--> -->

Perintah Maut Jilid 25

 
Jilid 25

ORANG PERTAMA yang menemukan rombongan Kang Han Cing dkk adalah Lie Wie Neng dan Goan Tian Hoat, dapat dibayangkan, betapa girangnya mereka, karena bukan Kang Han Cing seorang saja yang ditemukan, Cu Liong Cu dan Cu Hoay Uh yang tidak ada berita itupun tidak mengalami sesuatu apa.

Lie Wie Neng dan Goan Tian Hoat memandang kearah Sun Hui Eng, mereka tidak kenal kepada Sam Kiongcu dari Ngo hong-bun itu.

Keadaan Kang Han Cing menjadi payah sekali, sebelah tangannya praktis sudah tidak bisa digunakan. Lebih dari pada itu, sedikit sentuhan ditempat lainpun bisa menyeret urat2 nadi yang menghubungkan ke tempat itu, rasa sakitnya tidak kepalang. Ini akibat pukulan Go Kiongcu Co Hui Hee.

Ya ! Pukulan istimewa dari Tong-hay yang disediakan untuk membela Kang Han Cing membawa akibat yang sangat bertentangan. Pukulan hadiah Tong Jie Peng ini pula yang menyiksa Kang Han Cing.

Pukulan istimewa daerah Tong-hay memang bukan pukulan biasa, siapa yang terkena pukulan itu, daging2nya akan berkerinyut sedikit demi sedikit, proses ini bisa berlangsung sehingga puluhan tahun, Nenek Goa Naga Siluman adalah suatu bukti. Nenek Goa Naga Siluman mengasingkan diri dari rimba persilatan, bersembunyi didalam Istana Naganya yang dirahasiakan, karena ia sedang berkutat dengan siksaan2 sakit Ngo-hang-ciat- mek-ciang.

Pukulan Ngo hang-ciat-mek ciang adalah nama pukulan Tong hay itu ! Nenek Goa Naga Siluman terkena pukulan tersebut dari kedua orang tua Tong Jie Peng.

Dan kini Kang Han Cing terkena pukulan itu dari tangan Co Hui Hee. Suatu hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Tong Jie Peng.

Mengingat keadaan Nenek Goa Naga Siluman yang tidak bisa memadai rasa sakit itu, bagaimana Kakek Beracun bisa menyembuhkannya?

Putusan mereka, segera mengajak Kang Han Cing ke Lembah Baru !

Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan perahu.

Per-tama2 tangan Kang Han Cing yang terkena pukulan membengkak, kemudian menyusut, semakin lama semakin kecil. Hal ini mengherankan semua orang.

“Pukulan apakah ini?” semua orang hanya bisa ber-tanya2.

Kakek Beracun Cu Hoay Uh memeriksa beberapa saat dan berkata : “Dia seperti terkena semacam pukulan yang bernama in-khiu-pit-hiat.”

“Pukulan jahat in-khiu-pit-hiat?” bertanya Lie Wie Neng. “Pukulan dari manakah itu?” “Pukulan in-khiu-pit-hiat adalah semacam pukulan beracun, bedanya, racun pukulan ini tidak seperti racun2 biasa. Menyerang secara per- lahan2, menyusutkan daging dan tulang2, sehingga saat ini belum ada cara menyembuhkannya.” Cu Hoay Uh memberi keterangan.

“Kalau tahu Co Hui Hee begitu jahat, kita racuni saja.” Berkata Cu Liong Cu dengan hati panas. Ia menoleh kearah Sun Hui Eng dan bertanya, “Eh, kalian sebagai satu pintu perguruan, tentunya tahu bagaimana cara untuk menyembuhkan orang yang terkena pukulan in-khiu-pit-hiat ?”

Sun Hui Eng berkerut alis dalam2. “Suhu tidak bisa ilmu in-khiu-pit-hiat.” Ia memberi keterangan. “Heran ! dari mana Co Hui Hee mendapatkan pelajaran itu ?”

Goan Tian Hoat memandang Cu Hoay Uh. “Cu cianpwe,” katanya. “Menurut cianpwe, tokoh dari aliran mana lagi yang masih memiliki ilmu kepandaian in-khiu-pit-hiat?”

Mereka salah sangka, ilmu Ngo-hang-ciat-mek- ciang dari Tong-hay dianggap ilmu in-khiu-pit-hiat.

Tentu saja Cu Hoay Uh tidak bisa memberi keterangan yang memuaskan, katanya : “Ilmu in- khiu-pit-hiat boleh dikata sudah lenyap dari rimba persilatan. Bukan saja karena kesesatannya, juga karena tidak mudah melatih ilmu tersebut. Maka dikalangan tokoh2 silat yang sekarang rata2 sudah tidak mengenal ilmu sesat itu.”

“Ya ! Dia sendiripun tidak mengenal ! Sun Hui Eng berkata : “Menurut Toa sucie, sebelah tangan suhu juga rusak terkena pukulan Sepasang Dewa dari daerah Tong-hay. Mungkinkah ilmu in-khiu-pit-hiat yang dimaksudkan?”

Tiga puluh tahun yang lalu, Nenek Goa Naga Siluman kalah dibawah tangan Sepasang Dewa dari Tong-hay hanya tidak ada yang tahu, kalau sebelah tangan si nenek sudah rusak karenanya. Dari keterangan Sun Hui Eng, mereka baru sadar mengapa Nenek Goa Naga Siluman tidak pernah menampilkan diri dimuka rimba persilatan, ternyata sudah rusak tangan.

“Kalau begitu, tidak ada orang yang bisa menolong luka saudara Kang?” bertanya Lie Wie Neng.

“Nasib seseorang berada di tangan Tuhan.” Berkata Kang Han Cing. “Walau luka ini tidak bisa disembuhkan, aku tidak akan banyak pikiran.”

Sedikit gerakan Kang Han Cing menggeser urat2 besarnya, terasa sakit yang tidak terhingga, ia meringis sakit.

“Jie kongcu luka dibawah tangan Go sumoay, tentunya ia bisa menyembuhkannya, mengapa kita tidak balik mencarinya saja?” Sun Hui Eng memberi usul.

“Didalam Lembah Baru sedang berkumpul jago2 pandai.” Berkata Cu Hoay Uh. “Masakan tidak satu diantara mereka yang mengetahui cara2 pengobatan in-khiu-pit-hiat?” Menoleh kearah Lie Wie Neng dan berkata : “Ciok-kiam sianseng berpengalaman luas, mungkin bisa menyembuhkan penyakit Jie kongcu. Sayang sekali gurumu itu belum tiba di Lembah Baru.”

Sepasang mata Lie Wie Neng bercahaya terang, katanya : “Kalau suhu betul2 bisa, syukur saja. Begitu mendengar berita tentang kita, pasti menuju ke Lembah Baru.”

Perjalanan dilanjutkan.

Hari berikutnya, disaat perahu menepi, beberapa orang berpakaian ringkas menyambut mereka, tersedia juga kuda2 pilihan yang dikosongkan, khususnya untuk rombongan yang hendak menuju kearah Lembah Baru itu.

Ternyata pihak Lembah Baru telah mendapat berita dari penemuannya Kang Han Cing dkk, mereka adalah orang2 bawahan.

Salah seorang yang menjadi pemimpin rombongan itu memberi hormat dan berkata : “Hamba sekalian ditugaskan untuk membawa kuda. Harap cuwie sekalian bisa menerima tunggangan2 ini agar lebih cepat tiba di Lembah Baru."

Cu Hoay Uh mewakili rombongannya menerima kuda2 itu, masing2 seekor, dari Lie Wie Neng, Goan Tian Hoat, dia sendiri, Cu Liong Cu, Sun Hui Eng dan Kang Han Cing. Dari sekian banyak orang2 itu, keadaan Kang Han Cing yang seperti tidak mengijinkan, memandang si pemuda, Kakek Beracun bertanya : “Apa Jie kongcu masih kuat naik kuda ?” “Hanya luka ditangan ini tidak ada artinya.” Berkata Kang Han Cing sok sombong. Dan ia menghampiri seekor dari 6 ekor kuda yang sudah tersedia.

Cu Hoay Uh sudah lompat kearah kuda yang pertama.

Sun Hui Eng mendekati Kang Han Cing, dengan penuh perhatian berkata perlahan : “Keadaan lukamu belum sembuh betul. Bagaimana bisa melakukan perjalanan dengan kuda ?”

“Kukira aku masih bisa bertahan." berkata Kang Han Cing.

Goan Tian Hoat menuntun seekor kuda yang tidak terlalu tinggi, mendekati Kang Han Cing seraya berkata : “Jie kongcu, biar kupayang kau naik."

“Akh, masakan naik kuda saja harus dipepayang ?" Kang Han Cing menolak. Sesudah itu ia mengangkat sebelah kaki, dan lompat naik keatas kuda tersebut.

