-->

Perintah Maut Jilid 11

 
Jilid 11

Bab 32

DATANGNYA Yen Yu San ditempat itu menambah ramainya suasana.

Kematian Yen Siu Lan juga melibatkan Benteng Penganungan Jaya !

Pendekar sastrawan besi Yen Siu Hiat berlompat girang, menyongsong kedatangan sang paman dan memberi hormat.

Si Hakim bermuka merah Yen Yu San membangunkan Yen Siu Hiat, kemudian memberi hormat kepada Put-im Suthay dan Ciok Beng Taysu.

Put-im Suthay, Ciok Beng Taysu dan Ciok Sim taysu membalas hormat itu.

Pul-im Suthay berkata : “Kedatangan Yen tayhiap kebetulan sekali, orang yang membunuh Yen Siu Lan sudah berada disini."

Si Hakim bermuka merah Yen Yu San mengalihkan pandangan matanya, tiba2 ia terbelalak, disaat melihat hadirnya si Jaksa bermata Satu Tan Siao Tian dengan gelar pendekar tiga daerah itu.

“Oh......” Yen Yu San memberi hormat kepada Tan Siao Tian, “Saudara Tan Siao Tian juga berada disini ?"

Nah ! Merekapun kenalan lama. Yen Yu San dengan gelar Hakim bertemu Tan Siao Tian dengan gelar jaksa.

Kalau Hakim bertemu dengan jaksa, biasanya lebih cepat terjadi keberesan !

Sebagai wakil Cin Jin Cin, Yen Yu San juga mengurus sesuatu yang berhubungan dengan benteng Penganungan Jaya. Lebih urusan2 sang datuk barat. Karena itulah ia sering berkelana dan banyak kenalan-kenalan diluar.

Salah satu orang yang dikenal adalah Jaksa bermata satu Tan Siao Tian.

Tan Siao Tian merajai rimba persilatan untuk tiga daerah, karena itu namanyapun tersohor. Ia juga tidak bisa melupakan nama wakil dari benteng Penganungan Jaya.

Membalas hormat Yen Yu San, Tan Siao Tian berkata: “Saudara Yen Yu San, bagaimana keadaanmu selama ini ?"

“Terima kasih." berkata Yen Yu San, “Sama2 baik.”

Sesudah itu, Yen Yu San menatap ke-arah Kang Han Cing imitasi, ia membentak keras: “Hei kau ini yang bernama Kang Han Cing ?” Tanpa gentar sedikitpun Kang Han Cing imitasi menganggukkan kepala dan menjawab: “Tidak salah, inilah aku.”

Yen Yu San melirik lagi kearah Kang Han Cing, bergantian. Disana ada dua Kang Han Cing, wajah mereka sama, potongan tubuh mereka sama, pakaian yang dikenakan sama, dan suaranyapun sama.

Karena itu si Hakim bermuka merah Yen Yu San menjadi bingung, Menoleh lagi kearah Kang Han Cing imitasi, dia bertanya: “Siapa lagi orang ini?"

Kang Han Cing imitasi tertawa kecil memperlihatkan dua baris giginya, dan berkata: “Ia juga bernama Kang Han Cing.”

Sepasang mati Yen Yu San dipelototkan, ia membentak : “Hei berani memper-olok2 diriku?"

Huttt......tangannya terayun dan mengeluarkan pukulan bacokan kearah Kang Han Cing imitasi.

Kedua kaki Kang Han Cing imitasi tidak bergerak dari posisi semula, ia hanya menggeser sedikit pundak, dan dengan cara yang aneh luar biasa itu, ia berhasil mengesampingkan serangan Yen Yu San yang luar biasa.

Kemarahan Yen Yu San semakin meluap-luap membentak keras dan berteriak : “Terima lagi serangan ini !”

Tangannya yang dibawah itu ditarik sebentar dan dijotoskan kedepan, kini mengancam ke arah dada Kang Han Cing imitasi. Sebagai orang kepercayaan Datuk Barat Cin Jin Cin, kekuatan Yen Yu San bisa mengimbangi kekuatan Datuk itu, adatnya juga berangasan dan cepat naik darah, diperolokan didepan orang banyak, kemarahannya me-luap2, serangannya selalu jitu dan cepat, kini ancaman itu luar biasa cepatnya.

Kang Han Cing imitasi tertawa dingin, ia tidak menjadi gentar. Juga tidak menjadi gugup. Tubuhnya bergeser kesamping, dengan tangan kanan menggunakan jurus Teng-tong yang-ho yang berarti air menutup sungai dan kali, menyodok serangan Yen Yu San dan dengan tangan kirinya, berulang menepok sampai tiga kali.

Tepokan tiga kali tangan itu terjadi saling susul menyusul, kecepatannya luar biasa, sehingga membuat orang bingung, yang mana datang lebih dulu dan yang mana datang belakangan ? Arahnya tidak sama, membingungkan orang.

Yen Yu San memiliki pengalaman2 tempur yang mahir, tapi belum pernah menghadapi tokoh silat seperti Kang Han Cing ini, ia terkejut, kedua pundaknya terangkat, dan lompat kebelakang.

Inilah kejadian yang belum pernah dialami oleh Yen Yu San.

Ia terdesak dalam waktu yang hanya dua gebrakan.

Kemarahan Yen Yu San meluap-luap, “Puih !" ia membentak, srettt.......mengeluarkan pedang dan ditusukan ke arah Kang Han Cing yang baru datang itu, ujung pedang itu ber-goyang2, telah mengancam sekitar kepala si pemuda berbaju hijau.

Kemanapun si Kang Han Cing imitasi mengelakan serangan, ujung pedang bisa membayangi dirinya.

Orang2 yang menonton segera memuji kehebatan si Hakim muka merah, rata2 mengeluarkan pujian.

Pujian di dalam hati ini cepat menjadi lumer, mana kala menyaksikan gerakan Kang Han Cing yang lebih hebat lagi, wing..... mereka kehilangan tubuh si pemuda, dan entah dengan cara bagaimana bayangan itu lenyap dari tempat asalnya, timbul kembali dibelakang Yen Yu San !

Bayangan yang baru itu tetap bergerak, memukul ke arah pundak Yen Yu San.

Yen Yu San juga lihay ! Tanpa melihat dengan mata, ia bisa menduga kalau musuh itu sudah berada dibelakang. Demikianlah untuk mengelakan sesuatu yang berada diluar dugaan, tubuh Yen Yu San melejit menjauhi Kang Han Cing, maka serangan Kang Han Cing imitasi mengenai tempat kosong.

Tapi Kang Han Cing imitasi ini bergerak cepat, bersamaan dengan itu ia sudah mendampingi Kang Han Cing asli, menggandeng tangan si pemuda dan berkata: “Saudara Kang mari berangkat."

Tanpa permisi kepada orang yang bersangkutan, Kang Han Cing imitasi ini menenteng Kang Han Cing asli, kedua bayangan itu meluncur, hanya tiga kali tutulan, dua bayangan sudah jauh dari orang2 tadi.

Yen Yu San membentak keras, tubuhnya mumbul tinggi meluncur dan mengarah si Kang Han Cing imitasi, ia berteriak: “Jangan lari !"

Put-im-suthay juga menggerakkan pedang, ia memberi komando kepada kawan-kawannya : “Kejar !"

Berlari dibelakang Yen Yu San, Put-im suthay bergerak, turut mengejar Kang Han Cing.

Ciok Beng taysu dan Ciok Sim taysu saling pandang, mereka juga turut meninggalkan tempat itu.

Pengejaran kepada kedua Kang Han Cing saling susul, gerakan mereka sama cepat, tapi ada yang dimuka mendahului ada yang dibelakang.

Tubuh Yen Yu San tinggi besar, tapi hal ini tidak mengurangi kecepatan, pedangnya membelah angkasa, pedang itu se-akan2 mengajak sang majikan mengejar dan menusuk ke arah Kang Han Cing imitasi.

Kang Han Cing yang ditusuk mengibaskan lengan baju, menggelintir pedang Yen Yu San.

Disaat pedang Yen Yu San hendak mengenai sasaran, satu kekuatan yang hebat mengenyimpangkan tenaganya, dan arah pedang menggeser kesamping kiri.

Kalau disamping kiri tidak ada sesuatu apa, hal itu tidak mengejutkan Yen Yu San, tapi disaat ini, Put-im taysu yang mengejar sudah tiba, pedang Yen Yu San terarah kepada Put-im taysu.

Tubuh Yen Yu San masih berada ditengah udara, bagaimana ia bisa menghindari bentrokan senjata, terpaksa dan apa boleh buat ia berteriak : “Suthay, awas !”

Kecepatan jago2 kelas satu itu adalah kecepatan angin puyuh, begitu teriakan Yen Yu San dicetuskan, kedua pedangpun sudah terbentur beberapa kali, trang.... tubuh pejabat ketua Penganungan itu terdorong, begitu juga sang ketua Ciok-cuk-am, masing2 termundur dua langkah.

Dengan menenteng Kang Han Cing, maka bobot berat si Kang Han Cing palsu menjadi bertambah, dan sesudah itu ia harus mengusir serangan Yen Yu San, kekuatan ini berkurang pula, mengurangi meluncurnya kaki, larinya agak lambat.

