-->

Pertempuran di Lembah Hay Tong Jilid 15

Jilid 15

Lioktee Sinmo juga lintangi kantong tembakaunya Han-yan-tay, tangan kirinya dimajukan ke depan, jerijinya duduk di atas tangan kanan, kemudian sambil mengucapkan, "Silakan?" ia bertindak ke kiri, hingga kedua pihak lantas datang dekat satu pada lain.

Khu Liong Gan sudah lantas turun tangan terlebih dahulu, ia mendahului, dengan arah dada lawan itu. Hoa Ban Hie tidak menangkis, hanya ia kelit ke kiri; dari sini, ia geraki Susat-pang. Ia berada di sebelah kanan musuh.

Khu Liong Gan kelit sambil putar tubuhnya, berbareng dengan itu, ia menyerang pula, pada belakang kepala orang.

"Bagus!" berseru Hoa Ban Hie, sambil ia berkelit dengan tunduki kepala, sedang kaki kanannya ditarik mundur. Lagi-lagi ia menggeser ke kanan, terus mutar, diturut oleh toyanya. Kalau tadi ia diserang belakang kepalanya, sekarang ia hajar bebokong lawan itu. Ia selalu mencari jalan darah atau urat.

Begitulah kedua pihak bertempur, dengan lantas saja menjadi seru, karena dua-duanya ada gesit dan sasaran mereka selalu ada anggota-anggota tubuh yang berbahaya, hingga siapa lebih ajal, ia harus terima kalah.

Di matanya orang banyak, buat sementara itu, kelihatan nyata bahwa kedua tandingan ada setimpal.

Dengan suara sambaran angin yang keras, Susat-pang menjurus ke tubuhnya Khu Liong Gan.

Dengan lompat jumpalitan Giok-bong tohoansin, ialah "Ular naga kumala jungkir balik tubuhnya," Lioktee Sinmo berkelit ke kiri, Han-yan-tay-nya turut bergerak, dari bawah ke atas, menyampok toya musuh, hingga kedua senjata jadi beradu sambil perdengarkan suara keras.

Susat-pang terpental sedikit ke tinggi dengan Han-yan- tay berbalik turun. Ini telah terjadi saking kerasnya benturan, atau saking kuatnya tenaga dari kedua pihak.

Baru sekarang orang-orang dari kedua pihak dapat tahu, ruyung dari Hoa Ban Hie bukan ruyung sembarangan, dan terbikinnya dari bangsa logam. Tadinya, karena dicat dan nampaknya seperti tidak dirawat, ruyung itu orang tidak tahu terbikin dari kayu atau bahan lainnya

Karena itu benturan, kedua pihak telah saling mundur akan periksa, senjata mereka masing-masing, ada yang rusak atau tidak, apabila keduanya sama-sama merasa puas, dengan sendirinya mereka maju pula, akan rapatkan diri.

Susat-pang, sebagai pusaka dari Kiongkee-pang, benar mempunyai tigapuluh enam jalan, yang lebih jauh terpecah jadi tiga gerakan lain buat masing-masing satu jalannya, maka itu sama sekali menjadi seratus delapan jalan, Di lain pihak, Han-yan-tay mempunyai jalan yang sama banyaknya dan telah terkenal di tigabelas provinsi selatan dan utara: tujuh di selatan, enam di utara. Cara menyerangnya juga ada yang menurut ilmu menotok jalan darah, dari mana jadi ternyata liehaynya senjata itu.

Tandingan yang setimpal ini bergerak dengan cepat dan gesit, tubuh mereka tertampak seperti berkelebatan saja.

Lioktee Sinmo Khu Liong Gan jadi sangat kagumi lawannya itu. Sejak masuk dalam dunia Sungai Telaga, ia sudah merantau di dalam dan luar Tionggoan, di selatan dan utara, di atasan dan bawahan sungai Tiangkang, ia pernah hadapkan banyak tandingan tangguh, tetapi tidak pernah ia ketemu orang sebagai si pemimpin pengemis ini, justru datangnya ke Haytong-kok melulu untuk berkenalan dengan orang-orang kangouw, yang luar biasa, ahli-ahli dari Rimba Persilatan. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia bakal hadapkan Hoa Ban Hie, hingga ia memikir, jangan-jangan di sini ia bakal tampak kejadian yang akan bikin ia tercemar. Oleh karena ini, ia lantas berkelahi dengan sungguh-sungguh dan hati-hati, ia keluarkan semua kepandaiannya.

