PPKE Bab 06 : Rasa setia kawan yang besar

 
Bab 06 : Rasa setia kawan yang besar 

Sin-hiong menyentil gitar kuno nya, terdengar "Tung!" suara gitar belum hilang dia sudah berkata:

"Perbuatan ketua perumahan Tiong semasa hidupnya cukup baik, tapi orang telah membunuh dia, bahkan tidak mau melepaskan istrinya yang sudah tua, hemm. jika aku tidak melibatkan diri pada

masalah iin mungkin langit pun tidak bisa menerimanya."

Kata-kata ini dikeluarkan dengan blak-blakan dan penuh semangat, siapapun yang mendengarnya judi tergerak hatinya.

Nyonya tua sampai menangis mendengarnya dengan penuh terima kasih, berteriak gemetar:

"Sen-tayhiap, aku tidak tahu harus bagaimana berterima kasih padamu?"

"Nenek, aku masih belum mengusir para penjahat ini?" kata Sin- hiong.

Mata ketua Poan-liong-pang Ciu Kiu-kun menyapu kawan- kawabnya, lalu berteriak:

"Saudara Lim, kau dulu yang maju atau aku?"

Ciu Kiu-kun sangat licik dan dingin, dia mendengar Sin-hiong telah mengatakan pendiriannya, sedangkan enam orang anak buahnya sudah tampak goyah, maka dia langsung berkata demikian.

Walaupun sifat Lim Tai-goan penuh siasat, hanya karena dia ingin sekali memiliki Ho-siu-oh yang berusia ribuan tahun, makanya tanpa sadar, dia membiarkan dirinya dikendalikan oleh Ciu Kiu-kun.

Ketua Kai-pang menggerakan tongkat di tangannya sambil tertawa berkata:

"Siapa dulu yang maju, sama saja!"

Setelah berkata, selangkah demi selangkah dia maju ke hadapan Sin-hiong.

Walau pun Sin-hiong masih tetap terlihat tenang-tanang, tapi di dalam hatinya, dia' tidak bisa tidak harus memperhitungkan terlebih dulu, dengan cara apa mengusir delapan orang pesilat tinggi di depan mata ini?

Hati dia terus menyebut:

'Delapan orang, delapan orang, hmmm...! Bagaimana sebaiknya aku mengusir kedua ketua ini!"

Ketika berpikir, tubuhnya bergerak ke arah kanan, tepat menghadang di tengah-tengah antara Lim Tai-goan dan Ciu Kiu- kun, juga berada di depan nyonya tua itu, berjaga-jaga apabila lawannya mendadak menyerang dia.

Nyonya tua inipun seorang yang ber-pengalaman di dunia persilatan, gerak-gerik Sin-hiong tidak bisa mengelabui matanya, setua ini hidupnya, belum pernah dia bertemu dengan seseorang yang keteguhannya begitu besar dalam membela kebenaran seperti Sin-hiong. 

Keadaan malam hari itu terasa sangat tenang sekali, tapi di dalam ketenangan nya ditutupi hawa pembunuhan.

Ciu Kiu-kun pelan-pelan mendekati Sin-hiong, begitu Ciu Kiu-kun bergerak, enam ketua hio di belakangnya juga ikut bersiap-siap mengeroyok Sin-hiong.

Nyonya tua yang berada dibelakang Sin-hiong merasa gelisah dan berteriak: "Sen-tayhiap. " Sin-hiong menghela nafas, pedang di tangan-nya diayunkan, sambil membusungkan dada menyahut:

"Nenek tenang saja, ini hanya menambah sedikit kerepotan bagiku!"

Ciu Kiu-kun dan Lim Tai-goan berdua masih berjarak tiga tombak lebih dari Sin-hiong, tapi begitu Sin-hiong mengangkat pedangnya, dia sekaligus menyerang kedua orang itu!

Lim Tai-goan mendengus, tongkat bambu hijau digerakan melintang teriaknya:

"Saudara Ciu, siapa yang berhasil lebih dulu, maka dia yang akan mendapat lebih satu bagian, bagaimana?"

Kiu Bun-liong menggetarkan pedang pusaka-nya menusuk, "Ssst!" sambil tertawa berkata:

"Baik!"

Kedua orang itu malah menganggap Sin-hiong adalah objek pembagian barang jarahan, masing-masing menyerang saru jurus, terdengar suara pedang membelah angin sangat mengerikan, kekejaman jurusnya sulit dibayangkan.

Sin-hiong tidak tergesa-gesa, sorot matanya mencuri pandang, melihat enam orang lainnya dari Poan-liong-pang juga bersiap-siap menyerang, Sin-hiong menggetarkan pedangnya, di ujung pedang mendadak keluar dua kuntum bunga perak, sambil tertawa berkata:

"Berebut siapa lebih dulu, itulah watak sebenarnya generasi kita!"

Setelah mengeluarkan jurus pertama, langsung diikuti dengan jurus kedua, kecepatan gerakannya, membuat orang yang melihatnya seperti masih belum berganti jurus yang pertama!

Ciu Kiu-kun dan Lim Tai-goan berdua menyerang saru jurus, tidak diduga masih bisa di ungguli oleh Sin-hiong pada gerakan kedua, sebagai ketua sebuah perkumpulan, wajahnya mereka menjadi merah. Lim Tai-goan menggerakan tongkat bambu hijaunya membentuk putaran angin keras, berteriak:

"Saudara Ciu, jika begini terus kita sungguh malu?"

Hati Ciu Kiu-kun pun tentu saja merasa tidak enak dia menyahut: "Betul, mari kita coba lagi beberapa jurus, lihat hasilnya!"

Ketika berkata, kedua orang itu sudah hampir menyerang sebanyak tujuh delapan jurus!

Kali ini, kedua orang itu menyerang dengan sekuat tenaga, kedahsyatannya dibandingkan dengan sebelumnya, entah lebih dahsyat beberapa kali lipat?

Ketua Poan-liong-pang Ciu Kiu-kun pernah bertarung dengan Sin- hiong, sedangkan Lim Tai-goan belum pernah, tapi di dalam hati dia sangat jelas bagaimana kepandaian Sin-hiong, walaupun kedua orang itu berteriak-teriak, tapi mereka sedikit pun tidak berani lengah.

Di antara enam orang Poan-liong-pang, hampir semuanya sudah pernah dikalahkan oleh Sin-hiong, saat menyaksikan Ciu Kiu-kun dan Lim Tai-goan berdua juga tidak bisa mengalahkannya, keenam orang itu diam-diam maju bergabung!

Dalam sekejap, hawa pedang menerjang langit, angin serangan beratnya seperti gunung, delapan orang itu mengeroyok Sin-hiong seorang, walaupun ilmu silat Sin-hiong sangat hebat, terpaksa dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghadapi mereka.

Sambil bertarung diam-diam Sin-hiong berpikir:

'Jika bertarung seperti ini, entah sampai kapan baru bisa selesai' dia mengerutkan alis, pedangnya mengeluarkan jurus yang dahsyat menyerang Ciu Kiu-kun dan Lim Tai-goan. Dia sudah mengambil keputusan, menangkap penjahat tangkap dulu rajanya, maka begitu jurus dahsyatnya keluar, ternyata menunjukan hasilnya.

Karena rasa gentar enam pesilat tinggi dari Poan-liong-pang terhadap Sin-hiong masih belum hilang, Sin-hiong menggunakan kesempatan sekecil ini, sebisanya menyerang tujuh delapan tusukan pedang pada Ciu Kiu-kun dan Lim Tai-goan berdua!

Ilmu pedang Sin-hiong sangat hebat, sejurus demi sejurus dikeluarkan dengan sangat cepat, walaupun Qiu Kiu-kun dan Lim Tai-goan pesilat tinggi yang jarang ada tandingannya, mereka tidak bisa mengembangkan permainannya, ujung pedang Sin-hiong terlalu cepat, kecepatan dan kedahsyatannya sudah sampai tingkat susah diukur!

Seng-si-poan Kang-ceng dan kawan-kawannya melihat keadaan itu, wajahnya jadi berubah, buru-buru ke enam orang itu menyerang, maka Ciu Kiu-kun dan Lim Tai-goan terlepas dari bahaya, walau demikian, wajah Qiu Kiu-kun dan Lim Tai-goan sudah terlihat gentar dan berubah warnanya.

Setelah mundur ke dua orang itu, setelah lalu maju kembali, masing-masing mengerahkan seluruh kemampuannya, bersama sama dengan enam orang anak buahnya menyerang Sin-hiong, tampaknya, malam ini jika mereka tidak membunuh Sin-hiong tidak akan berhenti.

Sembilan orang di lapangan semakin bertarung semakin seru, semakin bertarung semakin cepat, sampai hampir membuat langit dan bumi juga berubah warna karenanya.

Nyonya tua dan putranya berdiri di ginggir, seumur hidupnya belum pernah dia menyaksikan pertarungan seramai ini, nafas kedua orang ini jadi sesak, pemuda itu dengan suara gemetar berkata:

"Ibu, apakah kita harus membantu Sen-tayhiap?"

Mereka berdua sadar walau mereka maju membantu juga tidak ada gunanya, tapi karena melihat seluruh bayangan Sin-hiong tertutup rapat oleh bayangan pedang dan telapak tangan delapan orang itu, maka dia mengatakan ini.

Nyonya tua itu melihat sejenak, tidak tahan sambil mengeluh panjang berkata: "Ah... walaupun kita ingin membantunya, juga tidak tahu bagaimana caranya!"

Baru saja dia selesai berkata, mendadak dari kejauhan ada suara yang pelan sekali terdengar, suara ini terdengar seperti suara seruling, tapi setelah di teliti, sepertinya bukan seruling, suaranya begitu pelan, tapi bisa menembus kesiuran pedang dan tongkat, masuk ke dalam telinga semua orang, kehebatan tenaga dalam orang ini, sudah bisa dibayangkan.

Ciu Kiu-kun yang pertama mendengar, lalu Lim Tai-goan juga mendengarnya, diikuti Kang-ceng, Cauw Li-kun dan kawan-kawan mendengarnya, setelah semua orang mendengarnya, tidak satu pun wajahnya yang tidak berubah besar!

Nyonya tua pun ikut mendengar, tidak tahan dia berteriak: "Ketua pulau Teratai!" kata-kata ini entah mengandung berapa

besar kekuatannya.

Lim Tai-goan menyapukan tongkat, berteriak:

"Pusaka apa pun aku sudah tidak mau lagi, selamat tinggal!"

Setelah berkata begitu, dia langsung mundur ke belakang dan secepatnya meloncat pergi meng-hilang entah kemana!

Kiu Bun-liong Ciu Kiu-kun pun tidak mau membuang waktu, sambil bersiul dia berkata:

"Ayo kita cepat pergi, jangan sampai bertemu dengan orang aneh ini!"

