Perintah Maut Jilid 26

 
Jilid 26

TERJADI arena pertempuran ketiga di samping pertempuran Sin Soan Cu kontra Sin Hui Siang dan Hian-keng hweeshio lawan Auwyang Goan.

Tan Siauw Tian mengeluarkan senjatanya yang berupa ruyung Kiu-kiat-pian, dengan senjata ini ia membuka serangannya, hendak disaksikan bagaimana Toa kiongcu Ngo-hong-bun itu melawan tanpa senjata.

Jaksa bermata satu memang luar biasa, yang lebih hebat adalah lawannya, murid tertua dari Nenek Naga Siluman yang dijadikan momok rimba persilatan, dengan gerak2annya yang lincah, setiap saat bisa mengelakkan serangan ruyung Kiu-kiat- pian Tan Siauw Tian. 

Dari tiga gelanggang pertandingan, arena inilah yang paling menarik. Semua jago menyaksikan dengan menahan napas.

“Gerakan Naga Siluman !" Kang Han Cing mengeluarkan keluhan perlahan.

Ya ! Gerakan Toa Kiongcu Ngo hong bun itu adalah gerakan Naga Siluman, ilmu terbaru yang bisa mengimbangi ketenaran ilmu pedang Hui- hong-kiam-hoat dan ilmu pukulan Tiga Pukulan Burung Maut.

Perubahan itu terlalu cepat, sebelum Tan Siauw Tian dapat menarik pulang senjatanya yang hendak digunakan membela diri, perubahan Pian Hui Hong terlalu cepat, walau bertangan kosong, dengan lincah mendesak lawannya yang menggunakan ruyung.

Berkutet setengah mati Tan Siauw Tian mempertahankan diri. Satu saat, terdengar suara Pian Hui Hong : “Sudah cukup, bukan ?”

Tangannya dijulurkan mengincar ruyung Kiu kiat-pian Tan Siauw Tian.

Tidak bisa dielakkan lagi, ruyung itu berpindah tangan. “Pergi !” terdengar bentakan Pian Hui Hong yang disertai terpentalnya tubuh Tan Siauw Tian.

Pertarungan tercepat di dalam sejarah setempat.

Pian Hui Hong tidak mengejar jatuhnya lawan itu, melempar senjata rebutannya dan memandang kearah pihak lawan. “Siapa yang hendak maju !" Ia menantang.

Hampir di-saat2 yang bersamaan, 2 arena lainnyapun mengalami kejadian sama. Terdengar dentingan senjata pecah, berbareng turut lenyap pula suara gemuruh kipas wasiat Sin Soan Cu, kedua bayangan yang saling serang itu terpisah, pertempuran inipun terhenti. Pada pundak Sin Soan Cu tertancap belahan pedang Sin Hui Siang, sedangkan sang Jie Kiongcu meringis dengan belahan pedang yang terputus itu. Lagi2 pertempuran remis ! Masing2 menderita kekalahan yang tidak sama.

“Sin Soan Cu," bentak Sin Hui Siang. “Apa kau masih mempunyai kemampuan tempur ?”

Disaat Sin Soan Cu hendak menjawab tantangan itu, sebuah bayangan terlempar ke arahnya, itulah tubuh Auwyang Goan. Tanpa ayal ia menyanggah datangnya tubuh itu.

Ternyata pertempuran terakhirpun telah selesai, Hian-Keng hweeshio terjerembab dengan muntah darah, tapi sebelum itu, ia masih sempat mengirimkan pukulan mautnya, menerbangkan tubuh Auwyang Goan. Kekuatan mereka tidak jauh berbeda, setali tiga uang.

Sesudah mempernahkan Auwyang Goan, Sin Soan Cu masih penasaran, ia masih siap menerima tantangan Sin Hui Siang, disaat ini ketua Lembah Baru tampil kedepan, dengan suaranya yang berwibawa, menghentikan semua pertempuran :

“Tunggu dulu ! Pertempuran lebih baik ditangguhkan. Kalian sama kuat. Yang satu kena pukulan, yang lain tertusuk belahan pedang. Sama kuat, siapapun tidak kalah.”

Pian Hui Hong juga membentak sumoaynya : “Kembali !”

Sin Soan Cu dan Sin Hui Siang kembali ke regu masing2.

Masih Pian Hui Hong dan kokcu Lembah Baru yang berhadap2an.

“Bagaimana dengan kita ?” Bertanya Pian Hui Hong menantang.

Sebelum Datuk Selatan menjawab pertanyaan itu, tiba2 terdengar satu suara : “Tunggu dulu. Tiba2 saja tanganku gatal. Biar aku yang melawan Toa Kiongcu Ngo-hong bun." Datuk Timur Kho See Ouw sudah menyelak didepan dan menghadapi Pian Hui Hong, jago inilah yang belum lama pentang suara.

“Kebetulan," berkata Toa Kiongcu Pian Hui Hong. “Kau berani menempur diriku? Berapa jurus bisa sanggup bertahan ?”

Tanggapan yang lebih sombong dari pada lawannya, masakan seorang Datuk Persilatan ditantang seperti itu ?

Dada Kho See Ouw dirasakan mau meledak, ditekannya kemarahan itu sedapat mungkin, dengan berdengus ia berkata : “Berapa lama pertempuran selesai. Sampai saat itulah kita bisa sanggup bertahan."

Yang dimaksud dengan kata2 "kita”, mengandung dua macam arti : Mungkin Kho See Ouw yang dikalahkan, mungkin juga Pian Hui Hong yang dikalahkan.

“Untuk melawan jago kelas satu, aku membutuhkan sepuluh ronde, dan untukmu sembilan juruspun cukuplah sudah." berkata Pian Hui Hong.

Keterlaluan ! Datuk Timur Kho See Ouw juga termasuk jago kelas satu, tapi diturunkan derajatnya sebegitu rupa. Perang fisik !

Kalau saja Kho See Ouw tersinggung dan naik darah lagi, masuk perangkaplah dia ! di dalam keadaan kemarahan yang memuncak, seseorang lebih mudah melakukan kesalahan. Wajah Datuk Timur matang biru, ia berdengus : “Kalau aku bisa bertahan sampai sepuluh jurus, bagaimana?”

“Kalau kau sanggup bertahan lebih dari 10 gebrakan, anggap saja aku yang kalah.”

“Mengaku kalah memang mudah,” berkata Kho See Ouw. “Sesudah kalah, hasil perjanjian bagaimana yang Toa kiongcu bisa beri jaminan?”

“Kalau kalah, aku segera membubarkan partay Ngo-hong-bun. Untuk selanjutnya Pian Hui Hong tidak menampilkan diri didalam rimba persilatan.”

“Bagus,” berkata Kho See Ouw. “Bila kita mulai mengadakan pertandingan?”

“Segera, sesudah kau mengeluarkan senjata,” berkata Pian Hui Hong.

“Disini selalu siap tersedia senjata,” berkata Kho See Ouw. Ia memperlihatkan kedua lengan bajunya.

“Baiklah kau boleh mulai,” berkata Toa Kiongcu.

Kho See Ouw menepuk kedua tangan, sesudah itu ia merentangkannya pula, kedua telapak didorong kedepan, merah membara !

Kang Sang Fung yang menyaksikannya bersorak didalam hati : “Ilmu Api Membara Cek-san-ciang!"

Tepat ! Ilmu yang digunakan oleh si Datuk Timur adalah ilmu Api Membara Cek-san-ciang. Bisa menyerang orang tanpa geseran angin, ciri2 istimewanya, orang yang terkena pukulan Cek-san- ciang sulit ditolong, mati mereres selama 7 hari. Dan tidak lebih dari 7 hari itu !

Toa Kiongcu juga mengenali ilmu Cek san-ciang itu, ia tidak berani menerima pukulannya, dengan menggeser telapak kaki, mengelakkan datangnya pukulan.

Kho See Ouw menduduki urutan Datuk Timur dari 4 datuk persilatan, orang hanya mengenal nama, tidak mengenal ilmu silatnya. Menyaksikan ia mendesak Toa kiongcu Ngo-hong bun didalam satu gebrakan, semua orang bersorak girang !

Mundurnya Pian Hui Hong bukan mundur kekalahan, ia mengelakkan bahaya yang mengancam, sesudah itu menempati posisi yang baik menyerang kedepan.

Kho See Ouw mengebutkan lengan bajunya, dari sana tampak sesuatu yang bergulung-gulung, dilemparkan kearah Pian Hui Hong, benda tersebut segera melibat kiongcu itu. Ternyata itulah senjata simpanannya berupa gulungan tali dadung !

Terlalu cepat diceritakan, bagaimana cara pelemparannya, sulit diikuti dengan mata. Dan disaat Pian Hui Hong maju, ia sudah terlibat oleh senjata aneh lawannya.

Terdengar suara lengkingan panjang Pian Hui Hong, dengan mengerahkan tenaga dalamnya, tali2 itu beterbangan diudara, ter-potong2 menjadi ratusan belah. Tubuhnya tetap mengancam daerah lemah. Semua penonton berteriak kaget ! Didalam keadaan terdesak, Kho See Ouw membungkukkan badan, lagi2 ia mengeluarkan sesuatu, kali ini senjata yang digunakan olehnya berupa sepasang gelang emas murni 1000 gram ! Ditempulungkannya ke arah leher Toa Kiongcu.

