Pendekar Patung Emas Jilid 39 Tamat

 
Jilid 39 (Tamat)

“AKU TIDAK tahu" sahut Ti Then. "Mungkin biar hawa segar bisa lancar masuk kedalam ruangan !".

"Kalau memangnya kamar itu tidak dikunci, kenapa kau tidak secara diam2 mencuri masuk untuk melihat keadaan yang sebenarnya ??".

"Aku takut sudah mengganggu orang itu sehingga sudah merusak pekerjaanmu".

Dengan amat tenangnya Loo-cia memperhatikan dirinya, agaknya dia mau melihat apakah didalam perkataannya itu ada siasat atau tidak.

Setelah termenung beberapa saat lamanya terakhir dia baru berkata:

"Baiklah, aku mau pergi kebawah untuk melihat-lihat, kau berbaringlah untuk sementara diatas pembaringan".

Ditengah suara percakapannya dengan cepat bagaikan kilat jari tangannya melancarkan satu totokan menghajar jalan darah kaku dari Ti Then, setelah itu dia baru membopoog tubuhnya keatas pembaringan.

“Bilamana ada orang datang aku harus berbuat bagaimana ?” tanya Ti Then dengan suara perlahan.

"Kau boleh berkata kapadanya lagi sakit dan tidak ingin keluar kembali”

Mendengar perkataan itu Ti Then tertawa pahit.

"Terhadap para pendekar pedang dari Benteng Pek Kiam Poo aku bisa menolak untuk membuka pintu tetapi terhadap Wie Ci To serta beberapa orang ciangbunjien, apakah aku bisa menolak ?" katanya.

"Urusan tidak bakal begitu kebetulan, bahkan aku pun dengan cepatnya akan keluar kembali!". Sehabis berkata dengan cepatnya dia menerobos masuk kedalam lorong rahasia tersebut.

Diam2 Ti Then menghela napas panjang, dia sendiripun pernah berpikir hendak menggunakan kesempatan sewaktu dia orang masuk kedalam lorong rahasia itu dia hendak menggerakkan tombol untuk menutup kembali jalan rahasia tersebut sehingga pihak lawan terkurung didalam bawah tanah.

Setelah itu dia akan melaporkan hal ini kepada Wie Ci To untuk menawan dirinya.

Siapa tahu baru saja pikiran tersebut berkelebat didalam benaknya pihak lawan sudah turun tangan menotok jalan darah kakunya. “Sungguh licik sekali rase tua itu!”

Sejak dia dipaksa menjadi patung emasnya Ti Then selalu mencari kesempatan untuk memberikan perlawanan, dia sangat mengharapkan bisa mendapatkan satu kesempatan untuk balas menguasai majikan patung emas tetapi kssempatan itu tiada kunjung datang.

Sedang kini tujuan dari Majikan patung emas sudah hampir tercapai tetapi dirinya sudah dibuat tak berdaya oleh akal liciknya.

Kalau memangnya dirinya sudah menemui kekalahan dan dirinya tidak bakal bisa mendapatkan kebahagiaan dengan Wie Lian In didalam pcrkawinan ini maka saat ini dia cuma mengharapkan Majikan patung emas bisa cepat2 memperoleh hasil agar dia cepat2 meninggalkan benteng Pek Kiam Poo dan memberi kesempatan buat dirinya untuk menghindarkan diri dari perkawinan ini..,

"Sreeet . . ,!"

Sewaktu dia lagi memejamkan mata dan berpikir tidak karuan itulah mendadak terasa adanya ujung baju yang tersampok angin berkumandang dari luar jendela loteng sebelah kanan dari pembaringannya.

Mendengar suara tersebut dia lantas tahu kalau ada orang yang melayang datang dari loteng sebelah depan. Gerak gerik dari orang itu yang diluar kebiasaan seketika itu juga membuat hatinya merasa kaget dan tergetar amat keras.

Ketika dia membuka matanya . . air mukanya segera berubah sangat hebat!!

Coba terka siapa yang sudah datang?? Dia bukan lain adalah Wie Ci To.

Air muka Ti Then berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, matanya terbelalak lebar2 sedang mulutnya melongo . . dia benar2 dibuat tertegun !!!

Dengan air muka amat keren tetapi tersungging satu senyuman ramah ujar Wie Ci To dengan suara perlahan:

"Bilamana dugaan Loohu tidak salah maka ada kemungkinan kau sudah tertotok jalan darahnya oleh Majikan patung emas bukan??".

Sepasang mata Ti Then melotot semakin lebar lagi, dia benar2 merasa amat terperanjat.

"Gak-hu, kau , . semuanya kau . . kau sudah tahu ???". Sambil tersenyum Wie Ci To mengangguk dengan perlahan.

"Cepat tutup ruangan rahasia tersebut!” seru Ti Then kemudian dengan cemas,

"Tidak perlu lagi, dia tidak bakal bisa lolos !”

"Didalam ruangan rahasia itu sudah dipasangi alat2 rahasia ??" tanya Ti Then terkejut bercampur girang.

"Tidak salah !".

Ti Then segera teringat kembali dengan Phoa Loo Tek si pendekar pedang merah.

"Kalau begitu masih harus menangkap seorang lagi! dia adalah .“ "Bukankah Phoa Loo Tek??" sambung Wie Ci To cepat.

Mendengar disebutnya nama itu Ti Then jadi semakin melengak. "Pek Tha-heng yang melaporkan urusan ini kepada Gak-hu?" tanyanya.

"Tidak . . . ".

Dia berjalan maju kedepan menekan tombol rahasia itu untuk menutup kembali dinding tersebut setelah itu menekan tombol yang lain untuk menutup kembali dinding paling luar setelah itu dia baru mendekati pembaringan dan membebaskan jalan darah dari Ti Then yang tertotok itu.

Dengan cepat Ti Then meloncat bangun dari atas pembaringan. “Gak-hu bagaimana kau bisa mengetahui seluruh urusan ini?"

tanyanya dengan terharu.

"Selama ini kau selalu menutup-nutupi urusan Majikan patung emas ini dengan Loohu, sekarang loohu pun mau jual mahal terhadap dirimu . . mari ikutlah loohu turun loteng!" ujar Wie Ci To sambil tersenyum.

Sehabis berkata dia berjalan keluar dari pintu itu dan menuruni ruangan loteng penyimpan kitab.

Ti Then pun mangikuti dari belakangnya, mimpipun dia tidak pernah menyangka kalau urusan ini bisa berakhir dengan begini mudah.

Berakhirnya urusan ini benar2 membuat hatinya jadi kaget bercampur heran, tetapi membuat hatinya merasa girang juga!! dia kepingin sekali mencak2 dan berteriak2 kegirangan sehingga semua kemurungan di hatinya bisa terlempar keluar dari dalam dadanya.

Dia boleh dikata tidak bisa mempercayai akan kenyataan ini ... .

dia sama sekali tidak menyangka kalau Wie Ci To bisa menyusun jebakan secara diam2 dan memancing Majikan patung emas untuk masuk kedalam pancingannya.

Bagaimana Wie Ci To bisa mengetahui rencana busuk dari Majikan patung emas ini ??? Masih ada lagi, mengapa dia sama sekali tidak menyalahkan dirinya ?

Sewaktu beberapa persoalan yang mencurigakan hatinya itu berkelebat didalam benaknya itulah dia bersama-sama dengan Wie Ci To sudah keluar dari loteng penyimpan kitab tersebut.

Sekeluarnya dari loteng penyimpan kitab itu Ti Then segera merasakan suasana ditempat itu rada berubah.

Benteng Pek Kiam Poo yang semula diliputi oleh rasa kegirangan saat ini sudah berubah jadi tenang dan serius sekali:

Ciangbunjin dari Siauw-Lim Pay, Bu Tong Pay, Kun-lun Pay serta Tiang Pek Pay berdiri berdiri berjajar didepan loteng, air mukanya mereka amat tegang jelas merekapun mengetahui urusan yang sebenarnya.

Air muka Ti Then berubah jadi merah padam hingga menjalar sampai ditelinganya, kepalanya ditundukkan rendah2 karena dalam hati benar2 dia merasa menyesal.

Ti Then benar2 merasa takut kalau Wie Lian In pun hadir disana

.... tetapi untung tak tampak dia orang muncul dikalangan.

Wie Ci To segera kirim satu senyuman kearah keempat orang ciangbunjien itu dan ajaknya :

"Mari kita pergi melihat Phoa Loo Tek dahulu !".

Demikianlah beberapa orang itu segera berjalan ber-sama2 kehalaman depan.

Sesampainya dikamar istirahat dari para pendekar pedang merah terlihatlah olehnya didepan kamar tidur dari Phoa Loo Tek sudah berkerumun beberapa puluh orang pendekar pedang merah.

Agaknya mereka belum mengerti urusan apa yang sudah terjadi, saat ini masing2 lagi berbisik-bisik dan membicarakan persoalan tersebut. Ketika dilihatnya Poocu mereka berjalan mendatang, semua orang pada menyingkir kesamping memberi jalan lewat buat Wie Ci To sekalian untuk masuk kedalam.

Ti Then pun mengikuti dari belakang Wie Ci To berjalan masuk kedalam ruangan beristirahat tersebut, terlihat olehnya Phoa Loo Tek dengan diikat kencang2 lagi berbaring dibawah kaki Shia Pek Tha, Kie Tiong Hong beberapa orang pendekar pedang merah.

