-->

Pertempuran di Lembah Hay Tong Jilid 02

Jilid 02

Tatkala itu seluruh dusun sudah sunyi sekali, tandanya semua penduduk sudah pada tidur nyenyak, tetapi ketika Giok Kouw sampai di rumahnya dan menolak pintu pekarangan, ia dapati ayahnya sedang berdiri di latar, lagi jalan mundar-mandir. Dan ayah ini bersenyum apabila ia dapat lihat puterinya pulang.

"Anak nakal, kau benar bernyali besar!" ayah ini menegur sambil tertawa "Kau jadinya sudah pergi pada ibu dan anak itu di mulut muara! Bukankah kau telah berhasil memperoleh keterangan jelas perihal mereka berdua?"

Ditegur begitu, mukanya Giok Kouw menjadi merah dengan mendadak. Ia keluar di luar tahunya siapa juga, ia ingin ayahnya tidak ketahui kepergiannya, siapa nyana, ayah itu pergoki perbuatannya Tapi karena ia pulang dengan tangan kosong, dan dengan menahan kemendongkolan, ia jadi mungsang-mangsing.

"Ayah, apakah kau kira kita berdua masih bisa tinggal di sini lebih lama?" demikian ia kata pada orang tua itu. "Tidak bisa tidak, kita harus segera usir ibu dan anak itu, mereka tidak boleh tinggal lebih lama lagi di desa Hiecun ini, tidak juga di daerah Giokliong-giam! Mereka ternyata telah pandang kita sebagai nelayan yang kebanyakan, yang kasar dan bodoh! Ayah, tidak saja mereka berani hinakan kau, juga aku, mereka berani permainkan!

Mereka pandang kita penduduk Hiecun tidak berharga semuanya, mereka mesti segera diusir pergi! Kalau tidak, kecewa kita dari pihak Kiushe Hiekee!"

Tan Tay Yong tidak menjadi heran melihat sikap gadisnya ini, yang menjadi uring-uringan, karena ia lantas menduga, mestinya anak ini tidak dapat sambutan manis dari mereka. Ia tidak mau menggoda lebih jauh, malah ia manggut-manggut, ketika ia jawab gadis itu, "Baik! Kita orang mesti kasih rasa pada dua orang itu, supaya mereka tidak lagi tidak pandang mata pada kita dari pihak Hiecun! Tapi, bagaimana ibu dan anak itu perlakukan kau? Mari kita duduk di dalam, supaya kau bisa menutur dengan jelas, supaya aku bisa pikir, tindakan apa aku mesti ambil " Giok Kouw turut ayahnya, maka mereka lantas masuk, begitu lekas sudah berduduk, ia lantas ceritakan hal penyelidikannya bagaimana bermula ia saksikan kepandaian dari anak dara dan ibunya itu, sampai kemudian ia bicara dengan mereka mulai dari manis, dan akhirnya kita jadi seperti kebentrok, karena ia tidak dapat dengarkan "ocehannya" Yan Toa Nio itu.

Tan Tay Yong terperanjat mendengar Yan Toa Nio dan gadisnya mengerti Enghoan Tiauwkie-ciang dan Toasui Paychiu, dua macam ilmu menimpuk dan menyambut timpukan batu, yang berhubungan satu dengan lain. Itu ada salah satu ilmu dari "ahli dalam" (lweekeh) yang liehay. Malahan ia belum pernah dengar, ada orang perempuan yang yakinkan ilmu itu, yang meminta tenaga besar luar biasa.

"Kenapa mereka mengerti dua macam ilmu itu?" demikian ia pikir. "Terang sekali, asal-usulnya ibu dan anak itu tidak sembarangan. Perlu aku selidiki mereka dengan teliti. Di pihak Kiushe Hiekee adalah ketua Tan Ceng Po dan Lim Siauw Chong yang mengerti kedua macam ilmu itu "

"Selanjutnya kau baik jangan coba pergi pula pada mereka," akhirnya ia pesan anaknya. Kita tidak boleh kasih alasan hingga mereka curigai kita. Aku nanti berdaya akan selidiki mereka lebih jauh."

Demikian, besoknya, diam-diam Tan cuncu telah kasih perintah pada penduduk Hiecun akan mereka intip gerak- geriknya dua tamu perempuan itu, tetapi mereka dipesan supaya jangan kasih kentara hal pengintipannya itu.

Meski demikian "ganjelan" toh telah mengambil tempat. Empat buah perahu telah ditambat di mulut muara, dekat gubuknya Yan Toa Nio dan anaknya. Kewajiban perahu-perahu ini adalah untuk setiap waktu, siang dan malam, pasang mata atas nyonya dan nona itu. Yan Toa Nio berdua tidak bisa larang orang dekati mereka, meski sebenarnya mereka tidak puas. Mereka menumpang dan tidak punya hak apa-apa, dan rombongan pengintip juga tidak ganggu mereka. Adalah selang tiga empat hari, baru ganjelan tercipta.

Empat nelayan muda tidak mempunyai cukup kesabaran, tidak saja mereka tidak berlaku hati-hati, malahan mereka sengaja goda ibu dan anak itu. Kalau Yan Toa Nio keluar menangkap ikan, mereka menguntit, mereka sengaja datang dekat-dekat, dan apabila orang sedang menebar jala, mereka sengaja majukan perahunya, hingga ikan jadi kaget dan lari. Meski mereka tidak kata apa, tapi terang ini berupa gangguan.

Pada suatu hari, Leng In keluar sendirian, justru ia hendak lepas jalanya, ia diganggu oleh empat pemuda nelayan, hingga ia jadi mendelu. Batal menangkap ikan, ia angkat jalanya, perahunya dilajukan dengan pesat, dengan tidak menoleh lagi pada mereka itu, ia berseru sebagai juga pada dirinya sendiri, "Kawanan kerbau dungkul, apakah kau orang mau adu kepandaian dengan nona Yan! Nyatalah pihakmu sendiri yang berniat pesiar ke dalam istananya si Raja Naga!"

Empat pemuda itu tertawa berkakakan melihat orang pergi dengan belum dapat barang seekor ikan, hampir dengan berbareng, mereka geraki penggayuhnya untuk kasih perahu mereka menyusul. Mereka berniat terjang perahunya si nona hingga terbalik. Mereka tidak puas terhadap ketua mereka, yang dikatai bersikap terlalu lemah pada dua tamu perempuan itu, sekarang mereka mau umbar kemendongkolannya itu.

Sebenarnya Leng In ada terlebih pandai dalam menggunakan penggayuhnya, perahunya laju pesat luar biasa, apamau sekarang ia hadapi perahu yang menggunakan empat penggayuh dan yang geraki pengga-yuh pun ada orang-orang muda, yang bertenaga besar, yang semangatnya sedang berkobar-kobar, tidak heran, belum terlalu lama, perahunya sudah dapat didekati, tapi karena ia pandai kemudikan perahunya itu, ia tidak sampai bikin perahunya kena kebentur. Tapi ini melulu bikin empat nelayan itu jadi gusar, saking penasaran karena berulang-ulang maksud mereka selalu kacau, mereka telah mandi keringat, mereka jadi malu sendirinya Lalu, dengan mengincar, mereka coba lagi sekali akan tabrak si nona

Leng In tidak mau kasih perahunya diterjang, meski demikian dengan sendirinya ia bikin kendaraannya terbalik dan karam begitu lekas ia sudah bisa menyingkir dari tubrukan yang hebat itu, dari itu ia jadi tercebur dan hilang dari muka air.

"Hura!" berteriak empat anak muda itu berulang- ulang. Mereka puas sekali melihat perahu orang kelebuh dan si nona mandi terpaksa Tapi baru saja mereka berhenti berteriak-teriak, atau mereka sekarang pada menjerit, "Eh, eh, celaka! la tentu ganggu kita! ” 

Itulah sebab perahu mereka mendadak bergoncang. Perahu itu memang tidak laju lagi begitu lekas mereka tungkulan bersorak-sorak hingga mereka alpakan penggayuhnya Mereka kaget tidak lama atau kaget itu sampai di puncaknya! Mendadak perahu mereka terbalik, hingga dengan tidak berdaya, mereka mesti pada terjun ke air, mengantapi perahu mereka itu kelebuh. Dua di antaranya, saking kaget, sudah kena telan air, sampai mereka gelagapan. Syukur mereka semua pandai berenang, dari itu berdua mereka tidak sampai kelelap. Sekarang mereka mesti muncul di muka air sambil berenang.

