Rahasia Si Baju Perak Jilid 01

Jilid 01

“Srek srek ...... srek srek.   ”

Dalam suasana yang hening lelap ditengah malam pada suatu alam pegunungan terdengarlah suara keresekan yang halus lembut itu.

Saat mana sang putri malam tengah memancarkan sinar lembut nan cemerlang diseluruh jagat raya. Sayup-sayup suara keresekan yang halus lembut itu terdengar semakin nyata dan mendekat.

Samar-samar terlihatlah bayangan seorang manusia, jadi suara keresekan itu adalah suara derap kaki manusia yang menginjak diatas daun-daun kering, namun sungguh mengherankan suara langkah itu sedemikian ringan dan hampir tak terdengar. Bagi orang yang tidak paham ilmu silat tentu disangkanya suara daun jatuh atau langkah binatang buas.

Bayangan itu muncul diujung jalanan sebelah sana, ia bertubuh tinggi kurus, tubuhnya mengenakan pakaian serba hitam yang sepan ketat, gerak geriknya lincah gesit dan waspada. Gerak langkahnya enteng bagai tak menyentuh tanah sekali melesat tiga tombak jauhnya.

Tiba-tiba langkahnya menjadi lambat dan hati-hati ia mendekati sebuah bangunan gedung kuno yang tak terurus lagi. Matanya memandang tajam dengan cermat dan waspada, sikapnya takut-takut.

Kelihatannya rumah gedung ini sangat angker, dalamnya kosong melompong tiada penghuninya, sedemikian besar dan luas bangunan ini, namun keadaannya sudah bobrok dan terlihat bekas-bekas terbakar hangus. Tertimpah sinar sang putri malam kelihatannya menjadi seperti bayang-bayang jin raksasa yang seram menakutkan.

Akhirnya orang muda itu menghentikan langkahnya dibawah sebuah jendela, gerak-geriknya sangat gesit dan prihatin, sikapnya takut-takut dan sangsi. Waktu orang ini membalikkan muka maka tampak ia berwajah putih berdagu panjang beralis tebal, usianya kurang lebih 20-an. Tampak dia menggeremet mendekati daun jendela lalu dengan hati-hati mengintip kedalam.

Mendadak entah mengapa tubuhnya kelihatan menggigil seperti melihat sesuatu yang seram menakutkan.

Kiranya dari penerangan sang putri malam yang menyorot masuk dari jendela, samar-samar kelihatan didalam ruangan yang sedemikian luas itu ternyata hanya terdapat empat buah peti mati yang tersebar diempat penjuru. Dari warnanya yang sudah luntur dan tutupnya yang sudah banyak berlobang dimakan rayap dapatlah diduga bahwa peti mati itu tentu sudah tua sehingga lapuk, mungkin pula didalam keempat peti mati itu berbaring mayat-mayat manusia yang tinggal tulang belulangnya saja.

Sekonyong-konyong terasa oleh sipemuda suatu keanehan, maka dengan penuh perhatian ia pasang kuping serta mementang mata lebar-lebar. Tampak sesosok bayangan manusia melesat masuk keruangan besar itu dengan ringan dan gesit sekali.

Thio Thian-ki, demikianlah nama orang yang baru tiba ini, dia bukan lain adalah guru sipemuda yang tengah mengintip diluar itu. Seluruh tubuh Thio Thian-ki ternjata terbungkus jubah panjang yang berwarna perak berkilau, begitu pula kepalanya juga mengenakan kedok yang serupa warnanya. Tingkah Thio Thian-ki lebih bebas dan wajar, ini menandakan bahwa nyalinya lebih besar dari muridnya yang bertindak takut-takut dan cermat. Sekilas dia melirik keempat peti disekelilingnya, lalu pelan-pelan dan tenang menurunkan buntalan besar yang dipanggul diatas punggungnya, sedikit membuka ujung buntalan besar itu dengan terpesona dia pan- dang isi dalamnya.

"Brak", mendadak tutup peti mati disekelilingnya terpental terbang ketengah udara dan bersamaan itu meluncurlah berbagai senjata rahasia yang tak terhitung banyaknya, sekaligus meluruk kearah sibaju perak.

Sedemikian mendadak peristiwa ini terjadi pula jaraknyapun begitu dekat seketika Thio Thian-ki sudah terkepung oleh senjata-senjata rahasia yang berkilauan ditimpa sinar rembu- lan. Tetapi kepandaian silat Thio Thian-ki agaknya tidak lemah, terdengar gelak tawanya melengking tinggi, gesit sekali ia sambar buntalannya terus menjejakkan kedua kakinya sehingga tubuhnya melejit tinggi ketengah udara. Maka dilain saat terdengarlah suara “trang, tring" dari beradunya senjata-senjata rahasia itu, semuanya terjatuh diatas tanah tanpa dapat melukai sasarannya.

Sekali jumpalitan ditengah udara dengan gaya yang indah menakjubkan, Thio Thian-ki meluncur turun diluar gelanggang. “Sreng" tiba-tiba ia lolos sebilah pedang panjang sambil menghardik keras: “Bangsat kurcaci, keluarlah terima kematian!"

Begitu mendengar Thio Thian ki menantang musuh-musuhnya, sipemuda dibawah jendela itu berlaku cerdik, menginsafi apa yang bakal terjadi, tanpa ayal dia siapkan beberapa batang senjata rahasianya sambil menanti dengan bersitegang leher apa yang bakal terjadi.

Maka dilain saat melompatlah empat bayangan hitam dari ke empat peti mati yang telah terbuka itu. Keempat bayangan ini berseragam hitam dan mengenakan kedok yang serupa pula, masing-masing membekal senjata tajam, dengan langkah tenang pelan tapi mengancam setindak demi setindak mereka mendesak maju kearah Thio Thian-ki.

Sungguh harus dipuji ketenangan Thio Thian-ki dalam menghadapi situasi yang gawat ini, sambil pentang kedua kakinya dan bercekak pinggang dia awasi keempat musuh-musuhnya.

Naga-naganya keempat orang seragam hitam ini juga tidak berani ceroboh dan sembarangan bergerak, mereka berdiri tegak dengan sikap angker mengepung Thian-ki. Sorot mata mereka bercahaya terang berkilat mengandung kebencian dan keganasan.

Tiba-tiba salah seorang yang berdiri dihadapan Thio Thian-ki bersuara dengan nada berat: “Berlututlah kau terima kematian. Malam ini jangan harap kau dapat lolos lagi.”

Terdengar Thio Thian-ki terloroh-loroh panjang, suaranya mengalun bergelombang bagai keluhan naga di angkasa.

Sigap sekali secara mendadak dia angkat pedangnya menjojoh ke depan lambung musuhnya. Keruan musuh dihadapannya berjingkat kaget sambil melompat mundur, nyata gerak tubuhnya juga tidak kalah sebat dan tangkasnya.

Keempat musuh ini masing-masing bersenjatakan tombak pendek yang ujungnya bercabang, warnanya hitam gelap. Pelan-pelan keempat orang itu berbareng angkat senjata masing-masing, mereka membentuk suatu kurungan yang aneh. Dengan posisi dua di muka dan dua di belakang mereka mulai bergerak menyerang. Dua yang dimuka bergerak lebih cepat menyerampang tiba dari kiri-kanan. Lincah sekali Thio Thian-ki lintangkan pedangnya menangkis. Tak duga begitu senjata mereka menyentuh ujung pedang Thio Thian-ki serentak mereka malah melompat mundur. Dalam keheranannya hampir saja Thio Thian-ki menjadi korban serangan tombak musuh yang berada di belakangnya. Belum sempat Thio Thian-ki memperbaiki posisinya untuk menghadapi serangan dari belakang ini, musuh yang berada di depannya sudah merangsak datang lagi, begitulah sekaligus mereka bekerja sama dengan rapi menggencet dari muka dan belakang.

Sekejap saja Thio Thian-ki alias sibaju perak sudah dihujani berbagai serangan yang ganas dari keempat musuhnya. Sungguh hebat kepandaian sibaju perak, tenang dan tangkas sekali dia melayani setiap serangan musuh yang mematikan itu. Setiap kali sinar pedangnya berkelebat laksana kilat pasti musuh-musuhnya terdesak mundur kerepotan. Sedemikian lincah dia bergerak, membacok, memapas, menusuk atau menyampok dengan aneka ragam tipu-tipu dan jurus ilmu pedang yang banyak perobahannya.

Bahwa dengan kekuatan gabungan mereka dengan kurungannya yang aneh itu masih belum kuat menghadapi sibaju perak, keruan keempat seragam hitam itu menjadi gelisah sehingga kerjasama yang ketat tadi menjadi kacau balau, semakin kacau malah menguntungkan si baju perak yang menggerakkan pedangnya secara membadai sampai menimbulkan deru angin yang melengking memekakkan telinga. Jelas menurut keadaan seperti itu, mereka semakin terdesak dibawah angin dan tinggal menunggu ajal saja.

Sekonyong-konyong dari dalam ruangan sebelah dalam sana meloncat keluar seorang berseragam hitam pula. Begitu orang ini ikut memasuki gelanggang situasi pertempuran seketika banyak berubah. Segera keempat orang seragam itu kembali menduduki posisi masing-masing yaitu berpencar diempat penjuru, sedang orang yang baru tiba ini secara langsung berhadapan dengan si baju perak.

Terdengar orang ditengah memberi aba-aba dan mereka mulai bergerak lagi menurut ilmu barisan yang aneh itu, dikatakan aneh karena keempat orang yang mengepung di luar itu hanya bergerak dan bergaya seperti orang berlatih lazimnya, lain halnya orang yang berhadapan langsung dengan sibaju perak, kalau empat kawannya itu hanya menggerakkan senjata menyerang dari jarak jauh, jadi hakikatnya senjata mereka tak mungkin dapat menyentuh tubuh musuhnya, tapi sebaliknya yang berada di tengah merangsak sedemikian hebat seperti banteng ketaton, sehingga si baju perak sementara dibuat kerepotan juga.

Sedemikian ketat perpaduan kerjasama kelima orang ini saban-saban mendengar komando orang yang berada ditengah itu, jadi gerak posisi dan formasi mereka ini seperti seekor kelelawar besar. Empat orang yang mengurung di empat penjuru menjadi dua sayap di kanan kiri, mereka bergerak maju mundur kadang-kadang menyerang setiap ada kesempatan, perbuatan mereka ini tak lain hanya untuk mengaburkan perhatian atau konsentrasi dari pertahanan si baju perak terhadap kawan yang memberi komando itu, jadi yang terpenting memegang inisiatif adalah orang yang ditengah itu, serangan senjatanya merupakan inti atau sentral pertahanan barisan yang kokoh rapi dan serasi itu.

