Pendekar Patung Emas Jilid 37

 
Jilid 37

“Ti Kiauwtauw, kau ada urusan apa datang kemari ?" tanyanya sambil merangkap tangannya memberi hormat.

"Aku keluar lagi cari angin" sahut Ti Then sambil bangkit berdiri. "Baru saja beristirahat ditempat ini, Tong-heng hendak pergi

kemana ?".

"Cayhe mendapat perintah dari Shia Toako untuk kirim satu undangan ke gunung Cing Shia"

'Bukankah undangan sudah habis dibagi?"

'Benar ! cuma secara tiba2 Shia Toa-ko sudah teringat dua orang yang belum mendapat undangan, karenanya lantas perintah cayhe serta Yuan Cia untuk mengirimnya.”

"Mau diberikan buat siapa undangan itu?" tanya Ti Then lagi. "To Pit Toojien !”

"Lalu bagaimana bisa kirim kau orang?"

"Sebetulnya Shia Toa-ko memerintahkan Phoa Loo Tek yang kirim surat undangan ini, siapa tahu mendadak Phoa Loo Tek sakit perut sehingga terpaksa harus diganti cayhe !”

Saat itulah Ti Then baru paham kembali sebab2nya, tidak terasa lagi diam2 lantas berpikir:

"Hmm! bajingan itu sungguh licik sekali, apakah dia sudah mengetahui siasatku ini sehingga sengaja ber-pura2 sakit perut?"

Setelah berpikir sampai disitu tidak terasa lagi dia lantas bertanya: ”Bagaimana mendadak perutnya bisa sakit?”

"Siapa yang tahu" ujar Tong Ceng Boe sambil tertawa. "Ada kemuagkinan sudah salah makan “

Dengan perlahan Ti Then mengangguk. "Baiklah kau boleh pergi !" ujarnya kemudian.

Tong Ceng Boe lantas merangkap tangannya memberi hormat, naik keatas kuda tunggangannya dan berlalu dari situ.

Ti Then sendiripun sambil menuntun keluar kuda Ang Shan Khek- nya bsrangkat kembali kedalam Benteng.

Perubahan yang terjadi secara tiba2 ini benar2 berada diluar dugaannya, tetapi dia memahami mengapa Shia Pek Tha ganti mengirim Tong Ceng Boe untuk kirim surat undangan itu, bilamana dia sendiri yang menghadapi peristiwa ini diapun akan berbuat demikian, yang penting jangan sampai karena sakitnya perut Phoa Loo Tek surat undangan itu tidak jadi dikirim sehingga menimbulkan kecurigaan dari Phoa Loo Tek.

Pcrsoalannya sekarang, kenapa Phoa Loo Tek pura2 sakit perut? apa dia sudah menduga kalau dirinya bisa menunggu dia ditengah jalan dan hendak membongkar rahasianya sehingga tidak berani kwluar? atau mungkin sebabnya dia sakit perut karena hanya ingin menghindari tugas yang diberikan?

Bilamana soal ini termasuk hal yang di belakang hal itu masih tidak mengapa, tetapi bilamana termasuk yang ada didepan maka urusan ini rada tidak beres.

Bilamana dia tidak membongkar urusan ini sampai terang, dia pasti akan laporkan urusan ini kepada majikan patung emas, dengan demikian , . .

Berpikir sampai disini Ti Then segera merasakan hatinya gelisah dia mempercepat larinya kuda untuk cepat2 tiba di-dalam Benteng Pek Kiam Poo.

Satu jam kemudian dia sudah tiba kembali di Benteng Pek Kiam Poo.

Sewaktu dilihatnya didepan Benteng masih kelihatan adanya pendekar pedang hitam yang lagi ber-jaga2, hatinya merasa rada lega, dia tahu didalam Benteng tidak terjadi urusan,

Dengan psrlahan dia orang mengambil keluar sapu tangaanya dan mulai menyeka kering keringat yang mengucur keluar setelah itu baru menjalankan kudanya masuk ke dalam Benteng, dia tidak ingin semua orang melihat kalau dia kedalam Benteng dalam keadaan terburu-buru.

Kuda Ang Shan Khek-nya dimasukkan dulu kedalam istal setelah itu dia baru pargi menjenguk Wie Ci To dalam kamarnya.

Waktu itulah dia melihat Shia Pek Tha berjalan menuju kearahnya, dia lantas berdiri tidak bergerak,

"Shia-heng !" ujarnya sambil tertawa. "Sudah lama kuda Ang Shan Khek itu melakukan perjalan jauh, ini hari Siauw-te membawanya jalan2 larinya sungguh bersemangat sekali!"

Shia Pek Tha tertawa dan maju lebih dekat lagi dengan Ti Then, setelah dirasanya disekeliling tempat itu tidak ada orang dia baru berbisik : ?". "Ti Kiauw-tauw kau sudah bertemu muka dengan Tong Ceng Boe

Dengan perlahan Ti Then mengangguk.

"Hmmm! Bangsat cilik itu sungguh licik sekali" Dengus Shia Pek Tha dengan sengit. "Sewaktu aku kirim dia ber-sama2 Yuan Cia untuk kirim undangan dia menyahut dengan senang hati, tetapi sewaktu kembali ke dalam kamar untuk mangadakan persiapan mendadak dia berjongkok diatas tanah dan teriak2 katanya sakit perut, oleh karena pada waktu itu banyak saudara-saudara yang ada disana aku tidak punya akal lain kecuali memerintahkan Tong Ceng Boe untuk menggantikannya. Hmm… ! Aku lihat sakitnya perut tentu pura-pura belaka”.

"Tidak salah, memang pura2 belaka!”

"Tetapi dia sama sekali tidak tahu Ti Kiauw-ta«w lagi menanti dirinya ditengah jalan, kenapa dia harus pura2 sakit perut ?".

“Soal ini Siauw-te sendiripun tidak paham" seru Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

"Apa mungkin dia mempunyai berbagai macam alasan yang mengharuskan dia untuk tetap tinggal didalam Benteng ?".

Sekali lagi Ti Then gelengkan kepalanya.

"Dia sekarang ada diraana ?" tanyanya kemudian. "Sekarang dia lagi berbaring didalam kamarnya.”

"Apakah Shia-heng melaporkan urusan ini kepada Poocu ?".

"Benar!" sahut Shia Pek Tha mengangguk. "Cuma aku tidak melaporkan kecurigaan dari Ti Kiauw-tauw ini, aku cuma bilang secara mendadak sudah teringat kalau To Pit Toojien serta hartawan Cau belum mendapat undangan maka sengaja kirim Phoa serta Yuan dua orang untuk menyampaikannya, siapa tahu tiba2 Phoa Loo Tek sakit perut lalu ganti mengirim Tong Ceng Boe untuk melaksanakan tugas ini!". Diam2 Ti Then menghembuskan napas lega.

"Bagus . . bagus sekali !" serunya dengan girang. "Untuk sementara waktu kita jangan laporkan dulu urusan ini kepada Poocu",

“Tetapi kita harus memikirkan yang buruk2 bilamana secara diam2 bangsat cilik itu mengadakan hubungannya dengan orang luar dan bersiap-siap hendak berbuat suatu urusan yang tidak menguntungkan benteng kami bukankah urusan akan jadi semakin berat? Karena menurut cayhe lebih baik kita laporkan saja kepada Wie Poocu.”

“Tidak!” Potong Ti Then dengan cepat, “Urusan ini jangan sekali- kali dilaporkan dulu kepada Poocu!”

“Kenapa?” tanya Shia Pek Tha tidak paham.

“Seperti perkataan yang terdahulu, hari perkawinan siauw-te sudah hampir tiba sehingga kita menimbulkan banyak urusan sehingga membuat poocu jadi tidak senang hati apalagi bilamana kejelekan rumah tangga sendiri sampai tersiar di tempat luarpun tidak ada baiknya kini Ciangbunjin dari Kun-lun pay serta Tiang-pek pay juga Yuan Loocianpwee masih ada di dalam Benteng, bilamana sampai terjadi sesuatu bukankah hanya mendatangkan tertawaan dari orang2 Bu-lim saja? Maka itu menurut pendapat siauw-te lebih baik untuk sementara waktu kita jangan bergerak dulu tapi secara diam2 memperhatikan terus seluruh gerak-geriknya, menanti setelah perkawinan siauw-te lewat dan semua tetamu pada bubaran kita baru periksa dirinya lagi.”

Shia Pek Tha berpikir sebentar dan akhirnya mengangguk. "Demikianpun baik juga ...," sahutnya.

"Sekarang siauw-te mau pergi menemui Poocu serta Yuan locianpwee sekalian, kita berbicara kembali dikemudian hari.”

Dia lantas berjalan masuk kekamar baca Wie Ci To. Waktu itu Wie Ci To serta Kiem Cong Loojien lagi main catur, sedang si tangan sakti Yuan Siauw Ko lagi duduk disamping menonton jalannya pertempuran tersebut, dia lantas maju kedepan dan memberi hormat kepada mereka semua.

Kiem Cong Loojien memandang sekejap kearahnya, lalu tanyanya sambil tertawa:

"Ti Kiauw-tauw, pagi ini kau sudah pergi kemana ?"

"Achh . . . naik kuda putar2 sebentar digunung, boanpwee mempunyai seekor kuda jempolan yang suka bergerak sedang pada waktu mendekat ini jarang sekali menungganginya, sewaktu boanpwee melihat kuda itu me-ringkik2 tiada hentinya maka sengaja membawa dia untuk lari berputar2 sebentar.”

"Ooooh...” Seru Kiem Cong Loojien setelah itu dia menundukkan kepalanya berpikir kembali.

Biji catur yang dipegang olehnya adalah hitam dan saat ini ada dua buah yang digencet mati oleh Wie Ci To tetapi dia tidak mau mengaku kalah juga, dia masih dengan susah payah meronta.

"Apakah Wie Poocu juga mengalah buat dirimu"

"Mengalah tiga biji, sejak permulaan Loolap sudah menang diatas angin, siapa tahu sedikit kurang hati2 sudah kena digencet mati dua biji…coba kau lihat payah tidak?”

"Omong terus terang saja, dengan kekuatan permainan dari ciangbunjien seharusnya aku orang she Wie mengalah empat biji catur" ujar Wie Ci To tertawa.

"Lalu kau mengalah berapa biji kalau main dengan menantumu?” "Tiga biji!"

"Bagaimana kesudahannya?" tanya Kiem Cong Loojien lagi. "Lumayan."'

