-->

PSDLL Bab 07 : Mayat bergelimpangan darah

 
Bab 07 : Mayat bergelimpangan darah

Sehabis Hun-ni berbicara, sepasang tangannya tidak tinggal diam, Ji-ie-sin-kangnya dikerahkan sampai puncaknya, sepasang tangannya menyapu melintang memukul lurus, ikut bertarung dengan sangat sengitnya.

Ini adalah pertarungan yang sulit bisa disaksikan di dunia persilatan, juga yang paling aneh, tiga orang, tua muda ini, semuanya adalah orang yang top di dunia persilatan masa kini, termasuk ular pintar Sian-giok, juga bukan sembarang jago bisa melawannya.

Tapi, setelah lewat tiga ratus jurus, mereka seperti telah melampiaskan amarah di dalam dada mereka, saat menyerang, sudah tidak dengan sekuat tenaga lagi, karena mertua membunuh menantu, tidak bedanya dengan memutuskan sendiri hubungan ayah dengan putrinya. Orang tua bermantel merah yang sangat merindukan putrinya, sama sekali tidak ingin melakukan hal yang bodoh, jika menantu membunuh mertua? Lalu bagaimana mempertanggung jawabkan pada teman seranjang? Sehingga mereka bertarung kesana-kemari, malah makin bertarung semakin tidak bersemangat, tapi siapa pun tidak mau berhenti duluan, orang-orang persilatan, seringkah bertarung karena mempertahankan gengsi dengan alasan yang tidak masuk akal.

Ular pintar Sian-giok telah terbang kembali ke tempatnya, dia berhenti di atas bahunya Pek Soh-jiu, sepasang matanya yang merah tidak berhentinya berputar, sepertinya sedang menikmati pertunjukan ilmu silat yang sulit ditemukan. Memang tepat sekali kalau dikatakan mereka sedang mengadakan pertunjukan, jarak mereka jadi jauh sekali, seperti menari-nari tanpa mengeluarkan tenaga, dan selalu memperhatikan lawannya, sepertinya takut kalau kurang hati-hati bisa melukai lawannya.

Lama sekali... sebuah tawa yang seperti bel perak, terdengar di sisi mereka:

"Guru! Apa kau ini sedang mengajar ilmu silat pada Ciu koko? Hematlah tenaga, jika mau setelah makan kalian boleh ulangi lagi."

Orang tua bermantel merah meloncat menying-kir keluar, kepada seorang wanita yang cantik dan manis berbaju kuning, mendengus, melotot sambil marah berkata:

"Anak yang nakal, kau jelas-jelas tahu guru tidak ingin melukai bocah bodoh itu, kau malah diam berdiri di pinggir, ingin melihat guru mendapat malu ya? Henmm ulurkan tanganmu, guru harus memberi pukulan beberapa kali pada telapak tanganmu."

"Yaaw!" sekali wanita baju kuning berkata, "Tidak mau, guru berat sebelah, kau tidak mampu mengurus menantu malah mengalihkan marahnya pada murid, aku tidak. "

Disaat dua orang guru dan murid ini berbicara, Pek Soh- jiu sudah emosi, rasanya dia ingin meloncat, dia menyadari wanita berbaju kuning itu adalah Su Lam-ceng yang sudah cukup lama berpisah, penampilannya masih cantik seperti dulu, melihat keadaannya, dia telah berhasil belajar ilmu yang hebat, saat ini dia sudah tidak tahan lagi, langsung berteriak:

"Adik Ceng' langsung berlari maju, Su Lam-ceng dipeluknya dengan erat. Tentu saja perkataan Su Lam-ceng tidak bisa diteruskan, dia dengan jinaknya diam tidak bicara, merebahkan diri di dalam pelukan Pek Soh-ciu, mengusap-usap, sepasang mata yang berlinang air mata, mulut munggilnya sedikit terbuka, di dalam kepedihannya bercampur rasa bahagia yang sulit diutarakan.

Lama, wajah dia jadi sedikit merah, bibirnya dicibirkan dia mendorong dengan lembut berkata:

"Ada adik Yam, ada kakak Hun, hemm, kapan kau ingat aku?"

Pek Soh-jiu membalikan kepala melirik, melihat orang tua bermantel merah dan Hun-ni sudah tidak ada, baru dia menghembus nafas lega berkata:

"Adik Ceng, kau sungguh pintar menyalahkan orang, jika bukan demi kau, aku bagaimana bisa mencari adik Yam,......mengenai kakak Hun itu. "

"Sudahlah, kau tidak perlu menjelaskan padaku, haai, setiap peristiwa semuanya sudah ditakdirkan, semua ini aku sudah tahu sejak dulu. Jalanlah, jika kita terlalu lama disini, kakak Hun mungkin tidak mengampuni kau."

Hati Pek Soh-jiu meloncat, wajahnya juga tampak serba salah, cinta dia terhadap Su Lam-ceng, jika harus membandingkan, tidak ada orang yang bisa menandinginya, cantiknya memang bisa disetarakan dongan dewi khayangan, dan aura dia yang istimewa, anggun, sulit dicari ada orang kedua, yang paling membuat Pek Soh-jiu mengaguminya, adalah pengalaman dia yang begitu luas, kepintarannya seluas lautan, masalah apa saja, jangan harap bisa mengelabui dia, tidak bedanya dengan seorang idiot membicarakan mimpi! Maka dia tidak berani mendebat, dituntunnya, diam seribu bahasa lari cepat kedepan, lama, akhirnya dia mendapatkan bahan bicara:

"Keek!" katanya, "Adik Ceng, segala sesuatunya setelah kita berpisah, kau harus menceritakan padaku, kau bagaimana bisa jadi muridnya ayahnya adik Yam?"

Su Lam-ceng mendengus:

"Kenapa bukan ceritakan lebih dulu cerita asmaramu itu padaku?"

"Keek, Li Cukat (wanita pintar) bisa meramal segala sesuatu, buat apa menyuruh aku menghambur hamburkan lidah?"

