Pendekar Patung Emas Jilid 38

 
Jilid 38

Mendadak Ti Then membelalakkan matanya lebar-lebar. “Apa mungkin Loo-cia si pelayan tua itu?” tanyanya gemetar. Dengan perlahan Yuan Siauw Ko mengangguk.

“Tidak salah, memang dialah orangnya.”

Air muka Ti Then seketika itu juga berubah menjadi pucat psi bagaikan mayat, seluruh tubuhnya terasa jadi dingin dan kaku, mulutnya melongo-longo sedangkan matanya terbelalak lebar-lebar, untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun diucapkan keluar.

Kiranya Majikan patung emas adalah penyamaran dari Loo-cia itu pelayan tua! Cia Tiang Sian!!

Seorang pelayan tua yang sudah mengikuti Wie Ci To selama empat puluh tahun lamanya ternyata bukan lain adalah majikan patung emas yang sangat misterius itu.

Lama sekali Ti Then berdiri termangu-mangu, setelah itu baru serunya tertahan:

“Ooh…Thian!”

“Orang yang menjalankan tidak bakal tahu sedang yang menonton dari samping amat jelas, hari itu setelah kau menceritakan seluruh persoalan kepada Loohu, Loohu segera teringat kalau si Loo-cia pelayan tua itu adalah seorang manusia yang patut dicurigai, tapi kau tidak suka mempercayainya.”

Ti Then tetap berada didalam keadaan yang amat terkejut, terdengar dia bergumam seorang diri:

“Bagaimana mungkin dia adalah Majikan Patung Emas? Bagaimana mungkin dia adalah Majikan Patung Emas ? Dia sudah ada empat puluh tahun lamanya mengikuti Wie Ci To, sedang kepandaian silatnya…”

Baru saja berbicara sampai disitu mendadak di dalam ruangan gua itu terasa adanya kelebatan cahaya terang sebentar kemudian suasana di tempat itu sudah terang benderang oleh cahaya obor.

Seorang tua dengan membawa lampu lentera berjalan masuk ke dalam.

Dia…..bukan lain adalah Loo-Cia itu pelayan tua!

Sewaktu melayani Ti Then di dalam benteng wajahnya selalu tersungging satu senyuman ramah, sedang sekarang…..bukan saja wajahnya tidak diliputi oleh senyuman bahkan kelihatan begitu dingin kaku, dan menyeramkan sekali, bahkan boleh dikata sudah nerubah jadi seorang…seorang berdarah dingin! Terhadap Loo-Cia yang melayani dirinya terus dan dirinya tidak mengetahui kalau dia adalah Majikan Patung Emas, Ti Then merasa hatinya amat tergetar keras sehingga wajahnya berubah pucat pasi.

Walau pun dengan memegang pedang erat-erat dia berdiri di hadapan Majikan patung emas tetapi tak sepatah kata pun bisa dia ucapkan keluar!

Loo-cia meletakkan dahulu lampu lentera itu keatas sebuah batu, sikapnya amat dingin bagaikan es, setelah memandang sekejap kearah Ti Then serta Yuan Siauw Ko dia baru berkata:

“Hmm! Selama ini kau tidak suka menerima perintahku dengan hati rela dan selama ini pula tidak suka menerima peringatan dari diriku, kelihatannya kau merasa tidak percaya kalau aku berani turun tangan membunuh orang.”

Nada suaranya amat dingin, seperti perkataan yang diucapkan oleh Raja Akhirat! Membuat setiap orang yang mendengar segera merasakan bulu kuduknya pada berdiri.

Ti Then yang untuk pertama kalinya mencium bau kematian tubuhnya terasa tergetar amat keras, dengan cepat kuda-kudanya diperkuat, siap-siap menghadapi sesuatu pertempuran yang menentukan mati hidupnya.

“Loo-cia!” teriaknya dengan keras. “Rupanya kaulah Majikan Patung Emas!”

“Hee…heee..cuma sayang keadaan sudah terlambat, sekali pun kau tahu juga tiada gunanya.”

Ti Then yang melihat dari sinar matanya memancarkan napsu membunuhnya yang luar biasa, tak kuasa lagi dia menghembuskan napas dingin.

“Bilamana kau sungguh-sungguh mau membinasakan kami, aku ada satu permintaan.”

“Coba kau katakan.” “Aku tidak suka menerima kematian dengan demikian saja, aku mau mengadu jiwa dengan dirimu!”

“Hee..hee..itu memang menjadi hakmu!” seru Majikan patung emas sambil tertawa dingin.

“Tetapi aku tahu dengan kepandaian silatku masih bukan merupakan tandinganmu maka itu aku sangat mengharapkan sebelum kau membinasakan diriku suka menjelaskan apakah sebenarnya tujuan yang engkau tuju!”

“Baik!” jawab Loo-cia dengan seram. “Menanti napasmu hampir putus, aku bisa beritahukan kepadamu! Sekarang kau boleh mulai turun tangan!”

Ti Then segera menoleh kearah Yuan Siauw Ko dan ujarnya dengan hati menyesal:

“Boanpwee sudah menyeret cianpwee ikut terancam jiwanya, dalam hati aku benar-benar merasa menyesal. Semoga saja pada penjelmaan di kemudian hari bisa menjadi anjing atau kuda untuk membalas jasa dari Loocianpwee ini!”

Terhadap soal kematian agaknya Yuan Siauw Ko merasa sangat tawar, mendengar perkataan dari Ti Then itu dia tertawa.

“Tidak! Soal ini bukanlah kesalahanmu, kau tidak hutang apa-apa dengan loohu!”

Dengan sedihnya Ti Then segera menghela napas panjang, dengan perlahan dia menoleh ke arah Loo-cia.

“Yuan loocianpwee ini tidak tahu urusan, bilamana kau tidak suka melepaskan dirinya maka harap kau suka kasih satu pemberesan yang cepat,” katanya.

“Baik!”

Nada suaranya amat tegas sedikitpun tidak ragu-ragu, jelas terhadap diri Ti Then serta Yuan Siauw Ko dia sudah punya maksud untuk membereskannya. “Hee…hee..kepandaian silatku aku berhasil pelajari dari dirimu, entah kali ini bisa tidak menerima dua puluh jurus seranganmu?” kata Ti Then sambil tertawa.

Sehabis berkata tubuhnya maju ke depan, pedangnya diayun menotok tubuh Loo-cia.

Jurus serangan ini bernama “Sian Jien Ci Lo” atau dewa sakti menunjuk jalan, yang merupakan satu jurus serangan yang bukan dipelajari dari pihak lawannya karena dia tahu bagaimana harus menggunakan ilmu pedang yang dipelajari darinya untuk menyerang dia orang maka hal ini sama sekali tidak ada gunanya.

Loo-cia tertawa dingin, dia tetap berdiri tidak bergerak.

Menanti ujung pedang dari Ti Then sudah hampir mendekati badannya, mendadak telapak kanannya baru membalik, dengan menggunakan tangan kosong dia mencengkeram pedang dari Ti Then.

Melihat serangan tersebut Ti Then jadi terkejut, dengan gugup dia menarik kembali serangannya, sambil menyingkir kekanan dengan menggunakan jurus “Jie Lang Tan San” atau Jie Lang memanggul gunung, membabat pinggang musuhnya.

“Ilmu pedang bagus!” puji Loo-cia dengan keras.

Tubuhnya menyingkir ke samping, dengan amat gesit dan lincahnya kembali dia berhasil menghindarkan diri dari tusukan Ti Then, mendadak tubuhnya menyerang ke sebelah kiri, telapaknya dengan mengubah jadi cengkeraman elang, menghajar jalan darah ‘Ciang Bun’ pada pinggang Ti Then.

Dengan gugup Ti Then menyingkir kebelakang, pedangnya dengan memutar satu lingkaran bagaikan burung merak lagi mementangkan sayap dia menghajar dadanya Loo-cia.

Masing-masing pihak bergebrak dengan kecepatan yang luar biasa, setiap jurus dipecahkan dengan jurus, didalam berjaga membawa daya menyerang hanya didalam sekejap saja sudah puluhan jurus sudah berlalu dengan amat cepatnya. Tetapi pada saat masing-masing pihak bertempur dengan amat seru itulah tiba-tiba……..

“Rubuh!” bentak Loo-cia dengan keras.

Hanya didalam sekejap saja sinar pedang berkelebat memenuhi angkasa, bayangan telapak mengacaukan pandangan, masing- masing pihak sudah berhenti bergerak sedang tubuh Ti Then pun dengan perlahan-lahan rubuh ke atas tanah.

Semuanya ini membuat Yuan Siauw Ko yang menonton di samping dibuat melongo-longo, dia yang melihat Ti Then dapat dengan amat sengitnya melawan Majikan Patung emas menurut anggapannya, walau pun Ti Then tidak dapat memperoleh kemenangan paling sedikit untuk menerima seratus jurus pun masih bisa.

Siapa sangka cuma sepuluh jurus saja dia sudah menemui kekalahan secara mendadak, hal ini benar-benar amat mencengangkan hatinya.

Sedang Ti Then sendiri pun merasa kebingungan, dia tidak mengerti pihak lawan sudah menggunakan cara apa untuk menotok jalan darahnya, bahkan dia pun merasa jari tangan pihak lawan pun tidak sampai mengenai tubuhnya tetapi sudah cukup membuat badannya jadi kaku sehingga tak dapat berdiri lebih lama.

Tetapi pikiran serta kesadarannya masih penuh, keadaannya mirip dengan orang yang tertotok jalan darah kakunya.

Dengan menggunakan kakinya Loo-cia lantas membalik badannya sehingga terlentang, air mukanya masih tetap dingin dan buas kejam.

“Kau lihat!” ujarnya, “Walau pun aku sudah menciptakan dirimu sebagai jago nomor tiga di seluruh Bu-lim, tetapi bilamana ingin membereskan dirimu aku masih bisa lakukan dengan amat mudah.”

“Sekarang tentunya kau sudah boleh menceritakan tujuanmu bukan?” “Sebentar lagi pasti aku beritahukan kepadamu!”

