-->

PPKE Bab 03 : Suara kecapi, kecapi yang bersuara

 
Bab 03 : Suara kecapi, kecapi yang bersuara

Warna wajah Ngo-goat jadi berubah besar!

Ketika ke lima orang ini datang mengejar, mereka sudah sepakat siapa yang bisa mengalahkan Sin-hiong, maka dialah yang menjadi ketua Ngo-goat, tadinya mereka ingin bertarung satu lawan satu, tapi karena keadaan terpaksa, mereka berlima malah jadi bersama- sama menghadapinya. Tapi walaupun demikian mereka tetap saja kalah.

Di dalam hati mereka diam-diam mengeluh, ketika mereka kecewa, tidak terasa mereka mengeluar-kan keluhan "Haay!", di malam begitu tenang suara keluhan ini terdengar sangat jelas, tapi, mereka tidak mempedulikannya lagi.

Sin-hiong berjalan pelan-pelan di dalam radius lima tombak, mengangkat kepala melihat cuaca langit, bulan purnama Sudah tinggi di atas, angin meniup lembut, lalu dia menyelipkan pedangnya, menggeleng-gelengkan kepala berkata:

"Kalian berlima, aku pamit dulu!"

Setelah berkata, dia bersiul pelan, dari kejauhan satu bayangan merah berlari mendekat, dia adalah kuda merah hebatnya, Sin- hiong tidak membuang waktu lagi, sekali menghentakan ujung kakinya, tubuhnya sudah melayang ke atas udara, saat tubuh-nya turun ke bawah, tepat di atas punggung kuda merah itu, gerakannya indah sekali.

Di dalam pikiran Ngo-goat, masing-masing mempunyai pikiran yang berbeda, semua orang masih ingin bertarung sekali lagi, tapi, sekarang siapa pun tidak ingin berebut lebih dulu, perasaan hati yang aneh ini erat-erat mengikat hati mereka, walaupun melihat Sin-hiong sudah naik ke atas kuda, mereka masih tetap diam tidak bergerak.

Sin-hiong masih belum pergi, dia berputar mengelilingi rumah petani yang sederhana ini dua putaran, lalu memanggil-manggil:

"Lopek, Lopek!", begitu petani tua itu keluar, dia baru menghentikan kudanya.

Perbuatannya ini, membuat Ngo-goat yang melihat di pinggir membelalakan matanya, mereka tidak tahu apa maksud dia memanggil keluar petani tua itu? sehingga ke lima orang itu membelalakan matanya besar-besar, wajahnya penuh dengan ke tidak mengertian.

Ternyata petani tua itu sudah mengetahui pertarungan mereka tadi, saat ini dia masih ketakutan, begitu melihat Sin-hiong, dengan gemetaran berkata:

"Siauya,kau. "

Tadinya dia ingin berkata, 'Kau mau menyuruh aku apa?' mungkin karena ketakutannya, kata-kata selanjutnya tidak bisa keluar dari mulutnya.

Sin-hiong tersenyum ramah, dia mengeluarkan sepotong perak yang harganya satu tail dari dalam dadanya, berkata:

"Lopek, ini uang perak seberat lima liang, aku tadi sudah makan nasi paman, maka terimalah perak ini."

Di saat dia mengatakan "ini uang perak seberat lima liang", di dalam hati mendadak timbul rasa haru, hampir dia menggunakan dua tangan memberikannya, petani tua itu tidak mau menerimanya, dan berkata: "Siauya, jangan begitu!"

Sin-hiong mengeluh, mendadak dengan emosi berkata:

"Lopek, mohon bagaimana pun Lopek harus menerimanya, sepuluh tahun yang lalu, demi uang lima liang perak nyawaku hampir saja hilang, sekarang, haay! Walau lima puluh liang pun tidak seberapa?"

Ini adalah kata-kata di lubuk hatinya, setelah mengatakan ini, tidak peduli petani tua itu mengerti atau tidak, dia memaksa memasukan ke dalam dadanya petani tua itu, lalu kedua kakinya menjepit perut kuda, dengan tenangnya meninggalkan tempat itu.

Dia sudah pergi, tidak peduli wajah Ngo-goat seburuk apa, pokoknya, malam ini dia sangat gembira sekali.

0odwo0

Tiga hari kemudian, di penyeberangan Huang-ho muncul seorang anak muda dengan wajah penuh debu, orang ini tentu saja Sin- hiong.

Sepanjang jalan dia terus memacu kudanya, hari ini dia sudah tiba di Pa-li-cung di pantai utara Huang-ho.

Pa-li-cung adalah sebuah kampung yang amat besar, walaupun dikatakan kampung tapi melihat luasnya malah lebih besar dari kota kecil, saat ini sudah hampir malam, Sin-hiong sudah merasa letih dan lapar, tapi dia memutuskan untuk menyeberang sungai terlebih dulu.

Pelan-pelan dia memacu kudanya, berjalan menuju penyeberangan sungai. '

Tiba di penyeberangan sungai, terlihat ombak kuning mengalir dengan deras, perahu-perahu ditambatkan disisi sungai, di tengah sungai tidak terlihat satu perahu pun.

Melihat keadaan ini, tidak tahan hati Sin-hiong menghela nafas, kelihatannya malam ini dia terpaksa tidak bisa beristirahat di Pa-li- cung. Saat itu dengan terpaksa dia memacu kudanya kembali ke jalan semula.

Berjalan tidak jauh, mendadak dari belakang terdengar derap kaki kuda, Sin-hiong membalikan kepala, terlihat ada tiga ekor kuda sedang berlari dengan cepat.

Di atas kuda duduk tiga orang laki-laki, sekejap saja sudah melewati dia.

Sin-hiong tertegun, pada saat ini ada lagi dua ekor kuda lewat dengan cepatnya!

Ke lima orang itu semua memakai baju ringkas, tampangnya terburu-buru, Sin-hiong bukan orang bodoh, sekali melihat, dia sudah menerka di depan mungkin akan terjadi sesuatu keramaian!

Siapa duga pikirannya belum tetap, kembali ada beberapa ekor kuda berlari dengan cepat melewati nya. Dia sedikit menghitung, dalam sekejap ini sudah ada puluhan kuda yang melewatinya!

Sin-hiong jadi keheranan, di dalam hati berkata: 'Tidak peduli apa yang mereka lakukan? Asal tidak ada sangkut pautnya dengan diriku, setelah makan nanti aku langsung tidur saja, sebab besok pagi-pagi aku harus melanjutkan perjalanan.'

Berpikir sampai disini, maka berjalan masuk ke dalam kampung.

Sekarang matahari sudah terbenam, ketika Sin-hiong hampir masuk ke mulut kampung, terlihat di depan pintu sebuah rumah besar di sisi jalan raya, terikat dua-tiga puluh ekor kuda.

Puluhan kuda ini tadi melewatinya, bahkan masih ada orang yang sedang turun dari kudanya, hati Sin-hiong tergerak, tapi dia tidak bisa menerka apa yang sedang terjadi di dalam rumah besar itu?

Rumah besar ini adalah tempat yang harus dilalui jika masuk ke dalam kampung, Sin-hiong dengan tenangnya berjalan pelan-pelan, siapa sangka baru saja tiba di depan pintu. Mendadak salah satu dari dua orang laki-laki besar yang berdiri diluar pintu, berlarian mendekatinya dan berteriak:

"Bagus, bagus, bukankah ini pemusik kecapi yang diperlukan?" Ternyata ketika Sin-hiong sedang memeluk kecapi kunonya,

orang   ini   melihatnya,   tanpa   banyak   tanya   lagi   langsung

menganggap dia adalah pemusik kecapi yang diundang, Sin-hiong jadi marah men-dengar hal ini, tapi setelah dia pikir-pikir, dia merasa di dalam rumah pasti ada yang tidak beres, kenapa dia tidak mengambil kesempatan ini masuk ke dalam dan melihatnya.

Berpikir sampai disini, kemarahannya jadi reda, tapi dia tetap berpura-pura dan berkata:

"Saudara, aku hanya lewat disini, bukan pemetik kecapi yang kalian undang?"

Laki-laki besar itu melotot, dia berkata:

"Hei hei hei, kau sungguh tidak tahu diuntung, kau masuk saja ke dalam, nanti kau pasti mendapat keuntungan."

Sin-hiong tersenyum, berkata lagi: "Boleh saja aku masuk ke dalam, tapi aku ada syaratnya?" Wajah orang itu jadi serius, dengan gusar tanya: "Syarat apa?"

Dua jari Sin-hiong memetik kecapi, lalu berkata: "Satu laguku harganya lima liang perak, apa kalian bersedia membayarnya?"

Mendengar ini, laki-laki itu jadi tertawa keras dan berkata: "Kukira ada syarat apa, ternyata hanya karena lima liang perak,

asalkan ketua perkumpulan puas, walau lima puluh liang atau lima ratus liang, itu masalah kecil bagi kami?"

Sin-hiong jadi tergerak, dalam hati berkata: Ternyata rumah ini adalah markas suatu perkumpulan, walaupun rumahnya besar, tapi tampak nya tidak seperti itu?'

Setelah berkata, orang itu buru-buru memanggil seorang laki-laki kampung, menunggu Sin-hiong turun dari kudanya, dia sudah mendesak Sin-hiong supaya segera masuk ke dalam.

Dua orang itu berjalan satu di depan satu lagi di belakang, setelah melewati dua pekarangan, mata menjadi terang, terlihat di satu pekarangan besar, telah ada ratusan orang yang sedang duduk, saat ini hampir tidak ada tempat yang kosong.

Di pekarangan itu ada puluhan meja, di atas meja sudah siap makanan, daging ayam dan bebek, semua tersedia, hanya saja orang-orang di sana semua diam tidak menggerakan sumpitnya, seperti sedang menunggu seseorang.

Saat ini perut Sin-hiong memang sedang lapar, setelah melihat ke sekeliling, orang yang membawa jalan berbisik padanya:

"Saudara, disini tidak ada bagian buatmu dan aku, kau ikut aku ke belakang."

Sin-hiong diam-diam mengeluh, tanyanya:

"Kita mau ke tempat apa?"

Orang itu mencubit dia sekali, lalu menepuk-nepuk bahunya berkata:

"Hari ini majikan kami sedang mengadakan upacara pembukaan perkumpulan, para tamu dari segala penjuru sudah datang, kau dan aku adalah orang bawahan, jika ingin makan harus makan di dalam dapur."

Rupanya orang ini sudah melihat tampang kelaparannya, maka dapat menerka isi hatinya, Sin-hiong yang mendengar, di dalam hati merasa tidak rela, tapi dia sekarang ini hanyalah seorang pemetik kecapi, ilmu seorang pemetik kecapi hanya untuk dinikmati orang saja, mau berbuat apa lagi?

Sin-hiong tidak enak bertindak, terpaksa menganggukkan kepala, berkata:

"Benar kata saudara, aku ingin mengisi perut lebih dulu saja." Walau pun berkata demikian, tapi di dalam hati dia berpikir,

kalian terlalu memandang rendah orang, tiba saatnya aku ingin melihat, apakah disini ada bagian aku atau tidak?

Orang yang membawa jalan itu tertawa dan berkata: "Ini baru benar, nanti akan ada kesibukan buat kita lha!"

Sin-hiong tidak bicara lagi, dua orang itu pelan pelan berjalan masuk ke dalam.

Setelah masuk ke pekarangan belakang, di dalam sedang sibuk sekali, untungnya orang yang membawa jalan itu sangat gesit, diam-diam meng-ambil dua piring besar masakan matang, tanpa basa-basi lagi Sin-hiong sekaligus makan tiga mangkok besar.

Setelah makan, dia melihat ke sekeliling, dalam hatinya berkata: 'Walaupun seorang pemetik kecapi tidak ada kedudukan makan

di pekarangan besar depan, tapi ada kebebasan melihat-lihat di

belakang pekarangan kecil."

Sorot mata dia melihat sekelilingnya, tampak para pegawai berlalu lalang, seperti sebuah kota saja, semua orang sibuk, ada yang membawa masakan, ada yang mengambil arak, terlihat sangat sibuk. Dia melihat-lihat ke kiri, lalu melihat-lihat lagi ke kanan, mendadak ada orang yang menepuk bahu-nya, lalu berteriak:

"Hey, setelah kenyang harus pergi!" Sin-hiong tidak berkata, sambil membawa kecapi mengikuti orang itu berjalan keluar.

Tiba di pekarangan depan, keadaan disini ramai sekali, suaranya terdengar ribut sekali, pembicaraan orang-orang ini, semua tertuju dengan munculnya Kim-kau-kiam di dunia persilatan hari-hari terakhir ini.

Diam-diam Sin-hiong merasa heran, di dalam hati pikir, 'kabar yang mereka dengan sangat cepat!'

Orang yang membawa jalan menunjuk ke sisi sebuah dinding, lalu berkata:

"Kau duduk dulu di sana, tiba saatnya aku akan memanggilmu!"

Sesudah berkata begitu, dia lalu pergi melaku-kan kesibukannya.

