Perintah Maut Jilid 12

 
Jilid 12

“OH.....” Sam kiongcu menganggukkan kepala. Atas hasil ini ia agak puas. “Baik juga. Kita bisa menggunakan putri Cin Jin Cin menyingkirkan Yen Yu San.”

Sesudah itu ia menoleh ke arah si orang berbaju putih yang berada disebelahnya dan berkata: “Mau menyingkirkan Yen Yu San, kukira harus Kwee hu- huat turun tangan sendiri. Dimisalkan masih kekurangan tenaga, orang2 yang ada disini bisa diminta bantuannya. Tinggal Kwee hu-huat pilih.”

“Hamba selalu siap." berkata Kwee Hu-huat.

Si topeng perunggu hijau Sam-kiongcu mengulapkan tangan, itulah perintah agar lengcu Panji Putih mengundurkan diri.

Dan sesudah itu ia melirik pula kearah dayang protokolnya.

Maka sang protokol perempuan itu berteriak kembali : “Dipersilahkan lengcu panji hijau menghadap."

Suto Lan meninggalkan rombongan, memberi hormat kepada orang yang menggunakan topeng perunggu yang menyeramkan.

“Bagaimana keadaan Datuk Utara ?" bertanya Sam kiongcu.

Suto Lan berkata : “Lie Kong Tie sudah jatuh kedalam tangan kita, dengan menggunakan sedikit akal, kita berhasil. ” “Apa sudah dibawa pergi ?" bertanya lagi Sam kiongcu.

“Sudah !" Suto Lan menganggukkan kepala.

Tentang cerita datuk timur Lie Kong Tie jatuh kedalam Perintah Maut, Kang Han Cing pernah mendengar keterangan Goan Tian Hoat. Disaat Lie Kong Tie meminta pengobatan di kelenteng Pek- yun-kuan, Lie Wie Neng sangat ceroboh, hanya dengan menggunakan sedikit politik, lengcu Panji Hijau berhasil menerima Lie Kong Tie dari sang putranya sendiri, itu waktu Lie Wie Neng mencopot kedok kulit Lie Kong Tie, setelah kedok itu copot itulah bukan wajah ayahnya, disinilah kecerobohan Lie Wie Neng. Ia tidak memeriksa wajah itu lagi. Dibalik kedok kulit Lie Kong Tie terdapat kedok kulit lain, sayang sekali Lie Wie Neng kurang perhatian, ia tidak mencopot kedok itu lagi. Maka dianggapnya orang lain, sang ayah yang sakit diserahkan kepada musuh.

Disinilah letak kesalahan Lie Wie Neng karena didalam kebimbangan, ia kurang menyelidik, maka dengan mudah menyerahkan sang ayah ke tangan sang musuh.

Mengikuti dan mendengar tanya jawab tadi, Kang Han Cing memastikan kalau dugaan Goan Tian Hoat itu tidak salah, Lie Kong Tie sudah dibawa pergi, tentunya dibawa ke markas besar Perintah Maut.

Atas hasil prestasi Panji Hijau, Sam-kiongcu sangat puas, ia menganggukkan kepala dan mengulapkan tangan. “Kau boleh mundur !”

Lengcu Panji Hijau Suto Lan memberi hormat dan mengundurkan diri.

Dari ketiga lengcu tadi, lengcu Panji Merah mendapat tugas untuk menghadapi Datuk Timur, Lengcu Panji Putih mendapat tugas untuk menghadapi Datuk Barat dan Lengcu Panji Hijau menghadapi Datuk Utara.

Giliran lengcu Panji Hitam yang menghadapi Datuk Selatan, bagaimana ia memberi laporan ? Hati Kang Han Cing ber-debar2, ia hendak mengetahui dari usaha Perintah Maut di bagian lengcu Panji hitam ini.

Disaat yang sama, dayang protokol Sam kiongcu sudah berteriak keras : “Dipersilahkan lengcu Panji Hitam menghadap."

Lengcu Panji Hitam meninggalkan rombongan, memberi hormat kepada Sam kiongcu.

Dengan secara panjang lebar dan terperinci, Lengcu Panji Hitam menceritakan jalan penyerangannya perintah Maut kepada Datuk Selatan. Sam-kiongcu mendengar dengan penuh perhatian. Kang Han Cing juga memanjangkan kuping.

Sesudah lengcu Panji Hitam itu selesai memberi laporan, Sam-kiongcu mengangguk-anggukan kepala, ia berkata : “Dimarkas besar aku telah mendengar laporan. Diantara kalian empat Panji hasil Panji Hitamlah yang terbaik. Toa Kiongcu telah berpesan kepadaku untuk memberi hadiah2 tertentu !”

“Terima kasih susiok." berkata lengcu Panji Hitam.

Ternyata mereka mempunyai hubungan keponakan dan paman murid.

Hati Kang Han Cing semakin berdebar, dari keterangan itu, ia bisa memahami tugas dari keempat lengcu adalah menghadapi keempat Datuk2 Persilatan, dan diantaranya hasil dari prestasi Panji Hitamlah yang terbaik. Ini berarti dari keempat Datuk, Datuk selatanlah yang paling celaka !

Tentu saja ! Mengingat bagaimana si lengcu Panji Hitam menyamar menjadi Kang Puh Cing menculik sang toako selama tiga bulan, terakhir dengan datangnya Kang Han Cing, dan menolong Kang Puh Cing, baru mereka berhasil menyingkirkan Hu Cun Cay dan Cu Ju Hung. 

Mengapa mengatakan prestasi Panji Hitam sebagai prestasi yang terbaik ?

Inilah yang membingungkan Kang Han Cing. Betul ! Ayahnya sudah binasa. Jenasah itu hilang tanpa bekas. Tokh bukan lengcu Panji Hitam yang berhasil ?

Sang toako berhasil ditolong keluar, Cu Ju Hung dan Hu Cun Cay sudah terusir pergi. Mengapa mengatakan prestasi lengcu Panji Hitam sebagai prestasi terbaik ? Terdengar lagi suara Sam kiongcu : “Bagaimana hasil penyelidikan kalian? Betulkah Kang Sang Fung sudah mati ?”

Mendengar kata2 suara Sam kiongcu tadi, hati Kang Han Cing tercekat, ia mengeluh: “Mereka masih kurang yakin kalau ayah itu sudah meninggal dunia. "

Terdengar suara jawaban lengcu Panji hitam, “Menurut penyelidikan teecu, betul2 Kang Sang Fung sudah meninggal dunia. Sekarang Kang- jiekongcu sedang menyelidiki siapa orang yang telah membawa lari jenazah ayahnya itu.”

“Penyelidikanmu ini salah !" berkata Sam kiongcu. “Menurut laporan2 yang kudapat, Kang Sang Fung masih belum mati. Beberapa orang melihat tanda pengenal Datuk Selatan itu, dengan adanya tanda pengenal ini, adalah suatu bukti kalau Kang Sang Fung masih berkeliaran diatas bumi. Dimanakah Kang Sang Fung ?"

Hati Kang Han Cing juga tercekat, tanda pengenalnya masih berkeliaran di rimba persilatan? Siapa yang menggunakan tanda pengenal itu?

Oh ! Tentunya orang2 pengecut yang telah menggunakan tanda pengenal ayahnya. Demikian putusan Kang Han Cing !

Terdengar suara lengcu Panji Hitam: “Teecu masih belum dapat laporan ini.” “Maka…” berkata Sam-kiongcu. “Kau harus mengadakan hubungan kontak dengan anggota2 lainnya."

“Akan teecu perhatikan." berkata Lengcu Panji Hitam.

Sam-kiongcu berkata lagi: “Masih ada urusan lain. Disaat aku datang, pernah mendengar cerita seseorang yang memalsukan nama Jie-kongcu, ilmu kepandaiannya tinggi dan hebat. Ia bisa mengalahkan Yen Yu San, pejabat ketua Penganungan Jaya Yen Yu San ! Mengalahkan Ciok Beng taysu dari Siauw-lim-sie, dan mengalahkan Ciok Sim taysu dari Ceng-lian-sie, Put-im suthay dari Ciok-cuk-am. Tahukah kau, siapa orang yang menyamar sebagai Kang Han Cing itu ?"

Lengcu Panji Hitam menjawab: “Menurut dan mengikuti petunjuk Suto pangcu, urusan Kang Jie kongcu sudah diserahkan kepada Sam sumoay. Kejadian itu teecu belum tahu.”

Yang disebut Sam sumoay adalah Suto Lan ! Sam-kiongcu memandang ke arah lengcu Panji

Hijau Suto Lan. Inilah suatu pertanyaan.

Suto Lan maju dan berkata:

“Menurut apa yang teecu tahu, orang yang menyamar sebagai Kang Jiekongcu itu memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, teecu tidak berani terlalu dekat, hanya mengikutinya dari jarak jauh. Yang teecu tahu adalah orang itu mempunyai hubungan baik dengan sepasang dewa dari daerah Tong-hay. Dan lain2nya, teecu belum tahu." “Nah !" berkata Sam-kiongcu. “Dengar baik2, kau harus menyelidiki asal usul orang itu.”

“Teecu siap." berkata Lengcu Panji Hijau Suto Lan.

Sam-kiongcu berkata lagi: “Kecuali kau memalsu Kang jiekongcu, kau harus menyelidiki Kang Han Cing juga, menurut cerita, ilmu kepandaiannya juga cukup tinggi. Kalau saja bisa mengajak ia menjadi salah satu anggota kita, itulah yang baik, tapi.....kalau ia kukuh kepala, kita juga tidak membiarkan ia mengganggu usaha.”

“Baik." Suto Lan menerima perintah.

Sampai disini, secara resmi, si topeng perunggu hijau telah menggantikan Suto Cang, mengambil alih kekuasaan.

Perintah Maut !