Menanti setelah keempat orang ciangbunjien itu sudah masuk semua kedalam ruangan Wie Ci To baru menoleh kearah Ti Then dan tertawa.

“Yang inipun baru saja berhasil ditawan, dikarenakan dia orang tidak mengetahui terlebih dahulu bakal terjadi urusan ini maka tak ada kesempatan buat dirinya untuk melawan.

Ti Then berdiam diri tidak menjawab, karena dia sendiripun tidak tahu harus menjawab secara bagaimana.

Sekali lagi Wie Ci To tertawa.

“Bilamana kau dapat menebak tahu siapakah dia orang maka didalam hati kau tentu akan merasa terkejut” katanya.

“Apakah dia bukan Phoa Loo Tek yang sungguh2 ?” tanya Ti Then tertegun.

Senyuman yang semula menghiasi bibir Wie Ci To pun segera lenyap tak berbekas diganti dengan rasa sedih:

“Sudah tentu bukan !” sahutnya. “Phoa Loo Tek yang sesungguhnya sudah menemui bencana .. dia cuma memakai kulit wajah dari Phoa Loo Tek saja !.

“Lalu siapakah dia orang?” tanya Ti Then dengan terperanjat. “Temanmu !".

"Temanku ??”.

"Bilamana kau tidak percaya boleh sobek kulit mukanya !". Ti Then menurut dan maju satu langkah kedepan untuk kemudian berjongkok disamping badan Phoa Loo Tek, dengan kerasnya dia tarik rambutnya sehingga seluruh kulit wajahnya terobek lepas,

Sewaktu dia dapat melihat wajah yang sesungguhnya dari orang itu tidak kuasa lagi saking kagetnya dia menjerit keras.

"Aaaach    Thian ! Kiranya kau adalah si "Hong Liuw Kiam Khek"

Ih Peng Siauw”

Sedikitpun tidak salah, orang itu adalah si "Hong Liuw Kiam Khek" Ih Peng Siauw yang setiap hari dipikirkan dan berharap bisa merebut kcmbali harta pusaka yang direbut olehnya,

Soal ini dia sama sekali tidak pernah menduga, dia tidak pernah berpikir kalau anak buah dari Majikan Patung emas sebenarnya adalah Hong Liuw Kiam Khek Ih Peng Siauw.

Jika ditinjau dari hal ini maka jelas rencana Majikan patung emas hendak menurunkan ilmu silat kepadanya dan minta dia menjadi patung emasnya selama setahun sudah disusun sejak dua tahun sebelumnya.

Dalam hati Ti Then benar2 merasa amat gusar, saking marahnya seluruh tubuhnya sudah gemetar amat keras.

"Tadi dia sudah mengakui kalau dia bersama-sama dengan Majikan patung emas sengaja kerja sama uniuk memancing dirimu terjerumus pula kedalam lingkungan ini, kelihatannya dia sengaja merampok barang kawalanmu dengan tujuan agar kau pergi mencari seorang guru dan tujuannya yang di-cita2kan bisa tercapai."

Dengan cepatnya Ti Then mencengkeram baju dibagian dada Ih Peng Siauw dan menariknya duduk.

"Sebetulnya terjadi urusan apa?" Bentaknya dengan keras. Si "Hong Liuw Kiam Khek” Ih Peng Siauw yang jalan darah kakunya tertotok seluruh tubuhnya tak dapat bergerak, tetapi dia masih bisa berkata.

Dari wajahnya yang tampan segera tersungginglah satu senyuman mengejek.

"Tidak salah !" sahutnya. "Selama beberapa tahun ini kami sudah menipu dirimu mentah2 sungguh maaf sekali!"

Ti Then betul2 merasa amat gusar, tangannya dengan cepat diayun kirim satu tamparan keras menggaplok wajahnya.

"Kalian sengaja mengatur siasat untuk memancing aku apakah tujuannya hendak mengunakan diriku sebagai patung emasmu?" bentaknya kembali.

Si "Hong Liuw Kiam Khek" Ih Peng Siauw yang wajahnya kena digaplok air mukanya segera berubah sangat hebat.

"Urusan sudah menjadi begini, aku suka menceritakan seluruh kejadian ini kepadamu, tetapi bilamana kau main kasar lagi maka sekalipun mati aku tidak akan menjawab pertanyaanmu!".

"Cepat katakan!".

"Terhadap barang2 kawalan yang kami rampas itu aku orang tidak menaruh rasa tertarik, saat ini kesemuanya kami titipkan disebuah gudang uang, kami punya maksud setelah urusan ini dibikin beres maka uang itu akan kami ambil kembali untuk diserahkan kepadamu".

"Dititipkan di gudang uang yang mana?" desak Ti Then. "Kiem San Cian Cung dikota Go-bie"

Mendengar perkataan itu dalam hati Ti Then merasa amat girang.

"Lalu apa hubunganmu dengan majikan patung emas?".

"Dahulu aku adalah kacung bukunya, achirnya dia menerima aku sebagai murid!” "Dia sudah mempunyai murid seperti kau, lalu buat apa mencari diriku untuk dijadikan patung emasnya?".

"Soalnya bakatku tidak baik sehingga tidak dapat mempelajari seluruh kepandaiannya, bilamana aku yang datang kemari belum tentu Wie Poocu suka menghargai diriku".

"Hmmm! kau tahu tidak aku benar2 benci diri kalian guru bermurid hingga merasuk ketulang sumsum!” Teriak Ti Then sambil menggigit kencang bibirnya.

"Sudah tentu tahu, ini urusan sudah mengalami kegagalan, aku pun tidak berani minta diampuni dari kematian, Bilamana kau orang merasa aku adalah seorang lelaki sejati maka janganlah memberi siksaan kepadaku melainkan berilah satu kematian yang cepat buat diriku."

"Heee . . . heec . . . bilamana kau ingin mati dengan sempurna lebih baik jawab lagi satu pertanyaanku ini !"

"Silahkan bertanya, mulai sekarang asalkan ada pertanyaan pasti akan kujawab, kecuali urusan yang aku sama sekali tidak tahu menahu ..."

"Aku rasa suhumu sudah menguruog Yuan Cong Piauw-tauw disuatu tempat, sekarang Yong Cong Piauw-tauw ada dimana ?"

"Maaf, soal ini suhu tidak pernah memberitahukan kepadaku, sehingga aku sendiripun tidak tahu."

"Omong kosong!" teriak Ti Then gusar.

"Yuan Cong Piauw-tauw dikurung disebuah gua diatas puncak Hud Ting, loohu sudah kirim orang uutuk pergi menolongnya, ada kemungkinan aebentar lagi bakal kembaii” timbruug Wie Ci To.

"Gak-hu bagaimana bisa tahu?" tanya Ti Then melengak. Wie Ci To tersenyum.

"Urusan sebcnarnya adalah begini:. sewaktu malam itu kau pergi menjenguk Yuan Cong Piauw-tauw didalam gua Loei Tong Peng tengah malam itu Loohu terjaga dari tidur dan entah bagaimana tak bisa tidur ksmbali, karenanya lantas masuk kedalam Loteng Pcnyimpan kitab untuk melihat buku, tetapi tidak lama kemudian hatiku merasa murung sehingga berdiri didekat jendela loteng.

Pada saat itulah mendadak Loohu menemukan dari dalam kamarmu ada sesosok bayangan manusia berkelebat dengan cepatnya. . ."

Berbicara sampai disitu mendadak dia berhenti sebentar, setelah tukar napas, sambungnya lagi sambil tersenyum.

"Bayangan manusia itu adalah Loo-cia, waktu itu Loohu tidak bisa melihat jelas kalau dia orang adalah Loo-cia, didalam anggapanku ada orang asing yang menyelinap masuk kedalam benteng, karenanya aku lantas meloncat keluar dari Loteng Penyimpan kitab dan mengadakan pengejaran.

Sesampainya dibawah tembok banteng Loohu baru bisa melihat jelas kalau orang itu adalah Loocia, melihat tangannya membawa lampu lentera sedang gerak=geriknya amat mencurigakan bahkan amat gesit dan lihay sekali dalam hati Loohu segera menaruh rasa curiga, demikianlah diam2 lantas aku menguntil dari belakanggnya.

Demikianlah Loohu menguntil terus sampai di gua Loei Tong Ping, melihat dia meloncat pula cuma saja aku tidak ikut masuk kedalam gua, karena waktu itu Loo-cia sudah pasang lampu bilamana aku ikut masuk bukankah jejakku segera akan di ketahui ? karena itu Loohu cuma bersembunyi ditenpat luaran saja mendengarkan seluruh pembicaraaan kalian, waktu itulah Loohu baru tahu kalau dia bukanlah Loo-cia yang sebenarnya sedang kaupun adalah patung emasnya yang sengaja menerima perintah untuk menyelinap masuk kedalam Benteng.”

Dengan muka menyesal Ti Then menundukkan kepalanya tidak berkata.

"Tetapi " ujar Wie Ci To lagi sambil tertawa. "Dari pembicaraan diantara kalian berdua Loohu bisa tahu walaupun kau jadi patung emas yang menerima perintah darinya tetapi tidak ber-sunggguh2 ada di pihaknya, bahkan rasa sayangmu terhadap Loohu ayah beranak membuat hatiku merasa amat terharu.”

Saat itulah Ti Then baru tahu kenapa dia orang sama sekali tidak menyalahkan dirinya, dalam hati dia lantas merasa amat girang.

