Perintah Maut Jilid 03

 
Jilid 03

“KEMUNGKINAN BESAR, hanya aku belum berani memastikannya......." jawabnya sambil matanya memandangi Goan Tian Hoat dengan tajam, kemudian sambungnya :

“Bukan aku menyombongkan diri sendiri, pengetahuanku dalam pengobatan sudah banyak pengalaman, telah banyak aku menyembuhkan penyakit2 yang sulit2 dan parah, hanya bagi seorang tabib untuk bisa mempermudah pengobatannya, haruslah mempunyai penerangan untuk dijadikan titik tolak, karena walau bagaimanapun tabib itu bukanlah dewa yang bisa mengetahui segalanya, maka bila hendak mengobati penyakit saudaramu, terlebih dahulu aku mesti mengetahui jelas keadaan yang sebenarnya sebelum maupun sesudahnya ia sakit, untuk bisa kujadikan bahan penelitian hingga dapat lebih mudah memberi obat yang cocok untuk menyembuhkan penyakitnya !"

“Kata2 sianseng memang tidak salah. Ka Ling, kau beritahulah bila Than sianseng hendak menanyakan sesuatu dan jangan takut2 untuk diobati."

Ka Ling adalah nama samaran Goan Tian Hoat. “Ya, entah apakah yang hendak sianseng

tanyakan ?" tanya Goan Tian Hoat.

“Menurut yang kutahu racun itu terbagi dua macam, satu macam adalah racun keras yang cepat daya kerjanya hingga bila terkena racun ini bisa mati hanya dalam beberapa jam saja. Yang lain macam ialah racun lunak yang daya kerjanya lambat, tapi ini pun tidak bisa bertahan terlalu lama. Saudaramu terkena racun telah ada dua bulan lebih lamanya, maka ini hanya ada satu kemungkinan............" ia tidak melanjutkan kata2nya dan nampak sedang pikir2.

“Menurut pendapat sianseng kemungkinan apakah itu ?" tanya Goan Tian Hoat.

“Saudaramu tidak terkena racun keras, maka dengan sendirinya terkena racun lunak, tapi inipun tidak mungkin ia bisa tahan sampai dua bulan lebih, maka menurut pendapatku ia terkena bukan dengan cara sekaligus, bila orang memberinya dengan cara membagi beberapa kali dan pula dengan jumlah merata, karena hanya dengan cara demikianlah baru dapat mengelabui perasaan orang yang dicelakainya, hingga lambat laun racun yang bersarang dalam tubuh orang itu kian bertambah dan akhirnya menjadi lemah dan lumpuh."

Hati Goan Tian Hoat menjadi kagum atas keahlian Than Hoa Toh menguraikan sesuatu hal, se-akan2 ia seperti telah menyaksikannya sendiri. “Benar apa yang sianseng katakan." ucapnya sambil memanggutkan kepala.

Sementara Than Hoa Toh sudah melanjutkan kata2nya:

“Akan tetapi bila berpatokan dari dugaanku ini, memang kemungkinan besar ia diracuni dengan cara ber-angsur2, persoalan ini sungguh membuatku sukar untuk memastikannya, karena bila orang itu adalah musuhnya kesempatan baginya hanyalah sekali saja untuk bisa meracuninya, tapi ia bisa meracuni dengan beberapa kali berturut2, sesungguhnya tidaklah masuk diakal."

Kuo Se Fen dan Goan Tian Hoat agak menjadi tercengang dan air muka mereka nampak agak tegang.

Dengan wajah sungguh2 Than Hoa Toh bertanya : “Maka terpaksa aku bertanya biasanya siapakah yang terdekat dengan saudaramu?"

“Yang sianseng maksudkan siapa2kah yang terdapat dalam rumah boanpwee ?"

“Yang kutanya siapakah yang paling dekat dengan saudaramu sehari2 ?"

“Koko boanpwee sedang tekun belajar ilmu silat hingga belum berumah tangga, dirumah selain ibu yang ada hanyalah dua orang pelayan serta seorang bujang.” ia membuat cerita tapi kemudian sambungnya: “Tiga bulan yang lalu dalam perjalanan Koko bersamprokan dengan tiga orang musuhnya yang sangat tinggi ilmu kepandaiannya, karena dikeroyok tiga orang ia tak dapat melawan, berhasil lari dengan menyelam kedalam air, sesampainya dirumah ia terserang demam hingga jatuh sakit belasan hari lamanya. Selama sakit dirawat oleh seorang pelayan untuk makan obat maupun kebutuhan lainnya. Sedari itulah tubuhnya kian hari kian lemah, semula dikira karena belum pulih kesehatannya, tapi lambat- laun kian terasa pernapasannya agak terganggu serta tenaganya berkurang, sampai-sampai akhirnya jalan pun harus dituntun orang."

Mendengar cerita Goan Tian Hoat yang dibuat- buat itu, dalam hati Kang Han Cing merasa kagum, karena walaupun ceritanya itu bohong belaka tapi semuanya bagaikan benar terjadi dan tiada sedikitpun yang bisa membuat orang merasa curiga, sungguh membuat ia kagum atas kecerdikan diri Goan Tian Hoat, dengannya ia hanya lebih besar tak seberapa umurnya, tapi pengalamannya jauh lebih banyak.

Sorot mata Than Hoa Toh berkilat nampak sedikit berobah, dengan mengawasi wajah Goan Tian Hoat ia bertanya: “Telah lamakah pelayan yang merawatnya itu bekerja pada keluargamu?"

Ditanya demikian Goan Tian Hoat agak kesima dan sautnya kemudian: “Belum ada setengah tahun."

Kuo Se Fen sangat memuji kecerdasan muridnya itu, karena dengan jawaban itu dengan tidak langsung ia telah menunjukan peranan penting dari diri si pelayan itu.

Kemudian Than Hoa Toh mendesak dan tanyanya: “Apakah kini ia masih bekerja?"

Goan Tian Hoat pura2 menjadi terkejut dan katanya: “Jangan2 sianseng mencurigakan ia yang meracuninya? Ah ! Ia.....Ia telah dijemput oleh orang tuanya pada sebulan yang lalu." “Ha, Ha, maka itulah walaupun aku tidak mempunyai bukti, tapi kemungkinan besar pelayan itu telah diperalat oleh orang hingga meracuninya."

Kesempatan ini tidak dilewatkan begitu saja oleh Kuo Se Fen maka cepat ia berkata: “Kalau begitu sianseng telah memastikan bahwa penyakit Ka Siong terkena racun lunak, entah bisakah ia disembuhkan?"

“Jangan lopiauwto merasa kuatir ! Setelah aku dapat mengetahui keadaan sebenarnya maka tidaklah sukar untuk mengobatinya, hanya. ”

Ia tidak meneruskan kata2nya tapi tiba2 mengerutkan keningnya dan mendongak ke atas, nampak ia ber-pikir2 sambil mulutnya kumat- kamit berkata sendiri :

“Racun yang lunak…..Membuat tenaga orang hilang lenyap......ini.  "

Tiba2 matanya terbelalak dan serunya ngeri : “Jangan2 ini adalah racun pembuyar tenaga ?"

Kuo Se Fen menjadi kagum atas keahlian si tabib betapa tepat dugaannya itu, baru saja ia hendak membuka mulut untuk bicara, muridnya Goan Tian Hoat telah mendahuluinya : “Pemeriksaan sianseng tentu tidak bisa salah, entah adakah obat pemunahnya ?”

Dengan mata dibuka lebar2 Than Hoa Toh mengawasi perobahan air muka Goan Tian Hoat : “Ha ha, asalkan saja benar racun pembuyar tenaga tidak akan sulit bagiku untuk mengobatinya." Goan Tian Hoat menjadi gembira : “Koko memang terasa tenaga dalamnya hilang musnah kini hanya mengandalkan pertolongan sianseng untuk menyembuhkannya, mohon berilah obat pemunahnya."

Than Hoa Toh dapat menangkap perobahan air muka Goan Tian Hoat, tanyanya pula: “Berapakah umur saudaramu kini ?"

Goan Tian Hoat sungguh tidak nyana ia bisa menanya demikian hingga ia menjadi kesima sejenak kemudian baru ia menyahutnya: “Koko lebih besar dua tahun dari boanpwee kini berusia dua puluh sembilan tahun."

“Baiklah terlebih dahulu aku bukakan resep untuk dimakan tiga hari, kalau betul terkena racun pembuyar tenaga tentu akan sembuh kembali. Tapi bila setelah tiga hari tiada perobahan sedikitpun, aku bisa datang sendiri untuk mengobati lebih lanjut."

Kemudian dari dalam saku bajunya ia mengeluarkan sebuah kunci kecil dari bahan kuningan, membuka peti obat yang ia bawa, dengan amat teliti dari dalam peti itu ia mengeluarkan tiga botol kecil yang berisi bubuk obat.

“Bisakah sianseng menginap disini selama tiga hari menunggu sembuhnya penyakit koko ?"

Sambil membuat obat Than Hoa Toh menyahutinya : “Tiap hari ratusan orang sakit yang datang kerumahku untuk berobat, mana bisa aku berdiam disini hingga tiga hari lamanya ? Ha ha, jangan kau kuatir, telah puluhan tahun aku mengobati orang dan belum pernah ada yang harus dua kali memakan obatku baru sembuh. Tapi terhadap empemu Ong tayhiap serta Kuo lo-piauwto sahabat lamaku tentu lain dari pada yang lain, maka tiga hari kemudian sembuh atau tidak tetap aku akan datang pula, tidak usah kalian jemput. Walaupun ia telah sembuh, masih harus diperiksa lebih lanjut."

Goan Tian Hoat berpaling pada suhunya minta pendapat.

Kuo Se Fen memanggut tertawa : “Ha ha, apa yang Than sianseng katakan memang adalah sebenarnya, tiap hari bukan sedikit orang yang datang untuk berobat padanya. Tidak sepatutnya kita memaksanya menginap disini hingga tidak memikirkan mati hidupnya orang2 sakit yang minta pengobatannya. Kelak tiga hari kemudian aku bisa menyuruh orang untuk menjemputnya."

Dengan meng-goyang2kan pundaknya Than Hoa Toh tertawa lirih: “Ya ini telah menjadi kewajiban seorang tabib, kepentingan orang banyak harus diutamakan. Aku kuatir kini dirumah telah banyak orang sakit sedang menungguku maka terpaksa aku harus segera kembali."

Dengan ter-gesa2 ia membungkus enam bungkus obat yang telah dibuat dan ditaronya diatas meja: “Obat ini untuk diminum tiga hari, sehari dua kali pagi dan malam minum saja dengan air hangat. ”

Belum habis ucapannya tiba2 dari halaman luar terdengar suara tegoran keras Luk Tek Kui: “Hei nona! Kau hendak mencari siapa ?”

Terdengar suara seorang gadis yang lantang dan terang : “Minggir, aku hendak mencari Than sianseng."

“Jangan masuk ! Cepat kau pergi !”

“Bukankah aku telah beritahu bahwa aku hendak mencari Than sianseng."

“Disini tidak ada yang bernama Than sianseng, cepat kau pergi !”

“Dari Tai Yan aku terus membuntutinya, dengan jelas aku melihat ia masuk kesini tentu ia berada didalam, kau hendak membohongiku ?"

