--> -->

Perintah Maut Jilid 18

 
Jilid 18

LAGI-LAGI Lengcu Panji Hijau Suto Lan menoleh. “Orang2 kita belum tentu bisa menerima sergapan mereka. Ketahuilah, Lie Wie Neng itu mudah ditipu, tapi belum tentu bisa mengelabui Khong Bun Hui, kalau saja seperti kejadian tadi, bukankah orang2 kita habis disergap? Maksudku meninggalkan basis Pian-shia dan menggunakan tempat tadi adalah menjaga kalau2 sampai terjadi perubahan mendadak. Disini masih berada dibawah kekuasaan Datuk Utara, setiap waktu harus menjaga pengurungan, maka menggunakan tempat yang bisa mudah ditinggalkan.”

“Ouw….Begitu."

Mereka melanjutkan perjalanan, maksud Kang Han Cing menyamar menjadi Lengcu Panji Hitam berpokok tujuan menyelundup masuk kedalam markas Ngo hong bun. Tidak disangka, rencana lawan juga hebat, sengaja memilih tempat sementara, maka tugas Goan Tian Hoat tidak berhasil menumpas sampai ke-akar2nya. Muncul Lengcu Panji Hitam Kang Han Cing memberi pertolongan, tokh ia hanya bisa mendatangi markas Suto Lan. Mereka tiba disebuah mulut lembah. Keadaan malam masih gelap, tidak jelas berapa dalam lembab itu. Kang Han Cing segera menduga tempat yang baru disebut Pian-shia.

Dugaan Kang Han Cing tidak salah. Mereka tiba dimulut lembah yang bernama Pian-shia itu. Suatu tempat yang strategis. Kedatangan mereka disambut oleh dua gadis berbaju hijau, mereka adalah Siauw Hoa dan Siauw Hiang, dua pelayan Suto Lan.

Kang Han Cing diajak memasuki lorong panjang dari lembah itu, jalan hanya bisa dilalui oleh seekor kuda, cukup jauh dan panjang. Tempat pilihan Suto Lan untuk mempernahkan anak buahnya, dimisalkan terjadi perubahan atau penghianatan Thio Kee Cong yang diperintah menyamar sebagai Lie Kong Tie, tempat ini bisa membendung penyerangan total.

Kang Han Cing mengikuti Suto Lan memasuki lembah itu, kini mereka sudah berada didataran rendah, disana terdapat beberapa bangunan, itulah markas Panji Hijau. Menuju ke salah satu dari bangunan2 tadi Suto Lan berkata : “Sutee, silahkan masuk.”

“Silahkan." Kang Han Cing memasuki rumah itu dengan hati berdebar2an, bagaimana kalau Suto Lan mengetahui penyamarannya ?

Kecurigaan Kang Han Cing bisa ditenangkan, mengingat ia memakai wajah Kang Puh Cing. Lebih tenang lagi setelah mereka duduk dan pasang omong, masing2 tidak membuka tutup kerudung mukanya.

“Sutee." berkata Lengcu Panji Hijau Suto Lan. “Bagaimana kesanmu dari tempat ini ?”

“Luar biasa," berkata Kang Han Cing. “Sungguh tempat yang sangat luar biasa. Strategis sekali. Bagaimana sucie mendapatkan tempat ini ?”

“Ie hu-huat yang menemukan." Jawab Suto Lan bangga. “Daerah utara berada dibawah kekuasaan keluarga Lie, banyak mata2 mereka. Sengaja memilih tempat ini, agar tidak mudah ditemukan mereka. Dan betul2 tidak mudah ditemukan mereka."

Ie hu-huat bernama Ie Cen Yap, pembantu Suto Lan yang bisa dipercaya.

Siauw Hiang membawakan dua cawan teh, diletakan dimeja.

“Silahkan minum." berkata Sato Lan. “Terima kasih.” Kang Han Cing harus berani mengambil resiko, kalau saja Suto Lan mencurigai penyamarannya dan memberi obat bius didalam minuman tadi, dirinya bisa celaka, inilah tanggung jawab seorang mata-mata.

Suto Lan belum menaruh curiga, sesudah mengeringkan cawan memandang Siauw Hiang dan memberi perintah : “Nyalakan lampu merah. Dan beri panggilan kepada Ie hu-huat."

Siauw Hiang menerima perintah dan mengundurkan diri, mengganti beberapa lampu dengan warna merah, itulah tanda bahaya. Sesudah ber-cakap2, lagi2 Lengcu Panji Hijau bertanya :

“Bagaimana hasil penyelidikan dari jejak2 Kang Han Cing ? Apa ada berita baru?"

Tentu saja Suto Lan tidak tahu kalau Lengcu Panji Hitam inilah yang bernama Kang Han Cing.

“Sesudah adikku bertemu Jaksa Bermata satu Tan Siauw Tian, muncul seorang pemuda berpakaian putih, ber-sama2 pemuda itu adikku berjalan pergi, sedari saat itulah adikku tidak ada berita lagi.”

“Ha ha…sebentar2 sebutan 'adikku’, se-olah2 kau betul2 menjadi engkohnya."

“Sudah kebiasaan." Berkata Kang Puh Cing. Ia memegang peranan Kang Puh Cing, didalam hal ini harus mendapat reaksi tepat. “Kalau tidak, bagaimana aku bisa menyelinap didalam gedung keluarga Kang tanpa diketahui mereka ? Inilah berkat bantuan wajah Kang Puh Cing.”

Ini waktu Siauw Hiang datang masuk memberi laporan :”Ie Tien Yap hu-huat sudah berada di depan."

“Silahkan masuk." Berkata Lengcu Panji Hijau Suto Lan tanpa membuka tutup kerudungnya, ternyata pimpinan Ngo-hong-bun menerima bawahannya dengan wajah tetap tertutup. Pantas saja misterius.

Hu-huat kelas tiga dari Ngo hong-bun Ie Cen Yap datang menghadap. Sesudah memberi hormat, ia berdiri disisi, menunggu perintah pimpinannya. Suto Lan berkata : “Datuk Utara berhasil membongkar orang-orang kita yang berada ditempatnya. Menurut info, mereka sudah mengeluarkan surat edaran bantuan kepada konco2 mereka. Keadaan kita tidak begitu optimis, mulai saat ini kita harus membatasi gerakan2, juga warna pakaian, sedapat mungkin mengelakkan warna hijau, dan kalau berada didalam keadaan terpaksa, jangan sekali2 menggunakan seragam. Tambah penjagaan, perkuat kewaspadaan. Baik2 camkan pesan2ku tadi."

“Baik,” Ie Cen Yap menerima dengan penuh kesadaran.

“Bagaimana keadaan selama aku tidak berada ditempat ini ?”

“Tidak ada kejadian yang luar biasa." Ie Cen Yap memberi laporan. “Tapi belum lama markas mengirim burung berita, karena Lengcu tidak berada disini burung berita itu diterbangkan ke arah Cun-kek koan. Apa Lengcu sudah….?"

“Aaaa..." Berteriak Suto Lan. “Sudah dikirim ke Cun-kek-koan ? Celaka ! Bisa2 jatuh kedalam tangan mereka."

Cun-kek-koan adalah tempat rimba yang dijadikan pos pertemuan, sengaja Suto Lan meninggalkan Pian-shia, menongkrongi Cun-kek- koan, mengingat mereka berada di bawah kekuasaan Datuk Utara, dan taktik pindah pos sementara ini betul2 tepat, Thio Kee Cong dilepas dan dibuntuti, berada di Cun-kek-koan, sangka Lie Wie Neng cs, mereka sudah berada di markas Panji Hijau, mereka membunuh Thio Kee Cong dan dua orang berseragam hijau, hanya itu yang mereka dapat, kekuatan Panji Hijau yang berada di Pian- shia tidak mengalami kerusakan.

Berita pusat Ngo hong bun dikirim ke Cun kek- koan tentu jatuh ke tangan orang2 Datuk Utara itu.

Suto Lan menjadi khawatir, berpikir beberapa saat, ia bertanya : “Apa isi berita ?”

“Hamba tidak berani membuka,” Jawab Ie Tien Yap. “Surat tertutup dengan tanda penting.”

Disaat ini, jendela kamar terdengar suara sesuatu. Suto Lan berteriak girang, ia berkata : “Siauw Hiang, lekas lihat, mungkinkah burung berita balik kembali ?”

