Pendekar Tanpa Tandingan Jilid 01

 
Jilid 01

Kota Tong-koan yang terletak di pinggir sebelah barat dalam propinsi Sam-say, merupakan sebuah pintu gerbang untuk berlalu lintas antara Ho-nan dan San-see dua propinsi. Sungguhpun kota ini hanya merupakan sebuah kota kecil saja, akan tetapi keadaan dan suasananya ramai sekali. Selain banyak rumah-rumah gedung baru, banyak pula toko-toko besar, rumah-rumah makan dan penginapan-penginapan menjadi lambang betapa hidupnya kota kecil ini.

Penduduknya memang sudah padat sehingga rumah-rumah mereka seakan-akan berdesakan, ditambah lagi oleh banyaknya para saudagar yang setiap hari mondar mandir antar tiga propinsi yaitu dari barat propinsi Ho-nan, dari utara propinsi San-see dan sebaliknya dari propinsi Sam-say sendiri, banyak yang menuju ke barat maupun utara. Maka dapat dibayangkan, betapa ramainja suasana kota kecil ini.

Akan tetapi, di alam yang fana ini tidak ada sesuatu yang kekal, maka demikian pula dengan situasi kota Tong-koan ini. Beberapa waktu sebelum cerita ini terjadi, telah mengalami perubahan suasana yang sangat hebat!

Keramaian yang semulanya menghidupkan kota ini, berangsur- angsur menjadi sepi, bahkan pada akhirnya merupakan sebuah kota yang mati! Para saudagar yang semula mondar mandir, kini tidak tampak lagi. Toko-toko, rumah-rumah makan dan penginapan-penginapan sebagian besar menutup pintu mereka rapat-rapat, dan kalaupun ada yang buka, hanya daun pintunya saja yang dibuka.

Semua penduduk hatinya disungkupi perasaan gelisah dan wajah mereka membayangkan kecemasan dan ketakutan yang amat sangat. Terutama manakala malam tiba, tak seorangpun yang berani keluar pintu sejak matahari mulai terbenam.

Mereka menutup pintu rapat-rapat dan dipalang kuat-kuat. Mereka mengunci diri di dalam rumah dengan hati yang tak tenteram, terutama para wanita bersembunyi di dalam kamar sambil memeluk anak mereka dengan hati berdebar-debar dan ke dua kaki lemas. Setiap kali mendengar suara gaduh di luar rumah, seluruh tubuh mereka menggigil dan peluh dingin keluar membasahi baju mereka!

Adapun yang menyebabkan kota ini menjadi sedemikian lengang dan mati, tidak lain karena gangguan keamanan, yakni sering diganggu oleh kaum garong yang sangat ganas dan kejam! Sebagaimana sudah diterangkan, bahwa kota Tong-koan ini hanya sebuah kota kecil saja, oleh karena di arah selatannya terdapat bukit-bukit yang merupakan anak dari gunung Hoa-san, dimana terdapat hutan belukar yang rungkut dan angker. Hutan ini tumbuh memanjang ke barat hingga melintas perbatasan antara Sam-say dan Ho-nan. Sedangkan di sebelah utara kota terdapat sebuah sungai besar yang airnya berwarna kekuning-kuningan, yaitu yang dinamakan sungai Huang-ho (Sungai Kuning), yang menjadi batas antara Sam-say dan San-see.

Kota Tong-koan bukan saja menderita gangguan dari gerombolan perampok yang bersarang di hutan belukar di sebelah selatan kota, yang dikepalai oleh Houw-jiauw Lo Ban Kui si Cakar Harimau, tetapi juga menderita gangguan dari pihak gerombolan lain, yakni gerombolan kaum bajak sungai Huang-ho, yang agaknya manakala mereka tidak berhasil membajak di sungai tersebut yang sering dilalui oleh perahu-perahu kaum pedagang, mereka lalu mengalihkan sasarannya ke darat, yakni ke kota Tong-koan.

Gerombolan bajak ini dipimpin oleh Ma Gu Lin dan yang menamakan dirinya Huang-ho-sin-mo atau Iblis sakti Sungai Kuning. Sarang mereka ini terletak di sebelah barat kota, persis di tapal batas Sam-say dan Ho-nan di pinggir sungai di mana terdapat bukit-bukit batu karang yang banyak ditumbuhi pohon Siong sehingga tempat in dinamakan Siong-lim-nia atau bukit hutan cemara.

Maka dapatlah ditaksir betapa hebat kerugian penduduk kota Tong-koan setelah mengalami gangguan-gangguan yang terjadi berulang-ulang dari dua komplotan kaum penjahat yang tidak diketahui dari mana datangnya! Entah sudah berapa banyak jumlah harta benda kaum hartawan yang dilicin-tandaskan!

Entah sudah berapa orang penduduk kota Tong-koan yang dibunuh atau dianiaya karena membela dan mempertahankan hak milik mereka ketika terjadi penggedoran. Dan entah sudah berapa pula gadis-gadis atau wanita muda yang menjadi korban perbuatan binatang dan diculik oleh dua komplotan kaum penjahat yang seakan-akan bekerja sama itu.

Mereka melakukan “gerakan operasi” tidak saja malam hari, bahkan di siang hari pun mereka acapkali beraksi juga dengan beraninya. Oleh karena itu, maka usahawan-usahawan jadi tidak berani membuka tokonya, kaum saudagar yang semula mondar mandir melewati kota ini menjadi tidak kelihatan lagi setelah beberapa puluh kaum pedagang yang kebetulan menginap di kota ini dirampok habis-habisan, entah oleh gerombolan garong dari komplotan perampok atau dari bajak sungai. Inilah sebabnya maka kota Tong-koan menjadi sepi dan mati!

Pada masa itu keadaan di Tiongkok sangat kacau oleh karena Kaisar yang memegang kampuk pemerintahan sangat lalim dan hanya mementingkan pelesir dan berfoja-foja saja. Kaisar lalim ini tidak atau sedikit sekali memperdulikan keadaan negara dan rakyatnya sehingga dapat dikatakan ia telah melepaskan tangan dari kemudi pemerintahan dan menyerahkannya kepada para pembesar tinggi yang pandai mengambil muka dan yang berhati palsu atau yang biasa disebut bermuka domba berhati serigala!

Dengan sifatnya yang menjilat-jilat, para durna dapat menempati kedudukan-kedudukan baik dan mendapat kepercayaan kaisar sehingga mereka dapat menina bobokkan kaisar itu yang tenggelam dalam siraman arak wangi. Terlena dalam belaian tangan-tangan halus lentik dari para selir yang cantik jelita dan yang tidak terhitung banyaknya, ditambah pula dengan tari-tarian dan nyanyi-nyanyian yang memabokkan dan membuat ia seakan- akan hidup di dalam sorga!

Ia tidak tahu sama sekali betapa para durna itu menetapkan bermacam-macam peraturan yang menambah beban rakyat dengan pajak-pajak yang berat, dan tidak tahu sama sekali bahwa di bawah matanya terjadi gejala-gejala yang membuat rakyatnya tertindas dan amat sengsara. Para pembesar dari yang tinggi sampai yang paling rendah meniru Kaisarnya, semua mementingkan diri sendiri mengejar kesenangan tanpa memperdulikan nasib rakyak jelata.

Demikian pula halnya dengan pembesar-pembesar negeri yang waktu itu berkedudukan di kota Tong-koan. Mereka ini tidak memperdulikan atau pura-pura tidak tahu, karena sampai sejauh itu mereka mendiamkan saja peristiwa-peristiwa yang menimpa warga kota Tong-koan. Pihak yang berwajib sedikitpun tidak berusaha untuk mengatasinya, oleh karena itu maka makin berani dan makin merajalelalah gerombolan-gerombolan si Cakar Harimau dan si Iblis Sakti Sungai Kuning itu.

Kota Tong-koan ini dijadikan medan pesta pora, sehingga kota ini menjadi lengang, sepi dan mati! Dan justeru keadaan dalam seperti itulah cerita kita ini dimulai.

Sungguh terjadi di luar kebiasaan, karena kota Tong-koan yang biasanya mati bersuasana lain pada hari itu, tampak seakan-akan mendadak hidup kembali. Semenjak pagi hari kelihatan ramai dan dan banyak orang tampak berbondong-bondong berjalan menuju ke arah tengah kota. Pada wajah mereka jelas nampak bahwa ada sesuatu yang menarik hati di kota itu.

Mereka bergegas-gegas dan kelihatan gembira seperti orang yang hendak menonton sesuatu. Ternyata mereka itu menuju ke sebuah gedung besar yang indah dan yang berpekarangan sangat luas.

Di tengah-tengah pekarangan ini, tepat di depan gedung tersebut, telah didirikan orang sebuah panggung lui-tay yang tingginya tidak kurang dari tiga tombak hingga kelihatan nyata dari jauh. Dan di bawah panggung lui-tay inilah orang-orang yang berbondong- bondong tadi berkumpul, berjubal-jubal mengitarinya bagaikan sekawan semut merubung sebutir gula.

Di belakang panggung lui-tay, yakni yang menjadi emper depan dari gedung tersebut, terdapat kursi-kursi yang berjejer dan puluhan jumlahnya. Orang-orang yang berjejal-jejal itu tidak berani menginjakkan kakinya ke situ.

Jejeran kursi-kursi ini ternyata dibagi menjadi dua bagian, yaitu sebagian di sebelah kiri dan bagian lainnya sebelah kanan, sehingga ditengah-tengahnya lowong dan merupakan garis pemisah dan yang merupakan pula sebuah jalan kecil lurus dari pintu gedung ke panggung lui-tay itu. Rumah gedung besar dan indah adalah kepunyaau Cio wan-gwe (hartawan she Cio) bernama Song Kang, salah seorang kaya raya yang menjadi warga kota Tong-koan. Cio wan-gwe ini sebenarnya bukan penduduk asli kota ini, melainkan seorang pendatang dan tidak seorangpun yang mengetahui dari mana ia berasal.

Penduduk umumnya hanya mengetahui bahwa dua tahun yang lalu hartawan ini datang ke situ dalam keadaan sudah kaya raya. Ia membeli sebuah rumah gedung yang menjadi tempat tinggalnya sekarang.

Sungguhpun usia Cio wan-gwe baru empatpuluh lima tahun, akan tetapi ia telah menjadi seorang duda dan agaknya tidak bermaksud untuk beristeri lagi. Sedangkan rumah gedung yang besar benar- benar tak sesuai dengan jumlah penghuninya, karena hanya terdiri dari dua orang saja, yakni Cio wan-gwe sendiri dan seorang puteranya yang kini sudah berusia kurang lebih duapuluh tahun, dan dikawani oleh beberapa orang pelayan.

Ketika dalam kota timbul kekacauan yang diperbuat oleh gerombolan garong, gedung Cio wan-gwe inipun tak terkecuali menjadi korban dan bahkan terjadi berulang-kali sehingga entah beberapa besar kerugian yang dideritanya! Akan tetapi dasar ia seorang hartawan, biarpun sudah berulang kali harta bendanya digasak gerombolan, namun tampaknya tenang-tenang saja dan sedikitpun tidak kelihatan berduka, ini mencerminkan bahwa ia agaknya masih mempunyai bekal cadangan yang tak ternilai jumlahnya!

Akan tetapi di balik sikapnya yang tenang itu sebenarnya Cio wan- gwe diam-diam memutar otak mencari daya untuk mengatasi kekacauan itu. Oleh karena betapapun kaya rayanya kalau terus- terusan digarong pasti akhirnya kekayaannya akan ludas juga bagaikan sebuah gunung yang terus-terusan dikeduk, akhirnya pasti akan menjadi dempak.

Disamping itu, iapun merasa tidak sampai hati melihat penderitaan rakyat kecil yang miskin dan sengsara itu. Kalau kota ini terus- terusan bersuasana demikian keruh dan yang membuatnya pula menjadi sepi seperti di pekuburan, dapat ia pastikan akan timbul suatu malapetaka hebat dan menyedihkan, yakni akan banyak orang yang mati kelaparan!

