Pendekar Tanpa Tandingan Jilid 10

 
Jilid 10

Akan tetapi baru saja kata-kata ini habis diucapkan, terdengarlah bentakan yang sangat mengejutkan mereka:

“Bangsat kurcaci, siapakah yang telah mengacau di tempat ini?!”

Serentak semua orang menegok ke arah datangnya suara bentakan dengan siap siaga, akan tetapi apa yang mereka lihat hanya segerombolan hutan siong yang kegelap-gelapan. Bun Liong dan kawan-kawannya menjadi heran karena suara bentakan itu tadi jelas terdengar dari arah itu dan kedengarannya pun jelas sekali seakan-akan orang yang membentak berada di dekat telinga mereka. Akan tetapi, mana orangnya?

“Souw sicu, waspadalah,” ujar Can Po Goan memperingatkan karena orang tua yang sudah banyak pengalaman ini segera maklum akan hal itu. “Orangnya masih berada di dalam hutan akan tetapi suara bentakannya sudah terdengar dekat sekali. Ini menandakan bahwa orang itu memiliki khi-kang tinggi, sehingga dapat melakukan Coan-in-jip-bit (mengirim suara dari tempat jauh), dan seorang yang sudah memiliki khi-kang tinggi, tentu saja ia bukan orang sembarangan…….”

Mendengar keterangan ini, Bun Liong yang cerdik cepat menangkap seorang lasykar bajak yang kebetulan turut berkumpul disitu dan pemuda ini lalu mengajukan pertanyaan:

“Siapakah orang yang membentak dari dalam hutan itu? Jawablah terus terang!”

Bajak itu meringis kesakitan karena lengannya yang dipegang oleh pemuda itu serasa digencet jepitan besi dan dengan suara terbata- bata karena menahan rasa sakit, bajak itu memberi keterangan: “Beliau itu adalah ayah angkat dari bekas pemimpin kami Ma Gu Lin…….”

“Namanya…….?” Bun Liong menukas dengan tak sabar.

“Namanya, hamba tidak tahu, kami mengenal dan memanggilnya dengan sebutan tay-ong-hu (Ayah dari raja besar) dan ” Perkataan bajak ini jadi terputus sampai di situ karena dari hutan siong yang kegelap-gelapan itu, tiba-tiba muncul seorang kakek bertubuh tinggi besar dan sambil mengeluarkan teriakan buas, kakek tersebut maju menyerang mereka dengan goloknya yang digerak-gerakkan begitu cepat.

Beberapa orang anggauta Pauw-an-tui yang berdiri paling depan mencoba menghadang kakek itu sambil menggerakkan senjata mereka, akan tetapi sambil ketawa kakek memutarkan goloknya. Dan sekali putar saja, terpental dan terbabat putuslah senjata- senjata para penghadangnya dengan jeritan-jeritan mengerikan dari tiga orang anggauta Pauw-an-tui yang kemudian roboh berlumuran darah!

Bukan main terkejutnya Bun Liong, Yang Hoa dan Can Po Goan melihat keganasan kakek itu. Untuk mencegah lebih hanyak korban lagi bagi pihaknya, maka Can Po Goan cepat-cepat berseru, “Minggir semua! Biar aku menghadapinya…….!”

Sambil mengucapkan kalimat itu, Can Po Goan melompat maju dan goloknya menangkis golok si kakek yang buas. Akan tetapi bukan main terkejutnya Can Po Goan ketika goloknya beradu dengan golok di tangan kakek itu, bagaikan sebatang pohon pisang melawan pisau tajam, golok Can Po Goan telah terbabat putus menjadi dua!

Disamping kaget, Can Po Goan juga merasa heran karena goloknya yang terbuat dari baja tulen itu dapat dibikin buntung oleh golok kakek itu. Maka maklumlah bahwa golok si kakek itu adalah sebilah golok mustika!

Kakek itu tertawa terbahak-bahak lagi dan tiba-tiba ia menubruk ke arah Can Po Goan dengan serangan yang berbahaya. Akan tetapi biarpun dalam kekagetan dan bertangan kosong, Can Po Goan tidak menjadi gugup dan dapat mengelak dengan mudah.

Pada saat itu, Yang Hoa tak dapat tinggal diam. Melihat betapa golok di tangan Can Po Goan telah menjadi buntung dan tak dapat dipergunakan lagi, dara ini lalu berseru keras dan melompat dengan pedang di tangan, menusuk lambung kakek lihay itu. Kakek itu ketawa lagi dengan suara yang sangat ganjil sambil menggerakkan goloknya menangkis tusukan pedang si nona.

“Trangggg…….!” Bunga api berpijar ketika pedang dan golok itu beradu dan pedang Yang Hoa tahu-tahu terlempar ke udara karena ketika sepasang senjata tadi bertemu tenaga yang besar membuat tangan gadis itu tergetar sehingga pedangnya terlepas dari cekalannya dan terpental ke atas.

Seiring dengan, itu si kakek dengan gerakan luar biasa cepatnya membabatkan goloknya ke bawah ke arah kaki Yang Hoa. Tapi nona ini dengan tak kalah cepatnya lalu melompat ke atas, di samping menghindarkan kakinya dari sabetan golok ternyata tubuh gadis ini terus melesat ke udara menyusul pedangnya yang terpental tadi.

Dan sebelum pedang meluncur ke bawah, tangan kanannya telah berhasil menyautnya, kemudian ia menurunkan tubuhnya di tempat yang agak jauh dari kakek tadi. Pedangnya diperiksanya dan ia merasa lega ketika melihat bahwa pedang itu sedikitpun tidak rusak. Cepat ia melompat maju hendak menerjang kakek itu, namun maksud ini diurungkannya karena ketika ia melihat Bun Liong sudah bergebrak dangan kakek itu!

Ternyata ketika melihat pedang calon isterinya terlempar ke udara dan tubuh nona itu melesat ke atas, Bun Liong telah berlaku sebat dan sekali saja tubuhnya berkelebat, tahu-tahu pemuda ini sudah berhadapan dengan kakek luar biasa itu Sambil tertawa bergelak-gelak lagi si kakek menyambut kedatangan pemuda itu dengan sabetan goloknya yang diserangkan dari atas ke bawah, agaknya ia hendak membelah tubuh pemuda itu menjadi dua keping. Bun Liong maklum bahwa kakek itu lihay sekali, maka ia berlaku sangat hati-hati dan cermat karena salah tindak sedikit dan sekali saja ia terkena samberan golok yang luar biasa tajamnya….. berarti celakalah ia.

Ia cepat berkelit ke samping sambil tangan kanannya menyampok pergelangan lengan si kakek yang memegang golok sedangkan tangan kirinya menotok lambung. Gerakan ini adalah yang disebut Sin-wan-ciat-koh (Lutung Sakti Memetik Buah), salah satu jurus dari Sin-hwan-pek-houw Kun-hoat yang dimilikinya, yaitu tangan kanannya hendak menyampok pergelangan tangan lawan supaya golok lawan terlepas dan tangan kirinya mengirim totokan ke jalan darah Giok-liong-hiat di bawah iga kakek itu.

Akan tetapi kakek itu benar-benar amat lihay. Dua macam serangan yang berbahaya itu dapat dikelitinya dengan mudah dan mengagumkan, yaitu dengan lutut kaki kanannya ditekuk sehingga ia hanya berdiri menggunakan kaki kirinya saja dan berbareng dengan itu, tubuhnya yang tinggi besar itu berputar ke kiri dan dengan cepat ia berhadapan kembali dengan Bun Liong tanpa sedikit pun tubuhnya disentuh lawan, dengan demikian dua serangan pemuda itu hanya mengenai angin saja!

“Hebat…….!” seru Bun Liong. Ia heran dan kagum melihat gerakan aneh dari kakek itu dan pemuda itu cepat berkelit pula karena ketika itu si kakek sudah mengirim serangan lagi.

Benar-benar kakek itu sangat buas melebihi seekor singa marah, ia tidak memberi ampun kepada siapa saja yang menghadapinya. Goloknya digerakkan demikian cepat dan kuat, tidak memberi kesempatan sedikit pun pada lawannya sehingga selanjutnya Bun Liong mesti mengerahkan seluruh gin-kangnya untuk berkelit kian kemari dari serangan golok kakek yang melakukan serangan bertubi-tubi?!

Diam-diam Bun Liong mengakui bahwa ilmu golok kakek itu hebat sekali, hanya anehnya kelihatannya agak ngawur seakan-akan telah melupakan ilmu silat aslinya! Dan yang lebih aneh lagi, sambil melancarkan serangan kakek itu terus ketawa-tawa seperti seorang yang otaknya kurang waras!

Betapapun hebatnya kakek itu mendesak dan seakan-akan tidak memberi kesempatan pada Bun Liong untuk balas menyerang, akan tetapi pemuda itu tidak menjadi kewalahan, melainkan dengan mengandalkan seluruh gin-kangnya membuat tubuhnya demikian gesit seperti seekor burung walet sehingga kakek itu seakan-akan dipermainkannya. Biarpun kakek itu ilmu goloknya hebat luar biasa, namun bagi Bun Liong lebih berat ketika bertempur melawan Houw-jiauw Lo Ban Kui tempo hari.

Ketika pertempuran itu sudah berjalan sampai duapuluh jurus, agaknya kakek itu mendongkol sekali karena lawannya yang bertangan kosong itu belum dapat dirobohkannya. Tiba-tiba terdengar ia membentak marah: “Bocah edan, lima jurus lagi tubuhmu menjadi dua potong oleh golokku!”

Benar saja, sehabis mengucapkan ancaman ini, mendadak gerakan goloknya berobah makin buas dan bertambah aneh.

Diam-diam Bun Liong terkejut juga melihat perobahan ini, semula ia tidak bermaksud akan mencelakakan lawannya karena ia belum tahu benar siapa sesungguhnya kakek aneh itu sungguhpun ia tahu bahwa kakek itu adalah ayah-angkat Ma Gu Lin seperti yang diceritakan oleh seorang lasykar bajak tadi. Namun ia belum yakin apakah kakek itu mempunyai hubungan kejahatan dengan anak angkatnya atau tidak! Karena keraguan ini Bun Liong tidak tega untuk mencelakakan kakek yang agaknya berotak miring itu. Akan tetapi, ketika melihat bahwa serangan kakek itu kini berobah ganas dan Bun Liong merasa sulit sekali untuk mengalahkan lawannya tanpa menjatuhkan tangan maut, maka pemuda yang tabah ini lalu merobah pendiriannya. Betapapun juga, dari pada dirinya celaka tentu lebih baik mencelakakan kakek itu!

Demikianlah, ketika memasuki jurus yang keduapuluh empat, benar-benar golok kakek itu mengirim serangan yang mematikan. Golok itu bergerak dan dalam gerakannya menggetar sehingga kelihatannya seperti menjadi empat batang dan sukar sekali diduga arah mana sebenarnya yang hendak diserang, dan tahu- tahu golok itu menusuk ke dada Bun Liong.

Bun Liong berseru keras dan entah bagaimana cara pemuda ini bergerak dan mengelak, karena tahu-tahu ia sudah berada di belakang kakek itu dan tangannya telah menotok pundak lawannya. Setelah bacokan goloknya yang mematikan itu ternyata hanya menyambar angin saja, kakek itu marah sekali dan berbareng dengan itu ia jadi terkejut ketika mengetahui pundaknya dijadikan sasaran lawan.

Cepat ia menggerakkan goloknya untuk menangkis dan membabat tangan lawan. Akan tetapi gerakan dan serangan Bun Liong yang sudah mengambil putusan hendak merobohkan kakek itu dengan segera, benar-benar luar biasa.