Inilah   kekuasaan    partay    Ngo-hong-bun    !

Laporan2 dari Panji Berwarna telah selesai.

Tiba2 diatas bangunan itu menyelonong masuk seekor burung merpati, Sam-kiongcu mendongakkan kepala, menoleh ke arah satu dayang perempuan dan berkata : “Ceng Loan, lekas sambut perintah dari markas besar !”

Dayang perempuan yang dipanggil Ceng Loan itu segera lari kedepan, mengeluarkan sebuah panji berbentuk merah, dikibarkannya beberapa kali. Maka burung merpati yang berwarna putih itu menclok diatas panji tadi. Dayang perempuan Sam kiongcu yang bernama Ceng Loan itu menyanggahkan tangan kiri, maka sang burung lompat ke-arah tangan tadi.

Dari kaki sang burung merpati diloloskan sebuah tabung kecil yang berisi surat, surat ini diambilnya.

Sesudah itu Ceng Loan melepas kembali burung pos tersebut. Maka burung itu meng-gibrik2kan sayap, terbang meluncur meninggalkan tempat itu.

Dengan kedua tangan, Ceng Loan menyerahkan surat kepada Sam-kiongcu.

***

Bab 37

SAM-KIONGCU membaca surat, diulang lagi, demikian sampai beberapa kali. Tokh ia tidak berhasil menyelami isi surat, maka dimasukkan kedalam kantong sakunya, dan ia menoleh ke arah si pengawal pribadi Kwee hu-huat, bertanya kepadanya :

“Kwee Hu-huat, pengalamanmu luas, sudah berkecimpungan lama didalam dunia persilatan, apa pernah mendengar sesuatu lembah yang bernama Lembah baru ?”

Kwee hu-huat berkerut alis, berpikir beberapa saat, dan akhirnya ia menggeleng kepala, memberi jawaban : "Nama Lembah itu terlalu banyak, tapi belum pernah ada yang menyebut sebagai lembah baru. Kukira sesuatu yang baru saja digunakan ?”

“Kukira demikian.” berkata Sam-kiongcu.

“Ada hubungan eratkah lembah baru dengan golongan kita ?” bertanya Kwee hu-huat.

Sam-kiongcu berkata : “Toa-kongcu memberi berita baru, dikatakan ada sesuatu golongan yang mengatakan Lembah Baru, mengambil tindakan dan langkah kebijaksanaan yang bertentangan dengan golongan kita. Toa kongcu memberi tugas untuk menyelidiki, dimana letaknya lembah baru itu.”

“Lembah Baru ? Lembah Baru ?" Kwee hu-huat mengulang kata2 itu. “Mungkinkah nama sesuatu golongan ?"

Lengcu Panji Hijau Suto Lan maju selangkah, memberi hormat dan berkata:

“Lapor kepada Sam susiok, teecu pernah bertemu dengan orang2 dari Lembah itu."

Sam-kiongcu memandang Suto Lan diperhatikannya beberapa saat dan bertanya:

“Coba ceritakan menurut apa yang kau tahu, dimana Lembah Baru? Dan siapa yang menjadi pimpinan2 golongan itu."

Lengcu Panji Hijau Suto Lan berkata:

“Lembah Baru telah mengumpulkan jago2 silat yang hebat. Dimana adanya lembah baru? Teecu belum berhasil membuat penyelidikan. Beberapa hari yang lalu, didalam kota Kim-leng pernah muncul serombongan orang2 misterius, dan munculnya mendadak, lenyapnya pun mendadak pula. Mereka tiada kabar berita. Kemarin orang2 itu menyerang markas kita, menculik dan melarikan Kang jiekongcu. Sesudah terjadi kejar mengejar, teecu berhasil menyelidiki dan mengubar orang2 itu. Mereka mengajak Kang jiekongcu ke suatu kereta, melarikannya jauh. Teecu mengikuti dari jarak jauh, salah seorang dari golongan itu seperti bernama Tan Siao Tian….”

“Tan Siao Tian?" Sam-kiongcu mengulang nama si Jaksa Bermata Satu.

“Tan Siao Tian ?!" Kwee hu-huat juga terjengkit. “Apa orang itu mempunyai mata yang rusak sebelah? Mungkinkah si Jaksa bermata satu Tan Siao Tian? Bagaimana keadaan matanya? Apa mata orang itu rusak sebelah ?”

Kata2 yang terakhir ditujukan ke arah Suto Lan, Suto Lan menganggukkan kepala dan berkata:

“Betul. Orang yang bernama Tan Siao Tian itu seperti mempunyai julukan Jaksa Bermata Satu. Dikarenakan ia sebelah matanya kerusakan.”

“Betul2 dia ! Betul2 dia !” Kwee hu-huat mengulang beberapa kali. “Ajaib ! Heran...!”

Sam-kiongcu menoleh dan bertanya: “Kwew hu- huat kenal kepada orang itu?"

Kwee hu-huat berkata: “Hamba pernah bertemu ia beberapa kali. Tan Siao Tian mempunyai gelar jaksa bermata satu. Ilmu silatnya tinggi, otaknya cerdik. Orang ini menguasai daerah Coan Sau dan Han, tiga daerah, orang menyebutnya juga sebagai Pendekar Tiga Daerah. Boleh dikata sebagai raja dari ketiga daerah itu, mengapa ia mau bernaung dibawah kekuasaan orang lain? Menjadi anak buah Partay Baru yang tidak dikenal orang?"

“Partai baru !" Sam-kiongcu bergumam. “Kekuatan baru yang tak bisa diremehkan.”

“Partai baru? Kekuatan yang tidak bisa diremehkan." Kang Han Cing juga turut mengingat kata2 itu.

Partay Baru memang tidak bisa diremehkan. Partay inilah yang paling gigih menentang Partay Ngo-hong Bun !

Lengcu Panji Hijau Suto Lan berkata : “Teecu telah mendengar Ciok Beng taysu memberi peringatan kepada Ciok Sim taysu, katanya: “Siecu ini adalah Tan tayhiap, pendekar dari tiga daerah Coan, Sau dan Hiat yang ternama."

Dari balik lobang topeng perunggunya yang menyeramkan, Sam-kiongcu berkata:

“Jelas partai baru mengambil pendirian yang bertentangan dengan pendirian kita. Mereka adalah musuh. Kita harus berhati-hati. Apapun yang terjadi, kita akan menempurnya.”

Sesudah itu sam kiongcu memandang kepada empat baris panji2 berwarna dan berkata:

“Lengcu Panji Hijau, Lengcu Panji Putih, Lengcu Panji Merah dan Lengcu Panji Hitam. Dengar baik2. Segera kalian menyelidiki jejak dari partai baru. Dan beri laporan secepatnya!”

Secara serentak, keempat lengcu itu berkata: “Teecu siap menjalankan perintah susiok."

“Tunggu dulu." berkata Sam kiongcu. “Sebentar lagi Kwee hu-huat bisa mengatur sesuatu, menggantikan Yen Yu San. Dan untuk usaha ini, barisan panji putih harus membuat persiapan2 !”

Lengcu Panji Putih membungkukan setengah badan dan berkata : “Siap !"

“Wah ! Rencana apalagi nih ?" Kang Han Cing berpikir didalam hati : “Sam-kiongcu menyuruh Kwee-hu-huat ingin menggantikan Yen Yu San. Tentunya ingin membunuh wakil ketua benteng Penganungan Jaya itu. Bakal celakalah Yen Yu San."

Masih terdengar suara Sam kiongcu :

“Bukan Yen Yu San saja yang harus disingkirkan. Ketua Ciok-cuk-am Put-im suthay dan ketua Ceng-lian sie Ciok-sim taysu juga harus dilenyapkan dari permukaan bumi. Hanya satu yang harus diperhatikan, kalian harus memberi kesempatan hidup kepada Ciok Beng." 

Kwee hu-huat tertawa, ia berkata:

“Sam kiongcu memang mempunyai penilaian yang tepat ! Tentu saja ! Rombongan ini telah berani memegat rombongan dari partai baru. Kalau saja kita kasih sedikit kesempatan kepada Ciok Beng, tentu ia membuat pengaduan yang bukan2, kita menggunakan tutup kerudung, orang kita belum dikenal oleh mereka. Perhitungan ini bisa langsung jatuh ke atas kepala Partai Baru. Biar Siauw-lim-pay dan Ngo-bie-pay yang meng-aduk2 Partai Baru."

Sebetulnya Kang Han Cing masih memikir- mikir, dengan alasan apa Sam kiongcu membebaskan Ciok Beng taysu? Mungkinkah Ciok Beng taysu menjadi mata2 mereka? Mendengar suara Kwee hu-huat yang seperti ini, ia sadar. Lagi2 golongan jahat menggunakan taktik melempar batu sembunyi tangan, hendak membunuh Yen Yu San dkk dan memfitnah partai baru !

“Permainan licik !” Kang Han Cing memaki didalam hati.

Terdengar suara tertawa cekikikan Sam-kiongcu dari balik topeng perunggunya yang hijau dan seram itu, suara tertawa si gadis membangunkan bulu roma.

Betapa menarik suara seorang gadis, tapi tidak bisa disamakan dengan suara Sam kiongcu, suara ini penuh keseraman bisa membangunkan bulu roma. Penuh hawa pembunuhan, bisa menciutkan nyali seseorang.

“Legakan hati Sam-kiongcu." berkata Kwee hu- huat. “Serahkan urusan ini kepada hamba."

Sam-kiongcu menganggukkan kepala dan berkata : “Baiklah." Sam kiongcu menganggukkan kepala. Kemudian dia memberi isyarat kepada empat dayangnya bersama2 meninggalkan tempat itu. Kepergiannya Sam kiongcu dihormati oleh ampat barisan panji berwarna.