Leng In sudah muncul duluan, dengan sebat ia telah bisa bikin perahunya terbalik pula, buang airnya dan lompat naik atas perahu itu, untuk terus digayuh Ia sengaja tujukan kepala perahu pada empat nelayan itu, hingga mereka ini mesti lekas selulup supaya tidak sampai kena kebentur! Dan ketika mereka timbul pula, mereka lihat si nona telah lajukan perahunya menuju ke muka muara!

Empat pemuda ini menjadi masgul berbareng mendongkol, sia-sia saja mereka gunakan tenaganya, siapa tahu kesudahannya mereka kecele, mereka sendiri yang dibikin keok dan malu. Dengan lesu mereka perbaiki perahu mereka dan gayuh pulang....

Adalah sejak kejadian ini, anak-anak muda itu jadi tidak berani lagi bertindak sembarangan.

Dua hari lewat sejak kejadian tersebut, mendadak di mulut muara ada muncul dua rombongan coan-pang atau perahu, yang nyata ada kepunyaannya pihak Englok-kang udik. Maka tidak heran, rombongan perahu itu seperti telah memenuhkan atau menutup mulut muara Di mana pihak Hiecun memang ada punya perahu- perahu penilik di sebelahnya mereka yang biasa keluar masuk hampir tidak putusnya, tidak heran apabila datangnya rombongan perahu-perahu asing ini segera dapat diketahui. Laporan segera sampai pada Tan Tay Yong, begitu juga laporan dari empat pemuda nelayan yang diwajibkan mengintai ibu dan gadis itu, malahan mereka menyangka, ibu dan anak itu ada konconya pihak Englok-kang udik itu, hingga dua orang perempuan itu jadi semangkin dicurigai.

Untuk membikin penyelidikan sendiri, dengan menyamar, Tan Tay Yong keluar dengan sebuah perahu kecil. Ia telah berlayar memutar, kemudian ia balik, ke dekat gubuknya Yan Toa Nio. Sampai begitu jauh, ia pun sudah lantas bercuriga, karena ia lihat, dua rombongan perahu itu bukannya perahu-perahu mayang yang sering tertampak dari lain-lain rombongan nelayan.

Di sepanjang dua tepi mulut muara ada berbaris tidak kurang dari tigapuluh buah perahu. Anehnya tidak ada di antara perahu itu yang memuat penumpang perempuan. Pun kelihatan, kecuali tiga orang tua, usia di atas limapuluh tahun, yang lain kebanyakan ada pemuda- pemuda umur dua sampai tigapuluh tahun. Ia lihat segala perabot keperluan nelayan, akan tetapi di mata yang tajam dari Hiecun cuncu, mereka mestinya bukan bermaksud menangkap ikan melulu.

Sesudah menyelidiki sekian lama, Tay Yong kembali ke dalam muara.

Pihak Hiecun memang larang orang menangkap ikan di daerahnya, dilarang juga orang asing dan perahunya bermalam di daerah dusun perikanan ini, akan tetapi terhadap dua rombongan ini mereka tidak dapat segera mengusir, karena mereka sedang singgah dan singgahnya juga di luar mulut muara. Untuk mengusir, mereka tidak dapati alasan.

Sesampainya di dalam dusun, Tay Yong kasih perintah bunyikan suitan bambu, untuk kumpulkan semua penduduk Hiecun. Maka semua nelayan menjadi repot, lekas sekali mereka siap dengan layarnya. Mereka heran juga selagi air pasang dan bukan waktunya untuk keluar bekerja, mereka mesti dengar pertandaan itu.

Dengan dikepalai oleh perahunya Tay Yong, semua perahu nelayan segera bergerak. Dalam satu rombongan besar atau lerotan panjang, mereka menuju ke satu tempat jauhnya lebih daripada satu lie dari Hiecun. Di sini mereka bisa berkumpul dengan leluasa Tapi karena mereka kumpul di sini, baru semua nelayan ketahui yang mereka keluar bukannya untuk menangkap ikan.

Oleh karena mereka semua sudah terlatih, mereka telah atur rapi barisan perahu mereka masing-masing, kemudian yang menjadi kepala rombongan, yang dipanggil tauwbak, dengan satu tanda datang berkumpul bersama ketua mereka "Kita orang sekarang berkumpul di sini, karena satu bahaya sedang mengancam kita," berkata Tan Tay Yong dengan langsung. "Kita orang mesti berkumpul untuk berunding supaya kita orang jaga saja diri kita baik-baik, tegasnya, aku ingin kita orang bersiap, untuk membela diri."

Tay Yong telah dapat sambutan yang hangat, karena semua nelayan sudah mengerti keadaan mereka, hingga mereka tidak bersangsi sedikit juga akan berikan janjinya, janji tenaga dan jiwa. Mereka nyatakan bersedia akan turut segala titah atau pengaturannya ketua ini.

Untuk sementara, Tay Yong hendak pecah semua penduduk dalam dua rombongan, untuk menjaga siang dan malam dengan bergiliran. Kecuali mulut muara yang dijaga keras, di atas Giokliong-giam juga hendak dipasang pengawasan di empat penjuru, supaya dari jauh-jauh mereka sudah bisa dapat lihat apabila ada gerakan apa-apa dari pihak penyerang.

"Juga yang giliran menjaga siang tidak boleh alpa," Tay Yong minta. "Aku tidak bilang musuh akan serang kita malam ini, akan tetapi mereka pasti bisa serang kita setiap waktu. Mereka telah datang dari tempat jauh, mestinya mereka sudah siap betul-betul. Andaikata musuh menyerang, selainnya menangkis, tindakan pertama adalah mengasih tanda, supaya semua pihak kita bisa lantas sedia akan sambut mereka. Terutama mulut muara mesti dijaga keras. Panah kita mesti sedia banyak. Musuh tidak boleh diijinkan melintasi mulut muara."

Tan Tay Yong juga sediakan dua-puluh orang, teristimewa untuk menjaga pihaknya Yan Toa Nio yang mesti dikurung.

"Mereka itu liehay sekali, panah saja mereka dari jauh," ia pesan. "Jangan dekati mereka, meskipun kamu mengerti silat, itulah percuma. Aku pun nanti coba tindas mereka terlebih dulu, agar mereka tidak jadi penyambut bagi pihak musuh."

Kemudian Tay Yong kasih tahu, ini ada tindakan pertama, dan tindakan kedua ia akan pikir lebih jauh. Tindakan kedua ia maksudkan sebagai daya akan selamati Hiecun untuk selama-lamanya.

Semua nelayan buktikan semangat mereka, mereka tidak senang dan bersedia untuk bergulat.

"Cuncu jangan kuatir," kata satu nelayan yang bernama Lim Siong Su. "Tidak nanti kita tinggalkan Hiecun, kita akan hidup atau musnah bersama-sama dusun kita ini. Kalau terpaksa, aku akan bikin karam semua perahu kita, supaya musuh tidak dapat punyakan!"

Lim Siong Su ini ada tauwbak keempatnya Tan Tay Yong. Sama sekali ada empat tauwbak, yang setiap hari pegang pimpinan, mewakilkan cuncu, apabila sedang keluar menangkap ikan. Semua nelayan mesti tunduk pada mereka.

Tauwbak pertama ada An Sam Siu, yang kedua Yap A Tiong dan yang ketiga Ho Jin. Mereka semua masih muda, pandai berenang di air. Di antaranya adalah Siong Siu, yang mengerti ilmu silat cukup baik, adatnya pun paling keras.

"Kau benar, saudara Lim," kata Wan Sam Siu. Kita dari pihak Kiushe Hiekee, ke mana saja kita pergi, jangan biarkan orang pandang enteng pada kita, biar musuh ada punya tiga kepala dan enam tangan kita toh mesti lawan padanya!"

