PSDLL Bab 05 : Di perjalanan

 
Bab 05 : Di perjalanan

Pagi keesokan harinya, saat matahari menyinari jendela, burung pagi berkicauan, ketika Pek Soh-jiu bangun dari tidur, dia merasakan orang yang ada dalam pelukannya sudah tidak ada, saat dia membuka mata terlihat sebuah sinar warna yang gemilang, hampir membuat matanya jadi silau.

Seorang wanita yang sangat cantik berpakaian hitam dengan lengan baju berwarna giok, berdiri di hadapannya, matanya yang cantik tapi sayu, bibirnya tersenyum. Diatas pipinya yang merah terlihat sepasang lesung pipi yang samar-samar, rambutnya yang lembut melayang-layang ditiup angin, pinggangnya bergerak gerak-pelan seperti tidak mampu menahan beban tubuhnya. Cantik, cantik sekali tiada duanya. Meski dibandingkan dengan Su Lam-ceng, dia masih kalah sedikit, tapi pendekar wanita dengan penampilan yang liar tetap mempesona siapapun yang melihat.

Melihat Pek Soh-jiu bengong menatap, dengan tertawa ringan berkata:

"Toako, kau lihat aku persis tidak?" "Persis, persis, persis, persis sekali." "Heng, persis apa?"

"Ah, persis.    dewi di khayangan."

"Dan persis apa lagi?" "Persis. astriku."

"Toako jahat. "

Di dalam kuil yang rusak tampak pemandangan musim semi yang indah, terdengar tawa cekikikan yang merdu, cukup lama... suara tawanya baru berhenti, kemudian terlihat dua ekor kuda tunggangan yang gagah berturut- turut keluar dari kuil, yang di depan adalah seorang sastrawan setengah baya berbaju biru, diikuti seorang wanita setengah baya. Tidak lama setelah mereka berdua sampai di jalan raya, dari belakang mereka terdengar suara gerombolan kuda berlari membawa derap yang ramai, dalam sekejap, tiga puluh ekor lebih kuda telah melewati mereka.

Siau Yam yang menyamar menjadi seorang wanita setengah baya, sedikit mempercepat lari kuda-nya, hingga kudanya berlari berendengan dengan kuda Pek Soh-jiu, dia memalingkan kepala sambil tertawa berkata:

"Toako, mungkin seluruh jago dunia persilatan sudah berkumpul di gunung Kwo-tiang, kekuatan kita masih lemah, kita harus sedikit hati hati."

"Kata-kata adik Yam tidak salah, kita lihat keadaan saja."

Mereka berdua melewati lembah Poyang, tiba di kota kabupaten Tong-hiang, sepanjang perjalanan tidak terjadi masalah apa-apa, di Tong-hiang mereka menginap semalam. Keesokan harinya baru masuk ke wilayah timur perbukitan, setelah melarikan kuda beberapa saat, orang dan kudanya pun telah mengucur-kan keringat, terpaksa mereka beristirahat dulu di satu warung teh. Dasar memang harus bertemu, tidak disangka-sangka di dalam warung teh, sudah duduk dua puluh lebih para hweesio Siauw-lim. Pek Soh-jiu pura-pura tidak mengenalnya, dia mengikat tali kudanya di atas cabang pohon, lalu menyuruh Siau Yam duduk di atas batu yang rata, dia mengambil dua gelas teh dingin, berdua dengan santai mereka minum.

Mata Siau Yam melirik pada para hweesio Siauw-lim, terus berkata:

"Toako, ketua Siauw-lim yang terdahulu, diam-diam pernah ikut dalam penyerangan perumahan Leng-in, kali ini tanpa disengaja bisa bertemu disini, bagaimana pun kita harus minta penjelasannya."

"Minta penjelasann memang itu harus, tapi sekarang bukan waktu yang tepat." Kata Pek Soh-ciu.

"Kenapa?"

"Jika sampai tidak bisa diselesaikan dengan kata kata, maka jati diri kita tidak bisa disembunyikan lagi, lebih baik kita bertindak melihat keadaannya saja."

Siau Yam adalah orang yang sedikit liar, dia merasa tidak bisa menerima tekanan ini, amarah di dalam dadanya bagaimana pun tidak bisa dihentikan, tapi Pek Soh-jiu tidak mengizinkan dia bertindak, terpaksa dia disamping memonyongkan mulutnya menahan rasa tidak senangnya.

Saat ini didalam kelompok para hweesio Siauw-lim, ada seorang hweesio paling tinggi kedudukannya diantara para murid generasi ketiga, nama hweesio ini adalah Kong Tie, dia pernah ikut dengan Pek Can taysu ke Yun-liu, maka pada kepala ruang Tat-mo yaitu Pek Na taysu dia berkata:

"Susiok, sastrawan baju biru setengah baya itu, pernah datang ke Yun-liu, jika kuil kita ingin menjelas-kan hal ikhwal kesalah pahaman paman guru Pek-can, orang ini adalah saksi hidup." Pek Na taysu bersuara "Ooo!" dia lalu bangkit berdiri, perlahan mengucapkan pujian Budha, sebelah telapak tangannya ditegakan, memberi hormat pada Pek Soh-jiu berkata:

"Pinceng   Pek-na,   ingin   mengajukan   satu permohonan "

Pek Soh-jiu tidak menduga hweesio Siauw-lim malah sebaliknya yang bertanya pada dia, dengan perasaan heran dia berkata:

"Toa-hweesio jangan sungkan begini, aku merasa sangat terhormat, tapi kita belum pernah ber-temu, permohonan Toa-hweesio seperti terlalu di luar dugaan."

Pek Na taysu adalah kepala lima tianglo Siauw-lim, dia juga seorang yang sangat dihormati di dunia persilatan, walau pun seorang pakar ilmu silat di dunia persilatan, tapi dia tidak pernah memandang sebelah mata, melihat jawaban seperti ini, keruan warna wajahnya sedikit berubah, berkata:

"Aku cuma ingin bertanya pada Sicu, mau dijawab atau tidak itu terserah Sicu sendiri, aku tidak bermaksud memaksa. "

Siau Yam tidak tahan, dengan membentak dingin berkata:

"Kau boleh coba memaksa, boleh mencoba kekuatan kami suami istri apakah bisa memecahkan kepala botakmu itu!"

Kelakuan Siau Yam terhadap Pek Na taysu, tentu saja menimbulkan rasa tidak senang para hweesio Siauw-lim, saat ini mereka sudah tidak bisa menahan diri lagi, segera dua orang hweesio setengah baya, menerjang maju dari belakangnya Pek Na taysu, mereka berdiri dihadapan Pek Soh-jiu dan Siau Yam, dengan dingin berkata:

"Kong Ceng dan Kong Se ingin minta petunjuk dari anda suami istri."

Siau Yam menyunggingkan bibirnya:

"Toako minggirlah, biar aku yang menghadapi dua hweesio ini."

Pek Soh-jiu tahu bagaimana kepandaian Siau Yam, walau pun dua orang hweesio itu bersama-sama maju, mereka tidak akan bisa mengalahkannya, dia menganggukan kepala sambil tersenyum berkata:

"Tujuh puluh dua jenis ilmu silat hebat Siauw-lim jangan dianggap enteng, kau harus hati-hati."

Siau Yam pelan-pelan berdiri, lalu melangkah maju dua langkah ke depan, mengangkat alisnya berkata:

"Kalian berdua majulah sekaligus, supaya nanti tidak merepotkan aku lagi."

Walau bagaimanapun murid-murid Siauw-lim adalah dari aliran lurus dan ternama, mana mau mereka bersama- sama menghadapi seorang wanita dengan tangan kosong, Kong Ceng menggoyangkan tangan, memberi isyarat pada Kong Se untuk mundur, baru memasang kuda-kuda, bentaknya:

"Sicu, silahkan."

Siau Yam mendadak menjulurkan telapak tangan kanannya, dua jari yang putih seperti giok, dengan kecepatan yang sulit dipercaya, menotok ke arah sepasang mata Kong Ceng, dengan enteng mulutnya berkata:

"Seorang hweesio memang sangat ramah, maka terpaksa aku lebih dulu menyerangnya." Kepandaian Kong Ceng, di dalam angkatan ketiga Siauw-lim termasuk seorang yang menonjol, dia melihat begitu Siau Yam melayangkan telapak tangan kanannya, angin jarinya sudah menyentuh kulit dan wajahnya, tidak tahan hatinya jadi terkejut, cepat-cepat dia menyerang dengan kepalannya, bersamaan waktu itu dia meloncat kebelakang, dalam sejurus dia sudah bergerak menyerang dan bertahan, ilmu silat Siauw-lim, memang berbeda dengan ilmu silat cabang perguruan lain.

Tapi jurus dia Hok-houw-sin-koan (kepalan dewa penakluk harimau.), seperti batu jatuh ke laut, sepasang jari mungil Siau Yam malah seperti belatung menempel di tulang, selalu bergerak-gerak di depan matanya.

Sepasang telapak Kong Ceng tidak henti-hentinya dikebutkan, satu persatu tenaga tamparan yang dapat menghancurkan batu di kerahkan, angin pukulannya membuat debu berterbangan. Namun meski dia sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya, semua sia-sia saja, tubuh Siau Yam yang langsing itu, menari-nari mengikuti gerakannya tangan Kong Ceng, sepasang jarinya yang munggil, tetap berjarak setengah inci dari sepasang matanya.

Pesilat tinggi angkatan ketiga Siauw-lim ini menjadi ketakutan, dia tahu dirinya sudah bertemu dengan seorang wanita persilatan yang amat lihay, sehingga akhirnya dia melepaskan usaha bertahannya, sepasang tangannya dijulurkan kebawah, siap menerima nasib kehilangan sepasang matanya, terdengar suara pelan "Hemm!", tubuhnya yang besar itu, berputar di pukul telapak tangan Siau Yam, meski tidak tega menghilangkan sepasang matanya, tapi pukulan telapak tangan yang keras ini, telah membuat dia menerima luka dalam yang cukup parah. Pesilat tinggi dari angkatan muda Siauw-lim, tidak bisa menahan satu jurus serangan seorang nyonya setengah baya, ini sungguh satu berita yang menakut-kan. Pek Na taysu dengan menyebut nama Budha berkata:

"Hebat benar ilmu silat Sicu ini, guru anda pastilah seorang pesilat tinggi yang namanya meng-gemparkan dunia persilatan."

Siau Yam mendengus dingin, berkata:

"Kalau begitu taysu tidak memandang diriku!" Pek Na taysu berkata:

"Aku tidak bermaksud itu, kenapa Sicu berpikir yang lain-lain."

Siau Yam kembali mendengua dingin:

"Taysu tidak perlu banyak bicara lagi, sekarang kau m.m bagaimana, aku barsedin menerima."

Walau Pek Na Taysu seorang petapa yang sudah tinggi kesabarannya, umbul juga sedikit amarah oleh tingkah Siau Yam yang sombong itu, alis panjangnya sedikit diangkat, tapi akhirnya d ia menahan diri berkata:

"Aku hanya ada sedikit permintaan pada suami anda, anda tidak perlu mendesak aku seperti ini."

Siau Yam berkata dingin:

"Berarti taysu ada permintaan pada kami suami istri."

Pek Na taysu terdiam sejenak, lalu dengan menghela napas dia berkata:

"Anggap saja aku ada permintaan pada suami anda." "Masalah suamiku, aku juga bisa bertanggung jawab

setengahnya, hweesio boleh mencoba mengutarakannya." "Haai!" Pek Na taysu mendesah:

"Suami anda pernah ikut dalam perebutan pusaka di Yun-liu. "

"Tidak salah, terhadap masalah Ho-leng-ci, suamiku memang pernah menyaksikannya sendiri."

Pek Na taysu dengan wajah tegang berkata: "Apa yang telah suami anda saksikan?" Siau Yam mencibirkan bibirnya sedikit:

"Suamiku sudah biasa menutup kejelekan, memuji kebenaran, kau tidak perlu terlalu tegang!"

Wajah Pek Na taysu berubah:

"Murid Siauw-lim sangat taat aturan, harap anda suami istri jangan percaya omongan orang yang menjelekan Siauw-lim. "

Siau Yam berkata tawar:

"Apa permohonan ini yang taysu inginkan?"

"Jika kalian suami istri bisa menjadi saksi yang membersihkan nama baik Suteku, maka aku akan sangat berterima kasih sekali."

"Kami suami istri bisa saja menjadi saksi untuk membersihkan nama baik kuil anda, tapi anda harus menyanggupi satu hal padaku sebagai imbalannya."

"Asal didalam kemampuan kami, tentu tidak akan membuat Sicu kecewa."

"Permintaanku sebenarnya juga hal yang mudah sekali, asalkan taysu mengatakan siapa otak yang pada tahun itu diam-diam menyerang perumahan Leng-in. " Tubuh Pek Na taysu bergetar, sepasang matanya yang bersinar, menatap pada Siau Yam, setelah beberapa saat baru berkata:

"Ada hubungan apa anda dengan Sin-ciu-sam-coat (Tiga pendekar wahid)?"

Siau Yam berkata dingin:

"Kita hanya membicarakan masalah, buat apa taysu bicarakan hal yang lainnya!"

Pek Na taysu menutup sepasang matanya: "Pertanyaan Sicu ini, aku tidak bisa menjawabnya."