Segala sesuatunya itu tidak bisa dipaksakan, keadaan Kang Han Cing yang mengalami totokan Ngo hang-ciat-mek-ciang membekukan semua jalan2 darahnya, sedikit gerakan saja sudah cukup membetot otot2 itu, apa lagi mau lompat keatas punggung kuda ? Mana bisa ! Sebelum ia bisa berpegangan kuat, rasa sakitnya yang menguasai separuh badannya bergetar, ia terjengkang jatuh.

Sun Hui Eng kaget, dengan mulut menjerit, ia memayang pemuda itu. “Jie kongcu,” Goan Tian Hoat juga segera membantu. “bagaimana ?”

“Uh…." Kang Han Cing hanya bisa mengeluarkan keluhan rasa sakit.

Sun Hui Eng menotok jalan darah tidur Kang Han Cing, dengan cara seperti ini, ia bisa meringankan penderitaan si pemuda, sebagai jawaban atas pertanyaan Goan Tian Hoat, ia berkata : “Lukanya tidak ringan. Sudah kutotok jalan darah tidurnya. Serahkan saja kepadaku. Dengan satu kuda tunggangan, aku bisa banyak memperhatikannya.”

Sesudah itu, dengan menggendong Kang Han Cing, Sun Hui Eng menggunakan satu kuda tunggangan.

Goan Tian Hoat juga mencongklang kuda yang sudah tersedia.

Dipihak lain Cu Liong Cu sudah memilih seekor kuda berbulu merah, mendekati mereka, ia bertanya penuh perhatian : “Bagaimana keadaan Jie kongcu ?”

“Sudah kutotok jalan darah tidurnya. Biar saja satu kuda denganku." Sun Hui Eng tidak main2 lagi, menggendong Kang Han Cing.

“Rejeki Kang Jie kongcu memang bagus. Selalu mendapat kawan wanita yang baik hati." Berkata Cu Liong Cu tertawa.

Sun Hui Eng meng-erlip2kan kedua matanya. “Adik Liong Cu,” ia berkata. “Jangan jauh2 dariku. Sebentar kalau aku kecapaian, kau harus menggantikan diriku, memondongnya.”

Cu Liong Cu menjadi jengah sendirinya. “Terimakasih,” katanya. “Bukan hak bagianku untuk menggendong.”

“Ya, kalau orang lain tentu saja bukan hak bagianmu,” berkata Sun Hui Eng. “Tapi ketahuilah, Kang Jie kongcu terkena Jarum Ular karena demi kepentinganmu, bukan? Bagaimana kau tega, membalas air susu dengan air tuba?”

Cu Liong Cu menundukkan kepala.

Demikianlah kedua gadis itu bergilir merawat dan menggendong Kang Han Cing menuju ke arah Lembah Baru.

***

Bab 84

MEREKA TIBA di Lembah Baru, suatu tempat yahg terasing, seperti makna arti dari kata2 ‘Baru’, tempat itu memang baru saja ditempati.

Lahirnya Lembah Baru adalah sejalan dengan munculnya partay Ngo-hong-bun.

Nenek Goa Naga Siluman terpukul oleh Sepasang Pendekar dari Tong hay, sebelah tangannya menyusut dan menderita penyakit tahunan, sengaja menyuruh Coa Khu Po menciptakan Ular Lindung, sedianya untuk menyembuhkan daging2 dan tulang yang susut itu. Maka kelima muridnya mendirikan partay Ngo- hong bun.

Kelahiran Ngo-hong-bun berarti bencana bagi rimba persilatan. Tokoh dari keempat Datuk Persilatan menjadi sasaran utama. Dengan demikian lahirlah Lembah Baru. Mau tahu pemimpin utama Lembah Baru?

Dan jawaban ini tidak terlalu lama lagi terpecah, sementara ada baiknya juga kita rahasiakan.

Rombongan Co Hoay Uh dkk tiba di Lembah Baru, mereka disambut oleh seorang gadis cantik. “Paman Cu…..” Panggil gadis lincah itu.

“Ha, ha….” Co Hoay Uh tertawa. “Mari kuperkenalkan."

“Inilah putra Datuk Utara Lie Wie Neng," Sambil menunjuk kearah putra Lie Kong Tie.

Dan menunjuk Kang Han Cing yang dipepayang oleh Cu Liong Cu dan Sun Hui Eng, ia berkata : “Inilah putra Datuk Selatan Kang Han Cing.”

Dan satu persatu diperkenalkan kepada gadis lincah itu.

Terakhir, baru ia mengenalkan utusan Lembah Baru kepada semua orang. Ternyata si gadis adalah cucu perempuan Nenek Wie Tay Kun, keturunan bengcu rimba persilatan lama, nama si gadis ialah Wie Ceng Ceng.

Sikap Wie Ceng Ceng sangat hormat kepada semua orang, hanya bersikap dingin kepada Sun Hui Eng seorang. “Oh…" Katanya. “Ternyata Sam Kiongcu dari Ngo-hong-bun.” Acuh tak acuh ! Suaranya mengejek dan mengandung cemoohan.

Sun Hui Eng juga bisa membedakan ketidak- samaan dari sikap yang diperlihatkan Wie Ceng Ceng kepada dirinya, wajahnya berubah.

Wie Ceng Ceng mengalihkan pandangannya ke arah si Kakek Beracun. “Paman Cu," katanya. “Beberapa hari ini kedatangan banyak tamu, kedatanganmu sedang di-tunggu2. Harap bisa turut serta didalam perundingan mereka itu. Dan yang lain2nya sudah tersedia petak2 dibagian timur.”

“Siapa2 saja yang datang ?” Bertanya Cu Hoay Uh.

“Datuk Timur Kho See Ouw ayah dan putra, Kang Toa kongcu dari Datuk Selatan, dari Benteng Penganungan Jaya adalah paman Yen Yu San dan putri Datuk Barat Cin Giok Tin, Datuk Utara Lie Kong Tie dan lain2nya sudah komplit hadir semua.”

“Aaaa.....” Cu Hoay Uh bersorak girang. “Sudah komplit ?"

“Toako berada disini ?” Kang Han Cing juga turut gembira.

“Kang Toa kongcu baru saja tiba dua hari." Wie Ceng Ceng tertawa manis.

“Nona Wie," berkata Lie Wie Neng. “Bagaimana keadaan penyakit ayahku ?" Ia belum tahu keadaan penyakit ayah itu. “Dibawah perawatan Tian-hung Totiang dkk, kesehatan paman Lie Kong Tie sudah pulih kembali," jawab Wie Ceng Ceng.

Masing2 menanyakan keadaan sanak famili mereka. Semua jago segera berkumpul di Lembah Baru.

Siapakah kokcu atau ketua lembah kekuatan baru itu ? Sebentar lagi akan kita ketahui.

Kita bayangi perjalanan Wie Ceng Ceng yang mengajak Cu Hoay Uh, Lie Wie Neng, Goan Tian Hoat dan Kang Han Cing. Melalui lorong2 panjang, mereka tiba disebuah ruangan besar.

Dari ruang itu keluar sepasang pemuda dan seorang pemudi, melihat kedatangan rombongan orang yang dibawa oleh Wie Ceng Ceng, mereka kemekmek sebentar, seorang pemuda diantaranya segera berteriak : “Jie-tee." langsung ia menubruk Kang Han Cing.

“Toako…..” Kang Han Cing juga berteriak girang.

Orang itu adalah putra pertama dari Datuk Selatan, engkoh Kang Han Cing yang bernama Kang Puh Cing. Sedari terculiknya Kang Puh Cing oleh rombongan Perintah Maut, inilah perjumpaan mereka engkoh dan adik yang pertama kali. Mereka saling ber-peluk2an.

Atas geseran jiwa itu, Kang Han Cing meringis lagi, menahan rasa sakit yang terkena pukulan Ngo hang ciat mek-ciang.

“Jie-tee, mengapa ?" Bertanya Kang Puh Cing. “Tidak apa2," lagi2 Kang Han Cing meringis sakit.

“Oh, lupa kuperkenalkan," Berkata Kang Puh Cing. “Inilah adikku."

Dan menunjuk kearah sepasang muda-mudi yang tadi bersama-sama dengannya, ia berkata : “Inilah Kho Siang Siang dan Kho In In, kedua putra-putri dari Datuk Timur Kho See ouw."

Mereka saling berjabatan tangan. Dan sesudah itu baru diperkenalkan dengan rombongan lain2nya.

Dikala memperkenalkan Sun Hui Eng, suara Kang Han Cing agak gugup : “Nona Sun Hui Eng...”

Kang Puh Cing memberi hormat kepada Sun Hui Eng.

“Sam Kiongcu dari Ngo-hong-bun !" Wie Ceng Ceng turut nimbrung.

Kang Puh Cing, Kho Siang Siang dan Kho In In kemekmek, tidak disangka kalau Kang Han Cing mengajak salah satu dari anggota musuh mereka.

Keadaan itu sangat canggung sekali. Akhirnya Goan Tian Hoat meminta bantuan Lie Wie Neng, dengan memberi satu lirikan mata, agar putra Datuk Utara itu bisa memberi sedikit keterangan.