Juga bagi Hoa Ban Hie, ini ada pengalamannya yang pertama. Sudah empatpuluh tahun ia nyebur di kalangan Sungai Telaga, buat ia tidak ada soal sukar atau sulit, ia tetap tenang dan gembira, ia paling gemar membanyol atau menyindir. Hanya kali ini di Haytong-kok barulah ia bisa memikir, apa ini bakal menjadi saatnya yang terakhir atau bukan....

Apa yang luar biasa, senjata kedua pihak pun sama luar biasanya.

Duapuluh jurus sudah lewat dengan cepat.

Hoa Ban Hie sekarang merasai benar berbahayanya musuh, senjata siapa ada seimbang liehaynya dengan senjatanya sendiri. Yang berbahaya adalah kalau senjata musuh itu mencari urat atau jalan darahnya, sebagaimana senjatanya sendiri pun mampu berbuat.

"Aku mesti lindungi pamorku," berpikir Hoa Ban Hie. Ia kepalai empat atau limalaksa pengikut Kiongkee-pang, maka kalau ia gagal, ia malu akan tinggal hidup lebih lama. Tadinya ia pikir akan layani Khu Liong Gan sampai mereka dapat jalan akan berhentikan pertempuran secara baik, secara damai, tapi sekarang, melihat sikapnya Lioktee Sinmo, ia bersangsi. Maka sekarang, ia tidak lagi mau main-main....

Ketika itu Khu Liong Gan berada di sebelah selatan, dengan tipu Ciauwhu bunlouw atau "Tukang kayu menanyakan jalanan," ia mau totok tenggorokan dari Hoa Ban Hie.

Untuk bela dirinya, Hoa Ban Bie tidak menangkis, hanya ia egos tubuhnya ke kiri. Tetapi sembari menyingkir, ruyungnya ia geraki, akan sambil lalu sabet pundak kiri orang. Karena ia tidak mau berkelit dengan hanya berkelit saja.

Khu Liong Gan lihat Serangannya tidak mengasih hasil, sebaliknya, pundaknya terancam bahaya, dengan lekas ia berkelit seraya senjatanya ditarik pulang, dipakai akan sapu senjata musuh. Maka untuk kedua kalinya, Susat- pang dan Han-yan-tay telah saling kebentrok pula, dengan luar biasa keras, sebab kedua pihak menggunai tenaga penuh, maka kedua senjata telah sama-sama terpental balik.

Menggunai saat kedua senjata beradu dan terpental, Lioktee Sinmo memikir untuk rebut kemenangan.

Mengunai saat senjatanya terpental, ia barengi gerakkan tenaganya, akan bikin senjata itu mutar balik, buat diteruskan menyerang lawan, sembari berbuat begitu, ia kasih dengar suara dari hidung, la telah menjuju perut orang itu. Gerakan ini dipanggil Kimkee tauwleng atau "Ayam mas menggibrik bulu," yang gerakannya sangat cepat.

Hoa Ban Hie berada dalam ancaman bahaya, karena serangan musuh ada serangan yang tak dapat diduga- duga, untuk menangkis itu, ketikanya sudah tidak ada, sedang buat berkelit mundur, gerakan tubuh tidak leluasa, maka tidak ada lain jalan, si Malaikat Kemelaratan sudah lantas tancap kedua kakinya dengan rubuhnya ditarik ngelenggak ke belakang, sampai tubuh itu sedikit melengkung. Secara begini, Han-yan-tay telah menyambar untuk lewat saja, tak mengenai sasarannya.

Tetapi Khu Liong Gan telah menduga bahwa orang bakal lupakan diri dengan cara menarik tubuh itu, ia sudah siap, selagi tubuh lawan melengkung, ia majukan kaki kanannya, dan lagi sekali, arah perut orang itu. Ia bisa lakukan serangan itu beruntun karena tangannya sedang terayun dan terputar terus. Gerakannya ada cepat luar biasa.

