Perintah Maut Jilid 21

 
Jilid 21

NENEK GOA NAGA SILUMAN bisa menciutkan hati semua orang. Apa lagi dibantu oleh seluruh sisa orde Ngo-hong-bun dan Perintah Maut. Bencana ini adalah bencana yang terbesar.

Untuk mengetahui lebih jelas bagaimana cerita nenek Goa Naga Siluman dipersilahkan mengikuti cerita BENCANA RIMBA PERSILATAN.

Suksesnya Perserikatan 4 Datuk Persilatan berarti kemenangan bagi Lembah Baru. Mereka bersorak gembira.

Lie Kong Tie berada digedung itu, sudah tidak perlu disangsikan lagi, maka Lie Wie Neng datang untuk menjenguk ayahnya.

Tapi mereka bercerita panjang lebar dari kejadian2 lama yang sudah diketahuinya, hal ini membuat sang putra datuk seperti duduk diatas kursi berduri, bangun salah dudukpun salah.

Sekiranya pembicaraan hampir selesai, cepat- cepat ia memotong : “Tan tongcu, bisakah aku bertemu dengan ayah ?”

Tan Siauw Tian memandang ke arah Tian-hung totiang, tabib lihay itu yang harus dan bisa memberi putusan.

Tian-hung totiang menganggukkan kepala seraya berkata :

“Keadaan Lie khungcu agak mendingan, kukira tidak menjadi soal. Hari ini giliran si Kakek Beracun yang menyedot sisa2 racun jahatnya. Mari kita kesana."

Haripun sudah menjadi pagi, langsung dan beramai2 mereka mengunjungi tempat kediaman Lie Kong Tie.

Sesudah Lie Kong Tie mengalami keracunan yang lambat, mengingat keadaan jago itu yang sudah berada diambang pintu kematian, golongan Ngo hong-bun menyertainya keberangkatan Kwee In Su. Mana disangka kalau Lembah Baru berhasil mengundang si Kakek Beracun Cu Hoay Uh, sebagai seorang yang kebal dan tidak mempan racun, Cu Hoay Uh mahir segala macam virus dari aneka macam racun, ditambah seorang akhli ketabiban Tian-hung totiang, penderita dari manakah yang tidak bisa disembuhkan mereka ?

Inilah kejadian yang berada diluar dugaan partay Ngo-hong-bun.

Tentang cerita Cu Hoay Uh, para pembaca dipersilahkan mencari buku dengan judul MANUSIA BERACUN.

Mereka tiba ditempat kamar tempat Lie Kong Tie, seorang gadis berpakaian warna hitam berdiri dimuka pintu, gadis ini bukan pelayan gedung keluarga Wie, terbukti dari cara2 dandanannya yang tidak sama, disertai keangkuhan dan sikapnya yang dingin sekali. Melihat rombongan yang begitu banyak, ia membentak : “Berhenti ! Semua orang berhenti !" Sikapnya galak sekali.

Inilah putri Cu Hoay Uh, namanya Cu Liong Cu, dengan gelar Putri Beracun. Juga seorang akhli racun2, ia mewarisi segala macam keracunan ayahnya.

Semua orang menghentikan langkah kaki mereka, tidak terkecuali Tan Siauw Tian dan Tian- hung totiang yang tersenyum meringis.

Tian-hung totiang bisa merendengi kedudukan si Kakek Beracun, tapi ia tidak berani menyenggol si Putri Beracun. Cu Liong Cu terlalu dimanjakan, menyinggung perasaannya berarti menimbulkan kemarahan Cu Hoay Uh, itu sangat berbahaya !

Ia berani mengajak banyak orang ke tempat ini karena mengetahui keadaan Lie Kong Tie yang sudah boleh bicara dengan orang. Tidak disangka bisa mendapat bentakan itu, apa boleh buat, ia tertawa nyengir.

Tan Siauw Tian maju kedepan dan berkata : “Nona Cu, inilah Lie Wie Neng kongcu, ia hendak melihat keadaan ayahnya." Tangan si Jaksa Bermata Satu menunjuk ke arah Lie Wie Neng.

“Sebentar. Akan kutanya kepada ayah dahulu. Sebelum itu, jangan kalian mencoba untuk menyentuh daun pintu ini, he !" Ia berjalan masuk.

Tidak lama kemudian, gadis berbaju hitam itu tampil kembali, diperhatikannya semua orang satu persatu, ia menganggukkan kepala. Tanpa bicara. Sikapnya kaku dan dingin.

Lie Wie Neng tidak sabaran, dia adalah orang pertama yang menerjang kedepan. “Berhenti !" Terdengar bentakan suara Cu Liong Cu yang bisa membangkitkan bulu roma seorang yang paling berani.

Tubuh Lie Wie Neng terasa tertarik mundur, disaat ia menoleh, itulah tangan Tian-hung totiang. Dengan tersenyum, Tian-hung totiang memberi penjelasan :

“Lie kongcu, sabar. Seluruh ruangan ini penuh dengan virus2 racun yang sangat jahat. Lengah sedikit saja atau menyentuh sesuatu bisa menimbulkan keracunan. Tunggu sebentar."

Tampak Cu Liong Cu menaburi serbuk2 putih di lantai, demikian seterusnya sehingga ke dalam.

Di dalam itu, tampak seorang kakek berbaju hitam berdiri di tepi sebuah pembaringan. Yang terbaring adalah Datuk Utara Lie Kong Tie. Ia masih berada dibawah pengawasannya Kakek Beracun Cu Hoay Uh.

Cu Liong Cu menaburi serbuk2 putih sehingga pembaringan Lie Kong Tie.

Lagi2 Tian-hung totiang yang memberi keterangan kepada semua orang :

“Awas, diharap perhatian cuwie sekalian, jangan menginjak tempat yang tidak ditaburi spiritus abu putih, lebih2 jangan mencoba menjamah benda2 dikamar ini, penuh virus2 beracun yang bisa mengakibatkan keracunan."

Dengan dikepalai oleh Tian-hung totiang dan Lie Wie Neng, mereka berjalan masuk kedalam ruang yang sudah penuh virus2 beracun itu. Mengetahui kalau jiwa ayahnya ditolong oleh si Kakek Beracun, cepat Lie Wie Neng bertekuk lutut di depan si kakek berbaju hitam. “Boanpwe Lie Wie Neng menghaturkan terima kasih," katanya. “Budi ini tidak akan boanpwe lupakan."

“Bangun." Berkata Cu Hoay Uh ketus.

Lie Wie Neng menyembah sehingga tiga kali, inilah penghormatan terbesar kepada seseorang.

Wajah Cu Hoay Uh berubah, dengan kaku ia berkata :

“Sudah kukatakan, bangun ! Tidak dengarkah kau ? Aku tidak senang dengan segala macam adat peradatan. Apa aku juga diharuskan membalas menyembah dirimu seperti itu ?”

Cepat2 Tian hung totiang membangunkan Lie Wie Neng, ia berkata :

“Lie kongcu, jangan kau samakan si Kakek Beracun dengan manusia2 lainnya. Ia tidak suka cara penghormatan yang berlebih-lebihan, karena banyak orang yang hormat dan manis mulut itu belum tentu memiliki hati jujur. Kalau betul2 kau berterima kasih, hanya hatimu yang tahu, seseorang yang berhati baik tidak bisa memperlihatkan hatinya. Inilah motto hidup Cu cianpwe. Bangunlah. Cara pengobatan Menyedot Racun tidak bisa ditiru oleh orang kedua. Cukup kau ingat didalam hati kalau ia pernah menanam budi besar kepada keluargamu.”

“Boanpwe tahu," berkata Lie Wie Neng. Cu Hoay Uh berdengus, ia berkata : “Mengapa kau tidak menyebut jasa2mu? Walau cara penyedotan racunku itu luar biasa, satu hari hanya bisa kusedot satu tetes darah beracun. Kalau tidak ada obat Soat cie tan yang menjadi milikmu itu, apa mungkin bisa berhasil ?"

Kang Han Cing memperhatikan gerak-gerik si Kakek Beracun Cu Hoay Uh. Tan Siauw Tian menyelak pembicaraan : “Kalian tidak perlu merendah diri, kedua-dua mempunyai andil besar didalam pengobatan Lie Kong Tie tayhiap."

“Ha, ha…..” Semuanya tertawa.

Sedari tadi, Lie Wie Neng memperhatikan sang ayah yang masih terbaring ditempat tidur, sepasang mata Lie Kong Tie terkatup. Mungkin tertidur, atau keadaannya yang belum normal betul.

Gelak tawa orang banyak itu membuatnya membuka mata, walau agak berat, masih dikenali juga akan kehadirannya sang putra.

“Wie Neng….” Ia memanggil perlahan.

Lie Wie Neng berlutut dan memberi hormat kepada ayah itu. “Ayah...” Panggilnya terharu.

“Awas ! Jangan sentuh tubuhnya." Kakek Beracun Cu Hoay Uh memberi peringatan.

Lie Wie Neng menjauhkan diri.

“Ayah, bagaimana keadaanmu ?” Tanya sang putra. “Agak mendingan," berkata Lie Kong Tie. “Bagaimana kau menyelesaikan urusan dirumah ?"

