Pusaka Tongkat Sakti Jilid 3

Jilid 03

Maka ia bersama Hayhauw lalu pergi mencari keseluruh pelosok kampung. Setiap orang ditanyanya kalau-kalau melihat putrinya itu, namun jawaban yang selalu diperolehnya hanya menyebabkan pikiran yang bingung membuat hati makin cemas dan gelisah. Beberapa orang kenalannya membantunya pula secara beramai-ramai disepanjang sungai yang tak berapa jauh letaknya dari dusun itu, usaha ini dilakukan sampai matahari sudah hampir surup dibarat, akan tetapi hasilnya hampa belaka. Han Cubeng segera berlari kegubuknya untuk melihat barangkali saja Kimlan sudah ada disitu, tetapi ternyata tiada. Orang tua ini menjatuhkan diri diatas bale-bale, sambil berkeluh kesah karena benar-benar ia sudah merasa putus asa. Han Hayhauw duduk bersandar diambang pintu seluruh tubuhnya dirasakan demikian lesu karena selain kebingungan seperti ayahnya sehabis mencari cicinya sejak tengah hari juga perutnya lapar. Tiba-tiba Han Cubeng bangkit dan mengajak bocah ini pergi menghadap tuan muda untuk melapor hal ini.

Kebetulan sekali ketika itu ayah dan anak ini tiba didepan rumah gedung tuan tanah Ceng si tuan muda itu sendiri sedang makan angin dihalaman depan yang segera menyambutnya dengan muka berseri-seri karena mengira bahwa kedatangan mereka akan menyampaikan kabar baik. Akan tetapi setelah orang tua ini menceritakan sambil setengah menangis dan suara terputus-putus bahwa Kimlan sejak pagi hari menghilang bukan main kemarahan Ceng Kunhi.

“Bangsat tua penipu. Tentu kau sendiri yang menyembunyikan, kau hendak mengakalikukah?”

“Hamba tidak bohong tuan muda. Hamba berani disumpah

. . .” Han Cubeng tidak sempat mengadakan pembelaan lebih lanjut karena tiba-tiba sebuah tamparan dari si tuan muda yang marah itu menghantam pipi kompongnya. Perlu diketahui bahwa Ceng Kunhi, pernah belajar silat para tukang pukulnya, sehingga tamparannya cukup kuat, membuat orang tua itu jadi sempoyongan.

“Tua bangka hina dina kau berani main-main dengan tuan mudamu?” Maki tuan muda itu dan saking gemas dan marahnya, kaki kanannya diayun mengirim tendangan.

“Duuuk” Dan Han Cubeng kena dihantam tendangan itu, membuat orang tua ini segera mendekap dadanya terhuyung- huyung sebentar dan tubuhnya lalu roboh ditanah Han Hayhauw menjerit dan menubruk ayahnya, bocah ini mencoba membangunkan ayahnya sambil menangis. 

“Ampun tuan muda . . . Kasihanilah hamba . . . hamba . . . hamba akan akan men . . . cari lagi . . .” meskipun dadanya dirasakan sakit bukan main dan membuat nafasnya amat sesak, orang tua itu masih dapat meratap mohon ampun dengan suara terputus-putus. Ia berusaha untuk bangun sambil meringis-ringis dan akhirnya setelah susah payah sekali inipun dibantu oleh Han Hayhauw ia dapat juga berdiri sambil sepasang tangannya memegangi pundak bocah itu sebagai penahan supaya tubuhnya tidak roboh lagi.

“Enyahlah dari sini! Tapi awas, kalau besok kau masih berani main gila lagi!” demikian bentakan dan ancaman dari Ceng Kunhi yang mengusir orang tua malang itu.

“Hamba mengerti, hamba mengerti tuan muda,” sahut Han Cubeng sambil mendorong pundak anaknya supaya berjalan. Bocah itu maklum, ia maklum akan maksud ayahnya, akan tetapi sebelum ia melangkah ia menatap tajam terhadap tuan muda itu. Ia memperhatikan bentuk wajah manusia yang menimpakan kemalangan itu dan dari dalam dadanya timbullah hawa panas yang membuat seluruh tubuh serasa terbakar, yaitu hawa yang yang timbul dari hati yang marah dimana api dendam mulai menyala!

Jarak gubuk Han Cubeng dari gedung tuan muda itu jauh juga, sehingga orang tua yang berjalan sambil setengah dipajang oleh anaknya itu sebentar-sebentar mesti berhenti mengaso, dadanya yang tipis kurus demikian nyeri akibat tendangan si tuan muda tadi, dan nafasnya terasa semakin dengan Tak hentinya orang tua ini menekan-nekan dadanya, juga pipinya yang ditampar tadi, sebentar-sebentar diurut- urut, dan ternyata pipi yang kempot itu kini membengkak serta berwarna biru menghitam.

Dan ketika mereka berjalan mendaki sebuah tanjakan, Han Cubeng benar-benar tak kuat lagi melangkahkan kakinya. Pipinya yang bengkak membuat kepalanya sangat pening, rasa nyeri didadanya makin menjadi dan nafasnya terengah- engah hampir habis. Orang tua itu duduk sambil punggungnya disandarkan kesebatang pohon sambil matanya dimeramkan, keadaannya payah sekali.

“Ayah . . .” Hayhauw memanggil ayahnya, bukan main bingung dan cemasnya hati bocah ini melihat keadaan ayahnya yang sedamikian parahnya itu. Kalau saja tenaganya cukup kuat, ia akan menggendong saja tubuh ayahnya supaya bisa cepat sampai digubuknya. Namun ia takkan kuat menggendong, apalagi tubuh sendiripun sudah demikian penat dan lesu. Ia tidak tahu harus berbuat bagaimana untuk menolong ayahnya, ia hanya memanggil ayahnya saja tanpa dapat meneruskan ucapannya lagi.

Orang tua itu membuka matanya dan memandang kepada bocah yang duduk disisinya, dan Hayhauw dapat melihat bahwa kedua mata ayahnya bekaca-kaca seakan-akan hendak berkata, namun agaknya sulit sekali suara keluar dari mulut itu dan apa yang terdengar hanya suara rintihan.

Tiba-tiba Han Cubeng terbatuk-batuk dan batuknya ini demikian gencar sehingga punggungnya yang semula disenderkan kebatang pohon, kini terlepas dan tubuh yang kurus itu jadi rebah ditanah dalam keadaan miring serta meringkuk-ringkuk sedemikian rupa disebabkan gencarnya dari batuknya. Dengan penuh rasa iba hati dan bingung Hayhauw mempergunakan sepasang tangannya mengurut- ngurut dada serta punggung ayahnya, dengan harapan perbuatannya ini dapat meredakan batuk ayahnya. Akan tetapi batuk orang tua itu makin tambah gencar sehingga tubuhnya makin melingkar-lingkar dan akhirnya serangan batuk itu baru berhenti setelah dari mulut orang tua ini banyak memuntahkan darah.

“Ayah, ayah . . .!” Hayhauw memanggil-manggil dengan suara sesambat sambil mempergunakan bajunya ia membersihkan darah yang melumuri mulut dan pipi ayahnya. Akan tetapi orang tua diam saja dan kemudian ia baru tahu bahwa ayahnya itu pingsan. Meskipun bingung bukan main, namun berkat kecerdasan yang dimilikinya membuat Hayhauw ingat betapa akal untuk membawa ayahnya kegubuknya. Serta merta bocah ini meninggalkan ayahnya dan ia berlari menuju rumah penduduk yang terdekat dan kepada mereka ia minta pertolongan untuk membawa orang tuanya. Demikianlah, dengan diusung dua orang penduduk yang diminta bantuannya oleh Hayhauw tadi, Han Cubeng tiba digubuknya dalam keadaan masih tak sadarkan diri.

Cuaca berangsur-angsur menjadi gelap. Api pelita yang suram didalam gubuk itu menyinari tubuh Han Cubeng yang rebah terlentang diatas bale-bale, mukanya demikian pucat pasi, hanya tarikan nafasnya yang tersendat-sendat itulah saja menandakan bahwa orang tua itu masih hidup. Han Hayhauw duduk disisinya mendagu, matanya menatap kewajah ayahnya yang membuat hatinya amat cemas dan kuatir. Perut bocah ini yang tadi lapar kini perasaan mana yang tidak terasa lagi, bukan diisi nasi, melainkan perutnya dipenuhi air gentong yang ia minum sekenyang-kenyangnya tadi. Sementara cicinya Kimlan, yang selalu diharap-harap oleh bocah ini, sampai kini belum kembali. Demikian berat kedukaan yang menindih batin bocah ini dan ketika melihat betapa keadaan ayahnya yang sejak tadi pingsan sampai kini belum juga siuman, membuat ia tak tertahan lagi terisak-isak menangis. Suasana dalam begitu sunyi senyap, tiada terdengar suara daun-daun dipohon berkeresakan karena tiada angin berhembus, binatang jangkrik dan belalang yang biasanya berbunyi ramai mengiringi suasana malam juga kini tak terdengar. Begitu sepi, lengang, seakan-akan semuanya turut berduka akan penderitaan yang ditanggung oleh Hayhauw.

Akhirnya lengan Han Cubeng kelihatan bergerak perlahan, seiring pelupuk matanya terbuka perlahan-lahan dan dari mulutnya terdengar mengeluarkan suara keluhan panjang. Hayhauw menahan isaknya dan ia mengantarkan wajahnya kewajah ayahnya sambil menyebut

“Ayah . . .”