"Memperkirakan dengan dasar situasi, hanya bisa tahu garis besarnya saja, aku ini bukan dewa, bagaimana bisa tahu cerita detailnya!"

"Apakah kau mau mendengarnya?" "Bukan   ingin,   tapi   suka." "Haai. "

"Kau ini kenapa? Ciu koko, kalau tidak mau menceritakannya ya sudah, kenapa harus berkeluh kesah segala."

"Ha...ha...ha bukankah Li Cukat bisa tahu sebelum masalah akan terjadi, kali ini malah salah besar, aku beritahukan padamu, adalah gembira kau. "

"Kau jangan bicara sembarangan.    " "Baik, aku tidak katakan, aku akan ceritakan pengalaman yang terjadi setelah kita berpisah, itu kan boleh."

Maka mereka berdua bercerita, tertawa, mengeluh, mendengarkan, walau sebisanya memperlambat langkahnya, akhirnya tiba juga di goa tempat tinggalnya

Su Lam-ceng, Pek Soh-jiu mengangkat kepala melihat pada papan yang bertuliskan melintang dua huruf Ce-hian berkata:

"Haai, kenapa begitu cepat sudah sampai, aku masih belum mendengar ceritanya!"

Su Lam-ceng tersenyum simpul berkata:

"Hari masih panjanglah, buat apa terburu buru?"

Didalam goa ada beberapa kamar, kecuali orang tua bermantel merah, Su Lam-ceng, kera besar masing masing satu kamar, masih ada kamar latihan, ruang tinggal, ruang kamar dan lain lain, perabotannya walau pun sederhana, tapi semuanya komplit, tapi yang mereka minum adalah air gunung, makanan mereka adalah buah liar, bukan makanan manusia biasa, mereka hidup seperti kehidupan para dewa.

Su Lam-ceng memimpin masuk kedalam ruang tinggal, memonyongkan mulut pada dia, berbisik:

"Terhadap mertua, menantu harus ada hormat, cepat temani dia."

Pek Soh-jiu segera maju beberapa langkah, bersoja membungkuk sampai ke tanah berkata:

"Gak-hu, maaf atas kekurangajaran ku tadi..." Orang tua bermantel merah mendengus berkata: "Bagaimana hilangnya anak Yam? Kau bocah kecil jika memang suaminya, apakah kau sedikit tanggung jawab, melindungi dia juga tidak bisa?"

Su Lam-ceng berkata:

"Guru jangan salahkan dia, saat itu dia sedang mengobati lukanya, adik Yam berjaga-jaga untuk dia, saat dia selesai mengobati luka, adik Yam sudah menghilang tidak ada jejaknya."

Orang tua bermantel merah kembali bertanya pada Pek Soh-jiu:

"Apa kau tidak mencoba mencari, sedikit jejak pun tidak diketemukan?"

"Aku sudah datang di tempat jaganya adik Yam, malah menemukan beberapa orang bertopeng, setelah bertarung sengit, walau pun tidak sedikit yang mati, tapi sulit bisa menangkap hidup hidup. "

"Orang-orang bertopeng itu berasal dari aliran mana?" "Aku dengar mereka adalah anak buahnya Ang-kun-

giok-hui Hai Keng-sim."

"Apa? Wanita hina itu? Dia......dia.    "

Rupanya orang tua bermantel merah terhadap Ang-kun- giok-hui Hai Keng-sim, seperti punya dendam yang sangat dalam, tampak alis dan jenggotnya berdiri, matanya melotot seperti hampir pecah, sepertinya ingin sekali menguliti dia.

Pek Soh-jiu berkata:

"Adik Yam adalah murid ketiganya Ang-kun-giok-hui, dia seperti mendapat perintah dari Ang-kun-giok-hui, sepertinya akan mencelakai aku, tapi dia tidak melaksanakan perintah gurunya, maka dia jadi murid yang mengkhianati guru, makanya, jika benar-benar telah ditangkap oleh Ang-kun-giok-hui, mungkin. mungkin

bisa berbahaya sekali.    "

Orang tua bermantel merah mendadak mengangkat kepalanya, tertawa keras berkata:

"Wanita hina, sudah mencelakai suami, hingga putri sendiri juga tidak mau diakuinya! Ha ha...ha bagaimana pun anak Yam adalah anak yang baik, jika dia benar-benar mencelakai mu, bocah kecil, maka aku tidak menginginkan lagi dia sebagai putriku."

Hati Pek Soh-jiu tahu, antara orang tua ber-mantel merah dengan Ang-kun-giok-hui, pasti ada sesuatu hubungan istimewa, tentu saja dia tidak enak menanyakannya, maka matanya memandang pada Su Lam-ceng, berharap mendapatkan sedikit kejelasan, sebenarnya Su Lam-ceng sudah mengikuti guru setahun lebih, belum pernah mendengar orang tua bermantel merah menyebut-nyebut Ang-kun-giok-hui, hanya tahu namanya Siau Ji-po, dulu adalah seorang yang membawa adat sendiri, julukannya Thian-ho-sat-kun (Pembunuh api langit), Siau Ji-po, tidak peduli dari aliran hitam atau putih, siapapun yang mendengar namanya jadi ketakutan, yang dia ketahui hanya segitu saja. Tapi dia juga sungguh berakal banyak, tampak dia tersenyum manis, menarik lengan baju Thian-ho-sat-kun berkata:

"Guru, kalau murid punya cara mengembalikan seorang putri yang segar bugar, guru akan memberikan hadiah apa pada murid?"

Thian-ho-sat-kun sedikit tertegun, lalu tertawa berkata: "Nona kecil, kau jangan mempermainkan guru, seluruh

ilmu guru yang jelek ini, sudah diperas semua olehmu setetes pun tidak tersisa, kecuali tulang tua ini, guru sudah tidak punya apa-apa lagi, tapi, nona kecil, jika kau benar dapat mencari adikmu, guru masih dapat melakukan satu hal yang bisa menggembirakanmu."

Su Lam-ceng mengangkat alisnya berkata: "Hal apa?

