--> -->

Perintah Maut Jilid 02

 
Jilid 02

KOTA KOACOU berada di persimpangan sungai Cang Kang dengan Yun Ho, dalam kota itu terdapat sebuah cabang dari sungai Yun Ho, yang bernama kali Koa Ho, para penyair mengatakan “Dua tiga buah bintang bagaikan Koa Cou” hingga kota itu merupakan kota penuh seni.

Pada tengah hari keadaan pelabuhan kota itu sangat ramai, para perahu yang berlayar melalui tempat itu pada berlabuh, sekedar untuk istirahat.

Kang Han Cing duduk sambil memandang keluar melalui jendela perahu itu, tiba2 dari kejauhan mendatangi sebuah perahu dengan kecepatan luar biasa, perahu itu meluncur diatas air bagaikan sebuah anak panah terlepas dari busurnya, hingga air yang terpancar dibelakangnya dari jauh nampak bagaikan seutas benang putih !

Hati Kang Han Cing agak terkejut, ia mengagumi besarnya tenaga orang yang mendayungnya itu.

Sekejap saja perahu kecil itu telah berada dipinggir perahu yang mereka duduki, nampak olehnya diatas perahu itu berdiri seorang pemuda pelajar yang berpakaian putih, alisnya lentik dan bola matanya jernih serta jeli, giginya putih bersih, kedua belah bibirnya tampak kemerah2an ia berdiri diatas perahu yang sedang meluncur sangat cepatnya, hingga bagaikan patung berdiri, gagah ditiup deruan angin yang sangat kencang.

Pada buntut perahu kecil itu, berdiri seorang kakek2 tua yang kumis serta jenggotnya sudah putih, dengan agak membongkokkan punggungnya, kakek itu mengayun dayung, gerakannya sangat tangkas dan cepat !

Kang Han Cing terpaku, sungguh hampir- hampir ia tidak dapat mempercayai pandangan matanya, seorang kakek2 mempunyai tenaga yang luar biasa besarnya.

Selagi ia berpikir, tiba2 pemuda pelajar itu berpaling kearahnya sambil mesem kecil, pemuda itu memanggut kepadanya. Sekejap saja perahu kecil itu telah berlalu pergi dengan cepat, dan lenyap dari pandangan mata dibalik sebuah perahu besar.

Kang Han Cing menjadi bengong terus memandangi riak gelombang air sungai ini, baru ia tersadar oleh suatu teguran yang datangnya tiba2, “Jie kongcu, kenalkah kau kepadanya ?"

“Tidak kenal.”

“Nampaknya ia seperti memperhatikan perahu kita."

“Pertama aku tertarik karena jalannya perahu kecil itu sangat cepat namun kemudian aku melihat pemuda itu memanggut kepadaku."

“Sungguh aneh, sebenarnya aku pun agak menaroh curiga pada perahu kecil itu kalau demikian, apakah mereka telah dapat mengenali diri kita ? Tapi ini tidak mungkin.”

“Walaupun belum seluruhnya kaum bulim kukenal, tapi terhadap orang yang mempunyai kepandaian tinggi, sedikit banyak aku pernah mendengarnya, seingatku belum pernah mendengar ada pemuda pelajar yang berpakaian putih, dari kehebatan tenaga kakek2 itu, bisa diketahui, mereka adalah kaum bulim yang berkepandaian tinggi. ”

Tak lama kemudian, mereka telah tiba dikota Yang Cou.

Yang Cou adalah sebuah kota kenamaan dalam sejarah, ia berada ditengah antara daerah utara dan selatan, para pedagang yang hendak membawa dagangannya dari utara ke selatan atau sebaliknya harus melalui kota ini, maka kota ini merupakan kota perdagangan yang ramai serta makmur, yang tak dapat dibanding oleh kota2 lain. Hai Yong piauwki adalah sebuah bangunan besar yang terletak disebelah utara kota Yang Cou, pada depan pintunya nampak tergantung sebuah merek yang dibuat dari kuningan, pada merek itu tertulis "Hai Yongpiauki" empat huruf besar, merek itu tergosok bersih mengkilap bagaikan kaca.

Di-tengah2 halaman muka terdapat sebatang tiang bendera yang tingginya kurang lebih dua tombak, dipuncaknya berkibar sehelai bendera yang berwarna kuning telur angsa, pada tengahnya nampak gambar seekor burung rajawali terbang yang disulam dengan benang warna emas, inilah lambang kebesaran dari Hai Yong piauwki yang menggetarkan dunia kang-ouw, selain itu ia pun merupakan lambang dari Hai Yong Pay yang menjagoi daerah utara.

Sekeliling bagian utara kota Hai Yang itu, sebenarnya adalah daerah pinggiran kota yang sepi, tapi karena terdapat Hai Yang piauwki itu, para kaum bulim dari golongan putih maupun hitam, bila melihat kota Yang Cou selalu mengambil jalan dari sebelah utara itu, walaupun berputar agak jauh, oleh karenanya diatas batu hijau yang dibuat untuk jalan depan Hai Yang piauwki itu, tiap hari selalu ramai oleh kaum bulim.

Bagi Goan Tian Hoat, keadaan Hai Yang piauwki itu tentu tidak asing lagi, setibanya ia menyuruh pemilik perahu mengambil jalan bagian utara, balik melalui sebuah kali kecil, kemudian menepikan perahunya dibawah barisan pohon yang rindang, hari telah menjelang magrib, ia membayar ongkos sewa perahu lalu menuntun turun Kang Han Cing.

Sekejap saja mereka telah tiba dipintu samping dari piauwki itu, ia mengetok pintu dua kali, tak lama pintu terbuka dan nampak seorang pemuda keluar sambil memandangi mereka, agaknya ia merasa heran.

“Bila kalian mempunyai urusan, harap kalian masuk dari pintu muka.”

“Liok-sutee," panggil Goan Tian Hoat dengan mesem.

Liok-sutee berarti adik seperguruan yang keenam.

Pemuda itu   nampak   terkejut.   “Kau   adalah

.....Sam suheng !”

Sam-suheng berarti engkoh seperguruan yang ketiga.

Goan Tian Hoat menganggukan kepalanya serta berkata pula:

“Jangan bicara keras2, apakah suhu ada ?" “Beliau berada diruangan belakang, baru saja

makan."

“Kalau begitu kebenaran, harap Liok sutee sudi menunjuk jalan."

Pemuda itu memandangnya heran, katanya : “Sam-suheng bukan tidak mengetahui jalannya, mengapa masih minta aku menunjukan jalannya

?" pandangannya beralih ke diri Kang Han Cing, kemudian tanyanya pula : “Siapakah ia ?" “Tidak usah kau banyak tanya, cepatlah kita kesana ! Oh, ada lagi, bila bertemu dengan mereka, janganlah menyebut namaku."

“Bagaimana seharusnya?"

“Katakan saja bahwa kau disuruh oleh suhu untuk memanggil masuk."

Pemuda itu merasa serba susah dan ragu. “Kelak. tentu aku disalahkan oleh suhu.”

“Tidak mengapa, soal ini serahkan saja padaku." “Baiklah kalau begitu."

Ia menutup pintu itu kembali, kemudian berjalan di depan diikuti oleh Goan Tian Hoat sambil menuntun Kang Han Cing.

Kebenaran para kakak adik seperguruannya dan rekan2 lainnya sedang pada makan malam diruangan depan, hingga tidak dipergoki oleh mereka, pemuda itu mengantarkan mereka sampai disebuah kamar yang terdapat pada ruangan belakang itu.

“Apakah sam-suheng hendak kuberitahukan dahulu?"

“Tidak usah, hanya kuharap, janganlah sekali2 memberitahukan kedatanganku ini pada siapa pun."

Pemuda itu manggut mengyakan. Tiba2 dari dalam kamar terdengar suara yang penuh wibawa, “Siapa ?"

“Tecu Yan Yu Sing." sambil memberi hormat pemuda itu menyaut. “Ada urusan apa ?"

“Sam suheng telah kembali." “Hm ! Suruh ia masuk."

Goan Tian Hoat berkata pada Kang Han Cing: “Suhuku ada didalam, marilah kita masuk." lalu menuntunnya masuk.

Keadaan kamar itu bersih dan sunyi, terang benderang hingga sesuatu yang terdapat disitu dapat dilihat dengan jelas, nampak di-atas sebuah kursi duduk seorang kakek2 tua yang jenggot kumisnya panjang serta putih. Kang Han Cing dapat menduga bahwa kakek2 itu tentu adalah suhunya Goan Tian Hoat, ternyata dugaannya tepat, memang ia adalah Ketua Hay Yang Pay, kepala piauwsu Hai Yang piauwsu, Si rajawali sayap emas Kuo Se Fen.

Setelah masuk, Goan Tian Hoat berkata pada adik seperguruannya:

“Liok-sutee, tolonglah pegang kawanku ini, aku beri hormat pada suhu," segera ia melangkah maju serta berlutut, “Suhu. ”

Baru saja ia memanggilnya, nampak si rajawali sayap emas Kuo Se Fen membentaknya dengan wajah merah padam, matanya mendelik hingga mengeluarkan sorotan matanya yang tajam, “Jahanam! Masih berani menemui aku ?"

Hati Goan Tian Hoat menjadi sangat terkejut dan tubuhnya menggigil, ia menelungkupkan tubuhnya, “Mohon suhu sudi menunjukan kesalahan teecu yang membuat suhu marah." Ucapannya menambah panas hati sang suhu dengan kaki digebrakan diatas lantai bentaknya pula:

“Jahanam! Sungguh bagus perbuatanmu. Hai Yang Pay yang telah berdiri ratusan tahun ini, bisa hancur oleh perbuatan murid jahanam sepertimu ini, kau........kau masih ada muka untuk menemui aku?"

Mendengar ucapan suhunya yang sedang panas itu, hati Yan Yuh Sing menjadi gelisah, sementara itu ia melihat sang suheng menggigil takut, tubuhnya penuh oleh keringat dingin, kepalanya dibenturkan beberapa kali keatas lantai serta ucapnya, “Teecu telah menerima budi besar suhu, belasan tahun ini sedikit pun tidak pernah melupai nasehat2 serta ajaran2 yang suhu berikan pada diri teecu, teecu tidak berani membantah lebih2 melanggar, bila memang teecu berbuat sesuatu yang melanggar peraturan perguruan, teecu bersedia menerima hukuman ! Mohon kebijaksanaan suhu untuk supaya teecu mati dengan tidak penasaran. "

Belum habis ucapannya, suhunya telah membentak pula : “Jahanam! Kau masih berani membantahnya ? Apakah kau yang berbuat, harus aku yang mengatakannya?"

“Maafkan kelancanganku, mohon suhu menjelaskannya !”

“Hm, baik, aku tanya kau, setelah kembali dari kota Ci Lih, lalu pergi kemana ?” “Setelah pulang dari sana, dalam perjalanan teecu dapat mendengar bahwa in-kong Kang telah meninggal dunia, kemudian teecu menyuruh mereka pulang terlebih dahulu, karena teecu hendak segera pergi ke kota Kim Lin untuk melawat beliau.”

