Perintah Maut Jilid 17

 
Jilid 17

“AYAH." Mengetengahi Lie Wie Neng, “Urusan itu bisa diselesaikan sesudah kau sembuh.”

“Sembuh ? Ha, ha, ha…” Lie Kong Tie tertawa. “Apa kau kira aku bisa sembuh ? Tanpa pertolongan mereka ?”

Betul. Bisakah ayah sembuh? Tanpa bantuan Ngo-hong-bun? Inilah yang mengacau pikiran Lie Wie Neng.

Kecuali ia berdiri dibawah panji partay Ngo- hong-bun, mungkin mendapat kedudukan wakil Lengcu Panji Hijau itu.

“Ayah…..”

“Mungkinkah kau tega membiarkan aku hidup seperti ini ?”

“Maksud ayah ?"

“Keadaan...Keadaan bisa berubah menurut situasi…."

Lie Wie Neng menatap ayahnya. Betul2 telah terjadi perubahan atas pendirian ayah itu, sesudah mengalami sakit lama.

“Ayah," berkata Lie Wie Neng. “Aku meminta diri. Esok hari akan kujengukmu lagi."

Lie Wie Neng meninggalkan ayahnya.

***

DISAAT ITU.... Diruang tamu dari rumah Datuk Utara, di tempat duduk yang tersedia sedang bercokol dua orang. Seorang laki laki setengah umur dan seorang kakek berjenggot putih. Laki2 setengah umur adalah keponakan Yen Yu San yang bernama Yen Siu Hiat, dan kakek berjenggot putih adalah samaran Goan Tian Hoat, ia sedang membawakan misi luar biasa.

Lie Wie Neng segera diberitahu akan kunjungannya kedua tamu itu. Mengingat kedudukan Yen Siu Hiat yang mempunyai kedudukan lumayan didalam Benteng Penganungan Jaya, segera putra datuk ini menerima tamu.

Pengurus keluarga Datuk Utara, yang bernama Khong Bun Hui segera memperkenalkan kedua tamu2 itu. Peranan Goan Tian Hoat adalah seorang 'tabib' pandai yang sudah lama mengasingkan diri.

“Selamat datang." Menyambut Lie Wie Neng. “Bagaimana keadaan paman Yen Yu San, apa didalam keadaan sehat2 saja?”

“Terima kasih. Paman juga menanyakan kesehatan paman Lie Kong Tie. Disini ada sepucuk surat untuk Saudara."

Lie Wie Neng menerima surat dari Yen Yu San, dimana tercantum nama Goan Tian Hoat sebagai Cio Tay Hu, seorang tabib pandai yang bisa sanggup menyembuhkan segala macam penyakit, khusus ditugaskan untuk menolong Lie Kong Tie.

Hampir semua tabib terkenal sudah diminta bantuannya, belum pernah ada yang berhasil, apa lagi hanya seorang tabib yang Lie Wie Neng belum kenal, tentu saja kurang meyakinkan, ia berkerut alis.

Sudah berada didalam perhitungan Goan Tian Hoat akan adanya reaksi seperti itu, langkah berikutnya harus dimainkan bersama, Yen Siu Hiat berkata :

“Saudara Lie, kedatanganku atas perintah paman Yen Yu San, ada urusan sangat penting yang mau dibicarakan."

“Oh ?!" Nama pejabat ketua Penganungan Jaya Yen Yu San memang bukan nama biasa, Lie Wie Neng mulai tertarik. “Baiklah. Mari kita bicara diruang dalam.”

Datuk Muda Utara Lie Wie Neng mengajak kedua tamunya ke ruang yang lebih aman. Seorang dayang perempuan membawakan minuman baru.

Ruang ini terpisah dari ruang2 lainnya, disediakan Datuk Utara untuk merundingkan sesuatu yang teramat penting.

Sesudah gadis pelayan meletakkan minuman- minuman kepada tamu2nya, Lie Wie Neng berkata

: “Silahkan jiwie minum."

Yen Siu Hiat dan Goan Tian Hoat menghirup minuman mereka, tapi tidak sepatah kata yang keluar dari mulut mereka.

Lie Wie Neng menunggu dengan tidak sabaran, akhirnya ia mendesak : “Pesan apa yang hendak disampaikan oleh paman Yen Yu San ?” “Satu bulan yang lalu, paman Yen Yu San bertemu dengan ketua Hay yang-pay Kuo Se Fen."

“Aaa….Apa yang diceritakan ?”

Rahasia keracunan Lie Kong Tie sangat dirahasiakan. Lie Wie Neng menjaga nama baik ayahnya. Kecuali rombongan Kuo See Fen yang bisa men-duga2, rahasia itu masih diusahakan tertutup terus. Kini Yen Yu San mengatakan kalau pamannya pernah bertemu dengan Kuo Se Fen, tentu menyangkut urusan itu. Bagaimana ia tidak menjadi kaget ?

Yen Siu Hiat berkata : “Kuo Se Fen menceritakan pengalamannya yang membawa Kang Han Cing meminta pengobatan, sesudah mereka tiba di kelenteng Pek-yun-koan, kebetulan Lengcu Panji Hijau mengadakan penyerangan dan cerita tentang ada yang berani memalsukan paman Lie Kong Tie ..."

Lagi2 wajah Lie Wie Neng berubah.

Yen Siu Hiat menyambung pembicaraan : “Mendengar cerita itu, paman Yen Yu San kurang yakin. Mungkinkah ada orang yang bisa menukar wajah ayah saudara tanpa sepengetahuan siapa pun juga ? Kalau bukan seorang ketua partai yang bercerita dan melihat dengan mata sendiri, besar kemungkinan berita sensasi belaka. Apa lagi tidak ada angin selentingan yang bisa dihubungkan dengan hal itu. Untuk meminta kepastian, paman Yen Yu San hendak berkunjung datang, sayang berhalangan. Benteng Penganungan Jaya juga sedang menghadapi problem pengacauan, karena itulah aku disuruh datang, serta mengajak Bapak Tabib ini, beliau adalah ahli racun2an, racun Kang Han Cing juga berhasil ditolongnya. Siapa tahu, kalau kami bisa membantu menghilangkan racun2 yang diderita oleh ayah saudara itu ? Sebelumnya, bisakah saudara menceritakan secara terperinci, memberi penjelasan secara mendetail ?"

Sedari tadi Lie Wie Neng menggigit bibir, akhirnya ia dapat mengambil putusan, katanya :

“Sebetulnya aku hendak merahasiakan kejadian ini. Apa boleh buat. Hah ! Apa mau dikata ? Betul2 keluarga kami sedang diserang malapetaka, entah bagaimana, ayahku bisa keracunan seperti itu. Dan yang lebih aneh lagi, disaat kami istirahat dikelenteng Pek yun koan, secara ajaib mereka bisa menyelundupkan seseorang yang memalsukan wajah ayah, entah bagaimana ayah lenyap mendadak. Disaat kejadian itulah yang Kuo Se Fen tayhiap lihat. Lengcu Panji Hijau muncul dan menyatakan adanya pemalsuan berani itu, mereka bersedia mengembalikan ayah, sesudah kita membuat pernyataan takluk. Aku mengulur waktu dan mereka hanya mengembalikan ayah dengan menyertai 9 butir obat penyambung nyawa, menunggu sampai kita betul2 tunduk, baru bersedia menyembuhkannya betul2. Kalau betul terjadi, Datuk Utara harus mengundurkan diri dari kancah rimba persilatan.”

“Inilah yang dikhawatirkan oleh paman Yen Yu San." Berkata Yen Siu Hiat. “Untuk membongkar rahasia musuh, kami ditugaskan untuk mengisiki sesuatu.” “Rahasia musuh ? Apakah rahasia musuh itu ?”

“Sebelumnya aku meminta maaf kalau sampai terjadi menyinggung sesuatu.”

“Tidak apa. Katakanlah.”

“Paman Yen Yu San hendak tahu, paman Lie Kong Tie yang diantar oleh Lengcu Panji Hijau itu mempunyai ciri yang bagaimana ?”

“Tidak ada ciri2 yang luar biasa.”

“Apa bukan mustahil seorang imitasi pula ?”

Lie Wie Neng membuka matanya lebar2. Ia terpaku di tempatnya. Inilah kisikan halus yang wajib dicamkan.