Dengan perlahan dia bergeser kesamping tubuh Yuan Siauw Ko dan memasukkan sepasang tangannya kebawah batu cadas, entah dengan menggunakan cara yang bagaimana tahu-tahu batu cadas itu sudah terangkat setinggi satu depa kemudian kakinya menendang rantai besi itu kebawah batu dan menurunkan kembali batu cadas itu.

“Buat apa kau berbuat demikian?” ujar Yuan Siauw Ko sambil tertawa dingin.

“Karena kau cuma tinggal satu jam saja hidup di dunia.”

“Seluruh kepandaian silat loohu sudah kau punahkan, apa kau takut loohu melarikan diri?”

“Benar, untuk sementara waktu aku akan meninggalkan gua ini satu jam kemudian akan kembali lagi kesini untuk membereskan kalian berdua!”

Sehabis berkata dia lantas berjalan keluar dari gua tersebut.

Melihat tindakan dari Majikan Patung Emas itu Ti Then segera merasakan hatinya tergetar amat keras.

“Tunggu dulu!” teriaknya dengan cemas.

Majikan Patung Emas segera menghentikan langkahnya dan menoleh.

“Permintaanmu itu bisa aku penuhi satu jam kemudin, sekarang lebih baik kau berbaring dulu disini!” katanya dingin.

“Kau mau kemana?” “Pulang ke dalam Benteng.” “Mau apa?”

“Urusi pekerjaan!” sahut Majikan Patung Emas singkat.

Sehabis berkata dia melanjutkan kembali langkahnya menuju ke depan. Ti Then sudah dapat menebak apa yang hendak dikerjakan olehnya sekembalinya ke dalam Benteng, hatinya merasa semakin cemas lagi.

“Tunggu dulu, apa yang hendak kau lakukan sekembalinya ke dalam Benteng?” “Teriaknya dengan cemas.

“Sejak semula aku sudah bilang” ujarnya sambil menghentikan langkahnya kembali, “Bilamana dengan menggunakan cara yang lunak tidak dapat mencapai tujuan terpaksa aku harus menggunakan cara kekerasan!”

Mendengar kata-kata itu Ti Then merasakan matanya berkunang- kunang.

“Tidak! Kau tidak boleh membunuh mereka ayah beranak!” teriaknya dengan keras.

“Satu jam kemudian kau pun bakal mati, buat apa sekarang kau merasa kuatir buat orang lain?”

Sehabis berkata dia melangkah kembali keluar.

Dalam hati Ti Then tahu didalam keadaan tak siap sedia Wie Ci To ayah beranak pasti sukar untuk meloloskan diri dari kematian, tidak terasa lagi dia sudah menghela napas panjang.

“Sudahlah, aku menyerah kepadamu!” katanya lemas.

Majikan Patung Emas pura-pura tidak mendengar, dia melanjutkan kembali langkahnya menuju ke depan.

“Kau kembalilah, aku suka menurut petunjukmu lagi!” teriak Ti Then semakin keras.

Dengan perlahan Majikan Patung Emas baru menghentikan langkahnya dan menoleh.

“Kau bangsat cilik tidak bisa dipercaya, bagaimana aku dapat mempercayai kembali kata-katamu?” ujarnya dingin.

“Yuan loocianpwee masih ada di tanganmu, kau takut apa?” Majikan Patung Emas termenung berpikir sebentar, setelah itu baru putar badannya berjalan balik.

“Kau sungguh-sungguh tidak akan mengkhianati aku lagi?” “Tidak!”

“Sekarang kau sudah tahu akulah Majikan Patung Emas, bilamana kau berani memecahkan rahasiaku, maka yang pertama- tama aku bunuh adalah Yuang Cong-piauwtauw ini!”

“Kau boleh berbuat demikian.”

“Baik, untuk terakhir kalinya aku suka mempercayai dirimu!”

Sehabis berkata dia lantas berjongkok untuk membebaskan jalan darah kaku dari Ti Then yang tertotok.

Ti Then yang merasa cara menotok jalan darahnya ini sangat istimewa sekali, tidak tertahan lantas tanyanya:

“Agaknya tadi kau orang tidak membentur badanku bukan?” “Sudah tentu, karena yang aku gunakan adalah totokan angin!”

jawab Loo-cia sambil tertawa seram.

Jari tangan kanannya segera ditekuk dan disentilkan ke depan. “Plaaak!” dengan disertai suara angin yang amat nyaring batu

kecil yang ada beberapa depa jauhnya segera tersentil jatuh ke tengah kejauhan.

Waktu itu Ti Then baru bangkit berdiri, melihat kedahsyatan dari ilmu tersebut dalam hati merasa amat terperanjat.

“Agaknya ilmu silat semacam ini kau orang belum pernah mengajarinya kepadaku!”

“Seharusnya aku tinggalkan beberapa ilmu untuk aku simpan, kalau tidak bagaimana aku bisa menguasai dirimu?”

Ti Then segera bangkit berdiri dan menoleh ke arah Yuan Siauw Ko sambil tertawa pahit. “Loocianpwee! Sebenarnya boanpwee tidak ingin takluk dengan perbuatan jahat, tetapi saat ini aku mau tidak mau harus tunduk satu kali!”

Sudah tentu Yuan Siauw Ko mengerti akan maksud hatinya, kesemuanya ini dia lakukan dikarenakan Wie Ci To ayah beranak, karenanya terhadap keputusan inipun dia mengetahui jelas.

“Loohu tahu, kau pergilah dengan lega hati!” ujarnya sambil tertawa.

“Kau punya rencana hendak mengurung Yuan loocianpwee sampai kapan baru dilepaskan kembali?” tanya Ti Then kemudian sambil menoleh kearah Loo-cia.

“Sesudah tujuanku tercapai!”

“Kau orang tidak seharusnya memusnahkan ilmu silatnya” omel Ti Then.

“Caraku untuk memusnahkan ilmu silat orang lain sama sekali berbeda dengan cara biasanya, sampai waktunya aku lepaskan dia pergi tentu kepandaian silatnya aku pulihkan kembali.”

“Apa sungguh-sungguh perkataanmu itu?” tanya Ti Then dengan hati girang.

“Tidak salah”

“Di dalam waktu-waktu ini aku mengharapkan kau jangan merugikan dirinya”

“Asalkan dia tidak melarikan diri, aku pasti tidak akan merugikan dirinya.”

“Keadaan dari loohu sekarang ini seperti anjing pun lebih baik, kau masih bilang tidak merugikan?” cela Yuan Siauw Ko dari samping.

“Aku merasa senang untuk memberi lebih enak sedikit kepadamu, tetapi dengan keadaan pada saat ini terpaksa aku cuma bilang bersikap demikian kepadamu.” Berbicara sampai disini dia lantas menoleh kearah Ti Then. “Sekarang cepat kau kembali ke dalam Benteng!” perintahnya. “Kau tidak kembali bersama-sama aku?”

“Kau pulanglah terlebih dahulu.”

Dengan wajah ragu-ragu Ti Then menoleh sekejap kearah Yuan Siauw Ko, lama sekali baru ujarnya:

“Kau masih ada disini untuk berbuat apa?”

“Kau boleh lega hati, bilamana aku ingin mencelakai dirinya saat ini pun aku bisa turun tangan.”

Ti Then yang merasa perkataannya ini sedikit pun tidak salah lantas merangkap tangannya menjura kearah Yuan Siauw Ko, setelah itu memungut kembali pedangnya dimasukkan kedalam sarung.

Baru saja Ti Then berjalan beberapa langkah mendadak terdengarlah Loo-cia si majikan patung emas berkata kembali:

“Ooh benar, bilamana jejakmu malam ini diketahui oleh para pendekar pedang yang berjaga-jaga di benteng, kau hendak menggunakan cara apa untuk memberi penjelasan?”

Sembari melanjutkan perjalanannya keluar dari gua itu jawab Ti Then tawar.

“Aku bilang baru saja menemukan orang yang melakukan perjalanan malam melewati benteng, aku lantas melakukan pengejaran hingga di luar benteng.”

“Betul, memang seharusnya kau memberi penjelasan secara demikian” sahut Loo-cia tertawa.

Dia pun lantas ikut di belakang Ti Then berjalan keluar dari gua, menanti bayangan tubuh Ti Then sudah lenyap dari pandangan dia baru kembali lagi kedalam gua dan menarik lepas rantai besi yang ditindih dibawah batu cadas tersebut. Kemudian sambil membawa kantongan ransum serta air, ujarnya kepada Yuan Siauw Ko.

“Ayoh, kita pun harus berangkat!” “Kemana?”

“Tempat ini sudah diketahui oleh Ti Then, maka aku harus membawa dirimu menuju kedalam gua yang lain”

Dengan berdiam diri Yuan Siauw Ko bangkit berdiri dan mengikuti dari belakang tubuhnya berjalan keluar dari gua tersebut.

Sesampainya diluar gua, dikarenakan kepandaian silat dari Yuan Siauw Ko sudah musnah sehingga tidak bisa mengerahkan ilmu meringankan tubuh maka dengan dibimbing oelh Loo-cia mereka melayang dan menaiki keatas tebing gua Lui Tong Ping tersebut.

Setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya menuju kedalam gunung yang lebih jauh lagi.

Sewaktu bayangan tubuhnya sudah ada beberapa kaki jauhnya dari sana, mendadak dari bawah gua Lui Tong Ping itu berkelebat kembali sesosok bayangan hitam yang secara diam-diam tanpa mengeluarkan sedikit suara pun menguntit dari belakang Loo-cia hingga ke tempat tujuannya.

Adakah bayangan hitam itu adalah Ti Then?

Bukan, saat ini Ti Then sudah kembali ke benteng Pek Kiam Poo.

XXXdwXXX

Para tetamu yang sengaja datang membawa selamat sudah berdatangan, suasana di dalam benteng Pek Kiam Poo mulai jadi ramai.

Saat itu sewaktu Ti Then lagi duduk melamun di dalam kamar mendadak tampak Loo-cia masuk ke dalam kamar.

“Ti Kiauw-tauw, Poocu mengundang kau ke kamar baca untuk bercakap-cakap” katanya sambil tertawa. “Urusan apa?” tanya Ti Then melengak. “Entahlah!”