Lie Wie Neng tampil kemuka dan berkata : “Didalam membebaskan diri dari partay Ngo hong- bun, nona Sun Hui Eng mempunyai andil jasa yang terbesar. Nona Sun rela meninggalkan kepentingannya, demi keselamatan kita semua." Kemudian diceritakan juga jalannya cerita. Kang Puh Cing mulai tertarik. “Istana Naga? Gunung Tulang Ikan ? Dimanakah letak tempat2 itu ? Begitu hebat ? Sampai Cu cianpwe juga bisa tertawan ditempat itu !”

“Istana Naga adalah tempat persembunyian baru dari Nenek Goa Naga Siluman." Lie Wie Neng memberi keterangan.

“Aaaa…….”

“Nenek Goa Naga Siluman ? Nenek Siluman yang pernah digembar-gemborkan orang dahulu itu

?”

“Ya ! Dan nona Sun ini adalah salah satu dari kelima muridnya."

“Oh……”

Dijelaskan juga, bagaimana kelima Kiongcu itu mendirikan sebuah partay yang diberi nama Ngo- hong-bun bagaimana menerima partay2 atau golongan2 sesat yang mau bernaung dibawah panji kebesarannya, salah satu dari golongan itu adalah golongan Perintah Maut. 

Jelaslah sudah, siapa yang menjadi biang keladi rimba persilatan. Rasa curiga kepada Sun Hui Eng bisa mereda, Kang Puh Cing memberi hormat dan berkata : “Atas bantuan nona yang sudah dicurahkan kepada saudaraku, dengan ini aku mengucapkan banyak terima kasih. Kalau ada sesuatu keperluan, keluarga Kang selalu siap membantu.”

Putri Datuk Timur Kho In In tertawa. “Semua orang yang berada ditempat ini adalah orang sendiri. Setiap orang wajib bantu membantu." katanya tertawa. “Lihat, ayah pun datang."

Dari arah yang ditunjuk, datang seorang tua berjenggot putih, itulah Datuk Timur Kho See Ouw yang ternama.

Mengiringi Datuk Timur adalah Yen Yu San dan Yen Siu Hiat. Dibelakang mereka turut serta juga putri Benteng Penganungan Jaya Cin Siok Tin.

“Ha, ha, ha……" Terdengar suara gelak tawa Yen Yu San yang menyerobot maju kedepan. “Jie kongcu berhasil membebaskan diri ? Ha, ha, ha….. Mereka semua mengkhawatirkan keselamatanmu. Kukatakan tidak perlu, dengan ilmu kepandaian yang kau miliki, siapakah yang bisa mengganggu? Ha, ha, ha… betul saja. Kau sudah bebas, bukan?”

Kang Han Cing menyengir, mana si Hakim Muka Merah tahu kalau jiwanya sudah berulang kali menempuh maut ?

Tidak lama, Lie Kong Tie juga muncul di ruangan itu. Hal ini sangat menggirangkan Lie Wie Neng.

Kalau Wie Ceng Ceng sangat ramah kepada semua orang, sikap yang diperlihatkan kepada Sun Hui Eng sangat menyolok sekali, se-olah2 memandang rendah gadis itu.

Cu Liong Cu mendampingi Sun Hui Eng dengan suara perlahan berkata : “Gadis ini menjabat Tongcu Lembah Baru, putri bengcu lama, turun menurun keluarganya menduduki pemimpin rimba persilatan, kalau saja ia berkepandaian tinggi, entah bagaimana lagi sombongnya ? Huh ! Sedari kecil ia dimanjakan oleh neneknya, maka suka memandang rendah orang. Jangan kau tersinggung."

“Kita sebagai tamu mana berani disamakan dengannya," berkata Sun Hui Eng.

Dari sekian banyak orang itu, keadaan Kang Han Cing yang paling menderita, sakitnya ditahan sedapat mungkin. Dan hal ini tidak lepas dari penilaian Kang Puh Cing.

“Jie-tee," katanya. “Apa yang kau rasakan sakit

?”

“Pundak Jie kongcu terkena pukulan.” Goan

Tian Hoat menalangi memberi jawaban.

“Biar kuantar istirahat." Berkata sang toako.

Ber-sama2 Goan Tian Hoat, Kang Han Cing diantar ke kamar yang sudah tersedia.

Itu waktu, Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu, Tan Siauw Tian, Kong Kun Bu dan lain2nya belum kembali dari pencarian Kang Han Cing, Cu Liong Cu dkk. Tapi mereka sudah diberi tahu tentang keselamatan orang yang dicari. Pada hari berikutnya satu persatu mulai kembali ke Lembah Baru. Keadaan semakin meriah.

Lie Wie Neng mendekati gurunya dan memberi tahu tentang luka Kang Han Cing yang agak aneh.

“Apa betul ia terkena pukulan in-khiu-pit-hiat?" Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu berkerut alis. “Cu cianpwe mengatakan terkena pukulan In- khiu pit-hui." Jawab Lie Wie Neng.

“Jago mana lagi yang bisa menggunakan pukulan In-khiu-pit-hiat ?” Kerut Sin Soan Cu semakin dalam, “Ilmu In-khiu-pit-hiat berupa ilmu sesat jaman silam. Tidak mudah dipelajari orang. Mungkinkah masih ada jago tersembunyi ?"

Yen Yu San memandang Tian hung Totiang dan Sin Soan Cu bergantian, dengan tertawa ia berkata

: “Kehadiran kalian berdua sungguh kebetulan, bukan ? Yang satu akhli obat2an, dan yang lain akhli ilmu totokan2, mengapa tidak mau bekerja sama menyembuhkan penyakit Kang Jie kongcu ?”

“Kau tahu apa ?” Berkata Sin Soan Cu.

“Yang kutahu, sesudah penyakit Kang Jie kongcu sembuh ! Beres ! Ha, ha…..” Hakim Muka Merah Yen Yu San tertawa berkakakan.

“Tidak mudah, kawan." Berkata Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu.

“Apa lagi yang tidak mudah ?”

“Luka In-khiu pit-hiat bukan termasuk luka ringan."

“Aku tahu. Tapi kalian berdua juga bukan jago2 kelas ringan, bukan ?”

“Huh ! Kalau betul Kang Jie kongcu terkena pukulan in khiu pit hiat, kalian juga tidak bisa berpeluk tangan," Berkata Sin Soan Cu sambil memandang Yen Yu San dan Kho See Ouw sekalian. “Eh…..??!!"

“Jangan takut. Kita selala siap sedia." Kho See Ouw memberikan janjinya.

“Untuk menyembuhkan penyakit In-khiu-pit- hiat, kita harus mencari 6 jago kuat yang mempunyai kekuatan hampir sama.” berkata Sin Soan Cu.

“Enam jago kuat, buat apa ?”

“Pukulan In-khiu pit-hiat digerakkan dengan 6 jari kuat, menutup dan merusaki tempat jalan darah. Maka kita membutuhkan 6 tokoh silat, masing2 mengarah satu tempat, secara serentak memecahkan tempat2 yang buntu itu." Sin Soan Cu memberi keterangan.

Tan Siauw Tian memandang kepada orang2 yang hadir ditempat itu, kecuali pengurus Lembah Baru Ouwyang Goan, disana masih ada Datuk Timur Kho See Ouw, pejabat Benteng Penganungan Jaya Yen Yu San, ketua kelenteng Pek-yun-koan Tian-hung Totiang dan Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu. Dengan dia pribadi, jumlah mereka hanya lima orang.

“Disini sudah ada 5 orang, masih kurang satu," ia kata.

“Bagaimana kalau meminta bantuannya si Manusia Beracun Cu Hoay Uh ?”

“Mungkin..."

“Tidak ada mungkin lagi, lekas panggil orang beracun itu." Putusan rapat selesai, 6 jago utama berusaha menyembuhkan penyakit Kang Han Cing yang dianggap terkena pukulan in-khiu-pit hiat. Bagaimana hasilnya ?

Tentu saja salah jalan. Bukan caranya menyembuhkan penyakit pukulan Ngo-hang ciat- mek-ciang dengan cara menyembuhkan pukulan in-khiu pit hiat.

Betapa kuat daya pendobrakan ke 6 jago itu, cukup menghancurkan sebuah gunung, secara bertahap diselipkannya ke urat-urat Kang Han Cing, dengan maksud menjebol bagian2 yang buntu.

Kekuatan Tian-hung Totiang masuk dari jalan darah Tay in-keng, Tan Siauw Tian masuk dari Ciat in-keng, Kho See Ouw masuk dari Tay yang keng, Cu Hoay Uh dari Yang beng-keng, Yen Yu San dari Yang yu keng, dan Sin Soan Cu dari Siauw yang- keng.

Enam jalur kekuatan itu per-lahan2 bertambah.

Kang Han Cing yang sudah mendapat pemberitahuan, mengikuti datangnya bantuan keenam jalur tenaga tadi, diteroboskannya kearah tangan kanan dengan maksud memecah otot2 yang tertutup atau tersumbat. Rambatee ratas hayoo...

Terdengar suara jeritan Kang Han Cing, si jago muda jatuh pingsan.