Katakan dulu biar aku pertimbangkan”

"Bocah she Pek ini, semakin dilihat, guru semakin sebal, tadinya aku ingin memukul dia untuk meredakan amarahku, demi supaya kau sedikit gembira, pukulan ini terpaksa dibatalkan."

Su Lam-ceng mencibirkan bibir berkata:

"Hemm, semakin dilihat semakin menggembirakan itu baru betul, ingin memukulnya? Jangan kata adik Yam, dua orang yang ada ditempat sudah pasti tidak rela."

Thian-ho-sat-kun tertawa terbahak-bahak, dia seharian mendapat hal yang tidak menggembirakan, setelah dibuat kelakar oleh Su Lam-ceng, kekesalannya jadi buyar semua, dia melihat Thian-ho-sat-kun masih ada sedikit tidak percaya, maka sambil tertawa berkata:

"Guru tenang saja, di dalam waktu seratus hari, pasti aku akan mengembalikan seorang adik Yam padamu, sekarang kita istirahat dulu, besok pagi-pagi kita berangkat."

Saat ini kera besar membawakan makanan dan minuman, setelah makan Thian-ho-sat-kun bersemedi, mereka bertiga berbincang-bincang di dalam kamarnya Su Lam-ceng, Pek Soh-jiu tidak tahan bertanya:

"Adik Ceng, cepat ceritakan segala kejadian tentang kau, setelah kita berpisah, aku sungguh sudah tidak tahan lagi."

Su Lam-ceng tertawa berkata:

"Sebenarnya tidak ada apa-apa, guru tadinya menganggap aku ini sebagai sanderanya, kemudian aku bisa dengan tepat menebak beberapa masalah didalam hati dia, maka dia jadi gembira. Keek, kakak ini, kau tidak perkenalkan padaku?"

Setelah diperkenalkan oleh Pek Soh-jiu, Su Lam-ceng segera memberi hormat pada Hun-ni berkata: "Adik menghormat ciri."

Hun-ni membalas menghormat: "Kau masuk lebih dulu, kata hormat ini, aku tidak berani menerimanya, seharusnya aku yang harus menghormatimu sebagai istri tertua, namun usiaku lebih tua dari padamu, memanggil aku kakak juga tidak berlebihan, dan juga. "

Su Lam-ceng dengan anggunnya tertawa: "Kami turut kau saja, cici masih ada pesan apa?"

"Aku dengar kau pandai meramal, bertemu masalah bisa tahu sebelumnya, aku dengan adik Ciu mengalami bahaya jatuh kedalam jurang, kau seharus-nya cepat-cepat datang menolong baru betul!"

"Keek, cici jangan menyalahkan orang yang baik hati, jangan kata cepat-cepat datang menolong, walau pun aku datang pagi hari ini......cici tentu akan memaki adik ini pembongkar mimpi indah, tidak tahu perasaan orang."

Wajah Hun-ni menjadi merah: "Mulut munggil yang sangat lihai, cici kalah berdebat denganmu."

Pek Soh-jiu menonton mereka berdua berdebat, dia melihat kanan menatap kiri, senang tidak terhingga, tiba tiba teringat Hun-ni dengan Siau Yam tidak saja wajahnya mirip sekali, sampai ditelapak kaki kanan juga sama-sama mempunyai tanda lahir merah yang sama, timbul sedikit pertanyaan dalam hatinya, katanya:

"Cici Hun, di telapak kakimu apa benar ada sebuah tanda lahir merah?" Hun-ni mendengus:

"Kau tidak percaya?"

"Bukan tidak percaya, hanya merasa terlalu kebetulan sekali."

Su Lam-ceng berkata:

"Di dalam masalah ini mungkin ada sesuatu yang penting, kalian jangan bertengkar dulu, biar aku coba meramal dulu."

Yang dia gunakan adalah cara Liu-jin, Liu-jin dengan Tun-kah-tai-it disebut tiga cara. Cara peramalannya berjumlah enam puluh empat pelajaran, berasal dari Ih- keng, setelah lama menghitung, mendadak dengan wajah serius dia berkata:

"Cici. "

"Mmm. "

"Kau lahir diatas air." "Tidak salah."

"Gunung tinggi mengalir jauh, airnya deras, mungkin adalah San-sia di sungai Tiang-kang. "

"Kek. "

"Cu-gouw saling bertentangan, papan mengambang di atas air, ketika cici baru berusia satu tahun, sudah menjadi yatim piatu."

"Kek, adik! Aku sungguh kagum padamu."

"Beruntung ada seorang yang memelihara, hingga berhasil belajar ilmu silat yang hebat sekali, sayang aku bernasib menyendiri, harus tinggal terlebih dulu di kuil.     ,

kalau sekarang, bulan purnama bunga bagus, suami nyanyi istri mengikuti, melihat dari ramalan, cici seharusnya she Siau, guruku adalah ayah kandungmu. "

Hun-ni jadi tertegun, dia tidak menduga adik Ceng nya memang memiliki ilmu yang mampu menembus langit, dalam sesaat dia malah jadi melongo tidak bisa bicara.

Tepat disaat ini, sinar merah berkelebat, Thian-ho-sat- kun menerjang masuk, dengan bercucuran air mata tuanya menangkap Hun-ni berkata:

"Ibumu she Hun namanya Sang-ku?" Hun-ni bengong:

"Benar, aku pernah mendengar almarhum guru mengatakannya."

Thian-ho-sat-kun dengan marah berkata: "Hai Keng-sim hatinya sungguh kejam, dia diam diam mencelakai kalian ibu dan anak, malah mem-bohongiku mengatakan kau mendapat musibah perahunya terbalik, Siau Ji-po jika tidak membunuh wanita ini dengan tangan sendiri, bagaimana bisa bertanggung jawab pada arwah ibumu dilangit, anak! Tahun-tahun ini sungguh membuat kau menderita."

