PPKE Bab 08 : Thian-ho-tiauw-sou

 
Bab 08 : Thian-ho-tiauw-sou

Sin-hiong sangat marah, tapi setelah dia mempertimbangkan keadaan di depan mata ini, terpaksa dia menghentikan langkahnya.

Ho Koan-beng sambil tertawa berkata:

"Itu baru betul, saudara Sen, silahkan berikan barang itu, biar semua orang bisa pergi!

"Hiong-ko, jangan, jangan!" jerit Hui-lan.

"He he he, kau benar-benar tidak menuruti aku, kalau begitu jangan salahkan aku tidak punya perasaan!"

Setelah berkata, dia sudah mengangkat pedangnya, kelihatannya, jika Sin-hiong berani maju lagi satu langkah, mungkin dia benar-benar akan membunuh Hui-lan?

Ho Koan-beng menambah tenaga pada lima jarinya, sampai Hui- lan berteriak kesakitan, Ho Koan-beng dengan dingin berkata:

"Saudara Sen adalah laki-laki sejati, tidak bisa dibandingkan dengan pandangan kalian para wanita?"

Sin-hiong melihat pada Hui-lan, dia melihat wajah cantiknya sebentar merah sebentar putih, pikiran dia jadi goyah, sekarang kenyataan yang di depan mata jelas sekali, jika dia tidak memberikan Ho-siu-oh, maka Ho Koan-beng akan mengancam Hui- lan, mungkin Ho Koan-beng benar-benar membunuhnya?

Sin-hiong jadi merasa sangat sulit dan berkata:

"Saudara Sen, bisakah kau lepaskan dia dulu lalu membicarakannya?"

Ho Koan-beng tertawa dan berkata:

"Tidak bisa, tidak bisa, kecuali kau berikan dulu Ho-siu-oh itu, jika tidak, maka aku akan membunuh dia!"

Baru saja dia selesai bicara, mendadak di sudut gelap ada orang bersuara dengan dingin berkata:

"Tidak semudah itu!"

Suaranya tajam dan melengking, tapi terdengar di telinga Ho Koan-beng sampai berbunyi "Weng weng!" Ho Koan-beng terkejut sekali dan berteriak:

"Siapa yang bicara?"

Wajah Sin-hiong Tampak terkejut, pada saat ini Hui-lan berteriak: "Ayah, ayah "

Sin-hiong dan Ho Koan-beng jadi tergetar, Ho Koan-beng lebih- lebih terkejut, dan berteriak: "He he he, ketua pulau Teratai!

Tapi sebelum dia selesai bicara, mendadak ada satu orang di belakang tubuhnya dengan dingin sekali berkata:

"Betul, kau juga tahu sehutanku?" Ho Koan-beng semakin terkejut!

Ketua pulau Teratai yang namanya menggemparkan dunia ini, ketika mulai berkata sampai muncul, kelihatannya seperti roh saja, kecepatan dan misterinya, sungguh di dunia ini tidak ada dua nya?

Tubuh Ho Koan-beng gemetar sejenak dan berkata: "Cayhe Ho Koan-beng, sudah lama mendengar nama besar ketua pulau, tidak diduga malam ini bisa bertemu disini!"

Sin-hiong mengawasi, terlihat ketua pulau Teratai yang termasyur di dunia persilatan ini, memakai mantel panjang berwarna ungu, kumis dan janggutnya melayang-layang di depan dada, usianya hanya lima puluh tahun lebih, kedua tangannya dimasukan ke dalam lengan baju, tampangnya sangat tenang sekali.

Selama ini Sin-hiong hanya mendengar kebesar-an nama ketua pulau Teratai, tidak diduga setelah bertemu ternyata dia masih belum terlalu tua? Dengan kata lain, jika bukan Hui-lan telah memanggil-nya, walaupun di kemudian hari bertemu lagi, dia juga tidak akan percaya orang di depan mata ini adalah ketua pulau Teratai yang amat termasyur itu?

Wajah ketua pulau Teratai sangat dingin, dia melihat pada Ho Koan-beng dan berkata:

"Jika kau sudah tahu nama besarku, masih berani tidak melepaskan anak Hui?"

Ho Koan-beng diam-diam menarik nafas: "Sebenarnya aku ada kesulitan yang tidak bisa dikatakan, asalkan ketua pulau bisa menyuruh Sen-tayhiap menyerahkan Ho-siu-oh, aku pasti menuruti anda!"

Di dalam pikiran Ho Koan-beng, aku sekarang memegang sandera, walaupun raja langit yang datang aku tidak takut, asal kau maju selangkah, aku juga bisa menggunakan putrimu sebagai sandera, mungkin kau pun tidak bisa berbuat apa-apa?

"Ayah, dia orang jahat!" teriak Hui-lan. Wajah ketua pulau Teratai tergerak:

"Kalau begitu, kau coba saja tiga jurusku, jika kau bisa menahan tiga juras seranganku, maka aku tidak mau lagi putri ku ini!"

Sin-hiong mendengar kata-kata ini, dia merasa, kata-katanya terlalu percaya diri? Siapa sangka baru saja dia berpikir begitu, mendadak satu bayangan berwarna ungu sudah menerjang kearah Ho Koan-beng, sambil berteriak:

"Siap, inilah jurus pertama!"

Gerakannya aneh sekali, sebab gerakannya tidak menimbulkan desiran angin sedikitpun, tapi serangannya laksana anak panah yang terlepaskan busurnya!

Sin-hiong yang melihat serangan itu jadi tergetar, hatinya bertanya-tanya tentang gerakannya?

Ho Koan-beng melihat lawan habis berkata langsung menyerang dengan kecepatannya secepat kilat, dalam keadaan terkejut, dia mendorong Hui-lan di depan tubuhnya untuk menghalangi, lalu mengeluarkan jurus pedang dari Hiang-liong-pit-to, sambil menusuk dia berteriak:

"Karena Tocu sudah memerintah, terpaksa aku mencobanya!" Gerakan Ho Koan-beng cukup lihay, mula-mula dia menjadikan

Hui-lan sebagai tameng, lalu menyerang dengan jurus pedang Cui- hong-su-eng! (Di puncak hijau ada bayangan pohon) dari Go-bi!

Belum lagi tubuh ketua pulau Teratai turun, ujung jarinya cepat menusuk ke bawah, terhadap jurusnya Ho Koan-beng, dia seperti sudah hafal, dengan angkuhnya berkata:

"Jurus ini walaupun cukup bagus, sayang kurang bertenaga!"

Lima jarinya yang seperti kail dengan ganasnya mencengkram ke bawah, Ho Koan-beng hanya merasa di depan mata ada bayangan berkelebat, dengan cepat ketua pulau telah datang mencengkram pedang pusakanya dan merebut Hui-lan yang ada di depan tubuhnya.

Sebenarnya jurus pedang dia sangat hebat, tapi dia masih kalah pengalaman, ditambah bertemu dengan orang sehebat ketua pulau Teratai, sehingga sedetik dia tidak bisa mengendalikan pikirannya, begitu tangannya sedikit lambat, dia hanya merasa tangan kirinya jadi enteng, tahu-tahu Hui-lan yang ada di tangannya sudah diangkat keatas oleh ketua pulau Teratai.

Ho Koan-beng tergetar, dia langsung meloncat ke belakang!

Melihat ini, Sin-hiong tidak terasa meng-hentakan kakinya dan berkata:

"Hay, sayang sekali kalah dalam jurus ini!"

Ketua pulau Teratai membawa Hui-lan ke samping, dengan dingin berkata pada Sin-hiong: "Kau mau mencobanya?"

Sin-hiong menarik nafas dalam-dalam, hatinya berpikir:

'Benar saja orang ini sangat sombong, hemm hemm, apa aku takut padamu?'

Matanya menyapu, terlihat wajah Ho Koan-beng pucat sekali, sedangkan Hui-lan malah terus-menerus memberi isyarat mata padanya, supaya dia sabar, walaupun dalam hati Sin-hiong tidak terima, tapi demi Hui-lan dia jadi tidak enak bertindak, maka dengan menahan diri dia berkata:

"Kepandaian ketua pulau tidak ada duanya di dunia, aku merasa bukan lawannya!"

Mendengar ini, Hui-lan merasa lega sekali dan berkata: "Ayah, dia orang baik!"

Ketua pulau Teratai dengan penuh kasih sayang melihat lembut pada Hui-lan dan berkata:

"Anak Lan, sudah cukup kau bermain, sudah waktunya kita pulang!"

Hui-lan memonyongkan mulutnya, dengan manja berkata: "Belum, belum, aku masih ingin bermain lagi!"

Ketua pulau Teratai tertegun, mengikuti wajah Hui-lan yang lugu berkata:

"Belum, belum, ! Lalu mau bermain sampai kapan?" Melihat ini, Sin-hiong menjadi keheranan, di dalam hatinya berpikir, terhadap orang lain dia sangat galak, tapi terhadap putrinya sendiri malah sangat penurut, kelihatannya seperti anak kecil saja, tidak heran orang-orang Poan-liong-pang menyebut dia mahluk aneh?

Hui-lan tertawa, sambil menggerak-gerakan-kan tubuhnya berkata:

"Ayah, aku bukan anak kecil lagi, harus selalu diawasimu?"

Ketua pulau Teratai mengeluh beberapa kali dengan resah berkata:

"Lho lho, jika bukan ayah khawatir kau dihina orang, aku tidak akan datang lebih dulu dari kalian!"

Ho Koan-beng dan Sin-hiong jadi tertegun, ternyata bayangan orang itu adalah dia, karena tadi Ho Koan-beng tidak sampai dua jurus tawanannya sudah direbut oleh ketua pulau Teratai, maka keberaniannya menurun, sekarang sepatah kata pun tidak bisa keluar.

Hui-lan tertawa dengan manja berkata:

"Aku pulang sendiri juga tidak boleh?"

Kepala ketua pulau Teratai mengeleng seperti klontongan saja dan berkata:

"Tidak boleh, tidak boleh, jika begitu entah kapan kau mau pulang kerumah?"

Hui-lan paling tahu sifat ayahnya, melihat ketua pulau Teratai bersikap demikian, maka sadar di dalam hatinya tidak mengizinkan, dia sendiri pun sadar, dia tidak bisa terlalu lama berada di luaran, tapi dia ingin bersama dengan Sin-hiong pergi ke pulau Giok-sik mencari Ngo-ki-thian-cun, siapa tahu harus minta bantuan ayah!

