Pendekar Patung Emas Jilid 36

 
Jilid 36

“PERKATAAN dari pinceng sampai disini saja, bilamana saudara2 sekalian suka mendeagarkan perkataanku maka silahkanlah turun gunung, jikalau tidak suka percaya kenapa tidak lantas turun tangan saja".

"Tidak salah" sambung Wie Ci To dengan cepat. "Yuan Kuang ciangbunjin sudah menjelaskan seluruh persoalan hingga benar2 terang, bilamana saudara2 sekalian merasa kalau perkataan ini boleh dipercaya maka silahkan sekarang juga turun gunung, bilamana tidak percaya heee . . . . heee . . . aku orang she-Wie akan menantikan petunjuk selanjutnya dari saudara2 sekalian".

Dua ratus orang jagoan dari kalangan Hek-to dengan membusungkan dadanya pada berdiri tidak bergerak. Tidak, akhirnya ada juga seorang yang mempercayai perkataaa tersebut.

Dialah si "Tang Loo Koei Bo" Han Giok Bwee.

"Selamanya aku si nenek tua paling tidak suka mencari gara2 tetapi akupun tidak ingin mengikat permusuhan dengan lain golongan, hey penguasa Go, aku pergi dulu !" teriaknya dengan keras.

Selesai berkata tanpa mengucapkan kata2 lagi dia lantas putar tubuh untuk turun gunung.

"Han Giok Bwee, kau berani pergi ?” bentak si penguasa Go dengan nada amat gusar.

"Benar" jawab Tang Loo Koei Bo tertawa, "Oooh yaa haa . . . haa kurang sedikit saja aku si nenek tua sudah melupakan akan sesuatu urusan, maaf . . maaf…”

Dari dalam sakunya dia lantas mengambil keluar sebuah kertas uang dan dilemparkan kembali kearah sipenguasa Go,

“Naah itu ambillah kembali, aku si nenek tua tidak akan merasa tertarik oleh selaksa tahil perakmu itu!”

Selesai berkata dia lantas putar badan dan berlalu bagaikan angin yang berhembus.

Seketika itu juga air muka si penguasa Go berubah jadi merah padam dia benar2 merasa amat malu sekali.

Belu lagi dia orang memperlihatkan sesuatu gerakan apapun terdengarlah si majikan ular Yu Toa Hay dengan amat gusarnya sudah gembar-gembor dan mencak2.

"Apa ?" Teriaknya keras. "Kau kira si Tang Loo Koei Bo jauh lebih kuat dari loohu? dia boleh mengambil selaksa tahil perak, kenapa Loohu cuma mendapat delapan ribu tahil perak saja, Loo Phu kan ambil berapa?" "Loohu juga hanya mendapat delapan ribu tahil perak " jawab sikakek kura2 Phu Tong Seng.

"Hal ini tidak bisa jadi !” Teriak si majikan ular Yu Toa Hay sambil mencak2. "Hey orang she-Go kau tidak adil. kami majikan ular serta kakek kura2 di dalam hal apa tidak dapat melebihi si Tang Loo Koei Bo itu ? dia boleh mendapat selaksa tahil perak kenapa kami hanya mendapat delapan ribu tahil?”

“Benar, hal ini tidak adil kurang ajar ! kurangajar! kau lihat

bagaimana sekarang??? "

"Jangan mau kerjakan pekerjaan ini" Teriak simajikan ular Yu Toa Hay keras. "Mari kita pergi saja dari sini !”

Sehabis berkata dia mengambil keluar sabuah kertas uang dan dilemparkan kehadapan si penguasa Go tersebut, setelah itu kakinya menjejak tanah dan berkelebat pergi dari sana.

Si kakek kura2pun dengan cara yang sama melemparkan uang kertas it keatas tanah lalu mengikuti dari belakang kawannya berlalu dari situ.

Si penguasa Go benar2 merasa amat malu sekali atas terjadinya peristiwa ini.

"Pemberontak ! Pemberontak !” Teriaknya sambil mendepakkan kakinya berulang kali keatas tanah.

Si "Boe Cing Shu"; Ko Cing Liong yang tempo hari berhasil meloloskan diri dari gunung Lak Ban San dengan cepat bergeser kesamping badannya, dan dalam saku diapun mengambil keluar secarik uang kertas lalu disusupkan ketangannya.

“Hmmm ! Bilamana bukannya Han Giok Bwee sengaja bicara terus terang maka Loohu akan kau tipu mentah2" Serunya dengan dingin. "Hmm! Kau kira aku yang harus menjual nyawa buat kau orang she Go hanya berharga enam ribu tahil perak saja? Niiiih ....

aku kembalikan kepadamu !".

Sehabis berkata tanpa menoleh lagi dia segera berlalu dari sana. Si muka aneh Ling Ang Lian dengan jalan yang menggiurkan pun berjalan keluar dari barissn setelah itu dia melemparkan uang kertas tersebut keatas wajah si penguasa Go.

"Han Giok Bwae adalah Loocianpwee aku tidak akan menandingi dirinya", Serunya sambil tertawa dingin. "Tetapi si majikan ular serta sikakek ular adalah orang cacad, mereka boleh mengambil delapan ribu tahil kenapa aku cuma mendapat lima ribu tahil saja”

Dengan genitnya diapun berlalu dari sana.

"Maknya . . . !" Terdengar seorang lelaki bercambang memekik keras dengan amat gusarnya, "Kiranya orang lain bisa mendapat lebih banyak lagi dari loohu ... mak nya! loohu cuma mendapat tiga ribu tahil, tidak mau, aku tidak mau !"

Demikianlah satu demi satu para jago dari kalangan Hek-to itu melemparkan kembali uang kertasnya keatas tanah lalu ber-sama2 mengundurkan diri dari kalangan pertempuran.

Hanya didalam sekejap saja sudah ada seratus orang lebih yang mengundurkan dirinya.

Melihat kejadian ini tidak kuasa lagi Wie Ci To mendongakkan kepalanya tertawa ter-bahak2.

"Haaa . . . haha haaa . . Loohu masih kira saudara2 sekalian

datang kemari karena setia kawan . . , haaa haaa kiranya

mereka lagi menjual nyawa buat orang lain !".

Yuan Kuang Thaysu, Leng Cing Cang-jien, Kiem Cong Loojien, Mong Yong-Sian Kauw beserta seluruh jagoan pedang merah yang ada disana tidak tertahan lagi bersama-sama tertawa ter-bahak2;

Sebaliknya sipenguasa Go saking gusarnya seluruh tubuhnya gemetar amat keras.

Cian Pit Yuan semakin gusar lagi, mendadak dia mencengkeram dada si penguasa Go itu lalu memakinya dengan amat gusar. "Kau kakek tua celaka . . . kiranya kau orang sedang menggunakan uang untuk membeli nyawa mereka! Hampir2 Loohu kena kau kibuli !"

"Bukankah kau sama saja seperti mereka menerima uang dariku

?" Teriak si penguasa Go. “Kau malah menerima paling banyak, kau mengambil lima, . .”

"Omong kosong”

Ditengah suara bentakan yang amat keras telapak tangannya sudah melayang turun menghajar ubun2 dari si penguasa Go sehingga seketika itu juga kepalanya hancur berantakan.

Sehabis membunuh sipenguasa Go itu, tanpa banyak bicara lagi Cian Pit Yuan segera meloncat beberapa kaki jauhnya, dengan melewati kepala para jagoan dari kalangan Hek-to lainnya dia melayang kearah depan.

"Orang she-Cian, kau tidak boleh pergi!" bentak Wie Ci To sambil menjejakkan badannya meloncat ketengah udara.

Tetapi belum berhasil dia menyandak diri Cian Pit Yuan, sejak semula sudah ada orang yang menanti kedatangannya di tempat kejauhan, begitu melihat Cian Pit Yuan melayang datang dia lantas melancarkan satu pukulan kedepan.

"Terimalah seranganku!” bentaknya. Orang itu bukan lain Ti Then adanya.

Cian Pit Yuan yang tubuhnya masih ada di tengah udara tidak dapat menghindarkan diri lagi, terpaksa dia mendorong telapak tangannya kedepan menyambut datangnya serangan tersebut.

"Braak . .. !” disertai suara bentrokan yang amat keras sekali, tdbuh Cian Pit Yuan sudah kena dipukul mental sehingga jatuh dari tengah udara dan rebah terlentang diatas tanah.

Pada saat itulah Wie Ci To kebetulan sudah berada disamping badannya, dengan cepat pedangnya berkelebat mengancam di atas lehernya. "Jangan bergerak!” ancamnya.

Dengan langkah yang perlahan Ti Then pun segera menghampiri datang.

Air muka Cian Pit Yuan berubah pucat pasi bagaikan mayat, tetapi nada ucapannya masih amat kasar.

"Wie Toa Poocu sungguh dahsyat kepandaian silatmu!"

Jelas dari ucapannya ini mengandung nada mengejek yang amat pedas.

"Kau boleh berlega hati" Seru Wie Ci To sambil tertawa dingin. "Loohu bisa memberi satu kesempatan yang amat adil buat dirimu, sekarang loohu mau tanya terlebih dulu akan satu hal, kau sudah menerima berapa banyak uang dari si penguasa Go itu."

"Kau anggap Loohu manusia macam apa, tidak mengambil uang barang sesenpun dari dirinya!" Teriak Cian Pit Yuan dengan amat gusarnya.

"Tetapi agaknya loohu pernah mendengar si penguasa Go mengucapkan kata2 "Lima" bukankah kau sudah menerima lima laksa tahil perak dari dirinya?"

Air muka Cian Pit Yuan seketika itu juga berubah jadi memerah, "Kau memfitnah!" gembornya.

“Semua orang mengambil uang, mana mungkin kau sendiri yang tidak menerima?"

"Dia datang padaku meminta Loohu bantu dirinya untuk menegakkan keadilan, dia bilang kau orang she Wie serta Nyio Sam Pak sudah membunuh mati Cuo It Sian majikannya dengan menggunakan akal; Loohu mempercayai penuh atas perkataannya itu maka lantas menyetujui permintaan bantuannya, aku sama sskali tak menerima uangnya!"

"Kalau memangnya demikian kenapa dia membenci dan memaki dirimu?" Seru Wie Ci To sambil mendengus dingin. “Siapa yang tahu?” Teriak Cian Pit Yuan pula dengan benci.