Pelan-pelan Sin-hiong berjalan ke sisi dinding, tempat ini kurang di perhatikan orang, hanya ada dua tiga orang yang duduk disana, setelah dia duduk, terdengar salah seorang dari tiga orang itu berkata:

"Lo-tiang, mereka mengatakan orang yang menggunakan Kim- kau-kiam itu adalah seorang anak muda, kulihat bukan begitu."

Orang lainnya bertanya:

"Bagaimana kau tahu bukan?"

Orang yang berkata tadi, belum sempat bicara, orang yang duduk disebelah kiri sudah melanjutkan perkataannya:

"Tentu saja bukan, Kim-kau-kiam adalah senjata yang biasa digunakan Liong-koan-hong, jika dia masih hidup, paling tidak sudah berusia delapan-sembilan puluh tahun, bagaimana mungkin bisa seorang anak muda?"

Pada saat ini, mendadak orang yang pertama bicara bersuara heran, sambil terkejut berkata: "Apa? San-lam-siang-siong pun datang kemari (Sepasang penjahat dari San-lam)!"

Sin-hiong melihat ke arah yang ditunjuk, terlihat di gerbang pintu, masuk dua orang, dua orang ini yang satu memakai baju hitam yang satunya lagi memakai baju putih, wajahnya bengis sekali, mereka adalah Lai-ta dan Lai-sun bersaudara yang sangat ternama dari golongan hitam.

Ketiga orang yang sedang berbincang-bincang itu melihat Lai bersaudara masuk ke dalam ruangan, wajah mereka jadi sedikit berubah, yang lainnya bertanya:

"Siapa nenek tua buruk rupa yang duduk di meja utama itu?"

Dua orang itu menggeleng-gelengkan kepala, salah satunya berkata:

"Nenek tua ini wajahnya jelek sekali, aku tidak pernah mendengar orang mengatakannya."

Ketika tiga orang ini berbincang-bincang, Sin-hiong duduk di pinggir dengan tenang mendengarkan sambil melihat-lihat, tapi orang yang dibicarakan mereka, satu pun dia tidak ada yang kenal.

Tidak lama kemudian, terdengar suara gemu-ruh tepuk tangan, lalu ada orang berteriak:

"Oey-pangcu sudah tiba!"

Sin-hiong melihat dari ruang belakang jalan keluar saru orang, perawakan orang ini gemuk pendek, usianya sekitar empat puluhan, wajahnya terlihat pintar dan gesit.

Saat ini Oey-pangcu ini sudah tiba di kursi utama, dia memberi hormat ke sekeliling, dengan logat Suchuan berkata:

"Hari ini adalah peresmian pembukaan Hui-hong-pang kami (Perkumpulan burung Hong terbang) sahabat-sahabat banyak yang datang dari berbagai tempat, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghormat, aku bersulang dulu tiga gelas besar." Sesudah berkata, dia langsung minum habis dulu tiga gelas arak, semua orang pun ikut minum araknya sampai habis.

Diam-diam Sin-hiong merasa heran, di dalam hati berpikir: 'Orang ini jelas orang Suchuan, kenapa lari kemari menjadi ketua

sebuah perkumpulan?

Begitu dia melirik, terlihat orang yang membawa jalan tadi berlari menghampiri, teriaknya:

"Saudara, giliranmu, giliranmu, nanti kau alunkan lagu keberuntungan."

Sin-hiong menganggukan kepala, bangkit berdiri lalu dengan langkah besar berjalan menuju lapangan.

Di tengah lapangan disediakan sebuah kursi sandaran, kelihatannya khusus untuk pemetik kecapi, saat ini puluhan pasang mata berfokus pada dia. Setelah Oey-pangcu berkata, lalu menyambung lagi:

"Hari ini tidak ada acara untuk menyambut tetamu, aku sengaja mengundang seorang pemetik kecapi, sambil dia memetik kecapinya, kita makan-makan, untuk menambah selera kalian."

Di lapangan kembali terdengar suara gemuruh tepuk tangan, setelah Oey-pangcu berkata, lalu melambaikan tangannya, mengisyaratkan Sin-hiong untuk mulai memetik kecapinya, Sin- hiong menghirup nafas panjang, dalam hatinya berpikir:

'Dalam situasi seperti ini, aku tidak akan mengatakan jati diriku, entah kalian akan mengeluarkan permainan apa lagi?

Saat dia memetik kecapinya, terdengar suara "Ting ting!", suara kecapi sudah keluar dari jari nya.

Nada yang dia petik adalah nada yang rendah sekali, ternyata dia hanya menggunakan satu senar, keadaan yang tadinya terasa gembira, setelah suara kecapi dia keluar, suasana mendadak berubah besar! Begitu suara kecapi pelan-pelan mengalun, semua orang jadi menahan nafas, tadinya orang-orang masih bisa tenang mendengarkan, tapi kebelakangan, telinga mereka seperti berubah jadi mata, di depan mata mereka tampak sebuah gambar.

'Di malam hujan salju, angin bertiup kencang, seorang anak kecil sendirian sempoyongan berjalan di atas salju, bajunya tipis, sepasang matanya berlinang air mata, dunia yang semuanya putih ini, tidak tahu dirinya harus pergi kemana?'

Musik mengalun, karena gambarannya sangat mengharukan, hati semua orang di lapangan jadi terkunci erat-erat oleh suara kecapi yang amat melangsa ini, malah ada yang mencucurkan air mata.

Kira-kira lewat sekitar seperminuman segelas teh panas, suara kecapi mendadak berhenti, orang-orang di seluruh lapangan yang mendengarkan dengan tenang, semuanya mengeluarkan suara keluh-an, di dalam hati sangat bersimpati pada kejadian yang menimpa anak ini, mereka lupa bertepuk tangan, juga lupa pada dirinya sekarang berada dalam situasi bagaimana, dalam sesaat, kau pandang aku, aku pandang kau, diam tidak bergerak sambil memegang gelas arak, wajahnya nampak seperti sudah terpengaruhi oleh suara kecapi.

Sin-hiong tertawa tawar, berkata:

"Pangcu, apa perlu sebuah lagu lagi?"

Begitu kata-kata ini keluar, semua orang baru sadar, seperti baru bangun dari tidur, hati setiap orang menjadi terkejut!

Harus diketahui, seorang yang berilmu tinggi, biasanya tidak memerlukan senjata apa pun, hanya dengan suara kecapi sudah bisa mempengaruhi jiwa lawan, jika suara kecapi melantunkan lagu gembira, maka orang yang mendengarkan akan terus tertawa terbahak-bahak tidak henti-hentinya, jika yang dilantunkan adalah lagu sedih, semua orang akan menjadi sedih karenanya, tadi Sin- hiong sudah menunjukan ilmunya ini.

Belum sempat Oey-pangcu menjawab, terlihat di meja utama melayang keluar dua orang, salah satunya berteriak: "Saudara Tiong-koan jangan terkena tipunya!"

Semua orang melihat, orang yang berkata ini adalah Lai-ta saudara tua dari San-lam-siang-siong, dan yang satu lagi adalah adiknya Lai-sun, saat ini dua bersaudara itu sudah melepaskan senjata San-ciat-kun (tongkat tiga bagian), yang satu tangan kiri yang satu tangan kanan, pelan-pelan mendesak ke arah Sin-hiong.

"He he he!" Lai-sun tertawa, "Siapa kau bocah? Apa tidak melihat dulu tempat apa ini, aku akan menghukummu karena lancang memamerkan ilmu silatmu di depan pesilat tinggi."

Sin-hiong tidak mempedulikan, dia hanya melirik dengan sudut matanya, dua jarinya memetik kecapi dengan pelan, tidak menunggu orang menyuruh, dia kembali melantunkan lagu.

Kali ini, nada yang dilantunkannya sangat menusuk telinga, semua orang setelah mendengarnya, jadi gelisah, orang yang ilmu silatnya kurang tinggi sudah tidak bisa duduk dengan tenang, mereka berjalan berputar-putar di tempat itu.

Melihat itu, San-lam-siang-siong tidak tahan jadi naik pitam, dua orang itu bersamaan terbang, San-ciat-kun (pemukul 3 ruas) dari kiri dan kanan menyapu ke arah kecapi kuno Sin-hiong!

Lai bersaudara tidak percuma disebut orang paling hebat di aliran hitam, begitu senjata mereka menyerang, tidak ada celah sedikitpun, walaupun Sin-hiong menghindar ke arah mana, tampaknya tidak akan lolos dari sapuan senjata kedua orang itu!

Orang yang tadi membawa Sin-hiong sudah ketakutan sampai wajahnya pucat pias, di dalam hati berpikir:

'Celaka, bagaimana aku bisa membawa masuk orang yang membawa mala petaka ini?

Sin-hiong dengan tenang masih memetik kecapinya, ketika dua senjata datang menyapu, dia seperti tidak melihatnya, tiba-tiba irama kecapi berubah, berubah berirama peperangan. Di saat dua senjata San-ciat-kun itu hampir mengenai kecapi kunonya, terlihat tubuh dia sedikit mengangkat, suara kecapi belum putus, orangnya sudah meloncat ke atas, dua jurus yang dahsyat ini, tepat melewati bawah tubuhnya!

Semua orang-orang di lapangan juga jadi terkejut kerenanya! Begitu serangan San-lam-siang-siong tidak mengenai sasaran,

kedua orang itu menarik lengannya dan merubah jurus, baru saja tubuh Sin-hiong turun ke bawah, kedua orang itu sudah menghantam dengan dahsyat!

Sin-hiong tetap tenang, dia tidak membalas serangan, tampaknya tugas dia sebagai pemetik kecapi masih belum selesai, jarinya terus memetik senar, irama peperangan yang keluar bertambah keras.

Jurus kedua dari Lai bersaudara sudah diperhitungkan dengan tepat, tempat mundurnya Sin-hiong, maka begitu mereka menyerang, tidak tahan bersama-sama berteriak:

"Kau mau lari kemana lagi?"

Sin-hiong tidak bergerak, menunggu angin yang dibawa San-ciat- kun tiba, terlihat tubuhnya kembali terangkat, malah menerobos keluar dari celah kedua senjata itu, serangan kedua orang itu kembali tidak mengenai sasaran.

San-lam-siang-siong berteriak "Heh!", di dalam hati kedua orang itu merasa penasaran sekali, sebelum tubuh Sin-hiong turun, senjata kedua orang itu sudah kembali datang menyerang!

Kecapi masih tetap mengalun, nadanya tambah cepat dan menusuk telinga, begitu dua senjata datang menyapu, bayangan Sin-hiong berkelebat dua kali di udara, ujung kaki dihentakan di atas senjatanya Lai bersaudara, orangnya sudah melayang ke samping, tepat turun di atas kursi utama.

Wajah Pangcu Hui-hong-pang berubah, dia membalikkan tangan mencoba mencengkram sambil berteriak:

"Siapa kau sebenarnya!" Sin-hiong menghentikan memetik kecapinya, sambil tersenyum dia berkata: "Pemetik kecapi!"

Setelah berkata, orang berikut kursinya mundur ke belakang, sehingga Oey Tiong-koan tidak berhasil menangkapnya!

Ketika Sin-hiong mundur, tepat ke samping si nenek tua yang buruk rupa itu, terlihat keriput di wajah dia bergerak-gerak, dengan suara seperti bebek liar dia membentak:

"He he he, kau tentu Kim-kau-kiam-khek yang disebut-sebut itu bukan? aku Thian-ku-nio-nio ingin mencobamu (Nenek langit cacad)!"

Setelah berkata, dia menjulurkan tangan kiri, berturut-turut tiga kali menghantam Sin-hiong!

Ternyata orang ini hanya punya sebelah tangan, hanya saja ketika dia menyebut julukannya, semua orang jadi tergetar, setan besar dari gunung Kiu-hoa sudah datang, bakal ramailah pertunjukan ini!

Sekarang Sin-hiong diserang dari dua arah, tapi dia tidak gentar, tangan kanan sambil menangkis balik menyerang, juga dengan dahsyat membalas tiga jurus, dia tertawa sambil berkata: "Permisi!"

Setelah berkata, tubuhnya sudah melayang ke arah pintu!

Di dalam hati Sin-hiong berkata, 'tidak peduli orang-orang ini dari aliran lurus atau aliran sesat mereka sedikit pun tidak ada hubungannya dengan dirinya, setelah tugasnya sebagai pemetik kecapi selesai, berarti diapun harus meninggalkan tempat itu!'

Baru saja dia melayang ke samping pintu, mendadak satu bayangan merah berkelebat masuk, orang ini seperti terburu-buru, hampir saja menabrak-nya.

Semua orang melihat, orang yang masuk ini ternyata adalah seorang nona berbaju merah berusia tujuh-delapan belas tahun, tapi tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Mata besar nona berbaju merah itu berputar, tubuhnya sudah melesat ke samping, gerakannya gesit sekali.

Sin-hiong sudah turun ke bawah, diapun melihatnya sekali, lalu berkata:

"Hebat sekali gerakan nona, hampir saja kita bertabrakan!"

Nona berbaju merah melototi dia sekali, sorot matanya tertuju pada kecapi kuno Sin-hiong, tanyanya:

"Kau tadi yang memetik kecapi?"

