Pendekar Patung Emas Jilid 35

 
Jilid 35

“LOOHU jarang sekali mengikat permusuhan dengan orang lain dikarenakan urusan pribadi bilamana para jagoan dsri kalangan hek- to yang pernah loohu kasi hukuman dahulu sekarang menaruh dendam kepadaku hal itu yaa boleh dikata merupakan satu hal yang jamak.”

“Sewaktu boanpwee belum memasuki benteng Pek Kiam Poo, terhadap diri Gak-hu pun pernah menaruh satu perasaan … “ kata Ti Then.

“Eeeei . . . perasaan apa ?” tanya Wie Ci To sembari memperhatikan wajahnya dalam2.

Setelah mendengar perkataan dari boanpwee, Gak-hu jangan marah lhoo.” ujar Ti Then tertawa.

"Loohu tidak akan marah, kau boleh langsung berkata terus terang saja."

„Boanpwee merasa seluruh perbuatan serta gerak gerik dari Gak- hu mengandung kemisteriusan hingga membuat orang merasa susah untuk mengambil dugaan.”

"Kau maksudkan dari segi apa?" tanya Wie Ci To tertawa. "Semisalnya dengan loteng penyimpan kitab itu ”

"Rahasia yang menyelubungi loteng Penyimpan kitab itu sudah kau ketahui “ Potong Wie Ci To dengan cepat. "Di tempat itu kecuali menyimpan sebuah kenangan lama yang sukar loohu lupakan sama sekali tidak menyimpan rahasia apapun !"

"Sudah tentu boanpwee mau pecaya terhadap apa yang Gak-hu katakan. tetapi boanpwee rasa orang luar tidak bakal mau percaya. mereka tentu akan menganggap Gak-hu menyimpan barang pusaka yang berharga didalam Loteng penyimpan kitab tersebut."

Wie Ci To yang mendengar perkataan itu lantas tertawa. "Jago Bu~lim yang mengetahui kalau loohu memiliki sebuah Loteng Penyimpan

kitab yang melarang setiap orang memasuki tempat itu sudah tidak sedikit jumlahnya, tetapi selama puluhan tahun ini tiada seorang pun yang berani mengadakan penyelidikan kedalam Loteng tersebut, kini mereka sudah tidak merasa keheranan lagi terhadap tempat itu."

“Hanya untuk menyimpan sebuah lukisan serta sebuah rahasia pribadi Gak-hu harus membangun sebuah loteng penyimoan kitab yang demikian kuatnya boanpwee rasa hal ini rada luar biasa, sama saja dengan persoalan kecil yang dibesar2kan"

“Kau berkata demikian apa mungkin di hatimupun sudah menaruh curiga kalau di dalam Loteng penyimpan kitab dari loohu itu sudah tersimpan semacam barang pusaka yang berharga ?" Tanya Wie Ci To sambil memandang tajam dirinya kemudian tertawa.

“Boanpwee menduga bilamana Gak-hu benar2 sudah menyimpan semacam barang di dalam loteng penyimpan kitab itu maka barang itu pasti bukan barang pusaka yang berharga melainkan sebuah benda yang sama sekali tidak berharga tetapi mempunyai sangkut paut yang amat besar sekali dengan keselamatan kita semua, atau boleh dikata sifat dari barang itu ada kemiripan dengan potongan pedang pendek dari Cuo It Sian, bukan begitu ?"

Wie Ci To tersenyum tetapi tidak memberikan jawabannya, lewat beberapa saat kemudian baru menggelengkan kepalanya.

“Tidak benar. dugaanmu sama sekali salah”

Ti Then pun tertawa. dia tidak banyak berbicara lagi.

Setengah bulan kemudian, akhirnya tua muda dua orang tiba juga didalam Benteng Pek Kiam Poo.

Wie Lian In serta para jagoan pedang yang ada di dalam Benteng sewaktu mendengar berita ini  cepat pada  keluar pintu  Benteng untuk melakukan penyambutan kemudian bsrsama sama masuk kedalam Benteng dan duduk beristirahat di dalam ruangan tamu.

Wie Ci To yang dikarenakan Cuo It Sian sudah melakukan bunuh diri maka dia tidak mengumumkan akan kejahatan yang sudah diperbuat olehnya, oleh sebab itulah terhadap pengalamannya selama ia meninggalkan benteng bersama-sama dengan Ti Then sepatah katapun tidak dia ungkat, dia cuma menanyakan keadaan dari Benteng dari diri si pendekar penembus ulu hati Shia Pek Tha,

“Keadaan Benteag aman tenteram tidak terjadi urusan apapun.” Terdengar Shia Pek Tha memberikan laporannya. “Cuma si Cui lojien dari gunung Cing Shia pernah datang berkunjung mencari poocu untuk diajak main catur tetapi setelah mengetahui poocu tidak ada dalam benteng dia lantas pulang,”

“Baiklah, tidak ada urusan lagi. kalian boleh mengundurkan diri” seru Wie Ci To kemudian sambil mengangguk.

Msnanti setelah Shia Pek Tha serta para jagoan pedang mersh sudah pada mengundurkan diri dari dalam ruangan, Wie Ci To bangun berdiri dan kirim satu senyuman kepada diri Wie Lian In.

“In-jie.” ujarnya dengan halus.

“Bilamana kau ingin mengetahui bagaimana kesudahan dari pekerjaan yang dilakukan loohu serta Ti Kiauw tauw, kau boleh suruh Ti Kiauw tauw menceritakannya loohu sekarang mau beristirahat dulu,”

Selesai berkata dia segera berjaian keluar dari ruangan tersebut.

Menanti setelah bayangan punggung dari Wie Ci To lenyap dari pandangan, dengan tidak sabaran lagi Wie Lian In segera menoleh dan mendesak Ti Then dengan kata2 yang keras.

“Cepat ceritakan, kalian berhasil atau tidak ?”

“Haaa . , haaa . . jangaa keburu, biarlah aku mengembalikan buntalan kedalam kamar dan cuci muka dulu nanti aku tentu menceritakan kisah ini dengan jelas. “Baiklah kalau begitu cepatlah kau pergi aku tunggu dirimu didalam kebun.”

Sekembalinya dalam kamar, Ti Then meletakkan dulu buntalannya keatas meja setelah itu dia baru perintah si Loo-cia mengambil air untuk mencuci muka.

Setelah semuanya selesai dengan langkah perlahan dia baru berjalan menuju kedalam kebun.

Sejak semula Wie Lian In sudah menanti didalam gardu, sewaktu melihat Ti Then muncul disana dia lantas menepuk2 bangu yang ada disamping badannya.

"Mari, duduk disini!" katanya.

Ti Then tanpa berbicara lagi segera duduk disisi badannya.

Wie Lian In segera menjatuhkan diri kedalam pelukannya, dengan wajah yang kikuk ujarnya perlahan:

"Aku mau tanya padamu, beberapa hari ini apakah kau merindukan diriku?".

"Sudah tentu! tiada seharipun aku tidak merindukan akan dirimu!" sahut Ti Then sembari merangkul pinggangnya yang ramping itu.

"Sungguh ?” "Sungguh !!"

"Akupun sangat merindukin dirimu” ujar Wie Lian In lagi dengan pandangan

penuh cinta. "Ada berapa kali aku bermaksud untuk menyusul dirimu".

"Aaaah . . . masih untung kau tidak menyusul diriku". "Kenapa?” Tanya Wie Lian In keheranan. "Urusan sudah terjadi diluar dugaan, kami tidak jadi pergi kekota Tiong Cing Hu. Aku dengan ayahmu berhasil membereskan diri Cuo It Sian didalam perkampungan Thiat Kiam San cung".

“Aaaah . , . Cuo It Sian juga pergi ke perkampungan Thiat Kiam San Cung?" tanya Wie Lian In dengan terperanjat.

"Benar, urusan sebenarnya adalah begini”

Diapun segera menceritakan seluruh kejadian itu kepada diri Wie Lian In.

"Demikianlah. . . . akhirnya dia terdesak dan bunuh diri dihadapan kita !" Terdengar Ti Then mengakhiri ceritanya.

Wie Lian In setelah selesai mendengar cerita itu segera menghembuskan napas panjang2.

"Sungguh tidak disangka bajingan tua itu bisa dilenyapknn dengan demikian mudahnya, bagaimana dia mau melakukan bunuh diri ?" tanyanya.

“Didalam keadaan seperti itu dia tahu untuk meloloskan diri bukanlah satu pekerjaan yang gampang, apalagi ayahmu pun sudah memberi ancaman bilamana dia tidak mau melakukan bunuh diri untuk menebus dosanya maka seluruh kejahatan yang diperbuat akan diumumkan didalam Bu-lim maka itu terpaksa dia harus memilih jalan bunuh diri ini.”

Dengan pandangan penuh rasa kuatir Wie Lian In segera dongakkan kepalanya memandang sepasang mata Ti Then,

“Kau bilang matamu kena disambit kapur oleh si iblis bungkuk Leng Hu Ih, sekarang spa sudah sembuh ?” tanyanya.

“Sama sekali sudah sembuh.” “Luka yang dilengan ?”

“Juga telah sembuh.” “Setelah kau serta Tia menghantarkan dua bersaudara dari keluarga Nyio menemukan tempat dikuburnya jenszah Cau Ci Beng lalu segera berangkat pulang?”

Dari dalam sakunya dia lantas mengambil keluar sebuah kotak dan diangsurkan kepada Wie Lian In.

“Ini terimalah barang hadiah untukmu dari! Nyio Loo cung-cu coba bukalah untuk dilihat-lihat.

“Barang hadiah ?” Tanya Wie Lisn In melengak.

“Benar. sewaktw dia mendengar ayahmu bilang kau hendak kawin dengan aku. maka hadiah ini lantas dititipkan kepadaku untuk disampaikan kepadamu,” ujar Ti Then sambil tertawa.

Air muka Wie Lian In seketika itu juga berobah merah. “Ayahku bilang spa ?” tanyanya dengan malu.

“Dia bilang setelah kembali kedalam Benteng maka dia orang tua segera akan mempersiapkan perkawinan kita.”

Wie Lian In segera membuka kotak itu sewaktu dilihatnya isi dari kotak itu bukan lain adalah sebuah berlian biru tidak kuasa lagi matanya terbelalak lebar,

“Oooh, , Thian!” teriaknya kaget. “Berlian biru ini sangat berharga sekali.”

“Menurut taksiran ayahmu ada kemungkinan berlian itu bernilai sapuluh- laksa tahil perak”

“Barang yang demikian berharganya bagaimana kau berani menerimanya ?” tanya Wie Lian In dengan terkejut bercampur girang.