"Jikalau kau semua sudah insyaf, itu bagus," kata Tay Yong pada dua orang kepercayaannya itu. "Memang, berhasilnya kita melindungi Hiecun berarti juga kita pegang kekal pamornya Kiushe Hiekee. Sekarang, karena gentingnya keadaan dan karena kau orang telah  mengangkat aku sebagai cuncu, aku minta kau orang semua dengar aku! Siapa saja, ia mesti turut perkataanku! Umpama kata ada orang yang bandel dan bantah aku, aku tidak mau hukum padanya, tetapi aku harap kedudukanku diganti oleh lain orang! Bukankah di antara kita tidak ada orang luar?"

"Kau keliru, cuncu," Yap A Tiong berkata. "Kita telah angkat kau menjadi cuncu, sudah tentu kita akan dengar perkataanmu! Aturan kita, siapa bersalah, cuncu mesti jalankan aturan terhadap orang itu! Bukankah kita sekarang tidak bisa lagi angkat kaki dari Hiecun, melulu untuk hidup sendiri?"

"Perkataanmu, saudara, menyatakan kecintaanmu atas diriku!" Tay Yong bilang.

Kemudian Ho Jin nyatakan, apa tidak terlebih baik mereka turun tangan terlebih dulu terhadap Yan Toa Nio dan anaknya.

"Tidak," Tay Yong jawab. "Kita curigai mereka tetapi buktinya kita belum ada, sebagai laki-laki, aku malu menghina orang perempuan! Sekarang kita perlu awasi saja sepak terjang mereka."

"Kalau begitu, kasihlah aku yang ajak saudara-saudara pergi mengawasi mereka," Ho Jin minta tanggung jawab. "Apabila benar mereka main gila, aku ingin sekali buktikan, bagaimana sih liehaynya mereka!"

Tan Tay Yong terima baik permintaan itu.

"Tapi ingat kehormatan kita, aku minta jangan kau sembrono," ia pesan, la lantas tetapkan kewajibannya tauwbak itu. Kemudian ia kata pada Siong Siu, "Silakan bawa semua perahumu pergi menjaga mulut muara. Jaga supaya jangan ada perahu kita yang sembarangan keluar batas. Sebelumnya musuh unjuk bukti bahwa mereka hendak menyerang, kita pun jangan kentarakan suatu apa. Aku berikan kau duapuluh saudara, mereka mesti sembunyi di mulut muara, di pepohonan, di tanjakan, sedialah panah, apabila musuh merangsek, lantas gencet dan serang mereka. Di waktu bertempur, kita tidak boleh bersangsi lagi akan turun tangan.

Sekarang sudah tiba saatnya untuk kita jual jiwa kita!"

"Benar, cuncu!" sahut Lim Siong Siu, yang terima kewajiban itu.

Setelah itu, Tan Tay Yong perintahkan Wan Sam Siu dan Yap A Tiong.

"Kamu berdua boleh kepalai masing-masing rombongan seperti biasa. Sam Siu, kau boleh menjaga di depan Hiecun. Kau A Tiong, boleh pecah-pecah rombonganmu itu, begitu sang malam datang, lantas kau rondai seluruh daerah kita. Sekalipun tempat yang buntu, kau mesti perhatikan, maka itu, kirimlah dua perahu dengan dua saudara, menjaga di kaki Giokliong-giam, asal ada gerakan apa-apa, mereka ini mesti segera memberi tanda."

"Cuncu nampaknya terlalu berhati-hati," A Tiong bilang. "Bukankah dari atas Giokliong-giam tidak ada jalanan sama sekali? Dari pihak bukit, kita sebenarnya tidak ada hubungan sama pihak luar yang mana saja "

"Bukannya begitu, saudara Yap. Kita lebih baik berhati-hati daripada beralpa. Bukankah penjagaan itu tidak ada ruginya bagi kita? Mari, silakan kau pergi bekerja!" A Tiong tidak membantah, ia pun terima baik kewajibannya.

Kemudian Tay Yong berikan lain-lain titah lagi, sesudah mana ia ajak semua nelayan berangkat pulang untuk mereka itu lantas bekerja.

Giok Kouw sambut ayahnya waktu ayah itu pulang, ia lantas tanya apa yang ayah itu atur.

Tay Yong tuturkan segala apa pada anaknya itu, terhadap siapa ia tidak simpan rahasia.

"Hiecun ada daerah yang bagus, aku percaya, biarpun ia liehay, musuh rasanya tidak akan mampu celakai kita," Giok Kouw nyatakan. "Apa yang aku harap adalah rombongan di muka muara kita itu bukannya dari pihak Englok-kang udik, yang telah menjadi musuh kita.

Tentang mereka perlu dicari tahu, supaya kita tahu pasti mereka ada dari golongan mana."

"Kau benar, anak. Turut penyelidikanku, mereka pasti bukannya penduduk Englok-kang yang berdekatan dengan kita, aku percaya sebagian di antaranya ada dari Englok-kang udik, sisa dari musuh-musuh yang telah menjadi pecundang kita. Rupanya mereka datang dengan tenaga baru. Kalau aku tidak salah, mereka ada rombongan Yo Ban Hoo, hanya, apa yang aneh, di antara mereka tidak ada hui-hiecun, perahu-perahu istimewa dari rombongan itu."

"Kalau begitu, kita perlu bikin penyelidikan lebih jauh," Giok Kouw nyatakan.

"Aku pun berpikir begitu. Kalau sebentar tidak ada perobahan apa-apa, aku hendak ajak beberapa saudara yang pandai berenang dan selulup, akan hampirkan perahu-perahu mereka"

"Ayah benar, malah lebih lekas lebih baik."

Boleh dibilang hampir tidak mengaso lagi, Tan Tay Yong lantas keluar pula, sekarang guna tilik semua nelayan, akan lihat pekerjaan mereka itu sebagaimana tadi telah diatur, kesudahannya ia merasa puas. Semua orang telah bekerja betul dan malahan mereka itu nampaknya siap sungguhan, seperti juga bahaya sudah pasti bakal mengancam mereka.

Hatinya Tan cuncu jadi tenteram sekali, karena ia percaya, dengan beragam dan bersungguh-sungguh, andaikata ada bahaya tentu dapat dihindarkan. Karena ini ia lalu tetapkan niatannya akan lakukan penyelidikan ke perahu asing. Tapi, sebelumnya pulang, ia pergi ke mulut muara, akan tilik rombongan perahu-perahu yang dicurigakan itu. Untuk keheranannya, selama itu pihak asing telah dapat tambahan lebih daripada duapuluh perahu lagi, semuanya perahu-perahu kecil yang lajunya pesat. Meski demikian, penumpang-penumpang perahu itu tenang semuanya, mereka bicara dan pasang omong dengan sewajarnya, pada mereka tidak tertampak gerakan apa-apa yang mendatangkan kecurigaan orang.

"Benar luar biasa," pikir Tan Tay Yong.

Dalam perjalanan pulang, ketua Hiecun ini coba melongok gubuknya Yan Toa Nio, ia lihat ibu dan anak dengan tenang sedang bekerja membikin bale atau pembaringan bambu, mereka sama sekali tidak bersikap luar biasa. Pemandangan ini menambah kelegaan hatinya.  Selagi lewat di tempat di mana berada rombongan perahunya Lim Siong Siu — barisan keempat — Tay Yong lihat tauwbak-nya sedang jalan mundar-mandir di gili-gili, melihat padanya, tauwbak itu menegur. Tiba-tiba ia ingat suatu hal, ia lantas gapein tauwbak itu.

"Aku ingin kau lakukan suatu pekerjaan," kata ketua ini, sesudah Siong Siu samperi ia. "Apa kau bisa pilih beberapa orang di antara orang-orangmu yang terpandai untuk berenang dan selulup?"

"Aku dapat sediakan orang-orang itu," Siong Siu jawab. "Duapuluh tahun berada dalam latihan bersama, saudara-saudaraku semua sudah boleh diandalkan. Apa cuncu berniat bokong musuh?"

Ditanya begitu, Tay Yong tertawa.

