluruh tubuh Li Hong-gi, sehingga wajahnya tampak semakin jelita bagai hidup dan tidur nyenyak.

Bu-ing-kui sisetan tanpa bayangan Lok Sian mendadak berkata di belakangnya: “Ji-chengcu silakan kau minggir kesamping ”

Tiba-tiba Thian-ih memutar tubuh, sahutnya marah : "Lok-heng, apa yang hendak kau lakukan?"

Lok Sian berkata tawar: “Aku ingin ambil kedua butir mutiara itu, meskipun batu kaca ini tak ternilai harganya, kita bersaudara tidak mampu memboyongnya keluar terpaksa dihancurkan saja. " habis berkata ia himpun tenaga, bersiap lancarkan pukulannya.

Bergolak darah Thian-ih saking menahan amarah, bulat tekadnya untuk menentang maksud jahat manusia tamak ini, bentaknya: “Orang she Lok, memandang muka engkoh-ku maka kunasehati kau supaya hapus saja niat tamakmu itu, lekaslah tinggalkan tempat ini. Ketahuilah perbuatanmu ini merupakan perbuatan tercela dan nista dalam kalangan Kangouw, kalau perbuatan kalian ini sampai tersiar apakah tidak memburukkan nama baik Mo-san-sam-kui ?"

“Kentut !" hardik Lok Sian tidak kalah gusarnya. “Bagaimana juga Mo-san-sam-kui harus memperoleh kedua mestika itu. Sekarang juga kubunuh kau, coba siapa lagi yang dapat mengetahui?" sembari berkata tangan kanan segera didorong kedepan menggunakan jurus Liok-ting-kay-loh (Liok Ting membuka jalan), dada Thian-ih diincar dengan sebuah pukulan.

Sejak berhadapan Thian-ih sudah bersiaga, begitu serangan musuh mendatang dengan jurus Tui-san-seng-te (mendorong gunung menjadi datar) sebelah tangannya juga diangkat untuk menangkis, "blang" kedua tenaga pukulan saling beradu di tengah udara menimbulkan goncangan yang hebat, dua-duanya tersurut mundur selangkah, naga-naganya tenaga dalam mereka seimbang alias sama kuat.

Lok Sian berjingkrak semakin gusar, kedua senjatanya dipersiapkan terus menubruk maju seraya memutar gelangnya dengan gencar dan aneh. Thian-ih insaf bahwa ilmu gelang belibis musuh sangat lihay, maka segera ia juga melolos pedang untuk menghadapi serangan musuh. Tidak nyana bahwa ilmu gelang belibis ini memang teramat aneh dan menakjubkan, dalam gebrak pertama itu tahu-tahu pedang panjang Thian-ih kena terjepit dan tergencet kencang oleh senjata musuh, seketika susah dicabut lolos, saking besar tenaga yang terkerahkan untuk membetot akhirnya pedang panjang sendiri malah yang patah menjadi dua, bertepatan dengan itu sepasang gelang Lok Sian juga telah menindih dan mengepruk tiba.

Dalam keadaan yang gawat itu Thian-ih masih dapat unjuk ketrampilannya, tiba-tiba ia membalik sembari membungkukkan badan sehingga tubuhnya melejit mengapung di tengah udara, berbareng kedua kakinya bergerak menjejak ke belakang bergantian. Tindakannya ini dinamakan Siang-kiong-dat-tui, satu diantara pelajaran tunggal dari Kiam-bun-it-ho yang lihay. Karena terdesak baru Thian-ih dipaksa melancarkan tipunya ini, keruan perbawanya bukan main hebatnya. Sudah tentu Bu-ing-kui Lok Sian tidak mengira bakal menghadapi kepandaian yang aneh bin ajaib ini, meski secepat mungkin ia berusaha mengelakkan diri juga sudah terlambat, dengan telak kedua kaki Thian-ih menendang di dadanya, seketika setan bayangan menjerit seram, darah segar menyembur dari mulutnya, tubuhpun segera roboh tak berkutik lagi, jiwanya seketika melayang menghadap Giam-lo-ong.

Meskipun akhirnya dapat membunuh musuh, tak urung hati Thian-ih juga berdetak keras, badannya basah oleh keringat dingin, sungguh sesal dan gegetun pula akan kebodohan dan kurangnya pengalaman dalam menghadapi musuh-musuh licik ini, untung pelajaran gurunya digdaya dan mandraguna, kalau tidak mungkin jiwa sendiri yang sudah melayang jadi setan gentayangan.