Hoa Ban Hie ada terancam bahaya, karena sekarang ia sudah tidak bisa mundur atau berkelit lagi, akan tetapi di lain pihak, ia telah dapat ketika akan siap dengan dua- dua tangan dan kakinya. Ia rupanya bisa menduga atas aksi selanjutnya dari pihak lawan. Cepat sekali, ia geser kaki kirinya ke kiri, kapan kaki ini telah menancap, kaki kanannya diangkat, dikasih jinjit. Secara begini, ia sudah lolos dari bahaya. Tetapi ia tidak berhenti sampai di situ. Kedua tangannya ada merdeka sedari tadi, ia hendak gunai ruyungnya. Begitulah sambil geser tubuh ke kiri, Susat-pang dipakai barengi menyambar ke pilingan kiri.

Lioktee Sinmo telah memikir bahwa satu kali ini ia bakal bisa rubuhkan lawannya yang tangguh dan termasyhur itu, karena desakannya yang hebat, karena kegesitannya istimewa, maka tidak nyana, ketua dari Bancie sanchung masih punya-kan kesempatan, akan perbaiki diri dan berbareng balas menyerang dengan tidak kurang hebatnya. Sebab ia sudah tidak bisa gunai lagi Han-yan-tay, untuk tolong diri, terpaksa ia pakai tangan kosong, untuk sambuti ruyung musuh dan tekan itu, agar senjata itu tidak sampai mengenai sasarannya, latahu serangan ada hebat, dan barangkali ia kekurangan tenaga, tetapi di waktu demikian, ia empos semangatnya, akan kumpul tenaga dan tenaga bathinnya.

Kiongsin menjadi kagum kapan ia saksikan caranya musuh membela diri itu. Ini macam tangkisan juga ia tidak pernah pikirkan. Ia lekas tarik pulang ruyungnya begitu ruyung mengenai tangan musuh, agar senjata itu tidak kena dicekal atau dibetot. Maka dengan sendirinya, kedua pihak pun terpisah satu dari lain.

Untuk ketiga kalinya, kemudian dua lawan telah saling berhadapan pula. Pertempuran telah dilanjuti dengan kedua pihak semangkinan sengit. Lioktee Sinmo, si Iblis Bumi, telah kirim pukulan-pukulan dari kematian, ujung senjatanya terus mencari urat-urat atau jalan darah yang membahayakan jiwa. Duabelas tayhiat atau jalan darah paling berbahaya dari si Malaikat Kemelaratan senantiasa menjadi sasaran.

Hoa Ban Hie bisa lihat sepak terjang lawan yang tangguh itu, ia mengerti, ia tidak mau berlaku alpa. Ia gunakan kecelian mata, kegesitan tubuh, baik di waktu berkelit dan menangkis maupun di saat ia lakukan pembalasan, karena ia tidak mau jadi pihak yang selalu diserang.

Khu Liong Gan telah gunai Lianhoan capjie kiauwtah, runtunan serangan duabelas kali, dan Hoa Ban Hie layani ia dengan tenang. Runtunan yang ketujuh ada Kim-hong hielui atau "Tawon gula permainkan tangkai bunga," sasarannya ialah jidat. Hoa Ban Hie tidak mau menangkis atau berkelit saja, hanya ia balas menyerang sembari ia egos tubuhnya ke kiri, ruyungnya menuju ke piringan kiri. Secara begini, orang she Khu itu mesti batalkan serangannya karena ia mesti tolong diri, dengan sampok keras pada Susat-pang.

Hoa Ban Hie telah belajar kenal dengan lweekang musuh, ia tahu bahayanya kalau senjatanya kena disambar, akibatnya ada terlepas dari cekalan atau terpental keras hingga ia bakal hilang kekuasaan atas senjatanya itu, maka sebelumnya bencana datang, ia mendahului. Dengan sebat ia tarik ruyungnya selagi Han- yan-tay menyambar, ketika gegaman musuh lewat, ia barengi menyerang pula, dengan tidak kalah sebarnya.

Tangan kirinya juga turut menyambar ke arah dada.

Khu Liong Gan telah hadapkan bahaya. Ia tahu yang serangan musuh ada hebat sekali. Apa daya sekarang? Ia tidak bisa menyingkir, maka ia mesti hadapkan itu.