Berpikir ini, maka dengan serius berkata:

"Ayah, bagaimana kalau paling lama setengah tahun saja?" Ketua pulau Teratai tidak pernah membantah keinginan putri kesayangannya, saat itu mengangguk-kan kepala dan berkata:

"Baik, baik, baik, terserah kau saja, ayah juga ingin pergi bermain-main!

Setelah berkata, tidak terlihat dia bersiap-siap, tahu-tahu sudah melesat sejauh sepuluh tombak lebih, kecepatannya sungguh sulit ditemukan di dunia persilatan!

Melihat ayahnya sudah pergi, Hui-lan langsung meloncat ke samping Sin-hiong dan berkata:

"Hiong-ko, kita juga harus pergi!"

Sin-hiong seperti baru sadar, dengan bengong bertanya: "Kemana kita pergi?"

Hui-lan melotot sekali dan berkata:

"Kau sudah pergi ke gunung Bu-tong, bagai-mana keadaan disana?"

Dengan singkat Sin-hiong menceritakan keadaan di perguruan Bu-tong, Hui-lan mendengarnya sampai hatinya menjadi dingin, dia berkata:

"Kalau begitu tidak perlu ke gunung Bu-tong lagi, menurut pendapat aku, saat ini Ngo-ki-thian-cun mungkin belum pulang, malah Thian-ho-tiauw-sou setelah melukai tiga murid, siapa tahu masih ada di sekitar ini, lebih baik kita untung-untungan saja, bagaimana?"

Sin-hiong berpikir memang masuk akal, maka dia menganggukan kepala, tanpa melihat Ho Koanbeng lagi, dua orang itu sambil bergandengan pergi meninggalkan tempat itu!

Ho Koan-beng tinggal sendirian berdiri disana, pikirannya penuh dengan masalah, di dalam hatinya berpikir:

Dua jurus saja aku tidak bisa bertahan terhadap ketua pulau Teratai, bagaimana aku masih berambisi mau berebut kekuasaan di Tionggoan.'

Hanya setelah dia berpikir lagi, dia pernah bertarung beberapa jurus dengan Sin-hiong, dan Sin-hiong tidak lebih kuat dari pada dia, asalkan dia giat berlatih lagi beberapa bulan, dan memecahkan dua jurus terakhir di Hiang-liong-pit-to itu, nanti mungkin masih ada harapan!

Berpikir sampai disini, kepercayaan dirinya jadi bertambah kembali, ketika bayangan Sin-hiong dan Hui-lan menghilang, dia tertawa dingin, lalu berlari ke arah yang berlawanan.

Tiang-kang adalah sungai terbesar, airnya keruh, berbelok-belok mengalir menuju ke timur.

Setelah beberapa hari, ada sepasang muda-mudi perlahan memacu kudanya menelusuri sungai, kedua orang ini adalah Sin- hiong dan Hui-lan, seumur hidup Sin-hiong belum pernah melihat sungai sebesar ini, dia sampai bengong menatapnya.

Hui-lan tertawa lalu berkata:

"Tiang-kang tidak ada apa-apanya? Jika kau pergi ke pulau Teratai kami di Tong-hai (Laut timur), kau bisa melihat lautan luas, pada malam hari melihat matahari terbenam, pagi hari melihat matahari terbit, pemandangan itu baru membuat orang terpesona!"

Hati Sin-hiong jadi tergerak mendengarnya, tanpa sadar berkata:

"Aku berharap dapat segera menyelesaikan pesan guruku, setelah itu nanti aku pasti menemanimu tinggal beberapa hari di pulau Teratai!"

Hui-lan senang sekali dan berkata:

"Silahkan, silahkan, tapi kau harus berjanji pergi kesana ya!" "Tentu saja!"

ketika sedang berbincang, Hui-lan melihat di pantai duduk satu orang, rambut orang ini acak-acakan, karena duduk membelakangi, makan wajah-nya tidak terlihat seperti apa, di tangannya memegang sebuah pancingan panjang, penuh perhatian meman- dang air sungai.

Saat ini Sin-hiong dan Hui-lan sudah men-dekat, terdengar orang itu berteriak: "Naik, naik!"

Setelah berkata, dia mengangkat tangannya, terlihat dari air yang muncrat dia berhasil memancing seekor ikan mas yang besar sekali!

Kedua orang itu melihat, hatinya jadi sangat terkejut!

Ternyata cara memancing orang ini aneh sekali, di tangannya hanya ada satu batang pancingan yang tidak ada apa-apanya, tidak ada senarnya, rupanya ikan tadi yang dipancing dia adalah dengan cara mengerah-kan tenaga dalam ke pancingan dan menyedot ikan itu ke atas.

Sin-hiong dan Hui-lan berdua adalah ahli ilmu silat, sekali melihat mereka sadar orang ini adalah orang aneh dunia persilatan, kedua orang itu tertegun, tidak menduga di tempat begini bisa bertemu dengan orang seperti ini?

Rasa terkejut kedua orang itu belum hilang, timbul lagi hal yang lebih mengejutkan.

Ternyata setelah orang itu mengangkat ikannya, dia malah menggeleng-gelengkan kepala dan berkata sendiri:

"Hay hay! Yang besar tidak datang malah yang kecil datang, pergi, pergi, pergi!"

Dia kembali melayangkan tangannya, melemparkan ikan mas itu ke dalam sungai sejauh sepuluh tombak lebih, lalu membenamkan lagi pancing ikannya ke dalam air.

Diam-diam Sin-hiong tergetar, gerak-gerik orang ini tampak jelas ilmu silatnya sudah mencapai taraf puncaknya, tapi setelah dipikir- pikir dia masih tidak tahu siapa orang ini?

Hui-lan mengerutkan sepasang alisnya, dia teringat seseorang, tapi dalam sesaat dia tidak berani memastikannya! Tadinya kedua orang ini berjalan pelan-pelan, sekarang tidak tahan mengekang tali kendali kudanya erat erat, tidak lama, terlihat air memercik, kembali orang itu berhasil memancing ikan besar, berat ikan ini kelihatannya ada dua tiga kati, dalam hati Sin-hiong berpikir:

'Kali ini kau tentu tidak akan menganggap ikan ini kecil lagi'.

Tapi kenyataannya tetap di luar dugaan. Ikan besar itu meronta- ronta dihisap ujung pancingan yang kecil itu di permukaan air, tapi sedikit pun tidak berdayanya, orang itu melototkan matanya melihat "Puhh!" berkata:

"Kau sungguh mengesalkan, aku tidak memancingmu, kau malah tidak mau pergi, he he, apa kau sudah bosan hidup?"

Setelah berkata lalu menghentakan ikan itu jauh sekali, pancingannya masuk lagi ke dalam air.

Sin-hiong jadi semakin tidak mengerti, di dalam hati berkata: "Ikan sebesar ini dia juga tidak mau, entah dia mau yang sebesar

apa?'

Dari tadi Hui-lan pun sangat memperhatikan orang ini, tapi dia juga jadi tertarik oleh gerakan yang aneh ini, pelan berkata:

"Ikan sebesar ini dia pun tidak mau, entah mau yang sebesar apa?"

Sin-hiong pun punya perasaan yang sama, baru saja mau menjawab, mendadak orang itu mengguman:

"Aku memancing ikan ada satu kebiasaan, tidak saja mau yang besar, dan juga harus tua, ikan yang muda-muda ini hanya mengganggu saja!"

Kata-kata ini walaupun berkata pada diri sendiri, tapi tujuannya seperti ditujukan pada kata-kata Hui-lan tadi, Hui-lan orangnya sangat pintar sekali, tanpa sadar tergetar keras!

Dia melihat pada Sin-hiong, tapi wajahnya penuh bimbang melihat ke air sungai, pelan-pelan mendekat dan menarik tangan Sin-hiong, di atas telapak tangannya menulis:

"Thian-thiauw-sou!"

Sin-hiong tergetar, otaknya berputar cepat, dia seperti tidak percaya orang ini Thian-ho-tiauw-sou?

Dengan berpenampilan seorang nelayan biasa bagaimana mungkin memiliki ilmu silat setinggi ini?

Hui-lan melihat Sin-hiong tidak berkedip melihat telapak tangannya, dan sedikit pun tidak ada reaksi, sadar di dalam hati dia masih ragu, karena jaraknya terlalu dekat, walaupun dia punya banyak perkataan yang mau di keluarkan, tapi tidak bisa dikatakan sekarang, maka dia pura-pura berkata:

"Hiong-ko, mari kita pergi, jangan membuang waktu perjalanan!"

Sin-hiong mengerti maksudnya, kedua orang menarik tali kendali kuda, berdua memacu kudanya segera pergi!

Sesudah jauh Hui-lan baru menghentikan kudanya dan segera berkata:

"Hiong-ko, kenapa kau tidak percaya dia adalah Thian-ho-tiauw- sou?"

Sin-hiong dengan nada dalam berkata:

"Aku lihat memang sedikit mirip, tapi kita tidak bisa sembarangan bertanya padanya?"

Hui-lan menghela nafas:

"Hei! Kau ini, apa kau tidak mendengar kata katanya? Heng, dia malah memandang sebelah mata pada kita?"

Walaupun kata-katanya mendekati kenyataan, tapi Sin-hiong tidak mau sembarangan, setelah berpikir sejenak dan berkata:

"Kita lihat lagi dia, jika dia benar Thian-ho-tiauw-sou, kali ini mungkin dia bereaksi!" Mata Hui-lan berputar dua kali dan berkata:

"Boleh juga, tapi kau harus hati-hati, ilmu silat orang ini tampaknya tidak dibawah ayahku!"

Berkata sampai disini, dia kembali mengkhawatirkan Sin-hiong!

Kedua orang itu berjalan lagi ke tempat itu, siapa duga di tempat itu sudah tidak ada seorang pun

"Dia sudah pergi!" kata Hui-lan.

Mata Sin-hiong sangat tajam, mendadak melihat di pantai berserakan tidak sedikit ikan, buru-buru berkata:

"Di sana banyak ikan, mungkin orangnya belum pergi!" Setelah berkata dia langsung berlari dulu kesana!