Ciok Beng taysu dan Ciok sim taysu tiba. Dari kanan dan kiri, mereka menggulung dan menghadang kepergiannya dua Kang Han Cing itu.

“Jangan pergi dulu !" bentak Ciok Beng taysu.

Alis mata Kang Han Cing imitasi yang lentik terangkat sedikit, ia membentak: “Minggir !"

Tangan kanannya terjelujur, cress.   membawa

desiran angin yang tiada terhingga membuat serangan kearah Ciok Beng taysu.

Ciok Beng taysu mengangkat tangan kiri, membantu serangan tongkatnya ditangan kanan, tongkat itu tergetar hampir lepas. Kekuatan serangan dari Kang Han Cing imitasi memang betul2 mengejutkan.

Kang Han Cing imitasi menoleh kearah Kang Han Cing asli, pandangan matanya bening dan jernih, ia berkata: “Saudara Kang, berangkat !"

Dengan tangan kiri masih menjinjing Kang Han Cing, ia melejit tinggi dan lompat melewati pertahanan Ciok Beng taysu dan Ciok Sim taysu.

Ciok Sim taysu memukul, Ciok Beng taysu mengayun tongkat, deru angin ini menambah kecepatan kedua Kang Han Cing, dua bayangan hijau meluncur melewati bayangan mereka, lenyap dibalik rimba.

Mengimpipun tidak pernah dibayangkan oleh Ciok Beng taysu, kalau kedua Kang Han Cing itu memiliki ilmu meringankan tubuh kelas satu, pukulannya berarti membantu usaha lawan melarikan diri, ia kemekmek dan kesima, melompongkan mulutnya.

Disaat ini, pedang Yen Yu San dan Put im taysu baru saja bentrok, kedua tubuh itu terpisah, terjadinya kejadian adalah di-saat2 yang bersamaan.

Sepasang mata Yen Yu San memancarkan sinar ke-api2an, ia membentak: “Uber lagi !"

Ciok Beng taysu sadar dari lamunannya, ia mencegah dan berkata: “Saudara Yen Yu San, percuma saja mengejarnya."

Put-im suthay mem-banting2 kaki berkata: “Masakan membiarkannya pergi begitu saja?" Ciok Beng taysu merangkapkan kedua tangan, berkata:

“Omitohud, jiewie berdua melupakan sesuatu ilmu kepandaian Kang Han Cing yang baru datang betul2 menakjubkan, bukan kita melemahkan kekuatan sendiri. Kalau betul2 bertempur, meskipun menggabung kekuatan2 kita yang ada di tempat ini, belum tentu bisa menandingi dirinya, ia adalah salah satu dari Barisan Pendukung Liu Ang Ciauw lama, mungkin juga keturunannya Liu Ang Ciauw.”

Liu Ang Ciauw adalah salah satu tokoh silat dari cerita ANAK PENDEKAR. Untuk mengenal tokoh2 silat dijaman silam, yang menjadi kakek moyang Kang Han Cing imitasi itu, para pembaca dipersilahkan mencari judul cerita ANAK PENDEKAR.

Yen Yu San bisa menyelami arti kata2 Ciok Beng taysu, kalau seorang jago Siauw-lim-pay yang mengatakan seperti itu, hal tadi bukanlah isapan jempol. Ia juga sudah menjajal kekuatan Kang Han Cing imitasi, berulang kali ia tidak berdaya sama sekali. Ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi di- awang2, bukanlah ilmu kepandaian yang bisa ditandingi oleh mereka.

Kemarahan Yen Yu San dan Put-im taysu berubah seperti balon yang kempes. Disaat ini mereka menoleh kebelakang dimana dari rombongan partai2 baru itu berada.

*** Bab 33

“Eh," CIOK BENG TAYSU terkejut. Memandang kearah Ciok Sim Taysu bertanya :

“Orang dari Partai Baru juga sudah berangkat?"

Ciok Sim Taysu merangkapkan kedua tangan dan berkata :

“Orang yang bermata satu Tan Siao Tian itu sudah mengajak orang2nya berangkat. Karena suheng tidak memberitahu sesuatu, mereka tidak mengganggu usaha kita, aku juga membiarkan kepergian mereka.”

Ciok Beng Taysu menganggukkan kepala dan berkata :

“Cara ini adalah cara yang terbaik."

Disaat ini tiba2 satu bayangan meluncur datang, orang itu adalah laki berpakaian ringkas, langsung menghadap Yen Yu San memberi hormat dan berkata :

“Lapor kepada cong-koan, dari daerah Kim-leng ada surat penting yang datang. Silahkan."

Kedua tangan orang itu mempersembahkan sepucuk surat kecil.

Cepat Yen Yu San menerima surat tadi, membaca secara tergesa2, tiba2 wajahnya berubah. Ia memberi hormat kepada jago yang berada di tempat itu dan berkata : “Maaf ! Yen Yu San meminta diri."

Sesudah berkata tadi, mengajak si laki2 berpakaian ringkas yang baru datang, si Hakim bermuka merah Yen Yu San meninggalkan orang2 ditempat itu.

Hanya seorang yang masih mempunyai rasa penasaran, inilah ketua Ciok-cuk-am Put im taysu. Dia uring2an karena orang yang membunuh Yen Siu Lan tidak bisa dibekuk. Membanting2 kaki dan berkata: “Kalau begini lagu2nya muridku itu menjadi korban percuma.”

Ciok Beng-taysu merangkapkan kedua tangan dan berkata: “Jangan suthay cepat naik darah, urusan ini harus diteliti sekali lagi. Untuk rimba persilatan diwaktu ini, bendung2 kebanjiran bahaya telah ada gejala yang kurang baik, mungkin kita harus menyerahkan kekuasaan kepada golongan tertentu. ”

Ciok Sim taysu memandang kearahCiok Beng taysu dan berkata: “Golongan dari partai baru yang suheng maksudkan ?”

Ciok Beng taysu berkata perlahan : “Partai Baru bukanlah kekuatan yang boleh dipandang ringan, tapi kekuatan ini bukanlah musuh kita. Menurut petuah ketua partai, beliau memberi pesan, kalau saja bertemu dengan jago2 dari Partai Baru, jangan sekali2 Siauw-lim-pay melibatkan diri, lebih baik jangan bentrok dengan mereka. ”

Put-im suthay mengeluarkan dengusan dari hidung, tidak henti2nya tertawa dingin. Ciok Beng taysu melanjutkan ceritanya : “Yang harus kita perhatikan adalah kekuatan dari golongan Perintah Maut itu."

Ciok Sim taysu bertanya : “Dari golongan mana pula kedua Kang Han Cing tadi?"

Ciok Beng taysu berkata: “Orang yang memalsukan diri sebagai Kang Han Cing tadi memiliki ilmu kepandaian tiga kali Kang Han Cing, para datuk2 selatanpun belum tentu mempunyai itu kekuatan. Kalau saja salah satu anggota atau Barisan Pendukung Liu Ang Ciauw meninggalkan daerah Tong-hay, wah ! Kita …..”

Wajah semua orang berubah.

Ciok Beng taysu berkata lagi: “Mari kita kembali ke gereja, memberi tahu kejadian ini kepada ketua.”

Demikian perkumpulan itu bubar.

***

Menceritakan kedua Kang Han Cing. Yang kita maksud dengan Kang Han Cing asli, tentu saja Kang jiekongcu, putra kedua dari datuk selatan Kang Sang Fung. Tangannya digandeng oleh Kang Han Cing imitasi, sebentar kemudian mereka sudah meluncur puluhan lie.

Disaat ini, Kang Han Cing berkata : “Nona, sudah boleh lepaskan peganganmu."

Kang Han Cing imitasi terkejut, matanya terbelalak, tangan yang memegang Kang Han Cing mengendur, dua sinar mata yang bening seperti kaca itu menatap wajah Kang Han Cing, ia berkata heran: “Kau.  "

Inilah sepasang mata yang serupa dengan sinar mata si gadis berbaju hijau Suto Lan.

Tidak berani menantang terlalu lama, Kang Han Cing menundukkan kepala, ia berkata: “Nona Suto Lan hendak membawa aku ke tempat apa?"

Kang Han Cing imitasi tertawa cekikikan, sesudah itu baru ia berkata: “Oh, yang dimaksudkan dengan nona Suto Lan tentunya kekasihmu, bukan?"

Kang Han Cing menatap Kang Han Cing imitasi itu, dengan geram bertanya: “Kau bukan Suto Lan?"

Lagi2 Kang Han Cing imitasi itu tertawa, tanpa mengurangi cahaya sinar matanya, ia berkata:

“Kukira saudara Kang salah mata, aku bukanlah orang yang saudara duga."

Baru sekarang Kang Han Cing sadar dari kesalahannya, Suto Lan menyamar menjadi wajah Kang Han Cing, orang ini juga menyamar menjadi Kang Han Cing. Sulit membedakan yang mana Kang Han Cing Suto Lan, dan yang mana Kang Han Cing yang baru.