Para penonton mengeluarkan napas lega.

Pian Hui Hong lebih tepat melihat adanya gelang 1000 gram yang mau merantai lehernya itu, ia cepat maju, lebih cepat lagi kemundurannya, ciiit…… Menjauhi musuh.

“Tidak sedikit benda2 anehmu, he ?!" Ia bercemooh. “Apa namanya benda yang berbengkung itu ? Termasuk senjata resmi atau senjata gelap ?"

“Terserah nama yang Toa Kiongcu berikan,” jawab Kho See Ouw. “Toa Kiongcu bisa berkenalan lagi. Tapi harap berhati-hati, masih banyak permainan yang mengisi perutnya si 1000 gram ini

!"

“Oh, begitu ?” Berkata Toa Kiongcu mengeluarkan pedang. “Silahkan kau perkenalkan senjata2 lainnya itu.”

Dengan pedang di tangan, Toa Kiongcu lebih galak dan lebih berani !

Kho See Ouw menyerang dengan sepasang gelang 1000 gram. Toa Kiongcu juga menyerang dengan pedang. Masing2 sama2 menyerang !

Diantara para jago Lembah Baru, Ciok kiam Sianseng sering membanggakan ilmu pedangnya, menyaksikan permainan Ilmu pedang Pian Hui Hong yang berupa ilmu pedang Hui-hong Kiam hoat, hatinya menjadi tunduk dan takluk. “Dari permainan ilmu pedang yang seperti ini, bukan mustahil kalau Kho See Ouw tidak sanggup bertahan sampai 10 jurus,” gumamnya didalam hati.

Itulah kenyataan !

Kho See Ouw mulai terdesak, pada jurus yang ketujuh, gelang emas murni 1000 gram terpapas, dari sana menyembur aneka macam senjata halus !

Wajah Pian Hui Hong berubah, itulah cairan beracun, tubuhnya melejit tinggi bagaikan seekor burung alap2 ia menukik kembali, pedangnya terayun, tanpa bisa dielakkan, tubuh Kho See Ouw terpental jauh, tentu saja dengan luka2 berat, luka di 7 tempat.

Pada detik2 bersamaan, Kho In In dan Kho Siang Siang, Ciok-kiam Sianseng dan Sie lie-cu sudah lompat ke medan gelanggang perang, tokh mereka terlambat datang.

Pendekar Bambu Kuning memayang bangun kawan seperjuangannya, Kho In In dan Kho Siang Siang mengeluarkan obat2an, merawat luka2 ayah mereka.

Sedangkan ex ketua hoa san-pay Sie lie cu sudah menghadapi Pian Hui Hong.

“Eh, tokoh silat terpendam dari mana lagi yang datang ?” Pian Hui Hong bercemooh.

“Aku Sie-lie-cu." Jawab tosu tua ini secara singkat. Toa Kiongcu Ngo hong bun Pian Hui Hong menoleh kesamping, disana ia didatangi oleh 2 jago kelas satu, itulah Ciok-kiam Sianseng dan Kho See Ouw, ternyata si Datuk Timur masih penasaran, sesudah mendapat balutan2 seperlunya, ia maju kembali. Ciok-kiam Sianseng memberi bujukan, mendampinginya.

“Bagus," Pian Hui Hong berkata kepada mereka. “Nah ! Kalian boleh maju bersama.”

Sie lie-cu, Ciok kiam Sianseng dan Kho See Ouw saling pandang, betapapun tidak becusnya kepandaian mereka, tidak mungkin mengadakan pengeroyokan seperti itu, apa lagi mengingat simpanan2 mereka sebagai jago kelas satu, sungguh memalukan sekali kalau diberi merk mengeroyok seseorang jago Ngo-hong-bun, dan yang dikeroyok itu adalah seorang gadis muda.

Pian Hui Hong seperti bisa menduga isi hati dari ketiga jago yang sudah berada di depannya, dari balik topeng emasnya, ia berdengus: “Jangan malu2,” katanya. “Lekas selesaikan pertikaian ini, agar aku bisa cepat-cepat pulang tidur.”

Satu penghinaan yang terlalu besar ! Dan terpercik satu rumusan, memang tidak mudah mengalahkan pemimpin Ngo hong bun ini, mengingat kalau Pian Hui Hong adalah murid dari Nenek Naga Siluman.

Agaknya Pian Hui Hong sangat yakin kalau ia bisa mengalahkan ketiga jago itu sekaligus, mengingat keadaan Kho See Ouw yang sudah terluka, tanpa memberi kesempatan lawan2nya mengundurkan diri, mengingat sudah kepalang tanggung dengan pedang terayun menyerang mereka ! Itulah ilmu pedang Hui-hong-kiam hoat !

Ilmu pedang Hui-hong kiam-hoat adalah ilmu pedang musuh dari jago2 Lembah Baru. Ayah Kang Sang Fung almarhum sengaja menjajalkan dirinya untuk mendapat lukisan gambar bekas2 luka ilmu pedang tersebut. Ber-tahun2 para jago utama Lembah Baru meyakinkan ilmu pedang tersebut dan tentu saja disertai dengan pemecahan2nya, selalu siap untuk mengelakkan ilmu pedang lihay si Nenek Naga Siluman.

Cara Pian Hui Hong yang menggunakan ilmu pedang Hui-hong Kiam-Hoat agak kurang bijaksana. Permainan inilah yang diharapkan oleh Ciok-kiam Sianseng dan Sie-lie-cu, secara serentak mereka menerjang kuat2.

Kedatangan Kho See Ouw di Lembah Baru terlalu lambat, dan keadaannya yang dipaksakan dengan membawa luka juga tidak mengijinkan ia berlaku nekad. Dibiarkan saja kedua rekan tersebut menerjang, ia menyerang dari posisi sayap.

Akibatnya sungguh luar biasa, tubuh si Topeng Emas terpental naik, menerjang awang-awang !

Suatu kejadian yang sangat menggembirakan para jago Lembah Baru !

Sebelum ada orang yang sempat berteriak, mereka dikejutkan lagi oleh demonstrasi Toa kiongcu Ngo-hong-bun, bagaikan manusia bersayap, Pian Hui Hong mengapung secara luar biasa, begitu pandainya ia melatih diri, tidak menunggu sampai ujung kaki menyentuh tanah, langsung menyerang ketiga lawannya. Hai ini membuat Sie-lie-cu gelagapan.

Ilmu yang Pian Hui Hong gunakan adalah ilmu tiga Pukulan Burung Maut ! Ilmu terbaru yang diolah dari ilmu Hui hong Kiam-hoat.

Karena terjangan mereka yang pertama membawa hasil, Sie-lie cu dan Ciok-kiam Sianseng mengulang perlawanannya. Kini ditambah dengan kekuatan Kho See Ouw yang sudah siap.

Akibatnya memang luar biasa, kesudahan dari penerjangan keras itu menghasilkan suatu akhir pertempuran. Mata semua orang terbelalak, dari Topeng Emas Toa Kiongcu yang terpental copot, tampaklah wajah Pian Hui Hong yang cantik, walau didalam keadaan pucat pias, hal mana tidak mengurangi sifat2 kegadisannya. Dikeroyok dan diterjang keras, walau menderita luka yang tidak berarti, iapun tunggang langgang juga.

Ujung pedang si Pendekar Bambu Kuning Ciok- kiam sianseng sudah tidak berada pada tempatnya, yang dipegangi hanya gagang buntung. Pada pundak, punggung, iga dan 4 bagian lainnya tertancap pecahan hancuran pedang sendiri, ternyata pedang itu sudah terpotong menjadi 7 bagian dan membungai 7 bagian ditubuhnya. Darah bercucuran dari luka2 itu.

Sie-lie-cu meringis dengan teklek sebelah tangan. Yang paling parah adalah keadaan Kho See Ouw, ia jatuh pingsan.

Membiarkan pecundang2nya itu, Pian Hui Hong belum mundur, dia memang seorang pemimpin yang pantang mundur, kini dihadapi ketua Lembah Baru, membentaknya dengan suara geram : “Masih tidak mau menyerahkan Sun Hui Eng dan Kang Han Cing ?”

Sebelum ketua Lembah Baru mengeluarkan tanggapan, beberapa orang sudah minta ijin perang, mereka terdiri dari jago2 muda kita yang berada dibawah pimpinan Kang Han Cing, itulah Lie Wie Neng, Cin Siok Tin, Cu Liong Cu dan lain2nya.

Ketua Lembah Baru Kang Sang Fung mengulapkan tangan kepada anak2 muda itu. “Mundur !" Ia menolak permintaan bertanding mereka.

Lie Wie Neng dkk mengundurkan diri. “Bagaimana ?" Pian Hui Hong masih menantang.

“Sudah siap mengadakan perundingan ?"