Siau Yam dengan sinis mendengus:

"Kalau begitu keinginan taysu membersihkan nama baik kuilmu, bukankah itu hal yang berlebihan!"

Pek Na taysu membuka sepasang matanya berkata: "Otak yang diam-diam menyerang Sin-ciu-sam-coat, aku

sungguh tidak tahu."

"Kalau begitu hilangnya ketua kuil anda yang terdahulu, kau juga sama sekali tidak tahu!"

"Kenyataannya memang begitu."

"Maaf, perundingan kita terpaksa selesai sampai disini saja."

Pek Na taysu mengangkat alisnya, dia berteriak marah berkata:

Apa anda sungguh ingin merusak nama baik kuil

Siau Yam dengan sinis mencibirkan bibirnya, berkata: "Masalah siapa benar atau salah, dunia persilat-an tentu

akan menilainya sendiri, anda keluar dengan membawa orang-orang yang begini banyak, bagaimana pun tidak akan bisa menutupi mata telinga seluruh orang-orang persilatan!"

Tujuan utama Pek Na taysu sebenarnya berharap Pek Soh-jiu bisa menjadi saksi dan menjelaskan bahwa Pek Can taysu tidak pernah merampas Ho-leng-ci, tidak diduga suami istri ini punya pandangan negatif terhadap Siauw- lim-sie, begitu pembicaraannya tidak cocok, maka semakin dibicarakan semakin tegang, sampai saat ini sudah sampai taraf tidak bisa menerima-nya, sehingga akhirnya Pek Na taysu mengebutkan lengan baju besarnya, mengerahkan tenaga dalam yang amat dahsyat, sambil mulutnya bersamaan berteriak marah:

"Jika Sicu sengaja ingin menghina kuilku, maka aku terpaksa melanggar larangan membunuh orang."

Satu gelombang tenaga dalam ini, di dalamnya mengandung Siau-sai-pit-kim-kong-sin-kang (tenaga sakti Kim-kong menutup kumis kecil) salah satu dari kami?

Tujuh puluh dua ilmu silat Siauw-lim yang sangat dahsyat. Pek Soh-jiu khawatir Siau Yam terluka karena menganggap enteng lawan, dia tertawa keras dan melayang, ketika tubuhnya masih melayang, tenaga telapaknya dengan dahsyat membelah udara datang menerjang, mulutnya berkata:

"Adik Yam, kau minggir dulu, biar aku yang menghadapi para hweesio yang tidak bersih ini, aku mau lihat sebenarnya mereka mempunyai ilmu silat sehebat apa."

Boom.....Pek Soh-jiu seperti layang-layang putus tali, sekali melayang sudah meluncur tiga tombak lebih, baru kakinya menginjak ke bumi. Siau Yam berteriak terkejut, kakinya dihentakan, berlari kedepan Pek Soh-jiu berkata:

"Toako! Apa kau terluka?"

Pek Soh-jiu dengan tenang berkata:

"Siau-sai-pit-sin-kang walau pun salah satu ilmu silat terhebat di dunia persilatan, tapi tidak lebih tinggi dari pada aku punya Kong-hong-sam-si (tiga jurus angin ribut), mari, kita lihat para hweesio terkenal ini masih punya jurus hebat apa lagi."

Siau Yam sedikit tidak tenang, bertanya lagi: "Toako, ini salahku, kita. "

Pek Soh-jiu memegang tangannya yang munggil:

"Jika para hweesio liar itu sengaja mencari gara-gara pada kita, ingin menghindar juga sulit, kau lihat mereka sudah mengepung kita, kecuali kita bertarung, tidak ada pilihan lain!"

Lalu mereka saling bergandengan tangan, melangkah dengan mantap, pelan-pelan berjalan menuju ke tengah kepungan.

Mendadak, sebuah sinar kilat berkelebat membelah langit, setelah itu terdengar suara geledek yang menggelegar, lalu turunlah hujan yang lebat, jalan raya lebar yang penuh dengan hawa pembunuhan ini, mendadak terguyur oleh hujan deras dan angin kencang.

Walau pun angin sangat kencang, namun tidak bisa menyapu bersih hawa pembunuhan yang kental ini, bayangan orang masih pelan-pelan bergerak, karena pandangannya terhalang, mereka sedang memperketat kepungannya. Di pihak Siauw-lim kecuali ketua Tat-mo-tong Pek Na taysu, masih ada seorang ketua Lo-han-tong, Pek Keng taysu, dia juga seorang hweesio yang namanya telah menggemparkan dunia persilatan, sisa dua puluh orang lebih lainnya dari angkatan kedua dan ketiga, tapi semua rata-rata mempunyai ilmu tinggi. Jelas, dalam hal kekuatan Pek Soh-jiu dan istri berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.

Namun kedua belah pihak tampaknya tidak ada keinginan mengalah, seperti keadaan anak panah yang sudah ditarik pada busurnya, mau tidak mau harus dilepaskan. Pek Na taysu melangkah maju tiga langkah, dia pertama yang menyerang dengan telapaknya ke tengah alisnya Pek Soh-jiu, tangan kanannya dengan kecepatan tinggi dan gerakan yang tidak terduga, mengunci gerak pergelangan tangan Pek Soh-jiu.

Tadi ketika dia menggunakan Siau-sai-pit-sin-kang menyerang Pek Soh-jiu dari jauh tidak ada hasilnya, maka sekarang begitu menyerang dia langsung menggunakan salah satu jurus terhebat Siauw-lim lainnya yaitu Jit-cap-ji Kin-na-jiu (tujuh puluh dua jurus cengkeraman tangan kosong), nampak jelas sekali, Pek Na taysu yang merupakan salah satu dari lima tianglo Siauw-lim, sudah memandang sastrawan setengah baya ini sebagai satu lawan yang tangguh.

Pek Soh-jiu mendengus, tubuhnya mendadak diputar, telapak tangan kanan ditarik lalu dilontarkan, jurus Hong- lui-peng-hoat (Angin dan halilintar muncul bersamaan waktu) dilancarkan menghantam Pek Na taysu.

Salah satu jurus Kong-hong-sam-si ini bisa dianggap jurus yang tiada tandingannya di dunia persilatan, walau pun terdiri dari tiga jurus, selama Hong San-ceng berkelana di dunia persilatan puluhan tahun, belum pernah bertemu dengan orang yang sanggup menahan dua jurus serangannya, walau ilmu silat Pek Soh-jiu belum mencapai kesempurnaan, tapi karena dua jalan darah pentingnya yaitu jalan darah Jin dan Tok sudah tembus, jadi tenaga telapaknya sudah tidak bisa disetarakan dengan pesilat tinggi biasa, saat menyerang dengan jurus Kong-hong-sam- si, kekuatan tenaganya seperti gunung meletus.

Pek Na taysu yang latihannya sudah sangat tinggi, hatinya telah bergetar, mimpi pun tidak terpikir, sastrawan baju biru yang wajahnya asing, ternyata telah mempelajari kepandaian Sin-ciu-sam-coat, tenaga dalam dan kecepatan geraknya untuk pesilat tinggi masa kini, bisa dikatagorikan yang paling hebat, sehingga, dia tidak berani menghadapi lawannya dengan cara keras, dia mengebutkan lengan baju besarnya, sambil melangkah ke samping tiga langkah.

Pek Soh-jiu tertawa panjang, dia kembali meneruskan serangan Kong-hong-sam-si, di bawah hujan yang lebat itu, terdengar suara petir menggelegar.

Pek Na taysu segera menggunakan jurus Pek-poh-sin- koan (kepalan dewa seratus langkah) dari kuil Siauw-lim, di gabungkan dengan Siau-sai-pit kim-kong sin-kang, dia melakukan pertarungan sengit dengan Pek Soh-jiu, pertarungan yang jarang bisa ditemukan di dunia persilatan, selain itu Pek Soh-jiu meneruskan menyerang dengan ilmu hebatnya lagi, dalam sesaat sulit bisa membedakan siapa yang lebih unggul.

Di sisi lain Siau Yam juga bertarung hidup mati dengan Pek Keng taysu, tenaga dalam Siau Yam walau kalah saru tingkat dari Pek Keng taysu, tapi dia sangat gesit, gerakan jarinya hebat sekali, setiap serangan jarinya membuat ketua Lo-han-tong ini sibuk meng-hindari. Pertarungan ini tampaknya akan menjadi pertarungan panjang, namun Pek Soh-jiu dan istri sudah sedikit lebih diatas angin, ini adalah satu berita aneh yang cukup menggemparkan dunia persilatan, dua orang dari lima tianglo Siauw-lim-sie yang sudah ternama, ternyata tidak bisa memenangkan pertarungan melawan sepasang suami istri yang tidak ternama!

Demi melindungi nama baik dan kehormatan Siauw-lim- sie yang sudah berumur ratusan tahun, dua orang hweesio ternama dari agama Budha ini makin keluar amarahnya, setelah Pek Keng taysu melancarkan serangan telapak yang memaksa Siau Yam mundur, pada para murid Siauw-lim dia mengeluarkan sebuah perintah yang mengejutkan 'siapkan Lo-han-tin1, maka, para murid Siauw-lim-sie yang ada disekeliling, semua langsung bergerak membentuk barisan.

Pertarungan sementara jadi terhenti, Pek Na dan Pek Keng, segera memimpin barisan Lo-han itu.

Tentu saja, Pek Soh-jiu yang pernah masuk ke kuil Siauw-lim-sie seorang diri, punya pengalaman menghadapi Lo-han-tin yang di bentuk ratusan orang, dia tetap tidak berani memandang enteng terhadap Lo-han-tin yang dibentuk hanya oleh dua puluh orang lebih ini, karena dia tahu lawan yang dihadapinya sekarang, adalah intinya para pesilat tinggi Siauw-lim, sekali barisannya bergerak, pasti sangat berbahaya sekali. Maka dia menyuruh Siau Yam mengeluarkan pedang pendek Siau-suang dan Pek-lek-bie- sin-ciam yang jarang dia gunakan, dia sendiri juga mengeluarkan Pouw-long-tui nya.

Lalu, sambil bersiul panjang, alisnya sedikit di angkat, dia berkata dingin: "Aku tidak ingin membunuh tanpa ada penjelasan terlebih dulu, sebelum kalian menyerang bersama-sama, paling baik dengarkan terlebih dulu nasihatku."

Dia menghentikan perkataannya sejenak, sorot matanya melihat kesekeliling, lalu berkata lagi:

"Lo-han-tin adalah salah satu barisan Siauw-lim-sie, sudah ratusan tahun ternama dan tidak pernah melemah, tapi, barisan hebat yang terkenal di dunia persilatan ini, mungkin tidak mampu menahan sebuah serangan Pouw- long-tui, jika kalian tidak cepat lupa, kata-kataku ini bukanlah kata-kata yang menakut-nakuti, sekali Pouw-long- tui ini bergerak, maka tidak akan bisa meninggalkan seorang lawan yang hidup. Maka kalian para hweesio, lebih baik pikirkan sekali lagi baik-baik."

Baju hweesio yang warnanya abu-abu, masih melayang- layang dan mengeluarkan suara sst....sst di timpa hujan angin, Lo-han-tin tidak melakukan penyerangan, tapi juga tidak berhenti bergerak.

Pek-na dan Pek Keng, dua hweesio luhur dari Siauw-lim- sie memang sedang mempertimbangkan keadaan di hadapan mereka, sesaat tidak mampu mengambil keputusan yang tepat, tentu saja mereka tahu Lo-han-tin sulit menahan sebuah serangan dahsyat dari Pouw-long-tui, apa lagi pedang pendek Siau-suang dari perguruan Thian-ho yang diperlihatkan oleh Siau Yam, sama dengan sebuah lambang perintah pengambil nyawa.

Keadaan saat ini adalah pertarungannya belum dimulai, kalah dan menang sudah ditentukan, kecuali membubarkan barisan dan mengaku kalah, para hweesio Siauw-lim sulit bisa memilih satu keputusan yang memuaskan. Akhirnya Pek Na taysu menggerakan tangan menghentikan gerakan Lo-han-tin, alisnya diangkat, dengan suara rendah berkata: "Sicu, kita kemari tidak disengaja bertemu, bukan begitu?"

"Tidak salah." Kata Pek Soh-ciu dingin. "Kalau begitu buat apa kita melakukan pertarungan hidup mati!"

"Anda tidak takut nama baik kuilmu rusak?"

"Asalkan bertindak sesuai aturan, buat apa takut perkataan orang. "

"Seorang hweesio luhur, memang harus berbesar hati, sayang kata-kata taysu sedikit terlambat datangnya."

Warna wajah Pek Na taysu berubah: "Hemm!" marah berkata, "Dalam sejarah ratusan tahun, murid Siauw-lim dipaksa membubarkan barisan dan mengaku kalah, kau lah orang yang pertama." Dia menghentikan bicaranya sejenak, dengan sedih berkata lagi, "Aku tidak ada kemampuan, sehingga membuat nama baik ratusan tahun kuilku, hancur dalam sehari, aku. hai, hanya bisa menebus dosa dengan

kematian."

Ternyata Pek Na taysu yang menjadi kepala dari lima tianglo Siauw-lim, sudah bertekad dengan kematian, membebaskan keadaan yang memalukan untuk nama baik Siauw-lim-sie, baru saja habis bicara, telapak tangan kanannya' dengan cepat diayunkan, buuk...., dia memukulkan kepalanya sendiri, terlentang mati di bawah guyuran hujan angin.