Setelah dekat dan melihat, di tanah tergeletak ikan-ikan tidak kurang dari puluhan banyaknya, ada yang besar juga ada yang kecil, setelah Sin-hiong melihat nya, tidak tahan dia menarik nafas dingin, di dalam hati berkata:

"Ketika aku dan adik Lan pergi dan kembali lagi, tidak sampai menghabiskan waktu setengah seperminuman teh panas, orang ini sudah bisa menggunakan tenaga dalamnya menghisap ikan sebanyak ini, jika bukan Thian-ho-tiauw-sou, siapa lagi?"

Hui-lan pun mengikutinya, mendadak dia menjerit:

"Hiong-ko coba kau lihat, bukankah ini huruf Thian-ho-tiauw- sou?"

Sin-hiong tadi masih belum memperhatikan, sekarang diingatkan oleh Hui-lan, dia menelitinya sekali lagi, benar saja di antara berserakan ikan, di tengah ada huruf Thian-ho-tiauw-sou!

"He he! Benar saja dia!" teriak Sin-hiong.

Matanya melihat ke sekeliling terlihat angin sungai bertiup lembut, air sungai mengeluarkan suara menerpa pantai, selain itu, apa pun tidak terlihat lagi! Tempat di mana Sin-hiong dan Hui-lan berdiri adalah lapangan datar yang sangat luas, walau Thian-ho-tiauw-sou pergi, juga tidak akan secepat ini bisa menghilang, Sin-hiong meneliti sejenak lalu berkata:

"Adik Lan, kau sementara tunggu disini, biar aku melihat-lihat ke sekitar!"

Setelah berkata dia meloncat dari kudanya, dalam sekejap sudah menghilang di lapangan liar itu.

Hui-lan tertegun, hatinya berpikir, sungguh cepat gerakan Sin- hiong?

Dia tidak tahu beberapa hari lalu saat Sin-hiong di kurung di dalam gua oleh Ho Koan-beng karena kelaparan, telah memakan sebagian Ho-siu-oh nya, memang Ho Siu-oh adalah pusaka yang sulit di dapat, jika orang biasa makan sedikit saja sudah bisa memperpanjang umur, orang seperti Sin-hiong yang mempunyai dasar ilmu silat yang bagus, bisa menambah tenaga dalam latihan puluhan tahun.

Ketika hati Hui-lan sedang gembira, mendadak terdengar air sungai berbunyi keras, seorang tua yang berwajah bulat sudah muncul dari dalam air, Hui-lan yang melihat jadi terkejut sekali!

Ternyata orang ini bukan orang lain adalah Thian-ho-tiauw-sou yang sedang dicari Sin-hiong.

Saat ini terlihat dia menenteng seekor ikan besar, setelah keluar dari dalam air, dia melihat Hui-lan sekali lalu mendengus dan berkata:

"Aku bisa menangkap ikan besar ini, yang kecil pun tidak akan aku lepas lagi!"

Setelah berkata, tubuhnya dengan cepat naik ke darat, baru saja Hui-lan mau menghindar, orang itu mendadak berteriak:

"Berhenti!"

Walaupun Hui-lan dalam keadaan gelisah, tapi seumur hidup dia tidak pernah diteriaki orang seperti ini, maka dia mendengus dengan dingin berkata:

"Aku justru tidak berhenti, kau mau apa?"

Dia mengulurkan tangannya ingin menarik tali kuda Sin-hiong, tapi baru saja dia bergerak, mendadak merasa ada angin bertiup, tampak orang itu sudah lari mendekat!

Hui-lan memutar tangannya, pedangnya dengan cepat menyabet, lalu berkata: "Kau mau apa?"

Orang itu tertawa dingin dan berkata:

"Aku tadi salah melihat, ternyata kau ini putri kesayangannya Lim Ki-kun, he he he, sekali menebar jaring menangkap yang tua dan yang muda!"

Memang orang adalah Thian-ho-tiauw-sou, sampai sekarang dia masih belum tahu kalau tiga muridnya sudah dibunuh oleh Ho Koan- beng, setelah turun dari gunung Bu-tong, tadinya dia akan menelusuri jalan pergi ke gunung Go-bi, tapi kebetulan bertemu dengan Sin-hiong dan Hui-lan disini.

Dia tidak kenal dengan Sin-hiong dan Hui-lan berdua, tapi melihat jurus pedang Hui-lan, dia baru tahu dia adalah putrinya ketua pulau Teratai, Hui-lan juga sedang dirudung sial, saat ini Sin- hiong justru sedang pergi mencari Thian-ho-tiauw-sou.

Baru saja Thian-ho-tiauw-sou selesai bicara, dua jarinya sudah datang menjepit, walaupun dia hanya menggunakan dua jari, tapi begitu jurusnya keluar, malah jauh lebih lihai dari pada dua bilah pedang!

Hui-lan tergetar, buru-buru merubah jurus pedangnya, ingin memotong jari Thian-ho-tiauw-sou!

Thian-ho-tiauw-sou mendengus, ikan besar ditangannya disapukan, ikan itu baru ditangkap di dalam air, tubuhnya masih basah oleh air, sekarang di getarkan menggunakan tenaga dalam, tetes airnya jadi seperti senjata rahasia, dengan kecepatan tinggi melesat ke arah Hui-lan!

Hui-lan tidak mengira dia bisa melakukan ini, mau menangkis atas tidak bisa menangkis bawah, begitu tangannya sedikit lambat, dia merasa pinggangnya mati rasa, dia sudah ditarik Thian-ho- tiauw-sou dari atas kuda.

Thian-ho-tiauw-sou melihat-lihat dan berkata:

"Kalian datang berdua, kenapa aku tidak sekalian saja menangkap semuanya?"

Setelah berkata, dia menaruh Hui-lan di atas tanah, dengan tenangnya memakan ikan besar yang masih hidup di tangannya, terdengar "Krrk krrk!" mulutnya berlumuran darah, tapi mulutnya masih teriak:

"Nikmat!"

Semua perbuatannya, walaupun Hui-lan bisa melihatnya, tapi dia sudah tidak bisa bicara, di dalam hati hanya bisa gelisah, kenapa Sin-hiong sampai sekarang masih belum kembali.

Thian-ho-tiauw-sou makan sebentar, ikan besar itu sudah dimakan dia setengah lebih, lalu dilemparkan ke dalam sungai, melihat-lihat cuaca dan berkata sendiri:

"Beruntung sekali bocah itu, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!"

Dia pelan-pelan berdiri, melihat kuda merah yang hebat kepunyaan Sin-hiong, dia menganggukan kepala, lalu mengangkat Hui-lan di tanah, dan naik ke atas kuda memacunya pergi.

Thian-ho-tiauw-sou sudah menghabiskan waktu setengah harian di sisi sungai, Sin-hiong sudah hampir sepuluh li lebih mencarinya, tapi setengah bayangan orang pun tidak dilihatnya!

Melihat waktu sudah tidak cukup lama, Sin-hiong berlari kembali ke tempat itu, menunggu dia sampai di sisi sungai, keadaan di sisi sungai sudah sangat berbeda sekali. Hui-lan sudah menghilang, tapi kudanya masih disana sedang memakan sisa ikan, sedangkan kuda dia sendiri malah tidak tahu pergi kemana?

Sin-hiong melihat keadaan ini, dia masih belum tahu Hui-lan sudah ditangkap orang, mengira dia sangat nakal, tentu dia menunggang kuda merah dia pergi entah kemana.

Dengan sabar dia menunggu di sisi sungai, dari tengah hari sampai bukung, tetap tidak telihat bayangannya Hui-lan?

Walaupun di dalam hati dia merasa sedikit aneh, tapi keadaan di sisi sungai tidak terlihat ada yang mencurigakan? Saat itu dia bolak balik berjalan di sisi sungai beberapa saat, didalam hati berkata:

'Adik Lan sungguh manja sekali, hanya memikirkan diri sendiri, tidak tahu orang menunggu-nya sampai gelisah?'

Langit sudah gelap, angin sungai meniup sepoi sepoi, Sin-hiong membaringkan rubuhnya disisi sungai, lama menunggu masih belum kembali, terpaksa dia membaringkan diri sejenak disini.

Selama beberapa hari, Sin-hiong merasa sangat kelelahan, baru saja memeramkan matanya, dia langsung saja tertidur.

Entah lewat berapa lama, mendadak dia dibangunkan oleh suara derap kaki kuda yang dipacu kencang, Sin-hiong buru-buru bangkit berdiri, di bawah sinar bulan, dari kejauhan datang seekor kuda!

Sin-hiong menyangka orang ini adalah Hui-lan, di dalam hati berkata:

'Kau telah mempermainkan aku, biar aku pun mempermainkan kau!'

Setelah berpikir, maka dia bersembunyi di tempat gelap, pada saat itu orang yang berada di atas kuda sudah semakin jelas, ternyata yang datang memang seorang wanita yang sangat cantik.

Ternyata setelah wanita ini dekat, Sin-hiong meneliti, hatinya jadi tergetar keras! Ternyata wanita ini bukan Hui-lan, tapi dia adalah Sun Cui-giok yang sedang dicari-carinya!

Sun Cui-giok memakai baju warna biru muda, rambutnya digelung ke atas tinggi sekali, kelihatan seperti ada urusan penting, dalam memacu kudanya. masih tidak henti-hentinya memecut kudanya, dalam sekejap sudah dekat di depan!

Hati Sin-hiong tergerak, di dalam hati berkata:

'Apakah dia sudah tahu aku ada disini, maka sengaja datang kesini menemuiku?'

Pikiran ini sekejap berputar di kepalanya, tapi Cui-giok malah terus melewati tempat dia ber-sembunyi!

Sin-hiong sedikit tergetar, tidak sempat berpikir lagi dia langsung meloncat keluar dan berteriak:

"Cui-giok, Cui-giok.   "

Mendengar ada yang memanggil, wanita itu membalikan kepala melihat, tapi tidak menggubrisnya, dia langsung memacu kudanya ke depan!

Sin-hiong jadi semakin keheranan! otaknya sudah berputar, di dalam hati berkata:

'Salah, apa dia ini bukan Cui-giok?'

Tapi dia masih tidak percaya, di dalam hatinya berpikir dengan ketajaman matanya, tidak mungkin sampai salah melihat orang?

Sin-hiong mengangkat kepalanya, terlihat wanita itu sudah memacu kudanya sejauh sepuluh tombak, maka dia mengambil nafas secepat kilat melesat ke depan!

Sejak memakan Ho-siu-oh berusia ribuan tahun itu, gerakannya jadi amat ringan dan lirjcah, walaupun wanita itu sudah jauh, tapi hanya meloncat dua tiga kali saja, Sin-hiong sudah melewati dia!