Bermula si baju perak masih berlaku tenang dan gesit luar biasa, namun sesudah berulangkali menemui kegagalan dalam usahanya mematahkan serangan musuh serta hendak membobol keluar kurungan tidak berhasil dan gagal, lama kelamaan pertahanannya berbalik menjadi kacau, gerak pedangnya tidak sehebat tadi akhirnya menjadi patah semangat. Pada saat itulah mendadak terdengar satu suara serak seorang tua berseru memberi perintah dari ruangan sebelah dalam sana: “Ringkus dia !"

Serentak kelima senjata musuh berkelebat dan tahu-tahu Pedang si baju perak telah tergencet dan terpantek di tengah udara dari lima jurusan, karena pedang terangkat naik inilah maka bawah tubuh Thio Thian-ki alias si baju perak terbuka lebar.

“Serrr," tiba-tiba sebuah senjata rahasia berbentuk runcing panjang seperti tombak meluncur pesat dari ruangan dalam sana. Kelihatannya daya luncuran senjata rahasia ini sangat lamban, namun mengeluarkan suara mendenging yang keras. Dari sini dapatlah dibayangkan betapa tinggi Lwe-kang pelepas senjata rahasia ini. Perlahan-lahan tapi pasti senjata rahasia itu mengarah lambung Thio Thian-ki. Semut saja masih ingin hidup apalagi manusia, demikian juga keadaan si baju perak, insaf bahwa dirinya menghadapi elmaut sekuat tenaga dia coba meronta. Namun agaknya usahanya sia-sia, karena senjatanya tergencet sedemikian kencang dan tak mampu berkutik sedikitpun jua.

Sementara itu, begitu melihat Suhunya menghadapi bahaya, tanpa sangsi lagi segera pemuda yang sembunyi dibawah jendela itu menyambitkan senjata rahasianya sekuat tenaga.

Maka terdengarlah suara berdenting, tepat sekali senjata si pemuda membentur senjata rahasia berbentuk tombak pendek itu. Tapi bukan saja senjata rahasia berbentuk tombak pendek itu tidak terbentur jatuh malah daya luncurnya semakin cepat, sedang senjata rahasia si pemuda terpental balik entah kemana.

Dalam pada itu, Thio Thian-ki masih berkutat sekuat tenaga berusaha membebaskan diri, serta melihat bentuk senjata rahasia yang meluncur tiba itu, seketika ia terkesima, wajahnya mengunjuk rasa takut dan menyesal. "Bles", tanpa ampun lagi dengan telak senjata rahasia itu menancap amblas sampai seluruhnya ke dalam perut Thio Thian-ki. Thio Thian-ki melolong panjang kesakitan, suaranya menggetarkan gedung dan alam pegunungan.

Pemuda yang mengintip dibawah jendela menggigil dan sempoyongan mundur, hampir saja dia jatuh kelengar melihat penderitaan Suhunya yang meregang jiwa sebelum ajal.

Lantas terdengar pula suara serak si orang tua berkata: “Angkat masuk !"

Beramai-ramai kelima orang seragam hitam itu mengusung tubuh Thio Thian-ki kedalam sana.

Tersipu-sipu si pemuda melayang masuk kedalam ruang besar, dimana buntalan besar Thio Thian-ki tadi masih menggeletak diatas tanah. Mulut kantongan besar itu masih terbuka lebar, dibawah penerangan sang putri malam terlihat jelas apa isi kantongan besar itu. Hanya sekilas pandang saja kontan tergetar tubuh si pemuda seperti terkena aliran listrik. Sekian lama dia termangu dan terkesima di pinggir buntalan besar itu, rona wajahnya bergantian memucat. Sekonyong-konyong ia berteriak keras histeris seperti orang kehilangan ingatan terus menerjang masuk ke dalam kemana kelima orang tadi menghilang.

Tampak oleh sipemuda tubuh Thio Thian-ki terbujur di atas lantai, jubah pakaian dan kedok peraknya sudah ditanggalkan jadi tubuhnya telanjang bulat, seluruh tubuhnya berlumuran darah. Begitu melihat kematian sang Suhu yang seram dan mengerikan ini, rasa seram, benci dan putus asa berkecamuk dan merangsang dalam benaknya, saking tak tahan kepala terasa berkunang-kunang tubuhnya menjadi lemas dan meloso jatuh pingsan di sisi mayat Suhunya. Tak lama kemudian dari samping serambi sana berjalan keluar enam orang seragam hitam menghampiri ke arah dua sosok manusia yang terbaring di lantai itu, salah seorang diantara mereka meletakkan secarik kertas diatas jenazah Thio Thian-ki lalu bergegas meninggalkan gedung bobrok yang seram menakutkan ini. Tak lupa mereka jinjing dan membawa pergi buntalan besar yang dibawa oleh Thio Thian-ki.

“Srek srek...............srek srek.................." suara keresekan daun kering terinjak tapak kaki terdengar pula, hanya kali ini lebih ramai dan semakin menjauh, sinar sang putri malam semakin doyong ke barat, angin malam sepoi-sepoi sejuk, alam pegunungan kembali menjadi sunyi senyap.

Satu minggu setelah peristiwa kematian Thio Thian-ki. Terlihat suatu kesibukan di perkampungan Thio-keh-cheng yang terletak dua puluh li sebelah timur keresidenan Sam-ho dalam wilayah Ho-pak. Tampak lalu lintas hilir mudik di luar perkampungan, ada kereta, ada pedati, ada kuda tunggangan, dan manusia berjalan kaki berlalu lalang dengan sibuknya. Thio-keh-cheng yang biasanya sepi kini menjadi sedemikian ramai dengan kunjungan tamu-tamu yang menunggang kuda berdatangan tak putus-putus. Si petugas penyambut tamu bekerja keras dan repot luar biasa, pakaian mereka sampai basah kuyup oleh keringat. Semua warga Thio-keh-cheng mengenakan pakaian putih belaco tanda berkabung karena meninggalnya sang majikan.

Tiba-tiba terdengar kelintingan diiring derap kaki kuda yang ramai tengah mendatangi. Dua ekor kuda membedal cepat mendatangi sampai diluar perkampungan, kedua orang pe- nunggang kuda adalah dua laki-laki gagah bertubuh tegap dan garang, berusia 40-an, sikapnya bersemangat kedua mata mereka berkilat terang. Begitu turun dari atas kuda tanpa hiraukan lagi tunggangannya terus terburu-buru melangkah lebar setengah berlari masuk kedalam perkampungan. Siang-siang sudah ada seorang centeng lari masuk memberi laporan di dalam rumah : "Kiau-toaya dan Ji-toaya dari Ki Wan Piau-kiok telah tiba!"

Kiranya dua orang gagah ini adalah kakak beradik sepupu. Yang tua bernama Kiau Keng berjuluk Hek-hong-piau, sang adik bernama Kiau Sim, berjuluk Tok-bok-siu. Mereka adalah benggolan silat yang kenamaan di daerah utara. Di ibu kota mereka mendirikan perusahaan pengangkutan yang bernama Ki Wan Piaukiok. Mengandal nama Kiau-si Hengte yang tenar dan jaya serta belum pernah terkalahkan sehingga perusahaan ini semakin maju pesat dan besar.

Thio Thian-ki, chengcu atau majikan dari perkampungan Thio-keh-cheng semasa masih hidup, sebetulnya adalah sahabat kental Kiau-si Hengte ini, sedemikian akrab hubungan mereka seumpama saudara sekandung sendiri.

Usia Thio Thian-ki atau majikan dari Thio-keh-ceng baru menanjak 50-an, semasa hidup beliau kenamaan dengan sebilah pedang emasnya. Karena pergaulan yang luas serta perbuatan dan wataknya yang jujur dan welas asih, maka para kawan-kawannya memberikan julukan Seng-po-sat atau Budha hidup kepadanya.

Memang Seng-po-sat Thio Thian-ki atau si Budha hidup sangat tenar karena jiwanya yang luhur dan bajik, sifatnya polos dan paling menjunjung keadilan dan kebenaran. Entah apa sebabnya pada usia 30-an tiba-tiba dia mengundurkan diri dari kalangan Kangouw dan mengasingkan diri di Thio-keh-cheng ini. Meskipun sudah putus hubungan dengan dunia luar, namun dia masih berbuat dermawan menolong si miskin. Karena itulah di sekitar daerah Sam-ho namanya paling disegani dan dipuja-puja. Pada suatu hari dalam musim semi itu, diam-diam ia meninggalkan rumah kediamannya sampai beberapa bulan tidak pulang. Entah bagaimana kejadiannya tahu-tahu keluarganya mendapat kabar duka akan kematiannya yang mengenaskan itu. Secara kebetulan jenazahnya diketemukan oleh seorang sahabatnya dan terus dikirim pulang. Karena kematian sahabat kentalnya inilah maka tanpa mengenal lelah bergegas Kiau-si Hengte telah memburu tiba dari kotaraja.

Baru saja Kiau-si Hengte melangkah masuk musik kedukaan segera bergema, terdengar isak tangis yang memilukan dari sebelah dalam sana. Gambar lukisan Thio Thian-ki terpancang depan peti mati, wajahnya kelihatan welas-asih dengan jenggotnya yang memanjang terurai di depan dada. Melihat gambar orang seketika Kiau-si Hengte merasa pilu dan terharu, segera mereka berlutut dan menyembah memberi penghormatan terakhir di depan layon Thio Thian-ki.

Setelah bangkit sambil mengembeng air mata bergegas Kiau-si Hengte mendekati layon sambil mengulur tangan kearah peti mati. Keruan tindak tanduk mereka yang diluar sangka ini menimbulkan curiga Ji-chengcu (majikan kedua adik Thio Thian-ki) yang tengah membalas memberi hormat, tersipu-sipu dia maju coba merintangi.

“Thian-ih, kami ingin melihat wajah Toako untuk penghabisan kali, mengapa tak boleh?" demikian semprot Kiau Keng sengit.

Thian-ih atau lengkapnya Thio Thian-ih adalah seorang pemuda ganteng yang berusia 20-an, terdengar dia menjawab dengan suara serak-serak basah: “Keng-heng dan Sim-heng, betapapun hal itu tak mungkin terjadi. Silakan kalian istirahat dulu diruang tamu sambil bercakap-cakap dengan sekalian handai taulan dan para sahabat!" terus dia ulapkan tangan memanggil dua orang centeng. Kedua centeng ini juga berlaku cerdik, segera mereka maju menyapa dan mempersilahkan: “Keng-toaya dan Sim-toaya silahkan istirahat di ruang belakang." Tanpa menanti reaksi mereka terus memimpin jalan meninggalkan ruang layon itu.

