--> -->

Perintah Maut Jilid 09

 
Jilid 09

TIDAK lama sejak Put-im suthay dan Ciok Sim taysu tiba ditempat itu, tiba2 terdengar satu suara yang garing tertawa, katanya :

“Selamat datang kepada Put-im suthay dan Ciok Sim taysu, Kang Han Cing sudah menunggu lama.”

Put-im suthay dan Ciok Sim taysu menoleh kearah datangnya suara itu, disana berdiri seorang pemuda berbaju hijau dengan alis lentik wajahnya tampan, tertawa memandang mereka, itulah Kang Han Cing.

Ciok Sim taysu merangkapkan kedua tangan memberi hormat dan berkata :

“Omitohud ! Membuat siecu menunggu lama."

Put-im suthay belum pernah bertemu muka dengan Kang Han Cing, ditatapnya pemuda itu sekian saat, dan ia bertanya dingin.

“Kau inikah yang bernama Kang Han Cing?" “Betul ! Aku yang bernama Kang Han Cing.” “Manusia terkutuk," berkata Put-im suthay,

“Masih berani kau menemui orang?"

Alis lentiknya Kang Han Cing terjingkat, ia tersenyum kecil berkata :

“Eh, datang2 memaki orang? Undanganku bukan ditujukan untuk kalian berbuat seperti itu. Gunakanlah sedikit etiket baik."

“Manusia durjana, sesudah memperkosa dan membunuh muridku, apalagi yang kau mau." Memang adat Put-im suthay agak aseran, mentang2 berkepandaian silatnya tinggi, maka sering menghina orang. Mau menang sendiri. Apa lagi didalam persoalan ini, ia memang harus mendapat kemenangan, ia harus segera menyingkirkan orang yang sudah memperkosa dan membunuh muridnya.

Kang Han Cing ter-senyum2. Put-im suthay membentak lagi :

“Hayo ! Masih mau menyangkal ? Hendak putar lidah ? Akuilah perbuatanmu, kau sudah memperkosa dan membunuh muridku, bukan ?"

“Baiklah," berkata Kang Han Cing tertawa. “Aku mengakui, aku tidak menyangkal lagi. Yen Siu Lan sudah kuperkosa, Yen Siu Lan sudah kubunuh mati. Apa lagi yang kau mau? Apa yang kau bisa lakukan kepada Kang Han Cing ?”

“Tidak menyangkal lagi ?" berkata Put-im suthay.

“Tidak perlu menyangkal. Kalian bisa apa ?" berkata Kang Han Cing menantang.

Srettt . . . .

Put-im suthay sudah mencabut keluar pedangnya, dihadapi Kang Han Cing dengan gemas geregetan ia berkata :

“Akan kucincang seiris demi seiris tubuhmu, baru bisa melampiaskan rasa sakit hatiku."

“Inikah kata2 seorang biarawati?" “Lekas keluarkan pedangmu. Mari kita bertempur tiga ratus jurus." berkata Put im suthay.

“Eh, masih berani menantang?” berkata Kang Han Cing.

Ciok Sim taysu berkerut alis, ia merangkapkan kedua tangan, menyebut nama Budha dan berkata

:

“Sabar ! Kuharap suthay menjadi sabar. Kedatangan kita ketempat ini atas undangannya. Tanyakan dahulu, apa maksudnya mengundang datang ?"

Put-im suthay berkata:

“Sudah kau dengar sendiri, dia mengakui semua perbuatan itu, bukan? Apalagi yang hendak ditanya?"

Dengan tertawa Kang Han Cing berkata: “Kuundang jiehui berdua ketempat ini, karena

aku hendak memberi sedikit keterangan."

“Lekas katakan keteranganmu itu." berkata Put- im suthay dingin.

Kang Han Cing tidak segera lekas2 mengucapkan suaranya, lebih dahulu ia meng- gibrik2kan bajunya yang kena debu, sesudah itu dengan sepatah demi sepatah ia berkata:

“Kang Han Cing belum pernah melakukan sesuatu dengan dibawah ancaman, maka kalau mau mendengar keteranganku, simpan dahulu pedang itu. Agar tidak membawa mesiu peperangan." Put-im suthay geregetan sekali, tapi apa boleh buat, ia menancapkan pedangnya di tanah, sesudah itu ia berkata :

“Nah ! Lekas katakan, keterangan yang hendak kau beritahu !"

Kang Han Cing tertawa kecil, memandang kedua jago silat itu lalu berkata:

“Jiewie berdua telah berkunjung ke gedung keluarga Kang ?"

“Tidak salah." berkata Ciok Sim taysu. “Kami baru saja meninggalkan rumahmu.”

“Mengapa pergi kesana ?" bertanya Kang Han Cing.

Dengan marah Put-im suthay berkata :

“Kau telah melakukan suatu perbuatan nista, aku kesana mencarimu untuk meminta pertanggungan jawab !"

“Sekarang aku sudah berada didepan jiewie berdua, bukan?" berkata Kang Han Cing menantang.

Put-im suthay berkata:

“Kau adalah putra kedua dari Datuk selatan Kang Sang Fung, kalau tidak mengunjungi gedung keluarga Kang, kemana harus mencari dirimu?"

Kang Han Cing berkata:

“Kuberi peringatan keras, untuk selanjutnya jangan sekali2 mengacau gedung keluarga Kang. Jangan sekali-kali mengganggu ketenangan keluargaku. Jangan sekali2 mengganggu toako. Kalau saja....hem..... hem... jangan katakan Kang Han Cing keterlaluan."

Nada suara Kang Han Cing menjadi begitu congkak dan terkebur, sangat temberang.

Ciok Sim taysu merangkapkan kedua tangan dan berkata :

“Omitohud, apa hanya kata2 ini yang hendak siecu keluarkan ?"

“Masih mau apa lagi ?" berkata Kang Han Cing. “Omitohud." berkata Ciok Sim taysu. "Lolap kira

akan mendengar keterangan yang lebih penting, ternyata hanya pepesan kosong."

Kang Han Cing berkata :

“Kalau kalian percaya dan yakin kepada ilmu kepandaian sendiri, kalau kalian bisa memenangkan diriku, langsung saja membuat perhitungan dengan aku, jangan mengganggu toako, jangan mengganggu gedung keluarga Kang."

“Bocah kurang ajar," bentak Put-im Suthay, “sampai dimanakah tingginya ilmu kepandaianmu, berani menantang orang? Baik. Aku hendak mencoba, sampai dimana ilmu kepandaian Kang jiekongcu."

Betul2 Put-im taysu melaksanakan ancamannya, ia mencabut kembali pedang yang tertancap di tanah, siap menempur Kang Han Cing. Kang Han Cing memang bermaksud menempur kedua orang itu, sengaja memancing insindent2 ia berkata:

“Apa hanya seorang saja? Lebih baik maju berbareng."

Kecepatan Put-im suthay begitu hebat, tanpa menunggu selesainya ucapan Kang Han Cing, ia mengayun pedang menabas sepasang kaki pemuda ugal2an itu.

Sebagai seorang saudara ketua partai Ngo-bie- pay, Put-im suthay mendapat nama yang cukup harum, tidak kalah dibelakang nama Bu Houw taysu, gerakan ilmu pedangnya begitu cepat, mengancam dengan jitu.

Gerakan Put-im suthay sangat cepat, tapi gerakan Kang Han Cing juga sangat cekatan, wingg..... serangan pedang itu lolos dari bawah ujung kaki.

“Ha, ha….” Kang Han Cing tertawa, Sreet…. dia juga menghunus pedang.

Put-im suthay tidak mau banyak bicara lagi, giliran pedang yang bicara ia menyabet, menusuk, dan membacok.

Semakin lama, tekanan cahaya pedang itu semakin rapat, se-olah2 sudah mengurung seluruh jalan Kang han Cing.

*** Bab 22

DENGAN bajunya yang berkibar-kibar, Kang Han Cing mengelakan setiap serangan. Berputar disekitar tempat itu, tidak hentinya tangan menyebar sesuatu.

Bagaikan bayangan seseorang, Put-im suthay mengikuti larinya pemuda itu.

“Bocah terkutuk." Put-im suthay memaki, “hanya sampai disinikah ilmu kepandaianmu ?”

Satu saat, cahaya pedang berobah menjadi enambelas batang, menuju kearah batok kepala Kang Han Cing, inilah ilmu kebanggaan Put-im Suthay !

Kang Han Cing menggelengkan kepala dengan satu cara yang tidak mudah dilihat, ia berhasil mengelakan datangnya ancaman maut. Sesudah keluar menerobos kepungan cahaya pedang, ia mulai mengayun senjata, mulutnya berkata :

“Nenek tua, inilah serangan balasanku."