"Ayah.    " wanita yang kesepian menyendiri, kepedihan

yang terkumpul didalam hatinya sungguh terlalu banyak, nama yang termasyur di dunia persilatan, tidak bisa menghibur kekosongan di dalam hati. Walau, sekarang dia telah mempunyai seorang suami, mempunyai seorang ayah kandung, tetap saja tidak terhindar merasakan ingin menguatarakan kepedihan hati.

Beberapa saat, Thian-ho-sat-kun baru menggandeng Hun-ni sambil tertawa berkata:

"Anak Hun, demi memperingati ibumu, nama kau jadikan Siau Hun saja." berhenti sejenak lalu berkata lagi: "Kita ayah dan anak bisa berkumpul, anak Hun, nona kecil ini berjasa dan sungguh lihay, kau cepat-cepat berterima kasih padanya!"

Maka Siau Hun dengan serius menghormat dan berterima kasih, Su Lam-ceng malah memonyongkan mulutnya berkata:

"Menjadi orang baik sungguh sulit, guru sendiri mengatakan aku ini sangat lihay, sebenarnya kalau ingin berterima kasih, harus pada Ciu koko, guru jangan lupa, cici Hun dibawa kemari oleh dia."

Thian-ho-sat-kun sambil tertawa lalu bersuara "Hemm!" berkata:

"Berterima kasih pada dia? Hemm, dua putri guru, satu orang murid, semuanya telah habis dibohongi dia, memarahi dia saja belum cukup!"

Ha...ha......

Keek..keek......

Suasana gembira memenuhi lembah sunyi gunung liar ini, sampai kera besar yang namanya Huan-nio itu, juga sedang menari-nari kegirangan.

Tiba-tiba Pek Soh-jiu seperti teringat sesuatu, dia menghentikan tawanya, dengan wajah seriusberkata:

"Celaka, kita hanya tahu kesenangan, tapi melupakan dua orang teman."

Siau Hun berkata:

"Yang kau maksud apakah Sangguan Toako, dan Ouwyang Lo-ko?" "Benar, membiarkan mereka terluka ditangan orang- orang bertopeng itu, bukankah kita akan menyesal seumur hidup!"

Siau Hun membalikan kepala berkata pada Su Lam- ceng:

"Adik Ceng, di dalam jurang ini ada tidak jalan keluar gunung?"

Su Lam-ceng berkata:

"Ada, tapi jalan keluarnya berbelok belok dan panjang sekali, kira-kira memerlukan waktu seharian." Kata Su Lam-ceng.

"Itu terlalu makan waktu, adik Ceng, tolong kau carikan kertas dan koas, aku ada akal bisa segera mendapatkan mereka." Kata Pek Soh-ciu.

Setelah Su Lam-ceng menyediakan kertas dan koas, Pek Soh-jiu segera membuka, menulis surat singkat, berpesan pada Ouwyang Yong-it dan Sangguan Ceng-hun datang ke mulut lembah Ce-hian untuk berkumpul, dan juga menggambarkan peta tempat mulut lembah berada, supaya mereka bisa mencari dengan mudah, lalu kertas lipat, diikat dengan benang, menyuruh Sian-giok menggigitnya mencari mereka.

Sian-giok dengan cepat melayang menghilang, tidak perlu empat jam, dia sudah kembali dengan membawa surat balasan dari Ouwyang Yong-it, menetapkan setelah lewat tengah hari dihari ketiga bertemu dimulut lembah.

Karena masih ada cukup waktu, maka Thian-ho-sat kun menguji ilmu silat mereka bertiga, dan memberikan petunjuk, tentu saja diantara mereka bertiga ilmu silat Siau Hun yang paling tinggi, tapi jika Pek Soh jiu juga bisa mempelajari Ji-ie-sin-kang, lalu digabung dengan Kong- hong-sam-si, maka kepandaian-nya tentu makin pesat, mungkin Siau Hun juga sulit menandinginya. Siau Hun sangat mencintai Pek Soh-jiu, walau harus mati demi Pek Soh-jiu, dia juga tidak akan mengerutkan alisnya. Tentu saja dia dengan rela mengajarkan ilmunya pada Pek Soh- jiu, sehingga, walau waktunya singkat, ilmu silatnya Pek Soh-jiu sudah maju pesat, sudah sulit diukur.

Setelah Pek Soh-jiu berhasil, Siau Hun malah berkata pada Thian-ho-sat-kun:

"Ayah, mengapa kau menyembunyikan ilmu sendiri, kenapa tidak mengajari adik Ciu, ilmu silatmu yang misterius itu?"

Thian-ho-sat-kun membuka sepasang telapak tangannya, menggelengkan kepala berkata:

"Benar saja anak perempuan selalu memihak orang luar, jika ayah sendiri berharga dijual, beberapa batang tulang tua ini, pasti akan dibongkar habis habisan oleh kalian putri dan murid!"

Su Lam-ceng tertawa:

"Ini tidak ada urusannya denganku, dengan satu tongkat guru memukul seluruh perahu, aku tidak terima!"

Sepasang mata Thian-ho-sat-kun melotot: "Jangan pura pura jadi orang baik, di dalam hari kecilmu itu, kau kira guru tidak tahu?"

"Kalau begitu guru ajarkan saja Yu-bun-si-kang pada dia, bereskan?"

Thian-ho-sat-kun dengan wajah serius berkata: "Bukan guru menyimpannya, sesungguhnya Yu-bun-si-kang adalah ilmu silat misterius dari aliran sesat, walau ampuh dan keji, sulit digabungkan dengan ilmu silat aliran kurus, sudut kepala anak Ciu tampak bersinar, jalan di depannya tidak bisa dibatasi, ilmu silat aliran sesat seperti ini sangat tidak pantas dipelajari, Ji-ie-sin-kang yang diajarkan anak Hun, jika dilatih sampai puncaknya, rasanya didunia persilatan tidak ada orang yang dapat menandinginya."

Siau Hun mengerti apa yang dikatakan Thian-ho-sat-kun itu tidak bohong, lalu sambil mencibirkan bibir berkata:

"Baiklah, adik Ciu tidak belajar ya sudah, jika tidak kau akan mengatakan lagi wanita memihak orang luar."