Dengan hati penuh kecurigaan terpaksa Kiau-si Hengte ikut keruang belakang. Waktu tiba diruang dalam dimana perjamuan sederhana ternyata sudah tersedia lengkap, tiga empat puluh meja perjamuan yang teratur rapi telah penuh diduduki para kawan-kawan dari kalangan Kangouw. Melihat kedatangan Kiau-si Hengte ini beramai-ramai mereka bangkit menyambut sambil unjuk hormat dan sekedar basa-basi !

Ternyata para tamu yang hadir ini kebanyakan adalah tokoh-tokoh silat kenamaan, diantaranya ada Cin-tiong-sam-hiap, Hek-san-siang-si, Sip Yan-hun dan Sip Yan-hong dua saudara dari Ciong-lam-pay. Tidak ketinggalan pula Kun-suseng Liok Pek-ing Pangcu Ho-bwe-pang di Kanglam. Co Lan-pui dari puncak Thian-gwa di Pa-san, Tujuh Tongcu dari Kam-liang dan masih banyak lagi yang lain telah memenuhi ruangan ini.

Diam-diam Kiau-si Hengte menyesal, pikirnya: “Para kawan dari selatan yang lebih jauh malah mendahului kita, sungguh memalukan sekali."

Setelah saling memberi hormat dan sapa sanjung sekadarnya lantas terdengar Kun-suseng Liok Pek-ing buka suara lantang: “Kiau-lotoa, Kiau-loji, apakah kalian sudah ketemu Thian-ih?"

“Ya sudah ketemu. Dia melarang kami melihat wajah engkohnya," sahut Kiau-sim uring-uringan. “Kalian sudah berusia tua tapi masih bersifat berangasan seperti masih muda," demikian Liok Pek-ing angkat bicara lagi, "Ketahuilah Thio-loji mempunyai kesukarannya sendiri dan sudah tentu dia melarang kalian membuka peti mati untuk melihat wajah engkohnya."

“Dia ada kesukaran apa?" tanya Kiau Keng tak mengerti.

Liok Pek-ing menggeleng tanpa membuka suara lagi. Baru saja Kiau Sim hendak bertanya lagi, terdengar Co Lan-pui dari puncak Thian-gwa telah menimbrung: “Kabarnya Thio-lotoa terbunuh dengan seluruh tubuh tercacah lebur, waktu jenazahnya dikirim pulang sudah tidak bisa dikenal lagi karena penuh berlumuran darah."

Bukan kepalang kejut Kiau-si Hengte mendengar keterangan Co Lan-pui ini, tanya Kian Keng ragu-ragu: “Kalau sudah susah dikenal, lalu bagaimana bisa diketahui bahwa jenazah itu adalah Thio-toako adanya?"

“Ha, meski tubuhnya tercacah hancur namun kepala dan mukanya masih utuh," demikian Co Lan-pui memberi penjelasan. "Mungkin saking benci dan dendam maka pembunuh itu telah bekerja tanpa kepalang tanggung. Kukira dalam peristiwa ini pasti ada latar belakangnya apa-apa!"

Kiau-si Hengte menggerung murka sambil mengeprak meja, “Siapakah pembunuh yang turun tangan secara keji itu?" demikian Kiau Keng berteriak keras.

“Tiada seorang jua yang mengetahui," sela Liok Pek-ing. “Sedikit banyak orang yang mengantar jenazah Thio-toako kembali itu pasti mengetahui seluk beluknya."

“Siapa dia? Siapa yang membawa pulang jenazah Thio-toako?" Kiau Sim bertanya gugup.

“Ban-keh-seng-hud Ciu Hou," sahut Liok Pek-ing kalem. “Kita beramai tengah menanti kedatangannya untuk minta sedikit keterangan."

Maka terdengar suara bisak-bisik disana-sini, suasana menjadi ribut, semua orang merasa heran dan tak mengerti.

Sang waktu berjalan dengan cepat, tahu-tahu sang magrib telah menjelang datang, makanan dan minuman mulai dihidangkan lagi, tapi semua hadirin tiada selera untuk makan minum, mereka tengah menanti dan mengharap betul kedatangan Ban-keh-seng-hud Ciu Hou, satu-satunya orang yang paling jelas dan mengetahui duduknya perkara sampai terbunuhnya tuan rumah.

Begitulah dari pagi sampai lohor hingga hari sudah mulai petang mereka menanti tinggal menanti dengan tidak sabar lagi. Waktu penerangan mulai dipasang baru terlihat Thio Thian-ih muncul diambang pintu didampingi oleh Ciu Hou, orang yang sangat diharapkan kedatangannya. Tampak Ciu Hou ini mengenakan jubah panjang warna abu-abu, sikapnya tenang dan sabar, tapi sinar matanya itu menunjukkan bahwa hatinya kurang tentram.

Begitu melihat kehadiran Thio Thian-ih dan Ciu Hou suasana dalam ruang tamu itu menjadi hening lelap, segera Thian-ih silakan para tamu duduk, lantas bersama Ciu Hou dia juga mencari tempat duduknya. Sejenak ia batuk-batuk lantas terdengarlah suaranya yang lantang: “Malapetaka telah menimpa keluarga kami karena kematian Toako itu. Biarlah dengan secawan arak ini atas nama keluarga kuucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas kesudian para kawan dan handai tolan yang telah sudi meringankan langkah untuk datang melawat.” Habis berkata dia mendahului menenggak habis secawan arak. Tanpa bersuara semua hadirin juga mengiringi mengeringkan cawan masing-masing.

Hening sejenak baru saja Thian-ih hendak membuka kata lagi, tiba-tiba salah seorang tamu telah mendahului berkata: “Ciu-tayhu (tabib Ciu), lekaslah kau bercerita cara bagaimana sebetulnya Thio-toako telah menemui ajalnya!"

Seketika sorot mata para hadirin segera tertuju ke arah Ciu Hou. Sebelum Thian-ih keburu menyanggah Ciu Hou sudah bangkit berdiri, suasana dalam ruang makan itu menjadi sedemikian sunyi senyap, semua orang mengharap dengan sangat mendengar ceritanya.

Perlahan-lahan Ciu Hou angkat kepala dan menyapu pandang keempat penjuru, tandas dan lantang terdengar suaranya berkata: “Para hadirin sekalian agaknya ingin benar mengetahui seluk beluk akan kematian Thio-toako. Bicara terus terang sebenarnya aku sendiri juga tidak mengetahui apa-apa. Lalu apa yang harus diceritakan disini?”

Keruan para hadirin bersungut dan menjadi gusar, yang berdarah panas malah menggebrak meja dan memaki kalang kabut. Demikian juga Thian-ih menjadi tak senang dan heran, sungguh tak tersangka olehnya bahwa Ciu Hou bakal berkata begitu, maka cepat-cepat ia berdiri dan bertanya: “Ciu-heng, jenazah Toako adalah kau yang membawa pulang, bagaimana kau mengatakan tidak tahu seluk beluk kematiannya, bukankah sangat ganjil?"

Sahut Ciu Hou: “Secara kebetulan aku menemukan jenazah saudaramu, sedang siapakah yang membunuh mana aku dapat tahu?"

“Ciu-heng," segera Liok Pek-ing ikut menimbrung, “Dimanakah kau ketemukan jenazah Thio-toako?"

“Dipegunungan Ci-bong dalam wilayah Shoatang, diatas bukit itu terdapat sebuah gedung bobrok bekas markas besar So-keh-pang di Ci-bong itu. Konon kabarnya setelah Pangcu tua mereka meninggal dunia, lalu keturunannya membakar gedung bangunan yang tak terpakai lagi, tempat itu sekarang sudah menjadi tumpukan puing-puing," demikian tutur Ciu Hou.

“Kalau begitu bukan mustahil Toako menemui ajalnya dibawah tangan So-keh-pang didaerah Ci-bong itu.”

Tampak Ciu Hou menggeleng kepala serta sahutnya: “Bukan! Bukan orang dari keluarga So yang melakukan perbuatan kejam. Harap Ji-chengcu jangan serampangan menerka.''

“Ciu Hou,'' bentakan Kiau Keng terdengar menggeledek, “Darimana kau bisa mengetahui bahwa itu bukan perbuatan jahat dari keluarga So itu?"

“Sebab waktu aku menemukan jenazah Thio-toako dalam gedung bobrok itu, disampingnya ada rebah seseorang. Dan yang terpenting masih ada....masih ada lagi secarik. " sampai

disini dia menjadi ragu-ragu dan merandek, tampak alisnya berkerut dalam, rupanya ia menyesal telah bicara terlalu banyak.

“Siapakah orang yang pingsan itu?'' desak Kiau Keng tak sabaran.

“Orang itu adalah Chit-chiu-na-jia (Lo-jia bertangan tujuh) Hi Si-ing,'' sahut Ciu Hou tenang meski dirinya diperlakukan kasar dan dibentak-bentak. “Mungkin karena terlalu kaget dan sedih melihat cara kematian Suhunya yang mengenaskan sehingga dia jatuh pingsan. Jadi menurut tafsiranku hanya Hi Si-ing seoranglah yang paling jelas mengetahui seluk beluk kematian Thio-toako."

Lekas-lekas Thio Thian-ih bertanya: “Ciu-heng, dimana Hi Si-ing sekarang?"

Ciu Hou goyang kepala, sahutnya: “Aku sendiri juga heran, dia menghilang secara misterius!"

Lagi-lagi para hadirin menjadi ribut dan berisik, mereka merasa bahwa keterangan Ciu Hou terlalu berbelit-belit dan menyulitkan saja.

Namun Ciu Hou tidak pedulikan keributan itu, terdengar ia berkata lebih jauh: “Waktu pagi itu aku menemukan mereka, Hi-hiantit masih pingsan, maka kutolong dia terlebih dulu, lalu pelan-pelan kutanyakan apakah yang telah terjadi. Mungkin karena ketakutan atau saking duka, perkataannya tidak menentu juntrungnya, mulutnya mengigau dan ngomong seperti orang gila. Terpaksa aku harus turun gunung mencari orang untuk membantu mengurus jenazah Thio-toako. Waktu aku kembali bersama orang-orang dari So-keh-pang, ternyata Hi-hian-tit telah menghilang entah kemana."

“Ciu-heng, tadi kau berkata bahwa sipembunuh tidak mungkin orang dari So-keh-pang. Apakah kau dapat membuktikan omonganmu?" terdengar Liok Peng-ing mendebat keterangan Ciu Hou.

Sekarang baru Ciu Hou sadar tadi telah terlalu banyak mulut, menyesal juga sudah kasep, terpaksa ia menyahut tergagap: “Tentang ini............itu " Sebetulnya ia ragu-ragu dan

segan memberi keterangan sekadarnya, namun dibawah sorotan sekian banyak mata mau tak mau ia harus membuka kata: “Hal itu kudapat keterangan dari Hi-hiantit sendiri. Karena menurut katanya pembunuh Suhunya adalah enam orang berseragam hitam, yang mengenakan kedok.”