Dia menoleh dulu memandang sekeliling tempat itu kemudian sambil memperendah suaranya dia berkata kembali.

“Jarak sekarang dengan hari perkawinanmu tinggal empat hari saja. Di dalam empat hari ini apa yang dikatakan oleh Wie Ci To kepadamu harus kau laporkan semua kepadaku, tahu tidak?”

Ti Then segera mengangguk dan putar badan berlalu dari sana.

Setibanya didalam kamar baca Wie Ci To tampaklah Wie Lian In pun pada sat itu ada didalam kamar baca, karenanya dia lantas maju memberi hormat kepada Wie Ci To.

“Loo-cia bilang katanya Gak-hu thayjien lagi mencari menantumu?”

“Benar” sahut Wie Ci To tersenyum, “Loohu punya satu urusan yang hendak dirundingkan dengan dirimu, kau duduklah”

Ti Then segera duduk di samping.

Wie Ci To mendehem beberapa kali, lalu sambil menuding kearah Wie Lian In ujarnya sambil tertawa.

“Lian In budak ini secara mendadak kemarin hari minta kepada Loohu untuk mendirikan satu kamar baru…”

Ti Then jadi melengak.

“Apa sempat untuk membangun sebuah kamar baru lagi?” tanyanya.

“Maksud dari Lian In bukannya minta dibangunkan satu kamar yang baru, dia cuma bilang tidak suka menganggap kamarnya sekarang sebagai kamar yang baru, dia pikir ingin mencari tempat lain untuk mendirikan kamar baru buatnya.”

Dengan tidak paham Ti Then memandang sekejap ke arah Wie Lian In. “Bukankah kamarmu sekarang ini sangat bagus sekali?” tanyanya.

“Hmm, kamar itu syudah aku diami selama puluhan tahun lamanya, sejak semula aku sudah merasa bosan” seru Wie Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

“Sudah..sudahlah, kau tidak usah seperti bocah cilik saja!” “Perkatraannya memang amat betul” timbrung ie Ci To sambil

tersenyum. “Setelah kalian menikah ada seharusnya dimulai dengan

barus segala-galanya”

“lalu kau sudah setuju dengan kamar yang mana di dalam Benteng ini?” tanya Ti Then sambil tertawa, dengan perlahan dia menoleh kearah Wie Lian In.

“Aku sudah setuju dengan kamar didalam loteng penyimpan kitab tersebut.”

Semula Ti Then agak melengak, tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa geli.

“Lian In, kau jangan berguyon” serunya. “Tetapi tia sudah setuju”

Sekali lagi Ti Then dibuat kebingungan, dia merasa urusan ini ada diluar dugaannya.

“Sungguh?” tanyanya sambil menoleh kearah Wie Ci To. “Sungguh…” sahut Wie Ci To mengangguk.

“Tetapi…”

“Loteng penyimpan kitab itu tidak mengandung rahasia apa pun” potong Wie Ci To dengan cepatnya, apalagi setelah Loohu ceritakan soal lukisan Shu Sia Mey kepada kalian hatiku pun rada baikan, maka itu Loohu sudah mengabulkan permintaan dari Lian In untuk serahkan itu loteng penyimpan kitab sebagai kamar baru kalian.” Untuk beberapa saat lamanya Ti Then dibuat kebingungan, dia tahu didalam loteng penyimpan kitab pasti sudah tersimpan satu rahasia, sedang barang yang diinginkan oleh Majikan patung emas itu pun pasti tersimpan di dalam Loteng penyimpan kitab tersebut.

Sekarang mereka ayah beranak menyerahkan loteng tersebut kepada dirinya untuk dijadikan sebagai kamar baru, bukankah hal ini sama saja dengan mengundang pencuri ke dalam kamar? Dan memberi kesempatan buat Majikan Patung emas atau boleh dikata dirinya sendiri untuk melakukan niatnya?

“Kau tidak suka dengan tempat itu ?” tanya Wie Lian In tiba- tiba.

“Bilamana kau menyuruh aku mengambil keputusan maka aku rasa kamarmu yang sekarang itu jauh lebih baik.”

“Kenapa ?” tanya Wie Lian In kurang senang.

“Loteng penyimpan kitab itu tentu merupakan tempat yang paling tenang dari ayahmu, kita tidak seharusnya merebut tempat kesenangan dari ayahmu itu.”

“Soal ini kau tidak usah kuatir,” sambung Wie Ci To dengan cepat, “Pada beberapa waktu ini Loohu sudah jarang membaca buku lagi bahkan loohu rela memberikan loteng penyimpan kitab itu buat kalian gunakan sebagai kamar baru.”

“Apa maksud dari Gak hu ?”

“Loohu masih teringat dengan kata-katamu tempo hari, dikarenakan Loohu sudah melarang setiap orang memasuki loteng penyimpan kitab itu maka mudah menimbulkan rasa curiga dari orang lain kalau di dalam loteng itu benar-benar sudah tersimpan barang pusaka, demi jelasnya persoalan ini maka Loohu rasa serahkan ruangan itu buat kalian adalah merupakan satu penyelesaian yang paling baik.”

“Asalkan kau tidak menolak maka aku segera akan suruh orang untuk membersihkan tempat itu dan memasukkan semua alat2 rumah tangga kedalam ruangan” sambung Wie Lian In dengan cepat.

“Lalu buku-buku itu hendak pindah kemana ?”

“Kamar kosong didalam Benteng masih banyak, buku-buku itu mudah saja dipindahkan ke tempat lain”

“Sedang alat rahasianya ?”

“Alat rahasia sukar untuk dibongkar, tetapi Loohu bisa jelaskan semua alat rahasia itu kepada kalian agar kalian pun mengerti cara menggunakannya.”

“Sebetulnya menantumu merasa kurang setuju,” ujar Ti Then sambil tertawa. “Tetapi kalau memangnya Gak hu serta Lian In sudah setuju maka siauw say pun tidak akan menolak lagi”

Mendengar perkataan tersebut Wie Ci To segera bangkit berdiri, "Loohu akan pergi menutup alat rahasianya, kemudian suruh

orang untuk memindahkan kitab serta lukisan-lukisan itu. Dan

mengadakan pembersihan seperlunya".

Sehabis berkata dia lantas berlalu dari sana.

Menanti bayangan tubuh dnri Wie Ci To sudah lenyap dari pandangan Ti Then baru menoleh kearah Wie Lian In dan mengomel.

"Kau tidaklah patut untuk mengajukan permintaan ini kepada ayahmu !".

"Kenapa ?" tanya Wie Lian In sambil mencibirkan bibirnya. "Membaca buku dan memandang lukisan adalah satu-satunya

kesenangan dari ayahmu, tidak seharusnya kau mengganggu

kesenangan beliau itu !".

"Tetapi membaca buku atau melihat lukisan tidak seharusnya diatas loteng penyimpan kiiab !". "Tetapi belum tentu juga ruangan loteng penyimpan kitab itu harus dijadikan kamar baru kita".

"Aku rasa loteng penyimpan kitab itu sangat indah sekali, dibawah loteng ada ruangan tamunya, diatas loteng adalah kamar tidur dan bisa digunakan untuk memandang ketempat kejauhan apalagi bila mana musim panas menjelang tidak merasa terlalu panas, bukan begitu ?".

Sambil mengerutkan alisnya rapat2 Ti Then tidak mengucapkan sepatah katapun.

“Disamping itu” ujar Wie Lian In lagi tertawa, “Kita bisa pula melenyapkan pikiran yang bukan2 dari ayahku terhadap Shu Siu Mey, bukankah itu sangat bagus sekali ?”

Ti Then tertawa tawar dan tidak mengucapkan kata-kata lagi. “Ayoh jalan, kila pergi melihat-lihat.”

Mereka berdua segera berjalan keluar dari kamar baca itu menuju kebawah loteng penyimpan kitab.

Waktu itu kebetulan Wie Ci To sedang berjalan mendatang, terdengar sambil tertawa ujarnya :

“Loohu sudah mematikan alat2 rahasianya, sekarang aku mau suruh pelayan singkirkan buku-buku serta lukisan2 itu.”

Tidak lama kemudian dangan diawasi oleh Wie Ci To sendiri tampak tiga orang pelayan tua mulai menurunkan peti-peti buku yang ada didalam loteng penyimpan kiiab itu.

Agaknya Wie Ci To merasa kekurangan tenaga, kepada Ti Then lantas ujarnya;

“Coba kau panggil Loo-cia kemari untuk membantu.” “Kenapa tidak suruh pendekar pedang hitam saja ?”

“Tidak, beberapa orang tua itu sudah ada sangat lama mengikuti loohu, cuma mereka saja yang tahu bagaimana caranya membereskan barang-barang tersebut.” “Ooow . .” seru Ti Then, setelah itu dia berjalan ke ruangan tengah untuk mencari datang Loo cia.

“Loo-cia, poocu perintah kau membantu mengangkati barang,” serunya.

“Mengangkati barang apa ?” tanya Loo-cia dengan sinar mata ragu-ragu.

“Membongkar kitab-kitab serta lukisan2 yang ada didalam loteng penyimpan kitab, Poocu mau berikan tempat itu untuk dijadikan kamar pengantenku”

“Apa maksudmu ?” tanya Loo-cia dengan air muka berubah sangat hebat.

“Ini adalah atas perintah dari Wie Lian In, dia bilang mau pindah kamar dan Wie Ci To setuju, maksudnya yang lain adalah agar semua orang paham kalau didalam loteng penyimpan kitab itu sebetulnya tidak ada barang pusaka apapun.”

“Lalu alat-alat rahasia didalam loteng itu apakah sudah dibuang?”

“Tidak,” jawab Ti Then perlahan. “Wie Ci To bilang alat-alat rahasia itu tidak bisa dibongkar, tetapi dia hendak memberi penjelasan kepada kami bagaimana caranya menggunakan alat-alat rahasia tersebut.”

"Kalau begitu sangat bagus sekali !!" Teriak Loo-cia dengan hati girang.