“Dalam perjalanan itu apakah ada menjumpai orang2 dari Cen Yen piauwki?"

“Tidak ! Teecu baru kembali dari Kim Lin."

“Kau adalah anak murid Hai Yang Pay, seharusnya ber-terang2an, mengapa mengubah mukamu dan masuk dengan sembunyi-sembunyi

?"

“Suhu, teecu berbuat demikian dikarenakan terpaksa."

“Jahanam! Sungguh berani hatimu ini, dihadapan suhumupun hendak berdusta."

“Teecu berkata sebenarnya !”

Kuo Se Fen menjadi sengit dan darahnya mendidih, bentaknya keras :

“Kalau saja aku tidak memandangmu yang belum pernah berbuat salah dalam belasan tahun ini, sudah kupecahkan kepalamu itu !"

Kemudian ia mengambil sepucuk surat dari atas meja, lalu dilemparkannya kedepan muridnya serta katanya marah, “Ini adalah surat yang barusan dikirim oleh ketua Cen Yen piauwki Ban Ceng San, lihatlah kau sendiri !" Hati Kang Han Cing merasa heran, apakah isi surat paman Ban itu, sampai sedemikian gentingnya.

Begitu mendengar ucapan suhunya, Goan Tian Hoat menjadi berdebar hatinya, ia pungut surat itu serta membukanya, baru saja ia membaca dua barisan, nampak air mukanya berobah agak pucat, tubuhnya keluar keringat dingin karena terkejut ! Setelah habis ia baca, tahulah ia tentang duduk persoalannya, kemudian ia lipatkan serta memasuki kedalam sampul kembali.

Belum sampai ia membuka mulut, suhunya membentak pula. “Hm ! Jahanam ! Ada alasan apa lagi kau kini ?”

Hati Goan Tian Hoat menjadi lega, ia menjura pada suhunya serta ucapnya:

“Suhu, teecu hendak menerangkan sesuatu pula."

“Bukti telah ada, apakah kau hendak mungkir

?"

Goan Tian Hoat pelan2 mengangkat mukanya,

katanya tenang :

“Teecu mempunyai saksi !”

Wajah Kuo Se Fen menjadi merah padam, sorotan matanya tajam mendebarkan, bentaknya kemudian: “Jahanam ! Di hadapan suhumu kau masih hendak keras kepala ?"

“Maafkan teecu, kali ini teecu pulang dengan merubah muka, sungguh karena menyangkut urusan besar, bolehkah suhu menyuruh liok-sutee menjaga di luar, bila tidak dipanggil, semua suheng dan sutee beserta rekan2 tidak boleh masuk ke dalam kamar, kemudian teecu baru berani menjelaskannya."

Kuo Se Fen sebagai ketua suatu partai, pengalamannya tentu cukup banyak, walaupun ia melihat muridnya bercucuran keringat, tapi air mukanya tenang, tidak nampak seperti orang berbuat salah. Mengingat biasanya Goan Tian Hoat mempunyai kecerdikan yang luar biasa dalam segala hal, maka ia agak percaya, mungkin memang mempunyai urusan yang menyusahkan dirinya, akhirnya ia menganggutkan kepalanya serta katanya : “Baiklah! Yuh Sing, kau jaga di luar, bila tidak kupanggil, siapa pun tidak boleh masuk !”

Goan Tian Hoat bangkit menghampiri dan menuntun Kang Han Cing, sedang Yan Yuh Sing kemudian keluar untuk berjaga.

Kuo Se Fen memandangi diri Kang Han Cing, ia bertanya : “Siapakah ia?"

Goan Tian Hoat menuntunnya ke sebuah kursi, setelah mendudukinya ia memalingkan tubuhnya serta menyahut: “Suhu, ia adalah putra kedua dari almarhum Kang Sang Fung.”

Betapa terkejut hati Kuo Se Fen mendengar jawaban muridnya, sekali lagi ia mengamat2i diri Kang Han Cing.

“Boanpwe Kang Han Cing memberi hormat pada paman Kuo !" sambil memberi hormat pada Kuo Se Fen. “Ah ! Kau adalah Kang Han Cing ? Ini.........

Ini......." Kuo Se Fen tak bisa lanjutkan ucapannya, sungguh ia tak menyangka urusan demikian membingungkan.

Cepat Goan Tian Hoat menjelaskan : “Suhu, urusannya memang sangat ber-belit2, biarlah putra muda mencuci mukanya dahulu, baru teecu jelaskan persoalannya." kemudian ia mengeluarkan botol kecil dari dalam sakunya serta diberikannya pada Kang Han Cing, "Jie kongcu, cucilah mukamu."

Kang Han Cing mengoleskan isi botol kecil itu pada mukanya, sekejap saja nampak suatu wajah yang ganteng dan pucat lesu.

Kuo Se Fen kesima sejenak, segera memberi hormat : “Maafkan kelalaian penyambutanku ini.” kemudian sambungnya pula :

“Tian Hoat, mengapa kau tidak dari tadi memberitahukan bahwa kau datang bersama dengan Kang jie kongcu."

“Teecu terpaksa, hingga pulang dengan mengubah muka, harap suhu bisa memaafkannya

!”

Kuo Se Fen mengerutkan alis matanya serta sebelah tangannya me-megang2 jenggotnya yang putih panjang itu, dengan penuh heran ia bertanya

:

“Apa yang telah terjadi ?”

Goan Tian Hoat segera menceritakan semua kejadian2 yang ia alaminya. Kuo Se Fen menjadi terkejut, katanya dengan heran:

“Sungguh mengherankan ! Biasanya Kang Puh Cing jujur serta bijaksana, mengapa sampai bisa berbuat demikian kejam ?"

Kang Han Cing berkata dengan sedih : “Boanpwe pun merasa heran, toako selalu baik dan sayang padaku, tapi setelah ayah meninggal dunia, wataknya agak berobah, sungguh tidak dinyana, sampai hati meracuni diriku dan membakar rumah, kalau saja tidak saudara Goan yang menolong, tidak bisa boanpwe bayangkan apa akibatnya."

“Ah ! Mungkin kakakmu itu diperdayai oleh orang, tinggallah hiantee disini tak usah kuatir, seseorang bila wataknya belum begitu bejat, suatu hari pasti akan timbul rasa persaudaraannya kembali."

“Suhu, menurut pendapat teecu, dalam hal ini mungkin ada udang di balik batu." ucap Goan Tian Hoat.

“Cobalah kau terangkan pendapatmu !?”

“Teecu berpendapat, lengcu baju hitam itu sungguh mencurigakan."

“Bagaimana mencurigakan ?"

“Kemungkinan besar lengcu baju hitam itu adalah... Ai ! Hanya belum ada bukti, teecu merasa…”

“Anggapanmu lengcu baju hitam itu adalah Kang Puh Cing ?" “Teecu tidak berani memastikannya, hanya dilihat dari bentuk tubuhnya serta suaranya, toa kongcu sangatlah mencurigakan !”

Tubuh Kang Han Cing menjadi bergidik, dengan terkejut ia bertanya: “Saudara Goan, apakah suara lengcu baju hitam itu bersamaan dengan toako ?”

“Suara dari lengcu itu berlogat dingin serta terang, kedengarannya agak menyerupai suara toa kongcu."

Hati Kang Han Cing jadi bertambah sedih, air matanya bercucuran, ucapnya sedih : “Sungguh kejam dan tiada berperikemanusiaan toako ! Ia…. ia sampai diri ayah sendiri pun tidak mau melepaskannya.”

“Janganlah terburu nafsu, bersabarlah hanya mengandalkan suaranya, belum bisa dipastikan. Persahabatanku dengan ayahmu sangai akrab, dalam hal ini bagaimana pun aku tidak akan berpeluk tangan ! Bila telah dapat kita ketahui diri lengcu itu, segala persoalannya akan menjadi terang. Diri hiantee terkena racun jahat hingga tenagamu belum pulih kembali, haruslah diobati dahulu. Di propinsi Cin ada seorang tabib bernama Than Ha Toh, ilmu pengobatannya luar biasa, segala penyakit yang aneh2 dan sulit dapat disembuhkan, hingga namanya sangat terkenal didaerah ini, besuk aku suruh orang memanggilnya.”

“Banyak terima kasih Kuo Sek Suk !" air mata Kang Han Cing berlinang karena terharu. “Ha Ha Ha, janganlah hiantee berkata demikian. Sebenarnya bila tidak dapat bantuan dari almarhum ayahmu, kini dalam dunia kang ouw ini mana bisa Hai Yang Pay bertahan hingga sekarang

?”

“Suhu, terhadap surat ketua Cen Yen piauwki Ban locianpwee, bagaimanakah semestinya untuk menghadapinya ?”

Kuo Se Fen mengerutkan alisnya, keluhnya pelahan : “Hm ! Urusan ini memang agak menyulitkan, Ban Cen San mengawalnya sendiri, setibanya dekat Liong Toh, ternyata masih bisa kejadian...”

Hati Kang Han Cing menjadi terkejut, ia tidak nyana kalau Cen Yen piauwki pun mengalami kecelakaan, hatinya men-duga2, apakah peti besi kecil itu yang dirampok oleh orang?

Berkata pula Kuo Se Fen : “Ia dapat mengenali diantara sembilan orang bertopeng yang menyerang itu, ada seorang yang menggunakan ilmu Kiuw Kung To Hoat, bahkan seorang pengawal mendapat luka oleh ilmu Ying Coa Kung, yang kedua2nya ilmu dari partai kita, toa suheng dan jie suhengmu tidak pernah menggunakan golok ini, jelas dirimulah yang dituduhnya ! Mengenai soal ini, aku bisa menghadapinya sambil menunggu perkembangannya lebih lanjut.”

“Menurut pendapat suhu, apakah kejadian ini ada hubungannya dengan diri lengcu itu?"

“Apakah kau mempunyai anggapan bahwa lengcu itu yang melakukannya ?" “Janganlah suhu lupa, tiga hari sebelumnya toa kongcu tidak berada dirumah?"

Kuo Se Fen agak menggelengkan kepala, sautnya : “Ini tidak mungkin, masakan kau tidak tahu bahwa keluarga Kang masih mempunyai andil dalam Cen Yen piauwki ?"

“Soal ini teecu mengetahuinya, tapi teecu merasa surat itu mungkin direncanakan oleh toa kongcu.”

“Aku sangat mengenal keperibadiannya Ban Cen San, terkecuali ada orang lain yang menyamar sebagai muridnya, bila tidak, ia tak akan menulis surat demikian padaku. Kang Puh Cing lebih muda darinya, maka tak akan ia bisa mempengaruhi dirinya."