Mata orang tua itu memandang kewajah anaknya dan tangan kanannya bergerak perlahan mengusap-usap kepala bocah itu dengan penuh kasih sayang. “Hauw-ji (anak Hauw) cicimu masih belum pulang . . .?” suaranya demikian parau dan pesat ketika orang itu bertanya demian.

Begitu sadar dari pingsannya dan ayah ini segera tanya tentang Kimlan, menandakan bahwa ayah ini perasaannya lebih berat kepada putrinya dari pada penderitaan sendiri, membuat Hayhauw yang mendengarnya segera menggigit bibir untuk menahan perih dihatinya yang seakan-akan disayat-sayat. Dan untuk menjawab pertanyaan ayahnya tadi, karena mulutnya tidak mampu mengucapkan perkataan disebabkan rasa pilu dari kalbunya seakan-akan menyumbat kerongkongannya, maka Hayhauw hanya dapat memberikan penyahutan melalui gerakan kepalanya yang digelengkan.

Han Cubeng menghela nafas putus asa. Lalu terdengar ia mengeluh.

“Oh, Thian yang maha Agung . . . Kedosaan apakah yang telah dilakukan oleh hambaMu ini, maka hamba mesti mengalami cobaanMu yang seberat ini . . .”

Mendengar keluhan ayahnya ini, Hayhauw tak kuat lagi menahan rasa pilunya, sehingga tangannya segera merangkul dan kepalanya diletakkan diatas dada ayahnya, ia menangis.

Ketika itu tiba-tiba, diluar gubuk terdengar suara orang ribut bercakap-cakap dan terdengar pintu diketuk. Han Hayhauw terkejut dan dalam sangkaan bocah ini bahwa mereka yang mendatangi gubuknya itu adalah si tuan muda Ceng Kunhi bersama tukang pukulnya hendak menghajar ayahnya lagi. Tentu saja bocah ini menjadi sangat kebingungan dan ketakutan sehingga karenanya, tangisnya jadi terhenti dengan sendirinya.

Suara ketukan kepada daun pintu gubuk makin keras dan kini disertai dengan suara memanggil-manggil.

“Han lopek, buka pintu! Kami datang membawa Kimlan . .

.!” Setelah yakin bahwa orang-orang diluar gubuk itu bukan rombongan si tuan muda yang sangat ditakuti, apalagi mendengar bahwa mereka datang membawa cicinya, serentak Han Hayhauw melompat dan membukakan pintu. Han Cubeng mencoba memaksakan dirinya hendak bangkit, akan tetapi tak kuasa, maka ia rebah lagi dalam keadaan miring menghadap kearah pintu. Hanya matanya saja bersinar-sinar mencerminkan bahwa hati orang tua ini begitu kegirangan mendengar Kimlan datang.

Setelah daun pintu dibukakan, tampaklah oleh Hayhauw beberapa orang berjalan masuk sambil menggotong sesosok tubuh yang basah dan kaku. Dan setelah mengetahui bahwa tubuh yang digotong benar itu adalah benar-benar tubuh cicinya yang sudah menjadi mayat, pecahlah kesepian malam oleh melengkingnya suara jeritan dan tangisan dari bocah ini.

“Kimlan . . .!” Hanya sekian suara yang terdengar keluar dari mulut Han Cubeng. Selanjutnya orang tua ini tak bersuara lagi, anggota tubuhnya tak bergerak, matanya melotot, mulutnya terbuka dan napasnya berhenti. Ternyata jantung ini sudah menderita luka hebat akibat tendangan Ceng Kunhi tadi, ketika ia melihat putrinya sudah kaku kejang pertanda sudah menjadi mayat, maka saking kaget dan dukanya membuat jantungnya menjadi pecah dan langsung mendatangkan kematian.

Ah, sungguh hebat kedukaan yang diderita Han Hayhauw. Baru saja tiga hari yang lalu ia ditinggalkan oleh ibunya, kini cici dan ayahnya secara sekaligus meninggalkannya pula. Tiada sanak tiada kandung, kini benar-benar ia hidup didunia ini hanya sebatang kara. Semalam suntuk Han Hayhauw terus menangis dan kelakuannya seperti orang gila, sebantar ia menubruk ayahnya yang mekin lama makin dingin dan kaku, sambil sipangil-panggil dan diguncang-guncangnya. Dan pada lain saat ia memeluki tubuh cicinya yang kaku kejang, hati kecil bocah ini protes dan mengutuk kepada tuhan yang dianggapnya tidak adil dan kejam.

Beberapa orang yang membawa mayat Kimlan tadi terus menemani Han Hayhauw sampai keesokan paginya dan tentu saja mereka ini sepanjang malam tak putus-putusnya menghibur si bocah, yang saking sedih dan dukanya, seakan- akan sudah menjadi gila itu.

Begitulah, dengan singkat dapat diceritakan bahwa keesokan paginya, berkat bantuan dari bekas kawan mendiang Han Cubeng, termasuk orang-orang yang membawa mayat Kimlan semalam, maka mayat Han Cubeng dan Kimlan dikubur baik-baik, sungguhpun tanpa disertai upacara sebagaimana mestinya. Cara penguburan itu dibuat sedemikian rupa atas kehendak Hayhauw, yaitu disisi kiri kuburan Kimlan, ditengah-tengah penguburan ibunya yang sudah ada dan disisi sebelah kanan, kuburan ayahnya.

Baru kemudian Hayhauw mengetahui dari cerita orang- orang pembawa mayat cicinya itu bahwa tubuh Kimlan yang sudah menjadi mayat mereka ketemukan jauh dihilir sungai. Jelaslah Kimlan membunuh diri dengan jalan mencemplungkan dirinya kedalam sungai, agaknya cara yang ditempuhnya itulah merupakan jalan satu-satunya bagi gadis itu untuk melepaskan diri daripada kesulitan yang dihadapinya.

Han Hayhauw sangat berterimakasih sekali terhadap mereka yang telah memberikan bantuan besar itu dan dengan sendirinya ia merasa berutang budi yang terhingga besarnya terhadap mereka. Apalagi ketika ia mendapat ajakan-ajakan dari mereka yang menaruh belas kasihan kepadanya supaya ia mau tinggal bersama mereka makin beratlah penanggungan hutang budi dirasakan oleh anak yang sebatang kara ini, sehingga atas kebaikan mereka yang setulus-tulusnya membuat ia tidak berani menerimanya. Han Hayhauw ingat kepada peribahasa yang selalu diucapkan oleh mendiang ayahnya bahwa hutang uang dapat dibayar sedangkan hutang budi sulit untuk menulisnya, Dan kenyataan Han Hayhauw sudah maklum, baru hutang uang ayahnya kepada si tuan muda jahat, yang biarpun tidak secara langsung tapi jelas merupakan pembunuh ayah dan cicinya, sehingga dihatinya kini tersimpan dendam yang sangat besar, tak dapat dibayar. Apalagi hutang budi yang selalu dikatakan ayahnya itu tentu lebih sulit lagi untuk membuat imbalannya, Itulah sebabnya Hayhauw tidak dapat menerima lebih banyak lagi kebaikan- kebaikan dari mereka yang berhati mulia, itu karena ia kuatir bakal tak dapat membalas.

Dan pada sore harinya orang-orang yang menaruh kasihan kepada Hayhauw merasa kehilangan si bocah malang itu. Mereka mencari ubek-ubekan seperti mereka mencari Kimlan kemarin dan hasilnya sia-sia belaka. Akhirnya mereka bertemu dengan tuan muda bersama tiga tukang pukulnya mendatangi gubuk bekas kelurga Han tinggal itu, agaknya tuan muda ini hendak menagih kepastian dari orang tua yang pernah ditolongnya itu. Akan tetapi setelah tuan muda ini mendengar keterangan dari orang-orang kampung yang ditanyainya, bukan main sedih hatinya. Sedih bukan karena berduka atas kematian Cubeng dan Kimlan, melainkan ia sedih disebabkab uang yang ia telah lepas sebagai umpan untuk maksud kejinya, jadi amblas begitu saja. Memang beginilah kalau seorang yang otak dan hatinya sudah ditunggangi pengaruh materil, kalau orang mati disebabkan perbuatan atau gara- garanya, itu bukan apa-apa, jangankan disedihkan, dipikirkanpun tidak. Akan tetapi sebaliknya kalau ia rugi atau kehilangan uang sedikit saja, maka ia sedih bukan main. Seakan-akan kehilangan sebagian dari harta kekayaannya yang berlimpah-limpah, bahkan dapat juga dikatakan seakan- akan kehilangan separuh nyawanya,

oooooooodwOkzoooooooo Kemanakah Han Hayhauw, si bocah malang itu? Anak kecil sudah sudah sebatang kara dan mengalami siksaan batin yang luar biasa hebatnya, benar-benar harus dikasihani.

Sejak penguburan mayat ayah dan cicinya selesai, anak itu begitu melangsa hatinya, membuat ia tiba-tiba merasa tidak betah berdiam didusun Ho-leng-cun. Betapa tidak oleh karena manakala ia melihat keadaan gubuknya yang kini menjadi sunyi, terbayanglah didepan matanya peristiwa-peristiwa yang sangat mengenaskan. Ditambah lagi perasaan takut akan si tuan muda Ceng Kunhi yang menurut hematnya pasti akan menuntut segala kerugian terhadap dirinya. Itulah sebabnya, maka ia dengan berdiam-diam dan tidak berpamit kepada siapapun, pada hari itu juga ia lalu pergi meniggalkan kampung halamannya, yang semula sebelum terjadi malapetaka, begitu ia cintai dan ia merasa amat betah tinggal disitu.