“Nyio Loo cung-cu jadi orang sangat lapang dada dia paksa aku untuk menerimanya bahkan dia bilang bilamana aku tidak mau terima maka dia sengaja akan kirim orang untuk menghantarkan barang itu kemari” Wie Lian In segera mengambil keluar berlian biru itu dan ditelitinya beberapa saat setelah itu sambil tertawa katanya:

"Mungkin untuk membalas budi kalian yang sudah membantu dia membasmi si iblis bungkuk Leng Hu Ih dan anak buahnya maka sengaja dia hadiahkan barang2 yang berharga, waah . . . aku yang tidak ikut2 malah kecipratan rejeki . .”

“Dia masih hadiahkan barang ini untukku" ujar Ti Then kembali sambil mengeluarkan baju tameng landak psmberian Nyio Sam Pak itu. “Tahukah kau barang apakah ini ??".

Wie Lian In lantas terima pakaian luar tameng landak itu dan diperhatikan beberapa saat lamanya.

"Ooooh sebuah pakaian dalam, agaknya terbuat dari kulit semacam binatang!" katanya.

"Eeehni . . baju ini kalau dipakai dibadan bisa tahan tusukan senjata tajam bahkan dapat msmunahkan pula tenaga lweekang dari jagoan macam apapun".

"Apakah baju luar tameng landak ?” tanya Wie Lian In dengan bersemangat.

"Tidak salah, ternyata kau mengerti juga akan barang berharga" sahut Ti Then sembari mengangguk.

Wie Lian In menarik napas panjang.

“Barang semacam ini bukankah merupakan satu barang pusaka yang di-idam2kan oleh setiap jago Bu-lim?” Serunya dengan hati sangat gembira.

“Sebetulnya aku tidak berani menerima pemberian hadiah yang sangat berharga ini, tetapi Nyio Loo Cung-cu terus menerus mendesak bahkan dia bilang jikalau aku tidak mau menerima maka dia mau berlutut dihadapanku, aku tidak punya akal lagi terpaksa barang ini aku terima.”

Dia berhenti sebentar untuk tukar napas setelah itu sambil tertawa tambahnya : "Padahal aku tidak membutuhkan barang semacam ini, aku sudah mengambil keputusan untuk hadiahkan barang ini kepada orang lain!".

Mendengar keputusan dari Ti Then ini tidak terasa lagi Wie Lian In jadi merasa tegang.

“Tidak boleh . . . tidak boleb, tidak bisa jadi!" Serunya dengan gugup. "Barang pusaka yang di-idam2kan oleh setiap jagoan Bu-lim bagaimana boleh kau hadiahkan kepada orang lain, kau jangan berbuat ke-tolol2an!”

“Aku mau hadiahkan barang ini buat calon istriku yang tercinta apa juga tidak boleh ?” Tanya Ti Then sambil memandang diri Wie Lian In dengan mesra.

Wie Lian In agak tertegun dibuatnya, tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa cekikikan.

“Hmmm sungguh pintar mulutmu, aku tidak mau!” Teriaknya. “Kenapa kau tidak mau ? Tanya Ti Then melengak. “Barang

semacam ini sangat berguna sekali buat dirimu, lain kali bilamana kau keluar Benteng harus memakainya dibadanmu. jikalau misalnya sampai bertemu dengan jagoan yang memiliki kepandaian silat amat tinggi jadi tidak sampai menderita luka.

oooOOOooo 59

Dengan perlahan Wie Lian In segera mencubit pahanya, lalu dengan wajah penuh perasaan cinta kasih ujarnya dengan suara perlahan:

“Oooh.., engkohku yang bodoh, beberapa hari kemudian barangmu sama juga dengan barangku, barangku sama juga seperti barangmu, buat spa kau hadiahkan barang itu kepadaku ?”

Ti Then yang merasa perkataannya sedikit pun tidak salah,segera angkat bahunya dan tertawa. “Kalau begitu lain kali bilamana kau mau keluar pintu maka harus mengabulkan permintaanku untuk memakainya dibadan.”

Wie Lian In segera menganggukkan kepalanya lalu menempelkan pipinya keatas dadanya, dia benar2 sudah dimabuk oleh cinta.

Dari dalam sakunya kembali Ti Then mengambil keluar sebuah kotak.

"Ehmm yang sekarang ini adalah hadiahku yang aku beli sewaktu ada di kota Tiang An, entah sukakah kau dengan barang2 ini?" tanyanya.

"Asalkan kau yang membeli aku tentu suka!"

Sembari berkata dia membuka kotak itu untuk dilihat isinya, terlihatlah tusuk konde, anting2, gelang dan macam2 perhiasan yang memancarkan cahaya terang muncul dihadapan matanya, tidak kuasa lagi dalam hati dia merasa amat girang,

"Bukankah kau pernah bilang hendak membelikan hadiah buatku yang nilainya tidak melebihi satu tahil perak?" Godanya sambil tertawa, "Aku rasa barang2 perhiasan ini tidak sampai satu tahil perak bukan ?"

"Barang2 itu aku beli dengan menggunakan uangku sendiri maka harganya tidak ada batas-batasnya."

"Aku pun sudah belikan beberapa pakaian buat-mu, sekarang barang-barang itu sudah ada didalam kamarku biar nanti aku ambilkan buat kau lihat..."

Mereka berdua duduk ber-mesra2an hingga jauh malam menjelang datang, waktu itulah sambil bergandengan tangan mereka baru berjalan keluar dari dalam kebun menuju kekamar baca untuk menjenguk Wie Ci To sebentar, kemudian ber~sama2 pergi bersantap malam.

Sehabis bersantap Ti Then kambali ke kamarnya untuk membersihkan badan, berganti pakaian lalu jalan2 keluar untuk melakukan perondaan disekeliling Benteng. Sehabis berkata sebentar dengan para jagoan pedang dia baru kembali kedalam kamarnya untuk beristirahat.

Dia tahu tanpa diundang majikan patung emas pasti akan munculkan dirinya ditengah malam, karenanya tanpa mengirim tanda lagi dia lantas naik keatas pembaringan untuk tidur.

Ternyata sedikitpun tidak salah, seperti juga beberapa kali yang lain pada kentongan ketiga tanpa diundang majikan patung emas sudah munculkan dirinya diatas atap rumah, setelah membuka atap dengan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun dia mulai menurunkan patung emasnya.

Kali ini Ti Then merasakan kedatangannya jauh lebih jelas, sesaat sebelum patung emas itu berada ditepi pembaringannya dia sudah terjaga dari pulasnya, dia segera bangun dari tidurnya lalu menarik tali hitam yang mengikat patung emas tersebut.

“Hey agaknya kali ini kau merasa begitu ter-buru2, kenapa selalu saja kau tidak memberikan waktu buatku untuk beristirahat dengan nyenyak?" Teriaknya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara.

Nada ucapan dari majikan patung emas masih tetap dingin, kaku dan sangat tawar sekali.

“Apakah setiap kali kau meninggalkan benteng Pek Kiam Poo tidak pernah tidur dengan nyenyak?" Serunya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara pula.

"Perjalanan jauh melelahkan badan, setelah kembali kedalam Benteng sudah tentu harus tidur dulu semalam dengan nyenyaknya!".

“Kau tidak usah banyak bicara lagi, ayoh cepat melaporkan seluruh pengalamanmu dengan jelas!" Perintah majikan patung emas dengan angkernya.

"Orang yang kau kirim untuk mengawasi diriku apa masih belum kembali?” tanya Ti Then sambil tertawa. "Bagaimana kau tahu kalau aku kirim orang lagi untuk mengawasi seluruh gerak-gerikmu?”

"Hal ini sudah ada didalam dugaanku! " Jawab Ti Then tertawa geli.

"Kali ini dugaanmu sama sekali meleset aku tidak kirim orang untuk membuntuti dirimu".

"Kenapa ?”

Majikan Patung emas segera tertawa dingin.

"Karena aku tahu kau merasa sayang terhadap nyawa Wie Ci To ayah beranak, untuk melindungi mereka dari bencana yang tidak diinginkan sudah tentu kau tidak akan bermaksud untuk merusak rencanaku dari tengah jalan " katanya.

"Akhir dari Cuo It Sian adalah sebuah cermin buatmu, orang yang bermaksud jahat tentu akan memperoleb akhir yang tidak menyenangkan !"

"Hmm! kau bangsat cilik berani memberi nasehat kepadaku ?? " Teriak majikan Patung emas dengan gusar. "Cuo It Sian tetap Cuo It Sian sedang aku tetap aku?”

"Jadi maksudmu kepandaian silat yang kau miliki jauh lebih lihay dari kepandaian Cuo It Sian sehingga tidak ada orang yang bisa menguasahi dirimu lagi ?”

"Sedikitpun tidak salah!” jawab majikan patung emas tidak ragu2 lagi.

"Heee . . . heee kalau begitu anggapan kau itu adalah salah besar! walaupun kepandaian silatmu tiada orang yang dapat melawan tetapi Thian bisa menghukum dirimu, bilamana kau berbuat jahat maka karmanya akan selalu mengikuti dirimu.”

"Sudah cukup belum perkataanmu ?” potong majikan patung emas dengan gusarnya. Dalam hati Ti Then tahu hawa amarahnya sebentar lagi akan berkobar karenanya nada ucapannya semakin dipertajam.

"Belum selesai” jawabnya sambil tertawa "Sekarang aku mau mulai dengan laporanku „„”

Demikianiah dia segera menyerukan seluruh kejadian yang dialaminya sewaktu ada didalam perkampungan Thiat Kiam San Cung.

Dengan tenangnya majikan patung emas mendengarkan kisah itu hingga habis setelah itu barulah ujarnya:

"Jadi dengan demikian peristiwa yang menyangkut diri Cuo it Sian dapat dikatakan sudah beres?"

"Benar!!" sahut Ti Then mengangguk "Tetapi sesaat sebelum dia melakukan bunuh diri pernah mengancam katanya dia sudah mengatur satu pasukan aneh yang di dalam setengah tahun mendatang bakal mendatangkan bencana bagi Benteng Pek Kiam Poo, perkataan ini bilamana sungguh2 maka lain kali kita masih ada urusan lagi!"

"Hmm! orangnya sudah mati masih bisa memperlihatkan permainan setan apa lagi?" Seru majikan patung emas sambil mendengus dingin.

"Aku pun berpikir demikian , , , "

"Sekarang kita bicarakan soal perkawinanmu dengan Wie Lian In, apakah Wie Ci To pernah menyinggung kembali persoalan ini?" ujar majikan patung emas kemudian mengalihkan bahan pembicaraannya.