Tubuhnya menyempong kesamping, tangannya dijulurkan kedepan, maka pedang itu bergerak dari jurusan yang sulit diduga, menyerang Put-im suthay.

Put-im suthay juga termasuk salah seorang ahli pedang, melihat cara2 gerakan Kang Han Cing, hatinya tercekat, serangan yang seperti itu tidak boleh ditangkis, jalan yang terbaik adalah mengelakan. Mengenjot tubuh, Put-im suthay lompat kebelakang. Giliran Kang Han Cing yang mengambil inisiatif penyerangan, berulang kali menusukkan senjatanya.

Agak repot juga Put-im suthay mengelakkan datangnya serangan2 itu. Tiba2 ia rasakan perubahan sesuatu, tenaganya banyak berkurang.

Dengan tertawa Kang Han Cing berkata :

“Nenek tua, hanya sampai disini sajakah ilmu kepandaianmu ?"

Situasi berubah, dunia berputar. Kalau dalam serangan pertama tadi Put-im suthay mendesak dan merangsak Kang Han Cing, kini keadaan telah berputar seratus delapan puluh derajat, Kang Han Cing yang memegang inisiatif mengancam dan mendesak lawannya.

Put-im Suthay berusaha mengelak dan menangkis serangan itu, agak sulit juga, semakin lama tenaganya semakin pudar.

Kang Han Cing menusuk lagi !

Put-im suthay mengertak gigi, menyentilkan pedangnya, menukik dan menghajar. Indah ilmu kepandaian terakhir, ilmu kepandaian simpanan yang sering membuat mematahkan semangat lawan.

Sebagai seorang ahli pedang puluhan tahun, Put-im Suthay mengancam delapan jalan darah Kang Han Cing. Kalau saja salah satu dari ancaman itu mengenai sasarannya, tubuh Kang Kan Cing akan terkapar di tanah. Kang Han Cing tertawa dingin, pundaknya terangkat, menangkis datangnya serangan itu.

Tranggggg….

Pedang Put-im suthay diterbangkan !

Secepat itu pula, Kang Han Cing meneruskan serangan, menotok jalan darah Put-im suthay.

Tubuh Put-im suthay jatuh ngusruk di tanah, dia bingung memikirkan kejadian2 tadi, bagaimana dengan mendadak sontak tenaganya bisa lumer dan lembek? Apa yang telah terjadi? Karena itulah, tanpa ada pegangan kekuatan, pedangnya diterbangkan Kang Han Cing. Tentu telah terjadi sesuatu.

Menyaksikan jatuhnya sang kawan, Ciok Sim taysu terkejut, ia melejitkan tubuh menyelak di tengah dan membentak:

“Kang Han Cing, jangan kau main gila !”

Kang Han Cing memperlihatkan sikapnya yang angkuh dan sombong, melirik kearah Ciok Sim Taysu dan berkata :

“Nah ! Kini giliranmu !”

Jarak Ciok Sim Taysu dan Kang Han Cing sudah sangat dekat, padri tua itu menganggukan kepala berkata :

“Baik. Giliranku yang hendak meminta pelajaran."

Kang Han Cing telah menjatuhkan Put-im suthay dalam waktu yang sangat singkat, hal ini membuat Ciok Sim taysu tidak berani memandang ringan kepada lawannya. Ia lebih berhati-hati, menyedot napasnya dalam2. Dicurahkan kearah kedua telapak tangan, siap menghadapi pertempuran.

“Aaaaah.......” Tiba2 saja Ciok Sim Taysu tercekat, tangannya tidak bisa diangkat, wajahnya berubah, ia telah terkena semacam racun yang tidak terlihat, karena itu seperti keadaannya Put- im Suthay yang tidak bisa memegang pedangnya, kekuatan Ciok Sim taysu juga lenyap, karena adanya sesuatu yang berada di luar dugaan ini, sepasang matanya memandang wajah Kang Han Cing, menduga kalau putera dari keturunan Datuk Persilatan itu main gila, si padri mengeluarkan bentakan :

“Kang Han Cing, berani kau main gila? Racun apa yang sudah kau tebarkan kepadaku ! Mengapa menjadi seperti ini ?"

Kang Han Cing menengadahkan kepala, tertawa dingin dan berkata :

“Lucu ! Apa2an kau ini ?”

Dengan mengertak gigi Ciok Sim taysu berkata : “Kang Han Cing, kau telah membuat perkosaan

melakukan pembunuhan, masih berani menaburkan racun kepadaku dan Put-im suthay? Betul2 jahat, betul2 jahat….”

“Tutup mulut !" bentak Kang Han Cing. “Berulang kali kau berlaku tidak sopan. Akan kubunuh dirimu." Pedangnya disodorkan kedepan, menjurus kearah Ciok Sim taysu.

Betapa lihaypun ilmu kepandaian Ciok Sim Taysu, karena ia sudah mendapat taburan obat racun lemas, tanpa bisa dielakan, pedang Kang Han Cing menotok jalan darahnya.

Gedebrok, ia jatuh di tanah.

“Ha, ha, ha....." Kang Han Cing tertawa besar, menudingkan jari kearah Put-im suthay dan Ciok Sim taysu, ia berkata :

“Ha, ha.... tokoh2 Ngo-bie-pay dan Siauw-lim- pay, hanya seperti ini sajakah kepandaianmu ! Kalau betul2 kalian mempunyai ilmu kepandaian, langsung berhadapan dengan aku, jangan kau mengganggu saudaraku lagi. Jangan berani2 mengganggu gedung keluarga Kang, heee!"

Wajah Put-im suthay pucat pasi, peredaran jalan darahnya membeku, ia tidak bisa bergerak, hanya mulutnya yang masih mendapat kebebasan ia mengumpat caci.

“Manusia terkutuk. Durjana, sudah memperkosa orang, membikin pembunuhan, berani kau menghina lagi ? Bah ! Hayo ! Kalau kau mempunyai keberanian, bunuh aku sekalian."

Sepasang mata Kang Han Cing berkilat-kilat ia berkata:

“Maksudku bukan hendak membikin pembunuhan, tapi...kau sendiri yang minta mati, baiklah. Kau kira aku takut kepada Ngo-bie-pay, lebih baik kuputuskan sepasang telingamu untuk memberi peringatan. "

Secepat itu pula, pedang Kang Han Cing melayang, meluncur kearah kepala Put-im suthay, dengan maksud membabat sepasang telinga biarawati itu.

Disaat ini, satu bayangan meluncur datang, mulutnya berteriak keras:

“Jiete, jangan!"

Bayangan yang datang adalah putra tertua dari gedong keluarga Kang, Kang Puh Cing!

Kang Han Cing mendongakkan kepala, mengenali siapa yang datang, segera ia berdehem keras, melirik kearah Put-im suthay Ciok-sim Taysu lalu berkata:

“Sepasang telinga masih beruntung!"

Sesudah itu, Kang Han Cing melejitkan kaki meluncur kearah utara, meninggalkan Kang Puh Cing.

Kang Puh Cing segera berteriak : “Jietee. "

Tapi Kang Han Cing tidak menghiraukan panggilan itu, meluncur lari pergi !

Kang Puh Cing menghampiri Put-im Suthay dan Ciok Sim taysu, ia berkata :

“Eh, bagaimana bisa terjadi kejadian yang seperti ini ?"

Ciok Sim taysu menyebut nama budha berkata : “Kedatangan Kang toakongcu sangat kebetulan. Lolap dan suthay ini telah diracuni oleh adikmu, menderita keracunan dalam."

“Ah..." Kang Puh Cing terkejut, “Betul ? jiete. "

Disaat ini, lain bayangan lagi meluncur datang, ia memotong pembicaraan Kang Puh Cing.

“Seharusnya toakongcu bisa membedakan, orang tadi bukanlah Kang Jie kongcu yang asli !"

Orang yang datang belakangan ini adalah pendekar cerdik pandai Goan Tian Hoat.

Kang Puh Cing terkejut, hatinya tergetar, dengan memaksa tertawa ia menoleh kearah Goan Tian Hoat dan berkata:

“Eh mengapa saudara Goan datang turut serta?" Dengan tertawa Goan Tian Hoat berkata:

“Untuk menjaga sesuatu dari ketidak-beresan, dengan membawa beberapa orang kita, kita selalu siap untuk membantu."

Apa yang Goan Tian Hoat kemukakan memang betul terjadi. Empat orang laki2 berpakaian ringkas dengan golok dipinggang lari mendatangi, mereka adalah anak buah gedung keluarga Kang.

Kang Puh Cing menganggukkan kepala berkata: “Put-im   suthay   dan   Ciok   Sim   taysu   telah

menderita keracunan dalam, mari kita menggotong

dan menolong mereka."