Terpaksa ia gunai Han-yan-tay, akan rintangi Susat- pang, dan dengan tangan kiri juga, ia halangi tangan kiri pihak lawan mengenai tubuhnya.

Tidak dapat dicegah lagi, satu bentrokan telah terjadi. Satu suara nyaring kedengaran. Tangan kirinya Lioktee Sinmo telah tergetar. Tetapi setelah itu, keduanya sama- sama lompat mundur. Tidak ada salah satu yang mendapat luka.

"Hoa loosu, Susat-pang sesungguhnya liehay sekali!" berkata Khu Liong Gan. "Aku Khu Liong Gan menyerah kalah "

"Khu loosu," berkata Kiongsin, sambil tersenyum, "Han-yan-tay-mu benar-benar istimewa! Aku si pengemis tua telah luntang-lantung empatpuluh tahun lamanya sebegitu jauh belum pernah aku ketemukan tandingan sebagai kau, maka ini malam aku mesti mengaku bahwa aku telah menyerah kalah!" "Hoa loosu," berkata pula si Iblis Bumi, "sebenarnya kau belum keluarkan antero kepandaianmu. Dengan sebenarnya, pertemuan ini malam ada pertemuan yang sangat sukar dicari ketikanya! Hoa loosu, aku masih punyakan dua rupa permainan, yang di depan loosu aku niat pertunjukan keburukannya, apa kau sudi layani aku mencoba-coba sebentaran?"

Hoa Ban Hie tahu bahwa manusia aneh ini belum puas, belum mau menyerah kalah, maka ia tahu juga, kecuali ini manusia aneh dapat dibikin takluk, pertempuran di Haytong-kok sukar sampai pada akhirnya, yang lain-lain pasti sekali tak akan mau sudah juga.

"Maka tidak bisa lain, aku mesti layani padanya, akan bikin ia merasa puas!" demikian ia pikir akhirnya.

Sementara itu satu muridnya Kiongkee-pang telah lompat pada ketuanya itu, akan dengan hormat menyambuti Susat-pang, setelah mana, dengan hormat juga, ia undurkan diri ke tempatnya.

"Khu loosu," berkata si Malaikat Kemelaratan, "benar seperti kau telah bilang ketika baik seperti ini sungguh sukar dicari keduanya! Ya, Khu loosu, di dalam pertemuan ini malam di Haytong-kok ini, kita benar harus keluarkan semua kcbisaan kita, kita mesti tinggalkan semua di sini, supaya kalau nanti kita mati, tidak usah kita bawa-bawa ke dalam peti mati! Khu loosu, bukankah manusia hidup tak melebihkan seratus tahun? Bukankah, hari-hari hidup kita, tinggal lagi sekejap saja? Maka, setelah pertemuan ini, barangkali kita baru bisa ketemu pula sesudah kita orang berada di lain dunia! Khu loosu, haraplah kau tidak anggap ucapanku ada ucapan sial, ini adalah ucapan yang benar-benar cocok dengan kenyataan!"

"Hoa loosu, benar-benar pikiranmu terbuka!" kata Khu Liong Gan, dengan tertawa tawar. "Hoa loosu, orang telah sohorkan Su-sat-pang-mu, sekarang aku telah buktikan itu! Orang pun bilang bahwa ilmumu mengentengi tubuh yang dinamai Kengkongteesut-hoat ada istimewa, aku percaya itu, maka, jikalau kau suka, maukah kau pertunjuki itu di depan kita? Aku merasa girang apabila padaku diberikan pengajaran tentang ilmu itu "

"Dengan segala senang hati, Khu loosu!" sahut Hoa Ban Hie. "Buat aku, ilmu apa saja, yang aku mengerti, aku bersedia buat pertunjuki, untuk mengiringi kau.

Hanya ilmu yang aku tak mampu biar bagaimana, aku tidak berani pertunjukkan, benar-benar aku tak sanggup!"

