-->

Perintah Maut Jilid 27 Tamat

 
Jilid 27 (Tamat)

KANG PUH CING memandang datuk itu dan memberi penjelasan : “Paman Kho, apa tidak terlalu cepat melakukan perjalanan ? Mengingat semua pasukan lainnya harus berkumpul ditempat ini pada jam 2 malam ?”

Kho See Ouw mengurut jenggot, ia mengemukakan alasannya :

“Mengapa ayahmu memecah pasukan menjadi 5 induk besar ? Tentu hendak mengurung tempat ini dari 5 tempat. Berkumpul disini hanya untuk menunggu hasil 1 peran dari setiap induk pasukan besar. Dan mengapa ayahmu memberi prioritas kepadaku untuk mengepalai pasukan pertama? Alasannya sangat mudah dijawab, ia menghendaki aku membuka jalan. Inilah tugas dari pasukan perintis. Namanya pasukan yang pertama.”

Kang Puh Cing tidak sepaham dengan datuk tua itu, tapi sebelum berangkat, ayahnya pernah berpesan agar ia tidak membantah kemauannya, karena itu ia bawakan sikap bungkam.

Kho See Ouw sudah memberi kuliah :

“Tugas kita adalah tugas mulia, menghancurkan biang kerok rimba persilatan yang menyebut dirinya sebagai Ngo-hong-bun. Tidak perduli bagaimana reaksi 9 partai besar yang sudah terlalu enak dikursi empuk, terlepas dari haluan rimba persilatan, kita membawakan kepribadian sendiri, membasmi yang jahat adalah kewajiban. Ngo-hong- bun hendak berkuasa, hendak menjadi raja rimba persilatan, membunuh mereka yang menolak tunduk dibawah kekuasaannya. Maka demi kepentingan kita sendiri, demi sesama kaum rimba persilatan umumnya, kita harus berlaku kejam, kita dibunuh atau kita membunuh ! Nah, jangan sungkan2, bunuh setiap anak buah Ngo-hong-bun

! semua mengerti ? Baik ! Ikut dibelakangku dan

……serbu !”

Mengajak 20 orang yang dibawa, Kho See Ouw meninggalkan daerah persembunyian, mengadakan penyerbuan ke daerah Ngo-hong bun.

Udara agak mendung, awan berarak menutupi rembulan.

Kang Puh Cing memandang Goan Tian Hoat sebentar, mereka hanya bisa mengikuti kemauan pemimpin itu.

Udara agak mendung, awan berarak menutupi rembulan, inilah cuaca baik untuk mengadakan penyerbuan. Mereka hanya beryalan setengah lie, tiba2 terdengar suara bentakan : “Siapa?”

Kho See Ouw menampilkan dan memajukan diri. “Aku !" jawabnya penuh tantangan.

Dua orang berseragam hitam menghadang didepan perjalanan, melihat adanya rombongan yang tak dikenal, mereka membentak lagi : “Dari mana ? Apa ada membawa tanda pengenal?"

“Nah ! Terima tanda pengenal kalian." Berkata Kho See Ouw sambil menyodorkan tangannya. Tapi yang keluar bukan tanda pengenal yang dikehendaki oleh anak buah Ngo-hong-bun itu, dari telapak tangan sang Datuk Timur meluncur 2 senjata rahasia, sesudah itu terdengar 2 kali suara jeritan, dua anggota Ngo-hong bun menjadi korban.

Begitu percaya kepada diri sendiri. Kho See Ouw tidak memeriksa keadaan dua korbannya, memberi aba2 kepada jago2 silat yang dibawa langsung maju kedepan.

Disepanjang jalan terdapat beberapa penyergapan, satu persatu dibikin beres oleh Kho See Ouw, hal ini disebabkan oleh karena darah sang Datuk sudah naik ke otak, tanpa mengingat pri kemanusiaan, membunuh dan mengganas.

Demikian ia tiba dipintu Hong-gie-bun. Disini berdiri 2 tosu berbaju hijau, memandang rombongan penyergap itu seraya membentak : “Berhenti !” “Jiwamu yang akan berhenti menjadi orang !" Bentak Kho See Ouw sambil menyerang kedua tosu itu.

Kedua tosu penjaga pintu Hong-gie-bun sudah mendapat kode tentang adanya penyerangan dari pihak luar, mereka termasuk jago2 pilihan, mengelakkan bokongan itu.

“Hei !” Bentak seorang tosu yang bermuka biru seperti rajungan. “Dua penjaga pos depan disingkirkan oleh rombonganmu ?”

“Tidak salah." Kho See Ouw tidak menghentikan penyerangannya, berulang kali menyebar senjata rahasia, dengan congkak ia berkata, “Mau apa ?”

Tosu satunya lagi berjembros melintang, berbeda dengan si wayah biru seperti rajungan, tosu ini tidak banyak bicara, mengelakkan serangan2 itu, dengan pedang ditangan menusuk sang Datuk yang sedang mengamuk.

Hal ini sudah termasuk catatan perhitungan Kho See Ouw, tanpa menoleh lagi, ia menyabetkan pedang yang memang selalu siap.

Nah ! Membarengi gerakan itu, terdengar jerit panjang tosu tersebut, benda hitam yang masih mengetel darah melayang, itulah batok kepalanya.

Harus diketahui, Ngo-hong-bun memberi tugas kepada 2 tosu ini menjaga pintu Hong gie bun, suatu tanda kalau ilmu kepandaian mereka masih boleh diandalkan, didalam satu gebrakan, seorang diantaranya sudah melayang jiwa, fakta dari ilmu kepandaian Datuk Timur kita yang tidak bisa diabaikan.

Melihat gelagat kurang baik, tosu berwajah biru tidak berani meneruskan pertempuran, membalikkan badan dan siap meminta bantuan.

Disaat ini Kho See Ouw baru menerbangkan batok kepala tosu berjembros, segera membalikkan kepala membentak : “Eh, masih mau melarikan diri

?”

Pedang yang baru saja memakan korban diteruskan, se-olah2 menenteng tubuh sang Datuk, menyerang calon korban berikutnya.

Mendengar dengung suara pedang itu, tosu berwajah biru menjadi nekad. “Kau kira aku takut

?” Bentaknya sambil siap mengadu jiwa.

Traaannggg…….

Terdengar benturan 2 bilah pedang, cahaya senjata sang tosu sudah lenyap, pedang itu putus menjadi 2 bagian. Dan dibuangnya putusan gagang pedang, tosu itu membuang diri berjumpalitan ditanah.

Kho See Ouw tertawa panjang, bagaikan seorang manusia iblis, maju dengan pedang mautnya. Sebelum sang calon korban bisa berbuat sesuatu apa, pedang itu sudah menembus dada. Demikian ia merebut kedudukan Hong-gie-bun.

Disaat rombongan Kang Puh Cing dan Kho In In tiba komplit, mereka hanya bisa menyaksikan mayat2 kedua tosu itu. Sampai disini, Kho See Ouw menepok dada. “Ha, ha……” ia tertawa puas. “Hanya seperti ini sajakah ilmu kepandaian jago2 Ngo-hong-bun? Ha, ha, ha…….”

Sebelum habis suara gelak tawa sang Datuk Timur, tiba2 terdengar satu suara dengusan dari hidung : “Hmm, jangan terlalu cepat menjadi congkak !”

Datangnya suara dari semak2 pohon tinggi yang tidak jauh dari tempat itu. Hal ini mengejutkan Kho See Ouw. Bagaimana tidak, orang ini bisa tiba ditempat yang begitu dekat tanpa diketahui olehnya ?

Lebih cepat dari jalan pikirannya, Kho See Ouw sudah mengebutkan lengan baju, dari situ meluncur benda hitam mengkilap, itulah senjata rahasia, langsung menyerang arah datangnya suara.

Benda hitam meluncur dan lenyap tanpa bekas tanpa suara. Tentunya sudah ditangkap oleh orang yang bersangkutan.

“Lekas keluar dari tempat persembunyian kau !” Bentak Kho See Ouw.

“Mengapa tidak meneruskan penyerangan?" Orang diatas pohon itu masih menantang.

Kho See Ouw berkata : “Kalau seranganku yang pertama tidak membawa hasil, aku tidak menyerang untuk kedua kali. Lebih baik kau turun dari tempat persembunyianmu itu, bertandinglah beberapa gebrak." “Boleh juga.” Berkata orang itu. Siiuuuttt…...