*** Meninggalkan cerita Kang Puh Cing, Goan Tian Hoat, dan orang2 gedung keluarga Kang yang membawa Put-im suthay dan Ciok sim taysu kembali ke gedung datuk persilatan daerah selatan.

Menyusul jejak bayangan Kang Han Cing yang melesat kearah utara ini.

Tidak lama dari berkelebatnya bayangan Kang Han Cing, dari balik semak2 muncul pula lain bayangan, mengikuti bayangan Kang Han Cing didepan.

Yang mengherankan, bayangan yang dibelakang juga adalah bayangan Kang Han Cing, ada dua Kang Han Cing, sampai di sini sudah waktunya kita membuka sedikit tabir rahasia, bayangan yang didepan adalah benar Kang Han Cing palsu yang dikatakan oleh Goan Tian Hoat tadi dan bayangan yang dibelakang adalah Kang Han Cing yang asli, yang palsu adalah orang yang sudah membunuh Yen Siu Lan divihara Ciok-cuk-am, dan bayangan yang dibelakang adalah Kang Han Cing aseli, hendak membekuk lehernya si penjahat, mencari tahu dengan alasan apa orang hendak mencelakakan dirinya.

Dua bayangan itu saling meluncur, yang didepan cepat, tapi Kang Han Cing mengikuti dengan ber-hati2, agar jejaknya tidak kelihatan oleh orang yang dibuntuti.

Waktu sudah menjelang sore, pohon2 sudah tunduk kebawa, matahari sebagian sudah berada di bawah tanah. Mereka masih meluncur dengan kecepatan maksimum.

Semakin lama hari menjadi gelap, tiga puluhan lie telah mereka liwatkan.

Tidak jauh lagi, didepan tampak semak2 pohon belukar, dimana ada cahaya lampu yang dipasang, itulah sebuah bangunan, bangunan di tengah2 semak belukar.

Kang Han Cing palsu melesatkan diri memasuki tempat bangunan itu.

Kang Han Cing asli menyedot napasnya dalam2, ia tidak membiarkan musuhnya lewat lepas begitu saja, juga harus dijaga agar tidak diketahui orang, kalau ia membuat pembuntutan.

Ia juga turut masuk kedalam gedung itu.

Hampir disaat yang bersamaan, kedua orang tadi memasuki gedung didalam rimba belukar.

Orang yang didepan langsung menuju ke arah pekarangan, langkahnya diarahkan ke kamar bagian selatan. Disana tampak lampu penerangan.

Kang Han Cing mengawasinya dengan mata tidak berkesiap.

Sebentar kemudian, si Kang Han Cing palsu sudah mengetok jendela, suaranya sangat perlahan sekali.

Tidak lama jendela terbuka, disana tampak seorang gadis pelayan berpakaian hijau menongolkan kepalanya dan bersorak girang :

“Nona baru kembali ?” “Ya !" orang yang menyamar menjadi Kang Han Cing adalah seorang wanita, maka gadis pelayan ini memanggilnya sebagai nona.

Kang Han Cing palsu segera lompat masuk kedalam kamar itu. Dan sekejap kemudian, jendelapun sudah ditutup kembali.

***

Bab 23

SI GADIS pelayan berbaju hijau membukakan sepatu sang majikan, maka tampak kakinya yang kecil.

Kini, Kang Han Cing palsu membuka baju luarnya, tampak tubuh montok berpakaian ringkas. Dadanya membusung ke-depan, pinggangnya ramping, pinggulnya nonjol keluar, sangat menarik pria.

Dia duduk disebuah kursi, dan membuka topi, rambutnya yang panjang hitam jengat terurai panjang.

Gadis ini mempunyai wajah yang cantik memikat, mempunyai potongan tubuh yang padat.

Setelah memperhatikan itu semua Kang Han Cing melayang masuk, ia harus segera bisa membongkar penyamaran jahat.

Si gadis pelayan berbaju hijau bisa melihat adanya pria yang nyelonong itu, sret, ia mengeluarkan pisau belati, ter-kaing2 dan desingan, membawa deru serangan, pisau menusuk Kang Han Cing di tiga tempat.

Kang Han Cing mengelakkan serangan itu, tangkas dan cepat.

Si gadis yang menyamar Kang Han Cing sudah membereskan ikat rambutnya ia mengeluarkan panggilan :

“Siao Siang mundur, kau bukan tandingannya !" Ternyata ia bisa melihat dan menduga asal usul

Kang Han Cing.

Peringatannya sudah terlambat !

Pelayan berbaju hijau yang dipanggil Siao Siang sudah menusukkan belatinya, Kang Han Cing menggerakkan tangan, dengan dua jari menjepit pisau itu.

Siao Siang berusaha menarik kembali pisaunya tapi tidak berhasil. Dicabutnya, juga tidak berhasil.

Dua jari jepitan Kang Han Cing seperti berakar keras, tidak bergeming.

Siao Siang memiliki ilmu kepandaian cukup kuat, ia segera melepaskan pisaunya lalu kedua jarinya dikeraskan, menotok jalan darah Kang Han Cing.

Serangan ini mengenai sasaran, terdengar suara, puk, tapi Siao Siang yang kaget, se-olah2 membentur besi, tangan itu hampir patah, ia berteriak, aduh, dan mundur kebelakang.

Kang Han Cing melepaskan jepitannya menjatuhkan pisau dilantai. Gadis berbaju hijau yang menyamar Kang Han Cing tertawa dingin, diperhatikannya pemuda itu dan berkata :

“Ilmu kepandaian hebat ! Sedang berdemontrasi

!"

“Hei," berkata Kang Han Cing. “Dengan maksud

apa kau mencelakakan orang ?"

“Maksudmu ?" bertanya si gadis berbaju hijau. “Aku ingin mengetahui jelas, siapa yang

melakukan perkosaan dan pembunuhan di Ciok-

cuk-am."

Gadis berbaju hijau berkata dingin :

“Hendak memeriksa hal perkosaan ? Ha, kau salah cari."

“Mengapa salah cari ?" bertanya Kang Han Cing.

Selembar wajah gadis berbaju hijau itu menjadi merah, membanting kaki dan berkata :

“Nah ! Kau sudah ketahui. Aku juga seorang wanita. Mana mungkin bisa memperkosa wanita?"

Keterangannya memang tepat. Tapi siapa yang memperkosa Yen Siu Lan ? Siapa yang membunuhnya ?

Sedangkan Kang Han Cing sudah mengikuti bayangan gadis berbaju hijau ini, gadis ini dengan menyamar dan menggunakan kedok tipis, hampir saja ia mencelakakan Ciok Sim Taysu dan Put-im Suthay. Kalau saja tidak ada Goan Tian Hoat yang meng-ojok2 sang toako, fitnah jatuh pula keatas dirinya. “Kang jiekongcu," berkata si gadis berbaju hijau. “Kau sudah mengikutiku lama ?"

“Ya," berkata Kang Han Cing.

Gadis berbaju hijau itu bertanya lagi : “Apa maksudmu ?”

“Mudah saja," berkata Kang Han Cing. “Kupersilahkan kau menggunakan kedok tipis tadi, mengenakan pakaian yang sepertiku. Dan turut aku."

“Dengan alasan apa? Aku harus turut dirimu?" si gadis menantang.

“Lebih baik nona mengikuti saja." berkata Kang Han Cing perlahan.

“Kalau tidak, bagaimana ?" bertanya gadis berbaju hijau itu.

“Apa boleh buat, aku harus menggunakan kekerasan." berkata Kang Han Cing.

“Eh, mau ngajak berantam ?”

“Nona sendiri yang memaksa," berkata Kang Han Cing, “Dalam keadaan apa boleh buat, harus juga kulakukan."

“Bagus." berkata si gadis berbaju hijau, “Sudah lama kudengar ilmu kepandaian silat Kang jiekongcu yang hebat, tapi belum kucoba. Mari kita bergebrak beberapa jurus."

“Boleh saja," berkata Kang Han Cing. “Kalau nona tidak bisa mengambil kemenangan kuharap saja bisa turut aku." “Tentu." berkata si gadis berbaju hijau. “Nah !

Mulailah."

“Silahkan kau yang mulai !" berkata Kang Han Cing.

“Baik. Terima seranganku." pedangnya disentak sedikit, menusuk perut Kang Han Cing.

Kang Han Cing tidak pernah gentar, sret, ia mengeluarkan pedang, dan menepuk serangan pedang si gadis.

Gadis berbaju hijau itu tertawa cekikikan, pedangnya sebagai seekor ular yang licin, bergelut dan meluncur kebawah, dari sana meletik keatas, cahaya kilatan pedang berkelebat, mengancam tenggorokan.