Setan tanpa bayangan kini betul-betul sudah menjadi setan gentayangan tulen. Li Hong-gi masih rebah dalam peti batu kaca dengan tenangnya, kedua matanya terpejamkan, mulutnya menyungging senyum manis, semakin dipandang semakin mempesonakan. Semakin gelap kedua mutiara itu semakin memancarkan sinarnya yang terang dan cemerlang.

Setelah termangu sekian lamanya Thian-ih maju mendekat dan memeriksa cara bagaimana harus membuka peti batu kaca ini, akhirnya di sebelah samping diketemukan sebuah lobang kunci, agaknya disinilah letak kunci rahasia pembuka peti batu kaca ini. Sekonyong-konyong tergerak hati Thian-ih, bukankah lobang kunci ini sebesar kunci yang ditemukan dalam pengejaran Ciu Hou tempo hari ? Mengapa tidak dicoba saja? Demikian pikirnya.

Baru saja tangannya merogoh kantong, tiba-tiba terdengar diluar kuburan suara gaduh dibalik pintu, agaknya seseorang tengah berusaha membongkar dan membandrek kunci. Lekas-lekas Thian-ih menyeret tubuh Lok Sian untuk disembunyikan lalu dibersihkan pula noda-noda darah, setelah semuanya beres ia kembali sembunyi di tempatnya tadi.

Suara gedobrakan menerjang pintu semakin keras dan gencar, saking tegang Thian-ih memegang tumbung besi di belakangnya dan tanpa sengaja ia memutarnya dan tahu-tahu tumbung besi ditangan kiri itu terlepas, seketika terdengar percakapan dari luar: "Ai, Lo-ho, kunci ini begini kencang, coba kau kerjakan."

Kiranya kedua tumbung besi itu tembus keluar kuburan, dari lobang tumbung besi ini dapat melihat keadaan diluar dengan jelas. Terlihat oleh Thian-ih dua orang yang membekal senjata aneh tengah berusaha membuka pintu rahasia kuburan itu. Dari penerangan yang mereka bawa Thian-ih dapat melihat tegas wajah mereka putih dan hitam. Batinnya, tentu merekalah yang dijuluki Pek-bian-kui dan Hek-bian-kui dari Mo-san-sam-kui itu.

Tak lama kemudian terdengar Hek-bian-kui Ci Kiu berjingkrak girang: "Lo-ho, kunci sudah dapat kubuka."

Thian-ih terperanjat, bahwa kepandaian Mo-san-sam-kui ini sangat tinggi tidak perlu disangsikan lagi, kalau mereka menerjang masuk dan mempergoki dirinya tanpa membekal senjata, berbahayalah jiwanya. Dalam keadaan yang mendesak ini terpaksa dijemputnya kedua gelang belibis Lok Sian itu untuk membela diri sekadarnya.

"Blang" pintu batu yang tebal dan besar itu tiba-tiba menjeplak dan terbuka lebar oleh pukulan gabungan Ho Han dan Ci Kiu. Terdengar teriakan mereka yang kegirangan memanggil-manggil: "Lo-lok, Lok-hiante, eh "

Sekian lama mereka memanggil-manggil tanpa penyahutan semestinya, keruan kaget dan heran kedua orang ini, serta merta timbullah kewaspadaan mereka untuk tidak secara sembrono menerjang masuk ke dalam kuburan, hanya obor di tangan mereka digoyang-goyangkan ke kanan kiri. Thian-ih sudah bersiap hendak menerjang keluar dengan sebuah serangan kilat yang mematikan, namun sebelum ia bertindak, diluar kuburan sana terdengar derap langkah orang ramai yang tengah mendatangi disusul suara gelak tawa yang riuh ramai di belakang Ho Han dan Ci Kiu. Tersipu-sipu kedua setan hitam putih ini memutar tubuh, secepat itu pula segera Thian-ih melejit maju terus sembunyi dibelakang pintu, dari sini keadaan diluar dapat dilihatnya lebih tegas lagi. Ternyata diluar sana sudah berjajar tujuh orang yang menghunus senjata tajam dengan sikap mengancam.

“Siapa kalian? Anjing alap-alap ataukah kawan dari satu golongan?" terdengar Pek-bian-kui Ho Han berseru menegur. Yang dimaksud dengan anjing alap-alap adalah para bayangkari dari istana raja, sedang kawan satu golongan adalah sahabat-sahabat Kangouw dari golongan hitam.