“Bilamana kau tidak mengambil uangnya maka ada seharusnya meninggalkan satu kehidupan untuk loohu tanyai sampai jelas, tetapi secara tiba2 kau turun tangan membinssakan dirinya bukankah tindakanmu itu mirip pula dengan perbuatan membunuh untuk melenyapkan bukti hidup?"

"Omong kosong, loohu membinasakan dirinya karena merasa gemas akan kelicikan serta kekejaman hatinya, aku sama sekali tidak bermaksud membunuh untuk melenyapkan bukti hidup."

Dengan perlahan Wie Ci To segera menoleh kearah Ti Then.

“Ti Kiauw tauw, coba kau periksa sakunya!" perintahnya dengan cepat.

Ti Then menyahut dan berjalan kesisi tubuh Cian Pit Yuan setelah itu berjongkok dan memeriksa sakunya.

Air muka Cian Pit Yuan dari pucat pasi kini berubah jadi biru ke- hijau2an, mendadak teriaknya dengan keras:

"Didalam saku Loohu ada selembar uang kertas, tetapi itu adalah uang dari loohu sendiri".

Tangan kanan Ti Then yang merogoh ke da!am sakunya lantas dapat meraba secarik uang kertas, setelah dilihatnya nilai yang tertulis diatas kertas itu tidak kuasa lagi dia lantas tertawa cekikikan.

"Haaa . . . haaa . . . kenapa kertas uang ini pun kebetulan bernilai lima laksa tahil perak?".

"Tidak Salah, uang itu adalah uang tabungan dari Loohu sendiri!".

"Kalau begitu biarlah aku periksa sebentar dengan kertas uang yang lainnya, bilamana gudang uang yang tertera diatas kertas uang ini sama dengan gudang uang yang tertera diatas kertas2 uang lainnya maka hal ini membuktikan kalau uang itu bukan milikmu". Dia berjalan beberapa langkah kedepan untuk memungut secarik kertas uang, setelah dilihatnya gudang uang yang tertera di atas kertas uang itu tak ada bedanya tidak terasa sambil tertawa dingin ujarnya kepada sipendekar pedang tangan kiri ini.

"Hmm ! Kiranya berasal dari sebuah gudang uang yang sama, sekarang tentu saja kau tidak ada perkataan lain bukan ?".

Saking malunya saat ini Cian Pit Yuan jadi amat gusar sekali, "Kalau memangnya Loohu menerima uangnya, lalu ada sangkut

pautnya apa dengan dirimu??" Bentaknya keras.

"Siapa yang bilang tiada sangkut pautnya dengan kami?" sambung Wie Ci To sambil tertawa dingin. "Kau orang she Cian terang2an mengetahui kalau tuduban yang dilancarkan mereka terhadap Loohu adalah suatu peristiwa yang tidak nyata tetapi karena ingin mempeioleh uang lima laksa tahil peraknya kau sadah membolak-balikkan persoalan.

Hmmmm! Sekarang dengan memimpin jago2 dari kalangan Hitam kalian datang mencari gara2 dengan Loohu apakah dalam urusaa ini Loohu tidak boleh menuntut ??"

"Tetapi kau harus lihat dulu orang yang menerima uangnya ada dua ratus orang banyaknya, bukannya cuma loohu seorang saja" Bantah Cian Pit Yuan dengan ter-buru2.

"Orang lain boleh dipandang rendah tapi kau orang she Cian tidak akan dipandang demikian!”

"Diluar mukanya walaupun loohu dibeli olehnya tetapi hal yang sebenarnya adalah ingin berkelahi dengan dirimu, beranikah kau bergebrak melawan loohu ??"

"Bagus sekali . . . bagus sekali . . Loohupun sudah siap sedia untuk mamadamkan niatmu itu !" Seru Wie Ci To sambil tertawa dingin. Berbicara sampai disini pedang yang mengancam tenggorokannya segera ditarik kemball dan mengundurkan diri tiga langkah kebelakang.

"Ayoh bangun berdiri !" Bentaknya dengan keras.

Cian Pit Yuan dengan cepat meloncat bangun, diantara berkelebatnya sinar pedang yang keemas-emasan ditangan kirinya sudah bertambah lagi dengan sebilah pedang yang memancarkan hawa yang amat dingin sekali.

Tetapi agaknya dia masih menaruh rasa jeri terhadap Ti Then yang berdiri disamping, dia memandang sekejap kearahnya lalu ujarnya.

"Kita harus menjelaskan dulu perkataan kita, ini hari bilamana loohu kalah di tangan Wie Tou Poocu maka loohu akan menanti hukuman, tapi bilamana menang?".

"Bilamana kau menang maka Loohu akan serahkan diri dan menerima hukuman yang dijatuhkan kepada Loohu !" Sambung Wie Ci To dengan cepat.

"Justru karena loohu takut tidak bertenaga untuk jatuhi hukuman kepadamu, karena anak buahmu amat banyak sekali"

Sekali dengar saja Wie Ci To sudah mengerti apa maksud dari perkataannya itu; kepada para jago pedang merah lantas pesannya:

"Kalian dengarlah semua, bilamana nantti loohu mati ditangannya maka kalian tidak boleh menyusahkaa dirinya, biarkanlah dia pergi dengan bebas, sudah dengar?"

"Dengar!” Seru pendekar pedang merah itu serempak.

“Ti Kiauw-tauw kaupun sama juga!” pesannya pula kepada diri Ti Then.

"Baik!" sahut pemuda itu sambil menjura.

Wie Ci To segera kebas2kan pedangnya dan menoleb kembali kearah Cian Pit Yuan. “Sudahlah!" ujarnya sambil tertawa “Loohu sudah memberi pesan wanti2 kepada mereka, sekarang kau boleh turun tangan dengan berlega hati!"

"Baik, ini hari bilamana bukannya kau yang mati maka akulah yang modar!" Teriak Cian Pit Yuan sambil tertawa seram.

Kuda2nya diperkuat, seketika itu juga dia sudah bersiap melancarkan serangan.

Walaupun terhadap orang ini Wie Ci To memandang menghina tetapi terhadap ilmu pedangnya dia tidak berani berlaku gegabah, tubuhnya dengan cepat diperendah kemudian dengan pandangan mata yang amat tajam memperhatikan pihak musuh.

Jago kelas satu bertempur situasinya sudah tentu tidak sama, tampaklah mereka berdua yang satu ada diselatan yang lain ada di sebelah Utara berdiri saling berhadap-hadapan, seluruh perhatiannya dicurahkan pada gerak-gerik pihak musuhnya kemudian dengan perlahan baru bergeser maju kedepan.

Suasana jadi amat tegang, seluruh jago yang hadir disana merasakan hatinya berdebar keras, napasnya menjadi sesak.

Dengan wajah yang amat seram dan penuh diliputi napsu membunuh Cian Pit Yuan segera bergeser maju terus kedepan.

Sebaliknya wajah Wis Ci To amat halus, ramah tetapi keren dan berwibawa sekali.

Ti Then yang melihat sikap serta air muka mereka berdua segera berjalan kesamping Wie Lian In dan bisiknya dengan suara yang amat lirih.

“Pertempran kaii ini ayahmu pasti menang,”

“Bagaimana kau bisa tahu ?” tanya Wie Lian In dengan hati tidak tenang.

Ti Then tidak menjawab sebaliknya malah bertanya. “Tahukah kau pada tempo dulu ayahmu harus menggunakan berapa jurus untuk mengalahkan dirinya ?”

“Teringat akan perkataan Tia, agaknya dia bertempur sebanyak seribu jurus banyaknya.

“Tetapi situasi pada saat ini sama sekali berbeda, aku percaya tidak sampai membutuhkan dua ratus jurus ayahmu sudah dapat memperoleh kemenangan”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Orang yang bergebrak melawan orang selamanya harus membutuhkan keteguhan serta kepercayaan diri sendiri, terutama kali niat.

Cian Pit Yuan yang dibeli oleh orang lain sebetulnya tidak mempunyai niat untuk bergebrak ditambah pula keteguhan hatinya berhasil kita pecahkan. maka pertempuran ini dengan amat cepatnya bisa diselesaikan.”

Baru saja perkatan itu selesai diucapkan mendadak terdengar Cian Pit Yuan membentak keras, dialah yang pertama-tama melancarkan satu serangan dahsyat menutuk kearah diri Wie Ci To.

Dia orang yang memiliki julukan sebagai si pendekar pedang tangan kiri sudah tentu serangannya berlawanan dari biasanya, jelas kelihatan serangannya kali ini amat dahsyat sekali.

Sebaliknya permainan pedang dari Wie Ci To adalah kebalikan dari permainan pedangnya, tampak dia sedikit mengangkat psdangnya, jurus serangan tersebut segera dapat dipunahkan dengan manis.

Tetapi sewaktu dilihatnya Cian Pit Yuan mengubah jurus serangan lagi dan menyapu badannya dengan mengikuti gerakan badannya dengan mantap dia segera membabat pundak kanan dari Cian Pit Yuan, Jurus serangan ini kelihatanya amat sederhana tetapi secara samar-samar mengandung satu tenaga tekanan yang maha dahsyat.

Mendadak , . sepasang pedsng mereka bagaikan kilat cepatnya sudah terbentur satu sama lain, hanya di dalam sekejap saja mereka berdua sudah saling serang menyerang sebanyak puluhan jurus banyaknya setelah itu baru berpisah dan masing2 mengundurkan diri keutara dan keselatan.

Beberapa puluh orasg jagoan dari kalangan Hek-to serta jago2 pedang merah dari Benteng Pek Kiam Poo pada saat ini ber-sama2 mengundurkankan dirinya kebelakang, karena mereka merasakan adanya segulung hawa pedang yang amat tajam dan santar berkelebat memenuhi angkasa.

Selangkah demi selangkah kembali Cian Pit Yuan maju kearah Wie Ci To dengan langkah yang mantap mengikuti terus kearah sebelah kiri mereka baru berhenti setelah saling berhadap-hadapan muka.

Pada wajah Cian Pit Yuan terlintaslah satu senyuman buas yang amat seram sekali,

Sedangkan pada wajah Wie Ci To terlintas satu senyuman yang ramah tapi mempersonakan.

Mendadak . . , masing2 pihak kembali melayang kedepan melancarkan serangannya.

Kali ini tubuh mereka bersama melayang ketengah udara lalu dengan cepat bagaikan kilat saling serang menyerang beberapa jurus banyaknya, hanya didalam sekejap mata saja mereka berdua sudah menyerang dua puluh jurus serangan dahsyat.

