PSDLL Bab 02 : Putra-putri dunia persilatan

 
Bab 02 : Putra-putri dunia persilatan

Sai Hong terkejut, dia tidak menduga dalam satu jurus saja, dia sudah tertekan tidak bisa membalas menyerang oleh orang bertopeng hitam, dalam keadaan marah sekali dan menggigit gigi, gada emasnya segera dilemparkan olehnya, lemparannya menggunakan seluruh tenaganya, terlihat sinar mas berputar-putar cepat, mengeluarkan siulan yang membelah udara, dan dahsyat sekali.

Orang bertopeng itu tidak menduga Sai Hong bisa melemparkan senjata andalannya, sesaat dia dibuat kalang kabut, tapi ilmu silat orang ini memang hebat, dalam waktu yang sempit, dia merendahkan tubuhnya, tangannya memukul, meski tergesa-gesa memukul dengan sebelah tangan, terdengar satu suara keras, senjata tunggal Sai Hong yang menggemparkan dunia persilatan itu, sudah terpukul terbang sejauh tiga tombak lebih.

"Sobat, masih ada ini." Tiga titik bayangan hitam melesat, seperti meteor mengejar rembulan, menuju dada orang bertopeng, dan titik yang dituju bayangan hitam itu, semuanya jalan darah penting yang begitu terkena paling sedikit akan terluka parah atau mati.

Hati orang bertopeng itu tergetar, dia tahu bayangan hitam itu adalah senjata gelap Giam-ong-leng andalannya Sai Hong yang telah mem-buat dirinya ternama di dunia persilatan, walau pun ilmu silat dia hebat, tapi dia tidak berani bertindak sembrono, dia memutar tubuhnya, melangkah ke samping, menghindarkan tiga buah Giam- ong-leng.

Begitu lemparannya tidak mengenai sasaran, Sai Hong mulai merasa ketakutan, dia langsung melayangkan tangan kanan lagi, tiga buah Giam-ong-leng dengan garis melengkung dan kecepatan tinggi, membelah angin menerjang, diikuti dengan ayunan tangan kirinya, enam titik hitam seperti hujan menyebar, mengikuti tiga buah Giam-ong-leng, mengeluarkan suitan, datang menyerang. Sai Hong bisa ternama di dunia persilatan, memang bukan secara beruntung, cara dia menyerang seperti ini, tiga terbang enam memukul, memang punya kehebatan tersendiri, walau orang bertopeng itu berilmu tinggi, tetap saja tidak bisa menghindar dari serangan Ciam-ong-leng, setelah mengeluarkan satu suara tertahan, dia langsung roboh di atas tanah rumput.

Wanita berbaju hitam itu sedikit terkejut, dia tidak mempedulikan hidup mati anak buahnya, sorot matanya malah menyapu pada Sai-wa-siang-sat yang berdiri paling dekat dengan Sai Hong, pendeta To Cu-koan yang mengeluarkan suara dengusan, lalu membalikkan kepala pada tiga orang bertopeng yang berdiri dibelakangnya, dia berkata:

"Tiga orang ini berani melihat orang mati tidak menolong, habisi mereka!"

Tiga orang bertopeng itu menyahut lalu maju menerjang, mereka sedikit pun tidak bersuara, masing-masing langsung menyerang Sai-wa-siang-sat bertiga, pendeta To Cu-koan tentu saja memandang sebelah mata orang bertopeng itu, tapi Pek-san-han-tiok Sun San-yat lukanya belum pulih, mana bisa melawan orang bertopeng, walau pun sudah sekuat tenaga bertahan, tetap saja dia kewalahan.

Wanita baju hitam melihat keseluruh lapangan, mulutnya mengeluarkan tawa dingin, tidak terlihat bagaimana dia bergerak, tahu-tahu tubuhnya seperti roh melayang datang di depan Giam-ong-leng Sai Hong, pelan- pelan mengulurkan sebelah tangannya yang putih seperti giok, memukul ke arah dadanya Sai Hong, bersamaan waktunya dia membentak: "Kau berani membunuh pengawalku, kau sangat lancang, apakah kau tahu bagaimana caraku menghukum musuhku?"

Terhadap ketua perkumpulan misterius yang bertopeng ini, Sai Hong sudah wanti-wanti dari tadi, saat ini dia berturut-turut mengeluarkan lima jurus serangan, dia sudah merubah gerakan tiga kali, tapi tangan cantik yang mulus itu, tetap seperti belatung menempel di tulang, bagaimana pun caranya, dia tidak bisa melepaskan diri.

Wajahnya jadi dingin, seperti seorang terhukum menunggu eksekusi, baju emasnya yang berkilauan, sudah basah kuyup oleh keringat, kaki melangkah dengan terpaksa sambil sempoyongan menghindarkan diri, tapi semua sudah kacau tidak teratur, dia tahu tangan mulus yang terus menempel dekat dadanya itu, asalkan dihentakan sekali, atau jari mufps yang seperti giok itu, jika memukul kedepan dengan tenaga dalam, maka raja neraka dunia yang namanya termasyur di dunia persilatan, akan langsung melapor kehadirannya di istana neraka.

Tapi wanita baju hitam tidak buru-buru mengambil nyawanya, seperti kucing mempermain kan tikus sesukanya, lama... dia dengan sekali bersuara hm... dingin berkata:

"Pertama aku ingin kau merasakan seramnya menemui ajal, aku akan mencongkel mata, memutuskan lengan, memotong lidah menghancur kan tulang, setelah aku puas, he he he, baru aku membunuhmu. "

Giam-ong-leng Sai Hong tahu keadaannya tidak bisa dihindarkan, supaya tidak disiksa lawan, dia malah menggigit gigi, tubuhnya maju menyam-but ujung jari dia.

"Hi hi hi!" wanita baju hitam tertawa berkata, "Kau ingin mati? Tidak akan begitu gampang, siapa pun yang berani melawan aku, akibatnya harus merasakan, mau mati atau hidup pun sulit, kau juga tentu tidak terkecuali! Tapi, kau tenang saja, bagaimana pun akhirnya kau pasti mati, buat apa terburu-buru sekarang!"

Pek Soh-ciu menonton di pinggir cukup lama, dia tidak menduga wanita baju hitam itu, mempunyai ilmu silat yang begitu tinggi, tapi kekejaman hatinya, juga seumur hidup baru dilihatnya, memang Giam-ong-leng Sai Hong juga bukan orang baik, hanya saja cara kejamnya wanita baju hitam ini, sungguh membuat dia tidak bisa menerimanya.

Su Lam-ceng sudah tahu maksud hatinya, lengannya dijulurkan, menggait tangan dia berkata:

"Kelompok orang ini tidak satu pun yang bertujuan baik pada kita, dengan susah payah aku sudah membuat mereka seperti anjing berkelahi dengan anjing, menghibur sedikit kekesalan hati kita, jadi kau jangan memisahkan mereka, itu tidak boleh, apa lagi jika permusuhan mereka semakin dalam, itu akan lebih menguntungkan kita, Ciu koko, kau jangan bertindak lemah seperti seorang wanita."

Habis bicara dia memelotot genit pada Pek Soh-ciu, lalu memanggil Su-sik dan Hu-cen ke depan dirinya, membisikan beberapa kata di telinga mereka, dua pelayan wanita itu langsung membalikkan tubuh dengan cepat berlari pergi.

Pertarungan ditengah lapangan, keadaannya sudah jadi berat sebelah, kecuali pendeta To Cu-koan masih menggerakan pedangnya dengan lincah, bertarung imbang dengan seorang bertopeng, Say-gwa-siang-hiap yang lainnya sudah dalam posisi berbahaya.

Mendadak... "Berhenti semua!" sepuluh lebih pesilat tinggi Kai-pang dengan baju compang-camping ratusan tambalan, diringi teriakan menerjang masuk lapangan, yang memimpin adalah seorang laki-laki besar dengan wajah bersemangat, kening seperti burung walet, wajahnya berewokan berusia setengah baya, dari penampilannya yang gagah, tampak sangat disegani orang.

Begitu wanita baju hitam melihat laki-laki besar setengah baya, wajahnya sedikit bengong, Giam-ong-leng Sai Hong menggunakan lawannya sedang bengong dia berguling, akhirnya dia terlepas dari kendali wanita baju hitam itu.

Saat ini pertarungan yang terjadi di lapangan jadi berhenti, laki-laki besar berewokan dengan sepasang mata bersinar seperti kilat, menatap wanita baju hitam dengan nada dalam berkata:

"Cu Kwan-cing, kau melakukan kejahatan lagi..."

Wanita baju hitam mengangkat tangan, membetulkan rambut yang ada di keningnya, gerakannya membuat orang terpesona, mulutnya bersuara "Yow...!" lalu berkata, "Ada apa? Sute! Kau malah mengurusi urusan Suci?"

Laki-laki besar berewokan berkata dingin: "Siapa Sutemu? Hm... aku sebagai Kai-pang Pangcu, sudah mengejarmu puluhan ribu lie demi membalaskan dendam perguruan. "

"Yaaw. Sangguan Sute, mengapa kau begitu galak, ada

masalah apa, bicaralah baik-baik, Suci tidak akan mengecewakanmu."

Laki-laki besar brewokan mengangkat kepalanya, sambil tertawa keras berkata:

"Perbuatan membunuh guru dan mengkhianati perkumpulan akan membuat nama busuk tersebar kemana- mana, para murid Kai-pang dan semua orang mgin sekali menangkapmu, kau masih berani bertebal muka dan tidak tahu malu, mengaku dirimu Sucinya k etua perkumpulan?'

Cu Kwan-cing tampak marah oleh tingkah laki-laki berewokan itu, bajunya jadi bergerak-gerak meskipun Inlak ada angin, sepasang telapaknya pelan-pelan diangkat sambil memusatkan tenaga dalamnya siap menyerang.

Para pesilat tinggi yang ada di lapangan, melihat tenaga dalam Cu Kwan-cing sangat hebat, wajah semua orang berubah, laki-laki berewokan itu sedapat mungkin bersikap tenang, diam-diam dia juga memusatkan tenaga dalamnya, bersiap menyambut serangan dari Cu Kwan-

Kedua belah pihak tampak bersitegang, pertarungan berdarah tampaknya akan berlangsung sebentar lagi, tapi Cu Kwan-cing tiba-tiba mengeluh panjang dan sedih, sepasang telapaknya yang mulus pelan-pelan diturunkan lagi dan berkata:

"Sangguan Ceng-hun, Cu Kwan-cing sudah menjelajahi seluruh dunia persilatan, dan tidak pernah terkalahkan, sampai detik ini belum pernah melihat orang yang berani bicara lantang dihadapanku, hai... mengingat hubungan kita di masa lalu, kau pergilah. "

"Ha ha ha!" Sangguan Ceng-hun tertawa keras, "Pergi. ?

Boleh, tapi aku harus meminjam sebuah benda darimu untuk sembahyang guru."

"Hm. !" Cu Kwan-cing berkata dengan dingin,

"kau ingin pinjam apa?"

"Kepala murid pengkhianat yang membunuh guru." "Bagus, jika kau bersikeras ingin mati, Cu Kwan-cing akan mengabulkan, hayo kita bertarung di luar."

Habis berkata begitu, tubuhnya sudah meloncat setinggi dua tombak lebih, pinggangnya di putar, seperti seekor burung hitam yang amat besar, hanya sekelebat, sudah keluar seperti menembus langit.

Para pesilat tinggi di lapangan, seperti tidak mau ketinggalan menyaksikan pertarungan yang amat jarang terjadi ini, mereka semua melontat berlari mengikuti para murid Kai-pang, dalam sekejap, halaman tempat bertarung para pesilat tinggi ini, sudah menjadi tenang kembali.

Melihat para pesilat tinggi sudah menghilang Su Lam- ceng cepat menarik lengan baju Pek Soh-ciu berkata:

"Ciu koko, biarkan mereka saling membunuh, kita pergi saja."

Pek Soh-ciu menggelengkan kepala:

"Beberapa orang bertopeng hitam itu, mungkin ada hubungannya dengan peristiwa berdarah di perumahan Leng-in, apa tujuan kita berkelana di dunia persilatan? Mana bisa melepaskan kesempatan yang baik ini di lewatkan begitu saja?"

"Kelompok orang ini kebanyakan datang untuk Pouw- long-tui, jika saat ini kita tidak pergi, pasti akan mendatangkan kerepotan yang tidak ada habis-habisnya."

Pek Soh-ciu tertawa:

"Jika takut kerepotan, lebih baik jangan ber-kelana di dunia persilatan, apa lagi... walau pun kita sekarang bisa pergi, belum tentu bisa lolos dari pengejaran mereka." "Kek!" Su Lam-ceng batuk sekali, "baiklah, tapi ingat, jika kita menemukan bahaya, kau harus ingat mundur kearah tenggara."

Pek Soh-ciu tidak mengerti:

"Mengapa harus mundur kearah tenggara?"

Su Lam-ceng mengalengkan tangannya berjalan keluar dari pos persinggahan, katanya:

"Jangan tanya dulu, sampai waktunya kau akan tahu sendiri."

Terhadap keberanian dan kepintarannya Su Lam-ceng, Pek Soh-ciu sudah cukup hapal, jadi dia tidak banyak bertanya lagi, dua orang itu bertuntunan tangan, berlari menuju lapangan yang berada di luar pos persinggahan.

Saat itu Cu Kwan-cing dengan Sangguan Ceng-hun sedang bertarung sengit, kedua orang itu sama-sama pesilat tinggi dunia persilatan yang paling tinggi kedudukannya, setiap gerakan tangan atau kakinya, semua adalah serangan yang mematikan, hampir semua orang menjulurkan lidah dan mengagumi tontonan yang berbahaya ini.

Pek Soh-ciu juga tertarik oleh kehebatan ilmu silat kedua orang ini, angin pukulan mereka yang keras meniup baju putihnya sampai berkibar-kibar, dia memperhatikan dengan seksama dan di dalam hati mengerti bagaimana gerak dan tujuan jurusnya, tapi dia sudah bisa melihat, walau dua orang ini dari satu perguruan, jelas tenaga dalamnya Sangguan Ceng-hun masih kalah satu urat, di dalam lima ratus jurus, dia pasti akan dikalahkan oleh Cu Kwan-cing, terhadap Kai-pang Pangcu yang berkharisma ini, dia mempunyai perasaan dan pandangan baik, mungkin karena orang tuanya mati oleh orang bertopeng, jadi dia merasa sebal, sehingga, diam-diam dia sudah memusatkan tenaga dalamnya, di saat perlu dia sudah memutuskan akan bergerak membantu.

