Perintah Maut Jilid 05

 
Jilid 05

TIDAK lama sejak Put-im suthay dan Ciok Sim taysu tiba ditempat itu, tiba2 terdengar satu suara yang garing tertawa, katanya :

“Selamat datang kepada Put-im suthay dan Ciok Sim taysu, Kang Han Cing sudah menunggu lama.”

Put-im suthay dan Ciok Sim taysu menoleh kearah datangnya suara itu, disana berdiri seorang pemuda berbaju hijau dengan alis lentik wajahnya tampan, tertawa memandang mereka, itulah Kang Han Cing. Ciok Sim taysu merangkapkan kedua tangan memberi hormat dan berkata :

“Omitohud ! Membuat siecu menunggu lama."

Put-im suthay belum pernah bertemu muka dengan Kang Han Cing, ditatapnya pemuda itu sekian saat, dan ia bertanya dingin.

“Kau inikah yang bernama Kang Han Cing?" “Betul ! Aku yang bernama Kang Han Cing.”

“Manusia terkutuk," berkata Put-im suthay, “Masih berani kau menemui orang?"

Alis lentiknya Kang Han Cing terjingkat, ia tersenyum kecil berkata :

“Eh, datang2 memaki orang? Undanganku bukan ditujukan untuk kalian berbuat seperti itu. Gunakanlah sedikit etiket baik."

“Manusia durjana, sesudah memperkosa dan membunuh muridku, apalagi yang kau mau."

Memang adat Put-im suthay agak aseran, mentang2 berkepandaian silatnya tinggi, maka sering menghina orang. Mau menang sendiri. Apa lagi didalam persoalan ini, ia memang harus mendapat kemenangan, ia harus segera menyingkirkan orang yang sudah memperkosa dan membunuh muridnya.

Kang Han Cing tersenyum2. Put-im suthay membentak lagi : “Hayo ! Masih mau menyangkal ? Hendak putar lidah ? Akuilah perbuatanmu, kau sudah memperkosa dan membunuh muridku, bukan ?"

“Baiklah," berkata Kang Han Cing tertawa. “Aku mengakui, aku tidak menyangkal lagi. Yen Siu Lan sudah kuperkosa, Yen Siu Lan sudah kubunuh mati. Apa lagi yang kau mau? Apa yang kau bisa lakukan kepada Kang Han Cing ?”

“Tidak menyangkal lagi ?" berkata Put-im suthay.

“Tidak perlu menyangkal. Kalian bisa apa ?" berkata Kang Han Cing menantang.

Srettt . . . .

Put-im suthay sudah mencabut keluar pedangnya, dihadapi Kang Han Cing dengan gemas geregetan ia berkata :

“Akan kucincang seiris demi seiris tubuhmu, baru bisa melampiaskan rasa sakit hatiku."

“Inikah kata2 seorang biarawati?"

“Lekas keluarkan pedangmu. Mari kita bertempur tiga ratus jurus." berkata Put im suthay.

“Eh, masih berani menantang?” berkata Kang Han Cing.

Ciok Sim taysu berkerut alis, ia merangkapkan kedua tangan, menyebut nama Budha dan berkata

:

“Sabar ! Kuharap suthay menjadi sabar. Kedatangan kita ketempat ini atas undangannya. Tanyakan dahulu, apa maksudnya mengundang datang ?"

Put-im suthay berkata:

“Sudah kau dengar sendiri, dia mengakui semua perbuatan itu, bukan? Apalagi yang hendak ditanya?"

Dengan tertawa Kang Han Cing berkata: “Kuundang jiehui berdua ketempat ini, karena

aku hendak memberi sedikit keterangan."

“Lekas katakan keteranganmu itu." berkata Put- im suthay dingin.

Kang Han Cing tidak segera lekas2 mengucapkan suaranya, lebih dahulu ia menggibrik2kan bajunya yang kena debu, sesudah itu dengan sepatah demi sepatah ia berkata:

“Kang Han Cing belum pernah melakukan sesuatu dengan dibawah ancaman, maka kalau mau mendengar keteranganku, simpan dahulu pedang itu. Agar tidak membawa mesiu peperangan."

Put-im suthay geregetan sekali, tapi apa boleh buat, ia menancapkan pedangnya di tanah, sesudah itu ia berkata :

“Nah ! Lekas katakan, keterangan yang hendak kau beritahu !"

Kang Han Cing tertawa kecil, memandang kedua jago silat itu lalu berkata:

“Jiewie berdua telah berkunjung ke gedung keluarga Kang ?" “Tidak salah." berkata Ciok Sim taysu. “Kami baru saja meninggalkan rumahmu.”

“Mengapa pergi kesana ?" bertanya Kang Han Cing.

Dengan marah Put-im suthay berkata :

“Kau telah melakukan suatu perbuatan nista, aku kesana mencarimu untuk meminta pertanggungan jawab !"

“Sekarang aku sudah berada didepan jiewie berdua, bukan?" berkata Kang Han Cing menantang.

Put-im suthay berkata:

“Kau adalah putra kedua dari Datuk selatan Kang Sang Fung, kalau tidak mengunjungi gedung keluarga Kang, kemana harus mencari dirimu?"

Kang Han Cing berkata:

“Kuberi peringatan keras, untuk selanjutnya jangan sekali2 mengacau gedung keluarga Kang. Jangan sekali-kali mengganggu ketenangan keluargaku. Jangan sekali2 mengganggu toako. Kalau saja....hem.....hem...jangan katakan Kang Han Cing keterlaluan."

Nada suara Kang Han Cing menjadi begitu congkak dan terkebur, sangat temberang.

Ciok Sim taysu merangkapkan kedua tangan dan berkata :

“Omitohud, apa hanya kata2 ini yang hendak siecu keluarkan ?" “Masih mau apa lagi ?" berkata Kang Han Cing.

“Omitohud." berkata Ciok Sim taysu. "Lolap kira akan mendengar keterangan yang lebih penting, ternyata hanya pepesan kosong."

Kang Han Cing berkata :

“Kalau kalian percaya dan yakin kepada ilmu kepandaian sendiri, kalau kalian bisa memenangkan diriku, langsung saja membuat perhitungan dengan aku, jangan mengganggu toako, jangan mengganggu gedung keluarga Kang."

“Bocah kurang ajar," bentak Put-im Suthay, “sampai dimanakah tingginya ilmu kepandaianmu, berani menantang orang? Baik. Aku hendak mencoba, sampai dimana ilmu kepandaian Kang jiekongcu."

Betul2 Put-im taysu melaksanakan ancamannya, ia mencabut kembali pedang yang tertancap di tanah, siap menempur Kang Han Cing.

Kang Han Cing memang bermaksud menempur kedua orang itu, sengaja memancing insindent2 ia berkata:

“Apa hanya seorang saja? Lebih baik maju berbareng."

Kecepatan Put-im suthay begitu hebat, tanpa menunggu selesainya ucapan Kang Han Cing, ia mengayun pedang menabas sepasang kaki pemuda ugal2an itu.

Sebagai seorang saudara ketua partai Ngo-bie- pay, Put-im suthay mendapat nama yang cukup harum, tidak kalah dibelakang nama Bu Houw taysu, gerakan ilmu pedangnya begitu cepat, mengancam dengan jitu.

Gerakan Put-im suthay sangat cepat, tapi gerakan Kang Han Cing juga sangat cekatan, wingg..... serangan pedang itu lolos dari bawah ujung kaki.

“Ha, ha….” Kang Han Cing tertawa, Sreet…. dia juga menghunus pedang.

Put-im suthay tidak mau banyak bicara lagi, giliran pedang yang bicara ia menyabet, menusuk, dan membacok.

Semakin lama, tekanan cahaya pedang itu semakin rapat, se-olah2 sudah mengurung seluruh jalan Kang han Cing.

DENGAN bajunya yang berkibar-kibar, Kang Han Cing mengelakan setiap serangan. Berputar disekitar tempat itu, tidak hentinya tangan menyebar sesuatu.

Bagaikan bayangan seseorang, Put-im suthay mengikuti larinya pemuda itu.

“Bocah terkutuk." Put-im suthay memaki, “hanya sampai disinikah ilmu kepandaianmu ?”

Satu saat, cahaya pedang berobah menjadi enambelas batang, menuju kearah batok kepala Kang Han Cing, inilah ilmu kebanggaan Put-im Suthay !

Kang Han Cing menggelengkan kepala dengan satu cara yang tidak mudah dilihat, ia berhasil mengelakan datangnya ancaman maut. Sesudah keluar menerobos kepungan cahaya pedang, ia mulai mengayun senjata, mulutnya berkata :

“Nenek tua, inilah serangan balasanku."

Tubuhnya menyempong kesamping, tangannya dijulurkan kedepan, maka pedang itu bergerak dari jurusan yang sulit diduga, menyerang Put-im suthay.

Put-im suthay juga termasuk salah seorang ahli pedang, melihat cara2 gerakan Kang Han Cing, hatinya tercekat, serangan yang seperti itu tidak boleh ditangkis, jalan yang terbaik adalah mengelakan. Mengenjot tubuh, Put-im suthay lompat kebelakang.

Giliran Kang Han Cing yang mengambil inisiatif penyerangan, berulang kali menusukkan senjatanya.

Agak repot juga Put-im suthay mengelakkan datangnya serangan2 itu. Tiba2 ia rasakan perubahan sesuatu, tenaganya banyak berkurang.

Dengan tertawa Kang Han Cing berkata :

“Nenek tua, hanya sampai disini sajakah ilmu kepandaianmu ?"

Situasi berubah, dunia berputar. Kalau dalam serangan pertama tadi Put-im suthay mendesak dan merangsak Kang Han Cing, kini keadaan telah berputar seratus delapan puluh derajat, Kang Han Cing yang memegang inisiatif mengancam dan mendesak lawannya. Put-im Suthay berusaha mengelak dan menangkis serangan itu, agak sulit juga, semakin lama tenaganya semakin pudar.

Kang Han Cing menusuk lagi !

Put-im suthay mengertak gigi, menyentilkan pedangnya, menukik dan menghajar. Indah ilmu kepandaian terakhir, ilmu kepandaian simpanan yang sering membuat mematahkan semangat lawan.

Sebagai seorang ahli pedang puluhan tahun, Put-im Suthay mengancam delapan jalan darah Kang Han Cing. Kalau saja salah satu dari ancaman itu mengenai sasarannya, tubuh Kang Kan Cing akan terkapar di tanah.

Kang Han Cing tertawa dingin, pundaknya terangkat, menangkis datangnya serangan itu.

Tranggggg….

Pedang Put-im suthay diterbangkan !

Secepat itu pula, Kang Han Cing meneruskan serangan, menotok jalan darah Put-im suthay.

Tubuh Put-im suthay jatuh ngusruk di tanah, dia bingung memikirkan kejadian2 tadi, bagaimana dengan mendadak sontak tenaganya bisa lumer dan lembek? Apa yang telah terjadi? Karena itulah, tanpa ada pegangan kekuatan, pedangnya diterbangkan Kang Han Cing. Tentu telah terjadi sesuatu.

Menyaksikan jatuhnya sang kawan, Ciok Sim taysu terkejut, ia melejitkan tubuh menyelak di tengah dan membentak: “Kang Han Cing, jangan kau main gila !”

Kang Han Cing memperlihatkan sikapnya yang angkuh dan sombong, melirik kearah Ciok Sim Taysu dan berkata :

“Nah ! Kini giliranmu !”

Jarak Ciok Sim Taysu dan Kang Han Cing sudah sangat dekat, padri tua itu menganggukan kepala berkata :

“Baik. Giliranku yang hendak meminta pelajaran."

Kang Han Cing telah menjatuhkan Put-im suthay dalam waktu yang sangat singkat, hal ini membuat Ciok Sim taysu tidak berani memandang ringan kepada lawannya. Ia lebih berhati-hati, menyedot napasnya dalam2. Dicurahkan kearah kedua telapak tangan, siap menghadapi pertempuran.

“Aaaaah.......” Tiba2 saja Ciok Sim Taysu tercekat, tangannya tidak bisa diangkat, wajahnya berubah, ia telah terkena semacam racun yang tidak terlihat, karena itu seperti keadaannya Put- im Suthay yang tidak bisa memegang pedangnya, kekuatan Ciok Sim taysu juga lenyap, karena adanya sesuatu yang berada di luar dugaan ini, sepasang matanya memandang wajah Kang Han Cing, menduga kalau putera dari keturunan Datuk Persilatan itu main gila, si padri mengeluarkan bentakan : “Kang Han Cing, berani kau main gila? Racun apa yang sudah kautebarkan kepadaku ! Mengapa menjadi seperti ini ?"

Kang Han Cing menengadahkan kepala, tertawa dingin dan berkata :

“Lucu ! Apa2an kau ini ?”

Dengan mengertak gigi Ciok Sim taysu berkata : “Kang Han Cing, kau telah membuat perkosaan

melakukan pembunuhan, masih berani menaburkan racun kepadaku dan Put-im suthay? Betul2 jahat, betul2 jahat….”

“Tutup mulut !" bentak Kang Han Cing. “Berulang kali kau berlaku tidak sopan. Akan kubunuh dirimu."

Pedangnya disodorkan kedepan, menjurus kearah Ciok Sim taysu.

Betapa lihaypun ilmu kepandaian Ciok Sim Taysu, karena ia sudah mendapat taburan obat racun lemas, tanpa bisa dielakan, pedang Kang Han Cing menotok jalan darahnya.

Gedebrok, ia jatuh di tanah.

“Ha, ha, ha....." Kang Han Cing tertawa besar, menudingkan jari kearah Put-im suthay dan Ciok Sim taysu, ia berkata :

“Ha, ha.... tokoh2 Ngo-bie-pay dan Siauw-lim- pay, hanya seperti ini sajakah kepandaianmu ! Kalau betul2 kalian mempunyai ilmu kepandaian, langsung berhadapan dengan aku, jangan kau mengganggu saudaraku lagi. Jangan berani2 mengganggu gedung keluarga Kang, heee!"

Wajah Put-im suthay pucat pasi, peredaran jalan darahnya membeku, ia tidak bisa bergerak, hanya mulutnya yang masih mendapat kebebasan ia mengumpat caci.

“Manusia terkutuk. Durjana, sudah memperkosa orang, membikin pembunuhan, berani kau menghina lagi ? Bah ! Hayo ! Kalau kau mempunyai keberanian, bunuh aku sekalian."

Sepasang mata Kang Han Cing berkilat-kilat ia berkata:

“Maksudku bukan hendak membikin pembunuhan, tapi...kau sendiri yang minta mati, baiklah. Kau kira aku takut kepada Ngo-bie-pay, lebih baik kuputuskan sepasang telingamu untuk memberi peringatan. "

Secepat itu pula, pedang Kang Han Cing melayang, meluncur kearah kepala Put-im suthay, dengan maksud membabat sepasang telinga biarawati itu.

Disaat ini, satu bayangan meluncur datang, mulutnya berteriak keras:

“Jiete, jangan!"

Bayangan yang datang adalah putra tertua dari gedong keluarga Kang, Kang Puh Cing!

Kang Han Cing mendongakkan kepala, mengenali siapa yang datang, segera ia berdehem keras, melirik kearah Put-im suthay Ciok-sim Taysu lalu berkata: “Sepasang telinga masih beruntung!"

Sesudah itu, Kang Han Cing melejitkan kaki meluncur kearah utara, meninggalkan Kang Puh Cing.

Kang Puh Cing segera berteriak : “Jietee. "

Tapi Kang Han Cing tidak menghiraukan panggilan itu, meluncur lari pergi !

Kang Puh Cing menghampiri Put-im Suthay dan Ciok Sim taysu, ia berkata :

“Eh, bagaimana bisa terjadi kejadian yang seperti ini ?"

Ciok Sim taysu menyebut nama budha berkata :

“Kedatangan Kang toakongcu sangat kebetulan. Lolap dan suthay ini telah diracuni oleh adikmu, menderita keracunan dalam."

“Ah..." Kang Puh Cing terkejut, “Betul ? jiete. "

Disaat ini, lain bayangan lagi meluncur datang, ia memotong pembicaraan Kang Puh Cing.

“Seharusnya toakongcu bisa membedakan, orang tadi bukanlah Kang Jie kongcu yang asli !"

Orang yang datang belakangan ini adalah pendekar cerdik pandai Goan Tian Hoat.

Kang Puh Cing terkejut, hatinya tergetar, dengan memaksa tertawa ia menoleh kearah Goan Tian Hoat dan berkata:

“Eh mengapa saudara Goan datang turut serta?" Dengan tertawa Goan Tian Hoat berkata:

“Untuk menjaga sesuatu dari ketidak-beresan, dengan membawa beberapa orang kita, kita selalu siap untuk membantu."

Apa yang Goan Tian Hoat kemukakan memang betul terjadi. Empat orang laki2 berpakaian ringkas dengan golok dipinggang lari mendatangi, mereka adalah anak buah gedung keluarga Kang.

Kang Puh Cing menganggukkan kepala berkata: “Put-im   suthay   dan   Ciok   Sim   taysu   telah

menderita keracunan dalam, mari kita menggotong

dan menolong mereka."

***

Meninggalkan cerita Kang Puh Cing, Goan Tian Hoat, dan orang2 gedung keluarga Kang yang membawa Put-im suthay dan Ciok sim taysu kembali ke gedung datuk persilatan daerah selatan.

Menyusul jejak bayangan Kang Han Cing yang melesat kearah utara ini.

Tidak lama dari berkelebatnya bayangan Kang Han Cing, dari balik semak2 muncul pula lain bayangan, mengikuti bayangan Kang Han Cing didepan.

Yang mengherankan, bayangan yang dibelakang juga adalah bayangan Kang Han Cing, ada dua Kang Han Cing, sampai di sini sudah waktunya kita membuka sedikit tabir rahasia, bayangan yang didepan adalah benar Kang Han Cing palsu yang dikatakan oleh Goan Tian Hoat tadi dan bayangan yang dibelakang adalah Kang Han Cing yang asli, yang palsu adalah orang yang sudah membunuh Yen Siu Lan divihara Ciok-cuk-am, dan bayangan yang dibelakang adalah Kang Han Cing aseli, hendak membekuk lehernya si penjahat, mencari tahu dengan alasan apa orang hendak mencelakakan dirinya.

