PSDLL Bab 06 : Dibawah telapak tangan raja neraka

 
Bab 06 : Dibawah telapak tangan raja neraka

Diantara celah rumput gunung liar, tergeletak mayat- mayat tanpa kaki atau tangan, darah berceceran dimana- mana, dalam sinar sore sangat mencolok mata dan mengerikan, namun, di dalam lapangan liar yang mengerikan ini, malah berdiri sepasang remaja yang seluruh rubuhnya penuh dengan bercak darah, mereka adalah Pek Soh-jiu dan Siau Yam yang baru lolos dari pertarungan berdarah.

Dengan sepasang mata Pek Soh-jiu yang merah membara, dia melihat pada mayat-mayat yang bergelimpangan cacat itu, dia tertawa keras memekikan telinga dan memilukan: "Rumah hancur......orang mati.    Leng-in meninggalkan

kebencian! Ha...ha...ha...kalian tidak melepaskan aku, bagaimana aku bisa melepaskan kalian para bangsat keji ini! Ha...ha. "

Dua sorot mata selembut air dimusim semi, diiringi dengan suara merdu yang mesra tapi ketakutan, memanggil-manggil disisi telinganya:

"Toako! Lengan kirimu sudah terluka oleh panah beracun, sama sekali tidak boleh emosi, mari, makan dulu obat ini."

Tapi dendam baru dan lama, kepedihan di dalam hati, kenyataan yang kejam berdarah ini, hampir membuat dia tidak bisa mengendalikan diri, lama......dia baru bisa tenang, memandang ke gunung yang jauh, dengan sedih dan mengeluh berkata:

"Adik Yam! Aku......hanya, merepotkan kau.    "

Siau Yam mengangkat alis:

"Kata-kata apa ini! Toako! Kau lupa kita ini adalah suami istri?"

"Benar, adik Yam! Lautan mengering batu melepuh, cinta kita tidak berubah, tapi. para bangsat ini menyiapkan

jebakan dalam radius seratus lie, ditambah aku sudah terluka panah beracun, perjalanan kita... haai. "

"Jangan putus asa! Para bangsat yang menyiapkan jebakan dalam seratus lie, belum tentu bisa menahan kita, tapi racun dari Toan-hun-cauww, jaman sekarang, hanya guruku dan ketua Kai-pang sesat Cu Kwan-cing yang punya obat penawarnya, kita pergi saja ke Thian-ciat leng mengadu nasib, bagaimana?" "Haai, adik Yam! Demi aku, kau sudah menjadi murid yang berkhianat pada guru, pergi ke Thian-ciat-leng, bukankah itu sama dengan menyerahkan diri!"

"Kalau begitu......kita cari saja Cu Kwan-cing.     "

"Dunia begitu luas, tidak mudah mencari orang, tapi kau tidak perlu gelisah, untuk mengobati racun Toan-hun- cauww, masih ada satu cara yang aneh!"

"Cara apa itu? Cepat katakan." "Ini......haai. "

"Kau ini kenapa? Kak! Apakah......apakah terhadap aku pun merahasiakannya!"

"Kau jangan salah paham, adik Yam, sebenarnya cara itu......cara itu. "

"Katakan! Kita suami istri apakah masih harus ada pertimbangan."

Pek Soh-jiu terdiam sejenak berkata:

"Sebenarnya cara aneh itu kau juga sudah tahu, aku pernah terkena panah beracun yang dilakukan oleh Pek Kuo taysu dari Siauw-lim, kemudian meloncat ke dalam Huang-ho, baru. "

Wajah Siau Yam jadi merah, perlahan merebahkah diri pada Pek Soh-jiu berkata:

"Toako! cepat kita cari air, bagaimana pun......aku ini istrimu. "

Demi untuk bisa lolos dari kepungan seratus lie, demi melawan musuh kuat yang akan dihadapi, mengobati racun Toan-hun-cauww, adalah hal yang tidak bisa ditunda, maka mereka berdua di dalam kegelapan malam segera menuju arah Sin-an-kang di tenggara. Siau Yam mendadak menghentikan langkah berkata: "Toako, cara ini kurang baik. "

Pek Soh-jiu merasa aneh:

"Apanya yang kurang baik? Adik Yam."

"Musuh telah membuat jebakan dimana-mana, dengan dadanan seperti kita ini, bagaimana bisa mengelabui mata mereka!"

Pek Soh-jiu melihat pada mayat mayat diatas tanah dan berkata:

"Tidak salah, kita pinjam saja baju mereka untuk digunakan."

Mereka berdua memilih baju yang pas untuk tubuh mereka, lalu menutup wajah dengan topeng hitam, dengan baju berkibar-kibar mereka bergandengan berlari cepat, ketika kentongan dua berbunyi, akhirnya mereka tiba di tepi Sin-an-kang, Pek Soh-jiu segera melepaskan seluruh bajunya, dengan bertelanjang bulat masuk ke dalam air, Siau Yam sendiri duduk di atas gunung kecil yang ada di pinggir sungai, mengawasi sekeliling, menjadi penjaganya.

Kira-kira lewat dua jam lebih, Pek Soh-jiu merasakan timbul panas di Tan-tian, dia tahu racun telah bereaksi, sepasang tangan mendayung air, berenang kearah tepi pantai.

Mendadak......

"Pakailah bajumu, binatang kecil." terdengar teriakan merdu, seperti geledek di siang hari, hati Pek Soh-jiu tergetar, dengan cepat menenggelamkan kembali tubuhnya ke dalam air, setelah beberapa saat, pelan pelan dia memunculkan kepalanya ke atas permukaan air, terlihat seorang wanita yang sangat cantik berbaju biru langit, berdiri dibawah sinar bulan, melihat dari baju dan suaranya, tentu saja tidak salah lagi dia adalah Hud-bun-it- mo Leng-bin-sin-ni yang tinggal di kuil Pek-liong, tapi pakaian yang dia pakai sekarang ada pakaian yang ketat, pakaian wanita yang sangat seksi, apakah Sin-ni yang namanya menggemparkan dunia persilatan ini, malah seorang yang tidak bisa mensucikan diri.

Tidak peduli wanita cantik ini betul atau bukan Leng- bin-sin-ni, dia tidak bisa terus menerus merendam dirinya di dalam air seperti ini, untungnya dia menghadap dengan punggungnya, walau keadaannya serba salah, tapi tidak terlalu memalukan; sehingga diam diam dia naik kepantai, dengan gerakan yang paling cepat, dia memakai bajunya.

Saat ini... sesungguhnya tidak perlu tahu siapakah wanita ini, tubuhnya berkelebat, langsung berlari ke arah gunung tempat Siau Yam berjaga.

"Ingin pergi? Hemm tidak segampang itu!" bayangan orang berkelebat, wanita yang berbaju biru langit itu, telah menghadang di depan jalannya.

Dia melirik pada wajah yang kecantikannya membuat hati orang berdebar, dinginnya membuat hari orang kedinginan, lalu dengan mengepalkan sepasang telapaknya berkata:

"Pek Soh-jiu menghormat Cianpwee."

Wanita yang berpakaian baju manusia biasa ini, memang betul Hud-bun-it-mo yang ternama di dunia persilatan, dengan wajah dan hatinya yang dingin, dan tindakannya yang kejam, dia mendengus sekali berkata:

"Jangan pura-pura, menyeranglah!"

Pek Soh-jiu bengong sebentar, lalu berkata: "Kita ini tidak ada permusuhan dan juga tidak ada dendam, apa maksud Cianpwee ini?"

Leng-bin-sin-ni berteriak marah berkata:

"Jangan pura pura bodoh, orang she Pek, jika kau tidak menyerang, nonamu terpaksa menghabisimu!"

Pek Soh-jiu sedikit tertegun, mendadak tertawa terbahak- bahak. Seorang Sin-ni yang termasyur di dunia persilatan, malah memakai baju orang biasa yang seksi memikat, menyebut dirinya sendiri nona, tentu saja ini adalah hal yang aneh juga sangat menggelikan, tetapi tertawa kerasnya mengakibatkan dua akibat yang berbeda, Leng-bin-sin-ni memang mengira dia melecehkan dirinya, dari sorot matanya timbul hawa mem-bunuh, padahal yang paling parah adalah dirinya sendiri, tadinya di dalam Tan-tian nya, sudah terasa ada gulungan hawa yang membara, karena dia menghormati Leng-bin-sin-ni sebagai seorang Lo-cianpwee dunia persilatan, sehingga dia memaksakan diri menahan.

siapa tahu setelah tertawa keras beberapa saat, hawa panasnya jadi meluap, dia seperti Huang-ho yang bobol tanggulnya, sekali menerjang seribu lie, membentuk satu situasi yang tidak bisa dikendalikan.

Di dalam tenggorokannya mengeluarkan suara auman, sepasang mata yang merah bersinar, menatap tajam bagian tubuh Leng-bin-sin-ni yang memikat itu, sepasang kakinya sedang bergerak, setiap langkah seperti godam memukul tanah, membuat sisi sungai juga bergetar pelan.