Kepandaian Cu Kwan-cing memang sudah sampai pada tingkat yang mengejutkan orang, setelah lewat tiga puluh jurus, dia sudah sepenuhnya menguasai pertarungan, di antara serangan jari dan telapaknya, semua mengarah pada jalan darah mematikan pada Sangguan Ceng-hun, jurusnya dahsyat dan kejam.

Suatu ketika sebuah pukulan Sangguan Ceng-hun tidak berhasil mengenai lawannya, tubuhnya sedikit doyong ke depan, Cu Kwan-cing tidak menyia-nyiakan kesempatan bagus ini, berturut-turut dia melancarkan tiga pukulan telapak tangannya, setiap jurusnya mengandung tenaga yang bisa menghancurkan batu dan besi, membuat Sangguan Ceng-hun harus bertahan sekuat tenaga, tubuhnya sampai terhuyung-huyung menyelamatkan diri.

Melihat kemenangan sudah diatas tangannya, Cu Kwan- cing tidak tahan lalu bersiul panjang, mendadak dia menyatukan jari seperti tombak, dengan tenaga sepenuhnya ditonjokkan pada jalan darah Hian-ki di dada Sangguan Ceng-hun, jurus ini di lancarkan dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, walau tubuh Sangguan Ceng-hun terbuat dari besi, tampaknya sulit bisa menahan totokan mematikan yang akan menembus dadanya.

Tapi... tiba-tiba sebuah sinar putih menyilaukan mata, bertenaga tidak terlihat seperti gelombang membawa angin aneh yang amat dahsyat, seperti datang dari langit luar menghadang serangan Cu Kwan-cing, hadangan ini membuat tubuh Cu Kwan-cing yang langsing seperti batang pohon Liu yang lemah bergoyang goyang, serangan jarinya yang tidak bisa ditahan, jadi menotok ke tempat yang kosong. Ini kejadian aneh yang sulit bisa dipercaya orang, Cu Kwan-cing juga jadi berhenti bergerak karena terkejut, dia melihat Pek Soh-ciu yang berada didepan satu tombak lebih, wajahnya jadi terbengong-bengong.

Pek Soh-ciu dengan santai, berkata tawar: "Pertarungan antara kalian memang masalah Internal perkumpulan anda, tidak ada hubungannya dengan aku, tapi aku ada satu masalah ingin nona Cu memberi jawaban yang jelas, sehingga, terpaksa mempersilahkan kalian beristirahat sebentar!"

"Hm...!" Cu Kwan-cing berkata, "Anda ada masalah apa, apakah tidak bisa menunggu sampai kami selesai bertarung?"

"Tidak bisa, jika Shang Goan Pangcu tidak memberi kesempatan kau bicara, bukankah aku akan menyesal kehilangan kesempatan bagus ini!"

"Hm...!" dengan dingin Cu Kwan-cing berkata, "maksudmu aku bisa mati ditangan dia?"

"Dalam pertarungan perubahannya sulit diduga, jadi sulit bisa dikatakan."

"He... mundurlah, lihat saja dalam seratus jurus aku akan mengambil nyawanya."

"Jika nona yakin bisa menang, setiap saat pun bisa memenangkannya, kita membicarakan lebih dulu masalah aku juga tidak apa-apa kan?"

"Baik, katakanlah, aku ingin lihat kau ada siasat apa." "Aku dengar nona mengaku sebagai ketua perkumpulan

apa itu Oh Kai-pang."

"Sembarangan bicara, aku adalah ketua Kai-pang, siapa yang memberitahu jahat atau tidak jahat?" "Aku mendengar dari jalanan, jahat atau tidak jahat memang tidak ada hubungan denganku, tapi aku dengar nona mempunyai sebuah senjata gelap yang amat keji, yang disebut Ngo-tok-tui-hun-cian, apa betul?"

Cu Kwan-cing sepertinya! sudah tidak sabaran, dia berkata:

"Tidak salah, perkumpulanku memang punya senjata rahasia ini, tapi tidak pernah meminjamkan pada orang lain, saudara kecil jika perlu senjata ini, kita bisa membicarakannya."

Wajah Pek Soh-ciu menjadi dingin, katanya:

"Ngo-tok-tui-hun-cian perkumpulanmu tidak pernah dipinjamkan pada orang lain, kalau begitu orang yang secara menggelap menyerang Sin-ciu-sam-coat, perkumpulanmu pasti ikut terlibat didalamnya."

Cu Kwan-cing sedikit terbengong:

"Apa kau putranya Thian-yat-it-kiam Pek Tayhiap, salah satu dari Sin-ciu-sam-coat? Kau ingin menyelidiki pembunuh ayahmu?"

"Betul."

"Aku dengar saat itu perguruan yang terlibat di dalamnya tidak sedikit!"

"Orang she Pek tidak akan segan-segan, mencuci dunia persilatan dengan darah."

Cu Kwan-cing tertawa genit seperti mutiara berjalan di piring giok, katanya:

"Di dunia persilatan banyak sekali orang pintar yang berkemampuan hebat dan berilmu tinggi, saudara kecil bicara seperti ini, tidakkah merasa terlalu menyombongkan diri?" Pek Soh-ciu mengangkat alis pedangnya: "Maksudmu, kau mengaku telah terlibat dalam peristiwa berdarah itu."

Cu Kwan-cing membuka lebar sepasang matanya: "Kapan aku pernah mengatakan demikian, kau jangan salah paham."

Satu hawa pembunuhan menghiasi wajah Pek Soh-ciu, dia tidak mau lagi berbicara panjang lebar, kakinya dihentakkan, sebelah tangannya diulurkan, lima jarinya mengeluarkan suitan tajam yang mengerikan, secepat kilat menangkap pergelangan Cu Kwan-cing.

Dia seperti sembarangan menyerang, tapi akibatnya sangat dahsyat sekali, Cu Kwan-cing berteriak terkejut, sepasang kakinya dijejakkan, tubuhnya terbang mundur, kecepatan reaksinya, sudah mencapai taraf sekali terlintas niat langsung bergerak, tapi ssst... suara robek kain terdengar, lengan baju Cu Kwan-cing, tetap terkoyak sebagian.

Dengan kepandaian Cu Kwan-cing yang begitu hebat hanya dalam satu jurus lengan bajunya telah robek, para pesilat tinggi yang melihat di lapangan tidak satu pun tidak mengeluarkan keringat dingin dan wajah terkesima, dalam hati Cu Kwan-cing sendiri diam-diam mengeluarkan keringat dingin, tapi dia juga merasa ini adalah sebuah penghinaan yang besar, maka dia pelan-pelan mengulurkan jari yang seperti bawang muda, putih bagaikan giok, terdengar suara perlahan, dia malah membuka sendiri topeng hitam yang menutupi wajahnya.

Seluruh pesilat tinggi di lapangan baik dari aliran lurus maupun sesat, semua terperangah oleh tindakannya yang mengejutkan ini, entah apa maksudnya? Tidak ada seorang pun yang bisa menjawabnya, satu-satunya alasan yang bisa dihubung-kan, mungkin dia ingin memperlihatkan bahwa kecantikannya melebihi kecantikan Su Lam-ceng.

Dengan menghilangnya topeng, wajah yang ditampilkan adalah wajah yang membuat orang tergila-gila, wajah yang sedikit terasa putih pucat, dihiasi oleh sepasang mata yang menggiurkan orang, hidung yang mancung lurus, serasi dengan mulut munggil dan bibir tipis, dua alis panjang yang melengkung hingga ke pelipis, cantiknya hingga ahli perias wajah juga tidak bisa menandinginya.

Sebenarnya, dari pada mengatakan dia cantik, lebih tepat mengatakan dia cabul, melihat alisnya diangkat miring, sudut mata melirik penuh arti, pipi tersenyum menantang, dan masih ada dua lesung pipi yang membuat orang mabuk, pinggangnya yang langsing berputar, bokong besarnya ikut bergoyang, seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah, hampir tidak satu tempat pun mengeluarkan daya magis yang membuat tulang orang menjadi lemas, hati menjadi gemas.

Tapi ini adalah iblis yang menggoda, tidak bisa dibandingkan dengan keanggunannya Su Lam-ceng, buat laki-laki di seluruh dunia kebanyakan mempunyai sifat rendah yang suka mengejar bau busuk, wanita seperti Cu Kwan-cing adalah wanita yang cantik yang tiada taranya, genit menggiurkan, setiap gerakan dan senyumnya, semua membuat orang jadi lupa diri, sehingga, tidak sedikit orang tidak segan membuang nyawa, Cuma hanya ingin mendapatkan tubuhnya.

Dua orang wanita cantik yang tiada duanya ini, seperti bunga di musim semi, bulan di musim gugur, masing- masing ada keunggulannya, mereka bersamaan iampil di pos persinggahan, di lapangan yang sepi yang tidak banyak orang, para pesilat tinggi dunia persilatan yang berada di lapangan, matanya berkunang-kunang, hatinya berdebar- debar, bengong dan seperti mabuk.

Mata Cu Kwan-cing melihat kesekeliling, dia tertawa genit dengan bangga, lalu menghadap pada Pek Soh-ciu, berkata:

"Saat terjadi peristiwa berdarah di perumahan Leng-in, ratusan pesilat yang berilmu tinggi terlibat didalamnya, tidak satu pun ada yang selamat, jika aku ikut terlibat dalam penyerangan itu, tidak mungkin aku masih hidup sampai sekarang, jadi ikut tidaknya aku dalam serangan gelap pada Sin-ciu-sam-coat, dengan sendirinya tidak perlu ditanyakan."

Pek Soh-ciu tertegun sebentar, dengan tetap dingin berkata:

"Walau benar kau tidak ikut dalam penyerangan, tapi tidak bisa lolos dari dugaan ikut merencanakan, tapi jika kau bisa mengatakan otak yang menjadi penyerang perumahan Leng-in, aku bisa memberi satu jalan hidup buatmu."

Wajah Cu Kwan-cing berubah, dia berkata: "Saudara kecil bagaimana bisa memaksa orang seperti ini, dengan terpaksa Cu Kwan-cing ingin melihat kehebatan ilmu silat Sin-ciu-sam-coat."

Baru saja habis berkata, sepasang tangannya seperti kilat datang menotok, baru saja bergerak setengah jalan, mendadak sepasang tangannya pecah menjadi dua arah, ke atas menyerang kepala, ke bawah menyerang perut, satu jurus dua serangan, kecepatannya tidak bisa di bayangkan.

Pek Soh-ciu mendengus, dia berdiri memasang kuda- kuda, saat sepasang telapaknya menangkis, dia berturut turut balas menyerang tiga kali...semenjak dia telah berhasil melancarkan jalan darah atas dan bawahnya, menembus jalan darah Jin dan Tok, kehebatan tenaga dalamnya sudah tidak bisa dibayang-kan, saat ini begitu dia mengerahkan tenaga dalamnya, dia merasakan tenaga dalamnya seperti mata air mengalir seperti gelombang, walau jurus Cu Kwan-cing aneh dan banyak tipuan, tapi begitu bertemu dengan tekanan yang sangat besar ini, dia tidak bisa leluasa melancarkan keunggulan jurusnya.

Sebentar saja mereka sudah bergebrak hampir mencapai seratus jurus, Cu Kwan-cing menyerang mengandalkan gerakan lincahnya, mencari celah menempuh bahaya, sekuat tenaga dia bertahan, wajahnya yang putih bersih, sudah berkeringat, dia tahu jika keadaan terus begitu, dia sendiri pasti akan mendapat malu, dalam hatinya, dia merasa sangat gelisah sekali.

Tiba-tiba... datang bergulung-gulung asap merah dari arah Tong-koan, dalam sekejap seluruh lapangan sudah tertutup oleh asap merah itu, Pek Soh-ciu dan seluruh pesilat tinggi di lapangan, semua terkurung oleh asap merah, semerah darah itu.

Kejadian mendadak ini, membuat seluruh pesilat tinggi di lapangan menjadi terkejut ketakutan, Pek Soh-ciu khawatir Su Lam-ceng terancam bahaya, buru-buru dia mengayunkan telapaknya membuat Cu Kwan-cing mundur, lalu berkelebat meloncat ke samping Su Lam-Ceng, dia tetap sambil memusatkan tenaga dalamnya, dengan tenang menunggu perubahan yang terjadi.

Di lapangan sangat hening, hanya di dalam asap merah terdengar suara ssst... ssst... belum lagi suara aneh Itu berhenti, tiga orang aneh berbaju merah telah muncul dari dalam asap merah. Yang memimpin adalah seorang ini bertubuh besar dan tegap, wajahnya putih dengan jenggot perak, di sebelah kirinya berdiri seorang tua berwajah mirip kuda tidak berjenggot, tubuhnya kurus kering, matanya menggantung bertangan satu, di sebelah kanannya ada seorang kerdil berbaju merah, berwajah seperti wajah bayi, berkepala sangat besar.

Di antara para pesilat tinggi di lapangan, walau pun terdapat tidak sedikit ketua ditempatnya dan namanya termasyur di dunia persilatan, tapi begitu melihat tiga orang aneh berbaju merah ini, semua wajahnya berubah hebat, tubuhnya tidak tahan jadi gemetar, ternyata tiga orang itu adalah pembunuh dunia persilatan yang berjuluk Cu-lay- sam-koay (Tiga aneh misterius) dari perguruan Thian-ho, mereka tadinya adalah tiga orang gembong penjahat yang bergerak sendiri-sendiri. Entah sejak kapan sudah bergabung dengan perguruan Thian-ho.

Perguruan Thian-ho adalah sebuah organisasi misterius bagi setiap orang yang begitu mendengar namanya saja sudah merinding ketakutan.

Di dunia persilatan memang banyak orang yang berbakat, mereka memiliki kepandaian lebih dari orang lain, tapi terhadap perguruan Thian-ho mereka hanya tahu sedikit, tidak tahu seberapa besar kekuatannya, saat ini, mereka melihat Cu-lay-sam-koay sekaligus dengan ratusan anak buah pesilat tinggi dari Thian-kong-ti-sam-tin (Barisan inti tiga bintang dari tujuh bintang), mereka mau tidak mau jadi menarik nafas dalam-dalam!

Orang tua berjenggot perak, adalah Toakonya Cu-lay- sam-koay, namanya Keng lt-ci, saat ini matanya yang seperti elang menyapu ke sekeliling lapangan, Kemudian mengeluarkan suara siulan panjang yang memekakan telinga, lalu berkata: "Bertarung di tempat persinggahan, di bukit terlantar ini membicarakan ilmu silat, kalian sungguh bisa menikmati hidup!"