Kang Han Cing turut bicara, ucapnya :

“Ucapan Kuosusiok memang benar, paman Han sangat sayang pada boanpwee berdua, ayahpun amat mendengar kata2nya, maka kami sangat menghormatinya, bila toako hendak memperalat orang untuk mencelakakan diri saudara Goan, tentu ia tak berani maksudnya diketahui olehnya."

“Ucapanmu benar, Ban Cen San sampai menulis surat, tentu ia mempunyai urusan, lebih baik besok aku menyuruh jie-suheng pergi menemuinya, selanjutnya kita lihat saja perkembangannya. Kang Han Cing datang dari jauh, tentu belum makan, cepatlah kau beritahukan untuk menyediakan makanan sebagai penyambutanku, lalu suruh bersihkan kamar disebelahku itu.” Goan Tian Hoat ragu2, ucapnya : “Suhu, teecu rasa masih ada yang kurang beres.”

“Apa yang masih kurang beres?"

“Setelah jie-kongcu meninggalkan rumahnya, haruslah mengubah muka aslinya, supaya dirinya tidak dikenali orang, dengan demikian baru bisa secara diam2 menyelidiki mayat inkong. Bahkan dalam piauwki kitapun jangan sampai bocor rahasia ini."

Inkong berarti tuan penolong, disini Kang Sang Fung yang diartikannya.

“Hm ! Ucapanmu ada benarnya !” sahut gurunya sambil manggut.

“Lagi pula kalau sampai putra besar dapat mengetahui di mana tecu berada, tentu ia akan kerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapinya, karena teecu telah mengetahui sebagian rahasianya, maka lebih baik sementara teecu tidak menampakan diri !”

“Hm ! Kalau begitu katakan saja kau dan Kang Han Cing adalah keponakanku, aku akan membantu sekuat tenagaku." kemudian ia panggil muridnya :

“Yuh Sing! Mari masuk !"

Yen Yuh Sing mengiakan serta masuk menghampiri suhunya.

“Urusan ini tidak boleh kau bocorkan kepada siapapun, bila ada yang menanyakan kelak, katakan saja bahwa mereka datang dari Hun Tse Hu, mengerti ?" “Teecu mengerti !"

“Baik, kini suruhlah buatkan makanan antarkan kesini, serta bersihkan kamar sebelah kiri kamarku untuk sam-suhengmu berdua tidur !"

Setelah Yen Yuh Sing keluar, Goan Tian Hoat kemudian mengeluarkan obat untuk mengubah wajah Kang Han Cing kembali.

Tak berapa lama, seorang jongos mengantarkan makanan serta minuman.

“Hiantee, makanlah kalian.”

Setelah makan, Kuo Se Fen berkata, “Kalian tentu sangat lelah, istirahatlah dulu. Besok aku akan suruh orang untuk panggil tabib Than Ha Toh datang untuk memeriksa dan memulihkan kembali kesehatannya."

“Terima kasih banyak atas bantuan susiok terhadap diri boanpwee !”

“Harap hiantee janganlah berlaku sungkan, anggaplah bagai rumah sendiri.”

Kemudian Yen Yuh Sing menghantarkan mereka ke kamar tempat tidur.

“Sam-suheng, ada pesan apa pula ?” tanya Yen Yuh Sing kemudian.

“Tidak ada, kau juga istirahatlah !”

Setelah Yen Yuh Sing pergi, merekapun memadamkan lampu dan tidur.

Walaupun tubuhnya terbaring diatas tempat tidur, tapi Goan Tian Hoat tak dapat memejamkan matanya, pikirannya kalut, ia bangkit dari tempat tidurnya, serta mengenakan pakaian pula, keluar menuju kamar suhunya, baru saja ia hendak mengetok pintu, dari dalam kamar terdengar suara suhunya :

“Kau Tian Hoatkah ?”

“Teecu Tian Hoat hendak bertemu dengan suhu," sahutnya.

“Masuklah !”

Goan Tian Hoat melangkah masuk, ia melihat suhunya duduk di sebuah kursi, pandangan matanya memperhatikan diri sang murid.

“Begini malam kau menemui aku, ada urusan apakah ?"

Goan Tian Hoat kemudian berlutut di hadapan suhunya, ucapnya :

“Mohon suhu dapat mengabulkan suatu permintaan teecu.”

“Kau bangunlah, bila ada sesuatu yang menyulitkan ceritakanlah, sedapat mungkin aku akan membantunya.”

“Setelah memikirkan masak2, untuk menjaga ketenangan, teecu memohon suhu mengusir diri teecu dari partai Hai Yang Pay ini !"

Mata Kuo Se Fen memandangnya tajam, dengan wajah keheran2an ia bertanya perlahan : “Tian Hoat ! Apa alasanmu kau minta diusir olehku?"

Dengan sangat hormat ia menjelaskan: “Dalam kepergian teecu ke kota Kim Lin kali ini, sejak mengetahui hilangnya mayat inkong, adanya persamaan suara Kang Puh Cing dengan Lengcu baju hitam itu, hati teecu jadi curiga. Kemudian Cu Ju Hung mencampur obat bius kedalam minuman teecu, menyuruh orangnya untuk membinasakan diri teecu dengan Antup tawon perenggut nyawanya, dengan maksud hendak menutup mulut supaya rahasianya jangan sampai bocor keluar, mereka membakar rumah untuk mencelakakan Kang Han Cing, semua ini terjadi secara beruntun, maka teecu yakin dibalik semua kejadian ini, tentu mengandung suatu rencana yang sangat keji. ”

Kuo Se Fen tidak mengucapkan suatu katapun, hanya “Hm !" mengiakan sambil tangannya meng- elus2 jenggotnya.

Goan Tian Hoat meneruskan ucapannya: “Menurut dugaan teecu, dibelakang Lengcu baju hitam itu, mungkin masih ada seorang yang menjadi biang keladi, rencana mereka pun tidak akan sampai disini saja ! Budi benar keluarga Kang atas diri teecu.  "

Dengan memanggutkan kepala, Kuo Se Fen memotong :

“Tak usah kau teruskan, aku tahu maksud dari hatimu itu, karena kau adalah muridku, hingga hatimu merasa kuatir, bila kelak ada sesuatu yang hendak kau lakukan, untuk jangan sampai partai Hai Yang Pay terlibat dalam urusan ini, maka kau minta aku mengusir dirimu, bukankah demikian ?”

“Maksud teecu memang demikian." “Ha, Ha. Ha. muridku, kau pun mengetahui, bila tidak ada pertolongan almarhum Kang Sang Fung, Hai Yang Pay tak akan bisa berdiri tegak didalam dunia Kang-ouw ini, apa kau kira aku seorang yang takut menghadapi segala urusan ?"

“Ucapan suhu memang tidak salah, tapi keadaannya kini tidaklah sedemikian mudah."

Sinar mata suhunya berkeredap terang dan tajam. “Mengapa ?" tanyanya.

”Suhu harus ketahui, kini kita belum dapat pastikan, apakah Lengcu baju hitam itu putra besar Kang atau bukan, andaikata ternyata memang benar, sedang ia adalah Kang Puh Cing, bagaimanapun Hai Yang Pay tak dapat bermusuhan dengan keluarga Kang."

Suhunya diam, nampaknya ia sedang ber- pikir2, sementara Goan Tian Hoat sudah melanjutkan ucapannya: “Suhu, besok umumkanlah pengusiran diri teecu pada kaum bulim, dengan demikian, bukan saja kita telah mengindahkan diri Ban Ceng San, bahkan dapat menghindarkan bentrokan dengan keluarga Kang, sehingga mereka tidak lagi mencurigakan Hai Yang Pay, hal ini selain menguntungkan diri teecu, terhadap sembunyinya Kang Han Cing pun tak akan diketahui orang."

“Lalu apa rencana selanjutnya ?" tanya suhunya ngerutkan kening.

“Teecu telah mempelajari ilmu mengubah muka dari kakek monggol dahulu, dengan ilmu ini teecu yakin tak seorangpun dapat mengenali teecu, dan teecu dengan mudah kembali ke kota Kim Lin, menyelidiki mayat inkong serta diri Lengcu baju hitam itu."

Kuo Se Fen mengeluh, angguknya. “Muridku, niat hatimu ini sungguh membuatku merasa bangga, baiklah aku kabulkan permintaanmu. "

Air mata Goan Tian Hoat mengambang keluar, ia menganggukan kepalanya beberapa kali memberi hormat. “Teecu mengucapkan terima kasih atas kebijaksanaan suhu !"

“Ingatlah muridku, aku hanya menyetujui rencanamu saja, tapi kau tetap adalah murid Hai Yang Pay, bilamana perlu, aku akan keluar muka untuk membantumu."

“Teecu akan ingat selalu pesan suhu ini, teecu tak akan berbuat sesuatu yang bisa mengotori nama baik suhu dan Hai Yang Pay.”

“Hari telah larut malam, kau pergi tidurlah.”

Keesokan harinya, kota Yang Cou telah digemparkan oleh dua berita yang sangat mengejutkan rimba persilatan.

Pertama adalah berita kebakaran yang terjadi digedung megah dari datuk persilatan Kang Sang Fung, dikabarkan bencana kebakaran itu dapat dicegah hingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar, tapi putra kedua dari keluarga Kang, karena dalam keadaan sakit hingga tak dapat tertolong dan binasa.

Berita lainnya adalah malapetaka yang menimpali diri ketua Cen yen piauwki Ban Cen San, berita yang tersebar luas itu mengatakan, bahwa Ban Cen San yang sedang mengawal barang berharga telah dibegal, sehingga barang kawalannya terampas dan ia mendapat luka.

Sudah merupakan kebiasaan bagi si rajawali bersayap emas Kuo Se Fen, yang mana tiap pagi ia selalu meminum secawan teh kental sambil berdiri didepan kamar tidur, ketika itu terdengar suara langkahan orang yang tergesa2 mendatanginya, ia menoleh, nampak seorang laki berbaju panjang warna hijau, berusia kira2 tiga puluh ampat tahun menghampirinya serta memberi hormat: “Suhu !" panggilnya. Ternyata ia adalah Hang Ka Han murid terbesar dari Hai Yang Pay.

“Ka Han, ada urusan apa?"

“Barusan teecu mendengar dua berita maka datang untuk memberitahukan.”

Kuo Se Fen menenggak air tehnya, lalu tanyanya : “Berita apa itu ?"

“Berita pertama adalah gedung keluarga Kang dari Kim Lin telah terbakar sebagian, jie kongcu Kang Han Cing karena sedang sakit tak dapat ditolong hingga binasa dimakan api.”

Tubuh sang suhu bergidik dengan pandangan mata yang tajam bertanya : “Apakah berita ini benar ?"

“Menurut keterangan, berita ini datang dari seorang yang baru kembali dari kota Kim Lin, besar kemungkinannya benar.” Kuo Se Fen mendongakkan kepalanya serta ucapnya sedih :

“Almarhum Kang taysiangseng berbudi luhur, tidak semestinya putranya mati demikian mengenaskan ! Hm, berita lainnya ?"

