Pertempuran di Lembah Hay Tong Jilid 16

Jilid 16

"Baiklah, Khu loosu!" Hoa Ban Hie sambut tantangan itu. "Baiklah, aku nanti gunai tubuh bangkotanku ini untuk dijadikan bahan sasaran! Cuma coba tolong kau sebutkan, berapa jauhnya tenaga timpukanmu guna mengatur jarak "

"Seperti aku sudah bilang, Hoa loosu, kita orang tidak bermusuhan, kita orang melainkan mencoba-coba, maka tentang jauhnya jarak, silakan kau tetapkan saja menurut jauhnya timpukan batumu, timpukan uangku akan menuruti saja. Paling jauh aku bisa menimpuk lima tombak, lebih tidak mampu "

Keterangannya Lioktee Sinmo bikin terperanjat orang- orang dan kedua pihak. Lima tombak bukannya jarak yang dekat, sebab umumnya orang hanya pandai menimpuk tiga tombak, apapula dengan kim-chie-piauw.

Cuma Hoa Ban Hie yang tertawa mendengar keterangan itu.

"Dengan sikapmu ini, Khu loosu, terang kau sudah mengalah terhadap aku," ia kata. "Baiklah, kita tetapkan saja jarak itu jauhnya lima tombak!"

Khu Liong Gan manggut, lantas ia menoleh pada Pian Siu Hoo.

"Pian pangcu, tolong kau ambilkan kita delapan dari lentera-lentera yang berada di empat penjuru kita itu," ia kata. "Aku ingin itu dipasang di sekitar kita, jauhnya lima tombak satu dari lain. Aku percaya tidak terlalu sukar akan tancap semua lentera itu di sekitar kita ini."

Pian Siu Hoo manggut. Ia memang telah siap segala apa, apapula orang-orangnya. Delapan potong bambu, sebentar saja sudah dikasih datang dan mulai digalikan lubang, untuk mendirikan, lantas di atas itu, digantung delapan lentera yang diminta. Pekerjaan ini selesai dalam tempo yang pendek sekali. Setelah itu, si Iblis Bumi lantas pandang si Malaikat Kemelaratan.

"Hoa loosu, silakan kau berikan pengajaran padaku!" ia menantang.

"Baiklah, Khu loosu, aku pun ingin terima pelajaran dari kau," sahut Hoa Ban Hie.

Berdua mereka saling unjuk hormat, lantas mereka berpisah, ke barat dan ke timur dengan beberapa kali loncat, mereka sudah sampai di tempatnya masing- masing. Tiang lentera adalah watas di mana mereka mesti terpisah satu dari lain.

Sesudah sampai di tiang lentera, dua-dua jago ini lantas bergerak terlebih jauh, untuk persiapan piebu mereka dengan senjata rahasia. Khu Liong Gan dari barat menuju ke selatan, Hoa Ban Hie dari timur ke utara.

Gerakan mereka berdua ada cepat sekali.

Hoa Ban Hie merogoh pada kantongnya, akan siapkan tiga potong citchee-cio, di tangan kiri, kemudian ia keluarkan lagi dua, akan genggam di tangan kanan. Itu bukannya batu sembarangan, karena didapatnya pun dari Sucoan. Itulah, asalnya ada baru besar, yang pecah ke-gempur air, pecah dalam rupa-rupa ukuran, lantas diambil dan digosok, dirupakan tiga persegi mirip dengan Iengkak, dijadikan senjata rahasia oleh si tetua pengemis yang liehay itu. Saking lamanya dibuat main, batu itu jadi licin mengkilap dan sinarnya pun merah. Sukar untuk dapati batu semacam itu, dalam tiga sampai lima tahun, masih susah akan peroleh itu. Beratnya batu pun mirip dengan beratnya besi. Dengan senjata ini Hoa Ban Hie bisa menimpuk jauhnya tujuh tombak. "Hoa loosu, persilakan!" kedengaran suaranya Khu Liong Gan.

"Khu loosu, silakan?" sahut Kiongsin. "Aku si pengemis tua ingin terlebih dahulu menyambuti tiga batang piauw- mu!"

"Baiklah, loosu!" sahut Lioktee Sinmo, si Iblis Bumi.

Lantas, dari sebelah barat, Khu Liong Gan mencelat ke barat utara, sedang Hoa Ban Hie sekarang sudah sampai di ujung timur selatan.

"Loosu, sambutilah!" terdengar si orang she Khu. Ia telah bikin gerakan tubuh, dari kanan ke kiri, tangan kanannya turut bergerak, hingga dua batang piauw segera terlepas melesat dari tangannya itu, sampai menerbitkan suara menga-ung. Meski jaraknya jauh, toh senjata rahasia itu bergerak sangat cepat. Piauw pertama menuju ke pundak kiri, dan yang kedua ke lain jurusan.

Dengan duajari tangannya, Hoa Ban Hie sambar jatuhnya piauw yang pertama itu, setelah mana, ia egos tubuh, akan ketok piauw yang kedua, yang arah tetenya. Apamau, piauw ketiga telah menyusul dengan terlebih cepat lagi, menuju ke tete kirinya. Terpaksa, ia egos balik tubuhnya, hingga serangan itu dapat disingkirkan.

Kelihatannya gampang saja untuk Hoa Ban Hie selamatkan diri tetapi sebenarnya ia mesti berlaku celi dan gesit luar biasa, karena datangnya piauw pun sangat cepat, bukan seperti piauw yang dilepaskan oleh kebanyakan orang.

Sekarang datang gilirannya Kiongsin, akan balas menyerang. Dengan membarengi berseru bahwa ia hendak membalas budi, tangan kanannya lantas bergerak dan sepotong batu citchee-cio segera melesat.

Khu Liong Gan baru saja menimpuk ketika piauw batu itu sampai, ia buang diri ke samping dengan tangan kirinya menyampok, maka itu batu lantas kedampar jatuh ke tanah, tetapi justru itu, di antara seruannya Hoa Ban Hie, batu yang kedua telah datang menyusul.

Sekali ini, Khu Liong Gan sam-pok batu itu dengan tangan kanan, dengan tubuhnya ikut mengegos juga.

Sampai di situ, Hoa Ban Hie tidak menyerang lebih jauh, hanya ia memburu, maka Khu Liong Gan lantas menyingkir. Si Iblis Bumi tahu, serangannya si Malaikat Kemelaratan tidak sampai di situ saja, tidak mestinya hanya sedemikian sederhana. Ia lantas teriaki, "Hoa loosu, silakan perlihatkan kepan-daianmu!"

"Begini saja adanya, kepandai-anku, apa lagi yang aku mesti perlihatkan?" sahut Kiongsin sambil ia maju terus.

Khu Liong Gan mendongkol buat jawaban itu, yang suaranya merendah berbareng menyindir, karena ia merasa bahwa ia sedang dipermainkan.

Karena ia terus menyingkir, Lioktee Sinmo telah sampai di ujung timur selatan, terpisahnya ia dari pihak lawan ada lima tombak. Kiongsin juga tidak ingin mereka terpisah terlalu dekat atau terlalu jauh satu dari lain.

Diam-diam, Khu Liong Gan telah siapkan pula piauw- nya. Dari timur selatan, ia menuju ke barat, dan Hoa Ban Hie dari timur utara menuju ke timur.

Dengan tiba-tiba Khu Liong Gan balik tubuhnya dan merangsek, cepat sekali mereka terpisah hanya tiga tombak satu pada lain, di saat itu sembari berseru. "Sambutlah!" tangannya melayang, melepaskan sepotong uang, yang menjurus ke perut.

Hoa Ban Hie lihat gerakan musuh, ia lihat menyambarnya piauw, lekas-lekas ia kelit ke kiri, kaki kanannya ikut pindah juga, berbareng dengan itu, dengan dua jari tangan kanan — telunjuk dan tengah — ia ketok piauw itu hingga jatuh ke tanah. Apamau, berbareng dengan itu, Khu Liong Gan telah menyerang pula, sekarang dengan tiga piauw lainnya dengan beruntun, dengan jurusan yang masing-masing berlainan. Tiga piauw melesat dengan hampir berbareng, karena tiga-tiganya digeraki dengan tenaga yang terlebih kuat dan terlebih kuat lagi.

Itu adalah tipu timpukan yang dinamai "Tiga bintang mengawani bulan sisir." Kalau piauw yang pertama ada "tanya jalanan," piauw yang kedua adalah berarti serangan dari kematian, dan yang ketiga ada susulan belaka.

Hoa Ban Hie dapat lihat penyerangan itu, kendati mereka terpisah cukup dekat satu dari lain, bukannya ia repot berkelit, hanya ia tertawa berkakakan, dua tangannya terayun dengan berbareng. Ia memang sudah siap dengan batunya, maka sekali ini, ia bisa menyambit dengan berbareng, dua dengan tangan kanan, satu dengan tangan kiri, meskipun tangan kirinya baru saja dipakai memunahkan piauw lawan itu,

Tiga potong citchee-cio melesat dengan berbareng, ke jurusannya tiga kimchie-piauw dari Lioktee Sinmo. Dan jitu sekali, enam senjata rahasia kebentrok satu pada lain, dengan menerbitkan suara nyaring, dengan kesudahannya semuanya jatuh ke tanah pada menggeletak! Si Malaikat Kemelaratan tidak pedulikan jatuhnya enam senjata rahasia itu, di mana ia menangkis dengan sambil bergerak terus, kaki belakangnya berada di belakang kaki kiri, tubuhnya madap ke utara, bebokongnya madap ke selatan, ia sekarang putar terus tubuhnya, dibarengi dengan gerakan tangan kiri, akan lepaskan citchee-cioyang terakhir yang tergenggam di tangan kirinya itu. Ia menyerang dengan luar biasa cepat dan kuat, sampai batu itu mengaung keras. 

