-->

Perintah Maut Jilid 16

 
Jilid 16

SAM-KIONGCU menoleh kepala, menghadapi Ciok Beng Taysu, dari topeng perunggunya, sepasang mata yang bening berkilauan memantulkan cahaya tajamnya yang sangat dingin. Hati Ciok Beng Taysu tercekat, pikirnya : “Tentunya orang ini bernama Sam-kiongcu."

Terdengar Sam kiongcu berkata : “Tentunya kau yang bernama Ciok Beng taysu bukan ?”

“Omitohud." Ciok Beng Taysu merangkap kedua tangan. “Lolap Ciok Beng dari bagian Lo-han-tong Siauw-lim sie.”

Kejadian2 yang kita tuturkan diatas tadi berlangsung pada detik2 yang saling susul, pertempuran lengcu Panji hitam dan Put-im Suthay terhenti. Pertarungan Lengcu Panji putih dan Yen Yu San juga terbengkalai, masing2 mengundurkan diri dipihaknya, menantikan perkembangan berikut yang terjadi.

Sam kiongcu menghadapi Ciok Beng Taysu, dengan dingin ia berkata :

“Oho ! Pantas saja kalian tidak takut kepada partai Ngo hong bun, ternyata mendapat backing kuat, heh ? Hoi ! Tianglo Siauw lim pay dari mana yang membantu kalian ?"

Ciok Beng Taysu ter-mangu2 ditempat.

Sam kiongcu berkata : “Hei ! Siapa orang itu ?”

Ciok Beng Taysu menoleh kearah lenyapnya bayangan hijau, terlalu gesit gerakannya, terlalu cepat, maka wajah orang tersebut tidak bisa dilihat jelas, hanya tampak bayangan gulungan hijau yang saling gelinding, yang lari kian kemari, kemudian lenyap didalam kelenteng Ceng lian sie, ternyata Sam kiongcu menanyakan asal usulnya orang tersebut, karena itulah Ciok Beng Taysu menggelengkan kepala dan berkata : “Lolap sendiri juga tidak tahu."

Dengan dingin Sam kiongcu berkata :

“Enak saja lepas tangan begitu, hee ? Dia masuk kedalam kelenteng, bagaimana kau tidak tahu ?”

“Betul2 lolap tidak tahu." Berkata Ciok Beng Taysu.

Walau pertempuran diantara pimpinan2 partai Ngo hong bun dan klik Ceng lian sie sudah terhenti, anak buah partai Ngo hong bun masih mengadakan penyerangan2, ini waktu Sam kiongcu mengulapkan tangan.

Seorang pelayan berbaju hijau mengetok sesuatu. Itulah tanda penghentian bertempur.

Maka orang2 dari partai Ngo hong bun yang menyerang barisan Lo han tin mengundurkan diri.

Disaat ini, Sam kiongcu berkata lagi :

“Hayo ! Panggil orang itu keluar, hendak kulihat bagaimana bentuk cecongornya.”

Sebelum Ciok Beng Taysu bisa menjawab tantangan tadi, terdengar satu suara yang lantang, dan orang itu berkata : “He, hei….Cecongorku berada di tempat ini."

Suatu bayangan meluncur turun dari sebuah pohon yang tidak jauh dari tempat mereka, itulah bayangan si orang baju hijau, bayangan seorang pemuda yang cakep ganteng, berdiri didepan Sam kiongcu. Bukan Sam-kiongcu saja yang terkejut, Ciok Beng Taysu juga tercekat, pemuda ini memiliki ilmu yang luar biasa, tanpa bisa disadari oleh semua orang dia masuk kelenteng dan keluar lagi, bersembunyi di atas pohon yang tidak jauh dari tempat mereka berada itu.

Ciok Beng Taysu pernah mendengar cerita dari Yen Yu San, segera ia menduga kepada Lie Siauw San.

Sam-kiongcu menghadapi orang tersebut dan bertanya : “Bagaimana sebutan tuan ?"

Pemuda berbaju hijau memberi hormat, ia berkata :

“Haa ! Kau tidak kenal kepadaku, tapi aku kenal baik kepadamu, dibalik topeng perunggu yang menakutkan itu tentunya terdapat satu wajah yang menarik, Sam-kiongcu, betul seorang ajaib. Selamat bertemu !"

Lagi2 kata2 yang mengejutkan Sam kiongcu, tapi dia berhasil menenangkan gejolak hatinya, berdengus dan membentak : “Manusia congkak, buka tutup kerudungmu itu."

Ternyata pemuda berbaju hijau masih menggunakan tutup kerudung.

Sebagai jawaban dengan suara yang tidak kalah congkaknya pemuda berbaju hijau berkata: “Orang2 dari golongan kalian menggunakan tutup kerudung mukanya. Dan kau, Sam kiongcu juga menggunakan topeng perunggu, apa salahnya kalau mengikuti jejak kalian, tutup kerudung seperti ini mengapa harus dibuka, aku tidak memaksa kau membuka topeng perunggu yang menakutkan itu. Mengapa kau harus memaksa orang membuka tutup kerudung muka ? Apa tidak keterlaluan ?"

Dengan dingin Sam kiongcu bertanya : “Hei, orang yang menghentikan pertempuran tadi, telah masuk kedalam kelenteng, tentunya dirimu ?"

Pemuda berbaju hijau balik bertanya : “Apa Sam-kiongcu masih kurang yakin ?”

Sepasang sinar mata Sam-kiongcu memancarkan sinar mata pembunuhan, ia berkata

: “Bah ! Belum pernah ada orang berani mengucapkan kata2 ini kepadaku."

“Ha ! Ha…." Orang itu tertawa. “Ternyata kejadian itu sudah terjadi !"

“Kau hendak membela kelenteng Ceng-lian sie ?" Bertanya Sam kiongcu.

“Setiap orang wajib membela keadilan dan kebenaran !” Jawab si baju hijau.

“Baik," berkata Sam kiongcu, “Biar kau kusingkirkan dahulu."

Tressss….. jari Sam kiongcu terangkat sedikit, dari sana meluncur uap yang tidak terlihat menusuk ke arah si pemuda berbaju hijau.

Pemuda berbaju hijau tidak mengelak datangnya serangan, tampak ia berdiri tegak, tiba2 bajunya bergelembung, itulah kekuatan tenaga dalam dan ia menerima serangan dari jarak jauh tadi. Maka patah pula serangan Sam kiongcu. Hal tadi membuat Ciok Beng Taysu yang menyaksikan jalannya pertandingan terkejut, ia bergumam :

“Umur Lie Siauw San ini masih muda, ternyata ia sudah memiliki tenaga murni yang bisa mengekang dirinya."

“Bah !" Terdengar suara dengusan Sam kiongcu. “Pantas saja kau mempunyai kecongkakan luar biasa, ternyata kau berisi juga, hanya ilmu kepandaian yang seperti ini, berani menantang partai Ngo hong bun? Hayo keluarkan pedangmu, berani kau bertanding ilmu pedang ?”

“Seorang yang berani datang ke tempat ini tentu berani menanggung segala akibatnya.” Berkata si pemuda berbaju hijau. “Mendapat penghormatan Sam-kiongcu, betul2 aku menjadi gembira, sebetulnya, ada sesuatu yang hendak kukatakan."

“Apa yang hendak kau katakan ?” Bertanya Sam-kiongcu.

“Aku Lie Siauw San…..”

“Buka tutup kerudungmu !" Bentak Sam kiongcu.

Kali ini Lie Siauw San tidak menolak, per-lahan2 ia membuka tutup kerudung mukanya, tampak seorang pemuda yang cakap dan ganteng.

“Lie Siauw San !" Bentak Sam kiongcu. “Berulang kali kau mengganggu usaha kami, apa kau sudah bosan hidup ?"

“Sam-kiongcu, semua orang ditakdirkan untuk hidup. Kita wajib menerima berkah-berkah ini. Tapi hidup tanpa perdamaian bukanlah hidup yang kita harapkan."

“Hanya inikah obrolanmu ?"

“Sabar, biar bagaimana, perdamaian itu lebih abadi dari pada peperangan….”

“Oh ! Hendak menjadi juru damai, kau takut menghadapi pertempuran ? Menerima tantanganku

?"

“Huh !" Lie Siauw San berdengus. “Orang yang cinta damai bukan berarti takut kepada kekerasan, maksudku alangkah baiknya kalau kita mengadakan pertukaran tawanan perang…”

“Tawanan apa ?" Bentak Sam-kiongcu. “Seseorang   anak   buah   Sam-kiongcu,   ada

seorang yang menggunakan nama samaran Duta

keliling, ia menyamar putri ketua Penganungan Jaya Cin Siok Tin, tapi berhasil diketahui oleh kami, kini telah menjadi orang tawanan kita…."