Kang Han Cing terkejut, kecepatan ilmu pedang gadis ini sungguh luar biasa, karena itu, untuk mengimbanginya ia pun bergerak cepat menutup kearah luar.

Si gadis tidak berhenti sampai disitu, di tengah jalan ia mengubah arah, tusukan pedang mengancam, kini menggores dari atas kebawah. Se-olah2 mau membelah perut Kang Han Cing.

Kang Han Cing menubruk tempat kosong, rasa kagetnya tidak kepalang. Cepat2 menyedot perut mundur satu langkah.

Inisiatif penyerangan masih berada di tangan si gadis berbaju hijau, pedangnya ber-kilat2, sekaligus menyerang ditujuh tempat.

Setiap tempat yang diarah adalah tempat yang berbahaya. Betapa bunga hati si gadis berbaju hijau, menyaksikan kecepatan gerakannya yang berhasil menekan Kang Han Cing, si pemuda sudah berada didalam situasi posisi terjepit, tentu saja si gadis tidak melepaskan kesempatan baik, terus menerus menyerang lagi, mulutnya membentak, tangannya terayun, membuat gerakan istimewa, terjadi delapan kali getaran pedang, ujung pedang mengancam delapan tempat, delapan tempat itu adalah delapan jalan darah kematian Kang Han Cing. Bilamana salah satu dari kedelapan ancaman serangan pedang itu mengenai sedikit saja tubuhnya, Kang Han Cing akan luka parah. Dan bila serangan pedang si gadis berhasil menusuk sedikit, Kang Han Cing akan mati segera.

Ancaman hebat dan luar biasa !

Tapi disaat inilah, terdengar suara Kang Han Cing:

“Awas nona !"

Terdengar suara tang, tang, ting, ting, semua serangan pedang si gadis ditangkis dengan baik. Hanya dengan me-nyentil2 ujung pedang serangan istimewa si gadis berbaju hijau punah dan hancur. Secepat itu pula, pedang Kang Han Cing berhasil menekan pedang si gadis dengan kekuatan raksasa. Si gadis berbaju hijau tidak menyangka kalau Kang Han Cing ini masih mempunyai banyak ilmu simpanan, ia hendak menarik pulang pedangnya, tapi sudah terlambat.

Pletok.....pedangnya tertekan dan jatuh berdentang dilantai. Apa boleh buat gadis berbaju hijau melepaskan pegangan lompat jauh ke belakang.

Kang Han Cing sangat yakin kepada ilmu kepandaian yang dimiliki, tidak mengejar gadis tersebut, ia berdiri tenang, dengan kalem berkata :

“Nona sudah menderita kekalahan, mari turut aku !"

“Siapa yang kalah ?" berkata si gadis berbaju hijau. “Nah ! Lihat lain acaraku!"

Tangannya terayun, jalur2 merah mengarungi ruangan itu, menelungkup kearah Kang Han Cing.

Menduga kepada datangnya senjata rahasia Kang Han Cing menggerakkan pedang, dengan tertawa dingin menangkis serangan2 itu.

Dugaan Kang Han Cing meleset, jalur2 merah yang ditaburkan oleh si gadis adalah jalur2 yang sangat halus, semacam sutera halus, terpecah dan buyar disekitar kepalanya, mengeluruk jatuh.

Yang lebih hebat, jalur2 sutera halus itu mempunyai kaitan2 kecil, kaitan tersebut khusus untuk menangkap orang, siapa saja yang terkait, tidak mungkin mengelakkan diri, dan selanjutnya bisa meringkusnya.

Kang Han Cing kurang pengalaman Kang-ouw, ia tidak kenal dari mana senjata luar biasa tadi. Berulang kali pedangnya menangkis, tubuhnyapun mundur ke belakang.

Si gadis berbaju hijau tertawa cekikikan dan berkata : “Jalaku ini bernama jala penembus langit, dewa dan iblispun tidak bisa mengelakkan. Apalagi seorang manusia? Menyerahlah !"

Dengan senjata yang aneh luar biasa itu, si gadis berbaju hijau mendesak Kang Han Cing.

Berulang kali Kang Han Cing menabas jala berlapis langit, jala itu aneh, alot, dipotong tidak putus, ditabas menjadi lembek, pedangnya tidak berdaya.

Yang lebih hebat lagi, kalau menangkis datangnya jala itu, uiyung kaitannya yang tajam melengkung datang, semakin cepat ia bergerak, semakin cepat pula reaksinya, kecuali berlompatan kesana kemari, tidak ada lain jalan untuk memecahkan senjata aneh itu!

Bekerjanya jala penembus langit memang aneh luar biasa, si gadis berbaju hijau sudah melatih diri selama tahunan, mengurung Kang Han Cing.

Kang Han Cing berusaha mengelakan datangnya kurungan2 itu, terlalu sulit, ia berlompatan kian kemari, pedangnya menangkis dan memotong, tokh tidak berdaya. Ia harus mengelakan datangnya kaitan2 kecil itu lagi, lebih2 sulit lagi.

Pedang Kang Han Cing juga termasuk pedang pusaka, pedang yang bisa memutuskan segala benda2 keras.

Menghadapi jala2 halus itu, ia tidak berdaya.

Tiba2 pikiran Kang Han Cing tergerak, dia tidak bisa membabat putus jala sutera halus. Tapi kaitan2 yang berbengkok adalah terbuat dari logam, kini diincarnya logam2 itu.

Trang, sebuah kaitan yang datang berhasil dibabat putus.

Trang, lagi2 sebuah kaitan dari ujung jala penembus langit dipapas putus.

Trang, trang, trang.....

Kang Han Cing membabat putus kaitan2 yang berada diujung jala penembus langit itu.

Dengan terpapasnya kaitan2 logam pada jala itu, bobot berat yang menggerakkan jalur2 sutera menjadi lenyap, si gadis berbaju hijau kualahan, betapa hebatpun ilmu kepandaian tenaga dalam, ia tidak bisa lagi memainkan, sutera-sutera halus itu tiada bertenaga. Kini kaitan2nya sudah terpapas habis, ia menjadi sangat marah, dilemparkan senjata istimewa itu, dengan marah membentak:

“Kang Han Cing! Bukan maksud kami membunuh dirimu. Tapi kau keliwatan, apa boleh buat. Nah! Terima ini !”

Begitu tangannya merogoh saku, ia melempar kearah Kang Han Cing, terjadi hujan jarum beracun, jarum-jarum itu sangat halus, bertaburan seperti air hujan.

Jarak mereka terlalu dekat, seharusnya tidak mudah mengelakkan serangan jarum beracun itu, tapi Kang Han Cing selalu sudah siap sedia, tangan kirinya diluncurkan, dengan tenaga dalam memukul jarum-jarum beracun yang sudah menyambar terdepan, tubuhnya berjumpalitan, meluncur ke belakang.

***

Bab 24

SI GADIS berbaju hijau telah memperhitungkan sesuatu, ia berani memalsukan Kang Han Cing, tentu mempunyai ilmu kepandaian yang cukup tinggi. Sesudah pedang, jala penembus langit dan jarum beracun tidak berhasil, kini tangannya telah memegang sebilah belati, dengan belati ini, ia menyerang Kang Han Cing, membarengi serangan jarum beracunnya, ditujukan kearah si pemuda.

Disaat itu, tubuh Kang Han Cing sedang melengkung kebelakang, datangnya serangan belati sangat mendadak, sulit mengelakkannya, hal ini sudah termasuk salah satu perhitungan si gadis berbaju hijau, maka ia menusuk dengan pisau belati.

Ada dua cara untuk menangkis datangnya serangan itu. Cara yang pertama adalah menggunakan senjata memukul pergi belati lawan, cara yang kedua adalah bergulingan ditanah, menjatuhkan diri, tapi cara ini lebih celaka.

Kang Han Cing tidak menggunakan cara2 yang lazim, tiba2 saja badannya yang melengkung itu ditempangkan kembali !

Celaka ! Ini berani memajukan perutnya untuk ditublas oleh belati si gadis berbaju hijau. Si gadis berbaju hijau menjadi kaget, mana mungkin ada cara perlawanan yang seperti itu? Menjerit keras. Ia bingung untuk meneruskan serangan belatinya yang sudah disodorkan ke depan itu.

Tak.......

Didalam situasi kebingungan itu, tiba2 jari Kang Han Cing menyentil belati si-gadis. Belati itu jatuh terbang.

Kang Han Cing sudah berdiri berhadap- hadapan, jarak mereka cukup dekat, hampir bersampokkan kulit.

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, Kang Han Cing berhasil mengelakan segala macam bahaya. Ia sudah berada diambang pintu kemenangan, dengan sombong berkata :

“Nona, apa lagi permainanmu ? Silahkan. ”

Sebelum kata2 Kang Han Cing dilepas habis, lain senjata rahasia lagi melepus, tangan kiri si gadis terayun, benda merah menghampiri Kang Han Cing.