Mungkin selagi omong2 gadis itu menyerobot masuk, karena kemudian terdengar seruan kaget Luk Tek Kui : “Iii, Eh, eh stop kau, kau. Kau

berani masuk kedalam?”

“Yuh Sing, kau keluar lihat ada apa ?” ucap Kuo Se Fen sambil mengerutkan keningnya.

Baru saja ucapannya habis nampak sebuah bayangan orang berkelebat masuk hingga Yuh Sing tidak keburu untuk mencegahnya.

Ternyata bayangan itu adalah seorang gadis yang usianya kurang lebih anem tuju belas tahun, ia mengenakan baju biru, kedua matanya jeli dan bening, dua buah kepang yang hitam mengkelelep meluntai didepan dadanya, begitu tiba didalam kedua matanya menyapu kesini kesana, wajahnya kemudian berseri menghampiri Than Hoa Toh: “Than Sianseng, ternyata benar2 kau berada disini, sungguh kau membuatku kewalahan mencari ke- mana2."

Sementara itu Luk Tek Kui telah menyusul masuk, dengan napas ter-engah2 ia membentak : “Kau...Mengapa kau sembarangan masuk ?”

Sebenarnya Kuo Se Fen pun kurang senang terhadap sepak terjangnya gadis itu tapi karena ia telah menegor Than Hoa Toh terlebih dahulu maka ia hanya diam saja menyabarkan diri, hanya matanya melirik ke arah Luk Tek Kui.

Dilirik demikian wajah Luk Tek Kui menjadi merah ketakutan : “Tuan besar, bukan aku membiarkan dia masuk, tapi dia .... dia yang menyerobot masuk !"

Sebenarnya Luk Tek Kui pun memiliki kepandaian yang cukup walaupun ia hanya seorang bujang kini gadis itu bisa menyerobot masuk tanpa dapat dicegah, hal ini tentu menandakan bahwa gadis itu mempunyai kegesitan yang jauh melebihi Luk Tek Kui.

Than Hoa Toh baru saja mengempit peti obatnya hendak pergi pulang, ia mengerutkan keningnya begitu ditegor oleh gadis itu : “Siapakah nona ?”

“Loh ! Masakan Than Sianseng lupa pada diriku? Aku adalah Ce Mei.” Than Hoa Toh batuk sejenak dan memanggutkan kepalanya : “Oh ya kau Ce Mei, entah ada urusan apa kau mencariku ?”

Semua mata yang berada diluaran itu tertuju pada diri gadis baju biru itu, seorangpun tiada yang membuka suara.

Ditanya demikian, gadis yang bernama Ce Mei itu menjadi tercengang heran, matanya ber-kedip2 dan sahutnya : “Bagaimana Than sianseng bisa melupai urusan kemarin sore ? Bukankah aku telah mengundang Than sianseng kerumah untuk memeriksa penyakit majikanku ? Entah obat apakah yang Than sianseng berikan kepada majikanku ?”

“Ha Ha, tidak salah kalau saja tidak kau mengatakannya hampir2 aku lupa, Kok, Kok, dengan sendirinya aku memberi obat menurut penyakitnya."

“Hm ! Bukankah yang kau beri itu racun ?"

Mendengarnya hati Goan Tian Hoat menjadi terkejut dan cepat ia berpaling kearah suhunya. Nampak wajah suhunya sedikit berobah, ia menggelengkan kepalanya pelan menyuruh muridnya sabar dan mendengarkan lebih lanjut.

Dituduh demikian air muka Than Hoa Toh berobah marah : “Apakah nona tidak berkelakar ?”

“Siapa yang sedang berkelakar denganmu ? Setelah minum obat yang kau berikan itu dari mulut majikanku mengeluarkan busa putih hingga tidak sadarkan diri. Kalau tidak masakan jauh2 begini aku datang mencarimu ?”

Sinar mata Than Hoa Toh berkilatan tajam : “Telah puluhan tahun aku mengobati orang sakit mana bisa aku salah memberikan obat ? Lagi pula pada kemarin sore sedikitpun aku tidak pernah memeriksa penyakit majikanmu. Sebenarnya nona diperalat oleh siapakah hingga hendak mencari gara2 denganku?"

Dituduh demikian Ce Mei menjadi marah dan balasnya sengit :

“Hm ! Sungguh pintar kau memungkirinya ! Dirimulah yang diperalat oleh orang lain untuk meracuni orang. Kini dihadapkan Kuo lopiauwto kau katakanlah dengan jelas siapakah yang telah memperalat dirimu ?"

Walaupun usianya masih sangat muda tapi kata2 yang diucapkannya sangat pedas, bagi Kuo Se Fen serta muridnya Goan Tian Hoat ucapannya bagai suara geledek yang menggetarkan hati mereka, se-olah2 suara angin puyuh bersama damparan badai mendengung-dengung ditelinga mereka, hingga diam2 mereka menjadi bergidik.

Ditegor demikian Than Hoa Toh tertawa pahit, ia meng-goyang2kan kepalanya dan ucapnya sambil berpaling kearah Kuo Se Fen : “Kuo lotee, selama puluhan tahun pernahkah kau mendengar bahwa aku pernah mencelakai orang? Kata2 nona ini sungguh tidak masuk diakal. Jelas dibelakangnya ada orang yang hendak memfitnahku dan mencemarkan namaku !" Kemudian ia menjura beberapa kali pada Kuo Se Fen serta katanya: “Lebih baik aku permisi dulu."

Melihat orang hendak berlalu Ce Mei cepat menghalang didepannya dengan sebelah tangannya memeluk pinggang: “Hm ! Jangan harap dapat berlalu dari sini kalau tidak mau mengeluarkan obat pemunahnya ! Kau telah mencelakai majikanku masih hendak mencelakai murid Hai Yang Pay?"

Than Hoa Toh menjadi sangat marah dan bentaknya : “Jahanam ! Ada permusuhan apakah sampai kau dendam sedemikian padaku hingga memfitnahku ?”

“Hm ! Sungguh berani kau memakiku ! Kau telah memberi racun pada majikanku apakah ini salah? Baiklah kini aku beritahukan, semalam ketika kau memeriksa penyakit majikanku, nyonya majikanku telah membedakan suaramu agak berlainan, sebenarnya tak seperti Than...”

Tiba2 Than Hoa Toh membentak keras : “Jahanam ! Sungguh berani kau menghinaku !” dan bersamaan telapakan tangannya menghantam kedepan. Pukulan tangannya sangat cepat menimbulkan dorongan angin yang luar biasa besarnya.

Kuo Se Fen terkejut, sungguh ia tidak sangka karena belum pernah ia mendengar bahwa Than Hoa Toh pernah belajar ilmu silat, tanpa sadar ia tertawa: “Ha Ha, kalau begitu Than sianseng selain mahir dalam pengobatan pun mempunyai ilmu kepandaian tinggi pula."

Than Hoa Toh berpaling kepadanya dan sahutnya : “Walaupun aku bukanlah kaum bulim, tapi belajar sedikit ilmu silat untuk menjaga diri........" sementara itu Ce Mei berhasil mengelakan serangan angin pukulan dengan mudah. Bab 4 *** CE MEI sangat mendongkol, bertolak pinggang, katanya marah : “Hmm! Kau takut aku mengatakannya? Aku tetap mau bicara, majikanku telah beberapa tahun dirawat oleh Than Hoa Toh, masakan suaranya tidak dapat dikenalkannya ? Jelas kau adalah seorang penipu yang menggunakan namanya untuk mengelabui orang !"

Dalam hati Than Hoa Toh sungguh merasa terkejut, ia tak dapat menduga lebih2 melihat dengan cara bagaimana si gadis bisa melumerkan tenaga pukulannya yang selalu ia andalkan, walaupun demikian, ia tak memperlihatkan perasaan terkejutnya.

Tiba2 ia membalikkan tubuh kearah Kuo Se Fen, ucapnya marah2 :

“Lo piauwto, apakah dia adalah orang dari piauwkimu ?"

“Tidakkah tuan Than melihat ia nyerobot masuk sendiri ?" “Ha ha ha ha ! Orang luar mana bisa begitu mudah masuk kemari, tentu ia ada kaum muda dari Hai Yang piauwkiokmu."

Ce Mei berkata sengit : “Tidak usah kau bawa2 diri ketua Kuo, aku sendiri yang membuntuti kau datang kesini."

“Hm! Tidak sudi aku berdebat denganmu !" “Karena kau takut rahasia dirimu kebongkar !"

sahut Ce Mei.

Muka Than Hoa Toh terkilas pucat pasi, dengan suara dingin ia berkata : “Diriku mendapat penghinaan dalam Hai Yang piauwki ini, adalah berkat kebaikan budi luhur dari Kuo piauwto."

Kuo Se Fen hanya mesem2 kecil, sahutnya : “Tadi telah kuterangkan bahwa ia bukanlah orang dari piauwki kami."

“Kalau ia bukan orang dari piauwkimu, masakan penghinaan atas diriku ini kau hanya diam saja !"

“Ucapanmu memang tidak salah, ia datang dari jauh2 karena mempunyai persoalan atas tuan majikannya yang telah minum obatmu, ini menyangkut jiwa seseorang, sebelum menjadi terang duduk persoalannya, pantaskah aku mengusirnya ?”

“Kuo lopiauwto tidak perlu berlaku sungkan padanya, dia bukanlah Than Hoa Toh," ucap Ce Mei.

Than Hoa Toh menjadi panas ia melangkah maju, membentak : “Apa katamu ?" “Aku kata kau bukanlah Than Hoa Toh !"

“Ha ha ha ha ! Didaerah utara ini tak seorangpun yang tidak mengenal diriku, masakan ada orang yang bisa menyamar diriku !"

Jika kata2nya itu diucapkan beberapa jam sebelumnya, bagi Kuo Se Fen tentu akan membenarkannya, tapi hal yang aneh semacam ini baru saja ia alami sendiri, si cambuk naga harimau Ban Cen San, kalau saja ia tidak uji kebenarannya, ia pun tak akan dapat mengetahui samaran Ban Cen San, maka kini terhadap diri Than Hoa Toh yang dikatakan palsu oleh Ce Mei, hatinya merasa bimbang, maka ia pun tak mau cepat2 memberi komentar ia diam saja.

Terdengar lagi Ce Mei mencemoh : “Orang lain tidak dapat membedakan, karena belum tahu kedokmu, hem ! Kau kira aku pun tidak dapat mengenali ?"

“Apa yang kau kenali ?" ucap Than Hoa Toh sengit.

“Pasti kau memakai topeng kulit," sahut Ce Mei dingin.

Goan Tian Hoat pernah mempelajari ilmu mengubah muka, ia menganggap dirinya mahir dibidang ini, selama Ce Mei menampakan diri dan bertengkar dengan Than Hoa Toh, ia senantiasa mengikuti pembicaraan mereka serta mengawasi air muka Than Hoa Toh, tapi selain logat katanya dan gerak-geriknya agak nampak tak sabar, sedikitpun ia tak dapat mengenali perbedaan yang mencurigakan. Kini mendengar bahwa Than Hoa Toh memakai topeng kulit, hatinya merasa terkejut dan pikirnya, menurut keterangan yang pernah ia pelajari bila mengenakan topeng kulit, air muka orang itu agak kaku tidak leluasa, ini tidak sama dengan ilmu mengubah muka yang sukar dilihat ciri2nya, kecuali bagi orang yang benar2 paham dalam ilmu ini. Sekali lagi diam2 meng-amat2i air muka Than Hoa Toh, tapi tetap tak dapat ia melihat bahwa Than Hoa Toh memakai topeng kulit.