Dua bayangan itu saling meluncur, yang didepan cepat, tapi Kang Han Cing mengikuti dengan berhati2, agar jejaknya tidak kelihatan oleh orang yang dibuntuti.

Waktu sudah menjelang sore, pohon2 sudah tunduk kebawa, matahari sebagian sudah berada di bawah tanah.

Mereka masih meluncur dengan kecepatan maksimum.

Semakin lama hari menjadi gelap, tiga puluhan lie telah mereka liwatkan.

Tidak jauh lagi, didepan tampak semak2 pohon belukar, dimana ada cahaya lampu yang dipasang, itulah sebuah bangunan, bangunan di tengah2 semak belukar.

Kang Han Cing palsu melesatkan diri memasuki tempat bangunan itu.

Kang Han Cing asli menyedot napasnya dalam2, ia tidak membiarkan musuhnya lewat lepas begitu saja, juga harus dijaga agar tidak diketahui orang, kalau ia membuat pembuntutan.

Ia juga turut masuk kedalam gedung itu. Hampir disaat yang bersamaan, kedua orang tadi memasuki gedung didalam rimba belukar.

Orang yang didepan langsung menuju ke arah pekarangan, langkahnya diarahkan ke kamar bagian selatan. Disana tampak lampu penerangan.

Kang Han Cing mengawasinya dengan mata tidak berkesiap.

Sebentar kemudian, si Kang Han Cing palsu sudah mengetok jendela, suaranya sangat perlahan sekali.

Tidak lama jendela terbuka, disana tampak seorang gadis pelayan berpakaian hijau menongolkan kepalanya dan bersorak girang :

“Nona baru kembali ?”

“Ya !" orang yang menyamar menjadi Kang Han Cing adalah seorang wanita, maka gadis pelayan ini memanggilnya sebagai nona.

Kang Han Cing palsu segera lompat masuk kedalam kamar itu. Dan sekejap kemudian, jendelapun sudah ditutup kembali.

***

SI GADIS pelayan berbaju hijau membukakan sepatu sang majikan, maka tampak kakinya yang kecil.

Kini, Kang Han Cing palsu membuka baju luarnya, tampak tubuh montok berpakaian ringkas. Dadanya membusung ke-depan, pinggangnya ramping, pinggulnya nonjol keluar, sangat menarik pria. Dia duduk disebuah kursi, dan membuka topi, rambutnya yang panjang hitam jengat terurai panjang.

Gadis ini mempunyai wajah yang cantik memikat, mempunyai potongan tubuh yang padat.

Setelah memperhatikan itu semua Kang Han Cing melayang masuk, ia harus segera bisa membongkar penyamaran jahat.

Si gadis pelayan berbaju hijau bisa melihat adanya pria yang nyelonong itu, sret, ia mengeluarkan pisau belati, ter-kaing2 dan desingan, membawa deru serangan, pisau menusuk Kang Han Cing di tiga tempat.

Kang Han Cing mengelakkan serangan itu, tangkas dan cepat.

Si gadis yang menyamar Kang Han Cing sudah membereskan ikat rambutnya ia mengeluarkan panggilan :

“Siao Siang mundur, kau bukan tandingannya !" Ternyata ia bisa melihat dan menduga asal usul

Kang Han Cing.

Peringatannya sudah terlambat !

Pelayan berbaju hijau yang dipanggil Siao Siang sudah menusukkan belatinya, Kang Han Cing menggerakkan tangan, dengan dua jari menjepit pisau itu.

Siao Siang berusaha menarik kembali pisaunya tapi tidak berhasil. Dicabutnya, juga tidak berhasil. Dua jari jepitan Kang Han Cing seperti berakar keras, tidak bergeming.

Siao Siang memiliki ilmu kepandaian cukup kuat, ia segera melepaskan pisaunya lalu kedua jarinya dikeraskan, menotok jalan darah Kang Han Cing.

Serangan ini mengenai sasaran, terdengar suara, puk, tapi Siao Siang yang kaget, se-olah2 membentur besi, tangan itu hampir patah, ia berteriak, aduh, dan mundur kebelakang.

Kang Han Cing melepaskan jepitannya menjatuhkan pisau dilantai.

Gadis berbaju hijau yang menyamar Kang Han Cing tertawa dingin, diperhatikannya pemuda itu dan berkata :

“Ilmu kepandaian hebat ! Sedang berdemontrasi

!"

“Hei," berkata Kang Han Cing. “Dengan maksud

apa kau mencelakakan orang ?"

“Maksudmu ?" bertanya si gadis berbaju hijau. “Aku ingin mengetahui jelas, siapa yang

melakukan perkosaan dan pembunuhan di Ciok- cuk-am."

Gadis berbaju hijau berkata dingin :

“Hendak memeriksa hal perkosaan ? Ha, kau salah cari."

“Mengapa salah cari ?" bertanya Kang Han Cing. Selembar wajah gadis berbaju hijau itu menjadi merah, membanting kaki dan berkata :

“Nah ! Kau sudah ketahui. Aku juga seorang wanita. Mana mungkin bisa memperkosa wanita?"

Keterangannya memang tepat. Tapi siapa yang memperkosa Yen Siu Lan ? Siapa yang membunuhnya ?

Sedangkan Kang Han Cing sudah mengikuti bayangan gadis berbaju hijau ini, gadis ini dengan menyamar dan menggunakan kedok tipis, hampir saja ia mencelakakan Ciok Sim Taysu dan Put-im Suthay. Kalau saja tidak ada Goan Tian Hoat yang meng-ojok2 sang toako, fitnah jatuh pula keatas dirinya.

“Kang jiekongcu," berkata si gadis berbaju hijau. “Kau sudah mengikutiku lama ?"

“Ya," berkata Kang Han Cing.

Gadis berbaju hijau itu bertanya lagi : “Apa maksudmu ?”

“Mudah saja," berkata Kang Han Cing. “Kupersilahkan kau menggunakan kedok tipis tadi, mengenakan pakaian yang sepertiku. Dan turut aku."

“Dengan alasan apa? Aku harus turut dirimu?" si gadis menantang.

“Lebih baik nona mengikuti saja." berkata Kang Han Cing perlahan.

“Kalau tidak, bagaimana ?" bertanya gadis berbaju hijau itu. “Apa boleh buat, aku harus menggunakan kekerasan." berkata Kang Han Cing.

“Eh, mau ngajak berantam ?”

“Nona sendiri yang memaksa," berkata Kang Han Cing, “Dalam keadaan apa boleh buat, harus juga kulakukan."

“Bagus." berkata si gadis berbaju hijau, “Sudah lama kudengar ilmu kepandaian silat Kang jiekongcu yang hebat, tapi belum kucoba. Mari kita bergebrak beberapa jurus."

“Boleh saja," berkata Kang Han Cing. “Kalau nona tidak bisa mengambil kemenangan kuharap saja bisa turut aku."

“Tentu." berkata si gadis berbaju hijau. “Nah !

Mulailah."

“Silahkan kau yang mulai !" berkata Kang Han Cing.

“Baik. Terima seranganku." pedangnya disentak sedikit, menusuk perut Kang Han Cing.

Kang Han Cing tidak pernah gentar, sret, ia mengeluarkan pedang, dan menepuk serangan pedang si gadis.

Gadis berbaju hijau itu tertawa cekikikan, pedangnya sebagai seekor ular yang licin, bergelut dan meluncur kebawah, dari sana meletik keatas, cahaya kilatan pedang berkelebat, mengancam tenggorokan.

Kang Han Cing terkejut, kecepatan ilmu pedang gadis ini sungguh luar biasa, karena itu, untuk mengimbanginya ia pun bergerak cepat menutup kearah luar.

Si gadis tidak berhenti sampai disitu, di tengah jalan ia mengubah arah, tusukan pedang mengancam, kini menggores dari atas kebawah. Se-olah2 mau membelah perut Kang Han Cing.

Kang Han Cing menubruk tempat kosong, rasa kagetnya tidak kepalang. Cepat2 menyedot perut mundur satu langkah.

Inisiatif penyerangan masih berada di tangan si gadis berbaju hijau, pedangnya ber-kilat2, sekaligus menyerang ditujuh tempat.

Setiap tempat yang diarah adalah tempat yang berbahaya.

Betapa bunga hati si gadis berbaju hijau, menyaksikan kecepatan gerakannya yang berhasil menekan Kang Han Cing, si pemuda sudah berada didalam situasi posisi terjepit, tentu saja si gadis tidak melepaskan kesempatan baik, terus menerus menyerang lagi, mulutnya membentak, tangannya terayun, membuat gerakan istimewa, terjadi delapan kali getaran pedang, ujung pedang mengancam delapan tempat, delapan tempat itu adalah delapan jalan darah kematian Kang Han Cing. Bilamana salah satu dari kedelapan ancaman serangan pedang itu mengenai sedikit saja tubuhnya, Kang Han Cing akan luka parah. Dan bila serangan pedang si gadis berhasil menusuk sedikit, Kang Han Cing akan mati segera.

Ancaman hebat dan luar biasa ! Tapi disaat inilah, terdengar suara Kang Han Cing:

“Awas nona !"

Terdengar suara tang, tang, ting, ting, semua serangan pedang si gadis ditangkis dengan baik. Hanya dengan me-nyentil2 ujung pedang serangan istimewa si gadis berbaju hijau punah dan hancur. Secepat itu pula, pedang Kang Han Cing berhasil menekan pedang si gadis dengan kekuatan raksasa. Si gadis berbaju hijau tidak menyangka kalau Kang Han Cing ini masih mempunyai banyak ilmu simpanan, ia hendak menarik pulang pedangnya, tapi sudah terlambat.

Pletok.....pedangnya tertekan dan jatuh berdentang dilantai.

Apa boleh buat gadis berbaju hijau melepaskan pegangan lompat jauh ke belakang.

Kang Han Cing sangat yakin kepada ilmu kepandaian yang dimiliki, tidak mengejar gadis tersebut, ia berdiri tenang, dengan kalem berkata :

“Nona sudah menderita kekalahan, mari turut aku !"

“Siapa yang kalah ?" berkata si gadis berbaju hijau. “Nah ! Lihat lain acaraku!"

Tangannya terayun, jalur2 merah mengarungi ruangan itu, menelungkup kearah Kang Han Cing.

Menduga kepada datangnya senjata rahasia Kang Han Cing menggerakkan pedang, dengan tertawa dingin menangkis serangan2 itu. Dugaan Kang Han Cing meleset, jalur2 merah yang ditaburkan oleh si gadis adalah jalur2 yang sangat halus, semacam sutera halus, terpecah dan buyar disekitar kepalanya, mengeluruk jatuh.

Yang lebih hebat, jalur2 sutera halus itu mempunyai kaitan2 kecil, kaitan tersebut khusus untuk menangkap orang, siapa saja yang terkait, tidak mungkin mengelakkan diri, dan selanjutnya bisa meringkusnya.

Kang Han Cing kurang pengalaman Kang-ouw, ia tidak kenal dari mana senjata luar biasa tadi. Berulang kali pedangnya menangkis, tubuhnyapun mundur ke belakang.

Si gadis berbaju hijau tertawa cekikikan dan berkata :

“Jalaku ini bernama jala penembus langit, dewa dan iblispun tidak bisa mengelakkan. Apalagi seorang manusia? Menyerahlah !"

Dengan senjata yang aneh luar biasa itu, si gadis berbaju hijau mendesak Kang Han Cing.

Berulang kali Kang Han Cing menabas jala berlapis langit, jala itu aneh, alot, dipotong tidak putus, ditabas menjadi lembek, pedangnya tidak berdaya.

Yang lebih hebat lagi, kalau menangkis datangnya jala itu, ujung kaitannya yang tajam melengkung datang, semakin cepat ia bergerak, semakin cepat pula reaksinya, kecuali berlompatan kesana kemari, tidak ada lain jalan untuk memecahkan senjata aneh itu! Bekerjanya jala penembus langit memang aneh luar biasa, si gadis berbaju hijau sudah melatih diri selama tahunan, mengurung Kang Han Cing.

Kang Han Cing berusaha mengelakan datangnya kurungan2 itu, terlalu sulit, ia berlompatan kian kemari, pedangnya menangkis dan memotong, tokh tidak berdaya. Ia harus mengelakan datangnya kaitan2 kecil itu lagi, lebih2 sulit lagi.

Pedang Kang Han Cing juga termasuk pedang pusaka, pedang yang bisa memutuskan segala benda2 keras.

Menghadapi jala2 halus itu, ia tidak berdaya.

Tiba2 pikiran Kang Han Cing tergerak, dia tidak bisa membabat putus jala sutera halus. Tapi kaitan2 yang ber-bengkok adalah terbuat dari logam, kini diincarnya logam2 itu.

Trang, sebuah kaitan yang datang berhasil dibabat putus.

Trang, lagi2 sebuah kaitan dari ujung jala penembus langit dipapas putus.

Trang, trang, trang.....

Kang Han Cing membabat putus kaitan2 yang berada diujung jala penembus langit itu.

Dengan terpapasnya kaitan2 logam pada jala itu, bobot berat yang menggerakkan jalur2 sutera menjadi lenyap, si gadis berbaju hijau kualahan, betapa hebatpun ilmu kepandaian tenaga dalam, ia tidak bisa lagi memainkan, sutera-sutera halus itu tiada bertenaga. Kini kaitan2nya sudah terpapas habis, ia menjadi sangat marah, dilemparkan senjata istimewa itu, dengan marah membentak:

“Kang Han Cing! Bukan maksud kami membunuh dirimu. Tapi kau keliwatan, apa boleh buat. Nah! Terima ini !”

Begitu tangannya merogoh saku, ia melempar kearah Kang Han Cing, terjadi hujan jarum beracun, jarum-jarum itu sangat halus, bertaburan seperti air hujan.

Jarak mereka terlalu dekat, seharusnya tidak mudah mengelakkan serangan jarum beracun itu, tapi Kang Han Cing selalu sudah siap sedia, tangan kirinya diluncurkan, dengan tenaga dalam memukul jarum-jarum beracun yang sudah menyambar terdepan, tubuhnya berjumpalitan, meluncur ke belakang.

***

SI GADIS berbaju hijau telah memperhitungkan sesuatu, ia berani memalsukan Kang Han Cing, tentu mempunyai ilmu kepandaian yang cukup tinggi. Sesudah pedang, jala penembus langit dan jarum beracun tidak berhasil, kini tangannya telah memegang sebilah belati, dengan belati ini, ia menyerang Kang Han Cing, membarengi serangan jarum beracunnya, ditujukan kearah si pemuda.

Disaat itu, tubuh Kang Han Cing sedang melengkung kebelakang, datangnya serangan belati sangat mendadak, sulit mengelakkannya, hal ini sudah termasuk salah satu perhitungan si gadis berbaju hijau, maka ia menusuk dengan pisau belati. Ada dua cara untuk menangkis datangnya serangan itu. Cara yang pertama adalah menggunakan senjata memukul pergi belati lawan, cara yang kedua adalah bergulingan ditanah, menjatohkan diri, tapi cara ini lebih celaka.

Kang Han Cing tidak menggunakan cara2 yang lazim, tiba2 saja badannya yang melengkung itu ditempangkan kembali !

Celaka ! Ini berani memajukan perutnya untuk ditublas oleh belati si gadis berbaju hijau.

Si gadis berbaju hijau menjadi kaget, mana mungkin ada cara perlawanan yang seperti itu? Menjerit keras. Ia bingung untuk meneruskan serangan belatinya yang sudah disodorkan ke depan itu.

Tak.......

Didalam situasi kebingungan itu, tiba2 jari Kang Han Cing menyentil belati si-gadis. Belati itu jatuh terbang.

Kang Han Cing sudah berdiri berhadap- hadapan, jarak mereka cukup dekat, hampir bersampokkan kulit.

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, Kang Han Cing berhasil mengelakan segala macam bahaya. Ia sudah berada diambang pintu kemenangan, dengan sombong berkata :

“Nona, apa lagi permainanmu ? Silahkan. ”

Sebelum kata2 Kang Han Cing dilepas habis, lain senjata rahasia lagi melepus, tangan kiri si gadis terayun, benda merah menghampiri Kang Han Cing.

Kang Han Cing sedang ber-pikir2 senjata rahasia macam apa lagi yang dikeluarkan ? Tangannya menyaup, menerima datangnya gumpalan merah itu.

Aaaaa ….

Ternyata selembar saputangan merah, bau harum parfum seorang gadis menusuk hidung.

Hanya selembar saputangan merah yang digunakan untuk menyerang ?

Saputangan merah ini bukan saputangan biasa, hawa bau harum itu telah mendapat olahan2 istimewa pula, disaat Kang Han Cing mengendus bau harum itu, tiba2 sepasang kakinya menjadi lemas, ia terjatuh duduk.

Kang Han Cing keracunan secara halus.

Giliran gadis berbaju hijau yang tertawa cekikikan, katanya :

“Hi, Hi......... Kang-jie kongcu, sampai disini sajakah pertempuran kita?"

Kedua tangan dan kedua kaki Kang Han Cing tidak bertenaga lagi, ia bisa melihat ia bisa mendengar, bisa bersuara, tapi tidak bisa menggerakan tenaga. Kekuatannya telah dihancurluluhkan oleh gumpalan racun itu.

Si gadis berbaju hijau memandang ke arah Kang Han Cing, kemudian menoleh kearah pelayannya dan berkata: “Siao Siang, Kang jiekongcu adalah tamu kita, mana pantas membiarkan seorang tamu duduk numprah ditanah, Hayo ! Lekas bawakan kursi ! Bangunkan dan dudukkan diatas kursi."

Si pelayan Siao Siang bisa bekerja cepat menyeret sebuah kursi, diletakkan di-tengah2 lalu memayang Kang Han Cing yang sudah tiada daya, didudukkan diatas kursi itu.

Sesudah selesai, Siao Siang mengeluarkan keluhan dan berkata:

“Uh, orang ini berat sekali !"