Terdengar suara doa yang rendah dan pilu, di saat para hweesio berdoa di dalam hujan ini, Pek Soh-jiu tanpa bicara lagi menuntun kudanya, bergandengan dengan Siau Yam meninggalkan lapangan pertarungan. Waktu berlalu. Siau

Yam perlahan mengeluh:

"Tidak terpikir hweesio tua itu orangnya sangat keras, hai. " Perasaan Pek Soh-jiu sangat berat, dia terdiam beberapa saat, katanya:

"Melihat kematiannya Pek Na taysu, aku merasa sangat tidak tenang. "

Siau Yam mencibirkan bibirnya:

"Kita tidak memaksa mereka mengatakan siapa otaknya yang diam-diam menyerbu perumahan Leng-in, terhadap hweesio kuil Siauw-lim ini kita sudah sangat bermurah hati, hweesio tua itu ingin mati sendiri, ada hubungan apa dengan kita?"

"Kek!" sekali Pek Soh-jiu berkata, "Adik Yam benar, tapi...... kelihatannya kita sudah terlibat dalam pergolakan dunia persilatan yang sangat dalam, selanjutnya pekerjaan kita, mungkin akan mendapat banyak halangan."

"Aku pikir para hweesio itu tidak akan menyiarkan penyamaran kita, karena kematiannya Pek Na, bagaimana pun bukanlah hal yang membanggakan."

"Harap saja begitu."

Saat ini hujan sudah berhenti, di langit sudah tampak matahari, tubuh mereka berdua seluruhnya basah kuyup, setelah terkena sinari panas matahari, terasa tidak enak, maka mereka melarikan kuda dengan cepat, ingin mencari satu tempat untuk istirahat dan berganti baju, tapi mendadak kuda mereka meringik keras, kedua telinganya berdiri tegak, bagaimana di paksa pun tidak mau maju lagi.

Dalam hati Pek Soh-jiu tahu pasti ada masalah lagi, dari atas kuda dia langsung meloncat keatas, sesudah berdiri diatas puncak pohon yang ada disampingnya, matanya melihat ke arah tikungan yang ada di depan, tidak tahan hatinya jadi tergetar. Ternyata di tengah jalan raya, melingkar seekor ular berbisa yang panjangnya sekitar satu tombak lebih, tubuhnya sebesar lengan anak kecil, lidah merahnya keluar masuk, mengeluarkan suara sst.... sst, bentuknya menyeramkan sekali, dia mematahkan sepotong dahan, sekali tangannya diayunkan, dahannya melesat ke arah bagian tujuh cun ular itu.

Dahan yang terlepas dari tangan, kecepatannya laksana kilat, tapi ular berbisa itu mendadak bergoyang, dahan pohon itu malah tidak mengenainya, tak. menancap

diatas tanah jalan raya.

Siau Yam juga loncat ke samping Pek Soh-jiu, dia juga melihat ular berbisa itu mampu menghindarkan senjata gelap, dia merasa heran, lalu mengambil dua buah Pek-lek- bie-sin-ciam, tangannya diayunkan, dua buah jarum melesat, masing-masing mengarah pada sepasang matanya ular berbisa itu.

Walau bentuk jarum itu sangat kecil, tapi karena keahlian melepaskan jarumnya sangat hebat, walau pun seorang pesilat tinggi kelas satu, yang dapat lolos dari serangan Pek-lek-bie-sin-ciam juga tidak banyak, ular berbisa itu walau pun sudah terlatih, tetap tidak bisa lolos dari kematian!

Ular berbisa itu setelah berguling-guling, lalu mati terlentang di pinggir jalan, Siau Yam segera menatap ke pepohonan di samping ular, dengan mendengus dingin berkata:

"Ayo keluar, biar kami suami istri menghadapimu." "He.. .he.. .he!" terdengar sebuah tawa dingin, lalu

melangkah keluar seorang manusia aneh yang berwajah

monyet, mulut monyong hidung mancung ke dalam, tubuhnya      kurus      kecil,      di      tangannya      sedang mempermainkan seekor ular berbisa sebesar kawat besi, sepasang matanya bersinar hijau, berjalan pelan menuju tengah jalan.

Siau Yam dan Pek Soh-jiu bersama-sama meloncat turun dari puncak pohon, dia memperhatikan orang aneh itu beberapa saat, mendadak wajah cantik Siau Yam jadi d ingin berkata:

"Apakah anda anggotanya Jit-kaw-kok? (tujuh keahlian)"

Orang aneh berwajah monyet itu tertegun, dia menghentikan langkah, sepasang matanya yang bersinar hijau dingin, berputar putar sebentar, lalu berkata:

"Mata yang tajam, mantu Sin-ciu-sam-coat ternyata punya sedikit kehebatan."

Pek Soh-jiu berkata:

"Kami suami istri tidak ada permusuhan dengan Lembah Jit-kaw, kenapa tuan menghadang jalan mencari masalah?"

"He...he...he!" orang aneh berwajah monyet tertawa, "Setelah melihat gerakan kalian yang sangat hebat, monyet tua jadi merasa tangan gatal, selain itu, he... he... selain itu aku juga ingin berunding dengan Siauhiap."

"Ha.. .ha.. .ha!" Pek Soh-jiu tertawa keras, katanya, "Tuan ini ingin melihat-lihat Pouw-long-tui?"

Orang aneh berwajah monyet itu berkata:

"Lihat, ini hanyalah salah satu sebab, jika Pek Siauhiap bisa memberikannya, itu akan lebih baik lagi."

"Hemm!" Siau Yam berkata dingin, "Ide bagus, ketua lembah kalian Pek-tok-lo-cia (Iblis seratus racun.) Bong San-san, apakah dia sudah ikut datang?" Orang aneh berwajah monyet membelalakan sepasang matanya:

"Kenapa, apakah Tok-hou (Monyet racun) The Hoan masih kurang berbobot?"

"Tok-hou The Hoan walau pun seorang yang ternama, tapi terhadap masalah ini mungkin kau tidak bisa memutuskannya." Kata Siau Yam

Tok-hou The Hoan berkata:

"Ada masalah seperti ini? mohon Pek hujin jelaskan." Siau Yam mengangkat alisnya:

"Aku telah kehilangan pelayanku, kehidupan ku sehari- hari, terasa kurang leluasa, aku dengar Bong San-san itu orangnya sangat pengertian, menjadi pelayanku mungkin akan cekatan."

Sepadang mata Tok-hou The Hoan menyorot sinar ganas, dia tertawa dingin berkata:

"Berani menghina kokcu kami, kau pantas mati, terima ini." Lengan kanannya mendadak diayunkan, ular berbisa sebesar kawat besi seperti sebuah tombak panjang, menusuk ke arah dada Siau Yam.

Tubuh Siau Yam berkelebat, dia sudah melayang mundur tiga tombah, membalikan lengan mencabut pedang panjang di punggungnya, sebuah jurus Ki-hwee-liauw-thian (Mengangkat api membakar langit.) di sabetkan ke arah bagian tujuh inci ular kawatbesi.

Tok-hou The Hoan tertawa dingin, lengan kanannya digerakan perlahan, huut... tubuh ular kawat besi itu bergoyang, dengan jurus Coan-thian-it-cu-hiang (Mengarah langit membakar dupa) dari jurus toya Pan-liong, menyerang kearah pipinya Siau Yam. Siau Yam tidak menduga ular kawat besinya Tok-hou The Hoan begitu gesit, cepat cepat bergeser, kembali mundur tiga langkah.

Begitu Tok-hou dapat mendesak, dia tidak memberi nafas pada Siau Yam, sambil mulutnya bersiul aneh, langsung menerjang masuk, ular kawat besi diayunkan secepat angin, segera terlihat berlapis-lapis bayangan ular, bau amis menyebar luas, mengurung rapat Siau Yam.

Pek Soh-jiu melihat ular berbisa kawat besi itu lidahnya keluar masuk, tidak henti-hentinya menyemburkan asap beracun, dan juga ilmu silatnya Tok-hou The Hoan juga sangat hebat, dia khawatir Siau Yam mendapat luka, tidak tahan lagi dia mencabut pedang-nya, ingin mendesak masuk kedalam pertarungan.

Siau Yam yang melihatnya, lalu berteriak: "Toako mundurlah, menghadapi orang kecil seperti ini, kita tidak perlu melawan bersama-sama!"

Pek Soh-jiu menghentikan langkah, dia menggeleng- gelengkan kepala, terpaksa mundur lagi ke belakang menonton, tapi dia tetap memusatkan tenaga dalam Pouw- ci-sin-kang, jika Siau Yam benar-benar dalam bahaya, maka dia akan tidak pedulikan apa yang namanya keroyokan.

Siau Yam menahan nafas, pedangnya seperti naga menari, walau jurus Tok-hou sangat dahsyat, tapi tetap tidak bisa berbuat banyak, tapi, Siau Yam juga tidak bisa menahan nafas terlalu lama, apalagi harus menggunakan tenaga dalam, keadaannya memang sangat berbahaya sekali.

Dalam sekejap sudah lewat tiga puluh jurus, dipelipis Siau Yam sudah nampak ada keringat, melihat keadaan, kekalahannya akan terjadi dalam beberapa saat lagi. Sebenarnya Siau Yam sendiri juga menyadari keadaannya, ketika pertama dia bertarung, di telapak tangan kirinya sudah menggenggam dua buah jarum Pek- lek-bie-sin-ciam, jika tidak sampai bahaya sekali, dia tidak mau mempergunakan.

Saat ini, dadanya sedang naik turun dengan derasnya, karena terlalu lama menahan nafas, tenaga dalamnya nampaknya akan habis, gerakannya pelan pelan mulai menurun, jurus pedangnya juga nampak tidak segesit semula, tampak seperti lampu yang kehabisan minyak, walau pun sekuat tenaga meronta, juga tidak akan lolos dari kematian.

Tok-hou The Hoan tertawa keras, lalu berkata: "Menyerahlah Pek hujin, monyet tua adalah orang yang sayang wanita, pasti tidak akan membuat kau sangat. "

Seseorang di saat dalam keberhasilan, tidak luput pemusatan pikirannya akan mengendur, saat inilah yang ditunggu Siau Yam, sebab kesempatan bagus ini yang dalam sekejap akan menghilang dan tidak terulang, segera dia menggetarkan pedang panjangnya, menyebar kan ribuan titik-titik sinar pedang, menyerang kearah wajahnya Tok-hou The Hoan, lalu telapak kirinya diayunkan, terdengar Pek-lek-bie-sin-ciam bersuara dua kali, langsung menancap di mata kiri dan bahu kirinya rbk-hou The Hoan.

Perubahan besar ini, sungguh seperti sambaran kilat, Tok-hou The Hoan tidak menduga menyerang balasan Siau Yam di dalam keadaan bahaya, bisa sedahsyat ini.

Tapi Tok-hou juga adalah seorang yang nekad, meski mata kirinya dibutakan oleh Pek-lek-bie-sin-ciam, dan lengan kirinya tidak berguna lagi karena terluka, dia unilah dengan berteriak keras, lengan kanannya diayunkan sekuat tenaga, ular kawat besi seperti sebuah panah beracun, dengan kecepatan yang sulit dibayangkan, langsung mengarah dadanya Siau Yam.

Jurus ini sangat diluar dugaan Siau Yam, saat ini lenaga dalam nya sudah habis digunakan, walau pun ?a-l'iiah senjata gelap yang biasa, dia juga sudah tidak bisa menghindar, apa lagi ular kawat besi berbisa yang dilemparkan sekuat tenaga oleh Tok-hou The Hoan.

Nampak ular kawat besi dengan kecepatan tinggi akan mengenai dada montoknya Siau Yam, asalkan maju lima ini lagi saja, wanita cantik ini akan tewas di gunung liar ini.

Keadaan yang sangat berbahaya ini terjadi dalam sekejap, Pek Soh-jiu yang menonton disisi, hampir saja mati ketakutan, dia berteriak keras, tangan kanannya dengan kuat diayunkan, lima titik sinar hitam dengan kecepatan tidak terbayangkan, mengenai tubuh ular kawat besi, tubuh Pek Soh-ciu juga langsung terbang, mengerahkan ilmu silat meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui sampai puncak tertinggi, hanya terlihat sebuah gumpalan asap tipis menggulung, tubuh Siau Yam yang bergoyang-goyang akan jatuh itu sudah berada di luar sepuluh tombak lebih.

Mereka akhirnya dapat lolos dari bahaya, tapi keadaan bahaya yang dialaminya, tetap saja begitu mengge tarkan hati.

Wajah Siau Yam menjadi putih pucat, dadanya tidak henti-hentinya kembang kempis, dengan lemah dia menyandar di tangannya Pek Soh-jiu, sepasang matanya terbuka lebar, melihat pada mayat ular di tanah yang hampir merengut nyawanya, lalu melihat pada Tok-hou The Hoan yang wajahnya putih seperti kertas. Beberapa saat, dia baru dapat melancarkan nafas dengan meniup nafas panjang berkata: "Terima kasih, demi menutupi jejak kita, Tok-hou ini tidak boleh dilepaskan!"

Pek Soh-jiu menganggukan kepala, sambil menggandeng tubuh dia, perlahan melangkah maju ke depan Tok-hou The Hoan berkata:

"The Tayhiap! Istriku tadi tidak bisa mengendalikan diri, aku sungguh menyesal sekali."