Perubahan itu mengejutkan semua orang, terutama Sun Hui Eng yang menantikan hasil baiknya, ia berteriak : “Jie kongcu...Jie kongcu….." Kang Puh Cing juga menjadi bingung. Memandang ke arah 6 jago kelas satu, mereka sudah mulai menarik tenaganya.

“Dia tidak tahan !" Berkata Yen Yu San menggelengkan kepala.

“Heran !” Berkata Sin Soan Cu. “Kemana larinya enam kekuatan kita itu ?"

Dengan wajah tegang, Tian-hung Totiang memeriksa urat nadi Kang Han Cing, berkerut alis sebentar dan berkata : “Jangan takut. Ia tidak mengalami suatu apa. Hanya pingsan karena tidak tahan menerima kekuatan yang besar. Bukan kekuatan kita berenam saja yang berada didalam tubuhnya. Masih ada satu kekuatan liar yang tidak terkendalikan turut merajalela, kekuatan inilah yang mengacau rencana."

“Kekuatan apakah itu ?”

“Ini yang membuat aku tidak mengerti." Berkata Sin Soan Cu.

Bukan Sin Soan Cu seorang yang tidak mengerti, semuapun tidak mengerti, mengapa kekuatan gabungan 6 tokoh kelas satu tidak bisa mengusir virus jahat yang mengganggu Kang Han Cing itu ? Itulah kekuatan hasil campuran obat Thian-kie-in-kang-tan dan Ular Lindung.

Sun Hui Eng menangis sesambatan. Kang Puh Cing bingung tidak keruan. Dan begitupun yang lain2nya. Beberapa saat kemudian, Kang Han Cing bisa sadarkan diri, menyaksikan keadaan penolongnya yang seperti itu, ia menyengir.

“Tidak perlu para cianpwe menyusahkan diri," katanya lemah. “paling2 hanya kehilangan sebelah tangan saja, bukan ?”

Dan ia siap membacok tangan yang menyusahkan banyak orang itu. Hal mana cepat2 dicegah oleh mereka.

Tiba2 Sun Hui Eng bangkit berdiri merapikan rambut dan berkata : “Jie kongcu, tunggu sebentar. Biar kutemukan Go sumoay.” Ia siap kembali ke gunung Tulang Ikan.

Cu Liong Cu terkejut, cepat2 meng-halang2inya. “Tidak mungkin,” ia berkata. “Itulah satu perbuatan yang mengandung resiko.”

Sun Hui Eng sudah melarikan diri dari Ngo hong bun, kembali berarti mencari kematiannya.

“Walau apapun yang terjadi, akan kuseret Co Hui Hee ke tempat ini.” Berkata Sun Hui Eng.

Tian-hung Totiang turun tangan, katanya : “Nona Sun, harap kau bersabar. Walau kita belum berhasil menemukan cara2 untuk menyembuhkan Kang Jie kongcu, tapi jiwanya belum terancam bahaya. Lain lagi kepergianmu ke tempat itu. Bagaimana pula kalau terjadi sesuatu?"

Atas bujukan2 yang lain2nya, Sun Hui Eng bisa diberi mengerti.

“Begini saja," berkata Cu Liong Cu. “Kita tunggu hasil mereka. Kalau 3 hari masih tidak ada perubahan, biar kukawani kau memasuki Istana Naga."

Demikian hari itu dilewatkan.

Hari berikutnya, ketua Lembah Baru mengadakan perjamuan makan, turut hadir 4 datuk persilatan dan semua tokoh yang ada di tempat itu.

Semua belum pernah bertemu muka dengan ketua Lembah Baru, tokoh misterius yang bisa menghubungi tokoh2 tidak terkendalikan seperti Cu Hoay Uh, Sin Soan Cu, Ciok-kiam Sianseng dan lain2nya.

Dan kini mereka berhadapan muka dengan kokcu itu, ia mengenakan tutup kerudung muka, berarti masih gelap pula asal usulnya.

Meja perjamuan dipecah menjadi 6 rombongan. Pada meja kesatu tampak Datuk Timur Kho See Ouw beserta kedua putra-putrinya. Meja berikutnya adalah Kang Puh Cing dan Kang Han Cing. Mereka sebagai wakil2 dari Datuk Selatan. Di meja ini turut memeriahkan juga Goan Tian Hoat dan Sun Hui Eng.

Meja ketiga adalah Yen Yu San, Yen Siu Hiat dan Cin Siok Tin, mereka sebagai wakil2 Datuk Barat.

Meja keempat adalah Lie Kong Tie, Lie Wie Neng, sepasang jago dari gunung Yen-san Yo Su Kiat dan Khong Bun Hui. Mereka dari pihak Datuk Utara.

Meja kelima adalah penasehat2 Lembah Baru yang terdiri dari Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu, ketua kelenteng Pek yun koan Tian-hung Totiang dan Kakek Beracun ayah dan anak Cu Hoay Uh-Cu Liong Cu.

Kecuali mereka, terdapat juga jago2 Lembah Baru lainnya, seperti Tan Siauw Tian, Kong Kun Bu, Wie Ceng Ceng, Ouwyang Goan dan beberapa orang lagi.

Sesudah semua orang duduk komplit, ketua Lembah Baru memberi hormat dan mengucapkan 'Selamat datang di Lembah Baru', ia membawakan sikap dan kemisteriusannya. Di sebelah ketua Lembah Baru duduk seorang tosu tua, tidak seorangpun yang kenal kepada tosu tua ini.

Sesudah mengucapkan beberapa kata sambutan, ketua Lembah Baru memperkenalkan tosu tua yang duduk disebelahnya itu.

“Mari kuperkenalkan tokoh satu2nya yang pernah berhubungan dengan Nenek Goa Naga Siluman, inilah ex ketua partay Hoa-san-pay See- lie-cu.”

“Aaaa…….” Semua orang memberi hormat kepada tosu tua itu.

Ketua Lembah Baru meneruskan kata-katanya : “Hubungan kami dengan See Lie cu totiang sudah berlangsung tahunan, sifatnya tidak mau tahu urusan orang. Hari ini kita berhasil menahannya karena ia mendengar diantara kita turut hadir salah satu murid Nenek Goa Naga Siluman, ia hendak berkenalan dengan nona Sun Hui Eng." Sun hui Eng bangkit dari tempat duduknya, memberi hormat kepada See-lie-cu.

“Sebelumnya," berkata lagi ketua Lembah Baru. “Biar kujelaskan maksud dari pertemuan ini. Seperti apa yang cuwie sekalian sudah maklum, Lembah Baru bukan berupa partay atau golongan yang berambisi kekuasaan, Lembah Baru lahir karena adanya pertentangan dengan partay Ngo hong bun. Lembah Baru untuk menolong rimba persilatan dari gangguan2 Ngo-hong-bun. Cerita dimulai dari belasan tahun yang lalu, secara tidak disengaja, Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng menemukan murid tertua dari Nenek Goa Naga Siluman mengadakan gerakan2, menarik kekuatan dari golongan hitam, suatu bukti kalau Nenek Goa Naga Siluman bisa bangkit kembali. Untuk menghadapi Ngo-hong-bun secara perorangan tentu tidak mungkin, bukan? Maka lahirlah Lembah Baru.”

Ia menelan ludah sebentar dan meneruskan ceritanya : “Tiga puluh tahun yang lalu, rimba persilatan pernah mengalami masa kegelapan. Nenek Goa Naga Siluman merajalela dan mengganas, masa2 gelap itu berakhir sesudah munculnya Sepasang Dewa dari daerah Tong-hay yang mengalahkannya."

“Tapi….." Meneruskan lagi cerita ketua Lembah Baru. “Apa yang pernah terjadi sebelum itu ? Mari kita saksikan sebuah gambar.”

Dari salah satu orang bawahannya, ketua Lembah Baru membentangkan sebuah gulungan kertas, itulah gambar punggung dari seorang pendekar.

Semua orang sedang menimbang2, apa maksud tujuan ketua Lembah Baru yang membentangkan gambar tersebut?

Diantaranya, Sun Hui Eng lebih mengerti, mendekati Kang Han Cing dan bertanya: “Jie kongcu, kau sudah mengerti?”

“Mengerti apa?” Kang Han Cing heran.

“Gambar itu adalah tanda2 luka dari seseorang.” “Luka2 seseorang?”

“Sudah lupa kepada pelajaran Tiga Pukulan Burung Maut?” bertanya Sun Hui Eng. “Orang di dalam gambar adalah terkena luka2 ilmu pedang Hui-hong-kiam hoat, inti dari Tiga Pukulan Burung Maut.”

“Aaaa…….” Kang Han Cing mulai sadar. “Orang itu terkena goresan2 luka pedang dari gurumu?”

Sun Hui Eng menganggukkan kepala.

Terdengar lagi suara kokcu Lembah Baru : “Cuwie sekalian sudah melihat jelas, gambar ini adalah gambar seseorang yang terkena luka pedang Hui-hong kiam hoat di 18 tempat. Hanya seorang ini yang lolos dari kematian karena serangan Nenek Goa Naga Siluman, walau ia menderita luka2 yang begitu banyak. Betul, ia meninggal juga, tapi berhasil meninggalkan gambar ini kepada anak cucunya, gambar bersejarah penting untuk dipelajari agar sang anak cucu bisa lebih berhati2 untuk menghadapi Nenek Goa Naga Siluman.”