Terdengar salah seorang dari tujuh orang itu bergelak tertawa lalu berkata: "O, kalau tidak salah kalian adalah Pek-bian-kui Ho Han dan Hek-bian-kui Ci Kiu dari Mo-san-sam-kui bukan? Selamat, selamat bertemu, aku yang rendah Kiu-bwe-long (serigala sembilan ekor) Kiau Sing beserta saudara-saudara dari Kam-liang-pay !"

Kiranya mereka bukan lain adalah tujuh Tongcu dari Kam-liang-pay, ketujuh orang itu adalah: Kiu-bwe-long Kiau Sing, Gin-poan-koan (potlot hakim perak) Koan Kiat, Thiat-po-lo-han (Lohan berlengan besi) Cui Siau-peng, Hwi-yan-cu (siwalet terbang) Lo Cing, Cun-thian-lui (guntur menggelegar) Si Cin dan dua Tongcu wanita yang bernama Hun-lo-sat (kuntianak jelita) Kiong Giok-eng dan Soan nio-cu (gadis kecut) Kwe Ceng-sian.

Thian-ih malah lega akan kedatangan tujuh Tongcu dari Kam-liang-pay ini, biarkan mereka saling cakar dan bergumul sendiri supaya meringankan tenaganya nanti. Satu hal masih diragukan bahwa Liong-gwa-hou-tiang terang sudah tiba mengapa masih belum muncul?

Setelah hening sejenak Pek-bian-kui membuka suara, "Kiau Tongcu, Kam-liang-pay kalian bersarang jauh di daerah barat sana, jauh-jauh serta malam-malam meluruk ke Ki-lam, apakah tujuan kalian?"

Kiau-bwe-long Kiau Sing menyeringai tawa, sahutnya: "Ho-heng, seorang jantan bicara secara terang-terangan, kau kan sudah tahu pura-pura tanya apa segala, bukankah berkelebihan bacotmu itu! Hahaha "

Begitulah karena saling mengukuhi haknya masing-masing kedua belah pihak semakin tegang berhadapan saling melotot.

Kalau dinilai kekuatannya, dalam hal Lwekang, terang pihak Kam-liang-pay tiada satupun yang dapat menandingi setan hitam putih ini, namun dengan gabungan tujuh tenaga yang bersiap main keroyok mereka tidak gentar menghadapi saingan berat dan lihay ini.

Dibawah penerangan obor ditangannya, wajah Pek-bian-kui terlihat pucat pasi menakutkan, diam-diam ia menerawangi situasi keadaan ini, terang pihak lawan menang banyak tenaga sehingga semua tindakan harus diperhitungkan lebih masak, apalagi jejak Bu-ing-kui Lok Sian menghilang tanpa diketahui dimana berada, bagaimana juga harus berlaku sabar dan melihat keadaan, maka katanya sambil menahan gusar: "Para Tongcu Kam-liang-pay yang terhormat. Sebenarnya jauh pada dua bulan yang lalu telah kita ketahui tentang kedua butir mutiara mestika dalam kuburan ini, siang-siang kita sudah merancang untuk mengambilnya, sebab harus diketahui bahwa salah satu dari mutiara itu yaitu Hwe-ki-cu adalah pusaka pelindung Mo-san-pay kita. Terang kita setindak lebih maju dengan bukti bahwa Lok-hiante kita sudah masuk kedalam untuk mengambil kedua mutiara itu. Jauh-jauh kalian sudah datang, demi menjaga persahabatan janganlah kita sampai bentrok karena urusan kecil ini, untuk itu baiklah kita terpaksa mengalah dan merelakan mutiara yang lain yaitu Pi-seng-cu untuk kalian "

Dasar Kiau Sing licik dan banyak akal muslihatnya, diam-diam ia juga menimang situasi dan memperbandingkan kekuatan kedua belah pihak. Kalau bertempur satu lawan satu terang pihak sendiri tiada yang bakal menang, tapi kalau tujuh orang serentak maju berbareng agaknya cukup berkelebihan untuk membereskan setan hitam putih ini. Mumpung Lok Sian sisetan gentayangan itu belum keluar, ganyang dulu kedua setan ini lebih baik, demikianlah pikirnya, maka katanya temberang : “Kalau mau mengalah jangan kepalang tanggung serahkan kedua-duanya, Kam-liang-pay akan sangat berterima kasih kepada kalian. Kalau tidak boleh, jangan sesalkan pihak Kam-liang-pay tidak hiraukan persahabatan apa segala. Jauh-jauh kita kemari tidak mungkin kembali dengan tangan hampa, terpaksa marilah unjukkan kepandaian kalian untuk dipertontonkan kepada kita sekalian saudara "

Watak Hek-bian-kui Ci Kiu lebih berangasan, semprotnya bengis: "O, jadi beginilah congor asli pihak Kam-liang-pay, terhitung orang gagah apa kalian ini? Mari, mari, majulah bersama, Ci Kiu takkan mundur menghadapi bangsa kurcaci macam kalian............" sambil memaki dijinjingnya senjata tombak yang menyerupai cabang-cabang pohon Bwe terus melompat maju ketengah kalangan.