"Saudara, kau ngaco!" ia kata. "Orangmu cuma duapuluh lebih dan perahu-perahu di sana sekarang telah berjumlah empat atau limapuluh lebih, satu tanda jumlah jiwa penumpangnya ada banyak, maka itu, cara bagaimana kau bisa pikir untuk serang mereka dengan diam-diam? Aku tidak pikir demikian, saudara, aku hanya ingin bikin penyelidikan untuk dapati kepastian, mereka sebenarnya datang dari mana dan dari golongan apa.

Jika kita telah mengetahui jelas tentang mereka berarti ada lebih gampang untuk kita hadapi mereka itu.

Maksudku adalah kirim beberapa perenang menghampirkan perahu-perahu mereka, akan selidiki mereka dari dekat."

Setelah mengetahui maksud ketuanya, Lim Siong Siu bersenyum. "Aku kira pekerjaan bagaimana, tidak tahunya hanya penyelidikan," berkata ia. "Itulah tidak berarti banyak! Cuncu serahkan pekerjaan itu padaku, cuncu harap sediakan saja buku jasa untuk catat nama rombongan kita!"

"Saudara, jangan kau pandang pekerjaan ini seperti permainan anak-anak," Tay Yong mengasih ingat. "Bukankah pepatah berbunyi: kenal diri sendiri, kenal musuh, baru seratus kali berperang kita bisa seratus kali menang? Tapi aku tidak mengharap begitu, buat aku, cukup asal Kiushe Hiekee bisa lindungi pamornya. Di kalangan kita, kau memang terkenal gagah, tetapi di kalangan Sungai Telaga, kau mengerti, orang pandai bukannya sedikit. Kalau kita alpa dan memandang enteng semua orang, gampang sekali kita dibikin gagal. Kalau kita pergi bekerja, jangan lantas kita harapi pahala, sudah cukup asal kita jangan bekerja salah. Kita mesti jaga, kita pergi buat berhasil, tetapi jangan kita pergi untuk orang bikin kita kecele dan malu "

Tan Tay Yong tahu tauwbak itu beradat tinggi dan berhati keras, maka itu, ia telah bicara dengan tandes.

Lim Siong Siu tidak berani adu bicara sama ketuanya, meski ia tidak setujui nasehat ketua itu.

"Baiklah, cuncu, aku nanti pergi, aku tidak akan bikin gagal!" katanya Meski demikian, pada air mukanya tertampak nyata, bahwa ia kurang puas.

Melihat sikap orang itu, hatinya Tay Yong tidak tenteram, akan tetapi karena ia tahu, tidak ada lain rombongan nelayan yang terlebih pandai daripada barisan keempat ini, ia terpaksa percayakan kewajiban penting itu pada tauwbak ini. "Baiklah," ia kata. la terus kasih tahu, bagaimana penyelidikan mesti dilakukan, kemudian lagi sekali ia pesan wanti-wanti supaya tauwbak ini berlaku hati-hati. Sesudah itu, ia terus pulang.

Kapan sang malam sampai, pihak Hiecun telah siap dengan penjagaannya. Rombongan keempat ini telah siap, untuk jalankan kewajiban yang dipasrahkan oleh ketua mereka. Dalam gelap gelita, Siong Siu pimpin pasukannya. Setiap satu tombak jauhnya, dua buah perahu, setiap perahu ada muat dua nelayan dengan dua tempuling dan dua panah berikut banyak anak panahnya. Dandanan mereka ada celana pendek, baju ringkas dan kepala di-bungkus. Mereka tidak bawa pelita atau obor.

Tapi mereka tidak maju terus, hanya menantikan waktu.

Di kiri kanan dan mulut muara yang tinggi merupakan bukit, ada masing-masing sepuluh nelayan yang membikin penjagaan. Perhatian mereka ditujukan terutama ke jurusan gubuknya Yan Toa Nio. Mereka ini termasuk pula rombongan dari pasukan ketiga dari tauwbak Ho Hong, yang membawa delapan perahu untuk pengawasan.

Barisannya Yap A Tiong, enam-belas buah perahu rombongan kedua, tersebar di muka air untuk meronda. Setiap perahu membawa alat tanda, untuk memberi tahu ada bahaya atau untuk kumpulkan kawan.

Tan Tay Yong sendiri, bersama empat nelayan sebagai pengikutnya, menilik semua, guna lihat orang bekerja sungguh-sungguh atau tidak. Persiapan malam dan siang memang ada bedanya

Lebih kurang jam satu, Lim Siong Siu mendarat, naik ke puncak di mulut muara. Dari sini ia bisa melihat jauh ke jurusan pihak asing yang disangka musuh. Di sana keadaan tenang. Hanya cahaya terang tertampak.

"Sedari mulai gelap tadi, sampai sekarang mereka itu tidak bikin gerakan apa juga," begitu keterangannya satu nelayan, yang pasang mata

"Baik, kau jagalah seperti biasa," berkata Siong Siu, yang lantas kembali ke perahunya.

Sekarang tauwbak ini panggil empat saudaranya, yang ia ajak pergi melakukan penyelidikan, lajelaskan pada mereka hal tugas yang cuncu serahkan padanya, ia unjuk bahwa ia telah omong besar, maka ia minta empat kawan itu suka bekerja sama-sama ia dengan sungguh- sungguh. Ia kata, ia malu pulang ke Hiecun andaikata mereka gagal.

"Bagus! Sekarang hayo kita mulai bekerja!" kata Siong Siu dengan girang.

Empat kawan itu dengan hampir berbareng, lantas terjun ke air, untuk berenang sambil selulup, Siong Siu sendiri menyusul paling belakang, la benar liehay, dengan lekas ia telah bisa susul empat kawan itu. Cepat sekali mereka sudah sampai di luar mulut muara. Di sini mereka timbul sebentar, akan menyedot hawa, akan melihat jurusan.

"Kita mesti pecah dua," Siong Siu kata. "Kau berdua maju dari kanan, aku bertiga dari kiri. Harap kau berlaku hati-hati."

Dua nelayan yang jalan di kanan itu ada Cio Liong dan Cian Siu Gie. Dua, yang turut tauwbak ini, ada Thia Toa Yu dan Ie A Po. Dengan berenang dan selulup bergantian, berlima mereka meng-hampirkan perahu-perahu asing. Mereka bisa datang dekat dengan tidak nampak rintangan.

Dengan tanda, Siong Siu minta kawan-kawan itu jangan lantas dekati perahu, hanya mereka mesti memutar dulu, guna lihat apakah musuh pasang pengawas atau tidak.

Sendirian saja, Siong Siu berenang ke sebuah perahu besar di mana ada cahaya api. Perahu ini berlabuh di tengah-tengah dari yang lain-lain. la angkat kepalanya tinggi-tinggi setelah ia sudah datang dekat. Sekarang ia dapat buktikan kebenarannya dugaan dari Tan Tay Yong. Perahu besar ini ada dari Kangsan-pang. Dan perahu macam itu ada tujuh, berlabuhnya bercampuran dengan lebih daripada tigapuluh perahu lainnya, hingga dari jauh sangat sukar untuk mengenali dengan segera.

Siong Siu berlaku hati-hati sekali. Ketika itu ia berada di belakangnya perahu besar itu. Ia cabut golok, yang ia soren di pinggangnya. Ia kuatir musuh pasang jaring atau gaetan. Dalam gelap gelita, biar bagaimana juga, orang tidak bisa bergerak leluasa seperti di waktu siang. Jala bisa meringkus orang tetapi gaetan adalah pertandaan.

Memegang perahu dengan hati-hati sekali, Siong Siu gunakan tenaganya guna angkat tubuhnya, dengan begitu ia bisa melihat ke dalam kendaraan itu di bagian belakang. Ia lihat satu perapian besar. Di dekat situ ada rebah seorang tua usia lima atau enampuluh tahun, rupanya empe-empe itu tidur kepulasan, karena kipasnya

— kipas daun paim—menggeletak di pahanya. Api di perapian sudah hampir padam, tetapi tekonya telah kasih dengar suara air yang bergolak-golak. Percaya tukang perahu itu sedang tidur nyenyak, Siong Siu lalu melapay ke sebelah kiri. Di sini, dengan berani, ia lompat naik ke atas perahu, segera ia hampirkan jendela dari gubuk perahu. Ia dengar suara dua orang bicara, karena daun jendela tertutup rapat, ia tidak bisa memandang ke dalam.