Lioktee Sinmo tercengang, karena, serangan istimewanya dengan gampang dapat dipunahkan oleh pihak lawan, justru begitu, batu menyambar ia, di luar dugaannya. Ia terperanjat, ia berkelit. Ia bisa bergerak dengan cepat sekali. Tetapi cit-chee-cio ada terlebih cepat pula, meski ia tidak terluka, toh baju di betulan pundaknya telah ditobloskan batu dan pecah, pecahnya sambil menerbitkan suara berisik!

Setelah itu barulah citchee-cio jatuh ke tanah, setombak lebih jauhnya.

Sampai di situ, Khu Liong Gan mesti menyerah kalah, ia tidak pikir untuk piebu terlebih jauh, dengan angkat kedua tangannya, ia memberi hormat.

"Hoa loosu, aku telah terima pengajaran kau," kata ia. "Hoa loosu benar-benar liehay, aku menyerah kalah!"

Hoa Ban Hie tertawa nyaring.

"Khu loosu, aku tidak berani aku bahwa kimchie- piauw-mu telah dikalahkan oleh citchee-cio," ia kata. "Aku juga mesti mengaku kalah." "Inilah, Hoa loosu, menunjuki kebesaran budi, kebaikan hatimu," berkata Lioktee Sinmo. "Bagaimana kalau sampai di sini kita berhentikan piebu pakai senjata rahasia ini?"

"Tentu saja aku bersedia akan turut titah loosu," sahut Hoa Ban Hie.

Sementara itu, Khu Liong Gan sedang memikir untuk mencoba Iweekang.

"Lihat di sana, Hoa loosu," kata ia, sambil menunjuk dengan tangannya, "lihatlah itu dua pohon haytong di sebelah timur itu. Bagaimana kalau kita coba Iweekang kita terhadap itu pohon?"

"Aku akur," sahut Hoa Ban Hie dengan cepat.

Khu Liong Gan lantas samperi kedua pohon itu, akan perhatikan lebih jauh seraya duga-duga terpisahnya satu dari lain.

"Maksudku, Hoa loosu," kata ia kemudian, "aku ingin kau coba tenaga tanganmu terhadap pohon ini, yang mana saja satu, kau boleh pilih."

"Jangan seejie, Khu loosu," Hoa Ban Hie bilang. "Silakan kau mencoba terlebih dahulu, nanti aku buka mataku, akan coba tulad kau "

"Sungguh licin tua bangka ini," pikir Lioktee Sinmo, "dengan aku yang mulai, ia bisa turuti cara geraki tanganku, dengan begitu, akhirnya, aku kembali yang keok Tidak, aku tidak boleh bikin maksudnya

kesampaian!" Lantas ia kata pada ketua pengemis itu, "Hoa loosu, beruntun-runtun aku telah kalah dalam ilmu entengi tubuh dan senjata rahasia, aku harap kau tidak usah merendahkan diri terlebih jauh, harap kau suka mencoba terlebih dahulu!"

"Sahabatku, kau ada sangat pintar!" Hoa Ban Hie tertawa. "Karena kau tidak inginkan aku tulad padamu, baiklah, mari kita orang bertindak dengan secara merdeka, sesuka-suka kita, dengan tidak ada wates penilikannya!"

"Itu benar, loosu!" sahut Khu Liong Gan. Ia terus hampirkan pohon haytong yang sebelah kiri, ia gulung tangan bajunya. Ia berdiri menghadapi pohon itu, tubuhnya terpisah dari pohon itu kira-kira satu kaki, kakinya dipentang ke kiri dan kanan, berdirinya sebagai huruf "Pat" (delapan). Ia berdiri dengan tegar.

Hoa Ban Hie tidak mau tunggu gerakan orang, karena mereka sudah bikin perjanjian, maka ia hampirkan pohon yang kanan, di sini ia berdiri, secara sembarangan saja, agar ia tidak turut berbuat sesuatu. Ia berdiri di belakang pohon itu, terpisahnya lima atau enam kaki. Maka keduanya jadi satu madap ke timur, satu ke barat.

Nampaknya Hoa Ban Hie berdiri sebagaimana biasa saja, tidak tahunya, injakan kakinya adalah kuda-kuda yang dinamakan Cu-ngo-kian, dan perhatiannya telah dipusatkan, seperti orang bersamedhi saja.

Lioktee Sinmo pun bersikap diam laksana patung, kedua tangannya tidak dikasih bergerak.

Melihat sikap orang itu, di dalam hatinya, Hoa Ban Hie kata, "Kunyuk tua, lagakmu ini tidak boleh dipertontonkan di hadapan aku si pengemis tua bangka! Aku hendak lihat, sampai berapa lama kau bisa berdiam saja secara begitu " Khu Liong Gan juga diam-diam perhatikan sikapnya itu lawan, maka ia heran waktu ia dapat tahu, pengemis tua itu bersikap sembarangan saja, tidak bersungguh- sungguh sebagai dia sendiri. Ia pun tidak berani kata apa-apa, umpama akan desak lawan itu, sebab mereka sudah berjanji akan sama-sama merdeka....

Akhir-akhirnya si Iblis Bumi kumpul semangatnya, dengan ilmu Toocoan samcia atau "Memutar balik tiga buah kereta," ia pusatkan tenaganya di tangan. Ia mendak sedikit, dadanya dimajukan, lantas kedua tangannya dimajukan, ditempel satu pada lain, ujungnya dikasih turun ke bawah. Lengan bajunya gerombongan, kedua tangannya itu tidak terlihat nyata.

Semua mata, dari kedua pihak, telah ditujukan bergantian pada itu dua jago. Mereka pada berdiam saja, meskipun mereka masing-masing berpikir atau menduga- duga, apa bakal terjadi sebagai akibatnya piebu Iweekang itu. Maka itu Haytong-kok jadi sangat sunyi.

Lioktee Sinmo telah bikin gerakan begitu lekas ia sudah kumpul penuh tenaga dan ambekannya. Orang telah menduga bahwa ia bakal pentang kedua tangannya, siapa tahu, ia hanya menolak ke depan, gerakannya lambat, sebagai juga ia tidak menggunakan tenaga, hanya setelah tangan itu mengenai bongkot pohon, baru ia pakai tenaganya. Bongkot pohon itu seperti digencet atau dikacip.

Gerakan ini memberikan kesudahan yang bikin orang kagum. Cabang pohon pada bergerak, daunnya pada rontok. Dan ketika gerakan dilanjuti sampai tiga kali, bongkot pohon pun mengasih tanda dalam, bekas gencetan itu. Pada tiga kakinya, cabang-cabang pun ikut rontok bersama daunnya!

Selagi orang baru bergerak satu kali, Kiongsin yang liehay telah dapat lihat gerakan itu, ialah gerakan tenaga yang dipermainkan dengan kecerdikan, maka ia pun tidak berayal lagi. Ia kumpul tenaganya, sampai ia berdiri laksana ia tumbuh di atas bangku, matanya dirapati tapi seperti bukan dimeramkan, sinar matanya melihat ke bawah, ke hidung, menuju ke mulut, semangatnya menjadi satu. Kemudian, dengan ujungnya kedua tangan nempel satu pada lain, kedua lengannya dibuka ke kiri dan kanan, dipakai mendorong ke depan, perlahan- lahan, sambungan tulang-tulangnya sampai menerbitkan suara nyaring.

Kelihatannya Hoa Ban Hie seperti tidak memakai tenaga sama sekali, kedua tangannya nempel sama bongkot pohon sebagai kedua tangan yang tidak digeraki, demikian pemandangan orang luar. Tetapi, tidak demikian halnya. Begitu lekas tangannya nempel pada pohon, cabang-cabang pohon paling atas, telah bergerak-gerak, disusul dengan suara berisik, dari bergeraknya cabang-cabang itu sampai di tengah-tengah batang yang besar.

Baru sekarang perhatian orang jadi ketarik, dengan kekaguman.

Kemudian datanglah saat penghabisan.

Lioktee Sinmo Khu Liong Gan, dengan tipu Piepee-chiu telah bikin akar-akar pohon terputus dan tercabut, kapan ia telah berbangkit berdiri, kedua tangannya digerakkan ke kiri, dari mana ia membetot ke kanan, akan kemudian kedua tangan itu dipakai mendorong bongkot pohon, maka berbareng dengan suara ngerekek, pohon itu lantas roboh ke kanan.

"Loo-suhu sekalian, harap tidak tertawakan aku!" berkata Khu Liong Gan, yang telah lompat mundur, dan kiongchiu pada orang-orang pihaknya Pian Siu Hoo.

Boleh dibilang berbareng dengan akhirnya gerakan dari Khu Liong Gan, Hoa Ban Hie pun telah berseru dan gunakan tenaganya yang besar, membikin roboh pohon haytong hingga tercabut akar-akarnya, robohnya ke sebelah barat. Karena ini semua orang dari kiri dan kanan telah mengeluarkan seruan kaget dan kagum.

"Khu loosu," berkata Hoa Ban Hie yang mendekati Khu Liong Gan, "dalam hal adu tenaga lweekang ini kali aku menyerah kalah."

Di lain pihak, si Iblis Bumi telah kagumkan benar- benar si pengemis tua itu.

"Hoa loosu," berkata ia serta unjuk hormatnya, "aku Khu Liong Gan menyerah kalah terhadap kau! Di Kanglam dan Kangpak kau boleh menjagoi, aku malu akan berebut kedudukan lagi dengan kau. Di lain kali, kalau toh aku muncul pula di dunia kangouw, itu ada saatnya untuk kunjungi Bancie sanchung! Nah, Hoa loosu, sampai ketemu pula!" Kemudian ia hadapi Pian Siu Hoo dan kawannya untuk unjuk pula hormatnya serta berkata: "Sahabat-sahabat, sampai ketemu lagi!"