Sinar mata Than Hoa Toh berkilatan tajam, ia berkata dengan suara dingin : “Aku memakai topeng kulit ?"

“Ya, aku akan membuka topengmu itu !"

Ce Mei pura2 hendak mengerahkan tangannya, katanya, “Tidak percaya, mari kukesetkan." sambil melangkah maju mendekati, gerakannya sedemikian cepat dan gesit sehingga membuat orang tidak berani memandang enteng padanya.

Than Hoa Toh mundur dua langkah menghindari, ia meletakkan kotak obatnya diatas meja serta berkata marah :

“Kau bukan orangnya Hai Yang piauwki akupun tidak perlu berlaku sungkan terhadapmu."

Nampak tubuhnya berkelebat menerjang maju, sebelah tangannya diangkat memukul bagian muka Ce Mei. Angin pukulannya sangat luar biasa hebat, karena sebagian besar tenaga sinkangnya ia pusatkan disebelah tangannya ini. Menghadapi serangan orang, Ce Mei sedikitpun tidak merasa gentar, tubuhnya tidak digeser sedikit pun, ia tersenyum kecil berkata: “Memang sejak tadi tidak perlu sungkan2." Begitu serangan tangan Than Hoa Toh hampir mengenai mukanya, dengan kecepatan yang luar biasa lima jari tangan kanan Ce Mei menyodok kedepan, nampak bagaikan hendak mencengkeram menotok jalan darah tangan lawannya, namun kelihatannya seperti hendak mengibaskan untuk menangkis.

Walau gerakannya tampak sedemikian sederhana, tapi didalamnya mengandung perobahan2 yang aneh serta sukar diterka, kecepatan serta kegesitannya sungguh sukar diikuti oleh pandangan mata.

Melihat gerakan yang luar biasa aneh dan gesit, diam2 hati Kuo Se Fen tercengang, ia tidak dapat menerka ilmu apa yang digunakan Ce Mei dan baru pertama kali ini ia melihat ilmu pukulan yang sangat aneh dan hebat.

Melihat serangan pukulannya tidak dapat mengenai sasarannya, Than Hoa Toh cepat menarik tangannya untuk menghindari cengkeraman jari tangan gadis itu, sambil kaki kanannya ditendangkan kebagian perut lawannya dengan cepat.

Nampak jari2 tangan Ce Mei berobah dan kini ditundingkan kebawah untuk menotok jalan darah pusar2nya. Than Hoa Toh terkejut, cepat kaki kirinya menekan ketanah dan tubuhnya mencelat kebelakang.

Baru saja tubuhnya sampai ditanah, nampak olehnya bayangan gadis itu berkelebat tiba, kedua tangannya diulurkan menyerang.

Than Hoa Toh sungguh tidak menyana seorang gadis yang sedemikian muda belianya mempunyai ilmu kepandaian yang sedemikian hebat, dengan berseru marah ia pun serentak menyodorkan kedua telapaknya untuk balas menyerang.

Ilmu kepandaian gadis itu sungguh luar biasa, nampak ia memukul, tahu2 berubah menjadi menotok atau mencengkeram, hingga dua tiga jurus saja sudah membuat Than Hoa Toh gelagapan, napasnya ter-engah2, untung baginya gadis itu nampaknya tidak mempunyai maksud untuk melukai orang, hingga walaupun ia telah dapat mendesak serta membuat orang tidak berdaya, tetap ia tidak mengeluarkan pukulan yang dapat membinasakan.

Sebagai ketua sesuatu partai, Kuo Se Fen seharusnya dapat mengenali dan sedikitnya bisa menduga ilmu silat si gadis dari golongan mana, tapi kini ia sungguh dibuat tercengang karena bagaimanapun ia tidak dapat mengetahui ilmu silat yang digunakan oleh gadis itu dan golongannya ?

Sementara Than Hoa Toh sudah terdesak mundur tujuh delapan langkah, sesampainya dipojokan dinding, nampak Ce Mei mendorongkan telapak langannya keatas mukanya, menepok dengan cepat, Than Hoa Toh menyeringai masam dan tangan kirinya menangkis, berbarengan tangan kanannya disodokkan dengan tiba2 dengan kecepatan yang luar biasa, nampak telapak tangannya berobah menjadi hitam hangus, meluncur kearah dada si gadis.

Hati Kuo Se Fen terkejut, “Go Tok Cang (telapak lima beracun) ! Jangan nona memapaknya!" serunya cepat.

“Kau cari mati !" Ce Mei membentak dengan memiringkan tubuhnya kesamping, telapak tangan yang tadinya hendak menepok dengan cepat bagaikan kilat berobah turun kebawah, kini jari2nya terbuka, bagaikan cakar burung elang menerkam mangsanya, ia mencengkeram atas pundak kanan, terdengar jeritan yang mengerikan dan menyayat hati, tubuh Than Hoa Toh jatuh duduk di atas lantai dengan muka menyeringai kesakitan.

“Bila kau tidak menggunakan ilmu silat yang keji itu, aku tak akan melumpuhkan sebelah lenganmu.” ucap Ce Mei dengan suara dan wajah dingin.

Than Hoa Toh memandang sengit penuh kebencian, kemudian ia memejamkan kedua matanya.

Mendengar ucapan si gadis, semua mata memandang keatas lengan kanan Than Hoa Toh, benar saja ia lunglai turun kebawah, nampaknya telah putus lumpuh untuk se-lama2nya. Kuo Se Fen diam2 kagum dan tercengang, luar biasa hebatnya ilmu kepandaian gadis ini, benar2 baru kali ini selama hidupnya menyaksikan ilmu aneh dan hebat dari seorang gadis muda belia.

Ce Mei berpaling kearah Kuo Se Fen berkata: “Ia telah dapat kulumpuhkan, benar tidaknya ia samaran dari Than Hoa Toh kalian periksanyalah sendiri, kini kupermisi pergi !" tanpa menunggu jawaban tubuhnya berkelebat keluar.

“Nona tunggu sebentar !" cepat Kuo Se Fen mengejar keluar, tapi ternyata ia tidak mendapatkan jejak si gadis. Hatinya menjadi lebih kagum dan heran, sebagai seorang ketua partai, dengan hanya selisih sedetik waktu saja, ternyata sampai bayangannyapun tak dapat dilihat.

Sejenak ia bengong, kemudian masuk kembali sementara itu muridnya Goan Tian Hoat sedang jongkok memeriksa leher Than Hoa Toh.

“Suhu, Than Hoa Toh telah mati !" ucap Yen Yuh Sing.

“Bagaimana ia bisa mati ?" tanya Kuo Se Fen kaget.

“Ia bunuh diri dengan menelan racun." sahut Goan Tian Hoat.

“Apakah ia memakai topeng kulit ?" tanya Kuo Se Fen mengerutkan keningnya.

“Aku belum berhasil menemuinya, kalau memang benar demikian itu merupakan topeng kulit yang terhalus dalam dunia kangouw.”

“Mudah2an tidak terdapat sehelai pula !" Selama Than Hoa Toh berada disitu Kang Han Cing diam saja tidak turut bicara, baru kini ia membuka mulut dan katanya: “Ietio, apakah nona itu telah pergi ?”

Kuo Se Fen mengeluh perlahan sahutnya : “Ai ! Aku mengejar keluar tapi tidak tampak bayangannya pula, asal usul dari nona itu sungguh mengherankan dan mencurigakan."

Tiba2 terdengar seruan Goan Tian Hoat: “Benar saja ia memakai topeng kulit !"

Nampak tangannya meraba ke leher Than Hoa Toh dan jari tangannya dapat mengeset selapis kulit yang tipis seperti kulit bawang.

Hari telah menjadi gelap maka Yen Yuh Sing menyalakan lampu pelita hingga ruangan menjadi terang.

Kuo Se Fen memandang kearah orang yang telah tampak wajah aslinya, jelas wajahnya kuning pucat, tulang pipinya agak nonjol tinggi, kedua matanya sipit bagaikan mata tikus serta parasnya kurus kering, melambangkan ia adalah seorang yang licik dan memuakan. 

Dari mulutnya mengalir keluar darah hitam, benar saja ia telah bunuh diri menelan racun.

Mata Kuo Se Fen terbelalak ucapnya sengit : “Sungguh tak disangka dia adanya."

“Apakah Ietio mengenalnya ?" tanya Goan Tian Hoat. “Ia adalah Cui Cang Lim yang mempunyai julukan Yauw Miang Lang Tio dalam dunia kangouw (perengut nyawa).”

“Mengapa ia menyamar diri Than Hoa Toh ?"

Terdengar suara langkahan orang yang tergesa2 mendatangi dan nampak muridnya yang kedua Cau Yun Tai melangkah masuk :

“Suhu....." begitu ia melihat mayat Yauw Miang Lang Tio ia menjadi bengong dan tercengang.

“Apakah benar mengandung racun ?" tanya suhunya.

“Seperti diperintahkan suhu teecu memberikan obat itu pada seekor anjing ternyata setelah memakannya anjing itu menjadi lemas lesu, bagaimana diusirpun ia tidak mau berjalan, mungkin benar bahwa obat itu mengandung racun lunak."

Ternyata tadi setelah mendengar kata2 Ce Mei diam2 Kuo Se Fen jadi curiga maka tanpa setahu orang ia menyuruh muridnya Cau Yun Tai membawa sebungkus obat yang diletakan Than Hoa Toh palsu diatas meja untuk diuji pada seekor anjing apakah mengandung racun lunak.

Kedua alis Kuo Se Fen berkerut dengan memandangi diri Kang Han Cing ia berkata lirih : “Dengan demikian si Yauw Miang Lang Tio ini benar2 adalah utusan dari musuh kalian, mungkin mereka telah dapat menduganya bahwa kalian tentu berada disini. ” Kemudian ia berpaling pula keatas mayat si Yauw Miang Lang Tio dan nampak darah yang keluar dari mulut hidung serta mata kuping mulai membusuk dan beku hingga terendus bau muak yang menusuk hidung.

Kuo Se Fen jadi panas, bentaknya sengit : “Sungguh jahat racun ini ! Mungkin sebentar lagi tubuhnya akan membusuk pula, cepatlah kubur dibelakang."

Kemudian Cau Yun Tai mengangkat mayat Yauw Miang Lang Tio itu untuk dibawa pergi ke halaman belakang, disertai oleh Luk Tek Kui.

Baru saja Cau Yun Tai meninggalkan ruangan itu, dari ruangan muka terdengar pula langkah orang yang tergesa-gesa. Kemudian terdengar suara Hang Ka Han dari luar : “Suhu, samsusiok (paman guru yang ketiga) telah datang."