Tetapi belum juga bisa menentukan siapa menang siapa kalah. Sikap Cian Pit Yuan berubah semakin menyeramkan lagi.

Sedangkan sikap dari Wie Ci To berubah semakin rsmah dan halus. Melihat akan hal itu dalam hati Ti Then benar2 merasa sangat kagum.

Ilmu pedang mereka berdua yang satu jalan keras yang lain mengutamakan

kegesitan walaupun belum bisa dikata betul-betul sempurna tetapi telah mencapai pada taraf yang benar2 matang “ pikirnya di hati.

Pada saat pikirannya sedang berputar itulah mendadak pandangannya terasa jadi kabur, Wie Ci To serta Cian Pit Yuan untuk ketiga kalinya sudah bergebrak saling serang menyerang dengan serunya.

Pertempurannya kali ini jauh lebih dahsyat lagi dari bentrokannya yang semula, walau pun jurus2 serangan yang mereka lancarkan sedikitpun tidak kacau tetapi kelihatannya bagaikan dua ekor macan betina yang lagi berduel membuat setiap orang merasa hatinya amat tegang sekali.

Dan untuk pertempuran kali ini mereka berdua tidak berpisah lagi, sinar pedang bagaikan api membara yang berkelebat ke atas kebawab tidak hentinya seperti juga ombak ditengah samudra yang melanda pantai . . .

Saking dahsyatnya pertempuran ini hampir boleh dikata tanah merekah seluruh jagat tergoncang hebat.

Hanya didalam sekejap saja mereka berdua sudah bertempur sebanyak seratus jurus banyaknya walaupun pertempuran ini amat seru tetapi masih belum juga bisa ditentukan siapa yang menang siapa yang kalah.

Semakin lama Wie Lian In merasa hatinya semakin tidak tenang, dengan cepat dia menyenggol badan Ti Then.

“Eeeei coba kau lihat, mereka sudab bergebrak sebanyak seratus jurus” serunnya cemas.

“Jangan kuatir, ayahmu pasti akan menang” “Bilamana sampai kalah ?” tanya Wie Lian In murung.

Ti Then segera tersenyum, “Peristiwa ini tidak bakal ada.” katanya-

“Sewaktu bertempur didalam Benteng tempo hari agaknya bajingan tua ini tidak selihay ini hari”

“Soal ini ada dua sebab musabsbnya, pertama: waktu itu dia terlalu memandang rendah pihak musuhnya. Kedua, didalam setengah tahun ini dia telah berlatih kembali akan beberapa buah jurus serangan yang baru aaah . . menang kalah sudah dapat

ditentukan.”

Sedikitpun tidak salah, akhirny menang kalah bisa ditentukan juga,

Semua orang mendengar suara dengusan berat terlebih dulu setelah itu tampaklah masing2 pihak dengan cepatnya mengundurkan diri beberapa kaki kearah belakang.

Sepasang kakinya menempel permukaan tanah, semuanya berdiri tegak tak bergerak, sedang matanya saling melotot tak berkedip.

Cian Pit Yuan dengan senyum kemenangan yang amat seram berdiri tak bergerak disana.

Sebaliknya air muka Wie Ci To berubah sangat keren, baju dibagian dadanya sudah terobek beberapa coen panjangnya oleh ujung pedang Cian Pit Yuan sehingga pakaian dalamnya pun ikut tergores robek, tetapi tidak terlihat adanya darah yang mengalir keluar.

Dengan sangat terkejutnya Wie Lian In menjerit kaget, hatinya merasa amat kecewa sehingga tubuhnya hampir2 rubuh tak sadarkan diri,

Air muka ciangbunjin dari Siauw lim pay, Bu tong pay, Kun Lun Pay, Tiang Pek Pay serta seluruh pendekar pedang merah pada berubah sangat hebat,

Ternyata Wie Ci To sudah menemui kekalahan. Walaupun tubuhnya tidak sampai mengucurkan darah tetapi dengan kekalahannya ini akan mempengaruhi meti hidupnya, karena dengan diri Cian Pit Yuan dia sudah mengadakan perjanjian terlebih dahulu.

Siapa yang kalah dia bakal dihukum oleh pihak lawannya sedang dia sepagai seorang Toa Poocu dari Benteng Pek Kiam Poo yang namanya sudah amat terkenal didalam Bu-lim tidak akan memungkiri perkataannya yang sudah diucapkan, sudah tentu dia akan membiarkan Cian Pit Yuan turun tangan menghukum dirinya.

Senyum kemenangan yang menghias wajah Cian Pit Yuan pun semakin lama semakin menebal, dia memandang sekejap kearah diri Wie Ci To lalu sambil menuding dengan menggunakan pedangnya dia membentak:

“Orang she Wie, kau sudah kalah..”

Siapa tahu baru saja perkataan itu selesai diucapkan air mukanya sudah berubah jadi tertegun.

Pokoknya sinar matanya yang buas dan amat menyeramkan itu hanya didalam sekejap saja sudah berubah jadi amat tawar dan sedih sekali.

Diikuti tubuhnya yang berdiri tegak dengan perlahan-lahan rubuh kedepan dan jatuh tertelungkup diatas tanah.

Apa yang sudah terjadi?

Semua jago dibuat tertegun oleh peristiwa ini.

Untuk beberapa saat lamanya mereka semua tidak mengetahui siapakah yang menang dan siapakah yang kalah, masing-masing dengan mata terbelalak lebar-lebar berdiri mamatung di tempat.

Saat itu cuma Ti Then seorang yang dapat melihat seluruh kejadian itu dengan amat jelas, tampak dia berjalan maju kedepan dan menendang badan Cian Pit Yuan sehingga tidur terlentang, setalah itu dengan menggunakan tangannya dan membuka pakaiannya. “Gak hu, sambaran pedangmu kali ini sungguh indah sekali!” pujinya sambil tertawa.

Waktu itulah semua orang baru dapat melihat kalau pada jalan darah Cang Bun Hiat pada pinggang Cian Pit Yuan sudah dibasahi oleb darah segar karena itulah seketika itu juga mereka mengerti peristiwa apa yang sudah terjadi.

Kiranya sewaktu dia berhasil mcmbabat robek baju bagian dada dari Wie Ci To itulah jalan darah Cang Bun Hiat pada bagian pinggangnya sendiripun terkena satu tusukan pedang dari Wie Ci To.

Sedang dirinya sama sekali tidak merasakan akan hal itu, dia masih mengira dirinyalah yang sudah memperoleh kemenangan.

Setelab semua orang mengerti apa yang telah terjadi, maka tidak kuasa lagi suara tepukan tangan serta teriakan memuji bergema memenuhi seluruh angkasa.

ocooOoooo

BEBERAPA puluh jago dari kalangan Hek-to yang melihat kemenangan ada dipihak Wie Ci To tidak berani berada disana lebih lama lagi, masing2 pada bubaran dan melarikan diri dari sana,

Hanya didalam sekejap saja seluruh kalangan sudah dibikin bersih dari jago2 kalangan Hek-to.

Suatu angin taupan yang bakal melanda, dengan demikian jadi tenang kembali.

Suara teriawa dari sisekuntum Bunga Bwee Mong Yong Sian Kauw tiba2 memecahkan kesunyian.

"Aaaih . , kiranya pasukan aneh yang disusul oleh Cuo It Sian sama sekali tidak lihay !" ujarnya.

"Benar!" sahut Kiem Cong Loojien dari Kun Lun-pay," Apalagi Tang Loo Koei Bo sinenek tua itu, dia paling mengerti bilamana bukannya dia yang sudah memecahkan rahasia sipenguasa Go yang membeli tenaga mereka dengan uang mungkin badai ombak dan angin taupan yang dahsyat ini tidak bakal sirap dengan sebegitu cepatnya.”

“Dia adalah simanusia paling cantik di dalam Bu lim Han Giok Bwee" timbrung Wie Lian In pula." -Waktu yang ialu dia menaruh kesalah pahaman terhadap kami dan hendak merebut kitab pusaka Ie Cin Keng, terakhir dia berhasil kami tawan tetapi kemudian kami lepaskan kembali dirinya.”

"Kiranya begitu, mungkin dia sengaja memecahkan rahasia sipengua&a Go ini juga dengan maksud untuk membalas budi kalian itu" ujar Kiem Cong Loojien.

"Inilah yang dinamakan semangka akan mendapatkan semangka, menanm sayur akan mendapatkan sayur”

Wie CiTo tertawa, dia lantas memerintahkan orang2 dari Benteng untuk membereskan jenasah dari Cian Pit Yuan, setelah itu kepada keempat orang Ciangbunjin ujarnya:

"Meja perjamuan ada kemungkinan sudah dipersiapkan, mari kita masuk kedalam untuk meneguk beberapa cawan arak!".

XX XXX

Keesokan harinya Yuan Kuang Thaysu serta Leng Cing Ceng-jien berpamit kepada Wie Ci To dan masing2 menuju ke gunung Go-bie dan Cing Shia untuk menyambangi teman2nya, sedangkan Kiem Cong Loojien serta Mong Yong Sian Kauw tetap menjadi tamu didalam benteng Pek Kiam Poo . . .

Sedangkan suasana didalam Benteng Pek Kiam Poo untuk sementara menjadi tenang kembali.

Sebaliknya perasaan hati dari Ti Then tidak dapat tenang, bahkan boleh dikata duduk tidak enak tidurpun tidak tenang, hatinya benar2 terasa kacau sekali karena hari perkawinannya sehari demi sehari mulai mendekat sedangkan tak sebuah akal pun didapat olehnya hal ini membuat hatinya bertambah tidak tenang. Terhadap diri Wie Lian In dia sama sekali tidak mempunyai perasaan " Sayang atau keberatan " bilamana dia bisa pergi dan membereskan urusan ini maka walau pun seperempat jam pun dia tidak ingin berada lebih lama lagi didalam Benteng Pek Kiam Poo.

Tetapi dikarenakao ancaman dari majikan patung emas membuat dia orang

mau tidak mau harus mengambil satu keputusan untuk menyelesaikan urusan ini, barang yang diinginksn oleh majikan patung emas agaknya harus didapatkan juga, bilamana dirinya tanpa memperdulikan lagi segala urusan dan meninggalkan benteng Pek Kiam Poo maka majikan patung emas pasti akan menggunakan cara yang paling kejam dan paling ganas untuk membinasakan Wie Ci To ayah dan anak.