Sin-hiong menganggukkan kepala, mendadak dia teringat satu hal, dia berjalan kehadapan Pangcu Hui-hong-pang, Oey Tiong-koan dan berkata:

"Ketua, aku tadi melantunkan dua lagu, sebelumnya sudah sepakat harga satu lagu lima liang perak, kau masih belum membayar aku lho?"

Wajah Oey Tiong-koan terlihat buruk sekali, tapi tubuh Thian-ku- nio-nio yang duduk disisinya sudah bergerak, teriaknya:

"Tidak apa, asalkan kau bisa mengalahkan aku, lima puluh liang perak pun akan diberikan padamu!"

Dengan kesal Sin-hiong melihat dia, lalu berjalan ke depan orang yang tadi membawa dia masuk dan berkata:

"Saudara, bukankah tadi kita sudah sepakat, kenapa majikan kalian tidak mau membayar?"

Orang yang ditanya olehnya, tidak tahu harus berbuat bagaimana, saat ini di belakang tubuhnya terdengar ada dua bentakan keras dan ada bayangan orang berkelebat, Sin-hiong membalikan tubuh melihat, terlihat di udara ada dua orang sedang saling serang sejurus, lalu bayangan orang itu terpisah, dia seperti tidak mengerti apa yang telah terjadi, wajah orang-orang yang menonton pun tampak bengong.

Ternyata kedua orang yang barusan saling serang adalah Thian- ku-nio-nio dengan gadis berbaju merah yang baru saja datang. Nafas Thian-ku-nio-nio terlihat sedikit terengah-engah, sedangkan gadis berbaju merah itu sedikit pun tidak terlihat kelelahan, semua orang yang melihat keadaan ini, kembali memperlihatkan wajah yang terkejut.

Nama Thian-ku-nio-nio sangat termasyur, walau pun sepanjang tahun dia berada di gunung Kiu-hoa, tapi bayangannya seperti ada dimana-mana, apa lagi perbuatannya sangat kejam, maka orang- orang di dunia persilatan hampir tidak ada seorang pun yang tidak tahu nama besarnya, tidak diduga hari ini dia malah dikalahkan oleh seorang gadis muda yang belum punya nama, bagaimana hal ini tidak membuat semua orang terkejut?

Bulu mata panjang gadis itu berkedip sekali, dengan dingin berkata:

"Aku belum selesai bicara dengan dia, siapa yang suruh kau bertindak dulu, heh heh!"

'Dia' yang ditunjuknya tentu saja Sin-hiong, dan Sin-hiong yang mendengar jadi tertegun, dalam hatinya berpikir:

'Aku tidak kenal denganmu, apa yang ingin kau tanyakan? tampaknya masalah di dunia persilatan ini sangat aneh-aneh.'

Tampaknya Thian-ku-nio-nio masih tidak bisa menerima kekalahannya, tapi di dalam hati dia tahu, dalam bentrokan tadi, untung gadis berbaju merah itu tidak sungguh-sungguh menyerang dia, kalau tidak mungkin diri sendiri sudah mendapat luka. Pengalaman dia di dunia persilatan sudah banyak sekali, tapi dia justru tidak tahu siapa gadis ini?

Hari ini adalah peresmian Hui-hong-pang, Oey Tiong-koan tidak terduga bisa muncul dua orang muda-mudi yang ilmu silatnya begitu hebat, sekarang semua orang jadi tidak ingat akan maksud kedatangan nya, walau pun dia adalah tuan rumah, saat ini dia malah seperti menjadi seorang peran pembantu. Wajahnya menjadi sangat kesal dan tidak dapat ditutupinya.

Sin-hiong berjalan dua langkah, tanyanya: "Nona, kau mau bertanya apa, cepatlah, aku masih harus mengejar waktu."

Dengan wajah tersenyum manis gadis berbaju merah itu berkata: "Permainan kecapimu bagus, bagaimana kalau kau mainkan satu

lagu lagi?"

Sin-hiong menggelengkan kepala:

"Aku tidak mau main lagi, walaupun nona bersedia membayar sepuluh liang perak."

Setelah berkata, baru saja dia melangkah mau meninggalkan tempat itu, mendadak ada sinar perak berkelebat, sebilah pedang panjang sudah meng-hadang jalannya, gadis berbaju merah itu tertawa dan berkata:

"Boleh saja kau tidak memetik kecapi lagi, tapi tinggalkan kecapinya disini, biar di saat kesal aku bisa menghibur diri."

Sin-hiong memperhatikan dia sekali, dia merasa wajahnya sedikit mirip dengan Lam-goat-sian-ku, hatinya jadi tergerak, lalu dengan tenang dia berkata:

"Nona jangan main-main, aku adalah seorang pemetik kecapi dan kecapi adalah nyawaku, jika nona mau mengambil kecapi ini, bukankah sama dengan mengambil nyawaku?"

Gadis berbaju merah itu menggetarkan pedang panjangnya: "Betul, kecapi atau nyawa, pokoknya kau harus tinggalkan salah

satunya, jika tidak, aku sendiri yang akan mengambilnya!"

Kedua orang ini tadinya berbicara berjauhan, setelah berkata- kata jadi semakin mendekat, semua orang yang mendengar, baru sadar, ternyata gadis berbaju merah ini datang khusus untuk anak muda ini?

Dalam hati Sin-hiong pun sekarang tahu, gadis berbaju merah ini pasti ada hubungannya dengan Lam-goat-sian-ku, jika bukan begitu, dia tidak akan ada alasan mencari dirinya? Tapi, dia tetap memaksa menahan diri, berkata "Aku tidak ada dendam apa pun dengan nona!"

Mendadak gadis berbaju merah itu merubah nada bicaranya, dengan dingin berkata:

"Kau berturut-turut telah mengalahkan Ang-hoa-kui-bo dan Sian- souw-ngo-goat, kenapa dihadap-an aku, kau begitu pelit?"

Kata-kata ini begitu keluar, orang-orang di lapangan menjadi gempar!

Tadinya orang-orang hanya mendengar saja kabar bahwa Ang- hoa-kui-bo dikalahkan oleh Kim-kau-kiam-khek, semua orang masih sedikit tidak percaya, tidak diduga Sian-souw-ngo-goat yang nama- nya menggemparkan dunia pun ternyata telah dikalahkannya, kata- kata ini laksana guntur di siang hari bolong, menggetarkan hati puluhan pesilat tinggi di seluruh lapangan.

Sin-hiong menghela nafas panjang:

"Nona salah melihat orang, mana aku ada kemampuan sebesar itu?"

Sifat gadis berbaju merah seperti tidak sabaran, dia mendengus, tanpa berkata lagi pedangnya sudah disabetkan kepada kedua pergelangan tangan Sin-hiong!

Sin-hiong menghela nafas, wajahnya seperti mengatakan kenapa terus memaksa aku?

Tubuhnya segera dimiringkan, 'katanya dalam hati: 'Apa sulitnya menghindar seranganmu?'

Gadis berbaju merah mendengus lagi, ujung pedangnya digerakan mengejar, kemanapun Sin-hiong menghindar, ujung pedang dia terus membuntuti, jurusnya sangathebat dan tidak ada celahnya.

Sen Sin-hiong tidak bisa banyak berpikir lagi, kakinya di putar, tubuhnya melayang melewati beberapa orang, maksudnya dia mau meloloskan diri dari tempat itu. Siapa tahu, baru saja tubuhnya turun, ujung pedang gadis berbaju merah pun sudah datang menusuk lagi, dia tidak memberi nafas sedikitpun.

Walaupun gadis berbaju merah hanya menye-rang dua jurus, tampak dia masih belum mengerahkan seluruh kemampuannya, melihat ini Sin-hiong tidak terasa jadi menghela nafas, dalam hatinya berpikir:

'Ilmu silat wanita ini, rasanya tidak di bawah Ang-hoa-kui-bo' Setelah berpikir begitu, dua jarinya menyentil sambil berteriak:

"Sekarang aku tidak ada waktu berdebat denganmu, tunggulah setelah aku kembali dari Siauw-lim-si."

Selesai berkata, tubuhnya melesat ke depan! Baru saja tubuh dia melesat, mendadak di depan mata ada sinar perak berkelebat, segulung hawa dingin pedang secepat kilat mengikutinya!

Tanpa membalikkan kepala, telapak tangan Sin-hiong menghantam ke belakang:

"Mau bertarung atau membalas dendam, tidak perlu begini terburu-buru." Setelah berkata, dia merasa yakin kali ini pasti bisa memukul mundur jurus pedang gadis berbaju merah, tapi jurus pedang gadis berbaju merah ternyata lain dari pada yang lain, baru saja telapak tangan Sin-hiong memukul, ujung pedang gadis berbaju merah sudah hampir mengenai tangan dia yang sedang memegang kecapi. Sin-hiong jadi tersentak!

Tapi ilmu silatnya sangat tinggi, dalam keadaan bahaya ini dia tidak menjadi kacau, begitu lengan kanannya tidak mengenai sasaran, tangannya segera dibalikan, tahu-tahu Kim-kau-kiam sudah berada di tangannya.

Kecepatan gerakannya tidak bisa di bayangkan, setelah pedang pusakanya berada di tangannya, dia menyerang dengan jurus To- tha-kim-ciong (Memukul jatuh lonceng emas), kelebatan sinar perak langsung menyerang mengarah jalan darah Meh-bun gadis berbaju merah itu! Dalam kerumunan penonton tentu saja ada orang yang mengerti jurus ini, melihat kehebatan jurus pedang kedua orang ini, semua menghela nafas, sambil berkata:

"Sungguh pertarungan yang jarang terjadi dalam kurun waktu seratus tahun!"

Saat ini Thian-ku-nio-nio, San-lam-siang-siong dan Pangcu Hui- hong-pang, pelan-pelan bergerak menghampiri, Thian-ku-nio-nio yang tadi sudah dikalahkan oleh gadis berbaju merah, saat ini dia mengharapkan Sin-hiong bisa mengalahkannya, hingga kekesalan dia terbalas.

Lain lagi dengan San-lam-siang-siong, mereka sudah dikalahkan oleh Sin-hiong, di dalam hati tentu saja mengharapkan gadis berbaju merah yang menang, maka ketika tadi gadis berbaju merah berada diatas angin, hati mereka diam-diam merasa senang.

Gadis berbaju merah yang menusukan pedang panjangnya, tidak menduga serangan balik Sin-hiong bisa secepat ini, dia mendengus danberteriak:

"Gerakan hebat, jurus pedang hebat!"

Sesudah itu dia menggerakan tangannya, berturut-turut menyabetkan pedangnya tiga kali!

Maksud Sin-hiong menusukan pedangnya, adalah hendak mendesak supaya dia mundur, siapa sangka gadis berbaju merah itu tidak mau mengalah, selangkah pun dia tidak mau mundur, jurusnya di gerakan semakin dahsyat, dan pedangnya bergerak mengarah kepada bagian yang mematikan dari tubuh Sen Sin-hiong.

Sin-hiong masih muda, saat ini diapun tidak dapat menahan diri.

Tubuhnya diputar, dari depan dia membalas tiga jurus!

Wajah sigadis berbaju merah menjadi dingin seperti salju, pedangnya seperti naga bermain, berputar di sekeliling Sin-hiong, setiap jurusnya mematikan. Dalam sekejap mereka sudah bertarung tujuh-delapan belas jurus! Diam-diam Sin-hiong mengerutkan alisnya, dalam hatinya berpikir:

'Siapa sebenarnya dia ini, kenapa begitu bertemu dengannya langsung menyerang mati matian?”

Saat ini bulan sudah naik ke atas, puluhan orang di pekarangan menahan nafas, hanya San-lam-siang-siong yang tidak berdiam diri, mereka berdua pelan-pelan bergerak ke arah pintu, menjaga pintu kalau-kalau Sin-hiong mau melarikan diri.

Sin-hiong sudah menyerang beberapa jurus, tapi masih belum berhasil, melihat bulan sudah terbit, di dalam hati berpikir:

'Tidak peduli kau ini siapa, lebih baik kutinggalkan tempat ini.' Dia mengayunkan Kim-kau-kiam di tangannya danberteriak: "Nona, kita bertemu lagi di lain waktu!"

Ayunan pedangnya, kelihatannya tidak ada keistimewaan, tapi sudah dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, terdengar suara "Ssst!" jurus pedang gadis berbaju merah sudah ditangkis ke samping, tubuh Sin-hiong pun sudah bergerak ke pintu keluar!

Semua orang berteriak, tapi mendadak di mulut pintu berkelebat dua bayangan orang, San-ciat-kun dari San-lam-siang-siong sudah menghantam ke arah kepala Sin-hiong!

"Kalian masih penasaran?" Sin-hiong tertawa

Pedang pusakanya disabetkan, dan terdengar "Sst sst!" San-ciat- kun San-lam-siang-siong sudah tinggal setengah, menjadi sepotong!

Pangcu Hui-hong-pang tergetar, dia mengira Sin-hiong mau membunuh Lai bersaudara, maka dia berteriak:

"Jangan melukai tamuku!"

Tubuhnya meloncat ke atas, di udara dia memukul ke bawah!