Tangan kirinya yang tadi hendak menotok pundak, tiba-tiba merobah arah sasarannya menotok jalan darah di pergelangan tangan kakek itu yang memegang golok, sambil tangan kanannya melakukan sodokan ke arah lambung kakek itu!

Si kakek berteriak mengaduh dan goloknya terlepas dari pegangannya, lengan kanannya mendadak menjadi lumpuh. Berbareng dengan itu iapun amat terkejut ketika melihat serangan sodokan mengarah lambungnya, cepat ia mengelak.

Akan tetapi ia kalah cepat karena Bun Liong benar-benar tidak mau memberi kesempatan pada lawannya. Baru saja kakek itu mengelak, ia telah dapat mengejar dengan tangan kiri dan terdengar suara berdebuk keras ketika tubuh si kakek yang tinggi besar kena dihantam dadanya sehingga terlempar sampai setombak lebih dan jatuh terjengkang!

Melihat peristiwa ini Yang Hoa merasa lega hatinya. Can Po Goan memuji kehebatan pemuda itu sedangkan semua anggauta Pauw- an-tui bersorak riuh rendah. Kakek itu mengerang seperti harimau luka, ia berusaha hendak bangkit tetapi kembali tubuhnya jatuh. Wajahnya meringis menahan sakit dan tangan kirinya mendekap dada.

Ternyata pukulan Bun Liong di dadanya tadi telah menyebabkan jantungnya terluka. Kakek aneh ini benar-benar memiliki kekuatan luar biasa. Ia masih kuasa mempertahankan lawannya padahal pukulan itu dapat menyebabkan orang mati seketika.

Dalam terlentangnya kakek itu terus mengaduh-aduh, agaknya ia sedang bergulat dengan Malaikat maut. Akan tetapi kemudian semua orang terkejut ketika kakek itu berseru dengan suara tinggi dan luar biasa nyaringnya.

“Haiiii…….! Puteri-puteriku, ayahmu dicelakakan oleh sekawanan manusia durjana dan gila. Kalian tolonglah aku, balaskanlah sakit hatiku…….!”

Ternyata kata-kata permintaan tolong diucapkan dengan pengerahan tenaga khi-kang yang amat tinggi, sehingga ke tiga orang tokoh Pauw-an-tui mesti cepat-cepat menutup telinga mereka supaya selaput alat pendengar di dalam telinga mereka tidak pecah oleh getaran pengaruh khi-kang dari kakek itu. Sedangkan beberapa orang anggauta Pauw-an-tui yang berada terlalu dekat dengan kakek itu, menjadi limbung dan roboh bergulingan. Karena pancaindera mereka tak kuat menerima getaran pengaruh khi-kang yang luar biasa hebatnya dari kakek yang terlentang tak berdaya itu.

Jantungnya sudah terluka, akan tetapi masih dapat berkata-kata sambil mempergunakan suara coan-im-ji-bit yang meminta pengerahan tenaga khi-kang sepenuhnya, benar-benar kakek itu seorang yang hebat!

Akan tetapi, setelah mengucapkan kata-kata itu, kakek itu keadaannya makin payah. Tubuh, kaki dan tangannya menggelepar-gelepar seperti sedang sekarat!

Semua orang melihatnya dengan perasaan iba hati sambil menanti apa reaksi dari kata-kata minta tolong dari si kakek tadi. Mungkinkah ia minta tolong kepada sekawanan bajak yang masih berada di tempat persembunyiannya? Selagi semua orang masih menanti dan bertanya-tanya, terdengarlah suara sahutan dari dalam hutan siong yang riuh rendah dan terdengarlah seperti suara wanita semua! Bun Liong dan kawan-kawannya menanti dengan hati berdebar- debar dan heran. Mungkinkah akan muncul sekawanan bajak sungai yang terdiri dari kaum wanita? pikir mereka. Dan keheranan mereka makin menjadi ketika dari hutan siong itu muncul gadis- gadis muda lagi cantik-cantik yang semuanya bersenjatakan golok.

Ketika dihitung, para dara itu ternyata berjumlah sepuluh orang. Sambil berlari-lari mendatangi mereka menggerakkan goloknya demikian ganas, yaitu seganas ilmu golok yang dimainkan oleh si kakek tadi, dan dengan gaya yang nekad mereka langsung menyerbu!

Yang Hoa cepat melompat maju memapaki mereka sambil menggerakkan pedangnya, tetapi ketika terdengar seruan dari Bun Liong: “Yang-moay, jangan melukai mereka……!”

Akan tetapi pada saat itu Yang Hoa sudah menggerakkan pedangnya dan sekali tangkis saja, dua batang golok telah terlepas dari pegangan dua orang dara yang penyerbu itu.

Mula-mula Yang Hoa merasa heran mendengar larangan dari calon suaminya dan hatinya jadi cemburu karena ia menyangka calon suaminya merasa tergiur oleh kecantikan dara-dara itu. Akan tetapi salah tafsir ini hanya sekejap saja karena setelah ia memperhatikan wajah para dara penyerbu itu, nona ini melihat bahwa para dara yang cantik-cantik itu seakan-akan sedang bergerak dalam mimpi!

Mata mereka bagaikan mata orang yang sedang mengigau dan tak sadar. Air muka mereka seperti dipengaruhi suatu kekuatan gaib dan wajah yang cantik-cantik itu kelihatannya seperti wajah tolol. Hal ini menyebabkan bulu tengkuk Yang Hoa berdiri saking merasa seramnya!

Para dara yang rupanya dalam keadaan tidak sadar itu, tidak saja menyerang Yang Hoa, karena melihat Bun Liong berdiri di dekat Yang Hoa, sebagian dan mereka lalu menyerang dan mengeroyok pemuda itu tanpa banyak cakap lagi. Bun Liong yang tak kurang herannya dari Yang Hoa, melihat dirinya diserbu dan agaknya hendak dicincang oleh golok-golok di tangan para dara aneh itu, cepat bergerak dan begitu ia menggerakkan kedua tangannya, golok-golok itu dengan mudah terampas olehnya.

Sementara itu Yang Hoa juga sudah diserang oleh sebagian dara- dara itu. Akan tetapi pertempuran ini tidak berjalan lama karena sesaat kemudian setelah beberapa kali Yang Hoa menggerakkan pedangnya, golok-golok di tangan lawannya itu terbang ke udara. Ada yang patah dan ada juga yang terlempar setelah kena senggol sedikit saja oleh pedangnya!

Dengan demikian, senjata-senjata sepuluh dara itu sebentar saja telah dilucuti semua dan mereka dengan wajah tololnya nampak kebingungan, mereka saling bertanya dengan suara yang hampir berbareng:

“Mana ayah…..? Di mana ayah…….” Akhirnya seorang di antara mereka dapat melihat kakek yang sedang sekarat itu dan sambil menuding ia berkata nyaring: “Itulah dia……! Ayah kita di situ…….!” Dan ia segera berlari menghampiri kakek itu diikuti oleh ke sembilan kawannya yang berlari-lari kecil.

Bun Liong dan kawan-kawannya membiarkan saja perbuatan dara- dara ketika mereka menubruk, memeluk, menciumi dan mengguncang-guncang tubuh kakek itu sambil menangis dan meratap: “Ayah, kenapa kau ayah…….? Ayah, jangan tinggalkan kami………”

Kakek itu mengeluarkan suara gerengan dan ternyata suara ini adalah suaranya yang terakhir karena berbareng dengan mulut si kakek memuntahkan darah yang banyak sekali. Dan pada detik berikutnya matilah kakek aneh itu! Setelah kakek itu menghembuskan napasnya yang terakhir, terjadilah suatu keanehan. Begitu tubuh kakek menjadi mayat, sepuluh dara itu serempak seakan-akan menjadi sadar akan keadaan yang sebenarnya.

Mereka bercelingukan saling pandang satu sama lain dan kemudian mereka memandang ke arah orang-orang yang mengelilingi dan memandang mereka! Yang mengherankan ialah, wajah-wajah mereka tidak kelihatan tolol seperti tadi.

Kini tampak wajah asli mereka yaitu wajah orang sadar dan waras! Melihat begitu banyak orang yang rata-rata membawa senjata, mereka memperlihatkan sikap bingung dan ketakutan……….

Tiba-tiba Bun Liong teringat akan seorang lasykar bajak yang telah memberi keterangan tentang si kakek aneh tadi, maka dicarinya orang itu dan setelah diketemukan lalu dibawanya ke dekat Yang Hoa dan Can Po Goan dan dimintai keterangan tentang hal-ikhwal kesepuluh orang gadis itu. Lasykar bajak memberikan keterangan sejelasnya.

“Kesepuluh orang dara yang cantik-cantik itu adalah penduduk daerah Tong-koan yang telah diculik oleh kawanan lasykar bajak. Akan tetapi kesucian mereka sama sekali tidak terjamah karena dilarang keras oleh kakek aneh tadi.

“Kakek aneh tadi adalah seorang yang kurang waras otaknya, akan tetapi karena ia berkepandaian tinggi dan tambahan lagi sebagai ayah angkat Ma Gu Lin, maka semua lasykar bajak menghormati dan menyeganinya sehingga tak ada yang berani melanggar larangannya apalagi larangan diperkuat oleh Ma Gu Lin sendiri.

“Ia telah membuat semacam “undang-undang” bagi seluruh anak buahnya yaitu bahwa mereka dalam menjalankan gerakan operasinya boleh menggasak milik orang sepuasnya, membunuh, membakar rumah, akan tetapi dengan keras sekali dilarang memperkosa kaum wanita! “Undang-undang” ini sangat dipatuhi oleh semua lasykar bajak karena mereka sangat patuh dan takut kepada Ma Gu Lin!

Adapun mereka menculik ke sepuluh orang gadis itu tak lain hanya untuk memenuhi keinginan si kakek gila itu sendiri. Kakek itu mempunyai kesulitan mengumpulkan gadis-gadis yang cantik, yang diperlakukannya dengan penuh kasih sayang seperti terhadap puteri-puterinya sendiri. Mula-mula para gadis itu tentu saja takut sekali kepada kakek gila yang berada di sarang penjahat itu, akan tetapi karena kakek itu memiliki ilmu hoat-sut (ilmu sihir), maka dengan kepandaiannya ini ia menyihir “anak-anaknya” sehingga mereka jadi menurut dan menganggapnya seperti ayah sendiri. Bersama “anak-anaknya” kakek itu bertempat tinggal di sebuah gubuk yang terpencil dari kelompok gubuk-gubuk para lasykar bajak dan di situ ia mengajar ilmu golok kepada “anak-anaknya.”

Pengajaran ilmu golok itu juga dilakukan dengan ilmu silat sehingga para gadis yang semula tidak mengerti ilmu silat sama sekali otomatis jadi bisa bermain silat dan golok! Hanya saja, karena dipengaruhi kekuatan sihir, maka biarpun ilmu golok yang dimainkan oleh para gadis tak ingat itu cukup hebat, namun mereka sama sekali tidak mempunyai isi dan hanya menggerakkan golok seperti orang menari saja.

Itulah sebabnya maka tadi dalam segebrakan saja senjata-senjata mereka telah dapat dilucuti dengan mudah. Dan itulah sebabnya pula mengapa setelah si kakek gila itu mati sepuluh dara itu jadi sadar kembali, karena yang selama ini menguasai mereka telah lenyap bersama-sama lenyapnya nyawa si kakek itu. Setelah mendengar keterangan ini, Can Po Goan menghampiri ke sepuluh dara yang masih bingung dan ketakutan itu.