"Akhirnya" sambung Wie Ci To lebih lanjut. "Loohu melihat kau berjalan keluar dari gua itu dan meloncat naik dari Loei Tong Ping. Tidak lama kemudian Majikan patung emas dengan membawa Yuan Cong Piauw-tauw berjalan keluar pula dari dalam gua tersebut, karena itu dari tempat kejauhan Loohu lantas menguntitnya terus, akhirnya sewaktu tiba didekat puncak Ban Hud Ting dia membawa Yuan Cong Piauw-tauw masuk kedalam sebuah gua, Loohu menanti beberapa saat lamanya diluar gua . . . kurang lebih sepertanak nasi kemudian baru melihat dia berjalan keluar dari gua tersebut dan meninggalkan tempat itu.

Menanti dia sudah pergi jauh Loohu baru masuk ke dalam gua untuk menemui Yuan Cong Piauw-tauw, waktu itu dia sudah ditindihi dengan b«berapa buah batu cadas ..."

"Aaakh . . . Yuan Loocianpwee tidak terluka?" tanya Ti Then dengan terperanjat setelah mendengar sampai disitu.

"Tidak, Yuan Cong Piauw-tauw terkurung diantara sela2 batu2 cadas itu, dia cuma tak dapat keluar sedang badannya tidak sampai tertindih . .”

Waktu itulah Ti Then baru bisa menghembuskan napas lega tetapi disusul pula dengan helaan napas sedih.

"Dikarenkan Yuan Loo-cianpwee mengetahui seluruh rahasia ini maka dia sudah ditawan dan dipunahkan seluruh kepandaian silatnya.”

"Sewaktu dia melihat Loohu muncul di sana benar2 merasa amat giraog sekali, dia lantas menceritakan aeluruh hubunganmu dengan majikan patung emas, Sebetulnya Loohu ingin menolongnya keluar tetapi dia bilang menawan majikan patung emas dan menolong orang lebih penting; Loohu merasa perkataannya tidak salah maka itu lantas berangkat pulang kedalam benteng dan mengadakan perundingan rahasia dengan Pek Tha serta Lian In, akhirnya kami ambil keputusan untuk mengubah loteng penyimpanan kitab itu sebagai kamar pengantin dan pancing majikan patung emas untuk masuk kedalam jebakan!".

"Bilamana bukannnya Gak-hu menemukan jejaknya aecara mondadak, siauw-say entah harus berbuat bagaimana baiknya?" ujar Ti Then dengan terharu.

Sehabis berkata dia melelehkan air mata kegirangan.

"Lalu sekarang dia sudah terkena alat rahasia apa?" tanya Yuan Kuang Thaysu dari Siauw-Lim pay secara tiba2.

"Terkurung didalam kurungan besi".

"Sebenarnya siapakah dia orang??" tanya Leng Cing Ceng-jien pula.

"Apa tujuannya menggunakan Ti siauw-sicu unluk menyelinap kedalam Benteng ??"',

Wie Ci To segera tertawa dingin.

"Dia memerintahkan Ti Then untuk menyelinap masuk kedalam Benteng sebetulnya hendak mencuri buku keterangan mengenai alat rahasia loteng penyimpan kitab itu setelah itu masuk kedalam loteng penyimpan itu untuk membunuh seseorang yang menerima lindungan dari aku orang she-Wie".

"Aaakh .. siapakah orang itu?" tanya Leng Cing Ceng-jien dengan kaget.

"Aku orang she Wie sudah atur dia orang untuk bersembunyi didalam kamar gudang kayu, mari silahkan saudara2 sekalian mengikuti aku orang she-Wie untuk menemui dirinya !!".

Sehabis berkata dia lantas berjalan keluar dari kamar. Ti Then, Yuan Kuang Thaysu, Leng Cing Ceng-jien, Kiem Cong Loojien, Mong Yong Sian Kauw serta ber-puluh2 orang pendekar pedang merah lantas ber- sama2 mengikuti dari belakangnya.

Saat ini para tetamu yang datang untuk memberi selamat pun sudah pada mengetahui sudah terjadi urusan, oleh karena itu sewaktu tiba di depan gudang kayu tersebut orang yang mengikuti datang ada tiga ratus banyaknya.

Wie Ci To mempersilahkan para tetamu untuk menunggu didepan pintu sedang dia sendiri berjalan kedalam, sebentar saja dia sudah berjalan keluar kembali dengan membawa seorang manusia "Aneh"!

Sewaktu semua hadirin melihat munculnya orang aneh itu tidak terasa pada bergidik semuanya, bulu kuduk pada berdiri.

Sedikitpun tidak salah, wajah dan bentuk orang aneh itu amat menakutkan.

Jikalau ditinjau dari rambutnya yang sudah memutih kira2 usianya ada enam puluh tahunan, wajahnya amat jelek sehingga sukar untuk dilukiskan.

Kulitnya kering dan hangus seperti bekas terbakar tempo dahulu seluruh wajahnya berwarna darah dengan mata, hidung serta mulut yang bengkok tidak keruan, sungguh menyeramkan.

Disamping itu sepasang tangannya sudah lenyap hingga pundaknya, ternyata diapun merupakan seorang cacad.

Melihat kejadian itu Ti Then segera merasakan hidungnya jadi kecut, hatinya benar2 terharu.

"Orang yang sudah cacad seperti begini pun majikan patung emas masih mau membunuh dirinya, orang itu sungguh amat kejam!".

Dengan dibawah bimbingan Wie Ci To orang aneh itu berdiri didepan pintu gudang kayu.

"Saudara2 sekalian coba lihatlah" ujarnya dengan keras. "Inilah orang yang hendak dibunuh oleh majikan patung emas!" Semua orang dengan hati terperanjat berdiri ter-mangu2, tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar.

Wie Ci To kembali menuding keatas wajah orang aneh itu, teriaknya lagi dengan keras, "Pada sepuluh tahun yang lalu dia dibakar oleh majikan patung emas, bahkan memotong lidahnya dan sepasang tangannya, Sang Kwan-heng coba kau bukalah mulutmu agar bisa dilihat orang!".

Untung telinga orang aneh itu masih baik, mendengar perkataan tersebut dia lantas membuka mulutnya lebar2.

Sedikitpun tidak salah didalam mulutnya memang benar2 tidak terdapat lidah lagi!

Yuan Kuang Thaysu yang tidak tega melihat kekejaman itu lantas memejamkan mata memuji keagungan Buddha.

Sedangkan Kiem Cong Loojien dengan suara yang berat dan hati khe-ki berteriak.

"Sebenarnya ada dendam sakit hati apakah antara dirinya dengan majikan patung emas sehingga dia turun tangan begitu kejam terhadap dirinya ?"

"Hee . . . heee . . . sedikitpun tidak ada dendam apa-apa, bahkan mereka berdua adalah suheng-te. Majikan patung emas adalah suheng sedang dia adalah sute-nya!”

"Kalau memangnya tak ada dendam sakit hati bahkan saudara seperguruan pula, kenapa majikan patung emas hendak menyiksa dirinya?” tanya Kiem Cong Loojien keheranan.

“Semuanya hanya dikarenakan sejilid kitab pusaka ilmu silat!” jawab Wie Ci To dengan wajah adem, “Orang ini she Sang-kwan, bernama Jien. Pada tiga puluh tahun yang lalu dengan majikan patung emas bersama-sama belajar ilmu silat dengan seorang jagoan Bu-lim, akhirnya setelah tamat belajar dan turun gunung, dengan amat cepatnya Majikan patung emas berhasil memperoleh nama didalam Bu-lim, sebaliknya Sang-kwan Jien karena berhati tawar dan tidak suka mencari nama maka tidak lama setelah turun gunung lantas berpesiar ke daerah Si Ih.

"Berturut2 dia berdiam selama delapan belas tahun lamanya didaerah Si Ih, pada saat dia hendak kembali kedaerah Tionggoan itulah dari seorang hweesio Si Ih dia memperoleb sejiiid kiiab pusaka ilmu silat. Sekembalinya kedaerah Tionggoan dia lantas membawa kitab puiaka itu pergi mencari suhengnya Majikan patung emas, untuk diajak belajar bersama-sama.

"Siapa tahu Majikan patung emas sudah timbul hati serakah, diam2 dia memasukkan racun kedalam arak yang diminum oleh Sang Kwan Jien, memotong pula lidah serta sepasang tangannya membuat dia jadi seorang cacad yang tak dapat menulis mau pun berkata.

"Akhirnya dia mengurung dirinya dalam sebuah gua, tetapi tak lama kemudian dia berhasil melarikan diri dan datang ketempat aku orang she Wie. Dengan menggunakan kakinya dia menulis seluruh kejadiannya dan minta bantuan aku orang she Wie untuk membalas dendam ini. aku orang she Wie yang merasa bukanlah tandingan dari suhengnya terpaksa melindungi dirinya didalam loteng penyimpan kitab dan berharap dengan menggunakan alat rahasia yang ada disana untuk menangkap suheng-nya, karena cuma dengan loteng penyimpan kitab ini saja bisa menawan dirinya, setelah menanti selama puluhan tahun lamanya akhirnya aku orang she Wie berhasil pula mendapatkan kesempatan ini.”

Air muka Sang-kwan Jien sedikit pun tidak berubah, dia tetap berdiri tak bergerak di tempat semula cuma saja dari sepasang matanya menetes keluar titik-titik air mata.

Terdengar Leng Cing Cengjien menghela napas panjang. “Heee...Sang-kwan sicu ini sudah mau berlatih bersama-sama

dengan dirinya kenapa dia masih merasa tidak puas?” ujarnya.