"Kita tidak boleh pandang terlalu enteng pada daerah berharga yang seperti mustika ini," demikian ia dengar satu suara. "Kita hendak buka jalan hidup untuk saudara- saudara kita, untuk itu kita mesti gunakan antero tenaga kita. Aku percaya mereka tidak menjaga sejaga-jaganya saja, mereka mestinya ada atur daya upaya lainnya yang sempurna."

"Sebagai orang terhormat, kita tidak harus berlaku curang!" kata suara yang kedua, yang nyaring. "Kita sudah berkumpul di sini, itu tandanya kita telah berlaku terus terang. Mereka ada satu rombongan kecil, apa terhadap mereka kita perlu kirim surat tantangan perang?"

Siong Siu menjadi ketarik, ia ingin sekali lihat macamnya dua orang itu. Sekarang ia dapat lagi bukti, bukti yang memastikan, bahwa Giokliong-giam Hiecun benar-benar sedang hadapi musuh — musuh untuk hidup dan mati. Baru saja ia bergerak, dengan niatan melewati jendela itu, atau mendadak di dalam gubuk perahu ada orang tertawa terbahak-bahak serta terus berkata, "Aku tidak percaya segala anak kucing dan anak anjing berani molos kemari! "

Ucapan itu sudah lantas disusul dengan suara disingkapnya kere. Siong Siu terperanjat, hingga di dalam hatinya ia berseru, "Celaka! " Tidak buang tempo lagi, ia pegangi

pinggiran perahu dan terjun ke air.

Berbareng dengan itu, di kepala perahu ada terdengar suara orang berseru kaget disusul dengan suara berisik.

Dengan tidak pedulikan itu semua, Siong Siu selulup terus ke kepala perahu, sampai ia terpisah satu tombak lebih.

Di muka air, segala apa ada gelap, di perahu sebaliknya ada cahaya terang. Mendadak kelihatan seekor ikan, yang panjangnya tiga kaki lebih, telah lompat meletik ke kepala perahu, hingga di sana orang jadi berseru bahna kagetnya. Karena itu, semua orang di dalam perahu lantas memburu keluar.

"Han suhu, ada apa?" demikian orang menanya. Orang di kepala perahu itu segera menyahut, katanya,

"Kelihatannya usaha kita bakal berhasil! Aku dengar

suara, tadinya aku menyangka pada kucing dan anjing, yang berniat main gila di sini, tidak tahunya seekor ikan besar sudah meletik naik ke dalam perahu kita! Ini ada suatu alamat baik, kita bakal dapat untung!"

Orang yang dipanggil Han suhu itu lantas unjuki seekor ikan.

"Lauw Ho, Lauw Ho!" ia lalu memanggil-manggil.

Dari dalam lantas muncul satu orang yang matanya kesap-kesip.

Di kepala perahu sekarang berkumpul lima orang, si Han suhu adalah yang romannya paling bengis.

"Bawa ikan ini!" ia memerintah. Lauw Ho, atau si Ho Tua sudah lantas angkat ikan itu untuk dibawa pergi.

Siong Siu mengerti bahwa orang telah pergoki ia, baiknya ada sang ikan, yang rupanya kaget karena ia terjun, sudah lompat meletik ke atas, naik ke perahu, hingga perhatian orang jadi ditujukan pada ikan itu. Ia tidak takut, tetapi orang di perahu terlalu banyak, untuk ia layani, sedang tujuannya adalah bikin penyelidikan di luar tahu musuh. Tapi ia belum peroleh hasil yang memuaskan, apabila suara sudah mulai sirap, ia menghampirkan ke sebelah kanan perahu itu. Ia masih ingin lihat dua orang tadi. Kali ini ia berhasil.

Dua orang itu dandanannya bukan sebagai nelayan, yang satu berusia kurang lebih enampuluh tahun, tubuhnya tinggi besar, mukanya merah, berkumis dan berewokan hitam, bajunya ada baju panjang warna biru. Orang yang satunya lagi berusia lebih tua, ditaksir umurnya tujuhpuluh tahun lebih, kumisnya jarang, mukanya kurus, tetapi sepasang matanya tajam betul, sampai bersinar. Mestinya aki-aki ini ada seorang yang liehay.

Selagi Siong Siu mengawasi terus, mendadak si brewok hitam tertawa dan kata, "Cui loosu, inilah yang dibilang, rejeki tidak datang bareng, bahaya tidak jalan sendirian! Yang tadi itu adalah penipuan belaka! Lihat malam ini dua rupa kegirangan datang berbareng! Lihat, lusu, ikan yang belakangan ini ada terlebih besar daripada yang ditangkap tadi!"

Sembari berkata begitu, empe ini gerakkan tangannya, menuding ke air, berbareng dengan itu sebuah senjata seperti paku perak, melesat menyambar ke jurusan tauwbak dari Hiecun.

Siong Siu mengawasi orang dengan tubuh tengkurep di air, kedua tangannya dipakai menahan dirinya, supaya bisa berdiam terus, ia tidak sangka bahwa ia bakal diserang secara demikian mendadak, meski ia gesit, sukar untuk ia tolong dirinya, justru ia mau bergerak dengan menyangka ia ada bagian mampus, tiba-tiba ia rasai kedua kakinya ada yang sambar dan betot begitu keras, hingga ketika senjata rahasia sampai, senjata itu lewat tepat di atas kepalanya. Kemudian ia telah dibetot terus, masuk ke dalam air, sampai di bawahnya perahu besar itu, sedang kupingnya masih dengar secara lapat- lapat suara tiga orang terjun ke air, rupanya untuk cari ia. Malahan tiga orang itu semuanya cerdik, karena mereka telah berpencaran salah satu di antaranya, sudah menuju ke dasar perahu.

Oleh karena ia telah dibetot secara mendadak, kendati ia pandai berenang dan selulup, saking kagetnya, Lim Siong Siu telah kena juga tenggak air, hingga ia gelagapan, syukur untuk ia, pikirannya masih sadar, meski ia lelah, ia toh berdaya akan singkirkan diri. Ia melesat ke samping, kedua kakinya digerakkan, atas mana, tubuhnya lantas mencelat ke atas. Satu kali kepalanya nongol di muka air, ia bisa buang dan menarik napas. Tapi ia tidak bisa sia-siakan tempo, la merasa ada orang susul ia, lekas-lekas ia hunus goloknya.

Pihak pengejar rupanya ada pandai sekali, ia bisa menyusul dengan lekas, tangannya sudah lantas menjambret. Dengan egos diri ke kiri, Siong Siu menyabet dengan goloknya Untuk tolong diri, penyerang itu segera selulup. Adalah di waktu itu, muncul Thoa Toa Yu dan le Pa Po. Mereka juga sudah kena dipergoki oleh musuh, mereka telah diserang. Pihak musuh ada bertiga.

Kemudian di pihak musuh datang si brewokan, yang ternyata ada liehay. Dengan bantuannya dia ini, dua nelayan dari Hiecun itu dengan gampang kena ditangkap, lantas mereka dilelepkan pergi datang sampai keadaan mereka setengah mati.

Siong Siu telah dapat lihat dua kawannya digaet naik ke perahu, ia ada mendongkol berbareng kuatir dan malu. la telah buka mulut besar, sekarang ia gagal. Ia malu untuk pulang. Tapi, kalau tidak pulang, lidak bisajadi. Ia perlu pulang untuk memberi laporan. Di lain pihak, sekarang ia dikepung oleh tiga orang!....

Dalam keadaan seperti itu, tauwbak ini menjadi nekat.

Ia ingin bisa bacok salah satu penyerangnya, supaya ia sedikitnya tidak hilang muka, atau ia tidak nanti binasa secara kecewa. Sayang untuk ia, kendati ia pandai berenang dan selulup, ilmu silatnya rendah, sedang tiga musuhnya ternyata mengepung ia dengan maksud separoh menilik padanya. Beberapa kali ia ditubruk, beberapa kali ia bisa egoskan dirinya.