Sekonyong-konyong nampak olehnya seorang yang berlumuran darah melangkah masuk. Orang itu mempunyai perawakan sedang dan berusia kurang lebih empat puluh lima enam tahun, ia mengenakan baju panjang yang dibuat dengan bahan sutra warna hijau, pada baju panjangnya terdapat beberapa lobang bekas bacokan senjata tajam, dan pundak kirinya berlumuran darah hingga menjadi merah, keadaannya sungguh mengejutkan.

Wajah Kuo Se Fen berubah, cepat ia memapakinya :

“Losam, kau terluka ?” Memang laki2 setengah umur itu adalah Si anak panah tanpa bulu Mo Ie Cien, adik seperguruan Kuo Se Fen yang ketiga. Begitu melihat kakak seperguruannya, ia lantas menjura memberi hormat : “Suheng !”

“Kau duduklah baru bicara, apakah yang terjadi

?”

Mo Ie Cien bernama Cu Siu Hu menurut duduk

diatas sebuah kursi, cepat Yen Yuh Sing menuangkan teh : “Susiok silahkan minum dulu !”

Cu Siu Hu menerima teh dan meminumnya setengguk, kemudian ia mengangkat mukanya serta ucapnya : “Sungguh tidak disangka kalau saja tidak ada orang menolong dengan tersembunyi, mungkin siauwtee tidak bisa melihat toasuheng pula.”

Alis Kuo Se Fen yang tebal nampak bergerak, dengan suara tertekan ia bertanya pula : “Siapakah yang kau pergoki ?”

“Begitu siauwtee menerima surat dari toasuheng, siauwtee lantas berangkat kesini, tapi baru saja tiba dekat sebuah jembatan di sebelah timur kota, siauwtee dicegat oleh lima orang yang berseragam hitam….” Sahut Cu Siu Hu sambil mengusap-usapkan pundak kirinya yang terluka.

Mendengar penuturan itu, Kuo Se Fen menjadi marah, bentaknya:

“Benar2 si keparat2 itu !”

“Toasuheng telah mengenali mereka ?” tanya Cu Siu Hu heran. “Ceritanya sangat panjang, kau lanjutkanlah dahulu."

“Kelima orang yang berseragam hitam itu agaknya memang sengaja menunggu di pinggir jembatan, begitu melihat diri siauwtee terus mencegat, seorang diantaranya lalu menegor siauwtee “Apakah saudara adalah Cu samhiap?” Siauwtee tidak mengetahui asal-usul mereka lalu siauwtee menjura dan menjawab: “Benar aku bernama Cu Siu Hu, kemudian......" Belum habis ucapan siauwtee yang menjadi kepala mereka itu memotongnya: “Entah ada keperluan apakah Cu samhiap datang ter-gesa2 dari kota Tai Hin ?”

Karena mereka mencegat dihadapan kuda siauwtee maka timbul kecurigaan siauwtee, mereka tentu mengandung maksud2 yang kurang baik terhadap diri siauwtee, toasuheng mengutus orang memanggil siauwtee datang, maka dalam pikiran siauwtee mungkin ada terjadi sesuatu yang penting, dicegat demikian oleh mereka hati siauwtee menjadi sengit, kemudian menjawab dengan dingin: “Ada urusan apakah hingga kalian mencegat dan meng-halang2i perjalananku."

Orang itu menjawab: “Kami menunggu Cu samhiap disini tak lain adalah hendak menasehatkan Cu samhiap supaya segera kembali kekota Tai Hin.”

“Apa sebabnya?" tanya siauwtee dan kemudian disahutnya dengan ketawa dingin, “Untuk jangan sampai terbunuh." Mendengar sampai disitu hati Goan Tian Hoat tergerak.

Cu Siu Hu melanjutkan ceritanya: “begitu mendengar ucapan orang itu siauwtee menjadi panas, menyahut: “Ha Ha, apakah kalian berlima sanggup melakukannya ?"

“Bila memang masih berkeras hati Cu samhiap hendak melanjutkan perjalanan masuk kedalam kota, kami pun tidak dapat memaksanya, tapi mungkin Cu samhiap tidak akan berhasil sampai kepintu gerbang timur.”

“Siauwtee menjadi sangat marah diejek demikian hingga kemudian bertempur dengan mereka. Ai! Sungguh tidak disangka ternyata mereka mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi, setelah bertempur lima puluh gebrakan siauwtee telah terdesak hebat hingga hanya bisa mempertahankan diri. Akhirnya pundak kiri siauwtee berhasil mereka lukai."

“Siauwtee menggigit bibir menahan sakit dan setelah lewat sepuluh jurus pula siauwtee merasa sangat kewalahan untuk bisa mempertahankan diri, tiba2 dari belakang tidak jauh terdengar ada orang berseru, “Serang".

“Siauwtee melihat senjata orang yang mengurung itu pada berjatuhan keatas tanah, mereka melompat kebelakang. Nampak mereka semuanya memegangi tangannya masing2 lalu lari terbirit-birit." “Adakah samtee melihat orang yang membantu secara sembunyi2 itu?" tanya Kuo Se Fen kemudian.

“Ai ! Ketika itu napas siauwtee sedang ter- engah2 setelah mereka kabur pergi baru siauwtee menengok kebelakang, tapi ia telah pergi. Hanya suaranya siauwtee mendengar jelas, suaranya lengking halus seperti suara wanita."

Hati Goan Tian Hoat terkejut pula.

“Dalam segebrakan saja orang itu dapat membuat jatuh kelima senjata dari tangan mereka, entah senjata rahasia apakah yang digunakannya," tanya Kuo Se Fen.

“Pada waktu itu siauwteepun tidak melihat dengan jelas, tapi setelah mereka kabur pergi dari atas tanah siauwtee ketemukan tiga buah seri." Kemudian dari dalam sakunya ia mengeluarkan tiga buah seri yang besarnya seperti gundu.

Kuo Se Fen menerima dan memandangi dengan penuh kesima: “Memukul jatuh senjata lima orang yang berilmu kepandaian tinggi hanya dengan menggunakan buah seri yang amat kecil ini, ilmu menotok orang itu sungguh luar biasa tingginya dan sukar dicari tandingannya dalam dunia kangouw ini."

“Memang benar apa yang toasuheng ucapkan.

Dahulu. "

Tiba2 Kuo Se Fen seperti terpikir sesuatu ia mendongak keatas dan katanya. “Samsutee yang datang dari kota Tai Hin telah tiba, dia yang tinggal dikota Kau Yu lebih dekat kesini mengapakah hingga kini masih belum juga tiba ? Jangan2. "

“Toasuheng memanggil jisuheng pula?"

Dengan wajah menunjukkan kegelisahan yang sangat Kuo Se Fen memanggut:

“Ya. Aku menyuruh Ka Han cepat2 mengundang kalian datang."

Hang Ka Han bicara dari samping: “Suhu menyuruh kedua susiok datang selambat- lambatnya sebelum tengah hari besok, mungkin jisusiok besok pagi baru bisa tiba disini."

Kuo Se Fen menggeleng-gelengkan kepalanya serta sahutnya : “Benar memang aku menghendaki mereka datang sebelum tengah hari besok, tapi samsusiokmu telah tiba dini hari juga, perangai ji- tee tidak sabaran, mana mau ia menunggu sampai esok ?"

Tiba2 dari luar terdengar suara ketawa orang yang amat nyaring dan keras :

“Ha ha, toasuheng sungguh dapat meraba tabiat diri siauwtee. Kau mengutus orang dengan kesusu memanggil siauwtee pantaskah tidak siauwtee segera datang ?"

Bersamaan itu nampak seorang laki-laki yang berusia limapuluh tahun melangkah masuk, tangannya menenteng sebuah pipa rokok, ia memakai baju panjang yang warnanya hijau pula. Laki2 itu bukan lain adalah adik seperguruan Kuo Se Fen yang kedua Jen Pek Coan si Kai Pit Souw tangan maut.

Kekuatiran hati Kuo Se Fen lenyap ketika begitu melihat adik seperguruannya dan sambutnya gembira: “Hei, bagaimana hingga kini baru kau muncul?"

Si tangan maut Jen Pek Coan menjura memberi hormat katanya:

“Harap toa suheng maklum karena ditengah jalan siauwtee kepergok dengan beberapa orang cecunguk............" pandangan matanya pindah kearah diri Cu Siu Hu adik seperguruannya: “Ah! Losam, mengapa kau terluka?" tanyanya terkejut.

“Duduklah dahulu baru bicara." ucap Kuo Se Fen.

Kemudian mereka masing2 duduk. Hang Ka Han dan Yen Yuh Sing lalu menjura untuk memberi hormat pada jisusioknya.

“Toasuheng, siapakah mereka ini?" tanya Jen Pek Coan begitu matanya melihat diri Goan Tian Hoat dan Kang Han Cing.

Kuo Se Fen tersenyum, sahutnya : “Baru saja tiba kau telah kesusuh untuk bicara, memang akupun hendak memberitahukannya. Mereka adalah keponakanku bernama Ong Ka Siong dan Ong Ka Ling." Lalu ia berpaling pada Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat berdua serta katanya: “Cepat kalian memberi hormat kepada Jen jiesuk dan Cu samsuk." Goan Tian Hoat cepat memegang tangan Kang Han Cing membantunya berdiri dan kemudian menjura untuk memberi hormat.

Kuo Se Fen berpaling pada muridnya Hang Ka Han dan suruhnya:

“Ka Han, kau beritahukan pada pelayan didapur sediakan dan minuman untuk menyambut kedatangan kedua susiokmu."

“Ya, suhu." lalu ia melangkah pergi.

“Jisuheng, bukankah kau bilang bahwa ditengah jalan bersamprokan dengan beberapa orang cecunguk, entah apakah mereka berseragam hitam seluruhnya?" tanya Cu Siu Hu tak sabar.

Ditanya demikian Jen Pek Coan terkejut, dengan menatap keatas bahu kirinya ia balik bertanya : “Apakah kau pun bertemu dengan mereka ?"

“Barusan siauwtee telah menceritakannya pada toasuheng, cobalah kau ceritakan pengalamanmu lebih dahulu."

“Ya, kau ceritakanlah !" ucap Kuo Se Fen.

Jen Pek Coan menghela napas, ucapnya sambil meng-geleng2kan kepala : “Betapa memalukan! Bila saja tidak ada nona itu membantu mungkin kini tubuhku sudah tergeletak diluar pintu gerbang selatan."

“Kalau begitu kau dicegat dan diserang orang dalam perjalanan," ucap Kuo Se Fen. “Ya. Setibanya siauwtee dipintu gerbang selatan, hari belum gelap benar, tiba2 muncul lima orang yang berseragam hitam menyerang diri siauwtee. Sungguh diluar dugaan didalam daerah kekuasaan Hai Yang Pay ada orang yang berani menyerang diri siauwtee dan tidak disangka pula kelima orang itu mempunyai ilmu kepandaian yang sedemikian tinggi, hingga membuat siauwtee kewalahan menghadapi keroyokan mereka, hanya bisa mempertahankan diri saja, tapi kian lama kian membuat siauwtee terdesak hebat. Ketika itu hari mulai remang2, tiba2 dari dalam rimba berkelebat keluar seorang gadis mengatakan bahwa ia tidak suka melihat orang bertempur secara keroyokan dan kemudian dengan segebrakan saja ia berhasil merampas senjata kelima orang itu serta menghadiahkan sebuah tamparan keras pada pipi mereka masing2...”