Sepasang sinar mata Sam kiongcu memancarkan kemarahan yang me-luap2, ia menoleh kesamping, menatap Kwee hu-huat dan membentak : “Kwee hu-huat…..”

Kwee hu-huat menunduk kepalanya.

Sam-kiongcu membentak lagi : “Kwee hu-huat, bagaimana keadaan Han Sie Yong ? Mengapa tidak memberi laporan ?”

Ter-sipu2 Kwee hu-huat menjawab : “Menurut keterangan lengcu Panji putih..." Terdengar suara tertawa besar dari si hakim bermuka merah Yen Yu San, ia tampil ke depan dan berkata :

“Untuk jelasnya, biar aku yang memberi penjelasan. Anak buah partai Ngo hong bun yang bernama Han Sie Yong sudah menggantikan diriku, mati dibawah senjata-senjata rahasia Kwee hu- huat dan empat Panji berwarna, dan sesudah itu, aku mewakili Han Sie Yong menyamar menjadi diriku sendiri. Ha, ha, ha, ha…..”

Betapa geramnya Sam kiongcu, terdengar dari suara giginya yang gemerutuk, memandang Kwee hu-huat dan bertanya, “Apa betul ada kejadian yang seperti ini ?"

Wajah Kwee hu-huat menjadi merah, ia malu. Plintat plintut menjawab : “Hamba salah set, kira2 bisa terjadi kejadian tersebut."

Sam kiongcu berdengus dan berkata : “Hebat sekali pekerjaan kalian heh ?"

Kwee hu-huat menundukkan kepala, tidak berani memberi jawaban.

“Sam-kiongcu," Suasana itu dicetuskan oleh Lie Siauw San. “Bagaimana pendapatmu kalau kita membuat pertukaran tawanan perang ?"

“Huh !” Berkata Sam-kiongcu. “Kau mempunyai maksud untuk menukar seorang bawahanku dengan putri ketua Penganungan Jaya Cin Siok Tin

?"

“Apa nilai perbandingan itu kurang stabil ?” Bertanya Lie Siauw San. “Tentu saja menguntungkan pihakmu.”

“Kami bersedia mengadakan tambahan. Seorang anak buah lengcu Panji hijau yang bernama Sim Siang telah jatuh kedalam tangan kami, dia dipinjam oleh lengcu Panji hitam menyamar menjadi Liauw in nikouw dan penyamaran itu juga sudah pecah…”

“Kedudukan putri Penganungan Jaya, betapa agung, apa boleh ditukar dengan mereka ?” Potong Sam-kiongcu.

“Sabar !” Berkata Lie Siauw San. “Malam ini lengcu Panji hitam telah mengutus tiga orangnya membikin penyelidikan, dua telah tertawan didalam kelenteng dan kedua orang ini bila juga menjadi tambahan, bagaimana empat ditukar satu

? Kita bersedia membebaskan keempat orang tadi, kalau saja Sam-kiongcu bersedia membebaskan nona Cin Siok Tin."

Sam kiongcu tertegun memandang ke arah Kwee hu-huat dan membentak : “Begitu banyak orang kita yang jatuh ke dalam tangan mereka ?”

Badan Kwee hu-huat menjadi gemetaran, dengan suara yang tidak lancar ia menjawab : “Hamba juga baru saja tahu."

“Huh !” Sam kiongcu mengeluarkan dengusan. “Bagaimana ?” Bertanya Lie Siauw San, “Apa

Sam-kiongcu bersedia mendengar saran-saran ini?”

Dengan menggelengkan kepala Sam kiongcu berkata : “Aku tidak setuju." “Sebagai seorang juru damai, aku menjadi cemas sekali." berkata Lie Siauw San. “Kukira langkah Sam-kiongcu kurang bijaksana, langkah itu adalah kesalahan yang terbesar."

“Apa artinya kesalahan yang terbesar ?” Bentak Sam kiongcu.

Lie Siauw San berkata : “Maksud tujuan gerakan Sam-kiongcu di malam ini adalah membasmi dan menghancurkan Ceng-lian-sie dan Ciok cuk am, sesudah itu menguasai empat Datuk persilatan, menguasai rimba persilatan dan dengan demikian partai Ngo hong bun hendak menjadi raja dari rimba persilatan.."

Sepasang sinar mata Sam kiongcu berkilat, ditatapnya terus menerus dan berkata : “Teruskan keteranganmu !"

“Tapi situasi tidak menguntungkan untuk partai Ngo hong bun," berkata Lie Siauw San. “Kenyataan yang sudah terbentang di depan mata, Ciok cuk am bebas dari bahaya cengkraman Ngo hong bun. Ceng lian sie juga bukan sendirian, kami bersedia membela dengan titik darah yang penghabisan, bertempur belum tentu bisa menentukan kemenangan berada dipihak siapa. Masih suatu tanda tanya. Yang jelas, banyak anak buah partai Ngo hong bun jatuh kedalam tangan kami, rencana kalian bisa saja kami beberkan, demikianlah partai Ngo hong bun akan menjadi sasaran2 rimba persilatan, tidak mungkin melaksanakan tujuan2 yang terencana baik itu.” Tiba2 tangan Sam kiongcu terayun, dengan lengkingan yang panjang berkata : “Semua ini gara2 munculnya dirimu….”

Lie Siauw San menepuk datangnya serangan bokongan itu, tertawa panjang dan berkata : “Sabar, nona manis.”

Yang aneh, cemoohan 'nona manis’ itu tidak membawa reaksi besar, tidak terjadi perubahan pada diri Sam kiongcu dibalik topeng perunggunya itu.

Kedua orang terpisah, gelombang tenaga mereka terpecah ke empat penjuru dan buyar diantara para jago2 yang berada di tempat itu.

Ciok Beng Taysu, Put im Suthay dan Yen Yu San turut merasakan adanya gelombang kekuatan buyar itu. Di dalam hati masing-masing berkata : “Hebat ! Sambil bicara, mereka telah mengadu tenaga dalam."

Mereka memuji kekuatan Lie Siauw San, dan mereka tercekat akan ilmu kepandaian Sam Kiongcu.

Ya ! Lie Siauw San dan Sam Kiongcu telah mengadu kekuatan bathin, mereka masih berdiri tegak ber-hadap2an.

“Sam Kiongcu….” Lie Siauw San tidak meneruskan pembicaraannya.

“Ada apa ?” Bentak Sam Kiongcu. Lie Siauw San ber-teleng2 kepala. “Sam Kiongcu," panggilnya lagi. “Ketahuilah, sepandai-pandainya tupai melompat, bukan berarti ia telah merajai, menguasai dibidang perlompatan. Se-mahir2nya seorang jago silat, tidak mungkin bisa menaklukkan semua rimba persilatan. Partai Ngo hong bun hendak berkuasa diatas takhta Kangouw ? Ini sudah bukan rahasia lagi. Pikirlah dua kali, sebelum mengambil langkah-langkah yang tidak bisa ditarik pulang."

“Ha, ha...” Sam Kiongcu tertawa besar, berkumandang didaerah sekitar tempat itu. “Hanya obrolan yang semacam ini yang hendak dikemukakan ?”

“Baiklah, Sam Kiongcu tidak membutuhkan Duta Kelilingmu ? Berapa banyak rahasia yang bisa keluar dari mulutnya ? Celakalah, kalau rahasia2 Ngo hong bun itu jatuh kedalam tangan kami.”

“Jangan kau mimpi, tidak mudah untuk mengorek keterangan darinya." Berkata Sam Kiongcu dingin.

“Memang tidak mudah. Tapi bisa saja bukan ?”

Sam Kiongcu harus berpikir lama, tampak topeng perunggunya yang ber-kilat2 itu dan tampaknya ia tidak berdaya untuk berkeras lagi, beberapa saat kemudian, dengan nada yang agak mendingin ia berkata : “Baiklah. Kau memang pandai bicara. Aku bersedia menukar tawanan."

Lie Siauw San berkata : “Sebelumnya kami menghaturkan banyak terimakasih. Asal Sam Kiongcu tidak membuat seorang Cin Siok Tin duplikat lagi.”