Wajahnya sangat mengejutkan orang, sampai Leng-bin- sin-ni yang namanya menggemparkan dunia persilatan, juga sampai tergetar mundur beberapa langkah oleh wajahnya yang kasar seperti binatang buas ini. Kembali terdengar teriakan rendah, dia meloncat menerjang, sepasang tangannya terbuka lebar, menangkap kearah dada Leng-bin-sin-ni.

"Binatang! Kau berani.    "

Leng-bin-sin-ni dalam teriakannya dapat menghindar dari tangkapannya, lengannya cepat dikibaskan, Ji-ie-sin- kangnya dikerahkan keluar dari tangannya, tapi tenaga dalam Pek Soh-jiu, seperti bertambah dua kali lipat lebih tinggi dari biasanya, Ji-ie-sin-kang adalah salah satu ilmu hebat dunia persilatan, jika di kerahkan lawan akan seperti memukul kapas, hingga tidak bisa mengeluarkan tenaga.

Mereka melakukan pertarungan yang sangat sengit sekali, kedua belah pihak menggunakan jurus jurus mematikan, setiap jurus diarahkan ketitik yang mematikan, setelah lewat seratus jururs, Leng-bin-sin-ni jadi merasa gentar sendiri, dia tidak mengerti remaja tampan yang memikat ini, kenapa bisa berhasil melatih tubuhnya menjadi begitu kuat hingga tidak bisa terluka? Sudah beberapa kali telapaknya yang mampu menghancurkan batu itu, mengenai tubuhnya, tapi dia seperti tidak merasakan kesakitan, kedahsyatan menyerangnya, malah semakin menjadi-jadi.

Akhirnya, Leng-bin-sin-ni sedikit lengah, bretttt.. baju di depan dadanya sudah dirobek oleh lawannya.

Seorang wanita aneh yang amat suci, kesucian seumur hidupnya, malah berantakan hanya dalam sehari, ini adalah penghinaan yang sulit di terima, walau pun di cuci menggunakan seluruh air See-kang, dia jadi tertegun, tapi tubuh nya yang memikat itu, di saat dia tertegun ini, telah di peluk oleh Pek Soh-jiu, sambil tertawa terbahak, dia berlarian, menelusuri pantai lari ke dalam hutan. Leng-bin-sin-ni benci sekali pada orang yang sombong ini, jari telunjuk dan tengah tangan kanannya dirapatkan, dengan kuat ditatokan kearah titik saluran kematian di belakang tubuh Pek Soh-jiu, tenaga dalam dia belum hilang, jalan darahnya juga tidak ditotok oleh Pek Soh-ciu, jika membiarkan dua jarinya menotok, walau Pek Soh-jiu adalah seorang Kim-kong (pengawal Budha), juga tidak mungkin bisa lolos dari kematian, namun baru saja jarinya mau keluar, segera ditarik kembali olehnya, akhirnya, dia mengeluarkan keluhan tanpa suara, matanya yang cantik perlahan dipejamkan, disudut matanya mengalir dua tetes air mata seputih giok putih.

Dia melepaskan pertahanannya, Pek Soh-jiu yang telah lewat dari pintu neraka, dia tetap tidak tahu menahu, hanya dengan kecepatan semampunya, dia berlari ke dalam hutan yang gelap itu.

Kemudian Pek Soh-ciu merebahkannya diatas lapangan rumput, sepasang tangannya dengan liar bergerak kesana- kemari, membuat Leng-bin-sin-ni berubah menjadi seorang manusia purba yang seutas benang pun tidak ada yang menempel....

"Orang she Pek, kau...... jika...... tidak bertanggung jawab terhadap perbuatanmu, aku jadi setan pun tidak akan mengampunimu."

"Apa....? Kau.   ini siapa?"

"Nama ku Hun-ni, dulu adalah Leng-bin-sin-ni, haai, kau belum tahu nama dan she ku, apakah kau juga tidak mengenal orangnya? Masalahnya sudah sampai begini, kau. kau masih mau menerangkan apa?"

"Tidak, Cianpwee......nona Hun, aku salah lihat, kukira......keek, kau adalah istri ku....... sungguh. maaf

sekali. " Mendengar nama yang terasa asing, mendadak Pek Soh- ciu jadi tersadar, walau gulungan hawa panas di dalam Tan- tiannya masih belum habis, bagaimana pun dia tidak bisa setelah berbuat dosa, terus menerus berbuat dosa terhadap seorang wanita melakukan perbuatan memaksa, dia segera membalikan tubuh meloncat lalu berlari menembus hutan, dengan hati penuh penyesalan, dia berlari menuju tempat Siau Yam berjaga.

Dia mengira dirinya sudah berhasil menahan dirinya, setelah melakukan kesalahan, tidak melakukan kesalahan lainnya, mana dia bisa tahu, ketika malam hari itu dia masuk ke dalam kuil Pek-liong, dengan menggunakan Pouw-ci-sin-kang tanpa sengaja jarinya menyentuh tempat yang paling sensitifnya dari tubuh Leng-bin-sin-ni, kejadian ini sudah menjadi satu penyebab munculnya masalah, apa lagi ketika seorang wanita yang merasa dirinya sangat suci, telah mengalami kekerasan seksual, telah telanjang bulat di depan mata tanpa berusaha melawan, dan dengan suka rela menyerahkan diri, itu artinya cinta sudah tertanam dalam, kuat tanpa bisa dicabut lagi, sekali dia menahan diri tidak melakukannya, penghinaan yang diberikan padanya jadi sulit bisa dilukiskan oleh kata-kata, dalam sekejap mata, dia seperti sebuah tubuh yang kehilangan jiwanya, air matanya mengalir deras seperti mata air, dirinya telah kehilangan semangatnya.

Malam, pelan-pelan menghilang, sinar matahari, menembus masuk dari celah-celah pohon. Leng-bin-sin-ni terbayang kejadian semalam, Pek Soh-ciu dengan bernafsunya melakukan segala sesuatu, juga mencium tubuh yang seperti minyak kambing. Dia membuka kulit matanya, matanya yang cantik yang mengandung api kemarahan yang tidak terhingga, menyemburkan hawa pembunuhan yang dahsyat, lama... hutan yang tenang ini, telah ditutupi oleh teriak kesedihan yang menyeramkan, lalu teriakan itu menjauh, bayangan biru bergerak seperti kilat, nona Hun-ni yang telah terhina itu, seperti asap tipis menggulung ke arah pantai.

Pagi hari tampak tenang sekali, hanya aliran kali sedang berbisik tanpa suara, tapi siapa yang bisa mengatakan dunia yang indah ini, diam-diam menyembunyikan kepedihan yang mendalam!

Dia, Leng-bin-sin-ni yang suci, sombong, percaya diri, tadinya mengira laki-laki di seluruh dunia ini seperti tanah busuk, sampai sekarang dia sulit mendapatkan seorang yang pantas untuk dijadikan suami, dia membunuh semua laki- laki yang datang melamarnya, dia tinggal di dalam kuil supaya bisa tenang, tidak di duga takdir mempermainkan manusia, dia malah menemukan sebutir bintang meteor, tentu saja, ketampanan Pek Soh-jiu, memang setampan Song-ih, yang paling memikat hati wanita, adalah karismanya yang sulit digambarkan.

Satu jurus Pouw-ci-sin-kang nya, telah membuka hati dia, seperti satu tenaga penggerak yang aneh bin ajaib, membuat sumur tua, timbul gelombang tidak hentinya.

Namun dia itu begitu kasar, dan juga sangat tidak berperasaan, penghinaan ini buat wanita mana pun tidak dapat menerimanya, sehingga dalam kemarahannya dia menjerit sedih dengan kerasnya, membuat pagi yang tenang ini menjadi rusak berantak-an.

Sebenarnya, di dunia persilatan selamanya selalu ada satu gelombang yang mendera, walau pun tidak ada jeritan sedihnya, pagi ini tetap saja tidak akan bisa tenang sekejap pun. Saat ini, dia telah menghentikan jeritannya, tapi di atas satu gunung kecil, tidak henti-hentinya terdengar jeritan mengerikan yang mendebarkan hati.

Dia berpikir, pasti orang yang menyebalkan itu bertemu lawan tangguh, hemm... aku akan menguliti dia, tapi aku tidak akan membiarkan orang lain melukai nya, dia mengerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya, hampir seperti mengendalikan angin, sekuatnya berlari menuju ke gunung kecil itu.

Gunung kecil sudah kelihatan, darah panasnya telah bergolak, segerombolan 'srigala' itu yangbanyak-nya tidak terhitung, sedang menerkam, mengeroyok seekor 'harimau' gila, orang-orang bertopeng hitam berlapis-lapis mengurung gunung kecil itu, segelombang gelombang sedang menyerang satu orang.