Oh-siucay Liu Giauw-kun dengan tertawa terpaksa, mengepal tangan membungkuk:

"Keng-heng sudah lama kita tidak bertemu, hari ini kebetulan aku lewat disini, jadi sekalian menonton keramaian, jika Keng-heng merasa terganggu, aku akan segera pamit pergi."

Keng It-ci membelalakan sepasang matanya, dia tertawa aneh, katanya:

"Ketua Ling adalah orang yang banyak pengalamannya, apakah lupa aturan perguruan Thian-bo?"

Tubuh Liu Giauw-kun bergetar:

"Aku dengan kalian bersaudara sudah bertemu beberapa kali, Keng-heng......kau tidak seharusnya membuat aku malu."

"Ha ha ha!" Keng It-ci tertawa terbahak katanya, Ketua Ci-yan yang namanya sangat termasyur di dunia persilatan, ternyata seorang pengecut yang takut mati, sungguh membuat orang she Keng kecewa sekali."

Perkataannya berhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi "Siapa pun orang yang terkurung didalam Thian-kong-ti-

sam-tin, jika bukan menyerah maka bagiannya adalah mati,

ini adalah aturan keras perkumpulan kami, nah saudara Ling kenal dengan ketua cabang kami, orang she keng juga tidak bisa mengecualikannya."

Cu Kwan-cing melihat Keng It-ci tidak memberi jalan padanya, dia jadi tidak tahan maju ke depan, berkata: "Cu-lay-sam-koay jangan menganggap tiap orang yang bisa ditekan, Thian-kong-ti-sam-tin, belum tentu bisa menahan orang yang berada di lapangan ini, aku lihat saudara Keng lebih baik tarik saja keinginanmu, supaya tidak merusak hubungan diantara kita!"

Keng It-ci berkata dingin:

"Cu-lay-sam-koay tentu saja tidak bisa di bandingkan dengan ketua Kai-pang yang sahabatnya ada dimana-mana, tapi aturan perguruan Thian-ho sangat tegas, walau orang she keng ada niat membantu, tapi takut tidak ada gunanya bagi kalian."

Cu Kwan-cing membentak:

"Keng It-ci, kau benar-benar tidak tahu arti persahabatan!" sambil dia membentak, dia sudah melangkah maju dua langkah, mengulurkan lengannya yang telah robek lengan bajunya, berlagak genit, sorot matanya menyorot sinar cabul, penampilannya membuat orang terangsang.

Sorot mata Keng It-ci jadi membara, dia melotot pada tubuh Cu Kwan-cing dengan penuh gairah, otot diwajahnya bergerak-gerak, sikapnya gelisah, dia seperti sudah terpengaruh oleh lagak cabul Cu Kwan-cing, tapi masih tidak berani melanggar aturan perguruan, sehingga wajahnya penuh dengan keraguan.

Seluruh pesilat tinggi di lapangan, tidak ada satu pun yang tidak pernah mengalami keadaan bahaya, pengalamannya sudah banyak, mereka melihat lagak Cu Kwan-cing, mereka tidak melepaskan kesempatan bagus yang sulit didapat ini, sehingga dibawah bentakan Cu Kwan-cing, Say-gwa-siang-hiap pertama-tama bergerak, pendeta To Cu-koan, Oh Kai-pang, perkumpulan Ci-yan, murid-murid Kai-pang, dan juga Giam-ong-leng Sai Hong dan kawan-kawan, seperti harimau ganas terlepas dari kurungan, semuanya menerjang keluar, sesaat pertarungan pun terjadi, masing-masing aliran berlari seperti serigala mengejar mangsanya, membuat keadaannya menjadi kacau balau.

Tapi Thian-kong-ti-sam-tin, memang punya kekuatan yang tidak bisa di perkirakan orang, baru saja para pesilat tinggi bergerak, terlihat asap merah bergulung-gulung, dalam sekejap api berterbangan ke segala arah, para anak buah dari masing-masing aliran, tidak sedikit yang roboh dan tewas di bawah ayunan senjata dan panah beracun tanpa ampun.

Suara jeritan mengerikan terdengar ramai, satu persatu tubuh yang menyemburkan darah, dari atas jatuh ke tanah, di lapangan terjadi penjagalan yang sadis dan mengerikan, tapi keinginan untuk hidup yang besar, membuat mereka menerjang tanpa berhenti, walau pun sadar ini seperti telur menghantam batu, mereka tetap mencari celah kehidupan yang mungkin bisa didapat, di dalam pertarungan berdarah yang sengit ini, hanya ada dua orang yang tidak ikut dalam pertarungan gila ini, mereka berdampingan dengan eratnya, kadang saling memandang dan mengeluarkan tawa pahit yang perlahan.

Lama... sepasang mata Su Lam-ceng sedikit ditutup, dengan mengeluh sedih berkata:

"Orang-orang ini jika tidak tahu ilmu barisan, mengapa masih bersikeras maju mengantarkan nyawa?"

Dalam hati Pek Soh-ciu tergerak berkata: "Toakomu mengatakan ilmu pengetahuanmu amat luas, apakah kau tahu cara menghancurkan Thian-long-ti-sam-tin ini?" Su Lam-ceng tertawa kecil, berkata: "Kau jangan dengar, dia sembarangan bicara, aku hanya sedikit belajar ilmu barisan." Perkataannya terhenti sejanak lalu berkata lagi:

"Ini adalah Su-hiang-ho-tu-tin (Barisan empat lukisan peta sungai), diluar dipecah empat gambar, di dalam ada sembilan perubahan, api datang gali lubang, air penuh tinggalkan perahu, sayang pintunya tidak jelas, gerakannya masih kurang lancar, untuk memecah-kannya semudah membalikan telapak tangan."

Dalam hati Pek Soh-ciu merasa senang, saat akan menanyakan cara memecahkannya, para murid dari masing-masing aliran, semuanya sudah mundur kembali, satu persatu wajahnya pucat pasi, wajahnya penuh dengan warna kecewa.

Sorot mata Keng It-ci menyapu kesekeliling: "He......he......he!" tertawa dingin, "Thian-ho muncul,

semua perkumpulan menyembah, kalian jika tahu diri, lebih

baik menyerah saja!"

Walau para pesilat tinggi dilapangan merasa marah, tapi tidak ada satu pun yang berani tampil keluar, membiarkan angin sedih hujan pahit, menutupi lapangan yang dipenuhi oleh asap merah ini.

Cu Kwan-cing tidak salah disebut sebagai setan wanita sepanjang masa, dalarn keadaan berbahaya seperti ini, dia tetap masih bisa memperhatikan sepasang suami istri remaja yang berdiri dengan tenang. Terhadap kejadian di depan mata, mereka seperti tidak melihatnya, saat ini tidak ada seorang pun berani menjawab kata-kata Keng It-ci, dia malah memberi satu senyuman genit pada Pek Soh-ciu berkata: "Anggota tubuh berterbangan, bau amis darah menyebar keseluruh lapangan, saudara kecil! Kau malah sedikit pun tidak merasa terganggu?"

Pek Soh-ciu belum sempat menjawab, Su Lam-ceng sudah melanjutkan berkata:

"Cici, apakah mereka semua mau mendengarkan kata- katamu?"

Cu Kwan-cing bengong katanya:

"Siapa yang kau maksud akan mendengar kata-kataku?"

Su Lam-ceng menunjuk pada para pesilat tinggi dilapangan berkata:

"Jika mereka mau menuruti kata-katamu, aku bisa membawa kalian keluar dari barisan ini."

Sejenak Cu Kwan-cing tertawa genit:

"Adik kecil! Apa kata-katamu sungguh-sungguh?"

Pembicaraan mereka berdua, tidak bedanya seperti sebuah obor yang menerangi kegelapan, membuat orang- orang yang sudah putus harapan, seperti mendapat kehidupan baru, Oh-siucay Liu Giauw-kun perama-tama yang maju ke depan Su Lam-ceng, berkata:

"Jika nona bisa memimpin kami keluar dari barisan ini, perkumpulan Ci-yan akan menuruti perintah.?

Ketua Kai-pang Sangguan Ceng-hun, juga dengan suara lantang berkata:

"Jika nona ada perintah apa, Kai-pang akan berada di depan."

Su Lam-ceng melihat para pesilat tinggi ini semua mau perintah, maka dia menyuruh Cu Kwan-cing menyampaikan kepada masing masing perkumpulan caranya keluar dari barisan, sesudah itu dia tertawa pada Pek Soh-ciu. Kepada pendeta To Cu-koan, dan Say-gwa- siang-hiap berkata:

"Kalian di pecah jadi tiga grup menahan Cu-lay-sam- koay, perkumpulan lainnya, menurut cara yang telah disampaikan, segera membongkar barisan keluar dari kepungan."

Pek Soh-ciu melihat dia memberi tugas pada dirinya untuk bertarung dengan Cu-lay-sam-koay, tidak tahan dia jadi merasa kebingungan, tapi Su Lam-ceng sambil tersenyum berkata:

"Ciu koko! Kita jalan." Habis bicara, langsung melangkah jalan, menuju ke depan Keng It-ci.

Pek Soh-ciu terkejut, sepasang kakinya dihentakan, secepat anak panah terlepas dari busurnya, tubuhnya seperti kuda terbang, melewati Su Lam-ceng, berdiri didepan Keng It-ci.

Ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui dia, saat ini digerakan dengan sepenuh tenaga, gerakannya seperti segaris asap tipis, sampai penjahat seperti Keng It-ci, juga hatinya tidak tahan bergetar keras, ketika sepasang matanya melihat wajah Pek Soh-ciu, kembali langkahnya seperti dipaksa melangkah mundur dua langkah oleh karismanya, setelah dia menenangkan hati, dengan dingin dia berteriak: "Bocah kau cari mati?"

Pek Soh-ciu menegakan telapaknya seperti pisau, di dorong ke depan sejajar dengan dada, jurus Hong-han-wie- lau (Angin jahat menggoyang gedung) dengan cepat dilancarkan, mulutnya membentak:

"Aku masih ingin hidup." Dalam hati Keng It-ci sadar walau Pek Soh ciu masih berusia muda, tapi ilmu silatnya sudah mencapai taraf yang mengejutkan orang, buru-buru dia memiringkan tubuh, menghindarkan jurus yang bisa menghancurkan batu ini, di ikuti sebelah tangannya diayunkan, menotok ke jalan darah Ki-bun yang berada d ibawah dadanya.

Pek Soh-ciu tidak mau menyia-nyiakan waktu, begitu menyerang dia langsung mengeluarkan jurus hebat Sin-ciu- sam-coat. Karena dua jalan darah Jin dan Toknya sudah tembus, setiap jurusnya yang dilancarkan hebatnya jadi berlipat-lipat, laksana angin topan, badai salju yang menerjang.

Keng It-ci terkejut bukan kepalang, dia tidak menduga di tempat yang terpencil ini, bisa bertemu dengan seorang pesilat muda yang ilmu silatnya tidak bisa di ukur dan sangat hebat. Kelihatannya gelombang belakang sungai Tiang-kang mendorong gelombang didepan, generasi baru menggantikan generasi lama, mungkin sudah waktunya dia mengundurkan diri.

Tapi buat Cu-lay-sam-koay yang orang-orangnya berhati keji dan kejam, saat dia loncat menghindar, dia pelihat Su Lam-ceng sedang berdiri satu tombak lebih darinya, sepasang matanya dengan jernih sedang bergerak-gerak, menatap pada Pek Soh-ciu dengan rasa cinta yang besar, hati Keng It-ci jadi tergerak melihat itu, mendadak dia memutar pinggangnya meloncat miring, sekali meloncat jauhnya satu tombak lebih, lima jari dijulurkan, dengan kecepatan laksana kilat, dengan kuat mencengkram bahu Su Lam-ceng.

Perubahan besar ini diluar dugaan Pek Soh-ciu, ketika dia berteriak keras maju mengejar, tapi lima jari Keng It-ci seperti baja, sudah hampir menyentuh bahunya Su Lam- ceng, didalam hati Pek Soh-ciu diam-diam teriak "Habislah", jika Su Lam-ceng jatuh ke tangan lawan, seluruh persoalannya akan jadi sia-sia!

Tetapi, kejadian di dunia sering timbul hal yang tidak diduga, di luar perkiraan orang. Terlihat bayangan orang berkelebat, tahu-tahu tangkapan Keng It-ci telah menemui tempat kosong.

Pek Soh-ciu jadi melotot bengong tidak mengerti, bagaimana pun berpikir dia tidak bisa mendapatkan jawabannya, Su Lam-ceng ternyata bisa meloloskan diri dari cengkraman lawan, Keng It-ci lebih-lebih terkejut, mulutnya sampai menge-luarkan suara liih... hatinya jadi menciut.

Di dalam hati dia tahu jika dia tidak bisa segera menangkap Su Lam-ceng, hari ini mungkin dia akan mengalami kekalahan, maka dia segera menggerakan sepasang tangan, cepat laksana angin ribut, segera mengurung Su Lam-ceng dalam bayangan telapaknya, tapi... keinginan dia tetap saja tidak membuahkan hasil, terlihat baju berkibar dan tubuh Su Lam-ceng seperti melayang layang, persis seperti ikan bermain didalam air, sia-sia saja dia mempunyai ilmu silat tinggi, malah sampai ujung bajunya Su Lam-ceng juga tidak bisa menyentuhnya.

Pek Soh-ciu juga terpesona oleh gerakan kaki Su Lam- ceng yang teratur melangkah, malah dengan pikiran takjub dia melihatnya, hingga lupa maju menyelamatkan dia dari bahaya.

Mendadak terdengar satu teriakan:

"Ciu koko! Kau mengapa? Cepat usir dia!"

Pek Soh-ciu terkejut dan sadar, diam-diam berkata, "Aku pantas mati!", Pek Soh-ciu tahu walau pun langkahnya hebat, tapi Su Lam-ceng adalah seorang wanita lemah yang tidak bisa silat, mengapa dia malah jadi penonton! Di barengi rasa gelisah, mendadak dia mengulurkan lengan kanannya, lima jari yang mulus, segera berubah jadi putih bersih, lalu dengan membentak, "Heh!", satu garis sinar hitam meluncur seperti kilat dan, 'tak' terdengar suara pelan, Keng It-ci langsung roboh terlentang tidak bisa bangun lagi.

Segera Pek Soh-ciu melangkah maju beberapa langkah, mengulurkan tangannya memeluk pinggang Su lam-ceng dengan lembut, Su Lam-ceng menyandar ke dadanya yang berotot sambil sedikit terngengah-engah berkata:

"Ciu koko! Apakah orang ini mati?"