“Kau tidak percaya ?" Sam Kiongcu naik darah. “Siapa yang tidak percaya kepada Sam Kiongcu

? Sebagai salah seorang pemimpin Ngo hong bun, kami wajib percaya. Sayang sekali pernah terjadi kejadian2 palsu. Tentunya bukan buah tangan Sam Kiongcu. Kami lebih suka berhubungan dengan Sam Kiongcu. Nah, bila tawanan2 itu harus ditukar ?”

“Aku segera mengutus orang untuk membawa Cin Siok Tin ke tempat ini. Dan kuharap saja kalian bisa menyerahkan orang2 kami kepadanya.”

“Tunggu dulu,” Berteriak Put Im Suthay. “Bagaimana keadaan muridku ?"

Sam Kiongcu tidak menggubris teguran itu, menoleh kesampingnya, disana berdiri Kwee hu- huat, dan kepada orang ini dia memberi perintah :

“Kwee hu-huat tolong kau ambil Cin Siok Tin dan Liauw In Suthay ! Bawa mereka ke tempat ini, serahkan kepada mereka untuk ditukar dengan orang2 kita !”

“Baik." Kwee hu-huat menerima perintah, berbalik dan berjalan pergi.

“Dan kau !” Sam Kiongcu menundingkan jarinya ke arah Lie Siauw San. “Berani kau bertanding secara perorangan ?"

Lie Siauw San menganggukkan kepala : “Aku selalu siap menerima tantangan." “Jangan lupa, esok malam jam tiga kunantikan kehadiranmu di Yen cu-kie."

“Jam tiga tepat, boleh kau nantikan kehadiranku ditempat itu."

“Undangan hanya untuk seorang. Jangan mengundang bala bantuan."

“Tentu. Yang mengundang bala bantuan, bukan manusia sejati," Lie Siauw San menerima semua tantangan.

“Kunantikan kehadiranmu di Yen-cu-kie," berkata Sam Kiongcu, sesudah itu ia mengajak rombongannya meninggalkan tempat itu.

Ceng lian sie bebas dari cengkeraman maut. Semua orang mengeluarkan elahan napas lega. “O-mi-to-hud.” Ciok Beng Taysu menyebut nama

Budha.   Ia   menghampiri   Lie   Siauw   San   dan

menyekal tangannya, dengan terharu memandangi pemuda itu, “Siecu telah banyak menolong kami. Jasa siecu tidak akan kami lupakan.”

Lie Siauw San melepaskan pegangan tangan Ciok Beng Taysu, ia membalas hormat dan berkata

:

“Tidak lama lagi, orang2 Ngo hong-bun itu balik kembali, harap Taysu ber-hati2, boanpwe masih mempunyai lain urusan, selamat tinggal."

Tubuhnya melejit, meninggalkan tempat itu.

Kesan Put im Suthay kepada Lie Siauw San kurang baik, ia berdengus : “Huh, sombongnya.” Tapi Yen Yu San berkata : “Kukira dia hendak membuntuti orang2 Ngo-hong bun itu."

Mengapa Lie Siauw San cepat2 meninggalkan semua orang ?

Seperti apa yang Yen Yu San duga, pemuda itu masih harus menyelesaikan tugasnya per-lahan2 hendak menyingkap sedikit kemisteriusan partai Ngo hong bun.

***

Bab 56

MALAM pekat gelap…..

Sebelum matahari pagi menyingsing, itulah keadaan yang paling gelap. Gedung keluarga Kang diliputi oleh kabut tebal.

Tiba-tiba….

Satu sosok bayangan melesat keatas tembok pekarangan, dan lenyap di balik semak-semak.

“Hmmm….” Terdengar suara dengusan, tampak seorang pemuda memandang ke arah kamar Kang Puh Cing.

Siapakah pemuda ini ?

Dia jago muda kita, Kang Han Cing.

Ia memperhatikan kamar sang toako beberapa saat, lagi2 Kang Han Cing mengeluarkan suara dengusan hidung : “Hmm….” Langkah Kang Han Cing diayun ke arah kamar Kang Puh Cing. Perlahan-lahan ia mengetuk :

Tok…tok….tok…..

Tidak terdengar suara jawaban.

Sebagai putra pertama Datuk selatan, tidak seharusnya kalau hal itu bisa terjadi. Betul, didalam keadaan pulas, daya reflek seorang yang melatih ilmu silat mempunyai konsentrasi yang kuat, baru dia bisa menjagoi rimba persilatan.

Tok…tok…. Tok….

Lagi2 Kang Han Cing mengetuk pintu.

“Siapa ?” Kali ini terdengar suara pertanyaan Kang Puh Cing.

“Toako, buka pintu." Jawab Kang Han Cing. Pintu terbuka, disana tampak kepala Kang Puh

Cing yang masih kusut, ia baru bangun tidur. Memperhatikan adiknya dengan rasa tercengang.

“Hai, kemana saja beberapa hari ini kau pergi ?” Bertanya sang toako dengan penuh perhatian.

Kang Han Cing memasuki kamar itu, mengambil tempat duduk. Diikuti juga oleh Kang Puh Cing. Kini kedua saudara itu duduk ber-hadap2an.

“Kemana saja kepergianmu ?" Ulang Kang Puh Cing lagi.

Kang Han Cing meninggalkan gedung keluarga Kang tanpa memberitahu kepada toakonya. Sebagai seorang saudara tua, pantaslah rasanya untuk memberi teguran. “Toako, beberapa hari ini siauwtee sudah mengubah wajah dan menjelma sebagai Lie Siauw San."

“Lie Siauw San ?" Berkata Kang Puh Cing terkejut. “Mengapa tidak memberitahu kepadaku ? Kau menyusahkan orang saja. Kukira diculik orang. Beberapa orang yang kuberi tugas untuk mencari dirimu tidak berhasil. Kemana saja kau pergi ?”

“Siauwtee baru saja kembali dari kelenteng Ceng-lian-sie."

“Kelenteng Ceng-lian-sie ?" Kang Puh Cing memperlihatkan wajahnya yang serius, “Apa kerjamu dikelenteng itu ?”

“Toako betul2 tidak tahu, atau pura2 tidak tahu

?”

“Bagaimana aku bisa tahu. Baru kemarin lohor

aku kembali dari kota Tin-kang. Usahaku sia2. Oh….Mungkinkah kau dalam taraf tugas menyelidiki drama pembunuhan Yen Siu Lan ?“

“Bukan.”

“Eh, apa pula yang terjadi ? Hari ini seperti ada sesuatu yang aneh.”

“Memang. Ada sesuatu yang aneh. Bukankah toako juga baru kembali dari kelenteng Ceng-lian- sie, mengapa seperti tidak tahu apa yang terjadi ?”

“Maksudmu ?”

“Toako masih ingat kepada Lengcu Panji Hitam

?” “Orang yang menyamar menjadi diriku itu ?” “Ya.”

“Oh….” Kang Puh Cing menepok kepala. “Mungkinkah dia main lagi ? Menyamar sebagai diriku, melakukan kejahatan ?"

“Bukan."

“Jitee, katakanlah. Apa yang terjadi." Berkata Kang Puh Cing kewalahan.

“Sulit diterima. Tapi inilah kenyataan." Berkata Kang Han Cing. “Lengcu Panji Hitam turut serta didalam penyerangan ke arah Ceng-lian-sie. Sesudah membubarkan diri, kubayangi dirinya. Dia menuju ke arah sini. Mendahului gerakannya, aku bersembunyi dibelakang taman. Dan sesudah itu kehilangan jejaknya.”

Wajah Kang Puh Cing menjadi pucat. “Ia menghilangkan jejak ditempat kita ?” Tanyanya. “Betul2 berani !"

“Memang seorang yang pemberani." Berkata Kang Han Cing. “Tapi dia telah memasuki jaring yang dipasang. Tidak bisa lari lagi."

“Kau sudah tahu tempat persembunyiannya ?” “Segera.” Berkata Kang Han Cing. Sesudah itu,

ia berteriak ke arah lain: “Saudara Goan, kau boleh

keluar dari tempat persembunyianmu."

Saudara Goan ? Siapakah yang dipanggil? Mungkinkah Goan tian Hoat ? Dimana pula Goan Tian Hoat selama ini ?

Tepat ! Dari kolong tempat tidur Kang Puh Cing bergerak sesuatu bayangan, disana menongol kepala orang, itulah kepala jago muda yang memiliki kecerdikan luar biasa, murid Hay yang- pay yang terpercaya, Goan Tian Hoat !

Kang Puh Cing mengeluarkan jeritan kaget, tangannya bergerak, memukul kepala orang tersebut.