Pek Soh-jiu, remaja tampan yang membuka hatinya, seperti ikan berenang di dalam tempurung, sedang bergerak tanpa arah menerjang ke segala arah, sungguh tenaganya sangat mengejutkan orang, serangan dahsyat yang dilakukan oleh orang bertopeng hitam terhadapnya, dia seperti membabat rumput, dia bersiul panjang, bertarung dengan penuh semangat, tempat yang dia lewati, seperti gelombang menjadi pecah, tempat yang dilewati Pouw- long-tui, darah dan daging berterbangan, ini adalah pertarungan yang sulit disaksikan dalam kurun waktu berabad-abad, pembunuhan manusia yang sangat mengerikan, walau pun seorang Leng-bin-sin-ni yang disebut orang sangat sadis, juga terkejut menyaksikannya.

Namun, perasaan dia seperti bunga mekar di musim semi, karena keperkasaannya orang yang menyebalkan itu seperti dewa langit turun dari langit, membuat hatinya kagum, lalu dia dengan mengeluh berkata: "Mendapatkan suami seperti ini, mati pun tidak menyesal......" segera pedang panjang di tangan kanannya dengan cepat diayunkan, tangan kirinya mengerahkan Ji-ie- sin-kang, setelah berteriak dia juga ikut terjun ke dalam pertarungan yang sengit ini.

Menghadapi satu Pouw-long-tui saja, orang-orang bertopeng ini sudah banyak yang mati atau terluka, sekarang ditambah lagi seorang Hud-bun-it-mo, kecuali kakek berulang tahun menggantung diri, bosan hidup, hanya ada satu cara terbaik, yaitu melarikan diri. 

Pertarungan sudah selesai, Pek Soh-jiu sudah berubah menjadi orang darah, tenaga dalam dia sudah terkuras banyak, tapi diluar dugaan gulungan hawa panas di dalam dadanya sudah tertahan, dia diam-diam beristirahat bersemedi sejenak, baru melangkah maju beberapa langkah, sepasang telapaknya dikepal sedikit membungkuk berkata:

"Pek Soh-jiu berterima kasih atas bantuannya..."

Tentu saja, wajah dia sudah tidak tidak karuan, perkataannya belum habis, dia sudah ingin melangkah meninggalkan tempat, tapi perbuatannya malah membangkitkan lagi amarahnya Hun-ni, alisnya diangkat, wajah cantiknya kembali penuh dengan hawa membunuh berkata:

"Ingin pergi boleh, tapi kau harus jelaskan dulu.    "

"Cianpwee ada petunjuk apa?"

"Kata-katamu lebih baik dijaga, siapa yang berhubungan Cianpwee dengan kau."

"Itu. " "Itu apa? Aku ini bukan seorang tua ompong, juga tidak lebih tua dua tiga tahun darimu, hemm... kemarin malam. kau kenapa tidak memanggil Cianpwee?"

"Keek, keek, nona......Hun! Aku sungguh ada kesulitan......dan juga, haai, cintanya nona, Pek Soh-jiu mungkin tidak ada rezeki menikmatinya. "

Gulungan hawa panas di dalam dadanya, kembali sepertinya akan membara, apa lagi Siau Yam sudah menghilang, hidup matinya tidak jelas, dia harus mengejar para orang bertopeng untuk menyelidikinya, maka kata- katanya belum selesai, tubuhnya sudah meloncat, dengan ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui, dia seperti terbang berlari ke arah timur laut, dia tidak ingin terlibat dalam asmara lagi, terpaksa dengan berat hati, pergi meninggalkan.

Sampai lewat tengah hari, dia baru bisa lolos dari kejarannya Hun-ni, dia mengelap keringat, duduk diatas sebuah batu gunung.

Mendadak, ada saru angin pukulan yang diam-diam menyerang punggungnya, walau pun hatinya sedang gundah, tapi serangan gelap itu, tetap tidak bisa lolos dari ketajaman mata dan telinganya, sambil tersenyum dingin, terhadap senjata gelap yang meng-arah kepunggungnya itu, dia seperti tidak merasakan, menunggu saat tenaga angin itu menekan tubuhnya, baru dia mendadak merubah posisi, posisi duduknya tidak berubah, tapi sudah berpindah tempat tiga kaki lebih, sebilah pisau tajam yang bersinar biru ssst. lewat dari samping rubuhnya.

"Robohlah, kau." Dia pelan menjentikan jarinya, sepotong gagang rumput kecil, sudah memukul jatuh sebuah benda besar dari atas cabang pohon, saat dia melihat penyerang gelap itu, tidak tahan tubuhnya meloncat melayang, sepasang alis diangkat, berkata dingin:

"Orang bertopeng! Bagus, bagus, tuan muda sedang tidak ada kerjaan, di hari yang mendung memukul anak, kita bisa bermain-main."

Baru saja habis bicara, satu jentikan lagi sudah dilakukan, tapi angin jentikan yang mengenai sasaran, seperti menotok pada sebatang pohon, jentikan dia yang bisa membuat kaku otot, malah sepertinya tidak ada fungsinya! Dia tidak percaya ini adalah kenyataan, pedang panjang dengan cepat disabetkan, topengnya orang bertopeng segera terlepas.

Tampak sebuah wajah yang buruknya sampai orang tidak ingin melihatnya, ternyata sebuah mayat yang sudah tidak bernyawa lagi, memperkirakan dari bau busuk yang keluar dari rubuhnya, orang ini pasti sebelumnya telah mengulum dulu pil beracun dimulut-nya, begitu gagal dan tertangkap, maka dia menggigit pecah racunnya membunuh diri, entah organisasi apa yang bisa membuat orang tidak menyayangi nyawanya sendiri, hingga rela mengorbankan nyawanya, kedisiplinan organisasi orang bertopeng ini, sungguh sangat mengejutkan orang.

Mendadak, dia cepat membalikan tubuh, satu angin pukulan yang dahsyat menghantam kearah pohon cemara yang berada satu tombak lebih. Tempat yang terkena angin pukulan, daun jarum cemaranya ber-terbangan, di dalam potongan cabang pohon masih terselip satu bayangan hitam yang sangat cepat sekali.

Bayangan hitam itu begitu turun langsung meloncat lagi, sepertinya ingin melarikan diri ke dalam hutan, Pek Soh-jiu berteriak dingin berkata: "Apa kau ingin meloloskan diri?" telapak kanannya diayunkan, pedang panjang dilemparkan ssst... sudah menancap dibahu kanan orang itu, tapi karena tenaganya terlalu kuat, membuat orang itu ikut terdorong, tok....

memaku orang itu diatas pohon.

Pek Soh-jiu datang mendekati, mengulurkan tangan membuka topeng orang itu, tersiar bau busuk menusuk hidung, membuat dia mundur dengan perasaan kecewa.

Gunung kosong hutan hening, di sekeliling sedikit pun tidak ada suara, hanya Pek Soh-jiu seorang diri berdiri bengong, dia bisa memastikan para orang bertopeng ini, pasti ada hubungannya dengan peristiwa perumahan Leng- in beberapa tahun lalu, tapi dia tidak bisa menangkap seorang pun yang masih hidup, meski sudah beberapa tahun berkelana, dia masih belum menemukan jejak otak pembunuh ayahnya, dia sendiri bersama istrinya malah mendapatkan serangan gelap dari para bangsat itu, amarah di dalam dada tidak bisa dilampiaskan, sedih tiada teman yang bisa berbagi rasa, dengan kecewa dia duduk diatas satu batu gunung.

Angin gunung bertiup, daun pohon melambai-lambai, sebuah suara seruling yang membuat orang jadi sedih, melayang-layang di udara, dia menggunakan seruling Ci-cu pemberian Sangguan Ceng-hun, untuk melampiaskan beban di dalam hati, mengenai apa lagu yang dia tiup, dia sendiri juga tidak tahu, tapi sekali dia meniup seruling ini, maka menimbulkan satu keadaan yang mengejutkan sekali, terlihat sepuluh tombak diluar dia, puluhan ribu kepala bergerak-gerak, lidah merah keluar masuk, puluhan ribu ular telah menguning dia dengan ketatnya.

Dia jadi terkejut sekali, dengan usia semuda ini, belum pernah dia melihat lautan ular mengerikan seperti ini Dia ketakutan sampai tidak tahu harus berbuat liagaimana, suara seruling dengan sendirinya jadi btrhenti, namun keadaan bersitegang seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah, terpaksa dia mencoba lagi menggunakan seruling Ci-cu, meniupkan lagu pengusir ular.

Suara seruling kembali terdengar, benar saja sekali suara seruling terdengar langsung ada hasilnya, kelompok ular menjadi bubar, kelompok ular yang besar yang kecil, yang bentuknya aneh-aneh, dalam waktu sekejap, sudah pergi satu pun tidak tertinggal.

Tidak, masih tertinggal seekor ular kecil, sedang pelan pelan bergerak, namun arah maju dia, sebaliknya dari arah kelompok ular lainnya, dia sedang menuju kedepan Pek Soh-jiu.