Yang jelas, orang ini memiliki ilmu kepandaian silat yang jauh berada diatas dirinya. Hal mana tidak mungkin bisa disamakan dengan ilmu kepandaian Suto Lan. Ilmu kepandaian Suto Lan masih berada dibawah dirinya. Memandang kepada orang itu, Kang Han Cing bertanya : “Siapa saudara? Mengapa mengubah diri menyamar diriku ? Apa maksud tujuan itu ?”

Kang Han Cing imitasi itu tertawa dan berkata: “Disaat aku liwat ditempat tadi, kulihat kau berada didalam posisi terjepit, karena itu aku membuat penyamaran dan menolong dirimu."

Kang Han Cing menjadi ragu. “Kau kenal kepadaku?" ia bertanya.

Kang Han Cing imitasi itu tertawa lagi, memperlihatkan kedua baris giginya yang putih dan berkata :

“Kang jiekongcu mempunyai banyak kenalan, siapakah yang tidak kenal kepada jiekongcu ? Apalagi aku telah bertemu muka beberapa kali, masakan sudah lupa ? Beberapa kali kita sudah bertemu bukan ? Lupa kepada suaraku ?"

Kang Han Cing tidak bisa membedakan penyamaran jago silat luar biasa itu, ia bertanya lagi :

“Siapakah saudara ? Betul2 aku tidak ingat.”

Kang Han Cing imitasi itu menelepek selembar kulit tipis yang ditempelkan pada wajahnya, maka terpetalah wajah putih dan tampan, alis lentik, bibir mungil dan hidung mancung dengan kedua baris gigi yang putih, lagi-lagi ia tertawa.

Inilah pemuda luar biasa, orang yang pernah menyembuhkan Kang Han Cing di-kelenteng Pek- yun-kuan, orang yang mengaku bernama Tong Jie Peng! Ternyata orang yang menyamar Kang Han Cing di tempat ini adalah Tong Jie Peng !

Bukanlah Kang Han Cing palsu yang dia lihat. Kang Han Cing palsu yang jahat adalah samaran Suto Lan ! Dan Kang Han Cing ketiga adalah penyamaran Tong Jie Peng !

Memandang kearah Tong Jie Peng beberapa saat Kang Han Cing berlompat girang, menyekal kedua tangan kawan itu dan berkata : “Aaa. saudara

Tong Jie Peng, aku sudah kangen sekali."

Tong Jie Peng telah mengobati luka lemes Kang Han Cing, karena itu sedikit banyak Kang Han Cing tidak bisa melupakannya.

Membiarkan kedua tangan dipegang oleh Kang Han Cing, selebar muka Tong Jie Peng menjadi merah, ia berkata: “Kukira jiekongcu sudah lupa kepadaku.”

Per-lahan2 Kang Han Cing melepaskan pegangannya, ia berkata: “Budi saudara Tong Jie Peng mana bisa kulupakan? Dibalas beberapa kali pun tidak cukup."

“Jangan berkata seperti itu." berkata Tong Jie Peng tawar.

Kang Han Cing berkata: “Pertemuan kita yang pertama adalah dikota Koa-cou, diperahu itu, walau hanya berpapasan muka sepintas lalu, mulai saat itulah, hatiku tidak bisa tenang."

Tong Jie Peng mengalihkan posisi ke-samping, ia bertanya : “Apa keterangan jiekongcu keluar dari hati yang tulus ?” “Tentu saja dari hati yang tulus." berkata Kang Han Cing.

Wajah Tong Jie Peng memperlihatkan sikap yang senang, tapi alisnya masih dikerutkan, per- lahan2 ia berkata : “Perasaan yang sama pula terkandung didalam hatiku."

“Itu yang dinamakan jodoh." berkata Kang Han Cing. “Orang yang berjodoh memang cepat berkenalan.”

Tong Jie Peng menundukkan kepala !

Disaat terjadinya perpaduan kedua pasang mata, Kang Han Cing merasakan adanya daya tarik yang seperti ia pernah alami pada Suto Lan, bahkan lebih bersinar dari Suto Lan, dan lebih bermagnit dari pada daya tarik Suto Lan.

Banyak sekali kata2 yang hendak diucapkan, tapi begitu membentur sinar cahaya mata Tong Jie Peng, maksud tujuan Kang Han Cing kandas di tengah jalan.

Tong Jie Peng bisa melihat gerak mimik mulut Kang Han Cing, mulut ini sedianya sudah terbuka hendak mengucapkan sesuatu, tapi batal kembali. Karena itu, ia tersenyum sedikit dan berkata : “Saudara Kang Han Cing seperti hendak mengucapkan sesuatu, apakah yang terkandung didalam hatimu?"

Maka dengan memberanikan diri, Kang Han Cing berkata : “Siauwte hendak mengusulkan sesuatu." “Katakanlah.” berkata Tong Jie Peng tertawa kecil.

Kang Han Cing berkata : “Budi saudara Tong Jie Peng besar laksana gunung, dalam laksana lautan, karena itu.  ”

“Cukup," memotong Tong Jie Peng perlahan. “Sudah menjadi kewajiban manusia untuk saling tolong menolong, mengapa harus di-sebut2 terus menerus?”

Selebar wajah Kang Han Cing menjadi merah, menganggukkan kepala dan berkata : “Siauwte mempunyai perasaan kecocokan. Begitu kita bertemu, ada niatku untuk mengangkat saudara, entah bagaimana pendapat saudara Tong Jie Peng

?”

Tong Jie Peng menggigit bibir, berpikir beberapa saat, dan ia berkata: “Manusia hidup didalam dunia seperti air diatas daun, tak bisa bertahan lama, seperti perahu disungai, sebentar kemari, sebentar kesana, hidup tiada berketentuan, tapi kalau saudara ada niatan seperti itu, aku juga tidak akan menolak."

Hampir Kang Han Cing bersorak girang, ia berkata cepat: “Siauwte mempunyai harapan dengan harapan penuh ini bisa mengangkat tali persaudaraan. Inilah keberuntungan yang luar biasa."

Demikianlah, kedua orang itu mengangkat saudara. Mengikuti umur masing2. Kang Han Cing delapan belas tahun, Tong Jie Peng juga delapan belas tahun. Hanya selisih perbedaan bulan, Tong Jie Peng lebih tua tiga bulan.

Karena itu Kang Han Cing menjadi adik dan Tong Jie Peng menjadi kakaknya.

Kang Han Cing memberi hormat dan berkata: “Toako !"

“Jie-te !" Tong Jie Peng membalas hormat itu. Mereka merasakan kebanggaan tidak terhingga,

perpaduan hati dan kecocokan.

Satu saat Tong Jie Peng berkata: “Jiete, bagaimana keadaan nona Sutomu itu? Kukira sangat cantik, bukan ?"

“Toako jangan menggoda." wajah Kang Han Cing menjadi merah.

“Tunggu," berkata Tong Jie Peng. “Aku hendak mengetahui sedikit tentang dirinya."

Kang Han Cing berkata: “Siauwtee tadi menjatuhkan dugaan kepada Suto Lan, karena nona Suto Lan itu pernah menyamar menjadi diriku. Membunuh Yen Siu Lan didalam Ciok-cuk- am. Kemudian mengirim surat tantangan dan memancing Put-im suthay beserta Ciok Sim taysu, menghina kedua jago silat itu dikota Topeng Setan Kui-lien-san. Beruntung bisa siauwte saksikan, membikin pengejaran, di saat bergebrak dengan dirinya, siauwte terkena obat jahat. Dia melempar sapu tangan yang dipupuri obat pelemas badan, siauwte tertawan. Maka kedudukanku dengan dirinya adalah kedudukan musuh, bukan kawan." Tong Jie Peng meng-edip2kan mata dan berkata: “Aku tidak menanyakan musuh atau kawan. Yang kuingin ketahui ialah : Cantikkah nona itu?"

Kang Han Cing berkata: “Terus terang saja kecantikannya memang lumayan."

Tong Jie Peng tertawa, katanya : “Tentunya dia sudah terpikat kepadamu?”

Kang Han Cing meng-geleng2kan kepala berkata: “Mereka adalah anak buah Perintah Maut, golongan baru yang mempunyai pikiran sesat. Mengacaukan rimba persilatan. Nona itu pernah membujuk diriku untuk masuk jadi anggota mereka. Hal itu sudah kutolak. Kedudukanku tidak segaris dengan kedudukannya."

Tong Jie Peng berkata: “Kalau nona Suto suka kepadamu, tidak perduli benar atau salah, mengapa harus mengambil sikap bertentangan?"

Kang Han Cing menundukkan kepala. Beberapa saat mereka membeku, tiba2 Tong Jie Peng berkata, “Sayang sekali, guruku berpesan dan memberi perintah agar aku cepat kembali. Kalau tidak, ingin sekali kubisa menemui nona itu."

“Eh,” Kang Han Cing terkejut. “Toako hendak berangkat sekarang ?"

“Inilah perintah guruku, terpaksa harus berangkat sekarang."

“Sesudah keberangkatanmu ini, bila kita bisa berjumpa kembali?"