Gerakan Kang Han Cing lebih cepat lagi, sebelum sang toako bisa melakukan sesuatu yang merugikan Goan Tian Hoat, ia sudah menyekal pergelangan tangan itu, menotok jalan darahnya.

Kang Puh Cing tidak berdaya.

“Kuharap toako bisa menjaga kesabaran, jangan terkena tekanan darah tinggi.” Mengancam Kang Han Cing.

Kang Puh Cing lunglai lemas.

Kang Han Cing memandang Goan Tian Hoat dan bertanya : “Saudara Goan, dimana disembunyikan olehnya ?"

“Disini.” Jawab Goan Tian Hoat sambil menarik keluar sebuah peti kecil. Dibukanya peti itu, isinya sangat sederhana, hanya seperti pakaian seragam hitam, komplit dengan panji hitam dan tutup kerudungnya. Itulah pakaian Lengcu Panji Hitam !

Sebagai menghadapi seorang pesakitan, Kang Han Cing menatap wajah toakonya dalam2, ia bertanya sedih : “Apa artinya permainan ini ?"

Kang Puh Cing berkerut alis, sebagai orang yang bersalah, ia menundukkan kepala, dengan suara parau berkata : “Jietee, kau harus bisa memahami kesulitanku."

Kesulitan apa yang sedang dihadapi oleh Kang Puh Cing ? Kang Han Cing menjadi ragu2.

Giliran Goan Tian Hoat yang mengambil alih pengacara setempat, tertawa ringan ia berkata :

“Tidak guna menyangkal lagi.”

Kang Puh Cing mendongakkan kepala menantang sepasang sinar mata Goan Tian Hoat, dia boleh merasa malu kepada Kang Han Cing, tapi ia tidak takut kepada Goan Tian Hoat, mengingat orang ini hanya sebagai pengurus gedung didalam keluarganya. “Saudara Goan," ia berkata. “Dimisalkan telah terjadi kesalahan atas diriku, mungkinkah kau berani melakukan sesuatu ? Kau masih meragukan keaslianku ?"

“Tidak perlu disangkal lagi." Berkata Goan Tian Hoat.

***

Bab 57

KEDUDUKAN Kang Han Cing agak terjepit, ia sudah berhasil membuka kedok penyamaran si Lengcu Panji Hitam. Ternyata Lengcu Panji Hitam adalah saudaranya sendiri. Apa yang bisa dilakukan ? Memperhatikan dari segala sudut, ia tidak bisa menyangsikan keaslian dari toako itu. Logat pembicaraan, bentuk tubuh, wajah muka dan segalanya, persis seperti apa yang sang toako miliki. Adakah orang bisa menyamar begitu mirip ? Diserahkan segala kebijaksanaan itu kepada Goan Tian Hoat.

“Saudara Goan," ia berkata. “Kau yakin dia bukan toakoku ?"

“Jie Kongcu." berkata Goan Tian Hoat, “Kau masih kurang percaya ?"

Didekatinya Kang Puh Cing yang sudah mati kutu itu, dan Goan Tian Hoat berkata lagi :

“Penyamarannya memang luar biasa. Keasliannya juga hebat. Tapi jatuh kedalam tanganku jangan harap bisa membebaskan diri lagi.”

Dari dalam saku bajunya Goan Tian Hoat mengeluarkan sesuatu, di-oles2kannya ke wajah Kang Puh Cing, ia harus membuka kedok penyamaran orang itu.

Sepasang mata Kang Puh Cing memancarkan api kebencian yang me-nyala2, jalan darahnya sudah tertotok, ia tidak berdaya, terdengar suara gemerutuk giginya, menandakan betapa gemasnya orang ini.

Tangan Goan Tian Hoat masih belum berhenti, mulutnya bergumam :

“Hampir saja kau berhasil mengelabui sepasang mataku. Tapi kecurigaanku sudah timbul didalam kuburan tua itu.”

Dengan heran Kang Han Cing bertanya : “Itu waktu mengapa saudara Goan tidak mengatakan kepadaku ?" “Dahulu belum ada bukti2 kuat yang bisa memaksanya bicara. Mana boleh sembarang menduga orang ?”

Kang Han Cing memperhatikan, bagaimana Goan Tian Hoat meng-oles2 wajah toakonya, tapi tidak terjadi perobahan apa2.

“Eh,” berteriak Goan Tian Hoat. “Ilmu kimia baru ? Tidak bisa dicuci dengan obatku ? Ternyata kau sudah menyiapkan pada sebelumnya, ya ?”

Tidak berobahnya wajah Kang Puh Cing adalah suatu bukti kalau Lengcu Panji Hitam itu adalah jelmaan Kang Puh Cing asli. Dan kalau sampai terjadi hal ini tidak mudah menyelesaikan perkara berikutnya.

“Saudara Goan, bagaimana ?" Bertanya Kang Han Cing.

“Jangan khawatir. Tidak ada sesuatu yang bisa lepas dari obat2anku. Tunggulah sebentar lagi. Dia sudah menyangka akan adanya kejadian yang seperti ini, maka make-up itu dilapisi oleh semacam bahan kimia baru. Tunggulah beberapa saat, maka bahan kimia itupun bisa meletak, tidak sulit dikorek."

“Saudara Goan yakin, kalau dia bukan Kang Puh Cing toako ?"

“Nah ! Lihatlah." Berteriak Goan Tian Hoat. Per- lahan2 ia menarik kulit tipis yang seperti kulit salak, diperetelinya kulit itu, baru meng-gosok2 lagi. Kini terjadi perubahan, wajah Kang Puh Cing itupun lenyap, disana terpeta sebuah wajah laki2 kurus.

“Nah ! Inilah manusia aslinya." Berkata Goan Tian Hoat girang.

Kang Han Cing juga mengeluarkan napas lega, ia tidak perlu ragu2 kepada orang ini.

“Hei !" ia membentak: “Mengapa kau menyamar menjadi toako ?"

“.    " Orang itu tidak menjawab.

“Hayo ! Jawab pertanyaanku." Bentak Kang Han Cing: “Dibawa kemana lagi toakoku ?”

“Jangan sombong." Berkata orang itu dingin. “Kemenangan belum tentu berada dipihakmu."

“Dimana kau simpan toa Kongcu ?” Bentak Goan Tian Hoat beraksi.

“Dimarkas !"

“Dimana markas Ngo-hong-bun ?” “Kau kira aku bisa memberi tahu ?"

“Apa harus menggunakan kekerasan, maka baru mau bicara ?”

“Hee, hee…Uk, ukkk...” Tiba2 orang itu jatuh meloso, mulutnya berbuih, napasnya terhenti.

“Hei ??” Kang Han Cing berteriak kaget.

Dengan tenang Goan Tian Hoat berkata: “Dia telah menelan racun yang sudah tersedia didalam mulutnya." “Bunuh diri ? Bagaimana kita bisa mencari tahu markas mereka lagi ?"

“Jangan khawatir. Kita bisa menggunakan tanda ini.” Goan Tian Hoat mengacungkan sebuah panji kecil, panji itu berwarna hitam, lambang dari orang yang sudah bunuh diri tadi. “Dengan menggunakan code2 tertentu, Jie Kongcu menyamar sebagai Lengcu Panji Hitam mengikuti gerakan2 mereka, mungkinkah tidak bisa sampai di markas Ngo hong bun ?"

Dan mulai saat itu, jabatan Kang Han Cing bercabang tiga, didalam keadaan biasa, dia adalah Kang Han Cing asli. Bila mana perlu, dengan kedok kulit pemberian Tong Jie Peng, hadir dan muncullah seorang pemuda misterius Lie Siauw San. Kalau menutup kerudung mukanya, Lengcu Panji Hitam siap kemana saja.

Kang Han Cing — Lie Siauw San — Lengcu Panji Hitam menjadi tiga serangkai yang tidak bisa dipecahkan lagi.

Didalam keluarga Kang, karena adanya urusan pembunuhan Yen Siu Lan, Kang Han Cing melenyapkan diri, yang ada hanya Kang Puh Cing, maka Goan Tian Hoat mengubah wajah Kang Han Cing, sesudah tambah sana, tambah sini, hadirlah Kang Puh Cing lagi, dan hal ini tidak terlalu sulit, mengingat banyak persamaan diantara wajah kedua saudara itu.

Kang Han Cing tidur didalam kamar sang toako, kini dia memegang peranan sebagai Kang Puh Cing. Peranan yang dipegang oleh Kang Han Cing semakin banyak, empat wajah berada didalam tangannya, kini dia harus melakonkan jiwa raga sang toako.