Enam orang seragam hitam yang berkedok, siapakah keenam orang ini? Seketika para hadirin tenggelam dalam pemikiran masing-masing mencari jejak sipembunuh dalam ingatan mereka. Sesudah sekian lama tebak sana tuduh sini tiada satupun yang cocok. Akhirnya mereka kembali minta penjelasan kepada Ciu Hou.

“Keparat!" terdengar Kiau Keng yang beradat berangasan memaki gusar, “Ciu-heng, bukankah tadi kau mengatakan bahwa Hi-hiantit sudah tidak waras lagi? Lalu dapatkah keteranganmu ini dipercaya? Hm, kukira justru kau sendiri yang bikin heboh dan ngelantur."

Sebenarnya Ciu Hou tak ingin main debat. Tapi banyak hadirin yang sependapat dengan komentar Kiau Keng ini. Beramai-ramai mereka berteriak : “Ciu Hou coba kau terangkan !"

“Tidak jelas kubunuh kau." dan lain-lain perkataan kotor yang tak enak didengar kuping.

Thio Thian-ih menjadi repot dan gugup berusaha menenangkan suasana yang gaduh lagi kacau balau ini. Begitulah pada saat semua orang sedang ribut mulut, mendadak seorang centeng berlari masuk dengan napas sengal-sengal sambil melapor: “Celaka Ji-chengcu, kebakaran, kamar belakang telah terbakar!"

Saat mana hari memang sudah petang, dalam kegelapan yang remang-remang itu terlihat sinar api yang menjulang tinggi dan berkobar besar.

Bergegas Kiau Keng meloncat bangun serta berteriak: “Para sahabat mari cepat bantu padamkan api. Kalau ada mata-mata musuh jangan dilepaskan!”

Serentak para hadirin beramai-ramai menghunus senjata terus berbondong-bondong memburu keluar. Memang bangunan loteng sebelah dalam sana telah terjilat api yang berkobar besar, angin malam menghembus agak kencang lagi sehingga sang jago merah susah dikendalikan dalam waktu singkat. Semua orang menceburkan diri dalam usaha untuk memadamkan kebakaran ini.

Sebaliknya, Thio Thian-Ih berlaku cerdik, dalam keadaan yang kacau dan gawat ini masih berlaku tenang dan curiga, pikirnya: “Kebakaran ini terjadi secara mendadak dan janggal, ini sangat mencurigakan, aku harus waspada dan hati-hati, seumpama loteng itu terbakar habis juga tidak menjadi soal, yang terpenting ruang layon didepan itu jangan sampai ikut kena cedera.” karena pikirannya ini cepat-cepat ia berlari keruang depan.

Ruang depan masih dalam keadaan gelap karena penerangan disini tidak disulut, waktu Thian-ih tiba dibawah penerangan dua batang lilin didepan layon itu terlihat olehnya sesosok bayangan putih berkelebat. Celaka, diam-diam Thian-ih mengeluh dalam hati, secara hati-hati ia menggeremet maju dan mendadak menyingkap kain gordiyn. Tampak seorang yang mengenakan jubah putih warna perak tengah mengulur tangan menanggalkan pedang yang tergantung diatas dinding, baru perlahan-lahan ia memutar tubuh.

Begitu wajah dan bentuk tubuh bayangan ini terlihat jelas, hampir Thio Thian ih jatuh kelengar saking kejut dan kesima. Karena bayangan putih dihadapannya ini bukan lain adalah Seng-po-sat Thio Thian-ki saudara tuanya sendiri. Sesaat waktu Thian-ih termangu-mangu, bayangan putih itu telah menyorengkan pedang dipinggangnya.

Bahwa orang yang terang sudah mati ternyata muncul lagi didepan matanya, hal ini betul-betul membuat Thio Thian-ih mengkirik dan terkejut, heran dan takut pula. Sesaat ia takut dan ragu akhirnya memberanikan diri membuka suara: “Toako !"

Memang tidak perlu disangkal lagi bahwa orang yang dihadapannya ini laksana pinang dibelah dua, persis benar dengan Thio Thian-ki semasa hidup.

Mendengar panggilan Thian-ih, sijubah perak itu maju selangkah sambil unjuk seringai seram terus menghunus pedang Loh-kim-kian (pedang emas murni) ditangannya, seketika sinar kuning kemilau menerangi seluruh ruang layon yang remang-remang itu, ringan sekali tubuhnya melejit melompati peti mati terus menghampiri kearah Thian-ih.

Seketika terbayang kematian saudaranya yang mengenaskan itu, hati Thian-ih terguncang hebat dan merasa ngeri seram, tanpa merasa ia menyurut mundur beberapa tindak. Sijubah perak itu juga terus mendesak maju. Sekonyong-konyong sijubah perak menggerakkan pedang dengan jurus Ho-hay-ceng-kau sinar kuning berkelebat membabat miring, maka terdengarlah „Bret"….."Byurrr"… kain gordiyn yang mengalingi ruang layon itu seketika robek berjatuhan sehingga Thian-ih gelagapan dan mencak-mencak. Maka dengan enaknya bagai segumpal asap sijubah perak berkelebat menghilang ditengah kegelapan malam.

Waktu Thian-ih bergegas mengejar keluar, bayangan sijubah perak sudah tak kelihatan lagi, hanya terlihat bayangan pohon yang tergoyang-gontai ditiup angin malam. Terpaksa dengan hati lesu Thian-ih kembali keruang layon, peti mati masih utuh menggeletak ditengah ruangan. Tapi setelah terjadi kejadian yang menggiriskan ini, suasana terasa seram menakutkan dan mendirikan bulu roma.

Diam-diam Thian-ih bersangsi bahwa dia tengah bermimpi atau mungkin pandangannya yang kabur, tapi kenyataan bahwa Loh-kim-kiam milik engkohnya yang tergantung didinding itu sudah hilang, kain gordiyn juga bertumpuk diatas tanah, ini membuktikan kalau kejadian yang baru dialami memang kenyataan dan benar-benar terjadi.

Apakah Toakonya belum mati? Lalu siapakah yang berbaring dalam peti mati itu? Atau mungkin engkohnya hanya terluka parah dan kini peti itu telah kosong? demikianlah berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. Sesaat setelah hatinya tenteram, dengan hati-hati ia membuka tutup peti mati dan melongok kedalam.

Tampak tubuh engkohnya masih terbaring dalam peti mati, wajahnya tetap utuh seperti semula, sebuah tahi lalat di pinggir telinga membuktikan bahwa dia benar-benar Thio Thian-ki tulen adanya. Diulurkannya tangan mengelus-elus tahi lalat itu, terang tahi lalat ini juga bukan palsu.

Karena jenazah engkohnja sudah dimandikan tak tega rasanya ia memeriksa lebih lanjut. Hanya terbayang olehnya tanda-tanda bundar menyerupai sekuntum bunga Bwe besar di atas tubuh engkohnya itu. Karena justru tanda cap bundar inilah yang menyebabkan seluruh tubuh engkohnya hancur lebur secara mengenaskan.

Sementara itu, api sudah dapat diatasi, namun tak urung sebagian besar bangunan loteng sudah menjadi tumpukan puing, tak lama kemudian para tamu sudah berdatangan kembali dan berkumpul pula di ruang tamu besar itu. Cepat-cepat Thio Thian-ih menutup pula peti mati. Sebelum kakinya melangkah keluar, tampak olehnya bayangan seseorang telah mendahului melangkah masuk kedalam ruang layon ini, dia tak lain tak bukan adalah Ciu Hou adanya. Agaknya Ciu Hou juga tidak menduga akan kehadiran Thian-ih disini, sejenak ia tertegun lalu ujarnya sambil menghela napas lega: “Ji-chengcu! Ah, membuat aku kaget! Kukira siapa?” Melihat lagak orang yang kurang wajar ini Thian-ih menaruh sedikit curiga, lantas tanyanya: “Ciu-heng, ku ingat tadi kau mengatakan melihat secarik benda disamping tubuh Hi Si-ing dan jenazah engkohku bukan?"

“Secarik barang apakah?" balas tanya Ciu Hou pura-pura heran, "Masa aku pernah berkata demikian, yang kumaksud adalah sebilah pedang yaitu Loh-kim-kiam milik engkohmu itu. Bukankah pedang emas itu sudah disimpan dan digantung di dinding sana?" sambil berkata ia melengos memandang kearah dinding, serta dilihatnya pedang sudah tiada lagi di tempatnya, ia berseru kejut: “Eh, dimanakah Loh-kim-kiam itu?"

Tindak tanduk yang dibuat-buat ini semakin mempertebal kecurigaan Thian-ih, terpaksa ia menyahut: “Ah, Ciu-heng pedang itu sudah kuambil dan kusimpan didalam supaya tidak menambah duka setiap kali melihatnya."

Samar-samar Ciu Hou mengiakan, lalu tanyanya pula: “Ji-chengcu, engkohmu telah meninggal untuk selanjutnya bagaimana kau akan pernahkan dirimu?"

Sahut Thian-ih: “Pertama-tama aku harus mencari jejak Hi Si-ing yang menghilang tak karuan paran itu, tindakan kedua aku harus menuntut balas atas kematian engkohku ini." Ciu Hou goyang-goyang kepala dan berkata: “Ji-chengcu, niatmu ini kurasa kurang bijaksana dan aku kurang menyetujui !"

Thian-ih melenggong, tanyanya keras: “Ciu-heng, lantas bagaimana menurut hematmu. Apa aku harus berpeluk tangan saja akan kematian engkohku ini?"

Ciu Hou ulapkan tangan, sahutnya: "Bukan begitu maksudku, tapi terserah kau mau percaya atau tidak bahwa kau tak mungkin dapat mencari jejak keenam orang berkedok itu. Palagi Hi Si-ing menghilang secara misterius, seumpama kau dapat menemukan dia juga percuma saja, dia takkan dapat memberi keterangan jelas karena pikirannya tidak waras!"

“Ciu-heng," ujar Thian-ih coba membantah, "Betapa pun memang ucapanmu benar, tapi dendam kesumat ini bagaimana juga harus kubalas, meski aku harus menjelajahi seluruh dunia sampai ke ujung langit juga tetap akan kucari sampai dapat jejak pembunuh itu !"

Mendengar tekad Thian-ih yang besar ini pucatlah wajah Ciu Hou, sejenak ia termangu lalu katanya hampir menggumam: “Ji-chengcu, dalam hal ini tak dapat menyalahkan kau, hubungan saudara sepupu memang sangat dalam, demi kehormatan keluarga sudah sepantasnya kau berjuang untuk mencuci hinaan ini, hanya untuk selanjutnya mungkin "

suara Ciu hou semakin lemah dan akhirnya tak terdengar lagi.