“Karena pada waktu itu dia sudah merasa dirinya adalah seorang jagoan yang tak terkalahkan, dia sudah menerima penghormatan dari para jago Bu-lim, dia tidak ingin membagikan kecemerlangan ini kepada orang lain...karena itu dia melakukan pekerjaan ini!”

Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi. “Bilamana diantara saudara=saudara sekalian ada yang merasa

ragu-raagu terhadap perkataan dari aku orang she Wie maka nanti bilamana bertemu dengan Majikan Patung emas boleh menanyakannya sendiri, asalkan saudara-saudara sekalian dapat melihat wajahnya yang sesungguhnya maka waktu itulah kalian bakal mengetahui kalau perkataan dari aku orang she Wie sedikitpun tidak salah”

“Siapakah dia orang?”

"Bilamana Sian-kauw melihat orang itu maka waktu itulah bakal mengetahui siapakah dia orang, sekaraog mari saudara2 ikuti aku menuju ke lapangan latihan silat, aku orang she Wie akan suruh orang membawa dirinya datang untuk bertemu muka dengan saudara2 sekalian!"

Demikianlah semua orang lantas bergerak menuju ke lapangan latihan silat dengan bersama-sama.

Sedangkan Wie Ci To dengan membawa Shia Pek Tha serta Kie Tong Hong berjalan masuk kedalam Loteng Penyimpan kitab itu,

Ti Then yang melihat di sekeliling tempat itu tidak kelihatan munculnya Wie Lian In dalam hati merasa amat tidak tenang.

Diam2 dia menghela napas panjang dan serunya :

"Heei . . .dia tentu sedang menangis didalam kamarnya, dia merasa gemas karena aku sudah menipu dirinya . . .

Dia kepingin sekali pergi menemui dirinya dan minta maaf kepadanya, tetapi teringat kalau sebentar lagi dia bakal menemui majikan patung emas terpaksa pikiran ini untuk sementara waktu dihapuskan dari hatinya, dengan mengikuii orang lain ber-sama2 berjalan menuju lapangan latihan silat.

Sesampainya di tengah lapangan latihan silat, tiba-tiba.. "Aaach . . Yuan Cong Piauw-tauw sudah kembali, Yuan Cong Piauw-tauw sudah kembali !!"

Terdengar suara teriakan dengan riuh rendah.

Dengan cepat Ti Then menoleh kearah sana, sedikitpun tidak salah, terlihatlah si tangan sakti Yuan Siauw Ko dengan dibimbing oleh dua orang pendekar pedang merah berjalan masuk kedalam benteng, hatinya hadi amat girang.

Dengan cepat dia berlari mendekat sambil teriaknya dengan amat gembira:

"Yuan Loocianpwee, kau sudah kembali!”

Yuan Siauw Ko mengangguk, tetapi sewaktu dilihatnya ditengah lapangan latihan silat sudah berkumpul beratus-ratus orang dia jadi rada terkejut.

"Orang2 itu lagi berbuat apa ?? apakah majikan patung emas sudah kena ditawan?" tanyanya.

"Sudah .... sudah berhasil ditawan !" sahut Ti Then sambi!

Tersenyum.

"Dia sudah menggerakkan alat rahasia yang dipasang didalam lorong rahasia dibawah loteng penyimpan kitab, saat ini Wie Poocu sedang masuk kedalam loteng penyimpan kitab untuk membawanya keluar, orang2 ini lagi menanti untuk melihat wajahnya".

"Apa sudah tahu siapakah dia orang?" tanya Yuan Siamv Ko dengan girang pula.

"Masih belum tahu, Wie Poocu jual mahal, katanya setelah melihat wajah aslinya tentu bakal ada orang yang tahu dengan sendirinya.”

Saat ini para tamu yang kenal dengan Yuan Siauw Ko sudah pada berdatangan untuk menyapa. Yuan Siauw Ko pun lantas menjura membalas hormatnya.

Kepada Ti Then ujarnya lagi: "Wie Poocu apakah sudah menjelaskan kisahnya kisahnya malam itu menguntit Loo-cia?”

"Benar!" Sahut Ti Then mengangguk, “Boanpwee sama sekali tidak menyangka bisa berakhir dengan demikian . . .”

"Bukankah berakhir secara begini mendapatkan kebaikan buat dirimu ?".

"Sudah tentu!!".

"Masih ada Phoa Loo Tek apakah sudah ditangkap sekalian ?". "Benar! Loocianpwee tentu tidak menyangka siapakah dia orang

!!".

"Siapa?"

"Hong Liuw Kiam Khek, Ih Peng Siauw!”

"Aaah, bagaimana bisa dia orang?" tanya Yuan Siauw Ko melengak.

"Kiranya dia merampok barang kawalanku tempo hari karena mendapat petunjuk dari Majikan patung emas, sedang tujuan mereka guru bermurid merampok kawalan itu pun hanya bertujuan untuk memancing keinginan boanpwee untuk mencari guru belajar silat, sstelah dengan menggunakan cara itu pula memaksa boanpwee untuk menjadi patung emasnya dan mengerjakan rencananya yang sudah disusun."

"Kalau begitu kesemuanya ini hanya merupakan satu siasat yang licik saja?" tanya Yuan Siauw Ko terperanjat.

"Sedikit pun tidak salah!"

"Apakah Ih Peng Siauw mengakui dimana barang2 pusaka itu disimpan olehnya?"

"Benar! dia bilang barang itu tetap seperti sedia kala dan disimpan didalam sebuah gudang uang didalam kota Go bie, lain kali biarlah aku pargi kekota untuk megambilnya kembali." Baru saja perkataan itu selesai diucapkan terdengarlah suara yang hiruk pikuk bergema datang.

"Ach . . , sudah datang, sudah datang!” teriaknya,

Tidak salah, Shia Pek Tha serta Kie Tong Hong dengan menggotong sebuah kurungan besi berjalan masuk kedalam lapangan latihan silat.

Kurungan baja itu tidak besar cuma ada enam depa tingginya dengan tiga depa tebalnya, saat ini di-sekeliling kurungan itu tertutup dengan secarik kain sehingga tidak dapat melihat jelas wajah majikan patung emas yang ada didalam kurungan,

Semua hadirin pada berkerumun maju untuk saling rebut melihat wajahnya.

Dibawah perintah Wie Ci To, Shia Pek Tha serta Kie Tong Hong segera meletakkan kurungan itu ketengah kalangan.

Semua orang yang melihat kurungan itu tertutup oleh secarik kain sedang dari dalam kurungan tak terlihat adanya gerakan apapun dari majikan patung emas pada merasa terkejut bercampur ke-heran2an.

Kiem Cong Loojien dari Kun-lun Pay tidak dapat menahan ssbar lagi, tak tertahan segera tanyanya.

"Apakah dia sudah mambunuh diri?". "Belum!" jawab Wie Ci To tertawa. "Kalau belum, kenapa tidak meronta?”

"Kurungan besi itu amat kuat sekali, dia tahu sekalipun meronta juga tak berguna maka terpaksa dia harus berbaring didalam kurungan dengan tenang !".

Berbicara sampai disini dia lantas menoleh ke arah Shia Pek Tha dan perintahnya:

"Pek Tha, coba buka kain penutup itu!" Dengan amat hormatnya Shia Pek Tha menyahut dan menarik kain penutup tersebut.

Dengan begitu maka Loo-cia (majikan patung emas) itu dapat dilihat keseluruhan tubuhnya oleh semua orang.

Keadaannya amat mengenaskan sekali sehingga mirip dengan seekor tikus, tetapi buas pula seperti seekor binatang, wajahnya menyengir kejam sedang dari sepasang matanya memancarkan senar kejam yang membuat orang bergidik.

Ti Then adalah orang yang paling mengetahui jelas kedahsyatan ilmu silatnya, melihat seluruh wajahnya sudah diliputi oleh napsu membunuh dan siap2 menerjang keluar dari kurungan hatinya merasa bergidik.

Dengan cepat dia menggeserkan badannya mendekati Wie Ci To, lalu tanyanya dengan suara yang amat lirih.

"Apakah kurungan itu benar2 sangat kuat?",

"Sedikitpun tidak ada parsoalan!" sahut Wic Ci To mengangguk. "Ada kemungkinan dia bisa membobol kurungan itu untuk

keluar?”

"Aaakh . . . tidak mungkin bisa terjadi”.

Waktu itu Leng Cing Ceng-jien yang berdir di dekat mereka sudah membuka mulut,

"Wie Poocu tadi bilang pada wajahnya memakai topeng, sekarang apakah kau bisa melepaskan topeng tersebut agar pinto bisa melihat jelas wajahnya?"

“Sudah tentu boleh saja" sahut Wie Ci To sambil mengangguk, "tetapi kepandaian silat orang iui amat lihay sekali, bilamana kepandaian silatnya tidak dimusahkan terlebih dahulu siapapun jangan harap bisa mendekati dirinya, biarlah sekarang aku orang she-Wie mausnahkan dulu tenaga dalamnya” Sambil berkata dia mengambil sebilah psdang dari seorang jagoan pedang merah dan berjalan maju kedepan.

Mendadak Ti Than teringat kembali dengan kata2 dari majikan patung emas yang mengatakan dia punya cara untuk memulihkan kembali tenaga murni dari Yuan Siauw Ko, melihat Wie Ci To berjaIan maju kedepan diapun lantas menyusul.

"Gak-hu tunggu sebentar!" serunya.

"Ada urusan aps ?" tanya Wie Ci To sambil menoleh.