Puluhan orang yang ada di dalam pekarangan, yang menjadi tamu hanya sedikit, kebanyakan mereka adalah ketua cabang Hui- hong-pang dari berbagai tempat, melihat ketuanya sudah turun tangan, mereka pun tidak bisa menahan diri lagi, semua mengangkat senjata, sambil berteriak mengurung Sin-hiong!

Sin-hiong menjadi marah, di dalam hati berpikir: 'Orang-orang ini betul betul tidak tahu diuntung, aku tidak mengusik kalian, malah kalian mencari gara-gara, he he he hari ini jika aku tidak menunjukan beberapa jurusku, mungkin kalian tidak tahu kelihayan- jurus Kim-kau-kiam aku?

Otak berputar, baru saja dia akan mengeluar-kan jurus Kim-kau- kiam yang hebat, di depan mata berkelebat satu bayangan merah, tubuh gadis berbaju merah sudah menerjang masuk ke dalam kelompok orang-orang itu!

Terlihat pedangnya berkelebatan, jerit kesakit-an terdengar dimana-mana, dalam sekejap dia sudah merobohkan tujuh-delapan orang.

Melihat demikian, bukan saja orang-orang Hui-hong-pang terkejut, Sin-hiong sendiri pun tidak mengerti! Jelas sekali dia tadi menyerang ingin membunuh Sin-hiong, kenapa mendadak berbalik membantu Sin-hiong.

Jurus pedang gadis berbaju merah tidak berhenti sampai disitu, ketika semua orang sedang bengong, kembali lima-enam orang sudah dirobohkan olehnya!

Melihat ini, hampir saja Oey Tiong-koan muntah darah saking marahnya, dia berteriak:

"Kalian ini sebenarnya mau apa?" Setelah berkata, berturut turut dia melancarkan serangan dengan telapak tangannya, angin pukulan tangannya sangat dahsyat, semua serangannya mengarah pada jalan darah kematiannya Sin-hiong dan gadis berbaju merah itu!

Thian-ku-nio-nio pun tertegun sejenak, di dalam hati merasa ada kejadian yang aneh sekali. Ketika dia mau bergerak membantu Oey Tiong-koan, mendadak terdengar Sin-hiong berteriak: "Ayo berhenti!"

Mana mungkin Oey Tiong-koan mau men-dengar perkataannya, pukulan pertama belum selesai, telapak kedua sudah menyusul memukul!

Sin-hiong berkelebat menghindar beberapa kali, lalu membentak: "Oey-pangcu, ayo berhenti, tidak ada seorang pun anakbuahmu

yang terluka!"

Oey Tiong-koan tertegun, saat ini kemarahan-nya sampai matanya pun menjadi merah, walau sudah tidak menyerang lagi, tapi dia dengan galaknya masih berkata:

"He he he, masih berani mengatakan tidak melukai orang, apa matamu sudah buta?"

Sesudah berkata, dia menggunakan jarinya menujuk, terlihat di tanah penuh dengan orang yang tergeletak, masing-masing mengeluarkan suara rintihan?

"Aku mau tanya di mana luka mereka?" tanya Sin-hiong tertawa.

Pertanyaan ini sungguh aneh sekali, jika orang orang ini tidak terluka, kenapa pada meriritih? Oey Tiong-koan tidak mengerti kenapa Sin-hiong menanya-kan ini, setelah diam sejenak, dengan kesalnya dia berkata:

"Jika mereka tidak terluka, mereka pasti sudah gila, begitu?"

Sin-hiong tersenyum, dia menyimpan pedangnya, lalu berjongkok memeriksa orang yang terluka, tidak lama kemudian, dua puluh orang lebih yang tergeletak di tanah sudah bangkit berdiri, sedikit pun tidak ada tanda-tanda terluka.

Oey Tiong-koan bengong, Sin-hiong tertawa lagi, lalu berkata: "Oey-pangcu, kata-kata aku tidak salah bukan! nona ini tidak

melukai satupun anakbuahmu!"

Oey Tiong-koan tidak bisa berkata apa-apa, setelah diam sejenak dengan mengeluh berkata: "Sudah, sudah, aku Oey Tiong-koan buat apa bercokol lagi di dunia persilatan?"

Dia putus asa, sebab dia bisa sampai tidak tahu, apa yang telah dilakukan oleh lawan, walaupun dia bisa duduk di kursi ketua perkumpulan ini, sudah tidak ada artinya lagi.

Gadis berbaju merah itu berkelebat, dia tertawa dingin pada Sin- hiong dan berkata:

"Hei, rupanya kau boleh juga, sekarang aku jadi penjahatnya, kau malah jadi orang baiknya, malam ini jika tidak mengetahui siapa yang lebih ungui, siapa pun jangan harap bisa meninggalkan tempat ini."

Sin-hiong memetik senar kecapinya, berkata: "Buat apa?"

Baru saja perkataannya berhenti, mendadak di luar pintu, masuk satu orang, baru saja melangkah masuk ke dalam gerbang sudah bertanya:

"Apa kau melihat Sen Sin-hiong?"

Sin-hiong jadi tergetar, terlihat orang ini rambutnya acak-acakan, wajahnya kuning, kotor oleh tanah, sorot matanya kaku, wajah kuning, kelihatan-nya tidak seperti manusia, Sin-hiong yang melihat, hampir saja berteriak.

Ternyata orang ini adalah Sun Cui-giok. Sejak malam itu Sen Sin- hiong pergi meninggalkan Sun Cui-giok, Ho Koan-beng dan gurunya pun pergi, dia terus mengejar Sen Sin-hiong dari belakang, kuda yang ditunggangi Sin-hiong adalah kuda tercepat, ditambah sengaja menghindarinya, maka walaupun Sun Cui-giok yang sudah mengejar semalaman, tapi bayangan Sin-hiong pun sedikit pun tidak terlihat.

Tapi dia masih tidak putus asa, sebab dia punya banyak kata- kata yang ingin diutarakan, jika tidak bisa bertemu dengan Sin- hiong walaupun mengejar sampai ke ujung dunia dia tetap akan mengejarnya, tapi disaat dia mengejar keluar, uang di tubuhnya hanya tinggal satu dua tail tembaga saja, hari pertama dia masih bisa lewat, tapi setelah hari kedua dia sudah tidak mampu lagi, sepanjang jalan dia tidak makan, tidur berselimutkan langit, setelah lewat dua hari, tubuhnya sudah tidak menyerupai orang lagi.

Sun Cui-giok beberapa kali ingin kembali lagi ke rumah, tapi setelah dipikir-pikir, sepuluh tahun ini dia mengira Sin-hiong sudah mati, tidak terduga Sin-hiong masih hidup dan sehat wal afiat, maka di saat hatinya goyah, akhirnya bertekad meneruskan pengejarannya.

Permulaan satu dua hari, dia masih bisa dengan tenang mencari menelusuri jalan, setelah hari ketiga, dia sudah tidak tahan kelaparan dan kedinginan, di tambah hatinya sangat gelisah, maka dengan tidak sadar pikirannya menjadi kacau, setiap dia bertemu dengan orang langsung ditanya, "Apa kau melihat Sen Sin-hiong?" orang-orang melihat pikiran-nya sedang kacau, semuanya menganggap dia orang gila, maka dengan sembarangan saja menggeleng-gelengkan kepala lalu pergi.

Mungkin langit kasihan melihat dia begitu rupa, sebab jika Sin- hiong berniat pergi, jangan kata dia, gadis berbaju merah itupun tidak akan bisa menahannya, walau seluruh orang dilapangan menghadangnya, mungkin juga tidak akan bisa menahannya, jadi Sun Cui-giok kembali akan menemui kegagalan.

Sun Cui-giok masuk ke dalam, dengan bengong melihat pada orang-orang, kembali berkata: "Apa kau melihat Sin-hiong?" Keadaan di dalam pekarangan tadinya sangat tegang, begitu dia muncul, semua orang memandang dia dengan sorot mata terkejut, situasi yang tegang menjadi reda, semua orang bengong saling pandang, tidak tahu siapa orang yang dia cari itu?

Sen Sin-hiong merasa terharu, di dalam hatinya berpikir:

'Demi mencari aku, dia bertekad menempuh perjalanan ribuan li, tidak hanya itu, kelihatannya dia pun sudah meninggalkan Ho Koan- beng.'

Sesaat, Sin-hiong merasa menyesal sekali, mendadak dia maju ke depan menarik Sun Cui-giok, berkata: "Nona Sun, kenapa kau sampai jadi begini?"

Semua orang yang melihat, mendadak hatinya jadi terkejut, ada orang berteriak terkejut dan berkata:

"Aah! Kim-kau-kiam-khek Sen Sin-hiong?"

Sen Sin-hiong tidak mempedulikan semua ini, setelah dia memanggil sekali, sorot sepasang mata Sun Cui-giok masih terlihat kosong, dia kembali bertanya:

"Apa kau melihat Sen Sin-hiong?"

Sin-hiong jadi emosi, dengan keras berkata:

"Nona Sun, aku ini Sen Sin-hiong!"

Mendengar ada orang menyebut Sen Sin-hiong, otot wajahnya menjadi kejang-kejang sesaat, dia berkata lagi:

"Kau melihat Sen Sin-hiong?"

Sin-hiong hanya merasa seluruh tubuhnya tergetar, melihat keadaannya, Sun Cui-giok pasti terkena penyakit yang sulit diobati, penyakit ini ditimbulkan oleh dirinya, dia tidak bisa menahan diri, air mata sudah bercucuran.

Harus diketahui, sejak kecil dia sudah banyak menerima hinaan orang sehingga sifat dia berubah jadi dingin, tapi sebenarnya di lubuk hati dia, kasih sayang-nya seperti api membara, saat dia dalam keadaan sulit sebesar apa pun, walau ingin menangis, mungkin dia masih bisa memaksa menahannya, hanya saja sekarang, setelah Sun Cui-giok demi dia melepas-kan segalanya, sampai wajahnya menjadi demikian tidak karuan, perasaan yang sudah lama ditekannya mendadak meletus hebat seperti gunung berapi, walaupun di sekelilingnya lebih banyak orang lagi, dia pun tidak akan peduli, menangis sepuas-puasnya.

Gadis berbaju merah melihat kejadian ini dari samping dia salah mengerti, mengira Sin-hiong adalah seorang yang tidak tahu diuntung, sehingga membuat Sun Cui-giok jadi begini rupa, dia mengangkat pedang nya dan berteriak: "Aku akan membunuh dulu kau orang yang tidak tahu diuntung ini, untuk menghibur hati nona ini!"

Sinar pedang begitu keluar, pedangnya dengan dahsyat sudah datang menyabet!

Sin-hiong berdiri disana tidak bergerak, jangan dikata, saat ini. bersama dengan Sun Cui-giok seperti sudah kehilangan perasaannya, walaupun saat ini dia sedang dalam keadaan segar bugar, mungkin dia pun tidak ingin melawannya!

Dia merasa sangat bersalah pada Sun Cui-giok, dulu Sun Cui-giok pernah menolong dan membantu dia, memperhatikan dia, sekarang ini walaupun samar-samar namanya sudah menggemparkan dunia persilatan, tapi, dia sedikit pun tidak bisa melupakan Sun Cui-giok!

Serangan pedang gadis berbaju merah ini selain cepat juga keji, dalam sekejap mata sudah tiba di bahu kanannya Sin-hiong.

Sin-hiong masih tidak bergerak, kelihatannya dia sudah pasrah menerima tusukan pedang ini.

Orang-orang di dalam pekarangan semuanya berteriak terkejut, mereka tidak sempat beraksi, sebab jurus pedang gadis berbaju merah ini terlalu cepat, walaupun ada orang ingin mencegahnya, mungkin juga sudah terlambat, mendadak terdengar suara robekan kain yang keras, akhirnya gadis berbaju merah tidak tega, dia menyabetkan pedangnya. membuat baju atas Sin-hiong menjadi robek yang besar sekali.

Sin-hiong hanya memegang erat-erat tangan Sun Cui-giok, sedikit pun tidak melepaskannya, saat ini di depan matanya hanya ada Sun Cui-giok saja, walaupun langit runtuh, dia tidak akan mengerutkan alisnya, apalagi gadis berbaju merah itu hanya menyabetkan pedangnya.

Sekarang apapun tidak dia pedulikan, dengan tangan kiri memegang kecapi kuno, tangan kanannya menarik Sun Cui-giok, berlari keluar pintu.

Kali ini gadis berbaju merah tidak menghalanginya, tapi begitu Sen Sin-hiong pergi, dia pun ikut berlari keluar pintu.

Saat ini di dalam pekarangan masih banyak orang, tapi tidak ada satu orang pun yang mencoba menghalangi mereka, semua orang mengantar pesilat tinggi muda itu pergi dengan sorot matanya, di dalam hati mereka terbayang mungkin ketiga orang muda mudi ini, sedang terlibat dalam asmara.

Sen Sin-hiong keluar dari kampung itu, hatinya terasa berat sekali, sekarang, dia harus berusaha menyembuhkan penyakit Sun Cui-giok, dia membawa kudanya, menaikan Sun Cui-giok ke atas kuda, Sun Cui-giok tampak masih bengong, bolak-balik mengata- kan pertanyaan itu-itu saja, Sin-hiong tidak mempeduli kan, dia sendirian berjalan di depan menelusuri Huang-ho.