"Pernah! dia bilang setelah kembaii ke dalam Benteng maka dia akan mulai mengadakan persiapan. aku rasa kejadian itu pasti bakal berlangsung didalam satu, dua bulan mendatang.

“Kalau memangnya sudah mulai mengadakan persiapan lalu buat apa harus menunggu satu dua bulan lagi ?". "Sudah tentu harus memilih satu hari yang bagus agar semua tetamu ditempat kejauhan bisa ada kesempatan untuk mendatangi Benteng Pek Kiam Poo, kau bilang benar tidak? " Seru Ti Then tertawa.

“Ehmmm .... tidak salah…Wie Ci To mempunyai sahabat serta kenalan ysng amat banyak dan tersebar diseluruh Bu-lim, tetamu yang diundang tentu sangat banyak sekali".

"Tujuanmu sudah hampir tercapai pada apa yang kau inginkan, maka itu sekarang aku mau menjelaskan telebih dahulu akan aesuatu hal kepadamu. Sewaktu aku sudah jadi suami istri dengan Wie Lian In maka tidak perduli kau mau mencuri atau berbuat apapun pokoknya tidak boleh melukai keselamatan barang seorangpun dari anggota Benteng Pek Kiam Poo, kalau tidak sekali pun harus mati aku juga tidak akan melakukan perintahmu !"

"Boleh”.

Ti Then lalu termenung sebentar, mendadak sambil tertawa ujarnya lagi :

“Kau pernah bilang perintahmu yang kedua baru akan kau sampaikan setelah aku kawin dengan Wie Lian In tetapi setelah aku kawin dengan Wie Lian In maka aku akan tidur satu pembaringan dengan dirinya. Saat itu bagaimana kau bisa memberikan perintahmu yang kedua ? Apakah kau hendak menggunakan cara yang sama seperti sekarang, menurunkan patung emas dari atas atap untuk bercakap-cakap dengan aku ?".

"Soal ini sampai waktunya sudah tentu ada caranya sendiri". "Baiklah, jikalau kau tidak ada perkataan yang lain sekarang

silahkan untuk mengundurkan diri".

"Aku masih ada beberapa patah kata lagi yang hendak aku sampaikan kepadamu. Aku tahu selama ini kau menerima perintahku untuk kawin dengan Wie Lian In dengan rasa tidak puas, kemungkinan sekali kau bisa melaporkan urusan ini kepada diri Wie Ci To. Hmm! bilamana kau berani berbuat demikian maka kau akan menyesal karena kesemuanya ini tidak bakal biss lolos dari pengawasanku begitu aku menemukan kau bermaksud untuk membocorkan hal ini kepadanya maka aku segera akan turun tangan membunuh mereka ayah beranak terlebih dulu, setelah itu baru membasmi seluruh jagoan pedang yang ada di dalam Benteng,"

Mendengar ancaman itu Ti Then segera merasakan hatinya bergidik.

"Bilamana kau ada nyali untuk membinasakan diri Wie Ci To kenapa tidak kau lakukan sejak semula?" Tantang Ti Then dengan kesal. "Kenapa kau kirim aku kemari untuk melakukan segala macam siasat dengan ber-sembunyi2 ?".

"Setiap manusia mempunyai rasa cinta kasih yang tersembunyi, jika tidak sampai pada keadaan yang benar2 terpaksa aku tidak ingin membuka pantangam membunuh!" jawab majikan patung emas dengan dingin.

Selesai berkata dia segera menarik kembali patung emasnya.

Dua hari kemudian mendadak Wie Ci To memerintahkan seluruh jagoan pedang

merah yang ada didalam Benteng untuk ber-sama2 bersantap siang.

Semua orang yang mendengar pemberitahuan itu segera mengetahui kalau di dalam perjamuan nanti tentu Poocu mereka akan menyampaikan sesuatu hal. Maka tanpa membuang tempo lagi mereka segers berkumpul didalam ruangan makan.

Ternyata sedikitpun tidak salah, setelah bsrsantap Wie Ci To lantas mengumumkan kalau putrinya akan dijodohkan dengan Ti Then.

Seluruh jago pedang merah segera menyambut pengumuman itu dengan hati girang, ditengah suara sorakan yang gegap gempita mereka pada angkat cawannya memberi selamat buat Wie Ci To serta diri Ti Then. Tampak sambil tersenyum Wie Ci To berkata lagi. "Loohu sudah pilihkan suatu hari yang baik uatuk perkawinan itu, yaitu pada tanggal dua puluh delapan bulan depan, jaraknya dari ini hari masih ada lima puluh hari!"

"Apakah perlu mengadakan perayaan dengan mengundang sanak keluarga serta sahabat karib?" Tanya Shia Pek Tha.-

"Sudah tentu!"

“Kalau begitu kita harus segera membuat undangan untuk disebarkan kepada semua teman kalau tidak bagaimana mungkin para sahabat dan handai taulan bisa mengetahui waktunya?”

“Benar, perkataanmu sedikitpun tidak salah” Sahut Wie Ci To sambil mengangguk.

“Selesai bersantap cepatlah kalian membuat surat undangan untuk kemudian segera disebarkan, dan sampaikan pula perintahku bagi seluruh jagoan pedang merah yang masih berkelana di tempat luaran untuk kembali ke benteng pada waktunya dan ikut di dalam perayaan ini.”

“Terima perintah”

Sehabis bersantap Shia Pek Tha segera kembali kedalam kamarnya untuk mulai menulis surat undangan.

Sebaliknya Ti Then seperti juga seorang tawanan yang baru saja menerima keputusan hukuman mati, hatinya merasa amat murung.

Dengan perlahan dia mulai menjauhi orang-orang lain ustuk kembali kedalam kamarnya dan termenung selama setengah harian lamanya. tetapi sebentar kemudian satu ingatan sudah berkelebat didalam benaknya baru saja dia meloncat bangun dengan wajah yang kukuh mendadak pintu kamar sudah dibuka.

"Ti Kiauw-tauw selamat    selamat untukmu.'" Seru Loo-cia itu si

pelayan tua sambil tertawa ha haa-hihi.

Ti Then tertawa tawar dan tidak mengucapkan sepatah katapun, dia lantas berjalan meninggalkan kamar menuju kekamar baca dari Wie Ci To. Didalam hati dia sudah mengambil keputusan untuk membuka seluruh rahasia hatinya dihadapan Wie Ci To, karena semakin lama dia berpikir semakin terasa olehnya kalau dirinya tidak seharusnya menerima perintah dari majikan patung emas untuk merusak nama baik serta kesucian dari seorang nona.

Dengan langkah yang lebar dia berjalan menuju kedepan kamar baca Wie Ci To lalu mulai mengetuk pintu.

"Siapa ?" Terdengar suara dari Wie Ci To berkumandang keluar dari dalam kamar baca itu.

“Boanpwee adanya !” "Silahkan masuk !".

Ti Then segera mendorong pintu itu ke samping lalu berjalan masuk kedalam.

Tidak! pada saat kaki kanannya mulai melangkah masuk kedalam pintu kamar itulah mendadak dia dibuat benar2 tertegun.

Karena ada serentetan suara yang halus seperti suara nyamuk bergema masuk kedalam telinganya:

“Ti Then ! Bilamana kau mengira aku tidak berani membunuh mati mereka ayah beranak maka dugaanmu itu adalah salah besar!”.

Orang yang mengirim suara itu tentu majikan patung emas adanya.

Ti Then segera merasakan hatinya berdebar keras, tanpa terasa lagi kepalanya sudah menoleh memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu. Dia sangat mengharapkam bisa menemukan tempat persembunyian majikan patung emas itu.

Didalam hati dia benar2 merasa sangat terkejut karena tidak menduga majikan patung emas berani munculkan dirinya ditengah siang hari bolong, diapun sama seka1i tidak mengira kalau pihak lawan bisa mengerti apa yang sedang dipikirkan dihatinya. Tetapi sewaktu dia menoleh dan memeriksa keadaan disekeliling tempat itu apa pun tidak kelihatan. suasana disekitar tempat itu amat sunyi sekali tidak tampak sesosok bayangan manusiapun.

"Ada urusan apa?" Terdengar Wie Ci To sudah membuka mulut bertanya.

Dengan ter-buru2 Ti Then berusaha untuk menenangkan hatinya lalu melanjutkan langkahnya berjalan masuk kedalam kamar baca tersebut.

“Aaaah . . . tidak mengapa . ..” jawabnya sambil sertawa paksa. “Air mukamu rada tidak benar, apakah terlalu banyak minum

arak ?”

“Benar. saudara2 pada memberi selamat kepadaku dengan arak membuat boanpwee merasa rada tidak kuat.”

“Ada perkataan yang hendak kau sampaikan?”

Dalam hati diam2 Ti Then menghela napas sedih, pikirnya; “Tidak. tidak , , . . . Majikan patung emas benar2 mempunyai

kekuatan untuk membinasakan mereka ayah beranak, aku tidak boleh mencari keselamatan buat diriku sendiri sebaliknya mencelakai diri mereka berdua”

Pikiran ini dengan cepat berkelebat didalam benaknya dia lantas menjawab dengan cepat:

“Boanpwee ada satu urusan yang hendak minta bantuan dari Gak-hu Thay jien”

“Urusan apa ?” Tanya Wie Ci To keheranan.

“Suhu dari boanpwee Bu Beng Loojien walaupun jejaknya tidak jelas tetapi boanpwee rasa adalah suatu keharusan bagiku untuk berusaha mencari dapat dia orang tua dan memberi kabar kepadanya akan berita baik ini”

“Baik . . baik . . bilamapa bukannya kau yang mengingatkan Loohu sendiripun akan melakukan akan hal ini, cuma dunia demikian luas entah harus kemana kita pergi untuk menemukan dia orang tua dan menyampaikan kabar ini ?”

“Perkataan Gak-hu sedikitpun tidak salah, untuk menemukan dia orang tua memang bukanlah satu pekerjaan yang gampang, sekalipun misalnya berhasil juga kita menemukan dirinya, mau datang atau tidak masih merupakan satu persoalan, boanpwee cuma ingin menunjukkan sedikit rasa baktiku saja sebagai muridnya.”

“Lalu Hian-say (menantu) bermaksud untuk berbuat apa ?” tanya Wie Ci To kemudian.