Walaupun Ti Then merasa harga diri adalah amat penting tetapi nyawa dari Wie Ci To ayah beranak jauh lebih penting lagi. dia tidak akan mengorbankan nyawa Wie Ci To ayah beranak, karena ingin menjaga harga dirinya sendiri.

Bahkan undangan sudah dibagikan, bilamana dia melarikan diri dari Benteng Pek-Kiam Poo bukankah Wie Ci To ayah beranak bakal kehilangan muka dihadapan orang2 Bu-lim ?

Maka itulah saat ini dia sudah berada didalam keadaan kepepet. keadaannya seperti sedang menunggang harimau sekali pun mati tidak boleh melakukan niatnya tersebut.

Satu2nya cara yang dapat dilakukan oleh dia adalah didalam sepuluh hari sebelum hari perkawinannya ini berusaha untuk menyelidiki nama serta asal usul dari majikan patung emas, bilamana nama serta asal usul dan majikan patung emas ini dapat diketahui olehnya maka ada kemungkinan dia masih bisa memikirkan satu cara untuk menghadapinya.

Tetapi, harus membutuhkan beberapa waktu dia baru berhasil mengetahui nama serta asal-usul dari majikan patung emas ini?

Hal ini sama sekali tak terpikir olehnya! Hari itu, sewaktu dia lagi memberi petunjuk ilmu pedang kepada seorang pendekar pedang mendadak masuklah kedalam benteng seorang pemuda dengan menunggang kuda, jika dilihat dari gagang pedang merah yang tersoren pada pinggangnya jelas dia merupakan seorang pendekar pedang merah.

Ketika dilihatnya pula perawakan tubuh dari orang itu mendadak hatinya merasa rada bergerak, kepada seorang pendekar pedang putih yang ada disampingnya dia lantas bertanya :

“Eeeei . . pendekar pedang merah itu apakah anggota dari Benteng kita?".

"Benar, apakah Ti Kiauw-tauw sudah lupa ??".

"Pendekar pedang didalam Benteng kita, ada sembilan puluh orang banyaknya, bahkan ssbagian bssar berkelana didalam dunia kangouw, sudah tentu aku tidak akan kenal satu persatu" sahut Ti Then pura2 serius.

"Saudara ini tentunya Ti Kiauw-tauw pernah menemuinya, dia baru dua bulan yang lalu pulang kerumah menjenguk keluarganya. Ini hari dia baru pulang kembali ke dalam Benteng kita !".

“Dia tentu Yuan Cia-heng?”

"Salah ! Dia adalah Phoa Loo Tek, usianya jauh lebih besar dua tahun dari diri Yuan Cia" sahut pendekar pedang putih itu sambil gelengkan kepalanya.

"Aaah . . . benar, benar," dia adalah Phoa Loo Tek, heeeei ....

bagaimana ingatanku bisa begitu buruk ?”

Saat itulah Phoa Loo Tek sudah turun dari kudanya ditengah kalangan latihan silat itu, sewaktu dilihatnya Ti Then sedang memberi petunjuk ilmu pedang kepada para pendekar pedang lainnya sambil tertawa dia lantas maju menghampiri dan menjura.

“Ti Kiauw-tauw kau sudah pulang ?" ujarnya.

“Benar, aku dengar Phoa-heng pun sedang pulang untuk menjenguk keluarga?" ujar Ti Then mengangguk. "Betul, sebenarnya cayhe hendak kembali kedalam Benteng lebih pagian tetapi dikarenakan ibuku selalu tidak memperbolehkan cayhe untuk berangkat maka terpaksa aku harus tinggal satu bulan di rumah ".

"Dimanakah rumah Phoa heng ?"

"Cayhe tinggal disuatu dusun kecil, Swie Mo Kauw, sebelah Barat dari gunung Cing Shia!"

“Aaaah . . . tempat itu tidak terlalu jauh, dengan menunggang kuda paling banter cuma dua tiga hari perjalanan "

"Benar!”

"Phoa-heng baru saja kembali kedalam Benteng perjalanan jauh melelahkan sekali, kau pergilah untuk beristirahat!".

Phoa Loo Tek segera menyahut dan mengundurkan diri dari sana,

Ti Then yang melihat cuaca sudah mendekati siang dia lantas membubarkan para pendekar pedang lalu berjalan menuju kamar istirahat dari sipenembus ulu hati Shia Pek Tha.

Sesampainya didalam kamar Shia Pek Tha dia melihat Phoa Loo Tek lagi mencatatkan tanggal kembalinya kedalam Benteng didalam buku..

Shia Pek Tha yang melihat Ti Then berjalan masuk kedalam kamar dia segera bangkit berdiri dan menuding kearah Phoa Loo Tek.

"Ti Kiuw tauw, Phoa Lote ini baru saja kembali dari liburannya." "Siauw te sudah tahu, kita sudah bartemu muka sewaktu ada

dilapangan latihan silat" sahut "Ti Then sambil tertawa.

Saat ini Phoa Loo Tek sudah menulis tanggal liburannya, setelah itu kepada Ti Then dan Shia Pek Tha dia tertawa dan putar badan berjalan keluar dari kamar.

"Ti Kiauw tauw ada urusan apa?” tanya Shia Pek Tha. Ti Then yang mendengar suara langkah dari Phoa Loo Tek sudah menjauh dia berbisik.

"Shia heng, siauwte rada menaruh perasaan curiga terhadap jagoan pedang she Phoa ini!"

Shia Pek Tha jadi melengak.

"Aaah . . apanya kurang beres dari dirinya?"

"Peadekar psdang she Phoa ini tinggal didusun Swee Mo Kauw, jaraknya dari sini cuma ada tiga hari perjalanan saja, tetapi sekali pergi sudah ada dua bulan lamanya, agaknya didalam urusan ini rada sedikit tidak beres."

Mendengar perihal tersebut Shia Pek-Tha segera tertawa. “Tinggal beberapa hari di rumah adalah biasa, apanya yang tidak

beres ?”

“Ingatkah sewaktu tempo hari Siauw-te datang untuk memeriksa buku tersebut ?”

“Masih ingat, bagaimana ?” tanya Shia Pek Tha sambil mengangguk.

“Tempo hari sewaktu siauw-te kembali ke dalam benteng dan ditengah jalan melewati gunung Lak Ban San ada satu hari di sebuah rumah penginapan di kota Kiam Bun Koan sudah menemukan dua orang Bu-lim yang lewat dari samping siauw te, salah satu diantaranya sudah berkata;

“Kau harap berlega hati, tadi Phoa Loo Tek sudah berbicara amat jelas sskaii, dia bisa turun tangan memberi bantuan... siauw te yang merasa nama Phoa Loo Tek ini rada dikenal maka setelah dipikir- pikir setengah harian baru teringat kembali kalau didalam Benteng dari antara pendekar pedang merah pun ada seseorang yang bernama Phoa Loo Tek . . .”

“Akhirnya bagaimana ?” Tanya Shia Pek Tha dengan pandangan tajam. “Menanti siauw-te teringat kembali akan hal ini kedua orang Bu- lim itu sudah pergi tak berbekas, tetapi wajah dari kedua orang itu siauw te masih ingat, jika dilihat dari potongannya jeias dia bukanlah seorang manusia baik2”

“Lalu apakah arti dari perkataan kedua orang itu ?”. Dengan perlahan Ti Then gelengkan kepalanya;

“Siauw te sendiri pun tidak paham, akhirnya setelah siauw-te melakukan pemeriksaan di buku catatan itu dan mengetahui kalau Phoa Loo Tek baru pulang kerumah dalam hati siauw-te baru menaruh rasa heran. Bukankah Shia heng tahu jarak antara dusun Swie Mo Kauw serta Kiam Bun Koan ada enam ratus li jauhnya, kalau memangnya Phoa Loo Tek pulang ke rumah bagaimana dia bisa lari ke kokta Kiam Bun Koan yang jaraknya ada enam ratus li itu?”

Shia Pek Tha segera termenung berpikir sebentar, akhirnya dia menjawab juga;

“Apakah Ti Kiauw tauw menaruh curiga kalau alasan Phoa Loo Tek pulang kerumah adalah pura2, sebaliknya secara diam2 dia sudah pergi mengadakan hubungan dengan orang dikota Kiam Bun Koan ?”

“Tidak salah!”

“Bagaimana kalau sekarang juga kita pergi menanyai dirinya ?” kata Shia Pek Tha, setelah itu dia lantas melangkah keluar dari dalam kamar.

Dengan terburu-buru Ti Then menarik dia kembali, “Kau tidak boleh berbuat demikian” sahutnya sambil

menggelengkan kepalanya.

“Kenapa ?” tanya Shia Pek Tha melengak.

“Pertama, yang dimaksudkan sebagai Phoa Loo Tek oleh orang itu belum tentu Phoa Loo Tek dari benteng kita, ada kemungkinan nama mereka adalah sama. Kedua, Jikalau misalnya dia orang sendir, maka sekalipun Shia heng tanya dirinya belum tentu dia orang suka mengaku buat apa kita mengejutkan dirinya terlebih dahulu ?”.

“Lalu menurut pendapat dari Ti Kiauw tauw kita harus berbuat bagaimana ?”

“Secara diam2 kirim seorang kedusun Swie Mo Kauw untuk menyelidiki apakah dia sungguh-sungguh sudah pulang kerumah. Bilamana orang tuanya menjawab bahwa dia ada disana maka hal ini membuktikan kalau Phoa Loo Tek ini bukanlah dia, sebaliknya bilamana orang tuanya berkata bahwa dia tidak ada dirumah atau mungkin cuma tinggal sehari dua hari saja maka ada kemungkinan dia orang adalah Phoa Loo Tsk yang dimaksudkan kedua orang Bu- lim itu, dengan sendirinya dia adalah seorang yang patut dicurigai.”

“Hmmm . . , sangat beralasan sekali”

“Kedua orang Bu-lim itu bsrwajah amat menyeramkan, bilamana mereka berasal dari kalangan hitam maka janji Phoa Loo Tek untuk turun tangan membantu sudah tentu bukan satu pskerjaan yang cemerlang, apalagi Poocu kita selalu menasahati seluruh jagoan pedang yang ada didalam Benteng kita untuk menjauhkan diri dari segala kejahatan maka itu urusan ini harus kita selidiki sampai jelas.”