Sebuah bayangan meluncur turun, tiba2 seorang sudah berada didepan Kho See Ouw. Orang ini berwayah pucat, matanya celong kedalam, yang aneh dari kelopak mata celong ini berkilau cahaya kuning, suatu tanda dari latihan tenaga dalam yang luar biasa. Ia mengenakan pakaian kuning dan menjinjing golok kuning, tentunya senjata pusaka.

Hati Goan Tian Hoat tergerak. “Mata kuning golok kuning.” ia mengeluh didalam hati.

Maka didekatinya Kang Puh Cing dan berbisik perlahan : “Orang ini bergelar yago Mata Kuning Golok Kuning, namanya Lengbin Oey gan. Seorang tokoh yang pernah merajai rimba persilatan.”

“Mata Kuning Golok Kuning Leng bin Oey gan ?" Sepasang mata Kang Puh Cing terputar. “Mengapa aku belum pernah dengar ?"

“Namanya pernah menakutkan jago silat jaman dahulu, 20 tahun yang lalu, ia sudah menghilang dari rimba persilatan. Entah bagaimana, kini bernaung dibawah panji Ngo hong- bun ?”

Percakapan diantara Kang Puh Cing dan Goan Tian Hoat dicetuskan dengan suara perlahan, tidak urung bisa juga ditangkap oleh Mata Kuning Golok Kuning Leng-bin Oey gan, sinar matanya yang bisa memantulkan cahaya itu dibelokkan kearah 2 jago kita. “He, he, he…..” Ia tertawa. “Ternyata masih ada yang ingat namaku. He, he, he… ” “Hei !” Kho See Ouw membentak. “Mau bertanding, atau mengadu nama ?"

“Eh ?” Mata Kuning Golok Kuning Leng-bin Oey- gan menoleh kembali. “Kulihat kau juga bukan jago biasa, mengapa tidak mempunyai kesabaran

?”

“Kesabaranku pulih kembali sesudah membunuh orang." Berkata Kho See Ouw.

“Ouw, begitu ?” Lengbin Oey gan bersikap tenang. “Baiklah. Kau mau membunuh orang ? Aku yang menjadi sasaran ? He, he….. Baiklah. Berani kau menerima 3 jurus serangan golokku?"

“Mengapa tidak ? Silahkan !”

Mata Kuning Golok Kuning Leng-bin Oey gan menusukkan goloknya, betul2 ia menyerang 3 kali beruntun. Setiap serangan berarti maut, cepat dan cekatan, dengan ancaman yang tepat cepat.

Kho See Ouw mengelakkan serangan2 itu dengan gerakan yang tidak kalah gesitnya, mengebutkan lengan bayu dan mundur jauh kebelakang.

Leng-bin Oey gan selesai menyerang sampai 3 kali, sesudah itu ia terhenti, menyaksikan mundurnya lawan yang begitu jauh, ia bertanya : “Nah ! Kini giliranmu. Eh ! Mengapa tidak balas mengadakan balasan ?”

“Mengapa harus menyusahkan diri ?" Berkata Kho See Ouw tertawa.

“Apa yang susah menyusahkan diri?” Bertanya Leng bin Oey-gan tidak mengerti. “Karena kau segera mati." Berkata Kho See Ouw.

“Maksudmu….?!”

Sebelum Leng-bin Oey gan menutup suaranya, terdengar suara ledakan yang amat dahsyat, meletus dari dada si Mata Kuning Golok Kuning. Goloknya terbang keudara, menyertai hancur luluhnya tubuh sang pemilik benda.

Kang Puh Cing melompongkan mulut. “Eh, bagaimana bisa terjadi ?” Ia belum mengerti apa yang menyebabkan kematian Leng-bin Oey gan seperti itu.

“Siapa yang menyuruh dia menangkap Thian-lie San hoa ayah ?” Kata Kho In In yang selalu berada disamping Kang Puh Cing. Ini berupa keterangan, mengapa Leng bin Oey gan mati hancur, ternyata ia menjadi korban semacam senjata rahasia Kho See Ouw yang diberi nama Thian-lie San-hoa itu.

“Ha, ha, ha……” Kho See Ouw tertawa, menghampiri Kang Puh Cing dan sang putri, ia berkata : “Ah, kau mau menyuruh Kang Toa kongcu mempelajari Thian-lie San hoa ?”

Menyaksikan keadaan sang putri, tidak akan lari lagi dimana adanya sang mantu dari Datuk Timur itu.

“Ayah….." Kho In In menundukkan kepala.

“Ha, ha, ha…..” Kho See Ouw tertawa. “Mari kita berangkat.”

“Sudah terlambat." Tiba-tiba terdengar satu suara keras membentak. “Siapa ?” Kho See Ouw memandang ke arah datangnya suara.

Maka dari sekeliling jago2 Lembah Baru bertampilan orang2 berbaju hitam, mereka dikepalai oleh 8 orang laki2 berbaju kelabu, umurnya diantara 40an. Per-lahan2, mengurung Kho See Ouw dkk.

Kho See Ouw melirik kearah 16 orang yang berada dibawah pimpinannya, inilah isyarat untuk menghadap perang besar2an, sesudah itu memandang para pengurungnya seraya membentak: “Siapa diantara kalian yang menjadi pemimpin ?"

“Kami 8 orang adalah pemimpin rombongan." jawab 8 laki2 berpakaian kelabu itu. “Sebutkan nama kalian !"

“Delapan jendral Hong-gie-bun." Berkata salah seorang yago Ngo-hong bun. Dan sudah waktunya memperkenalkan dirimu."

“Aku Kho See Ouw."

“Oh ! Datuk Timur Kho See Ouw yang ternama

?"

Mengetahui kalau lawannya menyebut sebagai

‘Datuk Timur Kho See Ouw yang ternama', jago tua kita semakin bangga. “Tidak salah.” Ia membenarkan pertanyaan itu.

Di saat itu, anak buah Ngo-hong-bun sudah mengadakan pengurungan ketat. “Nah !" Berkata si baju kelabu. “Kami melatih lama sebuah barisan tin, kenalkah kepada barisan tin ini ?” Memandang beberapa saat, Kho See Ouw berkata : “Kalian sudah selesai mengatur barisan Tian-lo Pat-kwa-tin. Salah satu dari barisan tin yang memang tidak mudah dihadapi.”

“Apa Khungcu bisa memecahkan barisan tin ini

?”

“Mengapa tidak? Aku bisa menyebut nama

barisan tin, tentu saja bisa memecahkannya."

“Baiklah. Silahkan Khungcu menerjang barisan kami."

“Apa susahnya ?” Berkata Kho See Ouw sambil bergerak cepat. Ia menerjang orang berbaju kelabu itu. Dengan harapan merusak barisan menangkap pimpinan utamanya..

Traanngg…...

Serangan kilat yang Kho See Ouw lontarkan mengalami kegagalan, pedang pendek Kho See Ouw berhasil ditangkis pergi.

“Wah ! Kalau begini naga2nya, orang ini memiliki tenaga dalam yang tidak berada di bawahku.” Berpikir Datuk Timur didalam hati.

Hanya didalam gebrakan itu, bayangan2 dipihak lawan sudah mulai bergerak, masing2 mencari posisi tempat yang sudah ditentukan, mengurung pihak Lembah Baru. 8 pedang dari 8 Jendral dari Hong gie-bun adalah barisan pertama, dilapisi oleh

64 pedang berikutnya dan pedang2 lapisan terakhir.

Kho See Ouw tidak bergerak dari tempatnya yang semula. Seorang berbaju kelabu menyerang sang Datuk, ditangkisnya serangan itu, sesudah mana, Kho See Ouw masih tetap seperti patung, berdiri sambil mengawasi gerakan2 pihak lawan.

Kang Puh Cing, Goan Tian Hoat dan Kho Siang Siang dkk menyadi bingung.

Sebilah pedang menyerang kearah Kho Siang Siang, maka sang putra Datuk menangkis serangan itu, kini ia balas menyerang.

“Awas !" Terdengar suara Kho See Ouw yang memberi peringatan, pedang pendeknya diayun, mencegah gerakan sang putra. “Jangan sembarang bergerak dari tempat asalmu !”