Mata Tok-hou The Hoan yang tinggal satu sudah kehilangan sinar, setelah berputar sekali, dia berkata dingin:

"Jangan sombong orang she Pek, walau aku mati, lembah Jit-kaw pasti akan membalaskan dendam hari ini."

Pek Soh-jiu dengan tawar berkata:

"Aku suami istri setelah berani melukai anda, tidak akan takut pembalasan dari lembah Jit-kaw, tapi membicarakan masalahnya, masalah hari ini kau sendiri yang menimbulkannya. "

"Hemm!" Tok-hou The Hoan dengan marah berkata, "Tidak salah, memang aku yang mencari mati, tapi kalian juga mendesak sampai tianglo kuil Siauw-lim-sie mati, banyak orang yang menyaksikan, kau lihat saja nanti, bocah. "

Baru saja selesai bicara, tubuhnya mendadak gemetar, jatuh ke atas jalan raya, di sudut mulutnya keluar darah yang bau amis, dia sudah menggigit pil beracun, bunuh diri.

Pek Soh-jiu tanpa suara mengeluh, dia tahu pertarungan dengan Siauw-lim di warung teh, sudah menimbulkan masalah yang tidak ada ujungnya, kali ini d ia pergi kegunung Kwo-tiang, mungkin setiap langkah-nya akan penuh dengan halangan, tapi mala petaka tidak bisa dihindari, jika bisa dihindari itu bukan mala petaka, sehingga, mereka berdua tetap mengikuti rencana semula, berjalan melalui Kwie-ciu, lewat Ke-yang, menuju kepegunungan Heng-ih......

Di malam hari yang pekat, Pek Soh-jiu dan Siau Yam tiba di kota kabupaten Ih-san, kota kabupaten Ih-san terletak di lereng selatan gunung Huai-ih, di sebelah tenggaranya adalah pegunungan Hian-sia-leng, karena mereka berdua tiba terlalu malam, setelah mencari ke seluruh kota, juga tidak mendapakan satu penginapan pun.

Pek Soh-jiu tidak bisa berbuat apa-apa, menatap pada benteng kota yang megah itu dia tertawa, berkata:

"Adik Yam! Kelihatannya kita terpaksa menganggap benteng kota sebagai kamar tidur, angin bertiup menyapu lantai, kegembiraan ini tidak ada di dalam kamar tidur."

Siau Yam dengan manisnya tersenyum, kepalanya sedikit tunduk, tubuhnya merendah menghormat berkata:

"Benar, harap suamiku.    "

Perkataan Siau Yam belum habis, di atas benteng kota tiba-tiba terdengar suara tawa yang panjang:

"Suami istri yang serasi, wanita ini sungguh baik, nenek tua! Kita harus meninggalkan tempat ini untuk mereka, ayo jalan."

Dua bayangan manusia, secepat kilat berkelebat, dengan ilmu silat mereka yang sangat tinggi, sampai wajah mereka juga tidak bisa terlihat dengan jelas, hanya terdengar suara tawa yang memekakan telinga menjauh, dan masih terdengar juga teriakan wanita:

"Tua bangka, kau berani tidak menunggu nenek tua, kau lihat mereka begitu mesranya." Suara pembicara itu menghilang, dalam sekejap sudah berada sejauh seratus tombak lebih jauhnya.

Pek Soh-jiu menggeleng gelengkan kepala, memegang lengan Siau Yam sambil tersenyum berkata:

"Sungguh masalah aneh yang ada setiap tahun, hanya tahun ini yang paling banyak, mau menginap di benteng kota, malah bisa kebetulan ada yang menginap juga."

Siau Yam membantingkan tangannya, bibirnya mencibir, pura-pura marah berkata:

"Kau sih......lihat aku nanti masih pedulikan kau tidak. "

Pek Soh-ciu menghela napas:

"Harap hujin maafkan aku kali ini, hamba tidak berani lagi."

Siau Yam psss. tertawa berkata:

"Sepasang setan tua ini sungguh menyebalkan, sepertinya sengaja terus mengikuti kita."

"Siapa mereka? Kau kenal?"

Siau Yam mencibirkan mulutnya:

"Kau anggap aku sudah setua tujuh, delapan puluh tahun, hemmm!"

"Kau jangan salah paham, yang aku maksud adulah mungkin kau tahu merekaitu siapa."

"Mereka itu adalah sepasang pendekar yang ln-rkelana puluhan tahun, kalau kau tidak tahu bisa changgap kau kurang pergaulan, masih tanya aku kenal alau tidak!" "Ooo!" Pek Soh-jiu berkata, "Ternyata adalah Thian-ya- hiap-lu (Sepasang pendekar dari ujung langit), tidak aneh ilmu silatnya setinggi ini."

Baru saja mereka berdua naik ke atas benteng kota, tiba- tiba terlihat diatas rumah di pinggir jalan, muncul dua bayangan orang, setelah sebentar memper-hatikan keadaan, lalu dengan cepat lari kearah utara.

Pek Soh-ciu tertegun berkata:

"Apa... di kota kabupaten Ih-san ini ternyata banyak orang-orang hebat, adik Yam! Kita sedang tidak ada kerjaan, kita ikuti mereka dam melihat ada apa sebenarnya, bagaimana?"

"Baik," lalu dua orang itu bersama-sama meloncat, dengan cepat berlari ke utara mengikuti bayangan tadi, setelah melewati sebuah lapangan rumput liar, di depan tampak sebuah kuil yang megah, terlihat bentengnya tinggi, pohonnya hijau rimbun, tapi jejak dua orang itu sudah menghilang.

"Toako! Dua orang itu menghilang disini, kau lihat apakah mereka ini hweesio bukan?"

"Sulit mengatakannya, mungkin saja mereka itu dua- duanya nikoh."

"Kau sengaja berkata sebaliknya, aku katakan hweesio, maka itu pasti hweesio."

"Dengan alasan apa memastikan mereka pasti hweesio." "Apa kau tidak melihat ini adalah bangunan kuil

hweesio?" "Tidak juga."

Belum selesai mereka berdebat, mereka sudah sampai di depan pintu, Siau Yam menjejakan kakinya, tubuhnya sudah meloncat setinggi tiga tombak, seperti daun yang melayang jatuh, dengan pelan berdiri diatas gerbang itu, Pek Soh-jiu mengikuti meloncat keatas, dua orang dengan hati-hati sekali berjalan menuju ke dalam.

Setelah melalui lapangan rumput yang halus seperti karpet, lalu meloncat ke atas atap ruangan, mata Pek Soh- jiu mendadak melotot, perlahan menarik Siau Yam berkata:

"Di kuil hweesio tapi yang tinggal adalah nikoh, kali kau harus mengaku salah."

Siau Yam melihat kearah tempat yang ditunjuk Pek Soh- jiu, benar saja melihat seorang nikoh yang tubuhnya langsing, sedang berjalan perlahan kearah pintu bundar, dia mendengus sekali berkata:

"Kau lihat lagi kesitu."

Tidak salah, diatas satu koridor, memang ada seorang nikoh sedang berjalan bolak balik, jelas, di dalam kuil ini, seperti tersembunyi hal yang misterius, mereka berdua demi memuaskan rasa ingin tahunya, dari atap bangunan langsung berlari menuju pintu bundar, apa yang dilihat, malah membuat hati jadi lapang.

"Keadaannya indah sekali," Siau Yam memuji, dia memalingkan kepala berkata pada Pek Soh-jiu:

"Danau teratai gunung buatan, daun hijau bertebaran, bau harum sepoi-sepoi, tidak diduga di dalam kuil ini ada tempat yang luar biasa ini."

Pek Soh-jiu tertawa:

"Tidak salah, kau lihat bangunan yang indah itu, l iangnya berukir, indah sekali, kebunnya dipenuhi bunga, pemandangannya luar biasa, walau pun istana bangsawan juga tidak bisa seperti ini." Mereka berdua jadi ingin menikmati situasi mempesona ini, lalu bersama-sama mereka meloncat ke alas gunung buatan, sambil ditiup angin malam, berbincang-bincang keindahan kebun bunga

"O-mi-to-hud", terdengar satu suara pujian Budha, dari dalam rimbunnya pohon bambu melangkah keluar seorang hweesio berusia empat puluhan, dia melangkah lalu berhenti di depan gunung buatan berkata:

"Di kuil ini, anda berdua Sicu mana boleh sembarang masuk, malam sudah larut sekali, harap kalian berdua keluar mengikuti jalan semula."

Siau Yam tidak menduga perkataan hweesio ini begitu tidak sopan, maka dengan mendengus, dia berkata:

"Kuil adalah tempat suci, para pengunjung adalah tuannya para hweesio, kami hanya melihat-lihat pemandangan, kenapa kau melarang!"

Hweesio setengah baya itu sedikit tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak, suaranya keras sekali, sampai burung yang pulang kandang pun beterbangan terkejut.

Siau Yam mengangkat alis, menatap hweesio setengah baya yang berteriak:

"Melihat kelakuanmu yang sombong begini, pastilah seorang hweesio murtad yang tidak menuruti aturan Budha, setelah hari ini bertemu dengan aku, kau ini pasti sedang sial, terimalah ini." Tubuhnya ber-kelebat, jarinya secepat angin menyerang kearah dadanya hweesio itu.

Hweesio setengah baya tertawa, kaki dengan ringan bergeser dua langkah ke samping, telapaknya ditegakan seperti pisau, disabetkan kearah pergelangan Siau Yam. Sebuah jurus memotong melintang dia ini, terbilang cukup hebat, pengambilan waktu dan ketepatannya juga sedikit pun tidak salah, sayang yang dia hadapi adalah seorang wanita yang berilmu tinggi, jurusnya walau pun hebat, tapi malah gagal total.

Baru saja sisi telapaknya menempel di pergelangan Siau Yam, mendadak terdengar suara krek... sakit yang menusuk keulu hati, membuat dia tidak tahan menjerit kesakitan, dia balik meloncat kebelakang satu tombak lebih, keringat di atas kepala botaknya, seperti biji kacang bercucuran ke bawah.

Hanya satu jurus lawan telah mematahkan telapaknya, hweesio setengah baya ini tahu dia telah bertemu dengan seorang lawan tangguh, yang seumur hidup dia belum pernah ditemui, dengan menahan sakit sepasang matanya melotot benci pada Siau Yam, lalu membalikan tubuh, meloncat masuk ke dalam rumpun bambu.

Kembali terdengar suara rendah pujian Budha, di dalam hutan bambu melangkah keluar tiga orang hweesio, langkah mereka mantap, melangkah seperti lerbang, dalam waktu sekejap, sudah berhenti lima kaki di d e pan Siau Yam.

Pemimpinnya adalah seorang hweesio tua dengan wajiih seperti cemara tua, rambut dan alisnya sudah putih Kmua, dia memperhatikan Pek Soh-jiu dan Siau Yam sejenak, dengan "kek!" sekali berkata:

"Kuil Pel-liong berkat perlindungan Budha, tidak pernah berselisih dengan teman teman Dunia persilatan, anda dua orang Sicu malam ini tanpa permisi masuk kedalam kuil, pasti ada alasan yang kuat."

Pe k Soh-jiu mengepalkan tangannya berkata: "Kami suami istri tersesat jalan, salah masuk ke dalam kuil anda, atas kecerobohannya, harap guru bisa memaafkannya."

Mendadak hweesio tua itu melototkan matanya, dua sorot matanya yang tajam, menatap pada Siau Yam berkata:

"Tersesat dijalan minta menginap, sebenarnya tidak ada masalah, tapi Sicu wanita ini malah dengan latahnya melukai murid kami yang meronda, ini sepertinya sudah keterlaluan!"

Pek Soh-jiu dengan menyesal berkata:

"Istriku sedikit ceroboh sehingga melukai murid anda, aku disini meminta maaf, tapi kelakuan kasar murid anda terhadap orang yang tersesat, anda juga harus mengajarkan disiplin padanya!"

Hweesio tua berkata dingin:

"Sicu malam-malam masuk ke kuil tanpa izin, tidak terhindar murid yang meronda mencurigai sebagai orang yang bermaksud jahat, walau bertemu dengan aku, juga sama akan timbul kecurigaan. "

Wajah Siau Yam jadi dingin:

"Kalau begitu, hweesio tua mengira kami berdua ini, datang ada maksud tertentu?"

Hweesio tua juga tampak sedikit marah berkata:

"Malam-malam masuk kuil tanpa izin, semba-rangan melukai orang, apakah aku salah pada Sicu?"

Siau Yam berkata: "Kelihatannya di dalam kuil Pek-liong ini, benar-benar tersembunyi banyak jagoan, rupanya kami suami istri tidak sia-sia dalam perjalanan ini."

Masing-masing pihak mempunyai pendirian, keadaannya sudah tidak bisa didamaikan lagi, di belakang hweesio tua, maju melangkah dua langkah dua orang hweesio setengah baya berkata:

"Murid minta izin untuk menghadapi dua orang Sicu ini."

Hweesio tua sedikit menganggukan kepala, dua orang hweesio setengah baya ini segera membalikan tubuh berkata pada Pek Soh-jiu suami istri:

"Bu Can, Bu Ceng, meminta pelajaran dari dua orang Sicu."

Pek Soh-jiu berkata tawar:

"Agama Budha mementingkan pengampunan, kalian berdua buat apa harus menyelesaikan dengan senjata!"