Ti Then lantas menuding kearah Yuan Siauw Ko yang berdiri diantra para jagoan lainnya.

"Yuan Loocianpwee sudah kembali, sedang kepandaian silainya sudah dipunahkan oieh majikan patung etnas, tetapi dia bilang dia orang punya cara untuk memulihkan kembali ilmu silatnya . . . ".

"Ehmm . . Loohu paham !".

Dia maju tiga langkah kedepan dan berdiri didepan kurungan besi tersebut, kepada majikan patung emas yang ada didalam kurungan itu lantas teriaknya:

"Loo-heng!! perbuatanmu jauh lebih kejam dari perbuatan Cuo It Sian, maka itu kau tidak bisa diampuni lagi, tetapi bilamana kau suka menjelaskan cara untuk memulihkan kembali ilmu silat dari Yuan Cong Piauw-tauw, Loohu bisa pergi memintakan keringanan dari sute-mu agar kau bisa mati lebih tenang, bagaimana ?".

“Hee . . . heee . . . kau bersiap sedia hendak menghukum loohu dengan cara bagaimana ?” tanya majikan patung emas sambil tcrtawa dingin.

"Menggunakan api membakar wajahmu lalu memotong lidah dan sepasang tanganmu.'

Mendengar perkataan tersebut majikan patung amas segera tertawa ter-bahak2. “Haaa , . . . haaa . , . bagus . . . bagus sekali, inilah yang dinamakan adil . . dahulu aku menyiksa dia dengan cara begitu dan sekarang diapun hendak menggunakan cara yang sama untuk menyiksa aku . . haaa . . . bagus, bagus sekali !”

"Bilamana mengikuti keputusan dari sute-mu maka walaupun kau bisa hidup didunia tetapi jauh lebih tersiksa dari pada mati, maka itu menurut pendapat loohu lebih baik kau memilih mati sempurna saja bagaimana ?".

“Tidak ! haaa - - haaa ..." Teriak majikan patung emas sambil tertawa ter-bahak2 " Loohu bilamana hidup malah tersiksa lebih baik aku terima saja keputusanmu itu!".

"Kalau begitu kau tidak ingin memulihkan kembali ilmu silat dari Yuan Siauw Ko ?".

"Tidak !".

"Seorang lelaki sejati bisa membedakan dendam dan budi, dia tidak ada sakit hati apa pun dengan dirimu buat apa kau menyiksa dirinya?”.

"Heee . . . hee . . . Loohu tidak akan punya hati welas kasih, terus terang aku beritahu padamu, loohu masih ingin membunuh beberapa orang untuk main-main!".

"Sudah besar sekali omonganmu, apakah kau punya tenaga untuk membunuh orang?” ejek Wie Ci To sambil tertawa dingin.

"Sedikitpun tidak salah, kalau kau tidak percaya lihatlah sendiri!”.

Berbicara sampai disini mendadak dia dongakkan kepalanya dan memandang ke arah Ti Then dengan buas.

"Bangsat cilik, kau kemarilah!" bentaknya.

Ti Then segera merasakan seluruh bulu kuduknya pada berdiri, dengan paksakan diri dia berjalan maju juga.

"Kau ada perkataan apa lagi?". "Aku mau tanya padamu, sewaktu kau menyanggupi untuk menjadi patung emas ku apa yang pernah kau katakan?" tanya majikan patung emas dengan amat gusar.

"Aku bilang setelah menyanggupi perknataanmu tidak akau menyesal kembali ".

"Dan akhirnya ?" tanya Majikan patung emas sambil tertawa dingin.

"Akhirnya aku selalu merasa menyesal, tetapi masih untung perbuatanku tidak sampai melanggar janji kita".

Sepasang mata Majikan patung emas melotot semakin bulat lagi. "Kau tidak melanggar janji ?" tanyanya sepatah demi sepatah. "Bonar, tidak !".

Agaknya saking bencinya majikan patung emas kepingin menelan diri Ti Then didalam satu kali terkaman.

"Lalu siapa yang sudah mengkhianati diriku ?” bentaknya dengan keras.

"Aku sama sekali tidak mengkhianati dirimu, tertawannya dirimu adalah siasat yang diatur oleh Wie Poocu sendiri, aku sama sekali tidak tahu menahu".

"Omong kosong !" bentak majikan patung emas dengan gusar. Wie Ci To tertawa dingin.

"Saat ini walaupun saudara mempunyai sayap juga jangan harap bisa meloloskan diri dari sini, buat apa kami berbohong?? dia benar2 tidak mengkhianati dirimu, rahasiamu berhasil loohu bongkar sendiri!.”

Sudah tentu majikan patung emas tak mau percaya akan perkataannya itu. Dia segera mendengus dengan amat dinginnya.

"Ooooh begitu?" "Tidak salah, ditengah malam buta tempo hari karena Loohu tidak bisa tidur maka sudah naik keatas loteng penyimpan kitab, waktu itu secara tidak sengaja aku sudah menemukan jejakmu lalu menguntit sampai diluar gua Loei Tong Peng, karenanya rahasiamu bisa aku ketahui semuanya."

"Apa benar2 begitu?" tanya majikan patung emas sambil memandanng tajam wajahnya.

"Sedikitpun tidak salah"

Dari air muka majikan patung emas segera tersungginglah senyuman dingin yang mengerikan.

"Wie Ci To! kau paling auka ikut campur didalam urusan orang lain," ujarnju perlahan. "Kau ikut campur didalam urusan Cuo It Sian masih boleh2 saja tetapi kau berani juga menyinggung kepala loohu

. . Hmm! Sungguh tidak tahu kekuatan sendiri!"

"Loohu memang rada tidak mengetahui kekuatan sendiri, tapi loohu punya kesabaran untuk memancing ikan kakap, selama sepuluh tahun tiada sedikitpun loohu lelah menanti kedatanganmu, dan akhirnya cita-cita loohu itu terjadi pula.

"Hmm! apa kau kira bisa membereskan loohu ?"

"Benar! kecuali kau punya tenaga untuk menghancurkan kurungan baja ini!” seru Wie Ci To sambil mengangguk.

"Baik, Loohu akan mendemontrasikan kepandaian silatku!"

Begitu perkataan terakhir diucapkan keluar mendadak terdengarlah suara yang amat keras berkumandaug memenuhi seluruh angkasa ....

"Braak      !" kurungan baja itu sudah terpental hancur sebagian

besar oleh tenaga pukulannya sehingga terbang sejauh lima depa.

Dia benar2 berhasil menghancurkan kurungan besi tersebut.

Dengan menggunakan sepasang telapak tangannya dia menghancurkan tutup kurungan besi yang amat kuat, dari hal ini saja sudah jelas menunjukkan kalau tenaga pukulannya benar2 sangat dahsyat sekali.

Tak ada seorangpun yang pernah menyangka kalau dia bisa menghancurkan tutup kurungan besi yang begitu kuat, untuk beberapa saat lamanya mereka dibuat termangu.

Tampaklah olehnya setelah sepasang telapak tangannya berhasil menghancurkan penutup kurungan tersebut tubuhnya pun mengikuti gerakan tersebut melayang keluar dan mololoskan diri dari kurungan itu.

Melihat kejadian itu Wie Ci To jadi merasa sangat terperanjat. "Saudara2 sekalian cepat mundur!" serunya.

Ditengah suara bentakannya yang amat keras tubuhnya pun bagaikan kilat cepatnya menerjang ketergah udara dan kirim satu tusukan dahsyat kwtubuh Majikan patung emas,

Majikan patung emas segera tertawa ter-bahak2, telapak kirinya menekan kebawah balas menghantam tubuh pedang dari Wie Ci To sehingga tusukan tarsebut berubah arah, bersamaan pula dua jari tangannya dengan gaya "Jie Liong Ciang Cu" aiau dua naga berebui mutiara menotok ke arah sepasang mata Wie Ci To.

Gerakannya amat cepat dan dahsyat laksana malaikat yang turun dari kahyangan.

Wie Ci To yang tubuhnya masih ada di tengah udara tidak sempat untuk berubah jurus, dia dipaksa untuk berjungkir balik dan melayang turun kembali keatas tanah.

Bagaikan kilat cepatnya majikan patung emas segera menerjang kearah gerombolan para hadirin, sepasang telapak tangannya bagaikau kilat cepatnya sudah melancarkan cangkeraman menghajar seorang pendekar pedang putih.

"Braaak ! Braaak ! Braaak !" dengan menimbulkan tiga kali suara yang amat nyaring, tiga orang pandekar pedang putih sudah kena dihajar sehingga otaknya berceceran memenuhi seluruh permukaan tanah,

Melihat kejadian itu Wie Ci To jadi amat gusar, sepasang matanya melotot lebar-lebar dengan disertai suara bentakan yang amat keras dia manubruk kedepan melancarkan satu tusukan kilat.

Ti Then yang melihat Majikan patung emas berhasil meloloskan diri dari kurungan tersebut dalam hati sudah mengerti kalau urusan bakal celaka. dengan cepat dia merebut sebilah pedang dari seoraug peadekar pedang merah dan siap2 menghadapi musuh,

Saat ini melihat dia orang didalam sekali kelebatan berhasil membinasakan tiga orang pendekar pedang putih, dia semakin tidak berani berayal lagi.

Tubuhnya dengan cepat menubruk kearah depan melancangi tubuh Wie Ci To yang lagi menubruk kedepan pula, pedangnya dengan cepat membabat pinggangnya.