Terbayang kembali keganasan2 Nenek Goa Naga Siluman sebelum tokoh itu dikalahkan oleh Sepasang Dewa dari daerah Tong-hay.

Betul saja, ketua Lembah Baru masih meneruskan cerita : “Ketua Tian khong-pay Kat Tay Hian, ketua Siauw lim pay Hian-hoat Taysu, ketua Ngo-bie-pay Hoan-hoan Siansu dan lain-lainnya tidak luput dari kematian. ”

Cerita ketua Lembah Baru adalah cerita lama yang sudah diketahui umum, hampir sebagian besar dari orang2 yang berada di tempat itu pernah mendengar cerita tadi. Itulah keganasan2 Nenek Goa Naga Siluman.

Ketua Lembah Baru meneruskan cerita : “Tahun ketiga dari terjadinya drama2 diatas, muncul seorang kakek tanpa nama, langsung mencari Nenek Goa Naga Siluman, tidak terlalu sulit untuk ditemukan, terjadi pertempuran, yang dinamakan pertempuran hanya dua kali gebrakan, didalam dua jurus serangan, kakek tanpa nama itu menderita luka di 18 tempat. Nah ! Inilah gambar luka dari si kakek tanpa nama."

Pusat mata tertuju kepada gambar yang terpancang, ternyata gambar luka di 18 tempat dari kakek tanpa nama yang diceritakan.

“Siapakah kakek tanpa nama itu ?" Bertanya Datuk Timur Kho See Ouw. “Itulah ayahku yang rendah,” Berkata ketua Lembah Baru.

“Aaa……" Ternyata si kakek tanpa nama yang berhasil memberi gambaran2 ilmu pedang Nenek Goa Naga Siluman adalah ayah dari ketua Lembah Baru.

Yen Yu San berkata : “Belum pernah ada orang yang bisa menghindarkan diri dari permainan ilmu pedang Hui-hong kiam hoat si Nenek Goa Naga Siluman." berkata Yen Yu San. “Termasuk ketua2 partay dari aliran ternama. Kalau ayah kokcu bisa menerima 2 jurus serangannya, dan kembali sehingga bisa membuat gambar luka2nya, inilah suatu bukti, kalau ilmu kepandaian ayah kokcu sudah berada diatas kepandaian orang.”

“Menurut cerita ayah,” berkata ketua Lembah Baru. “Beliau hanya bisa menerima satu jurus saja. Jurus berikutnya berarti pengorbanan, disengajakan untuk menjelajahi ilmu pedang Hui- hong-kiam-hoat.”

“Dengan maksud memberi petunjuk kepada keturunan dan generasi selanjutnya untuk berdaya upaya, mencari jalan memecahkan ilmu pedang Hui-hong-kiam-hoat yang ganas,” sambung Yen Yu San.

“Itulah tujuan utamanya. Kalau dibiarkan Nenek Goa Naga Siluman mengganas terus menerus, tanpa ada yang mengenal permainan ilmu pedang Hui-hong-kiam-hoat, apakah jadinya rimba persilatan kita ?” Lie Kong Tie memberi pujian : “Pengorbanan ayah kokcu adalah pengorbanan yang berbudi luhur.”

Ketua Lembah Baru berkata : “Dan ditahun itu juga Nenek Goa Naga Siluman dikalahkan oleh Sepasang Dewa dari Tong-hay. Tahun berikutnya, ayah kami meninggal dunia, dan sebelum itu beliau berpesan : Walau Nenek Goa Naga Siluman tidak ada berita, bahaya Hui-hong-kiam-hoat merupakan bahaya latent yang tidak bisa dimusnahkan, harus tetap waspada. Kita diwajibkan mencari penyelesaian untuk mengalahkannya. Dan dugaan itu tepat, 20 tahun kemudian, ilmu pedang Hui hong-kiam-hoat muncul diantara anggota2 Ngo hong bun….."

“Tentunya kokcu sudah bisa menemukan cara untuk memecahkan ilmu pedang Hui-hong-kiam- hoat itu, bukan ?” Bertanya Kho See Ouw.

“Sangat malu diceritakan," berkata kokcu Lembah Baru. “Untuk menghadapi ilmu pedang hui-hong-kiam-hoat yang lemas, mungkin bisa bertahan sampai beberapa jurus. Tapi. Untuk

mengalahkannya kukira...kukira masih jauh. Apa lagi kalau mengingat Nenek Goa Naga Siluman tidak tinggal diam, dimisalkan dia juga mendapat kemajuan baru, bukankah sulit ditandingi ? Kebetulan nona Sun Hui Eng bersedia memihak kepada kita, bisakah nona memberi sedikit gambaran ?”

Kata2 yang terakhir ditujukan kepada Sun Hui Eng. “Suhu telah menciptakan semacam ilmu baru yang diberi nama Tiga pukulan Burung Maut, yang terdiri dari inti2 ilmu pedang Hui-hong-kiam-hoat,” berkata Sun Hui Eng.

Kokcu lembah Baru menoleh kearah Ketua partay Hoa-san-pay See-lie-cu. “Bagaimana ?” Ia tertawa, “Ha, ha, ha….dugaanku tidak salah, bukan ?”

Suara tertawa kokcu Lembah Baru berkumandang diseluruh ruangan, dan suara ini menggetarkan jiwa Kang Han Cing dan Kang Puh Cing, inilah suara tertawa yang tidak asing bagi telinga mereka.

Demikian Sun Hui Eng mendemonstrasikan ilmu pedang Hui-hong-kiam-hoat, juga memperlihatkan ilmu Tiga Pukulan Burung Maut.

Semua orang yang menonton memberi pujian kepada dua macam ilmu hebat itu. Sun Hui Eng kembali ke tempat duduknya. Masih berdengung dan memperbincangkan ilmu pedang Hui hong kiam hoat dan ilmu Tiga Pukulan Burung Maut.

Hanya seorang yang tidak puas, itulah Wie Ceng Ceng yang menaruh sentimen besar kepada Sun Hui Eng, hal ini bisa dimaklumi, mengingat Kang Han Cing lepas dari bagiannya. Dari penuturan sang nenek, jodohnya hendak dirangkapkan sedari kecil, tapi yang mendampingi Kang Han Cing sekarang adalah gadis lain, bagaimana Wie Ceng Ceng tidak menaruh cemburu ?

Dikala semua orang memuji ilmu pedang dan ilmu pukulan Sun Hui Eng, di kala semua orang berkecap-kecup atas pemberontakan yang sudah dilakukan Sun Hui Eng kepada partay dan pintu perguruannya, secara diam2, Wie Ceng Ceng meninggalkan ruangan.

Pesta masih dilanjutkan.

Bekas ketua Hoa san-pay lama See lie-cu meminta beberapa petunjuk dari keistimewaan ilmu pedang Hui-hong-kiam-hoat dan ilmu Tiga Pukulan Burung Maut.

Dengan tidak bosan2nya Sun Hui Eng menjelaskan apa yang diminta.

Dikala pesta masih berlangsung, tiba2 Wie Ceng Ceng masuk kembali, langsung mendatangi kokcu Lembah Baru, memberi hormat dan berkata : “Lapor kepada kokcu. Lembah Baru kedatangan dua mata2 musuh, sesudah berhasil banyak melukai orang kita. Mereka berhasil ditangkap. Atas keterangan yang mereka berikan, kedatangan mereka dengan maksud untuk menemukan Sam kiongcu."

Sengaja atau tidak sengaja Wie Ceng Ceng melirik ke arah Sun Hui Eng.

Wajah Sun Hui Eng berubah. “Mencari aku ?" ia tidak mengerti. “Wie Tongcu, bagaimanakah kedua orang itu ? Laki atau wanita?”

“Nona Sun jangan gugup," berkata ketua Lembah Baru. “Duduk saja tenang2.”

Dihadapi Wie Ceng Ceng dan berkata : “tolong kau bawa mereka masuk." Dengan bangga Wie Ceng Ceng membalikkan badan, didepan pintu ruangan ia berteriak keras : “Giring masuk kedua mata2 itu !"

Seiring dengan kata2nya, empat anak buah Wie Ceng Ceng yang mengenakan pakaian seragam hijau menggiring masuk 2 pengemis kotor yang penuh luka, beberapa pengiring Wie Ceng Ceng itu terdiri dari kaum wanita, mereka dari gedung keluarga Wie, beberapa diantaranya terluka, hal ini yang menambah dendam dan kemarahan Wie Ceng Ceng.

Kedua mata2 yang tertangkap oleh Wie Ceng Ceng itu segera menemukan adanya Sun Hui Eng diantara rombongan orang2 yang hadir ditempat itu, mereka berteriak keras : “Sam Kiongcu, hamba A Wan dan Bu Lan.”