Si gadis berbaju hijau mendelikkan mata, mendatangi Kang Han Cing dan berdiri didepan si pemuda, ia tertawa:

“Jiekongcu, apa masih ingin menyeret aku ke Ciok-cuk-am ?"

Kang Han Cing mengatupkan mata, tidak menggubris cemoohan tadi.

Si gadis berbaju hijau berkata lagi : “Saputangan merahku tidak mempunyai daya

bius, hanya bisa menjinakkan seseorang yang galak. Mengapa Kang jiekongcu menutup mata, tidak berani menerima kenyataan ?"

Suaranya merdu, sangat menarik hati.

Kang Han Cing merentangkan kedua mata, ia membentak :

“Bah! Mengapa tidak berani ?" “Hi, hi. ” gadis itu tertawa lagi. “Ilmu kepandaian Kang jiekongcu memang hebat. Sudah boleh membanggakan diri di dalam dunia Kang-ouw.”

Dengan marah Kang Han Cing membentak: “Aku telah tertipu olehmu, kalau mau bunuh

lekas bunuh, jangan banyak cingcong."

“Maaf !” berkata si gadis berbaju hijau, “Tidak seharusnya aku menggunakan obat pelemas itu menjatuhkan jiekongcu. Tapi.....tidak ada jalan lain. Terpaksa aku harus menahan jiekongcu."

“Kau hendak menahan aku disini?" bertanya Kang Han Cing.

Gadis berbaju hijau itu menganggukkan kepala. “Maksudmu ?"

“Ayah angkatku ingin bertemu."

Hati Kang Han Cing tergerak, ternyata si gadis berbaju hijau hanya dalang, ia masih mempunyai seorang ayah angkat. Ayah angkat itu hendak bertemu ? Apa maksud tujuannya ? Siapakah orang yang menjadi ayah angkat si gadis ? Mungkinkah lengcu Panji Hitam?

Kang Han Cing menentang sepasang sinar mata si gadis yang jeli, ia bertanya:

“Lengcu Panji Hitam yang kau maksudkan ?" “Tidak perlu ter-buru2,” berkata si gadis.

“Sebentar lagi kalian segera bertemu."

“Siapa nama ayah angkatmu ?" bertanya Kang Han Cing. “Tanya saja kepadanya, kalau ayah angkatku bersedia memberi tahu, ia bisa bicara sendiri. Tidak perlu meminta keteranganku.”

Hati Kang Han Cing tergerak, dari pembicaraan tadi, ia bisa membuktikan bahwa ayah si gadis berbaju hijau bukanlah lengcu Panji Hitam. Siapa ? Oh!...mungkinkah orang yang menjadi pemimpin dari lengcu Panji Hitam ?

Sekali lagi Kang Han Cing menatap gadis didepannya, gadis itu sangat cantik, cukup menarik, badannya padat dan gempal, memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tinggi. Berani menyamar dirinya, membuat fitnah yang jahat.

Rasa sakit hati Kang Han Cing itu segera mereda. Mereka saling pandang sebentar, cepat2 Kang Han Cing bertanya :

“Bagaimana sebutan nona?"

“Ouw ..... aku lupa memberi tahu." berkata si gadis. “Aku Suto Lan.”

Nama si gadis berbaju hijau adalah Suto Lan !

Apa maksud tujuan Suto Lan menggunakan wajah Kang Han Cing, mencelakakan Kang Han Cing? Inilah yang harus diselidiki.

“Kapan aku bisa bertemu dengan ayah angkat nona ?" bertanya lagi Kang Han Cing.

Gadis berbaju hijau Suto Lan berkata.

“Tidak lama. Tunggulah beritanya. Lebih baik jiekongcu menetap disini dahulu, sesudah kuberi tahu ayah angkatku itu, nanti jiekongcu akan mendapat panggilan.”

Sesudah itu, dari dalam saku bajunya, Suto Lan mengeluarkan sebuah botol obat, dituangnya, dari sana meluncur sebutir obat berwarna putih, diletakkan ditangan dan diserahkan kepada Kang Han Cing, ia berkata :

“Inilah obat, agar kau bisa bebas dari pengaruh racun lemas itu !"

Kang Han Cing memandang obat itu dan bertanya :

“Apa kau tidak takut aku melarikan diri ?" Dengan tertawa Suto Lan berkata:

“Obat lemas itu sangat istimewa, tidak bisa membius orang, kerjanya juga sangat lambat, tapi penyembuhannya pun sangat lambat. Kau harus membutuhkan waktu tiga hari, maka kau baru bisa bebas kembali. Sekarang obat yang kuberikan hanya sebutir, kau hanya bisa menyembuhkan sepertiga dari kelumpuhan2 itu. Kau bisa bergerak, tapi tidak bisa mengerahkan tenaga. Belum boleh menggunakan tenaga."

Dengan dingin Kang Han Cing berkata: “Pantas saja nona begitu royal !"

“Jangan salahkan aku." berkata Suto Lan. “Kau boleh menjadi tamu ditempat ini."

Suto Lan menjulurkan tangannya, menjudukan obat itu dan berkata :

“Bersediakah kau makan obat ini ?" Keadaan Kang Han Cing begitu mengenaskan, ia duduk numprah dibangku, mengangkat tangannya saja sudah tidak bisa, apalagi untuk berjalan ? Mendapat sodoran obat, ia segera merentangkan mulut.

Per-lahan2 Suto Lan meletakkan obat itu kedalam mulut Kang Han Cing, diberi minum dan ia berkata :

“Maafkan ! Aku masih ada lain urusan. Disini ada Siao Siang yang melayani segala kebutuhan jiekongcu, kalau perlu sesuatu, panggil saja dirinya."

Sesudah itu, ia berpesan kepada Siao Siang : “Siao Siang, jiekongcu masih belum makan.

Lekas siapkan barang santapan."

Siao Siang segera mengiyakan perintah itu, lari keluar untuk membuat makanan.

Suto Lan meninggalkan tempat itu !

Bekerjanya obat tadi sangat cepat sebentar kemudian Kang Han Cing bisa menggerakkan tangan dan kaki. Tapi ia masih tidak bisa menggunakan tenaga, pengaruh bau harum semerbak dari saputangan merah itu memang hebat.

Kang Han Cing tidak menjadi khawatir atas kesulitan dirinya, ia harus membongkar rahasia, siapa orang yang membuat fitnah jahat itu? Bintik2 terang mulai menampak, kalau saja ia meneruskan penyelidikannya, tidak sulit menemukan biang keladi dari segala biang kekerokan.

Si gadis berbaju hijau Suto Lan hanya sebuah pion, orang telah memalsukan dirinya, dengan maksud memperdalam fitnah-fitnah itu.

Kang Han Cing berjalan mundar-mandir diruangan tadi. Ia sedang berusaha, bagaimana membebaskan diri dari kehilangan tenaga?

Tidak lama kemudian, tampak pintu terbuka, Siao Siang berjalan masuk dengan makanan. Pelayan itu berkata :

“Jiekongcu, silahkan makan !"

Kang Han Cing memang mulai merasakan perutnya keroncongan, tidak segan2 melahap semua makanan itu.

Siao Siang menantikan disamping, menunggu sampai selesai, si pelayan bertanya :

“Jie-kongcu masih mau tambah apa lagi ?" “Tidak. Sudah cukup."

Siao Siang memberesi sisa2 makanan.

Menggunakan kesempatan ini, Kang Han Cing mengajukan pertanyaan :

“Siao Siang, apakah ditugaskan melayani kebutuhan nona Suto Lan tadi ?"

“Sekarang ditugaskan untuk melayani jie kongcu," berkata Siao Siang tertawa. “Karena majikanmu takut aku melarikan diri, maka kau mendapat tugas untuk mengawasiku, bukan ?"

“Jie kongcu jangan sampai memikir kesitu." berkata Siao Siang. “Nonaku berlaku baik budi, sampaipun kamarnya diserahkan kepadamu. Terus terang saja aku bicara padamu, biasanya nona Suto Lan itu dingin dan angkuh, belum pernah berlaku baik kepada siapapun juga. Walau saudara2 seperguruannya, iapun acuh tak acuh. Terkecuali kau ! Jie-kongcu !"

Dari pembicaraan ini, Kang Han Cing bisa mengetahui lain rahasia, ternyata Suto Lan bukan seorang diri, si gadis berbaju hijau itu masih mempunyai banyak saudara seperguruan.

Siapakah saudara2 seperguruannya ? Inilah yang perlu diselidiki.

***

“OH....." berkata Kang Han Cing, membawakan sikapnya yang terkejut. “Tempat ini menjadi kamar nona Suto Lan ?"

“Tentu saja kamar nona Suto Lan. Apa kau tidak mempunyai mata melihat?"

Berkerutkan alis, Kang Han Cing berkata :

“Oh! Maaf! Mana baik mengangkangi kamar orang, lebih baik aku dipindahkan ke kamar lain saja."

Dengan tertawa misterius Siao Siang berkata : “Inilah perintah nona Suto Lan. Dikatakan olehnya, waktu sudah malam. Mencari kamar lain tidak mudah, juga harus memberes2kan. Takut kalau Jiekongiyu tidak betah maka ia menjediakan kamar ini."

“Sebelumnya, aku Kang Han Cing mengucapkan banyak terima kasih.”

“Nanti saja, berterima kasih kepada nona Suto Lan," berkata Siao Siang tertawa kecil.

“Oh ! Gedong ini apa milik ayah angkat nona Suto Lan ?”

“Boleh dianggap seperti itu." jawab Siao Siang dengan nada diplomatik.

“Aku belum pernah bertemu dengannya, tentunya jago silat luar biasa.”

“Entah ya."

“Apa hartawan kaya?"

“Majikan tua kami...” tiba2 Siao Siang merasakan keceplosan bicara, ia menutup suaranya.

Hati Kang Han Cing memaki, pikirnya pelayan ini sangat ber-hati2. Dan ia tidak bicara lagi.

Sesudah memberesi sisa makanan, Siao Siang meninggalkan kamar itu.

Menunggu kepergiannya Siao Siang, Kang Han Cing mengunci pintu, dan ia membaringkan diri ditempat tidur. Inilah pembaringan yang biasa digunakan oleh Suto Lan, bau parfum dari seorang gadis terasa hangat merangsang. Harumnya bedak dan gincu, terus menerus menyerang hidung Kang Han Cing.

Paling susah menerima kebaikan budi seorang gadis. Demikianlah istilah ini bisa Kang Han Cing rasakan. Tidur ditempat yang begitu empuk, dengan bau2 harum yang semerbak membuat pikirannya me-layang2 jauh.

Berkresak-kresek setengah malaman, Kang Han Cing belum bisa tertidur. Karena itu akhirnya ia meninggalkan pembaringan, per-lahan2 memeriksa didalam kegelapan.

Waktu kentongan kedua sudah lewat, sebentar lagi kentongan ketiga akan dipukul.

Gedung itu sangat sunyi dan sepi, tenang tidak terdengar sedikit suarapun.

Kang Han Cing tidak menyalakan lampu, matanya yang lihai sudah biasa memeriksa sesuatu di tempat kegelapan. Ia mem-buka2 laci, memeriksa kalau2 menemukan obat pemunah pelemas badan itu.

Setengah malaman Kang Han Cing ngaduk kamar Suto Lan, tentu saja ia tidak berhasil mendapatkan benda yang dicari, Suto Lan itu menggunakan obat pelemas melenyapkan kekuatan menjatuhkan Kang Han Cing, tentu ia tidak menaruh obat penawar racun tersebut didalam kamarnya. Mengetahui akan hal ini, akhirnya Kang Han Cing berbaring kembali di tempat tidur.

Kang Han Cing berusaha menenangkan pikirannya, sedapat mungkin ia memeramkan mata, mata meram dengan pikiran yang melayang- layang, tentu saja ia tidak mudah tidur.

Beberapa saat kemudian terdengar ayam berkokok. Tanpa disadari baru Kang Han Cing jatuh tertidur.

Kang Han Cing bangun sesudah matahari di- tengah2 langit, ia turun dari pembaringan dan membuka pintu.

Dipintu kamar Siao Siang sudah menanti, melihat Kang Han Cing yang sudah bangun, pelayan itu memberi hormat, dengan tertawa berkata :

“Jiekongcu bisa tidur nyenyak ?”

Wajah Kang Han Cing menjadi merah kalau saja teringat bagaimana ia gulang-guling ditempat tidur yang banyak pikiran kusut itu, ia menjadi malu kepada diri sendiri, dengan cengar-cengir berkata :

“Nonamu sudah kembali ?"

“Lebih dari satu kali." jawab Siao Siang. “Kami takut mengganggu ketenangan jie-kongcu, maka tidak membangunkan."

“Eh, mengapa tidak mau mengetok pintu ?" Dengan tertawa misterius Siao Siang berkata : “Inilah perintah nona Suto Lan. Dia melarang

hamba mengganggu ketenangan jie-kongcu." Dengan masih tertawa misterius, Siao Siang berkata :

“Inilah perintah nona, hamba dilarang mengganggu kesenangan tidur Kongcu."

Sesudah itu, Siao Siang berkata lagi:

“Biar hamba ambilkan air buat cuci muka." Pinggulnya diputarkan, meninggalkan Kang Han

Cing.

Tidak lama kemudian Siao Siang membawa air buat cuci muka. Sesudah itu ia mengundurkan diri. Tak lama kembali dengan ransum makanan.

Kang Han Cing bercuci muka, membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri ia duduk dimuka meja menghabisi makanan pagi yang tersedia.

“Dimana nonamu ?” Begitu Siao Siang menongolkan kepala, Kang Han Cing mengajukan pertanyaan.

Sebelum Siao Siang menjawab, dipintu telah menongol seorang, itulah gadis berbaju hijau Suto Lan.

Hari ini Suto Lan mengenakan pakaian yang ketat, juga berwarna hijau muda, tepat di bagian dada terlukis sepasang burung Hong, indah sedang menari2.

Berbeda dengan semalam, kalau itu waktu Suto Lan mengenakan pakaian ringkas, gagah dan keren, ini kali Suto Lan membawakan sikapnya seorang gadis remaja, seorang gadis putri hartawan. Mukanya dipupur, bibirnya dipoles merah, semakin cantik, semakin menarik.

Kedua sinar mata saling bertumbukkan, Suto Lan menundukkan kepala dan bertanya :

“Jiekongcu bisa tidur pulas ?"

Kang Han Cing mengelakkan lirikan mata itu, tertawa tawar berkata :

“Terima kasih. Bagaimana ? Apa nona sudah bertemu dengan ayah angkat nona?"

“Mengapa begitu ter-buru2 ?" bertanya Suto Lan. “Tidak betah disini ?"

“Urusanku masih banyak." berkata Kang Han Cing. “Secepat mungkin bisa menemui ayah angkat nona ! Dan cepat nona berikan obat penawar racun lemas itu."

“Tidak lama lagi. Sesudah bertemu dengan ayah angkatku, tentu saja kuberi obat penawar racun lemas itu.”

Tiba2 Kang Han Cing teringat sesuatu, mengangkat kepala, memandang dengan berani pada wajah yang menarik itu, ia bertanya:

“Ada sesuatu yang aku tidak mengerti, bisakah nona memberi keterangan?"

“Keterangan apa?"

“Tentang perkosaan dan pembunuhan di vihara Ciok-cuk-am. Siapakah yang sudah melakukannya?"

Dengan tertawa kecil Suto Lan berkata: “Oh! Tidak enak didengar." “Mungkinkah bukan perkosaan?"

“Apa kau sudah melihat dengan mata sendiri ?" balik tanya Suto Lan.

Selembar wajah si gadis menjadi merah.

Kang Han Cing masih belum bisa men-duga2, bagaimana hal itu bisa terjadi ? Segera ia berkata :

“Disaat aku tiba ditempat itu, Yen Siu Lan sudah terbaring didalam keadaan telanjang, ia mati. Inilah yang kusaksikan."

“Kau hendak tahu urusan kematian Yen Siu Lan?"

“Didalam soal ini menyangkut nama baikku.

Tentu saja harus tahu." Suto Lan berkata:

“Yen Siu Lan mati dibawah kami."

Kang Han Cing merentangkan sepasang matanya lebar2, gadis secantik inikah yang membunuh orang? Dia hampir tidak percaya karena itu meminta ketegasan, katanya:

“Nona yang membunuh Yen Siu Lan?" “Eh, tidak percaya ?" bertanya Suto Lan. “Betul2 sulit diterima."

“Dengar." berkata Suto Lan perlahan. “Karena Yen Siu Lan sudah berkhianat kepada golongan, karena itu harus mendapat hukuman kematian." “Oh !" Kang Han Cing terkejut. “Yen Siu Lan juga termasuk salah satu dari anggota kalian?"

Suto Lan memberikan satu kerlingan mata yang menarik, ia berkata:

“Hanya ini yang bisa kuberitahu kepadamu.

Lain tidak."

“Golongan apakah nama golongan kalian itu ?" bertanya Kang Han Cing.

“Maaf ! Untuk sementara masih harus dirahasiakan !" berkata Suto Lan. “Belum waktunya memberitahu kepadamu."

Hati Kang Han Cing mengeluh, ia sedang berhadapan dengan sesuatu golongan yang misterius, golongan baru yang tidak dikenal olehnya.

Suto Lan membiarkan Kang Han Cing termenung seperti itu, beberapa saat kemudian ia bertanya perlahan:

“Aku juga ada sesuatu yang hendak ditanyakan, bisakah kau memberi jawaban yang memuaskan?"

“Urusan apa?" bertanya Kang Han Cing. Sepasang mata Suto Lan yang jeli terputar,

tidak henti2nya mengirim kerlingan mata. Ia

berkata:

“Ilmu kepandaian jiekongcu betul menakjubkan. Orang pertama yang mendapatkan pujianku, siapakah yang berhasil mendidik kongcu seperti itu, bagaimana sebutan dan nama suhu jiekongcu

?" Kang Han Cing berkata :

“Suhu tidak berkelana didalam rimba persilatan, namanya tidak mau diketahui orang. Sampaipun aku juga tidak mengetahui jelasnya."