“Sudah beres," jawab Lie Wie Neng. Secara singkat diberitahukan juga tentang Perserikatan 4 datuk persilatan.

“Syukurlah." berkata Lie Kong Tie. “Memang sudah waktunya kita bersatu."

Takut kalau mengganggu penyakit Lie Kong Tie yang belum sembuh betul, Tian hung totiang berkata : “Lie khungcu masih membutuhkan istirahat, lebih baik sampai disini dahulu.”

Beramai2 mereka mengundurkan diri dari kamar Lie Kong Tie.

Cu Hoay Uh dan Cu Liong Cu membiarkan orang2 itu meninggalkan mereka, Kakek dan Putri Beracun itu memiliki sifat-sifat yang angkuh dan dingin, tidak mudah didekati.

Rombongan Tian-hung totiang dan Tan Siauw Tian belum sempat membubarkan diri, tiba-tiba datang laporan yang memberitahu, Kong Kun Bu sudah dibebaskan dari Ngo hong-bun, sudah kembali dan siap bertemu dengan orang2 itu. Tentu saja kedatangan Kong Kun Bu sangat menggembirakan semua orang, mereka mengadakan penyambutan dan pesta.

Sesudah memperkenalkan orang yang berada ditempat itu, Tan Siauw Tian mengajukan pertanyaan : “Dimana mereka membebaskan hutongcu ?" “Sungguh malu diceritakan,” berkata Kong Kun Bu. “Siauwtee sadar sesudah berada ditempat yang tidak jauh dari sini."

“Bagaimana perlakuan mereka?"

“Mereka sungguh lihay, agaknya mengenal baik keadaan siauwtee. Pertanyaan yang mereka ajukan hanya itu2 lagi.”

“Mungkinkah mereka bertanya tentang kokcu kita ?” Tan Siauw Tian mengutarakan dugaannya.

“Eh, bagaimana tongcu tahu ?" Kong Kun Bu memperlihatkan sikapnya yang heran.

“Mudah diterka, mereka tidak banyak menanyakan persoalan lain. Karena mereka mempunyai banyak mata2. Yang belum mereka ketahui ialah Siapa kokcu Lembah baru? Tentu saja menanyakan soal ini."

Kang Han Cing yang mendengar pembicaraan mereka membuat pengilmiahan. Siapa kokcu dari Lembah Baru ? Mengapa begitu misterius sehingga ditakuti oleh Ngo hong-bun ? Ingin sekali ia bisa menemuinya.

Tan Siauw Tian memandang Kong Kun Bu dan bertanya : “Dimana mereka menawan dirimu ?"

“Didalam goa2 yang banyak tembusannya." Jawab Kong Kun bu.

“Oh….Itulah Goa Sarang Tawon,” Berkata Kang Han Cing.

Kong Kun Bu berkata : “Goa Sarang Tawon ? Memang agak tepat kalau disebut Goa Sarang Tawon. Seperti tempat penghuni lebah saja layaknya tempat itu."

“Apa lagi yang mereka katakan?" Tanya Tan Siauw Tian.

“Tidak...Oh...Mereka meninggalkan ini didalam kantong bajuku.” Dikeluarkannya sepucuk surat dan diserahkan kepada Tan Siauw Tian.

Itulah surat dari Ngo-hong-bun yang ditujukan kepada Lembah Baru, demikian bunyi isi surat:

“Dengan hormat,

Menerima pengembaliannya Kwee In Su huhuat yang menyatakan kekalahan kami dipihak tuan, dengan ini kami menerima dan menyatakan kegagalan itu, sesudah mengetahui jalannya situasi, Kong Kun Bu kami lepas kembali, dengan harapan bisa menepati janji dan melepas Burung Kelima kami yang masih berada di tempat tuan."

Baru Tan Siauw Tian sadar kalau pertukaran tawanan itu segera berhasil, cepat2 ditugaskan Hiang Lan untuk membawa Burung Kelima ke tempat itu.

Tidak lama kemudian si Burung Kelima dibawa datang, membebaskan totokannya dan Tan Siauw Tian berkata :

“Nona, orang kalian sudah membebaskan Kong hutongcu, dan seperti apa yang kita sudah janjikan, kau bebas."

“Sekarang ?" Bertanya si Burung Kelima dengan sikapnya yang penuh tantangan. “Tentu saja sekarang juga." Jawab Tan Siauw Tian.

“Apa kau tidak akan menyesal di kemudian hari

?" Berkata gadis gagah ini. “Tidak takut pembalasanku dikemudian hari ?"

“Ha, ha….Aku berani membebaskan dirimu, tentu tidak takut pembalasan.” Berkata si Jaksa Bermata Satu.

Si Burung Kelima meninggalkan ruangan itu, sebelum lenyap dari pemandangan mereka, ia sempat menolehkan diri, memandang Kang Han Cing dan mengancam : “Kang Han Cing, ingat kekurang ajaranmu, aku Co Hui Hee tidak nanti bisa melupakan, tunggulah pembalasanku !"

Sesudah itu, tubuhnya melejit meninggalkan gedung keluarga Wie.

“Huh,” Kang Han Cing berdengus. “Aku Kang Han Cing tidak takut kepadamu."

Tiba2 pemuda ini teringat sesuatu. “Aaaaaa..." Ia berteriak. “Co Hui Hee ? Nama si Burung Kelima Co Hui Hee ?"

“Ada apa ?” Tanya Tan Siauw Tian.

“Kukira, gadis tadi adalah Go Kiongcu dari Ngo hong bun.”

“Aaaaa…..”

“Kalau begitu, dia adalah murid kelima dari si nenek Goa Naga Siluman !”

“Kemungkinan itu besar sekali." “Ya ! Si Burung Kelima Co Hui Hee adalah murid kelima dari si nenek Goa Naga Siluman, Sumoay Sam Kiongcu, kelima murid nenek Goa Naga Siluman menggunakan nama Hui di-tengah2 nama mereka, inilah ciri2 yang paling khas.”

Kini mereka sudah membebaskan tokoh penting itu.

***

Bab 74

HARI BERIKUTNYA……

Dikali gedung keluarga Wie bagian belakang sudah terhenti dua perahu tertutup.

Ternyata, kota Hang-ciu adalah kota sungai, setiap rumah mewah memiliki terusan2 yang bisa menghubungi sungai2 itu, mereka menggali aliran2 kali, setiap saat bisa pesiar dengan perahu sendiri, langsung turun didalam rumah. Gedung keluarga Wie tidak terkecuali, didalam gedung itu terdapat kali kecil yang bisa menghubungi sungai2 didepan dan dibelakang rumah mereka.

Dua perahu tertutup itu berlabuh didalam pekarangan rumah keluarga Wie.

Jelasnya cerita, Tan Siauw Tian dkk sudah mengambil persepakatan untuk mengantar Lie Kong Tie ke Lembah Baru, disana mereka bisa meneruskan pengobatannya tanpa takut gangguan Ngo-hong-bun. Mata2 Ngo-hong-bun terlalu banyak, mereka harus melakukan perjalanan yang dirahasiakan.

Pagi2 sekali, dibalik kabut yang masih menipis,

4 dayang perempuan menggotong tandu yang dibawa masuk kedalam perahu tertutup yang didepan.

Sesudah itu tampak Kang Han Cing, Goan Tian Hoat, Lie Wie Neng memasuki perahu itu. Perahu segera diberangkatkan.

Menyusul perahu tertutup yang pertama, tampak gerakan2 didalam perahu kedua, disana tampak Kakek Beracun Cu Hoay Uh, Putri Beracun Cu Liong Cu dan Tian-hung totiang. Perahu kedua inipun bergeser pergi.

Kecuali itu tampak Tan Siauw Tian dan Kong Kun Bu ditepian, mengantarkan keberangkatan kedua perahu.

Air sungai dari tembusan mengalir terus, mengikuti arus ini, perahu bergeser pergi. Perjalanan menuju kearah Lembah Baru yang penuh misterius.

Mengikuti gerakan perahu pertama, dimana duduk Kang Han Cing, Goan Tian Hoat dan Lie Wie Neng. Mereka terdiri dari kaum muda gagah perkasa, umurnya sebaya, pendiriannya sama, dengan pergaulan mereka yang bebas aktif, secepat itu pula sudah mendapat kecocokan hidup. Memperbincangkan tragedi2 dan drama rimba persilatan, uplek dengan urusan mereka sendiri. Tanpa terasa, perahu sudah meninggalkan kota Hang-ciu. Sesudah meninggalkan kota Hang-ciu, perahu berlaju lebih pesat, jalan yang berliku2 sudah hampir tidak tampak, kini memasuki daerah Hu- kang-cun.

Pada hari kedua, perahu tiba di Tong-kee-pu, untuk menambah perbekalan mereka menambat perahu, istirahat ditempat itu.

Tidak lama, perahu keduapun menyusul datang, juga menambat tali, menambah perbekalan ditempat yang sama.

Kecuali anak2 buah perahu, tidak satu pun dari jago2 kita yang keluar dari perahu tertutup itu.

Kang Han Cing, Lie Wie Neng dan Goan Tian Hoat pasang omong didalam perahu mereka.

Tiba2 terdengar suara panggilan dari tepi, ditujukan ke perahu mereka !