Betul saja, serangan pedang yang bertubi-tubi menyerang Kho Siang Siang. Disini letak keistimewaan barisan tin Tian-to Pat-kwa-tin, dia akan berguna sesudah mendapat penyerangan pihak lawan, secara bergilir orang2 dari barisan itu bisa bermarathon, merepotkan dan bisa merenggut jiwa lawannya.

Kho See Ouw memberi keterangan tentang adanya keistimewaan itu. Dan ia mengatur siasat perang. Kang Puh Cing, Kho In In mendapat tugas disayap kanan, Kho Siang Siang dan Goan Tian Hoat mengepalai dari sayap kiri, ia sendiri memegang peranan pusat, membawa orang2nya menerjang barisan tin Tian-to Pat-kwa-tin.

Puluhan anak buah Ngo hong-bun mengurung dengan rapat. “Terjanggg…..” Kho See Ouw memberi aba2 dan melepaskan pedang pendeknya, ternyata pedang pendek itu terikat pada pergelangan tangan, sejalur rantai memberi banyak kebebasan, dimana pedang pendek yang seperti terbang itu sampai, disitu meminta korban jiwa. 

Gerakan Tian-to Pat-kwa-tin semakin diperketat, 8 laki2 berbaju kelabu segera memperbaiki posisi kedudukan barisannya yang mulai kucar kacir itu.

Kini Kho See Ouw mengalami kemacetan, dimana ia menerjang, disitu mendapat sambutan salah satu dari 8 laki2 berbaju kelabu. Tapi yago tua kita tidak kehabisan akal, tiba2 ia mengeluarkan sebuah tabung hitam, diarahkannya kepada orang2 yang tidak mau menyingkir itu.

“Awas cairan beracun !” Laki berbaju kelabu memberi peringatan, ia mengenyampingkan dirinya.

Terdengar jeritan2. 7 orang berbaju hitam jatuh ngeloso dengan tubuh bengkak2.

Hampir disaat yang bersamaan, barisan belakang dari Tian-to Pat-kwa tin mulai menipis, anak buah Ngo-hong bun itu berjatuhan, tanpa sebab dan tanpa musabab.

Kalau dipusat terjadi pertarungan sengit yang meminta banyak korban, dibarisan luar barisan tin Tian-to Pat-kwa tin terjadi kemisteriusan yang mengakibatkan lemahnya barisan itu. Banyak orang yang seperti mabuk, mereka jatuh satu persatu.

Maka didalam sekejap mata, hancurlah barisan Tian-to Pat-kwa-tin, 5 dari 8 jendral Hong-gie-bun,

3 diantaranya melarikan diri. Mayat2 bergelimpangan menganak sungai.

Kho See Ouw memeriksa siapa yang membantu dirinya ? Orang2 Ngo hong-bun yang bergelimpangan dibarisan belakang barisan itu bukan hasil buah tangannya, mereka berserakan tanpa luka, tanpa cidera, se-olah2 terkena obat bius atau hypnotis.

Tiba2 Kho See Ouw menengok ke salah satu yurusan. “Siapa ?" ia membentak.

“Ha, ha, ha……” Dari tempat itu terdengar satu suara gelak tawa, itulah kakek beracun Cu Hoay Uh.

“Kukira siapa !" Berkata Kho See Ouw, “Ternyata saudara Cu yang membantu menghancurkan barisan sulit pecah ini."

“Kokcu memberi pesan, agar saudara Kho menyelesaikan pertarungan ini." Berkata Cu Hoay Uh.

“Kokcu sudah tiba ?” Bertanya Kho See Ouw heran.

“Mereka sudah kumpul diruang Tay teng." jawab Cu Hoay Uh.

Ternyata rombongan Lembah Baru sudah berkumpul semua, hanya kurang rombongan Kho See Ouw yang masih berkutet ditempat ini. Maka Kang Sang Fung meminta bantuan Cu Hoay Uh untuk menggabung kekuatan mereka.

Disaat mereka sedang bercakap2, tiba2 terjadi keanehan, orang2 yang kena racun Cu Hoay Uh dan bergelimpangan di tanah itu mulai bangkit berdiri, satu persatu berdiri kembali.

“Eh….." Cu Hoay Uh terkejut.

“Ha, ha, ha…….” Terdengar satu suara tertawa. “Bak Cang Ongkah yang berada disitu ?" Bentak

Cu Hoay Uh.

Terdengar jawaban satu suara dingin : “Kalau Cu Hoay Uh bisa meracuni orang tanpa menampilkan diri, mengapa aku Bak Cang Ong tidak bisa menyadarkan mereka dengan cara bersembunyi ?”

Diantara kabut hitam, tampillah bayangan Bak Cang Ong, seorang akhli racun tandingan Cu Hoay Uh. Bedanya, kalau Cu Hoay Uh berada dipihak Lembah Baru, tokoh silat yang bernama Bak Cang Ong ini memihak Ngo-hong-bun.

“Betul2 kau !” Berkata Cu Hoay Uh. “Hanya Bak Cang Ong yang bisa menandingi diriku."

“Terima kasih atas pujian ini," berkata Bak Cang Ong. “Dan hanya Cu Hoay Uh yang bisa menandingi diriku."

“Suatu hari kita pasti bertemu !”

“Memang akan terjadi hal itu. Tapi sekarang Toa kiongcu mengundang kalian."

“Toa Kiongcu ?" “Ya. Kokcu kalian juga sudah berada disana.”

Cu Hoay Uh, Bak Cang Ong dan rombongan Kho See Ouw menuju ke ruang Tay-teng. Disana sudah kumpul semua orang, termasuk ketua Lembah Baru Kang Sang Fung, Pendekar Bambu Kuning Ciok kiam Sianseng, Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu, Datuk Barat Cin Jin Cin, Datuk Utara Lie Kong Tie dan kekuatan2 Lembah Baru lainnya.

Yang mengejutkan Kho See Ouw adalah hadirnya Toa Kiongcu Ngo-hong bun Pian Hui Hong, tidak ada tanda2 luka atau kelesuan, bagaimana hal ini bisa teryadi, mengingat gadis ini pernah dikalahkan oleh Tong Jie Peng ? Ter-lebih2 lagi adalah bagaimana Ngo-hong-bun bisa mengetahui kalau para jago2 Lembah Baru hendak menyergap sarangnya ?

Toa Kiongcu sudah menyuruh orang2nya menambah kursi, khusus untuk rombongan Kho See Ouw yang baru tiba.

Bak Cang Ong kembali ke dalam rombongan Ngo-hong-bun.

Dengan suara penuh kewibawaan, Toa Kiongcu Ngo-hong-bun berteriak : “Bawa Lie Koan Cu bertiga menghadap."

Maka tiga orang laki2 berbaju kelabu yang pernah mengeroyok rombongan Kho See Ouw dibawa menghadap. Mereka berada di dalam keadaan terikat.

“Siapa yang menyuruh kalian mengundurkan diri dari kancah pertempuran ?" “Hamba…..Hamba...” Laki2 berbaju kelabu Lie Koan Cu tidak bisa memberi pembelaan.

“Kau tahu kesalahanmu ?” bentak Pian Hui Hong.

“Hamba tahu.”

“Baik, dimana pengurus bagian hukum !” Berteriak Pian Hui Hong. “Hukum penggal kepada Lie Koan Cu bertiga.”

6 orang berseragam segera menenteng Lie Koan Cu bertiga, maksudnya sudah tidak perlu diragukan lagi, tentu menjalankan perintah sang pemimpin, mengakhiri hidup Lie Koan Cu bertiga.

Su Kiongcu menghampiri dan berkata perlahan : “Toa Sucie….."

“Cukup," Berkata Toa Kiongcu Pian Hui Hong. “Jangan kau turut campur.”

“Ya," Su Kiongcu mengundurkan diri.

Ternyata 8 jendral Hong-gie-bun adalah anak buah Su Kiongcu Ciam Hui Siang. Ia hendak mengajukan permohonan atas hukuman berat itu, apa mau putusan Pian Hui Hong sudah tekad, begitu takutnya Su kiongcu kepada Toa Kiongcu, tanpa bicara lagi, ia mengundurkan diri.