Kang Han Cing sedang ber-pikir2 senjata rahasia macam apa lagi yang dikeluarkan ? Tangannya menyaup, menerima datangnya gumpalan merah itu.

Aaaaa ….

Ternyata selembar saputangan merah, bau harum parfum seorang gadis menusuk hidung. Hanya selembar saputangan merah yang digunakan untuk menyerang ?

Saputangan merah ini bukan saputangan biasa, hawa bau harum itu telah mendapat olahan2 istimewa pula, disaat Kang Han Cing mengendus bau harum itu, tiba2 sepasang kakinya menjadi lemas, ia terjatuh duduk.

Kang Han Cing keracunan secara halus.

Giliran gadis berbaju hijau yang tertawa cekikikan, katanya :

“Hi, Hi......... Kang-jie kongcu, sampai disini sajakah pertempuran kita?"

Kedua tangan dan kedua kaki Kang Han Cing tidak bertenaga lagi, ia bisa melihat ia bisa mendengar, bisa bersuara, tapi tidak bisa menggerakan tenaga. Kekuatannya telah dihancurluluhkan oleh gumpalan racun itu.

Si gadis berbaju hijau memandang ke arah Kang Han Cing, kemudian menoleh kearah pelayannya dan berkata:

“Siao Siang, Kang jiekongcu adalah tamu kita, mana pantas membiarkan seorang tamu duduk numprah ditanah, Hayo ! Lekas bawakan kursi ! Bangunkan dan dudukkan diatas kursi."

Si pelayan Siao Siang bisa bekerja cepat menyeret sebuah kursi, diletakkan di-tengah2 lalu memayang Kang Han Cing yang sudah tiada daya, didudukkan diatas kursi itu.

Sesudah selesai, Siao Siang mengeluarkan keluhan dan berkata: “Uh, orang ini berat sekali !"

Si gadis berbaju hijau mendelikkan mata, mendatangi Kang Han Cing dan berdiri didepan si pemuda, ia tertawa:

“Jiekongcu, apa masih ingin menyeret aku ke Ciok-cuk-am ?"

Kang Han Cing mengatupkan mata, tidak menggubris cemoohan tadi.

Si gadis berbaju hijau berkata lagi : “Saputangan merahku tidak mempunyai daya

bius, hanya bisa menjinakkan seseorang yang

galak. Mengapa Kang jiekongcu menutup mata, tidak berani menerima kenyataan ?"

Suaranya merdu, sangat menarik hati.

Kang Han Cing merentangkan kedua mata, ia membentak :

“Bah! Mengapa tidak berani ?" “Hi, hi. ” gadis itu tertawa lagi.

“Ilmu kepandaian Kang jiekongcu memang hebat. Sudah boleh membanggakan diri di dalam dunia Kang-ouw.”

Dengan marah Kang Han Cing membentak: “Aku telah tertipu olehmu, kalau mau bunuh

lekas bunuh, jangan banyak cingcong."

“Maaf !” berkata si gadis berbaju hijau, “Tidak seharusnya aku menggunakan obat pelemas itu menjatuhkan jiekongcu. Tapi.....tidak ada jalan lain. Terpaksa aku harus menahan jiekongcu." “Kau hendak menahan aku disini?" bertanya Kang Han Cing.

Gadis berbaju hijau itu menganggukkan kepala. “Maksudmu ?"

“Ayah angkatku ingin bertemu."

Hati Kang Han Cing tergerak, ternyata si gadis berbaju hijau hanya dalang, ia masih mempunyai seorang ayah angkat. Ayah angkat itu hendak bertemu ? Apa maksud tujuannya ? Siapakah orang yang menjadi ayah angkat si gadis ? Mungkinkah lengcu Panji Hitam?

Kang Han Cing menentang sepasang sinar mata si gadis yang jeli, ia bertanya:

“Lengcu Panji Hitam yang kau maksudkan ?" “Tidak perlu ter-buru2,” berkata si gadis.

“Sebentar lagi kalian segera bertemu."

“Siapa nama ayah angkatmu ?" bertanya Kang Han Cing.

“Tanya saja kepadanya, kalau ayah angkatku bersedia memberi tahu, ia bisa bicara sendiri. Tidak perlu meminta keteranganku.”

Hati Kang Han Cing tergerak, dari pembicaraan tadi, ia bisa membuktikan bahwa ayah si gadis berbaju hijau bukanlah lengcu Panji Hitam. Siapa ? Oh!...mungkinkah orang yang menjadi pemimpin dari lengcu Panji Hitam ?

Sekali lagi Kang Han Cing menatap gadis didepannya, gadis itu sangat cantik, cukup menarik, badannya padat dan gempal, memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tinggi. Berani menyamar dirinya, membuat fitnah yang jahat.

Rasa sakit hati Kang Han Cing itu segera mereda. Mereka saling pandang sebentar, cepat2 Kang Han Cing bertanya :

“Bagaimana sebutan nona?"

“Ouw ..... aku lupa memberi tahu." berkata si gadis. “Aku Suto Lan.”

Nama si gadis berbaju hijau adalah Suto Lan !

Apa maksud tujuan Suto Lan menggunakan wajah Kang Han Cing, mencelakakan Kang Han Cing? Inilah yang harus diselidiki.

“Kapan aku bisa bertemu dengan ayah angkat nona ?" bertanya lagi Kang Han Cing.

Gadis berbaju hijau Suto Lan berkata.

“Tidak lama. Tunggulah beritanya. Lebih baik jiekongcu menetap disini dahulu, sesudah kuberi tahu ayah angkatku itu, nanti jiekongcu akan mendapat panggilan.”

Sesudah itu, dari dalam saku bajunya, Suto Lan mengeluarkan sebuah botol obat, dituangnya, dari sana meluncur sebutir obat berwarna putih, diletakkan ditangan dan diserahkan kepada Kang Han Cing, ia berkata :

“Inilah obat, agar kau bisa bebas dari pengaruh racun lemas itu !"

Kang Han Cing memandang obat itu dan bertanya : “Apa kau tidak takut aku melarikan diri ?" Dengan tertawa Suto Lan berkata:

“Obat lemas itu sangat istimewa, tidak bisa membius orang, kerjanya juga sangat lambat, tapi penyembuhannya pun sangat lambat. Kau harus membutuhkan waktu tiga hari, maka kau baru bisa bebas kembali. Sekarang obat yang kuberikan hanya sebutir, kau hanya bisa menyembuhkan sepertiga dari kelumpuhan2 itu. Kau bisa bergerak, tapi tidak bisa mengerahkan tenaga. Belum boleh menggunakan tenaga."

Dengan dingin Kang Han Cing berkata: “Pantas saja nona begitu royal !"

“Jangan salahkan aku." berkata Suto Lan. “Kau boleh menjadi tamu ditempat ini."

Suto Lan menjulurkan tangannya, menjudukan obat itu dan berkata :

“Bersediakah kau makan obat ini ?"

Keadaan Kang Han Cing begitu mengenaskan, ia duduk numprah dibangku, mengangkat tangannya saja sudah tidak bisa, apalagi untuk berjalan ? Mendapat sodoran obat, ia segera merentangkan mulut.

Per-lahan2 Suto Lan meletakkan obat itu kedalam mulut Kang Han Cing, diberi minum dan ia berkata :

“Maafkan ! Aku masih ada lain urusan. Disini ada Siao Siang yang melayani segala kebutuhan jiekongcu, kalau perlu sesuatu, panggil saja dirinya." Sesudah itu, ia berpesan kepada Siao Siang :

“Siao Siang, jiekongcu masih belum makan.

Lekas siapkan barang santapan."

Siao Siang segera mengiyakan perintah itu, lari keluar untuk membuat makanan.

Suto Lan meninggalkan tempat itu !

Bekerjanya obat tadi sangat cepat sebentar kemudian Kang Han Cing bisa menggerakkan tangan dan kaki. Tapi ia masih tidak bisa menggunakan tenaga, pengaruh bau harum semerbak dari saputangan merah itu memang hebat.

Kang Han Cing tidak menjadi khawatir atas kesulitan dirinya, ia harus membongkar rahasia, siapa orang yang membuat fitnah jahat itu? Bintik2 terang mulai menampak, kalau saja ia meneruskan penyelidikannya, tidak sulit menemukan biang keladi dari segala biang kekerokan.

Si gadis berbaju hijau Suto Lan hanya sebuah pion, orang telah memalsukan dirinya, dengan maksud memperdalam fitnah-fitnah itu.