“Hei, tolong beritahu kepada tuan kalian, diantaranya satu yang bernama tuan Lie Siauw San, bukan ?”

“Tidak ada...Tidak ada….Jangan mengganggu kita." Berkata beberapa tukang perahu.

Terdengar suara orang yang bersitegang itu berkata lagi :

“Tolong kau beritahu kepada tuan2mu itu. Aku membawa berita untuknya."

“Sudah kukatakan tidak, ya tidak…. Tidak ada." “Urusan ini sangat penting sekali."

“Kalau tidak ada, bagaimana ?" “Pasti ada." “Tidak ada."

Perdebatan dari hamba2 perahu dan orang itu kian menghebat.

“Eh, eh...Mau kemana ?” Bentak tukang perahu.

“Kalian tidak mau memberitahukan kepadanya, terpaksa aku masuk sendiri. Urusan ini penting sekali, tahu ?"

“Stop ! Berhenti. Perahu ini milik majikan kami." Berkata si tukang perahu.

“Usir saja," Teriak seorang. Terdengar bentakan2, mereka mulai mengadakan penghadangan.

“Eh, mau mengeroyok ?” Bertanya orang yang baru datang.

“Jangan cari setori, bocah, akan kami lemparkan ke tengah sungai, tahu !"

“Kalau kalian mempunyai itu kemampuan, silahkan." Orang itu menantang.

“Kunyuk kecil....” Tiba2 suara ini terhenti. “Aaa….Kau memukul orang?”

“Tutup mulutmu yang kotor itu." Bentak orang yang mencari Lie Siauw San. “Huh, mentang2 dari Lembah Baru !”

Terdengar suara2 senjata, agaknya sudah hampir terjadi pertempuran.

“Biar kuhadapinya,” berkata Kang Han Cing berdiri dari tempat duduknya. “Tunggu dulu,” berkata Goan Tian Hoat. “Jie kongcu jangan menampilkan diri. Bisa menyolok perhatian, biar aku saja."

“Betul." Lie Wie Neng setuju. “Saudara Goan adalah orang tepat yang bisa menghadapi orang itu. Jie kongcu belum waktunya keluar.”

Goan Tian Hoat meninggalkan perahu, tampak orang2nya sudah menghunus senjata, mengurung seorang pemuda berbaju hijau.

“Tunggu dulu," teriak Goan Tian Hoat. Para tukang perahu mengundurkan diri.

Si pemuda berbaju hijau menghadapi Goan Tian Hoat dan berkata : “Huh, orang2mu ini terlalu kurang ajar !"

“Dengan masksud apa saudara mengganggu perahu kami ?” Tegur Goan Tian Hoat.

“Aku hendak bicara dengan tuan Lie Siauw San," Berkata pemuda berbaju hijau itu.

“Ada urusan apa ?” Bertanya Goan Tian Hoat. “Baiklah, boleh juga kusampaikan kepadamu,

Goan congkoan, perjalanan yang kalian rahasiakan ini tidak bisa mengelabui orang. Tolong kau sampaikan kepadanya.."

Kemudian dengan suara yang perlahan, pemuda berbaju hijau itu meneruskan kata-katanya:

“Tolong beritahu, mereka sudah mengumpulkan banyak jago, membuat pengejaran. Rencana serangan ditentukan malam ini, majikanku memberi anjuran, lebih baik Lie Siauw San kongcu mengundurkan diri dari pertikaian ini."

“Siapakah yang saudara maksudkan dengan mereka itu," bertanya Goan Tian Hoat, juga dengan suara perlahan. “Bagaimana dengan rencana pergerakannya ?"

“Aku tidak bisa lama2 disini. Inilah perintah majikanku." Kata si pemuda berbaju hijau. “Pesanan sudah kusampaikan. Selamat tinggal."

Datangnya cepat, kepergian pemuda berbaju hijau itupun cepat. Didalam sekejab mata, ia sudah melenyapkan diri.

Kembali kedalam perahu, Goan Tian Hoat mendapat pertanyaan Lie Wie Neng : “Ada urusan apa orang itu mencari Kang Jie kongcu ?"

“Ia membawa berita yang mengatakan Ngo- hong-bun hendak melakukan penyergapan dimalam ini."

Alis Lie Wie Neng terjengkit, “Musuh kita betul2 hebat," katanya. “Belum pernah kita menongolkan kepala. Tokh bisa diketahui juga."

“Siapakah orang tadi ?” Bertanya Kang Han Cing.

“Dari bentuk tubuh, orang itu adalah samaran dari wanita." jawab Goan Tian Hoat. “Katanya ia hanya mendapat perintah majikannya, tentu salah satu dari pimpinan Ngo-hong-bun."

Kang Han Cing segera teringat kepada kedua pelayan Sam Kiongcu, dayang2 yang bernama A Wan dan Bu Lan itu, mungkin salah satu dari mereka ?

Goan Tian Hoat sudah memanggil pengurus perahu dan bertanya kepadanya : “Apa namanya tempat ini ?”

“Tong kee-pu.”

“Tempat-tempat mana lagi yang hendak kita lalui ?”

“Sesudah ini, rencana akan bermalam di Tong- lu. Tong-lu adalah tempat yang agak sepi dari keramaian.”

“Kecuali Tong lu, apa tidak ada tempat-tempat sepi lainnya?” Bertanya Goan Tian Hoat.

“Daerah sepanjang Tong-lu adalah daerah subur, di sepanjang pantai terdapat kota-kota nelayan, diantaranya Tay-ya-bun agak sepian.”

“Cukup. Kita bermalam ditempat itu saja." Berkata Goan Tian Hoat. Ternyata, sebelum keberangkatan mereka, telah terjadi persepakatan, dan Tan Siauw Tian juga sudah memberitahu kepada orang2nya, mereka langsung berada dibawah perintah Goan Tian Hoat. Maka jago ini mempunyai hak memberi putusan.

“Baik.” Pengurus perahu mengundurkan diri.

Tidak lama, perjalanan dilanjutkan. Kini dua perahu tidak terpisah lagi, perahu menuju kearah Tong-lu.

Deru ombak sungai yang terdampar membuat irama perjalanan yang mengesankan. Lie Wie Neng dan Kang Han Cing tidak pernah keluar dari perahu itu, sebagai akhli waris dari dua pendekar ternama, Lie Wie Neng sudah mendapatkan semua ilmu kipas si Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu, sedangkan Kang Han Cing sudah mendapatkan ilmu pedang dari si Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng. Didalam alam pikiran kedua jago ini tidak tercantum istilah kata2 'takut’.

Walau berada dibawah ancaman Ngo-hong-bun, kedua jago itu masih bicara dengan tenang.

Tidak lama, pengurus perahu memasuki ruangan, wajahnya pucat pasi.

“Ada apa ?” Tanya Lie Wie Neng.

“Ada sesuatu yang hendak hamba laporkan." Berkata pengurus perahu itu.

“Katakanlah, ada apa ?” Tanya Lie Wie Neng lagi.

Goan Tian Hoat tertawa dan berkata : “Mungkinkah kita sudah dibuntuti musuh?"

“Ya.” Pengurus perahu itu menganggukkan kepala. “Sesudah kita meninggalkan Tong-kee-pu, jauh dibelakang kita kedapatan perahu tertutup yang membayangi.”

“Belum lama, dua perahu balap sudah melewati perahu kita, bukan ?” Potong Goan Tian Hoat.

“Eh, bagaimana Goan congkoan tahu ?” “Dari percikan2 air yang bertambah keras itu, kecuali perahu2 balap, tidak mungkin ada lain kemungkinan," berkata Goan Tian Hoat.

“Dugaan Goan congkoan tepat." berkata si pengurus perahu. “Kita sudah berada di dalam jepitan mereka. Mungkin….Mungkin belum sempat kita tiba di Tay ya bun, mereka sudah turun tangan."

“Bagaimana ilmu kepandaian air dari 12 anak buah perahumu ?" Tanya Goan Tian Hoat.

“Dua belas saudara2 itu adalah jago air pilihan, rata2 memiliki ilmu kepandaian yang cukup baik." Jawab sipengurus perahu.

“Apa perahu2 kita siap anak panah ?” Tanya lagi Goan Tian Hoat.

“Enam belas gendewa sudah kita siapkan. Enam diantaranya adalah gendewa2 panah otomatis, bisa menyemburkan panah secara terus menerus tanpa istirahat."

“Bagus," berkata Goan Tian Hoat. “Siapkan panah2 itu. Perhatikan gerakan musuh, kalau ada tanda2 penyergapan, segera pinggirkan perahu ke tepi, agar kita tidak jatuh kedalam kurungan mereka.”

“Perjalanan masih diteruskan ?” “Bergeraklah seperti biasa."

“Baik." Pengurus perahu itu mengundurkan diri.

Sesudah itu, Goan Tian Hoat memandang Kang Han Cing. “Jie kongcu, kita membuat persiapan perang," katanya. Inilah penyerahan mandat, agar Kang Han Cing mengatur siasat perang.

Dibidang politik, Goan Tian Hoat berkuasa, untuk peperangan Kang Han Cing yang memegang otak peranan.

Memandang kedua rekan seperahu itu, dengan wajah yang bersungguh, Kang Han Cing berkata :

“Jumlah orang kita terbatas, mereka tahu akan hal ini, kalau musuh berani datang, pasti dengan jumlah besar. Maksudku, kita harus bisa mempertimbangkan posisi kekuatan kedua pihak.”