Sekarang angin dan ombak sudah mereda, tapi karena arusnya sangat deras, di sekitarnya masih sulit terlihat ada perahu.

Kedua orang itu berjalan sejenak, mendadak, Sin-hiong merasa di belakannya seperti ada sesuatu, dia membalikan kepala melihat, entah kapan, gadis berbaju merah itu sudah membuntutinya dari bela-kang.

Tadinya Sin-hiong masih membiarkan, tapi setelah berjalan beberapa saat, gadis berbaju merah itu masih terus mengikutinya, berjarak kurang lebih sepuluh tombak, ketika Sin-hiong menghentikan langkahnya, gadis berbaju merah itupun ikut berhenti, begitu Sin-hiong berjalan ke depan, dia pun ikut berjalan lagi, seperti orang yang sedang mengawasi dia saja, selalu membuntuti dia berjarak sepuluh tombak, tapi tidak bicara sepatah katapun.

Bulan sudah naik tinggi, bumi jadi terang benderang, di dalam hati Sin-hiong berpikir:

'Wanita ini aneh sekali, ada urusan apa dia terus mengikuti aku?"

Gadis berbaju merah tidak bicara, Sin-hiong pun malas menyapanya, mereka dia tidak bicara terus berjalan ke depan, entah berapa lama, di depan mendadak ada sebuah kali yang jernih, hati Sin-hiong tergerak, pikirnya:

'Melihat keadaan nona Sun seperti ini, jika siang hari terlihat orang, mungkin akan membuat orang menjadi curiga, aku harus merapihkan dia terlebih dulu.'

Berpikir sampai disini, dia lalu menurunkan Sun Cui-giok dari atas kuda, membasahi sedikit kain, seperti seorang ibu yang penuh kasih sayang, dia membasuh wajah dan tangannya Sun Cui-giok, sambil bertanya:

"Nona Sun, apa kau merasa baikan?"

Sepasang mata Sun Cui-giok menatap ke depan, walaupun Sin- hiong ada di sampingnya, dia tetap bertanya:

"Apa kau melihat Sen Sin-hiong?"

Sin-hiong jadi menggeleng-gelengkan kepala tidak bisa berbuat apa-apa, sambil menghela nafas dia berkata:

"Hay, bagaimana ini bisa menyalahkanku?" Dia terpikir:

'Tidak seharusnya Ho Koan-beng membiarkan Sun Cui-giok sendirian mencari dirinya, tapi... bagaimana dia bisa tahu keadaan sebenarnya, saat ini walaupun Ho Koan-beng sangat jauh, mungkin dia saat inipun sedang memandangi bulan sambil bersedih.

Setelah wajah Sun Cui-giok dibasuh, walaupun tampak sedikit lebih baik, tapi tetap tidak bisa menutupi penderitaannya, Sin-hiong berpikir:

'Malam ini lebih baik aku beristirahat disini, besok baru mencari tabib untuk mengobatinya.'

Sorot matanya tidak sengaja menyapu, terlihat gadis berbaju merah itupun menghentikan kudanya, berdiri disana tidak bergerak, Sin-hiong yang melihat, di dalam hatinya berpikir:

"Orang ini mengikuti aku terus; mungkin ada niat tidak baik."

Walaupun Sin-hiong tidak takut, tapi demi Sun Cui-giok, tentu saja tidak bisa tidak dia harus meningkatkan kewaspadaannya, dari atas pelana dia mengambil sebuah baju dan menggantinya, lalu bersama Sun Cui-giok menyandar ke pohon beristirahat, tidak mempedulikan gadis berbaju merah itu lagi.

Setelah lewat beberapa saat, mendadak ter-dengar lengkingan suara di udara, suaranya mirip sekali dengan suara seruling, hanya saja lagunya amat memilukan, membuat orang yang mendengarnya jadi timbul perasaan sedih.

Sin-hiong sedikit menaikan tubuh atasnya, terlihat gadis berbaju merah itu sedang duduk di atas batang pohon, mulutnya sedang meniup seruling, suara seruling yang memilukan itu meluncur dari atas ke bawah.

Sin-hiong menggeleng-gelengkan kepala, dalam hatinya berpikir: 'Wanita ini benar-benar aneh, sesudah meng-ikuti aku setengah

harian, tapi malah tidak mau mendekati aku, sekarang malah duduk diatas pohon meniup seruling, apakah dia ingin bertanding dengan kecapi kunoku?"

Dia masih berjiwa muda, keinginan untuk selalu menang masih besar, hanya saja begitu dia melihat ke atas, bulan sudah miring ke barat, sambil menggeleng-kan kepala, di dalam hati dia berpikir:

'Dia tidak mengganggu aku, buat apa aku mempedulikannya? Berpikir sampai disini, lalu dia pura-pura tidak memperhatikan,

dia menyandar ke pohon seperti tertidur.

Saat membuka matanya, langit di ufuk timur sudah memutih, buru-buru dia membopong Sun Cui-giok, ketika melihat ke atas pohon, gadis berbaju merah kemarin malam itu entah sudah pergi kemana?

Tanpa mempedulikannya, dia membopong Sun Cui-giok naik ke atas kuda, di jalan masih belum ada orang, maka dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh dia bisa berlari dengan cepat.

Setelah matahari terbit, Sin-hiong baru melambatkan larinya, ketika berjalan tiba-tiba dia melihat di atas jalan ada beberapa tulisan.

Sin-hiong melihat, yang ditulis diatas jalan adalah: "Jika ingin menyembuhkan penyakit lupa ingatan, harus mencari Ong Leng."

Sesaat dia tertegun, tidak tahu apa tujuan surat ini? tulisan itu tidak diambil di hatinya, dia kembali pelan-pelan berjalan ke depan.

Siapa sangka, baru berjalan tidak jauh, kembali dia melihat lagi tulisan tadi, dia adalah orang yang sangat pintar, setelah berpikir, tidak terasa di dalam hati berkata:

'Apakah penyakit nona Sun ini disebut penyakit lupa ingatan? Kalau begitu, hanya orang yang dipanggil Ong Leng saja yang bisa menyembuh-kan."

Berpikir sampai disini, timbul pertanyaan berikutnya, dunia begini luasnya, ke mana harus mencari seorang yang tidak kenal ini? Dan siapa orang yang menulis surat ini, semua harus diselidiki dulu.

Dalam sesaat, dia menjadi ragu-ragu, sia memutuskan, lebih baik aku berjalan kg depan dulu.

Berjalan tidak jauh, tampak di depan ada sebuah rumah, maka dia mempercepat langkahnya, ketika dia hampir masuk ke mulut jalan, mendadak di belakang ada suara kuda berlari, dia membalikan kepala melihat ke belakang, tampak gadis berbaju merah kemarin malam, entah kapan sudah kembali mengikuti dia dari belakang.

Tadinya Sin-hiong mengira dia sudah pergi, tidak di sangka dia bisa kembali muncul disini, jika mengatakan dia berniat tidak baik, tapi dia tidak terlihat beraksi, jika mengatakan dia berniatbaik, tapi satu patah katapun tidak bersuara, hal ini jadi mem-buat Sin-hiong jadi kebingungan.

Sin-hiong melihat, tapi tidak mempedulikan-nya, tiba di jalan raya, dia lalu mencari sebuah penginapan, memesan dua kamar, setelah mengantar Sun Cui-giok ke dalam kamar, terlihat gadis berbaju merah itupun sudah tiba di depan penginapan. Semua ini membuat Sin-hiong tidak tahu harus berbuat bagaimana, terpaksa dia berpura-pura tidak melihatnya, dia mencari meja yang jauh dan duduk disana, seorang palayan datang dan bertanya:

"Siauya ingin makan apa?"

Sin-hiong sembarangan menyahut:

"Satu porsi goreng udang saja!" "Masih ada yang lainnya?"

"Itu saja!" kata Sin-hiong sambil menggeleng-kan kepala.

Saat ini, gadis berbaju merah sudah masuk ke dalam, pelayan itu sambil membawa daftar makanan berjalan ke depan dia dan bertanya:

"Nona mau pesan apa?"

Gadis berbaju merah berkata tawar:

"Satu porsi goreng udang."

Pelayan tertegun, kembali bertanya:

"Masih ada yang lainnya?"

"Itu saja" kata gadis berbaju merah sambil menggelengkan kepala

Pelayan itu membelalakan matanya besar-besar, baru saja berjalan dua langkah, dia membalikan kepala melihat pada kedua orang itu, lalu berteriak ke dalam:

"Dua porsi udang goreng!"

Sin-hiong bingung, wanita ini terus mengikuti dirinya sejak kemarin malam, entah ada tujuan apa, sekarang malah mesanan makanannya juga sama dengan dirinya sendiri, jika bukan bertujuan tertentu, pasti sengaja mempermainkan dirinya!

Pikir sampai disini, dia tidak dapat menahan diri melihat sekali padanya, gadis berbaju merah itu pun ternyata sedang memandang dia, diam-diam Sin-hiong mengeluh, buru-buru membalikkan kepalanya.

Pelayan itu mengantarkan dua porsi udang goreng, menaruh satu porsi di masing-masing meja, Sin-hiong tidak menunggu pelayan bertanya, sudah berkata:

"Satu porsi nasih putih!"

Sambil tersenyum pelayan itu berjalan ke depan gadis berbaju merah dan berkata:

"Nona apa kau juga mau satu porsi nasi putih?"

Gadis berbaju merah itu menganggukan kepala, pelayan itu dengan perasaan geli, pergi dari tempat itu.

Sin-hiong melihat dia selalu meniru gerakan-nya, dia tidak bisa berbuat apa-apa, di dalam hati berkata:

'Nanti saat aku mencari tabib, apa kau juga mau mengikutinya?'

Pelayan itu sudah mengantarkan nasi putih, dia dengan cepat hampir menghabiskan tiga mangkuk, siapa tahu saat dia menaruh mangkuknya, gadis berbaju merah itupun baru saja menghabiskan makannya.

Sin-hiong tertegun, didalam hatinya berpikir: 'Kau masih akan memakan dua mangkuk lagi. Saat itu dia tidak mempedulikannya lagi, dia menaruh uang perak di atas meja, berkata pada pelayan:

"Aku tidak tahu akan tinggal berapa lama disini, tolong terima dulu lima liang perak ini, nanti baru diperhitungkan."

Pelayan itu menyahut sekali, Sin-hiong tidak memandang lagi pada gadis berbaju merah itu, langsung berjalan keluar pintu penginapan.

Berjalan tidak jauh, akhirnya dia tidak bisa menahan diri, dia kembali menoleh ke belakang, benar saja, kali ini gadis berbaju merah itu tidak meng-ikutinya, dia baru merasa tenang, dia bertanya-tanya di sepanjang jalan, tapi tidak bisa menemukan seorang tabib pun.

Sin-hiong merasa keheranan, akhirnya dia menghadang seorang pejalan kaki dan bertanya:

"Mohon bertanya saudara, apakah di tempat anda ini satu tabib pun tidak ada?"

Orang itu memperhatikan dia dari atas ke bawah, balik bertanya: "Apakah saudara baru kali ini datang kemari?" Sin-hiong

menganggukan kepala, orang itu tertawa lalu berkata:

"Kalau begitu, aku beritahu, lima belas li dari sini ada seorang Sai-hoa-to (Menandingi Hoa-to = tabib ternama di zaman dahulu) tabib Ong, beliau ada disana, jika disini ada tabib pun tidak akan ada pasiennya."

Sin-hiong terkejut, di dalam hatinya berpikir:

'Apakah tabib Ong ini adalah tabib Ong Leng itu?' Kalau begitu tulisan di atas jalan itu benar adanya, saat itu dia berkata lagi:

"Mohon tanya tabib Ong itu, apakah namanya tabib Ong Leng?"

Wajah orang itu jadi serius, sambil melototkan matanya berkata marah:

"Jika kau sudah tahu, kenapa masih bertanya lagi, hemm... hemm... kurang ajar?"

Sesudah berkata begitu dia menghentakan kakinya, dengan marah meninggalkan dia.

Untung saja Sin-hiong sudah tahu tempatnya tabib Ong Leng, melihat waktu sudah tepat tengah hari, dalam hatinya berkata:

'Jarak lima belas li tidaklah terlalu jauh, masih ada waktu untuk pulang pergi.'

Keluar dari mulut kota, orang-orang di jalan tidak terlalu banyak, dengan cepat Sin-hiong berlari, jarak lima belas li tidak lama sudah sampai, saat dia menghentikan langkahnya, di depan mata ada beberapa rumah.

Dia melihat sekelilingnya, di depan datang seorang tua yang rambutnya sudah fiutih, maka dia maju ke depan dan bertanya:

"Mohon bertanya Lopek, dimana tabib Ong tinggal?"

Orang tua ini kelihatannya sudah berusia enam puluh tahun lebih, alis putihnya menutupi kelopak mata, tapi masih sehat dan bersemangat, dia menghentikan langkah dan berkata:

"Ada perlu apa kau mencari dia?"