Kang Han Cing merasa berat untuk berpisah. Tong Jie Peng berkata: “Paling lama tiga bulan, kukira kita bisa berjumpa kembali."

“Begitu lama?" berkata Kang Han Cing.

“Kau sudah mewarisi sebagian besar dari ilmu kepandaian Pendekar Bambu Kuning. Untuk rimba persilatan di masa ini, tidak mudah untuk mengalahkan dirimu. Tapi ingat, masih tidak sedikit tokoh2 silat mandraguna dari golongan tua yang berkepandaian lihay, mereka itu menyembunyikan diri di-gunung2 dan di-lembah2, sesudah menyekap diri sekian lama, ada gelagat yang menyatakan mereka bosan kesepian, beberapa diantaranya tampil kembali. Tokoh2 silat penting inilah yang harus kau perhatikan."

Kang Han Cing terkejut, disebutnya nama Pendekar Bambu Kuning membuat ia berpikir beberapa kali, nama kependekaran sang guru baru diketahui sesudah ia hendak turun gunung, dan ia belum pernah menceritakan pada siapa pun tentang nama gurunya bagaimana sang toako bisa mencetuskan nama gurunya?

Ternyata Kang Han Cing adalah ahli waris dari Pendekar Bambu Kuning yang ternama.

Tong Jie Peng memancarkan cahaya sinar matanya yang bening dan jeli, ia berkata lagi:

“Menurut perkiraanku, mereka masih belum tahu asal usulnya. Hanya mereka tertarik kepada ilmu kepandaianmu yang lihai, mereka hendak menambah kekuatan2 dan mengajakmu menjadi salah satu anggota mereka. Karena itulah sengaja mereka membuat fitnah memilih Yen Siu Lan untuk dijadikan korban, tentunya Put-im suthay ber-jingkrak2, kematian Yen Siu Lan yang difitnahkan atas dirimu membawa ekor yang panjang, tiga ekor kekuatan raksasa dari tiga golongan kuat dirimba persilatan. Ekor pertama adalah gangguan ketua Ciok-cuk-am Put-im suthay, beserta dengan jago2 Ngo-bie-pay yang berdiri di belakangnya. Ekor kedua adalah kekuatan ketua Ceng-lian-sie Ciok Sim taysu beserta barisan Siauw-lim-pay yang berdiri dibelakangnya. Dan ekor ketiga adalah tekanan dari Yen Yu San beserta benteng Penganungan Jaya di belakang. Dengan adanya gencetan2 tadi, mereka memaksa dirimu mengasingkan diri, karena itu hanya ada satu jalan yang bisa mengelakan gencatan mereka, kau dipaksa memasuki   anggota   perkumpulan    Perintah Maut. "

“Inilah rencana musuh yang jahat." berkata Kang Han Cing.

“Ya! Rencana jahat !" Berkata Tong Jie Peng. Kang Han Cing menundukan kepala.

“Nah ! terimalah ini." Tong Jie Peng mengeluarkan sesuatu, diserahkan kepada Kang Han Cing, itulah berupa kedok kulit manusia yang sangat tipis.

“Benda ini penting bagi penyamaranmu." Tong Jie Peng memberi keterangan. “Wajah Kang Han Cing sudah harus lenyap dari permukaan rimba persilatan, gunakanlah wajah ini, maka kau bisa bebas bergerak, jangan sampai ekor2 panjang dan kuat itu menggencet dirimu, jangan sampai mereka mengetahui, dimana bersembunyinya Kang Han Cing."

Kang Han Cing menerima pemberian sang toako angkat, dibulak baliknya kedok tipis itu, maka dengan adanya kedok ini ia bisa melakukan penyamaran, ia bisa mengubah diri, melenyapkan Kang Han Cing dari tekanan2 Perintah Maut !

“Terima kasih. "

Dengan rasa terharu Kang Han Cing bersyukur kepada bantuan2 Tong Jie Peng. Yang sudah menyembuhkan luka2 lemasnya, kembali kini Tong Jie Peng memberikan bantuannya yang besar.

“Nah ! Selamat bertemu dilain waktu.” Tong Jie Peng tertawa, dan meninggalkan Kang Han Cing.

“Toako....." Kang Han Cing berteriak dibelakang sang kakak angkat itu. “Biar kuantar sebentar!"

Tong Jie Peng membalikan kepala, tersenyum sebentar dan berkata : “Waktu masih panjang, lain kali kita pasti berjumpa kembali."

Sesudah itu tubuhnya melejit dan terjadilah kilatan bayangan hijau, Tong Jie Peng lenyap di balik semak dan lenyap didepan pandangan mata Kang Han Cing.

Kang Han Cing mematung lama ditempat itu, memandang kearah lenyapnya Tong Jie Peng. Tiba- tiba ia teringat sesuatu, cepat2 mengenakan kedok penyamarannya, sesudah ini meluncur dan menggunakan ilmu meringankan tubuh, balik ke tempat penghadangan tadi. ***

Bab 34

DISANA, tidak satu bayanganpun yang tampak. Orang2 dari partai baru sudah tiada. Rombongan dari Put-im Suthay dan kawan2 juga sudah tiada.

Kang Han Cing berkerutkan alis dan berkata : “Oh. kemana pula kepergian mereka?"

Kang Han Cing harus menjauhi diri dari rombongan Put-im Suthay dan kawan2 tapi ia harus berusaha membongkar fitnah2 jahat itu. Fitnah lebih jahat dari pada pembunuhan biar bagaimana ia harus mencuci bersih fitnah tersebut.

Siapa yang menjadi musuh utama ?

Golongan Perintah Maut ?! Ya ! Ia harus menyelidiki kemisteriusan dari golongan Perintah Maut.

Dua kekuatan baru didalam rimba persilatan itu adalah golongan Perintah Maut dan Partai Baru.

Partai Baru mengambil markas di lembah baru, kalau saja ia tidak bisa menemukan lembah yang bernama Lembah baru itu, tidak mudah mencari markas besar kekuatan tersebut.

Jenazah ayahnya hilang. Dan hal ini tidak mungkin buah tangan dari golongan Perintah Maut. Hanya ada satu kemungkinan, pasti mempunyai hubungan erat dengan partai baru. Ia harus menyelidiki di mana adanya rombongan yang bernama Partai Baru itu.

Kang Han Cing memeriksa bekas2 tapak roda, jejak itu menuju kearah barat, inilah jejak kereta partai baru. Hati Kang Han Cing bersorak girang, dengan adanya jejak tadi mungkinkah dia tidak bisa menemukan jejak partai baru ?

Demikianlah Kang Han Cing mengikuti jejak kereta itu, membayangi gerak gerik partai baru.

Pada masa itu, jarang sekali ada jalan aspal, ter- lebih2 diluar kota, tidak mudah menemukan jalan yang baik.

Kereta yang hendak membawa Kang Han Cing ke lembah baru berjalan diatas semak2 rumput, rumput2 itu masih basah, maka terdapat bekas gelinding roda. Mengikuti adanya garis ini, Kang Han Cing meluncur cepat.

Belasan lie kemudian, jejak roda kereta masih menuju ke arah barat, berjalan ke jalan raya.

Kang Han Cing tidak mau ambil pusing, kemana larinya kereta itu, kembali melewati kota dan melewati gunung, ia memperhatikannya dengan baik2 dan meneliti jejak2 tadi.

Hari menjelang sore, jejak kereta menuju kearah sebuah desa.

Kang Han Cing mendongakkan kepala, dia sudah berada didaerah Kui-lien-shia. Wah ! Kang Han Cing menjadi pusing kepala, jejak itu menuju kearah barat, ke arah kota Kim-leng. Mungkinkah kembali ke kota Kim-leng kembali ?

Kemarin hari, Kang Han Cing memperhatikan baik2, mereka baru saja meninggalkan kota Kim- leng dan tiba di tempat yang ia tidak ketahui, dan mungkinkah desa Kui lien-shia ?

Kalau betul dari Kim-leng ke Kui-lien-shia, dan melakukan perjalanan sehingga dicegat oleh rombongan Put-im suthay dan kawan2, tentunya mereka itu menuju Lembah Baru.

Dimana letak Lembah Baru ? Kang Han Cing belum tahu.

Karena ter-buru2 Kang Han Cing telah mengikuti jejak kereta ini, terakhir jejak kereta kembali ke desa Kui-lien shia.

Mungkinkan salah raba? Ia memilih jejak kereta menuju ke tempat itu ?

Tidak mungkin ! Kang Han Cing mengingat betul2 hanya ada sebuah jejak ini.

Maka jawabannya tidak sulit, tentu kereta itu balik kembali !

Mengapa balik kembali ? Karena sudah kehilangan Kang Han Cing? Mengapa harus kembali ke desa Kiu-lien-shia?

Sampai ditempat ini, Kang Han Cing tidak menemukan jejak kereta tadi, jejak itu lenyap tanpa bekas.

Kang Han Cing putus asa. Tapi timbul pikiran lain, ia tidak bisa menyanggah si Jaksa Bermata Satu, Tan Siao Tian.