Akhirnya si brewokan hitam jadi penasaran.

"Kalau kita tidak bisa bekuk dia ini, orang tentu tidak akan pandang mata pada kita!" demikian ia berseru. "Silakan kau minggir, nanti aku layani sendiri padanya! Aku mau lihat, ia sebenarnya ada orang liehay macam bagaimana!"

Lantas saja orang tua ini selulup. Siong Siu mengerti yang ia lagi hadapi musuh tangguh kendati benar musuh ini bicara terlalu takabur, untuk bikin perlawanan, tidak alpa akan ambil kepastian. Ia lihat lowongan di jurusan barat utara, ia segera berenang ke sana, lantas ia selulup, baru saja mengenjot tiga kali, ia sudah pisahkan diri jauhnya dua tombak lebih. Dengan cara begini, ia bisa jauhkan diri dari dua musuh, yang sedang awasi ia Kapan ia timbul, ia kehilangan si orang tua brewokan hitam, yang telah selulup sedari tadi.

Untuk cari musuh, Siong Siu celingukan, tatkala mendadak ia rasai kedua kakinya membentur suatu apa. Ia kaget, ia segera menahas ke jurusan kakinya. Baru saja ia membacok, atau bebokongnya ada yang sambar, ia segera dibetot. Ia menahan napas, ia coba pertahankan diri, tetapi justru itu, ia merasa tubuhnya segera ditolak, sampai ia terdorong jauh, hingga ia muncul di muka air. Ketika ini ia pakai untuk membuang napas, akan sedot hawa udara baru.

Di depannya, ia lihat air bergelombang, apabila ia awasi, ia lihat romannya si empe brewokan hitam.

Berbareng dengan itu, di lain jurusan ia tampak air bergelombang, hanya dalam gelap gelita, ia tidak sanggup melihat tegas. Ia menjadi heran, hingga karena bersangsi, ia tidak ingat akan lekas undurkan diri. Ia sedang bengong tatkala dengan mendadak di belakangnya terdengar teguran, "Manusia tidak tahu malu! Apakah kau lagi tunggui kematianmu? Kenapa kau tidak lekas menyingkir, lari pulang?"

Siong Siu kaget, ia menoleh dengan lekas, tetapi ia tidak lihat orang yang menegur ia. Tapi sekarang ia insyaf, maka ia tidak berayal untuk melarikan diri. Lantas di muka air ia dengar seruan, "Han loosu, malam ini kita bisa roboh! Kita tidak boleh sudahi saja, kita mesti cari padanya!"

Siong Siu tidak peduli musuh, ia lari terus. Di tengah jalan ia ketemu dengan Cian Siu Gie, yang berada di kanannya, bersama-sama Cio Liong. Mereka lari terus sampai di mulut muara, baru mereka merasa lega.

Tauwbak itu diam saja, ia berduka dan malu. Ia telah kehilangan dua kawannya.

Di mulut muara mereka naik atas perahu mereka dan lantas salin pakaian yang basah, susuti tubuh mereka juga.

"Aku roboh," akhirnya kata Siong Siu dengan mengelah napas panjang. "Aku malu buat tinggal lebih lama di Giokliong-giam."

"Lim suhu, kenapa kau berpikiran begitu cupet?" Cian Siu Gie kata. "Terang orang telah bersiaga. Kita berdua telah samperkan beberapa perahu, saban-saban kita tidak mampu datang dekat sekali, kita juga mesti dengar ucapan-ucapan pedas, yang berupa jengekan terhadap kita. Orang pun telah sengaja siram kita dengan air kotor. Karena ini kita segera mengerti yang musuh sedang permainkan kita, tetapi karena terpaksa, kita sabar saja, sampai akhirnya kita mundur sendiri."

Siong Siu jadi tambah berduka, ia tidak kata apa-apa pada dua orang itu, tapi mukanya merah dan suram, maka Siu Gie lalu ajak Cio Liong undurkan diri ke perahu mereka. Mereka tahu tauwbak itu sedang mendongkol.

Siong Siu tetap dalam kemendongkolan dan kesangsian. Ia sangat malu, terutama karena ia tahu di Hiecun rata-rata orang hargakan ia, karena kepandaiannya main di air dan ilmu silatnya. Baru sekarang ia mengerti betul, siapa berada di tempat tinggi, jatuhnya parah. Karena malu, ia kertak gigi.

"Biar bagaimana, aku mesti kembali pada musuh, akan cari Toa Yu dan A Po, untuk tolong mereka!" demikian akhirnya ia pikir. "Kalau aku berhasil, syukur, kalau tidak, tidak nanti aku kembali kemari. Kiushe Hiekee melarang orang meninggalkan golongannya sendiri, tetapi aku terpaksa mesti menyingkir dari sini, aku baik pulang dulu ke Hucun-kang, akan asingkan diri di sana"

Setelah ambil putusan, Lim Siong Siu lantas ambil uang, yang ia gubet di pinggangnya, sesudah itu ia pakai bajunya Adalah di waktu itu, ia dengar orang ketok jendelanya sambil berkata-kata, "Lim Siong Siu, kau tidak tahu diri! Kenapa kau bikin turun derajatnya leluhurmu? Kenapa sekarang kau niat lakukan lain kedosaan lagi?

Kalau sampai kau terjatuh di tangan musuh, kau bikin aku jatuh merk juga! Kenapa kau tidak mau diam saja, bantu menjaga mulut sungai ini? Cucu yang tidak berguna awas, aku nanti terlebih dulu bereskan padamu!"

Siong Siu kaget, hingga bajunya yang baru dipakai separah ia sudah tunda dengan tercengang. Ia tadinya menyangka pada Tan cuncu, yang menegur ia, tidak tahunya, suara itu bukan suaranya Tay Yong.

"Siapa?" ia menegur, serta buka pula bajunya. Ia sembat goloknya, dengan tidak tunggu jawaban, ia lari keluar gubuk perahunya. Tapi di perahunya itu tidak ada orang, muka air tenang seperti biasa Salah satu dari sebuah perahu rombongannya berada di sebelah depan perahunya.

"Lie Hong," ia tanya, "apa kau lihat orang di perahuku ini?"

"Tidak," jawab Lie Hong, orang yang ditanya itu, ialah nelayan dari perahu itu.

Mau tidak mau, Siong Siu menjadi heran bukan main, hingga lagi-lagi ia mengawasi muka air, yang tetap tenang, tidak ada tanda-tandanya bekas orang berenang di situ. Ia menjadi masgul, ia kerutkan alis. Akhirnya, dengan lesu, ia bertindak masuk pula ke dalam perahunya, goloknya ia lemparkan. Ia duduk dengan jatuhkan diri. Di kupingnya masih berdengung suara tadi.

"Terang ia dari pihak Kiushe Hiekee," ia berpikir. "Ia juga katakan aku cucu yang tidak berguna. Di sini aku benar paling muda, sebaliknya dari golongan tua, hanya ada empe dan encek, maka itu ada siapakah yang panggil aku cucu? Kalau ia dari pihak luar, kenapa ia panggil aku cucu? Lagian, dengan penjagaan begini kuat, cara bagaimana musuh bisa datang kemari dengan tidak diketahui atau mendapat rintangan? Jikalau benar musuh bisa masuk dengan diam-diam, oh, benar-benar kita berada dalam bahaya besar! Dan tadi, di dalam air,

siapa orang itu, yang telah tolong aku dari ancaman bahaya? Terang ia berkepandaian sangat tinggi, orang dengan kepandaian semacam itu, aku belum pernah lihat "

Mendadak Siong Siu ingat apa-apa.