Pek Soh-ciu dengan perasaan sesal berkata: "Karena terus menikmati langkah adik Ceng, hampir saja membuat kau celaka, orang jahat yang hatinya busuk seperti dia, di biarkan hidup, dia membahayakan dunia!"

Su Lam-ceng beristirahat sebentar, lalu bangkit dan berkata:

"Ciu koko! Mari kita pergi."

Asap merah masih tetap menyelimuti tempat ini, tapi Thian-kong-ti-sam-tin yang hebat, yang kekuatannya tiada duanya, malah tidak bisa menahan para pesilat tinggi dari dua golongan putih dan hitam ini, walau pun dua golongan itu ada yang terluka atau tewas, tapi akhirnya bisa mencari lowongan, meloloskan diri keluar dari kepungan.

Mentari pagi bersinar indah, angin pagi meniup baju, pagi hari ini adalah pagi keesokan harinya. Su Lam-ceng mengangkat tangan membereskan rambut kacau dipelipisnya, pada Pek Soh-ciu tersenyum mesra berkata: "Walau pihak perguruan Thian-ho jatuh korban banyak, tapi kekuatannya belum melemah, kita masih harus cepat mundur ke arah tenggara."

Pek Soh-ciu mengangkat melihat jauh, benar saja terlihat asap masih bergulung-gulung dengan cepat, Thian-kong-ti- sam-tin sedang datang menelusuri jalan dengan cepatnya, dia melihat wajah Su Lam-ceng yang kelelahan dan pucat, terpaksa dia menuntunnya mundur dengan cepat ke arah tenggara.

Di luar lima lie di sebuah hutan, di depan hutan bukit naik turun, rumput kering tampak dimana-mana, pemandangannya sangat gersang, baru saja mereka berdua sampai disisi hutan, Su-sik dan Hu-cen sudah datang menyambut, mereka membawa mereka ke satu tempat dengan rumput yang hijau lembut, segera mengeluarkan makanan melayani mereka makan, Pek Soh-ciu tertawa penuh cinta pada nona bangsawan ini berkata:

"Makannya pelan-pelan saja, adik Ceng, jika tersedak tidak enak rasanya."

Su Lam-ceng melirik dengan mata putih berkata:

"Gara-gara kau melepaskan kehidupan enak, sekarang kita hanya bisa makan di alam terbuka, beralaskan tanah beratapkan langit. "

"Ha......ha.    ha!" Pek Soh-ciu tertawa keras, "langit dan

bumi sebagai gubuk, empat lautan sebagai rumah, kapan kau pernah menikmati alam terbuka yang nikmat ini."

Di saat mereka bersenda gurau, terlihat ketua Kai-pang Sangguan Ceng-hun memimpin puluhan murid murid Kai- pang dengan cepat menghampiri, di belakangnya asap menutup langit, anak buahnya perguruan Thian-ho, dengan kekuatan besar sedang mengejar dari belakang. Su Lam-ceng berkata pada Pek Soh-ciu: "ShangGoan Pangcu dari Kai-pang orangnya terbuka, dia adalah seorang yang suka membantu, Ciu koko berkelana di dunia persilatan, tanggung jawabnya berat, perjalanannya masih panjang, sangat baik kalau bisa bersahabat dengannya, juga bisa dijadikan pembantu." habis bicara, tidak menunggu Pek Soh-ciu menyatakan setuju, dia sudah menyuruh Hu- cen membawa para murid Kai-pang masuk ke dalam hutan. Pek Soh-ciu tidak mengerti:

"Kekuatan kita sangat kecil, orangnya pun sedikit, mengapa saat ini tidak menghindar dari serangan musuh?"

Su Lam-ceng tertawa:

"Hutan ini nilainya sama dengan sepuluh ribu prajurit, walau perguruan Thian-ho punya ribuan tentara dan puluhan ribu kuda, jangan harap bisa melangkah masuk kedalam."

Terhadap istrinya yang cantik penuh misterius ini, Pek Soh-ciu merasakan sangat tidak mengerti? Sebagai seorang wanita lemah yang sama sekali tidak bisa ilmu silat, malah bisa dengan tenang menghindarkan cengkeraman jarinya Keng It-ci, sedikit pun tidak mendapat luka, malah Thian- kong-ti-sam-tin yang amat ditakuti oleh dunia persilatan, dia dengan sesuka hati bisa keluar masuk, jika bukan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mungkin tiada seorang pun yang bisa percaya, tapi, dengan sebuah hutan bisa menangkal puluhan ribu tentara, kecuali Cukat Liang kembali muncul......

"Kek... Ciu koko! Kau mengapa? Pangcu Kai-pang ShangGoan menyapamu lho!"

Pek Soh-ciu jadi tertegun mendengar kata-kata ini, baru saja menghentikan pikirannya yang kacau, Sangguan Ceng- hun yang berdiri dengan hormat di sisinya sudah mengepal tangan memberi hormat dan berkata:

"Atas pertolongan kalian suami istri, Sangguan Ceng-hun dengan ini mengatakan terima kasih, di kemudian hari jika Siauhiap memerlukan tenaga Kai-pang, asalkan menulis sehelai kertas memanggilnya, para murid Kai-pang pasti akan melaksanakannya dengan sekuat tenaga."

Pek Soh-ciu memberi hormat kembali: "Di dalam satu perahu yang berbahaya, tentu saja sudah menjadi berkewajiban kita saling membantu, ShangGoan Pangcu tidak perlu sungkan."

Sangguan Ceng-hun tertawa keras, katanya: "Dengan sikap Siauhiap yang berjiwa besar dan tidak seperti orang biasa, studah berabad-abad dunia persilatan sulit bisa menemukannya......kek, kek, jika Siauhiap tidak merasa hina bergaul dengan pemimpinnya pengemis. "

Wajah Pek Soh-ciu jadi serius, dia lalu membungkuk memberi hormat:

"Aku menghormat pada Toako."

Sangguan Ceng-hun langsung menangkap bahunya Pek Soh-ciu, mengangkat kepala keatas langit tertawa keras, lama... dari dalam dadanya dia mengeluarkan sebuah Seruling Bambu berwarna ungu yang panjangnya hanya tiga cun, menyodorkannya pada Pek Soh-ciu berkata:

"Adik! Seruling Bambu ini adalah penakluknya segala racun, Couwsu perkumpulan kami. Dewa Pengemis Sie-ek mengandalkan Seruling Bambu ini, memperoleh julukan Thian-he-te-it-enghiong di dunia persilatan, sayang empat buah lagu Angin, Guntur, Air, Api yang membuat beliau ternama, semuanya telah hilang dan tidak ada yang bisa melakukannya, Toako menyimpan seruling keramat ini, hanya menyia-nyiakan benda pusaka saja, adik! Aku berikan saja barang ini padamu."

Pek Soh-ciu berkata:

"Toako! Seruling Bambu adalah benda keramat kai-pang, mana berani adik menerimanya."

Sangguan Ceng-hun dengan serius berkata: "Adik! Jika kau memandangku, maka jangan menolaknya."

Su Lam-ceng melihat wajahnya Pek Soh-ciu merasa kesulitan, maka pelan menariknya:

"Jika ShangGoan Toako begitu tulus memberikan, kau terima saja, di kemudian hari jika kau bisa mendapatkan empat lagu Angin Guntur Air Api, kau bisa kalian kembalikan kepada Toako, bukankah akan lebih baik?”

Dalam hati Pek Soh-ciu berpikir, empat lagu Angin Guntur Air Api entah berada dimana, Kai-pang yang muridnya tersebar diseluruh pelosok dunia juga tidak bisa mendapatkannya, dia sendiri mau mencari kemana, tapi Su Lam-ceng sudah menyanggupinya, maka dia tidak baik menolaknya lagi.

"Ha...ha...ha...ha" Sangguan Ceng-hun tertawa keras, katanya lagi, "Toako tidak mengharapkan itu, setelah adik mengatakan demikian, jadi menuduh Toako seperti ada maksud tertentu."

Mereka berbincang-bincang beberapa saat, lalu Sangguan Ceng-hun mengajarkan cara meniup Seruling Bambu mengumpulkan ular dan serangga, berkata lagi:

"Adik! Apakah kau sudah menemukan musuh-musuh yang diam-diam menyerang perumahan Leng-in?"

Pek Soh-ciu dengan sedih menggelengkan kepala: "Adik berkelana di dunia persilatan, dalam sekejap sudah lewat setahun, terhadap musuh yang menghancurkan rumah dan membunuh ayah, malah sedikit pun tidak tahu, tapi. "

"Adik jika ada yang ingin dikatakan, katakan saja, biar kita merundingkannya."

"Apa Cu Kwan-cing Sucinya Toako?"

"Tidak salah, tapi wanita itu kejam seperti ular berbisa, justru karena menginginkan Seruling Bambu ini, dia telah berani meracuni guru hingga tewas, Kai-pang sudah lama menghapus namanya, toako juga tidak bisa lagi menganggap dia Suci lagi, mengapa? Apa Adik curiga pada dia?"

"Aku dengar dia mendirikan Oh Kai-pang, dengan Ngo- tok-tui-hun-cian sebagai senjata gelap nya, padahal para penjahat bertopeng yang diam-diam menyerang perumahan Leng-in, semua menggunakan senjata gelap ini."

"Belum tentu, yang kakak ketahui, di dalam dunia persilatan, masih ada orang yang punya senjata gelap semacam ini, salah satunya adalah perguruan Thian-ho."

Su Lam-ceng berkata:

"Semua perguruan yang memiliki senjata gelap semacam ini, kita jadikan mereka sebagai sasaran penyelidikan, tapi harus berencana, tidak boleh terburu-buru."

Sangguan Ceng-hun berkata: "Adik benar, kita memang harus membalas dendam, tapi tidak harus terburu-buru, tentang Cu Kwan-cing biar Toako yang menyelidikinya."

Saat ini karena tidak bisa masuk ke dalam hutan, perguruan Tian Huo sudah meninggalkan tempat, Pek Soh- ciu melihat ke atas langit, lalu membalikan kepala dan I berkata pada Sangguan Ceng-hun:

"Jika demikian, penyelidikannya pada Cu Kwan-cing, aku serahkan pada Toako saja, Siaute ingin berjalan-jalan di dunia persilatan mencoba keberuntungan, jika toako tidak ada urusan lain lagi, kita pamit disini. "

Sangguan Ceng-hun memegang tangan dia lama sekali, berkata:

"Baik, jika ada masalah, setiap saat Adik bisa menyuruh murid Kai-pang memberi kabar padaku." Habis bicara dia mengepal tangan menghormat, setelah saling berpesan supaya hati hati, lalu Pangcu Kai-pang memimpin para muridnya pergi.

Menunggu Sangguan Ceng-hun pergi, Su Lam-ceng, melirik Pek Soh-ciu berkata:

"Ciu koko, kemana kita mau pergi?"

Sekarang Pek Soh-ciu sadar, Su Lam-ceng orangnya jenius, maksud hatinya sendiri, pasti tidak bisa lolos dari perhatiannya, maka dengan mencobanya dia berkata:

"Di dunia persilatan itu banyak penipu, hati orang banyak yang jahat, aku......aku. "

"Aku tahu kau sudah mulai bosan di dunia persilatan, ingin membawa aku kembali ke Tong-koan, Su-sik cepat bereskan barang barang, Siauya ingin membawa kita kembali pulang."

"Pung!" hati Pek Soh-ciu meloncat, buru-buru membela diri berkata, "tidak......kapan aku pernah bilang akan membawa kalian kembali ke Tong-koan. "

Su Lam-ceng perlahan menyunggingkan bibir munggilnya: "Mengapa, apa aku salah menduga? Jika di dunia persilatan banyak penipu, hati orang licik dan kejam, kita menghindar dari mereka, bukankah masuk akal?"

Sesaat Pek Soh-ciu sulit bicara:

"Ini.. .kek, aku... aku masih belum dapat..."

"Hah.    !" Su-sik tertawa, "sudahlah, nona Nanti Siauya

tambah gelisah, bukan lucu lagi."

Pek Soh-ciu melihat tingkah mereka majikan dan pelayan, baru tahu Su Lam-ceng bukan benar-benar ingin kembali ke Tong-koan, dan benar saja, istrinya yang cantik jenius ini tidak mempermainkan dia lagi, beradu siasat dengan dia, sungguh hanya mencari kerepotan sendiri, maka dia dengan tertawa lega dia berkata:

"Aku tidak gelisah......aku tahu adik Ceng sedang......kek......berkelakar. "

"Hm!" Su Lam-ceng mendengus, "berkelakar kali ini aku ampuni, jika masih berani berbicara memulai mutar, lihat apa aku masih mengampuni kau tidak?"

Pek Soh-ciu sambil tertawa membungkuk menghormat berkata:

"Lain kali tidak berani lagi, adik Ceng, menurutmu apakah kita harus mencari perguruan Thian-ho untuk menyelidiki?"

"Kau tenang saja, kau tidak perlu pergi mencari perguruan Thian-ho, perguruan Thian-ho juga tidak akan membiarkanmu lolos, Su-sik bongkar barisannya, kita juga sudah harus mencari tempat untuk beristirahat."

Su-sik segera membongkar barisan, Hu-cen membawakan kuda, di dalam derap kuda yang seperti hujan deras, mereka tiba di Han-ku-koan yang termasyur sekali dalam sejarah, tempat ini berada satu li lebih di sebelah barat daya kabupaten Leng-po provinsi Ho-lam, kota penting kerajaan Cin di masa peperangan, karena Koan- ceng didirikan ditengah lembah, maka disebut Yo-kok, sementaranya dari timur sampai barat sepanjang lima belas li berderet tebing tinggi, di atas tebing tumbuh pohon cemara menjulang tinggi menutup bagian atas, hingga tidak bisa melihat langit, mulai dari Siau-san yang di sebelah timur, sampai Tong-king di sebelah barat, semua disebut Yo-kok, keadaan tempatnya berbahaya, jadi disebut Thian- hian.

Setelah masuk ke dalam kota, Hu-cen mendapatkan penginapan Hong-lin-khe, sebuah penginapan paling besar di kota ini, dia mengambil satu paviliun, mempersilahkan Pek Soh-ciu suami istri tinggal, Su Lam-ceng segera menjatuhkan diri diatas ranjang dengan lesu mengeluh:

"Beberapa hari ini tidak pernah bisa tenang istirahat, hai... sungguh lelah sekali."