"Ya, Hoa loosu, aku mengerti," kata Lioktee Sinmo. "Memang tidak harusnya orang paksakan orang buat ilmu yang dia tak mengerti! Hoa loosu lihat itu pohon- pohon hay-tong! Bagaimana kalau kita pinjam pohon- pohon itu, untuk kita orang coba-coba? Aku percaya ini bukannya soal sukar untuk kau "

"Bagus, Khu loosu," kata Hoa Ban Hie, "kau benar- benar ada orang yang mengetahui dan bisa mengimbangi lain orang! Dengan begini, kitajuga jadi tidak usah bikin berabe pada tuan rumah dengan minta disediakan ini atau itu, hanya sayang itu pohon-pohon haytong, kita bakal kena injak-injak! Aku tidak peduli bahwa aku bakal rubuh tetapi tindakan kakiku benar- benar tak tetap! " "Sudah, Hoa loosu, sudah, kau tidak usah membanyol lagi," kata Khu Liong Gan. "Sekarang hayo kita orang lantas mulai!"

Si Malaikat Kemelaratan unjuk roman kaget.

"Eh, bagaimana, Khu loosu? ia tanya. "Jadinya kau inginkan kita orang main-main di atas pohon itu? Jadinya kau ingin hajar tulang-tulangku yang tidak belarakan menjadi berhamburan? Baik, baik, Khu loosu, aku akan temani kau! Biarlah, aku si tua tidak sayangi lagi jiwaku! Nah, silakan!"

Lioktee Sinmo tahu yang pihak lawan melulu lagi kocok padanya, ia tidak mau meladeni hanya setelah singsetkan pakaiannya, ia berjalan beberapa tindak, dan akhirnya enjot tubuh, loncat naik ke atas sebuah pohon yang sebelah timur. Kapan ia sampai di atas, ia angkat kaki kanannya dan putar tubuh, akan hadapkan Hoa Ban Hie, untuk memberi hormat.

Hoa Ban Hie sudah lantas turut sikapnya si orang she Khu, dengan beruntun loncat tiga kali, ia terus enjot tubuhnya loncat naik ke sebuah pohon di sebelah barat. Itu ada pohon yang tinggi tetapi ia tidak sampai di puncaknya, ia taruh kaki di sebelah bawah, selagi kakinya menginjak, tubuhnya bergoyang-goyang, cabang-cabang pohon bersuara seperti patah atau ringsek. Di matanya orang biasa, ia seperti tidak bisa berdiri tetap dan hendak jatuh, tetapi di matanya satu ahli, ia sebenarnya lagi pertunjuki kepandaiannya. Sebab ia perlihatkan Giok-niauw touwkie atau "Burung kumala menclok di cabang." Khu Liong Gan tidak puas melihat tingkah orang itu, maka dengan tidak banyak omong lagi, ia lompat maju, akan mendekati ketua pengemis itu.

Hoa Ban Hie lihat sikap orang, ia menduga maksudnya, ia tunggu sampai orang telah datang dekat, tiba-tiba ia beratkan tubuhnya, sampai cabang pohon yang ia injak jadi mendot ke bawah sampai berbunyi seperti cabang patah.

Khu Liong Gan terperanjat, ia lekas lompat balik, ke pohon di sebelahnya. Ia tahu bahwa ia bisa celaka kalau ia diam saja.

Lantas Hoa Ban Hie unjuk kepandaiannya, cabang pohon yang ia injak tidak naik pula, berbareng dengan mana, ia sendiri loncat ke pohon di mana pihak lawan lagi berdiri, sedang mulutnya berseru "Bagus!"

"Sambutlah, loosu!” kata si pengemis tua yang terus saja menyerang dengan Kimkauw-ciang atau Tangan Gaetan Mas, yang menjurus ke bebokong.

Khu Liong Gan terperanjat, lekas-lekas ia loncat ke kiri, dari mana ia lalu loncat balik, hingga ia berada di belakang musuh, hingga ia dapat ketika akan segera balas menyerang.

Karena serangannya mengenai tempat kosong, Hoa Ban Hie terus saja mendak. Dengan jalan ini kecuali ia pertahankan tubuh, ia pun lenyapkan ancaman dari serangan musuh itu. Hanya lagi-lagi bangun akan menyerang pula, selagi tangan musuh belum keburu ditarik pulang, hingga musuh itu jadi repot, untuk tarik tangannya itu. Sampai di situ, bergantian mereka menyerang satu pada lain. Kedua pihak telah pertunjuki kegesitan, ke- entengan tubuh dan kecelian mata mereka, sebab mereka tahu, siapa alpa atau ayal atau kurang celi matanya, dia bakal jatuh nama. Mereka ada laksana monyet-monyet atau tawon gula.