Seluruh ular begitu mendengar suara seruling semuanya bubar berpencar, jadi lagu pengusir ular ini tentu tidak salah, lalu kenapa ular kecil ini tidak mundur malah sebaliknya maju? Sungguh membuat Pek Soh-jiu tidak mengerti. Dia melanjutkan meniup seruling, ular kecil itu juga terus maju kedepan. Akhirnya, ular kecil itu sampai di depan kakinya, jika terus meniup seruling, mungkin akan maju keatas tubuhnya. Sehingga dia dengan kecewa menghentikan meniup seruling.

Ini adalah seekor ular kecil putih yang seluruh tubuhnya tembus pandang, berkilap seperti giok, dia mengangkat kepalanya, menggoyang-goyangkan ekornya, dua mata ular yang seperti pasir merah, menyorotkan sinar seperti meminta belas kasihan, juga sepertinya jinak sekali, dan juga sangat cantik. Pek Soh-jiu jadi tidak tahan, timbul hati kekanak-kanakannya, ia menyimpan seruling Ci-cu nya, sepasang tangan diulurkan ke arah ular putih kecil itu. Huut... Pek Soh-jiu kembali merasa pandangannya jadi kabur, ular kecil itu sudah loncat ke atas telapak tangannya, melingkarkan tubuhnya seperti piring, kembali hanya tinggal kepalanya, diangkat tinggi-tinggi, setelah sedikit tertegun, dia jadi tahu ini pastilah ular ini jinak, dan karena bentuknya cantik, maka dengan gembiranya dimain- mainkan diatas tangannya.

Mendadak, dua bayangan orang, dengan kecepatan yang tinggi, melayang kearah tempat dia berdiri, dalam sekejap mata, sudah berada sepuluh tombak di dekatnya, dari jauh memandang, seperti ketua Kai-pang Sangguan Ceng-hun dan Oh-kui (Setan lapar) Ouwyang Yong-it. Namun, dia tidak mempunyai hati ingin mencelakai mereka, hanya hatinya waspada terhadap mereka, disaat ini dia dalam keadaan bahaya, musuhnya ada dimana mana, terpaksa dia harus hati hati, maka dia bangkit berdiri, berjaga-jaga.

Siapa tahu baru saja dia berdiri, ssst.   ular putih kecil itu

sudah melayang ke udara, seperti macan menerkam kearah dua orang yang datang mendekat itu. Pek Soh-jiu baru saja tertegun, dua orang itu mendadak berteriak terkejut, bersama-sama meloncat-loncat kesana kemari menghindar, sejengkal pun tidak bisa maju lagi. Pek Soh-ciu merasa aneh lalu maju melihatnya, dia baru tahu seutas bayangan putih, didepan dua orang itu melayang-layang sambil mematuk, tempat yang dipatuk semuanya ditujukan pada jalan darah mematikan, benar-benar bahayanya hanya dalam sebatas rambut.

Dia sudah melihat dua orang itu, memang benar Sangguan Ceng-hun dan Ouwyang Yong-it, bayangan putih yang berusaha menggigit mereka, juga benar adalah ular kecil cantik yang jinak itu, tapi dia tidak tahu caranya menghentikan serangan ular putih itu, sesaat, dia jadi gelisah tidak bisa berpikir. Untungnya walau pun dia berbaju hitam, tapi tidak memakai topeng, akhirnya Oh-kui (Setan lapar) Ouwyang Yong-it dapat mengenalinya, maka dengan gembiranya teriak-teriak:

"Adik kecil! Kau ini bagaimana? Cepat tarik kembali Sian-giok, apa benar-benar mau membuat Toako menjadi malu?"

Hati Pek Soh-jiu tergerak, tanpa sadar dia berteriak: "Sian-giok kembali."

Bayangan putih berkelebat, ular putih kecil itu sudah menurut panggilannya terbang kembali ke telapak tangannya.

Ouwyang Yong-it mengusap keringat dikepala-nya, dengan erat memegang lengannya Pek Soh-jiu, berkata:

"Adik kecil, kau sungguh hebat, sampai ular pintar Sian- giok juga bisa kau jinakan."

Wajah Pek Soh-jiu menjadi merah berkata:

"Maaf toako, aku mendapatkan Sian-giok, masih belum sampai seperminuman secangkir teh, dan juga. "

Sangguan Ceng-hun berkata:

"Kau tidak perlu menjelaskannya, menurut perkiraanku, pasti kau tadi saat meniup seruling tanpa di sengaja memanggilnya, mahluk ini pintar memilih majikan, setelah melihat kau tentu saja tidak mau pergi lagi. Kau mungkin saat tadi dari kejauhan melihat aku dan Lo-ko Ouwyang, di dalam hati waspada bersiap-siap, ular pintar yang mengerti maksud manusia, langsung menghadang tidak mengizinkan maju lagi, jika kau ada niat menghabisi kami berdua, mungkin kami sudah pergi melapor ke akhirat!"

Pek Soh-jiu bersoja berkali kali berkata: "Maaf sekali, harap Toako dan Lo-ko Ouwyang memaafkannya, karena banyak musuh berada dimana- mana, terpaksa aku meningkatkan kewaspadaan."

Ouwyang Yong-it dengan wajah serius berkata: "Diantara kita, tidak perlu sungkan seperti ini, he, adik kecil! Siapa musuhmu itu, apakah sudah berhasil menyelidikinya?"

Pek Soh-jiu dengan wajah kecewa berkata: "Aku ini bodoh. "

"Kau jangan sedih, terhadap para orang baju hitam bertopeng itu, aku sudah mendapatkan sedikit kejelasan." Kata Sangguan Ceng-hun.

"Cepat katakan, Toako! Siapa majikan mereka itu?" kata pek Soh-ciu antusias.

"Mereka adalah anak buahnya penjahat nomor satu di dunia Ang-kun-giok-hui (Selir raja giok berbaju merah.) Hai Keng-sim, tapi diantaranya masih ada beberapa hal yang sulit dimengerti, sebelum mendapatkan bukti yang benar- benar jelas, kita masih tidak bisa mengambil kesimpulan!"

Ouwyang Yong-it berkata:

"Tahun itu yang melakukan serangan gelap terhadap perumahan Leng-in, bukankah orang-orang baju hitam bertopeng?"

Sangguan Ceng-hun berkata:

"Benar, tapi para orang bertopeng itu tidak satu pun bisa pulang hidup-hidup, dan juga setelah kejadian, terbukti mereka itu semuanya adalah penyamaran dari para pesilat tinggi dari berbagai perguruan, malah ahli silat. "

Ouwyang Yong-it menggeleng gelengkan kepala berkata: "Aku tidak percaya dari ratusan pesilat tinggi itu tidak ada satu pun yang lolos!"

Pek Soh-jiu jadi bersemangat berkata:

"Kata-kata Lo-ko, aku dengar dari perkataan Hong Supek, orang yang bernyanyi di Liong-bun (Pintu naga), sepertinya adalah musuh almarhum ayahku, dan dia tidak pernah menampilkan diri."

"Apakah adik kecil masih ingat syair lagunya?" Kata Ouwyang Yong-it

Pek Soh-jiu mengingat-ingat sebentar, berkata:

"Aku pernah mendengar Hong Supek mengatakan, yang masih aku ingat, betul atau salahnya tidak bisa dipastikan." Lalu dia membacakan syair lagu itu:

Beruban seperti bintang-bintang Menyesal cita-cita menjadi hampa Tubuh ini seperti titipan

Tubuh terasa sakit dan menyendiri Menuju Pintu Naga Membangkitkan semangat masa lalu Dengan senjata sakti dari Liu-yang Melanglang buana ribuan lie Membasmi Sin-ciu-sam-cbat Menguasai dunia

Coba tanya siapa yang bisa menandingi." Ouwyang Yong-it berkata: "Orang itu pasti seorang penjahat besar yang mengacaukan dunia persilatan, tidak beruntung dikalahkan oleh Sin-ciu-sam-coat, sehingga angan-angannya tidak terkabulkan. "

"Dia kemudian melarikan diri keperbatasan, berlatih ilmu silat hebat, walau tubuhnya sakit, tapi angan-angannya tidak berkurang, dan pada tahun itu......" kata Sangguan Ceng-hun

Pek Soh-jiu berteriak gembira, katanya: "Kalian sudah tahu siapa dia itu?" Ouwyang Yong-it berkata:

"Tidak, kami hanya tahu ini adalah satu petunjuk saja, adik kecil, apakah kau tahu pamanmu waktu itu punya musuh seperti ini?"

Pek Soh-jiu dengan sedih berkata:

"Terhadap masalah dunia persilatan, almarhum ayah tidak pernah menceritakannya."

"Adik jangan khawatir, kita bisa mencoba mencari Ang- kun-giok-hui." Kata Sangguan Ceng-hun.