Timbul pikiran lain, Kang Han Cing pernah terjebak di gedung Liong-tan dan menurut cerita Put-im suthay gedung Liong-tan ini adalah salah satu tempat eks warisan Cen-yen piauwki, sesudah pemimpin piauwki Ban Cen San meninggal dunia, tempat ini sangat misterius sekali.

Menurut pengalaman Kang Han Cing, gedung Liong-tan itu, adalah sarang dari golongan Perintah Maut. Mengapa tidak kembali ke tempat itu? Atau menyelidiki jejak rombongan dari Partai Baru? Boleh juga sekalian menyelidiki golongan Perintah Maut ?

Karena sudah menggunakan kedok kulit pemberian Tong Jie Peng, Kang Han Cing tidak segan2 memasuki kota. Sesudah menangsal perutnya, sebelum hari menjadi gelap sekali, ia melangkahkan kaki menuju ke arah gedung Liong- tan.

Dengan ilmu lari cepat Kang Han Cing yang tiada tara, jarak itu tidak terlalu jauh. Sebentar kemudian ia sudah balik kembali ke gedung Liong- tan.

Terbentang di muka mata Kang Han Cing, sebuah gedung yang megah di tengah2 kegelapan, tidak ada api penerangan dan tidak ada cahaya lampu.

Kang Han Cing memiliki kecerdikan, ia tidak segera memasuki gedung itu, dengan memperhatikan keadaan gedung itu, hatinya berpikir :

“Aku harus hati2. Daerah ini berada di bawah kekuatan musuh. Tentu banyak mata2 mereka."

Dengan setengah merayap, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun Kang Han Cing mendekati gedung Liong-tan.

Kang Han Cing melewati rimba di muka gedung Liong-tan itu tanpa ada gangguan.

Hal ini mengherankan Kang Han Cing, bagaimana tidak ada gerakan musuh ?

Kang Han Cing betul2 berada dimuka gedung, ia bisa memasang telinga dengan teliti, kecuali angin malam, tidak sedikit suara terdengar di tempat itu. Menyesuaikan keadaan dengan kegelapan, tanpa adanya penerangan, menambah seramnya gedung.

Pemuda kita bernyali besar, dia menyedot napasnya dalam2, memumbulkan badan dan melompati tembok gedung itu kemudian melejit, dan berada diatas wuwungan rumah, per-lahan2 melongok kebawah.

Disana terdapat kamar kecil, inilah kamar yang pernah digunakan oleh Suto Lan. Tapi tidak ada lampu penerangan.

Hati Kang Han Cing masih ber-pikir2, mungkinkah Suto Lan belum balik ke rumah ?

Ia lompat ke bawah, betul2 tidak ada orang.

Mendorong pintu kamar, dan di sana ia berdiri. Keadaan gelap gulita, tapi hal itu tidak mengganggu Kang Han Cing, matanya yang lihai menyapu ke seluruh kamar.

“Aaaaah….”

Hampir Kang Han Cing berteriak, karena apa yang disaksikannya, jauh dengan apa yang sudah dibayangkannya.

Mengapa ?

Kamar ini adalah kamar yang pernah digunakan olehnya, kamar yang telah diteliti dengan seksama, kamar yang tidak asing. Itulah kamar yang telah digunakan oleh Suto Lan, kamar yang telah dihuni olehnya.

Keadaan kamar memang tidak berbeda, seperti apa yang telah Kang Han Cing saksikan dan sesudah Kang Han Cing bayangkan.

Toilet, meja dan kursi masih ada.

Tapi yang membuat bulu tengkuk Kang Han Cing bangun menggerinding, bukanlah benda2 tersebut, karena pada permukaan tempat tidur, permukaan meja dan permukaan kursi penuh dengan debu tebal melapisi tempat itu.

Suatu tanda bahwa tempat ini tidak pernah ditiduri dan kamar ini tidak pernah terpakai dalam waktu2 yang cukup lama. Paling sedikit setengah tahun !

Dan yang lebih luar biasa lagi, disana sini timbul galagasi, kawa2 berkerayap diatas sarang2 itu. Mungkinkah kumasuki rumah setan?

Bulu2 roma Kang Han Cing bangun kembali, terlebih takut.

Teringat akan rumah setan itu, bagaimana ada seorang wanita cantik yang menjelma hidup menggunakan kamar setannya, mengemasi laki2, mungkinkah Suto Lan mengemasi dirinya? Suto Lan itu bukan manusia?

Tapi Kang Han Cing bukan Kang Han Cing kalau ia seorang penakut, otaknya mengilmiah sesuatu dengan tepat, maka jelaslah sudah, permainan apa yang dipertontonkan oleh golongan Perintah Maut itu, maka para penjahat menggunakan gedung ini untuk membuat fitnah. Tentu saja harus diketahui jelas mereka harus menutupi semua jejak2 itu dan merubah tempat yang ada.

Untuk membuktikan dugaannya, Kang Han Cing meninggalkan kamar Suto Lan yang sudah lama tidak digunakan, maka menuju ke arah ruangan si orang tua berbaju hijau.

Orang tua itu adalah ayah angkat Suto Lan, dan dikatakan sebagai pemimpin gedung ini.

Seperti keadaan kamar Suto Lan, ruangan yang pernah digunakan oleh orang tua berbaju hijau juga penuh dengan debu, suatu tanda bahwa tempat ini lama tidak dihuni.

Bukan lama tidak digunakan. Sesudah Suto Lan dan ayah angkatnya berangkat, mereka mengembalikan keadaan seperti asal mulanya, se- olah2 tempat ini lama tidak digunakan.

Rencana pembunuhan Yen Siu Lan untuk membuat air keruh, menarik kekuatan Siauw-lim- pay, Ngo-bie-pay dan Benteng Penganungan Jaya untuk menggencet Kang Han Cing.

Tentu saja harus membuat situasi yang sempurna harus memaksa Kang Han Cing mempernahkan diri agar tergencet keluar, dan menyerah kepada Perintah Maut.

Nah ! Disini letak kepintaran rombongan Perintah Maut. Bisakah Kang Han Cing yang mengadakan pembelaan dan mengatakan kepada Put-im Suthay membuktikan kalau ia telah ditawan dalam gedung ini.

Siapa yang percaya kalau menyaksikan keadaan gedung itu seperti keadaan sudah lama tidak terpakai?

Kang Han Cing mengertek gigi, golongan Perintah Maut dengan fakta2 yang seperti itu telah menjerumuskan dirinya kedalam lembah kenistaan.

Bagaimana Put-im Suthay dan kawan2 bisa percaya kepada keterangannya? Dengan bukti2 yang ada itu?

Disaat Kang Han Cing sedang berdaya upaya untuk memecahkan problim yang sulit itu, telinganya yang tajam dapat menangkap suara sesuatu, itulah suasa kiplikan sayap burung. Betul saja ! Seekor burung merpati baru saja berjalan dan mengibrik2kan kedua sayapnya dengan maksud terbang pergi.

Kang Han Cing melejit, tangannya diraihkan, gerakan si pemuda lebih cepat lagi dari pada gerakan burung itu, baru saja burung merpati melayang terbang, kecepatan tangan Kang Han Cing menyusulnya, meraih dan berhasil menangkap kaki burung tersebut.

Dengan membawa burung merpatinya, Kang Han Cing memperhatikan baik2. Betul saja, dugaannya tidak salah, pada ujung kaki sang burung terikat sebuah tabung kecil, didalam tabung terdapat gulungan kertas.

Dan ketika Kang Han Cing membuka kertas tadi, terbacalah tulisan yang berbunyi seperti ini.

“Sebelum jam lima pagi, dengan mengajak semua anak buah, harus berkumpul di puncak Tay-biao-hong."

Tidak ada tanda tangan, dan juga tidak ada identitas, pada ujung surat itu hanya ada sebuah tanda code merah.

Kang Han Cing menggunakan otaknya mengilmiah kejadian itu, ternyata ayah angkat Suto Lan telah memberi perintah kepada rombongan yang berada di gedung ini, agar mereka bisa berkumpul di puncak Tay biao-hong sebelum hari menjadi pagi.

“Tay-biao-hong !" Kang Han Cing meng-ingat2 nama ini. Dimanakah letak Tay-biau hong ? Ia harus bisa tiba dipuncak Tay biao-hong sebelum jam lima pagi mengikuti jejak mereka dan mencari tahu keadaan mereka.

Karena adanya penemuan yang seperti itu tubuh Kang Han Cing melejit dan meninggalkan gedung Liong-tan.

Baru saja Kang Han Cing lompat turun dari tembok gedung, baru saja ia meletakkan kakinya di semak2 pohon, daya tangkap pendengarannya yang lihai segera tahu bahwa ada sesuatu pendatang baru. Karena itu cepat2 bersembunyi, dengan menahan napasnya memperhatikan keara pendatang2 baru itu.

Betul saja ! Lima bayangan meluncur dengan kecepatan kilat, sebentar kemudian sudah berada tidak jauh dari Kang Han cing berada. Rombongan itu menghampiri gedung Liong-tan, orang yang berada di paling depan adalah Put-im Suthay, kemudian Ciok Beng taysu dan Ciok Sim taysu, dua lagi adalah Yen Siu Hiat dan Liauw In nikouw.