"Aku tahu setelah mendengar berita ini kau pasti akan merasa girang, tapi bilamana kau bermaksud untuk mendapatkan semacam barang dari Wie Ci To saat ini merupakan satu kesempatan yang baik, kau boleh menggunakan kesempatan sewaktu menggotongi buku2 serta lukisan2 itu untuk mencari dapat barang itu".

"Soal itu tidak mungkin bisa terjadi !" ujar Loo-cia sambil gelengkan kepalanya.

"Kenapa ?" Loo-cia tersenyum, dengan suara yang amat lirih ujarnya;

"Barang yang aku maui itu sudah disimpan oleh Wie Ci To dengan amat rahasia, barang itu baru bisa diperoleh bilamana kau benar2 sudah memahami seluk beluk dari alat2 rahasia yang menyelubungi loteng penyimpan kitab itu".

"Jadi maksudmu, barang yang kau inginkan itu tidak mungkin dipindahkan oleh Wie Ci To keluar dari loteng penyimpan kitab tersebut ?".

"Benar".

"Besarkah barang itu?".

"Tidak besar yaa tidak kecil!" sahut Loo-cia sambil tcrtawa misterius.

"Kau rasa setelah aku bisa menggunakan alat2 rahasia itu lalu bisa bantu dirimu untuk mendapatkan barang tersebut?"

“Tidak salah”

"Kalau begitu ada kemungkinan sebelum tiba saatnya aku kawin dengan Wie Lian In barang itu sudah dapat aku dapatkan?".

"Ada kemungkinan memang begitu".

"Bilamana aku bisa memperoleh barang itu sebelum hari perkawinanku, apakah kau hendak memaksa aku tetap kawin dengan Wie Lian Ini?”

"Tidak!" seru Loo-cia, "Waktu itu kau boleh ambil keputusan sendiri, bilamana suka kawin dengan dirinya kau boleh tetap tinggal disini. bilamana tidak suka yaa boleh meninggalkan benteng Pek Kiam Poo”

Mendengar perkataan itu Ti Then jadi amat girang.

"Kalau begitu sekarang juga kau boleh beritahukan kepadaku barang macam apakah yang kau kehendaki itu, akupun bisa segera melaksanakan tugas tersebut, karena ada kemungkinan sebentar lagi Wie Ci To bakal memberitahukan kepadaku cara2 kegunaan dari alat2 rahasia tersebut".

Loo-cia termenung berpikir sebentar, akhirnya dia menggelengkan kepalanya.

“Tidak, sekarang masih belum bisa, menanti setelah kau benar2 mengerti jelas cara-cara dari alat rahasia itu . . hmm. hmmm„ benar, apakah Wie Ci To ayah beranak pernah mengajukan permintaan untuk tunjuk aku lagi untuk melayani dirimu?”

“Tidak.”

“Ada kesempatan kau boleh katakan soal ini dengan Wie Ci To, katakan saja kau suka padaku dan mengharapkan aku bisa melanjutkan pekerjaannya melayani dirimun di loteng penyimpan kitab tersebut”

Dalam hati Ti Then tahu pihak lawan berkata demikian dengan tujuan ingin mencari barang, memang cara itulah yang terbaik, karenanya dia lantas mengangguk.

“Baiklah, bilamana Wie Ci To tidak setuju, aku tidak punya cara lhoo,” katanya.

“Asalkan kau tidak membocorkan rahasiaku maka dia tidak akan menaruh curiga terhadap diriku, bilamana dia tidak menaruh curiga terhadap diriku maka permintaanmu itu pasti akan dikabulkan.”

“Semoga saja demikian, sekarang kau boleh pergi bekerja.”

Loo-cia segera mengangguk dan berjalan menuju ke Loteng Penyimpan kitab itu.

Ti Then pun mengikuti dari belakangnya berjalan menuju kearah Loteng penyimpan kitab.

Wie Ci To yang melihat munculnya Loo-cia dia lantas berseru. “Loo-cia, dahulu kau pernah membantu loohu aturkan buku2 dan

lukisan2 coba kau masuklah kedalam dan membantu” Dengan hormatnya Loo-cia menyahut dan dengan langkah cepat masuk kedalam loteng penyimpan kitab untuk membantu membongkari buku2 serta lukisan tersebut.

XxxdwxxX

WIE CI TO segera menoleh kearah Ti Then dan tertawa.

"Loo-Cia orang ini tidak jelek, dia sudah mengikuti puluhan tahun lamanya dengan Loohu, selamanya belum pernah ribut maupun mengomel, dia adalah seorang yang rajin "

"Benar !” sahut Ti Then mengangguk. "Sebelum dia mengikuti Gak-hu apa kerjanya?”

"Seorang kuli di dusun, ada satu kali karena miuum arak dan mabok dia sudah membuat gara2 sehingga diusir oleh majikannya. Loohu yang melihat dia orang amat jujur lantas menerimanya sebagai pembantu, kaiau di-hitung2 boleh dikata dia sudah ada empat puluh tahun lamanya mengikuti Loohu."

"Apakah dia pernah belajar ilmu silat?".

"Pernah belajar beberapa waktu lamanya, karena bakatnya tidak ada kemudian dia tidak berlatih lagi".

Sewaktu mereka ber-cakap2 terlihatlah Loo-cia dengan menggotong sebuah peti buku berjalan keluar dari Loteng penyimpan kitab itu dan berhenti dihadapan mereka, kepada Wio Ci To sambil tertawa tanyanya :

"Peti ini berisikan tulisan tangan dari para sejarah Wan, Poocu punya maksud untuk menyimpannya dikamar yang mana?”

"Taruh saja disebelah kiri dari kamar baca".

Loo-cia segera menyahut dan sambil menggotong peti tersebut berjalan menuju ke kamar baca.

"Loo-cia" tiba2 terdengar Wie Lian In menegur sambil tertawa perlahan. "Tenagamu sungguh tidak kecil !", Sembari berjalan Loo-cia menjawab :

"Peti buku ini tidak lebih cuma enam tujuh puluh kati beratnya, bilamana budakmu tidak kuat untuk mengangkat bukankah hanya memalukan orang2 benteng Pek Kiam Poo saja".

"Loo-cia bekerja amat gesit, p«rkataannya pun amat lincah, siauw-say berharap lain kali dia bisa meneruskan untuk melayani aku " ujar Ti Then sengaja mengambil kesempatan ini.

"Tapi aku tidak suka padanya, dia sering menggoda aku!” sela Wie Lian In amat kesal.

"Kan tidak mengapa bukan kalau cuma berguyon ??"

"Lain kali ada Cun Lan seorang sudah cukup buat apa ditambahi dengan dirinya?”

“Tetapi apakah Cun Lan bisa mengerjakan pekerjaan besar?" "Tidak salah“ sela Wie Ci To sambil tertawa. "Walaupun usia dari

Loo-cia sudah tidak kecil tetapi untuk melakukan pekerjaan kasar

aku lihat masih bisa, lebih baik biar dia ikut dengan kalian lagi." Wie Lian In tersenyum dan tidak membantsh lagi.

Empat orang pelayan tua itu setelah repot setengah harian akhirnya buku2 serta lukisan2 yang ada didalam loteng penyimpan kilab itupun sudah berhasil dibereskan Wie Ci To lantas perintah mereka untuk membersihkannya, kepada Ti Then serta putrinya dia memberi pesan:

"Kemungkinan sekali besok pagi barang2 rumah tangga sudah bisa dibawa masuk, sekarang kalian ikutlah loohu menuju ke kamar baca, Loohu hendak menjelaskan dulu keadaan dari alat rahasia itu.”

xxxdwxxx

Magrib itu juga Loo-cia berempat sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk membereskan Loteng Penyimpan kitab itu, Wie Ci To pun dengan mengambil kesempatan sebelum alat2 rumah tangganya diatur didalam ruangan tersebut dengan mengajak Ti Then serta putrinya memasuki loteng penyimpan kitab dan menjelaskan cara2 menutup serta membuka alat2 rahasia itu beserta perubahannya.

Dengan telitinya Ti Then mengingat semua keterangan itu di hati, diam2 dia merasa terperanjat juga karena ini harilah dia baru benar2 mengetahui kalau Loteng penyimpan kitab itu benar2 merupakan satu tempat yang sukar ditembusi oleh orang asing.

Alat rahasia yang dipasang didalam ruangan itu ada delapan belas macam jumlahnya bahkan cara untuk menggerakkan alat rahasia itupun bisa diubah sesukanya sehingga memaksa pihak musuh tidak dapat memecahkannya untuk selamanya.

Diam2 pikirnya dihati:

"Tidak aneh kalau Loo-cia hendak menggunakan aku untuk mencuri barang tersebut, bilamana tidak mendengarkan penjelasan dari Wie Ci To ini hari siapapun tidak bakal bisa keluar lagi dari sini dalam keadaan hidup2 setelah tiba disini!".

Setelah Wie Ci To selesai menjelaskau rahasia itu mendadak dia menggerakkan suatu alat rahasia sehingga membuat dinding tembok itu memutar dengan sendirinya, ujarnya sambil tertawa:

"Tempo hari Loohu pun pernah membuka dinding rahasia ini untuk melihat lukisan dari Shu Sin Mey ".

Sedang sekarang lukisan dari Shu Sin Mey yang ada disana sudah tidak kelihatan lagi!

"Dimanakah lukisan itu sekarang berada? tanya Wie Lian In keheranan.

"Loohu sudah simpan lukisan kedalam ruaogan rahasia tersebut, sebetulnya Loohu bermaksud untuk membawanya keluar dari loteng penyimpanan kitab ini tetapi dikarenakan semasa hidupnya dia paling suka ketenangan maka loohu rasa lebih baik biarkan dirinya tinggal didalam loteng saja". "Apakah disebelah sana masih ada sebuah kamar rahasia?" tanya Wie Lian In lagi.

"Ada! disebelah dalam!" sahut Wie Ci To sambil mengangguk. Dari samping dinding kembali dia menekan sebuah tombol. Kraak

. . . kraak . . dengan menimbulkan suara yang nyaring dari balik dinding rahasia itu kembali terbuka sebuah ruangan rahasia yang amat gelap dan cuma kelihatan anak tangganya saja.