Sehabis mengucap demikian, dengan membawa Han- yan-tay-nya Khu Liong Gan loncat ke atas lembah, maka sebentar kemudian, ia sudah lenyap dari pemandangan mata. Pian Siu Hoo tidak cegah orang berangkat pergi, karena ia tahu, sia-sia saja akan mencegah, karena ia kenal baik adatnya si Iblis Bumi yang aneh. Malah ia juga tidak mengantarkan!

Hoa Ban Hie pun antap orang angkat kaki, ia hanya memandang ke pihak Haytong-kok akan tanya siapa lagi yang hendak adu kepandaian, atau Pian Siu Hoo telah berbangkit dari kursinya akan angkat kedua tangannya.

"Hoa loosu," ia berkata, "kepandaianmu benar-benar telah bisa menindih semua orang, aku Pian Siu Hoo sangat kagumi. Sebenarnya, sampai saat ini aku tidak usah pertunjukkan lagi apa-apa yang bisa membikin aku malu, karena kalau beberapa orang kenamaan tadi bukan tandingannya loosu, apa lagi aku. Terhadap kau, loosu, aku tidak berdaya sama sekali. Tapi, aku ada jadi ketua di sini, aku ada jadi tuan rumah, maka itu meskipun mesti jatuh, aku toh ingin main-main dengan loosu untuk terima pelajaran dari kau. Aku harap Hoa loosu mengerti keadaanku "

Tapi, beda terhadap yang lain-lain, Hoa Ban Hie gusar mendengar ucapan tuan rumah ini, yang nyata ada sangat bandel.

"Pian pangcu, baiklah kita jangan berlaku seejie lagi," ia berkata dengan ketus. "Pertemuan telah dibikin, kita telah datang, maka sekarang ketika piebu ada daya pemecahan, kita jangan terlalu banyak bicara lagi! Pian pangcu, bicaralah terus terang, apa yang kau inginkan! Kalau kau benar mengaku kalah, piebu sudah boleh ditutup, kalau tidak, silakan kau sebut, kau hendak piebu dengan pakai senjata atau bertangan kosong, aku selalu bersedia!" Pian Siu Hoo tertawa berkakakan.

"Aku berlaku hormat dan merendah, apa salahnya?" ia berkata. "Kenapa loosu bicara dengan keras dan tegur aku? Loosu, nyatalah kau terlalu pandang enteng padaku si orang she Pian! Baik, loosu, aku ingin coba-coba dengan kau, pemimpin dari Kiongkee-pang!"

"Begitu paling benar! Pakai senjata atau tidak?" "Hoa loosu, Susat-pang-mu ada tersohor, aku

sekarang hendak coba ruyung istimewa itu!" Pian Siu Hoo berkata dengan menantang.

"Pian pangcu, jangan kau dengar obrolan orang atau puji-puji padaku," berkata Hoa Ban Hie, "kau lihat sendiri tadi, ruyungku tidak ada faedahnya! Aku lebih setuju kalau kita gunakan tangan kosong!"

"Aku telah minta, Hoa loosu, tetapi kau tidak meluluskan, kau bikin aku malu," berkata ketua dari Kangsan-pang. "Baiklah aku bicara dengan sebenarnya. Aku mempunyai cambuk Kulouw-pian, setabung jarum Bweehoa Touwkut-ciam dan satu piauw Wan-yoh-piauw, dan semua macam senjata ini aku hendak minta pengajaran dari loosu, sebelum itu, hatiku tidak bisa dibikin puas!"

Hoa Ban Hie sangat mendongkol.

"Oh, manusia busuk, kau benar keterlaluan!" ia berpikir. "Kau jadinya hendak robohkan aku dengan Bweehoa-ciam dan Wan-yoh-piauw? Oh, kunyuk, baiklah—baik kau jangan melamun! — aku si tua nanti layani kau!"

Lantas ia tertawa dengan menyindir. "Pian pangcu," ia berkata, "kau telah memaksa minta aku main-main dengan senjata dan senjata rahasiamu, baiklah, apabila aku tidak mengiringkan, nanti ternyata bahwa aku si pengemis tua tidak sayang diri dan mensia- siakan kebaikan hatimu! Baiklah, pangcu, aku tidak sayangi lagi jiwaku ini, maka aku nanti layani kau dengan tanganku yang berdaging, membungkus tulang ini, guna sambut alat senjatamu itu!"

Jawaban ini membikin Pian Siu Hoo mendongkol hingga hampir ia kalap. Ia merasa sangat diperhina karena orang hendak layani ia dengan tak bergegaman. Nyata ia tak dipandang sama sekali! Tapi karena ini, ia pun jadi ingin lekas dilakukan pertempuran. Ia memang sudah pikir tak mau kasih semua tamunya keluar lagi dari Haytong-kok!

"Hoa loosu," katanya kemudian, dengan coba kendalikan hawa amarahnya, "dengan sikapmu yang mengalah ini, kau benar ada cian-pwee yang sejati, aku ada sangat bersyukur. Sekarang, loosu, mari kita orang mulai!"

Sambil berkata demikian, Tiat-hong-liong mundur empat atau lima tindak, tangannya meraba ke kancing baju dan dari pinggangnya ia keluarkan cambuk Kulouw- pian, bila cambuk itu telah digabruki ke tanah, ia segera sambar ujungnya.

"Hoa loosu, silakan kau beri pelajaran padaku!" ia berkata. Tangan kirinya disusun di atas tangan kanan, kedua kakinya mendek sedikit. Sikapnya ini disusul dengan lompatan akan mendekati pihak lawan, yang ia terus hajar pinggangnya. Hoa Ban Hie tidak berkelit, sebaliknya ia loncat akan merangsek dan rapati musuh, kedua tangannya digerakkan dalam rupa hendak menyerang dada orang. Dengan rapatkan tubuhnya, ia tidak usah takut nanti kena terserang.

Tentu saja gerakan ini sangat berbahaya, tetapi ini ada tipu yang istimewa.

Pian Siu Hoo terperanjat. Serangannya tidak berhasil dan dadanya terancam bahaya. Terpaksa ia loncat ke kanan, kaki kirinya ikut ke belakang, sambil berbuat demikian, tangan kanannya menyabet dengan Kulouw- pian pada bebokong orang.

Dengan terus lempangi tubuh hingga seperti melonjor, Hoa Ban Hie bikin senjata musuh lewat di atas bebokongnya itu, kapan ia telah bangun pula, sambil merangsek ia ulur tangan kanannya tetapi yang diserang adalah dada kirinya si Naga Besi.

Lagi-lagi Pian Siu Hoo menyerang tempat kosong, lagi- lagi ia terancam bahaya, tapi sekarang, sambil berkelit ke kanan, tangan kirinya digunakan untuk membacok tangan kanan musuh.

Hoa Ban Hie tarik pulang tangannya itu, dengan mendek sedikit tangan kirinya menggantikan bergerak akan totok tangan kirinya Tiat-hong-liong.

Melihat bahaya, Pian Siu Hoo segera lompat mundur empat kaki. Ia sengaja renggangkan diri, sesudah itu tangannya menyambar pula. Sekarang ia gunakan Kulouw-pian untuk ketiga kalinya. Ia serang pundak orang. Nyata ketua dari Haytong-kok hendak unjuk ketangkasannya.

Melihat datangnya senjata musuh, Kiongsin berkelit dengan mendek, dan kasih senjata itu lewat di atasan kepalanya. Berbareng dengan itu, ia merangsek, tangannya mengancam gegaman musuh, yang ia hendak rampas.

Lekas-lekas Pian Siu Hoo tarik pulang pian-nya itu.

Demikian mereka bertempur, yang bersenjata menyerang dengan senjata, yang lain bertangan kosong: yang satu hendak rubuhkan musuh, yang lain mau merampas senjata pihak lawan. Dua-duanya bergerak dengan cepat.

Hoa Ban Hie ingin lihat kepandaian orang, ia unjuk kegesitannya. Ia telah gunai ilmu silat Cappe sian-hoan dirangkap dengan Shacaplak-louw toantah, maksudnya terutama akan rampas Kulouw-pian. Kalau musuh mau renggang, adalah ia main rapat.

Pian Siu Hoo benar liehay, sedang cambuknya itu adalah cambuk yang dinamai raja senjata untuk gegaman lemas semacamnya.

Sampai sepuluh jurus lebih, barulah Tiathong-liong buktikan sendiri liehaynya si raja pengemis, tubuh siapa gesit dan licin, tetapi karena ini, ia jadi penasaran, ia mengandung niatan busuk. Maka, kapan ia mulai menyerang, ia berlaku telengas. Mendadakan ia mendek dan menyabet kakinya Hoa Ban Hie.

Tidak ada jalan untuk menyingkir dari serangan itu kecuali loncat mencelat dan ini telah dilakukan oleh Hoa Ban Hie, yang lompat jauhnya sampai satu tombak lebih. Ini justru ada apa yang diinginkan oleh Pian Siu Hoo, tangan siapa diam-diam sudah siap dengan jarumnya, yang lubangnya pun sudah terisi. Ketika serangannya mengenai tempat kosong, lekas-lekas ia memutar ke kanan, ke jurusan mana musuh telah menyingkir.

Si Malaikat Kemelaratan lompat hanya untuk menyingkir sebentar, karena ketika kakinya injak tanah, ia enjot pula tubuhnya, akan lompat kembali pada musuh, guna lagi-lagi datang dekat pada musuh itu.

Ini ada saat yang diharap dan ditunggu-tunggu oleh Tiathong-liong.

"Ke mana kau hendak pergi?" berpikir si Naga Besi, yang gerak tangan kanannya, agaknya ia mau mengancam, tidak tahunya, tangan kirinya kerjakan jarumnya kapan jarinya menekan. Bweehoa-ciam segera loncat keluar dari lubangnya — beruntun lima batang!