Semua penonton di kedua pihak jadi sangat kagum, ini adalah pertandingan yang mereka baru pernah saksikan.

Tiga kali Khu Liong Gan lari mutar, ia ingin coba Hoa Ban Hie, si pengemis tua bisa uber ia atau tidak, tidak tahunya, dua kali ia kena dilewatkan secara mengagumkan hingga ia jadi ketahui bahwa musuh ada jauh terlebih gesit daripadanya. Tapi ia penasaran, ia lari terus, hanya sekarang, di saat ia lihat musuh hendak menyandak ia, mendadakan ia lompat jumpalitan, akan bikin dirinya berada di belakang musuh. Dengan begini ia ingin berbalik untuk dia yang kejar lawan itu, untuk diserang dari belakang.

Tetapi Hoa Ban Hie tidak kasih dirinya berada di depan atau lawan di belakang, selagi orang jumpalitan, ia tahan larinya, maka di saat musuh itu berdiri pula, berdua mereka jadi berdiri berhadapan.

Oleh karena ia memang sudah mengandung pikiran, Khu Liong Gan tidak sia-siakan ketika, kedua tangannya sudah lantas dimajukan, akan menyerang dada

Hoa Ban Hie ada celi matanya dan siap, ia tidak jadi terdesak karena serangan yang mendadakan. Ia mendek, kedua tangannya itu ia majukan, guna ketok dua-dua sikut musuh, selagi kedua tangan musuh itu sudah lolos mengenai sasaran. Khu Liong Gan terperanjat, sebab tangannya tidak keburu ditarik pulang, ia hanya melainkan bisa teruskan, akan dipentang ke kiri dan kanan. Dengan begini, ia bisa tolongi kedua sikutnya.

Tetapi Kiongsin tidak berhenti sampai di situ. Ia lihat kedua tangan lawan itu terpentang, ia tidak tarik pulang kedua tangannya, ia teruskan, akan pakai itu untuk menyerang perut orang, yang terbuka untuk pukulan.

Juga ini ada serangan yang tidak kalah berbahayanya.

Lioktee Sinmo insyaf akan bencana yang mengancam dia, ia mesti unjuk ketabahan dan kegesitannya. Kedua tangannya terus ia tarik turun, akan dipakai menindih kedua tangan musuh yang hendak gempur perutnya.

Kedua tangannya berada di sebelah atas, ia bisa berbuat dengan merdeka, asal ia berlaku sebat. Dan kesehatannya itu ia punyakan.

Liehay adalah ketua dari Kiongkee-pang dari Bancie sanchung, melihat musuh hendak gempur dua tangannya kedua tangannya itu ia lekas balik, untuk dipakai memapaki, menjaga serangan dari atas itu. Ia tidak takut yang ia berada di sebelah bawah.

Nyata Khu Liong Gan tidak mau adu tangan, ia batal menyerang dengan lompat mundur, maka Hoa Ban Hie pun tidak usah ambil tanggung jawab, ia juga lantas mundur, hanya setelah terpisah dari musuh, ia terus lari mutar.

Khu Liong Gan hendak adu kegesitan dan keentengan tubuh, siapa nyana ia telah hadapkan satu lawan yang betul-betul tangguh. Karena gerakan musuh itu, terpaksa ia mesti lagi-lagi coba kejar musuh itu. Ia sekarang mengerti bahwa ada sukar untuk ia rebut kemenangan, la juga mengerti, bahwa pihak musuh hendak coba permainkan ia, dari itu, ia jadi penasaran dan sengit.

Di sebelah utara pepohonan ada rumah, di situ pepohonanjadi buntu, tetapi di sini justru Khu Liong Gan hendak pegat lawannya. Ia sudah berpikir matang dan siap. Dengan loncatan Yancu Hui-in, atau "Walet terbangi awan," mendadakan ia melombai dan memegat pula, tangan kirinya terus saja menyambar ke bebokong.

Datangnya pukulan ada dari samping.