Anak tangga yang terbuat dari batu itu menghubungkan ke tempat yang lebih dalam lagi, kemana tujuannya? tiada yang tahu.

Wie Ci To segera menuju kedalam ruangan tersebut.

"Dari sini menuju kebawah akan tiba disuatu tempat yang amat rahasia, ruangan itu letaknya ada tiga kaki dalamnya dari atas permukaan tanah" ujarnya.

"Bagaimana kalau aku masuk untuk melihat?". "Tidak!" cegah Wie Ci To denpan wajah keren. "Ada yang penting?" tanya Wie Lian In kaget.

“Loohu tidak ingin ada orang yang mengganggu dirinya, sejak ini hari ssluruh ruangan Loteng Penyimpan kitab ini loohu serahkan kepada kalian suami istri, cuma satu2nya ruangan rahasia ini saja loohu harap kalian suka tinggalkan buat dirinya."

"Jadi maksud Tia apa mungkin sukmanya masih ada didalam loteng penyimpan kitab ini?" tanya Wie Lian In tiba2 sambil tertawa.

"Benar, walaupun dia sudah meninggal amat lama tapi loohu selalu merasa bahwa sukmanya tidak bakal pergi dari tempat ini!”

Dia berhenti sebentar, kemudian dengan menggunakan sepasang matanya yang amat tajam memperhatikan diri Ti Then serta Wie Lian In sekejap, dan ujarnya dengan suara keren:

"Loohu tidak akan menggunakan kekerasan untuk memaksa kalian pergi menghormat dirinya, tapi bilamana kalian suka menghormati loohu maka harap janganlah kalian pergi mengganggu dirinya!"

"Baik!” sahut Wie Lian In dengan amat hormatnya. “Putrimu pasti tidak akan menginjak ruangan rahasia ini barang selangkah pun!"

"Gak-hu harap berlega hati!" ujar Ti Then dengan muka yang serius, “Siauw-say akan menganggap di dalam loteng penyimpan kitab ini sama sekali tidak ada lorong rahasia ini dan tidak pula ruangan bawah sekali.”

"Kalau begitu sangat bagus sekali!" sahut Wie Lian In dengan hati girang.

"Apakah didalam ruangan itu tidak dipasangi alat rahasia ?". "Tidak ada, maka itu loohu mengajukan permintaan ini kepada

kalian. karena loohu takut secara sembunyi2 kalian hendak mengintip masuk".

"Tidak mungkin terjadi" Seru Wie Lian In sungguh2. "Bilamana Tia tidak berkata ada kemungkinan putrimu akan masuk ke dalam, sekarang Tia sudah memberi pesan demikian sudah tentu putrimu tidak akan berani masuk lagi".

Wie Ci To yang mendengar perkataan dari putrinya itu amat tegas diapun lantas menekan kembali tombol rahasianya sehingga dinding rahasia itu menutup kembali.

"Mari kita turun kebawah!" ujarnya.

Malam itu setelah Ti Then menemui para tetamu untuk bersantap malam dia kembali kekamarnya sendiri.

"Loo-cia ambil teh!" teriaknya dengan keras,

"Sebentar!" seru Loo-cia dari kamar samping kemudian tampak dia berjalan datang dengan membawa secawan teh.

Setelah dilihatnya dia meletakkan air itu keatas meja sekali lagi dengan kasar Ti Then memberi perintah:

“Loo-cia, pergi masak segentong air panas, aku mau mandi !” "Baik . . . baik . . . sebentar lagi datang! " sahut Loo-cia sambil bungkuk2 badannya.

Selesai berkata dia lantas mengundurkan dirinya.

Ti Then yang melihat dia orang sama sekali tidak dibuat mendongkol oleh sikapnya yang kasar itu dalam hati merasa amat kagum sekali atas kesabaran hatinya.

Setelah membersihkan badan Loo-cia membantu dia orang membuang air kotor itu, membereskan pakaian kotor lalu ujarnya sambil tertawa:

"Bangsat cilik, selama beberapa bulan ini walaupun kau menerima perintahku tetapt aku pun sudah membantu kau untuk melakukan berbagai macam pekerjaan, maka itu seharusnya kau sudah merasa puas.”

"Tidak salah! " sahut Ti Then tersenyum lalu meneguk air teh itu satu tegukan. "Di dalam melayani majikan kau memang sangat pandai sekali".

Setelah menutup pintu kamar Loo-cia segera duduk disamping badannya, dan ujarnya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara:

"Tetapi hari inipun tidak bisa terlalu lama !".

“Wie Ci To sudah menjelaskan seluruh rahasia dari alat rahasia didalam loteng penyimpan kitab dengan jelas, aku pikir sekarang kau sudah boleh memberitahukan barang apa yang sebetulnya kau inginkan”

“Apa kau sudah memeriksa seluruh rahasia didalam Loteng penyimpan kitab itu ?”

“Kecuali sebuah ruangan rahasia aku tidak memeriksanya . . . “

Air muka Loo-cia segera memperlihatkan kegirangan, tanyanya dengan cemas, “Ruangan rahasia yang ada didalam Loteng penyimpan kitab itu terletak di sebelah mana?”

“Mulut pintu ada di loteng tingkat dua, sedang ruangan rahasia itu terletak pada tiga kaki dibawah tanah.

“Kalian dilarang untuk mssuk memeriksa apakah hal ini disebabkan oleh larangan dari Wie Ci To ?” tanya Loo-cia lagi dengan cemas.

“Benar,” sahut Ti Then sambil mengangguk, “Dia bilang lukisan dari Shu Sin Mey ada didalam ruangan rahasia itu, dia minta kami jangan mengganggunya.”

“Bagus sekali” seru Loo-cia lagi sambil tertawa dingin.

“Aku rasa barang yang kau inginkan tentunya terletak didalam ruangan rahasia itu bukan ?”

“Tidak salah” sahut Loo-cia mengangguk,

“Wie Ci To bilang dalam ruangan rahasia itu tidak dipasang alat rahasia, bilamana hendak mengambil barang itu bukankah sangat mudah sekali ?”

“Hmm aku tidak percaya kalau didalam ruangan rahasia itu tidak dipasangi alat rahasia” ujar Loo-cia sambil gelengkan kepalanya.

“Tetapi perkataan ini dia katakan kepada putrinya sendiri, bilamana dia berbohong dan ada kemungkinan Wie Lian In karena rasa ingin tahu secara diam-diam memasuki ruangan tersebut bukankah hal ini sama saja dengan mencelakai putrinya sendiri?”

Agaknya Loo-cia merasa perkataannya ini sedikitpun tidak salah, alisnya segera dikerutkan rapat-rapat,

“Ehmm . . . tidak salah, bilamana didalam ruangan rahasia itu benar-benar ada alat rahasianya dia seharusnya bisa memikirkannya sampai disini tetapi . . . aku benar-benar merasa tidak percaya kalau didalam ruangan rahasia itu tidak dipasangi alat rahasia . . “ “Apa aku pergi masuk kedalam untuk mengadakan pemeriksaan?”

Dengan amat tajamnya Loo-cia memperhatikan lalu tertawa mengejek.

“Hmm, bagaimana sekarang kau begitu bersemangat ?” tanyanya.

“Aku sangat mengharapkan perintah dan tugasmu itu bisa aku selesaikan sebelum hari pernikahanku dengan Wie Lian In, karena aku tidak ingin menipu dirinya.”

“Kau punya rencana untuk meninggalkan benteng Pek Kiam Poo setelah menyelesaikan tugas ini ?”

“Benar,” sahut Ti Then mengangguk,

Dengan cepat Loo-cia lantas gelengkan kepalanya. “Aku rasa hal ini tidak mungkin.”

“Apa maksudmu ?”

“Kau tidak mungkin bisa menyelesaikan tugasmu sebelum kawin dengan Wie Lian In ”

“Karena sukar ?”

“Tidak, soal ini sangat mudah tetapi kau pasti tidak akan bantu aku untuk menyelesaikannya.”

“Bilamana barang yang hendak kau curi itu adalah sebuah barang tidak berharga dan tidak mendatangkan bencana buat keselamatan dari Wie Ci To ayah beranak, demi keselamatan dari Wie Ci To ayah beranak serta Yuan Loocianpwee aku suka pergi menyelesaikan pekerjaan ini.”

“Tetapi keadaan pada saat ini sudah berubah kembali, aku sudah ambil keputusan untuk mengerjakannya sendiri” kata Loo-cia sambil tertawa seram. Dengan pandangan melongo dan kebingungan Ti Then memperhatikan dirinya, tak sepatah katapun diucapkan kembali.

“Semula aku memang benar2 ingin menggunakan dirimu untuk mencuri suatu benda, tetapi sekarang barang itu sudah aku dapatkan” ujar Loo-cia lagi.

Ti Then jadi melengak-

“Aku sudah bantu dirimu untuk mencurinya ?”.

“Benar” sahut Loo-cia mengangguk, “Barang yang aku inginkan adalah keterangan dari alat2 rahasia yang dipasang di Loteng Penyimpan Kitab tersebut, sekarang aku sudah bisa bebas memasuki loteng itu maka itu tidak membutuhkan buku keterangan lagi.”

“Apa gunanya kau menginginkan buku keterangan mengenai alat-alat rahasia di loteng penyimpan kitab itu ?”

“Tujuannya hanyalah ingin memasuki loteng penyimpan kitab tersebut.”

“Apa tujuanmu untuk memasuki loteng penyimpan kitab itu ?” “Membunuh seseorang.”

Mendengar jawaban itu Ti Then jadi amat terperanjat, dengan terburu-buru dia meloncat bangun.

“Apa ? kau mau membunuh orang? siapa yang hendak kau bunuh ?” tanyanya.

Loo-cia segera mengulapkan tangaanya agar dia jangan terlalu terburu napsu, setelah itu dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara jawabnya;

“Aku mau membunuh mati seorang musuh besarku.”

“Musuh besarmu    dia bersembunyi dida1am loteng penyimpan

kitab tersebut?” tanya Ti Then dengan terperanjat.