“Ciu-heng, apa yang kau katakan?" Thian-ih heran, kecurigaannya semakin besar.

“Ah, tidak apa-apa, Ji-chengcu, marilah kita lekas keluar, kebakaran di belakang itu mungkin sudah dapat dipadamkan."

Benar juga sebelum mereka keluar seorang centeng sudah memburu masuk memberi lapor bahwa kobaran api sudah dapat diatasi, kerugian tidak terlalu besar, sebab-sebab kebakaran masih dalam taraf penyelidikan. Para tamu sudah berkumpul dan tengah menanti di ruang tamu. Maka cepat-cepat Thian-ih ajak Ciu Hou keluar. Tak lupa Thian-ih nyatakan terima kasihnya kepada para tamu yang telah ikut menyusahkan diri dalam mengatasi kebakaran ini.

Berturut-turut Kiau-si Hengte dan Liok Pek-ing melangkah masuk, merekalah yang menyelidiki sebab musabab kebakaran ini. Menurut penyelidikan memang ada seseorang berpakaian serba putih yang sengaja melepas api, gerak geriknya sebat luar biasa begitu kepergok lantas berkelebat hilang dari pandangan mata.

Semua kejadian ini memang sudah dalam perhitungan Thian-ih, maka dengan tenang saja ia dengarkan laporan hasil penyelidikan itu. Di lain saat ia perintahkan untuk menambah hidangan lagi.

“Tak usah banyak repot," terdengar Siu Tat-in orang kedua dari Hek-san-siang-ing berseru tak sabaran. “Memang perut kita sudah keroncongan, agak dingin juga tidak menjadi soal." Begitulah tanpa sungkan-sungkan lagi segera dia mendahului menenggak habis secawan arak.

Maka beramai-ramai para hadirin juga angkat cawan hendak menenggak arak. Mendadak Ciu Hou berseru kejut: “Hai, nanti dulu ! Dalam arak ada racun !" tersipu-sipu dia bangkit sambil menuding ke arah Siu Tat-in.

Keruan semua hadirin terperanjat. waktu mereka berpaling benar juga tampak Siu Tat-in sudah kejang dan terduduk kaku diatas kursinya, nyata bisa racun bekerja teramat cepat. Menghadapi kejadian yang tak terduga ini, Siu Kheng-in tertua dari Hek-san-siang-ing menjadi gugup, gusar dan kalap. Ia berteriak-teriak seperti orang kesetanan: “Ciu Hou, lekas tolong nyawa adikku!''

Para hadirin banyak yang merubung maju hendak menolong, tidak ketinggalan Ciu Hou juga maju memeriksa dengan cermat, tak lama kemudian dia bangkit sambil menghela napas, katanya: “Sudah terlambat, racun ini teramat jahat tiada obat penyembuhnya !''

Keruan Siu Kheng-in semakin gopoh dan gugup setengah mati, saking kehilangan akal tiba-tiba ia samber dan jambret lengan baju Ciu Hou sambil mengumpat caci: “Bedebah kau Ciu Hou. Benar-benar kau tidak sudi menolong adikku?"

Sekali mengebas Ciu Hou bebaskan diri dari cengkraman orang lalu melangkah mundur, katanya dingin: “Siu-lotoa, adikmu menelan racun jahat, obat pemunahnya harus minta kepada penyebar racun itu. Kalau darah mengalir balik dan merusak urat nadi, setengah jam kemudian tak tertolong lagi. Dengan alasan apa kau memaki dan menyalahkan aku?"

Waktu Siu Kheng-in dan Thio Thian-ih memeriksa keadaan Siu Tat-in, memang pernapasannya semakin lembek, tujuh lobang panca-inderanya mengalirkan darah hitam. Dengan kencang Siu Kheng-in peluk tubuh adiknya sambil berteriak sesambatan. Suaranya sedih memilukan. Tapi keadaan adiknya sudah kejang dan tak mungkin mendengar suaranya lagi.

Karena duka dan gusarnya mendadak Siu Kheng-in melompat bangun dengan khilap, matanya mendelik jalang seperti binatang kesetanan, suaranya sember dan bengis menakutkan: “Ciu Hou, dari mana kau sendiri tahu racun itu tak dapat diobati. Hahaha bukan mustahil kau

sendirilah yang menyebar racun itu! Hahaha, orang she Ciu ! Bagus benar perbuatanmu ya!" suara tawanya diselingi isak tangis yang mengenaskan seperti suara kokok-beluk.

Sebagai tuan rumah rasanya tidak enak berpeluk tangan saja, maka cepat-cepat Thian-ih maju sama tengah, bujuknya: “Siu-toako, harap jangan banyak curiga. Lupakah kau akan nama julukan Ciu-heng, orang memanggilnya Ban-keh-seng-hud (Budha hidup berlaksa keluarga), sebagai tabib yang kenamaan sudah tentu dia mengenal banyak racun. Kejadian kali ini mana bisa menyalahkan dia?”

“Ya, betul, bukankah jiwa kita beramai juga Ciu-heng yang menolong. Bila kita sempat menelan arak bukankah semua sudah mati konyol?” demikian Sip Yan-hun dari Ciong-lam-pay ikut menimbrung.

Memang omongan Sip-yan-hun sangat beralasan, maka beramai-ramai semua orang angkat tangan menyatakan beribu-ribu terima kasih kepada Ciu Hou.

“Aku tidak percaya," tiba-tiba Kiau Keng berteriak menggeledek. “Sejak tadi ucapan orang she Ciu ini sudah ngelantur dan sangat disangsikan kebenarannya. Dia tidak mau menerangkan asal mula kematian Thio-toako. Menurut hematku, siapa tahu justru dia sendirilah yang menjadi musuh dalam selimut, atau mungkin juga dialah justru algojonya!"

“Benar, waktu menolong kebakaran tadi diapun tidak muncul," tiba-tiba Kiau Sim ikut menyanggah. “Keparat ini banyak akal muslihatnya, marilah kita ganyang dia dan menelanjangi perbuatannya!"

Hek-san-siang-ing memang benggolan silat yang terkenal keras dan berangasan sifatnya didaerah utara, setelah kematian adiknya pikiran Siu Kheng-in semakin kalut dan tidak waras lagi. Mendengar tembang sebul (hasutan) Kiau-sim Hengte ini semakin cupatlah pikirannya serta berkobarlah hawa amarahnya. "Sret'', tiba-tiba dia lolos ruyung lemasnya terus melompat ketengah ruangan serta tantangnya dengan pandangan mengancam: “Orang she Ciu, kembalikan jiwa adikku!''

“Siu-lotoa, jangan sembrono menyalahkan orang baik," terdengar Thian-ih coba mencegah pertempuran dan menguasai suasana.

“Hm, orang baik apa?" jengek Kiau Keng dan Siau Sim berbareng. “Perutnya itu penuh dengan segala akal muslihat. Hai, orang she Ciu, jangan berlagak sebagai orang baik dihadapan orang, kalau kau seorang jangan majulah kegelanggang dan unjukan kepandaianmu.''

Habis berkata tiba-tiba Kiau Sim mendorong Ciu Hou ketengah ruangan. Memang Ciu Hou sendiri tak kuat menahan sabar mendengar ejekan dan hinaan yang menista semena-mena ini dihadapan sekian banyak orang, bergegas ia melompat dengan tangkas ketengah gelanggang.

Suasana, dalam ruangan besar itu seketika menjadi buncah, para tamu terpecah dalam dua golongan, sepihak menyetujui pertempuran segera dimulai, jelas pihak ini berdiri dibelakang Kiau Keng. Sedang pihak yang lain merasa simpatik kepada Ciu Hou. Maka terjadilah perdebatan seru dlantara para tamu sendiri. Keadaan menjadi semakin ribut dan gaduh kacau balau, agaknya suatu pertempuran besar-besaran yang dahsyat susah terhindar lagi.

Adalah Thian-ih sendiri yang menjadi getol dan gegetun, saking jengkel ia berteriak-teriak berusaha mencegah dan menghentikan perdebatan massa ini, namun suaranya sendiri kelelap dalam suasana yang hiruk-pikuk ini, nyata sia-sialah jerih payahnya.

Dalam pada itu, sambil mengayun ruyung lemasnya dengan jurus Koay-bong-jam-sim (ular sanca membelit tubuh) Siu Kheng-in menyerampang pinggang Ciu Hou sambil memaki kalang-kabut: “Orang she Ciu serahkan jiwamu!"

Sebat sekali Ciu Hou lompat menyingkir tanpa balas menyerang. Namun permainan ruyung Siu Kheng-in ternyata cukup hebat dan mahir sekali, begitu jurus pertama gagal, jurus selanjutnya sudah merangsang pula dengan tipu Hong-lui-kun-te (petir menggelegar menggulung tanah), ruyung dan tubuhnya seakan menjadi satu, sigap sekali tubuhnya mengejar tiba, kali ini senjatanya menyerampang kedua kaki musuh.

Ciu Hou masih berlaku tenang dan mengalah tanpa balas menyerang, sedapat mungkin dia menahan sabar. Waktu ruyung musuh menyerampang tiba-tiba, tubuhnya melejit tinggi terus meluncur kesamping dengan lincah sekali. Keruan Siu Kheng-in menubruk tempat kosong, malah saking bernafsu dan besar tenaganya, tubuhnya terus menyelonong ke depan tanpa terkendali.

Para penonton berseru kejut dan menahan napas.

Dasar berangasan begitu memutar tubuh Siu Kheng-in menubruk maju lagi dengan nekad dan kalap seperti banteng ketaton. Sesabar-sabar orang tentu ada batasnya, demikianlah Ciu Hou, sambil menghindar kesamping terdengar suaranya melengking tinggi: "Siu-lotoa, sudah dua jurus aku memberi kelonggaran kepadamu, apa kau benar-benar ingin mengadu jiwa, bagaimana maksudmu sebenarnya ?" “Keparat, orang she Ciu, setelah kau mencelakakan jiwa adikku, biar hari ini aku mengadu jiwa dengan kau." sambil memaki serangan Siu Kheng-in semakin gencar, ruyung lemasnya bergerak lincah laksana seekor naga, saban-saban menukik dari atas dan mematuk dari samping seperti hidup mengancam jiwa lawannya.

Menghadapi serangan berantai ini akhirnya Ciu Hou terdesak dan geramlah hatinya, darah bergolak dirongga dadanya. Saking tak tahan lagi akhirnya ia memaki: “Siu-lotoa, kurcaci benar kau ini! Kau sudah gila dan buta tak dapat membedakan jahat dan jujur. Kalau aku selalu mengalah bukankah menjadi buah tertawaan para sahabat dikolong langit ini. Baiklah, terpaksa aku harus belajar kenal dengan kepandaian Hek-san-siang-ing yang hebat!" Sambil berkata tubuhnya jumpalitan dengan gaya yang indah, tahu-tahu tangannya sudah menggenggam sebatang kipas, inilah senjatanya.