Yang jadi sasaran adalah kiri dan kanan, atas, bawah dan tengah!

Semua orang terperanjat, apapula pihaknya sendiri.

Siapa bisa lolos dari itu macam serangan laksana bokongan? Berbahayanya adalah justru si pengemis tua lagi loncat maju....

Akan tetapi ketua dari Bancie sanchung telah bersiaga setiap waktu, karena ia sudah duga, Pian Siu Hoo bakal buktikan perkataannya akan gunai jarum dan piauw di sebelahnya cambuk Kulouw-pian. Ia juga tahu, sebagai ketua dari Haytong-kok, orang she Pian itu mestinya berhati kejam, sudah sedia hendak membinasakan sesuatu musuhnya. Maka selagi ia berkelahi dengan tangan kosong, ia bisa siapkan kimchie atau uang logam, dan kapan ia lihat berkredepannya banyak jarum, sambil tahan tubuhnya, ia geraki tangannya — tangan kiri.

Hoa Ban Hie tidak melainkan pertunjuki ilmu menggunai kimchie itu, malah ia telah pertunjuki kepandaiannya yang istimewa. Di mana musuh melepaskan lima batang jarum dengan berbareng, ia juga tidak bisa gunai sepotong kimchie. Hanya, selagi dengan dua-dua tangan ia bisa melepaskan sepuluh hampir berbareng, sekali ini. ia gunai delapan biji.

"Bagus!" ia berseru ketika jarum-jarum berkredepan menyambar ia, setelah mana, ia teruskan, "Lihat piauw!"

Seruan itu disusul dengan suara kebentroknya jarum- jarum dengan kimchie, yang semuanya telah jatuh runtuh ke tanah, hanya, karena kagetnya Pian Siu Hoo, tahu-tahu tiga batang piauw lainnya sudah menyambar ke jurusannya: atas, bawah dan tengah!

Jarang sekali Pian Siu Hoo gunai jarumnya, ia tidak mau berlaku sembarangan. Ia tahu, asal jarum itu digunai, pihak lawan mesti binasa atau entengnya, terluka parah. Sampai pada saatnya pertempuran di Haytong-kok ini, guna mati dan hidupnya, baru tiga kali ia gunai bweehoa-ciam. Maka ia heran, kaget dan menyesal sekali, senjatanya yang liehay itu, satu kali ini telah tidak menghasilkan suatu apa. Sudah begitu, selagi ia keheran-heranan, tiga batang piauw uang dari si Malaikat Kemelaratan justru menyerang ia!

Menggunai kecelian mata dan kegesitan tubuhnya, Tiathong-liong lekas berkelit dengan loncat ke kiri sambil Kulouw-piannya ia pergunakan, maka berbareng tubuhnya selamat, tiga batang piauw-nya ia bisa sampok jatuh dengan berbareng. Tetapi Hoa Ban Hie gesit laksana kilat, selagi piauw- nya sampai tubuhnya sendiri pun sudah mencelat menyusul, dan selagi pian dari si Naga Besi dipakai menyampok piauw-nya, ia sendiri sudah menyerang, dengan ilmu pukulan Tokcoa simhiat-chiu atau "Ular berbisa mencari lubangnya." Yang bergerak utama adalah dua jari telunjuknya yang tengah dari tangan kanan.

Menghadapi lawan tangguh itu, Pian Siu Hoo mesti perlihatkan kegesitan tubuhnya keawasan mata. Ia tidak mau kasih tubuhnya kena ditotok, dari itu, lagi sekali ia egos tubuhnya ke kiri. Tetapi ia tidak mau hanya berkelit, sembari berkelit, ia kerjakan pian-nya yang tidak kurang liehaynya. Dengan satu sabetan, Kulouw-pian menyambar ke pinggang. Itu ada sabetan yang dinamai Yauwheng gioktay atau "Angkin kumala memapar pinggang." Yang luar biasa, pian dari tangan kanan dipindahkan ke tangan kiri, tangan kiri ini yang menyerang, dan tangan kanan, sambil digeraki ke atas, disusul dengan seruan, "Awas!" Dan tangan kanan itu ternyata sudah dipakai menggunakan Wan-yoh-piauw, dua buah, satu mengarah pundak kiri, satunya lagi ke iga kanan.

Hoa Ban Hie mengerti maksudnya seruan itu, ia pun mengerti bahaya yang mengancam ia, karena jaraknya mereka berdua berada terlalu dekat satu pada lain. Ini pun menjadi keinginan dari si Naga Besi, yang merasa pasti, jikalau ia menimpuk dari jauh, timpukannya bakal sia-sia saja terhadap ketua dari Bancie sanchung itu.

Dalam saat yang berbahaya ini, tidak bisa lain, Kiongsin mesti gunai ilmu entengi tubuhnya yang paling istimewa, ialah Tootiam Lengpo-pou, yang mirip dengan terbang melayang. Berbareng dengan gerakan pundaknya, kakinya menjejak, tubuhnya menyusul, mencelat ke atas, justru kedua piauw baru saja mau sampai kepada tubuhnya. Tapi ia tidak berkelit jauh, hanya selagi piauw lewat, ia sudah turun pula ke tanah, tidak jauh di sampingnya.

Di mana Tiathong-liong telah lakukan dua gerakan dengan berbareng, ia sebenarnya berada dalam kedudukan berbahaya, sebab selagi tubuhnya ada tidak tetap, kedua tangannya pun tidak bersiap. Dan, yang bikin ia tercengang, selagi tubuhnya turun Hoa Ban Hie sudah ulur tangannya, akan menyambar kedua potong Wan-yoh-piauw — disambar dari samping, seperti dijumput saja. Memang, dijumput dari belakang, lenyaplah bahayanya senjata rahasia itu.

Nyata Kiongsin tidak puas dengan sikapnya ketua dari Kangsan-pang atau tuan rumah dari Haytong-kok — tuan rumah sembatan saja. Ia tahu bahwa orang telah berlaku terlalu telengas terhadap dia. Maka itu, ia pikir, ia tidak boleh tidak balas "kehormatan" yang diberikan kepadanya. Maka juga sebat luar biasa, hingga gerakan tangannya seperti tidak kelihatan menimpuk, ia sudah kirim balik dua piauw itu!

Tiathong-liong tahu yang ia telah lakukan dua macam penyerangan dengan berbareng dengan membahayakan musuh begitupun dirinya sendiri, sebab dirinya jadi lowong, tetapi karena ia tahu, ia sedang hadapkan musuh luar biasa tangguh, ia pun berlaku hati-hati, ia mau bersiap, ia mesti gunai kegesitannya. Demikian, sekalipun ia tercengang dan kagum atas kepandaian musuh, toh ia sudah lekas-lekas pindahkan pian dari tangan kirinya, ke kanan, maka juga, tatkala piauw-nya dikirim balik padanya, ia tidak menjadi gugup, tenang tetapi cegat sekali, ia gunai Kulouw-pian, akan menyam- pok, guna selamatkan dirinya.

Di sini adalah kesehatan yang memegang peranan.

Bagaimana cepat Pian Siu Hoo bersiap, ia melainkan bisa sampok piauw yang menyambar pundaknya, sebab piauw datangnya berbareng, ia sukar sampok senjata yang arah iga. Maka, dengan terpaksa, sambil menyam- pok, ia egos tubuhnya. Tapi serangan dari Hoa Ban Hie, yang pun menyerang dari tempat dekat, bukannya serangan dari orang kebanyakan, kedua piauw-nya menyambar bukan main cepatnya. Maka itu, biar ia berlaku sangat sebat, Pian Siu Hoo toh kaget sampai ia keluarkan keringat dingin ketika piauw kena sambar bajunya di bagian iga, sampai baju itu bolong oleh karena toblosannya piauw! Lagi sedikit saja, ia tentu bakal terluka.

Dengan satu gerakan, Pian Siu Hoo loncat ke kanan, pian-nya ia lepaskan hingga jatuh ke tanah, karena ia tahu yang pertandingan tidak bisa dilanjuti lagi.

"Aku menyerah," ia kata.

Hoa Ban Hie berhentikan segala gerakannya, ia berdiri diam mengawasi tuan rumah dengan unjuki senyuman tawar.

Di waktu itu, Yan Toa Nio dan Yan Leng In telah berbangkit, dengan niatan loncat masuk ke dalam kalangan. Mereka telah pikir, tidak peduli Pian Siu Hoo sudah menyerah kalah tetapi mereka sendiri tak mau berhenti dengan begitu saja. Mustahil, karena orang menyerah, mereka lantas tidak wujudkan pembalasan sakit hati mereka? Tiathong-liong telah dapat lihat sikapnya itu ibu dan anak, ia segera tertawa berkakakan.

"Hoa chungcu!" ia lantas kata, dengan suaranya yang nyaring, "dengan pertemuan malam ini, aku si orang she Pian telah nampak keruntuhanku! Tentu saja aku bertanggung jawab atas segala apa, untuk itu, aku tidak nanti mundur, maka andaikata kau masih tidak puas dan kau berniat ambil kepalaku dari batang leherku, silakan kau turun tangan, aku si orang she Pian tidak bakal menghalangi atau melakukan serangan membalas! Tapi, jikalau kau masih hargakan peraturan di kalangan Sungai Telaga, aku harap kau masih bisa menimbang! Aku telah kalah, maka pemberesan selanjutnya baik kita orang bicarakan di atas meja, kalau dalam pembicaraan orang inginkan tubuhku remuk dan tulang hancur belarakan, baik, aku nanti terima ini!"