Wajah wanita itu berubah "Weet!" dia memecutkan cambuknya dan berteriak: "Minggir!"

Pecutan ini sangat dahsyat, Sin-hiong sedikit menghindar dan berteriak:

"Nona Sun, kau tidak kenal aku?"

Wanita itu tertegun sejenak dan berkata marah: "Siapa nona Sun, mengapa kau menghadang jalan?"

Setelah berkata, dia kembali memecutkan cambuknya dengan ganas!

Sin-hiong menjadi bengong, dengan reflek menghindar, sebab jika tidak dia malah benar-benar terkena sabetan cambuk itu.

Jarak Sin-hiong dengan wanita itu sangat dekat, alis dia, bola mata yang hitam, dan wajah berbentuk kwaci yang dijentik saja bisa pecah itu, tidak satu pun ada yang tidak sama dengan Cui-gick, jika dikatakan di dunia ini ada dua orang yang wajahnya sama persis, juga tidak akan serupa seperti ini!

Sin-hiong menarik nafas panjang dan berkata lagi: "Nona Sun, aku ini Sen Sin-hiong!"

Setelah memecut dua kali baru diberi jalan, wanita itu dengan kesal mendengus, sambil marah berkata:

"Aku tidak peduli siapa dirimu? Sembarangan omong saja!"

Kakinya segera menjepit perut kuda langsung memacu kudanya ke depan!

Sin-hiong tergetar, dalam keadaan tergesa-gesa, tangan kanannya dengan cepat dijulurkan, teriaknya:

"Nona Sun, kau tidak boleh pergi!. "

Tapi wanita itu sudah memacu kudanya, melihat disisi tubuhnya ada angin menerpa, cambuk-nya segera dipecutkan ke samping dan berkata:

"Orang tidak sopan begini, kebanyakan adalah pemerkosa yang hina!"

Pecutan dia ini sangat ganas sekali, Sin-hiong sebenarnya bisa menangkap pecut itu, tapi saat ini tidak bisa tidak dia harus menarik kembali tangannya, dengan hatinya merasa heran sekali!

Ternyata jurus wanita tadi kelihatannya bukan jurusnya Sun Cui- giok, maka dalam sekejap, Sin-hiong terpaksa merubah pikirannya, yaitu walaupun wanita ini sepertinya sama dengan Sun Cui-giok, tapi mungkin bukan satu orang?

Melihat wajahnya bengong sambil tertawa dingin wanita itu berkata:

"Hemm.-. hemm... hanya begitu saja?"

Sambil berkata dia sudah melarikan kudanya jauh ke depan!

Dengan bengong Sin-hiong menatap bayangan belakangnya, lalu berguman pada dirinya sendiri:

"Dia bukan Cui-giok? Dia bukan Cui-giok?"

Ketika terbengong bayangan Cui-giok sudah menghilang di kegelapan malam!

Sekarang, dia jadi tidak tahu harus memikirkan apa, lebih lebih tidak tahu apa yang harus dilakukan-nya? Dia ingin pergi, khawatir Hui-lan kembali, ingin mengejar Cui-giok, tapi orang tidak menggubris dia, ini membuat dia jadi kesulitan.

Dia bengong memandang air sungai, berpikir tapi tidak menghasilkan apa-apa.

Waktu perlahan lewat, sekarang tampaknya sudah tengah malam, mendadak, satu tiupan angin sungai menerpa wajahnya, Sin-hiong merasa pikiran-nya jadi segar, di dalam hati berkata:

"Kenapa aku hanya berdiri saja disini, juga tidak berguna, adik Lan sudah lama ditunggu tapi juga belum kembali, mungkin dia mengalami sesuatu, seharusnya aku mencari dia baru betul."

Tapi,, masalah lain muncul, dunia sedemikian luasnya, kemana dia mencari Hui-lan?

Sekarang dia memikirkan masalahnya dengan teliti, mendadak terpikir olehnya:

Tadi aku pergi kesana untuk menyelidiki, tapi tidak menemukan apa apa, sekarang aku menuju pada wanita itu saja, pertama bisa menyelidiki Cui-giok, kedua juga bisa tahu siapa sebenarnya wanita itu?

Setelah memutuskan, maka dia menunggang kudanya Hui-lan, mengikuti arah perginya 'Cui-giok'.

Jalan ini berliku-liku seperti ular saja, tapi terus menelusuri sisi sungai membentang ke barat, malam sudah larut, Sin-hiong tidak ada semangat menikmati pemandangan sungai, dia memacu kudanya dengan cepat, tidak lama dia sudah lari sejauh dua puluh li lebih.

Sekitar jam tiga pagi, dia sudah sampai di Hong-cia, di dalam hatinya berkata:

"Entah mereka ada di dalam tidak, kenapa aku tidak masuk ke dalam saja?"

Tapi dipikir lagi olehnya, saat ini waktunya masih pagi, walaupun dirinya masuk ke dalam, juga tidak bisa menanyakan orang!

Berpikir sampai disini, maka pelan-pelan berjalan di jalan raya, jalan tidak jauh, mendadak melihat di depan juga ada dua orang sedang perlahan jalan ke depannya!

Begitu Sin-hiong menelitinya, dia terkejut hampir saja melompat.

Ternyata salah satu diantara dua orang itu, adalah wanita yang mirip dengan Cui-giok, penemuan dia ini seperti mendapatkan pusaka saja, kedua kakinya segera menjepit perut kuda, memacu kudanya mengejar.

Ketika jarak dengan kedua orang itu kurang lebih dua puluh tombak, mendadak terdengar suara "Huut!", satu benda hitam sudah melesat ke arah dia! Sin-hiong terkejut, kedua jarinya segera bergerak menjepit benda itu, setelah dilihat, ternyata adalah sisa paha ayam!

Hati Sin-hiong tanpa terasa sedikit tergetar!

Dia tahu sisa paha ayam ini datangnya dari salah satu di antara dua orang itu, tapi jaraknya ada dua puluh tombak lebih, orang ini selain langsung melempar kan juga tenaganya cukup kuat!

Sekarang Sin-hiong sudah punya alasan, tidak peduli siapa dua orang itu, pelan dia menyentilkan kedua jarinya, sisa paha ayam itu sudah dilemparkan kembali kepada orang itu.

Dua orang di depan itu masih tetap berjalan pelan-pelan, setelah Sin-hiong melemparkan kembali sisa paha ayam itu, terlihat orang di sebelah kiri membalikan tangan menangkapnya dan tertawa berkata:

"Bagus, bagus, tidak percuma jadi muridnya Khu Ceng-hong?" Sin-hiong kembali terkejut, di dalam hatinya berpikir:

;Orang ini bisa tahu sebutan guruku? Kalau begitu dia ini bukan orang biasa?'

Siapa kira, baru saja dia berpikir, mendadak dia merasa dua jari yang tadi menjepit sisa paha ayam terasa gatal-gatal, dalam sekejap sudah meluas, Sin-hiong sadar telah tertipu, buru-buru dia menotok titik saluran Kian-keng tangan kanannya, supaya gatal-gatal itu tidak menjalar ke atas, tapi ternyata dia masih terlambat, tangan kanannya pelan-pelan sudah jadi hitam!

Sin-hiong sangat terkejut, di dalam hati kata: 'Racun apa ini?'

Dia ingin mengangkat tangan kanannya, tapi lengan kanannya saat ini sudah tidak bisa digerakan lagi, tangannya seperti tangan orang lain yang dipasang di tubuhnya!

Sin-hiong pertama kali mengalami keadaan begini, saking terkejut wajahnya berubah hebat! Dia ingin mengejar orang itu, tapi melihat dari berbagai gejalanya, orang ini bukan saja ilmu silatnya sangat tinggi, walaupun sudah berhadapan, dia tidak tahu apakah bisa menghadapinya, tidak?

Dia tahu dirinya telah terkena racun orang itu, dan racunnya sangat ganas, jika dia tidak segera mengunci jalan darahnya, mungkin saat ini sudah tergeletak mati di tanah.

Berpikir sampai disini, keringat dingin di punggung sudah bercucuran.

Saat ini dua orang di depan itu sudah jauh, tinggal dua titik hitam saja, Sin-hiong tidak sempat mengejar mereka, buru-buru turun dari kuda, duduk bersila, mencoba menggunakan tenaga dalamnya mengeluarkan racun itu.

Dia sudah tahu tindakannya sangat berbahaya, tapi jika tidak bisa mengeluarkan racun, maka racunnya akan menjalar ke jantung, melihat keadaan sekarang, dia sudah tidak peduli menjalar ke mana, dia sendiri hanya punya satu jalan, mati!

Memang jika dia tidak bertindak begini pun, lalu bagaimana? Jika membiarkan racun menyerang tangan kanannya, asalkan lewat malam ini, mungkin seluruh tangannya akan tidak berguna lagi.

Sin-hiong berpikir-pikir, merasa keduanya sulit, waktu pelan- pelan berjalan, di timur sudah tampak sedikit terang, dia sadar sekarang dia tidak bisa berpikir banyak, melihat di sebelah kanan ada rerumputan setinggi orang, di depan rerumputan ada satu pohon besar menghadang, karena waktunya sempit, buru-buru dia berjalan kesana.

Baru berjalan beberapa langkah, dia merasa kepalanya terasa pusing sekali, dia tahu walaupun dirinya telah mengunci jalan darah, tapi racunnya masih tetap menjalar terus, kelihayan racun ini bisa di bayangkan.

Sin-hiong segera berjalan ke rerumputan itu, secepatnya membuka jalan darahnya, lalu memusat-kan seluruh tenaga dalamnya mendesak, terasa satu hawa panas mengalir di dalam tubuh, tapi ada hal yang aneh terjadi, setelah dia mengerahkan tenaga dalamnya mendesak agar racunnya keluar, racun itu bergerak, tidak menjalar ke atas juga tidak ke bawah, malah berdiam disana tidak bergerak.

Sin-hiong sedikit tersentak, di dalam hatinya berpikir:

'Jika menggunakan tenaga dalamnya saja tidak bisa mendesak keluar racun itu, tinggal satu jalan lagi yaitu mati.’

Saat itu dia telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, di atas kepalanya terlihat mengepul hawa panas, tapi racun di lengan kanannya masih tidak bergerak keluar!

Maka Sin-hiong bukan saja terkejut, malah jadi ketakutan karenanya.