Ouwyang Yong-it berkata:

"Bukankah kau mengatakan diantaranya masih ada hal yang sulit dijelaskan?"

"Karena sampai saat ini, para anak buahnya rhian-ho- leng belum ada orang yang menggunakan Ngo-tok-tui-hun- cian sebagai senjata gelap, para orang bertopeng itu walau sering keluar masuk di Thian-ciat-leng, tapi terhadap penjahat seperti Ang-kun-giok-hui, kita tidak bisa hanya berdasarkan dugaan. "

Ouwyang Yong-it berkata: "Kata kata ini tidak salah, menghadapi Ang-kun-giok-hui sungguh tidak bisa tidak harus hati hati." Pek Soh-jiu mengeluh:

"Tapi aku telah menjadi orang yang ingin di dapatkan oleh Ang-kun-giok-hui. "

Sangguan Ceng-hun merasa aneh berkata:

"Kenapa? Adik! Kek, adik ipar Lam-ceng itu kenapa tidak ada disisimu?"

"Panjang ceritanya! Sekarang aku sudah lapar, jika kau punya makanan kering, kita berbincang lagi setelah mengisi perut."

Lalu, mereka mencari satu batu gunung yang datar, makan makanan kering, minum air gunung. Sambil makan Pek Soh-jiu menceritakan dengan singkat kejadian yang dia alami.

Ouwyang Yong-it tertawa terbahak-bahak berkata:

"Adik kecil! Kau ini terpojokan oleh asmara! Menurut pikiran aku, Su dan Siau dua adik ipar, semuanya bukanlah orang biasa, walau ada halangan, di kemudian hari pasti akan bertemu lagi, yang sedikit sulit diurus adalah nona Hun, dia adalah seorang yang namanya termasyur di dunia persilatan, pandangannya tinggi sekali, saat itu kau dikendalikan oleh nafsu birahi, kelakuanmu yang melecehkan dia, menurut aturan dan keadaan, seharusnya kau tidak boleh meninggalkannya, adik kecil! Menurutmu betul tidak?"

Sangguan Ceng-hun dengan wajah serius berkata:

"Kata-kata Ouwyang Lo-ko betul, kesalahan ada dipihak kita, kita bersaudara adalah laki-laki sejati, bagaimana bisa jadi orang yang tidak bertanggung jawab!" Pek Soh-jiu yang mendengar punggungnya sampai bercucuran keringat, dengan perasaan bersalah buru-buru berkata:

"Nasihat kalian berdua betul, aku sudah mengerti." Sangguan Ceng-hun berkata:

"Jangan sedih, adik! Tujuanmu adalah baik, kita tidak usah membicarakan ini lagi, selanjutnya kau ada rencana apa?"

"Tadinya aku ingin pergi ke gunung Kwo-tiang, sekarang terpaksa pergi ke Thian-ciat-leng mengadu nasib."

Ouwyang Yong-it berkata:

"Salah, adik kecil! Di gunung Kwo-tiang sekarang ini sedang berkumpul para jago dunia persilatan, tidak peduli untuk menyelidik jejaknya adik ipar Su dan Siau, atau menyelidik otak pelaku serangan gelap ke perumahan Leng- in, gunung Kwo-tiang adalah tempat yang paling ideal, apa lagi Ho-leng-ci adalah pusaka, kenapa kita tidak adu nasib di sana."

Sangguan Ceng-hun juga setuju dengan pandang annya Ouwyang Yong-it, sehingga mereka bertiga bersama-sama pergi ke arah tenggara, kurang lebih lewat dua jam, mereka telah tiba dilereng timur gunung Hoai-ie. Ouwyang Yong-it tiba-tiba menghentikan langkahnya berkata:

"Adik kecil! situasi sepertinya sedikit mencurigakan?" "Tidak salah, ada teman baik yang datang menyambut

kita."

"Adik! Jumlah mereka terlalu banyak, jika bisa bertarung ya bertarung, jika tidak bisa bertarung kita tinggalkan saja, jangan inginmerasakan kesenangan sesaat!" Kata Sangguan Ceng-hun. "Toako tenang saja, aku mengerti."

Saat ini bayangan orang berkelebatan, orang baju hitam bertopeng yang banyaknya tidak terhitung, seperti arwah meloncat keluar dari belakang batu dan celah pohon. Orang-orang ini gerakannya sangat cekatan sekali, gerakannya seperti setan, bisa dilihat mereka mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, terhadap orang-orang bertopeng ini, Pek Soh-ciu sudah tidak ada niat untuk menangkap hidup-hidup, tangan kanannya mengeluarkan Pouw-long-tui, dengan wajah tersenyum dingin, dia menunggu lawan.

Ouwyang Yong-it mengeluarkan sepasang sumpit yang bentuknya seperti koas hakim neraka terbuat dari besi dingin, yang digunakan Sangguan Ceng-hun adalah tongkat bambu hijau dengan jurusnya Tongkat pemukul anjing yang sudah ternama di dunia persilatan itu, mereka membentuk segi tiga, mengawasi gerakannya para orang bertopeng itu.

Tapi yang paling sulit di mengerti adalah para orang bertopeng itu setelah maju sampai jarak satu panahan, maka semuanya jadi berhenti, walau pun bersitegang, namun tidak ada gerakan menyerang.

Pek Soh-jiu dengan perasaan aneh berkata:

"Toako! Para bangsat ini berniat mengurung kita.    "

Ouwyang Yong-it berkata:

"Tidak salah, kedua sisi kita adalah tebing gunung, jika para bangsat itu bisa menghadang dari depan dan belakang kita, situasinya sungguh tidak menguntungkan. "

Perkataan dia belum habis, dari depan dan belakang bersamaan waktu terdengar suara menggelegar memekakan telinga, jalan gunung dari depan dan belakang telah ditutup oleh orang-orang bertopeng ini. begitu Ouwyang Yong-it melihat keadaan ini jadi marah besar, dia membalikan kepala berkata pada Pek Soh-jiu:

"Adik kecil! Kita terjang!" Sangguan Ceng-hun berkata:

"Tunggu, jika mereka menyiapkan panah beracun di tempat penghadangan, bukankah kita masuk perangkap mereka?"

Disaat mereka berdebat, mendadak ada sinar berkelebat, banyak gulungan rumput kering yang menyala api, berguling-guling turun dari atas tebing. Segera saja asap menutupi jalan gunung, kelihatannya kecuali tumbuh sepasang sayap di punggung, mereka sulit bisa lolos dari kematian!

Mereka mengandalkan ilmu silat meringankan tubuh yang hebat, sebisanya menghindar, tapi gulungan api rumput kering tidak hentinya berguling ke bawah, walau luas jalanan lebih besar lagi pun, akhirnya juga akan penuh.

Ouwyang Yong-it menggunakan sumpit memukul rumput kering, mulutnya juga tidak henti-hentinya menyumpah:

"Bangsat sialan, jika berani bertarunglah dengan aku Oh- kui tiga ratus jurus, menggunakan siasat busuk bukanlah seorang laki-laki sejati!"

Sangguan Ceng-hun tertawa dengan keras:

"Lo-ko, tidak ada gunanya kau memaki orang, para bangsat yang orang bukan orang, setan bukan setan Ini, hanya bisa dianggap mayat berjalan, yang disesalkan adalah kita bersaudara malah jatuh ditangan mereka, mati nya sedikit tidak berharga." Saat ini mereka telah mundur ke bawah tebing yang batu cadasnya bertonjolan, Pek Soh-jiu mengibaskan lengan bajunya, satu garis sinar putih telah melayang keluar, dia membalikan kepala, berkata pada Ouwyang Yong-it dan Sangguan Ceng-hun:

"Sian-giok sedang membuka jalan untuk kita, kalian berdua ikuti aku. "

Benar saja, Sian-giok adalah binatang pintar, di tebing gunung dia bolak-balik melayang-layang, begitu bertemu orang langsung menggigit, diatas gunung walau pun banyak penjahatnya, mereka telah berteriak-teriak menjerit sedih, susana jadi kacau sekali.

Pek Soh-jiu bertiga orang menggunakan batu gunung sebagai perisai, dalam situasi kacau menembus keatas gunung, mereka seperti tiga ekor harimau terlepas dari kurungan, segera menerjang masuk ke dalam kerumunan orang.

Pouw-long-tui nya menyapu, seperti membabat rumput kering saja, diatas gunung liar ini langsung menggema suara jeritan mengerikan.

Suitan yang tajam, menggelagar disana sini tidak berhentinya, orang bertopeng seperti gelombang berkumpul kearah tempat pertarungan.

Pelan-pelan, mereka terpisah, tiga orang di tiga tempat yang berbeda, sedang bertarung dengan musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipa't lebih banyak.

Para penjahat ini walau jumlahnya banyak, tapi Pek Soh- ciu berada diatas angin sepenuhnya, Pouw-long-tui memang mempunyai kedahsyatan membabat ribuan pasukan, ular pintar Sian-giok berkelebat menggigit orang, cepat laksana angin, serangannya lebih lebih membuat gentar ha ti orang-orang bertopeng.