Hanya didalam sekejap saja diantara mereka bertiga sudah terjadi suatu pertempuran yang amat sengit.

Beberapa orang ciangbunjien serta be-ratus2 tetamu yang melihat pertempuran diantara mereka bertiga sudah mencapai pada ketegangannya pada dibuat merasa bergidik.

Kiranya Majikan patung emas yang baru menghadapi dua orang musuh ternyata sudah menggunakan tangan kosong untuk melawan serangan2 pedang dari Wie Ci To serta Ti Then, semakin bertempur semakin bersemangat dan semakin lihay bahkan berhasil menduduki diatas angin.

Semua orang tahu bahwa kepandaian silat dari Wie Ci To ada sedikit dibawah kepandaian silat dari si kakek pemalas Kay Kong Beng, dengan kedahsyatan ilmu silatnya ditambah lagi dengan si pendekar baju hitam Ti Then ternyata tidak berhasil pula untuk menahan serangan2 dari Majikan patung emas, hal ini benar2 merupakan satu peristiwa yang tak pernah diduga sebelumnya. Kiem Cong Loo-jien yang melihat pertempuran itu dalam hati benar2 merasakan hatinya bee-debar2, gumamnya:

"Loohu berlatih ilmu silat selama hidupku, ini hari boleh dikata terbuka sepasang mataku . . . “

Yuan Kuang Thaysu yang melihat kejadian itupun lantas mengerutkan alisnya rapat2 dan mulai bergeser mendekati diri Leng Cing Ceng-jien.

“Jika ditinjau situasi saat ini agaknya Wie Poocu serta Ti kiauw sicu tidak bakal kuat bertahan lebih lama lagi,” ujarnya dengan suara perlahan. “Apakah ciangbunjien sekalian punya maksud untuk maju memberi bantuan ?”

“Kepandaian silat majikan patung emas memang benar amat dahsyat sekali dan seharusnya kita maju membantu” ujar Leng Cing Cengjien agak ragu2. “Tetapi . . . walaupun kepandaian silat majikan patung emas amat tinggi tatapi kita masing2 adalah seorang ketua dari suatu partay besar bilamana kita pun harus harus bekeja sama untuk mengerubuti seseorang bukankah hal ini mendapatkan tertawaan dari orang lain . . .”

“Walau pun perkataan dari Ciang kauw sedikit tidak salah” Sahut Yuan Kuang Thaysu perlahan. “Tetapi jikalau kiia tidat maju membantu sehingga Wie Poo cu serta Ti siauw-sicu menemui kekalahan bukankah keadaan malah semakin bertambah runyam ?”

Leng Cing Cengjien termenung beberapa saat lamanya, akhirnya dia mengangguk.

“Baiklah.,mari kita maju”

Tetapi pada saat mereka hendak maju kedepan itulah mendadak menang kalah sudah bisa ditentukan.

“Plak.” dengan disertai suara yang amat nyaring Wie Ci To sudah terkena pukulan dengan amat tepat sehingga tubuhnya terjengkang kebelakang. Majikan patung emas segera tertawa terbahak-bahak, dengan meminjam kesempatan ini dia mengejar lebih jauh sedang serangannya pun semakin gencar menghajar perut Wie Ci To.

Ti Then membentak keras tidak perduli keselamatan dirinya sendiri dia lantas maju dua langkah kedepan pedangnya dengan disertai sambaran angin tajam membabat telapak kanan dari majikan patung emas,

Serangannya kali ini sudah menggunakan seluruh tenaga yang dimiiikinya sehingga gerakannya amat tajam dan ganas.

Majikan patung emas terdesak dan terpaksa dia menarik kembali tangan kanannya, kakinya dengan cepat kirim satu tendangan kilat menghajar pergelangan tangan kanan dari Ti Then.

“Bangsat cilik, Loohu jagal dirimu dulu!” makinya dengan gusar.

Sepasang tangan Ti Then kembali berputar dari gerakan membabat berubah jadi gerakan menghadang menancam pinggangnya.

Tetapi baru saja bergerak sebanyak tiga jurus dia sudah terpukul pundaknya oleh serangan yang umat aneh dari majikan patung emas sehingga terjungkir balik dan jatuh terlentang diatas tanah.

Wie Ci To yang melihat akan hal ini segera meloncat bangun dari atas tanah, pedangnya dengan gaya ‘Coan Sin Si Ing’ atau putar badan memanah elang menusuk jalan darah "Thay Yang Hiat" pada pelipis kiri majikan patung emas,

Waktu itu majikan patung emas sedang mengangkat telapak tangannya untuk membereskan nyawa Ti Then, kini melihat datangnya serangan pedang yang amat ganas terpaksa dia bubarkan serangan semula untuk meuolong diri, kakinya bergeser badannya berputar menghindarkan diri dari tusukan tersebut, bersamaan pula kaki kanannya menyapu kedepan menghajar sepasang kaki dari Wie Ci To.

Dengan mengambil kesempatan itulah Ti Then cepat2 meloncat bangun lalu kirim satu tusukan. Tua muda dua orang dengan bekerja sama amat erat ber-sama2 menerjang diri majikan patung emas.

Semula mereka masih bisa bertahan tetapi lama kelamaan keadaan mulai barubah setelah dengan susah payah mereka menerima sepuluh jurus akhirnya mereka berdua cuma bisa menangkis saja tanpa dapat menyerang barang sejuruspun.

Yuan Kuang Thaysu serta Leng Cing Ceng-jien tidak berani berayal lagi mereka segera kirim kerdipan mata lalu ber-sama2 menubruk kedepan.

Yang satu dengan menggunakan senjata toya sedang yang lain menggunakan senjata Hud-tim dari kiri serta kanan menggencet pihak musuh.

Wajah majikan patung emas segera berubali amat dahsyat, dia dongakkan kepalanya tertawa ter-habak2,

"Bagus . , bagus sekali!" teriaknya: “haaa ... haa . . . ayoh maju beberapa orang lagi, dari pada banyak buang waktu ayoh berbareng saja pada maju semua!"

Sekali lagi suatu pertempuran yang amat sengit kembali berlangsung!

Dengan terjunnya Yuan Kuang Thaysu serta Leng Cing Cin-jien maka situasi pertempuranpun lantas berubah seimbang, untuk beberapa saat lamanya mereka bertempur semakin sengit.

Tampaklah tubuh mereka berlima bagaikan kilat cepatnya saling menyambar. angin pukulan menyambar tiada hentinya diselingi babatan hawa pedang yang menggigilkan serta sambaran toya serta hud-tim yang setiap saat mengancam jiwa . . .

Enam puluh jurus berlalu dengan amat cepatnya tetapi keadaan masih seimbang,

Kiem Cong Loojien yang melihat kejadian itu segera garuk2 kepalanya, mendadak dia bergeser kesisi Mong Yong Sian Kauw itu Ciangbunjien dari Tiang Pek Pay dan ujarnya sambil tertawa: "Mong Yong ciangbunjien, aku lihat kita pun harus segera maju!"

"Aku rasa tunggu sebentar lagi" jawab Mong Yong Sian Kauw tawar.

"Apa kau kira mereka berempat bisa mempcroleh kemenangan?" “Sedikit-dikitnya tidak sampai dikalahkan”

“Aku lihat tidak bisa jadi….” Seru Kiem Cong Loojien sambil gelengkan kepalanya.

“Lebih baik kita maju sekalian untuk membantu mereka.”

Agaknya Mong Yong Sian Kauw merasa keberatan atas usul tersebut.

“Bilamana kitapun ikut maju” ujarnya, “Hal ini berarti bahwa dari Benteng Pek Kiam Poo sudah bekerja sama dengan Siauw Lim, Bu- tong, Kun-lun serta Tiang-Pek lima partay besar untuk mengerubuti seseorang bilamana berita ini sampai tersiar dalam Bu-lim bukankah rada tidak enak?”

“Haa..haa..Siauw-Lim serta Bu-tong merupakan gunung Thay-san dari Bu-lim, mereka berdua pun tidak takut ditertawakan bagaimana kita harus takut?”

Mong Yong Sian Kauw termenung tidak menjawab.

“Eeeii aku mau tanya kepadamu, besok pagi kau kepingin minum arak kegirangan tidak?” desak Kiem Cong Loojien lagi.

“Sudah . . . sudahlah, mari kita pun maju” seru Mong Yong Sian Kauw kemudian sambil tertawa.

Demikianlah mereka berdua pun segera menerjang pula kedepan untuk mengerubut diri majikan patung emas.

Dengan demikian keadaan dari majikan patun& emas semakin teedessk lagi, dia dibuat agak repot oleh kerubutan ini.

Walaupun dia crang memiliki kepandaian silat yang amat tinggi tetapi seorang manusia tidak bakal berhasil menangkan kerubutan enam pasang tangan, apalagi keenam orang itu pun merupakan jago2 nomor wahid didalam Bu-lim pada saat ini dan memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sudah tentu dia rada kedesak.

Wie Ci To yang melihat keempat orang ciangbunjien itu turun tangao dengan tanpa belas kasihan dan setiap serangannya tentu mengancam tempat yang berbahaya, dengan gugup lantas serunya

: “Harap saudara2 sekalian suka turun tangan lebih ringan, jangan sampai membinasakan dirinya,”

Keempat orang ciangbunjien sendiri pun tahu kalau ilmu silat dari Yuan Siauw Ko belum pulih dan tak dapat membinasakan dirinya karena itu serangannya mulai mengendor,

Mendadak Majikan Patung Emas melayang setinggi empat kaki jauhnya dan meloloskan diri dari kurungan enam orang untuk kemudian menerjang kearah sebelah luar.