“Nona-nona sekalian,” katanya dengan suara ramah. “Kalian tidak perlu merasa bingung dan takut melihat kami karena kedatangan kami kemari, selain untuk membasmi komplotan penjahat di sini juga untuk menolong kalian! Marilah kita pulang bersama-sama dan akan kami antarkan kalian ke rumah masing-masing!”

Sepuluh dara itu kembali saling berpandangan. Karena kata-kata Can Po Goan tadi agaknya mereka jadi teringat betapa mulanya mereka diculik oleh komplotan bajak sungai dan kemudian diserahkan kepada kakek yang membuat mereka selama hidup seperti dalam mimpi, tidak ingat asal-usul mereka dan tidak ingat sanak keluarga.

Satu-satunya yang dapat mereka ingat hanya si kakek itu saja yang mereka anggap sebagai ayah kandung mereka. Kini setelah keadaan mereka wajar kembali dan mendengar kata-kata Can Po Goan yang mengajak mereka pulang, tentu saja mereka menjadi girang dan terharu. Mereka lalu berlutut sambil mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada orang tua itu. Demikianlah dengan singkat saja diceritakan bahwa setelah matahari agak condong ke barat rombongan Pauw-an-tui meninggalkan hutan Siong-lim-nia. Mereka pulang sambil menyanyikan lagu kemenangan. Di setiap dusun yang mereka lalui, mereka disambut oleh rakyat jelata yang merasa gembira dan terimakasih atas berhasilnya perjuangan pahlawan-pahlawan pemulih keamanan itu.

“Hidup Pauw-an-tui……!”

“Kita hidup kembali dalam suasana aman dan tenteram……!” “Nyenyaklah kembali tidur kita setiap malam…….!” “Komplotan manusia durjana sudah dilumpuh ludaskan……!” “Hura! Hidup Pauw-an-tui…….!”

Demikianlah sorak-sorai kegembiraan di segenap pelosok menyambut kemenangan Pauw-an-tui. Peristiwa yang amat penting dan bersejarah bagi seluruh penduduk daerah Tong-koan ini disambut dengan semeriah-meriahnya. Terpujilah Pauw-an-tui. Disanjung-sanjunglah nama tokoh-tokoh dari barisan keamanan ini terutama nama pangcunya Souw Bun Liong, yang sangat besar jasanya dan paling banyak mengeluarkan tenaga dan kepandaiannya dalam peristiwa memulihkan keamanan ini.

Nama pemuda itu menjadi pujaan seluruh masyarakat Tong-koan dan menjadi buah bibir para dara yang mengagumi kegagahan dan ketampanannya. Selain itu, nama Cio Song Kang juga dijunjung tinggi karena hartawan ini adalah otak penggerak, seorang tokoh dan pencipta Pauw-an-tui yang sosiawan…….

Tiga hari kemudian, di kota Tong-koan khususnya dan di segenap pelosok dusun umumnya, rakyat merayakan pesta pulihnya keamanan. Perayaan tersebut diselenggarakan dengan semeriah- meriahnya.

Di setiap dusun perayaan diselenggarakan di setiap rumah Cung- cu (kepala kampung) yang selain mengadakan perjamuan- perjamuan, menanggap tetabuhan dan pertunjukan kesenian- kesenian daerah juga mengadakan pibu (pertandingan silat) untuk memilih juara dusun. Hal ini disebabkan karena kemenangan Pauw-an-tui dan kegagahan pahlawan-pahlawannya terutama kehebatan ilmu silat Bun Liong membuat seluruh penduduk baik tua maupun muda menjadi silat minded!

Adapun bagi penduduk kota Tong-koan khususnya, yang menarik perhatian adalah rumah gedung Cio wan-gwe. Rumah gedung yang besar dan indah dihias sedemikian rupa sehingga kelihatannya makin indah, mewah dan meriah.

Hari itu, sejak pagi rumah Cio wan-gwe sudah ramai dikunjungi para undangan dan ternyata selain Cio wan-gwe merayakan pesta pulihnya keamanan seperti yang diselenggarakan di seluruh dusun atas seruannya, juga sekalian merayakan pesta perkawinan putera tunggalnya yaitu Cio Swi Ho, dengan seorang gadis puteri hartawan di kota itu juga.

Selain para anggauta Pauw-an-tui dan para tamu undangan yang turut meramaikan pesta itu, juga seorang yang terpenting di kota Tong-koan, yaitu Ti-koan, berkenan pula datang menghadiri. Bahkan pejabat negeri yang berpangkat tinggi dan mempunyai wewenang penuh atas daerah Tong-koan berkenan pula memberi kata sambutan, yaitu selain mengucapkan selamat kepada sepasang mempelai, juga menyampaikan rasa terima kasihnya yang tidak terhingga kepada tokoh-tokoh serta para anggauta Pauw-an-tui yang telah berjasa besar memulihkan keamanan dalam walajah kekuasaannya.

Dan akhirnya Ti-koan ini memberikan hadiah kepada Bun Liong, yaitu sebuah panji kecil yang terbuat dan sutera hijau bersulamkan benang emas.

Sulaman benang-emas itu merupakan huruf-huruf yang sangat indah yang berbunyi,

Bu-tek Enghiong!

Ternyata pejabat negeri tersebut telah memberi gelar Bu-tek Enghiong (Pendekar Tanpa Tandingan) kepada pemuda itu sebagai penghargaan atas jasa-jasanya selaku ketua Pauw-an-tui!

Dengan perasaan terharu Bun Liong menerima piagam tersebut akan tetapi hati kecilnya merasa tak setuju dengan gelar yang dianggapnya berlebih-lebihan itu. Ia maklum bahwa di dunia ini amat banyak orang-orang yang berilmu tinggi di antaranya suhunya sendiri maka terlampau berlebih-lebihanlah kalau sampai diberi nama julukan sebagai Pendekar Tanpa Tandingan. Akan tetapi mengingat bahwa yang memberikan nama julukan ini bukan orang sembarangan, melainkan justeru seorang pejabat negeri yang sangat dihormati dan disegani, maka pemuda ini tidak berani menyatakan perasaan hatinya!

Namun sebaliknya Cio Song Kang menganggap hal itu sangat patut dibanggakan dan ia amat gembira. Saking gembiranya hartawan ini lalu berkata nyaring, terhadap para tamu yang memenuh sesak gedungnya yang besar itu. Ia mengumumkan bahwa sejak hari itu, Souw Bun Liong mendapat nama julukan Bu- tek Enghiong!

“Pengumuman kilat” dari Cio wan-gwe ini disambut oleh semua orang dengan sorak sorai gembira dan setuju. Bahkan orang-orang yang berada di luar gedung pun turut pula bersorak karena pengumuman Cio wan-gwe yang diucapkan dengan bersorak nyaring tadi terdengar jelas oleh mereka.

Menghadapi peristiwa ini Bun Liong jadi merah mukanya karena malu dan kurang enak hati. Sedangkan Yang Hoa yang berada di sisinya berseri-seri gembira dan sedikit pun dara ini tidak menyadari betapa jalan pikiran dan perasaan hati calon suaminya!

Ketika sorak sorai itu sudah mulai menyepi, tiba-tiba terdengar suara ketawa yang bergelak-gelak di depan gedung diiringi ucapan yang nyaring sekali: “Hahaha…….! Bu-tek Enghiong……?! Orang macam apakah yang mendapat nama julukan sangat hebat ini…….?!”

Bun Liong mengerutkan keningnya, belum apa-apa sudah mendapat ejekan orang, keluhnya dalam hati. Ketika itu Cio wan- gwe sudah melangkah keluar untuk menjumpai orang yang mengejek tadi.

Melihat hartawan itu melangkah keluar, Bun Liong mengikutinya karena betapapun juga ia ingin melihat orang itu. Juga Yang Hoa berjalan di belakang calon suaminya, akan tetapi berlainan dengan Bun Liong yang tetap tenang, nona ini sudah merasa panas hati karena nama julukan calon suaminya mendapat ejekan.

“Orang dari manakah yang begitu kurang ajar…….!” Gumamnya sambil menggertak gigi. Dan semua orangpun lalu berjalan mengikuti mereka.

Ketika mereka sudah sampai di luar, tampaklah di pekarangan depan gedung lima orang yang belum mereka kenal dan apa yang sedang dikurung oleh sekawanan anggauta Pauw-an-tui yang agaknya marah sekali terhadap ke lima orang itu! Sedangkan ke lima orang yang dikurung itu hanya ketawa-tawa saja. “Kawan-kawan! Apakah yang telah terjadi?!” Cio wan-gwe bertanya.

Kwe Bun yang turut mengurung ke lima orang itu segera menghadap ke depan Cio wan-gwe dan berkata memberi laporan, “Lima orang asing menghina dan mentertawakan nama julukan Souw pang-cu, maka kami tentu saja tidak mau menerima penghinaan ini dengan begitu saja! Mohon perintah untuk mengganyang mereka!”

“Sabar, Kwe Bun. Sebelum mengetahui maksud mereka yang sebenarnya, kalian jangan main ganyang saja,” ujar Cio wan-gwe dan hartawan yang disegani oleh seluruh penduduk daerah Tong- koan ini lalu melangkah menghampiri ke lima orang yang tak dikenal itu diikuti Bun Liong dan Yang Hoa dan di belakang sekali tampak Can Po Goan.

Ketika mereka sudah dekat dengan ke lima orang itu, Cio wan-gwe menjura dan penghormatan ini disambut oleh seorang lelaki tinggi besar yang bajunya tidak dikancingkan sehingga dadanya yang lebar dan penuh bulu kelihatan nyata. “Ngo-wi sianseng (tuan-tuan berlima), kalau tidak salah penglihatanku, kalian ini bukan orang-orang sini. Betulkah?” Cio wan-gwe bertanya dengan ramah.

“Tidak salah,” sahut orang yang dadanya berbulu itu dan suaranya ternyata besar dan parau. “Kami berasal dari Shan-tung dan di daerah kami, berlima ini terkenal dengan julukan Shan-tung-ngo- hiap (Lima pendekar dari Shan-tung). Dalam perantauan kami mendengar suatu peristiwa yang amat mengagumkan, yaitu tentang kegagahan pasukan Pauw-an-tui yang dalam waktu singkat telah berhasil membasmi gerombolan penjahat. Kami beruntung sekali hari ini kami datang ke mari karena justeru sedang dirayakan pesta kemenangan!”

Nama Shan-tung-ngo-hiap memang belum pernah didengar oleh Cio wan-gwe maupun kawan-kawannya, akan tetapi karena Cio wan-gwe adalah seorang bijaksana, maka ia pura-pura sudah mendengar lima pendekar dari Shan-tung itu dan berkata,

“Oh, kiranya kalian adalah Shan-tung-ngo-hiap yang namanya sudah menggemparkan daerah timur. Menyesal sekali kedatangan Ngo-wi tak kami ketahui sebelumnya oleh kawan-kawanku semua. Hal ini harap Ngo-wi maafkan dan kini marilah masuk ke pondokku untuk bercakap-cakap dengan leluasa sambil menikmati jamuan sederhana yang terdiri hanya dari air mentah dan sayur kasar.”