Saat berkata, bekerja sama dengan ke enam ketua hio menyerang saru jurus, lalu tujuh bayangan orang itu berkelebat langsung mundur ke belakang dalam sekejap sudah menghilang entah kemana.

Sin-hiong tidak mengejar, tapi dia jadi bengong oleh kejadian di depan matanya.

Sebelumnya, ketika di dalam kuil Koan-ti yang tidak terpakai, dia pernah menyaksikan wajah ketakutan Hek-ho Souw Cian dan Cap- poh-tui-hun ketika membicarakan ketua pulau Teratai ini, dan masih ada lagi perkataan Sai Hoa-to Ong Leng di dalam penginapan itu, saat ini dia melihat lagi keadaan seperti ini, dia sadar kata-kata mereka tidak berbohong, ketinggian ilmu silat ketua pulau Teratai ini, sudah sampai tingkat yang menakutkan orang!

Saat ini, suara aneh itu sudah semakin keras, tapi tidak lama mendadak berhenti, terdengar seseorang berkata dingin:

"Hey! Siapa disiru?"

Nyonya tua itu merapihkan baju, dengan hormat sekali menjawab:

"Aku Te Gouw-nio, istri mendiang Tiong Hong-kun, dan ini putraku Tiong Yang-hoa, tidak tahu ketua pulau datang berkunjung, mohon seribu maaf."

Sin-hiong berdiri di samping, diam-diam mengerutkan alis, hatinya berpikir:

'Siapa sebenarnya ketua pulau Teratai ini, ada sebagian orang hanya mendengar nama besar nya saja sudah ketakutan dan cepat- cepat menghindar, seperti Ciu Kiu-kun dan Lim Tai-goan pesilat tinggi ini, hanya mendengar suaranya saja, belum melihat orangnya, sudah ketakutan pergi meninggalkan tempat, sekarang Te Gouw-nio berkata begitu hormat, aku malah ingin mengenal dia, melihat apakah dia ini seorang yang berkepala tiga berlengan enam?'

Ketika sedang berpikir, baru saja mau memperkenalkan namanya, di sudut matanya terlihat nyonya tua yang bernama Te Gouw-nio itu sedang memberi isyarat mata, terpaksa dia menahan diri, cepat-cepat menelan kembali kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.

Setelah Ketua pulau Teratai mendengar ini kembali berkata: "Apakah kalian telah melihat anakku Lan-ji?"

Te Gouw-nio tersentak sejenak, dengan suara gemetar berkata: "Yang anda maksud Ang-ie-li-hiap (Pendekar wanita Baju Merah)? Kami belum melihatnya!"

Sin-hiong sedikit terkejut, dalam hatinya berkata, 'bukankah nona Baju Merah itu sudah kembali ke pulau Teratai?

Sin-hiong jadi sangat gelisah, sebab Cui-giok ada di tangan nona Baju Merah itu, jika dia sendiri juga tidak tahu dia dimana, bagaimana dengan keselamatan Cui-giok? Bukankah itu membuat orang jadi khawatir.

Setelah ketua pulau Teratai berkata, hanya terdengar suara aneh yang pelan lalu menjauh, walau dikatakan 'pelan' tapi dalam sekejap sudah sejauh sepuluh tombak lebih!

Sejak turun gunung belum pernah Sin-hiong bertemu lawan yang sepadan, sekarang setelah bertemu dengan ketua pulau Teratai yang namanya menaklukan dunia, melihat kejadian yang barusan terjadi, dia merasa kata-kata Sai Hoa-to Ong Leng di penginapan sedikit pun tidak berlebihan.

Dia terbengong sejenak, mendadak Te Gouw-nio bersuara "Iiih!" dan terkejut berkata:

"Nona Lim, ayahmu baru saja mencari kau!"

Sin-hiong membalikan rubuh, terlihat seorang nona berbaju merah yang dulu dia lihat, dari kejauhan sedang datang menghampiri.

Kali ini nona berbaju merah datang seorang diri, setelah dia mendekat, mengedipkan matanya pada Sin-hiong dan berkata:

"Pelan sedikit, ayah ku sangat pintar!"

Wajahnya ketika berkata terlihat sangat nakal, setelah berkata dia mengangkat angkat bahunya, menjulurkan tangannya pada Sin- hiong dan berkata:

"Berikan!"

"Berikan...apa?" tanya Sin-hiong tertegun. Nona berbaju merah tertawa dan berkata:

"Kau bisa membohongi orang lain, tapi tidak bisa membohongi aku, mana Ho-siu-oh yang berusia ribuan tahun itu?"

Sin-hiong tergetar, katanya:

"Barang itu untuk menyelamatkan orang, untuk apa nona menginginkan barang itu?"

"Penyakit nona Sun masih belum sembuh, barang yang berhasil kau dapatkan, jika bukan untuk dia untuk siapa lagi?"

Mendengar dia menyebut Sun Cui-giok, otaknya terpikir bayangan Ho Koan-beng, tidak tahan dia menghela nafas panjang, sorot matanya pindah pada nona berbaju merah itu dan berkata:

"Jauh-jauh aku datang kesini, tadinya ingin menggunakan Ho- siu-oh ini menyelamatkan nyawa-nya ketua perumahan Tiong, tidak terduga terlambat satu langkah!"

Berkata sampai disini dia berhenti sejenak, lanjutnya:

"Tapi, ketika aku mendapatkan Ho-siu-oh ini, juga bertemu dengan seseorang, apakah nona tahu siapa orangnya?"

Selama hidupnya nona berbaju merah sudah biasa dimanja, melihat Sin-hiong bicaranya tidak terus terang, dia sudah tidak sabaran lagi, lalu berkata:

"Kau seorang laki-laki sejati, tapi bicaranya berbelit-belit, sungguh membuat orang jadi kesal!"

Sin-hiong memotong:

"Orang ini ada hubungan erat dengan nona Sun, walau kau berniat baik pada nona Sun, tapi mungkin orang lain tidak mau menerimanya."

Nona berbaju merah mengerutkan alis sambil tertawa dingin berkata:

"Siapa orangnya tidak terima?" Sin-hiong menghela nafas: "Kukatakan juga nona tidak tahu, lebih baik kau sendiri saja tanyakan pada nona Sun." Habis bicara, pelan-pelan berjalan mendekati Te Gouw-nio dua langkah, Te Gouw-nio menarik pemuda di sisinya berjalan mendekati, ibu dan anak ini tidak berkata sepatah kata pun, langsung bersujud pada Sin-hiong.

Sin-hiong terkejut sekali dan bertanya:

"Orang tua, kalian ini mau apa?"

Te Gouw-nio tidak mempedulikan, berkata:

"Walaupun aku kehilangan seorang anak, tapi itu tidak masalah."

Sin-hiong buru-buru maju mau mengangkat mereka berdiri, tapi Te Gouw-nio bersikukuh tidak mau berdiri, nona berbaju merah itu tertawa dan berkata:

"Nenek, walau kau ada masalah apa pun, tidak pantas kau bersujud pada marga Sen ini?"

Dengan suara gemetar Te Gouw-nio berkata:

"Nona Lim, saat ini walau keluargaku sudah hancur lebur, tapi budi besar Sen-tayhiap pada kami, seumur hidup kami tidak bisa melupakanriya. "

Sin-hiong melihat dia bersikukuh mau ber-sujud, dia tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa dia ikut bersujud dan segera berkata:

"Orang tua, sungguh membuat aku jadi berdosa, ayo cepat bangun, jika tidak, satu-satunya jalan terpaksa aku pergi dari sini!"

Te Gouw-nio membelalakan sepasang mata-nya, sambil sedikit marah berkata:

"Kau belum mendengar sepatah kataku, mana boleh pergi begitu saja?"

Sekarang di tanah ada tiga orang bersujud, hanya nona berbaju merah itu seorang diri berdiri di sana, dia dengan wajah sedikit canggung dia berteriak: "Nenek, kalian semua bersujud, aku pun tidak bisa berdiri terus, baik, baik, baik, aku juga ikut bersujud saja."

Harus tahu tabiat nona berbaju merah itu walau amat sombong, tapi terhadap aturan hubungan orang tua dengan anak kecil sangat dijunjungnya, setelah berkata, tubuhnya sudah membungkuk.

Te Gouw-nio jadi sangat terkejut dan teriak:

"Ini bagaimana boleh!"

Setelah berkata, dia memburu ke depan sambil mengeluh berkata:

"Nona Lim, kenapa kau juga begini?"

"Jika ingin aku tidak berbuat begini, boleh, nenek cepat suruh saudara Tiong berdiri."

Dia benar benar pandai mengambil kesem-patan, jika Te Gouw- nio saat ini menuruti menyuruh anaknya berdiri, bukankah tinggal Sin-hiong seorang diri yang bersujud di sana? Kelihatannya, dia sengaja berbuat supaya Sin-hiong malu.

Sin-hiong berhati jujur, tentu saja tidak tahu apa isi hati nona berbaju merah ini, tapi melihat Te Gouw-nio bangun maju memburu ke depan, dia dengan reflek mengangkat Tiong Yang-hoa berdiri dan berkata:

"Saudara Tiong, ada masalah apa kita bisa bicarakan dengan baik-baik, buat apa berbuat begini?"

Te Gouw-nio melihat, tidak tahan dengan berat berkata:

"Hay! Kalian berdua memperlakukan keluarga ku seperti ini, aku bisa berkata apa lagi, hari ini ada kesempatan yang sulit didapat, bagaimana kalau kalian berdua kerumahku untuk berbincang- bincang sejenak?"

Nona berbaju merah sambil tertawa berkata:

"Jika aku tidak ada halangan lain, Ho-siu-oh berusia ribuan tahun itu tidak akan jatuh ke tangan orang lain, dengan kata lain, aku juga tidak akan datang kemari, nenek, menurutmu betul tidak?"

Entah apa maksud dia mengatakan ini, tapi setelah mengatakannya, Te Gouw-nio segera men-jawab:

"Tentu saja!"

Nona berbaju merah dengan bangga tertawa dan berkata: "Nenek, kau yang paling mengerti orang-orang kami dari pulau

Teratai, dengan memandang wajah-mu, kita boleh berbincang- bincang."

Ketika dia berkata, dengan enteng memandang Sin-hiong, Te Gouw-nio mengerti orang macam apa dia, 'mendengar suara senar sudah tahu maksudnya', tidak tahan dalam hatinya berkata:

'Kelihatan nona Lim seperti sengaja mau mempersulit Sen- tayhiap, apakah diantara mereka ada sesuatu perselisihan?"

Saat ini Sin-hiong sudah sedikit mengerti apa tujuannya, sambil tertawa berkata:

"Nenek tidak perlu pusing, anda temani saja nona ini berbincang- bincang, aku nanti menyusul, juga sama saja?"