Mereka tidak segera memasuki gedung Liong- tan, memperhatikan gedung dalam malam gelap itu.

“Heran !" terdengar suara Ciok Sim taysu. “Kalau saja ada orang didalam gedung tentunya mereka membuat kesiap siagaan, mengapa begitu sunyi ?”

Terdengar Put-im taysu berkata: “Mengapa Ciok- sim taysu percaya kepada obrolan si Maling tukang petik daun muda itu ? Menurut hematku, berita ini hanya isapan jempol. Didalam gedung tidak ada orang.”

Ciok Sim taysu berkata: “Mari kita masuk kedalam, kita saksikan apa yang ada disana."

Dengan dingin Put-im suthay berkata : “Tentu saja harus masuk ke dalam.”

Kang Han Cing berkerut alis. Kedatangan rombongan Put-im suthay ditempat ini akan lebih mempersulit kedudukannya. Kalau saja dirinya dipergoki, apa yang hendak dikatakan kepada mereka ?

Rasa takut Kang Han Cing itu membuat ia gelisah. Dan Ciok Beng taysu memang lihay, ia bisa menangkap adanya tanda2 yang mencurigakan dibalik semak2 pohon itu, terdengar Ciok Beng membentak, “Siapa !?"

Mengetahui jejaknya sudah didengar orang, Kang Han Cing melejitkan kaki. Tanpa menolehkan kepala, menggunakan segala kesempatan yang ada, Kang Han Cing meninggalkan gedung Liong- tan menuju ke arah puncak Tay-biao-hong.

Puncak Tay biao-hong adalah tempat yang ditunjuk oleh pimpinan Perintah Maut kepada rombongan Suto Lan. Kang Han Cing harus menyelidiki tempat tersebut.

Kecepatan lari Kang Han Cing lebih cepat dari seekor burung, begitu bentakan Ciok Beng taysu dicetuskan, secepat itu pula tubuhnya terbang. Manakala rombongan Put-im taysu dan kawan2 sadar akan kekurangannya, bayangan tadi sudah meluncur jauh. Tidak bisa dikejar lagi.

Put-im suthay, Ciok Sim taysu dan Ciok Beng taysu tidak membikin pengeyaran. Disebabkan karena:

Kesatu, mereka hendak menyelidiki gedung Liong-tan dari perusahaan Cen-yen piauwki.

Kedua, gerakan Kang Han Cing terlalu gesit, mereka tidak mengetahui siapa orang itu.

Ketiga, walaupun mereka mengejar, dengan kegesitan demikian itu tidak mungkin dicapai, karena itulah mereka membiarkan kepergian Kang Han Cing, walaupun dengan rasa penuh kemasgulan dan tidak puas.

Kang Han Cing berhasil menghindari kerewelan. Put-im suthay dan kawan2, walau pertemuan itu terjadi, tokh mereka tidak bisa mengenali wajahnya, mengingat ia telah menggunakan kedok kulit muka pemberian Tong Jie Peng.

Yang penting, ia harus segera berada di puncak Tay-biao-hong. Menyelidiki jejak golongan Perintah Maut.

Dengan kecepatan lari Kang Han Cing, sebentar kemudian ia sudah berada dibawah gunung Tay- biao-hong.

Puncak Tay-biao-hong bukanlah daerah sempit, sangat luas dan banyak pepohonan, di sini Kang Han Cing mengalami kesulitan pula, kemana ia harus mencari tempat yang dituju? Tiba2....

Dari jauh tampak bayangan bergerak dengan cepat menaiki puncak Tay-biao-hong.

Kang Han Cing menduga kepada anak buah Perintah Maut. Karena itu cepat2 ia bersembunyi.

Betul saja ! Orang2 yang datang adalah orang2 berseragam baju hijau, dibawah pimpinan seorang yang juga mengenakan pakaian hijau, menggunakan tutup kerudung hijau.

Semua orang menggunakan tutup kerudung muka, maka tidak bisa menyaksikan wajah2 mereka.

Gerakan rombongan dari orang2 berbaju hijau sungguh gesit, sebentar kemudian mereka lewat di muka tempat sembunyi Kang Han Cing.

Hampir Kang Han Cing berteriak girang, ia segera menduga kepada lengcu Panji hijau. Ternyata lengcu Panji Hijau mendapat tugas untuk berkumpul di puncak Tay biao hong, bertemu dengan pimpinan2 tertinggi mereka.

Sebentar kemudian iring2an lengcu Panji Hijau itu sudah melewati tempat sembunyinya. Jumlah mereka 24 orang, semua berseragam hijau.

Gerakan mereka sangat cekatan, tapi tidak menimbulkan banyak suara.

Menunggu sampai sembilan belas orang itu lewat Kang Han Cing mendekati orang yang berjalan paling terakhir, dengan gerak kaki yang tiada tara ia menubruk dan menotok. Tanpa bisa dielakan, menyeret orang tersebut ke balik semak2, cepat2 ia menerotoli pakaian orang itu, membuka tutup kerudung lalu dipakainya sendiri.

Iring2an itu mempunyai tugas penting, mereka bergerak tanpa menoleh kanan dan kiri, mereka bergerak cepat, mereka tidak mengetahui kalau salah satu anggotanya telah dipereteli orang.

Sesudah selesai mengenakan pakaian hijau dan berkerudung hijau, Kang Han Cing lari menyusul. Ia mengikuti iring2an itu.

Orang2 itu berada dibawah pimpinan lengcu Panji Hijau, mereka bergerak cepat tanpa menengok kanan dan ke kiri, ter-lebih2 tidak pernah menengok ke belakang. Hal ini memudahkan Kang Han Cing melakukan penggantian orang.

Belasan lie dilewatkan, mereka melewati dua puncak, di suatu pohon yang agak besar, lengcu Panji Hijau memperlambat langkahnya.

Ternyata semua anak buah itu turut berhenti, semua berbaris rapi, menunggu perintah lengcu Panji hijau.

Lengcu Panji Hijau menyapu kepada anak buahnya, sinar matanya melewati lubang yang berada pada tutup kerudung itu, ia memperhatikan kesemua anak buahnya, se-olah2 menghitung jumlah yang datang.

Tampak ia sangat puas, menganggukkan kepala dan berkata: “Nah ! Kita istirahat disini." Suara itu adalah suara seorang wanita, suara yang tidak asing bagi Kang Han Cing, itulah suara si gadis berbaju hijau Suto Lan !

Ternyata lengcu Panji Hijau adalah Suto Lan ! Semua anak buah Suto Lan berdiri tegak,

siapapun tidak berani banyak bersuara.

Kang Han Cing turut diantara rombongan itu, dia juga tidak berani berteriak.

Lengcu Panji Hijau Suto Lan celinguk ke kanan dan celinguk ke kiri, se-olah2 menunggu sesuatu.

Beberapa waktu dilewatkan, jauh didepan rombongan itu tampak cahaya sinar hijau.

Cahaya lampu hijau itu bisa dilihat oleh Suto Lan, ia mengulapkan tangan memberi komando dan menggerakan pula pasukannya, mereka menuju ke arah cahaya lampu.

Cahaya lampu hijau seperti lampu bantu, menuntun rombongan dari lengcu Panji Hijau dan dua puluh empat orang itu secara berbaris rapi, menuju kearah puncak.

Sebentar kemudian mereka telah berada diatas puncak Tay-biao-hong. Dan lampu hijau itupun padam tiba2.

Lengcu Panji Hijau Suto Lan menghentikan langkahnya, diikuti oleh anak buahnya. Semua berbaris kembali.

Rombongan orang2 berbaju hijau kini sudah berada di depan sebuah bangunan yang berbentuk kelenteng dikelilingi oleh pohon2 yang seperti pohon cemara.

Angin men-deru2 diatas puncak Tay-biao hong, malam masih gelap pekat.

Tiba2 terdengar suara bentakan, dibarengi dengan munculnya seseorang.

“Ada membawa tanda pengenal ?"

“Pengenal Panji Hijau," jawab Suto Lan dan menyerahkan sesuatu kepada orang itu.

Karena semua orang mengenakan pakaian serba hijau dan mengenakan tutup kerudung muka, kemisteriusan ini semakin bertambah, mereka hanya membutuhkan tanda pengenal dan tidak memperlihatkan wajahnya.

Sesudah memeriksa tanda pengenal Panji Hijau, orang itu bertanya lagi: “Berapa orang yang dibawa?"

“Jumlah anggota Panji Hijau berjumlah duapuluh tiga orang."

“Baik." berkata orang itu, “masuk !"

Maka iring2an duapuluh tiga orang panji hijau, satu persatu memasuki bangunan kelenteng.

Kang Han Cing adalah orang yang terakhir memasuki bangunan tersebut, melewati pelataran yang luas, melewati pohon2 yang ditanam dalam bangunan itu, akhirnya tiba diruangan bangunan dalam, disana terdapat jalan2 batu menuju ke ruangan besar. Untuk masuk ke tempat ini bukanlah suatu yang mudah, empat orang berseragam yang juga mengenakan tutup kerudung muka, memeriksa dan meneliti, se-olah2 menghitung jumlah yang dibawa oleh Suto Lan. Memeriksa tanda2 pengenal yang tergembol pada pinggang masing2, dan kedua puluh empat orang itu bebas untuk masuk ke dalam ruang besar.