"Kalau bagitu bagus sekali, kemarin sewaktu loolap main catur tiga kali dengan dia loolap berhasil menangkan dua kali kalah sekali, dengan mengikuti patokan ini maka bilamana Wie Poocu kalah empat biji catur buat loolap ada kemungkinan biji-biji caturmu baka1 habis aku makan.”

"Haa ...haa, tetapi dalam permainan kali ini ciangbunjien sudah kalah

amat banyak sekali!" ujar Wie Ci To sambil tertawa ter-bahak2. "Soal itu kan disebabkan Loolap terlalu berlaku gegabah, kalau

kau tidak percaya mari kita main satu kali lagi!"

Sehabis berkata dia lantas mengacaukan biji2 catur dan siap untuk sekali lagi main catur dari depan.

Wie Ci To lantas tersenyum.

"Sudah hampir makan, mari kita bersantap dulu baru main lagi." ajaknya.

Selesai bersantap siang Kiem Cong Loojien kembali mengajak Wie Ci To untuk main catur lagi, Wie Ci To merasa tidak enak untuk menolak lalu kepada Yuan Siauw Ko ujarnya sambil tertawa.

"Yuan-heng, bilamana merasa menganggur bagaimana kalau main satu dua babak dengan Ti Then?"

“Tidak! Loohu sudah lama mendengar keindahan alam dari gunung Go bie, sore ini aku punya rencana untuk bsrpesiar kesana!”

“Kalau begitu suruh Ti Then mengawani!” seru Wie Ci To.

Setelah itu dia menoleh kearah Ti Then dan ujarnya lagi

“Ti Kiauw-tauw, kau temanilah Looianpwee untuk berpesiar!” “Baik!” sahut Ti Then dengan hormat.

Sekembalinya kedalam kamar dia lantas berganti pakaian.

Loo Cia itu pelayan tua yang membawa air teh tampak berjalan masuk kedalam kamar sewaktu dilihatnya pemuda itu ada dikamar dia lantas bsrkata. "Ti Kiauw-tauw, pagi ini nona memerintahkan Cun Lan untuk mengundang kau pergi kesana, lalu budak tuamu jawab kau tidak ada ..."

"Ada urusan apa ?" potong Ti Then dengan cepat.

"Budakmu tidak tahu, ada kemungkinan dia merasa rindu mungkin !”

"Omong kosong !"

"Ti Kiauw-tauw, kau pergi kemana toch tadi pagi ?” tanya Loo-cia lagi sambil meletakkan air teh keatas meja.

"Mencari angin diatas gunung".

Si Loo-cia lantas garuk2 kepalanya.

"Aku belum pernah mendengar orang bilang kalau seorang calon pengantin mendadak mencari angin keatas gunung, apa mungkin Kiauw-tauw ada urusan dihatimu ?"

"Justru karena hendak jadi pengantin pikiranku jadi kacau!". "Lhoo sungguh lucu, mau jadi penganten hatinya kok jadi

kacau?”

"Kau sudah pernah jadi penganten?”

"Belum!” jawab Loo-cia sambil gelengkan kepalanya.

"Kalau begitu lain kali bilamana kau punya kesempatan untuk jadi penganten hatimu akan paham bagaimana kacaunya pikiran pada waktu itu".

"Ach . , . Ti Kiauw-tauw lagi guyon nih!” ujar Loo-cia sambil tertawa malu-malu, "Dengan usia budakmu yang lanjut mana mungkin bisa memperoleh kesempatan untuk jadi penganten".

"Siapa yang bilang tidak boleh? sekali pun sudah berusia delapan puluh tahun pun masih boleh jadi penganten, apalagi tahun ini kau baru berusia tujuh puluh tahunan.” Berbicara sampai disini pakaian yang dipakai sudah beres sehingga dia lantas berjalan menuju keluar kamar.

"Ti Kiauw-tauw kau hendak pergi kemana lagi?” tanya Loo-cia dengan cepat.

"Yuan Loocianpwee ingin berpesiar ke gunung Go-bie, lalu Poocu perintah aku untuk mengawaninya".

"Nona sana, apakah Ti Kiauw-tauw tidak pergi ?” "Nanti saja sekembalinya dari gunung".

Sewaktu dia tiba di kamar Yuan Siauw Ko saat itu si orang tua sudah menanti disana. Demikianlah mereka berdua lantas bersama- sama berjalan keluar dari Benteng dan menuju ke gunung Go-bie.

Baru saja berjalan beberapa ratus langkah mendadak Ti Then berhenti bergerak, sambil menoleh memandang jalan yang semula dia bertanya:

“Yuan Loocianpwee, kau bermaksud untuk berpesiar kemana dulu ?”

Maksudnya berhenti dia menoleh ke belakang sudah tentu sedang memeriksa apakah ada crang yang menguntit atau tidak.

"Sembarang saja!" jawab Yuan Siauw Ko sambil tersenyum, “Tempat mana yang indah kita pergi saja kesana untuk melihat-lihat ".

"Pemandangan indah digunung Ga-bie amat banyak sekali, kalau cuma saharian saja tidak mungkin bisa melihat hingga selesai..”

"Kalau begitu kita berpesiar saja ke tempat-tempat yang dekat, ada kesempatan di kemudian hari kita jalan2 lagi ke tempat lain..”

“Pemandangan indah yang ada di dekat tempat ini ada Wang Siang Thay serta Kiu Loo Tong.”

Mendadak Yuan Siauw Ko menemukan pemuda itu sedang memperhatikan jalan raya semula. Tidak terasa hatinya rada menaruh curiga. “Kau lagi melihat apa?” tanyanya.

“Ach..tidak mengapa!” jawab Ti Then sambil menoleh dan melanjutkan kembali perjalanannya ke depan.

Tetapi baru saja berjalan beberapa langkah mendadak dia menghentikan langkahnya kembali.

Karena didalam sekejap mata itulah secara mendadak dia sudah teringat akan satu persoalan, terpikir olehnya bilamana dia menggunakan kesempatan ini untuk memberitahukan rahasia tentang dirinya yang diperintahkan majikan patung emas kepada Yuan Siauw Ko, sekali pun misalnya majikan patung emas mengetahuinya agaknya dia orang tidak bakal berani turun tangan membunuh Yuan Siauw Ko.

Alasannya : bilamana dia turun tangan membunuh Yuan Siauw Ko maka Wie Ci To akan mengadakan penyelidikan dengan jelas, dengan demikian ada kemungkinan bisa mengakibatkan perkawinan dirinya dengan Wie Lian In mendapat gangguan, hal ini pasti bukan satu persoalan yang diingini oleh majikan patung emas.

Atau dengan perkataan lain, hari perkawinan antara dirinya dengan Wie Lian In sudah dekat sedang siasat yang disusun olehnya pun sudah hampir jadi kenyataan, di saat seperti ini dia tidak akan berani membunuh orang untuk mencari kerepotan buat dirinya sendiri.

Ti Then yang teringat akan hal ini hatinya mulai terasa tergetar amat keras, sehingga tanpa terasa lagi dia sudah menghentikan tindakannya.

Yuan Siauw Ko yang melihat sikapnya amat aneh tidak terasa dalam hati merasa semangkin tercengang.

“Eeei kau kenapa ?” tanyanya.

Ti Then menoleh kembali sekejap ke belakang, setelah dirasanya tidak ada orang yang menguntit dia baru kirim suara dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara; “Tadi Yuan Loocianpwee menanyai boanpwee lagi melihat apa, sekarang akan boanpwae jawab yang sebenarnya . . . boanpwee lagi memeriksa apakah ada orang yang menguntit atau tidak.”

Mendengar perkataan tersebut Yuan Siauw Ko jadi melengak. Tetapi dia yang selama hidupnya bekerja sebagai seorang

Piauwsu otaknya amat tajam sekali, dia tahu Ti Then yang menjawab pertanyaannya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara sudah tentu sedang menjaga jangan sampai terjadi satu peristiwa yang tidak terduga.

Karena itu setelah melengak beberapa saat lamanya dia melanjutkan kembali perjalanannya kedepan, sembari pura2* menikmati keindahan alam dia menggerakkan bibirnya juga untuk mengirim suara.

“Sebenarnya sudah terjadi urusan apa ?”

Ti Then yang mengikuti dari samping badannya sambil bergendong tangan lantas menjawab.

“Dengan meminjam kesempatan ini hari boanpwee akan membuka satu rahasia yang amat mengerikan sekali, setelah Loocianpwee mendengar kisah ini lebih baik jangan sekali-kali memperlihatkan rasa kaget atau tercengang, sikapnya harus seperti biasa saja. Bersama pula sewaktu bercakap-cakap dengan boanpwee diluarnya pun harus bercerita yang lain2 sehingga tidak sampai menaruh rasa curiga dari orang yang mengawasi aku secara diam-diam”

“Baiklah, kau boleh mulai bercerita.”

Selesai menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara dia lantas berkata lagi dengan suara yang nyaring.

“Heeei . . . pemandangan di gunung Go-bie sungguh indah sekali, setiap gunung setiap batu setiap tempat dan setiap kayu mempunyai keindahan yang tersendiri.” “Benar” sahut Ti Then sambil mengangguk. “Pemandangan yang indah digunung ini boanpwee sudah berkali-kali melihatnya, tetapi dalam hati aku merasa tiada bosan-bosannya, setiap kali melihat pemandangan itu hatiku serasa jadi amat tentram.”

Berbicara sampai disini dia segera berganti dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara :

“Urusan akan boanpwee ceritakan sejak boanpwee meninggalkan perusahaan Yong An Piauw-kiok, tentunya loocianpwee masih ingat bukan apa yang boanpwee ucapkan sebelum meninggalkan Piauw- kiok ?”

Sembari memandang keindahan alam Yuan Siauw Ko lantas menyahut:

“Ingat, kau pernah bersumpah hendak mencari kembali barang2 yang dirampas itu dengan sekuat tenaga, sebelum berhasii tidak akan kembali”

“Benar, sehingga boanpwee secara tiba2 saja teringat akan sesuatu urusan, teringat akan kepandaian ilmu pedang dari Hong Liuw Kiam Khek yang jauh lebih tinggi dari boanpwee mengharuskan aku untuk lebih giat berlatih ilmu silat sehingga setelah bertemu kembali dengan Ih Peng Siauw dapat mengalahkan juga dirinya dan rebut kembali barang pusaka yang sudah dirampas itu.”

Yuan Siauw Ko tidak segera menyahut mendadak dia menuding kearah sebuah kuil yang ada di punggung gunung.

“Eeei itu kuil apa ?” tanyanya.

“Oooh ,, . kuil Ci Im Tan Yuan, didalamnya tiada yang bisa dilihat, lebih baik kita menuju ke Wang Siang Thay saja,” ujar Ti Then.