Kang Han Cing juga turut membungkukkan badan, hatinya berpikir:

“Cara2nya si topeng perunggu hijau ini lebih hebat dengan ayah Suto Lan. Wah ! Kalau begini kejadiannya celakalah tokoh2 silat di rimba persilatan. Beruntung aku bisa mengetahui rencana mereka, tapi bagaimana harus mencegah?"

Kang Han Cing me-mikir2 bagaimana harus mengatasi bencana rimba persilatan dari kehancuran tangan jahat ?

Yang jelas, golongan Perintah Maut adalah satu perkumpulan yang bernaung dibawah panji partai Ngo-hong-bun.

Maksud tujuan partai Ngo-hong-bun terbagi dua pokok persoalan:

Kesatu, menyatukan dan menarik Empat Datuk persilatan ke pihaknya.

Kedua, membuat gaduh dialam rimba persilatan. Mengacau-balaukan suasana percekcokan. Teristimewa menarik kekuatan Siauw-lim-pay dan Ngo-bie-pay untuk bentrok dengan partai baru.

Hasil2 lainnya yang Kang Han Cing bisa menarik kesimpulan dari perjalanan tersebut ialah:

Kesatu : Golongan Partai Maut yang terdiri dari intisari partai Ngo hong-bun, hendak menyingkirkan Yen Yu San, kemudian memalsukan Yen Yu San, mengambil alih benteng Penganungan Jaya.

Kedua : membunuh Put-im suthay dari Ciok- cuk-am, menyingkirkan Ciok Sim taysu.

Gerakan2 yang hendak mereka lakukan ialah :

Kesatu : Barisan Panji Merah bersedia untuk menghadapi Datuk Timur.

Kedua : Barisan Panji Putih disediakan untuk menghadapi Datuk Barat.

Ketiga : Barisan Panji Hijau khusus disediakau untuk menghadapi Datuk Utara.

Keempat : barisan Panji Hitam disediakan untuk menghadapi Datuk Selatan.

Menggunakan empat barisan berwarna untuk menghadapi empat Datuk Persilatan.

Kang Han Cing lebih mengutamakan gerakan barisan Panji Hijau. Salah satu dari barisan Panji berwarna yang hendak menghadapi keluarganya. Selain itu Panji Hijau juga bertugas menyelidiki asal usul Tong Jie Peng. Orang yang telah berulang kali menolong dirinya, sesudah itu lengcu Panji Hijau Suto Lan dapat tugas untuk membujuk dirinya, memasuki partai Ngo-hong-bun.

Sesudah keberangkatan si Topeng Perunggu Hijau Sam-kiongcu, maka wakil pimpinan jatuh kepada Kwee hu-huat. Kwee hu-huat menoleh kepada Lengcu Panji Putih dan bertanya:

“Liok hiangcu, apakah sudah menyelidiki di mana Yen Yu San bermalam?" Lengcu Panji Putih menjawab : “Rombongan dari Benteng Penganungan Jaya itu mengambil tempat dirumah penginapan Seng-kie kek-ciam."

Kwee hu-huat memberi perintah : “Lekas kirim surat tantangan, ajak diri untuk bertemu dibagian barat Tay biao hong."

Lengcu Panji Putih membungkuk setengah badan, ia menerima perintah dan mengundurkan diri.

Sesudah itu Kwee hu-huat memandang kepada empat barisan panji berwarna, ia memberi perintah

: “Semua boleh istirahat."

Maka keempat barisan Panji berwarna itu mengundurkan diri.

Kang Han Cing mengikuti barisan Panji Hijau, mereka berjalan ber-lerot2 keluar bangunan itu, dan di kala melewati semak2 dia menyelinap masuk kesana, membuka tutup kerudung dan pakaian hijaunya meninggalkan penyamaran itu, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, ia kembali ke kota Kim-leng.

Kang Han Cing memisahkan diri dari rombongan itu !

Tiba digedung keluarga Kang, pemuda kita mencopot kedok kulit pemberian Tong Jie Peng, dan ia berjalan masuk.

Orang pertama yang menjumpai Kang Han Cing adalah Kang Seng. Kang Seng terkejut, segera ia membungkukkan badan memberi hormat dan berkata: “Jie kongcu baru kembali?" Kang Han Cing memberi perintah: “Lekas undang tuan pengurus ke kamarku. Ada sesuatu yang hendak kurundingkan."

Tanpa menoleh lagi Kang Han Cing menuju ke arah kamarnya.

Baru saja Kang Han Cing berganti pakaian, terdengar pelayan Siao Tian diluar pintu berkata : ”Jie kongcu, tuan pengurus sudah datang."

“Silahkan masuk." berkata Kang Han Cing. Goan Tian Hoat dengan sikap ter-gesa2 masuk,

ia berkata : “Dua hari jiekongcu tidak kembali,

menurut pendapatku tentu berhasil mencari jejak2 musuh itu.”

Kang Han Cing menggelengkan kepala, ia berkata: “Sangat panjang ceritanya, mari kita ke kamar toako untuk mengajak ia berunding."

Goan Tian Hoat berkata: “Toa kongcu sedang bepergian."

Kang Han Cing terkejut. “Kemana ?" ia bertanya.

Goan Tian Hoat menjawab: “Kemarin malam pemimpin perusahaan Cen yen piauwki yang bernama Ban Cen San mengutus orang datang, mengundang Toa kongcu ke tempatnya dikatakan ada urusan penting yang mau dibicarakan, maka itu malam juga toa kongcu berangkat."

Kang Han Cing semakin terkejut, ia berteriak: “Ban Cen San sudah mati. Ban Cen San yang

mengundang toako adalah Ban Cen San palsu." “Sudah kuberitahu pada toa kongcu." berkata Goan Tian Hoat. “Agar dia bisa lebih ber-hati2. Tapi tidak apalah, biar toakongcu menghadapi sedikit persoalan. Sampai sekarang, kita tidak bisa tahu dimana markas mereka, dengan adanya kejadian ini, toa kongcu bisa membongkar penyamaran penjahat. "

Mereka ber-cakap2 dengan dilayani oleh si gadis pelayan Siao Tian, sampai disini Goan Tian Hoat melirik ke arah Siao Tian.

Kang Han Cing mengerti, Goan Tian Hoat tidak mau pembicaraannya turut didengar oleh gadis pelayan itu, maka ia menggebah Siao Tian.

“Siao Tian, kau tunggu diluar !” Setiap orang harus dicurigai !

Gadis Siao Tian mengundurkan diri.

Dan dengan suara perlahan dan bisik2, Goan Tian Hoat berkata:

“Beberapa hari yang lalu aku sudah menitip surat kepada suhu untuk minta bantuan. Maka suhu mengirim jie-suheng datang untuk memberi bantuan. Sesudah toa kongcu meninggalkan gedung, kuberitahu kepada jie-suheng untuk mengikuti dari belakang guna menjaga keamanan toa kongcu, bilamana menghadapi sesuatu, harus segera memberitahu kepada kita."

Jie suheng Goan Tian Hoat bernama Cau Yun Tai, murid kedua dari Kuo Se Fen, juga termasuk salah seorang anak murid Hai-yang-pay yang luar biasa ! Dengan mendapat dukungan2 dari Hai-yang- pay, usaha Kang Han Cing lebih mudah berhasil.

Kang Han Cing menjadi bergirang hati. Ilmu kepandaian Kang Puh Cing tidak lemah, kecerdikan Cau Yun Tai cukup luar biasa. Maka mereka itu bisa diajak kerja sama. Hatinya agak lega.

Tapi Goan Tian Hoat meminta bantuan Cau Yun Tai untuk membuntuti Kang Puh Cing, mengapa tidak berjalan ber-sama2 ?

***

Bab 38

MEMANDANG ke arah Goan Tian Hoat, cahaya mata Kang Han Cing bersinar terang, bertanya dengan perlahan : “Saudara Goan, apa kau masih meragukan kepribadian toako ?"

Goan Tian Hoat berat untuk mengutarakan isi hatinya, termangu sebentar dan menjawab :

“Bukan meragukan toa kongcu, tapi ada lebih baik kalau mereka terpisah, untuk menjaga sesuatu yang tidak diinginkan, dimisalkan salah seorang masuk kedalam perangkap musuh, satunya masih bisa balik kembali.”

Kang Han Cing bisa diberi mengerti.

“Jie kongcu." berkata lagi Goan Tian Hoat, “Tiga hari kau tidak kembali, apa saja yang dilakukan olehmu." Kang Han Cing menceritakan pengalaman2nya, pengalaman yang penuh kemisteriusan dan penuh dengan kesuksesan.

Ternyata hanya didalam waktu tiga hari itu, Kang Han Cing telah mendapatkan penemuan yang terbesar.

Pendekar Cendikiawan Goan Tian Hoat menggunakan otak yang lihai, mengilmiah kejadian2 yang terkembang di dalam rimba persilatan.

Berkerut alis beberapa saat, Goan Tian Hoat berkata :

“Partai Ngo-hong-bun telah melakukan sesuatu yang menyimpang dari hak azasi manusia, mereka hendak berkuasa dan menjadi raja di rimba persilatan, hendak menundukkan empat Datuk persilatan. Sayangnya ke empat Datuk Persilatan itu juga masing2 memegang kekuasaan tersendiri, masing2 mau menang sendiri, satu sama lain tidak mau berkenalan. Susah dikoordinir, tidak mau bersatu, sok jago, dan ini sudah masuk ke dalam perhitungan Ngo hong-bun. Satu persatu lebih mudah dihancurkan."

Kang Han Cing juga mengutarakan pendapatnya, ia berkata :

“Inilah yang kukawatirkan, maka cepat2 balik kembali, dengan maksud mencari toako dan mencari jalan keluar."

Goan Tian Hoat berkemak kemik lama, sepatahpun tidak diucapkan. Menyaksikan keadaan yang seperti itu, Kang Han Cing tidak mendesak. Iapun diam.