Sekarang Sin-hiong sudah tahu nona berbaju merah itu sengaja mempermalukan dia, hatinya berpikir, 'ada bapak pasti ada anaknya, buat apa aku peduli padanya?’

Tapi dengan ini, jadi membuat sulit Te Gouw-nio, yang ingin diajak bicara sebenarnya adalah Sin-hiong, tapi justru nona berbaju merah tidak membiar-kan dia bersama dengan Sin-hiong, dalam hati dia sebenar-nya tidak rela, tapi karena segan oleh nama besarnya pulau Teratai, walau ditambah seribu kali lagi tidak rela, juga tidak bisa mulutnya berkata.

Nona berbaju merah tertawa dingin:

"Kau ada urusan datang kesini, tentu saja ada yang mau dibicarakan, kau pura-pura terbuka, tidak aneh di dunia persilatan bisa mendapatkan julukan kosong?" Semakin didengar semakin tajam perkata-annya, Te Gouw-nio jadi gelisah, dia khawatir Sin-hiong tidak bisa menahan diri, jika kedua orang itu bertengkar, dia tidak tahu harus bagaimana, saat itu cepat cepat dia berkata:

"Kalian berdua adalah tamuku, jika nona bisa memandang wajahku, izinkan kita berbicara bertiga saja, masalah ini sebenarnya menyangkut keselamatan seluruh dunia persilatan!"

Nona berbaju merah jadi tertegun dan berkata: "Masalah apa, sampai begitu pentingnya?"

Te Gouw-nio melihat dia sekali dengan pelan berkata:

"Nona tentu tahu kelakuannya Hong-kun, ketua Poan-liong-pang Ciu Kiu-kun tidak mau melepas dia, karena ada dua masalah besar."

Tadinya dia mau mengundang kedua orang itu masuk dulu ke dalam rumah baru pelan-pelan mencerita kannya, sekarang karena didesak oleh keadaan, maka dia terpaksa menceritakannya terlebih dulu.

Sin-hiong pun jadi tegang mendengarnya, dia mengulang kata- kata itu:

"Dua masalah besar?"

Te Gouw-nio menganggukan kepala dan berkata lagi:

"Seratus tahun lalu, di dunia persilatan muncul dua orang aneh yang berilmu tinggi, yang satu lurus, yang satu sesat, kemudian kedua orang itu berturut-turut meninggal dunia, tapi sebelum mereka mati, telah menulis di atas dua buah buku, ilmu silat hasil penyelidikan seumur hidup mereka."

Sin-hiong hatinya tergerak dan bertanya:

"Apakah Hian-liong-pit-to (Buku rahasia menaklukkan naga)?" Te Gouw-nio keheranan, melihat Sin-hiong dan berkata:

"Benar, dan yang satunya lagi adalah Hu-houw-pit-to (Buku rahasia menaklukkan harimau), yang Sen-tayhiap katakan itu adalah tulisan yang dibuat oleh In-liong-kiam-khek (Pendekar pedang naga di awan) Kongsun Seng dari aliran lurus, yang satunya lagi ditulis oleh Im-san-hong-khek (Orang gila dari gunung dingin) Suto Bu-ku, jadi dua tulisan ini yang satu aliran lurus, yang satu lagi aliran sesat. yang membuat orang merasa aneh adalah kabarnya kedua tulisan ini akhir-akhir ini telah muncul di dunia persilatan!"

Nona berbaju merah bersuara "Mmm!" pelan dan menyela berkata:

"Apakah ini salah satu masalah besar yang dikatakan nenek tadi?"

Sin-hiong mendengar beritanya diam-diam terkejut, di dalam hati berpikir:

'Rupanya Ho Koan-beng sudah mendapatkan buku rahasia Hiang- liong-pit-to, tidak aneh kelakuan dia amat sombong, tampaknya ketika di dalam kuil terlantar itu, dia masih belum berhasil melatihnya, makanya sampai meminta tolong padanya untuk menahan Hek-ho Souw Cian dan Cap-poh-tui-hun?

Berpikir sampai disini, dia bertanya:

"Untuk Hiang-liong-pit-to aku sudah tahu ada dimana, tapi entah di tangan siapa Hu-houw-pit-to?"

Wajah Te Gouw-nio sedikit berubah, bertanya: "Hiang-liong-pit-to jatuh ke tangan siapa?" Dengan nada dalam Sin-hiong berkata:

"Sin-kiam-jiu Ho Koan-beng dari perguruan Hoa-san!" Warna wajah nona berbaju merah jadi berubah dan berkata: "Nama orang ini sepertinya pernah kudengar."

Sin-hiong teringat kejadian sebelumnya, tanpa terasa berkata: "Orang ini di lima provinsi utara ada sedikit nama, tapi jika di dunia persilatan tidak seberapa!"

Melihat Sin-hiong menjawab dengan kesal nona berbaju merah berkata:

"Aku tidak tanya padamu, siapa yang mau kau menjawabnya?" Melihat nona berbaju merah masih menganggap musuh pada

Sin-hiong, Te Gouw-nio jadi ingin mendamaikan, lalu berkata:

"Jangan bertengkar dulu, apakah kalian mau tahu dimana keberadaan Hu-houw-pit-to itu?"

Kata-kata ini benar saja manjur, mata nona berbaju merah menyapu dan berkata:

"Coba nenek katakan, buku ini sekarang ada di tangan siapa?" Te Gouw-nio menghela nafas dan berkata:

"Buku inilah yang menyebabkan keluargaku hancur lebur, padahal sebenarnya mereka itu salah!"

Sin-hiong dan nona berbaju merah tergetar karenanya dan bersama-sama berkata:

"Kejadiannya bagaimana?"

Te Gouw-nio melihat-lihat cuaca, melihat waktu sudah tidak pagi lagi, cepat-cepat menyuruh anaknya yang ada disisi untuk menyiapkan makanan menjamu tamu, dia sendiri dengan emosi berkata lagi:

"Ketika suamiku masih hidup, pernah melihat buku ini satu kali, tapi orang lain menuduh buku ini ada di tangannya, sehingga Poan- liong-pang mengerah kan seluruh kekuatannya datang ingin merebutnya, dan akhirnya sampai tewas, ini sungguh sangat tidak menyesalkan?"

Berkata sampai disini, wajahnya sekelebat tampak warna kesedihan, jelas hati yang pilu belum tampak seluruhnya.

Sifat nona berbaju merah sangat tergesa-gesa, dia mendesak: "Nenek, sebenarnya buku itu jatuh ketangan siapa?" Te Gouw-nio menggeleng-gelengkan kepala:

"Mendiang suamiku hanya pernah menyebut sekali masalah ini, mengenai jatuh ke tangan siapa, aku sendiri sedikit pun tidak tahu!"

Sin-hiong menengadah melihat cuaca langit, terpikir Sai Hoa-to Ong Leng dan Tiong Hong-kun kedua orang. ini karena buku itu, keluarganya jadi hancur, sungguh sangat sial, saat itu dia menyela:

"Inilah satu masalah besar, tapi tidak tahu masalah besar yang satu lagi?"

Te Gouw-nio melihat pada Sin-hiong sekali dan berkata:

"Itulah Ho-siu-oh berusia ribuan tahun yang berada ditangan Sen-tayhiap, tadi Sen-tayhiap berkata tidak tanggung-tanggung dari jauh datang ke sini, itu demi menggunakan pusaka ini untuk mengobati sakit almarhum suamiku, aku malah ada satu permintaan, entah Sen-tayhiap bisa mengabulkan tidak?"

Sin-hiong tergerak dan berkata:

"Lo-cianpwee ada permintaan apa, silahkan katakan saja!" Dengan perasaan sangat berterima kasih te Gouw-nio melihat

Sin-hiong dan berkata:

"Tadi nona Lim berkata, dia ada seorang teman yang memerlukan pusaka ini, menurut pendapatku, penyakit biasa tidak akan memerlukan benda pusaka ini, tolong Sen-tayhiap pandang mukaku, dengan bagian yang akan diberikan pada almarhum suamiku, sebaiknya diberikan pada teman nona Lim, bagai-mana?"

Sin-hiong mendengar kata-kata ini, hatinya jadi bergejolak, dalam hati berkata:

'Tidak heran orang-orang dunia persilatan memuji Tiong Hong- kun, melihat kelakuan Te Gouw-nio sekarang, sudah pasti kabar itu tidaklah bohong.’

Ketika sedang berpikir, baru saja dia akan menyanggupinya, mendadak terdengar nona berbaju merah itu tertawa dingin dan berkata:

"Nenek, kau salah, sebenarnya teman itu adalah teman dia, sedikit pun tidak ada hubungannya denganku, aku hanya melihat dia sangat kasihan, baru membantu dia mencari tempat untuk melindunginya."

Te Gouw-nio tertegun, dia tidak tahu mereka ini sedang bermain apa, melihat kesini dan melihat kesana, terlihat Sin-hiong juga tersenyum dan berkata:

"Sebenarnya nona Lim salah, aku hanya bisa mengatakan waktu kecil aku kenal nona Sun, calon suami dia adalah Ho Koan-beng murid dari perguruan Hoa-san yang baru-baru ini mendapatkan buku rahasia Hiang-liong, aku Sen Sin-hiong membantu nona Sun, hanya bisa disebut untuk membalas budinya."

Begitu kata-kata ini keluar, wajah wanita baju merah dan Te Gouw-nio tampak warna aneh.

Wajah nona berbaju merah tampak menjadi merah, entah apa sebabnya, saat ini dia sangat senang mendengar Cui-giok masih mempunyai seorang calon suami, mengenai apa yang dikatakan Sin- hiong selanjutnya, dia sedikit pun tidak mendengarnya.

Berbeda dengan pikirannya Te Gouw-nio, dalam harinya berpikir:

'Dengan ilmu silatnya Sin-hiong, sampai tiga tetua Siauw-lim, Ang-hoa-kui-bo dan Sian-souw-ngo-goat juga bukan lawannya, budi apa lagi yang harus dia balas?'

Sesaat, ketiga orang itu jadi membisu.

Malam sudah larut, angin dingin bertiup, bulan sabit pelan-pelan jatuh ke barat, kelihatannya waktu sudah lewat jam tiga, sudah hampir pagi.

Sin-hiong pelan-pelan mengeluarkan kotak kecil itu dan berkata: "Benda ini tadinya memang bukan milikku, silahkan nona Lim

menerimanya!" Te Gouw-nio tadi mengatakan, hanya minta sebagian saja, tapi dia malah memberikan seluruh Ho-siu-oh itu, sudah ada banyak orang demi benda langka ini mengorbankan nyawanya, tapi dia sedikit pun tidak sayang, kejadian ini jika dilihat oleh orang, bagaimana tidak membuat orang jadi terharu?