Siauw Hiang berlari dan tidak lama ia balik kembali dengan seekor burung pos yang berwarna mulus. “Burung berita kita balik kembali,” teriaknya girang.

Suto Lan menerima burung itu, dari sebuah tabung kecil, ia mengeluarkan isi surat, dibacanya sebentar, kemudian menoleh ke arah Kang Han Cing.

“Sam susiok memberi tugas baru, kita berdua mendapat panggilan, ditunggu di kota Hang ciu. Untuk sementara urusan Datuk Utara boleh ditangguhkan. Biar Ie hu-huat yang menjaga keamanan disini.”

Yang diartikan Sam susiok adalah wanita bertopeng perunggu menyeramkan Sam Kiongcu. Kang Han Cing masih ber-pikir2, tugas apa lagi yang menunggu di kota Hang-ciu ?

Ie Cen Yap bertanya : “Bila Lengcu hendak berangkat ?”

“Sekarang juga.” Berkata Lengcu Panji Hijau Suto Lan.

“Sutee,” menoleh ke arah Kang Han Cing, Suto Lan berkata : “Mari kita berangkat."

Kedua lengcu berwarna meninggalkan Pian-shia menuju ke kota Hang-ciu, dimana menunggu tugas baru.

Perjalanan kedua orang itu tidak perlu diceritakan. Kang Han Cing selalu memperhatikan cerita Suto Lan, sayang kesan Suto Lan kepada Lengcu panji Hitam tidak terlalu baik, karena itu jarang bicara. Kang Han Cing tidak berdaya mengorek lebih banyak rahasia tentang Lengcu Panji Hitam yang harus dimainkannya baik2.

Perjalanan disiang hari sangat menyolok mata, Suto Lan membuka tutup kerudungnya, begitu juga si Lengcu panji Hitam palsu, mengingat wajah Kang Puh Cing yang bisa menimbulkan ekor panjang, Suto Lan memberinya sehelai kedok kulit, itulah wajah seorang laki2 setengah umur, dengan wajah ini Kang Han Cing berjalan siang.

Mereka keluar dari lembah dan sering berpapasan dengan tokoh2 silat2, rata2 menuju ke kampung Datuk Utara, seperti apa info yang didapat Suto Lan. Lie Wie Neng mengundang kawan kerabatnya. Suatu bukti kalau daerah utara itu masih berada di bawah kekuasaan keluarga Lie.

Tiba didepan kota Hang-ciu, baru Suto Lan bertanya : “Sutee, kau pernah mengunjungi kota Hang-ciu ?”

“Satu tahun yang lalu, ber-sama2 dengan Hu Cun Cay mengurus sesuatu." Jawab Kang Han Cing.

“Kalau begitu, kau lebih kenal kepada kota ini, bukan ?”

“Hanya satu kali kunjungan mana bisa mengenal selurug jalan ? Bersama2 sucie tentu harus tunduk dibawah perintahmu."

“Tapi aku belum pernah ke kota ini,” Berkata Suto Lan.

“Apa sam susiok tidak menyebut tempat tertentu ?” Bertanya Kang Han Cing.

Yang diartikan Sam susiok adalah Sam Kiongcu, panggilan itu memang lazim.

“Seperti apa yang kau lihat, surat perintah tidak menyebut nama tempat pertemuan.” Berkata Suto Lan. “Kukira kau sudah tahu tempat yang dikehendaki Sam susiok, tidak tahunya sama2 buta tempat. Bagaimana kita bisa menjalankan perintah ?”

Kang Han Cing selalu bercuriga kalau penyamarannya itu diketahui orang, selalu mengambil sikap yang ber-hati2, berpikir sejenak, ia berkata : “Lebih baik kita memilih rumah penginapan dahulu. Disana berpikir sambil menunggu perintah selanjutnya.”

“Baik juga. Eh, dimana dahulu kau menginap ?” “Dirumah penginapan Cao-hian-khung."

“Mari kita ke rumah penginapan itu." Suto Lan mengakhiri pembicaraan.

Tiba di rumah penginapan Cao-hian-khung, seorang pelayan menghampiri mereka, “Jiwie berdua hendak bermalam ?" Tanyanya. “Apa sudah memesan tempat lebih dahulu ?"

“Memesan tempat ?" Kang Han Cing menoleh kearah Suto Lan. Permainan apa lagi yang akan dihadapi ? Jauh2 mereka datang kemari, bagaimana ada waktu membuat pesanan tempat ?

“Kami baru saja sampai,” Berkata Kang Han Cing.

“Oh.....” Pelayan itu berkata. “Semua kamar sudah dipesan. Bukan kami menolak tamu tapi betul2 kenyataan, sangat menyesal sekali, kalau jiwie berdua belum pesan kamar, rumah penginapan kami sudah tidak ada kamar lagi."

“Tahun dulu aku juga pernah menginap disini, belum ada peraturan pesan tempat itu,” berkata Kang Han Cing.

“Oh...jiwie berdua langganan lama. Sayang sekali, betul2 menyesal sekali, sungguh, bukan maksud kami untuk…." “Baiklah,” Berkata Kang Han Cing. “Kalau disini sudah tidak ada tempat, biar kita memilih rumah penginapan yang lain.”

Ia siap mengajak Suto Lan meninggalkan rumah penginapan itu.

“Tunggu dulu." Tiba2 si pelayan rumah penginapan berkata. “Biar kami rundingkan dengan tuan pengurus."

Tidak lama pelayan itu balik kembali dengan disertai oleh seorang kakek kurus berkaca mata, tentunya pengurus rumah penginapan, kakek kurus itu memberi hormat kepada Kang Han Cing dan Suto Lan, ia mengajukan pertanyaan : “Jiwie berdua datang dari kota Kim-leng ?”

Hati Kang Han Cing tergerak, cepat menganggukkan kepala berkata : “Betul !”

“Kalau begitu,” berkata lagi pengurus rumah penginapan itu. “Tentunya hendak bayar kaul di gunung Hong-hong-san ?”

Bayar kaul ke gunung Hong-hong-san ? Lagi2 Kang Han Cing kemekmek, kini ia tidak sembarang kasih keputusan, menoleh ke arah Suto Lan, meminta jawaban rekan itu.

Suto Lan tidak memberi jawaban yang sportif, ia balik mengajukan pertanyaan : “Bagaimana kau tahu, kalau kami hendak membayar kaul ke gunung Hong-hong-san ?”

“Beberapa hari yang lalu, seorang pesuruh kalian datang memesan tempat, dikatakan olehnya, kedua majikannya yang datang dari kota Kim-leng hari ini tiba, dikatakan juga jiwie berdua hendak bayar kaul ke kelenteng Sin-ko di gunung Hong- hong-san.”

“Begitu ?” berkata Suto Lan. “Apa pelayan kami itu menyebut nama2 majikannya ?”

Memandang Suto Lan dan Kang Han Cing beberapa waktu, kakek berkaca mata itu berkata : “Tentunya salah satu dari jiwie menggunakan she Suto dan satunya lagi she Lauw, bukan ?”

Lengcu Panji Hijau memang Suto Lan, tepat dengan apa yang dikatakan oleh pengurus rumah penginapan. Bagaimana dan siapa nama Lengcu Panji Hitam? Baru sekarang Kang Han Cing mengetahui sedikit, ternyata ia harus menggunakan she Lauw.

Memperlihatkan wajahnya yang se-olah2 tidak mengerti, Kang Han Cing memandang Suto Lan dengan mata terbelalak.

Cara Kang Han Cing memperlihatkan mata terbelalak mengandung dua macam kemungkinan. Kemungkinan pertama ialah kalau kakek tua itu menyebut nama she yang betul, terbelalak, bagaimana orang yang belum mereka kenal bisa menyebut dua she itu? Kalau menyebut salah, bagaimana membuat kesalahan itu hanya kesalahan sebelah? Sengaja menyebut she Lengcu Panji Hijau yang tepat dan menyebut she Lengcu Panji Hitam yang salah?

Tampak wajah Suto Lan berubah girang, gadis ini berkata : “Betul. Kami berdualah yang dimaksudkan oleh pembantu cabang kota Hangciu itu.”

Ternyata she Lengcu Panji Hitam adalah she Lauw ! baru saat ini Kang Han Cing bisa tahu she dirinya sendiri. Dia she Lauw ? Lauw siapa? Inilah yang harus dicari terus.

“Syukurlah….syukurlah….” berkata kakek berkaca mata. “Jiwie berdua hampir pergi lagi.”