Bu Can bersuara "Hemm!" sekali berkata:

"Jika Sicu mau mematahkan sendiri satu pergelangan, kuil Pek-liong juga tidak ingin melanggar larangan membunuh. "

Pek Soh-ciu menggelengkan kepala mengeluh berkata: "Tidak disangka seorang hweesio, juga seorang yang

suka berkelahi, tidak aneh kekacauan dunia persilatan, selalu tidak ada habisnya!"

Bu Can tidak menjawab lagi, mendadak dia maju ke tengah, sepasang telapak disatukan lalu dibalikan, dengan cepat didorong mendatar ke depan dada. Pek Soh-jiu melihat tenaga dorongan sepasang telapaknya Bu Can, suara anginnya menggelegar, di dalam hati tahu tenaga dalam telapaknya sangat hebat, cepat-cepat dia menarik nafas, lengan kanannya di putar, dengan santainya menyambut datang sepasang telapak Bu Can.

Tenaga kedua belah pihak beradu, terdengar satu suara keras, Bu Can merasakan dadanya seperti dipukul martil besar, "Hek —!" Dia mundur miring beberapa langkah, walau pun dia dapat memaksakan tetap berdiri, tapi wajahnya berubah pucat putih, keadaannya sangat kacau.

Dalam satu jurus dia sudah kalah, Bu Can jadi marah karena malu, dia mencabut golok di punggungnya, mulutnya berteriak keras, meloncat menerjang menyabetkan goloknya.

Pek Soh-jiu memiringkan tubuhnya, telapak kanannya berturut-turut dipukulkan tiga kali, dalam jarak tiga kaki di depan dia, seperti berdiri satu tembok tembaga, sia-sia saja Bu Can memainkan goloknya, tidak bisa menempel sedikitpun pada sudut baju Pek Soh-jiu.

Di tempat lain Bu Ceng juga sedang bertarung sengit melawan Siau Yam, keadaan dia, dibandingkan Bu Can malah lebih mengkhawatirkan, hanya terlihat satu bayangan langsing, bermain-main di dalam bayangan goloknya, bayangan jari tampak malang melintang, memukul melintang menotok lurus, dia kecuali sering menjerit, ingin berhenti pun tidak bisa.

Hweesio tua alis putih tidak menduga sepasang suami istri setengah baya ini, berilmu silat sedemikian tingginya, didalam hati sadar walau pun dirinya maju bertarung, tatap sulit bisa bertahan sampai seratus jurus, sesaat, dia jadi tidak tahu harus berbuat bagaimana. Mendadak, terdengar dua suara gerungan yang tertahan, sinar golok mendadak berhenti, bayangan orang sudah berpisah, dua orang hweesio pesilat tinggi dari kuil Pek- liong„ sama sama terjatuh duduk diatas lapangan rumput, golok mereka telah berada di tangan-nya Pek Soh-jiu suami istri.

Wajah hweesio tua jadi merah padam berkata:

"Ilmu silat Sicu berdua hebat sekali, aku mengaku kalah, tapi kuil Pek-liong memang tempat berkumpulnya para jago, anda berdua jika tidak cepat cepat meninggalkan tempat ini, mungkin akan sangat menyesal. "

Sorot matanya melirik kearah bangunan mewah, dengan mengeluh dalam sekali, lalu membawa Bu Can dan Bu Ceng berjalan masuk ke dalam hutan bambu.

Siau Yam membuang golok ditangannya, sambil tertawa berkata:

"Toako, di dalam bangunan mewah itu, mung-kin tersembunyi seorang jago hebat dunia persilatan, apakah kita perlu melihatnya?"

"Jika sudah masuk ke dalam gunung pusaka, mana mungkin pulang tanpa hasil, jalanlah, kita pergi melihatnya." Dua orang itu sambil bergandengan berjalan menuju ke bangunan mewah itu.

Dua daun pintu besar cat hitam tampak tertutup rapat, sebuah papan yang bertuliskan huruf besar Tee-cui-ki, berwarna kuning mas berkilauan disorot sinar bulan, mereka berdua ragu-ragu sebentar, berdiri cukup lama, liil a k berani menyentuh dua daun pintu besar cat hitam itu.

Mendadak ngeek....., sepasang daun pintu itu terbuka sendirinya, mereka berdua saling berpandangan seka1i, lalu melangkah masuk ke dalam pintu. Di dalamnya ada satu koridor yang panjangnya kira-kira enam tombak, kedua sisinya ada beberapa pintu yang tertutup rapat, setelah melewati koridor, ada satu kebun bunga yang indah, bunganya berwarna warni, ln rium harum yang diantar tiupan angin, dalam keheningan, tampak sangat tenang sekali.

Melintasi kebun bunga ada sebuah gerbang tanpa pintu berbentuk bulan bulat, dua buah lentera istana berselayar, bergoyang goyang ditiup angin.

Di dalam gerbang, berdiri seorang nikoh setengah baya berwajah cantik, tubuhnya langsing, dia melihat sekali pada Pek Soh-jiu dan Siau Yam, dengan kaku berkata:

"Aku Ih-hun, mendapat perintah menyambut tamu agung, Sicu silahkan. " habis bicara tubuhnya melangkah

kesisi pintu, kebutan di tangan pelan diputar, memperagakan posisi mempersilahkan tamu.

Baru saja Pek Soh-jiu dan Siau Yam akan melangkah, mendadak merasakan satu tenaga berputar, seperti gelombang datang menerpa, mereka berdua karena tidak waspada, tubuhnya berhuyung-huyung ditarik oleh tenaga itu, untung saja kepandaian mereka sangat hebat, walau pun di dalam hati tergetar, tapi tetap dengan santainya bisa melangkah masuk ke dalam gerbang itu.

Di sudut mulut Ih-hun tampak tersenyum ringan, dia membalikan tubuh mengikuti dari belakang Siau Yam berkata:

"Majikan ku tinggal di kuil Pek-liong, dalam sepuluh tahun ini sudah banyak tamu yang ingin bertemu, tapi keadaan seperti kalian berdua, sangat jarang terjadi."

"Majikan anda pasti adalah seorang pesilat tinggi yang hebat sekali." Kata Siau Yam dengan tawar. Ih-hun tertawa:

"Sepanjang pengetahuanku, dalam sepuluh tahun terakhir, majikanku belum pernah bertemu orang yang mampu menahan lima jurus serangannya"

"Jika ada begitu banyak teman persilatan yang datang berkunjung, majikanmu kecuali ilmu silatnya hebat, mungkin juga adalah seorang wanita yang cantik sekali?"

ih-hun dengan wajah serius berkata:

"Kata-kata Sicu tidak salah, sayang orang-orang yang berkunjung itu, tidak satu pun bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup hidup. "

Siau Yam mendengarnya sampai tertegun, mendadak teringat seorang wanita iblis di dalam dongeng, tidak tahan hatinya tergerak, berkata:

"Apakah majikan anda itu adalah Hud-bun-it-mo (iblis dari aliran Budha.) Leng-bin-sin-ni (nikoh bermuka dingin)?"

Baru saja Siau Yam berkata habis, disisi telinga-nya tiba- tiba terdengar "Hemm!" dingin, suaranya walau pun kecil, tapi seperti guntur, sampai telinga pun berdengung.

Pek Soh-jiu dan Siau Yam sama-sama merasa hatinya tergetar, mereka berdua tahu iblis wanita yang telah menggemparkan dunia persilatan ini, benar saja bukan orang yang mudah dihadapi.

Ih-hun tersenyum pada mereka berdua berkata:

"Anda berdua silahkan tunggu disini sebentar, .aku sementara pamit dulu." Tidak menunggu mereka menjawab, tubuhnya berkelebat menghilang di belakang timi penghalang angin. Siau Yam melirik pada tirai penghalang angin itu, dengan wajah yang sangat serius berbisik:

"Hud-bun-it-mo, wajah dan hatinya dingin, selain ilmu silatnya hebat, hatinya juga sangat keji, jika kita terpaksa bertarung, maka harus sekuat tenaga menghadapinya."

Dia menghentikan bicaranya sejenak, mengulurkan tangan melepaskan topeng diwajahnya, berkata lagi:

"Kudengar dia tidak suka terhadap orang yang menyembunyikan wajah aslinya, dia menganggap sangat tidak menghormati, walau pun kita belum tentu takut pada dia, tapi lebih baik jangan menimbulkan masalah yang tidak perlu oleh karena hal ini."

Pek Soh-jiu merasa kata-katanya masuk akal, maka dia juga melepaskan topeng diwajahnya, tapi dengan tertawa lepas berkata:

"Seorang nikoh, pasti tidak akan terlalu keji, mungkin kabar itu tidak benar."

Mereka berdua melewati sekat penghalang angin, tampak sebuah ruangan yang mewah, di belakang ruangan ditutupi oleh gorden sutra, tercium samar-samar bau harum, menembus keluar dari celah gorden, seperti tiba di kamar wanita, sama sekali tidak terlihat suasana tempat pendeta.

Baru saja Pek Soh-jiu tertegun, satu angin lembut dengan pelan menggulung gorden, satu sinar biru yang lembut dan warna yang sejuk di mata, membuat mata mereka jadi terang.

Ini adalah satu kamar tidur yang sangat mewah, satu tombak lebih diatas ranjang sutra, duduk seorang nyonya muda yang cantik sekali, wajahnya secantik bunga teratai, tingkahnya sejernih air di musim gugur, dia memakai baju nikoh berwarna biru langit, rambut panjang yang halus, terurai diatas bahunya seperti awan hitam.

Pipinya malah dingin sekali, mengawasi seluruh indranya, juga sulit bisa menemukan sedikit gambaran perasaan, tapi hal ini tidak bisa menutupi kecantikannya, sebaliknya, malah membuat orang merasakan kesuciannya, tinggi tidak terjangkau.

Tapi, seorang wanita yang memakai baju nikoh, tapi memelihara rambut panjang yang halus, sepertinya sedikit mencolok mata orang, yang membuat Pek Soh-jiu keheranan adalah, Hud-bun-it-mo yang menggempar-kan dunia persilatan ini, kelihatannya sangat muda sekali, dan wajahnya, hampir persis sama dengan Siau Yam, seperti terbentuk dari cetakan yang sama saja.

Ketika dia sedang kebingungan memperhatikan, di atas ranjang itu sudah terdengar satu teriakan dingin:

"Apakah Sicu datang berkunjung karena mendengar nama besar?"

Pek Soh-jiu bersoja membungkuk:

"Aku dengan istriku kebetulan lewat di kuil anda, karena menikmati keindahannya Tee-cui-ki, sehingga mengejutkan Cianpwee, atas kecerobohannya, mohon dimaalkan."

"Hemm!" nikoh berwajah dingin itu berkata:

"Jika Sicu sudah masuk ke dalam Tee-cui-ki, aku terpaksa menyambut kedatangannya dengan aturan biasanya," Dia pelan-pelan bangkit berdiri, mengangkat kepala berjalan keluar, terhadap Pek Soh-jiu dan istri, seperti memandangrendah. Pek Soh-jiu dan Siau Yam saling pandang sekali, terpaksa mengikuti dia jalan kepekarangan, dia berhenti dan berkata dingin:

"Aku tidak ingin mengambil keuntungan dari orang muda. kalian berdua majulah bersama-sama."

Pek Soh-jiu tertegun:

"Aku suami istri tidak pernah bertemu muka dengan Cianpwee, buat apa harus menggunakan senjata?"

"Jika sudah masuk ke dalam Tee-cui-ki, maka kau harus mengikuti aturannya."

"Kenapa? Cianpwee, walau pun kami telah mengejutkan anda, tapi itu juga tidak begitu serius sampai harus diselesaikan menggunakan senjata!"

"Sebelum Sicu masuk ke dalam Tee-cui-ki, apakah tidak pernah menyelidik terlebih dahulu?"

"Aku telah katakan, kami suami istri kebetulan lewat kuil anda. "

"Baik disengaja atau pun tidak disengaja, larangan sepuluh tahun, tidak bisa dibatalkan oleh kedatangan sehari. "

"Apa larangan Cianpwee itu?"

"Setiap orang yang masuk ke dalam Tee-cui-ki, jika bisa menahan serangan sepuluh jurusku, boleh bebas meninggalkan tempat ini, jika tidak. "

"Bagaimana?"

"Potong satu lengan, musnahkan ilmu silatnya!" "Ha...ha...ha....sungguh satu larangan yang kejam,

memang tidak salah disebut Hud-bun-it-mo. " Terhadap nyonya muda berpakaian nikoh ini, Pek Soh- ciu sudah merasa sangat sebal, sehingga perkataannya juga jadi tidak mengandung hormat lagi.

Leng-bin-sin-ni menjadi marah dia membentak:

"Bocah yang sombong, aku mau lihat kau berani melanggar masuk ke dalam Tee-cui-ki, sebenarnya punya kemampuan apa." Tangannya mendadak diulur-kan... angin pukulan seperti panah dengan tenaga yang lembut, seperti sebuah jaring langit, menutup ke arah kepala Pek Soh-jiu.

Pek Soh-jiu melihat Leng-bin sinni dengan ringan melayangkan tangannya, tapi tenaganya terasa sangat dahsyat, hatinya merasa terkejut, namun dia memiliki ilmu dari tiga aliran, walau pun mendadak bertemu dengan lawan kuat, tetap bisa bersikap tenang, sekali menggerakan lengannya, pedang Im-cu sudah dicabutnya.