Orang yang berbulu itu merasakan ketajaman kata tuan rumah yang meskipun kedengarannya sangat merendah dan menghormat, akan tetapi pada hakekatnya mengandung sindiran atas perbuatannya sendiri yang dilakukannya tadi, yaitu mengejek nama julukan Bu-tek Enghiong. Biarpun wajahnya tampak merah karena malu atas kelancangan, namun ia pandai menyusun kata- kata dan dengan suara ramah menjawab:

“Terima kasih atas kebaikanmu, sahabat! Kalau kami tak dapat menemui ajakanmu adalah karena kami tidak berani merepotkan kalian. Yang menyebabkan kami datang dan mampir di sini ialah karena tertarik akan kegagahan pang-cu Pauw-an-tui yang kami dengar.

“Akan tetapi yang manakah di antara kalian yang menjadi ketua Pauw-an-tui dan yang baru saja mendapat nama julukan luar biasa hebatnya itu? Bolehkah kami berkenalan…….?”

Cio wan-gwe sudah menduga bahwa kunjungan ke lima orang yang mengaku Shan-tung-ngo-hiap ini adalah untuk mengadu kepandaian dengan Bun Liong. Hal ini sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang kang-ouw bahwa apabila mendengar ada seorang yang memiliki kepandaian tinggi lalu disatroninya untuk diajak “berkenalan”, atau tegasnya untuk diajak mengadu kepandaian. Cio wan-gwe tidak berani memberi penyahutan atas pertanyaan orang itu, melainkan dengan isyarat matanya ia menyerahkannya kepada Bun Liong yang berada di sampingnya.

Bun Liong maklum akan hal itu, maka pemuda ini lalu maju dan memberi hormat kepada orang tinggi besar itu.

“Siauwtee lah yang Lo-enghiong maksudkan. Siauwtee sangat berterima kasih telah diakui oleh Ngo-wi orang-orang gagah dari Shan-tung yang telah menaruh perhatian kepada siauwtee yang bodoh……” kata Bun Liong dengan sikap aslinya yang sopan.

Akan tetapi ucapannya yang sebenarnya belum habis ini menjadi terputus sampai di situ karena tiba-tiba orang itu berkata dengan tertahan.

“Hahhh…….? Jadi…… kaukah orangnya yang dijuluki Pendekar Tanpa Tandingan itu……!”

Sepasang matanya yang besar mendelik seperti kaget dan memandang kepada pemuda itu dengan sikap tidak percaya. “Tak salah, orang tua gagah. Akulah orangnya!” sahut Bun Liong sambil balas memandang orang yang bersikap kurang menyenangkan itu.

Orang itu manggut-manggut, tapi kemudian menggelengkan kepala tatkala berkata, “Kalau aku tidak melihat sendiri orangnya, sungguh aku takkan percaya bahwa engkau yang masih semuda ini telah mendapat julukan yang demikian hebat kedengarannya!”

“Percaya atau tidak terserah kepadamu dan tak seorangpun yang memaksa kau untuk mau percaya,” balas Bun Liong yang mulai jengkel.

Betapapun sabarnya hati pemuda ini, namun melihat sikap orang itu seperti mengejek, ia jadi merasa sebal hati juga. Sungguhpun ia sudah menduga bahwa kedatangan lima orang dari Shan-tung ini, hendak menguji kepandaiannya.

“Aku mau percaya, mau percaya, asal saja……. membuktikan sendiri kepandaianmu! Bersediakah engkau anak muda?”

Sebelum Bun Liong menjawab, tiba-tiba terdengar suara orang yang berkata: “Souw sicu, terimalah penghormatan ini, dan buktikanlah bahwa julukan pemberian kami bukanlah julukan kosong!” Bun Liong berpaling ke arah orang yang menganjurkan itu dan ternyata bahwa orang itu adalah pembesar Ti-koan yang memberi nama julukan tadi. Bun Liong maklum bahwa pembesar ini ingin melihat kepandaiannya, maka ia lalu menjura kepada pembesar itu dan berkata:

“Kalau kiranya tayjin ingin melihat kebodohan cayhe, baiklah akan cayhe penuhi. Akan tetapi harap tayjin jangan menyesal karena julukan hadiah tayjin tadi sesungguhnya sangat berlebihan dan menjadi bahan tertawaan orang bagi cayhe yang bodoh ini.”

Setelah berkata demikian ia kembali menghadapi orang dari Shan- tung itu dalam sekilas saja matanya yang tajam dapat meneliti wajah-wajah dan sikap-sikap ke lima orang tersebut.

Ke lima orang itu memang merupakan orang-orang gagah dari daerah Shan-tung dan nama-nama mereka amat terkenal terutama di propinsi Shan-tung sendiri pendekar-pendekar pembela kebenaran dan keadilan. Mereka merupakan panca tunggal karena mereka berlima telah mengangkat saudara dan selain mereka memiliki kelihayan ilmu silat masing-masing, juga mereka berlima telah mempelajari ilmu silat yang mereka namakan Ngo-seng-kun (Ilmu Silat Bintang Lima). Mereka merupakan pendekar-pendekar petualang dan melakukan perantauan bersama. Tentu saja sepanjang petualangannya mereka telah banyak melakukan kebajikan dan karena kegagahan mereka lalu terkenal sebagai Shan-tung-ngo-hiap.

Yang tertua dari Shan-tung-ngo-hiap ini adalah seorang setengah umur bertubuh tinggi besar dan bernama Li Kay, yaitu orang tinggi besar yang setengah tidak percaya kepada kepandaian Bun Liong yang mendapat nama julukan Bu-tek Enghiong tadi. Kepandaian istimewa Li Kay adalah permainan senjata cambuk panjang yang amat lihay, selain itu iapun mahir sekali dalam ilmu berkelahi gaya Mongol yang mengandalkan bantingan-bantingannya yang hebat.

Orang kedua adalah adik seperguruannya dan bernama Lo Kin yang juga amat lihay dan menduduki tempat kedua dalam persaudaraan itu oleh karena ia pandai sekali bersilat dengan sebatang golok tipis. Berkat gin-kangnya yang sudah tinggi dan boleh dikata paling tinggi di antara saudara-saudaranya, maka ilmusilat goloknya mempunyai gerakan-gerakan cepat luar biasa.

Sedangkan orang ketiga biarpun bukan pengemis, ia selalu berpakaian penuh tambalan seperti jembel dan senjatanya pun sesuai sekali dengan apa yang selalu dibawa oleh pengemis, yakni sebatang tongkat yang terbuat dari bambu kuning. Namanya Lim Cu dan ilmu silat tongkatnya di daerah Shan-tung tiada yang dapat menandingi.

Dan orang yang keempat dan kelima adalah sepasang saudara kembar bernama Ho Kim dan Ho Kun. Mereka adalah yang termuda di antara ke lima orang itu. Ho Kim bersenjata sebatang tombak dan Ho Kun mahir sekali bersilat dengan senjata berupa kampak yang bergagang panjang.

Shan-tung-ngo-hiap ini selain memiliki kepandaian khusus, mereka berlima merupakan sebarisan yang amat tangguh sekali. Apabila mereka bertempur bersama-sama dan melakukan ilmu silat Ngo- seng-kun, yaitu secara teratur dan beramai mereka menyerang lawan yang dikepungnya apabila lawan itu ternyata amat tangguh sehingga tak dapat ditandingi oleh kepandaian khusus masing- masing dan terpaksa mereka mengadakan kerja sama dengan ilmu silat Bintang Lima ini.

Ketika mereka merantau dari Shan-tung ke propinsi Ho-nan yang memakan waktu berbulan-bulan lamanya. Dan sewaktu perjalanan mereka mendekati batas sebelah barat Ho-nan, mereka mendengar orang-orang bercerita bahwa di kota Tong-koan, yakni sebuah kota yang terletak di dekat perbatasan sebelah barat propinsi Ho-nan, telah terjadi suatu peristiwa yang amat menarik perhatian mereka, yaitu adanya barisan Pauw-an-tui yang telah berhasil mengganyang komplotan penjahat dalam waktu yang singkat!

Semenjak mereka mendekati perbatasan antara Ho-nan dan Siam- say, Shan-tung-ngo-hiap ini memang sudah mendengar bahwa kota Tong-koan tidak aman. Sebagai pendekar-pendekar gagah, tentu saja mereka tidak mau tinggal diam dan mereka bermaksud hendak coba menanggulangi keamanan kota tersebut.

Akan tetapi kedatangan mereka di situ ternyata terlambat karena ketika mereka memasuki kota Tong-koan, kota itu sedang melangsungkan pesta kemenangan. Dan hati mereka jadi kagum dan tertarik sekali ketika mendengar bahwa yang menjadi ketua Pauw-an-tui adalah seorang pemuda yang masih muda belia!

Ketika mereka turut berdesak-desakan di antara orang banyak yang tidak mereka ketahui bahwa sebagian besar terdiri dari anggauta-anggauta Pauw-an-tui yang turut meramaikan pesta kemenangan yang sekaligus merupakan perayaan pernikahan putera Cio wan-gwe di halaman depan gedung hartawan itu. Mereka mendengar pengumuman bahwa pangcu Pauw-an-tui ini telah menerima hadiah dari pihak penguasa pemerintah setempat berupa nama julukan Bu-tek Enghiong! Li Kay, orang tertua dari Shan-tung-ngo-eng adalah seorang yang berwatak jujur akan tetapi mempunyai sifat berangasan. Ketika mendengar nama julukan yang benar-benar hebat menjadi sangat penasaran hatinya.

Orang macam apakah dan betapa tinggi kepandaian yang dimiliki si ketua Pauw-an-tui sehingga memperoleh nama julukan begitu luar biasa? pikirnya dengan hati penasaran. Ia ingin berkenalan dan menguji kepandaian si Pendekar Tanpa Tandingan itu. Akan tetapi untuk memasuki gedung itu begitu saja mereka tidak berani karena takut disebut tamu-tamu yang tak diundang.

Kemudian Li Kay mempunyai akal untuk memancing supaya si Bu- tek Enghiong keluar dan begitulah seperti pernah diceritakan tadi. Li Kay sengaja ketawa berkakakan sambil mengucapkan perkataan yang bersifat mengejek, sebagaimana yang terdengar oleh Cio wan-gwe dan Bun Liong serta kawan-kawannya di dalam gedung tadi.

Akan tetapi alangkah kagetnya hati Li Kay dan saudara- saudaranya ketika tiba-tiba mereka dikurung oleh sekian banyak orang yang rata-rata memperlihatkan sikap marah terhadap mereka! Baiknya Cio wan-gwe cepat keluar menemui mereka dan kemudian, seperti sudah diceritakan tadi, Li Kay jadi berhadapan dengan Bun Liong, si Bu-tek Enghiong yang dimaksudkannya itu……..

Ketika melihat Bun Liong berdiam saja dan mata pemuda seperti menaksir-naksir mereka, Li Kay lalu berkata pula:

“Anak muda yang gagah alias Bu-tek Enghiong, bagaimana pendapatmu tentang maksud kami?”

Perkataan “Bu-tek Enghiong” yang diucapkan Li Kay terasa sebagai sindiran tajam bagi Bun Liong, tapi pemuda yang bersikap tenang dan memiliki watak sabar ini dapat menekan perasaan hatinya yang mau marah.

“Pendekar-besar dari Shan-tung dan terutama kau orang tua yang baik sekali. Tentu saja aku tidak berani menantang akan maksudmu dan kalau ternyata kau orang tua gagah hendak memberi petunjuk kepadaku yang muda dan bodoh, harap jelaskan dulu tentang cara dan syarat-syaratnya,” sahut Bun Liong.

Li Kay mengangguk-angguk sambil tersenyum. Sikap pemuda itu amat menarik perhatiannya karena biarpun sikapnya sederhana dan seperti orang bodoh,  namun di dalam kesederhanaannya terbayang kegagahan, keberanian dan kecerdikan yang tiada taranya.