Ia menoleh ke arah pelayannya dan berteriak : “Lekas antarkan tamu2 kita ini ke kamar yang sudah dipesan. Kamar nomor 3 dan kamar nomor 5.”

Terbungkuk2 pelayan itu mengantar dua tamunya, kamar nomor 3 dan kamar nomor 5 adalah dua kamar yang bersambung, teraling oleh selembar pintu saja, cukup besar dan bersih.

Sesudah itu pelayan mengantarkan air cuci muka, sambil mempernahkan baskom itu, ia berkata: “Kami juga bisa menyediakan makanan kalau jiwie perlu, boleh pilih dan panggil hamba."

“Baiklah,” Berkata Suto Lan menggebah. “Nanti, kalau ada keperluan, kita bisa memanggil dirimu lagi.”

Pelayan itu mengundurkan diri.

Kang Han Cing memandang Suto Lan dan bertanya : “Heran, mengapa mereka menyebut2 diriku she Lauw saja ?”

“Mengapa tidak ?” Jawab Suto Lan. “Hari ini, kau tidak menggunakan kedudukan Kang Puh Cing, tentu saja menyebut she lamamu.” Sampai disini, keragu2an Kang Han Cing lenyap. Betul2 dia she Lauw. “Masih ada sesuatu yang sulit dimengerti,” ia bertanya lagi.

“Apa yang tidak dimengerti ?” Bertanya Suto Lan.

“Mereka mengatakan kita hendak berkaul di kelenteng Sin-ko diatas gunung Hong-hong-san?”

“Tentunya Sam susiok menghendaki pertemuan ditempat itu."

“Kapan kita pergi ? Sebentar malam ?"

“Sam susiok sudah menyediakan dua kamar disini. Tentunya memberi isyarat agar kita menetap dan istirahat. Lebih baik jangan terburu2. Tunggu saja panggilan berikutnya.”

“Baiklah.”

Malam itu Kang Han Cing tidur disebelah kamar Suto Lan.

Hari berikutnya, sesudah membersihkan diri dan mengisi perut dengan makanan pagi, meminta petunjuk penduduk setempat, mereka menuju ke arah kelenteng Sin-ko-sie di gunung Hong-hong- san.

Hong-hong-san terletak diluar kota Hang-cie, berupa tempat rekreasi juga, kecuali danau See- ouw, tempat itu termasuk salah satu yang banyak dikunjungi orang. Di gunung ini terdapat sebuah kelenteng yang bernama kelenteng Sin-ko-sie. Perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki, kanan kiri jalan pegunungan itu ditumbuhi oleh pohon2 rindang, angin sepoi2 bertiup diantaranya.

Bukan Kang Han Cing dan Suto Lan saja yang berkunjung ke kelenteng Sin-ko-sie, beberapa penganut agama yang patuh kepada pelajaranNya berkunjung datang, bersembahyang dan berkaul kepada Tuhan.

Mereka tiba di depan kelenteng Sin-ko-sie. Pemandangan pertama adalah asap dupa yang mengepul keatas, tempat pembakaran hio tepat berada didepan pintu.

Dua orang hweeshio melayani segala kebutuhan dari penganut agama Budha.

Disaat Kang Han Cing dan Suto Lan datang, seorang diantara hweeshio itu menyongsong datang. “Jiwie siecu juga hendak sembahyang?” hweeshio ini bertanya.

“Kami sedang ber-jalan2 dan tertarik kepada kemegahan kelenteng,” jawab Kang Han Cing.

“Oh, tidak apa. Silahkan masuk.” Berkata hweeshio itu. “Kelenteng kami selalu siap melayani semua tamu.”

Kang Han Cing dan Suto Lan memasuki ruangan depan dan menuju ke ruang belakang.

Hweeshio itu mengintil di belakang mereka. Hal ini membuat hati Kang Han Cing tergerak, menghentikan langkah dan bertanya: “Bagaimana gelar taysu ?”

“Siauwceng bernama Tu-in.” jawab hweeshio itu. “Tu-in taysu,” berkata Suto Lan. “Bagaimanakah caranya untuk bertemu dengan ketua kelenteng kalian? Bisakah kita menjumpainya?”

“Setiap orang berhak untuk bertemu dengan ketua kelenteng kami,” jawab Tu-in taysu. “Khusus untuk para pengikut aliran agama. Tapi bukan berarti menolak kunjungan para tamu dari lain aliran. Boleh juga pinceng sampaikan maksud tujuan jiwie siecu. Mungkin ketua kelenteng kami bersedia bertemu dengan jiwie siecu.”

“Tolong taysu beritahu akan maksud kami itu,” berkata Suto Lan.

“Baik. Silahkan jiwie siecu tunggu sebentar.” Berkata Tu-in sambil memberi hormatnya, kemudian ia berjalan masuk.

Tidak lama seorang padri berjubah hijau keluar dari pintu bulat, diiringi oleh Tu-in hweeshio.

Suto Lan dan Kang Han Cing menduga kepada ketua kelenteng, segera mereka memberi hormat.

Hweeshio berjubah hijau membalas hormat itu, ia berkata : “Selamat datang dikelenteng kami.”

“Kami dari Kim-leng," Berkata Suto Lan. “Aku she Suto dan saudaraku itu she Lauw..."

“Oh..." Berkata hweesio berjubah hijau itu. “Suto dan Lauw siecu sudah datang ? Tunggu sebentar, biar kami beritahu kepada ketua kelenteng."

Ternyata hweeshio jubah hijau itupun bukan ketua kelenteng, kedudukannya hanya diatas Tu-in taysu. Untuk urusan yang begitu besar, ia tidak berani mengambil putusan.

Hweeshio jubah hijau sudah masuk ke bagian dalam, tidak lama ia balik kembali, berkata :

“Maksud kedatangan jiwie siecu sudah pinceng beritahu kepada ketua kelenteng, untuk sementara jiwie siecu dipersilahkan kembali dahulu. Dua hari kemudian, mungkin ketua kelenteng kami bisa menjumpai jiwie siecu."

Hati Suto Lan berpikir : “Mungkinkah Sam susiok belum datang ? Ketua kelenteng ini tidak berani mengambil putusan ?"

Dan ia berkata : “Baiklah, sampai bertemu dua hari lagi."

“Sampai bertemu."

Mengajak Kang Han Cing, Suto Lan meninggalkan kelenteng Sin-ko-sie.

Ditengah perjalanan pulang, Kang Han Cing mengajukan pertanyaan : “Sucie, mengapa mereka tidak mau menerima kedatangan kita ?”

Suto Lan berkata : “Kukira atas instruksi Sam susiok. Tunggu saja dua hari, kita balik kembali.”

Untuk kembali ke rumah penginapan, didalam waktu yang seperti itu, sangatlah dirasakan sekali terlalu pagi, atas usul Suto Lan, mereka mengunjungi beberapa tempat pesiar ternama.

Mereka kembali ke rumah penginapan manakala matahari terbenam. Suto Lan merasa letih, langsung kembali ke kamarnya dan tidur. Kang Han Cing mengambil kamar disebelahnya.

Menjelang tengah malam…..

Kang Han Cing memanjangkan telinganya, suara dengusan Suto Lan terdengar samar2, si gadis sudah tidur pulas, per-lahan2 ia bangkit dari tempat tidur dan berganti pakaian ringkas, diselimutinya bantal guling, se-olah2 seorang yang sedang tidur, hal ini untuk mengelabui kalau2 Suto Lan melongok ke kamarnya, sedang dia sendiri dengan melalui jendela meluncur pergi.

Kang Han Cing menyamar sebagai Lengcu Panji Hitam, maksudnya menyelidiki keadaan pihak Ngo- hong bun. Dan disini adalah kesempatannya, mungkin kelenteng Sin-ko-sie yang menjadi sasaran, untuk mengetahui pasti, ia memberanikan diri meninggalkan Suto Lan dan menyatroninya.

Meninggalkan rumah penginapan, langsung Kang Han Cing menuju ke arah gunung Hong- hong-san.

Perjalanan ke arah kelenteng Sin-ko-sie di gunung Hong-hong-san tidak terlalu jauh, sekejap mata kemudian, Kang Han Cing sudah berada ditempat itu.

Gelap…..

Keadaan kelenteng Sin-ko-sie juga gelap, tidak ada api penerangan, tidak terdengar para hweeshio yang membaca doa2. Hal ini semakin menambah kecurigaan Kang Han Cing, ia membuka kedok penyamarannya sebagai anak buah Ngo hong-bun dan memakai kedok kulit manusia pemberian Tong Jie Peng, itulah wajah Lie Siauw San !