“Menurut keterangan orang, Cen Yen piauwki telah mengalami kecelakaan. "

Wajah Kuo Se Fen nampak kian muram, ucapnya sambil goyangkan tangan :

“Tak usah kau teruskan, apakah sam-suteemu telah kembali ?”

Hang Ka Han sedikit terperanjat, ia sungguh tak mengerti mengapa air muka suhunya demikian suram, maka cepat ia menyahut: “Bukankah suhu tahu sutee pergi ke kota Kim Lin. "

Belum habis ia bicara, suhunya telah membentak pula : “Aku tanya, ia sudah kembali belum ?"

Sekali lagi ia terkejut. “Ia belum kembali,” sahutnya.

“Hm ! Mana berani ia kembali kesini ?" sambil berkata demikian suhunya membanting teko teh ke lantai hingga hancur berantakan.

Betapa terperanjatnya Hang Ka Han, ia heran apa yang membuat suhunya sedemikian marah, karena takut ia tidak berani mengucapkan sepatah katapun, bungkem dengan hati ber-debar2. “Mari kau masuk ke dalam !” suhunya melangkah masuk kedalam kamar dengan air muka yang merah padam.

Didalam kamar, suhunya memperlihatkan sepucuk surat yang terletak diatas meja. “Bacalah surat ini." ucapnya.

Dengan hati ber-debar2 ia menerima surat itu, ia heran karena ia tahu bahwa surat itu adalah surat yang dikirim oleh utusan Cen Yen piauwki kemarin malam, hatinya men-duga2 apakah kemarahan suhunya disebabkan oleh surat ini ?

Begitu ia membaca isi surat itu, wajahnya nampak berobah pucat, dengan kedua tangannya yang menggigil ia dongak serta ucapnya : “Suhu tentu ketahui biasanya Goan sutee. "

“Hm ! Si keparat itu sungguh berani bersekongkol dengan orang2 jahat, hingga melakukan perbuatan terkutuk, umumkan segera bahwa mulai detik ini, ia bukan lagi muridku, kuusir dari partai Hay Yang Pay."

“Suhu, hanya mengandalkan surat dari tetua piauwki Ban Cen San ini, persoalannya belumlah jelas. ” ucap Hang Ka Han dengan takut2.

“Keterangan dari surat ini apakah belum cukup?" bentak suhunya marah.

Baru saja ia hendak bicara, suhunya telah mengibaskan jubahnya serta ucapnya: “Tak usah kau banyak bicara lagi, lakukan apa yang kuperintahkan !" Melihat suhunya sedang panas hati, ia tak berani membantah, ia minta izin untuk pergi.

“Tunggu sebentar !”

Ia menahan langkah mendengar panggilan suhunya.

“Panggil ji-sutee kemari.”

Hang Ka Han mengiakan perintah suhunya.

Tak berapa lama ji-sutee Cau Yun Cin datang dan masuk ke dalam kamar.

“Suhu memanggil teecu, entah ada perintah apa?"

Suhunya mengucapkan sesuatu dengan suara perlahan, nampak Cau Yun Cin mengiakan lalu meninggalkan kamar itu.

Pengumuman pengusiran diri Goan Tian Hoat oleh suhunya sungguh menggoncangkan rekan2 dari Hai Yang piauwki ini, semua orang saling membicarakan dan menduga2, tapi tak seorangpun yang dapat tahu sebab2nya. Lebih2 para keluarga Hay Yang piauwki, pengusiran itu sungguh membuat mereka gelisah dan sedih, karena rasa persaudaraan antara mereka demikian akrabnya.

***

Pada tengah hari, nampak ada dua orang penunggang kuda mendatangi ke arah Hay Yang piauwki, yang depan adalah seorang laki2 yang memakai tapi lonjong bulet, tubuhnya jangkung kurus, mengenakan baju panjang berwarna hijau kelabu, matanya sipit seperti mata burung, hidungnya lengkung mancung seperti burung elang, air mukanya dingin angker.

Yang disebelah belakang seorang kakek2 tua, kumis dan jenggotnya putih, ia memakai baju warna ungu2, air mukanya putih terang, sepasang sinar matanya sangat tajam walau wajahnya nampak keramah-tamahan, tapi cukup penuh wibawa.

Begitu mereka tiba di muka Hai Yang piauwki, laki2 yang sebelah depan lompat turun, dari sakunya mengeluarkan sehelai kertas undangan kartu nama warna merah, berjalan menghampiri dua kelompok orang yang sedang duduk2 diatas dua bangku panjang sambil memberi hormat ia berkata: “Mohon kalian tolong beritahukan, bahwa ketua Cen Yen piauwki Ban Cen San dan kepala pengurus Cu Ju Hung dari keluarga Kang di Kim Lin, hendak menemui ketua partay Kuo.”

Para pembantu piauwki yang sedang ngeloneng itu terperanjat, mereka berdiri, seorang diantaranya segera menerima kartu nama itu, berkata:

“Harap Ban piauwsu dan Cu cungkuan tunggu sebentar, aku akan beritahukan dahulu."

“Terima kasih banyak !”

Laki2 pembantu piauwki itu lalu masuk dengan ber-lari2 kecil, pada ruangan kedua ia berpapasan dengan Hang Ka Han yang sedang beronda, melihat orang demikian kesusunya, ia bertanya, “Luk Tek Kui, ada urusan apakah ?” Laki2 yang dipanggil segera menyodorkan kartu nama itu, ucapnya :

“Ketua Cen Yen piauwki dan kepala pengurus keluarga Kang hendak menemui tuan besar."

Hati Hang Ka Han bergetar sejenak, ucapnya : “Dimanakah orangnya ?”

“Mereka menunggu diluar."

“Cepat beritahukan pada suhu !” kemudian ia kembalikan kartu nama itu dan melangkah keluar.

Biasanya pada waktu ini si rajawali bersayap emas Kuo Se Fen telah keluar dari kamarnya, tapi hari ini belum juga nampak ia keluar, orang2 piauwki mengetahui bahwa ketua mereka kedatangan tamu dari Siauw Wang Ki telaga Kongce, dan mereka pun tahu itu adalah familinya istri ketua, tentu saja ketua mereka harus menjamunya sendiri.

Setibanya diruangan depan kamar tamu ketua, Luk Tek Kui buka suara : “Tuan besar, hamba Luk Tek Kui hendak melaporkan sesuatu.”

“Yuh Sing, suruhlah ia masuk." terdengar suara Kuo Se Fen.

Yen Yuh Sing melangkah keluar dan mempersilahkan Luk Tek Kui masuk.

Kemudian dengan tangan memegang kartu nama, Luk Tek Kui mengikuti masuk.

Dalam ruangan, tuan besar Kuo sedang ngobrol dengan dua orang laki pertengahan umur, begitu melihat Luk Tek Kui masuk membawa kartu nama, ia bertanya :

“Luk Tek Kui, apakah di luar ada tamu?"

Luk Tek Kui melangkah maju menyongsongkan kartu nama itu, berkata dengan hormat : “Tuan besar, ketua Cen Yen piauwki Ban Cen San dan Cu-cungkuan dari keluarga Kang di Kim Lin hendak bertemu."

Kuo Se Fen agak terperanjat. “Aku segera keluar."

Kemudian ia bangkit dari duduknya serta berkata : “Ponakan, tunggulah kalian sebentar, aku hendak keluar menyambut tamu."

Laki2 berwajah kuning langsat itu nampak memberi hormat : “Paman, silahkan."

Setelah menyampaikan kartu nama, seharusnya Lui Tek Kui kembali keluar, tapi kali ini ia bagaikan patung tidak bergeser dari tempatnya. “Tuan besar !” panggilnya.

Kuo Se Fen memandang sejenak, lalu sahutnya :

“Luk Tek Kui, rupanya kau kalah pula, maka hendak pinjam uang bukan? Baiklah, katakan saja pada kasir bahwa aku telah mengizinkannya, tapi hanya boleh pinjam sepertiga bagian saja, karena kau telah mempunyai keluarga, janganlah sampai mereka turut susah kehabisan uang."

Ditegur demikian muka Luk Tek Kui merah, katanya perlahan : “Tuan besar, aku bukan hendak meminjam uang, tapi ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada tuan besar."

Kuo Se Fen mengibaskan tangannya, katanya : “Tunggu sekembalinya aku saja."

“Tuan besar, urusan ini sangat penting..............” Luk Tek Kui tetap tidak mau berlalu.

“Urusan apakah itu ?” tanya Kuo Se Fen heran. Luk Tek Kui agak ragu2, katanya : “Tuan besar,

dengan se-benar2nya aku telah menyaksikannya

sendiri. "

Kuo Se Fen mengerutkan keningnya, ucapnya tak sabar: “Aku ada tamu diluar, bila ada urusan cepatlah katakan !"

Luk Tek Kui mengiakan beberapa kali, dengan menelan air ludah ia berkata : “Tuan besar pun telah tahu, bahwa aku tinggal di kota Se Sui, kemarin dulu, setelah mengantarkan barang, Goan piauwsu kemudian hendak langsung mengunjungi keluarga Kang di Kim Lin untuk melawat, aku permisi pula hendak menengok keluargaku, hingga kami berjalan ber-sama2, sesampainya di Sung Tan baru berpisahan….”

Belum habis ia bicara, Kuo Se Fen memotong : “Jangan bicarakan si keparat itu pula." lalu ia segera melangkah keluar.

“Tuan besar, aku bukan hendak bicarakan diri Goan piauwsu, tapi diri ketua Cen Yen piauwki itu

!" ucap Luk Tek Kui segera. Kuo Se Fen menghentikan langkahnya, tanyanya heran: “Ada urusan apakah ketua Cen Yen piauwki itu ?”

Luk Tek Kui menelan air ludahnya pula, sambungnya :

“Kami berpisahan hari telah menjelang magrib, tidak dinyana ditengah jalan berjumpa dengan seorang kawan lama yang bekerja pada sebuah piauwki dikota San Tung karena ia pun hendak pulang ke Se Sui, maka kami berjalan ber-sama2. Setelah kami minum arak di sebuah depot, kami meneruskan perjalanan pada malam hari. Keesokan harinya, menjelang subuh, kami melalui daerah Lung Tuh. "

“Cepatlah kau lanjutkan !"

“Baru saja kami duduk istirahat dalam rimba, lantas kami melihat ada belasan orang yang berseragam hitam serta bertopeng hitam pula berlarian menuju kedalam rimba, karena melihat gelagatnya kurang baik, segera kami menyembunyikan diri dalam semak belukar! Tidak lama kemudian hari mulai terang, ditengah jalanan nampak ada dua penunggang kuda mendatangi mereka, kami hanya dengar dua orang itu berseru pelan : “Datang, datang." Sekejap saja dari dalam hutan itu berkelebat keluar serta menghadang di tengah2 jalan."