“Caranya adalah aku hendak menjajal kepandaianmu dan kalau ternyata aku dapat kau kalahkan, kau hendak kukepung dalam Ngo-seng-kun bersama saudara-saudaraku. Syaratnya, menang atau kalah dalam pibu persahabatan ini tidak menjadi persoalan atau jelasnya, bilamana kemudian ternyata kau yang menang, kami tidak akan menyimpan dendam karena dalam hal ini memang kami tidak bermaksud mencari permusuhan.

“Demikian pula sebaliknya misalnya kau kami kalahkan, hendaknya kau beranggapan seperti kami! Jelas dan setujukah?”

“Cukup jelas dan aku amat setuju! Silahkan kau memberi petunjuk…….” kata Bun Liong sambil mengedikkan kepala, semacam sikap sebagai tantangan halus.

“Bagus! Keluarkanlah senjatamu, anak muda!” seru Li Kay gembira sambil mengeluarkan senjata rantainya yang diikatkan di pinggangnya.

Akan tetapi ketika melihat pemuda itu masih berdiri diam saja dan tak kelihatan mengeluarkan senjata, hanya menghadapinya dengan tangan kosong, Li Kay bertanya pula: “Anak muda, kau tidak membawa senjata, maukah kami pinjami senjata untuk kau pakai?!”

Dengan sikap tenang sekali Bun Liong menggelengkan kepala, dan bibirnya menyungging senyum tatkala menjawab: “Aku ingin diberi petunjuk dalam ilmu silat tangan kosong dulu, dan kalau terlalu perlu, gampang kemudian aku mempergunakan senjataku.”

Karena ucapan ini merupakan tantangan untuk berpibu dengan tangan kosong, Li Kay tentu saja merasa malu untuk menolak. Sesungguhnya, seperti sudah diterangkan tadi, Li Kay memiliki ilmu berkelahi gaya Mongol, disamping permainan cambuk rantainya yang lihay, akan tetapi karena ia merasa lebih mahir dalam permainan senjata cambuk rantainya, ia tadi mengeluarkan senjata ini.

Sekarang setelah mengetahui bahwa pemuda itu menghendaki bertempur dengan tangan kosong, ia lalu melibatkan kembali senjatanya di pinggangnya. Dan diam-diam hatinya merasa girang karena beranggapan bahwa pemuda itu tak mungkin dapat menandingi gi-siaw gaya Mongolnya?

“Baiklah, mari kita bermain-main sebentar tanpa senjata!” ujarnya kemudian dan otomatis memasang kuda-kuda sambil menghadapi Bun Liong. Tubuhnya membungkuk dengan muka ke bawah dan matanya mendelik mengawasi pemuda yang berdiri di depannya.

Kedua lengannya ditekuk sebatas siku dan jari-jari tangannya dikembangkan merupakan cengkeraman yang diletakkan di depan dadanya. Kedua kakinya terpentang ke kanan kiri dengan lutut sedikit ditekuk dalam bentuk bhesi yang teguh sekali.

Sementara itu semua orang yang merubunginya telah mundur ke belakang sehingga di situ telah merupakan suatu gelanggang yang cukup luas untuk bertanding dan tentu saja karena orang-orang berpihak kepada Bun Liong, maka ramailah mereka bersorak- sorak dengan ucapan-ucapan seperti:

“Hidup Bu-tek Enghiong…….!” “Ganyang Shan-tung-ngo-hiap…….!!!”

“Majulah kau orang tua gagah!” seru Bun Liong dan pemuda ini sama sekali tidak memasang bhesi.

Melihat ini Li Kay jadi sedikit ragu dan bertanya: “Kau masih belum bersiap, anak muda?”

“Aku sudah bersiap. Hayo, mulailah!!” Menurut peraturan persilatan dalam hal pibu, tidak boleh menyerang lawan sebelum lawan itu mengadakan persiapan. Akan tetapi kalau lawan itu sudah mengatakan boleh maju walaupun sama sekali tidak memasang bhesi, hal ini sama artinya bahwa lawan sudah menantang.

Maka ketika Li Kay melihat Bun Liong berbuat seperti itu, yakni menantang dalam kedudukan tidak memasang bhesi, hatinya agak mendongkol karena dianggapnya pemuda itu sombong sekali dan karenanya segera ia berseru, “Awas serangan!” sambil melompat maju melakukan tubrukan.

Tubrukan seperti ini dapat menangkap dan membikin seekor harimau tidak berdaya. Agaknya dengan sekali serang saja Li Kay bermaksud hendak merobohkan lawannya yang masih muda itu.

Bun Liong sengaja tidak berkelit dan menggunakan kedua lengannya untuk menangkis serangan karena ia hendak menguji kepandaian lawan.

Dua pasang lengan beradu dan terkejutlah Li Kay. Ia maklum dalam hal lweekang ia kalah jauh karena ia rasakan sepasang lengannya menggetar dan kesemutan. Akan tetapi karena ia adalah orang yang tertua dan menduduki tempat pertama dalam Shan-tung-ngo-hiap sehingga tentu saja kepandaiannya sangat tinggi, maka cepat jari-jari tangannya mencengkeram. Dan sebelum Bun Liong sempat menghindari serangan yang tidak diduga ini, pinggang pemuda itu telah dapat ditangkap dan tahu-tahu tubuh pemuda itu telah diangkat di atas kepala.

Lalu diputar-putarkan dan akhirnya, sambil berseru keras Li Kay melemparkan tubuh Bun Liong! Ternyata Li Kay telah menggunakan kecepatan seorang ahli gulat untuk melempar dan membanting lawannya.

Semua orang anggauta Pauw-an-tui mengeluarkan seruan tertahan melihat betapa tubuh Bun Liong dilempar dan dibantingkan. Akan tetapi kenyataannya Bun Liong tidak mendapat celaka karenanya, sebab meskipun tubuhnya terlempar sampai sejauh tiga tombak, namun ia jatuh dalam keadaan berdiri!

Akan tetapi baru saja kedua kaki pemuda menyentuh tanah, Li Kay telah datang dan dengan gerakan cepat mengirim serangan lagi dan kembali ia hendak mencengkeram ke dua lengan pemuda itu. Namun sebelum serangan yang kedua kali ini berhasil, Bun Liong sudah mendahuluinya mendorong dengan ke dua tangannya. Biarpun dorongan tidak menyentuh dadanya, namun kenyataannya Li Kay yang bertubuh tinggi besar jadi terhuyung mundur sampai lima langkah!

Li Kay terkejut dan heran akan tenaga dorongan dari pemuda itu, tapi ia jadi penasaran dan segera ia maju dan menubruk lagi. Tubrukan yang ketiga kalinya ini dapat dielakkan oleh Bun Liong dan sebelum Li Kay membalikkan tubuh, pemuda itu sekali lagi telah mendorongnya, kini dari samping.

Dan sekali lagi orang tua itu terkejut dan heran karena merasakan ada angin yang kuat sekali mendorong lambungnya sehingga tidak saja ia jadi terhuyung-huyung dibuatnya. Bahkan kalau ia tidak cepat-cepat melompat, pasti ia akan roboh terguling!

Bukan main herannya Li Kay menghadapi tenaga dorongan yang aneh ini. Ia tidak tahu bahwa ilmu pukulan ini sebetulnya adalah Lui-lek-ciang.

Hanya saja Bun Liong mengirim pukulan ampuhnya itu tidak dengan tenaga sepenuhnya, yaitu hanya empat bagian dari tenaganya saja karena tidak hermaksud membunuh. Dan kalau sekiranya ia melakukan pukulan dengan tenaga sepenuhnya, pasti nyawa lawannya akan melayang! Biasanya memang Bun Liong jarang sekali mainkan ilmu pukulan ampuh itu kalau tidak terlalu perlu. Akan tetapi karena kini ia bakal menghadapi lima lawan dari Shan-tung maka menghadapi Li Kay ia sudah mengeluarkan ilmu simpanannya supaya cepat memperoleh kemenangan dan menghemat tenaga!

Ilmu pukulan Lui-lek-ciang yang dikeluarkan hanya mempergunakan empat bagian dari tenaganya saja, tapi sudah cukup membuat lawannya terhuyung-huyung. Maka tahulah Bun Liong, bahwa saudara tertua dari Shan-tung-ngo-hiap merupakan lawan yang empuk.

“Hati-hati Lo-enghiong, kau jangan sampai terjatuh sendiri,” kata Bun Liong ketika melihat lawannya nyaris saja terjungkal.

Ucapan ini ternyata bagi Li Kay dirasakan sebagai ejekan, maka makin penasaranlah ia dan segera menyerang lagi. Tetapi serangannya kali ini dilakukan hati-hati, tidak main tubruk seperti tadi, melainkan sekarang setelah ia berdiri dekat sekali di depan pemuda itu, dengan gerakan kilat tiba-tiba tangan kirinya dengan telapak tangan dimiringkan menyabet mengarah leher lawannya berbareng tangan kanannya hendak menangkap sebelah kaki pemuda itu. Maksudnya sabetan tangan kirinya sebagai pancingan yang diharapkan pemuda itu menaruh perhatian terhadap serangan ini dan menangkis. Padahal serangan yang sesungguhnya adalah hendak menangkap kaki pemuda itu dan ia yakin bahwa kali ini akan dapat membanting lawannya.

Akan tetapi gerakan Bun Liong jauh lebih cepat lagi. Melihat dua serangan sekaligus akan tetapi serangan ke arah kaki kirinya itu ternyata lebih cepat datangnya daripada serangan yang menyabet ke arah lehernya itu, maka Bun Liong menggerakkan kaki kirinya sedikit sehingga tangan kanan Li Kay yang hendak menangkapnya itu tadi mencengkeram angin.

Dan sebelum tangan kiri Li Kay yang hendak menyabet lehernya itu mengenai sasarannya, Bun Liong telah memapaknya dengan tangan kanannya yang terbuka menyambut datangnya lengan lawan serta menangkapnya persis dipergelangan tangannya dan sekali gus ia mengerahkan tenaga sambil berseru keras.

Tubuh Li Kay yang tinggi besar itu tahu-tahu jadi nyelonong ke depan dan “Bluunng……!” tubuh si tinggi besar itu jatuh dalam keadaan tengkurap! Semua orang yang melihat ini, kecuali ke empat saudara Li Kay tentunya, menjadi gembira dan mereka bersorak-sorak bertepuk tangan!

Dengan wajah merah seperti batok kepiting direbus karena malu dan mungkin juga karena marah, Li Kay cepat bangun, akan tetapi sebelum ia menghampiri Bun Liong tiba-tiba di depan pemuda itu telah berdiri Lo Kin, saudara yang menduduki tempat kedua di antara Shan-tung-ngo-hiap, dengan senjata golok tipisnya sudah siap di tangan.

“Kawan muda! Sekarang cobalah kau tandingi golok tipisku ini!” katanya sambil menggerak-gerakkan senjatanya yang berarti menantang.

Akan tetapi sebelum Bun Liong memberi penyahutan, Li Kay menyelak dan Lo Kin dibentaknya, “Sute, mundurlah! Benar aku telah dikalahkan dalam pertandingan tangan kosong, akan tetapi aku masih belum mencobanya dengan senjata!”

Mendengar teguran suhengnya ini segera Lo Kin mundur dan kembali kepada saudara-saudaranya. Sedangkan Li Kay lalu berkata kepada Bun Liong: “Souw sicu, dengan sejujurnya aku menerima kalah bertanding dengan tangan kosong. Akan tetapi hatiku belum puas kalau kau belum melayani aku dengan bersenjata. Nah, marilah kita bermain- main lagi. Keluarkanlah senjatamu!”