Untuk hukum yang melemahkan anak buah Su Kiongcu itu, Pian Hui Hong memberikan sedikit penjelasan :

“Lie Koan Cu bertiga telah melanggar perintah, dengan mengandalkan kekuatan Tian to Pat-kwa- tin, tanpa meminta izin, hendak membasmi musuh. Dengan hasil kerugian yang mengorbankan banyak anak buah, dan dia pribadipun melarikan diri. Suatu kesalahan yang tidak bisa diberi ampun."

Su Kiongcu hanya bisa menghela napas.

Tidak lama 3 orang laki2 berseragam datang dengan nampan tertutup, tiba didepan Pian Hui Hong dan menyingkap kain penutup itu, disana terdapat 3 batok kepala Lie Koan Cu dan dua kawannya.

“Toa Kiongcu," mereka memberi laporan. “Lie Koan Cu bertiga sudah menjalankan hukuman pancungnya, inilah kepala mereka.”

“Bagus. Kebumikan jenazah mereka dengan baik." Berkata Pian Hui Hong.

“Ha, ha, ha…….” Tiba2 Kho See Ouw tertawa. “Toa Kiongcu, kau hendak mengangkat kewibawaan Ngo-hong-bun dengan cara mengorbankan ketiga anak buahmu ini. Tapi kau lupa kepada sesuatu."

“Apa yang dilupakan ?" Bertanya Pian Hui Hong.

“Dikala Toa Kiongcu menyerbu lembah Baru, Toa Kiongcu yuga mengalami kekalahan dan melarikan diri. Mengapa tidak mendapat hukuman sendiri ?”

Tantangan Kho See Ouw ini menimbulkan sedikit kegaduhan, jago2 Ngo hong-bun seperti Tian Tancu, Su Kiongcu Ciam Hui Siang, Bak Cang Ong dan lainnya siap bergerak.

Kho See Ouw duduk dengan tenang. Wajah dibalik topeng emas Toa Kiongcu seperti mau menyemburkan api, tapi ia tidak cepat timbul emosi. Di dalam hal ini, kesabaran sangat penting sekali. Ditatapnya orang yang berani kurang ajar itu beberapa saat, akhirnya berkata :

“Oh, apa aku Pian Hui Hong pernah dikalahkan oleh salah seorang yang sekarang berada ditempat ini ? Ha, ha..... Dan kalian sudah lupa bahwa kalian sudah berada diruang Tay teng, suatu tempat yang akan mengebumikan kalian."

“He, he....” Berkata Kho See Ouw. “Apa adanya pesawat2 rahasia diruang ini yang Toa Kiongcu andalkan ?"

Ketua Lembah Baru, Datuk Selatan Kang Sang Fung harus berpikir dua kali, Toa Kiongcu sedang kekurangan tenaga, tapi berani menghadapi dengan sikap tenang, tentu ada sesuatu yang diandalkan, ternyata rahasia-rahasia didalam ruangan yang hendak diminta bantuannya. Dan Kho See Ouw sudah bisa melihat sesuatu.

“Kho khungcu sudah melihat letak yang mengandung rahasia ?" Bertanya Toa Kiongcu.

“Hanya alat2 dan pesawat2 rahasia yang seperti ini mana bisa mengelabui sepasang mataku ?" Mengejek Kho See Ouw.

“Dugaan Kho khungcu itu akan terbukti kesalahannya.” Berkata Pian Hui Hong.

“Dimana letak kesalahanku ?" Tantang Kho See Ouw. Pian Hui Hong menggerakkan tangan, secara tiba2 saja ruangan itu berubah menjadi gelap, terdengar suara2 pesawat rahasia bergerak, dan terjadilah perubahan dan pergeseran.

Belegur......

Sesudah itu, suasana gelap lenyap pula mendadak. Terang seperti sediakala. Bedanya, kalau tadi terdapat banyak jago2 Ngo-hong-bun, sekarang jago2 Ngo hong-bun itu sudah lenyap tanpa bekas.

Situasi ruangan turut berubah, kalau tadi mereka berada disebuah ruangan bundar yang besar, kini ruangan itu sudah susut menjadi segi enam dengan sudut2nya yang menyeramkan.

Toa Kiongcu Pian Hui Hong berada di-tengah2, duduk dengan sikap tidak gerak.

“Ha, ha, ha…..” Kho See Ouw tertawa. “Hanya salah satu macam barisan Pat kwa-tin. Sungguh membuat aku menyadi kecewa.”

“Penilaianmu terhadap barisan tin ini juga membuat aku menjadi kecewa.” Berkata Toa Kiongcu yang duduk dipusat itu.

Seiring dengan ucapan Pian Hui Hong, api penerangan padam mendadak.

Sie-lie cu menggeram, mengirim satu pukulan jarak jauh. Sayang ! Ia tidak berhasil mengenai sasaran.

Pedang Ciok-kiam Sianseng berkilat, membelah suasana kegelapan. Serangan inipun tidak membawa hasil. Gerakan2 kedua jago itu boleh dikatakan memakan persiapan, tokh masih kurang cepat. Begitu cepat gerakan mereka, lebih cepat lagi gerakan Toa Kiongcu, hanya memakan waktu beberapa permil detik, ia sudah lenyap dari tempatnya. Keadaanpun berubah terang pula.

Para jago yang berada ditempat itu kehilangan sasaran. Mereka terkurung disatu tempat. Ketua Lembah Baru Kang Sang Fung tertegun sebentar, menoleh kearah Kho See Ouw dan berkata : “Saudara Kho, apa yang harus kita lakukan ?”

“Ya !" Sambung Cin Jin Cin. “Disinilah kita membutuhkan kepintaran otak insinyur saudara Kho."

Dengan suara perlahan, Tian-hung Totiang yuga berkata : “Ruangan ini berupa ruangan tertutup, ruangan yang pekat udara, kita harus segera berusaha membebaskan diri."

Ciok kiam Sianseng berkata : “Mereka sengaja mengayak kita ke tempat ini, kemudian menggerakkan pesawat2 rahasia. Tentunya sudah direncanakan lama, mungkin disertai dengan aneka macam racun kelas berat. Sebelum mengetahui sesuatu yang bisa menguntungkan kita, lebih baik bersabar dahulu."

Menerima saran2 para rekannya, Kho See Ouw memikul tanggung jawab terbesar, disini letak berat entengnya pikulan seseorang, kesalahan berarti pengorbanan bagi jiwa mereka. Diperhatikannya beberapa saat letak tempat itu, ia tidak segera mengambil putusan. “Biar kuperiksa sebentar." Demikian Kho See Ouw berkata.

Sret….Kho See Ouw mengeluarkan pedang pendek, sikapnya semakin tegang. Ia melangkah dengan cara2 tertentu, memeriksa beberapa tempat yang dicurigai, hampir semua keliling dari tembok besi yang mengurung para jago Lembah Baru sudah diperiksa, dan ia mundur kembali ke tempat semula.

Ketua Lembah Baru Kang Sang Fung menghampirinya dan bertanya perlahan : “Bagaimana ?"

Kho See Ouw mengurut jenggot, jari2nya bermain lama, ia tidak menjawab pertanyaan sang pemimpin, se-olah2 sedang memikirkan sesuatu yang rumit sekali.

Beberapa lama Kho See Ouw termenung, mungkin ia berhasil menghitung jumlah perubahan barisan tin Ngo-heng-bun, melepas lega dan berkata : “Sebuah ruangan yang pekat udara, delapan buah pintu dipasang sedemikian rupa, sehingga merupakan dinding2 tidak tembus hawa, dengan maksud mematikan yalan pernapasan kita semua. Ha, ha, ha…..”

“Ada apa yang ditertawakan ?" Bertanya Kang Sang Fung.

“Delapan pintu Ngo-hong-bun ini berupa pintu2 istimewa, 4 diantaranya adalah pintu bayangan, banyak rahasia yang dimuntahkan dari pintu tersebut, kalau kita salah menubruk….” “Dan 4 empat pintu lainnya ?”

“Hanya 4 buah pintu yang bisa kita gunakan untuk keluar, dan dengan adanya keempat pintu ini, tanpa menginyak pintu salah, pesawat2 jahat akan kehilangan guna.”

“Yang mana pintu benar dan pintu2 mana yang berupa pintu bahaya ? Harap segera saudara Kho beritahu kepada kawan2 kita, agar penerjangan bisa dilakukan segera."