Ia mempunyai cita-cita ingin mengusir atau menumpas gerombolan perampok dan kawanan bajak sungai yang ganas itu, supaya para hartawan, termasuk ia sendiri, dapat hidup senang dan tidur nyenyak tidak khawatir digarong lagi. Rakyat jelata dapat diangkat dari jurang kesengsaraan sehingga mereka dapat berusaha dan bekerja kembali tanpa dimomoki rasa gelisah dan takut, dan suasana kota yang sudah mati ini akan hidup kembali seperh dulu-dulu semasa ia datang dan menjadi penghuni kota kecil ini.

Hasrat dan cita-cita Cio wan-gwe ini benar-benar patut dipuji dan mencerminkan bahwa hartawan she Cio ini bersemangat gagah dan berjiwa satria! Akan tetapi dengan jalan apa dan cara bagaimana Cio wan-gwe akan melaksanakan maksudnya yang luhur dan mulia ini? Entahlah, karena selama ini maksud Cio wan- gwe selalu gagal……!

Kemudian teringatlah olehnya akan Can Po Goan dan Lu Sun Pin, dua orang kauw-su (guru silat) yang membuka bu-koan (rumah perguruan silat) dan masing-masing banyak mempunyai murid di kota ini. Dua orang kauw-su ini, jauh sebelum kota Tong-koan mendapat gangguan-gangguan dari para komplotan garong, sudah saling bersaingan dan beberapa kali pernah terjadi peristiwa-peristiwa kecil karena murid-murid mereka bentrok.

Hanya sampai sejauh itu, kedua kauw-su tersebut belum pernah bentrok. Sungguhpun diam-diam keduanya sudah merasa panas hati dan sama-sama mengandung maksud ingin mengadu kepandaian ilmu silat untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Teringat akan hal ini, timbullah di hati Cio wan-gwe sebuah ide yang bagus. Alangkah baiknya apabila kedua guru silat ini bersama murid-muridnya dipersatukan hingga menjadi sebuah perserikatan untuk menjaga keamanan dan bahkan jika mungkin akan dapat mengganyang gerombolan pengacau.

Oleh karena maka pada suatu hari ia mengundang kedua kauw-su itu dan menyatakan maksud hatinya. Ternyata kedua orang guru silat itupun setuju dengan ide hartawan Cio, bahkan keduanya merasa malu dan mengakui sifat pengecut mereka karena mereka masing-masing mau mengakui sebagai jago-jago silat kota Tong- koan, belum pernah ada ingatan yang demikian baik dan seperti yang menjadi ide Cio wan-gwe itu.

“Nah, itulah sebabnya mengapa hari ini aku mengundang jiwi (kalian berdua) kemari,” kata Cio wan-gwe sambil tersenyum girang. “Justeru selagi keadaan kota kita ini sedemikian gentingnya dan sangat buruk. Alangkah baiknya jiwi dan murid-murid kalian yang gagah-gagah itu menggalang semangat, bersatu-padu dengan tekad menjaga dan memulihkan kembali keamanan kota kita ini.

“Dengan demikian gerombolan-gerombolan itu akan mendapat kenyataan, bahwa di kota ini sedikitnya terdapat dua orang jago yang mampu menentang dan melawan bahkan sangat mungkin melabrak mereka, sehingga mereka takkan selalu menganggap penduduk kota ini bersemangat tahu dan bernyali tikus yang tinggal mandah saja selama ini, sesudah kota kita dibikin mati, harta benda kita mereka gasak, banyak gadis dan wanita-wanita muda mereka culik atau perkosa, dan lain-lainnya lagi sebagaimana jiwi sendiri sudah maklum!

“Oleh karena itu, kedua saudaraku yang baik, alangkah baiknya kalau kalian dapat melaksanakan cita-citaku ini. Aku sudah lama mendengar kabar bahwa antara murid-murid ji-wi sering terjadi bentrokan yang membuat jiwi sendiri sebagai guru mereka, telah saling mendendam dan ingin membuktikan siapa di antara jiwi yang memiliki ilmu silat yang lebih tinggi, sehingga dengan demikian, disengaja atau tidak, jiwi menimbulkan permusuhan di antara kawan sendiri.

“Maka kini, setelah jiwi kuundang kemari dan jiwi sudah merasa setuju dengan ideku tadi, menurut pendapatku jauh lebih baik dan bijaksana, jikalau kalian mempergunakan kepandaian yang kalian miliki dan wariskan kepada murid-murid kalian itu untuk mengatasi kekacauan kota kita ini dari pada digunakan untuk saling bermusuhan antara kawan sendiri.” “Cayhe (aku yang rendah) mengerti akan maksud dan tujuan wan- gwe ini,” ujar Lu kauw-su sambil mengangguk-angguk dan wajahnya agak merah karena malu mendengar ucapan Cio wan- gwe yang terakhir itu, serasa menyindir kepada dirinya.

“Dan dengan cara bagaimanakah hal ini akan diatur, Cio wan- gwe?” tanya Can kauw-su yang sikapnya tampak tenang.

“Inilah yang akan kila rundingkan selanjutnya. Setelah jiwi dan murid kalian berserikat menjadi satu, terjadilah sebuah organisasi yang kelak akan menjadi sebuah organisasi massa yang sangat kuat. Karena itu, sekarang kita perlu bertukar pikiran untuk merancang, menyusun dan membentuk organisasi kita ini,” sahut Cio wan-gwe.

Selanjutnya mereka sibuk dalam perundingan mereka, ke tiganya mengeluarkan usul dan mengemukakan pendapat demi organisasi mereka yang akan dibentuk itu agar supaya menjadi kokoh kuat, berdisiplin dan tertib serta bernama baik.

Adapun panggung lui-tay yang dibangun di depan rumah gedung Cio wan-gwe yang pada hari itu telah banyak dikerubungi manusia sebagaimana telah dituturkan tadi adalah langkah pertama dari hasil perundingan mereka itu. Panggung lui-tay itu dipergunakan sebagai gelanggang pibu (bertanding silat), dan pibu ini memang menarik hati terutama bagi mereka yang menyukai ilmu silat.

Itulah sebabnya mengapa hari itu kota Tong-koan yang biasanya tampak mati itu seperti mendadak menjadi hidup. Karena penduduk umumnya ingin menonton dan membuktikan siapa- siapa orangnya yang akan menjadi jago untuk memimpin organisasi keamanan kota mereka sebagaimana yang pernah mereka dengar dari pembicaraan orang, yang tentu saja berasal dari mulut kedua kauw-su itu yang memberitahukan kepada murid- muridnya, dan dari mulut murid-murid ini berita itu lalu tersebar sehingga meluas di seluruh kota dan dusun-dusun sekitarnya.

Ketika matahari sudah agak tinggi, dan cahayanya sudah mulai terasa panas dan membakari orang-orang yang berjubal-jubal itu, barulah tampak Lu Sun Pin bersama dengan semua murid- muridnya yang berjumlah seratus orang datang. Dan kedatangan rombongan ini disambut oleh Cio wan-gwe yang secepat itu muncul dari rumahnya.

Lu Sun Pin lalu mengangguk kepada tuan rumah yang membalas dengan ucapan selamat datang dan mempersilahkan guru silat itu mengambil tempat duduk di atas kursi-kursi yang sudah tersedia itu, yaitu kursi-kursi yang ditempatkan di sebelah kanan di depan rumah Cio wan-gwe.

Lu kauw-su dan beberapa orang muridnya yang dianggap ilmu silatnya sudah cukup tinggi, duduk di barisan kursi-kursi yang paling depan, sedangkan murid-murid lainnya duduk di belakangnya dan sebagian lagi cukup berdiri saja di bagian belakang, karena persediaan kursi itu ternyata tidak mencukupi lantaran jumlah rombongan ini terlalu banyak.

Sambil menunggu datangnya pihak Can Po Goan, para penonton, yaitu orang-orang yang berjubel-jubel itu, menjadikan rombongan Lu kauw-su itu menjadi tontonan. Umumnya mereka mengagumi kegagahan Lu kauw-su, yang mengenakan pakaian silat yang terbuat dari kain mahal sehingga tampak sangat mewah.

Umurnya paling banyak empatpuluh tahun, wajahnya tampak keren, bentuk tubuhnya tegap kekar dan bibirnya selalu memperlihatkan senyuman kebanggaan. Demikian juga murid- muridnya yang duduk di sebelah kanan-kirinya yang masih muda- muda tampaknya gagah-gagah dan mencerminkan bahwa dalam tubuh mereka yang tegap-tegap itu berisikan tenaga kuat dan kepandaian silat yang lihay! Tidak lama kemudian, tampaklah dari suatu jurusan rombongan Can Po Goan dan berbareng dengan terdengar suara riuh dari orang yang berjubal-jubal itu bahkan di antara mereka ada yang bersorak dan bertepuk tangan karena merasa gembira. Sebab begitu pihak Can kauw-su ini datang, berarti pertandingan silat yang sejak tadi mereka nantikan, akan segera dimulai.

Berlainan dengan pihak Lu kauw-su yang datang bersama semua murid-muridnya, Can kauw-su ini hanya membawa dua orang murid saja. Pakaian yang mereka kenakan terbuat dari kain-kain murah sehingga tampaknya sangat sederhana.

Dan Can kauw-su sendiri yang usianya sudah agak tua yaitu limapuluh tahun dan yang berjalan paling depan dari kedua orang muridnya itu, berjalan dengan langkah kaki yang tenang. Keningnya yang sudah agak berkeriput dikerutkan, kepalanya menunduk dan memandang ke bawah seperti ada sesuatu yang tengah dipikir dan dilamunkannya.

Memang sesungguhnyalah guru silat tua sedang melamun dan mengenangkan kembali peristiwa beberapa bulan yang lalu, yaitu peristiwa persengketaan antara Lu kauw-su dan dirinya sehingga menimbulkan suatu permusuhan. Dan kini permusuhan tersebut akan dibereskan berkat kecerdikan Cio wan-gwe, supaya dua guru silat berikut murid-muridnya bekerja sama dengan bentuk sebuah organisasi penjaga keamanan, dan untuk memilih siapa yang menjadi pemimpin organisasi itu, maka diadakan pibu ini.

Sementara Can kauw-su masih berjalan dan belum sampai di panggung lui-tay dimana kepandaian murid-muridnya dan ia sendiri akan diuji untuk dibuktikan siapa yang mampu dan patut menjadi pemimpin sebagaimana yang disarankan oleh Cio wan- gwe tempo hari.

Baiklah kita menengok dulu keadaan dan peristiwa yang terjadi kira-kira setengah tahun yang lalu, untuk mengetahui secara lebih jelas sebab-sebab terjadinya persengketaan dan permusuhan antara Lu Sun Pin dan Can Po Goan itu.

Sudah lima tahun lamanya Can Po Goan menjadi warga kota Tong-koan, sedang sebelumnya ia adalah seorang tentara berpangkat di kota raja. Sesudah ia bebas menetap di kota Tong- koan di mana ia lalu membuka sebuah bu-koan sekedar melewatkan waktunya.

Sebagai seorang bekas tentara berpangkat, tentu saja ia memiliki ilmu silat tinggi, sehingga ketika ia membuka bu-koan ternyata kemudian hasilnya sangat memuaskan baginya. Para muda, bahkan ada juga yang sudah tua, datang belajar silat kepadanya, oleh karena selain kauw-su bekas tentara ini sikapnya baik dan ramah tamah, disamping ilmu silatnya yang tinggi, juga orangtua ini tidak memasang tarip tertentu bagi para muridnya.

Siapa saja, asal mempunyai minat dan berbakat baik, boleh belajar silat kepadanya dengan pembayaran menurut kemampuan murid itu sendiri. Bahkan tak sedikit juga murid-murid yang berguru kepadanya tanpa bayaran oleh karena mereka ini sangat miskin.

Namun Can kauw-su menerimanya dengan baik dan memberi pelajaran tanpa perbedaan. Banyak sudah murid-muridnya yang setelah tamat belajar mendapat pekerjaan yang layak, seperti menjadi penjaga keamanan kota-kota lain, piauwsu-piauwsu, dan penjaga gudang saudagar besar atau penjaga malam gedung hartawan.