Hoa Ban Hie, biar bagaimana aneh adatnya, masih bisa menimbang. Ia anggap ia tidak boleh antap itu ibu dan anak turun tangan, karena sesudah Pian Siu Hoo mengalah, ketua Kangsan-pang ini tidak boleh didesak habis-habisan, itu bisa menerbitkan perasaan tidak puas atau kemurkaan umum di kalangan Sungai Telaga. Ia pun tadinya tidak sangka yang Pian Siu Hoo hendak menyerah dengan begitu saja.

"Sabar," ia lantas berkata seraya ulap-ulapkan tangan pada itu ibu dan anak, "urusan kau orang nanti kita orang carikan pemberesannya. Kalau kamu berdua ibu dan anak masih memandang padaku si pengemis tua, tolong kau bersabar dahulu." Kemudian ia teruskan pada tuan rumah, "Pian pangcu, secara begini pertemuan di Haytong-kok ini diselesaikan, ini menandakan kebijaksanaanmu, cuma urusan kita semua, ini malam juga perlu dibereskan, dari itu, coba kau utarakan caranya untuk membereskannya. Harap kau berlaku sedikit sebat."

Pian Siu Hoo sudah jumput cambuk Kulouw-pian-nya, untuk dililit pula di pinggangnya.

"Hoa chungcu," ia menyahut, "tentu saja aku si orang she Pian niat bereskan urusan kita yang masih bergantung. Bukankah siapa juga tahu siapa membunuh orang, ia mesti mengganti jiwa, siapa hutang uang, ia mesti membayar uang? Jikalau aku si orang she Pian takut mati, tidak nanti sekeluarnya dari Giokliong-giam, aku lantas dayakan pula pertemuan ini. Kalau aku takut mati, niscaya aku sudah singkirkan diri jauh? Maka sekarang, di Haytong-kok ini, kita nanti bereskan urusan kita. Di dalam Haytong-kok ini masih ada satu tempat lain yang bagus dan sunyi dan bersih, meski di sini aku berdiam untuk sementara, toh tempat itu aku telah siapkan. Sahabat-sahabat baik, kenapa kita orang tak mau bikin pertemuan yang penghabisan, agar kalau nanti kita orang bertemu pula, itu bakal terjadi di lain dunia? "

Dengan matanya yang tajam, Hoa Ban Hie awasi orang-orang pihaknya sendiri, kemudian ia bersenyum.

"Bagus, Pian pangcu!" akhirnya ia menjawab. "Kau ada orang kenamaan dalam dunia kangouw asal kau suka bereskan soal menurut caranya satu enghiong sejati, aku si pengemis tua, suka iringkan kau. Aku bukannya satu sahabat jikalau aku tidak sudi bantu kau! Nah, mari aku si tua temani kau!"

Pian Siu Hoo lantas menoleh pada orang-orangnya. "Lekas bawa lentera!" ia kata. "Lekas pimpin tetamu- tetamu kita yang terhormat pergi ke belakang!"

Segera juga muncul duapuluh lebih anggota Kangsan- pang, yang pada lemparkan senjata mereka ke pinggiran, hingga suaranya tombak, golok dan toya, jadi berisik, kemudian, sebagai gantinya, dengan tangan kosong, mereka pada ambil lentera dan obor. Mereka berdiri dalam dua barisan, dengan rapi mereka bertindak, menuju ke belakang, ialah ruangan yang dimaksudkan oleh Pian Siu Hoo, yang beradanya di sebelah belakang dari lapangan di mana mereka adu jiwa.

"Hoa chungrju, harap kau suka pimpin rombonganmu," kata Pian Siu Hoo pada si pengemis, sikapnya menghormat sekali. "Persilakan!"

Dari sikapnya, kelihatan nyata Pian Siu Hoo tidak lagi kandung maksud jelek.

Di pihaknya Hoa Ban Hie, melainkan Yan Toa Nio dan gadisnya, yang tetap unjuk roman tidak puas, tetapi mereka toh terpaksa ikut. Mereka bisa sabarkan diri, untuk dengar caranya penyelesaian dilakukan. Sekarang, kecuali sikapnya Pian Siu Hoo, si musuh besar, mereka pun hendak uji ketua dari Bancie sanchung.

Pian Siu Hoo juga unjuk hormat pada semua orang di pihaknya, orang-orangnya sendiri atau tetamu-tetamu yang bantu ia, yang ia persilakan turut masuk. Kecuali rombongan yang bawa api, ia adalah yang jalan di muka, diikuti oleh rombongannya sendiri dan Hoa Ban Hie, yang jalan di muka semua kawannya.

Mereka telah lewatkan selerotan rumah-rumah terbikin dari kayu, lantas jalanan ada buntu, sebab di muka mereka sekarang mengadang, satu tembok bukit, yang merupakan bukit, yang tinggi. Buat ahli-ahli silat, bukit itu tidak menjadikan rintangan, tetapi itu waktu, bukan saatnya orang unjuk kepandaian.

Orang berjalan terus. Mereka sampai di kaki bukit, yang seperti merupakan tembok itu, di situ mereka berada di antara sekumpulan pohon haytong. Mereka lintasi pohon-pohon ini, hingga mereka lantas hadapi lamping bukit di mana ada mulut gua atau terowongan. Kelihatannya itu ada jalanan buatan manusia, lebarnya cukup untuk empat atau lima orang masuk dengan berbareng. Jalanan di mulut terowongan itu ada bersih.

Duapuluh lebih orang barisan pengantar jalan terus, masuk ke dalam terowongan itu.

Cukat Pok cepatkan tindakannya, akan tempel Hoa Ban Hie, lengan siapa yang kiri ia bentur. Tan Ceng Po dan Lim Siauw Chong juga sudah lantas maju. Bertiga mereka bercuriga. Mereka tidak takut kalau mesti bertempur secara berterang, tetapi kalau ketua Kangsan- pang itu atur tipu daya, itulah berbahaya, hebat akibatnya. Meski begitu, mereka tidak berani buka mulut, akan cegah Hoa Ban Hie.

Kiongsin jalan terus. Ia berendeng dengan Pian Siu Hoo, yang saban-saban undang tetamunya jalan di sebelah depan. Ketika masuk di mulut terowongan, si Naga Besi bertindak lebih dahulu. Ia rupanya mengerti bahwa ia tidak boleh bikin orang nanti curigai ia. 

Si Malaikat Kemelaratan bertindak dengan diiringi oleh Cukat Pok, Tan Ceng Po dan Lim Siauw Chong, setelah mereka, baru ikut yang lain-lain. Kapan akhirnya mereka lewatkan terowongan, ternyata mereka telah tiba di suatu tempat terbuka yang nampaknya sebagai paso atau jambangan, panjangnya dari timur ke barat ada lima atau enambelas tombak, dan lebarnya ada sepuluh tombak lebih. Melihat ke atas mereka tampak langit. Di sekitarnya ada lamping bukit yang tinggi, di situ tumbuh pohon-pohon kecil dan rumput. Tingginya lamping ada belasan tombak. Agaknya itu ada lembah di dalam lembah. Jika dipandang dari atas, tempat itu merupakan jurang yang mirip mangkok.

Cahaya lentera-lentera dan obor merupakan pemandangan yang suram.

Tonglouw Hiejin Tan Ceng Po lantas saja percaya bahwa tempat ini adalah tempat yang sudah diatur.

Di sebelah timur, menghadap ke lamping bukit, ada diatur meja-meja serta kursi-kursinya. Di atas setiap meja ada diletaki sebatang lilin yang besar, sebagaimana besarjuga ciak-tay-nya.

Sebenarnya, begitu tiba di mulut terowongan sebelah dalam, Tan Ceng Po ingin merandek untuk lebih dahulu minta penjelasan dari Pian Siu Hoo. Ia benar-benar bersangsi dan menduga Pian Siu Hoo ada mengandung maksud tidak baik. Sesudah menang piebu di luar, bagaimana dengan di dalam?

Liongyu Hiejin Lim Siauw Chong juga dapat dugaan sebagai kawannya itu, tetapi ia sebagai saudaranya, tidak mau tanya apa-apa pada Hoa Ban Hie, siapa bertindak terus dengan berani, sikapnya sewajarnya saja. la bisa bicara dan tertawa, agaknya ia tak bercuriga sedikit juga. "Lihat, Hoa thjungcu, apakah tempat ini tidak bagus?" berkata Pian Siu Hoo serta memandang ke sekitarnya. Ia unjuk roman gembira "Sejak kita orang datang kemari, baru saja dua malam kita orang dapatkan tempat yang bagus ini di mana kita orang lantas berdiam. Ada sukar akan dapatkan tempat kedua yang semacam ini. Ini adalah tempat buatan alam. Aku pun pilih ini karena aku anggap rumah-rumah di sebelah depan tak cocok untuk dijadikan tempat kita orang berkumpul akan berunding. Apakah chungcu setuju?"

"Pian pangcu, ini benar-benar ada tempat bagus yang sukar dicari keduanya!" berkata Hoa Ban Hie dengan turuti lagu suara orang. "Aku suka tempat seperti ini!

Jangan seejie lagi, pangcu, mari kita orang berduduk!"

"Aku tidak mampu bikin pesta besar, tetapi untuk tamu-tamuku sekalian, aku toh bisa suguhkan sedikit perjamuan," Pian Siu Hoo berkata pula. "Di sini, sesudah berjamu dan bicara, kita orang akan bikin pertemuan yang penghabisan "

Baru saja Pian Siu Hoo berhenti bicara atau dari mulut terowongan telah muncul belasan anggota Kang-san- pang yang membawa nenampan terisi barang-barang makanan, piring mangkok, sumpit dan cawan berikut araknya. Semua itu sudah lantas diatur di atas meja- meja yang berbaris di kiri dan kanan. Pian Siu Hoo juga sudah minta semua orang, tamu-tamu dan pihaknya sendiri akan ambil tempat duduk.