Kang Han Cing berjalan mundar-mandir diruangan tadi. Ia sedang berusaha, bagaimana membebaskan diri dari kehilangan tenaga?

Tidak lama kemudian, tampak pintu terbuka, Siao Siang berjalan masuk dengan makanan. Pelayan itu berkata :

“Jiekongcu, silahkan makan !" Kang Han Cing memang mulai merasakan perutnya keroncongan, tidak segan2 melahap semua makanan itu.

Siao Siang menantikan disamping, menunggu sampai selesai, si pelayan bertanya :

“Jie-kongcu masih mau tambah apa lagi ?" “Tidak. Sudah cukup."

Siao Siang memberesi sisa2 makanan.

Menggunakan kesempatan ini, Kang Han Cing mengajukan pertanyaan :

“Siao Siang, apakah ditugaskan melayani kebutuhan nona Suto Lan tadi ?"

“Sekarang ditugaskan untuk melayani jie kongcu," berkata Siao Siang tertawa.

“Karena majikanmu takut aku melarikan diri, maka kau mendapat tugas untuk mengawasiku, bukan ?"

“Jie kongcu jangan sampai memikir kesitu." berkata Siao Siang. “Nonaku berlaku baik budi, sampaipun kamarnya diserahkan kepadamu. Terus terang saja aku bicara padamu, biasanya nona Suto Lan itu dingin dan angkuh, belum pernah berlaku baik kepada siapapun juga. Walau saudara2 seperguruannya, iapun acuh tak acuh. Terkecuali kau ! Jie-kongcu !"

Dari pembicaraan ini, Kang Han Cing bisa mengetahui lain rahasia, ternyata Suto Lan bukan seorang diri, si gadis berbaju hijau itu masih mempunyai banyak saudara seperguruan. Siapakah saudara2 seperguruannya ? Inilah yang perlu diselidiki.

***

Bab 25

“OH....." berkata Kang Han Cing, membawakan sikapnya yang terkejut. “Tempat ini menjadi kamar nona Suto Lan ?"

“Tentu saja kamar nona Suto Lan. Apa kau tidak mempunyai mata melihat?"

Berkerutkan alis, Kang Han Cing berkata :

“Oh! Maaf! Mana baik mengangkangi kamar orang, lebih baik aku dipindahkan ke kamar lain saja."

Dengan tertawa misterius Siao Siang berkata : “Inilah perintah nona Suto Lan. Dikatakan

olehnya, waktu sudah malam. Mencari kamar lain

tidak mudah, juga harus mem-beres2kan. Takut kalau Jiekongiyu tidak betah maka ia menjediakan kamar ini."

“Sebelumnya, aku Kang Han Cing mengucapkan banyak terima kasih.”

“Nanti saja, berterima kasih kepada nona Suto Lan," berkata Siao Siang tertawa kecil.

“Oh ! Gedong ini apa milik ayah angkat nona Suto Lan ?” “Boleh dianggap seperti itu." jawab Siao Siang dengan nada diplomatik.

“Aku belum pernah bertemu dengannya, tentunya jago silat luar biasa.”

“Entah ya."

“Apa hartawan kaya?"

“Majikan tua kami...” tiba2 Siao Siang merasakan keceplosan bicara, ia menutup suaranya.

Hati Kang Han Cing memaki, pikirnya pelayan ini sangat ber-hati2. Dan ia tidak bicara lagi.

Sesudah memberesi sisa makanan, Siao Siang meninggalkan kamar itu.

Menunggu kepergiannya Siao Siang, Kang Han Cing mengunci pintu, dan ia membaringkan diri ditempat tidur.

Inilah pembaringan yang biasa digunakan oleh Suto Lan, bau parfum dari seorang gadis terasa hangat merangsang. Harumnya bedak dan gincu, terus menerus menyerang hidung Kang Han Cing.

Paling susah menerima kebaikan budi seorang gadis. Demikianlah istilah ini bisa Kang Han Cing rasakan. Tidur ditempat yang begitu empuk, dengan bau2 harum yang semerbak membuat pikirannya melayang2 jauh.

Berkresak-kresek setengah malaman, Kang Han Cing belum bisa tertidur. Karena itu akhirnya ia meninggalkan pembaringan, per-lahan2 memeriksa didalam kegelapan. Waktu kentongan kedua sudah lewat, sebentar lagi kentongan ketiga akan dipukul.

Gedung itu sangat sunyi dan sepi, tenang tidak terdengar sedikit suarapun.

Kang Han Cing tidak menyalakan lampu, matanya yang lihai sudah biasa memeriksa sesuatu di tempat kegelapan. Ia mem-buka2 laci, memeriksa kalau2 menemukan obat pemunah pelemas badan itu.

Setengah malaman Kang Han Cing ngaduk kamar Suto Lan, tentu saja ia tidak berhasil mendapatkan benda yang dicari, Suto Lan itu menggunakan obat pelemas melenyapkan kekuatan menjatuhkan Kang Han Cing, tentu ia tidak menaruh obat penawar racun tersebut didalam kamarnya.

Mengetahui akan hal ini, akhirnya Kang Han Cing berbaring kembali di tempat tidur.

Kang Han Cing berusaha menenangkan pikirannya, sedapat mungkin ia memeramkan mata, mata meram dengan pikiran yang melayang- layang, tentu saja ia tidak mudah tidur.

Beberapa saat kemudian terdengar ayam berkokok. Tanpa disadari baru Kang Han Cing jatuh tertidur.

Kang Han Cing bangun sesudah matahari di- tengah2 langit, ia turun dari pembaringan dan membuka pintu.

Dipintu kamar Siao Siang sudah menanti, melihat Kang Han Cing yang sudah bangun, pelayan itu memberi hormat, dengan tertawa berkata :

“Jiekongcu bisa tidur nyenyak ?”

Wajah Kang Han Cing menjadi merah kalau saja teringat bagaimana ia gulang-guling ditempat tidur yang banyak pikiran kusut itu, ia menjadi malu kepada diri sendiri, dengan cengar-cengir berkata :

“Nonamu sudah kembali ?"

“Lebih dari satu kali." jawab Siao Siang. “Kami takut mengganggu ketenangan jie-kongcu, maka tidak membangunkan."

“Eh, mengapa tidak mau mengetok pintu ?" Dengan tertawa misterius Siao Siang berkata : “Inilah perintah nona Suto Lan. Dia melarang

hamba mengganggu ketenangan jie-kongcu."

Dengan masih tertawa misterius, Siao Siang berkata :

“Inilah perintah nona, hamba dilarang mengganggu kesenangan tidur Kongcu."

Sesudah itu, Siao Siang berkata lagi:

“Biar hamba ambilkan air buat cuci muka." Pinggulnya diputarkan, meninggalkan Kang Han

Cing.

Tidak lama kemudian Siao Siang membawa air buat cuci muka. Sesudah itu ia mengundurkan diri. Tak lama kembali dengan ransum makanan. Kang Han Cing bercuci muka, membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri ia duduk dimuka meja menghabisi makanan pagi yang tersedia.

“Dimana nonamu ?” Begitu Siao Siang menongolkan kepala, Kang Han Cing mengajukan pertanyaan.

Sebelum Siao Siang menjawab, dipintu telah menongol seorang, itulah gadis berbaju hijau Suto Lan.

Hari ini Suto Lan mengenakan pakaian yang ketat, juga berwarna hijau muda, tepat di bagian dada terlukis sepasang burung Hong, indah sedang menari2.

Berbeda dengan semalam, kalau itu waktu Suto Lan mengenakan pakaian ringkas, gagah dan keren, ini kali Suto Lan membawakan sikapnya seorang gadis remaja, seorang gadis putri hartawan. Mukanya dipupur, bibirnya dipoles merah, semakin cantik, semakin menarik.

Kedua sinar mata saling bertumbukkan, Suto Lan menundukkan kepala dan bertanya :

“Jiekongcu bisa tidur pulas ?"

Kang Han Cing mengelakkan lirikan mata itu, tertawa tawar berkata :

“Terima kasih. Bagaimana ? Apa nona sudah bertemu dengan ayah angkat nona?"

“Mengapa begitu ter-buru2 ?" bertanya Suto Lan. “Tidak betah disini ?" “Urusanku masih banyak." berkata Kang Han Cing. “Secepat mungkin bisa menemui ayah angkat nona ! Dan cepat nona berikan obat penawar racun lemas itu."

“Tidak lama lagi. Sesudah bertemu dengan ayah angkatku, tentu saja kuberi obat penawar racun lemas itu.”

Tiba2 Kang Han Cing teringat sesuatu, mengangkat kepala, memandang dengan berani pada wajah yang menarik itu, ia bertanya:

“Ada sesuatu yang aku tidak mengerti, bisakah nona memberi keterangan?"