Kepandaian yang dimiliki Can Po Goan, berdasarkan ilmu silat dari cabang Siauw-lim dan dia sangat mahir sekali dalam hal memainkan golok sehingga semasa ia masih menjadi tentara, ia mendapat julukan Toat-beng Sin-to atau Golok Sakti Pencabut Nyawa. Disamping itu iapun memiliki ilmu gi-siauw (silat tanpa senjata) yang tak kalah hebatnya, teristimewa pukulan kepalan tangan kanannya yang sangat ampuh. Semasa ia masih menjadi tentara, disamping banyak musuh yang menjadi korban oleh goloknya, banyak juga dada dan kepala musuh yang pecah oleh kepalannya yang sangat hebat dan karenanya, disamping julukan si Golok Sakti Pencabut Nyawa, iapun memperoleh julukan Po-thauw Sin-kun (Kepalan Sakti Pemecah Kepala)! Dan berdasarkan ilmu pukulan inilah maka bu- koannya ia beri nama Sin-kun Bu-koan (Rumah Perguruan Silat si Tangan Sakti) dan papan merk ini terpancang di atas pintu depan rumahnya.

Pada suatu hari, datanglah tiga orang perantau ke kota Tong-koan. Mereka terdiri dari seorang setengah tua yang kemudian ternyata adalah seorang ahli silat yang banyak pengalamannya, bernama Lu Sun Pin beserta dua orang muridnya, yang masing-masing bernama Sim Kang Bu dan So Ma Tek, dua orang pemuda yang umurnya tidak lebih dari duapuluh tahun.

Kebetulan sekali Lu Sun Pin dan kedua muridnya di Tong-koan ini bertemu dengan Cio Song Kang, yaitu Cio wan-gwe yang pembaca sudah mengenalnya. Dan ternyata Cio wan-gwe dan orang she Lu adalah kawan lama dan pada masa dulunya agaknya mempunyi hubungan yang sangat akrab. “Ah, setelah sekian lama kita berpisah dan kita kini berjumpa kembali, aku mendapat kenyataan bahwa kau telah menjadi seorang hartawan. Benar-benar kupuji cara kepandaianmu membawa diri,” kata Lu Sun Pin ketika mereka duduk menghadpi meja perjamuan yang dihidangkan oleh Cio wan-gwe ke dalam gedungnya.

Cio wan-gwe tersenyum dan sambil mencapit sebutir bakso dengan sumpitnya yang siap akan dimasukkan ke mulutnya, ia berkata:

“Betapapun juga harus diakui, bahwa manusia hidup bergantung pada nasib, dan nasib tergantung pada kelakuan kita sendiri. Misalnya, manusia kebanyakan berjuang untuk memperoleh rejeki dan dapat dikatakan setiap orang ingin menjadi kaya, akan tetapi kalau bernasib buruk, hidupnya tetap konyol!

“Demikian juga kalau seorang yang telah mempunyai rejeki, akan tetapi berkelakuan royal dan tak dapat mempergunakan rejekinya secara layak, hal ini adalah kekeliruannya sendiri dan sama sekali bukan nasib……”

“Ya, ya, seperti juga aku ini,” tukas Lu Sun Pin. “Aku harus merasa malu atas kelakuanku sendiri sebagaimana yang kau katakan tadi, sehingga rejeki yang dulu kita sama dapatkan dan sama jumlahnya, menjadi ludes tidak keruan.”

“Ah, sudahlah Sun Pin, jangan kau terlalu menyesali dirimu. Sekarang, setelah aku berjumpa denganmu, kuharapkan selanjutnya kau dapat merubah hidupmu. Aku bersedia membantumu, kawan!”

Kata-kata Cio wan-gwe ini sangat membesarkan hati Lu Sun Pin dan ahli silat perantau itu sangat berterimakasih sekali. Selanjutnya mereka makan minum sampai puas sambil mempercakapkan hal-hal tetek bengek. Bahkan untuk beberapa malam, Lu Sun Pin dan kedua orang muridnya menginap di gedung kawan lamanya itu.

Kemudian Lu Sun Pin mendengar dari Cio wan-gwe bahwa di Tong-koan terdapat seorang kauw-su yang membuka bu-koan. Sebagai seorang ahli silat, tentu saja Lu Sun Pin merasa tertarik mendengar nama Can Po Goan yang menamakan rumah perguruan silatnya dengan empat buah huruf yakni “Sin-kun Bu- koan”! Maka, terdorong oleh perasaan ingin belajar kenal, pada suatu pagi dengan membawa kedua muridnya, Lu Sun Pin pergi mengunyungi rumah perguruan si Kepalan sakti itu. Akan tetapi Lu Sun Pin merasa menyesal karena Can kauw-su sedang pergi sehingga tidak dijumpainya dan ia hanya menjumpai beberapa orang anak muda yang duduk mengobrol di dalam bu- koan itu, yaitu murid-murid Can kauw-su. Oleh karena itu, Lu Sun Pin lalu pulang kembali setelah menyampaikan pesan kepada salah seorang murid Can kauw-su, bahwa nanti sore ia akan datang lagi.

Adapun pada sore harinya, Lu Sun Pin hanya menyuruh Sim Kang Bu, yakni salah seorang muridnya, pergi ke Sin-kun Bu-koan untuk melihat apakah Can kauw-su sudah kembali dari bepergiannya atau belum.

“Kang Bu, kalau ternyata Can kauw-su sudah datang, cepatlah kau kembali dan nanti aku akan pergi kesana,” demikian pesan Lu Sun Pin kepada muridnya yang segera berangkat.

Kang Bu melihat, bahwa pintu depan rumah perguruan itu tertutup. Mula-mula ia mengetuknya dengan perlahan. Setelah mengetuk beberapa kali masih belum juga terlihat atau terdengar tanda-tanda bahwa pintu itu dibuka dari dalam, maka ia mengetuknya agak keras dan lebih keras lagi dengan menggunakan tinjunya. Pemuda yang beradat kasar ini lalu menjadi marah ketika masih belum juga mendengar jawaban dari dalam. Akan tetapi ketika ia mendengar suara ramai jauh di belakang rumah perguruan ini, ia baru sadar bahwa orang-orang bu-koan sedang berlatih silat jauh di belakang rumah sehingga tentu saja ketukannya tadi tidak terdengar oleh mereka.

Maka akhirnya ia berjalan melalui sebuah jalan kecil yang terdapat di samping rumah perguruan tersebut. Dan ketika ia sampai di luar sebuah lapangan yang agak luas, yaitu lapangan di belakang Sin- kun Bu-koan, yang sekitarnya di kelilingi pagar bambu, Kang Bu melihat banyak para muda yang tengah berlatih silat di situ.

Sebenarnya, pada sore itu Can kauw-su masih belum datang dan seperti biasa, bilamana sang guru sedang pergi, yang memimpin dan memberi pelajaran silat adalah seorang murid tertua, yaitu seorang pemuda yang bernama Tan Seng Kiat. Sore itu, Tan Seng Kiat yang bertindak selaku wakil gurunya dan dibantu oleh Kwe Bun, sutee (adik seperguruan)nya, sedang memberi pelajaran silat kepada para sutee-sutee lainnya. Tan Seng Kiat memberi pelajaran dengan cara yang sangat teliti dan seksama.

Dan ketika Sim Kang Bu mulai mengintai melalui celah-celah pagar bambu dari luar lapangan, justeru Tan Seng Kiat sedang memberi pelajaran terhadap sutee-suteenya yang masih baru. Pelajar baru dari Sin-kun Bu-koan ini sebanyak tigapuluh orang, berdiri dan berjajar rapih di tengah lapangan, tangan dan kaki mereka bergerak-gerak teratur serta seluruh tubuh penuh terisi tenaga yang dikerahkan dengan penuh perhatian mengikuti gerakan Tan Seng Kiat yang memberi contoh di depan mereka.

Pelajarannya adalah semacam gerak badan untuk melemaskan gerakan anggauta badan bagi para pelajar yang baru memasuki perguruan silat, atau yang lazimnya disebut para murid tingkat rendah. Kemudian, setelah pelajaran tingkat permulaan ini dilakukan berulang-ulang sehingga seluruh tubuh si pelajar itu mandi keringat, tiba giliran bagi murid-murid yang agak tinggi tingkatnya.

Mereka ini disuruh bersilat berpasangan, saling memperlihatkan ketangkasan masing-masing. Setelah tiba giliran bagi para murid yang tingkatnya lebih tinggi lagi, mereka dilatih bertempur seorang lawan seorang maupun seorang dikeroyok oleh beberapa orang. Dan karena mereka ini terdiri dari para murid tingkat tinggi, maka cara mereka berlatih dilakukan secara sungguh-sungguh sehingga kelihatannya mereka bertempur benar-benar, membuat debu di lapangan itu mengebul dan beterbangan. Demikianlah Tan Seng Kiat yang mewakili gurunya memberi pelajaran dan melatih sutee-suteenya dengan sabar dan rajin. Kesalahan yang kecilpun dalam melakukan serangan atau pembelaan, selalu diketahui oleh Tan Seng Kiat yang segera menegur dan memberi petunjuk-petunjuk.

Tiba-tiba terdengar suara kaki berdebuk ketika seorang pemuda meloncati pagar dan turun memasuki lapangan itu. Para pelajar silat menghentikan pergerakan mereka dan semuanya menengok, tak terkecuali Tan Seng Kiat dan Kwe Bun memandang dengan terperanjat kepada orang yang datang dengan jalan meloncati pagar itu.

Sim Kang Bu menghampirinya dan langkah kakinya gagah dengan dada terangkat.

Tan Seng Kiat maklum bahwa pemuda yang datang ini adalah salah seorang yang pagi tadi mengunjungi bu-koannya. Tapi cara “tamu” itu memasuki lapangan dengan jalan yang tidak pantas dan berlagak kegagah-gagahan, membuat hati Tan Seng Kiat merasa sebal. Namun, karena ia memiliki watak sabar, maka tidak diperlihatkannya perasaan hatinya. Hanya ia segera maju menyambutnya sambil menjura memberi hormat:

“Selamat sore, saudara yang terhormat,” katanya. Tapi ‘tamu’ itu hanya membalas dengan sebuah anggukan sombong.

“Adakah saudara ini hendak menjumpai guru kami?” tanya Tan Seng Kiat dengan nada kata yang tetap sabar, setelah melihat betapa sikap tamu itu demikian angkuh dan untuk sesaat lamanya membungkam saja sambil menengok ke sana ke mari menatapi orang-orang yang berada disitu seakan-akan seorang panglima tengah memeriksa barisannya. Baru kemudian, bibir tamu itu tampak menyeringai lebar.

“Benar, aku datang hendak menjumpai gurumu,” sahutnya dengan suara berat dan lamban.

“Menyesal sekali, saudara, guru kami masih belum juga datang,” balas Tan Seng Kiat sambil matanya menatap tajam seakan-akan ia sedang menyelami dan mengukur kepandaian tamunya yang jumawa itu.

Memang ketika Tan Seng Kiat sedang menaksir “isi” tamunya. Dan ia maklum bahwa pemuda itu memiliki kepandaian silat yang tak boleh dipandang ringan, terbukti ia dapat meloncati pagar dengan mudahnya.

Hanya Seng Kiat sekaligus dapat menarik kesimpulan bahwa tingkat gin-kang (ilmu meringankan tubuh) tamunya masih sangat rendah. Karena cara orang itu menurunkan kakinya ketika meloncat pagar tadi, telah mengeluarkan suara berdebukan, menandakan bahwa orang itu masih belum dapat menguasai keseimbangan badan.

“Kalau benar gurumu masih belum datang, biarlah, tidak apa. Setelah aku menyaksikan betapa caramu memberi pelajaran silat tadi pasti guruku yang hendak berkenalan dengan gurumu akan merasa kecewa, sehingga kurasa tidak ada gunanya guruku menjumpai gurumu!” kata Sim Kang Bu kemudian dan dari sinar matanya tampak ia mengejek.