Pek Soh-ciu membunuh hingga matanya menjadi merah, dia mengayun-ayunkan Pouw-long-tui kesana kemari telah berhasil membunuh musuh-musuhnya, seorang yatim piatu yang telah hancur keluarganya, berkelana di dunia persilatan, setiap saat masih ditekan orang, dendam yang dalam hingga masuk ke dalam tulang ini, sekarang mendapatkan kesempatan melampiaskan dengan baik. Maka dia dengan sepuas hati, dengan senangnya mengubar kesana-kemari, membiarkan darah segar membasahi sepasang tangannya, memerahkan seluruh baju putihnya.

Ketika dia melabrak masuk ke lingkaran orang lainnya, dia jadi tertegun, dia melihat seorang wanita yang berbaju biru langit, sedang bertarung mati-matian dengan orang- orang bertopeng.

Tangan kanan dia melayang-layang membentuk bayangan pedang yang memenuhi langit, telapak tangan kirinya mengerahkan Ji-ie-sin-kang, menyapu melintang menerjang lurus, ganas seperti seekor macan betina, namun, rambut halusnya sudah tidak karuan, bajunya kucai, lengan kiri dan bahu kanannya, terlihat ada bekas luka dibeberapa tempat. Kelihatannya Leng-bin-sin-ni ini yang dulunya menggemparkan dunia persilatan, juga sudah bertarung cukup lama.

Karena diantara orang bertopeng, banyak juga yang berilmu silat tinggi, ilmu silat Hun-ni walau pun tinggi, sudah nampak kehabisan tenaga, saat ini dia telah melihat Pek Soh-jiu, wajahnya yang pucat karena kehabisan tenaga, tiba-tiba tampak secercah merah, diisudut matanya, juga tampak gembira malu-malu.

"Soh......ciu......kau.    bukannya cepat kesini" Jika bukan ada ular pintar Sian-giok, Pek Soh-jiu sesaat tertegun ini, mana masih bisa bernyawa!

Akhirnya dibawah teriakannya Hun-ni, dia jadi sadar, mulutnya menjawab sekali:

"Cici jangan marah, aku datang."

Begitu Pouw-long-tui diayunkan, sinar hitam seperti panah datang dengan suara menggelegar, berbareng sepasang kakinya dihentakan, menggunakan ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui yang hebat, dia meloncat kearah Hun-ni.

Tapi paak.-.paak... tertengar beberapa kali suara pegas, puluhan panah beracun melesat ke arah tubuhnya yang sedang meloncat, hatinya terkejut, pinggangnya langsung diputar, meluncur seperti anak panah, akhirnya dia bisa lolos dari panah beracun itu, saat dia dalam keadaan tergoncang dia melihat ke bawah, dia jadi terkejut setengah mati.

Ternyata tempat bertarung mereka, adalah di pinggir sebuah jurang, ketika dia meluncur, tepat mengarah turun ke jurang yang kedalamannya tidak terlihat, saat ini tenaga dia sudah habis, dia tidak dapat menghentikan arah jatuhnya, terpaksa dengan dia hanya mengeluh, tidak pedulikan lagi mau mati atau hidup.

Kecepatan jatuhnya sangat mengerikan, namun kesadaran dia tidak hilang, yang membuat dia jadi ngeri adalah kecuali suara angin kencang yang terdengar akibat turun tubuhnya, suara angin itu masih diselingi suara jeritan menyedihkan:

"Soh... Ciu......Soh......Ciu... kau. .dimana..."

Akhirnya buuk... terdengar suara yang keras sekali, dibarengi rasa sakit yang sampai ke dalam tulang, dia telah tidak sadarkan diri, sebenarnya jika bukan karena Sian-giok yang telah menahan tubuhnya, akibatnya dia bukan hanya tidak sadarkan diri saja.

Karena bantuan Sian-giok, tidak lama dia telah sadar kembali, tapi suara jeritan sedih itu, tetap masih mendengung ditelinganya:

" Soh... Ciu......kau......dimana... Soh......Ciu..."

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sebentar, dia menemukan suara jeritan itu walau pun lemah, tapi itu adalah nyata, sehingga, sehingga dia memaksakan diri, berjalan menuju arah suara itu.

Di dalam satu rerumputan yang tinggi, dia menemukan orang yang menjerit itu, dia, betul adalah nona Hun-ni yang penyendiri, tenaga dalam dia lebih tinggi dari Pek Soh-jiu, tapi karena jatuh dari jurang yang dalam sekali, siapa pun tidak akan bisa selamat, untung dia masih bernasib baik, beberapa kali tertahan oleh cabang pohon, walau pun terluka, tapi akhirnya tidak tewas, sayang cabang pohon yang tidak berperasaan itu, merubah bajunya menjelma jadi kupu kupu terbang menari, saat ini tubuh dia yang seperti minyak kambing itu, kembali terpampang dihadapan Pek Soh-jiu.

Sekarang adalah siang hari bolong, bisa dikata-kan seluruh tempat terlarangnya, semua bisa terlihat jelas, sehingga, hawa birahi Pek Soh-jiu yang terkumpul di Tan- an, kembali bergerak lagi, sepasang mata dia melotot, menyorotkan sinar binatang liar.

Dengan langkah yang berat, dia berjalan menuju tempat Hun-ni merintih, giginya menggigit bibir bawah, tampak menjadi merah darah. Dia dengan perlahan duduk disisinya Hun-ni, sepasang matanya dengan sekuat tenaga ditutup, dengan tekad yang sulit ditahan, dia mengerahkan tenaga dalam untuk melancarkan nafasnya yang kacau.

Hawa birahi yang terbentuk oleh racun aneh itu, di dalam tubuhnya kembali membara tanpa ampun, dan tubuh bugil itu, rintihan itu, semuanya mengandung pancingan yang sulit ditahan. Tapi kesadarannya mengharuskan dia melakukan pengobatan pada bagian yang terluka, ini adalah hal yang sangat sulit sekali!

Akhirnya, dia dapat melancarkan nafasnya, mengulurkan sepasang tangan, meraba di atas tubuhnya yang mulus hangat dan wangi itu, terakhir, dia telah mengetok seluruh tiga puluh enam titik saluran yang ada diseluruh tubuhnya, dan dengan tenaga dalam mengobati luka dalamnya, selesai melakukan pengobatan, dia hampir kehabisan tenaga.

Saat dia bangun dari bersemedi, hari sudah gelap, bulan menggantung di timur, mata dia belum dibuka, pertama yang dirasakan adalah wangi hangat dihidungnya, dia segera menggunakan tenaga dalam untuk menahan hawa birahi yang menggelora itu, lalu dengan tenang berkata:

"Apakah ini cici Hun? Bagaimana lukamu?"

Sesosok tubuh yang panas sekali, menempel kearah dadanya, di dalam desahan yang lembut, terdengar satu suara gemetaran:

"Terima kasih, adik! Aku sudah sembuh total, tapi, kenapa kau tidak membuka matamu? Apakah kau tidak sudi melihat cici? Adik. "

"Bukan, aku......sungguh ada masalah yang sulit diutarakan. " "Katakanlah! Aku ini sudah milikmu, tidak ada yang perlu disembunyikan lagi?"

"Keek, aku telah terluka oleh racun Toan-hun-cauw, untuk menghilangkan racun itu aku menggunakan cara sendiri, merubah racun menjadi hawa birahi yang sulit ditahan, waktu dipantai sungai......harap cici bisa memaafkan!"

"Haai...! Aku sudah menduga kau bukanlah orang yang tidak tahu diuntung, tapi tidak peduli niatmu itu apa......bagaimana pun kau tidak akan meninggalkan cici, betul?"

"Benar! Tapi aku sudah mempunyai dua.    "

"Aku sudah tahu dua orang perempuan kecil itu, kau tenang saja, aku tidak akan permasalahkan semua ini."

"Sungguh terlalu merendahkanmu! Sekarang harap kau menjauh sedikit. "

"Kenapa?"

"Karena......keek, saat aku......membuka mata, mungkin tidak akan tahan. "

"Jangan menahannya lagi, adik! Hawa birahi yang terlalu lama membakar tubuh, itu bisa melukai tubuh, apalagi jika kau ketemu wanita lain, bukankah. "

Sebuah desahan, sebuah tubuh yang panas merangsang, menggesek di dadanya yang berotot itu, menimbulkan gemuruh angin kencang, membuat rumput di dalam lembah ini, semuanya gemetaran tidak bisa menahan diri.......

Lama. setelah satu helaan nafas panjang:

"Adik. "

"Mmm. " "Kau coba salurkan tenaga dalammu." "Aku sangat baik."

"Kalau begitu aku akan buat aturan denganmu." "Silahkan ciri katakan!"