Dengan dinginnya Loo-cia mengangguk dan katanya. “Benar, dia bersembunyi didalam loteng penyimpan kitab itu sudah ada puluhan tahun lamanya.”

Ti Then segera merasakan hatinya berdebar-debar dengan amat kerasnya.

“Siapakah orangnya?” tanyanya kaget.

“Seorang manusia yang tidak termasuk anggota benteng Pek Kiam Poo, selama beberapa tahun ini dia selalu menerima lindungan dari Wie Ci To “ Sahut Loo-cia sepatah demi sepatah.

Air muka Ti Then masih tetap dipenuhi oleh rasa terkejut, desaknya lebih lanjut.

“Siapakah namanya? Lelaki atau perempuan?”

“Sekarang aku tidak bisa memberitahukan dulu soal ini kepadamu.”

“Apa mungkin Shu Sin Mey?”

“Sejak dulu aku sudah bilang perempuan yang disebut sebagai Shu Sin Mey sebetulnya tidak ada, kesemuanya ini cuma omong kosong dari Wie Ci To saja.”

“Lalu kenapa Wie Ci To suka melindungi dirinya?”

“Karena dia sudah memberi banyak kebaikan untuk Wie Ci To.” “Apa kau betul-betul yakin kalau dia bersembunyi didalam loteng

penyimpan kitab?” “Tidak salah!”

“Kalau begitu tentu bersembunyi didalam ruangan rahasia tersebut?”

“Ada kemungkinan memang begitu.”

“Tetapi kalau memangnya didalam loteng penyimpan kitab itu sudah bersembunyi seseorang kenapa Wie Ci To suka menyerahkan ruangan dari loteng penyimpan kitab itu kepada kami untuk dijadikan kamar pengantin?” “Alasannya ada dua, pertama: Sengaja dia berbuat demikian untuk menjebak aku didalam loteng penyimpan kitab tersebut, kedua: dia sudah menaruh kepercayaan terhadap dirimu dan ingin menggunakan kepandaian silatmu untuk menakut-nakuti aku yang hendak menerjang masuk.”

“Jikalau demikian adanya hal ini membuktikan kalau Wie Ci To sudah mengetahui kalau kau hendak membunuhh orang itu.”

“Benar.”

“Kalau memang demikian adanya, bagaimana dia suka membiarkan kau tetap tinggal di dalam Benteng ?”

“Karena dia tidak tahu kalau aku sudah menyelinap ke dalam bentengnya.”

“Aaah . . . kiranya kau bukanlah Loo-cia yang sungguh- sungguh?”

“Benar, Loo-cia yang sebenarnya sudah mati.” “Kau yang membunuh dirinya ?”

“Ehmm, aku bunuh mati dirinya lalu menyayat seluruh kulit wajahnya serta rambutnya dengan melalui sesuatu pembuatan yang amat teliti akhirnya kulit tersebut berhasil aku buat menjadi sebuah topeng.”

“Hmm, cukup ditinjau dari hal ini saja sudah membuktikan kalau hatimu kejam tanganmu telengas”

“Kesemuanya ini untuk lancarkan memberi petunjuk dan mengawasi dirimu, aku mau tidak mau harus berbuat demikian” kata Loo-cia.

“Sebenarnya orang itu sudah mengikat permusuhan apakah sehingga kau hendak membinasakan dirinya ?”

“Dendam sedalam lautan, karena dia . , tuuggu dulu, ada orang datang” Baru saja Loo-cia selesai berbicara terdengarlah suara ketukan pintu bergema datang.

“Ti Kiauw-tauw, kau sudah tidur belum?” tanya Shia Pek Tha dari luar.

“Belum. Shia-heng silahkan masuk.”

Loo-cia pun segera bangun berdiri dan memperlihatkan sikapnya lagi melayani.

Sambil mendorong pintu masuk kedalam ujar Shia Pek Tha ; “Saudara yang dikirim Poocu tempo hari untuk pergi ke gunuog

Cing Shia sudah kembali.”

Terang2an Ti Then mengetahui kalau saudara itu pasti tidak akan menemukan Yuan Siauw Ko tetapi dengan nada amat kuatir tanyanya;

“Apa sudah ketemu ?” “Belum”

“Hal itu sungguh aneh sekali,” seru TI Then sambil mengerutkan alisnya rapat2.

“Apa mungkin dia meninggalkan surat yang mengatakan dia orang hendak pergi ke gunung Cing Shia adalah bohong belaka ?”

"Ada kemungkinan memang begitu" jawab Shia Pek Tha tersenyum.

"Hal ini sungguh membuat orang lain jadi kebingungan".

“Tetapi Ti Kiauw-tauw tidak usah kuatir, bukankah dia sudah meninggalkan pesan bahwa pada waktu perkawinanmu dia bakal ikut merayakannya?"

"Dia bilang semoga bisa datang, kata2 semoga inilah membuktikan kalau belum tentu dia bisa datang". “Tetapi dengan kepandaian silat yang dimiliki Yuan Cong Piauw- tauw, aku rasa sukar baginya untuk memperoleh musuh tangguh, seharusnya dia tidak menemui kesulitan".

"Benar, semoga saja begitu".

"Aku mau pergi laporkan urusan ini kepada Poocu, maaf sudah mengganggu diri Kiauw-tauw".

Selesai berkata dia lantas menjura dan berlalu dari sana.

Loo-cia menghantar dirinya sampai keluar dari kamar, setelah dilihatnya bayangan tubuh Shia Pek Tha lenyap dari pandangan dia baru balik lagi ke dalam kamar.

“Dia sudah pergi” ujarnya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara.

“Mari kita melanjutkan kembali dengan percakapan kita tadi, kau bilang orang itu mempunyai dendam sedalam lautan dengan orang itu, sebetulnya bagaimana toh kejadiannya?”

“Dia sudah bunuh mati istriku.” jawab Loo-cia sambil berjalan kembali ke kursinya semula.

“Kenapa dia harus membunuh mati istrimu?”

“Hmmm, hendak memperkosa tapi gagal, dia lantas bunuh mati dirinya” seru Loo-cia dengan benci.

“Kepandaian silatmu amat tinggi tak terhingga, ada siapa yang berani mengganggu istrimu ?”

“Waktu itu kepandaian silatku tidak setinggi seperti sekarang ini.”

“Omong terus terang saja, aku tidak terlalu percaya dengan omonganmu, karena aku tidak percaya Wie Ci To suka melindungi orang semacam itu”

Mendengar perkataan itu Loo-cia segera tertawa dingin. “Bilamana orang itu mempunyai hubungan persaudaraan yang

amat erat sekali?” tanyanya. “Sekali pun saudara kandung sendiri, bilamana dia salah Wie Ci To tidak bakal mau melindungi dirinya.”

“Hmmm, kau terlalu memandang agung diri Wie Ci To.”

“Benar, aku merasa dialah seorang pendekar pedang yang berhati baja dan selalu berada di keadilan.”

“Malam ini aku tidak punya maksud untuk beribut soal pribadi dari Wie Ci To ini.”

“Kau bilang orang itu sudah bersembunyi selama sepuluh tahun lamanya didalam loteng penyimpan kitab itu, aku merasa rada kurang percaya.”

“Hmm, urusan yang tidak akan kau percaya masih sangat banyak sekaii”

“Sering kali aku melihat Wie Ci To masuk kedalam loteng penyimpan kitab itu dengan tangan kosong, bilamana didalam sana ada seorang manusia hidup maka ada seharusnya dia masuk kedalam dengan membawa bahan makanan.”

“Dari kamar bacanya ada sebuah jalan rahasia yang langsung menembus loteng penyimpan kitab itu, dia bisa menghantarkan bahan makanan serta minuman dengan melalui lorong rahasia itu.”

“Apakah kau benar2 merasa yakin kalau dari dalam kamar bacanya ada sebuah lorong rahasia yang menghubungkan tempat itu dengan loteng penyimpan kitabnya ?” tanya Ti Then ragu2.

"Tidak salah! dengan meminjam kesempatan sewaktu Wie Ci To tak ada didalam benteng beberapa kali aku memasuki lorong rahasia itu untuk menuju kedalam loteng penyimpanan kitab tersebut, tetapi akhirnya hasil yang aku dapat adalah nihil karena pada ujung lorong rahasia itu sudah dipasangi dengan alat rahasia"

"Sekarang kau punya rencana kapan hendak masuk kedalam ruangan rahasia itu?" “Setelah lewat tiga hari komudian" sahut Loo-cia setelah berpikir sejenak, "Pokoknya sehari atau dua hari sebelum hari perkawinanmu, yang jelas kau harus turun tangan?"

Ti Then jadi terperanjat.

Dengan liciknya Loo-cia lantas tertawa menyengir.

“Wie Ci To bilang didalam ruangan dibawah tanah itu tidak dipasangi alat rahasia aku merasa rada tidak percaya!".

“Hmmm! Hee…hee..kiranya kau kepingin aku jadi setan gentayangan yang mewakili dirimu?" seru Ti Then sambil tertawa dingin.

Loo-cia cuma angkat pundaknya saja,

"Perkataanmu jangan kau ucapkun begitu tidak enak didengar, aku rasa bilamana didalam ruangan itu benar2 ada alat rahasianya maka tidak tentu harus mencabut nyawamu !" katanya.

"Kau kira nyawaku jauh lebih panjang daripada nyawa orang lain

?”

"Tidak !" bantah Loo-cia sambil tertawa. "Caraku melihat:

bilamana didalam ruangan rahasia itu dipasang alat rahasia maka kiranya tidak akan sampai menimbulkan kematian seperti alat2 rahasia yang di pasang disekeliling loteng penyimpan kitab tersebut, maka itu aku rasa bilamana sampai kau menggerakkan alat rahasia maka paling2 juga cuma terluka ringan atau tertangkap basah".

"Kalau memangnya begitu, kenapa kau tidak pergi sendiri?”

"Aku tidak bisa kalau sampai tertawan, bilamana aku sampai tertawan oleh alat rahasia yang dipasang didalam ruangan tersebut ada kemungkinan Wie Ci To segera turun tangun menghukum mati diriku !"

