-->

PPKE Bab 12 : Angin meledak sebelum malam (Tamat)

 
Bab 12 : Angin meledak sebelum malam (Tamat)

Wajah Ho Koan-beng dan Sang-toh berdua menjadi pucat seperti mayat, terdengar seseorang menghela nafas panjang dan berkata:

"Hai...! Malam ini mata kita benar-benar terbuka."

Ternyata orang yang bicara ini adalah orang tertua dari Huang- sat-ngo-kiam Cin Beng, Nie Cing pelan-pelan melanjutkan:

"Kim-kau-kiam-khek benar-benar hebat seperti julukannya, kita seperti katak di dalam tempurung saja, Toako, betul tidak?"

Cin Beng menganggukan kepala, bayangan orang berbaju putih pelan-pelan berjalan menuju kegelapan malam.

Nie Cing tertawa pahit, dia pun ikut pergi.

Cin Beng menggeleng-gelengkan kepala juga pergi, diikuti oleh saudara ke dua dan ke empat yang diam seribu bahasa, pergi menghilang di kegelapan malam.

Satu persatu Huang-sat-ngo-kiam meninggal-kan tempat itu, hal ini tidak mengejutkan orang, yang diluar dugaan adalah Ho Koan- beng, dengan hati yang berat dia berkata:

"Sang-heng, aku jalan duluan!"

Sang-toh tertawa pilu, dia pun pergi ke arah yang lain.

Malam yang hening, angin bertiup pelan membawa kedua orang yang sedang sedih itu ke tempat yang jauh.

Sin-hiong menghela nafas panjang dan berkata: "Cui-giok, kita juga harus pergi!"

Setelah berkata, mendadak Sin-hiong melihat Cui-giok sempoyongan, dan "Bluuk!" jatuh ke tanah.

Sin-hiong sangat terkejut, secepat kilat menghampiri, dengan tangannya dia meraba, merasa dia baik-baik saja:

"Cui-giok, kau kenapa?" Karena tadi Cui-giok terlalu tegang, dan kondisi tubuhnya belum pulih benar, saat ini melihat Sin-hiong menang bertarung, semangatnya jadi lega, tidak tahan dia jadi jatuh ke tanah.

Setelah beberapa saat, Cui-giok sudah siuman lagi dan berkata: "Sin-hiong, kau menang!"

Sin-hiong menganggukan kepala, lalu mengangkat dia berdiri dan berkata:

"Beruntung bisa menang, hay, tapi aku masih ada janji di gunung Bu-li!"

Cui-giok merasa hatinya jadi berat, sambil menggelengkan kepala berkata:

"Orang baik dilindungi langit, mereka tidak bisa apa-apakan kau."

Sin-hiong tahu Cui-giok sedang menghibur dia sambil tersenyum berkata:

"Aku harap begitu!"

Walau berkata demikian, tapi hati dia tetap saja merasa berat, memang, setelah sembilan ketua perguruan besar bersatu melawan dia seorang diri, itu adalah hal yang sangat luar biasa, walaupun dia mengharapkan ada kejadian seperti ini, tapi setelah benar-benar terjadi, di dalam hati tidak tahan perasaannya tidak tenang.

Di sebelah timur sudah tampak warna keputihan, Sin-hiong dan Cui-giok berdua beristirahat sejenak di dalam hutan, tubuh Cui-giok masih belum pulih, tapi malam ini dia sangat senang, sebab akhirnya dia bisa bersama lagi dengan Sin-hiong.

Dia berbicara banyak, sampai saat matahari terbit, masih saja tidak henti-hentinya bicara.

Sin-hiong melihat cuaca dan berkata: "Kita sudah harus pergi!"

Cui-giok meloncat berdiri dan bertanya: "Mencari nona Lim bukan?"

"Waktunya sudah tidak banyak, sambil kita menuju gunung Bu-li, kita mencari mereka!"

Tentu saja Cui-giok setuju, maka kedua orang itu menelusuri jalan menuju gunung Bu-li.

Sesudah berjalan beberapa hari, gunung Bu-li sudah semakin dekat, di sepanjang jalan Sin-hiong mencari Cian-cu-ting, dia ingin membersihkan racun di dalam tubuh Cui-giok yang tinggal sedikit itu, tapi kota di sepanjang jalan tidak ada toko obat yang menjual obat itu.

Cui-giok pintar, dia sering membuka-buka dan membaca buku Kim-ciam-tok-su itu, pelan-pelan dia jadi bisa mengerti sedikit cara pengobatan, dalam keadaan mengatur pantangannya, walaupun racunnya belum hilang benar, tapi tubuhnya sudah semakin sehat.

Sin-hiong merasa senang dan berkata:

"Buku ini aku berikan saja padamu, walaupun hubunganku dengan Ong Lo-cianpwee tidak begitu erat, tapi aku pernah menyanggupi dia mencarikan seorang penerusnya, selanjutnya gunakanlah buku ini untuk menyelamatkan orang."

"Apakah aku pantas?" kata Cui-giok tertegun.

"Tentu saja, kau seorang wanita menjadi tabib mengobati penyakit orang, bisa dikatakan kau yang pertama!"

Cui-giok senang sekali, sambil menghormat dan berkata: "Kalau begitu aku berterima kasih pada Sen-tayhiap!"

Kedua orang itu bersama-sama berjalan lagi dua hari, ke salah pahaman yang dulu terjadi sekarang sudah hilang semua, di sepanjang jalan mereka sering berkelakar hingga tidak merasa kesepian.

Selama dua hari, dunia persilatan sudah digemparkan oleh saru berita, yaitu mengenai Kim-kau-kiam-khek seorang diri akan menghadapi sembilan ketua perguruan besar, sehingga di sepanjang jalan Sin-hiong dan Cui-giok melihat tidak sedikit orang- orang dunia persilatan berjalan menuju ke gunung Bu-li.

Sin-hiong berharap ketua pulau Teratai dan putrinya mendengar kabar ini dan pergi ke gunung Bu-li, maka dia sangat memperhatikan orang-orang yang ada di sepenjang jalan, siapa sangka dia tidak menemukan apa-apa, tapi malah tertarik oleh seseorang.

Hari ini di saat petang, kedua orang ini tiba di satu kota kecil di bawah gunung, Cui-giok berkata:

"Dari sini ke gunung Bu-li hanya tinggal dua hari perjalanan, bagaimana kalau kita istirahat satu hari disini?"

Baru saja Sin-hiong mau menjawab, tiba-tiba di mulut kota ada sesosok bayangan berkelebat, buru-buru dia memberi isyarat dengan mata, Cui-giok yang melihat, sangat terkejut dan berkata pelan:

"Dia juga datang?"

Suaranya penuh dengan rasa terkejut, Sin-hiong menganggukan kepala:

"Benar! Tapi kita jangan pedulikan dia?"

Cui-giok menarik nafas panjang sambil menggelengkan kepala berkata:

"Asal saja dia tidak mengganggu kita saja sudah bagus!"

Setelah berkata, kedua orang sudah berjalan masuk ke dalam kota.

Kota ini tidak besar, tapi penginapannya tidak sedikit, kedua orang sampai di depan satu penginapan, di dalam sudah duduk tidak sedikit orang.

Sin-hiong perlahan menarik Cui-giok: "Bagaimana kalau kita cari tempat lain saja?" "Bukankah disini sudah bagus?"

Sorot mata Sin-hiong menyapu, mendadak terlihat di dalam ruangan ada dua pasang mata setajam senjata menatap dirinya, hatinya sedikit tergerak dan berkata didalam hati:

‘Tadinya aku tidak mau bertemu dengan dia, tidak diduga malah bertemu disini.'

Pikiran ini hanya sekelebat berada di kepala-nya, saat itu tanpa banyak bicara, bersama Cui-giok masuk ke dalam.

Begitu kedua orang itu masuk ke dalam ruang makan, mata seluruh tamu disana jadi terasa terang, mata semua orang jadi tertuju pada mereka berdua.

Sin-hiong sangat tampan dan gagah, Cui-giok cantik tiada duanya, ada orang sampai memujinya:

"Ah, benar-benar pasangan yang serasi!"

Kebetulan sekali, selain meja yang di tengah, meja yang lainnya sudah penuh diisi tamu, Sin-hiong jadi merasa malu, melihat semua orang di dalam ruang melihat padanya, wajah tampannya jadi merah.

Tapi Cui-giok dengan tenang duduk dan memesan beberapa macam masakan, pada saat ini, mendadak di luar terdengar derap kaki kuda, ada tiga ekor kuda berjalan datang kesini.

Mata semua orang pun melihat keluar, terlihat di luar pintu muncul tiga orang tosu setengah baya.

Tamu-tamu di dalam ruangan rumah makan tidak sedikit, tapi setelah semua orang melihat munculnya tiga orang tosu ini, hati semua orang jadi merasa tegang, di dalam ruangan segera menjadi hening, tidak terdengar suara sedikit pun.

Melihat tiga orang ini, Cui-giok terkejut:

"Bu-tong-sam-kiam juga sudah datang!"

Sin-hiong tidak bicara, tangannya di masukan ke dalam air minum dan menulis di atas meja:

"Ang-hoa-kui-bo juga ada di sudut!"

Wajah Cui-giok jadi berubah, dalam hatinya berpikir:

'Kita tadi masih mengatakan jangan perduli-kan dia, tidak diduga setan inipun menginap di penginapan ini, hay! Mungkin malam ini akan terjadi keramaian.'

Baru saja berpikir begitu, Bu-tong-sam-kiam sudah masuk ke dalam.

Wajah ketiga orang itu tampak serius sekali, saat gunung Bu- tong dikacau oleh Thian-ho-tiauw-souw, saat itu mereka bertiga tidak ada di gunung, setelah mereka mendapat kabar, baru buru- buru kembali kegunung.

Bu-tong-sam-kiam sama dengan Ang-hoa-kui-bo, sudah siap lima tahun tidak akan muncul ke dunia persilatan, tapi karena akhir-akhir ini di dunia persilatan sering terjadi gejolak, sampai ketua dari sembilan perguruan besar juga sudah bergerak, maka mereka jadi kembali keluar gunung.

Hati Bu-tong-sam-kiam sangat berat, Coan-hong Totiang yangberjalan di depan berkata:

"Pelayan, apakah ada kamar kosong?" Pelayan rumah makan buru-buru berkata:

"Ada... ada, tuan-tuan tidak makan dulu?"

Mata Coan-hong Totiang melihat ke sekeliling, begitu melihat Sin- hiong dan Cui-giok juga ada di dalam ruangan, sambil menekan wajahnya dia berkata:

"Bagus sekali, kalau begitu siapkan masakan-nya biar kami makan dulu!"

Nada bicaranya seperti sedang marah, bukan saja pelayan tidak mengerti, orang-orang di dalam ruangan pun ikut tidak mengerti. Coan-kong Totiang yang ada di belakang dia pun sudah melihat Sin-hiong, tapi setelah matanya melihat ke sekeliling, dia juga melihat Ang-hoa-kui-bo, tapi Ang-hoa-kui-bo duduk di sudut gelap, sehingga kurang diperhatikan orang-orang.

Coan-kong Totiang mendengus:

"Semua sudah datang, bagus sekali!"

Perkataan kedua orang ini entah apa maksud-nya, tapi buat Sin- hiong dan Cui-giok, mereka sudah tahu perkataannya bermaksud tertentu.

Setelah Cui-giok makan dua sendok, berkata:

"Apakah kau sudah kenyang? Bagaimana kalau kita pindah ke penginapan lain saja?"

Sin-hiong pun tidak mau mencari keributan, maka menganggukan kepala dan berkata:

"Sudah kenyang, kita keluar melihat-lihat dulu saja."

Pelan-pelan dia bangkit berdiri, lalu membayar rekening, sekarang di dalam kota lampu-lampu sudah dinyalakan, saat mereka keluar, Bu-tong-sam-kiam dan Ang-hoa-kui-bo tidak mengikutinya.

Cui-giok menarik nafas panjang dan berkata:

"Seharusnya aku tadi mendengarkanmu, alangkah baiknya jika tidak menginap di penginapan ini!"

"Kenapa?"