Tan Seng Kiat tertegun sejenak karena pemuda yang berwatak sabar ini tengah mencoba menangkap apa maksud kata-kata yang diucapkan oleh tamunya itu. Akan tetapi, Kwe Bun yang wataknya tidak sesabar suhengnya, segera maju dan memberi teguran:

“Eh, kawan! Kau datang kemari tanpa kami undang dan caramu memasuki lapangan ini, membuktikan bahwa kau seorang yang pendidikannya mentah. Tambah lagi kata-katamu membuktikan bahwa kau memandang rendah kepada kami teristimewa kepada guru kami, sehingga kau mengatakan bahwa gurumu tidak ada gunanya untuk berkenalan dengan guru kami! Maka demikian juga bagi kami, kami pun merasa tak ada harganya berkenalan denganmu maupun dengan gurumu……”

“Sutee, tahanlah kesabaranmu!” Tiba-tiba terdengar Tan Seng Kiat menegur Kwe Bun, dan ia lalu bertanya kepada tamunya:

“Saudara, bolehkah aku bertanya, apakah maksudmu yang sebenarnya datang kemari?”

Sebelum menjawab, Sim Kang Bu tertawa bergelak: “Maksudku datang kemari adalah untuk memenuhi keinginan guruku yang merasa tertarik sekali akan nama Can kauw-su yang membuka Sin-kun Bu-koan ini, karena pada mulanya kami mengira bahwa gurumu adalah seorang ahli silat tingkat tinggi.

“Akan tetapi setelah kusaksikan betapa caramu memberi pelajaran silat kepada kawan-kawanmu, aku baru mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang kau waris dari Can kauw-su itu tak lebih hanya merupakan silat kampungan belaka! Nah, inilah sebabnya mengapa tadi kukatakan bahwa tidak ada gunanya guruku berkenalan dangan gurumu. Mengerti?”

Dada Kwe Bun serasa mau meledak mendengar kata-kata tamunya yang terang-terangan menghina itu. Akan tetapi kesabaran yang dimiliki oleh Tan Seng Kiat benar-benar harus dipuji oleh karena sikap pemuda ini tetap tenang seakan-akan tidak merasakan kekurang ajaran tamunya. Bahkan langgam suaranya pun tetap seperti biasa, yakni sabar dan halus, dikala berkata:

“Ya, ya, aku mengerti maksudmu, saudara. Kalau memang kau merasa gurumu tidak ada gunanya berkenalan dengan suhu tidak menjadi apa kawan. Sebaliknya aku sendiri berani mengatakan bahwa suhu kamipun belum tentu sudi berkenalan dengan gurumu! Maka kini kupersilahkan kau meninggalkan tempat ini!”

Sungguhpun kata-kata Tan Seng Kiat ini diucapkan dengan suara halus dan sikap sabar, akan tetapi di dalamnya mengandung maksud pembalasan yang sangat jitu dan perkataan Tan Seng Kiat sebagai imbalan ini terasa sangat mengena sekali bagi hati Sim Kang Bu, yang ketika itu segera membalikkan diri hendak berlalu. “Eh, nanti dulu, kawan!” seru Kwe Bun yang melangkah menyusul sehingga Sim Kang Bu menghentikan langkah kakinya dan menghadapinya dengan sinar mata berkilat-kilat.

“Kita tidak pernah bermusuhan maupun berkenalan, tapi kedatanganmu kemari agaknya sengaja hanya untuk menghina kami. Sebenarnya siapakah gurumu dan terutama sekali siapakah kau ini?”

“Aku tak pernah menyembunyikan nama. Dengarlah, aku bernama Sim Kang Bu murid seorang ahli silat kenamaan yang pernah malang melintang di kalangan Kang-ouw, yakni Thiat-tha Lu Su Pin, si Pagoda Besi!

Baik Kwe Bun maupun Tan Seng Kiat sendiri memang belum mengenal nama Lu Sun Pin karena dari guru mereka belum pernah mendengarnya, maka tanpa pikir lagi Kwe Bun mengejek:

“Oh, kiranya kau ini adalah murid dari locianpwee si Pagoda Besi, pantas saja kau berani mengatakan ilmu silat kami adalah ilmu silat kampungan. Akan tetapi aku belum tahu ilmu silat macam apakah yang dimiliki olehmu? Ilmu silat pasaran ataukah ilmu silat peseran?” Merahlah wajah Sim Kang Bu karena marah mendengar ejekan itu. Memang seorang yang berwatak kasar dan jumawa sehingga tidak mempunyai kebijaksanaan untuk menimbang seperti Sim Kang Bu ini, hanya dapat marah kalau diejek orang tanpa sadar bahwa sebenarnya ia sendiri yang membuat gara-gara! Sebagai murid dari seorang ahli silat Bu-tong-pay, tentu saja Sim Kang Bu merasa marah sekali disebut ilmu silat pasaran, apalagi peseran!

“Ilmu silatku adalah dari cabang Bu-tong-pay! Untuk membuktikan kehebatannya, sudikah kau melayaniku coba-coba barang beberapa jurus!?” katanya setengah membentak sambil bersiap memasang kuda-kuda.

“Bolehlah! Silahkan kau memberi pelajaran kepadaku yang kau sebut ilmu silat kampungan ini!” tantang Kwe Bun yang sudah bersiap pula.

Para pelajar lainnya yang berpuluh-puluh orang banyaknya itu, yang memang sejak tadi merasa panas hati melihat lagak tamu yang kurang ajar itu. Ketika melihat betapa Kwe Bun dan Sim Kang Bu hendak bertempur, mereka lalu berdiri merupakan sebuah bundaran sehingga di tengah-tengah mereka merupakan gelanggang yang dipagari manusia. “Sutee, jangan kau menanam bibit permusuhan! Sudahlah, sudahi saja persoalan kecil ini dan kita persilahkan tamu kita untuk berangkat pulang!” seru Tan Seng Kat sambil berdiri menyelak di antara kedua orang jang sudah siap hendak saling mengunjukkan kepandaian itu.

“Suheng, mundurlah dan biarkanlah aku akan mengukur kehebatan tamu kita yang sombong dan berani menghina kita ini,” sahut Kwe Bun.

“Suhu toh pernah memberi nasehat kepada kita, bahwa kalau kita diperlakukan jahat oleh orang lain, kita tak perlu membalasnya. Akan tetapi kalau kita dihina maka kita jangan menerima penghinaan itu secara mentah-mentah oleh karena penghinaan adalah sangat merugikan dan merusakkan kehormatan dan nama baik kita, terutama nama baik suhu dan rumah perguruan kita!”

Pada detik berikutnya, tanpa Tan Seng Kiat dapat mencegah lagi, Kwe Bun dan Sim Kang Bu sudah mulai saling serang. Sementara orang-orang yang mengitarinya sudah terdengar bersorak-sorak riuh sekali menyemangati Kwe Bun, hingga keadaan di situ kini menjadi ramai dan tegang. Yang mula-mula membuka serangan adalah Sim Kang Bu, karena pemuda ini berwatak kasar dan berangasan maka tanpa memberi peringatan lagi terhadap lawannya sebagaimana biasanya orang gagah yang melakukan serangan terlebih dulu, segera maju dan menubruk Kwe Bun sambil mengirim pukulan tangan yang dimiringkan dan disabetkan ke arah leher lawan dengan menggunakan gerak tipu Sian-ciu-san-hoa atau Tangan Dewa Menyebar Bunga.

Kwe Bun mengelak ke samping akan tetapi dengan gerakan yang amat gesit dan ganas sekali karena Sim Kang Bu ingin merobohkan lawannya dengan cepat untuk membuktikan kelihayannya, telah melanjutkan serangannya. Dengan tiba-tiba ia merendahkan tubuhnya setengah berjongkok sambil kaki kirinya dipindahkan selangkah ke depan, dan dengan gerakan secepat kilat kaki kanannya diayun ke depan menyambar ke arah selangkangan lawan.

Ternyata Kwe Bun tak kalah tangkas dan gesitnya. Menghadapi serangan susulan lawan yang cepat dan tak terduga sebelumnya itu, ia cepat melompat ke atas dan membalas dengan serangannya sambil mempergunakan gerak tipu Ouw-liong-coan-tha (Naga Hitam Membelit Menara), yakni tangan kanan kirinya membuat gerakan menggunting kepala lawan, sedangkan kaki kirinya menyambar ke arah lambung.

Sim Kang Bu terkejut berbareng kagum karena ternyata lawan nya itu dapat berkelit. Sambil melancarkan serangan hebat, maka cepat ia menarik kembali kakinya yang ditendangkan tadi sambil menangkis serangan lawan yang menggunting itu dengan keras, dan kemudian melakukan serangan balasan yang tak kalah hebatnya.

Demikianlah, kedua orang muda itu mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya untuk dapat mengalahkan lawannya. Yang seorang ingin membuktikan sifat ketakaburannya dan yang seorang lagi, hendak membuktikan bahwa ilmu silat yang dimilikinya tak boleh dihina dengan seenaknya saja.

Kwe Bun dan Sim Kang Bu ternyata mempunyai tingkat kepandaian yang tidak jauh bedanya, hanya kalau diadakan ukuran, Sim Kang Bu memiliki tenaga yang lebih besar akan tetapi sebaliknya, Kwe Bun memiliki kegesitan yang lebih cepat. Sampai hampir limapuluh jurus mereka berkelahi dengan seru sekali, dan keduanya ternyata sama tangguhnya. Sungguhpun ke duanya telah menerima pukulan dan tendangan dari lawan, akan tetapi serangan-serangan ini ternyata belum cukup kuat untuk merobohkannya oleh karena mereka keburu mengelak sehingga pukulan dan tendangan itu hanya mengenai kulit dan meleset saja, tanpa mengenai sasaran yang jitu untuk dapat merobohkannya.

Hal ini menyebabkan Sim Kang Bu merasa penasaran sekali maka ia lalu merobah pergerakannya dan kini ia mengeluarkan ilmu silatnya yang diandalkan, yakni Pat-ciu-kun-hoat (Ilmu silat tangan delapan), semacam ilmu berkelahi dari Bu-tong-pay yang baru saja dipelajari dan diterima dari gurunya. Ilmu silat ini tidak saja dipergunakan untuk memukul, akan tetapi lebih banyak menggunakan tangan secara mencengkeram atau memukul dengan jari-jari tangan terbuka dan mengarah urat-urat jalan darah yang sangat berbahayanya apabila kena ditotok.

Selain gerakannya amat cepat, juga pelancaran serangannya secara tidak terduga-duga karena kedua tangan Sim Kang Bu yang memainkan ilmu silat ini selalu berobah-robah dengan cepat. Sebentar ia menyerang dari kiri, lain saat dari kanan dan kemudian dari atas dan bawah secara berantai sehingga benar-benar serangan ini seperti dilakukan oleh tangan delapan secara berbareng dan sangat membingungkan lawan. Setelah Sim Kang Bu mempergunakan ilmu pukulan ini, maka benar saja Kwe Bun menjadi terdesak hebat dan menjadi bingung menghadapi serangan-serangan yang bertubi-tubi dan sambung menyambung datangnya itu. Dan setelah dapat mempertahankan diri sampai duapuluh jurus lagi, akhirnya pukulan tangan kiri dari Sim Kang Bu dapat menghantam tulang pundak Kwe Bun yang tanpa dapat mengelak atau keburu menangkis lagi, segera berseru kesakitan dan setelah terhuyung-huyung sebentar, akhirnya ia roboh sambil mengaduh-aduh.

“Ha, ha, ha! Baru sekarang kau dapat membuktikan dan merasakan kelihayanku! Tapi, kalau kau masih belum puas, baiklah kutambahi lagi!” Kata-kata Sim Kang Bu yang penuh kemenangan disusul dengan tubrukan dan akan mengirim pukulan yang terakhir supaya penderitaan lawannya itu terlebih hebat.

Akan tetapi ketika pemuda yang merasa benar sendiri ini tengah mengangkat tinjunya yang segera akan dihantamkan ke lambung Kwe Bun, tiba-tiba ia mendengar teriakan:

“Tahan!” Berbareng dengan itu, ia merasakan tangannya ada yang menyampok dan menangkapnya dari belakang, yang lalu menggentaknya sehingga tidak ampun lagi tubuh Sim Kang Bu tadi jatuh ke belakang dalam keadaan terjengkang! Yang menyebabkan Sim Kang Bu terjengkang itu adalah perbuatan Tan Seng Kiat yang hendak menolong suteenya dari bahaya maut,

“Saudara Sim, lawan yang sudah roboh dan tak dapat melawan lagi, tidak boleh diserang lagi. Dan lagi kau harus ingat bahwa kita belum pernah bermusuhan sehingga tidak semestinya kau berlaku terlalu kejam,” kata Tan Seng Kiat sambil menghampiri suteenya yang akan segera dibangunkan dan diperiksa luka pada pundaknya itu.