“Benar . . benar . . .” sahut Shia Pek Tha sambil mengangguk berulang kali, “Ti Kiauw tauw rasa baiknya kirim siapa untuk melakukan penyelidikan ini ?”

“Urusan ini untuk sementara waktu janganlah dilaporkan terlebih dahulu kspada Poocu sehingga jangan sampai pula kawan yang lain mengetahui maka itu maksud dari Siauw te bilamana Shia heng tidak keberatan maka dengan mengambi1 beberapa waktu ini berangkatlah sendiri untuk melakukan penyelidikan, bagaimana maksud dari Shia heng ?”

“Boleh, waktu perkawinan dari Ti Kiauw tauw masih ada enam belas hari lamanya dari sini menuju ke dusun Swie Ma Kauw pun pulang balik cuma membutuhkan enam hari saja, kemungkinan sekali Poocu akan memberi izin uutuk turun gunung, cuma entah harus menggunakan alasan apa untuk minta libur ?”

“Coba Shia-heng pikirlah dengan cermat.”

Lama sekali Shia Pek Tha termenung bsrpikir akhirnya dia menjerit kegirangan.

“Aaash. sudah ada, setiap tahun pada waktu begini cayhe tentu akan menuju ke gunung Kiu Cing san untuk menengok istri dari seorang kenalanku yang telah meninggal, biarlah aku menggunakan alasan ini untuk minta ijin.”

“Tetapi apa hubungannya antara dirimu dengan dia orang ?” “Dahulu cayhe mempunyai seorang sahabat karib yang bernama

Siauw Tioen Hoo, dia pun merapakan seorang jagoan Bu-lim tapi akhirnya dia dibunuh orang dan meninggalkan seorang istri dengan tiga orang anak, keadaannya sangat kasihan sekali, karenanya setiap tahun cayhe tentu pergi menengok meraka dan membagi sedikit uang buar mereka, urusan ini pun diketahui pula oleh Poocu sendiri.”

“Kalau memangnya begitu hal ini amat bagus sekali. Poocu tentu mengijinkan Shia heng untuk pergi keluar.”

“Cayhe sekarang juga akan minta ijin kepada Poocu, bilamana Poocu setuju maka cayhe sekarang juga akan berangkat”

Sehabis berkata dengan ter-buru2 dia terus berlalu dari sana.

Tidak lama kemudian dengan wajah penuh senyuman dia sudah berjalan kembali lagi.

“Haaa .. haaa . Poocu sudah setuju” ujarnya tertawa, “Dia cuma memberi pesan agar beberapa hari sebelum perkawinan dari Ti Kiauw tauw harus sudah kembali ke dalam Benteng.”

Dalam hati Ti Then merasa amat girang sekali.

“Lalu Shia heng mengambil keputusan hendak berangkat sekarang juga ?” “Tidak salah, cayhe adalah seorang yang mempunyai sifat ingin terburu2, sesuatu urusan setelah diambil keputusan maka segera juga kepingin berangkat”

Dia berganti pakaian, mengambi1 beberapa stel ganti dan beberapa ratus tahil perak yang dibungkus menjadi satu buntalan lalu dipanggul keatas bahu,

“Sudahlah. sekarang aku mau berangkat” katanya kemudian. “Shia heng hendak berangkat dengan menunggang kuda ?” “Sudah tentu”

“Kawan-kawan Benteng lainnya bilamana melihat secara tiba2 Shia heng berangkat meninggalkan benteng tentu akan menaruh rasa curiga. lebih baik kau pesanlah beberapa patah kata kepada mereka.”

“Baiklah, apakah Ti Kiauw tauw ada pesan lainnya ?”.

“Tidak ada, Siauw te punya maksud tidak menghantar Shia heng keluar benteng, harap di perjalanan Shia heng suka berhati-hati”

Demikianlah Shia Pek Tha lantas berangkat meninggalkan benteng itu.

Sedangkan Ti Then sendiri pun dengan wajah penuh kegembiraan berjalan kembali kedalam kamarnya.

Apa yang dikatakan pernah bertemu dua orang Bu-lim di kota Kiam Bun Koan sudah tentu adalah perkataaa kosong belaka, tujuan yang utama dari dirinya adalah pergi menyelidiki kemana perginya Phoa Loo Tek selama dua bulan ini, karena dia merasa perawakan badan dari Phoa Loo Tek ini sangat mirip sekali dengan perawakan pemuda berkerudung yang diperintah majikan patung emas untuk menyelidiki dan mengawasi dirinya itu.

Bilamana Shia Pek Tha mendapat tahu kalau Phoa Loo Tek tidak pernah pulang ke rumah atau mungkin cuma beberapa hari saja disana maka delapan bagian Phoa Loo Tek ini adalah si pemuda berkerudung. Jikalau dia berhasil membuktikan kalau Phoa Loo Tek adalah si pemuda berkerudung itu, dirinya secara diam2 bisa pancing dia keluar dari Benteng kemudian menawan dirinya dan paksa dia untuk mengaku nama serta asal usul dari majikan patung emas, dengan demikian ada kemungkinan dia akan memperoleh cara yang amat baik untuk menghadapi majikan patung emas itu.

Terhadap urusan ini dia menaruh harapan yang amat besar sekali.

Sakembalinya kedalam kamar dia lantas berganti dengan pakaian singsat.

Saat itulah tampak si Loo-cia pelayan tua itu sudah berjalan masuk ke-dalam kamar.

“Ti Kiauw tauw,” ujarnya. “Tadi Coen Lan datang kemari, katanya nona mengundang kau pergi ke-sana setelah bersantap.”

“Baiklah.”

“Beberapa hari ini agaknya setiap hari nona terus menerus bersembunyi didalam kamar, apakah dia merasa malu?”

“Benar” jawab Ti Then tertawa.

Mendadak, dengan pandangan mata yang tajam si Loo-cia pelayan tua itu memperhatikN dirinya lalu sambil tertawa tanyanya:

“Ti Kiauw tauw, ada urusan apa yang membuat hatimu jadi begitu gembira ?”

“Urusan yang menggembirakan ?” tanya Ti Then melengak. “Air muka Ti Kiauw tauw amat giraag sekali, tentu ada satu

urusan yang menyenangkan hatimu,” seru si Loo-cia sambil

menuding wajahnya.

"Setiap orang yang menghadapi hari perkawinannya sudah tentu akan bsrsemangat, aku sudah hampir jadi pengantin . . . coba kau bilang patutkah aku merasa tidak gembira?". "Tidak, rasa girang dari Ti Kiauw-tauw kali ini sangat luar biasa sekali, perasaan gembira ini belum psrnah ditemui sejak Ti Kiauw- tauw memasuki benteng Pek Kiam Poo".

"Kau jangan omong sembarangan!".

“Sungguh, hamba yang selama hidup bekerja sebagai pelayan paling pinter melihat perubahan wajah dari majikanku, hati majikanku lagi senang atau sedih hamba mengetahuinya dengan amat jelas sekali".

Ti Then tidak banyak bicara lagi dengan dirinya, dia lantas berjalan keluar dari kamar dan menuju ke ruangan makan, karena waktu itu adalah waktu bersantap.

xxxxx

Selesai bersantap dia berjalan menuju ke kamar Wie Lian In, saat itu dia melihat Wie Lian In lagi duduk disamping Mong Yong Sian Kauw itu si ciangbunjin dari Tiang Pek Pay dan melihat dia sedang menyulam.

Dengan amat hormatnya dia lantas menjura kepada diri Mong Yong Sian Kauw setelah itu baru ujarnya kepada diri Wie Lian In:

"Coen Lan tadi bilang kau ada urusan mencari aku ?". "Aaaah . . tidak ada urusan yang penting" sahut Wie Lian In

sambil tertawa malu. "Mong Yong ciangbunjien lagi memberi

pelajaran menyulam kepadaku, aku ingin membuatkan satu kantongan uang buat dirimu cuma saja tidak tahu kau suka kembangan yang bagaimana maka aku sengaja mengundang kau kemari".

"Tidak boanpwee sangka Mong Yong ciangbunjin pun bisa menyulam, sungguh luar biasa sekali" puji Ti Then kepada Mong Yong Sian Kauw sambil tertawa.

"Aku adalah seorang perempuan sudah tentu mengerti akan menyulam, hal ini ada apanya yang aneh?7" seru Mong Yong Sian Kauw tertawa pula. "Tetapi kau sebagai seorang ciangbunjien suatu partai besar bagaimana ada waktu untuk mempelajari soal begini ??".

"Sekarang aku adalah seorang ciangbunjien tetapi sewaktu kecil tidak, permainan macam ini aku mempelajari ini dari ibuku semasa kecil".

Waktu ini dia sedang menyulam sebuah bunga Bwee, kelihatan sulamannya amat bagus sekali.

"Agaknya ciangbunjien amat suka dengan bunga Bwee?" tanya Ti Then lagi.

"Bukankah julukanku sebagai sekuntum bunga Bwee?". "Mong Yong ciangbunjien bukan saja pandai membuat bunga

Bwee bahkan bunga yang lain pun saagat indah sekali" timbrung Wie Lian In dari samping.

"Lalu kau sendiri sudah bisa mempelajari berapa macam?” tanya Ti Then terhadap diri sang nona.

"Sama sekali tidak bisa, maka itu aku mau tanya dulu kau suka dengan bunga apa, setelah kau menyebutkannya maka aku akan mempelajarinya dari Mong Yong ciangbunjien!".

Mendengar perkataan tersebut Ti Then segera tersenyum. "Bilamana diatas kantongan uang disulam sekuntum bunga, hal

ini aku rasa rada kurang bagus.” "Kenapa ?"

"Mudah menghamburkan uang hingga habis!" jawab Ti Then sambil tertawa. (Huruf Tionghoa "Hoa" berarti bunga, berarti pula menghamburkan).

Wie Lian In segera tertawa cekikikan, “Uang yang ada didalam kantongan uang memang seharusnya di-hambur-hamburkan!" serunya. “Mengirit adalah satu kebaikan, buat apa orang harus menghambur-hamburkan uang? aku lihat lebih baik kau sulamkan sebuah kepala harimau saja”

"Kepala macan?" tanya Wie Lian In melengak,

"Benar?" jawab Ti Then tsrtawa. "Bilamana diatas kantongan uang disulam dengan seekor kepala macan maka setiap kali aku merogoh kantong untuk mengamhil uang lantas bisa merasakan seperti masuk kedalam mulut macan, maka setiap pengeluaran sangat berhati-hati."