Nona berbaju merah dan Te Gouw-nio saling pandang, tapi tidak seorang pun mengulurkan tangan menerimanya.

Sin-hiong melihat kedua orang itu berdiri di sana tidak bergerak, dia berkata lagi:

"Nona Lim, apa aku salah berkata?"

Tadinya nona berbaju merah merasa kesal dan iri terhadap Sin- hiong, sekarang menyaksikan penampilan dia seperti seorang jenderal besar yang pandangannya terbuka, di dalam hati malah merasa senang dan sayang, mata besarnya sekali berputar dan berkata:

"Sen-tayhiap salah mengerti, aku tidak bermaksud seperti itu." Saat dia bicara, suaranya tampak lembut sekali, malah menyebut

Sin-hiong sebagai Sen-tayhiap, kelakuan yang mendadak berubah

ini, tidak saja membuat Te Gouw-nio terkejut, Sin-hiong sendiri pun merasa tidak menduganya.

Setelah bengong sesaat Sin-hiong bertanya:

"Kalau begitu, apakah nona Lim masih ada masalah apa lagi?" Wajah nona berbaju merah menjadi merah:

"Maaf, sebenarnya penyakit nona Sun sudah jauh lebih baik, tapi tenaganya masih belum pulih, jadi hanya perlu sedikit Ho-siu-oh berusia ribuan tahun, tidak perlu sebanyak ini?"

Melihat kedua orang itu semakin bicara semakin ramah, di dalam hati Te Gouw-nio berkata:

'Beginilah anak muda, bicara baik ya baik, sekali bicara buruk langsung buruk, mereka pasti tadinya hanya emosi saja, mmm mmm sekarang sudah baikan seperti sediakala lagi!'

Tangan Sin-hiong sudah menyodorkan Ho-siu-oh, sekarang tidak bisa tidak dengan canggung ditarik kembali, sepasang matanya bengong memandang nona berbaju merah, Sesaat tidak tahu harus berkata apa?

Nona berbaju merah biasa bersifat sombong, tapi hari ini terasa lain, hal ini terjadi mungkin rianya pada Sin-hiong saja, sebab walaupun ayahnya ada dilapangan sekali pun, tetap saja harus mengalah sedikit pada dia.

Kedua orang itu saling pandang, akhirnya Sin-hiong sedikit malu- malu, membalikan kepala menoleh pada Te Gouw-nio dan berkata:

"Aku masih ada urusan, Ho-siu-oh berusia ribuan tahun ini, tolong kalian saja yang mengurus-nya."

Setelah berkata, dia melemparkan kotak Ho-siu-oh itu pada Te Gouw-nio, lalu naik keatas kuda dan memacunya pergi.

Te Gouw-nio dan nona berbaju merah melihat, hampir bersamaan berteriak:

"Sen-tayhiap "

Sin-hiong mendengar dan membalikkan tubuh tanyanya: "Anda berdua masih ada perlu apa lagi?"

Te Gouw-nio melihat pada nona berbaju merah, maksudnya supaya dia bicara lebih dulu, siapa tahu nona berbaju merah tadinya juga tidak ada yang mau dikatakan, hanya dia melihat Sin-hiong mau pergi, mendadak merasa seperti kehilangan sesuatu saja, jadi berteriak.

Saat Te Gouw-nio memandang dia, wajahnya jadi merah, untungnya dia mendadak mendapat akal, buru-buru menutupi malunya dengan berkata:

"Ayahku tadi mencari aku, akupun sudah harus pergi, tapi masalah nona Sun itu, harus Sen-tayhiap yang mengurusinya baru baik."

Kali ini dia menutupinya dengan tanpa celah, Sin-hiong tidak mengira, betul saja dia berkata:

"Jika demikian, tolong nona beritahukan padaku, dimana nona Song sekarang berada?"

Nona berbaju merah mengedipkan mata dan berkata:

"Tempat itu sulit dicarinya, lebih baik aku saja membawa kau kesana!"

Te Gouw-nio melihat mereka berdua bersama-sama mau pergi, sadar tidak ada gunanya meng-undang mereka tinggal, maka dia buru-buru berkata:

"Apa? Jadi kalian sudah mau pergi. Ho-siu-oh berusia ribuan tahun ini ada di tanganku, mungkin akan menimbulkan mala petaka padaku, lebih baik Sen-tayhiap saja yang membawanya "

Setelah berkata, dia melempar kembali pada Sin-hiong.

Sin-hiong menerimanya, setelah dipikir-pikir, dia sadar omongan Te Gouw-nio tidak salah, saat itu berkata:

"Lo-cianpwee melakukan ini, aku juga tidak sungkan lagi, tapi Lo- cianpwee tenang saja, setelah aku menyelesaikan masalahnya nona Sun, aku akan pergi ke Poan-liong-pang untuk mengambil kembali orang yang ditahannya."

Yang dia maksud adalah putra Te Gouw-nio, dengan sangat berterima kasih Te Gouw-nio berkata:

"Sen-tayhiap, aku percaya padamu!"

Sin-hiong menganggukan kepala, menunggu nona berbaju merah sudah dekat, dia pun turun dari kuda dan berkata:

"Nona Lim, berapa jauh nona Sun dari sini?" Nona berbaju merah tertawa:

"Mungkin jauhnya puluhan li, mengambil kesempatan sebelum hari terang, kita masih bisa menenpuh jalan sebagian, kulihat begini saja, aku jalan di depan, kau ikuti di belakang sambil menunggang kuda."

Setelah berkata, tidak menunggu Sin-hiong setuju atau tidak, sekali menghentakan kaki, orangnya sudah terbang ke depan, dalam sekejap sudah pergi sepuluh li lebih, gerakannya sangat cepat sekali.

Sin-hiong tahu, dia ingin memamerkan ilmu silat dihadapannya, hatinya merasa lucu, tapi tidak menghalangi dia, sepasang kaki segera menjepit perut kuda, cepat-cepat mengikutinya.

Ilmu silat nona berbaju merah itu diajarkan sendiri oleh ketua pulau Teratai, larinya sangat cepat, dari belakang Sin-hiong menyaksikannya, tidak tahan diam-diam memujinya:

'Tidak heran orang-orang begitu takutnya pada ketua pulau Teratai, ilmu silat putrinya saja sudah sehebat ini, bagaimana dengan dia sendiri sudah bisa dibayangkan."

Saat itu dia tidak berani berlambat-lambat, dengan cepat mengikuti nona berbaju merah itu dari belakang, dia selalu mengambil jarak kurang lebih sepuluh tombak, tidak lama kemudian, kedua orang itu sudah lari dua puluh li lebih.

Berlari lagi sesaat, tidak terasa mereka sudah melakukan perjalanan hampir tiga puluh li lebih, di kaki langit timur sudah nampak memutih, ketika berlari mendadak melihat nona berbaju merah menghentikan langkahnya dan terkejut:

"Celaka, mungkin telah terjadi sesuatu!"

Sekejap Sin-hiong sudah berada disisinya dan tanyanya: "Nona Lim menemukan apa?"

Nona berbaju merah menunjuk satu pohon besar di sisi jalan dan berkata:

"Apakah Sen-tayhiap melihat tanda disana?" Sin-hiong melihat ke arah yang ditunjuknya, terlihat diatas sebuah ranting besar, samar-samar ada bekas cakaran yang dalam sekali, setelah diteliti lagi, baru terlihat itu seperti gambar sebesar daun, saat itu berkata:

"Ini adalah sebuah daun pohon, tapi batangnya sangat panjang, dan di kedua ujung daun juga sangat besar sekali, tidak tahu tanda siapa itu?"

Warna wajah nona berbaju merah berubah sangat serius, setelah berpikir sesaat baru berkata:

"Mmm, pasti dia!"

Sin-hiong melihat nona berbaju merah begitu, maka tahu masalahnya tidak mudah, tidak tahan menghela nafas panjang dan tanya:

"Nona Lim, siapa dia itu?"

Melihat jati diri dan ilmu silat nona berbaju merah sampai bisa bengong setelah melihat daun pohon aneh ini, berarti orang yang ditanyakan itu pasti orang yang luar biasa.

Pelan-pelan Nona berbaju membalikkan tubuhnya dan berkata: "Aku ingat ayahku pernah berkata, dulu dia pernah mempunyai

seorang lawan yang seperti ini, orang ini namanya Tonghong Ki, dari gunung Ngo-ki di pulau Giok-sik, menyebut dirinya Ngo-ki- thian-cun (Datuk lima keahlian), waktu itu dia bertarung dengan ayahku selama lima hari lima malam, ayahku hanya bisa menang setengah jurus saja, orang ini kali ini muncul kembali, mungkin bertujuan pada kami?"

Mendengar ini hati Sin-hiong sampai tergetar, pikirnya, orang seperti ketua pulau Teratai pun tidak diduga bisa ada musuh yang mencarinya, kelihatannya masalah di dunia persilatan, sungguh penuh dengan perubahan yang besar, di kemudian hari, dia tidak boleh bertindak seenak sendiri.

Sebenarnya, itu hanya pikirannya, walaupun dia lebih teliti lagi, masalah yang ingin dia hindarkan pun tidak akan bisa terhindarkan.

Setelah nona berbaju merah mengatakan hal ini, dia lalu berjalan kembali ke depan.

Kali ini kedua orang itu jalannya dengan pelan sekali, berjalan tidak sampai satu li, hari sudah terang benderang, baru saja Sin- hiong mau menanyakan jauhnya, mendadak nona berbaju merah itu berhenti kembali dan berkata:

"Cepat, nona Sun benar-benar mengalami masalah!"

Setelah berkata, tanpa mengajak Sin-hiong lagi dia sudah melesat ke depan.

Saat ini matahari sudah terbit, baju merahnya terlihat sangat mencolok mata, bayangan merah berkelebatan diatas jalan raya, dalam sekejap mata sudah menghilang di dalam hutan di kejauhan itu.

Sin-hiong tidak tahu sebenarnya sudah timbul masalah apa, juga tidak keburu menanyakan, dia pun segera mengikutinya.

Tiba di depan hutan itu, terlihat nona berbaju merah sedang loncat turun dari satu pohon yang sangat besar, wajahnya bengong, di tangannya memegang sehelai surat.

Sin-hiong hanya melihat dia seorang diri turun dari atas pohon, tidak melihat Cui-giok di sana, hatinya jadi sedikit tergetar dia berteriak:

"Apa benar telah terjadi masalah pada nona Sun?"

Nona berbaju merah menganggukan kepala, lalu memberikan surat di tangannya, Sin-hiong menerimanya dan melihat, diatasnya tertulis:

"Sementara kupinjam dulu putri kesayangan-mu, sampai jumpa lagi di gunung Ngo-ki."