“Dengan alasan apa paman Yen Yu San bisa terpikir sampai kesitu ?” bertanya Lie Wie Neng.

“Terlalu banyak kecurigaan2 yang hendak dikemukakan.”

“Tunggu dulu !” tiba2 Lie Wie Neng berteriak keluar. “Ceng Hong.” Ia memanggil dayang pelayannya. Ceng Hong adalah nama perempuan itu.

Gadis pelayan yang membawakan air minum tadi berlari cepat, memberi hormat kepada sang Datuk muda.

“Segera panggil Lie Pa menghadap.” Perintah Lie Wie Neng.

Tidak lama seorang laki2 berewok berlari datang, inilah orang yang bernama Lie Pa. Salah satu dari Empat Jendral Keluarga Lie yang ternama. Orang kepercayaan yang berkepandaian silat tinggi dan boleh dipercayai.

Memandang kearah Lie Pa, Lie Wie Neng memberi perintah :

“Segera bikin pemeriksaan di sekitar ruangan ini. Siapapun dilarang datang atau mendekati, kecuali kalian empat saudara saja !”

“Baik.” Lie Pa menerima perintah. Mengajak Tiga Jendral Keluarga Lie lainnya, mereka membuat perondaan, mengawasi keadaan tempat itu. Tidak mungkin ada mata2 yang bisa menangkap pembicaraan Lie Wie Neng beserta kedua tamunya. Termasuk si pelayan Ceng Hong juga.

Yen Siu Hiat menganggukkan kepala, di dalam hati berpikir:

“Melihat caranya yang seperti ini, tentu ia pun sudah lama menaruh curiga kepada mata2 pihak musuh.”

Menunggu sampai Ceng Hong dan Lie Pa keluar, Lie Wie Neng berkata :

“Nah, sekarang saudara Yen boleh bercerita secara aman.”

Menurut apa yang sudah dirundingkan, Yen Siu Hiat mengemukakan adanya ketidak-mungkinan dari apa yang diceritakan sebagai Lie Kong Tie palsu yang terbaring di kelenteng Pek-yun-koan. Sebagai seorang Datuk rimba persilatan, siapakah yang bisa mengelabui mata Lie Kong Tie ? Siapa yang bisa membokong dirinya tanpa disadari ? Kecuali ada mata2 musuh yang diselundupkan ke dalam keluarga datuk itu, kecuali salah seorang dari keluarga Lie yang sudah berkhianat kepada musuh.

Ketidak-mungkinan kedua : Keracunan Lie Kong Tie bukan keracunan sekaligus. Itu artinya diberi sedikit demi sedikit, kecuali menyampurinya didalam makanan setiap hari, tidak ada analisa kedua.

Ketidak-mungkinan ketiga : Bagaimana Lie Kong Tie yang terbaring ditempat tidur kelenteng Pek- yun-koan bisa ditukar orang ? Sedang Empat Jendral dan Lie Wie Neng membuat penjagaan yang begitu ketat ? Mudahkah mengangkut Lie Kong Tie palsu yang dibaringkan ditempat Lie Kong Tie tertidur ? Mudahkah mengangkat Lie Kong Tie asli yang dijaga ketat itu?

Kesimpulannya : Lie Kong Tie yang di ‘suguh'kan kepada Lengcu Panji Hijau adalah Lie Kong Tie asli.

Lie Kong Tie yang sekarang adalah Lie Kong Tie palsu.

Lie Wie Neng belum bisa menerima kenyataan ini, ia berkata :

“Sudah kuperiksa betul2, nyatanya orang itu hanya menggunakan kedok kulit tipis yang berbentuk wajah ayah.”

Yen Siu Hiat menoleh kearah Goan Tian Hoat. Orang yang belakangan kita sebut tidak mengeluarkan reaksi, peranannya dihari ini adalah seorang tabib tua, tidak layak dan bukan waktunya ia bicara, lebih2 tidak wajib turut campur.

Yen Siu Hiat memberi keterangan yang lebih jelas, Lie Kong Tie diracuni oleh orang dalam, atau se-tidak2nya orang yang diselundupkan musuh ke dalam keluarga Lie. Musuh belum yakin bisa menguasai Datuk Utara beserta keluarganya, secara diam2 pula mengubah wajah Lie Kong Tie, dilapisi pula oleh selembar topeng kulit tipis yang berupa Lie Kong Tie, sengaya mengutus Lengcu Panji Hijau untuk memberitahu akan adanya pemalsuan itu. Tentu saja pemalsuan yang kedua, Lie Wie Neng masuk perangkap, menarik topeng kulit tipis, didalam kemarahan dan kerisauan, Lie Wie Neng tidak banyak menaruh curiga lagi, tidak memperhatikan wajah sang ayah dibalik topeng tipis itu masih ada wajah lagi, demikian di’suguh’kan saja ayah itu kepada musuh.

Rencana Perintah Maut yang luar biasa !

Semua cerita diatas adalah cerita lama dikelenteng Pek-yun-koan.

Mendapat pengilmiahan itu, Lie Wie Neng bertepuk kepala, teriaknya keras : “Aku sudah masuk kedalam perangkap mereka !”

Kalau Yen Siu Hiat dan Goan Tian Hoat datang lambat, bukan perangkap itu saja yang menjebloskan Lie Wie Neng, karena harus menolong jiwa 'ayah'nya, mungkin ia bersedia bertekuk lutut dibawah kaki partay Ngo-hong-bun.

Kedatangan Yen Siu Hiat tepat pada waktunya. Lie Wie Neng mengucurkan keringat dingin, kemarahannya melonjak mendadak, ia ditipu mentah2, sesudah mengetahui kalau jiwa sang ayah masih terancam, ia bertanya :

“Kalau begitu ayah yang terbaring disini adalah manusia imitasi ?”

“Tenang ! Sabar !” Cegah Yen Siu Hiat. “Hanya mengilmiah dari jarak jauh, belum tentu tepat. Kita harus bisa membuktikannya."

“Baik. Segera kuseret orang itu ke tempat ini,” Berkata Lie Wie Neng siap meninggalkan ruangan itu.

“Lie Kongcu,” cegah Yen Siu Hiat. “Kita harus menghadapinya dengan rencana masak2.”

“Rencana apa lagi ?"

“Sebelumnya paman Yen Yu San sudah bisa menghitung akan adanya yang seperti ini. Maka didatangkannya juga Bapak Tabib ini.” Ia menunjuk Goan Tian Hoat.

“Tabib Ciok Tay Hu ? Bukankah dia seorang akhli pengobatan ?”

“Akhli pengobatan dan juga akhli ber-make-up, seorang akhli mengubah wajah dan bisa membedakan wajah asli serta wajah imitasi.”

“Saudara Yen Siu Hiat terlalu memuji." Goan Tian Hoat memegang peranannya dengan baik dan merendah diri.

“Baiklah." Berkata Lie Wie Neng. “Mari jiwie turut ke tempat kamar ayah." “Tunggu dulu." Cegah Yen Siu Hiat.

“Sebaiknya kita rundingkan baik2, bagaimana harus menghadapinya. Pesan paman Yen Yu San seperti ini.”

“Apa lagi pesan paman Yen Yu San ?” bertanya Lie Wie Neng. Ia yakin dan sangat percaya kepada pejabat ketua Penganungan Jaya itu.

“Sebelumnya kami hendak tahu, adakah seseorang di dalam keluarga lain yang mempunyai bentuk tubuh bersamaan dengan paman Lie Kong Tie ?” bertanya Yen Siu Hiat.

“Dedak perawakan Yo Su Kiat agak mirip dengan dedak perawakan ayah.”

“Bagaimana kepercayaan Kongcu kepada Yo Su Kiat ini ?”

“Sebagai salah seorang dari Yen-san Siang kiat, kami percaya penuh akan kesetiaannya.”

“Bagus. Bisakah kita bertemu dengan Yo Su Kiat

?”

Permintaan ini tidak keterlaluan, segera Lie Wie

Neng memanggil orang yang bersangkutan.