“Sabar,” berkata Kho See Ouw. “Keempat pintu biasa itupun tidak mudah diterjang, terbuat dari besi baya murni, kecuali dibuka dari depan, agaknya….agaknya….."

Kho See Ouw bergelung kepala, memandang ke langit2 dari tempat dari mana mereka terkurung.

Tiba2 Goan Tian Hoat bercaci maki : “Pian Hui Hong, perempuan gila lelaki. Apa maunya mengurung kita ditempat ini ? Mau dipelihara ? Begitu gatalnya ? Hayo ! Kalau berani bertanding, satu lawan satu. Perlihatkan ilmu kepandaian aslimu."

Tidak biasanya Goan Tian Hoat menggunakan kata2 yang sekotor ini, sebagai murid kesayangan Hay yang-pay sebagai pengurus gedung Datuk Selatan, sebagai seorang pendekar cerdik pandai, agak menyimpang dari tradisi2 kebiasaannya, semua mata ditujukan kepadanya.

Teristimewa Kang Puh Cing, alisnya terangkat tinggi2, ia siap mengadakan pencegahan, melirik kearah Kho See Ouw, tampak wajah calon mertua ini memperlihatkan senyumannya yang se-olah2 memuji Goan Tian Hoat, menanggapi lirikan mata Kang Puh Cing, sang Datuk memanggutkan kepala dan memberi kode2 tertentu.

Reaksi dari caci makian Goan Tian Hoat tadi memang spontan, terdengar suara Pian Hui Hong dari atas ruangan yang terkurung itu : “Goan Tian Hoat, awas ! Kau adalah incaran mangsaku yang pertama."

Goan Tian Hoat masih berdebat : “Pian Hui Hong, berapa lama kau mengadakan persiapan membuat ruangan tertutup untuk mengurung lelaki ini ? Berapa uang yang sudah kau hambur2kan untuk…..”

Diantara perang caci maki itu, tiba2 tampak bayangan Kho See Ouw berkelebat, meluncur keatas, ketempat dari mana datangnya arah suara Pian Hui Hong, terdengar suara gedubrak…. kursi kebesaran yang pernah diduduki oleh Pian Hui Hong terseret turun dari persembunyian rahasianya, disana tampak sang Toa Kiongcu yang agak gelagapan.

Gerakan Ciok-kiam Sianseng juga sama gesitnya, bersamaan dengan tampaknya bayangan kursi diatas, ia menggelewangkan pedang, disabetkan keatas.

Terdengar suara dengusan, bayangan Pian Hui Hong meninggalkan tempatnya, melalui celah2 lubang, lenyap dari pandangan semua orang.

Kho See Ouw banting2kan kaki. “Sayang...Sayang...” ia mengeluh gegetun. Sie lie cu memandang dengan mata melompong. “Dia menderita luka, bukan ? Apa lukanya sudah sembuh ?”

Ciok-kiam Sianseng menarik diri, ia berkata : “Dilihat dari gerakannya tadi, luka Pian Hui Hong sudah hampir sembuh.”

Kho See Ouw memandangi lubang diatas ruangan, dengan puas berkata : “Bagaimanapun kita berhasil menambah satu jalan keluar.”

Sesudah berkata seperti itu, menoleh dan memandang Goan Tian Hoat. “Eh, Goan congkoan sudah melihat kalau adanya jalan diatas ruangan itu ?" ia bertanya.

“Hanya dugaan saja." Jawab Goan Tian Hoat.

Mulai dari detik itu, Kho See Ouw tertarik kepada bakat baik Goan Tian Hoat, maka terjadi pemindahan ilmu secara besar2an dikemudian hari. Goan Tian Hoat mewarisi semua ilmu kepandaian sang Datuk hebat. Hal ini terjadi di lain cerita.

Kang Sang Fung sudah mengumpulkan jago2nya berunding, mengadakan persiapan menembus ruangan tertutup itu dari lubang bekas kursi kebesaran Pian Hui Hong.

“Saudara Kho." berkata Kang Sang Fung. “Bagaimana usulmu untuk melepas diri ?"

“Ya.” Turut bicara Tian-hung Totiang. “Sudah waktunya kita mengatur siasat untuk membebaskan diri." Menunjuk keatas lubang yang tinggi, Kho See Ouw berkata : “Jalan keluar hanya satu, terlalu kecil untuk dilewati, hanya bisa diterjang satu persatu, bagaimana hal itu mudah dilewati, mengingat rombongan Toa Kiongcu dkk menjaga dimulut keluar itu ? Dimisalkan kita berhasil menerobos keluar dengan susah payah, bisakah melawan kekuatan mereka di atas ?"

“Maksud saudara Kho, kita tidak bisa menerjang jalan itu ?" Bertanya Cin Jin Cin.

“Bukan maksudku mencegah rencana penerjangan," berkata Kho See Ouw. “Hal ini memerlukan hubungan marathon yang baik. Untuk membuat musuh kelabakan, terjangan kita membutuhkan tenaga yang lebih dari satu, karena itu, usaha penerobosan harus diusahakan terus menerus, sambung menyambung dan dikerjakan saling susul, begitu tubuh orang pertama mencelat, penerjang kedua sudah harus siap, gerakan orang kedua disusul oleh orang ketiga, demikian seterusnya."

Rencana itu mendapat persetujuan orang banyak, satu persatu mereka meneryang dan usaha itu tidak membawa hasil, lubang di mana bekas kursi kebesaran Pian Hui Hong sudah diganjal batu besar.

Yang terkurung ditempat itu adalah datuk- datuk dan jago2 rimba persilatan kelas satu, mereka masih berusaha terus. Dua jam kemudian Kang Sang Fung berhasil membuka jalan darah, diikuti oleh Kho See Ouw, Cin Jin Cin, Tian hung Totiang dan lain2nya.

Sekarang mereka sudah keluar, tapi . . .

Berdiri disekeliling para jago Lembah Baru adalah orang2 Ngo hong bun, mereka berada dibawah pimpinan Toa Kiongcu Pian Hui Hong. Diarah tenggara adalah seorang tosu tua berjenggot, dia adalah Pek bie Khong tong Lau Cin Jin. Daerah timur ada seorang hweeshio berpipi peot giginya sudahlah ceropot, dengan tangan memiyit2 biji tasbih, memperlihatkan senyum iblisnya, dibelakangnya berdiri dua hweeshio keren. Di arah lain, para jago Ngo-hong bun terpimpin oleh seorang sastrawan berpakaian putih dan sepasang kakek nenek.

“Selamat datang,” Berkata Pek bie Khong tong Lau Cin Jin. “Selamat datang kami ucapkan kepada semua jago Lembah Baru."

“Bagaimana sebutan tuan yang mulia ?" Bertanya Kang Sang Fung.

“Aku Pek-bie Khong tong Lau Cin Jin," jawab tosu berjenggot mengurai itu.

“Oh ! Pek-bie Khong tong Lau Cin Jin ?" Kang Sang Fung beserta rekan2nya terkejut.

“Ya,” membenarkan jago kelas tua ini. “Mari kuperkenalkan, Khu-hut Hut-sim Taysu dari Ngo- tay-san." ia menunjuk kearah hweeshio tua bergigi ompong itu. Khu-hut Hut-sim Taysu merangkapkan kedua tangannya sebagai tanda menghormat.

Khu-hut Hut-sim Taysu adalah susiok Hui keng dan Hian keng hweeshio. Kalau kedudukan Hui- keng dan Hian keng hweeshio sebagai huhuat Ngo- hong-bun kelas satu, bisa dibayangkan betapa tinggi kedudukan Ku-hut Hut sim Taysu.

Sastrawan baju putih undangan Pian Hui Hong bernama Dewa Putih Pek-kut Sin-kun.

Pasangan kakek dan nenek adalah suami istri yang bernama Jembros Sawah Tian Ho Cu dan Tian Toa Nio. Pasangan ini pernah menyeramkan rimba persilatan disuatu masa, juga pandai bermain racun, mereka adalah sahabat baik Raja Racun Bak Cang Ong.

Membiarkan Khong-tong Lau Cin Jin berbicara dengan Kang Sang Fung, Tian Toa Nio menyenggol suaminya dan berkata :

“Hei, kau pernah menjanjikan aku untuk memberi darah2 anak muda, anak muda mana yang kau hendak persembahkan kepadaku ?”