“Tempo hari setelah suhu menerima boanpwee sebagai muridnya pernah membawa aku berpesiar ke gunung Lok san, terhadap pemandangan disekitar tempat itu dia sangat tertarik, dia pernah bilang lain kali mau mendirikan sebuah rumah didekat tempat itu maka itulah ada kemungkinan di tempat tersebut kita bisa menemukan dia orang tua"

“Jarak dari sini ke gunung Lok San sangat jauh sekali sedangkan hari perkawinanmu dengan In-Jie pun sudah dekat, apalagi masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, bilamana kau bermaksud untuk pergi mencari sendiri loohu rasa ….”

"Boanpwee tidak bermaksud untuk pergi mencari sendiri " ujar Ti Then dengan gugup.

"Kalau tidak apakah Hian-Say bermaksud minta loohu kirimkan seseorang untuk mewakili dirimu pergi mencari ?"

"Benar, tetapi tidak usah khusus kirim seseorang, asalkan Gak-hu ada teman yang tinggal disekitar gunung Lok San maka sewaktu membagi undangan sekalian suruh saudara itu pergi keatas gunung untuk mencari-cari atau meninggalkan tulisan diatas puncak, dengan berbuat demikian entah berhasil menemukan dia orang tua atau tidak hati boanpwee pun sudah rada lega".

"Baiklah, kalau memangnya begitu kau pergilah kekamar Pek Tha yang lagi menulis undangan, katakan kepadanya sewaktu mengirim undangan buat "Auh in Suseng" Han Tiong Thian di gunuog Lok San sekalian perintah saudara yang menyampaikan undangan itu untuk pergi keatas puncak gunung mencari cari jejak dari Suhumu " kata Wie Ci To kemudian.

Ti Then segera bungkukkan badannya menjura.

"Baiklah, terima kasih atas perhatian dari Gak-hu" Sahutnya.

Selesai berkata dia segera mengundurkan dirinya dari dalam kamar baca itu.

Sewaktu memasuki kamar baca tadi dia sebetulnya ber-siap2 untuk membuka rahasia dimana dia menerima perintah dari majikan patung emas untuk melaksanakan segala sesuatunya. Tetapi setelah mtndapatkan peringatan dari majikan patung emas yang mendadak itu mcmbuat keberanian yang sudah muncul dihatinya seketika itu juga hancur lumur kembali.

“Dia tahu demi suksesnya tujuan yang diharapkan majikan patung emas sudah membuang banyak waktu dan tenaga, bilamana dirinya bermaksud hendak merusak rencananya yang sudah hampir mencapai keberhasilan itu didalam keadaan gusar ada kemungkinan dia dapat melaksanakan ancamannya itu.

Karena itulah demi untuk melindungi keselamatan dari Wie Ci To berdua terpaksa dia melenyapkan kembali maksud hatinya dan sengaja mengarangkan satu alasan hendak mencari suhunya untuk menutupi maksud yang sebetulnya.

Tetapi pada saat ini hatinya benar-benar merasa sangat menderita karena undangan saat ini mau dibagikan.

Bilamana dia tidak membuka rahasia ini pada waktu sekarang maka begitu undangan tersebut dibagikan maka keadaan sudah terlambat.

Dengan hati murung dia berjalan menuju ke kamarnya Shia Pek Tha, tampaklah pada saat itu Shia Pek Tha lagi menulis undangan dengan repotnya. Sambil tertawa dia lantas maju kedepan menghampiri dirinya. “Pek Tha heng,” Tegurnya. “Buat apa kau begitu terburu-buru.”

“Ti Ktauw-tauw apa tidak merasa terburu-buru?” goda Shia Pek Tha sambil tertawa.

“Siauwte sedikitpun tidak merasa ter-buru2 !”

“Haaa . . haaa . . . bilamana perkataanmu ini sampai didengar oleh nona- dia pasti tidak akan mengampuni dirimu.” Seru Shia Pek Tha sambil tertawa ter-bahak2.

Ti Then pun tertawa, dia segera mengambil selembar undangan dan dilihatnya sekejap.

“Sebenarnya kita mau mengundang beberapa orang sahabat?” tanyanya.

"Kawan karib dari Benteng kami seluruhnya ada tiga ratus orang, ditambah dengan kawan2 karib Ti Kiauw-tauw aku rasa kali ini tentu akan ramai sekali.”

"Walaupun Siauw-te juga ada beberapa orang kawan karib tetapi jejak mereka tidak menentu, sulit untuk mencari mereka itu " kata Ti Then perlahan.

"Apa Ti Kiauw-tauw tidak bermaksud untuk mengundang mereka ikut minum arak kegiraaganmu ?” tanya Shia Pek Tha keheranan.

"Benar, cuma ada seorang yang harus diundang, cuma saja aku takut orang ini pun sulit untuk ditemukan .... diantara nama2 yang diundang apakah Pek Tha-heng mengikut sertakan juga "Auh Ih Suseng" Han Tiong Thian yang tinggal digununc Lok San !"

Shia Pek Tha segera memeriksa sebentar daftar yang ada dimeja, setelah itu dia baru mengangguk.

"Ada, orang ini juga merupakan sahabat dari Benteng kami, apakah Ti Kiauw tauw mempunyai hubungan persababataa dengan orang ini ?" "Yang hendak Siauw-te undang bukan dia melainkan suhuku Bu Beng Loojien dia orang tua ada kemungkinan sudah menetap diatas puncak gunung Lok San. baru saja Siauw-te melaporkan hal ini kepada Poocu. Sekarang Siauw-te sangat mengharapkan agar Pek Tha-heng suka memberi tugas kepada saudara yang mengantarkan undangan bagi Auh In Suseng Han Tiong Thian ini untuk sekalian menaiki puncak Lok san mencari tahu jejak dan suhuku, bilamana tidak menemukan dia disana maka tolong disuruh dia meninggalkan pesan di atas puncak itu katakan saja tanggal serta hari dimana siauw-te serta nona Wie akan menikah.

Dengan berbuat demikian maka hati siauw-te baru bisa merasa rada lega.”

“Baiklah” sahut Shia Pek Tha dengan girang. “Undangan besok akan mulai dibagi, nanti biarlah aku suruh seorang saudara pergi menghadapi Ti Kiauw tauw, waktu itu Ti Kiauw tauw bisa berikan sedikit keterangan tentang bentuk wajah serta perawakan badan suhumu kepadanya, dengan demikian dia baru bisa mengenali suhumu itu”

“Baiklah, kali ini harus membuat undangan tentu bakal merepotkan banyak saudara bukan ?”

“Tidak seberapa banyak, cukup kirim dua puluh orang saja.” “Betul,” Seru Ti Then setuju. “Menurut apa yang aku dengar

para jago pedaog merah yang mau keluar Benteng atau kembali kedalam benteng tentu mencatatkan tanggal terlebih dahulu di tempat Pek Tha-heng sini, apakah sungguh-sungguh ada urusan lain ?”

“Ada, Waktu keluar benteng serta tempat yang hendak dituju semuanya dicatat jelas-jelas agar dikemudian hari bilamana ada urusan bisa menemukannya kembaii dengan gampang.”

“Buku catatan tersebut entah dapatkah siauw-te melihatnya sebentar ?” “Sudah tentu boleh.” Jawab Shia Pek Tha tertawa. “Kini Ti Kiauw tauw sudah menjadi menantu dari Poocu kami, kenapa kau malah berlaku begitu sungkan2 ?”

“Sehabis berkata dia segera membuka lacinya dan mengambil keluar sejilid buku yang tebal kemudian diangsurkan kepada diri Ti Then.

Ti Then lantas menyambut buku itu dan mencari sebuah kursi didalam kamar untuk mulai membuka setiap lembar dengao teliti.

Apa yang sedang dicari dari kitab tersebut ?

Kiranya secara mendadak dia teringat kembali akan diri pemuda berkerudung yang mendapat perintah dari majikan patung emas untuk mengawasi gerak geriknya itu, dia memastikan kalau pemuda berkeruduug itu pastilah salah satu dari pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Poo karena itu dia bermaksud untuk mencari tahu dirinya.

Dengan mengikuti tanggai dimana dirinya meninggalkan Benteng menuju ke gunung Cun san untuk mencari Cu Kiam Loojien akhirnya dia berhasil menemukan kalau semuanya ada tiga orang pendekar pedang merah yang ber-sama2 dengan dirinya meninggalkan Benteng.

Ketiga orang itu adalah Thio Yen Hoat, Fang Loo Tek serta Ie Si Kuang.

Sekalipun sejak memasuki Benteng sampai sekarang cuma ada tujuh delapan bulan saja tetapi terhadap setiap pendekar pedang merah yang ada didalam Benteng dia tidak dapat meng-ingat2nya satu persatu.

"Pek Tha-heng!" ujarnya kemudian sambi1 dongakkan kepalanya. "Diantara pendekar pedang merah yang ada didalam Benteng kita ada siapa yang usianya paling muda ?”

Shia Pek Tha menghentikan menulisnya dan berpikir sebentar, beberapa saat kemudian dia baru menjawab : "Usianya yang paling muda adalah Yuen Cia Nian, tahun ini dia baru berusia dua puluh empat tahun",

"Yang keiua ?".

Yang kcdua adalah Pang Loo Tek, tahun ini dia berusia dua puluh enam tahun, kecuali dua orang ini lainnya sudah berusia diantara tiga puluh tahun keatas. Ti Kiauw-tauw buat apa kau menanyakan persoalan ini ?".

“Aaah . . . , tidak mengapa. apakah saat ini Yuen Cia Nan serta Pang Loo Tek ada didalam benteng?".

"Tidak ada, mereka lagi kembali ke rumah untuk menjenguk orang tuanya tetapi beberapa hari kemudian ada kemungkinan mereka akan kembali lagi kedalam Benteng".

"Mereka masuk ke dalam Benteng sudah ada berapa tahun lamanya ?” tanya Ti Then lagi.

"Yuen Cia Nian masuk kedalam Benteng sewaktu berusia dua belas tahun. Poo cu yang melihat tulang serta bakatnya amat bagus bahkan memiliki kecerdikan yang luar biasa maka sengaja mendatangi orang tua mereka untuk mengangkat dia orang jadi murid. Sedangkan Pang Loo Tek masuk kedalam Benteng sewaktu berusia lima belas tahun, dia masuk dengan perantara orang lain".

"Siapakah perantaranya?" Tanya Ti Then mendesak. "Cui Toojien dari gunung Cing Shia!".

Ti Then segera merasakan dugaannya tidak mungkin bisa terjadi, majikan patung emas tidak mungkin menyelundupkan orang2nya sejak sebelas, dua belas tahun yang lalu karenanya dia lantas Yuen serta Pang dua orang bukanlah orang yang patut dicurigai.

Dia segera bangkit berdiri dan mengembalikan kitab tersebut kepada diri Shia Pek Tha.