Mereka berkelakar sebentar, setelah waktunyajuga sudah tidak lama lagi, setelah meninggalkan kera Huan-nio untuk menjaga goa, mereka berempat dan seekor ular, bersama- sama meninggalkan lembah Ce-hian, di mulut lembah berkumpul dengan Ouwyang Yong-it dan Sangguan Ceng- hun, tentu saja, dua orang hebat dunia persilatan ini, juga harus menghormati Thian-ho-sat-kun sebagai orang tua, setelah Pek Soh-jiu memperkenalkan mereka dia berkata:

"Toako dan Lo-ko pergi kemana saja, sungguh membuat aku khawatir."

Ouwyang Yong-it mengeluh sekali lalu berkata:

"Saat aku dengan adik Sangguan bertarung mati-matian bertahan, para bangsat bertopeng itu tiba-tiba semuanya pergi membubarkan diri, haai, kami demi mencari kau dan Hun......keek, keek, adik ipar Hun, kami hampir membalikan seluruh gunung, jika bukan karena Sian-giok, kami sungguh tidak tahu harus bagaimana berbuat."

Sangguan Ceng-hun berkata:

"Adik, sekarang bagaimana? Pergi kemana ?" Baru saja Pek Soh-jiu akan meminta nasihat dari Thian- ho-sat-kun, orang tua yang rambutnya telah putih semua ini tertawa lalu berkata:

"Bukankah kau pernah mengatakan Li Cukat ini perhitungannya tidak pernah meleset? Buat apa masih bertanya pada ku?"

Su Lam-ceng tersenyum berkata:

"Kita pergi saja ke gunung Kwo-tiang, tetapi kembali harus meminta Ciu koko menampilkan kemahirannya merayu orang."

Pek Soh-jiu dengan malu-malu berkata:

"Adik Ceng kau jangan sembarangan bicara, aku kapan pernah......pernah. "

Siau Hun berkata dingin:

"Tidak peduli kau pernah atau belum pernah, jika masih mau begitu. hemm, kau harus pikir matang matang!"

"Ya, ya, aku akan perhatikan." Su Lam-ceng tertawa sambil mulut ditutup, Thian-ho-sat-kun malah pada Ouwyang Yong-it dan Sangguan Ceng-hun mengedipkan mata berkata:

"Apakah kalian tahu apa yang disebut burung bodoh terbang duluan? Cepatlah jalan, kalian."

Siau Hun melihat wajah Pek Soh-jiu malu-malu, tidak tahan jadi tertawa berkata:

"Dia menampilkan wajah lucu supaya ayah mentertawakan kita, hemm, adik Ceng, kita jalan saja jangan pedulikan dia."

Sekelompok pendekar dunia persilatan itu, dengan bebasnya berkelakar, bergurau, sambil berlari menuju ke gunung Kwo-tiang, mereka jumlahnya tidak banyak, tapi kekuatannya tidak bisa di bayangkan, hanya Thian-ho-sat- kun seorang diri saja, di dunia siapa yang berani mengusiknya? Maka setelah tiba di gunung Kwo-tiang, mereka sedikit pun tidak mendapatkan kesulitan.

Gunung Kwo-tiang ada juga yang menyebutnya Yin-san, ada juga yang menyebut gunung Thian-pek, juga disebut Tiang-leng, bukit utamanya di empat puluh lie sebelah tenggara kabupaten Hian-ki Ciat-kang, bukitnya lenai, menghampar tiga ratus lie lebih, walau mereka sudah tiba di daerah pegunungan, ingin mendapatkan Goan Ang, itu bukanlah hal yang mudah.

Sore hari ini, mereka tinggal di rumah seorang pemburu, setelah berhari-hari melalukan perjalanan, semua merasa sedikit lelah, maka setelah makan malam, semuanya langsung pergi tidur.

Pek Soh-jiu juga merebahkan diri diatas ranjang, tapi pikiran dia tidak tenang, hingga tidak bisa memejam kan matanya, saat ini sinar rembulan menyinari jendela, kiyangan pohon bergoyang goyang, suara serangga dan hewan liar bersahut-sahutan, suara dipegunungan ini membentuk lagu yang indah, dia lalu menerobos keluar jendela, berjalan-jalan di dalam hutan, menikmati indahnya malam hari pegunungan.

Mendadak, ada angin keras menerjang kesisi dirinya, dia langsung menangkapnya, ternyata ini adalah sapu tangan hangat yang harum baunya, setelah dibuka dan dilihat dibawah sinar bulan, terlihat diatasnya ada tulisan, dia membacanya:

"Ingin melantunkan lagu cinta dengan kecapi tunggal, lagunya ada, tapi tidak ada orang yang menerimanya, mengirim kekesalan hati menggunakan angin musim gugur, merindukan kanda yang terpisah jauh Setelah berpisah di Huan-lo, sekarang sudah kembali musim berkembangnya bunga Hong, pendekar muda berhasil dalam asmara, apakah masih ingat orang yang sedih ini? Aku ada hal penting untuk dibicarakan, harap datang sendirian sepuluh li sebelah barat daya bukit Ho-wie untuk membicarakannya, masalahnya penting sekali, harap jangan diabaikan."

Tanpa ada tanda tangan, juga tidak ada nama, tapi dia menduga dari harumnya sapu tangan, orang yang ingin bertemu dengan dia ini pastilah seorang wanita muda, teringat ramalannya Su Lam-ceng dan peringatannya Siau Hun, dia jadi ragu-ragu sulit melangkah, tapi tulisannya mengatakan, 'masalahnya penting sekali, harap jangan diabaikan' sepertinya dia datang dengan sesuatu ancaman, lalu apa ancaman lawan itu? Apakah dia telah menangkap Siau Yam? Jika benar demikian, maka dia tidak bisa pedulikan peringatannya Siau Hun, keputusannya lebih baik dia percaya, maka dia lari kearahbarat daya.