“Tunggu dulu.” Berkata Tian Hu Cu, “Darah anak muda yang mahir silat baru bisa menambah kekuatan tenaga. Akupun sedang mengadakan pilihan. Biar saja Khong-tong Lau Cin Jin beramah-tamah dahulu, kita menghisap darah orang di kemudian.”

Ternyata Tian Hu Cu dan Tian Toa Nio suami istri ini ada mempunyai kebiasaan menghisap darah manusia. Satu pekerjaan yang sangat biadab sekali.

Dengan mendatangkan tokoh2 purbakala yang seperti Pek-bie Khong-tong Lau Cin jin, Ngo-tay Khu-hut Hut-sim Taysu, Dewa Tulang Pek-kut Sin- kun, Kakek Yembros Tian Hu Cu, Nenek Tian Toa Nio, Naga Terbang Liok Hauw Toan dan lain2nya, pihak Ngo-hong-bun masih mengharapkan kemenangan sepihak, dinilai dari kekuatan yang sudah di-upgrade, kekuatan Ngo-hong-bun agak unggul diatas kertas, walau disaat itu hanya Toa Kiongcu Pian Hui Hong seorang yang dipercayakan untuk menyaga markas Ngo giok-san, karena itu waktu, keempat Kiongcu lainnya berada digunung Tulang ikan, harapan pertama adalah menumpas kekuatan Lembah Baru.

Untuk cerita Kang Han Cing dan Tong Jie Peng yang merusak gunung Tulang Ikan, para pembaca bisa menilai didalam cerita PERINTAH MAUT bagian ke II.

Cerita PERINTAH MAUT sangat terpaksa harus di 'Bagian Pertama'kan, maka untuk kritik2 yang pasti mengalir datang, dengan ini kami menerima dengan rela hati.

Ceritanya masih berkisar di gunung Hoay giok- san, kekuatan Lembah Baru menghadapi Ngo- hong-bun.

Datuk Selatan, ketua Lembah Baru Kang Sang Fung merapikan Barisannya. Mereka membutuhkan susunan yang tepat, kedatangan dan penyerbuannya ke markas Ngo-hong-bun sangat dirahasiakan, tokh masih mendapat perlawanan, satu perlawanan yang sangat kuat. Karena itu, ia harus mengumpulkan golongan anak muda dipusat, dengan inti kekuatan Kang Puh Cing dan Goan Tian Hoat, disekeliling jago-jago muda ini, masing2 siap Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng, Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu, Datuk Timur Kho See Ouw, pejabat ketua Penganungan Jaya Yen Yu San, Datuk Barat Cin Jin Cin, Kakek Beracun Cu Hoay Uh, ex ketua Hoa san-pay tua Sie-lie-cu, ketua Pek yun-koan Tian- hung Totiang dan lain2nya.

Selesai mempernahkan kekuatan Lembah Baru, Kang Sang Fung menghadapi Pek-bie Khong-tong Lau Cin Jin, dengan suara tenang dan datar, ia mengajukan pertanyaan : “Apa maksud totiang berada di tempat sepi yang seperti ini ?”

Diplomatik lihay ! Sebagai tokoh silat luar biasa, Kang Sang Fung maklum, sampai dimana ilmu silat Pek-bie Khong-tong Lau Cin Jin, menghindari pertempuran adalah tujuan utamanya. Maka ia mengucapkan suara yang seperti diatas.

“Sebelumnya, mari kuperkenalkan diri,” berkata Pek-bie Khong-tong Lau Cin Jin yuga menggunakan cara diplomasi, “Aku adalah Pek-bie Khong tong Lau Cin Jin dari gunung Khong-tong."

Kang Sang Fung mengulang hormatnya.

Pek-bie Khong tong Lau Cin Jin membalas hormat itu dan meneruskan pembicaraannya : “Mari kuperkenalkan, inilah Ngo-tay Khu-hut Hut- sim Taysu dari gunung Ngo-tay san.” Kang Sang Fung mengirim salam hormatnya kepada orang yang baru diperkenalkan. Dan seterusnya Pek-bie Khong-tong Lau Cin Jin memperkenalkan konco-konconya. Semua termasuk nama-nama yang sudah tidak asing, nama2 penuh kriminil !

“Selamat bertemu ! Selamat bersua !” Berkata Kang Sang Fung, tatkala Pek-bie Khong-tong Lau Cin Jin memperkenalkan kepada urutan nama yang terakhir, itulah sepasang suami istri tua, Kakek Jembros Tian Hu Cu dan Nenek Tian Toa Nio. Nama-nama yang cukup disegani. “Kami kira, pertemuan kita bukan hanya untuk bersalaman dan berkenalan seperti ini, bukan?”

“Itulah acara kedua yang hendak kukemukakan." Berkata Pek-bie Khong-tong Lau Cin Jin.

“Silahkan."

“Mengingat pentingnya situasi keamanan dunia, perdamaian dan hidup berdampingan di antara manusia dan manusia, mementingkan perkembangan rimba persilatan, khususnya golongan Ngo-hong bun dan pihak Lembah Baru yang memelopori kekuatan rimba persilatan terbesar, kami mengayak semua order persilatan yang ada untuk hidup bersama.”

“Sangat setuyu.”

“Dan sebagai tanda persetujuan itu, kukira sudah waktunya kita mengadakan dan meneken perjanjian perdamaian. Demi kepentingan Lembah Baru sendiri.” “Oh, begitu ?"

“Betapa tidak ? Mengingat penyerangan yang lebih besar akan dilanjutkan lagi. Sanggupkah kalian bertahan ?”

“Semacam inikah yang dinamakan perdamaian

?”

“Apa Lembah Baru hendak meneruskan kancah

peperangan ?"

“Demi kepentingan sendiri dan juga untuk menyelamatkan rimba persilatan dari tekanan dan intimidasi Ngo-hong bun, Lembah Baru siap !”

“Baik. Ini berarti kalian sudah tidak menghendaki adanya perdamaian."

“Kami menghendaki perdamaian, tapi bukan perdamaian yang dipaksakan, pun bukan perdamaian yang hanya mencakup arti tidak memberi perlawanan.”

Pek-bie       Khong-tong        melotot.        “Baik.

Siiiiaaaapppp !”

Kata-kata yang terakhir dari Pek-bie Khong tong Lau Cin Jin dituyukan kepada rombongannya.

Semua anak buah Ngo hong-bun segera tanpa diundang dan ditantang, Kho See Ouw sudah melemparkan senjatanya yang paling istimewa, diarahkan kepada Kakek Yembros Tian Hu Cu suami istri.

Kho See Ouw mengkhawatirkan keselamatan Kang Han Cing dkk yang menuyu ke gunung Tulang Ikan, karena itu ia melepas senjata rahasia secara menggelap, tanpa suara ba atau bu.

Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu menduduki posisi timur, memberi pengawasan kepada anak buah Ngo-hong-bun yang berada dibawah pimpinan Ngo-tay Khu-hut Hut-sim Taysu.

Kakek Beracun Cu Hoay Uh siap didepan Raya Racun Bak Cang Ong.

Datuk Barat Cin Jin Cin dan Yen Yu San mendapat tugas pengawasan dibagian barat. Kho See Ouw mendapat tugas memelihara keamanan dibagian timur.

Tan Siauw Tian, Kong Kun Bu, Kang Puh Cing, Kho In In, Kho Siang Siang, Goan Tian Hoat, Yen Siu Hiat, Lie Wie Neng, Cin Siok Tin dan para jago muda Lembah Baru lainnya berada didalam lingkaran jago2 tua dan kuat.

Dan didalam sekejap mata, teryadilah pertempuran besar-besaran. Masing-masing memilih lawan terdekat, kalau dipihak Ngo-hong- bun berusaha menumpas para jago Lembah Baru, maka untuk golongan keadilan itu mempertahankan diri dari rangsekan-rangsekan Ngo-hong bun.

Disini menyangkut hancur atau tidaknya kekuatan Lembah Baru, kekalahan Lembah Baru berarti kekalahan bagi penegak hukum rimba persilatan, dan sulit menemukan stabilisasi hukum yang betul-betul adil serta bijaksana. Karena itulah, para jago Lembah Baru berjuang mati- matian, didalam unsur-unsur yang kita sebut diatas tadi.