“Saudara Kang bisa menduga, siapa2kah kekuatan mereka ?” Bertanya Lie Wie Neng.

Kang Han Cing berkata :

“Menurut apa yang kutahu, Ngo-hong-bun berada dibawah pimpinan Toa Kiongcu, Jie Kiongcu dan Sam Kiongcu. Mungkin juga bertambah dua orang, Su kiongcu dan Go Kiongcu, mereka sebagai pimpinan tertinggi. Sesudah itu, huhuat2 kelas satu seperti Kwee In Su, Hui-keng dan Hian-keng, dibawah mereka, masih ada 4 Lengcu Panji Berwarna, kecuali Lengcu Panji Hitam yang mungkin sudah ganti orang, ketiga lengcu lainnya memiliki ilmu silat cukup tinggi."

“Tentu Toa Kiongcu yang memiliki ilmu silat tertinggi, bukan ?”

“Mungkin," Kang Han Cing menganggukkan kepala. “Dari ilmu kepandaian Jie Kiongcu yang lebih sempurna kalau dibandingkan dengan Sam kiongcu, dugaan itu memang cukup beralasan. Kalau aku bisa memenangkan Sam kiongcu, agaknya tidak mudah mengalahkan Jie Kiongcu."

“Saudara Kang setuju dengan rencana Tan tongcu yang menginstruksikan kita meninggalkan perahu, mengelakkan peperangan langsung dengan Ngo-hong bun ? Membiarkan nona Cu seorang diri yang menghadapi mereka ?” Bertanya Lie Wie Neng.

Ternyata kekuatan mereka hanya terdiri dari jago2 muda, direncanakan juga untuk menumpas kelenteng Sin-ko-sie, menggunakan siasat Berteriak di Timur, Menyerang di Lain Tempat, memberangkatkan dua perahu meninggalkan gedung keluarga Wie, se-olah2 mereka menuju kearah Lembah Baru dengan rombongan itu. Kenyataannya tidak, hanya Kang Han Cing, Lie Wie Neng, Goan Tian Hoat dan Putri Beracun beserta belasan orang2 Lembah Baru, tandu usungan hanya buntelan kosong, Lie Kong Tie tidak berada didalam perahu itu, dengan lain jalan, Lie Kong Tie diberangkatkan ke Lembah Baru.

Tian-hung totiang dan Kakek Beracun Cu Hoay Uh juga tidak berada ditempat itu, mereka menyelinap dari perahu kedua, bersama2 dengan Tan Siauw Tian, Kong Kun Bu, merencanakan penggempuran ke kelenteng Sin-ko-sie. Ini namanya berteriak di Timur Menyerang di Lain Tempat.

Kang Han Cing dkk hanya pancingan, tujuan utama si Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian merusak kelenteng Sin-ko-sie. Balik mengikuti cerita Kang Han Cing, Goan Tian Hoat dan Lie Wie Neng, mereka berada diperahu pertama. Didalam perahu kedua, dimana hanya Cu Liong Cu seorang saja.

Kalau Goan Tian Hoat bisa menyetujui siasat si Jaksa Bermata Satu, Kang Han Cing dan Lie Wie Neng kurang sependapat dengan rencana itu, sebagai murid2 Pendekar Kipas Wasiat dan Pendekar Bambu Kuning yang ternama, mereka segan mengelakkan pertempuran. Takut dikatakan sebagai pengecut, maka motto hidup 'Musuh tidak menyerang, kitapun diam. Musuh menyerang, kita lawan’, mereka melakukan perjalanan itu.

Ceritanya, perahu sampai di Tay ya-bun. Daerah pegunungan yang ber-semak2.

Mereka tiba didalam gelap, mengajak semua tukang perahu beserta anak2 panah yang menjadi perbekalan mereka, Kang Han Cing, Goan Tian Hoat dan Lie Wie Neng meninggalkan perahu, menyembunyikan diri dibalik semak2 itu, memperhatikan perahunya, bagaimana Ngo hong- bun mengadakan penyerangan itu.

Dari perahu kedua tidak tampak gerakan, kecuali para tukang perahu, tidak terlihat bayangan Cu Liong Cu. Kakek Beracun Cu Hoay Uh dan Tian-hung totiang tidak berada didalam perahu, mereka mendapat tugas khusus untuk menggempur kelenteng Sin-ko-sie yang berada didalam kekosongan, meninggalkan perahu secara diam2. Malam semakin pekat, angin berembus dingin, mengalun air sungai yang mengalir deras.

Kang Han Cing dkk sudah mencari tempat strategis, kalau sampai terjadi rencana Cu Liong Cu mengalami kegagalan, mereka bisa memberi bantuan didalam waktu yang sangat singkat.

Kedua perahu yang sudah dikosongkan di ombang-ambingkan air.

Lie Wie Neng memandang Goan Tian Hoat dan mengajukan pertanyaan : “Mengapa tidak ada gerakan ?”

Bukan saja tidak ada gerakan dari pihak Ngo- hong-bun, juga tidak ada gerakan dari pihak si Putri Beracun.

“Mungkin belum waktunya." Jawab Goan Tian Hoat.

“Seharusnya Cu Liong Cu mengatur siasat penting untuk menghadapi Ngo-hong-bun, mengapa harus menunggu kedatangan mereka ? Keburukah dia ?”

“Kita lihat saja nanti.”

Disaat kedua orang ini ber-cakap2, Kang Han Cing tidak turut serta, pemuda ini sedang memandang kearah jauh, pusat konsentrasinya tercurah kesana.

Lie Wie Neng menoleh dan mengajukan pertanyaan : “Apa yang saudara Kang lihat ?"

“Mungkin perahu Ngo-hong-bun," jawab Kang Han Cing tanpa mengalihkan pandangan incaran matanya kearah jauh. “Tiga perahu besar, tapi kurang jelas."

Betapa lihay mata Kang Han Cing, di tempat yang begitu gelap, sejarak yang begitu jauh tentu tidak bisa memberi gambaran yang lebih jelas.

Beberapa saat kemudian, Lie Wie Neng bertanya lagi : “Bagaimana ?”

“Nah ! Betul2 perahu Ngo-hong-bun. Mereka mulai mengepung dua perahu kita. Lihat, dua puluhan orang sudah mulai berlompatan ditepi pantai."

“Sayang sekali Cu Liong Cu tidak ada persiapan," berkata Lie Wie Neng. “Kalau tidak, kita bisa menumpas 20 orang ini."

“Hanya jumlah ini yang datang ? Kekuatan kitapun sudah cukup, bukan ?”

“Ya. Semburan2 anak panah akan menyambut mereka." Goan Tian Hoat turut bicara.

Kepala pimpinan tukang perahu sudah menyiapkan rombongan anak panah, menunggu perintah Goan Tian Hoat, mereka sudah berada didalam keadaan siap.

Dari 3 perahu Ngo-hong-bun, 2 sudah menggencet perahu2 Lembah Baru, masing2 dikiri dan kanan. Sebuah perahu lagi adalah perahu inti, disana tampak seorang bertopeng perunggu sebagai pimpinan tinggi, itulah Sam Kiongcu Sun Hui Eng ! Hati Kang Han Cing bergelora, teringat kembali pertempuran di Yen-cu kie, dan terbayang pula kebaikan2 gadis itu.

Beberapa orang mendampingi Sam Kiongcu, diantaranya terdapat si cantik jelita Co Hui Hee yang pernah menyamar sebagai Kong Kun Bu didalam gedung keluarga Wie.

Turut hadir pula dua hweeshio, mereka adalah ketua kelenteng Sin-ko-sie, Hui-keng dan suteenya yang bernama Hian-keng itu.

Dua dayang tidak pernah lepas dari sisi Sam Kiongcu, itulah dua pengawal pribadinya, A Wan dan Bu Lan.

Dari rombongan Ngo-hong-bun yang turun ketepi, tampak seorang komandan, itulah huhuat kelas satu Kwee In Su.

Dua puluh orang2 Kwee In Su sudah mengurung 2 perahu Lembah Baru, keadaan itu sangat menegangkan, dimalam gelap yang tidak ada penerangan, menghadapi perahu2 diam tak bergerak, tentu saja Kwee In Su ber-hati2, sesudah betul memperketat kurungannya, Kwee In Su menghadapi dua perahu Lembah Baru dan berteriak :

“Diminta perhatian kawan2 diatas perahu, kalian sudah berada didalam kepungan kami, siapa yang hendak menyerah, satu persatu dipersilahkan turun ke darat."

Itulah anjuran kepada anak buah perahu Lembah Baru ! Tentu saja tidak mendapat penyahutan, mengingat anak buah Lembah baru sudah meninggalkan perahu mereka.

Kwee In Su berteriak lagi : “Atas perintah Sam Kiongcu, aku minta menghadap Kang Jie kongcu dan Lie kongcu.”

Tidak ada penyahutan.

“Kang Han Cing, Lie Wie Neng." Tiba2 Kwee In Su menambah keras suaranya. “Betul2 kalian tidak mau keluar dari perahu ? Hanya dua buah perahu tertutup bisa menyembunyikan diri kalian

?"