Sehabis berkata dia melanjutkan kembali parjalanannya kedepan, disamping itu dia mengirim suara terus dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara. “Demikianlah akhirnya boanpwee pergi mencari seorang guru kenamaaan untuk belajar silat, pertama-tama boanpwee pergi ke gunung Kiem Teng san untuk mencari si kakek pemalas Kay Kong Beng, dia adalah satu-satuna jagoan terlihay di kolong langit pada saat ini, bilamana aku bisa diterima sebagai muridnya maka untuk mengalahkan Ih Peng Siauw bukanlah satu persoalan yang sukar lagi..”

Dengan amat jelasnya dia lantas menceritakan bagaimana dia ditolak oleh si kakek pemalas Kay Kong Beng dan lain-lainnya, akhirnya dia menambah lagi.

“Boanpwee yang melibat dia duduk tidak bergerak sama sekali terpaksa terpaksa turun gunung, pada saat itulah mendadak dibawah gunung diatas sebuah batu besar sudah menemui sepucuk surat, sewaktu boanpwee mendekatinya terlihatlah diatas sampul itu ditulikan kata2:

Baca didaiamnya, agaknya surat itu sengaja diberikan kepada Boanpwee, karenanya boanpwee lantas mengambil dan membaca isi suratnya tetapi pada saat itu pula dibalik batu yang menutupi sampul surat tadi tampak ssbuah tanda telapak tangan yang membekas ssngat dalam sekali di atas batu yang amat keras itu, dalamnya kurang lebih ada tiga coen.”

“Hmmm.. sungguh dahsyat tenaga pukulannya” puji Yuan Siauw Ko dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara. “Apa dia sengaja meninggalkan bekas pukulan itu untuk kau lihat ?”

“Benar, dia 1agi mempamerkan ilmu saktinya yang mengejutkan, waktu itu boannpeee benar2 dibuat tercengang dan kaget oleh kedahsyatannya itu karena boanpwae selamanya belum pernah mendengar ada orang yang berhasil mempelajari ilmunya sehingga mencapai taraf yang begitu tingginya.”

“Lalu yang ditulis didalam surat itu ?”

“Cuma ada dua puluh kata saja: Bilamana ingin belajar ilmu silat yang mengejutkan pergilah ke puncak gunung Gouw Ong Hoog digunung Pek Gouw San kurang lebih tiga ratus li sebelah Barat dari tempat ini”

“Ada tanda tangannya?” “Tidak ada.”

“Bagus, teruskan.”

Mendadak Ti Then menuding kearah depan.

“Coba lihat,” serunya. “Itulah yang dinamakan Wang Siang Thay!”

Yuan Siauw Ko ter-buru2 angkat kepalanya.

“Ehhmm . . . . tempat itu kenapa yaa disebut sebagai Waan Siang Thay..?”

“Boaapwee tidak tahu, tetapi menurut orang2 yang sering berpesiar disini setiap kali mereka sampai di Wang Siang Thay lantas teringat kembali oleh mereka akan desanya”

“Benar”

Ti Then melanjutkan kembali kata-katanya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara.

“Walaupun boanpwee tidak tahu maksud hati dari orang yang mengirim surat itu tetapi dalam hati lantas mengambil keputusan untuk melihatnya sehingga jelas, pada hari ketiga siang boanpwee sampai juga di atas puncak Gouw Ong Hong di gunung Pek Gouw san, tetapi disana tidak kelihatan ada seorang manusia pun, setelah mencari setengah harian lamanya akhirnya diatas batu gunung kembali menemui secarik kertas putih yang diatasnya tertulis kata- kata: “Berjalanlah kearah Barat daya dua ratus li dibawah pohon siong tua diatas gunung Mao Gouw san" beberapa kata , .”

“Ehmm .. . sebenarnya orang itu lagi main apa toh ?” “Sedang mengetes apakah boanpwee punya guru atau tidak.” “Oooh , , , kiranya begitu.” Demikianlah dengan mengikuti petunjuknya boanpwee berangkat menuju ke gunung Mao Gouw san dan mendapatkan pohon siong tersebut, tetapi disanapun tidak kelihatan ada seorang manusiapun kecuali secarik kertas yang bertuliskan, Berjalan dua ratus li ke sebelab Selatan, didalam gua Sak Touw Tong digunung Sak Touw San, beberapa kata.”

“Kelihatannya dia benar-benar sedang mencoba keteguhan hati serta semangatmu untuk berguru”

“Benar, tetapi tidak sampai disitu saja, sesampainya didalam gua Sak Tauw Tong digunung Sak Tauw san boanpwee mendapatkan secarik kertas kembali agar boanpwee suka pergi ke puncak Cian Hong digunung Koan Mau san dua ratus li dari tempat itu, setelah tiba di puncak Cian Hong dia kembali memerintahkan boanpwee untuk pergi kegua Ho Lu Tong di gunung Loo Coen san dua ratus li jauhnya dari temoat puncak Cian Hong itu, akhirnya seluruh perjalanan sewaktu boanpwee jumlah ada seribu li lebih.”

“Apakah dia orang ada didalam gua cupu-cupu digunung Loo Coen san itu?” “Loocianpwe, coba kau lihat bagaimana pemandangan dari Wang Siang Thay ini?”

“Sungguh luar biasa dari tempat kejauhan cuma kelihatan tebing- tebing gunung yang terjal, kelihatannya sungguh luar biasa sekali, agaknya tadi kita naik dari sana bukan ?”

“Benar, itulah tebing Sian Ciang dan bawahnya adalah benteng Pek Kiam Poo.”

“Ehmm…”

“Benar, orang itu ada didalam cupu2 di gunung Loo Coen san, tetapi boanpwee sama sekali tidak pernah menemui orangnya kecua1i suaranya saja hal ini dikarenakan dia bersembunyi di balik sebuah batu diatas dinding gua dan tidak ingin bertemu muka dengan boanpwee”

"Sebabnya ?” “Dia tidak ingin terima boanpwee sebagai muridnya, dia cuma ingin memberi pelajaran ilmu silat kepadaku dan syaratnya adalah menjadi patung emasnya selama satu tahun untuk mengerjakan seluruh pekerjaan yang diperintahkan olehnya..”

"Aahh..”

"Setelah lewat tempat ini maka kita akan tiba dikuil Thian Hong Tan Yan. Kuil Sian Hong si yang bernama pula Kiu Lo Tong, didalam kuil itu amat indah sekali, mari kita pergi kesana”

"Baik”

Tua muda dua orang lantas berangkat menuju ke Wan siang Thay dengan melalui sebuah jalan usus kambing yang kecil.

Yuan Siauw Ko yang sedang mendengar kisah dari Ti Then dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara sikapnya selalu tenang-tenang saja, tetapi setelah mendengar kalau pihak lawan meminta Ti hen untuk menjadi patung emasnya selama setahun pada air mukanya tidak kuasa lagi sudah menunjukkan rasa kagetnya yang tak terhingga.

“Orang itu laki atau perempuan ?” tanyanya.

“Jika didengar dari suaranya jelas dia adalah seorang lelaki, usianya ada diatas enam puluh tahunan”

“Apa tujuaannya memaksa kau untuk menjadi patung emasnya

?”

“Dia tidak menjawab, dia cuma minta boanpwee belajar ilmu

silat yang sakti lalu menyerahkan satu tugas buat boanpwee” “Kau menyanggupinya?”

“Semula boanpwee menolak karena menurut maksud hatinya lain kali bilamana dia perintahkan boanpwee untuk berbuat apa maka aku harus melaksanakannya” , . .

“Benar, bilamana dia suruh kau bunuh orang maka kau harus membunuhnya, urusan ini tidak boleh jadi.” “Tetapi akhirnya boanpwee mengabulkan juga” “Aaach . , “

“Loocianpwee coba kau lihat itulah puncak Ban Hud Cing, jaraknya dari sini kelihatannya jelas padahal bila berjalan kaki harus membutuhkan satu jam perjalanan.”

Agakanya saat ini Yuan Siauw Ko sudah tidak bermaksud untuk melihat pemandangan lagi,setelab menyahut dia lantas kirim suara lagi dengan menggunakan ilmua untuk menyampaikan suara.

“Kau sungguh amat tolol, bilamana dia perintahkan kau untuk membunuh orang apa kaupun harus pergi membunuh orang ?”

Dengan pandangan yang sayu Ti Then memandang ke tempat kejauhan,

“Aku berani menjamin aku tidak akan pergi membunuh orang, sekalipun misalnya dia paksa boanpwee juga tidak akan melakukannya.”

“Sekalipun tidak bunuh orang, diapun sama saja bisa memerintahkan dirimu untuk melakukan pekerjaan yang merugikan banyak orang.”

“Benar, tetapi dia pernah bilang misalnya boanpwee merasa pekerjaan itu tidak benar maka aku boleh menggunakan cara yang benar untuk menyelesaikan pekejaan itu misalnya saja bilamana dia ingin seekor ayam maka boanpwee harus memberi seekor ayam kepadanya, sedang mengenai ayam itu didapatkan dari mencuri atau membeli dia tidak akan ikut campur.”

“Sungguh aneh sekali, akhirnya bagaimana?”

Tua muda dua orang itu sembari menggunakan ilmu menyampaikan suara untuk bercakap-cakap merekapun bercerita tentang keindahan alam sehingga sewaktu tiba digua Kiu Loo Tong, Ti Then baru selesai menceritakan seluruh kisahnya.

Air muka Yuan Siauw Ko berubah jadi amat terharu, makinya berulang kali. "Sungguh bodoh! Sungguh bodoh! Wie Poocu adalah seorang jagoan yang punya hati jujur dan adil, bagaimana kau boleh melakukan pekerjaan yang sama sekali menyalahi mereka ayah beranak?”

Ti Then bungkam tidak menjawab, dia berjalan masuk terlebih dulu ke dalam gua Kiu Loo Tong itu.

Gua Kiu Loo Tong ini dibagi menjadi gua sebelah dalam dan gua sebelah luar sedang luar gua itu amat lebar laksana pintu kota.

Gua sebelah luar sudah ditumbuhi rotan dengan amat rapatnya, disebelah kiri kanannya terdapat dua buah pintu yang masing- masing jaraknya ada beberapa kaki jauhnya, jika dipandang dari luar gua kelihatannya amat dalam sekali sehingga tak kelihatan dasarnya, di belakang dinding gua sebelah luar terdapat kembali sebuah gua kecil, keadaan di sana pun gelap gulita, berpuluh-puluh ekor burung walet terbang kian kemari dengan tiada hentinya.