“Keterangan apa?"

“Tentang perkosaan dan pembunuhan di vihara Ciok-cuk-am. Siapakah yang sudah melakukannya?"

Dengan tertawa kecil Suto Lan berkata: “Oh! Tidak enak didengar." “Mungkinkah bukan perkosaan?"

“Apa kau sudah melihat dengan mata sendiri ?" balik tanya Suto Lan.

Selembar wajah si gadis menjadi merah.

Kang Han Cing masih belum bisa men-duga2, bagaimana hal itu bisa terjadi ? Segera ia berkata :

“Disaat aku tiba ditempat itu, Yen Siu Lan sudah terbaring didalam keadaan telanjang, ia mati. Inilah yang kusaksikan." “Kau hendak tahu urusan kematian Yen Siu Lan?"

“Didalam soal ini menyangkut nama baikku.

Tentu saja harus tahu." Suto Lan berkata:

“Yen Siu Lan mati dibawah kami."

Kang Han Cing merentangkan sepasang matanya lebar2, gadis secantik inikah yang membunuh orang? Dia hampir tidak percaya karena itu meminta ketegasan, katanya:

“Nona yang membunuh Yen Siu Lan?" “Eh, tidak percaya ?" bertanya Suto Lan. “Betul2 sulit diterima."

“Dengar." berkata Suto Lan perlahan. “Karena Yen Siu Lan sudah berkhianat kepada golongan, karena itu harus mendapat hukuman kematian."

“Oh !" Kang Han Cing terkejut. “Yen Siu Lan juga termasuk salah satu dari anggota kalian?"

Suto Lan memberikan satu kerlingan mata yang menarik, ia berkata:

“Hanya ini yang bisa kuberitahu kepadamu.

Lain tidak."

“Golongan apakah nama golongan kalian itu ?" bertanya Kang Han Cing.

“Maaf ! Untuk sementara masih harus dirahasiakan !" berkata Suto Lan. “Belum waktunya memberitahu kepadamu." Hati Kang Han Cing mengeluh, ia sedang berhadapan dengan sesuatu golongan yang misterius, golongan baru yang tidak dikenal olehnya.

Suto Lan membiarkan Kang Han Cing termenung seperti itu, beberapa saat kemudian ia bertanya perlahan:

“Aku juga ada sesuatu yang hendak ditanyakan, bisakah kau memberi jawaban yang memuaskan?"

“Urusan apa?" bertanya Kang Han Cing. Sepasang mata Suto Lan yang jeli terputar,

tidak henti2nya mengirim kerlingan mata. Ia berkata:

“Ilmu kepandaian jiekongcu betul menakjubkan. Orang pertama yang mendapatkan pujianku, siapakah yang berhasil mendidik kongcu seperti itu, bagaimana sebutan dan nama suhu jiekongcu

?"

Kang Han Cing berkata :

“Suhu tidak berkelana didalam rimba persilatan, namanya tidak mau diketahui orang. Sampaipun aku juga tidak mengetahui jelasnya."

“Bohong !" berkata Suto Lan tertawa, “Mana ada murid yang tidak tahu nama gurunya ? Tentu jiekongcu tidak mau memberitahu."

“Sungguh." berkata Kang Han Cing, “bukan tidak mau memberitahu. Kenyataan memang tidak tahu. Bilamana nona bertanya kepada toako, ia juga memberi keterangan yang seperti ini." Suto Lan melicini bibirnya dan berkata : “Hi, hi. kau pandai bicara."

Pembicaraan itu terputus kembali. Mereka duduk berhadap2an.

Beberapa lama kejadian yang canggung itu diputuskan oleh tertawanya Suto Lan, ia berkata :

“Jiekongcu, kita mengganti bahan pembicaraan, bagaimana ?"

“Apa yang nona hendak percakapkan ?" bertanya Kang Han Cing.

“Apa saja, seperti.      "

Tiba2 terdengar suara derap langkah kaki yang bergerak cepat tiba di pintu dan ter-batuk2. Itulah suara Siao Siang.

“Nona Suto Lan......" panggil Siao Siang perlahan.

“Ada apa?" bentak Suto Lan.

Horden tersingkap, Siao Siang berjalan masuk, ia memberi hormat dan berkata:

“Baru saja hamba menerima perintah khungcu, ia memberitahu kalau mengharap kedatangan nona dan jiekongcu. Segera !"

Suto Lan memperlihatkan sikapnya yang terkejut, dengan heran berkata:

“Biasanya ayah jarang mau menemui tamu. Baru saja ia melatih diri, hendak bertemu dengan Kang jiekongcu ?" Sesudah itu ia bangkit dari tempat duduknya, berkata kepada Kang Han Cing:

“Mungkin ayah kangen kepada nama besar Kang jiekongcu, maka pagi2 sudah hendak bertemu. Mari kuajak."

Pikiran Kang Han Cing juga masih kacau, tenaganya juga sudah tiada, ia menjadi tawanan halus. Dari rombongan baru yang tidak diketahui asal usulnya ini, karena itu ingin sekali bisa mengetahui yang lebih banyak : Siapa ayah Suto Lan yang misterius ?

***

Bab 26

SUTO LAN mengajak Kang Han Cing meninggalkan kamar itu. Mereka melalui lorong- lorong panjang, tiba disebuah ruangan. Dan disini Suto Lan berkata :

“Inilah kamar ayah angkatku."

Didepan pintu berdiri dua orang gadis, masing2 menyoren pedang dipinggang, melihat kedatangan Suto Lan, kedua gadis pelayan itu memberi hormat.

Suto Lan menganggukkan kepala, mengajak Kang Han Cing memasuki ruangan tengah.

Dari dalam terdengar satu suara yang sangat dingin dan kaku.

“Suto Lan yang datang?" “Ya." jawab Suto Lan. “Anakmu telah membawa Kang jiekongcu."

“Suruh dia masuk.” suara dingin dan ketus itu berkata.

Suto Lan menoleh kearah Kang Han Cing dan berkata :

“Itulah ayah angkatku. Mari masuk."

Ruangan itu serba sederhana, diatas sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu jati, dikedua ujung terdapat pot bunga, dengan bunga lain yang semerbak, meresap dan menusuk hidung.

Didepan bangku panjang itu terdapat empat kursi, terukir dengan baik.

Kini, diatas bangku panjang berduduk seorang tua bermuka keren, ia mengenakan pakaian hijau. Tubuhnya tinggi besar, jenggotnya yang putih terurai panjang ke bawah. Matanya bercahaya, menyorot ke arah Kang Han Cing.

“Kau inikah Kang jiekongcu ?" ia bertanya.

Kang Han Cing menganggukkan kepala dan berkata :

“Betul. Boanpwee Kang Han Cing."

Dengan nada yang dingin dan kaku, orang tua itu berkata:

“Silahkan duduk !"

Tanpa diperintah kedua kali, Kang Han Cing mengambil kursi dan duduk disana. Suto Lan juga mengambil kursi lain dan merendengi Kang Han Cing, mereka duduk berhadapan dengan orang tua itu.

Orang tua bermuka keren itu berkata :

“Selamat datang atas kunjungan Kang-jie kongcu ke rumah ini, aku mengucapkan selamat."

Kang Han Cing memperhatikannya beberapa saat, ia bertanya :

“Bolehkah boanpwee bertanya ? Bagaimana sebutan cianpwee yang mulia ?”

Dengan dingin dan ketus orang tua berbaju hijau itu berkata :

“Aku tidak suka memberitahu kepada orang lain." jawabnya temberang.

“Ho, ho......." Kang Han Cing mengeluarkan dengusan dari hidung. “Aku paling tidak suka bicara dengan orang yang tak mempunyai nama."

Wajah orang tua itu berubah, ia berkata keras : “Hei, berani kau berlaku kurang ajar ?"

“Kukira, orang yang kurang ajar itu adalah orang yang tidak bernama."

“Dihadapanku, kau berani mengucapkan kata2 ini lagi ?"

Dengan menantang Kang Han Cing berkata : “Mengapa tidak? Ambil saja golok, pasang

dileherku, akan kuucapkan lagi seribu kali, mau?" “Bagus....bagus...." orang tua itu merengus. “Hendak kulaksanakan permintaanmu itu."

Mendengar kata2 tadi, cepat2 Suto Lan berteriak :

“Ayah. "

Si orang tua berbaju hijau melirik ke arah Suto Lan, ia berkata :

“Ada urusan apa ?” Suto Lan berkata :

“Bukankah kau hendak merundingkan sesuatu dengan Kang jiekongcu?"

“Uh !" orang tua berbaju hijau itu menganggukkan kepala.

Dengan perlahan Suto Lan berkata :

“Maka bercakaplah baik2. Jangan bersitegang."