"Aku tahu kau tidak takut pada mereka, tapi sebelum membereskan masalah di gunung Bu-li, paling baik jangan perdulikan mereka!"

Sin-hiong menganggukan kepala:

"Maksudku juga begitu, tapi mungkin malam ini kita tidak bisa menghindari mereka."

Cui-giok terkejut: "Menurutmu malam ini mereka akan mencari kita?"

"Aku pikir begitu, tapi jika tidak sangat terpaksa, aku tidak akan bertarung dengan mereka!"

Belok ke sebuah jalan, di depan ada saru penginapan, mereka masuk ke dalam, pelayan sambil tersenyum bertanya:

"Anda suami istri mau menginap?" Wajah Sin-hiong menjadi merah:

"Ada kamar tidak, kami butuh dua kamar." "Dua kamar?"

Sin-hiong menganggukan kepala, pelayan itu dengan terpaksa berkata:

"Maaf sekali, penginapan kami tinggal satu kamar besar, jika anda berdua bisa satu kamar itu pas sekali."

Sin-hiong ragu-ragu sejenak, tapi Cui-giok memotong:

"Satu kamar itu saja, coba tunjukan, kami ingin melihatnya dulu."

Pelayan itu mengerutkan alis, di dalam hatinya berpikir, kedua orang ini aneh sekali, yang laki-laki mau dua kamar, tapi yang wanita mengatakan satu kamar juga boleh, dia melirik Sin-hiong sekali, lalu berjalan menuju ke pekarangan belakang.

Dua orang itu mengikuti dari belakang, hati Sin-hiong jadi bimbang, di dalam hatinya sedikit menolak.

Baru saja melangkah masuk ke pekarangan belakang, mendadak dari depan datang dua orang, kedua orang ini usianya masih sangat muda, di punggungnya terselip pedang panjang, begitu salah seorang lewat di depan Sin-hiong, wajahnya segera berubah!

Tadinya Sin-hiong tidak memperhatikan, setelah jalan beberapa langkah, terdengar salah satunya dari orang tadi dengan terburu- buru berkata:

"Cepat beritahu guru, Kim-kau-kiam-khek sudah datang!" Yang satunya lagi menjawab:

"Tidak usah terburu-buru, dia juga menginap di penginapan ini, dia tidak akan bisa pergi kemana lagi?"

Hati Sin-hiong tergerak:

'Kedua orang ini entah dari perguruan mana? sepertinya aku tidak pernah melihat mereka!'

Dia sudah pernah pergi ke Siauw-lim dan Bu-tong, pernah bertarung dengan ketua perguruan besar Kun-lun Go-bi dan Tiang- pek, tidak usah bicara yang lain, murid-murid dari lima perguruan besar ini entah ada seberapa banyak, jika bisa mengingatnya satu persatu, bukankah dia ini dewa?

"Hay, bertemu masalah lagi!" keluh Cui-giok. Sin-hiong mengangkat-angkat bahunya:

"Kecuali kita menginap di luar kota, jika tidak sedikit banyak pasti bertemu dengan masalah."

Pelayan sudah membawa mereka ke kamar, Sin-hiong melihat kamarnya cukup luas, di depan adalah pekarangan, di belakangnya ada benteng yang tinggi, maka dia menganggukan kepala, menyuruh pelayan itu pergi.

Kata Cui-giok:

"Kita segera bersemedi, untuk bersiap-siap menghadapi keadaan malam nanti."

"Benar, lebih baik kita istirahat saja!" kata Sin-hiong tersenyum.

Setelah berkata, sambil tersenyum dia duduk di sisi jendela lalu memejamkan mata bersemedi.

Cui-giok menyuruh Sin-hiong naik ke atas ranjang, tapi karena mereka belum resmi sebagai suami istri, Sin-hiong pura-pura tidak mendengarnya, Cui-giok memutar otak di dalam hati berkata:

"Pertemuan dengan sembilan ketua perguruan besar tinggal dua- tiga hari lagi, aku belum resmi menikah dengan dia, jika dia menang tidak apa-apa, jika kalah, orang-orang akan melihat aku sebagai wanita tukang gonta ganti laki-laki."

Tadinya dia ingin mengajukan pernikahan pada Sin-hiong, tapi karena masalah pernikahan ini masalah besar, bagaimana dia bisa menebalkan kulit, membuka mulutnya.

Dia berbaring di atas ranjang, tapi tidak bisa tenang, Sin-hiong seperti merasakannya dan bertanya:

"Kau masih memikirkan apa?"

Wajah Cui-giok menjadi merah, untung saja saat ini malam hari, dan di kamar belum dinyalakan lampu, jadi Sin-hiong tidak tahu, dia memutar otak dengan cepat dan berkata:

"Aku sedang memikirkan masalah kita."

"Memikirkan masalah kita? Hay! Tidak ada gunanya mengkhawatirkan masalah jni, aku akan sekuat tenaga melawan mereka!"

Dia salah menangkap kata-kata Cui-giok, tapi Cui-giok juga kesulitan menjelaskannya, terpaksa dia berkata:

"Sin-hiong, kau pikir kau sanggup melawan mereka?"

Di dalam kegelapan, terlihat Sin-hiong menggeleng-gelengkan kepala:

"Sembilan ketua perguruan besar masing-masing mempunyai ilmu silat sangat tinggi, menghadapi empat orang diantara mereka aku mungkin masih bisa menang, kalau sembilan orang ini bersatu, mungkin aku bukan tandingannya?"

Hati Cui-giok menjadi berat dan berkata:

"Kalau begitu, jangan pergi ke pertemuan itu?" "Mana boleh tidak pergi?"

Cui-giok jadi khawatir sekali "Hay!" dia menghela nafas dan melanjutkan:

"Jika terjadi sesuatu padamu, aku pun tidak bisa hidup lagi!"

Sin-hiong tergetar, dia sadar kata-katanya mengandung perasaan yang mendalam, tapi, dia tidak bisa berkata apa untuk menghiburnya?

Dia menghela nafas pelan, sambil menghibur diri berkata: "Bukankah kau pernah berkata orang baik dilindungi langit, jika

aku beruntung bisa menang, bukankah kau mau menemani aku

pergi ke pulau Teratai di Tong-hai?"

Kata-kata ini membuat hati Cui-giok timbul semacam perasaan manis dan asam, tapi, perasaan manis ini kadarnya lebih banyak dari pada perasaan asam, dia berkata:

"Aku tentu saja mau! Malah aku khawatir kau tidak mau aku?"

Mendengar ini Sin-hiong bangkit berdiri dengan tertegun bertanya:

"Apakah betul?"

Yang dia pikirkan sekarang, pertama adalah pergi ke gunung Bu- li untuk memenuhi janji bertemu dengan sembilan ketua perguruan besar, yang kedua adalah khawatir Cui-giok tidak mau menemani dia pergi ke pulau Teratai.

Sejak dia turun gunung, sudah hampir satu tahun lebih, terhadap berbagai masalah di dunia persilatan dia sudah tawar, asalkan dia sudah menyelesaikan pesan gurunya, maka dia siap mundur dari dunia persilatan, dia tidak berambisi di dunia persilatan lagi.

Cui-giok tidak menduga Sin-hiong bisa begitu senang, malah saat dia menanyakan hal ini, tampak mengutarakan isi hatinya, perasaan malu-malu tadi yang ada di dalam hatinya jadi tersapu bersih, segera dia turun dari ranjang dan berkata:

"Kenapa tidak, hai...! Akhirnya aku mendapatkanmu juga!" Setelah berkata dia berlari memeluk Sin-hiong, malah saking bahagianya sampai mencucurkan air mata.

Sin-hiong dengan lembut mengulas-ulas rambut halusnya, dia juga merasakan perasaan yang sama, air mata Cui-giok menetes di atas tangannya, membuat dia terbayang seorang anak pembelah kayu pada suatu hari bisa mendapatkan hari yang bahagia ini, dia sendiri pun tidak tahan meneteskan air mata.

Cui-giok menengadah sedikit dan bertanya:

"Kau nangis?"

Sin-hiong menganggukan kepala: "Kau?" "Tapi tangisku tangis bahagia!" kata Cui-hiok. "Aku juga. "

Belum selesai perkataannya, mendadak di atap rumah terdengar suara baju tersampok angin!

Kedua orang segera berpisah, Sin-hiong pelan berkata: "Kau tunggu disini, aku keluar melihatnya!"

Tadinya Cui-giok ingin ikut keluar, tapi setelah dipikir lagi, orang- orang yang ditemui hari ini, tidak satu pun ilmu silatnya berada dibawah dirinya, jika ikut keluar, malah bisa membuat Sin-hiong tidak bisa memusatkan pikiran.

Maka dia menganggukan kepala: "Kau harus hati-hati!" "Aku tahu."

Terdengar diatas atap ada orang berkata: "Ada disini!"

Ternyata orang ini adalah Coan-kong Totiang salah satu dari Bu- tong-sam-kiam, di dalam hati Sin-hiong berpikir:

'Walaupun aku pernah pergi ke gunung Bu-tong, tapi aku tidak berbuat salah pada orang-orang Bu-tong-pai, apa masalah mereka bertiga malam ini mencari aku?

Mendadak salah seorang berteriak terkejut: "Iiih, disana ada orang!"

Suara ini seperti suara Coan-hong, Coan-kong yang tadi diam berkata:

"Heh, Ang-hoa-kui-bo sudah datang!"

Baru saja dia selesai berkata, mendadak di belakang tubuhnya ada seseorang berkata dingin: "Coan-kong Totiang, kau salah lihat!"

Orang ini barulah Ang-hoa-kui-bo, Bu-tong-sam-kiam mendengar ini, jadi sangat terkejut!

Coan-hong merubah posisi dengan nada dalam berkata: "Gou w Ci-hiang, mau apa kau datang kesini?"

"Kalian sendiri mau apa?" Coan-hong tertawa dingin:

"Mencari Kim-kau-kiam-khek Sen Sin-hiong!" Ang-hoa-kui-bo dengan sinis berkata:

"Begitukah, kalian boleh mencari dia, kenapa aku tidak boleh cari dia?"

Ketika dia bicara, tingkahnya sangat dingin, perawakannya yang tinggi besar berdiri di tiup angin malam, kelihatannya lebih tinggi satu kepala dari pada Bu-tong-sam-kiam, sungguh amat gagah sekali.

Bu-tong-sam-kiam melihat dia datang bukan untuk mencari mereka, maka mereka pun tidak mau mengganggu dia, Coan-soan Totiang melihat ke arah jauh dan berkata:

"Entah siapa yang datang ini? Jika mereka semua datang untuk mencari Sen Sin-hiong, kenapa kita tidak tunggu saja sampai mereka selesai, baru kita datang lagi? Bagaimana pendapat Ji- suheng?"

Sikap Coan-soan Totiang tenang, kata-katanya sedikit banyak membuat orang yang mendengarnya jadi mengerti, begitu pun dengan Ang-hoa-kui-bo, dia menggerakan tongkat besinya sambil tertawa dingin:

"Kalau begitu pergilah kesana!"

Sambil menggerakan ujung tongkatnya, samar -samar menyapu ke arah Coan-soan Totiang!

Coan-soan Totiang mendengus dingin sambil berkata marah: "Gouw Ci-hiang, kau mau berkelahi?"

Dia menepukan sepasang tangannya, tapi dia tidak terpikir ilmu silat Ang-hoa-kui-bo lebih tinggi dari padanya, jika Bu-tong-sam- kiam bersama-sama menyerang, mungkin Ang-hoa-kui-bo tidak bisa berbuat banyak, tapi jika hanya dia seorang diri, itu masih terlalu jauh.

Ang-hoa-kui-bo tertawa dingin: "Kalau seorang diri apa bisa menghalangiku?" Tongkat besi disapukan lalu didorong, hampir saja mengenai pinggangnya Coan-soan Totiang.

Kata-kata Ang-hoa-kui-bo langsung menghina Coan-soan Totiang sebagai orang tidak berguna, bagaimana Bu-tong-sam-kiam bisa terima, Coan-hong Totiang dan Coan-kong Totiang langsung maju, "Ssst ssst!" pedangnya ikut menyerang, sambil marah berkata:

"Kami malah ingin mencoba kau yang di dunia persilatan yang bukan orang tidak berguna ini!"