Dia tidak menduga dirinya hanya menyentuh sisa paha ayam itu sebentar, racunnya sudah menyerang sedemikian berat, jika terjebak ke dalam jebakan yang sudah disiapkan orang itu, mana mungkin masih bisa bernyawa?

Dalam sekejap, dia terpikir bagaimana jika dia menjadi cacad? Pesan guru, dan masih banyak hal lainnya tidak akan bisa dilaksanakan, berpikir sampai disini, tidak tahan dia mengeluh putus asa.

Keluhannya membuat tenaga dalamnya mengendur, terasa matanya menjadi gelap, dan akhirnya jadi pingsan.

Entah lewat berapa lama, Sin-hiong merasa sinar matahari menusuk matanya, dia membuka mata mengusap-usap kepala dan berguman sendiri:

'Apakah aku sudah mati atau masih hidup?"

Setelah berbicara, dia mencubit dirinya, merasa di tempat yang dicubit sakit sekali, sadar dirinya masih hidup, tapi jelas-jelas tadi dirinya telah terkena racun ganas, apakah racun itu bisa keluar sendiri? Sin-hiong lama berpikir tapi tidak mendapat jawaban, lalu bangkit duduk, terlihat hari sudah sangat terang, waktunya sudah tidak pagi, mendadak dia teringat kuda Hui-lan yang masih berada di tengah jalan, maka berlari kesana!

Tapi baru saja dia bergerak, dia jadi terkejut kembali, dia sepertinya merasa tubuhnya berbeda dengan dulu.

Dia merasa ada satu aliran hawa murni pelan-pelan menjalar ke seluruh tubuh, lalu tubuhnya terasa sangat nyaman sekali. Dia adalah orang yang belajar ilmu silat, tentu saja tahu ini adalah akibat dari khasiat obat bergabung dengan tenaga dalam.

Saat itu buru-buru menghentikan gerakannya, bersuara "Heh!" dan berkata:

'Heran, apakah ada orang yang mengambil kesempatan saat aku pingsan, menggunakan tenaga dalamnya membantu aku mengeluarkan racun itu?'

Semakin dipikir Sin-hiong semakin keheranan, dia berpikir lama dan bengong, lalu berjalan ke sisi jalan, kuda Hui-lan itu sudah tidak tampak, entah sudah pergi kemana.

Tidak tahan kembali dia tertegun, di dalam hati berkata:

'Aku tergeletak setengah harian, dan meninggalkan seekor kuda disini, pejalan kaki yang lewat disini tentu mengira kuda itu tidak bertuan, jadi sekalian dibawanya?'

Beruntung dia bisa menarik kembali nyawa-nya, saking senangnya, dia jadi malas mencari kuda nya, dia teringat kejadian kemarin malam maka memutuskan mencari orang itu untuk membalas dendam.

Hong-cia tidak terlalu jauh, Sin-hiong sampai di kota itu, berjalan dua putaran di jalan raya, dia mendapatkan sebuah penginapan, baru saja mau memesan makanan, tapi dia merasa perutnya belum lapar, tapi pelayan sudah datang dan bertanya:

"Tuan muda mau pesan apa?" "Apa saja boleh?" kata Sin-hiong terpaksa. Pelayan jadi bengong, dia mengulanginya:

"Apa saja boleh?"

Sin-hiong menganggukan kepala, pelayan itu sambil tertawa pahit berkata:

"Siauya, rumah makan kami semuanya ada, justru tidak ada 'apa saja boleh"

Sin-hiong sadar dia sedikit tidak lazim, maka dia sembarangan memesan beberapa masakan, ketika sorot matanya tidak sengaja menyapu, mendadak terlihat di satu sudut gelap di atas duduk seorang tua berwajah hitam, yang paling aneh pada orang tua ini adalah dia memakai pakaian berwarna-warni, bajunya bergaris melintang lima warna merah kuning biru putih hitam!

Saat ini orang tua itupun sedang memandang Sin-hiong, tapi wajahnya tampak tidak mengerti.

Sin-hiong merasa kenal orang ini, saat di ingat lagi, tidak tahan dia jadi tergetar!

Orang tua itu sadar Sin-hiong sudah memperhatikannya, buru- buru dia memalingkan kepalanya, tapi wajahnya jadi sedikit tidak tenang, setelah makan sejenak, lalu buru-buru membayar rekening dan berjalan keluar.

Sin-hiong mana mau melepaskannya, begitu orang tua itu pergi, dia makan pun belum, dia langsung mengeluarkan lima liang perak dan berteriak:

"Pelayan, ini buatmu, aku tidak jadi makan!" Setelah berkata dia pun buru-buru pergi!

Pelayan itu setelah membelalakan matanya sejenak, baru berguman:

'Orang aneh, orang aneh, tadi pesan "apa saja boleh', sekarang tidak makan malah memberi uang sebanyak ini, sungguh orang aneh, hi hi hi!'

Pelayan ini seperti kejatuhan harta dari langit, saat kata-katanya habis, Sin-hiong sudah keluar ke mulut jalan mengikuti orang tua itu.

Orang tua itu menundukan kepala berjalan cepat, Sin-hiong menempel terus mengejar dari belakang, tidak lama kemudian, kedua orang itu sudah berturut-turut keluar pintu gerbang kota.

Kira-kira sudah meninggalkan kota kabupaten lima enam li, saat ini di sekeliling sudah tidak ada orang, orang tua itu mendadak menghentikan langkahnya dengan dingin berteriak:

"Hei bocah, ada masalah apa)- kenapa selalu mengikutiku?" Sin-hiong tertawa dingindanberkata:

"Kau berjalan di jalan sendiri, aku lewat jembatan sendiri, kenapa tidak boleh!"

Orang tua itu membelalakan sepasang mata dan berkata:

"Kau pandai bicara, hemm... hmm..., tapi mungkin jembatan itu tidak mudah dilewati?"

Kata-kata ini sepertinya mengandung makna dalam, Sin-hiong teringat kejadian tadi malam, hatinya dari tadi dipenuhi amarah dan berteriak:

"Tidak mudah dilewati lalu kenapa?"

Kelihatannya dia sengaja mau mencari gara-gara pada orang tua di depan mata ini, ketika tadi Sin-hiong mengikutinya dari belakang, semakin dilihat bayangan belakang orang tua ini semakin mirip dengan orang kemarin malam, jika bukan karena tadi terlalu banyak orang, mungkin sudah dari tadi dia bertindak.

Orang tua itu mendengus dingin, pelan-pelan berjalan balik kembali, lalu meloncat keatas, telapak tangannya datang menyerang sambil teriak:

"Kalau begitu kau coba ini!" Sin-hiong sudah siap dari tadi, orang tua itu memukulkan telapak tangannya, buru-buru meng-hindar dan berteriak:

"Tunggu, aku masih ada perkataan yang mau disampaikan?" Orang tua itu menarik pukulannya dengan marah berkata: "Kau masih punya pesan wasiat apa?"

Sin-hiong tertawa dingin dan berkata:

"Kau jangan sombong dulu, aku tanya, apakah kau ini Ngo-ki- thian-cun Tonghong Ki?"

Wajah orang tua itu jadi serius dengan sombong berkata: "Kau tahu namaku juga!"

Sin-hiong diam-diam menarik nafas, di dalam harinya berpikir jika dia adalah Ngo-ki-thian-cun, maka wanita yang kemarin malam bersama dia tidak salah lagi pasti Cui-giok, saat itu berkata:

"Aku masih ada satu pertanyaan, kau menggunakan cara apa membuat wanita yang kemarin malam bersamamu jadi lupa ingatan, apa kau tidak tahu dia adalah temanku?"

Ngo-ki-thian-cun mendengus dan berkata:

"Kau terlalu banyak omong?"

Setelah berkata, kembali telapak tangannya menghantam! Sin-hiong jadi marah sekali:

"Ssst!" dia menusukan pedangnya, menyerang untuk bertahan, menusuk jalan darah Hwan-sui Ngo-ki-thian-cun!

Ngo-ki-thian-cun tertawa dingin, dia memutar telapak tangannya, menangkis pedang pusaka Sin-hiong ke samping, sambil tertawa berkata:

"Aku ada urusan penting, kau malah menghadang aku, sekarang jangan salahkan aku!"

Telapak tangan kirinya tidak menganggur, ketika telapak tangan kanan dia menangkis pedang pusaka Sin-hiong, lima jari tangan kirinya tsedikit ditekuk mencengkram ke arah dada Sin-hiong!

Sin-hiong terkejut, sejak dia turun dari gunung, belum pernah ada orang yang bisa dalam satu jurus menangkis pedangnya dengan berani, dia memiring-kan tubuhnya, lalu menggetarkan pergelangan tangannya kembali menusukan pedangnya dua kali!

Tapi baru saja jurusnya dilancarkan, Ngo-ki-thian-cun seperti sudah tahu gerakannya, dia membalikkan tangan kanannya, kembali menangkis pedang pusakanya Sin-hiong! ?

Sin-hiong tergetar, dia tidak menduga gerakan lawannya secepat ini, dalam sekejap mata dia sudah dua kali melakukan perubahan, tapi, Ngo-ki-thian-cun seperti lebih cepat dari pada dia!

Baru saja Sin-hiong mau menabahkan lagi, Ngo-ki-thian-cun sudah mendahului dia bergerak, Sin-hiong berturut-turut menyerang lima enam jurus, tapi setiap jurus selalu didahului oleh Ngo-ki-thian- cun.

Sin-hiong tidak tahan jadi amat terkejut!

Tapi sejak lahir dia sudah bersifat pantang menyerah, lawan terlalu tangguh, semangat juang dia juga seperti jadi bertambah, saat ini mendadak dia jadi bersemangat, jurus hebat Kim-kau-po- kiam nya tidak berhentinya dilancarkan, terlihat kilatan sinar perak seperti hujan menebar ke bawah, dalam sekejap mata sudah mengembalikan keadaan menjadi di atas angin kembali!

Wajah Ngo-ki-thian-cun berubah dia berteriak:

"Khu Ceng-hong mempunyai murid seperti ini, sungguh diluar dugaanku!"

Setelah menyerang dengan telapak tangannya, mendadak dari pinggangnya, dia mengeluarkan satu tameng tembaga, di atas tameng tembaga itu tampak ada lima daun pohon, juga dibagi jadi lima warna, dia menyabetkan tamengnya dan berkata lagi:

"Jika kau bisa menahan lima jurusku, maka hari ini aku akan mengampunimu!"