Ia pergi tanpa perhitungan dan tanpa mempunyai arah tujuan, karena pikirannya sudah sedemikian gelap, sehingga baginya dunia ini sudah menjadi kosong melompong. Tiada bekal yang dibawa karena dari gubuknya tiada sesuatu yang dapat dijadikan bekal. Hanya rasa dendam kesumat sajalah yang ia bawa dilubuk hatinya dan justru rasa dendam inilah yang mendorongnya sehingga ia masih mempunyai kemampuan hidup. Kalau menurutkan perasaan hati yang dipenuhi kedukaan, memang ia mati saja menyusul ibu, ayah dan cicinya. Tetapi rasa dendam dihatinya mencegah ia sampai berputus asa, bahkan merupakan semacam dorongan bahwa ia harus hidup, hidup yang penuh semangat dan mempunyai tekad, sampai ia dewasa dan bertenaga kuat supaya kelak ia dapat kembali lagi kekampung halamannya untuk menjumpai sijahat Ceng Kunhi, kepada siapa ia akan mengadakan perhitungan untuk melampiaskan rasa dendamnya. Ia selalu ingat akan dongeng mendiang ayahnya bahwa didunia ini banyak terdapat pendekar-pendekar gagah perkasa dan kepergiannya ini memanglah ia mempunyai tekad hendak mencari pendekar-pendekar yang seperti sering diceritakan mendiang ayahnya itu. Ia hendak minta pertolongan kepada pendekar itu supaya membalaskan dendam dihatinya terhadap sijahat Ceng Kunhi berikut tukang pukul tukang pukulnya yang ia tahu sering menganiaya dan membunuh orang-orang kampung semau-maunya.

Akan tetapi, setelah ia mengikuti sepasang kakinya yang melangkah separan-paran sampai tiga hari dan ia sendiri tidak tahu bahwa sudah berapa jauh ia meninggalkan kampung halamannya dan entah kini ia berada dimana, tiba-tiba tubuhnya yang payah kepenatan ia rasakan tak karuan rasa. Tubuhnya sebentar terasa panas seperti dibakar dan pada saat lainnya mendadak berubah menjadi dingin seperti terbenam dibawah tumpukan salju dan membuat seluruh tubuhya menggigil, padahal saat mana waktu tengah hari dan matahari justru sedang memancarkan cahaya teriknya.

Han Hayhauw tidak tahu bahwa sebenarnya ia sudah jatuh sakit karena masuk angin. Selama tiga hari itu ia tak pernah makan apa-apa, perutnya hanya diisi air melulu yang diteguknya dari sungai-sungai atau danau-danau sebagai penghilang rasa dahaga dan sekaligus pula penghilang rasa lapar diperutnya. Ditambah lagi cara tidurnya yang tidak teratur, dimana saja ia menggeletakkan diri diemper rumah atau dikolong jembatan, asal dapat melepas keletihan yang melesui tubuhnya dan melupakan untuk sementara kedukaan yang selalu menjungkupi pikiran dan hatinya. Pakaiannya yang sudah bertambalan jadi demikian kotor dan dekil, sehingga keadaan bocah ini benar-benar seperti jembel, hanya saja meskipun perutnya terasa lapar ia masih mempunyai keangkuhan untuk minta-minta.

Dan pada hari yang ketiga itu benar-benar Han Hayhauw sudah tak dapat mengatasi kepayahan yang menguasai seluruh tubuhnya. Tubuhnya yang sebentar panas sebentar dingin membuat kepalanya sakit berdenyut-denyut dan penglihatannya kabur dan berkunang-kunang, apa yang terlihat disekelilingnya seperti berputar-putar. Akan tetapi anak ini benar-benar memiliki kekerasan hati yang luar biasa, sesungguhnya sudah payah sekali, ia masih terus memaksa diri untuk terus berjalan, sungguhpun ia sendiri tidak tahu bahwa perjalanan susah payah yang ditempuhnya ini akan menuju kemana?

Tubuh terhuyung-huyung karena langkah-langkah kakinya sudah demikian terseok-seok, matanya yang mendatangkan penglihatan seperti berputar-putar terpaksa dipejamkan, tangan kanannya digerak-gerakkan supaya ia tidak sampai menabrak sesuatu, sedangkan tangan kirinya ditekan- tekankan keperutnya yang perih dan lapar. Namun akhirnya ia harus menyerah juga terhadap serangan yang memayahkan itu, tubuhnya yang kecil dan kurus itu tak kuat lagi berjalan dan ia terguling roboh dipinggir jalan yang sunyi. Mulutnya mengeluarkan suara rintihan kecil dan sesumbat kepada ibu, ayah dan cicinya.

Kedua tangannya menekan-nekan kepalanya yang amat sakit seperti isi kepala itu ditusuk-tusuk ribuan jarum. Kedua kakinya diangkat keatas sehingga lututnya merapat kedada membuat perutnya seperti dilipat dan ditekan oleh kedua pahanya, untuk menahan rasa perih diperutnya. Kemudian dalam keadaan tubuh meringkuk seperti demikian dipinggir jalan, anak ini tak tahu apa-apa lagi. Pingsan, kalau saja Hayhauw dapat merasakan, alangkah nikmatnya pingsan itu, lenyap bingung dan duka, lenyap pula rasa pusing dikepalanya, bahkan rasa lapar yang tadinya mendatangkan rasa sakit dan perih diperutnya, kini lenyap dan apa yang terasa hanyalah kekosongan belaka.

Tentu saja Han Hayhauw tidak tahu betapa kemudian dijalanan itu dipinggir mana ia meringkuk pingsan, berjalan lewat seorang kakek yang mengenakan jubah serba putih dan ditangannya memegang sebuah tongkat. Kakek ini segera menghentikan langkah kakinya tatkala dilihatnya dipinggir jalan meringkuk seorang anak kecil dalam keadaan demikian mengenaskan, sambil berjalan berjalan mendekati kakek in menggeleng-gelengkan kepala dan dari mulutnya terdengar keluhan yang merupakan ratapan.

“Ya Tuhan, kesenangan apakah yang pernah Kau berikan kepada anak ini sehingga sekarang dia harus menderita sehebat itu . . .?”

Kemudian kakek tua ini yang berambut panjang dan yang digelungkan keatas kepala dan diikat dengan sehelai pita putih, membungkuk dan mengangkat tubuh Hayhauw kepundaknya, dan sambil membawa anak malang yang masih pingsan itu, tahu-tahu sikakek berkelebat menghilang.

Perlu segera diperkenalkan kepada para pembaca yang budiman bahwa kakek itu adalah Tiong Sin Tojin, seorang tosu yang tak henti-hentinya menghubungi tokoh-tokoh kangouw untuk melakukan perjuangan mengusir penjajah, akan tetapi, sebagaimana sudah diterangkan dibagian permulaan dalam cerita ini, pihak penjajah terlalu kuat dan memang belum waktunya untuk ditumbangkan, maka perjuangan Tiong Sin Tojin bersama kawan-kawannya selalu mengalami kegagalan.

Begitulah pada hari itu, Tiong Sin Tojin baru saja habis melakukan pengacauan dan serbuan bersama-sama kawannya dikota Goan peng dan sial sekali mereka kena dilabrak habis- habisan oleh bala tentara Mongol sehingga beberapa orang kawannya gugur dan tosu ini berhasil meloloskan diri sambil membawa rasa sedih dihatinya. Menyadari bahwa pemerintah penjajah belum waktunya ditumbangkan dan dengan demikian berarti pula saatnya belum tiba untuk melakukan pemberontakan, maka tosu yang berjiwa patriot ini lalu mengambil keputusan mrngundurkan diri buat sementara dan kembali ketempat pemukimannya di gunung Ngotaysan. Dan dalam perjalanannya menuju tempat itulah, Tiong Sin Tojin melihat Han Hayhauw meringkuk pingsan dipinggir jalan. Tiong Sin Tojin memiliki ilmu silat tongkat yang amat lihay dan karenanya, disamping namanya yang cukup terkenal sebagai pendekar gagah perkasa pelindung golongan tertindas, kakek ini oleh orang-orang kangouw dijuluki Sitongkat Tojin atau Tosu bertongkat sakti. Tiong Sin Tojin belum pernah mempunyai murid, maka ketika melihat keadaan Hayhauw yang sangat menyedihkan itu ia menjadi kasihan dan menolongnya. Apalagi setelah mendapat kenyataan bahwa sebenarnya anak itu mempunyai bakat yang amat baik sekali sehingga menimbulkan hasrat baginya untuk mewariskan kepandaiannya kepada generasi muda, maka ia lalu mengambil anak itu dan dibawanya kegunung Ngotaysan, dijadikan murid tunggalnya.