Setelah menuruni tangga batu sampailah di sebuah ruang yang tanahnya datar dan dipenuhi dengan batu-batu cadas, di paling belakang terdapat sebuah ruangan yang diatas meja sembahyang masih kelihatan sinar lilin berkedip-kedip, tempat itu biasanya digunakan untuk sembahyang oleh pengunjung-pengunjung yang datang berpesiar kesana.

Saat ini didalam gua itu tidak tampak adanya kaum pelancong yang datang.

Ti Then dengan bungkam diri berlutut di dalam meja sembahyangan itu, sambil melelehkan air mata diam-diam dia bersembahyang.

Setiap manusia sesudah berada di dalam keadaan kepepet saat itu teringat olehnya untuk minta bantuan dengan Dewa, demikian juga dengan diri Ti Then.

Lama sekali Yuan Siauw Ko berdiam diri tidak berkata, kemudian… “Sekarang kau bermaksud untuk berbuat apa?” tanyanya kemudian.

“Boanpwee sendiri juga tidak tahu bagaimana harus berbuat sesuatu”

“Bilamana kau suka percaya atas perkataan loohu maka segera pergilah temui Wie Poocu dan ceritakan seluruh kejadian ini kepadanya.”

“Tidak bisa jadi!” seru Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

“Dia sudah peringatkan kepada boanpwee untuk jangan membocorkan rahasia ini kepada orang lain, kalau tidak maka dia akan turun tangan membunuh mati Wie Ci To ayah beranak”

“Loohu tidak percaya kalau dia bisa membunuh mati Wie Poocu”

“Tidak, dia pasti bisa melakukannya, boanpwee yang cuma belajar ilmu silat selama setengah tahun saja sudah berhasil memperoleh kepandaian melebihi kepandaian Wie Ci To, bilamana dia ingin turun tangan membinasakan diri Wie Ci To hal itu adalah satu pekerjaan yang amat gampang sekali baginya.”

“Dia sudah bersembunyi selama tujuh delapan bulan lamany di dalam Benteng Pek Kiam Poo, adakah kau secara diam-diam tidak berhasil mencari tahu dirinya?”

000O000

63

“BENAR, boanpwce secara diam-diam sudah memeriksa seluruh orang yang ada didalam Benteng, tetapi selama ini tidak berhasil juga untuk menemukan dirinya”

“Setiap kali dia bercakap cakap dengan dirimu apakah selalu saja menurunkan patung emasnya dari atas genting ?”

“Tidak salah.”

“Lalu di samping kiri kananmu adakah orang yang mendiaminya.” “Cuma seorang pelayan tua si Loo Cia, Cia Tiang San seorang.” “Apa mungkin Cia Tiang San itulah si majikan patung emas?”

“Seharusnya tidak mungkin, Loocia sudah ikuti Wie Ci To selama empat puluh tahun lamanya bahkan secara diam-diam boanpwee sudah ada dua kali menjajal dirinya dan aku temukan walaupun badannya amat sehat tapi tidak mengerti ilmu silat.”

“Kalau begitu cuma ada satu cara saja yang bisa digunakan untuk mencarinya.”

“Cara apa?”

“Malam ini kau kirim tanda untuk ajak bertamu, loohu akan secara diam-diam-diam menanti di dekat kamarmu, dengan begitu bilamana dia muncul diatas kamarmu loohu akan segera mengenali siapakah dia sebenarnya”

“Tapi cara ini kurang baik” “Apa maksudmu?”

“Saat ini dia gelap aku terang, kitapun tidak tahu siapakah dia orang, karena itu bilamana loocianpwee naik keatas atap ada kemungkinan bisa ditemui olehnya, waktu itu keadaan buat loocianpwee bisa sangat berbahaya , . .”

"Loohu bisa berjaga2 dengan sangat ber-hati2, bilamana menemukan hal-hal yang tidak beres ssgera akan menyingkir, aku percaya dia tidak akan bisa mengapa-apakan diri loohu".

"Dia pernah berulang kali memberi tahu padaku, bilamana dia merasa ada orang yang ikut mengetahui rahasianya itu maka dia akan turun tangan membunuh orang itu dengan gerakan cepat, maka itu cuma mengetahui siapakah dia orang percuma saja, kita harus sekalian tangkap dirinya.”

"Kalau begitu diam2 biar aku laporkan urusan ini kepada Wie Poocu agar dia suka mengadakan persiapan, sampai waktunya kita bisa bersama-sama turun tangan mengerubut, waktu itu sekalipun dia memiliki tiga kepala enam tangan jangan harap bisa meloloskan diri”

"Locianpwee karena tidak mengenal ilmu silat yang dimiliki sebenarnya ada ada seberapa tinggi sehingga bisa berpikir demikian, padahal dia sudah berada ditingkat yang paling sempurna, dia dapat menghancurkan kerubutan dari seluruh anggota benteng, menurut boanpwee bilamana kita ingin menawan dirinya hal ini tidak mungkin bisa terjadi".

"Demikian tidak baik, begitupun tidak baik, apa kau benar2 ingin mendengarkan perintahnya untuk kawin dengan nona Wie?”

"Inilah satu2nya jalan yang bisa melindungi Wie Ci To ayah beranak dari gangguannya".

"Tidak, bilamana kau kawin dengan Nona Wie maka sama saja dengan mau mencelakai mereka ayah beranak".

"Majikan patung emas pernah berkata, bilamana boanpwee sudah kawin dengan nona Wie maka dia akan memberi perintah yang kedua, maka itu boanpwee kira . . . setelah habis kawin aku mau tahu dulu apakah perintah dari majikan patung emas yang kedua itu, bilamana perintahnya itu sama sekali kurang ajar maka boanpwee bermaksud hendak adu jiwa dengan dirinya".

"Walaupun kau berbuat demikian tetapi setelah kawin dengan dirinya bukankah nama sucinya akan ternoda ?".

"Tetapi sekarang sama saja sudah terlambat karena undangan sudah disebarkan”.

"Seharusnya sebelum undangan itu dibagi kau harus pergi mengaku kepada Wie Poocu"

"Boanpwee pun punya maksud untuK berbuat demikian tetapi baru saja tiba di depan kamar baca dari Wie Ci To maksud hatiku sudah diketahui oleh majikan patung emas, dia mengirim suara mengancam boanpwee bilamana berani membocorkan rahasia ini maka dia akan segera turun tangan membinasakan Wie Ci To ayah beranak, mendengar nada suaranya yang amat tegas aku rasa dia bukan lagi main gertak”

"Apa kau sungguh2 senang dengan nona Wie?” "Benar”

"Kalau memangnya begitu, seharusnya kau tidak menipu dirinya".

"Persoalannya sekarang justru kalau aku tidak mengerjakan perintah dari majikan patung emas maka mereka ayah beranak akan mati di tangan majikan patung emas".

"Bilamana loohu adalah Wie Cji To maka loohu rela mati di tangan majikan patung emas daripada melihat putrinya sendiri kena kau tipu ".

Mendengar perkataan tersebut Ti Then segera merasakan hatinya tergetar amat keras, karena dia merasa psrkataan yang diucapkan oleh Yuan Siauw Ko ini sedikit pun tidak salah, dia tahu Wie Ci To adalah termasuk orang yang bersifat demikian dia adalah seorang yang membenci kejahatan seperti musuh buyutan, selamanya tidak pernah kompromi dengan orang2 jahat karena ini bilamana dia meceritakan rahasia ini kepada Wie Ci To maka ada kemungkinan dia rela mati ditangan majikan patung emas daripada putrinya ditipu, dan sudah tentu waktu itu dia tidak akan menyalahkan dirinya.

Sebaliknya bilamana dia terus bungkam sehingga pada suatu hari dia menemukan kalau dirinya sedang menipu mereka maka waktu itu dia akan membenci dirinya hingga akhir jaman.

Maka itu dia merasa perkataan yang diucapkan oleh Yuan Siauw Ko ini sedikitpun tidak salah, seharusnya dia menceritakan rahasia ini kepada Wie Ci To.

Dengan perlhan dia lantas mengangguk. “Baiklah, boanpwee pasti akan mengikuti petunjuk dari Yuan loocianpwee dan menceritakan seluruh kejadian ini kepada Wie Ci To,” katanya dengan teguh.

Mendengar perkataan itu Yuan Siauw Ko jadi teramat girang sekali.

“Tetapi sebelum memberitahukan urusan ini kepadanya lebih baik kau mengetahui lebih dulu siapakah majikan patung emas itu.”

"Jadi maksud Loocianpwe ..."

"Sebelum mengetahui siapa majikan patung emas itu, kau hendak secara bagaimana melaporkan hal ini kepada Wie Poocu? Bilamana dia tidak sabaran dan segera perintahkan seluruh isi benteng untuk menangkap majikan patung emas, ada kemungkinan saat ini majikan patung emas segera melarikan diri.

Tetapi bilamana kau sudah tahu siapakah majikan patung emas maka semua orang bisa melakukan tugasnya secara diam-diam setelah itu memberi satu penyerangan serentak yang membuat majikan patung emas jadi kelabakan, dengan begitu kita bisa berhasil tangkap dia dengan amat mudah.”

“Loocianpwee tetap menginginkan agar boanpwee suka kirim tanda untuk ajak dia berbicara lalu loocianpwee intip dari samping?”

“Benar!” sahut Yuan Siauw Ko mengangguk.

“Tetapi….bilamana jejak dari loocianpwee diketahui, waktu itu….”

"Kau tidak usah merasa kuatir buat loolap." Potong Yuan Siauw Ko dengan cepat. "Bilamana dia membinasakan loolap maka Wie Ci To tentu akan menguntungkan gerakannya, Loolap percaya dia tidak akan berani bertindak sembarangan”

Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi.

“Apalagi dia tidak tentu bisa menemukan jejak dari loolap, kamar loolap cuma berada pada jarak dua belas, tiga belas kaki saja bilamana dari atas atap aku mengintip keluar dia tidak bakal bisa mengetahui kalau loolap lagi mengawasi gerak-geriknya.” Ti Then termenung berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk.

“Baiklah, tetapi lebih baik besok malam saja kita baru melakukan pekerjaan, karena ini hariboanpwee datang berpesiar dia pasti akan menaruh rasa curiga, bilamana boanpwee ajak dia untuk bertemu malam ini tentu dia sudah tertipu.”

"Baiklah! kalau begitu kita putuskan besok malam baru mulai bekerja…”

"Didalam hal ini Loocianpwee janganlah sekali-kali memperlihatkan tanda-tanda yang mencurigakan! Sikapnya harus seperti biasa dan pura-pura tidak pernah terjadi sesuatu urusan, kalau tidak…”

“Kau legakanlah hatimu, di dalam hati loolap sudah punya pegangan!” ujar Yuan Siauw Ko tertawa.