Akan tetapi dasar Sim Kang Bu berwatak takbur, teguran Tan Seng Kiat itu bahkan membuatnya menjadi salah terima dan cepat bangkit sambil membentak marah: “Rupanya kau hendak menggantikan suteemu? Bagus! Kaupun patut mendapat bagian kelihayanku!” katanya dan tiba-tiba ia mengirim pukulan kepada Tan Seng Kiat.

Tan Seng Kjat yang mendapat serangan tiba-tiba ini sedikit pun tidak menjadi gugup, melainkan dengan sikapnya yang tetap tenang, ia miringkan tubuhnya ke samping sehingga pukulan Sim Kang Bu yang dilakukan sepenuh tenaga itu hanya menghantam angin, dibarengi tangannya tiba-tiba menyabet dari samping memukul lengan Sim Kang Bu tepat di bagian sikutnya dan “Krakk!” yang dibarengi pekik kesakitan dari mulut Sim Kang Bu.

Ternyata sabetan tangan Tan Seng Kiat agaknya telah membuat tulang sikut Sim Kang Bu terlepas dari sambungannya, sehingga pemuda yang tidak tahu diri itu jadi menjerit karena ia merasakan sikutnya sakit bukan main dan ia terhuyung-huyung sambil meringis-ringis.

Tiba-tiba meledaklah tempik sorak dari para sutee Tan Seng Kiat yang merasa puas dan gembira melihat betapa “tamu”nya itu dibikin tidak berdaya oleh toa-suheng mereka dengan hanya segebrakan saja.

Betapa dirinya disoraki demikian, Sim Kang Bu menggertakkan gigi dan matanya berapi-api menatap tajam kepada Tan Seng Kiat. Kemudian ia pergi tanpa pamit seperti ketika ia datang tadi tanpa diundang.

Dan kalau datang tadi meloncati pagar bambu dengan gagah, adapun kini, agaknya karena rasa sakit tulang sikutnya yang terlepas dari sambungannya itu menyebabkan tidak dapat meloncati pagar lagi. Hanya dengan wajah meringis menahan rasa sakit dan lengan kanannya yang menderita itu tidak dapat digerakkan sehingga tinggal menggantung saja dalam keadaan lumpuh, ia memanjati pagar tersebut dan tampaknya sangat susah payah.

Hal ini merupakan semacam pemandangan yang lucu bagi para anak murid Sin-kun Bu-koan yang melihatnya, sehingga selain mereka hiruk pikuk menyoraki, keluar juga ejekan-ejekan dari mereka:

“Hai, sahabat sombong! Bagaimana rasanya sikutmu itu? Enak…..!?” teriak seorang,

“Itulah hadiahnya bagi seorang yang sok aksi…..,” seru seorang lagi.

“Hureh! Datangnya seperti harimau, tetapi perginya tidak beda seperti anjing buduk yang kena pentungan!” demikian kata seorang lainnya lagi yang tidak mau kalah suara dalam mengejek tamunya yang sombong dan yang kini sudah menghilang dari penglihatan mereka itu.

“Sudah! Sudahlah sutee-suteeku sekalian!” seru Tan Seng Kiat kemudian sambil memberi tanda dengan kedua tangannya sebagai isyarat supaya para suteenya itu menghentikan kehiruk pikukannya, dan benar saja suasana mendadak menjadi sepi dan mereka sama memandang kepada toa-suhengnya ini dengan perasaan bangga dan kagum.

Sementara itu Tan Seng Kiat berkata lagi: “Sutee-suteeku, aku maklum bahwa kalian merasa gembira dan puas melihat betapa orang kurang ajar itu kebetulan sekali dapat dikalahkan olehku, sehingga kalian jadi mengejek dan menyorakinya. Tetapi sutee- suteeku, kau harus ingat bahwa ejekan dan sorakan dari kalian tadi dapat tambah memperuncing keadaan dan aku yakin, bahwa peristiwa yang semula hanya merupakan suatu hal remeh ini akan berekor panjang. Ah, benar-benar kejadian ini harus disesalkan!”

Kemudian Tan Seng Kiat membangunkan Kwe Bun yang sampai ketika itu masih rebah di tanah sambil merintih-rintih. Dibantu oleh beberapa orang kawannya, tubuh Kwe Bun digotong ke dalam rumah perguruan.

Dan ketika Tan Seng Kiat memeriksa pundak suteenya yang kena pukul itu ternyata ia mendapatkan bahwa tulang pundak Kwe Bun hanya nyengsol saja dan sama sekali tidak membahayakan jiwanya. Akan tetapi oleh karena Tan Seng Kiat tidak paham untuk membetulkan tulang, maka untuk menolong Kwe Bun mesti menanti sampai gurunya kembali. Adapun Sim Kang Bu berjalan setengah berlari sambil tangan kirinya memegang-megang dan mengurut-urut sikut lengan kanannya yang rasa sakitnya bukan main. Kemudian ketika ia sampai di gedung Cio wan-gwe dan bertemu dengan suhunya yang terkejut melihat keadaan muridnya ini, Sim Kang Bu lalu mengadu bahwa ia telah dihina oleh murid dari Sin-kun Bu-koan.

Tentu saja pengaduan pemuda itu tidak dikatakan secara terus terang, melainkan kesalahan ditimpahkan dan dilebih-lebihkan kepada anak murid Sin-kun Bu-koan yang menyebabkan sehingga tulang sikutnya menjadi teklok itu.

“Coba saja suhu bayangkan,” demikian kata Sim Kang Bu menambahkan pengaduannya yang membuat gurunya menjadi panas hati, “Sungguhpun teecu sudah memperkenalkan bahwa teecu ini adalah murid suhu akan tetapi mereka ternyata secara kurang ajar sekali menyebutkan bahwa ilmu silat kita ini adalah ilmu silat pasaran dan peseran.

“Tentu saja teecu sangat penasaran dan karena itu teecu memperlihatkan ilmu silat kita terhadap murid kedua dari Can kauw-su itu, yang akhirnya berhasil dirobohkan oleh teecu. Akan tetapi suhengnya, yaitu yang menjadi wakil guru mereka, secara curang telah membokong teecu sehingga teecu menjadi sedemikian dibuatnya.”

Lu Sun Pin yang terlalu memanjakan muridnya, menjadi marah sekali: “Kurangajar! Maksudku yang baik ternyata dibalas dengan penghinaan, aku harus menebus hinaan ini!” katanya dan segera ia berangkat ke Sin-kun Bu-koan, sementara So Ma Tek muridnya yang seorang lagi disuruh mengurut dan mengobati sikut Sim Kang Bu.

Dengan langkah kakinya yang lebar-lebar, Lu Sun Pin berjalan cepat sekali hingga sebentar kemudian ia sudah tiba di depan Bu- koan yang ditujunya. Seperti juga ketika tadi Sim Kang Bu sampai di situ, daun pintu rumah perguruan tersebut masih tetap tertutup. Lu Sun Pin lalu menggedornya dengan kasar dan tak lama kemudian daun pintu tersebut tampak dibuka dari dalam, yaitu oleh Tan Seng Kiat.

“He, anak muda! Mana gurumu? Coba suruh dia keluar. Aku Lu Sun Pin ada urusan hendak dibicarakan dengannya,” kata Lu Sun Pin kasar dan sepasang matanya setelah menatap tajam ke wajah Tan Seng Kiat, lalu mengawasi ke dalam bu-koan, di mana terdapat para anak muda yang duduk mengelilingi Kwe Bun yang rebah di atas dipan dan ketika itu masih merintih-rintih. Tan Seng Kiat maklum, bahwa orang setengah tua kasar ini adalah guru Sim Kang Bu dan ia sudah dapat menduga bahwa kedatangan tamunya ini, merupakan kelanjutan peristiwa tadi. Akan tetapi, oleh karena memang ia memiliki watak sabar, sungguhpun sikap tamunya demikian memuakkan, Tan Seng Kiat menjura memberi hormat sambil menjawab:

“Lu sianseng (tuan Lu), menyesal sekali guruku sampai sekarang masih juga belum kembali dari bepergiannya. Akan tetapi kalau misalnya sianseng ada keperluan, bolehkah siauwtee mengetahuinya supaya nanti kalau suhu datang dapat siauwtee menyampaikan maksud sianseng ini?”

“Boleh, boleh! Katakanlah kepadanya bahwa aku berpesan, supaya gurumu selain mendidik murid-muridnya dalam hal ilmu silat, juga harus dapat memberi pelajaran tentang budi pekerti supaya muridnya mengenal tata cara kesopanan, sehingga jangan sampai terjadi, peristiwa penghinaan seperti terhadap muridku tadi!”

“Penghinaan? Penghinaan yang mana dan macam apakah yang sianseng maksudkan?” “Hm, hm! Pandai kau berpura-pura, anak muda! Akan tetapi aku mendapat kepastian, kaukah orangnya yang menghina muridku tadi?”

“Siauwtee tidak pernah menghina terhadap siapapun, akan tetapi kalau siauwtee tadi memberi sedikit hajaran kepada murid sianseng itulah tak lebih dari pada suatu peringatan akan kekurangan dan kesombongannya dan juga sebagai pembalasan atas perbuatannya melukai suteeku!”

“Bagus! Dan justeru kedatanganku hendak membalas sakit hati muridku dan oleh karena kebetulan sekali gurumu sedang tiada, maka baiklah kau mewakilinya menerima pembayaran hutang dariku ini!”

Tiba-tiba seselesainya berkata, Lu Sun Pin mengulurkan tangannya dan dengan jari-jari terbuka langsung mencengkeram pundak Tan Seng Kiat.

Tan Seng Kiat memang sudah maklum bahwa kedatangan orang ini adalah membawa maksud kurang baik, maka ia selalu berlaku hati-hati dan waspada sehingga ketika ia menghadapi serangan secara tiba-tiba cepat ia mengelak ke samping sambil melangkah mundur tiga tindak ke belakang. “Sabar sianseng! Ternyata kau sudah setua ini masih belum mempunyai kebijaksanaan. Kau hanya memandang akibat dan sama sekali tidak menyelidiki dahulu sebab-sebabnya!” kata Tan Seng Kiat yang betapapun sabarnya, akhirnya darah mudanya yang panas, meluap juga.

Ketika itu para murid Sin-kun Bu-koan yang duduk meriungi Kwe Bun, kini sudah berkumpul dan berdiri di belakang Tan Seng Kiat dan umumnya mereka ini merasa marah sekali terhadap si tamu yang sangat kasar serta mau menang sendiri itu. Pantas saja muridnya tadi begitu kurang ajar, kiranya gurunya ini adalah seorang biadab, pikir mereka.

“Tutup bacotmu! Terima saja pembalasanku, habis perkara!” Lu Sun Pin membentak sambil bergerak maju dan mengirim serangan dalam gerak tipu Cio-po-thian-keng atau Batu Meledak Langit Gempur, sebuah tipu pukulan yang dilakukan dengan tenaga sepenuhnya hingga merupakan serangan berbahaya oleh karena orang she Lu yang terlalu dikuasai nafsu hatinya ini ingin merobohkan anak muda itu dengan sekali gebrak saja.

Tan Seng Kiat maklum bahwa kini ia menghadapi seorang ahli silat tinggi, maka ia tidak berani menangkis, hanya dengan sebat mengelak ke samping mempergunakan kelincahan tubuhnya, lalu membarengi serangan balasan yang dilakukan dengan tangan miring yakni dengan gerak tipu Heng-pay-koan-im (Memuja Koan- im Dengan Tangan Miring). Tangan yang dimiringkan itu disabetkan ke arah pinggang Lu Sun Pin yang segera berkelit sambil ketawa mengejek.

Sungguh Tan Seng Kiat membuktikan bahwa ilmu silatnya, sangat baik, akan tetapi oleh karena kini ia menghadapi seorang ahli silat tinggi yang baik tenaga maupun kepandaian silatnya jauh lebih unggul, tambahan lagi ia kalah pengalaman, maka dalam beberapa jurus saja sudah terdesak hebat dan hanya dapat menangkis atau mengelak saja tanpa mampu melawan sama sekali. Hal ini membuat para sutee-suteenya menjadi gelisah dan cemas.