Wie Lian In serta Mong Yong Sian Kauw yang mendengar perkataan tersebut tak terasa lagi segera tertawa keras.

Pada saat mereka bertiga sedang bercakap-cakap itulah mendadak dari luar bangunan terdengar suara si Loo-cia pelayan tua itu sedang berteriak teriak:

"Ti Kiauw tauw . . Ti Kiauw-tauw... diluar ada seorang tamu yang sedang mencari dirimu!"

Mendengar perkataan tersebut Ti Thens segera merasakan hatinya tergetar amat keras, dengan terburu-buru dia mohon pamit dan berjalan keluar.

"Siapa?" tanyanya setelah bertemu muka dengan Loocia si pelayan tua itu.

"Orang itu tidak suka melaporkan namanya, dia cuma bilang dirinya kenal dengan Ti Kiauw tauw dan sekarang ada urusan untuk bertemu muka.”

Ti Then merasa tidak mungkin ada seorang kawannya yang sengaja datang untuk bertemu muka dengan dirinya karena itu dalam hati dia merasa amat curiga, tanyanya lagi :

"Bagaimana potongan dari orang itu ?".

"Katanya seorang kakek tua, hamba tidak melihatnya sendiri sehlngga tidak begitu jelas". "Sekarang dia ada dimana?”

"Masih ada didalam pintu luar benteng".

Dengan langkah yang tergesa-gesa Ti Then segera berjalan keluar dari pintu luar Benteng.

Sewaktu tiba dihalaman depan dia bertemu muka dengan Wie Ci To.

"Loo-cia bilang di luar ada seorang kakek tua yang hendak bertemu dengan siauw say!" katanya sambil menghentikan langkahnya.

"Benar, mari kita berjalan keluar untuk melihat sebentar" ujar Wie Ci To sambil mengangguk.

Tua muda dua orang segera berjalan keluar dari pintu Benteng, terlihatlah didepan pintu berdiri seorang kakek tua berbaju hijau dengan pada kepalanya tertutup oleh sebuah topi lebar yang terbuat dari rerumput, saat ini dia sedang menundukkan kepalanya sebingga tidak terlihat wajahnya, tetapi jika ditinjau dari sikapnya tidak salah lagi dia adalah searang jagoan dari Bu-lim.

Ti Then sagera mengerutkan alisnya cepat 2, sambil maju merangkap tangannya memberi hormat ujarnya :

"Cayhe adalah Ti Then, entah…”

Si kakek tua berbaju hijau itu mendongakkan kepalanya lalu tersenyum.

Melihat kedatangan dari orang itu, terasa lagi Ti Then segera tertawa sanang, dengan gugup dia berlari kedepan dan jatuhkan diri berlutut.

"Aaaah . , , kiranya adalah Yuan Loocianpwee ..."

Suaranya gemetar, jelas hatinya merasa sangat terharu sekali! Tidak salah, kakek tua itu adalah Piauw Tauw dari Yong An

Piauw-kiok, Si Kiem Kong So, Yuan Siauw Ko adanya. Dengan cepat Yuan Siauw Ko membangunkan dia.

"Tidak usah banyak adat " ujarnya sambil tertawa. "Loohu dengar kau sudah hampir menikah maka sengaja berangkat kemari untuk menengok dirimu."

Bertemu dengan orang ini Ti Then merasa bertemu dengan orang yang paling rapat dengan dirinya, dsngan rasa yang amat girang dia lantas menoleh kearah Wie Ci To dan ujarnya.

"Gak-hu, dialah Piauw-tauw dari Yong An Piauw-kiok!" "Nama besar dari Yuan-heng sudah lama aku orang she Wie

kagumi, selamat bertemu! selamat bertemu! " ujarnya sambil merangkap tangannya menjura.

Dengan gugup Yuan Siauw Ko pun membalas hormat itu. "Kunjungan yang mendadak harap Wie Poocu suka jangan

marah."

"Mana . . . mana . . mari masuk ke dalam untuk minum teh".

Sambil berkata dia menyingkir ke samping mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam.

Mereka bertiga segera mengambil tempat di ruangan tengah Benteng dan duduk menurut urutan.

Ti Then lantas menghidangkan air the, setelah masing2 pihak berbicara beberapa kata kesopanan terdengarlah dengan wajah serius Wie Cl To berbicara:

“Mengenai peristiwa lenyapnya barang kawalan sewaktu Ti Then bekerja di dalam Piauw-kiok Yuan-heng, aku orang she-Wie baru tahu pada kurang lebih sebulan yang lalu, karena urusan ini bocah ini makan tidak enak tidur tidak tenang. Tetapi aku orang she-Wie sudah berjanji setelah perkawinan mereka aku akan mengerahkan ssluruh pendekar pedang yang ada untuk menyelidiki jejak dari si Hong Liuw Kiam Khek ini, aku tidak percaya dia bisa lenyap". "Bilamana Wie Poocu suka turun tangan memberi bantuan sudah tentu Loohu merasa sangat berterima kasih sekali" ujar Yuan Siauw Ko sambil tertawa. "Tetapi sejak semula Loohu sudah tidak pikirkan urusan ini didalam hati, apakah lain kali berhasil menemukan kembali barang kawalan yang lenyap itu soal tersebut sudah tidak terlalu penting lagi."

"Apa maksud dari psrkataan Yuan-heng itu?”

"Loohu sudah mengganti lenyapnya barang itu dengan si pemilik barang, sedang terhadap mereka pun tidak ada tanggung jawab lagi maka itu dapatkah kita menemukan kembali barang itu loohu rasa bukanlah satu urusan yang penting."

"Yuan-heng sangat lapang dada menganggap harta seperti kotoran, sungguh membuat Loohu merasa amat kagum, tetapi di pihak Ti Then hal ini tidak bakal menenangkan hatinya, karena dia sudah mencelakai seluruh keluarga Yuan-heng.”

"Usia Loohu sudah lanjut, terhadap pekerjaan pun sudah tidak terlalu mementingkan, setelah berkelana selama beberapa tahun didalam Bu-lim, loohu merasa sudah bosan dan ingin beristirahat saja.”

“Tidak perduli bagaimana pun lenyapnya barang kawalan itu harus berusaha untuk dicari kembali” ujar Wie Ci To dengan wajan yang amat serius. “Hal ini bukan saja demi Yuan-heng tetapi demi Ti Then pula. Sejak dia menjabat sebagai Kiauw tauw didalam benteng aku orang she Wie jarang sekali melihat wajahnya menampakkan kegembiraan, selalu saja dia merasa amat murung, kini dia sudah menjadi menantu dari aku orang she Wie, maka aku orang seharusnya memberi satu kebahagiaan kepada mereka.

Mendengar psrkataan tersebut saking terharunya tidak kuasa lagi Ti Then mengucurkan air matanya,

Dia benar2 merasa terharu, luka dihatinya pun terungkap kembali.

Dengan sedihnya Yuan Siauw Ko menghela napas panjang. “Sudah tentu Loohu sendiri pun sangat mengharapkan barang kawalan yang sudah lenyap itu bisa dicari kembali, bilamana Wie Poocu bisa bantu mencarinya kembali maka Loohu bersedia untuk menyumbangkan separohnya untuk menolong kaum miskin”

“Lao-heng serta putrimu apa tidak ikut datang ?” tiba-tiba Ti Then menyambung dari samping.

“Setelah pertemuan kita dulu, sebulan kemudian Loohu sudah menikahkan Lao Ie dengan putriku, kini mereka tinggal di rumah”

"Apakah mereka sudah tidak ikut loocianpwee menjual silat ?” "Benar! " Sahut Yuan Siauw Ko sambil mengangguk. "Alasannya

ada dua, pertama; sekaraag Lan-jie sudah mengandung sehingga

tidak leluasa baginya untuk berluntang-lantung didalam dunia kangouw. Kedua: Lao Ie sekarang sudah menjadi Piauw-su dari Liong Hauw Piauw-kiok, penghidupan mereka pada saat ini lumayan juga”

"Lalu kau sendiri?” tanya Ti Then dengan rasa kuatir. "Menganggur, heeeei di kota Han Yang Loohu buka sebuah

perguruan silat dan menerima murid, idep2 mencari tambahan

sesuap nasi!”

"Bilamana bisa mencari satu tempat untuk tinggal memang jauh lebih baik dari pada harus berkelana terus didalam Bu-lim " seru Ti

Then dengan rada lega.

"Kapan kau akan menikah dengan nona Wie ?" tanya Yuan Siauw Ko kemudian.

"Masih ada enam belas hari lagi".

"Apakah Yuan-heng suka menetap selama beberapa hari disini ?” sambung Wie Ci To kemudian.

"Baiklah, Loohu sengaja datang kemari untuk memberi selamat sudah tentu baru pulang setelah perkawinan mereka selesai, asalkan tidak mengganggu ketenangan didalam Benteng, loohu tentu akan tinggal disini". "Aaaah . . . buat apa Yuan-heng membicarakan perkataan tersebut ? Tempo hari aku orang she Wie pun pernah membicarakan soal Yuan-heng dengan diri Ti Then, cuma karena tidak mengetahui dimanakah Yuan-heng berada maka sulit untuk mengirim undangannya keluar, kini Yuan-heng sudah datang, sudah tentu hal ini amat bagus sekali”

Sedang mereka bercakap-cakap terlihatlah ciangbunjien dari Kun Lun Pay Kiem Cong Loojien ber-sama2 dengan ciangbunjien dari Tiang Pek Pay, Mong Yong Sian Kauw sudah berjalan masuk ke dalam ruangan.

Dengan cepat Wie Ci To memperkenalkan mereka berdua dengan Yuan Siauw Ko setelah itu baru ber-sama2 mengambil tempat duduk, karena semuanya adalah orang2 dari kalangan dunia kangouw maka apa yang dibicarakan pun tidak akan lebih dari persoalan tersebut.

Malam itu Wie Ci To mengadakan perjamuan untuk menjamu diri Yuan Siauw Ko, orang yang ada didalam perjamuan itu, Kiem Cong Loojien. Mong Yong Sian Kauw, mereka dengan amat gembiranya bersantap dan minum arak sehingga tengah malam baru bubaran.