Betapa congkaknya manusia ini ! Lupa kalau dirinya itu pernah dibebaskan, sesudah akal bulusnya didalam gedung keluarga Wie ketahuan orang.

Dari tempat yang lebih tinggi, Kang Han Cing, Lie Wie Neng dan Goan Tian Hoat memperhatikan gerakan didalam perahu2 mereka, mereka heran kepada Cu Liong Cu yang belum menampilkan diri.

Lie Wie Neng tidak sabaran. “Bagaimana kita beri sedikit hajaran kepadanya ?” Ia memberi usul.

“Nona Cu masih berada didalam perahu,” berkata Goan Tian Hoat tidak setuju. “Tunggulah sebentar lagi.”

Sesudah beberapa kali Kwee In Su bekoar tanpa balasan suara, memandang kepada anak buahnya, hanya satu kali gerakan code tangan, ia memberi perintah : “Geledah isi perahu !" Maka ber-lompat2anlah belasan orang, mereka meluruk dan menggerebek perahu2 Lembah Baru.

Tentu saja pemeriksaan itu berjalan cepat, mereka tidak menemukan seorangpun yang berada ditempat itu.

Seorang diantaranya memberi hormat kepada Kwee huhuat, ia berkata :

“Laporan, tidak seorangpun yang berada didalam perahu."

Kwee In Su tertegun. “Hanya dua perahu kosong

?" Ia curiga.

Tampak orang yang baru melapor tadi hendak menganggukkan kepala, tiba2 saja terjadi sesuatu, entah bagaimana orang itu jatuh ngeloso, kelejetan sebentar dan demikian ia terbaring ditepi pantai sungai itu.

Sepasang mata Kwee In Su menjadi liar, memandang kelilingnya dan membentak : “Siapa yang melepas senjata gelap ?”

Disaat yang sama, belasan orangnya yang baru turun dari perahu mengalami kejadian yang serupa, satu persatu berguguran jatuh, seperti daun rontok, mereka berserakan dipasir putih itu.

“Mundur.” Kwee In Su memberi perintah kepada sisa2 orangnya.

Secara serentak, 7 orang yang belum sempat jatuh itu mengundurkan diri. Lagi2 terjadi keanehan, kalau mereka tidak bergerak, masih tidak mengapa, karena mereka tidak turut naik keatas perahu, kini gerakan itu membawa malapetaka, seperti kawan2nya yang sudah berserakan lebih dahulu, mereka pun mengalami nasib yang sama, tidak ampun lagi menggeletak pula orang2 Ngo hong bun ini.

Si Badan Besi Kwee In Su berubah menjadi pucat, ia diam di tempat, tidak berani sembarang bergerak lagi, takut kalau2 menyentuh sesuatu yang bisa mengakibatkan maut bagi dirinya.

Perubahan itu tidak lepas dari mata Kang Han Cing, dugaannya segera jatuh kepada buah tangan si Putri Beracun Cu Liong Cu.

Juga tidak lepas dari pandangan pati2 Ngo- hong-bun diatas perahu, ketua kelenteng Sin-ko- sie Hui-keng menoleh dan memandang Sam Kiongcu. “Ada sesuatu yang kurang beres,” katanya. “Biar pinceng lihat.”

Sam Kiongcu menganggukkan kepala perunggunya, menoleh kearah Co Hui Hee, berkata

: “Go sumoay boleh menyertainya."

Si Burung Kelima Co Hui Hee betul2 menduduki kursi ke 5 dari Ngo-hong-bun, dia adalah Go kiongcu !

Co Hui Hee, Hian-keng dan Hui-keng lompat turun, mereka menghampiri Kwee In Su yang masih ter-mangu2 dipantai.

“Kwee huhuat,” pimpinan Ngo hong-bun kelima ini bertanya. “Apa yang terjadi ?”

“Ada semacam senjata gelap yang mengandung racun jahat menyerang kita." Kwee In Su memberi laporan. Mata Hui-keng memandang kearah dua perahu Lembah Baru yang dikosongkan, memandang ke penutup perahu itu dan membentak : “Kecuali Manusia Beracun siecu yang berada di tempat itu, tidak mungkin ada orang kedua.”

Betul saja. Dari arah yang diteliti oleh Hui-keng itu, bergerak satu bayangan kecil, mengenakan pakaian warna hitam dan juga menggunakan tutup kerudung hitam, se-olah2 bayangan hantu, dengan gerakannya yang menyeramkan datang mendekati pantai.

Itulah Putri Beracun Cu Liong Cu. Hian-keng membentak : “Hei, kau yang mem-bunuh2i orang2ku ini ?"

“Tidak salah." Jawab Cu Liong Cu singkat, suaranya sangat dingin.

“Kemana pula kawan2mu yang lainnya ?" Bertanya Hui-keng.

“Sudah tidak ada." Jawaban ini lebih singkat lagi.

“Kemana mereka pergi ?" Tanya Hui-keng. “Mana kutahu ? Mereka mempunyai kaki2

sendiri, siapa yang tahu kemana kepergiannya ?"

Putri Beracun Cu Liong Cu belum melepas kerudung mukanya.

“Baiklah. Mari turut ke perahu kita." Berkata Hui-keng.

“Mengapa harus turut kalian ?" Tanya Cu Liong Cu. “Mengapa tidak ? Kau sudah membunuh banyak orang Ngo-hong-bun, tentu saja harus memberi pertanggung jawaban."

“Hanya melukai beberapa gelintir orang Ngo- hong-bun, kalian hendak menyerat diriku ? Huh ! Tidak ubahnya seperti mengimpi pada siang hari bolong !"

“Eh, eh...." Hian-keng mendelikkan mata. “Berani kau….."

Tangannya dijulurkan, dengan Jari Dinginnya menyerang Cu Liong Cu.

“Rebah kau !” Bentak Cu Liong Cu tanpa bergeser dari tempatnya yang semula.

Jampi yang sangat manjur, tubuh Hian-keng ber-goyang2, turut merebahkan diri, lagi-lagi tambah satu korban keracunan.

“Hei," Go Kiongcu Co Hui Hee mengeluarkan senjatanya, itulah kebutan yang terbuat dari bulu sutra es, disentakkannya ke arah Cu Liong Cu.

Putri si Kakek Beracun sudah mewarisi semua kepandaian orang tuanya, melebihi kehebatan Cu Hoay Uh, entah dengan cara bagaimana, gadis berkerudung hitam itu merobohkan Co Hui Hee.

Kejadian2 terlalu cepat diberitahukan, Kwee In Su melompongkan mulut, semakin tidak berani menggeser tempat.

Rombongan penyergapan dan pencegatan perahu2 Lembah Baru itu dikepalai oleh Sam Kiongcu, menyaksikan tidak seorangpun yang bisa mengelakkan bekerjanya racun2 jahat, ia dipaksa turun tangan, tubuhnya melayang meninggalkan perahu, menghadapi si gadis berkerudung hitam itu.

Cu Liong Cu membiarkan sang lawan mendekati sehingga hadap-berhadapan. “Kukira aku sedang berhadapan dengan Sam Kiongcu Ngo-hong-bun, bukan ?” Berkata gadis ini.

“Tidak salah." Jawab Sun Hui Eng. “Dan kalau dugaanku tidak salah, kau adalah putri si Manusia Beracun Cu Hoay Uh kolot itu. Belum ada orang kedua yang bisa menggunakan racun2 kelas tinggi seperti apa yang kalian lakukan."

“Begitu ?" Balas tanya Cu Liong Cu, “Kalau ya, bagaimana ?"

“Serahkan obat penawar racun kepadaku." Berkata Sam Kiongcu.

“Ngo-hong-bun juga pandai ilmu racun2an, bukan ? Mengapa harus minta kepada orang ?"

“Kau tidak mau menyerahkan obat itu ?" “Tidak."

“Baiklah," kata Sam Kiongcu, “Coba kau gerakkan kedua tanganmu itu keatas."

Tiba2 Cu Liong Cu berteriak : “Aaaa…..Kau membokong ?"

“Itulah ilmu jarum Bu-siang Sin-ciam. Sepandai2nya tupai melompat, satu haripun jatuh juga. Bagaimana akhirnya kau menggunakan racun, sesudah jalan darahmu tertutup oleh jarum Bu siang Sin ciam, mungkinkah kau bisa menabur racun lagi?"

“Bah ! Tidak tahu malu. Membokong orang secara gelap." Dari balik tutup kerudungnya, Cu Liong Cu berdengus.

“Apa kau sudah tahu malu ?" Balik cemooh Sam Kiongcu. “Siapa yang begitu banyak meracuni orang dengan terang2an. Apa kau juga tidak menggelap ?”

Sesudah itu Sam Kiongcu menoleh kebelakang, di sana sudah turut serta 2 pelayan setianya, A Wan dan Bu Lan, kepada ke 2 pengawal pribadi ini, ia berkata :

“Ringkus gadis berbaju hitam itu. Tapi awas ! Jangan sentuh kulit atau tubuhnya. Gunakanlah sesuatu untuk menghindarkan sentuhan badan."

A Wan dan Bu Lan membuat persiapan2, mereka harus mencari kain terpal, agar bisa mengelakkan sentuhan tubuh dengan kulit si gadis berbaju hitam yang serba beracun itu.