Sabetan dia ini selain cepat juga sadis, di dalam kilatan sinar kuning, sekejap mata sudah tiba di depan wajah Sin-hiong kurang lebih lima cuil.

Sin-hiong tergetar, di dalam hatinya berpikir, 'Ngo-ki-thian-cun ini sungguh tidak percuma nama-nya bisa menggemparkan dunia, saat itu dia merubah jurus pedangnya, menyerang dengan jurus Long- yang-ban-li (Ombak mendorong selaksa li), sinar perak bergulung- gulung, laksana ombak di lautan datang menyapu!

"Kek kek kek!" Ngo-ki-thian-cun sambil tertawa berkata, "Jurus ini cukup bagus, coba terima jurus kedua ku!"

Tameng tembaga ditebaskan, terdengar satu suara "Weet!", senjata di tangannya seperti dilempar-kan dari tangannya, menebas ke bawah ke arah gulungan sinar perak pedang Sin-hiong.

Serangan Sin-hiong selain telah melindungi dirinya, juga menyerang tiga puluh enam titik jalan darah Ngo-ki-thian-cun, ketika ujung pedang sudah menyentuh bajunya, tidak di duga jurus kedua Ngo-ki-thian-cun sudah di keluarkan.

Jurus Ngo-ki-thian-cun ini bisa dikatakan sangat aneh, tebasan tameng tembaganya telah menutup ke arah Sin-hiong Sin-hiong bisa saja melukai dia, tapi sekarang malah berubah jadi harus menghindari dia!

Sin-hiong terpaksa menarik tangan merubah jurusnya, kakinya berputar, orangnya 'sudah mundur setengah langkah kebelakang, menunggu jurus Ngo-ki-thian-cun sudah selesai, secepat kilat menyabetkan satu jurus Beng-teng-kui-lu (Nama dicatat setan terdaftar)!

Jurus ini dengan cepat memotong pergelangan Ngo-ki-thian-cun, terpaksa Ngo-ki-thian-cun menarik pergelangan tangannya, Sin- hiong terus maju ke depan dan berteriak:

"Silahkan menghadapi jurus ketigaku!" Dia memutar pedang pusakanya, ujung pedang membentuk lingkaran besar, mengurung seluruh tubuh Ngo-ki-thian-cun.

Ngo-ki-thian-cun memutar tameng tembaga nya dan berteriak: "Memang apa hebatnya jurus ketigamu?"

Sin-hiong tertawa dingin, menunggu Ngo-ki-thian-cun menyapukan tameng tembaganya, jurus pedangnya berubah lagi, pedangnya mendongkel ke sisi, dengan bangganya berkata:

"Lihat jurus ke empatku ?"

Kedua jurus dia semuanya mendahului lawan, dan semuanya menyerang titik penting di rubuhNgo-ki-thian-cun, Ngo-ki-thian-cun tergetar, seumur hidup-nya tidak pernah mengalami kejadian seperti ini, sekali berteriak, sekuatnya dia menyerang dua jurus!

Sin-hiong tertawa lalu berkata:

"Jurus kelima sudah habis, sekarang seharus-nya jurus keenam!"

Saat berkata kembali dia menyerang dua jurus, kehebatan serangannya, sampai dia sendiri pun merasa heran!

Kelihatan jurus dia di belakang jurus Ngo-ki-thian-cun, tapi setelah kedua jurus itu dilancarkan, malah jurusnya sampai lebih dulu pada Ngo-ki-thian-cun, Ngo-ki-thian-cun jelas sangat terkejut, Sin-hiong sendiri pun merasa tidak percaya!

Dia tidak tahu kenapa bisa terjadi hal ini, yang Lebih mengejutkan lagi adalah, semakin dia bertarung semangatnya semakin naik, tenaga dalamnya menye-bar ke seluruh tubuh, kelincahan gerakannya, belum pernah dia rasakan selama hidupnya.

Saat ini bukan saja sudah lewat lima jurus, jurus ke enam, jurus ke tujuh, jurus ke delapan juga sudah lewat, Ngo-ki-thian-cun bukan saja tidak bisa mengambil keuntungan, saat menyerang malah sering kalah selangkah oleh Sin-hiong!

Hati Ngo-ki-thian-cun diam-diam tergetar, di dalam hatinya berpikir: 'Kehebatan ilmu silat orang ini, tampaknya di atas Khu Ceng- hong dulu, jika aku tidak mengeluar-kan jurus membunuh, tidak mungkin bisa mengalah-kan dia.

Setelah berpikir, dia memaksakan menyerang satu jurus, lalu mundur ke belakang, begitu mengibas-kan lengan bajunya yang besar, segumpal asap kuning sudah menebar keluar.

Sin-hiong sudah ada pengalaman kemarin malam, tahu di dalam asap pasti ada apa-apanya, mendadak dia meloncat ke belakang, tapi begitu dia meloncat malah dia mundur sejauh lima enam belas tombak.

Dia kembali tertegun, pada saat ini terdengar Ngo-ki-thian-cun berteriak:

"Permisi!" tahu-tahu dia sudah berlari ke atas puncak! Sin-hiong masih tertegun keheranan karena gerakannya.

Dua hari terakhir ini, timbul dua hal yang terjadi padanya, satu adalah racun di dalam tubuhnya mendadak menghilang satu hal lainnya adalah tenaga dalam dia mendadak maju pesat.

Saat ini Ngo-ki-thian-cun sudah berlari sejauh lima enam puluh tombak, tiba-tiba Sin-hiong terpikir harus menanyakan keberadaannya Cui-giok sekarang, maka dia membentak, langsung mengejar keatas!

Kali ini dia mengerahkan seluruh tenaganya, kecepatan gerakannya seperti kilat menyambar, walaupun Ngo-ki-thian-cun sudah berlari dulu, tapi tidak sampai satu jam, Sin-hiong sudah meloncat melewati kepalanya!

Ngo-ki-thian-cun merasa marah berkata:

"Kau benar-benar ingin mencari mati?"

"Cepat kembalikan orangnya!" kata Sin-hiong tawar "Kau ini sebenarnya mau minta siapa padaku?"

"Di depanku, kau tidak perlu berpura-pura, jika tidak, aku sekalian akan memperhitungkan masalah paha ayam yang kemarin malam."

Ngo-ki-thian-cun tergerak, berkata dingin:

"Jika kau terus memaksa, jangan salahkan aku nanti!"

Dia menjentikan sepuluh jarinya, satu asap merah sudah menerjang ke arah wajah Sin-hiong!

Tonghong Ki bisa dijuluki Ngo-ki-thian-cun, selain karena dia tinggal di puncak Ngo-ki di pulau Giok-sik (Batu giok), yaitu sepanjang hidupnya dia suka memakai benda yang warnanya berbeda-beda, seperti baju yang dipakainya, senjatanya, sampai racun yang digunakannya juga demikian.

Racun yang dia pakai juga dibagi dalam lima warna, merah kuning biru putih hitam, jika dibagi dengan tingkatan, warna merah paling lihay, kemarin malam dia melemparkan sisa paha ayam, Sin- hiong hanya menyentuh sedikit, hampir saja nyawanya melayang, itu karena dia telah menjentikan bubuk merah di dalam kukunya.

Sin-hiong pun sadar kehebatan racunnya, buru-buru dia memiringkan tubuhnya, Ngo-ki-thian-cun mendengus dan berkata:

"Kau mau lari kemana!"

Tameng tembaga di tangannya langsung menyapu ke bawah! Sekarang, dalam hal ilmu silat Sin-hiong tidak takut padanya,

hanya terhadap kelihayan racunnya, Sin-hiong terpaksa harus

waspada sehingga ilmu silatnya jadi tidak bisa berkembang.

Sin-hiong tidak berani terlalu dekat, secepat kilat dia berputar ke belakang tubuh Ngo-ki-thian-cun, dengan ganas menusukan pedang pusakanya ke arah titik 'Leng-tai-hiat' Ngo-ki-thian-cun!

Tameng tembaga Ngo-ki-thian-cun men-dongkel ke belakang, terdengar satu suara nyaring ^Tung!" bunga api berpijar, Tonghong Ki tergetar oleh tenaga dalam Sin-hiong hingga bergoyang dua kali, tapi Sin-hiong sedikit pun tidak bergeming! Tonghong Ki terkejut, dia tidak menduga Sin-hiong yang begini muda, tenaga dalamnya sudah sehebat ini?

Sin-hiong sendiripun jadi tertegun, dalam bentrokan tadi, walaupun sepasang lengannya terasa tergetar sampai sesemutan, tapi dia tahu, jika dulu. paling sedikit diapun akan terhentak mundur satu kaki lebih!

Kedua belah pihak sama-sama tertegun, Ngo-ki-thian-cun mendadak berteriak, dia berusaha merebut penyerangan, maka dia mengibaskan lengan bajunya, satu asap kuning kembali menyembur keluar!

Sin-hiong terkejut, sekali menghentakan kaki, dia kembali terbang ke atas, dalam sekejap kembali berada di atas angin, pedangnya disabetkan, memaksa Ngo-ki-thian-cun tidak bisa bergerak!

Kedua orang bertarung dari bawah gunung sampai ke atas gunung, dari siang bertarung sampai petang hari, selalu berusaha merebut di atas angin, walaupun tenaga dalam Sin-hiong lebih unggul sedikit, tapi dia harus waspada terhadap racunnya Ngo-ki- thian-cun, maka kedua orang itu sudah bertarung setengah harian, tapi masih saja tidak bisa menaklukan lawannya.

Di tempatini keadaan lapangan sangat berbahaya, pelan-pelan kedua orang itu sudah ber-tarung sampai di sisi jurang!

Dari sini bisa melihat Tiang-kang seperti sungai kecil sedang mengalir, tapi di bawah kaki batu cadas berserakan, jika tidak hati- hati sampai jatuh ke bawah, dewa pun jangan harap bisa hidup.

Hari semakin gelap, yang rugi tentu saja Sin-hiong, sebab kalau dia sedikit kurang hati hati, maka kemungkinan besar dia bisa terkena racunnya Ngo-ki-thian-cun, karena di malam hari keadaannya gelap, sulit melihat racunnya!

Saat ini kedua orang saling menatap, Tonghong Ki melihat langit dengan dingin berkata:

"Tempat ini bagus juga, begitu jatuh ke bawah tidak perlu repot mengubur mayatnya!"