Yo Su Kiat adalah sepasang jagoan keluarga Lie, mengabdikan diri kepada Datuk Utara karena pernah menerima budinya, meninggalkan gunung Yen-san dan menetap di perkampungan Lie-ke- khung itu. Kedudukannya hanya berada dibawah Khong Bun Hui. Tentu saja memiliki ilmu silat tinggi. Mengetahui bahaya apa yang mau mengarungi Lie-ke-khung, tanpa ragu2 Yo Su Kiat menyediakan tenaganya. Diberitahu tentang rencana mereka, bagaimana menghadapi pemalsuan musuh yang berani.

***

Bab 60

LIE WIE NENG berkunjung ke kamar Lie Kong Tie, inilah kunjungan yang kedua kalinya. Hal tadi sangat mengejutkan si bini muda Sim Nio. “Ada apa yang membuat Kongcu ter-buru2 ?" Tanyanya penuh selidik.

“Apa ayah sudah tidur ?" Balik tanya Lie Wie Neng.

Nada suara ‘ayah’ itu sangat kaku dan canggung, hal ini membuat Sim Nio semakin was2. “Loya baru saja tidur." Jawabnya segera.

Lie Wie Neng menghampiri pembaringan Lie Kong Tie.

“Wie Neng yang datang?” Terdengar suara sang Datuk Utara.

“Ayah..." Berkata Lie Wie Neng. “Ada apa ?”

“Pejabat ketua Penganungan Jaya Yen Yu San mengutus keponakannya mengirim seorang tabib pandai yang bernama Ciok Thay Hu untuk menjenguk keadaan ayah." “Mengapa mengundang tabib lagi?" berkata Lie Kong Tie. “Mau apa mereka itu? Katakan saja kepada mereka, penyakitku sudah baik. Tidak perlu tabib lagi.”

Didalam hati Lie Wie Neng tertawa dingin, setengah mendesak ia berkata :

“Hubungan ayah dengan Yen Yu San bukan hubungan biasa, mengapa menolak maksud baiknya ? Apa lagi mengingat racun yang sulit dikeluarkan itu, siapa tahu sang tabib betul2 pandai dan bisa menyembuhkannya ?”

Mengetahui ia terlalu mengumbar emosinya, cepat Lie Kong Tie batuk2, membawakan sikap yang masih lemah, ia berkata: “Tabib pandai dari mana yang bisa menyembuhkan penyakitku ? Sampai Thian hung Totiang yang terkenal jago itupun tidak berdaya, bukan? Ambil saja beberapa keping uang, hadiahkan kepadanya. Biar dia senang dan balik ke kampungnya.”

Membawakan sikapnya yang sesabar mungkin, Lie Wie Neng berkata :

“Ayah, tabib undangan Yen Yu San tentu bukan tabib biasa, mungkin dia bisa marah kalau kita terlalu memandang rendah. Sudah kuperintahkan mereka menunggu didepan, tinggal meminta persetujuanmu saja.”

Bini mudanya, Sim Nio turut bicara : “Betul2 loya hampir berubah ingatan, mana boleh menolak kebaikan hati orang. Biar saja ia mencoba2, siapa tahu kalau berhasil, bukan ?” “Baiklah." Lie Kong Tie mengalah.

Lie Wie Neng keluar kamar, tidak lama balik kembali dengan iring2an, Yen Siu Hiat, si Bapak Tabib, Khong Bun Hui dan Yo Su Kiat. Mereka memberi hormat kepada sang Datuk.

“Kau yang bernama Yen Siu Hiat ?” Berkata Lie Kong Tie kepada Yen Siu Hiat yang berada dipaling depan. “Sudah cukup besar, he ? Lama aku tidak bertemu dengan kalian."

“Lima tahun yang lalu, boanpwe pernah ikut paman Yen Yu San berkunjung kemari, mungkinkah paman sudah lupa ?" Berkata Yen Siu Hiat.

“Oh...Ya...Oh…Ya....Aku lupa." Berkata Lie Kong Tie. “Hampir saja aku lupa. Bagaimana keadaan pamanmu itu ? Apa masih baik2 saja ?”

“Lupa batok kepalamu." Memaki Yen Siu Hiat didalam hati. Sengaja ia menarik persoalan yang bukan2. Tidak pernah ada kejadian pada 5 tahun yang lalu. Itu waktu ia masih berada digereja Siauw-lim-sie, bagaimana bisa turut Yen Yu San berkunjung ke Lie-ke-khung?

Pecahlah kebohongan orang ini ! Yen Siu Hiat tidak mengutarakannya diluar, dengan hormat ia menjawab :

“Terima kasih. Paman berada didalam keadaan segar bugar. Tadinya paman hendak datang sendiri, berhubung ada halangan, maka mengutus boanpwe mengajak Bapak Tabib ini, tabib Ciok Thay Hu mahir didalam pengobatan segala macam racun khususnya ilmu tusuk jarum.”

“Oh….Silahkan duduk….Silahkan duduk..." Berkata Lie Kong Tie. Sampai disini, tidak perlu diragukan lagi Lie Kong Tie ini adalah Lie Kong Tie palsu.

“Kami datang atas permintaan tuan Yen Yu San, khusus melihat penyakit loya. Silahkan loya membaringkan diri, biar kami periksa jalannya urat nadi.”

Lie Kong Tie itu menjulurkan sebelah tangan. Dan sang Bapak Tabib memeriksa urat nadinya. Hanya menggunakan tiga jari, bertiarap lama dipergelangan tangannya sambil memeramkan mata.

Beberapa saat kemudian, Bapak Tabib kita Goan Tian Hoat melepaskan pegangannya dan meminta lain tangan Lie Kong Tie.

Orang itu menyerahkan tangan sebelah kiri. Seperti juga keadaan tadi, lama sekali Goan tian Hoat memeriksa urat nadi.

Selesai memeriksa, Goan Tian Hoat melihat lidah orang itu.

Sandiwara mulai dimainkan, Lie Wie Neng mengajukan pertanyaan : “Penyakit apa yang kami derita ?”

Si Bapak Tabib membawakan sikapnya yang agung, per-lahan2 berkata :

“Kekuatan khungcu ini memang hebat, terbukti dari obat2nya yang melebihi orang biasa, peredaran darahnya lebih deras. Sayang ada sedikit gangguan nadi, jalannya endut2an, kelancarannya agak tidak normal. Inilah tanda2 dari keracunan….”

“Tepat !" Berteriak Lie Wie Neng girang. “Ayah memang terkena racun yang bekerja lambat. Bapak sudah bisa melihat adanya tanda2 itu, tentu bisa mengobatinya bukan ?”

“Setiap tabib bisa mengobati para pasiennya sesudah mengetahui penyakit apa yang diderita oleh pasien itu,” Berkata Bapak Tabib kita berdiplomasi. “Bisakah Kongcu memberitahu, racun apa yang dimakan ?”

“Iyaaa...” Turut berkata Sim Nio. “Semua tabib juga berkata seperti itu. Buktinya, penyakit loya ini seperti sediakala, belum sembuh juga.”

Lie Kong Tie itu menghela napas berkata :

“Wie Neng, ajaklah Bapak Tabib ini ke kamar istirahat. Jangan terlalu memusingkan penyakitku."

Bapak Tabib mengurut jenggotnya yang putih dan panjang, tertawa berkata :

“Motto tabib adalah menghilangkan penderitaan-penderitaan rakyat jelata. Selama pengalaman2ku belum terlupa, walau tidak bisa menyebut nama bisa racun yang loya derita, cara2 untuk menghilangkan keracunan itu tetap ada."

“Bapak bisa menghilangkan racun itu ?” Bertanya Lie Wie Neng. “Mengapa tidak ?” Berkata sang tabib tua menantang.

“Tolonglah. Tolong keluarkan racun yang mengeram didalam tubuh ayahku itu,” Berkata lagi Lie Wie Neng.

“Ada dua jalan yang bisa kutempuh..” “Dua jalan ?"

Tanpa menghiraukan Lie Wie Neng, tabib itu berkata terus :

“Cara pertama adalah cara pengobatan racun tradisionil, meracuni si racun jahat memberikan obat beracun kepada penderita agar bisa mengusir racun pertama. Waktu ini cepat dan sederhana, tapi resikonya besar."

“Aaaaa…..” Berteriak Sim Nio melengking. “Bagaimana kalau mematikan orang ? Bukankah sangat berbahaya ?”