"Apakah ia bukannya salah satu dari leluhur kita, Tan Ceng Po atau Lim Siauw Chong?" demikian dugaannya. "Lim couwhu ada eng-kongku dari turunan langsung tetapi ia telah jauhkan diri dari kita, tidak ketahuan ia tinggal di mana, malahan pihak kita di Hucun-kang tidak pernah ada yang ketahui padanya, cara bagaimana sekarang ia bisa ketahui yang anak cucunya telah merantau sampai di sini? Malahan ia ketahui juga kita sedang terancam bahaya besar dan telah datang pada saat yang berbahaya ini? Tidak, inilah tidak bisa terjadi! "

Memikir lebih jauh, Siong Siu sekarang insyaf, bahwa ia masih muda dan kurang pengalaman, kepandaiannya pun masih banyak cacatnya, hingga belum waktunya untuk ia masuk dalam kalangan Sungai Telaga. Oleh karena ini, ia jadi bersangsi dan duduk diam saja, karena ia bersangsi, apakah ia pergi atau jangan untuk tolong dua kawannya....

Meski ia rebahkan diri, tauwbak ini tidak bisa pulas, pikirannya masih terus bekerja. Adalah di waktu itu mendadak perahunya bergon-cang keras, di kepala perahunya ia dengar suara menjubiar dua kali, tanda bahwa ada orang terjun ke air atau dilemparkan ke sungai. Dengan kaget ia lompat bangun dan sembat goloknya, lupai segala bahaya, ia lari ke luar, kapan baru saja ia melongok di mulut pintu, ia jadi tercengang, matanya melotot....

Di atas perahu ada rebah dua orang, yang rupanya baru saja diangkat naik dari air, dua-duanya tidak bergerak, seperti mayat.

Siong Siu kerutkan alisnya, ia beranikan hati. Ia hampirkan dua orang itu dan segera ia berseru, "Oh, kiranya kamu berdua!" Mereka itu memang Thia Toa Yu dan le A Po, yang tadi tertawan musuh, sekarang pulang entah siapa yang antarkan!

Dengan lantas Siong Siu raba dada mereka, ia rasakan jantungnya masih memukul, karena tenggak terlalu banyak air, maka dua nelayan itu jadi pingsan dan rebah sebagai mayat.

Siong Siu segera teriaki kawan-kawannya dari perahu tetangga, beberapa orang segera datang, apabila mereka lihat keadaannya Toa Yu dan A Po, lantas mereka turun tangan akan menolong dan sadarkan dua saudara itu.

Tidak lama setelah air di perutnya dikuras dan mereka dicekoki air jahe hangat, Toa Yu dan A Po lantas sadar, mereka buka kedua matanya, segera mereka berseru bahna heran. Tapi ini justru bikin lega hatinya Siong Siu, begitupun yang lain.

"Ajak mereka ke dalam," Siong Siu kata Beberapa orang lantas dukung dua saudara ini,

dengan dipepayang dibawa ke dalam perahu dan terus direbahkan separoh nyender. Mereka sudah sedar, tetapi untuk ingat betul beberapa ketika mesti dikasih lewat.

Itulah sebabnya mereka terlalu lemah. Mereka irup lagi air jahe, baru kemudian mereka bisa bicara.

"Siunia, malam ini kita orang jatuh merk," akhirnya mereka kata pada Siong Siu. "Kami bisa lolos dari tangan musuh, ini adalah di luar dugaan kita "

"Saudara-saudara, aku menyesal sekali atas kejadian ini," berkata Siong Siu, sang pemimpin atau siunia. "Kamu telah terjatuh di tangan musuh, aku niat menolong, sayang tenagaku tidak ada. Aku malu sekali. Aku sampai di rumah dengan merasa sangat malu.. Aku terangkan padamu, bahwa aku tidak punya muka untuk hidup lebih lama pula. Katakan padaku, siapa telah tolong kamu berdua?"

"Begitu kena ditangkap, kita lantas tidak ingat suatu apa," Toa Yu jawab. "Kelihatan musuh tidak mau celakai kita mereka taruh kita di kepala perahu, ditengkurupi, sampai air di perut kita sendiri keluar. Ketika kita sedar, jangan kata lari, geraki tubuh saja kita tidak mampu. Kita diam saja, bersedia akan terima binasa. Sembari rebah, kita dengar suara orang bicara di dalam gubuk perahu, rupanya mereka sedang berebut pikiran. Karena kita ketulian, kita tidak bisa dengar perkataan mereka. Adalah waktu itu, dari perahu sebelah mendadak lompat dua orang yang tubuhnya sangat enteng dan gerakannya gesit sekali. Mereka pakai pakaian mandi dan kepala dibungkus. Kita lihat mereka ada orang-orang perempuan, malah mirip dengan Yan Toa Nio dan gadisnya. Dalam keadaan seperti itu, gelap dan mata masih seperti lamur, kami tidak mampu menegasi. Lantas dua orang itu samber kita masing-masing dan dibawa terjun ke sungai, kelihatannya kita mau dibawa pulang, tetapi kita tidak ketahui betul, karena begitu lekas masuk di air, lekas juga kita pingsan lagi, sebab percuma saja kita menahan karena kita masih sangat lemah. Sejak pingsan, kita tidak tahu apa-apa lagi!"

Siong Siu goyang-goyang kepala, la bingung dan tidak mampu berpikir.

"Kenapa justru mereka yang datang menolong, sedang mereka yang kita curigai?" demikian ia paksa asah olaknya. Syukur Siong Siu, ia tidak usah putar otak terlebih jauh. Sebuah perahu mendatangi, lantas ternyata, itu ada perahunya cuncu Tan Tay Yong yang diiringi oleh empat nelayan. Mereka melakukan penilikan. Terpaksa ia menahan malu dan sambut ketua itu.

Begitu lekas Tay Yong telah berada di perahunya, Siong Siu tuturkan tentang perjalanan dan pengalamannya yang luar biasa itu. Ia utarakan menyesalnya untuk kegagalan itu. Ia pun tuturkan pengalaman dari Toa Yu dan A Po.

"Apa yang aneh, mereka bilang bahwa yang tolong mereka adalah ibu dan anak yang kita curigai itu," ia tambahkan akhirnya. "Aku tadinya hendak beri laporan pada cuncu, tetapi sekarang cuncu telah datang lebih dulu. Sekarang aku minta cuncu angkat lain orang untuk ambil tempatku, kemudian cuncu boleh hukum aku menurut aturan kita, aku akan terima segala hukuman. Aku malu sekali, sebelumnya bertempur dengan musuh, aku telah bikin turun pamor kita "

Mendengar begitu, Tay Yong goyangi tangan berulang-ulang.

"Jangan kata begitu," ia bilang. "Titah saja untuk membikin penyelidikan sudah berarti bahaya, apapula dijalankannya itu. Janganlah kau anggap bahwa kegagalanmu itu menurunkan pamor, kau mesti insyaf pentingnya perkara. Sekarang mari kau ikut aku."

Siong Siu diam saja, ia ikut diajak ke perahunya ketua itu. Di sini ia disuruh duduk. Ia menurut.

"Aku tahu, Siong Siu, mengenai urusan kita, kau selalu bersungguh-sungguh," kemudian kata ketua ini. "Aku juga tahu, kau memang beradat keras dan selamanya ingin menang sendiri. Kita sebenarnya bukan bangsa nelayan sembarangan, kita ada dari Kiushe Hiekee dan telah wariskan sifatnya leluhur kita. Buat kita, hidup atau mati, senang atau terhina, mesti sama-sama. Kau anggap dirimu malu, tetapi ke mana kau hendak pergi? Bukankah ada aturan kita yang melarang anggotanya berlalu dari rombongan dan tidak boleh ditinggal pergi? Kau mesti insyaf dan harus hormati aturan kita itu. Kita hidup senang di sini, semua bukan karena kemampuanku sendiri sebagai ketua, itu hanya disebabkan ragamnya kita semua. Maka kau berhak untuk mengicipi apa yang kita semua rasakan! Kalau kau menyingkir, kau tentu pulang ke Hucun-kang, apabila itu terjadi, di sana kau mestinya merasa malu sendiri. Kita sekarang terancam bahaya paling hebat, kau bisa buktikan ini dari pengalamanmu sendiri, maka itu kita tidak boleh pandang enteng pada musuh. Terang musuh ada liehay, apabila ia telah turun tangan, pertempuran hebat mesti terjadi. Giokliong-giam akan mandi darah, maka itu, kita justru mesti keluarkan antero tenaga akan membela diri, akan lawan musuh. Untuk kita, tambah satu orang berarti tambah satu tenaga. Tentang ilmu silat, kita tidak boleh ambil kepastian, karena yang pandai ada yang terlebih pandai lagi. Tentang orang yang bantu kita secara menggelap, kecuali sudah pasti ia berilmu tinggi, aku duga pasti ia dari kaum kita. Aku pun merasa aneh pada Yan Toa Nio dan gadisnya, kita sangka mereka sebagai cecolok, penyakit di dalam, siapa nyana mereka justru ada bintang penolong kita! Apa penolong itu bukannya mereka berdua? Tetapi, di sebelah itu kita lagi hadapi musuh berbahaya! " Lim Siong Siu tunduk saja, ia malu bukan main. "Aku bersyukur yang cuncu sudi memberi ampun