Dan ketika pertempuran yang berat sebelah mencapai jurus keduabelas, benar-benar Tan Seng Kiat sudah sangat kewalahan sehingga pada suatu ketika, setelah ia berhasil menangkis tangan kanan lawan yang akan menyodok ulu hatinya dan mengelak dari tangan kiri lawan yang nyaris saja mematahkan tulang iganya, tiba- tiba ia menjerit dan tubuhnya terpental sampai beberapa tombak jauhnya! Ternyata gerakan Lu Sun Pin sedemikian cepatnya sehingga tanpa diduga sama sekali, lambung Tan Seng Kiat telah kena ditendang dan pemuda ini terlempar dan jatuh dalam keadaan pingsan!

Lu Sun Pin tertawa bergelak: “Ha, ha, ha! Punahlah hutangku kini. Dan kalau di antara kalian ada yang merasa penasaran, katakanlah kepada guru kalian bahwa aku yang datang ini adalah Lu Sun Pin si Pagoda besi. Untuk sementara aku berdiam di gedung Cio wan-gwe, maka jika gurumu merasa perlu, kupersilahkan datang kesana!”

Sesudah mengatakan yang pada hakekatnya mengandung tantangan ini, Lu Sun Pin lalu melangkah lebar ke arah pintu. Dan dengan cepat sekali lenyap dari penglihatan murid-murid Sin-kun Bu-koan, yang bengong melongo karena kaget melihat betapa toa- suheng mereka yang mereka ketahui ilmu silatnya paling tinggi di antara mereka, telah dapat dirobohkan hanya dalam belasan jurus saja.

Mereka pun merasa kagum akan kelihayan orang setengah tua itu. Kemudian, setelah sadar dari kebengongannya, mereka lalu menggotong Tan Seng Kiat yang pingsan itu dan membaringkannya di atas sebuah pembaringan di sisi dipan, dimana Kwe Bun berbaring. Dikala cuaca senja sudah remang-remang hampir menjadi gelap, barulah Can Po Goan datang. Dan alangkah kagetnya kauw-su ini ketika melihat dua orang muridnya yang tercinta dalam keadaan sedemikian rupa.

Tanpa memperdulikan pembicaraan murid-murid lainnya yang agaknya memberi laporan secara dulu mendahului, hingga suara mereka bising sekali karena mereka bicara bersama-sama. Can kauw-su menggulung lengan baju dan membuka pakaian Tan Seng Kiat yang ketika itu sudah siuman dari pingsannya.

Lambung yang kena tendangan tadi diperiksanya dan tampaklah kulit bagian lambung itu matang biru, akan tetapi sungguhpun demikian menurut anggapan Can kauw-su keadaan Tan Seng Kiat tidak berbahaya meskipun untuk menjadi sembuh kembali mesti makan waktu beberapa hari lamanya. Sedangkan pundak Kwe Bun setelah diurut dan dibetulkan letak tulangnya yang nyengsol itu segera sembuh kembali meskipun rasa nyerinya masih belum hilang.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi, Seng Kiat dan Kwe Bun?” tanya Can kauw-su kemudian sambil tangannya bekerja membuat obat yang terdiri dari ramuan dicampur arak untuk mengobati kedua anak muda itu. Tan Seng Kiat lalu menuturkan dengan sejujurnya seluruh peristiwa yang telah dialaminya.

Selama mendengarkan cerita muridnya, Can Po Goan mengerutkan keningnya, sebentar-sebentar menggelengkan kepala dan sesaat kemudian ia mengangguk-angguk.

“Bahkan orang yang mengaku dirinya bernama Lu Sun Pin dengan gelarnya si Pagoda Besi itu ketika ia akan meninggalkan tempat ini sengaja berkata bahwa kalau suhu merasa perlu, dia menanti di rumah Cio wan-gwe!” demikian Tan Seng Kiat mengakhiri penuturannya.

“Ah, Lu Sun Pin, Lu Sun Pin!” Can kauw-su terdengar menggumam sambil menghela napas dalam.

“Adakah suhu pernah kenal padanya?” Tan Seng Kiat bertanya.

Can kauw-su menggelengkan kepala dan menjawab: “Sungguhpun aku belum mengenal dan bertemu dengan orangnya, namun nama Lu Sun Pin si Pagoda Besi pernah kudengar sejak lama sekali, yaitu seorang ahli silat yang menempuh jalan penghidupan sesat! Sungguh tak kusangka, hari ini ia datang ke mari dan agaknya sengaja hendak menjatuhkan nama baik kita.” “Adakah suhu bermaksud hendak mendatanginya di rumah Cio wan-gwe?” tiba-tiba Kwe Bun bertanya dengan penuh harapan bahwa gurunya akan melakukan pembalasan.

Can kauw-su kembali menggelengkan kepala: “Aku rasa tidak perlu, tidak perlu dan sama sekali tidak ada faedahnya, hanya menimbulkan permusuhan yang makin besar belaka. Kalian tahu sendiri bahwa aku si orang tua ini paling tidak suka bermusuhan oleh karena segala macam permusuhan dalam bentuk apapun juga, bukanlah hal yang dapat mendatangkan kebahagiaan.

“Sedangkan aku sudah lima tahun menjadi guru silat dan menikmati hidup yang penuh ketenteraman. Apakah aku harus menghancurkan ketenteraman ini hanya karena peristiwa ini, peristiwa yang ditimbulkan oleh orang yang dipenuhi napsu angkara murka?

“Ah, tidak……! Dan sudahlah, peristiwa yang telah terjadi ini anggaplah sebagai pelajaran bagi kalian dan dapat merupakan dorongan agar kalian lebih rajin melatih diri supaya jangan terlalu mudah dikalahkan orang.”

Tan Seng Kiat yang berwatak sabar seperti suhunya diam-diam mengakui kebenaran kata-kata orangtua yang bijaksana dan berpikiran luas itu. Akan tetapi sebaliknya bagi Kwe Bun yang beradat agak keras dan murid-murid lainnya yang sebagian besar berdarah panas, merasa kecewa dan menganggap sikap suhu mereka ini sebagai sikap pengecut dan takut!

Adapun Lu Sun Pin setelah melakukan peristiwa tersebut di atas yang dalam anggapannya sebagai pembalasan yang dilakukan oleh seorang gagah. Ahli silat Bu-tong-pay ini berjalan dengan langkah lebar dan dada membusung, hatinya merasa bangga dan bibirnya yang tebal dihiasi senyum kemenangan! Sedangkan dalam pikirannya kini terbuka semacam jalan baru, bahwa alangkah baiknya kalau akupun membuka bu-koan di kota ini, pikirnya.

Oleh karena itu, ketika ia membicarakan “kemenangannya” di Sin- kun Bu-koan tadi kepada Cio wan-gwe yang mendengarkannya dengan agak terperanjat. Oleh karena hartawan ini cukup mengenal bahwa Can Po Goan adalah seorang yang baik sehingga tidak semestinya kawannya ini berbuat demikian keterlaluan terhadap murid guru silat tersebut. Akan tetapi sebagai seorang kawan baik Cio wan-gwe tidak menyatakan penyesalannya oleh karena ia maklum bahwa kawannya ini berwatak kasar dan dalam segala hal, sok mau menang sendiri saja! Maka, ketika selanjutnya Lu Sun Pin menyatakan keinginan hatinya hendak membuka bu-koan dan mengharapkan bantuan Cio wan-gwe untuk mengabulkannya, hartawan itu hanya dapat menyetujui saja.

Dan demikianlah, pada hari-hari selanjutnya Cio wan-gwe membawa Lu Sun Pin kepada para hartawan di Tong-koan yang memang banyak dikenalnya dan memperkenalkan kawannya ini sambil menyatakan bahwa orang she Lu ini hendak membuka bu- koan!

Ternyata keinginan Lu Sun Pin terkabul. Banyak para hartawan berjanji akan mendukungnya dan demikianlah pada suatu hari, bertempat di sebuah rumah besar yang sengaja disewa oleh Cio wan-gwe untuk dipergunakan sebagai perguruan silat yang akan dipimpin oleh kawannya itu, Lu Sun Pin membuka sebuah bu-koan, yaitu sebuah bu-koan baru atau yang kedua setelah Sin-kun Bu- koan yang sejak lama terdapat di kota Tong-koan.

Oleh karena bu-koan baru didukung oleh para hartawan kenalan Cio wan-gwe dan terutama oleh Cio wan-gwe sendiri maka pada hari pembukaannya diadakan perjamuan dan banyak dikunjungi para hartawan yang diundang. Dan secara resmi bu-koan pimpinan Lu Sun Pin dan yang dimodali oleh Cio wan-gwe serta didukung oleh para hartawan-hartawan kenalan si kaya she Cio ini, diberi nama “Tong-koan Te-it Bu-koan” atau Rumah Perguruan Silat Nomor Satu di Kota Tong-koan!

Papan nama ini digantungkan di depan rumah sewaan tersebut dalam bentuk sekeping papan berukuran lebar dan panjang, dicat warna merah darah dan hurufnya yang terdiri dari enam buah itu berwarna kuning emas sehingga tampaknya indah dan mentereng sekali!

Mula-mula yang belajar pada perguruan ini hanya beberapa belas orang saja, yaitu anak-anak dari para hartawan dan di antaranya termasuk putera tunggal Cio wan-gwe yang bernama Cio Swi Ho. Sistim pelajaran yang diberikan oleh Lu Sun Pin kapada murid- murid barunya ini adalah apa yang dinamakannya sistim kilat.

Kalau seorang murid yang belajar di perguruan lain harus memakan waktu bertahun-tahun maka bila belajar pada Lu Sun Pin ini hanya beberapa bulan saja. Dan kepandaian yang diperoleh oleh si murid, demikian menurut “propaganda” dari guru silat baru she Lu ini, takkan kalah oleh murid didikan kauw-su yang manapun juga, yaitu kauw-su yang memperpanjang waktunya dalam memberi pelajaran secara “medit,” supaya si murid belajar lebih lama dan dengan demikian ia lebih lama pula mendapat bayaran dari si murid!

Tentu saja “propaganda” macam ini takkan masuk diakal bagi para ahli silat tinggi, akan tetapi oleh karena para hartawan yang menyekolahkan anak-anaknya kepada Lu Sun Pin ini umumnya tidak mengerti silat, maka “propaganda” tersebut mereka telan saja mentah-mentah dan bahkan mereka sangat sependapat dengan guru silat baru yang diperkenalkan oleh Cio wan-gwe sebagai pewaris silat tinggi dari Bu-tong-pay ini!

Adanya propaganda tersebut dan terutama sekali adanya sistim kilat dari Lu Sun Pin ini, kemudian ternyata sangat menarik perhatian orang banyak dan mereka belajar kepada perguruan silat yang dianggapnya hebat ini.

Malah tak sedikit pula para murid Can kauw-su yang menganggap guru tua ini sangat pengecut dan takut untuk melakukan pembalasan terhadap Lu Sun Pin sehingga timbullah anggapan pada mereka bahwa Lu Sun Pin si Pagoda Besi tentu lebih tinggi ilmu silatnya dari pada guru mereka. Tanpa pamit lagi mereka lalu meninggalkan perguruan Sin-kun Bu-koan dan pindah belajar di Tong-koan Te-it Bu-koan ini.

Dengan demikian, Lu Sun Pin makin lama makin maju, muridnya bertambah banyak dan terutama sekali dengan “sistim kilat” nya itu orang berani membayar mahal teristimewa para hartawan. Keadaan Lu Sun Pin kini benar-benar seperti apa yang diharapkan oleh Cio wan-gwe semasa baru datang ke kota Tong-koan dulu, yakni menjadi maju dan jauh lebih baik, sehingga bukan saja ia mampu memperbaiki dan memperbesar bu-koan sewaannya, membuat lan-bu-thia (ruang tempat belajar silat) yang luas, menyediakan senjata-senjata perlengkapan silat yang baru dan bagus, akan tetapi juga pakaian yang sehari-hari dikenakannya, selalu indah dan mewah bagaikan seorang hartawan saja tampaknya!