Perjalanan sepuluh li di pegunungan, dalam sekejap sudah sampai, dari kejauhan dia melihat, diatas batu gunung di bukit Ho-wie, duduk seorang wanita cantik berambut panjang sampai menutup bahu. Wajahnya menghadap ke bulan, di bawah sinar bulan tampak cantik bersinar, sepasang matanya yang bersinar menandingi sinar bulan, berputar putar, diatas wajahnya yang seksi, tampak ada sedikit kemarahan, juga tampak sedikit sedih.

Pek Soh-jiu melihat wanita itu adalah ketua Oh Kai-pang Cu Kwan-cing, dia jadi merasa keheranan, cepat-cepat menghampiri ke depan batu itu, sepasang tangan dikepalkan berkata:

"Ternyata ketua Cu, sungguh beruntung sekali." Cu Kwan-cing mengangkat alisnya, dengan malas- malasan bangkit berdiri, matanya melirik dia sekali, lalu dengan tertawa genit yang membuat orang jadi gairah berkata:

"Apa betul? Saudara."

Pek Soh-jiu dengan wajah serius berkata: "Ketua memanggil aku, tidak tahu ada kepentingan apa?"

Cu Kwan-cing mencibirkan bibirnya, membalas dengan keluhan sedih dan pelan:

"Apakah kita tidak bisa hanya berbincang? Kenapa harus ada hal penting!"

Wajah Pek Soh-jiu berubah berkata:

"Tidak satu jalan tidak ada yang perlu dibicarakan, kita mungkin sulit bisa berbincang-bincang, sampai jumpa,. "

Dia tidak mau berbicara lebih lama lagi dengan wanita yang hina ini, perkataannya belum habis, dia meloncat beberapa tombak ke belakang, dia berlari kembali ke jalan arah datangnya.

Tapi......

"Orang She Pek, apakah kau tidak ingin tahu siapa otak pembunuh ayahmu? Walau pun kau bisa tidak pedulikan dendam keluarga, di dunia persilatan menjadi seorang anak yang tidak berbakti sangat hina, dan nona kecil itu juga kau sudah tidak mau lagi?"

Pek Soh-ciu terkejut mendengar kata-katanya, memang sampai mati pun dia tidak akan berhenti menyelidik otak penyerangan tempat tinggalnya, Hal yang dikatakan Cu Kwan-cing, adalah hal yang sangat penting yang ingin dia ketahui, terpaksa dia cepat-cepat berlari kembali. Mulut Cu Kwan-cing tersenyum, menatap wajahnya yang tampan, dia jengah tampak sulit bicara:

"Saudara! Kelihatannya kau ingin bicara dengan aku, kalau begitu duduklah, di bawah pemandangan rembulan yang seperti syair cinta ini, kenapa harus seperti ayam jago mau bertarung!" lalu dia mengguna-kan lengan bajunya membersihkan batu, tubuhnya menggeliat lalu duduk diatas batu.

Karena membutuhkan kabar, Pek Soh-jiu terpaksa menahan kesebalan dalam hatinya, katanya:

"Ketua Cu jika bisa memberitahukan otak pembunuh ayahku dan keberadaan istriku, aku akan sangat berterima kasih sekali."

Dengan sepasang tangannya memeluk lutut, Cu Kwan- cing tersenyum berkata:

"Apa semudah itu? Saudara..."

"Ini......atas kemurahan hati ketua, aku pasti akan membalasnya. "

"Bagaimana cara membalasnya, coba katakan dulu." "Ini......keek,    keek,    jika    ketua    Zhu    mendapatkan

kesulitan, aku pasti dengan sekuat tenaga akan membantu

menyelesaikannya."

"Apa kata katamu sungguh sungguh?" "Tanpa kepercayaan aku tidak bisa berdiri."

"Kalau begitu tampaknya, aku harus percaya padamu." "Betul."

"Kalau begitu aku ingin tahu terlebih dulu, satu teka teki yang sulit dipecahkan." "Teka teki apa yang sulit dipecahkan?"

"Teka-teki ini, bila dikatakan juga lucu sekali, yaitu kenapa bisa begitu banyak perempuan yang suka padamu?"

"Ketua berkelakar."

"Berkelakar? Tidak... kau telah mendapatkan wanita secantik bidadari Su Lam-ceng, ini masih belum cukup mengherankan, yang paling membuat orang tidak mengerti adalah, Leng-bin-sin-ni yang tinggal di dalam kuil, yang pandangannya sangat tinggi itu, sehingga di dalam lautan manusia, juga sulit mendapatkan laki-laki yang pantas dijadikan suami, dalam kekecewaan hatinya membuat dia nekad tinggal di dalam kuil, tapi karena kau dia rela membuka baju nikohnya menjadi istri muda, sehingga itu membuat ......hi...hi...hi. cici berniat

mencobanya."

Wajah Pek Soh-jiu menjadi dingin, katanya:

"Ketua Cu adalah seorang ketua perguruan yang namanya sudah termasyur diseluruh dunia persilatan, katanya lebih baik bisa menyesuaikan diri!"

Cu Kwan-cing dengan tenangnya berkata:

"Sebutan cici, mana bisa dibandingkan dengan Leng-bin- sin-ni, saudara terlalu memandang tinggi cici."

Pek Soh-jiu marah:

"Sebenarnya apa keinginanmu?" Cu Kwan-cing malah tertawa:

"Bukankah aku telah mengatakan, hanya ingin mencoba saja."

"Bagaimana cara mencobanya?" "Haai, adik Yang bodoh sekali, kecuali benar benar menikmatinya, antara laki dan perempuan ada cara apa lagi mencobanya?"

"Ha...Ha...ha!" Pek Soh-jiu tertawa keras, sesaat berkata, "Seorang wanita yang laki-laki mana pun bisa jadi suaminya, yang nama kotornya tersebar ke seluruh pelosok, ternyata tampangnya hina begini, orang she Pek sekali lagi terbuka matanya."