Hoa Ban Hie bisa duga maksud musuh, karena ia bisa lihat datangnya pukulan, ia tolong diri dengan kelit ke samping, hanya seperti biasa, dari sini sesudah kakinya menginjak, terus saja ia membarengi menyerang lengan kiri orang itu.

Kedua pihak berdiri dekat satu dari lain, terpisahnya hanya dua kaki. Mendadakan tangan kiri dari Lioktee Sinmo bergerak, tetapi ini ada ancaman belaka karena yang menyerang kemudian ternyata ada tangan kanan. Serangan ini menggunakan tenaga sepenuhnya. Sasaran adalah iga kanan.

Kalau ia terkena serangan ini, tak ampun lagi, Hoa Ban Hie mesti rubuh dan binasa. Tetapi ketua dari Bancie sanchung bisa bade maksud lawan itu, malah ia pun tahu orang serang ia dengan hati yang panas. Ia antap gerakan tangan kiri dari lawan itu, tubuhnya bergerak ke kiri sedikit, hingga, ia jadi berada di sebelah kanan musuh. Ia bergerak sedikit tetapi cepat, dengan demikian, kepalan musuh tidak sampai mengenai iga, sebaliknya, ia sekarang bisa balas serang iga kanan musuh yang lowong itu. Khu Liong Gan lekas tarik pulang dua-dua tangannya, yang mana ia pakai akan papaki kedua tangan musuh, guna cegah tangan itu membikin ia celaka. Ia pun bergerak dengan sangat cepat, hingga empat tangan jadi beradu, kaki mereka sama-sama pasang kuda-kuda, untuk bantu tenaga di tangan. Karena ini, genteng rumah yang mereka injak sampai menerbitkan suara kerekekan.

Sekejap saja kedua pihak adu tenaga, lantas saja muncul kesudahannya. Dengan dibarengi oleh satu seruan, Kiongsin gunai tenaga dan ambekannya, akan gempur musuh. Di lain pihak, Lioktee Sinmo juga kumpul semangatnya, akan lawan musuh sambil menggempur musuh itu.

Dengan satu jejekan, kaki kiri ke belakang, Hoa Ban Hie tancap kuda-kudanya, rubuhnya tidak bergerak sedikit juga, tetapi Khu Liong Gan mesti mundur sampai tiga atau empat kaki, meskipun benar, ia bisa pertahankan tubuhnya tidak miring atau doyong.

Di mata umum, mereka nampaknya berimbang, tetapi di mata ahli, si Iblis Bumi nyata sudah kalah tenaga ambekan.

"Aku telah terima pengajaran," kata orang she Khu itu.

Hoa Ban Hie melainkan bersenyum dan mendahului akan loncat turun dari atas genteng, setelah mana, Khu Liong Gan susul ia.

Sesampainya di tanah, sambil takepi kedua tangannya, Hoa Ban Hie unjuk hormat pada lawannya.

"Sahabat baik, kau benar-benar ada liehay," ia berkata. "Aku si pengemis tua sangat beruntung yang ini malam di lembah Haytong-kok ini aku bisa terima pelajaran dari kau. Bagaimana, sahabat baik apa kau masih hendak lanjuti main-main ini?"

"Hoa loosu, kau benar ada seorang baik," ia bilang. "Kau pun ada seorang yang cerdik, karena kau bisa bade hatiku! Hoa loosu, sekarang aku telah ambil putusan akan per-tunjuki apa yang aku bisa di hadapanmu, untuk minta pengajaranmu, karena dengan terima pelajaran dari kau, tidaklah sia-sia yang aku telah merantau di kalangan Sungai Telaga? Aku pun merasa beruntung, yang kau telah menaruh perhatian terhadap diriku "

Hoa Ban Hie tertawa berkakakan.