“Apakah yang datang ketua Cen Yen piauwki ?" “Benar, ketua Cen Yen piauwki Ban Cen San,

hanya membawa seorang pesuruh saja, karena jarak persembunyian kami dengan jalan agak jauh, hingga kami tidak dapat mendengar pembicaraan mereka, kami melihat mereka saling tempur, ketua Ban dikeroyok oleh sepuluh orang, berseragam hitam terdengar suara hut, hut, dari desiran sabetan cambuk panjang ketua Ban, kemudian ia tersungkur jatuh. "

Wajah Kuo Se Fen menjadi tegang, katanya : “Ia terluka ?"

“Dia jatuh dan mati !"

“Jangan sembarangan omong ! Orang mati mana bisa hidup kembali ?"

Betulkah ada orang yang sudah jatuh mati bisa hidup kembali ?

Mari kita mengikuti lanjutan cerita di bawah ini.

***

Bab 3

MEMANG tidak salah ucapan Kuo Se Fen, bukankah kini si Cambuk naga harimau Ban Cen San telah muncul dan berada dimuka Hai Yang piauwki ?

Luk Tek Kui pun bingung, ia hanya mengiyakan, namun ia tetap melanjutkan keterangannya.

Mereka menyeret mayat Ban piauwto kedalam rimba, menguburnya disana, kemudian seorang dari mereka memungut cambuk naga harimau itu dan meloloskan seragam baju hitamnya, lalu menjura pada pemimpinnya seraya berkata : “Lengcu, ada pesan lain ?" “Tidak ada, kau pergilah !” ucap yang dipanggil Lengcu itu, kemudian orang itu membuka topeng mukanya serta pergi dengan mencongklang kuda Ban piawto.

Luk Tek Kui berhenti, tanyanya tiba2, “Tuan besar, tahukah siapa dia ?”

“Siapakah ia ?” Kuo Se Fen balik bertanya sambil mengelus-eluskan jenggotnya dengan tenang.

Wajah Luk Tek Kui berobah tegang, sahutnya perlahan :

“Aku lihat dengan jelas sekali, setelah ia membuka topeng mukanya, ternyata orang itu adalah Ban piauwto pula."

Sinar mata Kuo Se Fen berkilat tajam, tanyanya dengan suara tertekan :

“Apa kau tidak salah lihat ?”

“Aku dan kawanku itu melihatnya amat jelas, mana bisa salah.”

“Emm, bisa terjadi hal demikian anehnya ? Oh iya, bukankah kau bilang ia bersama seorang pembantunya, apakah ia turut binasa ?"

“Pembantunya itu telah dibuat pingsan, kemudian ia direbahkan diatas kuda serta dibawa pergi oleh Ban piauwto palsu itu.”

Wajah Kuo Se Fen nampak agak kaku, ia memandang dengan tajam pada diri Luk Tek Kui, lalu ucapnya: “Soal ini apakah kau telah menceritakan pada orang lain ?" “Tidak, hamba tidak berani sembarangan omong, kalau saja bukan Ban piauwto datang kesini kini, hamba masih tidak berani memberitahukannya pada tuan besar!"

“Syukur disini tiada orang luar yang mendengar ceritamu, dan selanjutnya jangan kau membuka rahasia ini pada siapa pun."

“Ya, tuan besar !"

“Baik mari kita keluar." kemudian mereka melangkah pergi.

Hati Kuo Se Fen nampak sangat berat dan tertekan, hingga ia berjalan tanpa mengucapkan sepatah katapun, melihat tuan majikannya demikan, Luk Tek Kui tidak berani banyak bicara dan hanya mengikuti dari belakang.

Baru setelah mendekati ruangan muka, Luk Tek Kui melangkah maju mendekati majikannya, panggilnya, “Tuan besar !"

“Emm !" Kao Se Fen menyahut hanya sepatah. “Keterangan yang kuberikan tadi adalah benar,

harap tuan besar jangan ragu2 mengenai soal ini, hati2lah terhadap mereka," berkata Luk Tek Kui dengan sungguh-sungguh.

“Aku tahu," sahut Kuo Se Fen sambil menganggukkan kepala.

Diruangan besar, nampak Hang Ka Han sedang mengobrol dengan si cambuk naga harimau Ban Cen San dan Cu Ju Hung. Kuo Se Fen cepat melangkah masuk sambil berkata gembira :

“Ban toako, maaf atas kelambatan menyambut kedatanganmu !"

Melihat gurunya datang, Hang Ka Han cepat bangkit berdiri dan berkata :

“Itu guruku datang."

Ban Cen San dan Cu Ju Hung ikut bangkit dari duduknya, dengan ketawa riang Ban Cen San menyambutnya, “Kuo lotee, telah lama kita tidak bertemu." lalu ia berpaling pada Cu Ju Hung dan berkata : “Inilah ketua Hai Yang Pay Kuo Se Fen yang menjagoi daerah utara ini !” kemudian ia memperkenalkan pada Kuo Se Fen : “Ia adalah Cu cungkuan Cu Ju Hung dari keluarga Kang di Kim Lin."

Kuo Se Fen menjura memberi hormat, katanya tertawa :

“Aku gembira dapat berkenalan dengan saudara Cu yang terhormat, silahkan duduk !"

Cu Ju Hung balas menghormat, katanya : “Aku membawa pesan dari toa-kongcu untuk menyampaikan salam pada saudara Kuo."

Kemudian mereka duduk.

Tanpa menunggu tamu2nya buka suara, Kuo Se Fen mendahului bicara dan ucapnya sambil menjura :

“Terima kasih atas surat yang toako berikan pada siauwtee, kejadian ini sungguh membuat hati siauwtee merasa pedih, tidak dinyana dalam Hai Yang Pay ini terdapat seorang murid yang durhaka, dirinya telah terusir keluar, kini ia bukan murid Hai Yang Pay."

Ia tidak menanyakan maksud dari kedatangan mereka, dan mendahului dengan keterangan pengusiran diri Goan Tian Hoat dari Hai Yang Pay, hingga membuat kedua orang itu bungkem tak berdaya.

Ban Cen San tercengang, sahutnya dengan tertawa getir :

“Mengingat persahabatan kita yang telah puluhan tahun, maka aku berani menyampaikan surat itu. Maksud dari suratku itu tidak lain hanya supaya Kuo lotee sebelumnya dapat mengetahui soal ini, hingga lebih waspada setelah murid lotee kembali ! Keputusan yang lotee ambil ini sungguh amat ter-buru2, setelah ia mendengar bahwa dirinya telah diusir dari Hai Yang Pay ini, mana ia berani pulang ke Hai Yang Pay lagi ?"

Diam2 dalam hati Kuo Se Fen tertawa dingin, nampak mukanya cemberut dan katanya marah : “Sungguh berani murid durhaka siautee itu, sampai2 berani melakukan perbuatan yang amat terkutuk, lebih baik tidak kembali pulang, kalau tidak, hm ! Siautee akan membinasakannya demi ketenteraman kaum bulim."

Karena saking marahnya, kaki kanannya dijejakan keatas lantai, hingga sepotong lantai hancur berantakan. Cu Ju Hung tertawa kecut, ucapnya : “Saudara Kuo adalah golongan cianpwee dari kaum bulim, ada sesuatu yang hendak siautee tanyakan, entah keberatan atau tidak ?"

“Silahkan saudara Cu ajukan !"

“Saudara Kuo telah mengusir muridmu yang durhaka, entah bagaimanakah yang akan saudara Kuo lakukan kemudian?"

“Ia telah kuusir, maka kini ia bukan muridku pula."

“Ucapan saudara Kuo memang tidak salah, tapi siautee merasa masih ada sesuatu yang harus saudara pertimbangkan,” ucap Cu Ju Hung tertawa kecut.

Sinar mata Kuo Se Fen berkilauan tajam, sahutnya : “Menurut pendapat saudara Cu…..”

Nampak Cu Ju Fung tertawa dingin, potongnya :

“Pengusiran saudara Kuo adalah sebagai hukuman terhadap diri seorang murid yang melakukan kesalahan, tapi terhadap barang kawalan yang dirampas itu, saudara Kuo belum memberikan pertanggungan jawabnya.”

Mendengar ucapan itu, hati Kuo Se Fen jadi panas, tapi ia tetap tenang, tidak menampakkan kemarahannya, ia hanya berkata sambil tertawa: “Menurut pendapat saudara Cu, menghendakiku menangkapnya !”

“Goan Tian Hoat adalah murid saudara Kuo, secara kebijaksanaan, saudara Kuo mempunyai kewajiban atas persoalan ini !" Tiba2 nampak wajah Kuo Se Fen merah padam, dengan menekukkan wajahnya ia menyahutnya marah :

“Hm ! Entah ini apakah pendapat dari toakongcu atau hanya pendapat diri saudara pribadi ?”

Ditanya demikian, Cu Ju Hung tertawa dingin, sahutnya kecut :

“Pendapat siautee ini adalah wajar, yanganlah saudara Kuo marah karena begitulah peraturan dunia Kang-ouw !"

“Peraturan dunia Kang-ouw tidak dapat digunakan dalam soal ini."

“Kalau sdr Kuo berpendapat demikian, siautee- pun tak dapat berbuat apa2."

Dengan memandang tajam, Kuo Se Fen bertanya pula :

“Saudara Cu, telah berapa lamakah saudara bekerja pada keluarga Kang ?"

“Siautee baru empat bulan disana."

Tiba2 nampak Kuo Se Fen mendongak keatas dan tertawa, sambungnya :

“Kalau demikian, tidak bisa menyalahkan sdr Cu, pantas sedikit pun sdr Cu tidak mengetahui hubungan antaraku dengan keluarga Kang, Goan Tian Hoat menjadi muridku adalah berkat perantaraan Kang toako yang perkenalkan padaku, kalau memang hendak menuruti peraturan dunia kang-ouw, seharusnya akulah yang berhak meminta pertanggungan jawab dari keluarga Kang."

Ban Cen San mengerutkan keningnya, katanya turut bicara :

“Harap Kuo toako jangan salah paham, barang siautee kawal kali ini sungguh lain dari pada yang lain, kalau tidak paling banyak hanya ganti kerugian saja sudah beres tiada urusan lagi, mana siautee berani merepotkan toako.”

“Kalau begitu barang itu benar2 lain pada yang lain.”

Ban Cen San dengan menggenggamkan kedua kepalnya, keluhnya:

“Barang biasa masih dapat diganti dengan harga berlipat ganda, walaupun siautee tidak sanggup untuk menggantinya, toh sebagai pesero keluarga Kang-pun masih mempunyai kemampuan untuk ini. Ai ! Kali ini benar2 serba sulit adanya."

Nampak Kuo Se Fen keheran-heranan, tanyanya

: “Atas keterangan sdr Ban, urusannya sedemikian besar, sebenarnya barang apakah sampai demikian berharga ?"

“Ai ! Barang itu adalah sebuah peti besi kecil." “Tahukah apa isinya?"