Sambil berkata demikian, Li Kay membuka ikatan rantai besi dari pinggangnya dan ternyata cambuk rantai cukup panjang dan ia memegang di tengah-tengahnya.

Melihat caranya memegang rantai itu, Bun Liong maklum Li Kay memainkan senjata rantai itu tidak seperti ia memainkan cambuknya, yaitu dipegang pada satu ujung dan ujungnya yang lain dipergunakan untuk menyerang. Tapi Li Kay dapat memainkan rantainya dengan kedua ujungnya.

Karena dipegang di bagian tengah-tengahnya, maka seuntai cambuk rantai menjadi dua senjata untuk menyerang. Bun Liong memang ingin mencoba dan melihat permainan senjata cambuk rantai Li Kay yang belum pernah dilihatnya, maka ia menjawab,

“Tak usah aku bersenjata dulu, karena aku ingin mencoba ilmu rantaimu dengan mengandalkan ke dua tanganku saja dulu.”

Li Kay sangat marah karena ia merasa dipandang rendah, maka setelah ke dua tangannya memegang senjatanya di bagian tengah dan jarak dari tangan kiri ke tangan kanan kira-kira setengah depa sehingga kedua ujung rantai di kanan kirinya terjuntai kurang lebih sedepa panjangnya. Sambil berseru, “Awas senjata…….!” ia segera mulai menyerang!

Dan ternyata ketika ia menggerakkan tangan kanan dan kirinya, rantai itu menyambar sambil mengeluarkan angin bendesing- desing. Ujung rantai yang digerakkan oleh tangan kirinya meluncur ke atas dan menyambar ke arah tenggorokan hendak menotok jalan darah di leher lawan.

Sebenarnya gerakan ini hanya untuk memecah pertahanan Bun Liong belaka, karena yang lebih berbahaya adalah ujung rantai yang digerakkan oleh tangan kanannya yang menyabet ke bawah hendak membelit kaki pemuda itu. Tetapi Bun Liong yang menghadapi dua serangan rantai dengan hanya bertangan kosong benar-benar sangat mengagumkan, baik pihak kawan maupun pihak lawan karena gerakan pemuda ini lebih luar biasa dan juga lebih cepat!

Dengan berbareng, tangan kanan dan kaki kirinya bergerak. Tangan kanan menyampok ke bawah ujung rantai yang akan menotok tenggorokannya, sedangkan kaki kirinya menendang untaian rantai yang hendak membelit kakinya itu dan karenanya, ujung rantai yang disampok jadi mencong ke bawah dan ujung rantai yang dipapaki tendangannya lalu mental ke atas!

Terdengarlah suara gemerincing nyaring dan Li Kay terkejut sekali karena tahu-tahu senjatanya telah saling tangkis sendiri. Dan Li Kay tambah terkejut lagi karena pada saat itu, tahu-tahu jari tangan Bun Liong telah meluncur ke arah lehernya untuk balas menotok jalan darah!

Akan tetapi Li Kay adalah seorang yang berkepandaian paling unggul di dalam Shan-tung-ngo-hiap, maka biarpun amat terkejut, ia tak menjadi gugup. Ia cepat melompat ke belakang untuk menghindarkan totokan jari tangan pemuda itu sambil kaki kanannya menendang untuk memapaki tubuh lawan yang datang menerjang.

Dan berbareng dengan itu, senjata rantainya digerakkan dari kanan dan kiri dan kedua ujung rantai itu jadi menyambar dari sebelah kanan dan kiri Bun Liong dengan gerakan menggunting!

Terdengar Bun Liong berseru nyaring dan Li Kay menjadi girang hatinya karena ia mengira bahwa pemuda itu telah kena dihajar oleh rantainya. Tetapi pada saat berikutnya kembali ia terkejut ketika ia melihat pemuda itu telah lenyap dari depannya dan tiba- tiba ia merasa ada angin yang menyambar di atas kepalanya.

Maklumlah ia bahwa pemuda itu berseru keras bukan kena dihajar rantainya, melainkan telah melompat ke atas dan kini dengan kecepatan luar biasa telah berada di atas kepalanya dan melakukan serangan. Maka tanpa melihat lagi ke arah sasaran ia segera mengayunkan rantai kanan kirinya ke atas kepala.

Akan tetapi sabetan ini ternyata terlambat karena pada saat Bun Liong sudah turun ke bawah, dan kini sudah berdiri di belakangnya dan kedua tangannya pemuda sudah menotok jalan darah Kian- keng-hiat di kedua pundak Li Kay! Ketua Lima pendekar dari Shan- tung merasakan sepasang lengannya menjadi kaku kejang.

Akan tetapi berkat lweekangnya yang tinggi sehingga sesaat saja jalan darahnya pulih kembali. Namun sungguhpun demikian, ia tidak keburu menahan ketika dengan sebat sekali Bun Liong memberat dan merampas rantainya dari belakang!

Seperti sudah diterangkan, Li Kay walaupun adatnya berangasan, tapi memiliki watak jujur dan meskipun ia merasa malu dikalahkan oleh lawannya yang masih begitu muda, namun berkat kejujurannya ia menerima kekalahan dengan hati rela. Ia menarik napas panjang sambil membalikkan tubuh dan memberi hormat kepada Bun Liong.

“Souw sicu, kau benar-benar gagah dan aku merasa tunduk oleh kegagahanmu,” katanya.

Bun Liong cepat menjura dan mengulurkan tangannya yang memegang rantai itu. Ia mengembalikan senjata itu kepada pemiliknya sambil berkata:

“Shan-tung lo-enghiong, kau jangan terlalu memuji aku yang muda karena sebenarnya kau sendirilah yang banyak mengalah dan sengaja memberi kesempatan bagiku untuk merampas senjatamu Lo-enghiong, maafkanlah atas kelancangank….”

Sambil menerima senjatanya, Li Kay ketawa bergelak. “Haha, sudah terang berkepandaian tinggi, tapi masih merendah, inilah watak seorang gagah perkasa dalam arti sesungguhnya!”

Sekali lagi Bun Liong menjura dan katanya: “Maaf, lo-enghiong, aku tak dapat menerima pujianmu…….!” ucapan pemuda ini jadi terputus karena pada saat itu tiba-tiba terdengar orang menukas:

“Suheng, ijinkanlah sutemu untuk bermain-main dengan si Bu-tek Enghiong…….” Bun Liong memandang kepada orang yang agaknya masih mau mengejeknya itu dan Li Kay pun menoleh. Ternyata orang itu adalah Lo Kin yang sudah merasa gatal tangan melihat betapa kakak seperguruannya dikalahkan dengan begatu mudah oleh pemuda itu.

Lo Kin maklum bahwa suhengnya itu berkepandaian sangat lihay, tapi ia merasa heran mengapa dapat dikalahkan dengan semudah itu. Ia menganggap bahwa Li Kay dalam pertandingan pertama tadi terlalu ceroboh dan dalam pertandingan kedua yang baru saja berakhir, ia berpendapat bahwa suheng berlaku terlalu sungkan.

Dan karena anggapan dan pendapat inilah ia menjadi penasaran! Masakan ilmu golokku tak dapat mengalahkan bocah itu? pikirnya dengan hati panas!

“Sute, aku sendiri dapat dikalahkan oleh Souw sicu, apalagi kau…….?” kata Li Kay memberi peringatan kepada sutenya dengan harapan sutenya tidak memperbesar rasa malu mereka.

Di antara Lima Pendekar dari Shan-tung itu Lo Kin terkenal selain berhati keras juga mempunyai perangai sombong, maka ketika mendengar perkataan Li Kay hatinya sangat tidak puas dan sahutnya, “Betapapun juga, aku ingin mencoba kepandaian Bu-tek Enghiong!”

“Silakan maju, dan aku sangat berterima kasih kalau kau dapat memberi pelajaran ilmu golokmu kepadaku!” kata Bun Liong yang makin sebal melihat sikap orang kedua dari Shan-tung-ngo-hiap ini dan ia lalu menyilahkan Li Kay supaya mundur.

Li Kay lalu mundur dan berkumpul di antara kawan-kawannya sambil tak henti-hentinya menggeleng-gelengkan kepala. Agaknya ia amat menyesalkan kekerasan hati dan kejumawaan adik seperguruannya itu.

“Sudah bersiapkah kau anak muda?” Lo Kin bertanya sambil menggerakkan alisnya ke atas, seperti seorang ayah menanyakan sesuatu kepada anaknya yang masih kecil.

Bun Liong mengedikkan kepala sebagai sikap balasan. “Persiapan apakah yang mesti kulakukan kalau hanya menghadapi permainan sebatang golok saja?” katanya menimpali kesombongan orang itu.

Ketika itu tiba-tiba Yang Hoa tampil dan langsung berkata kepada calon suaminya, “Liong-ko biarlah aku mewakilimu untuk mencoba kehebatan ilmu goloknya. Sudah pernah kudengar bahwa ilmu golok keluaran Shan-tung hebat sekali, maka kesempatan yang sebaik ini berikanlah kepadaku!”

Bun Liong memandang calon isterinya, “Yang-moay, bagaimana kalau kau dikalahkan?”

Dengan lantang dara yang keras hati itu menjawab:

“Menang atau kalah dalam pibu yang jujur adalah soal wajar. Menang bagiku bertambahnya pengalaman dan kalah berarti tambah pelajaran. Kau rela bukan memberi giliran kepadaku?”

Sambil mengucapkan perkataan yang terakhir yang kedengarannya bernada manja ini Yang Hoa menggerak-gerakan alis mata sebelah kanannya.

Bun Liong maklum bahwa gerakan alis itu adalah sebagai isyarat baginya. Bahwa ia lebih baik mengaso dulu dan sambil mengaso ia memperhatikan permainan silat orang itu sehingga kalau calon isterinya sampai kalah, ia akan dapat mengalahkan orang itu, yang permainan goloknya masih amat asing baginya karena ia sudah mempunyai kesempatan untuk memperhatikan sepak terjang dan perkembangan ilmu golok orang itu. Tanpa menunggu jawaban dari Bun Liong, Yang Hoa telah menghadapi Lo Kin dan sambil mencabut pedangnya, ia berkata menantang: “Tuan dari Shan-tung yang gagah, karena Bu-tek Enghiong tidak biasa bersenjata, maka ilmu golokmu takkan dapat dilayaninya secara memuaskan bagimu. Oleh karena itu, marilah kita bermain-main sebentar!”

Lo Kin memandang dara itu dengan mata kesima. Ia kesima melihat kecantikan dan kegagahan gadis itu, “Nona, siapakah kau…..? Atau…. kalau tak salah, kaukah yang kudengar dijuluki Pauw-an-tui Sianli…..?”

“Benar…….” sahut si nona singkat, akan tetapi diam-diam hati nona ini merasa bangga bahwa nama julukannya sudah didengar oleh orang dari Shan-tung ini.

“Bagus, disamping ingin menjajal kepandaian si Bu-tek Enghiong, tiada buruknya kalau aku mencoba juga ilmu pedang si Dewi ini……. Nah, mulailah! Awas golok…….!!”

Lo Kin mulai menyerang tanpa sungkan-sungkan dan ilmu golok dari cabang Shan-tung benar-benar hebat. Karena gin-kangnya sudah tinggi maka gerakan tubuh dan permainan goloknya amat cepat. Memang benar kata orang bahwa golok yang dimainkan oleh tangan seorang ahli, merupakan raja senjata yang berbahaya sekali. Golok yang tipis dan lebar itu setelah dimainkan oleh Lo Kin lenyap bentuk goloknya dan berubah menjadi sinar putih yang bergulung-gulung dan menyambar-nyambar mengeluarkan angin dan suara bersuitan!