“Bohong !" berkata Suto Lan tertawa, “Mana ada murid yang tidak tahu nama gurunya ? Tentu jiekongcu tidak mau memberitahu."

“Sungguh." berkata Kang Han Cing, “bukan tidak mau memberitahu. Kenyataan memang tidak tahu. Bilamana nona bertanya kepada toako, ia juga memberi keterangan yang seperti ini."

Suto Lan melicini bibirnya dan berkata : “Hi, hi. kau pandai bicara."

Pembicaraan itu terputus kembali. Mereka duduk berhadap2an.

Beberapa lama kejadian yang canggung itu diputuskan oleh tertawanya Suto Lan, ia berkata :

“Jiekongcu, kita mengganti bahan pembicaraan, bagaimana ?"

“Apa yang nona hendak percakapkan ?" bertanya Kang Han Cing.

“Apa saja, seperti.      "

Tiba2 terdengar suara derap langkah kaki yang bergerak cepat tiba di pintu dan ter-batuk2. Itulah suara Siao Siang.

“Nona Suto Lan......" panggil Siao Siang perlahan.

“Ada apa?" bentak Suto Lan. Horden tersingkap, Siao Siang berjalan masuk, ia memberi hormat dan berkata:

“Baru saja hamba menerima perintah khungcu, ia memberitahu kalau mengharap kedatangan nona dan jiekongcu. Segera !"

Suto Lan memperlihatkan sikapnya yang terkejut, dengan heran berkata:

“Biasanya ayah jarang mau menemui tamu. Baru saja ia melatih diri, hendak bertemu dengan Kang jiekongcu ?"

Sesudah itu ia bangkit dari tempat duduknya, berkata kepada Kang Han Cing:

“Mungkin ayah kangen kepada nama besar Kang jiekongcu, maka pagi2 sudah hendak bertemu. Mari kuajak."

Pikiran Kang Han Cing juga masih kacau, tenaganya juga sudah tiada, ia menjadi tawanan halus. Dari rombongan baru yang tidak diketahui asal usulnya ini, karena itu ingin sekali bisa mengetahui yang lebih banyak : Siapa ayah Suto Lan yang misterius ?

***

SUTO LAN mengajak Kang Han Cing meninggalkan kamar itu. Mereka melalui lorong- lorong panjang, tiba disebuah ruangan. Dan disini Suto Lan berkata :

“Inilah kamar ayah angkatku."

Didepan pintu berdiri dua orang gadis, masing2 menyoren pedang dipinggang, melihat kedatangan Suto Lan, kedua gadis pelayan itu memberi hormat.

Suto Lan menganggukkan kepala, mengajak Kang Han Cing memasuki ruangan tengah.

Dari dalam terdengar satu suara yang sangat dingin dan kaku.

“Suto Lan yang datang?"

“Ya." jawab Suto Lan. “Anakmu telah membawa Kang jiekongcu."

“Suruh dia masuk.” suara dingin dan ketus itu berkata.

Suto Lan menoleh kearah Kang Han Cing dan berkata :

“Itulah ayah angkatku. Mari masuk."

Ruangan itu serba sederhana, diatas sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu jati, dikedua ujung terdapat pot bunga, dengan bunga lain yang semerbak, meresap dan menusuk hidung.

Didepan bangku panjang itu terdapat empat kursi, terukir dengan baik.

Kini, diatas bangku panjang berduduk seorang tua bermuka keren, ia mengenakan pakaian hijau. Tubuhnya tinggi besar, jenggotnya yang putih terurai panjang ke bawah. Matanya bercahaya, menyorot ke arah Kang Han Cing.

“Kau inikah Kang jiekongcu ?" ia bertanya. Kang Han Cing menganggukkan kepala dan berkata :

“Betul. Boanpwee Kang Han Cing."

Dengan nada yang dingin dan kaku, orang tua itu berkata:

“Silahkan duduk !"

Tanpa diperintah kedua kali, Kang Han Cing mengambil kursi dan duduk disana.

Suto Lan juga mengambil kursi lain dan merendengi Kang Han Cing, mereka duduk berhadapan dengan orang tua itu.

Orang tua bermuka keren itu berkata :

“Selamat datang atas kunjungan Kang-jie kongcu ke rumah ini, aku mengucapkan selamat."

Kang Han Cing memperhatikannya beberapa saat, ia bertanya :

“Bolehkah boanpwee bertanya ? Bagaimana sebutan cianpwee yang mulia ?”

Dengan dingin dan ketus orang tua berbaju hijau itu berkata :

“Aku tidak suka memberitahu kepada orang lain." jawabnya temberang.

“Ho, ho......." Kang Han Cing mengeluarkan dengusan dari hidung. “Aku paling tidak suka bicara dengan orang yang tak mempunyai nama."

Wajah orang tua itu berubah, ia berkata keras : “Hei, berani kau berlaku kurang ajar ?" “Kukira, orang yang kurang ajar itu adalah orang yang tidak bernama."

“Dihadapanku, kau berani mengucapkan kata2 ini lagi ?"

Dengan menantang Kang Han Cing berkata : “Mengapa tidak? Ambil saja golok, pasang

dileherku, akan kuucapkan lagi seribu kali, mau?"

“Bagus....bagus...." orang tua itu merengus. “Hendak kulaksanakan permintaanmu itu."

Mendengar kata2 tadi, cepat2 Suto Lan berteriak :

“Ayah. "

Si orang tua berbaju hijau melirik ke arah Suto Lan, ia berkata :

“Ada urusan apa ?” Suto Lan berkata :

“Bukankah kau hendak merundingkan sesuatu dengan Kang jiekongcu?"

“Uh !" orang tua berbaju hijau itu menganggukkan kepala.

Dengan perlahan Suto Lan berkata :

“Maka bercakaplah baik2. Jangan bersitegang."

Orang tua berbaju hijau tertegun, sepasang sinar mata yang tajam menatap kearah sang puteri, dan pindah ke wajah Kang Han Cing, wajah itu sangat tampan, orangnya gagah, sikapnya baik. Kedua muda mudi dihadapannya adalah pasangan yang setimpal, tanpa terasa, ia menganggukkan kepala, mengurut jenggotnya dan berkata :

“Ho, ho... ayahmu bukan bermaksud mengganggunya."

Selembar wajah Suto Lan menjadi merah menoleh kearah Kang Han Cing dan berkata :

“Jiekongcu, bisakah kau bersabar sedikit. Kita ber-cakap2 secara ramah tamah, bukankah lebih baik dari pada bersitegang."

Terdengar suara Kang Han Cing :

“Ada urusan apa yang hendak dirundingkan oleh ayah angkatmu, silahkan saja katakan."

Kini wajah orang berbaju hijau yang marah tadi mereda kembali, suaranyapun didatarkan serata mungkin, per-lahan2 berkata :

“Aku ada sedikit kesulitan yang hendak meminta keterangan Kang jiekongcu, kuharap saja kau bisa berterus terang."

“Urusan apakah itu ?" bertanya Kang Han Cing. Orang tua berbaju hijau berkata.

“Aku juga pernah bertemu muka beberapa kali dengan ayahmu. tiga bulan yang lalu tersebar berita tentang kematiannya. Dikatakan dia sudah almarhum. Apa betul ada kejadian yang seperti ini

?"

Kang Han Cing terpaksa berpikir sekali lagi, hatinya mengeluh.

“Dia masih menganggap ayah belum mati." Untuk menjaga kehormatan dirinya, ia menjawab pertanyaan itu:

“Kesehatan ayah belum pernah terganggu. Mendadak ia menghembuskan napas yang terakhir, memang keadaan ini sangat membingungkan orang. Aku dan toako mendampinginya, mana mungkin bisa kematian palsu?"

Tampak sinar mata orang tua berbaju hijau itu menatap Kang Han Cing tajam-tajam, ia hendak me-nimbang2 benar tidaknya dari keterangan yang diberikan oleh si pemuda, mulutnya berdehem sebentar, ia berkata :

“Betul2 Kang toa sianseng sudah meninggal dunia !"

Hati Kang Han Cing berkata sendiri :

“Dari kata2nya ia masih meragukan kematian ayah. Mungkinkah orang2 ini mempunyai hubungan erat dengan hilangnya mayat ayah."

Dugaan Kang Han Cing tepat ! Sedari ia meninggalkan gedung keluarga Kang ber-sama2 Goan Tian Hoat, berulang kali mendengar cerita tentang manusia2 palsu. Dari yang pertama2 manusia imitasi Ban Ceng San, dari manusia palsu Than Hoa Toh, dan manusia palsu dari si gadis berbaju hijau Suto Lan yang menyamar menjadi dirinya, dan hubungan2 itu ternyata mengkaitkan dirinya dalam serentetan pemalsuan-pemalsuan besar. Orang2 pemalsu ini adalah turunan Su-khong Eng, tokoh misterius berkerudung hitam didalam cerita Pembunuh Gelap.

Untuk mengetahui cara2 pemalsuan, para pembaca bisa mencari buku cerita dengan judul PEMBUNUH GELAP, dimana dituturkan dengan terperinci, partai Raja Gunung menyamar diri mereka, dan mengubah wajah mereka.

Kang Han Cing menantang sepasang sinar mata orang tua berbaju hijau itu, dengan dingin ia berkata :

“Lotiang masih meragukan kematian ayah ? Alasan apa kalau kematian ayah itu adalah kematian palsu ?"

Wajah orang tua berbaju hijau tetap dingin beku, sepatah demi sepatah ia berkata :

“Orang yang mempunyai pikiran ini bukan aku seorang, kukira merekapun mempunyai pikiran yang sama."

Alis Kang Han Cing yang lentik terangkat, dengan marah ia bergeram:

“Dugaan yang tidak masuk diakal."

Orang tua berbaju hijau itu mengurut jenggot, ia berkata :

“Dimana yang tidak masuk akal. Sesudah kematian ayahmu, peti mati itu kosong. Inilah kenyataan."

Sepasang mata Kang Han Cing ber-kilat2, ia membentak : “Ternyata tindakan lengcu Panji Hitam yang membongkar peti mati ayahku adalah instruksimu!"

Nah! Orang tua berbaju hijau ini adalah salah satu tokoh penting dari golongan Perintah Maut. Orang inilah yang sudah menyuruh lengcu Panji Hitam membongkar peti mati Datuk selatan Kang Sang Fung. Orang ini juga yang menyuruh Suto Lan menyamar Kang Han Cing mempermainkan Put-im suthay dan Ciok Sim taysu.

Orang tua berbaju hijau itu tertawa tawar, ia berkata :

“Sesudah kematian ayahmu, peti mati itu kosong melompong. Apa salahnya aku menyuruh orang memeriksa?"

“Memeriksa ? Apa lagi yang diperiksa di kelenteng Ciok-cuk-am ? Mengapa menyuruh orang mencelakakan diriku ? Mengapa menyuruh orang memancing aku ke tempat itu? Sesudah membunuh Yen Siu Lan ! Mengapa mengundang Put-im suthay dan Ciok-sim taysu, menjebak diriku ?"

“Terlalu banyak sekali pertanyaan itu." berkata orang tua berbaju hijau. “Kematian Yen Siu Lan hanya suatu kebetulan, kebetulan kau datang kesana. Salahmu sendiri."

“Dengan alasan apa kalian membunuh Yen Siu Lan ?" bentak Kang Han Cing.

“Yen Siu Lan adalah salah satu anggota kami yang sudah berkhianat. Kematian Yen Siu Lan tidak ada hubungannya denganmu, Kang jie- kongcu."

“Huh !" Kang Han Cing mengeluarkan dengusan dari hidung.

Terdengar lagi suara orang tua berbaju hijau : “Undanganku kepadamu adalah untuk

merundingkan sesuatu."

“Katakan lekas !"

“Kudengar cerita tentang ilmu kepandaianmu yang hebat, bagaimana kalau kau masuk menjadi anggota kita? Aku mendapat tugas untuk mengajak dirimu."

Hati Kang Han Cing tergerak, ternyata orang tua berbaju hijau ini juga bukan pimpinan tertinggi, ia hanya mendapat perintah saja. Memandang kepadanya dan bertanya :

“Siapakah yang memberi instruksi untuk mengajak aku?"

“Ketua Perintah Maut."

“Siapa yang menjadi ketua perintah Maut ?" “Sebelum kau bersumpah menjadi anggota

Perintah Maut, urusan ini tetap menjadi suatu rahasia."

“Bagaimana anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Perintah Maut? Apa yang menjadi panji hidup Perintah Maut ?! Bagaimana haluan politik Perintah Maut ?" “Legakan hatimu, golongan Perintah Maut adalah wadah untuk menampung semua tokoh- tokoh silat yang ada, menyatukan persengketaan2 yang terjadi didalam rimba persilatan. Kalau saja kau mau menjadi salah satu anggota, tidak nanti mengecewakan. Kukira kedudukanmu tidak berada dibawahku."

Kang Han Cing tidak segera memberikan jawaban, ia sedang memikir, golongan Perintah Maut adalah golongan baru, semboyannya masih gelap, dari tindak-tanduk yang dilakukan orang2 itu, golongan ini bukanlah golongan betul. Ia tidak mau terjerumus kedalam kehinaan, sudah seharusnya ia menolak. Sebelum Kang Han Cing membuka suara, orang tua berbaju hijau itu berkata lagi : “Bagaimana ?"

Kang Han Cing mendongakkan kepala dan bertanya : “Aku dipaksa harus masuk ?”

Orang tua berbaju hijau masih merocos terus, katanya :

“Bukan paksaan, hanya berapa anjuran. Kalau saja kau menerima tawaran ini, kedudukanmu sangat baik. Kedudukan hu-huat !”

“Apa artinya huhuat ?" bertanya Kang Han Cing.

“Huhuat hanya berada dibawah ketua, sama saja dengan wakil ketua, kecuali ketua pribadi, kau bisa menggerakkan seluruh anggota kita.”

“Oh.

Orang tua berbaju hijau berkata lagi : “Lebih jelas lagi kuceritakan. Beberapa tahun yang lalu, aku juga yang mendapat tugas menyambangi ayahmu, kukatakan kepada ayahmu, golongan kita menyediakan tempat huhoat kepadanya, dengan maksud agar ia bisa menerima jabatan itu. "

“Ayah tidak akan menerima tawaran itu !" potong Kang Han Cing singkat.

“HA, HA ! Keluarga Lie di Ho-peh adalah seorang dari empat datuk persilatan yang sangat disegani orang. Mana bisa memandang pada partay kecil seperti Hay yang-pay ? Kedatanganku kesini untuk berobat, bukan hendak mengadu kekuatan atau kebesaran nama !"

“Bila kau merasa penasaran marilah kita bertanding ! Tidak akan ada yang menghalang- halangi pula kalau kalian dapat mengalahkan diriku." berkata si pemuda she Lie.

“Ha, Ha ! Dari tadi saja kau katakannya. Hendak kulihat, apa kehebatan ilmu silat dari keluarga Lie, yang telah menggemparkan daerah utara ini, hingga membuat turunannya besar kepala !" ucap Jen Pek Coan mengejek.

“Hm ! Hanya dengan kemampuanmu saja?” ucap pemuda itu dengan mata menyorot tajam.

“Aku sendiri pun telah cukup untuk melawanmu !" Kata Jen Pek Coan. “Lebih baik kalian maju berbareng !"

Melihat sedikitpun orang tidak memandang mata, hati Jen Pek Coan bergelora panas, ia mencabut pipa rokok yang terselip dipinggang, katanya sengit :

“Jangan omong besar, kau robohkanlah aku lebih dulu !"

Pemuda itu mengerutkan alis, katanya lirih : “Untuk merobohkan dirimu tidak terlalu sulit !

Bila   kau   dapat   bertahan   dua   puluh   jurus

seranganku, biarlah Lie Wi Neng mengaku kalah !"

Betapa marahnya Jen Pek Coan diejek serta dihina demikian. Ia berkelana di dunia kangouw puluhan tahun, belum pernah menemukan orang yang besar kepala seperti Lie Wi Neng ini.

Tiba2 kupingnya dapat mendengar suara suhengnya yang diucapkan dari jauh dengan kikang :

“Hati2lah jite. Ia berani omong besar tentu mempunyai kehebatan ilmu silat yang tidak boleh dipandang enteng !"

Jen Pek Coan adalah jago persilatan yang berpengalaman luas, ia jadi malu pada diri sendiri karena gampang terpengaruh oleh hawa panas hingga melanggar pantangan yang harus memiliki ketenangan jiwa bila hendak bertanding.

Cepat2 Jen Pek Coan menenangkan hatinya yang terbakar panas, dengan menjura ia berkata : “Aku yang bodoh meminta petunjuk dari Lie kongcu !"

Berbareng dengan ucapannya, tangan kanan mendorong kedepan, “Wutt !" tempat bako dari pipa itu melayang memukul kearah musuh.

Inilah jurus “Liu sing cui nyet" atau bintang mengejar rembulan. Jurus ini sebenarnya tidak akan cepat ia gunakan keluar, hanya karena Lie Wi Neng sangat memandang enteng hingga ia berniat bisa lebih cepat mengalahkannya.

Dalam hati Jen Pek Coan menduga, lawannya tentu akan terkena pancingan, maka berbareng pipa rokok itu memukul sangat cepatnya.

Lie Wi Neng tertawa dingin, tiba2 ia membukakan kipas yang dipegangnya, lalu mengi- baskan kearah meluncurnya tempat bakok sambil kakinya melangkah maju setindak.

“Wutt !"

Tempat bakok itu terpukul hingga mental berbalik.

Betapa terkejutnya hati Jen Pek Coan, sungguh ia tidak duga sebelumnya, kalau lawannya mempunyai tenaga sinkang demikian besar, hingga hanya mengibaskan kipas saja bisa memukul kembali serangan senjatanya.

Untuk menahan senjatanya sudah tidak keburu, cepat ia miringkan tubuh serta melompat mundur setengah tindak !

“Hm !" Lie Wi Neng tertawa dingin berbarengan tubuhnya mencelat maju sangat cepatnya, kipas ditangannya itu ditutupkan kembali lalu menotok kearah dada lawannya.