Pikiran Bu-tong-sam-kiam sudah bisa berkerja sama, begitu Coan-hong Totiang dan Coan-kong Totiang menusukan pedangnya, tubuh Coan-soan Totiang mundur ke belakang, juga mencabut pedang pusakanya. "Ssst!" pedangnya menusuk!

Tiga pedang sekarang bersatu, kekuatannya langsung berlipat ganda, Ang-hoa-kui-bo tidak berani sembarangan lagi, dia memutar tongkat besinya dengan marah berkata:

"Kalian bertiga mau membantu Sen Sin-hiong?"

Putaran tongkat   besinya   sangat   kuat   di   ujung   tongkat menimbulkan angin keras, Bu-tong-sam-kiam tidak berani pedangnya beradu tongkat, Coan-hong Totiang berputar dari belakang menyabetkan pedangnya!

Di atas atap tidak leluasa untuk bertarung, apalagi empat orang, setelah Coan-hong Totiang menusukan pedangnya dia berteriak:

"Jika mau bertarung kita cari tempat kosong diluar kota sana!"

Sebenarnya Bu-tong-sam-kiam pun dalam sedang dalam keadaan kesal, Bu-tong-pai sudah dibuat kacau balau oleh Thian-ho-tiauw- souw, sehingga nama besar Bu-tong-pai jadi tercoreng, ketiga orang ini sedang mencari kesempatan untuk mengangkat kembali nama besar Bu-tong-pai, Ang-hoa-kui-bo datang mencari masalah adalah hal yang mereka inginkan.

Sedangkan buat Ang-hoa-kui-bo, sejak murid kesayangannya Sang-toh pergi, hatinya selalu tidak senang, kemudian walaupun mendengar orang-orang mengatakan ilmu silat Sang-toh sudah maju pesat, tapi Sang-toh tidak pernah bertemu dengannya, dalam hatinya berpikir, jika bukan karena Sen Sin-hiong, bagaimana mungkin dirinya bisa jadi seperti ini, maka dalam keadaan marah dia ingin bertarung lagi dengan Sin-hiong.

Ang-hoa-kui-bo berkata marah:

"Ayo kita kesana, apa aku takut pada kalian?"

Dia menarik tangannya, langsung berlari keluar kota! Coan-kong Totiang berpikir-pikir lalu berkata :

"Sungguh tidak tahu diri setan tua ini, tanpa sebab mengganggu pekerjaan kita, ayo kita bertarung dengan dia!"

Setelah berkata, baru saja mau meloncat mengikutinya, terdengar satu orang dengan pelan berkata: "Tunggu adik-adik, aku mau bicara!"

Bu-tong-sam-kiam jadi senang sekali, ketiga-nya bersama-sama memanggil:

"Ternyata Suheng, entah ada pesan apa?" Pendeta tua yang datang ini ternyata adalah ketua Bu-tong-pai, Coan-cin Cinjin, dia melihat sekali pada Bu-tong-sam-kiam dan berkata:

"Buat apa kalian bertarung dengan dia, mengalah sedikit padanya tidak apa-apa!"

Coan-hong Totiang berkata: "Apakah Suheng masih ada hal penting lain?" Coan-cin Totiang menganggukan kepala, Ang-hoa- kui-bo.sudah berlari sejauh dua puluh tombak, ketika menengok ke belakang melihat Bu-tong-sam-kiam sedang bicara dengan seorang tosu tua, tidak mengikutinya, maka dia berlari kembali.

Setelah dekat sambil tertawa dingin berkata: "Ternyata ketua besar Bu-tong-pai juga sudah datang, he he he, kalian masih kurang satu, tidak membawa gunung Bu-tong kesini."

Coan-cin Totiang tersenyum berkata: "Kita kekurangan orang, apakah kau mau membantu kami memindahkan gunung Bu-tong kemari?"

Ang-hoa-kui-bo menekan wajahnya: "Aku tidak ada waktu berbincang-bincang dengan kalian, tiga Sute kesayanganmu ini mau menghadang aku, maka aku mau mencoba-coba beberapa jurus pedang Bu-tong-pai!"

Perkataannya tanpa di tahan-tahan, sampai Bu-tong-sam-kiam dikatakan dia sebagai Sute kesayangan, tiga orang ini tidak bisa menahan diri, kembali mencabut pedangnya mau bertarung dengannya, Coan-cin Cinjin berkata:

"Kami sedang ada urusan penting, kau ada keperluan apa silahkan saja!"

Setelah berkata, sambil pergi membawa tiga Sutenya! Perbuatannya membuat Ang-hoa-kui-bo jadi tertegun.

Bu-tong-pai selalu menganggap dirinya adalah perguruan yang paling terpandang dan dihormati di dunia persilatan, orang-orang perguruannya semua sombong-sombong, Coan-cin Cinjin tidak perduli atas hinaan Ang-hoa-kui-bo, dan membawa tiga Sutenya pergi, mungkin setiap orang jika mendengarnya tidak akan bisa percaya!

Ang-hoa-kui-bo melihat ke arah jauh dan bergumam

"Para tosu bangsat ini tidak tahu sedang ada masalah apa, hemm lebih baik aku selesaikan dulu urusanku!"

Setelah berkata, dia langsung melayang kembali ke atas atap, tongkat besinya dipukulkan ke atap rumah dan berteriak:

"Sen Sin-hiong, cepat keluar?"

Tenaga Ang-hoa-kui-bo yang begitu besar, setelah menghantam atap rumah penginapan dengan tongkat besinya, bagaimana bisa bertahan, terdengar

"Bruuk!" yang keras, atap rumah segera menjadi bolong besar.

Sekarang sudah larut malam, tamu-tamu penginapan kebanyakan sudah tidur, setelah terdengar suara gemuruh, kebanyakan tamu jadi terbangun ketakutan dan lari pontang panting, keadaan di dalam penginapan segera menjadi kacau.

Ang-hoa-kui-bo melihat ke sekeliling, dia masih tidak melihat bayangannya Sin-hiong, kembali dia mengangkat tongkat besinya dan marah berkata:

"Sen Sin-hiong, jika kau masih tidak keluar, maka aku akan menghancurkan penginapan ini."

Baru saja selesai bicara, mendadak di belakang tubuhnya ada orang menghela nafas dan berkata:

"Lo-cianpwee, kau mau mencari aku, kenapa harus menghancurkan penginapan!"

Ang-hoa-kui-bo membalikan tubuhnya, terlihat Sin-hiong dengan wajah serius berdiri disana dan dengan dingin berkata:

"Akhirnya kau keluar juga, berapa harga satu penginapan?" Setelah berkata, dengan keras dia memanggil-manggil pelayan, setelah cukup lama, baru terlihat si pelayan rumah berjalan keluar sambil gemetaran, Ang-hoa-kui-bo malas bicara, dia melemparkan satu balok perak besar dan berteriak:

"Ambil ini sebagai ganti rugi kalian." Sin-hiong berkata:

"Bagus, tapi Lo-cianpwee memanggil aku, entah ada urusan apa?"

Ang-hoa-kui-bo melototi dia dan berkata: "Apakah kau pernah melihat anak Toh?"

Sin-hiong tidak menduga di tengah malam begini datang mencari dirinya hanya karena masalah ini, maka dia menganggukan kepala dan berkata:

"Pernah!"

"Dimana dia sekarang!" "Dia?"

"Kau sudah melihat anak Toh, tentu tahu sekarang dia ada dimana? Hemm hemm jika tidak memberitahukan keberadaannya, terpaksa kita bertarung lagi!"

Diam-diam Sin-hiong menarik nafas, di dalam hati berkata:

'Kau sangat kasar dan tidak tahu aturan, rupanya sengaja mencari masalah!'

Tapi dia tetap menahan diri:

"Lo-cianpwee, murid anda pergi kemana, bagaimana aku bisa tahu?"

Ang-hoa-kui-bo menggerakan tongkat besinya dengan dingin berkata:

"Kau tidak mau memberitahukan, terpaksa kita bertarung lagi!" Sin-hiong tidak bisa menahan lagi dengan dingin berkata: "Lo-cianpwee terus menerus mendesak aku, terpaksa aku melayaninya!"

Ang-hoa-kui-bo menggulung tongkat besinya, langsung menyapu ke Kian-keng-hiat di kiri kanan Sin-hiong!

Dia tahu ilmu meringankan tubuh dan jurus pedang Sin-hiong cukup hebat, jika di tempat datar, Sin-hiong menggabungkan kedua ilmu silatnya, maka dirinya akan mendapat kesulitan, tapi jika bertaning diatas atap rumah, maka keadaannya akan terbalik.

Sin-hiong tidak memikirkan ini, dia hanya merasa bertarung di depan banyak orang, mudah sekali mengumpulkan banyak orang, maka akan mengganggu penginapan ini.

Maka saat tongkat Ang-hoa-kui-bo menyapu, ujung pedangnya dihentakan, tubuhnya sudah melayang ke tempat lain.

"Mau lari kemana?" teriak Ang-hoa-kui-bo. Saat ini bisa dikatakan dia dalam keadaan unggul, tubuh Sin-hiong belum mantap, dia sudah datang menerjang "Huut!" tongkat besi kembali menyapu.

Dalam penginapan ada banyak orang-orang dunia persilatan yang menginap, diantaranya kebanyakan adalah yang mau pergi ke gunung Bu-li menonton keramaian, melihat terjadi pertarungan di atap rumah, semua orang jadi berlari keluar menonton.

Nama Ang-hoa-kui-bo sangat termasyur di dunia persilatan, bunga merah di sisi telinganya adalah ciri khasnya, para pesilat tinggi di pekarang yang menonton, di antaranya ada seorang dengan terkejut berteriak: "Heh! Itu Ang-hoa-kui-bo!" Setelah orang ini berteriak, hati orang-orang di pekarangan menjadi tegang karenanya!

Terlihat Sin-hiong meloncat keatas, pedangnya menyerang ke bawah, terdengar suara keras "Traang!" dalam pancaran kembang api, tubuh dia sudah mantap berdiri.

Orang-orang jadi lebih terkejut lagi.

Dalam jurus tadi, jika Sin-hiong tidak memiliki ilmu meringankan tubuh dan jurus pedang yang luar biasa, sulit bisa lolos dari jurus ini, tapi akhirnya dia bisa berhasil, bagaimana tidak membuat orang terkejut!

Orang-orang berbisik:

"Siapa pemuda ini? Dapat menangkis serangan dahsyat Ang-hoa- kui-bo, sudah bisa disejajarkan dengan pesilat tinggi dunia persilatan!"

Diantaranya ada yang lebih pintar sedikit setelah melihat- lihatnya, berkata:

"Apakah dia Kim-kau-kiam-khek?"

"Kim-kau-kiam-khek! Betul, apa kau tidak lihat gitar kuno di punggungnya itu?"

Kata-kata ini laksana halilintar di siang hari bolong, sorot mata semua orang jadi ditujukan pada Sin-hiong, membuat nama Ang- hoa-kui-bo jadi kehilangan pamor.

Ang-hoa-kui-bo marah sekali, menghardiknya: "Kau bocah telah merebut kebanggaan di dunia persilatan, malam ini bagaimana pun aku harus membuatmu malu!"

Mendadak tongkatnya menyapu dua kali, angin keras terdengar "Huut huut!", masing-masing menerjang ke Sin-hiong!

Berturut-turut Sin-hiong mengalah tiga jurus, tapi Ang-hoa-kui-bo masih saja tidak mengerti, dia mendesak terus, lama-kalamaan Sin- hiong jadi marah juga "Ssst!" dia menyerang pedangnya sambil tertawa dingin berkata:

"Aku sudah mengalah tiga jurus padamu, apa kau tahu tidak?"

Ang-hoa-kui-bo semakin marah, serangan tongkat besinya semakin gencar, sambil marah berkata:

"Siapa yang mau kau mengalah!"