Beruntung Kang Han Cing tidak melempar sesuatu dari pakaian orang yang disergapnya, ia mencopot pakaian orang itu dan mengenakannya semua, terdapat juga tanda pengenal yang berada dipinggang. Ia lolos ujian.

Sesudah memasuki ruang besar itu, dari lubang tutup kerudung mukanya, Kang Han Cing bisa menampak dua barisan yang sudah berada disana.

Barisan pertama adalah orang2 yang mengenakan pakaian seragam berwarna merah, berpakaian merah dan berkerudung merah. Tentunya lengcu Panji Merah.

Barisan lainnya adalah orang2 yang mengenakan pakaian serba putih berkerudung putih, tentunya lengcu Panji Putih.

Baru sekarang Kang Han Cing sadar, bukan saja ada lengcu Panji Hijau, lengcu Panji Hitam, juga tersedia lengcu Panji Putih dan Lengcu Panji Merah.

Kini rombongan Suto Lan dengan Panji hijaunya berdiri berbaris diantara kedua barisan yang sudah ada. Jauh didepan ketiga barisan itu terpasang empat lilin besar, menerangi ruangan disana.

Tiga kursi kebesaran terpasang pada panggung, kursi2 itu tersedia untuk para pemimpin Perintah Maut.

Kang Han Cing memasang mata lebar, dari ketiga kursi hanya satu yang terisi seorang tua berhidung bengkung duduk pada kursi di sebelah kiri. Itulah ayah angkat Suto Lan.

Dan kedua kursi lainnya masih kosong. Suatu tanda kalau pimpinan tertinggi dari Perintah Maut belum datang.

Barisan Panji Hijau, Panji Putih dan Panji Merah masih menunggu kehadiran sang pemimpin. Tidak seorangpun yang bersuara.

Beberapa waktu lagi, terdengar suara derap kaki banyak orang memasuki ruangan besar, yang datang adalah rombongan berbaju hitam, juga berkerudung hitam, itulah barisan dari Panji Hitam.

Seperti juga barisan Panji Hijau, barisan Panji Hitam mengikuti garis2 yang sudah ditentukan, menanti disana.

Empat barisan dengan empat warna seragam berdiri didepan ayah angkat Suto Lan, orang tua ini menjadi pimpinan sementara untuk golongannya.

Setengah jam kemudian... Dari luar kelenteng terdengar suara berteriak: “Bikin penyambutan atas kedatangan Sam- kiongcu."

Maka semua orang berdiri dengan lebih tegap, ayah angkat Suto Lan juga meninggalkan tempat duduknya menyambut didepan.

Dari depan kelenteng berjalan datang memasuki ruangan empat dayang perempuan, dua dikanan dan dua dikiri, masing2 menenteng lampu gantung, per-lahan2 mendekati tempat yang tersedia.

Di-tengah2 empat dayang perempuan itu berjalan seorang berkerudung berbaju hijau, orang ini lebih aneh lagi, mukanya tidak tertutup oleh kerudung hijau, tapi menggunakan topeng perunggu yang berwarna hijau.

Semua orang membungkukkan badan, tidak berani memandang kehadirannya si orang bertopeng perunggu hijau.

Itulah Sam-kiongcu !

Kang Han Cing juga tidak berani memandang terlalu lama, mengikuti gerakan semua orang, ia membungkukkan badan, matanya masih bisa melirik kearah si gadis bertopeng perunggu, orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pemimpin Perintah Maut itu.

Badan orang tadi tidak tinggi, tapi gerakannya sangat cekatan, topeng perunggu berwarna hijau itu sangat menakutkan, se-olah2 hantu jejadian. Dan dibelakang orang bertopeng perunggu hijau turut seorang kakek berpakaian putih tapi tidak mengenakan tutup kerudung muka, dari cara2nya dan sinar mata orang itu membuktikan bahwa ia memiliki sifat2 yang ganas.

Ayah Suto Lan segera memberi hormat kepada si topeng perunggu hijau dan berkata : “Hamba memberi hormat kepada Sam-kiongcu."

Orang bertopeng perunggu hijau membalas hormat itu dengan setengah bungkukkan badan, ia berkata: “Suto pangcu tidak perlu menggunakan banyak peradatan."

Suara si topeng perunggu hijau sangat garing dan merdu, itulah suara seorang gadis yang baru meningkat dewasa.

***

Bab 35

TERNYATA pucuk pimpinan tertinggi dari Perintah Maut adalah seorang gadis cantik, belia, seorang gadis yang mengenakan topeng menutupi wajah cantiknya, topeng perunggu berwarna hijau yang sangat menakutkan !

Ayah angkat Suto Lan menoleh kearah orang tua berbaju putih, ia juga memberi hormat: “Oh! Kwee hu-huat juga turut serta?"

“Sama2." Orang tua berbaju putih yang dipanggil Kwee hu-huat itu membalas hormat ayah angkat Suto Lan. Dari percakapan mereka, Kang Han Cing berpikir : “Si kakek yang baru datang berkedudukan hu-huat, ayah angkat Suto Lan berkedudukan pangcu, tapi kedudukan mereka hampir seimbang."

Maka si topeng perunggu hijau Sam-kiongcu duduk di-tengah2 diapit oleh Suto Cang dan dua orang tua berbaju putih yang dipanggil Kwee hu- huat itu.

Suto Cang adalah ayah Suto Lan.

Empat dayang gadis berdiri dibelakang mereka. Kini terdengar suara pangcu Perintah Maut Suto

Cang berkata :

“Suto Cang tidak tahu atas kedatangan Sam- kiongcu, maaf atas penyambutan yang kurang sempurna."

Si topeng perunggu hijau berkata: “Tahukah tancu apa maksud undangan ke tempat ini?"

“Hamba belum tahu,” jawab Suto Cang.

“Aku mendapat   tugas   dari   Toa   kiongcu. "

berkata si kerudung topeng perunggu hijau.

“Oh...." orang tua berbaju hijau, ayah angkat Suto Lan yang bernama Suto Cang memandang dengan sinar penuh tanda tanya.

“Oh...” Kang Han Cing juga mengeluh. Ternyata Sam Kiongcu bukan pimpinan tertinggi. Diatasnya masih ada seseorang yang bernama Toa Kiongcu !

Sam-kiongcu berkata lagi : “Toa kiongcu menganggap usaha Suto pangcu sangat berat. Selama setahun tugas telah dilaksanakan dengan baik. Karena itu aku mengucapkan banyak terima kasih."

Dan sesudah itu, dari dalam saku bajunya Sam kiongcu mengeluarkan sepucuk surat, diserahkan kepada Suto Cang dan berkata : “Petunjuk2 berikutnya dari Toakongcu berada disini, silahkan Suto pangcu membaca sendiri."

Suto Cang sangat menghormat kepada Sam kiongcu, dengan kedua tangan menyambut surat tadi, per-lahan2 mengambil isi dan membaca, wajahnya segera berubah, membungkukkan badan dan berkata: “Hamba akan segera menjalankan perintah.”

Mengikuti pembicaraan mereka sampai disini, Kang Han Cing mendapat gambaran yang lain, gambaran dari seluk beluk perkumpulan rahasia yang berada didepannya.

Ketua Perintah Maut bernama Suto Cang !

Perintah Maut masih bernaung di bawah lain kekuasaan yang lebih besar. Itulah kekuasaan Sam Kiongcu dan Toa Kiongcu. Siapa Toa Kongcu dan siapa Sam kiongcu? Organisasi apa lagi yang bisa mengendalikan Perintah Maut dengan Empat Panji Berwarnanya.

Ayah Suto Lan yang bernama Suto Cang mendapat tugas ditempat ini, dan kini mendapat perintah baru dari pimpinan Toa-kiongcu. Perintah apakah itu?

Kang Han Cing memasang kuping lebih panjang. Terdengar lagi suara si topeng perunggu hijau Sam-kiongcu berkata: “Toa kiongcu sangat percaya kepadamu. Karena itu ia memberi tugas rangkap sebagai pimpinan daerah Kang-lam. Hanya sifatnya sementara, sekarang tugas Suto pangcu masih dibutuhkan di pusat, Toa kiongcu masih mengharapkan kehadiranmu. Disana masih ada tugas2 baru."

Terjadi     pergeseran      mutasi      kekuasaan.

Pengambil alihan kekuasaan !

Kang Han Cing masih berpikir2, pimpinan tertinggi daerah sini adalah Suto Cang. Sesudah Suto Cang digeser pergi, siapa yang menggantikan kedudukannya ? Bisakah Suto Cang menerima begitu saja? Tanpa pertempuran? Tanpa pengorbanan berdarah?

Ketua Perintah Maut Suto Cang mengangkat kepala. “Baik." ia berkata. “Hamba segera menyalankan perintah."

Dia rela menyerahkan kekuasaan.