Gerakannya sedemikian cepat, hingga membuat Jen Pek Coan kuwalahan. Cepat ia menyedot napas lalu tubuhnya melompat kebelakang delapan tombak.

Putra Lie Kong Tie Lie Wi Neng hanya berdiri tenang, dia tidak mau menguber. Ia tertawa dingin serta berkata sambil mengipas2.

“Ini baru jurus kesatu !"

Si tangan sakti Jen Pek Coan adalah wakil ketua dari Hay yang-pay yang sangat disegani oleh kaum bulim di daerah utara. Kini baru satu jurus telah dibuat terdesak oleh seorang anak muda dari keluarga Lie. Hatinya sungguh merasa malu serta penasaran. Darahnya tambah mendidih diejek lawannya.

Tanpa pikir lagi, ia menerjang maju, menyerang pemuda itu dengan pukulan2 yang luar biasa cepatnya, hingga angin pukulan menderu2 dan senjata pipa itu berobah menjadi sinar putih mengurung lawannya !

Lie Wi Neng tetap berdiri tenang, tidak menghiraukan serangan lawan, begitu serangan itu mendekat, ia hanya miringkan tubuh serta kipasnya ditutup kembali, lalu balas menyerang dengan totokan2 yang tidak kalah cepatnya !

“Trak ! Trak !"

Senjata mereka beradu dua kali hingga mengeluarkan suara yang amat keras. Tiba2 berkelebat bayangan kipas menempel pada pipa, kemudian meluncur turun, menotok ke arah jalan darah telapak tangan kanan Jen Pek Coan.

Kecepatan yang tiada tara !

Jen Pek Coan terkejut, sedikitpun tidak dapat melihat bagaimana lawannya melakukan serangan ilmu silat yang aneh, serta sangat cepat ini. Ia hanya merasai serangan pipa bakonya dielakannya dengan mudah.

Terpaksa Jen Pek Coan cepat menarik senjatanya serta melompat ke samping satu tindak.

Lie Wi Neng memandang lawan yang sudah dikalahkan itu, sikapnya sangat angkuh dengan suara yang dingin, ia mengejek dengan lirih.

“Hm ! Tidak disangka, pandanganku meleset, aku kira kau bisa bertahan sampai duapuluh jurus

! Dilihat dari kemampuanmu, paling kuat hanya sanggup bertahan sepuluh jurus saja ini baru jurus yang kedua !"

Ucapan itu beralasan, serta merupakan kenyataan yang tidak bisa dibantah. Walaupun baru dua jurus, tapi untuk menghadapi ilmu silatnya yang serba aneh dan luar biasa hebatnya, Jen Pek Coan bukanlah tandingan dari pemuda berbaju biru itu. Karena pertandingan itu ia lebih banyak hanya pertahankan diri daripada menyerang.

Kenyataan ini tidak bisa disangkal, Kuo Se Fen pun mengakuinya. Ia merasa kuatir serta gelisah, takut jitenya benar2 tidak bisa bertahan sampai sepuluh jurus menghadapi serangan pemuda ini !

Kuo Se Fen menduga2, siapakah gerangan suhu dari Lie Wi Neng ?

Memang, ilmu tangan kosong dari keluarga Lie kehebatannya sangat tersohor didunia kang ouw, hingga Lie Kong Tie dapat julukan si telapak tangan dewa ! Biarpun ilmu cakar elang dari Hay yang-pay tidak sehebat dengan ilmu telapak tangan dewa tapi tidaklah mungkin kalah sedemikian jauhnya !

Kuo Se Fen belum pernah mendengar bahwa si telapak tangan dewa itu mahir dalam segala senjata, lebih2 senjata yang aneh2 seperti kipas putranya ini.

Maka ia dapat menduga putra si telapak tangan dewa ini tentu masih mempunyai suhu, selain mendapat pelajaran dari ayahnya sendiri.

Tapi hatinya dibikin bingung karena dalam dunia kangouw boleh dikata orang yang menggunakan kipas sebagai senjata sangat jarang, lebih2 yang mempunyai ilmu silat demikian anehnya !

Ketika Kuo Se Fen sedang berpikir-pikir, nampak Goan Tian Hoat dan Kang Han Cing yang berada dalam depot pun sedang merundingkan sesuatu, sambil berbisik, Kang Han Cing menggoyang-goyangkan jari tangannya pula diatas meja batu itu. Goan Tian Hoat mendengarkannya dengan penuh perhatian dan kadang2 kepalanya manggut-manggut. ***

Bab 6

SEBAGAI orang yang telah lama berkecimpungan di dunia Kangouw, bagaimanapun Jen Pek Coan memiliki ketenangan dalam menghadapi segala hal maupun kesulitan. Setelah bertanding dua jurus, maklumlah ia bahwa kini sedang berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi, yang sebelumnya belum pernah ia temui. Lebih2 yang sedang dihadapinya kali ini adalah ilmu silat yang sangat aneh dan selama hidup belum pernah dilihatnya.

Maka dalam hati ia mengambil keputusan dalam pertempuran ini akan bertahan serta membela diri saja. Karena ia maklum menyerang akan lebih membahayakan dirinya.

Maka dalam pertempuran selanjutnya Jen Pek Coan hanya bertahan dan melindungi rapat seluruh bagian tubuh yang penting, walaupun mendapat serangan gencar dan hebat ia dapat mengelak setiap serangan, hingga membuat lawannya penasaran.

Sekejap saja pertempuran telah berlangsung hampir sepuluh jurus. Lie Wi Neng yang menghadapi lawan hanya bertempur dengan bertahan, ia jadi sengit dan tidak sabar, ia maklum, bila tidak berhasil merobohkan lawannya dalam sepuluh jurus ini, niscaya ia akan mendapat malu besar atas kata2 sombong yang pernah diucapkan.

Berpikir demikian, hatinya jadi gelisah, darahnya mendidih panas, hingga wajah yang putih bersih itu berobah merah padam, air mukanya nampak beringas !

Tiba2 tubuhnya berputar sangat cepat, disusul dengan suara bentakannya yang melengking :

“Lepas !”

Bagaikan bintang meluncur jatuh, kipasnya menyabet ke arah pundak kanan Jen Pek Coan !

Secepat itu pula Jen Pek Coan membabatkan pipanya, menangkis datangnya serangan kipas, tempat bakoknya berkelebat meluncur ke pundak lawan pula !

Tapi diluar dugaan, Lie Wi Neng tiba2 menarik serangannya dengan mengedutkan sedikit tangan, serangan kipas itu balik menyabet ke atas.

“Trak !"

Terdengar suara beradunya dua senjata hingga mengeluarkan suara yang menggetarkan ulu hati.

Jen Pek Coan merasai betapa besarnya tenaga pukulan kipas lawan, hingga hampir saja melepaskan senjatanya.

Begitu senjata tertangkis, Lie Wi Neng tidak memberi kesempatan untuk lawannya bisa siap bertahan, berbarengan selagi senjata lawannya terbentur keras, cepat bagaikan halilintar, tangannya meluncur turun menotok pundak kanan lawan !

Pundak kanan Jen Pek Coan terasa kesemutan, sangat nyeri, tanpa bisa dihindari senjatanya terlepas dari genggamannya, mental tinggi keatas udara !

Hati Jen Pek Coan sangat gelisah, darahnya mendidih panas, sambil membentak keras jari tangan kiri yang terpentang bagai cakar elang itu menyerang ke dada lawan.

Lie Wi Neng terkejut, sungguh ia tidak sangka, kalau sang lawan yang sudah tertotok masih dapat membalas mengirimkan serangan mautnya itu. Dengan gesit ia mengelak datangnya serangan itu dengan miringkan tubuh sedikit. Akan tetapi terlambat, serangan jari tangan lawan berhasil menjambret sebagian baju didadanya hingga sobek

!

Kalau saja Jen Pek Coan yang tertotok serangan Lie Wi Neng tidak memiliki tenaga sinkang besar, tidak mungkin ia bisa bertahan setelah pundaknya berhasil ditotok.

Tadi, begitu Jen Pek Coan merasakan pundaknya nyeri, cepat ia menahan napas serta memusatkan tenaga sinkangnya keatas tangan kiri untuk menyerang dengan cakar mautnya. Akan tetapi sial ! Ia hanya berhasil membeset robek baju lawan saja.

Kakinya terasa lemas hingga jatuh duduk diatas tanah. Melihat bajunya sobek dicakar lawan, Lie Wi Neng jadi bertambah beringas, matanya melotot, bentaknya dingin :

“Hm ! Bedebah ! Kau kira bisa bertahan sampai sepuluh jurus dengan menyobek bajuku !"

Tiba2 ia melangkah maju setindak, kakinya menendang Jen Pek Coan.

“Tahan, Lie kongcu !" Kuo Se Fen berseru kaget tubuhnya mencelat maju.

Jen Pek Coan yang masih terduduk ditanah, begitu melihat lawan menendang dengan keras, cepat2 ia bergulingan menghindarkan ancaman bahaya maut dengan menggunakan jurus “Keledai menggelinding malas", setelah serangan tendangan lawan berhasil dielakan, ia lompat bangun lalu berkata :

“Cukup ! Sudah sepuluh jurus bukan?"

Ternyata jalan darah Jen Pek Coan tidak terkena totokan, ia jatuh duduk hanya karena kakinya merasa agak lemas akibat pukulan kipas diatas pundaknya.

Dengan wajah cemberut dingin, Lie Wi Neng mengipas2kan dirinya, sorot matanya berpindah kearah diri Kuo Se Fen, katanya sombong :

“Selanjutnya giliranmu, bukan ?"

Dihina demikian, Kuo Se Fen menjadi marah, wajahnya berubah. Akan tetapi ia menyadari keadaan sangat menguatirkan, ia maklum pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya hingga sukar ditaklukan. Bila mana ia tidak bisa memenangkan pertandingan ini habislah pamor serta nama baik partay Hay yang-pay di bawah tangannya.

Untuk mengundurkan diri dari sengketa ini juga tidak mungkin, karena dirinya akan ditertawai sebagai pengecut.

Setelah berpikir sejenak kemudian mengelus2 jenggotnya ia berkata :

“Ya. Dengan sendirinya aku minta pelajaran darimu !”

Baru saja ucapannya habis, tiba2 Goan Tian Hoat bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah menghampiri suhunya :

“Itio, untuk menghadapi bocah ini, tidak perlu itio turun tangan sendiri. Biarlah siauwte yang melayaninya lebih dulu !”

Kuo Se Fen mengerutkan kening. Pikirnya : “Susiokmu sendiri bukan tandingannya, lebih2 kau, bukankah berarti hanya mengantarkan jiwa mentah2."

Setelah berpikir begitu Kuo Se Fen menggelengkan kepala perlahan, katanya :

“Jaga saja saudaramu baik2, biarkan aku yang turun tangan."

Goan Tian Hoat bagai tidak mendengar kata2 suhunya, ia tetap berdiri tenang, katanya :

“Itio bila berhadapan dengan Lie cuangcu sudah sepantasnya itio sendiri yang turun tangan. Akan tetapi untuk melayani orang she Lie dari kaum muda, sebagai seorang ketua dari Hay yang pay, sungguh menurunkan harga diri itio, juga akan jadi buah tertawaan kaum bulim. Biarlah siauwte saja yang mewakili diri itio !”

Mendengar kata2 Goan Tian Hoat hati Kuo Se Fen tergerak, serta ber-pikir2 : “Tian Hoat adalah seorang yang sangat cerdik serta banyak pengalaman. Apakah ia tidak menyadari bahwa dirinya bukan tandingan pemuda ini yang ilmu silatnya luar biasa tinggi serta aneh ? Jangan2 ia berbuat demikian karena hendak membela nama baik perguruan, hingga sudah tidak pikirkan jiwanya sendiri ! Akan tetapi untuk apa harus berbuat demikian ? Bukankah pengorbanannya sia2 belaka ?"

Berpikir demikian, wajah Kuo Se Fen ditekukan, bentaknya sungguh2 :

“Mundurlah ! Kau bukan tandingannya !" “Harap itio jangan kuatir, siauwte rasa masih

sanggup untuk menghadapi Lie kongcu." ucap Goan Tian Hoat pantang mundur.

Mendengar ucapan muridnya, ia jadi lebih mencurigai bahwa murid ini hendak mengadu jiwa untuk bisa membalas budi besarnya.

Kuo Se Fen sangat terharu atas kesetiaan serta kebaktian muridnya ini hingga membuat hatinya sangat berduka.

“Itio ! Izinkanlah ia mencobanya !” terdengar suara Kang Han Cing yang lemah pelahan dari depot itu. Betapa terperanjat Kuo Se Fen mendengar permintaan Kang Han Cing ini. Sungguh ia tidak dapat mengerti, mengapa Kang Han Cing menyokong muridnya yang hendak berkorban!

“Apakah perundingan kalian telah selesai,” tanya Lie Wi Neng tidak sabar.

“Sabarlah ! Biar bagaimanapun dirimu akan dapat diusir pergi !” ejek Goan Tian Hoat.

“Ha, ha, ha, ha! Diusir pergi? Hm ! Dalam dunia kangouw sukar untuk mencari orang yang bisa mengusir diriku !"

“Gunung tinggi masih ada yang lebih tinggi, manusia pandai, masih terdapat yang lebih pandai, Hm ! Janganlah kau sombong, menganggap sudah tidak ada orang yang dapat mengalahkan ilmu kepandaianmu !” kata Goan Tian Hoat sengit.

“Hm ! Akan tetapi terhadap Hai yang pay, ucapanku sedikitpun bukanlah sombong !”

“Syut !" Goan Tian Hoat mencabut senjatanya, lalu bentaknya keras :

“Bedebah tidak tahu diri, kacailah mukamu, apakah kau kira ilmumu bisa mengalahkan ilmu silat Hai-yang-pay ?"

Darah Kuo Se Fen pun mendidih panas mendengar hinaan pemuda ini, ucapnya mengejek:

“Ha, ha ! Ka Ling, kau cobalah dulu ilmu silat orang sakti ini ! Aku sendiripun akan minta pelajaran padanya !" Sinar mata Lie Wie Neng memandang tajam, menudingkan kipasnya berkata :

“Aku tidak ada waktu mendengarkan ocehan kalian, lebih baik kalian maju berbareng saja!"

Goan Tian Hoat berkata : “Tadi sudah kukatakan bahwa untuk menghadapi dirimu tidak perlu pamanku turun tangan."

Wajah Lie Wie Neng merah padam, hatinya mendongkol, matanya melotot, ia membentak : “Mari kita bertempur !"

“Ha, ha ! Jangan terburu nafsu, kukira kau akan kuwalahan menghadapi seranganku!" kata Goan Tian Hoat.

“Jahanam tidak tahu diri ! Terima serangan !" bentak Lie Wie Neng marah.

Berbareng dengan ucapannya, ia melipat kipasnya, menyerang Goan Tian Hoat dengan kecepatan luar biasa.

Serangan kipas itu berobah menjadi sebuah sinar berbentuk setengah bulat menyerang dada Goan Tian Hoat.

Goan Tian Hoat terkejut, betapa dahsyatnya angin dorongan yang keluar dari serangan kipas lawan. Cepat2 melintangkan golok didepan dada, didorong kedepan dengan jurus “Cui-kong-tui-men" atau orang mabok mendorong pintu, dari ilmu Kiu- kong-to-huat.

“Trang !" Terdengar suara dua senjata beradu keras, tangan kanan Goan Tian Hoat terasa sakit kesemutan dan hampir2 senjatanya terlepas, cepat tubuhnya mundur setengah tindak.

Kuo Se Fen mengerutkan alis.

“Benar saja ia hendak mengadu jiwa." pikirnya gelisah.

Lie Wie Neng tertawa dingin, tiba-tiba tubuhnya mencelat maju, “Set…set" nampak dua buah sinar putih berkelebat keluar dari kipasnya, meluncur ke kedua pundak Goan Tian Hoat.

Goan Tian Hoat membongkokkan tubuhnya sedikit, ia berhasil menghindari dua serangan sinar putih itu, berbarengan dengan jurus “Ka-cu-an-ce- hu" atau pemburu menusuk harimau, goloknya menusuk ke perut lawan.

Lie Wie Neng memiringkan tubuh sedikit, ia robah gerakan kipasnya, memukul ke balik golok yang liwat disamping tubuhnya.

“Trang !"

Kembali terdengar suara beradunya dua senjata yang sangat keras, tanpa dapat ditahan, tubuh Goan Tian Hoat terdorong mundur dua tindak. Untung goloknya tidak terlepas karena digenggam dengan dua tangan, hanya telapak tangannya terasa panas dan sakit.

Hati Kuo Se Fen berdebar hebat, ia menggenggam senjata ditangan, ber-siap2 untuk menolong muridnya dari ancaman maut. Ia sadar muridnya itu bukanlah tandingan Lie Wie Neng yang memiliki ilmu kepandaian tinggi serta aneh.

“Ha, ha! Lumayan juga ilmu kepandaianmu, sanggup bertahan sampai dua jurus! Jaga seranganku yang ketiga !"

Dengan menggoyangkan tangan, Lie Wie Neng menerjang maju, sekejap saja kipas itu lenyap dari pandangan mata, berobah menjadi segulungan sinar putih, disertai deruan angin yang luar biasa kerasnya. Sinar putih itu bagaikan kabut menyerang mengurung tubuh Goan Tian Hoat.

Mendapat serangan yang sangat aneh serta luar biasa hebatnya, Goan Tian Hoat cepat2 mundur dua tindak, menghindari kurungan serangan kabut kipas lawan, sedang tangannya menggenggam goloknya erat.

Tiba2 Goan Tian Hoat berseru keras berbareng tubuhnya mencelat maju kembali dengan kecepatan luar biasa !

Trang ! Trang !

Terdengar dua kali suara bentrokan, kedua senjata yang sangat keras, mendadak gulungan sinar putih yang tadi mengurung diri Goan Tian Hoat buyar lenyap tanpa bekas.

Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan menjadi tegang menyaksikan jalannya pertempuran yang seperti itu, tidak pernah mereka mengedipkan matanya, akan tetapi mereka tidak dapat melihat dengan cara bagaimana Goan Tian Hoat berhasil mengelakkan serangan lawannya yang sangat luar biasa aneh serta dahsyat. Dalam hati mereka merasa heran, karena ilmu silat yang digunakan Goan Tian Hoat bukanlah jurus2 yang terdapat dalam “Kiu-kong-to-huat" dari Hai-yang-pay.

Goan Tian Hoat dan Lie Wie Neng lompat mundur. Pertempuran terhenti. Goan Tian Hoat berdiri bengong dengan muka bercucuran keringat

!

Wajah Lie Wie Neng pucat pasi, tangan kirinya memegangi pundak kanan yang terluka berat, luka itu mengucurkan darah, membuat baju dibagian pundak kanan menjadi merah. Kipasnya terjatuh ditanah.

Keempat pengawal Lie Wie Neng, ketika melihat kongcunya terluka, mereka terkejut, cepat lompat menghampirinya.

Lie Wie Neng dengan sinar mata berkilatan memandang tajam ke diri Goan Tian Hoat, katanya dingin :

“Ilmu silat yang kau gunakan itu adalah ilmu yang pertama kali berhasil memecahkan jurus2 ilmu kipasku. Siapakah yang mengajarimu ?"

“Ha, Ha ! Betapa lucunya kau ini, aku adalah anak murid Hai-yang-pay tentu saja aku mempelajarinya dari Hai-yang-pay !" sahut Goan Tian Hoat setelah menenangkan hatinya.

Lie Wie Neng tidak percaya atas keterangan itu, akan tetapi ia tidak banyak bicara lagi, mendengus dingin, berlalu dari tempat itu. Dirinya diiringi oleh empat orang pengawalnya yang telah memungut kipasnya diatas tanah.

Setelah mereka pergi Kuo Se Fen cepat bertanya

:

“Goan Tian Hoat, apakah kau terluka ?"

“Tidak. Hanya lengan teecu agak terasa

kesemutan dan linu." ucap Goan Tian Hoat sambil mengusap keringat dimukanya.

“Syukurlah, kau telah menyelamatkan nama baik Hai-yang-pay." ucap Jen Pek Coan girang.

Kuo Se Fen tidak mengutarakan sesuatu apapun, hanya memandangi diri muridnya.

Goan Tian Hoat dapat merasai pandangan sinar mata gurunya yang penuh selidik, maka cepat ia berkata memberi penjelasan.

“Kebenaran saja teecu berhasil memecahkan serangan kipasnya. Jurus yang barusan teecu gunakan adalah petunjuk dari toako." mukanya menoleh kearah Kang Han Cing.

Karena mereka dalam samaran maka ia menyebut Kang Han Cing toako.

Mendengar penjelasan itu, Kuo Se Fen jadi tercengang, dengan mengusap jenggot, ia berkata terharu :

“Aih! Memang sungguh luar biasa ilmu sakti dari keluarga Kang !"

Walaupun dimulut Kuo Se Fen berkata demikian, akan tetapi dalam hati merasa heran. Sedari kecil, Kang Han Cing dirawat oleh neneknya, keadaan tubuhnya lemah serta sakitan. Lagi pula ilmu silat yang luar biasa anehnya ini tidak mirip seperti ilmu silat keluarga Kang.

“Ha, Ha ! Pantas saja aku tidak dapat mengikutinya dengan pandangan mata !" ucap Jen Pek Coan.

Saat itu pandangan mata Jen Pek Coan dapat menangkap dari kejauhan ada sebuah bayangan orang sedang lari mendatanginya.

“Toasuheng, ada orang datang lagi !"

Kuo Se Fen menoleh dengan pandangan tajam, katanya mesem :

“Biarlah mereka datang ! Mungkin urusan ini hari berbuntut panjang !"

Sekejap saja bayangan itu telah tiba, ternyata adalah seorang imam yang memakai jubah warna hijau, tangannya membawa sebuah kebutan bulu.

“Apakah kalian dari Hai-yang-pay ?" tanya imam itu dengan memberi hormat.

“Benar." sahut Kuo Se Fen.

“Entah yang manakah Kuo tayhiap ketua Hai- yang-pay ?"

“Aku sendiri."

“Pinto diperintahkan Kuancu untuk menyambut kedatangan kalian."

Kuancu berarti pemilik kelenteng. Di sini, berarti Tian-hong totiang yang dimaksudkan.

“Mohon maaf atas kelancangan kami ini !" “Silahkan ! Kuancu sedang menunggu kalian." ucap imam itu kemudian berjalan dimuka untuk menunjuk jalan.

Mereka lalu mengikutinya dari belakang.

Hati Kuo Se Fen gembira karena kekuatiran terhadap Tian Hong Totiang yang diduganya tidak mau bertemu kini lenyap.

Setelah berjalan limapuluh tombak jauhnya, mereka telah tiba dihalaman muka dari Pek-yun- kuan.

Halaman itu penuh dengan pohon2 obat yang mengeluarkan bau harum menyedapkan. Sebenarnya halaman ini adalah sebuah lereng gunung yang berlatar rata.

***

Bab 7

SEBELUMNYA tempat ini merupakan sebuah lereng yang kemudian dikerjakan hingga menjadi suatu dataran seluas belasan hektar.

Ditengah-tengah pohon2 obat, terdapat beberapa buah jalan kecil yang dibuat dengan batu berwarna putih. Jalan2 kecil itu saling bersimpangan, dari jauh nampak berbentuk sebuah patkuat besar. Pek-yun-kuan dibangun ditengah pat-kuat besar itu.

Disekitar Pek-yun-kuan, udara penuh dengan kabut tebal yang tidak tembus oleh sinar matahari, dari keadaan alam itu, orang menyebutnya Pek- yun-kuan (timbangan awan). Tiba2 imam itu menghentikan langkah, menoleh kebelakang, sambil tertawa dia berkata :

“Harap kalian mengikuti pinto dibelakang !" Kemudian ia melangkahkan kaki berjalan,

mengikuti jalan berliku-liku diatas batu2 kecil berwarna putih itu.

Melihat cara imam itu berjalan, hati Kuo Se Fen merasa heran, dalam hati ia ber-tanya2, mengapa Tian Hung totiang membuka jalan sedemikian rupa, tidak membuat jalan lurus saja ?

Walaupun ia berpikir seperti itu, akan tetapi kakinya terus mengikuti langkah si imam itu dari belakang, sebentar saja mereka telah tiba disuatu kebon yang penuh dengan pohon2 bambu.

Si imam itu tidak bicara sepatahpun, ia berjalan terus, pandangan mata meneliti sekitar tempat itu dengan cermat.

Tiba2 Jen Pek Coan melangkah maju mendekati suhengnya, berkata dengan menggunakan ilmu “Coan-ing-jou-mih” (Menyampaikan suara dari jarak jauh yang hanya bisa didengar oleh orang yang dituju).

“Apakah toasuheng dapat merasai kebun obat ini agak aneh?"

Kuo Se Fen yang sedang ber-pikir2 jadi tersentak bangun, betapa tidak, ia pun heran atas cara imam itu mengambil jalan, bukankah dengan jalan lurus lebih mudah dan cepat? Apa maksudnya harus ber-putar2? Hatinya menyesal tidak memperhatikannya dari semula ! Setelah melewati kebun bambu dihadapan mereka nampak sebidang tanah lapang yang sangat luas serta penuh oleh rumput2 halus, hingga dari kejauhan nampak seperti sebuah selimut raksasa berwarna hijau muda. Di- tengah2nya terdapat sebuah jalanan yang terbuat dari batu warna putih.

Nampak sebuah bangunan yang besar serta megah terbentang diujung jalan. Sebuah papan merek yang tertulis tiga huruf emas "Pek - yun - kuan" tergantung diatas.

Setibanya didepan bangunan itu, si imam baju hijau berbalik sambil menjura berkata :

“Silahkan Kuo tayhiap berempat ikut pinto ke ruangan tamu! Kuancu sedang menunggu kalian."

“Silahkan !" ucap Kuo Se Fen balas menghormat.

Si imam lalu berjalan masuk diikuti oleh Kuo Se Fen berempat.

Setelah melalui ruangan depan yang besar mereka belok ke kiri, nampak terdapat tiga buah kamar berderetan.

Didepan setiap kamar terdapat pot2 kembang yang jumlahnya puluhan buah, hingga sepanjang tia itu menjadi harum menyedapkan.

Dengan pandangan matanya Kuo Se Fen meng- amat2i keadaan sekelilingnya dalam hati bertanya- tanya, dimanakah Lie Kong Tie si telapak tangan dewa tinggal? Tiba2 nampak olehnya seorang tosu tua yang mengenakan jubah berwarna hijau pula, keluar dari sebuah kamar dengan wajah berseri2. Rambutnya digulung keatas wajahnya putih ke- merah2an, jenggotnya panjang sampai ke dada.

“Selamat datang Kuo tayhiap, Jen ji-hiap! Harap maafkan atas terlambatnya penyambutan pinto!" ucap tosu tua yang bukan lain adalah Tian Hung totiang, sambil cepat menjura memberi hormat.

Pandangan mata Kuo Se Fen tertuju ke diri tosu tua itu, hatinya sangat kagum melihat wajahnya yang putih ke-merah2an serta sangat bercahaya. Akan tetapi hatinya menjadi tercengang dan heran, menurut cerita orang, Tian Hung totiang adalah se- orang yang sifatnya angkuh serta sombong, kini nyatanya tidaklah demikian.

Cepat ia melangkah maju menjura memberi hormat, katanya :

“Harap totiang tidak menjadi gusar atas kedatangan kami yang mengganggu ketentraman totiang !"

“Ha, Ha! Janganlah Kuo tayhiap berlaku sungkan ! Pinto sangat gembira, dari jauh2 Kuo tayhiap sudi berkunjung! Mari silahkan kita mengobrol didalam." sambut Tian Hung Totiang.

Lalu mereka mengikutinya masuk ke dalam kamar.

Kamar itu sangat bersih, serta perabotannya teratur sangat rapih. Tian Hung totiang kemudian mempersilahkan tamunya duduk. Seorang tosu kecil mengantarkan teh yang masih hangat.

Begitu duduk, pandangan mata Tian Hung totiang jatuh ke diri Kang Han Cing serta Goan Tian Hoat, lalu tanyanya:

“Siapa mereka ini ?"

“Mereka adalah keponakan pinto, bernama Ong Ka Siong dan Ong Ka Ling.”

Ong Ka Siong dan Ong Ka Ling adalah nama2 samaran Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat.

Kang Han Cing, Goan Tian Hoat cepat bangkit, lalu menjura sambil berkata :

“Boanpwee memberi hormat pada kuancu !" “Silahkan kalian duduk !" Tian Hung totiang

balas menghormat.

Baru saja Kuo Se Fen hendak memberitahukan maksud kedatangannya, Tian Hung totiang sudah berpaling, katanya :

“Apakah keponakan Kuo tayhiap menderita sakit ?"

“Sungguh luar biasa tajamnya pandangan totiang, memang Ka Siong sedang sakit, terkena racun yang sangat aneh. Pinto membawanya kesini untuk minta pertolongan totiang, karena telah ke- mana2 ia berobat belum juga bisa sembuh."

Mendengar disebutnya racun yang sangat aneh, wajah Tian Hung totiang berobah kaget!

“Racun aneh ? Racun apakah itu ?” “Entahlah ! Tubuhnya makin lama makin lemah, serta sinkangnya terasa lenyap hingga akhirnya jalan pun harus dituntun."

“Ini ..... Ini......" Tian Hung totiang bertambah kaget. “Baiknya pinto periksa dahulu !"

Tian Hung totiang lalu mengambil sebuah kursi duduk berhadapan dengan Kang Han Cing.

Cepat Kang Han Cing mengulurkan tangan kiri keatas meja untuk diperiksa denyut nadinya, setelah itu berganti tangan kanannya.

Begitu selesai Tiang Hung totiang memandang Kang Han Cing dengan mengerutkan alis, kemudian ia menoleh kearah Kuo Se Fen katanya :

“Ada sesuatu yang hendak pinto tanya, harap Kuo tayhiap tidak menjadi gusar !"

“Mengenai soal apakah itu?"

“Apakah wajahnya memakai obat pengubah muka?" tanya Tian Hung totiang.

Ditanya demikian Kuo Se Fen terkejut, sungguh tidak disangka Tian-hung totiang mempunyai pandangan mata sedemikian tajam.

Setelah me-mikir2, Kuo Se Fen berpaling, serta ucapnya dengan wajah sungguh2 serta pelahan :

“Apakah totiang tidak keberatan, kalau kita bicara didalam. Karena ada sesuatu hal yang sangat penting hendak kusampaikan !"

“Ha, Ha! Walaupun Pek-yun-kuan bukan terbuat dari bahan logam, akan tetapi tanpa seizin pinto, siapapun jangan harap bisa masuk kesini. Maka janganlah Kuo tayhiap merasa kuatir, bicaralah, tidak akan ada orang luar mencuri dengar !"

Kuo Se Fen tidak dapat berkata apa2 maka katanya kemudian :

“Kalau begitu baiklah akan kujelaskan semuanya. Sebetulnya ia   bukanlah keponakanku. "

Tian-hung totiang menganggukan kepala pelahan, katanya :

“Memang pinto telah mendugainya, akan tetapi siapakah ia sebenarnya ?”

“Ia adalah jikongcu dari almarhum Kang taysianseng !"

Tiang-hung totiang terkejut, sorot matanya memandang tajam ke arah diri Kang Han Cing, kemudian katanya heran :

“Kang jikongcu?"

“Tian Hoat, cepat kau bersihkan obat pengubah wajah jikongcu itu !" perintah Kuo Se Fen.

Dari dalam saku bajunya Goan Tian Hoat cepat mengeluarkan sebutir obat, setelah mengoleskan sedikit diatas handuk kecil kemudian ia berikan kepada Kang Han Cing.

Kang Han Cing lalu mengusapkan handuk itu keatas wajahnya dan sekejap saja berobah jadi sebuah wajah yang putih bersih serta tampan, beralis lenting dan kedua matanya bening jeli, nampak bibirnya agak ke-merah2an serta mempunyai gigi yang sangat putih bersih. Hanya sayang, wajah setampan itu sangat pucat dan lesu karena sakit.

Sorot mata Tian Hung totiang terus meng- amat2i wajah Kang Han Cing. Setelah lewat beberapa lama, baru ia mengulurkan tangan untuk memeriksa kedua mata Kang Han Cing.

“Hm ! Betul saja itu pula......" ia tidak meneruskan kata2nya seperti orang keterlepasan omong.

Melihat Tian Hung totiang tidak meneruskan kata2nya, Kuo Se Fen jadi curiga, cepat bertanya :

“Apakah Totiang telah mengetahui penyakitnya

?"

Dengan mengusap jenggot Tian Hung totiang

menjawab pelahan:

“Menurut pendapat pinto, tubuhnya bukanlah hanya terkena semacam racun saja !"

Kuo Se Fen sangat terkejut, tanyanya pula : “Kalau begitu, ia terkena oleh beberapa racun

yang diadukan menjadi satu?"

“Benar. Dari pemeriksaan dalam tubuhnya terdapat San-lung racun pembuyar tenaga, Pai-sia racun Penyurut darah, dan Siau lin racun melemahkan tubuh, tiga macam racun lunak. Mungkin masih ada racun lain yang hingga kini belum menjalar…” Tian Hung-totiang tidak melanjutkan pula penjelasannya hingga menambah kecurigaan Kuo Se Fen.

Hati Goan Tian Hoat jadi bergetar hebat karena sangat terkejut, tanyanya tidak sabar.

“Apakah ada obat untuk menyembuhkan ketiga macam racun itu ?"

Tian Hung totiang menjawab dengan menggelengkan kepala:

“Ai ! Kalau untuk menyembuhkan semacam saja mungkin masih bisa!"

“Kalau begitu tiga macam racun beraduk ini tidak dapat disembuhkan?"

“Sebenarnya obat pemunah racun itu dibuat berdasarkan jenis racunnya untuk dicairkan daya kerjanya. Cara memusnahkannya adalah dengan menggunakan racun jenis lain yang saling berlawanan hingga daya kerja kedua racun itu menjadi lemah dan musnah. Akan tetapi untuk menemukan jenis yang berlawanan ini tidaklah mudah, serta harus mencari yang kekuatanya daya kerjanya sama hingga tidak membahayakan. Misalnya senjata rahasia beracun dari seseorang, walaupun banyak kaum bulim yang mahir dalam ilmu obat racun, akan tetapi sangatlah sukar untuk bisa membuatkan obat pemunahnya dan harus dari orang itu juga. Jikongcu. "

Tiba2 ia berhenti bicara, sorotan matanya mengawasi kearah jendela, bentaknya: “Siapa di luar ?" Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan bangkit berdiri.

Melihat bentakannya tidak digubris orang tubuh Tian Hung totiang mencelat sangat cepat kearah pintu, akan tetapi ia hanya mendapatkan sebuah bayangan orang berkelebat serta lenyap dari pandangannya.

Hati Tian Hong totiang jadi terkejut melihat kecepatan bayangan itu, ia berpikir keras, siapakah orang itu yang mempunyai ilmu ginkang demikian hebatnya ?

Dengan air muka tidak berobah ia balik masuk ke dalam, katanya mesem :

“Harap kalian janganlah ambil pusing, mungkin ia adalah seorang murid pinto yang kebetulan lewat dari belakang!"

Melihat wajahnya agak berlainan, Kuo Se Fen menjadi gelisah, akan tetapi ia merasa tidak enak untuk banyak bertanya, maka ia duduk kembali tanpa bicara apa pun.

“Entah bagaimanakah keadaan jikongcu ini ?" tanya Jen Pek Coan kemudian.

“Dari pemeriksaan, ternyata jikongcu terkena tiga macam obat racun lunak, selain itu masih belum kelihatan telah   menjalar   dalam tubuhnya. "

“Menurut pendapat totiang, penyakit boanpwee sukar untuk disembuhkan bukan?” ucap Kang Han Cing lirih.

Sambil memandangi diri Kang Han Cing, Tian Hung totiang berkata : “Memang tidak seorangpun tabib yang sanggup menyembuhkan penyakitmu."