Kemudian Ban Cen San menceritakan hal ihwal barang titipan yang dikawal itu, bagaimana ketika pemuda baju hijau itu menitipkan untuk dikawal ke kota Wu Huh dengan tanpa memberitahukan isinya, menceritakan lantas menerima surat ancaman pada malamnya, hingga meminta bantuan pada keluarga Kang, hingga menyebabkan terlukanya Kang Puh Cing.

Ia berhenti bercerita sejenak kemudian melanjutkan :

“Pada tengah hari esoknya, siautee baru tiba kembali ke piauwki dan menerima laporan dari pengurus perbendaharan mengenai peti besi kecil itu, karena barangnya kecil mudah dibawa, lagi pula tempat tujuannya tidak berapa jauh, maka siautee hanya membawa seorang pembantu saja untuk mengawalnya, walaupun siautee tidak percaya dan memang tidak takut terhadap surat ancaman itu, namun demi lebih hati2 siautee serahkan peti besi itu pada pembantu untuk membawanya. Sungguh tidak disangka, setibanya didekat Lung Tu, siau-tee disergap oleh belasan orang yang mengenai seragam serta bertopeng hitam, hingga selain siautee mendapat luka, pembantu siauteepun tak luput terluka oleh Ying Cua Kung, karenanya peti besi kecil itu terampas pergi oleh mereka."

Karena Kuo Se Fen telah mendapat keterangan dari Luk Tek Kui, maka ia tidak begitu saja mempercayai ceritanya. Ia bertanya pula.

“Hingga kini apakah saudara Ban belum mengetahui isi peti itu?"

“Siautee tidak mengetahuinya."

“Kalau begitu terhadap alamat di kota Wu Huh itu sudahkah saudara Ban mengutus orang untuk memeriksanya ?" “Sudah diperiksa, tapi pada alamat itu, bukan saja tiada penghuninya, bahkan disana tidak terdapat orang yang bernama seperti yang tercantum pada kartu nama si penerima."

“Kalau begini benar2 aneh !"

Tiba2 Ban Cen San menekankan suaranya ucapnya : “Menurut dugaan siautee, peti besi itu mungkin adalah kepunyaan Keluarga Lie dari Po Peh !"

Mendengar ucapan ini, hati Kuo Se Fen bertambah heran, betapa tidak, keluarga Lie adalah salah seorang dari keempat datuk persilatan yang sangat disegani dan ditakuti oleh kaum bulim, masakah barangnya masih perlu dikawal oleh Cen Yen piauwki ? Bukankah suatu keganjilan yang tidak masuk diakal ?

Maka cepat ia bertanya heran : “Mungkinkah kepunyaan keluarga Lie ?”

“Siautee menduga demikian karena mendapat kabar bahwa Yap cungkuan dari keluarga Lie itu, pada beberapa hari yang lalu mendapat serangan dalam perjalanan hingga tewas…”

“Ini tidak salah, aku pun telah mendengarnya, tapi mengapa kejadian ini ada sangkut pautnya dengan peti besi kecil itu."

“Menurut kata orang, ketika Yap cungkuan mati binasa, pada tubuhnya kedapatan sebuah peti besi kecil."

Kuo Se Fen tercengang, katanya: “Hmm, ada kejadian demikian?" “Kuo toako mungkin belum tahu, kini si Telapak Tangan Dewa Lie Kong Ce sedang berobat penyakit gatel2nya di kelenteng Pak yun digunung Peh Sia."

“Oh !" sekali lagi Kuo Se Fen dibuat heran.

Ban Cen San melanjutkan kata2nya. “Menurut pendapat siautee, isi dari peti kecil itu mungkin menyangkut soal mati hidupnya si telapak tangan dewa itu !"

Lagi2 Kuo Se Fen dibuat tercengang, kecurigaannya bertambah, sungguh ia heran, kejadian yang menimpa Cen Yen piauwki baru berselang tiga hari, dalam waktu sedemikian singkat, bagaimana ia dapat mengetahui begitu jelas semua persoalan? Tapi ia tidak memperlihatkan kecurigaan hatinya, cepat2 mengerutkan keningnya yang dibuat2, ia berkata:

“Kalau betul dugaan saudara Ban, soal peti besi kecil ini sungguh tidak boleh dipandang enteng."

Dengan menampakan wajah yang penuh gelisah, Ban Cen San berkata pula:

“Bukan saja peti besi kecil itu besar manfaatnya, maka kalau ternyata benar kepunyaan keluarga Lie yang dibawa oleh Yap cungkuan, si telapak tangan dewa mana mau mengerti? Bisa2 timbul permusuhan hingga saling mendendam, dengan demikian piauwki siautee bersama keluarga Kang serta Hai Yang Pay bertiga terlibat dalam soal ini ? Maka karena urusan sangat menguatirkan, siautee dan Cu cungkuan cepat2 datang kesini untuk merundingkannya." Kuo Se Fen mengeluh perlahan, sahutnya kemudian: “Apakah saudara Ban sudah yakin dalam soal ini?"

“Bila siautee masih ragu2, tentu tidak datang mencari Kuo toako. Sesungguhnya pekerjaan mereka amat lihay luar biasa, hingga sedikitpun tidak meninggalkan bekas maupun ciri2 untuk diambil patokan dalam usaha siautee mencari kembali, hanya......" ia berkata sampai disini ia berhenti tidak meneruskan.

“Hanya bisa mendapatkannya kembali dari murid durhakaku itu ?" potong Kuo Se Fen.

Diceplos demikian, Ban Cen San agak kemalu2an dan sahutnya :

“Mengingat hubungan persahabatan kita yang telah puluhan tahun, siautee tak perlu berlaku sungkan untuk mengakuinya, dan kenyataan pun memang demikian, bila hendak menyelidiki soal ini haruslah dimulai dari diri Goan Tian Hoat. Telah belasan tahun ia menjadi murid toako, andaikata toako tidak dapat mengetahui kawan2nya yang sering ia gauli, sebagai saudara seperguruan murid toako yang lain mungkin sedikitnya ada mendengarnya, maka siautee mohon bantuan toako mengutus beberapa orang yang boleh diandalkan untuk menyelidiki dimana kini ia berada."

Hati Kuo Se Fen menjadi dongkol, dan tahulah ia berputar2 Ban Cen San bicara, namun tujuan dari maksudnya tak lain tak bukan hanya hendak mengetahui tempat persembunyian dari muridnya, tapi muak terhadap kekejaman mereka yang tidak mau melepaskan diri muridnya, tapi walaupun hatinya panas, sebagai kaum bulim yang kawakan, ia masih bisa menekan perasaannya dan menyabarkan diri.

Tiba2 Cu Ju Hung turut bicara, ucapnya: “Maksud toa-kongcu mengutusku datang kesini,

adalah hendak minta bantuan saudara Kuo, supaya bisa mengawasi daerah utara ini, karena daerah bagian selatan, kami dari keluarga Kang telah keluar muka meminta bantuan kaum bulim disana, untuk mencari jejak Goan Tian Hoat !"

Tanpa ragu2 Kuo Se Fen mengangguk serta katanya :

“Bila tidak ada bantuan dari Kang toako almarhum dahulu, Hai Yang Pay mana bisa tegak berdiri ? Urusan ini sedemikian pentingnya bagaimanapun aku bersedia membantu. Hanya belum jelas kemana arah perginya Goan Tian Hoat, sebaiknya kita membagi diri menyelidikinya, ini adalah cara yang paling tepat. Akan kuutus orang untuk meminta bantuan kaum bulim dari daerah utara ini guna menangkapnya. Tapi bila ia tidak munculkan diri didaerah utara, aku tak dapat membantu banyak.”

“Ini adalah wajar, daerah bagian selatan adalah tanggungan dari keluarga Kang, kini bagian utara dibawah pengawasan saudara Kuo," sahut Cu Ju Hung cepat. “Ha ha haha Bila Kuo toako bersedia membantu terhadap daerah utara ini, kami tidak merasa kuatir pula," ucap Ban Cen San tertawa.

Menjelang tengah hari, tanpa disuruh oleh suhunya, Hang Ka Hen kemudian memesan pelayan untuk menyediakan makanan menjamu kedua tamu itu.

Setelah pelayan selesai menyediakan makanan dan minuman di atas meja, Kuo Se Fen bangkit berdiri, berkata dengan sikap hormat:

“Kalian datang jauh2 tentu lelah dalam perjalanan, mari kita mengisi perut dahulu !"

“Terima kasih Kuo toako, kami merepotkan saja, terhadap toako siautee pun tidak berlaku sungkan pula."

Kemudian mereka bertiga mengisi perut sambil mengobrol, pandangan mata Kuo Se Fen terus menerus mengikuti gerak-gerik si cambuk naga harimau Ban Cen San, namun sedikitpun ia tak dapat menemukan ciri2 bahwa ia adalah Ban Cen San palsu.

Tapi ia yakin Luk Tek Kui tak berani membohonginya, sementara pikirannya timbul untuk bisa memecahkan teka-teki yang membingungkan hatinya, maka cepat ia berkata sambil ketawa: “Ha Ha ! Hampir2 aku lupa, ada sesuatu hal yang harus kuucapkan terima kasih terhadap saudara Ban !"

Ban Cen San tercengang, tanyanya heran: “Urusan apakah itu?" “Masih ingatkah saudara Ban pada tiga bulan yang lalu, ketika aku sedang berada di kota Kim Lin melawat almarhum Kang toako ? Sewaktu kita saling ngobrol dalam pertemuan, aku masih ingat ketika itu aku pernah mengatakan kegemaranku, bahwa aku suka pada lokio besar yang direndem dalam cuka asem (acar lokio) tapi harus cuka asem Yan Ho Yen dari Cen Ciang yang sedikitnya telah disimpan belasan tahun. ”

Belum habis ia bicara, Ban Cen San sudah memotongnya : “Oh ! Ya memang tidak salah ! Kuo toako pernah berkata demikian padaku."

Mendengar jawaban itu hati Kuo Se Fen terkejut, dalam hatinya ia memaki, memang pada tiga bulan yang lalu, ia pernah mengobrol lama dengan Ban Cen San tapi sesungguhnya ia tidak pernah mengatakan kegemarannya itu. Tapi walaupun demikian ia tetap tenang melanjutkan kata2nya.

“Beberapa hari kemudian, saudara Ban lalu suruh orang mengantarkan dua guci cuka asem Yan Ho Yen itu, kini baru dapat kuucapkan terima kasih dihadapan saudara Ban."

“Ha Ha ! Ini tidak berarti apa2, dua guci cuka asem tidak ada harganya tidak usah harus berterima kasih." ia berhenti sebentar kemudian sambungnya pula : “Sebenarnya cuka asem Yun Ho Yen dapat dibeli di-mana2, karena sangat terkenal harumnya, tapi hendak mencari simpanan yang telah belasan tahun, memang agak sulit, siautee mencarinya kesini-sana hanya dapat dua guci saja, bila Kuo toako menghendakinya lebih banyak, sedikitnya haruslah bersabar lima tahun pula." Walaupun ceritanya di-buat2, tapi nampaknya seperti benar2 terjadi saja !