Sin-hiong mendengus dan berkata:

"Kecuali kau mengembalikan nona Sun padaku, jika tidak, kau jangan harap bisa bebas!"

Mendadak Ngo-ki-thian-cun maju selangkah, tameng tembaganya dikebutkan melintang jari kirinya menyentil, sejalur serbuk merah sudah keluar, melesat ke arah Sin-hiong!

Saat ini Sin-hiong berdiri berlawanan dengan arah angin, jika dia kembali berputar ke belakang tubuh Ngo-ki-thian-cun, tepat masuk perangkap dia, jika dia mundur, jurang di belakangnya hanya berjarak lima enam tombak, tapi jentikan racun Ngo-ki-thian-cun selalu mencapai jarak dua tiga tombak, walaupun Sin-hiong mau mundur, juga hanya bisa mundur sekali, saat itu jika Ngo-ki-thian- cun menyerang lagi dengan racunnya, maka dia hanya bisa meloncat ke bawah!

Dalam sekejap ini Sin-hiong berpikir, dua jurus hebat Ngo-ki- thian-cun sudah hampir mengenai sasaran!

Sin-hiong tergetar, buru-buru menyabetkan pedang pusakanya, telapak tangan kirinya disapukan, terdengar "Huut!" angin pukulannya sudah menyapu ke arah asap merah itu!

Dalam keadaan berbahaya ini, Sin-hiong melancarkan dua serangan dengan menggunakan seluruh tenaganya, bagaimana kekuatannya, mungkin dia sendiri pun tidak tahu?

Ngo-ki-thian-cun yang berhasil mendesak Sin-hiong mundur ke belakang, ketika Sin-hiong sudah mundur ke tepi jurang, dia baru melakukan serangan dahsyat, tapi tidak diduga saat ini Sin-hiong sudah mengerahkan seluruh tenaganya menyerang dua jurus!

Dua jurus ini Sin-hiong sungguh sangat dahsyat, hawa pedang laksana pelangi, angin pukulan yang keluar dari telapaknya hampir bisa menghancur-kan batu.

Wajah Ngo-ki-thian-cun tergerak, dia tidak berani menangkis serangan Sin-hiong ini, terpaksa dia memutar tubuh, tameng tembaga mendadak men-dongkel ke atas, kembali terdengar suara "Paak!", tapi Ngo-ki-thian-cun mengikuti bentrokan itu meloncat mundur!

Mata Sin-hiong menyorot sinar dengan dingin berkata:

"Kau masih ada kemampuan apa lagi, silahkan keluarkan semua!"

Ngo-ki-thian-cun menarik nafas panjang, dalam hati berkata: 'Bocah ini ilmu silatnya tidak ada tandingan, tidak heran sampai

tiga tetua Siauw-lim, Ang-hoa-kui-bo dan kawan-kawan juga bukan lawannya!"

Sekarang Sin-hiong sedang mengawasi dia, Ngo-ki-thian-cun memutar otaknya, tapi bagaimana pun dia tidak bisa memikirkan sebuah cara untuk bisa lolos dari Sin-hiong.

Bulan sudah keluar dari ufuk timur, gunung amat hening, Ngo-ki- thian-cun melihat ke sekeliling, mengangkat tameng tembaganya, baru saja mau menghantam, tiba-tiba di dalam gunung terdengar suara nyaring berteriak:

"Guru, anda sedang bertarung dengan siapa?"

Setelah suaranya hilang orangnya muncul, dari lereng gunung meloncat keluar satu bayangan langsing yang lincah!

Sin-hiong yang melihat, tidak tahan berteriak:

"Nona Sun, nona Sun, kenapa kau memanggil orang ini guru?"

Ternyata orang yang muncul adalah wanita yang kemarin bertemu dengan Sin-hiong, terlihat saat ini dia memakai baju putih, berambut panjang terlepas ke bahunya, di bawah sinar bulan yang redup tampak semakin cantik saja.

Wanita melototi Sin-hiong dengan marah berkata: "Ternyata kau lagi orang gila?"

Sin-hiong tergetar dan berteriak: "Nona Sun, kenapa kau sampai akupun tidak kenal?" Wanita itu dengan bencinya berkata:

"Kau bicara dengan siapa? Hemm... hemm... siapa nona Sun mu itu?"

Perkataan wanita ini, tidak jauh berbeda dengan kemarin malam, jika dia benar Cui-giok, bagaimana pun harus mengenalnya.

Tapi, setelah Sin-hiong bertemu dengan wanita ini, dia tidak alasan untuk tidak memanggHl dia Cui-giok, sebab wajah kedua orang ini selain serupa, sampai suara bicaranya juga sama.

Dari kemarin sampai sekarang Sin-hiong sudah bertemu dengan dia dua kali, walau dia tidak mau mengakuinya, tapi Sin-hiong terus menempel dia, tidak mau melepaskannya, sebenarnya demi Cui-giok dia sampai meninggalkan rumah, apa lagi, terhadap

Ho Koan-beng, Sin-hiong sekarang masih merasa sedikit bersalah!

Wanita itu pelan-pelan berjalan ke sisi Ngo-ki-thian-cun dan berkata:

"Guru, biar murid yang menghajar orang sombong ini!"

Mendengar ini, Sin-hiong seperti disambar geledek, dengan sedih dia memasukan pedangnya, sambil menundukarn kepala berjalan turun ke bawah gunung!

Dia tidak bisa berpikir bagaimana Cui-giok bisa berkata begini, dia merasa hati dan jerih payahnya digambar di atas kertas putih, sungguh seorang yang paling tolol di dunia ini, maka ketika dia berjalan ke bawah gunung kedua kaki yang menginjak ke tanah masih mengeluarkan suara yang berat.

Sin-hiong berjalan dengan berat beberapa langkah, mendadak di belakang rubuhnya ada angin berhembus, dia segera meloncat menghindar ke pinggir jalan, begitu melihat, ternyata wanita itu telah menusukan pedang padanya! "Kau mau apa?" tanya Sin-hiong tertegun.

Wanita itu mengangkat alisnya dengan dingin berkata: "Kenapa kau naik ke gunung kami tanpa ada alasan?"

Wajah Sin-hiong terlihat menjadi aneh, sekarang dia harus percaya wanita di depan mata ini bukan Cui-giok.

Perkataan wanita ini sangat jelas, jika mengata-kan dia telah ditipu orang atau telah memakan obat yang membuat dia jadi lupa siapa dirinya, mungkin bicaranya dan gerakannya, pasti tidak akan seyakin ini.

Sin-hiong merasa putus asa dengan menyesal berkata:

"Sejak kemarin malam aku telah salah paham terhadap nona, mohon nona memaafkannya!"

Dia tidak mengatakan alasannya, selesai bicara, lalu membalikan kepala meneruskan jalannya.

Tapi baru saja dia berjalan tidak sampai dua tombak, kembali satu hawa dingin pedang menyerangnya.

Sin-hiong tahu ini adalah perbuatan wanita tadi, tidak tahan wajahnya jadi berubah, dia membalik-kan tangan mencengkram dengan dingin berkata:

"Aku sudah meminta maaf, apakah nona masih tidak mau menerimanya?"

Cengkeraman dia sangat cepat, wanita itu tidak menduganya, hampir saja tertangkap oleh dia, Ngo-ki-thian-cun berteriak:

"Anak Giok, kau bukan lawan dia?"

Setelah berkata secepat kilat dia meloncat ke depan, begitu menjulurkan tangan, tameng tembaga-nya menyapu ke arah pinggang, Sin-hiong meng-hindar dan menarik tangannya kembali sambil tertawa berkata:

"Aku tidak mencari perkara denga'n kalian lagi, itu sudah keberuntungan kalian, apa kalian malah ingin menghad angku?"

Saat Sin-hiong menarik tangannya dia sudah meloncat dan langsung meninggalkan.

Wanita itu sudah menyerang dua jurus tapi tidak berhasil menghadang Sin-hiong, tidak tahan dia menghentakan kakinya dengan marah berkata:

"Aku tidak percaya kau bisa turun gunung?"

Dia tidak mendengar nasihat Ngo-ki-thian-cun, dia kembali mengejarnya.

Wajah Ngo-ki-thian-cun tergerak, dia seperti-nya khawatir sesuatu, diapun mengikuti wanita itu mengejar ke bawah.

Sin-hiong sudah berlari di depan, seharusnya wanita itu tidak akan bisa mengejarnya, tapi saat ini dia sedang banyak pikiran, makanya gerakan kakinya sedikit lamban, baru saja berlari sepuluh tombak lebih, wanita itu sudah berhasil menghadang di depan.

Sin-hiong melototkan sepasang matanya, hati-nya jadi panas, tapi saat matanya bersentuhan dengan sorot mata wanita itu, tidak tahan hatinya jadi tidak tega.

Sebab wanita ini terlalu mirip dengan Cui-giok, maka dalam pikirannya selalu memandang dia sebagai Cui-giok, saat berhadap- hadapan dengan wanita itu, dalam hati dia diam-diam berteriak:

"Nona Sun, kau sudah berubah!"

Tapi, wanita di depan matanya ini merasa asing pada dia, malah menganggap dia sebagai musuh nya, setelah menghadangnya kembali dengan dingin berkata:

"Hemm... hemm... kau mau pergi, jangan harap?"

Kata-katanya sangat dingin menusuk telinga, Sin-hiong menarik kembali pikirannya, kenyataan di depan mata, membuat tubuhnya bergetar, dengan emosi dia berkata:

"Nona, jika aku mau pergi, walaupun raja langit tidak akan bisa menghadangku!"

Wajah wanita itu jadi serius, lalu menusukan pedangnya sambil tertawa dingin katanya:

"Mungkin juga tidak!"

Sin-hiong selalu mengalah pada dia, tapi wanita itu malah terus mendesaknya, dia ini masih berdarah remaja, saat inipun dia tidak tahan menjadi marah, sambil memutar tangannya dengan marah berkata:

"Kalau kau tidak percaya boleh mencobanya!"

Baru saja wanita itu menusukan pedangnya, tidak menduga ditangkis oleh tangan Sin-hiong, tusukan nya jadi melenceng, baru saja mau merubah jurusnya, Sin-hiong sudah menyentilkan jarinya, dengan sombongnya berkata:

"Lepas!"

Wanita itu merasa ada angin dingin menyerang pergelangan tangannya, jangan kata sudah tidak keburu merubah jurus, walaupun ingin menarik kembali tangannya pun sudah terlambat, tidak tahan dia jadi terkejut sekali!