“Sudah kukatakan," berkata Kang Sang Fung. “Nona Sun Hui Eng adalah tamu Lembah Baru. Sebagai tuan rumah yang tahu diri, tidak mungkin menjual tamunya, bukan ?”

Sesudah itu tanpa memperdulikan kemarahan Pian Hui Hong, sang ketua Lembah Baru menggapaikan tangan kepada 4 bocah pengiringnya, dan menganggukkan kepala kepada mereka. Creng…... creng…... creng…...

Secara serentak, keempat bocah pengiring ketua Lembah Baru mengeluarkan pedang, masing2 2

batang, berkilauan dan bercahaya, jumlah itu menjadi 8 bilah pedang, mengelilingi Pian Hui Hong, membawakan sikapnya yang mengurung.

“Oh…...!” Pian Hui Hong tidak menjadi gentar. “Hendak menggunakan barisan tin ?" ia bisa menduga maksud tujuan ketua Lembah Baru.

“Tidak salah." Kang Sang Fung tertawa. “Aku mendidik mereka selama 10 tahun, untuk menunggu kedatangannya hari ini. Kuharap saja Toa Kiongcu bisa memberi pelajaran kepada mereka didalam barisan tin Anti Hui-hong Kiam- hoat.”

Barisan tin Anti Hui hong Kiam hoat ! Demikian nama barisan tin ini, ternyata disediakan terang2an untuk menghadapi ilmu pedang Hui- hong Kiam hoat.

“Bedebah !” Pian Hui Hong naik darah. Bagaimana tidak, kalau ilmu kesayangan gurunya hendak disaingi oleh sebuah barisan tin yang mengandung nama seperti itu? Tentu saja membuat sang Toa Kiongcu marah2. “Hanya 4

bocah yang belum lepas ingusan ini ?" ia bercemooh. “Ha, ha……"

Untuk melepaskan kejengkelannya, Pian hui Hong menerjang kedepan. Disambut oleh Kang Sang Fung dengan satu sontekan pedang. Keempat bocah Lembah Baru tidak berpeluk tangan, mereka sudah selesai membuat posisi baik, maka terjadilah hujan pedang. 8 pedang yang sudah ditaburi racun itu menggerumut ke pusat.

Salah besar kalau Pian Hui Hong menggunakan ilmu pedang Hui hong Kiam-hoat untuk menghadapi barisan tin Anti Hui-hong Kiam-hoat. Adanya lukisan Berdarah dari bekas korban Hui- hong Kiam hoat sangat menguntungkan Kang Sang Fung, puluhan tahun ia mempelajari ilmu itu untuk mencari jalan keluar dari mengatasinya. Dan kini betul2 ia berhasil. Dengan dibantu oleh keempat bocah pengiringnya mendesak Pian Hui Hong.

Beberapa jurus kemudian, Pian Hui Hong mulai kejepit. Sun Hui Eng selalu mendampingi Kang Han Cing, mereka juga turut menyaksikan jalannya pertempuran itu. Beberapa waktu kemudian, Sun Hui Eng berbisik perlahan : “Kukira barisan tin tidak bisa mengalahkan Toa sucie.”

“Alasannya?” berkata Kang Han Cing.

“Nah, lihat !” berkata Sun Hui Eng. “Toa sucie sudah mulai mengadakan perubahan. Dia tidak lagi menggunakan ilmu pedang Hui-hong kiam- hoat.”

“Oh !" Kang Han Cing mulai sadar. “Kalian masih memiliki senjata lain, gerakan Naga Siluman memang luar biasa."

“Teristimewa Tiga pukulan Burung Maut." Sambung Sun Hui Eng. Seperti apa yang mereka perbincangkan, Pian Hui Hong sudah mengganti politik tempurnya maka tidak lama kemudian, ia berhasil meloloskan diri dari kepungannya Kang Sang Fung dkk. Tanpa menggunakan pedang, gadis itu mengelakkan 8 pedang para bocah Lembah Baru dan pedang inti ketua Lembah Baru.

Kang Sang Fung berdiri dengan wajah pucat pasi.

Tiba2 terdengar pekik suara burung, entah bagaimana, disana sudah bertambah seorang pemuda berpakaian putih, menyelak diantara Kang Sang Fung dan Pian Hui Hong.

“Tong Toako !” Kang Han Cing bersorak girang. Ya ! Orang yang baru datang adalah akhli waris

Tong-hay Tong Jie Peng !

Kecuali Kang Han Cing, masih ada seorang yang mengenali asal usul Tong Jie Peng, bahkan lebih jelas dan lebih mengerti, orang ini adalah Go kiongcu Ngo-hong nun Co Hui Hee.

Sampai dimana kepandaian Tong Jie Peng, Co Hui Hee mengerti secara mendalam. Hanya 1 jurus pelajarannya, ia berhasil mengalahkan Kang Han Cing yang sulit dijatuhkan. Takut kalau sang Toa sucie menderita sesuatu atas kelengahannya kepada musuh yang belum jelas asal usulnya ini, Co Hui Hee lari kedepan dan membisiki sesuatu.

Pian Hui Hong menganggukkan kepala. Co Hui Hee mengundurkan diri lagi. “Apa maksud kedatanganmu menyelak ditengah2 urusan orang ?" Pian Hui Hong mengadakan teguran.

“Apa kau juga hendak mengikuti perjalanan gurumu, dikalahkan oleh kami ?" Balik tanya Tong Jie Peng.

“Siapa yang akan dikalahkan ?" Bertanya Pian Hui Hong dengan satu dengusan. “Aku hendak menuntut balas atas perbuatan guru-gurumu itu."

Tong Jie Peng menoleh ke arah Co Hui Hee, ia membentak : “Sudah kau beritahu kepadanya?”

“Sudah selayaknya kalau seorang adik seperguruan memberitahu kepada Toa sucienya, bukan?” berkata Co Hui Hee tanpa gentar.

“Ya." Sambung Pian Hui Hong. “Kau sudah memberi pelajaran kepadanya, mungkinkah ilmu…”

“Namanya pukulan Ngo-hang Sin-ciang," Potong Tong Jie Peng.

“Bagus, kini aku hendak menjajal permainan ilmu pedangmu." tantang Pian Hui Hong.

“Kau hendak mengadu ilmu pedang ?” Bertanya Tong Jie Peng tersenyum.

“Mengapa tidak ?" Berkata Pian Hui Hong. “Ilmu pedang Hui-hong Kiam-hoat sudah menciutkan dirimu ?”

“Baiklah," berkata Tong Jie Peng. Per-lahan2 ia mengeluarkan pedangnya, “Biar kuperlihatkan lain ilmu pedang yang bisa mengalahkan Hui-hong kiam hoat agar kalian tidak terlalu jumawa.”

“Silahkan !” berkata Pian Hui Hong. Seerrr…….

Tong Jie Peng melempar pedangnya, diarahkan kepada Pian Hui Hong. Cara permainan ilmu pedang yang lain daripada yang lain. itulah ilmu pedang terbang !

Traaaannnggg……..

Pian Hui Hong menangkis datangnya serangan, sesudah itu semakin lama semakin cepat, benturan2 pedangpun kian menghebat. Mereka berupa tandingan yang setimpal. Sungguh pertandingan yang mendebarkan hati.

Tampak keistimewaan Tong Jie Peng, gadis berpakaian pria dari daerah Tong-hay ini berputar cepat, maka turut melibat2 pula cahaya kemilauan pedangnya, menggulung Pian Hui Hong.

Sesudah melakukan pertempuran terus menerus sampai beberapa kali, betapa kuatpun kondisi badan Pian Hui Hong, sebagaimana layaknya seorang wanita, pimpinan pertama Ngo- hong-bun ini mulai semper. Beberapa jago yang ditandingi olehnya berupa jago2 kelas satu. Tanpa mendapat istirahat sama sekali, muncul jago istimewa yang seperti Tong Jie Peng, bagaimana ia tidak kewalahan? Tapi ia bertekad bulat untuk menyeret Sun Hui Eng dan Kang Han Cing dari sarang Lembah Baru, karena itu dipertahankannya semua kepandaian, untuk mengimbangi jago muda dari Tong-hay kita.

Pedang Pian Hui Hong turut berputar, dan kini lenyaplah bayangan Toa Kiongcu itu. Yang tampak hanya gulungan sinar pedang, hendak memecah cahaya pedang Tong Jie Peng yang mengurung.

Kedua sinar pedang itu ber-gulung2 seperti dua ekor bianglala panjang. Semakin lama semakin cepat, mempesonakan semua orang yang ada.

Cahaya sinar pedang Tong Jie Peng semakin terang, suatu tanda kalau latihan tenaga dalamnya tetap membara. Berbeda dengan keadaan ini, sinar pedang milik Pian Hui Hong sudah mulai menipis, samar2 tampak bayangan rambut si gadis yang kusut.

Suatu saat, terdengar suara benturan senjata yang panjang, lenyaplah kedua bianglala yang panjang itu, bayangan Tong Jie Peng dan Pian Hui Hong terpecah, masing-masing melempar diri kebelakang. Tong Jie Peng menancap kaki, wajahnya pucat pasi, napasnya sengal2, dengan menggunakan pedang sebagai penunjang, berdiri dengan tongkat senjata itu. Keadaannya seperti seorang yang sudah sakit payah.