Tujuannya bukan lain adalah gerombolan dimana para tamu lagi berdiri.

Wie Ci To yang melihat dia bermaksud hendak bunuh orang secara sembarangan hatinya jadi merasa amat terkejut, dengan diiringi suara bentakan yang keras tubuhnya segera menubruk kedepan.

Ti Then pun bersamaan waktunya mengejar dari bslakang, per- tama2 dialah yang tiba terlebih dahulu dibelakang tubuh majikan patung emas.

Tetapi pada saat yang bersamaan pula majikan patung emas berhasil menangkap sepasang kaki dari seorang tetamu, dia lantas mengangkat tubuh tetamu itu dan diputar keatas kepala untuk kemudian dihajarkan kearah Ti Then.

Dengan cepat Ti Then membungkkukan badannya menghindar pedangnya dengan disertai desiran tajam menusuk kakinya sehingga mengucurkan darah segar.

Majikan patung emas segera menjerit keras, sepasang tangannya dipentangkan lebar2, tubuh dari tamu yang berhasil dicengkeram sudah kena disobek sehingga robek jadi dua bagian, setelah itu lengannya lalu diayunkan kedepan.

Separuh badan yang masih dibasahi oleh darah segar lalu disambitkan kearah Wie Ci To sekalian yang mengejar datang sedangkan separuh lainnya dengan mengerahkan tenaga murninya yang dahsyat disambitkan ketubuh Ti Then.

Dengan cepat Ti Then meloncat empat depa kesamping, dengan mengikuti getakan itu tubuhnya berputar satu lingkaran besar pedangnya dengan menggunakan jurus Liuw Seng Kun Gwat" atau bintang meluncur mengejar rembulan menusuk kedepan dengan datar.

Tetapi pada saat itulah mendadak dia sudah kehilangan bayangan dari Majikan patung emas.

"Aduuh . . .”

Suara teriakan ngeri berkumandang datang dari tiga kaki dari tempat tersebut !

Kiranya Majikan patung emas sudah berhasil menerjang ketengah gerombolan para tamu, dengan menggunakan ilmu Ing Jiauw Kang dia menghajar wajah tetamu itu sehigga hancur dan binasa seketika itu juga.

Melihat kejadian itu Wie Ci To benar2 amat gusar, sepasang matanya ber-api2, dengan mencekal pedangnya kencang2 dia mengejar kearah depan.

"Bunuh dia! bunuh dia! tidak usah sungkan2 lagi" teriaknya dengan keras.

Ti Then, Yuan Kuang Thaysu, Leng Cing Ceng-jien, Kim Cong Loo-jien serta Mong Yong Sian Kauw bagaikan sambaran kilat cepatnya segera menerjang kedepan dan mengerubuti kembali diri Majikan patung emas.

Walaupun untuk melawan serangan enam orang musuh sekaligus Majikan patung emas menemui kesukaran tetapi untuk meloloskan diri dari kurungan sangatlah mudah sekali, kembali dia melancarkan serangan dahsyat mendesak mundur keenam orang itu kemudian bagaikan seekor burung dengan cepatnya menerjang keluar dari kurungan.

Kali ini Ti Then tidak memberi kesempatan buatnya untuk melarikan diri lagi, tubuhnya dengan cepat ikut mengejar ke tengah udara dan kirim satu tusukan.

"Turun!" bentaknya keras.

Tubuh majikan patung emas yang meloncat ke tengah udara mendadak berhenti bergerak, tubuhnya membalik dan kirim satu pukulan dahsyat ke depan.

"Coba kau rasakan pukulanku ini!" teriaknya sambil tertawa aneh.

Ti Then sama sekali tidak menyangka dia bisa menghentikan tubuhnya di tengah udara untuk sesaat lamanya dia tak sempat menarik tubuhnya kembali sehingga dengan amat tepatnya pukulan tersebut bersarang didadanya,

" Braaak . . . !" dadanya kena dihantam sehingga tubuhnya terjatuh kembali dari tengah udara.

Tetapi satu peristiwa yang diluar dugaan pun sudah terjadi pada saat itu pula.

Sewaktu tubuh Ti Then terkena serangan itu hingga jatuh keatas tanah kelihatannya dia tentu akan terluka parah atau mati, siapa tahu pada saat itulah mendadak pedangnya diangkat, dengan jurus "Gien Liong Jut Hay" atau naga perak keluar dari lautan mengirim satu tusukan kedepan. Tusukan ini datangnya jauh berada di luar dugaan dari majikan patung emas !

Dia mimpi pun tidak mengira kalau Ti Then mnsih bertenaga untuk kirim satu tusukan kearahnya, tadi dia melancarkan serangan kearah Ti Then dengan menggunakan seluruh tenaga, barang siapakah yang terkena serangan itu maka seketika itu juga akan binasa atau se-dikit2nya jatuh tidak sadarkan diri, karena itu dia tidak pernah berpikir kalau Ti Then masih bisa melancarkan serangan kearahnya.

Baru saja hatinya mcrasa kaget tusukan pedang yang amat cepat dari Ti Then itu dengan amat tepatnya sudah menembus lambungnya hingga tembus kebelakang.

"Aaaach . . .”

Seketika itu juga seluruh kalangan jadi gaduh dan ramai oleh suara teriakan terkejut bercampur girang. Tubuh majikan patung emas yang terjatuh dari atas tidak sampai rubuh ke atas tanah, dia tetap berdiri tegak dengan gagahnya.

Dengan perlahan kepalanya ditundukkan melihat sekejap kearah pedang yang menusuk lambungnya itu kemudian dengan wajah penuh rasa terperanjat memandang diri Ti Then dengan melotot.

"Kau . . . kau tidak terluka?" gumamnya.

Terhadap diri Ti Then yang tidak terluka oleh pukulan dia merasa amat terkejut, bahkan jaun lebih terkejut dari pada tusukan pedang yang berhasil menembus lambungnya itu.

Ti Then sendiri pun sama sekali tidak menyangka kalau didalam keadaan gugup pedangnya berhasil menembus lambungnya hingga tembus kebelakang punggung, walaupun saat ini dia sudah jauh dari kematian tetapi hatinya masih merasa takut, dengan ter-buru2 dia mundur satu langkah kebelakang.

"Selamanya aku tidak bermaksud untuk membinasakan dirimu, tetapi perbuatanmu terlalu kejam . . .”

Air muka majikan patung emas berubah jadi amat keren, bentaknya lagi:

"Cepat katakan, kenapa kau tidak terganggu oleh pukulan Loohu tadi?".

"Dapatkah kau beritahukan dulu kepadaku bagaimana caranya untuk nemulihkan kembali ilmu silat dari Yuan Cong Piauw-tauw?". Dari atas wajah majikan patung emas segera tersungginglah rasa kesakitan yang luar biasa, bibirnya bergerak dengan gemetar.

"Asalkan dia bisa mempelajari sim hoat dari tenaga dalamku maka tiga bulan kemudian dia bisa pulih kembali seperti keadaan semula" katanya.

"Tetapi. . heee-. . . heee . . . tahukah kau bilamana waktu ini aku sudah tak ada waktu lagi untuk memberi pelajaran Sim-hoat tersebut kepadanya!".

"Lalu apakah Sang Koan Loocianpwee dia orang mengerti Sim- hoat tersebut?"

Dengan perlahan majikan patung emas menundukkan kepalanya. "Aaaa . . aku . . aku tidak tahu . , . kau boleh . . boleh taa . . tanya sendiri . . . keee . . kepada . . . kepadanya . . ".

Tubuhnya mulai sempoyongan, mendadak dia angkat kepalanya dan membentak keras :

"Cepat katakan, bagaimana kau tidak terluka oleh serangan dari Loohu??".

“Karena aku memakai pakaian luar tameng landak !".

"Aaaach . . . darimana kau mendapatkan pakaian luar tameng landak tersebut?" tanya majikan patung emas dengan terperanjat,

"Nyio Loo cung-cu dari perkampungan Thiat Kiam San Cung yang hadiahkan kepadaku".

"Bagus . . bangsat . . bangsat cilik . , nasibmu sungguh mujur!" serunya sambil menundukkan kepalanya dengan perlahan.

Baru saja dia selesai berkata mendadak tubuhnya bergerak maju kedepan, bagaikan kilat cepatnya dia menerjang kedepan tangan kirinya mencengkeram dada Ti Then sedang telapak kanannya dengan beratnya menghajar keningnya.

"Aduuuh . . . !".

Semua orang yang melihat kejadian itu pada berteriak terkejut. Tetapi pada saat itulah . . .

"Bruuk!" tubuh majikan patung emas sudah keburu dipukul dulu hingga terpental sejauh tiga kaki dan jatuh terlentang diatas tanah. Bersamaan waktunya pula serentetan darah segar muncrat keluar dari lambungnya!

Kiranya pada saat Ti Then melancarkan serangan menggetarkan tubuhnya kebelakang itulah tangannya yang lain sudah mencabut keluar pedangnya yang tertancap pada lambungnya itu. Darah segar memancur amat tinggi, semakin lama semakin rendah dan akhirnya suasana menjadi amat tenang. Akhirnya majikan patung emas mati juga.