"Silakan minum, sahabat-sahabat," Pian Siu Hoo mengundang untuk pertama kali. Ia tunggu sampai semua cawan sudah diisi, sembari berdiri sambil pandang Hoa Ban Hie, ia berkata, "Hoa chungcu, sudah tigapuluh tahun lebih aku hidup di kalangan Sungai Telaga, sekarang akan mendekati hari penghidupanku yang terakhir. Benar-benar aku tidak pernah sangka bahwa aku akan tamatkan penghidupanku ini dengan jalan roboh di tangannya seorang kenamaan sebagai kau! Ini pun ada hal yang terjadinya sangat sukar, maka itu, chungcu, mari minum!"

Sebenarnya arak dari Haytong-kok ini bisa mendatangkan kecurigaan, tetapi Hoa Ban Hie tidak bersangsi sedikit juga. "Pian pangcu, kau sangat baik," ia berkata. "Aku harap, setelah pertemuan ini, kau nanti pimpin semua orang di pihakmu pada jalan yang benar, agar kita semua bisa hidup dengan aman dan damai, supaya mereka bisa jadi orang-orang yang berarti. Di dalam dunia tidak ada urusan yang tak dapat diselesaikan. Pian pangcu, kau telah utarakan hatimu, nah, mari kita orang minum!"

Hoa Ban Hie angkat cawannya menghadapi tuan rumah, lantas berbareng dengan tuan rumah, ia keringkan cawannya. Perbuatan ini diturut oleh orang- orang dari kedua pihak, tetapi mereka hanya tempel saja mulut cawan untuk icipi araknya....

"Malam ini aku si orang she Pian tidak lagi akan berlaku licin," berkata Pian Siu Hoo. "Kita orang sudah piebu dengan perjanjian, pihakku kalah, aku terima itu dengan senang. Dalam hal ini aku bertanggung jawab, tidak peduli di antara pihakku ada tamu-tamu yang terhormat. Dari sahabat-sahabatku itu aku mengharap kebijaksanaan, agar mereka menurut segala putusanku. In loosu telah melakukan pelanggaran di dalam Bancie sanchung, ia sudah melanggar kesuciannya pelita suci dari Kiongkee-pang, untuk memperbaiki itu, aku sendiri yang nanti pergi akan perbaiki kedudukannya pelita itu, buat sekalian haturkan maaf pada sucouw dari Kiongkee- pang. Tapi kalau diharuskan si orang she In yang pergi dan lakukan itu sendiri, inilah aku tidak mau mengerti, secara demikian aku jadinya bukan bertanggung jawab sepenuhnya. Sesudah urus halnya pelita suci itu, lantas kita dari pihak Kangsan-pang dibiarkan penghidupan kita. Tentu saja aku tidak ada muka akan kembali ke Hucun- kang! Perihal urusanku dengan Yan Toa Nio ibu dan anak, itu pun aku niat bereskan sekarang, aku akan serahkan kepu-tusannya pada mereka berdua. Hanya semua suhu di sini mesti ketahui, Kangsan-pang bukan terdiri dari aku satu orang, meski benar aku sudah serahkan diriku, kalau terhadap diriku orang turun tangan sekarang juga, di sini aku tidak mau tanggung jawab untuk akibatnya. Apa ada kawan-kawanku yang puas, suka melihat aku diperlakukan tak semestinya? Apa mereka tidak nanti bikin Haytong-kok ini jadi tempat penumpahan darah? Aku minta lembah ini jangan dipandang sebagai Giokliong-giam Hiecun. Itu ada urusan Englok-pang dan aku sebagai sahabat melainkan membantu sahabatku, hanya kebetulan saja, di sana bolehnya ada musuhku sendiri, hingga aku tidak bisa menyingkir dari mereka itu. Aku telah roboh di sini, aku malu buat hidup lebih lama, maka lebih baik di sini aku kucurkan darahku akan mencuci malu. Aku tidak mau menyingkir dari Yan toa-nio berdua, aku hanya minta diberikan sedikit waktu, ialah sampai aku telah selesai perbaiki kedudukan pelita suci di Bancie sanchung dan selesaikan pembubaran Kangsan-pang, sesudah itu, di Haytong-kok ini aku akan tunggu kedatangannya Yan toanio berdua. Aku si orang she Pian bisa jatuh satu kali, tidak buat kedua kalinya, dan tidak nanti aku tebalkan muka akan siapkan perlawanan lagi! Aku tak akan cari malu lagi! Hoa chungcu, aku telah bicara, coba sekarang chungcu sekalian pikir, bagaimana dengan usulku ini, akur atau tidak?"

Semua orang terperanjat untuk usul atau putusannya Pian Siu Hoo itu. Dengan itu, kecuali dirinya sendiri, Pian Siu Hoo juga hendak tamatkan lelakonnya Kangsan- pang. Toh Pian Siu Hoo bukannya satu bubeng siauwcut. Tidak disangka si Naga Besi berani ambil putusan jujur dan terhormat itu.

Hoa Ban Hie selalu awasi Pian Siu Hoo, maka setelah selesai orang bicara, ia berbangkit serta berkata, "Pian pangcu, kau benar ada satu laki-laki! Di depan tadi kau ada lain, di sini lain lagi. Memang juga, di dalam piebu orang jangan terlalu rewelkan kalah atau menang, kesudahan itu harus diterima dengan ridlah. Pangcu, kau telah menyerah dan majukan usul, aku harap itu telah keluar dari hatimu yang suci dan tidak mengandung lain maksud lagi! Aku harap pangcu insyaf bahwa di sini kau telah bicara di muka orang banyak. Pangcu, kau telah menanggung jawab, kau malah hendak wakilkan sahabatmu si orang she In, sikapmu ini membikin aku sukar. Kau harus ketahui, aku juga ada seorang perantauan, aku benci orang kejam yang hendak habiskan segala apa sampai di akar-akarnya Sekarang kau telah insyaf, apa kau harus didesak? Tidak, pangcu. Baik, kau hendak berkorban untuk si orang she In, aku juga mau berkorban untuk kaumku. Sekarang aku tidak inginkan kau pergi ke Bancie sanchung untuk memperbaiki kedudukannya pelita suci, meski aku lakukan itu, biaraku yang mengaku dosa dan bersalah terhadap su-couw. Sekarang selesailah urusan Bancie sanchung! Maka sekarang mari kita bereskan urusanmu dengan pihak Kiushe Hiekee. Menurut aku, baiklah kamu orang membagi daerah dan bekerja masing-masing, untuk selanjutnya tidak lagi saling mengganggu, sebaliknya agar kamu orang saling menghormat! Pangcu, biar bagaimana, kau tidak bisa gunakan kekuasaanmu akan bubarkan Kangsan-pang. Kau harus mengerti, akibatnya itu ada hebat. Anggota Kangsan-pang ada banyak, kalau mereka bubar, mereka akan kelayapan dan hidup tidak keruan, ini akan membikin rusak hidupnya mereka. Lebih oaik mereka tetap dikumpulkan serta hidup tenang dan damai satu dengan lain. Di sini ada Tan Ceng Po dan Lim Siauw Chong kedua loosu, aku percaya mereka setujui pemecahanku ini. Bagaimana bagus untuk hidup terpisah tetapi tidak bermusuhan.

Tentang dirimu sendiri, itu terserah padamu: kau boleh tetap ikuti Kangsan-pang, kau pun boleh tinggal pergi, asal mereka tidak dibubarkan. Sekarang tinggal halnya permusuhan kau dengan Yan Toa Nio dan anaknya. Kau telah binasakan suami dan ayah mereka, inilah hebat.

Karena sakit hati itu, mereka terlunta-lunta duapuluh tahun, hidup sengsara dan hati sakit, hingga mereka takut kembali ke Hucun-kang dan harus pergi jauh dan umpetkan diri. Memang tidak pantas kalau ibu dan

anak itu tidak diberikan ketika untuk mereka mencari balas. Tapi, Pian pangcu, di sini ada satu soal lagi. Kalau kamu orang bertempur dan kau terima hukumanmu, itu ada lain, tetapi kau hendak serahkan dirimu, kau bersedia buat dibunuh, maka apakah kejadian ini kita orang boleh awasi saja sebagai juga kita orang sedang menonton suatu pertunjukan? Tidak! Ini pun ada satu soal. Sebenarnya, sakit hati harus dilenyapkan, bukannya mesti diperkeras. Sekarang ibu dan anak membalas sakit hati, sedangkan kau mempunyai murid atau turunan, tentu mereka itu juga mau membalas sakit hati. Kalau kedua pihak terus mau membalas, kapan ini habisnya? Maka aku anggap, sesudah mau mengaku salah dan insyaf, aku pikir baiklah kau akui kesalahan itu terhadap Yan toa-nio dan puterinya, kau minta ampun dari mereka, kemudian kau bikin sembahyang buat almarhum Yan loosu. Sejak itu, lantas sakit hati habis, urusan beres, dan selanjutnya kita semua bisa hidup dengan damai hingga pada turunan kita juga. Untuk penghidupannya keluarga Yan, aku percaya pihak Kangsan-pang bersedia akan berikan tunjangan tetap dan tentu. Dengan cara ini, Pian pangcu, kesatu kau tidak usah terpisah kepala dari tubuh, kedua Yan toanio dan anak telah unjuk kebijaksanaan yang harus dijunjung!"

"Hoa chungcu," berkata Pian Siu Hoo, setelah ia dengarkan pembicaraan yang panjang lebar itu, "terang dengan pertimbanganmu ini, kau hendak melindungi aku, maka biar bagaimana juga, aku tak akan lupakan budimu. Dua usul yang pertama aku bersedia akan menerima. Meski begitu, aku sendiri nanti pergi ke Bancie sanchung akan haturkan maafku. Hanya yang ketiga, aku tidak sanggup terima."