Keadaan Cu Liong Cu berbahaya !

Tiba2 satu bayangan menyelak turun, itulah Kang Han Cing yang keluar dari tempat persembunyiannya.

“Tunggu dulu !” Teriaknya lantang.

Kehadiran Kang Han Cing disertai oleh dua bayangan lain, itulah Lie Wie Neng dan Goan Tian Hoat. Tiga pendekar muda kita siap menghadapi rintangan2 Ngo hong-bun. Dari sepasang lubang topeng perunggunya, Sam Kiongcu memancarkan sinar mata bercahaya, ditatapnya Kang Han Cing sehingga beberapa saat.

Kang Han Cing maju tiga langkah.

Dua pasang mata beradu dekat2, tidak jelas bagaimana perubahan wajah Sam Kiongcu yang tertutup oleh topeng perunggu itu. Hanya tampak getaran badannya, perasaan terangsang, karena berhasil menjumpai si jantung hati, perasaan penyesalan, karena si ‘dia’ tidak menurut kehendak hatinya, dan perasaan malu, aneka macam perasaan itu berkecamuk menjadi satu.

Didepan orang2 bawahan dan sumoaynya, kewibawaan seorang pemimpin harus dipegang kuat2, dengan dingin Sam Kiongcu berkata : “Jie kongcu, kau masih berada di tempat ini?”

Kata2 yang tersembunyi sangat jelas dan mudah dimengerti ! Itulah teguran, mengapa kau tidak mendengar bujukanku dan memisahkan diri dengan orang2 Lembah Baru ?

Kang Han Cing mengangkat tangan memberi hormat, ia berkata : “Sam Kiongcu, tentunya kau hendak menghadang perjalanan kami yang mengantar Lie Kong Tie tayhiap, bukan ?"

Sambil bicara Kang Han Cing mengeluarkan suara tekanan tinggi : “Terima kasih kepada pemberian obat Sam Kiongcu. Lebih berterimakasih lagi pemberitahuan tentang penyergapan ini." Dua orang yang bersatu hati bertemu didalam suasana panas permusuhan. Dari balik topeng perunggunya, Sam Kiongcu juga menyalurkan suara rahasianya : “Mengapa kau tidak mendengar nasihatku ?”

Lain disuara gelap, lain pula didepan umum, dengan suara kaku, ia berkata : “Dimana kalian sembunyikan Lie Kong Tie itu ?”

“Tentu saja tidak berada disini,” Jawab Kang Han Cing dengan suara resmi.

Dan dengan saluran2 gelombang tertentu, ia bicara pribadi : “Mengapa Sam Kiongcu tidak mau meninggalkan Ngo hong-bun ?”

Disaat ini Lie Wie Neng turut bicara : “Bedebah, hendak kalian apakan pula ayahku ?”

“Lie kongcukah ?” Bertanya Sam Kiongcu Sun Hui Eng.

“Huh !” Dengus Lie Wie Neng. “Sesudah meracuni ayahku, kalian masih belum puas ?”

“Maksud Lie kongcu ?”

“Se-pandai2nya Sam kiongcu, tokh kehabisan anak buah juga. Menyerahlah !"

Menunjuk kearah Cu Liong Cu yang sudah tertotok, Sam Kiongcu berkata : “Putri Manusia Beracun sudah berada di pihakku, apa yang kalian bisa lakukan ?”

Disaat itu, A Wan dan Bu Lan sudah mengancam Cu Liong Cu, dua batang pedang terarah selalu, maksudnya jelas, kalau kompromi tidak dapat diselesaikan, si Putri Beracun adalah sandera.

“Saudara Lie, tunggu dulu," Cegah Kang Han Cing sebagai juru pemisah.

Sesudah itu, dihadapinya Sam Kiongcu dan berkata : “Sam Kiongcu, bisakah kau membebaskan nona Cu ?”

“Dan bagaimana keadaannya dengan begitu banyak orang2ku yang terkena bisa racunnya ?" Tanya Sam kiongcu.

“Sesudah kau membebaskan nona Cu Liong Cu, kita bisa membujuknya untuk memberi pengobatan," Jawab Kang Han Cing.

“Apa kau berani jamin, dia mau memberi obat penawar racun ?"

Sebelum Kang Han Cing memberi jawaban, Lie Wie Neng berteriak :

“Saudara Kang, jangan tolol. Kita hanya minta satu orang. Satu tukar satu. Hanya satu yang bisa disembuhkan."

Kang Han Cing membisiki sesuatu ditelinga Lie Wie Neng : “Bagaimana kita memberi pertanggung jawabannya kepada Cu Hoay Uh cianpwe ? Kalau sampai terjadi putrinya jatuh kedalam tangan Ngo- hong-bun ?”

Tentu saja. Lie Wie Neng pernah melepas janji kepada Cu Hoay Uh, ia tidak akan melupakan budi kakek itu, mengingat pertolongan yang pernah diberikan untuk menyembuhkan racun2 Lie Kong Tie. Kini Cu Liong Cu jatuh kedalam tangan orang, bagaimana kalau pihak Ngo-hong-bun ngotot tidak mau melepaskannya ?

“Bagaimana ?" Tanya Sam Kiongcu menjadi tidak sabaran. “Apa kalian belum selesai berunding

?"

Kang Han Cing segera bicara : “Baiklah. Kalau Sam Kiongcu bersedia melepas nona Cu Liong Cu, aku berjanji untuk menyembuhkan racun orang2 itu."

“Baik. Aku percaya kepadamu.” Sam Kiongcu Sun Hui Eng bersedia melepas Cu Liong Cu, dengan syarat menyembuhkan keracunan orang2nya.

“Sam Kiongcu," tiba2 si Badan Besi Kwee In Su nyeletuk.

“Ada apa ?" Sun Hui Eng menjadi tidak puas atas cegahan itu.

“Obat penawar racun sudah tentu berada didalam badannya." Sambil menunjuk Cu Liong Cu. Kwee In Su tidak setuju melepaskan si Putri Beracun, karena itu ia berusaha mencegah. “Sesudah dia jatuh kedalam tangan kita, mengapa harus menyerahkan kepada orang2nya ? Apa lagi kalau mereka menelan kembali janji dan. ”

“Cukup,” potong Sam Kiongcu. “Kang Jie kongcu bukan orang tidak bisa dipercaya. A Wan bebaskan dan cabut jarum Bu-siang Sin-ciam !”

A Wan mengeluarkan sebuah besi sembrani, didekatinya kearah kedua lengan Cu Liong Cu, maka tersedot keluarlah dua jarum bu siang Sin- ciam itu.

Sam Kiongcu tidak banyak bicara lagi, dari jarak jauh ia menotok hidup jalan darah Cu Liong Cu.

Si Putri Beracun berhasil mendapat kembali kebebasannya, dari balik kerudung hitam, ia mengeluarkan dengusan, membalikkan badan berjalan pergi.

“Nona Cu, tunggu dulu,” Teriak Kang Han Cing.

Cu Liong Cu menghentikan langkahnya, tanpa membalik badan, ia bertanya : “Ada apa ?”

“Nona sudah terkena jarum Bu-siang Sin-ciam Ngo-hong-bun, karena itu…..”

Cu Liong Cu berbalik, dari sepasang lubang tutup kerudungnya, ia bertanya : “Kau yang menolong diriku ?"

“Bukan. Tapi sudah kujanjikan Sam Kiongcu untuk mengobati orang2nya yang terkena racun2 itu.”

“Kau mempunyai obat penawarnya ?" Tanya Cu Liong Cu.

“Nona, kalau tidak kujanjikan seperti itu, mereka tidak mau memberi kebebasan, sedangkan kau berada didalam tangan mereka, bagaimana aku….aku……”

“Kalau aku tidak mau menyerahkan obat penawar racun itu, bagaimana?" Potong Cu Liong Cu. “Dan lagi, siapa yang menyuruhmu memberi jaminan ? Kau sudah membuyarkan rencana Tan tongcu yang hendak meringkus mereka semua ini, tahu ?”

Kang Han Cing memandang si gadis berkerudung hitam dengan mulut terbelalak.

“Bagaimana ?” Bertanya Cu Liong Cu.

Apa yang bisa dilakukan oleh Kang Han Cing ? Merebut obat penawar racun dari tangan Cu Liong Cu ? Tentu tidak mungkin. Bukan tidak mungkin karena ia tidak mempunyai kemampuan untuk meringkusnya, tetapi tidak mungkin karena mengingat jasa-jasa ayah putri berkerudung ini kepada rimba persilatan pada umumnya.

Menyaksikan keadaan Kang Han Cing yang seperti itu, akhirnya Cu Liong Cu mau juga mengalah. “Baiklah,” katanya. “Demi nama baik Kang Jie kongcu, aku bersedia menyerahkan obat penawar racun itu.”

“Terima kasih…..Terima kasih.....” Berkata Kang Han Cing girang.

“Tunggu dulu, jangan terlalu cepat menjadi girang." Berkata Cu Liong Cu.

“……..” Kang Han Cing memandang dengan sikap bingung.

“Demi janjimu kepada orang, aku harus menyerahkan obat ini. Dan bukan kepada mereka."