Wajah Cu Kwan-cing berubah, dia berteriak dingin berkata:

"Orang she Pek, kau berani tidak menepati janji?" Pek Soh-jiu mendengus dingin berkata:

"Orang she Pek adalah seorang laki-laki sejati, mana mungkin bisa menerima ancamanmu!"

"Apa kau sudah tidak ingin tahu lagi otak pembunuhan itu?"

"Aku tentu mampu mencari sendiri bangsat itu, kau katakan atau tidak bukanlah hal yang penting."

"Mungkin kata-katamu benar, tapi bagaimana Siau Yam? Apakah kau tega tidak menolong nyawanya?"

"Ha...ha...ha...sudah ada kau, aku sudah tidak risau tidak bisa menolong Siau Yam!"

"Kelihatannya kita harus bertarung." "Kenyataannya terpaksa demikian!"

"Sayang kau sudah terkena racun, sudah tidak ada kemampuan untuk bertarung!"

Begitu Pek Soh-jiu mendengar hati jadi tergetar, diam- diam mencoba tenaga dalamnya, benar saja jalan darahnya telah tersumbat, tanpa sadar dia sudah berubah menjadi orang yang kehilangan ilmu silatnya, tidak tahan dirinya menjadi marah sekali, paak... telapak telah memukul ke arah wajah Cu Kwan-cing.

Cu Kwan-cing tidak menghindar, tangannya diulurkan, dan berhasil mengunci pergelangan tangan Pek Soh-jiu, sedikit menekan pergelangan, Pek Soh-jiu sama sekali tidak bisa berdiri mantap, langsung roboh menindih tubuh Cu Kwan-cing.

"Turuti saja! cici tidak akan merugikanmu!" saat dia bicara, sepasang tangannya tidak hentinya bergerak ke alas kebawah, kelakuannya persis seperti orang kelaparan.

"Wanita hina, kau sungguh tidak tahu malu, sekarang aku akan menghujat kau!" diperkosa oleh wanita, Pek Soh- jiu mana pernah mengalami penghinaan seperti ini, tapi seorang yang kehilangan ilmu silatnya, kecuali menyerah pada kehendak orang, hanya ada satu cara yaitu menghujat orang, tapi Pek Soh-jiu memang punya kelebihannya dari pada orang lain, di saat dia tidak bisa berbuat apa apa, satu benda putih, mendadak meloncat keluar dari dalam bajunya, dia adalah ular pintar Sian giok. Ketika Pek Soh- jiu membuka dan membaca sapu tangan itu, hawa beracun yang terdapat di sapu tangan melayang masuk kedalam hidungnya, Sian-giok juga mengalami hal yang sama, sehingga dia merayap masuk kedalam bajunya Pek Soh-jiu, menggunakan racunnya sendiri menawarkan racun yang menyerang dari luar ketika dia belum selesai menawarkan seluruh racunnya, dia tahu majikannya dalam bahaya, tidak bisa ditunda lagi, terpaksa keluar melakukan serangan terhadap musuh majikannya, Cu Kwan-cing mimpi pun tidak terpikirkan, ketika sedang membayangkan pada hal yang cabul, tiba-tiba tenggorokannya terasa sakit sekali, wanita iblis yang sedang meraja lela, mimpi indahnya belum selesai, nyawanya sudah melayang tanpa tahu sebabnya.

Pek Soh-jiu tertolong dari mara bahaya, tapi ular pintar Sian-giok jadi semakin berbahaya, dengan pelan dia merayap kembali ke dalam lengan baju Pek Soh-jiu, lalu menggulung diri tidak bergerak lagi.

Pek Soh-jiu memaksakan tubuhnya berdiri, dengan benci melihat sekali pada mayat Cu Kwan-cing, lalu membalikan tubuh, berjalan pulang.

Mendadak, dia mendengar teriakan panggilan yang halus seperti suara serangga, seperti semut bicara, juga seperti suara langit yang merdu, mendengung terus tanpa berhenti ditelinganya, dia merasa pikirannya sedikit kacau, tubuhnya juga sangat lelah sekali, tanpa sadar dirinya berjalan mengikuti suara aneh itu.

Akhrinya, dia melangkah masuk ke dalam mulut sebuah goa yang ukuran lobangnya hanya sebesar tubuh manusia, dia melangkah di dalam lorong yang gelap, sempoyongan dan tanpa arah, menuju ke arah yang tidak diketahui itu.

Di dalam saru ruangan batu, suara aneh itu mendadak berhenti, tapi pemandangan di depan matanya kembali membuat dia tercengang.

Sebuah ramput panjang yang awut-awutan seperti rumput liar, tumbuh diatas satu kepala yang besarnya mengejutkan orang- di bawah kepala seperti sebatang tiang pohon, menempel diatas satu batu hitam yang rata mengkilap, ternyata dia adalah seorang aneh yang kepalanya besar tanpa sepasang kaki, jika bukan karena diatas wajahnya yang kurus dan pucat itu, berputar putar dua butir bola mata yang bersinar, dalam keadaan ini, sungguh sulit sekali bisa mengetahui dia adalah manusia hidup. Pek Soh-jiu melihat pada orang aneh berkepala besar itu, sepatah pun tidak berkata, dia langsung duduk, dia juga ingin beristirahat sebentar untuk mengembalikan tenaganya, terhadap suara aneh tadi, dan orang aneh berkepala besar di depan matanya, dia seperti tidak pernah mendengar, dan tidak melihatnya.

Dia ingin beristirahat dengan tenang, tapi satu suara tertawa keras yang mengejutkan hati, membuat dia tidak bisa tenang, dia pelan-pelan membuka matanya, pada orang aneh kepala besar itu berteriak rendah berkata:

"Kenapa kau berteriak-teriak? Jika ingin mati juga harus tenang!"

Suara tawa itu mendadak berhenti, sepasang mata di atas kepala besar itu melihat sekali pada dia:

"Kau mengatakan aku? Bocah."