"Cici berkelana di dunia persilatan, selalu memandang rendah laki-laki, setelah bertemu denganmu, malah mendapatkan kedudukan terkecil. "

"Cici sangat ternama di dunia persilatan dengan demikian. sungguh membuat hatiku tidak bisa tenang."

"Aku sudah katakan aku tidak pedulikan masa-lah ini, tapi mulai dari sekarang dan selanjutnya, kau tidak boleh mempunyai wanita keempat! Apakah kau dengar?"

Dia sepertinya berusaha membuat suaranya lembut, tapi di dengar di telinganya Pek Soh-jiu, tetap ada mengandung kekuasaan, dia hanya merasakan hatinya sedikit tergetar, lalu tanpa sadar berkata:

"Aku dengar! Aku tidak berani lagi.    "

"Hemm, apa berani tidak berani, kau tidak perlu gunakan siasat ini padaku, jika di dengar orang, mereka akan mengatakan aku merendahkan laki sendiri."

"Ya, ya, cici! Aku salah bicara."

"Kedua, tidak peduli dua wanita itu siapa yang jadi istri tertua, tapi usia ku lebih tua dari pada mereka, maka mereka harus memanggil cici padaku."

"Aku pikir mereka pasti bisa.    "

"pasti bisa? Hemm jika tidak bisa aku hanya akan berurusan denganmu!"

"Baik, baik! Aku pasti bisa melakukannya." "Ketiga, jika aku adalah yang terbesar, maka di keluarga kita akulah yang memimpin, maka kau dan dua wanita itu, semuanya harus menurut perintahku."

"Ya, kami akan menurut."

"Walau kau sudah menyanggupi semuanya, aku masih harus peringatkan kau satu kata, jika sampai tidak bisa terlaksana, hemm.. hati-hati akan kukupas kulit-mu."

"Ini......keek, keek, bukankah akan jadi pembunuh suami?"

"Dimulai dari kuil Pek-Iiong, aku sudah berniat mengulitimu, tidak di duga tidak berhasil menguliti, malah sebaliknya......keek......bangunlah! Tolong carikan bungkusanku, jika tidak sekali ada orang datang, bagaimana aku menemui mereka!"

Pek Soh-jiu menyahut sekali, dengan pelan mendorong tubuhnya, lalu memakaikan baju panjang dia diatas tubuhnya, kemudian berkelebat, meloncat keluar dari rerumputan, tapi setelah dia mencari ke seluruh lembah, dua bungkusan baju mereka bayangannya pun tidak ada, dia terpaksa kembali kesisi Hun-ni berkata:

"Kak! Sudah dicari keseluruh tempat terdekat, lapi bungkusan kita tidak ada."

Hun-ni menuntun tangan dia duduk bergandengan berkata:

"Kenapa kau tidak mencari lebih jauh sedikit?"

"Hari terlalu gelap! Mencari terlalu jauh aku juga tidak bisa tenang."

Hun-ni mencibirkan bibir, perlahan merebahkan tubuhnya kepelukan Pek Soh-ciu berkata: "Mulutmu ini manis sekali, tidak heran banyak wanita yang menyukaimu, sudahlah, kita istirahat dulu sebentar, menunggu setelah hari terang baru mencari lagi."

Sepasang laki-laki dan perempuan yang mengikat janji di dalam lembah ini, semuanya berilmu sangat tinggi, asalkan bersemedi sebentar, sudah bisa menghilangkan rasa lelah setelah bekerja semalaman, tapi sampai matahari melewati puncak gunung, sinar matahari memenuhi seluruh lembah sunyi, mereka masih belum berniat bangun.

Hal ini tidak mengherankan, wanita seperti Hun-ni yang memandang rendah laki-laki, sekali mendapatkan kesenangan yang luar biasa, jadi merasakan hangatnya malam hari terlalu pendek, sampai terakhir, dia merasakan tidak bisa memaksa lagi, baru dengan bermalas-malas bangkit duduk, sorot matanya melirik pada Pek Soh-jiu, wajahnya yang cantik segera timbul warna merah, sesaat, dengan tersenyum manis berkata:

"Adik Qiu! Kau telah mencelakai aku." Pek Soh-jiu bengong:

"Kak! Kau mengatakan. "

Dia memberi sebuah lirikan mata putih padanya berkata: "Hemm. kau pura-pura bodoh, kau lihat aku mirip tidak

dengan Leng-bin-sin-ni?"

Pek Soh-jiu memeluk tubuhnya, mencium mesra dia lama sekali lalu berkata:

"Ini hanya bisa menyalahkan Gwat-sia Lojin (Dewa Jodoh didalam dongeng) yang tidak ada kerjaan, tidak bisa salahkan diriku."

Tiba-tiba Hun-ni berteriak genit, katanya:

"Apa? Kau bilang Dewa Jodoh tidak ada kerjaan?" "Tidak, tidak," Pek Soh-jiu buru-buru berkata, "Yang aku maksud adalah mungkin cici bisa menyalahkan Dewa Jodoh tidak ada kerjaan, mengenai aku sih berterima kasih juga takut tidak keburu."

Hun-ni melotot dia sekali, lalu pssst... tertawa, Pek Soh- jiu baru merasa bisa lega hatinya, berhubungan dengan wanita, dia sudah pengalaman, tapi dihadapan Hun-ni, dia punya perasaan selalu salah gerak, terhadap Su Lam-ceng, Siau Yam, Hun-ni, dia suka semua, karena mereka adalah cantik seperti bidadari, tapi terhadap Hun-ni, di dalam sukanya ada perasaan sedikit segan.

Saat ini Hun-ni memakai baju panjang dia, dia sendiri hanya memakai baju dalam saja, mereka bergandengan berjalan keluar dari rerumputan, mendadak mereka berdua mengeluarkan suara iiih... keheranan, keduanya berdiri terbengong bengong.

Ternyata jurang ini, bentuknya adalah persegi panjang, empat tebingnya menjulang tinggi ke langit, tidak tahu berapa tinggi, tebingnya tegak lurus, kera pun sulit untuk mendakinya, jika ingin keluar dari jurang ini, mungkin lebih sulit dari pada naik kelangit, tapi yang membuat mereka terkejut, bukan sulitnya keluar dari jurang. Tapi adalah bungkusan yang dicari-cari tidak diketemukan oleh Pek Soh-jiu, saat ini sedang dilempar dipermainkan oleh seekor kera yang besar sekali.

Dia menggunakan sepasang tangannya dari tangan kiri dilemparkan ketangan kanan lalu sebaliknya, setiap kali melemparkan, tingginya hampir sepuluh tombak lebih, lalu dia meloncat keatas, di udara dia menangkap bungkusan itu, sekali bersalto dengan ringannya turun diatas satu batu gunung. Hun-ni memperhatikan beberapa saat, lalu membalikan kepala berkata pada Pek Soh-jiu:

"Adik Ciu! Di dalam jurang ini, mungkin ada seorang aneh persilatan yang bertapa disini, kita harus sedikit hati- hati."

Pek Soh-jiu dengan perasaan keheranan berkata: "Bagaimana cici bisa tahu?"

Hun-ni menatap pada kera besar itu berkata:

"Kera walau pun kemahirannya adalah meloncat loncat, tapi jelas kera ini mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi, mungkin adalah hewan peliharaan seorang pesilat tinggi tua untuk menjaga jurang."

"Bagaimana pun juga, kita harus ambil dulu bungkusan itu," kata Pek Soh-ciu.

"Baik, biar aku mencobanya dulu." Pek Soh-jiu tertawa:

"Tidak perlu kita yang melakukannya, cukup Sian-giok yang melakukannya." Lalu lengan kanannya dengan pelan melemparkan Sian-giok ke udara, bayangan putih itu seperti anak panah, dalam sekejap mata tubuhnya yang kecil, dengan membawa angin kencang menyerang kearah dadanya sikera.

Kera besar itu baru saja melemparkan bungkusannya ke atas, ketika Sian-giok sudah datang menyerang dadanya, dia tidak sempat mempedulikan bungkusan itu, cet.cet.. kera itu berteriak, sekali meloncat jauhnya satu tombak lebih, membuat serangan Sian-giok gagal, lalu secepat angin balik menerkam* mengulurkan telapak tangannya yang besar, dipukulkan pada titik tujuh cun nya Sian-giok. Pek Soh-jiu tahu Sian-giok tidak akan terluka, dia mengambil dulu bungkusan itu, dengan Hun-ni masing- masing mengganti baju dengan yang bersih, lalu bergandengan tangan, menonton seekor ular dengan seekor kera, saling kejar-kejaran diantara bebatuan gunung, kira- kira sepertanakan nasi, kera besar itu sudah kewalahan, setiap kali bertarung dia melarikan diri beberapa tombak, selalu di desak mundur kembali oleh Sian-giok, sehingga cet.. cet.. dia berteriak gelisah menyedihkan.