Han Hayhauw sangat berterimakasih sekali setelah sakitnya sembuh berkat pertolongan dan perawatan tosu itu. Kemudian hati anak ini jadi girang bukan kepalang ketika ia mendengar pernyataan bahwa ia diambil sebagai murid tunggal Tiong Sin Tojin, keinginan atau cita-citanya yang dibawanya dari kampung halamannya sekarang ternyata tercapai. Kalau pada malaman kematian ayah dan cicinya ia pernah memprotes dan mengutuk bahwa Thian tidak adil, maka sekarang ia benar- benar memuji bahwa Thian itu memang Maha Adil.

Segera ia berlutut dihadapan Tiong Sin Tojin dan secara singkat ia menceritakan malapetaka yang menimpa dirinya. Dan akhirnya ia memohon kepada kakek itu untuk membalaskan sakit hati terhadap si laknat Ceng Kunhi.

Tiong Sin Tojin mengelus-ngelus kumis dan jenggotnya yang sudah sebagian berwarna putih dan ketika ia mendengar permohonan anak itu, menghela napas lalu berkata.

“Hayhauw, tentang pembalasan sakit hati itu adalah menjadi kewajiban sendiri untuk melaksanakan. Sangat tidak tepat kalau kau minta aku turun tangan karena urusan dendam kesumat ini sama sekali tak ada sangkut pautnya denganku. Kewajibanku hanya mendidikmu, maka untuk melaksanakan kemauan hatimu, belajarlah kau dengan rajin dan tekun supaya kelak, selain kau dapat melaksanakan perhitungan dengan musuh besarmu, juga sangat kuharapkan bahwa kau dapat menjadi seorang yang sangat berguna bagi bangsa dan tanah air.”

Demikianlah, sejak saat itu Han Hayhauw mempelajari ilmu silat tongkat dari suhunya yang berkepandaian tinggi. Ia belajar dengan rajin dan tekun serta penuh kesungguhan hati. Selama ia belajar, beberapa kali suhunya meninggalkannya turun gunung sehingga ia berdiam seorang diri dipegunungan Ngotaysan itu, dan biarpun ia merasa kesunyian akan tetapi ia dapat melupakan perasaan kesepiannya sambil terus berlatih dengan giat. Maka setiap kali suhunya datang menjadi girang melihat kemajuan yang telah dicapainya begitu pesat, dan ia lalu mendapat tambahan pula tingkat pelajaran silat yang lebih tinggi. Han Hayhauw sendiri sampai tak menyadari bahwa makin lama ilmu silat yang diwariskan dari suhunya makin tinggi dan ia sudah dapat menguasainya dengan sempurna. Perubahan pada tubuhnya yang kini menjadi tegap kekar seiring dengan usianya yang meningkat dewasa, juga seakan tak disadari pula.

Memang Han Hayhauw sekarang bukan lagi Han Hayhauw dulu yang merupakan seorang bocah lemah dan kebecusannya hanya menangis. Han Hayhauw sekarang telah merupakan seorang pemuda tampan dan telah mewarisi hampir seluruh kepandaian Tiong Sin Tojin, yaitu selain ilmu silat tongkat yang amat lihay dan yang selalu dimainkan oleh tangan kanannya, juga tangan kirinya telah mewarisi semacam ilmu pukulan yang oleh gurunya dinamakan Phaciok- seng-hua-ciang atau ilmu pukulan Menggempur batu menjadi tepung dan ketika melatih ilmu pukulan ini, entah sudah berapa batu gunung yang besar menjadi hancur seperti tepung dihantam oleh hawa Iwekang yang dilancarkan melalui telapak tangan kiri Hayhauw. Disamping menerima gemblengan lahir yang merupakan kekuatan dan ketangguhan diri, Hayhauw menerima pula gemblengan batin sehingga ia kini berbatin kuat, dapat menakan dan mengalahkan segala perasaan yang timbul dari hati yang selalu dipenuhi napsu dan dapat mempegunakan daya pikir dari otak dengan penuh pertimbangan yang masak.

“Hayhauw, sudah waktunya kau turun gunung dan kau mulai boleh menempuh hidup baru didunia ramai, yah ramai oleh segala keributan dan kegaduhan yang diperbuat oleh manusia. Kalau kau sekarang turun gunung, waktunya justru sangat tepat sekali oleh karena dewasa ini, dimana-mana rakyat jelata yang selama hidupnya tertindas, sudah mulai menggalang persatuan untuk mengusir penjajah dari bumi kita. Ketahuilah olehmu, muridku, bahwa sekarang adalah masa kebangkitan si lemah untuk membela hak-hak azasi bangsa dan negara. Waktu seperti saat ini justru sudah lama sangat kunantikan, yakni saat kebangkitan rakyat jelata yang cinta tanah air, untuk mengusir penjajah dari tanah air, mengikis habis pemimpin-pemimpin gadungan dan kurcaci- kurcaci laknat yang selalu menindas dan menyusahkan kita, rakyat jelata. Hayhauw, ceburkanlah dirimu kedalam kancah revolusi perjuangan rakyat ini. Tunaikanlah dharmabaktimu selaku patriot sejati pembela nusa dan bangsa.”

Han Hayhauw dengan penuh khidmat berlutut dihadapan Tiong Sin Tojin yang rambut kumis dan jenggotnya kini sudah putih semua itu. Tentu saja anak muda ini menjadi gembira bahwa suhunya sudah membolehkan turun gunung, dan nasehat serta anjuran dari kakek itu membuat seluruh tubuh anak muda ini terasa puas karena dibakari api semangat yang berkobar didalam dadanya.

“Suhu, nasehat suhu akan teecu jadikan obor bagi perjuangan, mudah-mudahan teecu benar-benar dapat menunaikan tugas mulia ini sebagaimana yang suhu harapkan”, kata Hayhauw dengan penuh semangat dan tiba- tiba anak muda ini teringat akan dendam kesumatnya yang sudah terpendam selama delapan tahun didalam dadanya “Suhu, teecu mohon bertanya, bahwa bagaimanakah pendapat suhu tentang sakit hati teecu terhadap putera si tuan tanah yang pernah teecu terangkan dahulu? Bolehkah teecu mengadakan perhitungan terhadapnya?”

“Sudah tentu boleh! Terserah kepada apa yang akan kau perbuat terhadap musuh besarmu itu, asal saja kau mesti selalu ingat bahwa pekerjaan apapun juga yang kau lakukan, kerjakanlah dengan hati bersih, dengan semangat besar, dan dengan kesadaran sepenuhnya bahwa apa yang kau kerjakan itu tidak berlawanan dengan kebajikan dan keadilan. Tegasnya, asal kau tak lupa bahwa kau mempelajari ilmu untuk bertugas sebagai pemberantas kejahatan dan pembela silemah yang tertindas.

“Teecu paham akan segala wejangan yang suhu berikan. Tapi maaf suhu, teecu sekali lagi minta penjelasan mengenai tuan tanah. Teecu masih ingat bahwa tuan tanah didusun teecu itu yaitu tuan besar Ceng Lobin sering berbuat sewenang-wenang terhadap penduduk kampung sehingga hampir semua penduduk termasuk orang tua teecu, menderita kesengsaraan dibuatnya. Apakah tuan besar she Ceng itu dapat juga disebut golongan jahat dan patutkah diberantas?”

Bibir dibalik kumis puti Tiong Sin Tojin tampak menyunggingkan senyumam tatkala orang tua ini memberi penyahutan.

“Hayhauw, sudah bukan jamannya lagi kalau sekarang menyebut tuan tanah dengan istilah tuan besar, dan lebih tepat kalau kita sekarang menamakannya lintah darat! Sudah barang tentu lintah darat - lintah darat termasuk penghisap darah rakyat jelata, terutama kaum tani, malah mereka umumnya menjadi antek-antek penjajah atau lebih tepat pula disebut anjing-anjing penjilat pantat penjajah. Maka mereka bukan lagi patut diberantas, bahkan seharusnya mereka dikikis habis bersamaan dilenyapkannya kaum penjajah dari permukaan bumi ini!”

Akhirnya Tiong Sin Tojin mengangkat muridnya yang sejak tadi berlutut dihadapannya itu dan akhirnya sekali lagi kakek ini berkata.

“Nah, muridku, berangkatlah kau sekarang juga dan aku sendiripun akan berangkat. Biarpun setelah turun gunung ini perjalanan kita berpisah, tapi tekad dan perjuangan kita sama dan mungkin pada suatu waktu kelak kita akan bertemu lagi. Aku tak dapat memberi sesuatu bekal bagi perjalananmu, hanya tongkatku ini sajalah kuberikan kepadamu supaya kau selalu ingat akan segala pesan-pesanku. Terimalah, muridku!”

Han Hayhauw menerima tongkat besi pemberian suhunya dengan kedua tangannya dan sikapnya penuh hormat sambil mengucapkan terimakasih atas segala kebaikan yang ia telah terima dari suhunya selama delapan tahun itu. Sungguhpun ia maklum bahwa perkatan suhunya tadi adalah merupakan ucapan terakhir dan melihat tanda-tanda bahwa kakek itu akan segera berangkat, namun tak urung ia memberanikan hati dan bertanya.

“Tongkat suhu diberikan kepada teecu. Maka suhu sendiri menggunakan senjata apakah?”

Tiong Sin Tojin menghela napas karena bangga hatinya mendapat kenyataan bahwa muridnya itu sangat memperhatikan terhadap dirinya, maka ia menyahut sambil tersenyum.