Di bawahnya tertera jelas gambar pohon berdaun aneh yang kemarin dilihat itu, di dalam daun digambar lima Budha yang berbeda-beda, bentuknya ada yang tinggi ada yang pendek, tapi semuanya tidak enak dipandang.

Melihat ini, Sin-hiong tidak tahan dengan nada dalam bertanya: "Nona Lim, apakah nona Sun sudah dibawa pergi oleh Ngo-ki-

thian-cun?"

Nona berbaju merah menganggukan kepala:

"Benar, dia salah mengerti, mengira Cici Cui-giok adalah aku, henmm... biar kita menghadapi dia memangnya kita takut?"

Sifatnya sombong, walaupun dia mendadak mendapatkan masalah besar, tetap saja tidak bisa menghilangkan kesombongannya itu, tapi berbeda dengan Sin-hiong, dia berpikir sejenak, di dalam hati berpikir sungguh sial nasibnya Cui-giok, bagaimana pun aku harus berusaha menolongnya!

Walaupun dia tidak pernah tahu bagaimana orangnya Ngo-ki- thian-cun ini, tapi dia berambisi untuk bertarung dengannya.

Nona berbaju merah melihat Sin-hiong, bertanya: "Kau ikut tidak?"

Sin-hiong menganggukan kepala: "Tentu saja ikut, tapi "

Tadinya dia ingin berkata 'tapi aku masih banyak urusan yang harus diselesaikan', tapi setelah dipikir lagi apa gunanya kata-kata ini dikatakan pada nona berbaju merah ini? Makanya sampai di tengah jalan kata-katanya ditelannya kembali.

Nona berbaju merah melihat dia berkata setengah setengah, di dalam hati sangat tidak senang, dengan marah dia berkata:

"Kau orangnya aneh sekali, melakukan apa saja selalu menolak dengan berbagai alasan?"

Diam-diam Sin-hiong menghela nafas, katanya:

"Nona Lim, aku memang ada kesulitan, tapi tidak tahu ini tempat apa?" Nona berbaju merah merasa marah, kedua pipinya jadi mengembung, di dalam hati berkata:

'Sudah sekian lama, buat apa kau tanyakan ini tempat apa?' Tapi dia tetap berkata:

"Tempat ini tidak jauh dari Po-cia-tian, dari sini berjalan ke selatan, setelah tiga hari akan sampai di perbatasan Ho-ti!"

Hati Sin-hiong sedikit tergerak katanya:

"Baguslah kalau begitu, nanti setelah aku membereskan urusanku di Bu-tong-san, baru kita bersama pergi ke pulau Giok-sik, bagaimana?"

Semakin mendengar Nona berbaju merah semakin heran, di dalam hati berpikir:

'Masalah di depan mata saja belum selesai, kau sudah mau pergi ke gunung Bu-tong mencari masalah!'

Ternyata dia sudah tahu Sin-hiong pernah pergi ke Siauw-lim-si, makanya sekali menduga langsung tepat.

Di dalam hati walaupun dia tidak mau, tapi saat ini Sin-hiong seperti mempunyai daya tarik buat dia, malah membuat wanita yang sifatnya amat sombong ini tanpa sadar menjadi lemah, saat itu dia bertanya:

"Kau mau pergi ke gunung Bu-tong, apa aku boleh ikut?"

Sin-hiong tertegun, hal ini belum terpikirkan oleh dia, jika dia ingin pergi ke pulau Giok-sik dengan-nya, tentu saja tidak bisa tidak harus menghiraukan dia, setelah dipikir-pikir dia berkata:

"Aku pikir begini saja, nona beritahu aku dimana pulau Giok-sik itu, lalu pada saatnya tiba aku pasti datang, bagaimana."

Nona berbaju merah mengangkat alis dan tertawa dingin berkata:

"Kau ingin meninggalkan aku? Tidak bisa!" Begitu kata-kata ini keluar, dia sendiri segera merasa perkataannya ada yang salah, wajahnya segera menjadi merah, hatinya terasa meloncat-loncat, buru-buru menundukan kepalanya.

Sin-hiong sedang memikirkan masalah lain, tidak memperhatikan tingkah nona berbaju merah yang aneh ini, mendengar kata- katanya mengandung emosi, tidak tahan sambil mengeluh dia berkata:

"Nona tidak tahu, kali ini aku pergi ke gunung Bu-tong, untuk menyelesaikan masalah perguruan, aku pikir waktunya tidak akan lama, paling tiga lima hari sudah cukup."

Nona berbaju merah berpikir-pikir, berkata:

"Itu tidak ada hebatnya, kau kerjakan masalahmu, aku pergi bermain-main, apa tidak boleh?"

Sin-hiong melihat dia semakin berkata semakin marah, dengan terpaksa menganggukan kepala:

"Baiklah, tapi aku ada satu syarat, mohon nona bisa menyanggupinya?"

Melihat Sin-hiong mengizinkannya, hatinya sangat gembira: "Syarat apa? Coba kau katakan dulu!"

Sin-hiong melihat dia sekali:

"Aku pernah pergi ke Siauw-lim-si satu kali, mungkin saat ini orang-orang dari Bu-tong-pai sudah bersiap-siap, setelah kita tiba di bawah gunung harus berpisah, setelah menyelesaikan masalahnya baru mencari tempat untuk bertemu kembali, bagaimana?"

Nona berbaju merah menjawab:

"Ini tidak masalah, aku setuju!"

Sudah hampir tengah hari, kedua orang itu tidak banyak bicara lagi, nona berbaju merah membawa kudanya, kedua orang itu menelusuri jalan gunung berlari menuju ke Po-cia-tian! Dua orang ini, yang satu gadis lugu, cantik dan lincah, yang satunya lagi pemuda yang tampannya yang jarang ada tandingannya, kedua orang ini walaupun berjalan menelusuri jalan gunung, tapi di sepanjang jalan tetap saja menimbulkan perhatian orang, semua membicarakan kedua remaja ini, sungguh sepasang yang amat serasi?

Di dalam perjalanan, Sin-hiong baru tahu nama nona ini adalah Lim Hui-lan, ayahnya ketua pulau Teratai namanya Lim Ki-kun, kedua orang ini mula mula masih menjaga jarak, setelah lewat dua tiga hari, mereka jadi semakin akrab saja.

Bukung di hari ketiga, kedua orang iru sudah hampir tiba di tempat tujuan, Sin-hiong memutar kepala dan bertanya:

"Nona Lan, hari ini kita harus beristirahat satu malam!" "Terserahmu!" kata Hui-lan dengan riang.

"Kau harus menurut padaku, jangan menimbulkan masalah!" Sambil menutup mulutnya dengan tangan Hui-lan berkata:

"Kau ini cerewet amat, sepanjang perjalanan ini, kapan aku menimbulkan masalah?"

Melihat penampilannya yang tertawa malu-malu, begitu memikat sekali, tidak terasa Sin-hiong jadi bengong, di dalam hatinya berkata, sebenarnya dia sangat nakal, di sepanjang perjalanan bersama dirinya, benar saja sangat penurut, manusia, sungguh aneh sekali!

Saat ini kedua orang sudah semakin dekat ke mulut kota, Sin- hiong memperhatikan dan berkata:

"Nona Lan, bagaimana kalau kita mencari penginapan yang sedikit sepi?"

"Kenapa begitu?" tanya Hui-lan heran

Sin-hiong sengaja dengan misterius berkata: "Masa kau tidak tahu, aku khawatir orang mengenali kita, hingga begitu saatnya tiba, bisa menimbulkan kerepotan."

Bola mata Hui-lan berputar dua kali: "Kalau memang begitu, kau harus ikut aku!"

Setelah berkata, dia menarik tali kudanya, masuk kota bukan dari jalan besar, tapi belok dua belokan masuk ke satu jalan besar, walau jalanan tetap ramai, tapi disini sangat tenang.

Kedua orang itu tiba di depan satu penginap-an, belum turun dari atas kuda, di dalam penginapan sudah ada orang berteriak:

"Bagaimana mungkin, seluruh dunia persilatan bukankah sudah habis!"

Sin-hiong tertegun, seorang pelayan sudah keluar menyambutnya, sambil tertawa berkata:

"Anda berdua datang untuk menginap?" Sin-hiong menganggukan kepala:

"Tolong sediakan kami dua kamar yang tenang."

Setelah berkata, dia meloncat turun dari atas kuda, lalu berjalan masuk ke dalam penginapan bersama dengan Hui-lan.

Ketika lampu mulai dinyalakan, karena jalan ini sangat tenang dan perabotan di dalam penginapan sangat bersih dan sederhana, mereka sembarangan mencari tempat, lalu memesan beberapa masakan, mendadak terdengar satu orang lagi berteriak:

"Saudara Ong coba kau katakan, setelah Siauw-lim-si giliran perguruan mana lagi?"

Sin-hiong dan Hui-lan melihat kearah orang yang bicara, terlihat di meja seberang duduk dua orang tua setengah baya, salah seorangnya berjanggut sangat panjang, yang satunya lagi alisnya panjang sekali, terlihat yang berjanggut panjang itu menjawab:

"Menurut perkiraan aku, jarak Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai kedua perguruan ini paling dekat, mungkin tujuan Kim-kau-kiam- khek selanjurnya Bu-tong-pai!" Yang beralis panjang berkata:

"Ini sungguh satu hal yang kurang beruntung, ketua pulau Teratai dan Ngo-ki-thian-cun bersamaan waktunya muncul di dunia persilatan, tiga tetua Siauw-lim-pai yang bisa menghadapi mereka berdua, tidak diduga malah dipaksa oleh Kim-kau-kiam-khek keluar dari Siauw-lim-si, jika Sin-hiong sampai tidak bisa melawan jurus pedang kedua setan ini, aku lihat dunia persilatan akan jadi kacau sekali!"

Kedua orang itu berbincang sambil berkeluh kesah, wajahnya tampak kesedihan, Sin-hiong yang mendengar hal ini, di dalam hati tidak tahan berkata:

"Ini sungguh diluar dugaan aku, tidak terpikir tiga tetua Siauw- lim-pai karena dia mundur dari Siauw-lim-pai, jika aku bisa mengalahkan ketua Bu-tong-pai, Coan-cin Cinjin, apakah dia juga akan berbuat sama dengan tiga tetua Siauw-lim-pai, dunia persilatan benar benar akan menjadi kacau sekali."

Dia terus memikirkan masalah ini, sorot matanya tanpa disengaja menyapu, tampak kedua pipi Hui-lan mengembung besar, tampaknya dia sangat marah.

Hati Sin-hiong tergerak, di dalam hati berpikir:

‘Tadi kedua orang tua itu telah menjelekan ketua pulau Teratai, tidak heran jika dia marah,' saat itu terpaksa dia mendekatkan tempat duduknya dengan pelan berkata:

"Nona Lan, kedua orang ini bukan apa apa, jangan pedulikan mereka!"