“Tidak mengganggu lebih lama lagi, siauw-te mau kembali kekamar untuk beristirahat nanti…” Baru saja berbicara sampai disini tampaklah seorang pendekar pedang merah yang berjulukkan sebagai Liong Cau Kiam Khek atau si jagoan pedaog cakar naga Sun Thian Jiu berjalan masuk kedalam kamar.

“Aaaah … sungguh kebetulan sekali..” Seru Shia Pek Tha dengan cepat, “Ti Kiauw tauw harap tunggu sebentar, cayhe memang ada bermaksud untuk meminta bantuan dari Thian Jiu heng untuk pergi satu kali ke gunung Lok San, kini Ti Kiauw tauw boleh menjelaskan bagaimana bentuk wajah serta perawakan badan dari suhumu kepada Ihian Jiu heng sehingga dia bisa sedikit memahami.”

“Eeeei ada urusan apa ?” tanya si jago pedang cakar naga ini melengak.

Shia Pek Tha segera menceritakan maksud Ti-Then untuk mencari dapat suhunya Bu Beng Loojien untuk ikut merayakan perkawinannya ini, akhirnya dia menambahkan :

“Ti Kiauw tauw merasa ada kemungkinan suhunya tinggal disekitar puncak gunung Lok san. maka itu cayhe punya maksud untuk meminta bantuan Thian Jiu heng, agar bsrtanggung jawab didaiam penyebaran undangan kawan2 yang ada di sekitar daerah Kan Cing, dan sekalian harap Thian Jiu heng suka pergi ke puncak gunung Lok san untuk mencari jejak dari Bu Beng Loojien.”

“Baik, akan cayhe lakukan dengan senang hati” sahut Sun Thian Jiu dengan hati girang.

“Bilamana tidak menemukan dia orang tua maka harap Thian Jiu- heng suka meninggalkan beberapa patah tulisan di suatu tempat yang mencolok di atas puncak gunung Lok San itu, tulis saja kalau siauw-te mengundang dia orang tua untuk dating ke Benteng Pek Kiam Poo mengikuti perayaan perkawinan siauw-te..”

“Ti Kiauwtauw, bagaimanakah bentuk wajah dari suhumu?”

Ti Then segera menerangkan bagaimanakah bentuk wajah dari suhunya Bu Beng Loojien, setelah itu dia baru meninggalkan kamar dari Shia Pek Tha. Baru saja berjalan keluar dari dalam kamar itu mendadak tampaklah pelayan dari Wie Lian In, itu si budak Cun Lan sudah berjalan mendatang.

“Cun Lan, ada urusan apa?” tanyanya kemudian sambil menghentikan langkahnya.

“Siocia mengundang Ti Kiauwtauw untuk bertemu muka di dalam kebun, katanya ada urusan yang hendak dirundingkan dengan diri Ti Kiauw-tauw" jawab Cun Lan sambil memberi hormat.

"Kenapa tidak melihat dia munculkan dirinya?" tanya Ti Then lagi sambil tertawa.

Cun Lan segera menutup mulutnya menahan rasa geli di hatinya. "Nona kami takut malu, dia tidak berani keluar sendiri..”

Ti Then segera tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju kearah kebun.

xxxxx

Didalam sekejap saja sebulan sudah lewat dengan cepatnya, jarak dengan waktu perkawinan Ti Then pun tinggal dua puluh hari lagi.

Pagi itu sewaktu Wie Ci To serta Ti Then sedang ada ditengah lapangan latihan silat memberi petunjuk para pendekar pedang hitam dan putih berlatih silat, mendadak terlihatlah seorang pendekar pedang hitam lari masuk dengan tergesa2 lalu memberi hormat didepan Wie Ci To.

"Lapor Poocu, Ciangbunjien dari Siauw lim pay. Bu tong pay, Kun-lun pay serra Tiang Pek pay datang menyambangi!”

Mendengar laporan tersebut air muka Wie Ci To segera terlintaslah satu perasaan keheranan.

"Iih . . . bagaimana mungkin mereka dapat datang dengan begitu cepat ?". “Benar, para pendekar pedang yang dikirim untuk menyebar undangan pun belum kembali, bagaimana mungkin tetamu yang hendak memberi selamat sudah datang dua puluh hari lebih pagi?”

Ti Tnen pun merasakan didalam urusan ini ada hal2 yang tidak beres.

"Apakah keempat orang ciangbunjin ini datang untuk memberi selamat ?" serunya.

Sepasang mata Wie Ci To berkedip2 lalu sambil mengulapkan tangannya dia berseru:

"Ayoh jaian kita pergi menyambut kedatangannya !".

Mereka berdua dengan tergesa-gesa berjalan keluar dari benteng terlihatlah Yuen Kuang taysu itu ciangbunjin dari Siauw lim pay beserta Leng Cing Ceng jien dari Bu-tong Pay, Kiem Cong Loojien dari Kun lun pay serta sekuntum bunga Bwee Mong Yong Sian Kauw dari Tiang Pek pay sedang berdiri didepan pintu benteng.

Wie Ci To segers maju kedepan menyambut.

“Tidak mengetahui kunjungan dari empat orang ciangbunjin, maaf loohu tidak menyambut dari jauh . . maaaf , maaf , ,”

Yuen Kuang Thaysu segera merangkap tangannya membalas hormat.

“Kunjungan secara tidak sengaja, masih mengharapkan Wie Loosicu jangan marah”

“Aaa , mana . mana, Ciangbunjin berempat silahkan masuk” ujar Wie Ci To kembali.

Sehabis berkata dia segera miringkan badannya kesamping mempersilahkan tetamunya untuk masuk,

Keempat orang ciangbunjin dari Siauw lim pay, Butong pay, Kun lun pay serta Tiang Pek pay sembari tersenyum segera bersama- sama jalan masuk kedalam benteng. Setelah masing-masing dipersilahkan duduk di dalam ruangan tamu, Ti Then baru maju kedepan menghunjuk hormat.

Dengan pandangan yang amat teliti Leng Cing Ceng jien memperhatikan seluruh tubuh Ti Then dari atas kebawah, setelah itu sambil tartawa ujarnya.

“Diakah Kiauw tauw dari Benteng Pek Kiam Poo, si pendekar baju hitam Ti Then, Ti Siauw sicu ?”

“Benar” sahut Wie Ci To sambil tersenyum pula.

“Tampan, cerdik, bersemangat dan gagah sekali, sungguh merupakan orang pilihan” puji Leng Cing Ceng jien tiada hentinya,

“Apakah Ciangbunjien berempat sudah menerima undangan yang kami bagikan? “ tanya Wie Ci To kemudian sambil tertawa.

Ciangbuojin dari Bu tong Pay, Leng Cing Ceng jien kelihatan rada tertawa,

“Undangan apa ?” balik tanyanya.

Wie Ci To segera menuding kearah diri Ti Then.

“Aku orang She Wie sudah menjodohkan Siauw li Lian In kepadanya, dan hendak mengawinkan mereka pada tanggal dua puluh delapan bulan ini undangan yang aku orang She Wie kirimkan pada sebulan yang lalu apakah ciangbunjien berempat belum menerimanya?”

"Tidak! " Sahut Leng Cing Ceng-jien dengan terperanjat. "Pada sebulan yang lalu Pinto sudah turun gunung, tentu undangan itu tiba sewaktu Pinto baru saja turun gunung . . . hal ini sungguh kebetulan sekali”

"Tidak salah!” Sambung Kiem Cong Loojien dari Kun-lun Pay sambil tertawa. "Kedatangan kita kali ini sungguh kebetulan sekali haaa , . . haaa . . . aku bisa mencicipi arak kegirangan itu." "Kalau memangnya ciangbnnjien berempat tidak mengetahui akan urusan ini maka kedatangan kalian ini hari entah ada arusan apa? " tanya Wie Ci To kemudian,

Air muka Yuen Kuang thaysu dari Siauw-lim Pay segera berubah serius.

"Sebelum menyelesaikan persoalan ini Pinceng dengan memberanikan diri hendak menanyakan beberapa persoalan kepada diri Wie Loo-sicu ". katanya.

"Ciangbunjien ada petunjuk apa?" tanya Wie Ci To sembari memandang tajam wajahnya.

"Pada sebulan yang lalu apakah Wie Loo Sicu pernah ber-sama2 dengan Ti Siauw Sicu pergi mengunjungi perkampungan Thiat Kiam San cung?".

"Aaaa . . . bagaimana ciangbun thaysu bisa mengetahui akan urusan ini ?" Tanya Wie Ci To melengak.

Yuen Kuang Thaysu segera tersenyum, "Dapatkah Wie Loo sicu memberikan jawaban atas pertanyaan dari pinceng ini ?”

Wie Ci To termenung beberapa saat, akhirnya dia mengangguk. "Pernah!" jawabnya.

"Ada urusan apa kalian berdua pergi ke perkampungan Thiat Kiam San Cung?" tanya Yuen Kuang Thaysu lagi.

Wie Ci To segera mengerutkan alisnya rapat2. Tetapi dengan ramahnya dia tetap tersenyum.

“Bilamana ciangbun thaysu ada beberapa persoalan yang mencurigakan hatimu kenapa tidak ditanyakan secara terus terang saja?".

Wajah Yuen Kuang Thaysu berubah semakin serius lagi,

"Ada orang yang melaporkan kepada pinceng berempat dan minta peradilan kepada kami katanya Wie Loosicu ber-sama2 dengan Nyio Sam Pak dari perkampungan Thiat Kiam San Cung telah membunuh seseorang untuk merebut harta kekayaannya" ujarnya setelah berdiam beberapa saat lamanya.

Wie Ci To jadi tertegun, tapi sebentar kemudian dia sudah tertawa terbahak-bahak dengan gusarnya.

“Sungguh berarti .... sungguh berarti. tolong tanya siapakah orang yang sudah melaporkan urusan ini kepada kalian?”

“Si pembesar kota Cuo It Sian.”

Air muka Wie Ci To seketika itu juga membeku, sepasang matanya terbelalak besar;

“Apa ? Cuo It Sian, ?” tanyanya keras-keras. “Tidak salah.”

“Kapan dia pernah pergi ketempat ciangbunjin berempat untuk mengadukan persoalan ini ?” tanya Wie Ci To dengan rasa keheranan.