Ruyung Siu Kheng-in agak panjang dan menguntungkan, setiap kali senjata lawan merangsak tiba terpaksa Ciu Hou harus lompat menghindar. Tapi segesit itu pula tubuhnya mendadak sudah melejit datang lagi sambil menggerakkan kipas ditangannya menutuk jalan darah Hian-ki-hiat ditubuh Siu Kheng-in.

Sekali turun tangan tidak kepalang tanggung Ciu Hou unjukkan pelajaran silat yang ampuh dan lihay sekali, gerak geriknya selincah seekor kera seenteng burung, langkahnya juga teratur rapi, sampai puluhan jurus kemudian Siu Kheng-in terbalik menjadi terdesak dan kerepotan, keadaannya semakin berbahaya, satu kali pada saat dirinya terancam tutukan kipas musuh dan dirinya tak mampu berkelit lagi mendadak ia berlaku nekad, membarengi dengan tibanya tutukan kipas musuh, mendadak ia kerahkan seluruh tenaganya di kedua tangan terus mendorong ke depan, sungguh sangat kebetulan sekali perbuatan nekadnya ini ternyata berhasil menggempur miring tutukan musuh, selamatlah jiwanya dari lobang jarum.

Pertempuran berjalan semakin seru. Kalau kipas Ciu Hou menari-nari bagaikan seekor kupu-kupu, sebaliknya ruyung Siu Kheng-in bergerak lincah selulup timbul laksana seekor ular hidup berputar menderu-deru. Saking sengit bertempur untuk mempertahankan jiwa hidupnya, maka bayangan kedua orang ini menjadi kabur dan susah dibedakan satu sama lain.

Dalam sekejap mata sepuluh jurus telah berlalu lagi, Ciu Hou bersilat semakin bersemangat karena senjata kipasnya pendek dan serba guna, bukan saja dapat digunakan sebagai pedang pendek untuk membacok seperti golokpun boleh dan yang terutama senjata ini peranti untuk menutuk jalan darah musuh, ditambah ilmu Ginkang Ciu Hou memang setingkat lebih tinggi dari Siu Kheng-in, dicecar sedemikian rupa keruan Siu Kheng-in mengeluh dalam hati.

Satu ketika waktu Ciu Hou berlaku sedikit lambat mendadak Siu Kheng-in menggerung keras, lowongan sedikit ini cukup untuknya balas menyerang, tahu-tahu ruyung bajanya telah menyusup masuk bagai kepala seekor ular mengancam dan hendak mematuk dada Ciu Hou. 

Karena sedikit alpa ini hampir saja Ciu Hou harus membayar mahal, keruan kagetnya bukan kepalang, untuk berkelit sudah tak mungkin lagi, satu-satunya jalan ia tekan ujung ruyung musuh dengan kipasnya berbareng mengerahkan sekuat tenaga terus gunakan tipu Su-nio-poat-jian-kin (empat tahil menolak ribuan kati), untuk punahkan daya kekuatan serangan musuh ini.

Dilain pihak Siu Kheng-in sendiri juga tidak tinggal diam, sekuat tenaga ia pertahankan ruyungnya supaya tidak sampai tertekan turun, maka ruyungnya yang lemas tadi kini menjadi keras kaku bagai sebatang tongkat. Maka terjadilah adu tenaga dalam yang jarang terjadi ini yang beralaskan senjata masing-masing. Kedua pihak adalah gembong-gembong silat kenamaan di kalangan Kangouw, demi jiwa dan gengsi, mereka harus peras keringat dan berkutat sekuat tenaga kalau tidak mau menderita kalah dan malu, saking hebat adu kekuatan ini ruyung baja Siu Kheng-in sampai bersuara mendesis.

Para hadirin terkesima dan kagum tak terhingga menonton pertunjukan sengit yang mendebarkan dan menggoncangkan sukma ini.

Siu Kheng-in insaf bahwa tenaga dalamnya ada sedikit dibawah musuh, untuk memperoleh kemenangan memerlukan jangka panjang dan itu terlalu banyak mengudal tenaga, kalau keadaan ini berlangsung terus pasti dirinya yang bakal celaka. Karena pertimbangan ini besar hasratnya untuk mengambil kemenangan dalam waktu singkat, dan ini memerlukan ketabahan luar biasa karena harus menyerempet bahaya, bukan mustahil dirinya bakal terluka parah atau meninggal seketika karena gempuran tenaga dalam musuh yang hebat itu.

Diluar tahunya ternyata Ciu Hou juga tidak kalah cerdiknya, melihat sinar mata lawan yang kurang tentram, diam-diam ia sudah menebak jitu isi hatinya. Begitulah waktu musuh tarik balik ruyung bajanya, secepat kilat ia barengi dengan lancarkan sebuah tutukan yang mengarah jalan besar di dada Siu Kheng-in. Jurus ini dinamakan It-sia-jian-li (Sekali meluncur seribu li) serasi benar cara menyerang ini dengan nama jurusnya.

Dasar Siu Kheng-in sudah berpikiran gelap dan nekad untuk gugur bersama, tanpa hiraukan tutukan musuh iapun mengayun ruyung bajanya menggunakan jurus Giok-tay-wi-yao (sabuk kemala membelit pinggang) menyabet perut Ciu Hou.

Dalam saat kedua belah pihak terancam bahaya inilah mendadak secara diluar dugaan meluncurlah sebuah benda yang berbentuk aneh, laksana seekor ular terbang tahu-tahu ruyung baja Siu Kheng-in kena digubat terus disentakkan kesamping. Karena tidak menyangka hingga kedudukan Siu Kheng-in tergempur goyah, tanpa ampun tubuhnya ikut terbawa nyelonong kesamping, bukan saja serangan ruyungnya gagal malah dia sendiri juga selamat dari tutukan maut kipas Ciu Hou. Sungguh harus dipuji sikap Ciu Hou yang tenang dan sabar sportif, sedikitpun ia tidak ambil mumat perobahan yang terjadi mendadak ini, cepat-cepat ia tarik kipasnya terus mundur berapa tindak.

Setelah pertempuran berhenti baru semua hadirin melihat tegas, kiranya saat itu Thio Thian-ih telah berdiri ditengah kalangan, secara tepat ia turun tangan melerai pertempuran adu jiwa. Serta melihat senjata yang digunakan untuk melerai pertempuran tadi tanpa merasa semua orang tersenyum dan tertawa geli. Ternyata benda atau senjata yang digunakan untuk memisah tadi adalah seutas tali rumput yang semula menggubat dipinggangnya. Disamping memuji merekapun merasa kagum tak terhingga, coba bayangkan hanya seutas tali rumput saja ternyata kuat untuk menahan ruyung dan kipas yang terbuat dari baja, ini masih belum yang lebih hebat adalah bahwa orang yang menggunakan senjata tali ini pasti Lwekangnya sudah mencapai puncak tertinggi sehingga secara tepat ia dapat memisah sama tengah.

Sambil tersenyum lebar terdengar Thian-ih bicara: “Kesalahan paham kalian adalah karena urusan Siaute, hal ini sungguh harus disesalkan. Harap sukalah kalian memaafkan dan menyudahi pertempuran ini.”

Tindakan Thian-ih ini boleh dikata sangat tepat dan jujur, bukan saja sikapnya ini menempatkan dirinya sama tengah merendahkan diri pula. Sudah tentu Ciu Hou dan Siu Kheng-in menjadi serba salah dan tak enak diri untuk meneruskan pertempuran tanpa juntrungan.

Segera Ciu Hou membalas hormat serta katanya: “Ji-chengcu aku masih ada urusan penting, maaf kalau aku harus segera berangkat. Tentang kematian engkohmu, silakan kau berangkat ke Ci-hong-san untuk menyelidiki dan melihat dari dekat. Hanya ada yang perlu saya tekankan bahwa peristiwa kali ini tiada sangkut-paut apa-apa dengan So-keh-pang! Untuk hal ini kumohon kebijaksanaan Ji-chengcu dikemudian hari.”

Cepat-cepat Thian-ih membalas hormat serta nyatakan terima kasih akan bantuan orang yang tidak kecil artinya, lalu katanya menambahi: “Dendam kesumat ini bagaimana juga harus kubalas, seperti nasehat Ciu-heng tadi, pasti aku harus bertindak hati-hati dan waspada melihat kenyataan. Berkat bantuan Ciu-heng sehingga jenazah Toako dapat diantar pulang, budi serta bantuan besar nasehat-nasehat berharga tadi pasti akan kuingat sepanjang masa."

Tanpa banyak kata lagi Ciu Hou segera ambil berpisah dengan semua hadirin, banyak juga yang membalas salam perpisahan ini. Sementara orang-orang yang berpihak pada Kiau-si Hengte dan Siu Kheng-in masih penasaran, mereka mengantar keberangkatan Ciu Hou dengan pandangan dongkol dan penasaran.

Setelah Ciu Hou berlalu hidangan diganti yang baru, uap masih panas, beramai-ramai para tamu mulai gegares hidangan-hidangan sederhana dengan lahapnya. Hanya Siu Kheng-in seorang yang tepekur sedih ditempat duduknya, hatinya duka dan nestapa akan kematian adiknya itu.

Tengah makan minum itu, mendadak Kiau Keng angkat bicara lagi: “Ji-chengcu, kapan kau berangkat ke Shoa-tang?”

“Setelah semua urusan disini beres. Kira-kira besok lusa aku berangkat."

“Kepergian Ji-chengcu ke Shoatang adalah untuk menuntut balas, sebagai seorang kawan yang setia dari engkoh-mu tidak bisa tidak kami harus turut membantu. Biarlah secara sukarela Kiau-si Hengte mengorbankan segalanya untuk mengiringi keberangkatanmu. Entah masih ada lain sahabat mana yang ingin ikut serta?"

Sungguh diluar dugaan reaksi para hadirin ternyata dingin-dingin saja. Ternyata hanya Siu Kheng-in seorang yang ingin ikut.

Segera Thio Thian-ih berseru lantang: “Aku yang rendah tidak berani membikin repot para sahabat, biarlah urusan keluarga ini Siaute hadapi sendiri seumpama pihak musuh terlalu tangguh barulah aku minta bantuan sekadarnya dari para sahabat saja."