“Kira2 ada berapakah usianya gadis itu?" tanya Kuo Se Fen menatapnya.

“Ai ! Sungguh membuat orang sukar untuk bisa mempercayainya, usianya paling2 hanya enam tujuh belas tahun akan tetapi ilmu kepandaiannya sungguh luar biasa tingginya, selama hidup baru kini siauwtee dapat menyaksikan orang bersilat sedemikian cepat dan anehnya !" keluhnya.

“Apa gadis itu mengenakan baju berwarna biru dan mempunyai rambut berkepang dua ?" tanya Kuo Se Fen pula.

“Oh kalau begitu toasuheng telah mengenalnya !

Siapakah ia sebenarnya ?" Kuo Se Fen tersenyum sambil tangannya mengelus jenggotnya yang panjang ia berkata : “Apa yang diucapkannya kepadamu ?"

Dari dalam saku bajunya Jen Pak Coan mengeluarkan sehelai kertas dan sahutnya : “Ia memesan pada siauwtee supaya memberikan surat ini pada toasuheng katanya ia lupa memberitahukan sesuatu tadi padamu."

“Apakah yang ia tulis dalam kertas itu?"

“Ketika itu hari telah menjadi gelap dan siauwtee hendak cepat2 datang kesini maka surat itu hanya siauwtee masukan dalam saku hingga belum membaca apa isinya." lalu ia memberikan surat itu pada Kuo Se Fen.

Kuo Se Fen membukanya dan nampak tulisannya agak kecil dan indah, memang adalah tulisan seorang perempuan, hanya mungkin karena ter-buru2 hingga kurang begitu rapih.

Ternyata dalam surat itu hanya terdapat ampat kata yang hampir mirip sebuah pantun :

“Bukan berlalu pun bukan mendatang, bukan pagi pun bukan sore, dalam kehampaan tumbuh, atas ucapan juga."

Begitu melihat isinya Kuo Se Fen nampak mengerutkan keningnya serta tanyanya: “Selain itu apa pula yang diucapkannya ?”

“Ia tidak mengucapkan apa2 pula hanya katanya surat ini sangat penting dan toa-suheng tentu dapat mengerti." Kuo Se Fen lalu mengembalikan surat itu pada Jen Pek Coan serta keluhnya :

“Hemm ! Ia menyuruh kau membawa surat ini tentu ada maksud tertentu.  "

Jen Pek Coan lalu turut membacanya dan ucapnya heran : “Entah apa arti kata2nya ini?" kemudian ia serahkan pada Cu Siu Hu.

Begitupun Cu Siu Hu ia tidak bisa pula memecah makna dari isinya :

“Baiknya kita jangan hiraukan dahulu. Toasuheng, sebenarnya apakah yang terjadi dalam piauwki kita ini ?" tanyanya.

Yen Yuh Sing berdiri disamping dan ia dapat melihat pula tulisan dalam surat itu, ia berpaling ke Goan Tian Hoat serta ucapnya : “Samsuheng, kau lihatlah teka-teki apa yang ia maksudkan?”

Jen Pek Coan menoleh kepadanya dan ucapnya bertanya : “Mana samsuhengmu?"

Ditanya demikian oleh susioknya Yen Yuh Sing menjadi merah, ia tahu telah kelepasan omong tapi ia tak berani berterus terang untuk memberitahukan yang sebenarnya, maka ia jadi serba salah dan diam tidak bersuara, melihat ini cepat Kuo Se Fen berkata :

“Jisute, mengenai ini sungguh panjang ceritanya, akupun tidak perlu menerangkannya lebih lama, baiklah kini kuterangkan semua ini." lalu ia menunjuk pada diri Goan Tian Hoat dan Kang Han Cing serta ucapnya: “Ia adalah Tian Hoat dan ia adalah ji-kongcu dari keluarga Kang, Kang Han Cing."

Jen Pek Coan dan Cu Siu Hu menjadi tercengang.

Sementara Goan Tian Hoat telah cepat menjura memberi hormat dan ucapnya, “Teecu Goan Tian Hoat memberi hormat pada susiok berdua !"

Kang Han Cing pun menuruti memberi hormat: “Jen jihiap, Cusamhiap, terimalah hormat boanpwee Kang Han Cing!"

Jen Pek Coan dan Cu Siu Hu dibuat bengong dan heran, sambil membalas hormat mereka bertanya bareng : “Toasuheng, bagaimana bisa demikian ?"

Kuo Se Fen lalu menyuruh Yen Yuh Sing menjaga depan pintu, kemudian menceritakan semua kejadian pada kedua sutee-nya.

Jen Pek Coan sangat tercengang: “Sungguh aneh bisa ada kejadian demikian. Oh, ya, losam bagaimanakah kau bisa terluka ?" tanyanya.

“Kejadian yang siauwte alami hampir serupa dengan yang jiko alami." sahut Cu Siu Hu dengan menyeringai. Kemudian ia menceritakan segala kejadian yang ia alami.

Sementara dua orang pelayan telah menyediakan makanan dan minuman diatas meja.

“Marilah kita pergi makan sambil mengobrol," ajak Kuo Se Fen bangkit dari tempat duduk serta menghampiri meja makan dan diikuti oleh Goan Tian Hoat yang menuntun Kang Han Cing. Setelah mereka duduk kembali Jen Pek Coan mengerutkan keningnya dan dengan memandangi Kang Han Cing ia berkata : “Aku pernah berjumpa beberapa kali dengan kakak saudara, tapi dalam kesanku ia adalah seorang yang jujur dan bijaksana, sungguh tidak diduga ia sampai hati berbuat sedemikian kejamnya terhadap saudara sendiri !"

“Entah bisakah karena diancam orang hingga toakongcu terpaksa berbuat demikian kejamnya terhadap saudara sendiri?" tanya Cu Siu Hu terharu.

“Ai ! Sungguh malang nasib keluarga boanpwee. Terhadap ada atau tidaknya toako diancam oleh orang ini boanpwee tidak mengetahuinya,” sahut Kang Han Cing dengan muka sedih.

Tiba2 hati Kuo See Fen teringat sesuatu dan ia ber-pikir2 Si Cambuk naga harimau terbukti telah digantikan oleh yang palsu dan disamar orang, jangan2….walaupun ia mempunyai pikiran demikian tapi ia tidak menyatakannya dugaannya ini, sambil tertawa ia berkata: “Kalian mungkin telah merasa lapar makanlah dahulu."

“Toasuheng, gadis itu ada memesannya bahwa surat yang siauwtee bawa itu sangat penting adanya. Marilah kita saling tukar pikiran mungkin sedikit banyak kita bisa memecahkan artinya." ucap Jen Pek Coan.

Kuo Se Fen mengelus-elus jenggotnya lalu ucapnya: “Aku ada mendengar Kang jihiantit sangat paham soal kesasteraan, Tian Hoat kau bawalah surat itu dan perlihatkan pada Kang jihiantit."

Goan Tian Hoat bangkit mengambil surat itu lalu diberikannya pada Kang Han Cing: “Jikongcu, coba apakah bisa memecahkan artinya?"

“Goanhiung, lebih baik kita saling memanggilnya saudara saja dan janganlah sekali2 memanggil siauwtee jikongcu pula."

Kuo Se Fen menganggut dan ucapnya tertawa: “Ha, Ha, jihiantitt telah berkata demikian maka kau pun tidak usah berlaku sungkan pula, kini panggil saja siauwtee terhadapnya. Tapi janganlah kalian lupa bahwa kini kalian adalah keponakanku maka terhadapku haruslah memanggil itio."

Sementara Kang Han Cing telah menerima surat itu kemudian membacanya dua kali, dan nampak ia mengerutkan alisnya sambil ber-pikir2 ia berkata lirih :

“Dalam empat patah tulisannya ini bagaikan terkandung empat arti. "

“Jikongcu,” Potong Jen Pek Coan tak sabar.

“Eh jite, lihat kau telah lupa pula, dirinya kini adalah keponakanku seharusnya kau pun turut memanggil hiantitt kepadanya." ucap Kuo Se Fen.

“Ha, Ha, baiklah siauwte akan mengingatnya." “Hiantitt, apakah kau telah dapat memecahkan

artinya ?" tanya Kuo Se Fen.

“Siauwtit hanyalah menerkanya dan tidak berani memastikannya." “Cobalah cepat hiantitt menerangkannya." ucap Jen Pek Coan tak sabar.

“Pertama dari kata2nya yaitu ‘Bukan yang lalu bukan yang akan datang, ini tentu berarti sekarang atau hari ini. Kedua, ia menulis Bukan pagi bukan sore, ini mempunyai arti yang sama dengan kata2 pertama, dari pagi hari hingga sore hari adalah sehari, maka bukan pagi bukan sore ini tentu mengandung arti waktu malam.”

Sorot mata Kuo Se Fen mengkilat tajam dan ucapnya : “Jadi dua patah ini berarti ini malam, coba yang dua patah lainnya apa artinya ?”

“Ketiga ‘Hidup dalam kehampaan’ ini mengandung arti bahwa walaupun dalam kehampaan namun hidup dan tidak mati, maka ini berarti juga ada. Kata terakhir Awas atas ucapan ini berarti harus hati2 dan waspada. Maka dari dua patah ini bermaksud memberitahukan ada bahaya harus hati2 dan waspada."

Wajah Kuo Se Fen nampak berobah dan ucapnya sengit: “Perbuatan mereka ternyata memang mempunyai rencana yang keji."

“Hm ! Biarlah mereka datang masakan bisa membuat kita menjadi takut ?" ucap Cu Siu Hu panas.

“Ai ! Samsute, tentu mereka telah dapat mengetahui dengan jelas kekuatan yang ada pada kita, syukurlah bila mereka tidak datang pada ini malam. Kalau benar ini malam ia menyerang kesini, maka kita harus menghadapinya dengan menggunakan seluruh kekuatan yang kita miliki." keluh Kuo Se Fen.

“Kata2 toasuheng memang tidak salah, ada kata2 bahwa bila hendak memperoleh kemenangan yang mutlak haruslah bisa mengetahui kekuatan musuh dan diri sendiri. Mereka memerintah orang untuk mencegat siauwte dan samsute dalam perjalanan, ini sudah menandakan bahwa mereka dapat mengetahui dengan mudah segala gerak- gerik kita, tapi sebaliknya sampai2 asal-usul diri merekapun kita tidak mengetahui sedikitpun, ini telah merugikan kita.”

“Toasuheng, apakah kedatangan Ban Cen San dan Cu Ju Hung mempunyai hubungannya dengan mereka ?" tanya Cu Siu Hu agak kerutkan keningnya.

“Ini sudah pasti. Ia hanyalah samarannya Ban Cen San dan bukan tidak mungkin dari golongan mereka." sahut Kuo Se Fen kemudian keluhnya: “Ai ! Semula aku masih ragu2 terhadap dugaan Tian Hoat bahwa Kang toakongcu mungkin adalah si Lengcu baju hitam itu, tapi kenyataannya memang demikian dan bukan tidak mungkin mereka itu dikepalai oleh Kang toakongcu."

Tubuh Kang Han Cing jadi menggigil mendengarnya dan ucapnya sengit :

“Bila memang benar kenyataannya sungguh ia telah hilang keperibadiannya dan menjadi sadis!"