Setelah berkata, dia hampir menyapukan tongkat besinya sepuluh sapuan lebih! Luas atap rumah tidak besar, di tambah senjata Sin-hiong pendek sekali, dia hanya bisa mengambil kesempatan menyerang satu dua jurus, orang-orang yang melihat, jadi khawatir Pada Sin- hiong.

Tapi gerakan Sin-hiong lincah sekali, walaupun serangan tongkat besi Ang-hoa-kui-bo sangat gencar, dalam waktu singkat tetap tidak bisa mengapa-apakan dia.

Cui-giok pelan-pelan keluar kamar, dia sangat yakin sekali pada diri Sin-hiong, tapi melihat serangan Ang-hoa-kui-bo sangat gencar, hatinya jadi ikut berdebar-debar.

Kedua orang itu dalam sekejap sudah bertarung dua puluh jurus, Sin-hiong masih saja lebih banyak bertahan daripada menyerang, Ang-hoa-kui-bo mengambil kesempatan menguntungkan ini, sedikit pun tidak mengendurkan serangannya!

Dalam sekejap dia kembali menyerang lagi tiga jurus, mungkin karena tenaganya terlalu besar, mendadak terdengar suara "Kreek!", genteng rumah berjatuhan ke bawah.

Sin-hiong mencuri pandang, melihat Cui-giok sedang memperhatikan pertarungan, sambil tertawa keras berkata:

"Lo-cianpwee, kau tadi sudah membayar ganti rugi pada pelayan, sekarang boleh dengan tenang memecahkan lagi genteng- gentengnya!"

Kata-katanya jelas mengejek Ang-hoa-kui-bo, tapi diam-diam juga memberi tahu Cui-giok, keadaan dia sedikit pun tidak terdesak.

Cui-giok berteriak:

"Sin-hiong, konsentrasi!"

Sin-hiong menggetarkan pedang pusakanya, sambil tertawa berkata:

"Kau tenang saja!"

Serangannya   menyerang    sisi    punggung    Ang-hoa-kui-bo, walaupun Ang-hoa-kui-bo memiliki keunggulan senjata, tapi tongkatnya besar dan berat, gerakannya kurang lincah, dia memutar tubuhnya menyapukan ujung tongkat, angin pukulan tongkat lewat, genteng atap rumah kembali disapu dia berjatuhan ke bawah!

Semua orang diam-diam terkejut, tapi Sin-hiong masih tenang- tenang saja menghadapinya, dia tidak menyerang tidak apa-apa, tapi sekali menyerang, maka Ang-hoa-kui-bo mau tidak mau harus membalikan tongkatnya menangkis!

Lima enam jurus sudah lewat lagi, rumah kayu ini tidak tahan lagi menahan beban pertarungan sengit kedua orang ini, saat ini sudah mulai bergoyang goyang. Pelayan rumah terkejut, tapi tidak berani bersuara, dia hanya bisa gelisah sampai bercucuran keringat dingin.

Semakin bertarung Ang-hoa-kui-bo semakin bersemangat, setiap serangannya adalah serangan mematikan, satu jurus Boan-thian- kai-te (Langit penuh tertutup tanah) mengeluarkan suara "Buum" ber gemuruh, atap rumah dipukulnya sampai jadi bolong besar, tapi Sin-hiong sudah melayang ke tempat lain!

Karena terlalu besar menggunakan tenaga, hampir saja Ang-hoa- kui-bo tidak bisa menahannya, tubuhnya bergoyang-goyang, hampir saja jatuh ke bawah.

Sin-hiong tersenyum, dia melayang turun disisi Cui-giok, dengan pelan menariknya dan berkata:

"Jalanlah!"

Cui-giok tidak tahu apa maksudnya Sin-hiong, terpaksa diam mengikutinya, baru saja berjalan dua langkah, mendadak, ada angin keras yang amat dahsyat datang mendorong.

Orang-orang di pekarangan semua sampai berteriak terkejut, Cui-giok sudah tahu Ang-hoa-kui-bo menyerang secara diam-diam dari belakang, hatinya terkejut, tepat pada saat ini, mendadak dia merasa dirinya ditarik oleh Sin-hiong, Sin-hiong sudah membalikan tubuh menyambutnya. Dia memalingkan kepala, terlihat sinar pedang Sin-hiong laksana jaring, mengurung seluruh tubuh Ang-hoa-kui-bo.

Tubuh Sin-hiong melayang-layang tidak menentu, walau sehebat apa pun ilmu silat Ang-hoa-kui-bo, tapi yang dituju oleh ujung tongkatnya selalu tempat kosong yang tidak ada apa-apa, maka setelah lewat dua puluh jurus, Ang-hoa-kui-bo sudah berada di bawah angin.

Seluruh penonton yang berada di dalam pekarangan baru benar- benar melihat Kim-kau-kiam-khek sungguh-sungguh berilmu tinggi.

Saat mereka berdua bertarung dengan sengit, mendadak di atas benteng muncul tiga bayangan orang, ketiganya memakai baju tosu, mereka Bu-tong-sam-kiam yang kembali lagi!

Coan-hong Totiang turun duluan ke bawah sambil berkata dingin: "Gouw Ci-hiang, kau sudah berada di bawah angin!"

Coan-kong dan Coan-soan dua orang juga ikut turun kebawah, tiga orang dengan angkuhnya berdiri di pinggir, kata-katanya terus mengejek, membuat Ang-hoa-kui-bo marah setengah mati.

Ang-hoa-kui-bo menyerang tiga jurus lagi, mendesak Sin-hiong mundur sedikit, dengan marah berkata:

"Aku tidak bisa, apa kalian mau mencobanya?"

Coan-kong sengaja melihat pada Coan-soan dan berkata:

"Dia sendiri sudah mengaku tidak sanggup, maka hanya tinggal melihat bagaimana kita dari Bu-tong-pai!"

Kata-kata ini lebih-lebih tidak enak didengar, Ang-hoa-kui-bo mendengar seperti api disiram minyak, dia berteriak, menyapukan tongkat besinya pada Coan-kong.

Coan-kong menghindar, Coan-soan dengan cepat menusukan pedangnya!

Ang-hoa-kui-bo marah sekali, dia terhadap Sin-hiong sedikit banyak dia masih merasa ragu, "tapi terhadap Bu-tong-sam-kiam, keadaannya berbeda sekali, tidak sampai tiga jurus, dia sudah memaksa Bu-tong-sam-kiam bersatu baru bisa menghadapi dia!

Keadaan di depan mata mendadak berubah, orang-orang yang menonton di pinggir semua jadi berteriak:

"Memuaskan!"

Tapi Sin-hiong sangat tidak mengerti, di dalam hatinya berpikir, Bu-tong-sam-kiam kembali lagi setelah pergi, pasti ada apa apanya?

Saat ini pertarungan di lapangan sedang sengit-sengitnya, dia tidak mau ikut campur lagi, bersama Cui-giok dia bersiap meninggalkan tempat itu, siapa sangka baru saja dia berpikir begitu, mendadak diatas benteng muncul lagi dua orang.

Yang datang ini adalah dua orang tua, tapi yang di sebelah kiri dia sudah mengenalnya, orang ini janggut panjangnya melayang- layang di depan dada, dia adalah ketua Hoa-san-pai Cia Thian-cu!

Cui-giok tergerak dan berbisik: "Yang satu itu aku pun mengenalnya, dia adalah ketua Kong-tong-pai Bu-eng-kiam (Pedang tanpa bayangan) Hong Ping-lam!"

Sin-hiong menganggukan kepala, di dalam hatinya berpikir, pertemuan di gunung Bu-li masih tiga hari lagi, kenapa mereka sudah datang kemari?

Perawakan ketua Kong-tong-pai bulat, wajah-nya merah seperti berdarah, usianya sudah tujuh puluhan, tapi dilihat dari luar, wajahnya tetap sangat perkasa.

Sorot mata Tayhiap Tui-hong Cia Thian-cu menyapu lapangan, lalu melayang mendekati Sin-hiong dan berkata:

"Tayhiap, bagaimana kabarnya!" Sin-hiong tersenyum dan berkata:

"Cia Lo-cianpwee, aku baik baik saja!"

"Kita tidak perlu basa-basi lagi, pertemuan di bukit Lui-hong di gunung Bu-li masih ada tiga hari, saat tengah malam kami menunggu anda di depan kuil Ceng-hie di puncak gunung, maaf tidak memakai kartu undangan!"

Ternyata dia sengaja datang untuk menyampaikan undangan bertarung langsung pada orangnya, Sin-hiong menganggukan kepala, artinya menerima tantangan ini.

Ketua Kong-tong-pai melihat pada Sin-hiong sekali, wajahnya tampak sedikit keheranan.

Ternyata dalam hatinya tidak menyangka, Kim-kau-kiam-khek yang sangat termasyur, ternyata masih seorang remaja berusia delapan sembilan belas tahun!

Dia mendengus pelan dan sengaja berkata:

"Cia-heng, bocah ini?"

Ketua Hoa-san-pai mengiyakan, Hong Ping-lam tertawa dingin, mendadak menengadahkan kepala, berkata:

"Baiklah! Aku tunggu tiga hari lagi saja!"

Sikap Hong Ping-lam terlihat sombong, melihat raut wajahnya, jika bukan karena ada perjanjian bertemu tiga hari lagi, mungkin dia sekarang inipun ingin bertarung dengan Sin-hiong.

Saat ini Bu-tong-sam-kiam sedang seru-serunya bertarung dengan Ang-hoa-kui-bo, Hong Ping-lam jadi mendapat kesempatan melampiaskan kekesalannya dan berteriak:

"Jago dari Bu-tong-pai, berhenti!"

Berteriakannya menggunakan seluruh tenaga dalamnya, sampai menggetarkan telinga orang-orang di dalam pekarangan, sehebat apa tenaga dalamnya, sungguh tidak perlu dikatakan lagi, Bu-tong- sam-kiam yang tadi pergi lalu kembali lagi, tadinya bermaksud setelah mengalahkan Ang-hoa-kui-bo lalu menghadapi Sin-hiong, tidak diduga kata-kata Coan-kong telah membuat marah Ang-hoa- kui-bo, malah mereka jadi bertarung dengan Ang-hoa-kui-bo.

Setelah Hong Ping-lam berteriak, walaupun Bu-tong-sam-kiam mendengar nadanya kurang bersahabat, Coan-hong Totiang segera memutar matanya, dua orang temannya mengerti maksudnya dan mundur ke belakang. "Anda ada perlu apa?" tanya Coan-soan.

Hong Ping-lam tidak memperdulikan, dia maju selangkah dan membentak:

"Gouw-popo, kau datang untuk membantu marga Sen itu?" Mendengar ini kemarahan Ang-hoa-kui-bo jadi memuncak, paru-

parunya seperti mau meledak rasa-nya, seumur hidup dia tidak

pernah diperintah orang, Hong Ping-lam membentak-bentak di hadapan dia menanyakan, sungguh-sungguh baru terjadi kali ini.

Ang-hoa-kui-bo melototkan matanya dengan dingin berkata: "Kau ini barang apa, kau tidak pantas bertanya padaku?"

Kedua orang ini sama-sama sangat sombong, layaknya kau tabrak aku, aku pun tabrak kau, kelihatannya pertarungan ini kembali akan berubah lawan lagi.

Hong Ping-lam mendengus dingin, mencabut pedang pusakanya, lalu digetar-getarkan dan berkata:

"Mengandalkan ini apa tidak cukup?"

Ang-hoa-kui-bo marah sekali, baru saja akan menyapukan tongkat besinya, Cia Thian-cu sudah maju menghadangnya dan berteriak:

"Kalian berdua jangan bertarung dulu, aku mau bicara!" Ang-hoa-kui-bo berkata dingin:

"Cia Thian-cu, ada kentut cepat keluarkan, kalian berdua ingin mengeroyok aku juga tidak takut!"

Kata-kata ini begitu keluar, semua orang jadi khawatir ketua Hoa-san-pai juga akan marah, tapi di luar dugaan, dia hanya tertawa dengan tenang berkata:

"Masalah penting harus didahulukan, Gouw Ci-hiang buat apa kau terburu-buru!"

Ang-hoa-kui-bo melototi dia sekali dengan dingin berkata lagi: "Baiklah kalau begitu, sekarang kalian cepat pergi, aku masih ada

urusan dengan Sen Sin-hiong!"