Kehadiran Lie Siauw San didalam sarang Ngo- hong-bun sudah selayaknya !

Dengan gerakannya yang lincah, secara ber- hati2 Lie Siauw San mendekati kelenteng Sin-ko- sie. Ia tidak berani lengah, mengingat bahaya kepergok musuh.

Pasti ! Pasti sekali. Kelenteng Sin-ko-sie adalah markas gelap Ngo-hong-bun, mengingat kata2 rahasia si pengurus rumah penginapan yang me- nyebut2 code 'hendak membayar kaul' di kelenteng Sin-ko-sie.

Dan kini Kang Han Cing yang menyelidikinya. Dari satu wuwungan lompat ke lain wuwungan kelenteng, kecuali para hweeshio yang tidur, ia tidak menemukan lain kecurigaan.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mungkinkah salah terka ? Tidak mungkin. Karena gelapnya lampu2 pelita itulah yang membuat Kang Han Cing bertambah curiga, kelenteng non politik tidak mungkin menggelapkan lampu penerangan !

Bagaikan gumpalan asap yang melepus, Kang Han Cing meluncur ke belakang, disana adalah ruangan ketua kelenteng, seorang hweeshio berjubah kuning duduk bersila, agaknya sedang mengheningkan cipta. Diperhatikannya terus hweeshio ini, tidak ada tanda2 yang menyatakan ia berkepandaian silat lihay, terbukti tidak tahu akan Kang Han Cing. Kang Han Cing tidak menemukan sesuatu yang mencurigai, dengan penuh rasa kecewa, ia meninggalkan kelenteng Sin-ko-sie.

Kalau kepergian Kang Han Cing sangat berhati2 menyatroni markas Ngo-hong bun, kini ia kembali dengan hati tenang. Ia tidak menemukan bukti kalau kelenteng Sin-ko sie itu dijadikan markas Ngo hong bun, maka anggapnya sudah bebas dari intaian bahaya. Berjalan pulang dengan lenggang.

Tiba-tiba…..

“Hi, hi, hi...” Terdengar satu suara wanita, sangat merdu dan sedap, seperti keluar dari mulut seorang gadis remaja.

“Siapa ?" Cepat2 Kang Han Cing berbalik badan. Didepannya berdiri seorang gadis cantik, mengenakan pakaian warna hijau, gerakannya indah gemulai, berilmu silat tinggi. Ia tidak kenal gadis cantik ini.

Mereka saling hadap berhadapan. “Kukira siapa." berkata gadis cantik itu. "Tidak tahunya Lie Siauw San kongcu.”

Suara ini tidak asing bagi Kang Han Cing, inilah suara manusia bertopeng perunggu Sam Kiongcu.

Ternyata wajah Sam Kiongcu yang selalu terkurung dibalik topeng perunggu itu sangat cantik sekali !

“Kau Sam Kiongcu ?” Bertanya Kang Han Cing meminta kepastian.

“Ingatan saudara Lie Siauw San memang sangat tajam, kau bisa membedakan suaraku.” Berkata Sam Kiongcu. Tiba2 saja wajahnya berubah bersemu dadu.

Kang Han Cing hampir terpikat oleh wajah ini. Berbeda kalau mengenakan topeng perunggunya, Sam Kiongcu bicara secara adem dan dingin, tidak ada seni kehidupan, kini Sam Kiongcu berbicara penuh gelora.

Kalau menggunakan kedudukan Lengcu Panji Hitam, Kang Han Cing harus memanggil Sam susiok.

Kedudukannya sekarang sebagai Lie Siauw San, ia tidak perlu gentar, dihadapinya Sam Kiongcu dan bertanya : “Ada urusan apa yang membuat Sam Kiongcu harus menghadang ditengah jalan ?”

“Sudah kuperhitungkan kehadiranmu di tempat ini." Berkata Sam Kiongcu perlahan. “Yang berada diluar perhitungan, adalah kedatanganmu terlalu pagi. Bagaimana kau mendapat info secara cepat ? Dari mana kau dapat ?"

Wah ! Penyamarannya sebagai Lengcu Panji Hitam bisa diterka orang, kalau Sam Kiongcu mengetahui kedatangannya kesini ber-sama2 dengan Suto Lan, datang atas perintahnya Sam Kiongcu pribadi, karena itulah, dengan sikapnya yang acuh tak acuh, Kang Han Cing berkata :

“Bagaimana Sam Kiongcu bisa berada ditempat ini, begitu pulalah aku berada ditempat ini."

Artinya sangat jelas dan gamblang, ia bisa berada digunung Hong-hong san karena membuntuti Sam Kiongcu. Wajah Sam Kiongcu memperlihatkan bentuk yang sangat serius, dengan penuh bujuk rayu berkata : “Betul2 aku tidak mengerti, bisakah kau berterus terang untuk menjawab pertanyaan yang hendak kuajukan ?"

“Pertanyaan apa ?”

“Saudara mempunyai permusuhan dalam dengan partay Ngo-hong-bun ?”

“Tidak," Jawaban Kang Han Cing sangat cepat. “Atau mempunyai ganjelan sakit hati ?"

“Juga tidak.”

“Inilah yang membuat orang betul2 tidak mengerti, mengapa saudara memusuhi Ngo-hong- bun ?”

“Apa betul2 aku memusuhi Ngo-hong-bun ?” Balik tanya Kang Han Cing.

“Betul2 tidak memusuhi Ngo-hong bun ?" Tampak sekilas cahaya terang pada sinar mata Sam Kiongcu. “Seharusnya kau tidak bermusuhan dengan Ngo-hong bun.”

“Begitu juga untuk pihak Ngo hong bun, tidak seharusnya memusuhi kawan sesama rimba persilatan.”

“Maksudmu ?”

“Kita memberi kebebasan beridiologi, memberi kesempatan hidup kepada semua partay2 silat, dengan syarat tidak merugikan masyarakat dan tidak menyimpang dari azas2 prikemanusiaan, bukan berarti menyuruh dan menganjurkan sesuatu partay saja yang memonopoli kekuasaan, tidak mengharapkan adanya sesuatu golongan yang mau menang sendiri, disinilah letak kesalahan Ngo-hong bun, hanya hendak berkuasa didalam rimba persilatan, tidak segan2 menurunkan tangan jahat mem-bunuh2i mereka yang menentang idiologinya, hanya hendak duduk diatas takhta pemimpin rimba persilatan, merusak tata peraturan yang ada..."

“Saudara Lie Siauw San, lebih baik kita tidak berdebat didalam arena politik itu." Berkata Sam Kiongcu.

“Maksud Sam Kiongcu?"

“Jangan panggil aku Sam Kiongcu, karena aku tidak mengenakan topeng perunggu hijau itu.” Berkata gadis cantik itu.

“Maksud nona, Sam Kiongcu adalah lambang salah seorang pemimpin Ngo-hong-bun dikala ia mengenakan topeng perunggu yang menyeramkan

?”

“Kira2 begitu. Hari ini aku menghadapi dirimu dengan wajah asli, suatu hal yang belum pernah terjadi untuk menghadapi laki-laki yang baru kukenal. Kau boleh menjadi bangga atas pengecualian ini.”

“Betul2 boleh bangga bagi kaum pria yang mendapat pengecualian dari seorang gadis manis."

Wajah Sam kiongcu menjadi merah, ditundukkannya kebawah rendah2. “Aku sudah mengetahui namamu sebagai Lie Siauw San,” katanya. “Mengapa kau tidak mau menanyakan namaku ?”

Kang Han Cing menggunakan kedok Lie Siauw San dan menggunakan nama Lie Siauw San, sangka Sam Kiongcu betul2 seorang Lie Siauw San.

Kang Han Cing geli sendiri. Ia sedang me- nimbang2 pantaskah menanyakan nama seorang gadis yang belum lama dikenal ? Mengingat hubungan mereka yang tidak segaris, pandangan idiologinya yang tidak sama, ia berat mengajukan tawaran tadi.

“Hei, kau tidak sudi mengetahui namaku ?" Berkata lagi Sam Kiongcu.

Didesak seperti itu, merasa tidak ada kerugiannya, Kang Han Cing tertawa dan berkata :

“Senang sekali kalau mengetahui nama nona." “Aku Sun Hui Eng."