“Toasuheng, lebih baik kita ber-siap2 untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi ini malam." ucap Cu Siu Hu. Kuo Se Fen berpikir sejenak lalu ucapnya: “Kini hari baru saja gelap bila mereka memang akan muncul dalam sekejap saja aku bisa siapkan semuanya untuk menghadapinya. Baiknya kita makan dahulu baru ber-siap2." kemudian ia berpaling dan menyuruh pelayan untuk memanggilkan Hang Ka Han datang.

Setelah si pelayan berlalu mereka cepat2 mengisi perut tanpa minum arak karena kuatir menjadi mabok hingga lalai dalam urusan yang sangat genting yang mungkin menimpa sebentar malam.

Tidak seberapa lama nampak Hang Ka Han muncul masuk dan menjura memberi hormat, “Ada perintah apakah suhu memanggil teecu ?"

“Siapakah yang telah kembali kesini ?”

“Ho susiok (paman) yang pergi ke kota Kim Hoa dan Siang susiok yang berangkat ke kota Ha Hui mereka telah kembali pada siang tadi.”

“Kini ada berapa piauwsukah dalam piauwki ?” “Dengan Ho susuk serta Siang susuk semuanya

ada tujuh orang.”

“Para pembantu ada berapa orang?"

Ditanya demikian diam2 hati Hang Ka Han menjadi heran dengan memandang wajah suhunya ia menyahut: “Kira2 kurang lebih ada seratus orang.”

“Cukup. Apakah kini semuanya berada dalam piauwki ?” “Ya.”

“Kau suruh Luk Tek Kui untuk memberitahukan pada semua orang bahwa malam ini piauwki kita ada urusan penting, maka semua orang harus berdiam dalam piauwki tidak boleh pergi keluar untuk menerima perintah lebih lanjut.”

Setelah ia keluar untuk menyuruh Luk Tek Kui menyampaikan pesan gurunya kepada para pembantu piauwki kemudian ia masuk kembali dan perintah gurunya pula :

“Kau panggillah tujuh orang piauwsu itu menemuiku."

Setelah muridnya berlalu Kuo Se Fen berpaling pada si anak panah tanpa bulu Cu Siu Hu: “Sam sute, luka pada pundak kirimu...”

“Toasuheng, luka siauwte ini tidak menjadi soal." potongnya cepat.

“Ha, Ha, aku tahu pribadimu. Baiklah kau mempunyai tugas menjaga disini.''

“Siauwte telah berada disini dengan sendirinya mempunyai niat untuk bisa turut menguji kepandaian musuh, kini toasuheng menugaskan siauwtee disini, apakah karena toasuheng kuatir siauwte tidak mempunyai tenaga untuk menghadapi musuh ?”

Melihat sutenya menolak, Kuo Se Fen cepat menjelaskan dengan sungguh2: “Harap samsute jangan salah paham, aku menugaskanmu disini sama sekali bukan karena melihat dirimu terluka dan menyuruh kau beristirahat disini, musuh mengerahkan orang2nya menyerbu kesini malam ini kemungkinan besar mereka telah mengetahui diri Kang Han Cing berada disini, maka itu aku menugaskanmu disini untuk melindungi keselamatannya.”

Setelah mengetahui jelas maksud dari suhengnya Cu Siu Hu menjadi tidak enak maka ia berkata: “Siauwte menerima perintah toasuheng untuk berjaga disini.”

Mendengarnya hati Kang Han Cing menjadi terharu dan ucapnya penuh terima kasih; “Sungguh membuat hati siauwte merasa tidak enak karena kedatangan siauwte hingga menyusahkan kalian."

“Janganlah hiantitt berkata demikian seandainya hiantit tidak kemari mereka pun tetap tak akan membiarkan Hai yang pay begitu saja, Ban Cen San adalah suatu contoh." hibur Kuo Se Fen.

Baru saja ucapannya habis dari halaman muka terdengar derap langkahan orang dan kemudian nampak tujuh orang piauwsu masuk yang dikepalai oleh seorang piauwsu tua berusia kira2 lima puluh tahun, serta nampak muridnya Hang Ka Han, Cau Yun Tai dan Yen Yuh Sing berjalan dibelakang mereka.

Piauwsu tua itu menjura kearah Jen Pek Coan dan Cu Siu Hu memberi hormat dan ucapnya. “Kiranya Jen loya Cu loya telah datang." “Selamat berjumpa !" sahut kedua orang balas menghormat.

Kuo Se Fen telah bangkit dan sambutnya tertawa: “Silahkan duduk!"

“Congpiauwto, timbul kejadian apakah dalam piauwki kita ?" tanya piauwsu tua itu setelah mereka duduk.

“Belakangan ini telah muncul suatu perkumpulan yang gerak-geriknya sangat misterius dan dipimpin oleh seorang berseragam hitam yang menyebut dirinya Lengcu, ia mempunyai banyak anak buah yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. "

Siang sepuh si piauwsu tua itu tercengang mendengarnya ia berpaling ke enam orang piauwsu lainnya dan ucapnya heran: “He-i Lengcu? Baru kali ini aku mendengar nama ini, entah pernahkah kalian mendengarnya dikalangan dunia kangouw?” Keenam orang piauwsu itu pada menggelengkan kepalanya dengan wajah heran.

“Kini kuberitahukan beberapa kejadian, mungkin sedikit banyak dari kejadian itu kalian bisa mengetahuinya. Misalnya pada sepuluh hari yang lalu Yap cungkuan dari keluarga Lie Ka di Ho Pei yang terbunuh dekat Fai Yin. Pada beberapa hari yang lalu, Kang toakongcu dari Kim Lin pun terluka karena dikeroyok orang, tempat kejadian berada di dekat Hia Cu, Cen Yen piauwki telah kehilangan barang kirimannya karena dirampas orang dalam perjalanan. Waktu kejadian hampir bersamaan. Kejadian2 yang beruntun ini katanya adalah dilakukan oleh Lengcu berbaju hitam. "

Betapa terkejutnya para piauwsu itu begitu mendengar keterangan yang diberi oleh ketua mereka.

Kuo Se Fen masih melanjutkan keterangannya. “Aku mendapat kabar yang boleh diandalkan,

rencana selanjutnya dari Lengcu berbaju hitam

ditujukan kepada Hai yang piauwki kita ini. Maka aku menyuruh Ka Han untuk memberitahukan pada pengurus sementara jangan menerima barang kiriman. Selain ini, aku mengutus orang untuk memanggil loji dan losam, tidak disangka, setibanya di luar kota mereka dicegat oleh beberapa orang yang mengenakan seragam hitam hingga losam mendapat luka.  "

Lojie berarti orang tua kedua dan losam berarti orang tua ketiga.

“Sungguh besar hati mereka sampai2 dalam kota Yang Cou pun mereka berani mencari gara2 dengan kita ?"

“Ai ! Bukan hanya hingga disini saja, ada kemungkinan kalau di malam ini mereka melakukan serangan besar2an pada kita untuk melenyapkan Hai-yang-pay serta membunuh semua orang2 kita. " keluh Kuo Se Fen.

Wajah tujuh orang piauwsu berobah merah, dan terdengar diantaranya berseru marah : “Bila para jahanam itu berani muncul disini, kita hajar saja habis2an !" “Biarlah kita akan mengadu jiwa dengan mereka." ujar seorang lainnya.

“Apakah congpiauwto telah mengetahui asal- usul mereka?" tanya piauwsu tua itu.

“Aku pun tidak mengetahui dengan jelas, maka dari itu mereka telah memperoleh keuntungan dari pihak kita, karena segala sesuatu yang mengenai diri kita dapat diketahui oleh mereka. Mereka berdiri ditempat yang terang, sedangkan kita berada ditempat yang gelap. Sedikit pun belum bisa kita merabanya."

“Congpiauwto, orang kita pun tidak sedikit, tambah pula kini ada Jen loya dan Cu loya, masakan Lengcu berbaju hitam itu bisa mempunyai kekuatan lebih dari kita ?" tanya seorang piauwsu.

“Jangan hanya melihatnya dari sebelah pihak saja, sebenarnya tidak semudah itu, mereka dapat mengetahui kekuatan kita dengan jelas, bila hendak menyerang kita malam ini, tentu dengan kekuatan yang melebihi kita, maka dari itu aku memanggil kalian datang kesini untuk saling tukar pikiran."

“Memang benar pendapat congpiauwto, mereka telah mengetahui kita telah bersiap-siaga, tapi masih tetap berani menyerang kesini, tentu mempunyai kekuatan yang boleh diandalkan. Menurut pendapatku, cara yang terbaik bagi kita adalah bertahan, dengan demikian, keadaan baru bisa menguntungkan kita. Karena kedudukan kita berbalik menjadi pihak yang terang dan mereka dipihak yang gelap," ucap Siang piauwsu.

Kuo Se Fen memanggut tertawa dan ucapnya : “Ha, Ha, sungguh bersamaan pendapatmu denganku, memang ini adalah cara yang terbaik untuk menghadapi mereka." kemudian dari dalam sakunya ia mengeluarkan sehelai kertas.

Kuo Se Fen berkata lagi :

“Untuk rencana ini, aku telah membuat daftar nama yang membagi tugas bertahan, cobalah kalian lihat apakah ada usul lain.”

Siang piauwsu lalu menerimanya dan membacanya :

“Bagian halaman muka: Hu piauwsu dan Sun piauwsu memimpin dua puluh anak buah bertiarap dengan persiapan panah diruangan timur."

Siang piauwsu masih membaca :

“Khen piauwsu dan piauwsu memimpin dua puluh anak buah bersembunyi diruangan barat dan siapkan panah.”

Rencana selanjutnya.

Lie piauwsu dan Oey piauwsu membawa dua puluh anak buah dengan panah menjaga bagian tengah.

Halaman belakang : Cu Siu Hu, Wang Ka Ling dan Goan Tian Hoat menjaga ruangan istirahat. Dan Cau Yun Tai, Yen Yuh Sing memimpin dua puluh anak buah bertiarap di kedua samping halaman belakang dan persiapkan panah.

Ketua pimpinan : Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan.

Bagian penghubung: Siang Coan Cin dan Hang Ka Han memimpin dua puluh anak buah dengan persenjataan panah siap untuk membantu kubu pertahanan yang memerlukan pertolongan."

Sebelah tangan Kuo Se Fen meng-elus2 jenggotnya yang panjang dan matanya memandang pada para piauwsu : “Bagaimana pendapat kalian

?" tanyanya.

“Sungguh baik rencana persiapan cung-piauwto ini, kami setuju !"

“Bila kalian tiada usul lain, baiklah kita lakukan rencana ini saja. Kini waktunya pun tinggal sedikit, walaupun belum tentu mereka datang, tapi lebih baik kita mengerjakan rencana ini sekarang."

Dengan diikuti oleh yang lain Siang piauwsu bangkit berdiri dan ucapnya minta diri : “Baiklah kami permisi dulu." sambil memberi hormat mereka kemudian berlalu.

Begitu pun Hang Ka Han, Cau Yun Tai dan Yen Yuh Sing bertiga minta diri untuk melaksanakan tugasnya masing2.