Inilah kata-kata yang ingin didengar semua orang, selain wajah Hong Ping-lam masih terlihat kekesalan, ketua Hoa-san-pai dan Bu- tong-sam-kiam semuanya mundur ke pinggir!

Diam-diam Sin-hiong menarik nafas, di dalam hatinya berpikir, Ang-hoa-kui-bo seperti seekor anjing gila, melihat orang langsung menggigit, walau aku tidak mau mencari masalah, tapi tidak bisa terlihat terlalu mengalah!

Dia maju dua langkah dan berkata:

"Gouw Lo-cianpwee, kau sungguh mau mencari aku?"

Ang-hoa-kui-bo dengan Sang-toh adalah guru dengan murid, sebenarnya perasaannya lebih dekat dari pada hubungan ibu dan anak, dulu demi Cui-giok, dia tidak segan-segan bermusuhan dengan Hoa-san-pai, makanya setelah Sang-toh pergi tidak kembali, semua kemarahannya dilampiaskan pada Sin-hiong, dia membenci setengah mati, bagaimana bisa mengerti benar atau bohong?

Sepatah katapun tidak terucap, tongkat besinya sudah disapukan kembali!

Sekarang Sin-hiong pun tidak mau banyak bicara lagi, tubuhnya berkelebat "Ssst!" pedangnya menusuk!

Ang-hoa-kui-bo tertawa dingin, tongkat besi-nya ditarik lalu mendongkel, gerakan tongkat besinya sampai mengetarkan baju panjang orang-orang yang berdiri dipinggir, dahsyatnya sangat menakutkan siapapun. Siapa sangka saat menyapukan tongkat besinya, di depan malah tidak ada orang, Ang-hoa-kui-bo sedikit tertegun, lalu merasa di belakang ada hawa dingin menyerang, dia berteriak, tanpa melihat ke belakang tongkatnya menghantam ke belakang tiga kali! Semua orang diam-diam tergetar, tapi Sin-hiong sedikit pun tidak mundur, pedangnya menyerang laksana angin, di depan dan di belakang Ang-hoa-kui-bo penuh dengan bayangannya, dalam sekejap dia membalas menyerang tujuh delapan jurus!

Kelihatan Ang-hoa-kui-bo jadi kewalahan. Ang-hoa-kui-bo terkejut, dalam hatinya berpikir, satu tahun tidak bertemu, ilmu silat sibocah ini sudah maju lebih pesat, jika aku kalah lagi di tangan nya, mana ada muka berdiri di dunia persilatan lagi?

Timbul nekadnya, serangannya jadi tidak memperhatikan keselamatan dirinya, angin pukulan tongkat laksana gunung, setiap jurus mengarah ke tempat yang mematikan di rubuh Sin-hiong!

Sin-hiong melihat serangannya tidak tanggung tanggung lagi, dia jadi naik pitam, dia berteriak, pedangnya disabetkan ke bawah!

Serangan pedang kelihatannya menyabet bunga merah disisi rambut Ang-hoa-kui-bo, hati Ang-hoa-kui-bo tergetar, ujung tongkat disapukan ke belakang, siapa sangka ujung pedang Sin-hiong mendongkel, hawa dingin pedang sudah sampai di atas kepala!

Wajah Ang-hoa-kui-bo berubah, dia menyapu-kan tongkatnya beberapa kali, ingin memecahkan jurus Sin-hiong ini!

Tapi, Sin-hiong menggunakan jurus ini dengan pintar, setelah memutar beberapa kali pergelangan tangannya, kilatan sinar perak selalu berada tidak lebih lima inci di atas kepala Ang-hoa-kui-bo.

Hati semua orang di pekarangan menjadi tegang, jika Ang-hoa- kui-bo tidak mundur, apa akibatnya dari jurus ini, sungguh membuat orang tidak berani membayangkannya.

Sin-hiong tertawa dan berkata: "Masih tidak mau mengaku kalah?"

Dia menggerakan pergelangan tangan, baru saja akan disabetkan ke bawah!

Tepat pada saat ini, mendadak dari sudut gelap terdengar suara "Ssst!", satu angin keras sudah melesat ke arah pergelangan tangan Sin-hiong.

Sin-hiong sedikit tergetar "Huut!" telapak tangannya menghantam, sejak dia telah memakan Ho-siu-oh berusia ribuan tahun, tenaganya sudah berlipat ganda beberapa kali, tadinya dia pikir pukulan telapak tangannya bisa menjatuhkan senjata gelap ini, siapa sangka kenyataannya di luar dugaan!

Senjata gelap itu walau kelihatan kecil, disapu oleh telapak anginnya, hanya sedikit melenceng, lalu kembali melesat ke pergelangan tangannya, hanya tenaganya saja yang berkurang sedikit.

Sin-hiong terkejut, dia memiringkan tubuh, menangkis dengan pedangnya, terdengar suara nyaring "Traang!", ternyata benda itu sebutir batu, walau dipukul jatuh, tapi masih meloncat-loncat dua kali baru berhenti.

Kejadian ini bukan saja di luar dugaan Sin-hiong, semua orang di dalam pekarangan yang menyaksikan juga tidak tahan menarik nafas dingin!

Ilmu silat Ang-hoa-kui-bo sudah hebat, tapi Ang-hoa-kui-bo masih bukan lawannya Kim-kau-kiam-khek, Kim-kau-kiam-khek seharusnya lebih hebat lagi, tapi oleh sebutir batu kecil dia harus menangkisn dua kali baru bisa berhasil, lalu bagaimana dengan ilmu silat pelempar batu ini, tidak perlu ditanyakan juga sudah tahu.

Tepat pada saat semua orang terbengong-bengong, Ang-hoa-kui- bo sudah mengangkat tongkat besinya dan dipukulkan kepada kepalanya sendiri!

Ini kejadian yang tidak di duga, siapa pun tidak ada yang mengira dia akan melakukan ini, dengan kata lain, semua orang hanya bisa bengong melihat dia bunuh diri di pekarangan yang kecil ini.

Terdengar ada orang yang mengeluarkan suara keluhan terkejut, Sin-hiong jadi tergetar tubuhnya langsung menerjang ke depan.

Tentu saja dia tidak menduga Ang-hoa-kui-bo setelah kalah bisa melakukan bunuh diri, jadi walaupun dia bergerak cepat, jelas masih terlambat!

Di saat yang kritis ini, kembali terdengar suara "Ssst!" suara ini lebih tajam dan memekakan telinga dari pada yang tadi, jelas tenaganya juga jauh lebih besar!

Setelah suara itu hilang, lalu terdengar satu suara kecil sambil menghela nafas berkata:

"Buat apa?"

Perkataannya walau kecil sekali, tapi kata-katanya terdengar jelas, Ang-hoa-kui-bo yang bertekad bunuh diri, walau dia tidak memperhatikan, tapi suara "Ssst!" tadi telah mengenai pergelangan tangannya, membuat tangannya mati rasa, dan tongkat besi yang telah diangkatnya kembali turun ke bawah!

Wajah dia penuh rasa terkejut, begitu Sin-hiong turun, wajahnya pun penuh rasa terkejut, Hoa-san, Kong-tong, Bu-tong-sam-kiam dan orang-orang di dalam pekarangan, tidak satu pun wajahnya tidak terkejut.

Jika dikatakan orang yang melempar batu ini, hanya untuk membantu Ang-hoa-kui-bo, sepertinya tidak juga, jika dikatakan bukan, itupun tidak juga?

Orang-orang di lapangan semuanya bengong melihat ke arah datangnya suara, tapi disana tidak terdengar ada suara lagi.

Ang-hoa-kui-bo mengeluh panjang:

"Sudahlah, sudahlah!"

Setelah berkata dia menengadah melihat langit, dalam kegelapan malam, semua orang masih bisa melihat wajahnya yang penuh kesedihan.

Ang-hoa-kui-bo lalu menghentakan tongkat besinya, tubuhnya yang tinggi besar sudah meng-hilang di kegelapan malam.

Ketua Kong-tong-pai Hong Ping-lam masih sedikit penasaran, tapi sekarang setelah menyaksikan pertarungan seru antara Ang-hoa- kui-bo dengan Sin-hiong, dia baru tahu sulitnya melawan Kim-kau- kiam-khek, dia segera menarik Cia Thian-cu, dua orang itu langsung meninggalkan tempat itu.

Bu-tong-sam-kiam lebih-lebih tidak bisa bicara, saling pandang sekali, lalu pergi juga.

Cui-giok pelan-pelan menghampiri, bertanya: "Sin-hiong, kulihat orang ini baru lawan berat!"

Sin-hiong masih memikirkan siapa pelempar batu itu, dalam bayangannya, di seluruh dunia persilatan selain ketua pulau Teratai, mungkin tidak ada orang yang ilmu silatnya sehebat ini.

Tapi, mungkinkah ketua pulau Teratai ada di tempat ini?

Jika ketua pulau Teratai ada disekitar ini, maka Hui-lan pun seharusnya ada di sekitar ini!

Berpikir sampai disini, tidak tahan dia berguman: "Tidak, dia adalah ketua pulau Teratai!"

Hati Cui-giok tergetar, dalam hatinya berpikir, jika ketua pulau Teratai ada disini, maka Hui-lan yang tidak bisa dilupakan Sin-hiong juga ada di sekitar ini, dia terlalu mencintai Sin-hiong, maka otaknya berputar dan berkata:

"Yah! Kita cepat pergi!"

Sin-hiong tidak banyak berpikir, dia melemparkan setail uang perak, dua orang itu buru-buru meninggalkan tempat.

Keluar dari kota, di depan masih ada satu gunung besar, Cui-giok menghela nafas:

"Mereka sudah pergi lagi!"

Sin-hiong tidak putus asa, tapi dia demi kebaikan Cui-giok, terpaksa dia menghentikan langkah dan berkata:

"Kau sudah lelah? Kita istirahat dulu sebentar!" Cui-giok menarik nafas, melihat pada bumi yang diselimuti gelapnya malam dan berkata:

"Tidak perduli bagaimana, kita harus mengejar mereka!"

Sin-hiong menghela nafas panjang, lalu mengangkat Cui-giok, selangkah pun tidak berhenti terus mengejar.

Sekaligus dia berlari lima enam li, begitu melihat ke atas, bumi masih gelap, Cui-giok meronta sedikit dan berkata:

"Kenapa kau tidak teruskan jalan!"

"Kita sudah cukup jauh jalannya, tapi masih tidak melihat jejak mereka, mungkin mereka sudah jauh!"

"Coba kejar lagi sebentar!"

Dia mengatakan ini semua demi Sin-hiong, dia tahu sifatnya Sin- hiong, tentu saja juga tahu di dalam hati Sin-hiong saat inipun sangat mencintai Hui-lan, walaupun tahu tadi Sin-hiong telah bertarung, tapi dia tetap mendesak Sin-hiong supaya melanjutkan pengejarannya!

Sin-hiong menarik nafas dalam-dalam, lalu melangkah secepatnya berlari ke depan!

Kali ini dia berlari hampir menempuh perjalanan sejauh lima enam puluh li, melewati satu kota kabupaten, lima enam kota kecil, saat dia menghentikan langkahnya, Cui-giok berkata:

"Hari sudah hampir terang, kita istirahatlah!"

Sin-hiong melihat tugu di sisi jalan tertulis tiga huruf besar: "Bu-li-san!"

Setelah perkataan Cui-giok selesai, mendadak melihat tiga huruf "Bu-li-san" dia terkejut dan berteriak: "Sudah sampai gunung Bu-li!"

Sin-hiong menganggukan kepala, berguman: "Gunung Bu-li, Bu- li-san!"

Dia bolak balik membaca tiga huruf ini, pikirannya bergejolak, di dalam hatinya berpikir,:

'Tinggal tiga hari lagi, waktu tiga hari itu sangat singkat, hay! Aku tidak ada keyakinan bisa mengalahkan sembilan ketua perguruan besar, aku hanya bisa berharap bagaimana nanti saja.'