Yan Toa Nio dan Yan Leng In sudah berdiri, mereka tidak puas terhadap pertimbangan dari Hoa Ban Hie, mereka hendak membantah. Cara bagaimana mereka mesti dicegah membalas sakit hati untuk Yan Bun Kiam, suami dan ayah mereka? Sebelum mereka buka mulut, mereka dengar penyahutannya Pian Siu Hoo, itu adalah penyahut-an yang kebetulan bagi mereka. Sudah begitu, Pian Siu Hoo pun awaskan mereka sambil bersenyum. "Hoa chungcu, harap kau tidak salah mengerti," berkata pula Pian Siu Hoo sebelumnya si pengemis tua keburu buka mulutnya, "bukannya aku tidak hargakan kau tetapi urusan yang ketiga ini lain sifatnya. Dalam hal ini, aku tidak ingin hidup, aku tidak mau tinggalkan ekor keruwetan bagi pihak sahabat-sahabatku di Hucun-kang dan bersedia untuk menjadi setan tak berkepala? "

Baru saja Tiathong-liong tutup mulutnya, atau dari mulut terowongan telah berlari-lari mendatangi dua anggota Haytong-kok yang terus hampirkan si Naga Besi dan memberi hormat serta melaporkan, katanya, "Di luar datang Kee Thian Leng suhu, ketua dari pelabuhan Tiatcit-kang dari Lengpo, ia sudah masuk di mulut lembah, malah barangkali ia sekarang telah tiba di Haytong-kok."

Pian Siu Hoo segera berbangkit, ia kertak gigi, romannya ada mendongkol.

"Kenapa loo-cianpwee itu datang kemari justru di saat begini?" ia berkata, seperti pada dirinya sendiri. "Benar- benar celaka!"

Suaranya anggota Haytong-kok itu nyaring dan terdengar nyata oleh semua orang. Maka itu, mereka juga turut merasa heran.

Kee Thian Leng, ketua atau liongtauw dari Tiatcit- kang, ada satu ahli silat yang ternama, yang sudah lama mengundurkan diri, sebagaimana Tan Ceng Po dan Lim Siauw Chong, jarang sekali ia muncul dalam pergaulan. Di masa pergaulannya, ia sangat terkenal dan dimalui karena kegagahannya. Dalam waktu dua atau tiga tahun, daerah perairan Lengpo yang terganggu bajak telah dapat dibikin aman, dengan demikian ia telah tolong juga kaum nelayan hingga selanjutnya hidupnya mereka ini jadi terhindar dari gangguan. Tadinya, satu tahun atau setengah tahun sekali, ia masih suka datang akan tengok kaum nelayan itu, hanya setelah berselang sepuluh tahun lebih, ia tidak pernah tertampak pula. Maka sekarang

tiba-tiba jago tua itu muncul, orang menjadi heran. Dan umumnya orang menganggap, jangan-jangan urusan akan menjadi salin rupa.

Hoa Ban Hie pun heran bahwa Pian Siu Hoo bisa datangkan guru silat tersohor itu.

"Hoa chungcu," berkata Pian Siu Hoo kemudian, "hal ini ada di luar dugaanku. Aku tidak sangka yang loo- cianpwee itu boleh datang ke Haytong-kok. Urusan di sini aku telah bikin rusak, aku sangat malu akan ketemu dengan orang tua itu, tetapi karena aku menjadi ketua di sini, aku toh mesti keluar akan sambut padanya, sebab aku tidak boleh berlaku tidak tahu adat. Aku percaya chungcu sekalian pernah mendengar namanya Kee loo- cianpwee itu, maka silakan cuwie tunggu sebentar, aku nanti sambut padanya dan undang ia datang kemari."

Setelah berkata demikian, Pian Siu Hoo balik tubuhnya akan hadapkan kawan-kawannya. Ia lalu berkata dengan cara yang menghormat, "Ciongwie, tolong berlaku manis padaku, mari ikut aku pergi sambut Kee loo-cianpwee!

Orang telah datang dari tempat yang jauh, kita orang mesti sambut padanya secara hormat."

Sampai waktu itu, Hoa Ban Hie yang cerdik dan berpengalaman masih belum bisa menduga ada hubungan apa di antara jago tua dari Lengpo itu dengan ketua Kangsan-pang. Sementara itu Itcie Sinkang In Yu Liang, Kimtoo Cee Siu Sin dan kawan-kawannya yang termasuk pihak Haytong-kok telah berbangkit dan semua ikuti Pian Siu Hoo keluar dari dalam lembah istimewa itu, sedang semua anggotanya yang memegang lentera dan obor, lantas berbaris di mulut gua, semua unjuk sikap seperti mereka hendak sambut orang besar.

Ketika orang berjalan keluar, Tan Ceng Po dekati Hoa Ban Hie.

"Loo-cianpwee, urusan ini ada aneh," ia berkata dengan berbisik. "Di antara pihak Lengpo-pang dan Hucun-kang pasti tidak ada perhubungan baik, menurut apa yang aku ketahui, mereka kedua pihak sering berbentrok, malah pada satu tahun yang berselang, mereka telah bentrok secara besar-besaran. Bagaimana ketua dari Lengpo-pang justru sudi datang kemari, meskipun ia diundang oleh Kangsan-pang? Apapula Kee loo-cianpwee itu sudah banyak tahun tidak pernah munculkan diri. Pian Siu Hoo hendak menjagoi sendiri, ia ingin robohkan semua kaum lainnya, cara bagaimana ia bisa mengikat tali persahabatan dengan Lengpo-pay?

Loo-cianpwee, aku kuatir orang licin ini sedang mengatur akal? "

Hoa Ban Hie usut kumisnya, ia bersenyum ewah. "Kalau dugaanmu benar, itulah terlebih baik lagi!" ia

menyahut. "Kalau benar orang tua itu telah diundang datang kemari, ia benar-benar ada tandinganku, maka ini ada ketikanya untuk aku si pengemis tua melakukan ujian yang penghabisan! Umpama si binatang main gila dengan jalan keluar dari sini untuk meninggalkan kita, itu berarti telah sampai saat kematiannya" Cukat Pok bangun berdiri.

"Kita orang telah peroleh kemenangan, mustahil kita orang bisa diundang masuk kemari untuk mandah dipengaruhi," katanya pada Tan Ceng Po dan Lim Siauw Chong. "Kita orang tidak boleh terlalu ber-besar hati.

Mari kita keluar akan melihat!"

Di saat Souwposu hendak meninggalkan kursinya, mendadak di mulut gua terdengar tiga kali suara suitan yang terus saja disusul dengan seruan, "Kenapa semua api tidak mau lekas dilemparkan? Hayo kita orang bikin penyambutan!"

Seruan itu diturut oleh duapuluh lebih anggota Haytong-kok yang memegang lentera dan obor, yang terus melemparkan lentera dan obor mereka, sedang mereka sendiri segera bergerak menyingkir keluar.

"Inilah aneh!" berkata Cukat Pok yang bercuriga dan terus saja loncat ke mulut gua itu.

Di dalam gua masih ada cukup cahaya terang, karena pengaruh-pengaruhnya lilin-lilin di atas meja

Baru saja Cukat Pok sampai di mulut terowongan, lantas di kedua samping mulut jalanan itu, ia dengar bunyinya suara yang nyaring dan berisik, disusul dengan suara tergetarnya lembah itu, karena dari atas bukit lantas jatuh sepotong batu sangat besar, yang jatuh bergelindingan. Syukur Souwposu ada celi kuping dan gesit gerakannya, ia bisa lompat menyingkir dari batu besar itu.

Segera juga menyusul suara berisik yang lain, yang lantas ternyata ada dari bekerjanya banyak tangan yang menggunakan batu, tanah dan lain-lain untuk menutup jalan terowongan itu, hingga sebentar kemudian, rombongannya si Malaekat Kemelaratan telah tertutup di dalam lembah istimewa itu.

Suara berisik yang menakutkan tidak berhenti sampai di situ. Di atas bukit, di empat penjuru, lantas terdengar suitan berulang-ulang yang disusul dengan bersinarnya cahaya api, karena lantas ternyata di situ orang menyalakan obor.

Hoa Ban Hie, Tan Ceng Po, Lim Siauw Chong, Cukat Pok, Yan Toa Nio dan gadisnya, Kie Kiam, Ang Tiu dan yang lain-lain, murid-murid dari Bancie sanchung, lantas hunus senjata mereka. Semua mata mereka ditujukan pada Kiongsin, pemimpin mereka yang mereka telah sesalkan — di dalam hati saja — sudah terlalu percaya pada Tiathong-liong Pian Siu Hoo. Sekarang ternyata mereka sudah dipancing masuk ke dalam jambangan itu!....

Semua orang jadi berkecil hati, karena mereka menduga serangku pihak musuh akan lekas datang, kalau tidak dengan hujan anak panah, pasti dengan api, dan semuanya itu ada sangat berbahaya, karena di situ mereka tidak bisa menyingkir atau cari tempat untuk berlindung.

Sampai di saat itu, tenang laksana gunung. Taysan, Hoa Ban Hie masih duduk tetap di kursinya. Ia tidak bergerak dan tidak bicara, ia seperti tidak lagi hadapkan kegentingan.

Pengemis tua Ang Tiu ada sama derajatnya dengan Kiongsin, tetapi ia tidak berani banyak bicara atau tegur ketua dari Bancie sanchung, karena itu, Tan Ceng Po dan Lim Siauw Chong pun tidak mau berkata apa-apa. Hanya, setelah lewat pula beberapa saat, Ang Tiu tidak bisa tahan lagi kemendongkolannya. Ia lantas perdengarkan suara dingin.