Justru tindakan lawan inilah yang dinantikan oleh Kiau Sing, girang hatinya bukan kepalang karena pancingannya ternyata berhasil, maka serunya memberi aba-aba: "Koan-hiante dan Cui-hiante, layanilah setan hitam ini. Dan kau Lo-hiante dan Si-hiante cegatlah setan putih itu, biar aku bersama adik-adik kita masuk ke dalam menjemput mutiara itu "

Serentak para saudaranya itu mengiakan bersama, terus bergerak menurut petunjuk saudara tua mereka tadi. Seketika terjadilah pertempuran yang sengit dan seru. Sementara Kiau Sing memimpin Kiong Giok-eng dan Kwe Ceng-sian menerjang masuk kedalam kuburan.

Setan hitam putih bertempur sambil membentak-bentak untuk menambah semangat. Lwekang setan muka putih Ho Han sudah mencapai kesempurnaannya, melihat Kiau Sing bertiga bermain licik hendak bolos masuk kedalam kuburan, hatinya gusar bukan kepalang, ilmu sepasang tongkat ditangannya merupakan kepandaian yang paling dibanggakan dan lihay luar biasa, tidak kepalang tanggung lagi segera dilancarkan tipu Keh-an-koan-hwe (menonton kebakaran dari sebrang), dengan telak jalan darah mematikan dipunggung Si Cin kena tertutuk, seketika ia berteriak sambil muntah darah terus roboh terkapar tak bergerak lagi. Sungguh mengagumkan kepandaian Ho Han ini, secepat itu tutukannya berhasil, mendadak tubuhnya melejit kebelakang terus menerjang ke mulut kuburan sambil melintangkan kedua tongkat bajanya serta ancamnya: “Siapa yang ingin mampus, silakan maju rasakan dulu kemplangan tongkatku ini!”

Beberapa langkah lagi Kiau Sing sudah tiba dimulut kuburan, serta didengarnya teriakan Si Cin yang mengerikan lalu secepat itu pula Ho Han sudah berkelebat menghadang dimulut kuburan, keruan bukan kepalang kejut dan gusarnya, maka teriaknya memberi aba-aba: “Maju bersama, ganyang setan gentayangan ini !"

Serentak senjata mereka bertiga bergerak diacungkan kedepan dengan serangan yang mematikan, tanpa gentar Ho Han menggerakkan sepasang tongkatnya untuk menangkis.

Kalau disebelah sini Ho Han sudah berhasil membunuh seorang musuh, adalah disebelah sana sisetan muka hitam juga berada diatas angin, tombak bercabangnya ini sangat aneh dan menakjubkan, gerak-geriknya susah diraba, dilandasi pula oleh kekuatan pembawaan yang besar, sudah tentu Gin-poan-koan Koan Kiat dan Thiat-pi-lo-han Cui Siau-ping tak mampu bertahan, dalam gebrak pertama tadi begitu beradu senjata kontan sepasang Poan-koan-pit Koan Kiat telah dibikin terbang dari tangannya, dalam ketakutannya ia coba putar tubuh hendak melarikan diri, namun dasar sial tombak bercabang milik setan hitam sudah mengepruk hancur kepalanya, jeritannya melolong panjang. Mati-matian Cui Siau-ping membacok dan membabat dengan senjata kapaknya yang besar dan berat, namun hanya sekali tangkis dan digentakkan saja kapak besar itu juga terbang tinggi malah orangnya juga terpental jungkir balik.

Teriakan Koan Kiat sebelum ajal menggugah sanubari Lo Ceng yang sudah berada diambang pintu kuburan, tepat waktu ia merandek dan berpaling dilihatnya Cui Siau-ping tengah menghadapi bahaya, secepat kilat sebelah tangannya diayun, meluncurlah tiga titik bintang melesat mengarah kedua biji mata setan hitam. Terpaksa setan hitam harus menunduk kepala untuk menyelamatkan diri, dan peluang sedetik ini cukup untuk Lo Ceng memburu tiba merintangi niat jahatnya terhadap Cui Siau-ping.