Ti Then segera merasa mereka telah lama sekali berhenti di gua Kiu Loo Tong, karenanya dia lantas berkata;

"Di dekat tempat ini ada beberapa kuil yang bagus, mari kita pergi keluar".

Tua muda dua orang segera berjalan keluar dari gua Kiu Loo Tong itu dan

Melihat-lihat di kuil yang ada di sekeliling tempat itu, sesudah Sang surya condong kearah barat mereka baru balik ke dalam Benteng.

Sekembalinya didalan Benteng malam haripun telah tiba.

Sehabis bersantap malam Ti Then duduk-duduk sebentar di kamarnya Wie Lian In setelah itu baru kembali ke kamarnya untuk beristirahat.

Semalam tidak terjadi satu peristiwa apa pun.

Keesokan harinya selesai cuci muka Ti Then seperti biasanya pergi ke kamar Yuan Siauw Ko untuk memberi hormat, sesampainya di depan pintu kamarnya waktu itu keadaan masih sunyi. Ti Then lantas mulai mengetuk.

"Yuan loocianpwee, kau orang tua sudah bangun belum?" teriaknya.

Dari dalam kamar suasana tetap sunji senyap.

Sedang pintu kamar itu setelah diketuk beberapa kali pun lantas membuka sedikit, kiranya pintu itu sama sekali tidak terkunci.

Ti Then segera mendorong pintu dan berjalan masuk, tampaklah seprei dan selimut sudah diatur amat rajin sedangkan Yuan Siauw Ko sendiri tidak tampak di kamar.

"Ach . . . tentunya dia lagi berjalan-jalan di tempat luaran!” Pikirnya di hati.

Karena itu dia lantas mengundurkan diri dan menuju ke kamar dari Kiem Cong Loojien yang ada disebelahnya untuk memberi hormat, dan terakhir dia baru menuju kekamar baca dari Wie Ci To.

Setiap pagi dia tentu pergi ke kamar baca Wie Ci To untuk memberi hormat.

Sesampainya dipintu sebelah luar dari kamar baca itu kebetulan Wie Ci To pun lagi mau keluar, dia lantas tanya.

“Gak-hu, apakah kau sudah bertemu dengan Yuan Loocianpwee?”

“Tidak! Apa dia tidak ada di kamar?”

“Benar, aku rasa dia tentu lagi berjalan-jalan di dalam Benteng, biarlah siauw-say pergi mencarinya.”

Dia lantas berputar ke halaman sebelah dalam, tetapi walaupun sudah dicari kalang kabut tidak ditemukan juga bayangan itu Yuan Siauw Ko, ketika dia menanyai para pendekar pedang hitam yang berjaga-jaga di pintu benteng sebelah depan, mereka pun tidak melihat Yuan Siauw Ko keluar dari sana.

Hatinya mulai merasa berdebar amat keras sekali. “Celaka! Apa mungkin dia sudah dicelakai oleh majikan patung emas?”

Tidak! Ada kemungkinan dia sudah pergi ke kebun.

Dengan tergesa-gesa dia lari menuju ke kebun di belakang benteng, sembari mencari teriaknya berulang kali.

“Yuan loocianpwee!!! Yuan Loocianpwee….”

Akhirnya walau pun sudah dicari di seluruh kebun tetapi bayangan dari Yuan Siauw Ko tidak kelihatan juga.

Kali ini hatinya benar-benar amat kalut.

Setelah dia menceritakan seluruh rahasianya kepada Yuan Siauw Ko kemarin hari sewaktu ada di gunung selama ini isi hatinya merasa terus menerus kuatir bilamana urusan ini bisa diketahui oleh majikan patung emas, dia merasa kuatir Yuan Siauw Ko dicelakai oleh majikan patung emas sedang kini….peristiwa yang sangat tidak diinginkan ini sudah terjadi di depan mata.

Dengan termangu-mangu dia berdiri di dalam kebun, hatinya benar-benar terasa amat kacau.

“Heeiii..semoga saja bukan begitu” gumamnya seorang diri. “Benteng ini amat luas, ada kemungkinan dia lagi berbicara di kamar seorang pendekar pedang merah, biarlah aku pergia cari dia lagi.”

Akhirnya dia berjalan kembali ke halaman depan, setiap kali bertemu dengan orang dia tentu menanyakan jejak dari Yuan Siauw Ko.

Tetapi sekali pun satu deretan kamar para pendekar pedang merah itu sudah diperiksanya dan kali ini tidak kedengaran juga suara dari Yuan Siauw Ko.

Hatinya mulai merasa semakin cemas lagi. “Ehm..apa mungkin dia sudah pergi ke kamar kecil?” Kembali dia berjalan menuju ke benteng sebelah kiri dimana berdiri gubuk-gubuk kecil yang digunakan untuk membuang hajat, akhirnya hasil yang diperoleh hanya nihil saja.

Ehmm , . . !! ada kemungkinan dia sudah mendatangi kamar kecil dan sekarang sudah kembali kekamarnya lagi.

Karenanya dia lantas kembali lagi ke kamar Yuan Siauw Ko, tetapi sekalipun sudah masuk kedalam kamar keadaannya sama saja, sama sekali tidak kelihatan ada sesosok manusiapun.

Tetapi didalam kamar diatas meja dia menemukan secarik surat. Isi surat itu berbunyi demikian:

Ditujukan kepada Wie Toa poocu serta Ti Kiauw-tauw.

Sewaktu sadar dart impian tiba2 aku teringat masih ada perjanjian dengan seorang kawan digunung Cing Shia dua hari kemudian.

Karena waktu mendesak dan takut terlambat dalam perjanjian maka aku pergi tanpa pamit, harap kalian suka memaafkan dan semoga ssja aku bisa datang kembali untuk ikut merayakaa hari perkawinanmu.

Loolap Yuan Siauw Ko-

Beberapa perkataan itu ditulis dengan tergesa-gesa sekali sehingga tidak begitu genah tulisannya.

Surat ini didalam pandangan Wie Ci To serta orang2 lainnya kecuali merasa diluar dugaan dan sayang terhadap Yuan Siauw Ko yang pergi tanpa pamit tidak akan menimbulkan kecurigaan yang lain, tetapi dimata Ti Then hal ini segera menimbulkan rasa curiga yang luar biasa.

Karena dia tahu Yuan Siauw Ko bukanlah manusia yang bernyali kecil, dia tidak akan pergi menemui perjanjian dengan kawannya secara tiba2 setelah mengadakan perundingan untuk membuka rahasia dari majikan patung emas, didalam keadaan yang sesungguhnya hal ini tidak mungkin bisa terjadi. Tetapi, sekarang Yuan Siauw Ko benar2 sudah pergi tanpa pamit, apa sebabnya dia berbuat demikian ???

Tidak ragu2 lagi kepergian Yuan Siauw Ko secara tiba2 ini tentu ada sangkut pautnya dengan Majikan patung emas!.

Majikan pstung emas pastilah sudah menggunakan satu tindakan yang amat lihay untuk memaksa Yuan Siauw Ko mau tidak mau harus meninggalkan Benteng Pek Kiam Poo.

Atau ada kemungkinan surat ini sama sekali bukanlah ditulis oleh Yuan Siauw Ko sendiri sebaliknya hasil karya dari Majikan Patung emas.

Setelah dia membunuh Yuan Siauw Ko lantas menulis surat ini untuk pasang jebakan agar perbuatan dosanya ini tidak sampai diketahui oleh orang lain.

Berpikir sampai disini Ti Ihen merasakan kepalanya pusing matanya berkunang-kunang, hampir-hampir dia jatuh tidak sadarkan diri.

Seluruh badannya terasa panas dingin, tangan yang memegang surat itu pun gemetar tiada hentinya.

“Ti Kiauw-tauw, kau kenapa?” tiba-tiba berkumandang dayang pertanyaan dari seseorang.

Dan orang itu bukan lain adalah Kiem Cong Loojien.

Sewaktu melewati dari depan kamar Yuan Siauw Ko dia bisa melihat air muka Ti Then rada aneh, karenanya dia lantas berhenti untuk bertanya.

“Yuan loocianpwee sudah pergi,” sahutnya sambil tertawa sedih. Kiem Cong Loojien jadi melengak.

“Kau bilang apa?”

Dengan tangan masih gemetar Ti Then lantas serahkan surat itu kepadanya. “Inilah surat yang ditinggalkan Yuan Loocianpwee. Ciangbunjien, kau boleh lihat..”

Kiem Cong Loojien segera menerimanya dan membaca hingga habis. I

“Aaach . . sungguh aeeh , . . sungguh aneh , . .” Teriaknya tercengang, “Sekali pun ada urusan yang bagaimana pentingnya seharusnya dia bilang dulu dengan Wie Poocu kalau mau pergi.”

“Ada kemungkinan Yuan Loocianpwee merasa membangunkan Wie Poocu di tengah malam buta adalah satu pekerjaan yang kurang sopan sehingga…”

“Tetapi kepergiannya yang tanpa pamit bukankah kurang sopan juga?” Potong Kiem Cong Loojien dengan cepat.

“Ciangbunjien tidur di kamar sebelahnya, apakah kau tidak mendengar sedikit suara pun?”

Kiem Cong Loojien dongakkan kepalanya termenung sebentar, dia gelengkan kepalanya.

“Tidak, loohu yang menjadi tetamu di dalam Benteng sudah tentu tidak usah bersiap sedia, karenanya begitu naik ke atas pembaringan kontan tidur dengan nyenyaknya, mungkin sekalipun ada suara Loohu juga tidak akan mendengarnya.”

“Kalau begitu ayoh cepat kita laporkan urusan ini kepada Poocu.”

Karena waktu itu adalah waktu bersantap pagi maka kedua orang itu langsung menuju ke ruangan bersantap.

Sedikitpun tidak salah, Wie Ci To sudah menanti diruang bersantap, bagitu melihat munculnya Kiem Cong Loojien dia lantas bangun menyapa.

“Kemarin malam ciangbunijien bisa tidur dengan nyenyak bukan

?” “Sungguh nyenyak sekali sehingga kamar sebelah sudah kehilangan orangpun tidak merasa" jawab Kiem Cong Loojien sambil menyengir.

"Apa ? Sudah kehilangan orang?” Wie Ci To tertegun.

Ti Then segera maju ke depan dan menyeraahkan surat dari Yuan Siauw Ko kepadanya.