Kuo Se Fen dapat menangkap arti kata2 itu, yang dimaksud tentu tidaklah termasuk dirinya. Maka katanya girang :

“Ilmu pengobatan totiang sangat tinggi, tentu bisa menolongnya."

“Pengetahuan pinto tidaklah seberapa, mungkin pintopun tidak bisa mengobatinya."

Kuo Se Fen jadi kecewa, katanya : “Mohon totiang bisa mencarikan jalan !”

“Telah dua puluh tahun lamanya pinto bersahabat dengan Kang taysianseng. Kalau saja pinto menemukan cara untuk bisa menyembuhkan penyakit putra dari sahabat lama, tidak akan pinto berpeluk tangan tidak mengobatinya, hanya. ”

Sekali lagi Kuo Se Fen dibuat kecewa oleh jawaban itu. Dengan tertawa kecil yang dipaksakan ia berkata :

“Bagaimana kalau totiang menyembuhkan semacam racun dulu, baru kemudian mencari jalan untuk menyembuhkan yang dua lainnya ?"

“Tidak mungkin bisa dengan cara demikian, untuk menghilangkan penyakitnya haruslah sekaligus. Karena racun2 didalam tubuhnya itu telah bercampur menjadi satu dan menjalar ke seluruh tubuh serta sampai di dekat jantungnya. Cara demikian bisa memperdalam penyakitnya." “Kuo susiok, dari keterangan totiang penyakit siauwte ini mungkin tidak bisa disembuhkan pula. Terhadap diri siauwte tidaklah begitu menjadi soal, hanya siauwte sungguh berterima kasih atas budi kebaikan hati susiok berdua serta saudara Goan yang telah sudi mengantarkan siauwte berobat kesini !"

“Harap Kang jihiante jangan kecil hati, aku yakin dalam dunia seluas ini tentu ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit hiantit !" hibur Kuo Se Fen cepat.

“Ha, Ha! Kata2 Kuo tayhiap memang tidak salah

! Dalam dunia ini hanya ada dua macam obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya," ucap Tiang Hung totiang.

Semua orang jadi heran atas ucapan Tian Hung totiang, bukankah tadi ia mengatakan tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit Kang Han Cing.

“Apakah nama kedua obat yang totiang maksudkan itu ?" tanya Goan Tian Hoat tidak sabaran.

“Yang kesatu adalah Ban-ing-hui-tian dari Tong- hai Suan-hian (dua orang dewa dari laut Tong-hai). Obat ini dibuat dari tigaratus enampuluh satu macam bahan2 yang sangat jarang serta sukar didapat, maka sungguh merupakan barang mustika yang tak ternilai harganya. Tiada penyakit, luka atau keracunan yang tidak bisa disembuhkannya.” “Mengenai riwayat Tong-hai Suan-hian ini, semasa muda aku pernah mendengarnya dari suhu. Memang pada beberapa puluh tahun yang lalu Ban-ing-hui-lian-tan oleh kaum bulim telah dianggap sebagai barang mustika yang sangat berharga. Akan tetapi kini dimanakah harus kita cari obat mujijat itu?" Kuo Se Fen heran.

Tian Hung totiang menganggukan kepala, katanya :

“Memang obat ini sangat sukar didapat. Dulu karena sangat mengagumi Tong-Hai Suan-hian, pinto pernah menjelajahi sekeliling laut Tong-hay untuk mencari jejak mereka, akan tetapi ternyata kepergian itu sia2 belaka. Sekembalinya pinto berkeinginan untuk bisa mengolah obat seperti Ban-ing hui-tian-tan ini. Akan tetapi tidak disangka dari jerih payah puluhan tahun pinto hanya berhasil membuat sekuaali Sia-ce-tan saja, yang khasiatnya hanya bisa menambah tenaga saja. Aih !"

Mendengar cerita itu hati Goan Tian Hoat agak mendongkol, untuk apa me-nyebut2 obat Ban-ing- hui-tian-tan yang tidak mungkin didapat ?

“Apakah obat yang kedua itu totiang ?" tanya Goan Tian Hoat kemudian.

“Yang kedua adalah rumput Toh-la !" jawab Tian Hung totiang tanpa pikir2.

“Apakah rumput Toh-la itu dapat menyembuhkan penyakit jikongcu ?" tanya Goan Tian Hoat lebih lanjut. “Ha, Ha! Rumput Toh-la ini mempunyai khasiat yang luar biasa, terhadap segala macam racun. Jangan pula baru tiga macam racun terdapat dalam tubuh jikongcu, tigapuluh macam pun bisa dipunahkan !"

“Dalam sedemikian banyaknya pohon2 obat yang totiang tanam apakah terdapat rumput tersebut ?"

“Rumput Toh-la merupakan tanaman yang sangat terpantang bagi si penanam obat. Kalau saja ada sebatang pohon rumput itu, Pek yun-kuan ini tidak akan terdapat pohon obat lain."

“Apa sebabnya demikian ?" tanya Goan Tian Hoat heran.

“Rumput itu hanya terdapat didaerah Toh-si dalam propinsi Tien-nam. Ia mempunyai khasiat melunakan segala obat2an, bila ditaroh bersama dengan obat lain, ia akan menghilangkan khasiat obat lain itu. Maka bagi orang yang membuat obat2an paling takut menyimpan rumput Toh-la itu."

***

Bab 8

TERNYATA rumput Toh-la juga berupa racun bagi obat2an lainnya. Maka tidak ada yang berani menyimpan.

“Kalau memang rumput Toh-la itu bisa menyembuhkan penyakit jikongcu, segera boanpwee berangkat pergi ke Tien-nam untuk mencarinya. Entah bagaimanakah bentuk ciri2 rumput Toh-la itu ?"

“Rumput Toh-la mempunyai bentuk seperti kamlan dan berwarna hitam. Akan tetapi ditempat yang sama, kadang2 terdapat tumbuhan lain yang mempunyai bentuk serupa dengan rumput Toh-la. Tumbuhan itu sangat beracun bisa membuat tubuh menjadi hitam dan mati kalau memakannya

! Sedangkan pribumi disana pun tidak bisa membedakan mana rumput Toh-la dan mana rumput yang beracun !"

“Kedua tetumbuhan itu tentu mempunyai perbedaannya bukan?" tanya Goan Tian Hoat.

“Benar. Untuk bisa membedakannya harus menunggu ia berkembang, kalau warna kembangnya putih bersih, tidak salah lagi itulah rumput Toh-la sedang warna kembang yang beracun berwarna merah ke-ungu2an."

Goan Tian Hoat menjura memberi hormat, katanya kemudian :

“Boanpwee mengucapkan banyak terima kasih atas petunjuk totiang !"

“Dari sini ke Tien-nam jaraknya sangat jauh hingga perjalanannya cukup lama. Dari pemeriksaan racun dalam tubuh ji-kongcu, paling lama hanya bisa tertahan sebulan lagi racun itu tidak menyerang jantung." “Boanpwee akan melakukan perjalanan siang dan malam, mungkin dalam waktu sebulan cukup untuk pulang pergi."

Tian Hung totiang bergeleng kepala, katanya. “Harap siauwsicu bersabar, karena selain tidak

paham soal obat2an, daerah Toh si itupun sangat

asing bagi siauwsicu. Rumput Toh la itu hanya tumbuh dipuncak gunung yang curam berbahaya, serta sangat sukar didapat, maka pergi kesanapun belum tentu berhasil mendapatkannya !"

“Akan tetapi, jalan ini adalah lebih baik dari pada membiarkan penyakit jikongcu ber-larut2, tambah lama tambah berat totiang."

Tian Hung totiang tertawa mesem, katanya kemudian :

“Memang kata2 siauwsicu ini tidak salah. Akan tetapi menurut pendapat pinto, ji-kongcu lebih baik berdiam disini, kelak akan pinto mencari jalan untuk mengobatinya. Bilamana ternyata pinto tidak berhasil dalam waktu sebulan mengobatinya, dalam keadaan terpaksa pinto akan menggunakan cara lain. "

“Entah cara apakah itu?" tanya Goan Tian Hoat heran.

“Terpaksa harus menggunakan cara pengobatan Kim-cen-kuo-sia (menusukkan jarum2 emas ke jalan darah)."

“Kalau begitu mengapa tidak sekarang saja totiang mencobanya ?" “Ha, ha ! Ini kalau dalam keadaan terpaksa karena pengobatan dengan cara Kim cen-kuo-sia, tenaga sinkang si pasien akan lenyap terlalu banyak. Maka walaupun jiwanya dapat tertolong, akan tetapi setelah sembuh orang itu tidak bisa lagi bersilat !"

Wajah Goan Tian Hoat berobah pucat katanya terkejut :

“Berarti ludeslah harapan saudara Kang Han Cing ? Dia akan menjadi seorang bercacat seumur hidup ?"

Tiang Hung totiang menganggukkan kepala, membenarkan kesangsian itu.

“Seorang akhli silat paling takut mengalami peredaran jalan darah Masuk Api," berkata Goan Tian Hoat. “Teristimewa takut kehilangan ilmu silatnya. Kehilangan ilmu silat sama saja dengan kehilangan jiwanya. Bagaimana bisa melakukan pengobatan seperti ini ?"

“Maka," Berkata Tian Hung totiang, “Kalau tidak berada didalam keadaan terpaksa, aku tidak bersedia melakukan tugas berat tadi."

Goan Tian Hoat berkata :

“Lebih baik boanpwe segera pergi daerah Tien- nam mengambil obat Toh la.”

“Bersabarlah beberapa waktu," Berkata Tian Hung totiang. “Sesudah kalian datang ditempat ini, segalanya serahkan kepadaku."

Goan Tian Hoat mendebat, katanya : “Sesudah totiang menghadapi jalan buntu, tokh harus melakukan pengobatan dengan penusukan jarum juga, bukan ? Celakalah sudah hari depan Kang jie kongcu."

Kuo Se Fen membiarkan muridnya mendebat Tian Hung totiang, hal ini dikarenakan beberapa sebab.

Sebab pertama, sebagai seorang ketua Hai-Yang Pay dia harus mempunyai kewibawaan dan keagungan, harus mempunyai pandangan yang jauh. Karena itu, tidak pantas mendebat Tian Hung totiang yang ternama.

Lain lagi kedudukan bagi Goan Tian Hoat, sebagai kaum muda yang berdarah panas, sudah dianggap tidak janggal kalau dia melakukan sesuatu kesalahan. Apa lagi hanya berupa kesalahan kecil, menyinggung dan mencemoohkan Tian Hung totiang. Kesalahan sepele yang tiada artinya.

Sebab kedua dari bungkemnya mulut Kuo Se Fen, disebabkan karena beraninya Tian Hung totiang yang berkata seperti itu, tentu mempunyai sesuatu pegangan kuat yang belum diketahui, apakah pegangan Tian Hung totiang? Inilah yang sedang diperkira-kirakan.

Semakin lama, sifat Goan Tian Hoat semakin kurang ajar. Ini tidak boleh ! Sebagai rombongan yang hendak meminta pertolongan Pek-yun-kuan, mereka layak menaruh hormat kepada ketua yang bersangkutan.

Sopan santun bahasa harus dipegang teguh. Sudah waktunya Kuo Se Fen turun gelanggang perdebatan, sudah waktunya menyetop ketidak puasan Goan Tian Hoat.

Tian Hung totiang lebih cepat, mengurut jenggot dan berkata :

“Ada lebih baik, kalau sicu tidak ter-buru2 menuju ke daerah Tien-nam. Karena muridku sudah melakukan perjalanan jauh itu, paling lambat satu bulan pasti ada beritanya."

Hati Kuo Se Fen tergerak, dia mengajukan pertanyaan :

“Mungkinkah Datuk Persilatan Lie Kong Tie juga menderita keracunan yang sama ? Membutuhkan obat Toh-la?"

Jen Pek Coan juga bertanya :

“Mungkinkah Totiang sangat membutuhkan obat yang bisa mengerusak segala macam ramuan2 jamu itu ?"

Tian Hung totiang melirik kepada orang2 yang berada didepannya, apa boleh buat, dia harus berterus terang, katanya :

“Adanya Datuk Persilatan Lie Kong Tie ditempat ini juga meminta pengobatan, dan obat yang dibutuhkan adalah. obat Toh-la itu."

“Aaaa...." Berteriak Kuo Se Fen terkejut. “Racun apakah yang bersarang di dalam tubuh Datuk Persilatan itu?"

“Racun yang sama dengan ramuan racun yang bersarang didalam tubuh Kang jie-kongcu." Wajah Kuo Se Fen berubah.

“Bibit permusuhan dengan Lengcu berbaju hitam ?" Dia bertanya.

Tian Hung totiang berkerut alis, memandang para tamunya dan bertanya :

“Bagaimanakah asal usulnya lengcu berbaju hitam itu ?"

Kuo Se Fen memberikan keterangan :

“Lengcu berbaju hitam adalah pemimpin dari suatu golongan yang mengenakan seragam hitam, mengenakan kerudung tutup muka yang juga berwarna hitam. Di saat Kang Han Cing melakukan perjalanan menuju ke kota Yang-ciu, mendapat sergapan golongan baru yang misterius ini. Hai- yang-pay juga pernah mendapat serbuannya. Dari adanya kejadian ini, menurut dugaanku, racun2 jahat itu adalah hasil buah karya si lengcu berbaju hitam dan kawan2."

Mulut Tian Hung totiang berkemak-kemik : “Lengcu berbaju hitam? Komplotan baru yang

misterius? Mengapa aku belum pernah mendengar cerita tentang mereka?"

Berkata sampai disini, Tian Hung totiang meneruskan pembicaraan:

“Oh, suwie berampat adalah tamu2 Pek-yun kuan, sudah selayaknya kalau kami menghormat, masih tersedia dan sudah kami siapkan empat buah kamar, khusus tempat istirahat suwie berempat. Kalau membutuhkan sesuatu, beritahu saja kepada pelayan2 kami. Sebelumnya, maaf beribu maaf, bukan maksudku mengadakan pem- batasan bergerak, seperti suwie berempat ketahui, kamar2 dibagian Barat adalah kamar tamu2 Datuk Persilatan keluarga Lie, agar tidak sampai terjadi yang tidak diinginkan, atau bentrokan2 yang membawa kegaduhan, kami harap suwie berempat tidak mendatangi tempat2 itu."

Kuo Se Fen tertawa dan berkata: “Tentu...Tentu....tenangkanlah hati totiang. Asal

saja mereka tidak mendatangi dan mencari setori

ditempat ini, kami jamin tidak akan terjadi sesuatu."

“Satu keterangan lagi." Berkata Tian Hung totiang. “Kecuali kamar2 dibagian barat itu, suwie berampat bebas bergerak kemanapun suwie suka, suwie berampat tidak terikat. Hanya satu yang harap diperhatikan baik2. Rimba bambu diluar pagar rumput juga bukan tempat yang boleh sembarangan dipijak."

Dalam hati Jen Pek Coan berdesis:

“Seperti apa yang sudah kuduga, daerah pagar rumput itu berupa sesuatu yang mengandung barisan tin lihay."

Kuo Se Fen meng-angguk2kan kepalanya, memberi janji dan berkata :

“Akan kami perhatikan baik2 pesan totiang tadi."

“Nah! Sudah waktunya suwie berampat istirahat. Aku meminta diri." “Silahkan." Berkata Kuo Se Fen, dia tidak mencegah kepergian orang.

Tian Hung totiang meninggalkan tamu2nya.

Sesudah mengantar kepergian Tian Hung totiang, Kuo Se Fen memperhatikan tempat tempat yang sudah tersedia. Satu ruangan makan, satu ruangan tamu dan dua ruangan tidur.

Dibelakang ruangan2 ini terdapat perlataran luas, ada pintu yang menembus ke-bagian lain, tapi sudah ditutup dan diselot. Tempat ini berupa bagian2 yang tersendiri.

Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat menempati sebuah ruangan tidur.

Kuo Se Fen mengambil tempat bersama-sama Jen Pek Coan.

Meninggalkan cerita Kang Han Cing dan Goan Tian hoat. Mengikuti gerak-gerik Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan.

Jen Pek Coan terbaring dibale-bale, setiap ruangan terdapat dua tempat tidur, kamar itu tidak terkecuali.

Kuo Se Fen duduk ditepian meja, tangannya memegangi cawan teh yang disediakan untuk mereka, tapi tidak segera ditenggak, jago tua ini sedang melamun, memikirkan rangkaian kejadian2 yang serba misterius.

Suatu saat, dia menoleh kearah sang sutee dan mengajukan pertanyaan : “Jietee, dikala menempur 4 jenderal dari Datuk Persilatan keluarga Lie tadi, kulihat kau agak keteter. Entah terjadi perubahan angin apa, dengan cara dan tipu baru yang kau dapat pelajari dari mana, mengapa bisa mengubah situasi, memenangkan pertempuran ?"

Hampir bersamaan, Jen Pek Coan juga berkata : “Oh, Ya ! Kalau saja bukan bantuan toa suheng,

aku sudah dikalahkan mereka."

“Huah !" Kuo Se Fen terjengkit, cawan tehnya hampir terlepas dari pegangan. “Apa? Bagaimana hal ini bisa terjadi?"

Jeng Pek Coan memperlihatkan sikapnya yang ke-bingung2an, ia bertanya :

“Mungkinkah bukan bantuan toa suheng ?”

Perlahan-lahan, Kuo Se Fen meletakkan cawannya, ia bertanya :

“Jietee, pernahkah kau melihat aku menggunakan senjata rahasia ?"

Sebagai saudara seperguruan, tentu saja Jen Pek Coan maklum, kalau suheng itu tidak mahir menggunakan senjata rahasia, maka belum pernah Kuo Sen Fen menggunakan senjata gelap.

Najis! Katanya.

Dan anehnya, disaat dia berada didalam situasi kejepit, ada sesuatu yang membantu, itulah senjata gelap, maka 4 jendral dari Datuk Persilatan Lie bisa dikalahkan.