Sin-hiong terhentak, terpaksa dia menjelaskan tujuannya mencari tabib Ong, orang tua di depan ini sedikit mengangkat kepala dan berkata:

"Saudara kecil, mungkin kau tidak bisa menemui dia?" Sin-hiong tergetar, dalam hatinya berpikir:

'Mana ada aturan seorang tabib tidak mene-rima pasien?' Saat itu dia berkata lagi, "Aku sengaja datang kemari, karena seorang temanku mengidap satu penyakit aneh, selain tabib Ong tidak ada orang yang bisa menyembuhkannya, tolong tunjukan saja rumahnya, aku sendiri akan memohon padanya, siapa tahu tabib Ong akan menyanggupinya."

Orang tua itu mengeluh perlahan:

"Saudara kecil, kau salah paham, jujur saja aku katakan padamu, jika hari hari biasa, dia akan menerima siapa pun, hanya sayang, beberapa hari ini di dalam rumahnya ada masalah, saat ini apa dia ada di rumah juga tidak tahu?"

Sin-hiong jadi tertegun, tapi dia tidak berkecil hati, berkata:

"Aku mohon bapak tunjukan saja rumahnya, hal lainnya terpaksa melihat situasinya nanti."

Saat berkata, tampak sekali rasa gelisahnya, orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala, menunjuk pada satu pohon besar, berkata: "Itu disana, hay... mungkin dia tidak ada di rumahnya?"

Sesudah berkata, pelan-pelan dia berjalan meninggalkan Sin- hiong.

Kelakuan orang tua ini terasa aneh, karena Sin-hiong dalam keadaan gelisah jadi tidak memperhati-kan, setelah berterima kasih, dia lalu berjalan ke rumah yang ada di bawah pohon besar itu.

Rumah ini besar sekali, rumah yang paling megah di daerah ini, ketika Sin-hiong tiba di depan pintu, terlihat pintunya sudah terbuka lebar, di seluruh rumah kosong tidak ada satu orang pun.

Begitu Sin-hiong melihat, dengan sendirinya terpikir kata-kata orang tua itu yang mengatakan, di rumah tabib Ong sedang ada masalah, maka melihat keadaannya begini, di dalam hati jadi kebingungan.

Setelah Sin-hiong berpikir-pikir, tidak terasa dia membalikan kepala melihat ke belakang, tapi orang tua tadi entah sudah pergi kemana, kejadia ini semakin menambah kecurigaannya, dengan penuh ragu-ragu dia melangkah masuk ke dalam.

Di belakang pintu adalah sebuah pekarangan, di dalam pekarangan di tanam bermacam-macam bunga, waktu sudah hampir tengah hari, bunga-bunga ini sudah sedikit kering, samar- samar seperti meng-andung arti yang sama dengan keadaan rumah ini.

Dia tetap tidak berani bertindak^sembarangan, pelan dia memanggil:

"Di dalam ada orang?"

Suara panggilannya menembus sampai ruang-an paling belakang, gema suaranya sampai terdengar, kelihatannya di rumah yang amat besar ini benar-benar tidak ada satu orang pun.

Sifat Sin-hiong amat ngotot, semakin sulit masalah, dia semakin ingin tahu. Sesudah tahu di dalam rumah tidak ada orang, dia tidak pikir panjang lagi, dia masuk kedalam. Siapa sangka, baru saja dia masuk ke dalam pekarangan kedua, dia jadi tertegun.

Ternyata di sudut kanan pekarangan, berjejer dengan rapi tiga buah peti mati yang masih baru, di atas tanah masih ada bekas abu pembakaran kertas, di depan tiga peti mati itu masing-masing ada plat namanya, di atasnya tertulis, mendiang istri, mendiang putra dan pelayan. Melihat ini Sin-hiong tidak tahan jadi menghela nafas, di dalam hati berkata:

'Ternyata di rumahnya sedang ada orang mati, tapi kenapa tidak ada orang yang menjaganya? Hay......malah tabib Ong Leng sendiri pun tidak terlihat, bukan-kah ini sangat aneh?"

Dia berpikir, 'merasa hal yang aneh ini tidak hanya sampai disini, dia harus tahu, tidak mungkin di rumah tabib Ong Leng bisa ada orang mati, dalam sehari sekali gus mati tiga orang, jadi sebab kematian ketiga orang inipun bukan hal yang biasa?

Biasanya setelah tahu ada masalah, seharusnya segera meninggalkan tempat itu, tapi tidak demikian dengan Sin-hiong, dia mau menyelidikinya lebih jelas lagi.

Dia berjalan menuju ke belakang, kira-kira berjalan tiga puluh langkah lebih, di belakang ada satu pekarangan lagi, kedua sisinya berderet kamar, di tengah pekarangan adalah sebuah gunung buatan, di depan gunung buatan ada sebuah kolam air mancur, suara airnya saat ini jika terdengar orang jadi timbul perasaan aneh.

Pekarangan belakang ini seperti lebih dingin dari pada dua pekarangan di depannya, tapi ilmu silat Sin-hiong sangat tinggi dan orangnya pun pemberani, pelan-pelan dia naik ke atas gunung buatan, lalu melihat ke sekeliling, tapi tidak terlihat ada tempat yang mencurigakan, baru saja hatinya merasa aneh, mendadak terdengar suara "Kreek!" pintu kamar sebelah kiri terbuka, suara ini datangnya mendadak sekali, orang seperti Sin-hiong pun begitu mendengar hatinya merasa sedikit ngeri!

Tidak lama, di dalam kamar terdengar suara "Tik tak!", pintu kamar itu pelan-pelan membuka lebar, akhirnya muncul satu orang. Orang ini rambutnya acak-acakan, sepasang matanya merah darah, kaki kirinya sedikit bengkok, tangan kanannya memegang tongkat, rupanya jelek sekali, Sin-hiong yang melihat, bagaimana pun juga tidak percaya dia adalah Sai-hoa-to Ong Leng?

Sepasang mata merah darah itu melihat ke arah Sin-hiong, dengan suara seperti tambur rusak berkata:

"Bocah, ada keperluan apa kau datang kesini?"

Di dalam hati Sin-hiong walaupun yakin dia bukan tabib Ong Leng, tapi dia tidak enak mengatakannya, lalu bertanya:

"Apakah betul tabib Ong tinggal disini?"

Orang itu melihat Sin-hiong, dia menunjuk dengan tongkatnya ke pekarangan kedua, berkata:

"Sedikit pun tidak salah! Apa saat kau masuk tidak melihat dengan jelas?"

Sin-hiong pelan-pelan turun dari gunung buatan, berkata lagi: "Kalau begitu, mohon tanya apakah tabib Ong ada di rumah? Aku

datang dari jauh, ingin mengaju-kan satu permohonan!" Orang aneh ini tertawa dingin:

"Mencari dia untuk mengobati penyakit? Dia sendiri sekarang pun harus mencari orang untuk mengobati .penyakitnya, bagaimana ada waktu membantu orang lain, bocah, kau datang tidak kebetulan!"

Sin-hiong membandingkan kata-kata orang ini dengan orang tua tadi, dia sudah menduga masalah ini pasti ada apa-apanya, apalagi jelas ada tiga buah peti mati baru itu?

Diam-diam dia memperhitungkan, pikirnya, 'bagaimana pun jika tidak bisa bertemu dengan tabib Ong Leng, dia tetap harus tahu siapa orang aneh ini,' tapi jika menanyakan langsung, mungkin kurang sopan, maka dengan pura-pura mengeluh dia berkata:

"Aku sengaja datang kesini, tidak disangka tidak bisa bertemu dengan tabib Ong, hay.. masalah-nya jika tidak bisa bertemu dengan dia, penyakit temanku akan semakin parah."

Medengar ini, orang aneh itu tertawa, katanya: "Kenapa kau banyak mengeluh, kesempatan masih ada, tapi harus menunggu sampai malam baru bisa bertemu dengan dia, kau kembali lagi saja nanti."

Setelah Sin-hiong mendengar ini, dia seperti di malam yang gelap gulita melihat satu sinar lampu, hatinya merasa senang, hingga lupa menanyakan jati dirinya orang aneh itu, buru-buru dia berkata:

"Kalau begitu, malam nanti aku terpaksa datang kesini lagi." Setelah berkata begitu, dia bersoja, pergi keluar pintu.

Baru saja dia berjalan dua langkah, mendadak orang aneh itu berteriak:

"Berhenti! Aku masih ada pertanyaan pada-mu!" "Anda masih ada pertanyaan apa, silahkan katakan."

"Kau sungguh-sungguh datang untuk berobat pada tabib Ong Leng?" kata orang itu dingin.

"Betul!" angguk Sin-hiong.

Bola mata orang aneh itu berputar, di dalam hatinya berpikir: 'Orang ini masih muda, tapi keberaniannya besar sekali, dia

sudah melihat tiga peti mati di depan, tapi masih berani masuk ke dalam, mungkin dia bukan orang sembarangan.”

Ketika Sin-hiong berhenti, orang itu sekali lagi memperhatikan Sin-hiong, melihat wajah yang penuh tekad, tapi masih kekanak kanakan, dia jadi tidak bisa memutuskan pikirannya, terpaksa berkata:

"Jika malam ini kau ingin kemari, kau harus datang lebih pagi, jika tidak, mungkin kau tidak bisa bertemu lagi dengan dia, atau hanya bisa menemukan mayatnya."

Mendengar ini, Sin-hiong teringat keadaan di dalam kamar, hatinya segera mengerti, tapi wajahnya tidak menampakan apa-apa, dia hanya tertawa dingin di dalam hati.

Setelah berkata, orang itu kembali bertanya lagi: "Apa kau sudah tahu?"

Sin-hiong menganggukan kepala, menunjuk-kan sudah tahu. Orang aneh itu melayangkan tongkatnya: "Kalau begitu,

pergilah?"

Setelah keluar dari pintu, di dalam hati dia merasa bertambah banyak satu masalah lagi, dalam hatinya berpikir:

“Tadinya aku tidak ingin melibatkan diri, tapi sepanjang perjalanan justru banyak masalah yang mau tidak mau aku harus turun tangan."

Sambil berjalan dia terus berpikir, tidak sampai waktu menghabiskan segelas teh panas, dia sudah kembali lagi ke penginapan, saat dia masuk ke dalam pintu, gadis berbaju merah itu sudah tidak terlihat, tapi di meja sebelah timur, ada seorang sedang menundukan kepalanya minum arak.

Sin-hiong melihat, ternyata dia adalah orang tua yang alisnya putih panjang itu, tidak tahan hati dia tergerak, maka dia pun melangkah masuk ke dalam penginapan.

Seorang pelayan melihat dia masuk, cepat-cepat berkata: "Siauya baru datang sekarang!"

Karena hati Sin-hiong sedang ada masalah, dia menggerakan tangannya berkata:

"Tidak perlu terburu-buru, aku tadi pergi mencari tabib Ong, setelah setengah harian, akhirnya ada orang memberitahu, katanya dia sudah pergi ke kota, apa kalian sudah melihat dia?"

"Hi hi hi!" pelayan itu tertawa lalu berkata, 'Siauya ini pandai berkelakar, orang yang duduk disana itulah tabib Ong?"

Sin-hiong pura-pura terkejut dan cepatberkata: "Aku, sungguh punya mata tidak bisa melihat Tai-san, supaya tidak memberi kesan kurang hormat biar aku menemuinya."

Setelah berkata, baru saja dia akan melangkah maju, pelayan itu sudah menariknya dan berkata:

"Siauya jangan terburu-buru, aku pun punya satu hal yang harus dilaporkan!"

Sin-hiong tertegun, seperti merasakan, sesuatu telah terjadi, pelayan itu berkata lagi:

"Nona berbaju merah yang tadi makan nasi bersama Siauya mengatakan, dia adalah temannya Siauya, Siauya pergi karena ada keperluan, jadi dia membawa pergi nona yang Siauya tinggalkan di dalam kamar, dan supaya aku memberitahukan pada Siauya, dia menunggumu di pulau Teratai!"

Tadinya semangat Sin-hiong sedang senang, tapi setelah mendengar laporan ini, tidak tahan dia jadi tergetar, di dalam hati berkata:

'Sudahlah, ternyata wanita jalang ini benar benar berniat buruk, tapi, dimana pulau Teratai itu?'

Dia belum lama masuk ke dunia persilatan, terhadap masalah dunia persilatan dia masih kurang pengetahuan, sesaat dia malah berdiri bengong, tidak bisa berkata-kata.

Orang tua beralis panjang itu memang benar tabib Ong Leng, di rumahnya dia sedang mendapat mala petaka, terpaksa dia minum arak untuk meng-hilangkan duka, tapi setelah mendengar pelayan itu menyebut pulau Teratai, mendadak dia bersuara "Iiih!" dengan terburu-buru dia bertanya:

"Pelayan, nona yang dari pulau Teratai itu sudah berapa lama pergi?"

Pertanyaan ini sebenarnya pertanyaan yang ingin Sin-hiong tanyakan, tidak diduga malah didahului olehnya, tidak tahan dia jadi tertegun, terdengar si pelayan berkata lagi: "Belum lama, kira-kira kurang dari empat jam!" Begitu kata-kata ini keluar, Sin-hiong dan orang tua beralis panjang itu sama-sama tergetar, harus diketahui, waktu empat jam buat orang biasa, tentu saja berjalan tidak akan begitu jauh, tapi bagi orang-orang seperti mereka, mungkin sudah puluhan li jauhnya.