Setelah mereka pergi Kuo Se Fen berpaling pada Kang Han Cing dan ucapnya mesem : “Sudah tiba waktunya hiantit pergi tidur, walaupun malam ini agak genting, tapi belum tentu mereka bisa berhasil, maka harap hiantit jangan merasa kuatir." Telah sedari tadi hati Kang Han Cing merasa panas, betapa tidak membuat ia marah, ia datang kesini berniat untuk bisa menyembunyikan dirinya, tapi tidak disangka, baru saja ia tiba baru sehari, telah menimbulkan kejadian2 yang melibatkan Hai-yang-pai, hanya karena tenaganya lenyap habis, sampai2 jalanpun harus dituntun oleh orang, maka walaupun ia menyadari dirinya sungguh mendatangkan kekuatiran saja pada tuan rumah, iapun tak bisa berbuat apa2, tapi ia adalah seorang yang sifatnya sangat pendiam, maka walaupun hatinya panas dan marah, tetap tidak tertampak dari air mukanya, ia hanya mesem dan sahutnya; “Baiklah kalau itio pesan demikian."

Goan Tian Hoat lalu menuntunnya pergi.

Kuo Se Fen mengeluh pelahan sambil memandangi tubuh belakangnya:

“Ai ! Kang hiantit mempunyai bakat yang mempunyai hari depan tidak kalah dengan ayahnya almarhum, hanya sayang ia kini terkena racun lunak, hingga tak dapat memperkembangkan bakatnya itu, sungguh bagaikan sang naga kehabisan air.”

“Tentu Than Hoa Toh telah jatuh ke tangan mereka, hingga yang datang kesini hanyalah samaran si tabib. Dalam lingkungan daerah kita ini, hanya ia yang bisa mengobati segala penyakit aneh-2 dan parah, tapi keadaan Kang hiantit demikian seriusnya hanya kuatir tidak dapat menunggu lebih lama lagi." ucap Jen Pek Coan. Kuo Se Fen mengerutkan keningnya dan ucapnya terharu: “Dalam dunia kangouw ini kebanyakan orang hanya namanya saja sebagai tabib untuk menipu orang yang minta berobat, orang yang benar2 mahir dan ahli dalam ilmu pengobatan betul2 jarang terdapat."

Tiba2 Cu Siu Hu turut bicara dan ucapnya, “Toasuheng, Tian-hung totiang dari Pak Yun Koan di gunung Pe Sia San bukankah adalah seorang ahli ilmu pengobatan?"

“Walau Tian-hung totiang terkenal seorang ahli obat2an didunia kangouw, tapi sifat dan wataknya sangat aneh dan tinggi hati, ia telah mengatakan bahwa dirinya tidak mau lagi mencampuri urusan2 dalam dunia kangouw, sudah beberapa kali kaum bulim yang pergi kesana untuk minta pertolongannya tapi selalu ditolak, berapa tahun yang lalu ketua dari golongan Pat-kuat-men, Ku Hung Ce telah terluka oleh Hian Ing Kiu Coan Cang dan pergi kepadanya untuk minta pertolongannya, tapi bagaimanapun tetap tidak diterimanya, untung murid2nya berhasil mendapatkan Kiu Coan Han Hen Cau, hingga nyawanya dapat diselamatkan, Kita Hai-yang-pai belum pernah berhubungan dengannya maka mungkin iapun tidak mau mengobati penyakit Kang jihiantit. "

tiba2 ia teringat diri si Telapak dewa Lie Kuang Tie dari keluarga Lie dari utara, bukankah iapun sedang berobat diatas gunung Pek Sia San ? Ia memikir sejenak kemudian lanjutnya :

“Tapi kecuali Tian-hung totiang, tiada lagi orangnya yang mungkin bisa mengobati penyakitnya, baiklah bila telah selesai semuanya malam ini kita berangkat kesana untuk mencobanya."

Sementara sedang omong2, dari halaman luar terdengar serentetan derap langkahan kaki yang pelan dan cepat terpencar kedua arah yang kemudian lenyap dalam sekejap saja. Keadaan kembali menjadi sunyi dan kemudian nampak Cau Yun Tai dan Yen Yuh Sing ber-sama2 masuk serta menjura memberi hormat :

“Tecu telah selesai mengatur mereka bersembunyi tiarap, entah masih ada pesan lainkah suhu?”

“Baiklah sebentar bila mereka datang hendak menyerobot kedalam rumah kalian perintahkan untuk memanahnya. Tapi ingat kalau tidak dalam keadaan terpaksa janganlah menampakkan diri dihadapan mereka.” pesan Kuo Se Fen.

Setelah kedua muridnya pergi Kuo Se Fen lalu mengibaskan lengan bajunya memadamkan lampu diruangan itu hingga menjadi gelap gulita.

Menjelang pukul dua malam, semua persiapan telah selesai dan seluruh anggota Hai-yang piauwki berada dalam keadaan siap siaga untuk menantikan kedatangan musuh. Mereka mengambil tempat persembunyiannya masing2 seperti yang telah direncanakan. Keadaan disekelilingnya gedung Hai-yang piauwki sangat gelap dan sunyi, karena semua penerangan disitu telah dipadamkan hingga nampaknya seluruh penghuni dari gedung itu telah pergi tidur, siapapun tak akan menduga didalam suasana yang gelap dan sunyi itu tersembunyi penjagaan yang ketat.

Dalam kesunyian tiba2 terdengar beberapa kali suara yang hampir menyerupai hembusan angin dan disusul suara rentetan desiran anak panah, suara itu datangnya dari halaman muka hal ini menandakan bahwa musuh yang dinantikan itu nampaknya telah mulai muncul dihalaman muka.

Penyerangan musuh tiba !

“Toasuheng, benar2 mereka datang ! Marilah kita pergi menyambutnya," ujar si Tangan maut Jen Pek Coan sambil bangkit berdiri.

Kuo Se Fen tetap duduk dengan tenang dan sahutnya sambil mengelus jenggotnya : “Kini belumlah waktunya kita menampakan diri karena yang baru datang ini paling2 hanyalah para anak buahnya saja untuk mengetahui apakah kita ada persiapan, maka untuk menghadapinya cukup orang2 kita yang berada disana saja."

Benar saja, setelah suara desiran anak panah itu lalu, terdengar beberapa kali suara jeritan yang menyayatkan, dan kemudian suasana menjadi sunyi kembali.

Menjelang tidak seberapa lama, terdengar pula suara desiran anak panah yang kemudian disusul oleh suara seruan keras serta beradunya senjata yang tidak henti2nya, hingga suara huru-hara itu membelah kesunyian ditengah malam yang menyeramkan. Nampak wajah Kuo Se Fen berobah dan ia bangkit dari duduknya : “Nampaknya bala bantuan mereka telah tiba!" ucapnya.

Baru saja kata2nya habis dari ruangan muka tiba2 terdengar suara seruan panjang yang melengking diudara dan kemudian terdengar suatu suara yang amat dingin hingga membangkitkan bulu-roma mengucapkan : “Hai-yang samhiap, janganlah mengeram terus dalam rumah !"

Yang diartikan sebagai Hai-yang Sam-hiap adalah Kuo Se Fen, Jen Pek Coan dan Cu Siu Hu.

Mendengar nada suaranya cepat Goan Tian Hoat mendekati suhunya serta ucapnya: “Suhu, ialah lengcu berbaju hitam itu."

Kuo Se Fen memanggut dan ucapnya sambil berpaling pada Cu Siu Hu: “Losam, kau harus menjaga disini dan jangan sampai mereka nyerobot masuk!"

“Baiklah,” sahut si anak panah tanpa ekor Cu Siu Hu itu.

“Jisutee, kau turutlah dengan aku!" sambung Kuo Se Fen yang melangkah keluar.

Nampak olehnya diatas genting rumah berdiri tiga orang yang mengenakan baju hitam. Dandanan ketiga orang itu sangat aneh dan menyeramkan, seluruh tubuh mereka diselubungi oleh seragam hitam demikian pula kepala mereka ditutupi dengan kain hitam hingga yang nampak hanyalah sepasang matanya saja.

Diam2 Kuo Se Fen membenarkan apa yang telah diceritakan muridnya Goan Tian Hoat mengenai diri mereka. Sementara itu ia telah mengepalkan tangannya menjura sambil berkata: “Ha, Ha, siapakah kalian yang telah mengunjungi Hai yang piauwki? Maafkan kelambatan penyambutanku ini."

“Kuo congpiauwto, tahukah apa maksud kedatangan kami kesini ?" orang yang berdiri ditengah berpakaian hitam itu tidak membalas pertanyaan malah balas bertanya.

Nampak olehnya orang yang bertanya itu mempunyai bentuk tubuh yang tinggi serta gerak- gerik yang lemah lembut, hanya nada suaranya sangat dingin melenting.

Melihat dirinya orang itu Kuo Se Fen berpikir dalam hati, apakah orang ini benar-benar adalah Kang toakongcu ? Memang bentuk tubuhnya sangat mirip dengan Kang toakongcu. Kemudian ia menjura pula keatas sambil bertanya:

“Cobalah terangkan maksud kedatangan kalian."

Orang yang berdiri dipinggir kiri yang bertubuh tinggi besar itu kemudian mengeluarkan sehelai kain hitam yang bentuknya tiga persegi kecil, ia membuka kain tiga persegi kecil itu didepan dadanya sambil berkata:

“Apakah Kuo congpiauwto dapat mengenali bendera ini?" tanyanya.

Walaupun Kuo Se Fen mempunyai pengalaman yang luas dalam dunia kang-ouw tapi belum pernah ia melihat bendera hitam persegi kecil itu dan sedikitpun ia tidak mengetahui arti serta asal- usulnya, maka begitu melihatnya hatinya terkejut dan ucapnya: “Maafkan! Aku tidak mengenalnya !"

“Ini adalah He-lengci dan seluruh kaum persilatan dari daerah selatan dan utara ini, harus menghambakan diri dibawah kekuasaan He Ci- lengcu ini. Kini apakah kau sudah mengerti?" jawab orang yang tinggi besar itu.

Kuo Se Fen meneliti diri orang itu dan ia menduga bahwa orang yang memegang bendera hitam itu mempunyai persamaan bentuk tubuh dengan Cu Ju Hung, kemudian ia menyahut dengan ketawa lirih : “Sungguh menyesal pengetahuanku sangat rendah hingga belum pernah mendengar tentang ini."

“Ha, Ha, bukankah kini aku telah beritahukan

?" ujar orang yang tinggi besar itu dengan ketawa kecut.

“Inikah maksud kedatangan kalian kesini ?" tanya Kuo Se Fen.

“Tidak salah ! Hay-yang-pay adalah suatu partai yang cukup mempunyai pengaruh di daerah utara, maka dari itu Lengcu mempunyai pendapat bahwa Hay-yang-pay harus menghambakan diri pada kekuasaan He-ci ini."

Mendengar ucapan orang itu hati Jen Pek Coan menjadi panas sahutnya tidak sabar:

“Hm! Sungguh omong besar dan menggelikan kata2mu itu !" Orang yang tinggi besar itu tertawa dingin kemudian ucapnya :

“Ha, Ha, mungkin kau adalah Jen ji-hiap, si tangan maut itu? Kau anggap kami sombong karena kau tidak mengetahui sebenarnya dalam dunia kangouw."