“Tentu saja berbahaya." Berkata si Bapak Tabib kita. “Karena itu kukatakan mempunyai resiko berat. Tapi jangan khawatir, sebelumnya tentu kusiapkan sesuatu, kalau sampai terjadi krisis yang seperti itu, bisa ditambah dengan lain obat penawar racun.”

“Kongcu,” berkata Sim Nio. “Kukira sangat berbahaya."

Bapak Tabib berkata : “Cara lain ialah: Menggunakan keakhlianku, menusuk jarum mengeluarkan sisa racun. Cara ini membutuhkan waktu sangat lama. Mungkin memakan waktu belasan hari.” “Bagaimana hasilnya,” Bertanya Lie Wie Neng. “Hasilnya sama juga." Jawab si Bapak Tabib.

“Lebih baik Bapak gunakan cara menusuk jarum itu,” Lie Wie Neng memberi keputusan.

Dari dalam bundelannya Bapak Tabib itu mengeluarkan kotak jarum, dibariskannya satu persatu, dari yang paling besar sehingga paling kecil, berjajar menyeramkan orang.

“Cara penggunaan tusuk jarum harus menggunakan ruangan tertutup, agar jangan sampai masuk angin, ini berbahaya, tolong menutup semua pintu dan jendela." Tabib itu masih mainkan lidah.

Lie Wie Neng segera menitahkan Yo Su Kiat menutup semua pintu dan jendela2. Hal mana sudah dijalankan segera.

Langkah berikutnya, si Bapak Tabib memandang kearah Sim Nio, beralih kearah Lie Wie Neng.

“Kongcu,” katanya, “Disaat aku menggunakan jarum2 memberi pengobatan, sangat pantang didampingi atau dihadiri oleh kaum wanita.”

Wajah Sim Nio menjadi merah, ia mengajukan protes :

"Aku adalah nyonyanya. Kukira Bapak tidak perlu ragu2. Dimisalkan terjadi sesuatu, bukankah lebih baik didampingi olehku ?"

Suaranya penuh rayu dan menggiurkan, hal ini jamak saja, mengingat Sim Nio sebagai istri muda Lie Kong Tie, umurnya sebaya dengan Lie Wie Neng.

“Agaknya sulit mengubah kebiasaanku.” Berkata si Bapak Tabib. “Kalau sampai terjadi sesuatu, tanggung jawab tetap berada ditanganku, bukan ? Kalau hal ini menyulitkan nyonya, aku bersedia mengundurkan diri saja."

Lie Wie Neng menengahi persoalan itu, katanya :

“Kalau betul Bapak Tabib tidak bisa didampingi kaum wanita, baik juga kalau bibi menyingkir kebelakang. Ada kita disini, keselamatan ayah pasti terjamin.”

Sim Nio memandang Lie Kong Tie sebentar, akhirnya ia menerima kenyataan, menganggukkan kepala dan meninggalkan kamar.

Yo Su Kiat mengantarkan kepergian nyonya muda itu, kemudian menutup pintu.

Gerak Goan Tian Hoat bagaikan kilat, mengetahui Sim Nio sudah meninggalkan kamar, ber-pura2 hendak membuat pengobatan, secepat itu ia menotok jalan darah Lie Kong Tie palsu. Tanpa bisa dielakkan oleh orang yang bersangkutan.

Orang yang memang sudah terbaring itu betul2 terbaring terus.

Yen Siu Hiat, Lie Wie Neng, Khong Bun Hui dan Yo Su Kiat adalah satu komplotan, mereka tidak mengganggu usaha Goan Tian Hoat.

Goan Tian Hoat masih bekerja, ia mengeluarkan benda pencairannya, di-oles2kan disekitar permukaan wajah orang yang disamarkan menjadi Lie Kong Tie itu. Detik2 tegang berlalu…

Goan Tian Hoat maklum, tentunya Sim Nio tidak terlalu jauh dari ruang itu, untuk melenyapkan kecurigaan orang, ia wajib membuat lain permainan, membesarkan suaranya, se-olah2 berbicara dengan 'Lie Kong Tie’, ia bicara : “Bagaimana perasaan loya ?”

Dan melagukan suara Lie Kong Tie, Goan Tian Hoat menyahut sendiri :

“Tidak merasakan sesuatu. Apa belum dimulai

?"

Membawakan lagi suara 'Bapak Tabib’ berkata :

“Sebentar lagipun selesai."

Lie Wie Neng, Khong Bun Hui dan Yo Su Kiat saling pandang, mereka tidak menyangka kalau tabib gadungan Yen Yu San itu memiliki banyak keakhlian, tanya jawab dengan nada2 suara yang tidak sama dan logat suara Lie Kong Tie bisa dimainkan baik sekali. Kalau tidak melihat dengan mata sendiri, tentu kurang percaya kepada pendengarannya.

Ter-lebih2 Lie Wie Neng, selama hidupnya, suara sang ayah sudah ia dengar jutaan kali, dan lagi2 ia mendengar suara sang ayah yang berada di dalam tahanan partay Ngo-hong bun itu.

Permainan Goan Tian Hoat belum selesai, ia masih mengupasi wajah penyamaran orang itu, dan untuk menghilangkan kecurigaan Sim Nio di luar, lagi2 ia bicara : “Loya, 21 jarum sudah berada di-tempat2 penting. Ada baiknya jangan bicara lagi. Gunakanlah pernapasan yang agak lancar, ini bisa membantu usaha pengobatan."

“Uh..." Lidah Goan Tian Hoat menyuarakan suara Lie Kong Tie.

Sampai disini Lie Wie Neng mengerti, apa tujuan si bapak Tabib memainkan dua suara itu, tentunya agar nyonya muda Lie Kong Tie tidak menaruh curiga.

Goan Tian Hoat berhasil merusak penyamaran sang korban, wajah Lie Kong Tie sudah hancur, disana berubah menjadi wajah seorang laki2 bermuka kuning. Ini dia manusianya yang menyamar menjadi Datuk Utara.

Selesai dengan tugasnya, Goan Tian Hoat menoleh kepada orang2 dengan satu anggukkan kepala, artinya, bagaimana ? Betulkan dugaanku ?

Yen Siu Hiat memuji kepintaran Goan Tian Hoat, memuji dengan setulus hati. Lie Wie Neng mendapat kepastian, nyata2 ia merawat seorang yang tidak dikenal, hatinya tersiksa sehingga beberapa lama. Rasa dendamnya begitu mendalam, ia berjanji kepada diri sendiri, akan menuntut balas kepada Lengcu Panji Hijau yang berani memainkan dirinya.

Tangan Goan Tian Hoat bergerak lincah, mengoles dan memupuk wajah laki2 kuning itu, kini mengubah menjadi wajah Yo Su Kiat. Lie Wie Neng dan Khong Bun Hui segera membantu Yo Su Kiat buka baju, digantikan dengan baju laki2 berbaju kuning itu dan Lie Kong Tie palsu sudah diseret dari pembaringan, digantikan dengan baju Yo Su Kiat.

Terjadi pertukaran orang. Yo Su Kiat dengan wajah Lie Kong Tie terbaring di tempat tidur.

Kalau partay Ngo-hong-bun menyiapkan si laki2 berwajah kuning memalsukan Lie Kong Tie, Goan Tian Hoat dkk menggunakan cara itu pula. Dengan cara dan bentuk yang sama.

Mereka selesai membuat persiapan, Yen Siu Hiat yang sudah menyiapkan tiga jarum rahasia, melempar dengan satu bentakan, “Awas ! Ada serangan gelap !”

Tiga jarum rahasia itu menancap ditempat beberapa senti dari tempat pembaringan Lie Kong Tie.

Lie Wie Neng juga berteriak : “Jangan lari !"

Meja dan bangku dijungkir-balikan, inilah rangkaian berikutnya dari sandiwara mereka.

Khong Bun Hui sudah memecahkan jendela dan menerjang keluar.

Terdengar suara benturan2 senjata. Tidak lama terdengar teriakan seseorang : “Oh, Yo Su Kiat terluka !”

Tentu saja berita bohong ! Isapan jempol ! Suara gaduh itu segera memanggil Sim Nio, si istri muda segera bertanya kepada anak tirinya : “Kongcu, apa yang terjadi ?”

“Ada penyerangan gelap,” jawab Lie Wie Neng.