Segera Kun-suseng Liok Pek-ing Pangcu dari Ho-bwe-pang dari Kanglam membuka suara: “Arus gelombang sungai Tiangkang dari depan mendorong kedepan. Orang muda menggantikan orang tua. Ji-chengcu adalah angkatan muda yang gagah perkasa seumpama naga. Berpendirian teguh dan cermat dalam segala bidang. Seperti apa yang dikatakan tadi, kita ini memang golongan kasar yang selalu repot dengan segala urusan tetek-bengek. Menurut hematku biarlah kita berpencar menurut arah masing-masing untuk ikut menyelidiki peristiwa ini. Seumpama kelak Ji-chengcu dapat menemukan musuh besarnya dengan secarik kertas saja kiranya cukup untuk mengundang kita beramai untuk datang membantu. Betapapun lihay ilmu silat musuh, dibawah tekanan persatuan kita beramai apa lagi yang harus kita takuti !" Dalam makan minum ini, suasana menjadi ramai lagi dengan berbagai percakapan panjang lebar. Memang semua hadirin boleh dikata adalah sahabat karib Thio Thian-ki semasa masih hidup. Terhadap pribadi Thio Thian-ih mereka hanya kenal kulitnya saja. Maka banyak yang ingin tahu akan asal-usul kepandaian silat Ji-chengcu yang lihay itu.

Thian-gwa-hong Co Lan-pui adalah seorang kelana yang banyak pengalaman dunia Kangouw maka tidaklah heran dia yang menjadi sasaran pertanyaan ini. Tatkala itu Thian-ih sedang mengundurkan diri untuk mengurus jenazah Siu Tat-in. Kesempatan inilah digunakan untuk menutur dan memperkenalkan segala sesuatu mengenai pribadi Thio Thian-ih.

Kiranya usia kakak beradik keluarga Thio ini terpaut sangat banyak. Ternyata Thio Thian-ki lebih tua 20 tahun lebih dari adiknya. Menurut ceritanya waktu melahirkan adik kecilnya ini, yaitu Thian-ih, usia orang tua mereka sudah agak lanjut dan tak lama kemudian beruntun meninggal dunia. Maka tugas momong dan membimbing adiknya ini jatuh pada bahu engkohnya yang sudah dewasa.

Semasa masih muda Thio Thian-ki pernah mendirikan sebuah perusahaan pengangkutan. Pedang Loh-kim-po-kiam adalah tinggalan leluhurnya yang telah ikut menjunjung tinggi nama perusahaannya yang semakin besar dan berkembang. Bertahun-tahun dia malang melintang hingga lama kelamaan namanya tenar dan sangat disegani di kalangan Kangouw.

Waktu Thian-ih menanjak usia 10 tahun, Thian-ki pulang ke Title dalam keresidenan Sam-ho ini dan mendirikan perkampungan Thio-keh-cheng. Maka sejak saat itu Thio Thian-ki lantas mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan dan memperdalam ilmu silatnya dalam pengasingan ini. Setiap tahun hanya sekali dua saja dia pergi meninggalkan perkampungan mengurus keperluan, maka banyak waktu yang terluang untuk mengajar silat kepada adik kecilnya yaitu Thian-ih. Waktu Thian-ih berusia 15, Thian-ki membawanya ke Kiam-hun-san It Ho Kisu untuk dijadikan murid orang berilmu ini.

Kiam-bun-it-ho demikian nama julukan guru Thian-ih itu adalah seorang angkatan tua yang berilmu sangat tinggi, tiada seorangpun yang mengenal riwayat hidupnya. Konon kabarnya pernah pada 30 tahun yang lalu waktu It Ho Kisu melancong ke Kanglam. Suatu ketika ia tiba di Hangciu menunggang seekor bangau terbang lewat diatas Se-Ouw (telaga barat) kejadian ini menimbulkan rasa tak puas pada Chit-lo atau tujuh orang tertua daerah selatan yang kenamaan dengan sebutan Leng-hun-chit-lo. Dalam suatu pertengkaran akhirnya dijanjikan untuk mengadu kepandaian diatas puncak Leng-hun. Ternyata dalam pertempuran yang tidak diketahui kalayak ramai sebelumnya ini, dengan gampang Chit-lo telah dikalahkan satu persatu. Maka sejak saat itu nama Kiam-bun-it-ho yang masih muda remaja semakin menanjak tinggi dan menggemparkan Bulim.

Begitulah semakin besar dan tenar namanya semakin membuat banyak orang sirik terutama para lawan atau saingannya sehingga melibatkan banyak kesukaran. Maka berbondong-bondong kaum persilatan yang mencari jejaknya untuk diajak adu kepandaian. Tapi karena jejaknya tidak menentu dan susah dicari maka banyak yang kecele. Memang sejak dapat mengalahkan Chit-lo, jago muda ini terus melenyapkan diri dan tak terdengar pula kabar ceritanya. Beberapa tahun kemudian baru diketahui bahwa beliau ternyata telah mengasingkan diri di puncak Kiam-bun-san.

Pernah terjadi pula sebanyak lima belas tokoh-tokoh silat dari berbagai aliran di utara meluruk datang ke Kiam-bun-san ini untuk menantang berkelahi. Bagaimana kesudahan adu kepandaian itu tiada seorangpun yang tahu. Yang terang sejak adu kepandaian itu, kelima belas tokoh-tokoh silat itu lantas menutup pintu mengasingkan diri.

Sejak mana maka nama Kiam-bun-it-ho semakin menanjak tinggi dan menggetarkan dunia persilatan. Banyak para angkatan muda yang mencari jejaknya pula namun mereka hanya ingin diambil sebagai murid atau hendak berguru kepada beliau. Tapi mereka semua kembali dengan kecewa karena setelah menjelajah lembah curam dan hutan lebat mengalami berbagai rintangan dan bahaya, bukan saja jejak Kiam-bun-it-ho tidak diketemukan malah banyak yang jiwanya melayang secara sia-sia karena mengalami berbagai kecelakaan.

Demikian juga Thio Thian-ki bukan sedemikian gampang dapat menemukan jejak orang kosen itu. Sebanyak lima kali ia memanjat Kiam-bun-san, baru yang terakhir dapat menemukan tempat pengasingan orang kosen ini. Beruntung Thian-ih diterima menjadi muridnya. Maka sejak berusia lima belas Thian-ih belajar ilmu silat kepada guru besar yang kenamaan ini, selama beberapa tahun ia digembleng luar dalam diatas gunung menjadi orang yang memiliki kepandaian tinggi. Selama bertahun-tahun diatas gunung hanya setiap tahun baru saja ia turun gunung kembali ke rumah untuk berkumpul dengan keluarganya.

Thio Thian-ki mengundurkan diri dimasa jaya-jayanya sudah tentu hal ini menimbulkan rasa heran dan banyak pertanyaan diantara para sahabatnya. Hidupnya sangat bersahaja, sifatnya agung dan suka membela yang lemah dan terbuka tangan lagi untuk menolong yang sengsara. Maka khalayak ramai memberi julukan Seng-po-sat atau si Budha hidup kepada si dermawan ini.

Kalau diluaran Sang Budha hidup terkenal sangat budiman, namun sebetulnya hidup kekeluargaan Thio Thian-ki ternyata mengalami banyak penderitaan batin. Karena selama beberapa tahun dia menikah namun belum dikaruniai anak, maka Thian-ih dipandang sebagai anak didiknya yang paling disayang. Setiap tahun adiknya pulang sekali kerumah untuk merayakan tahun baru beberapa hari terus kembali ketempat perguruannya, memang setiap Thian-ih berada di rumah baru kelihatan kegembiraan Thio Thian-ki, tapi sekembali adiknya keatas gunung wajahnya selalu muram dan bersungut tak gembira. Mungkin karena tidak betah tinggal dirumahnya pada suatu hari ia berangkat pergi entah merantau kemana, setelah beberapa bulan berlalu mendadak didapat kabar jelek tentang terbunuhnya Thio Thian-ki secara misterius.

Sedemikian besar rasa kasih sayang Thio Thian-ki terhadap adiknya kecil ini. Maka tidak heran kalau sedemikian besar pula tekad Thio Thian-ih hendak menuntut balas bagi kematian engkohnya.

Dalam pada itu setelah mengetahui bahwa Thio Thian-ih ternyata adalah murid Kiam-bun-it-ho, serta merta para tamu merasa kagum dan menaruh hormat kepadanya.

Keesokan harinya setelah upacara penguburan jenazah Thio Thian-ki selesai, beruntun para tamu minta diri untuk pulang. Tinggal Kiau-si Hengte dan Siu Kheng-in bertiga yang masih tinggal, menurut rencana merekalah yang hendak ikut berangkat menuju ke pegunungan Ci-bong di Shoa-tang.

0000

Disebuah jalan raya diperbatasan antara Hopak dan Shoatang, tampak empat ekor kuda dilarikan kencang di-bawah terik matahari. Debu mengepul tinggi dibelakang mereka. Satu diantara keempat penunggang kuda yang ditengah-tengah berpakaian putih mulus berwajah ganteng cakap, alisnya lentik dan matanya bersinar terang. Keadaan ini sangat berbeda menyolok mata dibanding ketiga penunggang kuda yang lain, mereka berwajah kasar tapi bertubuh kekar dan gagah, sekali pandang orang akan menyangka dia hanya seorang pelajar yang beriring jalan dengan tiga pengawalnya.

Keempat orang ini tidak lain tak bukan adalah Thio Thian-ih, Kiau-si Hengte dan Siu Kheng-in. Thio Thian-ih dan Siu Kheng-in selalu berkerut alis, wajah mereka menunjuk kekesalan dan murung.

Hari itu mereka sudah melampaui kota Tek-ciu, hari sudah hampir magrib, maka pada kota selanjutnya mereka mencari rumah makan untuk tangsel perut, rumah makan ini sepi-sepi saja hanya ada beberapa tamu. Tengah mereka makan minum, terasa ada seorang tengah mengamat-amati gerak gerik mereka dari meja sebelah sana.

Memang sepanjang perjalanan Thio Thian-ih selalu awas, sedikit gerak yang mencurigakan saja sudah menarik perhatiannya, maka secepat itu dia sudah merasa bahwa dirinya tengah diintai oleh orang lain. Dengan tenang seperti tak terjadi apa-apa, Thian-ih bangkit lalu menghampiri jendela pura-pura melihat pemandangan diluar sana, namun hakikatnya diapun perhatikan tindak tanduk orang ini secara diam-diam.

Terlihat olehnya dimeja sebelah kanan sana tengah duduk seorang setengah baya berusia 50-an berpakaian seorang sastrawan, wajahnya pucat kekuning-kuningan, dibawah dagunya tumbuh dua jalur jenggot pendek. Orang ini tengah termenung sambil minum arak, saban-saban matanya melirik kearah mereka.