“Bilamana aku yang tertangkap, apakah Wie Ci To akan melepaskan diriku dari hukuman mati?" Teriak Ti Then jengkel.

Dengan kalemnya Loo-cia mengangguk. "Sedikitpun tidak salah, karena dia adalah mertuamu dan lusa bakal kawin dengan putrinya, bilamana dia menghukum mati dirimu maka bagaimanakah dia orang hendak bertanggung jawab kepada putrinya serta para undangan yang sudah pada berdatangan?".

Dia berhenti sebentar, kemudian sambungnya lagi:

“Pokoknya, inilah tugas yang terakhir bagimu, bilamana kau bisa melakukan tugas itu dengan lancar maka aku menyanggupi pula untuk bebaskan janji kita sebelum waktunya agar kaupun bisa cepat bebas dari ikatan.”

“Bilamana hasil dari latihan itu membuktikan kalau didalam ruangan rahasia itu tidak dipasangi alat rahasia, apakah kau segera akan turun tangan membinasakan orang itu ?”

“Benar,” sahut Loo-cia mengangguk.

Kembali Ti Then termenung beberapa saat lamanya, setelah itu sambil mengangguk ujarnya:

“Baiklah, aku menyanggupi untuk pergi mengadakan pemeriksaan, tetapi perkataan harus kita ucapkan dari semula, bilamana aku tidak sengaja menyenggol alat rahasia sehingga mati atau tertangkap maka kau tidak diperkenankan turun tangan membinasakau Wie Ci To ayah beranak.”

“Baik, aku menyanggupi.”

“Besok Wie Lian In akan kirim orang untuk memindahkan alat2 rumah tangga kedalam loteng penyimpan kitab itu, sampai waktunya aku bisa berkata kepadanya mengijinkan aku untuk tinggali tempat itu terlebih dahulu. bilamana dia menyanggupinya maka ditengah malam buta , . .”

“Tidak.” Potong Loo-cia dengan cepat, “Lebih baik dilakukan siang hari saja karena sering-sering di tengah malam buta Wie Ci To memasuki kamar rahasia itu untuk menjenguk orang tersebut.”

“Bilamana memilih siang hari maka besok pagi aku rasa tidak mungkin bisa kita lakukan karena Wie Ci To sudah pesankan amat banyak alat-alat rumah tangga, besok siang belum tentu bisa diatur semuanya didalam ruangan loteng penyimpan kitab itu”

“Kalau begitu lusa siang saja” seru Loo-cia kemudian, “Sewaktu bersantap siang maka kau boleh berkata pura-pura mau tidur siang sebentar lalu masuk kedalam loteng penyimpan kitab itu, aku bisa mengikuti dari belakang dan secara diam2 jagalah keselamatanmu dari luar”

“Baiklah, kalau begitu kita kerjakan demikian saja”

Mereka berdua setelah berunding beberapa waktu lamanya Loo- cia baru kembali ke kamarnya sedang Ti Then naik keatas pembaringan untuk beristirahat.

Sudah tentu dia tidak dapat langsung tertidur, karena pernyataan yang diutarakan oleh Majikan patung emas secara tiba2 ini membuat hatinya amat kaget, dia sama sekali tidak menyangka kalau dia orang bermaksud untuk membunuh seseorang yang bersembunyi didalam loteng penyimpan kitab tersebut.

Hal ini benar2 amat merangsang pikirannya, dia mimpipun tidak pernah berpikir kalau didalam Loteng penyimpan kitab bisa bersembunyi seseorang, sedang apa yang dicari oleh Majikan patung emas pun benar2 merupakan sebuah barang yang sama sekali tidak berharga buat orang2 Benteng Pek Kiam Poo.

Tetapi hal yang membuat hatinya rada terhibur adalah Majikan patung emas hendak turun tangan sendiri untuk bunuh mati orang itu dan bukannya memerintahkan dirinya untuk melakukan!

Tetapi siapakah orang itu?

Kenapa dengan susah payah Wie Ci To berusaha untuk melindungi dirinya? dan apakah tujuannya dengan membangun loteng penyimpan kilab yang demikian angkernya hanya bermaksud uatuk melindungi seseorang yang sama sekali tidak punya sangkut paut dengan dirinya?.

XXXdwXXX Keesokan harinya dengan dipimpin sendiri oleh Wie Lian In dia mengatur perabot rumah tangga kedalam ruangan.

Perabotnya sungguh luar biasa sekali banyaknya termasuk barang2 buat ruangan tamu serta kamar pengantin, para pelayan harus bekerja setengah harian penuh baru dikata selesai.

Setelah semuanya selesai Wie Lian In baru mengontrolnya satu kali, kemudian kepada Ti Then tanyanya sambil tertawa;

"Diatur dan disusun secara begini apa kau merasa senang ?" "Sungguh bagus sekali" puji Ti Then sambil tertawa. "Aku sama

sekali tidak pernah menyangka bakal bisa mendiami sebuah kamar yang demikian mewah dan menterengnya."

"Kalau begitu malam ini kau boleh pindah kemari saja " seru Wie Lian In dengan pandangan mesra.

Ti Then yang mendengar dia begitu dalam hati benar2 merasa kebetulan, dia rada melengak dibuatnya.

"Aaaach . , . aku boleh pindah dulu kemari ?"

"Bukannya boleh saja tapi harus!" sahut Wie Lian In sambil mengangguk.

Untuk kedua kalinya Ti Then dibuat melengak lagi. "Bagamiana bisa dimaksudkan pasti ?" tanyanya keheranan.

"Ooooh . . . itu cuma adat saja. kamar pengantin yang baru saja diatur malam harinya tidak boleh kosong tetapi harus tetap diisi dengan orang".

"Oooh . . . kiranya begitu !" seru Ti Then tertawa.

“Sekarang coba kau perintah Loo-cia si pelayan tua itu untuk mengangkuti barang2 itu kemari!!".

xxxdwxxx Satu hari kembali menjelang . , . ! Suasana didalam Benteng Pek Kiam Poo-pun semakin ramai lagi, para tamu yang pada berdatangan dari tempat kejauhan sudah pada berkumpul sehingga membawa rasa yang amat ramai didalam Benteng Pek Kiam Poo.

Semua orang pada menantikan munculnya keesokan harinya, besok pagi adalah saat Ti Then serta Wie Lian In bersembahyang didepan arwah para leluhur.

Sebaliknya Ti Then yang bakal jadi pengantin malah merasa kesepian, depannya kesepian, sebaliknya hatinya berdebar2 dengan amat kerasnya.

Apalagi saat ini hatinya terasa berdebar semakin keras, karena dia siap2 pergi ke loteng penyimpan kitab untuk "tidur siang".

Hidup selanjutnya serta kematian yang bakal diterima kesemuanya ditentukan pada saat ini juga!

Tadi setelah dia menemani para tetamu bersantap siang dengan alasan kepalanya rada sakit dia kembali kekamar untuk berbaring sebentar.

Wie Ci To yang menganggap dia terlalu tegang sehingga jadi pusing lantas tertawa dan suruh dia mengundurkan diri dari ruangan perjamuan dan kembali ke loteng penyimpan kitabnya untuk beristirahat.

Scwaktu tiba di bawah loteng penyimpan kitab itu dia menemukan Kiem Cong Loojien itu ciangbunjien dari Kun-lun pay sedang menghalangi perjalanannya,

"Ti Kiauw-tauw, bagaimana kalau loolap mengalah tiga biji dan kita main stu babak?"

"Mengalah tiga biji?" seru Ti Then sambil tertawa serak.

"Tidak salah, ini hari loolap akan mengalah tiga biji kopadamu, aku punya pegangan untuk sikat kau sampai habis"

"Sungguh maaf boanpwee tidak dapat melayani karena kepalaku terasa rada pusing" seru Ti Then menolak. "Haaa.. . . haa. . sejak ladi loolap sudah menduga kalau kau orang tak bakal berani menyambut datangnya tantanganku ini . . ha

..ha.."

Dengan bangganya dia tertawa dan meninggalkan tempat tersebut.

Demikianlah Ti Then lantas masuk ke dalam loteng penyimpan kilab dan naik ke atas tingkat kedua untuk kemudian duduk disamping pembaringan yang bersulamkan bunga merah.

Matanya dengan perlahan menyapu sekejap memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu kemudian dengan sedihnya menghela napas panjang.

Semuanya itu bakal jadi miliknya .... tetapi sedikit dia salah bertindak maka. . .

"Tok . , . tok . . tok . . . !.”

Dari luar terdengar suara tiga kali ketokan pintu. "Siapa ?" tanya Ti Then dengan kaget.

"Hamba !".

Tidak salah lagi, d:a adalah majikan patung emas! "Masuk!" seru Ti Then lawar.

Loo-cia mendorong pintu kamar dan berjalan masuk sambil membawa air teh.

Dia meletakkan terlebih dahulu cawan teh itu ke atas meja sedang matanya dengan sangat tajam memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu kemudian dengan mengerahkan ilmu untuk menyampaikan suara tanyanya:

"Dimana letaknya mulut lorong rahasia tersebut?”

Ti Then segera menuding kearah kamar dinding di hadapannya. "Itu dibalik tembok tersebut" Loo-cia segera menoleh dan memperhatikan sekejap keadaan dari ruangan tamu yang ada disana.

"Baiklah, kau boleh masuk kedalam.", perintahnya kemudian, "Aku akan berjaga-jaga didepan pintu!"

Sehabis berkata dia mengundurkan diri ke samping pintu.

Ti Then dengan perlahan bangkit berdiri, air mukanya sudah berubah jadi amat tegang sekali,

"Aku mau bicara sekali lagi. Aku suka melakukan pekerjaan ini dengan hati sungguh2 asalkan bilamana misalnya aku tertangkap atau mati oleh alat rahasia didalam ruangan tersebut kau tidak lagi pergi mencelakai Wie Ci To ayah beranak serta Yuan Piauw-tauw!" 