“Suatu nama yang indah dan bagus sekali." Puji Kang Han Cing. “Pantas saja nona berkepandaian tinggi. Mungkin mempunyai hubungan erat dari nama nona tadi !”

“Terima kasih atas pujianmu." Berkata Sam Kiongcu Sun Hui Eng. “Ilmu kepandaianmu juga tinggi, jago silat kuat yang pernah kutemukan."

“Ilmu kepandaianku memang tidak rendah bukan ? Karena itulah aku berani menantang Ngo- hong-bun."

Wajah Sun Hui Eng berubah, ditatapnya dan diperhatikannya pemuda kita, menghela napas dan berkata : “Apa tidak ada jalan lain, kalau tidak bersitegang dengan Ngo hong-bun ?"

“Harus dinilai dari tindak-tanduk berikutnya." Berkata Kang Han Cing. “Kalau partay Ngo-hong- bun bersedia mengganti haluan, mungkin tidak sampai terjadi ketegangan."

“Oh…. Kau membuat aku kecewa."

“Seharusnya perguruan nonalah yang membuat kecewa, ada baiknya kalau nona memberi anjuran kepada kawan nona, agar melenyapkan keangkara- murkaan, buang jauh2 ambisi tinggi yang mau menjadi raja rimba persilatan.”

“Sudahlah ! Kau tidak bisa memahami.” Berkata Sam Kiongcu Sun Hui Eng menyudahi perdebatan. “Maksudku menemuimu untuk menyampaikan sesuatu."

“Apakah pesan yang nona hendak sampaikan itu ?"

“Kedudukan kita memang bukan segaris," berkata Sam Kiongcu Sun Hui Eng. “Tapi tetap aku mengagumi dirimu, tidak baik kalau memaksa bersatu dengan Ngo-hong bun. Pendirianmu kukuh tidak bisa dirubah, idiologi partay lebih sulit ditentang. Biar bagaimana perkembangan berikutnya, aku masih mempunyai cara baik untuk menghadapi perkembangan itu, yang kuharapkan ialah agar janji dua hari itu bisa dihapuskan. Dua hari kemudian, jangan kau datangi kelenteng Sin- ko-sie lagi."

Nada dan suara Sam Kiongcu penuh perhatian. Kang Han Cing mengeluh, ternyata Sun Hui Eng sudah mengetahui kalau dirinya menyamar sebagai Lengcu Panji Hitam, maka ia mengharapkan tidak balik lagi. Tentu ada sesuatu perangkap yang terbentang dihadapannya.

Sesudah memberi pesan tadi tubuh Sam Kiongcu Sun Hui Eng melejit meninggalkan Kang Han Cing.

“Selamat berjumpa dilain kali.” Suara si gadis berkumandang dari jarak jauh.

Kang Han Cing harus berpikir panjang, dari gerak-gerik dan tanda2 yang diberikan oleh Sun Hui Eng, samarannya sudah diterka musuh, mungkin hanya Sun Hui Eng seorang yang tahu ? Kalau hanya gadis itu, ia tidak perlu takut, mengingat kesan si gadis yang agak lumayan.

Kang Han Cing pulang ke rumah penginapan dengan hati yang penuh kebimbangan. Beruntung Suto Lan belum bangun, si pemuda menyingkap guling dan membaringkan diri.

Dua hari kemudian…

Lengcu Panji Hijau dan Lengcu Panji Hitam meninggalkan tempat penginapan mereka, menuju ke arah kelenteng Sin-ko-sie di gunung Hong hong- san.

Mereka disambut oleh Tu-in hweeshio, langsung diajak ke tempat ketua kelenteng. Itulah tempat yang pernah Kang Han Cing satroni diwaktu malam pertama. “Hongtiang,” berkata Tu-in hweeshio dengan suara lantang. “Mereka sudah datang.”

“Suruh masuk.” Terdengar satu suara dari dalam ruangan.

Suto Lan dan Kang Han Cing berjalan masuk, didepannya terbentang ruangan yang luas, sangat bersih dan rapi, dua hweeshio berjubah kuning duduk di depan mereka, seorang berwajah putih dan seorang lagi agak ke-pucat2an. Yang berwajah putih adalah ketua kelenteng Sin-ko-sie yang pernah Kang Han Cing intip dimalam hari, dan yang berwajah ke-pucat2an adalah Hian-keng hweeshio, hu-huat kelas satu Ngo hong-bun yang pernah mengirim serangan gelap di Yen-cu-kie.

Bulu tengkuk Kang Han Cing terasa berkirik kalau mengingat kejadian lama itu.

“Silahkan duduk." Berkata hweeshio berjubah kuning yang berwajah putih itu.

“Jangan malu2." Berkata Hian-keng hweeshio. “Sesama orang sendiri, mari kuperkenalkan. Inilah suhengku yang bernama Hui-keng. Juga menjadi hu-huat kelas satu."

Suto Lan dan Kang Han Cing memberi hormatnya.

Ketua kelenteng Sin-ko-sie Hui-keng hweeshio membalas hormat itu dengan anggukkan kepala.

Tidak lama, terdengar lagi suara Tu-in hweeshio

:

“Hongtiang, Lengcu Panji Merah Phoa An Siu

dan Lengcu Panji Putih Liok Kok sudah tiba." “Silahkan masuk." Berkata Hui-keng hweeshio.

Ber-turut2 masuk pula dua laki2, mereka berpakaian preman, kedua manusia inilah yang sering menjelma sebagai Lengcu Panji Merah dan Lengcu Panji Putih.

“Teecu memberi hormat kepada hu-huat taysu,” Lengcu Panji Merah bernama Phoa An Siu dan Lengcu Panji Putih bernama Liok Kok, mereka memberi hormat kepada Hian-keng dan Hui-keng.

Hian-keng dan Hui-keng membalas hormat, mereka tertawa.

Suto Lan dan Kang Han Cing bangkit dari tempat duduknya, “Toa suheng, dan Jie suheng." Ia menyapa.

“Toa suheng. Jie suheng." Kang Han Cing turut membeo.

“Sam sumoay dan Su sutee datang lebih pagi dari pada kita." Berkata Lengcu Panji Merah Phoa An Siu.

Dari keempat Lengcu Panji berwarna, Lengcu Panji Merah yang tertua, urutan berikutnya ialah Lengcu Panji Putih, Panji Hijau dan Panji Hitam. Mereka langsung dididik oleh Toa Kiongcu. Rata2 memiliki ilmu silat tinggi. Sesudah golongan Perintah Maut menggabungkan kekuatan dengan Ngo-hong-bun, Empat Lengcu Berwarna yang mengurus wadah gabungan itu.

Hui-keng memandang Hian-keng dan berkata kepada sang sutee : “Sutee, 4 lengcu panji berwarna sudah hadir komplit, ajaklah mereka ke tempat Toa Kiongcu."

“Oh….Suhu sudah datang ?" Berteriak Lengcu Panji Merah girang.

“Bersama2 Sam Kiongcu.” Berkata Hian keng. “Mari kalian ikut aku."

Bukan Toa Kiongcu saja yang sudah datang, Sam Kiongcu juga berada di tempat itu !

Melewati pintu bulat, Hian-keng mengajak keempat Lengcu Panji Berwarna ke bagian belakang, ditempat itulah tokoh-tokoh Ngo hong- bun menunggu.

Kedatangan mereka segera disambut oleh dua pelayan Sam Kiongcu, mereka adalah : A Wan dan Bu Lan.

"Kedatangan kalian sudah ditunggu,” Berkata Bu Lan, mengajak mereka memasuki tempat pemandangan yang indah.

Kang Han Cing melirik kedepan, disana, tidak jauh di depan mereka berduduk dua orang, yang satu mengenakan topeng emas yang berkeredepan, inilah Toa Kiongcu. Duduk disebelah Toa Kiongcu adalah Sam Kiongcu Sun Hui Eng, tetap menggunakan topeng perunggu.

Dibawah pimpinan Lengcu Panji Merah Phoa An Siu, keempat panji berwarna memberikan hormat mereka.

“Duduk." Toa Kiongcu memberi perintah. Juga suara seorang wanita. Lengcu Panji Merah, Putih, Hijau dan Hitam duduk ditempat yang sudah tersedia, terdengar lagi suara petuah dari guru mereka :

“Kekalahan Ngo-hong bun untuk daerah Kang lam tidak bisa menyalahkan kalian berempat…”

Kang Han Cing mengeluarkan keluhan napas lega, ternyata Ngo-hong-bun didaerah Kang lam mengalami kekalahan total, inilah berita baru.