Dan belakangan Lu Sun Pin dapat membeli sebuah rumah sehingga kini ia bersama dua orang muridnya yang semula, yakni Sim Kang Bu dan So Ma Tek, tak menumpang lagi di gedung Cio wan-gwe! Betapa cepat sang nasib merobah kehidupan si Pagoda Besi ini, dapatlah dibayangkan……

Betapapun kasar dan takaburnya watak seseorang, seperti Lu Sun Pin, namun si Pagoda Besi ini tenyata mempunyai rasa berhutang budi yang sangat besar terhadap Cio wan-gwe. Karena kemajuannya seperti sekarang ini, semata-mata adalah atas bantuan dan jasa baik dari Cio wan-gwe, maka untuk budi yang telah diterimanya, selain berterima kasih yang tak terhingga.

Juga dalam hal panggilan terhadap Cio wan-gwe yang tadinya hanya cukup dengan sebutan “toako”, “kau” dan “aku” saja sebagaimana lazimnya seorang kawan lama, kini dirobah menjadi “Wan-gwe”, yakni bahasa sebutan atau panggilan terhadap orang kaya dan bagi dirinya sendiri ia menggunakan istilah “cayhe” (aku yang rendah). Cio wan-gwe tidak heran akan perobahan istilah ini, karena ia maklum akan watak dan perangai kawannya, yakni selain beradat kasar dan tinggi hati, juga mempunyai sifat menjilat……!

Ada sebuah peribahasa kuno yang menyatakan bahwa apabila si guru kencing berdiri, maka si murid kencing berlari. Artinya ialah kalau guru memberi contoh jelek, maka muridnia akan menirunya dengan perbuatan yang lebih buruk lagi!

Hal ini sungguh tepat dengan keadaan Lu Sun Pin dan para muridnya, ialah kesombongan dan ketakaburan Lu kauw-su yang terang-terangan sering mengatakan dihadapan muridnya bahwa Tong-koan Te-it Bu-koan ini benar-benar perguruan silat nomor wahid. Dan secara berani sekali ia memburukkan nama Sin-kun Bu-koan terutama nama Can Po Goan.

Maka para murid yang masih muda-muda dan berdarah panas itu secara tak sadar telah kena di “suntik” oleh gurunya. Dan mereka lalu merasa bahwa kepandaian yang mereka miliki sudah cukup lihay serta menganggap murid-murid yang masih setia berguru pada Can kauw-su itu tak lebih sebagai cacing pisang belaka, sehingga karenanya tak jaranglah mereka manakala lewat di depan Sin-kun Bu-koan, suka berteriak-teriak mengejek dengan perkataan-perkataan yang kasar dan kotor.

Tentu saja hal ini sangat membakar hati para murid Can kauw-su yang mendengarnya, terutama sekali Kwe Bun yang beradat berangasan ketika melihat betapa bekas suteenya sendiri yang sebagian besar sudah pindah berguru ke Tong-koan Te-it Bu-koan. Dan kini mereka berani berteriak-teriak mengejek secara menyebalkan sekali.

Hampir saja pada suatu kali ia melabraknya kalau tidak keburu dicegah oleh Can kauw-su yang sabar, bahkan sambil tersenyum guru tua ini berkata: “Muridku, apa perlunya kau meladeni anak-anak yang berteriak- teriak itu? Sungguhpun mereka mengejek kita, akan tetapi kuyakin bahwa mereka itu hanya sebagai alat dari guru mereka yang ingin mencari perkara pula dengan kita!

“Ketahuilah, kalau kucegah kau melabrak mereka tadi, bukan sekali-sekali aku takut jika aku didatangi orang she Lu. Dan memang sama sekali aku tidak merasa takut terhadap siapa pun, asal aku berada di pihak yang benar.

“Seperti sering kukatakan, bahwa kita mempelajari ilmu silat ini sama sekali bukan untuk berkelahi, melainkan sekedar untuk menjaga diri dimana perlu dan apabila keadaan memaksa. Seorang yang karena sudah memiliki ilmu silat lalu merasa atau menantang orang seperti halnya orang she Lu itu yang secara tak langsung menantang aku, mencerminkan bahwa dia adalah seorang yang bodoh memperlihatkan dan menyombongkan kepintarannya yang pada hakekatnya hanya memperlihatkan kebodohannya saja!

“Oleh karena itulah, muridku, mengapa kularang kau menangani mereka. Sebab mereka itu hanya sebagai alat belaka dan dari pada disalahkan, aku lebih merasa sayang dan mengasihani mereka. “Sayang dan kasihan karena mereka, anak-anak muda itu secara tak sadar telah dipengaruhi oleh unsur-unsur buruk dari guru mereka. Dan pula anak-anak muda yang suka berteriak-teriak di jalan, menandakan bahwa mereka berjiwa rendah dan seperti tidak mengenal didikan.”

Demikianlah, berkat kesabaran dan kebijaksanaan Can Po Goan, bentrokan antara murid dari ke dua bu-koan itu dapat dicegah dan sementara itu Can Po Goan terus melatih muridnya, karena ia merasa bahwa saingan ini akan menimbulkan suatu peristiwa yang menentukan dan pihak Lu Sun Pin pun seolah-olah selalu menantangnya.

Akan tetapi, dalam pada itu dengan diam-diam Kwe Bun yang berangasan dan berdarah panas itu selalu mencari saat dan siasat betapa caranya ia akan membalaskan kepenasaran hatinya. Anak muda ini merasa tidak puas akan sikap gurunya uang seakan-akan tak menghiraukan penghinaan-penghinaan dari pihak Lu Sun Pin itu.

Dan begitulah pada suatu hari, di depan rumah perguruan orang she Lu itu terjadilah satu kehebohan yang secara kebetulan sekali dimana Kwe Bun dapat membalas rasa penasaran dihatinya. Hari itu Kwe Bun seorang diri ada keperluan pribadi dan untuk keperluan ini ia mesti berjalan melalui sebuah jalan dimana terdapat Tong-koan Te-it Bu-koan itu. Sebelum ia sampai di depan rumah perguruan tersebut, dari jauh ia melihat di muka bu-koan banyak murid-murid berkerumun sambil bercakap-cakap dan ketawa-ketawa dengan riang sekali.

Di antara mereka Kwe Bun melihat Sim Kang Bu yang sudah dikenalnya dan yang selalu membuat dadanya panas. Memang, ketika itu Sim Kang Bu tengah memberi ceramah tentang ilmu silat kepada sutee-sutee nya sambil mengagulkan kepandaiannya bahwa sudah sekian kali ia bertempur selalu ia menang saja, sehingga para suteenya yang mendengarkannya merasa tertarik dan gembira karena bangga bahwa toa-suheng mereka benar- benar seorang jago muda yang gagah perkasa.

Biarpun dadanya berdebar tegang dan mempunyai hasrat hendak membalas sakit hatinya, namun Kwe Bun menghentikan langkahnya. Ia merasa ragu untuk terus berjalan dan melewati mereka, bukan karena takut pada mereka, hanya ketika itu ia tiba- tiba teringat akan pesan suhunya yang pernah melarangnya membuat gara-gara. Andaikata ia berjalan terus dan walaupun tidak membuat gara- gara, akan tetapi pasti mereka itu akan mengejek dan menghinanya, sehingga sukar baginya untuk menahan nafsu amarahnya. Dan kalau sudah terjadi demikian, pastilah keributan takkan dapat dicegah. 

Akibatnya tentu saja dia akan mendapat penyesalan dari suhunya. Sungguhpun ia sendiri sangat menyesalkan sikap suhunya, ia tidak berani melanggar pesan orang tua itu.

Justeru dikala hati pikiran Kwe Bun sedang bertempur hebat antara pesan suhunya dan kemauan hatinya yang panas itu sehingga untuk sejenak ia berdiri dalam keraguan, tiba-tiba terdengar teriakan:

“Awas! Awas! Kerbau gila! Minggir, minggir……!”

Berbareng dengan itu tampaklah seekor kerbau jantan yang besar dan kuat lari mendekat dengan kepala menunduk dan sepasang tanduknya yang tajam siap menerjang orang.

Teriakan-teriakan itu adalah dari orang-orang yang ketakutan dan yang sambil lari tergopoh-gopoh, mereka minggir dan mencari perlindungan. Akan tetapi agak jauh di belakang kerbau itu, tampak seorang setengah tua lari mengejar sambil berseru: “Tolong cegatkan kerbauku itu! Tolong tangkap……. Tangkap!”

Agaknya orang si pemilik kerbau gila itu. Akan tetapi tak seorangpun yang berani menangkapkan maupun mencegat kerbau itu, bahkan sebaliknya mereka mencari perlindungan karena ketakutan.

Begitu juga Sim Kang Bu dan sutee-suteenya yang semula berkerumun di pinggir jalan di depan bu-koannya. Ketika kerbau gila tadi lari ke arah mereka, serta merta mereka berlari berserabutan masuk ke dalam bu-koan seperti sekawanan kambing melihat seekor harimau. Mungkin karena ketakutan, murid-murid Lu Su Pin ini segera menutup daun pintu bu-koan itu keras-keras sehingga menimbulkan suara gaduh.

Dan sungguh aneh, suara itu membuat si kerbau tiba-tiba menghentikan larinya. Kepalanya yang tadi menunduk, dipalingkan ke arah daun pintu yang tertutup dan yang diwarnai cat merah itu.

Agaknya bukan karena suara gaduh dari daun pintu yang ditutupkan tadi yang membuat kerbau menghentikan larinya secara tiba-tiba, melainkan warna merah itulah yang justeru menarik perhatiannya dan membangkitkan marahnya. Memang warna merah darah biasanya menakutkan kerbau biasa, tetapi kalau warna ini terlihat oleh kerbau yang sedang mengamuk apa lagi gila, maka ia akan tambah ngamuk dan gila lah ia! Dan demikianlah kerbau gila itu, hidungnya mendengus-dengus, sepasang matanya yang besar dan merah seakan-akan mengeluarkan api ditatapkan terhadap warna merahnya daun pintu dari Tong-koan Te-it Bu-koan yang kini sudah dihadapinya.

Pada saat itu si pemilik kerbau sudah datang dan tangannya menangkap ekor kerbaunya. Akan tetapi pada saat itu pula si kerbau tiba-tiba menggerakkan ke empat kakinya dan dengan cepat sekali lari maju dan dengan tanduknya yang kuat, daun pintu yang menjadi “musuh”nya itu, diterjangnya.

“Brakkk!” pecahlah daun pintu itu dan terlepas dari engselnya sehingga terpental jauh sekali ke dalam bu-koan, menimbulkan suara gaduh serta terdengarlah jeritan dan para murid yang mengintai dari celah-celah papan pintu sehingga ketika secepat itu si kerbau menerjangnya, mereka tak sempat menyingkirkan diri. Tiga orang di antara mereka menjadi korban tertimpa daun pintu. Mereka yang sial roboh di lantai sambil berteriak dan mengaduh- aduh kesakitan. Setelah mendobrak pintu, si kerbau gila itu terus berlari dan langsung memasuki bu-koan. Si pemilik yang memegangi ekornya tergusur dalam keadaan tak berdaya sama sekali; segala apa yang menghalanginya diterjangnya sehingga sebentar saja tak sedikitlah barang-barang yang rusak berantakan dibuatnya.

Sim Kang Bu dan sutee-suteenya keruan saja menjadi gugup, bingung dan ketakutan dan masing-masing mencari akal untuk menjelamatkan diri.

Ketika itu Kwe Bun berlari sudah ke arah bu-koan itu, ia berdiri di ambang pintu dan melihat betapa yang terjadi dalamnya. Hatinya merasa geli dan puas dan diam-diam pemuda ini merasa berterima kasih sekali terhadap si kerbau gila itu yang seakan-akan menjadi wakilnya untuk menuntut balas!

Si pemilik kerbau yang tergusur itu kini melepaskan pegangannya dari ekor hewannya dan mungkin karena ia sangat lelah setelah berlari mengejar-ngejarnya tadi. Ia kini tinggal menggeletak saja di lantai dengan napas yang hampir habis dan matanya yang nanar melihat betapa tindak tanduk kerbau miliknya itu.

Si kerbau mengamuk dan berlari-lari berputaran di ruang lan-bu- thia di tengah-tengah bu-koan jang luas itu. Rak-rak tempat menyimpan senjata-senjata sudah berantakan diterjangnya, demikian juga meja dan kursi yang terdapat di situ, tak luput mendjadi kurban.