“Kurang lebih pada empat bulan yang lalu mendadak dia munculkan dirinya di kuil Siauw lim si dan menyerahkan sepucuk surat kepada pinceng dia memesan wanti2 kepada pinceng katanya surat itu baru boleh dibuka setelah mendengar berita tentang dia terbunuh, didalam surat itulah dia menuliskan siapakah yang sudah membunuh dirinya,”

Berbicara sampai disini dia segera menuding kearah Leng Cing Ceng jien, Kiem Cong Loojin serta si sekuntum bunga Bwee Mong Yong Sian Kauw lalu sambungnya lagi:

“Mereka bertigapun saling susul menyusul memperoleh sepucuk suratnya, dia minta surat itu disimpan terus hingga ada kabar yang mengatakan dia sudah mati, saat itu dia minta kami membaca isi suratnya itu dan mengajukan tuntutan”

“Satu bulan yang lalu”, sambung Leng Cing Ceng jien kemudian, “seorang pelayan dari Cuo It Sian datang ke kuilku, sambil menangis dia melaporkan akan kematian majikannya diatas perkampungan Thiat Kiam san Cung dia bilang simpanan uang dari Cuo Loosicu yang disimpan diperbagai gudang uang sudah diambil oleh seseorang sehingga habis dan uang itu lima puluh laksa tahil banyaknya setelah pinto mendengar berita itu lantas membaca suratnya itu . , ,”

Berbicara sampai disini dia segera berhenti berbicara agaknya dia merasa tidak enak untuk meneruskan kembali kata-katanya itu.

“Apa yang ditulis diatas suratnya itu ?” tanya Wie Ci To sambil tertawa dingin.

Dari dalam sakunya Yuen Kuang Thaysu dari Siauw lim pay segera mengambil keluar sepucuk surat dan diangsurkan kehadapan Wit Ci To.

“Wie Loo sicu boleh membaca sendiri.” ujarnya.

Wie Ci Tio segera menyambut surat itu dan dibukanya untuk kemudian membaca:

"Ditujukan kepada Yuen Kuang thaysu Ciangbunjien dari Siauw- lim pay :

Selama hidupnya loolap berkelakuan malas, satu2nya kegemaranku cuma berpesiar ke-tempat2 yang berpemandangan indah, selama puluhan tahun bergeluntungan di dalam Bu-lim sekalipun tidak banyak melakukan kebajikan tetapi perbuatan jahat belum pernah loolap lakukan barang sebuahpun, tentunya thaysu tahu bukan akan hal ini?

Siapa tahu baru2 ini beberapa kali Pek Kiam Poocu Wie Ci To muncul dirumah lolap secara tiba2 dan menuduh loolap pernah melakukan kejahatan memperkosa perempuan orang, dia berkata asalkan loolap suka memberi seratus laksa tahil perak maka rahasia ini akan disimpan baik2, kalau tidak maka dia akan siarkan didepan umum.

Loolap yang menerima tuduhan ini sudah tentu merasa kaget, coba bayangkan dengan tindak tanduk dari loolap yang tidak psrnah melakukan kejahatan bagaimana mungkin bisa melakukan perbuatan tersebut ? Sejak ini hari bilamana loolap mengalami kejadian diluar dugaan maka perbuatan ini pastilah perbuatan dari Wie Ci To beserta Kiauw tauwnya Ti Then harap Thaysu suka membela keadilan menuntutkan persoalan ini dihadapan umum sehingga walaupun loolap mati juga tidak mati dengan kecewa.”

Akhirnya tertulislah beberapa kata:

"Tahun xxx bulan xxx tanggal xxx, Cuo It Sian ".

Selesai membaca surat itu tidak kussa Wie Ci To tertawa pahit. "Hmmm! Kiranya yang dimaksud sebagai pasukan aneh tersebut

sebelum bunuh diri adalah permainan semacam ini!" Serunya,

Dia segera menyerahkan surat itu ketangan Ti Then lalu kepada Leng Cing Ceng jien, Kiem Cong Loo-jien serta Si sekuntum bunya Bwee Mong Yong Sian Kouw tanyanya:

“Surat yang ciangbunjien bertiga terima apakah persis sama seperti apa yang ditulis didalam surat yang ditujukan kepada Yuen Kuang Thaysu itu?".

“Tidak salah! " Sahut Leng Cing Ceng-jien, Kiem Cong Loo jien serta Mong Yong Sian Kauw ber-sama2,

"Apakah ciangbunjien berempat mempercayai atas segala tuduhan yang dia lontarkan atas diri loohu ?" tanya Wie Ci To kembali.

"Pinto sekalian tidak bcrani mempercayai begitu saja seluruh tuduhannya, tetapi setelah mengadakan penyelidikan kami bisa mengambil kesimpulan kalau kematian Cuo Loo Sicu diatas perkampungan Thiat Kiam San cung adalah benar2 karena terpaksa oleh Wie Loo Sicu serta Nyio Loo Sicu" ujar Leng Cing Ceng-jien dengan serius. "Oleh karena itulah didalam hati tidak terhindar kami menaruh curiga juga. karena menurut pengetahuan kami tidak ada orang yang menggunakan kematiannya untuk memfitnah orang,"

"Betul!" ujar Wie Ci To mengangguk. "Bilamana seorang hendak memfitnah orang lain dia tidak mungkin tidak akan menggunakan cara membunuh diri untuk melaksanakan niatnya itu, karena setelah dia bunuh diri walaupun tujuannya tercapai tetapi dirinya sendiripun tidak mendapatkan apa pun !"

"Wie Poocu serta Nyio Cung-cu paksa dia untuk melakukan bunuh diri sudah tentu ada alasannya, dapatkah kau menjelaskannya kepada kami ?" ujar Si Sekuntum bunga Bwee Mong Yong SianKauw dengan perlahan.

Dia adalah seorang wanita yang sudah berusia setengah abad tetapi dandanan serta suaranya masih jelas, nyaring dan merdu.

Air muka Wie Ci To berubah jadi amat keren.

"Aku orang she-Wie pernah menjamin terhadap dirinya untuk tidak mengumumkan dosa2nya asalkan dia suka membunuh diri untuk menebus kesalahan yang sudah diperbuat, tetapi kalau memangnya dia tidak menyesal juga sekalipun sudah mati bahkan mau menyeret aku orang she-Wie maka terpaksa seluruh dosanya aku umumkan kepada semua orang".

Demikianlah dia segera meceritakan kembali peristiwa yang sudah terjadi pada tiga tahun yang lalu dimana dia menemukan Cuo It Sian memperkosa lalu membunuh istri orang lain, dikarenakan mengingat perbuatan mulia yang dilakukan pada masa sebelumnya maka dia mengijinkan dirinya untuk hidup empat tahun lagi.

Siapa sangka untuk menghilangkan dosanya ini ternyata dia sudah mencelakai sekeluarga penduduk petani dusun Tbay Peng Cung dan menggunakan gudang dibawah tanahnya untuk mengurung putrinya serta Ti Then, akhirnya dia berhasil menawan tiga orang pendekar pedang merah untuk rebut kembali separuh pedang pendeknya itu untuk kemudian dibawa ketempatnya Cu Kiam Loojien untuk diperbaiki, lalu bagaimana dia membunuh mati Cu Kiam Loojien Cau Ci Beng dan lain ... lainnya . . .

Akhirnya dia meceritakan juga siasatnya yang sudah ia susun bersama2 Ti Then untuk merebut kembali potongan pedang itu dengan jalan menyamar sebagai Nyio Sam Pak, siapa sangka sewaktu ada diperkampungan Thiat Kiam San Cung dia sudah menemukan si iblis bungkuk Leng hu Ih mencari gara2, lalu bagaimana Ti Then membunuh mati Leng Hu Ih, Cuo It Sian bagaimana datang ke perkampungan untuk membantu mengusir musuh lalu bagaimana membuka rahasia terbunuhnya Cau Ci Beng, akhirnya dia terdesak dan bunuh diri.

Terakhir dia menambahkan juga dengan beberapa patah kata : "Aku orang She Wie tahu dengan nama serta kedudukannya

didalam Bu-lim maka perbuatannya tidak akan dipercaya oleh orang

lain, maka itu sengaja loohu pergi ke gunung Ngo Thay san mengundang datang It Ie Sang-jien sebagai saksi, seluruh pengakuan dari Cuo It Sian sudah didengar sendiri oleh dirinya, bilamana ciangbunjien berempat tidak percaya boleh segera- berangkat kegunung Ngo Thay San dan tanyakan sendiri kepada It Ie Sang jien".

Mendengar perkataan itu Yuen Kuang Thaysu, Leng Cing Ceng- jien, Cong Loo-jien serta Mong Yong Sian Kauw jadi terperanjat.

"Jadi dengan demikian Cuo It Sian lah bermaksud jahat, heeei sungguh tidak disangka dia adaiah seorang manusia kejam yang hatinya seperti binatang. "

"Untung sekali It Ie Sang-jien yang bertindak sebsgai saksi, kalau tidak bukankah aku orang she Wie akau terkena getahnya” Seru Wie Ci To sambil menghela napas.

"Harap Wie Loo Sicu yangan marah atas perbuatan pinceng sekalian yang menanyakam kembali persoalan ini kepada dirimu, sesungguhnya dengan nama serta kedudukan dari Cuo Loo Sicu yang ada di dalam Bu-lim siapapua tidak bakal menyangka akan perbuatan jahatnya itu." ujar Yuen Kuang Thaysu menjelaskan.

"Saudara berempat suka turun tangan mengusut peristiwa ini boleh dikata merupakan pekerjaan yang mulia. aku orang she Wie mana berani menyalahkan diri kalian?” Berbicara sampai disini mendadak dia menghela napas lalu tambahnya :

"Aku orang she Wie selamanya menganggap orang jahat musuh buyutan, sungguh tidak kusangka menghadapi urusan ini ternyata harus menemui berbagai kesulitan. . . Sampai sekarang urusan semacam ini didalam hati aku orang she-Wie masih ada sebuah lagi. heeey aku bingung harus berbuat bagaimana enaknya".

Ti Then yang mendengar perkataan itu diam2 dalam hati segera berpikir :

"Apakah perkataan yang diucapkan ini menunjukkan peristiwa seperti apa yang ditunjuk majikan patnog emas?".

“Wie Loo sicu, kau sedang membicarakan apa?" tanya Yuen Kuang Thaysu tiba2.

"Heeei , . . lebih baik tidak usah dibicarakan lagi" jawab Wie Ci To sambil gelengkan kepalanya.

oooOOOooo

“PERTEMUAN puncak para jago di atas gunung Hoa San yang diadakan tahun besok telah hampir tiba, bilamana Wie Loo sicu ada urusan yang susah dipecahkan kenapa tidak diberitahukan dihadapan umum? pinto sekalian tentu akan berusaha keras untuk memberi bantuan " ujar Leng Cing Ceng-jien.