Tapi Hui-lan tidak mau mendengar kata katanya, sambil mendengus dia berkata:

"Aku harus menghajar mereka!"

Dia berkata dengan keras, dua orang itu melihat kearahnya, melihat Sin-hiong dan Hui-lan masih muda, sedikit pun tidak menduga kata-kata Hui-lan ini ditujukan pada mereka? Orang tua yang berjanggut panjang itu kembali berkata:'

"Apakah kau pernah mendengar Thian-ho-tiauw-sou (Pemancing langit sungai) Ling Ie dari gunung Pek-thian, dia juga sudah muncul di dunia persilatan?"

Baru saja si alis panjang itu mau menjawab, mendadak terdengar suara "Huut!", satu titik bayangan hitam sudah melesat ke arahnya!

Orang itu terkejut sekali, dia segera menyentil dengan dua jarinya, melontarkan bayangan hitam itu ke pinggir, lalu matanya memandang kearah Sin-hiong dan bertanya:

"Apa kalian dua bocah ingin bermain-main dengan aku Ong Hiang-go?"

Karena datangnya bayangan hitam itu sangat cepat, walaupun dia bisa mementalkannya, tapi dia tidak tahu siapa yang melemparkannya, maka Sin-hiong pun termasuk dalam dugaannya.

Tadi Sin-hiong bergerak, ingin mencegah Hui-lan jangan menimbulkan masalah, tapi Hui-lan yang banyak akalnya, menjulurkan sumpitnya pura-pura mengambil sayur di piring, dalam sekejap mata dia telah melontarkannya!

Setelah orang itu telah menyebutkan namanya, mendadak terdengar Hui-lan tertawa dan berkata:

"Sudah lama aku mendengar Ong Hiang-go dan Pouw Seng dijuluki Sam-hiang-siang-cia (Sepasang hebat dari tiga sungai besar tiga), aku malah ingin mencobanya!"

Ong Hiang-go jadi tertegun, dia sungguh tidak mengerti usia Hui- lan begitu muda, sekali bicara sudah bisa mengenali Pouw Seng dan menyebutkan julukan-nya, maka sambil tertawa dia berkata:

"Nama aku memang Ong Hiang-go dan inilah Pouw Seng, mata nona tajam sekali, tapi kami tidak kenal dengan nona, tidak tahu kenapa nona menyerang dan mempermainkan kami?"

Hui-lan tertawa dingin: "Menyerang dan mempermainkan? enak sekali perkataanmu, aku hanya mendidik kalian, selanjutnya jangan menjelekan nama orang di belakang?"

Ong Hiang-go merasa tidak mengerti, di dalam hatinya berpikir, tadi dia dengan Pouw Seng tidak mengatakan apa-apa?

Tentu saja dia tidak terpikir, Hui-lan adalah putri kesayangannya ketua pulau Teratai, walaupun Pouw Seng tidak tahu apa sebabnya diserang Hui-lan, tapi dia orangnya sangat sabar, saat matanya menyapu, terlihat gitar kuno yang ada disisi Sin-hiong, wajahnya segera berubah dan buru-buru berkata:

"Saudara Ong, nona itu hanya berkelakar dengan kita, kau jangan menganggap serius!"

Ong Hiang-go melihat Pouw Seng tidak mengatakan apa-apa, dia tentu saja tidak mau memperpanjang masalah, setelah tertawa dia kembali minum araknya bersama dengan Pouw Seng.

Sin-hiong melihat kedua orang ini penyabar, dia khawatir Hui-lan terus mengusiknya, sehingga masalahnya jadi besar, buru-buru dengan keras berkata:

"Nona Lan, kita sudah harus beristirahat!"

Tadinya Hui-lan memamg mau mengusiknya, tapi setelah melihat kedua orang itu bisa menahan diri, dia jadi tidak enak meneruskan, tapi amarah dia masih belum reda, dengan kesal berkata pada Sin- hiong:

"Istirahat? Aku masih belum kenyang?"

Setelah berkata, kembali dia pelan-pelan makan nasi.

Sin-hiong tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa menemaninya di samping, asalkan dia tidak usilan lagi, dia sudah merasa tenang.

Sam-hiang-siang-cia makan lagi sejenak, lalu bayar rekening dan cepat-cepat pergi keluar.

Sesudah kedua orang itu pergi, Sin-hiong merasa lega lagi, dalam hatinya berkata:

'Sekarang kau tidak bisa berbuat apa-apa lagi?'

Dia sambil memikirkan keadaannya sekarang, dia memikirkan masalah Bu-tong-pai, tadi Sam-hiang-siang-cia tanpa bermaksud apa-apa menyebut nama-nya, membuat dia terus memikirkannya.

Sin-hiong duduk disisi, otaknya terus memikirkan masalah di kemudian hari.

Hui-lan makan dengan lambat sekali, dan Sin-hiong terus memikirkan masalahnya sendiri, maka gerak-gerik Hui-lan dia sama sekali tidak memper-hatikan.

Lewat beberapa saat, dari luar penginapan masuk lagi tiga orang!

Ketiga orang ini usianya belum terlalu tua, tapi tampangnya gagah, di punggung mereka masing masing membawa sebilah pedang panjang, pita pedangnya melayang-layang, penampilannya bukan orang biasa!

Setelah ketiga orang ini masuk, tiga pasang mata menyapu ke arah Sin-hiong dan Hui-lan, wajah salah seorang tampak terkejut, dia segera berbisik pada kedua rekannya, membuat wajah kedua orang lainnya jadi berubah!

Ketiga orang ini melihat sekali pada Sin-hiong, salah satunya berkata:

"Toako, hari ini bisa kebetulan sekali!" Seorang lainnya sudah mengerti, menjawab:

"Dunia ini sebesar daun kelor, mmm, kebetulan sekali, kebetulan sekali."

Orang yang bicara ini sorot matanya terus menatap gitar kuno di sisi Sin-hiong, tampak wajahnya seperti ingin mencoba.

Tingkah laku ketiga orang ini, Sin-hiong sendiri tidak merasakannya, tapi Hui-lan sudah memperhatikan dan pelan berkata: , "Tadi kau khawatir ada masalah? Aku lihat sekarang sudah ada orang yang memperhatikanmu!"

Sin-hiong tergerak dan pura-pura berkata:

"Kalau begitu kenapa kau tidak cepat-cepat makan!"

Hui-lan tertawa, dengan pelan berkata: "Siapa suruh kau membawa gitar kuno itu, sekarang mau menghindarpun, sudah tidak bisa lagi!"

Setelah berkata begitu, dia menaruh sumpitnya dan bersama Sin- hiong pergi ke pekarangan belakang.

Setelah mereka sampai di belakang, Hui-lan melihat sekeliling tidak ada orang lalu berkata:

"Sam-hiang-siang-cia tidak ada apa-apanya, tapi ketiga orang ini tidak mudah dihadapi?"

"Kita tidak mengusik mereka, kenapa meraka mau mencari masalah?" kata Sin-hiong.

"Kau tidak mengusik orang, tapi orang akan mengusikmu, kalau tidak percaya tunggu saja nanti malam!" kata Hui-lan sambil tertawa.

Sin-hiong menghela nafas dan bertanya:

"Apa kau tahu siapa mereka itu?" Hui-lan berpikir sejenak lalu berkata:

"Bukankah kau tadi mendengar orang menyebut Thian-ho-tiauw- sou dari Pek-thian-san? Menurut pandanganku, mungkin ketiga orang ini ada hubung-an erat dengan setan itu?"

Sin-hiong tidak menyangka, walaupun usia Hui-lan lebih muda dari dirinya, tapi pengalamannya di dunia persilatan tidak bisa dibandingkan dengannya, dalam hati dia berpikir, siapa Thian-ho- tiauw-sou ini, dan kenapa dia mau mencari aku?

Hati penuh pertanyaan, tapi setelah dipikir-pikir, dia malah mengira Hui-lan hanya menakut-nakuti dia saja, maka sambil tertawa dia berkata:

"Kita tidak usah pedulikan mereka, pokoknya kita besok pagi-pagi sekali kita berangkat saja!"

Setelah berkata dia langsung masuk ke kamarnya sendiri.

Malam sudah berjalan, karena tempat ini sepi, walaupun belum terlalu malam, tapi disekeliling sudah sangat sepi sekali.

Waktu sekarang sudah sekitar jam delapan malam, Sin-hiong sedang berbaring diatas ranjang pura-pura tidur, mendadak di atas atap rumah terdengar suara baju tersampok angin.

Sin-hiong langsung bangun, terdengar diatas atap ada orang berteriak:

"Disana ada orang!"

Salah satu lainnya mendengus dan berkata:

"Kita kejar untuk melihatnya!"

Selesai bicara, diatas atap kembali menjadi sepi!

Sin-hiong berjalan ke jendela melihat keluar, terlihat langit penuh bintang, setengah bayangan orang pun tidak ada?

Hatinya merasa heran, diam-diam berkata:

"Gerakan ketiga orang itu sungguh cepat sekali, tidak aneh nona Lan mengatakan mereka tidak mudah dihadapi, apakah mereka datang kemari untuk menghadapi aku?"

Ketika Sin-hiong berpikir, dia sudah selesai memakai bajunya, sambil membawa Kim-kau-po-kiam dia melesat ke atap rumah, dia tidak ingin membangunkan nona Lan.

Setelah itu dia terbang dengan cepat menyusul mereka.

Gerakan dia sangat cepat, dalam beberapa kali loncatan, dia sudah keluar dari kota, tapi saat matanya menyapu, tiga orang didepan itu sudah pergi entah kemana? Sin-hiong jadi tertegun, dengan ilmu silatnya sekarang, orang- orang dunia persilatan tidak ada satu pun yang dilihatnya, pesilat tinggi kelas satu pun, dia tidak akan menaruh di dalam hati!

Tapi, kecepatan ketiga orang ini dari mulai muncul sampai pergi, sungguh di luar dugaannya, bagaimana dengan Thian-ho-tiauw-sou, itu tidak perlu dikatakan lagi?

Dia tertegun sejenak, dia melihat ke tempat jauh, tampak secara samar di kejauhan ada sebuah gunung kecil, di atas gunung tumbuh beberapa pohon, di daerah ini selain gunung itu yang bisa menghalangi pandangan, tempat yang lainnya semua bisa diawasi, Sin-hiong tidak banyak pikir lagi, langsung berlari kesana!

Untuk mencapai gunung itu, dia harus melalui lapangan liar yang amat luas, saat tubuhnya muncul, mendadak di dalam hutan ada orang berteriak:

"Toako, kenapa bisa datang satu lagi?"