Tentu saja bukan bantuan sang toa suheng. “Wah." Dia mengeluh. “Didalam keadaan terjepit dan sulit seperti itu, kalau tidak ada bantuan yang tepat, kukira nama Hai-yang-pay bisa terjungkel. Tapi. Siapakah yang membantu kita?"

Siapakah yang membantu Jen Pek Coan mengalahkan 4 jendral keluarga Lie ?

“Benda apakah yang meluncur dan memberi bantuan gelap?" Bertanya Kuo Se Fen.

“Tampaknya seperti butiran batu2 kecil,” berkata Jen Pek Coan. “Tadinya kukira bantuan toa suheng. Maka tidak kutaruh perhatian. Orang2 yang kukalahkan sudah tertotok beku, maka bisa cepat menyelesaikan pertempuran maut itu."

Mulut Kuo Se Fen sudah terbuka, siap meneruskan pembicaraan. Disaat ini, mendatangi dua tosu kecil, pesuruh kelenteng Pek-yun kuan. Maka sang ketua Hai-yang pay menghentikan pembicaraannya.

Dua tosu kecil membawa baki kayu, di atas baki itu terdapat beberapa macam makanan, tentu saja terdiri dari sayur2an, para tosu dilarang memakan barang berjiwa, sebagai peng-ikut2 aliran yang ber- agama suci, kelenteng Pek-yun-kuan tidak menyediakan arak atau daging, juga tidak memakan ikan, yang tersedia hanya sayur mayur, demikianlah makanan untuk para tamu2nya.

Dua tosu kecil itu memberi hormat dan berkata kepada tamu2nya :

“Kuancu kami meminta maaf atas kekurangan persiapan kelenteng Pek-yu-kuan hanya sayur2an saja yang bisa kami sediakan. Silahkan para sicu mencoba makanan kami."

Sesudah itu mereka meletakkan makanan- makanan itu.

“Terima kasih," Berkata Kuo Se Fen. “Dan tolong sampaikan rasa syukur kami kepada kuancu kalian."

Kedua tosu kecil itu tertawa, sesudah meletakkan makanan2nya, mereka meminta diri meninggalkan kamar2 itu.

Jen Pek Coan sudah berkoar kearah kamar lainnya :

“Tian Hoat, ajak Kang jie kongcu untuk makan dan mengisi perut."

Dengan dibantu oleh Goan Tian Hoat, Kang Han Cing meninggalkan kamar istirahat.

Berempat menghabiskan makanan yang sudah tersedia.

Mungkin terlalu letih, Kang Han Cing meminta bantuan Goan Tian Hoat, dipepayang dan kembali ke kamarnya.

Jen Pek Coan juga sudah kenyang, ber-sama2 dengan sang toa suheng, mereka meninggalkan ruang makan.

Kuo Se Fen masih belum bisa beristirahat, terlalu banyak urusan yang ngeruwet pikiran.

Jen Pek Coan mengeluarkan pipa bakonya, menyulut api, menyedotnya beberapa kali, duduk dipapan pembaringan dan berkata : “Menurut keterangan Tian Hung totiang, Datuk Persilatan Lie Kong Tie keracunan. Racun yang mengerusak pembuluh2 darah si Datuk Persilatan adalah racun yang tidak berbeda dengan keracunan Kang Han Cing. Suatu bukti kalau komplotan baru yang sering mengeluarkan Perintah Maut ini adalah golongan pemberani, hendak mengganggu datuk2 persilatan. Datuk Persilatan Kang Sang Fung sudah disingkirkan dari permukaan bumi, Lie Kong Tie hampir menemukan kehancurannya. Prestasi2 baru untuk Lengcu berbaju hitam."

Kuo Se Fen berkata:

“Lengcu baju hitam juga bukan merupakan otak dari komplotan misterius itu."

“Siapakah komplotan Perintah Maut? Sesudah membunuh mati Datuk Selatan Kang Sang Fung, meracuni Datuk Utara Lie Kong Tie, kukira tidak segan2 mereka bertindak kepada dua Datuk Persilatan lainnya."

“Tentu saja tidak."

“Satu kekuatan baru yang tidak boleh pandang ringan."

“Kekuatan jahat yang berupa bencana bagi ketenangan rimba persilatan."

Tiba2. Jen Pek Coan menjerit kaget:

“Toa suheng.   "

Matanya terbelalak, memandang ke arah belakang Kuo Se Fen. Sebagai ketua partai Hai-yang-pay, Kuo Se Fen juga mempunyai telinga yang hebat, itu waktu terdengar desisan panjang.... syiuuut, syiuuuut

......

Secepat Kuo Se Fen menoleh, secepat itu pula mumbul ke atas roket berapi.

Mengkerutkan alisnya, Jen Pek Coan bertanya perlahan :

“Mungkinkah tanda bahaya bagi kelenteng Pek- yun-kuan ?"

Wajah Kuo Se Fen juga menjadi tegang, berpikir beberapa waktu, ia berkata :

“Tanda bahaya meluncur datang di arah bagian timur, kalau menurut perkiraan, sebelah kiri kelenteng Pek yun-kuan. Tentunya bertemu dengan musuh, atau tanda dari penyerangan lawan kita."

Jen Pek Coan sudah bersiap2 dengan pipa rokoknya, siap menghadapi pertempuran baru.

Kuo Se fen masih bersikap tenang. Jen Pek Coan bertanya :

“Toa suheng, haruskah kita membantu mereka

?"

Kuo Se Fen mengeluarkan senjata, itulah golok

pusaka, dia memberi perintah :

“Jaga ruangan tempat kita, bangunkan Tian Hoat. Hati2 dibagian belakang. Biar aku yang melihat keadaan." Disaat ini, terdengar lagi beberapa pekikan- pekikan panjang, se-olah2 harimau mengaum, seperti kera yang saling sahut, berkumandang didaerah pegunungan, suaranya sangat jernih dan bersih.

Kuo Se Fen mengkerutkan alis dan berkata : “Datangnya mereka begitu cepat. Kukira sudah

berada di depan kelenteng Pek-yun-kuan." setelah berkata tubuhnya melejit meninggalkan Jen Pek Coan.

Jen Pek Coan ber-siap2 menghadapi situasi darurat, menuju kearah ruangan Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat.

Mengikuti perjalanan Kuo Se Fen, gesit laksana kera, dia merambat naik.

Sayup2 mulai terdengar suara bentrokan senjata, kelenteng Pek-yun-kuan sudah mendapat penyerangan.

Kuo Se Fen mempunyai pengalaman yang luas, hanya sekali tangkap, dia sudah bisa menduga arah datangnya pertempuran itu, ternyata musuh sudah berada didepan kelenteng.

Sebagai salah seorang tamu Pek-yun-kuan, Kuo Se Fen harus berlaku tahu diri, musuh yang terlalu kuat bisa mengakibatkan hancurnya Pek-yun- kuan, dia harus membantu.

Tapi tenaga bantuan tidak dipaparkan secara terang2an, kalau saja pihak Pek-yun kuan salah mengerti, sembarang bergerak menghancurkan musuh, dia bisa dianggap kurang ajar, dianggap memalukan kelenteng Pek-yun-kuan. Kalau tidak bisa diterima, tindakan itu bisa menimbulkan salah mengerti.

Demikianlah Kuo Se Fen merayap dan merayap, mengikuti arah yang dibagian gelap, dia menyembunyikan diri diatas pohon2.

Dari cahaya sinar rembulan yang suram, pelataran rumput bergulat dua orang, masing- masing mengeluarkan tenaga menempur lawannya.

Seorang adalah tosu tinggi besar yang mengenakan jubah abu2, kumis dan berewoknya jembros, senjatanya berupa ruyung halus, gerakannya gesit dan cekatan.

Lawan si tosu adalah laki2 setengah umur yang berbaju hijau, dia menggunakan sebatang pedang, gerakannya aneh dan banyak perobahan. Menempur dan merangsak tosu berjubah abu2.

Kecuali kedua orang yang bertempur, masih ada dua orang lagi, kedua orang ini berdiri di belakang laki2 berbaju hijau. Menggunakan tutup kerudung muka berwarna hijau.

Kecuali sitosu berbaju abu2, Kuo Se Fen tidak melihat hadirnya Tian Hung totiang ditempat itu, dia menjadi bertanya kepada diri sendiri, kemana kepergian kuancu pemilik Pek-yun-kuan itu?

Dua orang yang bertempur masih saling gebrak, tiga puluhan jurus lagi dilewatkan.

Hut....tosu berbaju abu2 memukul keras, bluk, ruyungnya menderu2. Laki2 berpedang juga tidak kalah galaknya, dia mengubah cara, dengan kecepatan luar biasa, menyerang lima jurus.

Lima jurus serangan itu terdiri dari lima macam gerakan yang tidak sama, hal mana membuat Kuo Se Fen yang menonton pertandingan mengeluarkan suara tertahan, lima jurus tadi ber-turut2 terdiri dari jurus ilmu pedang Bu-tong-pay, Ngo bie-pay, Hoa-san-pay dan Heng-san-pay.

Tosu berjubah abu juga termasuk salah seorang kuat, ia adalah pembantu Tian Hung totiang ternama, namanya Ho-leng Koan-hoang Tian Hoa Tosu.

Sesudah terjadinya adu tempur itu, kedua jago terpisah.

Salah satu dari dua orang lainnya, me- ngeluarkan bentakan :

“Serahkan kepadaku!"

Maka orang yang berkerudung menggunakan pedang mengundurkan diri.

Disaat orang berkerudung yang berbadan besar ini hendak tampil kedepan, muncul sesuatu bayangan, inilah Tian Hung totiang.

Orang berkerudung tinggi besar menghadapi Tian Hung totiang.

Tiang Hung totiang memperhatikan ketiga lawannya, satu persatu diteliti dengan seksama, kemudian ia berkata : “Sam-wie bertiga bisa melewati barisan Pat-kwa- ci dari kelenteng Pek-yun-kuan, suatu tanda kalau samwie bertiga memiliki kepandaian tinggi, tentunya bukan jago biasa, entah dari golongan mana sam-wie datang ?"

Orang berkerudung tinggi besar adalah pemimpin rombongan tiga orang itu, menganggukkan kepala berkata :

“Aaaa.....hanya aturan2 yang ada pada Pek-yun- kuan ini adalah peraturan biasa, barisan tin kalian mungkin bisa menjebak atau melarang masuknya binatang2 kecil, tapi tidak mungkin bisa mencegah kehadiran kami."

***

Bab 9

TlAN HUNG TOTIANG mengkerutkan alisnya, dia membentak:

“Sebutkan nama kalian !"

Sepasang sinar mata orang berkerudung berbaju hijau itu memancarkan cahaya kemilauan, ia tertawa sebentar dan berkata:

“Kuancu hendak bertanya ? Baiklah, aku adalah Lengcu Panji Hijau."

Rombongan ini mengenakan pakaian berwarna hijau, dengan tutup kerudung berwarna hijau, sang pemimpin menyebut namanya sebagai Lengcu Panji Hijau, ternyata setanding dengan Lengcu Panji Hitam.

Kuo Se Fen yang menonton jalannya pertandingan menganggukkan kepala, hatinya berkata:

“Sudah kuduga ! Komplotan dari pihak musuh.” Tian Hung totiang pernah mendengar cerita Kuo

Se Fen tentang adanya Lengcu Panji Hitam yang

menyerang Hai yang pay.

Kini Lengcu Panji Hijau yang menyerang Pek- yun kuan, tentunya dari komplotan yang sama, hatinya terkejut, dia berusaha menenangkan ketegangan itu dan menganggukkan kepala berkata :

“Ternyata Lengcu Panji Hijau. Sayang sekali kami jarang berkelana didalam rimba persilatan, belum pernah mendengar nama ini, maafkan ketololan kami."

Lengcu Panji Hijau tertawa besar, dia berkata : “Kini kuancu sudah bisa mendengarnya, bukan

?"

Dengan sikap sungguh2 Tian Hun totiang

bertanya :

“Apa maksud kedatangan samwie bertiga malam2 berkunjung kedalam kelenteng Pek-yun- kuan ?"

Lengcu Panji Hijau berkata :

“Menurut berita yang kami dapat, Datuk persilatan Lie Kong Tie menetap dan istirahat di dalam kelenteng ini, betulkah ada kejadian yang seperti itu ?"

Ternyata kedatangan rombongan berbaju dan berkerudung hijau dengan maksud tujuan si Datuk Persilatan Lie Kong Tie !

Wajah Tian Hung totiang berubah, tapi dia tidak menyangkal akan adanya Lie Kong Tie istirahat dan minta pengobatan didalam kelentengnya, dia menganggukkan kepala dan berkata :

“Ya !"

Lengcu Panji Hijau angkat tangan, memberi hormat dan berkata :

“Terima kasih, kami hendak membikin sedikit gangguan."

Sesudah itu, dia menganggukkan kepala kepada kedua orangnya, berkata kepada mereka.

“Mari ! Mari kita masuk."

Ketiga rombongan berbaju hijau itu hendak memasuki kelenteng Pek-yun-kuan.

Hal ini betul2 melanggar keagungan Tian Hung totiang, dengan keren dia membentak :

“Berhenti !"

Lengcu Panji Hijau menghentikan langkahnya, diikuti juga oleh kedua anak buahnya yang berbaju hijau, menghadapi Tian Hung totiang dan bertanya

:

“Maksud kedatangan kami adalah mengunjungi keluarga Lie, mengapa kuancu hendak menahan?" Tian Hung totiang berkata:

“Lie Kong Tie sicu sedang istirahat tidak boleh diganggu, apalagi kelenteng Pek-yun-kuan bukan kelenteng biasa, kami melarang orang bertingkah."

Lengcu berbaju Hijau mendongakan kepala, memandang langit dan berkata:

“Kedatangan kami sangat penting, kalau saja Lie Kong Tie tayhiap tahu kedatangan kami, pasti datang menemui, urusan ini tidak ada hubungan dengan kuancu.”

Tian Hung totiang mengeluarkan kebutannya, inilah senjata istimewa, ia siap menempur ketiga jago itu, dan dengan tenang berkata:

“Kelenteng Pek-yun-kuan tidak pernah melibatkan diri didalam persengketaan rimba persilatan, tapi bukan berarti takut pada pertempuran atau kekerasan, silahkan! Untuk mengunjungi tamu2 kami memang tidak sulit. Cukup sesudah mengalahkan kami."

Wajah Lengcu Panji Hijau yang tertutup kerudung itu tentunya berubah, terpeta sekali pada sepasang sinar matanya yang ber-kilat2, ia berkata :

“Jangan kuancu menyesal dikemudian hari. Melibatkan diri dalam urusan yang seperti ini, adalah langkah2 yang sang tolol."

Tiba2 dari dalam kelenteng berlari seseorang, itu adalah putra Datuk Persilatan Lie Kong Tie.

Dengan senjata kipasnya yang istimewa Lie Wie Neng siap ikut campur. Langsung Lie Wie Neng menghadang Lengcu Panji Hijau dan membentaknya keras :

“Eh, dedemit dari mana yang berani malang melintang dikelenteng Pek-yun kuan ? Lekas enyah dari tempat ini !"

Menyaksikan kegesitan Lie Wie Neng, Kuo Se Fen juga mengeluarkan pujian dalam hati :

“Lie Wie Neng ini tidak kalah dari ayahnya, entah murid jago silat dari mana ?”

Lengcu Panji Hijau memberi hormat kepada Lie Wie Neng, katanya:

“Lie Wie Neng kongcu yang datang ?”

“Ya," jawab Lie Wie Neng. “Aku adalah putra dari Datuk Persilatan Lie Kong Tie."

“Ha, ha...." Lengcu Panji Hijau tertawa. “Inilah suatu yang tak terduga, sungguh kebetulan."

“Ada urusan apa?" bentak Lie Wie Neng.

“Kami mempunyai sesuatu urusan yang sangat penting." jawab Lengcu berbaju hijau.

“Katakanlah ! Urusan apa ?" Lie Wie Neng berkata sombong.

“Urusan penting dengan ayahmu. "

“Aaaa...." Lie Wie Neng semakin beringas. “Ayahku menderita keracunan, tentunya dibokong olehmu ?"

“Tepat !" Lengcu Panji Hijau tidak menyangkal tuduhan itu. “Ha, ha...." Sepasang alis Lie Wie Neng terjengkit. “Kau akan kubunuh lebih dulu ! Terima serangan !"

Secepat itu pula, senjata Lie Wie Neng yang berupa kipas wasiat diluncurkan ke arah musuh, menyerang Lengcu berbaju hijau.

Gerakan Lie Wie Neng sangat cepat dan gesit, berada diluar dugaan.

Tapi gerakan Lengcu berbaju hijau juga tidak kalah gesitnya, melejit ke belakang mengelakan serangan Lie Wie Neng, ia tertawa dan berkata :

“Sabar ! Maksud kedatangan kami bermaksud baik. Mungkinkah Lie kongcu tidak bersedia diajak berunding?"

Lie Wie Neng membentak :

“Sesudah aku membunuhmu, sesudah mengambil obat penawar racun, baru berunding !"

Lie Wie Neng bisa bicara tanpa menghentikan serangannya, semakin gencar dan semakin cepat.

Lengcu Panji Hijau memang hebat, bagaikan bayangan, dia mengikuti setiap kibasan kipas Lie Wie Neng. Menyedot napasnya dan melayang jauh, ia berkata tertawa :

“Yang sangat disayangkan, obat penawar racun itu tidak berada pada diriku."

Lie Wie Neng mendesak maju lagi, dengan dingin berkata : “Tidak ada obat penawar racun itupun tidak menjadi soal, yang penting kau harus menjadi orang tawanan disini."

Lengcu Panji Hijau berusaha mengelakan setiap serangan Lie Wie Neng, ia menghindari bentrokan yang lebih keras, berputar ditengah lapangan, suatu ketika ia berhasil juga meloloskan diri, maka ia sempat berkata :

“Huh ! Sangkamu, setelah mendapatkan obat Toh-la itu, kau bisa mengobati penyakit ayahmu ?"

Dan sesudah melakukan pembicaraan tadi Lengcu Berbaju Hijau mengelakan serangan Lie Wie Neng lagi.

(Bersambung 6)