Boom..... dia terdorong mundur beberapa langkah ke belakang, walau pun pedangnya tidak sampai teriepas dari tangannya, tapi lengan kanannya terasa kesemutan, dia baru menyadari wanita iblis ini, memang benar ilmu silatnya sangat tinggi.

Tapi Leng-bin-sin-ni juga tidak mendapat keuntungan besar, tubuhnya juga terhuyung-huyung oleh hawa pedang Pek Soh-jiu, setelah lengan bajunya di kibaskan berturut- turut dua kali, baru dia bisa menstabilkan dirinya. Sepasang matanya menatap dengan seram, hemm... berkata lagi:

"Ternyata Sicu adalah muridnya Sin-ciu-sam-coat, tidak aneh berani kurang ajar padaku, masih ada sembilan jurus, mari kita coba lagi."

Bahunya tidak bergoyang, kaki tidak melangkah, begitu tubuhnya bergoyang, dia sudah maju tiga kaki, tangannya memukul, segulung tenaga dalam yang hangat perlahan menekan ke dada Pek Soh-jiu.

Pek Soh-jiu yang melihat gerakan telapak dia walau pun pelan, tapi diam-diam mengandung jurus mematikan yang tiada taranya, membuat orang seperti minum arak keras, seluruh tubuh merasa tidak bertenaga, tidak tahan hatinya menjadi dingin. Tapi dia tahu jika sampai telapak dia mengenai tubuhnya, dia pasti tidak akan selamat, maka dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, pedang ditangan kanan digerakan seperti kilat, telapak kiri digerakan seperti guntur, dalam satu jurus dia sudah menggunakan jurus pedang Im-cu, dan juga jurus Kong-hong-sam-si, memaksa Leng-bin-sin-ni mundur.

Wajah Leng-bin-sin-ni berubah, lalu mendengus sekali, berkata lagi:

"Sicu sungguh hebat, bersiaplah kembali."

Dua jurus menyerang tanpa hasil, membuat Leng-bin- sin-ni timbul nafsu membunuhnya, sepasang telapak tangan segera bergerak bergantian menyerang, pukulannya mengeluarkan angin keras dan mengeluarkan hawa panas, membuat bajunya Siau Yam yang berdiri satu tombak lebih ikut berkibar-kibar, wajahnya tampak terkejut.

Ini adalah pertarungan sengit yang belum pernah dialami oleh Pek Soh-jiu, dia harus mengerahkan seluruh kemampuannya, sekuat tenaga bertahan sampai sembilan jurus, baju sastrawan yang dipakainya, hampir seluruhnya sudah basah oleh keringat.

Leng-bin-sin-ni sudah mengalami ratusan kali pertarungan, di bawah tangannya yang mulus itu, entah sudah berapa banyak pesilat tinggi ternama yang telah dia kalahkan, tidak di sangka Pek Soh-jiu yang begitu muda malah mampu bertahan sampai sembilan jurus, kejadian ini sungguh membuat dia sangat terkejut.

Pada jurus yang paling terakhir, dia telah mengerahkan seluruh kemampuannya, puluhan tahun berlatih silat dengan keras, begitu tenaga telapaknya baru saja keluar, dunia seperti akan kiamat, seluruh mahluk di bumi, dalam sekejap seluruhnya seperti mati.

Serangan telapak tangan kali ini, sungguh terlalu hebat, Siau Yam yang menonton di pinggir hatinya pun jadi berdebar keras, dia takut Pek Soh-jiu terluka oleh Leng-bin- sin-ni, lengan mulusnya diayunkan, tiga titik bintang dingin melepas kearah dadanya Leng-bin-sin-ni.

Pek-lek-bie-sin-ciam adalah senjata rahasia perguruan Thian-ho yang paling hebat, walau seorang ahli silat yang manapun begitu mendengar nama jarum lembut ini wajahnya akan menjadi pucat, kepandaian Leng-bin-sin-ni yang sangat tinggi pun, tetap harus berhati-hati menghadapinya, jurus yang baru dilakukan setengah jalan, terpaksa di rubah, dia menurunkan pergrlangan tangannya, memutar tubuh, lengan bajunya digetarkan, tiga buah Pek- lek-bie-sin-ciam Siau Yam yang sangat dahsyat itu, semua berhasil digulung ke dalam lengan bajunya, namun karena gerakannya tertahan, Pek Soh jiu jadi bisa menarik nafas, dia melayang mundur lima langkah, jari tengahnya dijentikan, tak... terdengar suara ringan, wajah cantik Leng- bin-sin-ni yang dingin itu, tampak berubah menjadi merah.

Ternyata karena Pek Soh-jiu terdesak mengerahkan tenaga dalam, Pouw-ci-sin-kangnya tidak bisa digerakan dengan sepenuh tenaga, walau pun bisa memecahkan tenaga dalam pelindung tubuh Leng-bin-sin ni, tapi tenaga luncurnya sudah habis begitu menyentuh sasarannya, titik sinar itu dengan tepatnya mengenai tempat yang sangat empuk dan sensitif di bagian dada, hal ini telah membuat Leng-bin-sin-ni yang menjaga tubuhnya sangat suci itu, tenggelam kedalam perasaan yang belum pernah dirasakan.

Siau Yam yang melihat jadi gembira, cepat-cepat mengulurkan tangan menarik Pek Soh-jiu, mereka berdua meloncat kebelakang, dengan beberapa loncatan, mereka melarikan diri menuju kegelapan malam.

Setelah Mereka berdua mendapatkan kudanya, langsung lari keluar puluhan lie, sampai terlihat terang diufuk timur, mereka baru bisa merasakan lega, Siau Yam duduk disisi sebuah pohon, dengan memelas sekali berkata:

"Kau, kau sungguh jahat." Pek Soh-jiu tertegun berkata:

"Aku jahat? Aneh, aku kapan jahat?"

Siau Yam melirik dia dengan mata putih, katanya: "Masih berani berkata tidak jahat, kau membawa orang

semalaman berlari kesana-kemari, sampai kulit mata pun menjadi berat tidak bisa dibuka. "

Pek Soh-ciu duduk disebelahnya, dengan lembut memeluk tubuh Siau Yam, berkata:

"Oh gitu, aku punya satu obat mujarab yang bisa memulihkan rasa lelah, sini, aku berikan padamu!"

Siau Yam mengangkat alis, baru saja mau mengatakan tidak percaya, dua bibir munggil semerah delima itu sudah disumbat olehnya, benar saja ini resep obat yang mujarab, semalaman kelelahan, setelah dicium lama, rasa lelahnya jadi tersapu bersih sedikit pun tidak tersisa, lama. dia baru

mendorong Pek Soh-jiu, tubuh menggeliat, rebah dalam pelukannya berkata: "Hemm, masih berkata tidak jahat, sedikit lagi jahatnya akan keluar minyak." berhenti sejenak, berkata lagi, "Hai, Toako, kau tahu Leng-bin-sin-ni, sebenarnya siapa?"

"Tentu saja tahu, jika tidak bagaimana masih bisa disebut seorang Bulim kelas satu?"

"Kalau begitu siapa dia?" "Hud-bun-it-mo'

"Dan?"

"Leng-bin-sin-ni." "Omong kosong." "Kau tahu?" "Tentu."

"Coba katakan."

"Sepuluh tahun lalu, di dunia persilatan muncul m-orang remaja putri berbaju biru langit, dia cantik tiada duanya, sehingga tidak tahu sudah memikat berapa banyak laki-laki, tapi ilmu silatnya sangat tinggi, hatinya malahan dingin sekali juga sangat kejam, di dalam waktu tidak sampai tiga tahun, para pesilat tinggi dari berbagai aIiran, entah sudah berapa yang mati atau terluka dibawah sepasang tangannya, kemudian tidak tahu apa sebabnya, mawar berduri ini malah menghilang. Menjadi murid Budha, tapi rambut dia dan warna biru langit kesukaannya, tetap menjadi lambang khususnya, dan wajah dingin hati kejam, kecantikannya, tetap tidak memudar, makanya mendapatkan julukan Hud- bun-it-mo, Leng-bin-sin-ni, mengenai bagaimana dia menetap di Pek-Iiong, itu jadi misteri."

Pek Soh-ciu mengeluh: "Kepandaianku berasal dari tiga keluarga, malah tidak bisa menahan sepuluh jurus serangannya, tampak ilmu silatnya sungguh susah di ukur, dalam seperti lautan. "

Siau Yam berkata:

"Semenjak leng bin sin ni masuk kedalam dunia persilatan, hampir belum pernah bertemu dengan lawan seimbang, guruku yang ilmu silatnya sulit diperkirakan, dalam pembicaraan sehari-harinya, juga sangat memuji dia, Toako bisa menahan sepuluh jurus serangannya, sudah cukup menggemparkan dunia."

Pek Soh-jiu membalikan tubuh dia berkata:

"Nama Thian-hoTeng dan gurumu juga telah menggemparkan dunia persilatan, dan di dalam hati semua orang ada rasa ketakutan, ini menjadi teka tekiku, apa sebabnya?"

Siau Yam tertegun:

"hal ini aku sendiri juga tidak jelas     , kita jangan hanya

berbincang saja, carilah makanan untuk mengisi perut."

Pek Soh-jiu melihat Siau Yam tidak mau membicarakan perguruannya, dia tahu pasti ada hal yang sulit dibicarakan, maka dia tidak banyak tanya lagi, pelan-pelan memapah dia, baru saja mau naik keatas kuda, mendadak sebuah garis bayangan merah dengan mengeluarkan suara yang tajam, melesat ke arahnya, bayangan itu berasal dari dalam sebuah hutan lebat disisi jalan, dengan ringan dia mengangkat lengannya, menangkap kearah bayangan merah itu, telapak tangannya merasa panas, hampir saja bayangan merah itu terlepas dari tangannya, cepat-cepat dia melihat kearah telapaknya, telihat sebuah bendera merah berbentuk segi tiga kecil berwarna merah api. Ketika dia bengong tidak mengerti, Siau Yam tiba-tiba berteriak terkejut, seperti melihat ada ular berbisa, wajah cantik yang tadinya kemerah-merahan sekarang malah menjadi pucat.

Pek Soh-jiu terkejut berkata: "Kenapa? Adik Yam."

Siau Yam tidak menjawab, sepasang matanya, menatap ketakutan ke arah sisi hutan, Pek Soh-jiu melihat mengikuti arah pandangannya, barulah dia melihat di bawah bayangan pohon, berdiri tiga orang nona berbaju yang satu ungu yang dua hijau, dan dua nona berbaju hijau itu, adalah Hu-in dan Cu-soat yang pernah bertemu di Hun-sie, dia sekarang mengerti, ternyata nona berbaju ungu itu, adalah saudara seperguruannya dari Thian-ho-leng, dia akan maju ke depan, tapi Siau Yam mencegahnya berkata:

"Toako, kau tunggu disini, biar aku yang bicara dengan dia."

Urusan perguruan orang lain, Pek Soh-jiu tentu saja tidak bisa ikut campur, dia memberikan bendera segi liga merah pada Siau Yam, lalu berdiri dibawah pohon, menunggu perkembangannya.

Siau Yam mendatangi nona berbaju ungu, membungkuk menghormat berkata:

"Apa kabar Ji-suci."

Nona berbaju ungu mendengus dingin:

"Sam-sumoi kapan sudah bersuami? Bisa berkelana di dunia persilatan, begitu mesra, sungguh membuat orang ngiler, tapi segelas arak bahagia pun tidak mengundang Suci meminumnya?"

Siau Yam berkata tawar: "Asalkan Ji-suci mau memberi muka, aku pasti mempersembahkannya."

Wajah nona berbaju ungu tiba-tiba menjadi dingin, katanya:

"Aku tidak seberuntung itu, tapi tiga hal yang guru perintahkan padamu, kau pasti sudah menyelesaikannya, betul?"

Siau Yam dengan gagap berkata:

"Ini. "

"Kenapa, apakah kau sudah melupakan perintah guru?" "Aku tidak berani."

"Lalu sudah menyelesaikan berapa?"

"Harap Ji-suci bisa memaafkan ketidak mampuanku." "Kau berani membangkang perintah guru?"

"Aku tidak ada maksud sedikitpun, tapi. "

"Baik, kau ikut aku pergi menghadap guru." "Dimana guru sekarang?"

"Thian-ciat-leng."

Siau Yam begitu guru tidak keluar gunung, semangatnya naik lagi berkata:

"Aku masih ada urusan yang belum selesai, harap Ji-suci memberi aku waktu beberapa hari."

Nona berbaju ungu berteriak marah: "Kau berani menghianati perguruan?" "Keberanian setinggi langit pun, aku tidak berani melakukan penghianatan pada perguruan, ucapan Ji-suci terlalu serius."

"Kalau begitu, kau ini bertekad tidak mau ikut bersama- sama aku?"

"Harap Ji-suci memaklumi."

"Baiklah, mengingat sama-sama seperguruan, aku tidak memaksa, tapi kekasihmu ini, bagaimana pun aku harus membawanya pergi!"

Wajah Siau Yam berubah:

"Harap Ji-suci jangan terlalu memaksa, perbuatanku, nanti pasti akan kutanggung pada guru untuk menerima hukumannya, tapi masalah hari ini, aku tetap berharap Ji- suci bisa mengabulkannya."