Suaranya seperti di kenal, begitu Sin-hiong mendengar dia sudah tahu orang itu adalah salah seorang dari tiga orang yang datang ke penginapan, dia sedikit pun tidak menghentikan gerakannya, dengan cepat melesat kesana!

Tapi, ketika dia hampir sampai di gunung kecil itu, orang yang berada di gunung tiba-tiba mengeluar-kan suara "Iiih!" lalu berkata:

"Lo-ji, kau salah lihat, orang ini baru yang kita inginkan!"

Setelah berkata, mendadak terdengar "Ssst ssst ssst!", dari dalam hutan itu loncat keluar tiga bayangan orang!

Ketiga orang yang mendadak muncul, tanpa basa basi langsung menghadang jalannya Sin-hiong, orang yang di tengah berteriak:

"Berhenti!"

Sin-hiong pura pura tidak mendengar, dia masih terus lari ke depan!

Tapi baru saja dia bergerak, mendadak di depan matanya ada sinar perak berkelebat, serangkum hawa dingin yang tajam menyabet wajahnya!

Sin-hiong berteriak lalu berkata:

"Kenapa kalian tidak tahu aturan?"

Setelah berkata, lima jari kanannya sudah maju mencengkram! Orang itu tertawa dingin:

"Melihat dari jurusnya, tidak percuma kau mendapat julukan itu!"

Sedikit merubah gerakan pergelangan tangan, ujung pedangnya sudah memotong ke arah lima jari Sin-hiong!

Jurus pedang orang ini sangat hebat, perubahan jurusnya pun sangat cepat, kedahsyatan jurusnya, jarang terlihat di dunia persilatan!

Sin-hiong pun merasa kagum, dalam hatinya teringat kata- katanya Hui-lan, matanya menyapu, terlihat orang yang di hadapan ini adalah orang yang paling muda di antara ketiga orang ini, otaknya berputar cepat, di dalam hati berkata:

"Orang ini sudah begini hebat ini, dua orang lainnya jangan dikatakan lagi!"

Setelah berpikir, jari tangannya diputar dan menyentil, lalu berteriak:

"Coba jurus ini!"

Mendadak lima jarinya menjulur ke depan, dengan cepat mengunci ke arah pergelangan orang itu!

Orang itu dengan tenang menghentakan pedang pusakanya, ujung pedang kembali menyabet ke arah lima jari Sin-hiong!

Sin-hiong sedikit tertegun dan berteriak:

"Jurus yang hebat!"

Dua jarinya menyentil, dia sudah mengerahkan ilmu jari yang telah menggemparkan dunia persilatan, Tan-ci-sin-tong (Sentilan jari dewa), dia yakin bisa mementalkan pedang lawannya ke samping, tapi siapa sangka kenyataannya tidak sesuai!

Saat pedang orang itu sudah hampir mengenai jari tangan Sin- hiong, mendadak lawannya menarik pedangnya dan mundur ke belakang, sambil tertawa dingin dia berkata:

"Kim-kau-kiam-khek benar-benar hebat, aku marga Hoa ingin mencobanya beberapa jurus lagi?"

Pedangnya diayunkan dari samping, mem-bentuk bunga-bunga pedang meluncur ke arah bahu kanan Sin-hiong!

Sifat Sin-hiong memang berbeda dengan orang lain, jika bertemu lawan kuat dia akan semakin kuat, jika bertemu dengan yang lemah dia masih bisa mengalah sedikit, dia melihat orang ini usianya masih muda, ilmu pedangnya sudah sehebat ini, di dalam hatinya sudah menyukai pada bakat orang ini.

Tapi pikiran lawannya malah berbeda dengan dirinya, dengan jurus ini lawannya sudah mengerah-kan seluruh kemampuannya, bertekad ingin merebut kemenangan, sentilan jari Sin-hiong jadi tidak berhasil mementalkan pedangnya, sepasang mata Sin-hiong melotot, segera mengangkat lengan mencabut keluar Kim-kau-po- kiam, sekali menggetarkan tangan, satu kilatan dingin menyerang orang itu, sambil tertawa dia berkata: "Kau mau mengadu jiwa?"

Serangan pedangnya ini adalah serangan yang paling lihay dari jurus Kim-kau-kiam, pedangnya baru bergerak, sudah terdengar suara gemuruh, bukan saja telah menghindari pedang lawan, di dalam kilatan perak, juga sudah menutup enam jalan darah besar di depan tubuh lawan!

Tubuh orang itu berkelebat, lalu mendengus: "Jurus inipun tidak bisa berbuat apa-apa?" Dia malah balik menyerang, sambil menggetarkan pergelangan tangan, dalam sekejap mata telah menusukan pedangnya tiga kali!

Kelihatannya orang ini sudah berniat mengadu jiwa dengan Sin- hiong, terlihat jurus yang diguna-kannya sangat bahaya, tapi karena Sin-hiong sudah mengeluarkan jurus pedangnya, walaupun kemam- puan dia lebih tinggi lagi, juga tidak mungkin bisa mengalahkan Sin- hiong, dua orang yang berdiri di belakang melihat ini, tidak tahan wajahnya jadi berubah hebat!

Kedua orang itu bersama-sama berteriak: "Lo-sam, jangan!"

Dalam sekejap mata, otak Sin-hiong berputar beberapa kali, di dalam hati berkata:

'Aku tidak punya dendam denganmu, kenapa begitu bertemu langsung mau mengadu nyawa? Sin-hiong menggetarkan lengannya, Kim-kau-po-kiam sudah menangkisnya, terdengar "Traang!"

keras sekali, di depan mata kembang api berpijar, orang itu sudah didorong mundur lima langkah ke belakang oleh Sin-hiong!

Dalam jurus tadi, Sin-hiong masih menaruh kasihan, jadi tidak ingin melukai lawannya, jika dia menggunakan seluruh tenaganya, mungkin orang itu sekarang sudah terluka oleh pedangnya.

Hati orang itu terkejut sekali, dua orang yang ada di pinggir pun wajahnya berubah warna!

Sebenarnya ketiga orang ini adalah saudara sekandung, tiga orang ini semuanya adalah muridnya Thian-ho-tiauw-sou, dia telah menciptakan jurus pedang Thian-san yang sangat hebat, jaman sekarang mungkin tidak ada jurus pedang dari perguruan mana pun yang dapat melawannya, tidak diduga hari ini ternyata jurus pedangnya bisa dikalahkan oleh Sin-hiong dengan tenangnya, bagaimana hal ini tidak membuat mereka terkejut?

Di antara tiga orang ini, yang sulung namanya Hoa Tiang-hong, yang nomor dua Hoa Sian-hong, nomor tiga Hoa Leng-hong, mereka belajar ilmu silat pada Thian-ho-tiauw-sou sudah dua puluh tahun lebih, sepanjang hidupnya belum pernah keluar dari Pek- thian-san, mereka mengira jurus pedang Thian-san tidak ada lawannya di seluruh dunia, kali ini tiga orang itu ikut Thian-ho- tiauw-sou keluar gunung, ambisinya sangat besar, tapi diluar dugaan pada pertarungan pertama setelah keluar gunung, mereka sudah mengalami kekalahan kecil?

Hoa Leng-hong menarik nafas dan berkata:

"Ulang lagi, ulang lagi!"

Sin-hiong melihatdia dan bertanya:

"Aku Sen Sin-hiong, belum pernah kenal dengan kalian bertiga, apakah kalian bertiga telah salah mencari orang?"

Menurut pikirannya, setelah memberitahukan namanya, mungkin mereka sadar telah salah mencari orang, siapa sangka, setelah dia memberitahukan namanya, Hoa Leng-hong dengan dingin berkata:

"Hemm.. hemm... kau mau menggunakan nama besar Kim-kau- kiam-khek menekan kami!"

Sin-hiong tertegun sejenak, dalam hati berpikir:

'Rupanya mereka sudah menetapkan sasaran-nya adalah aku', saat itu dia berkata lagi:

"Apakah kalian bisa beritahukan nama besar kalian?"

Dia kembali berpikir, tidak peduli kalian ini dari Thian-san atau dari Tai-san, aku Sen Sin-hiong tidak pernah mengusik kalian?

Sepanjang hidupnya dia sudah sering men-dapat penghinaan orang, sejak kecil dia sudah terbiasa menahan diri, sekarang walaupun ada orang meng-hina, dia tetap masih tidak mau marah.

Hoa Leng-hong mengluarkan suara dari hidungnya dan berkata: "Kau belum pantas mengtahui nama kami bertiga?"

Kata-kata ini sangat menusuk telinga, tapi Sin-hiong masih memaksa diri tidak marah, dia melirik, terlihat dua orang yang berada dibelakang Hoa Leng-hong juga sudah bersiap-siap, dia sadar asal dirinya bergerak, mungkin dua orang di belakang Hoa Leng-hong juga akan ikut bergerak?

Saat ini jarak Hoa Leng-hong pada Sin-hiong hanya kurang dari satu tombak, kedua orang saling pandang, Hoa Leng-hong memegang pedangnya erat-erat, Sin-hiong menghela nafas dan berkata:

"Hay! Buat apa saudara memaksa aku seperti ini!"

Walaupun dia tidak mau mengusik orang, tapi orang tidak mau melepaskan dia, Hoa Leng-hong berteriak, pedangnya sudah menyerang!

Baru saja Hoa Leng-hong menyerang, tiba-tiba di dalam hutan di atas gunung berkelebat bayangan merah dan seorang berteriak:

"Sen-tayhiap, kali ini giliran kami dari pulau Teratai!"

Setelah berbicara, sebuah kilatan perak sudah menyerang ke arah Hoa Leng-hong.

Sin-hiong tertegun, pikirnya kapan dia datang?

Ternyata orang ini adalah Hui-lan, walaupun usianya lebih muda satu dua tahun dari Sin-hiong, tapi pengalamannya di dunia persilatan lebih banyak dari pada Sin-hiong, dia sudah lama mengenal ketiga orang ini adalah pesilat tinggi dari perguruan Thian-san, tadi siang dia pernah memperingatkan kepada Sin-hiong, melihat sikap Sin-hiong seperti tidak memperhatikan, maka dia seorang diri diam-diam bersiap.

Baru saja tiga bersaudara muncul di atap kamar, Hui-lan sengaja sekelebat menampakkan diri, tujuannya adalah memancing mereka bertiga keluar, tapi tidak diduga ilmu silat Hoa bersaudara begitu hebat, sepanjang jalan mengejar hampir saja dia terkejar, sampai tidak ada jalan lagi, jika bukan Sinhiong muncul tepat pada waktunya, maka keadaan dia akan sangat terancam.