Demikian kesunyian terjadi beberapa saat, akhirnya Goan Tian Hoat membuka kembali mata yang belum lama dipejamkan, ia berkata :

“Kalau saja jie-kongcu bersedia menjadi menteri koordinator, inilah kesempatan yang baik."

“Apa itu artinya menteri koordinator ?" bertanya Kang Han Cing.

Goan Tian Hoat berkata: “Sekarang pihak si Hakim bermuka merah Yen Yu San sudah berada dikota Kim-leng. Menginap dan bermalam di rumah penginapan Seng-kie-kek-ciam. Ia hanya pejabat ketua Penganungan Jaya tapi kedudukannya tidak berbeda dengan wakil Datuk Barat. Karena itulah kedudukannya yang paling berbahaya."

“Berbahaya bagaimana?"

“Hubungan Yen Yu San sangat luas. Juga mudah mengikat tali perserikatan dengan Datuk2 lainnya. Asal saja jiekongcu bisa mengajak Yen Yu San bekerja sama, menghubungi datuk timur dan datuk barat, maka keempat datuk persilatan pasti bisa kompak."

“Mungkinkah….?” Kang Han Cing ragu2.

Goan Tian Hoat tersenyum, ia mendekati telinga Kang Han Cing dan mengutarakan rencananya.

Rencana apa yang Goan Tian Hoat usulkan ? Berhasilkah Kang Han Cing menyatukan Datuk Persilatan yang mau saling berkuasa itu ? Bagaimana mereka mengelakan serangan golongan Perintah Maut yang menjadi anak perserikatan dari partai Ngo hong-bun? Mari kita mengikuti cerita berikutnya.

***

Matahari mencorong keras, bergantung di- tengah2 langit. Dijalan raya kota Kim leng, seorang pemuda sastrawan dengan kipas di tangan berjalan lenggang menuju ke rumah penginapan Seng-kie- kek-ciam.

Begitu berada dipintu rumah penginapan, beberapa pelayan segera menyambut dengan ramah, salah seorang bertanya: “Kongcu hendak bermalam ?"

Pemuda sastrawan itu memutarkan kedua matanya dan ia bertanya: “Apa ada kamar yang besar yang paling bersih ?"

“Ada.....ada......” cepat2 pelayan rumah penginapan itu menjawab. Diajaknya si pelajar berbaju putih masuk ke dalam.

Pemuda pelajar ini terus menerus bergoyang kipas, ia berjalan dibelakang pelayan dan tidak henti2 berkata:

“He, ada beberapa kamarkah di tempatmu ini ?

Terbagi berapa ruangan ?"

“Kami mempunyai enampuluh kamar, masing2 terbagi dari ruangan."

“Ruangan mana yang terbaik?" tanya si pemuda pelajar.

“Ruangan timur." “Baik. Ajak aku ke ruangan timur. Apa keadaan rumah penginapan ini ramai atau sepi ?"

“Agak lumayan."

“Aku hendak memilih tempat yang agak sepi, untuk membaca-baca buku, tanpa mendapat gangguan, untuk sewa kamar, mahal sedikitpun tidak apa."

Setelah berkata begitu, pemuda pelajar memperhatikan kamar2, lalu menunjuk ke arah salah satu kamar sambil berkata : “Aku mau kamar ini !"

“Oh !” pelayan itu terkejut. “Maaf, kamar ini sudah ada penghuninya !"

“Yang itupun boleh." berkata si pemuda sambil menunjuk ke arah kamar sebelah.

“Maaf kongcu, untuk barisan kamar2 ini sudah diborong orang."

“Siapa yang memborong?"

“Seorang tua bermuka merah dengan rombongannya,” menjelaskan si pelayan.

Disaat ini dari luar memasuki dua orang laki berpakaian ringkas, langkahnya tegap dan keras memasuki kamar yang ditunjuk pemuda tadi.

Disaat mereka bersampokan, si pelayan memberi hormat dan berkata: “Jiwie sudah kembali, biar hamba bawakan air."

Kedua laki berpakaian ringkas itu tanpa menyahut si pelayan, terus jalan menuju kamarnya dan langsung menggabrukkan pintu. Si pemuda memandang kedua orang tadi dan menoleh ke arah si pelayan dan bertanya: “Kedua orang itu….”

“Mereka baru saja ber-jalan2 juga termasuk rombongan orang tua bermuka merah."

Akhirnya si pemuda sastrawan memilih kamar2 yang tidak berjauhan dari kamar2 itu.

Sampai disini, kita boleh membuka kartu, pemuda sastrawan adalah samaran Kang Han Cing.

Dan orang bermuka merah yang memborong barisan2 kamar itu adalah si Hakim Bermuka Merah Yen Yu San.

Untuk sementara kita tinggalkan Kang Han Cing.

***

Diluar rumah penginapan Seng-kie-kek-ciam.

Pemandangan seperti biasa, tenang, awan putih di langit yang tidak berumbang.

Di jalan raya dari jauh mengepul debu tinggi, empat ekor penunggang lari mendatangi ke arah rumah penginapan Seng-kie-kek-ciam. Seorang yang didepan adalah orang tua bermuka merah, inilah pejabat ketua Penganungan jaya Yen Yu San. Di sebelahnya adalah lak¡2 berbaju biru, inilah Yen Siu Hiat. Di belakang mereka turut mengiringi dua laki-laki berbadan tegap, dua orang yang dibawa dari benteng penganungan jaya. Secepat itu pula, keempat kuda itu berhenti didepan rumah penginapan Seng-kie kek-ciam, Yen Yu San dan Yen Siu Hiat lari masuk kedalam. Diikuti oleh dua orang mereka.

Yen Yu San adalah cukong besar, para pelayan rumah penginapan segera menyambut mereka. Membungkukkan badan dan menyilakan mereka lewat cepat.

Alis Yen Yu San berkerut, ada sesuatu yang merundungi dirinya, ia hanya membalas hormat para pelayan itu dengan satu anggukkan kepala, dengan langkah lebar menuju kearah kamar.

Disaat ini, dari depan Yen Yu San berlari datang seorang sastrawan berbaju putih, bergegas terhuyung2 menubruk Yen Yu San, dengan mulut ber-teriak2 pemuda itu berkoar:

“Hantu..... hantu.....rumah penginapan ini ada hantu !"

Saking takutnya, sastrawan berbaju putih itu menubruk ke arah si Hakim bermuka merah Yen Yu San.

Yen Yu San meraihkan tangan, dengan cepat menyanggah jatuhnya sastrawan berbaju putih itu, sesudah menenangkannya, ia berkata: “Tenang....tenang. apa yang telah terjadi?"

Berkat bantuan Yen Yu San, si pemuda sastrawan nyaris dari jatuh terjerembab. Ia berhasil menenangkan hatinya yang dirundung penuh rasa ketakutan. Siapakah si pemuda sastrawan itu, tidak lain tidak bukan dia adalah penyamaran Kang Han Cing, dengan menggunakan kedok kulit pemberian Tong Jie Peng, ia menyamar sebagai seorang sastrawan baru.

Pelayan rumah penginapan segera mengenali tamu yang baru saja masuk tadi, tamu yang memilih kamar Yen Yu San.

“Kongcu bagaimana?" si pelayan bertanya.

Terengah si pemuda sastrawan istirahat sebentar, ia memberi hormat kepada Yen Yu San dan berkata: “Maaf. Maaf. Boanseng meminta maaf.”

Boanseng berarti aku yang rendah. Boanseng khusus menyebut diri sendiri kepada orang lain yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Umumnya digunakan oleh kaum sastrawan.

Yen Yu San membalas hormat Kang Han Cing, diperhatikannya baik2 pemuda itu, ia tidak kenal lagi kepada Kang Han Cing, karena si pemuda sudah mengubah wajahnya.

“Eh.” ia bertanya. “Apa yang terjadi ?"

Dengan membawakan lenggang lenggok seorang sastrawan yang tidak mengerti silat, Kang Han Cing berkata: “Oh…oh….tidak apa2.   mungkin

mata    boanpww    sedang    lamur.          sungguh

boanpwe melihat seorang.”

Wajah Yen Yu San yang merah bercahaya terang, ia bertanya : “Orang bagaimanakah yang lotee lihat ?" Lotee berarti saudara. Sebutan menghormat kepada kaum yang lebih rendah.

Kang Han Cing memperlihatkan sikapnya yang ketakutan, dengan pelegap pelegup ia menjawab.

“Seseorang yang berpakaian baju putih......oh ! Bukan ! Sesosok bayangan mayat yang terbungkus kain putih.”

Mendengar ucapan itu si pelayan menjadi gugup, mana mungkin dalam rumah penginapannya ada hantu disiang hari bolong ? Karena itu cepat2 ia berkata :

“Kongcu jangan bergurau. Rumah penginapan kami aman dan tentram. Apa lagi pada siang hari bolong, dari mana datangnya mayat berkerudung putih?"

Yen Yu San mengibaskan pelayan rumah penginapan, menghadapi Kang Han Cing dan bertanya :

“Dimana bayangan itu sekarang ?”

Kan Han Cing berkata : “Orang itu… makhluk itu...makhluk itu berdiri….” Kang Han Cing menunjuk ke arah deretan kamar2 yang sudah diborong oleh Yen Yu San.

Wajah Yen Yu San berubah, ia berteriak keras : “Apa yang dikerjakan ?"

“Boanseng melihat ia ber-goyang2, longak longok disana. Sebentar kemudian, benda tadi lenyap mendadak." Wajah Yen Yu San semakin berubah, menoleh ke arah Yen Siu Hiat dan berkata : “Lekas kalian periksa !"