Nona berbaju ungu tertawa dingin:

"Baik, baik, karena Sam-sumoi sudah berhasil mempelajari seluruh kepandaian guru, kita kakak beradik bisa saling mengujinya."

Tangan mulusnya langsung diayunkan, segera timbul angin kencang, Pek Soh-jiu yang berdiri sejauh satu tombak lebih, juga merasakan seperti dilanda oleh tenaga yang berhawa dingin, tapi Siau Yam sepertinya tidak begitu peduli pada jurus telapak yang hebat ini, hanya setengah memutar tubuhnya, dia sudah menghindar serangan ini, lengan kirinya diputar, telapaknya membalas menyerang ke arah tulang iga kiri nona berbaju ungu.

Nona berbaju ungu mendengus, dia menarik tangannya lalu memotong dengan kuat kearah perge-langan tangan Siau Yam, kaki kanannya menendang ke alas, diujung kakinya yang mulus ternyata dipasang besi tajam, menendang kearah dada Siau Yam.

Begitu mereka bertarung dalam sekejap lima puluh jurus lebih sudah lewat, kedua belah pihak walau pun saling mengerahkan jurus jurus hebat, tapi karena masing-masing pihak hafal akan ilmu silat lawannya, selalu hanya sekali menyentuh langsung menghindar, sekali menyerang langsung ditarik kembali, keadaannya sulit bisa menentukan siapa menang siapa kalah.

Setelah bertarung lama tidak ada hasilnya, nona berbaju ungu seperti sudah tidak sabaran lagi, mendadak dia merubah jurusnya, setiap jurusnya mengeluar kan gemuruh angin dan kilat, serangannya sangat dahsyat sekali.

Siau Yam juga mengerahkan seluruh kemampuannya, setiap gerakan sepasang telapak tangannya, mengeluarkan suara siulan yang memekakan telinga, dua orang kakak beradik seperguruan ini, ilmu silatnya seimbang, bertarung tidak ada keputusannya.

Dengan satu teriakan keras, pertarungan di lapangan akhirnya berhenti, Pek Soh-jiu melihat Siau Yam diam berdiri di sisi kiri jalan, baju dibahu kanannya robek, diatas dadanya yang padat itu, ada titik-titik merah bekas darah, tidak tahan dia jadi berteriak terkejut, dia meloncat maju, mengangkat lengannya Siau Yam berkata:

"Adik Yam, bagaimana lukamu? Cepat......biar aku lihat."

Wajah Siau Yam, terkilas senyum kebahagiaan, sepasang mata cantiknya sedikit memejam, dengan lembut menyandar keatas dadanya Pek Soh-jiu berkata:

"Tidak apa-apa, aku hanya terluka ringan, Toako, kita pergi saja." Pek Soh-jiu berkata baik, sambil memeluk Siau Yam mereka berjalan menuju ke tempat berhentinya kuda, dia melihat kebelakang pada nona berbaju ungu, terlihat wajah dia putih pucat, dadanya kembang kempis dengan cepat, luka yang diderita, sepertinya lebih parah dari pada Siau Yam, mendadak hatinya bergerak, dia melepaskan Siau Yam, sekali meloncat satu tombak lebih, pada nona baju ungu bersoja:

"Nona. "

Nona berbaju ungu mendadak mengangkat kepala, berkata dingin:

"Apakah kau ingin menghabisi aku? Hemm, walau Giok Ie-ko terluka parah, tapi kau belum tentu bisa mengambil keuntungan."

Pek Soh-jiu tertawa:

"Aku tidak biasa memukul anjing yang jatuh ke air, nona Giok tidak perlu cemas."

"Hemm, lalu kenapa menghadang jalanku?"

"Aku punya beberapa hal yang tidak mengerti, ingin meminta jawaban dari nona Giok."

"Giok Ie-ko selamanya tidak pernah terima ancaman, anda lebih baik tutup mulut saja."

"Aku memohon dengan hormat, kenapa nona Giok terus menolaknya!"

"Hemm. "

"Guru anda menugaskan istriku tiga hal penting, . apakah nona Giok bisa beri tahukan apa isinya?"

"Anda bisa tanyakan saja pada istri anda, Giok Ie-ko tidak bisa menjawabnya." "Istriku tidak berniat mengkhianati perguruannya, nona tanpa penyelidikan terlebih dulu, malah bertarung dengan sesama perguruan, aku sungguh sangat tidak setuju dengan nona."

"Masalah perguruanku, orang luar tidak perlu ikut campur, harap anda tahu diri."

"Jika nona Giok bersikeras tidak mau memberi tahukan, aku juga tidak akan bertanya, tapi, tidak peduli siapa pun, jika berani melukai sehelai rambut istriku, aku pasti membalasnya sepuluh kali lipat."

"Sungguh bermulut besar, sayang perguruan Thian-ho bukan lawan yang bisa anda takut takuti!"

Saat ini Siau Yam sudah datang kesamping Pek Soh-jiu, dengan lembut menarik lengan Pek Soh-jiu berkata:

"Toako! Urusan kita masih banyak, buat apa berkata sia- sia, mari jalan."

Pek Soh-jiu merasakan tangannya Siau Yam, sedikit gemetaran, lalu melihat wajahnya, tampak sangat gelisah, tidak tahan dia jadi terkejut, katanya:

"Ada apa? Adik Yam! Apakah merasa sakit lukanya?" "Aku baik-baik saja! Tempat ini tidak baik untuk tinggal

lama-lama, lebih baik kita pergi saja."

"Kenapa? Sam -sumoi tidak mau bertemu dengan Toa- suci, betul tidak?"

Tiba-tiba seorang wanita baju merah, memimpin dua belas laki-laki besar berbaju ketat melangkah keluar dari dalam hutan, dia menyebut dirinya Toa-suci, pasti adalah Toa-sucinya Siau Yam. Ditangannya membawa sebuah bendera merah bertiang besi yang panjangnya sekitar tiga kaki, matanya menyorot sekali pada Pek Soh-jiu, di sudut mulutnya tampak sebuah senyum dingin mengerikan, kemudian bendera merahnya dikibaskan, dua belas laki-laki besar yang tangan kiri memegang tameng, tangan kanan memegang golok, segera mengurung Pek Soh-jiu dan Siau Yam.

Siau Yam menegakan tubuhnya, menghormat sekali pada wanita baju merah berkata:

"Siau Yam menghadap Toa-suci."

Wanita baju merah menjawab yaa sekali berkata:

"Tidak berani, sampai guru pun kau pandang sebelah mata, bagaimana bisa memandang aku."

Siau Yam batuk perlahan, berkata:

"Aku tidak menghianati perguruan, Toa-suci.    "

Wanita baju merah mencibirkan bibirnya:

"Kalau begitu tiga hal penting yang diperintah guru padamu, pasti telah berhasil kau laksanakan!"

"Toaci, kalian berdua terus menerus menekan aku dengan tiga hal penting yang guru perintahkan padaku, aku tanya pada Toa-suci apakah tahu batas waktu yang di tentukan guru padaku untuk menyelesai-kan tiga hal penting itu?"

"Aku memang belum pernah mendengar beliau mengatakannya."

"Kalau begitu Toa-suci tidak perlu karena ingin bersenang-senang sesaat, jadi memperbesar masalahnya."

"Sungguh mulut yang tajam sekali, walau lidahmu bisa berkembang bunga teratai, tetap saja tidak bisa menghindar dari hukuman menipu guru, dimulut berkata iya tapi kelakuannya bertentangan!" "Aku tidak berniat mengambil keuntungan sedikit pun dari bersilat lidah, tapi jika Toa-suci bersikukuh mengatakannya, terpaksa persilahkan Ji-suci untuk bertanggung jawab atas memperlambatnya penyelidikan."

Walau wanita baju merah diperintahkan untuk menyelidiki tingkahnya Siau Yam, tapi tidak berani menanggung tanggung jawab terlambatnya penyelidikan, maka begitu mendengar ini dia jadi tertegun, lalu dengan wajah tersenyum berkata:

"Kalau demikian, jadi ini semua salahku, tapi jika tidak perhatikan masalah tidak apa-apa, begitu memperhatikan masalah maka akan jadi kacau, kata-kataku tadi, semuanya berniat baik. "

Wanita baju merah mengibaskan lengan mulusnya, dua belas laki-laki besar baju silat, segera mundur kebelakang dirinya, dia melirik pada Pek Soh-jiu berkata:

"Siauhiap ini......kenapa tidak Sam-sumoi perkenalkan padaku?"

Siau Yam sudah menduga Toa-sucinya pasti akan menanyakan hal ini, dengan tersenyum tenang berkata:

"Siauhiap ini adalah Ciu-bu muridnya Leng-bin-sin-ni, aku juga baru berkenalan."

Wanita baju merah berkata yaa sekali, sepasang matanya yang besar dan dalam itu, menatap pada Pek Soh-jiu berkata:

"Ciu Siauhiap ternyata adalah muridnya Leng-bin-sin-ni

.... Wie Pui-hoa sungguh tidak sopan."

Pek Soh-jiu bersifat sombong dan kaku, juga tidak biasa berbohong, apa lagi terhadap wanita cantik yang tidak dikenal, lebih-lebih merasa canggung. Siau Yam melihat Pek Soh-jiu terdesak malu, cepat-cepat mewakili menjawab:

"Ciu Siauhiap baru berkelana ke dunia persilatan, tidak pandai bicara, harap Toa-suci memakluminya."

Saat ini Giok Ie-ko sudah selesai mengobati lukanya dia mendengus padd,Wie Pui-hoa berkata:

"Aku tadi pernah melihat bocah Yam dengan bocah itu......hemm, sangat menggelikan membuat orang ingin muntah. "

Wie Pui-hoa mendadak membelalakan matanya, di sudut mulutnya tampak senyum dingin penuh siasat berkata:

"Apa jawaban Sam-sumoi terhadap ini?" Wajah Siau Yam berubah berkata:

"Guru mengutus aku berkelana ke dunia persilatan, tidak membatasi tingkah laku pribadiku, terhadap masalah ini aku tidak ingin membahasnya lebih lanjut."

Wie Pui-hoa berkata dingin:

"Guru perintahkan aku menyelidiki para murid perguruan kita, boleh melakukan tindakan apapun, jika Sam-sumoi tidak mau menjelaskannya, aku terpaksa persilahkan Ciu Siauhiap datang ke Thian-ciat-leng."

"Toa-suci mempersulit orang saja, maaf aku tidak bisa menerimanya."

Wie Pui-hoa berteriak lalu berkata:

"Perintah Thian-ho sekali keluar, seperti guru sendiri yang datang, jika Sam-sumoi berani tidak memandang perintah bendera dari perguruan, maka maafkan aku jika tidak pedulikan hubungan kita sebagai saudara seperguruan." Perkataannya belum habis, mendadak dia maju dua langkah, lengan kanannya diayunkan, sebuah sinar merah yang menyilaukan mata, secepat kilat menggulung kearah dada Siau Yam.

Dalam hati Siau Yam tahu masalah hari ini, pasti tidak akan bisa diselesaikan baik-baik, untungnya bukan gurunya sendiri yang datang, jika dia dengan suaminya bersama- sama menghadapi, mungkin bisa lolos dari maut, saat melihat Wie Pui-hoa menyerang dengan gulungan bendera, segera dia menyabetkan pedang panjangnya, dengan cepat menyerang kearah jalan darah Kut-cie, Kiam-keng, Hian-ki, Hu-tiong.

Tapi Wie Pui-hoa adalah murid pertama dari Thian-ho- leng, murid kesayangannya Ang-kun-giok-hui, di dunia persilatan orang yang dapat menandinginya hanya bisa di hitung jari, walau Siau Yam satu perguruan dengan dia, tetap saja merasa kewalahan menghadapinya, tapi dia sudah tidak pedulikan lagi hidup atau mati, demi cintanya yang abadi, akibat apa pun yang terjadi, dia tidak akan ragu ragu lagi, dia sudah jelas tahu ilmu silat Wie Pui-hoa lebih tinggi darinya, makanya begitu menyerang, dia langsung menggunakan jurus nekad biar sama-sama terluka.

"He...he...he!" Wie Pui-hoa tertawa dingin berkata, "Kenapa Sam-sumoi! Suci hanya mewakili guru memberi pelajaran padamu, kau malah bertarung mati matian! Kita kakak beradik, tidak perlu bertarung mengadu nyawa."

Dimulutnya bicara enteng, tapi jurusnya sangat keji sekali, benderanya menyerang malang melintang, setiap jurusnya adalah jurus mematikan, hanya terlihat beribu-ribu bayangan bendera, angin pukulannya bergerak ke segala penjuru, dengan tekanan sebesar gunung dari empat penjuru menyerang kearah Siau Yam. Dalam hati Siau Yam tahu bendera Thian-ho di tangan Wie Pui-hoa, adalah senjata terhebat perguruan yang dikagumi di dunia persilatan, bukan hanya jurusnya saja yang banyak tipuan, tiang benderanya juga terbuat dari baja murni berumur ribuan tahun, walau pun ditangannya ada golok pusaka, jangan harap bisa merusakannya, selain itu benderanya telah diolesi racun. asalkan terkena sedikit saja, meski tenaga dalamnya lebih tinggi pun akan sia-sia, tapi saat ini dia seperti anak panah sudah ditarik diatas busur, mau tidak mau harus dilepaskan, terpaksa dia mengerahkan seluruh kemampuannya, mencari celah menghindar serangan utama, sebisanya bertahan, Pek Soh- jiu melihat keadaannya menjadi gelisah, dia berteriak keras, menerjang maju ke arah Wie Pui-hoa, tapi Giok Ie-ko hanya tertawa dingin, dia menghadang Pek Soh-jiu dan berkata:

"Ji-ie-sin-kang (tenaga sakti dua penampilan) nya Leng- bin-sin-ni, adalah salah satu ilmu silat misterius dunia persilatan, Giok Ie-ko ingin mencoba beberapa jurus dari Ciu Siauhiap, supaya aku bisa menambah pengalaman."