Pek Soh-ciu duduk di sisinya, tersenyum dan berkata: "Sebenarnya nona bangsawan seperti kau, tidak

seharusnya ikut aku berkelana di dunia persilatan.    "

Su Lam-ceng mendadak bangkit, mata cantiknya melotot:

"Menyusahkanmu, betul? Hm.    "

"Kek, Adik Ceng! kapan aku mengatakan kata-kata ini. "

"Kalau begitu selanjutnya kau tidak boleh mengatakan apa itu nona bangsawan segala, apakah nona bangsawan juga terbuat dari tempelan kertas!" "Baik, tidak mengatakan ya tidak mengatakan, itu sudah bolehkan?"

"Tidak bisa, setelah makan masih harus menemani aku keluar jalan-jalan."

"Menemani, tentu saja menemani, hai... tidak diduga setelah mendapatkan istri, malah menambah..."

Su Lam-ceng memonyongkan mulutnya, baru saja akan membantah, di luar terdengar suara ketokan pintu, mereka berhenti berkelakar, Pek Soh-ciu berkata:

"Siapa?"

"Su-sik, Siauya! Tuan Gouw pejabat kota datang berkunjung."

Pek Soh-ciu merapihkan baju, sambil membalikkan kepala bertanya pada Su Lam-ceng dengan sorot matanya, Su Lam-ceng berbisik:

"Han-ku-koan dibawah kekuasaan Toakoku, mungkin dia datang hanya sebagai kunjungan kesopanan, kesopanan tidak bisa diabaikan, kau pergilah menghadapinya."

Pek Soh-ciu membuka pintu kamar, terlihat seorang jenderal tua yang rubuhnya tinggi besar, dengan jenggot hitam panjang sampai kedada berdiri di depan pintu, di belakang dia ikut empat orang laki-laki besar setengah baya berpakaian preman, semua orang itu tampak segar bugar, berdiri dengan wajah menghormat.

Jenderal tua itu memperhatikan Pek Soh-ciu sebentar, lalu mengepalkan tangan membungkuk dan herkata:

"Pek Siauya, aku terlambat menyambut, harap siauya bisa memaafkan."

Pek Soh-ciu balik menghormat: "Tidak berani, aku hanya seorang rakyat biasa, harap Ciangkun jangan terlalu banyak hormat."

"Ha......ha......ha" jenderal Gouw tertawa senang, "Siauya adalah seorang yang berbakat, tidak tertarik pada kekuasaan dan kemewahan, dimana Siocia? diluar sudah disediakan kereta, silahkan Siauya dengan siocia pindah ke rumah, supaya aku bisa melayani sebagai seorang tuan rumah."

Pek Soh-ciu mengucapkan terima kasih tapi      nolak

dengan halus, katanya:

"Istriku kecapaian di perjalanan, sekarang sedang beristirahat, atas perhatian Ciangkun, aku ucapkan terima kasih "

Saat mereka saling bersikeras, di luar terdengar lagi suara teriakan istri jendral sudah tiba disana, Pek Soh-ciu membalikkan kepala melihatnya, tampak seorang nyonya setengah baya yang cantik dengan rambut digelung tinggi keatas, memakai rok panjang sampai ke tanah, dengan dituntun oleh empat orang pelayan wanita, melenggang masuk ke dalam ruangan, jenderal Gouw cepat memperkenalkan pada Pek Soh-ciu katanya:

"Ini istriku." Kata-katanya berhenti sejenak, lalu berbalik pada nyonya setengah baya, berkata lagi, "Ini adalah Pek Siauya, aku sedang mengundang dia tapi tidak berhasil, Hujin masuk lah ke dalam melihat Siocia, aku menunggu di sini."

Nyonya setengah baya yang cantik menghormat pada Pek Soh-ciu, lalu melangkah masuk ke dalam kamar, Pek Soh-ciu terpaksa berbincang bincang dengan jenderal Gouw di pekarangan, sebentar kemudian nyonya setengah baya yang cantik itu keluar lagi, benar saja dia bisa mengundang Su Lam-ceng keluar, dia tertawa mantap pada Pek Soh-ciu katanya:

"Siauya! Siocia sudah setuju, Siauya berilah kami sedikit muka."

Pek Soh-ciu tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa dia menjadi tamu terhormat di kediaman jenderal Gouw, kemudian dia baru tahu, ini adalah pesan yang di sampaikan oleh Su Yi, panglima Tong-koan selalu memperhatikan adiknya yang lemah dan manja dan adik iparnya yang tampan.

Setelah makan, mereka sedang berbincang-bincang, jenderal Gouw menatap Pek Soh-ciu berkata:

"Siauya! Aku punya satu masalah yang tidak mengerti, tidak tahu Siauya mau tidak menjelaskannya."

Pek Soh-ciu dengan wajah serius berkata:

"Ciangkun tidak perlu sungkan-sungkan, jika Soh-ciu tahu pasti akan dikatakan."

"Siauya masih muda, tidak saja sudah termasyur di dunia persilatan, tapi juga punya dendam yang begitu besar, yang hampir membuat orang tidak bisa percaya, sepertinya seluruh dunia persilatan, semua adalah musuhnya Siauya. "

Pek Soh-ciu tertegun:

"Termasyur di dunia persilatan, Soh-ciu tidak berani dan malu menerimanya, musuhku dimana-mana, itu memang benar, tapi. "

Jenderal Gouw mengusap jenggotnya sambil tertawa sambil berkata: "Siauya tentu tidak mengerti mengapa aku bisa tahu persoalan di dunia persilatan, ha ha ha, jujur saja, ini semua diberi tahukan oleh istriku."

"Ooo!" Pek Soh-ciu berkata, "kalau begitu istri anda pasti seorang Lihiap."

“Mertuaku Suma Oey, namanya setara Oh-kui Ouwyang Yong-it di dunia persilatan, Siauya tentu pernah mendengarnya."

Pek Soh-ciu jadi tersadar:

"Ternyata Hujin adalah putri Suma Tayhiap, Soh-ciu sungguh tidak hormat sekali."

Istri jenderal Gouw bernama Suma Hiang, dia tersenyum berkata:

"Ayahku adalah Sian-put-cie (Dewa miskin) yang sudah ternama, putrinya malah menikah dengan seorang menantu kaya, harap Siauya jangan mengolok."

Su Lam-ceng berkata:

"Hujin pasti telah mendengar kabar apa yang tidak bagus, betulkan?"

Suma Hiang tertawa berkata:

"Adik kecil memang seorang manusia krital berhati cermin, segala sesuatunya tidak bisa lolos darimu, hai....

jika bukan karena telah mendengar kabar, mana kami berani bersikeras pada kalian untuk tinggal di rumahku."

Su Lam-ceng merasa gelisah:

"Kalau begitu harap Hujin bisa menjelaskan pada kami, supaya kami bisa bersiap-siap."

Suma Hiang berkata: "Gerakan kalian suami istri, semua orang persilatan sudah jelas mengetahuinya, saat ini pesilat tinggi dunia persilatan yang berkumpul di daerah Yo-kok, jumlahnya tidak kurang dari tiga ratus orang, perguruan yang ikut diantaranya, ada perguruan Thian-ho, Siau-lim, perkumpulan Ci-yan, Bu-tong, Bu-tai, Oh Kai-pang, berikut sejumlah pesilat tinggi yang tidak termasuk dalam perguruan. "

Wajah Pek Soh-ciu berubah:

"Bagus sekali, hutang bagaimana pun harus dibayar, dengan membuat perhitungan sekaligus, malah bisa menghilangkan banyak kerepotan."

"Kek." Jenderal Gouw batuk sekali, "Siauya memiliki warisan ilmu silat dari tiga keluarga, tentu saja tidak takut pada orang-orang ini, tapi Siocia dan dua pelayannya mungkin tidak mampu melindungi dirimya. "

Suma Hiang melanjutkan:

"Menurut pendapat kami berdua, lebih baik Siauya sementara tinggal dirumah kami, dengan batas waktu selama seratus hari, supaya mereka majikan dan pelayan bertiga bisa menambah sedikit kemampuannya melindungi diri sendiri. "

Pek Soh-ciu berkata:

"Ilmu silat dalamnya seperti lautan, dengan batas waktu seratus hari, mungkin tidak akan menghasilkan apa-apa, apa lagi Soh-ciu, terlalu lama tinggal di rumah anda, dalam hati juga merasa tidak bisa tenang."

"Ha......Ha......ha" jenderal Gouw tertawa, katanya, "kalau Siauya berkata demikian, jadi menganggap kami bukan orang sendiri, aku hanya takut rumahku tidak bisa melayani kalian dengan baik, Siauya jangan merasa sungkan, mengenai batas seratus hari.....pasti ku punya pandangan lain."

Suma Hiang melanjutkan:

"Itu hanyalah satu ideku, betul atau tidak? Siauya bisa mempertimbangkannya." Dia meng-hentikan perkataannya sejenak, katanya:

"Siocia punya pengetahuan sangat dalam, tidak bisa disamakan dengan nona lemah yang biasa tinggal di dalam kamar mewah, sampai Thian-kong-ti-sam-tin, dan Keng It- ci yang namanya termasyur di dunia persilatan Juga tidak bisa berbuat banyak padanya, aku pikir di dalam seratus hari, dia pasti mendapatkan hasil yang bisa mengejutkan orang."

Setelah berpikir cukup lama Pek Soh-ciu jadi setuju. Maka mereka sementara tinggal di Han-ku-koan. Pertama- tama dia mengajarkan ilmu tenaga dalam Sin-ciu-sam-coat, lalu setiap hari dengan tenaga dalamnya yang sangat hebat membantu Su Lam-ceng melancarkan jalan arah di seluruh tubuhnya, selanjurnya mengajarkan jurus Im-cu-kiam, Tiga gerakan Ong-hong (angin topan), ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui, seluruhnya diajarkan pada mereka, seratus hari belum sampai, Su Lam-ceng dan pelayannya sudah berubah tidak seperti dulu lagi, Su Lam-ceng juga telah menciptakan dan membuat delapan buah bendera besi kecil diberikan pada setiap orang, Pek Soh-ciu dan dia sendiri berikut pelayannya, berlatih melempar seperti cara melempar senjata gelap, menancapkan bendera besi di dalam radius sepuluh tombak, hingga dalam sekejap bisa membentuk sebuah barisan Pat-bun-tiat-kie-tin (Barisan delapan pintu bendera besi) yang baik dewa maupun setan sulit memecahkannya, walau pun berhadapan dengan musuh yang banyak sekali, asalkan tidak keluar dari barisan, pasti akan selamat. Setelah lewat seratus hari, mereka meninggalkanl Han- ku-koan, menelusuri jalan raya Koan-lok menuju Lok-yang.

Hari pertama mereka sampai di kabupaten Hui-seng, sepanjang perjalanan semua berjalan tenang, tidak bertemu dengan orang yang mau cari masalah, baru pagi keesokan harinya, dalam perjalanan ini masalah yang tidak diharapkan, sudah mulai datang.

Pertama-tama adalah kuda mereka yang terjadi masalah, untungnya Su Lam-ceng sudah tidak seperti dulu lagi, ketika kudanya tiba-tiba jatuh ke depan, dia sudah meloncat melepaskan diri dengan selamat, walau begitu, dia masih ketakutan hingga wajahnya menjadi pucat.

Sekarang, empat ekor kuda mereka semuanya telah mati, terpaksa Su-sik dan Hu-cen menggendong perbekalan, bersama-sama mulai berjalan kaki kembali, buat Pek Soh- ciu berjalan jauh seperti ini tidak menjadi masalah, tapi bagi Su Lam-ceng dan pelayannya mungkin tidak akan bisa bertahan, maka Pek Soh-ciu memutuskan, pertama-tama pergi dulu ke kota kabupaten yang berada di depan, menyelesaikan masalah kuda terlebih dulu.

Su Lam-ceng malah tersenyum katanya:

"Menurut pandanganku, keinginanmu mungkin akan gagal."

Pek Soh-ciu merasa heran:

"Menurut yang aku tahu, kota yang ada di jalan iaya Koan-lok ini, terdapat pasar kuda, mengapa Adik Ceng berkata demikian?"

"Bangsat yang membunuh kuda kita, mereka juga pasti tahu akan hal ini, jika kita bisa membelinya, buat apa mereka berbuat hal bodoh ini!" Li Cukat ini memang jenius, hingga mereka melewati dua kota, disana sama sekali tidak ada kuda eekor pun, Pek Soh-ciu mengeluh tapi tidak bisa berbuat apa apa, katanya:

"Kata-katamu kembali benar, selanjutnya kita harus bagaimana, kau yang atur saja!"

Su Lam-ceng mengerutkan alis:

"Tadi aku melakukan satu ramalan, di dalam sepuluh hari ini, kita hanya akan mengalami kejadian yang mengejutkan, tapi tidak berbahaya, setelah sepuluh...”

Perkataannya tertahan, sepasang matanya, tampak berlinang air mata, Pek Soh-ciu terkejut sekali, katanya:

"Mengapa, Adik Ceng......apakah kita akan mengalami suatu bahaya?"

Su Lam-ceng mengeluh tanpa bersuara:

"Kita suami istri selamanya akan bersatu, hingga seratus tahun, hanya, setelah sepuluh hari, akan berpisah sementara. "

"Hay, Adik Ceng......ramalanmu itu, belum tentu bisa selalu tepat."

"Aku pun berharap begitu!" dia terdiam sesaat, katanya lagi:

"Aku ada dua hal yang ingin memberitahu kau.    "

"Hal apa?"

"Aku sudah dua bulan tidak datang bulan.." "Sungguh? Adik Ceng, ha ha ha. "

"Mmm, tapi aku ingin peringatkanmu, selanjutnya kau akan dibelit cinta asmara, akan meninggalkan banyak hutang asmara yang tidak bisa dibayar, walaupun itu takdir, kau juga harus sedikit waspada."

Pek Soh-ciu terbengong berkata: "Soh-ciu bukanlah orang yang tidak punya hati, melihat wanita hati langsung tergerak, Adik Ceng harus bisa percaya padaku."

Su Lam-ceng mengangkat kepala berkata: "Sudahlah, kita tidak usah membicarakan ini, di depan ada satu kota, hari ini kita tinggal di sana saja."

Saat ini hari baru saja menjelang sore, melewati satu kota lagi seharusnya tidak jadi masalah, tapi Pek Soh-ciu tidak tega menolaknya, dia juga khawatir istrinya kelelahan, maka beristirahatlah mereka di kota yang disebut Koan-in- tong.

Su Lam-ceng bisa meramal, dia tahu setelah lewat sepuluh hari mereka suami istri akan berpisah, hal ini yang membuat dia sulit bisa menerimanya, sehingga, dia ingin dalam sepuluh hari ini, sebisanya menikmati kemesraan suami istri.