Terdengar lagi suara si topeng emas Toa Kiongcu berkata : “Entah bagaimana Datuk Timur Kho See Ouw bisa mendapat bantuan Siauw lim- pay dan Ngo-bie-pay. Yang berada diluar dugaan, Benteng Penganungan Jaya mau membantunya. Kalau bukan Hian-keng taysu turut serta, seluruh Panji Merah bisa hancur karenanya.”

“Untuk menghadapi Datuk Timur, Lengcu Panji Merah mengalami kegagalan total. Seperti juga keadaan Panji Hitam yang menghadapi Datuk Selatan, Panji Hijau yang bertugas menghadapi Datuk Utara dan Panji Putih yang menghadapi Datuk Barat, tidak satupun yang berhasil.”

“Betul2 menjengkelkan." Berkata lagi Toa Kiongcu. “Aneh sekali. Kang Han Cing bisa berguru kepada Pendekar Bambu kuning ! Lie Wie Neng berguru kepada Pendekar Kipas Wasiat ! Mengapa Datuk2 persilatan ini rela menyerahkan putra2 mereka dididik oleh tokoh aliran lain ? Tentu saja dengan ilmu kepandaian yang kalian sekarang miliki belum bisa menandingi mereka. ”

Kang Han Cing yang disebut2 oleh si Topeng Emas sudah berada didepan matanya, tapi ia tidak tahu kalau pemuda itu sudah menyamar sebagai salah satu muridnya.

Rasa kagetnya Kang Han Cing tidak kepalang, karena Toa Kiongcu bisa menyebut nama perguruannya, ia berguru kepada Pendekar Bambu Kuning tanpa ada orang yang tahu, telinga Ngo- hong-bun ini betul2 panjang, rahasia itupun sudah tidak bisa ditutupi lagi.

“Suhu,” berkata Kang Han Cing. “Maafkan teecu, betul2 teecu tidak tahu kalau Kang Han Cing itu berkepandaian silat sedari kecilnya, ia berpenyakitan, mungkin ia berguru secara diam2 ! Sehingga ayah dan engkohnya sendiripun tidak tahu…."

Kang Han Cing membawakan lagu suara Lengcu Panji Hitam yang menyamar sebagai Kang Puh Cing.

“Aku tidak menyalahkan dirimu.” Berkata Toa Kiongcu. “Menurut cerita Sam susiokmu, Kang Sang Fung betul2 sudah meninggal dunia. Kau lebih kenal baik tentang keadaan keluarga itu, bagaimana penilaianmu ?”

Lagi2 ada orang yang meragukan kematian Kang Sang Fung !

Kang Han Cing menganggukkan kepala berkata

: “Teecu telah melihat dengan mata sendiri bagaimana dipantek didalam peti mati. Kejadian ini tidak salah lagi.” “Sesudah kematian Kang Sang Fung, mengapa peti mati kedapatan kosong ?” Bertanya Toa Kiongcu.

“Mungkin ada sesuatu golongan lain yang mencuri jenazahnya."

“Apa kau sudah berhasil menyelidiki orang yang mencuri jenazah Kang Sang Fung itu ?”

“Teecu belum berhasil.”

“Inilah tugasmu. Sesudah kau kembali, segera membikin penyelidikan yang lebih teliti, tahu ?”

“Baik.”

Dari dalam saku bajunya, si Topeng Emas Toa Kiongcu mengeluarkan dua carik lembaran yang penuh dengan aneka catatan, memandang 4 murid didikannya dan berkata :

“Untuk menghadapi 4 Datuk Persilatan, kalian harus mempelajari ini, sudah kuminta Sam susiok kalian mewakili diriku menurunkan kepada kalian. Tiga Jurus Pukulan Burung Maut adalah inti kekuatan silat kita, baik2 kalian mempelajari. Dengan ilmu silat inilah, kalian akan menghadapi para datuk2 persilatan itu.”

Kemudian diserahkannya dua carik catatan ilmu silat yang dikatakan bernama Tiga jurus Pukulan Burung Maut, tentu saja, Sam Kiongcu menyambuti dari tangan sang sucie.

Sam Kiongcu Sun Hui Eng memandang kepada keempat keponakan muridnya, ia berkata : “Mulai esok hari, kalian berempat boleh mempelayari Tiga Jurus Pukulan Burung Maut ini kepadaku."

Toa Kiongcu dan Sam Kiongcu mengundurkan diri.

Hui-keng menjamu keempat Panji berwarna itu di kelentengnya.

“Mengapa harus hari esok memberi pelajaran Tiga Jurus Pukulan Burung Maut itu ?” Di-tengah2 perjamuan, Lengcu Panji Merah Phoa An Siu bertanya.

“Mereka masih ada urusan,” Berkata Hui-keng penuh arti.

“Hian-keng taysu juga turut serta ?”

“Hian-keng sutee juga turut serta,” berkata Hui- keng. “Apa kalian tahu, apa maksudnya mengundang kalian keempat ini ?"

Tujuan Kang Han Cing hendak menyelidiki rahasia2 Ngo hong bun, pertanyaan Hui keng tepat mengenai lubuk hatinya. Diantara keempat lengcu berwarna, panji hitam mendapat urutan keempat, karena inilah, hak pertanyaan Kang Han Cing tidak bisa dikeluarkan. Ia mengharapkan Lengcu Panji Merah yang menjawab.

Betul2 Lengcu Panji Merah membuka mulut ! “Kami sebagai murid2nya mana tahu maksud

tujuan mulia guru kami."

“Hal ini penting untuk diketahui,” berkata Hui keng. “Menyangkut hubungan dengan kalian. Untuk daerah Kang-lam, kita mendapat lawan terberat."

“Perlawanan bersama dari keempat datuk persilatan ?” bertanya Lengcu Panji Putih.

“Lebih kuat dari kekuatan 4 Datuk Persilatan.” “Kekuatan Siauw lim pay dan Ngo bie-pay ?" “Kalau hanya Siauw lim-pay dan Ngo-bie-pay,

Sam Kiongcu seorang sudah cukup untuk

menghadapinya.”

“Kekuatan darimana lagi yang bisa menandingi kekuatan kita ? Lebih kuat dari 4 Datuk Persilatan, Siauw-lim-pay dan Ngo bie-pay ?"

“Kekuatan Lembah Baru.”

“Kekuatan Lembah Baru ?” Lengcu Panji Merah Phoa An Siu baru mendengar nama kekuatan ini.

“Ya." Hui-keng menganggukkan kepala. “Satu kekuatan baru yang munculnya hampir sama dengan kekuatan kita. Menurut laporan terakhir, beberapa partay ternama sudah menggabungkan diri kedalam kekuasaan Lembah Baru itu. Perkembangannya lebih pesat dari apa yang kita capai."

Lengcu Panji Hijau Suto Lan mengajukan pertanyaan : “Taysu menyebut2 nama Lembah Baru, kekuatan yang bagaimanakah yang bernama kekuatan Lembah Baru ini ? Sesuatu golongan atau partay baru ?"

“Tidak ada yang tahu. Entah golongan atau partay. Mereka menggunakan sesuatu tempat tersembunyi. Disebut saja Lembah Baru. Maka berbondong2lah kekuatan yang mengekor dibelakang mereka."

“Taysu bisa mengira2, dimanakah adanya tempat yang bernama Lembah Baru itu ?"

“Kalian berempat juga boleh men-duga2, dimanakah adanya Lembah Baru itu ?”

“Teecu belum pernah dengar,” Berkata Lengcu Panji Merah Phoa An Siu.

“Mungkin disuatu tempat yang terasing,” berkata Lengcu Panji Putih.

“Teecu kira tidak jauh,” Berkata Lengcu Panji Hijau Suto Lan.

“Tempat yang berdekatan dengan kita." Berkata Kang Han Cing sebagai Lengcu Panji Hitam.

“Tepat !" Berteriak Hui-keng girang. “Salah satu cabang kekuatan Lembah Baru berada di daerah Kang lam.”

“Didaerah Kang-lam ?” Serentak Empat Lengcu Panji Berwarna mementang lebar-lebar mata.