Karena curiga diam-diam Thian-ih perhatikan orang ini dengan cermat. Agaknya orang itu menjadi sadar bahwa dirinya telah dicurigai, pelan-pelan sinar matanya beralih dan dengan tepat saling beradu pandang dengan Thian-ih. Sekilas orang itu tersenyum sambil sedikit manggut, sikapnya wajar dan seperti tidak bermaksud jahat.

Tergerak hati Thian-ih tengah ia melongo heran orang itu sudah bangkit dan jalan menghampiri kearah dirinya. Sambil membungkuk terus dia memperkenalkan diri: “Cayhe To Yung, kulihat wajah Kongcu ada mirip dengan seorang sahabat kentalku, maka maafkan perbuatan yang kurang hormat tadi. Kuharap Kongcu tidak salah paham.”

Melihat orang bersikap sopan merendah dan jujur terpaksa Thian-ih menyahut: “Ah, mana berani.''

Rasanya orang yang mengaku bernama To Yung ini semakin mendapat hati, tanyanya lebih lanjut: “Harap tanya siapakah she dan nama Kongcu ini?"

“Cayhe Thio Thian-ih "

“Oh," To Yung berseru kejut. “Ternyata Ji-chengcu benar-benar telah datang, tentang kematian engkohmu " berkata sampai disini mendadak ia merandek dan ragu-ragu untuk

bicara terus.

“Apakah To-heng juga mengetahui seluk beluk kematian engkohku itu?"

“Ya, memang begitulah," sahut To Yung perlahan. “Tempat ini kurang leluasa untuk bicara, biar nanti tengah malam aku datang berkunjung pula." Sekilas ia melirik ke arah Kiau-si Hengte dan Siu Kheng-in, lalu cepat-cepat minta diri dan turun loteng.

Malam telah tiba, Thio Thian-ih tidur sekamar dengan Siu Kheng-in, agaknya perjalanan yang jauh ini sangat meletihkan, maka begitu rebah Siu Kheng-in terus mengeros pulas tenggelam dalam alam mimpinya. Sebaliknya Thian-ih malah tidak bisa tidur, ia duduk termenung menghadapi pelita, begitulah ia habiskan sang waktu sambil menanti kedatangan To Yung. Tempo hari Ciu Hou mengatakan hanya Hi Si-ing seoranglah yang mengetahui duduk peristiwa tentang terbunuhnya engkohnya. Siapa tahu hari ini To Yung juga mengatakan bahwa diapun tahu seluk beluk peristiwa yang mengenaskan itu. Entah siapa dan bagaimana martabat orang ini sebenarnya?

Demikianlah tengah ia termenung-menung, tiba-tiba terdengar ketokan pintu yang sangat lirih, kiranya To Yung telah datang menepati janjinya. Setelah Thian-ih menyambutnya masuk dan menyilahkan duduk mulailah To Yung bercerita dibawah sinar pelita yang guram.

Menurut apa yang dikatakannya bahwa diapun seorang dari kalangan persilatan, para kawan kaum persilatan memberi julukan Kang-ouw San-jin (orang kelana di kangouw). Dia mempunyai hubungan sangat kental dengan pihak So-keh-pang di pegunungan Ci-bong itu. Kejadian pada suatu hari waktu dirinya tengah mertamu disana secara kebetulan ia mempergoki peristiwa pembunuhan itu.

Menurut ceritanya pula bahwa sejak lama antara Thio Thian-ki dengan pihak So-keh-pang telah tertanam permusuhan yang mendalam. Beberapa tahun yang lalu waktu Pangcu tua dari So-keh-pang yaitu So Gun-u belum wafat, markas besar mereka memang terletak di puncak pegunungan dalam gedung bobrok itu, sebelum ajal ia meninggalkan pesan pada ahliwarisnya minta dirinya dikubur di puncak itu juga dan ditekankan pula kepada putra-putrinya untuk membunuh Thio Thian-ki supaya sakit hatinya bisa terbalas.

Setahun sebelum dia meninggal dunia pernah diciptakan semacam senjata perkakas kompres yang ganas dan jahat, senjata ini terbuat dari baja murni yang berbentuk seperti kuntum bunga bwe, bukan saja tajam luar biasa malah dilumuri racun lagi. Agaknya sedemikian besar rasa dendamnya terhadap Thio Thian-ki maka dalam pesannya itu dia meminta supaya memancing Thio Thian-ki datang ke Ci-bong lalu menjebaknya dan membunuhnya dengan senjata kompres yang ganas itu.

Hwe-bu-siong (kelabang terbang) So Tiong mewarisi kedudukan ayahnya menjabat pangcu dari So-keh-pang, sebagai seorang anak yang menjunjung tinggi pesan leluhur, dia berusaha keras untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepada dirinya. Maka dengan berbagai cara dia berdaya upaya untuk mengundang Thio Thian-ki datang. Secara kebetulan musim semi beberapa bulan yang lalu Thio Thian-ki keluar mengembara lagi, maka ia menyebar kaki tangannya memancingnya datang ke atas puncak Ci-bong itu, usahanya ternyata berhasil.

Sebetulnya Thio Thian-ki sudah lama melupakan ganjelan hati dengan pihak So-keh-pang, malam itu secara kebetulan ia lewat di pegunungan Ci-bong itu, diluar tahunya dirinya sudah masuk jebakan yang diatur musuh. Dibawah pimpinan Hwe-bu-siong beserta lima tokoh terlihay dari So-keh-pang akhirnya Thian-ki bertekuk lutut dan menyerah kalah menerima ajal dengan konyol di gedung bobrok itu. Tubuhnya dicacah hancur lebur.

Waktu cerita To Yung berakhir, Thian-ih sudah tak kuat menahan kepiluan hatinya, airmata meleleh deras membasahi pipinya. Segera ia bangkit memberi hormat serta katanya: “To-heng, sebelum ini kita tidak kenal satu sama lain. Karena keteranganmu ini baru Siaute sadar bagai menyingkap awan melihat matahari. Budi yang besar ini selama hidup akan kuingat dan kuucapkan beribu terima kasih, kini harap sukalah terima hormat Siaute.” Habis berkata ia bersiap hendak berlutut.

Lekas-lekas To Yung mencegah, kedua tangan menyanggah kedua pundak Thian-ih. Maka seketika Thian-ih merasa suatu tolakan tenaga besar orang yang luar biasa ini.

Terdengar To Yung berkata lagi: “Ji-chengcu sebetulnya aku tak perlu turut campur dalam urusan ini. Tapi sebagai orang yang berperikemanusiaan aku merasa jijik dan tak puas akan kekejaman orang-orang So-keh-pang itu. Demi kebenaran dan keadilan terpaksa aku harus membeber rahasia mereka ini dihadapanmu supaya kau tidak terjebak pula kedalam tipu daya mereka. Aku tahu pada suatu hari pasti kau akan datang menuntut balas dan lewat disini, maka sudah lama aku menunggu kedatanganmu ini.”

Mendadak tergerak hati Thian-ih, lantas tanyanya: “To-heng, jenazah engkohku adalah Ciu Hou yang membawa pulang, apakah dia utusan orang dari So-keh-pang?”

“Kurasa bukan begitu,” sahut To Yung. “Ciu Hou adalah seorang yang baik hati dan bijaksana. Memang secara kebetulan dia menemukan jenazah engkohmu dalam gedung bobrok itu. Untuk membawa pulang terpaksa Ciu Hou minta orang-orang So-keh-nang untuk membantunya. So Tiong itu ternyata manusia cerdik pandai dan licik, ia pura-pura tidak tahu menahu tentang peristiwa yang menyedihkan itu, untuk menghapus kecurigaan orang ia mengutus anak buahnya membantu Ciu Hou mengirim pulang jenazah engkohmu."

Lalu To Yung menambahi: "Engkohmu mempunyai seorang murid, waktu melihat keadaan kematian gurunya yang mengenaskan itu dia jatuh pingsan. Ternyata Orang-orang So-keh-pang bekerja tidak kepalang tanggung, murid keponakanmu itu dicekoki arak beracun sehingga pikirannya kurang waras dan menjadi gila !”

“To-heng dimanakah dia sekarang?"

“Mungkin masih dipenjarakan di So-keh-pang!''

Hati Thian-ih kurang tenteram dan risau, jejak musuh besarnya telah diketahui, sakit hati ini pasti dapat terbalas, hatinya menjadi girang dan kuatir. Girang karena musuh besar telah berada didepan mata, kuatir karena teringat olehnya bahwa gurunya yaitu Kiam-bun-it-ho selamanya paling benci urusan balas membalas. Sepak terjangnya hari ini belum mendapat persetujuan atau restunya, bagaimana kelak kalau dirinya mendapat marah dan dihukum karena kesalahan ini.

Melihat orang termenung, To Yung ikut menghela napas, katanya: “Ji-chengcu, engkohmu adalah seorang dermawan yang bijaksana maka diberi julukan si Budha Hidup, namanya sudah sangat tenar dan disegani. Agaknya pihak So-keh-pang juga rada menyesal telah berbuat sekeji itu, maka mereka merahasiakan perbuatannya. Secara sangat kebetulan aku saksikan pembunuhan keji itu, maka kuharap nanti Ji-chengcu tidak menyebut-nyebut namaku dihadapan orang-orang So-keh-pang supaya tidak membawa kesukaran bagi pribadiku dikelak kemudian hari."

Thian-ih tertawa gelak-gelak, katanya : "To-heng, kau terlalu berkecil hati, meski rendah kepandaianku tapi aku pantang mundur menghadapi ke-enam durjana itu, selama hayat masih dikandung badan tidak akan kubiarkan mereka tetap bernapas didunia ini. Hahaha, kecuali aku sudah gugur terpaksa aku tak dapat merintangi mereka mencari perkara kepada kau..."

“Ji-chengcu mengapa kau berkata begitu," cepat-cepat To Yung menyela. “Sebagai murid Kiam-bun-it-ho yang kenamaan, tentu bangsa kurcaci seperti So Tiong dan begundalnya bukan tandinganmu, namun kupinta bagaimana juga kau jangan menyebut-nyebut namaku yang rendah ini dihadapan mereka.”

Thian-ih agak sangsi dan terkejut melihat orang sedemikian mendesak untuk merahasiakan namanya, batinnya: “Darimana orang ini tahu kalau aku murid Kiam-bun-It-ho?" demikian dalam hati ia bertanya-tanya, tapi dimulut terpaksa dia menyahut: “To-heng, legakan hatimu tidak nanti aku membawa-bawa namamu dalam urusan ini.''

Melihat Thian-ih meluluskan To Yung merasa lega dan girang, ujarnya : “Ji-chengcu, kulihat kau masih muda dan berambek besar, wajahmu tampan dan ganteng, apakah telah mengikat tali perjodohan?" suaranya halus, wajahnya berseri simpatik.