Ti Then merasa amat terkejut bercampur girang, lama sekali dia berdiri mematung disana. Suasana di seluruh kalanganpun jadi sunyi senyap, lama sekali baru terlihatlah Wie Ci To beserta keempat orang ciangbunjien berjalan mendekat. Sang Kwan Jien pun dibawah bimbingan dua orang pendekar pedang merah berjalan mendekati mayat dari majikan patung emas. Wajahnya masih tetap dingin tak berperasan tetapi sinar matanya memancar keluar cahaya kegirangan, disamping rasa sedih, girang bercampur pula rasa kasihan.

Setelah berdiam diri beberapa saat lamanya akhirnya Wie Ci To berjongkok dan tangannya mulai meraba leher majikan patung emas . . , lama sekali dia meraba terakhir tampaklah dengan perlahan dia melepaskan selapis topeng kulit dari dagunya, mulut . . hidung . . . mata . . .

Mendadak terdengar keempat orang ciangbunjien itu pada berteriak kaget. Para tetamu yang ada diempat penjuru pun tak tertahan lagi pada berkerumun ke depan untuk melihat wajah yang sesungguhnya dari majikan patung emas.

Sewaktu semua orang bisa melihat jelas wajah asli dari majikan patung emas itulah tak ada seorangpun yang tidak menjerit kaget, karena didalam hati mereka sama sekali tidak menyangka kalau majikan patung emas sebenarnya adalah seorang jagoan yang paling dihormati oleh orang2 Bu-lim selama puluhan tahun ini!

"Oooh Thian, bukankah dia adalah si "KAKEK PEMALAS KAY KONG BENG"

"Huuus jangan sembarangan bicara, dia bukan si kakek pemalas Kay Kong Beng, cuma wajahnya saja mirip dengan si kakek pemalas Kay Kong Beng!".

Dengan perlahan Wie Ci To bangkit berdiri, wajahnya amat dingin sekali.

"Tidak!" serunya. "Dia benar2 adalah si KAKEK PEMALAS KAY KONG BENG".

Kenyataan ini seketika itu juga membuat semua orang berdiri ter- mangu2 untuk beberapa saat lamanya. Ti Then yang berkenalan paling lama dengan majikan patung emas, kini setelah mengetahui dia ornng bukan lain adalah si kakek pemalas Kay Kong Beng dibuat tertegun juga untuk beberapa saat lamanya.

Teringat kembali olehnya keadaan sewaktu dia naik kegunung Kiem Teng san untuk mohon diterima sabagai muridnya, waktu itu dia tetap duduk tak bergerak bahkan melihat pun tidak terhadap perbuatannya itu.

Tidak disangka dibalik kesemuanya itu dia sudah mengambil tindakan yang luar biasa . . . secara diam2 dia sudah menyamar sebagai majikan patung emas dan memancing dirinya untuk pergi ke gua Hu Lu Tong diatas gunung Loo Cun san . .   . Somakin berpikir dia merasa hatinya makin bergidik.

Saat itulah terdengar Yuan Kuang Thay-su dari Siauw-lim pay sudah berkata.

"Omintohud . . omintohud . . ! Tidak disangka majikan patung emas sebetulnya adalah samaran dari Kay Loo sicu !". "Kalau memangnya Wie sicu sudah tahu atas perbuatannya yang mencelakai saudara perguruan kenapa tidak sejak dahulu siarkan dosanya ini ?" sambung Leng Cing Cin-jien.

Dengan perlahan Wie Ci To meletakkan tangannya keatas pundak Sang Kwan Jien setelah itu menghela napas panjang.

"Waktu itu orang yang mengetahui kalau Sang Kwan Jien adalah sute dari Kay Kong Beng tidak banyak, apa lagi dia tidak bisa berbicara mau pun menulis, wajah aslinya pun sudah dihancurkan, bilamana aku orang she- Wie siarkan dosanya ini ada siapa yang suka mempercayainya ? siapa yang suka percaya kalau dia adalah sute dari Kay Kong Beng ?".

"Soal ini memang kenyataan". sahut Leng Cing Cin-jien membenarkan.

"Bilamana bukannya ini hari Pinto melihai dengan mata-kepala sendiri kalau majikan patung emas adalah hasil penyamaran dari Kay Kong Beng, Pinto memang benar2 tidak akan percaya kalau dia adalah seorang manusia yang begitu",

“Maka itu sebelum berhasil menawan dirinya aku orang she-Wie terpaksa harus menyimpan baik2 rahasia ini, bilamana aku ceritakan hal ini dia malah bisa balik menuduh aku orang sengaja memfitnah dirinya. Dia orang seharusnya dibeginikan seperti ini hari baru bisa mengaku terus terang.”

"Aaah . . kiranya inipun termasuk sebab2 mengapa Wie Poocu mendirikan loteng penyimpan kitab yang dilengkapi dengan alat2 rahasia” seru Kiem Cong Loojien sambil mengangguk. "Terus terang saja aku katakan sebelum kejadian ini loohu selalu menganggap kalau didalam loteng penyimpan buku itu sudah disimpan sebuah benda pusaka yang berharga sekali !"

"Aku orang she Wie merasa hanya membiarkan dia datang sendiri baru bisa semua orang percaya " ujar Wie Ci To sambil senyum. "maka sengaja aku dirikan sebuah loteng penyimpan kitab, sengaja aku orang she Wie kirim berita pula kepadanya kalau Sang Kwan Jien sebenarnya ada didalam Benteng aku orang she Wie, setelah menunggu selama sepuluh tahun lamanya dia tidak datang2 juga, aku orang she Wie malah mengira dia sudah tidak mempunyai niat."

"Omitohud ! kejahatan akan memperoleh balasan. Kay Loo sicu tidak tahu budi bahkan membalas kebaikan dengan kejahatan sutenya, dia memang harus menerima ganjaran !" ujar Yuan Kuang Thaysu dengan serius.

"Aku orang she Wie cuma merasa sayang, sebenarnya dia tidak boleh melakukan pekerjaan seperti ini."

Tiba2 terdengar Mong Yong Sian Kauw tertawa geli. "Wie Poocu, menantumu hilang!" serunya.

Mendengar perkataan tersebut Wie Ci To jadi kaget, dengan gugup dia menoleh dan memeriksa keadaan disekeliling tempat itu,

"Bocah ini kemana perginya ?" pikirnya di hati.

"Jangan cemas . . . jangan cemas !” Seru Mong Yong Sian Kauw lagi sambil tertawa.

"Dia masih belum jauh meninggalkan pintu benteng."

Semua orang dengan cepat menoleh ke arah luar, terlihatlah pada saat itu Ti Then lagi berjalan meninggalkan pintu, agaknya dia bermaksud meninggalkan tempat itu tanpa pamit.

Dengan cepat Wie Ci To mengejar dari belakangnya sambil berseru :

"Eeei Ti Then, kau kembali."

Mendengar teriakan Ti Then menghentikan langkahnya dan tundukkan kepalanya. Dia benar2 ingin pergi meninggalkan tempat, karena dia merasa walaupun hatinya merasa cinta terhadap Wie Lian In tapi tidak bakal bisa menjelaskan urusan ini hingga benar2 terang karena itu jauh lebih baik dia cepat2 meninggalkan Benteng Pek Kiam Poo. Tetapi maksud hatinya itu ternyata sudah diketahui oleh seseorang . . . si sekuntum bunga bwee Mong Yong Sian Kauw, Dengan cepatnya Wie Ci To mengejar sampai dibelakang tubuhnya.

"Ti Then, kau hendak kemana??" tanyanya dengan terharu. "Siauw-say sudah tidak punya muka untuk tetap tinggal di

Benteng lebih lama maka ... ".

"Omong kosong!!" potong Wie Ci To dengan cepat. "Bagaimanakah sifatmu loohu sudah mengetahuinya amat jelas,

Loohu sama sekali tidak marah kepadamu dan kau pun tidak punya

alasan untuk meninggalkan Benteng !".

Ti Then cuma menggerakkan bibirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Sifatmu Loohu mengerti amat jelas" ujar Wie Ci To lagi. "Dan kini kau sudah membinasakan dirinya, hal ini membuktikan kalau pikiranmu adalah jujur kau sudah merasa menyesal terhadap perbuatan tersebut, Loohu percaya tak seorang pun yang bakal mengatakan bahwa perbuatanmu itu salah !!".

Saking terharunya air mata mulai mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya, dia benar2 merasa berterima kasih sekali atas kebaikan hati Wie Ci To.

"Perhatian dari Gak-hu yang ber-lebih2an ini membuat siauw-say merasa amat berterima kasih, cuma ”

"Kau maksudkan Lian In ?" seru Wie Ci To sambil tarsenyum, "Terus terang Loohu beritahu padamu, dia sama sekali tidak menaruh rasa dendam kepadamu, dia sejak semula sudah tahu kalau kau benar2 sudah menyenangi dirinya, sampai kini dia tidak munculkan dirinya hal ini disebabkan oleh karena besok pagi dia bakal menikah, seharusnya kau tidak boleh memaksa seorang nona yang hendak menikah untuk munculkan diri dihadapan umum bukan

?".

Mendengar perkataan tersebut Ti Then segera tertawa . .. tertawanya kali ini amat luwes dan menarik . . . "Cepat . . . cepat masuk kedalam temui dirinya" seru Wie Ci To kemudian sambil ulapkan tangannya berulang kali.

"Dia lagi menanti kedatanganmu kedalam !".

Ti Then mengangguk dan lari masuk ke dalam Benteng dengan terburu2.

Di belakangnya terdengar olehnya suara teriakan serta gelak yang amat ramai sekali . .

TAMAT