Keadaan Pian Hui Hong lebih mengenaskan lagi, ia jatuh terpelanting dengan memegangi gagang pedang yang sudah hancur, pakaiannya koyak2, cuwiran kain sudah basah dengan darahnya. Gedebuk, tidak bisa dielakkan benturan yang sangat keras, karena ia sudah tidak sadarkan diri lagi. Nenek Ular Coa Khu Po meluncur kedepan, menyerobot junjungannya untuk dibawa pulang ke rombongan.

Hampir detik2 yang bersamaan, terdengar lengkingan2 yang seram, Sin Hui Siang, Co Hui Hee, Hui-keng hweeshio dan Bak Cang Ong berempat turun tangan, mereka menyergap Tong Jie Peng ! Serangan2 itu terlalu mendadak sekali !

Maksudnya sangat jelas, melenyapkan musuh kuat sebelum orang yang bersangkutan bisa memperbaiki posisi diri.

Kang Sang Fung dan jago2 Lembah Baru lainnya yang sadar kepada bahaya itu menjerit ! Mereka tidak keburu untuk memberi pertolongannya.

Jiwa seorang jago muda yang sangat berbakat terancam bahaya kemusnahan !

Secepat itu pula tampak perubahan, sepasang sinar mata Tong Jie Peng yang terkatup mulai direntangkan, tampak cahaya sinar matanya yang tajam, berbareng tampak cahaya sinar pedang yang ke-hijau2an, menyapu kepada keempat penyerangnya.

Dua batang pedang Sin Hui Siang dan Co Hui Hee, tongkat Bak Cang Ong dan tongkat Hui-keng hweeshio terpapas putus.

Keempat orang itu menyerang secara pengecut, dengan harapan bisa membunuh lawan didalam keadaan tidak berdaya. Hasilnya terbalik dari kenyataan, sebelum mereka bisa melihat bagaimana Tong Jie Peng menggerakkan pedang, senjatanya sudah terpapas putus, serentak mereka lompat mundur dengan wajah pucat pasi.

Dengan tenang, Tong Jie Peng menyorenkan pedangnya ke dalam kerangka, dihadapinya Sin Hui Siang dkk dan berkata dingin:

“Kalian boleh pergi dari sini ! Pian Hui Hong pingsan karena terlalu mengempos tenaga, jiwanya tidak terancam bahaya. Cukup dengan istirahat 3 bulan, dia akan sembuh seperti sediakala."

Seperti apa yang Tong Jie Peng katakan, Pian Hui Hong sudah sadarkan diri, ia jatuh pingsan karena terlalu makan banyak tenaga. Lukanya hanya luka biasa, tanpa membahayakan jiwanya. Sesudah mengatur jalan pernapasannya beberapa kali, ia memberi perintah : “Semua pulang !”

Sin Hui Siang berempat sudah kehilangan pegangan, tidak mungkin memberi perlawanan lagi, sedangkan jago2 Ngo-hong bun lainnya tidak berarti, kecuali mengundurkan diri dari persengketaan itu, memang tidak ada jalan lain. Mendengar komando sang pimpinan, be-ramai2 mereka mengundurkan diri dari Lembah Baru. Demikian ancaman bahaya Ngo hong bun disisihkan.

*** Bab 86

KETUA LEMBAH BARU menghampiri Tong Jie Peng, memberi hormat dan mengucapkan terima kasih. “Beruntung saudara datang tepat pada waktunya, sehingga kami tidak mengalami sesuatu apa." Katanya tersenyum girang.

Tong Jie Peng membalas hormat itu, “Hanya satu kebetulan.” Ia merendah diri. “Ilmu murid si Nenek Naga Siluman memang luar biasa, kalau saja tidak mengetahui isi dalamnya, memang sulit mengalahkan mereka.”

Kang Han Cing turut menyongsong dan bersorak girang.

“Tong Toako, betul2 ilmu silat yang menakjupkan."

Kang Sang Fung tidak menduga kalau sang putra bisa berkenalan kepada seorang jago istimewa yang seperti Tong Jie Peng, lebih mengejutkan lagi adalah panggilan mereka, ternyata kedua anak muda itu sudah mengikat tali persaudaraan.

“Ha." soraknya girang. “Ternyata kalian sudah saling mengenal ?"

“Ayah," Kang Han Cing memberi penjelasan. “Tong Toako adalah saudara angkatku."

Panggilan "ayah” kepada ketua Lembah Baru itu mengejutkan Tong Jie Peng, ia tidak menyangka kalau ketua Lembah Baru yang misterius itu adalah Datuk Selatan Kang Sang Fung. Kang Han Cing memberi penjelasan : “Tong Toako, inilah ayahku.” Tong Jie Peng memberi hormat kepada sang datuk rimba persilatan. Hal mana cepat-cepat dibalas oleh Kang Sang Fung. Ia sangat gembira sekali.

Sesudah itu, kang Han Cing memperkenalkan kepada kawan2 lainnya. Dikala memperkenalkan Sun Hui Eng, Tong Jie Peng memperhatikan wajah Sam Kiongcu Ngo-hong-bun itu, ia berkata : “Eh, kita seperti pernah bertemu, bukan ?”

“Tong Toako," cepat2 Kang Han Cing berkata. “Nona Sun Hui Eng adalah Sam Kiongcu Ngo-hong bun yang kini memihak kepada kita."

“Oh…..” Tong Jie Peng tertawa. “Rejeki hiantee memang bagus, beberapa kiongcu Ngo hong bun mempunyai hubungan baik denganmu.”

Terakhir wajah Tong Jie Peng merah sendiri, ia jengah juga.

Kang Sang Fung mengajak Tong Jie Peng dan diperkenalkannya kepada para jago Lembah Baru. Pesta perjamuan dilanjutkan lagi.

Sun Hui Eng memiliki perasaan yang lebih tajam, adanya perbedaan2 kecil dari Tong Jie Peng tidak lepas dari penilaiannya. Betapapun pandai si jago muda dari Tong-hay menyamar, sebagai murid kesayangan Nenek Naga Siluman, Sun Hui Eng sudah mengendus ketidak-samaan itu.

Karena perkenalan mereka baru saja berjalan belum lama, Sun Hui Eng menyimpan kecurigaan itu di dalam hati pribadi sendiri. Tong Jie Peng dikerumuni oleh jago2 muda sepantarannya, duduk diapit oleh Kang Han Cing dan Sun Hui Eng.

“Tong Toako.” Tanya Kang Han Cing. “Bagaimana kau bisa menyusul ke tempat ini?”

“Hanya karena lukamu itulah, aku mundar- mandir kian kemari," berkata Tong Jie Peng tersenyum.

“Karena aku ?" Kang Han Cing terbelalak.

“Apa kau bisa meng-ingat2, bagaimana keadaanmu sesudah terkena Jarum Ular Co Hui Hee?” Tanya Tong Jie Peng.

“Itu waktu, siauwtee tidur terus menerus, tidak ingat sesuatu."

“Nah ! Ceritanya terlalu panjang untuk dituturkan." Tong Jie Peng menoleh ke arah Sun Hui Eng. “Kuharap kau tidak menjadi marah kalau mendengar cerita ini." Kata2 terakhir ditujukan kepada bekas Sam Kiongcu Ngo-hong bun itu.

“Siapa yang marah ?” Berkata Sun Hui Eng. “Hubungan Co Hui Hee dengannya sudah kuketahui semua.”

“Syukur saja, kalau begitu.” Berkata Tong Jie Peng. Dan diceritakan, bagaimana ia menyaksikan Kang Han Cing terkena Jarum Ular, bagaimana Jie Kiongcu Sin Hui Siang sedang memaksa Co Hui Hee untuk membawa Kang Han Cing pulang ke markas, bagaimana Co Hui Hee membangkang perintah, bagaimana ia menggunakan air liur bangau sakti mengadakan pengobatan darurat, meminta Co Hui Hee menjaga, karena ia harus pulang ke Tong hay meminta obat, karena itu dibekalinya ilmu hebat untuk menjaga keamanan Kang Han Cing, dan tatkala Tong Jie Peng berhasil menunggang burung kembali, ia sudah kehilangannya. Menyelidiki ke markas Ngo-hong bun, baru berhasil menyusul ke Lembah Baru.

Semua cerita sangat jelas dan terperinci, hanya disembunyikan urusan penyamarannya yang sudah diketahui Co Hui Hee. Sehingga disaat itu, penyamaran Tong Jie Peng sebagai gadis yang berpakaian dinas pria hanya diketahui oleh Co Hui Hee seorang saja. Maka tidak diuwarkan keadaan itu.

Sepasang mata Sun Hui Eng bercahaya terang, katanya : “Kalau begitu, ilmu in-khiu-pit-hiat Co Hui Hee didapat dari Tong Toako ?”

Karena adanya Kang Han Cing yang membahasakan Tong Jie Peng dengan panggilan Tong Toako, maka Sun Hui Eng menggunakan istilah yang sama pula.