Saat Hui-lan tadi muncul, sengaja menyebut-kan nama pulau Teratai, tujuannya adalah supaya mereka tahu jati dirinya, siapa sangka Hoa Leng-hong sedikit pun tidak peduli, sambil menarik lengannya sambil tertawa dingin dia berkata:

"Sebenarnya kami pun ingin mencari orang dari pulau Teratai tapi sulit menemukannya, kebetulan sekali kau datang kemari!"

Dia menggetarkan pedangnya, langsung meli-bat pedang Hui-lan.

Sin-hiong yang melihat, tidak tahan diam-diam mengkhawatirkannya, sebab dia sadar, tubuh Hui-lan masih diatas udara, serangannya walaupun dahsyat, tapi sulit mengerahkan tenaga, dia khawatir celaka, maka sekali berkelebat dia berteriak:

"Nona Lan hati-hati!"

Dengan cepat dia menusukan pedangnya pada jalan darah Beng- bun Hoa Leng-hong!

Jurusnya ini sebenarnya hanya untuk mengalih kan perhatian Hoa Leng-hong, siapa duga, baru saja dia bergerak, mendadak terdengar seseorang berteriak:

"Mengeroyok orang, bagaimana bisa disebut seorang Enghiong?"

Lalu terasa ada satu hawa dingin pedang menyerang dari belakang!

Sin-hiong berkelebat dan telapak tangannya menyapu ke belakang, serangan ke arah Hoa Leng-hong tetap tidak berubah, tapi setelah dia menyapukan tangannya, pedang yang menyerang dari belakang sudah ditepisnya dia ke samping!

Hui-lan tertawa:

"Sen-tayhiap, kenapa kau begitu memandang rendah kami dari pulau Teratai?"

Setelah tertawa, mendadak terlihat sinar pedang di tangannya mengembang, serangan pedang Sin-hiong ini sudah sangat cepat, tapi pedang Hui-lan hampir tidak kalah cepatnya dengan dia, Sin- hiong menggeleng-kan kepala dan memujinya:

"Jurus pedang pulau Teratai benar-benar hebat?"

Ternyata Hui-lan tadi sengaja ingin pamer, melihat Sin-hiong memujinya, hatinya menjadi sangat gembira, Hoa Leng-hong yang diserang dari depan dan belakang, buru-buru meloncat mundur sejauh tiga tombak, maka Hui-lan dengan tenang turun ke bawah.

Wajah Hoa bersaudara berubah hebat, orang tertua bersaudara Hoa Tiang-hong berkata:

"Kalian dulu yang melakukan pengeroyokan, jangan salahkan kami!"

Dia mengayunkan pedangnya di depan tubuh dengan indah, Sin- hiong dan Hui-lan tidak tahu dia ingin melakukan apa dengan gerakannya? Ketika sedang tertegun, mendadak merasa di belakang tubuhnya ada angin tajam, segera mereka masing-masing menusukan pedangnya ke belakang, Hui-lan tertawa dan berkata pada Sin-hiong:

"Sen-tayhiap, malam ini kita berdua harus dengan puas bertarung!"

Begitu pedangnya menyerang, serangan kedua dan ketiga tidak putus-putusnya berlangsung, dalam sekejap mata, di depan tubuh Hui-lan sudah terbentuk satu tabir pedang dan maju menekan ke arah Hoa Leng-hong!

Melihat ini, semangat Sin-hiong jadi naik diapun berteriak keras: "Jurus pedang bagus! Jurus pedang bagus!"

Melihat orang bertarung Sin-hiong jadi gatal ingin bertarung juga, maka sekali menggetarkan lengan, sinar perak di tangannya jadi mengembang, dalam sekejap dia telah menyerang sebanyak lima enam jurus ke Hoa Sian-hong dan Hoa Tiang-hong yang ada di belakang!

Hoa Tiang-hong dan Hoa Sian-hong berdua tertawa dingin dan berkata:

"Kau juga tidak jelek!"

Hoa Sian-hong bukannya maju malah mundur, digantikan oleh Hoa Tiang-hong maju menghadang!

Sin-hiong mengerutkan alis dan berkata: "Hanya satu orang saja yang maju?"

Dia mempercepat gerak pedangnya, kekuatan pedangnya tidak kurang dari seribu kati, Hoa Tiang-hong merasa tekanannya semakin berat, buru-buru meloncat ke belakang, Hoa Sian-hong sudah kembali menerjang ke depan, pedangnya menyerang dari samping, sambil mendengus dia berkata:

"Kau salah mencari lawan, babak ini harus aku yang menghadangnya!"

Walaupun Sin-hiong berturut-turut sudah menyerang enam jurus, tapi serangannya seperti tenggelam, hilang begitu saja dengan maju mundurnya mereka berdua, di dalam hati merasa keheranan dan berpikir, ilmu apa ini?

Pergelangan tangannya segera digerakkan dan pedang pusakanya dengan cepat disabetkan, jurus ini adalah jurus membunuh yang disebut Gwat-beng-seng-see (Bulan terang bintang jarang) dari jurus Kim-kau-kiam.

Tapi ketika dia menyabetkan pedangnya, Hoa Sian-hong mendadak kembali mundur! Hoa Tiang-hong yang ada dibelakang menggetarkan pedangnya secepat kilat maju menyerang dan sambil tertawa berkata:

"Kali ini giliranku!"

Gulungan pedang panjangnya membentuk putar an angin yang besar, datang menyerang dari samping Sin-hiong!

Sin-hiong terkejut, di dalam hati berpikir;

'Bertarung terus-menerus seperti ini, mereka akan menghabiskan tenagaku, hemm.. hemm.. bagaimana mungkin aku bisa terjerumus ke dalam siasat kalian?

Saat pedang Hoa Tiang-hong datang menyerang, Sin-hiong mendadak mengambil nafas, tubuhnya lalu melesat ke atas dengan keras berteriak:

"Tunggu, tunggu, jurusku masih belum selesai lho!" Satu jurus Coan-ping-kiu-siau dikeluarkan, sinar pedang dengan dahsyat menyerang ke bawah, baru saja Hoa Sian-hong bergerak, jurus pedang Sin-hiong sudah tiba, tidak tahan dia jadi terkejut, baru saja mau membalikan tubuh menangkis, mendadak ada hawa dingin melanda, sinar dingin dari pedang Sin-hiong sudah hampir tiba di lehernya sambil tertawa berkata:

"Kau mau kemana lagi?"

Hati Hoa bersaudara jadi tergetar!

Hoa Sian-hong tidak bisa bergerak, Hoa Leng-hong yang bertarung dengan Hui-lan, saat inipun sedang berada di bawah angin, hanya tersisa Hoa Tiang-hong seorang diri, tapi asalkan dia bergerak, maka nyawa Hoa Sian-hong segera melayang.

Sin-hiong tertawa dingin:

"Aku mau tanya kenapa kalian tanpa alasan mencari aku terus?"

Hoa Sian-hong yang diancam oleh pedang lawannya, walaupun tidak bisa bergerak, tapi dengan berani dia mendengus dan berkata:

"Bukankah kau mau pergi ke gunung Bu-tong? He he he!

Mungkin terlambat satu langkah!"

"Kenapa terlambat?" tanya Sin-hiong tergetar.

Saat ini Hoa Leng-hong yang bertarung dengan Hui-lan sudah menghentikan pertarungannya, dengan marah berkata:

"Kau ini siapa, kau tidak pantas menantang berbagai perguruan besar?"

Sin-hiong tertawa dingin:

"Kalau begitu aku ingin tahu, siapa di dunia ini yang pantas menantang berbagai perguruan besar?"

Hoa Leng-hong dengan sombongnya berkata:

"Selain orang-orang kami dari perguruan Thian-san, siapa lagi yang pantas di dunia ini!" Sin-hiong tergetar sejenak dan katanya:

"Maksudmu Thian-ho-tiauw-sou?" "Tentu saja!"

Hui-lan terkejut dan berkata: "Sen-tayhiap, cepat kita pergi dari sini!"

Saat ini Sin-hiong pun sudah mengerti apa yang terjadi dia berkata:

"Kalian bertiga menghadang aku disini, supaya Thian-ho-tiauw- sou bisa dengan leluasa menyerang Bu-tong?"

Walaupun Hoa bersaudara tidak menjawab, tapi wajahnya mengisyaratkan mengakui.

Sin-hiong menghela nafas, berkata:

"Tidak di duga, ternyata masih ada orang yang berani mendahuluiku, sungguh tidak terduga sekali!"

Setelah berkata, mendadak dia berteriak:

"Nona Lan, aku jalan duluan, terpaksa anda tunggu aku di kota saja!" tidak peduli Hui-lan setuju atau tidak, dia langsung meloncat pergi meninggalkan tempat itu!

Sifat Sin-hiong sangat setia, gurunya telah ber pesan pada dia, harus memberi pelajaran pada sembilan perguruan besar, jadi bagaimana pun caranya dia harus menyelesaikan tugasnya, saat ini mendengar Thian-ho-tiauw-sou sudah pergi ke gunung Bu-tong, makanya dia juga buru-buru pergi ke gunung Bu-tong!

Dia pergi terburu-buru, tidak mempedulikan apa yang akan terjadi kemudian, tentu saja juga tidak mempedulikan keadaan Hui- lan bagaimana. Pikirnya,

'Saat ini Thian-ho-tiauw-sou memutuskan pergi ke Bu-tong, jadi dia harus secepat cepat pergi ke gunung Bu-tong, siapa tahu dia bisa tiba lebih dulu dari pada Thian-ho-tiauw-sou! Waktu baru saja lewat jam sembilan malam, langit penuh dengan bintang-bintang, setelah Sin-hiong menentukan arahnya, dia segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh, dalam sekejap sudah pergi sejauh puluhan li!

Di sepanjang jalan, tidak henti-hentinya dia berlari, saat hampir fajar, dia tidak tahu sudah sampai di mana, ketika berlari dia berkata didalam hati:

'Entah arahku benar atau tidak, aku harus bertanya pada seseorang dulu" tapi dia tidak menghentikan langkahnya, begitu melihat ke depan, dari kejauhan tampak sebuah gunung yang amat tinggi, di dalam hati berkata:

'Apakah yang didepan itu adalah gunung Bu- tong?'

Setelah dia dekat, dia baru menemukan di bawah gunung itu bertebaran puluhan rumah penduduk, dia memperlambat langkahnya, di depannya terlihat seorang bukuni tua keluar dari rumah sambil membawa pacul, buru-buru dia maju ke depan dan bertanya:

"Mohon tanya Lopek, apakah yang di depan itu gunung Bu- tong?"

Petani tua itu melihat dia sekali, lalu menganggukkan kepala: "Betul, kenapa Siauya pergi ke gunung sepagi ini?"

Sin-hiong sangat senang, di dalam hati berterima kasih pada bukuni tua itu, setelah *itu dengan cepat dia berlari lagi ke depan!

-oo0dw0oo-