Sejak kecil Sin-hiong sering mendapat penghinaan, jika bukan karena gurunya, Khu Ceng-hong menyelamatkan dia di dalam tanah salju, bagaimana pun dia tidak ada hari ini?

Pelan-pelan dia menurunkan Cui-giok dan berkata:

"Sudah tiba di gunung Bu-li, hay! Tinggal melihat pertempuran dalam waktu tiga hari ini!"

Cui-giok melihat kata-kata dia penuh dengan perasaan, sepertinya ada semacam ramalan yang jelek, dia bergerak dua langkah, sepasang matanya menatap tajam pada Sin-hiong dan berkata:

"Sin-hiong, tambah semangat sedikit, kau pasti menang!"

Sin-hiong jadi merasa bersemangat kembali, dia memeluk Cui- giok dan berkata:

"Adik Giok, kau jangan tinggalkan aku!"

Cui-giok tergetar, ternyata dia sudah merasa-kan saat Sin-hiong memeluk dirinya, tangannya yang kuat itu sedikit gemetaran, di dalam hatinya berpikir:

'Dia sudah mengalami banyak pertempuran besar dan kecil, mungkin karena tanggung jawabnya terlalu berat, kunci berhasil atau gagal hanya dalam pertempuran ini, jika dia kalah, bagaimana dengan aku?'

Hati dia naik turun tidak menentu, Sin-hiong memeluk dia erat- erat, dia juga memeluk Sin-hiong erat erat, dengan pelan berkata:

"Sin-hiong, kau pasti menang!"

Sin-hiong memejamkan matanya, dia sedang menikmati kehangatan sesaat, pertempuran ini, sungguh terlalu penting, walau dia sehebat apa pun, jika tidak ada orang yang mendukungnya, menghadapi keadaan sepenting ini, bagaimana pun dia merasa sedikit ketakutan.

Kedua orang saling memeluk dengan eratnya, dan saling di mabuk cinta, siapa pun tidak berkata-kata, sampai hari hampir terang, Cui-giok baru sambil menghela nafas panjang:

"Hari sudah terang, kau tidak lupa bukan, orang baik dilindungi langit!"

Sin-hiong pelan-pelan berdiri, jujur saja, dia tidak tahu sudah berapa banyak dia menghadapi pertarungan besar kecil, tapi yang seperti hari ini hatinya berdebar-debar, mungkin untuk pertama kalinya sepanjang hidup dia.

Ayam berkokok, hari kembali terang! Satu hari lewat, dua hari lewat, hari ketiga, akhirnya tiba juga!

Di sudut satu tebing gunung, dua orang sedang berbaring dengan tenang, dua orang ini tentu saja Sin-hiong dan Cui-giok.

Dalam dua tiga hari ini, Sin-hiong sudah mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya, sudah mempersiapkan dengan penuh menghadapi satu pertarungan yang memerlukan seluruh kekuatannya!

Cui-giok merawat dia, melindungi dia, semua yang dipikirkan Sin- hiong dan yang dia harapkan, telah semua dilakukannya, dia terlalu mencintai Sin-hiong.

Dua orang itu dengan tenang berbaring, tapi di sisi lain, di dunia persilatan malah telah terjadi gelombang besar.

Sejak pagi sampai siang, di atas di bawah gunung Bu-li tidak henti-hentinya orang datang, orang orang ini seratus persen adalah orang-orang dunia persilatan, termasuk di dalamnya berbagai perguruan dan berbagai aliran, dari berbagai gunung!

Matahari sudah terbit, Cui-giok mendorong Sin-hiong dan berkata: "Kita berjalan pelan-pelan saja!"

Sin-hiong bangkit berdiri, merapihkan bajunya, lalu bersama Cui- giok berjalan menuju puncak gunung! Kedua orang berjalan pelan- pelan.

Sampai tengah hari mereka makan makanan kering, lalu disaat kembali melanjutkan perjalanannya, di depan samar-samar ada satu orang berjalan.

Tadinya Sin-hiong kurang memperhatikan, tapi saat dia menyadari, orang itu sudah menghilang.

Sin-hiong sedikit tergetar, di dalam hati berkata: 'Orang ini jati dirinya aneh, lebih baik aku kedepan melihatnya!'

Saat itu dia menyuruh Cui-giok berdiam di tempat, dia sendiri meloncat mengejar ke depan!

Gunung Bu-li berderet hampir beberapa ribu li, dia berlari kesana melihat, tapi tidak ada bayangan apapun?

Maka dengan sendirinya Sin-hiong meningkatkan kewaspadaannya, segera berlari turun, siapa sangka, sampai di tempat semula, Cui-giok sudah tidak ada, entah kemana perginya!

Sin-hiong terkejut, dia berteriak beberapa kali, tetap saja tidak ada yang menjawabnya!

Hati dia jadi berat, dia melihat ke atas melihat cuaca, matahari pelan-pelan sudah tenggelam ke barat.

Hati Sin-hiong jadi gelisah sekali, dia berteriak lagi beberapa kali, rupanya Cui-giok sudah ditawan, dia mengitari jalanan gunung beberapa putaran, tetap masih tidak menemukan jejak Cui-giok.

Setelah berpikir-pikir, di dalam hati berkata:

"Hal ini selain sembilan perguruan besar, siapa lagi yang berani melakukannya?"

Berpikir sampai disini, tidak tahan amarahnya jadi meledak, sekali meloncat langsung menerjang ke atas puncak. Ketika berlari, tidak jauh di depan ada banyak orang sedang berjalan, terpaksa dia menghentikan langkahnya, terdengar satu orang berkata:

"Saudara, pertarungan ini dalam seratus tahun pun sulit bisa menyaksikannya!"

"Tentu! tentu!" jawab yang saru lagi. Salah satu diantaranya menyela:

"Kim-kau-kiam-khek baru satu tahun muncul di dunia persilatan, sudah bisa melawan ketuanya sembilan perguruan besar dunia persilatan, sungguh hal yang menakjubkan!"

Orang-orang ini sambil berjalan sambil berbincang-bincang, tentu saja tidak mengira Sin-hiong berada dalam kelompoknya.

Sin-hiong melihat tidak ada kabarnya Cui-giok, dia jadi merasa kehilangan harapan, setelah hampir sampai di puncak, terlihat banyak sekali kerumunan orang, tampaknya tidak kurang dari beberapa ratus orang.

Dia melihat ke depan, terlihat kuil Ceng-hie dengan megahnya berdiri di dalam kegelapan malam. hatinya berpikir, waktunya masih banyak, lebih baik aku mencari Cui-giok dulu?

Dia berputar-putar di depan dan di belakang gunung, hari sudah semakin gelap, semakin sulit saja mencari Cui-giok, dia terpaksa kembali lagi.

Saat ini orang-orang yang mau melihat keramaian semakin banyak saja, gunung yang tadinya sepi, saat ini sudah hampir menjadi kota yang ramai, Sin-hiong pelan-pelan berjalan ke depan, terlihat di depan kuil Ceng-hie obor menyala tinggi, ada puluhan laki-laki besar berdiri disana, wajahnya serius, pertarungan yang menggemparkan dunia ini sungguh sungguh luar biasa sekali.

Sin-hiong melihat, semangatnya tiba-tiba terasa bergolak, dalam hari berkata:

'Tidak perduli menang atau kalah, akhirnya namaku bisa menggemparkan dunia!'

Sebenarnya, nama besar dia sudah menggemparkan dunia persilatan, tapi dengan adanya kejadian seperti hari ini, begitu banyak orang datang kesini karena nama besarnya, seumur hidup inilah pertama kalinya.

Dia merasa semangatnya jadi bertambah, perasaan yang tertekan tadi pun disapu menghilang.

Hari semakin gelap, kerumunan orang di sekitar tempat itu, pelan-pelan berkumpul di depan kuil.

Dalam kerumunan orang ada seseorang dengan perhatian bertanya:

"Entah sembilan ketua dari perguruan besar sudah datang atau belum?"

Salah seorang menjawab:

"Sudah dari tadi datangnya! Hanya Kim-kau-kiam-khek saja yang belum terlihat!".

Satu orang menyela:

"Aku lihat dia tidak akan datang, bagaimana mungkin dia berani menerima tantangan dari sembilan ketua perguruan besar, he he he, jika bukan sudah bosan hidup, maka pasti dia sudah gila!"

Tidak lama kemudian, dari dalam kuil berjalan keluar seorang hwesio tua berwajah bersih, orang ini tangannya membawa tongkat Budha, Sin-hiong tahu dia adalah Bu-can.

Dalam pertarungan menghadapi Siauw-lim, membuat Siauw-lim- sam-lo yang menggemparkan dunia ini mengundurkan diri dari dunia persilatan, Bu-can baru saja dilantik jadi ketua sudah menghadapi masalah yang rumit ini.

Bu-can melihat-lihat sekelilingnya, lalu sorot matanya menerawang ke arah jauh, kelihatannya sedang menunggu seseorang. Sin-hiong tahu dia sedang menunggu dirinya, tapi dia pikir sekarang masih belum waktu nya, kenapa aku tidak menunggu lagi sebentar?

Sejak kecil Sin-hiong hidup miskin, selama hidupnya tidak pernah tampil di depan orang banyak, jika bukan karena didesak, dia sama sekali tidak akan beraksi.

Walau kali ini ada kekecualian, tapi karena sifatnya begitu, akhirnya dia tetap berdiri di kerumun-an orang tidak bergerak.

Bu-can berdiri sejenak, di dalam kuil keluar lagi dua orang.

Kedua orang ini dia tidak kenal, tapi para penonton sudah ada yang berteriak:

"Lihat, itulah ketua baru Siauw-lim-pai, dua yang lainnya adalah dari Tiam-jong-pai dan Bu-tai-pai."

Ketua dari Bu-tai-pai adalah seorang tosu yang berperawakan tinggi besar, dia melihat-lihat ke kiri dan kanan dulu lalu bertanya:

"Sampai sekarang dia masih belum muncul, mungkin benar- benar tidak akan datang!"

Ketua Tiam-jong-pai usianya lebih tua, tampak seperti orang tua kampung, terlihat dia menghisap pipa tembakaunya dalam-dalam lalu sambil menganggukan kepala:

"Kata-kata Gouw-it Taysu tidak salah, aku lihat kebanyakan dia tidak akan datang!"

Setelah berkata, di kuil Ceng-hie keluar lagi beberapa orang!

Beberapa orang ini termasuk ketua Go-bi, Kun-Iun beberapa ketua perguruan besar, jumlah semuanya tepat ada sembilan orang!

Begitu sembilan ketua perguruan muncul, seluruh gunung segera terjadi kegaduhan. waktu semakin dekat dengan saat pertemuan, hanya Kim-kau-kiam-khek yang masih belum terlihat! bukan saja sembilan ketua dari berbagai perguruan sudah tidak sabar, para penonton pun kelihatan tidak mengerti. Dalam janji pertemuan di dunia persilatan, kecuali tidak menyanggupi, jika sekali menyanggupi, walaupun harus menempuh bahaya seberat apa pun harus tetap menepati janjinya!

Cing-cen Totiang dari Go-bi-pai mengerutkan alisnya dalam- dalam, dia memalingkan kepala dan bertanya:

"Masih berapa lama lagi sampai jam tujuh malam?" Seorang murid dibelakangnya menjawab: "Sebentar lagi!"

Mendengar kata-kata ini, Cing-cen Totiang pelan-pelan berjalan ke tengah lapangan, di belakang dia ada Coan-cin Cinjin dari Bu- tong-pai, kedua orang itu setelah menghentikan langkahnya, Coan- cin berkata:

"Menurut pendapatku, jika dia sampai waktu-nya masih belum datang, kita umumkan saja dia telah mengaku kalah, bagaimana?"

Ketua Go-bi-pai menganggukan kepala, tepat pada saat ini, mendadak terdengar "Taang!" ternyata sudah ada seorang murid membunyikan genta besar yang digantung di depan pintu, suara genta itu menggema ke segala pelosok, lama tidak berhenti, begitu suaranya hampir hilang, murid itu dengan keras berteriak: "Tepat jam tujuh!"

Baru saja selesai bicara, sebuah siulan nyaring tiba-tiba terdengar di dalam kerumunan orang, saat semua orang melihatnya, di tengah lapangan sudah berdiri seorang pemuda tampan.