Tong Jie Peng menggelengkan kepala dan berkata : “Nama ilmu yang kuberikan adalah Pukulan Ngo hang Sin ciang. Bukan in-khiu pit hiat.”

“Syukurlah," Sun Hui Eng mengeluarkan keluhan napas lega. “Kalau begitu, luka Jie kongcu mudah ditolong."

“Luka apa ?" Bertanya Tong Jie Peng heran. “Pundaknya kena pukulan aneh Co Hui Hee itu, sehingga kini belum berhasil diperbaiki," berkata Sun Hui Eng.

“Kau terkena pukulan Ngo-hang Sin ciang ?” Tong Jie Peng menoleh dan memandang Kang Han Cing, tentu saja dengan sepasang sinar mata yang penuh perhatian.

Hal ini tidak lepas dari penyelidikan Sun Hui Eng, semakin pasti kecurigaannya, kalau pemuda berpakaian putih ini adalah samaran seorang gadis jelita.

Kang Han Cing menganggukkan kepala.

“Tidak kusangka,” katanya. “Ilmu pelajaran pemberianmu yang seharusnya menjaga kebaikanku itu digunakan untuk melukaiku sendiri."

Cu Liong Cu turut ambil hak bicara : “Ya. Kalau bukan menggunakan ilmu aneh itu, jangan harap dia bisa mengalahkan Jie kongcu.”

Dengan penuh penyesalan Tong Jie Peng berkata : “Tidak kusangka kalau Co Hui Hee berkelakuan seperti itu. Hiantee, tentunya kau banyak menderita karena pukulan itu, bukan? Orang yang terkena pukulan Ngo-hang Sin-ciang mengalami pembekuan darah. Sakitnya memang tidak terkira. Bagaimana keadaanmu selama ini?”

“Lumayan,” berkata Kang han Cing.

“Huh ! Lumayan ?” teriak Sun Hui Eng. “Kalau tidak kucegah, dia hendak membuang sebelah tangannya yang terkena pukulan itu. Dikala sakitnya kambuh, hampir dia mengucurkan air mata, tahu ?”

Dari sikap2 Sun Hui Eng, maka sadarlah Tong Jie Peng, seorang gadis pula yang kena jirat tali asmara Kang Han Cing. Tidak bisa disangkal, pemuda tampan banyak yang suka, daya tarik pemuda kosen memang sangat esentrik. Sungguh mustahil kalau Sun Hui Eng tidak jatuh cinta kepada putra Datuk Selatan itu.

Diam2 Tong Jie Peng menarik napas. Dia rela melepaskan diri dari perpacuan memperebutkan Kang Han Cing. Hendak menyerahkannya kepada Co Hui Hee, sayang gadis itu lebih suka Ngo-hong- bun dan melepaskan kesempatan baik.

Pengunduran dirinya Co Hui Hee bukan berarti bebas dari persaingan, kini muncul pula satru baru. Apa yang harus dilakukan olehnya ? Karena itu ia menarik napas sendiri.

Ya. Putusannya sudah dibulatkan. Kalau dia berani menyerahkan Kang Han Cing kepada Co Hui Hee, mengapa takut menyerahkannya kepada Sun Hui Eng ?

Lagi2 Tong Jie Peng melangkah kebelakang satu tapak. Sesudah mengambil putusan itu, ia bangkit dari tempat duduknya, memandang Kang Han Cing dan berkata : “Hiantee, duduklah baik2. Biar kubaiki lukamu yang terkena pukulan Ngo-hang Sin ciang itu.”

“Apa tidak lebih baik kalau membaringkannya didalam kamar saja ?” Bertanya Sun Hui Eng perlahan. “Disinipun cukup," Berkata Tong Jie Peng tegas.

Berita tentang maksud Tong Jie Peng yang hendak menyembuhkan luka Ngo-hang Sin-ciang menggemparkan semua orang. Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu, ketua kelenteng Pek yun-koan Tian hung Totiang dan lain2nya berkerumun datang, hendak mereka saksikan, bagaimana Tong Jie Peng menghilangkan belenggu tekanan darah tertutup Kang Han Cing yang sulit dicairkan itu.

Kang Puh Cing juga mengharapkan sang saudara cepat2 pulih seperti sediakala, karena itu ia menghampiri Tong Jie Peng dan bertanya : “Apa sekiranya membutuhkan bantuan ?”

“Aku seorang sudah cukup," Berkata Tong Jie peng tertawa. Kini ia mulai menyingkapkan lengan bajunya, tampak kulitnya yang putih mulus, memegang jari-jari Kang Han Cing dan dari tempat itu mengurut ke atas.

Dari jari2 Tong Jie Peng yang putih halus itu menjulur keluar kekuatan panas, bagaikan penggantian musim diair sungai yang membeku, hawa panas itu melelehkan jalan2 darah yang tersumbat, mencair kembali dan mengalir dengan lancar, tanpa adanya gangguan2 lain.

Tong Jie Peng mengurut sampai beberapa kali, dan akhirnya ia menepuk pundak sang adik angkat. “Nah ! Bagaimana perasaanmu ?"

“Tong Toako, terima kasih." Berkata Kang Han Cing segar seperti sediakala. “Apa betul2 kau sudah sembuh ?" Bertanya Sun Hui Eng mendekati si pemuda. “Coba sekali lagi.”

“Betul2 sudah sembuh." Berkata Kang Han Cing sambil meng-keprek2kan tangannya yang bekas kena luka pukulan Ngo-hang Sin-ciang itu.

“Tong Toako, terima kasih. Terima kasih banyak." Ia berkata kepada Tong Jie Peng.

“Sesama saudara sendiri, mengapa harus sungkan2 seperti itu ?” Berkata Tong Jie Peng tertawa.

Pendekar Kipas Wasiat mendelongkan sepasang matanya lebar2, ia masih kurang yakin akan adanya keajaiban yang seperti itu, menghampiri Tong Jie Peng dan mengajukan pertanyaan: “Saudara Tong, cara penyembuhan yang baru digunakan sudah berhasil menembus jalan2 darah yang tersumbat ?”

“Bukannya menembus.” Tong Jie Peng mengadakan pengkoreksian. “Tapi memperlancar dengan cara2 pukulan Ngo-hang sin-ciang pula."

“Apa saudara tidak menemukan adanya sesuatu tenaga rahasia yang mengeram didalam tubuh Jie kongcu ?" tanya lagi Sin Soan Cu.

“Tidak," berkata Tong Jie Peng.

“Aneh ! Aneh !” Berulang kali Sin Soan Cu bergumam. Disaat ia dan kelima rekan2 lainnya mencoba untuk menjebol jalan2 darah Kang Han Cing yang tersumbat, mereka kebentur oleh satu kekuatan raksasa terpendam yang hebat luar biasa. Dari manakah adanya kekuatan raksasa itu ? Mengapa Tong Jie Peng tidak mendapat perlawanan yang seperti itu ?

Tong Jie Peng tersenyum, kini ia memberi penjelasan : “Cara pengobatan dengan cara Ngo hang sin-ciang mengikuti aliran, semakin kuat latihan si penderita, semakin cepat pula penyembuhannya. Tidak bertentangan dengan apa yang ada dan tidak bersitegang dengan keadaan situasi daerah.”

“Ohhh,” Tian-hung Totiang bisa mengerti dan menyelami arti kata2 itu. “Disini kita mendapat pengalaman baru. Kami berenam menggabungkan kekuatan, dengan harapan bisa menjebol jalan darah buntu itu. Ternyata kami mengalami kegagalan, kekuatan aneh didalam tubuh Kang Jie kongcu hampir2 membuat luka bersama."

“Aneh !” berkata Tong Jie Peng. “Kang hiantee sedang menderita luka. Dari mana pula kekuatan yang bisa menahan tenaga2 gabungan kalian ?”

“Besar kemungkinannya darah Ular Lindung itu menjadi biang keroknya.” Berkata Tian hung Totiang mengemukakan pendapat.

“Darah Ular Lindung ?" Bertanya Tong Jie Peng heran. “Dari mana datangnya darah Ular Lindung

?"

“Nenek Naga Siluman pernah kena pukulan Ngo hang Sin ciang, karena itu sebelah lengannya menciut kecil, kembali seperti tangan orok yang baru keluar. Karena itu ia membutuhkan darah Ular Lindung, ditugaskan Coa Khu Po yang memeliharanya, tanpa disengaja, Kang Jie kongcu sudah menyerobot minum darah itu.”

“Kang hiantee," berkata Tong Jie Peng. “Betul2 ada kejadian yang seperti ini ?”

Kang Han Cing mengulang cerita yang pernah terjadi didalam ruangan bawah tanah Nenek Ular Coa Khu Po, terakhir ia bergelut dan menyedot darah Ular Lindung itu.

Tong Jie Peng berkata : “Hiantee, coba kau putarkan peredaran jalan darahmu, kalau2 ada segumpalan kekuatan yang berada di luar kekuasaanmu."