"Di dalam goa ini hanya ada kita berdua, tentu saja yang kukatakan itu untukmu!" kata Pek Soh-ciu

"He...he...he tidak diduga sampai sekarang, masih ada orang yang berani berkata begini pada Giam-lo-Cun-cia (Raja neraka yang terhormat.), he.. .he.. .he"

"Hemm, kalau begitu, kau tambah satu pengalaman lagi."

Giam-lo-cun-cia tertegun:

"Bocah! Kau ini cari mati ya? Mmm, jangan ter buru- buru, mati, mudah sekali, hanya saja aku tidak Ingin kau mati terlalu enak."

Giam-lo-cun-cia baru saja habis bicara, mendadak Pek Soh-jiu merasakan tubuhnya bergetar, ada satu aliran hangat yang lembut mengalir, mengalir dalam jalan darahnya, masuk ke dalam Beng-bun-hiat membuat seluruh tubuhnya kesemutan, dari dalam dirinya timbul satu perasaan gatal yang aneh.

Lalu seperti ada ratusan semut menggigit hatinya, sampai tulang pun seperti retak retak, terhadap seorang yang tidak ada kemampuan melawan, sungguh sakitnya tidak tertahankan.

Tubuhnya jadi gemetaran, keringat dingin membasahi seluruh baju putihnya, namun, dia sedikit pun tidak mengeluarkan suara rintihan, juga di wajah-nya, tetap tampak sikap kesombongan yang pantang menyerah oleh kekerasan.

Wajah orang tua tanpa kaki yang menyebut dirinya Giam-lo-cun-cia itu jadi berubah:

"Bocah kau memang berbakat, tapi aku tetap mau mencobanya siapa yang lebih kuat!" angin lembut keluar dari telunjuknya, mengikuti jarinya yang seperti dahan kering itu, menotok ke arah dada Pek Soh-jiu, tenaga jarinya membelah angin, terdengar ssst...ssst... tidak henti- hentinya terdengar di telinga, bisa dibayang-kan betapa mengejutkan kekuatan tenaga jari orang ini.

Terhadap orang yang tidak pernah bertemu ini, Pek Soh- ciu merasa sulit mengerti, tidak terpikir kenapa dia menggunakan suara aneh memancing dirinya datang, dan sekali bicaranya tidak cocok maka langsung ingin membunuh dirinya, sebagai seqrang laki-laki kepala boleh putus, darah boleh mengalir, tapi jangan harap meminta ampun, melakukan hal yang merendah-kan harga diri Maka dengan mendengus dingin, dengan angkuhnya tidak memandang pada tenaga jari yang segera membuat dia tewas. Tok...... terlihat batu kecil berhamburan, angin kencang menusuk telinga, tenaga jari itu malah menotok di dinding samping tubuhnya hingga membuat satu lubang yang besar.

Giam-lo-cun-cia yang telah bertemu dengan seorang bocah yang tidak takluk oleh ancaman hidup atau mati, dia jadi menyerah, sesaat dia teriak keras:

"Bocah! semangatmu sungguh membuat aku kagum, keek. bagaimana kalau kita berdamai?"

"Jika anda ingin menggunakan cara tolol mengancam atau menyogok, lebih baik tutup saja mulut anda itu!" kata Pek Soh-ciu tawar.

Wajah Giam-lo-cun-cia berubah, lama... baru dengan menarik napas berkata:

"Demi menebus dosa yang aku lakukan waktu dulu, disini aku menghukum diriku dengan menahan penderitaan selama tiga puluh tahun, kau bocah malah tidak mempercayai aku......" berhenti sejenak lalu melanjutkan, "Bocah walau dua jalan darah Jin dan Tok mu sudah tertembus, sayang tenaga dalamnya masih agak kurang, ah..

.harapan aku mungkin tidak akan terlaksana, sepertinya kau telah terkena racun yang amat mematikan, jika aku tidak mengobatimu, tidak lewat tiga hari, kau pasti mati oleh racun itu, kelihatannya dalam perdagangan kita ini, aku mungkin akan rugi besar. "

Pek Soh-jiu mendengus dingin berkata: "Jika anda merasa takut rugi, aku juga tidak berniat berdagang dengan anda, bukankah itu akan menguntungkan kedua belah pihak!"

"Ha... ha... ha!" Giam-lo-cun-cia tertawa terbahak- bahak, "Keinginanmu sungguh cantik, harus tahu jika aku sudah berniat mensukseskan perdagangan ini, kau tidak ada pilihan lain?"

Dia mendadak mengulurkan tangan, tubuh Pek Soh-jiu malah terbang ke depan seperti ditarik oleh satu tenaga hisapan aneh yang tidak bisa dilawan, lalu orang itu menyatukan jari seperti tombak, berturut turut menotok pada tiga puluh enam titik jalan darah besar di seluruh tubuh Pek Soh-jiu, dan telapak tangan kanannya di tempelkan di atas jalan darah Pek-hui-hiat pemuda sombong ini, mengalirlah satu hawa hangat tidak putus- putusnya ke dalam tubuh Pek Soh-jiu.

Cara pengobatan paksaan ini, membuat Pek Soh-jiu jadi merasa sangat malu dan sedih, setelah terdengar suara "Boom!" yang keras, akhirnya dia tidak sadarkan diri.

Lama, dia sudah bangun kembali, perasaan pertama dia adalah seluruh jalan darahnya lancar tidak ada halangan, tenaga dalamnya seperti mata air, seluruh tubuhnya terasa nyaman sekali, tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, saat matanya melihat pada orang tua yang mengobatinya, dia malah jadi terkejut sampai tertegun, karena orang tua cacad yang tidak ada sepasang kakinya ini, sudah menciut tidak berbentuk manusia lagi, sepertinya dia telah menyalurkan seluruh tenaga dalamnya pada Pek Soh-jiu, apa sebabnya? Dia tidak bisa mengerti, tapi terhadap orangtua asing dan cacad ini mau tidak mau timbul perasaan menyesal yang mendalam, sehingga sepasang matanya, meneteskan air mata yang mengandung perasaan bermacam macam.

0-0dw0-0