"Hati manusia dibuat dari daging, bukankah dahulu aku sudah pernah berkata kepadamu, asalkan kau suka melakukan pekerjaan bagiku dengan seluruh perhatian dan seluruh tenaga sekalipun gagal misalnya aku tidak akan menyalahkan dirimu, semakin tidak akan mencari gara2 dengan orang lain, soal ini kau boleh berlega hati”

"Aku masih ada satu permintaan lagi" ujar Ti Then kemudian. "Tapi kau pun bisa menolak permintaanku ini, bilamana kau sudah menyanggupi maka pekerjaan ini harus dilaksanakan dengan sungguh hati".

"Apa itu permintaanmu ?" Tanya Loo-cia dengan sinar mata yang amat tajam.

"Aku pernah bersumpah hendak menemukan kembali si Hong Liuw Kiam Khek Ih Peng Siuw dan merebut kembali harta kekayaan dari Yuan Cong Piauw-tauw, nanti semisalnya aku mati karena terkena alat rahasia sudah tentu niatku ini pun tidak bisa aku penuhi, entah maukah kau orang membantu aku untuk mencari dapat si Ih Peng Siuw itu dan rebut kembali harta kekayaan itu untuk diserahkan kembali kepada Yuan Cong Piauw-tauw ?”

"Aku kabulkan pcrmintaanmu !". Mendengar dia orang sudah menyanggupi Ti Then merasakan hatinya rada terhibur, dia tersenyum.

"Kalau begitu aku ucapkan banyak terima kasih terlebih dahulu kepadamu".

"Kau tidak usah sungkan2 lagi" jawab Loo-cia tcrtawa pula.

Demikianlah dengan per-lahan2 Ti Then berjalan mendekati dinding tembok dihadapannya dan menekan tombol.

Dinding itu mulai bergerak dan memutar kedepan sehingga muncul kembali sebuah tombol rahasia yang lain.

Ti Then tanpa ragu2 lagi segera menekan tombol yang ada disebelah dalam itu.

"Kraak . . . Kraak . . . " . dengan menimbulkan suara yang nyaring dinding rahasia itu membuka menjadi dua bagian dan muncullah sebuah lorong rahasia yang amat gelap sekali.

Loo-cia yang berdiri di samping pintu menjaga gerak-gerik diluar loteng Penyimpan kitab matanya dengan amat teliti sekali memperhatikan cara Ti Then membuka dinding rahasia tersebut, sewaktu dilihatnya dinding itu membuka ke samping hatinya benar2 merasa amat kegirangan.

"Apakah itu pintu masuk ke dalam ruangan rahasia?" tanyanya dengan mengerahkan ilmu untuk menyampaikan suara.

"Sedikitpun tidak salah, dibawah pintu mulut rahasia ini adalah tangga2 batu yang panjang, suasana didalamnya amat gelap sekali."

"Apa kau menemukan sesuatu ?” tanya Loo-cia lagi.

"Aku cuma bisa melihat tangga2 batu yang lurus kebawah, keadaan disekitar tiga kaki amat gelap sekali dan tidak dapat melihat suatu apapun !"

"Kalau begitu kau lekas turun kebawah!" desak Loo-cia kemudian dengan hati ber-debar2. Ti Then ragu2 sebentar, akhirnya dia melangkah juga mwmasuki lorong rahasia tersebut.

Inilah merupakan satu tugas yang maha berat dan sudah dipikirkan sejak dahulu kala, dia tahu ada satu hari dia bakal mendapatkan perintah paksaan yang bisa mengakibatkan kematiannya karena itu dia tidak begitu merasa tegang, dia cuma merasa menyesal dan sedih.

Menyesal terhadap diri Wie Ci To serta Wie Lian In. Dan sedih atas nasibnya yang buruk !!

Kesemuanya ini hanya dikarenakan dia kepingin mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi sehingga bisa mengalahkan Ih Peng Siuw mengakibatkan dirinya terseret kedalam keadaan yang salah besar

....

Dia menjadi patung emas dari orang lain, menerima perintah orang lain, dan melakukan berbagai pekerjaan yang menyalahi hati nalurinya ....

Untung saja Majikan Patung Emas sudah menyanggupi untuk tidak melukai Wie Ci To ayah beranak serta Yuan Siauw Ko maka itu dirinya boleh menemui ajalnya dengan hati yang tenang ...

Sembari berpikir dia berjalan menuruni tangga2 batu yang gelap itu, mendadak dia merasa hatinyo sangat mengharapkan bisa menggerakkan alat rahasia sehingga didalam sekejap saja dirinya sudah mati, bilamana dirinya mati maka semua kekesalan serta kemurungan yang mencenkam di hatinya bakal musnah dan lenyap dengan begitu saja.

Tetapi walaupun dia sudah menuruni kurang lebih lima puluhan tangga batu tersebut keadaan masih tetap tenang2 saja tak terjadi sedikit urusan pun.

Sedang kini dihadapannya sudah muncul sebuah lorong rahasia yang sangat datar. Luas lorong itu sama besarnya dengan luas tangga2 batu tadi cuma bisa dilalui oleh dua orang yang berjalan bersama-sama.

Dikarenakan tempat itu jauh memasuki tanah maka sinar yang menerangi tempat itupun tak ada sehingga keadaannya amat gelap gulita, benda yang ada pada jarak lima depa tak dapat dilihat lebih terang.

Dia rada menghentikan langkahnya, dalam hati diam2 pikirnya: "Jika dilihat keadaan disini maka ruangan rahasia itu pasti ada di

ujung dari lorong ini, tetapi apakah di dalam ruangan rahasia itu benar2 sudah bersembunyi musuh besar dari majikan patung emas?

Bilamana sungguh2 maka orang itu yang bersembunji selama puluhan tahun lamanya dibawah ruangan rahasia yang tak terkena sinar matahari ini sungguh merupakan satu siksaan yang luar biasa sekali!.

Bahkan . . . bilamana didalam ruangan rahasia itu benar2 sudah bersembunyi seseorang maka dia percaya orang itu pastilah sanak famili dari Wie Ci To dan dia pun akan percaya kalau orang itulah musuh besar pembunuh istri dari majikan Patung emas, kalau tidak Majikan patung emas

tidak bakal menyusun seluruh rencana dengan peras keringat untuk mencabut nyawanya sedangkan Wie Ci To pun tidak bakal bersusah payah mendirikan Loteng penyimpan kitab yang demikian kuatnya untuk melindungi dirinya. Orang yang berhali jujur dan adil seperti Wie Ci To tidak disangka diapun mempunyai pikiran yang tidak genah.

Diam2 Ti Then menghela napas panjang dan melanjutkan kembali langkahnya memasuki lorong tersebut.

-oooOdwOooo

SETIAP KALI dia berjalan maju setindak maka dalam hati dia sudah ber-siap2 menerima datangnya elmaut .... dia bersiap sedia menerima datangnya sambaran anak panah yang menembusi ulu hatinya .... dia bersiap sedia menerima jatuhan batu besar yang akan menggencet dirinya jadi rata ....

Tetapi akhirnya semua itu bisa dilewati dengan selamat tanpa kekurangan sasuatu apa pun.

Kini dihadapannya sudah terhalang kembali dengan sebuah pintu kayu yang besar.

Pintu kayu itu cuma sedikit dirapatkan saja, dari dalam ruangan memancarkan keluar sinar yang redup2 . .

Jelas dibalik pintu kayu itu adalah ruangan yang dikatakan "Kamar rahasia!"

Sekali pandang saja Ti Then dapat tahu kalau didalam ruangan rahasia itu ada orangnya, karena itu dengan memperingan langkahnya dengan perlahan dia mendekati pintu pasang telinga dan memperhatikan dengan taliti.

Sedikitpun tidak salah dari dalam ruangan itu berkumandang keluar suara dengkuran dari seseorang yang keras.

Jelas orang yang ada didalam ruangan rahasia itu sedang tidur siang!

Ti Then ingin sekali membuka pintu kayu itu untuk melihat siapakah orang yang ada didalam ruangan itu.

Tetapi akhirnya dia membatalkan kembali rasa ingin tahu yang mencekam dihatinya iiu, dia merasa tugas bagi dirinya sudah selesai dan tidak usah pergi menempuh bahaya lagi.

Urusan selanjutnya adalah tugas dari Majikan Patung emas sendiri!

Maka itu dia cuma memperhatikan sebentar dari samping pintu kemudisn dengan perlahan-lahan mengundurkan diri dari sana dan dengan langkah lebar berjalan kembali keatas ruangan loteng penyimpan kitab. Hanya didalam sekejap saja dia sudah tiba didalam lorong rahasia dan berjalan keluar dari tempat tersebut.

Loo-cia masih tetap berdiri di samping pintu berjaga-jaga, sewaktu dilihatnya Ti Then meloncat keluar dari lorong rahasia itu air mukanya segera berubah amat girang bercampur tegang.

“Bagaimana?” tanya Loo-cia dengan hati rada berdebar-debar. “Perkataan dari Wie Ci To sedikitpun tidak salah, didalam

ruangan itu benar-benar tidak dipasangi alat rahasia.”

“Coca kau katakan lebih jelas lagi!”

“Dari sini masuk kedalam semuanya ada lima puluh buah tangga batu,” ujar Ti Then sambil menuding kearah mulut pintu rahasia tersebut.

“Setelah itu melalui sebuah lorong rahasia yang panjangnya ada tiga puluh langkah, di ujung lorong muncullah sebuah pintu kayu dan dibalik pintu kayu itu adalah ruangan rahasia, saat itu pintu itu cuma dirapatkan saja sedang orang yang ada didalam ruangan itu pun lagi tidur nyenyak, cepat kau turun ke bawah.”

Loo-cia dengan tergesa-gesa menutup rapat pintu itu dan berjalan ke sisi Ti Then.

“Kau sudah melihat orang itu?” tanyanya sambil melongok kedalam lorong rahasia tersebut.

“Tidak!” jawab Ti Then sambil menggelengkan kepalanya.

“Kalau tidak melihat orangnya bagaimana kau bisa tahu kalau orang itu lagi tidur?”

“Aku bisa mendengar suaranya.”

“Kau bilang pintu kamar rahasia itu cuma dirapatkan saja?” “Benar!”

“Kenapa tidak dikunci sekalian?”

-ooo0dw0ooo-