Kang Han Cing menganggukkan kepala dan berkata : “Memang ada. Entah bagaimana harus menyatukan kekuatan liar ini ?”

“Serahkan kepadaku,” berkata Tong Jie Peng. “Didalam keadaan terpaksa, aku menggunakan pengobatan darurat, menyuruh si Putih menuangkan air liurnya yang beracun. Sesudah itu kuserahkan keselamatanmu kepada Co Hui Hee dan aku pulang ke Tong hay untuk meminta obat Tay hoan-tan. Kini obat tersebut masih berguna untuk menyatukan kekuatan darah Ular Lindung dengan kekuatan darahmu sendiri. Sesudah itu kekuatan latihanmu akan bertambah kuat 20 kali lipat."

Kang Han Cing berkata : “Obat Tay-hoan-tan adalah obat tidak mudah didapat. Akupun sudah sembuh. Mengapa harus membuang obat percuma? Simpan saja obat itu, agar bisa digunakan lain waktu." “Hiantee, obat ini memang disediakan untukmu, jangan mencoba membantah,” berkata Tong Jie Peng.

“Tong Toako, pertolonganmu terus menerus ini membuat aku tidak enak hati. Bagaimana bisa membalas budi2 jasa itu ?"

“Haa, kita sudah mengikat tali persaudaraan, bukan? Mengapa bicara seperti itu?” Berkata Tong Jie Peng.

“Memang," Sun Hui Eng turut bicara. “Tong toako sudah banyak memberi kepadamu. Kau harus ingat baik2 budi itu, jangan hanya diucapkan dimulut saja. Percuma saja namanya."

“Nona Sun memang pandai bicara,” Berkata Tong Jie Peng.

Disaat ini seorang penjaga Lembah Baru masuk ter-sipu2, menghampiri Auwyang Goan dan memberi hormat, sesudah itu melapor sesuatu.

“Suruh masuk !" Auwyang Goan memberi perintah.

Maka penjaga Lembah itu keluar lagi.

Auwyang Goan melapor kepada ketuanya : “Seorang utusan Ngo-hong-bun hendak meminta bertemu dengan kokcu, maka hamba sudah menyuruhnya menghadap."

Kang Sang Fung berkerut alis, “Baru saja mereka kalah perang,” katanya. “Kini mengirim utusan lagi, tentu hendak menggunakan permainan baru. Entah apa lagi yang hendak dipertontonkan ?" Disaat itu, seorang berbaju hijau sudah digiring masuk, dia membungkukkan badan, memberi hormat dan berkata : “Hamba Cong Su, anggota Ngo hong bun memberi hormat kepada kokcu.”

Kokcu Lembah Baru menganggukkan kepala sebagai balasan hormat itu, ia bertanya: “Baru saja kalian pergi dari sini, ada urusan apa lagi ?"

“Kedatangan hamba atas perintah Toa Kiongcu yang hendak menyerahkan surat.”

Sambil berkata, orang yang bernama Cong Su itu menyerahkan sepucuk surat.

Kang Sang Fung menyodorkan tangan dengan maksud menerima surat itu.

Tiba-tiba terdengar Cu Hoay Uh berteriak : “Tunggu dulu !”

Ia bergerak cepat, mewakili ketua lembah baru, menerima surat itu, diperiksanya sebentar, sesudah mengetahui pasti tidak mengandung satu permainan aneh, baru diserahkan kepada Kang Sang Fung.

Ternyata pengalaman Cu hoay uh memang pengalaman asam garam kelicikan dunia persilatan, mengingat turut sertanya Bak cang ong didalam rombongan Ngo-hong-bun mempertimbangkan adanya satu permainan beracun dari pihak Ngo hong bun, maka ia menerima surat yang hendak disampaikan kepada pimpinan golongan lembah baru. Sesudah mengetahui pasti tidak mengandung racun, baru hatinya menjadi lega. Kang Sang Fung menerima surat tersebut dari tangan Cu Hoay uh, membuka dan membaca isi surat, tiba2 wajahnya berubah. “Perbuatan terkutuk !” ia memaki, “apa artinya langkah kiongcu kalian seperti ini?"

Laki2 berpakaian hijau Ceng su memperlihatkan ketenangannya yang luar biasa, mendapat teguran itu, wajahnya tidak berubah, dengan kalem ia menjawab :

“Hamba hanya mendapat tugas didalam soal pengiriman surat. Lain dari pada itu, hamba tidak tahu.”

Semua orang sedang ber-pikir2, bagaimana bunyi isi surat yang menyebabkan kemarahan ketua Lembah Baru ? Dari perubahan yang seperti itu sudah bisa dipastikan, tentu terjadi sesuatu yang tidak menguntungkan mereka.

Memandang beberapa saat, ketua Lembah Baru berkata : “Baiklah, kau boleh pergi. Dan katakan kepada Kiongcu kalian, aku sudah menerima surat ini."

Laki2 berpakaian hijau membungkukkann badan, memberi hormat dan mengundurkan diri.

Sesudah kepergian orang yang bernama Ceng Su itu, tanpa bisa mengendalikan emosinya, Ciok- kiam Sianseng maju dan mengajukan pertanyaan : “Apa yang sudah terjadi ?"

“Nona Wie Ceng jatuh kedalam tangan mereka," Berkata Kang Sang Fung singkat. Wie Ceng adalah cucu perempuan Nenek Wie Tay kun, ia lari ngambek, meninggalkan Lembah Baru, karena sedikit pertikaian dengan Sun Hui Eng. Entah bagaimana kini sudah jatuh kedalam tangan Pian Hui Hong.

Sin Soan Cu segera bisa menduga isi surat yang menyebabkan kemarahan Kang Sang Fung, ia mengeluarkan dugaannya : “Mereka menangkap nona Wie Ceng, dengan maksud meminta sesuatu dari kita ?”

“Mereka menghendaki Kang Han Cing dan nona Sun Hui Eng yang ditunggu kedatangannya digunung Tulang Ikan, baru bersedia membebaskan Wie Ceng,” Berkata ketua Lembah Baru.

“Huh ! Dua tukar satu ?” Berdengus Ciok kiam Sianseng. Sesudah itu, ia menoleh kearah Sin Soan Cu. “Bagaimana ?” Tantangnya. “Apa ada niatan untuk menerjang gunung Tulang Ikan? Mari kita meringkus beberapa orang mereka untuk digunakan sebagai barang tukaran." Jago tua itupun naik darah juga !

“Ide bagus !” Berkata Sin Soan Cu, “Tapi orang tangkapan kita itu harus berupa tokoh penting mereka.”

“Tentu saja. Paling sedikit orang yang menduduki pangkat tancu keatas."

“Aku turut serta," teriak Cu Hoay Uh. “Mari ganyang beberapa orang mereka." Sesudah itu, ketiga jago tua ini sudah siap2 mengadakan penculikan balik.

Kang Sang Fung menjadi bingung, cepat2 ia berteriak : “Sam-wie, tunggu dulu !”

Ciok-kiam Sianseng, Sin Soan Cu dan Cu Hoay uh harus menangguhkan rencana mereka, sambil menunggu putusan tokoh silat luar biasa itu.

Dan disaat yang bersamaan, Kang Han Cing mengajukan diri memandang kepada para penyokongnya, ia berkata : “Ayah, suhu dan Cu cianpwe sekalian, maksud dari Ngo-hong-bun hanya menghendaki aku dan nona Sun Hui Eng. Agak kurang tepat kalau urusan ini menyusahkan kalian.”

Samar2 Kang Han Cing memberi peringatan kalau ilmu kepandaian Pian Hui Hong itu tidak mudah dihadapi.

Disaat yang sama, Sun Hui Eng turut bicara : “Betul, lebih baik kami saja yang pergi.”

Kang Sang Fung sulit memberi putusan. “Bagaimana kalau kita turut serta ?” Ciok kiam

Sianseng memberi usul.

“Lebih banyak orang lebih baik,” Berkata Lie Wie Neng. “Mari kita pergi bersama.”

“Toa sucie bukan orang yang mudah dihadapi,” berkata Sun Hui Eng. “Bukan mustahil kalau dia berani membunuh sandera. Keselamatan nona Wie Ceng tergantung dari gerakan ini." “Lebih baik jangan terlalu banyak yang pergi." Berkata Kang Sang Fung.

“Ayah, aku saja." Berkata Kang Han Cing. “Aku memiliki tanda jalan Tulang Ikan Kumala Nenek Naga Siluman. Lebih bebas dan lebih aman. Istana Naga Siluman tidak asing lagi bagiku.”

“Huh !” Berdengus Sun Hui Eng. “Jangan meremehkan istana Naga Siluman. Kalau aku tidak turut serta kau kira mudah berkeliaran ditempat itu ?"

“Maksudmu, pergi berdua?" Berkata Kang Han Cing.

“Begitulah."

“Lebih baik nona Sun di sini saja." Berkata Kang Sang Fung. “Betapa kebencian mereka, kukira keselamatanmu susah dipertahankan."

“Ya !" Kang Han Cing setuju. “Aku seorang pun sudah cukup."

“Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu apa ?” Sun Hui Eng memperlihatkan keperhatiannya.