"Tidak mudah . . . tidak mudah . . . “ Seru Wie Ci To sambil gelengkan kepalanya.

"Peristiwa mengenai diri Cuo It Sian lebih baik Wie Poocu cepat2 umumkan dihadapan umum, sehingga semua orang bisa dibikin paham kembali " ujar Kiem Tong Loojien memberikan pendapatnya" Kalau tidak bilamana ada urusan seperti ini hari bukankah hanya mendatangkan kerepotan saja?”

"Benar !” Sambung Mong Yong Sian Kauw dengan cepat "Kami berempat mungkin masih mempercayai perkataan dari Wie Poocu, tetapi para jagoan dari kalangan Hek-to aku rasa belum tentu mau percaya atas perkataanmu ini, aku lihat lebih baik Wie Poocu cepat2 mengumumkan peristiwa ini ke dunia-kangouw sehingga mereka pun mengetahui kejahatan yang sudah dilakukan oleh diri Cuo It Sian".

Dengan perlahan Wie Ci To segera mengangguk.

"Perkataan dari ciangbunjin berdua sedikitpun tidak salah," Sahutnya. "Dua puluh hari lagi adalah saat perkawinan putriku, aku orang she-Wie pun sudah membagikan undangan kepada semua sahabat, ada kemungkinan It Ie Sang-jien dari Ngo-thay San pun ikut datang, biarlah menggunakan kesempatan itu aku siarkan berita ini dihadapan para jago".

"Wie Poocu pun baru sedikit mengadakan persiapan, orang2 dari kalangan Pek-to ada kemungkinan mau mendengarkan penjelasan dari Wie Poocu ini tetapi orang2 dari kalangan Hek-to belum tentu mau menerima penjelasan itu dengan demikian saja" kata Mong Yong Sian Kauw member peringatan.

“Aku orang She Wie cuma takut kesalah pahaman dari jago2 kalangan Pek-to, sedang mengenai orang2 dari golongan Hek-to baik dia mau percaya atas perkataan dari aku orang She Wie atau tidak hal itu bukanlah satu urusan yang terlalu penting" ujar Wie Ci To sambil tertawa.

"Kini rasa curiga sudah tersapu bersih, kita berempat bermaksud untuk tinggal di sini menanti saat diadakannya perayaan perkawinan Ti Kiauw-tauw atau pulang dahulu ?" tanya Kiem Cong Loojien tiba2.

“Sudah tentu harus menunggu didalam Benteng loohu" sahut Wie Ci To dengan gugup. "waktu perkawinan siauw-li sudah dekat, buat apa kalian lari2 dengan percuma?".

"Diatas gunung Go-bie banyak terdapat kuil Pinceng ada maksud untuk tinggal selama beberapa hari di kuil, menanti setelah hari Perkawinan menjelang Pinceng baru datang lagi untuk mengganggu" ajar Yuan Kuang Thaysu sambil tertawa. “Pinto juga bermaksud untuk pergi ke kuil Sang Cing Kong diatas gunung Cing Shia untuk temui bsberapa Too-su yang sudah lama tidak bertemu muka" ujar Leng Cing Ceng-jien memberikan maksud hatinya.

Kiem Cong Loojien yang mendengar perkataan dari kawan2nya itu segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaa . , haaa . . , si hwecsio pergi cari hweesio yang Toosu pergi mencari Toosu, loolap adalah rakyat biasa terpaksa harus pergi mencari kawan sebangsaku” katanya.

“Bukankah aku orang she Wie adalah kawan sebangsa ciangbunjin ?” seru Wie

Ci To sambil tertawa.

“Tidak salah” sahut Kiem Tong Loojien sambil mengangguk, “Maka itu loolap bermaksud untuk tetap tinggal di dalam Benteng”

Wie Ci To segera menoleh kearah si sekuntum bunga Bwee Mong Yong Sian Kauw lalu katanya, ”Bagaimana kalau Mong Yong ciangbunjin tetap tinggal didalam Benteng?”

“Didalam Benteng Wie Poocu banyak lelaki daripada perempuan, aku rasa tidaklah terlalu leluasa untuk melayani aku seorang perempuan bukan?” ujar Mong Yong Sian Kouw sambil tertawa.

“Haa , , haa . tidak. tidak benar” ujar Wie Ci To sambil tertawa terbahak-bahak. “Didalam benteng kami masih terdapat banyak sekali istri-istri pendekar pedang merah kami, bilamana Mong Yong ciangbunjin merasa perempuan harus mencari perempuan maka didalam Benteng loohu ini masih terdapat banyak sekali orang perempuan.”

Dia berhenti sebentar, senyuman yang semula menghiasi bibirnya mendadak lenyap tak berbekas,

“Mong Yong ciangbunjien” ujarnya lagi “Aku orang she-Wie ada satu urusan ingin meminta bantuan dari ciangbunjien” “Ada urusan apa ?” tanya Mong Yong Sian Kouw sambil tersenyum.

Dengan perlahan Wie Ci To mengalihkan pandangannya ketempat kejauhan lalu menghela napas panjang.

“Sejak kecil siauwli sudah kehilangan ibunya sehingga sifatnya rada manja bahkan banyak urusan yang dia tidak mengerti, kini dia sudah hampir kawin, harap ciangbunjien suka membantu loohu untuk sedikit mendidik urusan dapur maupun rumah tangga daripada tugas seorang istri,”

“Sifatku rada berangasan dia tidak mirip seorang perempuan, bilamana suruh aku yang memberi petunjuk ada kemungkinan malah jadinya tidak karuan” ujar Mong Yong Sian Kouw sambil tertawa.

“Aaah . . . mana., mana – “

"Bilamana Wie Poocu merasa berlega hati maka aku akan tinggal disini saja" akhirnya ujar Mong Yong Sian Kauw sambil mengangguk.

Wie Ci To segera mengucapkan terima kasihnya, kepada Yuan Kuang thaysu serta Leng Cing Ceng-jien ujarnya kemudian:

"Silabkah ciangbunjien berdua untuk tinggal semalam, bagaimana kalau besok baru berangkat ?"

"Baiklah!" Sahut Yuen Kuang Thaysu dan Leng Cing Ceng-jien berbareng.

"Ti Kiauw-tauw!" Seru Wie Ci To kemudian kepada Ti Then. "Kau masuklah dan panggil In-jie untuk keluar menghunjuk hormat kepada ciangbunjien berempat, setelah itu perintah juga untuk menyediakan dua meja perjamuan, yang sata tanpa daging yang satu biasa". 

Dengan hormatnya TiThen segera menyahut dan mengundurkan diri dari ruangan. Tidak lama kemudian dengan seorang diri Wie Lian In munculkan dirinya ditengsh ruangan kemudian dsngan malu2 maju menghunjuk hormat kepada keempat orang ciangbunjien itu.

Tampak sembari tertawa ujar Mong Yong Sian Kauw dengan perlahan:

"Aku tidak tahu kalau nona Wie mau menikah sehingga tidak membawa barang sumbangan, lain kali aku kirim saja untuk menyusul kekurangan ini".

Baru saja perkataan itu selesai diucapkan mendadak terlihat Ti Then berjalan masuk kedalam ruangan dsngan ter-gesa2 wajahnya kelihatan sangat aneh sekali.

Wie Ci To yang melihat wajahnya rada aneh dalam hati merasa sedikit terkejut.

“Ada urusan apa?" tanyanya dengan cepat. Ti Then tertawa dingin.

"Diluar benteng sudah kedatangan serombongan orang yang ingin bertemu muka dengan Gak-hu thayjien serta boanpwee!" katanya.

"Siapa ?" tanya Wie Ci To dengan air muka berubah.

"Jago2 dari kalangan Hek-to, kebanyakan adalah anak buah dari si anjing langit rase bumi serta si iblis bungkuk Leng Hu Ih, sebagai pentolannya adalah si pendekar tangan kiri Cian Pit Yuan!".

Wie Ci To mulai tertawa dingin tak hentinya, lalu dengan perlahan bangun dari tempat duduknya.

“Hmmm kedatangan mereka tentu disebabkan oleh karena peristiwa matinya Cuo It Sian, heee . . hee . . . sungguh cepat kedatangan mereka” ujarnya.

“Semuanya ada bsrapa orang ?” tanya Yuen Kuang Thaysu tiba- tiba.

“Kurang lebih ada dua ratus orang banyaknya.” “Lalu Wie Loosicu siap2 mau berbuat apa ?” Tanya Yuen Kuang thaysu sambil menoleh kearah Wie Ci To.

“Sudah tentu menjelaskan urusan ini terlebih dahulu, bilamana mereka tidak mau percaya maka terpaksa terserah mereke ingin berbuat apa,”

Saat ini ada beberapa orang pendekar pedang merah sudah memasuki ruangan tamu untuk siap menerima perintah.

Dengan perlahan Wie Ci To pandang diri mereka kemudian baru ujarnya dengan keren:

“Perintahkan semua jago pedang yang ada di Benteng untuk siap menghadapi pertempuran tetapi tidak diperkenankan turun tangan terlebih dahulu.”

Bcberapa orang pendekar pedang merah itu segera menyahut dan mengundurkan diri dari ruangan untuk menjalankan perintahnya,

“Bagaimana kalau biarkan pinceng berempat menjelaskan terlebih dahulu akan persoalan ini kepada mereka, ada kemungkinan mereka bisa mendengar perkataan kami, bagaimana menurut pendapat Wie Loo sicu ?” ujar Yuen Kuang Thaysu memberikan usulnya.

“Baiklah, mari kita keluar bersama-sama”.

Demikianlah tua muda tujuh orang segera bersama-sama meninggalkan ruangan untuk menuju ke pintu luar benteng.

Sewaktu hampir tiba di pintu benteng suara hiruk pikuk serta percakapan orang yang ramai berkumandang datang dari tempat luaran jika didengar dari suara itu jelas gerakan dari orang-orang golongan Hek-to kali ini amat dahsyat sekali.

Sesampainya dibawah pintu benteng Wie Ci To segera memberikan perintahnya kepada bsberapa orang pendekar pedang hitam yang berjaga-jaga disana,

“Segera buka pintu!” bentaknya. Dengan perlahan-lahan pintu benteng mulai terbuka, terlihatlah didepan benteng sudah berkumpul banyak orang yang lagi berkerumun diantara orang- orang itu kelihatan ada beberapa orang jagoan Hek-to yang rada terkenal.

Kecuali sisa anak buah dari istana Thian Teh Kong serta Si Iblis bungkuk yang bergabung, Ti Then menemukan juga tiga orang "Kawan lamanya " mereka adalah Si majikan ular Yu Toa Hay, Si kakek kura2 Phu Tong Seng serta Si nenek iblis penghalang jalan Han Giok Bwee.