Ternyata kedua pengemis yang tertawan itu adalah samarannya A Wan dan Bu Lan, kedua dayang terpercaya Sun Hui Eng di dalam jabatan Sam Kiongcu Ngo-hong-bun.

“Heeei, bagaimana kalian bisa mencari ke tempat ini ?" Sun Hui Eng juga merasa heran.

“Jie Kiongcu memenjarakan kami dan kami melarikan diri dari tahanan." A Wan memberi keterangan.

Sun Hui Eng menganggukkan kepala, memandang Wie Ceng Ceng dan berkata : “Wie Tongcu, mereka betul2 adalah kedua dayangku. Bisakah tolong membebaskan ikatannya ?" “Membebaskan ikatan mata2 dari Ngo-hong-bun

?” Wie Ceng Ceng berdengus. “Begitu mudah ?”

“Mereka adalah orang2ku," Sun Hui Eng masih merendah diri.

“Apa Sam Kiongcu berani menjamin, kalau mereka tidak memata2i Lembah Baru ?” Wie Ceng Ceng masih tidak mau membebaskan ikatan A Wan dan Bu Lan.

“Aku sudah bukan Sam Kiongcu lagi." berkata Sun Hui Eng. “Tentang kejujuran mereka, tentu menjadi tanggung jawabku.”

“Tanggung jawab yang bagaimana ?” Wie Ceng Ceng masih ngotot. Maksudnya jelas dan gamblang. Ia menyangsikan keputihan hatinya Sun Hui Eng, tidak percaya kepada tanggungan jawabnya.

Semutpun bisa berteriak, kalau diinjak terus menerus, penghinaan Wie Ceng Ceng yang terlalu menyolok mata mengakibatkan kemarahan Sun Hui Eng, alisnya melentik naik, dengan tidak puas berkata :

“Wie Tongcu, jangan anggap aku takut kepadamu. Merendah berarti memberi penghormatan. Tapi junjung tinggilah sesama maksud baik, jangan terlalu menghina orang. "

“Kalau aku mau menghina, bagaimana ?” Wie Ceng Ceng juga tidak kalah galak. Kedua gadis itu siap adu urat !

Kokcu Lembah Baru tidak menghendaki terjadi percekcokan seperti itu, segera ia melerai mereka, katanya : “Ceng Ceng, jangan kau membawakan adat lamamu. Biar bagaimana nona Sun adalah tamu kita, hormatilah setiap tamu yang datang di Lembah Baru."

Kemudian, tanpa menunggu reaksinya, menggunakan kekuasaannya sebagai ketua setempat, ia membentak ke empat dayang Wie Ceng Ceng : “Bebaskan ikatan !”

Orang2 itu segera membebaskan ikatan yang mengekang kebebasan A Wan dan Bu Lan.

Kemarahan Sun Hui Eng masih belum mereda, menggunakan kesempatan itu, segera ia mengutarakannya :

“Kokcu, pernahkah aku melakukan kesalahan. Begitu tiba ditempat ini, Wie Tongcu seperti tidak puas, seperti menaruh dendam yang sangat besar. Untuk meredakan ketegangan ini, biar sampai disini saja pertemuan kita. Aku meminta diri.”

Cepat2 kokcu Lembah Baru menggoyangkan tangan, katanya : “Nona Sun salah paham. Adat Wie Tongcu memang demikian. Bukannya ia menaruh dendam. Memang sifat2 orang itu tidak sama. Pandanglah muka terangku, dan sudahilah persoalan ini."

Dihadapinya Wie Ceng Ceng dan berkata : “Ceng Ceng, nona Sun berbudi luhur. Secara rela sudah memihak kepada kita, inilah suatu kebanggaan. Tidak dibenarkan untuk menaruh dendam. Mari….Mari….. kudamaikan kalian berdua." “Oh ! Dia berbudi luhur ?” Berkata Wie Ceng Ceng dingin. “Kalau begitu tentunya aku yang bersalah ?"

Ia membalikkan badan, memandang dayang- dayangnya dan berkata : “Berangkat pulang !"

Dan rombongan dari keluarga Wie itu meninggalkan ruangan.

Kokcu Lembah Baru meng-geleng2kan kepala, dihadapi lagi Sun Hui Eng dan berkata : “Sedari kecil, dia sudah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Terlalu dimanjakan oleh Nenek Wie Tay Kun. Sifatnya menjadi seperti ini. Jangan kau menaruh didalam hati."

Disaat ini terdengar lagi suara gaduh2, kokcu Lembah Baru bengong sejenak. “Mata-mata dari mana lagi yang berani mendatangi Lembah Baru ?" Ia bergumam.

Siuuuttttt…….

Entah bagaimana, disana bertambah seorang tua beralis putih. “Ha, ha. ” Ia tertawa. “Aku juga

dianggap sebagai mata2 ?"

Kedatangan orang tua bermuka putih ini sangat menggirangkan Yen Yu San dan Cin Siok Tin, yang satu berteriak 'Cin pocu’ dan lainnya berteriak 'ayah’ !

Orang yang datang adalah Datuk Barat Cin Jin Cin, ketua Benteng Penganungan Jaya yang ternama. Sesudah lama ia menghilang, menyembunyikan diri secara misterius, mendadak sontak bisa muncul di tempat itu.

“Ha, ha, ha……" Kokcu Lembah Baru juga tertawa.

Suara tertawa ketua Lembah Baru ini lagi yang menggerakkan hati Kang Han Cing dan Kang Puh Cing, mereka teringat kepada suara seseorang yang sudah tiada.

Datuk Barat Cin Jin Cin memandang kokcu Lembah Baru yang mengenakan tutup kerudung muka itu, beberapa lama kemudian ia membentak

: “siapa kau ?"

Disaat ini, muncul lagi satu bayangan, inilah Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam sianseng !

“Saudara Cin.” teriak Ciok-kiam Sianseng. “Sungguh keliwatan kau ! Membuat aku capai percuma.”

Cin Jin Cin memandang Ciok kiam Sianseng dan mengajukan pertanyaan : “inikah ketua Lembah Baru ?” Ia menunding kearah si orang berkerudung yang mengepalai rombongan orang2 ditempat itu.

Ciok kiam Sianseng menganggukkan kepala. “Mari kuperkenalkan,” ia berkata. “Inilah kokcu Lembah Baru, Datuk Selatan Kang Sang Fung !”

“Aaaa…

“Oh…

“Eeeee… " Semua orang terbelalak atas ucapan Ciok kiam Sianseng itu. Ketua Lembah Baru adalah Datuk Selatan Kang Sang Fung yang diceritakan sudah meninggal dunia ? Bukan diceritakan saja bagi Kang Han Cing yang sudah melihat bagaimana mayat sang ayah dipantek didalam peti mati, tentu saja merasa bingung, bagaimana ayah itu bisa bangkit dan hidup kembali ?

Kang Han Cing dan Kang Puh Cing saling pandang ! Betulkah keterangan Ciok kiam sianseng itu ?

“Suhu !” Teriak Kang Han Cing. “Apa betul dia ayahku ?”

Ciok-kiam Sianseng menoleh, memandang ketua Lembah Baru dan bertanya : “Eh, apa belum kau beritahu ?”

“Ha, ha, ha……." Ketua Lembah Baru membuka tutup kerudungnya. Disana terpeta wajah orang tua tidak berjenggot, inilah Datuk Selatan Kang Sang Fung !

“Ayah !!!” Secara berbareng Kang Han Cing dan Kang Puh Cing berteriak.

Betul2 Kang Sang Fung yang sudah dimasukkan kedalam peti mati bangkit kembali ! Dan kini dia menjabat sebagai kokcu Lembah Baru.

Perubahan itu membingungkan semua orang yang hadir. Kecuali tokoh2 yang terdekat seperti Sin Soan Cu, Tian hung Totiang dan beberapa orang lagi. ***

Bab 85

GETARAN JIWA Kang Han Cing menyeret otot2nya yang masih membeku, ia berteriak, menjerit dan jatuh.

Cepat2 Sun Hui Eng memayang bangun pemuda itu.

“Hei,” Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng juga terkejut. “Kau menderita luka ?” Ia menghampiri muridnya.

“Dia terkena pukulan In khiu pit-hiat." Cu Hoay Uh memberi keterangan.

Didalam hal ini, bukan pengalaman Cu Hoay Uh yang serampangan menduga penyakit orang, tapi memang sewajarnya, ciri2 penyakit orang yang terkena pukulan In-khiu pit hiat itu memang tidak jauh berbeda dengan orang yang terkena pukulan Ngo-hang ciat mek-ciang.

Seperti apa yang pembaca maklumi, asal usul Tong Jie Peng adalah keturunan Liu Ang Ciauw, didalam cerita ANAK PENDEKAR sedikit banyak sudah kita ungkapkan. Pelajaran Ngo-hang-ciat- mek ciang memang satu aliran dengan pukulan In khiu-pit-hiat. Maka Kakek Beracun mengatakan kalau Kang Han Cing terkena pukulan In-khiu-pit hiat. “Pukulan In-khiu pit-hiat ?” Bergumam Ciok kiam Sianseng. “Apa Tian hung Totiang belum diberitahu ?”