Pek Soh-jiu takut kera besar itu benar-benar ada pemiliknya, jika sampai Sian-giok melukainya, pasti akan menimbulkan masalah, dia baru saja akan memanggil kembali Sian-giok, mendadak dia melihat satu bayangan orang berwarna merah, bergerak lebih cepat dari pada panah, dia lari ke dekat pertarungan kera dan ular, sebuah telapak tangannya memukul, suaranya seperti sutra sobek, ular pintar Sian-giok yang terbangnya secepat kilat, sepertinya tidak tahan pada angin pukulan aneh orang itu, tubuhnya dilengkungkan lalu dihentakan, terbang miring beberapa tombak keluar, Pek Soh-jiu cepat-cepat bersiul, Sian-giok yang di udara sekali menghentakan tubuhnya, sudah terbang kembali keatas lengannya.

Bayangan orang warna merah itu sedikit tertegun, tubuhnya berkelibat, dia seperti dewa langit berdiri satu tombak didepan Pek Soh-jiu.

Pek Soh-jiu dan Hun-ni sama sama merasa terkejut, mereka berdua tidak menduga di lembah yang liar ini, malah bisa bertemu dengan seorang yang berilmu sangat tinggi, apalagi pukulan telapak tangan dia barusan, sungguh sangat hebat sekali, entah dia menggunakan jurus aliran mana. Tapi mereka berdua di dalam hati tahu, maka lawan tidak menyerang tidak ada apa-apa, tapi sekali dia menyerang, pasti dunia seperti akan kiamat, maka diam- diam mereka memusatkan tenaga dalamnya, bersiap melakukan pertarungan.

Tapi orang tua baju merah itu, sepertinya tidak ada niat untuk menyerang, pertama-tama dia melihat sekali pada Pek Soh-jiu, lalu matanya diputar, dengan tanpa berkedip matanya memperhatikan seluruh tubuh-nya Hun-ni.

Wajahnya, tadinya sangat serius, tapi dalam sekejap mata, sudah berubah jadi tersenyum, yang lebih lebih membuat orang sulit mengerti adalah sepasang matanya berlinang air mata, seluruh rambut putihnya dan berdiri semua, sampai mantel merah yang besar itu juga berkibar- kibar tanpa ada angin, rupanya yang perkasa itu, sungguh membuat orang jadi terkejut.

Sesaat, mendadak tubuhnya berkelebat, secepat roh setan, mengulurkan tangan telah menangkap lengan nya Hun-ni, dan dengan suara gemetar emosi yang tidak bisa ditahan berkata:

"Anak Yam! Kau... ha...ha...ha akhirnya.       pulang

juga, ayah......keek keek......mati pun akan bisa memeramkan mata."

Saat orang tua baju merah menangkap lengan Hun-ni, Pek Soh-jiu sudah mengangkat Pouw-long-tui akan menyerang, tapi dia sedikit ragu, karena dia sudah terpikirkan orang tua ini adalah orang tua rambut putih yang membawa lari Su Lam-ceng, karena waktu itu baju nya berbeda dengan sekarang, dia sendiri juga tidak menduga di lembah liar ini bisa bertemu dengannya, setelah terpikirkan ini, dia jadi amat gembira sekali. Tadinya dia ingin maju menjawabnya, tapi sesaat tidak bisa menyela pembicaraan, karena......

"Orang tua, harap lepaskan tanganmu, nama ku Hun-ni, bukan Siau Yam yang kau sebutkan." "Apa, kau bukan Siau Yam? Keek, ayah ini sungguh ayah yang tidak bertanggung jawab, ini tidak bisa salahkan kau. Tapi, anak Yam...! Tapi juga tidak bisa salahkan ayah, haai. "

"Orang tua, kau sungguh telah salah mengenal orang, aku sungguh bukan Siau Yam!"

"Hm.., jangan sangka setelah ayah meninggalkan kau sepuluh tahun lebih lalu tidak mengenal, walau kau berubah terus, ayah tetap saja bisa mengenalimu, apa lagi dikaki kananmu. "

Saat ini akhirnya Pek Soh-jiu mendapat kesempatan bicara, dia dengan tersenyum berkata:

"Paman! Di telapak kaki adik Yam ada tanda lahir berwarna merah, dia bukan adik Yam, tentu tidak ada tanda lahir merah itu '

Orang tua mantel merah tertegun, lalu dengan marah sekali berkata:

"Bocah, bagaimana kau bisa tahu? Cepat katakan!" Hun-ni berkata tawar:

"Orang tua harap jangan marah, Siau Yam adalah isterinya, apa anehnya dia tahu! Yang lebih aneh lagi adalah mungkin kau orang tua juga tidak bisa percaya, aku juga isterinya, tapi tanda lahir merah di telapak kaki kananku, dia sampai sekarang juga belum tahu!"

“Apa. ”

“Apa. ”

Begitu Hun-ni mengumumkan ini, tidak ada bedanya dengan menjatuhkan sebuah bom, orang tua bermantel merah dan Pek Soh-jiu hampir bersamaan waktu bengong melotot. Sesaat, orang tua bermantel merah berteriak marah:

"Bocah, dengan cara apa kau bisa berhasil menipu putriku? Dimana orangnya sekarang? Kau sudah apakan dia? Katakan dengan jujur, jika tidak aku bunuh kau!"

Pertanyaannya orang tua bermantel merah, seperti rentetan peluru, selain nadanya menekan, juga menghina orang, membuat Pek Soh-jiu sulit bisa menerimanya. Dia mengangkat alisnya, berkata dingin:

"Putrimu terpisah denganku di pantai sungai Sin-an, keberadaannya ada dimana, aku tidak bisa menduganya, mengenai masalah aku dengan putrimu, tunggu sampai kau bertemu dengan putrimu, baru tanyakan pada dia juga tidak terlambat, dan masih ada, istriku Su Lam-ceng sekarang ada dimana? bagaimana kau perlakukan dia?"

Pek Soh-jiu tanpa tedeng aling-aling membantahnya, hingga menimbulkan hawa membunuh orang tua bermantel merah, dia melepaskan lengan Hun-ni berkata:

"Mengingat kau dengan anak Yam banyak miripnya, aku tidak mempersulitmu, tapi bocah ini, aku harus membunuhnya."

Sifat kerasnya orang tua ini, sungguh tiada duanya, baru saja selesai bicara dia langsung mengayunkan tangan memukul, diudara seperti timbul guntur, dalam sekejap mata dia berturut turut telah menyerang delapan jurus telapak tangan, kehebatannya tenaga dalam orang tua ini, belum pernah Pek Soh-ciu melihatnya, setiap pukulan yang dikeluarkan, semuanya mampu menghancurkan batu kali, jika bukan ular pintar Sian-giok membantu maju menyerang, hanya dengan kekuatan serangan telapak ini, Pek Soh-jiu mungkin sudah kehilangan muka. Sifat Pek Soh-jiu yang tinggi hati, bagaimana bisa menerima penghinaan ini, dia mengeluarkan Pouw-long- tui, dengan jurus Ciau-ji-hui-tui (Bor terbang matahari bersinar terang), sinar hitam mendadak timbul, ssst... bor besi menembus angin pukulan lawan, menerjang kearah dadanya.

Ular pintar Sian-giok juga seperti dewa naga, dia menerkam dari udara, arah yang dituju ular, tidak jauh dari titik mematikan orang tua itu.

Serangan dahsyat seorang manusia dan seekor ular ini, walau pesilat tinggi nomor satu masa kini, mungkin juga tidak mampu menahannya, walau tenaga dalam orang tua ini tinggi, dia dipaksa jadi kalang kabut, situasinya berbahaya seperti telur diujung tanduk.

Mendadak, terdengar siulan keras seperti geledek, jurus telapak orang tua bermantel merah berubah, tampak bumi dan langit menjadi gelap, sinar matahari seperti kehilangan cahayanya, lembah yang tumbuh subur pohon hijau, dalam sekejap mata, berubah jadi seperti daerah mati tidak bernyawa.

Serangannya Pouw-long-tui, tampak seperti tidak bertenaga, kecepatan terbang ular pintar Sian-giok, juga berubah menjadi pelan dan kaku.

Hun-ni yang menyaksikan menjadi terkejut, dia tahu pukulan telapak yang aneh dari orang tua itu, pasti ilmu hebat dari aliran aneh yang sudah lama meng-hilang, walau pun dia ikut membantu, mungkin juga tidak ada gunanya, tapi dia tidak ingin setelah semalaman bercinta, lalu menjadi seorang janda yang menghabiskan masa remaja, suami mendapat kesulitan, tidak peduli bagaimana bahayanya, dia juga wajib menemaninya. Maka dia teriak: "Maaf, orang tua, walau kau tidak mempersulit aku, tapi aku tidak bisa tinggal diam kau membunuh suamiku, apa lagi dia itu juga menantumu! Membunuh dia, mungkin adik Yam juga akan membenci kau seumur hidupnya, pikirkanlah, orang tua."

0-0dw0-0