Sim Nio lari menghampiri ‘Lie Kong Tie’, tentu saja tidak terganggu, dengan tenang Goan Tian Hoat merapikan jarum2 demonstrasinya dan bebenah. “Selesai.” Katanya lega.

Disaat itu, datang berlari seorang yang memberi laporan : “Semua pintu dan jalan sudah terjaga.”

“Bagus,” berkata Lie Wie Neng. “Bikin pengejaran terus.”

Mengajak Yen Siu Hiat, si Bapak Tabib, Khong Bun Hui dan ‘Yo Su Kiat’, Lie Wie Neng meninggalkan kamar ayahnya. Sim Nio diberi tugas jaga, mengawasi dan menungkuli ‘Lie Kong Tie’.

***

Bab 61

KLIK ! Lie Wie Neng sudah berada di ruang rahasia, mereka menotok bangun laki-laki berwajah kuning itu. Tentu saja wajah pinjaman yang berupa wajah Yo Su Kiat sudah dicabut kembali.

Laki2 berwajah kuning itu sadar dan mendapatkan dirinya terbungkus seperti lepat, memandang Lie Wie Neng dan membentak : “Wie Neng, apa artinya permainan ini ?” Sangkanya ia masih menggagahi wajah Datuk Utara Lie Kong Tie.

Khong Bun Hui mengeluarkan suara bentakan : “Tutup mulutmu !"

Orang itu memancarkan sinar mata kemarahan, menoleh dan memandang Khong Bun Hui, kegalakannya belum mereda, ia membentak :

“Khong Bun Hui, seperti inikah kau bicara kepada seorang majikan ?”

“Majikan siapa ?” Mengejek Khong Bun Hui. “Lihatlah cecongormu !” Ia menyodorkan sebuah kaca perunggu.

Menyaksikan wajahnya dibalik kaca perunggu itu, wajah asli yang sudah dikembalikan ke undang2 asalnya, laki2 berwajah kuning itu kehilangan galaknya. Bagaimana harus mengatasi situasi baru ? Teringat Lie Kong Tie asli yang masih berada dibawah kekuasaan Ngo-hong-bun, keangkuhannya timbul kembali.

“Jangan kalian berani kurang ajar,” katanya. “Ingatlah kalau Lie Kong Tie masih berada di tangan kami."

“Siapa namamu ?" Bertanya Goan Tian Hoat.

Memperhatikan kakek berjenggot putih ini, sinar mata laki2 itu berubah menjadi liar. “Kau yang mengerjakan hasil ini ?" Ia segera menduga hasil karya buah tangan Goan Tian Hoat.

“Kira2 begitu." Jawab jago cerdik kita. “Kedatanganku ditugaskan Yen Yu San tayhiap untuk menghadapi dirimu. Siapa dan sebutkan asal usulmu."

“Apa kalian kira, kalian bisa berhasil mengorek keterangan?" Laki2 itu menantang.

Bapak Tabib Goan Tian Hoat melirik ke arah Lie Wie Neng, kongcu muda Datuk Utara melirik ke arah Khong Bun Hui, maka orang terakhir mendekati tawanannya dengan wajah beringas, siap menggunakan kekerasan.

“Kawan." katanya geram. “Jangan kira kita tidak bisa membikin pengompasan, he ? Untuk menjaga dirimu dari permakan, lebih baik berterus terang, siapa namamu ?"

Wajah laki2 itu berubah, tiba2 ia menggertak gigi, digigitkannya keras2, maksudnya bunuh diri dengan racun yang sudah tersedia di dalam geraham.

Cara yang sama dengan cara Lengcu Panji Hitam yang menyamar sebagai Kang Puh Cing, sesudah penyamarannya terbongkar, untuk mengelakkan siksaan2, ia bunuh diri.

Laki2 yang menyamar menjadi Lie Kong Tie ini juga mau bunuh diri...

Goan Tian Hoat yang menyamar sebagai tabib tua tertawa, ia mengurut jenggot, dan merogoh saku mengeluarkan sebuah gigi palsu yang masih utuh, diperlihatkannya kepada laki2 berwajah kuning itu serta berkata : “Sudah berada disini, kawan." Laki2 itu gagal bunuh diri, karena obat beracunnya sudah dicomot Goan Tian Hoat, manakala ia tertotok tidak sadarkan dirinya. Kemarahannya meluap2, apa daya ia sudah jatuh kedalam tangan mereka. Haruskah menunggu siksaan2 ?

Didalam keadaan seperti ini, Lie Wie Neng cs mendapat kemenangan, dari laki2 itulah, mereka mendapat informasi dari keadaan2 partay Ngo- hong bun.

Laki2 itu bernama Thio Kee Cong, menjabat kedudukan hu-huat pengawal panji dari rombongan Panji Hijau, mendapat tugas menyamar sebagai Lie Kong Tie.

Golongan Perintah Maut adalah organisasi tersendiri, sesudah menyatukan kekuatan dan bernaung dibawah partay Ngo-hong-bun, kekuatan mereka bertambah pesat, dibagi menjadi 4 regu, setiap regu dipimpin oleh orang yang ditunjuk partay. Masing2 Panji Merah, Panji Hijau, Panji Hitam dan Panji Putih.

Keterangan yang diperoleh hanya keterangan- keterangan itu.

Komplotan Ngo hong-bun yang diselundupkan masuk ke dalam keluarga Lie bukan hanya Thio Kee Cong, sebenarnya masih ada konco-konconya, tapi Thio Kee Cong tidak mau memberi tahu dengan alasan betul2 tidak tahu.

Thio Kee Cong juga tidak bisa menyebut markas besar Ngo-hong-bun, dikatakan kedudukannya tidak seimbang, ia hanya salah satu anak buah Perintah Maut.

Yang Thio Kee Cong tunjuk hanya markas sementara Ngo-hong-bun cabang Kang lam, itulah bangunan Ban Cen San yang sudah tua. Sedangkan tempat itu sudah dilepas, karena drama pembunuhan Yen Siu Lan dan terlepasnya Kang Han Cing dari situ.

Ketika ditanya dimana markas sementara cabang Kang lam yang baru, Thio Kee Cong bergeleng kepala.

Pemeriksaan tahap pertama ditunda sampai disitu.

Lie Wie Neng, Yen Siu Hiat, Goan Tian Hoat, dan Khong Bun Hui mengadakan perembukan lain dan mengurung Thio Kee Cong disebuah kamar tahanan.

Rencana bagaimana pula untuk menghadapi Ngo-hong-bun ? Mari kita mengikuti kejadian- kejadian berikutnya.

***

TAMPAK bayangan Lie Wie Neng meninggalkan kamar perundingan, langsung menuju kamar ayahnya. Inilah kunjungan sang datuk muda yang ke 3 kalinya.

Dua pelayan yang biasa merawat Lie Kong Tie berada didepan pintu mereka memanggil dengan suara keras : “Kongcu..." Lie Wie Neng sudah berlari pesat, mendorong kedua gadis pelayan ¡tu tanpa menunggu panggilan lagi, ia nyelonong masuk.

“Kongcu menjenguk loya lagi." Berteriak dua gadis pelayan.

Inilah code pemberitahuan tentang kedatangannya, Lie Wie Neng mengeluarkan suara dengusan dari hidung.

Didalam kamar keadaan tenang seperti biasa, tidak ada perubahan.

Betulkah tidak ada perubahan ?

Yang jelas 'Lie Kong Tie’ yang terbaring sudah terganti, bukan manusia selundupan Thio Kee Cong, dibalik 'Lie Kong Tie’ itu adalah badan asli Yo Su Kiat.

Pemalsuan Yo Su Kiat hanya diketahui oleh orang2 yang jumlahnya terbatas, hanya Lie Wie Neng, Yen Siu Hiat 4 orang, karena itu untuk memudahkan tulisan jalan cerita, kita anggap saja Lie Kong Tie.

Lie Kong Tie itu tertidur ditempat pembaringan, sesudah mengalami 'pengobatan’, keadaannya agak lumayan.

Nyonya muda Lie Kong Tie baru selesai makan, duduk dimeja rias, ia sedang bersolek.

Lie Wie Neng menghampiri pembaringan ayahnya. “Apa ayah sudah bangun ?" ia bertanya perlahan.