Bahkan sebuah tiang juga ditanduknya, baiknya tiang tersebut terbuat dari kayu besar dan kuat sekali sehingga tidak patah, hanya tergetar saja. Akan tetapi ternyata getaran tersebut telah menjebabkan beberapa puluh keping genting dari bu-koan itu berjatuhan ke bawah!

Sim Kang Bu dalam kepanikannya marah sekali kepada kerbau gila pengrusak itu, maka ia segera melompat dari tempat persembunyiannya dan berteriak kepada sutee-suteenya:

“Ambil senjata dan bunuhlah kerbau setan ini!”

Serempak, bagaikan sepasukan perajurit yang mendapat komando dari atasannya untuk menyerbu, murid-murid dari Tong- koan Te-it Bu-koan itu berlompatan dari “perlindungan” mereka dan mengambil kesempatan selagi si kerbau agak jauh atau membelakangi mereka. Mereka segera memungut senjata yang sudah berantakan itu dan demikianlah pada saat berikutnya. Sim Kang Bu memimpin para suteenya mengepung kerbau itu. Sebentar saja tubuh kerbau itu telah luka-luka akibat senjata- senjata yang menghujani dari berbagai jurusan. Akan tetapi karena senjata mereka tidak mengenai sasaran yang mematikan melainkan hanya melukai di kulit saja, apalagi diserangkannya secara kalang kabut dan asal kena saja, maka binatang itu tak dapat ditundukkan dengan segera, bahkan menjadi makin menggila!

Dengan dengusan hidungnja yang mengeluarkan uap, dan hampir seluruh tubuhnya berlumuran darah, kerbau itu dengan ganasnya menerjang segala apa yang terdapat di depannya. Empat orang murid dengan berani menghadang dan hendak membunuh kerbau dari depan.

Tetapi baru saja mereka mengayunkan senjatanja, tiba-tiba dua orang dari mereka menjerit lalu roboh dalam keadaan luka berat dan pingsan. Karena mereka yang memang ilmu silatnya masih mentah tak keburu menghindarkan diri sehingga dengan sekali gus mereka dihadjar oleh tanduk kerbau!

Makin marahlah Sim Kang Bu melihat betapa dua orang suteenya menjadi kurban, maka ia segera melompat ke depan kerbau itu dan ketika binatang itu hendak menyeruduknya, cepat ia mengelit ke samping berbareng ruyung di tangannya ditimpakan ke arah kepala kerbau itu.

“Pletakk!” ruyung Sim Kang Bu ternyata hanya menimpa sebuah tanduknya saja dan membuat ruyung terpental.

Tiba-tiba si kerbau menggerakkan lehernya ke samping dan “Dukk!” ternyata tanduknya yang tadi ditimpa ruyung itu melakukan pembalasan. Dan karena Sim Kang Bu tidak menduga bahwa “musuh”nya dapat menyerang secara demikian cerdik, biarpun ia sudah berkelit tak urung pundak sebelah kanannya kena “disikut” oleh tanduk itu.

Baiknya pemuda itu mempunyai tenaga dalam yang sudah lumayan, sehingga sungguhpun ia rasakan pundaknya sakit bukan main, namun tak sampai membuatnya pingsan! Akan tetapi dengan demikian berarti bahwa tak mungkin ia dapat “turun tangan” lagi karena lengan kanannya sudah menjadi lumpuh.

Ia segera berlari terhuyung-huyung dan sambil meringis-ringis menahan rasa sakit, tangan kirinya menekan-nekan pundak kanannya. Ia tinggal berdiri saja di balik sebuah tiang besar sambil melihat kepanikan para suteenya yang hendak mengepung kerbau itu dengan hati gelisah dan cemas! Akhirnya kerbau itu seakan-akan sudah merasa puas dengan perbuatannya atau lebih mungkin karena rasa nyeri di tubuhnya, maka setelah berlari seputaran di ruangan lan-bu-thia mencari jalan untuk keluar. Dan ketika ia melihat tempat terbuka yaitu pintu dari mana ia masuk tadi segera ia menerjang keluar dan seorang pemuda yang berdiri di ambang pintu, terus saja diseruduknya.

Pemuda itu, ialah Kwe Bun yang sejak tadi menonton di ambang pintu itu, sungguhpun ia merasa gembira dan puas melihat betapa kerbau itu merusak Tong-koan Te-it Bu-koan ini sedemikian rupa dan ia merasa lebih puas lagi ketika melihat Sim Kang Bu mengalami peristiwa seperti yang sudah diceritakan tadi. Namun disamping itu, Kwe Bun pada hati kecilnya merasa berkewajiban untuk turun tangan terhadap kerbau gila itu.

Karena kalau kerbau itu dibiarkan saja berlari keluar pasti akan menimbulkan kerugian lagi dan bahkan, setelah tiga orang anak murid bu-koan menjadi kurban, akan menimbulkan kurban yang lainnya lagi. Maka, ketika kerbau itu sudah dekat sekali sehingga hampir menyeruduknya, Kwe Bun hanya bergerak sedikit ke samping dan gerakan ini cukup untuk mengelakkan diri dari serudukan tanduk kerbau. Dan sebelum kerbau itu berlari melewatinya, dengan cepat dan tangkas sekali tangan kirinya menangkap salah sebuah tanduknya dan tangan kanannya yang dikepalkan lalu diayunkan dan dipukulkan ke arah yang tepat, yaitu ke bagian tulang batang hidung si kerbau sekuat tenaga!

“Krakk!” demikian terdengar suatu suara yang ditimbulkan oleh beradunya kepalan dan tulang batang hidung kerbau itu. Binatang itu tampak berlari terhuyung-huyung dan dari mulutnya terdengar suara menguak nyaring dan panjang seakan-akan suatu jeritan.

Kemudian ke empat kakinya yang menahan tubuh yang besar itu menjadi lemas dan tergulinglah ia dengan suara berdebukan, ke empat kakinya berkelojotan dan napasnya berdengus-dengus dengan kuatnya. Tak lama kemudian kerbau itu diam tak bergerak lagi. Mati!

Para murid Tong-koan Te-it Bu-koan pada lari keluar untuk melihat kerbau yang sudah menggeletak dalam keadaan tak bernapas itu, juga Sim Kang Bu sendiri sambil meringis-ringis, ketika dilihatnya bahwa pemuda yang dengan sekali pukul saja dapat membuat kerbau itu mati ternyata tidak lain dari Kwe Bun, bukan main tercengangnya dan malunya! Adapun yang paling belakangan sekali keluar dari rumah perguruan itu ialah si pemilik kerbau tadi yang dengan terengah- engah merangkapkan kedua tangannya di depan dada memberi hormat kepada Kwe Bun sambil mengucapkan terima kasih.

Dan dengan singkat menceritakan bahwa kerbau itu sebenarnya hendak dibawa ke pejagalan hendak disembelih. Tetapi ketika kerbau melihat beherapa ekor kerbau lainnya sudah mati disembelih dan banyak darah keluar dari lehernya, kerbau tiba-tiba memberontak sehingga tali penyencangnya putus dan lalu lolos. Kemudian terjadilah peristiwa di dalam rumah Tong-koan Te-it Bu- koan itu.

“Untung kongcu berhasil membunuhnya sehingga tak sampai menimbulkan kerugian lebih banyak lagi. Sedangkan kerusakan di dalam bu-koan ini, bila tuan pemiliknya menuntut kerugian, biarlah akan kuganti,” demikian si pemilik kerbau itu menutup ceritanya.

Sim Kang Bu dan para suteenya memeriksa kerbau itu, ternyata tulang batang hidungnya remuk dan kedua lubang hidung serta mulutnya mengeluarkan darah. Sim Kang Bu memandang kepada Kwe Bun yang juga memandangnya sambil tersenyum mengejek. Murid pertama dari Lu Sun Pin ini diam-diam merasa terkejut dan malu. Terkejut karena ia seakan-akan tidak percaya pada kenyataan bahwa pemuda itu dapat menyebabkan kerbau gila mati dengan sekali pukul saja. Dan malu karena ia dan sutee-suteenya meskipun mengeroyoki dengan bersenjata, namun tak dapat mengatasi amukan kerbau itu.

Bahkan sebaliknya ia sendiri dan sutee-suteenya mendapat luka akibat tendangan si kerbau! Sedangkan Kwe Bun, hanya menggunakan kepalan tangan saja dan dengan mudahnya kerbau dapat dirobohkan! Ah, benar-benar Sim Kang Bu dan juga para suteenya, merasa malu!

Tiba-tiba Kwe Bun yang dibengongi Sim Kang Bu, tertawa bergelak dan sambil tangannya menuding ke arah Sim Kang Bu yang masih meringis-ringis itu, berkata mengejek: “Ha, ha, ha! Sungguh lucu dan menggelikan. Sekian banyaknya murid-murid dari Tong-koan Te-it Bu-koan tidak becus mengatasi amukan seekor kerbau. Masih ada mukakah kau berlagak dan menyombongkan kepandaianmu?! Ha, ha, benar-benar lucu dan menggelikan sekali……”

Setelah ketawa mengejek lagi, Kwe Bun berjalan dan meninggalkan mereka yang pada melongoh dengan wajah merah karena malu dan marah. Sim Kang Bu sendiri bukan main marahnya akan tetapi karena ia rasakan pundaknya sakit bukan main sehingga tidak berdaya untuk menyerang Kwe Bun.

Ia tinggal berdiri saja sambil menatap Kwe Bun yang pergi itu dengan sinar mata berapi-api. Rasa sakit hatinya jauh melebihi rasa sakit di pundaknya!

Kwe Bun berjalan dengan langkah gagah dan perasaan puas. Dengan terjadinya peristiwa tadi, berarti ia telah mengadakan pembalasan, sehingga rasa penasaran yang membuat hatinya selalu panas, kini punahlah sudah! Adapun ketika Kwe Bun mengabarkan hal ini kepada suhunya, Can Po Goan berkata:

“Nah, Kwe Bun, sebagaimana pernah kukatakan bahwa orang yang suka berlagak dan menyombongkan kepandaian pada hakekatnya tak lebih hanya merupakan kebodohannya semata seperti halnya murid orang she Lu yang pernah datang mengacau dan memukulmu tempo hari itu. Buktinya ia tidak mampu mengatasi seekor kerbau gila.

“Sebaliknya kau sendiri, setelah kau mempelajari beberapa ilmu pukulan dariku, ternyata kau telah dapat mempergunakannya dengan tepat. Memanglah, muridku, kalau kita menghadapi lawan yang tubuh dan tenaganya jauh lebih besar dari kita, kita harus menggunakan kecerdikan untuk mengirim pukulan dengan memilih sasaran yang tepat, yaitu di bagian yang lemah dari tubuh lawan, seperti halnya kau memukul bagian batang hidung kerbau itu.

“Memang itulah sasaran yang paling tepat. Ibarat manusia kalau dipukul bagian keningnya, meskipun kepalanya tidak sampai pecah, sedikitnya pasti akan membuat ia merasa pening. Akan tetapi muridku, walaupun perbuatanmu dihadapan para murid orang she Lu itu merupakan suatu perbuatan gagah, namun kuyakin hal ini akan membuat guru mereka salah terima!”

Dan benar saja seperti apa yang dikatakan oleh Can Po Goan. Ketika Lu Sun Pin mengetahui dan melihat betapa perabotan bu- koannya rusak berantakan dan beberapa orang muridnya mendapat luka karena amukan seekor kerbau gila dan kerbau ini kemudian dipukul mati justeru oleh seorang murid Can kauw-su, maka timbullah anggapan dalam hati guru silat dari cabang Bu- tong-pay ini, bahwa kerbau itu tak lain adalah perbuatan pengecut dari pihak Can kauw-su untuk membalas dendam.

“Bagus benar perbuatan orang she Can itu! Agaknya ia sengaja melepaskan kerbau gila itu untuk mengacau dan merusak bu-koan kita dan sengaja pula menyuruh seorang muridnya untuk memukulnya dihadapan kita guna mengagulkan kepandaiannya! Hal ini benar-benar berupa penghinaan yang tak dapat kudiamkan saja!” katanya.