Begitu percayanya kepada ilmu ketabiban Tian hung Totiang, anggapnya penyakit Kang Han Cing belum bisa disembuhkan, karena Tian-hung Totiang belum tahu.

“Sungguh malu diceritakan,” Tian hung Totiang turut bicara, “Penyakit muridmu adalah penyakit luar biasa yang baru kutemukan."

“Ouw…

“Spirma2nya seperti spirma pukulan In-khiu pit hiat. Tapi agak mengalami perubahan. Disamping itu, masih ada kekuatan tenaga liar yang sukar dikendalikan turut bicara, ini yang lebih menyulitkan kita.”

“Ohhh......” Ciok-kiam Sianseng mendekati sang murid, tentu saja ia tidak bisa menemukan sesuatu yang baru. Kalau tokoh2 yang seperti Sin Soan Cu dan Tian hung Totiang tidak berdaya, mana mungkin Ciok-kiam Sianseng lebih hebat darinya ?

Ketua Lembah Baru Kang Sang Fung menyuruh orang menambah meja baru, menyediakan Cin Jin Cin dan Ciok-kiam Sianseng.

Disaat perjamuan masih berlangsung, masuk seorang pelapor. “Laporan." katanya lantang. “Wie Tongcu mengajak 4 pengikutnya keluar lembah." Pengurus lembah Auw-yang Goan terbelalak, ia bertanya : “Apa sebelumnya Wie Tongcu tidak memberitahu maksud kepergiannya ?”

“Dari cetusan Wie Tongcu, agaknya mereka hendak pulang ke gedung keluarga Wie dikota Heng-ciu."

“Akh, Wie Tongcu terlalu susah dikendalikan." Berkata Auwyang Goan. "Kurang memahami disiplin organisasi."

“Biar saja,” berkata Kang Sang Fung. “Aku percaya Nenek Wie Tay Kun akan menyuruhnya kembali lagi."

“Ya,” berkata Auwyang Goan.

Dan penjaga lembah itu sudah mengundurkan diri.

Hampir semua jago rimba persilatan berkumpul diruangan persahabatan Lembah Baru. Dari Datuk Selatan Kang Sang Fung, Datuk Utara Lie Kong tie, Datuk Barat Cin Jin Cin dan Datuk Timur Kho See Ouw beserta putra-putri mereka, tokoh2 ternama seperti Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu, Pendekar Bambu Kuning Ciok kiam Sianseng, ketua kelenteng Pek-yun-koan tian-hung Totiang, Hakim Bermuka Merah Yen Yu San, Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian dan lain2nya, tidak satupun yang tidak hadir, itulah pertemuan terbesar di dalam sejarah rimba persilatan.

Ya ! Perselisihan diantara Datuk2 persilatan itu belum pernah mereda. Tapi sesudah terjadinya perserikatan 4 Datuk diteken, gap dan perbedaan idiologi mereka itu bisa dikesampingkan. Mereka sedang menghadapi musuh utama, Nenek Gua Naga Siluman beserta partay murid2nya yang bernama partay Ngo hong bun.

Mungkin, ada juga beberapa tokoh yang tidak puas atas kursi kedudukan ketua Lembah Baru yang dipegang oleh Datuk Selatan, mengingat perlunya kekompakan, mereka tidak segera mengetengahkan ketidak-puasan itu.

Kang Sang Fung memiliki peta gambar cara2 permainan ilmu pedang Ngo-hong kiam-hoat, Sun Hui Eng begitu rapet dengan Kang Han Cing, otomatis ilmu Tiga Pukulan Burung Maut tidak sulit dihadapi lagi. Hal ini yang memperkokoh kedudukan Datuk Selatan.

Disaat itu tiba2 terdengar suara kentongan dipukul, itulah tanda bahaya Lembah Baru !

Wajah Auw-yang Goan berubah. “Lembah Baru kedatangan musuh !" Katanya sambil meninggalkan orang2 itu demi tugasnya sebagai pengurus lembah.

Tidak lama, terdengar suara pertempuran, sebentar kemudian suara itu terhenti sebentar, berkumandanglah satu suara nyaring : “Siapa menjadi ketua Lembah Baru? Lekas tampilkan diri

! Sambut kedatangan jago2 Ngo hong bun !” Suara itu berdengung dan memasuki telinga semua orang.

Wajah Sun Hui Eng berubah. “Itulah Toa sucie," katanya. “Namanya Pan Hui Hong." Kang Sang Fung mengenakan kembali tutup kerudung mukanya, di dalam hal ini ia masih wajib mempertahankan kemisteriusannya ketua Lembah Baru, agar bisa memperlambat turun tangannya Nenek Goa Naga Siluman yang masih tetap berupa momok terbesar.

Turut dibelakang ketua Lembah Baru adalah Datuk Utara Lie Kong Tie, Datuk Barat Cin Jin Cin, Datuk Timur Kho See Ouw, Ciok-kiam Sianseng, Sin Soan Cu, ex ketua partay Hoa-san pay Sie lie cu dan lain2nya.

Di depan Lembah Baru sudah berkumpul banyak orang, membuat satu garis pertahanan, para anggota Lembah Baru sedang menghadang pihak musuh, orang2 ini berada di bawah pimpinan Auwyang Goan.

Melihat sang ketua sudah menampilkan diri, Auw-yang Goan memberi jalan.

Maka jelaslah sudah, siapa2 yang menyatroni Lembah Baru. Di barisan terdepan adalah 4 manusia bertopeng, mereka adalah keempat kiongcu Ngo hong bun. Dari Topeng Emas Toa Kiongcu, Topeng Perak Jie Kiongcu, Topeng Aluminium Su Kiongcu dan Topeng Besi Go Kiongcu.

Hanya Topeng Perunggu Sam Kiongcu Sun Hui Eng yang sudah melepaskan diri dari barisan itu.

Mengapit 4 Kiongcu Ngo-hong bun adalah Nenek Ular Coa Khu Po, ketua kelenteng Sin-kho-sie Hui- keng, huhuat kelas satu Hian-keng dan seorang berjubah putih bertongkat yang bernama Bak Cang Ong. Harus diketahui nama Bak Cang Ong ini sejajar dengan nama Kakek Beracun Cu Hoay Uh, juga seorang akhli racun2an, mereka adalah jago2 inti dari Ngo hong-bun.

Jago inti Ngo-hong bun bertemu dengan jago komplit dari Lembah Baru. Inilah pertemuan yang bersejarah besar.

Ketua Lembah Baru diapit oleh Datuk2 rimba persilatan lainnya menghadapi kedatangan orang2 itu.

Memandang jago berkerudung kita, Toa Kiongcu Pan Hui Hong memberi hormat, katanya : “Kukira aku sedang berhadapan dengan pemimpin Lembah Baru. Apa kau yang menjadi ketua perkumpulan ini ?”

“Tidak salah," berkata Kang Sang Fung. “Apa maksud kedatangan Toa Kiongcu di tempat ini?”

“Sebelumnya aku hendak bertanya, apa kokcu pernah melihat Kang Jie kongcu dari Kim leng?”

“Oh ! Kang Jie kongcu ?” Berkata Kang Sang Fung dengan satu senyuman. “Dia sebagai tamu Lembah Baru, mengapa ?"

Luar biasa ! Anaknya sendiri dikatakan sebagai tamu ! Mentang2 orang tidak tahu !

“Dan ada seorang yang menyertai Kang Jie kongcu,” berkata Pian Hui Hong. “Namanya Sun Hui Eng, ada turut serta juga ?"

“Oh ! Maksud kedatangan Toa Kiongcu hanya untuk menanyakan kedua orang ini ?" “Kuharap kokcu bisa menyerahkan kedua orang itu. Maka urusanpun beres,” berkata Toa Kiongcu.

“Alasannya ?”

“Kokcu memang tidak tahu, atau sengaja berpura2 tidak tahu ?”

“Artinya ?”

“Sun Hui Eng yang menyertai Kang Jie kongcu itu adalah pelarian dari Ngo-hong bun dan kami dari pihak Ngo hong bun wajib menangkapnya kembali.”

“Dan bagaimana hubungannya dengan Kang Jie kongcu ?”

“Kang Jie kongcu sudah mencuri pelajaran Ngo hong bun, tentu saja harus ditarik kembali."

“Jadi kalian menghendaki kedua orang itu, bukan ?"

“Tentu. Seharusnya kokcu bisa menyerahkan mereka."

“Kalau tidak, bagaimana ?" Berkata ketua Lembah Baru. “Lembah Baru tidak akan tunduk dibawah kekuasaan Ngo hong bun."

“Oh ! Apa kokcu sudah memikirkan masak- masak akibat dari kata2 ini ? Apa tidak terlalu pagi?"

“Lembah Baru berani menantang Ngo-hong bun, tentu saja berani mengambil resiko," Berkata Kang Sang Fung. “Apa yang Toa Kiongcu hendak lakukan ? Kami selalu siap sedia.” “Jangan keliwat memaksa orang, ketahuilah, perintahku berarti kehancuran total Lembah Baru. Satupun tidak ada yang hidup lagi.”