Kuo Se Fen memandanginya sambil mesem- mesem, hatinya sungguh terkejut luar biasa, katanya dalam hati: “Kau bilang tidak ada artinya, hm ! Justru besar artinya bagiku ! Kalau begitu saudara Ban yang sebenarnya memang telah dibinasakannya, entah siapakah sebenarnya orang ini ? Sampai bisa menyamar sedemikian rupa."

Untuk jangan membuat orang timbul kecurigaan, Kuo Se Fen tetap pura2 tidak mengetahui samaran orang ini, sautnya segera : “Sungguh beruntung nasibku mendapat rejeki demikian besar, sungguh terima kasih atas kebaikan saudara Ban yang telah memberi rejeki ini." Kemudian ia berpaling pada Cu Ju Hung serta berkata :

“Belum lama aku dengar kesehatan ji-kongcu sedikit terganggu, entah apakah kini sudah baikan keadaannya ?"

Wajah Cu Ju Hung nampak berobah sedih dan sahutnya mengeluh : “Aii ! Ternyata saudara Kuo belum juga mengetahui, ji-kongcu telah meninggal

!"

Dengan pura2 terkejut, Kuo Se Fen berseru kaget : “Apa ? Kau maksudkan keponakanku Kang Han Cing telah meninggal?"

“Selama ini memang kesehatannya kurang begitu baik, setelah tuan besar meninggal, tubuhnya kian lemah dan penyakitan. Pada tiga hari yang lalu timbul kebakaran didalam rumah, kami berusaha menolongnya dari malapetaka itu, tapi setelah api berhasil dipadamkan, ternyata ia telah terbakar hangus .....Aiii ! Sungguh malang nasibnya !”

Tiba2 tangan Kuo Se Fen menggeprak meja hingga semua cangkir arak yang terletak di atas meja itu berantakan jatoh ke lantai, namun sedikitpun ia bagaikan tidak menyadarinya, mulutnya kemak-kemik sambil mendongak keatas

:

“Almarhum saudara Kang, orang demikian bijaksana, selalu berbuat baik dan mengulurkan tangan terhadap orang yang membutuhkan pertolongannya, keturunannya tidak seharusnya mendapat nasib yang demikian buruk ! Ai, dimanakah keadilan Tuhan?"

Ban Ceng San pun turut sedih keluhnya: “Aku pun tak habis pikir, Kang Han Cing bisa mengalami nasib demikian malangnya, malapetaka ini sungguh membuat orang merasa ngenes ! Aii !” Kemudian sambungnya: “Sebenarnya dari wajahnya ia sedikit pun tiada mempunyai ciri-ciri umur yang pendek."

Apa yang diucapkan bertentangan dengan isi hatinya, ucapan yang terakhir diluar dugaan, tepat dengan kenyataan yang sebenarnya, bukankah Kang Han Cing luput dari bahaya maut yang mengancamnya dan tetap masih hidup?

Sebagai tuan rumah Kuo Se Fen tidak mau banyak bicara, ia tenangkan hatinya yang panas dan marah, ia tunjukan wajah berseri mesem, ucapnya : “Silahkan kalian minum, jarang kita mempunyai kesempatan ini.”

Selesai makan mereka mengobrol pula sebentar, kemudian Ban Cen San dan Cu Ju Hung minta diri untuk pergi.

Setelah mengantarkan tamunya pergi, hati Kuo Se Fen nampak berat, perasaannya amat tertekan. Pikirannya kalut. Ban Cen San kini ada orang yang menyamarnya, sudah tidak dapat diragukan lagi, hanya ia merasa heran orang bisa menyamar sedemikian rupa hingga sulit untuk dibedakan mana yang palsu dan mana yang asli, kalau orang bisa meniru suara lain orang ini tidaklah begitu mengherankan, tapi sampai2 bisa meniru gerak- gerik dan ketawanya dari kebiasaan seseorang sungguh membuat ia kagum dan sukar dimengerti. 

Ia mengenal Ban Cen San sudah puluhan tahun, maka terhadap diri kawan lamanya itu segalanya ia tahu jelas, tadi ia terus menerus meneliti diri Ban Cen San palsu, tapi sedikit pun tak dapat menemui perbedaannya, kalau tidak ia menguji dengan cerita acar lokio, hampir tidak mempercayai keterangan Luk Tek Kui.

Ia terus ber-pikir2 tokoh dari manakah Ban Cen San palsu itu? Dan apa maksudnya ia berbuat demikian ?

Kuo Se Fen duduk sendirian, otaknya terus digunakan untuk memecahkan kejadian-kejadian yang berentetan penuh teka-teki ini, semua ini terjadi dalam beberapa hari ber-turut2, walaupun ia tak menduga pasti, tapi ia mendapat kesimpulan bahwa semua ini adalah perbuatan seorang yang tidak mau menampakan diri dan sudah direncanakan sebelumnya!

Terpikir pula olehnya, dari keterangan Ban Cen San palsu disebut nama keluarga Lie dari utara, mungkinkah keluarga Lie menjadi sasaran mereka pula?

Si telapak tangan dewa Lie Kuan Tie adalah salah seorang dari 4 datuk silat di masa itu, menurut keterangannya, dia pergi ke gunung Pe Hia San kelenteng Pak Yun untuk berobat, ini sungguh mengherankan orang, baru2 ini tersiar kabar bahwa pengurus rumah tangga Yap cungkuan tiba2 mati dicelakai orang di Hai Yang, kejadian ini sungguh diluar dugaan orang.

Kaum kangouw memang telah menduga bahwa keluarga Lie dari utara ini mungkin telah terjadi sesuatu, hanya karena mereka rapat menutup mulut tidak mau membocorkan keluar hingga tidak dapat diketahui oleh orang luar.

Sungguh membuat orang terombang-ambing pikirannya ternyata keluarga Lie terus menerus mengalami malapetaka yang hanya dalam waktu setengah bulan saja !

Si rajawali bersayap emas Kuo Se Fen adalah ketua dari suatu partai, pengalaman sangat luas, setelah ia ber-pikir2 serta menguraikan semua ini, terasalah olehnya bahwa urusan amatlah genting tak boleh dipandang enteng. Nampak alisnya yang tebal itu mengerut tegang dan mulutnya kumat- kamit bagai orang kesurupan. Dunia kang-ouw akan dilanda malapetaka dan kekalutan. Didalam keadaan yang penuh amukan badai berbahaya ini bisakah Hai Yang Pay tetap berdiri tegak dan tidak mengalami kehancuran ?

Sekonyong-konyong suatu pikiran timbul dalam hatinya hingga membuat tubuhnya yang kekar itu menjadi bergidik hatinya kian menegang !

Jangan2 mereka telah mempunyai niat untuk meruntuhkan Hai Yang Pay. Kalau memang tidak demikian mengapa mereka terus2an mencari dan hendak membunuh Goan Tian Hoat? Andaikata Goan Tian Hoat karena menyaksikan perbuatan si Lengcu berbaju hitam itu yang membongkar peti mati Kang Sang Fung, toh ia hanya mengetahui jenazahnya telah hilang lenyap dan sedikitpun tidak mengetahui siapa orang yang berseragam hitam itu, kalau2 toa-kongcu Kang Puh Cing benar adalah si lengcu itu, hingga perlu membunuhnya untuk menutup rahasia, juga tidak seharusnya urusannya di-besar2kan sampai2 memfitnah Goan Tian Hoat melakukan perampokan.

Bila hanya menghendaki Goan Tian Hoat diusir dari Hai Yang Pay kiranya sudah cukup dengan sepucuk surat dari Ban Ceng San untuk membuatnya percaya, untuk apa harus datang sendiri? Bahkan mengikutsertakan seorang pengurus rumah tangga Kang. Bukankah semua ini sudah merupakan suatu tanda bahwa Cen Yen piauwki dan keluarga Kang akan melakukan suatu rencana jahat terhadap Hai Yang Pay ? Pikiran itu membuatnya kian menegang, dan nampak alisnya berdiri karena marahnya, ucapnya terhadap diri sendiri: “Hem! Aku mau lihat mereka hendak terang2an menghadapinya atau akan secara gelap2an dengan sembunyi2 mencelakai Hai Yang Pay ? Asal saja mereka berani melakukan sesuatu terhadap Hai Yang Fay, aku pun tidak akan segan membuka semua rahasia dan mengumumkan pada dunia kang ouw."

Baru saja ucapannya habis, nampak muridnya Hang Ka Hen berdiri seorang diri didepan pintu ruangan, kedua tangannya lunglai ke bawah bagaikan orang yang sedang kesima, mungkin hatinya kaget karena menyaksikan wajah gurunya yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.

“Ka Hen, kapankah kau masuk?" tegurnya.

Ditegur demikian Hang Ka Hen terkejut, cepat ia menjura, sahutnya: “Teecu baru saja datang."

Kuo Se Fen memerintah: “Segera kau beritahukan pada pengurus kantor bahwa mulai hari ini untuk sementara jangan menerima barang titipan apapun dan seluruh piauwto jangan meninggalkan piauwki, dan kumpul untuk terima perintah selanjutnya."

Sekali lagi Hang Ka Hen dibuat terkejut, dengan memandang suhunya ia berkata heran: “Suhu…”

“Kau cepat mengutus orang untuk panggil ji- susiok dan sam-susiok supaya datang se- lambat2nya pada tengah hari besok !" Hang Ka Hen tidak tahu apa yang telah terjadi ? Ia men-duga2 mungkinkah ini ada hubungannya dengan kedatangan Ban Ceng San dan Cu Ju Hung? Ia mengiakan perintah gurunya tapi kakinya tetap diam berdiri penuh tanda tanya, kemudian ia mengangkat pandangannya serta katanya : “Suhu, sebenarnya….”

Kuo Se Fen mengulapkan tangan dan berkata. “Tak usah kau banyak tanya, pergilah !" lalu ia melangkah masuk.

Diruang dalam, Yen Yuh Sing menyapa: “Suhu !" “Ji-suhengmu apakah sudah kembali?"

“Belum.”

“Kau tunggu di depan pintu timur, bila ia kembali suruh ia kesini, dan suruh orang panggil Luk Tek Kui kemari."

Setelah Yen Yuh Sing berlalu, Kuo Se Fen menghampiri Goan Tian Hoat dan Kang Han Cing. Katanya:

“Kalian duduklah." sambil mengulapkan tangan ia menyuruh mereka duduk.

“Suhu….”

Belum habis Goan Tian Hoat bicara nampak mata Kuo Se Fen melotot, bentaknya. “Anak, sungguh sembrono kau ini, kalian harus memanggilku Itio !"

Wajah Goan Tian Hoat menjadi merah dibuatnya, ia menunduk dan katanya :

“Benar." Kang Han Cing pun turut memanggilnya itio, tanyanya: “Itio, Ban losiok telah pergi ?”

“Ya.”

“Betulkah keterangan Luk Tek Kui ?" cepat Goan Tian Hoat bertanya.