Setelah itu Ti Then menghantar sendiri Yuan Siauw Ko ke dalam kamarnya untuk beristirahat.

“Malam sudah larut, kau pun kembalilah ke kamar untuk beristirahat, ada perkataan kita bicarakan lagi besok pagi”. katanya kemudian.

Ti Then ssgera menyahut dan mengundurkan diri dari ruangan tersebut.

Pada saat dia mengundurkan diri kedalam kamarnya itulah langkahnya amat perlahan sekali, beberapa kali dia kepingin berhenti dan berbicara sepuasya dengan Yuan Siauw Ko.

Dia ingin memberitahukan rahasia dirinya kepadanya, dia akan menceritakan bagaimana dia diperalat oleh majikan patung emas. Rasa hormatnya terhadap si Kiam Kong So Yuan Sauw Ko ini tidak berada dibawah Wie Ci To, karena Yuan Siauw Ko adalah merupakan seorang jagoan Bu lim yang paling disayang olehnya, dia pernah mengangkat dirinya, memberi petunjuk kepadanya bahkan menyayangi dirinya.

Sesuatu kehilangan barang kawalan tempo hari pun bukan saja dia tidak memaki dirinya bahkan terus menerus menghibur dirinya.

Karena itu di dalam hatinya Yuan Siauw Ko adalah seorang ayah yang pstut dihctmati dan disayangi, sekarang dirinya menemui urusan yang menyulitkan dia ingin mengutarakan seluruh kesulitan itu kepadanya.

Tetapi berbagai ingatan kembali berkelebat memenuhi seluruh benaknya, akhirnya dengan paksakan diri dia membatalkan maksud hatinya itu dan berjalan kembali ke kamarnya.

Karena dia sudah memikirkan akan satu hal dia merasa kuatir bilamana hal ini sampai diketahui oleh majikan patung emas atau mata2 yang dikirim olehnya untuk mengawasi dan memperdengarkan apa yang dikatakaa olehnya Yuan Siauw Ko bakal menemui kematian yang mengerikan sekali,

Hal ini boleh dikata ada kemungkinan bisa terjadi, majikan patung emas tidak akan membiarkan orang ketiga untuk ikut mengetahui rencana busuknya ini, sewaktu dia mengetahui kalau Yuan Siauw Ko pun mengetahui akan rahasianya ini maka dia bisa turun tangan membinasakan dirinya.

Maka itu setelah berpikir pulang pergi akhirnya dia paksakan diri untuk bersabar.

Sekembalinya kedalam kamar dia lantas mencuci muka, membuka pakaian dan tidur.

Malam itu kembali Majikan patung emas munculkan dirinya.

Dengan diam2 dia menurunkan patung emasnya kebawah lalu menggerakkan patung tersebut untuk membangunkan Ti Then. "Ti Then, kau bangunlah!" tegurnya.

Dengan cepat Ti Then membuka matanya kembali. "Ada urusan apa?”

"Aku man membicarakan soal Kiam Kong Su Yuan Siauw Ko dengan dirimu".

"Kenapa ?" tanya Ti Then tawar.

"Aku ingin mengetahui hubunganmu dengan si tangan baja Yuan Siauw Ko itu?"

"Tidak perduli aku mempunyai sangkut paut apa dengan dirinya hal ini tiada hubungannya dengan dirimu".

"Sekarang kau masih merupakan patung emasku " bentak majikan patung emas dengan gusar. "Sekalipun aku suruh kau mengorek keluar hatimu kaupun harus melaksanakannya.”

“Baik, aku akan mengorek hatiku baru kau lihat2".

Sehabis berkata dari dalam sakunya dia mencabut keluar sebilah pisau belati.

Agaknya majikan patung emas merasa amat terkejut sekali melihat kejadian itu.

"Tidak, aku tidak akan taruhan dengan dirimu" serunya dengan terburu-buru, "Aku tidak menyuruh kau untuk mengorek keluar hatimu".

"Hmmm! aku sih mengharapkan sekali kau benar2 memerintahkan aku untuk mengorek keluar hatiku, dengan demikian semua kesulitanku bisa musnah" seru Ti Then sambil tertawa pahit.

Nada suara dari majikan patung emas seketika itu juga berubah jauh lebih lunak lagi.

"Aku cuma ingin mengetahui hubungan diantara kalian, apakah soal inipun tidak boleh dikatakan?" "Sewaktu ada di gua Hu Lu Tong di gunung Ccen san kau pernah berjanji tak akan mendesak aku untuk membuka rahasia".

Majikan patung emas termenung sebentar, akhirnya dia menyahut.

“Baiklah, kau tidak usah mengatakan pun tidak mengapa, padahal aku cuma ingin membantu kau..”

“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku mempunyai kesulitan yang membutuhkan bantuan dari orang lain ?” desak Ti Then dengan sedikit tergerak.

“Aku bisa melihatnya.”

“Kemunculanmu malam ini apakah sengaja hendak menyampaikan maksud baikmu itu?”

“Di samping itu aku mau mengatakan satu hal kepadamu aku merasa bahkan hubunganmu dengam Yuan Siauw Ko agaknya amat rapat sekali, tetapi bagaimanapan hubungan diantara kalian berdua aku melarang kau untuk menceritakan urusan di antara kita ini kepadanya.

“Bilamana aku memberitahukan rahasia ini kepadanya kau punya maksud untuk berbuat apa?”

“Aku bermaksud untuk berbuat apa tentunya kau bisa menebaknya sendiri bukan?” seru majikan patung emas dengan dingin.

“Bilamana secara diam2 aku memberitahu kepadanya ?" tanya Ti Then dengan nada mencoba.

"Soal itu tidak akan mengelabuhi diriku " jawab majikan patung emas sambil tertawa dingin.

"Benar " kata Ti Then sambil mengangguk. "Ada seseorang yang bersembunyi di dalam benteng dan setiap waktu setiap saat mengawasi setiap gerak gerikku secara diam2 ..."

"Hmm! kalau kau sudah tahu itulah sangat bagus sekali” "Kau ingin menakut nakuti diriku ?”

"Bukannya menakuti dirimu " sahut majikan patung emas sepatah demi sepatah. "Aku benar2 bisa berbuat demikian, setiap kali aku melihat kau hendak membocorkan rahasiaku maka aku bisa perintah dia untuk membunuh mati orang itu".

"Kau berlegalah hati. bilamana aku bermaksud hendak memberitahukan urusan ini kepadanya maka sewaktu tadi aku membawa dia kedalam kamar aku bisa memberitahukan hal ini kepadanya, aku tidak akan menanti sampai sekarang".

"Aku sangat tidak ingin membunuh mati sahabatmu yang paling intim maka itu aku memberi peringatan kepadamu, lebih baik kau sedikit berhati-hati".

“Terima kasih atas peringatanmu, aku bisa meng-ingat? urusan dihati".

Nada suara dari majikan patung emas kembali berubah jadi amat halus.

"Apakah kau sudah mengambil keputusan untuk tidak memberitahukan kepadaku apakah hubungannya antara dirimu dengan dia orang?".

"Hubunganku dengan dirinya Wie Ci To ayah beranak pun sudah tahu, maka aku bermaksud hendak menceritakan rahasia ini kepadamu".

Segera dia menceritakan kisahnya pada dua tahun yang lalu sewaktu dia menjadi Piauw-su diperusahaan Yong An Piauw-kiok lalu bagaimana sewaktu melindungi suatu barang sudah kena dicegat oleh si "Hong Liuw Kiam Khek" Ih Ping Siauw lalu bagaimana ia dikalahkan dan seterusnya.

Selesai mendengar kisahnya itu majikan patung emas lantas tertawa.

"Tidak aneh kalau kau ingin mencari si kakek pemalas Kay Kong Beng untuk mengangkatnya sebagai guru, haaa . , haaa . . kiranya kau ingin belajar ilmu silat kemudian mencari Ih Ping Siauw untuk membalas dendam".

"Sekarang kau sudah tahu rahasia hatiku, tolong tanya bagaimana kau ingin membantu aku untuk menyelesaikan urusan ini?"

Majikan patung emas termenung sebentar, akhirnya dia menjawab:

“Walaupun didalam urusan ini aku bermaksud untuk membantu dirimu tetapi tidak akan aku lakukan secepat mungkin, unsan itu bisa aku kerjakan setelah tujuanku tercapai sukses”

"Menanti setelah tujuanmu tercapai aku bisa pergi mencarinya sendiri, buat apa membutuhkan bantuanmu lagi?”

"Kau seorang diri mau pergi mencari kemana ? bila ada aku yang memberi bantuan . . .”

"Semoga saja kau tidak tertarik oleh karena intan permata tersebut " potong Ti Then dengan cepat.

"Itulah pikiran dari seorang manusia rendah " Seru majikan patung emas dengan nada tidak senang. "Walaupun intan permata itu nilainya ada diatas ratusan laksa tahii tetapi aku tidak akan memandangnya barang sebelah matapun"

Ti Then termenung tidak menjawab. Majikan patung emas segrra menarik kembali patung emasnya keatas.

"Ingat !” ujarnya lagi. "Bilamana kau tidak ingin melihat Yuan Siauw Ko mati dengan sangat mengerikan maka urusanku janganlah kau bocorkan kepadanya.”

XXX

Hanya didalam sekejap saja enam hari sudah berlalu.

Jarak dengan hari perkawinanpun tinggal sepuluh hari saja ! Hari itu mcndekati lohor sipendekar pedang penembas ulu hati Shia Pek Tha sudah kembali kedalam Benteng. Setelah menemui Poocu Wie Ci To, sewaktu didengarnya Ti Then lagi main catur dengan Kiem Cong Loojien di kebun dia lantas berjalan menuju kesana.

XxxdwxxX

TI THEN yang lagi bermain catur di dalam gardu kebun, sewaktu dilihatnya Shia Pek Tha berjalan mendekat, semangatnya mendadak berkobar.

"Shia heng kau sudah kembali?" tanyanya. "Benar, baru saja pulang "

Ti Then yang melihat adanya Kiem Cong Loojien disana merasa tidak leluasa untuk menanyakan jejak dari Phoa Loo Tek di hadapannya, segera sambil manuding kearah bangku batu dia berseru:

"Shia-heng, silahkan duduk disini."

Shia Pek Tha segera memberi normat kepada Kiem Cong Loojien setelah itu baru duduk disampingnya.

"Bagaimana kesudahan dari permainan semula?" tanyanya sembari memperhatikan permainan catur itu.