Tapi... saat mereka sedang berdampingan, dan memadu kasih, sebuah bayangan berwarna merah menembus jendela masuk ke dalam, begitu Pek Soh-ciu tahu, sebuah suara pelan terdengar, bayangan merah itu sudah menancap diatas dinding.

Dia lalu mencabut benda berwarna merah itu, begitu melihat wajah tampannya mendadak di selubungi dengan hawa membunuh.

Su Lam-ceng mengambil benda itu dari tangannya lalu di lihatnya, tampak ini adalah sebuah bendera merah kecil, di tiangnya terdapat satu kertas surat, di atasnya tertulis 'Para sahabat dunia persilatan menunggu anda di Lo-houw-pai', walau surat ini tidak dibubuhi tanda tangan si pengirim, tapi Pek Soh-ciu tahu bendera merah kecil ini, adalah milik perguruan Thian-ho.

Su Lam-ceng dengan perasaan was-was berkata: "Ciu koko, kita pergi tidak?"

Pek Soh-ciu mengangkat alisnya: "Walau pun itu adalah danau naga goa harimau, kita juga akan melabraknya, apalagi jika kita tidak pergi, apakah bisa menjamin mereka tidak datang!"

Su Lam-ceng mengeluh, membalikan kepala menyuruh Su-sik menanyakan jalan ke Lo-houw-pai, lalu mereka bersama-sama meninggalkan penginapan, pergi ke arah utara kota, di sebelah kiri sekitar dua li, tibalah di satu gunung yang megah.

Di atas lapangan datar di punggung gunung, telah berkumpul sekelompok besar orang, di bagian tengah berdiri orang-orang perguruan Thian-ho, baju merahnya mencolok mata, di sorot matahari senja tampak lebih terang lagi, di sebelah kiri ada orang-orang perkumpulan Ci-yan, berseragam baju ungu, mengeluarkan warna merah padam, di sebelah kanan adalah ratusan pesilat tinggi dari aliran putih dan hitam dunia persilatan, melihat keadaannya, setiap orang itu adalah orang yang sangat ternama.

Pek Soh-ciu berhenti di punggung gunung, matanya menyapu, sambil tertawa keras dia berkata:

"Kelompok yang   sangat   besar   sekali,   orang   she Pek. hehe, sungguh beruntung sekali."

Yang menjadi pemimpin perguruan Thian-ho adalah seorang tua bermantel biru, wajahnya persegi dengan telinga besar, di depan dadanya melambai-lambai tiga jenggot panjang, sorot mata orang ini samar-samar menyorot sinar aneh, sikapnya mantap, jelas seorang ahli silat hebat, di sisinya menempel ketat seorang wanita cantik berkulit putih bersih, sepasang bola matanya bergulir-gulir memandang Fek Soh-ciu, di-belakang mereka berdua, ada orang kedua dan orang ketiga Cu-lay-sam-koay, empat mata yang membawa api kemarahan dengan kebencian memandang musuh pembunuh Toako mereka.

Yang memimpin perkumpulan Ci-yan, adalah seorang tua kurus kering, mulutnya tajam pipinya tipis, di belakang dia berdiri tiga laki-laki tegap berbaju ringkas, melihat tampangnya, semuanya jelas para penjahat.

Di sebelah kanan ada gabungan dari hweesio, orang biasa, pendeta To, walau mereka tidak terorganisii, tapi kekuatannya mungkin masih di atas perguruan Thian-ho dan perkumpulan Ci-yan.

Saat ini orang tua kurus kering dari perkumpulan Ci-yan, dengan batuk kering berkata pada Pek Soh-ciu:

"Sungguh menyesal membuat Pek Siauhiap kecewa, karena yang mau kami sambut bukanlah anda."

"Ooo!" Pek Soh-ciu berkata, "jadi aku yang suka sok pintar sendiri, baiklah, kita bertemu di lain waktu."

Saat dia akan membalikkan tubuh untuk pergi, orang tua kurus itu mendadak tertawa dingin, katanya:

"Jangan terburu-buru Pek Siauhiap, yang kami sambut walau bukan kau, tapi berhubungan erat denganmu."

Pek Soh-ciu tertegun melirik pada Su Lam-ceng, di dalam hati berkata:

"Tidak di sangka istriku yang cantik tiada dua-nya ini, malah memiliki kemampuan menarik dunia persilatan!" Tapi orang tua kurus itu kembali tertawa dingin: "Pek Siauhiap jangan berpikir ke arah ujung tanduk sapi, yang ingin kami sambut, hanyalah benda di dalam dadamu itu."

Pek Soh-ciu sedikit tertegun, lalu sambil tertawa lantas berkata:

"Ooo, begitu! Tapi Pouw-long-tui hanya ada satu, buburnya sedikit hweesionya banyak, lalu harus bagai mana membaginya?"

Orang tua kurus itu tertegun:

"Ini......kek, kek, kita memang harus membuat satu aturan yang adil. "

Su Lam-ceng melanjutkan:

"Apa yang dikatakan orang tua ini tidak salah, aku punya satu cara yang adil......" suara dia nyaring merdu, seperti burung Eng (elang) keluar dari lembah, seluruh pesilat tinggi dilapangan, sorot matanya segera melihat padanya.

Orang tua kurus begitu dipuji, tulangnya seperti menjadi ringan sedikit, lalu dia tertawa, dan berkata:

"Aku adalah wakil ketua perkumpulan Ci-yan Elang Botak Liu Peng, jika nona punya cara yang adil, perkumpulan Ci-yan yang pertama menyetujuinya."

Satu dengusan dingin terdengar dari sebelah kanan: "Perkumpulan Ci-yan apa, hem... jangan memalukan. "

Wajah Elang Botak Liu Peng jadi berubah, katanya: "Sahabat yang mana itu? Jika berani keluar bicara."

Bayangan orang berkelebat, seorang laki-laki berotot dengan wajah sombong keluar dari kerumunan orang, pertama-tama dia melihat pada Su Lam-ceng, lalu mendengus lagi dengan sombong berkata:

"Aku sudah keluar, wakil ketua mau apa?" Liu Peng tertawa:

"Ternyata Tan-hoa-long-kun (Laki-laki jantan doyan wanita) Ong Lan! Aku kira siapa, pengelana sepertimu yang tahunya mencari wanita, bagaimana bisa tahu situasinya berbahaya atau tidak?"

Tan-hoa-long-kun Ong Lan membalikkan tangan merogoh sakunya, mengeluarkan sepasang kail mas yang ada pelindungnya, kakinya melangkah maju langsung menyerang, kail emas dengan membawa angin keras membelah tubuh atas dan bawahnya Liu Peng, mulutnya tertawa sambil berkata:

"Tidak salah kata-katamu, sampai istri ketua perkumpulan kalian Ang Sian-yam juga pernah mengundangku menjadi tamu pribadi di kamarnya, sayang kau tidak punya istri, jika tidak, marga Ong juga akan memberi kau sebuah topi hijau untuk dipakai olehmu."

Jurus sepasang kail emasnya Tan-hoa-long-kun sangat dahsyat, walau mulurnya berbicara kotor dan terus menghina, Liu Peng malah terdesak tidak berdaya, meski sudah mencoba berturut-turut membalas lima bacokan golok, masih belum dapat menahan serangan kail mas yang sangat dahsyat, dia juga tidak sempat berbantah.

Tiga laki-laki tegap yang berada dibelakang Liu Pcng, adalah tiga ketua cabang perkumpulan Ci-yan, mereka semua tahu Tan-hoa-long-kun tidak mudah dihadapi, tapi karena lawan berani menghina istri ketua perkumpulan, juga melihat Elang Bodak akan segera mati dibawah kail masnya, maka mereka sambil berteriak, segera melakukan serangan beramai-ramai.

Mendadak, terdengar dua suara keras, Tan-hoa-Iong-kun dan Elang Botak Liu Peng telah dipisahkan, yang berdiri di tengah lapangan ialah orang tua bermantel biru dari perguruan Thian-ho, sorot matanya yang dingin menyapu pada Liu Peng berdua, lalu dengan tertawa keras berkata:

"Maaf, aku tidak bermaksud mengecewakan kalian berdua, jika kalian berdua benar-benar ingin berkelahi, lebih baik kalian cari lapangan lain, atau membuat janji di lain waktu, hari ini harap beri aku orang she Hoan sedikit muka."

Perkataannya sangat kebetulan buat Liu Peng untuk mundur, dia menyimpan goloknya, pada orang tua mantel biru mengepalkan tangan membungkuk:

"Yang terhormat telah mengatakan begitu, mana berani aku tidak menurut." Dia segera mundur ketempatnya, Tan- hoa-long-kun juga tidak mau membuat ulah pada orang yang di panggil terhormat, tanpa buka suara dia langsung meloncat ke kanan ke tempat semula.

Setelah selesai orang tua mantel biru kembali tertawa panjang, berkata:

"Tidak makan nasi di dalam katel, tidak akan berdiri di sisi katel, para sahabat yang ada di lapangan, mungkin semua berminat pada Pouw-long-tui, tentu berharap ada satu cara yang adil, begini saja, kita semua jangan terburu nafsu, dengarkan dulu apa penjelasan dan cara yang dikatakan oleh Pek Hujin."

Masalahnya kembali kepokoknya, maka Su Lam-ceng dengan tertawa tawar yang sangat anggun, membuat orang sulit menahan diri, sepasang matanya yang sejernih air melihat ke sekeliling, membuat hati setiap orang tidak tahan jadi tergetar tanpa sadar, tapi para pesilat tinggi yang melanglang buana ini, malah tidak satu orang pun yang mau mengeluarkan suara sekecil apa pun, mereka semuanya terdiam, seperti sedang menghadap dewa, sedang diam berdiri dengan horrnat mendengar perintah yang mulia.

Su Lam-ceng mengangkat tangan memainkan rambut di pelipisnya, perlahan batuk lalu berkata:

"Ratusan tahun yang lalu bangsawan Liu menusuk penguasa kejam Cin, dengan menggunakan Pouw-long, namanya menjadi harum sepanjang sejarah anda sekalian harus tahu Pouw-long-tui adalah senjata sakral jaman dahulu yang digunakan untuk menghancurkan penguasa kejam. "

"Nona benar." Teriakan gemuruh terdengar ke seluruh gunung, para pesilat tinggi yang melakukan segala kejahatan ini, seperti sedang mendengar amanat majikannya, mereka menurut seperti sekelompok kucing kecil yang jinak.

"Makanya." Su Lam-ceng melanjutkan perkataan nya, "orang yang memiliki Pouw-long-tui, yang utama harus memiliki sifat yang benar, kalian bisa menanyakan pada diri sendiri, orang yang seumur hidup tidak pernah berbuat yang memalukan boleh tinggal ditempat ini, jika tidak dia harus melepaskan haknya untuk bisa memiliki Pouw-long- tui."

Baru saja dia selesai berkata, di lapangan sudah ada satu orang yang diam-diam meninggalkan lapang, lalu dalam sekejap ratusan pesilat tinggi dunia persilatan telah pergi semua, satu pun tidak ada yang tersisa. Angin gunung membelai rambut Su Lam-ceng, dia membalikan tubuh pada Pek Soh-ciu yang bengong dengan nada sedih berkata:

"Ciu koko, apakah dunia selebar ini, tidak ada satupun orang yang benar-benar baik?"

"Hai...!" Pek Soh-ciu mengeluh, "para penjahat ini kejahatan apa pun telah dilakukannya, mengapa mereka bisa berubah jadi begitu penurut? Adik Ceng, apakah kau memilik ilmu gaib?"

Su Lam-ceng memonyongkan mulurnya: "Dari mana aku bisa ilmu gaib, orang-orang itu hanya mendadak saja jadi sadar!"

Pek Soh-ciu tetap menggelengkan kepala:

"Kecuali Budha sendiri yang tampil, baru dapat membuat batu bandel menganggukan kepala, hasil yang demikian, sungguh terlalu aneh. "

"Hm... bagus, justru karena kau tidak percaya, maka orang-orang itu kembali lagi." Di ikuti dengan perkataan Su Lam-ceng, kelompok demi kelompok bayangan orang kembali muncul di sekeliling, Pek Soh-ciu mengangkat kepala melihat, benar saja orang-orang yang tadi dilapangan, datang kembali dengan sangat cepat, dalam sekejap telah mengurung mereka kembali.

"He...he..." orang tua mantel biru she Hoan tertawa menghadap Pek Soh-ciu berkata:

"Istrimu memang hebat, aku sangat mengaguminya, tapi manusia bukan dewa, mana mungkin tidak pernah berbuat salah, Pek Siauhiap sendiri belum tentu tidak pernah melakukan kesalahan, apa lagi kita yang berada di dunia persilatan yang diandalkan adalah yang kuat yang menang, jika Siauhiap berminat, kita main-mainlah beberapa jurus." Pek Soh-ciu berkata tawar:

"Jika anda mengatakan demikian, Pek Soh-ciu juga tidak bisa memuaskan harapan begitu banyak orang, ini sungguh satu hal yang sangat sulit."

"Hm...!" dengan dingin orang tua she Hoan berkata, "Sekali Thian-ho muncul, semua perkumpulan menyembah, Hoan Liu tidak percaya ada orang berani menentang aku!"

Su Lam-ceng dengan pilu berkata:

"Ciu koko, apakah perguruan Thian-ho benar-benar selihay itu? Jika dia tahu kita tidak takut pada Thian-kong- ti-sam-tin nya, mungkin dia tidak akan bicara seperti ini.”

Benar saja, kepintarannya seluas lautan, walau dia berkata dengan tenang dan tawar, tapi seperti jarum ditusukan ke tubuh, langsung terlihat darah, tepat mengenai kelemahannya perguruan Thian-ho, walau pun benar Hoan Liu adalah kepala penjahat yang menggemparkan dunia persilatan, tapi ratusan pesilat tinggi yang ada dilapangan, bukan takut pada dia, tapi mereka takut pada barisan Thian-kong-ti-sam-tin hingga membuat para pesilat tinggi dilapangan tidak berani sembarangah bergerak, tapi Su Lam-ceng pernah memimpin para pesilat tinggi menghancurkan Thian-kong-ti-sam-tin, peristiwa ini telah tersiar ke seluruh dunia persilatan, sekarang setelah dia mengatakan hal itu, tidak berbeda dengan menambah keberaniannya para pesilat tinggi itu.