Ternyata Yen Yu San saat itu baru saja kembali dari mencegat Kang Han Cing beserta rombongan partai baru. Ketika ia menerima laporan dari seseorang bahwa putri Cin Jin Cin yang juga turut melakukan perjalanan dan menginap dalam rumah penginapan itu yang bernama Cin Siok Tin telah lenyap tanpa bekas. Lenyap diculik orang dari kamar penginapannya. Maka cepat2 ia meninggalkan orang2 tersebut.

Begitu tiba, sekarang lagi2 ada seseorang yang mengintip dikamarnya, bagaimana ia tidak menjadi ber-debar2 ?

Keterangan Kang Han Cing tepat memasuki hatinya. Karena itu ia memberi perintah kepada Yen Siu Hiat dan orang2 untuk memeriksa.

Yen Siu Hiat mengajak dua orangnya memeriksa kamar2 mereka.

Yen Yu San menepuk pundak Kang Han Cing, ia berkata:

“Mungkin laotee salah mata, mungkin juga ada pancalongok yang hendak mencuri sesuatu. Menggunakan kesempatan kita tidak berada didalam kamar, hendak mencuri benda berharga. Jangan takut, mari kita periksa."

Menggandeng tangan Kang Han Cing, Yen Yu San mengajak si pemuda memeriksa. Ditengah jalan, mata Yen Yu San yang lihai sudah menaruh curiga, pakaian dan gerak gerik Kang Han Cing dilakukan seperti seorang sastrawan yang tidak mengerti ilmu silat, tapi dari cahaya sinar matanya yang begitu bening, orang ini pasti memiliki latihan tenaga dalam tinggi, bukan seorang yang tidak pandai silat, karena itu ia menjadi curiga, menyelidik dan bertanya: “Bagaimana sebutan lotee ?"

Kang Han Cing menjawab: “Boanseng bernama Lie Siauw San.”

“Tentunya orang dari jauh ?” bertanya lagi Yen Yu San.

Kang Han Cing berkata : “Boanseng sedang menuntut pelajaran, karena itu ter-lunta2 sampai di tempat ini.”

“Namaku Yen Yu San." si Hakim bermuka merah memperkenalkan diri. “Kita boleh berkenalan."

“Oh Tuan Yen Yu San,” Kang Han Cing memberi hormat.

Cara2 Kang Han Cing mendengar disebutnya nama Yen Yu San itu tidak seperti cara2 orang lain, biasa dan datar, tentu saja ia sedang menyamar sebagai seorang sastrawan muda, bukan seorang jago silat, karena ia harus pandai membawa diri, ber-pura2 tidak tahu betapa hebat dan betapa besarnya nama pejabat ketua benteng penganungan jaya.

Nama Yen Yu San adalah wakil dari ketua benteng Penganungan jaya, bayangan dari Datuk barat. Namanya terkenal kemana2, tapi sikap Kang Han Cing yang seperti itu membuat hatinya tidak menaruh curiga.

“Mungkinkah betul2 seorang sastrawan muda?" Hati Yen Yu San bergumam.

Kedatangan Yen Yu San dan Kang Han Cing disambut oleh Yen Siu Hiat, ia berdiri didepan sang paman tanpa bicara.

Yen Yu San bertanya: “Apa sudah diperiksa?

Ada kekurangan apa ?"

“Tidak apa2." berkata Yen Siu Hiat. “Tidak ketemu jejak maling itu."

“Mari kuperkenalkan." berkata Yen Yu San. “inilah keponakanku yang bernama Yen Siu Hiat. Inilah tuan Lie Siauw San."

Yen Siu Hiat dan Kang Han Cing saling memberi hormat.

Yen Yu San mengajak Kang Han Cing ke ruang tengah, sesudah menyuruh orangnya menyediakan the, dimana mereka ber-cakap2.

Yen Siu Hiat turut mendampingi, ia selalu memalingkan pandangan matanya ke arah sang paman, se-olah2 hendak mengutarakan sesuatu, disitu hadir seorang tamu asing yang bernama Lie Siauw San, mereka tidak kenal kepada sastrawan Lie Siauw San ini, mereka menaruh curiga kepada si sastrawan Lie Siauw San, karena itu mereka tidak berani memperbicarakan persoalan-persoalan yang rahasia. Kang Han Cing bisa melihat pada keragu-raguan dan kecurigaan dari Yen Siu Hiat tadi, memandang kearah Yen Yu San dan ia berkata :

“Apa lotiang kalian tidak letih ?"

Lotiang adalah bahasa sebutan seorang muda kepada golongan yang lebih tua. Di dalam rimba persilatan, lebih terkenal dengan istilah cianpwee.

“Tidak apa,” berkata Yen Yu San. Ia menoleh ke arah Yen Siu Hiat dan bertanya. “Bagaimana hasilnya ? Apa semua orang sudah kembali ?"

“Sudah." Yen Siu Hiat memberi jawaban singkat. “Hasilnya ?"

“Mereka…." Yen Siu Hiat menggelengkan kepala, inilah suatu tanda kalau orang2 mereka yang mencari jejak Cin Siok Tin tiada hasil.

Sesudah Cin Siok Tin diculik penjahat, seluruh anak buah benteng penganungan jaya menjadi sangat gelisah. Termasuk Yen Yu San dan Yen Siu Hiat. Bagaimana tidak, kalau putri dari junjungan mereka yang dipercayakan itu lenyap tanpa bekas?

Yen Yu San memancarkan sinar kebuasan, ia berkata : “Betul2 kita jatuh di bawah tangan cecunguk-cecunguk itu."

Nah ! Sampai disini sandiwara Kang Han Cing sudah waktunya untuk ganti upacara, ia tidak boleh terlalu menyolok mata, karena itu wajib mengelakan rahasia2 yang baru saja diketahuinya, ia meminta diri, katanya: “Lotiang masih banyak urusan. Sampai disini dahulu perkenalan kita. Boanseng meminta diri.” Disaat Kang Han Cing hendak berbangkit Yen Yu San sudah menekan pundak si sastrawan palsu itu dengan tertawa dan berkata:

“Duduk dulu ! Urusan kita hanya urusan biasa. Perkenalan kita adalah jodoh, aku senang bercampur gaul dengan para sastrawan. Teristimewa sangat tertarik kepadamu."

Sesudah itu Yen Yu San berpaling kepada Yen Siu Hiat meng-edip2kan mata isyarat.

Yen Siu Hiat segera mengundurkan diri, meninggalkan Yen Yu San dan Kang Han Cing.

Kang Han Cing duduk kembali, ia mengucapkan terima kasih dan berkata : “Atas kebaikan hati lotiang, boanpwe hanya bisa menurut saja."

Menunjuk kearah minuman di meja, Yen Yu San berkata : “Lotee, silahkan minum."

Yen Yu San memegang minuman itu. Diikuti juga oleh Kang Han Cing.

“Lotee," berkata Yen Yu San. “Kau menetap didaerah Tin-kang. Suatu tempat yang tidak jauh dari sini, bukan ? Apakah maksud tujuan lotee ke tempat ini. "

“Boan-seng hendak menemui seseorang kawan, bagaimana usaha totiang?" balik tanya Kang Han Cing.

Yen Yu San menghela napas panjang, per- lahan2 berkata : “Urusanku ke daerah Kim-leng untuk mengurus sesuatu urusan pribadi. "

“Oh ! Maaf,” berkata Kang Han Cing. “Maaf !” “Tidak apa2.”

“Pantas saja lotiang seperti sangat berduka. Se- olah2 baru dirundung kemalangan.”

Kata2 ini tepat memasuki lubuk hari Yen Yu San, sepasang matanya bercahaya terang.

“Hebat. Lotee memang hebat." Yen Yu San mengeluarkan pujian. “Puluhan tahun aku malang melintang dirimba persilatan belum pernah menemukan urusan yang seperti ini. Tidak disangka hari ini aku betul-betul terjungkir dibawah mereka."

“Oh !" Kang Han Cing memperlihatkan sikapnya yang terkejut. “Ternyata lotiang adalah seorang pendekar ternama dari rimba persilatan. Maaf, boanseng tidak tahu. Tapi urusan apakah yang menyulitkan lotiang?"

Didalam hati Yen Yu San berkeluh dingin pikirnya : “Entah siapa anak muda ini ? Kukira kau pandai sekali ber-pura2 ! Betapapun penyamaranmu, mana bisa menandingi diriku ?"

Dan untuk menjajal kebenarannya, ia berkata : “Lotee bukan orang dari rimba persilatan, tapi tentunya pernah mendengar tentang beberapa tokoh2 silat ternama pada masa ini ? Dimisalkan datuk timur Sie See Ouw, Datuk selatan Kang Sang Fung dan Datuk Barat Cin Jin Cin dan Datuk Utara Lie Kong Tie ?"

“Ya..Ya...” jawab Kang Han Cing, “Dari salah seorang guru silat boanseng pernah mendengar nama2 harum dari keempat Datuk persilatan itu !" “Nah ! Aku adalah salah seorang anak buah dari datuk Barat Cin Jin Cin, datang ke Kim-leng untuk mengurus sesuatu, mencari jejaknya seseorang pemuda hidung belang. Pemuda hidung belang itu telah membunuh dan memperkosa keponakan perempuanku.”

Yen Yu San merendah diri, menggunakan istilah salah seorang anak buah Cin Jin Cin.

“Oh     " Kang Han Cing mengeluh.

“Datuk Barat Cin Jin Cin menpunyai seorang putri yang bernama Cin Siok Tin. Karena dibenteng Penganungan Jaya tidak ada orang, ia memaksa untuk turut serta melakukan perjalanan. Apa boleh buat, kuajak juga kemari. Nah ! Disinilah letak kesalahanku, baru kemarin malam ia mendadak lenyap tanpa bekas.”

“Lenyap didalam kota Kim-leng?” bertanya Kang Han Cing.

“Inilah yang membingungkan orang." berkata Yen Yu San. “Lenyap dari kamarnya. Aku telah menyebar orang2 untuk menyelidiki, tapi tiada hasil sama sekali.”