“Tak usah kau pusingkan soal seremeh ini muridku, pergunakanlah baik-baik dan sebagai mana mestinya tongkat itu dalam menjalankan dharmabaktimu. Aku sendiri bisa mencari tongkat lain lagi. Nah, cepatlah kau berkemas, bawalah pakaian-pakaian yang kau perlukan. Aku berangkat lebih dulu! Selamat berpisah, selamat berjuang dan sampai kita berjumpa kembali, muridku!” Han Hayhauw segera berlutut pula sebagai penghormatan yang terakhir terhadap gurunya, yang sudah lenyap dari situ sungguhpun kata-katanya masih bergema ditelinganya. Kakek itu sudah pergi dengan gerakan secepat kilat.

Pemuda murid tunggal Tiong Sin Tojin itu lalu memasuki sebuah pondok bambu sederhana yang selalu menjadi tempat tinggalnya selama delapan tahun ini. Diambilnya dua stel pakaian berwarna putih ditambah satu stel yang penuh tambalan seperti baju pengemis. Biarpun semula ia merasa ragu pakaian penuh tambalan ini akan tetapi tak urung dibungkusnya juga dalam satu buntalan, dengan pikiran barangkali saja pada suatu waktu ada gunanya. Buntalan pakaian itu diikat dibelakang punggungnya dan sambil tongkat pemberian suhunya dipegang ditangan kanan, mulailah ia berjalan meninggalkan pegunungan Ngotaysan.

oooooooodwOkzoooooooo

Yang pertama-tama menjadi tujuan Han Hayhauw adalah dusun Ho-leng-cun, dusun kampung halamannya, dimana ia ingin melihat perkembangan jaman setelah delapan tahun lamanya ditinggalkan. Ia ingin melihat kuburan ayah, ibu, dan cicinya, dan terutama sekali ia ingin melampiaskan rasa dendam kesumatnya terhadap si juling, sianak tuan tanah Ceng Kunhi. Sepanjang jalan perjalanan sering bertanya kepada orang-orang yang dijumpainya tentang letak dusun yang menjadi tujuannya itu sehingga biarpun perjalan yang ditempuhnya ini masih sangat asing baginya, namun ia tidak sampai sesat dijalan.

Benar saja sebagaimana yang diceritakan suhunya bahwa dimana-mana Han Hayhauw melihat orang berkompromi dan dari percakapan mereka yang ia dengar jelaslah bahwa mereka sedang menumpuk semangat dan menggalang kesatuan untuk mengadakan gerakan aksi revolusi dan ia mendengar pula bahwa yang mula-mula mencetuskan api revolusi ini adalah seorang bernama Cue Goan Ciang dan api yang dicetuskan ini menyala dan berkobar disegenap pelosok. Akan tetapi ketika saat suatu hari Han Hayhauw melewati sebuah dusun ia merasa heran sekali bahwa penduduk dusun ini sama sekali tidak nampak gejala-gejala bangkit berevolusi.

Tetapi keheranan pemuda ini kemudian lenyap dan terganti oleh penasaran gemas dan marah yang merangsang dihatinya setelah mengetahui bahwa dusun ini jauh terpencil dari pergaulan ramai dan keadaan penghidupan para penduduk dusun ini secara mutlak berada didalam tangan seorang tuan tanah yang seakan-akan raja tak bermahkota didusun itu. Justru karena dan kekuasaan tuan tanah inilah membuat para penduduk dusun tersebut yang rata-rata lemah dan miskin menjadi takut untuk ikut serta menegakkan gerakan revolusi seperti saudara saudara mereka dilain tempat.

Han Hayhauw merasa tertarik sekali hatinya untuk menyelidiki situasi dusun, ini secara mendalam. Maka pada waktu malamnya dengan mempergunakan kepandaian yang tinggi, pemuda ini coba mengintip bagian dalam gubuk-gubuk para penduduk itu baik mengintip melalui celah dinding maupun melalui atap-atap genteng yang disingkapnya secara hati-hati. Betapa keadaan para penduduk, yang dilihatnya secara diam-diam itu benar-benar membuat anak muda ini jadi turut sedih dan ngenes. Keadaan mereka begitu meskipun pada sebuah gubuk, didapati seorang anak kecil merengek- rengek menangis minta makan pada ibunya yang rebah sambil merintih sakit sedang ayah dari anak itu, bertubuh kurus kering hanya dapat menghibur anaknya, dengan perkataan, ’besok saja kau makan lagi anakku sayaang? Makanan untuk hari sudah habis mudah-mudahan ayahmu dapat pinjaman, gandum dari tuan besar Li suapaya kau besok boleh makan sekenyang-kenyangnya. Sekarang, kau tidurlah hari sudah jauh malam tangismu mengganggu ibumu yang sedang sakit .

. .’ Pemandangan ini saja sudah menyayat hati Hayhauw, belum lagi pemandangan-pemandangan lainnya yang kesemuanya mengingatkan kepadanya akan keadaan semasa ia masih kecil.

Bok li cun, demikianlah nama dusun in, berpenghuni terdiri dari kurang lebih dua puluh lima keluarga. Dan pekerjaan mereka sehari-hari ialah menjadi buruh tani penggarap sawah yang menjadi milik dari seorang hartawan atau tuan tanah yang bernama Li Samlay. Sebagaimana umumnya kaum feodal yang menumpuk kekayaannya hasil dari pemerasan tenaga dan pengisapan darah rakyat jelata, demikian tuan tanah she Li ini yang menguasai dusun Bok li cun ini, sudah bukan merupakan persoalan yang mengherankan lagi kalau penduduk disini berkeadaan sangat menyedihkan. Lebih celaka lagi karena yang menjadi keapala kampung dusun ini bukan lain ialah si tuan tanah itu sendiri, sehingga rakyat begitu tunduk dan patuh akan segala peraturan dan perintah yang dikeluarkannya. Ketika mendengar bahwa api revolusi telah meletus dan pemberontakan timbul dimana-mana, tuan tanah Li ini maklum akan bahasa yang mengancam terhadapnya, maka segera mengadakan provokasi kepada rakyat Bok li cun disertai ancaman bahwa apabila mereka berani mencoba menerbitkan huru-hara akan dilaporkan kepada pengusaha penjajah dan akibatnya mereka tahu sendiri! Itulah sebabnya mengapa rakyat didusun ini sama sekali tidak berani berkutik dan tinggal diam dibawah tekanan sikepala kampung feodal.

Segera terbitlah dihati Hayhauw keinginan untuk menolong penduduk dusun ini. Akan tetapi sesaat ia merasa ragu, dengan cara bagaimanakah untuk menolongnya? Mereka sudah jelas memerlukan pertolongan berupa uang atau bahan makanan, dan kesemuanya itu darimanakah harus diperolehnya? Hayhauw yang baru "turba" dan masih belum berpengalaman merasa bingung untuk melaksanakan keinginan hatinya ini, sehingga untuk sesaat lamanya ia hanya kebingungan dan hatinya pilu. Kemudian ia teringat akan ucapan gurunya bahwa dikalangan kangouw berlaku semacam peraturan, bahwa apabila seorang pendekar perantau kekurangan ongkos dalam perjalanannya, ia boleh pinjam uang kepada seorang hartawan kikir dan tentu saja cara pinjam uang ini harus dilakukan dengan jalan . . . mencuri.

’Ah, apa salahnya kalau aku pinjam uang dari si tuantanah Li dan dibagi-bagikan kepada mereka ini,’ demikian pikir Hayhauw dan wajahnya berseri-seri.

Demikian, dikegelapan malam itu Hayhauw mencari si tuantanah Li untuk mencarinya tidak berapa sukar oleh karena rumah si tuantanah itu tentu merupakan bangunan gedung yang paling mewah dan justru rumah gedung kepala kampung Li didusun itu hanya satu-satunya dan letaknya agak jauh terpisah dari kelompok gubuk-gubuk butut para penduduk. Dengan mudah Hayhauw dapat memasuki pagar halaman gedung yang disekitarnya banyak dipasangi lampu-lampu teng sehingga keadaan disitu sangat terang bende-rang. Dua penjaga malam yang duduk melenggut dimuka gedung itu segera dibikinnya tidak berdaya setelah pemuda ini menimpukkan dua butir batu kerikil yang menotok jalan darah mereka dan dengan mempergunakan ginkangnya yang membuat tubuhnya ringan dan gesit seperti ge-rakan burung walet, pemuda ini segera melayang keatas genteng dan darimana ia mengintip kebawah. Giranglah hati Hayhauw ketika melihat keadaan dalam rumah itu demikian sunyi dan lebih girang lagi hati pemuda ini setelah mendapat kenyataan bahwa dari atas genteng di mana dia mengintip itu, adalah dibawahnya justru ruangan tidur sikepala kampung itu. Tak urung juga dada pemuda ini jadi berdebar karena pekerjaan mencuri ini baru sekali inilah ia lakukan selama hidupnya. Akan tetapi terdorong oleh keinginan menolong silemah yang menderita, ia menekan debaran didadanya dan memberanikan diri sehingga pada lain saat ia sudah melompat kebawah melalui lobang genteng yang dibukanya. Kedua kakinya tak menerbitkan suara sedikitpun ketika ia menjatuhkan diri didalam kamar yang terang benderang diterangi lampu teng itu. Sambil menahan napas ia cepat menghampiri tempat tidur yang ditutupi kelambu dan dari mana terdengar suara dengkur yang menggeros-geros.