“Uh….." Lie Kong Tie berkeluh. Nyonya muda Lie Kong Tie sudah bangkit dan menghampiri dibelakang putra suaminya, ia menalangi menjawab : “Baru saja tidur lagi. Sesudah ditusuk jarum oleh Bapak Tabib tadi, keadaannya mendingan, tidak lama ia bangun dan meminta makan. Sesudah itu tidur kembali.”

Lie Kong Tie berkelap-kelip mata, ia menepuk tempat di sebelahnya dan berkata :

“Wie Neng duduklah didekatku.”

Lie Wie Neng duduk ditempat yang sudah disediakan, menutup dan menyelak di antara sinar mata ibu tirinya.

“Ayah, bagaimana keadaanmu ?” Bertanya sang kongcu.

“Agak segeran." Mulut Lie Kong Tie yang terbaring ini berkemak-kemik, melalui saluran gelombang tekanan tinggi, melaporkan rahasia yang baru didapat.

Tentu saja karena adanya tubuh Lie Wie Neng yang membelakangi ibu tirinya, maka nyonya muda Lie Kong Tie itu tidak bisa melihat gerakan bibir orang yang terbaring.

Selebar wajah Lie Wie Neng berobah marah sesudah mendengar cerita Yo Su Kiat.

Ter-sengal2 mulut dari bentuk wajah Lie Kong Tie berkata :

“Liok Ie, tolong ambilkan aku air minum."

Liok Ie adalah nama kecil nyonya muda Lie Kong Tie yang sering dipanggil Sim Nio itu. Karena sudah menjadi kebiasaan Lie Kong Tie memanggilnya dengan sebutan nama kecil, Yo Su Kiat harus turut menggunakan panggilannya.

Nyonya muda Lie Kong Tie menuju ke arah meja dan menuangkan teh.

Menggunakan kesempatan ini, ber-gerak2 lagi bibir dengan wajah Lie Kong Tie.

Lie Wie Neng menganggukkan kepala tanda setuju.

Nyonya muda Lie Kong Tie sudah balik kembali, menyediakan air minum untuk sang suami dan menyediakan juga kepada Lie Wie Neng.

“Kongcu, silahkan minum,” Katanya dengan suara merdu, suara itu bisa menggetarkan kalbu laki2 yang mendengarnya.

Lie Wie Neng bangkit, menghadapi sang ibu tiri, wajahnya keren, dengan sungguh2 ia berkata : “Bibi, baru saja kita berhasil menangkap seorang mata2 musuh."

“Oh ...! Mata2 musuh ?” Reaksinya nyonya muda itu biasa saja.

“Mata2 dari partay Ngo-hong bun." Berkata Lie Wie Neng.

“Dirumah kita ada mata2 Ngo-hong-bun ?” Balik tanya nyonya muda itu.

“Orang itu tidak tahan siksaan,” berkata Lie Wie Neng. “Dia sudah mengaku kesalahannya. Dan menyebut beberapa nama dari komplotannya..." Sang nyonya muda mundur selangkah, melirik ke arah Lie Kong Tie. “Siapa orang yang disebut?” Tanyanya berubah. “Kongcu percaya ?”

“Itulah." berkata Lie Wie Neng. “Mana boleh sembarang mendengar gosokan orang? Kedatangan ini khusus ditujukan untuk meminta pendapat bibi.”

“Pendapatku ?" Bertanya nyonya muda itu. Hatinya semakin was2, “Mengapa harus meminta pendapatku ?”

“Karena orang itu menyebut nama bibi.” Berkata Lie Wie Neng.

Hati si nyonya muda agak kalut, didalam keadaan seperti itu, panik berarti maut, kedudukannya hanya berada dibawah Lie Kong Tie, mengapa harus takut ? Mengandalkan kekuasaan suaminya, apakah yang berani dilakukan oleh sianak tiri ? Mengingat tadi itu semua, ia berdengus dingin : “Kongcu dihasut orang.”

“Dihasut ? Bibi mengatakan…."

Lie Wie Neng menghadapi Sim Nio Liok Ie, tapi ia lupa membelakangi seseorang, itulah Lie Kong Tie yang sedang terbaring, secepat kilat tubuh orang tadi mencelat, menotok Lie Wie Neng.

“Aaaa…." Lie Wie Neng jatuh ngeloso.

“Thio Kee Cong, kau hebat." Nyonya muda Lie Kong Tie adalah musuh selundupan, ia memuji kecerdikannya orang sakit. Dengan gerakannya yang gesit, mendupak anak tirinya. Nyonya muda Lie Kong Tie yang biasanya tidak pandai silat, kali ini berubah mendadak, lincah dan gesit, galak dan menghadapi Datuk Utara. “Kebetulan," katanya. “Orang ini juga termasuk salah seorang yang partay kehendaki."

Ternyata Ngo-hong-bun juga mengincar Lie Wie Neng !

“Bagaimana kita mempernahkannya ?" Bertanya orang yang dianggap Thio Kee Cong.

“Bawa ke markas sementara." Perintah si nyonya muda, kedudukannya berada diatas Thio Kee Cong.

“Bagaimana bisa membawa orang ? Sedang seluruh kampung sudah terjaga ketat ?”

“Nanti kusuruh Cun Lan dan Cun Bwee.” Berkata si nyonya muda. Cun Lan dan Cun Bwee adalah nama2 pelayan perempuan. Nyata2 sudah menjadi komplotan Ngo-hong bun semua.

“Cun Bwee...Cun Lan….” si nyonya memanggil keluar kamar.

Dua dayang itu tampil segera. Siap menerima perintah. Disaat ini Sim Nio Liok Ie membelakangi Lie Wie Neng memberi perintah : “Lekas bikin persiapan. Kita segera meninggalkan tempat ini. Disertai oleh Lie Wie Neng."

Tiba2 saja Lie Wie Neng meletik, secara cepat menyerang ibu tirinya. “Tidak perlu kalian merepotkan diri. Semua jangan harap bisa lari.”

Sim Nio mempunyai ilmu silat lumayan, diserang dari belakang, ia masih bisa mengelakkannya, tubuhnya dibuang kesamping menghindari serangan Lie Wie Neng, berbareng mulutnya berteriak2 : “Lekas tangkap lagi... Lekas tangkap ! Jangan kasih kesempatan lari ..."

Lie Wie Neng sudah mengeluarkan kipasnya, menyerang Sim Nio secara ber-tubi2, Sim Nio menangkis datangnya serangan2 itu dengan senjata pedang.

Perubahan mendadak membuat Cun Lan dan Cun Bwee ter-sipu2 mengeluarkan senjata, mereka siap mengeroyok.

'Lie Kong Tie’ menyodorkan tangan ke arah mereka : “Beri pinjam pedang kepadaku. Kalian menunggu dipintu, agar tidak ada orang masuk."

Cun Bwee tidak berani membantah, menyerahkan pedangnya kepada 'Thio Kee Cong’.

Si ‘Thio Kee Cong’ menerima pemberian pedang, secepat itu pula menotok jalan darah Cun Bwee.

Aslinya adalah manusia Yo Su Kiat !

Dan dengan pedang pemberian Cun Bwee tadi, Yo Su Kiat menaklukkan Cun Lan.

Terlalu panjang diceritakan, kejadiannya hanya berlangsung didalam beberapa kali kedipan mata. Sebagai salah seorang Yen-san Siang-kiat, Yo Su Kiat mempunyai kelebihan istimewa, didalam waktu yang terlalu singkat menundukkan Cun Bwee dan Cun Lan. Sesudah itu, ia menjepit keadaan Sim Nio Liok Ie.

“Lebih baik nyonya menyerah saja," Katanya penuh ancaman. Ilmu kepandaian Sim Nio Liok Ie juga bukan ilmu silat kampungan, terbukti dari cara2 tadi ia mengelakkan dan menangkis serangan kipas Lie Wie Neng. Walau demikian, bukan berarti ia bisa menandingi Lie Wie Neng, hanya bisa bertahan untuk beberapa waktu saja. Kini ditambah dengan tenaga Yo Su Kiat, bagaimana tidak kewalahan ? Sebentar kemudian ia mandi keringat.

“Thio Kee Cong, berani kau berkhianat?" Sangkanya orang yang menggunakan kedok kulit wajah Lie Kong Tie itu masih badan Thio Kee Cong.