"Yuan Loocianpwee kemarin malam sudah meninggalkan benteng

!" lapornya.

Air muka Wie Ci To berubah hebat, dia lantas terima surat itu dan diperiksanya satu kali, jeias wajahnya memperlihatkan rasa terkejut yang luar biasa.

"Aach . . . ! Sebenarnya sudah terjadi urusan apa?" serunya tak terasa.

"Ada kemungkinan Yuan Loocianpwe tidak suka mengganggu Gak-hu sehingga dia pergi tanpa pamit . . . “

Wie Ci To termenung berpikir sebentar mendadak dari sepasaag matanya memancarkaa sinar yang amat tajam dan memandang diri Ti Then tak berkedip.

"Apakah diantara kalian berdua sudah terjadi satu urusan yang tidak menyenangkan hati ?"

"Tidak !" sahut Ti Then dengan serius, "Kemarin sore siauw-say temani dia orang berpesiar keatas gunung dan kami ber-cakap2 dengan hati yang amat girang, di antara kami berdua sama sekali tidak terjadi satu peristiwa yang tidak menyenangkan hati".

"Kalau begitu urusan ini sungguh aneh sekali." Seru Wie Ci To dengan suara yang berat, sinar matanya berkedip-kedip. "Loohu tidak percaya kalau dikarenakan sungkan mengganggu Loohu ditengah malam buta Yuan Piauw tauw sudah pergi tanpa pamit, didalam soal ini pasti ada sebab2nya!” "Loolap merasa kepergian Yuan Piauw-tauw meninggalkan benteng adalah satu hal yang mengherankan . . " tukas Kiem Cong Loojien.

Ti Then termenung tidak berbicara, sebelum dia mengadakan pembicaraan dengan Majikan patung emas, dan sebelum membuktikan kalau kepergian Yuan Siauw Ko ada hubungannya dengan Majikan patung emas dia tidak ingin memberi pendapatnya, dia pun tidak bisa membongkar rahasia dari majikan patung emas karena bilamana kepergian tanpa pamit dari Yuan Siauw Ko ini adalah hasil karya dari Majikan Patung emas maka hal ini membuktikan kalau peringatan yang diucapkan Majikan Patung Emas bukanlah satu gertakan sambal belaka, dia benar2 berani turun tangan membunuh orang, apa yang diucapkan tidak akan dipungkiri kembali.

Atau dengan perkataan lain, Ti Then benar2 merasa bilamana dirinya tanpa

memikirkan akibatnya lantas menyiarkan patung emas maka Majikan Patung emas pun segera turun tangan membereskan Wie Ci To serta Wie Lian In, hal ini Ti Then tidak akan merasa tega untuk melihatnya.

“Bilamana Loohu adalah Wie Ci To maka Loohu rela mati di tangan majikan patung emas daripada melihat putriku ditipu mentah-mentah oleh dirimu.”

Walau pun perkataan dari Yuan Siauw Ko ini benar tetapi bagaimana pun juga dirinya belum betul-betul mencelakai Wie Lian In, bilamana sampai saat ini dia harus membinasakan nyawa dari mereka ayah beranak ini benar-benar tidak berharga.

Karena itu pikiran Ti Then pun kini berubah kembali, semangat serta keberanian yang diperlihatkan kemarin hari kini meruntuh…dia mulai merasa ragu-ragu.

Wie Ci To sendiri agaknya merasa tidak paham juga, alisnya dikerutkan rapat-rapat, sambil bergendong tangan dia berjalan mondar-mandir. “Apa mungkin pelayanan dari Benteng kita tidak baik sehingga dia jadi jemu dan pergi?” terdengar dia kembali bergumam.

“Bilamana membicarakan soal itu seharusnya Loolaplah yang paling memperhatikan” sela Kiem Cong Loojien sambil tertawa, “Tetapi setelah menjadi tamu selama beberapa hari didalam Benteng Loolap merasa pelayanan disini amat bagus sekali”

“Benar” sambung Ti Then, “Terhadap sifat dari Yuan Loocianpwee siauw-say lah yang paling paham, dia orang tua bersifat lapang dada dan bukanlah seorang manusia yang berhati sempit”

“Tetapi kepergiannya yang tanpa pamit sama sekali tidak benar. Dia bilang secara tiba-tiba sudah teringat kembali ada janji dengan seorang sahabat karib, bilamana partemuan ini harus pergi kenapa dia bisa melupakannya?”

“Ada kemungkinan pertemuan ini sudah dijanjikan pada tempo hari karena tidak pernah diingat-ingat maka sewaktu kemarin malam teringat kembali dia jadi ribut sendiri”

“Kau lihat partemuan apakah yang sudah dijanjikan dengan temannya itu ?” tanya Wie Ci To sambil memandang tajam wajahnya.

“Soal ini sulit untuk diketahui, kalau memangnya dia orang tua menyebut sebgai sahabat karib maka seharusnya pertemuan ini tidak sampai membahayakan jiwanya” sahut Ti Then.

“Kalau begitu lebih baik kita kirim dia orang untuk lihat-lihat di gunung Cing Shia, kau lihat bagaimana?”

“Begitu pun bagus sekali.”

“Coba kau panggil Shia Pek Tha dan suruh dia kirim seorang pendekar pedang merah untuk pergi ke gunung Cing Shia”

Ti Then segera menyahut dan mengundurkan diri dari ruangan bersantap, setelah menemukan Shia Pek Tha dia lantas menceritakan kepergian dari Yuan Siauw Ko yang tanpa pamit pada kemarin malam serta perintah dari Poocu untuk kirim seseorang untuk mengadakan pemeriksaan di gunung Cing Shia, setelah itu dia baru kembali lagi ke ruang bersantap.

Dia menemani Kiem Cong Loojien serta Wie Ci To untuk bersantap, tapi hatinya yang lagi murung mana ada napsu untuk makan?

Dia cuma mengharapkan hari cepat malam. Malam hari pun mulai menjadi kelam.

Dari dalam kamar Wie Lian In dia langsung kembali ke kamarnya, setelah mengundurkan si Loo Cia pelayan tua itu dia lantas mengambil lampu dan diketuknya tiga kali di dekat jendela, setelah itu baru naik ke atas pembaringan.

Saat ini napsu untuk tidur pun berkurang, sepasang matanya dengan melotot lebar-lebar memandang tajam atas genting….

Kentongan pertama….kentongan kedua…..dengan cepatnya berlalu, kini kentongan ketiga pun menjelang.

Tidak lama melewati kentongan ketiga dari atas atap terasa adanya suara tindakan seorang diikuti sepasang tangan yang samar- samar membuka atap kesamping lalu menurunkan patung emas itu ke bawah.

Majikan patung emas sudah tiba.

Dia turunkan patung emasnya itu ke samping pembaringan Ti Then lalu dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suaranya dia lantas kirim perkataan:

“Ti Then, aku terka malam ini kau tidak dapat tidur bukan?

Bukankah kau lagi menunggu aku?”

“Tidak salah” sahut Ti Then dengan suara yang amat dingin sekali.

“Kau sudah bunuh Yuan Piauw-tauw?” Majikan patung emas tidak menjawab, sebaliknya malah balas bertanya:

“Kenapa kau orang tidak suka mendengarkan perkataanku dan menceritakan seluruh rahasia ini kepada Yuan Siauw Ko?”

Mendengar perkataan tersebut Ti Then segera merasakan hatinya tergetar amat keras.

“Siapa yang bilang aku sudah menceritakan seluruh rahasia ini kepadanya? Apa kau mendengar dengan telinga sendiri?” bantahnya dengan keras.

“Heee . . heee . . . kemarin sore kalian bersama-sama berpesiar keatas gunung, dengan mengambil kesempatan itu kau ceritakan seluruh rahasia ini kepadanya. Hmmm urusan sudah nyata, kau masih ingin mungkir ?” Seru Majikan patung emas sambil tertawa dingin tiada hentinya.

“Hmm, sewaktu Wie Ci To menunjuk aku untuk mengawani dia berpesiar keatas gunung dalam hati aku sudah tahu kalau kau pasti akan menaruh curiga. Hmmm, ternyata dugaanku sedikitpun tidak salah.”

“Kau tidak mengaku ?” seru Majikan patung emas sambil mendengus.

“Tidak.”

“Tetapi Yuan Siauw Ko sudah mengaku.”

“Heee . . . heee , . . hee , , jangan coba tipu aku. Yuan Piauw- tauw sama sekali tidak tahu urusan ini, dia bisa mengaku tentang soal apa dengan dirimu?” ejek Ti Then tertawa dingin.

Majikan patung emas tidak langsung memberi jawaban, dia termenung berpikir sebentar kemudian baru sahutnya:

“Dia mengaku kalau kau sudah menceritakan seluruh rahasia ini kepadanya bahkan sudah menyusun rencana siap-siap hendak menawan diriku.” Ti Then tahu Yuan Sianw Ko bukanlah seorang manusia yang takut mati, dia tidak akan mau mengakui keseluruhan ini.

“Kau yangan omong kosong!” teriaknya kemudian dengan gusar. “Kau sendiri yang omong kosong”

“Kau sudah bubuh dirinya?” “Tidak"

“Lalu kau membawa dirinya kemana?” desak Ti Then lebih lanjut. “Suatu tempat yang sangat rahasia.”

“Kalau kau sudah mengambil kesimpulan kalau aku sudah membocorkan rahasia ini kepadanya, kenapa tidak sekalian bereskan nyawanya?”

Majikan patung emas segera tertawa seram.

“Aku tahu bilamana aku bunuh dirinya maka kau tidak akan mendengarkan petunjukku lagi, maka itu untuk sementara waktu aku kurung dia di suatu tempat tertentu, setelah tujuanku tercapai maka waktu itulah aku baru lepaskan dirinya kembali.”

“Lalu surat yang ditinggalkan di kamarnya apa kau yang tulis?” “Bukan”

“Lalu dia yang menulis?” “Juga bukan”

“Kalau begitu surat itu ditulis oleh pemuda yang kau kirim untuk menyelundup ke dalam Benteng Pek Kiam Poo itu?”

“yangan lupa kau adalah patung emasku, kau dilarang untuk menyelidiki urusanku.”

“Walau pun aku adalah patung emasmu tetapi sama sekali berbeda dengan patung emas yang ada di depanmu ini, bilamana aku mengambil keputusan untuk tidak mendengarkan perintahmu lagi maka kau sedikitpun tidak bisa berbuat apa-apa.” “Benar” sahut majikan patung emas membenarkan, “Tetapi kau yangan lupa aku masih ada satu cara untuk menghadapi dirimu, aku bisa pergi membinasakan Wie Ci To ayah beranak, menghancurkan seluruh pendekar pedang yang ada di dalam Benteng Pek Kiam Poo, soal ini tentunya bukan satu persoalan yang menyenangkan bukan?”