Harta dan kedudukan sudah menjadikan partai- partai rimba persilatan beku diri, mereka takut kehilangan harta benda dan takut kehilangan jiwa raga. Hidup mewah dan hidup disanjung-sanjung telah menjadikan mereka sebagai manusia- manusia egois. Mereka lebih suka menutup mata dari sepak terjang Ngo hong bun. Dan hanya langkah inilah yang diutamakan sebagai langkah aman.

Sebelum keberangkatan para jago-jago Lembah Baru, Kang Sang Fung pernah mengutus orang- orangnya kepada beberapa partay-partay rimba persilatan, disertai keterangan-keterangan yang jelas dan terperinci, bagaimana harus menghancurkan Ngo hong bun, tugas tersebut jatuh pada pundak ketua Hay yang pay, Kuo See Fen.

Tapi bantuan dari para partay rimba persilatan itu belum bisa dibuat pegangan, bagaimana kalau mereka menolak ?

Karena itu, kini para jago Lembah Baru menempur dengan segala kemampuan mereka yang ada.

Terutama Kho See Ouw, dari pembicaraan sepasang suami istri Tian Hu Cu dan Tian Toa Nio, bisa dinilai betapa biadabnya keluarga penghisap dan penyedot darah itu, bergerak, mengurung pendatang-pendatang dari Lembah Baru. Perdamaian yang gagal ! Perdamaian yang dikehendaki oleh Pek-bie Khong-tong mengalami kegagalan !

Kang Sang Fung menghendaki perdamaian, tapi bukan perdamaian yang semacam itu. Perdamaian budak yang menyerah dijajah. Karena itu, menyesuaikan diri kepada situasi, ia memberi kerdipan mata kepada Sie-lie-cu dan Ciok kiam Sianseng, itulah tanda pecah perang!

Dua bayangan dari tubuh kedua jago yang baru kita sebut itu bergerak, mereka menghadapi Pek- bie Khong-tong Lau Cin Jin.

Seirama dengan gerakan Sie-lie cu dan Ciok- kiam Sianseng yang mendapat tugas bertahan didepan Pek bie Khong-tong Lau Cin Jin, Kang Sang Fung mengundurkan diri, ia berdiri dipusat. Satu strategi jitu bagi seorang pemimpin penuh pengalaman.

BAGI PARA PEMBACA yang masih menghendaki dilanjutkannya cerita ini, dipersilahkan mencari PERINTAH MAUT bagian ke-2. Dimana dikisahkan Kang Han Cing, Tong Jie Peng, Sun Hui Eng dan Cu Liong Cu semasa perjalanan ke gunung Tulang Ikan, dan kisah drama percintaan diantara Kang Han Cing dan para gadis yang mencintainya.

Sekarang mari kita lanjutkan penutupan cerita, bagaimana Kho See Ouw melakukan serangan mautnya.

Ia sadar kalau ilmu kepandaian si Kakek Jembros Tian Hu Cu suami istri bukan ilmu biasa, secara berterang, kecil kemungkinan mengalahkannya, karena itu ia harus berlaku agak licik, menyerang secara menggelap !

Disini kelengahan Tian Hu Cu suami istri yang malas !

Tian Hu Cu sedang mengkomandoi anak buahnya, dengan maksud membuat penyergapan kearah Kang Puh Cing dan beberapa anak muda, darah merekalah yang dikehendaki olehnya dan juga oleh istrinya, menurut pedoman hidup Tian Hu Cu, darah manusia sangat baik digunakan memperpanjang umur dan menurut pengakuan Tian Toa Nio, darah anak muda bisa memelihara kecantikan wajah. Teori-teori ini tentu saja berupa teori isapan jempol zaman dahulu kala.

Tian Toa Nio juga sedang mengincar beberapa anak muda, tapi ia tidak selengah suaminya, datangnya senjata rahasia Kho See Ouw masih keburu dilihat, maka tongkat diayun, demi mempamerkan kekuatan tenaga dalamnya, hanya satu kali sedot, serangan gelap Kho See Ouw dipatahkan, butiran-butiran senjata rahasia itu menempel di ujung tongkat.

Suatu kesalahan yang terbesar ! Ya ! Suatu kesalahan yang paling besar, kalau menganggap senyata rahasia Kho See Ouw bisa dibikin mati seperti itu. Sang Datuk yang empunya senjata rahasia itu memberi suatu nama yang bagus: Lui- hwee-sin-ciam yang berarti Jarum Api Geledek Langit !

Nenek Tian Toa Nio berhasil menyedot Lui-hwee- sin-ciam, anggapnya senjata rahasia biasa saja. “Hei !” ia membentak. “Hendak menggelap ? Hi, hi, hi, hi……! Senyata besi tua berkarat mau diberi kesempatan demonstrasi ? Hi, hi… ”

Ciiitttt......Bleguuurrrr……

Terdengar ledakan dahsyat, Lui-hwee-sin-ciam meletus dan memuntahkan lahar api, menggulung tubuh Nenek Tian Toa Nio, seketika itu ia menjadi merah !

Nasib sudah ditentukan kalau riwayat hidup Tian Toa Nio berakhir ditempat ini dan ia mengeluarkan suara jerit lengkingan, mendahului suaminya, menuyu ke perjalanan alam baka.

Beberapa anak buah Ngo-hong-bun yang agak dekat juga turut menjadi korban, api Lui-hwee sin- ciam memang hebat luar biasa, sulit dipadamkan dan mempunyai gerak sifat cepat menyalar, arena di tempat itu menjadi lautan api.

Si Jembros Tian Hu Cu terkejut, ia menggibrik baju dan hendak memberi pertolongan maka percikan api turut membakar bajunya pula, gesit laksana kancil, ia memang melebihi istrinya, melejit dan membuka serta melempar baju yang sudah berapi dengan kulit-kulit yang sudah melepuh, langsung ia menyerang Kho See Ouw.

“Biar aku mengadu jiwa !” Geramnya sambil mengamuk kalang kabutan.

Kho See Ouw melayani dengan berhati-hati, manusia kalap ini bukan lawan biasa, apa lagi ia sesudah kehilangan istri, lengah berarti membiarkan maut merenggut nyawa. Demikianlah mereka bergumul keras.

Kedudukan Ngo-hong-bun yang berada dibawah pimpinan Tian Hu Cu suami istri agak kacau. Raya Racun Bak Cang Ong mengambil alih pimpinan itu, mengatur barisan baru dan tetap menyerang.

Maka Kakek Beracun Cu Hoay Uh harus turun tangan, diterimanya semua serangan Bak Cang Ong, kedua akhli racun bersua dan merekapun mengukur kekuatan.

Ngo tay Khu-hut Hut-sim Taysu berhadapan dengan Tian-hung Totiang, tanpa banyak bicara, merekapun berirama diatas pencak silat masing2.

Datuk Barat Cin Jin Cin menghadapi Dewa Tulang Pek-kut Sin-kun beserta kedua sutee si Dewa Tulang yang bernama Pek kut Yi-sat dan Pek kut Sam-sat, dengan dibantu oleh Yen Yu San, terjadi pertempuran dua lawan tiga !

Dilain tempat, Tan Siauw Tian dan Kong Kun Bu dari Lembah Baru sudah berkontrang kentrung mengadu senjata dengan Naga Terbang Liok Hauw Toan dari Ngo-hong bun.

Tidak jauh, Lie Wie Neng sedang mendesak Hian-keng Hweeshio dari Ngo hong bun.

Kebalikan dari itu, Hui-keng sedang mendesak Kho In In secara gencar.

Letak tempat kedua pertempuran ini tidak berjauhan, kadang kala mereka bergantian partner tempur atau memberi bantuan dimana perlu. Inilah pertempuran terbesar didalam sejarah rimba persilatan.

Dua pimpinan tertinggi dari kedua pihak yang berkancah perang, masing-masing Kang Sang Fung disatu pihak dan Toa Kiongcu Pian Hui Hong dilain pihak, dengan mengambil letak tempat strategis, mengkomandoi anak-anak buah mereka dengan baik.

Beginilah terjadinya peperangan, kalau dua macam idiologi yang tidak sama dipaksakan meruncing, darah dan daging manusia dikorbankan !