Ketua kelenteng Sin-ko sie Hui-keng memberi keterangan :

“Dua orang hu-huat kelas dua dari golongan kita baru saja memberi laporan, kalau gerak-gerik kita sudah dibayangi oleh beberapa tokoh silat pensiunan, tentunya jago2 dari Lembah Baru yang mereka maksudkan, sesudah itu kedua hu-huat itu lenyap tanpa bekas. Pasti jatuh ke tangan mereka." “Lembah Baru mengambil sikap yang bermusuhan dengan Ngo hong-bun ?”

“Mereka bukan kawan kita." Jawab Hui-keng tegas. “Kemarin dulu malam, seorang mata2nya berani menyatroni kelenteng Sin-ko sie, kubiarkan saja ia tergantung di atasku, sesudah itu ia ragu2 dan pergi lagi."

Hati Kang Han Cing tertawa geli, kedatangannya dianggap sebagai mata2 dari Lembah Baru.

“Mengapa taysu tidak menjegalnya ?” Bertanya Lengcu Panji hijau Suto Lan.

“Maksud Sam Kiongcu, lebih baik menyembunyikan kelenteng Sin-ko sie dari incaran orang2 Lembah Baru. Mereka mempunyai banyak jago lihay."

“Tentunya Sam susiok membuntuti orang itu, bukan ?" Bertanya Lengcu Panji Merah Phoa An Siu.

“Dugaanmu tepat,” berkata Hui-keng. “Itulah maksud tujuan utama Sam Kiongcu, sayang musuh keliwat tajam, ditengah jalan, ia berhasil melepaskan diri dari bayangannya Sam susiok kalian."

Hati Kang Han Cing gejolak-gejolak, mengikuti cerita dirinya dibayangi oleh Sun Hui Eng.

“Ilmu meringankan tubuh Sam susiok belum pernah menemukan tandingan," berkata Lengcu Panji Hijau Suto Lan. “Mungkinkah tidak bisa mengejarnya ? Apa kata Sam susiok tentang mata2 itu ?" Hati Kang Han Cing semakin kebat-kebit. Apa yang diceritakan oleh Sun Hui Eng tentang dirinya

?

Ketua kelenteng Sin-ko-sie Hui-keng berkata : “Sam    Kiongcu    menggambarkan    orang    itu

sebagai seorang laki-laki tua yang tidak dikenal.

Kang Han Cing mengeluarkan keluhan napas lega, ternyata Sam Kiongcu Sun Hui Eng tidak menyebut nama Lie Siauw San.

Memandang Lengcu Panji Merah dan Panji Putih, Hui-keng meneruskan keterangannya.

“Menurut keterangan Tu-in, disaat kalian berdua memasuki kelenteng, ada seorang tamu kelenteng membelakangi dibelakang."

“Dimana orang itu?” “Dia sudah pergi lagi.”

“Taysu ada suruh orang membuntutinya ?”

“Bukan dia seorang yang sudah berada dibawah pengawasan kita. Selama beberapa hari belakangan ini, Kelenteng Sin-ko-sie banyak mendapat kunjungan tamu2 misterius." Berkata Hui-keng. “Maka lekas2lah kalian bebenah dan tinggal disini saja.”

“Perintah suhu ?”

“Ya. Inilah perintah Toa Kiongcu. Kalau tidak instruksi dirinya mana aku berani berbuat lancang. Lebih dari pada itu, dipesan juga agar kalian tidak memperlihatkan diri dimuka umum. Apapun yang terjadi jangan kalian ikut campur. Para hweeshio Sin-ko-sie masih mempunyai kemampuan untuk mempertahankan diri dari gangguan2 itu. Nah, kalian boleh pulang ke tempat rumah penginapan masing2 dan pindah kedalam kelenteng, mencampurkan diri ber-sama2 tamu2 lain yang menginap disini."

Perjamuan ditutup sampai disitu. Keempat lengcu panji berwarna meninggalkan kelenteng Sin ko-sie.

***

Bab 66

MENGIKUTI perjalanan Lengcu Panji Hijau Suto Lan dan Lengcu Panji Hitam, mereka kembali ke rumah penginapan Couw-hian-khung. Masing2 kembali ke kamarnya untuk membenahi perbekalan mereka.

Kang Han Cing sudah siap membuntal pakaiannya yang hanya beberapa potong itu, tiba2 tampak Suto Lan menyelinap masuk, menutup daun pintu, memperhatikan dengan sikap yang aneh.

Kang Han Cing bisa melihat ketidak-serasian itu: “Sam sucie,” ia memanggil. “Ada sesuatu terjadi ?”

“Apa betul2 kau mau pindah masuk ke dalam kelenteng Sin-ko-sie ?" Bertanya Lengcu Panji Hijau Suto Lan. “Eh, apa Sam sucie tidak mau pindah kesana ?” Balik tanya Kang Han Cing.

“Bagiku, tentu saja tidak keberatan. Tapi bagaimana dengan keadaanmu ?”

“Maksud Sam sucie, aku tidak pantas memasuki kelenteng Sin-ko-sie ?"

“Sudahlah. Kukira sudah waktunya kau membuka kartu." Berkata Suto Lan tenang perlahan.

Kulit Kang Han Cing dirasakan mau meledak, berkelojotan sendiri. Mungkinkah penyamarannya sudah diketahui orang ?

“Kartu apa yang harus dibuka ?" Kang Han Cing masih mau menyangkal.

“Aku memuji ketenanganmu." Berkata Suto Lan. “Betul2 luar biasa."

“Aku tidak mengerti."

“Didalam keadaan situasi yang seperti ini ada lebih baik kalau kita berterus terang," Berkata Suto Lan. “Jangan mencoba menyembunyikan sesuatu."

“Apa ada sesuatu yang sudah kusembunyikan kepada Sam sucie ?" Balik tanya Kang Han Cing.

“Coba katakan, apa maksud kedatanganmu ke tempat ini ?" Bertanya Suto Lan.

“Akh, Sam sucie ada2 saja. Bukankah kita datang atas panggilan Sam susiok ?"

Lengcu Panji Hijau Suto Lan tertawa dingin, katanya : “Jangan kau kira penyamaranmu itu lihay. Ketahuilah, kau bisa mengelabui suhu dan Sam susiok, tapi tidak mungkin kau mengelabui diriku."

“Maksud sam sucie ?"

“Sampai dimana hubunganku dengan Lauw Keng Sin, setiap hari aku bisa menilai kelakuannya. Dan sesudah kuperhatikan baik2, walau banyak persamaan yang bisa kau lakukan, tidak semuanya itu masuk diakal. Kau bukan Lauw Keng Sin asli !”

Wah ! Pecahlah samaran Kang Han Cing ! Ternyata Suto Lan sudah bisa melihat perbedaan si Lengcu Panji Hitam palsu itu.

Baru sekarang Kang Han Cing tahu, kalau orang yang dipalsukan itu bernama Lauw Keng Sin. Tapi apa guna ? Penyamarannya sudah terbuka, untuk menutupi keadaan itu, ia harus menyingkirkan Lengcu Panji Hijau.

Suto Lan membawakan sikapnya yang tidak mengambil permusuhan, hal ini membuat Kang Han Cing ragu2.

“Ya ! Aku memang bukan Lengcu Panji Hitam yang asli." Akhirnya ia membuka kartu dan mengakui penyamarannya.

“Maka lebih baik kau segera pergi." Berkata Suto Lan. “Jangan datangi lagi kelenteng Sin-ko- sie."

“Maksud nona…."

“Kalau dugaanku tidak salah, kau tentunya Kang Jie kongcu Kang Han….” Suto Lan tidak meneruskan pembicaraannya, telinganya yang tajam bisa menangkap sesuatu, gesit laksana kilat ia berbalik badan, membuka pintu kamar, sesudah pintu itu terjeblak, disana berdiri pelayan rumah penginapan yang baru saja bangkit dari jongkoknya, keadaan itu sangat lucu, mengingat ia tertangkap basah, mencuri dengar pembicaraan orang.

“Masuk !" Suto Lan menyeret pelayan itu, dan menutup kembali pintu kamar.

“Hamba...Hamba…..” Pelayan rumah

penginapan itu masih mencoba membuat

pembelaan.

Gedubrakkk….. Tubuh

pelayan

itu jatuh

ngeloso, karena terkena totokan Suto Lan.

Si gadis bekerja gesit, satu kali tarik, ia berhasil menyingkap tutup kerudungnya, ternyata pelayan itu berkepala gundul, inilah hweeshio Sin-ko-sie.

Mereka masih berada dibawah pengawasan para hweeshio Sin ko-sie.