“Gila ! Sungguh2 penjahat gila !" berkata Kang Han Cing. “Dalam kota yang begini ramai, berani mereka menculik orang?”

“Lotee, aku membutuhkan sedikit keteranganmu." berkata Yen Yu San.

“Silahkan lotiang katakan.”

“Pernahkah lotee mendengar sesuatu komplotan jahat yang berada dikota Kim-leng?" “Boanseng jarang sekali berhubungan dengan jago2 rimba persilatan. Belum pernah dengar,” berkata Kang Han Cing, “Tapi….”

“Tapi apa?" Yen Yu San mulai ketarik. Kang Han Cing memperlihatkan sikapnya yang lambat2an, kemudian ia berkata:

“Tetapi apa urusan ini mempunyai sangkut paut dengan lenyapnya putri Datuk Barat."

“Coba kau katakan." berkata Yen Yu San. Kang Han Cing berkata :

“Disaat boanseng bermalam disuatu rumah penginapan, terdengar percakapan2 di kamar sebelah, suara mereka sangat perlahan, mereka ada me-nyebut2 nama nona Cin Siok Tin, dan banyak sekali yang diucapkan oleh mereka, sayang boanseng tidak bisa menangkap semua...”

“Apa lagi yang dikatakan oleh orang2 itu ?”

Kang Han Cing menelengkan kepalanya beberapa saat baru berkata:

“Menurut apa yang boanseng bisa tangkap, orang2 itu telah menculik nona Cin Siok Tin, hanya karena urusan seorang yang mempunyai julukan si pendekar Hakim bermuka merah. Asal saja bisa membunuh pendekar hakim bermuka merah ini, maka mereka bisa merampas harta kekayaannya.”

Mendengar sampai disini, tiba2 saja Yen Yu San tertawa berkakakan. Kang Han Cing seperti tertegun sebentar, ia berkata : “Mungkin ada yang salah ?"

Yen Yu San menghentikan suara tertawanya per-lahan2 ia bertanya :

“Apa lotee pernah bertemu dengan si pendekar Hakim muka merah ?"

Kang Han Cing meng-geleng2kan kepala. “Itulah aku sendiri." berkata Yen Yu San. “Oh ! Maaf !”

“Penjahat2 itu hendak menghadapi diriku? Hu," Yen Yu San memperlihatkan sikapnya yang berwibawa, “Apa yang mereka hendak lakukan ?”

“Apa yang mereka bisa lakukan ?" bertanya Kang Han Cing.

***

Didalam, Yen Yu San sedang ber-cakap2 dengan Kang Han Cing.

Dan diluar, Yen Siu Hiat sedang men-jaga2 agar tidak ada orang yang mengganggu ketenangan pembicaraan itu.

Seorang pelayan berjalan menghampiri kamar mereka, karena itu Yen Siu Hiat membentak :

“Ada apa ?”

“Ada surat yang hendak diserahkan kepada tuan besar," jawab pelayan itu.

“Serahkan saja kepadaku !" Kata Yen Siu Hiat. Pelayan itu menyerahkan sepucuk surat. Diatas sampul bertulisan :

Diserahkan kepada yang terhormat Pengurus Benteng Penganungan Jaya tuan Yen Yu San.

“Siapa yang memberi surat ini ?” Bertanya Yen Siu Hiat.

“Seorang laki2 berbaju kelabu."

Yen Siu Hiat mengucapkan terima kasih dan pelayan itu berjalan pergi.

Yen Siu Hiat memasuki ruangan dan menjumpai Yen Yu San.

***

Bab 39

YEN YU SAN yang sedang ber-cakap2 dengan Kang Han Cing terputus, menoleh ke arah Yen Siu Hiat, bertanya : “Ada apa?"

“Ada sepucuk surat." jawab Yen Siu Hiat. “Dari mana?"

Yen Siu Hiat menjawab : “Menurut keterangan si pelayan, seorang yang berbaju kelabu mengantarkan, sesudah menyerahkan surat ini, orang itu berjalan pergi lagi."

Yen Yu San menerima surat itu, tapi tidak segera dibaca didepan Kang Han Cing. Ia menyimpannya didalam saku. Kang Han Cing juga tahu diri, segera ia meminta diri : “Lotiang masih ada urusan, untuk sementara boanseng meminta diri."

“Baiklah,” Yen Yu San tidak mencegah. “Kita orang tinggal didalam satu rumah penginapan, kalau ada waktu boleh berkunjung lagi."

Yen Yu San mengantar Kang Han Cing meninggalkan ruangannya.

Dengan sudut ekor matanya, Yen Siu Hiat melirik kearah lenyapnya bayangan Kang Han Cing, ia berkata kepada sang paman : “Jie-siok, bagaimana penilaianmu tentang orang itu ?"

“Sangat mencurigakan." jawab Yen Yu San. “Aku juga tidak berhasil menyelidikinya. Coba kau lebih ber-hati2 dan meng-amat2i dia.”

Yen Siu Hiat menerima perintah dan berjalan keluar.

Baru sekarang Yen Yu San membuka isi surat, demikian bunyi surat itu :

“Disampaikan kepada tuan pengurus benteng Penganungan Jaya, tuan Yen Yu San:

Partai kami bermaksud berkenalan dengan seluruh pendekar2 ternama, sayang sekali maksud itu tidak mudah terlaksana. Putri benteng Penganungan Jaya sudah berada ditempat kami. Karena itu kami mengharapkan kedatangan tuan untuk mengurusnya. Tempat dibawah kaki gunung Tay-biao-hong dibagian barat. Jam dua malam. Nantikanlah kami diantara kedua pohon besar, tentu ada orang yang menyambut. Cabang partai Ngo-hong-bun: Perintah Maut.

Membaca surat itu, wajah Yen Yu San berubah. “Bah !" dia memaki kalang kabutan. “Berani menghina diriku?"

Disaat ia, Yen Siu Hiat sudah mengutus orangnya untuk meng-amat2i Kang Han Cing, ia balik kembali, menyaksikan keadaan sang paman yang begitu uring2an, dia menegur pelahan:

“Jiesiok, bagaimana isi bunyi surat?"

“Bacalah sendiri !” Yen Yu San melemparkan surat itu kepada sang keponakan.

Yen Siu Hiat membaca tulisan itu beberapa waktu, dengan heran ia berkata :

“Perintah Maut ? Partai Ngo-hong-bun ? Nama gelar apa nama golongan yang diberi nama Perintah Maut ?"

“Hanya satu partai cecunguk saja berani menantang diriku ?" kemarahan Yen Yu San masih belum mereda.

“Apa jie-siok betul2 hendak pergi kesana ?" bertanya Yen Siu Hiat.

“Apa kau pernah melihat pamanmu takut pada sesuatu. Tentu saja aku pergi. Lekas sediakan aku kuda !”

Yen Siu Hiat berkata : “Biar aku yang menyertai jie-siok."

“Tidak perlu. Kau harus mengawasi gerak-gerik perkembangan ini. Biar aku pergi sendiri." “Baik.” Yen Siu Hiat mengundurkan diri.

Sesudah mengenakan pakaian ringkas, mempernakan dirinya dengan baik, Yen Yu San meninggalkan kamar itu.

Diluar, Yen Siu Hiat sudah menunggu dengan seekor kuda jempolan, kuda yang berwarna merah.

Yen Yu San menerima kuda itu, ia siap2 berangkat.

Yen Siu Hiat bertanya : “Apa jie-siok masih ada pesanan lain ?”

“Perhatikan baik2 pemuda sastrawan yang bernama Lie Siauw San itu."

Lie Siauw San adalah nama samaran Kang Han Cing !

Dengan satu kali pecut kuda itu dilarikan. Kuda yang tersedia bagi orang2 benteng Penganungan Jaya itu adalah kuda2 jempolan, hanya beberapa kali keprukkan sudah meninggalkan rumah penginapan.

Waktu yang dijanjikan golongan Perintah Maut untuknya menjumpai Cin Siok Tin adalah jam dua pagi, sekarang baru saja hari menjadi gelap, Yen Yu San menjadi tidak sabaran. Untuk melewatkan waktu, ia memasuki sebuah rumah makan dibawah kaki gunung Tay-biao-san.

Seorang diri Yen Yu San menenggak arak didalam rumah makan itu, per-lahan2 tokh lama juga, ia mulai berada dalam keadaan setengah mabok. Tiba2 seorang pelayan rumah makan datang menghampirinya, pada tangan si pelayan terbawa sepucuk surat, dengan bibir tersungging senyuman, pelayan itu berkata: “Tuan, ada titipan surat untuk tuan !"

“Surat ?" Yen Yu San tercetak. Ia berpikir, “Seorang diri ia minum ditempat ini, tokh berjalan belum beberapa lama, bagaimana orang bisa tahu kehadirannya ditempat ini ? Darimana datang surat?"

Ia menyambuti surat tersebut, pada sampul surat bertulisan:

Dipersembahkan kepada tuan Yen Yu San.

Hati Yen Yu San berpikir. “Tentu surat dari komplotan penjahat."

Memandang ke arah pelayan itu dan berkata: “Siapa yang mengantar surat ini?"

Si pelayan menjawab: “Seorang tuan. Belum lama ia minum di dalam rumah makan ini, sebelum berangkat memberitahu kepada hamba untuk menyerahkan surat itu kepada tuan.”

Yen Yu San menganggukkan kepala berkata: “Oh! Mungkin salah seorang kawanku, tadi terlalu banyak orang, aku tidak melihat dirinya."

Si pelayan berkata: “Tuan tadi juga berkata seperti itu. Ia sangat ter-buru2, tidak ada waktu untuk banyak bicara lagi, maka meninggalkan surat ini." Yen Yu San mengeluarkan beberapa uang recehan, diserahkan kepada si pelayan sebagai hadiah.