“Oh ! Begitu ?” Berdengus Kang Sang Fung. “Toa Kiongcu memang lebih congkak dari gurumu. Dimisalkan gurumu itu datang sendiri, belum tentu ia berani mengucapkan kata2 seperti tadi.”

“Kokcu kenal kepada suhu ?" Toa Kiongcu Ngo hong-bun itu merasa heran.

“Dari orang2 yang hadir ditempat ini, paling sedikit ada tiga orang yang kenal kepada suhu Toa Kiongcu, mereka adalah sahabat-sahabat lama.”

“Huh ! Suhu belum pernah berkenalan dengan orang. Ia tidak mempunyai sahabat.”

“Kalau tidak mau dikatakan sahabat, tentunya musuh2 lama," Berkata kokcu Lembah Baru.

“Mengapa kokcu tidak memperkenalkan orang itu ?” Bertanya Toa Kiongcu.

“Aku adalah salah satu diantaranya.” berkata ex ketua Hoa san-pay Sie-lie cu. Dan ia bergerak kedepan.

Membarengi gerakan Sie-lie cu, yang lain- lainnya turut bergerak maju, tidak terkecuali juga jago2 mudanya, seperti Kang Han Cing, Goan Tian Hoat, Lie Wie Neng, Kong Kun Bu, Yen Siu Hiat, Kho Siang Siang, Kho In In, Cu Liong Cu, Cin Siok Tin, Khong Bun Hui, Yo Su Kiat dan lain-lainnya.

“Eh." hati Pan Hui Hong juga tercekat. “Kau siap main keroyokan ?” “Ha, ha, ha…    ” Kang Sang Fung tertawa.

Diantara rombongan jago muda itu tampak hadir juga Sun Hui Eng, hal ini membuat Pan Hui Hong semakin marah. “Sun Hui Eng," bentaknya. “Keluar !"

Menoleh kepada orang2 rombongannya, Topeng Emas ini memberi komando : “Siapa yang mau menalangi diriku membekuk Sam Kiongcu ?”

Pian Hui Hong maklum sampai dimana ilmu kepandaian Sun Hui Eng, kecuali dia pribadi dan Sin Hui Siang, yang lain2nya tidak akan bisa menandingi Sam Kiongcu itu, maka walau ia mengucapkan kata2 tadi kepada semua orang, matanya diarahkan ke tempat Topeng Perak Jie Kiongcu.

Tanpa ragu2, Sin Hui Siang lompat ke depan, ia menerima perintah dan berkata : “Kalau ternyata Sam sumoay sudah berkhianat kepada partay, biar aku yang menangkapnya.”

Dihadapinya Sun Hui Eng dan membentak : "Sam sumoay, sesudah kedatangan Toa-sucie, apa kau masih belum mau menyerahkan diri ?"

“Aku sudah bukan orang Ngo-hong bun lagi,” berkata Sun hui Eng. “Bagaimanapun tidak pulang kembali."

“Sam sumoay apa hendak memaksa aku turun tangan ?" Sin Hui Siang mengancam.

“Lebih baik Jie sucie jangan terlalu mendesak." Berkata Sun Hui Eng. “Perempuan hina, jangan kira aku tidak berani ! Walau dibelakangmu sudah siap dengan jago2 Lembah Baru, Ngo hong bun tidak pernah takut kepada siapapun juga. Hayo lekas menyerahkan diri !"

“Hua, hua, ha, ha……" Kang Sang Fung tertawa. “Jie Kiongcu kau tidak bisa mendesak seorang tamu Lembah Baru seperti itu. Ketahuilah, memukul anjing pun harus melongok majikannya dahulu. Apa lagi orang yang akan dihadapi itu masih sumoaymu sendiri, bukan ? Kau tidak berhak mengadakan paksaan."

“Eh, apa kokcu juga sudah gatal tangan ?" Bertanya Sin Hui Siang menantang.

Sin Soan Cu menggoyangkan kipas, dengan tertawa ia tampil kedepan, katanya : “Jie Kiongcu, kau tidak mempunyai hak bicara seperti itu. Mari....Mari kita bertanding lagi. Kita lawan lama, bukan?"

Kalau musuh lama bertemu muka, panasnya memang tidak terkira, tanpa menerima tantangan kedua, Sin Hui Siang sudah menerjang Sin Soan Cu, inilah pertempuran mereka yang kedua kalinya. Seru ! Tegang dan hebat !

Masing2 sudah mengetahui keunggulan lawan, kalau Sin Soan Cu berusaha menekan lawan dengan kekuatan, Sin Hui Siang berusaha memperlincah variasi ilmu pedang. Masing2 berkutet mempertahankan kemampuannya, mengelakkan kelemahannya. Tidak seorangpun yang bisa menarik keunggulannya. Kang Sang Fung mendekati Sun Hui Eng dan berkata dengan perlahan : “Silahkan nona Sun menarik diri kebarisan belakang.”

Sun Hui Eng memandang kokcu itu, mulutnya sudah berkemak kemik, hendak mengutarakan sesuatu tapi dibatalkan, ia mengundurkan diri, lagi2 berdiri disamping sisi Kang Han Cing.

Terdengar suara bentakan Toa Kiongcu : “Tunggu ! Jangan kau melarikan diri.”

Kokcu Lembah Baru sudah menghadang di tengah2. “Sesudah Toa Kiongcu berada di Lembah Baru, semua urusan boleh diselesaikan denganku,” katanya tertawa. “Ha, ha, ha… ”

Hui keng Hweeshio mendekati pemimpinnya, ia berbisik : “Toa Kiongcu, suara kokcu ini seperti seseorang yang dikenal, biar serahkan kepadaku saja."

Hui keng Hweeshio memang pernah kenal Kang Sang Fung, dari suara tertawa tadi, tiba2 ia teringat peti mati Datuk Selatan yang tidak berisi, karena itu ia tidak berani memastikan, dengan permintaan izin tempur tadi, ia hendak mendapat kepastian dari apa yang diduga semula.

“Baiklah, tapi berhati2." Toa Kiongcu memberi izin tempur.

Pengurus Lembah Baru Auwyang Goan tentu saja tidak membiarkan ketuanya dijajal pulang pergi, karena itu iapun menampilkan diri, mulutnya berteriak : “Hui-keng menangkan aku dahulu, baru kau mempunyai hak kesempatan itu."

Hian-keng sudah mendampingi suhengnya dan hweeshio ini turut mengirim tantangan : “Auwyang Goan, kau bukan tandingan suhengku. Mari, mari kita bermain beberapa jurus."

Tantang menantang !

Auw-yang Goan merasa terhina, tanpa pikir panjang, ia menerima tantangan Hian-keng Hweeshio, maka terjadi gelanggang pertempuran yang kedua, disamping pertempuran Sin Hui Siang kontra Sin Soan cu yang masih berlangsung seru !

Menggunakan kesempatan ini, Toa Kiongcu menghampiri Kang Sang Fung.

Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian selalu siap sedia, begitu melihat gelagat yang kurang baik, ia berteriak : “Tunggu dulu !”

Kemudian menoleh kepada ketua Lembah Baru dan meminta izin tempur : “Kokcu, serahkan orang ini kepadaku."

Ketua lembah Baru menganggukkan kepala. “Awas ! Jangan sekali2 lengah." Ia memberi peringatan.

Tongkat Kulit Beracun Bak Cang Ong turut tampil kedepan, membungkukkan badan dan berkata : “Toa Kiongcu, serahkan orang ini kepadaku !”

Pian Hui Hong menggelengkan kepala bertopeng emasnya, inilah suatu tanda, kalau ia tidak setuju main ganti2an seperti itu. Tidak perduli siapa, hendak disingkirkan satu persatu, baru ia bisa berhadapan dengan kokcu Lembah Baru. Nah ! Itu waktu, sesudah mengalahkan mereka, masakan Sun Hui Eng bisa melarikan diri ?

Pian Hui Hong mempunyai pegangan penuh untuk mengalahkan Tan Siauw Tian, dihadapinya Tongcu Lembah Baru itu dan membentak: “Kau ini kiranya yang bernama Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian ?"

Tan Siauw Tian pernah mempelajari ilmu 'Gambar luka ilmu pedang Hui-hong-kiam-hoat, anggapnya, iapun bisa mengimbangi kekuatan murid Nenek Goa Naga Siluman itu, mendapat teguran yang kurang sedap, ia balik bercemooh : “Kau inikah murid Nenek Goa Naga Siluman yang bernama Toa kiongcu Pian Hui Hong ?”

“Kurang ajar !” Bentak Pian Hui Hong sambil mengirim satu pukulan.

Tan Siauw Tian mengelakkan datangnya serangan itu. “Toa Kiongcu,” cemoohnya. “Mengapa kau tidak menggunakan pedang?”

“Untuk melawan jaksa yang sepertimu belum waktunya menggunakan pedang,” berkata Pian Hui Hong. Lagi2 ia menyerang dan mendesak si Jaksa Bermata Satu.

(Bersambung 26)