Sesudah membereskan mayat Lengcu Panji Hitam dari partai Ngo-hong bun, Goan Tian Hoat juga selesai me-make-up Kang Han Cing, dengan menyusut keringatnya, tokoh cerdik ini berkata:

“Jie Kongcu, sudah satu malam kau tidak istirahat. Tidurlah dikamar ini.”

Tidak lupa, setelah perangkat Lengcu Panji Hitam disimpan pada peti kecil semula.

Goan Tian Hoat mengundurkan diri.

Kang Han Cing mulai merasakan kondisi badannya menurun, hal ini disebabkan oleh banyaknya tugas2 yang dipikul, satu malaman ia belum tidur, apa lagi mengingat janji perang dengan Sam Kiongcu, ia harus memelihara kekuatan, ilmu silat si topeng perunggu itu lihay, istirahat itu sangat perlu. Lompat keatas tempat tidur, duduk bersila mengatur peredaran jalan darahnya.

Kang Han Cing selesai membulatkan 36 kali perputaran jalan darah. Ia membuka mata sesudah matahari tergantung ditengah-tengah. Turun dari tempat pembaringan dan membuka pintu, disana pelayan perempuan Siauw Leng sudah menunggu didepan, melihat munculnya majikan itu, cepat- cepat Siauw Leng memberi hormat. “Toa Kongcu baru bangun ?" Sapanya merdu. “Tuan pengurus baru saja datang lagi."

Kalau bukan sebutan 'Toa Kongcu' tadi, hampir Kang Han Cing melupakan peran apa yang sedang dipegang, ia menganggukkan kepala tanda mengerti, membawakan logat sang toako, bertanya

: “Apa yang dikatakan oleh tuan pengurus ?"

Goan Tian Hoat tentu hendak melapor sesuatu yang sangat penting.

“Tidak meninggalkan pesan." Jawab Siauw Leng. “Mengetahui kalau Toa Kongcu masih tidur nyenyak, dia tidak berani membangunkan."

“Nggg….” Kang Han Cing tidak bertanya lagi. Cepat2 Siauw Leng membawakan air cuci muka,

diletakkannya didekat jendela. Kang Han Cing

membersihkan diri !

Tidak lama, terdengar suara derap langkah kaki yang menuju ke arah itu, Goan Tian Hoat balik kembali.

“Apa Toa Kongcu baru bangun ?" Bertanya Goan Tian Hoat.

“Toa Kongcu sedang membersihkan diri" jawab Siauw Leng keras2.

Goan Tian Hoat memasuki kamar, dan itu waktu Kang Han Cing sudah selesai, mereka mengambil tempat duduk untuk merundingkan sesuatu. Siauw Leng melayani segala kebutuhan mereka. “Siauw Leng." Panggil Goan Tian Hoat. “Tolong beritahu kepada tukang masakku, makanan boleh dibawa ke tempat ini, banyak sekali yang hendak kurundingkan dengan Toa kongcu. Kami hendak makan bersama.”

“Baik." Siauw Leng mengundurkan diri.

Sesudah bayangan Siauw Leng lenyap, mendekati telinga Kang Han Cing, Goan Tian Hoat berkata : “Asal usulnya gadis ini masih diragukan.”

“Saudara Goan curiga kepadanya ?” Bertanya Kang Han Cing.

“Menurut pemeriksaan, gadis ini masuk kerja sesudah Jie Kongcu meninggalkan rumah. Calo perantara adalah Hun Cun Cay, tidak ada keterangan yang lebih jelas. Daftar alamat hanya tertulis kelahiran Kim-leng. Kukira, dia adalah mata2 Ngo-hong-bun."

“Tidak kusangka, dirumah ini masih ada mata2 Ngo-hong-bun,” Berkata Kang Han Cing menghela napas.

“Mata2 Ngo hong-bun lebih dari pada satu,” Berkata Goan Tian Hoat.

“Masih ada lagi ? Siapakah mereka ?"

“Masih ada tiga atau empat orang yang kucurigakan, tapi tidak apa. Dengan adanya mereka, kukira lebih memudahkan menjalankan rencana kita. Lebih baik kasih sedikit gerakan kepada mereka, hal ini menguntungkan laporan palsu yang kita akan ciptakan." Dari dalam saku bajunya, Goan Tian Hoat mengeluarkan sebuah tabung kecil yang berisikan surat Ngo hong-bun, diserahkan kepada Kang Han Cing dan berkata :

“Surat tugas dari markas Ngo-hong-bun cabang Kang lam yang memberi perintah kepada Lengcu Panji Hitam, diharuskan segera berangkat untuk membantu usaha Lengcu Panji Hijau….”

“Surat tugas dari markas Ngo hong bun cabang Kang-lam ?"

“Betul surat tugas dari partay Ngo-hong bun cabang Kang-lam yang dibubuhi stempel tanda kilat dan segera."

“Bagaimana saudara Goan bisa mendapatkan surat ini ?”

“Kita sedang mengadu kepintaran, siapa gesit, itulah yang akan mendapat kemenangan. Sudah lama kuperhatikan gerak-gerik mereka, dan cara bagaimana mereka mengirim / menerima info2 rahasia. Tidak ada sesuatu yang sulit, kalau betul2 kita memperhatikan dengan cara seksama."

Kang Han Cing membuka surat yang terdapat didalam tabung kecil itu, ia berkerut alis dan berkata :

“Perintah ini harus segera dilaksanakan, aku sudah menerima tantangan Sam Kiongcu mengadu silat di Yen-cu-kie pada jam tiga malam ini. Bagaimana bisa memecah diri ?” “Sepenerimanya surat perintah, sudah terpikir olehku tentang adanya kesulitan2 itu. Maka segera datang untuk merundingkan dengan Jie Kongcu.”

“Katakanlah, bagaimana rencana saudara Goan

?”

Goan Tian Hoat membisiki sesuatu dipinggir

kuping Kang Han Cing, diutarakan rencananya untuk menyelundup masuk kedalam partay Ngo hong-bun, tentu saja Kang Han Cing yang harus memegang peran sebagai Lengcu Panji Hitam. Rencana dilaksanakan tanpa mengganggu jalannya pertandingan di Yen-cu-kie.

Tidak lama kemudian, pelayan Kang Puh Cing yang bernama Siauw Leng itu sudah kembali. Dan disaat itu, Goan Tian Hoat sudah selesai mengeluarkan isi rencananya.

Mereka makan bersama, dilayani oleh Siauw Leng.

Menyantap beberapa kali, sengaja Kang Puh Cing berkerut alis, ia memandang Goan Tian Hoat dan berkata :

“Mengapa Jie-tee belum kembali ? Tentunya jatuh kedalam tangan orang2 dari partay Baru. Mereka memiliki banyak jago kuat. Kuharap saudara Goan bisa mengajak beberapa orang untuk mencarinya.”

Suara ini sengaja diucapkan dengan keras sehingga turut didengar oleh Siauw Leng.

Betul saja Siauw Leng tertarik, tampak jelas dari sepasang matanya yang berkilat terang, perubahan cahaya sinar mata yang memperlihatkan rasa girang, tentu saja ia menarik perhatian, mengingat pentingnya berita baru itu.

Goan Tian Hoat berkata : “Membawa orang sangat merepotkan, juga mudah menarik perhatian lawan. Lebih baik menunggu selesainya urusan Toa Kongcu."

“Baiklah." Peran Kang Han Cing sebagai Toa Kongcu berjalan sukses. “Kalau ada laporan lain, segera beritahu.”

“Bila Toa Kongcu berangkat ?” Bertanya Goan Tian Hoat.

“Aku hendak segera berangkat," Jawab Kang Han Cing.

Betul2 Kang Han Cing membuat persiapan, dikatakan ia hendak berangkat menuju ke kota Tin-kang.

Didalam waktu yang sangat singkat, seluruh isi gedung keluarga Kang dapat mengetahui kepergiannya ‘Toa Kongcu’ mereka.

Inilah angin berita asap yang dilepas oleh Goan Tian Hoat.

Dan berita lain ialah keberangkatan pengurus gedung Goan Tian Hoat, tuan pengurus ini menyelidiki lenyapnya Jie Kongcu.

Jabatan tuan pengurus gedung dipegang oleh saudara seperguruan Goan Tian Hoat yang bernama Co Yun Thay. Sering kali apa yang didesas-desuskan itu berlawanan dengan apa yang menjadi kenyataan. Kalau berita yang disebarkan didalam gedung keluarga Kang menyatakan ‘Toa Kongcu’ menuju kearah kota Tin kang, kenyataan ‘Toa Kongcu’ itu menuju kembali kearah rumah penginapan Seng- kie Kek-ciam. Berwujut sebagai tokoh silat misterius Lie Siauw San.