Pek Soh-jiu tidak mau bicara banyak lagi, dia mengangkat alisnya, telapak kanan melancarkan jurus Hong-kan-wie-lauw (Angin menggetarkan loteng), sebuah jurus mematikan yang dahasyat dari tiga jurus Kong-hong- sam-si, telah menerjang ke arah dadanya Giok le-ko, hati Giok Ie-ko tergetar, kakinya cepat-cepat menjejak, tubuh direbahkan, akhirnya dia dapat menghindar dari serangan yang dahsyat ini, tapi wajahnya, tampak berubah jadi ketakutan.

Mendadak, terdengar suara ssst.....ssst.    berkali kali dari

empat penjuru arah, di lapangan pertarungan lelah muncul banyak sekali pesilat tinggi yang bertopeng hitam, membuat lapangan pertarungan yang penuh hawa kematian ini, bertambah selapis hawa setan yang dingin mengerikan.

Pohon dan rumput bergoyang tanpa ada angin, sepuluh lebih orang yang bertopeng dengan membawa kotak besi hitam, pelan-pelan mendesak ke medan pertarungan.

Pek Soh-jiu dan istri serta dua murid dari perguruan Thian-ho, semuanya terkejut oleh perubahan yang terjadi ini, beberapa saat kemudian Wie Pui-hoa berteriak dan berkata dingin:

"Apa maksud kedatangan kalian?"

Disaat ini dari belakang pohon keluar seorang bertopeng yang bertubuh tinggi besar, sepasang matanya yang seperti bintang dingin, menyapu ke seluruh lapangan, lalu berkata:

"Maaf, nona! Jika kau berkenan, boleh tidak usah melibatkan diri."

Wie Pui-hoa mencibirkan bibirnya:

"Begitu muncul Thian-ho, dunia persilatan menyembahnya, anda berani sekali menyuruh aku jangan melibatkan diri, keberaniannya sungguh besar sekali."

Orang bertopeng itu berkata lagi pada Wie Pui-hoa dengan menggunakan ilmu penghantar suara, lalu tertawa berkata:

"Pergilah nona! Di dalam radius seratus li ini, sudah tidak ada satu tempat pun yang aman, sekali kami melakukan serangan, maka tidak terhindar akan mengejutkan anda!"

Wie Pui-hoa memutar matanya, lalu berkata: "Baik!", dan pada Siau Yam sambil menekan wajahnya berkata, "Sejarah akan kembali terulang, bocah Yam! Ikutlah dengan Suci baru kau dapat menyelamat-kan nyawa kecilmu, dengarlah kata-kataku, kemarilah."

Siau Yam tertawa keras sambil mengangkat kepalanya berkata:

"Sejarah akan terulang kembali sungguh bagus... terima kasih Toa-suci, aku berniat menghadapi para pesilat tinggi ini."

Wie Pui-hoa sedikit tertegun berkata: "Jika Sam-sumoi berkepala batu seperti ini, kek, Suci jadi sulit membantu." Dia melihat pada Siau Yam dengan perasaan sayang, lalu membalikan tubuh pergi, membawa para anak buahnya.

Setelah orang-orang Thian-ho-leng meninggalkan tempat, Siau Yam tahu orang-orang bertopeng ini segera akan melakukan serangan, pada Pek Soh-jiu yang sedang mengerutkan alisnya dia berbisik:

"Toako! Para bangsat ini mengerahkan banyak orang, bertekat menangkap kita, kekuatan kita terbatas, sepertinya tidak baik bertarung dengan mereka. "

Kejadian berdarah perumahan Leng-in dulu, sudah membuat Pek Soh-jiu marah sekali, pada saat ini, sekarang, bagaimana dia mau mendengar analisanya Siau Yam, diiringi sebuah teriakan marah yang seperti guntur di musim semi, sinar pedang seperti bintang dingin yang melayang di langit, dengan gerakan tubuh yang cepatnya sulit dibayangkan, dia menerjang ke arah orang bertopeng yang tubuhnya tinggi besar itu.

Siau Yam terkejut sekali, dia cepat-cepat mengejarnya, sepasang telapaknya diayun-ayunkan, sinar perak berkelebat, Pek-lek-bie-sin-ciam yang halus yang jumlahnya tidak terhitung, di bawah serangan seluruh tenaganya, menyerang ke arah menusia bertopeng yang di tangannya memegang Ngo-tok-tui-hun-cian.

Orang-orang bertopeng yang ada dilapangan, semua perhatiannya sedang tertuju pada Pek Soh-jiu, tidak menduga Siau Yam bisa menyerang lebih dulu, dua genggam senjata rahasia dari Thian-ho-leng, seperti hujan angin tiba-tiba datang menyerang, sepuluh lebih orang bertopeng yang memegang kotak besi, dalam sekejap sudah jatuh setengahnya, beberapa yang tersisa juga ketakutan sampai bengong, wajahnya menjadi pucat tidak berdarah.

Beberapa kejadian ini waktunya sangat singkat, saat mereka sadar kembali, Pek Soh-jiu sudah menerjang sampai di depan orang bertopeng yang rubuhnya tinggi besar, dendam kematian ayah terus terbayang, api amarah di dalam dada, membuat dia lupa akan kesela-matan dirinya.

Hawa pedangnya sedang membelah angin, tenaga yang seperti golok menerjang kearah dada orang bertopeng itu, terjangan pedang yang amat dahsyat ini, sepertinya membuat angin dan awan berubah drastis, langit dan bumi seperti kehilangan warna.

Tapi ilmu silatnya salah seorang bertopeng itu, tidak kalah dengan seorang ahli silat biasa, meski terkejut sampai hati berdebar oleh kedahsyatannya serangan Pek Soh-jiu. Tapi bagaimana pun juga dia adalah seorang penjahat besar, akhirnya dia bisa juga menggerakan senjatanya, sebuah Kui-jiu (Tangan setan) berhasil menahan tekanan dahsyat hawa pedangnya Pek Soh-jiu, setelah mementahkan hawa pedang yang seperti dahsayat seperti gunung runtuh itu, lalu dia mencoba menotok kearah jalan darah Pek Soh-jiu.

Pek Soh-jiu bersiul rendah, mendadak dia melangkah miring dua langkah, pedangnya dipindah-kan ketangan kiri, pergelangan tangan kanannya digetarkan, sebuah Hong-ie (Bulu burung hong) yang panjangnya tiga kaki, dengan gerakan Loan-tian-huanyang (burung sembarang menghitung) menerjang keluar, bersamaan itu tangan kirinya diayunkan, sinar perak berkelebat miring, dengan tangan kiri memegang pedang, tangan kanan memegang bulu, dia mengerah-kan dua macam ilmu silat yang menggemparkan dunia persilatan, segera menekan orang bertopeng, hingga masuk ke dalam keadaan bahaya.

Mendadak, ssst...ssst...ssst, di dalam teriakan, berturut- turut meloncat keluar lima orang bertopeng, sinar golok berkilat-kilat, bersamaan menyerang dengan dahsyat pada Pek Soh-ciu. Siau Yam yang melihat jadi gelisah, dia tidak bisa lagi mengawasi orang-orang bertopeng yang memegang Ngo-tok-tui-hun-cian, mulutnya berteriak keras:

"Bangsat, beraninya hanya main keroyokan, kalian tahu malu tidak!" pedang digetarkan, masing masing menyerang titik kematiannya tiga orang bertopeng.

Orang bertopeng yang bertarung dengan Pek Soh-jiu, mendadak mengeluarkan siulan aneh, jurus Kui-jiu nya berubah, menyesuaikan dengan serangan dua orang lainnya, kembali mengambil alih posisi diatas angin.

Siau Yam jadi bertarung dengan tiga orang bertopeng, dia bergerak santai mengayunkan pedang-nya, tapi ketika dia melirik kearah Pek Soh-jiu, tidak tahan hatinya jadi tergetar.

Saat ini yang mengeroyok Pek Soh-jiu adalah tiga orang bertopeng, jurus-jurus mereka tampak sangat hebat, sepertinya ilmu silat mereka diatas latihan puluhan tahun.

Setelah melihat lagi bayangan orang disekeliling, mereka ini sungguh-sungguh adalah para pesilat tinggi yang banyaknya sulit dihitung, menebar di dalam radius puluhan lie, ada yang terang-terangan ada yang menggelap, kelihatannya peristiwa perumahan Leng-in akan terulang kembali, keadaannya malah lebih berbahaya melebihi waktu itu.

Satu aliran hawa dingin, masuk kearah hatinya, dia sadar, ini bukanlah permusuhan dunia persilatan yang biasa, tapi sebuah siasat busuk menakutkan yang bisa berhenti jika ada satu pihak yang mati.

Maka, dia tidak berharap lagi bisa beruntung lolos, mendadak dia menghimpun hawa murninya, pedang panjangnya tambah bersinar menyilaukan mata, dengan sebelah tangan dia membuat lubang di dada dua orang bertopeng sampai tergeletak mati diatas tanah, lalu dia mengayunkan telapak kirinya, seorang bertopeng lagi mati terkena serangan Pek-lek-bie-sin-ciam.

Begitu dia bergerak, berturut-turut telah membunuh tiga orang pesilat tinggi lawan, tapi dia bukan saja tidak bisa berkumpul dengan Pek Soh-jiu, malah telah dikepung oleh lautan manusia.

Keadaannya Pek Soh-jiu lebih bahaya dari pada Siau Yam, tiga orang bertopeng yang mengeroyok dia, semuanya berilmu sangat tinggi, apalagi orang bertopeng yang tubuhnya tinggi besar, ilmu silatnya sangat hebat, tiga orang itu berkerja sama dengan baik sekali, sedikit celah pun tidak ada.

Matahari sudah merah miring ke barat, waktu-nya telah lewat tengah hari, di lapangan gunung liar ini, tetap tertutup oleh bau amis darah yang kejam. Siau Yam sedang bertahan sekuat tenaga, walau setiap gerakan pedangnya, tentu membuat darah dan daging berterbangan, tapi para orang bertopeng makin bertambah terus, membuat tetap bertahan dengan lautan menusia yang menakutkan. Mendadak, sebuah teriakan yang menakutkan terdengar, hati Siau Yam tergetar, dia tahu Pek Soh-jiu sudah terluka, maka dia berteriak keras, segenggam Pek-lek-bie-sin-ciam segera dilepaskan, sepasang kakinya menjejak, pinggang langsingnya diputar, tubuhnya meloncat ke atas, menerjang kearah para orang ber topeng yang mengeroyok Pek Soh- jiu.

Ternyata tiga orang pesilat bertopeng yang mengeroyok Pek Soh-jiu, dengan posisi tiga lawan satu, masih tetap tidak bisa mengambil keuntungan.

Mereka lalu memberi isyarat gelap, mendadak menyerang satu jurus, kemudian tubuhnya dengan cepat mundur kebelakang satu tombak lebih, bersamaan itu terdengar suara ringan, pang. panah beracun secepat kilat

menyerang ke arah punggung belakangnya Pek Soh-jiu.

Pek Soh-jiu terkejut, lengan kirinya bergerak, pedang panjangnya mengeluarkan hawa pedang yang amat kuat, menyapu kearah panah beracun itu, bersamaan kaki menghentak, cepat laksana kilat Hong-ie nya digetarkan, menotok kearah dada orang ber-topeng yang menggunakan golok yang berada di sebelah kiri.

Gerakan dia sangat cepat sekali, orang bertopeng itu sama sekali tidak menduga dalam ancaman serangan panah beracun, dia masih mampu membalas serangan, maka segera terdengar satu jeritan mengerikan, Hong-ie di tangan Pek Soh-ciu telah menembus dadanya, namun lengan kiri dia pun terasa sakit yang amat sangat, traang.      pedang

panjangnya dijatuhkan di atas batu gunung, di dalam hati dia tahu lengan kirinya telah terluka oleh panah beracun, cepat-cepat dia menotok jalan darah Jang-koan-hiat di lengan kiri, menghambat aliran racunnya, lalu membelitkan Hong-ie dipinggang, dengan cepat mengeluarkan Pouw- long-tui dari dalam dadanya, mulutnya bersiul panjang, menerjang kearah orang-orang bertopeng.

Sinar hitam tampak bergulung-gulung seperti naga bermain, dia menyapu melintang memukul lurus, berkelebat di seluruh lapangan, Pouw-long-tui nya menimbulkan suara guntur dan hawa panas, mematahkan kaki tangan lawan, membuat daerah yang berbau amis darah ini, lebih mengerikan seratus kali dari pada neraka.

Orang-orang bertopeng jadi ketakutan, di bawah sapuan Pouw-long-tui, mereka pontang panting melarikan diri ke dalam hutan, maka pertarungan sengit pun berakhir, tapi meninggalkan keadaan yang mengerikan..

0-0dw0-0