Sesudah menunggu pelayan itu berangkat, Yen Yu San membuka isi surat, demikian bunyi isi surat:

“Apa Yen lo-enghiong ingin tahu rahasia komplotan orang jahat ? Lekas meninggalkan tempat ini. Akan ditunggu dibawah pintu kota bagian utara. Tapi ber-hati2, disekitar rumah makan itu sudah banyak mata-mata musuh. Lebih baik keluar dari pintu belakang, agar tidak diketahui mereka."

Tulisan itu sangat indah dan menarik, tidak ada tanda tangan dan tidak identitas.

Yen Yu San berkerutkan alis dan berpikir: “Siapa orang ini ? Dari lagu2nya bukan salah

satu dari anggota komplotan jahat, tapi dari mana

pula? Baik ! Akan kulihat siapa dia ?"

Sesudah mengambil putusan yang seperti itu Yen Yu San menyimpan kembali surat, dia meninggalkan tempat duduknya, menuju ke arah belakang rumah makan.

Kejadian ini tidak banyak menimbulkan kecurigaan, ia ke belakang, semua orang menduga kalau Yen Yu San ke W.C atau cuci tangan.

Beberapa saat kemudian, seorang Hakim bermuka merah Yen Yu San menyeret kakinya keluar kembali, duduk diatas tempat dimana meja yang ditinggalkan Yen Yu San tadi. Dia minum pula seorang diri.

Waktu yang ditetapkan pertemuan Yen Yu San masih cukup lama, Yen Yu San menenggak arak di rumah penginapan itu untuk meliwati waktu. Tentu saja tidak ada yang tau kalau sudab terjadi dua pertukaran Yen Yu San.

Siapa orang yang memalsukan Yen Yu San ini? Untuk sementara cerita kita gelapkan.

Kita menyusul Yen Yu San yang asli, melalui pintu belakang rumah makan ia meninggalkan banyak orang. Juga meninggalkan mata2 golongan Perintah Maut.

Tiba dibagian pintu utara kota betul saja berdiri seseorang, dari jauh orang itu sudah mengirimkan gelombang suara tekanan tinggi berkata :

“Yen lo-enghiong yang datang?"

Yen Yu San memperhatikan orang itu, dedak perawakannya yang tidak terlalu tinggi juga tidak kecil, orang itu juga menggunakan tutup kerudung hitam. Tidak bisa dilihat wajahnya.

“Siapa tuan?” ia bertanya.

Orang tadi tidak menjawab, ia hanya berkata singkat.

“Silahkan ikut segera !”

Tiba2 orang berkerudung hitam itu membalikkan badan melejit dan menuju ke depan. Gerakan orang itu sangat cekatan dan hebat, dalam sekejap mata sudah meluncur jauh.

Si Hakim bermuka merah Yen Yu San beradat keras, mana bisa ia ditinggalkan begitu saja, ia membentak: “Tunggu dulu !"

Mengempos tenaganya, Yen Yu San mengejar orang tersebut.

Orang yang didepan tidak menghiraukan panggilan Yen Yu San, meluncur semakin cepat.

Demikian kedua orang itu saling susul, menuju kearah utara.

Hanya sekali loncatan, Yen Yu San sudah menempatkan dirinya diatas benteng tembok kota. Ia melongok kebawah, tampak orang berkerudung hitam sudah melayang turun, bergendong tangan, se-olah2 menunggu dirinya.

Si Hakim bermuka merah Yen Yu San menjabat wakil ketua benteng Penganungan Jaya, menjadi pembantu utama dari Datuk Barat Cin Jin Cin, mempunyai hubungan baik dengan tokoh2 silat di rimba persilatan, belum pernah dia dipermainkan orang seperti itu. Hatinya terasa meringkal, dengan satu dengusan dingin, seperti seekor alap2 melayang turun, dia menubruk kebawah.

Inilah yang diharapkan oleh orang itu, begitu Yen Yu San meluncur dari atas tembok kota, dia membalikkan badan dan berlari lagi.

Hati Yen Yu San tergerak, hatinya berpikir : “Kemana kau hendak ajak diriku ?” Sudah tahu mau diakali, tokh Yen Yu San tidak takut, siapa yang bisa menyengkelit Hakim bermuka merah Yen Yu San ? Karena itu, ia mengempos tenaga dan mengejar.

Diantara cahaya malam, kedua bayangan itu saling kejar, bagaikan bintik2 yang bergemilapan, menempur semak2, meluncur diatas daratan2.

Yen Yu San sudah memforsir semua ilmu meringankan tubuh, tapi dia belum berhasil menyandak orang yang berada di depan, tiga puluh lie telah dilewatkan kini mereka memasuki daerah pegunungan, itulah pegunungan Tay-biao-san.

Yen Yu San tertawa dingin, ia bergumam :

“Aku memang hendak ke tempat ini. Pancinganmu memang kebetulan sekali. Hendak kulihat, ada permainan apa lagi?"

Disaat ini, orang itu menghentikan gerakan, ia berbalik, tangannya digerakkan kemudian menunjuk keatas, membarengi gerakan itu, tubuh si bayangan hitam lompat dan bersembunyi diatas pohon yang rimbun.

Yen Yu San masih belum mengerti aba2 yang diberi oleh orang itu, ia meluncur datang.

Disaat ini terdengar satu suara halus yang seperti suara semut: “Lo-enghiong, lekas naik ke atas pohon."

Yen Yu San menengadahkan kepala, memandang ke tempat persembunyian orang itu dan berkata: “Siapa ? Dengan maksud apa mengajak diriku ke tempat ini?" Orang diatas pohon menggunakan tekanan suara tinggi, disalurkan ke telinga Yen Yu San, katanya :

“Disekitar daerah ini, mungkin masih ada mata2 musuh, kalau ada sesuatu yang Lo-enghiong ingin ketahui, naiklah diatas pohon bersembunyi. Itu waktu kita masih bisa ber-cakap2, bukan?"

Menyaksikan keadaan orang itu bersungguh- sungguh, hati Yen Yu San tertarik, betul-betul dia melejitkan diri, berlompat keatas pohon besar yang berada tidak jauh dari pohon persembunyian orang itu.

***

Bab 40

SESUDAH menyembunyikan diri baik2, dengan gelombang suara tekanan tinggi, ia bertanya kepada orang tersebut : “Nah! Sekarang kau bisa memberi keterangan itu !”

Orang itu dengan suara tekanan gelombang tingginya berkata :

“Orang yang berperang tentu membuat persiapan, apalagi menghadapi musuh kuat dan jahat, lo-enghiong hendak menghadapi sesuatu komplotan jahat, sudahkah mengetahui rencana busuk lawan itu?"

Yen Yu San tertegun, ternyata orang ini sudah tau kalau dirinya menerima surat tantangan, tapi ia tidak gentar, dengan congkak berkata : “Biarpun musuh mempunyai rencana busuk apa yang harus kutakuti?"

Orang itu berkata:

“Betul ! Ilmu kepandaian silat lo-enghiong boleh dikata sudah hampir tidak ada tandingan. Tapi musuh mempunyai rencana keji, kalau hanya mengandalkan ilmu kepandaian saja, pihak musuhpun banyak jago kuat. Dimisalkan mereka tidak bisa memenangkan ilmu silat lo-enghiong, menarik kesimpulan karena adanya nona Cin Siok Tin di tangan mereka, apa yang lo-enghiong bisa lakukan? Membiarkan putri ketua itu tersiksa? Berpikirlah sekali lagi, salah set berarti berantakan!"

Yen Yu San semakin heran, kemisteriusan orang ini betul2 diluar dugaannya, ia bertanya:

“Menurut pendapatmu, bagaimana?" Orang itu berkata:

“Maksud pancingan boanpwe ke tempat ini adalah memberi gambaran yang jelas agar lo- enghiong bisa mengerti duduk perkara dari semula."

“Bagaimana asal usulnya musuh itu?"

Orang itu berkata: “Sebelumnya, bisakah lo- enghiong berjanji ?"

“Berjanji apa?" bertanya Yen Yu San.

“Boanpwee sudah mempunyai rencana, boanpwee harap lo-enghiong menonton segala sesuatu yang terjadi dengan pikiran tenang, jangan sekali2 terpancing."

“Baiklah.”

“Nah. Kalau begitu, nona Cin Siok Tin pasti bisa dikembalikan."

Yen Yu San bertanya : “Siapakah tayhiap ?" Orang itu berkata : “Untuk sementara, lo-

enghiong jangan banyak tanya, kalau sudah waktunya, lo-enghiong bisa tahu sendiri."

“Kau tidak mau memberi nama dan asal usulmu, bagaimana aku bisa percaya kepada keteranganmu ?"

Orang itu berkata : “Sesudah lo-enghiong berada ditempat ini, semua bisa disaksikan dengan mata sendiri, percaya atau tidak, terserah kepada penilaian lo-enghiong pribadi.”

“Kalau begitu, kau bukan komplotan penjahat ?”

Orang itu berkata: “Kalau boanpwe salah satu dari anggota komplotan penjahat, tidak mungkin mengajak lo-enghiong seperti ini.”

“Baiklah. Untuk sementara aku percaya kepadamu."

“Ingat betul2, jangan sekali2 lo-enghiong turun bergebrak."

“Kau melarang aku turun tangan ? Tidak boleh melabrak orang ?"

“Hanya untuk sementara." berkata orang itu. “Kalau aku bertanding dengan orang, bagaimana ?"

“Celakalah rencana boanpwe, berantakan semua, kucar kacir."

“Huh," Yen Yu San berdengus dingin hatinya berpikir. “Kemisteriusanmu begitu luar biasa. Baik! Hendak kulihat, apa yang hendak kau permainkan

?"