Mendengar ancaman itu Ti Then segera merasakan hatinya kurang puas, dia merasa sangat jengkel.

“Bilamana kau ingin aku menyelesaikan rencanamu ini dengan baik, maka kau harus beritahu padaku apakah Yuan Piauw-tauw sudah mati atau belum…”

“Soal itu sangat mudah sekali, lewat dua hari kemudian aku bisa membawa tulisannya untuk kau lihat, bilamana kau bisa melihat surat yang ditulis dia sendiri maka segera akan kau ketahui kalau dia masih ada di dalam dunia.”

“Cuma sayang aku tidak kenal dengan tulisannya, dulu aku sama sekali tidak pernah melihat tulisannya”

“Bagaimana kalau aku suruh dia menulis satu urusan yang diketahui oleh kalian berdua saja?”

“Bagus, kau suruhlah dia menulis nama-nama dari seluruh nama serta gelar dari Piauwsu yang ada di Yong An Piauwkiok, bilamana ada satu kata saja yang salah maka aku tidak akan percaya kalau dia masih hidup.”

“Baik,” sahut majikan patung emas. “Aku pun memberi peringatan kepadamu, Yuan Siauw Ko adalah satu contoh yang baik buat dirimu, sejak ini hari bilamana kau berani bocorkan kembali rahasiaku maka bukan saja aku mau bunuh orang yang mengetahui rahasiaku itu bahkan Yuan Siauw Ko pun akan aku bunuh”

“Aku tidak mau bicara lagi dengan dirimu, cepat kau pergi!” teriak Ti Then dengan kasar.

Dengan perlahan majikan patung emas menarik kembali patung emasnya dan berlalu dari sana. Dua hari kemudian….

Jarak dengan hari perkawinan pun tinggal lima hari.

Para sahabat serta handai taulan yang menerima undangan pun mulai berdatangan sehingga suasana di dalam Benteng Pek Kiam Poo semakin lama semakin menjadi ramai.

Pagi hari itu sewaktu Ti Then bangun dari tidurnya dia menemukan di samping badannya sudah menggeletak secarik kertas yang di dalamnya tertuliskan kata2 dengan amat rapat sekali.

Majikan patung emas sama sekali tidak mengingkari janji, dia benar2 sudah membawa tulisan asli dari Yuan Siauw Ko.

Semangat Ti Then jadi berkobar kembali, dia segera mengambil kertas putih itu dan dibacanya dengan teliti.

Di atas kertas putih itu tertuliskan nama2 orang serta gelarnya, dan mereka bukan lain adalah nama2 Piauw-su yang dulu pernah bekerja di perusahaan ekspedisi Yong An Piauwkiok.

Menurut pemikiran Ti Then dahulu Piauwsu yang bekerja di perusahaan Yong An Paiuwkiok semuanya ada seratus dua puluh orang banyaknya, sekali pun majikan patung emas memiliki pengetahuan yang amat luas juga sukar baginya untuk mengetahui seluruh nama-nama dari piauwsu itu, dan bilamana didalam nama- nama itu dia tidak menemukan tulisan yang salah maka hal ini membuktikan kalau tulisan itu benar-benar ditulis oleh Yuan Siauw Ko dan hal ini membuktikan juga kalau dia masih hidup, kalau tidak mana jelas Yuan Siauw Ko menemui bencana.

Dengan telitinya dia memeriksa nama-nama serta gelar dari Piauwsu, tetapi sewaktu melihat nama dari Piauwsu keempat mendadak hatinya terasa tergetar dengan keras.

Karena dia menemukan nama dari piauwsu keempat itu telah salah ditulis!

Nama yang sebenarnya adalah “Cian Se Jien” tetapi yang ditulis adalah “Cian Su Wo” Hm! Bagaimana mungkin Yuan Siauw Ko bisa salah menulis dengan kata-kata “Jien” jadi “Wo” atau “saya”? jelas nama-nama ini bukan ditulis sendiri oleh Yuan Siauw Ko, Yuan Siauw Ko pasti menemui bencana.

Berpikir akan hal ini Ti Then segera merasakan darah panas didalam dadanya bergolak dengan amat kerasnya, hawa amarah bergolak dihati.

“Iblis bajingan, kiranya kau betul2 sudah membinasakan Yuan Loocianpwee!” makinya dengan gusar.

Tetapi walau pun hatinya merasa sedih bercampur gusar dia tetap melanjutkan membaca nama2 itu karena dia masih menaruh harapan kalau nama2 selanjutnya tidak ditwmui kesalahan lagi.

Bilamana diantara nama2 itu Cuma satu tulisan saja yang salah, hal ini bisa dijelaskan ada kemungkinan Yuan Siauw Ko tidak sengaja menulis salah.

Tetapi sewaktu membaca sampai nama piauwsu yang ketujuh kembali dia menemukan kesalahan!

Di atas kertas itu tertuliskan nama “Huo Cay Ciang” padahal seharusnya nama itu salah, kata-kata “Cay” dituliskan jadi “Cay” yang berarti “berada”!.

“Ehm…! “Cay” dan “Cay” artinya sama, apa mungkin ini pun kesalahan dari Yuan Siauw Ko?”

Karenanya dia melanjutkan kembali untuk membaca nama-nama itu.

Akhirnya didalam kertas itu samuanya dia sudah menemukan tujuh tulisan yang salah: Ong Beng ditulis jadi Lui Beng, Cau It Jan ditulis jadi Cau It Tong, Kang Kuang Peng ditulis jadi Kang Kuang Ping…..

Dengan amat gusarnya dia merobek2 kertas itu hingga hancur, tetapi sewaktu dia hendak menghancur lumurkan kertas itu, tiba2 satu ingatan berkelebat didalam ingatannya. Berpikir sampai disitu dengan terburu2 dia menyambung kembali sobekan kertas itu dan dilihatnja lagi dengan lebih teliti lagi tulisan2 yang salah itu,

Dengan cepatnya dia menemukan disetiap tulisan yang ditulis salah tentu ada satu titik hitam.

Ehmm!! Titik2 hitam ini apa sengaja ditulis oleh Yuan Siauw Ko? apakah tujuannya agar dia bisa memperhatikan beberapa tulisan yang ditulis salah itu?

Benar! bagaimana kalau tulisan2 yang salah itu disambung menjadi satu??

“Aku ada didalam gua karang dibawah gua Lui Tong Ping".

Seketika itu juga Ti Then jadi amat girang sekali sehingga hampir2 terjingkrak-jingkrak.

Satu harapan kembali muncul dihatinya . . . dia mengharapkan malam hari cepat menjelang.

XXXXXX

Akhirnya, malam haripun menjelang datang, seluruh jagat sudab menjadi gelap gulita bintangpun tidak tampak.

Keramaian yang mencekam di dalam Benteng Pek Kiam Poo pun dengan perlahan menjadi sunyi kembali. Ti Then segera kembali ke kamarnya dan ganti pakaian untuk tidur.

Malam itu dia tidak kirim tanda untuk mengajak Majikan patung emss untuk bertemu muka, bahkan secara diam2 berdoa agar majikan patung emas tidak munculkan dirinya tanpa diundang, karena malam ini dia bersiap sedia untuk pergi ke dalam gua karang dibawah gua Lui Tong Ping untuk menjenguk Yuan Siauw Ko.

Dengan tenangnya dia berbaring diatas pembaringan untuk menanti saat kentongan ketiga lewat, dia harus menanti setelah lewat kentongan ketiga baru pergi karena dia harus menanti pula apakah majikan patung emas akan munculkan dirinya atau tidak. "Tok . tok . . tok!"

Akhirnya kentongan ketiga pun tiba.

Dia tetap berbaring diatas pembaringannya tidak bergerak, dia menanti kembali seperempat jam lamanya setelah benar-benar mengetahui kalau Majikan patung emas tidak datang dia baru turun dari pembaringannya dengan perlahan-lahan lalu membuka jendela dan meloncat ke atas atap.

Setelah itu dengan menggunakan bayangan rumah sebagai tempat persembunyian dia mengitari satu lingkaran benteng itu kemudian panjat tembok benteng dan berjalan keluar.

Dia Yang bertindak sebagai kiauw-tauw dari Benteng Pek Kiam Poo sudah tentu mengetahui dengan amat jelas sekali seluruh tempat2 penjagaan yang terbesar didalam Bsnteng itu, karenanya dengan amat mudah sekali dia berhasil menghindarkan diri dari penjagaan para pendekar pedang.

Hanya didalam sekejap saja dia sudah berhasil mencapai dibawah tembok benteng.

Setelah dilihatnya disekeliling tempat itu tak ada orang dia lantas mengeluarkan ilmu cecak merayap untuk melewati tembok itu dan meloncat keluar kemudian dengan gerakan tubuh yang amat cepat sekali berkelebat menuju ke gunung Go-bie.

Dia sudah ber-kali2 berpesiar keatss gunung ber-sama2 dengan Wie Lian In, terhadap keadaan pemandangan disekitar tempat itu pun dia sudah hapal benar.

Dia tahu goa Lui Tong Ping itu letaknya diatas puncak gunung tidak jauh dari kuil Pek Im Si.

Setelah melewati kuil Toa Jan Si, Auw Ceng Ti, Pek Im Si, dan jalan gunung yang kecil dan sempit akhirnja dia berhasil tiba diatas gua Lui Tong Ping.

Dibawah gua Lui Tong Ping itu merupakan satu tebing yang curam dengan jurang yang dalamnya tak terhingga, dan merupakan satu tempat yang jarang sekali dikunjungi oleh kaum pesiar, karena tempat itu sangat berbahaya dan sukar sekali untuk dilalui.

Saat ini waktu sudah menunjukkan kentongan ketiga lebih, suasana didalam gua Lui Tong amat gelap gulita dan secara samar2 membawa rasa seram yang mendirikan bulu roma.

Ti Then dengan sedikitpun tidak ragu2 berjalan menuruni tebing itu, dengan menggunakan batu2 cadas yang pada tersebar di seluruh tempat setapak demi setapak dia meloncat turun.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian dia tiba dibawah gua Lui Tong Ping itu.

Walaupun cuaca dimalam hari amat gelap tetapi ia masih bisa melihat pemandangan disekitar tempat itu dengan jelas.

Dia melihat dibawah gua Lui Tong Ping itu merupakan satu lembah yang amat terjal itu, empat penjuru dikelilingi tebing yang hampir tegak lurus dengan pohon siong yang tumbuh miring menjulang kearah jurang.