Wajah Hayhauw segera menjadi merah karena jengah sendiri ketika setelah ia menyingkap kain kelambu ia melihat seorang lelaki tua berperut gendut sedang tidur nyenyak sambil berpelukan dengan seorang wanita yang masih muda. Hayhauw segera dapat menduga bahwa laki-laki tua itu tentu ialah si tuan tanah Li bersama istri atau gundiknya, baiknya mereka tidur begitu nyenyak seperti babi sehingga ia tidak terpergok dan supaya lebih aman bagi pekerjaannya yang akan dilakukan, Hayhauw lalu mempergunakan ujung tongkatnya untuk menotok jalan darah di tubuh laki-laki dan wanita itu sehingga makin nyenyaklah mereka tidur. Cepat Hayhauw membuka lemari yang terdapat disudut kamar itu dan kebetulan sekali setelah digeratakinya, isi lemari itu selain pakaian-pakaian mewah juga agaknya disitu dijadikan pula tempat penyimpanan uang. Tiga buah kantong yang cukup besar segera dibuka dan ketika diperiksa ternyata berisi uang emas dan perak.

Hayhauw bersorak gembira didalam hati dan gerakannya seperti seorang maling ulung, tali pengikat kantong itu cepat dibetulkan dan disambarnya ketiga kantong itu lalu dikepitnya ternyata berat juga. Lalu ia mengenjot tubuh dan pada lain saat ia sudah berada diatas genteng pula. Hayhauw tidak cepat turun kebawah melainkan ia ingin melihat dan memeriksa bagian gudang makanan dari tuantanah ini.

Begitulah setelah melompat-lompat seperti kucing diatas genteng dan wuwungan akhirnya ia tiba disebuah gedung yang letaknya dibelakang gedung itu dan walaupun keadaan disitu gelap, akan tetapi matanya yang sudah terlatih dapat menilai dengan jelas bahwa gedung itu berisi gandum bertumpuk-tumpuk.

"Ah, rakyat menderita dan kelaparan, tapi gandum disini bertumpuk-tumpuk sampai membusuk" hati Hayhauw menggerutu akhirnya, tubuh pemuda ini melayang turun dan terus berlari menuju kelompok rumah-rumah penduduk yang hendak ditolongnya.

Ketika sudah sampai ditempat yang gelap ia mengendorkan larinya dan berjalan biasa dengan menghela napas lega. Tiba- tiba ia merasakan ada angin menyambar dari belakangnya. Hayhauw maklum bahwa ia diserang dari belakang maka cepat berkelit kesamping akan tetapi bersamaan dengan itu ia amat terkejut. Tahu-tahu sebuah kantong yang dikempitnya telah menghilang setelah ia rasakan sebuah renggutan merampas kantong itu. Cepat ia membalikkan tubuh sambil tongkatnya melintang didepan dada untuk menjaga segala kemungkinan. Dan dilihatnya bahwa dihadapannya kini berdiri seorang muda bertubuh kecil ramping dan berpakaian hitam serta ditangan kirinya tampak terayun-ayun kantong yang dirampasnya tadi sedangkan dikanannya kelihatan mencekal sebatang pedang yang tajam, sikapnya gagah bahkan bagi penglihatan Hayhauw, penuh ancaman.

Hayhauw mengira bahwa orang ini adalah salah seorang penjaga gedung si tuan tanah yang datang mengejarnya. Ia menunggu reaksi dari orang itu lebih lanjut, akan tetapi sungguh heran orang itu tidak segera memperlihatkan sesuatu gerakan, sehingga sesaat lamanya mereka hanya berdiri saling berhadap-hadapan sambil sama-sama diam dan membisu.

"Sahabat! Maaf, aku lancang mengganggumu dan kuminta kerelaan hatimu untuk membagi hasil curianmu yang sekantong ini" terdengar orang itu berkata dan alangkah lega dan herannva hati Han Hayhauw mendengar ucapan ini. Lega, karena orang yang memergoki perbuatannya ini ternyata bukan si pengejar yang hendak menangkapnya melainkan orang segolongan dan apa yang membuatnya heran ialah bahwa setelah mendengar suara perkataan orang itu dapat diketahui bahwa orang itu adalah seorang wanita.

Timbullah sifat kejenakaan Hayhauw dan ingin menggoda wanita pencuri itu. lalu ia pura-pura membentak.

"Ah, kau mau enaknya saja, minta bagi hasil segala seakan kita mengadakan perseroan. Mengapa engkau tidak mengambil sendiri saja dari gedung si hartawan itu?"

"Oleh karena kau maling tamak tiga kantong uang dari lemari hartawan itu sudah kau sikat semua, maka selayaknya kalau aku minta bagi hasil dan yang sekantong ini menjadi bagianku."

Maklumlah Hayhauw bahwa kiranya orang itu sudah memasuki pula kegedung si tuantanah tadi hanya keburu dimasuki olehnya. Dalam cuaca segelap itu Hayhauw masih dapat melihat dengan jelas bahwa wanita yang berpakaian seperti laki-laki itu, berwajah cantik dan aneh sekali ketika matanya bertemu dengan sinarmata wanita itu, hatinya mendadak berdebar aneh. Ia makin tertarik dan hendak mengenalnya lebih lagi serta ingin mengetahui bahwa wanita muda yang dilirik tukang maling ini sudah bersuami ataukah masih . . . gadis. Maka ia lalu mempergunakan kecerdikannya untuk memancing sambil berkata.

"Aku rela memberikan kepadamu uang sekantong itu asal saja kau pergunakan untuk keperluan sosial dan tidak dijadikan untuk kepentingan sendiri. Untuk hal ini, maukah kau berjanji. nyonya?"

Perkataan "nyonya" sengaja diucapkan dengan tekanan suara sedemikian rupa, agar dapat menarik perhatian orang yang dipancingnya. Dan ternyata siasatnya berhasil karena tiba-tiba wanita itu mendesis.

"Ciiiihhh! Siapa sudi aku disebut nyonya !?

Ketahuilah bahwa nonamu ini bukan maling biasa yang mengandalkan hidupnya dari penghasilan maling! Melainkan aku secara terpaksa sekali mengadakan pinjaman uang dari para tuan tanah untuk membiayai perkumpulanku."

Hayhauw tersenyum kecil karena siasatnya secara sekaligus telah berhasil mendapatkan dua kenyataan. Dan aneh sekali, debaran didadanya semakin samer setelah mengetahui bahwa wanita itu, seperti pengakuannya tadi, masih gadis.

"Maaf nona kalau aku bertanya lebih jauh. Bolehkah aku ikut tahu perkumpulan apakah yang kau nyatakan barusan?"

Terdengar gadis ini menjawab dengan suara ketus.

"Kau orang yang baru bertemu denganku kali ini tidak boleh campur tahu mengenai perkumpulan yang kumaksudkan

. . . ."

"Oh, perkumpulan rahasia rupanya?!" tukas Hayhauw. "Benar! karena perkumpulan rahasia maka kau sebagai

orang luar sama sekali tidak boleh tau sungguhpun aku sangat berterimakasih sekali kepadamu atas kerelaan sumbanganmu ini. Dan sebaliknya, dua kantong uang hasil curianmu itu kau hendak pergunakan untuk apakah?"

Mendengar pertanyaan ini Hayhauw segera teringat pekerjaan yang belum selesai, maka ia segera menjawab.

"Uang yang ku"pinjam" ini akan kubagi-bagikan kepada para penduduk yang sangat memerlukan bantuan. Kalau kau mau, marilah kita kerjasama!" Setelah berkata demikian ia lalu memutar tubuh dan berlari menuju kelompok gubuk penduduk yang hendak ditolongnya tadi.

Agaknya si gadis ini ingin membuktikan ucapan simaling yang baik hati itu, maka iapun berlari mengikuti sianak muda dan segera ia mendapat kenyataan, benar saja bahwa anak muda itu membagi-bagikan uang yang dua kantong tadi dengan jalan memasukkannya uang-uang itu melalui lobang- lobang atap atau celah-celah dinding bobrok. Agaknya gadis itupun sangat tertarik hatinya sehingga ia segera membantu pekerjaan Han Hayhauw, maka dalam waktu sebentar saja uang yang dua kantong habis dibagikan secara merata keseluruh gubuk-gubuk yang terdapat didusun itu. Bahkan bukan itu saja pekerjaan yang mereka lakukan, karena setelah uang yang dua kantong itu habis, Hayhauw lalu berlari kegedung tuan tanah Li dan mengambil beberapa karung gandum yang diangkutnya dalam beberapa kali berlari bolak balik sementara gadis itu mendapat tugas membagi-bagikan kedalam setiap gubuk dengan jalan seperti memasukkan uang-uang tadi. Kerjasama mereka begitu cepat serta dilakukan secara diam-diam, seakan-akan mereka sudah mengadakan rencana bersama lebih dulu.

"Nah Selesailah pekerjaan kita, nona. Kuucapkan banyak terimakasih atas bantuanmu" ujar Hayhauw setelah membagikan gandum itu beres. Ia menyusut peluh dijidatnya karena capek setelah beberapa kali mengangkut gandum tadi, dan matanya menatap wajah gadis itu yang dalam penglihatannya tampak makin cantik saja, sehingga makin gencarlah debaran didadanya.

Gadis itupun menyeka peluhnya dan bibirnya yang mungil menyunggingkan senyuman manis tatkala berkata.