Saat sekejap itu, lima jari Sin-hiong sudah datang menyerang, jika wanita itu tidak melepaskan pedang dan mundur ke belakang, lengan mulusnya pasti akan putus dijepit oleh Sin-hiong.

Sebenarnya jarak Ngo-ki-thian-cun tidak terlalu jauh dari Sin- hiong, dia bisa saja maju membantu wanita itu, tapi anehnya, saat ini dia berdiri diarn tidak bergerak!

Sin-hiong merasa ini di luar dugaan, tiba-tiba dia merubah jurusnya, menyentil dengan pelan pedang wanita itu, terdengar suara "Paak!" pedangnya sudah disentil Sin-hiong terbang ke udara!

Wajah wanita itu berubah hebat, dia sadar jika Sin-hiong tadi berniat melukai dia, lengan dia sudah putus dari tadi.

Sin-hiong tertawa dan berkata: "Maaf!"

Dia membalikan rubuh, melihat Ngo-ki-thian-cun sedang bengong menatap dirinya, dan teringat kejadian tadi, di dalam hatinya berpikir:

"Orang ini aneh sekali, dia lebih suka muridnya terluka, sedikit pun tidak mau maju membantu!"

Sin-hiong hanya melirik mereka sebentar, lalu kembali meneruskan jalannya.

Di dalam hatinyaa banyak masalah, sambil berjalan sambil memikirkan, tapi saat dia tidak bisa memecahkan masalahnya, maka jalannya semakin lama semakin cepat.

Turun ke bawah gunung, malam sudah larut, tapi pikirannya malah lebih berat dari pada gelapnya malam.

Otak Sin-hiong penuh oleh persoalan, berpikir ke sana-kemari, tapi tetap tidak bisa memecahkannya, ketika masuk ke satu hutan, di depan mata jadi gelap gulita, dia masih berjalan terus, mendadak, di atas kepala terdengar sebuah teriakan aneh "Hiuut!" Sin-hiong segera menghentikan langkahnya dan berteriak:

"Siapa?"

Baru saja selesai berkata, diatas terdengai Huut!" segumpal bayangan hitam sudah menerjang kearahnya!

Sin-hiong buru-buru menghindar, begiti melihat seorang tua yang wajahnya sangat buruk sudah berdiri di depannya!

Orang tua ini bukan saja wajahnya sangat buruk, perawakannya juga pendek dan gemuk, keli! itannya seperti bola daging saja, Sin- hiong tergetar dan bertanya:

"Siapa Tuan?"

Dua sorot mata orang tua itu laksana pisau tajam menyapu wajah Sin-hiong:

"Kek kek kek!" dia tertawa dan berkata. "Kau tidak tahu siapa aku?"

Setelah berkata, tubuh gemuknya bergerak sekali dan berkata lagi:

"Kali ini aku menangkap bangsat kecil yang mencuri barang!" Sekelebat dia langsung maju menyerang!

Jangan di lihat tubuhnya pendek gemuk, tapi ternyata gerakannya lincah sekali, baru saja selesai bicara, angin pukulan dari telapak tangannya sudah datang menyerang!

Diam-diam Sin-hiong terkejut, di dalam hati-nya berpikir: 'Bukankah ini hal yang aneh lagi? Kenapa dalam dua hari ini aku

selalu bertemu dengan masalah yang tidak ada ujung pangkalnya,

dan sekarang ada lagi yang memanggil aku bangsat kecil pencuri barang!"

Masih berpikir, telapak tangannya menyerang balik.

Tadinya orang tua itu tidak berniat mengadu keras lawan keras, melihat Sin-hiong menyerang dengan sebelah tangan, maka dia berteriak:

"Bagus!"

Tangannya sudah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, hingga menimbulkan angin keras, baju Sin-hiong pun jadi mengembang.

Melihat dia mau bertarung mengadu nyawa, di dalam hati Sin- hiong merasa sangat tidak mengerti, dia menghentakan kakinya di tanah, orangnya sudah meloncat ke atas udara, lalu turun di belakang orang tua itu.

Orang tua itu terkejut, karena dia menyerang dengan tenaga penuh, sulit menghentikan gerakannya, terdengar "Paak paak!" dua suara keras, dua pohon besar di depan sudah patah terkena sapuan angin pukulannya.

"Wah besar sekali tenaganya, sayang di hutan tidak ada macannya?" teriak Sin-hiong.

Setelah serangan telapak tangan orang tua itu gagal, malah disindir oleh Sin-hiong, dia jadi semakin marah, lalu membalikan tubuh, langsung menyapukan dua telapak tangannya!

Sin-hiong tidak menangkisnya, dia hanya meloncat mundur sepuluh tombak lebih!

Mata orang tua itu jadi membelalak besar:

"Tidak jelek, tidak jelek, tidak heran berani mencuri barang teman lamaku!"

Sin-hiong mengerutkan alis dan bertanya:

"Siapa yang telah mencuri barang teman lama kau? Kau salah melihat orang?"

Orang tua itu marah sekali, berkata:

"Hemm... hemm... aku bisa salah lihat? Mungkin kau salah mencuri?"

Setelah berkata, dia kembali mendesak satu langkah demi satu langkah.

Sin-hiong tergetar, di dalam hatinya berpikir:

"Apakah dua hari terakhir ini sudah muncul mahluk aneh? Aku sudah salah mengira wanita itu adalah Sun Cui-giok, orang tua ini malah bersikeras menuduh aku telah mencuri barang teman lamanya, sungguh aneh sekali?'

Orang tua itu terus maju sedikit pun tidak berhenti, lalu menyerang dengan telapak tangannya!

Sin-hiong segera berputar ke belakang tubuh-nya, dengan ringan membalas serangan dengan telapak tangan sambil berkata:

"Coba kau katakan, barang apa yang telah dicuri aku?"

Setelah berturut-turut menyerang tiga jurus, dan ketiga jurusnya gagal, didalam hati orang tua itu tentu saja terkejut, tapi dia karena sifatnya aneh, di dalam hatinya berkata:

"Aku bukan lawanmu, tentu saja aku tidak pantas meminta kembali barang teman lamaku, rnaka dia berkata:

"Mau bicara apa lagi? Coba kau sebutkan namamu?"

Demi membersihkan dirinya, tanpa Sungkan Sin-Hi ng berkata "Maaf, aku Sen Sin-hiong, kau salah melihat orang?" Mendengar ini, orang tua itu lalu berguman:

"Sen Sin-hiong, Sen Sin-hiong, nama ini seperti pernah mendengar dari orang!"

Sambil bicara dia berjalan kembali ke jalan yang tadi dia datang, tidak mempedulikan Sin-hiong lagi!

Sin-hiong keheranan, hatinya mendadak hati-nya tergerak dan berteriak:

"Tunggu, kau sudah menanyakan namaku, maka mohon kau juga sebutkan namamu baru pergi!"

Orang tua itu tidak mempedulikannya, mulut-nya terus membaca 'Sen Sin-hiong' tiga huruf itu, ketika dia jalan sudah lebih dari sepuluh tombak, baru membalikan kepala dan berkata:

"Aku Yu Hoa, kau mau apa?"

Mendengar ini, Sin-hiong jadi teringat di saat dia belajar silat pada gurunya di gunung, gurunya pernah menyebut nama orang ini, tidak disangka bisa bertemu dia disini, maka dengan keras berkata:

"Orang tua jalan pelan-pelan, nanti aku sebutkan satu orang apakah kau mengenalnya?"

Yu Hoa menghentikan langkah, berkata marah:

"Seorang pencuri, mana bisa menanyakan seorang baik-baik?" Sin-hiong tersenyum dan berkata: "Ada seseorang yang dijuluki

Liong-koan-hong, marga orang ini Khu, apakah kau kenal dia?" Yu Hoa membelalakkan sepasang matanya besar-besar dan menjawab:

"Dia adalah teman lamaku, gitar kuno di tanganmu apakah dicuri darinya? Sekarang juga aku akan pergi ke gunung Hwan-keng untuk memberi-tahukan pada dia, gitar kunonya sudah dicuri orang?"

Sin-hiong buru-buru menghampirinya, membungkuk memberi hormat sambil berkata:

"Liong-koan-hong adalah guruku, maaf tadi Boanpwee telah berlaku tidak sopan, mohon Lo-cianpwee bisa memaafkan!"

Mendengar ini, Yu Hoa tidak tahan meloncat keatas dan berteriak:

"Hayaa, ternyata kau ini murid kesayangan-nya, tidak heran ilmu silatnya lebih tinggi dari padaku, kau panggil saja aku kakak!"

Setelah berkata, memberi hormat pada Sin-hiong. Sin-hiong terkejut, buru-buru berkata:

"Lo-cianpwee, bagaimana boleh!"

Yu Hoa menegakan tubuhnya dan berteriak:

"Kenapa tidak boleh, usiaku lebih tua darimu, kau panggil saja aku Yu-toako!"

Bagaimanapun Sin-hiong tidak berani menurutinya, tapi sifat Yu Hoa lebih aneh dari pada Sin-hicng, Sin-hiong tidak bisa mendebatnya, terpaksa memanggilnya Toako!

Yu Hoa sangat senang, dia menunjuk Sin-hiong dan berkata pelan:

"Adik Sen, kali ini kau turun gunung apakah untuk membalaskan dendam Khu-toako?"

Sin-hiong menganggukan kepala, wajah Yu Hoa tampak cerah, sambil menepuk dada, berkata:

"Ada Toako disini, Bu-tong-san tidak jauh dari sini, sekarang mari kita cari para tosu brengsek itu!"

-oo0dw0oo-

Sin-hiong menggelengkan kepala: "Aku sudah pergi kesana!" "Bagaimana? kukira para tosu brengsek itu pasti bukan

lawanmu?" kata Yu Hoa tidak sabar.

Sin-hiong terpaksa menceritakan keadaan di Bu-tong, Yu Hoa mundur kebelakang dan berteriak:

"Thian-ho-tiauw-sou? He he he, cepat pulang ke gunung panggil Khu-toako keluar gunung!"

"Guru sudah meninggal!" kata Sin-hiong sedih.

Yu Hoa jadi tertegun, setelah lama sekali baru berkata dengan gagap:

"Bagaimana bagusnya kalau begitu, tua bangka Thian-ho itu sangat kuat sekali?"

---ooo0dw0ooo---