Dan sebagai pentolannya bukan lain adalah si Pendekar tangan kiri Cian Pit Yuan.

Sewaktu Ti Then melihat adanya Si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan ada disana mendadak dalam hatinya timbul sedikit harapan, dia mengharapkan didalam pembicaraannya dengan Wie Ci To Cian Pit Yuan bisa "menyinggung' pula si pemuda berkerudung yang telah menolong dia lolos dari kurungannya diatas gunung Boe Leng San itu.

Mengenai peristiwa tertawannya dia oleh Cian Pit Yuan selama ini belum pernah dia ceritakan kepada Wie Ci To ayah beranak, sedang kini bilamana Cian Pit Yuan mengungkat kembali peristiwa tersebut maka setelah urusan ini dia pasti akan mendesak dirinya untuk memberi penjelasan, saat itulah dia merasa punya "alasan" untuk menceritakan rahasia diperintahnya dia orang oleh majikan patung emas.

Atau dengan perkataan lain demikian Wie Ci To tidak akan menjodohkau putrinya kepadanya dan diapun bisa melaporkan kalau Cian Pit Yuan lah yang sudah merusak rencana dari majikan patung emas ini.

Maka itu dia sangat mengharapkan Cian Pit Yuan dapat mengungkat kembaii peristiwa hari itu.

Saat ini sewaktu si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan melihat munculnya Yuen Kuang Thaysu, Leng Cing Ceng jien, Kiem Cong Loojien serta Mong Yong Sian Kauw empat orang Ciangbunjien ber-sama2 dengan munculnya Wie Ci To air mukanya tidak kuasa lagi berubah hebat, agaknya mereka menduga Wie Ci To sudah mengetahui terlebih dahulu akan rencana mereka sehingga kini mengundang empat orang ciangbunjien sebagai pembantunya.

Tidak menanti Wie Ci To membuka mulut si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan sudah tertawa keras dengan amat seramnya.

"Wie Toa Poocu!" serunya dengan dingin, “Kedatangan loohu ini hari bukannya dimaksudkan untuk menuntut dendam kita dahulu!".

"Kalau memang demikian bagaimana kalau Cian-heng berserta kawan2 lainnya untuk minum the terlebih dulu didalam ruangan?" ujar Wie Ci To dengan tawar.

“Terima kasih, lebih baik kita membicarakan persoalaa ini ditempat luaran saja”

"Kalau begitu silahkan Cian~heng mulai berbicara.

"Hey Penguasa Go ayoh keluar kemari" Teriak Cian Pit Yuan kearah tengah gerombolannya.

Seorang kakek tua yang memakai pakaian perlente jalan keluar dari antara gerombolan manusia dan mendekati kesamping badan Cian Pit Yuan.

Kiranya orang tua itu bukan lain adalah Si-penguasa dari Cuo It Sian itu Si-pembesar kota.

"Wie Toa Poocu apakah kenal dengan orang tua ini?" Tanya Cian Pit Yuan sembari menuding kearah Si penguasa.

"Maaf Loohu tidak kenal!" jawab Wie Ci To sambil gelengkan kepalanya.

“Dia adalah penguasa rumah dari Cuo It Sian" Bisik Ti Then sewaktu dilihatnya ayah mertuanya tidak kenal. Walaupun telinga dari Cian Pit Yuan sudah terkena papas habis sehingga lenyap tetapi pendengarannya masih amat tajam.

"Tidak salah!" Sambungnya sambil tertawa. "Bagaimanapun orang muda jauh lebih jujur dan suka terus terang daripada orang tua, dia memang penguasa rumah dari Cuo It Sian”

“Cuo It Sian sudah loohu hokum, apakah ini hari kalian siap2 datang kemari untuk membalas dendam?" Tantang Wie Ci To dengan nada mendongkol.

Agaknya Cian Pit Yuan sama sekali tidak menduga kalau Wie Ci To berani mengakui dialah yang sudah memaksa Cuo It Sian untuk bunuh diri mendengar perkataan tersebut dia jadi tertegun, tetapi dengan cepat wajahnya sudah berubah jadi beringas kejam.

"Bagus sekali !” Serunya sambil tertawa dingin. "Kalau memangnya Wie Toa poocu sudah mengakui kaulah yang paksa Cuo It Sian untuk melakukan bunuh diri maka urusan jadi lebih mudah lagi untuk dibicarakan ".

Berbicara sampai disini dia segera menoleh kearah keempat orang ciangbunjin dari Siau-lim pay, Bu-tong Pay, Kun-lun Pay serta Tiang Pek Pay, lalu tambahnya.

"Sekarang aku orang she Cian cuma ingin bertanya beberapa patah kata dengan ciangbunjien berempat, kalian berempat bermaksud untuk berbuat apa terhadap urusan ini? hendak menegakkan keadilan Bu-lim dengan menghukum Wie Toa Poocu ataukah membalaskan dendam bagi kematian Cuo It Sian?"

"Omintohud . . Omintohud!” Seru Yuen Kuang Thaysu sambil merangkap tangannya memuji keagungan Buddha. "Kedatangan pinceng berempat kali ini bermaksud untuk menegakkan keadilan di Bu-lim. Cuma saja, mengenai persoalan yang menyangkut kematian Cuo It Sian ini sesudab mengalami suatu penyelidikan dari kami berempat maka kami menemukan kalau tuduhan yang dilancarkan Cuo Loo-sicu sebenarnya adalah terbalik." “Bagaimana bisa terbalik?” seru Cian Pit Yuan sambil mendengus dingin.

“Urusan yang sebetulnya adalah begini: Pada tiga tahun yang lalu Cuo Loo Sicu pernah melakukan perkosaan terhadap istri orang lain lalu membunuh suaminya sekalian. Dan urusan ini kebetulan ditemui oleh Wie Loosicu..”

“Omong kosong !" Teriak si penguasa Go secara tiba2. "Dikolong langit pada saat ini ada siapa yang tidak tahu akan keluhuran budi dari Loo-ya kami, apa maksud kalian memfitnah kesucian nama serta kedudukannya ?"

"Go Sicu jangan keburu marah dulu" ujar Yuen Kuang Thaysu dengan wajah serius. "Pinceng sebagai seorang ketua partai tidak akan berani berbicara sembarangan sebelum ada bukti yang nyata.”

“Lalu apa buktinya?" Teriak penguasa Go lagi dengan gusar. “Seorang penganut agama tidak akan berbobong. Silahkan

saudara sekalian mendengarkan penjelasan dari Pinceng setelah itu pinceng akan tunjukkan sekalian buktinya !" Jawab Si hweesio dari Siauw-lim Pay ini dengan wajah amat tenang.

“Baik, sekarang cepatlah katakan !" Seru Si penguasa Go lagi dengan mendongkol.

Demikianlah Yuen Kuang Thaysu segera membeberkan seluruh dosa yang telah diperbuat oleh Cuo It Sian tanpa kekurangan sepatah katapun.

Dia bercerita sampai dimana Cuo It Sian kedesak dan merlakukan bunuh diri di perkampungan Thiat Kiam San Cung, akhirnya sambil menuding kearah Ti Then tambahnya:

"Ti siauw-cu ini boleh dikata termasuk salah seorang saksi, dia melihat dengan mata kepala sendiri dimana Cuo Loo-sicu membunuh Cu Kiam Loojien serta si elang sakti Cau Ci Beng.”

"Heee . . hee . . . Thaysu kau sungguh tolol" Seru si penguasa Go sambil tertawa dingin. “Bilamana bangsat cilik itu boleh bertindak sebagai saksi maka aku pun bisa pula sembarangan memanggil orang sendiri untuk menfitnah orang lain!".

Yuen Kuang thaysu sama sekali tidak menjadi marah karena kata2 yang kasar dari penguasa Go itu, dia malah tersenyum.

"Jadi maksud dari sicu setiap perkataan yang diucapkan oleh orang2 Benteng Pek Kiam Poo tidak boleh dijadikan sebagai bukti".

“Sudah tentu".

"Kalau begitu bagaimana kalau orang yang lepas dari Benteng Pek Kiam Poo bertindak sebagai saksi ?” Tanya Si hweesio lagi sambil tersenyum.

"Soal itu harus dilihat siapakah dia orang!".

"Seorang hweesio dari gunung Ngo Thay San, It Ie Sang-jien!". “Apakah dia melihat Loo-ya kami membunuh orang?” Dengus si

penguasa Go dengan dingin.

“Wie Loo-sicu pasti akan datang mengunjungi perkampungan Thiat Kiam san Cung agar dia jangan sampai mungkiri lagi atas dosa-dosanya maka sengaja sudah mengirim orang ke gunung Ngo Thay San untuk mengundang It Ie Sangjien datang mengunjungi perkampungan Thiat Kiam San Cung. Cuo Loo-sicu yang tidak mengetahui disampingnya masih ada orang luar yang sedang mencuri dengar dia sudah mengakui seluruh dosa yang pernah dilakukan”

"Lalu dimanakah It Ie Sang-jien itu?" Tanya si penguasa Go lagi sambil tertawa dingin.

"Lewat sepuluh hari lagi dia bakal datang mengunjungi benteng Pek Kiam Poo bilamana saudara2 sekalian tidak percaya atas perkataan yang pinceng ucapkan maka sampai waktunya kalian boleh datang kemari lagi untuk langsung mendengarkan penjelasannya "

Si Penguasa Go mendenus, lalu sambil menoleh kearah para jago lainnya dia berkata kembali: "Saudara2 aekalian apakah parkataan dari It Ie Sang jien boleh dianggap sebagai bukti?"

"Tidak, mereka tentu sudah bersekongkol!” jawab Cian Pit Yuan sambil tertawa.

"Cian Loo Sicu! kau seharusnya mempercayai perkataan dari It Ie Sang-jien sebagai seorang psndeta beribadat. " Seru Yuen Kuang Thaysu kurang senang." Dia pernah menjabat sebagai ciangbunjin kuil Lak Hok dikota Tiang An dan pernah mendalami pelajaran agama Buddha dengan kedudukannya dia tidak akan berbohong, dia adalah seorang pendeta yang patut kita hormati!"

“Tetapi sungguh sayang aku orang she Cian sudah menganggap dia sebagai seorang hweesio yang pinter berbohong !” Ejek Cian Pit Yuan sambil tertawa.

Mendengar ejekan ini Yuen Kuang Thaysu jadi amat gusar, toya ditangannya segera diayunkan kedepan melancarkan serangan.

-ooo0dw0ooo-