"Chungcu, Pian Siu Hoo benar-benar ada satu sahabat sejati! Dan kau, chungcu, kau juga ada satu sahabat tulen! Kita sekarang telah kena dirobohkan, baru sekarang kelihatan nyata isi perutnya orang she Pian itu

— isi perut dari srigala dan anjing! Chungcu, kau telah puas merantau, barulah sekarang matamu terbuka lebar! "

Hoa Ban Hie berdiam saja, kecuali matanya yang dipakai memandang ke segala penjuru, ia dengar teguran atau sesalannya Ang Tiu, mendadak ia tepuk- tepuk meja sambil tertawa berkakakan.

"Ang loo-ngo!" katanya kemudian, "beginilah caranya kau melihat bagaimana gampang aku kena tertipu!

Apakah benar-benar aku mau menyerah kalah?"

Mendadak Kiongsin berbangkit sambil tangannya menekan meja, atas mana meja itu memperdengarkan suara keresekan, karena tenaga yang besar dari si Malaekat Kemelaratan sudah bikin meja itu ringsek, hingga cangkir, piring dan mangkok telah roboh terbalik. Orang tua itu berdiri dengan air muka suram, ia hadapkan Ang Tiu, Kie Kiam dan Tiauw Sam Ek sekalian.

"Binatang itu sudah main sandiwara di hadapanku," ia berkata, "kalau aku segera beber rahasianya, nanti orang-orang kangouw yang kebanyakan katakan aku keterlaluan, atau orang akan katakan aku tidak bisa

maafkan sesamanya. Di saatnya ia undang aku datang ke tempat terkurung ini, aku sudah menduga pada maksud busuknya, tetapi aku toh masih iringi kehendaknya untuk melihat sifat terakhirnya. Sekarang, sudah sampai saat yang penghabisan, maka lihatlah, siapa nanti yang menang!"

Sementara itu di atas bukit, di empat penjuru, obor- obor bertambah banyak, sebagaimana itu pun tertampak nyata dari sinarnya api, yang bertambah terang secara cepat luar biasa.

Kemudian datanglah saat yang paling genting.

Di atas bukit, di pojok timur selatan, segera terdengar suara nyaring, "Sahabat-sahabat kekal, maafkan aku!

Aku Tiathong-liong Pian Siu Hoo sudah ambil tindakan ini karena terpaksa! Haytong-kok adalah lembah di mana kita orang mesti ambil putusan siapa mati dan siapa hidup, maka itu, melainkan ia yang terlebih pandai yang harus merebut kemenangan! Sahabat-sahabat, kamu orang telah masuk dalam jebakan jaring, tetapi kendati demikian, aku masih tidak sudi lakukan tindakan yang paling hebat. Aku mengerti sakit hati harus diburaskan dengan kekerasan! Maka, sahabat-sahabat, andaikata kamu orang masih ingin hidup di dalam dunia ini, harap kau terima baik satu permintaan tak berarti dari aku si orang she Pian! Kangsan-pang tidak ada hubungannya dengan Bancie sanchung, apa-mau kau, sahabat she Hoa, kau telah campur urusan kita dan telah paksa padaku, hingga Kangsan-pang tidak akan bisa berdiri lebih lama pula! Sahabat she Hoa, sikapmu ada keterlaluan! Sahabat, sekarang ada terbuka satu jalan untuk kamu orang segera ambil putusan! Di sini ada satu surat perjanjian, jika kamu ingin keluar dengan masih hidup dari Haytong-kok ini, harap kau segera bubuhkan tanda tanganmu — kau yang harus membubuhkan sendiri! Bunyinya perjanjian adalah semua kendaraan air di Hucun-kang, selanjutnya berada di bawah pimpinan dan kekuasaan aku si orang she Pian sebagai ciang- liongtauw, kepala yang tertinggi, dan pihak Kiushe Hiekee tidak mempunyai tempat lagi di Hucun-kang, mereka mesti lantas pergi mundur! Dan Bancie sanchung, sahabat baik, kau juga mesti pindahkan, karena daerah Haytong-kok ini adalah tempat di mana aku bangun! Di dalam daerahku, aku tidak bisa ijinkan kamu orang rombongan pengemis, mundar-mandir lagi atau main gila! Perihal Yan Toa Nio dan anaknya, kalau mereka tetap hendak wujudkan pembalasan sakit hati suami dan ayahnya, sekarang pun ada saatnya untuk mereka mengambil putusan! Sebenarnya, kalau cuma mereka berdua ibu dan anak, mereka bukannya tandinganku si orang she Pian! Bukankah mereka melulu ada orang-orang perempuan? Bukankah aku justru ada satu laki-laki? Sekarang ini, jiwa mereka berdua telah dikorbankan oleh si pengemis bangkotan! Pendeknya, asal mereka ibu dan anak mau berjanji, aku akan lantas kasih mereka angkat kaki dari Haytong-kok ini, lantas dalam waktu seratus hari, aku akan tunggui mereka di pusatku di Gosan-mui, mereka boleh datang untuk lakukan pertempuran yang memutuskan dengan aku!

Dalam pertempuran itu, aku tidak mau mereka ajak kawan, aku tidak mau ada pihak ketiga yang campur tahu! Kalau dalam tempo seratus hari mereka tidak datang, selanjutnya aku tidak ijinkan mereka injak lagi daerah Hucun-kang, umpama aku dapat lihat padanya, nah, jangan katakan aku si orang she Pian kejam, mereka tak akan dapat ampun lagi! Di sini ada sebuah keranjang, di dalamnya aku letaki surat perjanjian yang aku sebutkan barusan, itu seharusnya dibubuhkan tanda tangan dalam tempo seirupan thee, kalau terlambat, meskipun kau telah bubuhkan tanda tanganmu, aku akan anggap tidak sah dan tidak ambil peduli lagi! Sampai itu waktu, sahabat-sahabat, aku persilakan kamu orang pergi saja ke Kwiebun-kwan, Kota Selatan di dalam neraka!"

Suara menantang dan mengancam itu ditutup dengan sambutan suara tertawa nyaring dari Hoa Ban Hie, siapa terus saja menuding si Naga Besi.

"Pian Siu Hoo, kunyuk, bagus tipu dayamu ini!" berkata si Malaikat Kemelaratan. "Hanya aku kuatir bahwa kau sebenarnya sedang mimpi! Umpama kata siang-siang aku beber rahasiamu, atau aku segera berikan hukuman pada kau, dunia nanti cela dan katakan aku kejam, tetapi sekarang, kau telah beber sendiri hati ajag dan peparu anjingmu, ini artinya hari kematianmu sudah datang! Kunyuk, jikalau leluhurmu tidak mau terima baik perjanjianmu itu, apa kau hendak bikin?"

"Pengemis tua!" Pian Siu Hoo membentak. "Pengemis tua, kau telah masuk dalam telapakan tanganku, apa kau masih berani banyak tingkah? Jadinya kau masih hendak lihat kepandaian terakhir dari Pian pangcu-mu? Baiklah, aku nanti bikin bersih padamu, pengemis tua, sampai pun kepala kau turut ludas semua!"

Sehabis kata begitu, Pian Siu Hoo mundur beberapa tindak, akan hadapkan orang-orangnya.

"Boleh turun tangan!" ia mengasih titah.

Ketika si Naga Besi berikan perintahnya, Hoa Ban Hie pun telah geraki tangannya dalam mana tergenggam kimchie-piauw, dengan itu padamkan tiga batang lilin di atas meja. Perbuatannya segera ditulad oleh Cukat Pok, yang dengan pelurunya, Liancu Tiattan-wan, telah bikin padam empat lilin di sebelah barat. Maka sekejap saja, lembah itu menjadi gelap petang.

"Awas pada batu dan panah!" Hoa Ban Hie serukan kawan-kawannya. "Di sebelah kiri mulut terowongan, di atas bukit, ada batu mengkilap, lekas mundur!"

Baru saja ucapan itu keluar atau dengan menggelugur, sebuah batu sebesar gantang lantas saja menggelinding jatuh, suaranya sangat berisik, membikin kuping pengang, apapula ketika batu itu telah jatuh sampai di dasar lembah. Begitu hebatnya sampai batu itu telah menyebabkan mengulaknya debu atau asap.

"Lihat aku si pengemis tua bekuk itu kunyuk'" berseru Hoa Ban Hie, yang berada di antara pecahan batu, yang telah lantas mencelat naik ke atas lamping bukit. Ia mencelat ke sebelah kanan mulut terowongan, yang termasuk jurusan barat selatan. Sebab dari tadi, ia sudah perhatikan itu lembah dan sekitarnya.

Menyusul orang tua ini, mencelat dua tubuh lain, ialah Ang Tiu dan Tan Ceng Po. Mereka ini lihat gerakannya Kiongsin dan mereka lantas menulad. Keduanya mereka ini gunai tipu loncat naik Inliong sanhian dan Huiniauw coan-in atau "Naga awan perlihatkan diri" dan "Burung terbang menerjang mega." Sebab mereka juga telah perhatikan letaknya lembah dan tahu, kalau mulut lembah ditutup, sudah tidak ada jalan keluar lagi kecuali mereka yang bisa panjat lamping lembah yang tinggi luar biasa dan tak ada jalanannya untuk naik.

Hoa Ban Hie telah mencelat naik sebagai terbang menyambarnya seekor burung, tetapi ia tidak langsung naik, hanya saban-saban ia bergerak ke kiri dan ke kanan. Dengan cara ini ia mau menyingkir dari ter- jangannya batu-batu besar, yang dilepaskan dari atas.

Di antara lamping di sekitarnya, bagian barat selatan ini ada paling rendah, setinggi-tingginya cuma kira-kira duapuluh tombak.

Cepat sekali, si Malaikat Kemelaratan sudah mendekati puncak tinggal lagi lima atau enam tombak.

--ooo0dw0ooo-