Saat ini seorang laki-laki setengah baya yang berwajah bersih, berpakaian sastrawan, dengan tertawa berkata:

"Tidak salah, dengan ada Pek Hujin disini, paling sedikit kita bisa mencoba Thian-kong-ti-sam-tin untuk menambah pengetahuan kita." Su Lam-ceng melihat orang yang berkata itu, walau dia berpakaian panjang, tapi di pinggangnya terikat delapan kantong sebagai lambang Kai-pang tianglo, dia merasakan keadaannya ada yang tidak betul, dari wajahnya yang kelihatan bersih itu, samar-samar terlihat ada sinar licik, maka dia membalikkan kepala pada Pek Soh-ciu, tidak mempedulikan kata-kata pujiannya.

Walau demikian, Hoan Liu yang menyebut dirinya Siau giauw-te-kun (Tuan raja yang tidak terikat) telah menyimpan kesombongannya, sambil tertawa dia berkata:

"Sin Bu-ki, bila kau ingin menyaksikan Thian-kong-ti- sam-tin tentu saja boleh, tapi. jika kalian semua menurut

caranya Pek Hujin, aku akan mengecewakan kalian, he he he. "

Sin Bu-ki mengangkat jempol berkata:

"Pintar menyesuaikan diri, nama Siau-giauw-te-kun memang bukan omong kosong."

Siau-giauw-te-kun tidak mempedulikan ejekkan nya, dia berbalik pada Su Lam-ceng, berkata:

"Katakan saja Pek Hujin, kami semua dengan hormat mendengarkan."

Su Lam-ceng mendengus perlahan, berkata: "Aku hanya menyarankan prinsipnya saja, setuju atau tidak, kalian boleh mempertimbangkan sendiri." Kata-katanya berhenti sejenak, lalu berkata lagi:

"Jumlah kalian begitu banyak, jika ingin bertanding siapa yang lebih tinggi, akan menghabiskan waktu lama, jika bisa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, dan setiap kelompok mengutus satu sampai tiga orang, bertanding dengan sistem gugur, dalam tiga babak jika dua kali kalah maka yang dua kali kalah tidak berhak memiliki Pouw- long-tui, kelompok terakhir yang berhasil menang, bertanding lagi dengan kami, yang menang boleh memiliki Pouw-long-tui."

Usulan dia mendapatkan persetujuan banyak orang, maka mereka membagi diri menjadi 4 kelompok, aliran putih, aliran hitam, perguruan Thian-ho, perkuni pulan Ci- yan, wakil dari aliran putih adalah guru besai Tiang Beng dari perguruan Bu-tai, Gin-ie-siu-su (Sastrawan baju perak) Bu Soh-koan, dan pendeta To

Hian-ho dari Bu-tang, dari aliran hitam seluruhnya di pimpin perampok Gin-sai-tiang-wan (Monyet keriting berjenggot perak) Tiat Kie-bu, Tui-hun-su-cia (Rasul pengejar roh) Kui Ih-kang, dan Toako dari Kang-pak-siang- eng (sepasang pendekar dari Kang-pak)" Cin ciu-hu, dari perguruan Thian-ho adalah Siau-giauw-te-kun Hoan Liu, istrinya Hoan Liu, Giok-ki-Sian-cu (Dewi berkulit giok) Sai- Hoan, saudara kedua dari Cu-lay-sam-koay Ang-tai-jiu, dari perkumpulan Ci-yan adalah wakil ketua perkumpulan Elang Botak Liu Peng, ketua cabang I.u-kiu, Kim Si, ketua cabang Sui-in, Bun Bun-thian, hasilnya setelah diundi, aliran putih menghadapi perguruan Thian-ho, aliran hitam bertemu dengan perkumpulan Ci-yan, menurut urutan aliran putih yang pertama tampil.

Orang pertama yang loncat masuk ke lapangan adalah Sastrawan Baju Perak Bu Soh-koan, orang ini •eluruh pakaiannya berwarna perak, dengan wajahnya vang putih berbibir merah, tubuhnya tinggi, penampilannya hebat sekali, hanya sayang sorot matanya penuh kelicikan, penuh dengan hawa kejam, dia mengeluarkan kipas lipat lapis emas dari dalam lengan bajunya, pada 'Siau-giauw-te-kun dia tertawa katanya: "Aku she Bu melembar batu memancing Giok (Menantang), siapa yang pertama mau keluar bertarung denganku?"

Saudara kedua dari Cu-lay-sam-koay Ang-tai-jiu berebut keluar, berkata:

"Sebuah kipas lipat lapis emas Bu Tayhiap, belum pernah mendapat lawan, orang she Ang tidak ingin meewatkan kesempatan bagus ini, untuk menambah pengalaman!"

Dua orang ini sama-sama orang yang sudah menggemparkan dunia persilatan, begitu menjawab, langsung memasang kuda-kuda, setelah cukup lama... Bu Soh-koan lalu membentak, kipas lipat lapis emasnya bersuara, ditotokan ke arah dadanya Ang-tai-jiu, Ang-tai-jiu tidak mengelak tidak menghindar, lengan kanannya dibalikan, lima cakarnya mencoba menangkap lengan Bu Soh-koan, telapak kirinya terbang miring, pukulan telapak yang bisa menghancurkan batu dengan kuat dipukulkan pada bahunya Bu Soh-koan.

"Ha......ha......ha" Bu Soh-koan tertawa panjang, dia menurunkan bahu menekan pergelangan tangan menghindar pukulan, kipas lipat lapis emasnya mendadak dibuka, pinggir kipas yang seperti pisau tajam, sekali menyapu sekali diangkat, dada Ang-tai-jiu sudah terkena dan mengalirkan darah.

Jurus ini dahsyat, kecuali beberapa pesilat tinggi, yang lainnya malah tidak tahu bagaimana cara dia melukai musuhnya, tapi bagaimana pun Ang-tai-jiu bukan orang yang lemah, Bu Soh-koan memang membuat dia terluka, tapi angin telapak dia juga menyapu mengenai bahu lawannya, Bu Soh-koan hanya merasakan sebuah tenaga yang amat dahsyat, menekan sampai dia mundur beberapa langkah, membuat lengan kirinya hampir saja kehilangan gunanya.

Mereka sejenak beristirahat, Bu Soh-koan langsung berteriak keras berkata:

"Kali ini tidak dihitung, kita mulai lagi." Dua orang pesilat tinggi yang namanya termasyur di dunia persilatan ini, kembali saling menyerang, suara angin telapak berkesiur, bayangan kipas berkelebat, pertarung an yang Lw judi sengit sekali.

Mendadak terdengar saru dengusan dingin, dan bayangan kipas jadi berhenti, kedua orang yang bertarung bersamaan mundur, Ang-tai-jiu melangkah miring beberapa langkah, lalu jatuh keatas tanah, bahu kanannya di dekat lengan, tampak menyemburkan darah segar. 

Walau Bu Soh-koan bisa menang, tapi menang dengan tidak mudah, dia kecapaian juga setelah menguras tenaganya, dengan tersenyum dia kembali jalan ke kelompoknya.

Aliran putih berhasil meraih kemenangan pada pertarungan pertama, seharusnya ini hal yang menggembirakan, tapi malah sulit melihat sinar kegembiraan diatas wajah mereka, sebab hasil kemudian ternyata guru besar Tiang Beng kalah dari tangan mulusnya Giok-ki-sian-cu, pendeta To Hian Ho terpaksa mengaku kalah dari Siau-giauw-te-kun.

Selanjutnya pertarungan antara aliran hitam . lengan perkumpulan Ci-yan, perkumpulan Ci-yan tidak berturut- turut mengalami kekalahan, malah dua oranng ketua cabang Liu-kiu dan Sui-in sampai kehilangan nyawanya, lalu pertandingan di lanjutkan antara aliran hitam dengan perguruan Thian-ho. Ternyata pertarungan nya terasa berat sebelah, Siau-giauw-te-kun suami  istri ternyata tidak ada yang bisa mengalahkan, sepertinya dari seluruh pesilat tinggi yang ada di lapangan, sulit mencari 'orang yang bisa menahan mereka.

Ilmu silatnya sangat hebat, di wajah Siau-giauw-te-kun yang gagah itu, terlihat kesombongan:

"Ha ha ha!" dia tertawa pada Pek Soh-ciu berkata, "sekarang giliran kita, Siauhiap! Siapa diantara kalian yang pertama tampil?"

Pek Soh-ciu berkata dingin:

"Aku sendiri bertarung dua babak, istriku satu babak, perguruan anda sebagai tamu, kalian pilihlah seorang dulu."

Saat Siau-giauw-te-kun akan melangkah keluar menantang Pek Soh-ciu, Ang-tai-jiu ber-teriak sambil menerjang keluar, dia ingin membalaskan dendam saudaranya, dia berkata:

"Te-kun! Aku ingin membalaskan dendam kakakku, babak ini harap Te-kun mengalah padaku, biar aku tampil duluan."

Siau-giauw-te-kun melihat luka Ang-tai-jiu sudah tidak mengganggu, juga dia yakin dia bisa menangkap Pek Soh- ciu seperti dia merogoh kantongnya sendiri, walau pun babak ini kalah, tidak akan ada pengaruhnya, maka dia menganggukkan kepala:

"Baiklah, tapi harus hati-hati sedikit." Ang-tai-jiu mengiyakan lalu meloncat keluar, luka yang didapat tadi, tampak sedikit pun tidak mempengaruhi gerakannya, dia memandang Pek Soh-ciu sambil menggigit gigi berkata:

"Serahkan nyawamu, orang she Pek." Baru saja Pek Soh- ciu akan melangkah keluar, Su Lam-ceng malah menarik dia dengan tertawa manis berkata: "Biar aku yang memukul anjing yang jatuh ke air, kau awasilah."

Dia jalan melenggang, pelan-pelan berjalan menuju tengah lapangan, mantel penahan angin berwarna kuning angsa, melayang-layang ditiup angin gunung, penampilannya yang anggun sulit digambarkan dengan kata-kata, dia segera mendapat perhatian di seluruh lapangan, malah ada orang tidak tahan berteriak:

"Pek Hujin! Orang ini punya dendam dengan suamimu, kau harus hati-hati."

Sambil tersenyum dia menganggukan kepala, tetap dengan tenang melangkah maju kedepan Ang-tai-jiu berkata:

"Aku menggunakan pedang, silahkan siapkan senjatamu." Dia menghunus Im-cu-kiam pemberian Pek Soh-ciu, tersenyum menatap Ang-tai-jiu.

Ang-tai-jiu seperti terdesak oleh kecantikan yang menyilaukan mata hingga menundukkan kepala, sepasang mata dia menurun rendah dan mengeluh:

"Demi membalas dendam saudara, Hujin! Aku terpaksa harus. "

"Aku tahu, kau mulailah."

"Hujin lebih baik suruh suamimu keluar?" "Tidak perlu."

"Hai kalau begitu aku terpaksa menyerang." "Kusuruh kau mengeluarkan senjata!"

"Telapak tangan adalah keahlianku, Hujin hati-hatilah!"

Habis bicara, lalu Ang-tai-jiu menyerang, sebuah pukulan seperti gada besi, didorongkan datar di depan tiada, dia seperti takut jurus telapak ini terlalu dahsyat, saat memukul dia kembali mengurangi tenaganya sekitar sepuluh persen, walau pun demikian, kekuatan pukulan ini, tetap saja tidak akan bisa ditahan oleh tubuh yang terbentuk dari darah dan daging, jika Su Lam-ceng tidak sempat mengelaknya, mungkin dia akan kehilangan nyawanya, sehingga, setelah Ang-tai-jiu memukul langsung menarik kembali pukulannya, dengan mata membelalak bingung, menatap Su Lam-ceng, dengan masih merasa sedikit penyesalan berkata:

"Pek Hujin! Kau tidak apa apa kan?" Su Lam-ceng tersenyum berkata:

"Aku baik."

Ang-tai-jiu seperti merasa lega, sebelah tangan diangkat, kembali akan menyerang, mendadak ter-dengar teriakan:

"Berhenti." Giok-ki-sian-cu Sai-hoan sudah meloncat keluar, dengan wajah hijau dia berteriak marah pada Ang- tai-jiu:

"Pergilah, jika kau merasa sayangnya pada wanita cantik, buat apa kau membalaskan dendam kakakmu!"

Apa yang dia katakan memang tidak salah, jika Ang-tai- jiu takut melukai lawannya, lalu bagaimana bisa membalaskan dendam kakaknya? Ang-tai-jiu dengan penuh rasa malu kembali ketempatnya, tapi Giok-ki-sian-cu, Sai- hoan juga tidak tega dengan tangan keji menghancurkan nyonya cantik yang munggil ini, karena penampilan Su Lam-ceng yang anggun, cantik tiada duanya, walau orang yang paling kejam pun, akan seperti besi bertemu api, dengan sendirinya menjadi lembek, sehingga, dia dengan wajah serius dia berkata:  "Babak ini dihitung seri saja, Pek Hujin! sekarang kau harus meninggalkan lapangan."

Su Lam-ceng tertawa berkata:

"Baiklah, tapi aku harus ingatkan ciri dulu, suamiku adalah orang yang tidak mengerti menyayangi wanita cantik, jadi cici lebih baik hati-hati."

Dia berjalan kembali ketempat asalnya, tapi Pek Soh-ciu dengan perasaan canggung malah tertawa katanya:

"Adik Ceng! Mengapa kau berkata itu.    "

Su Lam-ceng berbisik:

"Wanita itu cantik sekali, bukan? maka aku terpaksa menjaganya sedikit."

Pek Soh-ciu tertawa pahit, lalu dengan langkah besar masuk ke lapangan, dia memperhatikan Sai-hoan, wanita ini' kulitnya putih seperti salju, tidak salah mendapat julukan Giok-ki, dia tidak berani lama-lama memperhatikan dia, dengan suara serak dan kaku berkata: "Hoan Hujin silahkan mulai." Dari dalam dadanya Giok-ki-sian-cu pelan pelan mengeluarkan sapu tangan wangi, lalu sapu tangan itu dibukanya, dan bau wangi langsung menyebar kemana- mana, ditambah pakaiannya yang indah mencolok mata, sungguh seperti tarian pakaian indah, mana ada suasana pertarungan hidup atau mati, saat melangkah tubuhnya Kperti angin, pakaiannya yang berwarna-warni menit >lok mata, sapu tangan wanginya sudah menyerang kearah dadanya Pek Soh-ciu.

Pek Soh-ciu tidak menduga dia menyerang begitu tepat, sedikit lengah saja hampir saja dia terkena pukulannya, untung saja ilmu silat dia sangat tinggi, begitu pikirannya bergerak, tubuhnya sudah melayang mundur lima kaki, membalikkan tangan menghunus sebuah pedang panjang dari baja murni, dengan jurus Ciu-Imng-kai-si (tiba-tiba muncul angin musim gugur), dia membalas menyerang.