Bercerita bagaimana Sie lie cu dan Ciok kiam Sianseng mengepung Pek bie Khong-tong Lau Cin Jin, biarpun menggunakan tenaga gabungan dua orang, mereka tidak bisa menarik banyak keuntungan, seratus jurus lebih sudah dilewatkan, kedudukan masih seimbang.

Di sebelah barat pertempuran ini, Cu Hoay Uh sedang mendesak lawannya, Bak Cang Ong memang kalah setingkat dari sicakal bakal bisa2an dan racun2an.

Kecuali dua arena yang baru kita sebut, dilain- lain tempat, pihak Ngo hong-bun menempati situasi bagus.

Teristimewa keadaan Tian-hung Totiang, ketua Pek-yun koan kita bisa menjadi raja obat-obatan, tapi diadu dengan Ngo tay Khu-hut Hut-sim Taysu yang kenamaan, bagaimana tidak mengalami kepahitan ? Seperti seekor kucing yang mempermainkan mangsanya, Ngo-tay Khu-hut Hut-sim mendesak, terus menerus menghujani pukulan-pukulan keras, dan disuatu waktu terdengar bentakan yang keras : “Pergi !"

Dengan satu sepakan kaki, tubuh Tian hung Totiang jungkir balik ditanah beberapa kali. Berakhirlah pertempuran yang agak berat sebelah itu.

Kang Puh Cing menampakkan diri. Tapi keburu dicegah oleh Kang Sang Fung, datuk kita maklum kalau sang putrapun bukan tandingan Ngo-tay Khu-hut Hut sim Taysu yang gagah perkasa, pihaknya terasa kurang orang, apa boleh buat, kecuali turun tangan sendiri, sulit mencari jalan keluar.

Ketua Lembah Baru siap turun gelanggang ! Pian Hui Hong tidak berpeluk tangan,

mengetahui kalau pimpinan tertinggi dari pihak lawan mau terjun, Toa Kiongcu Ngo hong-bun ini meneriakinya : “Jangan campur tangan didalam gelanggang arena pertempuran mereka, mari kita buka peperangan baru ! Aku adalah lawanmu !”

Winggg......

Betul-betul serangan Toa Kiongcu dilontarkan datang, membelah angkasa, mengancam Kang Sang Fung.

Pian Hui Hong pernah dilukai oleh Tong Jie Peng, tenaganya tidak sekuat apa yang dimiliki asli, inipun sudah membawa desing dan bising yang luar biasa, menyeramkan lawannya. Kang Sang Fung melayani dengan hati-hati. Ia maklum, kalau saya Toa Kiongcu ini tidak menderita luka, mana mungkin bisa dilawan lagi ! Adanya korting konsentrasi itu menambah gairah tempur, kalau ia cukup berhati-hati, masih ada kans kesempatan memenangkan pertandingan. Memenangkan Pian Hui Hong berarti memenangkan perang itu, berarti memenangkan atas Ngo-hong-bun. Dan ia bisa mengakhiri pertempuran-pertempuran lainnya.

Demikianlah ketua Lembah Baru Kang Sang Fung mengukur ilmu bersama-sama Toa Kiongcu Ngo hong-bun. Pelajaran ilmu-ilmu silat selama ia mengeram didalam Lembah tidak percuma, kini ia bisa mengimbangi kekuatan Pian Hui Hong.

Bisa mengimbangi bukan berarti bisa mengalahkan lawan, kepandaian sejati adalah simpanan asli, lambat tapi pasti, Pian Hui Hong mendesak Kang Sang Fung.

Ujian terberat bagi rombongan Lembah Baru. Mati hidupnya golongan itu akan ditentukan oleh hasil pertempuran dari tokoh-tokoh utamanya ditempat itu. Dilihat dari apa yang sedang kita saksikan, keadaan Lembah Baru tidak menyenangkan.

Tiba-tiba..........

Terdengar suara sorak sorai yang riuh, dibarengi oleh pecahnya para anggota Ngo hong bun yang sedang mengurung jago-jago Lembah Baru, pertempuran-pertempuran baru diluar arena pertempuran terjadi, bala bantuan Lembah Baru datang !

Rombongan yang baru datang berada dibawah pimpinan seorang hweeshio tua, itulah ketua Siauw-lim-pay Tay-kiok Taysu.

Menyertai Tay-kiok Taysu adalah Ciok beng Taysu dan Ciok sim Taysu. Dibelakang mereka adalah ketua kelenteng Ciok-cuk-am Put-in Suthay dan ketua partai Ngo-bie-pay Bu-hauw Suthay.

Datangnya bantuan Lembah Baru bukan dari satu jurusan, ditempat lain, tampak rombongan Hay-yang pay yang dikepalai oleh Kuo See Fen dan Jen Pek Coan !

Ternyata sang ketua Hay-yang pay Kuo See Fen menggunakan lidah diplomatiknya, berhasil membujuk ketua partai lain, agar mereka berani mengambil resiko atas tekanan Ngo hong-bun. Tunduk dibawah kekuasaan Ngo hong bun berarti meletakkan telapak kaki kita didalam telapak tangan orang. Kita bisa hidup, dengan syarat patuh kepada yang berkuasa itu.

Ditelanjanginya pula tentang kebohongan- kebohongan Ngo-hong-bun, damai dalam arti sebenarnya adalah damai yang menyeluruh, kita tidak membutuhkan 'Damai sementara’, damai kalau kita tunduk dan satu idiologi, tapi perang kalau tidak tunduk dan tidak sependapat.

Partai-partai dimasa itu hidup tertekan dibawah kekuasaan Ngo-hong-bun, mengetahui kalau adanya lain kekuatan yang hendak menggulingkan Ngo-hong bun, beramai-ramai mereka teryun kedalam kancah situasi.

Apa lagi mengetahui kalau Pian Hui Hong pernah dikalahkan Tong Jie Peng. Sam kiongcu Sun Hui Eng melakukan desersi, memisahkan diri dari Ngo-hong bun, Kang Han Cing mengalahkan Go Kiongcu dan lain-lain berita lagi, gengsi Ngo- hong-bun merosot seratus persen, mengetahui Ngo hong bun bisa dilawan, dan kini merekapun melawan !

Kemenangan Lembah Baru berarti kemenangan mereka, dan kekalahan Lembah Baru akan membawa mereka ke tempat yang lebih buruk.

Munculnya barisan yang dipimpin oleh Tay kiok Taysu dan barisan Kuo See Fen, Jen Pek Coan mengacaukan kurungan, anak-anak Ngo-hong bun dikucar-kacirkan, beberapa pimpinan Ngo-hong- bun bingung, bagaimana harus mengatasi keadaan diluar perhitungan itu ?

Orang pertama yang menjadi korban adalah si Jembros Tian Hu Cu, bagaimanapun pikiran sudah kacau, mengingat istrinya mati didepan kaki. Dengan satu kali keprukkan, Kho See Ouw mengakhiri pertempuran itu.

Dan disaat ini, Kang Sang Fung terdesak semakin hebat. Tanpa menghentikan gerakannya, Kho See Ouw turun tangan, ia membantu sang rekan, mengeroyok Pian Hui Hong.

Keadaan cepat jungkir balik ! Beberapa saat lagi, terdengar jeritan Bak Cang Ong, inilah korban tangan dari Cu Hoay Uh.

Hampir disaat yang sama, Datuk Barat Cin Jin Cin mengakhiri hidupnya Dewa Tulang Pek-kut Sin-kun.

Dan pertempuran-pertempuran lainnya kacau balau.

Ngo-tay Khu hut Hut sim Taysu melihat situasi yang tidak menguntungkan Ngo hong-bun, walau ia berada pada posisi yang menguntungkan, karena tidak mungkin membela dan merubah situasi, ia mendesak lawan-lawannya, dengan satu kali loncatan, meninggalkan tempat yang sudah amis dengan darah.

Dasar nasib Ngo hong-bun yang sudah sampai pada waktunya, dengan datangnya bala bantuan Tay kiok Taysu, Kuo See Fen, Jen Pek Coan dan lainnya, mana mungkin bisa bertahan lagi ? Satu persatu berguguran, dan beberapa diantaranya melarikan diri.

Sampai disini tamatlah riwayat Ngo-hong bun dan berakhir pula cerita PERINTAH MAUT.

TAMAT