Kang Han Cing menyengir, yang membutuhkan obat penawar racun itu adalah orang2 Sam Kiongcu, bagaimana harus diserahkan kepada dirinya. “Maksud nona, bagaimana menyerahkan kepada mereka ?" Memang bingung untuk menghadapi seorang gadis yang seperti Cu Liong Cu.

“Begitu sayangnya ?" Tanya Cu Liong Cu. “Boleh juga menyerahkan obat dengan syarat2 tertentu."

“Syarat apakah itu ?”

“Kau harus bisa menyuruh Sam Kiongcu membuka tutup topeng perunggunya yang menakutkan itu."

“Mungkin…..Mungkin…..”

"Mungkin apa lagi. Kalau ia tidak bersedia membuka topeng perunggu, apa salah kalau aku menahan obat penawar racun ?"

“Baik, akan kucoba." Berkata Kang Han Cing. Ia segera menghampiri Sam Kiongcu.

Cu Liong Cu mengikuti dibelakang Kang Han Cing. Terjadi lagi pertengkaran kecil, hanya kata2 mereka dipercakap dengan perlahan, tidak terdengar oleh lain orang.

Menyaksikan keadaan yang seperti itu, Lie Wie Neng menghela napas. “Saudara Goan,” katanya. “Dugaanmu selalu tepat.”

“Hanya satu kebetulan,” Berkata Goan Tian Hoat tertawa.

Di tempat lain Sam Kiongcu merasa disakitkan. Betapa tidak, menyaksikan keadaan Kang Han Cing yang mengobrol uplek dengan seorang gadis lain. “Bagaimana ?" Teriaknya. “Apa kalian belum selesai berunding ?"

“Nona Cu sudah bersedia menyerahkan obat penawar racun,” Jawab Kang Han Cing.

“Mana obat itu ?"

“Obat sudah diserahkan kepadaku.” “Nah, boleh kau keluarkan bukan ?"

“Nona Cu mengajukan syarat lain." Berkata Kang Han Cing, apa boleh buat.

“Kalau aku tidak bisa memenuhi syarat itu tentunya dia tidak mau menyerahkan obat penawar racun, bukan ?" Tanya Sam Kiongcu.

“Begitulah pesan nona Cu.”

“Apa syarat yang diajukan olehnya ?" Tanya Sam Kiongcu.

“Bisakah Sam Kiongcu membuka topeng perunggumu didepannya ?"

“Hendak melihat wajah orang?" Tanya Sam Kiongcu. “Apa kau sudah janjikan aku bersedia membuka topeng didepannya ?"

“Belum.”

“Syukurlah," berkata Sam Kiongcu. “Sebelumnya tidak ada syarat embel2 lain, bukan ? Kau yang berjanji, menjamin penyerahan obat penawar racun sesudah membebaskan dirinya. Karena itu tuntutanku adalah tuntutan wajib. Apa lagi kau tidak pernah berjanji kepadanya kalau aku bersedia membuka topeng didepannya. Maka tanpa pembukaan topeng itupun dia harus menyerahkan obat."

Terus menerus Kang Han Cing menghadapi problem, berkerut alis dalam2, bagaimanakah dia hari ini ? Dari kedua gadis yang tidak sepaham itu mendapat banyak kesulitan.

“Tapi…..Tapi……” Susah memberi penjelasan yang lebih mendalam.

“Apa lagi yang menyusahkan Jie kongcu ?" Tanya Sam Kiongcu.

“Inilah permintaan nona Cu, kalau tidak dipenuhi, mungkin…..Mungkin……”

“Dia tidak mau menyerahkan obat penawar racun itu ?”

“Begitulah."

“Begitu tunduk kepadanya ?" Berkata Sam Kiongcu. “Baiklah, tolong juga sampaikan salamku. Lain kali, kalau saja ia jatuh kedalam tanganku, akan kusayati wajahnya yang ditutup itu."

Di pihak lain, Cu Liong Cu juga berteriak :

“Jie kongcu, sampaikan juga salamku, lain kali, tanpa kehadiranmu. Matipun jangan harap bisa meminta sesuatu dariku."

Sebetulnya, jarak kedua gadis cukup dekat, tanpa orang ketigapun bisa didengar oleh pihak lainnya. Tokh mereka memviakan Kang Han Cing sebagai juru bicara. Menonton jalannya cerita, Goan Tian Hoat menoleh kearah Lie Wie Neng dengan mesem meng-geleng2kan kepala.

Sam Kiongcu sudah menyodorkan tangan meminta obat penawar racun yang sudah dijanjikan. “Boleh kau serahkan, bukan ?” Katanya. “Demi kepentinganmulah, acc."

Kang Han Cing mengeluarkan obat penawar racun, siap diserahkan kepada Sun Hui Eng. Tiba2 terdengar teriakan Cu Liong Cu :

“Tunggu dulu, begitu percaya kepadanya ? Kalau dia tidak mau membuka topeng perunggunya sesudah menerima obat itu, bagaimana ?”

“Kukira hal itu tidak mungkin terjadi," Berkata Kang Han Cing.

“Kau berani memberi jaminan ?" Tanya Cu Liong Cu. Ia bersitegang mau melihat wajah asli Sam kiongcu yang tersembunyi dibalik topeng perunggu, sebelum obat penawar racun diserahkan kepadanya.

“Orang sudah membebaskan nona, hanya percaya kepada diriku. Suatu bukti kalau ia tidak menelan janji. Baik. Kuberikan jaminan itu.”

Sam Kiongcu tertawa puas, katanya : “Baiklah. Mendengar kata2mu yang memang cukup manis, aku bersedia mengalah."

Sesudah itu Sam Kiongcu mencopot topeng perunggunya. Bercahayalah seketika atas pimpinan Ngo-hong-bun itu. Walau di malam gelap, alam tidak akan menyembunyikan umatnya yang cantik.

“Betul2 seorang perempuan." Bergumam Cu Liong Cu. Kalau tadinya ia hanya menduga, kini kepastian itu ada. Pantas saja Kang Han Cing sangat jinak kepadanya.

Sam Kiongcu menyingkap rambutnya yang halus terurai, dikenakan lagi topeng perunggu penutup wajah itu. “Ya, aku seorang wanita, ada hubungan apa dengan dirimu ?" Tanyanya mengejek.

“Pantas dia lulut sekali.” Berkata Cu Liong Cu, membanting kaki sebentar, ia meninggalkan tempat itu.

Kang Han Cing tidak menduga sampai disitu, memandang arah lenyapnya si Putri Beracun, tanpa pengejaran.

Goan Tian Hoat dan Lie Wie Neng juga tidak bisa mencegah kepergian gadis dingin itu.

Sun Hui Eng memandang Kang Han Cing dan berkata : “Se-olah2 aku ini tidak boleh menjadi wanita ! Apa dia sendiri saja yang boleh ?”

Singkatnya, sesudah Kang Han Cing menyerahkan obat penawar racun, A Wan dan Bu Lan menyembuhkan orang2 Ngo-hong bun, satu persatu mulai sadarkan diri.

Yang paling penasaran adalah Go Kiongcu Co Hui Hee, begitu melihat adanya Kang Han Cing ditempat itu, tanpa mengucapkan ba dan bu, ia menyodok kearah tulang pinggang. Kang Han Cing sedang membelakangi orang, tokh mempunyai panca-indra yang lihay, secepat itu ia melejit kesamping.

Co Hui Hee memungut kebutannya, satu kali lagi serangan diteruskan.

“Sumoay !” Bentak Sam Kiongcu.

Tanpa bentakan itu, Kang Han Cing masih bisa mempertahankan diri. Biar bagaimanapun, ia lebih unggul dari Co Hui Hee. Mengingat kejadian digedung keluarga Wie, Co Hui Hee mendapat malu atas perbuatannya, Kang Han Cing harus mengalah sedikit. Karena itu, ia hanya mengelak tanpa membalas atau membuat serangan balasan.

Dibentak oleh sucienya, dan ia tahu sulit memenangkan ilmu kepandaian Kang Han Cing, Co Hui Hee menunggu kesempatan yang lebih baik. Pertempuran terhenti.

Di pihak lain, Hian-keng dan Hui keng sudah berhadapan dengan Goan Tian Hoat dan Lie Wie Neng. Sudah menjadi kebiasaan Hian-keng membokong orang, walau di mulut dipasang lidah manis, bertanya kepada Lie Wie Neng : “Dimanakah gadis berbaju dan berkerudung hitam tadi ?" Secara menggelap, tangannya mengirim satu serangan dingin.

Lie Wie Neng bukan putra datuk biasa, segera sadar akan adanya ancaman itu, tangannya dibalikkan, dengan mulut membentak, menggempur datangnya hawa dingin. “Kurang ajar ?” Bentak Lie Wie Neng. “Membokong orang ?”

“Dimana gadis berkerudung hitam itu ?” Tanya lagi Hian keng.

“Mana kutahu !" Jawab Lie Wie Neng. “Bukankah satu rombongan dengan kalian ?” “Memang satu rombongan..!"

Disaat ini, lagi2 serangan gelap Hian-keng menjulur datang.

“Hei, orang macam apakah kau ini ?” Teriak Lie Wie Neng sambil menangkis datangnya serangan berjalur dingin itu.

Terjadilah pertempuran !