“Sudah lihat ?” Berkata Suto Lan. Diperhatikannya Kang Han Cing beberapa saat. Dan dihadapi lagi hweeshio mati kutu itu, dari dalam kantong bajunya, Suto Lan mengeluarkan botol kecil, menuang isinya yang ditaburi ke arah tubuh si hweeshio, didalam sekejap mata muncrat bau busuk, melepus asap mendidih, dan tubuh itu menjadi cairan kental terkena obat serbuk Lengcu Panji Hijau yang luar biasa itu. Didalam sekejap mata, tubuh seorang hweeshio sudah lenyap dari permukaan bumi.

“Terpaksa aku harus membunuhnya." Berkata Suto Lan. “Demi kepentingannya dirimu."

“Aku sangat berterima kasih.” Berkata Kang Han Cing.

“Kau betul2 Kang Han Cing ?"

“Ya ! Aku memang Kang Han Cing."

“Nyalimu betul2 besar sekali." Berkata Suto Lan. “Dugaanku pertama memang tidak salah."

“Bagaimana kebijaksanaan nona sesudah mengetahui keadaanku ?” Bertanya Kang Han Cing penuh pancing, ia hendak melihat, langkah apa pula yang harus dilakukan kepada Suto Lan.

“Bagaimana keadaan Lauw Keng Sin ?” Lengcu Panji Hijau mengalihkan pembicaraan. Menanyakan Lengcu Panji Hitam yang asli.

“Dia sudah mati,” jawab Kang Han Cing. “Kau yang membunuh dirinya ?"

“Dia mati bunuh diri."

“Oh....!” Suto Lan menundukkan kepalanya. Si gadis Ngo-hong-bun sudah menanam benih cinta, karena adanya kasih inilah yang membuat ia mau menutupi rahasia Kang Han Cing.

“Nona," berkata Kang Han Cing. “Aku berterima kasih kepadamu yang. ”

“Sebaiknya jangan lama2 kau berada di tempat ini.” Potong Suto Lan. “Engkohku masih berada disini.” Berkata Kang Han Cing.

“Tidak.” Berkata Suto Lan membuka rahasia. “Saudara Kang Puh Cing berada di tangan Oh Cun Cay. Kau boleh langsung mencarinya. Kukira masih berada di dalam kuburan tua.”

“Terima kasih atas keterangan nona." Berkata Kang Han Cing.

“Bukan ucapan terima kasih itu yang kuharapkan.” Berkata Suto Lan. “Keselamatan jiwamulah yang utama. Bagaimana kau harus membebaskan diri sendiri dari kepungan Ngo- hong-bun."

“Ya !" Berkata Kang Han Cing. “Bagaimana aku bisa membebaskan diri dari kepungan Ngo-hong- bun. Mengingat Toa Kiongcu dan Sam Kiongcu sudah mengetahui kita datang berdua, tentu akan menyeret dirimu pula."

“Tapi kau bebas dari bahaya."

“Aku tidak mau menyeret nona turut menderita." Berkata Kang Han Cing.

“Tekadmu sudah bulat, hendak pindah ke kelenteng Sin-ko sia ?” Melihat sikap Kang Han Cing yang seperti itu, Suto Lan tidak berdaya.

“Ya. Kalau nona tidak membocorkan rahasia, kukira mereka tidak tahu." Berkata Kang Han Cing.

“Aku tidak mau membuka rahasiamu," Berkata Suto Lan. “Tapi berhati2lah kepada guru dan susiokku, mereka mempunyai mata yang sangat lihay."

Kang Han Cing memberikan janjinya. Kedua orang itu segera meninggalkan rumah penginapan, menuju ke arah gunung Hong-hong san.

Suto Lan adalah orang kedua yang mengetahui penyamaran Kang Han Cing dan mempertahankan keadaan yang seperti itu.

Hari itu juga, keempat Lengcu Panji Berwarna mencampurkan diri bersama2 para ibadah kelenteng Sin-ko-sie, menetap di bangunan itu.

Kelenteng Sin-ko-sie sudah disalah-gunakan. Dengan menyembunyikan diri dibalik kesucian, orang2 Ngo-hong bun membuka cabangnya ditempat ibadah itu.

Malam itu, Kang Han Cing terbaring dengan gelisah, ia sudah berada disarang macan, untung baginya, yang mengetahui dirinya bukan Panji Hitam asli hanya Suto Lan, dan Suto Lan bersedia menutupi rahasianya.

Mengapa ?

Sesudah Sam Kiongcu Sun Hui Eng tahu kalau seseorang yang bernama Lie Siauw San menyelundup masuk kedalam golongannya, mengapa tidak mengadakan pembersihan ?

Mengapa Suto Lan mau membela Kang Han Cing?

Disini akan terjadi kitab asmara bentuk rumit dan ber-belit2. ***

HARI berikutnya……

Sam Kiongcu memanggil ke 4 Lengcu Panji Berwarna, sesuai dengan instruksi Toa Kiongcu, keempat lengcu harus meyakinkan semacam ilmu baru yang bernama Tiga Pukulan Burung Maut.

Kepada keempat keponakan muridnya itu, Sam Kiongcu berkata :

“Mulai saat ini, kalian harus betul2 memperhatikan ilmu kepandaian, khususnya Tiga Pukulan Burung Maut ilmu simpanan sucouw kalian. Aku sendiripun belum lama mendapatkan ilmu ini. Batas waktu hanya tiga hari, setiap hari kalian menekunkan satu macam. Nah, hari ini mulai dari jurus pertama yang bernama Kehadirannya Burung Tanpa Sayap, semua makna tipu pelajaran tercatat disini, bacalah !"

Ia menyerahkan catatan ilmu silat itu. Dengan kedua tangan, Lengcu Panji Merah Phoa An Siu menyambuti catatan ilmu silat itu, dibacanya secara teliti. Sebagai orang pertama dari 4 lengcu panji berwarna, ia mendapatkan prioritas tersebut. Ketiga lengcu lainnya menunggu dengan sabar.

Beberapa saat kemudian, Phoa An Siu selesai membaca lembaran pertama dan menyerahkan kepada Lengcu Panji Putih.

Sam Kiongcu menyerahkan lembaran yang kedua, dibaca dan diperhatikannya betul2 oleh Phoa An Siu. Demikian mereka membaca bergilir catatan ilmu silat Tiga Jurus Pukulan Burung Maut.

Secara bergilir jatuh ke tangan Suto Lan. Sesudah Suto Lan membaca, diserahkannya kepada Kang Han Cing.

Kang Han Cing memperhatikan betul2 ilmu silat dari Ngo-hong-bun yang bernama Kehadirannya Burung Tanpa Sayap itu. Ternyata terdiri dari lima macam perubahan dan disertai dengan keterangannya.

Selesai Kang Han Cing menghafal lembaran yang pertama, Suto Lan sudah mengoper lembaran yang kedua, itulah jurus yang bernama Gagak Perkasa Membentangkan Sayap.

Jurus kedua terdapat 7 macam perubahan beserta keterangannya.

Lembaran yang ketiga adalah jurus yang terakhir yang bernama Mengamuk dan Menghancurkan Jagat. Untuk jurus ini terdapat 9 macam perubahan dan disertai keterangan- keterangannya.

Keempat Lengcu Panji Berwarna menghafal ilmu silat Ngo-hong-bun yang bernama Tiga Jurus Pukulan Burung Maut itu.

Sam Kiongcu berkata : “Untuk hari ini, cukup mempelajari jurus yang pertama itu. Nah, kalian boleh mulai belajar.”

Phoa An Siu berempat mempelajari ilmu silat itu, bagi ketiga lengcu panji berwarna yang asli, mengingat aliran mereka memang dari golongan Ngo-hong-bun, ilmu silat itu tidak menelan gangguan. Lain lagi halnya untuk Kang Han Cing, aliran ilmu silat yang dipelajari tidak senada dengan ilmu silat Ngo hong bun, ia menjadi gelagapan. Beruntung saja ada tiga contoh mengikuti dan me-niru2 gerakan mereka, ditambah bakat2nya yang memang luar biasa, ia turut serta mempelajari jurus pertama dari Tiga Pukulan Burung Maut.

Keempat Lengcu Panji Berwarna melatih diri didalam itu ilmu baru. Langsung dibawah pimpinan Sam susiok mereka.

Berlatih lagi beberapa gerakan, tiba2 Sam Kiongcu berteriak : “Salah….! Salah….!”

(Bersambung19)