“Ha, ha….Thio Kee Cong sudah di-Rumah Kamarkan." Yo Su Kiat tertawa.

Cesss...Kipas Lie Wie Neng berhasil menotok ibu tiri itu.

Kretekk….Bersamaan dengan itu Sim Nio Liok Ie sudah menggigit pecah gigi palsunya yang berisikan racun keras, didalam waktu yang singkat, ia kelejotan dan mati keracunan. Bunuh diri !

“Ohhh…..” Yo Su Kiat tercengang. “Dia keracunan ?”

“Ya." Lie Wie Neng melipat kipasnya. Ia bersikap lebih tenang. “Dia bunuh diri. Menggigit gigi palsu yang diisi oleh cairan beracun. Semua orang Ngo hong bun sudah menyiapkan bahan lari dari penderitaan.”

*** Bab 62

LlE WIE NENG mengajak Yo Su Kiat meninggalkan kamar ayahnya. Mereka disambut oleh Khong Bun Hui.

“Bagaimana ?" Bertanya Khong Bun Hui. “Betul2 musuh didalam selimut." Lie Wie Neng

menghela napas.

“Dia sudah mengaku ?"

“Seperti apa yang Bapak Tabib Ciok Thay Hu duga, ia sudah mengkeremus racun di gigi, sudah bunuh diri.”

“Ohh…..”

“Eh, di mana sekarang Ciok Thay Hu ? Dia betul-betul hebat.” Lie Wie Neng memuji.

“Istirahat didalam kamarnya." Jawab Khong Bun Hui.

“Ajak aku ke tempatnya." Berkata Lie Wie Neng. Dengan mengajak Khong Bun Hui dan Yo Su Kiat, mereka mendatangi kamar Goan Tian Hoat dan Yen Siu Hiat menetap.

Goan Tian Hoat masih menggunakan nama Ciok Thay Hu, seorang tabib pandai yang mengasingkan diri.

Di antara keempat Datuk persilatan, masing- masing hendak mempertahankan gengsi dan kedudukan, satu dan yang lain tidak mau menyerah kalah, kalau Lie Wie Neng tahu orang yang membantu dirinya dari pihak Datuk Selatan, mungkin bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Karena itulah Goan Tian Hoat menyembunyikan dirinya yang asli.

Ia menyambut kedatangan putra Datuk Utara. “Kukira kongcu sudah berhasil.” ia bicara tenang.

Lie Wie Neng mengangkat tangan memberi hormat. “Atas petunjuk Bapak tabib yang berharga, atas nama seluruh keluarga Lie, aku mengucapkan banyak terima kasih."

“Sama-sama."

“Kalau tidak ada petunjuk Bapak Tabib, entah bagaimana kita bisa mengelakkan malapetaka itu." Lie Wie Neng mengajak Khong Bun Hiu dan Yo Su Kiat memasuki kamar.

“Semua berkat usaha kongcu sendiri.” Berkata Goan Tian Hoat.

“Bapak Tabib." berkata Yo Su Kiat turut bicara. “Tolong kau kembalikan wajahku." Ia masih menggunakan wajah Lie Kong Tie. Adak perasa sekali menggunakan dan memalsukan wajah sang majikan. Sebelumnya, karena keadaan membutuhkan, ia rela dan siap melakukan apa saja. Kini sudah waktunya kembali ke undang2 yang semula.

Goan Tian Hoat mengeluarkan obat peluntur diserahkan kepada Yo Su Kiat dan berkata : “Gunakanlah obat ini untuk mencuci muka. Pasti bersih kembali."

Yo Su Kiat menerima pemberian itu. Goan Tian Hoat memandang Lie Wie Neng. “Kongcu," katanya: “Bagaimana usaha selanjutnya

?”

Lie Wie Neng memandang Khong Bun Hui, segala sesuatu sudah diserahkan kepada pengurus keluarga ini, ia bertanya : “Bagaimana ? Apa sudah dirundingkan baik2 dengan Ciu Goat ?”

“Sudah, tinggal menunggu perintah kongcu saja.”

“Baiklah. Panggil Ciu Goat datang."

Ciu Goat adalah dayang perempuan dari keluarga Lie yang dipercayakan urusan besar dan kecil, mendapat panggilan itu, segera ia berlari datang.

“Ciu Goat." Berkata Lie Wie Neng. “Sudah kau pikir masak2 tentang apa yang tuan pengurus beritahu?”

“Hamba mengerti dan hamba akan menunaikan tugas itu dengan seluruh kekuatan hamba yang ada."

“Bagus. Nah ! Kau boleh bersiap2."

***

JAM dua pagi….

Keadaan bangunan keluarga Lie diliputi kegelapan. Sesosok tubuh menyelinap diantara bangunan- bangunan ditempat itu, bayangan ini langsing dan kecil, bentuk seorang wanita.

Tujuannya adalah kamar tahanan yang mengekang kebebasan Thio Kee Cong.

Sesudah gagal didalam penyamarannya sebagai Lie Kong Tie, Thio Kee Cong menjadi orang tawanan kampung Datuk Utara. Ia dijaga oleh dua orang laki-laki berbadan tegap.

Sekarang, bayangan wanita itu sudah berada didepan kamar tahanan, mengeluarkan tabung kecil. ditiupkannya kedalam. Itulah pembiusan.

Dua orang penjaga kampung Datuk Utara jatuh ngeloso, mereka kena bius.

Bayangan langsing itu meletik masuk, mencomot tubuh Thio Kee Cong dan segera dibawa lari.

Thio Kee Cong dibawa lari meninggalkan kampung Datuk Utara. Ditengah jalan ia bisa melihat jelas penolong itu. “Nyonya," katanya. “Terima kasih.”

Yang menolong Thio Kee Cong adalah Sim Nio Liok Ie !

Membebaskan Thio Kee Cong dari segala belengguan, Sim Nio Liok Ie berkata : “Mari kita berangkat.”

“Kemana ?" Bertanya Thio Kee Cong. “Tentu saja ke markas sementara.” “Nyonya tidak kembali ke kampung Datuk Utara lagi ?”

“Huh ! Kau kira mereka begitu tolol ? Tidak mudah mengelabui mereka lagi."

Disaat ini, sayup2 terdengar suara hiruk pikuk didalam kampung Datuk Utara, tentunya sudah mengetahui akan larinya orang tawanannya.

“Nah." Berkata Sim Nio Liok Ie. “Mereka segera membikin pengejaran. Apa kau hendak menunggu kedatangannya orang2 itu? Masih belum mau berangkat ?"

Tubuh Thio Kee Cong melejit menuju ke arah utara. Diikuti dan direndengi oleh Sim Nio Liok Ie. Mereka pulang ke markas sementara cabang Kang lam.

Tidak berapa lama, mereka memasuki sebuah rimba, tiba2 dihadang oleh dua orang berseragam hijau.

“Siapa ?" Bentak kedua orang itu berbareng. “Apa kalian tidak mempunyai mata ?" Bentak

Thio Kee Cong.

“Oh…Thio hu-huat." Berkata seorang, mereka adalah anak buah Perintah Maut. Kini sudah menggabungkan kekuatan dibawah panji Ngo- hong-bun.

Pernyataan Thio Kee Cong yang mengatakan tidak tahu markas sementara cabang Kang-lam adalah penipuan besar. Kini mereka sudah berada ditempat itu. Begitu mudah menipu Goan Tian Hoat ?

Salah terka ! Sim Nio Liok Ie adalah samaran Ciu Goat khusus ditugaskan untuk mencari tahu dimana letaknya kandang Lengcu Panji Hijau. Kini mereka sudah berada didaerah yang menjadi tujuan mereka, Goan Tian Hoat membisiki sesuatu kepada Lie Wie Neng. Dan putra Datuk Utara ini membawa orang2nya mengintil, kini menampilkan diri secara mendadak, dengan kipas ditangan, menotok jatuh dua orang berseragam hijau yang menyambut Thio Kee Cong.

Thio Kee Cong mundur dengan mata terbelalak, lupalah kalau dibelakangnya itu ada seorang manusia tetiron, secepat itu pula, Ciu Goat mengeluarkan jarumnya menusuk Thio Kee Cong.

“Aaaaa….”