Orang tua berbaju hijau tertegun, sepasang sinar mata yang tajam menatap kearah sang puteri, dan pindah ke wajah Kang Han Cing, wajah itu sangat tampan, orangnya gagah, sikapnya baik. Kedua muda mudi dihadapannya adalah pasangan yang setimpal, tanpa terasa, ia menganggukkan kepala, mengurut jenggotnya dan berkata :

“Ho, ho... ayahmu bukan bermaksud mengganggunya."

Selembar wajah Suto Lan menjadi merah menoleh kearah Kang Han Cing dan berkata : “Jiekongcu, bisakah kau bersabar sedikit. Kita bercakap2 secara ramah tamah, bukankah lebih baik dari pada bersitegang."

Terdengar suara Kang Han Cing :

“Ada urusan apa yang hendak dirundingkan oleh ayah angkatmu, silahkan saja katakan."

Kini wajah orang berbaju hijau yang marah tadi mereda kembali, suaranyapun didatarkan serata mungkin, per-lahan2 berkata :

“Aku ada sedikit kesulitan yang hendak meminta keterangan Kang jiekongcu, kuharap saja kau bisa berterus terang."

“Urusan apakah itu ?" bertanya Kang Han Cing. Orang tua berbaju hijau berkata.

“Aku juga pernah bertemu muka beberapa kali dengan ayahmu. tiga bulan yang lalu tersebar berita tentang kematiannya. Dikatakan dia sudah almarhum. Apa betul ada kejadian yang seperti ini

?"

Kang Han Cing terpaksa berpikir sekali lagi, hatinya mengeluh.

“Dia masih menganggap ayah belum mati."

Untuk menjaga kehormatan dirinya, ia menjawab pertanyaan itu:

“Kesehatan ayah belum pernah terganggu. Mendadak ia menghembuskan napas yang terakhir, memang keadaan ini sangat membingungkan orang. Aku dan toako mendampinginya, mana mungkin bisa kematian palsu?"

Tampak sinar mata orang tua berbaju hijau itu menatap Kang Han Cing tajam-tajam, ia hendak menimbang2 benar tidaknya dari keterangan yang diberikan oleh si pemuda, mulutnya berdehem sebentar, ia berkata :

“Betul2 Kang toa sianseng sudah meninggal dunia !"

Hati Kang Han Cing berkata sendiri :

“Dari kata2nya ia masih meragukan kematian ayah. Mungkinkah orang2 ini mempunyai hubungan erat dengan hilangnya mayat ayah."

Dugaan Kang Han Cing tepat ! Sedari ia meninggalkan gedung keluarga Kang bersama2 Goan Tian Hoat, berulang kali mendengar cerita tentang manusia2 palsu. Dari yang pertama2 manusia imitasi Ban Ceng San, dari manusia palsu Than Hoa Toh, dan manusia palsu dari si gadis berbaju hijau Suto Lan yang menyamar menjadi dirinya, dan hubungan2 itu ternyata mengkaitkan dirinya dalam serentetan pemalsuan-pemalsuan besar.

Orang2 pemalsu ini adalah turunan Su-khong Eng, tokoh misterius berkerudung hitam didalam cerita Pembunuh Gelap.

Untuk mengetahui cara2 pemalsuan, para pembaca bisa mencari buku cerita dengan judul PEMBUNUH GELAP, dimana dituturkan dengan terperinci, partai Raja Gunung menyamar diri mereka, dan mengubah wajah mereka.

Kang Han Cing menantang sepasang sinar mata orang tua berbaju hijau itu, dengan dingin ia berkata :

“Lotiang masih meragukan kematian ayah ? Alasan apa kalau kematian ayah itu adalah kematian palsu ?"

Wajah orang tua berbaju hijau tetap dingin beku, sepatah demi sepatah ia berkata :

“Orang yang mempunyai pikiran ini bukan aku seorang, kukira merekapun mempunyai pikiran yang sama."

Alis Kang Han Cing yang lentik terangkat, dengan marah ia bergeram:

“Dugaan yang tidak masuk diakal."

Orang tua berbaju hijau itu mengurut jenggot, ia berkata :

“Dimana yang tidak masuk akal. Sesudah kematian ayahmu, peti mati itu kosong. Inilah kenyataan."

Sepasang mata Kang Han Cing ber-kilat2, ia membentak :

“Ternyata tindakan lengcu Panji Hitam yang membongkar peti mati ayahku adalah instruksimu!"

Nah! Orang tua berbaju hijau ini adalah salah satu tokoh penting dari golongan Perintah Maut. Orang inilah yang sudah menyuruh lengcu Panji Hitam membongkar peti mati Datuk selatan Kang Sang Fung. Orang ini juga yang menyuruh Suto Lan menyamar Kang Han Cing mempermainkan Put-im suthay dan Ciok Sim taysu.

Orang tua berbaju hijau itu tertawa tawar, ia berkata :

“Sesudah kematian ayahmu, peti mati itu kosong melompong. Apa salahnya aku menyuruh orang memeriksa?"

“Memeriksa ? Apa lagi yang diperiksa di kelenteng Ciok-cuk-am ? Mengapa menyuruh orang mencelakakan diriku ? Mengapa menyuruh orang memancing aku ke tempat itu? Sesudah membunuh Yen Siu Lan ! Mengapa mengundang Put-im suthay dan Ciok-sim taysu, menjebak diriku ?"

“Terlalu banyak sekali pertanyaan itu." berkata orang tua berbaju hijau. “Kematian Yen Siu Lan hanya suatu kebetulan, kebetulan kau datang kesana. Salahmu sendiri."

“Dengan alasan apa kalian membunuh Yen Siu Lan ?" bentak Kang Han Cing.

“Yen Siu Lan adalah salah satu anggota kami yang sudah berkhianat. Kematian Yen Siu Lan tidak ada hubungannya denganmu, Kang jie- kongcu."

“Huh !" Kang Han Cing mengeluarkan dengusan dari hidung.

Terdengar lagi suara orang tua berbaju hijau : “Undanganku kepadamu adalah untuk merundingkan sesuatu."

“Katakan lekas !"

“Kudengar cerita tentang ilmu kepandaianmu yang hebat, bagaimana kalau kau masuk menjadi anggota kita? Aku mendapat tugas untuk mengajak dirimu."

Hati Kang Han Cing tergerak, ternyata orang tua berbaju hijau ini juga bukan pimpinan tertinggi, ia hanya mendapat perintah saja. Memandang kepadanya dan bertanya :

“Siapakah yang memberi instruksi untuk mengajak aku?"

“Ketua Perintah Maut."

“Siapa yang menjadi ketua perintah Maut ?" “Sebelum kau bersumpah menjadi anggota

Perintah Maut, urusan ini tetap menjadi suatu rahasia."

“Bagaimana anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Perintah Maut? Apa yang menjadi panji hidup Perintah Maut ?! Bagaimana haluan politik Perintah Maut ?"

“Legakan hatimu, golongan Perintah Maut adalah wadah untuk menampung semua tokoh- tokoh silat yang ada, menyatukan persengketaan2 yang terjadi didalam rimba persilatan. Kalau saja kau mau menjadi salah satu anggota, tidak nanti mengecewakan. Kukira kedudukanmu tidak berada dibawahku." Kang Han Cing tidak segera memberikan jawaban, ia sedang memikir, golongan Perintah Maut adalah golongan baru, semboyannya masih gelap, dari tindak-tanduk yang dilakukan orang2 itu, golongan ini bukanlah golongan betul. Ia tidak mau terjerumus kedalam kehinaan, sudah seharusnya ia menolak. Sebelum Kang Han Cing membuka suara, orang tua berbaju hijau itu berkata lagi : “Bagaimana ?"

Kang Han Cing mendongakkan kepala dan bertanya : “Aku dipaksa harus masuk ?”

Orang tua berbaju hijau masih merocos terus, katanya :

“Bukan paksaan, hanya berapa anjuran. Kalau saja kau menerima tawaran ini, kedudukanmu sangat baik. Kedudukan hu-huat !”

“Apa artinya huhuat ?" bertanya Kang Han Cing.

“Huhuat hanya berada dibawah ketua, sama saja dengan wakil ketua, kecuali ketua pribadi, kau bisa menggerakkan seluruh anggota kita.”

“Oh.

Orang tua berbaju hijau berkata lagi :

“Lebih jelas lagi kuceritakan. Beberapa tahun yang lalu, aku juga yang mendapat tugas menyambangi ayahmu, kukatakan kepada ayahmu, golongan kita menyediakan tempat huhoat kepadanya, dengan maksud agar ia bisa menerima jabatan itu. "

“Ayah tidak akan menerima tawaran itu !" potong Kang Han Cing singkat. (Bersambung 10)