Mendengar ini, Sin-hiong seperti kehilangan sesuatu, Sun Cui- giok sudah dibawa pergi oleh sigadis berbaju merah itu, sekarang diri sendiri sudah tidak ada keperluan mencari tabib Ong lagi, baru saja tubuhnya mau bergerak, mendadak terpikir tabib Ong Leng juga menanyakan pulau Teratai, di dalam hati berpikir:

'Apakah mereka saling kenal? Kenapa aku tidak menanyakan saja alamat pulau Teratai, setelah aku menyelesaikan urusan, nanti jadi mudah mencari-nya.

Ong Leng bengong menatap Sin-hiong, di dalam hati berkata: 'Bocah ini tadi pergi mencariku, kukira dia orang biasa yang mau

berobat, tidak di sangka dia adalah temannya lihiap berbaju merah dari pulau Teratai, kelihatan orang ini seharusnya bukan orang biasa?"

Tapi setelah dia meneliti, tidak terlihat keistimewaan pada dari Sin-hiong di dalam hati dia jadi putus asa, sambil menundukan kepala dia minum tiga gelas arak lagi, hatinya pun semakin menjadi berat.

Sin-hiong berjalan mendekat, lalu bersoja:

"Mohon tanya, apakah Lopek tahu alamatnya pulau Teratai itu?"

Ong Leng tertegun, pelayan tadi jelas-jelas mengatakan dia adalah temannya Lihiap berbaju merah, kenapa letak pulau Teratai juga tidak tahu, bukankah ini hal yang aneh?

Setelah berpikir, dia jadi lebih yakin Sin-hiong tidak mempunyai kepandaian apa-apa, maka dia berkata:

"Saudara kecil, pulau Teratai berada delapan belas li dari laut Selatan, jika kau kenal dengan Lihiap berbaju merah itu, kenapa sampai nama besar pulau Teratai juga tidak tahu?"

Dua kalimat terakhir dia hanya asal berkata-kata, dia tidak mengharapkan jawaban, setelah bicara "Glek!" kembali dia minum araknya.

Sin-hiong terkejut berkata:

"Lihiap berbaju merah? Apakah maksud Lopek wanita berbaju merah itu adalah Lihiap berbaju merah?"

Semakin mendengar, Sai-hoa-to semakin heran, semakin mendengar semakin merasa sehebat-hebatnya Sin-hiong paling juga seorang yang terpelajar, dia menggeleng-gelengkan kepala:

"Rupanya kau tidak tahu, pulau Teratai sangat ternama di dunia persilatan, walau raja langit turun ke bumi, pun harus mengalah pada mereka, apa lagi. "

Tadinya dia mau menceritakan apa yang di alaminya, tapi melihat wajah Sin-hiong yang bengong, dia jadi berpikir lagi:

'Apa gunanya aku menceritakan kepadanya? Maka setelah berkata setengahnya, tiba-tiba berhenti.

Walaupun Sin-hiong sedang memikirkan masa lah Sun Cui-giok, tapi setelah memperhatikan wajah lawan bicaranya, dia seperti mengerti maksud tabib Ong Leng? Saat itu sambil tersenyum dia berkata:

"Terima kasih atas pemberitahuannya."

Setelah berkata begitu, dia lalu mengundurkan diri.

Tabib Ong Leng merasa masalahnya tidak bisa terpecahkan, maka dia minum araknya segelas dan segelas lagi, minum sampai sore hari, baru pelan-pelan bangkit berdiri, dia mengeluarkan satu potong perak besar, berkata:

"Ini untuk pembayar arak."

"Tuan besar Ong, minuman arak ini tidak perlu dibayar sebanyak itu?" kata pelayan dengan terkejut. Ong Leng tidak mempedulikan, langkahnya sudah sempoyongan, hampir tiba di depan pintu, dia mengangkat kepala ke langit berkata:

"Mungkin mayat sendiripun tidak ada orang yang mengurus, buat apa harta di luar tubuh ini?"

Setelah berkata, dengan sempoyongan dia berjalan keluar rumah makan.

Sin-hiong menyaksikan semuanya, di dalam hati jadi merasa lucu, setelah makan beberapa saat, lalu pergi ke kamar untuk beristirahat.

Setelah sesaat, hari sudah hampir malam, Sin-hiong bangkit dari istirahatnya dan berjalan keluar kamar, menyuruh pelayan mengeluarkan kudanya, setelah memberikan lima liang perak kepada pelayan, dia lalu naik keatas kuda, pelan-pelan berjalan ke mulut kota.

Walaupun berjalan perlahan, jarak lima belas li pun tidak memerlukan banyak waktu, dia dengan Ong Leng tidak kenal, tapi dia khawatir orang aneh berkaki satu itu menyerang lebih dulu, maka setelah tiba di tempat itu, dia lalu melepaskan kudanya, seorang diri diam-diam berjalan menuju ke pohon besar itu.

Malam sudah menutupi bumi, rumah tabib Ong Leng di siang hari saja sudah terasa dingin, di malam hari tentu saja jadi lebih angker dan menakutkan, tidak ada orang yang menyalakan lampu, Sin- hiong melihat ke kiri dan kanan, melihat tidak ada orang, dengan ringannya dia meloncat ke atas pohon.

Dari atas melihat ke bawah, seluruh rumah bisa dilihat dengan jelas, Sin-hiong tidak bergerak lagi, sepasang matanya mengawasi pekarangan ketiga itu, asal di dalam ada sedikit gerakan, tidak akan lolos dari pengawasannya.

Waktu sudah hampir kentongan ke tujuh, mendadak dari jalan raya ada seseorang berjalan mendekat, di atas bahu orang ini sepertinya menggotong sesuatu benda, tapi meskipun begituj dia tetap masih berjalan cepatsekali, sekejap saja sudah mendekat.

Sin-hiong meneliti, ternyata dia adalah Sai-hoa-to Ong Leng, benda apa yang digotong diatas bahunya? Ternyata adalah sebuah peti mati yang baru.

Begitu Sin-hiong melihat, dia sudah tahu apa tujuannya, tapi dia masih tetap bersembunyi tidak bergerak, di dalam hati dia sudah ada persiapan.

Setelah tabib Ong Leng tiba di depan pintu, dia baru melambatkan langkahnya, berjalan di depan tiga peti mati di pekarangan kedua itu, dengan sedih dia menatap lama sekali, laluberguman:

"Kalian mati masih ada orang yang mengurus mayatnya, hay---?

Mungkin aku tidak seberuntung kalian."

Sambil bicara dia menaruh peti mati itu diatas tanah, di dalam pekarangan dia berjalan mondar-mandir sebentar, kadang melihat- lihat bulan di langit gelap, seperti sedang menunggu kedatangan dewa kematian.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara tongkat besi di pekarangan belakang, wajah tabib Ong Leng berubah, kembali bergumam

"Saatnya tidak lama lagi, kalian jalanlah lebih dulu, aku segera menyusul!"

Nada suaranya sangat memilukan, Sin-hiong yang ikut mendengarnya di atas pohon, jadi bergejolak, di dalam hati berpikir:

'Walaupun dosa Sai-hoa-to Ong Leng harus dihukum mati, hanya mengandalkan prilakunya, sudah cukup meringankan setengah hukumannya.

Suara "Tok tok!" pelan-pelan mendekat, tidak lama kemudian, benar saja, orang aneh berkaki satu itu berjalan keluar dari pekarangan belakang, sambil tertawa dia berkata:

"Ong Leng, malam ini giliranmu!" Setelah berkata, tongkat besinya ditanjapkan ke tanah, ternyata tongkatnya bisa menancap sampai setengahnya.

Tabib Ong Leng terdiam sejenak, berkata:

"Tunggu sebentar, aku masih ada perkataan yang mau dibicarakan."

Wajah orang aneh berkaki satu itu, menunjuk-kan tawa yang keji, katanya:

"Katakanlah, tapi, kau masih ada waktu, asal kau mengatakan peta rahasia itu disembunyikan oleh siapa, kita masih teman lama."

Sai-hoa-to Ong Leng tidak mempedulikannya, dia berkata lagi: "Hiang Pu-cia, sia-sia saja siasatmu, peta ini berhubungan erat

dengan keselamatan dunia persilat-an, jangan kata aku tidak tahu, walau tahu pun, aku tidak akan memberitahu padamu."

Sin-hiong berpikir:

"Peta apa yang dia bicarakan?' Setelah melihat prilaku tabib Ong Leng, tidak tahan dia mengangkat jempolnya, diam-diam memuji, 'Cukup jantan tabib Ong Leng ini, tidak sia-sia malam ini aku datang kemari."

Orang aneh berkaki satu yang dipanggil Hiang Pu-cia dengan tertawa dingin berkata:

"Kau tidak mau mengatakannya, tidak apa-apa, hanya aku menyayangkan dirimu saja."

Sai-hoa-to Ong Leng dengan bangga berkata:

"Apa yang harus disayangkan, manusia akhir-nya pun akan mati, hanya saja setelah aku mati, harap kau bisa memasukan mayatku ke dalam peti mati itu, biar aku merasa puas."

Tiba-tiba Hiang Pu-cia tertawa keras, katanya: "Hanya ini permohonanmu? Maaf, aku tidak sudi, sebaliknya setelah kau mati, aku akan melempar-kan mayatmu ke dalam gunung untuk dimakan oleh serigala liar." Mendengar kata-kata dimakan serigala liar, Sin-hiong yang bersembunyi diatas pohon, merasa kepalanya berbunyi keras, hampir saja jatuh dari atas pohon.

Sai-hoa-to Ong Leng menegakkan tubuhnya, dengan sedih berkata:

"Julukanmu adalah Sin-tung-thian-mo (Dewa tongkat setan langit), aku tahu diri aku tidak akan mampu bertahan lebih dari lima jurus di bawah tongkatmu, tapi kau juga harus ingat, ketika kedua kakimu hampir cacad tidak berguna, jika bukan karena aku, kau juga tidak akan ada seperti hari ini, Hiang Pu-cia, apakah permohonan terakhirku ini kau juga tidak bisa mengabulkannya?"

Dia mengatakan kata-katanya, dengan nada seperti minta dikasihani, tapi Sin-tung-thian-mo tidak terpengaruh, wajahnya memancarkan hawa mem-bunuh, dia berteriak:

"Sia-sia saja kau mengatakan ini, setiap hal yang aku minta, asalkan orang tidak menyanggupinya, kau sudah tahu apa akibatnya?"

Permohonan terakhir Sai-hoa-to Ong Leng ternyata ditolak, dengan suara gemetar dia berkata:

"Bagus, bagus, bagus, silahkan turun tangan, orang jahat pasti ada hukum karmanya, Hiang Pu-cia, saksikan saja olehmu nanti!"

Setelah berkata, dia mundur sedikit ke belakang, walaupun dia tahu kemampuannya kalah dari lawan, tapi tetap akan melawan semampunya.

Sin-tung-thian-mo memutar tongkat besinya, baru saja akan menghantam, mendadak dia berhenti, dan berkata pada dirinya sendiri:

"Siang hari tadi aku telah berjanji pada seorang anak muda, menyuruh dia datang kemari sebelum jam sembilan untuk menemuimu, tunggu saja sebentar lagi, seharusnya diapun sudah datang kemari." Mendengar ini. Tabib Ong Leng mengira, anak muda itupun lawannya Hiang Pu-cia, yang tidak akan dibiarkan hidup, maka dengan bencinya berkata:

"Hiang Pu-cia, kau tidak boleh membunuh orang yang tidak ada sangkut pautnya, anak muda itu ada dendam apa denganmu?"

Dia dengan Sin-hiong tidak saling kenal, saat ini malah mengajukan permohonan untuk meng-ampuni Sin-hiong, Sin-hiong yang bersembunyi di atas pohon, sudah menahan diri tidak kurang dari lima kali, sekarang mendengar ini, dia sudah tidak bisa menahan diri lagi, pelan-pelan dia turun dari atas pohon, berdiri di depan pintu dan berteriak:

"Mohon tanya, apa tabib Ong ada dirumah?"

Sai-hoa-to Ong Leng mendengar, wajahnya jadi berubah besar, Sin-tung-thian-mo terta wa terkekeh-kekeh dan berkata:

"Membicarakan Coh-coh, Coh-coh segera tiba, orang yang mengurusi mayatmu sudah tiba!"

Sin-hiong pura-pura tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah, mendengar ada suara orang, kembali dia berteriak:

"Benar saja ada di rumah."

Setelah berkata dia berjalan masuk ke dalam.

Tabib Ong Leng melihat yang masuk adalah Sin-hiong, di dalam hati dia menyesal sekali, pikirnya:

'Ketika di rumah makan seharusnya aku mengakui, sebelum mati bisa menyelamatkan satu nyawa, di kehidupan mendatang juga bisa membalaskan dendam ini.'

Hiang Pu-cia memperhatikan Sin-hiong, melihat dia memegang kecapi kuno, sambil tertawa dia berkata:

"Bocah, kau datang tepat sekali, apakah kau bisa mengalunkan lagu bela sungkawa?"