Hui-keng menerjang hendak menerjang Goan Tian Hoat.

Baru saja Sam kiongcu Sun Hui Eng berhasil melerai pertengkaran Co Hui Hee dan Kang Han Cing, didengar lagi suara pertempuran, cepat2 ia memanggil kedua huhuatnya : “Jiwie huhuat….!”

“Inilah putra Datuk Utara Lie Wie Neng..." Jawab Hian-keng.

“Bisakah kalian menghentikan pertempuran ?” Berkata Sun Hui Eng.

“Sam Kiongcu ada petunjuk ?" Tanya Hian keng dan Hui keng.

“Hentikan pertempuran !" Inilah perintah. Sun Hui Eng harus menggunakan kekuasaannya. Hian-keng dan Hui-keng mengundurkan diri, mereka tidak dikejar oleh kedua lawannya.

Sun Hui Eng memandang kepada orang2nya dan melanjutkan komando perintah : “Hentikan semua pertempuran !”

Hian-keng, Hui keng dan Kwee In Su dkk yang sudah siap menarik kembali semua persiapan itu, mereka taat kepada perintah.

“Sam Kiongcu...." Berkata Hian-keng minta penjelasan.

Sun Hui Eng berkata :

“Kalian sudah terkena serangan racun jahat, kalau bukannya Kang Jie kongcu yang murah hati dan memberi obat penawar racun, kita terjungkel habis2an ditempat ini. Gerakan pasukan ketiga ditunda, semua kembali ke kapal !"

Hui-keng tertegun atas kejadian itu, ia berkata : “Sam Kiongcu, bagaimana kita memberi tanggung jawab kepada Jie Kiongcu yang mengharuskan meringkus dirinya ?"

Ia menunjuk Kang Han Cing.

Putra Datuk Selatan Kang Han Cing tertawa panjang, ia mengirim tantangan, katanya : “Hendak kulihat bagaimana kalian hendak meringkus diriku

?"

Sam Kiongcu menoleh ke arah Kang Han Cing, dari sepasang lubang topeng perunggunya ia memancarkan sinar malu penuh penyesalan, se- olah2 mengandung arti : Tidak bisakah kau mengalah sedikit ? Sesudah itu, dihadapi pula Hui keng dkk dan berkata :

“Semua tanggung jawab dari hasil gerakan ini berada diatas kedua pundakku. Sesudah mana menerima pemberian hadiah orang, tidak patut berkeras kepala. Kwee huhuat, kibarkan bendera keberangkatan, pulang !"

Kata2 terakhir ditujukan kepada si Badan Besi Kwee In Su.

Kwee In Su segera mengibarkan bendera pengunduran pasukan.

“Kembali ke kapal dan….Berangkat !"

Mereka bergerak teratur dengan arah perahu- perahu besar Ngo hong-bun.

Tiba2.....

“Hmm....” Satu suara berkumandang, memasuki telinga semua orang. Disana bertambah sesosok tubuh berselubung, dengan kepala terperongsong topeng perak, itulah Jie Kiongcu Ngo-hong-bun.

Kang Han Cing bersua dengan orang ini, mendekati Goan Tian Hoat dan Lie Wie Neng, ia berkata perlahan : “Itulah Jie Kiongcu."

Turut dibelakang Jie Kiongcu adalah tiga bayangan yang berlainan warna, mereka adalah Lengcu Panji Putih, Lengcu Panji hijau dan Lengcu Panji Merah.

Hui-keng dan Hian keng menduduki huhuat kelas satu, tokh mereka harus taat kepada perintah ketiga pimpinan Ngo hong-bun. Mereka tidak berani membantah Sam Kiongcu, karena itu, kedatangan Jie Kiongcu tepat memasuki lubuk hatinya, hanya Jie Kiongcu atau Toa Kiongcu yang bisa merobah pendirian Sam Kiongcu, karena itu mereka bergembira hati.

“O-mi-to hud," kata Hui keng. “Kedatangan Jie Kiongcu tepat pada waktunya."

Sun Hui Eng memberi hormat kepada saudara seperguruan itu. “Sucie." Panggilnya perlahan. “Kau juga datang ?"

“Rasa khawatirku tidak bisa dilenyapkan." berkata Jie Kiongcu. “Karena itu aku menyusul kemari."

Menoleh ke arah tiga jago muda, Jie Kiongcu berkata :

“Selamat bertemu, kukira aku sedang berhadapan dengan Lie Wie Neng kongcu dari Datuk Utara dan Pendekar Cendikiawan Goan Tian Hoat."

“Dugaan yang tepat," berkata Lie Wie Neng. Ia hendak menjajal ilmu kepandaian Jie Kiongcu Ngo- hong-bun itu, mengingat Kang Han Cing pernah menggembar-gemborkan ilmu kepandaiannya. “Apa kau juga hendak turut berperang?" Tanyanya penuh tantangan.

“Boleh juga turut didalam arena pertandingan," berkata Jie Kiongcu. Kemudian dihadapi Goan Tian Hoat. “Kudengar kau pandai berdiplomasi, maka sampai bisa tercipta Perserikatan 4 Datuk Persilatan." Katanya dengan sikap angkuh. “Suatu kejadian yang sangat merugikan Ngo hong bun."

“Adanya Ngo-hong-bun adalah kejadian yang mengganggu ketenangan rimba persilatan,” Berkata Goan Tian Hoat.

“Ya...Ya....Memang kita menganut idiologi yang tidak sama. Masing-masing menganggap mengganggu ketenangannya," berkata Jie Kiongcu, “Eh, mengapa tidak tampak si Manusia Beracun dan si hidung kerbau dari kelenteng Pek-yun-koan

?”

“Ha, ha, ha, ha….. Cu Hoay Uh cianpwe dan Tian-hung totiang yang kau maksudkan ? Nah ! Akhirnya kau tokh kalah perhitungan."

“Kalah perhitungan ?” Jie Kiongcu tidak mengerti.

“Cu Hoay Uh cianpwe dan Tian-hung-totiang sudah tidak berada ditempat ini." berkata Kang Han Cing.

“Aaa......" Teriak Jie Kiongcu. “Siasat Cecak Melepas Buntut ? Kalau begitu Lie Kong Tie sudah tidak berada di tempat ini ?"

“Tentu saja tidak berada disini," Berkata Lie Wie Neng.

“Mereka sudah berada dikelenteng Sin ko-sie, mungkin sedang mengubrak-abrik sarang kalian itu," berkata Kang Han Cing. “Inilah siasat Memancing Macan Meninggalkan Sarangnya.”

Ketua kelenteng Sin-ko sie mengeluarkan keringat dingin, hal itu sangat berbahaya, mengingat inti kekuatan Sin-ko-sie dan Ngo hong- bun sedang berada di tempat itu. Seperti apa yang Kang Han Cing cetuskan, itulah tipu siasat Memancing Macan Meninggalkan Sarangnya, menggunakan 2 perahu kosong sebagai umpan, perahu2 yang disangka Ngo hong-bun membawa Lie Kong Tie dkk menuju kearah Lembah baru, mereka terpancing.

Bukan seperti apa yang Jie Kiongcu katakan, siasat Cecak Melepas Buntut tidak terlalu penting, 'Buntut’ yang dilepas adalah 3 jago muda gagah perkasa yang tidak mudah dilayani.

“Kalau sampai terjadi sesuatu didalam kelenteng Sin-ko sie, jangan harap kalian bisa tidur nyenyak." Ancam Hui-keng.

“Ha, ha…..Sesuatupun sudah terjadi, apa yang taysu bisa lakukan kepada kita ?” Tantang Kang Han Cing.

“Mengkeremus tubuh kalian !" Teriak Hui-keng dengan suara jeritan.

“Betul." Jie Kiongcu mempertegasnya. “Mengkeremus 3 ekor cecak yang sudah mereka tinggalkan. Terutama kau…."

Ia menunjuk Kang Han Cing dan meneruskan kata2nya :

“Sesudah mencuri Tiga Pukulan Burung Maut golongan kami jangan harap kau bisa hidup tancap kaki, sebelum mengembalikan ilmu2 Ngo hong-bun itu." Mengembalikan ilmu2 Ngo hong-bun berarti memunahkan ilmu kepandaian Kang Han Cing. Keadaan menjadi tegang kembali, orang2 Ngo- hong-bun yang sudah siap kembali ke perahu2 mereka kini mulai tegang kembali.

“Sucie...” Tiba2 terdengar suara Sam Kiongcu Sun Hui Eng. Sedari tadi ia tidak turut bicara, baru sekarang ia meminta hak sebagai pemimpin gerakan.

“Ada apa ?" Bertanya topeng perak Jie Kiongcu. “Gerakan pasukan di malam ini atas perintah

Toa Sucie, siapakah yang mendapat tugas sebagai

pemimpin gerakan ? Sucie atau aku ?” “Tentu saja sumoay.” Berkata Jie Kiongcu.

“Mungkinkah Jie Sucie tidak melihat, kalau aku sudah memberi perintah untuk menangguhkan semua gerakan pasukan ?"

“Aku tahu." Jawab si topeng perak.

Topeng perunggu Sun Hui Eng berkata : “Nah. Tangguhkanlah gerakan malam ini. Semua kembali."

“Tapi…..” (Bersambung 22)