Menyaksikan kehebatan ilmu golok orang Shan-tung ini, sambil memperhatikan perkembangan dan gaya ilmu goloknya, diam- diam Bun Liong jadi khawatir akan keselamatan Yang Hoa. Sanggupkah calon isterinya itu menghadapi permainan golok sehebat ini?

Akan tetapi Yang Hoa adalah seorang gadis berbakat yang telah mendapat gemblengan cukup dari subonya, ditambah lagi dara itu telah mendapat pelajaran tambahan dari Bun Liong, maka gadis yang keras hati ini sedikitpun tidak merasa gentar. Ia memainkan pedangnya dengan sama cepatnya dan mempergunakan gin- kangnya untuk berkelebat ke sana ke mari dengan gesit sekali menghindarkan diri dari sambaran golok dan membalas dengan serangan-serangan yang cukup kuat dan cepat.

Makin lama gerakan mereka makin cepat sehingga akhirnya semua mata yang menyaksikannya menjadi berkunang-kunang dan kabur karena tubuh kedua orang itu telah lenyap terbungkus gulungan sinar golok dan pedang. Hanya bunyi golok beradu dengan pedang serta bunga api yang berhamburan menyatakan kepada mereka bahwa di dalam gulungan sinar golok dan pedang itu terdapat dua orang yang sedang mengadu kepandaian.

Hanya kedua orang yang sedang bertempur itu saja yang maklum bahwa dalam hal kepandaian silat, ilmu kepandaian silat, ilmu kepandaian Lo Kin lebih tinggi tingkatnya dan permainan goloknya lebih matang, dan tenaganya pun lebih besar sehingga setiap serangan goloknya sangat kuat dan mantap! Akan tetapi Lo Kin harus mengakui bahwa biarpun paling tinggi di antara saudara- saudaranya, namun kalau dibandingkan dengan lawannya, ia kalah.

Sebentar saja, pertempuran itu sudah mencapai limapuluh jurus dan sementara itu Lo Kin merasa kagum sekali melihat kegagahan lawannya karena selama dalam perantauannya belum pernah ia menyaksikan kelihayan seorang muda seperti gadis ini. Ia memperhebat gerakan goloknya sambil mengeluarkan tipu-tipu yang lihay sehingga karenanya Yang Hoa terpaksa main mundur dan melindungi diri dengan putaran pedangnya dan gin-kangnya. Tiba-tiba Lo Kin merobah gerakan goloknya dan memainkan Tee- tong-to, yakni permainan golok sambil bergulingan di atas tanah. Sambil bergulingan, goloknya membabat ke arah kaki lawan.

Melihat serangan yang cepat dan berbahaya ini, Yang Hoa terkejut sekali, hingga ia terpaksa melompat tinggi dengan maksud membalas serangan dari atas dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Akan tetapi Lo Kin ternyata memiliki kegesitan yang hebat sehingga sebelum gadis itu dapat berjungkir balik di udara, telah melompat berdiri dan menggunakan gagang golok untuk memukul kaki Yang Hoa.

“Celaka……..!” Yang Hoa berseru kaget dan karena kedudukan tubuhnya dalam keadaan yang sulit, ia tak dapat menghindarkan kakinya dari pukulan gagang golok itu.

Akan tetapi sebelum gagang golok itu menghantam tulang kering di kakinya, tiba-tiba berkelebat bayangan biru melerai mereka dan tahu-tahu golok itu telah terpental karena terlepas dari tangan Lo Kin dan orang Shan-tung ini melompat mundur karena ia rasakan tubuhnya terdorong oleh sesuatu yang kuat sekali dan lengan tangan kanannya menjadi lumpuh seketika! “Yang-moay, ternyata kau kalah tangguh dan kekalahan ini harap kau anggap sebagai penambah pelajaran bagimu seperti yang kau katakan tadi,” ujar bayangan biru pemisah itu yang tak lain dari Bun Liong.

Yang Hoa Yang ketika itu sudah berdiri pula menjadi merah wajahnya, akan tetapi ia tersenyum tatkala menyatakan kekalahannya. “Aku menerima kalah dan benar-benar aku memuji kehebatan Shan-tung-to-hoat (ilmu golok Shan-tung)! Sekarang giliranmu untuk merasakan kehebatannya, Liong-ko!” Dara ini kemudian mengundurkan diri setelah alis matanya yang sebelah kanan bergerak-gerak pula.

Bun Liong memungut golok Lo Kin yang menggeletak di tanah dan sambil memberikan golok itu kepada pemiliknya, berkata “Terimalah golokmu dan maaf aku telah berlaku lancang membuat golokmu terlepas dari tanganmu. Dan kuharap kemenanganmu tadi dapat memuaskan hatimu!”

Lo Kin menerima senjatanya dengan tangan kanannya, karena kelumpuhannya tadi sudah sembuh kembali, berkat pengerahan lweekangnya yang tinggi, dalam sesaat saja jalan darahnya menjadi normal kembali. Akan tetapi sikap dan penyahutannya sungguh di luar dugaan Bun Liong ketika orang, Shan-tung yang jumawa itu berkata,

“Apa? Memuaskan hatiku kau bilang…..!? Bagaimana hatiku bisa puas kalau hanya mengalahkan seorang gadis muda yang memiliki ilmu pedang tak berapa tingginya?!”

Jelas sekali Lo Kin menghina Yang Hoa. Dan karena calon isterinya dihina, tentu saja hati Bun Liong jadi kurang senang, sungguhpun ia harus mengakui bahwa tingkat kepandaian si nona masih jauh di bawah tingkat kepandaian orang kedua dari Shan- tung-ngo-hiap yang sombong dan kasar ini.

“Habis, apa yang kau kehendaki supaya hatimu menjadi puas?” tanya Bun Liong memancing.

“Aku baru bisa merasa puas apabila sudah dapat mengalahkanmu!”

“Ah, sayang sekali. Rasanya akupun takkan dapat memberi kepuasan padamu karena kepandaianku juga tak berapa tinggi. Apalagi aku sama sekali tak bisa memainkan senjata.”

Lo Kin ketawa bergelak. Ternyata sindiran pemuda itu telah disalah tafsirkan artinya. Dianggapnya pemuda itu berlaku cerdik untuk menghindarkan pertempuran dengannya. Kemudian sambil menyarungkan goloknya ia berkata:

“Anak muda, kalau kau merasa takut mengadu kepandaian denganku, ya sudahlah, akupun takkan memaksamu!” Lalu ia membalikkan tubuh hendak meninggalkan pemuda itu.

Bagi seorang gagah, dikatakan takut adalah penghinaan yang paling besar dan demikianlah dengan Bun Liong, pemuda ini merasakan dadanya sangat panas.

“Nanti dulu!” serunya.

Lo Kin kembali membalikkan tubuh menghadapinja.

“Cabutlah kembali golokmu! Golok tumpul penyembelih babi. Apanya yang mesti kutakutkan?! Marilah kita saling menguji kepandaian barang beberapa jurus, walaupun aku hanya bertangan kosong saja, aku sanggup merampas golok dari tanganmu dan membuat tubuhmu terguling-guling!”

“Bocah sombong, kekanglah ketakburanmu!” bentak Lo Kin marah dan hatinya telah kena dibakar oleh perkataan pemuda itu. “Aku baru kali ini menemukan orang semuda engkau bermulut besar berani melawan golokku dengan tangan kosong! Benar-benar aku harus mengajar adat kepadamu!”

“Atas kebaikanmu memberi ajar adat kuucapkan banyak terima kasih sebelumnya! Akan tetapi marilah kita sama-sama membuktikan siapakah sebenarnya yang diberi ajar adat atau adatnya yang dihajar?!” kata Bun Liong dengan kasar karena dadanya panas, padahal selamanya tak pernah ia bicara sekasar itu.

Dada Lo Kin serasa hampir meledak karena marahnya sehingga tak mampu berkata lagi ketika ia mulai maju dan menerjang. Mula- mula ia menggerakkan goloknya di atas kepala, lalu secepat kilat ia membacok dengan gerak tipu Geledek Menyambar di Atas Kepala.

“Haha, bagus sekali gerakan si jagal mengayunkan golok menyembeli babi ini!” Bun Liong mengejek sambil melompat ke pinggir dan mengelak dengan cepat sekali, “Cobalah jurus kedua, gerakan apakah akan kau lakukan…….?!”

Melihat bacokannya tak berhasil, ditambah diejek pula, Lo Kin berseru marah dan menyerang lagi lebih hebat. Kini dengan gerak tipu Pat-hong-hong-i (Hujan Angin di Delapan Penjuru), gerakan goloknya benar-benar cepat, dahsyat dan ganas karena ia ingin merobohkan pemuda itu dengan segera.

Ia telah lupa bahwa pertempuran ini hanya untuk saling menguji kepandaian belaka, sehingga gerakan goloknya dilakukan dengan nafsu membunuh, kedua matanya berapi-api.

Kembali Bun Liong mengelak amat cepatnya sambil mengejek: “Sayang sekali, gerakan jurus kedua ini hanya patut dilakukan untuk menebang pohon pisang!”

Keruan saja Lo Kin jadi bertambah marah. Lalu ia mengirim serangan susulan dan ia mulai mengeluarkan jurus-jurus yang terlihay dari Shan-tung-to-hoat! Dan karena kini serangan golok itu benar-benar hebat serta cepat sekali, maka Bun Liong tak sempat mengejeknya dan pemuda ini lalu mengandalkan gin-kangnya sehingga tubuhnya lincah dan gesit sekali, berkelebatan di bawah gulungan sinar golok yang menyambar-nyambar bagaikan seekor naga sakti mengamuk!

Yang Hoa yang melihat betapa tubuh calon suaminya terkurung di dalam gulungan sinar golok lawan, sangat mengkhawatirkan keselamatan pemuda itu. Karena ia sudah merasakan sendiri kehebatan ilmu golok Lo Kin. Akan tetapi Bun Liong takkan berani berkata takbur kalau saja ia tak merasa lebih lihay dari pada Lo Kin yang sudah “dicuri” taktik permainannya tadi. Begitulah berkat gin-kangnya yang sudah mencapai tingkat tinggi dan tentu saja jauh lebih tinggi daripada gin-kang Lo Kin, maka selama duapuluh jurus ia bisa mempermainkan lawannya dengan seenaknya, bagaikan seekor tikus yang gesit sekali mempermainkan seekor kucing tua yang lambat gerakkannya!

Kalau dibandingkan dengan pertempuran-pertempuran yang sudah dialaminya, Bun Liong mengakui bahwa Lo Kin ini merupakan lawan yang paling tangguh karena ilmu goloknya benar-benar hebat dan ia belum pernah menemukan ilmu golok hebat seperti yang dimiliki oleh lawannya dari Shan-tung ini.

Sementara itu Lo Kin makin gemas dan marah karena biarpun ia sudah mengerahkan tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus yang hebat dari ilmu goloknya, namun sama sekali ia belum berhasil menyentuh tubuh pemuda itu dengan goloknya. Padahal ia memainkan goloknya demikian gencar dan melancarkan serangan-serangan yang amat berbahaya. Sambaran-sambaran dan bebatan-bebatan golok dari Lo Kin itu seakan-akan menyerang sehelai bulu yang ringan sehingga yang diserang telah melayang pergi sebelum samberan goloknya tiba!