“Ai ! Benar2 ia Ban ceng San !”

Goan Tian Hoat terkejut dan kesima, kemudian tanyanya pula : “Itio dapat membedakannya?”

Dengan menggelengkan kepalanya Kuo Se Fen menyahut lesu :

“Aku tidak bisa membedakannya, tapi dapat mengetahuinya dengan mengujinya, kemudian ia menceritakan semua itu dengan jelas.”

Tubuh Kang Han Cing bergidik mendengar cerita itu, ucapnya : “Benar-benar sudah terjadi hal2 demikian anehnya !"

Goan Tian Hoat pun terkejut, katanya heran : “Betapa   pun   hebat   ilmu   menyamar   dari

seseorang tapi bila diteliti oleh orang yang memang

sudah mengetahui palsunya, sedikit banyak tentu bisa dibedakannya, lebih2 bagi itio yang telah menjadi kawan puluhan tahun dengannya. Kalau begitu ilmu mengubah muka orang itu betul2 telah mencapai puncak kemahirannya hingga sukar buat orang lain untuk dapat membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.”

“Ai ! Bukan hanya hebat dan mahir saja, boleh dibilang sama dengan Ban Ceng San yang kukenal lama.” Kang Han Cing mengeluh, katanya kemudian : “Bagaimanakah pandangan itio terhadap persoalan ini ?”

Sambil mengelus jenggotnya Kuo Se Fen tersenyum, sahutnya :

“Mungkin orang ini adalah satu golongan dengan lengcu baju hitam itu, kini belum juga dapat kuketahui dengan jelas."

Ia berkata demikian karena tidak mau hal ini sampai menambah besar tekanan bathin hati Kang Han Cing, maka ia tidak menjelaskan lebih lanjut.

Goan Tian Hoat mengerutkan keningnya, “Itio, menurut pendapatku mereka mencari diriku hanyalah sebagai alasan belaka, mungkin tujuan yang sebenarnya adalah hendak mencari setori pada Hai Yang Pay !"

Diam2 dalam hati Kuo Se Fen mengagumi kecerdasan muridnya yang mempunyai pandangan sama dengan dirinya. “Kurasa mereka masih belum berani dengan terang2an memusuhi Hai Yang Pay," ucapnya mesem.

“Perasaanku. "

Belum habis ucapan Goan Tian Hoat tiba2 terdengar suara Luk Tek Kui dari luar :

“Entah ada perintah apakah tuan besar memanggilku ?"

“Kau masuklah."

Begitu ia melangkah masuk Kuo Se Fen berkata: “Mulai sekarang kau berjaga didepan pintu ruangan belakang ini, tanpa seizinku siapapun tidak diperbolehkan masuk."

“Apakah termasuk beberapa piauwsu disini ?" “Aku bilang siapapun tidak boleh masuk

termasuk murid2ku.”

“Ya, pesan tuan besar akan kukerjakan dan siapapun tak aku ijinkan masuk.”

Sambil meng-elus2 jenggotnya Kuo Se Fen berpesan pula. “Kecuali bila Yun Tai membawa Than Hoa Toh kemari kau suruh mereka masuk."

“Oh Cau piauwto pergi menjemput Than Hoa Toh ?”

“Jangan banyak tanya."

“Ya." Luk Tek Kui pergi keluar.

Kuo Se Fen berpaling memandang Kang Han Cing, katanya : “Hiantit (keponakan), istirahatlah dengan tenang jangan banyak pikir, yang penting pulihkan kesehatanmu dahulu."

“Aku sangat berterima kasih atas kebaikan serta budi pertolongan itio, hanya diriku telah terkena racun lunak hingga tenaga dalamku lenyap, dan menjadi lumpuh, mungkin penyakitku ini tak dapat diobati pula." berkata Kang Han Cing dengan sedihnya.

“Ilmu pengobatan Than Hoa Toh sungguh luar biasa tingginya, segala penyakit aneh yang sangat sukar diobati oleh orang lain selalu dapat tertolong dan dapat disembuhkan olehnya, penyakit hiantit yang tidak seberapa ini, dengan sendirinya tentu bisa disembuhkan."

Tiba2 terdengar suara Luk Tek Kui dari depan. “Tuan besar, Than sianseng telah tiba.”

“Baru kita bicarakan dirinya orangnya telah muncul." sambil mesem Kuo Se Fen melangkah keluar untuk menyambutnya.

Nampak olehnya Cau Yun Tai bersama Than Hoa Toh sedang berjalan mendatang. Kuo Se Fen mengepalkan kedua tangannya memberi hormat. “Selamat datang losian-seng! Maafkan kelalaian penyambutanku ini."

Than Hoa Toh kira2 berusia limapuluh tahun, wajahnya putih bersih, dengan sebelah tangannya meng-elus2 jenggot putihnya ia mengamat2i diri Kuo Se Fen dan ucapnya dengan tertawa: “Ha Ha, Aku kira siapa orangnya? Kau Kuo lopiauwto." ia berhenti dan batuk2 sebentar, dengan wajah yang kurang senang kemudian ucapnya pula : “Sepanjang jalan aku menanya pada saudara kecil ini, siapakah sebenarnya yang memanggil aku untuk berobat, tapi ¡a tidak mau memberitahukannya."

Kuo Se Fen cepat menjura dan sahutnya: “Ini adalah pesan dariku supaya jangan memberi tahu sebelum tiba disini."

Lalu ia mempersilahkan tamunya itu masuk keruangan tamu.

“Mengapa?" tanya Than Hoa Toh tidak senang. “Ini karena keadaan terpaksa, keponakanku di Kung Ce Hu karena dicelakai oleh musuhnya sehingga gerak jalannya terganggu, kemarin dulu dengan diantar oleh saudaranya datang kesini untuk berobat. Untuk menghindari gangguan dari musuhnya dalam pengobatan, maka aku memesan muridku ini supaya rahasia ini jangan sampai tersiar keluar.”

“Oh sebab ini, aku tidak begitu jelas urusan dalam dunia kangouw."

Setelah mereka duduk Kuo Se Fen berkata pada Goan Tian Hoat dan Kang Han Cing berdua: “Cepat kalian memberi hormat, ia adalah Than sianseng yang sangat tersohor namanya !" Lalu berkata pada Than Hoa Toh untuk memperkenalkannya : “Mereka adalah keponakanku yang datang dari Kung Ce Hu !"

Goan Tian Hoat bersama Kang Han Cing menjura memberi hormat :

“Terimalah hormat buanpwee ini Than sianseng

!"

Sinar mata Than Hoa Toh berkilatan ia

mengamat2i diri mereka dan kemudian bertanya: “Tak usah berlaku sungkan. Ada seorang pendekar she Ong bernama Ong Cen Bu entah kalian mempunyai hubungankah dengannya ?"

Cepat Goan Tian Hoat menyahutnya : “Itu adalah toape buanpwee." “Ha ha, Kuo lopiauwto dan Ong tayhiap adalah sahabat kentalku, kalau begini kita bukan asing lagi."

Sementara seorang pelayan membawakan minuman : “Silahkan minum sianseng !"

Than Hoa Toh mengangguk kecil kepadanya, berpaling pada Goan Tian Hoat.

“Bagaimanakah saudaramu ini dicelakai oleh musuhnya ?"

“Selama dua bulan ini koko buanpwee kian menyusut kesehatannya sampai2 jalan pun harus dituntun oleh orang, kemungkinan besar ini adalah karena dicelakai orang secara diam2.”

Sinar mata Than Hoa Toh menyorot terang tanyanya : “Apakah sebab musabab penyakitnya ?”

“Buanpwee mencurigai koko dicelakai oleh orang karena ada dua kemungkinan.”

“Apakah dua kemungkinan itu ?" tanya Than Hoa Toh penuh perhatian.

“Satu kemungkinan, terkena suatu racun lunak yang daya kerjanya perlahan, dan kemungkinan yang lain, terluka oleh suatu ilmu pukulan yang ia tak sadari."

“Hemm, bila ia terkena suatu racun lunak aku masih bisa mengobatinya, tapi andaikata penyakitnya memang terluka oleh ilmu silat yang tidak menampakkan ciri2nya, sudah terang aku tidak dapat menolongnya." Kuo Se Fen cepat berkata : “Aku sendiri telah memeriksanya tapi tidak mendapatkan sedikit ciri2pun, maka minta pertolongan sianseng untuk memeriksanya."

Walaupun Kuo Se Fen menyatakan bahwa penyakit itu karena terkena suatu racun lunak, akan tetapi dari kata2nya sudah dapat ditangkap arti sebenarnya dari ucapnya itu, betapa tidak ia dan Ong Cen Bu berdua adalah orang yang mempunyai ilmu kepandaian silat tinggi, bila memang terluka oleh suatu ilmu pukulan, bagaimana mereka tidak tahu ? Maka dengan sendirinya ia harus mengatakan bahwa penyakitnya disebabkan terkena oleh suatu racun lunak.

Kemungkinan terluka oleh suatu ilmu pukulan yang dikemukakan oleh Goan Tian Hoat sebenarnya hanyalah kata2 tambahan untuk jangan sampai maksudnya diucapkan secara langsung dan suhunya Kuo Se Fen pun cepat dengan cara halus menangkis kemungkinan ini, memang demikianlah bagi kaum bulim yang telah berpengalaman untuk bisa mengutarakan sesuatu hingga tidak dicurigai orang.

Than Hoa Toh menganggukan kepalanya sambil tangannya meng-elus2 jenggotnya yang hanya beberapa lembar seperti jenggot kambing. Kemudian berkata :

“Coba aku periksa dahulu." lalu ia berjalan ke suatu kursi di pinggiran jendela dan duduk disana. Goan Tian Hoat mengikuti dengan menuntun Kang Han Cing yang kemudian didudukan disebuah kursi disamping Than Hoa Toh, ia mengambil sebuah buku tebal yang kemudian ia letakan dibawah telapak tangan Kang Han Cing.

Than Hoa Toh memegang pergelangan tangan Kang Han Cing dengan tiga jari tangannya, matanya terkatup, tidak berapa lama matanya terbuka dan seperti itu pula ia memeriksa denyutan darah dipergelangan tangan kanan, seperti pertama lamanya, baru ia buka matanya pula, melepaskan pergelangan tangan Kang Han Cing, kemudian ia menyuruhnya mengangakan mulut, melihat lidahnya, dengan suara pelan sekali ia berkata: “Denyut darahnya agak tersumbat dan lemah nampaknya jantungnya kurang normal….”

“Ilmu pengobatan sianseng amat mahir, apakah sianseng telah mengetahui penyakitnya ?" tanya Kuo Se Fen.

“Dari jalan darahnya tidak ada ciri2 dilukai oleh suatu ilmu pukulan, karena jalan darahnya tidak ada sedikit bengkak pun seperti lazimnya bila kena terpukul atau tertotok."

“Kalau begitu apakah terkena racun ?” tanya Goan Tian Hoat.

(Bersambung 3)