Diatas permukaan tanah penuh tersebar batu2 cadas yang besar dan tajam dengan ditumbubi lumut yang amat banyak, agaknya sejak pertama kali hingga kini tiada seorangpun yang pernah mendatangi tempat itu.

Setelah berjalan dan memeriksa disekeliling tempat itu beberapa saat lamanya akhirnya diantara dua buah batu cadas yang amat besar dia menemukan sebuah gua alam yang tidak begitu besar.

Sambil berjongkok dia memeriksa permukaan tanah itu, ternyata sedikitpun tidak salah di depan gua itu tampak telapak kaki yang samar2, didalam hati dia tahu dugaannya tidak salah karenanya sembari mencabut keluar pedangnya dia menerobos masuk kedalam gua. 

Suasana didalam gua itu amat gelap tak tampak lima jarinya sendiri. Dengan menggunakan pedang Ti Then meraba-raba beberapa saat lamanya, dia menemukan pedangnya sudah terbentur dengan sebuah dinding gua yang amat keras, karena dia tidak tahu arah gua itu berbelok ke arah mana terpaksa dari dalam sakunya mengambil keluar obor sebagai penerangan.

Dengan menggunakan cahaya sinar obor itulah dia mulai memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu, saat itulah dia baru melihat walaupun gua itu Cuma satu tapi berbelok-belok, sebentar melebar sebentar lagi menyempit dan dinding yang saat ini menghalangi perjalanannya adalah sebuah batu cadas yang menonjol keluar sedang lorong itu berbelok kearah sebelah kanan.

Dengan mengikuti lorong itu dia berbelok kekanan, setiap kali bsrjalan beberapa langkab dia menyulut kembali obornya.

Setelah berjalan beberapa saat lamanya akhirnya dia tiba juga disuatu ruangan yang amat besar sekali.

Gua itu dibatasi dengan dinding batu yang terjal dan tajam, disekelilingnya tak tampak barang apa pun kecuali batu sehingga keadaannya amat menyakitkan.

Baru saja Ti Then hendak melakukan pemeriksaan lebih teliti lagi, mendadak obor yang ada ditangannya padam kembali.

Hatinja rada mendongkol, dia lantas mengambil keluar sebuah obor kembali siap2 disulut.

Mendadak . . .

"Ti Then, kau?" Suara seseorang secara tiba2 saja berkumandang keluar dari sisi kirinya, jelas dari nada suara itu menunjukkan hatinya merasa amat kegirangan.

Dan suara itu . , . , bukan lain adalah suara dari si tangan sakti Yuan Siauw Ko.

Mendengar teguran itu Ti Then jadi amat girang sekali, dengan ter-buru2 dia menyulut obornya untuk memeriksa tempat disekeliling tempat itu. "Yuan Loocianpwee, kau ada dimana?"

Tetapi sebentar kemudiam dia sudah lihat dimana Yuan Siauw Ko berada.

oooOOOOooo 64

Dari balik sebuah batu cadas yang tingginya ada tiga depa dengan panjang empat depa tampak si tangan sakti Yuan Siauw Ko merangkak keluar, kaki kanannya diborgol sedang rantainya diikat kebawah batu cadas tersebut, cuma tangan tiga hari saja tidak melihat sinar sang surya keadaannya sudah benar-benar berubah, wajahnya tidak mirip manusia lagi.

Dengan sekali lompat Ti Then meloncat ke hadapannya dan berjongkok.

“Yuan Loocianpwee, dia…dia mengurung kau di tempat ini?” tanyanya dengan terperanjat.

Dia bisa mengajukan pertanyaan ini dikarenakan dia melihat batu cadas yang mengikat rantai itu cuma seribu kati saja beratnya, sedang dengan tenaga dalam yang dimiliki si tangan sakti Yuan Siauw Ko untuk mendorong batu cadas itu bukanlah satu pekerjaan yang sulit, tetapi kelihatannya dia terkurung rapat dan tak dapat meloloskan diri.

Sambil bersandar pada batu cadas itu Yuan Siauw Ko tertawa sedih.

"Tentunya kau merasa heran bukan, kenapa cuma batu seberat seribu kati saja bisa mengurung loohu ?" tanyanya.

Sepasang mata dari Ti Then dengan amat tajamnya memperhatikan rantai yang memborgol kakinya itu lalu memandang ke arah ujung rantai yang ditindih batu cadas itu.

"Benar !" sahutnya keheranan. "Apakah batu cadas ini ada permainan lainnya ?". "Tidak ada!" sahut Yuan Siauw Ko sambil gelengkan kepalanja. "Dia cuma mendorong batu cadas ini untuk ditindihkan keatas rantai besar itu . .” "Kalau memangnya demikian, kenapa kau orang tua tidak mendorongnya ?”

Dengan sedihnya Yuan Siauw Ko menghela napas panjang. "Dia sudah musnahkan seluruh kepandaian silat dari loohu !”

“Apa? dia sudah musnahkan seluruh kepandaian silat kau orang tua?” teriak Ti Then terperanjat.

"Kini Loohu seperti juga orang tua biasa, seorang kakek biasa bilamana ingin mendorong batu cadas bukankah hal ini sama saja dengan satu impian disiang hari bolong ?"

"Apakah dia memberi makanan serta minuman buat kau orang tua?" tanya sang pemuda lagi dengan gusarnya.

"Ada, dia membawa sekantong ransum kering serta sekantongan air bersih, hanya cukup buat Loohu gunakan selama setengah bulanan."

"Mari aku bantu tarikan rantai besi itu”

Dia meletakkan kembali pedangnja lalu dengan menggunakan sepasang tangannya menarik rantai itu kebelakang.

“Sreeett . . . ! " dengan satu kali sentakan dia berhasil memutuskan rantai itu menjadi dua bagian.

Tetapi Yuan Siauw Ko masih tetap duduk tidak bergerak sedikitpun.

"Apa kau bisa mencari tempat ini setelah mengertikan kesembilan nama yang sengaja aku tulis salah itu ?" tanyanya.

"Benar !" sahut Ti Then mengangguk. “Dia bilang kau orang tua masih hidup, boanpwee tidak percaya dan paksa dia untuk meminta nama2 dari seluruh Piauw-su yang pernah bekerja di perusahaan 'Yong An Piauw-kiok” Kemarin dia meletakkan nama2 itu di samping pembaringan boanpwce, sewaktu boanpwee melihat diatas daftar nama itu banyak terdapat tulisan yang salah dalam anggapanku pasti bukan tulisan yang sebenarnya dari kau orang tua, akhirnya setelah boanpwee baca seluruh kesalahan itu menjadi satu, akhirnya aku baru tahu kalau kau orang tua sengaja hendak memberi tahu tempat dimana Loocianpwee dikurung"

“Malam ini kau datang kemari, apakah dia orang tahu ?" Tanya Yuan Siauw Ko dengan cemas.

"Mungkin dia tidak tahu".

"Apa yang dia katakan kepadamu ?" tanya Yuan Siauw Ko lagi sambil tertawa pahit.

"Dia bilang kau orang tua sudah mengakui pernah mendengar rahasianya”

"Kau percaya ?” "Tidak percaja !".

"Bagus sekali !" Seru Yuan Siauw Ko dengan amat girang. "Dia sudah mengetahui bagaimanakah sifat dari loohu, loohu sama sekali tidak mengakui soal apa pun kepadanya”

"Bagaimana dia bisa membawa kau orang tua meninggalkan Benteng Pek Kiam Poo?" tanya Ti Then ingin tahu.

"Ditengah malam buta dia mengetuk pintu kamar loohu, katanya kau lagi menunggu diluar benteng dan ada urusan penting yang hendak dirundingkan dengan loohu, pada waktu itu Loohu tidak tahu kalau dia lagi main siasat..”

“Kalau begitu kau sudah melihat dia orang?" tanya Ti Then dengan hati berdebar-debar.

Dia dengan Majikan patung emas sudah mengadakan hubungan selama tujuh, delapan bulan lamanya tetapi hingga hari ini tidak tahu sebenarnya Majikan patung emas itu lelaki atau perempuan dan bagaimana wajahnya. Kini mendengar Majikan patung emas sudah munculkan dirinya untuk memancing Yuan Siauw Ko keluar benteng hatinya jadi berdebar ingin cepat-cepat tahu.

“Benar! Bahkan loohu melihatnya dengan amat jelas sekali” sahut Yuan Siauw Ko sambil tertawa.

Ti Then segera merasa hatinya semakin berdebar keras lagi. “Siapakah dia orang?” tanyanya cemas.

“Seorang kenalan yang setiap hari dapat kau temui.”

Agaknya dia merasa didalam urusan ini amat menarik sekali sehingga sengaja jual mahal untuk menyebutkan nama orang itu.

“Apakah dia adalah salah seorang pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Poo?” tanya Ti Then ingin tahu.

“Bukan!” jawab Yuan Siauw Ko tertawa, dengan perlahan dia gelengkan kepalanya.

“Apa…apa Wie Ci To?”

Sekali lagi Yuan Siauw Ko gelengkan kepalanya. “Bukan!”

“Lalu siapakah dia orang?” “Coba kau terka…!”

Ti Then termenung berpikir sebentar tetapi sekali pun sudah lewat beberapa saat lamanya dia tidak dapat mengetahui juga siapakah orang itu.

“Yuan Loocianpwee, kau jangan jual mahal, sebenarnya siapakah orang yang sudah menyamar sebagai Majikan patung emas itu?”

“Haa . . . haaa .... buankah tadi aku sudah berkata orang iiu dapat kau temui setiap hari . . .!”

"Pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Poo bukan, Wie Ci To bukan lalu . .. lalu siapakah dia orang?" Dengan pandangan tajam Ti Then memperhatikan Yuan Siauw Ko tanpa berkedip, dalam hati dia merasa gemas atas ke-jual- mahalan dari si orang tua she Yuan itu.

Yuan Siauw Ko yang melihat pemuda itu dibuat gemas dia cuma tersenyum saja.

“Loocianpwee, aku mohon siapakah orang yang sudah menyamar sebagai Majikan Patung Emas itu?”

“Dia . . . dia . . . adalah…….”

“Siapa ? siapa dia ??" desak Ti Then dengan gemas. Sekali lagi Yuan Siauw Ko tertawa ter-bahak2.

"Kalau aku beritahu siapakah majikan patung emas itu, kau ingin beri apa kepadaku?”

“Apa yang Loocianpwee inginkan pasti aku kabulkan !" sahut Ti Then dengan bernapsu.

-oo0dw0oo-