“Biar aku mendampingi Jietee,” berkata Kang Puh Cing.

Kang Sang Fung menggelengkan kepala, ia tidak setuju kalau Kang Puh Cing turut serta.

“Begini saja,” Tong Jie Peng yang sedari tadi membawakan sikap pasif, kini harus turut terjun didalam hak bicaranya, “Kalau kokcu setuju bagaimana kalau aku yang menjaga Jie kongcu secara diam-diam ?" Ketua Lembah Baru memperlihatkan wajahnya yang cerah. “Kalau Tong siecu bersedia, inilah yang sangat kuharapkan.” Katanya.

Demikian putusan mereka yang seperti itu, ditetapkan Kang Han Cing pergi ke gunung Tulang Ikan untuk meminta kembali Wie Ceng yang sudah jatuh kedalam pihak Ngo hong-bun. Disamping itu Tong Jie Peng siap memberi bantuan dimana perlu.

***

Bab 87

DIAM2 CU LIONG Cu menarik tangan Sun Hui Eng, meninggalkan rombongan orang2 itu dan berkata : “Cicie Sun, coba kau usahakan kepada Tong Toako, agar kita berdua bisa turut menyertai mereka."

Sun Hui Eng melirik kearah gadis yang mendapat julukan Putri Beracun ini, ia tersenyum. “Mengapa kau tidak berusaha sendiri ?” ia bertanya.

“Kedudukanku tidak bisa disamakan denganmu." Berkata Cu Liong Cu.

“Memangnya aku mempunyai kedudukan apa ?” “Siapa yang tidak tahu kalau hubunganmu

dengan Kang Jie kongcu adalah…..”

“Kau berani ?" Sun Hui Eng berpura-pura galak. “Ha, ha, ha…..” Cu Liong Cu menutup

pembicaraannya. “Tidak mungkin mereka mengijinkan." Berkata Sun Hui Eng.

“Aku tahu,” berkata Cu Liong Cu lemah. “Biar bagaimanapun, walau dilarang mereka, cicie akan pergi juga, bukan ?”

“Huh !" Sun Hui Eng menarik baju Cu Liong Cu, “Awas kalau diketahui mereka.”

“Pokoknya aku turut serta,” berkata Cu Liong Cu.

“Kita mengikuti mereka secara diam2.” Berkata Sun hui Eng perlahan.

Cu Liong Cu lompat girang. Demikian putusan kedua gadis ini yang bertekad membela Kang Han Cing dimana perlu.

Menjelang senja, api penerangan dipasang terang benderang, itulah perjamuan atas kemenangan Lembah Baru.

Semua menjamu Tong Jie Peng ! Si jago Tong- hay sedang menjadi biang acara !

Terus menerus sampai 2 jam, baru perjamuan itu ditutup.

Auwyang Goan sudah menyediakan kamar- kamar, Kang Han Cing mendapat kamar yang sebelah menyebelah dengan Tong Jie Peng. Dan lain2nya masing2 mendapat kamar yang tersendiri.

Malam harinya, para jago2 muda tidak melepaskan kesempatan mereka untuk bergaul dengan Tong Jie Peng, sesudah mengajak Kang Han Cing, panggilan ‘Tong Toako’, ‘Tong toako' itu berkumandang tidak henti2nya. Karena adanya panggilan Kang Han Cing yang membahasakan jago Tong-hay kita seperti itu, mereka pun turut memanggilnya dengan sebutan "Tong Toako” pula.

Kho Siang Siang dan Kho In In mempernahkan ayah mereka yang terluka agak berat, sesudah itu merekapun tidak mau ketinggalan menyusul datang.

Para jago2 muda dari keempat datuk persilatan berkumpul menjadi satu, dengan pokok acara pada Tong Jie Peng.

Dari antara sekian banyak orang, hanya Sun Hui Eng yang berperasaan lain. Ia mengikuti mereka tertawa dan bergembira ria, dengan tidak luput dari penyelidikan2 tertentu.

Setiap gerakan kecil Tong Jie Peng tidak pernah lepas dari ex Sam Kiongcu Ngo hong-bun kita.

Perasaan yang tajam menghasilkan sesuatu yang melebihi orang biasa, bagaimanapun pandainya Tong Jie Peng membawakan sikap pria, tokh tidak lepas sudut mata Sun Hui Eng, kian lama kepastiannya tidak perlu diragukan lagi. Dan karena itulah, hati bekas Sam kiongcu semakin khawatir.

Apa yang dikhawatirkan olehnya ?

Hanya Sun Hui Eng pribadi yang tahu, mengikuti keramaian itu, ditungkulinya sampai tengah malam. Anak2 muda lainnya bubar pada jam 2 malam. Yang tinggal hanya Kang Han Cing, Kang Puh Cing, Sun Hui Eng, Cu Liong Cu berlima.

Tong Jie Peng mengeluarkan obat Tay-hoan-tan dan berkata : “Saudara Kang, sudah waktunya kau memakan obat."

Maka seluruh isi ruangan berserak bau harum semerbak dari obat Tay-hoan-tan.

“Obat luar biasa !” Cu Liong Cu memberikan pujiannya. “Biar kuambilkan air untuk Jie kongcu.”

“Nona Cu, tidak usah." cegah Tong Jie Peng. “Obat Tay huan-tan segera mencair sendiri manakala bertemu dengan air liur."

Sambil menyerahkan obat itu kepada Kang Han Cing ia berkata lagi : “Hiantee, telanlah ! Biar kubantu kau menyempurnakan jalan2 darah penting."

Mengikuti petunjuk itu, Kang Han Cing menerima obat Tay hoan-tan, diletakkannya didalam mulut dan duduk bersila, menyempurnakan jalan darahnya.

Tong Jie Peng juga duduk didepan si pemuda, mereka hadap berhadapan.

Walau menggunakan pakaian pria, sifat2 wanita Tong Jie Peng tidak bisa dihapus begitu saja, duduk dengan jarak dekat dengan seorang pemuda, hatinya memukul keras. Kedua pipinya bersemu dadu. Hanya Sun Hui Eng yang bisa membedakan perobahan2 kecil ini. Tidak perlu disangsikan lagi, kalau dugaannya itu memang tepat.

Kang Puh Cing, Cu Liong Cu dan Sun Hui Eng meninggalkan kamar, agar tidak mengganggu Kang Han Cing, mereka menunggu diluar.

Tidak lama kemudian, Tong Jie Peng sudah menampakkan diri, kepada ketiga orang itu ia berkata : “Jie kongcu sudah menelan obat Tay- hoan-tan, dan sesudah mendapat bantuanku mengatur peredaran jalan darah Ngo-hang-cin-kie, kini ia berhasil menembus perbatasan Seng-su hian-koan. Keadaannya tidak boleh diganggu, dia sedang menerobos puncak kebebasannya.”

Mendengar kalau Kang Han Cing segera berhasil menembus jalan darah Seng-su hian-koan, semua bergembira hati, terutama Sun Hui Eng, ia hampir bersorak karenanya.

Tong Jie Peng mendekati gadis itu dan berkata perlahan : “Nona Sun, ada sesuatu yang hendak kusampaikan.”

“Silahkan," berkata Sun Hui Eng.

“Mari ikut !” Berkata Tong Jie Peng sambil berjalan pergi.

Sun Hui Eng memandang Kang Puh Cing dan Cu Liong Cu. “Tong Toako ada urusan," katanya. “Aku pergi sebentar."

Kang Puh Cing berkata : “Waktu sudah malam, nona Sun dan nona Cu sudah boleh istirahat. Penjagaan Jie-ya boleh serahkan kepadaku saja.” Sun Hui Eng memandang Cu Liong Cu dan berkata : “Ya ! Adik Cu, mengapa kau tidak istirahat ? Besok masih banyak urusan, bukan ?"

“Baiklah." Cu Liong Cu mengundurkan diri.

Sun Hui Eng juga menyusul Tong Jie Peng yang sudah berada diberanda depan. Meninggalkan Kang Puh Cing yang menjaga Kang Han Cing.

“Tong Toako," panggil Sun Hui Eng perlahan. “Apa yang hendak kau katakan kepadaku ?”

Tong Jie Peng memperlihatkan wajahnya yang sungguh2, diperhatikannya Sun Hui Eng beberapa saat, ia berkata : “Ada sesuatu yang hendak kuketahui betul-betul, bagaimana perasaanmu kepada Kang Han Cing ?"

“Apa maksud Tong Toako ?" Bertanya Sun Hui Eng.

“Maksudku apa betul2 kau mencintai Kang Han Cing ?”

Wajah Sun Hui Eng berubah.

“Jawab pertanyaan ini !" Berkata Tong Jie Peng. “Huh !" Sun Hui Eng berdengus. “Apa Tong

Toako masih belum bisa melihat ?” “Aku hendak meminta kepastian.” “Mengapa ?”

“Karena aku pernah salah melihat orang. Kepercayaanku kepada Co Hui Hee hampir mencelakakan dirinya. Karena itu, aku tidak mau ambil resiko yang kedua kali.” “Urusan ini ada hubungan apa denganku?” bertanya Sun Hui Eng.