padaku," ia bilang, "tetapi keampunan ini membikin aku

jadi lebih-lebih bersusah hati. Untuk keselamatannya Kiushe Hiekee, aku tidak mampu berbuat jpa-apa, bagaimana aku tidak malu dan menyesal? Tapi aku berjanji, .iku akan serahkan jiwaku dan kucurkan darahku untuk Giokliong-giam. Melainkan satu hal aku minta, sukalah cuncu menjaga hati-hati. Aku baru pergi ke rombongan musuh sebelah kiri, mereka semuanya liehay bukan main. Aku tidak takut cuncu cela aku, terus terang saja di Hiecun ini sukar untuk cari tandingan musuh, kecuali orang-orang itu yang dengan menggelap telah bantu kita. Dua kali aku telah didekati, dua-dua kalinya aku tidak bisa lihat padanya Bukan aku saja, juga pihak Kangsan-pang tidak dapat lihat padanya meskipun pihak itu liehay. Karena itu, bentrokan di antara mereka belum pernah terjadi. Asal saja orang-orang yang menolong kita suka membantu, harapan kita ada besar. Ketika keluar dari penjagaan musuh, mereka telah lumpuhkan penjagaan musuh. Tapi, yang tadi berkata- kata menegur aku dari luar perahu, ia terang ada dari pihak tetua Kiushe Hiekee. Coba cuncu pikir, siapa kiranya dia itu?"

"Sekarang ini yang sanggup tolong kita hingga Giokliong-giam tidak usah jatuh ke dalam tangan musuh melainkan ada 2 orang," Tay Yong berkata. "Mereka ada orang-orang luar biasa dari kaum kita ialah pehhu-ku Tan Ceng Po serta engkongmu Lim Siauw Chong. Tapi mereka umpati diri di daerah Hu-cun-kang, sudah banyak tahun mereka tidak pernah muncul. Malahan masih menjadi pertanyaan apakah kedua loojinkee itu ketahui atau tidak tentang kepindahan kita kemari. Maka

adalah luar biasa, justru kita berada dalam bahaya, mereka lantas datang menolong kita! Sungguh aku tidak berani mengharap untuk kedatangan mereka! Tentang Yan toanio dan gadisnya, aku bersangsi untuk pastikan mereka orang macam apa atau dari golongan mana, maka itu, mereka tetap menjadi kecurigaan kita. Tentang mereka aku juga telah pikir hingga seharian, akhirnya aku masih sangsi. Menampak keadaan musuh demikian rupa, sedang bala bantuan kita tidak bisa dapatkan, tidak bisa lain, terpaksa kita mesti mengandal pada diri sendiri! Kalau bisa kita bela, jikalau tidak kita juga akan bela sampai mati. Tay Yong tidak akan menyingkir dari sini, apapula untuk nyingkir sendirian! Segala apa aku pasrah pada Thian! Penjagaan di mulut muara masih kurang,

coba kau tambah dengan seluruh pasukanmu. Siong Siu, tetapi hatimu jangan sangsi! Kau niat kucurkan darah untuk Giokliong-giam, angan-anganmu sama dengan angan-anganku! Nah, mari kita orang bekerja!"

Siong Siu bersyukur pada cuncu yang baik budi itu. "Baik, cuncu!" ia berkata. "Aku nanti atur saudara-

saudaraku guna bela mulut muara ini! Tentang Yan

toanio dan anaknya baik cuncu jangan alpa, sebaiknya kau minta Ho siokhu dari pasukan ketiga yang lakukan penilikan. Siapa tahu hati manusia? Sungguh berbahaya kalau dalam perut kita ada tersembunyi musuh! "

"Aku mengerti," sahut Tay Yong, yang lantas saja minta Siong Siu balik ke perahunya dan ia lantas bawa perahunya, akan lanjuti penilikannya.

Dari mulut muara, Tan Tay Yong memandang ke jurusan perahu-perahu musuh. Malam ada gelap, cahaya api tidak ada, sukar untuk melihat rombongan musuh itu. Keadaan pun sunyi. Maka itu, ada sukar akan menduga- duga aksi musuh. Hanya satu hal sudah pasti, ia harus berlaku hati-hati, karena musuh, yang sudah datang, tentunya sudah siap sedia akan menyerang, tinggal tunggu waktu saja. Dengan masgul ia berjalan pulang, sembari lewat, ia memandang ke jurusan gubuknya Yan Toa Nio dan anak. Gubuk ada gelap dan sunyi, rupanya orang sudah tidur dengan tenang, karena biasanya, gubuk itu selalu memasang api.

Untuk mengawasi ibu dan anak ini ada kewajibannya Ho Jin dari rombongan ketiga, ia keluar menemui Tay Yong kapan ketua itu datang ke tempat jagaaannya.

"Kenapa api di gubuk itu padam?" Tay Yong tanya. "Apa ada kelihatan itu ibu dan anaknya keluar dan masuk?"

"Tadi, begitu lekas cuaca menjadi gelap, mereka pasang api terang sekali, tidak berhentinya mereka mundar-mandir," Ho Jin bentahukan. "Sejak jam dua, api dipadamkan dan lantas gubuk itu jadi sunyi, sampai sekarang tidak kelihatan ada gerakan apa juga di dalam situ. Aku percaya mereka tidak akan lolos dari pengawasanku."

Tay Yong goleng kepala, ia tidak kata apa-apa "Ancaman bahaya ada hebat, kau harus waspada,"

kata ia kemudian, yang terus pulang. Ia terus tidak ber- tenteram hati, hingga orang-orang di rumahnya turut jadi sibuk.

Giok Kouw yang tunggui ayahnya, sudah sambut ayah itu, ia bisa lihat romannya yang kucai. "Malam ini toh tidak ada bahaya, ayah?" kata puteri ini. "Ayah lelah, lebih baik sekarang kau pergi rebahkan diri."

Tay Yong menghela napas, sambil batuk-batuk ia jatuhkan diri di kursi. Ia lihat pelita sudah guram, maka ia berbangkit seraya ulur lengannya, akan tarik sumbu pelita itu. Atau mendadakan ia terperanjat.

"Eh, perbuatan siapakah ini?" lanyanya, dengan mata mendelong.

Di bawah pelita ada selembar kertas!

Giok Kouw mendekati, ia pun iidak kurang herannya. Ia jumput kertas itu, yang ada suratnya, maka berdua ayahnya, ia membaca surat ini yang berbunyi begini:

Perhatikan!

Pihak Englok-kang niat mencari balas, barusan perahunya sudah siap! Jangan memandang enteng!

Mereka telah berserikat dengan pihak Kangsan-pang, yang tangguh! Kau semua bukan tandingan mereka tetapi jagalah mulut muara dengan kuat, guna lindungi Hiecun! Jangan bertindak sembrono, untuk mencegah keruntuhan, yang harus disingkirkan. Di saatnya yang berbahaya, aku nanti datang, akan lindungi keselamatannya anak cucu dari Kiushe Hiekee, supaya mereka luput dari pembasmian secara kejam. Maka, berhati-hatilah kau!

SIAUW CHONG.

Siauw Chong berarti Chong si Kecil, bukan "Siauw" dari Siauw Chong. Yang sama adalah huruf "Chong" itu.

--ooo0dw0ooo—