Walaupun Kim-kau-kiam-khek telah menggemparkan dunia persilatan, tapi orang yang pernah melihatnya masih sedikit, saat di tengah lapangan muncul seorang pemuda, orang yang tidak tahu sudah terkejut dan berteriak:

"Iiih! Apa pemuda ini yang dijuluki Kim-kau-kiam-khek itu?"

Dalam sekejap, di depan kuil menjadi hening, sorot mata semua orang tertuju pada Sin-hiong seorang.

Sin-hiong bersoja pada sembilan ketua perguruan dengan keras berkata:

"Maaf telah lama menunggu, tapi aku sedikit pun tidak terlambat!"

Diantara sembila ketua perguruan, setengah lebih pernah bertemu dengan Sin-hiong, yang belum pernah bertemu hanya ketua Bu-tai-pai, ketua Tiam-jong-pai dan beberapa orang saja.

Beberapa orang ini mengawasi kepada Sin-hiong, hatinya jadi merasa masgul, di dalam hatinya berpikir, ternyata hanya seorang anak muda, walaupun dia sudah berlatih ilmu silat sejak dilahirkan, tidak mungkin bisa melawan keroyokan mereka sembilan orang? Sekarang kita sembilan orang bersatu melawan dia, jangan kata jumlah orangnya, walaupun satu lawan satu, usianya pun tidak sebanding.

Tapi karena pertemuan ini sudah disetujui, semua orang terpaksa melakukannya, ketua dari Bu-tai-pai adalah seorang hweesio, hatinya lebih penyayang, dia berebut berkata:

"O-mi-to-hud, sungguh mempersulit Sen-siauhiap, waktunya sudah tiba, kita tidak perlu basa basi lagi, tapi bolehkah aku berkata dulu."

"Silahkan!" kata Sin-hiong tersenyum. Gouw-it Taysu bersoja:

"Siauhiap menepati undangan kami datang kemari, kita tidak perlu membuang-buang waktu lagi, kami sembilan orang telah menyiapkan satu barisan kecil, jika Siauhiap dalam seribu jurus bisa mendobrak-nya dan keluar, maka dihitung kami sudah kalah, apa itu bisa diterima?"

Kata-kata ini begitu diucapkan, dalam sembilan ketua perguruan sudah ada gerakan, dan dalam kerumunan orang segera saling memperbincangkan, setelah beberapa saat, di dalam kerumunan orang ada orang menyahut

"Usulan ini cukup adil!" Sekali orang ini berteriak, banyak orang di sekitar tempat itu sependapat dengannya. Walaupun Gouw-it Taysu mengatakan barisan kecil, tapi dengan kedudukan mereka sembilan orang, jika tidak memiliki kemampuan setinggi langit, mungkin hanya perlu waktu yang singkat saja, sudah mati dikurung di dalamnya, maka walau orang-orang ini setuju, tapi diam-diam tetap saja mengkhawatirkan Sin-hiong.

Sembilan ketua perguruan secepat kilat berunding, dengan ilmu silat mereka, tidak perduli barisan apa, asalkan sekali dibicarakan, semua orang langsung sudah bisa masuk ke intinya, semua orang merasa pendapat ini cukup bagus, maka mereka menganggukan kepala tanda setuju.

Diam-diam Sin-hiong meneguk air liur, di dalam hatinya berpikir: 'Selain begini, aku pun tidak bisa memikirkan cara yang lebih

bagus," maka dia menjawab:

"Aku setuju, bagaimana dengan kalian?"

Gouw-it Taysu sambil tertawa berkata: "Kami tentu saja tidak menentang!"

Setelah berkata, sembilan ketua perguruan masing-masing segera mengambil posisi, diantaranya ada yang serius wajahnya, ada juga yang santai, orang yang santai ini tidak perlu disebutkan lagi adalah orang yang tidak pernah bertarung dengan Sin-hiong.

Sin-hiong mencabut pedang pusakanya, tapi didalam hati diam- diam berdoa:

'Guru, bantulah muridmu ini!'

Walaupun di dalam hati dia sedikit tegang, tapi sedikit pun tidak menampakan di wajahnya.

Sembilan ketua perguruan pun masing-masing menyiapkan senjatanya, suasana di depan kuil mendadak menjadi tegang sekali!

Mata Gouw-it Taysu menyapu, lalu dengan keras berkata: "Senjata tidak punya mata, serangan tidak ada ampun, Sen- siauhiap hati-hatilah!"

Semangat Sin-hiong menjadi naik dengan keras dia berkata: "Aku mengerti, Taysu silahkan menyerang!"

Gouw-it Taysu tersenyum, ketua Tiam-jong-pai yang tidak jauh dari dia berkelebat maju dan berkata:

"Jurus pertama biar aku Sen-cian yang melakukannya!"

Dia menghisap dalam-dalam dua kali pipa tembakaunya, di dalam asap tebalnya, pipa di tangannya sudah datang menotoknya!

Totokannya kelihatan lambat, tapi banyak orang tahu, tidak perduli Sin-hiong maju atau membalas menyerang, jurus dia masih banyak perubahannya.

Tapi anehnya, rubuh Sin-hiong sedikit pun tidak bergerak!

Orang-orang di sisi lapangan sampai mengeluarkan keringat dingin melihatnya, tepat pada saat ini, mendadak terdengar Sen- cian berteriak keras:

"Memang hebat!"

Dia memutar pipa tembakaunya, secepat kilat menotok Hong-hu- hiat nya Sin-hiong!

Kecepatan serangannya susah di ikuti mata, tapi Sin-hiong dengan santai berpindah ke sisi Siu-goan Suthay dari Kun-lun, Siu- goan Suthay menggerakan alisnya, kebutan ditangannya mengebut!

Sin-hiong kembali berkelebat menghindar, tapi sembilan ketua perguruan besar ini tenang laksana gunung, dia tidak bergerak, mereka pun tenang berdiri di tempatnya, Sin-hiong sudah berputar dua kali, di antaranya sudah lebih dari setengahnya yang menyerang!

Di antara sembilan ketua perguruan besar, ada setengah lebih menggunakan pedang, yang lainnya ada yang menggunakan tongkat Budha, kebutan, dan pipa tembakau, saat Sin-hiong berputar, pedang panjang yang tadinya diam tidak bergerak, mendadak seperti seekor ular pintar saling menyabet.

Tapi, kembali terjadi hal yang mengherankan, saat empat pedang panjang bergerak-gerak, semuanya tidak menusuk ke arah tubuh Sin-hiong, hanya bergerak di seputarnya membentuk satu tabir sinar.

Sekarang Sin-hiong merasa berada dalam kurungan angin ribut dan dunia keputihan, sinarnya menyilaukan mata, anginnya terasa menusuk ke dalam tulang, kedahsyatan serangan dan keanehan jurusnya membuat dia sangat terkejut!

Mimpi pun dia tidak terpikir, sembilan ketua perguruan besar bisa menggunakan cara seperti ini, kelihatannya ini tidak seperti apa yang disebut barisan, walaupun dia sangat pintar, tapi sejenak dia menjadi ragu-ragu.

Tapi, ini hanya kejadian sebentar saja, saat dia berpikir, Sin- hiong telah menyerang sebanyak lima belas jurus lebih.

Setelah beberapa kali menyerang, jika bertemu dengan yang menggunakan pedang, terlihat pedang pedang saling melintang datang menyerang, pedang-nya berkelebatan dan bergetar-getar, diantara kelebatan pedang sedikit pun tidak ada celah!

Gerakan dua tongkat Budha juga sangat mengejutkan, jangan kata dia tidak bisa memecahkan-nya, walaupun ingin maju selangkah saja, dia merasa ada tekanan angin yang kuat menyerang dadanya, jurus tongkat terasa berat dan mengejutkan!

Sin-hiong berputar lagi, kelihatannya hanya Siu-goan Suthay yang paling lemah, tapi karena posisi berdiri dia sangat kuat sekali, jurus kebutan yang tidak bisa mencapainya, ditutup oleh senjata lainnya.

Jadi semua membuat Sin-hiong kesulitan.

Tidak sampai seperminuman satu gelas teh panas, Sin-hiong sudah menyerang tiga puluh jurus lebih, dan sembilan ketua perguruan masing-masing sudah menyerang sepuluh jurus lebih! Sin-hiong menggunakan gerakan yang cepat dan lincah, dipadukan dengan jurus Kim-kau-kiam nya, walaupun dalam sesaat tidak bisa mendobrak keluar, tapi juga tidak kewalahan menghadapinya!

Di dalam tekanan angin yang amat dahsyat, kerumunan orang sampai terdesak mundur lima enam langkah ke belakang!

Dalam sekejap dua puluh jurus lebih sudah lewat lagi, Sin-hiong berpikir keras tapi tidak bisa memikirkan cara memecahkan barisan ini, di dalam hatinya berpikir:

"Tidak heran mereka mau menggunakan barisan ini, tapi disebut apa barisan ini?"

Saat ini hati dia sedikit menyesal, jika bertarung satu lawan satu, atau mereka bersembilan bertarung secara keroyokan, keadaan dirinya tidak akan sulit seperti ini!

Ketika berpikir, mendadak dia merasa tekanannya bertambah kuat, ada orang berteriak: "Sudah seratus jurus lebih!" Orang-orang di sekitar segera mengeluarkan suara pujian dan keluhan berkata:

"Kim-kau-kiam-khek sudah cukup bagus, bisa bertahan seratus jurus dari serangan sembilan ketua perguruan besar dan tidak kalah, kedudukan pesilat tinggi nomor satu dunia sudah pasti milik dia!"

Kata-kata ini walaupun masuk akal, tapi tidak seorang pun yang sependapat, ternyata setelah orang-orang tidak merasa tegang lagi, perhatiannya kembali tertarik oleh pertempuran seru yang sulit bisa dilihat dalam waktu seratus tahun ini, selain hatinya merasa amat tegang, sepatah kata pun tidak bisa keluar dari mulut.

Lewat seratus jurus, tekanan yang di terima Sin-hiong pun semakin kuat, jika sembilan ketua perguruan menggunakan seluruh tenaganya, mungkin dia tidak akan bisa bertahan sampai tiga ratus jurus!

Sin-hiong sadar dirinya sulit bisa bertahan lama, jika tidak bisa memikirkan sebuah cara untuk mencari celah dari sembilan orang ini dan mendobraknya keluar, walaupun dia kalah tapi tidak memalukan, mati pun tidak menyesal.

Dia bertahan terus sambil mencari cara menerobosnya, otaknya terus berputar.

Mendadak, terdengar suara "Ssst!", suara ini walaupun tidak keras, tapi menembus berlapis-lapis tekanan tenaga para sembilan ketua perguruan, dan menembus dari samping Siu-goan Suthay!

Sin-hiong terkejut, pikirnya, suara apa ini?

Suara ini bukan saja aneh, tapi ada sedikit khusus, sebab menembus angin tekanan yang amat kuat, tidak mengarah pada siapa pun, tapi hanya lewat di titik celah itu saja!

Hati Sin-hiong tergetar, saat ini kebetulan Siu-goan Suthay menyerang dengan kebutannya, baru saja dia bergerak, pedang panjang Lang Tiong-sun yang berdiri di sampingnya ikut menyerang, dalam gabung-an sinar pedang dan kebutan ini, kembali terdengar suara yang sangat halus"Ssst!"

Sebenarnya suara itu sedikit pun tidak ada pengaruhnya, tapi begitu dilihat Sin-hiong, dia jadi sangat senang.

Tapi baru saja dia akan menyerang, tujuh orang pesilat tinggi di belakangnya sudah datang menyerang, terpaksa dia membalikkan tubuh menghadapinya!

Hatinya sangat kesal, sebab jurus ke sembilan orang ini tidak ada putusnya, celah kecil ini sulit bisa kelihatan, walaupun bisa diketahui mereka dalam sekejap mata pun bisa menutupinya kembali.

Sin-hiong tahu suara itu adalah bantuan untuknya dengan menunjukan kelemahan barisan itu, orang ini selain ketua pulau Teratai, siapa lagi? Saat terpikir ketua pulau Teratai, semangatnya jadi naik!