"Seri . . . sudah main dua kali, satu menang satu kalah, sekarang adalah permainan yang ketiga".

"Agaknya didalam permainan kali ini ciangbunjien sudah ada diatas angin".

Kiem Cong Loojien segera terlawa ter-bahak2.

"Has haa kentutnya yang ada di atas angin! pada permainan

yang semula pun loolap selalu memimpin didepan tetapi setelah sampai pada akhirnya selalu saja menemui kegagalan, permainan catur dari Ti Kiauw-tauw ini sangat aneh sekali !".

Mendadak Ti Then menggerakkan biji caturnya. "Biji catur ini harus dihidupkan" serunya keras. Dengan rasa tegang Kiem Cong Loojien segera memperhatikan biji catur dari Ti Then tersebut setelah itu berpikir sebentar akhirnya dengan wajah yang amat girang tanyanya:

"Kau sudah pasti ?".

“Pasti!” jawab Ti Then mengangguk.

"Kau tidak boleh mengulangi kembali biji caturmu lho!" "Ciangbunjin kapan melihat aku ber main curang?"

"Bagus sekali, permainan caturmu kali ini sudah mati !" sahutnya. Sambii berkata dia menjalankan sebuah biji caturnya.

Melihat akan hal itu Ti Then segera menjerit keras: "Aduh . . . celaka ! celaka! kiranya mataku sudah buta." "Haa ,. . sekarang kau sudah kalah aku lihat . . "

Ti Then segera membubarkan biji2 catur tersebut. "Boanpwee mengaku kalah!" serunya sambil tertawa pahit. Agaknya Kiem Cong Loojien merasa amat bangga sekali.

"Bagaimana?" Ujarnya sambii tertawa "Permainan catur dari Loolap tidak jelek bukan?"

"Benar, tidak disangka permainan catur dari ciangbunjien sangat lihay sekali sungguh mengagumkan!"

Berbicara sampai disini dia lantas bangkit berdiri.

“Tetapi boanpwee masih tidak mau mengaku kalah, besok pagi kita teruskan lagi dengan dua kali permainan !".

"Selalu menanti petunjuk darimu" jawab Kiem Cong Loojien sambil tertawa.

Dia lantas membereskan catur itu lalu bertiga berjalan keluar dari kebun. Ti Then serta Shia Pek Tha mengawani Kiem Cong Loojien kembali kedalam kamarnya terlebih dulu setelah itu baru kembaii lagi kedalam kebun,

Ti Then yang melihat ditempat itu tidak kelihatan ada orang lain segera tanyanya dengan suara perlahan:

"Bagaimaaa ?”

"Dugaan dari Ti Kiauw-tauw sedikitpun tidak salah, Phoa Loo Tek benar-benar sangat mencurigakan sekali" sahut Shia Pek Tha dengan air muka yang berubah amat keren.

Mendengar perkataan tersebut Ti Then hanya merasakan hatinya berdebar amat keras, tanyanya dengan cemas:

"Apa yang dikatakan oleh orang tuanya?”

"Dia sama sekali tidak pulang kerumah, orang tuanya bilang Loo Tek sudah ada setahun lamanya tidak pernah puiang!".

"Jika demikian adanya, didalam hal ini tentu ada suatu persoalan yang mencurigakan".

"Dia keluar benteng dengan alasan hendak pulang menemui orang tuanya tetapi dia tidak kembali hal ini jelas sekali menunjukkan kalau ditempat luaran dia sudah melakukan suatu pekerjaan yang tidak genah, urusan ini harus cepat2 dilaporkan kepada Poocu" ujar Shia Pek Tha dengan wajah ssrius.

"Tidak bisa jadi!" bantah Ti Then sambil gelengkan kepalanya. "Kenapa?”

"Apa yang sudah dilakukan oleh Phoa-heng selama ditempat luaran kita sama sekali tidak tahu, apalagi hari perkawinan dari siauw-te pun sudah dekat, lebih baik didalam waktu seperti ini jangan mengganggu diri Poocu",

Agaknya Shia Pek Tha merasa kalau perkataannya ini sedikitpun tidak salah, dia lantas mengangguk. "Kalau begitu, Ti Kiauw-tauw rasa kita harus berbuat bagaimana baiknya?"

"Besok pagi Siauw-te akan meminjam kesempatan ini untuk keluar dari Benteng; setelah itu Shia-heng pura2 teringat kalau masih ada dua orang kawan yang belum kebagian undangan, maka kirimlah dia serta Yuan Cia untuk membawa undangan itu, sudah tentu kedua buah undangan itu harus mempunyai tujuan yang berbeda, hingga dengan demikian Siauw-te bisa mencegatnya ditengah jalan dan menanyainya dengan se-jelas2nya."

"Ehm ... ini memang suatu cara yang amat bagus sekali ..." "Coba Shia-heng pikirkan apakah masih ada sahabat yang belum

kebagian undangan?”

Shia Pek Tha termenung berpikir sebentar setelah itu baru jawabnya :

"Diatas gunung Cing Shia masih ada seorang To Pit Toojien yang ada perkenalan satu kali jumpa, karena sifatnya yang suka menyendiri dan tidak akur untuk berkumpul dengan orang maka undangan itu tidak dikirim buatnya, tetapi bilamana membagikan undangan ini kepadanya pun boleh juga ..."

“Kalau begitu kirimlah dia pergi!”

"Di kota Tiong Lam didaerah Siok Tiong ada seorang hartawan Cau yang boleh juga dibcri undangkn tetapi kenapa kau ingin menggunakan cara ini"

“Bilamana di dalam waktu yang bersamaan Shia-heng mengirim mereka berdua untuk kirim undangan maka dia orang baru tidak menaruh rasa curiga."

"Baiklah Besok pagi Cayhe akan kirim dia menuju ke gunuug Cing Shia, sedang mengirim Yuan Cia ke kota Ticng Lam.. Bilamana Ti Kiauw tauw ingin menanyakan dirinya maka kau boleh mencegatnya ditengah jalan, biiamana alasan yang dikatakan amat masuk diakal maka lepaskan dia pergi tetapi jikalau alasannya terlalu dibuat-buat maka segeralah membawa dia pulang untuk dihadapkan kepada Poo-cu!"

Setelah mengadakan perundingan beberapa saat lamanya mereka berdua baru berjalan keluar dari kebun itu dan kembali ke dalam kamarnya masing2.

Sekembalinya didalam kamar Ti Tthen segera naik keatas pembaringannya untuk beristirahat, dengan amat tenang dia mulai memikirkan satu peristiwa yang sulit dan berada diluar dugannya.

Hal itu adalah: Sewaktu besok pagi dia mencegat diri Phoa Loo Tek ditengah perjalanan dan akhirnya membuktikan kalau dia benar2 anak buah dari majikan patung emas, setelah itu dia harus mengambil tindakan apa untuk memberi hukuman kepadanya ?

Sudab tentu dirinya harus memaksa dia untuk mengakui siapakah nama serta asal usul dari majikan patung emas, setelah itu memaksa dirinya pula untuk mengaku siasat apa yang sudah disusun olehnya, tetapi tidak perduli dia mengatakan apa pun akhirnya dia harus mengambil suatu tindakan terhadap dirinya.

Bunuh matia dia orang? Tentu Tidak!

Bilamana membisakan dirinya dia bisa mengelabuhi diri majikan patung emas, tetapi bagaimana dia harus bertanggung-jawab terhadap Wie Cito serta Shia Pek Tha?

Lepaskan dia pergi?

Hal ini semakin tidak mungkin lagi.

Bilamana majikan patung emas mengetahui kalau dia berhasil menawan “Anak buahnya”nya, mana mungkin dia mau berpeluk tangan.

Persoalan ini terus menerus berkelebat di hatinya, akhirnya saking tidak kuatnya Ti Then mengambil keputusan untuk menentukan sikapnya setelah situasi berada dihadapan mata. xxxx

Hari kedua, dia minta ijin kepada Wie Ci To dengan alasan hendak mencari angin di luar benteng, dengan menunggang kudanya dia lantas meninggalkan benteng Pek Kiam Poo.

Didalam perjalanannya menuju ke kota Go-bie, dia sama sekali tidak berhenti, setelah melewati kota sebelah utara dia melanjutkan kembali perjalanannya sejauh beberapa li dan sampailah di suatu tempat pegunungan yang amat sunyi dengan disampingnya tumbuh lebat pepohonan yang besar.

Setelah turun dari kudanya dan mengikat tunggangannya baik2, dengan amat tenangnya Ti Then duduk disamping hutan untuk menunggu.

Jalan raya ini adalah satu jalan yang harus dilalui bilamana hendak menuju ke gunung Ching Shia, di dalam hati dia memastikan kaiau Phoa Loo Tek pasti akan melewati tempat ini.

Kurang lebih setelah menunggu satu jam lamanya, akhirnya terdengarlah olehnya suara derapan kuda yang amat ramai bergema mendatang.

Dengan gesitnya Ti Then meloncat bangun dan berdiri di samping hutan, ketika menengok kearah sebelah depan terlihatlah dari arah kota Go-bie berlarilah mendatang seekor kuda dengan amat cepatnya.

Dalam hati dia lantas menduga kalau orang itu pastilah Phoa Loo Tek adanya, karena itu sengaja dia duduk disamping jalan pura2 lagi beristirahat

Hanya didalam sekejap saja kuda itu sudah berada dekat dengan dirinya.

Tetapi ketika dia dapat melihat si penunggang kuda itu, seketika itu juga dia orang dibuat tertegun. Kiranya orang yang ada di atas kuda itu bukan Phoa Loo Tek, melainkan seorang pendekar pedang merah yang lain dari benteng Pek Kiam Poo.

Pendekar pedang merah itu bernama Tong Ceng Boe dan merupakan salah seorang pendekar pedang merah yang pernah menerima petunjuk ilmu silat dari diri Ti Then.

Bukankah terang2an orang yang di kirim untuk membagi undangan itu adalah Phoa Loo Tek, bagaimana secara tiba2 orang bisa berganti dengan Tong Ceng Boe?

Untuk beberapa saat lamanya Ti Then dibuat kebingungan.

Tong Ceng Boe yang melihat Ti Then ada di samping jalan, air mukanya pun kelihatan sedikit berubah, dengan gugup dia lantas menahan tali les kudanya dan meloncat turun ke atas tanah.

-oo0dw0oo-