“Dimana adanya lengcu kalian ?" tanya Kuo Se Fen.

“Aku," sahut orang yang ditengah itu.

“Ha, Ha, Bila He-leng-ci sampai dapat menguasai daerah selatan dan utara sebagai lengcunya tentu orangnya mempunyai wajah dan kepala, mengapa tidak berani menampakan wajah sebenarnya dihadapan orang?"

“Cukup hanya kau ketahui bahwa aku adalah lengcu dari He-leng-ci ini."

“Seorang jantan tidak seharusnya berkelakuan sembunyi2," ejek Jen Pek Coan tidak sabar.

“Memang tidak salah baiknya kalian melepaskan selubung kepala itu dulu baru membicarakannya,” ujar Kuo Se Fen.

“Apakah congpiauwto menganggap kenal pada kami ?"

Hati Kuo Se Fen menjadi bergerak mendengar kata2 itu, sungguh licin memuakan orang ini, bukankah dengan demikian berarti ia telah mengetahui bahwa dirinya mencurigakannya Kang toakongcu ? Kemudian cepat2 ia berkata : “Ha, Ha, terhadap orang yang cukup mempunyai nama dan disegani, bila tidak kukenal pun sedikit banyak pernah mendengarnya, lengcu telah datang kesini seharusnya tidak berkeberatan memperlihatkan wajahmu."

Dengan tertawa dingin yang bisa membuat orang bergidik si Lengcu itu tiba2 membuka selubung hitam dikepalanya. Di bawah penerangan sang rembulan yang remeng2 itu, nampak oleh Kuo Se Fen sebuah wajah agak persegi empat yang bersih tidak berkumis sedikit pun, usia orang itu pertengahan, melihatnya hati Kuo Se Fen menjadi tercengang, “Dia bukan Kang Puh Cing !” lalu tanyanya :

“Yang dua orang lagi ?”

Kedua orang itupun kemudian melepaskan selubung kepalanya, nampak orang yang berada disebelah kiri itu adalah seorang tua yang berusia kira2 limapuluh lebih dan mempunyai wajah beralis tebal serta bermata sipit, yang satu lainnya yang berdiri di sebelah kanannya adalah seorang tua pula usianyapun limapuluh lebih dan wajahnya agak kurus serta ke-hitam2an. Kuo Se Fen ternyata satupun tidak mengenalnya.

Orang ini bukan Cu Ju Hung !

Si He Ci lengcu kemudian memakai kembali selubung hitam itu sambil tanyanya dingin: “Apakah congpiauwto kenal diriku ?"

Tiba2 hati Kuo Se Fen bergerak dan terpikir olehnya betapa tololnya diri sendiri, bukankah mereka telah dapat menyamar wajah Ban Ceng San dan Than Hoa Toh, ini berarti mereka mahir dalam mengubah muka, maka untuk apakah dan bukankah sangat menggelikan bila hendak melihat wajah mereka yang sebenarnya ?

Terpikir demikian Kuo Se Fen merasa heran dan terkejut lalu sahutnya:

“Maafkan pengetahuanku yang tipis hingga tidak bisa mengenali diri kalian."

“Kenal atau tidaknya bukanlah hal yang penting, tapi hanya ada satu jalan hidup bagi orang yang telah melihat wajahku ini," ujar He Ci lengcu itu dingin.

“Jalan apakah itu ?"

“Menghambakan diri pada He-leng-ci !"

“Hm ! Belum tentu." sahut Jen Pek Coan marah.

He Ci lengcu mendongak keatas, berkata dingin dengan amat congkak:

“Apakah kalian rela membiarkan Hay-yang-pay yang telah berdiri ratusan tahun hancur musnah dalam sekejapan?"

Mendengar kata2 itu hati Kuo Se Fen menjadi panas, hingga kemarahannya tidak tertahan lagi, wajahnya berobah merah padam sahutnya dengan suara tertekan: “Hm ! Dengan mengandalkan kekuatan apakah kalian akan memusnahkan Hay yang-pay ?"

“Kuo Se Fen ! Apakah kau kira kata2ku hanya gertakan ?" “Jahanam yang tidak tahu diri, sungguh beruntung bila kalian dapat meloloskan diri malam ini!" bentak Jen Pek Coan sengit.

“Mungkin kalau belum melihat mengalirnya air sungai Huang Ho, hatimu belum juga mau menyerah dan takluk." lalu ia memberi isyarat pada orang disebelah kirinya dengan memanggutkan kepalanya. Nampak orang disebelah kirinya itu kemudian mengibaskan bendera persegi tiga kali di udara.

Melihat ini hati Kuo Se Fen men-duga2, apakah itu berarti suatu tanda perintah untuk menyerang? Dugaannya ternyata tidak salah, karena dalam sekejap saja nampak olehnya diatas genting dari rumah yang berada disebelah kiri dan kanannya telah muncul lima enam orang yang berseragam hitam pula, hingga kini dirinya terkurung di- tengah2.

Bersamaan dengan itu orang yang berdiri disebelah kanannya si He Ci lengcu itu tiba2 mengibaskan lengan bajunya dan nampak sebuah sinar biru berkelebat ke-atas udara hingga dalam kegelapan sinar biru itu sangat jelas dan terang nampaknya.

Sekejap saja dari halaman muka, terdengar suara huru hara yang ternyata adalah suara jeritan dan seruan orang banyak, kemudian disusul oleh suara beradunya senjata.

Alis Kuo Se Fen nampak berdiri, darahnya bergejolak cepat ia mencabut keluar senjatanya Siang-ling-to, golok sayap elang yang berat dan tebal, hingga begitu ia cabut mengeluarkan bunyi lenting. Dengan mata melotot ia membentak marah

: “Bila Hai yang-pay tidak dapat menghajar kalian, aku bersumpah akan undurkan diri dari dunia kangouw !"

Tiba2 ia melihat dari belakang tubuh He Ci lengcu bertiga, berkelebat sesosok bayangan hitam, dibarengi meluncurnya sebarisan anak panah kearah tubuh belakang si He Ci lengcu bertiga.

Anak panah itu meluncur dengan cepatnya, tapi gerakan ketiga orang berseragam hitam itu pun tidak kalah cepat, karena begitu barisan anak panah itu hampir mengenai tubuh belakang mereka, dengan tanpa menoleh mereka memutar miringkan tubuh hingga anak panah itu berkelebat lewat dari samping dan lenyap dalam kegelapan.

Bersamaan dengan itu orang disebelah kanan si He Ci lengcu tiba2 mencabut senjatanya sebuah golok bengkok kemuka yang berwarna ungu dari punggungnya, dengan cepat tubuhnya berkelebat menyambut datangnya bayangan hitam itu, bentaknya : “Jahanam kau sudah bosan hidup?"

Ternyata si bayangan hitam itu adalah Hang Ka Han yang baru saja datang dari halaman muka dengan berlari diatas genting, setibanya ia dapat mendengar pembicaraan suhunya dengan si He Ci lengcu, maka begitu melihat dilepaskannya sinar isyarat ia pun cepat menyerang mereka dengan panah. Berbarengan tubuhnya mencelat sambil membacokan goloknya. Begitu melihat musuhnya menerjang ke- arahnya ia merobah dari membacok ganti menusuk lurus dengan jurus masukan benang kelobang jarum. Si baju hitam itu memiringkan tubuhnya dan goloknya membabat miring kearah lengannya. Melihat tusukannya dapat dielakan dan lengannya terancam ia cepat memutar goloknya dan dengan merendahkan tubuh, ia membabatkan goloknya kearah kedua kaki musuh. Diserang demikian si baju hitam itu tertawa dingin cepat goloknya ditekankan kebawah untuk memukul senjata musuh dan "Trang" dua buah golok beradu keras hingga memancarkan kembang api yang terang.

Hati Hang Ka Han sangat terkejut, karena ia dapat merasai betapa besarnya tenaga sinkang musuh, hingga tangannya merasa kesemutan dan hampir2 saja goloknya terlepas dari genggamannya. Maka cepat2 tubuhnya mencelat kebelakang untuk mengelakan serangan musuh lebih lanjut.

Melihat Hang Ka Han mengelak mundur, si baju hitam menjadi penasaran karena tidak berhasil memukul jatoh senjata lawan, dengan berseru keras ia lancarkan serangan yang bertubi-tubi, goloknya diputar untuk mendesak hebat musuhnya.

Hang Ka Han dapat menyadari bahwa tenaga sinkang musuhnya ini lebih hebat dari dirinya, maka ia tidak mau menangkis dengan mengadu senjata melainkan ia menggunakan ginkangnya untuk mengimbangi serangan lawan. Sementara itu keenam orang baju hitam yang muncul belakangan masing2 telah mencabut senjatanya dan kemudian melompat turun untuk menyerang Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan.

Ketika munculnya enam orang baju hitam itu, dalam hati Kuo Se Fen telah bisa membandingkan kekuatan musuh dan ia dapat menduga bahwa diantara mereka tentu orang yang bernama si He Ci lengcu kedudukan maupun ilmu kepandaiannya lebih tinggi dari enam orang ini. Kini si He Ci lengcu serta orang yang disebelah kirinya belum juga mau turun tangan, maka untuk menghadapi keenam orang baju hitam ini tidak perlu ia dan suteenya turun tangan sendiri maka cepat ia memanggil dengan suara tertekan: “Yun Tai, Yu Sing kalian hadapi mereka !"

Sebenarnya Cau Yun Tai bersama Yan Yuh Sing telah tidak sabaran lagi tapi karena mereka belum diperintahkan oleh suhu mereka hingga tak berani keluar dari tempat persembunyiannya menghadapi musuh. Maka kini begitu dapat perintah merekapun tak mau menunggu-nunggu lebih lama dan langsung menerjang kearah musuh dengan golok diputarkannya cepat.

Ilmu kepandaian enam orang baju hitam itu pun cukup tinggi, begitu melihat musuhnya menerjang kearah mereka, mereka cepat menangkis dengan senjatanya dan kemudian berpencar mengurungnya. Sekejap saja pertempuran berlangsung pula.

Melihat murid toakonya dikeroyok oleh enam orang musuh yang kesemuanya memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi, hati Jen Pek Coan menjadi gelisah dan kuatir. “Toasuheng, akan kubantu mereka." ucapnya pelan.

Kuo Se Fen mengangguk dan nampak Jen Pek Coan mencabut senjatanya yang diselipkan dipinggang, sebuah pipa bako yang terbuat dari baja murni, kemudian tubuhnya mencelat, belum sampai ia turun tangan, terdengar suara orang tertawa dingin yang datangnya dari atas genting :

“Ha, Ha, ternyata Jen jihiap pun ingin bermain- main, baiklah aku akan menemanimu !"

Ternyata orang yang bicara adalah si baju hitam tinggi besar yang disebelah kiri lengcu itu. Begitu ucapannya habis, ia melayang turun, telapak tangannya memukul kearah kiri Jen Pek Coan. Melihat dirinya diserang dengan kecepatan yang luar biasa, Jen Pek Coan memindahkan senjatanya ketangan kiri dan tangan kanannya berobah mencengkeram dengan jurus Toa-lit-ing-coa-kong membalas serangan musuh.

(Bersambung 4)