Sin-hiong pura-pura terkejut dan berkata: "Aku datang kemari mencari tabib Ong untuk berobat, bukan datang kemari untuk melantunkan lagu, kau jangan salah paham."

Sin-tung-thian-mo tertawa dingin:

"Aku menyuruh kau memetik kecapi, maka kau harus memetik kecapinya, mengenai hal berobat, tunggu saja setelah sampai di akhirat nanti."

Sin-hiong diam-diam menghela nafas, dua jarinya benar saja memetik senar kecapi sambil berkata:

"Kau ingin aku memetik kecapi pun boleh, tapi harga satu lagu lima liang perak."

Dia paling ingat pada lima liang perak, tidak peduli di tempat apa, asalkan ada kesempatan membicarakan uang, begitu berbicara selalu lima liang perak, tadi ketika mendengar Sin-tung-thian-mo mengatakan memberi makan pada serigala liar, saat ini dia mengatakan lima liang peraknya lebih keras lagi.

Tabib Ong Leng menyaksikan di pinggir, hati-nya merasa gelisah sekali, diam-diam dia menyalahkan anak muda yang tidak tahu keadaan bahaya, sekarang masih bisa membicarakan lima liang perak, padahal nyawanya saja sudah tidak bisa diselamatkan, buat apa lagi uang lima liang perak?

Sin-tung-thian-mo membentak:

"Kau mau main kecapi atau tidak?"

Sin-hiong melihat wajah galaknya, dia mundur selangkah dan berkata:

"Main, main, tapi, biar aku pikirkan dulu kira-kira memainkan lagu apa?"

Sin-tung-thian-mo mengira dia benar-benar sedang memikirkan lagunya, dengan sabar dia menunggu, setelah menunggu lama masih tidak melihat dia memetik kecapi, dengan marah dia berkata:

"Bocah, kau ini sedang apa?" Setelah berkata, dia kembali mengangkat tongkat besinya, Sin- hiong menggoyang-goyangkan tangannya:

"Tunggu, sampai saat ini masih belum terpikir-oleh ku, biar aku tanyakan dulu pada Lopek ini."

Sin-tung-thian-mo tertawa:

"Kali ini kau menanyakan pada orang yang tepat, hei! Lo-ongkau ingin dia memainkan lagu apa?"

Wajah Ong Leng sangat tidak enak dipandang, sepasang matanya menatap tajam pada anak muda yang tidak tahu diri ini, tapi semakin melihat dia semakin keheranan, semakin melihat, semakin terkejut, akhirnya tanpa sadar dia berteriak:

"Hay! Bukankah kau adalah Kim-kau-kiam-khek yang dikabarkan itu!"

Ternyata ketika Ong Leng memperhatikan Sin-hiong, dia melihat lengan kanannya pelan-pelan di angkat, lengan tangannya semakin ditarik semakin panjang, akhirnya, dia melihat dari dalam kecapi kunonya Sin-hiong mencabut Kim-kau-kiam yang menggemparkan dunia itu!

Sekarang hati tabib Ong Leng tidak tahu ada rasa manis atau pahit, setelah berkata diikuti dengan suara gemetar dia menghela nafas:

"Aku ini orang yang mempunyai mata tapi tidak melihat gunung Tai, hay. "

Emosinya sangat bergejolak, sehingga kata-kata berikutnya tidak bisa diteruskan lagi, kata-kata barusan adalah kata-kata yang dikatakan Sin-hiong di rumah makan, sekarang kembali di ucapkan oleh dia, sebab katanya itu tidak ada yang terasa lebih tepat lagi.

"Terima kasih!" kata Sin-hiong tertawa.

Sin-tung-thian-mo tertawa dingin: "Lo-ong... selamat, kau telah mendapatkan seorang pembantu, hemm... hemm... lalu kenapa kalau dia Kim-kau-kiam-khek?" Ketika berkata-kata, tongkat besinya dipegang erat-erat, jelas dia pun tidak berani lengah. Sorot mata Sin-hiong menyapu, sambil tertawa berkata:

"Kau hanya punya satu kaki, jika bertarung denganmu, tentu saja akan menguntungkan aku, begini saja, aku mengalah tiga jurus denganmu!"

Begitu kata-kata ini terdengar, tabib Ong Leng jadi sangat terkejut, teriaknya:

"Siau-enghiong, jangan lakukan itu!"

Sin-hiong tidak tahu Hiang Pu-cia punya julukan Sian-tung, bagaimana jurus tongkatnya? Dia sama sekali tidak tahu, tapi dia sudah berkata dengan sombongnya.

Hiang Pu-cia tiba tiba tertawa terbahak bahak dan berkata:

"Kau kira sesudah mengalahkan Ang-hoa-kui-bo dan Sian-souw- ngo-goat, lalu bisa memandang rendah orang sedunia? He he he, katak dalam tempurung, bagaimana tahu betapa luasnya dunia luar?"

Sesudah berkata begitu, dia menghentakan kaki kirinya, mengangkat tongkat, dan berkata lagi:

"Tunggu, tunggu, biar aku pikir-pikir dulu menggunakan jurusnya?"

Sin-hiong tertawa dingin:

"Kau boleh gunakan jurus apa saja, dalam tiga jurus aku pasti tidak akan membalas."

Walaupun berkata begitu, di dalam hati sedikit banyak ada juga perasaan heran, pikirnya:

'Di dunia ini mana ada orang semacam ini, bertarung dengan orang harus memikirkan dulu menggunakan jurus apa.'

Sepasang mata merah dari Hiang Pu-cia berputar, dengan tanpa sungkannya dia berkata: "Apa kau sudah siap belum? aku sudah siap dengan jurus pertamaku."

Setelah itu, tongkatnya diayun lalu diputar, terdengar suara "Weed!", dengan angin keras yang amat kuat menggulung ke arah Sin-hiong.

Sin-hiong dengan santai menghindar, tapi jurus Hiang Pu-cia ternyata adalah jurus tipuan, ujung tongkatnya tiba-tiba menyapu ke arah dia menghindar, kecepatan serangannya, baru pertama kali Sin-hiong melihat sejak dia turun gunung!

Diam-diam Sin-hiong memuji, lalu berkata: "Tidak percuma dia disebut Tongkat dewa!" Kaki melangkah dengan kebalikan 'langkah tujuh bintang,' dengan cepat berputar ke belakang tubuh Hiang Pu- cia, tapi langkahnya belum selesai, tongkatnya Hiang Pu-cia sudah mengikutinya datang menyapu, sambil berteriak:

"Bocah, jangan lari, ini masih jurus pertama?" Dalam satu jurus dia membuat tiga perubahan, tidak peduli Sin-hiong berputar kemana pun, tongkat-nya juga bergerak mengikutinya, tidak memberi Sin-hiong kesempatan menarik nafas, tabib Ong leng yang menyaksikan sampai mencucurkan keringat dingin.

Sin-hiong pun tergetar, dia tidak menduga jurus tongkat Hiang Pu-cia bisa sehebat ini, alisnya dikerutkan dalam-dalam, tubuhnya jadi diam di tempat, ketika tongkat Sin-tung-thian-mo datang menyapu, dia hanya meloncat sekali, Sin-tung-thian-mo bersuara "Heh!" begitu ujung tongkatnya digetar-kan dia mengetarkan Sin- hiong ke udara!

Melihat hal itu, tabib Ong Leng sampai berteriak, "Aduh!", begitu melihat ke atas, terlihat Sin-hiong dua kali salto di atas udara, tubuhnya miring turun ke bawah ke tempat asalnya dia berdiri, sedikit pun tidak terluka.

"Inilah jurus pertama!" kata Sin-hiong tertawa. Hiang Pu-cia terkejut, wajahnya jadi berubah hebat, di dalam hati dia berpikir:

'Sapuan tongkatku tadi walaupun tidak telak mengenai dia, tapi di bawah getaran angin pukulan, kenapa bocah ini sedikit pun tidak terluka?

Dia membelalakan matanya besar-besar, tiba-tiba tongkatnya dipindahkan ke tangan kiri, sambil tertawa dingin dia berkata:

"Bagus, coba terima jurus keduaku!"

Tongkatnya menyapu melintang, kali ini tidak mempedulikan lagi jurus tipuan atau jurus asli, tampaknya seperti ingin mengadu kekuatan.

Sepasang mata Sin-hiong menyorot tajam, tanpa berkedip mengawasi sapuan tongkat tangan kiri ini.

Ketika ujung tongkat akan mengenai baju, Sin-hiong mendadak dia mundur selangkah ke belakang, Hiang Pu-cia memutar tangannya, jurus sapuan ini tidak berubah, tetap masih jurus tadi, tapi tongkat di tangannya sepertinya memanjang satu cun lebih, dengan ganasnya menotok ke Kian-keng-hiat nya Sin-hiong!

"Jurus keduamu juga biasa saja, aku sudah merasakannya."

Langkah mundurnya tadi hanyalah gerakan tipuan, menunggu tongkat Hiang Pu-cia tidak bisa memanjang lagi, tubuh Sin-hiong sedikit merendah ke belakang, tongkat Hiang Pu-cia lewat dari sisi bahunya!

Berturut-turut Hiang Pu-cia menyerang dua jurus, setiap jurus perubahannya sangat banyak, tapi semua dengan mudah dihindari oleh Sin-hiong, walaupun dia memiliki julukan Thian-mo, saat ini hatinya pun jadi berdebar-debar.

"Kau sudah menyerang dua jurus, jurus ketiga tidak digunakan juga tidak apa."

"Kenapa, kau takut?"

Dengan sinis Sin-hiong berkata:

"Kau belum pantas membuat aku takut? Dua jurus pertamamu juga hanya segitu, jurus ketiga juga akan sama begitu? mengingat kau susah payah berlatih sampai setinggi ini, jika lewat tiga jurus, saatnya aku membalas menyerang, mungkin kaki kirimu itu pun akan menjadi cacad."

Dia berkata dengan enteng, tapi Sin-tung-thian-mo yang mendengar menjadi marah besar, dan memaki:

"Bocah, jangan pandai bersilat lidah saja!"

Segera dia memutar tongkatnya, kali ini dia mengerahkan seluruh kemampuannya, kedahsyatan-nya bagaimana? Mungkin dia sendiri pun tidak tahu?

Dengan gesit Sin-hiong berkelebat ke belakang tubuhnya, dia tahu ujung tongkat Hiang Pu-cia pasti berputar ke belakang, maka tubuhnya berhenti sedetik, lalu tubuhnya meloncat keluar sejauh tiga tombak!

Benar saja, perkiraannya sedikit pun tidak salah, saat serangan jurus ketiga Hiang Pu-cia datang menyerang, Sin-hiong sudah berada sejauh tiga tombak.

Ketiga jurus serangan Hiang Pu-cia sudah gagal, mungkin untuk pertama kalinya dia mengalami hal ini seumur hidupnya sesudah bersuara "Heh!" dia berteriak keras:

"Inilah jurus ke empatku, sekarang kau sudah boleh membalasnya!"

Dia memutar tongkatnya, angin puting beliung yang besar sudah menerjang ke arah Sin-hiong!

Sin-hiong jadi naik pitam, dalam hatinya berpikir:

'Orang ini tidak tahu diuntung,' sekilas dia mendesak bagian kiri Hiang Pu-cia, pedangnya menepis.

Hiang Pu-cia berputar, Sin-hiong pun ikut berputar, saat menyerang, Sin-hiong selalu menyerang bagian kiri Hiang Pu-cia, Sin-hiong tahu Hiang Pu-cia hanya memiliki satu kaki kiri, tentu saja gerakannya tidak selincah dirinya, tidak sampai lima jurus, dia sudah dibuat Sin-hiong berputar-putar kalang kabut. Jika saat ini Sin-hiong mau merobohkan dia, setiap saat Hiang Pu-cia bisa roboh, tapi Sin-hiong tidak mau melakukannya, ujung pedang disabetkan teriaknya:

"Kuberi tanda di tangan kirimu."

Terlihat sinar perak berkelebat, lalu terdengar suara "Ssst!", lengan kiri Hiang Pu-cia tahu-tahu sudah berdarah dilukainya, baju dikirinya pun sudah disobek oleh Sin-hiong.

Sin-tung-thian-mo terkejut, tubuhnya dengan cepat melompat mundur ke belakang.

Tabib Ong Leng meloncat menghampiri dan berkata:

"Siau-enghiong jangan bunuh dia!" Sin-hiong tertegun, tubuhnya dimiringkan lalu bertanya:

"Entah Ong-tayhiap ada petunjuk apa?"

"Maaf Siau-enghiong jangan menyebut aku seperti itu, aku tidak pantas dipanggil Tayhiap?"

0odwo0

Sin-hiong merasa terharu, dalam hati berkata: 'Orang ini hatinya penuh kasih, tidak percuma dia menjadi tabib yang menolong orang.'

Ketika sedang berpikir, mendadak ada orang berkata dengan dingin:

"Tidak perlu diangkat-angkat, sebenarnya, ilmu pertabiban Ong- tayhiap di dunia ini siapa yang bisa menandinginya?"

Setelah terdengar perkataan ini, di pekarangan depan berlari masuk dua orang!

--0o0dw0o0--