"Sahabat baik, nyata sekali kau menaruh harga kepadaku!" ia kata. "Dengan begini terang bahwa kau telah pandang aku si pengemis tua sebagai sesama kaummu. Baiklah, sahabat, baik kita gunai saat yang baik ini, yang sukar dicari keduanya! Kau ada punya kepandaian apa lagi, yang liehay? Silakan kau keluarkan itu di Haytong-kok ini, aku si tua bangkotan selalu bersedia akan iringi padamu, bisa atau tidak aku akan melayani, sebab demikian adatku, aku selamanya suka lukm orang merasa senang! Sahabat b.uk. kau ada sangat ternama, maka kalau segala orang sembarangan, siapa berani hadapkan kau? Dengan tidak ada yang layani, bukankah sia-sia saja kau punyakan kepandaian liehay? Sungguh kecewa kalau kepandaian tinggi dibawa masuk ke dalam peti mati! Nah, sahabat kekal, jangan sia-siakan tempo, apa kau kehendaki, silakan kau utarakan, aku akan dengarkan!"

Khu Liang Gan bersenyum ewah akan dengar kocakan yang hebat itu, di sebelah itu, ia tidak sanggup melayani, maka akhirnya ia hanya bilang, "Hoa loosu, baik kau jangan puji-puji aku lebih jauh, se-mangkin aku naik tinggi, nanti jatuhnya aku semangkin parah! Kita tidak usah omong banyak-banyak lagi, mari kita orang mulai! Aku berniat mencoba-coba senjata rahasia dan Iweekang, kedua ilmu itu tidak akan mencelakai kita! "

Hoa Ban Hie tertawa apabila ia dengar usul itu dan caranya itu diutarakan.

"Sahabat baik, kau sedang berlelucon, eh!" kata ia. "Kalau senjata rahasia digunai ia bisa minta jiwa orang, apa itu namanya tak mencelakai? Bagaimana kalau napas berhenti kerja dan tubuh tak bisa berkutik lagi? "

"Hoa loosu, kenapa kau tidak tunggu aku sampai bicara habis? Kenapa kau begini kesusu memegat perkataanku?" tanya Khu Liong Gan. "Bukankah, pada mulanya, kita orang tidak bermusuhan? Bukankah kita kebetulan saja bertemu di lembah ini? Loosu datang untuk menegur Pian pangcu, itulah aku mengerti, tetapi aku hanya datang sama tengah, dari itu dapat dimengerti yang aku tidak bermaksud jelek. Piebu senjata memang berbahaya, tetapi apa bisa jadi, kita nanti gunai itu di tempat yang membahayakan? Tidak, loosu. Aku tahu loosu pandai dalam tiga macam ilmu, ialah Susat-pang, ciichee-cio dan Kun-goan Itkhie Lengpo-pou, dan ini semua kau tidak dapat sangkal, karena di selatan dan utara Sungai Besar, kepandaianmu itu sudah terkenal!

Aku telah mencoba Susat-pang, sekarang itu batu citchee-cio, yang aku hendak coba, sebab buat Lengpo- pou, aku tidak pernah yakinkan, loosu, berapa jauh kau bisa menimpuk? Kita akan atur jarak, supaya kalau sampai senjata mengenai, kita tidak akan terluka parah. Aku pun mau gunai semacam senjata enteng, ialah kim- chie-piauw. Coba loosu pikir, apa kedua senjata ini membahayakan jiwa?"

Hoa Ban Hie kagumi caranya orang bicara. Nyata Khu Liong Gan banyak pendengarannya, luas pengetahuannya, sampai kepandaian istimewanya dia pun ketahui, malah diketahui juga yang citchee-cio ia jarang gunai — barangkali buat lamanya duapuluh tahun lebih.

"Khu loosu, kau benar luas pengetahuanmu," ia memuji. "Memang aku pernah yakin ilmu menimpuk dengan batu itu, cuma sudah duapuluh tahun lebih, aku belum pernah coba lagi, aku kuatir, tanganku sudah kaku, maka dengan permintaan kau ini, kau bakal bikin namaku rusak "

"Hoa loosu, harap kau tidak menjawab secara begini!" kata Khu Liong Gan. "Apa yang aku harap adalah supaya kau berlaku murah hati terhadap aku, sebab kalau aku sanggup layani kau, itu bagiku sudah berarti suatu keberuntungan! Dengan gunai senjata rahasia, nanti ketahuan perihal lweekang kita. Hoa loosu, sesudah pertandingan tiga macam ini, selanjutnya aku mau cuci tangan, aku tidak mau bicara lagi tentang ilmu silat!"

--ooo0dw0ooo--