Dan Goan Tian Hoat yang diberitakan mencari jejak ‘Jie Kongcu' yang hilang, kenyataan menuju kearah kelenteng Ceng-lian-sie, membawakan rool lainnya.

Peran apa yang dikerjakan oleh Goan Tian Hoat

? Untuk sementara kita tangguhkan. Kita mengikuti perjalanan Kang Han Cing dan pengalamannya selama bertemu dengan pemimpin Ngo-hong-bun cabang Kang-lam Sam Kiongcu.

***

Bab 58

YAN-CU KIE adalah nama tempat dari suatu daerah indah di tepi sungai Tiang kang. Terdiri dari batu2 cadas besar yang menerobos ombak, dan sebagian berada di sungai Tiang kang, ditempat itulah dibangun sebuah gardu pemandangan, dari sana melihat kebawah, se-olah2 berada di awan yang tersembul ombak. Deburan air muncrat, suara gemuruh dari surut pasangnya sungai Tiang- kang membawa panorama yang lain dari pada yang lain. Suatu tempat pemandangan istimewa. Rembulan tergantung ditengah awan yang berjalan, menyinari disekitar Yan-cu-kie.

Dipinggir bangunan gardu itu tampak bayangan seorang gadis, tubuhnya langsing, menarik, berpakaian warna hijau gemulai, sayang ia menutup wajahnya dengan sebuah topeng menyeramkan yang terbuat dari bahan perunggu. Inilah Sam Kiongcu !

Di luar gardu pemandangan, berdiri dua gadis pelayan, juga mengenakan pakaian warna hijau, mereka adalah dayang2 Sam Kiongcu.

Kehadiran Lie Siauw San yang diharapkan oleh mereka.

Bayangan orang yang mereka harap2kan itu tidak terlalu lama, membarengi suara pekikan panjang, Lie Siauw San sudah berada didepan Sam Kiongcu.

Si Topeng Perunggu Sam Kiongcu mengeluarkan suara dengusan hidung : “Baru datang ?”

“Ha, ha…..” Lie Siauw San tertawa, “Sam Kiongcu datang lebih pagi dariku. Maafkan aku yang datang terlambat.”

“Belum terlambat,” Berkata Sam Kiongcu dingin. “Masih ada waktu setengah jam dari apa yang sudah ditetapkan."

“Hampir saja aku tidak bisa membebaskan diri

!"

“Mengapa ?” Bertanya Sam Kiongcu pura-pura

heran. “Mengapa Sam Kiongcu menyuruh dua anak buah mengintil dibelakangku ?"

Hati Sam Kiongcu tercekat, bagaimana musuh ini tahu kalau dia mengutus dua pelayannya membuat pengawasan dirumah penginapan Seng- kie Kek-ciam ? Sedangkan dua pelayan itu sudah menyamar menjadi dua tamu biasa ? Betul2 pemuda hebat !

“Oh ! Itu yang kau maksudkan." Katanya. “Mereka hanya mendapat tugas untuk membunuh dirimu, kalau kau tidak berani mendatangi tempat ini.”

“Luar biasa. Langkah Sam Kiongcu selalu sudah diperhitungkan secara sempurna.”

Tiba2 Sam Kiongcu merasakan sesuatu yang aneh, sesudah Lie Siauw San bisa hadir ditempat ini, dengan alasan kedua dayangnya itu tidak kembali ?

“Hei," Dia berteriak. “Kau apakan kedua dayangku itu ?"

“Sudah ku 'suruh’ mereka istirahat.” Jawab Lie Siauw San. “Terlalu letih membuat penjagaan yang seperti itu."

Sam kiongcu masih kurang yakin kepada keterangan lawannya, mengingat kalau kedua dayang perempuannya itu memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, tapi inilah kenyataan, mau tidak mau ia harus percaya. Kedua dayang tidak sanggup menghadapi Lie Siauw San. “Sam Kiongcu.” Panggil si pemuda. “Kau membutuhkan sesuatu, maka menugaskan aku datang ke tempat ini, apakah kebutuhanmu itu ?"

“Huh ! Mengapa kau tidak membawa pedang ?" “Mengapa harus membawa pedang ?”

“Apa kau bertanding tanpa senjata ?"

“Senjata adalah benda yang berupa malapetaka. Membawa2 senjata berarti menyelubungkan diri sendiri kepada maut. Aku enggan kepada maut, maka aku tidak membawa senjata."

“Manusia congkak, apa kau sudah lupa kepada tantanganku ?"

“Belum pernah aku melupakan janji orang, apa lagi janji seorang wanita."

“Bagus.” Sam Kiongcu mengeluarkan pedang, sret, ia menghadapi Lie Siauw San. Manakala melihat lawan itu masih berdiri tenang di tempatnya, kemarahannya berlimpah-limpah kembali.

“Awas,” ia meneriaki seorang pelayannya. “Beri pinjam pedangmu itu.”

Dayang perempuan Sam Kiongcu yang bernama A Wan itu mempunyai gerakan yang gesit dan cekatan, seiring dengan perintah majikannya, ia sudah mengeluarkan pedang dan berdiri didepan Lie Siauw San.

“Silahkan kau menggunakan pedang ini." Berkata A Wan dengan suaranya yang merdu. Triiingggg….. Dayang ini membalikkan pedang, gerakannya tidak kalah dengan jago kelas satu.

Lie Siauw San menerima pemberian pedang A Wan, juga dengan demonstrasi istimewa, kini dia harus berhati2 kalau musuh mengeroyok dirinya, tidak mungkin bisa mengalahkan mereka.

Si Topeng perunggu Sam Kiongcu berkata dengan suara penuh wibawa :

“A Wan, mundur ! Bersama2 Bu Lan, kalian hanya boleh nonton dari tempat yang jauh, dilarang membantu diriku, mengerti ?"

“Mengerti," Jawab serta merta A Wan dan Bu Lan.

Dengan adanya janji ini, Lie Siauw San bisa melegakan hatinya. Ia telah menyaksikan ilmu kepandaian A Wan, juga pernah bentrok dengan dua pelayan Sam Kiongcu lainnya, mereka itu tidak boleh dibuat gegabah, tanpa adanya bantuan mereka, ia masih mampu mengalahkan Sam Kiongcu.

Sam Kiongcu sudah berada didepan Lie Siauw San. “Apa kau sudah siap ?" ia bertanya penuh emosi pertandingan.

“Silahkan, Sam Kiongcu boleh mulai.” Berkata Lie Siauw San tersebut.

Trraaaanng…..

Saking cepatnya serangan Sam Kiongcu, begitu sebatnya pula tangkisan Lie Siauw San, bayangan kedua pedang itu tidak terlihat, hanya terdengar suara benturan senjata, suatu bukti kalau clash sudah dimulai.

Trangg…. trangggg.....

Dua kali lagi suara benturan pedang, betul-betul Lie Siauw San memuji kekuatan Sam Kiongcu. Kini ia menghadapi lawan berat.

Kemarin malam Lie Siauw San pernah menjajal kepandaian manusia bertopeng ini, dan ia bisa merasakan latihan tenaga dalamnya yang luar biasa, mengingat dirinya juga pernah menguasai kekuatan sempurna, ia tidak gentar kepada kekuatan Sam Kiongcu yang terang2 masih mendapat urutan dibawahnya, karena itulah ia membentur setiap serangan yang datang. Ilmu pedang Sam kiongcu yang hebat belum terhenti, kini mendapat serangan pedang yang bertubi2, tercekatlah hati pemuda kita, ilmu pedang itu agak sulit dilawan. Pantas saja dia diajak bertanding ilmu pedang !

Bagai hujan bayangan pedang, Sam Kiongcu mempergencar serangannya, inisiatip yang sangat agresip.

Lie Siauw San menangkis dengan hasil jitu dan tepat. Betapa gencar serangan lawan, secepat itu pula ditangkisnya dengan baik. Walau beberapa kali hampir menemukan cedera.

Hanya didalam beberapa kali kedipan mata, Sam Kiongcu sudah menyerang sehingga 4 kali. Diantaranya 5 tusukan pedang hampir menempel di tubuh lawan. Lima puluh jurus kemudian Lie Siauw San mengganti taktik. Dari sikap yang bertahan, ia mengubah posisi, keras dilawannya dengan kekerasan pula, penyerangan ditangkis oleh penyerangan juga.