Di lapangan terjadi serang menyerang lagi beberapa puluh jurus sudah berlalu, mendadak satu orang berberteriak lagi:

"Sudah dua ratus jurus!" Kerumunan orang menjadi gaduh lagi, tapi dalam sekejap sudah kembali tenang.

Mendadak, setelah terdengar teriakan itu, kembali terdengar suara "Ssst!"

Sin-hiong jadi bersemangat, benar saja setitik bayangan hitam lewat di antara Siu-goan Suthay dan Lang Tiong-sun dari Tiang-pek- pai, dua kali suara aneh ini walaupun semua orang mendengarnya, selain Sin-hiong seorang diri, orang-orang dari sembilan perguruan besar tidak begitu memperhatikan.

Suara ini hanya sepersekian detik, Sin-hiong tidak membuang waktu lagi, setelah menangkis tiga serangan di belakang, dia langsung menusukan pedangnya ke arah datangnya suara itu.

Serangan pedangnya tampak mengarah ke celah itu, tapi dia tahu, Siu-goan Suthay dan Lang Tiong-sun akan segera menutupi celahnya, maka dia harus bisa menggunakan kesempatan yang sempit ini, kalau tidak kemungkinan senjatanya akan dipelintir dan terlepas dari tangannya oleh kedua ketua perguruan itu.

Akhirnya Sin-hiong dapat mengendalikan kesempatan yang sempit itu!

Siu-goan Suthay merasa pergelangan tangan-nya tergetar, sebuah tenaga aneh menerjangnya, sehingga kebutan di tangannya melambat!

Saat ini pedang panjang Lang Tiong-sun belum datang mengikutinya, diantara kedua orang ini jelas tampak satu kekosongan yang besar sekali!

Sin-hiong segera mengambil kesempatan, bahu kiri maju ke depan, sekali berteriak, berturut-turut pedangnya menyerang lima enam jurus!

Ratusan pasang mata di lapangan terbelalak besar, nafas semua orang seperti berhenti, selama dua ratus jurus lebih mereka hanya melihat kelebatan senjata orang yang mengeroyok, baru sekarang mereka bisa melihat sinar pedang Sin-hiong! Walaupun hanya melihat sekali, mereka sudah bisa melihat dengan jelas, barisan sembilan ketua perguruan besar sudah menjadi kacau!

Ini satu hal yang sulit dibayangkan, baru saja ada orang meneriakan dua ratus lima puluh jurus, teriakan sorak-sorai di sekeliling lapangan sudah menggemuruh!

Coan-cin Cinjin dari Bu-tong-pai melihat keadaan sudah tidak bisa di pertahankan lagi, dia menarik pedangnya lalu keluar dari barisan itu, pedang nya disabetkan dari atas ke bawah sinar pedangnya menyilaukan mata!

Coan-cin Cinjin tidak percuma disebut ahli pedang, melihat strateginya sudah kacau, otaknya berputar, jika saat ini dia tidak bisa mendesak mundur, maka dia akan mendobrak barisan dan lolos keluar.

Rencana dia adalah dengan kekuatannya dia ingin mengembalikan barisannya kembali seperti semula, hanya sayang dia sudah terlambat.

Tubuh Sin-hiong bergeser sedikit menghindar, lalu Kim-kau-kiam menyapu, ujung pedangnya ditempelkan pada pedang Lang Tiong- sun sambil tertawa berkata:

"Lang-tayhiap, maafkan!"

Barisan sembilan perguruan ini walau berjumlah sembilan orang, tapi cara bekerjanya satu orang membantu satu orang, sehingga sembilan orang ini saling berhubungan, begitu Siu-goan Suthay maju menyerang, dengan sendirinya Lang Tiong-sun pun ikut maju, tapi ketika dia mau bergerak menyerang, jurus pedang Sin-hiong sudah mendahuluinya datang!

Sebuah tenaga yang sangat dahsyat menerjang Lang Tiong-sun, buru-buru dia mengerahkan tenaga dalamnya, dia yakin tenaga dalamnya tidak kalah oleh Sin-hiong, makanya siap menghadangnya.

Panjang jika dibicarakan, tapi kejadiannya hanya dalam sekejap mata saja.

Pedang Coan-cin Cinjin tidak mengenai sasaran, beberapa orang di belakangnya pun sudah datang mengikutinya, tapi semua sudah tidak ada gunanya.

Coan-cin Cinjin bersiul panjang, dia menggetarkan pedang panjangnya membentuk tiga bunga pedang, menusuk ke arah Yang- kian-hiat, Yu cen-hiat, Kian-keng-hiat Sin-hiong!

Di antara sembilan orang ini, jurus pedang dia yang paling cepat, diikuti oleh Tui-hong-tayhiap lalu Bu-eng-kiam, Bu-tai-pai dan Siauw-Iim-pai walaupun jurus tongkatnya sangat kuat, tapi sekarang sudah tidak ada gunanya lagi.

Lang Tiong-sun dari Tiang-pek-pai sekuat tenaga melawan, mendadak Sin-hiong membalikan pergelangan tangannya, kilatan sinar ungu menerjang, belum sempat Lang Tiong-sun membalas serangan, Sin-hiong sudah maju lagi satu langkah!

Sekarang Sin-hiong hanya tinggal lima inci untuk keluar dari barisan, di depan dia hanya ada Siu-goan Suthay seorang yang bisa menghadangnya, tapi saat dia mau menghadang pun sudah tidak keburu.

Di seluruh lapangan sudah terdengar suara pujian, Siu-goan Suthay merasa tanggung jawabnya sangat besar, dia menyerang kembali dengan kebutan-nya dan berteriak:

"Kembali!"

Jurusnya mengerahkan seluruh kekuatannya, belum lagi serangannya datang, sebuah tenaga besar sudah menerjang pada Sin-hiong.

Keadaan tiba-tiba menjadi tegang lagi, hati semua penonton terasa berat, mata tidak bisa berkedip, tapi ada yang tidak tahan menyaksikannya!

Dengan menggunakan langkah tujuh bintang, walaupun Sin- hiong terus menerus di hadang, tapi dia tidak mengendurkan daya terjangnya, sekali berteriak, dia mendorongkan telapak tangan kirinya, tenaga telapak yang amat kuat menghantam kebutannya Siugoan Suthay, sedangkan tangan kanannya menyerang tujuh delapan jurus, dan tubuhnya meluncur keluar.

Dia mengangkat kepala dan bersiul panjang, sekarang dia sudah berdiri di luar barisan!

Tidak seorang pun dari wajah sembilan ketua perguruan besar yang tidak berubah besar wajahnya!

Kerumunan orang yang menonton mula-mula merasa tegang, seperti tidak bisa bernafas, melihat Sin-hiong sudah meloncat keluar dari kurungan barisan, di sekeliling segera terdengar gemuruh sorak-sorai.

Wajah sembilan ketua perguruan besar bukan saja tidak enak dipandang, hatinya juga sangat sedih.

Sin-hiong sendiri sadar, jika tidak mendapat petunjuk dari suara itu, ingin mendobrak keluar dari barisan itu, rasanya lebih sulit dari pada naik ke langit.

Gouw-it Taysu maju selangkah, dengan nada dalam berkata: "Jurus pedang Sen-tayhiap nomor satu di dunia, kami

bersembilan menunggu perintah anda!"

Puluhan tahun yang lalu Liong-kiam-hong dikeroyok oleh sembilan perguruan besar, dan sebelah matanya sampai buta, sekarang Sin-hiong sudah menang, tidak perduli dia mau membunuhnya atau menyiksanya, sembilan ketua perguruan besar tidak akan mengerutkan alisnya.

Ratusan pasang mata memandang pada Sin-hiong, menunggu jawaban dia.

Tapi bagaimana pun Sin-hiong tidak tega, di dalam hatinya berpikir:

'Sekarang aku sudah menang, di hadapan semua orang-orang dunia persilatan ini, aku harus mendirikan satu contoh yang baik, menghapuskan dunia persilatan dari balas membalas dendam dan tidak henti-hentinya saling membunuh.'

Maka, sambil tertawa dia berkata:

"Taysu tidak perlu begitu, yang sudah lewat sudahlah, aku harap permusuhan di antara kita bisa dihapus!"

Begitu kata-kata ini terdengar, tidak perduli siapa pun yang mendengar, semua tidak menduganya.

Sembilan ketua perguruan pun tidak percaya pada telinga sendiri, mereka berdiri bengong lama sekali, tidak ada satu orang pun yang berkata.

Sin-hiong melihat cuaca, bulan tepat berada di tengah langit, mendadak dia teringat dirinya sekarang harus pergi mencari Cui- giok, ketua pulau Teratai dan putrinya.

Dia bersoja pada sembilan ketua perguruan besar dan berkata: "Aku harus pergi, harap anda semua selanjutnya berlatih ilmu

silat lagi, jangan menganggap diri kalian adalah perguruan ternama dan aliran lurus, itu hanya akan menimbulkan kekacauan dunia persilatan, sampai jumpa!"

Saat mengucapkan kata terakhir, dia sudah pergi jauh!

Di seluruh gunung terdengar sorak-sorai dan pujian, semua orang mengatakan, sejak adanya ilmu silat, Kim-kau-kiam-khek adalah orang aneh pertama yang berbeda dengan orang lain!

Tapi siapa lagi orangnya yang tahu, orang aneh ini bagaimana kehidupannya di masa kecil.

Suara-suara pujian ini Sin-hiong tidak mendengarnya, sebab dia sudah berada diluar gunung puluhan tombak jauhnya.

Walaupun dia telah menyelesaikan wasiat gurunya, tapi hati dia merasa ada kekosongan.

Dia melesat ke depan, di kepalanya terbayang-bayang Cui-giok dan ketua pulau Teratai dengan putrinya, entah dimana mereka sekarang.

Ketika dia hampir turun gunung, mendadak di atas jalan gunung ada tiga bayangan orang sedang berjalan pelan-pelan.

Terdengar satu orang dengan centil bertanya: "Lo-cianpwee, menurutmu dia pasti kemari?"

Satu orang lagi menjawab:

"Tentu saja, walaupun aku tidak mengerti ilmu meramal, tapi selain jalan ini, dia tidak akan kemana mana!"

Sin-hiong mendengar dari kejauhan, tidak tahan dengan senangnya berteriak:

"Ho-hoa Ciatipwee, adik Giok, adik Lan, aku datang!"

Ketua pulau Teratai tidak membalikkan kepala, sambil mengangkat kepalanya, tertawa keras, berkata:

"Tuh! Bukankah dia sudah datang?"

Hanya dengan saru loncatan Sin-hiong sudah menghampiri "Bluuk!" dia bersujud di hadapan ketua pulau Teratai, dengan suara gemetar berkata:

"Lo-cianpwee, terima kasih!"

Dia berteriak tapi tidak ada yang menjawab, ketika hatinya sedang merasa heran, terdengar disisi tubuhnya ada orang tertawa dan berkata:

"Cici Lan, lihat dia bersujud padamu!"

Sin-hiong mengangkat kepala dan melihat, ketua pulau Teratai sudah berjalan jauh di depan, yang ada dihadapannya adalah Hui- lan.

Hui-lan tertawa:

"Kenapa kau bersujud dihadapanku?"

"Bukankah aku sudah berjanji padamu akan pergi ke pulau Teratai?" kata Sin-hiong tertegun. Cui-giok bertepuk tangan tertawa:

"Betul, maksud hatinya sama dengan kita!"

Setelah berkata, dia merasa kata-katanya ada sedikit ganjil, tapi dia tidak terlalu mempermasalah-kan, wajahnya menjadi merah dan berkata lagi:

"Kenapa masih bersujud, paman Lim sudah jauh lho!"

Wajah Sin-hiong menjadi merah, dia bangkit berdiri, di bawah sinar pagi yang cerah, tiga bayangan itu berjalan turun gunung.

Setelah beberapa hari, sebuah perahu layar melaju keluar Tong- hai, pelan-pelan menjauh, akhir-nya tinggal satu titik hitam saja, tapi dalam sekejap pun menghilang di antara langit dan laut.

Tamat