Sam-kiongcu bangkit dari tempat duduk, ia berkata : “Biar kuantar Suto pangcu ke markas besar.”

“Terima kasih." berkata Suto Cang.

Sesudah itu, lagi2 ia memberi hormat, lalu mengundurkan diri.

Disaat yang sama, pengawal pribadi Sam kiongcu, seorang tua berbaju putih yang dipanggil Kwee hu-huat bangkit dari tempat duduknya, ia memberi komando kepada semua orang : “Semua anak buah Perintah Maut berdiri tegak

!"

Maka semua orang yang berada di tempat itu

menghormati pengunduran diri Suto Cang.

Keempat pimpinan panji berwarna, panji merah, panji putih, panji hijau dan panji hitam turut mengantar Suto Cang sehingga di luar.

Sesudah ketua Perintah Maut Suto Cang meninggalkan ruangan itu, para pemimpin panji kembali ke tempatnya lagi.

Si topeng perunggu duduk kembali ditempat kursi kebesarannya, memandang kepada keempat barisan panji2. Sesudah itu ia menoleh ke belakang, membisiki sesuatu kepada salah satu dayang perempuannya.

Maka dayang perempuan itu tampil kedepan, ia memberi komando: “Sam-kiongcu mempersilahkan lengcu Panji Merah tampil ke depan."

Lengcu Panji Merah mengiakan perintah tersebut, berjalan beberapa tapak, memberi hormat dan berdiri dihadapan si topeng perunggu hijau.

“Teecu memberi hormat kepada Sam susiok." demikian ia berkata.

Lengcu Panji Merah menjadi keponakan murid si topeng perunggu hijau Sam-kiongcu ?

Inilah rahasia baru. Rahasia yang Kang Han Cing baru saja ketahui.

Terdengar suara Sam-kiongcu yang sangat dingin : “Bangun !" Lengcu panji Merah itu bangkit, siap menerima petuah2.

Sam-kiongcu berkata : “Ceritakan keadaan di Datuk timur."

***

Bab 36

NAH ! UPACARA MULAI menyingkap tabir-tabir yang lebih misterius. Kang Han Cing memasang kuping lebih tajam. Datuk Timur, bernama Sie See Ouw, kedudukannya seimbang dengan Datuk Selatan dan Datuk Utara.

Terdengar suara si Lengcu Panji Merah dari balik kerudung mukanya.

“Datuk Timur Sie See Ouw menutup pintu. Tidak menerima tamu. Mengurung dirinya membuat lingkungan kecil. Sebulan sekali mengadakan pembelian barang-barang makanan, sesudah itu mengurung diri dalam perkampungan Sie pula. Tidak pernah keluar, dan tidak berhubungan dengan dunia luar. "

Sam kiongcu berkata : “Lebih singkat lagi !"

Lengcu Panji Merah menyambung laporannya yang terputus tadi : “Dari keempat Datuk Persilatan, hanya datuk timur Sie See Ouw yang sulit dijejaki. Menurut cerita orang, Sie See Ouw sangat mahir didalam bentuk2 bangunan, kampungnya dipagari dengan barisan2 tin. Karena itulah, Suto pangcu pernah memberi instruksi agar kita bisa menyelaminya. Agar. "

“Huh !" Sam kiongcu mengeluarkan suara dengusan dari hidung. “Inilah rencana Suto pangcu yang salah. Terlalu yakin dan percaya kepada kekuasaan Datuk Timur. Tapi terlalu ber-hati2, karena itu kita memutasikan dirinya, kau sebagai murid tertua dari partai Ngo-hong-bun tentunya mengerti kesulitan2 kita, kalau saja tidak bisa menyelidiki benih2 empat Datuk Persilatan, kalau saja tidak bisa menguasai keempat Datuk2 itu, tidak mungkin kita bisa menguasai daerah Tiong- goan.”

Lain rahasia baru. Lengcu Panji Merah adalah murid tertua dari partai Ngo-hong-bun. Kekuatan yang mendalangi Perintah Maut adalah Partai Ngo hong-bun !

Golongan Perintah Maut adalah golongan dari suatu organisasi yang dibangun oleh partai Ngo- hong-bun.

Kang Han Cing bergumam seorang diri: “Ternyata mereka adalah anak buah partai Ngo- hong-bun. Mereka ingin menguasai empat datuk persilatan? Wah ! Betul2 mereka mempunyai hasrat2 yang tidak baik."

Lengcu panji Merah menundukkan kepala.

Dengan wajah topeng perunggu hijaunya, Sam kiongcu memancarkan kilatan cahaya mata, ia bertanya kepada lengcu Panji Merah, “Berapa lama waktu yang kau butuhkan ?" Lengcu Panji Merah semakin gugup, ia berkata : “Teecu telah ber-siap2 lama, mempernahkan orang2 pada toko dan orang2nya yang menjadi relasi datuk timur, begitu orang mereka mengadakan kontak, kita bisa memasuki perkampungan Datuk Timur, tapi.  ”

“Tapi apa hasilnya ?” Sam kiongcu memotong pembicaraan orang. “Kapan kau bisa berhasil? Terlalu lambat ! Tidak mungkin. Toa Kiongcu memberi intruksi baru. Bereskan saja siapa yang tidak bisa kita gunakan. Siapa yang tidak bisa dirangkul menjadi kawan, itulah lawan ! Kepada lawan kita tidak perlu sungkan2 lagi, bunuh saja ! Beres ! Perkampungan Datuk timur mempunyai kekuasaan apa ? Kuberi jangka waktu sebulan untuk membikin pemberesan. Hancurkan kampung Datuk Timur."

Lengcu Panji Merah membungkuk setengah badan, ia menerima perintah itu, “Baik !"

Si topeng perunggu hijau Sam-kiongcu mengibaskan tangan. “Nah ! Kau boleh mengundurkan diri." ia memberi perintah.

Lengcu Panji Merah mengundurkan diri, balik ke barisannya. Berdiri dihadapan anak buah berseragam dan berkerudung merah.

Sam-kiongcu, menoleh kearah dayang perempuannya yang menjadi protokol dan dengan cara itu ia berkata perlahan.

Dan dayang perempuan ini segera berteriak kearah keempat barisan : “Dipersilahkan Lengcu Panji Putih menghadap." Lengcu Panji Putih meninggalkan rombongan, memberi hormat kepada Sam-kiongcu.

Si topeng perunggu hijau Sam-kiongcu menatap Lengcu Panji Putih itu, ia berkata : “Bagaimana keadaan didatuk barat ?"

Dengan hormat dan patuh, lengcu Panji Putih memberi laporan: “Datuk Barat Cin Jin Cin mengurung diri didalam benteng Penganungan Jaya. Tiga tahun yang lalu Cin Jin Cin meninggalkan benteng dan melenyapkan diri, entah kemana kepergiannya. Demikian sehingga hari ini. Belum ada berita tentang ketua benteng itu. Semua kekuasaan dipegang oleh si Hakim bermuka merah Yen Yu San..”

Dengan sikap yang tidak sabaran, Sam-kiongcu membentak : “Cukup ! Aku tidak membutuhkan keterangan panjang lebar. Hendak kuketahui, bagaimana hasil tugasmu?"

Lengcu Panji Putih berkata: “Karena kekuasaan Datuk Barat ditangan si hakim bermuka merah Yen Yu San, Suto pangcu tidak berani bergerak banyak. Teecu diperintahkan untuk membawakan sikap yang lebih ber-hati2, menurut info yang kita dapat, Yen Yu San memiliki ilmu silat yang tinggi dan mempunyai hubungan baik dengan Ngo-bie- pay dan Siauw-lim-pay, maka sesudah terjadi perundingan, Suto pangcu juga setuju, kalau. "

“Mengulur waktu ?" potong Sam-kiongcu dingin.

Lengcu Panji Putih menganggukkan kepala dan berkata : “Panji Putih memberi usul lain," berkata lengcu panji itu. “Dan juga telah disetujui oleh Suto pangcu. Rencana ini mengikuti perkembangan didaerah kita. Seperti apa yang kami ketahui, ilmu kepandaian Kang jiekongcu dari Datuk Selatan terlalu tinggi, karena itu kita bisa menggunakan tenaganya menghancurkan Datuk Barat. Sehingga mereka saling gebrak, inilah yang dinamakan tipu muslihat melempar batu berpeluk tangan. Sesudah mereka terjadi saling bentrok, maka hasil dari melempar batu sembunyi tangan ini lebih baik dari pada langsung bergebrak. Lebih mudah memancing diair keruh."

Kang Han Cing yang mengikuti percakapan tadi memaki didalam hati: “Bah ! Hendak memancing diair keruh, rencana melempar batu menyembunyikan tangan? Enak saja. Kalian hendak menggunakan diriku? Mimpi !"

Terdengar lagi suara Sam kiongcu: “Apa pula hasil yang sudah kau kerjakan?"

Lengcu Panji Putih berkata: “Kedatangan si Hakim bermuka merah Yen Yu San ke daerah Kim- leng disertai dengan putrinya, disaat Yen Yu San berangkat, maka teecu sekalian telah menyeret putri Cin Jin Cin ini. ”

(Bersambung 12)