Maka denting pedang bersusulan, gemeriuh menabuh suasana Yen-cu-kie. Bagi siapa yang kurang awas, maut selalu mengintip dari tempat yang dekat.

Pedang Lie Siauw San terangkat, gilirannya yang menyerang. Sam Kiongcu juga menyerang.

Tiba2 sejalur angin meresap tulang pundak Lie Siauw San dan disaat itu pedang Sam Kiongcu menjulur, arah tujuan tenggorokan.

Lie Siauw San terbokong orang, ia tidak kuat menambah kecepatan gerak, karena mengetahui tidak bisa mengelakan tusukan pedang, ia memeramkan mata.

Secepat itu pedang Sam Kiongcu menukik cepat......

Lie Siauw San menjatuhkan pedangnya dan siap menerima kematian.

Secepat-cepatnya gerakan Sam Kiongcu, kekuasaan berada didalam benak pikiranya, secepat itu pula ia menarik pulang serangan, mempelototkan mata dan membentak :

“Hei, apa2an nih ! Hendak bunuh diri via tanganku? Dengan mudah kau bisa menangkis serangan tadi, mengapa melempar pedang, memeramkan mata ?” Lie Siauw San membuka mata, dengan marah berteriak :

“Ber-pura2 apa lagi, kau menyuruh orang membokong, bukankah segaris dengan apa yang kalian rencanakan ?”

Hawa dingin yang menyerang pundak Lie Siauw San meresap terus, sebelah tangannya sudah tidak bisa digunakan.

“Siapa yang membokong dirimu !" Bentak Sam Kiongcu.

“Siapa yang tahu ? Tentu salah satu dari orangmu."

Sam Kiongcu memandang kearah A Wan dan Bu Lan, kedua pelayan itu tidak akan berani melanggar perintah, sudah dipesan tidak boleh membantu, tentu tidak turun tangan, apa lagi belum ada tanda2 kalau ia berada dibawah angin. Siapa pula yang berani mengacau jalan pertandingan ?

Sam Kiongcu memandang kearah sebuah batu besar, memperhatikannya beberapa waktu dan membentak : “Siapa yang berada di tempat itu?"

Jarak batu itu dengan arena pertandingan adalah tempat yang patut dicurigai.

Dua bayangan mumbul keatas, betul saja mereka menyembunyikan diri dibalik batu, tentu kedua orang ini yang mengacau tadi.

Lie Siauw San turut menoleh, seorang yang baru muncul itu tidak asing lagi. Kwee huhoat dari partay Ngo hong-bun. Membarengi dan merendengi munculnya Kwee huhoat adalah seorang hwesio berjubah kuning. Mereka menghampiri Sam Kiongcu dan memberi hormat.

Menatap wajah hwesio baju kuning itu, Sam Kiongcu bertanya : “Bila taysu berada ditempat ini

?"

“Punceng datang atas perintah Tay Kiongcu, dengan tugas membantu usaha Sam Kiongcu."

“Taysu yang menyerang dirinya ?" Bertanya lagi Sam Kiongcu.

“Bocah ini terlalu kurang ajar, masakkan berani melawan Sam Kiongcu ? Karena itulah, punceng telah memberi hadiah ‘Jari inti es’."

“Jari Inti Es ?" Berteriak Sam Kiongcu kaget. “Menurut keterangan Tay Kiongcu, ilmu Jari Inti es yang taysu miliki adalah ilmu yang merajai malaikat elmaut. Tidak bisa ditolong lagi ?”

“Tepat ! Tidak bisa ditolong lagi. Di dalam waktu

6 jam orang yang terkena serangan Jari Inti Es segera membengkak, pembuluh darah pecah dan meledak."

“Apa taysu tidak mempunyai obat penawar racun itu?" bertanya Sam Kiongcu.

“Hanya obat In-khek-it-yang-tan yang bisa menawarinya.” Berkata hwesio jubah kuning.

Suara Sam kiongcu tercetus dari balik topeng perunggunya: “Tolong taysu berikan obat In-khek- it-yang-tan itu." Hwesio jubah kuning kemekmek ragu2 sebentar dan kurang yakin akan mendapat permintaan yang seperti itu, ia berkata :

“Menurut keterangan Kwee huhoat, bocah ini adalah biang kekacauan, perintang jalan partay Ngo-hong-bun. Mengapa Sam kiongcu mau membela dirinya?"

“Aku yang mengadakan tantangan satu lawan satu. Tanpa bantuan siapa pun juga. Cara taysu yang membantu secara diam2 itu telah melanggar peraturan. Tentu saja wajib mengorbankan sebutir obat In khek-it-yang-tan.”

“Ha, ha..." Hwesio berjubah kuning tertawa. “Si bocah menganut politik yang tidak sama dengan aliran kita, mengapa harus menggunakan tata aturan ? Sembelih saja, beres. Siapa suruh dia tidak mau menjadi partay Ngo-hong-bun ?”

Kwee huhoat turut menggunakan kesempatan dan angin baik itu, katanya :

“Betul, Sam Kiongcu, ada baiknya kau menerima saran Hian-keng Taysu. Membasmi musuh harus ke-akar2nya. Hari ini tidak berani mengadakan penyembelihan, tidak mudah menaklukkannya dikemudian hari. "

“Cukup."

“Sam Kiongcu, Hian-keng Taysu adalah huhoat kelas satu kita menurut hemat hamba. "

“Aku tahu. Hian-keng Taysu adalah huhoat kelas satu. Perintah Tay Kiongcu tentunya menambah tenaga kekuatanku, bukan ? Diutus untuk memperlancar usaha, bukan untuk mengacau. Setiap orang yang berada ditempat ini wajib mendengar perintahku."

Kemudian, menoleh dan memandang hwesio jubah hijau itu, baru Sam Kiongiyu bertanya :

“Bagaimana perintah Tay Kiongcu? Tentunya membantu usahaku, bukan ? Tunduk di bawah markas cabang Kang-lam, bukan?"

“Begitulah perintah Tay Kiongcu,” Jawab hwesio jubah kuning.

“Nah ! Boleh serahkan obat penawar racun Jari Inti Es itu."

Secara apa boleh buat, karena adanya pesan Tay Kiongcu yang menugaskan dia membantu Sam Kiongcu dan mendengar dibawah perintahnya, hweshio jubah kuning Hian-keng menyerahkan obat penawar racun Jari Inti Es.

Sam Kiongcu berkata : “Nah ! Silahkan kedua Hu-huat menunggu perintah berikutnya di markas saja."

Itulah cara pengusiran halus.

Kwee Huhoat dan Hian-keng memberi hormat.

Mereka meninggalkan Yen-cu-kie.

Menunggu sampai kedua pengacau urusannya itu lenyap dari pemandangan, Sam Kiongcu menghampiri Lie Siauw San, si pemuda sedang menekunkan peredaran jalan darahnya, ia melawan hawa2 dingin yang meresap tulang, itulah racun Jari Inti Es. Dengan suara sabar Sam Kiongcu berkata : “Nah, inilah obat penawar racun. Makanlah."

Lie Siauw San membuka mata, mendongak dan berkata dengan suara ketus: “Terima kasih."

Dia menolak pemberian obat penawar racun itu. Hanya tangan yang kaku kesemutan, dan hal ini tidak mengganggu perjalanan, ia berjalan pergi.

Sam Kiongcu mematung ditempat, tertegun sebentar, dan tiba2 saja ia berteriak memanggil pemuda kepala batu : “Hei, tunggu dulu."

Lie Siauw San menghentikan ayunan langkah kakinya, menoleh kebelakang, berbalik dan bertanya : “Apa lagi yang Sam Kiongcu hendak janjikan ?"

Dari selubung topeng perunggunya, Sam Kiongcu memperlihatkan sepasang sinar mata simpatik, dengan penuh rasa khawatir dan perlahan ia berkata :

“Kau sudah kena racun Jari Inti Es Hian-keng taysu, tanpa obat penawar racunnya, kau tidak bisa...”

“Terima kasih atas perhatian Sam Kiongcu. Tapi legakanlah hatimu. Aku tidak akan mati hanya terkena racun yang semacam ini."