Thio Kee Cong tidak luput dari kematian !

Lie Wie Neng, Ciu Goat, Sepasang jago dari daerah Yen-san dan Empat Jendral Keluarga Lie menggabungkan diri. Mereka mengadakan razia disekitar rimba itu. Kreek...Kreek...

Mereka berjalan maju. Pantang mundur.

Rimba itu adalah tempat terjadinya kontak Thio Kee Cong dan anak buah. Tentu daerah basis cabang Kang-lam. Tentu saja terjaga, dua orang berseragam hijau sudah dibunuh mati, bukan berarti tidak ada penjagaan lainnya. Disaat ini terdengar bentakan lagi : “Siapa yang datang ?” “Aku." jawab Lie Wie Neng. Didepannya berdiri seorang berbaju hijau. “Katakan kepada pemimpinmu, aku Lie Wie Neng sudah datang.”

“Ha, ha, ha, ha…..” Terdengar lain suara tertawa, disana bertambah seorang berkerudung hijau dan berseragam hijau, inilah Lengcu Panji Hijau. “Hebat, hebat !" pujinya. “Kongcu memang hebat."

“Hmm…..” Dengus Lie Wie Neng. “Diluar dugaanmu, bukan ? Kalau aku bisa menemukan sarang persembunyianmu ?"

“Memang berada diluar dugaan." Jawab Lengcu Panji Hijau. “Bagaimana kongcu bisa mencapai tempat ini ? Mungkinkah salah satu anak buahku melakukan kesalahan, dikuntit sampai disini ?"

“Tepat."

“Kukira patut diberi peringatan, kalau ayah kongcu itu masih berada di markas besar. Kalau saja kongcu bersedia menyatukan kekuatan Datuk Utara..."

“Tutup mulut !” Bentak Lie Wie Neng. “Permintaan kalian itu tidak bisa diterima. Kedatangan kami ke tempat ini adalah meringkus kalian !”

“Ha, ha….Mungkinkah ada itu kemampuan ?” “Mengapa tidak ?" Tiba2 saja Lie Wie Neng

memberi code tanda perintah, didalam sekejap

mata sepasang jago dari daerah Yen san, Empat Jendral Keluarga Lie dan lain2nya sudah mengurung daerah itu: “Lihatlah !" Berkata Lie Wie Neng bangga. “Apa belum cukup dengan kemampuan ini ?”

“Apa mereka didatangkan khusus untuk diriku

?" Lengcu Panji Hijau menantang.

“Mereka akan menghadapi orang2mu dan kau...Kau langsung berhadapan secara pribadi dengan kipasku ini." Lie Wie Neng mengacungkan senjata istimewanya.

“Oh...sayang sekali....Orang2ku tidak berada ditempat ini." Berkata Lengcu Panji Hijau.

“Sama saja."

“Tidak semudah seperti apa yang kau kirakan." Berkata Lengcu Panji Hijau. Tangannya terayun, menyerang ke arah Lie Wie Neng.

Tinggg…..

Lie Wie Neng menangkis datangnya serangan pedang, senjata kipas juga senjata luar biasa yang pernah menggemparkan rimba persilatan, didapat dari Pendekar Kipas Wasiat Sin San Cu.

Lengcu Panji Hijau menyerang terlebih dahulu, akibatnya tidak sama, kini Lie Wie Neng yang menggencarkan kipasnya bertubi-tubi.

Tingg. Lagi. Kedua orang itu terpisah.

Hati Lengcu Panji Hijau tergetar, ilmu kepandaian lawannya tidak berada dibawah Kang Han Cing. Teringat wajah tampannya Kang Jie kongcu, wajahnya terasa menjadi merah.

Menggunakan kesempatan yang begitu baik, Lie Wie Neng memainkan kipasnya, lipatan kipas tidak ubahnya sebagai belati tajam, merangsek dari jarak dekat.

Disaat itu, orang2 Datuk Utara sudah meringkus semua anak buah Panji Hijau. Seperti apa yang sudah dikatakan oleh Lengcu Panji Hijau, sebagian besar orang2nya tidak berada ditempat itu, yang ada hanya beberapa penjaga biasa saja, hal mana tidak banyak menyulitkan Khong Bun Hui dkk.

Khong Bun Hui, Yo Su Kiat, Goan Tian Hoat dan Yen Siu Hiat menonton jalannya pertandingan itu. Dibawah sorotan mata bercahaya yang begitu banyak, keadaan Lengcu Panji Hijau semakin krisis.

Kipas Lie Wie Neng semakin lincah ber-kilat2 mengejar tempat2 berbahaya lawannya.

Didalam waktu yang sangat singkat, Lengcu Panji Hijau bisa ditekuk-lututkan. Kalau tidak adanya bantuan mendadak.

Dan cerita memang begitu kebetulan, disaat itulah muncul satu bayangan hitam, itulah seorang berbaju hitam dengan kerudung warna hitam, itulah Lengcu Panji Hitam.

Lie Wie Neng membalikkan kipas, ting ... memukul pergi datangnya senjata gelap yang dilepas oleh Lengcu Panji Hitam.

Bayangan hitam itu bergerak gesit, sesudah menyerang Lie Wie Neng, ia berada di sebelah Lengcu Panji Hijau, satu kali seretan tangan, kedua bayangan itu lenyap di balik semak-semak gelap.

Suatu kejadian yang membuat Lie Wie Neng penasaran, siapakah Lengcu Panji Hitam ? Begitu gesit ! Bisa menolong orang dari depan hidungnya. Mengikuti kedua bayangan hijau dan hitam tadi Lie Wie Neng lari mengejar.

Dibelakang Lie Wie Neng turut serta kedua Pasang jago dari gunung Yen-san dan Empat Jendral Keluarga Lie, baru diikuti oleh Yen Siu Hiat dan Goan Tian Hoat.

Mereka memeriksa seluruh rimba, tapi tidak berhasil menemukan jejak kedua Lengcu dari golongan Perintah Maut itu.

Kemanakah larinya Lengcu Panji Hitam dan Lengcu Panji Hijau ? Menyembunyikan diri ? Mengapa tidak bisa ditemukan ? Lari pergi ? Mengapa begitu cepat sekali ? Inilah yang membingungkan rombongan dari Datuk Utara.

Yang sudah menjadi kenyataan, mereka tidak berhasil !

***

Bab 63

MENYUSUL kedua lengcu…..

“Terima kasih sutee," berkata Lengcu Panji Hijau. “Kedatanganmu tepat pada waktunya." “Inilah perintah.” Jawab Lengcu Panji Hitam. “Eh, kemana kita harus pergi ?”

Lengcu Panji Hijau tertegun, memandang wajah sang rekan, tentu saja ia tidak bisa membedakan bentuk wajah itu, karena masing2 menggunakan tutup kerudung muka, hanya warnanya saja yang tidak sama, kalau ia mengenakan pakaian warna hijau, sipenolong itu mengenakan warna hitam. Yang mengherankan Lengcu Panji Hijau ialah mengapa si hitam tidak tahu maksud tujuannya ?

“Tentu saja pulang ke Piau shia." Jawab Lengcu Panji Hijau.

“Sucie, kau memusatkan markas sementara di Piau-shia, mengapa tidak mengajak orang-orangmu

?”

Ia menggunakan panggilan sucie. Artinya mereka adalah saudara seperguruan. Mengapa ?

Untuk jelasnya boleh kita ungkapkan sedikit, diantara kedua lengcu itu mempunyai hubungan perguruan, mereka anak murid Toa Kiongcu, inti kekuatan Ngo hong-bun. Dari ke empat lengcu panji berwarna, Lengcu Panji Hijau Suto Lan menduduki urutan ketiga dan Lengcu Panji Hitam menduduki urutan ke empat.

Agar tidak memusingkan kepala, sekalian kita bongkar rahasia Lengcu panji Hitam. Seperti apa yang kita ketahui dibagian cerita yang terdahulu, Lengcu Panji Hitam bunuh diri, karena penyamarannya sebagai Kang Puh Cing mengalami kegagalan, dan Lengcu Panji Hitam yang sekarang ini adalah samaran Kang Han Cing. Maka ia tidak tahu, kalau markas sementaranya berada di sebuah tempat yang bernama Piau shia.

(Bersambung 18)