“Sangat erat sekali." Berkata Tong Jie Peng. “Urusan ini menyangkut kepentingan Kang Han Cing. Juga kepentingan nona Sun sendiri. Karena itu, jawablah secara jujur, betul2 kau mencinta dengan setulus hati ?”

“Baiklah. Kalau Tong Toako hendak meminta kepastian. Kuberikan secara kontan, cintaku kepada Kang Han Cing tidak akan luntur disepanjang masa.”

“Baiklah. Dengan adanya jaminan ini hatiku menjadi lega," Tong Jie Peng mengeluarkan sesuatu, diserahkan kepada Sun Hui Eng dan berkata : “inilah 25 jurus ilmu Ngo-hang Sin-ciang, dengan bakat yang nona miliki, tidak sulit dipelajari. Kuserahkan kepadamu, demi kepentingan menjaga Kang Han Cing dikemudian hari.”

Sesudah menyerahkan catatan ilmu Ngo hang Sin ciang itu, Tong Jie Peng meninggalkan Sun Hui Eng.

“Tong Toako…..” Panggil Sun Hui Eng.

Tapi Tong Jie Peng tidak menghiraukan panggilan itu.

Dengan memegangi catatan Ngo hang Sin ciang, Sun Hui Eng termangu2. Tong Jie Peng pernah memberi satu jurus ilmu Ngo hang Sin ciang kepada Co Hui Hee, dengan maksud agar Go sumoay itu menjaga keselamatannya, siapa tahu, dengan ilmu itu pula Co Hui Hee melukainya. Ini yang dinamakan senjata makan kawan tuan.

Sekarang lagi2 Tong Jie Peng menyerahkan ilmu Ngo-hang Sin-ciang, lebih banyak dari pada apa yang sudah diberikan kepada Co Hui Hee. Apa yang Sun Hui Eng dapatkan adalah pelajaran komplit, 25 kali pelajaran yang didapat oleh Go sumoay itu.

Dengan dalih yang sama, Tong Jie Peng juga hendak menyerahkan keselamatan Kang Han Cing kepadanya.

Apa hanya keselamatan Kang Han Cing saja yang harus dijaga ? Lebih dari pada itu. Tong Jie Peng juga menyerahkan semua apa yang dimiliki oleh Kang Han Cing.

Mengapa ?

Hanya satu jawabannya : Yaitu Tong Jie Peng rela mengorbankan cintanya !

Sun Hui Eng bergumam didalam hati : “Huh ! Betul dia seorang wanita ! Dengan adanya penyerahan yang besar2an seperti ini, apa mungkin dimiliki oleh seorang laki2 ? Aha ! Kau kira Sun Hui Eng ini macam apa ? Oh ! Anggapmu, cinta bisa ditimbang terimakan begitu saja ?”

Dengan menyimpan ilmu Ngo-hang Sin-ciang itu, Sun Hui Eng berjalan balik. Tentu saja dengan keputusannya yang tersendiri, dengan rencana persoalan timbang terimakan Kang Han Cing kepada dirinya.

*** Bab 88

PADA MALAM ITU JUGA, ketua Lembah Baru Kang Sang Fung mempersiapkan seluruh kekuatannya membuat penyerbuan ke pihak Ngo hong-bun.

Hasil penyelidikan Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian memberitahu kalau markas besar Ngo- hong-bun berada disuatu tempat yang bernama Pek-niauw co-ong, termasuk daerah pegunungan Hoay-giok san.

Persiapan kekuatan Lembah Baru sedang disusun untuk menyerang tempat itu, ini yang disamakan taktik penyerangan sekaligus, disamping persiapan jago2 yang harus menyertai Kang Han Cing menuju ke istana Nenek Naga Siluman digunung Tulang Ikan.

Kalau Pian Hui Hong dkk berada didalam perjalanan ke gunung Tulang Ikan, tentunya mengalami kekosongan dimarkas besarnya dan dengan mencurahkan semua kekuatan Lembah Baru, mungkinkah Ngo-hong-bun tidak bisa dihancurkan ?

Kekuatan penyerangan dibagi dari lima kekuatan inti.

Pasukan ke 1 dibawah pimpinan Datuk Timur Kho See Ouw, dibantu oleh putra dan putrinya Kho Siang Siang dan Kho In In, disamping mereka turut serta juga Kang Puh Cing dan Goan Tian Hoat. Pasukan ke-2 berada dibawah pimpinan Datuk Barat Cin Khin Jin, disertai oleh Hakim Bermuka Merah Yen Yu San, putri Benteng Penganungan Jaya Cin Siok Tin, Pendekar baju Besi Yen Siu Hiat dan lain2nya.

Pasukan ke-3 dibawah pimpinan Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian dan jago2 Lembah Baru didikan Kang Sang Fung.

Pasukan ke-4 dibawah pimpinan Kakek Beracun Cu Hoay Uh dibantu kekuatan dari Datuk Utara Lie Wie Neng dkk.

Pasukan ke-5 adalah sektor inti, langsung dibawah pimpinan Kang Sang Fung, didampingi oleh ex ketua Hoa-san-pay Sie-lie-cu, Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu, Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng, ketua Pek-yun-koan Tian-hung totiang dan lain2nya.

Gerakan dimulai dari urutan nomor Pasukan. Datuk Timur Kho See Ouw mendapat tugas sebagai perintis jalan.

Untuk sementara Lembah Baru berada di bawah pengawasan Auwyang Goan.

Keberangkatan kelima barisan ini bersama- sama dengan keberangkatan rombongan Kang Han Cing, hanya beda didalam persoalan jurusan.

***

PEGUNUNGAN Hoay goak-san melingkari daerah Tian sim peng, Hian-kee-leng, Hoey-giok, Heng-kan dan Hong-gie-bun. Disalah satu lembah dari daerah inilah Ngo- hong-bun menyembunyikan markasnya. Pek-niauw Co-ong, demikian nama tempat itu.

Untuk memasuki daerah Pek-niauw Co-Ong, orang harus melalui sebuah tempat yang sangat strategis, namanya Hong-gie-bun. Melewati Hong- gie bun, maka termasuk daerah kekuasaan Ngo- hong-bun yang bernama Pek-niauw Co-ong itu.

Lima pasukan Lembah Baru melakukan perjalanan dengan menyebar diri, maksudnya agar pihak Ngo hong bun tidak mendapat tahu, dengan demikian memudahkan penyergapan.

Sekarang pasukan pertama yang berada dibawah pimpinan Kho See Ouw sudah mendekat Hong-gie-bun. Mereka terdiri dari Kho See Ouw, Kho Siang Siang, Kho In In, Kang puh Cing, Goan Tian Hoat dan 16 jago Lembah Baru. Masing2 berpakaian sebagai petani, tukang kayu, pedagang dan tukang jual obat, hal ini penting, mengingat pihak Ngo hong bun banyak memelihara burung merpati. Maka tanpa diketahui, pasukan ini bisa tiba dengan aman.

Bukan pasukan kesatu saja yang menyamar, semua pasukan2 lainnyapun tidak bergerak sekaligus, dengan aneka macam pakaian yang tidak sama, dengan tempat2 dan waktu2 yang sudah dijanjikan, mereka bergerak dan berkumpul kembali.

Direncanakan, semua pasukan akan berkumpul di Hong-gie-bun, sesudah itu, kalau mereka sudah berkumpul semua, secara serentak mereka melakukan penyergapan !

Sekarang pasukan ke-1 yang bergerak lebih pesat sudah berada ditempat itu. Kho See Ouw pernah dikalahkan oleh Toa Kiongcu, didalam hati sang datuk, inilah penasaran. Mendapat tugas mengepalai pasukan ke-1, hatinya agak bangga juga, agak terhibur, sengaja Kang Sang Fung menempatkan putranya yang pertama didalam pasukan ini dengan maksud mencari hubungan baik, siapa tahu kalau Kang Puh Cing bisa tertarik kepada Kho In In, maka hubungan kedua datuk itu bisa mempererat sebagai hubungan kekeluargaan. Disamping maksud itu, memberi sedikit hiburan kepada Kho See Ouw yang membiarkannya memimpin tokoh silat dari golongan Datuk Selatan.

Waktu yang ditetapkan oleh Kang Sang Fung adalah mereka berkumpul di Hong-gie-bun pada 3 hari perjalanan.

Kho See Ouw yang hendak mengadakan pembalasan cepat2 agaknya tidak sabaran, ia menitahkan semua anak buahnya melakukan perjalanan gerak cepat maka tiba lebih cepat beberapa jam dari waktu yang sudah ditentukan.

Mereka membawa rangsum kering, ditempat itu melakukan makan sore, tidak lama pun sudah tiba.

Masing2 mengeluarkan makanan kering untuk mengisi perut, sesudah itu mereka istirahat.

Tidak lama kemudian malampun tiba. Kho See Ouw keluar dari tempat persembunyiannya, mengumpulkan anak buah, kepada mereka ia memberi komando : “Siap berangkat !”

(Bersambung 27)