Sapu tangan wangi Giok-ki-sian-cu terbang miring, menyerang pergelangan tangan kanan yang memegang pedang, mulutnya malah tertawa dan berkata:

"Saudara! Kata-kata istrimu, tentu kau sudah mendengarnya, tapi orang yang tampan seperti kau, jika dikatakan tidak menyayangi wanita cantik, sungguh sulit orang bisa percaya, ha ha ha......betulkan? Saudara. "

Dihadapan suaminya Siau-giauw-te-kun dan penonton dari segala aliran, wanita ini berbicara dengan kata-kata yang menggelitik, sungguh berani sekali. Tapi jurus sapu tangan wanginya, malah bergerak membelit memukul menotok membelah, sangat ganas sekali.

Pek Soh-ciu tidak berani menjawab kata-kata wanita yang kulitnya seperti salju dengan bau wanginya yang menyebar kemana-mana, hidungnya mengeluar-kan nafas keras, serangkaian jurus Im-cu-kiam yang paling hebat telah dia keluarkan.

Setelah lewat sepuluh jurus, tampak Giok-ki-sian-j cu kewalahan, jurus sapu tangan wanginya memang aneh tidak diduga, tapi tetap saja bukan lawan jurus Im-cu-kiam, dan juga tenaga dalam dan ilmu silat meringankan tubuhnya, tidak setinggi Pek Soh-ciu. Sehingga begitu terjadi bentrokan, sapu tangan wangi seperti burung walet berwarna-warni terbang keudara, dipukul oleh Pek Soh-ciu hingga terlepas dari tangannya.

Mungkin dalam jurus ini Pek Soh-ciu menggunakan tenaga terlalu besar, tubuh langsing Giok-ki sian-cu bergetar sebentar, mulutnya mendehem, rubuh nya roboh ke arah dada Pek Soh-ciu. Sesaat Pek Soh-ciu tertegun, tanpa sadar dia mengulurkan tangan memeluk tubuhnya, satu suara merdu yang kecil seperti suara nyamuk, terdengar ditelinganya:

"Terima kasih." Baju warna-warninya ber-kelebat, dia seperti burung walet terbang, tangan mulusnya diulurkan, tepat menangkap sapu tangan wangi yang hampir jatuh ke tanah, saat turun ke tanah dia sudah berdiri disisi Siau- giauw-te-kun.

Dia sudah kalah, tapi dalam beberapa gerakan terakhirnya, tidak saja dia bergerak secepat kilat, gerakannya juga sangat manis tiada duanya, para pesilat tinggi yang menonton, tidak tertahan semuanya bersorak, tapi malah dengan wajah mengandung arti, gelombang mata mengalun, dia melirik pada Pek Soh-ciu dengan genit sekali.

Hati orang-orang disana masih terbayang pertarungan yang sengit dan romantis tadi, tapi Siau-giauw-te-kun dengan sorot mata ingin membunuh meloncat masuk ke lapangan, kepala penjahat ini tidak bisa dianggap enteng, dia bukan hanya meloncat begitu saja, malah bisa mengeluarkan suara desingan yang menggetarkan hati orang, sepasang mata dia membelalak, sinar matanya mengeluarkan hawa pembunuh-an yang tebal, membuat wajahnya yang gagah diselimuti oleh warna yang menakutkan orang, dia melangkah maju satu ngkah lagi, otot wajahnya bergerak sekali, begitu berteriak suara yang keluar dari tenggorokannya seperti suara binatang liar.

"Orang she Pek, jika aku tidak bisa membunuhmu maka aku akan mengganti she, terima ini.."

Satu garis sinar emas keluar dari dalam lengan bajunya yang besar longgar itu, dia seperti meteor jatuh, saking cepatnya sulit dilihat dengan mata telanjang, hanya sekelebat sudah menutup diatas kepala Pek Soh-ciu.

Semenjak Pek Soh-ciu keluar gunung sampai sekarang, dia sudah bertemu dengan tidak sedikit pesilat tinggi yang ternama, tapi pesilat tinggi seperti Siau-giauw-te-kun, baru pertama kalinya di temui, tentu saja, dengan ilmu silatnya sekarang, belum tentu dia kalah oleh Siau-giauw-te-kun, tapi semangat lawan yang dahsyat itu, membuat dia merasa sedikit ngeri, di saat sinar mas datang menyerang, pedang baja di tangannya secara bersamaan didorongnya, tetapi di dalam satu benturan yang amat dahsyat, dia malah tidak bisa menahan diri dan mundur beberapa langkah ke belakang.

Sepertinya hanya dalam satu jurus saja, dia sudah berada dibawah angin, dan sinar mas yang mengurung tubuhnya, seperti gelombang laut gunung runtuh, tanpa ampun menyerang dia.

Jurus Im-cu-kiam nya tidak bisa dikembangkan, Pouw- ci-sin-kang yang hebat juga tidak bisa dipusatkan, hanya dengan mengandalkan langkah Co-yang-kiu-tiong-hui, dia bisa menghindar, mengelak, seperti anjing dirumah duka, keadaannya sungguh berbahaya sekali.

"Saudara! Bersikap tenanglah, ilmu silatmu tidak kalah dari dia, bertarung yang utama harus bersemangat, tidak boleh sebelum bertarung sudah kalah semangat."

Sebuah suara merdu yang pelan seperti suara nyamuk berkumandang pelan ditelinganya. Tidak salah, dia menyadari ilmu silatnya memang tidak kalah dan lawannya, hanya saja semangat bertarungnya tertekan oleh lawan, maka dia segera bersiul nyaring, sebuah jalur hawa pedang yang dingin, seperti salju di musim gugur menebar keseluruh langit, sinar emas yang seperti naga marah, dihantam oleh pukulan ini sehingga mundur kembali.

Kejadian ini di pandang oleh pihak Siau-giauw-te-kun, seperti satu hal aneh yang tidak mungkin terjadi, karena bukan saja tadi dia sudah mengendalikan situasi, juga sudah sepenuhnya menguasai keadaan, membunuh lawan hanya tinggal menanti beberapa saat saja, tidak diduga lawan yang sudah terkurung, malah masih ada kemampuan balik melawan.

Dia telah mundur dua langkah, dengan mengangkat tongkat emas yang bersinar mencolok mata, dengan dingin menatap lawan yang masih muda ini, lama... dia baru dengan berteriak marah:

"Orang yang akan aku bunuh, pasti tidak akan ada kesempatan bisa melihat matahari terbit besok hari, ayahmu sedang menunggu, bocah...... aku antar kau bertemu dengan ayahmu."

Mantel biru mengembang, sinar emas berkilat lagi, Giok- giauw-te-kun dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, melakukan serangan dahsyat, ingin dengan sekali pukul membinasakan lawannya!

Ini adalah sebuah serangan dahsyat yang sangat hebat. sinar emas seperti kilat, dengan suara gemuruh membelah angin melintang menghantam, para penonton di lapangan sedang gemetar dingin, Su-sik dan Hu-cen ketakutan sampai menjerit keras, sampai wajah Giok-ti tian-cu Sai- hoan juga keluar keringat, hanya Su Lam-ceng berdiri seperti satu patung batu, wajahnya tenang, sedikit pun tidak ada emosi.

Terdengar sebuah suara keras yang menggetarkan bumi dan langit, membawa hawa kematian yang kental, orang- orang membelalakan sepasang mata, menatap tajam pada debu yang bertebaran di udara, setiap butir pasir kecil muncrat menghantam tubuh orang-orang, menimbulkan rasa pedas, panas.

Tidak ada seorang pun yang menggerakan tubuh, malah mata mereka tidak berkedip sekali pun, umpana ada orang menekankan golok diatas leher mereka, setelah mereka menyaksikan akibat dari pukulan yang dahsyat itu, meski kepala mereka terlepas juga mereka tidak akan merasakannya.

Perlahan-lahan debu mulai menghilang, sinar senja yang menyorot miring, memperluas pandangan orang-orang disana, ternyata hasil yang terlihat sangat mengejutkan orang, diantara para penonton ada, bersamaan waktu mengeluarkan teriakan gembira.

Pek Soh-ciu memang, teriakan gembiranya Su-sik dan Hu-cen, tentu saja sangat wajar, yang tidak diduga adalah Giok-ki-sian-cu Sai-hoan, melihat suaminya kalah dia malah berteriak gembira!

Tetapi, tidak ada orang yang memperhatikan dia, setiap pasang mata yang bengong, tetap menatap tajam pada bayangan orang dilapangan.

Pek Soh-ciu dengan tenang berdiri tegak, tapi wajahnya yang tampan, yang bisa membuat wanita yang melihat langsung jatuh cinta, sekarang sudah berubah menjadi pucat putih, pedang bajanya, terjatuh sejauh satu tombak lebih, tubuh pedang dan pegangan pedang sudah terpisah, malah terputus jadi tiga bagian. Di tangannya sedang menggenggam bor besi yang berwarna hitam mengkilat, ternyata tadi dalam sekejap mata, dia telah mengganti senjatanya.

Balik melihat Siau-giauw-te-kun, orang-orang jadi tidak tahan timbul perasaan pahlawan sudah tiba diujung jalan, tongkat komando warna emasnya pun telah lepas dari tangannya, darah dari bahu kirinya masih meneteskan darah segar, mantel besarnya robek dari dada hingga perut, di bawah tiupan angin gunung, persis seperti jubah biru, dia tampak marah sekali, tapi dia sudah kehilangan kemampuan bertempur lagi, akhirnya dia membalikkan tubuh, dengan langkah yang berat berjalan kembali ketempat asalnya.

"Berhenti, orang she Hoan, aku masih ada satu pertanyaan."

Siau-giauw-te-kun memutar tubuhnya dengan cepat, sepasang matanya melotot dengan kesal berkata:

"Kau mau apa? Bocah! Apa kau kira aku benar-benar takut padamu!"

"Aku tidak ada niat membunuh, asalkan kau bisa menjawab satu pertanyaanku."

"Harus dilihat dulu apakah aku mau menjawabnya atau tidak."

"Jika aku menukar jawaban itu dengan nyawamu, aku pikir kau akan mau menjawabnya." Satu sinar pembunuhan, sekelebat lewat di atas wajahnya, lalu berkata lagi, "Perguruan Thian-ho memiliki satu jenis senjata gelap yang disebut Ngo-tok-tui-hun-cian, betul tidak?"

"Tidak salah."

"Ketika diam-diam menyerang Sin-ciu-sam-coat, apakah perguruan Thian-ho ambil bagian."

"Terhadap kejadian waktu itu, sampai sekarang aku sedikit pun tidak tahu, apa lagi, walau aku tahu juga tidak akan memberitahukan padamu." "Bagus, aku pernah mengatakan, ingin menukar nyawamu dengan pertanyaan itu, jika kau berkata demikian, kita terpaksa menentukan dengan pertarungan lagi."

Pek Soh-ciu membalikkan pergelangan tangan, sebuah garis sinar hitam, dengan kekuatan dahsyat menerjang, tubuh Siau-giauw-te-kun yang begitu besarnya, malah terbang melayang ke udara, dan 'Bruk', roboh diatas batu satu tombah lebih.

Para muridnya perguruan Thian-ho jadi marah, asap merah menggulung seperti api liar datang menerjang, tapi di cegah oleh Giok-ki-sian-cu, dia memberi hormat pada Pek Soh-ciu berkata:

"Siauhiap! Mungkin suamiku benar-benar tidak tahu, sekarang dia mengalami luka parah, kau membunuh dia juga percuma, dan Ngo-tok-tui-hun-cian bukan satu-satunya senjata yang hanya dimiliki perguruan kami, harap Siauhiap bisa mengerti."

Saat ini Su Lam-ceng tidak ingin ditempat ini menimbulkan pembunuhan yang kacau balau, maka dia menasihati Pek Soh-ciu untuk sementara melepaskan Hoan Liu, akhirnya perguruan Thian-ho telah mengundurkan diri, aliran lairt pun berturut turut meninggalkan lapangan.

Sinar senja semakin hilang di belakang gunung malam telah menelan seluruh pegunungan, Su Lam-ceng menghampiri Pek Soh-ciu, dengan lembut mengusap bahu dia, berkata:

"Jalanlah, Ciu koko! Selain hari ini, masih ada hari esok, masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan cepat."

Pek Soh-ciu mengeluh, dengan perasaan kesal dia membalikan tubuh, mendadak dia jadi tertegun, sepasang matanya menatap pada satu bayangan orang yang sedang lari mendekat, lalu muncul seorang kakek berambut putih berperawakan tinggi besar, dia terus lari sampai didepan Pek Soh-ciu, mengangkat alis dan berkata dingin:

"Kau orang she Pek?" Pek Soh-ciu tertegun:

"Cianpwee ada masalah apa?" "Hm... masalah! Dimana putri ku?" Pek Soh-ciu bengong:

"Siapa putri Cianpwee itu?"

"Hm... bocah kau sudah kebiasaan menarik perempuan, aku tidak peduli, tapi kalau ingin meninggalkan putri ku itu tidak bisa!" dia baru saja selesai bicara, mendadak telapaknya melayang, dengan tepat sekali menangkap pergelangan tangan Su Lam-ceng, kemudian bayangan-nya berkelebat, dia sudah mengapit Su Lam-ceng lari terbang menjauh. Sungguh kejadian yang tidak disangka sangka, mimpi pun Pek Soh-ciu tidak menduga orang tua yang belum pernah bertemu itu, malah bisa menyerang Su Lam- ceng, dengan sangat marah dia mengejarnya, tapi kecepatan-nya orang tua itu, tidak kalah oleh ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui nya, terakhir, bukan saja dia kehilangan orang tua rambut putih, sampai Su-sik dan Huncen juga kehilangan jejaknya, hanya saja malam yang hening ini terdengar satu suara semut berkata:

"Apakah kau masih ingat Siau Yam? Bocah! Cari sampai dapat putriku ini, maka aku akan kembalikan Su Lam-ceng, ini adalah pertukaran, ingat!"

"Cianpwee tunggu, aku mau bicara." Sambil berteriak sambil cepat berlari, mulai dari hari gelap sampai hari terang benderang, tetap saja dia tidak berhasil mengejar, dia mengeluh panjang, diam diam berpikir, 'kembali ramalan Su Lam-ceng tepat, sekarang, kecuali pergi mencari Siau Yam, sungguh tidak ada pilihan lain', sehingga, dia terpaksa seorang diri menuju ke dunia persilatan yang penuh kelicikan itu.

0-0dw0-0