Dan betapa takkan makin gemas dan marahnya hati Lo Kin karena sambil mempergunakan gin-kangnya yang luar biasa Bun Liong sempat juga mengirim serangan-serangan balasan, yaitu pada satu saat, setelah mengelak cepat dari sebuah sambaran golok, tangan kanan pemuda itu menyambar dan “plak!” pipi kiri Lo Kin telah kena ditamparnya!

Lo Kin merasakan betapa pipinya panas dan pedas sedangkan mulutnya terasa asin tanda bahwa lidahnya mencecap darah yang keluar dari bibirnya yang pecah akibat tamparan itu.

Sambil menggerang seperti harimau mengamuk ia mengirim serangan dengan makin dahsyat, ingin sekali ia membacok tubuh lawannya itu sampai hancur seperti bakso! Akan tetapi sambaran goloknya yang dahsyat lagi-lagi menyambar angin saja karena pemuda itu telah dapat mengelak dengan hanya merendahkan tubuh sedikit saja.

Dan sebelum Lo Kin sempat menarik kembali goloknya untuk kemudian mengirim serangan, Bun Liong telah bergerak luar biasa cepatnya. Kaki kanan pemuda itu telah menyambar bagaikan sambaran kilat dan “buk!!”

Dada Lo Kin kena ditendangnya sehingga ia terhuyung-huyung ke belakang. Lo Kin merasa dadanya sakit sekali dan napasnya agak sesak, akan tetapi Bun Liong memang tidak bermaksud mencelakakannya sehingga tendangannya itu tidak mendatangkan luka berat.

Namun, dasar Lo Kin berwatak sombong dan jumawa sekali, maka tamparan dan tendangan tadi yang seharusnya memperingatkan ia bahwa lawannya tidak bermaksud kejam, bahkan diterimanya dengan salah dan dianggapnya bahwa lawannya itu tidak memiliki tenaga yang cukup besar!

Dianggapnya bahwa biarpun ia terkena pukulan tendang berkali- kali kalau tenaga lawannya hanya sedemikian saja, ia takkan roboh dan sebaliknya bila sekali saja ia berhasil membalas, akan mampuslah pemuda itu. Maka ia tidak mundur atau gentar, bahkan dengan nekad ia lalu mendesak maju sambil melancarkan serangan-serangan maut!

Sekali ia mempergunakan gerak tipu Penebang Pohon Membelah Kayu, goloknya menyabet dari atas ke bawah secara menyerong dengan maksud hendak membelah tubuh pemuda itu menjadi dua keping!

Melihat kebandelan orang kedua dari Shan-tung-ngo-hiap ini, Bun Liong menjadi sebal dan penasaran juga. Ia maklum bahwa orang dari Shan-tung ini sekarang bukan bermaksud pibu lagi, melainkan terang sekali hendak membunuhnya.

Maka begitu melihat datangnya bacokan golok, ia cepat menotol kedua kakinya dan mengerahkan tenaga sehingga sebelum golok itu datang membabat, tubuhnya sudah mencelat ke atas bagaikan seekor burung terbang dan gayanya indah sekali.

Inilah gerakan Lompatan si Lutung Sakti, satu jurus cara mengelak dari Sin-wan-pek-houw Kun-hoat yang diwarisinya!

Lo Kin memang mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi sehingga ia dapat bergerak cepat dan begitu dilihatnya lawannya melompat ke udara, dengan sigap ia melompat pula menyusul dan goloknya digerakkan hendak membabat kaki lawannya selagi lawan itu masih berada di udara! Benar-benar serangan ini berbahaya sekali bagi Bun Liong!

Akan tetapi begitu melihat lawannya melompat menyusul dan kakinya hendak dibabat, Bun Liong mementangkan kedua tangannya untuk menguasai keseimbangan tubuh. Ke dua kakinya ditekuk sebatas dengkul dan ketika golok menyambar datang tepat di bawah kakinya, kaki kanannya tiba-tiba bergerak mengirim tendangan menyerang yang kelihatannya ditujukan ke arah kepala lawannya, akan tetapi sesungguhnya menendang ke arah golok!

Seorang yang tidak memiliki ilmu gin-kang yang luar biasa tingginya tidak mungkin melakukan tendangan selagi tubuhnya masih berada di udara. Dan kalau tidak mengandalkan lweekang yang hebat serta keberanian yang luar biasa dan perhitungan yang tepat, juga tidak mungkin orang akan berani menendang golok yang justeru sedang disambetkan!

Akan tetapi pemuda Souw Bun Liong sebagai murid tunggal dari Bu Beng Lojin, yang telah menjadi ketua Pauw-an-tui dengan mendapat nama julukan Tong-koan Ho-han dan kini mendapat nama julukan baru Bu-tek Enghiong dari Ti-koan sebagai penghargaan atas jasa-jasa dan kegagah-beraniannya benar- benar memperlihatkan kelihayannya yang patut dipuji!

Tendangan kakinya tepat mengenai pinggiran golok dan pada saat itu terdengar seruan kaget dari Lo Kin dan golok itu terlepas dari pegangannya terus meluncur ke bawah dan menancap di tanah sampai setengahnya! Adapun tubuh Lo Kin sempoyongan ke belakang akan tetapi berkat gin-kangnya yang tinggi, ia tidak sampai jatuh terjengkang!

Ternyata Bun Liong telah melakukan dua macam serangan sekali gus, yakni selain kakinya menendang golok, tangan kanannya pun mengirim hawa pukulan Lui-lek-ciang ke arah dada lawan. Dan karena pemuda ini tidak bermaksud membuat lawannya celaka, maka pukulan ampuhnya itu hanya ia lakukan dengan sedikit tenaga saja! Itulah sebabnya maka tubuh Lo Kin jadi sempoyongan!

Tetapi Lo Kin yang bandel itu masih juga belum mengakui keunggulan pemuda itu. Begitu dilihatnya lawannya sudah berdiri lagi di depannya, ia lalu menerjangnya dengan cepat!

Tingkah laku Lo Kin ini benar-benar membuat Bun Liong sangat gemas, orang ini benar-benar sangat bandel dan kalau tidak dihajar sampak roboh bergulingan kiranya tidak akan kapok, pikirnya.

Laku Lo Kin benar-benar seperti kerbau gila. Sambil menubruk, tangan kanannya dikepalkan menyodok ke arah lambung dan tangan kirinya menyusul mengirim serangan dengan telapak tangan dimiringkan menyabet leher Bun Liong! Kalau dengan ilmu goloknya yang hebat Lo Kin tidak dapat mengalahkan Bun Liong dan bahkan sebaliknya ia telah dipermainkan, apalagi dengan bertangan kosong! Hal ini benar- benar merupakan “makanan enak” bagi Bun Liong.

Sambil tersenyum mengejek Bun Liong menyambut serangan Lo Kin. Pertama ia menyampok sodokan kepalan lawannya yang mengarah lambungnya itu dengan sebuah kipratan jari-jari tangan kirinya. Dan sambil merendahkan tubuh sedikit untuk mengelakkan serangan tangan kiri lawan yang menyabet lehernya, tinju tangan kanannya disodokan perlahan ke perut Lo Kin.

“Ngekk!” demikianlah terdengar suara tertahan yang keluar dari mulut dan hidung Lo Kin yang wajahnya meringis karena perutnya sakit dan mules sekali!

Serangan Bun Liong tak sampai di situ saja karena ia sangat gemas dan ingin membuat lawannya benar-benar kapok maka cepat ia menangkap lengan tangan kiri Lo Kin yang masih menjulur di atas kepalanya. Lengan itu ditariknya ke bawah dan karenanya tubuh lawannya yang berada di belakangnya jadi merapat di punggungnya. Bun Liong mengerahkan tenaga sambil membungkuk dan lengan kiri lawan terus ditariknya ke depan. Dan tak ampun lagi tubuh Lo Kin jadi melayang ke depannya lalu jatuh terbanting dan bergulingan di atas tanah!

Pecahlah tempik sorak dari para penonton yang melihat Lo Kin telah dibanting oleh Bun Liong itu! Lo Kin ditolong oleh Ho Kim dan Ho Kun si sepasang saudara kembar.

Dan ternyata Lo Kin tidak menderita luka apa-apa akibat bantingan itu. Ia dapat bangun lagi dengan segera, sungguhpun ia rasakan kepalanya sangat pening, punggungnya sakit dan perutnyapun masih mules!

“Kau benar-benar hebat, Souw sicu!” kata Li Kay yang ketika itu sudah berdiri di depan Bun Liong. “Kepandalan kami perseorangan sudah terang sekali tak mungkin dapat menandingimu, maka yang terakhir sekarang marilah kau coba menghadapi Ngo-seng-kun yang akan kami mainkan lima saudara bersama-sama?!”

Sungguhpun Li Kay berkata sejujurnya dan bersikap menghormat akan tetapi oleh karena hati Bun Liong sudah merasa jengkel maka ia lalu menantangnya: “Bagus! Peristiwa yang banyak membuang-buang waktu percuma ini lebih cepat berakhir lebih baik. Nah, kalian berlima mulailah dan mudah-mudahan kau akhirnya akan mendapat kepuasan!”

“Baiklah!” balas Li Kay sambil tersenyum dan jelas sekali senyumannya ini membayangkan ejekan. Dan sekali saja orang tua ini memberi tanda, maka serempak saudara-saudaranya sudah menyamber goloknya yang tertancap di tanah tadi dan dengan senjata sudah siap di tangan ia memandang, kepada Bun Liong dengan mata berapi-api.

Akan tetapi sebelum mereka bergerak, lagi-lagi Yang Hoa maju menyelak dan berkata kepada calon suaminya: “Liong-ko, sebelum kau memberi kepuasan pada mereka, baiklah aku mencoba dulu kehebatan Ngo-seng-kun dari Shan-tung-ngo-hiap ini!”

Bun Liong maklum apa yang disiasati oleh nona ini ketika ia melihat alis calon isterinya bergerak-gerak. Tapi ia merasa kurang enak hati kalau-kalau siasat ini dapat diketahui oleh Lima Pendekar dari Shan-tung itu.

Tentu mereka akan mengatakannya licik kalau sebelum melawan mereka, terlebih dulu ia memperhatikan dan “mencuri” gaya tempur mereka. Hal ini sungguh memalukan baginya. Maka ia cepat berkata:

“Yang-moay, yang mereka maksudkan adalah aku, bukan kau. Maka sebaiknya kau mundur dan menontonlah.”

“Benar!” seru Li Kay setengah membentak, “Kami hanya ingin menjajal kepandaian si Bu-tek Enghiong, dan bukan ingin bermain- main denganmu!”

Bukan main panasnya dada Yang Hoa mendengar ucapan Li Kay itu dan sebelum ia menyemprotkan kemarahannya, tiba-tiba terdengar Lo Kin ketawa mengejek:

“Haha! Dengan kepandaianmu yang serendah itu kau masih hendak berlagak?! Melawanku seorang saja kau sudah tak becus, mana mungkin kau mampu menghadapi kami berlima?!”

“Manusia sombong!” bentak Yang Hoa marah sambil menudingkan pedangnya kepada Lo Kin. “Siapa bilang aku tidak becus menangkan ilmu golok tumpulmu? Aku tadikan belum kalah. Kalau kau masih penasaran, marilah kita bertempur sekali lagi dan siapa yang roboh menjadi ketentuan!” “Sabar Yang-moay kau harus menghormati tamu-tamu kita ini yang bermaksud hendak saling menguji kepandaian, bukan untuk menanam bibit permusuhan,” ujar Bun Liong menukas, untuk menyabarkan dara yang keras hati itu.