"Saudara dengan sejujurnya aku puji usahamu yang mulia ini. Tak usah kau berterima kasih terhadapku, karena sejak tadi kau telah memberi upah lebih dari cukup terhadapku, yakni memberi hasil sekantong uang ini. Sekarang baiklah kita berpisah dan maaf, aku pergi lebih dahulu!" Demikianlah cepat gerakan gadis itu, baru saja ucapannya selesai dan sebelum Hayhauw coba menahannya barang sebentar lagi, ia sudah menghilang dikegelapan malam.

Untuk sejenak Hayhauw yang ditinggalkan jadi terpaku seperti terkesima. Begitu hebat ginkang dari gadis itu dan tentu ia memiliki ilmu silat yang hebat pula. Apa yang menyebabkan hati anak muda itu amat menyesal ialah karena belum berkenalan dengan gadis itu. Ia belum tahu siapakah nama gadis yang sudah membikin dadanya berdebaran itu! Ia segera berlari hendak mengajar dan mengikuti arah kemana gadis itu pergi tadi, akan tetapi ketika ia berlari sampai jauh diluar dusun Bok li cun dan hanya kegelapan malam saja yang dilihatnya, ia jadi menghela nafas putus-asa dan menyesal.

Waktu itu malam sudah lewat pertengahannya dan tiba-tiba saja Han Hayhauw merasa ngantuk. Anak muda ini lalu mencari pohon besar yang berdaun rimbun untuk dijadikan tempat tidurnya sebagai mana biasa ia sering tidur cabang- cabang pohon disepanjang perjalanan semenjak ia turun gunung. Sungguhpun ia sudah merasa ngantuk benar, akan tetapi matanya tidak dapat segera dipejamkan, ia duduk diatas cabang pohon sambil melamun.

Bayangan gadis tadi seakan-akan selalu bermain-main didepan matanya. Ia amat tertarik oleh gadis yang baru dijumpainya itu sehingga tak habisnya ia mengagumi dan juga tak habis-habisnya ia menyesali diri sendiri mengapa ia tadi begitu bodoh tidak memperkenalkan diri dan menanyakan nama gadis yang terus terang saja ia mengakui bahwa kuncup bunga asmara dilubuk hatinya sudah mulai berkembang karenanya! Han Hayhauw menghela napas panjang sambil menundukkan menyembunyikan kepalanya didalam pelukan kedua tangannya yang merangkul lutut. Disandarkannya pada batang pohon besar itu dan akhirnya dapat juga ia tertidur dalam keadaan duduk. Bahkan dalam tidurnya ia bermimpikan gadis tadi . . .

Kokok ayam hutan dan kicau burung-burung yang ramai selalu membuat Han Hayhauw segera menyudahi tidurnya yang selalu digoda mimpi itu. Ternyata fajar mulai menyingsing maka anak muda ini lalu meloncat turun dari tempat tidurnya dan melanjutkan perjalanannya.

Kalau saja Han Hayhauw kembali kedusun Bok li cun pada waktu fajar itu tentu ia akan menyaksikan kegirangan yang terjadi didusun itu. Li samlay, kepala kampung yang merajai dusun terebut ribut kalang kabut setelah mengetahui kecurian tiga kantong uangnya. Dicaci makinya habisan-habisan para penjaga dan tukang pukulnya dan sumpah serapahnya makin menghebat ketika diketahuinya pula bahwa simpanan gandum didalam gudangnya telah banyak berkurang. Dan kegemparan terjadi pula diantara penduduk dusun, para penduduk yang hidupnya penuh penderitaan ini merasa bingung, heran disertai rasa kegirangan yang luar biasa oleh karena begitu pagi-pagi mereka bangun dari tidurnva tahu-tahu mereka dapatkan di dalam gubuk-gubuk mereka sejumlah uang emas dan perak, ditambah pula tidak kurang dari sepuluh kati gandum.

Mereka heran dan bingung disebabkan mereka tidak mengerti uang dan gandum itu datang dari mana akan tetapi yang pasti hal ini tentu saja yang membuat mereka jadi girang sekali. Betapa tidak gandum yang kira-kira sepuluh kati dapat mereka makan sekenyang-kenyangnya, dan cukup untuk selama lima hari. Dan adanya, uang emas dan perak itu, jangankan mereka pernah memiliki uang emas dan perak sebanyak itu sedang dalam mimpipun belum dan sekarang seakan-akan mereka merasa mendadak kaya dan kekayaan ini berarti penyambung nyawa bagi keluarga mereka untuk beberapa bulan lamanya. Seakan-akan mendapat komando bahwa pada waktu sepagi buta itu didalam gubuk masing- masing para penduduk yang mendapat rejeki nomplok itu lalu sama menjatuhkan diri berlutut dan memuji nama tuhan yang maha murah yang telah mengirim “Malaikat” utusan untuk menolong mereka.

Mereka sama sekali tidak pernah menduga atau mendengar bahwa diatas atap gubuk mereka yang telah banyak bocor, itu pada waktu semalam melayang-layang bayangan dua sosok tubuh yang amat gesit dan ringan memasuk-masukkan hadiah-hadiah itu kedalam gubuk yang bobrok. Demi setelah mereka dapatkan rejeki itu yang berarti bahwa hari-hari kehidupan yang mereka hadapi tidak terlalu gelap seperti apa yang selama ini mereka selalu alami, membuat semangat mereka yang tadinya melempem serempak menjadi bangkit. Api perjuangan yang sudah mulai berkobar dimana-mana akhirnya menggugah dan membakar semangat mereka.

Tuan tanah Li Samlay yang selama ini menindas dan memeras mereka dan selalu mereka takuti, kini semangat dan keberanian mereka bangkit, setelah mereka berkompromi tercapailah kebulatan tekad untuk tidak mau mematuhi segala perintah, menentang dan bahkan mengganyang si tuan tanah Li Samlay, seiring dengan irama perjuangan yang mengusir penjajah durhaka dan mengikis habis segala macam antek- anteknya.

Terjadinya kebangkitan semangat juang bagi penduduk dusun Bok li cun ini sungguh sesuai dan tepat dengan makna pribahasa kuno yang menyatakan bahwa rakyat akan dapat berjuang secara gagah berani dan jorjoran kalau perut mereka kenyang. Sebaliknya kalau perut rakyat lapar bagaimana akan mampu berjuang dan bertempur menghadapi lawan sedangkan untuk berjalan saja tubuhnya terhuyung-huyung lesu dan langkah kakinya gontai terseok-seok.

ooooooodwoOookzoooooo

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih sebulan dan tentu saja selama diperjalanan ia selalu mengulurkan tangan melakukan pertolongan setiap kali dijumpainya peristiwa- peristiwa yang merugikan dan menggencet si lemah akhirnya pada suatu hari sampailah ia didusun Bu leng cun, kampung halamannya yang selalu mendatangkan kenang-kenangan getir selama ini. Pertama-tama yang dikunjunginya adalah pusara dari ayah, ibu, dan cicinya. Sungguh, batin Hayhauw sudah kuat berkat gemblengan suhunya, akan tetapi ketika ia berlutut sambil menghadapi tiga buah pusara yang menjejer itu walaupun ia sudah berusaha menekan perasaan batinnya sedapat mungkin, tak urung dari kedua mata menitikkan air mata kesedihan. Malapetaka yang terjadi delapan tahun yang lalu kembali menggores kalbunya.

Lama juga ia seorang diri berada dikuburan itu, rumput alang-alang yang tumbuh sejak delapan tahun diatas tiga buah pusara yang tidak terurus itu, dibabat dan dicabutinya sampai bersih. Wajah ayah, ibu, dan cicinya terbayang di ruang matanya, dan aneh sekali, diantaranya tiga bayangan yang amat di cintainya itu, muncul pula sebuah bayangan lain yang juga dengan diam-diam sudah dicintainya, yakni bayangan gadis yang secara kebetulan dijumpainya didusun Ho leng cun . . .

Keadaan ditempat itu sedemikian sunyi dan tenang. Kesunyian mana benar-benar mendatangkan pilu kalau mengingat bahwa hidup didunia ini sudah sebatangkara. Akan tetapi kesunyian itu akan menjadi sebaliknya, mendatangkan perasaan senang dan romantis andai kata tiba-tiba gadis yang sudah menawan hatinya itu datang saling berkenalan selanjutnya bercakap-cakap dengan hati dipenuhi perasaan mesra. Ternyata tanpa disadarinya, sambil duduk dibawah sebatang pohon kayu dan kedua tangannya menompang dagu, Hayhauw asyik melamun . . .

Tiba-tiba kesepian yang menjadikan Hayhauw melamun itu dirobek oleh suara teriak-teriakan gaduh dan biarpun suara ini datang dari tempat jauh, akan tetapi cukup mengejutkan bagi Hayhauw sehingga anak muda ini tersentak dari lamunannya.

Diperhatikannya suara gaduh itu dari mana datangnya dan biarpun sudah delapan tahun meninggalkan dusun ini namun ia masih cukup ingat dan mengenal letak-letak perumahan kampung halamannya. Segera ia dapat menduga bahwa suara gaduh itu datangnya dari arah tempat tinggal tuan tanah Ceng Lobin.

Teringat kepada tuan tanah ini Hayhauw segera teringat pula kepada tuan muda Ceng Kunhi, si mata juling musuh besarnya, yang barusan selagi ia asyik melamun seakan-akan dilupakannya. Darah anak muda ini tiba-tiba mendidih dan setelah beranjak dari tempat duduknya, tubuhnya lalu berkelebat menuju kearah dimana gedung tuan tanah Ccng Lobin.