“Aku bukan memperhatikan kematian atau bukan kematianmu," berkata Sam Kiongcu. Ia juga naik darah atas kebandelan si pemuda. “Tantangan adu ilmu pedang adalah atas saranku, dengan janji tanpa meminta bantuan orang lain. Secara diluar sepengetahuanku, Hian keng Taysu telah membokong, inilah kekalahanku. Dan untuk menebus dosa ini, aku wajib memberi obat. Sesudah kau sembuh, aku masih hendak meneruskan pertandingan, kalau sampai terjadi kau mati pada itu waktu, jangan kira aku mau berkabung, tahu ?”

“Tentu. Aku memang tidak membutuhkan berkabungnya Sam Kiongcu. Tentang lanjutan adu pedang, setiap waktu bisa kuterima." Berkata Lie Siauw San angkuh. Tanpa menunggu reaksi si Topeng Perunggu, si pemuda melejitkan kaki, menghilang di malam gelap.

Sam Kiongcu menjerit, ia menutup muka dan menangis ditempat itu.

***

Bab 59

GAMBAR didepan kita adalah kampung Lie-kee- khung, tempat Datuk Utara Lie Kong Tie bersemayam.

Menyusuri perumahan dikampung ini dan kita mengintip ke salah satu bangunan termegah, itulah rumah keluarga Lie.

Lie Kong Tie terbaring disebuah tempat tidur, ia mengenakan pakaian warna biru, wajahnya pucat pasi, napasnya sering ngadat kuda.

Inilah akibat dari keracunan. Sungguh kasihan, sebagai salah satu dari empat Datuk Persilatan yang ternama, keadaan Lie Kong Tie ini sangat mengenaskan. Makan dan tidur harus dibawah perawatan orang.

Seorang perempuan cantik yang masih muda mengurut2 Lie Kong Tie, perempuan ini adalah istri muda sang datuk, namanya Sim Nio.

Sedari Lie Kong Tie diterima pulang dari tangan orang2 partay Ngo-hong-bun, keadaannya seperti ini. Tiga bulan tanpa perubahan.

Lie Wie Neng tidak berdaya sama sekali, ia belum berhasil, bagaimana harus menghadapi orang2 dari golongan Perintah Maut itu. Sejak peristiwa Pek-yun-koan, hatinya was2 tidak keruan. Musuh sudah menerima kembali ayahnya yang palsu dan menyerahkan kembali ayahnya yang asli, dengan tuntutan balik. Tunduk dan patuh kepada partay.

Lie Wie Neng tidak segera menerima tuntutan tadi.

Tidak lupa. Mereka juga menyertai dengan hadiah obatnya. Obat bukan sembarang obat, khusus digunakan kalau penyakitnya Lie Kong Tie memberat, setiap 10 hari pasti terjadi sekali, dan pemberian obat mereka hanya 9 butir, berarti hanya bisa menyambung 90 hari jiwa sang Datuk Utara. Itulah batas hari terakhir, kalau Lie Wie Neng belum mau menyerah berarti kehilangan jiwa ayahnya. Sebelum obat2 itu habis, Lie Wie Neng diharuskan menerima saran mereka, tunduk dan takluk di bawah kekuasaan Ngo-hong-bun.

Waktu yang ditetapkan itu hanya tinggal sepuluh hari lagi.

Lie Wie Neng masih gelisah, ia belum mengemukakan kesulitan kepada sang ayah.

Lie Wie Neng berusaha mencari jejak Thian- hung Totiang, dengan maksud meminta bantuannya.

Tidak berhasil ! Selama ini, Thian-hung Totiang tidak berhasil ditemukan.

Lie Wie Neng mencari gurunya, juga nihil. Entah bagaimana, si Pendekar Kipas Wasiat turut lenyap.

Hidup Lie Wie Neng seperti disiksa. Kerjanya hanya bisa menjenguk sang ayah yang kian lama kian melemah itu. Hari ini tidak terkecuali, ia memasuki kamar sang ayah untuk melihat perubahan situasi.

Cepat2 si ibu tiri Sim Nio bangun dari pembaringan, menyambut Lie Wie Neng dan berkata : “Kongcu, silahkan duduk."

Lie Wie Neng memandang sang ayah dengan air mata dikelopak, untuk menolong Lie Kong Tie memang tidak terlalu sulit, asal saja ia bersedia membuat surat pernyataan, takluk dan tunduk di bawah kekuasaan Ngo hong-bun, obat penawar racun luar biasa itu segera diangsurkan datang.

Titik tolaknya berpangkal kepada Lie Kong Tie, Lie Wie Neng lebih kenal kepada sifat2 kepribadian ayahnya, tidak mungkin ayah itu mau tunduk kepada kejahatan, pasti sang ayah memarahinya, atau besar kemungkinan mengusir den tidak mengaku anak lagi.

Kecuali menyerah dan meminta obat penawar racun apa pula yang bisa dilakukan olehnya ?

Kian lama, keadaan ayah itu kian memberat, betapa pedih hati seorang anak, kalau menyaksikan ayahnya yang tercinta menderita seperti itu?

Beberapa kali Lie Wie Neng hendak memberitahu duduknya perkara. Beberapa kali pula dibatalkan niatnya itu, kalau sampai terjadi sang ayah gusar, mungkin bisa mati langsung.

Karena itu, Lie Wie Neng belum pernah mengutarakan perasaannya didepan ayah itu.

Lagi2 napas Lie Kong Tie sengal2, cepat-cepat si bini muda Sim Nio membantu dengan urutannya. “Kongcu," teriaknya kolokan. “Duduklah disebelah ayahmu sini. Jangan berdiri seperti itu. Kakimu akan letih karena itu."

Lie Wie Neng menghampiri ayahnya, dengan suara sember bertanya : “Bagaimana keadaanmu, ayah?"

“Uh......Aduh......." Datuk utara Lie Kong Tie sudah lenyap kegagahannya.

“Krisis penyakitnya kambuh lagi," Sim Nio menalangi menjawab.

Soal itu sudah dimaklumi oleh Lie Wie Neng, setiap 10 hari sekali, keadaan sang ayah memang meningkat krisis. Lie Kong Tie memandang putra dan bini mudanya, ia berkata gelagap gelugup: “Sim Nio....tolong.......kau ambilkan.....obat. yang

terakhir itu.”

‘Obat yang terakhir' itu sangat menusuk Lie Wie Neng.

Seperti baru ingat, atau sengaja diingatkan didepan Lie Wie Neng, si bini muda Sim Nio ber- lari2 gopoh, membawakan obat penawar racun aneh suaminya.

Lie Kong Tie menelan obat tersebut. Di dalam sekejap mata, perasaannya agak lega, napasnya tidak sengal2 lagi. Ia memeramkan mata, memulihkan tenaga.

“Ayah. "Lie Wie Neng memanggil perlahan.

Datuk Utara Lie Kong Tie membuka mata. “Ayah.......” Lie Wie Neng ragu2. “Ayah, ada

sesuatu yang kusembunyikan." Akhirnya ia tokh

bercetus juga hati yang terpendam kusut itu. “Banyak sekali yang tidak kuceritakan."

Lie Kong Tie memandang beberapa saat. “Aku....Aku....tahu...." Ia berkata susah. “Bibimu telah menceritakan segalanya."

Yang diartikan ‘Bibi’ oleh Lie Kong Tie adalah bini mudanya yang bernama Sim Nio.

“Ayah.

“Penyakit yang kuderita.....adalah racun dari.....

Ngo-hong-bun....." Berkata Lie Kong Tie. “Ketahuilah....Nasib berada di tangan Tuhan..... Tapi.....Pelaksanaannya tetap ditangan kita. Aku

telah......mendapat gelar Datuk Utara….Yah.....Datuk Utara Lie Kong Tie....

Akh....Apa artinya nama kosong itu?. Kecuali

Datuk Selatan Kang Sang Fung....Adalah orang menilai baik kepada ketiga datuk lainnya ? Huh

!...Mereka menyebut datuk karena segan kepada ilmu silatku. tapi…"

“Maksud ayah ?" Lie Wie Neng tidak mengerti dari kata2 ayahnya itu.

“Loya," Sim Nio turut bicara. “Kau baru mendingan, jangan banyak bicara."

“Tidak apa.” Berkata Lie Kong Tie. “Mereka menempatkan kedudukanku dibawah Kang Sang Fung......Mereka menganggap diriku. sebagai

tokoh setengah sesat ....Huh.   "

Hati Lie Wie Neng tercekat, pikirnya : “Ayah dihinggapi penyakit terlalu lama, sehingga pendiriannyapun agak berubah."

Bini muda Sim Nio turut bicara : “Loya, mengapa takut dikatakan setengah sesat ? Peduli apa dengan obrolan mereka."

“Kau mana tahu ?" (Bersambung 17)