“Sekali lagi boanpwe minta dengan hormat," berkata orang itu. “Jangan sekali2 lo-enghiong cepat naik darah. Gunakanlah pikiran yang tenang. Jangan sekali2 menuruti hawa nafsu, apapun yang terjadi, jangan lo-enghiong cepat panas hati."

“Aku tahu." berkata Yen Yu San. “Tapi ada sesuatu yang mengherankan, bisakah aku minta penjelasannya ?"

“Penjelasan bagaimana yang lo-enghiong kehendaki ?"

“Janji dimalam ini adalah urusan pribadi. Mengapa tayhiap menalangi dan mengeluarkan rencana, apa maksud tujuan yang sebenarnya?"

“Maksud lo-enghiong, perjanjian dimalam ini adalah urusan pribadi ?”

“Memang urusan pribadi." “Salah." berkata orang itu.

“Paling2 menyangkut urusan benteng penganungan jaya dan partai Ngo-hong-bun."

“Masih kurang tepat!" “Dimana letak kekurangan tepatannya?" bertanya Yen Yu San.

Orang itu berkata:

“Urusan dihari ini se-olah2 hanya menyangkut urusan partai Ngo-hong-bun yang menculik nona Cin Siok Tin, se-olah2 hanya urusan partai Ngo- hong-bun dengan benteng Penganungan Jaya. Sebetulnya tidak demikian..."

“Aku tidak mengerti." berkata Yen Yu San. “Baiklah. Kalau tidak dikasih sedikit penjelasan,

mungkin lo-enghiong masih kurang yakin. Pertemuan lo-enghiong hanya lembaran pertama dari rangkaian jahat partai Ngo hong-bun. Singkatnya, bukanlah hanya menyangkut bangun runtuhnya benteng penganungan jaya, atau bisa tidaknya datuk barat menancap kaki. Dan berkembangan berikutnya. Tapi hal ini juga mempunyai hubungan erat dengan ketiga datuk persilatan lainnya, kalau saja lo-enghiong mengalami kegagalan, berarti diturut hancur pula usaha datuk persilatan lainnya, gagal pula usaha Siauw-lim-pay dan Ngo-bie-pay untuk menenangkan rimba persilatan dari kekacauan !"

“Begitu hebat? Begitu panjang?” Yen Yu San masih ragu2.

“Untuk jelasnya...." tiba2 orang itu terhenti. “Nah ! Mereka sudah datang ! Lain kali saja, boanpwee beri penjelasan yang lebih terperinci."

Mereka ber-cakap2 dengan gelombang tekanan suara tinggi, masing2 menyalurkan suara dengan tenaga dalamnya ditujukan kepada telinga orang yang bersangkutan. Tidak bisa didengar oleh orang ketiga.

Sampai disini, percakapan terhenti. Yen Yu San memasang kuping panjang2, masih tidak terdengar sesuatu yang mencurigakan, bagaimana orang itu mengatakan mereka sudah datang?

Menggunakan mata Yen Yu San celingak celinguk mencari rombongan yang dimaksud.

Betul saja ! Dari jauh tampak didalam kegelapan malam bintik2 yang bergerak, semakin lama semakin besar itulah gerak beberapa orang yang bergerak datang.

Hati Yen Yu San memuji kehebatan mata orang yang misterius itu, ia baru melihat bintik2, tapi si orang misterius sudah menyebutnya lebih dahulu. Suatu tanda kalau mata orang tersebut lebih lihay.

Bukan matanya saja yang lebih lihai, ilmu meringankan tubuhnya pun hebat. Otaknya luar biasa. Yen Yu San mengakui bahwa ia tidak unggulan.

Tidak lama, orang2 yang datang itu sudah terpeta jelas, jumlahnya enam orang.

Orang yang didepan adalah seorang kakek berpakaian putih, hidungnya bengkung. Itulah Kwee hu-huat dari partai Ngo-hong bun.

Dibelakang Kwee hu-huat turut serta empat orang, masing2 mengenakan pakaian merah, putih, hijau dan hitam, juga mengenakan kerudung muka yang sama warna, mereka adalah lengcu Panji Merah, Lengcu Panji Putih, Lengcu Panji Hijau dan lengcu Panji Hitam.

Seorang lagi adalah komplotan mereka, orang ini berbadan tinggi dan besar, kekar dan kuat, mengenakan pakaian warna biru, mempunyai bentuk potongan yang seperti Yen Yu San, berjenggot panjang seperti Yen Yu San, wajahnya belum terlihat, karena orang ini menggunakan tutup kerudung muka. Ya ! Ditempat itu, kecuali Kwee hu-huat, kelima orang lainnya menutup wajah2 mereka !

Yen Yu San tidak kenal kepada Kwee hu-huat, tapi ciri2 keempat macam warna pakaian orang yang datang itu membuatnya menduga, kalau ia sedang menghadapi anak buah perintah maut.

Begitu Kwee hu-huat berenam tiba, tidak jauh dari pohon tempat persembunyian Yen Yu San dan si tokoh misterius, tiba2 muncul dua bayangan hitam, memberi hormat kepada Yen Yu San dan berkata:

“Hamba A Coan dan A Tek memberi hormat kepada Kwee hu-huat."

Munculnya kedua bayangan yang bernama A Tek dan A Coan itu membuat Yen Yu San terkejut, kedua orang tadi sudah bersembunyi dirimba, mengapa dia tidak bisa mengetahui kapan datangnya dua orang itu? Beruntung Yen Yu San berbicara dengan si tokoh misterius secara menyalurkan suara dengan gelombang tekanan tinggi. Sehingga tidak bisa terdengar oleh kedua orang tadi. Kwee hu-huat mengulapkan tangan, ia bertanya kepada A Coan dan A tek, katanya:

“Kalian mendapat tugas jaga ditempat ini, apa ada sesuatu yang mencurigakan?"

“Tidak ada.” hampir berbareng A Coan dan A Tek menjawab.

“Cukup !" berkata Kwee hu-huat. “Kalian boleh kembali menjalankan tugas masing2."

A Coan dan A Tek mengundurkan diri, lenyap pula dibalik semak2 itu.

Kwee hu-huat memandang langit, mengurut jenggot dan berkata:

“Waktu baru saja kentongan dipukul satu kali, Yen Yu San sangat sok, tidak mungkin datang pagi2."

Diatas pohon, hati Yen Yu San berkata:

“Orang ini betul2 bisa menyelami sifat dan adat2ku, kalau bukannya ada seorang misterius yang memancing aku ke tempat ini, pasti harus menunggu tepat jam dua baru aku datang.”

Tiba2....

Dari jauh terdengar suara ketoprakannya kaki kuda, memang seekor kuda tunggangan meluncur datang, diatas kuda itu bercokol seorang, menuju ke arah Kwee hu-huat si penunggang kuda lompat turun dan berkata: “A Guk memberi hormat kepada Kwee hu-huat."

Kwee hu-huat memandang orang itu dan bertanya: “Apa Yen Yu San sudah berangkat?" A Guk menjawab:

“Baru saju hamba menerima laporan burung pos yang mengatakan Yen Yu San masih menenggak arak dirumah makan Kie-biao. Masih belum berangkat."

“Bagus." berkata Kwee hu-huat. “Terus awasi dirinya, begitu ada gerakan, segera beri laporan."

Orang itu mengiyakan, lalu melompat keatas kuda tunggangannya dan meluncur pergi lagi.

Yen Yu San menjadi heran, sudah terang ia tidak berada dirumah makan itu, mengapa orang tadi mengatakan masih menenggak arak seorang diri?

Pengalaman Yen Yu San juga pengalaman diplomatik ulung, berpikir sebentar dan ia bisa menduga sesuatu. Oh, ternyata orang misterius itu pula yang memegang lakon, pantas saja dia menyuruh aku keluar dari pintu belakang. Ternyata diapun sudah menyediakan komplotannya yang menyamar menjadi diriku, entah sandiwara apa pula yang hendak dipertontonkan?

Untuk memastikan dugaannya, menggunakan seluruh gelombang tekanan tinggi, Yen Yu San bertanya kepada si orang misterius di sebelah pohon: “Hei, apa tayhiap yang menyuruh orang menyamar menjadi diriku ?”

Terdengar suara jawaban si orang misterius : “Kalau tidak menggunakan taktik ini, bagaimana bisa mengakali mereka ?” Tidak jauh dibawah Yen Yu San dan orang misterius itu, berdiri Kwee hu-huat dan empat lengcu Panji berwarna beserta seorang berkerudung pula. Ini waktu tiba2 Kwee hu-huat mendongakkan kepala dan berkata keras : “Yen Yu San !”

Yen Yu San kaget, tubuhnya ber-goyang2, hampir ia jatuh dari atas pohon, sangkanya Kwee hu-huat sudah mengetahui kalau dia bersembunyi diatas pohon.

Dan ini waktu, dari semak lompat keluar seorang yang mengenakan jubah biru, orang yang mempunyai jenggot dan dedak perawakan seperti Yen Yu San membungkukkan badan, ia segera menyahut: “Hamba siap !"

Yen Yu San yang diatas pohon menjadi bingung, ia bergumam : “Masih ada lagi orang yang bernama Yen Yu San? Oh ! Ternyata si jubah biru itu mempunyai nama yang sama dengan namaku.”

Kwee hu-huat memandang ke si jubah biru dan berkata :

“Apa lengcu Panji Putih sudah menjelaskan urusan2 berikutnya ?"

“Sudah." berkata si jubah biru.

Kwee hu-huat menganggukkan kepala, ia sangat puas, dan ia berkata :

“Nah ! Kau boleh bersembunyi dibelakang pohon, nanti sesudah berhasil membunuh Yen Yu San, kau harus segera pergi ke kota Kim-leng, menggantikan kedudukan dirinya !" “Baik." orang yang mengenakan jubah biru itu segera mengundurkan diri, menghilang dari pandangan mata.

(Bersambung 13)