Selama delapan tahun Han Hayhauw meninggalkan dusun Ho leng cun, telah banyak perubahan didusun ini. Tuan tanah Ceng sudah mulai tua dan sudah tidak dibantu putera tunggalnya karena tuan muda Ceng Kunhi pada tiga tahun yang lalu sudah menikah dengan puteri seorang hartawan dikota Cintok bernama Lo Binkong dan si tuan muda itu tinggal bersama isteri dan mertuanya.

Kemudian penduduk dusun Ho leng cun mendapat kabar bahwa mertua Ceng Kunhi yakni Lo Binkong diangkat menjadi gubernur dan menjabat kedudukan itu dikota Thaygoan sebagai pengganti gubernur lama yang sudah meninggal dunia.

Adapun Ceng Kunhi yang ketika itu sudah memiliki ilmu silat tinggi setelah berguru kepada seorang hwesio bayaran kawan karib mertuanya dikota Cintok, berkat mertuanya ia mendapat kedudukan tinggi pula, yaitu menjabat pangkat selaku panglima-muda dalam Pasukan Garuda penjaga keamanan kota Thaygoan dan sekaligus merangkap sebagai barisan pelindung gubernur Lo Binkong.

Biarpun usianya makin bertambah tua dan tidak dibantu lagi oleh puteranya, akan tetapi tuan tanah Ceng Lobin masih tetap aktif untuk memperkaya dirinya yang sudah kaya raya yakni kekayaan yang dikeruk dari hasil banting tenaga dan cucur peluh para penduduk dusun Ho leng cun yang dikuasainya.

Dan pada waktu yang paling akhir, setelah mendengar pemberontakan yang dipimpin oleh Coe Goan Ciang dan timbul pula pemberontakan dimana-mana yang selain mengganyang pemerintahan Mongol juga mengganyang para tuan tanah, Ceng Lobin dengan sendirinya merasa terancam, dan karena merasa para tukang pukul yang lima orang itu kurang kuat untuk menjaga keselamatannya, maka tuan tanah ini lalu minta bantuan kepada puteranya yang segera mengirim seregu pasukan dan kebetulan sekali pasukan yang seregu ini dikepalai oleh seorang komandan yang sudah lama dikenalnya, yaitu komandan bertubuh gendut dan bermuka bopeng yang pernah mengepalai barisan pengumpul tenaga kerja paksa didusun ini dan pembaca tentu masih ingat nahwa komandan ini bernama Be Kunbu. Makin celakalah nasib para penduduk setelah adanya pasukan iblis yang didatangkan tuan tanah ini.

Akan tetapi para penduduk yang tadinya hanya merupakan kelompok manusia lemah dan merupakan makanan empuk bagi si tuan tanah dan para anjing-anjingnya, setelah mendengar perjuangan yang dipelopori oleh Coe Goan Ciang, semangat dan jiwa mereka sudah bangkit seirama dengan kebangkitan saudara-saudara mereka disegenap tanah air. Apalagi sekarang penduduk Ho leng cun ini banyak terdiri para kaum muda yang usia mereka hampir rata-rata sepantar dengan Hayhauw. Maka darah muda mereka jadi panas dan mendidih dibakar oleh api revolusi membuat mereka sangat berani menentang dan melawan segala perbuatan biadab dari para oknum pengganggu dan penindas mereka.

Mereka maklum bahwa para orang tua mereka mewariskan kemiskinan dan kesengsaraan kepada mereka, adalah disebabkan perbuatan tuan tanah Ceng. Mereka masih dan selalu ingat bahwa ayah, paman, atau kakak mereka ditarik kerja paksa pada delapan tahun yang lalu dan sampai kini tidak kembali dan sama sekali tiada kabar beritanya, biarpun maklum bahwa Be Kunbu yang menjalankan perintah dari atasan sehingga hal itu tidak dapat terlalu mempersalahkan kepadanya, akan tetapi kalau mengingat betapa dia dan anak buahnya melakukan perbuatan biadap mengganggu ibu-ibu atau cici-cici mereka sehingga banyak yang melakukan perbuatan nekat mengakhiri hidup mereka tak kuasa menanggung rasa malu, maka hal inilah yang justru mendatangkan rasa sakit hati mereka terhadap komandan gendut bopeng itu.

Lebih-lebih rasa sakit hati mereka terhadap tuan muda Ceng Kunhi karena putera tuan tanah inilah yang menunjuk- nunjuk ketika gerakan operasi pengumpulan tenaga. Akan tetapi sekarang, karena si tuan muda bermata juling dan berwajah setan itu tidak ada didusun Ho leng cun, maka rasa sakit hati para penduduk jadi ditimpahkan seluruhnya kepada tuan tanah Ceng Lobin, karena mereka yakin bahwa kegiatan si tuanmuda itu sudah tentu atas persetujuan atau titah dari Ceng Lobin, maka sudah semestinya bahwa situa bangka itu mereka tuntut pertanggunganjawabnya.

Ceng Lobin melihat gejala-gejala bahwa penduduk dusun akan memberontak, maka ia segera menggerakkan tukang pukul dan pasukan pengawalnya untuk menumpas. Akan tetapi, seperti sudah diterangkan bahwa para kaum muda penduduk dusun sekarang bukan lagi merupakan kelompok manusia-manusia lemah, melainkan telah merupakan patriot- patriot yang berjiwa dan bersemangat gagah, maka setiap kali mendapatkan aksi dari anjing peliharaan tuan tanah itu, secara gagah berani lalu mengadakan reaksi untuk menimpalinya sehingga oleh karena ini, timbullah bentrokan- bentrokan dan yang mendatangkan akibat jiwa melayang dan darah bercucuran dikedua pihak. Akan tetapi setiap terjadi bentrokan atau pertempuran, selalu dipihak para penduduklah yang lebih banyak menderita kerugian, oleh karena selain mereka rata-rata tidak pandai silat dan hanya memiliki semangat serta keberanian belaka, juga disebabkan tiadanya pimpinan. Namun walaupun demikian semangat mereka tak jadi patah karenanya, antara mereka dan mereka tak putusnya berunding dan tekat mereka tetap bulat untuk melawan si tuan tanah berikut antek- anteknya sampai kikis habis. Untuk membela hak kebebasan dan kemerdekaan ini, untuk melepaskan diri dari penindasan, biarpun harus mengorbankan nyawa, mereka rela.

Melihat betapa secara terang-terangan para penduduk memberontak tuan tanah Ceng marah sekali dan segera ia perintah para anteknya untuk membumihanguskan gubuk- gubuk bobrok kaum pemberontak itu, supaya mereka kapok dan minta  ampun. Demikian jalan pikiran Ceng Lobin dan betapapun juga ia masih mengharapkan para penduduk itu akan mau tunduk lagi dibawah kakinya, oleh karena kalau tanpa tenaga mereka yang merupakan penggarap-penggarap sawah ladang dan budak-budaknya, ia merasakan hidupnya berabe juga.

Akan tetapi kenyataannya para penduduk yang dikerasi itu benar-benar jadi makin merasa sakit hati dibuatnya, mereka terpaksa membawa para orang tua dan sebagai pembalasan dibakarnya gubuk-gubuk mereka itu, mereka membabat habis gandum-gandum yang sudah menguning disawah milik Ceng Lobin dan diangkut ketempat pengungsian sehingga dengan demikian, selain mereka mendapat ganti harga gubuk mereka yang sudah dibumihanguskan itu dengan harga gandum, juga gandum itu dapat mereka gunakan sebagai bekal perjuangan mereka. Bahkan mereka jadi bertekad untuk membakar gedung siuan tanah itu sebagai pembalasan yang setimpal.

Demikianlah terjadi pada suatu hari, para pejuang gagah berani yang oleh kaum penindas dicap pemberontak ini telah berjalan secara berbondong menuju ketempat gedung Ceng Lobin. Mereka ini terdiri dari limapuluh orang, yang terbanyak adalah pemuda-pemuda, akan tetapi beberapa orang sudah tua serta beberapa anak tanggung ternyata tak mau ketinggalan.

Wajah mereka rata-rata menunjukkan kesungguhan tekad mereka dan mata mereka agak merah mencerminkan bahwa hati mereka dipenuhi hawa amarah yang seakan-akan sanggup membakar jagat. Senjata yang mereka bawa bermacam-macam, seperti cangkul, golok, linggis, bambu runcing, alu, martil kampak dan lain-lain lagi yang kesemuanya menyatakan bahwa rombongan pejuang ini terdiri dari kaum tani dan miskin.

Ketika mereka tiba didepan gedung Ceng Lobin, segera mereka mengambil posisi mengurung. Akan tetapi untuk beberapa saat mereka agaknya merasa ragu-ragu sehingga mereka hanya berdiri tegak diluar pagar pekarangan yang terbuat dari ruji-ruji kayu yang kokoh kuat! Yang membuat mereka ragu ialah, keadaan gedung itu demikian sepi seakan- akan kosong, tak seorangpun penjaga yang kelihatan batang hidungnya. Akan tetapi kemudian secara tiba tiba sekali, seorang diantara mereka mempelopori kawan-kawannya berseru keras.

"Serbuuu . . . !"

-o0odwookzo0o-